Gerbang Tengkorak Jilid 05

Jilid 05

Melihar sikap si kakek, Bie Liek tersenyum. Dia menghampiri kakek itu.

“Lo-peh coba kau minggir sebentar, biar aku yang bereskan buaya darat yang tengik itu!' kata si bocah. “Tetapi kau akan dianiaya olehnya!” kata si kakek peramal dengan suara gemetar, dia menguatirkan keselamatan si bocah.

“Jangan kuatir aku tidak akan apa-apa!” kala Bie Liek dengan tenang.

Dengan ragu-ragu si kakek minggir. Sedangkan A Fie telah menghampiri Bie Liek lebih dekat kemudian dengan membentak bengis, dia menghajar ke arah kepala si bocah.

Tetapi manusia seperti A Fie ini mana bisa merubuhkan Bie Liek. Belum lagi tangannya itu mengenai sasarannya, tangannya itu telah berhasil dicekal oleh si bocah.

(Hal  dan  tidak bisa dibaca)

Dengan terharu dan berterima kasih. “Terima kasih atas pertolongan In-jin!”

Cepat-cepat Bie Liek menggeser kedudukan kakinya, mengelakkan pemberian hormat si tukang ramal.

“Syukurlah kalau memang Lopeh tidak mengalami cidera apa-apa!” katanya kemudian. “Nah, aku kira tak ada apa-apa lagi selamat tinggal!” dan Bie Liek memutar tubuhnya, dia berjalan akan meninggalkan tempat itu, karena di situ mulai banyak orana yang mengerumuninya, yang mengagumi si bocah.

“Tunggu dulu In-jin!” teriak Lo sam dengan tergopoh. Bie Liek menoleh.

“Ada apa lagi, Lo peh?” tanyanya.

“Kau telah menolong diriku, maka aku benar-benar manusia yang tidak mengenal budi kalau memang membiarkan kau pergi begitu saja! Siapakah nama In-jin?”

Bie Liek menyebutkan namanya.

“Rupanya In-jin orang baru dikampung ini dan kalau memang In-jin tidak mencela, maka aku mempersilahkan In-jin tinggal satu dua hari di rumahku.”

Bie Liek mengucapkan terima kasih. Dia menolak tawaran si kakek, dia mengemukakan alasan bahwa dia masih mempunyai urusan lainnya.

Kemudian si bocah pamitan.

Kakek tua tukang ramal itu mengawasi kepergian si bocah dengan perasaan sayang. Dia sebetulnya ingin sekali membalas budi si bocah yang telah menolongnya.

Bie Liek meninggalkan tempat itu dengan cepat. Dia mengambil tempat sepi. Tetapi waktu dia tiba disebuah jalan kecil ditengah kampung, dimana keadaan di sana sangat sepi, dia merasakan bahwa dirinya dikuntit orang. Tetapi Bie Liek pura-pura tidak mengetahuinya. Orang yang menguntit dirinya masih terus mengikuti dirinya.

Bie Liek mempercepatkan langkah kakinya, tetapi orang itupun mengikuti dengan langkah yang cepat. Di dalam dugaan Bie Lie setidak-tidaknya orang itu pasti mempunyai kepandaian silat juga. Waktu sampai ditengah lorong, keadaan di situ sangat sepi dan agak suram, tidak ada penerangan, sengaja Bie Liek memperlambatkan jalannya.

Ketika sampai disebuah tikungan, Bie Liek menikung dan bersembunyi di situ menantikan orang yang sedang menguntit dirinya. Didengarnya oleh Bie Liek suara langkah kaki yang cepat. Rupanya orang itu sedang mengejar dirinya dengan terburu- buru takut kehilangan jejak.

Ketika orang yang menguntit dirinya sampai di tikungan itu, Bie Liek mengulurkan tangannya mencengkeram baju orang itu, yang menyebabkan orang tersebut jadi terkejut dan mengeluarkan suara seruan tertahan. Rupanya dia kaget sekali. Bie Liek membanting tubuh orang itu.

“Mau apa kau menguntit diiiku?” bentak Bie Liek dengan bengis. Dia mengawasi

orang yang menguntit dirinya itu, yang numprah di tanah dengan kesakitan.

Roman orang sangat ketakutan, dia dandan sebagai seorang pelayan. Dengan tidak terduga orang itu menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Bie Liek.

“Siauw-hiap aku bukan ingin menguntit dirimu tetapi aku aku ingin meminta pertolongan Siauw-hiap untuk menolong keluarga dari cengkeraman tangan jahat! Tadi sore, aku telah putus asa, dan kebetulan aku menyaksikan halnya Siauw-hiap menjatuhkan kedua buaya darat itu, maka timbul kembali harapan bahwa keluargaku akan tertolong dari malapetaka!” dan setelah berkata begitu, orang tersebut menangis sesenggukan.

Bie Liek jadi heran. Dia menyuruh orang itu untuk bangkit berdiri. Diawasinya orang tersebut, keadaannya sangat sederhana sekali.

“Sebetulnya kesulitan apa yang sedang kau hadapi?” tanya Bie Liek kemudian. Orang itu menyusut air matanya.

“Keluargaku adalah keluarga melarat, aku bekerja pada keluarga hartawan dipinggir kampung ini. Kami adalah keluarga Lie dan aku sendiri bernama Kim Bun. Tiga bulan yang lalu aku mulai bekerja pada keluarga hartawan she Bong, aku ditempatkan sebagai kacung di dalam keluarga kaya itu. Tetapi dengan tidak terduga putera hartawan itu yang terkenal sebagai seorang pemuda bebangoran, melihat adik perempuanku yang satu-satunya, dia bermaksud untuk mengambilnya untuk dijadikan isterinya yang nomor sembilan, sedangkan adikku menolaknya, karena memang adikku telah terikat pertunangan dengan seorang pemuda dikampung ini, yang dalam beberapa bulan lagi akan melangsungkan pernikahannya. Tetapi rupanya tolakan adik perempuan itu, telah membikin hartawan Bong dan puteranya jadi murka, mereka bergusar kepadaku, yang lantas dipecat. Malah katanya kalau memang adikku tidak mau menuruti keinginan mereka itu, maka keluarga kami akan diseret  kehadapan Tiekwan, mereka orang beruang,orang kaya, maka bisa saja mereka menyogok Tiekwan, sehingga kami akan

dipenjarakan!”

Dan orang itu, yang mengaku bernama Lie Kim Bun menangis sesenggukan pula. Dia masih berlutut dan memanggut-manggutkan kepalanya. Bie Liek mengerutkan alisnya.

“Benarkah ceritamu ini!” tegur Bie Liek dengan suara ragu.

“Mana berani Siauw-jin mendustai Siauw-hiap?” kata Kim Bun dengan suara menghiba. “Tolonglah Siauw hiap, kalau tidak keluarga kami tentu akan tertimpa malapetaka!!”

“Bangunlah!” perintah Bie Liek, kemudian.

Tetapi Kim Bun tidak mau berdiri, dia masih berlutut memanggut-manggutkan kepalanya.

“Bangunlah! Mari kita bicarakan secara perlahan-lahan!” kata Bie Liek. Didesak begitu, barulah Kim Bun berani berdiri, dia menyusut air matanya. “Tolonglah keluarga kami Siauw-hiap!” rengek Kim Bun lagi.

Bie Liek mengangguk.

“Aku pasti akan menolong pihak lemah yang tertindas! Dan juga aku akan menolong keluargamu! Tetapi hal ini akan kuselidiki dulu, kalau memang ceritamu itu benar, maka aku akan menolongnya, tetapi kalau kau berdusta, hmmm, kau sendiri yang akan kuhajar! Dimana letak rumah dari hartawan itu?”

Kim Bun cepat-cepat membayangkan letak dari rumah hartawan itu. Akhirnya Bie Liek mengangguk.

“Baiklah! Sekarang kau pergilah kau pulang kerumahmu!” kata Bie Liek.

“Tetapi Siauw-hiap!” tampak Kim Bun sangat ragu sekali, dia mengharapkan benar bantuan si pendekar cilik ini, karena tadi dia memang telah menyaksikan keliehayan dari pendekar kecil ini.

Bie Liek tersenyum.

“Malam ini juga aku akan menyatroni rumah hartawan itu, dan kalau memang ternyata hartawan itu memang seorang yang jahat, aku akan memberikan ganjaran kepadanya! Nah, pergilah pulang, besok pasti hartawan itu tidak akan berani mengganggumu lagi!”

Kim Bun jadi kegirangan, dia sampai menjatuhkan dirinya dan menangis terharu. Entah berapa kali dia menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya. Ketika dia mengangkat kepalanya, Kim Bun jadi terkejut, sebab Bie Liek telah tidak ada dihadapannya lagi, entah telah pergi kemana di dalam waktu yang begitu singkat. Hati Kim Bun jadi tambah kagum kepada pendekar kecil itu, karena dengan kegesitan dan kepandaian yang dimiliki oleh Bie Liek, pasti keluarganya akan tertolong dari tangan-tangan jahat keluarga hartawan she Bong itu

TERNYATA TADI waktu Kim Bun sedang berlutut memberi hormat kepadanya, Bie Liek telah mengenjotkan tubuhnya melompat keatas genting. Dia melihat Kim Bun berdiri kesima sesaat di situ, tetapi kemudian berlalu.

Setelah orang she Lie itu berlalu, Bie Liek baru melompat turun lagi dari atas genting rumah itu. Dia meneruskan jalannya.

Diambilnya jalan ke arah timur, karena di sebelah timur di luar kampung tersebutlah letak rumah hartawan jahat itu. Ditengah perjalanan, Bie Liek merasakan perutnya sangat lapar sekali. Maka dari itu, dia mampir di sebuah rumah makan yang terletak tak jauh dari situ.

Si bocah memesan makanan yang diinginkannya, selama menunggu makanannya yang sedang dipesan itu, dia memandang sekeliling rumah makan itu. Walaupun tak besar, tetapi rumah makan itu sangat ramai sekali dikunjungi  orang.

Di meja sebelah meja Bie Liek terdapat dua orang tamu yang sedang makan juga. Kedua orang itu sedang bercakap-cakap, sebetulnya Bie Liek tidak bermaksud untuk mendengarkan percakapan kedua orang itu, tetapi secara samar-samar dia mendengar orang itu menyebut-nyebut tentang diri Bong Wang-gwee, hartawan she Bong.

Maka dari itu, Bie Liek jadi tertarik. Dia memasang kuping dan mempertajamkan pendengarannya untuk menangkap pembicaraan kedua orang itu.

“Kalau memang besok keluarga Lie itu tidak mau menyerahkan puterinya, tentu mereka akan tertimpa malapetaka yang hebat dari Bong Wang-gwee!!” kata salah seorang diantara mereka sambil terus mengunyah.

Kawannya mengangguk.

“Benar! Kasihan keluarga Lie itu! Mereka sedang bintang gelap!” menyahuti

kawannya.

Kawannya yang seorangpun, yang tadi berkata, telah menarik napas.

“Nanti suatu ketika hartawan bangsat she Bong itu tentu akan menerima ganjaran

dari Thian!” katanya dengan suara yang agak nyaring, Rupanya dia mendongkol sekali.

Thian adalah Tuhan.

Kawannya jadi terkejut mendengar kawannya itu berkata agak keras.

“Sssttt Lotoa, hati-hati dengan mulutmu, nanti kalau sampai terdengar oleh Bong Wang-gwee, tentu kau juga akan celaka!” Kawannya yang dipanggil Lotoa hanya tertawa dingin saja, dia meneruskan makannya.

BIE LIEK memasang kuping terus, tetapi kedua orang itu sudah tidak berkata-kata lagi, mereka repot dengan makanan yang sedang mereka hadapi itu.

Akhirnya makanan yang dipesan Bie Liek telah tersedia. Bie Liek bersantap dengan perlahan-lahan.

Tiba-tiba orang yang dipanggil Lotoa itu berkata lagi :

“Entah sudah berapa banyak anak perawan yang dicelakai oleh putera hartawan

jahat itu, Lojie?” katanya.

Kawannya mengangkat bahu sambil tertawa.

“Entahlah mungkin telah seratus atau limapuluh gadis yang dicelakai olehnya!” sahutnya.

Lotoa tertawa.

“Oh alangkah jahatnya hartawan she Bong itu!” kata si Lotoa. “Bong Wanggwee

memang harus menerima ganjaran, dia terlalu bengis dan jahat!!” Lo jie mengangguk.

“Tetapi orang-orang lemah seperti kita mana berdaya menghadapi mereka yang bengis dan kejam-kejam itu?”

Kawannya membenarkan.

Mendengarkan percakapan kedua orang itu, maka Bie Liek telah memperoleh kesimpulan bahwa Lie Kim Bun ternyata tidak mendustai dirinya.

Hartawan she Bong itu ternyata memang sangat jahat dan dibenci penduduk. Maka dari itu, Bie Liek mempercepat makannya, kemudian dia membayar harga makanan itu dan meninggalkan rumah makan tersebut dengan tergesa-gesa.

MALAM telah menyelimuti perkampungan Lian-pie-chung. Cahaya rembulan sangat indah, karena pada malam itu bulan bersinar penuh. Juga bintang-bintang bertaburan di langit.

Diantara keindahan pemandangan disekitar perkampungan Lian-pie-chung itu, diantara harumnya bunga-bunga, maka tampak sesosok bayangan berkelebat. Bayangan itu sangat kecil, dan berkelebat dengan cepat sekali, seperti juga seekor monyet, yang melompati genteng-genteng penduduk. Sosok tubuh yang menyerupai bayangan itu berlari dengan cepat ke arah luar kampung Lian-pie chung itu, dia mengambil jurusan ke timur. Siapakah sosok tubuh itu?  

Dia tak lain dari pada Bie Liek, dan malam ini dia memang bermaksud menyatroni hartawan kaya yang jahat itu, untuk memberikan hajaran padanya. Di dalam waktu yang sangat singkat, dia telah mengikuti tempat-tempat yang ditunjuk oleh Lie Kim Bun sore tadi, dan dia akhirnya telah sampai di luar kampung.

Dengan mudah dia mencari rumah yang diberitahukan oleh Kim Bun, karena selain rumah itu sangat mewah, juga paling besar dikampung tersebut. Waktu sampai di depan rumah itu, Bie Liek berdiri sejenak, dia mengawasi rumah itu.

Betapa mewah hidup dari hartawan itu. Keadaan disekitar gedung itu sangat sunyi, yang terdengar samar-samar hanyalah suara kentongan dari ronda-ronda yang sedang menjaga kampung. Bie Liek menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat melompati dinding gedung itu. Di dalam waktu yang sangat singkat dia telah berada di atas genting gedung itu.

Dia mengawasi kendaan sekeliling gedung tersebut dengan matanya yang tajam. Keadaan di situ sunyi sekali. Tak ada seorang manusiapun, sehingga Bie Liek jadi bingung juga untuk mencari yang mana kamar dari Bong Wang-gwee, hartawan she Bong yang jahat itu.

Dia mencari-cari disekitar gedung itu, setiap kamar pasti diintipnya. Tetapi dia tidak menemui kamar Bong Wang-gwee. Ketika Bie Liek sedang melompati dinding di belakang gedung itu, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan seorang perempuan. Walaupun jeritan itu sangat samar, tetapi bagi pendengaran Bie Liek yang tajam, itu sudah cukup.

Cepat-cepat Bie Liek mencari asal dari jeritan itu. Dan, ketika dia mendengar lagi suara jeritan tersendat itu, segera juga dia mengetahui bahwa suara jeritan itu berasal dari kamar di belakang gedung tersebut.

Cepat-cepat Bie Liek berlari ke sana. Keadaan disekitar tempat tersebutpun sangat sepi sebali. Bie Liek menghampiri sebuah kamar yang masih ada penerangan.

Dia menghampiri jendela dan melobangi kertas jendela dengan lidahnya. Begitu mengintip ke dalam dan melihat keadaan di dalam kamar itu, darah Bie Liek jadi meluap. Dia gusar bukan main menyaksikan apa yang sedang terjadi di dalam kamar.

Apa yang dilihat oleh Bie Liek?

Ternyata, di kamar itu terdapat seorang pemuda yang sedang memaksa seorang gadis untuk diperkosa. Si gadis tampak meronta sekuat tenaga memberikan perlawanan, sedangkan mulutnya sebentar-sebentar menjerit. Hanya karena pemuda itu selalu berhasil menekap mulutnya, gadis itu tidak bisa menjerit dengan suara yang keras.

“Oh Bong Kongcu kasihanilah aku! Janganlah kau ganggu diriku kasihanilah aku!” meratap gadis itu dengan ketakutan. Tetapi pemuda itu, yang dipanggil Bong Kongcu, malah semakin buas, dia menarik robek baju gadis itu. Si gadis menjerit lagi dengan suara yang ketakutan sekali.

Melihat hal itu, betapa gusarnya Bie Liek. Segera juga dia mengetahui siapa adanya pemuda itu.

Bong Kongcu ini tentunya putera Bong Wang-wee yang ingin mengganggu adik Lie Kim Bun. Maka itu, tanpa menunggu lagi, Bie Liek menggedor jendela itu sampai hancur. Tubuhnya juga membarengi dengan pecahnya jendela itu mencelat masuk. Si penuda, Bong Kongcu jadi terkejut melihat ada sesosok bayangan yang melompat masuk.

Dia melepaskan pelukannya pada si gadis. Dipandangnya orang yang menerobos masuk itu dengan muka yang bengis. Waktu dilihatnya yang masuk itu adalah seorang bocah, Bong Kongcu jadi tambah gusar.

“Bocah, berani mati kau mengganggu kesenangan Siauw-ya?” bentaknya. Bie Liek tersenyum mengejek. Serulingnya telah ada di tangannya.

“Hmmm pemuda bebagoran seperti kau ini harus mampus dan dilenyapkan dari permukaan bumi!” kata Bie Liek dengan suara yang bengis.

Gadis yang dilepaskan dari pelukan Bong Kongcu membenarkan letak bajunya.

Sedangkan Bong Kongcu sangat gusar sekali.

“Sungguh kurang ajar sekali mulutmu!” bentak Bong Kongcu lagi. “Apakah kau tidak mengetahui bahwa kau sedang berhadapan dengan Bong Cie Kiat, putera dari Bong Wang-gwee?”

“Hmmm      dimataku, kau tidak ada harganya untuk dikenal!” ejek Bie Liek.

Bong Kongcu jadi gusar bukan main, lagi pula dia memang tidak memandang sebelah mata kepada si bocah, yang dalam pandangannya merupakan seorang bocah yang mudah untuk dihajar.

Apa lagi memang Bong Kongcu ini mempelajari Bu-gee ilmu silat, maka dia bermaksud dengan sekali hajar dapat memukul mampus si bocah! Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, Bong Kongcu menubruk akan menghajar dada Bie Liek.

Bie Liek mengelakkannya.

“Hmmm kau harus mampus, tak guna seorang manusia bejat sepertimu ini dibiarkan hidup terus dipermukaan bumi!” bentak Bie Liek sambil menggerakkan serulingnya.

Karena Bong Kongcu menubruk tempat kosong dia jadi terhuyung kedepan. Dan sedang putera hartawan she Bong itu terhuyung kedepan hilang keseimbangan tubuhnya, maka Bie Liek menggeraKkan serulingnya. “Takkk!” kepala Bong Kongcu kena dihajar oleh seruling Bie Liek.

Dengan mengeluarkan suara jeritan yang menyayat, tubuh Bong Kongcu terjerunuk kedepan dan dia ambruk tanpa berkutik lagi. Karena jiwanya telah menghadap ke Giam-lo-ong, si raja akhirat.

Si gadis menjerit ketakutan. Sedangkan Bie Liek memandang ke arah kepala Bong Kong cu yang telah dihajarnya pecah. Bocah Bie Liek menyusut darah yang melekat diserulingnya. Dihampiri gadis yang tadi ingin diperkosa oleh Bong Kongcu.

“Siapakah Siocia, mengapa bisa terjatuh ke dalam tangan 'dia' ini?” tegur Bie Liek sambil mengawasi si gadis.

Gadis itu menekuk kakinya, dia berlutut.

“Terima kasih atas pertolongan In-jin!” katanya dengan cepat. “Sebetulnya aku berasal dari keluarga Cong dikampung ini juga, tadi malam aku telah diculiknya disaat aku pulang dari pasar dan dia dia bermaksud mau mengganggu kehormatan diriku!”

Si gadis tidak bisa menahan mengucurnya air mata. Baru saja Bie Liek mau menghiburnya, tiba-tiba di luar terdengar suara ribut-ribut. Pintu kamar digedor orang dari luar. Muka si gadis jadi berubah pucat, tubuhnya gemetar, karena dia jadi ketakutan sekali.

“Kaki tangan orang she Bong ini telah datang bagaimana ini?” kata si gadis ketakutan.

Bie Liek tersenyum.

“Jangan takut, malam ini aku datang kemari memang sengaja akan memberikan ganjaran kepada hartawan jahat ini, maka kebetulan mereka datang bersama-sama!!”

Dan Bie Liek menghampiri pintu. Sedangkan gadis she Cong itu jadi ketakutan sekali, tubuhnya sampai menggigil. Dia gugup benar. Wajahnya jadi pucat pasi. Bie Liek membuka daun pintu.

Begitu pintu terpentang, dari luar menerobos beberapa orang yang menjadi kaki tangan dari Bong Kongcu itu.

Tetapi, tangan Bie Liek cepat sekali, belum sempat orang-orang itu membentak atau menanyakan sesuatu, seruling Bie Liek telah bekerja, menotok jalan darah dari orang-orang itu.

Tujuh tubuh orang-orang itu ambruk di lantai tanpa bisa berkutik, karena jalan darah Tay-cong hiatnya kena ditotok oleh si bocah Bie Liek!

Hanya mata dari ketujuh orang kaki tangan Bong Kongcu yang mencilak dengan ketakutan. Biasanya mereka galak sekali, tetapi menghadapi Bie Liek, mereka jadi mati kutunya.

“Mana Bong Wang-gwee?” bentak Bie Liek dengan bengis.

Tetapi karena dia seorang bocah yang berusia dua belas tahun, biarpun dia ingin memperlihatkan wajah yang bengis, toh tetap saja tidak mengerikan. Ketujuh orang itu masing-masing menutup mulut mereka rapat-rapat. Bie Liek ketawa dingin, dia menoleh ke arah si gadis. Dilihatnya gadis she Cong itu masih ketakutan sekali.

Bie Liek menghampiri padanya.

“Pergilah kau pulang aku akan menghajar dulu orang-orang ini mulai besok tentu tidak akan ada yang berarti menganggumu lagi, juga kampung ini akan aman!!” katanya.

Gadis itu mengangguk. Dengan cepat dia berlari keluar. Sedangkan Bie Liek telah menghadapi ketujuh orang itu lagi

“Baiklah kalian rupanya berkepala batu, aku mau lihat kalian mau bicara atau tidak setelah kutotok inimu!” dan setelah berkata begitu, Bie Liek menotok jalan darah cie-tiong-hiatnya salah seorang diantara ketujuh orang itu.

Begitu tertotok jalan darahnya, orang itu jadi menjerit-jerit, dia merasakan tulang- tulangnya seperti juga akan dicopoti dari tubuhnya.

“Kau mau bicara atau tidak!” bentak Bie Liek.

“Ampun aku bicara! Aduhhh aku mau bicara!” teriak orang itu.

Bie Liek mendengus tawar, dia menoleh kepada keenam orang lainnya, yang wajahnya telah berobah pucat semuanya.

Bie Liek membebaskan totokannya pada diri orang itu.

“Cepat kau katakan, dimana Bong Wang-gwee!” bentak Bie Liek.

Orang itu tidak berani main-main lagi, dia ketakutan sekali, karena tadi dia telah merasakan kesakitan yang hebat, butir-butir keringat membasahi kening dan tubuhnya. Tadi dia juga sampai terkencing-kencing.

“Kamar Bong Wang-gwee terletak disebelah selatan gedung kamar yang paling

mewah!” kata orang itu dengan suara tergetar.

“Aku akan pergi kekamarnya itu untuk memberikan hajaran kepada hartawan jahat itu, dan kamu mulai besok jangan sekali-sekali berani melakukan kejahatan, karena sekali saja aku mendengarnya, tentu aku akan datang untuk mengambil jiwa anjing kalian! Jangan kalian kira aku bicara main-main, karena aku tidak pernah berbuat welas asih kepada manusia-manusia jahat!” Dan setelah berkata begitu, Bie Liek keluar dari kamar itu meninggalkan ketujuh orang-orangnya Bong Kongcu yang masih tertotok. Ketujuh orang itu benar-benar apes, tadi mereka mendengar jeritan Bong Kongcu, maka mereka berbondong-bondong datang kesitu.

Tetapi rupanya kedatangan mereka hanya untuk ditotok belaka! Kasihan! Bie Liek menuju ke tempat yang ditunjuki oleh orang itu. Dengan mudah dia bisa mencari kamar Bong Wang-gwee yang mewah itu.

Dia mengintip ke dalam kamar, dilihatnya seorang lelaki berperut gendut sedang tidur dengan suara mengeros, di sampingnya tertidur nyenyak juga seorang wanita, yang rupanya nyonya hartawan she Bong itu.

Bie Liek mencongkel jendela itu, dia memasuki kamar tersebut. Diambilnya secarik kertas di atas meja itu, kemudian dia menulis :

Bong Wang-gwee :

Hari ini aku datang masih menaruh belas kasihan mengampuni jiwamu, tetapi jika lain kali kau melakukan kejahatan terhadap penduduk kampung Lian pie-chung, biarpun kau mempunyai sepuluh kepala, tetap saja kau akan kubunuh.

Tentang puteramu yang jahat itu, dosanya telah luber, maka aku tak memberikan pengampunan kepadanya aku telah membinasakan dia, guna melenyapkan bibit penyakit di bumi ini!

Ingatlah peringatanku ini, karena sekali lagi saja kau melakukan kejahatan, maka aku akan datang kemari lagi untuk membunuh kau sekeluarga!

Dan surat itu sengaja diletakkan Bie Liek di atas meja, dia tidak membubuhi tanda tangan. Kemudian Bie Liek keluar lagi dari kamar itu, dan berlari-lari dengan ringan di atas genting rumah penduduk.

Malam itu Bie Liek menginap di sebuah rumah penginapan, dan dia mau menunggu hasil usahanya menyadarkan Bong Wang-gwee dari dunia kejahatan.

Kalau memang dalam beberapa hari ini Bong Wang-gwee masih berani melakukan perbuatan jahat, maka jiwa hartawan she Bong itu akan direnggutnya, akan dibunuhnya!

Malam semakin larut, sedangkan Bong Wang-gwee tidur nyenyak, sedikitpun dia tidak mengetahui bahwa kamarnya baru saja dimasuki orang.

Besok paginya, di gedung Bong Wang-gwee jadi gempar atas terbunuhnya Bong Kongcu. Lebih-lebih ketika Bong Wang-gwee membaca surat yang ditinggalkan oleh Bie Liek, tubuhnya jadi menggigil ketakutan.

Dengan perasaan sedih, dia mengubur mayat anaknya, dan hal itu tidak diuwarkan, hanya dikatakan kepada kawan-kawan Bong Wang-gwee bahwa Bong Kongcu, puteranya itu, terserang penyakit yang menyebabkan dia meninggal secara tiba- tiba.

Tetapi asap mana bisa ditutup? Perlahan-lahan soal itu merembes keluar, dan orang semuanya mengetahui bahwa Bong Wang-gwee telah menerima ganjaran dari seorang pendekar. Hanya menurut cerita dari orang-orangnya Bong Wang-gwee bahwa pendekar itu masih berusia muda sekali, hampir lebih menyerupai seorang bocah.

Dengan sendirinya, banyak penduduk di kampung tersebut yang mengucapkan syukur atas terbinasakan Bong Kongcu, karena anak hartawan itu terkenal sangat jahat sekali.

Dan, dengan Bong Wang-gwee sendiri, jiwanya jadi mendapat pukulan yang hebat. Pertamatama dia selalu dikejar-kejar oleh perasaan takut, kedua dia merasa sedih atas kematian anaknya itu, maka akhirnya dia melakukan banyak perbuatan derma. Tiga hari setelah kejadian itu, dia membagi-bagikan harta kepada penduduk, dan dihadapan orang banyak, dia mengucapkan janjinya tidak akan memperlakukan si lemah dengan semena-mena.

Bie Liek sendiri mendengar hal itu jadi gembira, dia senang bahwa kampung tersebut telah terlolos dari tangan seorang hartawan jahat, yang telah insyaf kembali.

Maka dari itu, pada hari keempatnya, bocah ini pergi meninggalkan kampung tersebut dengan maksud untuk melanjutkan perantauannya, untuk mengamalkan kebajikan dan perbuatan baik menolong si lemah dari gencetan si jahat.

PAGI itu di kota Chung-kian-kwan sangat ramai, banyak pedagang yang menawarkan barang-dagangan mereka dengan berbagai cara.

Kota Chung-kian-kwan memang terkenal ramai, maka dari itu tidak heran, pada pagi itu tampak banyak orang memenuhi pasar tersebut.

Dan didekat lapangan yang terdapat di sebelah selatan dari kota ini, tampak seorang tukang jual obat yang sedang berteriak-teriak dengan suara yang nyaring dan juga tampak seorang gadis memukul gembreng guna lebih menarik perhatian orang.

Penjual obat itu telah lanjut usianya, mungkin telah berusia diantara lima puluh lima tahun, tetapi tubuhnya masih gagah dan tegap, hanya kumis dan janggutnya yang telah berubah putih seluruhnya.

Si gadis baru berusia diantara dua puluh tahun, wajahnya toapan, dan juga tubuhnya mempunyai potongan yang indah, sehingga banyak orang yang mengerumuni mereka mengagumi kecantikkan wajah si gadis.

Tampak si kakek penjual obat itu mengambil sebatang besi lempengan yang panjangnya diantara satu meter. “Coba saudara-saudara lihat!!” teriaknya dengan suara yang gagah sekali. “Besi yang tebal ini, kalau dipukulkan ke dadaku, akan bengkok! Bayangkan saja, bagaimana dadaku ini bisa menahan pukulan besi sekuat ini? Ya! Ini berkat obat kuat keluaran Lohu!” dan setelah berkata begitu, si kakek penjual obat mengayunkan lempengan besi itu ke dadanya yang tidak mengenakan baju sehelaipun.

Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut jadi berdebar hatinya, karena biar bagaimana kuatnya tubuh seorang manusia, kalau dihajar oleh lempengan bei itu, pasti akan hancur remuk! Semuanya jadi memandang dengan mata tak berkedip.

Tetapi berbeda dengan orang banyak yang menonton itu, gadis yang menemani kakek penjual obat itu tenang-tenang saja. Dia malah memukul terus gembrengnya sambil berteriak-teriak dengan suara yang lantang : “Lihat! Lihat! Ini suatu keluar biasaan dan obat ‘Pek Lun Tan', siapa saja yang telah memakan obat buatan ayahku, Sian Tauw Bun, pasti tidak akan mengalami cidera apa! Ayo coba lihat buktinya!!” dan berulang kali gadis itu memukul gembrengnya.

Besi yang diayunkan si kakek, yang diakui oleh gadis itu sebagai ayahnya, telah menghajar dada si kakek, yang ternyata memang bernama Sian Tauw Bun.

Besi itu menghajar dengan tepat didada si kakek Sian Tauw Bun.

“Dukkkk!” terdengar suara yang keras, kemudian terdengar lagi suara 'dukkk’ itu beberapa kali, karena kakek Sian Tauw Bun telah menghajar dadanya berulang kali menggunakan besi itu.

Orang-orang yang menyaksikan dari samping jadi seperti kesima, mereka melihat, betapa bukan dada si kakek penjual obat itu yang remuk dihajar besi, malah lempengan besi tersebut jadi melengkung.

Itu dapat dibayangkan, betapa hebatnya daya tahan dada dari lelaki tua tersebut. Si kakek telah mengacung-acungkan lempengan besi yang telah melengkung bengkok itu.

“Nah coba saudara-saudara lihat! Ini berkat dari obat 'Pek Lun Tan' yang kubuat! Hayo siapa yang ingin daya tahan dadanya kuat, silahkan saudara membeli obat ini! Hayo siapa yang mulai? Harganya ringan!” teriak kakek Sian Tauw Bun berulang kali.

Selama si kakek she Sian itu tengah berteriak-teriak dengan suara yang keras, maka si gadis mengiringinya dengan pukulan gembrengnya, sehingga terdengar ramai sekali.

Banyak orang yang berdesakan maju, dan membeli obat itu. Banyak juga obat si kakek yang laku terjual, dan ketika menjelang hampir tengah hari, karena udara sangat panas, kakek she Sian itu menutup acaranya. Mereka membereskan perabotan mereka.

“Ling-jie!” kata si kakek memanggil gadis yang tadi menemaninya mengadakan pertunjukan. Si gadis yang dipanggil Ling-jie menyahuti, dia menghampirinya. “Ada apa ayah?” tanyanya cepat. “Apakah ayah merasakan sesuatu yang kurang enak pada dada ayah?'

Si kakek Sian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Tidak Ling-jie hari ini kita untung agak lumayan, pembeli-pembeli banyak yang telah berebutan dan tidak kebagian obat Pek Lun Tan itu! Ha, hari ini kita bisa makan agak lebih enak sedikit.”

Ling-jie, anak gadisnya si kakek Sian Tauw Bun tersenyum manis.

“Kita makan biasa saja ayah kita tabung saja terus dulu sisa keuntungan kita hari

ini, agar hari depan nanti kita bisa mempunyai modal untuk mulai membuka rumah obat!”

Sang ayah mengangguk.

“Kau benar Ling-jie!” katanya dengan cepat. “Memang kita harus menghemat agar kita mempunyai modal yang lumayan! Kukira di dalam waktu lima tahun, kita pasti akan berhasil mendirikan sebuah rumah obat!”

Si gadis Ling-jie mengangguk.

“Ya mudah-mudahan saja Thian selalu menyertai kita!” menyahuti si gadis.

Sian Tauw Bun mengangguk sambil tersenyum senang, dia mengumpulkan uang- uang yang tadi agak berserakan, kemudian dimasukkan uang itu ke dalam pauw-hok, buntalannya.

Si gadis membantu membereskan barang-barang lainnya, yang diikatnya menjadi satu buntalan.

Tetapi, dikala si kakek akan mengancingkan pauw-hoknya, dikala dia akan mengikatnya, tiba-tiba terdengar orang berkata dengan suara yang dingin sekali: “Hmm apakah kau anggap tempat ini adalah tempat nenek moyangmu, sehingga semau udelmu saja membuka pertunjukan disini, heh?”

Dengan terkejut Sian Tauw Bun dan Ling-jie menoleh ke belakang mereka. Di situ telah berdiri tiga orang lelaki yang mempunyai tubuh tinggi besar, wajah mereka juga bengis menyeramkan.

Di depan ketiga orang itu, terdapat seorang pemuda berpakaian serba merah muda. Dialah yang tadi mengeluarkan kata-katanya itu. Sian Tauw Bun cepat-cepat merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada orang itu.

Pemuda yang berpakaian serba merah itu jadi mengangguk perlahan sambil melirik ke arah Ling-jie.

“Hmmm kalian ayah dan anak telah melanggar daerah kekuasaanku, dan seharusnya, kalau kau mengadakan pertunjukan di sini tanpa pajak atau sumbangan kepada kami, hmm, kalian bisa diserahkan kepada Tiekwan untuk dipenjarakan!” Ayah dari Ling-jie, yaitu Sian Tiauw Bun memang berani sekali.

“Kemana kita akan pergi?” tanya si kakek kemudian setelah berada dekat sekali

dengan pemuda yang tadi mengancamnya,

“Siapakah Kongcu, bolehkah aku mengetahuinya?” tanya Sian Tauw Bun lagi.

Sambil berkata begitu, Sian Tauw Bun melirik ke arah Ling-jie yang sedang merapihkan barang-barang mereka ayah dan anak. Ketiga orang yang mengawal anak muda itu berulang kali memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

“Kalau dilihat sepintas lalu saja, kalian ayah dan anak mengerti ilmu silat!” Kata Kongcu berpakaian serba merah muda.

“Dan memang kebetulan, ketiga orangku ini senang melatih ilmu silat, sehingga kalau memang harus bertempur melawan seekor macan, mereka pasti menang!”

Wajah Sian Tauw Bun jadi berubah, dia mengawasi pemuda yang ada dihadapannya, kemudian dengan mata yang tajam, dia menatap ketiga orang anak buahnya si kongcu berpakaian merah muda tersebut.

“Sebetulnya siapa Kongcu, mengapa terlalu usil mengurusi persoalan kami?”

tegurnya dengan sangat berani sekali.

Mendengar perkataan Sian Tiauw Bun, wajah si pemuda berpakaian serba merah jadi berubah bengis, dia menatap Sian Tiauw Bun dengan mata berkilat.

“Hmm apakah kalian tidak tahu bahwa aku adalah putera Tiekwan di kota ini?” tegur si pemuda dengan suara yang bengis. “Dan kalau memang aku berniat jahat kepada kalian, aku bisa saja menjebloskan kalian ayah dan anak ke dalam penjara! Tetapi, kalau memang kalian mau menuruti satu kemauanku, maka mau juga aku memberi kelonggaran kepada kalian!”

“Apa maksud Kongcu?” tanya si kakek penjual obat Sian Tauw Bun.

“Hmmm kalian ajah dan anak harus ikut ke rumahku, disana hidup kalian akan tenteram dan serba cukup, puterimu juga ternyata memang berjodoh denganku maki dara itu, tak perlu terlalu capai kau mencari uang di dalam penghidupan tuamu ini!!” kata Kongcu berbaju merah.

Wajah Sian Tauw Bun dan Ling-jie jadi berubah.

“Maaf Kongcu kukira tak ada aturan yang begitu macam!” kata si kakek tua penjual obat, segera juga dia mengetahui bahwa anak muda dihadapinya adalah seorang putera orang kaya bebagoran, yang senang mempermainkan gadis dan tidak boleh melihat pipi licin.

“Apakah kau mau membangkang?” bentak Kongcu itu. “Aku Kwang Tay Hie selalu berbuat baik kepada siapa yang mau menuruti perintahku, tetapi kalau ada yang coba- coba membangkang kata-kataku, hmmm walaupun dia mempunyai sepuluh kepala dan sepuluh tubuh, jangan harap dia bisa meloloskan diri dari cengkeramanku!”

Mata Sian Tauw Bun jadi mencilak, dia mengawasi anak muda itu lagi, hatinya sangat mendongkol sekali.

“Bagaimana? Apakah kalian mau turut kami pulang ke gedungku atau tidak?” bentak pemuda itu yang mengaku bernama Kwang Tay Hie itu.

Si kakek biarpun mendongkol sekali, toh dia sebisanya menguasai dirinya. Dirangkapkan tangannya, dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada orang itu.

“Maafkan Kongcu, kami adalah rakyat kecil, dan tidak pantas kalau kita saling bergaul! Apa lagi sekarang malah Kongcu ingin mengundang kami kegedung Kongcu, hal itu mimpipun kami tak pernah harapkan maka maafkanlah, kami tak bisa menuruti keinginan Kongcu!”

Mata pemuda Kwang Tay Hie jadi mencilak.

“Baik! Baik! Begitupun baik!” katanya dengan cepat sekali. “Kalian ayah dan anak telah menjual obat di sini tanpa seijin pembesar setempat, maka dengan ini kaiian kami tangkap!”

Mendengar perkataan Kwang Tay Hie, hati si kakek Sian Tauw Bun jadi terkesiap, begitu juga Ling-jie, puterinya itu, betapa gusar dan mendongkolnya mereka melihat orang selalu mengada-adakan alasan yang tidak-tidak.

“Ini mengapa harus begitu?” tanya Sian Tauw Bun dengan suara gemetar menahan perasaan gusarnya.

Kwang Tay Hie ketawa dingin.

“Sudah kukatakan, kalau kau membangkang perkataanku, maka kalian akan kutangkap dan kujebloskan ke dalam penjara!” kata Kwang Tay Hie dengan suara yang tawar. “Nah, kalian boleh pilih, mau dipenjara atau memenuhi undanganku!”

Sian Tauw Bun segera juga menyadari bahwa biar bagaimana dia harus menghadapi kesulitan. Mereka ayah dan anak selama bertahun-tahun belum pernah menemui kejadian semacam tersebut, walaupun mereka telah menjelajahi puluhan kota.

“Kongcu, kau ini keterlaluan!” kata Sian Tauw Bun dengan mengawasi si pemuda she Kwang itu. “Kami tidak pernah melakukan kesalahan, dan juga tidak pernah saling mengenal dengan kalian, lagi pula kami tidak pernah mengganggu orang, mengapa Kongcu ingin mengganggu kami? Apakah dengan begitu Kongcu tidak takut nanti kalau rakyat akan menentang kedudukan ayahmu yang tadi kau katakan sebagai Tiekwan?”

Ditegur begitu, Kwan Tay Hie jadi gusar bukan main, dengan cepat dia mengibaskan lengan bajunya. “Tangkap kedua pemberontak ini!” perintahnya kepada orang-orangnya.

Ketiga orang anak buah Kwan Tay Hie dengan cepat menubruk Sian Tauw Bun dan Ling-jie.

Si kakek she Sian dan puterinya si Ling itu memang telah bersiap-siap. Maka dari itu, disaat ketiga orang anak buahnya si Kongcu bebogoran itu menyerang, dengan cepat mereka bergerak menyambutnya.

Terdengar suara jeritan tertahan, dan bergabrukannya tubuh! Tampak tiga orang anak buah Kwang Kongcu yang mempunyai tubuh tegap dan tinggi besar itu telah berjatuhan terbanting, muka mereka meringis menahan sakit.

Kakek Sian Tauw Bun dan puterinya si Ling ternyata kosen sekali ilmu silatnya. Menyaksikan hal itu, maka pucatlah wajah Kwang Tay Hie, hilang keangkuhannya. Tetapi untuk menyembunyikan rasa takutnya, sengaja dia berkata sambil menunjuk.

'“Kau kalian oh, benar-benar kalian pemberontak yang harus menerima hukuman

mati!!”

Sambil berkata begitu, dia melarikan diri. Melihat itu, Sian Tauw Bun ketawa dingin

dengan penuh kemendongkolan.

“Ditangkap saja ayah, kita hajar dia biar tahu rasa!” kata Ling-jie yang juga mendongkol sekali.

“Jangan!” cegah sang ayah. “Biarkanlah dia pergi, kita tak usah terlalu merepotkan diri bangsat itu!”

Sedangkan ketiga orang anak buah dari Kwang Kongcu itu telah merayap bangun. Sambil mendelik kepada kedua ayah dan anak she Sian itu, mereka kemudian melarikan diri dengan rasa takut.

Sian Tauw Bun dan si Ling, puterinya itu, hanya mengawasi saja, setelah ketiga anak buah Kwang Kongcu itu lenyap dari pandangan mata mereka, Sian Tauw Bun menghela napas.

“Untuk seterusnya kita akan menghadapi kesulitan kalau masih berada di kota ini terus!” kata Sian Tauw Bun dengan wajah yang muram.

Ling-jie juga menarik napas berduka.

“Ayah!” katanya dengan ragu-ragu.

Sian Tauw Bun menoleh kepada puterinya itu.

“Ada apa Ling-jie?” tanyanya.

“Mengapa kita harus mengalami kesulitan-kesulitan yang tak kunjung habisnya? Di kota Siang-lian-kwan, di kota Kay-sie-kwan, di Liang-kai kwan, semuanya kita selalu diganggu orang tak hentinya! Sampai di kota ini pun kita diganggu orang entah kejadian apa lagi yang akan mengganggu kita seterusnya?”

Tampak Ling-jie sangat berduka sekali. Sebetulnya Sian Tauw Bun akan mengangkat Pauw hoknya, ketika mendengar perkataan puterinya, dia jadi meletakkan buntalannya itu ketanah kembali, dia menghampiri puterinya, ditepuk-tepuknya bahu si puteri dengan hati terharu.

“Sabarlah Ling-jie kita harus sabar dan tabah menghadapi semua ini!” kata kakek she Sian itu. Dia menghibur puterinya itu, tetapinya dia juga berduka di dalam hati. Dia sendiri tidak mengetahui, mengapa nasibnya ayah dan anak selalu saja mengalami hal- hal yang begitu meruwetkan pikiran. “Dan, mudah-mudahan Thian selalu bersama kita.”

Thian berarti Tuhan.

Ling-jie mengangguk, kemudian tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia membantu ayahnya membereskan pauw-hok mereka. Sesaat kemudian, tampak ayah dan anak telah meninggalkan lapangan rumput itu. Mereka menuju ke sebuah penginapan kecil, yang terletak dipinggiran kota.

Setelah sampai di kamar mereka, Siauw Tauw Bun merapihkan pauw-hoknya, yang diletakkan disudut kamar, kemudian mereka masing-masing membersihkan tubuh mereka yang agak kotor.

Sian Tauw Bun sudah menduga, bahwa tak lama lagi, pasti dirinya akan disatroni oleh orang-orangnya Kwang Tay Hie, pemuda yang mengakui dirinya sebagai putera dari Tiekwan di kota itu. Namun, sampai menjelang sore hari, belum juga tampak ada orang yang menyatroni mereka. Hati Sian Tauw Bun dan si Ling, puterinya itu, jadi agak tenang, mereka bisa bernapas lega.

Sian Tauw Bun juga telah mengatakan kepada Ling-jie, bahwa begitu menjelang fajar, mereka akan meninggalkan kota tersebut secepat mungkin, untuk menghindarkan sesuatu hal yang tidak diinginkan oleh mereka.

Menjelang malam, suasana di kota Chung-kian-kwan sangat sepi. Begitu juga keadaan disekitar penginapan dipinggir kota, dimana Sian Tiauw Bun dan puterinya bermalam, sangat sepi sekali. Diantara angin malam yang berhembus agak kencang, tampak beberapa sosok bayangan yang berlompat-lompat di atas genting dengan gesit sekali.

Kalau dilihat cara berlompat dan berlari mereka di atas genting, menandakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat yang kosen. Bayangan sosok tubuh itu berjumlah seluruhnya tujuh orang, dan mereka berhenti di atas genting dari rumah penginapan di mana Sian Tiauw Bun bermalam. Tampak mereka saling memberi tanda dan ketujuh sosok tubuh itu kemudian berpencar ke berbagai jurusan. Rupanya mereka sedang mencari-cari sesuatu, setiap kamar diintainya oleh mereka dari jendela. Tak lama berselang, terdengar salah seorang diantara mereka, yang kala itu sedang mengintip sebuah kamar, mengeluarkan suara siulan perlahan. Enam orang kawannya dengan cepat telah datang ke arahnya.

“Ini kamarnya!” terdengar orang itu berkata dengan perlahan begitu keenam kawannya telah sampai, “Mereka sedang tidur!?” dan keenam orang kawannya juga silih berganti mengintip ke dalam

Salah seorang diantara ketujuh orang itu mengangguk memberi isyarat. Maka salah seorang telah maju kedekat jendela.

“Hai orang she Sian!” bentaknya dengan suara yang nyaring. “Keluarlah untuk menerima kebinasaan kalian!”

Keadaan sangat sunyi sekali, tidak terdengar sahutan dari dalam kamar itu.

“Kalau memang kalian tidak mau keluar, kami akan menyerbu ke dalam!” bentak

orang itu yang mengancam dengan suara yang parau menyeramkan.

Terdengar orang tertawa dingin dari dalam kamar itu. Begitu suara tertawa dingin tersebut lenyap maka disusul dengan menjeblaknya daun jendela, dan dari dalam meluncur dengan pesat tiga batang piauw.

Ketujuh orang itu melompat menepi, orang yang tadi membentak menggerakkan pedang yang ada di tangannya, sehingga terdengar suara 'trang-tring-treng' yang nyaring sekali ketiga Piauw itu telah terhajar runtuh ke tanah.

Tetapi, dengan menggunakan kesempatan sedang ketujuh orang itu menyingkir menjauhi jendela kamar tersebut, dari dalam telah melompat keluar dua sosok tubuh yang gesit sekali.

Ketujuh orang tersebut mengawasi kedua sosok tubuh yang baru keluar dari dalam kamar itu dengan mata yang bengis dan senjatanya yang siap di tangan masing-masing. Ternyata kedua sosok tubuh yang keluar dari dalam kamar itu adalah Sian Tauw Bun dan Ling-jie puterinya.

Sian Tauw Bun begitu keluar dari dalam kamarnya, sudah lantas menyapu ketujuh orang itu dengan matanya.

“Siapakah tuan-tuan?” tegur Sian Tauw Bun dengan suara yang tawar dan dingin sekali. “Mengapa malam-malam buta begini tuan-tuan mencariku?”

Salah seorang di antara ketujuh orang itu maju kedepan, dia tertawa dingin.

“Hmmm Sian Tauw Bun jangan kau pura-pura tidak mengenal kami! Hmmm biarpun kau menyamar bagaimana sempurnanya, pasti chit-kiam kian-san tidak akan dapat kau kelabui!” kata orang itu dengan suara yang keras dan menyeramkan.

Kakek Sian tertawa mengejek “Ternyata mata kalian sangat tajam sekali! Baiklah, memang Loohu tak bisa mengelabui kalian, hmmm, hari ini kita tentukan siapa yang berhak untuk hidup terus!” katanya.

Setelah berkata begitu dengan suatu kecepatan yang luar biasa sekali Sian Tauw Bun mencelat ke arah orang yang tadi berkata, pedang di tangannya juga bergerak dengan cepat sekali sehingga menyerupai semacam kilatan belaka.

Orang itu memang telah siap sedia, dia tidak jeri kepada pedang kakek Sian itu, maka dengan cepat dia juga mengangkat pedangnya, tringgg, pedang mereka saling bentur, dan menyebabkan muncratnya lelatu api yang menyilaukan mata.

Kedua orang itu jadi saling lompat mundur. Sedangkan keenam orang kawan dari orang yang diserang oleh Sian Tauw Bun, telah melompat akan mengeroyok si kakek she Sian itu.

Melihat hal itu, dengan mengeluarkan suara bentakan keras, Ling-jie melompat membantu ayahnya. Maka terjadilah suatu pertempuran yang seru.

Walaupun hanya berdua dan dikerubuti, oleh ketujuh jago yang bergelar chit-kiam Kian-san, atau tujuh jago pedang dari gunung Kian-san, tetapi Ling-jie dan ayahnya tidak terdesak terlalu hebat, mereka bisa melayaninya dengan baik.

Hanya saja, ketika pada suatu kali, di saat Sian Tauw Bun sedang melompat mengelakkan serangan pedang lawannya yang di belakang, tiba-tiba menyambar pedang lawan di depannya dengan kecepatan yang tidak terduga.

Untuk menangkis dengan pedangnya jelas sudah tidak keburu, sebab pedangnya ini sedang dipakai untuk menangkis pedang lawan yang di belakangnya, dan untuk mengelakkan juga sulit sekali, karena tubuhnya selang melayang diudara, sehingga tidak ada tempat untuk menjejakkan kakinya guna mengelakkan serangan itu, di dalam keadaan kritis begitu, Sian Tauw Bun tidak bisa berpikir terlalu lama, dia harus mengambil suatu tindakan yang cepat, maka tanpa pikir lagi, disaat pedang lawan hampir mengenai dirinya, dia menggunakan ujung kakinya untuk menotol senjata lawan, dan dengan begitu, dia membarengi untuk menjejakkan kakinya, meminjam tenaga serangan lawan, tubuhnya terpental lagi.

Tetapi lawan-lawan Sian Tauw Bun bukanlah jago-jago lemah, mereka merupakan jago-jago yang kosen dan telah berpengalaman, apalagi mereka bertujuh. Maka disaat melihat Sian Tauw Bun dapat mengelakkan serangan lawannya, dua orang diantara mereka telah menyerang lagi secara berbareng.

Kali ini Sian Tauw Bun benar-benar terdesak karena tubuhnya memang sedang mengapung turun diudara. Maka dengan mengeluarkan bentakan yang keras, Sian Tauw Bun memutar pedangnya dengan nekad. Ling-jie yang melihat ayahnya terancam bahaya, cepat dia mau menolongnya, tetapi belum lagi dia menyerbu ke arah kedua lawan ayahnya itu, dua orang diantara chit kiam Kian-san telah menghadangnya dan melakukan serangan-serangan yang berbahaya, sehingga gadis ini harus mengelakkan secepatnya, dan terpaksa juga harus melakukan perlawanan, yang menyebabkannya terhambat tidak bisa menolong ayahnya!

Pedang kedua lawan dari Sian Tauw Bun terus juga meluncur dengan cepat. Pedang Sian Tauw Bun yang diputar begitu macam dapat menghadang pedang dari lawannya yang seorang, tetapi pedang lawannya yang lain dapat melejit dan menjurus ke arah mukanya!

Inilah hebat! Sian Tauw Bun cepat-cepat memiringkan kepalanya, tetapi ujung pedang lawannya telah tepat mengenai mukanya, dengan mengeluarkan bunyi : 'srett!’ tahu-tahu muka Sian Tauw Bun seperti kena digores, dan menimbulkan suatu hal yang luar biasa!

Muka Sian Tauw Bun seperti copot ikut bersama pedang lawannya! Waktu semua orang menegaskan, ternyata itu hanyalah kedok belaka!

Sian Tauw Bun ternyata benar-benar menyamar, dan dirinya sebetulnya seorang lelaki berusia diantarara empat puluh tahun, berwajah gagah, tidak seperti semulanya, yang merupakan seorang kakek-kakek tua renta.

Pada saat itu Sian Tauw Bun telah turun kembali ke tanah, matanya jadi memancar bengis. Sikapnya gagah sekali.

Salah seorang dari chit-kiam Kian-san telah tertawa gelak-gelak.

“Hahahahaha, ternyata kau benar-benar pandai menyamar?” katanya. “Lihat! Wajahmu begitu gagah, mengapa harus memakai topeng begitu macam! Hmmm Kami ingin melihat, apakah setelah penyamaranmu itu terbuka, apakah kau masih tidak mau mengakui bahwa dirimu adalah Sian Tauw Bun dan apakah kau masih mau pura-pura tidak mengenai kami?” katanya.

Si kakek she Sian itu tertawa tawar.

“Bagus! Aku juga ingin melihat kekosenan dari chit-kiam Kian-san!” dan setelah berkata begitu, Sian Tauw Bun telah menjejakkan kakinya dengan cepat sekali tubuhnya melesat dan pedangnya bergerak ke arah kedua orang lawannya yang ada didekatnya.

Sinar pedang berkelebatan dengan cepat, dan dengan kecepatan yang sukar untuk dilihat pedang Sian Tauw Bun telah akan menikam ke arah dada dari lawannya dari dua jurusan.

Tetapi lawan Sian Tauw Bun juga bukan lawan yang ringan, mereka dapat mengelakkan serangan dari orang Sian itu dengan melompat kekiri dan kekanan, sehingga kedua sabetan pedang dari Sian Tauw Bun jadi mengenai tempat kosong. Orang she Sian itu tidak bergerak sampai di situ saja, dia membarengi dengan serangannya yang lain, yang ditunjukkan kepada ketiga orang yang ada didekatnya. Tetapi kali inipun serangan dari Sian Tauw Bun yang berangkai itu mengenai tempat kosong.

Dan dikala Sian Tauw Bun sedang menyerang tempat kosong begitu, kelima orang dari chit kiam Kian-sin telah meluruk menyerang orang she Sian tersebut, sedangkan yang dua orang lagi telah menghadang si Ling-jie.

Pertempuran yang pincang begitu terjadi terus dengan seru. Biar bagaimana Sian Tauw Bun kosen sekali, dia dapat menghadapi kelima pengeroyoknya dengan baik. Begitu juga dengan si Ling-jie, dia bertempur dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya, untuk menghadapi kedua pengeroyoknya.

Hanya bedanya, anak gadisnya dari Sian Tauw Bun ini mempunyai kepandaian yang terbatas sekali, kalau memang kedua pengeroyoknya itu mengepung sungguh- sungguh, tentu dia siang-siang telah dapat dirubuhkan. Tetapi karena Ling-jie seorang gadis yang manis dan cantik sekali, maka kedua pengeroyoknya itu tidak sampai hati untuk melukainya.

Sian Tauw Bun sendiri, biar bagaimana kosennya dia ini, toh akhir-akhirnya, karena dikeroyok lima orang sekaligus, maka dia terdesak juga. Malah sampai akhirnya Sian Tauw Bun lebih banyak main mundur, dia hanya membela diri belaka, karena serangan dari lima orang pengeroyoknya itu telah menyerang dengan serangan yang bertubi-tubi. Sian Tauw Bun mulai berkuatir akan diri puterinya, karena dia sering melirik dan melihat Ling jie sangat terdesak oleh kedua pengeroyoknya.

Hal itu membikin hati orang she Sian tersebut jadi tergoncang hebat. Dia berkuatir kalau Ling-jie sampai dicelakai oleh kedua orang dari chit-kiam Kian-san. Maka dari itu, dengan mengerahkan tenaganya, dia mencoba untuk menerobos kepungan lawannya itu.

Tiba-tiba Sian Tiauw Bun mendengar Ling-jie menjerit. Hati orang she Sian jadi mencelos, dengan cepat dia menoleh, dilihatnya pedang Ling-jie telah berhasil dibikin terlepas dari cekalannya oleh lawannya, malah di saat Ling-jie sedang terkejut begitu, disaat senjatanya terlepas dari cekalannya, maka kedua lawannya menubruk dan meringkusnya.

Si gadis tidak bisa mengelakkan diri lagi, dia kena dibekuk tanpa daya. Maka biarpun si gadis meronta-ronta dengan sekuat tenaganya, toh tetap saja dia tidak bisa melepaskan diri dari cekukan kedua orang lawannya itu.

Sian Tauw Bun sendiri terkejut melihat puterinya kena ditawan oleh kedua lawannya, malah dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, dan dengan cepat dia melompat ke arah puterinya untuk menolongnya. Tetapi dia telah keburu dihadang oleh kelima lawannya, yang menyerang secara beruntun. Maka dari itu, biarpun dia mengamuk dan mencoba untuk menerobos kepungan lawannya itu, toh tetap saja dia tidak bisa meloloskan diri dari kepungan itu, malah dia semakin terkepung rapat.

Hal ini membuat Sian Tauw Bun jadi gugup bukan main, dia jadi mengamuk dengan segala tenaga yang ada padanya, menikam kesana, menyabet kesini, dan semua itu tetap saja tidak membawa hasil.

Sian Tauw Bun telah melupakan satu pantangan dari orang-orang yang terjun di dalam dunia Kangouw, di dalam rimba persilatan.

Memang di dalam kalangan Kangouw, di mana orang belajar ilmu silat, dia pasti akan mengenal kata-kata : 'semakin kalap kita melabrak musuh, semakin lenyap ketenangan kita, maka kerugian yang akan kita derita semakin besar juga’ dan kata-kata itu seperti juga telah dilupakan oleh Sian Tauw Bun.

Maka dari itu, semakin kalap Sian Tauw Bun menyerang lawan-lawannya itu, semakin dia terdesak hebat. Karena gugup sekali menyaksikan puterinya telah kena diringkus oleh lawannya, maka Sian Tauw Bun satu kali menjadi kalap benar.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, dia memutar pedangnya dan akan menerobos keluar dari kepungan lawannya dengan nekad. Tetapi dengan tidak terduga, kedua lawan yang disebelah kiri dan kanan telah membuka jalan bagi Sian Tauw Bun, kedua lawannya itu seperti membuka jalan. Sedang Sian Tauw Bun akan menerobos ke arah kepungan itu, dengan tidak terduga tiga lawannya yang lain telah menyerang menikam secara berbareng.

Maka dari itu, biarpun Sian Tauw Bun telah melihat datangnya ketiga serangan dari lawan-lawannya itu, toh tetap saja dia tidak bisa mengelakkannya, malah yang hebat, disaat dia sedang mengelakkan kedua serangan dari kedua lawannya, pedang dari lawannya yang seorang lagi telah menancap di pahanya, sehingga Sian Tauw Bun mengaduh kesakitan dengan tubuh terhuyung.

Sedang orang terhuyung begitu, maka keempat lawannya yang lain telah menyerang lagi dengan serentak. Sian Tauw Bun sedang menderita kesakitan, tetapi melihat jiwanya akan terancam bahaya kematian, dengan nekad dia mencoba untuk mengadu jiwa dengan memutar pedangnya, sehingga terdengar beruntun suara 'trang- tring-treng'.

Tampak tahu-tahu dua pedang dari lawannya melayang terbang terlepas dari cekalannya, dan kedua lawannya itu merasakan telapak tangan mereka sangat nyeri sekali.

Tetapi dengan menangkis serangan kedua lawannya itu, dua pedang dari lawannya yang lain telah bersarang di paha kiri dan pundak dari Sian Tauw Bun. Hal ini menyebabkan Ling-jie yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi menjerit kalap sambil meronta-ronta : “Ayah oh jangan membunuh ayahku ayah!”

Tubuh Sian Tauw Bun menduprah di tanah, wajahnya pucat sekali, sedangkan dari luka-lukanya itu mengucur darah merah yang besar. Sedangkan kelima lawan dari Sian Tauw Bun telah menubruk dengan serentak, sehingga dengan cepat Sian Tauw Bun dapat diringkus. Walaupun Sian Tauw Bun ingin memberikan perlawanannya terus, toh tetap saja dia tidak mempunyai kekuatan ke arah itu.

Dan diri orang she Sian itu telah dibekuk oleh kelima lawannya, begitu juga Ling- jie, dia tidak berkutik dibekuk oleh kedua lawannya. Hal ini membuat Sian Tauw Bun jadi murka tanpa daya. Dia bergusar, tetapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk melabrak dan mengumbar hawa amarahnya itu.

Dengan napas memburu, Sian Tauw Bun berusaha untuk meronta dari pelukan dan rangkulan dari kelima lawannya, tetapi karena chit kiam Kian-san yang lima orang ini telah memegang kaki tangannya dengan kuat sekali, maka Sian Tauw Bun jadi tidak berdaya sama sekali.

Dengan mengeluarkan suara teriakan mengguntur, Sian Tauw Bun meronta sekali lagi, tetapi tetap saja dia tidak bisa melepaskan dirinya dari cekalan kelima lawannya.

Ling-jie yang melihat keadaan ayahnya itu hanya bisa berteriak-teriak dengan suara yang pilu : “Ayah ayah! Lepaskan ayahku!” teriaknya dengan suara yang lirih sekali.

Tetapi bukannya dilepaskan oleh kelima orang dari Chit-kiam Kian-san, malah Sian Tauw Bun telah cepat-cepat dibelenggu tangan dan kakinya. Hal ini membuat Sian Tauw Bun tidak bisa meronta-ronta lagi. Ling-jie juga akhirnya tidak meronta lagi, karena dirasakan tenaganya seperti juga telah lenyap.

Maka dari itu, akhirnya ayah dan anak digusur dari rumah penginapan tersebut. Orang-orang lainnya yang menginap di dalam rumah penginapan itu juga tidak ada yang berani keluar dari kamar mereka. Karena mereka telah mendengar suara ribut-ribut dan menduga bahwa ada penjahat yang sedang satroni orang yang menginap di dalam rumah penginapan tersebut. Maka tak ada seorangpun yang berani keluar dari kamar mereka, malah merengket di pembaringan mereka dengan hati yang berdebar keras.

Sian Tauw Bun sendiri telah habis daya, dia akhirnnya menyerah kepada keadaan, tidak meronta lagi, dia pasrahkan diri. Begitu juga Ling-jie, karena ayah dan anak akhirnya kehabisan tenaga.

Mereka tidak mengetahui digusur kemana, karena suasana malam yang gelap gulita, mereka jadi tidak mengetahui kemana ketujuh jago pedang dari Kian-san itu akan membawa mereka. Dan, suasana di rumah penginapan tersebut jadi sepi kembali. RUANGAN itu sangat gelap sekali.

Ketika Sian Tauw Bun membuka kelopak matanya, dia merasakan pahanya dan pundaknya sangat sakit sekali.

Dia mengeluarkan rintihan perlahan tanpa disadarinya, dan waktu dia tersadar benar-benar, dia merasakan kedua tangannya terikat keras pada sebatang kayu, dia diikat dalam keadaan berdiri, karena kedua kakinya juga terikat kuat sekali oleh tali yang tebal dan kuat.

Sian Tauw Bun berusaha mementangkan matanya dan mengawasi keadaan ruangan dimana dirinya terikat begitu. Tetapi biarpun dia telah berusaha menembus kegelapan di ruang tersebut, toh tetap saja dia tidak bisa melihat keadaan di dalam ruangan itu, karena selain gelap sekali yang menyebabkan dia tidak bisa memandang jari-jari tangannya sendiripun, juga ruangan tersebut sangat bau apek sekali, menyesakkan pernapasannya.

Sian Tauw Bun berusaha mengerahkan tenaga Lweekang dikedua tangannya, dia mengerahkan dengan meronta untuk melepaskan ikatan tali itu pada kayu yang keras tersebut, tetapi tidak berhasil.

Hanya terdengar suara 'krekk' perlahan sekali, dan ikatan tali itu jadi semakin keras, menyakitkan lengannya sekali. Juga disebabkan dia mengerahkan tenaganya, maka luka dipaha dan dipundaknya yang telah mengering itu jadi terbuka lagi dan menimbulkan perasaan sakit yang luar biasa. Juga Sian Tauw Bun merasakan dipahanya dan dipundaknya itu mengalir darah merah yang hangat.

Dengan menggigit bibir bawahnya, Sian Tauw Bun menahan perasaan sakit pada luka-lukanya itu. Keadaan di dalam ruangan tersebut sangat sepi sekali, tak terdengar suara apapun, hanya bau apek yang menguasai penciuman dari Sian Tauw Bun.

Tiba-tiba orang she Sian ini tersentak, dia terkejut teringat akan keadaan puterinya, yaitu si Ling-jie. Apakah Ling jie tidak akan disiksai oleh ketujuh jago pedang dari Kian-san itu?

Apakah puterinya itu tidak akan dianiaya oleh Chit-kiam kian-san? Dengan sendirinya Sian Tauw Bun jadi berkuatir akan keselamatan dari puterinya itu. Dengan penuh kekuatiran yang sangat, Sian Tauw Bun memutar otak untuk berusaha meloloskan diri dari tawanan ketujuh jago pedang dari Kian san itu, guna nanti menolong Ling-jie, puterinya itu.

Tetapi, berhubung kedua tangan dan kedua kakinya terikat kuat sekali, jangankan untuk meloloskan diri, sedangkan untuk bergerak sudah tidak bisa. Keringat dingin jadi membanjiri kening Sian Tauw Bun.

Keadaan di dalam ruangan tersebut tetap gelap gulita, dan keadaan sangat sunyi sekali. Sian Tauw Bun sendiri tidak mengetahui, di mana dirinya sekarang ini terkurung. Tiba-tiba diantara kesunyian itu, Sian Tauw Bun mendengar suara langkah kaki yang ringan sekali.

Sian Tauw Bun jadi mengerutkan alisnya, dia memasang pendengarannya benar- benar untuk mendengarkan suara langkah kaki yang mendekati ke arah kamar tahanan tersebut. Suara langkah kaki itu berhenti di depan pintu, kemudian terdengar suara orang yang membuka daun pintu.

Disusul dengan terbukanya pntu, maka itu tampak melangkah seorang bertubuh gemuk, di tangannya mencekal obor sehingga ruangan tersebut seketika jadi terang- benderang.

Begitu ruangan tersebut jadi terang, Siang Tauw Bun jadi silau sesaat, namun dengan cepat dia jadi bisa melihat betapa ruangan itu sempit dan kotor sekali, dan orang yang baru memasuki ruangan itu, bertubuh gemuk dan ternyata mempunyai wajah yang tidak enak dilihat.

“Hmm hari ini biarpun kau mempunyai sayap, tetapi jangan harap kau bisa meloloskan diri dari tangan cing Toayamu!!” kata orang itu dengan suara yang tawar.

Sian Tauw Bun berusaha untuk mengingat-ingat siapakah sebenarnya orang ini. Tetapi biarpun dia telah memutar otak dalam saat-saat itu, toh tetap saja dia tidak mengingatnya siapakah orang itu adanya.

“Siapa kau?” bentak Sian Tauw Bun dengan berani sekali. Orang itu tertawa dingin.

“Hmmm rupanya kau ini sudah lupa, bahwa kemarin kau telah berani memukul putera majikan kami, yaitu Kwang Tay Hie Kongcu!!” kata orang itu.

Mendengar perkataan orang itu, wajah Sian Tauw Bun jadi berubah hebat. Seketika itu juga dia teringat, bahwa Kwang Tay Hie adalah pemuda bebagoran yang pada kemarin hari itu telah dihajar berikut anak buahnya!

Dan, memang dapat dimengerti, sebagai putera Tiekwan, jelas dia tidak akan mau habis perkara begitu saja, dia tentu akan menarik panjang perkara ini. Dan sekarang memang terbukti, diri Sian Tauw Bun telah kena ditawannya!

Hanya yang mengherankan Sian Tauw Bun adalah mengenai chit-kiam Kian-san ketujuh jago pedang dari Kian-san biasanya sangat angkuh dan tidak mau tunduk kepada siapa saja, tetapi sekarang mengapa ketujuh jago itu malah bekerja untuk Kwang Tiekwan, yaitu telah menawan Sian Tauw Bun dan puterinya?!

Itulah yang tidak dimengerti oleh Sian Tauw Bun, tetapi belum sempat dia berpikir lebih jauh, orang gemuk di depannya, yang memegang obor dan membahasakan dirinya cing Toaya, atau tuan besar cing, telah membentak lagi: “Cepat kau katakan dimana kau telah menyembunyikan kitab 'Kim hun Pit-kip' yang telah kau peroleh dari Ceng-sian Siansu dari Siauw-lim-sie?'

Mendengar perkataan orang itu, wajah Sian Tauw Bun jadi berubah lagi, tetapi dengan cepat dia dapat menguasai dirinya.

“Kim-hun Pit-kip itu kitab apakah? Aku baru pertama kali ini mendengarnya!” kata

Sian Tauw Bun.

Tetapi baru saja dia menutup mulut dan selesai mengucapkan perkataannya itu, orang gemuk yang membahasakan jahat sebagai cing Toaya telah mengayunkan tangannya, dan 'plakkk', terdengar nyaring sekali pipi dari Sian Tauw Bun telah ditempelengnya.

Sian Tauw Bun tadi melihat orang akan menamparnya, dia biasanya tentu bisa berkelit, tetapi sekarang dirinya dalam keadaan terikat begitu, maka mau tak mau dia jadi manda saja dirinya dihajar.

Itulah sebabnya mengapa tempelengan cing Toaya, si gemuk itu, dapat mengenai sasarannya dengan tepat.

“Hmmn kalau memang kau ingin membawa sikap kepala batu terhadapku, hmmm, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu! Percayalah cing Toayamu ini tidak bisa disamakan dengan Chit-kiam Kian san, mereka hanyalah anak buahku belaka, tetapi aku tidak akan memberi hati kepadamu kalau memang kau bermaksud untuk pura- pura terus!”

Setelah berkata begitu, si gemuk cing Toaya telah menatap dengan mata yang mencorong bengis, wajahnya juga tidak menunjukkan sikap yang baik.

Sinar dari cahaya api obor itu telah membuat wajah si gemuk cing Toaya itu jadi menyeramkan sekali. Tetapi Sian Tauw Bun tidak jeri, dia malah balas menatap mata orang.

“Dimana puteriku?” tanyanya dengan suara yang tawar sekali.

Si gemuk cing Toaya mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin.

“Puterimu akan selamat kalau memang kau mengenal selatan!” kata cing Toaya dengan suara yang hambar. “Hmm tetapi kau jangan coba-coba berkepala batu padaku, karena aku seorang pembunuh berdarah dingin, aku bisa memotong-motong tubuh puterimu itu jadi berkeping-keping dihadapanmu sendiri!”

Mendengar ancaman si gemuk ini, tubuh Sian Tauw Bun jadi menggigil. Dia merasa ngeri bahwa si gemuk mengancam dirinya dengan menggunakan diri puterinya sebagai perisai. Dengan penuh kemendongkolan, Sian Tauw Bun berusaha meronta dari ikatan-ikatan tangannya pada kayu itu. Tetapi tidak berhasil. Melihat kelakuan Sian Tauw Bun, si gemuk cing Toaya jadi memperdengarkan suara tertawa dinginnya.

“Lepaskan dan bebaskan puteriku, dia tidak bersalah apa-apa!” kata Sian Tauw Bun dengan gusar. “Kalau sampai terjadi sesuatu pada diri puteriku, hmmm, biarpun aku sudah menjadi setan, tetap aku akan menjadi setan penasaran!”

Mendengar perkataan Sian Tauw Bun, kembali orang gemuk yang membahasakan dirinya dengan sebutan cing Toaya itu tertawa tawar.

“Mengenai membebaskan puterimu sangat mudah sekali, juga dirimu akan kubebaskan asalkan kau mau menyebutkan tempatnya dimana kau telah menyembunyikan 'Kim-hun Pit-kip itu!!” kata si gemuk.

Sian Tauw Bun mengerutkan sepasang alisnya

“Apakah kalian akan dapat menepati kata-katamu dan janjimu itu?” tanyanya dengan suara yang tajam. “Kalau memang aku memberitahukan kepadamu di mana kusembunyikan Kim-hun Pit-kip, apakah kalian benar-benar akan membebaskan kami ayah dan anak dalam keadaan selamat?!”

Orang gemuk itu tersenyum tawar lagi.

“Walaupun kami dari jalan 'Hek', hitam dan selalu melakukan berbagai kejahatan, tetapi kami adalah jantan-jantan sejati, setiap janji-janji kami pasti akan kami tepati!!” kata si gemuk lagi.

Sian Tauw Bun jadi ragu-ragu sejenak, tetapi akhirnya dia menghela napas.

“Baiklah      kau bebaskan kami dulu    dan setelah itu kalian boleh ikut kami

untuk mengambil kitab itu!!” kata Sian Tauw Bun.

Si gemuk berdiri bimbang, dia mengawasi Sian Tauw Bun sesaat lamanya, tetapi akhirnya dia mengangguk.

“Baik! Boleh kubebaskan kalian ayah dan anak, tetapi ingat, sekali saja kau bermaksud untuk melarikan diri dari kami, hmmm, pada saat itu aku tentu tidak akan mengenal peri kemanusiaan lagi! Akan kuserahkan kau kepada Kwang Tiekwan, agar kau dijatuhi hukuman picis!!”

Sian Tauw Bun tidak mau meladeni orang gemuk yang membahasakan dirinya cing Toaya tersebut, karena dia berpikir tak ada gunanya. Maka itu, dia lebih baik hanya berdiam diri saja, dan waktu cing Toaya itu membukakan tali-tali pengikat tangan dan kakinya, Sian Tauw Bun masih merasakan rasa sakit pada kedua tangan didekat pergelangan dan kakinya.

“Mana puteriku?” begitu dia dibebaskan Sian Tauw Bun sudah bertanya begitu. Si gemuk cing Toaya tertawa dengan senyumnya yang tidak enak dilihat. “Ingat orang she Sian, kami tidak pernah mau main-main dengan berbagai tipu muslihat, aku bisa saja membebaskan dirimu dari kematian, dan tentang Kwang Tiekwan adalah persoalan kecil. Tetapi ingat olehmu, sekali saja kau bermasuksud untuk buron, hmmm aku yang akan memenggal kepalamu!”

Sian Tauw Bun tidak mau melayani orang itu, dia hanya mengurut-uruti kedua pergelangan tangannya. Si gemuk yang membahasakan dirinya cing Toaya itu menghampiri pintu.

Dia bertepuk tangan tiga kali, dan suara tepukan tangannya itu cukup nyaring.

Dari luar masuk dua orang, yang berpakaian seperti pelayan.

“Bawa gadis itu kemari!” perintah cing To-ya dengan suara yang keras.

Kedua orang itu menyahuti mengiakan, mereka pergi sesaat kemudian, setelah itu kembali dengan mengiring Ling-jie.

Wajah gadis itu pucat sekali, kedua tangannya terbelenggu.

Begitu melihat Sian Tauw Bun, dia berlari-lari menghampiri sambil berseru :

“Ayah!”

Sian Tauw Bom juga memburu ke arah puterinya, kemudian mereka berpelukan.

“Kau tidak diapa-apakan oleh orang-orang biadab ini, Ling-jie?” tanya Sian Tauw Bun, setelah mereka puas melepaskan dari rasa duka dan kuatir.

Ling-jie menggelengkan kepalanya.

“Kalau memang mereka berani menghina Ling-jie, maka Ling-jie akan membenturkan kepala di dinding, untuk binasa saja! Mati lebih berharga dari pada dihina orang-orang semacam mereka ini!” kata Ling-jie bersemangat.

Sian Tauw Bun mengangguk.

“Tadi aku telah menjanjikan kepada mereka uiruk menyerahkan kitab Kim-hun Pit- kip kepada mereka!” menerangkan Sian Tauw Bun. “Dan mereka berjanji akan membebaskan kita dengan jaminan selama kita masih berada di dalam kota ini mereka tidak akan menggangu kita!”

Wajah Ling-jie jadi berubah.

“Ayah ini ” katanya dengan suara yang tergugu. Sian Tauw Bun tersenyum sedih.

“Sudahlah Ling-jie, mungkin kitab itu bukan jodoh kitaselama kita memiliki kitab itu, entah sudah berapa jago-jago silat yang ingin merebutnya! Semua itu hanya menyebabkan marabahaya yang besar bagi kita! Hmmm lebih baik kita   tidak memiliki kitab Kim hun Pit-kip itu, hidup kita tentu akan lebih tenang!” “Tetapi ayah   Ceng-sian   Siansu bukankah telah berpesan biar   bagaimana kitab itu harus dipertahankan mati-matian, karena kalau sampai terjatuh ketangan penjahat, bisa menimbulkan bahaya yang tidak kecil.”

Siau Tauw Bun mengangguk, membenarkan perkataan puterinya.

“Tak salah perkataanmu nak, tetapi kita mungkin memang tidak berjodoh, maka biar kita menyerahkan kitab itu kepada mereka, dan kita bisa mengasingkan diri untuk memperdalamkan ilmu silat kita, nanti kita boleh mencari mereka untuk melakukan perhitungan tentang sakit hati ini!”

Sian Tauw Bun berusaha menghibur puterinya. Ling-jie akhirnya menganguk.

Si gemuk yang membahasakan dirinya sebagai cing Toaya, tuan besar cing itu, telah membentak : “Hayo cepat berangkat! Tunjukkan kepada kami, dimana kalian menyembunyikan kitab Tulang Emas itu!”

Ling-jie dan Sian Tauw Bun menoleh ke arah si gemuk, mata Siau Tauw Bun berkilat tajam, kemudian dia berkata dengan suara yang dingin : “Perkataanku ibarat larinya seribu kuda, kami tidak akan mengingkari janji kami!!”

Si gemuk tertawa dingin