Gerbang Tengkorak Jilid 06

Jilid 06

“Dan perlu kuingatkan kepada kalian ayah dan anak, janganlah sekali-sekali kalian mempunyai pikiran untuk buron, karena kami tidak akan mengenal rasa kasihan dan akan membunuh kalian!!” ancam si gemuk cing Toaya.

Sian Tauw Bun tidak melayaninya.

“Dimana kau menyembunyikan kitab itu?” bentak cing Toaya lagi.

Sian Tauw Bun mengerutkan alisnya, akhirnya dia menyahuti: “Dikaki gunung Sin- cing-san!”

“Hayo berangkat!” kata si gemuk.

Sian Tauw Bun keluar dari ruangan itu diikuti oleh si gemuk, tetapi waktu sampai dimuka pintu, dua orang memapak dirinya. Wajah kedua orang itu seram dan bengis sekali, juga di tangannya memegang tali yang kuat dan tebal sekali.

“Ikat kedua tangan mereka!” kata si gemuk cing Toaya.

Kedua orang yang mempunyai muka bengis itu menghampiri lebih dekat. Sian Tauw Bun tidak berdaya, tangannya dan tangan Ling-jie telah di belenggunya. Dan setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi.

Tenyata, cing Toaya mengikat tangan Sian Tauw Bun dan Ling-jie dengan maksud agar kedua orang tawanannya itu tidak bisa buron, dan seumpamanya sampai Sian Tuaw Bun mau memberikan perlawanan, maka dia akan mudah untuk dibekuk lagi. Ketika sampai di ruang muka gedung itu, yang ternyata sebuah gedung yang besar sekali, tampak chit kiam Kian-san sedang menantikan mereka dengan wajah yang mengejek ke arah Sian Tauw Bun.

Mereka berangkat menuju ke Sin-cing-san, yang makan waktu perjalanan dua hari tiga malam, itupun kalau menggunakan kuda yang bagus. Si gemuk diiringi ketujuh jago pedang dari Kian-san.

Mereka menggunakan kuda-kuda tunggangan dari Mongolia yang bertubuh besar dan tegap sekali.

Malah leher kuda tunggangan Ling-jie dan kuda Sian Tauw Bun dilingkari oleh tambang, yang ujungnya dipegang oleh dua orang dari ketujuh jago pedang dari Kian san itu.

Dengan begitu, maka kemungkinan buron bagi Sian Tauw Bun dan puterinya sangat kecil sekali, mereka tidak mungkin dapat melarikan diri dari cengkeraman tangan chit-kiam Kian-san dan si gemuk yang membahasakan diri sebadai Cing Toaya itu.

Malah yang mengherankan Sian Tauw Bon dan puterinya, adalah selama dalam perjalanan, chit-kiam Kian-san bersikap selalu dengan hormat kepada Cing Toaya itu, seakan juga mereka ini orang-orang bawahan dari Cing Toaya tersebut.

Itulah yang mengherankan bagi Sian Tauw Bun, sehingga mau juga dia berpikir, apakah Cing Toaya ini mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dan chit-kiam Kian-san?!

Perjalanan dilakukan terus-menerus dengan tidak mengenal lelah, dan mereka hanya mengasoh jika akan makan, mengisi perut, setelah itu melakukan perjalanan lagi tanpa berhenti, sehingga Ling-jie sangat menderita sekali!

SORE itu di gunung Sin-cing-san sangat sepi, karena gunung tersebut selain terkenal akan bahaya dalam perjalanannya, karena banyak jurang yang dalam dan menakutkan, juga di gunung tersebut sering muncul perampok-perampok yang selalu mengincar para hartawan yang lewat di gunung tersebut, yang dibegal harta bendanya!

Sebab itulah jarang sekali para pelancong yang berani melalui jalan pegunungan Sin-cing-san tersebut. Dan, ini membuat gunung Sin-cing-san jadi sepi sekali, seakan juga tak ada manusia yang berani melalui jalan pegunungan tersebut.

Juga para penduduk dari kampung-kampung yang berdekatan dengan gunung tersebut, atau penduduk kampung dikaki gunung tersebut, tak ada yang berani berkeliaran di gunung tersebut jika matahari mulai menghilang di ufuk barat. Tetapi pada sore itu, diantara kesunyian yang menguasai gunung Sin-cing-san tersebut tampak sepuluh penunggang kuda yang sedang melaratkan kuda tunggangan mereka itu di kaki gunung tersebut.

Mereka ternyata tidak lain daripada Sian Tauw Bun, Ling-jie, Cing Toaya, dan bersama tujuh jago pedang dari Kian san yaitu chit-kiam Kian-san.

Mereka melaratkan kuda tunggangan mereka dengan cepat, dan Cing Toaya berikut chit-kiam Kian-san berlari di belakang dari Sian Tauw Bun dan Ling-jie, mereka selalu memasang mata dengan penuh kewaspadaan, takut kalau-kalau Sian Tauw Bun menggunakan suatu akal muslihat.

Tiba-tiba Sian Tauw Bun menahan kuda tunggangannya. Yang lainnya juga menahan kuda tunggangan mereka masing-masing, Cing Toaya dan chit-kiam Kian-san mengawasi dengan penuh kecurigaan.

Sian Tauw Bun memandang sekitar tempat itu, dia menghela napas.

“Hmmm habislah segalanya!” menggumam lelaki tua yang malang ini.

Tiba-tiba dia melihat dikejauhan dari tempatnya itu, dibawah sebuah pohon, tampak duduk seorang bocah berusia diantara dua atau tiga belas tahun. Bocah itu juga tampak sedang memandang ke arah mereka, rupanya dia heran melihat kedatangan sepuluh orang tersebut.

Lebih-lebih melihat keadaan Sian Tauw Bun dan Ling-jie, yang kedua tangan mereka terbelenggu. Tetapi bocah tersebut tidak menarik perhatian Sian Tauw Bun, juga tidak menarik perhatian Cing Toa ya atau chit-kiam Kian-san.

Pada saat itu, Sian Tauw Bun telah menoleh kepada Cing Toaya sambil mengerutkan sepasang ahsnya.

“Kitab Kim-hun Pit-kip ada di dalam batu itu, dibagian utaranya!” kata Sian Tauw Bun sambil menunjuk ke arah sebuah batu gunung yang terdapat didekat tempat itu.

Mata Cing Toaya jadi berkilat.

“Hmmm apakah kau tidak mendustai kami?” tanya Cing Toaya penuh kecurigaan.

Sian Tauw Bun ketawa dingin.

“Untuk apa aku memperdayakan kalian? Apakah kalau seumpama aku bermaksud buruk, aku harus bercapai lelah mengajak kalian ke tempat yang demikian jauh?”“ tanyanya dengan mendongkol.

Cing Toaya mengulapkan tangannya ke arah chit-kiam Kian-san, dan salah seorang dari mereka melompat dari kuda tunggangannya.

Dia menghampiri ke arah batu gunung yang ditunjuk oleh Sian Tauw Bun tadi. “Disetelah mana?” tanyanya sambil menoleh ke arah Sian Tauw Bun waktu dia sampai didekat batu gunung itu.

Sian Tauw Bun mengerutkan alisnya, dia berkata dengan suara yang perlahan :

“Angkat batu gunung itu, gali dua kaki, dan kau akan menemui sebuah kotak, di dalam kotak itulah terdapat kitab Kim-hun Pit-kip!”

Orang itu tidak bertanya-tanya lagi, dengan tenaganya yang besar dengan mudah dia dapat mengangkat batu gunung itu, yang kemudian dilemparkannya kesamping, kemudian dia menggunakan sekop kecil untuk menggali tanah.

Orang ini berteriak girang. Setelah dia menggali dua kaki dalamnya, benar saja ujung sekopnya menyentuh barang keras.

“Ada! Telah kutemui!” teriaknya dengan girang. “Telah dapat!”

Dan orang itu mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana, dia mengawasi sesaat lamanya dengan mata yang mencilak luar biasa.

Menyaksikan kelakuan orang tersebut, berulang kali Sian Tauw Bun mengeluarkan suara dengusan tertawa dingin, karena dia melihat sinar mata orang itu yang tamak sekali. Cing Toaya juga melihat sinar mata orang itu, dengan suara yang keras dia membentak : “Bawa kotak itu padaku!”

Orang itu seperti baru tersadar, dengan cepat dia membawa kepada Cing Toaya tersebut. Cing Toaya menyambutnya, dia membuka tutup kotaknya. Keenam orang dari chit kiam Kian-san memajukan kuda mereka untuk ikut melihat apa isi kotak kayu cendana itu.

Ternyata di dalam kotak itu terdapat sebuah kitab yang sudah tua sekali umurnya, karena dilihat dari kertasnya yang sudah kuning sekali. Orang-orang itu seperti kesima menatap kitab tersebut, dan mereka tidak mengambil perhatian sedikitpun terhadap Sian Tauw Bun dan Ling-jie.

Menggunakan kesempatan tersebut, Sian Tauw Bun mengedipkan matanya kepada Ling-jie, kemudian dia meiompat turun dari kudanya. Ling-jie mengikuti gerakaan ayahnya itu. Kemudian seperti telah berjanji, mereka bergerak dengan cepat, melarikan diri untuk buron.

Tetapi malang bagi ayah dan anak ini, karena pada saat itu kebetulan Cing Toaya menoleh ke arah mereka, sehingga dia bisa melihat ayah dan anak itu yang akan buron.

“Berhenti!!” bentak cing Toaya dengan suara yang mengguntur, dia juga memasukkan kotak kayu cendana yang baru diperolehnya itu ke dalam baju jubahnya, kemudian dengan ringan tubuhnya mencelat mengejar Sian Tauw Bun dan puterinya.

Begitu juga Chit-kiam Kian San, mereka melompat turun dari kuda tunggangan mereka, dan melakukan pengejaran juga. Harus diketahui, orang yang telah sempurna mempelajari ilmu silat, maka dengan berlari orang itu tidak akan kalah cepatnya dengan lari sang kuda.

Maka dari itu, chit-kiam Kian-san telah melakukan pengejaran dengan tidak menunggang kuda, karena mereka dapat bergerak dengan leluasa dalam pengejaran itu. Sedangkan Sian Tauw Bun dan Ling-jie telah mengerahkan tenaga dalam dan Ginkang mereka, dengan sekuat tenaga mereka telah melarikan diri.

Sian Tauw Bun mengetahui bahwa orang-orang yang tadinya telan menawan dirinya, telah melakukan pengejaran, maka dia semakin mempercepatkan larinya. Kedua tangan ayah dan anak ini terbelenggu, tetapi kedua kaki mereka bebas bergerak, maka mereka bisa melarikan diri dengan kecepatan yang luar biasa.

Tetapi Cing Toaya ternyata mempunyai Ginkang, ilmu entengi tubuh yang luar biasa sekali. Gerakan tubuhnya gesit luar biasa, di dalam waktu yang sangat singkat sekali, Cing Toaya telah dapat mengejar dekat kepala Sian Tauw Bun dan Ling-jie.

Tiba-tiba lelaki gemuk dan bermuka bengis itu meraba pinggangnya, dan srrtt! dia telah mencabut cambuk dari pinggangnya.

Diputar-putarnya cambuk di tangannya, dia mengejar semakin cepat juga. Dan, ketika tahu-tahu terdengar suara : ‘taarrr!’ maka pecut di tangan Cing Toaya itu melayang menyambar ke arah kaki Ling-jie.

Anak gadisnya Sian Tauw Bun memang masih kalah satu tingkat pelajaran ilmu silatnya kalau dibandingkan dengan Sian Tauw Bun, itulah yang menyebabkan Ling-jie jadi berlari di belakang Sian Tauw Bun.

Dan, anak gadis ini tajam sekali pendengarannya, dia mengetahui bahwa lawannya tengah menyerang dirinya. Lebih-lebih Ling-jie mendengar suara menyambarnya cambuk itu, maka disaat ujung cambuk akan membelit kakinya, dengan sekuat tenaganya Ling-jie melompat keatas.

Dengan sendirinya cambuk itu jadi mengenai tempat kosong. Tetapi Cing Toaya sangat kosen dan liehay sekali. Cambuknya seperti juga mempunyai mata, disaat dia menghajar tempat kosong, Cing Toaya mengedut ujung cambuknya sedikit, sehingga cambuk itu jadi seperti terhenti sesaat, kemudian terhentak naik ke atas, akan melibat kedua kaki Ling-jie lagi.

Tubuh anak gadis itu sedang melayang turun, dan dia jadi mencelos hatinya ketika melihat betapa cambuk Cing Toaya seperti juga mempunyai mata, dan sedang menyambar lagi ke arah kedua kakinya.

Ling-jie jadi mengeluarkan seruan kaget. Dia berusaha untuk mengelakkan serangan cambuk Cing Toaya, terapi hal itu sangat sulit sekali, karena tubuhnya sedang meluncur turun, sehingga tidak mempunyai pegangan, dengan begitu, diri Ling-jie jadi terancam bahaya, kalau sampai kedua kakinya kena dilibat oleh cambuk itu, tubuhnya bisa terbanting keras atau terbinasa saat itu juga!

Maka itu Ling-jie jadi mengeluarkan keringat dingin. Dirasakan oleh Ling-jie, ujung cambuk telah melingkari kedua kakinya, baru saja si gadis ingin menjerit tiba-tiba dia mendengar suara bentakan :

“Lepas!” keras sekali suara itu.

Dan, ternyata cambuk Cing Toaya telah dapat direbut oleh seseorang, dan cambuk itu jadi batal melibat kedua kaki Ling-jie. Hal ini membuat si gadis bisa menjatuhkan diri dengan kedua kakinya menginjak tanah, sehingga dia tidak mengalami cidera apa-apa.

Waktu Ling-jie menoleh kebelakang, dilihatnya seorang bocah sedang berdiri berhadapan dengan Cing Toaya, di tangan bocah itu memegang cambuk Cing Toaya yang berbasil direbutnya.

Sian Tauw Bun juga menahan langkah kakinya waktu mendengar suara seruan tertahan dari Ling-jie, dia menoleh. Disaat dia menoleh begitu, dia dapat melihat dan menyaksikan sesosok tubuh kecil telah menarik cambuk Cing Toaya yang sedang diayunkan akan menyerang Ling-jie, dan bocah itu berhasil merebut cambuk Cing Toaya itu.

Dan Sian Tauw Bun melihat bahwa bocah yang berhasil merebut cambuk Cing Toaya itu ternyata bocah yang tadi duduk di bawah pohon dan tidak menjadi perhatiannya.

Dengan ragu-ragu Sian Tauw Bun menghampiri Ling-jie.

“Kau tidak terluka?” tanyanya kepada Ling-jie, waktu dilihatnya anak gadisnya itu berdiam diri seperti orang yang kesima mengawasi ke arah si bocah yang masih berdiri dihadapan Cing Toaya. Ling-jie menggelengkan kepalanya.

“Ti    tidak ayah     anak itu oh, dia bisa celaka di tangan si gemuk!” kata Ling- jie menguatirkan keselamatan si bocah.

Sedangkan pada saat itu Cing Toaya tengah mendelik dengan gusar kepada bocah dihadapannya. Tadi dia begitu terkejut waktu tahu-tahu di sisinya berkelebat sesosok bayangan dengan gerakan yang gesit sekali, yang disusul cambuknya direbut oleh bocah di hadapannya. Maka selebih lenyap rasa kagetnya, Cing Toaya jadi murka luar biasa.

“Bocah setan apakah kau mau mampus?” bentaknya dengan bengis.

Tetapi bocah dihadapan Cing Toaya sangat tenang sekali, dia tidak jeri tampaknya.

“Setiap manusia pasti takut akan mati, tetapi untuk apa kita harus ditakuti hari- hari yang menakutkan itu? Bukankah akhirnya manusia akan dipanggil kepangkuan Thian juga?” jawab si bocah dengan tenang. Cing Toaya jadi tambah gusar, dia murka bukan main. Tetapi biarpun dia bergusar, toh dia tidak lantas turun tangan, karena dia tadi melihat betapa gesit dan bertenaga sekali bocah ini, pasti si bocah ini murid dari seorang jago yang luar biasa, kalau tidak tentu cambuknya mana mungkin dapat direbut oleh si bocah itu.

“Siapa kau bocah? Dan mana gurumu?” bentak Cing Toaya lagi dengan suara yang keras. Bocah itu tertawa manis sekali, sikapnya tenang luar biasa.

“Kukira cukup kalau kau mendengar namaku saja, sebab kalau memang kuberitahukan nama guruku, pasti kau dan orang-orangmu itu akan lari terbirit-birit!!” dia menyahuti dengan suara yang tawar, dan matanya melirik ke arah Cing Toaya, dan mata ketujuh jago pedang dari Kian-san mengawasi ke arah si bocah dengan sinar yang bengis.

Disahuti begitu, disanggapi begitu macam bukan main murkanya Cing Toaya, selama hidupnya belum pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar dan memandang enteng dirinya, apa lagi sekarang yang dihadapinya ini hanyalah seorang bocah belaka, maka dapat dibayangkan kemurkaan dari Cing Toaya.

“Aku Cing Tian Sun belum pernah berlaku belas kasihan, tetapi kali ini aku masih menanyakan gurumu, itu suatu tanda rejekimu yang baik! Hmmm baiklah rupanya kau telah bosan hidup, sebutkan namamu bocah, supaya nanti aku bisa siarkan kau telah binasa agar gurumu muncul untuk melakukan pembalasan terhadap diriku!” kata Cing Toaya atau tegasnya bernama Cing Tian Sun itu dengan gusar sekali, matanya bermain tak hentinya.

“Aku Bie Liek pun tidak pernah berlaku belas kasihan kepada orang-orang jahat seperti kau!” katanya dengan suara tawar, ternyata bocah itu adalah Bie Liek. “Dan, memang lebih bagus lagi sekarang kau telah menyebutkan namamu secara terang, sehingga kalau memang kau terbinasa di tanganku, aku bisa memberitahukan perihal kematian dirimu kepada isteri dan anak-anakmu, dan aku juga ingin menasehati, agar jangan menangisi kematian seorang penjahat seperti dirimu!” menusuk sekali kata-kata dari Bie Liek.

Wajah Cing Toaya atau Cing Tian Sun itu jadi berubah merah padam, dia murka sekali. Belum habis si bocah menyelesaikan perkataannya, dia sudah berteriak dengan bentakan yang keras, dan melompat menyerang.

Kedua tangannya bergerak akan mencengkeram batok kepala Bie Liek. Melihat hai itu, Ling-jie jadi mengeluarkan seruan tertahan. Begitu juga Sian Tauw Bun, dia ingin melompat untuk memberikan pertolongan kepada Bie Liek, bocah itu, karena di dalam anggapannya, si bocah pasti akan mengalami kebinasaan yang mengerikan. Cing Tian Sun bukanlah seorang manusia yang mudah untuk dipermainkan. Tetapi belum lagi Sian Tauw Bun menjejakkan kakinya untuk menolong Bie Liek dengan mengadu jiwa pada Cing Tian Sun, tampak Bie Liek telah mengayunkan pecut yang boleh direbutnya tadi.

Terdengar suara : “Taaarrr!” yang nyaring sekali, seperti juga memecahkan udara, dan tampak suatu kejadian yang benar-benar luar biasa sekali! Cambuk itu menyerang ke arah Cing Tian Sun, seharusnya dia bisa mengelakkannya.

Tetapi kali ini sabetan cambuk itu begitu cepat, menyedabkan Cing Tian Sun seperti tidak bisa melihat datangnya serangan, dan tahu-tahu dirinya telah kena dilibat oleh cambuknya sendiri, dan disaat Bie Liek menggentakkan tangannya, maka Cing Tian Sun jadi mengeluarkan seruan tertahan, dan tubuhnya terbetot ambruk di tanah!

Diri Cing Toaya, atau tuan besar Cing itu, terbanting keras sekali di tanah. Tanah jadi bertebaran, debu berterbangan dan batu-batu kerikil mental kesana-kemari. Chit- kiam Kian-san sendiri yang menyaksikan hal itu jadi mengeluarkan seruan kaget.

Sedikitpun ketujuh jago pedang dari Kian-san itu tidak menduga bahwa cing Toaya yang mereka junjung begitu penuh penghormatan bisa dijatuhkan hanya dalam satu kali gebrak oleh seorang bocah seperti Bie Liek.

Ketujuh jago pedang dari Kian San saking kaget dan kesimanya, mereka jadi berdiri terpaku memandang ke arah Cing Tian Sun yang kala itu sedang merangkak berdiri dengan muka yang bengap merah. Betapa gusar dan murkanya orang she Cing itu, tubuhnya sampai gemetar dan kakinya juga menggigil menahan perasaan murkanya itu.

“Bocah setan akan kubunuh kau!” kata Cing Tian Sun dengan suara yang geram.

Tetapi Bie Liek tenang sekali, dia membawa sikap yang memandang enteng kepada orang she Cing itu.

“Apakah kau kira membunuhku sama mudahnya dengan membunuh seekor ayam?” tegur Bie Liek dengan suara yang mengandung ejekan.

Wajab Cing Tian Sun jadi berobah merah padam, dengan gusar, dan dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali dia menerjang ke arah Bie Liek.

Kedua tangan orang she Cing itu terpentang jari-jemari tangannya, dia bermaksud akan mencengkeram si bocah sampai tubuhnya lumat.

Inilah hebat, Cing Tian Sun menyerang dengan menggunakan hampir seluruh tenaga Lweekangnya, sehingga kalau memang sampai Bie Liek kena dicengkeramnya, pasti dia akan terbinasa di tangan orang she Cing ini.

Sian Tauw Bun yang melihat hal ini, telah mengetahui kehebatan tangan orang she Cing itu, maka tanpa disadarinya dia jadi mengeluarkan seruan tertahan. Malah Sian Tauw Bun bukan hanya mengeluarkan seruan tertahan belaka, kedua kakinya telah menjejak kuat sekali di atas tanah, sehingga tubuhnya itu melambung tinggi dan melesat cepat sekali ke arah Bie Liek, guna memberikan perlindungan dan pertolongan kepada jiwa bocah tersebut.

Tetapi suatu kejadian yang luar biasa telah terjadi dengan hebatnya, di luar dugaan dari semua orang. Chit-kiam Kian-san juga melihat kejadian itu, sehingga mereka jadi jeri berbareng takut kepada bocah yang bernama Bie Liek ini. Kenapa?

Ternyata waktu kedua tangan Cing Toaya si tuan besar she Cing itu terulurkan ke arah Bie Liek dan jari-jemari tangannya terpentang akan mencegkeram batok kepala Bie Liek beserta dadanya, tampak si bocah dengan tenangnya mundur selangkah kebelakang, tahu-tahu dia mengangkat tangannya.

Tangannya itu bukan dipakai untuk menangkis, melainkan dipakai untuk menotok kedua biji mata Cing Tian Sun. Hal ini mengejutkan sekali orang she Cing itu hatinya terkesiap, kedua tangannya sedang meluncur dengan cepat menyerang Bie Liek, sehingga sulit baginya untuk menarik pulang serangannya itu. Tetapi tangan Bie Liek yang menyerang kedua biji mata Cing Tian Sun meluncur terus dengan cepat, sehingga mau tak mau Cing Tian Sun harus menghindarkan serangan Bie Liek untuk mengelakkan ancaman bahaya pada matanya.

Kalau sampai serangan dari Bie Liek berhasil mengenai sasarannya, pasti dia akan menjadi orang bercacad untuk seumur hidupnya, dia akan menjadi buta! Maka untuk melindungi kedua matanya, walaupun dia sudah tidak keburu untuk menarik pulang kedua serangan tangannya sendiri, terpaksa Cing Toaya mengelakkannya dengan jalan mundur selangkah dan memiringkan kepalanya sedikit, lalu dengan cepat tangannya diputar.

Karena dia mundur selangkah dan memiringkan kepalanya, maka waktu memutar kedua tangannya sekaligus, dia bisa menangkis tangan Bie Liek dengan tangannya. Hal itu dilakukan oleh Cing Tian Sun karena dia jeri si bocah akan melancarkan serangan yang berangkai disaat dia sedang mundur dan belum dapat berdiri tetap.

Maka dari itu, dengan memutar kedua tangannya itu, Cing Tian Sun bermaksud untuk mencegah dan berjaga-jaga kalau memang Bie Liek melancarkan serangan berikutnya. Tetapi Bie Liek kosen sekali, dia memang tidak bermaksud akan melukai orang she Cing itu.

Maka melihat orang mundur dan memutar kedua tangannya sekaligus dalam posisi berjaga-jaga si bocah tertawa di dalam hati, dan menarik pulang tangannya yang tadi dipakai untuk menotok kedua mata Cing Tian Sun. Dengan menarik pulang tangannya itu, maka tidak sampai terjadi bentrokan tangan mereka. Menggunakan kesempatan begitu, maka Cing Tian Sun telah melompat lagi beberapa kali kebelakang, sehingga dia jadi berada dekat dengan chit-kiam Kian-san.

Melihat kelakuan dan sikap orang, si bocah Bie Liek tersenyum.

“Hmm apakah orang yang segagah dan sesombong dirimu yang selalu bicara takabur hanya mempunyai nyali begitu kecil?” ejek Bie Liek dengan suara yang tawar.

Wajah Cing Tian Sun jadi berobah merah padam. Dia menoleh kepada ketujuh kawan-kawannya itu.

“Mengapa kalian berdiam diri saja?” tegurnya dengan gusar.

Chit-kiam Kian-san juga melihat kegusaran orang she Cing ini, begitu mereka ditegur, begitu mereka tersadar, maka dengan cepat ketujuh jago pedang itu dengan serentak telah meluruk maju menyerang ke arah Bie Liek.

Melihat hal ini, Sian Tauw Bun jadi terkejut, dia menguatirkan keselamatan diri si bocah. Cepat-cepat dia melompat untuk memberikan pertolongan kepada Bie Liek. Ling- jie juga yang melihat tersebut, telah cepat-cepat melompat untuk memberikan pertolongan. 

Di dalam hati ayah dan anak ini, telah mengambil suatu keputusan yang nekad. Mereka akan mengadu jiwa untuk menolong tuan penolong mereka yang masih kecil itu. Chit-kiam Kian-san telah menyerang dengan pedang mereka masing-masing, dan juga Cing Toaya, Cing Tian Sun itu telah melompat akan menghadang pada Sian Tauw Bun. Mereka jadi bertempur seru sekali.

Bie Liek sendiri yang melihat bahwa chit kiam Kian-san menyerang dirinya dengan serangan-serangan yang telengas sekali, hati si bocah cljadi mendongkol.

“Hmmm      manusia-manusia seperti ini harus diberi pengajaran yang setimpal!”

pikir si bocah.

Maka setelah berpikir begitu, dengan mengeluarkan suara tertawa yang panjang sekali, Bie Liek telah melompat tinggi sekali, dan sedang tubuhnya terapung begitu, maka kedua tangannya juga bekerja. Tangannya itu berputar seperti lingkaran, dan tahu-tahu terdengar suara jeritan yang beruntun.

Tampak Ling-jie berdiri mematung mengawasi ke arah Chit-kiam Kian-san, karena dilihatnya ketujuh jago pedang dari Kian-san itu telah saling terjungkal rubuh terkulai tak bergerak! Ternyata chit-kiam Kian-san telah tertotok semuanya dengan mudah oleh Bie Liek. Cing Tian Sun yang melihat hal tersebut jadi terkejut, semangatnya dirasakan terbang meningalkan raganya.

Sedikitpun dia tidak menduganya bahwa Bie Liek kosen begitu dan mempunyai kepandaian yang begitu tinggi. Dengan sendirinya hatinya jadi ciut dan dia keder sendirinya dia bermaksud untuk menempur mengadu jiwa, tetapi akhirnya Cing Tian Sun lenyap sama sekali.

Runtuhlah segalanya, dengan tidak memperdulikan nama besarnya yang telah dipupuk sekian lama, dia memutar tubuhnya, dan kabur begitu saja.

Melihat hal itu, Bie Liek ketawa dingin. Sian Tauw Bun dan Ling-jie juga tidak menduga bahwa Cing Tian Sun akan membawakan sikap pengecutnya begitu, karena sepengetahuan mereka, orang she Cing tersebut sangat kosen sekali.

Maka, sebetulnya tidaklah masuk di dalam akal bahwa di tangan seorang bocah seperti Bie Liek, Cing Tian Sun bisa rubuh dan runtuh begitu mudah.

Chit-kiam Kian-san sendiri tidak menduga bahwa Cing Tian Sun yang sangat mereka andalkan itu, ternyata sangat pengecut sekali, malah mereka bertujuh tidak diperdulikan lagi, ditinggal kabur begitu saja!

Biji mata Chit-kiam Kian-san bertujuh jadi bermain tak hentinya. Mencilak menandakan bahwa hati mereka jeri sekali terhadap bocah yang ada di depannya ini.

Sian Tauw Bun dan Ling-jie telah menghampiri.

Dengan berbareng mereka menekuk kaki mereka, berlutut dibadapan Bie Liek,

“Terima kasih atas pertolongan In-kong!” kata mereka hampir berbareng. “Kalau

tidak ada In-kong, entah apa yang akan terjadi dan menimpa diri kami!!”

Bie Liek jadi repot, dia menggeser kakinya menghindarkan pemberian hormat dari ayah dan puteri itu.

“Jangan begitu! Jangan begitu!” kata Bie Liek dengan gugup. '“Bangunlah Loo-peh dan kau Sio-cia!!”

Tetapi Sian Tauw Bun dan Ling-jie masih berlutut terus, mereka tidak mau bangun.

“Siapakah she dan nama besar In-kong?” tanya Sian Tauw Bun tanpa mengangkat kepalanya, dia masih berlutut bersama puterinya.

Bie Liek menyebutkan namanya, kemudian dia repot meminta kepada ayah dan anak itu untuk bangun berdiri.

Akhirnya sanbil menghela napas, Sian Tauw Bun dan Ling-jie bangun berdiri.

“Bie Siauw-hiap kau benar-benar hebat!” memuji Sian Tauw Bun dengan suara yang mengagumkan. “Orang she Cing itu sangat kosen, tetapi ternyata kau bisa merubuhkannya! Kau benar-benar hebat, Bie Siauw-hiap!!”

Bie Liek cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendahkan diri. Dia jadi kikuk.

Ling-jie juga  tak hentinya  memuji si bocah,  yang dikatakannya  mempunyai kepandaian yang hebat dan luar biasa sekali. Lagi pula Ling-jie mengatakan bahwa jarang sekali ada seorang bocah yang berusia sebaya dengan Bie Liek bisa mempunyai kepandaian yang begitu tinggi.

Ini adalah suatu hal yang langka dan sukar dicari untuk keduanya. Bie Liek jadi tak hentinya merendahkan diri.

“Dan Sian Loo-peh, bolehkah aku mengetahui mengapa Sian Loo-peh ayah dan anak bisa bentrok dengan orang she Cing itu dan ketujuh anak buahnya ini?” tanya Bie Liek akhirnya.

Sian Tauw Bun menghela napas, dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, ya, akan Loohu ceritakan!” kata Sian Tauw Bun dengan cepat. “Dan Loohu kira lebih baik kita mencari suatu tempat yang tenang, agar Loohu dapat menceritakannya dengan baik peristiwa penasaran yang menimpah diri Loohu itu dengan jelas!”

Bie Liek mengangguk membenarkan, dia melirik kepada chit-kiam Kian-san yang kala itu masih rebah tak berdaya, karena mereka masih tertotok.

Sian Tauw Bun dan puterinya juga melirik ke arah ketujuh jago pedang Kian-san itu

cepat. “Bagaimana dengan ketujuh orang ini, Siauw Hiap?” tanya Tauw Bun dengan

Bie Liek cepat-cepat menyahuti : “Aku menyerahkan mereka kepada Loo-peh, karena mereka memang ada sangkut pautnya dengan Loo-peh!” Sian Tauw Bun cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

“Mana boleh jadi begitu?! Mana bisa begitu?” katanya dengan cepat. “Aku hanya

mendengar setiap kata dan perintah dari Bie Siauw-hiap.” Bie Liek jadi gugup.

“Akh ini mana boleh?” katanya cepat. “Aku hanya menolong dan memberikan bantuan kepada Loo-peh saja, dan setelah ini Loo-peh yang mengurus mereka, mau diapakan terserah kepada Loo-peh!”

Sian Tauw Bun jadi berdiri ragu-ragu.

“Begini saja!” akhirnya Bie Liek berkata setelah menghela napas. “Kita tinggalkan saja mereka disini, nanti juga totokanku itu akan punah dengan sendirinya dan mereka bisa bebas sendirinya!! Bagaimana pandangan Sian Loo-peh?”

Sian Tauw Bun dan Ling jie mengangguk.

“Bagaimana saja baiknya menurut Bie Siauw-hiap, Loohu dan puteriku ini hanya

menurut saja!!” menyahuti Sian Tauw Bun. Maka akhirnya Sian Tauw Bun dan Ling-jie bersama Bie Liek meninggalkan tempat itu. Mereka mau menuju ke kampung Siong-san-chung yang berada tak jauh dari tempat itu.

Sedangkan chit kiam Kian-san mereka tinggalkan tertotok di situ tak berdaya, dan ketujuh jago pedang dari Kian-san hanya rebah dengan gusar dan penasaran sekali, karena biarpun mereka bertujuh, toh mereka masih tidak bisa merubuhkan bocah cilik seperti Bie Liek!

BEGITU sampai di kampung Siong san-chun, Sian Tauw Bun, Ling-jie dan Bie Lick mencari sebuah rumah makan. Mereka memesan makanan untuk menangsal perut meieka yang telah lapar.

Betapa gembira dan senang hatinya Sian Tauw Bun dan Ling-jie yang telah ditolong oleh Bie Liek. Sedikitpun mereka tidak menduga sebelumnya bahwa mereka bisa terlolos dari tangan Cing Tian Sun, karena tadinya mereka duga mereka akan terbinasa di tangan Cing Tian Sun dan ketujuh jago pedang dari Kian-san yang menjadi anak buah dari orang she Cing itu.

Setelah makan minum secukupnya, Bie Liek akhirnya menanyakan kembali persoalan antara Sian Tauw Bun dan Ling-jie yang bisa bentrok dengan Cing Tian Sun. Sian Tauw Bun menghela napas.

“Sebetulnya kisah Loohu ini sangat panjang sekali, dan juga sangat berbelit-belit, entah Bie Siauw-hiap akan bosan dan jemu mendengarnya atau tidak?!” katanya.

Bie Liek tersenyum.

“Mengapa Loo-peh berkata begitu?” tanyanya dengan cepat. “Kita sesama orang pengembara, yang harus saling tolong menolong!! Apa lagi Loo-peh sedang mengalami kesukaran, maka biar bagaimana aku harus menolongnya! Nah ceritakanlah Sian Loo- peh, agar aku bisa menarik kesimpulan untuk menolong Loo-peh keluar dari kesukaran yang sedang Loo-peh hadapi itu!! Aku berjanji akan menolong Loo-peh menurut kemampuanku dan sebisaku!!”

Kembali Sian Tauw Bun menghela napas. Dia menoleh kepada puterinya, Ling-jie.

“Coba kau ceritakan yang jelas kepada Bie Siauw-hiap persoalan yang sedang kita hadapi ini, Ling-jie!” kata Sian Tauw Bun.

Ling-jie mengangguk, wajahnya guram waktu dia menceritakan persoalan yang sedang mereka hadapi. Bie Liek mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan dia akhirnya mengetahui bahwa persoalan yang sedang dihadapi oleh ayah dan anak ini memang benar-benar sangat rumit sekali.

Cerita yang dikisahkan oleh Ling-jie benar-benar menarik hati! Mari kita mengikutinya dengan jelas.

o

o o

PERISTIWA yang menimpa keluarga Sian Tauw Bun ini terjadi pada lima tahun yang lalu, disaat mana Sian Tauw Bun hidup bahagia sekali disamping isterinya, yang bernama Su Pian Lian dan puterinya yang bernama Sian Su Ling, yang saat itu baru berusia lima belas tahun.

Mereka menetap di sebuah rumah yang tidak begitu besar dikampung Kiang-tie-

chung,

Walaupun hidup sederhana, toh dia hidup bahagia sekali, sekeluarga mereka hidup

dengan rukun dan bahagia sekali karena Sian Tauw Bun memang seorang suami atau seorang ayah yang baik dan bisa mengendalikan rumah tangganya.

Sian Tauw Bun sebelum menikah dengan Su Pian Lian telah sering mempeiajari ilmu silat, dia gemar sekali mempelajari ilmu silat.

Malah terakhir sekali, Sian Tauw Bun memasuki pintu perguruan Siauw Lim-sie. Sebetulnya Sian Tauw Bun tidak diterima untuk belajar dipintu perguruan silat Siauw lim- sie itu, tetapi karena dia tidak mengenal putus asa, malah dia berusaha masuk untuk menjadi tukang masak di dalam kuil besar itu.

Pertama-tama pekerjaan sebagai juru masak di dalam kuil tersebut sangat melelahkan, tetapi akhirnya dia dapat dilakukannya dengan baik. Tetapi, biarpun telah berada di dalam kuil itu, toh Sian Tauw Bun tidak berani mencuri-curi lihat para murid Siauw-lim-sie yang sedang berlatih, karena peraturan Siauw lim-sie sangat keras sekali, siapa saja yang mencuri lihat murid-murid Siauw lim-sie yang sedang berlatih, jika ketahuan dan kepergok maka kedua matanya akan dibutakan!!

Maka dari itu, Sian Tauw Bun tidak berani mengintip murid-murid Siauw-lim-sie itu sedang berlatih. Setiap hari orang she Sian ini bekerja terus dengan penuh kejujuran. Dan, sikap Sian Tauw Bun dan hati orang she Sian yang jujur ini membawa suatu keberuntungan baginya.

Karena di luar tahunya sejak diterima sebagai juru masak, setiap tindak-tanduknya selalu diawasi olen seorang murid Siauw-lim-sie secara bergilir. Maka itu, kalau sampai Sian Tauw Bun mempunyai hati yang bengkok dan serong, niscaya dia akan menerima hukuman yang berat. Tetapi karena sejak masuk ke dalam kuil pusat ilmu silat di daratan Tionggoan ini, yaitu Siauw-lim-sie, Sian Tauw Bun tidak memperlihatkan sifat-sifat buruk sedikitpun, maka berangsur-angsur pengawasan terhadap dirinya jadi mengendur.

Sampai akhirnya, pada suatu malam, disaat Sian Tauw Bun akan masuk tidur, karena dia merasakan tubunnya sangat lelah sekali habis bekerja keras, datang seorang Totong, seorang Hweeshio kecil yang fungsinya di dalam kuil tersebut sebagai pelayan.

Sian Tauw Bun sangat heran sekali, di dalam hatinya dia jadi gugup, karena dia memikir bahwa dirinya telah melakukan kesalahan, sehingga dia didatangi oleh Totong kecil itu.

“Kau dipanggil oleh Ceng-sian Siansu di ruangan Tat-mo-tong!” kata si Totong itu dengan suara yang tawar. “Diberi waktu sepasangan hio, kau harus sudah berada di sana!”

Sian Tauw Bun jadi tambah gugup, dia cepat-cepat menuju ke tempat yang disebut oleh si Totong, yaitu Tat-mo-tong, tempat yang sebetulnya sangat terlarang untuk sembarang masuk kesana.

Tat-mo tong adalah sebuah ruangan untuk memuja abu dari Tat-mo Cauwsu, pendiri dari Siauw-lim-sie ini, yang datang kedaratan Tionggoan dan menyebarkan pelajaran ilmu silat didaratan Tionggoan tersebut.

Tat mo Cauwsu adalah seorang budhis yang patuh dan disiplin sekali, dia berasal dari India, dan merantau kedaratan Tionggoan untuk menyebarluaskan pelajaran yang dianutnya. Maka dari itu, ruangan Tat-mo-tong, ruangan untuk memuja abu dari Tat-mo Cauwsu itu merupakan sebuah tempat yang terlarang.

Yang boleh masuk ke dalam ruangan Tat-mo-tong itu adalah Hong-thio dan beberapa orang penting lainnya di dalam lingkungan kuil Siauw lim-sie tersebut, Hong- thio adalah ketua Siauw-lim-sie.

Dengan kaki agak gemetar akhirnya Sian Tauw Bun sampai juga dimuka ruangan Tat-mo-tong. Tidak tampak seorang manusia disekitar tempat itu. Dengan hati yang bimbang dan kaki agak gemetar, Sian Tauw Bun menekuk kedua kakinya berlutut.

“Siauw-tong Sian Tauw Bun datang menghadap kepada Ceng-Sian Suhu!!” kata Sian Tauw Bun dengan suara yang keras dan agak gemetar. Sunyi sesaat disekitar ruangan itu, tak terdengar suara apapun, hanya terdengar gema dari suara Sian Tauw Bun belaka.

“Siauw-tong Sian Tauw Bun datang menghadap kepada Ceng-Sian Suhu!!” kata Sian Tauw Bun mengulangi perkataan lagi. Terdengar suara orang mendehem perlahan, disertai oleh suara rintihan yang perlahan sekali. Sian Tauw Bun memasang kuping tajam- tajam untuk mendengarkan suara itu lebih jelas. Akhirnya, setelah sunyi sesaat lagi, waktu Sian Tauw Bun mau mengulangi lagi perkataannya terdengar orang berkata dengan suara yang perlahan sekali dan sabar : “Masuklah!”

Sian Tauw Bon bangun berdiri dengan kaki gemetar, dia menjura lagi ke arah Tat- mo-tong tiga kali, kemudian baru menghampiri pintu masuk dari ruangan itu, yang berbentuk delapan persegi, bentuk Pat-kwa. Didorongnya pintu itu, terbuka perlahan- lahan.

Tetapi begitu Sian Tauw Bun mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan melihat keadaan di dalam ruangan itu, dia jadi mengeluarkan suara tertahan. Dan, Sian Tauw Bun jadi berdiri ragu dimuka pintu itu, dia berusaha mementangkan kedua matanya lebar- lebar, untuk melihat keadaan ruangan tersebut.

Dan, tetap saja Sian Tauw Bun tidak bisa melihat apa-apa di dalam ruangan itu, karena ruangan Tat-mo-tong itu memang tidak ada penerangan sedikitpun, gelap gulita

o o o

SEDANG Sian Tauw Bun berdiri bengong memandang kegelapan di dalam ruangan Tant-mo tong itu, tiba-tiba terdengar orang menghela napas.

Berat sekali suara helaan napas dari orang di dalam kegelapan ruangan Tat-mo- tong tersebut.

“Masuklah!” kata orang itu dengan suara yang berat. “Jangan ragu-ragu Sian Tauw Bun masuklah, Pinceng menunggumu.”

Pinceng adalah bahasa seorang Hweeshio membahasakan dirinya.

Sian Tauw Bun jadi lenyap keragu-raguannya, dia menutup kembali pintu itu.

“Tiga langkah kekanan, membelok kekiri dua langkah!” terdengar suara berat itu

lagi. '“Dan lurus lima langkah!!”

Sian Tauw Bun tahu bahwa itu adalah petunjuk baginya untuk menghampiri orang yang berada di dalam kegelapan ruangan tersebut.

Maka dari itu, seperti apa yang diberitahukan oleh orang itu, maka Sian Tauw Bun melangkah kekanan tiga langkah, lalu dia membelok kekiri dua langkah kemudian lurus lima langkah maju kedepan.

Dan, waktu sampai di situ, walaupun masih dalam keadaan gelap gulita, Sian Tauw Bun telah menekuk lututnya berlutut ke arah muka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Teecu Sian Tauw Bun datang menghunjuk hormat kepada Ceng-Siansuhu!” kata Sian Tauw Bun. “Ada petunjuk apakah untuk Teecu?'' Terdengar orang itu batuk-batuk beberapa kali, dan kalau didengar dari suara batuknya itu, maka Sian Tauw Bun mengetahui bahwa Ceng sian Siansu berada tak jauh darinya, mungkin hanya terpisah satu atau dua kaki.

“Kau yang bernama Sian Tauw Bun, bukan?” tegur orang di dalam kegelapan itu lagi dengan suara sabar dan agak berat.

Sian Tauw Bun cepat-cepat membenarkan.

““Ada urusan apakah yang akan diperintahkan oleh Ceng-Sian Suhu kepada Teecu?” tanya Sian Tauw Bun kemudian.

Orang itu tidak lantas menyahuti, dia mendehem beberapa kali, mungkin untuk melancarkan pembicaraannya.

“Nyalakan dulu penerangan di ruang ini, Tauw Bun!” kata orang itu kemudian dengan suara yang tetap perlahan.

Sian Tauw Bun mengiakan. Dari sakunya dia mengeluarkan bahan api. Waktu api menyala, dia bisa melihat keadaan ruangan tersebut. Dilihatnya disebuah meja terdapat sebuah pelita kecil di atasnya. Cepat-cepat Sian Tauw Bun menghampiri dan menyalakannya.

Seketika itu juga ruangan Tat-mo-tong itu jadi terang menderang. Dilihatnya di atas selembar tikar berbentuk Patkwa, seorang Hweeshio tua sedang rebah dengan lesu.

Sian Tauw Bun mengenali bahwa Hweeshio itu adalah Ceng-sian Siansu. Cepat- cepat Sian Tauw Bun berlutut lagi, tetapi sekilas begitu dia telah melihat, selain meja abu yang terdapat disudut kanan dari ruangan itu, tidak tampak benda lainnya.

Wajah Ceng-sian Siansu, Hweeshio tua yang mungkin usianya telah enam puluh tujuh tanun.

“Ada perintah apakah untuk Teecu, Ceng Sian Suhu?” tanya Sian Tauw Bun dengan bimbang.

Tampak Ceng-sian Siansu menghela napas, rupanya dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi, dia hanya berkata :

“Telah lama kuperhatikan segala gerak gerikmu, Sian Tauw Bun!' kata Ceng Sian Suhu. “Dan ternyata kau memang seorang anak yang berjodoh dengan diriku!!”

Ceng sian Siansu menatap Sian Tauw Bun dengan mata yang berkilat.

Hati Sian Tauw Bun jadi gemetar, tergetar. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Ceng-sian Siansu selanjutnya.

“Dan beberapa hari yang lalu, di dalam kuil ini telah terjadi suatu peristiwa hebat!” kota Ceng-sian Siansu dengan suara yang tetap berat, napasnya juga memburu. “Kau tahu, sejak Tat-mo Cauwsu mendirikan kuil Siauw-lim-sie ini dan mengembangkan agama yang disebarluaskan, mungkin peristiwa ini yang paling hebat dan paling dimurkai oleh Cauwsu Tat mo itu, karena seorang murid tersetianya telah merencanakan suatu perbuatan maksiat yang bisa menghancurkan nama baik Siauw lim-sie!”

Dan, baru saja berkata sampai di situ, Ceng-sian Siansu tidak bisa meneruskan perkataannya, dia batuk-batuk beberapa kali, tampak darah mengalir dari mulutnya.

Sian Tauw Bun walaupun masih dalam keadaan berlutut, tetapi karena Ceng-sian Siansu sedang rebah, orang she Sian ini bsa melihat ke arah yang mengalir dari sudut bibir Ceng sian Sansu itu.

Dia jadi terkejut sekali.

“Ceng Siansuhu ” katanya dengan ragu.

Tampak Ceng sian Siansu telah menghapus darah yang menitik dibibirnya dengan menggunakan punggung tangannya, dia menghela napas dengan wajah yang pucat, tampaknya Hweeshio tua ini jadi lelah sekali disebabkan banyak berkata-kata.

“Kau jangan kaget Sian Tauw Bun!” kata Ceng-sian Siansu dengan suara yang lemah. “Seperti apa yang telah kukataKan bahwa di dalam Siauw-lim-sie ini telah terjadi suatu peristiwa hebat, dan karena akan dan mau membendung peristiwa hebat tersebut, sehingga aku jadi terluka, dan mungkin akan membawa aku sampai kepada ajal! Hmmm biarpun aku binasa, aku tidak mau sampai niat busuk dari orang-orang rendah, itu kesampaian! Maka dari itu orang she Sian, malam ini kau kupanggil untuk menerima

tugas berat yang akan kubebankan padamu!”

Setelah berkata begitu, Ceng Sian Siansu menarik napas lagi untuk melapangkan jalannya pernapasannya.

Kemudian dia baru berkata lagi, “Apakah kau mau bersumpah bahwa kau akan mentaati dan menyimpan rahasia ini baik-baik?” tegurnya lagi.

Sian Tauw Bun jadi terkejut mendengar pertanyaan Ceng sian Siansu, cepat dia mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Biarpun badan Teecu harus hancur termakan api, tetap Teecu harus melaksanakan setiap perintah dari Ceng Sian Suhu!”

Wajah Ceng Sian Siansu agak berseri sedikit, dia tersenyum lembut, tetapi kemudian wajahnya berobah jadi pucat dan lesu kembali.

“Bagus! Bagus! Aku mau mempercayai dirimu!” kata Ceng-sian Siansu. “Tapi, hei kau Sian Tauw Bun!! Bersumpahlah, biarpun tubuhmu dicincang oleh seribu golok, tetap kau akan menutup rapat mulutmu, menyimpan rahasia ini baik-baik!!”

Berwibawa dan angker sekali waktu Ceng Sian Siansu berkata begitu, juga suaranya berobah sangat keras sekali. Sian Tauw Bun jadi terkejut lagi, dia tidak berani mengangkat kepalanya, melainkan hanya memanggut-manggutkan kepala berulang-ulang sambil berkata : “Teecu bersumpah, kalau sampai kalau sampai Teecu, yang bernama Sian Tauw Bun, membocorkan rahasia yang akan diberikan oleh Suhu Ceng Sian kepada Teecu ini, maka biarlah Thian mengutuk Teecu sampai hancur tubuh terbinasa dengan tubuh yang hancur dan penasaran!! Langit dan bumi telah menjadi saksi dari sumpah Teecu ini!!”

Lantang dan semangat sekali kata-kata Sian Tauw Bun.

Si Hweeshio tua yang bernama Ceng Sian Siansu itu mendengar perkataan Sian Sauw Bun jadi menghela napas.

“Bagus! Aku mau mempercayai sumpahmu itu, Sian Tauw Bun!” katanya. “Tetapi hal ini tetap harus berhati-hati, termasuk dirimu dan juga diri Pinceng!”

“Maksud Ceng Sian Suhu?” tanya Sian Tauw Bun tak mengerti. Hweeshio kembali menghela napas.

“Maksud Pinceng, biarpun terhadap orang-orang yang menjadi penghuni kelenteng ini, tetap kau harus menutup mulut dan aku akan menyarahkan kepadamu sebuah benda yang sangat berharga sekali, dan kalau bisa benda itu jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain, biarpun harus mati dan terbinasa, kau harus mempertahannya! Sanggupkah kau melakukan itu!”

Sian Tauw Bun tak berpikir lagi, dia menyatakan sanggup, karena dia memang seorang yang jujur dan berjiwa bersih, dia tidak bermaksud untuk bermuka-muka terhadap Hweeshio tua ini, melainkan di dalam hatinya dia memang telah berjanji akan menjalankan amanat yang akan diserahkan oleh Ceng Sian Siansu itu dengan sepenuh hatinya. Walaupun harus terbinasa, dia akan puas asal dapat melaksakan perintah dari ceng Sian Siansu dengan baik.

Melihat semangat Sian Tauw Bun yang berkobar-kobar, Ceng Sian Siansu tampak menarik napas lagi, tampaknya dia puas sekali.

“Untuk seterusnya, aku bisa binasa dengan mata tertutup!” katanya dengan suara yang perlahan. “Nah Sian Tauw Bun, dengarkanlah ceritaku ini semuanya akan kuceritakan sejelas-jelasnya kepadamu, dan setelah itu, kau harus menjauhi kelenteng ini sejauh mungkin untuk dapat membalaskan sakit hatiku terhadap manusia-manusia rendah yang sekarang banyak menghuni kelenteng suci ini!”

Dan berkata sampai di situ, Ceng Sian Siansu menarik napas lagi, tampaknya berkata banyak-banyak melelahkan sangat dirinya. Sian Tauw Bun memasang telinganya baik-baik, dia akan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Ceng Sian Siansu.

Pada saat itu Ceng Sian Siansu telah batuk-batuk beberapa kali, kemudian dia menghela napas. “Sian Tauw Bun!” kata Ceng Sian Siansu lagi.

“Ya?” Tauw Bun benar-benar memasang pendengarannya, karena dia sangat ingin mengetahui apa yang akan dibicarakan oleh Ceng Sian Siansu.

“Sebetulnya sejak didirikannya Siauw-lim-sie oleh Tat-mo Cauwsu, selalu hidup tenang dan tenteram. Tetapi, dengan tidak terduga, suatu peristiwa yang akan membawa kehancuran Siauw-lim-sie pada kemelaratan telah terjadi dan melanda penghuni Siauw lim-sie. Seperti kau ketahui, aku adalah pengurus Tat-mo Tong ini, dan kedudukanku adalah pelindung kitab-kitab ilmu silat peninggalan Tat-mo cauwsu yang terdiri dari berbagai macam dan ragam ilmu silat. Biar apa saja yang terjadi, aku harus melindungi kitab-kitab peninggalan Tat-mo cauwsu dari tangan manusia rendah, dan aku harus mempertahankannya, biarpun aku terbinasa! Kalau memang seumpamanya yang akan memusnahkan dan memiliki kitab-kitab itu dengan serakah adalah orang luar, aku masih bisa menghadapinya, tetapi ternyata sekarang aku menemui kesulitan di dalam hal membela kitab-kitab pusaka peninggalan Tat-mo cauwsu itu aku dibuatnya tidak berdaya!”

Sian Tauw Bun jadi mendengarkan penuh perhatian dan hati berdebar, karena dia memang ingin mengetahui kesukaran apa yang sedang dihadapi oleh Ceng Sian Siansu, pendeta tua Siauw-lim-sie ini.

“Dan Sian Tauw Bun, tahukah kau bahwa yang mempersulit diriku adalah Hong- thio Siauw-lim-sie yang sekarang ini?” kata Ceng Sian Siansu lagi dengan suara yang berduka. “Bong Goan Siansu diangkat menjadi Hong-thio Siauw lim-sie ini lima tahun yang lalu, karena mengingat dia menduduki kursi yang nomor dua, dan paling tertua diantara kalangan kami, murid kursi kedua. Lagi pula dia memang mempunyai kepandaian yang maju pesat sekali maka kami mengangkat dirinya itu dengan maksud agar Siauw-lim-sie bisa mengangkat dada lagi!! Tetapi, ternyata Hong-thio Bong Goan Siansu telah mempunyai rencana yang sangat jelek sekali dan hal itu tadinya sedikitpun tidak menduganya suatu rencana yang bisa meruntuhkan nama baik Siauw-lim-sie dan menyebabkan bentrokan-bentrokan dengan partai persilatan lainnya!”

“Rencana apakah, Ceng Siansuhu?” tanya Sian Tauw Bun tertarik, dia ingin mengetahuinya.

Ceng Sian Siansu menarik napas panjang, dia sangat berduka sekali.

“Hal ini memang membuat Pinceng bisa binasa dengan mata tak meram dan penasaran sekali!” kata Ceng Sian Siansu lagi kemudian. “Sebagai seorang Hong-thio Siauw-lim-sie, maka Bong Goan Siansu mempunyai kekuasaan yang luas di dalam lingkungan kuil ini atau di luar kuil, dia boleh menetapkan dan mengambil tindakan yang dianggapnya bijaksana tanpa perundingan oleh ketua dari Siauw-lim-sie ini jika dia menemui suatu peristiwa yang sangat mendesak, maka dengan begitu kekuasaan Hong- thio Siauw-lim-sie ini tidak terbatas. Namun Bong Goan telah menyalahgunakan! Kami sebelumnya tidak mengetahui bahwa sejak dulu belajar di Siauw-lim-sie, Bong Goan telah mengincar kitab-kitab ilmu silat yang tersimpan di dalam Tat-mo-tong ini, dia ingin mempelajarinya dan ingin memiliki ilmu silat yang terdapat di dalam kitab-kitab itu! Kau tentu telah mengetahuinya Sian Tauw Bun, biarpun Hong-thio Siauw-lim-sie sendiri, sebetulnya tidak boleh mempelajari kitab ilmu silat yang terdapat di dalam ruangan Tat- mo-tong ini, hanya boleh dipelajari oleh ketiga penunggu ruangan itu yaitu Pinceng sendiri, bersama dua Suteeku yang telah meninggal disebabkan usia tua! Hanya kami yang boleh mempelajari seluruh kitab-kitab tua itu, agar jika suatu waktu nanti Hong- thio kami itu menghadapi suatu tantangan dari orang kosen yang mempunyai kepandaian lebih tinggi dari Hong-thio kami, dan jika persoalannya memang penting, kami yang akan turun tangan untuk memberikan bantuannya! Jadi tegasnya kami bertiga di Tat-mo-tong ini adalah tenaga inti pusat keselamatan dari kuil Siauw-lim sie kalau memang menghadapi tantangan dari luar dan tidak bisa diselesaikan oleh Hong-thio kami. Hanya sayangnya kedua Suteeku, adik seperguruanku telah meninggal terlebih dahulu! Hai, hari demi hari berlalu dengan cepat, menyebabkan manusia jadi selalu melupakan segalanya! Oya, tadi telah kukatakan kepadamu bahwa dengan tidak terduga Bong Goan Siansu, Hong-thio Siauw-lim-sie ini, menggunakan kekuasaan yang ada padanya untuk memiliki kitab-kitab yang ada di dalam Tat-mo-tong ini, dia ingin memilikinya untuk kepentingan pribadi!”

Kisah yang diceritakan oleh Ceng sian Siansu jadi tegang begitu, Sian Tauw Bun sendiri jadi terbawa oleh ketegangan cerita tersebut. Bayangkan saja, ketua Siauw Lim sie sendiri yang telah bentrok dengan Ceng Sian Siansu dan berarti kalau memang Sian Tauw Bun ingin membantu Ceng Sian Siansu, dia harus berani untuk berhadapan dengan Hong-thio Siauw-lim-sie, yang juga menjadi ketuanya!

Maka dari itu, dengan sendirinya Sian Tauw Bun harus berani menghadapi segalanya! Pada saat itu, Ceng Sian Siansu telah menghela napas lagi dengan berduka.

“Sian Tauw Bun!” kata Ceng Sian Siansu dengan suara yang sabar. Sian Tauw Bun cepat-cepat menyahuti.

“Tentu Siecu terkejut mendengarkan orang yang akan berhadapan dengan Siecu adalah Hong-thio kuil Siauw-lim-sie ini, yang dengan sendirinya menjadi Hong-thio dirimu juga! Tetapi tidak perlu heran kalau memang Hong-thio itu yang menjadi ketua pimpinan Siauw lim-sie ini berjalan pada jalan yang lurus, biarpun harus binasa, aku tetap rela namun, karena sekarang ini Bong Goan Siansu telah menyeleweng, dengan menggunakan kekuasaannya sebagai Hong-thio Siauw-lim-sie, dia ingin menyerakahi seluruh kitab-kitab ilmu silat di dalam Tat-mo-tong untuk kepentingan pribadi!! Hmmm biarpun harus mengorbankan jiwa, aku tetap tidak bisa membiarkan manusia

rendah itu mengumbar hawa angkara murkanya di ruangan ini!” Dan pada kata-kata Ceng Sian Siansu yang terakhir sangat bersemangat sekali, jiwa Sian Tauw Bun juga jadi tergoncang.

“Ceng Sian Suhu, mengapa tetua-tetua dari Siauw lim-sie tidak mau mengambil tindakan terhadap Bong Goan Siansu kalau memang dia merupakan seorang Hong-thio yang tak tepat pada Siauw-lim-sie ini? Bukankah bisa diganti dan mengangkat Hong-thio baru?” tanya Tauw Bun.

Ceng Sian Siansu menghela napas dengan wajah yang berduka.

“Benar Sian Siecu!!” kata Ceng sian Siansu dengan suara yang sabar. “Tentu kau mencurigai Pinceng telah membuat dan mengarang sebuah cerita dusta belaka! Itu tidak dapat disalahkan! Tetapi Sian Siecu harus tahu, bahwa dalam beberapa hari ini telah terjadi suatu pergolakan di dalam kuil Siaw Lim Sie ini! Lihatlah, beberapa orang yang masih setia kepada kuil Siauw lim-si ini telah mengadakan perlawanan kepada kekuasaan Hong-thio Siauw lim-sie yang menyeleweng itu, dengan maksud mencegah maksud- maksud jelek Boan Goan. Namun, karena beberapa orang terpenting di dalam kuil Siauw lim-sie telah terpengaruh oleh Boan Goan dan tunduk pada setiap kata-katanya, kami menemui kesulitan.”

Sian Tauw Bun baru menyadari, bahwa sejak tadi Ceng Sian Siansu rebah tak berdaya di tikar Patkwanya dengan wajah yang pucat itu disebabkan dia sedang menderita luka yang cukup parah.

Juga Sian Tauw Bun melihat wajah Ceng Sian Siansu sangat pucat sekali, dia sedang menderita suatu penderitaan yang tidak ringan, suatu perasaan sakit yang tidak kepalang.

Sian Tauw Bun memang mengetahui sejak dia masuk ke dalam kuil Siauw lim-sie ini sebagai juru masak di kuil tersebut, bahwa Ceng Sian Siansu adalah seorang pendeta Siauw Lim yang patuh dan benar-benar jujur.

Maka dari itu, keterangan dari Ceng Sian Siansu tidak disangsikannya. Yang membuat Sian Tauw Bun jadi tak mengerti malah orang yang ingin mengkhianati kuil Siauw lim-sie ini adalah Hong thio atau ketua Siauw lim-sie itu sendiri!

Inilah yang membikin dia jadi bingung untuk mengambil suatu keputusan. Pada saat itu Ceng Sian Siansu telah menghela napas lagi dengan suara yang berduka.

“Sian Siecu, sebelum kulanjutkan dan kuterangkan persoalannya lebih mendalam, apakah Siecu rela mengambil suatu keputusan, untuk membela kebenaran tanpa memandang kekiri dan kekanan dan benar-benar bersungguh hati?” tanya Ceng Sian Siansu dengan suara yang sabar, dan juga matanya berkilat tajam menatap Sian Tauw Bun.

Orang she Sian ini jadi tertunduk. “Biarpun harus terbinasa dengan tubuh yang hancur, Teecu akan membela kebenaran itu dengan sepenuh hati!” menyahuti Sian Tauw Bun dengan suara yang tetap.

Ceng Sian Siansu tersenyum, tampaknya dia puas sekali mendengar jawaban Sian Tauw Bun.

“Bagus!” katanya kemudian. ''Memang aku ingin mengetahui ketegasan Sian Tauw Bun Siecu dulu! Perlu kukatakan, bahwa yang akan kau hadapi adalah Hong-thio Siauw- lim sie dan berikut pendeta-pendeta Siauw-lim sie yang telah kena dibujuk oleh Bong Goan Siansu!”

Pinceng sendiri sampai mengalami luka disebabkan oleh akal licik para pengikut Bong Goan yang licik itu. Sian Tauw Bun mengangguk.

“Kalau untuk kebenaran, biarpun harus terbinasa, Teecu akan membantu Ceng Sian Suhu sepenuh hati!!” menyahuti Sian Tauw Bun cepat.

“Bagus! Aku senang mendengarnya!” kata Ceng Sian Siansu. “Dan benda yang akan kuserahkan sebagai amanat guna kau selamatkan adalah dua buah kitab dari peninggalan Tat-mo cauwsu, yaitu kitab “Kim Hun Pit Kip!!”

“Kitab Kim Hun Pit Kip?” tanya Sian Tauw Bun terkejut. Ceng Sian Siansu mengangguk.

“Ya!” dia menyahuti. “Kedua kitab itu merunakan dua jilid kitab peninggalan Tat mo cauwsu yang sangat berharga sekali, sebab selama Tat-mo Pit kip yang tertinggal untuk turun temurun kepandaian Siauw lim-sie, Tat mo cauwsu masih meninggalkan warisan dua buah kitab Kim Hun Pit kip itu, dimana di dalam kedua kitab itu terdapat berbagai inti ilmu silat, sehingga biarpun kita tidak mengetahui ilmu silat apa yang digunakan lawan, namun setelah bertempur, maka kita akan bisa menghadapinya kalau memang telah mempelajari ilmu silat itu!”

“Tetapi Ceng Sian Suhu!” sangsi sekali Sian Tauw Bun tampaknya.

“Kenapa?” tanya Ceng Sian Siansu waktu melihat kebimbangan orang.

“Mengapa mengapa Ceng Sian Suhu bisa terkalahkan oleh Hong-thio Siauw- lim-sie bukankah Suhu telah mempelajari berbagai kitab ilmu silat yang ada di Tat-

mo-tong ini? Dan juga bukankah Ceng Sian Suhu telah mempelajari kitab dari Kim Hun Pit Kip?”

Ceng Sian Siansu tersenyum tawar, tampaknya dia sangat berduka.

“Kau harus mengetahui Sian Siecu sebagai seorang pengurus Tat-mo-tong ini, Pinceng harus mendengar setiap perintah dari Hong-thio, karena Bong Goan belum terbukti menyeleweng dan aku belum dapat menangkap basah, maka dia tidak bisa dirubuhkan dan tetap berkedudukan sebagai Hong thio. Maka setiap kata-katanya harus didengar      dia mengatakan aku telah melakukan suatu kedosaan dengan menolak permintaannya untuk mengeluarkan Kim Hun Pit Kip dari ruangan Tat-mo-tong ini dan aku dihukumnya! Aku tidak berdaya, walaupun aku penasaran sekali, dan sebetulnya tidak ada seorang pendeta di dalam kuil ini yang bisa menandingi diriku, tetapi terikat oleh peraturan Siauw Lim Sie yang keras, terpaksa aku menyerah disiksa begitu oleh orang-orangnya Bong Goan!”

“Tetapi Ceng Sian Suhu!” kata Sian Tauw Bun, tetapi dia tidak meneruskan perkataannya itu.

Kembali Ceng Sian Siansu menghela napas, tampaknya dia tetap berduka.

'“Katakanlah Sian Siecu   janganlah ragu-ragu, tanyakan setiap persoalan yang

belum kau pahami!” kata Ceng Sian Siansu.

“Kalau dilihat dari segi-segi itu, maka Bong Goan Hong-thio mempunyai kekuasaan yang besar, mengapa dia tidak memaksa untuk merebut kedua kitab Kim-hun Pit-kip itu dengan menggunakan kekerasan?”

Ceng Sian Siausu tersenyum tawar.

“Hmm walaupun Bong Goan mempunyai kepala sepuluh dan tangan kaki dua puluh, dia tidak akan berani melakukan itu!” kata Ceng Sian Siansu “Aku disiksa olehnya dengan menyerah begitu saja disebabkan dia tidak berani mengganggu Tat mo-tong, tetapi seandainya dia memang menggunakan kekerasan untuk merebut kitab-kitab yang ada di dalam ruangan ini, apakah aku akan menyerah begitu saja? Bukankah di dalam kuil ini sudah tak ada yang bisa menandingi kepandaianku? Lagi pula, kalau sampai Bong Goan melakukan kekerasan, sama saja dia menunjukkan belangnya, dan pendeta- pendeta dikuil ini yang bisa dikuasai dan dibujuknya akan melihat belangnya itu dan tentu akan berbalik menjadi lawannya, karena biar bagaimana pendeta-pendeta dan tetua dari Siauw-lim sie ini adalah orang-orang yang jujur, maka mana bisa mereka berdiam diri? Mereka bisa dipengaruhi oleh Bong Goan, karena mereka masih menduga bahwa Bong Goan Siansu adalah seorang Hong-thio yang baik!!”

Sian Tauw Bun baru mengerti, dia menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dia baru mengerti, bahwa Bong Goan Siansu kalau begitu menggunakan tipu sekati merubuhkan seribu kati, dengan tenaga lembut mengalahkan tenaga kasar ! Jadi tegasnya Hong-thio Siauw-lim-sie itu tidak mau berterang dia mau merebut kitab-kitab dari ruangan Tat-mo tong itu dengan kekerasan guna kepentingan pribadinya sehingga dia bisa menguasai dan mempengaruhi tetua-tetua Siauw lim-sie lainnya.

“Kau baru mengerti, Sian Siecu?” tanya Ceng Sian Siansu sambil memandang Sian Tauw Bun dengan tersenyum berduka dan wajah yang agak pucat.

Sian Tauw Bun cepat-cepat mengangguk. Dia menekuk kedua kakinya berlutut di depan Ceng Sian Siansu, dan mengangguk- anggukkkan kepalanya berulang kali memberi hormat kepada pendeta Siauw lim-sie yang sudah tua ini dan menjadi pengawas ruangan Tat-mo-tong tersebut.

“Teecu mempunyai mata, tetapi seperti juga buta tak bisa melihat sinar sang Budha!” kata Sian Tauw Bun dengan terharu. “Dan Teecu benar-benar berdosa tadi tidak lantas mempercayai perkataan Ceng Sian Suhu!” dan Sian Tauw Bun mengangguk- anggukkan kepalanya tak hentinya.

Ceng Sian Siansu mengangguk mengerti dengan tersenyum sabar.

“Kau tidak berdosa Sian Siecu kau wajar tidak mempercayai begitu saja perkataanku, karena ini termasuk suatu persoalan yang rumit dan besar sekali akibatnya, bersangkut-paut dengan jiwamu! Tetapi dengan adanya pengakuanmu itu, aku jadi yakin seratus persen bahwa kini bisa terlaksana amanatku ini dengan penuh tanggung jawab, karena kau telah menunjukkan kejujuran dan kepolosan jiwamu!”

Sian Tauw Bun tidak berani bangkit duduk, dia masih berlutut memanggut- manggutkan kepalanya.

Melihat itu, Ceng Sian Siansu tersenyum terharu.

“Bangunlah Sian Siecu, marilah kuteruskan keteranganku mengenai penyelewengan Hong-thio Siauw-iim-sie Bong Goan Siansu ini, agar seterusnya nanti kau bisa memulihkan kekeruhan yang terjadi di dalam kuil ini!” lagi. SIAN TAUW BUN bangku perlahan-lahan dan duduk di depan Ceng Sian Siansu

“Nah Sian Siecu!” kata Ceng Sian Siansu melanjutkan perkataannya. “Amanat yang akan kuserahkan kepadamu, dan kuharapkan pertolongan dan pengorbananmu ialah menyelamatkan kedua kitab Kim hun Pit-kip! Kalau memang nanti seandainya Siecu menemui orang yang cocok dan berjodoh dengan kitab itu, kuminta Siecu menyerahkan kitab itu kepadanya agar dia mempelajarinya, dan untuk selanjutnya orang yang berjodoh dengan kedua kitab Kim-hun Pit-kip itu harus berusaha sekuat tenaganya untuk memulihkan kekeruhan di kuil ini! Tetapi ingat, sebelum dia muncul di depan paderi- paderi Siauw-lim ini secara berterang, jelaskan dulu padanya persoalan yiang Siecu telah dengar dari Pincjeng, dan agar orang yang berjodoh dengan kedua kitab itu mencari bukti-bukti untuk membeber tentang kebusukan Hong-thio Siauw lim-sie ini!!”

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Ya, Ceng Sian Suhu!!” katanya dengan cepat dan kepala tertunduk.

“Dan kalau memang Siecu juga berjodoh dengan kitab itu, Siecu juga boleh mempelajarinya asal memang Siecu berjodoh, Siecu bisa mempelajari isi kitab itu, tetapi ingat, kalau memang selama satu tahun Siecu tidak bisa mempelajarinya, itu berarti Siecu tidak berjodoh dengan kedua kitab Kim Hun Pit Kip tersebut dan Siecu harus menyimpankitab itu dan nanti mencari orang yang cocok serta berjodoh dengan kedua kitab itu!”

Sian Tauw Bun mengangguk.

Ceng-sian Siansu merogoh sakunya. Dia mengeluarkan dua buah kitab yang diserahkan kepada Sian Tauw Bun.

Dengan kedua tangan terjulur Sian Tauw Bun menyambuti kedua kitab itu.

Kim Hun Pit Kip ternyata dua buah kitab yang sangat kecil sekali ukurannya, dan juga sangat tipis.

Tiba-tiba wajah Ceng sian Siansu jadi mengeras dan tidak berperasaan. Dia juga mengibaskan lengan jubahnya.

“Nah pergilah! Dan lindungilah kedua kitab itu baik-baik!” katanya.

Cepat-cepat Sian Tauw Bun berlutut. Dia menjura dengan sepenuh hati dan perasaan kepada Pendeta Siauw Lim yang sudah tua itu.

Kemudian dengan berat Sian Tauw Bun berlalu kembali ke kamarnya. Sian Tauw Bun mengetahui apa yang harus dilakukannya. Cepat-cepat dia membungkus pakaian- pakaiannya, dan dengan hanya membawa pauwhok kecil itu, buntalan kecil, yang berisi beberapa potong pakaiannya, dia meninggalkan kuil Siauw-lim-sie, dan menuruni gunung Siong-san.

Semuanya itu dilakukan dengan cepat oleh Sian Tauw Bun, karena dia tahu, begitu pendeta-pendeta Siauw lim-sie yang menjadi pengikutnya Bong Goan Siansu tahu, tentu jiwanya tidak bisa dilindungi terus, pasti akan dibunuh dan dianiaya oleh pendeta- pendeta itu.

Dan yang terutama sekali, kalau sampai dia kena dipergoki pasti dia tidak bisa melindungi terus kedua kitab Kim Hun Pit Kip seperti apa yang diharapkan oleh Ceng Sian Siansu.

Menjelang fajar Sian Tauw Bun telah sampai dibawah kaki gunung tersebut, dia melakukan perjalanan tanpa mengenal lelah.

Kalau memang perutnya belum lapar benar, dia tentu tidak akan berhenti untuk makan atau minum, malah pernah dia melakukan perjalanan terus menerus selama dua hari dua malam tanpa mengenal lelah dan tanpa makan dan minum!

Dan Sian Tauw Bun mengambil keputusan, semakin jauh dia terpisah dengan Siauw-lim-sie, semakin baik.

Akhirnya, waktu dia sampai di daerah Sinkiang, dia bertemu dengan seorang gadis pengembala kuda yang bernama Su Pie Lian. Mereka saling mencintai dan menikah. Tetapi rupanya orang-orang Siauw lim-sie melakukan pengejaran terus kepada Sian Tauw Bun, dan orang she Sian ini mendengar berita dari orang-orang yang mengetahui, Ceng Sian Siansu, pendeta tua penjaga kuil Tat mo-tong telah meninggal. Menurur berita-berita yang tersiar itu, pendeta tua itu meninggal disebabkan usianya sudah terlalu tua, tetapi Sian Tauw Bun yang mengetahui persoalannya, dia telah menduga bahwa pasti Ceng Sian Siansu telah disiksa oleh orang-orangnya Bong Goan Siansu, Hong-thio Siauw Lim Sie itu.

Betapa sedih dan berdukanya hati Sian Tauw Bun, dia sampai menangis satu malam. Su Pie Lian membujuknya dengan penuh kebijaksanaan.

Walaupun seorang lemah yang mempunyai kepandaian ilmu silat yang disebut ‘pasaran’, toh dihatinya Sian Tauw Bun bersumpah akan mencari balas sakit hati Ceng Sian Siansu. Dia berusaha mempelajari kitab Kim Hun Pit Kip itu, tetapi selalu saja gagal, tidak berhasil.

Seperti apa yang telah dipesan oleh Ceng Sian jaog memberikan waktu padanya satu tahun, kalau memang dia tidak berhasil mempelajari kitab itu, berarti dia tidak berjodoh dan harus menyimpan kitab itu baik-baik, maka Sian Tauw Bun menyimpan kitab tersebut disebuah tempat yang hanya diketahui olehnya sendiri.

Kemudian sambil menunggu orang yang berjodoh dengan kitab itu, tahun demi tahun Sian Tauw Bun hidup bahagia disisi isterinya. Tetapi menjelang lima tahun, disaat mana dia telah memperoleh seorang puteri yang pada saat itu telah berusia diantara tiga tahun setengah, orang-orang Siauw-lim-sie dapat mengendus jejaknya, maka terpaksa Sian Tauw Bun dan keluarganya mengungsi ke tempat yang lebih tenang dan aman.

Tetapi orang Siauw-lim-sie tetap tidak mau melepaskan Sian Tauw Bun begitu saja, mereka melakukan pengejaran terus dengan gigih. Malah beberapa kali Sian Tauw Bun harus bertempur mengadakan perlawanan kepada orang-orang Siauw-lim-sie itu kalau tempat persembunyiannya kena diendus oleh orang-orang Siauw-lim-sie itu. Dan berulang kali juga Sian Tauw Bun dapat meloloskan dirinya dan keluarganya dari bahaya maut.

Namun, disaat Ling-jie, Sian Su Ling, puterinya itu berusia diantara delapan atau sembilan tahun, kembali Sian Tauw Bun dapat dicari oleh orang-orang Siauw-lim-sie, dan di dalam pertempuran yang kalut itu Su Pian Lian terbunuh oleh salah seorang pengeroyok, sehingga menimbulkan kegusaran dan kemurkaan Sian Tauw Bun.

Dia mengamuk dengan membabi buta, tetapi akhirnya dia teringat, bahwa biar bagaimana dia harus menyelamatkan jiwa puterinya, yaitu Sian Su Ling, maka dia akhirnya berusaha meloloskan diri.

Dengan penuh kepedihan hati, Sian Tauw Bun membawa kabur puterinya untuk mencari keselamatan untuk mereka, ayah dan anak. Karena, kalau sampai dia terbinasa juga di tangan orang-orang Siauw-lim-sie itu, maka sakit hatinya disebabkan kematian isterinya itu tentu tidak akan terbalas.

Dengan terlunta-lunta Sian Tauw Bun ini melakukan pengembaraan, dan selalu menghindarkan diri dari orang-orang Siauw lim-sie.

Dari tahun ketahun dia melakukan pengembaraan dan perlahan-lahan Sian Su Ling telah menanjak dewasa, dan selama bertahun-tahun begitu, orang-orang Siauw lim-sie masih juga melakukan pengejaran terhadap Sian Tauw Bun.

Malah beberapa kali jejak Sian Tauw Bun kena diendus orang-orang Siauw-lim- sie. Sering terjadi pertempuran, tetapi Sian Tauw Bun selalu dapat meloloskan diri dan menghindarkan diri dari orang-orang Siauw-lim-sie itu. Dan untuk menyambung hidup mereka, akhirnya dengan menggunakan sedikit kepintarannya dapat membuat obat luka dalam yang dipelajarinya dulu dari seorang sinshe tak dikenal olehnya, Sian Tauw Bun melakukan penjualan obat itu.

Dengan begitu dia bisa menyambung hidup terus tanpa kelaparan. Perlahan-lahan Ling-jie jadi dewasa dan pihak Siauw-lim-sie masih terus juga melakukan pengejaran. Dan, Sian Tauw Bun jadi sering memakai kedok untuk menyamar, sebab wajahnya sudah dikenal betul oleh orang-orang Siauw-lim-sie.

Setiap kali dia melakukan penjualan obatnya, dan mengadakan pertunjukan di setiap kota yang disinggahinya itu, Sian Tauw Bun menyamar agar tidak terendus jejaknya oleh orang-orang Siauw-lim sie itu.

Tetapi memang pendeta-pendeta Siauw lim-sie itu mempunyai telinga yang tajam dan mata yang awas, setiap gerak-gerik Sian Tauw Bun selalu saja dapat diendus oleh mereka, dan hampir setiap Sian Tauw Bun melakukan penjualan obatnya, dia selalu saja harus melarikan diri bersama puterinya, untuk menghindarkan keributan dengan murid- murid Siauw lim-sie yang tetap melakukan pengejaran.

Itulah sebabnya hampir setiap kota Sian Tauw Bun selalu harus berwaspada terhadap setiap orang, karena dia bisa celaka dalam waktu sebentar saja kalau memang dia ceroboh dan tidak berwaspada.

Persoalan itu berlarut-larut terus, sampai akhirnya Sian Tauw Bun bentrok dengan orang menamakan dirinya Cing Toaya, yang mengincar kitab Kim hun Pit Kip itu juga, yang rupanya orang she Cing itu adalah orangnya Siauw lim-sie dan beruntung Sian Tauw Bun bisa bertemu dengan Bie Liek dan memperoleh bantuan serta pertolongan bocah she Bie itu.

Coba kalau memang tidak ada Bie Liek tentu Sian Tauw Bun dan puterinya, Sian Su Ling itu telah mengalami cidera atau terbinasa di tangan Cing Tian Sun dan chit-kiam Kian san. Tempat yang ditunjuk oleh Sian Tauw Bun hanyalah tempat yang kosong tak ada apa-apa, itu hanya tipu muslihat dari orang she Sian itu. Biar binasa dia tidak akan memberitahukan tempat penyimpanan kedua kitab Kim Hun Pit-kip tersebut.

Maka dari itu, biarpun dia dan puterinya terancam bahaya kematian, tetap saja dia tidak akan membentahukannya, lebih baik dia terbinasa dari pada harus memberitahukan letak kitab Kim Hun Pit-kip kepada Cing Tian Sun dan chit-kiam Kian- san.