Gerbang Tengkorak Jilid 03

Jilid 03

Maka, waktu perempuan itu berdiri, Bu Lay dan Ong Toa cepat-cepat mengiringi dengan disertai kata-kata bujukan untuk menahan nyonya itu berdiam beberapa lama lagi menemani Bu Lay.

Tetapi Sam Nio tetap menolak. Waktu perempuan itu melangkah beberapa langkah, tiba-tiba dia merasakan kepalanya pening sekali, mutar dan berkunang-kunang, sehingga dia terkejut dan tanpa disadarinya dia memijit-mijitkan kepalanya.

Ong Toa menyeringai sambil melirik pada Bu Lay, yang dibalas oleh anak muda itu dengan satu tertawa menyeringai juga yang penuh arti. Ong Toa pura-pura menghampiri Sam Nio.

“Kenapa Hujin?” tanya si orang tua yang menjadi comblang ini. “Kepalaku kepalaku pusing!” kata Sam Nio masih tetap memijit-mijit kepalanya.

“Kalau begitu lebih baik Hujin istirahat saja dulu, nanti setelah pening Hujin lenyap, baru Hujin pulang!” kata Ong Toa membujuk.

“Benar! Nanti Hujin masuk angin dan sakit!!” kata Bu Lay menimpalinya.

Sam Nio menggelengkan kepalanya.

“Tidak jangan!” katanya dengan terbata-bata. “Biarlah aku pulang saja!” dan

perempuan ini melangkah lagi.

Tetapi, waktu dia melangkah begitu, kepalanya semakin berat. Dan, dengan mengeluarkan suara keluhan yang panjang, tanpa disadarinya tubuhnya rubuh terguling.

Untung Bu Lay dan Ong Toa telah mengetahui sebelumnya apa yang akan dialami oleh perempuan itu. Maka dengan cepat mereka telah menyanggah tubuh Sam Nio.

Perempuan itu tidak sampai terjatuh di lantai. Bie Liek yang melihat keadaan ibunya jadi menangis.

“Ma kenapa kau ma?” tanya si bocah di dalam tangisnya.

Tetapi Sam Nio tidak menyahuti, dia telah jatuh pingsan dan tidak ingat orang.

Bu Lay melirik Ong Toa sambil menyeringai dengan suara tertawanya yang mengandung kemenangan.

“Bawa ke dalam! Ong Toa!” kata putera Pie Chun Wang-gwee itu. Ong Toa mengiyakan.

Sedangkan Bu Lay sendiri telah membujuk Bie Liek, kemudian memanggil seorang pelayannya, diperintahkan membawa Bie Liek bermain di luar.

Setelah merebahkan Sam Nio, Bu Lay mengibaskan lengan bajunya memerintahkan Ong Toa untuk keluar. Ong Toa ketawa menyeringai sambil keluar. Bu Lay cepat-cepat menutup pintu kamar itu dengan tangan yang gemetar.

Kemudian dia menghampiri pembaringan. Sam Nio rebah di pembaringan setengah sadar dan setengah tidak, karena kepalanya sangat pusing.

Bu Lay mengawasi Sam Nio dengan hati yang menggelora, mata anak muda ini memain tak hentinya. Sam Nio menggeliat sambil mengeluh.

“Oh aku dimana aku di mana?” keluhnya sambil berusaha membuka matanya, tetapi perasaan pening semakin merajai kepalanya, sehingga dia tidak bisa membuka matanya.

Bu Lay menghampiri lebih dekat, dia duduk di tepi pembaringan.

“Hujin, kau barada di dalam kamarku!!” kata Bu Lay dengan suara dibuat selembut mungkin. “Beristirahatlah disini, nanti setelah pusingmu lenyap, baru kau pulang!” Sam Nio sedang pusing, tetapi mendengar perkataan Bu Lay, dia terkejut. Dia mau melompat bangun, tetapi tenaganya seperti lenyap. Dia juga menyadari bahwa semua itu pasti disebabkan oleh minuman yang diberikan oleh Bu Lay, sehingga dia jadi mabok dan tidak bisa bergerak leluasa, karena cairan yang diminumnya itu pasti dicampur oleh bius, obat yang bisa membikin jadi lumpuh seseorang.

Sam Nio mengeluarkan suara keluhan. Bu Lay tertawa.

“Mari aku pijitkan!!” kata Bu Lay sambil mengulurkan tangannya dan memijit-mijit kepala Sam Nio.

Sam Nio ingin menolak sambil bangun, tetapi dia tidak bisa bergerak, karena dirasakan tubuhnya sangat lemas sekali.

Ketika dirasakan tangan Bu Lay memijit-mijit kepalanya, Sam Nio jadi gusar, tetapi dia tidak berdaya.

Perasaan pusing semakin menguasai diri perempuan yang menjadi isteri Song Gie. Semakin Lama Bu Lay tidak bisa menahan dirinya, lebih-lebih dilihatnya wajah Sam Nio telah merah. Tanpa disadarinya Bu Lay menundukkan kepalanya, dia mencium pipi Sam Nio. Sam Nio terkejut.

“Oh jangan!” keluhnya.

Tetapi perempuan itu tidak bisa mengelakkannya, karena tenaganya seperti telah lenyap.

Bu Lay seperti sudah kemasuklcan setan, dia bukan hanya mencium pipi Sam Nio saja, juga dia mencium bibir perempuan itu, yang ditekankan oleh bibirnya sendiri dengan penuh kegairahan, lidahnya juga mempermainkan bibir perempuan itu dengan diiringi oleh rangsangan yang menggila.

Tubuh anak muda itu menggigil menahan gelora hatinya yang semakin memuncak.

Sam Nio sendiri terkejut merasakan bibirnya diciumi dan dipermainkan oleh lidah Bu Lay, dia ingin meronta dan mengelakkan ciuman anak muda itu. Tetapi dia tidak berdaya.

Tangan Bu Lay sendiri telah mulai nakal dan kurang ajar sekali. Kedua tangannya itu meremas-remas tubuh perempuan tersebut.

Malah yang terakhir, kedua tangannya itu telah meremas-remas dada perempuan tersebut.

Betapa hancur perasaan Sam Nio, hampir saja dia menjerit.

Dan Bu Lay jadi membikin perempuan itu menangis waktu Bu Lay dengan tidak sabar dan tangan gemetar membuka baju Sam Nio. Tampak dada Saat Nio yang masih keras dan besar itu, putih dan menggairahkan sekali, merangsang Bu Lay sampai kepalanya berdenyut keras seakan-akan mau meledak pecah.

Diremas-remasnya dada perempuan itu dengan penuh kesetanan.

“Jangan jangan Kongcu!” mengeluh Sam Nio. “Aku telah mempunyai suami!!” “Diamlah Hujin nanti aku berikan hadiah yang lebih besar lagi!” bujuk Bu Lay. “Jangan!”

“Diamlah!”

“Jangan Kongcu!”

“Diamlah!” dan Bu Lay menundukkan kepalanya mencium dada Sam Nio menggigit-gigitnya dengan perlahan-lahan, sehingga Sam Nio sangat sakit hatinya.

“Oh kumohon jangan Kongcu!” kata Sam Nio dengan suara merintih.

“Diamlah!” bujuk Bu Lay dengan suara yang mendesah.

“Aku telah mempunyai suami, Kongcu jangan Kongcu!!” merintih Sam Nio lagi.

“Suamimu tidak akan mengetahui!” kata Bu Lay sambil menciumi terus dada perempuan itu.

“Jangan Kongcu oh jangan!!” dan Sam Nio mengerahkan tenaganya akan memegang kepala Bu Lay untuk menahannya, tetapi dia tidak berdaya, tenaganya seperti telah lenyap dari tubuhnya.

Bu Lay juga semakin menggila, dia semakin menciumi dada perempuan itu. Sam Nio jadi menangis.

“Kongcu kasihanilah aku aku telah bersuami Kongcu kasihanilah aku!”

mengeluh Sam Nio dengan suara yang minta dikasihani.

Bu Lay tidak menyahuti.

Dan anak muda putera hartawan ini jadi semakin menggila.

Dia mengulurkan tangannya membuka seluruh baju Sam Nio, sehingga tubuh perempuan yang putih itu hanya diselubungi oleh pakaian dalamnya.

Namun, hal itu sudah cukup membikin mata Bu Lay jadi silau, karena paha dan perut dari Sam Nio tidak ada kain penutup.

Bagaikan kalap Bu Lay meremas tubuh Sam Nio dengan kedua tangannya, kepalanya juga tertunduk menciumi seluruh tubuh perempuan itu.

Sam Nio merasakan hatinya seperti hancur berantakan, dia tidak bisa menahan tangisnya. Bu Lay mendengar perempuan itu menangis.

“Kenapa menangis, Hujin?” tanya Bu Lay sambil mengangkat kepalanya.

SAM NIO merasakan kepalanya pusing sekali, dia sampai mengeluh beberapa kali.

Juga air mata perempuan itu telah turun berleleran dipipinya, menangis tersengguk-sengguk tanpa bisa bergerak, karena tenaganya seperti telah lenyap dari tubuhnya, hanya suara tangisnya, yang semakin keras.

o o o

WAKTU SAM NIO tersadar dari pingsannya, dia merasakan tubuhnya sakit-sakit dan sangat lemas sekali.

Hanya bedanya sekarang dia sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya, walaupun masih lemas, tetapi tenaganya telah pulih sebagian.

Teringat akan apa yang telah menimpa dirinya, Sam Nio menangis menggerung- gerung dengan sedihnya.

Dia mau membunuh diri, waktu dia memandang sekeliling kamar yang mewah itu, dilihatnya tak terdapat orang lain, hanya seorang diri saja.

Perlahan-lahan Sam Nio turun dari pembaringan yang dilapisi oleh kain sutera itu.

Dia ingin menuju ke pintu.

Tetapi belum dia sampai kepintu, didengarnya dari luar kamar suara langkah kaki. Sam Nio merandek, dia menatap ke arah pintu.

Dilihatnya daun pintu terbuka.

Dengan cepat Sam Nio kembali ke pembaringan, dia membelakangi Bu Lay, anak muda putera hartawan itu.

Bu Lay menyeringai sambil mengunci pintu itu, kemudian dia menghampiri Sam Nio. Dipegangnya bahu Sam Nio sambil berkata : “Sudah bangun kau Hujin?”

Sam Nio berusaha mengelakkan pegangan tangan anak muda itu sambil menoleh dengan mata mendelik.

“Kau lelaki bangsat kau kau ” dan belum dapat dia menyelesaikan

perkataannya, dia telah menangis lagi dengan keras.

Bu Lay menyeringai lagi.

“Jangan menangis Hujin   sudahlah jangan dipikirkan apa yang telah terjadi!” kata anak muda itu. “Aku berjanji akan mengambil kau sebagai istri mudaku lupakanlah suamimu!!” Muka Sam Nio jadi merah padam.

“Kau laki-laki bangsat yang tidak tahu malu!” makinya dengan sengit. “Hmmm kau berkedok dengan uangmu itu dan merusak kehormatanku!”

Bu Lay tetap melawan dengan tertawa, dia menghampiri Sam Nio dan memeluknya.

“Jangan memaki begitu, sayang ” kata Bu Lay sambil mengulurkan tangannya. “Percayalah aku akan membahagiakan kau!”

“Pergi!!” bentak Sam Nio.

Bu Lay melengak sesaat, tetapi kemudian dia tertawa lagi.

“Hujin apakah kau benar-benar mengusirku keluar?!” tanya Bu Lay sambil

menatap dengan pancaran mata yang tajam sekali pada Sam Nio.

“Pergi! Pergi!!” teriak Sam Nio seperti kalap.

“Hmm      kalau begitu kau benar-benar perempuan yang tidak tahu diri!!” kata Bu Lay sambil tertawa dingin. “Tuan mudamu ini ingin memberikan kau kebahagiaan, ternyata kau telah menolaknya!! Dengan mengikuti suamimu yang seperti pengemis itu, apakah kau akan bisa memperoleh kebahagiaan?!”

Sam Nio sangat sedih, dia tidak menyahuti perkataan orang, melainkan dia menjatuhkan dirinya sambil menangis dengan suara yang menyedihkan.

Hati Sam Nio serasa telah hancur remuk, karena kehormatan dirinya telah dirusak oleh Bu Lay.

Tiba-tiba Sam Nio teringat sesuatu, dia mengangkat kepalanya dan dilihatnya Bu Lay sedang menatap dia dengan tatapan mata yang tajam.

“Mana anakku?!” teriak Sam Nio seperti kalap, dia melompat dari duduknya, akan

berlari ke arah pintu.

Bu Lay melihat itu, dia ketawa dingin dan menubruk mencekal tangan Sam Nio.

“Dengar dulu!” bentak Bu Lay. “Kau dengar dulu keteranganku!”

Sam Nio tidak berdaya melawan tenaga Bu Lay, dia hanya menangis sambil berteriak-teriak : “Lepaskan! Lepaskan bangsat!”

Bu Lay ketawa dingin.

“Diam!!” bentaknya dengan suara yang bengis.

Sam Nio kaget mendengar suara bentakan dan sentakan pada tangannya, dia terdiam sesaat lamanya, lalu kemudian dia menangis lagi.

“Kau dengarlah dulu!!” kata Bu Lay. “Kau sayang tidak pada anakmu itu?”

Wajah Sam Nio jadi pucat. “Kau kau     ” dia sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Bu Lay.

“Kau sudah mengerti maksudku?” bentak Bu Lay lagi. “Lebih baik mau secara baik- baik mengikuti kemauanku, kalau tidak, hmm anakmu akan menjadi korban, akan kupotong kepalanya terpisah dari lehernya! Kau kasihan tidak?!”

Bagaikan kalap, San Nio meronta-ronta dengan sekuat tenaganya.

“Mana anakku!? Mana anakku?!'' teriaknya dengan suara yang serak, dia masih

meronta,

“Diam!!” bentak Bu Lay lagi. “Kalau kau masih terus membawa sikap yang begini,

maka kau akan menyesal?”

Sam Nio terdiam sesaat.

''Mana anakku?” tanya Sam Nio kemudian dengan sendat tangisnya.

“Nah, bukankah lebih baik kau membawa sikap yang demikian, dan kukira anakmu akan bisa diselamatkan kalau memang kau mau menuruti kemauanku!!”' kata Bu Lay.

“Ya ya aku menurut, tetapi mana anakku?'' tanya Sam N o dengan ketakutan.

“Anakmu masih selamat, dia sedang berada di dalam tangan pelayanku, kalau memang kau membangkang kemauanku, maka jiwa anakmu itu tidak akan dapat diselamatkan!” kata Bu Lay.

“Kau!” gemetar suara Sam Nio.

“Sekarang kau mau tidak menuruti kemauanku secara baik-baik?” tanya Bu Lay sambil menyeringai.

Sam Nio jadi mati kutu dibawah tekanan jiwa anaknya. Dia menunduk sambil menangis.

“Ya bunuhlah aku, biarlah aku mati!” kata Sam Nio sesenggukan.

“Hmmm mati?” tanya Bu Lay tertawa. “Tak mudah seperti apa yang kau kira! Kalau kau masih membandel terus, maka aku akan memperlihatkan kepadamu, bagaimana tubuh anakmu itu akan dirobek-robek oleh orang-orangku!!”

“Kau kau   kau benar-benar binatang!” kata Sam Nio dengan suara gemetar.

“Terserah kepadamu!” kata Bu Lay menyeringai. “Apa saja yang ingin kau katakan, katakanlah!”

Sam Nio mengangkat kepalanya, dia menatap Bu Lay dengan pandangan mata yang tajam, digenangi oleh air mata.

“Bagaimana?” tanya Bu Lay sambil tetap menyeringai menang. Sam Nio tidak menyahuti.

“Bagaimana?” tanya Bu Lay lagi. Sam Nio tetap tidak menyahuti, hanya kembali dia menangis. Tubuhnya gemetar menahan kesedihan hatinya.

“Hmmm kau masih keberatan, bukan?” tanya Bu Lay lagi. Tetap Sam Nio tidak menyahuti.

Dirinya sedang berada dipersimpangan jalan antara mengorbankan dirinya untuk kepentingan anaknya atau dia membiarkan sang anak mendapat malapetaka?!

“Bagaimana?” tanya Bu Lay lagi. Tetapi Sam Nio tidak menyahut.

Bu Lay jadi mendongkol, dia ketawa dingin dengan muka yang bengis.

“Baiklah! Rupanya kau keras kepala!!” kata Bu Lay. “Aku akan memperlihatkan kepadamu bagimana anakmu itu menemui kematiannya!!”

Wajah Sam Nio jadi pucat.

“Oh jangan jangan!!” teriak Sam Nio dengan suara gemetar dan menangis saja. Bu Lay ketawa dingin

“Hmm selama kau masih belum mau menuruti kemauanku secara baik-baik, jangan harap anakmu bisa hidup!” kata Bu Lay dengan suara yang tawar.

Sam Nio menangis lagi dengan sedih, dia memandang Bu Lay dengan hati yang hancur.

Bu Lay ketawa, dia merasa dirinya telah menang, dia yakin bahwa dia akan dapat memperoleh kemenangan.

“Kau mau menuruti kemauanku, bukan?” tanya Bu Lay kemudian sambil menghampiri Sam Nio lagi sambil memegang kedua bahu perempuan tersebut.

Sam Nio berdiam diri, tidak mengelaki pegangan lelaki itu, hanya air matanya semakin mengucur deras.

“Baiklah! Aku menerima kemauanmu, tetapi anakku harus kau bawa kemari!” kata Sam Nio kemudian.

Bu Lay tertawa girang, dia merangkul Sam Nio sambil berkata: “Nah bukankah kalau sejak tadi kau secara baik-baik mau melayaniku, kita tidak usah sampai tarik urat bertengkar begitu macam?”

Sam Nio tidak menyahuti, juga dia tidak bergerak atau meronta dari rangkulan lelaki itu.

Hatinya telah tawar, tawar sekali dia sudah seperti juga orang yang putus nyawa, yang sudah tidak mempunyai perasaan dan mati. Maka dari itu, dikala Bu Lay mencumi dirinya, dia selalu berdiam diri dengan hati yang hancur, berdiam diri dengan tangisnya.

Bu Lay sebetulnya merasakan juga sikap perempuan itu yang dingin sekali.

Tetapi karena dia memang telah tergila-gila dengan wajah yang cantik, maka dia sudah tidak memperdulikan segala apapun.

Kasihan Sam Nio!

Selain hatinya yang remuk dan korban perasaan, juga tubuhnya jadi sakit sekali, karena Bu Lay sangat kasar.

Selama itu, yang diingat oleh Sam Nio hanyalah puteranya, Bie Liek.

BEGITULAH sejak hari itu Sam Nio jadi menetap di rumah Bu Lay. Selama itu dia memperoleh pelayanan yang baik sekali, dirinya dibanjiri dengan segala macam perhiasan yang mahal-mahal serta yang indah-indah.

Untuk diri Sam Nio, telah disediakan dua orang pelayan oleh Bu Lay, yang harus s¡ap sedia disetiap detik melayani nyonya itu.

Tetapi walaupun dia memperoleh layanan yang baik dan diperlakukan seperti seorang ratu, toh tetap saja kesedihannya tidak dapat dibendung.

Setiap Bu Lay mengunjungi kamarnya dan menidurinya, dia pasti menangis. Air matanya hampir kering, sehingga sering dia menangis tanpa mengalirkan air mata, Hanya, karena Sam Nio teringat akan keselamatan Bie Liek, maka dia tidak pernah melawan lagi.

Tentang suaminya, Song Gie, dia pasrah saja kepada Thian, Tuhan, apa yang akan terjadi nanti begitu suaminya pulang dari Kang-lam. Dan, kesedihan selalu meliputi hati perempuan ini jika dia sedang duduk seorang diri.

Pada malam itu bulan purnama bersinar terang, Sam Nio duduk di dekat jendela kamarnya memandang keindahan bulan dari taman yang terbentang dihadapannya.

Pikiran Sam Nio melayang-layang tidak menentu, dia selalu terkenang kepada Bie Song Gie, itu lelaki yang menjadi suaminya dan sedang berada di Kang-lam. Sam Nio merasa berdosa karena telah mengkhianati suaminya.

Memang seharusnya dia musti membunuhi diri begitu kehormatan dirinya disentuh. Namun kalau dia membunuh diri, puteranya, Bie Liek, tentu akan hidup lebih menderita lagi.

Maka dari itu, demi hidup anaknya itu, mau atau tidak, Sam Nio harus menghadapi semua penderitaan itu. Pada malam itu, dikala Sam Nio sedang duduk termenung seorang diri, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

“Siapa?” tanya Sam Nio segera.

“Cepat buka pintu Hujin!” terdengar suara Bu Lay agak parau. Sam Nio menghela napas.

Dia bangun dari duduknya dan menuju ke pintu.

Waktu dia membuka daun pintu, benar saja Bu Lay berdiri di situ dengan muka yang merah padam. Dari mulut lelaki itu tersiar bau minuman keras, rupanya Bu Lay telah terlalu banyak meneguk arak.

“Kau mabok?” tanya Sam Nio dengan segan. Bu Lay tidak menyahuti, dia melangkah masuk dengan langkah sempoyongan.

“Buka bajumu!!” bentak Bje Lay dengan suara yang keras, dia membentak sambil menoleh. Sam Nio sangat sakit hatinya. Tetapi dengan langkah yang perlahan-lahan dia menghampiri pembaringan.

'“Kau mabok, Lay-ko!” kata Sam Nio sambil berusaha membukakan baju luar Bu

Lay, “Tidurlah nanti pening kepalamu akan lenyap!!”

“Kukatakan buka bajumu!!” bentak Bu Lay dengan suara yang kasar, sikapnya

juga kasar sekali.

Sam Nio terkejut sekali, tetapi setelah menatap Bu Lay sesaat lamanya, dia akhirnya menghela napas dan membuka bajunya.

Sedang dia membuka bajunya, tiba-tiba Bu Lay menarik tangan Sam Nio, sehingga perempuan itu terjatuh di pembaringan di samping Bu Lay.

“Kenapa kau membuka baju seperti nenek saja, heh?' bentak Bu Lay, “Buka bajumu kubilang!!” dan tangan Bu Lay dengan kasar membuka baju perempuan itu.

Dan Sam Nio hanya bisa menangis waktu bajunya ditarik dengan kasar. Sam Nio hanya menuruti perintah Bu Lay.

“Kau masih tetap seperti mayat!” bentak Bu Lay waktu dia memperoleh kenyataan Sam Nio tidak menggerakkan tubuhnya sedikitpun.

“Sudahlah Lay-ko sudah terlalu letih tampaknya, nanti kau sakit!” bujuk Sam

Nio.

Tetapi Bu Lay bukannya berhenti, malah menundukkan kepalanya menggigit buah

dada Sam Nio, sampai perempuan itu terjengkit kesakitan.

“Kenapa?” tanya Bu Lay.

“Sakit!” menyahuti Sam Nio dengan penuh perasaan jengkel. “Sakit?” tanya Bu Lay mengejek.

“Ya!”

Dan Bu Lay menggigit lagi.

“Sakit, Lay-ko!” kata Sam Nio.

“Aku perlahan-lahan, toh!” kata Bu Lay.

“Tapi jangan digigit begitu.” kata Sam Nio lagi.

“Hmm kau selalu tidak mau memberikan kepuasan kepadaku!” kata Bu Lay, dia menundukkan kepalanya lagi dan menggigit lagi.

Sam Nio menahan perasaan sakit, dia berusaha meronta tetapi lelaki itu sangat kuat memeluknya.

Malah disebabkan dia berontak, maka gigitan Bu Lay jadi lebih keras lagi.

“Aduh sakit Lay-ko!!” mengeluh Sam Nio dengan suara yang parau, mengandung isak tangis.

“Diam kau!” kata Bu Lay dengan sengit, dan dia menggigiti bagian tubuh perempuan itu yang lainnya, sehingga Sam Nio menggeliat-geliat menahan perasaan sakit.

Rupanya Sam Nio sangat menderita sekali. Sam Nio yang menderita kesakitan hebat. Tinggal Sam Nio yang menangis terus-menerus menyesali nasibnya. Begitulah memang penghidupan Sam Nio jadi menderita sekali. Dia masih kuat untuk menghadapi semua itu disebabkan dia memikirkan jiwa anaknya, Bie Liek.

Tetapi, sering juga terkilas di dalam ingatan Sam Nio untuk mengambil jalan pendek, yaitu membunuh diri. Dan hal itu sering akan dilakukannya, tetapi bayang- bayang muka Bie Liek, selalu menggagalkan maksudnya itu.

Dan Sam Nio jadi melewati hari-hari dengan penuh siksaan bathin dan lahirnya.

Dia menghadapi semua itu dengan penuh tekanan yang hampir membuatnya gila.

HARI itu dari Siang-jie, pelayan, Sam Nio, nyonya Bie Song Gie mengetahui bahwa rombongan Bie Song Gie telah kembali pulang dari Kang-lam.

Hati Sam Nio jadi berdebar keras. Apa yang akan terjadi kalau suaminya begitu pulang ke rumahnya dan melihat bahwa isterinya atau anaknya sudah tidak ada di rumah itu lagi?

Betapa menyedihkan tentunya. Dan, seharian penuh itu, sejak mendengar bahwa rombongan orang-orang Pie Wang-gwee yang mengawal barang-barang telah kembali

dari Kang-lam, Sam Nio menangis terus menerus. Kedua pelayannya yang melihat itu, mereka tidak mengatakan sesuatu apapun, karena mereka telah terlalu sering hampir setiap hari melihat Sam Nio menangis.

Menjelang sorenya, Sam Nio memanggil salah seorang pelayannya, yaitu Siang- jie. Sam Nio menanyakan perihal dari Bie Song Gie. Pelayan itu jadi bingung.

“Siauw-jin tidak kenal dengan orang yang Tay-tay sebutkan itu!” kata si pelayan bingung.

Sam Nio jadi tambah sedih, karena dia tidak bisa mendengar berita tentang Bie Song Gie. Sam Nio mengibaskan lengan bajunya untuk menyuruh si pelayan menyingkir.

Setelah Siang-jie berlalu, maka Sam Nio jadi duduk termenung seorang diri lagi.

Sedang Sam Nio termenung itu, tiba-tiba dia mendengar suara ribut-ribut. Cepat- cepat Sam Nio bangun dari duduknya, dan begitu dia melongok keluar, ke taman, dia melihat suatu pemandangan yang membikin darahnya jadi tersirap

Apa yang diiihatnya? Ternyata Sam Nio melihat Song Gie sedang dipukuli di taman itu. Dengan mengeluarkan suara jeritan yang keras Sam Nio berlari-lari keluar dari kamarnya itu.

Song Gie yang sedang dipukuli oleh orang-orangnya Pie Wang-gwee melihat istrinya itu. Dengan tidak terduga semangatnya jadi terbangun. Dia berlari menghampiri Sam Nio.

“Sam Nio    kau benar-benar berada di sini?” teriak lelaki itu seperti kalap.

Sam Nio tidak bisa menahan mengucurkan air mata, dia menangis sambil berusaha menubruk dan memeluk suaminya itu. Tetapi salah seorang dari orang-orangnya Pie Wang-gwee itu telah memegang tangan Song Gie, menariknya dan menjoroki sampai lelaki itu terjerembab dan mukanya mencium tanah.

Menyaksikan hal itu, Sam Nio jadi tambah terluka dan perih.

“Gie-ko Oh Gie-ko!!” teriak Sam Nio sambil mengejar akan memeluk : suaminya. “Hentikan! Oh kalian benar-benar terkutuk! Hentikan! Apa yang kalian lakukan terhadap suamiku ini?”

Song Gie juga bagaikan kalap menubruk Sam Nio. Pukulan-pukulan yang diterimanya dari orang-orang Pie Wang-gwee seperti tidak dirasakan.

“Sam Nio!” teriaknya dengan suara yang keras sekali. Mereka jadi saling berpelukan. Tetapi itu hanya dapat dilakukannya sekejap saja, sebab seketika itu juga anak buah Pie Wang-gwee telah meluruk dan merenggut memisahkan mereka.

Sam Nio berontak sekuat tenaganya tidak mau melepaskan pelukan pada suaminya. Tetapi tenaga anak buah Pie Wang-gwee sangat kuat sekali, maka tanpa dapat ditahan lagi, Song Gie telah diseret mereka, sedangkan dua orang pelayan Pie Wang- gwee tetap memegangi Sam Nio. Bagaikan kalap Sam Nio meronta-ronta sekuat tenaganya ingin melepaskan diri dan cekalan orang-orang itu.

Namun tenaga perempuan itu tidak mengijinkan, akhirnya saking sedih dan putus asa dia jatuh pingsan.

o o o

MENGAPA Bie Song Gie bisa datang ke gedung Pie Wang-gwee dan digebuki oleh orang-orangnya hartawan itu?

Ternyata waktu rombongan yang mengantar barang-barang ke Kang Lam sudah pulang, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk menemui keluarga mereka.

Perpisahan selama berbulan-bulan telah menimbulkan perasaan rindu yang bukan main. Begitu juga Bie Song Gie, dia pulang kerumahnya untuk menemui istri dan anaknya.

Selama dalam perjalanan menuju ke rumahnya itu, Bie Song Gie membayangkan, istrinya dan anaknya tentu akan menyambut pulangnya dia ini dengan gembira.

Dia juga membayangkan, Sam Nio, istrinya itu, pasti akan menyambutnya sambil berlari-lari dan memeluknya, atau mengatakan demikian: “Oh Gie-ko betapa aku merindukan kau setiap malam Bie Liek juga sering memanggil-manggilmu jika dia sedang menangis!!”

Dan disebabkan bayang-bayang itu, Bie Song Gie jadi semakin mempercepat langkah kakinya agar dia bisa di rumahnya dengan cepat. Seakan juga dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Sam Nio dan Bie Liek, puteranya itu.

Tetapi, apa yang didapatinya setelah dia sampai di rumahnya?

Rumah itu kosong! Bie Song Gie jadi heran, dia cepat-cepat masuk ke dalam rumah itu. Tetapi baru saja dia masuk ke beranda rumah tersebut, telah keluar seorang kakek-kakek.

“Kau mencari siapa, nak?” tegur kakek itu setelah menatap Bie Song Gie dengan heran. Darah Song Gie tersirap.

“Kau kau siapa kau?” tegur Song Gie dengan suara tidak lampias. Kakek itu juga bingung.

“Aku pemilik rumah ini!!” kata si kakek. ”Ada apa kau datang-datang masuk kemari?”

Song Gie jadi tambah bingung. “Kemana isteriku?” tanya Song Gie kemudian setelah dapat mengendalikan dirinya, dia sudah lantas dapat menduga bahwa telah terjadi sesuatu pada rumah tangganya itu.

“Kenapa kau mencari isterimu di rumahku?” bentak si kakek mendongkol.

“Rumahku ini bukan tempat untuk menampung isteri-isteri yang tidak keruan!”

Bie Song Gie jadi mendongkol luar biasa.

“Kau kutanya kemana isteriku?” bentak Song Gie bagaikan kalap. “Aku mana tahu?” balas bentak si kakek.

“Aku tinggal disini sudah selama empat bulan!”

“Ini rumahku!” teriak Song Gie bagaikan kalap, “Dan apa yang telah terjadi?

Apa yang terjadi pada mereka? Pada isteri dan anakku?”

Si kakek jadi lebih mendongkol dan juga bingung.

“Sudah kukatakan aku tidak tahu!!” teriak si kakek. “Hayo cepat keluar kau!”

Song Gie bingung luar biasa, dia ingin segera menerjang kakek itu. Ingin dipukulnya.

Sedang keadaan tegang begitu, dari luar masuk beberapa orang yang mejadi tetangga rumah tersebut. Mereka datang disebabkan mendengar suara ribut-ribut dan mereka ingin melihat apa yang terjadi.

Waktu melihat Song Gie, mereka mengeluarkan seruan tertahan.

“Kau Lo-gie?” tanya mereka hampir berbareng. “Kapan kau kembali kemari?'

Song Gie tidak sempat menceritakan segala apapun, dia menghampiri salah seorang diantara mereka.

“Hei Loa-sam hayo kau ceritakan, kemana isteri dan anakku!!” kata Song Gie dengan kalap. “Ceritakan mengapa kakek tua bangka ini bisa mengakui rumah ini sebagai rumahnya?”

Muka orang itu berobah pucat sekali.

“Tenanglah Loo-gie!” katanya cepat.

“Nanti akan kami ceritakan mari ke rumahku dulu!”

Perasaan Song Gie jadi semakin tidak tenang. Dan mempunyai firasat jelek.

Tetapi karena orang-orang ramai itu menarik dia untuk mengikutinya ke rumah salah seorang tetangganya, maka dia mengikuti juga.

Dengan hati-hati salah seorang diantara mereka, yang paling tua, menceritakan segalanya kepada Song Gie. Juga diceritakan sejelas-jelasnya, bagaimana setelah menerima undangan makan malam Bu Lay, maka Sam Nio tidak pernah pulang kembali kerumah itu.

Mendengar itu, bagaikan kesambar petir, Song Gie menjerit sekuat tenaganya dan jatuh pingsan.

Orang-orang itu jadi repot berusaha menolongnya untuk menyadarkan Song Gie dari pingsannya.

Begitu tersadar dari pingsannya, Song Gie meronta dari pegangan orang-orang itu sambil melompat dan berteriak dengan suara yang mengguntur : “Akan kubunuh anak- jadah itu!! Akan kubunuh keluarga Pie itu!”

Dan Song Gie berlari-lari menuju ke rumah Pie Wang-gwee. Orang-orang kampung berusaha untuk menahannya, tetapi akhirnya mereka tidak berdaya.

Lebih-lebih Song Ge telah mengambil sebatang golok dari salah seorang pedagang daging di dekat pasar di situ, maka semua orang jadi menyingkir.

Dalam waktu yang singkat sekali Song Gie telah berada di muka gedung Pie Wang- gwee. Dia berteriak-teriak dengan kalap dan membacoki pintu gedung itu. Orang-orang Pie Wang-gwee yang melihat kelakuan Song Gie jadi heran berbareng gusar.

Lebih-lebih Pie Wang-gwee waktu dilaporkan tentang hal itu, dia memerintahkan untuk menghajar Song Gie setengah mati. Beberapa orang Busu, guru silat, yang bekerja pada Pie Wang-gwee cepat-cepat keluar.

Melihat ada orang yang keluar dari rumah itu, Song Gie yang sudah kalap sudah lantas menyerang dengan goloknya. Namun dia mana sanggup melawan jago-jago silat yang bekerja pada Pie Wang-gwee. Maka di dalam beberapa gebrakan saja, dia sudah kena diringkus. 

Song Gie dibawa ke dalam rumah Pie Wang-gwee dan digebuki setengah mati dan setengah hidup. Dan, sedang digebuki dan dihajar pulang pergi itulah Sam Nio telah melihatnya.

Song Gie diseret kehadapan Pie Wang-gwee yang kala itu sudah duduk di ruangan tengah dengan sikapnya yang angkuh serta keagung-agungan.

Orang-orang Pie Wang-gwee menjoroki Song Gie, sehingga orang she Bie yang malang itu jadi terjerunuk kedepan.

“Song Gie!” bentak Pie Wang-gwee dengan suara yang berpengaruh. “Mengapa

kau mengamuk-ngamuk tidak keruan?”

Dengan mata mendelik lebar, Song Gie menatap Pie Wang-gwee.

“Akan kubunuh seluruh keluarga Pie!!” teriak Song Gie dengan penuh dendam. “Kenapa kau memusuhi kami? Bukankah kalian baru pulang dari Kang-lam dan menyelesaikan tugas yang baik?! Dan lagi pula aku telah memberikan kau upah yang cukup besar?” kata Pie Wang-gwee mendongkol.

Mata Song Gie semakin mendelik.

Tetapi akhirnya dia menceritakan segala apa yang diketahuinya mengenai isteri dan putera Pie Wang-gwee.

“Dusta!” teriak Pie Wang-gwee dengan suara menggeledek. “Kau ingin merusak nama baikku! Bagus! Rupanya kau memang sudah bosan hidup! Hei A Sam, A Liu! Hajar dia!!”

Dua orang Busu maju dan menghajar Song Gie dengan bengis. Song Gie memberikan perlawanan tetapi dia mana bisa melawan kedua guru silat itu. Maka dengan waktu yang singkat sekali, dia telah menggeletak dengan tubuh dan muka yang babak belur dihajar oleh kedua Busu tersebut.

Pie Wang-gwee tertawa dingin

“Hmm manusia seperti kau benar-benar tidak mengenal budi!!” kata Pie Wang- gwee. “Kau telah kami beri pekerjaan dan diberikan gaji yang baik malah kau akan kami angkat sebagai mandor taman, mengapa sekarang tak hujan tak angin kau ingin merusak nama besarku dengan menuduh anakku berbuat serong dengan istrimu?! Hmm rupanya kau mempunyai lima kepala enam tangan dan enam kaki sehingga kau berani mengeluarkan tuduhan seperti itu? Bagus! Bawa dia ke Tiekwan dan jebloskan dia ke dalam penjara!!”

Beberapa orang menyahuti, dan mereka menggotong Song Gie ke kantor Tiekwan, dan pada saat itu, tanpa memeriksa lagi, karena Tiekwan itu juga memang jeri terhadap Pie Wang-gwee, segera juga menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Song Gie.

Kasihan orang she Bie itu! Seketika itu juga, dalam keadaan terluka parah, dia mendam di dalam penjara. Kesedihan dan dendam berkecamuk di dalam dada Song Gie.

Di dalam tangisnya, dia bersumpah, dia akan berusaha mencari jalan untuk meloloskan diri dan melakukan pembalasan kepada keluarga Pie serta Tiekwan yang menjebloskan dirinya tanpa mengenal keadilan itu!

Tetapi dendam Song Gie hanya akan menggelora membakar dirinya, karena ia sendiri sedang terkurung di dalam penjara yang mengekang kebebasan dirinya.

o o o

SAM NIO lebih menderita lagi keadaannya. Dia tadi menyaksikan bagaimana suaminya menderita sekali dihajari terus menerus dan digebuki dengan bengis oleh orang-orangnya Pie Wang-gwee.

Betapa sakit hati perempuan itu. Sejak menyaksikan hal itu, dia jadi menangis terus menerus.

Dan, di dalam hatinya jadi timbul maksud untuk membunuh diri lagi. Tetapi, waktu dia sedang mengambil tali ikat pinggangnya yang akan diikatkan pada kayu pembaringan, tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Bie Liek! Ya, anaknya itu harus dapat diselamatkan!!

Kalau Bie Liek dapat diselamatkan, maka sakit hatinya serta sakit hati Song Gie pasti akan dapat terbalaskan.

Karena dia teringat itu, maka Sam Nio jadi membatalkan maksud untuk membunuh diri. Dia menyimpan pengikat pinggangnya itu dia memanggil Siang-jie.

“Coba kau panggil Siauw-kongcu!!” kata Sam Nio setelah menyeka kering air matanya.

Siang-jie mengiyakan, dia pergi sesaat. Waktu dia kembali, tangannya menuntun Bie Liek.

Sam Nio tidak bisa menahan turunnya air mata, dia merangkul bocah itu sambil menangis lagi.

Setelah puas melampiaskan kesedihannya itu, dikala Bie Liek sedang berdiri kesima bingung, karena bocah itu tidak mengetahui persoalan apapun, Sam Nio menyuruh Siang-jie untuk berlalu.

Siang-jie membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Sam Nio, kemudian berlalu.

“Liek-jie mulai saat ini kau harus baik-baik membawa diri karena mungkin aku tidak akan dapat menunggu kau sampai besar kau harus ingat, inilah dendam keluarga kita kepada Pie Wang-gwee!”

Dan Sam Nio memasukkan secarik kertas yang telah ditulisnya menceritakan penderitaan keluarganya ke kantong si bocah.

Kemudian dengan berindap-indap dia mengajak Bie Liek ke taman belakang gedung itu, dia menuju ke belakang pintu.

Seorang penjaga pintu yang mengetahui siapa Sam Nio, segera menghampiri.

“Siapa?” tanya pelayan itu pura-pura tak mengenali Sam Nio.

“Aku! Cepat kau buka pintu!” kata Sam Nio dengan cepat. Pelayan itu menghampiri.

“Oh Siauw Thay-thay!” kata si pelayan kemudian sambil memberi hormat. Setelah itu dia berdiri dengan hormat, namun dia tidak membuka pintu itu seperti apa yang diperintahkan oleh Sam Nio.

Sam Nio jadi mendongkol.

“Kataku cepat buka pintu itu!!” perintahnya.

Pelayan itu membungkukkan tubuhnya lagi memberi hormat.

''Tidak berani Siauwjin membangkang perintah Siauw Thay-thay, namun tadi Toaya telah memesan kepada Siauwjin untuk tidak mengenankan siapa saja keluar dari pintu ini!” kata si pelayan.

Muka Sam Nio jadi berobah merah padam.

“Jadi kau tidak mau menurut perintahku?” tegur Sam Nio tambah mendongkol.

“Apakah kau tidak takut nanti kau dihukum?”

Si pelayan jadi ragu-ragu.

Dia memang mengetahui, biar bagaimana Sam Nio adalah gundik kesayangan dari Bu Lay, majikan mudanya, maka kalau sampai nanti Sam Nio gusar padanya, jiwanya pasti tidak bisa dipertahankan lagi. Sekali saja Sam Nio menghasut Bu Lay, dia pasti akan binasa.

“Cepat buka pintu itu!!” perintah Sam Nio lagi

'“Tetapi tetapi Siauw Thay-thay!” kata si pelayan tidak lampias, wajahnya juga berubah pucat.

“Jadi kau tidak mau menuruti perintahku!” bentak Sam Nio dengan suara yang bengis.

Tubuh pelayan itu jadi menggigil, cepat-cepat dia menuju ke pintu, dbukanya daun pintu lebar-lebar.

Sam Nio mendengus, dia mengajak Bie Liek keluar. Dan dengan cepat Sam Nio menuju ke kandang kuda, mengambil seekor kuda yang besar, yang ditariknya keluar.

Setelah menaikkan Bie Liek keatas kuda, maka Sam Nio juga melompat naik. Kuda itu dilarikannya dengan cepat. Pelayan itu waktu melihat hal tersebut jadi kaget.

“Heh Siauw Thay-thay eh Siauw Thay-thay oh, dia kabur!” kata si pelayan dengan gugup.

Cepat-cepat dia berlari ke dalam.

Dan, waktu berhadapan dengan Bu Lay dia mengadukan hal itu dengan napas memburu.

Bu Lay jadi terkejut, dengan tangan kirinya dia memukul si pelayan dengan bengis. Kemudian dengan cepat dia memanggil orang-orangnya untuk mengejar Sam Nio. Dengan menggunakan kuda-kuda yang tinggi besar dan bertenaga kuat, mereka mengejar dengan cepat.

SAM NIO dan Bie Liek harus dikasihani!

Mereka tidak biasa menunggang kuda, maka dengan larinya sang kuda yang begitu keras, mereka sangat tersiksa sekali.

Beberapa kali Bie Liek hampir terjungkal dari atas kuda tunggangan itu, untung saja Sam Nio telah memegangnya dengan erat, sehingga mereka masih bisa mempertahankan diri di atas kuda tunggangan itu. Mereka mengambil arah ke selatan, dan dalam waktu yang singkat mereka telah melarikan diri sejauh tujuh lie lebih.

Pada saat itu, Sam Nio sudah dapat bernapas lega. Walaupun dikejar-kejar oleh perasaan takut, namun setelah terpisah dalam jarak yang cukup jauh itu Sam Nio dapat berlega hati.

Perempuan ini sangat letih sekali, begitu juga puteranya. Maka Sam Nio mengambil keputusan untuk mengaso di bawah sebuah pohon yang tumbuh di dekat tepi jalan.

Namun baru saja dia turun dari kuda itu bersama puteranya tiba-tiba terdengar suara gemuruh.

Dengan terkejut Sam Nio menoleh, dilihatnya beberapa penunggang kuda sedang mengejar dirinya.

Betapa kagetnya perempuan ini dia juga sangat ketakutan sekali.

Maka dari itu, dengan mengeluarkan suara pekikan seperti kalap, dia menarik les kuda untuk melaratkan kuda tunggangannya itu lagi.

Tetapi celakanya, karena les kuda itu ditarik terlalu keras, maka kuda itu jadi kaget dan meringkik sambil melompat tinggi sekali.

Bie Liek yang tidak memegang apa-apa jadi terpental, begitu juga Sam Nio. Mereka ibu dan anak jadi ambruk di tanah. Sedangkan kuda tunggangan mereka itu telah lari dengan langkah yang cepat sekali.

Sam Nio jadi sangat ketakutan sekali, karena para penunggang kuda yang mengejarnya telah semakin dekat.

Cepat-cepat perempuan tersebut membangunkan Bie Liek, yang lalu diajaknya lari lagi. Lari seorang manusia dibandingkan dengan kejaran kuda, mana bisa berimbang, maka dalam waktu yang sangat singkat sekali Sam Nio telah tersusul dan dikurung oleh orang-orang Pie Wang-gwee yang semuanya mempunyai muka bengis sekali. Kaki Sam Nio jadi menggigil, dia memeluki Bie Liek. Diantara pengejar itu tampak Bu Lay yang telah dapat menyandak, sengaja memperlahankan langkah kudanya. Wajahnya tidak sedap dilihat.

“Kau benar-benar manusia yang tidak mengenal budi!” kata Bu Lay dengan suara yang menyeramkan.

Sam Nio tidak menyahuti, dia hanya memandang Bu Lay dengan pandangan yang membenci.

“Hmmm setelah diberi kebahagiaan dan kemewahan, kau masih mau melarikan diri! Baik! Baik! Sekarang sudah tak ada ampun lagi bagi kau ibu dan anak! Kalian harus mampus!!” dan setelah berkata begitu, Bu Lay mengangkat tangannya, seorang anak buahnya maju kedepan, kedekat Sam Nio.

“Dibunuh saja, Kongcu?” tanya orangnya Bu Lay itu.

Bu Lay tidak lantas menyahuti, dia memandang Sam Nio yang sedang ketakutan memeluki anaknya itu.

“Bagaimana Kongcu?” tanya bawahan Bu Lay itu lagi.

Tiba-tiba Bu Lay ketawa. dia membentak dengan suara yang keras : “Sudah disikat

saja!!”

Orang-orang itu menyeringai dan Sam Nio yang sudah mengerti maksud orang-

orang itu jadi menggigil ketakutan. Perempuan ini jadi ketakutan sambil memeluki puteranya yang satu-satunya itu.

Pengawal Bu Lay telah mencabut goloknya, dia turun dari kudanya.

Perlahan-lahan dia menghampiri Sam Nio dan Bie Liek dengan muka yang menyeramkan.

“Oh jangan jangan!” teriak Sam Nio waktu melihat cahaya mata orang itu yang bengis dan mengandung hawa pembunuhan.

Tetapi orang itu maju semakin dekat dengan mulut menyeringai.

Dan ''Srettttt!” berkelebat sinar golok itu, maka terdengar suara jeritan Sam Nio.

Perempuan itu terkulai rubuh tak bernyawa lagi, karera kepalanya telah terbelah oleh sabetan golok orang itu, yang diiringi oleh suara tertawa dari kawan-kawan si pembunuh itu, begitu juga Bu Lay, dia menyeringai pula.

Bie Liek yang melihat ibunya terkulai tak berjiwa, jadi kaget, dia menubruk sambil menangis. Bocah ini tidak mengetahui bahwa bahaya juga sedang mengancam dirinya.

Orang yang telah membunuh Sam Nio telah maju lagi dengan golok digelimangi oleh darah Sam Nio. Matanya memandang tajam sekali, dan dia mengangkat tangannya tinggi, golok itu teracung akan menebas kepala si bocah Bie Liek juga. Semua mata terpentang memandang dengan tegang. Orang itu menyeringai lagi, dan goloknya, terayunkan dengan cepat.

Bie Liek masih tidak mengetahui bahaya yang mengancam dirinya, karena dia memang masih terlalu kecil untuk mengenal kejahatan dan kebejatan orang-orang dibumi ini.

Golok orang yang menjadi anak buah Bu Lay terayun dengan kecepatan penuh tanpa mengenal kasihan! Terdengar suara jeritan yang menyayatkan!

Tampak tubuh orang yang akan membunuh Bie Liek terpental dengan tubuh yang kejang, ambruk di tanah dan tidak bernapas lagi.

Di samping Bie Lek berdiri seorang laki-laki tua yang berjanggut sudah putih seluruhnya, matanya tajam nemandang seluruh orang-orang Bu Lay yang berada di situ.

“Kalian merupakan manusia-manusia serigala yang harus mampus!!” kata kakek itu dengan suara yang menyeramkan sebelum Bu Lay dan orang-orangnya lenyap kagetnya. “Hmmm seorang bocah sebesar dia masih kalian ingin bunuh juga!” dan tanpa menunggu jawaban lagi, dengan menjejakkan kakinya, tubuh kakek itu melambung tinggi sekali, sebelum semua orang-orangnya Bu Lay mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kakek itu, tampak si kakek telah meluncur turun dengan kecepatan yang tidak terhingga, diiringi oleh suara bentakannya.

Maka terdengarlah suara jeritan yang mengerikan dan terdengarnya saling susul menyusul. Semua anak buah Bu Lay rubuh terkulai tidak bernyawa lagi.

Begitu juga Bu Lay, dia kena disabet batang lehernya oleh kakek liehay itu, sehingga tanpa bisa berusaha dia rubuh binasa.

Setelah membereskan semua orang-orang itu, si kakek menghela napas menatap mayat Sam Nio. Perlahan-lahan dia menghampiri Bie Liek yang kala itu masih menangis. Dibujuknya agar si bocah tidak menangis, kemudian dia membopongnya, dibawa pergi, langkahnya ringan, di dalam waktu yang singkat, dia telah meninggalkan tempat kejadian berdarah itu.

SIAPAKAH kakek tua itu?

Dia ternyata seorang jago yang luar biasa, yang mempunyai kepandaian yang tinggi sekali. Orang menggelarkan dia dengan julukan It Kun Tionggoan, seorang jago yang ditakuti oleh jago-jago dari jalan hitam atau jago-jago jalan putih. Semuanya menghormati jago tua itu.

Dan, pada hari itu disaat terjadinya peristiwa berdarah yang menyedihkan itu, kebetulan It Kun Tionggoan lewat didaerah itu, sehingga dia bisa menolong nyawa Bie Liek, meskipun dia tidak bisa menolong jiwa Sam Nio. Bie Liek dibawanya ketempat tinggalnya dan It Kun Tionggoan memberikan pelajaran silat kepada bocah itu. Kian lama kian digembleng oleh It Kun Tionggoan karena jago tua tersebut melihat bahwa di dalam diri bocah Bie Liek terdapat bakat yang luar biasa sekali, mempunyai harapan akan menjadi seorang jago yang luar biasa.

Seluruh kepandaiannya diturunkan kepada Bie Liek, dan It Kun Tionggoan menginginkan agar bocah Bie Liek menjadi seorang jago yang tiada tanding. Seorang jago yang luar biasa, jago nomor satu di dalam dunia Kangouw mengangkat naik lagi nama besarnya It Kun Tionggoan!

Bertahun-tahun dilewatkannya bersama Bie Liek dan It Kun Tionggoan sudah tidak pernah berkelana lagi, karena dia memang sudah mengambil keputusan untuk melewati hari-hari tuanya disamping muridnya.

Bie Liek sendiri memperlihatkan keluar biasaan padanya.

Kalau manusia biasa baru bisa menghafalkan setiap pelajaran ilmu silat selama satu bulan atau dua bulan untuk setiap jurusnya, maka berbeda dengan Bie Liek. Dengan hanya menggunakan waktu satu kali pemasangan hio, dia sudah dapat menghafalkan sepuluh jurus!

Maka dari itu, diwaktu dia berusia sebelas tahun, dia sudah mempunyai kepandaian yang luar biasa tingginya. Malah It Kun Tionggoan sendiri mengakui bahwa kepandaian bocah itu sekarang berada di atas dirinya. Hanya, Bie Liek masih membutuhkan gemblengan dan latihan di dalam bidang tenaga dalam

Waktu Bie Liek berusia sebelas tahun itulah It Kun Tionggoan mengajaknya menyatroni tempat kediaman Pie Wang-gwee. Semua penghuni gedung itu habis disapunya.

Setelah itu, It Kun Tionggoan mengajak Bie Liek menyatroni penjara. Ternyata Bie Song Gie telah binasa di dalam penjara disebabkan siksaan yang terlalu berat sekali.

Betapa murkanya It Kun Tionggoan dan Bie Liek. Mereka mengamuk di situ dan membasmi keluarga Tiekwan, begitu juga sipir-sipir penjara dibunuh oleh mereka semuanya.

Peristiwa itu benar-benar menggemparkan dunia Kangouw. Belum pernah It Kun Tionggoan melakukan pembunuhan besar-besaran seperti itu.

Di dalam waktu sekejap saja hal itu telah tersebar luas dan diketahui oleh tokoh- tokoh rimba persilatan.

Tetapi It Kun Tionggoan tidak ambil perduli, dia tidak meladeni segala ocehan kawanannya yang memberikan nasehat padanya agar lain kali jangan melakukan pembunuhan semacam itu. It Kun Tionggoan murka kepada Tiekwan dan Pie Wang-gwee disebabkan dia membaca surat warisan dari Sam Nio yang ditinggalkan di dalam saku Bie Liek sebelum ibu dan anak itu melarikan diri dari gedung Pie Wang-gwee.

Peristiwa pembunuhan Tiekwan dan keluarga Pie Wang-gwee benar-benar menggemparkan. It Kun Tionggoan sendiri mengajak Bie Liek untuk mengasingkan diri.

Tetapi, menjelang Bie Liek berusia dua belas tahun, pikiran It Kun Tionggoan berubah lagi, dia memerintahkan bocah Bie Liek untuk merantau, untuk mengamalkan perbuatan baik kepada masyarakat.

Sebetulnya B e Liek tidak mau meninggalkan gurunya yang sudah tua itu melewatkan hari tuanya seorang diri, tetapi karena It Kun Tionggoan telah mendesaknya terus, malah dengan paksaan menggunakan kekuasaannya sebagai seorang guru terhadap murid, akhirnya Bie Liek tidak bisa menolak lagi perintah gurunya itu.

Maka dengan sedih si bocah Bie Liek merantau seorang diri meninggalkan gurunya.

Bie Liek selalu melakukan perbuatan baik dan membantu si lemah yang tertindas oleh si jahat.

Di dalam waktu yang sangat singkat, hanya dalam satu tahun, dikala Bie Liek berusia dua belas tahun, dunia kangouw telah digemparkan kembali oleh munculnya murid It Kun Tionggoan ini, tetapi sekarang yang mengkeret dan ketakutan adalah para penjahat atau jago-jago rimba hijau yang mengambil jalan aliran hitam, mereka semuanya ketakutan mendengar nama besar It Kun Tionggoan yang selalu turun tangan tidak pernah mengenal kasihan terhadap mereka yang melakukan perbuatan jahat.

SUASANA dan pemandangan dipegunungan Siauw-sit-san sangat indah.

Lebih-lebih pagi itu, dikala embun sudah tidak turun dan kicauan burung terdengar ramai sekali, maka pemandangan dipegunungan Siauw-sit-san lebih indah lagi.

Diantara suara kicauan burung itu, tampak seorang bocah berusia dua belas tahun dengan sebatang seruling bambu tercekal di tangan kanannya, dia melangkah perlahan- lahan sambil menikmati pemandangan yang terdapat disekitar pegunungan Siauw-sit-san tersebut.

Sambil menikrnati pemandangan gunung Siauw-sit-san itu, maka si bocah melangkah dengan mulut bersenandung perlahan-lahan memuji keindahan gunung Siauw-sit-san tersebut.

Air mengalir dengan deras diantara hijaunya daun, Pohon-pohon tumbuh lebat disekitar lereng,

Sinar lembayung senja menyinari bidadari yang mandi, Tiada keindahan keduanya dimuka bumi ini,

Mengapa Thian tidak menganugerahkan danau pula di gunung tersebut? Mengapa Siauw-lim-sie tidak berhasrat untuk menjadi Budha,

Walaupun sejak dahulu kala terkenal sebagai ayah dari ilmu silat? Dan semua apa yang ada di gunung Siauw-sit-san indah nian,

Tak ada gading yang tak retak, maka masih ada juga kekurangan Siauw-sit-san

Baru saja si bocah selesai bersenandung, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin disampingnya.

“Hmm bagus! Kau terlalu meremehkan Siauw-lim-sie!” terdengar suara yang parau. Si bocah tersenyum sambil menoleh.

“Siauwtee sudah lama mengetahui bahwa Toa Hweeshio menguntit diriku!” kata si bocah. “Mengapa tidak sejak tadi Toa Hweeshio memperlihatkan diri?”

Dari sebelah kanan di belakang sebuah pohon, muncul seorang Hweeshio berkepala gundul. Muka Hweeshio itu tidak menyeramkan, tetapi sinar matanya bengis.

“Kau bocah cilik, mengapa kau berani menghina Siauw-lim-sie?” bentaknya. Si bocah tersenyum lagi sambil menggoyang-goyangkan serulingnya.

“Siauwtee tidak merasa pernah menghina Siauw-lim-sie!” menyahuti bocah itu.

“Mungkin Toa Suhu yang salah dengar setiap perkataan Siauwtee!!”

“Hmmm!” si Hweeshio ketawa dingin, “Kau tadi mengatakan, Mengapa Siauw-lim sie tidak berhasrat untuk menjadi Budha? Bukankah begitu?”

“Benar! Sedikitpun tidak salah!” membenarkan bocah itu. “Dan bukankah dengan

menjadi Budha seseorang akan sempurna hidupnya?”

“Ya, tapi dengan berkata begitu kau telah menghina Siauw-lim-sie!” kata si Hweeshio tetap tidak senang. “Karena di dalam pandanganmu Hweeshio-Hweeshio Siauw-lim-sie ini belum sempurna!”

“Tak ada manusia yang sempurna!” kata si bocah dengan berani. “Dan Siauwtee

kira tak usah Toa Suhu terlalu mengagul-agulkan pintu perguruan Toa Suhu!!” Wajah si Hweeshio jadi berubah merah.

“Kurang ajar! Mulutmu terlalu jahat, bocah!” bentaknya.

Si bocah tidak menyahuti, hanya tersenyum manis sambil menggoyang-goyangkan seruling yang ada di tangannya. “Siapa namamu, bocah?” bentak si Hweeshio lagi dengan sengit.

Si bocah membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Hweeshio ini.

“Siauwtee tak berharga dikenal oleh Toa-Suhu,” dia mengatakan begitu. “Tetapi karena Toa Suhu telah menanyakannya, mau tak mau Siauwtee harus memberitahukan juga Siauwtee she Bie dan bernama tunggal Liek!!”

“Hmm namamu jelek sekali!” mengejek si Hweeshio. “Tadinya lebih baik aku tidak mendengar namamu!!”

Si bocah sabar sekali, dia hanya tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” bentak si Hweeshio sengit melihat orang tertawa. Si bocah tetap membawakan sikapnya yang tenang.

“Tak ada salahnya toh kalau Siauwtee tertawa?” tanya si bocah.

“Hmmm kau belum tahu siapa aku ini! Kau terlalu kurang ajar sekali, bocah!” kata si Hweeshio.

“Benar! Benar!” kata si bocah cepat, “Aku memang belum tahu siapa Toa Suhu adanya!! Coba tolong Toa Suhu sebutkan namamu!”

Si Hweeshio mendongkol sekali, tetapi dia masih menahan perasaan gusarnya itu.

“Kalau kau mendengar gelaranku, kau tentu akan mampus kaget!” kata si Hweeshio.

“Belum tentu!” menyahuti si bocah, yang tak lain daripada Bie Liek.

“'Benar-benar kau tidak takut mendengar namaku?” tegur si Hweeshio lagi.

“Ya tidak takut sedikitpun!” menyahuti Bie Liek.

Si Hweeshio tambah mendongkol

“Aku adalah Hek Houw Hweeshio!!” kata si Hweeshio.

Hweeshio itu memperhatikan muka si bocah she Bie, karena dia duga si bocah tentu akan ketakutan setelah mendengar namanya biasanya dia sangat ditakuti oleh orang disekitar tempat itu, karena dia selalu tidak pernah berlaku belas kasihan kepada orang, kalau ada orang yang bersalah padanya, dia pasti akan menghajarnya dengan bengis sekali.

Tetapi dugaan si Hweeshio ternyata meleset jauh sekali. Bie Liek masih berdiri tegak ditempatnya dengan sikapnya yang tenang.

“Oh jadi kau Hweeshio si Harimau hitam?” kata Bie Liek tertawa. “Pantas! Pantas!

Pantas!!”

Dan kembali Bie Liek tertawa lagi. Si Hweeshio, Hek Houw Hweeshio, jadi mendongkol melihat orang tertawa terus menerus seperti mengejek dirinya.

“Pantas-pantas kenapa?” tegurnya mendongkol. “Pantas mukamu hitam!” kata Bie Liek tetap tertawa. Darah si Hweeshio jadi meluap.

“Bangsat! Kurang ajar kau!” dan tubuhnya mencelat akan menghajar Bie Liek.

Harus diketahui, si Hweeshio gusar dikatakan mukanya hitam, karena memang benar muka si Hweeshio itu hitam. Bie Liek melihat Hweeshio itu menyerang dirinya, dia jadi tersenyum.

Dengan cepat dia menggerakkan seruling yang ada di tanganya, dan “Dukkkk!”

seruling itu dengan tepat menghajar perut si Hweeshio.

Hek Houw Hweeshio mengeluarkan jeritan kaget, tubuhnya ambruk di tanah dengan menderita kesakitan hebat.

“Bagaimana?” tanya Bie Liek dengan suara yang perlahan dan tersenyum manis.

Si Hweeshio murka benar, dia menggerung dengan suara yang keras. Dengan cepat dia melompat bangun

Matanya yang memandang Bie Liek bengis sekali, kemudian dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat lagi akan menyerang si bocah she Bie itu. Dia penasaran sekali tadi kena dirubuhkan oleh Bie Liek.

Bie Liek melihat orang bandel sekali dan malah telah menyerang dengan kalap, si bocah jadi tertawa seorang diri. Sikapnya lucu sekali.

Dia menggeser kedudukan kakinya, kemudian dengan mendoyongkan tubuhnya ia telah mengasih lewat serangan si Hweeshio. Dan disebabkan Hek Houw Hweeshio menyerang dengan kalap maka waktu serangannya itu dapat dielakkan oleh Bie Liek, tubuhnya jadi terjerunuk ke muka.

Si Hweeshio mengeluarkan seruan kaget waktu merasakan tubuhnya sempoyongan. Belum lagi hilang kagetnya, tiba-tiba seruling Bie Liek telah menyambar mengetuk kepala si Hweeshio yang gundul itu, sampai mengeluarkan suara : “Tukkk!” yang keras sekali.

Si Hweeshio merasakan kesakitan yang hebat. Dia meraba kepalanya yang sudah 'bertelur'.

Dengan murka Hek Houw Hweeshio memutar tubuhnya, dia menubruk lagi kepada Bie Liek dengan kalap.

“Eh, eh, kau benar-benar bandel kerbau gundul!!” kata Bie Liek sambil tetap

tertawa. “'Baiklah, kali ini aku akan memberikan pelajaran kepadamu!!” dan Bie Liek mengayunkan serulingnya dengan gerakan yang cepat dan indah sekali, dari kiri disabetkan kekanan, kemudian memutar setengah lingkaran, maka terdengar suara jeritan yang keras dari si Hweeshio.

Tampak Hek Houw Hweeshio menjerit-jerit sambil memegangi pipinya. Mukanya pucat sekali, rupanya dia menderita kesakitan yang hebat sekali.

Bie Liek berdiri ditempatnya sambil tetap tersenyum, sikapnya tenang sekali.

“Bagaimana?” tanya Bie Liek dengan suara yang tenang sekali. “Apakah sekarang

kau merasa dirimu telah sempurna?”

Hek Houw Hweeshio sangat terperanjat memperoleh kenyatan yang begitu luar biasa. Dia sampai mengawasi Bie Liek dengan mata mendelong. Hatinya seperti juga tidak mau mempercayai bahwa seorang bocah seperti Bie Liek dapat mengalahkan dirinya dengan mudah.

Biar bagaimana, hal itu tidak masuk diakal, sebagai seorang jago silat yang telah berpengalaman, tak mungkin Hek Houw Hweeshio dapat dirubuhkan dengan begitu mudah, dengan hanya satu jurus saja.

Tetapi, kenyataan telah terpentang dihadapan Hek Houw Hweeshio, dia tetap memang telah dipecundangi dengan mudah. Dengan sendirinya kesombongan dan kecongkakan dirinya lenyap sebagian besar.

Dengan gesit Hek Houw Hweeshio melompat berdiri.

“Bocah busuk, ilmu siluman apa yang telah kau gunakan?” bentak Hek Houw dengan bengis.

Bie Liek yang sejak tadi masih terdiri sambil menggoyang-goyangkan serulingnya, sikapnya tenang sekali. Dia juga tersenyum dengan manis.

“Toa Suhu bukankah tadi telah kukatakan bahwa di atas dunia ini tidak ada manusia yang sempurna?” kata Bie Liek dengan sabar. “Maka dari itu, aku minta kau mau mengerti perkataanku itu, biarpun siapa saja, tak ada yang sempurna ilmunya. Dia boleh kosen, boleh liehay luar biasa, tetapi suatu hari dia pasti akan terbentur batunya, akan menemui orang yang lebih kosen dari dirinya!”

Mendengar perkataan si bocah yang masih berusia dua belas tahun, si Hweeshio jadi berdiri kesima, dia menatap mendelong ke arah Bie Liek.

Tak masuk di dalam akalnya, bocah yang baru berusia dua belas tahun ini bisa mempunyai alam pikiran begitu.

Runtuhlah kesombongan Hweeshio ini dengan sendirinya, dia menghela napas.

“Habislah! Habislah semuanya!” menggerutu si Hweeshio dengan jengkel. “Hari ini aku bertemu dengan setan cilik yang menggunakan ilmu siluman! Hmmm kalau memang kau menggunakan ilmi silat biasa, tentu aku tak akan menyerah biarpun harus mampus!” Mendengar perkataan si Hweeshio, Bie Liek jadi tertawa kecil. Walaupun masih berusia kecil, toh sikap Bie Liek seperti orang dewasa.

“Rupanya Toa Suhu sangat penasaran sekali!” kata Bie Lek dengan suara yang sabar. “Baiklah! Marilih kita main-main satu dua urus lagi! Aku akan mengalahkan Toa Suhu dengan cara yang Toa Suhu inginkan!”

Mendengar perkataan si bocah, wajah Hek Houw Hweeshio jadi berobah.

“Hmmm apakah kau tidak takut mampus ingin melawanku bertempur secara jujur!” bentak si Hweeshio dengan penasaran sekali.

Si bocah Bie Liek tersenyum lagi dengan sikapnya yang sabar, ia juga menggoyang-goyangkan serulingnya, itu dengan tenang.

“Boleh! Boleh! Memang sejak tadipun aku menggunakan ilmu silat biasa saja! Hanya Toa Suhu yang tidak bisa menangkisnya!” dia menyahuti. “Sebagai seorang Hohan, seorang lelaki sejati, kita harus bersikap jujur selalu! Nah, majulah!”