Gerbang Tengkorak Jilid 01

Jilid 01

AWAN MENDUNG yang tebal mengambang seakan juga bayangan hantu yang akan mencengkeram perkampungan Siong-pie-chung, sebuah perkampungan yang cukup besar dan terletak di pertengahan gunung Siong-san. Butir-butir air juga mulai turun sedikit-sedikit menyirami bumi, seperti juga gerimis itu akan membasahi seluruh perkampungan tersebut dengan genangannya. Udara dingin sekali, lembab dan menusuk ketulang. Inilah disebut cuaca yang buruk. Petir hanya sekali-sekali terdengar, yang paling sering tampak adalah kilatan-kilatan dari petir, sehingga menyerupai jari jemari setan yang akan mencengkeram perkampungan Siong-pie-chung tersebut.

Seorang pemuda tampak berjalan dibawah rintiknya gerimis itu. Dia mengenakan tudung rumput yang lebar, sehingga air hujan tak bisa membasahi dirinya. Langkahnya juga sangat perlahan dan tenang sekali, seperti juga hujan itu tak berarti apa-apa baginya.

Waktu petir berkeredip menerangi sekitar perkampungan Siong-pie chung tersebut, anak muda itu menengadah memandang keatas, sehingga tampak wajahnya yang tampan, karena dia seorang anak muda yang gagah dan baru berusia diantara dua puluh tahun.

Diantara suara rintik-rintik air hujan itu, terdengar anak muda itu menghela napas.

“Suhu memerintahkan aku untuk datang ke Gerbang Tengkorak.” gumamnya dengan suara yang perlahan. “Menurut Suhu, biar apa yang terjadi aku harus tetap dapat memasuki Gerbang Tengkorak itu! Hai, sebetulnya apa maksud Suhu?” dan kembali pemuda itu menghela napas lagi, melanjutkan langkah kakinya perlahan-lahan menyusuri jalan yang akan memasuki perkampungan Siong pie-chung tersebut. Tetapi, waktu dia memasuki sebuah jalan dipermukaan kampung tersebut, anak muda itu menghentikan langkahnya lagi, matanya memain sesaat, dia melirik ke kiri dan ke kanan, sikapnya berwaspada, seperti juga seekor macan yang mengendus bau mangsanya.

“Hmm, tiga orang menguntitku!” gumamnya. “Apa maksud mereka?”

Tetapi sekitar tempat itu tak tampak seorang manusiapun, hanya air hujan yang masih turun. Anak muda itu melanjutkan langkah kakinya dengan penuh kewaspadaan.

Tetapi waktu dia melangkah beberapa langkah ke muka, tiba-tiba dari balik sebuah pohon yang besar dihadapannya, keluar beberapa sosok tubuh yang tinggi tegap, menghadang perjalanan anak muda ini.

Waktu ditegaskan, arak muda itu memperoleh kenyataan bahwa yang menghadangnya itu tiga orang yang mempunyai muka menyeramkan dan bengis. Di punggung ketiga orang itu masing-masing tersoren sebatang golok. Anak muda itu jadi lebih berhati-hati, dia bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi. Dengan langkah perlahan, dia berjalan terus dan jarak antara dirinya dengan ketiga penghadangnya itu semakin dekat juga.

“Anak muda!” terdengar suara dingin dari salah seorang penghadangnya. “Janganlah kau meneruskan perjalananmu? Pergilah kau kembali ke kandang asalmu!”

Anak muda itu mengerutkan alisnya, dengan menggunakan jari telunjuknya dia mendorong sedikit tepi topi rambutnya, sehingga terangkat agak keatas, dan tampak sepasang mata pemuda ini bersinar tajam.

“Siapa tuan-tuan, mengapa mengapa menghadang perjalananku?” tegurnya tidak

senang.

Terdengar salah seorang diantara ketiga orang itu ketawa dingin.

“Kau tidak perlu mengetahui siapa kami,” katanya dengan suara yang tawar. “Kembalilah sebelum kami memaksa dengan kekerasan sehingga kau akan membuang jiwa dengan percuma.”

Anak muda itu tertawa mendengar perkataan orang tersebut.

“Lucu!” katanya tetap tertawa. “Aku dengan tuan-tuan tidak saling kenal mengenal, seperti juga air kali dengan air sungai, mengapa tuan-tuan tak angin tak hujan seperti ingin mencari persoalan dengan diriku!”

“Sreekkk!” secara berbareng ketiga orang itu mencabut golok mereka masing- masing, sehingga golok itu jadi bersinar tertimpah titik-titik air hujan. Wajah ketiga orang tersebut menyeramkan sekali. Bengis. “Kami mengetahui maksudmu akan menuju ke Gerbang Tengkorak, bocah!!” kata salah seorang diantara ketiga orang itu. “Dan tahukah kau, bahwa Gerbang Tengkorak bukanlah suatu tempat pesiar yang indah?”

Anak muda itu ketawa lagi.

“Kau lucu, tuan.” katanya cepat. “Kita saling tak kenal, dan kau telah mengatakan bahwa aku akan pergi ke GerbangTengkorak, seakan-akan kau ini Thian saja yang telah mengetahui sesuatu apapun yang akan terjadi atau dikandung dalam hati seseorang. Kedua kau mengatakan tempat itu tidak indah untuk dijadikan tempat pesiar, apakah itu memang perlu bagiku atau tidak, tidak ada sangkut pautnya dengan diri kalian!! Lagi pula ”

“Jangan banyak rewel bocah!” bentak salah seorang diantara mereka. “Tegasnya

saja kau mau membatalkan perjalananmu atau tidak?!”

Anak muda itu tertawa lagi, dilihatnya ketiga orang itu telah menggerak-gerakkan golok mereka masing-masing dengan sikap yang mengancam.

“Begini saja,” kata anak muda itu kemudian. “Aku akan meneruskan perjalananku,

dan terserah pada kalian, apakah akan diberikan jalan atau tidak!”

“Kurang ajar!!” teriak ketiga orang itu hampir berbareng, nyata mereka murka sekali. Juga mereka bukan mengumpat begitu saja, bukan hanya berteriak saja, karena ketiganya telah melompat dengan mengayunkan golok mereka masing-masing. Cahaya ketiga golok itu berkelebat, dan semuanya menjurus ke tubuh anak muda itu.

Melihat sikap dan kelakuan ketiga orang tersebut, anak muda itu jadi tertawa

dingin.

“Hmmm, kalian terlalu mendesak!” katanya dengan suara yang dingin. “Juga

kalian merupakan manusia-manusia jahat yang telengas sekali! Golok bukan untuk barang permainan!!” dan anak muda itu mengibaskan lengan bajunya waktu golok ketiga penghadangnya itu hampir mengenai tubuhnya.

Hebat kesudahannya dari kebutan lengan baju anak muda itu, karena diantara suara rintik air hujan terdengar suara jeritan yang menyayatkan, tampak dua sosok tubuh rubuh terjungkal, sedangkan genangan air yang terdapat di situ sudah berubah merah, karena tercampur dengan darah.

Anak muda itu berdiri dengan tenang, juga salah seorang diantara ketiga penghadangnya masih berdiri dengan terkesima. Kedua kawan dari penghadang ini ternyata telah berhenti jadi manusia, menghadap ke Giam-lo-ong, karena goloknya sendiri telah kembali makan tuan, kepala mereka yang jadi sasaran terbelah oleh golok mereka sendiri.

Ternyata karena kuatnya kebutan lengan baju anak muda itu yang membentur ketiga golok penyerangnya, maka golok-golok itu telah terpukul terpental dan ketiga orang itu tidak bisa menahan terpentalnya golok mereka masing-masing. Malah yang apes adalah kedua orang penghadang yang binasa itu, karena golok mereka telah terpental menghajar kepala mereka sendiri, sampai mereka terbinasa tanpa mengetahui cara kebinasaan mereka itu, dan yang seorangnya lagi hanya terlepas saja goloknya.

“Bagaimana? Apakah aku masih tak diijinkan untuk meneruskan perjalananku?”

tegur anak muda itu dengan suara yang tenang.

Penghadang yang seorang ini, yang hanya tertinggal dia yang masih hidup, jadi tersadar dari kesimanya. Dia memandang anak muda itu sesaat, kemudian tanpa mengatakan sesuatu apapun, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia memutar tubuhnya dan mementang langkah lebar sekuat tenaga seperti juga dikejar setan, karena dia memang ketakutan sekali, takut di kirim ke neraka oleh anak muda itu, yang kosen sekali serta liehay ilmu silatnya.

Anak muda itu tertawa, dia tidak mengejar, hanya membetulkan letak tudung rumputnya, yang ditekankan agak dalam sedikit sehingga kepalanya itu terlindung dari hawa dingin sang hujan.

Setelah memandang sekilas kepada kedua mayat yang menggeletak didekatnya, dia menghela napas.

“Siapakah mereka ini?” pikirnya. “Mengapa mereka mengetahui tujuanku ke gerbang Tengkorak? Apa maksud mereka?”

Teka-teki itu tidak dapat dipecahkannya, karena ketiga penghadangnya itu memang tidak dikenalnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat, kemudian melanjutkan langkah kakinya memasuki perkampungan Siong-pie-chun, meninggalkan kedua mayat yang masih menggeletak tak bernyawa tertimpah rintik air hujan, yang menggenangi tubuh kedua mayat itu.

Anak muda bertudung rumput itu memang bermaksud akan meneruskan perjalanan ke Gerbang Tengkorak setelah beristirahat sesaat di perkampungan itu.

Sebuah rumah penginapan yang cukup besar disinggahinya. Dia meminta kamar yang bersih kepada seorang pelayan, kemudian dia duduk di ruang tengah rumah penginapan itu dulu untuk menghangati perutnya dengan arak.

Tudung rumputnya dibuka dan diletakkan di atas meja. Tetapi, baru saja tudungnya itu diletakan di meja disisinya, terdengar suara 'brukkk!' tudung rumputnya terpental dan hancur berkeping-keping, karena telah terhajar oleh serangan gelap.

Anak muda itu terkejut, tetapi dia dapat membawakan sikap yang tenang, hanya melirik sedikit dan melompat ke samping untuk berdiri.

Mata anak muda ini juga telah mencilak ke arah datangnya serangan gelap itu,

dilihatnya di sebelah kanan, di mana tampak seorang Hweeshio sedang meneguk arak dengan sikapnya yang acuh tak acuh, di meja lainnya tampak seorang pelajar, Siuchay, sedang makan dengan sikap yang tenang, dan di meja yang sebelah selatan samping pelajar itu, tampak seorang Niekouw, pendeta wanita, sedang memandang padanya dengan mata yang tajam.

Seketika itu juga si anak muda menduga bahwa yang menyerang secara menggelap pada dirinya, tentu si Niekouw itu. Maka, cepat-cepat dia menghampiri Niekouw itu, tetapi baru saja dia melangkah beberapa langkah, tiba-tiba dia merasakan serangkum tenaga serangan yang menyerang ke arah dirinya.

Anak muda ini jadi terkejut, tetapi dia tidak menjadi gugup karenanya. Dengan cepat dia melompat kesamping, matanya yang tajam segera juga mengetahui bahwa yang menyerangnya kali ini adalah si Hweeshio.

Maka itu, selain mencelat keatas untuk mengelakkan serangan orang, juga anak muda ini telah melambung ke arah si Hweeshio, dan sambil mencelat ke arah Hweeshio itu, si anak muda juga telah mengayunkan kedua tangannya kemuka, sehingga dengan cepat tangannya itu kebentur dengan tangan si Hweeshio, maka terdengar suara benturan yang cukup keras, tampak tubuh si anak muda terpental kesamping dan tubuh si Hweeshio tergoncang di atas kursinya.

Hweeshio itu juga mengeluarkan seruan tertahan. Anak muda itu telah berdiri di lantai dengan mata yang tajam sekali.

“Hahahahaha, tak percuma Kie Ceng si tua bangka mendidik kau, rupanya

kepandaiannya telah kau warisi seluruhnya!” kata si Hweeshio tiba-tiba sambil berdiri.

Anak muda itu terkejut waktu mendengar si Hweeshio menyebut nama gurunya. Kie Ceng Siansu adalah gurunya. Maka cepat-cepat anak muda itu merangkapkan tangannya, dia menjura kepada si Hweeshio.

“Siapakah Taysu?!” tanyanya cepat. “Bolehkah Boanpwee mengetahui gelaran Taysu yang mulia!”

Si Hweeshio tertawa lagi, dia memandang si anak muda dengan mata yang tajam.

“Hm, kau si angkatan muda telah berani membentur diriku, itulah termasuk suatu keberanian yang seharusnya dipuji!” kata si Hweeshio, dia juga berdiri dari duduknya. “Tapi karena aku telah bersumpah, biar bagaimana murid Kie Ceng harus dibinasakan dibawah tanganku, mau tak mau aku harus membunuhmu?!'

Wajah anak muda itu jadi berobah, tetapi dia masih berusaha untuk membawakan sikapnya yang tenang, karena mengingat orang dari angkatan tua, yang tentunya kalau bukan kawan gurunya, pasti musuhnya. Kembali anak muda itu menjura kepada si Hweeshio.

“Boanpwee Khu Hie memang benar murid Kie Ceng Insu, dan kalau memang Boanpwee boleh mengetahui, sebetulnya antara Taysu dengan Insu ada hubungan apa?” “Hmmm, kau kurcaci cilik tak patut kau mengeluarkan pertanyaan begitu, karena urusan orang-orang tua seperti kami tak patut kau ketahui! Hanya, sekarang kau bersiap- siap untuk menerima kebinasaanmu!!” Waktu berkata begitu, wajah si Hweeshio jadi berubah menyeramkan.

Si anak muda yang mengaku bernama Khu Hie, jadi mengerutkan alisnya.

“Boanpwee tidak berani berlaku kurang ajar!” berkata anak muda she Khu itu “Kalau memang Taysu sahabat dari Insu, guru yang berbudi, maka walaupun

harus menerima kematian, Boanpwee tentu tidak berani kurang ajar kepada Taysu, tetapi

kalau. ”

Belum lagi Khu Hie menyelesaikan perkataannya ini, si Hweeshio telah tertawa keras, memekakkan anak telinga bagi yang mendengarnya.

“Kau bocah cilik, ternyata telah dididik oleh Kie Ceng bukan di dalam hal ilmu silat saja, lidahmu pun telah dididik jadi berbelit-belit!!” Bagus! Bagus! Terimalah ini!” teriak si Hweeshio sambil mengibaskan lengan jubahnya yang gedombrongan.

Khu Hie merasakan angin serangan yang di kirim oleh si Hweeshio sangat kuat sekali, sehingga diajadi terkejut juga. Cepat-cepat dia mengerahkan tenaga Lweekangnya di tangan, kemudian disalurkan ke lengannya, dan dia mengangkat tangannya, sehingga tangannya itu membentur angin serangan yang di kirim oleh si Hweeshio menimbulkan suara “Dukkk!” yang keras, tampak kedua orang tersebut jadi terhuyung-huyung mundur beberapa langkah ke belakang.

Sedangkan Khu Hie terhuyung kebelakang beberapa langkah, tiba-tiba Niekouw yang sejak tadi duduk berdiam diri, telah melompat dan mengayunkan tangannya menyerang Khu Hie.

Anak muda she Khu itu jadi terkejut, dia sedang terhuyung dan kuda-kudanya tergempur oleh serangan si Hweeshio, maka hebat kalau dia sampai tidak bisa menangkis serangan Niekouw itu yang datangnya cepat luar biasa.

Maka itu, dengan nekad, anak muda itu telah mengeluarkan suara seruan yang panjang, lalu dengan sebat dia mengibaskan tangannya yang kebentur dengan ujung jubahnya si Niekouw, lalu dengan mengeluarkan Kim Kong Ciu, tangan arhad emas, si anak muda she Khu itu merangkapkan tangannya.

Niekouw itu jadi terkejut luar biasa. Dia tidak menduga sebelumnya bahwa si anak muda she Khu itu telah sempurna ilmu silatnya. Maka disaat ujung jubahnya kena dilibat oleh anak muda itu, dengan cepat dia menariknya. Tetapi untuk kagetnya, dia tidak dapat menarik pulang ujung jubahnya, karena seperti juga telah dikacip oleh kedua tangan anak muda itu.

Maka si Niekouw jadi mengeluarkan seruan tertahan. Untuk kagetnya lagi, tiba- tiba si anak muda mencelat tinggi, dan sebelum si Niekouw tahu apa-apa, tangan anak muda itu telah bergerak akan menggebrak kepala si Niekouw. Niekouw itu jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi dia tidak berhasil untuk mengelakkan serangan anak muda itu, karena ujung jubahnya telah terkacip, maka dia dapat menyaksikan datangnya serangan orang dengan mata mendelong lebar dan hati mencelos.

Namun disaat jiwa si Niekouw sedang terancam oleh bahaya kematian, tiba-tiba berkelebat sesosok tubuh yang menerjang ke arah anak muda she Khu itu, dengan kecepatan yang luar biasa, bayangan itu sudah menangkis serangan Khu Hie, sehingga anak muda itu terpental dan bayangan yang menalangi menangkis serangan si anak muda She Khu terhadap Niekouw itu jadi jatuh ambruk di lantai.

Si Niekouw jadi tertolong, begitu dia merasakan libatan tangan Khu Hie pada ujung jubahnya terlepas, cepat-cepat dia menjejakkan kakinya mencelat menjauhi, dan setelah dia dapat berdiri tetap, barulah dia dapat melihat bahwa yang telah menolong dirinya adalah si Hweeshio, yang kala itu masih duduk mendeprok di lantai. Sedangkan Khu Hie sendiri tengah berbangkit perlahan-lahan, mata anak muda she Khu itu memancarkan cahaya yang tajam luar biasa.

Khu Hie sendiri jadi mendongkol sekali, karena tidak hujan tidak angin berulang kali beberapa orang yang tidak dikenalnya telah menyerangnya dengan hebat.

Lebih-lebih kepada Hweeshio yang tidak dikenalnya itu, yang berulang kali menyebut nama gurunya, maka Khu Hie jadi heran kepada Hweeshio itu.

Kalau memang dilihat dari ilmu silatnya, si Hweeshio itu tidak berada disebelah bawah dari dirinya, tetapi berhubung orang menyerang dia dengan serangan-serangan yang mematikan, maka mau atau tidak Khu Hie harus mempertahankan diri dengan sekuat kemampuannya.

Pada saat itu si Hweeshio juga telah bangun berdiri. Matanya memancarkan cahaya yang bengis sekali.

“Bocah setan, kali ini jangan harap kau dapat meloloskan dirimu dari kematianmu di tangan Hudya!!” bentak Hweeshio dengan murka.

Tetapi si anak muda she Khu itu tidak jeri melihat kemurkaan si Hweeshio, dia ketawa dingin.

“Kau sebagai seorang beribadah, tetapi lagakmu seperti pengemis-pengemis edan!!” balas memaki anak muda she Khu itu. “Hmmm kalau memang kau sebagai orang yang welas-asih, tentu kau akan berani menyebutkan gelaranmu!!”

Muka si Hweeshio jadi berubah merah padam, dia murka bukan main.

“Lolap adalah Hui In Hweeshio, dan pada tiga puluh tahun yang lalu gurumu

memang mempunyai rezeki yang lebih besar, sehingga dapat mengalahkan diriku! Tetapi Kie Ceng adalah manusia yang tidak bertanggungjawab, setelah dia memenangkan

perlombaan ini, mengapa dia tidak mau menikahi Siauw Nie?”

Khu Hie jadi bingung mendengar perkataan si Hweeshio yang tidak keruan juntrungannya itu. Namun sebagai seorang anak muda yang cerdas, maka dia segera juga dapat menduga bahwa antara si Hweeshio dengan gurunya tentu terdapat sesuatu persoalan yang rumit yang tentunya mempunyai persoalan tersendiri.

“Apa maksud perkataan Taysu itu?” tanya Khu Hie masih dengan suara yang sabar, karena dia mengingat bahwa orang golongan angkatan tua, karena si Hweeshio kenal dengan gurunya. “Dan mengapa Taysu mengatakan Insu Kie Ceng Siansu tidak bertanggung jawab?''

Hweeshio itu yang mengaku bergelar Hui In Hweeshio, ketawa dingin.

“Kau bocah busuk, mana tahu urusan gurumu si tua bangka Kie Ceng itu?” bentaknya. “Yang penting, kau harus mampus di tangan Hudya, untuk menebus dosa gurumu!!” dan setelah berkata begitu, setelah membentak dengan suara yang mengguntur, tubuh si Hweeshio telah mencelat lagi akan menyerang.

Melihat itu, si anak muda she Khu telah membentak dengan suara yang keras.

“Tahan!” tubuh juga mencelat ke belakang untuk menjauhi.

Si Hweeshio menahan serangannya, matanya mencilak bengis dan menakutkan.

“Apa kau jeri mampus?” bentak si Hweeshio dengan suara yang mengguntur. “Coba Taysu terangkan  dulu persoalan  Insu dengan  dirimu, kalau  memang

ternyata Insu bersalah, biarlah Boanpwee yang akan menyatakan maafnya untukmu!!”

kata Khu Hie.

Si Hweeshio ketawa dingin mengejek.

“Hmm apakah kau pantas untuk mewakili gurumu menyatakan maafnya kepadaku?” bentak si Hweeshio dengan suara menggeledek, lalu dengan membarengi habisnya perkataan si Hweeshio itu, dia menyerang dengan hebat, tubuhnya menerjang dengan disertai oleh tenaga serangan yang kuat sekali.

Kho Hie melihat orang tidak bisa diajak bicara, jadi mendongkol juga. Waktu dilihatnya orang telah menyerang, dia cepat-cepat memasang kuda-kudanya. Maka di saat Khu Hie menangkis serangan si Hweeshio, hebat kesudahannya.

Mereka bedua merasakan tangan mereka seperti juga tergetar dan nyeri sekali, dan masing-masing melompat ke belakang untuk saling menjauhi. Tetapi belum lagi Khu Hie dapat berdiri tetap, si Niekouw telah lompat menyerang lagi.

Hal ini membuat Khu Hie jadi mendongkol bukan main, maka dengan mengeluarkan seruan yang panjang, yang diiringi oleh tenaga Lweekang yang kuat ke tangannya, dia menangkis serangan si Niekouw. Lagi pula Khu Hie bukan hanya menangkis saja, tangan kirinya telah bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, dia menyerang ke arah perut Niekouw itu, sehingga mau tidak mau Niekouw itu harus melompat mundur untuk menghindarkan serangan si anak muda she Khu itu.

Khu Hie jadi berdiri berhadapan dengan Niekouw dan Hweeshio itu. Untuk sesaat lamanya mereka jadi tidak saling menyerang lagi.

Tiba-tiba dengan tidak terduga terdengar suara tertawa yang halus, diiringi oleh kata-kata : “Bagus! Bagus! Dua orang pertapaan melawan seorang anak muda! Bagus!!” dan tampak si Siuchay, pelajar, yang tadinya duduk di dekat meja si Hweeshio, telah bangun berdiri dan menghampiri dengan langkah perlahan dan sikap yang tenang.

Semua orang, Khu Hie, si Hweeshio Hui In, dan s Niekouw jadi menoleh. Begitu melihat si pelajar, Hweeshio Hui In dan si Niekouw jadi berobah mukanya, dia melompat kesamping dan berdiri di situ dengan menghormat.

Sedangkan Khu Hie yang tidak mengenali siapa anak muda yang berpakaian sebagai seorang pelajar itu, jadi heran, dia hanya menatap saja.

Siuchay itu telah berjalan sampai di hadapan Khu Hie.

Dia merangkapkan tangannya memberi hormat kepada anak muda she Khu itu, juga dia merangkapkan tangannya sambil tersenyum manis.

“Hak-seng menyatakan maaf atas kekurang ajaran orang-orangku itu!” berkata si pelajar dengan suara yang lembut, dia membahasakan dirinya dengan sebutan Hak-seng yang berarti murid, suatu perkataan yang merendah. “Kalau memang Heng thay masih mempunyai urusan, silahkan meninggalkan mereka!”

Khu Hie jadi heran melihat cara dan bicara anak muda berpakaian pelajar itu.

“Siapakah nama tuan yang besar?' tanyanya dengan cepat.

“Hak-seng kira nama yang kecil itu tidak berarti apa-apa bagi Heng thay, saudara.” Kata si pelajar. “Nah kita sampai jumpa lagi dilain saat!!” Kemudian si pelajar menoleh kepada si Hweeshio dan Niekouw, dia mengibaskan lengan bajunya, maka kedua orang beribadah itu mengikuti di belakangnya.

Khu Hie sangat bingung, tetapi dia tidak mencegah kepergian orang. Dia hanya mengawasi saja. Tetapi waktu sampai didekat pintu keluar, si pelajar menoleh kepada Khu Hie.

“Bukankah Hengthay akan menuju ke Gerbang Tengkorak?” tanyanya dengan

suara yang tetap perlahan, ramah.

Kembali Khu Hie terkejut orang mengetahui tujuannya. Dia tidak menyahuti, hanya mengangguk saja.

Si pelajar juga tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya tertawa, kemudian berlalu. Khu Hie menghela napas panjang, dia kembali ke mejanya dengan kepala yang pusing memikirkan persoalan-persoalan yang baru saja dihadapinya.

Selama dalam perjalanannya menuju ke Gerbang Tengkorak itu, entah sudah berapa banyak orang yang menghadang perjalanannya, dan umumnya mereka semua mengetahui bahwa dia sedang menuju ke Gerbang Tengkorak.

Khu Hie sendiri jadi bingung tidak mengetahui siapakah sebenarnya orang itu yang telah mengetahui keadaan dirinya dan tujuannya. Tetapi sebagai seorang yang berani dan cerdas, Khu Hie tidak jeri, dia memang akan melanjutkan terus perjalanannya ke Gerbang Tengkorak itu, walaupun kejadian yang luar biasa apapun sedang menantinya di sana. Perintah gurunya biar bagaimana harus dilaksanakan.

Para pelayan rumah penginapan itu yang sejak tadi bersembunyi, waktu melihat pertempuran telah selesai, mereka baru berani keluar.

Dan, mereka jadi melayani Khu Hie dengan hormat sekali. Salah seorang di antara mereka telah mengambilkan tudung rumput si anak muda yang telah hancur berantakan.

Khu Hie memerintahkan pelayan itu untuk membuangnya saja, dia segan melayani pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para pelayan itu, maka dia lantas masuk ke dalam kamarnya untuk tidur, mengaso mengumpulkan tenaga.

GERBANG TENGKORAK adalah semacam goa yang bentuknya mirip kepala tengkorak manusia. Letaknya di sebelah selatan di kaki gunung Siong-san, dan di tempat tersebutlah terjadi hal-hal yang luar biasa dan menyeramkan.

Penduduk kampung-kampung yang berdekatan dengan Gerbang Tengkorak pasti tidak akan berani berjalan diwaktu senja didekat Gerbang Tengkorak tersebut, karena siapa saja yang berani mendekati Gerbang Tengkorak sedekat tujuh lie, orang tersebut tidak akan kembali lagi ke rumahnya, akan lenyap tidak keruan parannya, tidak diketahui mati hidupnya.

Di Gerbang Tengkorak tersebut, sering terjadi pertempuran seru diantara tokoh- tokoh rimba persilatan yang tidak mau mempercayai cerita-cerita penduduk kampung itu, mereka tetap berkeras ingin mengunjungi goa yang disebut sebagai Gerbang Tengkorak itu, namun akhirnya dengan lenyapnya pendekar itu, karena dia tidak kunjung kembali lagi.

Hari demi hari orang-orang yang menjadi penduduk kampung disekitar Gerbang Tengkorak tersebut semakin tebal kepercayaan mereka akan adanya 'penunggu' di Gerbang Tengkorak tersebut, dan mereka tidak berani mendekati tempat itu. Semakin lama tempat itu jadi lebih mirip tempat 'keramat’ yang tidak berani diinjak oleh kaki manusia, yang menyebabkan goa yang disebut Gerbang Tengkorak dan daerah sekitarnya dari hari ke hari semakin sunyi tidak tampak seorang manusiapun. Begitupun dengan Khu Hie, dia telah mendengar cerita-cerita tentang Gerbang Tengkorak tersebut dari penduduk kampung Siong-pie-chung. Tetapi Khu Hie tidak mau mempercayai semua keterangan-keterangan yang diperolehnya.

Walaupun di goa yang disebut oleh penduduk kampung yang berdekatan dengan goa itu sebagai Gerbang Tengkorak terdapat penunggunya Iblis yang bengis dan kejam, toh Khu Hie tidak bisa membatalkan perjalanannya, karena perjalanan yang dilakukannya ini semua atas perintah gurunya, yaitu Kie Ceng Siansu .

Maka, biarpun di Gerbang Tengkorak itu terdapat bahaya yang menantinya, tetap saja Khu Hie harus menuju ke tempat itu, mendatangi untuk mengambil sesuatu barang yang telah diperintahkan oleh Kie Ceng Siansu untuk diambilnya dibawa pulang ke rumah perguruannya.

Khu Hie adalah murid tunggal diri Kie Ceng Siansu, seorang Hweeshio penunggu kuil Am-ceng-sie, dan sebagai murid tunggal, menjelang ulang tahun ketujuh puluh tiga tahun dari gurunya, Khu Hie memperoleh perintah untuk mengambil semacam buah Siang-tho yang tumbuh di dalam goa yang disebut Gerbang Tengkorak.

Maka tanpa banyak bertanya lagi Khu Hie melakukan perjalanan untuk memenuhi permintaan gurunya itu.

Dan selama dalam perjalanan Khu Hie mengalami banyak rintangan yang membingungkan dirinya. Tapi sebagai seorang anak muda cerdas dan berkemauan keras, Khu Hie tetap tidak membatalkan perjalanannya itu, dia tetap melakukan perjalanannya itu dengan penuh keyakinan untuk memperoleh buah Siang-tho yang menjadi permintaan gurunya untuk hadiah ulang tahun Kie Ceng Siansu yang ketujuh puluh tiga tahun, yang akan sampai pada tiga bulan yang akan datang.

Begitulah, menjelang pagi hari, Khu Hte telah melanjutkan perjalanannya dari kampung Siong-pie-chung. Jarak antara Gerbang Tengkorak dengan kampung tersebut sudah tidak jauh lagi, hanya terpisah tiga puluh lie lebih, dan dengan melakukan perjalanan satu hari lagi, Khu Hie tentu sudah sampai di goa yang disebut Gerbang Tengkorak tersebut.

Kali ini, selama dalam perjalanan itu, Khu Hie tidak mengalami rintangan lagi.

Malah setelah menjelang tengah hari, tetap saja anak muda si Khu ini tidak memperoleh rintangan. Hal ini menggirangkan Khu Hie, karena semakin cepat dia dapat berkumpul kembali dengan gurunya.

Maka, Khu Hie jadi semakin bersemangat dan mempercepatkan langkah kakinya.

Di dalam waktu yang singkat sekali, disaat menjelang lohor, dia telah sampai dilambung gunung, dan dengan hanya melalui perjalanan empat atau lima lie lagi, dia akan sampai dikaki gunung. Untuk menghilangkan perasaan letihnya, Khu Hie berdiri disebuah batu gunung yang menjorok keluar. Dia lalu duduk di situ memandang keindahan gunung Siong-san, yang memang sudah terkenal sejak ribuan tahun yang lalu.

Tanpa disadarinya Khu Hie jadi bersenandung dengan suara yang perlahan, menyaksikan akan keindahan gunung tersebut :

“Pit dan kertas menceritakan,

Siong-san merupakan gunung yang indah, Yang-liu dan Kang-liu telah bergerak melambai, Air terjun bagaikan sutra Kongho, Menyebabkan bidadari turun mandi, Menyebabkan dewata memuji keindahan, Kopiah dengan emasnya,

Siong-san dengan pohonnya dan keindahannya. Semuanya sama.

Dan, Thian yang menciptakannya.”

Itulah syair dari pujangga Kong-hie-chung-cay, yang hidup pada tiga ribu empat ratus tahun yang lalu, dimana dia terkenal sebagai seorang penyair yang mempunyai nama besar dan berpengaruh, karena Kong-hie-chung-cay masuk termasuk famili raja Ming-sung, yang tegasnya masih termasuk keluarga kerajaan. Setiap coretan pitnya, akan menjadi perhatian rakyat dan akan menjadi bahan perdebatan diantara orang-orang cerdik-pandai.

Setelah dia meninggal, maka semua syair-syair yang diciptakannya itu, disimpan di dalam tempat peninggalan barang-barang kerajaan, siapa saja yang tidak mempunyai hubungan dengan keluarga kerajaan pasti tidak dapat menikmati lagi hasil karya diri pujangga besar itu.

Dan Khu Hie sendiri sampai dapat membawakan syair itu, karena gurunya, Kie Ceng Siansu, mempunyai buku peninggalan dari Kong-hie chung-cay, di mana termuat seribu empat puluh tujuh syair-syair yang dibikin oleh pujangga besar itu, dan keseluruhannya telah dihafalkan oleh Khu Hie dan diingatnya di luar kepala.

Sedang si anak muda she Khu tersebut ditenggelamkan oleh keindahan pemandangan gunug Siong-san dan sekitarnya itu, tiba-tiba telinganya yang tajam sekali mendengar suara keresekan yang mencurigakannya. Sebagai seorang ahli silat yang telah sempurna kepandaiannya, dan juga tajam sekali pendengarannya, dia mengetahui bahwa dirinya ada yang intai.

Tanpa mencurigakan, tanpa memperlihatkan gerakan-gerakan yang mencurigakan, Ku Hie berdiri perlahan-lahan.

Didengarnya sekali lagi suara keresekan yang perlahan.

Dan, disaat dia mendengar suara keresekan yang terakhir inilah, dia sudah mengetahui dimana letak orang yang sedang mengintainya itu. Dengan tidak terduga, dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dan kedua tangannya diulurkan keatas sebuah pohon yang tidak jauh dari dirinya.

Terdengar suara seruan tertahan dan tampak sesosok tubuh melompat turun dari atas pohon itu.

Waktu Khu Hie telah turun ke bumi lagi, dia melihat bahwa orang yang baru melompat dari atas pohon itu adalah seorang pengemis tua yang sedang memandang dirinya dengan sinar mata mengejek dan mulutnya ketawa hahaha hehehe.

“Siapa kau Lookay?” tegur Khu Hie dengan suara yang agak keras, karena dia

memang mendongkol tadi orang telah mengintainya dengan cara sembunyi-sembunyi.

“Bagus! Bagus! Ternyata kau memang mempunyai kepandaian yang lumayan!!” kata si pengemis tetap masih tertawa hahaha-hehehe. “Hmmm tetapi biar bagaimana kau tidak boleh menginjakkan kakimu di Gerbang Tengkorak!!”

Dan setelah berkata begitu, si pengemis mencelat menubruk Khu Hie dengan gerakan yang cepat luar biasa, kedua tangannya juga diulurkan akan mencengkeram bahu si anak muda she Khu dengan disertai oleh tenaga dalam yang tinggi sekali.

Khu Hie sendiri memang sudah menduga sebelumnya bahwa si pengemis pasti seorang yang mempunyai kepandaian tinggi, tetapi toh dia terkejut juga melihat cara menyerang si pengemis, karena selain cepat, serangan itu mengandung tenaga serangan yang hebat sekali.

Maka dari itu, Khu Hie tidak berani main-main lagi dan tidak berani berlaku ayal, dengan cepat dia menggeser kakinya, dia menyelinap ke kanan, kemudian dengan cepat tangannya diulurkan akan merabuh iga si pengemis.

Si pengemis sendiri tidak menduga orang akan melakukan gerakan yang berani begitu macam, karena tadinya dia menduga anak muda ini pasti akan mengelakkan diri dari serangannya dengan melompat mundur.

Dan, disebabkan serangan balasan dari Khu Hie di luar dugaannya, mau tak mau si pengemis jadi harus melompat mundur.

Namun biar bagaimana dia adalah seorang jago, maka dia tidak melompat untuk melarikan diri, melainkan untuk membalas menyerang si anak muda she Khu itu lagi.

Tangan kirinya disodokkan ke arah ulu hati Khu Hie, sedangkan tangan kanannya dipakai untuk mencengkeram kepala lawan, maka hebat ancaman bahaya yang mengancam si anak muda she Khu itu, karena begitu terkena serangan si pengemis, pasti tidak akan ada ampunnya lagi bagi jiwanya!

Tetapi Khu Hie sendiri telah dididik oleh Kie Ceng Siansu di dalam berbagai ilmu silat. Tidak percuma Kie Ceng Siansu telah menyia-nyiakan waktunya selama sepuluh tahun untuk mendidik anak muda ini, karena Khu Hie telah dapat memperhitungkan bahaya yang datang padanya itu. Dengan cepat anak muda she Khu tersebut telah menggeser kakinya, tangannya digerakkan dengan cepat, maka tahu-tahu tubuhnya telah berada di belakang si pengemis, dan : “Dukkk!” punggung pengemis itu kena dihajarnya dengan telak, sampai pengemis itu terjerunuk kemuka beberapa langkah sambil mengeluarkan seruan tertahan.

Khu Hie sendiri tidak menyerang lagi, dia hanya memandang ke arah si pengemis, yang kala itu sudah memutar tubuhnya membalik menghadapi si anak muda she Khu itu.

“Bocah!!” bentak si pengemis dengan suara yang keras dan bengis, mukanya juga berobah menyeramkan dengan pancaran cahaya matanya yang tajam sekali. '“Kau memang mempunyai kepandaian yang lumayan, tetapi jangan harap kau dapat menginjakkan kakimu di Gerbang Tengkorak! Aku Sin Ciu Lookay tidak akan melupakan hadiahmu pada hari ini!!” dan setelah berkata begitu, setelah mendelik sekali lagi kepada Khu Hie, si pengemis memutar tubuhnya. Dengan beberapa kali mengenjotkan tubuhnya, maka, mencelatkan dia meninggalkan tempat itu.

Khu Hie tidak mengejar, dia hanya mendengus.

Dijatuhkan dirinya di batu yang menjorok itu untuk duduk di situ. Dia mengaso sesaat, kemudian setelah letihnya lenyap, anak muda Bhe Khu tersebut melanjutkan perjalanannya lagi.

Semakin dekat dia dengan Gerbang Tengkorak, maka semakin sepi. Sejauh dan selama itu, dia tidak pernah berjumpa dengan seorang manusiapun.

Pula suasana didaerah itu sangat sepi dan menyeramkan sekali.

Tetapi Khu Hie tidak takut, dia maju terus, hanya untuk menjaga sesuatu kemungkinan dan bokongan dari lawan, dia bersiap-sedia.

Pedangnya yang tergemblok dipunggungnya juga dibenarkan letaknya, agar mudah jika dia menghadapi sesuatu bahaya untuk mencabutnya.

Waktu si anak muda she Khu tersebut berjalan dengan penuh kewaspadaan, tiba- tiba dia melihat sesuatu yang membikin darahnya jadi berdesir. Tak jauh dari tempatnya tergeletak sesosok tubuh.

Khu Hie mementang matanya lebar-lebar untuk melihat lebih tegas, dia memperoleh kenyataan tubuh orang itu telah digenangi oleh cairan merah, yang ternyata bukan lain dari darah merah yang segar! Cepat-cepat Khu Hie menghampiri.

Dia melihat yang menggeletak itu ternyata seorang lelaki tua. Kalau dilihat dari cara berpakaiannya, tentunya orang ini adalah jago silat yang mempunyai kepandaian tinggi. Khu Hie memandang sekeliling tempat itu, tetapi dia tidak melihat manusia lainnya. Diperiksanya tubuh mayat itu, ternyata orang tersebut binasa disebabkan tiga tusukan pedang tepat dijantungnya!! Khu Hie jadi heran berbareng bingung, dia tidak tahu siapakah orang ini.

Tetapi sebagai seorang jago yang biasanya mengamalkan budi kebaikan, Khu Hie tidak tega untuk meninggalkan mayat itu menggeletak begitu saja. Dengan menggunakan pedangnya dia menggali tanah di situ, agak dalam sedikit, kemudian mengubur mayat itu.

Setelah selesai melakukan pekerjaannya itu, dia bermaksud melakukan perjalanannya lagi. Tetapi tiba-tiba dia melihat dikejauhan dari tempatnya berada, di atas sebatang pohon, tergantung sesosok tubuh.

Cepat-cepat Khu Hie mencelat untuk melihat kesana, karena diduganya bahwa itu tentu orang yang sedang mengintai dirinya dan yang menjadi pembunuh dari orang yang baru saja dikuburnya.

Tetapi begitu sampai di atas pohon itu, anak muda she Khu tersebut jadi mengeluarkan seruan tertahan. Mengapa?

Ternyata sosok tubuh itu bukan manusia hidup, melainkan mayat yang sudah membeku dingin! Malah yang membikin bulu tengkuk Khu Hie jadi agak meremang berdiri, orang itu biarpun sudah binasa dan tidak bernapas toh mulutnya masih tertawa lebar!! Muka mayat itu menyeramkan sekali.

Khu Hie jadi memutar otaknya dengan pusing, dia tidak mengerti, mengapa dia bisa menjumpai begitu banyak mayat?! Tetapi, akhirnya dia membuka tali pengikat pada mayat itu, dia membawa mayat itu turun dari atas pohon yang cukup tinggi itu.

Khu Hie kembali menggali tanah. Mayat itu dikuburnya didekat kuburan pertama, dan dengan memakan waktu yang cukup agak lama, akhirnya selesai juga Khu Hie menanam mayat yang satunya itu.

Setelah selesai dengan pekerjaannya itu, Khu Hie memandang sekeliling tempat itu. Dia tidak mendapatkan mayat lainnya.

Anak muda ini jadi mau menduga bahwa kedua orang yang telah menjadi mayat yang ditemuinya itu tentunya akan menuju ke Gerbang Tengkorak, hanya telah kena dibinasakan oleh orang-orang yang sama dengan penghadang-penghadang Khu Hie.

Dengan hati yang bingung dan dipenuhi oleh tanda tanya, Khu Hie rnelanjutkan perjalanannya lagi. Waktu mendekati senja, dia masih tidak menemui sesuatu hal yang aneh lagi.

Tetapi, waktu dia tiba dimuka sebuah hutan yang agak lebat, dibawah sebuah pohon dilihatnya duduk seorang kakek-kakek memakai tudung kepala sedang duduk dibawah sebuah pohon yang besar. Mungkin kakek yang berpakaian sebagai penebang

kayu itu sedang beristirahat atau sedang tertidur disebabkan letihnya. Cepat-cepat Khu Hie menghampirinya. Dengan merangkapkan tangannya, Khu Hie memberi hormat kepada orang itu.

“Loopek!!” panggilnya dengan suara yang nyaring.

Tetapi orang itu masih terus terdiam, tubuhnya tidak bergerak.

“Loopek! Aku yang muda ingin menanyakan sesuatu kepadamu!!” kata Khu Hie

lagi dengan suara yang nyaring.

Tetapi orang itu tetap tidak menyahuti dan tidak terbangun dari tidurnya. Tiba- tiba darah Khu Hie mendesir, dia teringat sesuatu. Tetapi dia masih tidak mempercayai perasaan dan bisikan hati kecilnya itu, dia mengulurkan tangannya sedikit, dan tubuh orang itu terguling!

Ternyata pikirannya benar! Orang itu telah menjadi mayat! Malah yang hebat, Khu Hie melihat orang itupun mati dengan mulut menyeringai tertawa menyeramkan!!

Khu Hie berdiri kesima dan terpaku sesaat, tetapi akhirnya sambil menghela napas, dia mencabut pedangnya, dia menggali tanah lagi untuk mengubur mayat itu.

Setelah selesai mengubur mayat orang yang tidak dikenalnya itu, dia meneruskan perjalanannya.

Dikala hari mulai menjelang gelap, maka Khu Hie sampai ditempat tujuannya. Dia berada dikaki gunung Siong-san dan dia berada di muka sebuah goa yang besar, yang bentuknya mirip menyerupai kepala tengkorak manusia.

Keadaan sekitar tempat itu sangat sepi.

“Pesan Suhu, Sian-tho berada tiga depa dari sebuah kanan goa itu. Masuk tujuh langkah, lalu mundur satu langkah dan melompat empat tombak, kemudian lalu maju lagi empat langkah, maka terdapat sebuah pintu, dari situ melangkah tujuh belas langkah, dengan mengikuti titik bayangan sendiri, akan tampak sebuah pohon dan pohon itulah yang harus kubawa pularg untuk dipersembahkan kepada Suhu!” pikir Khu Hie sambil melangkah mendekati goa itu.

Keadaan goa itu sangat gelap sekali, karena haripun sudah menjelang malam. Dengan berani Khu Hie melangkah maju kedepan.

Tetapi, baru saja dia tertinggal lima depa dari lobang goa itu dia mendengar suara bentakan yang bengis luar sekali : “Bocah! Lebih baik kau kembali untuk menyusu pada gurumu! Kalau memang kau membandel, hmmmm, kepalamu itu tidak akan dapat diselamatkan lagi!”

Tetapi Khu Hie sangat berani, dia hanya merandek sejenak waktu mendengar bentakan itu, setelah mana dia melangkah lagi mendekati pintu goa tersebut. tajam. Belum lagi Khu Hie mendekati pintu goa itu, tiba-tiba mendesir angin-angin yang

Khu Hie tahu bahwa dirinya diserang oleh senjata rahasia, maka cepat-cepat dia menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat tiga tombak, kemudian waktu dia turun ke tanah lagi, dia mengibaskan tangannya, menimbulkan serangkum angin serangan yang kuat menyambar ke arah sekelompok jarum-jarum rahasia yang diserangkan kepada dirinya.

Dengan berbuat begitu, Khu Hie dapat menyelamatkan diri, karena jarum-jarum maut yang menyambar secara menggelap itu dapat dialihkan tujuan dan sasarannya.

Namun, baru saja kaki Khu Hie dapat menginjak tanah, telah menyambar lagi beberapa senjata rahasia.

Khu Hie melakukan hal seperti di atas, dia mengibaskan tangannya lagi.

Tetapi kali ini dia jadi kecele dan terkejut, karena dengan tidak terduga yang menyambar itu adalah senjata peledak yang berbahaya sekali, begitu kena terbentur oleh tenaga dalam Khu Hie, senjata itu meledak!

Hati Khu Hie mencelos, tetapi sebagai seorang jago yang kosen, dia tidak menjadi gugup, dia membuang diri ke samping kanan, dia bergulingan menjauhi sehingga dia terhindar dari pecahan bahan peledak itu.

Belum lagi Khu Hie berdiri, telah terdengar suara tertawa gelak-gelak, dibarengi oleh perkataan : “Hmm.........itu baru pelajaran yang ringan, kalau memang kau keras kepala dan mau memasuki juga Gerbang Tengkorak ini, hmm, aku tidak akan berlaku kasihan lagi kepadamu! Cepatlah menggelinding dari tempat ini!”

Khu Hie bangun berdiri dengan murka, matanya memandang sekitar tempat itu.

“Siapa kau? Kalau memang kau seorang jantan, keluarlah untuk saling

berhadapan, guna menentukan, siapa diantara kita yang terkuat!” bentak Khu Hie.

Terdengar suara tertawa yang menyeramkan, dan suasana pada saat itu benar- benar mengerikan karena selain cuaca sangat gelap, pula suara tertawa orang itu seperti juga tangisan hantu.

“Bocah edan! Apakah kau mempunyai kepala tujuh dan tangan empat belas sehingga kau berani mengeluarkan perkataan itu?” terdengar suara bentakan yang keras. “Hmmm, baik, baik! Kalau memang kau sudah bosan hidup, aku akan membantumu untuk mengirim kau ke neraka!”

Khu Hie sangat mendongkol dan murka sekali. Dia memang seorang anak muda yang berani dan tabah, maka dia tidak mundur oleh ancaman orang itu.

Malah dengan berani sekali Khu Hie telah maju beberapa langkah kedepan menghampiri goa Gerbang Tengkorak itu. Dia melangkah beberapa langkah kemuka, kemudian dengan tiba-tiba dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melambung tinggi sekali, dia mengeluarkan tangannya menjambret tepi pintu goa itu, sehingga tubuhnya menggelantung di situ.

Terdengar orang tertawa dingin, dibarengi dengan menyambarnya beberapa macam senjata rahasia terhadap diri Khu Hie.

Tetapi anak muda she Khu itu telah memperhitungkan semua tindakannya. Dia telah melihat bahwa orang selalu menyerang dari sebelah kanan, maka waktu dia mencelat akan memegang tepian pintu Gerbang Tengkorak itu, dia telah bersiap-siap dengan ujung bajunya. 

Begitu ada serangan senjata rahasia, dia telah mengibaskannya. Dikala tangannya mengibaskan begitu kuat sekali, maka kakinya telah menjejak lagi, sehingga tubuhnya melambung masuk ke dalam goa tersebut.

Begitu berada di dalam goa Gerbang Tengkorak, pandangan Khu Hie jadi gelap sekali, karena di dalam goa tersebut sangat gelap gulita.

Khu Hie memejamkan matanya sesaat untuk membiasakan pandangan matanya ditempat gelap tersebut, pendengarannya juga dipertajam untuk menjaga sesuatu kemungkinan.

Sedang si anak muda she Khu itu berada di dalam kegelapan, tiba-tiba mendesir angin serangan yang kuat, yang menyambar ke arah batok kepala Khu Hie.

Anak muda she Khu ini memang sudah bersiap-sedia maka dia sendiri dengan cepat dapat menangkisnya dengan tangan kirinya waktu dia merasakan angin serangan menyambar batok kepalanya. Tangannya saling bentur dengan tangan penyerangnya, dan Khu Hie merasakan tangan orang yang menyerangnya itu sangat keras serta bertenaga sehingga tubuh Khu Hie agak terhuyung ke belakang beberapa langkah dengan hati mencelos!

DAN KHU Hie jadi lebih terkejut lagi, waktu dari samping kiri dan kanannya menyambar serangkum senjata rahasia, yang menyambar dengan disertai oleh tenaga yang kuat sekali.

Pada saat itu posisi Khu Hie dalam keadaan yang sulit sekali, kalau dia memperhatikan datangnya senjata-senjata rahasia itu, maka dirinya tentu akan terhajar oleh orang yang telah menyerangnya tadi, tetapi kalau dia menangkis serangan orang itu, dirinya pasti akan menjadi sasaran yang empuk dari senjata-senjata rahasia tersebut.

Tetapi biar bagaimana Khu Hie harus menghadapi semuanya itu. Maka dari itu, dengan mengeluarkan seruan yang perlahan, dengan mengerahkan seluruh tenaganya dilengan, dia menangkis serangan orang tersebut, kemudian dengan meminjam tenaga

benturan yang terjadi itu, dia menjejakkan kakinya, sehingga tubuhnya melambung, mental keatas, sehingga dengan sendirinya senjata rahasia yang menyambar dari dua jurusan itu mengenai tempat kosong!

Orang yang tidak dikenal oleh Khu Hie itu mengeluarkan seruan perlahan, kemudian dengan cepat dia telah melompat menyerang Khu Hie lagi.

Sekarang, walaupun belum dapat berdiri dengan tetap, tetapi sebagai seorang jago, lagi pula matanya mulai biasa melihat di tempat gelap, Khu Hie dapat menangkis lagi, tubuh kedua orang tersebut jadi saling terhuyung kebelakang beberapa langkah.

Samar-samar Khu Hie dapat melihat bahwa yang menyerangnya itu adalah seorang anak muda yang berpakaian sebagai pelajar.

“Hmmmmmm rupanya kau!” kata Khu Hie dengan suara yang dingin. Orang itu ketawa dengan suara yang menyeramkan.

“Benar! Benar! Tak salah sedikitpun!!” menyahuti orang itu dengan suara yang menakutkan, “Hmmmm sekarang kau telah berada di dalam goa ini, maka jangan harap kau dapat lolos dari tangan kami. Datang ke dalam Gerbang Tengkorak memang mudah, tetapi jangan harap dapat pergi dengan mudah!” dan belum lagi si pelajar yang berusia dua puluh dua tahun itu menyelesaikan perkataannya, dari arah samping kiri dan kanannya telah muncul puluhan orang, yang membawakan sikap mengurung.

Melihat itu Khu Hie ketawa dingin, sedikitpun dia tidak gentar.

“Hmm beginilah kucing-kucing ingin mengunjuki gigi pada naga!” ejeknya dengan suara yang nyaring. “Bagus! Baiklah! Majulah kalian! Hari ini biarlah tuan mudamu membuka pantangan membunuh!”

Dan setelah berkata begitu, Khu Hie bersiap-siap dengan penuh kesiapsiagaan untuk melawan orang-orang itu.

Si pelajar sendiri jadi gusar, dia membentak, dengan suara yang keras, dia juga memberi tanda kepada kawan-kawannya dengan ulapan tangannya, maka dengan cepat, orang-orang yang menjadi kawannya si pelajar jadi meluruk menyerang Khu Hie.

Setiap serangan itu mendatangkan angin serangan yang keras dan Khu Hie merasakan itu. Maka dari itu, anak muda she Khu tersebut mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi semua orang-orang tersebut.

Tetapi, biar bagaimana dia hanya berseorang diri, lama kelamaan dia jadi terdesak. Lebih-lebih ruang di dalam goa Gerbang Tengkorak tersebut sangat sempit, menyebabkan ruang gerak bagi Khu Hie sangat terbatas dibawah kepungan orang-orang itu yang umumnya mempunyai kepandaian, cukup tinggi.

Namun tidak kecewa Khu Hie dididik oleh Kie Ceng Siansu, karena biarpun dia dikepung begitu banyak orang, tetapi tetap saja dia tidak berada dibawah angin. Dia memberikan perlawanan dengan gigih. Suatu kali dengan mengeluarkan seruan yang panjang, tampak si pelajar melompat tinggi, tangannya bergerak melemparkan sesuatu.

Khu Hie melihat itu, cepat-cepat dia menyingkir. Baru saja dia melompat, benda yang dilemparkan oleh si pelajar itu telah meledak.

Hebat kesudahannya, anak buah si pelajar yang berkepandaian kurang tinggi, jadi menjerit, karena mereka menjadi korban dari ledakan itu, dan seketika, itu juga terkapar di situ tanpa nyawa lagi.

Melihat kekejaman si pemuda berpakaian pelajar itu, Khu Hie jadi mendongkol.

“Sreeettt!” Khu Hie mencabut pedangnya, maka dengan senjatanya itu, dia dapat bergerak dengan lebih leluasa. Dengan menggunakan ilmu pedang Cie-kong-kiam-hoat, dia bergerak dengan gesit dan setiap sabetan pedangnya itu membawa tenaga serangan yang kuat sekali.

Orang-orang yang mengepungnya jadi terkejut banyak di antara mereka yang disebabkan kaget, tidak keburu untuk mengelakkan serangan Khu Hie, sehingga seketika itu juga berjatuhan korban dari serangan anak muda she Khu tersebut.

Si pelajar yang mengepalai pengepungan itu jadi terkejut juga, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi, disamping kaget, si anak muda berpakaian pelajar itu juga murka, dia mengeluarkan suara yang nyaring, memerintahkan kepada kawan-kawannya untuk memperketat pengepungan itu.

Khu Hie sendiri tidak jeri, dia malah memperhebat perlawanannya.

Dengan sendirinya terdengar suara berkerontangnya senjata tajam dan suara jeritan dari orang-orang yang berhasil dilukai oleh Khu Hie.

Diantara gelapnya cuaca di dalam goa Gerbang Tengkorak tersebut, tampak berjatuhan sesosok tubuh yang kena dilukai oleh pedang anak muda she Khu itu.

Semakin lama anak muda berpakaian pelajar itu jadi semakin bingung melihat orang-orangnya yang banyak berjatuhan.

Berulang kali dia mengeluarkan suara seruan yang keras untuk memberi semangat kepada kawan-kawannya mengepung Khu Hie lebih ketat lagi, tetapi toh hasilnya tetap sama, orang-orangnya masih tetap berjatuhan kena dilukai oleh Khu Hie.

Terakhir, dikala orang-orangnya sudah banyak yang berjatuhan, si anak muda berpakaian pelajar itu malah jadi saling berhadapan dengan Khu Hie.

Pada saat itu Khu Hie telah menyerang dengan hebat kepada si anak muda berpakaian pelajar itu, juga pedangnya berkelebat-kelebat dengan hebat, menyebabkan si anak muda jadi keripuhan juga. Khu Hie bertempur dengan mengerahkan seluruh kepandaiannya, dia menyerang si anak muda berpakaian sasterawan itu tanpa mengenal kasihan lagi, karena dia memang sudah gusar, dan hal itu menyebabkan si sasterawan jadi ripuh dengan sendirinya.

Suatu kali, karena dia terdesak hebat, maka si anak muda berpakaian sasterawan itu merasa tidak unggulan melawan Khu Hie, dia melompat kesamping, kemudian disusul dengan beberapa kali jejakkan kaki,, maka tubuhnya telah mencelat ke arah mulut goa sambil meneriaki perkataan : “Angin keras!” dan kawan-kawannya jadi ikut melarikan diri dari goa itu, meninggalkan kawan mereka yang pada terluka dan tidak dapat bangun menggeletak di tanah.

Khu Hie tidak mengejar melihat orang melarikan diri.

Setelah mengawasi sesaat, akhirnya Khu Hie memasukkan pedangnya ke dalam kerangkanya.

Dihampirinya salah seorang korban yang telah menggeletak di tanah tak berdaya disebabkan tabasan pedangnya, dia menotok beberapa jalan darah orang itu agar darah tidak terlalu banyak keluar dari lukanya.

“Siapa yang perintahkan kalian untuk mengeroyok diriku?” tanya Khu Hie dengan suara yang bengis.

Wajah orang itu memang sudah pucat menjadi tambah pucat.

“Jadi kau tidak mau bicara!” bentak Khu Hie waktu melihat orang berdiam diri saja.

Orang itu tetap menutup mulutnya rapat-rapat.

Khu Hie mendengus sambil tertawa mengejek, dia mendongkol sekali karena orang membandel begitu macam.

“Baiklah! Rupanya kau mau merasakan enaknya dikompas oleh tangan besiku!” kata Khu Hie dengan suara yang tawar, dan membarengi dengan perkataannya itu, tangannya juga bekerja dengan cepat menotok beberapa jalan darah dari orang tersebut.

Begitu kena ditotok, orang itu jadi menggigil sambil merintih kesakitan, karena dia merasakan tubuhnya seperti juga ditusuki oleh beribu-ribu jarum yang tajam sekali, sakit dan nyeri luar biasa.

“Bagaimana, apakah kau masih tetap tidak mau bicara?” bentak Khu Hie.

Orang itu mementang matanya lebar-lebar dengan penuh penderitaan, dia mendelik kepada Khu Hie penuh kebencian.

“Baiklah! Sekarang sekarang kau menang, nanti Kauw-cu kami tentu akan membalas penasaranku ini!” kata orang itu diantara rintihannya. Khu Hie mendengus, dia tambah mendongkol. Namun baru saja dia bermasud untuk menotok beberapa jalan darah orang itu lagi untuk menambah penyiksaannya, tiba-tiba orang itu berhenti merintih dan dari mulutnya mengalir darah.

Khu Hie jadi membatalkan maksudnya, dia memeriksa keadaan orang itu.

Ternyata, mungkin karena putus asa atau mungkin juga orang itu takut akan disiksa lebih hebat lagi maka dia telah menggigit putus lidahnya sendiri, sehingga dia menemui kebinasaannya.

Inilah tidak pernah diduga oleh Khu Hie pada sebelumnya, maka dia jadi melengak sesaat.

Akhirnya sambil menghela napas, Khu Hie berdiri dan mengawasi mayat-mayat lainnya, yang binasa dengan cara yang sama. Mereka kira-kira berjumlah tujuh atau delapan orang, telah binasa semua dengan masing-masing menggigit lidah mereka.

Inilah hebat, betapa mereka setia kepada orang yang telah memerintahkan pada mereka untuk membunuh Khu Hie. Karena tidak bisa melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka itu, maka mereka telah membunuh diri dengan cara begitu.

Tetapi akhirnya Khu Hie tidak memperdulikan semua itu. Yang penting dia ingin mengambil buah Siang-tho.

Cepat-cepat Khu Hie memasuki goa Gerbang Tengkorak itu lebih dalam lagi, dan dengan menuruti petunjuk gurunya, maka dia bisa berada disebelah dalam yang letaknya agak leluasa karena goa itu semakin lebar dan terdapat penerangan sedikit dari lubang- lubang di dinding goa tersebut

Dan, dengan melangkah belasan langkah, kemudian melompat beberapa tombak tingginya, dia dapat memernahkan diri di suatu tempat yang lapang disebelah atas goa itu.

Waktu dia menunduk, dilihatnya disebelah kanannya terdapat sekuntum pohon bunga yang kecil, dan di bawah bunga itu menggelantung tiga buah, yang diduganya adalah buah Siang-tho.

Buah itu berwarna merah darah dan menyiarkan bau yang harum sekali.

Khu Hie segera mengulurkan tangannya untuk memetik buah itu, tetapi belum lagi

dia dapat memetik buah tersebut, telah terdengar suara bentakan : “Tahan!!”

Cepat-cepat Khu Hie membalikkan tubuhnya, dia melihat tujuh tombak dari hadapannya itu, berdiri seorang manusia yang pakaiannya aneh luar biasa.

Rambut orang itu panjang sampai menutupi mukanya, yang tidak bisa dilihat tegas oleh Khu Hie, sedangkan bajunya sangat kebesaran, berpotongan seperti juga baju-baju kerajaan Song. Pada saat itu, orang tersebut dengan pakaian yang aneh dan keadaannya yang menyeramkan itu, telah berjalan perlahan-lahan selangkah demi selangkah menghampiri ke arah Khu Hie.

“Siapa kau bocah, mengapa kau berani memasuki istanaku ini?” bentak orang berpakaian aneh itu.

Khu Hie melengak sejenak, tetapi akhirnya dia tersadar dengan cepat. Dirangkapkan kedua tangannya, dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Boanpwee she Khu dan bernama Hie,” dia menyahuti kemudian. “Dan atas perintah Insu, maka Boanpwee akan mengambil buah Siang-tho untuk dipakai dan dipersembahkan pada hari ulang tahun Insuku!”

Mata orang berambut panjang yang aneh itu jadi mencilak dan bersinar tajam.

“Hmm apakah kau kira akan begitu mudah mengambil buah Siang-tho?” bentak orang tersebut. “Mie-mie Tata tak akan membiarkan seorang manusiapun menyentuh benda-benda dan barang-barang yang terdapat di dalam istanaku ini!!”

“Siapakah Mie-mie Tata?” tanya Khu Hie cepat.

“Hmm tak perlu kau tahu siapa Mie-mie Tata, yang penting cepat-cepat kau menggelinding, aku pasti akan mengampuni selembar jiwamu itu!” kata orang itu lagi dengan bengis.

Khu Hie memang berkemauan keras, lagi pula dia sebagai seorang yang berkepandaian tinggi dibawah gemblengan Kie Ceng Siansu, maka dia tidak akan mundur walaupun menghadapi segala macam rintangan.

“Kukira,” katanya cepat. “Kau ini tentunya adalah Mie-mie Tata sendiri!!”

Mata orang itu mencilak, dia melengak sesaat mendengar perkataan Khu Hie, tetapi akhirnya dia tersadar dengan suara tertawanya.

“Benar! Betul!!” dia berkata dengan suara yang nyaring. “Sedikitpun tidak salah!! Dan, kalau memang kau sudah mengetahui siapa adanya diriku ini, mengapa kau tidak cepat-cepat menggelinding enyah dari istanaku ini? Apakah kau mau menunggu sampai jiwamu kukirim ke neraka dulu?”

Khu Hie berusaha berlaku sabar, dia tersenyum sambil menjura lagi kepada orang itu, yang mengaku bernama Mie-mie Tata, sebuah nama yang lucu dan agak menyeramkan.

“Boanpwee sekali lagi minta ijin Loocianpwee agar diberikan satu kali ini saja mengambil bunga Siang-tho untuk dipersembahkan nantinya kepada guruku! Boanpwee tentu tidak akan melupakan budi Loocianpwee yang besar ini!” Belum lagi Khu Hie menyelesaikan perkataannya, telah terdengar suara ‘brakkk!’

yang keras sekali.

Ternyata Mie-mie Tata mengayunkan tangannya menghajar batu goa yang terdapat didekatnya, dan begitu kena dihajar oleh Mie Mie Tata, batu ini jadi sempal, hancur berantakan berkeping-keping. Muka orang tersebut jadi menyeramkan, rambutnya seperti juga berdiri. Rupanya dia murka benar mendengar perkataan Khu Hie.

“Kau anak muda tak tahu diri!” bentaknya dengan suara yang bengis. “Baiklah!

Rupanya kau ingin kukirim ke Giam-lo-ong, bocah!!'

Melihat orang murka, Khu Hie cepat-cepat bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan.

Dan benar saja, orang itu setelah menyelesaikan perkataannya, dia telah menjejakkan kakinya untuk menghajar Khu Hie dengan tangan kirinya, menghajar pundak orang, rupanya Mie Mie Tata ingin menghancurkan tulang Pie-pee orang, agar ilmu silat anak muda she Khu itu lenyap untuk seumur hidupnya.

Tetapi Khu Hie bermata jeli dan juga dia dapat berlaku gesit.

Melihat datangnya serangan, dia mengeluarkan suara dengusan, kemudian dengan sebat, dia menggeser kedudukan kakinya, lalu dengan mengeluarkan suara bentakan, dia mengulurkan tangan kirinya akan menjambret tangan Mie Mie Tata dan mengayunkan tangan kanannya akan mencengkeram jalan darah Kiong-tie hiatnya Mie Mie Tata.

Mie Mie Tata sendiri jadi terkejut melihat si anak muda yang tadinya dipandang sebelah mata jtu dapat bergerak begitu lincah dan tahu-tahu malah dirinya yang kena diserang. Maka dengan cepat Mie Mie Tata menjejakkan kakinya melompat tinggi beberapa tombak, waktu tubuhnya meluncur turun, dia mengulurkan tangannya akan mencengkeram batok kepala Khu Hie, cengkeramannya itu disertai oleh tenaga Lweekang yang kuat sekali.

Khu Hie tidak berani main-main dengan orang ini. Dia juga tidak berani berlaku ayal. Karena sedikit saja dia terlambat mengelakkan serangan Mie Mie Tata, habislah riwayatnya, batok kepalanya pasti akan hancur berantakan keluar polonya.

Anak muda she Khu tidak bisa berpikir lama-lama lagi, karena tangan Mie Mie Tata akan mampir mengenai batok kepalanya. Dengan cepat Khu Hie menekuk kaki kirinya, sehingga tubuhnya agak doyong, dan sedang tubuhnya doyong begitu macam, dia mengulurkan tangan kanannya dengan kedua jari tangan terpentang mengincer mata Mie Mie Tata.

Orang itu jadi terkejut waktu melihat jari tangan si anak muda she Khu tahu-tahu telah berada di depan matanya, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan saking kagetnya. Untung Mie Mie Tata liehay, sehingga dia dapat melompat dengan cepat dan menyingkir agak menjauh.

Namun, dengan begitu Khu Hie juga terlolos dari serangan orang tersebut, sebab mau tak mau Mie Mie Tata terpaksa menarik pulang tangannya itu.

Khu Hie dan Mie Mie Tata jadi saling memandang untuk sesaat lamanya. Wajah Mie Mie Tata menyeramkan sekali, matanya memain mencilak bengis.

'“Pantas!” mendumal Mie Mie Tata dengan suara yang berat dan parau. “Rupanya kau mempunyai kepandaian yang lumayan! Hmmm, hari ini biarlah aku akan membunuhmu dengan cara yang istimewa dan akan menggembirakan hatimu!” dan setelah berkata begitu, belum lagi Khu Hie menyadari apa yang akan dilakukan oleh Mie Mie Tata, maka orang tersebut telah mengayunkan tangannya, melesat beberapa macam benda yang menyambar dengan cepat sekali kepada Khu Hie.

Anak muda she Khu tersebut menduga bahwa yang dilemparkan oleh Mie-Mie Tata itu adalah senjata rahasia, maka selain dia mengelakkan, dia juga mengayunkan tangannya, menghajar dengan menggunakan tenaga Lweekangnya.

Namun, disebabkan dia menghajar benda itu, maka dengan tidak terduga, benda yang terhajar itu meledak!

Khu Hie jadi mencelos hatinya, dia sampai mengeluh.

Cepat-cepat dia menjejakkan kakinya akan melompat menjauhi, tetapi terlambat.

Kakinya dirasakan lemas sekali, karena dia telah mencium asap yang keluar dari pecahan benda itu. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya ambruk di tanah goa yang lembab itu!

Khu Hie jadi penasaran, dia menggerakkan kaki tangannya sambil mengerahkan tenaga Lweekangnya, tetapi tenaganya itu seperti telah lenyap, walaupun dia telah berusaha mengerahkannya.

Sampai akhirnya, dia masih mendengar suara ketawa Mie-mie Tata yang menyeramkan, kemudian Khu Hie merasakan bumi seperti berputar, matanya berkunang- kunang, dan akhirnya lenyap kesadarannya. Anak muda she Khu tersebut telah pingsan

Melihat itu Mie-Mie Tata jadi tertawa gelak-gelak, dia menghampiri, kemudian setelah memeriksa tubuh Khu Hie sesaat, dia kembali tertawa gelak-gelak.

Barulah dia mengangkat tubuh anak muda she Khu itu dan dipanggulnya untuk dibawa masuk ke dalam goa yang lebih gelap dan menyeramkan, juga disertai oleh bau apek yang sengat, tetapi Mie-Mie Tata maju terus menerabas masuk ke dalam goa itu, dia melangkah dengan tetap, rupanya dia memang telah menjadi penghuni dari goa tersebut. DIKALA Khu Hie tersadar dari pingsannya, dan waktu dia membuka kelopak matanya, dia memperoleh kenyataan bahwa dirinya terkurung disebuah kamar yang terbuat dari batu seluruhnya.

Di dalam kamar ini tidak segelap goa yang tadi dialaminya pada saat-saat dia bertempur dengan Mie-Mie Tata, karena disudut dari ruangan tersebut terdapat sebuah obor yang menyala cukup terang.

Khu Hie mencoba untuk menggerakkan tubuhnya untuk turun dari pembaringan batu yang sedang ditidurinya, tetapi hatinya jadi menceios, karena tubuh, tangan dan kakinya tidak dapat digerakkan.

Ternyata dia telah kena ditotok orang. Rupanya yang menotok dirinya itu tidak lain dari Mie-mie Tata.

Khu Hie berusaha untuk mengerahkan tenaga Lweekangnya untuk memunahkan tolokan orang.

Tetapi biarpun dia telah berusaha sekuat tenaganya, toh tetap saja Khu Hie tak bisa membuka totokan itu.

Akhirnya, saking putus asa, Khu Hie tidak mengerahkan Lweekangnya lagi, dia hanya berdiam diri menunggu belaka.

Butir-butir keringat membasahi tubuh Khu Hie, sehingga bajunya basah oleh keringat itu. Khu Hie hanya dapat menunggu perkembangan selanjutnya.

Dan, anak muda she Khu tersebut tidak usah menunggu terlalu lama, karena sesaat kemudian setelah tersadarnya dia, terdengar suara langkah kaki yang ringan.

Terdengar suara pintu ruangan terbuka. Melangkah masuk sesosok tubuh dengan langkah yang perlahan.

Khu Hie tidak dapat melihat orang itu, karena dia sedang rebah terbaring, sehingga dia tidak dapat menundukkan kepalanya melihat orang yang masuk ke dalam ruang tersebut. Anak muda she Khu ini hanya menduga bahwa yang dalang tentunya Mie-mie Tata.

“Siapa namamu, bocah?” terdengar suara yang dingin dari orang yang memasuki

kamar itu. “Ada hubungan apa kau dengan Kie Ceng Siansu, heh?”

Khu Hie sedang mendongkol menerima perlakuan semacam itu, dan sekarang dia ditanya begitu rupa, maka dia jadi sengit. Dengan suara yang keras, dia menyahuti : “Tak perlu kau mengetahui namaku!”

Terdengar orang itu mendengus dengan suara yang dingin, dan terdengar suara langkahnya yang mendekat. “Memang benar kata-kata Mie-mie Tata, kau memang seorang bocah yang keras kepala! Bagus! Bagus! Aku ingin lihat, apakah kau dapat bertahan terus menutup mulut setelah menerima jarum emasku!” orang itu berkata lagi dengan suara yang dingin.

Khu Hie memang sedang heran mendengar suara orang itu lain dengan suara Mie- Mie Tata, mau dia duga bahwa yang masuk ke dalam kamar itu adalah orang lain. Dan dugaannya itu benar waktu orang itu sudah berada didekat pembaringan batu, sehingga Khu Hie dapat melihat wajahnya.

Dialah seorang gadis yang cantik sekali! Mukanya putih dan kepucat-pucatan tidak memperlihatkan perasaan apapun, sikapnya juga dingin.

Begitupun pandangan mata gadis itu, tajam dan dingin sekali.

Usianya berkisar diantara delapan belas tahun atau sembilan belas tahun.

Tubuhnya ramping dan rambutnya yang panjang itu terurai sampai kebahunya.

Sedangkan pada saat itu si gadis telah mengeluarkan sebatang jarum yang agak besar, panjang tujuh dim, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia menusukkan jarurn emas itu ke kaki kanan Khu Hie.

Begitu ujung jarum menerobos masuk ke kulitnya, seketika itu juga tubuh Khu Hie jadi kejang dan giginya saling beradu berkerot-kerot menahan perasaan sakit yang menyerang dirinya.

Malah, saking menderita kesakitan yang hebat, Khu Hie dibanjiri oleh butir-butir keringat yang besar-besar.

Melihat itu, si gadis ketawa dingin.

'“Bagaimana? Apakah kau tetap tidak mau bicara?” tegurnya dengan suara yang

tawar.

Khu Hie menggigit bibir bawahnya, dia gusar bukan main terhadap gadis ini yang

telah menyiksanya dengan menggunakan jarum jahanamnya itu!

“Kau     kau   ” hanya itu saja yang meluncur keluar dari bibir Khu Hie. Melihat orang membandel tidak mau bicara, maka si gadis ketawa dingin lagi.