Gento Guyon Eps 29 : Bukit Kematian

 
Eps 29 : Bukit Kematian


Kakek berdaster biru berperut besar seperti perempuan hamil itu masih duduk di pohon randu miring di tepi telaga kecil. Dua tangan dijadikan bantalan kepala. Sedangkan salah satu kakinya yang terjulur ke permukaan telaga terus bergoyang-goyang tak mau diam.

Matanya menerawang memandang ke langit biru. Dalam kesunyian suasana di sekitar telaga dan di tengah-tengah panas terik yang membakar dia berkata seorang diri. "Sengkala Angin Darah. Benda sakti yang konon berasal dari jasad mayat manusia digjaya yang telah mati ribuan tahun lalu itu kini semakin banyak meminta korban. Padahal masih tidak jelas di tangan siapa benda itu berada. Hem...!" Si kakek menggumam. Dia terdiam beberapa saat lamanya. Lalu berfikir sambil mengingatingat. Mulut si kakek berdaster biru yang dikenal dengan nama Ki Edan Samberata salah satu dari tiga tokoh kembar bertabiat aneh berkomat-kamit.

"Kalau tidak salah waktu terjadi perebutan Sengkala Angin Darah antara Saba Geni dengan dua gadis bernama Laras dan Larti. Aku sempat melihat satu bayangan putih berkelebat diantara kepulan asap tebal yang sangat panas luar biasa. Bayangan putih kemudian lenyap bersama hilangnya asap panas dan benda itu. Siapapun adanya orang berpakaian putih itu, aku yakin dia telah berhasil membawa lari Sengkala Angin Darah. Tapi apakah benar barang yang dilarikannya adalah benda sakti yang sesungguhnya atau cuma palsu belaka? Konon menurut yang kudengar Sengkala Angin Darah merupakan sebuah benda sakti luar biasa hebatnya. Jangankan sampai menyentuhnya. Orang yang berani mendekati benda itu sejarak empat tombak tubuhnya pasti terpental, lalu hangus dan tewas seketika. Sosok serba putih itu bukan saja sanggup menerobos kepulan asap panas dan pusaran angin yang bergulung-gulung, tetapi Sengkala Angin Darah juga dibawanya pergi. Dia pasti bukan orang berkepandaian rendah." Kata Ki Edan Samberata. Orang tua itu terdiam lagi. Hanya mulutnya berkemak-kemik,

Keningnya berkerut dan ia mencoba berfikir keras, siapa gerangan sosok berpakaian putih yang telah melarikan Sengkala Angin Darah.

Ki Edan Samberata lalu manggut-manggut. Bersikap seolah telah mengetahui sesuatu. Padahal hatinya diliputi perasaan bingung.

Selagi Ki Edan terombang-ambing oleh fikirannya sendiri. Pada waktu bersamaan dia mendengar suara langkah kaki berlari cepat ke arah telaga. Ki Edan coba memasang pendengarannya. Ternyata suara orang yang berlari itu datang dari arah sebelah timur. Baru saja orang tua ini bermaksud meninggalkan telaga, gerakannya jadi tertahan karena di tepi telaga saat itu telah muncul dua laki-laki. Laki-laki pertama adalah seorang pemuda berpakaian serba hitam berbadan tegap. Sedangkan di bagian pinggangnya tergantung sebilah pedang. Sedangkan orang yang menyertai adalah seorang kakek berbadan kurus dan cuma memakai penutup aurat. Yang mengerikan dari penampilan kakek ini. Sekujur tubuhnya digelayuti sembilan ekor ular berwarna hitam. Sembilan ular itu tentu saja sangat beracun.

Melihat penampilan dan ciri-ciri si kakek. Ki Edan Samberata tentu saja tahu siapa kakek di pinggir telaga itu. Sedangkan mengenai pemuda yang menyertainya Ki Edan sama sekali tidak mengenalnya.

Melihat orang berdaster biru tiduran di batang pohon kapuk doyong di atas telaga si kakek nampaknya terkejut sekali. Bahkan tanpa sadar ia meraba bagian selangkangannya sendiri.

"Bangsat jahat ini, bukankah dia orangnya yang telah mengambil anuku?" batin si kakek geram. Dengan geram pula tanpa menghiraukan pemuda yang menyertainya dia langsung mendamprat. "Tua bangka kurang ajar bernama Ki Comot Jalulata. Kucari ke mana-mana tidak tahunya ada di sini. Sekarang cepat kembalikan barangku. Setelah itu kau harus membunuh diri sebagai penebus atas segala dosa yang telah kau lakukan kepadaku!" teriak si kakek yang bukan lain adalah Iblis Ular Sembilan. Rasa kejut kemudian berubah menjadi tawa ketika Ki Edan menyadari agaknya telah terjadi kesalah pahaman.

Masih dalam keadaan rebah di pohon kapuk Ki Edan berkata. "Orang tua sinting. Agaknya kau sudah gila. Bertemu dengan dirimu saja baru kali ini. Enak saja kau mengatakan dan meminta supaya aku mengembalikan barangmu. Memang barang apa yang kuambil?" hardik Ki Edan. "Kurang ajar. Jangan berlagak tolol. Bukankah kau yang datang ke puncak bukit di Telaga Setan. Waktu itu kau mengambil barangku yang di bawah, apakah kau masih mau mangkir?" si kakek berteriak marah.

"Hak hak hak! Sepanjang hidup cuma makan laler dengan kelapa hijau. Tapi semua itu Cuma membuatku menjadi Ki Edan. Dan kau… enak saja menuduhku telah mengambil barangmu? Apa kau mengira barangmu paling bagus sedunia? Setan... kau dengar baik-baik. Namaku bukan Ki Comot. Aku saudaranya si tua jahil itu. Namaku sendiri adalah Ki Edan Samberata. Sekarang sebaiknya kau pergilah dari hadapanku!" ujar Ki Edan Samberata tegas.

Mendengar ucapan orang yang terkesan tak memandang muka sama sekali marahlah Iblis Ular Sembilan dibuatnya.

Tapi belum lagi si kakek sempat bicara pemuda yang bersamanya langsung bicara. "Orang tua, jangan kau berani bertingkah di depanku. Serahkan apa yang diminta oleh kakek sahabatku ini cepat!"

"Eh, kau siapa?" tanya Ki Edan sambil memandang tajam ke arah pemuda itu. Si pemuda tersenyum. Dengan suara lantang pula dia menjawab. "Aku yang gagah ini bernama Pasadewa."

"Pasadewa? Badan tegap, kulit hitam, berbulu macam monyet lutung begitu mengaku orang gagah. Ha ha ha. Lalu apa perlumu membantu Iblis Ular Sembilan menanyakan barangnya yang tidak ada padaku?" "Kakek jahanam. Berani kau menghinaku. Terima kematianmu!" teriak Pasadewa kalap. Pemuda itu siap melabrak ke arah si kakek!

Namun pada saat bersamaan terdengar suara seruan. "Pasadewa tahan!" Pemuda itu terpaksa membatalkan niatnya untuk menyerang. Dengan cepat ia menoleh.

Ternyata yang mencegahnya tadi adalah sahabatnya Iblis Ular Sembilan.

"Mengapa kau melarangku?" Tanya Pasadewa penuh teguran.

Iblis Ular Sembilan tersenyum sambil ber-

kata.

"Membunuh manusia seperti dia sama mu-

dahnya dengan membalikkan tangan. Tapi sebelum itu kita lakukan bukankah lebih baik kita tanyakan beberapa hal penting kepadanya?" ujar si kakek. Lalu tanpa menunggu lebih lama ia berkata ditujukan pada Ki Edan Samberata. "Ki Edan. Mungkin kau memang bukan Ki Comot Jalulata. Kau pasti saudara kembarnya. Sebagai saudara kembar kau tentu tahu di mana saudaramu Ki Comot Jalulata yang telah mengambil perabotanku. Katakan cepat, jangan berani berdusta!" tegas Iblis Ular Sembilan.

Ki Edan dongakkan kepala, mata berkedipkedip sedangkan kening berkerut seakan mencoba mengingat-ingat. Setelah itu dengan mimik serius dia menjawab. "Saudaraku Ki Comot Jalulata itu sama seperti saudara kembarku satunya lagi yaitu Ki Betot Segala. Orangnya angin-anginan tidak mudah ditebak karena otaknya terkadang memang mengalami gangguan. Menurut dugaanku saat ini dia pasti ada di sekitar kolong langit juga. Aku percaya akan hal itu. Cuma di kolong langit sebelah mana silahkan kau cari sendiri!" ujar si kakek.

Jawaban ini tentu saja membuat geram Iblis Ular Sembilan. Namun ia masih berusaha menekan kemarahannya dengan mengajukan pertanyaan lain. "Jawaban yang cukup bagus." Geramnya. "Satu lagi pertanyaanku. Apakah kau tahu di tangan siapa benda sakti bernama Sengkala Angin Darah berada?"

Mendengar pertanyaan itu diam-diam Ki Edan Samberata terkejut. Tapi dasar Ki Edan orangnya suka mengerjai orang lain. Dengan tenang dia menjawab. "Sengkala Angin Darah..." gumam Ki Edan berulang-ulang. "Benda itu memang menjadi rebutan banyak pihak. Kalau tak salah benda itu sekarang berada di puncak Sebelas Tangga Kematian." Jelas si kakek.

Iblis Ular Sembilan jadi tercengang mendengar penjelasan Ki Edan Samberata. Sebagai orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan dan cukup mengenai banyak daerah tentu saja Iblis satu ini tahu benar di mana letak daerah itu. Sebaliknya Pasadewa yang tidak mengetahui daerah yang disebutkan segera ajukan pertanyaan. "Orang tua edan. Kau jangan mainmain. Kurasa di tanah Jawa ini tak ada suatu daerah pun bernama Puncak Sebelas Tangga Kematian."

"Sobat muda. Kau tak usah risau. Aku tahu tempat yang disebutkannya itu. Tapi untuk mencapai tempat itu tidak mudah. Akan banyak rintangan yang kita hadapi. Selain itu Puncak Sebelas Tangga Kematian adalah tempat yang sangat berbahaya. Tempat itu ditinggali oleh seorang tokoh maha ganas bergelar Iblis Dalam Matahari atau Iblis Matahari. Kudengar tak seorangpun dapat keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup bila bertemu dengan Iblis Matahari. Jika benda sakti itu berada di tangan Iblis Matahari, akan sulit bagi kita untuk mendapatkannya!" ujar Iblis Ular Sembilan.

Pasadewa mendengus sinis. "Aku memiliki burung rajawali putih siluman. Biarpun benda itu ada di neraka, rajawali silumanku pasti sanggup membawa kita ke tempat itu. Tapi siapa berani menjamin kalau manusia sinting berpakaian seperti nenek bunting itu tidak mengadali kita?" ujar Pasadewa yang segera memperhatikan Ki Edan.

Si kakek tersenyum. Dia bangkit berdiri, selanjutnya melompat turun dari pohon kapuk miring. Sambil bertolak pinggang dia mencoba meyakinkan. "Kalian berdua adalah orang-orang gagah. Apa yang kuketahui ini belum pernah kuberitahukan pada orang lain."

"Lalu mengapa kau begitu saja memberitahukan semua itu pada kami?" tanya Iblis Ular Sembilan curiga.

Sambil tersenyum-senyum Ki Edan menjawab. "Kau tak usah berburuk sangka padaku kakek kurus. Terlalu banyak berburuk sangka membuat fikiranmu menjadi tidak tenang. Kurasa itulah yang membuat tubuhmu tidak bisa gemuk. Aku rela memberitahukan tempat itu kepadamu karena mengingat kesalahan yang dibuat oleh saudaraku Ki Comot Jalulata. Aku tidak tahu buat apa dia mengambil barang antikmu. Yang jelas rahasia penting ini kujelaskan padamu hitunghitung sebagai penebus dosa yang dilakukan oleh saudara kembarku itu!" ujar Ki Edan Samberata.

Jawaban ini rupanya cukup meyakinkan bagi Iblis Ular Sembilan. Sambil memandang pada Pasadewa dengan lirikan penuh arti, Iblis Ular Sembilan kemudian berkata ditujukan pada Ki Edan. "Terima kasih atas Segala penjelasanmu. Tapi terus terang, aku tetap akan membunuhmu!"

Ki Edan nampak tercekat. Tapi mulutnya menyunggingkan senyum penuh arti. "Sudah kuduga orang-orang golongan sesat sejak dulu memang tidak pernah memegang janji. Mestinya kubunuh kalian sejak dari tadi. Sayangnya aku tidak punya nafsu membunuh manusia banyak dosa seperti kalian. Kakek kurus, jika kau memang mau membunuhku. Cepat lakukan! Tapi ingat. Jika aku sudah mati, arwahku pasti akan mencari saudaraku. Akan kuminta barangmu yang pasti disimpan di dalam kendi perak pembeku. Jika barangmu telah kudapatkan. Aku akan meremasnya sampai hancur. Seumur hidup kau pasti menderita guncangan batin yang berat. Tanpa barang antik, hidupmu pasti tidak berguna walaupun hidupmu diperpanjang oleh Gusti Allah selama seribu tahun lagi! Ha ha ha!" kata Ki Edan disertai tawa tergelak-gelak.

Iblis Ular Sembilan sempat ciut nyalinya mendengar ucapan Ki Edan. Dia ingat biarpun usianya sudah sangat lanjut. Tapi yang namanya semangat dan nafsu tentu tidak kalah dengan pemuda belasan tahun. Benar kata Ki Edan, apa artinya hidup tanpa yang satu itu? Dia tidak akan dapat menikmati segala keindahan yang ada di sekelilingnya. Salah satu keindahan yang pernah terlewati itu ada pada diri Pandan Arum, kekasih Pasadewa. Tapi pada saat itu muncul satu keraguan lain di hatinya. Benarkah pusaka yang diwarisinya sejak dirinya terlahir ke dunia masih utuh? Padahal kejadian pencurian barang antik itu sudah berlangsung seminggu lebih.

"Iblis Ular Sembilan. Dalam beberapa hal mungkin boleh kita mempercayai ucapannya. Tapi untuk persoalan barangmu yang hilang, siapa yang berani menjamin barang itu tidak busuk sampai hari ini. Biarlah aku yang mewakilimu untuk membetot nyawanya!" tegas Pasadewa.

"Jangan! Biarkan aku yang melakukannya!" teriak Iblis Ular Sembilan. Selesai berkata begitu Iblis Ular Sembilan goyangkan bahu kiri kanan. Begitu bahu diguncang. Dua ular hitam bergelayutan di bagian bahu laksana kilat langsung melesat ke udara. Sedangkan mulutnya yang bergigi tajam itu siap menghujam ke bagian dada dan perut Ki Edan. Melihat serangan ganas binatang berbisa ini Ki Edan memang sempat terkesiap. Namun dengan cepat sekali ia jatuhkan diri hingga tubuhnya sama rata dengan pohon yang tadi dipergunakan untuk merebahkan diri. Setelah itu tangan kanan dipergunakan untuk mematahkan cabang  pohon. Dengan mempergunakan cabang pohon tersebut kedua ular itu coba dihalaunya.

Wuut! Wuut!

Sambaran angin deras yang keluar dari cabang pohon membuat kedua ular itu sempat terdorong mundur. Hanya sesaat saja hal itu terjadi karena di lain kejab kedua ular sambil mengeluarkan desisan marah kembali menyerbu ke arah si kakek dengan kecepatan berlipat ganda.

Ki Edan gelengkan kepala. Secepat kilat dia melesat ke udara. Tapi ular-ular yang tadinya menukik tajam ke bawah, kini secara tiba-tiba berbalik berputar dua kali, kemudian ikut melesat pula ke atas mengejar lawannya. Ki Edan merasa mati kutu, tapi tidak kehabisan akal. Cepat dia merogoh sesuatu dari balik saku celananya. Dua buah benda berwarna putih kemilau berbentuk bulat sebesar buah karet lalu disambitkan ke arah kedua ular itu.

Hebatnya begitu kedua benda dilempar ke udara. Hanya dalam waktu sepersekian detik telah berubah menjadi dua buah senjata berbentuk roda dengan sisi bergerigi seperti gergaji. Kedua senjata itu kemudian berputar dan menghantam kedua ular tersebut. Dua binatang berbisa tak dapat lagi menghindar dan langsung terpotong-potong menjadi beberapa bagian. Darah muncrat ke manamana. Iblis Ular Sembilan keluarkan suara raungan marah begitu melihat dua ularnya hancur di tangan lawan. Dengan penuh kemarahan kakek ini melompat ke udara. Dua tangan dihantamnya ke sekujur tubuh lawan. Sedangkan tujuh ular yang bergelayutan di tubuhnya ikut pula berlesatan menyerbu ke arah Ki Edan. Rasa kaget di hati kakek ini bukan olah-olah. Tujuh ular kini menyerang dirinya dari tujuh arah. Sedangkan dua pukulan Iblis Ular Sembilan disadari oleh Ki Edan dapat meremukkan dada dan menghancurkan isi perutnya. Tapi ia menyadari serangan tujuh ular beracun itu tentulah lebih berbahaya bahkan sangat mengancam keselamatan jiwanya. Karena itu dia tidak mau mengambil resiko. Hanya dalam beberapa saat saja sambil mengumbar teriakan menggelegar, Ki Edan segera mengerahkan jurusjurus silatnya yang penuh keedanan.

Dalam keadaan tubuh mengambang di atas ketinggian sekitar empat tombak di atas tanah Ki Edan lalu memutar kedua tangannya membentuk sebuah perisai diri yang sangat kokoh. Anginpun kemudian menderu dari kedua tangan Ki Edan. Kemudian tubuh si kakek meliuk-liuk seperti orang menari. Terkadang tubuh yang mengapung di udara itu nampak terhuyung, tidak jarang miring ke kanan atau ke kiri. Kemudian kakinya melesat ke atas.

Tas! Tees! Tes! Buuk! Buuk!

Tujuh ular terpental terkena sambaran angin yang keluar dari telapak tangan maupun ujung lengan daster biru Ki Edan. Sedangkan tendangan kaki orang tua ini mengenai perut Iblis Ular Sembilan. Tapi tak urung salah satu pukulan kakek itu mendera bahu Ki Edan membuat orang tua itu jatuh terpelanting. Begitu juga halnya dengan Iblis Ular Sembilan.

Celaka bagi Ki Edan Samberata, begitu tubuhnya hampir menyentuh tanah sebuah tendangan yang luar biasa keras menghantam bagian punggungnya. Tak urung tubuhnya terpental lagi. Lalu jatuh berkelukuran.

"Jangan beri kesempatan, bunuh dia!" teriak Iblis Ular Sembilan yang pada waktu itu telah bangkit berdiri. Begitu berdiri tegak dia jentikkan jemari tangannya ke arah tujuh ular yang bertebaran di atas tanah. Hebatnya begitu tangan dijentikkan, ketujuh ular piaraannya segera melesat ke arah si kakek, kemudian bergelayutan di sekujur tubuh orang tua itu.

Sementara Pasadewa adalah seorang pemuda penuh ambisi dan selalu haus darah. Karena itu begitu mendapat aba-aba dari sahabatnya dengan tidak membuang-buang waktu lagi dia langsung melesat ke arah Ki Edan Samberata. Selagi tubuh pemuda ini mengapung di udara dia melepaskan pukulan Lisus Nyawa. Salah satu kehebatan pukulan yang dilepaskannya ini selain sanggup menjebol gunung juga dapat memporak porandakan konsentrasi lawan. Dan memang itulah yang kemudian terjadi. Ketika tangan kiri Pasadewa menghantam ke arah Ki Edan. Dari telapak tangan Pasadewa menderu angin yang sangat kencang luar biasa. Hebatnya setelah berada di udara pusaran angin memecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing pusaran angin tersebut kemudian menghantam kaki dan anggota tubuh Ki Edan dan lainnya. Ki Edan delikkan mata. Tapi dia tidak mau mati konyol terhantam pusaran angin yang bersumber dari kesaktian lawannya itu. Kini tanpa membuang waktu lagi Ki Edan Samberata mulai memperlihatkan segala kegilaannya. Sambil berteriak keras Ki Edan hantamkan kaki tangannya ke atas tanah. Satu guncangan hebat luar biasa melanda daerah di sekitar telaga. Tanah kemudian terbelah merengkah. Ki Edan amblas lenyap dalam rengkahan tanah. Dengan begitu pusaran angin yang menggila hanya melabrak tempat kosong kemudian menghantam beberapa pohon di pinggir telaga. Di antara pepohonan ada yang bertumbangan disertai suara berderak. Tapi tidak jarang pepohonan sebesar pelukan orang dewasa tercabut sampai ke akar-akarnya, lalu mencelat beberapa tombak jauhnya dari tempat dimana pohon-pohon itu berdiri.

Pasadewa terkesiap, tak percaya dengan kenyataan yang terjadi. Dia memandang dengan mata mendelik ke arah rengkahan tanah. Dan Pasadewa jadi kaget ketika melihat secara tidak terduga dari dalam tanah dimana Ki Edan melenyapkan diri melesat puluhan batu-batu panas membara sebesar anak kerbau ke arah dirinya juga Iblis Ular Sembilan.

"Jahanam celaka, bagaimana hal ini bisa terjadi?" desis Pasadewa.

"Kurang ajar. Darimana si gila itu mendapatkan batu berapi?' batin Iblis Ular Sembilan sambil menghindari terjangan bebatuan yang mengobarkan api tersebut.

Selagi kedua lawan nampak sibuk mencari selamat. Dari dalam rengkahan tanah Ki Edan melesat keluar. Dalam keadaan berjumpalitan di udara Ki Edan mengumbar tawa sambil berkata. "Aku baru saja keluar dari perut bumi. Di sana ternyata aku tidak diterima penguasa bumi. Tempatnya panas luar biasa seperti di neraka. Tempat itu kurasa cocok untuk kalian! Nah... aku sudah berbaik hati membuatkan suatu jalan. Sekarang masuklah ke dalam lubang itu!" ujar Ki Edan. Baru saja kakek aneh ini selesai berucap, baik Iblis Ular Sembilan maupun Pasadewa tiba-tiba merasakan sekujur tubuhnya seperti tertarik, tersedot ke arah lubang menganga akibat hantaman kaki Ki Edan.

Kedua orang ini dalam kagetnya segera mengerahkan seluruh tenaga sakti yang mereka miliki untuk bertahan agar tidak sampai terperosok amblas ke dalam lubang. Sekujur tubuh mereka bergetar, berkeringat bercucuran. Iblis Ular Sembilan menggeram dalam hati. "Bangsat gila ini punya ilmu apa rupanya?" maki si kakek.

"Pasadewa! Pergunakan ilmu meringankan tubuhmu. Bangsat ini punya ilmu yang sanggup membuat seolah-olah tanah yang kita pijak inipun berpihak kepadanya!" teriak Iblis Ular Sembilan.

"Hiya...!" "Huup!"

Baik si kakek maupun Pasadewa dengan gerakan laksana kilat sama-sama melesat ke udara. Anehnya begitu tubuh mereka mengambang di atas tanah pengaruh daya tarik yang luar biasa tadi mendadak lenyap.

"Kurang ajar kedua setan ini ternyata dapat meloloskan diri dari pengaruh kekuatan ilmuku!" gerutu Ki Edan sambil bersungut-sungut. Dengan cepat orang tua ini melompat mundur begitu melihat kedua orang yang melesat di udara itu kini telah menghantamkan pukulan secara bersamaan ke arah dirinya. Ki Edan tidak punya pilihan lain. Diapun segera menangkis kedua serangan itu. Tangan kiri dipergunakan menangkis serangan Iblis Ular Sembilan. Sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk menyambuti pukulan Pasadewa.

Plak! Plak! Buuk!

Pukulan yang dilakukan Iblis Ular Sembilan ternyata masih dapat ditangkis oleh Ki Edan. Tapi hantaman keras yang dilakukan oleh Pasadewa masih sempat menghantam bagian dada orang tua itu. Akibatnya Ki Edan Samberata terpelanting sejauh tiga tombak. Dadanya seperti remuk, sakit berdenyut dan serasa hancur di bagian dalam.

Tanpa menghiraukan rasa sakit yang dia derita Ki Edan bangkit berdiri. Iblis Ular Sembilan merasa sekaranglah saatnya untuk menghabisi lawannya. Tapi sebelum dia sempat mengambil tindakan, Pasadewa sudah mencabut pedangnya. Pedang berwarna putih mengkilat itu lalu diangkat tinggi siap dihujamkan ke dada lawan.

Kemudian laksana kilat sambil berseru dia melabrak ke arah Ki Edan.

"Orang tua sekaranglah akhir dari segala cerita hidupmu. Heaa...!"

Ki Edan menyadari serangan Pasadewa adalah serangan yang sangat berbahaya sekali. Karena itu dia tidak mau bersikap ayal. Dua tangan dengan mempergunakan tenaga dalam penuh kemudian didorongkannya ke depan menyambuti tusukan dan babatan pedang lawannya. Sinar merah melesat dari telapak tangan si kakek. Tapi pada waktu yang hampir bersamaan pula mendadak angin bertiup kencang, kilat bersabung petir menggelegar. Di lain waktu Pasadewa menjerit. Bukan karena terhantam sinar merah yang mencuat dari telapak tangan Ki Edan. Melainkan akibat hantaman angin dingin luar biasa yang seolah datang dari segala penjuru.

Ki Edan tertegun. Sebaliknya Iblis Ular Sembilan terkesiap. Mata memandang lurus ke arah Pasadewa yang nampak megap-megap dan berusaha bangkit berdiri. Pedang milik pemuda itu terpental entah ke mana. Sementara itu di tengahtengah suara deru petir yang diseling oleh suara raungan mengerikan lapat-lapat terdengar suara orang berkata. "Begitu banyak orang binasa karena mencari suatu kejelasan. Jika sayang nyawa harap angkat kaki dari tempat ini!"

"Jahanam! Siapa yang baru bicara tadi, harap tunjukkan diri!" teriak Iblis Ular Sembilan. Deru suara angin semakin menghebat. Seiring dengan hembusan angin yang sangat luar biasa itu, pohon-pohon tercabut hingga ke akar-akarnya.

Kemudian belasan pepohonan menyerang Iblis Ular Sembilan. Kakek berbadan kurus itu terkejut bukan main. Sebelum batang pepohonan yang melayang-layang sempat menghantam kepala dan tubuhnya si kakek dengan muka pucat bergulingan selamatkan diri. Pasadewa demi melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini segera merapal mantra memanggil rajawali siluman yang menjadi burung tunggangannya selama ini.

"Rajawali siluman datanglah! Selamatkan kami!" teriak Pasadewa.

Beberapa saat lamanya setelah gema suara Pasadewa lenyap. Di angkasa sana terdengar suara pekik rajawali disertai suara gemuruh yang meningkahi suara gemuruh pertama. Kemudian di tempat itu muncul seekor burung rajawali raksasa berbulu putih. Burung Rajawali itu dengan kedua kakinya langsung menyambar Pasadewa dan Iblis Ular Sembilan. Seakan tidak terpengaruh oleh hembusan angin menggila yang melabraknya dari segala penjuru. Burung rajawali siluman berbulu putih itu selanjutnya melesat tinggi dan terus membubung ke udara.

Ki Edan yang sempat terkesima melihat dua keanehan yang terjadi secara bersamaan menjadi kaget begitu menyadari kedua lawannya berhasil meloloskan diri.

Si kakek kemudian terdiam beberapa saat lamanya. Dalam hati dia berkata. "Pemuda itu, bagaimana dia bisa memiliki burung piaraan rajawali siluman. Untung aku telah menipu mereka!" fikirnya.

Seakan mengerti apa yang ada di hati si kakek saat itu. Di tengah-tengah suara deru angin itu muncul satu sosok seorang pemuda berambut panjang berpakaian putih. Suara deru angin mendadak lenyap, kilat yang menyambar juga raib. Si pemuda memandang si kakek sambil berkata. "Ki Edan. Kau bukan menipu mereka. Sesungguhnya kau telah memberi satu petunjuk dimana kemungkinan benda itu berada!" ujar pemuda itu.

"Akh... si edan ini ternyata mengatakan sesuatu yang benar? Padahal aku menyebutnya secara ngawur?" ujar Ki Edan Samberata sambil dekap mulutnya.

"Tidak. Aku sudah melakukan penyelidikan. Dan aku yakin Sengkala Angin Darah saat ini kemungkinan besar berada dalam kekuasaan Iblis Matahari."

"Iblis Matahari?" desis Ki Edan unjukkan wajah kaget. "Bukankah dajal yang satu itu berdiam di Puncak Sebelas Tangga Kematian?" kata si kakek.

"Memang dan kau telah mengatakannya!" ujar pemuda itu.

"Lalu buat apa dipersoalkan? Sangat banyak orang yang menginginkan benda celaka itu. Belum tentu Sengkala Angin Darah dapat dimiliki oleh Iblis Ular Sembilan maupun pemuda yang bersamanya."

"Memang betul. Tapi harus diingat. Dengan membiarkan semua orang pergi ke Puncak Sebelas Tangga Kematian. Berarti akan banyak korban yang berjatuhan. Padahal di antara mereka belum tentu semuanya merupakan orang yang berdosa!" ujar pemuda itu.

Ki Edan terdiam, tapi kemudian setelah berfikir sejenak dia berkata. "Mengapa kau begitu memikirkan nasib orang-orang serakah itu? Apakah ini bukan berarti engkau sendiri sebenarnya menghendaki Sengkala Angin Darah?" sindir Ki Edan Samberata.

Si pemuda tersenyum. Hanya itu yang sempat dilihat si kakek. Karena sekejap kemudian angin kencang kembali berhembus. Hembusan angin yang demikian kerasnya membuat pemuda itu lenyap dari pandangan mata. Ki Edan lagi-lagi dibuat kaget. Pemuda itu datang dan pergi seperti setan. Tapi meskipun pemuda itu lenyap, si kakek sempat mendengar suara si pemuda yang bicara seperti orang yang melantunkan bait-bait syairnya.

Orang tua...

Terlalu lama memendam curiga berburuk sangka

Hanyalah akan menumpuk dosa

Tiada keburukan dapat menyatu dalam hati yang putih

Pandanglah cakrawala Di langit ada mendung

Tapi teriknya matahari kadangkala membuyarkan angan dan harapan

Lalu...

Buat apa aku bicara dusta Jika esok hidup penuh celaka ?

Suara si pemuda kemudian lenyap. Begitu suara gemuruh suara angin ikut pula melenyapkan diri sekali lagi di langit terdengar suara petir menggelegar. Kemudian suasana di sekelilingnya berubah menjadi sunyi. Ki Edan Samberata diam tertunduk. Dia mencoba mengingat-ingat siapa gerangan pemuda yang telah menolongnya tadi. Akhirnya Ki Edan tepuk keningnya sendiri. "Astaga! Bukankah pemuda itu si Tanpa Nama yang mempunyai julukan Penyair Halilintar? Sungguh luar biasa pemuda itu. Menyesal sekali aku sempat punya prasangka yang bukan-bukan. Masih semuda itu tapi sudah mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa. Gila." Ujar si kakek. "Beruntung dia tidak melantunkan bait-bait syairnya sepanjang hari. Kalau tidak telingaku bisa tuli. Tapi apa benar seperti katanya Sengkala Angin Darah memang telah dikuasai Iblis Matahari. Aku harus mencari saudara kandungku sekaligus memberitahukan apa yang baru kudengar tadi!" kata si kakek.

Tidak mau berlama-lama lagi, Ki Edan Samberata akhirnya tinggalkan tempat itu.

2

Berkat pertolongan yang diberikan Tapa Gedek, luka dalam yang diderita gadis cantik bernama Anggagini itu akhirnya dapat disembuhkan. Anggagini merasa sangat senang sekali karena Tapa Gedek ternyata mempunyai sifat yang hampir sama dengan kakek gendut. Yang membuat gadis ini menjadi gelisah karena Gentong Ketawa sampai saat ini masih belum juga sadarkan diri. Kakek berpakaian serba hitam, berambut kaku seperti ijuk dan suka menggelengkan kepala ini sudah mengeluarkan seluruh racun yang terdapat di bagian lukanya. Tapi sampai sejauh itu si kakek gendut masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.

Anggagini yang saat itu duduk di atas batu dalam keadaan bersila tiba-tiba membuka matanya. Dia memandang ke arah di mana si gendut terbaring. Si gendut diam tak bergerak. Ketika Anggagini bermaksud menghampiri orang tua itu Tapa Gedek tiba-tiba mencegahnya.

"Hei, kuning cantik." Kata Tapa Gedek. Merasa tak mengenal Anggagini si kakek enak saja memanggil gadis itu 'kuning' karena Anggagini memang berpakaian serba kuning. "Kau tak usah merisaukan kakek kerbau bunting itu. Luka dalammu baru saja dalam taraf penyembuhan. Belum sembuh betul. Jika kau banyak bergerak aku kuatir luka itu akan kambuh lagi. Kakek itu tidak apa-apa. Seluruh racun yang mendekam di bagian luka dan yang menjalar di beberapa bagian tubuhnya telah kusedot keluar. Dia hanya membutuhkan waktu untuk istirahat." Ujar si kakek.

"Kau memanggilnya kerbau bunting? Mengapa kau berkata begitu kek?" tanya Anggagini sambil kerutkan keningnya heran.

Tapa Gedek geleng-gelengkan kepala. "Mumpung dia tidak sadar. Biarkan saja aku memanggil dia dengan sebutan apa. Tapi... apa sebenarnya yang telah terjadi. Sebelumnya aku melihat wajah dan sekujur kakek ini membiru. Racun yang terdapat di bagian lukanya jelas bukan racun biasa. Racun itu jelas seperti racun binatang?" Meskipun sempat kaget tak menyangka ka-

kek itu mempunyai pengalaman luas dalam hal racun. Namun sang dara anggukkan kepala sambil menjawab. "Dugaanmu benar, Kakek Gentong Ketawa memang menderita keracunan setelah dia terluka akibat terkena cakaran salah satu dari Empat Laba-Laba Beracun. Tapi akhirnya keempat manusia laba-laba itu dapat dibunuh oleh kakek gendut." Ujar Anggagini memberi penjelasan.

"Hemm, Empat Manusia Laba-Laba kuketahui bukan orang-orang yang baik. Yang membuat aku heran mengapa mereka sampai menanam permusuhan pada kakek ini?"

Sang dara tersenyum baru menjawab. "Memang tidak ada permusuhan. Benda sakti yang bernama Sengkala Angin Darah itulah yang menjadi gara-garanya." Sahut Anggagini.

Si kakek jadi semakin tidak mengerti hingga membuat kepalanya bergoyang tak mau diam. "Gara-gara? Hem, apa maksudmu?"

"Begini. Empat Manusia Laba-Laba menuduh Sengkala Angin Darah ada di tangan kakek gendut. Entah siapa yang menyebarkan kabar fitnah itu. Yang jelas selama beberapa hari ini kami terus dikejar-kejar oleh orang-orang dunia persilatan. Mereka semua mempunyai tujuan yang sama, yaitu meminta benda sakti itu."

"Apakah benda sakti itu yang mereka minta memang ada pada gendut itu?" tanya Tapa Gedek sambil menatap ke arah Gentong Ketawa.

"Benda sakti apa? Aku telah bersamanya selama beberapa hari. Dan aku tahu benda itu memang tidak ada padanya."

"Mungkin ada orang yang sengaja melontarkan fitnah untuk maksud dan tujuan tertentu." Ujar Tapa Gedek setelah beberapa saat lamanya sempat terdiam.

"Saya rasa juga begitu kek. Hanya aku tidak tahu siapa orangnya. Mungkin nanti setelah kakek gendut sadar kau dapat menanyakan langsung kepadanya." Kata Anggagini. Lalu gadis itu ajukan pertanyaan. "Kau sendiri siapa? Mengapa maumaunya bersusah payah menolong kami?"

Tapa Gedek tidak segera menjawab, melainkan pandangi mayat-mayat yang bergelimpangan yang merupakan kaum cacat dari Lembah Sesat. Baru saja si kakek hendak menjawab. Tak disangka-sangka Gentong Ketawa menggeliat. Keluarkan suara mengeluh seperti orang yang baru bangun tidur, lalu duduk dengan mata jelalatan.

Sebagaimana wataknya, begitu sadar si gendut bukannya menunjukkan sikap seperti orang yang baru sembuh dari lukanya. Malah sebaliknya orang tua ini menggumam. "Walah cucuku Anggagini. Rupanya kau masih dalam keadaan segar bugar. Ah, orang-orang malang itu mati semua. Siapa yang membunuh? Padahal aku merasa tidak melakukan apa-apa. Yang aku rasakan justru tidur di satu tempat yang sejuk, indah dan ditemani oleh beberapa gadis cantik." Ucapan si kakek mendadak terhenti begitu pandangannya membentur sosok Tapa Gedek.

Gentong Ketawa menatapi kakek berambut kaku itu. Ia berusaha mengingat sesuatu. Rasanya tadi dia sempat melihat orang itu sebelum pada akhirnya tidak sadarkan diri akibat berusaha menahan serangan orang-orang cacat dari Lembah Sesat. Dia melihat satu bayangan berkelebat menghajar para pengeroyok. Setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang terjadi.

Merasa diperhatikan sedemikian rupa sebaliknya Tapa Gedek jadi serba salah. Sehingga diapun bertanya. "Ada yang aneh dalam diriku kakek gendut? Atau kau mengira aku ini seorang perempuan yang patut kau pandangi seperti itu?"

Gentong Ketawa tertawa lebar. Dia kemudian berkata. "Rambut kaku, kulit hitam, pakaian hitam. Kepala golang goleng melulu tak mau diam. Apakah mungkin dalam diri orang dengan ciri-ciri seperti itu ada yang menarik untuk dipandang? Aku tidak ingat apakah aku pernah mengenalmu sebelumnya. Tapi terus terang aku merasa berterima kasih atas budi pertolonganmu. Kakek bertampang bagus kau siapa?"

"Ha ha ha. Aku merasa kecakepan. Mestinya kalau ada air jernih di sekitar sini aku patut berkaca dulu." Kata Tapa Gedek. "Namun biarlah tampangku memang sudah begini adanya. Aku tidak perlu berkaca. Oh ya, kau bertanya siapa aku, kakek gendut. Ketahuilah, namaku Tapa Gedek."

"Tapa Gedek. Aku tidak kenal dengan nama jelek seperti itu." Gumam Gentong Ketawa.

"Kau boleh tidak mengenalku, karena waktu itu aku tidak selalu bersama guruku."

"Siapa nama gurumu itu?" tanya si gendut lagi.

"Guruku bergelar Manusia Selaksa Angin."

jawab Tapa Gedek.

Mendengar jawaban Tapa Gedek meledaklah tawa si gendut. Begitu kerasnya dia tertawa sampai perutnya yang gendut bergoyang-goyang sedangkan matanya yang sipit nampak seperti terpejam. Begitu tawa Gentong Ketawa terhenti dia berucap. "Oalah... jadi kau muridnya kakek salah kaprah si tukang kentut itu. Ah bagaimana dia sekarang. Masih seperti dulu apa sudah bongkok? Kalau sudah bongkok punuknya ada berapa?"

"Guruku bukan sapi kek. Mana mungkin ada punuknya." Ujar Tapa Gedek. Dia lalu melanjutkan. "Guruku masih seperti yang dulu. Keadaannya begitu-begitu saja. Masih suka kentut malah kini kentutnya tambah dahsyat."

"Kau kelayapan meninggalkan gurumu. Apakah sengaja ya mengintili aku?" tanya Gentong Ketawa dengan tatapan penuh selidik.

"Siapa yang mengintili dirimu? Guruku cuma berpesan padaku agar aku bisa membantumu melakukan apa saja. Sebab menurut guru biarpun temannya yang bernama Gentong Ketawa itu badannya besar seperti gajah bunting tapi otaknya cuma sebesar buah kacang ijo. Guruku takut terjadi sesuatu pada temannya itu."

"Kakek sial. Apakah kau lupa kalau orang yang kau sebutkan itu adalah diriku?" hardik Gentong Ketawa dengan mata melotot.

Tapa Gedek tertawa lebar. "Justru kau adalah orang yang dimaksudkan oleh guruku. Itulah sebabnya aku tadi bicara sopan karena takut menyinggung perasaanmu." Ujar si kakek.

"Sopan apanya? Kau sudah berani bicara kurang ajar. Mengatakan otakku cuma sebesar kacang hijau, apakah kau sudah melihatnya sendiri?"

"Belum kek. Tapi kira-kira isi kepalamu kurang lebih memang seperti yang dikatakan guruku!" kata Tapa Gedek tetap ngotot.

"Sial. Awas... kapan-kapan jika aku bertemu dengan tua bangka tolol Selaksa Angin pasti akan kujitaki kepalanya yang setengah botak itu pulang balik!" geram si gendut sambil mengusap keningnya yang selalu keringatan.

"Sudahlah kek. Kakek berambut kaku ini bukan saja telah menolongmu tapi juga telah menolongku. Sekarang sebaiknya kita bicarakan saja urusan kita." Ujar Anggagini menengahi.

"Hemm, dia betul." Kata Tapa Gedek menimpali. "Akupun jadi ingin tahu mengapa orangorang rimba persilatan mengejar dirimu bahkan berniat ingin membunuhmu?"

Gentong Ketawa terdiam, wajahnya mendadak berubah muram. Dia bangkit berdiri sambil menarik nafas dalam-dalam. Sekejap lamanya ia layangkan pandangan matanya ke arah mayatmayat yang bergelimpangan. Mayat-mayat yang semasa hidupnya bernasib malang. Hidup terkungkung di Lembah Sesat diperbudak oleh seorang manusia serakah lagi culas bernama Empu Barada Sukma. Memandang ke arah mayat-mayat itu mendadak mata si kakek meredup. Gentong Ketawa merasakan sepasang matanya terasa panas. Diapun kemudian berkata dengan suara tersendat. "Setelah melihat kemunculan orang-orang dari lembah sesat ini. Rasanya sekarang baru aku sadari siapa kira-kira orangnya yang telah membuatku dikejar-kejar oleh kaum dunia persilatan."

"Memangnya mereka itu siapa kek? Ketika aku muncul kemari, kulihat kau seperti mengalah ketika mereka menyerangmu!" kata Tapa Gedek sambil memandang tajam pada kakek itu.

Lagi-lagi Gentong Ketawa menarik nafas pendek. Dengan perasaan berat pula ia berkata. "Jika aku bicarakan tentang orang-orang cacat ini. Maka semua itu tidak terlepas dari dosa yang telah dilakukan oleh datuk sesat bernama Empu Barada Sukma."

"Empu Barada Sukma?" desis Tapa Gedek tersentak kaget. Lalu orang tua ini meneruskan ucapannya. "Guruku mengatakan kakek sesat itu adalah musuh besarmu. Ilmunya sangat tinggi. Bahkan guruku merasa yakin jika orang itu sampai menggunakan ilmu pukulan Pelenyap Jasad Penyedot Darah kau mungkin tak sanggup menghadapinya."

"Manusia Selaksa Angin benar. Biarpun aku menggabungkan tiga pukulan sakti yang aku miliki mungkin tidak bakal dapat berbuat banyak. Kurasa hanya guruku Dewa Kincir Samudera yang bisa menghancurkan kakek jahanam itu." Ujar Gentong Ketawa.

"Astaga. Jadi engkau yang setua ini masih punya guru?" tanya Tapa Gedek dengan mata terbelalak tak percaya.

"Ha ha ha. Memangnya cuma dirimu saja yang punya. Aku juga punya tapi dia sangat jauh, malah tempat tinggalnya aku tidak tahu."

"Guru sendiri tapi kau mengaku tidak tahu dimana tempat tinggalnya?" ujar Tapa Gedek heran.

"Guruku itu selalu menghabiskan waktunya di satu pulau di tengah samudera. Di pulau apa dan samudera mana aku sendiri belum pernah diberi tahu." Kata si gendut.

"Kek... aku tidak melihat apa hubungannya mengenai orang-orang cacat yang telah menyerang kita ini dengan orang yang bernama Empu Barada Sukma." Ucap Anggagini menyela.

"Hubungannya tentu sangat erat sekali. Orang-orang itu sejak bayi dirampas dari tangan orang tuanya. Kemudian salah satu anggota badan mereka dibuat cacat sebagai tanda kesetiaan. Setelah itu jiwa mereka diracuni. Hingga menjadikan mereka tidak mengenal diri sendiri, menjadi liar dan ganas. Empu Barada Sukma sejak dulu punya ambisi ingin menjadi paduka raja dunia persilatan, memiliki prajurit yang ganas dan sebuas harimau. Rencana itu kemudian menjadi berantakan karena aku muncul di lembah itu. Pasukannya yang sudah terlatih kubuat porak poranda. Sebagian di antara mereka masih bisa kubuat sadar. Sedangkan yang membangkang terpaksa kuhabisi. Sejak saat itu aku tahu Barada Sukma pasti menyimpan dendam kepadaku." Ujar si kakek.

"Kemudian bagaimana kau tahu orang itu yang menjadi pangkal bencana hingga membuatmu dikejar-kejar orang?" tanya Tapa Gedek.

"Sebelumnya Barada Sukma secara terangterangan telah mengirimkan orang untuk menangkapku dalam keadaan hidup atau mati. Usaha itu gagal. Kemudian belakangan ini muncul persoalan lain. Orang-orang rimba persilatan mencari diriku. Semula aku memang tidak dapat menduga siapa orangnya yang telah menyebarkan berita gila itu. Tapi fikiranku kemudian terbuka setelah kaum cacat dari lembah sesat ini muncul dan menyerangku."

"Ini berarti Barada Sukma memang ingin melihatmu tewas di tangan orang lain." ujar Tapa Gedek.

"Mungkin saja. Tapi kurasa dia punya suatu rencana tentang benda itu. Barada Sukma ingin memiliki Sengkala Angin Darah agar dia dapat mewujudkan impiannya yang sempat kandas di tengah jalan."

"Atau mungkin Sengkala Angin Darah memang sudah berada di tangannya. Kurasa siasat yang dijalankannya semata-mata karena ia ingin membalaskan rasa sakit hatinya kepadamu sekaligus sengaja ingin mengalihkan perhatian orang lain!" potong Tapa Gedek.

Gentong Ketawa manggut-manggut. Anggagini bertanya. "Lalu apa yang akan ki-

ta lakukan?"

"Yang harus kita lakukan adalah mencari benda sakti itu. Kemudian jika ternyata Sengkala Angin Darah berada di tangan Barada Sukma kita harus menyingkirkan kakek itu." Ujar Gentong Ketawa.

"Aku ikut denganmu. Aku yakin mungkin cuma aku yang bisa menghadapi Empu Barada Sukma."

Si gendut menyeringai, memperhatikan kakek di depannya sambil berkata. "Memang kau mempunyai bekal ilmu kepandaian apa hingga berani ikut denganku?"

"Jangan meremehkan diriku. Aku memiliki ilmu pukulan Gelombang Naga!" kata Tapa Gedek.

"Hah...!" si gendut terperangah. Kakek tua itu berjingkrak kaget, matanya terbelalak seakan tidak percaya. "Kk... kau bagaimana bisa mendapatkan ilmu selangka itu? Tapa Gedek... kau jangan main-main. Ilmu Gelombang Naga kudengar konon terdapat di Kubur Kuno, makam tua yang tempatnya sendiri jarang orang yang tahu."

"Siapa yang main-main? Aku memang pernah sampai ke tempat itu." Ujar si kakek. Kemudian dia menceritakan bagaimana dirinya sampai terjeblos ke Makam Tua. Untuk lebih jelasnya silahkan ikuti Episode 'Gelombang Naga'.

Gentong Ketawa geleng-gelengkan kepala, tapi mulutnya berdecak penuh rasa kagum.

"Sungguh aku tidak percaya jika tidak mendengarnya sendiri. Tidak pernah kusangka manusia butut sepertimu bisa mendapatkan ilmu itu!"

"Gendut sialan. Orang bertampang bagus begini dikatakan butut!" kata Tapa Gedek bersungut-sungut.

Gentong Ketawa   tertawa   tergelak-gelak. Anggagini juga tidak mampu menahan tawanya melihat tingkah kedua kakek itu.

"Ah... jadi marah rupanya. Tidak mengapa. Kau mau ikut aku tidak melarang. Sekarang tunggu apa lagi? Mari kita pergi!" Selesai bicara si gendut bangkit berdiri. Lalu tanpa bicara lagi si gendut berkelebat pergi diikuti oleh Tapa Gedek dan Anggagini. 

3

Si gondrong bertelanjang dada itu masih saja menyandarkan tubuhnya di badan patung batu tapa yang terdapat di kaki bukit. Dua kaki dijulurkan. Sedangkan kedua matanya nampak berkedap kedip memandang ke langit. Sore itu cuaca memang begitu cerah, langit biru tidak berawan dan angin semilir berhembus membuat si gondrong menjadi mengantuk.

Tak jauh dari si gondrong seorang gadis berwajah cantik berpakaian serba putih duduk bersila dengan kedua mata terpejam. Gadis berkepala botak sebagaimana layaknya seorang rahib itu nampak begitu gelisah. Orang yang ditunggu masih juga belum menampakkan diri. Padahal mereka sudah berada di situ cukup lama.

Sang dara jadi tidak sabar. Matanya yang terpejam lalu terbuka. Dia memandang ke arah si gondrong, Melihat sikap si gondrong yang tenangtenang saja gadis ini jadi tidak sabar. "Gento... sampai kapan kita menunggu orang tua itu? Aku curiga jangan-jangan dia menipu kita?" Tak sabar gadis berkepala botak mengemukakan kekhawatirannya.

Si gondrong yang memang Pendekar Sakti 71 Gento Guyon adanya diam membisu.

"Pemuda geblek itu, apa yang difikirkannya?" batin si gadis. Tak sabar Taktu bangkit berdiri. Kemudian dia menghampiri Gento. Setelah dekat barulah dia tahu ternyata murid kakek gendut Gentong Ketawa tertidur lelap. Semakin bertambah jengkel saja gadis ini dibuatnya.

"Gento?" kata gadis itu dengan suara keras, membuat Gento berjingkrak kaget dan mengusapusap matanya.

"Mengapa kau berteriak-teriak begitu Taktu? Apa kau mengira aku tuli?" tanya sang pendekar sambil memandangi sang dara.

"Hi hi hi. Kau tidak tuli. Tapi semua orang yang tidur mempunyai sikap seperti orang tuli."

Gento terdiam, lalu tersenyum sendiri. Dia memang sempat tertidur sekejap tadi. Semua itu karena dirinya terlalu lelah. Lalu Gento mencaricari. Memandang sekelilingnya. Kakek yang ditunggu masih belum kelihatan batang hidungnya.

"Mana orang tua itu?" Gento ajukan pertanyaan.

"Justru itu kubangunkan dirimu. Kakek itu tidak kunjung muncul, aku punya firasat dia menipu kita!" sahut Taktu.

"Menipu bagaimana?" "Waktu kita tinggalkan dirinya bukankah dia tengah terlibat perkelahian sengit dengan Setan Santet Delapan Penjuru. Dan Setan Santet seperti yang kita sama-sama lihat bukanlah manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya cukup tinggi, tapi yang lebih berbahaya adalah ilmu santet serta Jin Sesat yang menjadi piaraannya. Mungkin saja Ki Comot Jalulata banyak mengalami kesulitan dalam menghadapi Setan Santet sehingga dia terlambat datang kemari." Ujar Gento tenang.

"Baiklah kukira kita hanya bisa menunggunya beberapa saat lagi. Jika dia tidak muncul juga sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini secepatnya."

"Baiklah, aku setuju saja. Yang terpenting kita harus mencari guruku. Bagaimanapun perasaanku jadi tidak enak jika belum bertemu dengannya." Kata pemuda itu.

"Aku rasa gurumu tidak apa-apa. Malah kufikir dialah yang cemas memikirkan dirimu."

"Hemm...!" Gento hanya menggumam. Dia lalu bangkit tapi tiba-tiba perhatiannya tertuju ke balik bukit dimana tadi sempat didengarnya suara aneh mencurigakan.

"Ada apa?" tanya Taktu yang memang tidak mendengar suara apa-apa.

"Ada ranting terinjak patah. Ada orang di sekitar situ. Aku harus menyelidik." Kata Gento.

"Aku tidak mendengar apa pun. Tapi apa perlunya kau berletih diri melakukan segala penyelidikan. Paling juga yang datang Ki Comot Jalulata." Kata Taktu.

"Kalau dia adanya mengapa tidak langsung menemui kita. Padahal dia sudah tahu kita menunggunya di sini." Kata Gento curiga.

Kecurigaan pemuda itu nampaknya memang beralasan. Karena di balik semak belukar saat itu mendekam satu sosok yang terus mematamatai gerak-gerik mereka.

Sayangnya niat Gento tidak terlaksana karena pada saat itu satu bayangan serba biru nampak berkelebat di antara cabang pepohonan. Gento dan Taktu sama memandang ke arah sosok yang datang. Tak lama kemudian di depan mereka berdiri tegak seorang kakek berpakaian seperti orang hamil berwarna biru bersongkok hitam.

Begitu munculkan diri si kakek menyeringai. Seringai kakek itu lenyap. Kemudian dia berkata. "Maaf, aku membuat kalian menunggu agak lama." Taktu. "Memangnya kau kemana saja kek?" Tanya

"Tak usah ditanya. Dia pasti sibuk menghitung-hitung barang hasil jarahannya di sepanjang jalan. Bukankah begitu Ki Comot?" rutuk Gento jengkel.

Kakek berdaster biru Ahli Sihir Dari Goa Es yang dikenal dengan nama Ki Comot Jalulata tertawa tergelak-gelak.

"Kau benar. Di jalan aku memang terpaksa menghitung kembali perabotan milik orang yang telah kucuri. Sayang aku cuma bisa mendapatkan bukit hidung dan telinga kanan Setan Santet. Coba kalau bisa kuambil barangnya yang di bawah. Tentu jumlah simpananku makin bertambah. Ha ha ha!"

Tetapi tiba-tiba saja si kakek berpaling ke arah Gento. Mulutnya menyeringai penuh arti.

Seakan mengerti apa yang difikirkan Ki Comot, Gento mengancam. "Berani kau berbuat kurang ajar padaku, aku pasti membunuhmu!"

Melihat Gento yang kalang kabut Taktu jadi tersenyum geli.

Ki Comot Jalulata tertawa mengekeh. Dia gelengkan kepala. Setelah pandangi sang pendekar dan Taktu yang berkepala botak, Ki Comot berkata. "Rasanya memang tidak pantas bagiku berbuat ceroboh pada orang-orang sebaik kalian."

"Tidak usah basa basi. Katakan saja mengapa kau meminta kami menunggu di sini. Apakah ada sesuatu yang hendak kau sampaikan?" tanya si pemuda langsung pada titik persoalan.

"Hmm, kau betul. Kalau begitu sebaiknya kau dan gadis temanmu itu cepat ikuti aku!"

"Mengikutimu?" tanya sang Pendekar. "Kami tidak bakal pergi ke mana pun apalagi sampai ikut denganmu jika kau tidak mau mengatakan apa sebenarnya yang hendak kau sampaikan."

"Ini menyangkut urusan penting. Apa yang kuketahui menyangkut urusan besar dan keselamatan orang-orang dunia persilatan." Ujar Ki Comot.

"Keselamatan dunia persilatan. Apakah yang hendak kau katakan pada kami ada sangkut pautnya dengan Sengkala Angin Darah?" tanya Taktu.

"Benar." "Kabar yang kudengar terakhir benda itu ada pada Gentong Ketawa guruku. Hingga begitu banyak orang yang mengejarnya. Guruku menjadi manusia buruan. Padahal yang kuketahui sebelum kami terpisahkan guruku sama sekali tidak tahu menahu tentang benda itu. Kini si gendut berada dalam ancaman bahaya besar. Lalu kau sendiri apakah punya pendapat lain?" tanya Gento.

Ki Comot Jalulata terdiam beberapa saat lamanya. Pengakuan Gento yang mengatakan Gentong Ketawa adalah gurunya cukup membuat Ki Comot merasa terkejut. "Coba kau ulangi Gentong Ketawa tadi apamu?"

Gento jadi heran sendiri. Diperhatikannya kakek berdaster itu. Tidak ada kesan mencurigakan. Tatap mata Ki Comot biasa saja.

Barulah kemudian tanpa rasa ragu sang pendekar menjawab. "Gentong Ketawa itu adalah guruku! Kau mengenalnya?" tanya si pemuda.

"Kenal orang sih tidak, Tapi nama besarnya dulu sering kudengar. Kurasa hampir seluruh orang-orang di dunia persilatan tanah Jawa mengenal kakek gendut sinting itu." Kata Ki Comot. "Kebetulan sekali. Aku membutuhkan orang-orang jujur untuk membantuku."

"Membantu apa?" tanya Taktu tidak sabar. "Aku tahu sekarang ini sangat banyak orang

yang ingin memiliki Sengkala Angin Darah! Aku telah melakukan penyelidikan. Dan benda itu adanya di Puncak Sebelas Tangga Kematian."

"Ah, kau bicara apa? Aku sudah mengatakan banyak orang mengejar guruku karena menyangka benda itu ada di tangannya."

"Itu hanyalah sebuah fitnah. Kau tak usah cemas. Aku yakin dengan apa yang kulihat. Jelas Sengkala Angin Darah kini berada di Puncak Sebelas Tangga Kematian."

"Kalau benar. Lalu siapa yang telah membawa Sengkala Angin Darah ke tempat itu?" tanya Taktu.

"Tentu saja penguasa Puncak Tangga Kematian." Jawab Ki Comot.

"Jika benar benda itu berada dalam kekuasaannya. Mengapa kau tidak merebutnya. Lalu membawanya pergi dan disimpan ke tempat yang aman?" tanya Gento.

Ki Comot Jalulata gelengkan kepala, wajahnya menunjukkan rasa jerih. "Tidak semudah itu Gento. Penguasa Puncak Sebelas Tangga Kematian bukan manusia sembarangan. Dia memiliki bermacam-macam kesaktian yang setara dengan ilmu yang dimiliki iblis. Seingatku belum pernah ada yang selamat bila bertemu dengannya. Biarpun orang itu memiliki kepandaian segudang. Lima orang berkepandaian tinggi sepertiku berbarengan menyerangnya belum tentu sanggup merobohkannya."

"Gila. Ki Comot sepengetahuanku bukanlah orang berkepandaian rendah. Jika begitu ilmu yang dimiliki penguasa Puncak Sebelas Tangga Kematian benar-benar tak dapat dijajaki." Batin Gento. Sang Pendekar lalu ajukan pertanyaan lagi. "Ki apakah kau sudah melihat bagaimana ujud benda maut itu?" "Sama sekali belum. Tapi aku sudah melihat bekas dimana Sengkala Angin Darah diletakkan. Sebelumnya kurasa Iblis Dalam Matahari pernah meletakkannya di atas batu besi berbentuk lempengan. Kulihat batu besi itu berubah merah menjadi bara. Tanah di sekitar batu bahkan seperti amblas, mengepulkan asap tebal. Pepohonan di sekelilingnya hangus terbakar dan di sekitar tempat itu porak poranda bagaikan baru saja dihantam topan."

"Benda sakti yang sangat luar biasa. Sungguh tak masuk akal Sengkala Angin Darah yang memiliki kekuatan sedahsyat itu bisa dikuasai oleh seseorang?" ujar Taktu.

"Ini adalah suatu kenyataan yang sulit dipercaya." Ujar Gento pula.

"Memang tapi apa yang kukatakan ini sesuai dengan apa yang kulihat. Yang perlu kita lakukan adalah merebut benda itu, lalu membawanya ke tempat aman agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah."

"Apakah kau tidak termasuk bagian dari yang salah itu?" sindir Gento disertai senyum mencibir.

Wajah Ki Comot Jalulata nampak berubah. Dengan mata mendelik dia berkata. "Aku tidaklah seburuk yang kau duga. Kepadaku kau tak perlu menaruh rasa curiga."

"Bukannya begitu Ki. Kau tahu sendiri, aku sudah mengatakan guruku yang tidak tahu menahu tentang benda itu saja dikejar-kejar dan hendak dibunuh orang. Tentu aku tidak bisa disalahkan jika harus bersikap lebih hati-hati. Pada hakekatnya aku tidak keberatan membantumu. Cuma harus diingat. Apa yang akan kita lakukan bukanlah suatu persoalan yang mudah. Karena selain Iblis Dalam Matahari yang menurut katamu mempunyai kepandaian tinggi. Kita juga pasti akan menghadapi tokoh-tokoh lainnya. Dan mereka bukan orang sembarangan."

"Aku tahu Gento. Kita memang harus berhati-hati. Tapi alangkah lebih baik bila kita sampai ke sana lebih cepat sebelum didahului oleh orang lain." Ujar Ki Comot Jalulata.

Gento dan Taktu akhirnya setuju. Mereka kemudian bergerak meninggalkan tempat itu. Mereka sama sekali tidak tahu sejak tadi pembicaraan mereka didengar oleh seseorang yang mengintai dari balik semak belukar lereng bukit. Sosok itu tanpa memberi tanggapan apa-apa segera pula berkelebat pergi ketika ia melihat! Ki Comot dan sang pendekar juga Taktu tinggalkan patung batu tapa.

4

Ki Betot Segala salah satu dari tiga manusia Kembar yang suka memakai daster berwarna biru itu berjalan dengan mengendap-endap menelusuri sungai kecil berbatu. Sampai di satu tempat dia hentikan langkahnya. Kakek itu menarik nafas pendek, lalu berpaling ke belakang. Di belakangnya seorang kakek tua berambut putih dan berpakaian serba ungu menyeringai.

"Mengapa berhenti? Teruskan saja berjalan, kau memimpin di depan dan aku di belakangmu." Ujar kakek berbaju ungu.

"Bukit itu sudah tidak jauh lagi dari sini. Kau bisa melihat sendiri. Di depan sana!" ujar Ki Betot Segala.

Kakek berambut putih memandang ke arah yang ditunjuk sahabatnya. Tak jauh di depan sana di balik tiga pohon cemara yang menjulang tinggi dia memang melihat sebuah bukit berwarna kehijau-hijauan. Si kakek cepat gelengkan kepala.

"Bukan... bukan itu bukit yang kita cari. Puncak Sebelas Tangga Kematian memang berada di suatu bukit. Tapi setahuku bukit itu tidak berwarna hijau, tapi merah. Warnanya merah seperti darah."

"Ki Sumpit Prakoso. Kau jangan mengadaada, sepanjang hidup aku belum pernah melihat bukit berwarna merah. Mungkin penglihatanmu ngawur. Kau salah dalam menerapkan kesaktian batin, hingga yang kau lihat melalui indera keenam itu ngawur semua." Kata Ki Betot Segala menggerutu.

"Jangan tolol. Bukankah kau sendiri yang meminta agar aku mengerahkan kekuatan batin untuk melihat keberadaan Sengkala Angin Darah. Seperti yang sudah kulakukan ketika kita belum memutuskan melakukan perjalanan kemari, benda itu tidak ada pada Gentong Ketawa. Penglihatan batinku tidak pernah menipu." "Jika kau tidak melihat benda itu berada di tangan Gentong Ketawa lalu kau melihat apa?" Tanya Ki Betot Segala.

Dengan perasaan kesal, sambil memejamkan kedua matanya Ki Sumpit Prakoso atau yang lebih dikenal dengan julukan Kura-Kura Naga itu berkata. "Seperti yang kulihat dalam penglihatan batinku saat ini dan sebagaimana yang kulihat kemarin. Aku melihat bukit berwarna merah seperti kaca. Bukit itu memiliki sebelas tangga berbentuk aneh terbuat dari batu. Bukit dengan ciri-ciri seperti itu pastilah bukit merah yang selama ini dikenal dengan nama Puncak Sebelas Tangga Kematian." Ujar Ki Sumpit Prakoso.

Ki Betot Segala tertawa dingin. Sambil memperhatikan sahabatnya dan dengan disertai senyum mencibir dia berkata. "Ki Sumpit. Menurutmu apakah tidak terjadi suatu kejanggalan."

"Kejanggalan apa maksudmu?" tanya Ki Sumpit.

"Bukankah aku memintamu untuk melihat keberadaan benda sakti Sengkala Angin Darah melalui kekuatan yang kau miliki. Tapi apa yang kemudian terjadi? Yang kau lihat dan yang kau katakan bukan seperti yang aku minta. Apakah ini tidak aneh?"

"Kau boleh saja berpendapat begitu. Tapi aku punya pendapat lain. Boleh jadi tempat yang kulihat sebagai isyarat bahwa benda sakti yang kita cari memang berada di sana. Bukankah kau mengatakan benda sakti itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat luar biasa?" "Memang betul."

"Nah, atas dasar semua itu aku menyimpulkan kekuatan penglihatan batinku tidak dapat menembus secara pasti benda itu, melainkan hanya sanggup melihat satu tempat dimana benda itu berada." Ujar Ki Sumpit Prakoso. Atas jawaban sahabatnya Ki Betot Segala menggumam. "Jika pendapatmu benar. Apapun yang terjadi kita harus datang ke tempat itu. Tapi jika dugaanmu itu meleset berarti segala yang kita lakukan saat ini sia-sia saja." Ujar Ki Betot Segala.

"Sudahlah, kau harus percaya padaku!" kata Ki Sumpit Prakoso.

"Baiklah, bukit merah itu letaknya sudah tidak jauh lagi dari tempat ini."

"Kalau begitu kita tak perlu mengendapendap seperti maling. Ayo ikuti caraku!" berkata Ki Betot Segala kemudian berlari cepat mengikuti anakan sungai. Ki Sumpit segera menyusulnya. Tak sampai sepenanakan nasi mereka berlari. Di bawah sebatang pohon beringin putih mereka berhenti kembali.

"Lihat Ki Sumpit, bukit yang kau maksudkan ada di depan sana. Tapi mengapa sekeliling bukit itu diberi tangga?" ujar Ki Betot Segala sambil memandang lurus ke arah bukit gundul berwarna merah yang jaraknya hanya sejauh lima puluh tombak dari tempat mereka berada.

"Aku tidak tahu. Kita harus meneliti, kita harus mendekati bukit itu. Setelah itu baru bisa kita cari tahu dimana benda itu disembunyikan!"

"Kau yakin orangnya tidak berada di tempat, Ki Sumpit?" tanya Ki Betot Segala ragu-ragu. "Mana aku tahu. Sudahlah jangan banyak

tanya. Sekarang kau yang harus mengikuti aku!" ujar kakek itu. Lalu tanpa menunggu jawaban sahabatnya Ki Sumpit segera berlari diantara kerapatan pepohonan yang terdapat di kaki bukit. Tapi aneh, setelah sekian lama mereka berlari mereka masih belum juga sampai ke bagian lereng bukit merah.

"Gila. Jangan-jangan apa yang kita lihat hanya fatamorgana?"

"Apa maksudmu Ki Sumpit?" tanya Ki Betot Segala.

"Apakah kau tidak ingat, ketika kita berada di bawah pohon beringin putih tadi. Dari sana jaraknya seperti tidak begitu jauh. Tapi setelah kita datangi mengapa tidak sampai-sampai. Malah kini seperti yang sama kita lihat di depan kita malah ada lembah segala. Ada yang tidak beres. Aku jadi curiga bukan mustahil sekarang kita sedang memasuki sebuah perangkap!" ucap Ki Sumpit.

"Lalu apakah kita harus membatalkan niat menyelidiki bukit itu?"

"Tidak begitu." Sahut Ki Sumpit. "Semua rencana harus kita jalankan. Aku tidak pernah tertipu oleh penglihatan batinku. Aku yakin sekali Sengkala Angin Darah memang disembunyikan di bukit itu. Sekarang mari kita seberangi lembah itu!"

"Ki Sumpit apakah tidak sebaiknya kita ambil saja jalan memutar dari sebelah barat untuk menghindari terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan." Usul Ki Betot Segala.

Ki Sumpit tersenyum, enak saja dia menjawab. "Tak perlu risau. Mengambil jalan memutar aku malah takut mengundang perhatian orang."

"Terserahmulah Ki Sumpit. Cuma sekarang kau yang harus berjalan di depanku."

"Baik. Siapa yang takut?" Dan Ki Sumpit mendahului Ki Betot Segala. Tapi baru saja beberapa langkah mereka bergerak. Mendadak sontak di atas langit sana terdengar suara gemuruh hebat tidak ubahnya seperti suara langit yang runtuh.

Kemudian terdengar pula suara pekikan menggelegar.

Dalam kagetnya kedua kakek ini sama dongakkan kepala memandang ke langit. Wajah kedua orang tua ini mendadak berubah, mata terbelalak sedangkan mulut ternganga.

"Sungguh sulit kupercaya." Gumam Ki Sumpit Prakoso.

"Burung rajawali putih. Itu adalah burung siluman?" seru Ki Betot Segala.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau burung rajawali putih itu adalah burung siluman?" tanya Ki Sumpit yang terus memandangi burung rajawali yang kini mulai berputar merendah.

"Aku sering mendengar tentang burung itu. Pemiliknya adalah seorang pemuda bernama Pasadewa."

"Pasadewa? Apa perlunya burung itu datang ke bukit merah?" tanya Ki Sumpit lagi

"Kau lihat, di atas punggung burung rajawali itu. Setidaknya ada dua orang duduk di sana. Yang berbaju hitam kuyakin adalah Pasadewa. Sedangkan yang di belakangnya aku tidak tahu."

"Lihat! Burung itu semakin mendekati puncak bukit dan kedua penunggangnya berlompatan turun." Seru Ki Sumpit Prakoso.

Ki Betot Segala memang melihat penunggang burung siluman itu berlompatan turun dan jejakkan kaki di tanah pedataran yang terdapat di puncak bukit. Kemudian burung rajawali kembali membumbung tinggi ke angkasa. Setelah itu mendadak lenyap dari pandangan Ki Betot Segala.

Si kakek jadi terkejut; "Seperti kataku, burung itu memang burung siluman."

"Aku sekarang percaya. Hem... ilmu apa yang dimiliki Pasadewa sampai dia bisa memiliki burung siluman?"

"Aku tidak tahu. Sebaiknya kita ke sana!" "Tapi kita harus berhati-hati. Dari sini kita bisa melihat ada anak-anak tangga batu untuk mencapai puncak bukit merah. Aku curiga di tanggatangga itu terdapat banyak jebakan. Karenanya kita jangan naik melalui sebelas tangga batu. Kita cari jalan lain!" ujar Ki Sumpit.

Ki Betot Segala anggukkan kepala. Mereka kemudian bergerak ke arah sebelah barat lereng bukit. Sampai di sana melalui jalan berbatu yang cukup berbahaya lagi licin keduanya mulai mendaki menuju puncak bukit merah.

* * *

Sementara itu setelah melompat turun dari punggung rajawali siluman yang mereka tunggangi. Pasadewa dan Iblis Ular Sembilan segera memeriksa seluruh penjuru puncak bukit. Di bagian puncak bukit yang datar mereka tidak menemukan apa-apa atau melihat ada tanda-tanda kehidupan di situ.

Pasadewa nampak begitu kecewa, tapi juga menjadi kesal karena beranggapan Ki Edan Samberata telah membohongi mereka.

Kakek dan pemuda berbadan tambun itu saling berpandangan. Pasadewa tiba-tiba merasa muak. Dia palingkan wajahnya ke arah lain, memandang ke arah tiga pohon yang tidak begitu besar yang mulai dari daun, batang sampai pada bunganya yang berwarna merah.

"Aku merasa kakek keparat itu telah mengerjai kita. Harusnya kita bawa serta dia ke tempat ini agar kita tahu dia bicara dusta atau benar." Geram Pasadewa sambil kepalkan tinjunya.

"Nasibnya lebih beruntung karena tiba-tiba muncul pertolongan." Menyahuti Iblis Ular Sembilan.

"Waktu kita dibawa terbang rajawali siluman. Aku melihat seorang pemuda berpakaian serba putih. Apakah pemuda itu yang menolong si kakek edan?"

"Kalau bukan dia siapa lagi?"

"Siapa pemuda itu?" tanya Pasadewa.

"Ku kira Penyair Halilintar." Sahut Iblis Ular Sembilan yang lebih banyak mengenal orang-orang aneh berkepandaian tinggi secara lebih luas.

"Huh... omong kosong. Hanya seorang penyair. Bagaimana bisa mendatangkan gemuruh angin, kilat dan petir?"

Si kakek berbadan kurus yang di tubuhnya kini digelayuti tujuh ekor ular hitam berbisa tersenyum. "Penyair Halilintar kudengar bukan hanya sekedar seorang penyair." Menerangkan si kakek tanpa maksud memuji. "Dia memiliki ilmu yang dapat mendatangkan kilat dan petir. Tidak hanya sampai di situ dia juga mempunyai ilmu yang dapat mendatangkan badai puting beliung. Malah konon Penyair Halilintar memiliki salah satu syair yang dapat membunuh lawan hanya dengan sekali berucap saja."

"Sudah! Jangan diteruskan segala ucapanmu yang tidak berguna itu paman. Yang kubutuhkan saat ini adalah Sengkala Angin Darah. Sekarang kita sudah berada di Puncak Sebelas Tangga Kematian. Suatu nama yang menyeramkan, hemm... tapi ternyata jangankan benda sakti itu. Seekor kecoak busuk pun tidak kutemukan di sini." Dengus Pasadewa kesal. "Atau mungkin harus kuhancurkan bukit ini dulu paman?"

"Jangan...!" cegah Iblis Ular Sembilan dengan suara bergetar.

"Mengapa? Kau takut? Wajahmu nampak begitu tegang? Apa yang kau lihat?" masih dengan nada tinggi pemuda itu bertanya.

"Pasadewa... aku merasakan ada yang tidak beres di tempat ini. Kau lihat akar-akar gantung yang terdapat di pohon merah itu langsung bergerak-gerak begitu kau mengancam hendak menghancurkan bukit ini!" seru si kakek. Pasadewa tertawa tergelak-gelak mendengar ucapan Iblis Ular Sembilan. Begitu tawanya lenyap sambil berkacak pinggang si pemuda berkata. "Kau tidak minum tuak keras. Bagaimana bisa bicara ngaco' seperti orang mabuk berat? Kau jangan mengada-ada atau membuatku bertambah marah!"

"Siapa yang bicara ngaco? Lihat... akar-akar gantung itu kini bergerak hendak melilit tubuhmu!" teriak si kakek.

Melihat si kakek bicara dengan bersungguhsungguh. Dengan cepat Pasadewa memutar tubuh dan memandang ke belakang. Pemuda ini keluarkan seruan kaget tapi masih sempat menyelamatkan diri dari libatan akar-akar ketiga pohon berwarna semerah darah itu.

Pasadewa yang masih menelungkup di atas tanah terbelalak memperhatikan ketiga pohon berwarna merah itu. Mulai dari batang, akar gantung, cabang-cabang pohon semuanya mengalami getaran seperti pembuluh darah. Sedangkan bagian-bagian daunnya nampak mengembang dan mengempis seperti paru-paru.

Sedangkan akar gantung yang terdapat di setiap pohon terus meliuk-liuk seperti ular berusaha menggapai dan melilit Pasadewa dan si kakek. 5

Sementara itu Ki Sumpit Prakoso dan Ki Betot Segala, setelah berjuang keras mendaki lereng bukit akhirnya sampai di puncak bukit sebelah barat. Mereka kemudian mendekam di balik batu berwarna merah. Dari tempat itu keduanya julurkan kepala memandang ke arah Pasadewa dan Iblis Ular Sembilan.

Kejut kedua kakek itu bukan alang kepalang ketika melihat bagaimana Pasadewa dan temannya berjuang keras menghindari seranganserangan akar-akar gantung dari tiga pohon berwarna merah.

"Sungguh aku tak habis mengerti, mengapa akar pepohonan itu bisa berubah menjadi liar dan menyerang mereka!" gumam Ki Betot Segala sambil memandang lurus ke depan dengan tatapan tidak berkesip.

Ki Sumpit terdiam, keningnya berkerut. Dia berusaha berfikir keras mengenai pohon aneh itu. Sampai kemudian si kakek tepuk keningnya sendiri sambil berkata. "Aku baru ingat sekarang. Kalau aku tidak keliru, pohon merah itu tentulah pohon penghisap darah alias pohon kematian. Pohon itu sama ganasnya dengan binatang buas. Jika sampai mereka terlilit akar-akar yang menjulai itu, darah mereka pasti akan disedot habis sampai tidak bersisa sama sekali!"

"Lalu mereka menemui ajal secara mengenaskan?" menyahuti Ki Betot Segala, Ki Sumpit anggukkan kepala.

"Kau benar."

"Siapa kakek yang tubuhnya digelayuti ularular hitam itu?" tanya Ki Betot Segala.

"Kalau tidak salah dialah orangnya yang bergelar Iblis Ular Sembilan. Tokoh sesat dari Telaga Setan. Kakek itu sangat berbahaya. Dengan ular-ularnya yang sangat berbisa dia bisa membunuh siapa saja!" jelas Ki Sumpit Prakoso.

Ki Betot Segala terdiam sambil usap-usap wajahnya yang terasa dingin dilanda ketegangan.

* * *

Sementara itu Iblis Ular Sembilan dan Pasadewa nampaknya terpaksa berjuang keras menyelamatkan diri dari serangan puluhan akar gantung yang meliuk-liuk menyerang mereka.

"Kita tidak mungkin bisa bertahan dengan cara seperti ini. Lakukan sesuatu atau kita tinggalkan bukit ini?" teriak Iblis Ular Sembilan.

"Apa? Tinggalkan bukit ini? Tidak! Aku yakin benda yang kita cari ada di sekitar sini." Sahut Pasadewa.

"Pasadewa... seperti yang kau lihat. Puncak bukit kosong melompong. Tidak ada apapun terkecuali pohon celaka itu!"

"Sengkala Angin Darah adalah benda yang sangat berharga. Mana mungkin diletakkan di sembarang tempat. Sudahlah, jangan banyak membantah. Kita hancurkan dulu pohon keparat itu. Baru kemudian kita lakukan pencaharian. Di puncak bukit ini pasti ada jalan rahasia."

Iblis Ular Sembilan merasa tidak punya pilihan lain terkecuali menuruti keinginan Pasadewa. Karena itu si kakek lalu silangkan kedua tangannya. Setelah itu kedua tangan secara berturutturut lalu dihantamkan ke arah puluhan akar gantung yang menggapai-gapai menyerang mereka. Tiga larik sinar menderu. Tiga larik sinar itu langsung memecah menjadi beberapa bagian setelah berada di udara. Tak lama terjadi ledakan berturut-turut. Puncak bukit bergetar hebat. Belasan akar-akar gantung sebesar lengan orang dewasa putus bergugusan. Dari setiap ujungnya yang hancur nampak mengucurkan cairan berwarna merah seperti darah.

"Pohon itu mempunyai darah seperti kita!" seru Pasadewa kaget.

Iblis Ular Sembilan terkesima. Tapi kemudian dia cepat berseru ketika melihat di belakang Pasadewa salah satu akar yang cukup besar menjulur dan berubah memanjang seperti lintah yang bergerak di dalam air.

"Pasadewa awas...!" teriak Iblis Ular Sembilan. Tak usah diperingatkan sekalipun Pasadewa sesungguhnya sudah merasakan adanya sesuatu yang menyambar dari arah belakangnya. Karena itu tanpa menoleh dia meloloskan pedang yang tergantung di pinggang. Setelah itu dia babatkan pedangnya ke belakang.

Singg! Taas! Buuum!

Baru saja akar gantung pohon Kematian terbabat putus oleh ketajaman pedang di tangan Pasadewa. Tiba-tiba saja dari bagian batang pohon yang akarnya putus terdengar suara ledakan dahsyat luar biasa. Debu, bebatuan dan pasir berpelantingan di udara membuat udara menjadi gelap gulita. Pasadewa melompat mundur untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

"Aneh... sungguh sulit dipercaya. Bagaimana pohon itu bisa mengeluarkan ledakan padahal aku cuma membabat salah satu akarnya yang liar!" seru pemuda itu.

"Banyak hal aneh yang tidak bisa ku mengerti terjadi di sini. Berhati-hatilah. Pasang matamu baik-baik!" Pesan Iblis Ular Sembilan.

Tidak berselang lama kemudian, debu dan pasir merah yang memenuhi udara lenyap. Untuk yang kesekian kalinya Pasadewa kembali dibuat kaget. runya. "Ketiga pohon itu bagaimana bisa raib?" se-

"Aneh? Pohon-pohon itu raib tidak meninggalkan bekas. Aku hanya melihat satu lubang di bekas tempat pohon itu berdiri!" ujar Iblis Ular Sembilan tidak kalah kagetnya.

Belum lagi rasa kaget mereka lenyap, pada saat hampir bersamaan mendadak puncak bukit berguncang keras seperti dilanda gempa. Kedua orang ini saling berpandangan.

"Tempat ini seperti mau runtuh. Cepat kita turun melalui tangga-tangga itu!" teriak Iblis Ular Sembilan panik. Semula Pasadewa merasa ragu mengikuti saran yang dikatakan oleh kakek itu, tapi karena guncangan pada bagian puncak bukit makin bertambah menghebat dan disertai tiupan angin kencang yang menerbangkan batu-batu besar. Akhirnya sambil menggerutu Pasadewa terpaksa mengikuti kakek itu. Mereka bergerak cepat ke arah tangga batu yang terdapat di puncak sampai ke bagian kaki bukit. Tapi begitu kaki mereka menginjakkan undakan tangga batu tersebut. Secara tak terduga kedua kaki mereka terjeblos. Tangga batu yang mereka pijak amblas ke bawah. Secepat yang dapat mereka lakukan keduanyapun berusaha melompat ke atas. Tapi tiba-tiba saja mereka merasakan ada satu kekuatan yang menyedot dan menarik tubuh mereka dari bagian dalam. Satu kekuatan yang membuat sekujur tubuh mereka seolah kehilangan kekuatan.

"Paman apa yang terjadi?" teriak Pasadewa panik. Kedua tangan pemuda ini menggapai-gapai mencoba mencari selamat. Tapi usahanya hanya sia-sia. Tanah di sekitar undakan anak tangga yang amblas selalu longsor.

"Bukit ini mungkin memiliki satu tempat rahasia. Aku... akh...!" suara si kakek mendadak terputus karena tubuh orang tua itu mendadak lenyap. Apa yang terjadi pada Iblis Ular Sembilan ternyata terjadi pula pada Pasadewa. Kedua orang itu lenyap terjeblos ke suatu tempat yang penuh misteri. Anehnya begitu Iblis Ular Sembilan dan Pasadewa lenyap. Tangga batu yang tadinya amblas begitu terinjak kaki mereka kini muncul lagi. Seakan pada anak tangga itu tidak pernah terjadi apa-apa.

Apa yang terjadi tentu saja tidak lepas dari perhatian Ki Sumpit dan Ki Betot Segala. Mereka tercengang melihat apa yang terjadi.

"Apa kataku. Sebelas tangga batu yang terdapat di kaki sampai ke puncak bukit benar-benar tangga jebakan. Untung kita tadi tidak naik ke puncak sini melalui tangga itu. Kalau tidak kita bisa mati konyol!" ujar Ki Sumpit sambil mengusap tengkuknya yang terasa dingin.

"Kau benar. Pantas saja bukit merah ini diberi nama Puncak Sebelas Tangga Kematian. Tapi apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Ki Betot Segala.

"Aku tidak tahu. Mungkin saja mereka sekarang menuju ke gerbang maut. Tapi yang jelas ada satu rahasia di dalam bukit ini."

"Kau hendak mengatakan di dalam bukit merah ini ada satu kehidupan?" tanya Ki Betot lagi penuh rasa ingin tahu.

"Aku kira begitu. Seperti yang kukatakan padamu, Puncak Sebelas Tangga Kematian ini adalah daerah kekuasaan Iblis Matahari."

"Apakah orang yang kau sebutkan itu masih hidup?"

"Tentu saja. Orang yang sudah mati mana punya kekuasaan apa-apa, tolol." Kata Ki Sumpit sambil unjukkan wajah cemberut.

Mendapat jawaban seperti itu Ki Betot Segala jadi jelalatan memperhatikan suasana di sekelilingnya. "Gila kau. Mengapa tidak bilang sejak tadi?" "Ada apa rupanya?"

"Kalau Iblis Matahari masih hidup. Berarti sebenarnya kita tidak aman berada di tempat seperti ini. Puncak bukit ini agak terbuka. Iblis Dalam Matahari pasti dengan bebas dapat melihat kita." Kata Ki Betot Segala cemas.

"Lalu apakah kau punya pendapat lain?" tanya Ki Sumpit.

"Sebaiknya kita cari tempat persembunyian dulu. Nanti bila hari telah berubah menjadi gelap baru kita mulai melakukan penyelidikan."

"Ah, mengapa terburu-buru. Apakah kau lupa dengan tiga pohon yang menyerang mereka tadi? Pohon-pohon itu tiba-tiba saja lenyap. Tiga pohon besar melenyapkan diri. Apakah ini tidak aneh menurutmu?"

"Sama anehnya, mengapa akar-akar pohon itu bisa menyerang. Ketika Pasadewa menebaskan pedangnya. Akar pohon mengucurkan darah. Ini juga merupakan suatu keanehan. Mungkin pohon ini ada yang mengendalikan." Ujar Ki Betot Segala menanggapi.

"Itulah yang patut kita selidiki."

"Sudah kukatakan, kita harus menunggu sampai hari gelap. Kuharap kau tidak berlaku ceroboh jika tidak ingin mendapat kesulitan seperti Pasadewa dan Iblis Ular Sembilan." Tegas Ki Betot Segala.

Ki Sumpit merasa tidak punya pilihan lain, karena apa yang dikatakan oleh sahabatnya memang benar adanya. Tak ada yang dapat mereka lakukan. Menunggu sampai matahari terbenam mereka terpaksa mendekam di balik batu.

6

Laki-laki berpakaian warna ungu gemerlapan seperti bangsawan itu memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Sesekali dia memijit-mijit kepalanya yang mual bukan main. Setelah itu dia kembali menyandarkan tubuhnya ke batu yang terdapat di belakangnya.

"Pangeran Sobali. Apakah kau telah siap melakukan perjalanan kembali?" satu suara tibatiba memecah keheningan. Si laki-laki berpakaian mewah yang ternyata memang Pangeran Sobali adanya memperhatikan ke depan di mana suara tadi terdengar.

Di depan sana entah sejak kapan berdiri tegak seorang laki-laki tua berpakaian hitam. Wajah kakek itu lonjong, gigi-giginya hitam runcing sedangkan di keningnya terdapat sebuah lubang menganga tembus hingga ke batok kepala belakang.

Sesaat lamanya orang tua itu memandang ke arah Pangeran Sobali dengan tatapan dingin. Setelah itu dia melangkah mendekati sang pangeran. Berhenti di depan Pangeran Sobali sambil berkata. "Kau masih merasakan kepalamu sakit mendenyut?"

"Memang. Tapi sebenarnya bukan itu yang menjadi ganjalan di hatiku." Ujar Pangeran Sobali. "Kalau bukan lalu apa?"

"Iblis Awan Hitam. Aku merasa berhutang nyawa padamu karena kau telah menyelamatkan aku dari tangan kejam Pengemis Nyawa. Yang membuatku heran mengapa kau menolongku? Padahal sebelumnya diantara kita satu sama lain tidak saling kenal." Ujar sang pangeran.

Kakek angker berkening bolong menyeringai sinis, kemudian dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak.

Setelah puas mengumbar tawa kemudian si kakek berkata. "Pangeran Sobali bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan punya suatu kepentingan denganmu?" ujar si kakek.

"Memang... tapi kau tidak mengatakan apa kepentinganmu!" ujar Pangeran Sobali.

"Hak hak hak! Rupanya kau terlalu penasaran pangeran. Baiklah, aku akan katakan padamu apa sebenarnya yang aku inginkan!" kata si kakek. Orang tua itu menarik nafas, berjalan mondarmandir di depan Pangeran Sobali, membuat sang pangeran jadi gelisah juga tidak sabar.

"Pangeran, kau adalah seorang calon raja di Kediri. Sebagai seorang raja kau bakal mempunyai sebuah kekuasaan."

"Lalu apa hubungannya dengan dirimu?" tanya Pangeran Sobali merasa tidak mengerti.

Iblis Awan Hitam tersenyum.

"Disinilah letak persoalannya, pangeran. Sebagai seorang calon raja kau harus punya kekuatan. Tapi kekuatan itu sejauh ini belum pernah kulihat. Sengkala Angin Darah adalah salah satu kekuatan besar luar biasa. Dalam upayamu mencari benda sakti itu, kau telah kehilangan semua prajurit dan para pembantumu yang lain. Padahal jika kau mau hal itu tidak perlu terjadi."

"Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari semua ucapanmu!" kata laki-laki itu.

Sekali lagi Iblis Awan Hitam yang setiap melakukan perjalanan selalu menggunakan awan panas itu tersenyum penuh arti.

"Pangeran bukankah kau ingin memiliki Sengkala Angin Darah?"

"Memang benar." Sahut pemuda itu.

"Jika kau ingin memilikinya, aku tahu dimana benda itu berada!" ujar Iblis Awan Hitam.

"Menurut yang kudengar benda itu berada di tangan Gentong Ketawa!"

"Ha ha ha. Orang bisa saja bicara begitu. Tapi akulah yang paling tahu di tangan siapa benda itu berada!" ujar Iblis Awan Hitam.

"Jika engkau mengetahuinya, apakah kau dapat mengambilkannya untukku?" tanya Pangeran Sobali.

"Ha ha ha. Mengapa tidak? Tapi tentu saja ada syaratnya." Jawab si kakek sambil mengumbar tawa.

Mendengar jawaban kakek itu Pangeran Sobali langsung terdiam. Sungguh apa yang baru dikatakan Iblis Awan Hitam cukup mengejutkan dirinya. Dasar pangeran nekad, masih saja dia bertanya. "Iblis Awan Hitam katakan apa syaratsyaratmu?" "Syaratku cukup mudah. Kau boleh mendapatkan benda sakti itu asal kau mau menyerahkan tahta kerajaan kepadaku!" sahut kakek itu.

Bukan main kagetnya Pangeran Sobali mendengar permintaan si kakek berkening bolong. Seandainya saja Awan Hitam meminta imbalan dalam bentuk lain, bukan kerajaan, tentu bagi Pangeran Sobali tidak sulit memberikannya. Tapi syarat yang diajukan oleh si kakek begitu berat, bagi pemuda itu apa artinya memiliki Sengkala Angin Darah jika dia harus kehilangan tahta?

Karena itu dengan tegas dia berkata. "Iblis Awan Hitam. Jika itu syarat yang kau ajukan. Bagiku sangat berat untuk memenuhinya. Tahta Kediri adalah warisan keluargaku secara turun temurun. Mustahil aku bisa menukarnya dengan benda yang lain."

"Pikirkanlah sekali lagi, pangeran. Barangkali kau berubah fikiran!" ujar si kakek.

Pangeran Sobali menggeleng tegas.

"Aku tidak pernah berubah fikiran jika menyangkut persoalan yang satu itu!" tegas si pemuda.

Iblis Awan Hitam tersenyum sinis.

"Artinya apa yang kulakukan kepadamu hanya merupakan suatu pekerjaan yang sia-sia?" tanya Iblis Awan Hitam disertai seringai mengejek.

"Apa maksudmu?" tanya sang pangeran bingung.

Kakek itu melangkah maju dua tindak. Sehingga jarak di antara mereka kini hanya tinggal sejauh satu tombak lagi. Tak lama setelah memperhatikan Pangeran Sobali dengan tatapan dingin dan angker, Iblis Awan Hitam berkata. "Pangeran... ketahuilah, manusia sepertiku tidak pernah melakukan pekerjaan sia-sia. Selama hidupku, orang seperti aku selalu mengharapkan sebuah imbalan bila menolong orang."

"Jad... jadi...?"

"Ha ha ha. Tidak ada jalan selamat bagimu Pangeran Sobali. Kau tidak mau menyerahkan tahta kerajaan sebagai imbalan bagimu untuk mendapatkan Sengkala Angin Darah. Maka kini sebagai gantinya dengan sangat terpaksa kau harus menyerahkan nyawamu!" dengus si kakek.

Mendengar kata-kata yang diucapkan Iblis Awan Hitam berubahlah air muka sang pangeran. Dia tahu mustahil dapat mengalahkan kakek itu. Jika Pengemis Nyawa saja dapat dipecundanginya, apalagi dirinya. Tapi bagi Pangeran Sobali lebih baik melakukan perlawanan sampai titik darah yang terakhir daripada berdiam diri menerima nasib konyol. Karena itu diapun bangkit berdiri.

Tak kalah dinginnya Pangeran Sobali berucap. "Mungkin kau bisa membunuhku, Awan Hitam. Namun kau juga harus ingat. Sekali kau membunuhku maka selamanya kau akan menjadi buronan kerajaan. Kau tak bakal bisa hidup dengan tenang!"

"Ha ha ha! Apa kau mengira aku takut dengan orang kerajaan? Kau boleh mengerahkan seluruh ahli silat istana. Tapi Iblis Awan Hitam tak bakal lari!"

"Kakek jahanam ini ternyata tidak kena digertak. Aku cuma bisa menggantung harapan pada senjata andalanku Cundrik Tujuh Petaka!" geram sang pangeran.

"Iblis keparat. Jika kau tidak takut pada kerajaan, apakah kau mengira aku takut menghadapi dirimu?" dengus laki-laki itu.

"Ha ha ha. Akupun selalu berharap begitu. Karena jika kau merasa takut padaku itupun percuma saja karena aku tetap akan membunuhmu!" Selesai berkata begitu Iblis Awan Hitam langsung berkelebat ke arah Pangeran Sobali. Laki-laki itu jadi terkejut karena mendadak saja sosok lawannya lenyap. Di lain saat dia merasakan ada sambaran angin menghantam dari arah depan melabrak bagian wajah. Cepat sekali sang pangeran menghindar. Tapi baru saja dia bergerak lawan tahutahu telah menghantam dada dan perutnya dua kali berturut-turut.

Hantaman yang sangat keras membuat sang pangeran menjerit dan jatuh terpelanting. Bagian dada dan perut yang terkena hantaman seperti remuk. Selain itu dari sudut bibirnya meneteskan darah kental. Pangeran Sobali mengerang secepatnya dia bangkit berdiri. Belum sempat lakilaki ini berdiri tegak kembali serangan Iblis Awan Hitam melabraknya. Kali ini sang pangeran yang telah mengetahui kehebatan tenaga sakti yang dimiliki lawan tidak mau bersikap ayal. Cepat tangan menyambar Cundrik Tujuh Petaka yang terselip di balik pakaiannya. Begitu lawan telah berada dalam jangkauannya Cundrik Tujuh Petaka dihantamkannya menyambuti serangan lawan. Sinar hitam disertai menebarnya hawa dingin menggidikkan menderu. Iblis Awan Hitam yang tidak pernah menyangka Pangeran Sobali memiliki senjata andalan sempat keluarkan seruan kaget. Dia batalkan serangannya dan segera melompat ke samping. Tapi tidak urung ujung senjata lawan menyambar dadanya. Si kakek terluka. Dari bagian luka mengucurkan darah. Anehnya jika tadi sambaran angin senjata menimbulkan hawa dingin luar biasa, maka sebaliknya luka akibat terkena senjata itu terasa panas seperti terbakar. Setelah memperhatikan baju yang robek serta luka yang terdapat di balik robekan baju. Iblis Awan Hitam mendengus. Dia meludahi luka itu. Luka yang terkena semburan ludah mengepulkan asap tipis seperti mendidih. Namun hanya beberapa saat saja luka itu lenyap tidak meninggalkan bekas. Pangeran Sobali tercengang dengan mulut ternganga. Senjata di tangannya bukan senjata sembarangan. Senjata itu mengandung tuah di samping mengandung racun ganas. Biasanya orang yang terkena senjata itu, jangankan terluka seperti yang dialami si kakek. Sedangkan tergores sedikit saja jiwanya pasti tidak akan ketolongan. Tapi lawan yang satu ini aneh, jangankan ambruk seperti yang diharapkannya. Malah luka sambaran senjata dapat disembuhkannya dengan hanya meludahinya saja. Sungguh ini suatu kenyataan yang sulit dipercaya. "Pangeran tolol. Kau mengira dengan senja-

tamu itu dapat mengalahkan aku? Ha ha ha. Kau akan segera tahu aku bukanlah manusia sembarangan. Sekarang bersiap-siaplah kau untuk mati!" teriak si kakek. Habis berkata begitu Iblis Awan Hitam silangkan kedua tangannya di depan dada. Dia lalu mengalirkan tenaga dalam dari bagian perut ke bagian kepala.

Tak berselang lama dari sekujur tubuh si kakek yang bergetar hebat nampak mengepulkan asap tipis. Dari bagian keningnya yang berlubang besar tembus sampai ke batok kepala di bagian belakang juga mengepulkan asap. Kening yang berlubang itu kemudian berubah memerah laksana bara api. Setelah itu secara tak terduga dari bagian lubang di kening menderu hawa panas luar biasa. Hawa panas laksana muntahan lahar gunung itu selanjutnya bergulung-gulung menghantam Pangeran Sobali.

Sang Pangeran terkejut. Tapi begitu merasakan ada hawa panas menyambar tubuhnya dia langsung memutar senjata andalannya yaitu Cundrik Tujuh Petaka. Senjata yang bentuknya mirip keris namun mempunyai gagang terbuat dari tembaga itu mengeluarkan suara mendengung mengiriskan.

Bumm! Buum!

Dua ledakan keras mengguncang tempat itu ketika senjata sang pangeran berbenturan dengan serangan Iblis Awan Hitam. Akibatnya sungguh luar biasa. Pangeran Sobali menjerit dan terpaksa lepaskan cekalannya pada hulu senjata. Ketika Pangeran Sobali melirik ke arah senjatanya yang sebagian menancap di tanah diapun berseru kaget. Senjata itu kini telah berubah menjadi bara sampai ke bagian hulunya. Apabila pangeran memandang ke telapak tangannya sendiri. Maka telapak tangan itu melepuh hangus mengepulkan asap menebar bau daging terbakar.

"Jahanam! Kakek keparat itu tidak bisa dibuat main." Rutuk Pangeran Sobali dalam hati. Belum lagi hilang rasa heran sang pangeran melihat semua kenyataan ini. Tiba-tiba saja Iblis Awan Hitam berteriak keras. Kembali ia melepaskan gelombang hawa panas yang bersumber dari lubang yang terdapat di keningnya.

Wuus! Wuuus!

Merasakan ada sambaran hawa panas kembali menyambar tubuhnya, sang pangeran tidak punya pilihan lain terkecuali menghindar.

Buum! Buuum!

Serangan yang dilancarkan Awan Hitam hanya mengenai tempat kosong. Menimbulkan suara ledakan berdentum memekakkan telinga.

Selamat dari serangan pertama, Pangeran Sobali cepat berdiri. Tapi baru saja bangsawan kerajaan ini berdiri tegak. Tiga gelombang hawa panas yang melesat bersama deru angin yang sangat cepat luar biasa menghantam dirinya.

Tak sempat menghindar, Pangeran Sobali jatuh terpelanting terkena sambaran hawa panas yang dilepaskan lawannya.

Laki-laki itu meraung setinggi langit. Pakaian dan tubuhnya hangus gosong. Pangeran Sobali tewas seketika begitu terkena gelombang hawa panas yang keluar dari kening Iblis Awan Hitam.

Si kakek tersenyum dingin. "Engkau mengira tahta kerajaan bisa diukur dengan nyawa. Jika hidup tidak pandai memilih. Beginilah akibatnya. Ha ha ha." Kata si kakek sambil tertawa.

Orang tua ini kemudian dongakkan kepalanya ke langit. Daun telinganya bergerak-gerak. Rupanya pendengarannya menangkap sesuatu. Dia yang tadinya siap meninggalkan tempat itu untuk menjambangi sahabatnya di Puncak Sebelas Tangga Kematian kini urungkan niatnya. Tak terduga si kakek balikkan badan. Mata memandang ke arah mana suara mencurigakan tadi terdengar. Kemudian dia berseru. "Orang yang bersembunyi di balik semak belukar. Harap sudi memperlihatkan diri!" teriak si kakek.

Suara Iblis Awan Hitam lenyap. Sunyi! Tidak ada jawaban apa-apa. Kakek angker berkening bolong adalah manusia yang paling tidak suka menunggu segala sesuatunya lebih lama. Karena itu sekali lagi dia berteriak. "Para pengintai tengik. Harap tunjukkan diri jika tidak ingin celaka di tanganku!"

Dari balik semak belukar salah satu pengintai mencium ketiaknya sendiri kiri kanan. Setelah terdengar suara. "Ternyata bukan aku yang dimaksudkannya karena badanku sampai ke bagian ketiak ternyata tidak tengik! Tapi untuk tidak mau dianggap sebagai seorang pengecut aku akan keluar." Berkata begitu satu bayangan melesat keluar dari tempat persembunyiannya. Di lain waktu di depan Iblis Awan Hitam berdiri tegak seorang pemuda gondrong bercelana biru bertelanjang dada. Yang membuat kakek itu agak kaget, dia merasa seperti pernah melihat si gondrong ini. Iblis Awan Hitampun berusaha keras untuk mengingatingat. Ketika ia teringat akan sesuatu, Iblis Awan Hitampun manggut-manggut. "Beberapa hari yang lalu ketika aku melintas di satu daerah tidak jauh dari Kediri. Aku menyerang pemuda ini dengan sinar panas. Tubuhnya terlempar. Ternyata dia tidak mati. Mengapa tidak kulihat orang gendut yang bersamanya saat itu?" batin si kakek.

"Kakek tengik. Aku telah keluar memenuhi permintaanmu. Aku juga telah melihat korban hasil kejahatanmu. Seorang pangeran tolol yang menginginkan sebuah benda sakti." Kata si gondrong yang bukan lain adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon.

Iblis Awan Hitam mendengus sinis.

Dia melangkah maju dengan sikap mengancam. "Kau tidak datang sendiri bocah gondrong. Jika kawan-kawanmu tidak mau keluar, aku terpaksa menghancurkan mereka!" ancam si kakek.

"Tunggu!" terdengar satu seruan. Lalu dari balik semak belukar berturut-turut berkelebat keluar bayangan biru dan kuning.

Tidak begitu lama di samping Gento berdiri tegak seorang kakek berdaster biru dan seorang gadis berkepala botak.

Iblis Awan Hitam menatap ke arah si kakek dan si gadis untuk beberapa saat lamanya. Setelah itu dia ajukan pertanyaan. "Kalian berdua siapa?"

Kakek berdaster biru yang bukan lain adalah Ki Comot Jalulata dengan cepat menjawab. "Aku dan gadis ini sahabatnya pemuda gondrong itu. Namaku Ki Comot Jalulata, sedangkan gadis yang botak itu bernama Taktu!"

"Gadis berkepala botak itu boleh jadi aku tidak pernah mengenalnya. Tapi orang seperti dirimu kurasa penglihatanku tidak bisa ditipu. Bukankah kau orangnya yang bergelar Raja Penyihir Goa Es?" tanya Iblis Awan Hitam.

Mendengar ucapan kakek berkening bolong itu tentu saja Ki Comot Jalulata sempat dibuat terkejut. Biarpun begitu dengan tenang dia berkata. "Tak pernah kumenyangka ternyata namaku dikenal di delapan penjuru persilatan. Kakek jelek. Apa yang terjadi dengan pangeran itu kami bertiga sudah sama mendengar. Sekarang kami ingin bertanya apakah kau benar-benar tahu di tangan siapa benda sakti itu berada?" tanya Ki Comot Jalulata.

"Kek, kau terlalu nekad!" desis Gento yang sempat merasa terkejut mendengar ucapan Ki Comot. Tapi orang tua itu bersikap tenang saja. Malah dia sengaja mengedipkan matanya sebagai isyarat agar sang pendekar tidak usah merisaukannya.

Lain lagi halnya dengan Iblis Awan Hitam. Pertanyaan Ki Comot Jalulata sempat membuat si kakek menjadi gusar sekali. Dengan mata mendelik dia berkata. "Perlu apa kau bertanya tentang segala benda sakti itu?"

"Iblis Awan Hitam. Benda sakti Sengkala Angin Darah kurasa tidak akan menimbulkan malapetaka bila berada di tanganku." Ujar Ki Comot. Iblis Awan Hitam sunggingkan seringai sinis. "Mulutmu terlalu manis orang tua berpakaian seperti orang gila. Padahal hal yang sesungguhnya kau ingin mengangkangi benda itu bukan? Ha ha ha! Sungguhpun aku tahu di tangan siapa benda sakti itu berada, mustahil kuberitahukan padamu." Dengus kakek berkening bolong sinis.

"Jangan salah sangka. Aku sama sekali tidak kemaruk dengan segala macam benda sakti. Kalaupun aku meminta benda itu atau menanyakan keberadaan benda itu kepadamu. Sematamata karena aku tidak ingin melihat lebih banyak korban lagi yang berjatuhan!" ujar si kakek.

"Kakek sinting gila. Pertanyaanmu itu hanya bakal menambah jumlah korban. Aku akan mengirim arwahmu dan arwah kedua kawanmu ke neraka." Kata Iblis Awan Hitam.

Gento yang sejak tadi mendengarkan sambil memperhatikan Iblis Awan Hitam kini melangkah maju. Setelah itu dia berkata. "Kakek berkening bolong. Boleh jadi mungkin kau wakil malaikat, biarpun cuma malaikat kesasar. Tapi sebelum kau mengambil nyawa kami, apakah aku boleh ajukan pertanyaan kepadamu?"

"Apa pertanyaanmu?" dengus Iblis Awan Hitam sengit.

Masih disertai dengan senyum Gento membuka mulut. "Kalau tidak salah beberapa hari yang lalu ketika aku sedang istirahat bersama guruku gendut juga sahabatku Anggagini. Kau melewati kami. Kau lewat, melintas persis di atas kami bersama awan hitam yang sangat panas luar biasa. Kau menjahili aku. Membuat diriku terlempar jauh dan terpisah dengan guruku. Apakah yang kukatakan ini benar?"

"Ha ha ha! Tidak keliru. Memang akulah orangnya yang membuat istirahat kalian jadi tidak nyaman. Sekarang kita bertemu lagi. Pertemuan yang tidak sengaja dan membuat kita tidak bakal bertemu lagi selamanya!"

"Mengapa begitu? Apakah kau muak melihat tampang gadis temanku yang berkepala botak ini? Atau bosan melihat tampang sahabatku kakek berdaster biru?" tanya Gento.

"Ha ha ha. Aku bukan saja muak, tapi benci melihat tampang kalian semua! Karena itu kalian bertiga harus kusingkirkan!" dengus Iblis Awan Hitam sinis.

"Itu berarti kau hendak memberangkatkan kami bertiga ke akherat. Aku tentu saja tidak keberatan. Tapi sebelum kami berangkat, apakah kau tidak suka memberi tahu kami dimana Sengkala Angin Darah sesungguhnya, saat ini berada?" tanya Gento.

"Hem, kalian orang yang mau mati. Kurasa tidak ada salahnya jika kuberitahu bahwa Sengkala Angin Darah saat ini kemungkinan besar berada di satu tempat bernama Puncak Sebelas Tangga Kematian!"

Jawaban Iblis Awan Hitam membuat Ki Comot Jalulata terkejut. Hingga tanpa sadar dia berseru. "Puncak Sebelas Tangga Kematian. Bukit batu merah dimana manusia jahanam bergelar Iblis Dalam Matahari berdiam. Tidak bakal ada orang yang sanggup mencapai tempat itu. Kalau pun bisa dia pasti bakal menemui ajal di tangan Iblis Dalam Matahari. Hemm... Awan Hitam. Apakah segala penjelasanmu itu dapat dipercaya?" tanya Ki Comot sambil memandang pada Iblis Awan Hitam dengan tatapan penuh selidik.

Iblis Awan Hitam tertawa tergelak-gelak. Setelah itu dengan sinis dia berkata. "Aku tidak percaya ucapan setiap orang. Lalu apa perlunya aku meminta padamu agar mempercayai ucapanku? Ha ha ha!"

"Apakah ini berarti kau telah bosan hidup, Iblis Awan Hitam? Atau kau tidak takut kehilangan barang-barang milikmu?" tanya Ki Comot dingin. Walaupun Iblis Awan Hitam sempat tercekat mendengar ucapan Ki Comot. Tapi kakek itu sama sekali tidak menunjukkan rasa kagetnya. Dengan bertolak pinggang dia bahkan berkata. "Sungguhpun kau seorang penyihir. Kau tak bakal sanggup menghadapi aku seorang diri. Karena itu kusarankan kalian bertiga hendaknya maju sekaligus!"

"Sombong sekali bicaramu, membuat aku muak dan ingin menjajal sampai dimana kehebatan yang kau miliki!" berkata begitu dengan satu gerakan yang sangat luar biasa cepatnya Taktu alias Botak Ke Satu langsung melakukan satu gebrakan dengan melepaskan satu pukulan dan dua tendangan beruntun. Melihat ini Gento yang sudah mengetahui kehebatan yang dimiliki si kakek segera berseru.

"Taktu dia bukan tandinganmu!"

Teriakan itu sama sekali tidak didengar oleh Taktu. Iblis Awan Hitam tersenyum sinis. Dengan menggunakan lengan jubahnya, dia menghalau serangan Taktu. Sekali tangannya dilambaikan. Dari balik lengan jubah berderu segulung angin berhawa panas luar biasa melabrak Taktu.

Taktu melipat gandakan tenaga dalam yang dia miliki. Dia terus merangsak ke depan. Sedangkan kaki tangannya menghantam bagian perut orang tua itu.

Buuk! Buuum!

Tendangan yang dilancarkan gadis itu hanya membuat Iblis Awan Hitam terhuyung beberapa tindak. Tapi sambaran ujung lengan jubah membuat gadis itu tersapu mental, terpelanting beberapa tombak lalu jatuh bergedebukan seperti ilalang disapu badai.

Taktu mencoba bangkit berdiri. Tapi pandangannya jadi berkunang-kunang. Sedangkan Gento sendiri begitu melihat kawannya jatuh dia segera menerjang ke depan. Serangkaian serangan dengan menggunakan jurus Congcorang dan Belalang Mabuk dilancarkannya.

Iblis Awan Hitam terkejut bukan main melihat serangan ganas yang datangnya tidak dapat diduga ini. Diapun melompat mundur. Dengan menggunakan kecepatan gerak yang sangat luar biasa kakek ini mencoba menangkis serangan sang pendekar. Tapi lagi-lagi dia dibuat kaget karena setiap tangkisan maupun serangan balasan yang dilakukannya selalu mengenai tempat kosong.

Malah dua kali tendangan yang dilancarkan pemuda itu mengenai perut dan dagunya.

Sambil mengusap perut dan dagunya Iblis Awan Hitam secara tak terduga melesat ke udara. Selagi tubuhnya mengambang dalam ketinggian dia meluncur deras ke bawah. Kemudian laksana kilat tubuhnya berputar, sedangkan kaki melesat dan menendang sang pendekar. Tendangan yang sangat keras dan terarah di bagian dada dapat dielakkan oleh Gento. Tapi tendangan susulan yang mengarah ke bagian dagu pemuda ini jelas sangat sulit untuk dihindari.

Plaak!

Tendangan itu membuat Gento jatuh berputar lalu jatuh bergedebukan tak jauh dari mayat Pangeran Sobali. Iblis Awan Hitam tertawa membahak. Namun tawa si kakek mendadak lenyap begitu melihat sesuatu yang sulit dipercaya terjadi di depannya.

Tak percaya melihat apa yang terjadi di depannya Iblis Awan Hitam mengusap kedua matanya berulang-ulang. Tapi sosok Ki Comot Jalulata yang kini telah berubah menjadi dirinya tidak juga lenyap.

"Jahanam tengik. Kakek keparat itu kini benar-benar telah menggunakan ilmu sihirnya!" batin kakek itu. Laksana kilat Iblis Awan Hitam hantamkan tangan kanannya ke dada Ki Comot. Melihat kakek ini menghantam ke arah dada, tak mau ketinggalan Ki Comot Jalulata sambil tertawa tergelak-gelak juga melepaskan pukulan yang mengarah ke bagian dada.

Iblis Awan Hitam tentu tidak mau bentrok pukulan dengan lawan. Karena itu dia menarik balik pukulannya, kemudian sebagai gantinya dia lepaskan tendangan ke bagian perut lawan.

Ki Comot Jalulata ternyata bukan manusia bodoh. Begitu melihat lawan menghantam di bagian perut. Ki Comot terus julurkan tangannya. Tangan si kakek mendadak sontak merubah memanjang. Tangan kiri bergerak menjambret ke bagian selangkangan sedangkan tangan kanan menangkis serangan lawan yang mengarah ke bagian perut.

"Aih... keparat!" maki Iblis Awan Hitam sambil menarik balik tendangan yang dilepaskannya, lalu melompat mundur lindungi selangkangannya. Tangkisan maupun tendangan yang dilakukan Ki Comot Jalulata tidak mengenai sasaran seperti yang dia harapkan. Malah kini sambil mengerung marah Iblis Awan Hitam melesat ke udara. Dalam kecepatan gerak yang sangat luar biasa kakek itu meluruk deras ke arah Ki Comot. Orang tua ini terkesiap, dia melompat mundur, tapi gerakannya itu kalah cepat dengan gerakan lawan.

Desss!

Tak dapat dihindari lagi satu tendangan keras luar biasa menghantam bahu Ki Comot. Membuat tubuh orang tua ini jatuh terpelintir. Begitu jatuh sosoknya yang tadi berubah menjadi Iblis Awan Hitam kini kembali dalam ujud yang sebenarnya yaitu sosok dirinya sendiri.

"Ki Comot!" seru Gento yang membantu. "Apa gunanya kau merubah dirimu menjadi dia. Orang jelek seperti Iblis Awan Hitam tidak perlu kau tiru. Masih lebih cakep lagi kau menjadi dirimu sendiri. Kau tidak usah cemas. Aku akan membantu dirimu!"

"Jangan! Tak usah kau bantu!" sergah Ki Comot Jalulata yang sudah bangkit lagi dengan tubuh termiring-miring. "Jangan kau berani mencampuri urusan ini. Aku ingin tahu, aku ingin menjajal kehebatan Iblis Awan Hitam. Dia boleh saja memiliki kepandaian tinggi. Mungkin saja dia bisa membunuhku. Tapi aku bersumpah akan mencopoti perabotan yang dia miliki dengan kekuatan ilmu sihirku!" ujar si kakek.

Mendengar ucapan Ki Comot terkejutlah Iblis Awan Hitam dibuatnya. Jika lawan benar-benar membuktikan ancamannya. Alamat celakalah dirinya. Dia tentu pernah mendengar keisengan Ki Comot selama ini. Konon Ki Comot mempunyai kegemaran mencopoti perabotan milik lawannya. Iblis Awan Hitam tidak mau hal itu terjadi pada dirinya. Karena itu si kakek tidak mau bersikap ayal. Dia pun akhirnya menggunakan ilmu andalan yang dia miliki. Yaitu selubung awan hitam yang memancarkan hawa panas luar biasa.

"Iblis Awan Hitam. Serahkan semua barang yang kau miliki. Atau kau mungkin berubah fikiran mau mengantar kami ke Puncak Sebelas Tangga Kematian!" teriak Ki Comot Jalulata.

"Aku lebih suka mengantarmu ke neraka!" dengus Iblis Awan Hitam menyahuti. Sementara itu Gento dan Taktu terus mengawasi tidak jauh dari tempat terjadinya perkelahian.

Ki Comot Jalulata tertawa mengekeh mendengar jawaban lawan. Tidak mau menunggu lebih lama. Sambil katubkan mulutnya si kakek kepalkan kedua tangannya. Tangan itu kemudian diputar sebat hingga mengepulkan kabut tipis berwarna putih seperti uap es.

Tetapi lawannya sendiri pada saat yang sama sudah berputar sebat laksana titiran. Begitu sosok si kakek berputar seperti gasing, terdengarlah suara menderu disertai hawa panas luar biasa.

Hawa panas dan hembusan angin kencang yang keluar dari sekujur tubuh Iblis Awan Hitam membuat Ki Comot Jalulata nyaris terpelanting. Tubuhnya bahkan seperti mau dipanggang. Tapi kemudian Ki Comot Jalulata acungkan kedua tangannya ke arah Iblis Awan Hitam yang pada saat itu telah melesat di udara dan menghujani dirinya dengan serangan angin apinya yang membakar.

"Celaka! Ilmu serangan yang dipergunakan kakek itu beberapa waktu yang lalu hampir saja membuat diriku celaka. Jika Ki Comot tidak bertindak cepat. Dia sendiri bisa celaka!" ujar Gento.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Taktu yang juga merasa cemas melihat Ki Comot mendapat hujan serangan hawa panas bertubitubi.

"Kau tunggulah di sini. Kalau Ki Comot benar-benar tidak sanggup menghadapi Iblis Awan Hitam. Aku akan segera mengambil tindakan!" kata Gento.

Sementara itu serangan-serangan gencar yang dilancarkan Iblis Awan Hitam nampaknya benar-benar membuat Ki Comot benar-benar terdesak. Orang tua ini begitu mendapat serangan bertubi-tubi tentu saja tidak dapat mempergunakan ilmu sihirnya karena penerapan ilmu sihir membutuhkan konsentrasi penuh. Malah dalam gebrakan selanjutnya bagian bahu Ki Comot kena dihantam serangan berhawa panas yang dilancarkan lawan. Pakaian dan kulit kakek ini terbakar.

Setelah bersusah payah memadamkan api yang membakar bahunya. Sambil menggeram penuh kemarahan dia jejakkan kakinya di atas tanah. Setelah itu laksana kilat si kakek melesat di udara. Iblis Awan Hitam tercengang melihat apa yang dilakukan lawan. Sungguhpun si kakek masih sempat semburkan api dari lubang yang menganga di bagian kening.

Wuus! Wuus!

Serangan api yang disemburkan Iblis Awan Hitam masih dapat dihindari oleh Ki Comot Jalulata. Tapi begitu dia lolos dari serangan api lawan secara tak terduga salah satu tangan si kakek tibatiba terjulur dan menghantam dada kiri Ki Comot. Kakek itu sempat terpental, tapi hantaman itu tidak membuatnya jatuh terpelanting. Malah kini dengan sikap seolah tidak menghiraukan rasa sakit yang mendera dadanya, Ki Comot Jalulata lentingkan tubuhnya lebih tinggi ke udara. Sedangkan jari telunjuk tangan kanan meluncur ke lubang di kening depan, sedangkan telunjuk kiri melesat ke bagian belakang kepala Iblis Awan Hitam.

Melihat lawan siap menyumbat lubang di kening dan bagian belakang kepalanya, Iblis Awan Hitam jadi terkesiap. "Jahanam... bagaimana dia bisa mengetahui bagian titik kelemahanku!" batin Iblis Awan Hitam kaget.

Dia miringkan kepalanya. Tapi gerakan yang dilakukannya ini kalah cepat dengan kedua jemari tangan Ki Comot Jalulata.

Bleb! Cep! "Uarkh...!"

Iblis Awan Hitam menjerit keras begitu lubang yang terdapat di kening dan belakang kepalanya disumbat orang. Kakek inipun merontaronta. Kepalanya laksana mau meledak.

"Lepaskan...!" teriak si kakek. Dua tangannya menghantam dada dan perut Ki Comot.

Wuuut!

Hantaman pertama dapat dihindari oleh orang tua itu. Tapi hantaman kedua dengan telak mendera bagian perut.

Buuuk!

"Huak!" tak pelak lagi si kakek jatuh terpelanting. Kedua jemari telunjuk yang menancap di dalam lubang terlepas. Ki Comot Jalulata jatuh terduduk. Sedangkan Iblis Awan Hitam yang merasa kehilangan udara yang mengalir ke bagian otak nampak terhuyung-huyung. Selagi tubuhnya belum sampai terjatuh. Si kakek yang sangat menderita akibat lubang di kepalanya disumbat orang langsung berbalik. Lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Melihat ini Gento Guyon tentu saja tidak mau membiarkan lawan lolos begitu saja. Diapun melepaskan satu pukulan jarak jauh ke arah Iblis Awan Hitam.

Wuut! Buum!

Percuma saja pukulan itu dilepaskannya karena lawan hanya dalam waktu sekejap saja telah lenyap dari pandangan mata.

"Tak usah dikejar!" seru Ki Comot Jalulata ketika melihat Taktu bermaksud melakukan pengejaran.

"Tapi dia bisa menjadi batu penghalang di kemudian hari!" ujar Taktu.

Si kakek gelengkan kepala.

Sambil mengatur jalan nafasnya yang agak memburu dia berkata. "Jika apa yang dikatakannya tentang benda itu memang benar adanya. Bagaimanapun dia pasti akan pergi ke Puncak Sebelas Tangga Kematian. Kita bisa menyusulnya ke sana!" ujar Ki Comot Jalulata.

"Apakah kau tahu dimana letak tempat itu Ki?" tanya Gento.

"Ha ha ha. Tempat itu tidak jauh dari Kertosuro. Dari tempat ini untuk mencapai Puncak Sebelas Tangga Kematian membutuhkan waktu dua hari perjalanan!"

"Cukup jauh juga. Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan kuda dalam perjalanan nanti. Tapi Ki, bagaimana kau bisa mengetahui kelemahan Iblis Awan Hitam?" tanya sang pendekar lagi.

Si kakek tersenyum. Dengan tenang dia menjawab. "Untuk mengetahui kelemahan ilmu simpanan seseorang memang tidak mudah. Apa yang kulihat kening Iblis Awan Hitam merupakan sumber pembangkit kekuatannya. Semula aku menjadi heran mengapa kepala kakek itu berlubang di bagian belakang dan juga depan. Kemudian aku berfikir. Setiap ilmu yang bersumber pada api pasti membutuhkan udara. Jika Iblis Awan Hitam yang bolong cuma di bagian depan, tak mungkin keningnya dapat mencetuskan api. Lalu aku berfikir lagi, jika kusumbat kedua lubang di kepalanya. Selain dia tak bakal menggunakan ilmunya pasti juga bagian otaknya kekurangan udara. Dugaanku ternyata tidak meleset!" ujar Ki Comot. Dia lalu melanjutkan. "Sayangnya aku tidak punya kesempatan ilmu sihirku untuk mengerjainya."

Gento tersenyum. "Sudahlah, Ki. Kau tidak perlu bersedih. Di lain waktu kau pasti punya kesempatan mengambil apa saja yang dia miliki. Sekarang selagi matahari belum tenggelam ada baiknya kalau kita lanjutkan perjalan ini!" kata Gento.

"Ha ha ha. Aku setuju saja. Semakin cepat sampai di tempat itu akan semakin bertambah baik!" ujar Ki Comot Jalulata.

Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi ketiga orang itu segera berkelebat pergi menuju ke bukit merah.

9

Kakek berpakaian serba putih berambut putih dan berjenggot putih panjang menjela itu tiba-tiba hentikan langkah. Sejenak dia memandang ke belakang. Setelah itu mulutnya yang tertutup kumis lebat menyeringai. Sekali dia gerakkan kakinya, laksana kilat sosok si kakek melesat ke satu cabang pohon, lalu dalam sekejap saja sosoknya lenyap di antara kelebatan daun dan pepohonan rindang.

Dari balik kelebatan daun pohon kakek berpakaian serba putih memandang ke jurusan mana tadi dia datang. Dan kakek itu agaknya tak perlu terlalu lama menunggu. Sebentar saja di tempat mana tadi dia berdiri muncul seorang kakek berpakaian sutera warna kuning. Di kening kakek itu berhiaskan tato gambar tengkorak dalam bentuk sulaman.

Selain itu di tangan si kakek juga tergenggam sebuah tongkat buntung berwarna hitam.

Setelah memperhatikan penampilan kakek berpakaian penuh tambalan-tambalan itu kakek yang mendekam di atas pohon menarik nafas lega.

"Dia rupanya? Kufikir dia orang yang kucari-cari selama ini!" batin kakek berpakaian putih itu dalam hati.

Sebaliknya kakek berpakaian sutera kuning dengan mata jelalatan kini memandang segenap penjuru sudut. Kemudian dia berkata seorang diri. "Aneh aku tadi sempat melihatnya. Mengapa dia begitu cepat menghilang? Apakah mungkin ilmunya semakin bertambah hebat? Apakah memang benar yang dikatakan orang bahwa benda itu kini telah menjadi miliknya?"

"Ha ha ha! Pengemis Nyawa... apa yang kau cari di tempat ini? Apakah engkau mencari diriku?" Kakek di atas pohon tiba-tiba membuka mulut berucap. Kakek bertongkat buntung melengak kaget. Cepat dia dongakkan kepala memandang ke atas pohon. Setelah itu dengan kecepatan laksana kilat dan gerakan tidak terduga dia menghantamkan tangan kirinya ke atas.

Wuuut!

Segulung angin menderu, lalu menghantam putus cabang pohon yang dipergunakan untuk bersembunyi oleh kakek berpakaian serba putih. Terdengar suara berderak putusnya cabang pohon. Begitu cabang runtuh satu bayangan berkelebat dan jejakkan kakinya di depan kakek berpakaian kuning.

Cabang pohon yang runtuh menimbulkan suara angin bergemuruh. Kedua kakek itu saling berpandangan untuk beberapa jenak lamanya. Setelah itu keduanya sama mengumbar tawa.

"Pengemis Nyawa! Sudah lama kita tidak bertemu. Apa yang kau cari di tempat ini?'" tanya kakek berpakaian putih.

"Empu Barada Sukma. Semula aku mencarimu di Lembah Sesat. Karena kau tidak ada di sana maka aku menyusulmu kemari." Ujar Pengemis Nyawa.

"Lembah Sesat bagiku untuk waktu yang akan datang mungkin hanya tinggal kenangan saja. Sekarang memang sudah waktunya bagiku untuk mewujudkan segala apa yang menjadi citacitaku!"

"Empu Barada, apa yang dapat kau andalkan untuk mewujudkan cita-citamu yang dulu itu?" tanya Pengemis Nyawa.

"Bekal yang kumiliki tidak kurang. Salah satu diantaranya adalah benda sakti yang selama ini menjadi incaran kaum rimba persilatan."

Mendengar ucapan Empu Barada Sukma tentu saja Pengemis Nyawa tidak dapat menutupi rasa kagetnya.

"Jadi... jadi Sengkala Angin Darah saat ini telah berada di tanganmu?" desis Pengemis Nyawa. "Ssst...! Jangan keras-keras kau bicara. Aku khawatir ada orang yang mencuri dengar pembicaraan kita!" ujar Empu Barada Sukma dengan sua-

ra lirih.

"Kau tak usah cemas. Ketika aku mencari dirimu tadi aku sudah meneliti daerah ini. Tidak ada siapa-siapa di sini selain kita. Cuma kuminta kau agar lebih berhati-hati. Karena begitu banyak orang yang menginginkan Sengkala Angin Darah. Salah satu diantaranya adalah Penyair Halilintar. Selain dia, Pangeran Sobali dari Kediri juga menghendaki benda yang ada di tanganmu. Hanya untuk orang yang kusebutkan terakhir itu kau tidak usah merisaukannya. Dia telah banyak kehilangan prajurit. Sayang seseorang telah menyelamatkannya. Jika tidak mungkin aku sudah membunuhnya!" ujar Pengemis Nyawa.

Empu Barada Sukma, kakek keji yang tidak pernah gentar menghadapi siapapun tiba-tiba dongakkan kepala. Kemudian dia tertawa tergelakgelak. Beberapa saat kemudian setelah tawanya lenyap Empu Barada Sukma berkata. "Mengapa aku harus takut pada orang-orang yang kau sebutkan itu? Penyair Halilintar kuketahui sebagai orang yang sangat berbahaya. Apalagi konon kudengar dia mempunyai binatang piaraan bernama mahluk Semera Darah."

"Apa yang kau katakan itu benar. Penyair Halilintar bukan manusia sembarangan. Aku sendiri sempat bentrok dengannya. Beruntung aku cepat berlalu ketika mahluk Semera Darah muncul di gunung Kawi. Jika tidak aku pasti sudah binasa!"

"Cukup, Pengemis Nyawa. Jangan pernah lagi kau memuji orang lain secara berlebihan di depanku. Aku tidak suka!" hardik Empu Barada Sukma ketus.

Pengemis Nyawa jadi terdiam mendengar bentakan sahabatnya. Kini dia hanya memandang pada sang sahabat dengan tatapan penuh selidik.

Dengan sikap acuh tak acuh Empu Barada Sukma berkata lagi. "Kau tahu, kalaupun ada orang yang ingin kubunuh sampai seribu kali. Orang itu adalah Gentong Ketawa."

"Gentong Ketawa. Manusia gendut dari gunung Merbabu itu? Agaknya kau masih punya ganjalan pada orang yang satu itu?"

"Benar. Sebelum aku membalaskan segala dendam dan sakit hatiku padanya, agaknya hidup ini bagiku tidak bakal mendapat ketenteraman."

"Lalu apa yang telah kau lakukan?"

Dengan mata menerawang memancarkan dendam Empu Barada Sukma berkata. "Beberapa bulan yang lalu aku telah mengirim utusan untuk mencari dan membunuh gendut yang satu itu. Tapi utusanku tidak pernah kembali!" ujar si kakek sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang. "Mungkin utusanmu dapat dibunuhnya!' ujar Pengemis Nyawa mengemukakan pendapatnya.

"Mungkin juga begitu. Kemudian belum lama ini setelah Sengkala Angin Darah berhasil kudapatkan. Aku sengaja menyebar berita di luaran sana bahwa Sengkala Angin Darah ada di tangan Gentong Ketawa. Lalu kudengar gendut terkutuk itu menjadi buronan banyak fihak. Tapi setelah itu aku tidak mendengar berita apa-apa lagi. Mungkin umpan yang kutabur tidak mengenai sasaran secara tepat. Aku tidak tahu, yang jelas belum lama ini aku juga mengirim kaum cacat dari lembah sesat untuk mencari tahu dimana Gentong Ketawa berada. Aku juga sudah menegaskan kepada mereka agar jika bertemu dengan Gentong Ketawa mereka segera membunuhnya."

"Lalu orang-orangmu tidak pernah kembali?" potong Pengemis Nyawa.

Dengan wajah muram Empu Barada Sukma anggukkan kepala.

"Entah ilmu apa yang dimiliki oleh tua bangka keparat itu. Yang pasti orang-orangku seperti tidak berdaya menghadapinya!" geram si kakek.

"Agaknya kau harus turun tangan sendiri untuk menuntaskan segala hutang piutang dan dendam kesumatmu."

"Aku fikir begitu. Tapi aku tidak tahu dimana dia sekarang berada."

"Jika kau mau, aku bersedia membantumu menemukan gendut yang satu itu. Secara pribadi aku memang tidak punya silang sengketa dengannya. Tapi aku berprinsip, apapun yang menjadi persoalan sahabatku. Susah senangnya juga menjadi persoalanku juga."

"Kau benar. Tapi kemana kita harus mencari?" tanya Empu Barada Sukma.

"Satu-satunya tempat yang mungkin didatangi setiap orang hanya Puncak Sebelas Tangga Kematian. Sekarang ini kudengar banyak tokohtokoh dunia persilatan yang pergi ke sana."

"Buat apa mereka ke sana?" tanya Empu Barada Sukma tidak mengerti.

"Tentu saja mereka menginginkan benda sakti itu. Entah siapa yang menyebarkan kabar baru itu. Yang jelas kini mereka lebih tertarik pergi ke Puncak Sebelas Tangga Kematian!"

Empu Barada Sukma menyeringai sinis. "Ha ha ha. Orang-orang dunia persilatan

itu. Mengapa kini tiba-tiba saja menjadi orang pandir lagi tolol. Mereka tidak tahu bahwa Sengkala Angin Darah yang sesungguhnya berada di tanganku!"

"Hak hak hak! Jika benar benda sakti itu memang ada di tanganmu sungguh sangat kebetulan sekali. Aku jadi tidak usah bersusah payah menyambung nyawa dengan pergi ke Puncak Sebelas Tangga Kematian!" satu suara disertai gelak tawa tiba-tiba mengumandang di udara.

Baik Empu Barada maupun Pengemis Nyawa tentu saja melengak kaget. Cepat sekali mereka memandang ke arah mana suara tadi datang. Belum lagi lenyap rasa kaget di hati mereka mendadak sontak satu sosok bayangan ungu berkelebat ke arah mereka. Di lain saat seorang kakek tua berbadan bongkok berpakaian serba ungu berdiri tegak di depan mereka.

Penampilan kakek yang satu ini sungguh kacau. Daun telinga kanan lenyap entah kemana. Sedangkan daun telinga kiri berada dalam genggamannya. Hidungnya berlubang gerowok mengerikan. Bukit hidung lenyap entah kemana. Melihat kemunculan kakek itu Empu Barada Sukma langsung semburkan ludah merasa jijik. Setelah itu dia membentak. "Manusia salah kaprah! Siapa dirimu?"

"Aku Setan Santet Delapan Penjuru!" jawab kakek berpakaian ungu yang memang Setan Santet Delapan Penjuru adanya. Seperti yang telah diceritakan pada episode sebelumnya. Kakek ini kehilangan kedua daun telinga dan bukit hidungnya karena perbuatan jahil Ki Comot Jalulata.

Sebaliknya begitu mendengar jawaban kakek itu baik Pengemis Nyawa maupun Empu Barada Sukma jadi tertawa tergelak-gelak.

Begitu tawa mereka lenyap. Pengemis Nyawa berkata. "Selama hidup, belum pernah aku melihat orang tolol yang gilanya sehebat dirimu. Yang aku tahu dan yang pernah kudengar Setan Santet Delapan Penjuru penampilan dan ciri-cirinya tidak seperti dirimu. Tapi kau... hidung lenyap tak karuan. Daun telinga bertanggalan. Datang mengemis minta Sengkala Angin Darah dan mengaku sebagai Setan Santet? Ha ha ha!" kata Pengemis Nyawa disertai senyum mencibir. 10

Wajah Setan Santet Delapan Penjuru sempat berubah merah padam. Belum lagi dia sempat berbicara Empu Barada Sukma sudah menyela. "Orang gila tak karuan juntrung. Lebih baik kau menyingkir dari hadapanku, sebelum aku benarbenar berubah fikiran!"

"Tak seorangpun yang bisa memerintahku sesuka hatinya sendiri. Cepat serahkan Sengkala Angin Darah kepadaku. Baru setelah itu aku akan pergi dari sini!" dengus Setan Santet tetap ngotot.

Jawaban kakek itu tentu membuat gusar kedua orang lawannya. Dengan geram Empu Barada Sukma berkata. "Kakek gila. Siapapun dirimu aku tidak perduli. Tapi jika kau tetap keras kepala tidak mau menuruti perintah, jangan salahkan kami jika aku dan temanku ini terpaksa membunuhmu!" ancam Empu Barada.

Setan Santet Delapan Penjuru tersenyum. "Ilmu yang kau miliki boleh saja tinggi, Empu Barada. Tapi jangan kira kau dapat menakut-nakuti diriku!" jawab Setan Santet.

Empu Barada Sukma diam-diam menjadi kaget. "Kakek keparat ini. Apakah benar-benar Setan Santet Delapan Penjuru? Kalau betul, kemana lenyapnya daun telinga dan hidungnya? Apakah mungkin telah terjadi sesuatu yang hebat pada dirinya? Selain hidung dan telinga, penampilan kakek ini memang sangat mirip dengan Setan Santet. Tapi perduli apa? Jika dia datang dengan maksud merampas barang milikku. Aku harus menyingkirkannya!" ujar Empu Barada Sukma.

Kakek berjanggut putih itu tiba-tiba saja dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak.

Puas dia tertawa selanjutnya dia berkata ditujukan pada sahabatnya Pengemis Nyawa. "Sahabatku! Jika dia datang kepada kita untuk mengemis benda yang ada padaku. Sekarang tindakan apa yang patut kita lakukan terhadapnya?"

Sambil bertolak pinggang kawannya menjawab. "Jika dia datang ingin mengemis benda sakti yang ada padamu. Kurasa tidak ada salahnya jika kita mengemis nyawanya terlebih dulu. Empu Barada Sukma... kau adalah sahabatku. Sudah sepatutnya sebagai sahabat aku membantumu. Duduklah kau dimana saja kau suka. Biarkan aku yang mengambil nyawa tua bangka tak berwujud ini!" kata Pengemis Nyawa.

Empu Barada Sukma yang sudah tahu kehebatan yang dimiliki Pengemis Nyawa tertawa mengekeh. Dengan sikap seenaknya dia kemudian duduk di batang pohon tumbang. Memandang sejurus ke arah Setan Santet Delapan Penjuru, lalu gelengkan kepala.

"Pengemis Nyawa. Buatlah kematiannya seenak mungkin. Bukannya apa, aku tidak tega melihat wajahnya yang mengenaskan itu!" kata Empu Barada Sukma berseru.

"Tak usah khawatir. Serahkan semua itu padaku!" jawab Pengemis Nyawa

Melihat sikap orang yang terlalu meremehkan dirinya, Setan Santet Delapan Penjuru menggeram marah. Tangan kanannya tiba-tiba dilambaikan ke arah Pengemis Nyawa. Meskipun gerakan yang dilakukannya hanya berubah lambaian saja. Tapi akibatnya sungguh sangat luar biasa sekali. Pengemis Nyawa tiba-tiba merasa ada hembusan angin yang datang menyergap. Berputarputar lalu mencekik leher dan melilit dadanya.

Si kakek merasa sulit bernafas. Baru saja Pengemis Nyawa meronta dan berusaha membebaskan diri dari pengaruh serangan lawan yang terasa aneh luar biasa. Di depan sana, Setan Santet Delapan Penjuru tiba-tiba gerakkan tangannya dengan satu bantingan keras.

Hebatnya lagi, tubuh Pengemis Nyawa tibatiba terangkat tinggi. Lalu meluncur deras ke bawah dan...

Brukk!

Pengemis Nyawa jatuh terbanting. Masih beruntung dia dapat jatuhkan diri dengan kedua kaki terlebih dulu menyentuh tanah.

Melihat kenyataan ini Empu Barada Sukma yang duduk di atas batang pohon jadi tercengang. "Kakek keparat itu! Dia menyerang tidak secara langsung ke arah sasaran. Tetapi akibatnya sungguh berbahaya bagi Pengemis Nyawa. Sekarang kau baru percaya kalau orang yang dihadapi sahabatku itu memang benar-benar Setan Santet Delapan Penjuru! Jelas telah terjadi suatu kejadian besar pada tukang santet ini sebelumnya. Aku harus bersikap waspada. Setan Santet memang berbahaya. Tapi lebih berbahaya lagi jika dia sampai menggunakan Jin Sesat yang menjadi piaraannya." Batin Empu Barada Sukma.

Sementara itu begitu jatuh terbanting Pengemis Nyawa tidak segera bangkit berdiri. Sebaliknya dia langsung bergulingan ke arah lawan. Begitu lawan telah berada dalam jangkauannya. Laksana kilat tongkat sakti yang telah buntung pada bagian ujungnya segera dibabatkan ke arah bagian kaki Setan Santet.

Angin keras berhawa panas luar biasa segera berkelebat menyambar ke arah kaki Setan Santet. Orang tua itu merasa kedua kakinya seperti ditebas pedang panas membara. Namun dengan cepat dia melompat ke udara. Babatan pertama luput dari sasaran. Namun babatan kedua yang dilancarkan Pengemis Nyawa sempat menghantam kaki kiri Setan Santet. Membuat robek ujung celananya dan melukai bagian kaki.

Setan Santet keluarkan suara menggerung hebat. Dalam keadaan berjumpalitan di udara, tiba-tiba dia lakukan gerakan mencengkeram ke bagian kepala. Walaupun cengkeraman itu sebenarnya tidak sampai mengenai kepala Pengemis Nyawa. Tapi si kakek tiba-tiba merasakan rambutnya kena dibetot lawannya. Ini dapat dimaklumi karena Setan Santet dalam setiap melakukan serangan menggunakan kekuatan gaibnya. Sehingga walaupun anggota badannya tidak pernah menyentuh tubuh lawan. Tapi akibatnya sama hebat dengan gerakan tangan yang sesungguhnya.

Melihat kenyataan seperti ini, Empu Barada Sukma yang lebih berpengalaman dari temannya langsung berteriak. "Pengemis Nyawa. Dia menggunakan ilmu iblisnya. Karena itu kerahkanlah seluruh tenaga dalam yang kau miliki!"

Mendengar teriakan Empu Barada Sukma. Pengemis Nyawa tiba-tiba dengan gerakan yang tidak terduga langsung babatkan tongkat saktinya ke bagian atas kepala.

Tak!

Pukulan yang dilakukan Pengemis Nyawa sesungguhnya tidak sampai mengenai tangan lawan. Tapi tongkat itu seolah membentur pergelangan tangan lawannya.

Setan Santet Delapan Penjuru meraung hebat sambil memegangi lengan tangan kanannya. Tapi dengan cepat dia jejakkan kakinya di atas tanah. Setelah itu tanpa menghiraukan rasa sakit yang dideritanya Setan Santet hantamkan kedua tangannya ke arah dada dan kepala Pengemis Nyawa. Melihat serangan ini, Pengemis Nyawa tidak mau terlibat perkelahian dalam jarak jauh. Laksana kilat Pengemis Nyawa melompat ke depan. Dengan tangan kiri dia menyambut serangan lawan, sedangkan tongkat di tangan kanan dihantamkannya ke bagian kepala.

Jika sampai tongkat itu menghantam kepala Setan Santet, dapat dipastikan kepala lawan hancur berantakan. Setan Santet agaknya menyadari akan hal itu. Karenanya dia melompat mundur sejauh tiga tombak. Mulut kakek ini berkemak-kemik.

Setelah itu tiba-tiba saja dia berseru. "Naik...!"

"Wuaakh...!" Dan tubuh Pengemis Nyawa tiba-tiba tanpa dicegah lagi langsung melesat ke udara seiring dengan ucapan lawannya.

"Bantingkan dirimu!" teriak Setan Santet lagi. Tak dapat dicegah tubuh Pengemis Nyawa meluncur deras ke bawah. Melihat kenyataan ini Empu Barada Sukma tentu tidak tinggal diam.

"Tua bangka keparat itu. Berani dia mengerjai kawanku. Akan tahu rasa dia!" maki sang empu.

Laksana kilat dia berkelebat mendekati Pengemis Nyawa. Dua tangan ditadahkan sehingga Pengemis Nyawa terjatuh dalam pelukannya.

"Menyingkirlah kau! Aku paling tidak suka melihat kawanku dipermainkan orang!" geram si kakek. Lalu diam-diam dia kerahkan tenaga dalamnya ke sekujur tubuh.

Belum lagi Empu Barada Sukma beranjak dari tempatnya berdiri. Pada waktu itu pula Setan Santet telah melancarkan serangkaian serangan hebat yang menimbulkan deru angin panas dan dingin silih berganti. Empu Barada Sukma yang mendapat gelombang serangan demikian hebatnya diam tidak bergeming. Tapi begitu lawan telah berada dalam jangkauannya. Tiba-tiba orang tua itu gerakkan perutnya.

Wuus! Wuuus!

Dari bagian perut si kakek angin dan hawa panas membakar menderu dahsyat. Gelombang angin yang sangat membakar itu menghantam sekujur tubuh Setan Santet Delapan Penjuru. Setan Santet tentu saja tidak ingin dirinya celaka dihantam gelombang angin dan sinar merah yang memancar dari benda di balik pakaian lawan yang belum jelas apa adanya. Karena itu dia melompat ke samping selamatkan diri.

Tapi apa yang dilakukan Setan Santet nampaknya sia-sia saja. Karena begitu dia menghindar dari balik pakaian di bagian perut sang empu kembali sinar merah disertai gelombang angin panas mencuat dan melabrak Setan Santet.

Si kakek menggerung, mencoba kerahkan ilmu hitam yang dia miliki untuk menangkis serangan aneh yang menyeruak dari perut Empu Barada Sukma. Tapi apa yang dilakukannya itu nampaknya tidak dapat berfungsi sebagaimana yang dia harapkan.

Tak ayal lagi, tubuh Setan Santet mencelat mental terhantam gelombang angin berhawa panas membakar yang keluar dari balik baju Empu Barada Sukma. Melihat kenyataan yang terjadi Pengemis Nyawa tentu saja jadi tercengang. Tapi dia tidak yakin kekuatan itu keluar dari diri Empu Barada Sukma. Mustahil sang empu memiliki kesaktian sehebat itu.

Sementara itu di depan sana, dalam keadaan tubuh setengah hangus Setan Santet Delapan Penjuru mencoba bangkit dan duduk bersila. Tapi hal ini tidak mudah dilakukannya karena sekujur tubuhnya nyaris hangus dan sulit digerakkan. Dengan bersusah payah, Setan Santet akhirnya dapat melakukan apa yang dia inginkan.

Setelah dapat duduk bersila. Bibirnya yang kaku berkemak-kemik. Lalu lubang telinga kiri digosok-gosoknya.

Tak lama kemudian dari lubang telinga mengepul asap tipis berwarna biru. Asap itu bergulung-gulung di atas kepala membentuk satu sosok tinggi berwajah angker menyeramkan.

"Empu Barada, dia menggunakan Jin Sesat.

Hati-hatilah!" seru Pengemis Nyawa.

Empu Barada Sukma menyeringai dingin. Kembali dia kerahkan tenaga ke bagian perut. Hawa panas kembali memancar dari benda yang tersimpan di situ. Sementara pada waktu bersamaan Setan Santet berseru pada mahluk raksasa yang keluar dari liang telinganya.

"Jin Sesat! Bunuh kakek berpakaian putih dan rampas benda sakti yang ada padanya!"

Mahluk besar angker yang keluar dari lubang telinganya keluarkan suara menggerung. Setelah itu dengan cepat mahluk hitam itu berbalik lalu melayang ke arah sang Empu.

Akan tetapi baru saja setengah jalan Jin Sesat bergerak, melayang. Mendadak sontak gerakannya jadi tertahan begitu dari perut Empu Barada Sukma mencuat sinar merah dan biru disertai gelombang angin hebat. Sinar maut dan pusaran angin itu langsung melabrak sosok Jin Sesat hingga membuat mahluk itu hancur berkepingkeping.

Melihat mahluk piaraannya hancur terhantam gelombang hawa panas yang dahsyat luar biasa. Setan Santet meraung hebat. Bersusah payah dia bangkit berdiri.

"Kakek Jahanam! Kau bunuh mahluk piaraanku. Sekarang aku akan membunuhmu!" Berkata begitu sosoknya tiba-tiba melesat ke depan. Tapi secara tak terduga dari arah samping ada angin menyambar ke arahnya. Terkejut Setan Santet berpaling. Justru pada saat itu, sebuah benda hitam melayang menghantam bagian kepalanya dengan telak sekali.

Praak!

Terdengar suara tengkorak kepala berderak hancur. Setan Santet Delapan Penjuru menjerit setinggi langit. Tubuhnya terpelanting, darah menyembur dari bagian kepalanya yang pecah.

Tak lama kemudian kakek itu pun terkapar dan tidak dapat bergerak-gerak lagi.

Di samping Setan Santet, Pengemis Nyawa menyeringai sambil usap-usap tongkat hitamnya yang berlumuran darah. Sementara itu sepasang matanya terus memandang ke arah perut Empu Barada Sukma yang seperti menggembol sesuatu.

"Terima kasih karena kau telah membantu" Ujar sang empu.

"Benda yang memancarkan cahaya merah tadi. Apakah itu benda sakti Sengkala Angin Darah?" tanya Pengemis Nyawa.

"Kau benar. Benda ini memang sangat luar biasa. Dengan adanya Sengkala Angin Darah aku yakin tak ada seorangpun yang dapat menghadapi aku." Ujar sang Empu disertai senyum.

"Apakah kau yakin benda itu memang benda yang asli?" tanya Pengemis Nyawa.

Empu Barada Sukma unjukkan wajah kaget juga heran. da. "Eeh... apa maksudmu?" tanya Empu Bara-

Pengemis Nyawa menarik nafas, sambil gelengkan kepala.

"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya curiga saja" Sahut si kakek. Dalam hati dia berkata. "Menurut yang kudengar. Sengkala Angin Darah adalah sebuah benda sakti yang dapat menghancurkan apa saja. Bahkan konon benda itu sulit disentuh manusia. Tapi aneh, sahabatku itu malah menggembolnya. Lebih heran lagi tubuhnya tidak cidera. Tidak hangus, atau hancur berkeping-keping. Ada yang tidak beres! Ada yang tidak wajar!" batin si kakek curiga. Tapi dia tidak mengatakan kecurigaannya ini pada Empu Barada Sukma.

Malah ketika Empu Barada pergi, Pengemis Nyawa hanya mengikut saja tanpa berani bicara apa-apa.

Tamat