Gerbang Tengkorak Jilid 04

Jilid 04

Hek Houw Hweeshio menarik napas dalam-dalam, disimpannya di dalam perut. Dia ingin menggempur si bocah dengan kekerasan. Dia mengambil keputusan begitu karena dia mempunyai pikiran, bahwa usia si bocah masih terlalu kecil, dan sebagai seorang bocah yang berusia dua belas tahun, maka Lweekang bocah ini tentu belum begitu tinggi, dan dengan digunakannya kekerasan begitu, pasti si bocah dapat dirubuhkannya!

Bie Liek juga melihat sikap si Hweeshio, tetapi si bocah tetap tenang. Dia menantikan serangan dari si Hweeshio dengan penuh kewaspadaan. Tetapi sikap tenangnya itu seperti juga dia tidak memandang sebelah mata kepada Hek Houw Hweeshio.

Hal itu benar-benar membikin si Hweeshio bermuka hitam itu jadi gusar dan murka bukan main. Maka, begitu melihat si bocah masih berdiam diri, Hek Houw Hweeshio membentak:

“Kau jangan menyesal kalau memang nanti kau mampus di tanganku!” kata si Hweeshio.

Bie Liek ketawa kecil, dia masih membawa sikapnya yang tenang.

“Aku atau kau yang akan terbinasakan di dalam pertempuran ini?” dia balik bertanya dengan suara yang tenang seakan juga si bocah telah yakin dan pasti bahwa dirinya yang akan memenangi pertempuran tersebut.

Hek Houw Hweeshio jadi semakin mendongkol dan murka, tubuhnya sampai menggigil. Selama hidupnya belum pernah ada orang yang berani kurang ajar kepadanya, apa lagi sekarang yang dihadapinya seorang bocah cilik yang mungkin baru berusia dua belas tahun lebih sedikit! Maka dari itu, bisa dibayangkan kegusaran dari Hweeshio bermuka hitam tersebut.

“Majulah kau! Mengingat usiamu yang terpaut jauh dengan diriku, maka biarlah aku mengalah dan kau boleh menyerang terlebih dahulu.” kata Hek Houw dengan berang. Bie Liek tersenyum.

“Kalau memang aku menyerang terlebih dahulu, maka kau akan rubuh dengan penasaran lagi!” katanya. “Maka dari itu, kaulah yang menyerang terlebih dahulu!”

Wajah Hek Houw Hweeshio berubah merah padam, dia sangat gusar sekali.

“Bocah setan!” bentaknya dengan sengit, “Kau ternyata congkak sekali serta berkepala besar! Hmmm, dengan menyuruhku menyerang terlebih dahulu, apakah kau masih berpikir untuk hidup terus?”

“Kurasa untuk saat-saat ini aku masih hidup?” menyahuti Bie Liek dengan tenang. “Dan, kukira untuk seterusnya juga aku akan hidup dengan sehat walafiat, hanya kuperingatkan, kau harus hati-hati jangan sampai rubuh kembali seperti tadi!”

Wajah Hek Houw Hweeshio jadi merah padam seperti kepiting direbus

“Kau terlalu bermulut besar, bocah!” bentaknya dengan berang sekali.

Membarengi dengan bentakannya itu, dia mengenjotkan tubuhnya, yang melayang dengan cepat ke arah Bie Lek.

Sambil melompat begitu, kedua tangan si Hweeshio juga terulur akan mencengkeram pundak Bie Liek.

Bie Liek melihat cara menyerang orang, dia tertawa tawar.

“Ha, kau masih memerlukan berlatih tiga atau lima tahun lagi untuk mengalahkan diriku!” kata Bie Liek dengan suara yang dingin.

Dia sengaja bersikap congkak begitu, untuk membakar kemarahan dan kegusaran si Hweeshio.

Dan, disaat kedua tangan si Hweeshio hampir mencengkeram pundaknya, Bie Liek merobah kedudukan kakinya, kaki kirinya digeser kekanan, sehingga bersilangan dengan kaki kanannya, kemudian seperti orang yang memberi hormat, si bocah membungkukkan tubuhnya sedikit kemuka.

Dengan membawakan sikap begitu, si bocah sekaligus telah mengelakkan serangan kedua tangan Hek Houw Hweeshio.

Ini disebabkan karena tubuh si bocah doyong kemuka sedikit, dan dengan disilangkan kedua kakinya itu, tubuh si bocah jadi rendah, dan dengan sendirinya Hek Houw Hweeshio mencengkeram tempat kosong! Hweeshio bermuka hitam itu jadi terkejut disaat kedua tangannya nyelonong ke tempat kosong! Sebab tadinya dia telah yakin bahwa dia akan berhasil mencengkeram pundak Bie Liek, karena kedua tangannya itu hampir berhasil mencengkeram kedua bahu Bie Liek.

Tetapi untuk kagetnya, disaat jari-jari tangannya baru berhasil menyentuh baju si bocah, tahu-tahu tubuh si bocah telah melejit menurun dan membungkuk kedepan, sehingga dengan sendirinya dia jadi menyerang tempat kosong.

Betapa kecewa hati si Hweeshio.

Baru saja dia mau merobah kedudukan kedua tangannya itu, dengan maksud untuk meneruskan serangannya dengan jurus lain, atau dia telah kaget dengan sendirinya. Kenapa?

Karena waktu Bie Liek mendoyongkan tubuhnya kedepan dengan kedua kaki bersilang kedua tangannya masih bebas dan leluasa untuk bergerak.

Maka itu, disaat tubuh si Hweeshio masih terapung di udara di depan wajahnya maka si bocah menggerakkan serulingnya, brett baju si Hweeshio kena disonteknya sampai baju itu robek sebagian besar!

Itulah yang membikin Hek Houw Hweeshio jadi terperanjat bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan kaget, dan waktu tubuhnya meluncur turun, dia cepat- cepat bergulingan di tanah.

Bie Liek telah merobah kedudukan dirinya lagi, dia meloncat dengan ringan, dan tahu-tahu serulingnya telah bergerak lagi ke arah Hek Houw Hweeshio.

Hek Houw Hweeshio waktu itu telah bergulingan agak jauh, dia mencoba untuk melompat bangun.

Tetapi, baru saja dia mau menggenjot tubuhnya keatas, tiba-tiba dirasakan di belakang tengkuknya seruling si bocah melekat dengan keras.

“Kalau memang kau bergerak, jiwamu akan melayang cuma-cuma!” ancam Bie Liek dengan suara yang keras.

Si Hweeshio seperti disiram oleh segayung air salju, dia sampai menggigil, dan hatinya seperti juga copot dari dadanya. Dan mulutnya mengeluarkan seruan.

Tanpa berani menoleh, si Hweeshio menjatuhkan dirinya ke depan, dia bergulingan.

Tetapi Be Liek sudah bermaksud untuk mempermainkan diri Hweeshio yang berangasan itu, mana mau dia melepaskannya begitu saja?

Maka begitu melihat si Hweeshio bergulingan berusaha menjauhi dirinya dan mengelakkan serangan Bie Liek si bocah jadi tersenyum kecil. “Apakah kau mempunyai kepandaian untuk menjauhi diriku?” teriak Bie Liek sambil mencelat mengejar si Hweeshio, tangannya bergerak lagi serulingnya mengincer tengkuk orang lagi!

Hek Houw Hweeshio baru saja dia mau bangun berdiri, atau dia sudah berteriak kaget lagi, karena dirasakan olehnya ujung seruling si bocah telah menempel ditengkuknya lagi.

Tanpa menoleh si Hweeshio merubuhkan dirinya kedepan lagi, dia bergulingan lagi ingin menjauhkan diri sejauh mungkin dari bocah itu.

Bie Liek tersenyum melihat sikap si Hweeshio, dia tetap ingin mempermainkan Hweeshio berangasan tersebut.

Maka dari itu, begitu melihat Hek Houw Hweeshio bergulingan berusaha menjauhi dirinya dengan ketakutan, Bie Liek mencelat mengejarnya lagi. Serulingnya juga bergerak pula, mengincer tengkuk si Hweeshio.

Hek Houw Hweeshio sangat ketakutan, dia sampai berulang kali mengeluarkan seruan kaget, sebab setiap dia mau melompat bangun, selalu saja seruling Bie Liek telah menempel ditengkuknya lagi.

Wajah si Hweeshio jadi pucat luar biasa, juga butir-butir keringat telah membasahi keningnya. Berulang kali si Hweeshio bergulingan berusaha menjauhi Bie Liek, tetapi ujung seruling si bocah selalu mengikuti seperti juga seruling itu mempunyai mata.

Sering juga Hek Houw Hweeshio jadi nekad, sambil melompat berdiri, dia menyabetkan tangannya kebelakang, dengan maksud memukul seruling itu, dan mencuri waktu untuk berdiri tetap.

Tetapi Bie Liek sangat cerdik sekali, setiap kali Hek Houw Hweeshio memukul kebelakang, dia menarik pulang serulingnya, sehingga si Hweeshio bermuka hitam itu jadi memukul tempat kosong, dan baru saja dia bisa berdiri, ujung seruling telah menempel ditengkuknya lagi!

Betapa terkejutnya si Hweeshio, sehingga dengan mengeluarkan seruan takut, dia menjatuhkan dirinya ke muka lagi, bergulingan lagi.

Hal tersebut terulang terus, napas si Hweeshio jadi memburu keras. Dia ketakutan bukan main. Di dalam benaknya seketika itu juga timbul alam khayal yang menakutkan, dia menduga bahwa bocah yang sedang dihadapinya ini adalah memedi penunggu gunung tersebut!

Keringat dingin jadi mengucur lebih deras membasahi tubuh si Hweeshio. Akhirnya tenaga si Hweeshio habis, dia tetap numprah di tanah dengan tubuh yang lemas. “Kau kau ” gemetar suara si Hweeshio, dia juga mendelik ke arah Bie Liek dengan murka. Wajah si Hweeshio menunjukkan sikap yang lucu, seperti mau tertawa dan mau menangis!

Hal ini memang benar-benar baru pertama kali dialami oleh Hweeshio bermuka hitam. Biasanya, jangankan seorang bocah seperti Bie Liek, sedangkan jago-jago silat yang telah sempurna ilmu silatnya belum tentu bisa merubuhkan dirinya. Tetapi kali ini, dengan mudah Bie Liek mempermainkan dirinya!

Maka dari itu bisa dibayangkan, betapa malu dan gusar serta perasaan dari Hweeshio bermuka hitam tersebut, tetapi dia bergusar tanpa daya. Maka dari itu, dia jadi serba salah, mau tertawa tidak bisa, mau menangis juga tidak bisa!

Untuk mengaku kalah, jelas si Hweeshio tidak mau, sebab Bie Liek masih berusia begitu muda. Dia malu untuk mengakui kelemahan dirinya!

Bie Liek tersenyum melihat sikap si Hweeshio, dia merasa telah cukup mempermainkan diri si Hweeshio.

Ditarik pulang serulingnya.

“Bagaimana Toa Suhu apakah kau telah puas?” tanya si bocah dengan sabar. Hek Houw Hweeshio menyusut butir-butir keringat yang membanjiri keningnya.

Dia melompat berdiri dengan mata mendelik memandang ke arah Bie Liek. Kemudian tanpa mengatakan sepatah kata, dia memutar tubuhnya dan dengan menggunakan ilmu entengi tubuh, Ginkang dia berlari menjauhi.

Bie Liek melihat sikap si Hweeshio, dia jadi merasa lucu. Timbul lagi sifat jailnya akan mempermainkan Hweeshio tersebut. Maka dari itu, dikejarnya si Hweeshio.

Hanya di dalam beberapa kali lompatan saja, dia telah menghadang dihadapan Hek Houw Hweeshio. Si Hweeshio bermuka hitam jadi terkejut melihat tahu-tahu si bocah telah menghadang di depannya, dia sampai mengeluarkan jerit terkejut.

“Kau kau ” dia tergugu dan tidak bisa berkata dengan lancar saking murkanya.

“Hmmm ternyata kau bukan seorang hohan, Toa Suhu, karena setelah kau rubuh dan kalah di tanganku, kau tidak mau mengakui secara jujur kekalahan dirimu itu!” kata Bie Liek.

Si Hweeshio murka benar.

“Jadi kau mau menghina aku lagi?” tegur si Hweeshio dengan gusar. “Baiklah! Baik! Hari ini aku rubuh dengan penasaran di tanganmu, aku tidak berdaya di tanganmu, aku memang seorang bodoh yang musti mampus! Nah, kau mau bunuh, bunuhlah, aku tidak jeri!”

Melihat sikap si Hweeshio, Bie Liek tersenyum lagi dengan sabar. “Ternyata Toa Suhu masih membawa sikap berangasanmu!” kata Bie Liek, “Hmmm   kalau memang kebetulan kau bertemu dengan orang jahat, tentu jiwamu telah melayang, untung saja yang kau temui hari ini adalah aku, maka itu memang nasibmu yang masih baik kalau, tidak hmmm tentu kepalamu telah menggelinding di tanah!”

Wajah si Hweeshio merah padam, dia gusar tanpa daya sama sekali. Dia menjura dengan penuh kegusaran.

“Hari ini Hek Houw rubuh di tangan 'tay-hiap', maka itu Hek Houw pasti akan mengingatnya budi dan dendam ini!” dan setelah berkata begitu, Hek Houw memutar tubuhnya, dia kemudian berlari-lari meninggalkan Bie Liek.

Si bocah hanya mengawasi kepergian orang dengan bibir tersenyum.

Dia tidak mengejar Hweeshio itu lagi, karena dia takut kalau nanti dia mempermainkan Hweeshio itu terlaluan tentu ketua dari kuil Siauw-lim-sie tidak akan mau mengerti. Lagi pula Bie Liek takut kalau terlalu didesak, Hweeshio itu menjadi nekad dan membunuh diri.

Setelah bayangan si Hweeshio bermuka hitam itu lenyap dari pandangannya, maka Bie Liek melangkah perlahan-lahan, dia mendekatkan serulingnya kemulut, dia meniupnya perlahan sekali, maka mengalunlah irama seruling itu dengan lembut.

Lama juga si bocah meniup serulingnya, dia telah membawakan dua buah lagu sambil berjalan perlahan-lahan.

Keadaan disekitar tempat itu sangat sepi sekali, dia memandang sekitar tempat tersebut, akhirnya Bie Liek berhenti meniup serulingnya. Bocah ini menghela napas dalam-dalam, hatinya jadi berduka. Dia terkenang kepada ayah ibunya, yang binasa dengan tidak wajar.

lbunya dibunuh dan ayahnya terbinasa dalam penjara dengan tersiksa hebat! Sebetulnya Bie Liek hampir menitikkan butir-butir air mata, namun dia berusaha menahannya.

Dia berjalan lagi beberapa langkah, kemudian tanpa disadarinya dia bernyanyi perlahan sekali :

Air mata mengalir deras, Sederas sungai Tiang-kang,

Tiada gunanya sebagai seorang Hohan, Apa artinya air mata bagi sebuah kerajaan, Dan, yang penting kita berjuang,

Diantara reruntuhan kita membangun. Dengan pedang kita mengusir musuh negara,

Dan, semuanya akan berhasil kalau disertai dengan jiwa yang suci,

Gunung menghijau kembali, laut bergelombang dan sungai mengalir kembali,

Pedang disimpan dan kita kembali hidup rukun.

Setelah bernyanyi begitu, Bie Liek menghela napas lagi dengan hati yang berduka.

Tiba-tiba kupingnya yang tajam, dapat mendengar suara terbenturnya senjata tajam.

Cepat-cepat Bie Liek berlari menghampiri ke arah datangnya suara benturan senjata itu. Begitu Bie Liek sampai didekat sebuah bukit, dia melihat ada seorang Hweeshio yang sedang dikurung oleh lima orang bertubuh cebol semuanya.

Tetapi walaupun kelima oreng itu bertubuh cebol, kepandaian mereka sangat liehay sekali, lebih-lebih mereka menyerang secara mengeroyok, tampak si Hweeshio sangat sibuk menyambuti setiap serangan orang-orang cebol itu, tampaknya terdesak hebat sekali Hweeshio itu.

Bie Liek memernahkan dirinya dibalik sebuah batu gunung, dari situ dia dapat menyaksikan jalannya pertempuran dengan leluasa.

Samar-samar Bie Liek mendengar salah seorang cebol itu membentak : “Tiang In Hweeshio, lebih baik kau menyerah dan memberitahukan kepada kami, di mana kau menawan Lin Suko kami?!”

Tampaknya si Hweeshio sangat murka sekali, dia menangkis senjata dari seorang cebol lainnya yang sedang menyerang menusuk ke arah ulu hatinya.

“Kalian setan-setan cebol yang mau mampus!” teriak si Hweeshio dengan gusar “Mengapa kau mendesak aku demikian rupa? Tentang Lin Suko yang kalian katakan itu aku tidak tahu menahu tentang dirinya kau boleh menanyakannya di neraka!”

Mendengar perkataan si Hweeshio, kelima orang cebol itu jadi tambah gusar, mereka menggencarkan serangan-serangan mereka.

Tubuh kelima orang bertubuh cebol itu mempunyai tinggi badan yang sangat pendek sekali, mungkin tidak ada satu meter. Wajah kelima orang itu rata-rata mempunyai wajah yang bengis, juga mereka rupanya agak gugup menyerang si Hweeshio.

Coba kalau memang kelima orang cebol itu menyerang secara teratur dan tenang, tentu siang-siang si Hweeshio telah rubuh di tangan mereka.

Tetapi mungkin ada sesuatu yang membuat mereka agak jeri, maka mereka tidak berani terlalu mendesak Hweeshio itu, yang dipanggil oleh mereka sebagai Tiang ln Hweeshio. Sedangkan Tiang In Hweeshio itu sambil bertempur saling mundur, dia ingin mendekati ke arah kuil Siauw Lim Sie, dan kelima orang cebol itu juga telah sadar akan maksud hati lawannya itu, maka mereka selalu melancarkan serangan-serangan yang bertubi-tubi dan selalu mengincar bagian tubuh yang mematikan.

Tiang In Hweeshio memutar pedangnya kuat-kuat seperti juga dia ingin membikin kelima orang cebol itu mundur dengan serangannya itu, namun ternyata kelima orang cebol itu sangat cerdik.

Mereka memencar diri, sehingga si Hweeshio jadi kewalahan juga, sebab kelima orang cebol itu mengambil sikap yang mengurung rapat dan melakukan serangan secara bergantian.

Kalau yang satu kena ditangkis senjatanya, maka yang seorangnya akan membarengi menyerang. Lama-kelamaan si Hweeshio jadi lebih kewalahan dia terdesak hebat.

Bie Liek juga melihat, bahwa si Hweeshio paling bisa bertahan selama lima puluh jurus lagi, dan setelah itu dia akan dapat dirubuhkan oleh kelima lawannya itu.

Tetapi dasarnya memang si Hweeshio memang kosen, biarpun dia telah terdesak hebat dan dikepung lima, toh tetap saja dia memberikan perlawanan yang gigih.

Tiang In Hweeshio bersenjata sebilah pedang yang tampaknya adalah sebuah pedang mustika, sedangkan kelima orang cebol itu bersenjata masing-masing sebatang Poan-koan pit

Pertempuran mereka semakin lama semakin bebat, tetapi pihak yang rugi adalah Tiang In Hweeshio, karena dia dikepung lima begitu dan diserang secara bergilir, maka lama kelamaan tenaganya akan habis dengan sendirinya, dan kalau memang dia sudah keletihan, hebat kesudahannya!

Dia pasti akan diringkus oleh kelima manusia-manusia ceool itu.

Tiang In Hweeshio sendiri telah menyadari bahwa bahaya mengancam dirinya, maka dari itu, dia memberikan perlawanan yang gigih, dia melakukan serangan-serangan yang nekad, yang membuat kelima orang cebol itu juga harus berhati-hati terhadap pedang si Hweeshio.

Satu kali, dengan mengeluarkan suara jeritan yang keras, suatu bentakan yang mengguntur, Tiang In Hweeshio mencelat keatas, dan disaat tubuhnya sedang terapung itu dia memutar pedangnya.

Cahaya pedang menutupi rapat sekali tubuh si Hweeshio dari serangan-serangan kelima orang cebol itu. Waktu tubuh si Hweeshio jatuh di tempat lain, maka kelima manusia cebol itu telah mengejar sampai di situ juga. Salah seorang diantara kelima manusia cebol itu telah menyerang lagi. “Sebelum kau memerdekakan Lin Suko kami, jangan harap kau bisa meloloskan diri dari tangan kami!” bentak orang itu yang menyerang dengan hebat.

“Kentut!!” bentak Hweeshio dengan suara yang murka, “Hmm kalian setan cebol yang tidak tahu diri! Sudah kukatakan, kalau memang kalian ingin bertemu dengan Lin Suko kalian itu, pergilah kalian keneraka, pasti kalian akan dapat menemuinya!”

Kelima orang bertubuh cebol itu jadi tambah gusar, dengan berbareng mereka membentak murka, dan juga menyerang secara berbareng.

Si Hweeshio tersirat hatinya, dia berusaha memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya. Tetapi kelima orang bertubuh cebol itu sangat gesit dan liehay sekali, lebih- lebih mereka bertubuh pendek, sehingga mereka menyerang bagian bawah tubuh si Hweeshio membuat si Hweeshio jadi kewalahan sekali.

Suara benturan senjata itu sangat nyaring sekali dan bising. Bie Liek menyaksikan semua itu, dan dia belum berani turun tangan, karena dia takut nanti salah-salah dia bisa membantu orang jahat.

Kalau memang menuruti bisikan hatinya, dia harus cepat-cepat menolong si Hweeshio, karena dengan cara bertempur begitu, menyatakan bahwa kelima manusia bertubuh cebol itu sangat licik sekali.

Satu orang dikepung lima bukanlah suatu perbuatan yang bisa dipuji. Namun Bie Liek mau menyaksikan keramaian dulu, karena di dalam hatinya dia berpikir, kalau toh nanti keselamatan si Hweeshio terancam, maka dia pasti masih sempat untuk menolongnya.

Maka dari itu, matanya mengawasi dengan penuh kewaspadaan mengikuti jalannya pertempuran. Tangannya mengambil sebutir batu di dekatnya. Diremasnya batu itu, yang hancur di dalam cengkeraman tangannya, batu itu menjadi terpotong-potong beberapa potong.

Dengan menggenggam batu-batu itu, Bie Liek bermaksud nanti kalau memang si Hweeshio terancam bahaya kematian, dia akan menyambitkan batu-batu itu untuk menghajar jatuh kelima senjata dari kelima orang-orang bertubuh cebol itu.

Pertempuran antara Tiang In Hweeshio dengan kelima orang cebol itu masih terus berlangsung. Tampaknya si Hweeshio tambah terdesak hebat, dia jadi main mundur dan selalu menangkis kalau dibandingkan dengan penyerangnya, karena kelima orang bertubuh cebol itu lebih mempergencar serangan-serangannya.

Satu kali, dikala Tiang In Hweeshio sedang menangkis serangan dari salah seorang dari kelima lawannya itu, pedangnya hampir saja terlepas dan cekalannya.

Untung saja dia cepat-cepat mengenjotkan tubuhnya, badannya mencelat

kesamping, dan dengan begitu, tenaga serangan lawan jadi punah, serta pedangnya masih berada di dalam cekalannya. Tetapi baru saja dia dapat berdiri tetap, salah seorang diantara kelima lawannya itu telah menyerang lagi.

Tiang In Hweeshio cepat-cepat menangkisnya. Hebat serangan lawannya, karena belum lagi senjatanya dapat dibentur oleh pedang si Hweeshio, dia telah menarik pulang lagi. Rupanya dia menggunakan serangan pancingan belaka, dia membarengi disaat si Hweeshio ingin menangkis serangannya itu, dia menarik pulang dan menyerang lagi ke arah dada si Hweeshio.

Tiang In Hweeshio jadi terkejut, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan. Untuk menarik pulang pedangnya dan menangkis serangan lawan jelas tidak keburu.

Maka dari itu untuk menyelamatkan dirinya, dia menjatuhkan tubuhnya kebelakang, lalu bergulingan. Dengan begitu dia bisa meloloskan diri dari Poan-koan-pit lawan.

Tetapi, sedang si Hweeshio bergulingan, salah seorang lawannya yang lain telah menggunakan kesempatan itu, menyerang ke arah paha kanan Tiang In Hweeshio.

Si Hweeshio jadi gugup bukan main, jelas dia dalam posisi tidak baik. Tetapi, dengan nekad dia mengayunkan pedangnya akan menabas tangan orang. Dia melakukan serangan itu dengan maksud untuk menggertak lawannya itu.

Kalau memang lawannya meneruskan serangannya itu, pasti paha Tiang In Hweeshio akan terluka berat, tetapi lengan lawannya juga akan tertabas putus!

Rupanya lawan Tiang In Hweeshio belum senekad diri si Hweeshio, ini terlihat disaat dia menghadapi serangan si Hweeshio yang begitu nekad, dia membatalkan serangannya dan melompat kebelakang dengan cepat.

Tiang In Hweeshio mau mempergunakan kesempatan itu untuk melompat berdiri. Tetapi belum lagi dia mempunyai kesempatan untuk melompat dengan jurus 'Lee ke Ta Teng atau 'ikan Lee meletik', lawan yang seorangnya lagi telah menyerangnya dengan suatu serangan yang mematikan, sebab yang diincer adalah tenggorokan Tiang ln Hweeshio.

Si Hweeshio kembali terkejut, dia juga mengeluarkan seruan gusar. Di dalam keadaan begitu, dia jadi nekas sekali, dengan tidak memperdulikan keselamatan dirinya, Tiang In Hweeshio berteriak dengan suara yang mengguntur dan menangkis serangan lawan dengan pedangnya itu.

Kedua senjata saling bentur dengan keras sampai menimbulkan suara berkerontangan yang nyaring.

Tetapi disaat Tiang In Hweeshio sedang nenangkis serangan lawannya yang seorang itu, salah seorang lawannya yang lain telah menyerang lagi ke arah dada Tiang In Hweeshio. Jiwa si Hweeshio jadi terancam bahaya kematian! Tiang In Hweeshio juga mengetahui bahwa jiwanya sangat terancam, tetapi dia tidak takut.

Disaat pedangnya sedang saling bentur dengan Poan-koan Pit lawannya yang seorang, dia mengulurkan tangan kirinya, dan dengan sangat berani sekali Tiang In Hweeshio ingin mencengkeram senjata lawannya yang seorang itu.

Lawannya terkejut juga, kalau memang sampai senjatanya itu kena dicengkeram oleh Hweeshio tersebut, dia bisa celaka. Maka dari itu, cepat-cepat orang cebol yang seorang itu menarik pulang senjatanya. Tetapi jiwa Tiang In Hweeshio tetap terancam. Karena, salah seorang lawan lainnya juga menyerang ke arah batok kepala si Hweeshio yang gundul!

Inilah sang sulit! Si Hweeshio sedang dalam keadaan rebah, dia sedang menangkis serangan lawannya, maka sulit untuk dia berkelit dari serangan yang berikutnya ini.

Tiang In Hweeshio sampai mengeluarkan suara keluhan putus asa, karena dia yakin bahwa jiwanya akan melayang dengan batok kepala yang hancur.

Namun sebagai seorang jago yang kosen dan mempunyai kepandaian yang tinggi, Tiang In Hweeshio tidak mudah untuk menyerah begitu saja.

Dengan nekad dia menarik pulang pedangnya, dan dengan tidak menoleh kebelakangnya lagi, dia mengerahkan pedangnya dengan kecepatan yang sulit untuk dilihat.

“Sreettttt!” terdengar suara tergoresnya baju, disertai oleh jerit tertahan dari lawannya, yang rupanya terkejut?

Ternyata Tiang In Hweeshio telah berhasil melukai lengan lawannya, sedangkan serangan lawannya atas batok kepalanya itu telah dihindarkan dengan mendongakkan kepalanya, sehingga Poan-koan-pit lawannya jadi mengenai tempat kosong!

Menggunakan lawan sedang terkejut dan keempat orang cebol lainnya seperti kesima melihat kawan mereka itu terluka, Tiang In Hweeshio menggunakan kesempatan itu untuk melompat berdiri.

Tetapi, kelima manusia cebol itu telah tersadar dengan cepat. Mereka jadi murka bukan main, wajah kelima manusia cebol ini jadi merah padam.

“Hweeshio kerbau!” teriak kelima manusia cebol itu hampir berbareng. “Hari ini biar Thian turun ke bumi, kau tetap harus mampus di tangan kami! Hmm biarlah Lin Suko kami kalian siksa nantinya, namun hari ini kau harus terbinasa lebih dahulu!”

Dan setelah membentak begitu, secara serentak kelima orang cebol itu menyerang si Hweeshio dengan Poan-koan-pit mereka.

Tiang In Hweeshio baru bisa berdiri tetap, ketika melihat kelima lawannya serentak menyerang dirinya lagi. Si Hweeshio jadi nekad, dia telah mengambil keputusan akan mengadu jiwa dengan kelima orang itu.

“Mari kita mati bersama!!” teriak si Hweeshio dengan bengis.

Sedang kelima lawannya menerjang ke arah dirinya, si Hweeshio juga melompat memapaki mereka. Pedangnya diputar dengan hebat, sehingga merupakan kitiran.

Kelima jago cebol yang menjadi lawannya dari Tiang In Hweeshio telah menyerang dengan serentak, mereka menggunakan berbagai ilmu silat yang mereka miliki, malah kalau dilihat dengan teliti, mereka ternyata menyerang dengan menggunakan serangan yang mematikan semuanya.

Tiang In Hweeshio yang sudah nekad itu sudah tidak memperdulikan keselamatan dirinya.

Dengan pedangnya, dia menusuk berulang kali ke arah lawannya. Dia memang sudah bermaksud akan mengadu jiwa dengan kelima orang cebol itu. Pedangnya bergerak-gerak bagaikan seekor naga yang mencari mangsa.

Kelima jago cebol itu agak terkejut juga, senjata mereka jadi saling bentur dengan hebatnya sehingga menimbulkan lelatu api.

Terdengar dua kali suara jerit kesakitan, tampak keenam orang itu jadi saling memisahkan diri.

Dari lima jago cebol itu, dua orang terluka lengan dan pundaknya, sedangkan Tiang In Hweeshio memperoleh satu tusukan di pahanya, sehingga tampak selain wajahnya yang pucat, pun dia meringis menahan perasaan sakit.

“Hmmm Poan-koan-pit kami ini telah dilabur dengan racun, maka kalau memang dalam tiga belas jam kau tidak memperoleh obat penawarnya dari kami, jiwamu akan melayang!” kata salah seorang di antara kelima jago cebol itu, mata mereka juga saling mencilak dengan bengis. “Lebih baik kau menyerahkan Lin Suko kepada kami, nanti akan kami balas kebaikanmu itu dengan menyerahkan obat penawar racun itu kepadamu, sehingga kau tidak perlu sampai membuang jiwa secara konyol!”

Mata Tiang In Hweeshio memancarkan cahaya yang bengis dan mengandung pembunuhan. Darahnya bergolak hebat sekali disebabkan rasa murka yang bukan main.

Dengan menggigit bibirnya menahan perasaan sakit, tahu-tahu dia menjejakkan kakinya dan tubuhnya melompat melesat tinggi sekali.

Sambil melompat betu. Tiang In Hweeshio mengeluarkan suara bentakan yang bengis, diikut sorta&an oleh pedangnya yang berkelebat-kelebat dengan cepat, menyilaukan sekali.

Kelima jago cebol yang menjadi lawan si Hweeshio jadi terkejut juga. Cepat mereka masing-masing melompat menjauhi, dan mereka membawa sikap yang mengalah.

“Kami tidak akan melawan bertempur padamu, Hweeshio kerbau!” kata salah seorang jago cebol itu. “Nanti kau akan rubuh sendirinya dan terbinasa dengan tubuh yang hancur-lebur menyiarkan bau busuk!”

Betapa gusarnya Tiang In Hweeshio, karena ternyata kelima manusia cebol itu sangat licik sekali.

Disebabkan si Hweeshio telah terkena racun di poan-koan-pit mereka, maka kelima orang itu bertempur dengan maju mundur, sengaja mengulur waktu.

Itu bisa berbahaya sekali bagi jiwa Tiang In Hweeshio, lebih-lebih dia sedang dikuasai oleh hawa amarah yang sangat, maka darahnya akan beredar lebih cepat, menyebabkan menjalarnya racun itu lebih cepat dan akan naik kejantungnya!

Kalau memang racun itu telah naik sampai kejantungnya, memang benar perkataan kelima jago cebol itu, biarpun Thian atau Tuhan turun kebumi, tentu tidak akan tertolong lagi jiwanya, sebab jantungnya itu akan membusuk.

Si Hweeshio berusaha membendung jalan darahnya itu dengan tenaga dalamnya, Lweekang, dia berusaha mengurangi hawa amarahnya juga.

Tetapi, baru saja dia mengatur jalan pernapasannya, kelima jago cebol itu telah melompat ke arahnya untuk mengganggu dan membikin kegusarannya meluap kembali.

Keadaan itu berulang kali, akhirnya si Hweeshio jadi mengambil keputusan yang

nekad.

Dia sudah bertekad untuk mati, asalkan kelima jago cebol yang menjadi lawannya

itu dapat dibinasakannya!

Maka dari itu, dia tidak memperdulikan racun yang mengeram di dalam tubuhnya, dengan mata yang memancar bengis dan mengandung hawa pembunuhan, Tiang In Hweeshio mengawasi berganti-ganti kepada kelima lawannya, pedangnya diangkat tersilang di muka dadanya. 

Sikapnya itu adalah jurus Tie Kong Sian Lie, dan jurus ini adalah satu jurus yang sangat berbahaya, karena siapa saja sulit untuk mengelakkan diri dari jurus itu atau serangan maut tersebut, sebab serangan yang akan dilancarkan oleh Tiang In Hweeshio dalam jurus itu adalah jurus untuk mengadu jiwa dengan lawan.

Melihat sikap dari Tiang In Hweeshio, kelima jago cebol, lawannya itu tertawa

tawar.

“Percuma kau mengeluarkan ilmu apa saja, Hweeshio bau kami tidak akan

melayanimu! Hmmm, dengan cara begini, kami ingin melihat dengan cara bagaimana kau ingin menyelamatkan jiwamu!” kata salah seorang diantara kelima jago bertubuh pendek itu.

Betapa gusarnya Tiang In Hweeshio, dia tidak mau melayani ejekan lawan.

Dengan suatu bentakan yang keras, tubuh Tiang In Hweeshio melesat dengan kecepatan yang luar biasa.

Pedangnya juga bergerak. Kelima jago cebol itu melompat menjauhi. Tetapi tidak terduga gerakan Tiang In Hweeshio sangat cepat sekali. Karena dia sedang gusar dan murka sekali maka dengan tidak memikirkan kekuatan yang ada padanya, dia telah menjejakkan kakinya dengan seluruh tenaga Lweekangnya, sehingga tubuhnya melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Pedangnya juga bergerak dengan cepat.

Tubuh Tiang In Hweeshio yang sedang melambung itu melesat ke arah salah seorang kelima lawannya, dan disaat pedangnya itu berkelebat, maka ia menyerang ke arah batang leher dari lawannya,

Jago cebol yang satunya ini, yang sedang diincer jiwanya oleh Tiang In Hweeshio jadi kaget.

Dia sampai mengeluarkan seruan terperanjat, karena pedang Tiang In Hweeshio tahu-tahu telah menempel didekat kulit lehernya.

Dengan cepat dia melemparkan tubuhnya kesamping dan bergulingan. Tetapi sudah terlambat!

Terdengar suara ‘Breeettt!’ yang nyaring sekali, baju orang itu terkoyak keserempet oleh mata pedang Tiang In Hweeshio.

Orang itu jadi mandi keringat dingin, dia bergulingan terus, dan setelah merasa agak jauh, baru dia melompat bangun.

Waktu dia menegaskan, maka dia memperoleh kenyataan baju didekat dadanya telah robek disabet oleh pedang Tiang In Hweeshio.

Dengan sendirinya orang itu jadi menggidik.

Coba kalau tadi dia tidak keburu mengelakkan serangan dari si Hweeshio dengan membuang diri, mungkin dadanya yang akan terkoyak oleh pedang Hweeshio itu.

Tiang In Hweeshio telah turun ke tanah lagi, dia berdiri dengan wajah yang bengis

sekali.

Perasaan sakit dipahanya dirasakan kembali, dia menggigit bibirnya untuk

menahan perasaan sakit itu, juga wajah Hweeshio tersebut jadi pucat sekali.

Tiba-tiba dia mengeluarkan seruan lagi, bentakan, yang disusul dengan pedangnya yang bergerak akan menyerang. Namun, waktu dia akan menjejakkan kakinya ke tanah, tahu-tahu dia merasakan lukanya sakit luar biasa, kakinya seperti lumpuh. Maka dari itu dengan tidak bisa dicegah lagi, tubuh si Hweeshio jadi ambruk di tanah!

Melihat keadaan si Hweeshio, kelima manusia cebol yang menjadi lawan dari Tiang In Hweeshio ini jadi kegirangan, mereka berulang kali memperdengarkan suara tertawa dingin.

Tetapi walaupun telah melihat si Hweeshio terguling di tanah, tidak bergerak, toh kelima jago cebol itu tidak berani lantas mendekati.

Mereka mengawasi dari jarak yang cukup jauh, karena mereka takut si Hweeshio sedang menjalankan tipu muslihat.

Sedangkan Tiang In Hweeshio melihat pahanya telah berobah bengkak, dan disekeliling bekas luka terserang Poan-koan-pit lawan telah berobah hitam. Nyata sekali darah hitam itu merupakan racun yang mulai menjalar naik. Si Hweeshio bergusar sekali, tetapi dia murka tanpa daya. Malah disebabkan perasaan gusarnya itu, racun bekerja lebih cepat lagi.

Dengan menggigit bibirnya, si Hweeshio berusaha menahan perasaan sakit yang menusuk tulang. Dia tidak mengeluarkan suara rintihan, karena dia memang tidak mau memperlihatkan kelemahannya di depan lawannya.

Melihat bahwa si Hweeshio benar-benar telah lumpuh tak bisa bergerak, kelima orang cebol itu maju perlahan-lahan sambil di tangan mereka masih tetap mencekal senjata masing-masing.

Waktu sampai terpisah beberapa kaki dari si Hweeshio, mereka berhenti melangkah.

Mereka berdiri di situ menatap dengan mata mengejek kepada si Hweeshio.

“Hmm apakah kau tetap tidak mau menyebutkan dimana Lin Suko kami itu kau tahan?” bentak salah seorang diantara kelima jago cebol itu. ''Apakah memang kau mau mampus konyol begini?”

Si Hweeshio menggeretek giginya, yang berbunyi keras sekali. Dia melirik dengan cahaya mata yang bengis sekali.

“Hmm kalian manusia-manusia busuk yang tidak tahu malu! Dengan racun kalian merubuhkan Hud-ya hmm, kalau memang hari ini Hud-ya mempunyai rejeki untuk hidup beberapa saat lamanya lagi, biarpun kalian melarikan diri ke ujung bumi, aku pasti akan mencari kalian untuk membayar budi kebaikan kalian ini!” kata si Hweeshio dengan suara tergetar karena menahan perasaan sakit.

Kelima jago cebol itu tertawa keras dengan nada mengejek. “Hmmm kau masih bermimpi untuk mencari balas kepada kami?” kata salah seorang jago cebol itu. “Baik! Baik! Kami pasti akan menyambut kedatanganmu setiap saat! Tetapi hmm, perlu kuterangkan bahwa kau tidak mempunyai kesempatan hidup lagi! Racun itu sangat cepat bekerjanya, paling lambat tiga belas jam kau akan mampus dengan tubuh yang hancur! Bagaimana kau masih bisa bermimpi untak mencari balas dendam kepada kami?”

Si Hweeshio sangat gusar sekali, tetapi dia tidak berdaya karena dirasakan kakinya telah kaku mengejang.

Maka dari itu, dia tidak mau melayani perkataan orang cebol itu.

Dipejamkan matanya dan dia mencoba mengatur pernapasannya untuk mendesak racun itu ke arah tempat luka dengan menggunakan tenaga Lweekangnya.

Tetapi kelima jago cebol yang melihat sikap si Hweeshio, mereka mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh Hweeshio itu.

Maka mereka maju mendekati lagi dengan wajah yang bengis.

Poan-koan-pit mereka masing-masing telah disiapkan, jika si Hweeshio nekad dan akan melakukan serangan yang berbahaya, maka kelima jago cebol itu telah mengambil keputusan nekad untuk membunuhnya saja.

Wajah kelima jago cebol itu juga membayangkan hawa pembunuhan. Tiang In Hweeshio jadi putus asa.

Dia jadi nekad sekali, dia menantikan sampai kelima jago cebol itu mendekati dirinya, baru nanti dia akan menyerang dengan secara tiba-tiba kepada lawan-lawannya itu.

Maka dari itu, dipejamkan matanya dan dia memasang telinganya sambil menahan perasaan sakit luka pada pahanya itu.

Kelima jago bertubuh cebol itu juga terus maju, mata mereka memancarkan cahaya yang mengerikan sekali.

Tiang In Hweeshio mendengar suara langkah kaki mereka, dan hati si Hweeshio jadi berdebar juga.

Perasaan sakit masih terasa berkecamuk dipahanya, dia merintih sedikit sambil menggigit bibirnya, pedangnya dicekal kuat-kuat.

Dan, kelima jago cebol itu telah datang mendekat, Tiang ln Hweeshio merasakan bahwa sedikit lagi waktunya akan sampai.

Dia bermaksud akan berusaha membunuh lawannya ini sebanyak mungkin.

Kalau memang bisa, dia akan membunuh kelima lawannya itu, tetapi kalau memang tak dapat, dia akan membunuh sebisanya. Bisa dua orang, ya syukur, bisa membunuh tiga orang lawannya, ya boleh! yang penting kematiannya itu harus disertai oleh kematian lawannya.

Butir-butir keringat membanjiri kening Tiang In Hweeshio. Kelima jago cebol itu masih melangkah maju mendekati.

Bie Liek yang menyaksikan hal itu jadi menggenggam batu di tangannya itu erat

sekali.

Matanya terpentang lebar, kalau memang sudah saatnya, dia ingin menolong si

Hweeshio dari kepungan kelima jago cebol itu.

KELIMÀ JAGO cebol itu maju terus mendekati Tiang In Hweeshio yang tampaknya sudah tidak berdaya.

Lalu kelima jago itu saling melirik, dan mereka mengangguk memberikan isyarat.

Dengan secara tiba-tiba dan serentak, kelimanya melompat menerjang Tiang In Hweeshio dengan menggunakan senjata mereka masing-masing.

Serangan kelima orang bertubuh pendek itu sangat berbahaya, karena mereka dengan menggunakan serangan yang mematikan.

Tiang In Hweeshio mengeluh putus asa, tetapi karena dia memang telah nekad dan tidak memikirkan mati hidupnya, hati si Hwee-shto agak tenang. Dia memasang mata dengan penuh kewaspadaan untuk mencari sela guna mati bersama-sama musuhnya itu.

Waktu kelima senjata lawan menyambar secara berbareng, Tiang In Hweeshio memutar pedangnya, dia bermaksud untuk dapat membunuh satu atau dua orang diantara musuhnya itu, mati pun dia puas asalkan dapat disertai oleh beberapa orang lawannya.

Tetapi, disaat Poan-koan-pitnya kelima jago cebol itu menyambar dengan disertai oleh tenaga Lweekang yang cukup kuat, terdengar suara 'trang tring trang tring trang’ beruntun sekali, disusul oleh seruan tertahan dari kelima jago bertubuh pendek itu.

Tampak kelima orang cebol itu saling lompat menjauhi Tiang ln Hweeshio, wajah mereka sangat pucat sekali, dan Poan-koan-pit mereka masing-masing telah tidak berada di tangan mereka, karena Poan-koan-pit dari kelima jago bertubuh cebol itu telah tergeletak di atas tanah.

Tampak sesosok bayangan melesat dari batu gunung yang terdapat tidak jauh dari

sini.

Ternyata yang keluar dari balik batu itu seorang bocah yang baru berusia di antara

dua belas tahun, yang tidak lain dari Bie Liek. Kelima jago cebol itu jadi menatap bengis kepada Bie Liek, karena tadi Poan-koan- pit mereka masing-masing telah terhajar sebutir batu dan mereka mau menduga bahwa bocah itulah yang menyebabkannya.

Tetapi kalau dilihat usianya, pasti di belakang bocah itu terdapat jago lainnya yang kosen, dan kelima jago cebol memandang sekeliling tempat tersebut untuk mencari- carinya, kalau saja si bocah datang bersama kawannya.

Tetapi di situ tidak tampak orang lainnya selain Bie Liek.

Salah seorang diantara kelima jago cebol itu maju menghampiri Bie Liek.

“Bocah, engkaukah yang telah menyerang secara menggelap kepada kami?”

tegurnya dengan suara yang bengis sekali, matanya juga mencilak bermain.

Bie Liek tersenyum manis. Dia mengangguk atas pertanyaan orang, dan sikap bocah ini sangat tenang sekali, tak tampak sedikit perasaan takut diwajahnya, walaupun wajah si cebol begitu mengerikan dan menyeramkan.

“Benar! Tak salah!” dia menyahuti pertanyaan si cebol. “Aku yang telah membuang senjata-senjata busuk kalian itu! Apakah tidak malu sebagai seorang Hohan kalian mengeroyok dan menyerang orang yang tidak berdaya?”

Mendengar si bocah mengakui bahwa yang menyebabkan Poan-koan-pit mereka itu terlempar adalah dia sendiri, betapa gusarnya kelima jago bertubuh pendek itu.

“Bocah setan, apakah kau sudah bosan hidup berani kurang ajar kepada kami?”

bentak salah seorang diantara kelima jago cebol itu sambil menghampiri ke arah Bie Liek.

Bie Liek tetap membawa sikap yang tenang, dia juga masih tetap tersenyum.

“Soal mati kita jangan membicarakan disini!” kata Bie Liek dengan berani. “Itu adalah urusan Thian! Bukankah Kong Fu Cu juga mengatakan, kita tak usah terlalu memikirkan soal mati, lebih baik lagi kita berpikir untuk negara?”

Dijawabi begitu, betapa gusarnya kelima jagoan cebol tersebut.

“Kau benar-benar telah bosan hidup, bocah!” bentak salah seorang diantara mereka. “Kau tentu telah mendengar siapa kami adanya kukira kalau kau telah mengetahui siapa kami ini sebenarnya, siang-siang kau tentu akan angkat kaki!”

Bie Liek tetap menghadapi kelima jagoan itu dengan bibir tersenyum sabar.

“Coba tolong Ngo-wie sebutkan gelaran kalian!” katanya. Ngo-wie berarti saudara berlima.

Kelima jago bertubuh cebol itu jadi melengak sesaat melihat keberanian bocah ini, tetapi begitu mereka tersadar, mereka malah jadi lebih gusar lagi, karena mereka menganggap bahwa si bocah tidak memandang setengah mata. “Aku takut kalau kami menyebutkan gelaran kami, kau akan mampus kaget, tetapi, untuk memberikan hajaran kepadamu nanti, perlu kau ketahui kami ini siapa sebenarnya! Nah, dengarkanlah baik-baik, pasang telingamu, kami adalah Liok-sian Cie Mung, dan aku sendiri bernama Peng Tiauw San, ini saudaraku bernama Pheng Tiauw Kun, ini Pheng Tiauw Kim, ini Pheng Tiauw Liang dan ini Pheng Tiauw Bu.”

Bie Liek tertawa kecil.

“Kalian bergelar enam dewa, mengapa sekarang hanya lima orang saja?” tanyanya.

Wajah kelima jagoan cebol itu berobah jadi kurang sedap dipandang.

“Hmmm itulah sebabnya kami ingin membunuh Hweeshio keparat ini, karena dia telah menawan saudara kami yang nomor empat, itu yang bernama Pheng Tiauw Lin!” menyahuti salah seorang jagoan bertubuh cebol itu dengan berang.

Bie Liek tetap membawakan sikapnya yang tenang, dia juga masih tersenyum

manis.

“Tetapi, apakah kalian tidak malu mengeroyok seorang yang sudah tidak

berdaya?” tegur si bocah dengan suara yang tawar.

Kelima jago ini jadi tambah gusar. Tadi mereka masih tidak menyerang karena mereka seperti kesima seorang bocah berani begitu memandang rendah kepada mereka. Maka, begitu mereka mendengar perkataan si bocah yang terakhir, mereka tersadar dengan murka.

Dengan mengeluarkan bentakan yang mengguntur, seperti juga sudah saling janji, kelimanya mencelat ke arah Bie Liek, dan mereka juga menyerang dengan tidak mengenal kasihan lagi, karena masing-masing telah mengerahkan tujuh bagian tenaga dalam mereka.

Jangankan seorang bocah sedangkan seorang ahli silat kalau terserang begitu, pasti akan terbang nyawanya menghadap Giam-lo-ong.

Tetapi Bie Liek bukan seorang bocah sembarangan. Dia telah digembleng di dalam ilmu silat yang luar biasa sekali. Walaupun usianya baru dua belas tahun, toh tenaga dalam si bocah telah terlatih secara luar biasa dan aneh sekali.

Maka dari itu, dengan cepat, disaat kelima tangan dari kelima jagoan cebol itu hampir mengenai dirinya, maka si bocah menggoyangkan serulingnya dengan cepat terdengar beruntun suara benturan antara seruling dengan kelima tangan, tampak tubuh kelima jagoan cebol itu jadi terpental dengan mengeluarkan suara seruan yang menyayatkan!

Bie Liek masih berdiri dengan tenang di tempatnya, sedangkan Liok-sian Cie Mung telah menggeletak tak bergerak. Wajah mereka meringis menahan perasaan sakit yang bukan main, karena tangan mereka masing-masing yang dipakai untuk menyerang si bocah Bie Liek telah patah.

Itulah hebat!

Di dalam dunia rimba persilatan jarang sekali hal tersebut terjadi.

Seorang bocah yang baru berusia diantara dua belas tahun bisa menjatuhkan lima jago yang telah kawakan dan berpengalaman hanya dalan satu gebrakan saja.

Inilah yang sangat mengherankan sekali, sampai kelima jago cebol itu juga tidak mengerti dan heran, mau mereka menduga bahwa bocah tersebut setidak-tidaknya bukan manusia, melainkan setan atau memedi yang menjadi penunggu gunung tersebut!

BIE LIEK telah menghampiri Liok-sian Cie Mung dengan langkah perlahan-lahan, wajahnya tetap berseri-seri dan dia tersenyum dengan manis.

“Bagaimana Liok sian Cie Mung? Apakah kalian belum puas?” tanya si bocah dengan sabar. “Kalau memang kalian tetap tidak mau mengerti selatan, dan tidak mau cepat-cepat tersadar dari kesesatan kalian, maka aku akan memberikan pengajaran yang lebih jauh!”

Kelima jago cebol itu masih tetap menggeletak di tanah, hanya mereka masing- masing memegangi tangan mereka yang patah itu.

Wajah mereka juga sangat pucat sekali, mereka meringis menahan sakit. Pheng Thiauw San ternyata lebih dulu dapat lompat berdiri.

“Si siapa kau sebetulnya?” bentak Tiauw San dengan suara yang bengis. Bie Liek tetap tersenyum tenang.

“Sudah kukatakan bahwa kalian harus cepat-cepat mengakui kesalahan kalian!” kata si bocah. “Kalau kau masih melit-melit bertanya, aku akan memberikan pengajaran yang lebih hebat kepada diri kalian!”

Mendengar ejekan Bie Liek, wajah kelima jago cebol itu jadi berubah merah padam, mereka murka bukan main, tetapi mereka murka tanpa daya, karena si bocah liehay sekali

Belum lagi kelima jago itu membuka mulut, Bie Liek telah melirik ke arah Tiang In Hweeshio yang masih rebah dengan luka dipahanya semakin parah.

Butir-butir keringat yang sebesar biji kacang mengalir dikening Hweeshio itu. Tampaknya Tiang In Hweeshio sangat menderita sekali.

Bie Liek tersenyum dan memandang ke arah kelima jagoan cebol itu. “Cepat kalian keluarkan obat penawar dari racun yang kalian gunakan terhadap Tiang In Hweeshio setelah itu kau cepat kalian menggelinding sebelum kuhajar habis- habisan pada kalian!”

Benar-benar penasaran sekali kelima jagoan cebol itu, baru hari ini mereka mengalami hal aneh tersebut.

Tetapi karena memang mereka tidak berdaya dan agak jeri kepada bocah itu, tampak Pheng Tiauw Liang telah merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah bungkusan.

Diletakkan bungkusan itu di atas sebuah batu.

Bie Liek menghampiri dengan tenang, diambilnya bungkusan obat itu.

Waktu dia membukanya, tampak di dalam bungkusan itu terdapat bubuk putih. Cepat-cepat si bocah menghampiri Tiang In Hweeshió, dia berjongkok di dekat si

Hweeshio.

“Toa Suhu ini adalah obat pemunah dari racun yang sedang mengendap di dalam tubuhmu!” kata si bocah sambil menyerahkan bungkusan obat itu.

Tiang In Hweeshio menyambuti bungkusan itu dengan mata memancarkan cahaya berterima kasih kepada si bocah, kemudian dengan menggunakan ujung pedangnya, dia mencokel lukanya, sehingga darah hitam muncrat keluar, dia memijitnya terus, setelah darah berobah menjadi merah kembali, barulah dia menaburkan obat pemunahnya itu di atas lukanya.

Berangsur-angsur, tampak Tiang ln Hweeshio memperoleh kesembuhannya. Ternyata obat itu sangat mujarab sekali, sehingga cepat benar menyembuhkan perasaan sakit pada luka dipaha Tiang In Hweeshio

Bie Liek telah berdiri lagi.

Dilihatnya kelima jagoan cebol itu masih berdiri ditempat mereka dengan wajah yang bengis, tampaknya kelima orang itu sangat penasaran sekali.

Bie Liek tersenyum.

“Apakah kalian tidak ingin cepat-cepat menggelinding dari hadapanku?” bentak Bie Liek dengan tawar. “Apakah kalian menginginkan aku mematahkan tangan kalian yang satunya lagi?”

Kelima jagoan cebol itu mengerutkan alis mereka, benar-benar penasaran mereka pada hari itu, karena mereka tidak berdaya menghadapi seorang bocah seperti Bie Liek ini.

Pheng Tiauw Kim tampak maju setindak dia menjura ke arah si bocah.

“Bolehkah kami mengetahui nama besar dari Siauw-hiap? Kami Liok-sian Cie Mung tidak akan melupakan budi kebaikan Siauw-hiap pada hari ini!!” kata Tiauw Kim. Bie Liek tersenyum tawar.

“Aha, rupanya kalian berniat untuk nanti mencari balas kepadaku, bukan?” tanyanya mengejek. “Baiklah, aku akan selalu menantikan kedatangan kalian! Ingat baik- baik namaku! Aku bernama Bie Liek.”

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kelima jago cebol itu telah memutar tubuh, tetapi sebelum berlalu, Pheng Tiauw San telah berkara : “Tiga tahun lagi kami akan mencarimu, dan mudah-mudahan Thian memberkahi kau panjang umur!!” dan kemudian dengan cepat mereka menggunakan Ginkang mereka berlalu dari tempat itu.

Bie Lek mengawasi kepergian kelima jagoan cebol itu.

Sebetulnya dia memang tidak mengetahui duduknya hal antara Tiang In Hweeshio dengan kelima manusia cebol itu, tetapi karena wajah kelima orang cebol itu rata-rata bengis dan kejam, lagi pula tadi mereka bertempur dengan cara yang curang serta mengeroyok, maka dengan sendirinya Bie Liek jadi tidak menyukai kelima orang itu.

Tampak Tiang In Hweeshio telah berdiri dengan agak terhuyung.

“Siauw-hiap!” panggil Tiang In dengan suara yang tergetar. Bie Liek menoleh, dan dia menghampiri si orang beribadat itu.

“Ada apakah Toa Suhu?” tanya Bie Liek begitu dia sampai dihadapan orang. Si Hweeshio membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Bie Liek.

“Lolap tidak menyangka bahwa setelah berusia lanjut ini bisa mempunyai peruntungan begini baik, bertemu dengan seorang pendekar muda berhati budiman! Hmm memang dunia Kang-ouw akan tentram dan damai kalau Siauw-hiap telah muncul, rupanya Thian telah mengirimkan Siauw-hiap untuk menenteramkan dunia persilatan di daratan Tionggoan yang sedang kacau balau ini!”

Mendengar perkataan si Hweeshio, maka Bie Liek jadi berubah merah, karena dia terlalu dipuji oleh orang beribadat itu.

Cepat-cepat dia merendahkan diri.

Tetapi Tiang In Hweeshio telah menghela napas dan kemudian dia tersenyum.

“Syukurlah Thian mempunyai mata, sehingga dengan adanya Siauw-hiap, maka korban-korban yang akan berjatuhan di dalam rimba persilatan akan berkurang!”

Dan Hweeshio itu menghela napas hgi Bie Liek hanya selalu mengeluarkan kata- kata merendah.

“Dan dengan sendirinya bencana-bencana yang akan menimpa dunia persilatan akan terhindarkan!” kata si Hweeshio lagi.

Bie Liek tersenyum mendengar perkataan si Hweeshio, kemudian dia menanyakan apakah luka yang diderita oleh si Hweeshio telah sembuh. Si Hweeshio menyatakan, walaupun perasaan sakit dilukanya itu masih terasa, toh sudah lebih banyak baikan.

Maka dari itu, Bie Liek kemudian meminta diri. Tiang In Hweeshio mengawasi kepergian si bocah.

Tadi dia telah saksikan betapa kosennya si bocah, yang dalam satu gebrakan saja telah dapat menjatuhkan kelima lawannya sekaligus, maka hal itu sangat luar biasa sekali! Agak aneh dan benar-benar tidak masuk di dalam pikirannya yang waras.

Di dalam angapan Tiang In Hweeshio, Bie Liek adalah seorang bocah yang luar biasa sekali. Sampai pada persoalan antara Tiang In Hweeshio dengan kelima jagoan cebol itu sedikitpun tidak ditanyakannya, seperti dia tidak ambil usil sedikitpun! Mungkin di dalam pendapat si bocah, yang terpenting adalah menolong dulu orang yang sedang terancam bahaya kematian! Titik! Maka, setelah si Hweeshio terlolos dari kematiannya, dia lalu tidak mau ambil pusing tentang soal lainnya.

Tiang In Hweeshio menghela napas. Seumur hidupnya baru pertama kali ini dia menemui seorang bocah yang luar biasa seperti Bie Liek. Dan, si Hweeshio merasa sayang harus berpisahan begitu cepat dengan si bocah. Dengan langkah yang terpincang- pincang, si Hweeshio melanjutkan perjalanannya menuju kekuil Siauw Lim Sie.

o o o

BIE LIEK telah meneruskan perjalanannya ke jurusan tenggara.

Di dalam perjalanannya itu Bie Liek lebih banyak menikmati segala macam pemandangan yang indah-indah dipegunungan tersebut.

Juga Bie Liek terkenang kepada gurunya yang begitu berbidi, telah mendidiknya, sehingga menjadi seorang bocah yang luar biasa dan mempunyai kepandaian yang tinggi sekali.

Mendekati senja, Bie Liek sampai di kampung Sian-pie-chung yang terletak di kaki gunung tersebut dibagian tenggaranya.

Kampung ini sangat ramai sekali, juga banyak pedagang-pedagang yang masih memenuhi di tepi jalan kampung itu, karena pada senja begitu, banyak orang yang berbelanja serta keluar rumah untuk menikmati udara senja yang nyaman.

Be Liek memasuki perkampungan itu, dia berjalan dengan memandang keadaan sekitar kampung itu.

Tiba-tiba matanya tertarik kepada seorang lelaki tua yang dikerumuni oleh orang banyak. Bie Liek menghampiri.

Ternyata lelaki tua itu, yang mempunyai jenggot dan kumis yang telah berubah putih seluruhnya, adalah seorang kwamia, seorang ahli nujum. Dia sedang mementangi nasib seseorang kemudian setelah selesai, ada lagi orang selanjutnya yang minta dipentang-pentangi nasibnya di masa mendatang. Tampaknya orang-orang yang diramalkan nasibnya itu puas sekali, mungkin ramalan si ahli nujum tepat.

Banyak sekali orang yang mengerumuni tukang ramal itu, sehingga agak berdesakan. Tiba-tiba diantara ramainya orang itu, terdengar suara membentak yang keras : “Buka jalan! Minggir!” dan tampak dua orang bertubuh tinggi besar mendorong orang-orang yang ada di depannya.

Sebetulnya Bie Liek ingin pergi meninggalkan tukang ramal itu, karena dia memang tidak tertarik. Namun dengan datangnya kedua orang bertubuh tinggi besar dan bermuka bengis itu, si bocah jadi membatalkan maksudnya. Dia jadi tetap berdiam ditempatnya.

Sedang orang-orang yang ada di depan kedua orang yang baru datang itu telah menyingkir, memberikan jalan kedua orang bermuka kasar itu.

“Hai Loosam coba kau ramalkan nasibku!” kata salah seorang diantara kedua orang itu, yang memelihara jenggot, dan kumis yang kasar kaku, wajahnya menyeramkan sekali. Sedangkan kawannya yang seorang, hanya berdiri di belakangnya. Kawan orang tersebut juga sangat menyeramkan, dia memelihara rambut sampai panjang sekali.

Tukang ramal nasib orang itu, yang dipanggil Loosam, Sam tua melihat kedatangan kedua orang tersebut, dia mengerutkan alisnya.

“Tuan? ingin melihat nasib?” tanyanya.

“Benar!” menyahuti yang seorangnya, suaranya juga sangat keras dan nyaring

sekali.

“Aku telah mendengar tentang dirimu yang bisa meramalkan nasib orang dengan

cepat. Hayo cepat ramalkan nasibku!!”

Si kakek tua peramal nasib jadi mengerutkan alisnya lagi, dia lihat sikap orang sangat kasar sekali, dan dia mengetahui bahwa dirinya selang berhadapan dengan buaya darat dikampung itu.

Dengan memanggut-manggutkan kepalanya, tampak Loosam, si kakek peramal itu, mengambil sebatang pit.

“Siapa nama tuan?” tanyanya kemudian.

“Aku she Lay dan bernama Cok Sen.” menyahuti orang itu dengan cepat.

Lo-sam ragu-ragu mendengar orang menyebut dirinya she Lay, untuk menanya lagi, dia ragu-ragu sebab takut orang berangasan itu marah dan dirinya bisa celaka. Maka dari itu dia menulis perlahan-lahan, sambil bertanya : “Apakah she tuan adalah Lay ini?” tanyanya. Tiba-tiba orang itu menggebrak meja.

“Kenapa kau lamban sekali?”' bentaknya dengan suara yang mengguntur. “Apakah

ada lagi si Lay jago dikampung Lian-pie-chung?!”

Si kakek tukang ramal sudah sangat lanjut usianya, sejak tadi waktu kedatangan kedua orang itu dengan suara yang membentak-bentak, dia sudah ketakutan, maka selagi dia menulis itu orang memukul meja dan sambil membentak, sehingga si kakek jadi kaget dan ketakutan sekali, tangannya sampai gemetar menulis huruf Lay, kemudian tanpa disengaja olehnya, pit yang sedang dipegangnya itu terlepas, sehingga menggores lingkaran mengurung huruf Lay yang tadi ditulisnya.

“Cepat kau ramalkan nasibku!” bentak Lay Cok Sen dengan suara berangasan lagi.

“Baik! Baik!” menyahuti si empe ketakutan sekali.

Tukang ramal itu, Lo-sam menatap huruf yang baru saja dilukisnya, dia melihat huruf Lay yang ditulisnya tadi dikurung oleh lingkaran yang tidak sengaja dibuatnya, sehingga huruf Lay itu jadi menyerupai sebuah lukisan seekor kura-kura.

Lo-sam adalah tukang ramal yang jujur, maka dari itu dia selalu mengatakan dari hal yang diketahuinya. Melihat huruf Lay yang ditulisnya tadi hampir menyerupai sebuah lukisan kura-kura, maka dia ragu-ragu dan takut sekali.

“Hei Lo-sam, cepat kau bacakan!” teriak Lay Cok Sen dengan bengis. “Apakah kau

mau mempermainkan Lay Loo-yamu ini, heh?”

Lo-sam jadi ketakutan sekali, sehingga orang banyak yang tadi menyaksikan, berangsur-angsur telah pergi meninggalkan tempat itu, karena mereka takut menjadi huru-hara, hanya tinggal beberapa orang yang nyalinya agak besar masih tetap berdiam di situ.

Begitu juga Bie Liek, dia jadi tidak senang melihat sikap dan lagak orang itu. Dia mengawasi terus di situ, tak berkisar dari tempatnya berdiri.

“Baiklah tuan aku akan membacakan tentang nasib tuan, tetapi tuan jangan marah!” kata Lo-sam dengan suara takut-takut.

Wajah itu bengis sekali, dia menggebrak meja lagi.

“Mengapa kau harus begini melit seperti seorang nenek?” tegurnya dengan suara yang keras. “Cepat kau bacakan, jangan kau coba-coba mempermainkan Loo-yamu ini, karena aku tidak pernah membiarkan orang main-main dengan diriku!”

Lo-sam jadi tambah ketakutan.

“Tuan kedatangan tuan ini bukankah hendak melihat perjodohan tuan dengan seorang wanita yang telah bersuami!” tanya Lo-sam dengan bimbang. “Kurang ajar!” teriak orang itu sambil menggebrak meja dengan keras. Orang itu,

Lay Cok Sen menoleh kepada kawannya.

Lo-sam jadi pucat wajahnya.

Tubuhnya juga gemetar sekali, dia yakin bahwa dirinya pasti akan dihajar orang itu, karena mungkin dia meramalkan yang salah.

Orang itu telah memandang Lo-sam lagi

“Benar kurang ajar! Kurang ajar sekali! Ramalanmu memang tepat! Hei dari mana kau mengetahui semua itu?” bentak Lay Cok Sen. “Aku memang datang kemari ingin minta kau mementang diri seorang wanita!”

Lo-sam jadi ketakutan berbareng lucu. Sudah jelas ramalannya itu benar, tetapi orang ini masih menyebutnya kurang ajar, membuat dia jadi ketakutan.

“Ini kulihat dari huruf she tuan!” menerangkan Lo-sam sambil memberikan kertas berisi huruf she dari Cok Sen, “Lihatlah, bukankah dengan adanya lingkaran ini, huruf ini jadi menyerupai seekor kura-kura?”

Mendengar perkataan Lo-sam, Cok Sen jadi berubah mukanya merah padam.

“Kurang ajar! Kurang ajar sekali kau!” bentaknya, “Jadi kau anggap diriku ini adalah manusia kura-kura yang senang pada bini orang? Hu! Tidak selalu seorang isteri baik-baik tak bisa menggaet seorang pemuda! Kau tahu, aku adalah seorang lelaki yang selalu banyak direbutkan oleh perempuan-perempuan!”

Lo-sam sangat ketakutan sekali.

Dia menganggukkan kepalanya berulang kali dengan tubuh gemetar.

“Aku percaya aku percaya!” kata Lo-sam dengan cepat. “Dan memang dan memang tuan mempunyai potongan selalu direbutkan oleh bini orang, sehingga banyak bini-bini yang berbuat serong!” si Sam tua, peramal itu, bicara tanpa disengaja, karena dia memang ketakutan sekali.

Tetapi Lay Cok Sen begitu mendengar perkataan Lo-sam, dia jadi murka sekali.

Tahu-tahu tangannya melayang.

“Plaakkkkkk!!” pipi si Sam tua peramal itu, telah dihajar oleh si orang she Lay itu dengan keras sehingga tubuh Sam tua jadi terpelanting ke tanah.

“Kau sangka aku ini tukang ganggu bini orang, heh!” bentak Lay Cok Sen dengan gusar. Dia juga membalikkan meja si tukang ramal, sehingga perabotan tukang ramal itu jadi porak poranda.

Orang-orang yang ada di situ jadi tertawa, karena mereka menganggap hal itu lucu sekali. Namun suara tertawa orang ramai itu menyebabkan si buaya darat she Lay itu jadi lebih gusar lagi.

Dia menghampiri Lo-sam, dicengkeramnya baju dibagian dada dari tukang ramal, diangkatnya tubuh si tukang ramal yang kurus itu, kemudian tangan kirinya melayang akan menghajar tukang ramal itu lagi.

Tetapi tangan buaya darat itu jadi teracung terus diudara tak bisa menghajar muka Lo-sam, sebab tangannya itu telah kena dicekal oleh seseorang.

Kuat sekali cekalan orang itu, sehingga buaya darat she Lay itu tidak bisa menggerakkan tangannya.

Dilepaskan cengkeramannya pada baju Lo-sam, dan Lay Cok Sen membalikkan tubuhnya. Tampak seorang bocah yang mencekal tangannya itu, sehingga Cok Sen jadi tambah gusar.

Tanpa memperdulikan Lo-sam yang tadi terbanting waktu cekalannya dilepas, sehingga si tukang ramal yang sudah tua ini teraduh-aduh kesakitan, Cok Sen telah mengayunkan tangannya akan menghajar kepala orang.

“Bocah buduk, mau apa kau memegangi tanganku, heh?” bentaknya dengan suara yang bengis. Ternyata yang mencekal tangan kiri Cok Sen adalah Bie Liek. Dia masih mencekal tangan kiri si buaya darat she Lay itu.

Melihat tangan kanan Cok Sen melayang akan menghajar mukanya, Bie Liek memperdengarkan suara tertawa dinginnya. Dia tidak melepaskan cekalannya, melainkan disaat serangan orang hampir sampai, si bocah menggerakkan kepalanya sedikit, sehingga tangan si buaya darat she Lay itu mengenai tempat kosong.

Disaat tubuh si buaya darat sedang mendoyong ke muka disebabkan dia menghajar tempat kosong, maka Bie Liek menggentak tangan kiri Cok Sen yang tadi masih dicekalnya, maka tanpa ampun lagi, dan dengan mengeluarkan suara jeritan kaget, tubuh Cok Sen yang tinggi besar itu jadi terbanting dengan keras, berdebukan di tanah.

Semua orang yang menyaksikan hal tersebut jadi seperti kesima. Mereka heran dan kagum. Biasanya Cok Sen sangat angkuh dan bengis kepada siapa saja, sehingga dia takabur dan ditakuti oleh penduduk kampung itu.

Namun sekarang, oleh seorang bocah, dia dapat dibanting dengan begitu mudah. Maka hal tersebut benar-benar mengherankan dan membikin orang-orang itu jadi kagum.

Kawan Lay Cok Sen sendiri seperti kesima sesaat, tetapi kemudian dia tersadar. Namun dia tersadar bukannya untuk melabrak Bie Liek, melainkan menghampiri kawannya yang masih numprah kesakitan, sebab dia merasakan pantatnya seperti hancur terbanting. “Ha Lay-heng, kau ternyata tidak punya guna!” kata kawannya Cok Sen itu. Dia memanggil orang dengan sebutan Lay-heng, atau saudara Lay. “Seorang bocah saja kau tidak bisa mengatasinya!”

Cok Sen memang sedang murka, mendengar perkataan kawannya itu, dia tambah

gusar.

“Kurang ajar sekali kau benar-benar bukan seorang kawan yang baik, A Fie,

mengapa kau tidak melabrak bocah buduk itu heh!” bentak Cok Sen dengan penasaran.

Kawannya yang dipanggil A Fie tersenyum.

“Kau saja yang lawan dulu, kalau memang nanti kau kena dirubuhkan lagi, sehingga terbukti kau tidak punya guna sedikitpun ....

(Hal  dan  tidak bisa dibaca)

Orang-orang yang menyaksikan hal itu, jadi semakin banyak dan ramai. MereKa ingin menyaksikan keramaian yang akan terjadi lagi!

o o o

KAWAN dari Lay Cok Sen yang bernama A Fie telah menghampiri Bie Liek dengan wajah yang bengis. Dia membawa sikap yang akan menyerang Bie Liek.

Orang ramai yang menyaksikan dari kejauhan, jadi menguatirkan keselamatan si bocah. Sedangkan si kakek peramal Lo sam telah bangun berdiri dengan tubuh terbungkuk-bungkuk. Rupanya kakek Lo-sam sangat menderita kesakitan.

Dia juga melihat si bocah sedang terancam oleh kawannya buaya darat she Lay itu. Dengan susah payah dia jalan menghampiri.

“Tuan oh, jangan menggangu anak kecil!!” kata si kakek peramal itu. “Jangan

menganiaya anak kecil!”

Mata A Fie mencilak bengis.

“Apa kau juga mau mencari mampus?” bentak A Fie dengan suara yang bengis, matanya juga mendelik.

Si kakek Lo-sam jadi ketakutan, dia memang jeri terhadap buaya-buaya darat itu.

“Ini ini ” si kakek jadi tergugu, dia menatap bingung ke arah A Fie dan Bie Liek bergantian.