Gento Guyon Eps 28 : Semerah Darah

 
Eps 28 : Semerah Darah


Kakek berdaster biru itu sesungguhnya sudah berusaha berjalan tegak menggunakan dua kakinya. Hanya saja hembusan angin di daerah Lembah itu kencang luar biasa sedahsyat topan. Hembusan angin yang ganas luar biasa memerih- kan kulitnya. Bukan cuma itu, beberapa kali si kakek sempat jatuh terjengkang. Orang tua be- rambut panjang tergerai inipun menggerutu tak berkeputusan.

Tidak lama kemudian ia bangkit lagi. Teta- pi dari arah depan tiga batu menggelinding ke arahnya. Si kakek tidak sempat melihat adanya bahaya itu. Tidak pelak dua diantara batu itu menghantam perut dan keningnya.

"Huek... Keparat terkutuk...!" damprat si kakek sambil mengusapi keningnya yang meng- gembung bengkak. Entah siapa yang dimaki olehnya. Tidak ada orang lain di situ terkecuali di- rinya. Sedangkan selebihnya hanyalah puluhan kura-kura yang berjalan merayap.

SI kakek memperhatikan kawanan kura- kura itu sejenak. Selanjutnya masih bersungut- sungut dia berkata. "Supaya selamat agaknya aku harus merangkak seperti mahluk-mahluk itu." Ia singsingkan daster birunya yang mirip pakaian perempuan. Setelah itu dia merangkak.

Satu keanehan kemudian terjadi. Begitu si kakek berjalan merayap, puluhan mahluk- mahluk berkepala kuning itu segera mengiringnya dari belakang tidak ubahnya seperti prajurit men- giring rajanya.

Melihat ini si kakek yang dikenal dengan nama Ki Betot Segala tidak kuasa lagi menahan tawa.

"Ini jelas keputusan edan yang pernah ku- lakukan seumur hidup. Mengapa aku harus me- lakukan hal tolol seperti ini?" kembali Ki Betot Segala mendamprat. Mulut memaki namun me- rangkak tetap ia lakukan.

Tidak sampai sepemakan sirih Ki Betot Se- gala segera sampai di sebuah batu besar berlekuk di tengah-tengahnya seperti lumpang. Batu itu dalam keadaan kosong.

Setelah memperhatikan keadaan di sekeli- lingnya dan tidak ditemui juga orang yang dicari akhirnya dia menyeletuk. "Jauh-jauh aku datang ke sini tidak tahunya aku cuma mendapati tahta kedudukan yang kosong! Manusia yang bernama Ki Sumpit Prakoso, dimana gerangan dirimu be- rada? Apakah tahta kerajaan kura-kuramu seka- rang sudah pindah ke langit?" Si kakek lalu ter- tawa tergelak-gelak.

Belum lagi tawa menggeledek si kakek le- nyap, tiba-tiba saja hembusan angin yang mener- bangkan bebatuan terhenti. Dalam waktu bersa- maan dari arah terhentinya hembusan angin ter- sebut terdengar suara raungan keras menggele- dek.

Suara raungan disusul dengan berkelebat- nya satu sosok bayangan aneh yang celakanya segera kirimkan serangan dahsyat ke arah Ki Be- tot Segala.

Satu pukulan segera menyambar ke bagian dada kakek ini, si kakek segera berkelit dengan miringkan tubuhnya ke samping. Walau begitu tak urung bagian bahunya masih terkena samba- ran pukulan orang.

Ki Betot Segala terjajar, namun ia menge- nali siapa orang yang telah menyerangnya. Orang itu bercelana hitam gombrong, dadanya yang te- lanjang dipenuhi bulu lebat. Bagian punggung menggelembung seperti punuk, tapi sebenarnya bukan punuk. Punggung itu ditumbuhi semacam batok besar yang sangat keras mirip punggung kura-kura. Selain itu sangat keras luar biasa punggung itu juga menjadi sumber kesaktiannya.

Selain punggungnya yang aneh, di bagian belakangnya juga mencuat ekor seperti buntut. Sedangkan keanehan lain yang terdapat dalam di- ri orang tua satu ini, terletak pada bagian kepala. Bagian kepala sama sekali tidak mirip dengan ke- pala manusia. Sebab mulai dari bagian leher ke atas berupa kepala naga berwarna putih.

Walau mengenali siapa adanya yang datang menyerang, namun Ki Betot Segala tidak sempat bicara. Semua ini dikarenakan begitu dapat tegak kembali kini manusia aneh di depan sana sudah menyerangnya. Kali ini ia menyerang dengan ku- ku-kukunya yang tajam runcing seperti kuku sin- ga. "Kurang ajar. Orang datang bukan disam- but dengan suguhan lezat, sebaliknya kau malah menyerangku!" Ki Betot Segala mengumpat. Orang tua ini menjadi gusar. Terbukti begitu se- pasang tangan menyambar, Ki Betot Segala segera melesat ke atas. Ketika si kakek mengapung di udara, kaki yang terlindung di balik daster mele- sat melabrak dada lawannya. Orang berpunggung kura-kura berkepala naga jatuhkan diri hingga sama rata dengan tanah. Tendangan Ki Betot lu- put, tetapi ia terus bergerak ke bawah sambil me- lakukan serangan bertubi-tubi. Tangan dan kaki lakukan serangan bersamaan dan untuk diketa- hui Ki Betot Segala selain dikenal kehebatannya dalam hal membetot apa saja ia juga memiliki pu- kulan yang sanggup meruntuhkan bukit batu. Ti- dak mengherankan begitu tinjunya berkiblat, ter- dengar deru angin bersiutan. Tak ayal lawan kini dalam ancaman bahaya besar. Celakanya lagi orang satu ini tidak menyadari adanya bahaya dari arah depan.

Tidak terhindarkan lagi pukulan Ki Betot Segala menghajar punggung lawan tepat menge- nai bagian yang menonjol seperti batok kura- kura.

Duuk!

"Uuukh...Edan suro...!"

Bagian punggung yang menonjol itu remuk sebagaimana yang diharapkan oleh Ki Betot. Se- baliknya orang tua itu sendiri seperti dilemparkan tampak mencelat di udara. Orang tua ini meman- dang ke depan. Dia pun langsung melontarkan kutuk serapah. Punggung yang semula dia ang- gap remuk terkena pukulan ternyata tidak cidera sama sekali.

Malah sosok berkepala naga dengan tenang bangkit berdiri, silangkan kedua tangan di depan dada, lalu tertawa tergelak-gelak.

"Ternyata kau Ki Betot Segala. Semula ku- kira siapa kunyuknya yang datang ke Lembah Kura-kura ini. Ha ha ha." Orang itu kembali men- gumbar tawa. Ketika tawanya terhenti ia kembali berkata. "Sudah sangat lama kita tidak bertemu. Selama itu barang apa saja milik orang yang su- dah kau dapatkan?" Dia lalu menatap ke arah je- mari tangan Ki Betot, kali ini dia mengulum se- nyum. "Ah, tanganmu bengkak rupanya? Kasihan sekali!"

Ki Betot katupkan bibirnya. Ia tidak me- nanggapi ucapan manusia berkepala naga pung- gung seperti kura-kura itu.

Lalu dia mengusap jemari tangannya sen- diri. Setelah melakukan tiga kali usapan disertai pengerahan tenaga dalam, maka tangan yang menggelembung bengkak itu kembali pulih seba- gaimana semula.

Bersungut-sungut Ki Betot menatap orang di depannya sejenak. Dalam hati kecilnya ingin sekali dia menjahili kakek itu, namun mengingat kepentingannya datang ke lembah kura-kura jauh lebih besar maka ia terpaksa menahan segala keinginannya yang kurang terpuji. Dengan serius lalu dia berkata, "Ki Sumpit Prakoso alias Kura-Kura Naga! Ketahuilah aku ti- dak bakal datang ke lembah yang busuk ini jika tidak membawa urusan besar"

Kakek berkepala naga itu kedipkan ma- tanya. Dia akhirnya duduk di atas lubang batu begitu rupa hingga mirip ayam mengeram.

Kakek ini dongakkan kepala, lalu dengan sikap dingin segera ajukan pertanyaan. "Aku su- dah menduga ku tak bakal menyambangi lembah bau pesing ini jika tidak membawa maksud suatu keperluan. Sebelum kau mengatakan apa keper- luanmu aku ingin bertanya dimana dua sauda- ramu yang sinting itu? Mengapa mereka tidak tu- rut serta?"

Dikatai orang gila, Ki Betot Segala berubah cemberut. Dengan bersungut-sungut pula ia men- jawab. "Dua saudaraku itu punya kaki, punya otak walau agak miring. Mana aku tahu mereka pergi kemana, namanya juga orang-orang gila. Mungkin saja mereka sedang mengemis di pasar, mungkin juga sedang menangis di alun-alun Ke- diri. "

"Ah, kasihan sekali. Semakin tua ternyata kau mudah naik darah. Baiklah kurasa tidak ada gunanya aku bertanya tentang dua orang gila itu. Sekarang jangan malu-malu, katakan saja men- gapa kau datang kemari?"

Ki Betot Segala terdiam. Dia menyadari sa- habatnya yang bergelar Kura-Kura Naga itu kini kesaktiannya makin bertambah tinggi. Kesulitan orang tua satu ini memang sulit diatur. Semua ini menimbulkan keraguan di hati Ki Betot.

Kiranya Kura-Kura Naga dapat membaca kekisruhan di hati sahabatnya. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi ia berkata. "Ki Be- tot, aku tidak mau menemui orang yang bengong melompong. Jika kau punya kepentingan, harap cepat kau utarakan. Seandainya kau ragu kusa- rankan sebaiknya segera angkat kaki dan aku bi- sa meneruskan tapaku!"

Ki Betot merasa tidak enak hati, namun bi- birnya menyunggingkan senyum. Sambil terse- nyum ia mengambil duduk di atas batu bundar tidak jauh dari hadapan Ki Sumpit Prakoso.

Setelah duduk ia berkata, "Sobatku Ki Sumpit. Beberapa purnama belakangan ini dunia persilatan menjadi gempar dengan munculnya sa- tu benda sakti bernama Sengkala Angin Darah."

"Sengkala Angin Darah?" desis si kakek ka- get. Masih dengan mata membelalak tak percaya ia menggumam. "Bukankah Sengkala Angin Da- rah berarti malapetaka?"

"Ya... kau betul. Sengkala artinya malape-

taka."

"Lalu apa ujud benda itu? Apakah berupa

senjata, batu, jimat atau apa?" tanya Ki Sumpit Prakoso tertarik.

Ki Betot Segala geleng kepala. "Sesungguh- nya aku sendiri belum melihat benda sakti itu, te- tapi menurut yang kudengar benda itu ujudnya mirip manusia. Dia berambut panjang, punya hi- dung, punya mata dan punya rambut. Gigi- giginya runcing. Benda itu besarnya tidak lebih dari lengan manusia, panjangnya tidak lebih dari dua jengkal. Kabarnya benda sakti itu dulunya adalah manusia seperti kita yang hidup ratusan bahkan ribuan tahun lalu. Tetapi benda itu kini membatu melalui sebuah proses yang aneh, rumit dan tak masuk akal. Kesaktiannya antara lain dapat menghanguskan dan membunuh manusia. Benda itu tidak mudah disentuh. Siapa yang be- rani menyentuhnya bisa terlempar atau hangus seketika!"

"Hmm, sungguh luar biasa." Ki Sumpit Prakoso mendecak penuh rasa kagum. "Dimana benda sakti itu berada sobatku?" Si kakek jadi in- gin tahu.

Ki Betot kembali terdiam, dia menarik na- fas sambil menatap mata naga sahabatnya. Dia tidak melihat kesan keji, niat yang licik terpancar lewat tatapan mata Ki Sumpit. Semua ini tentu membuat perasaan Ki Sumpit menjadi lega. Ki Be- tot segera melanjutkan. "Benda itu pertama dite- mukan di daerah hutan Pacitan. Banyak orang yang berusaha memiliki benda itu menjadi kor- ban. Tetapi dengan cara yang dirahasiakan, se- seorang berhasil mengambil Sengkala Angin Da- rah"

"Seseorang yang kau sebut itu apakah ti- dak punya nama?" Tanya Ki Sumpit yang tidak suka dengan pembicaraan yang bertele-tele.

"Jika aku tahu namanya dan andai aku ta- hu siapa yang mengambilnya mustahil aku da- tang ke sini. Sampai saat ini tak ada yang tahu benda itu di tangan siapa. Yang jelas sekarang ini berbagai kalangan dari golongan hitam maupun putih berusaha mencari benda itu. Mereka saling curiga satu sama lain bahkan mulai saling bu- nuh."

Ki Sumpit Prakoso manggut-manggut sam- bil tertawa.

"Mengapa tertawa?" kata Ki Betot heran. "Kalau mereka saling bunuh itu bagus, ba-

nyak yang mati tambah rame dan aku menyu- kainya." Ki Sumpit selanjutnya terdiam, mencoba memeras otak memecahkan teka-teki yang diha- dapinya. Tapi ia kemudian malah terlihat bin- gung. Dia lalu bertanya. "Eeh, sobatku aku tidak melihat yang kau ceritakan itu ada sangkut paut- nya dengan diriku. Atau kau barangkali hendak menuduh aku telah mengambil benda itu secara diam-diam?"

Ki Betot gelengkan kepala.

"Kau salah. Siapa yang menuduhmu? Ma- salah ini memang tak ada kaitannya dengan diri- mu. Justru aku ingin mengajakmu menyelidik di tangan siapa benda itu kini berada." Tegas Ki Be- tot Segala.

"Oh, kalau begitu maksudmu legalah su- dah hatiku ini. Kukira kau menuduhku telah mencuri. Tapi... sobatku, bukankah yang menjadi incaran itu tak ada pemiliknya?"

"Ya...kau benar." "Andai demikian apa perlunya kita menye- lidik? Kita bukan mata-mata pangeran Kediri. Orang tua seperti kita tak patut melakukan pe- kerjaan seperti itu."

"Tampang memang sudah tua, wajah jelek juga kuakui. Tapi aku masih gagah. Cuma kea- daanmu yang berantakan."

"Tua bangka sialan." Umpat si kakek ber- kepala naga lalu julurkan lidahnya yang panjang bercabang. "Sekarang lanjutkan keteranganmu!"

Ki Betot melanjutkan. "Barang memang ti- dak bertuan, mengingat kesaktiannya. Alangkah berbahaya bila benda itu jatuh ke tangan orang yang salah. Dunia persilatan bisa dibuat kiamat."

Ki Sumpit manggut-manggut. Apa yang di- katakan sahabatnya memang benar adanya. "Kau apakah sudah menghubungi orang segolongan dengan kita?"

"Aku sudah lakukan, tapi mereka malah menuduhku ingin mengangkat benda itu sendiri."

Ki Sumpit tertawa.

"Ada yang lucu?" tegur Ki Betot tersing-

gung.

"Tidak ada. Aku jadi senang melihat kau ti-

dak ikutan menjadi gila seperti mereka. Itu berarti di rimba persilatan kini hanya ada dua manusia yang waras yaitu aku dan kau. Kemudian kita tunggu apa lagi? Sekarang kurasa adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berangkat!" Ki Sumpit Prakoso tampaknya memang sudah tidak sabar.

Ki Sumpit Prakoso bangkit berdiri, tetapi Ki Betot memberi isyarat agar sahabatnya duduk la- gi.

"Eh, masih adakah yang ingin kau sampai- kan atau mungkin kau merasa betah berlama- lama di lembah bau pesing ini?"

Ki Betot tampak serius. "Begini. Apakah kau pernah kenal atau mendengar tentang seo- rang tokoh sakti dari Merbabu yang bernama Gentong Ketawa?"

Mendengar disebutnya nama itu Ki Sumpit belalakkan matanya yang merah membara. Lidah panjangnya terjulur keluar masuk pertanda ia tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya. "Jika dia orangnya, tentu aku pernah mendengar. Tetapi aku belum pernah bertemu. Yang kutahu tempat tinggalnya berpindah-pindah. Terkadang di gu- nung Merbabu ada kalanya di gunung Semeru. Dia punya seorang murid yang sama gilanya. Na- manya Gento Guyon bergelar Pendekar Sakti 71. Kabarnya muridnya itu pernah bertemu dengan Manusia Seribu Tahun. Dia mendapat gemblen- gan dari manusia gaib itu. Hal ini yang memung- kinkan dia dapat membangkitkan tenaga dalam dari tujuh titik api di tubuhnya." jelas si kakek.

Ki Betot Segala berdecak penuh kagum. "Luar biasa. Ternyata kau yang tinggal di tempat bau apek ini lebih banyak tahu perkembangan yang terjadi di luar sana. Dulu aku beranggapan Manusia Seribu Tahun cuma legenda, tidak ta- hunya benar-benar ada."

"Aku memang orang hebat. Lalu apa per- lumu mengingatkan aku tentang dia?"

Yang ditanya terdiam. Wajahnya jelas-jelas menyimpan keraguan. "Sebenarnya aku ragu ten- tang hal ini, terlebih-lebih mengingat dia adalah orang tua yang polos "

"Ah, mengapa ditahan-tahan? Jangan un- jukkan sikap seperti orang mau buang hajat di depanku." Tukas Ki Sumpit tak sabar.

"Ah kau. Mukaku memang sudah begini dari sananya." Maki Ki Betot. "Begini, belakangan kudengar kabar di luaran sana bahwa Sengkala Angin Darah sebenarnya berada di tangan Gen- tong Ketawa. Entah siapa yang meniupkan kabar ini. Yang pasti sebagian orang dunia persilatan memburu kakek itu!"

"Aku tidak percaya. Orang seperti dia mana pernah ambil perduli dengan segala macam benda sakti. Banda keramat miliknya saja selama ini ti- dak terurus. Ha ha ha!" tegas Ki Sumpit Prakoso disertai tawa tergelak-gelak.

"Aku juga berpendapat begitu. Mudah- mudahan kabar itu memang tidak benar." Gu- mam Ki Satot Segala.

"Ah, sudahlah. Mari kita berangkat!" den- gus sang Kura-Kura Naga tidak sabaran.

Ki Betot Segala anggukkan kepala. Mereka pun kemudian berkelebat tinggalkan lembah itu. 2

Kalaupun ada orang yang sangat berambisi untuk mendapatkan Sengkala Angin Darah maka Pangeran Sobalilah orangnya. Itu sebabnya ban- tuan yang diberikan Dukun Kertasona dianggap- nya tidak cukup. Sang pangeran kemudian men- gutus dua orang terbaiknya yaitu Tunggul Miring dan Tunggul Oleng. Tetapi Tunggul Oleng tewas mengenaskan bersama perwira lainnya. Luka- luka yang dideritanya sangat mengerikan. Se- dangkan Tunggul Miring hilang raib dan kemung- kinan besar melarikan diri. Usaha yang dilakukan kedua orang terbaiknya untuk menemui dan min- ta bantuan Wanaraga atau yang dikenal dengan julukan Pengemis Nyawa gagal. Pangeran Sobali merasa kecewa sekali.

Kini bersama orang kuatnya yang bergelar si Tangan Besi, ia membawa dua ratus pasukan meninggalkan Kediri. Dengan rombongannya me- reka menuju ke selatan. Dalam perjalanan dia menyerap kabar Sengkala Angin Darah ternyata telah berada di tangan kakek sakti bernama Gen- tong Ketawa.

Sepanjang jalan Pangeran Sobali berfikir, jika benda itu memang berada di tangan orang yang bernama Gentong Ketawa ia menganggap untuk mendapatkannya tentu bukan persoalan sulit.

Pada saat itu laki-laki tegap berpakaian hi- tam berwajah mirip beruang yang mengiringi di sebelah kanannya tiba-tiba berkata. "Pangeran, siapa sebenarnya orang yang bernama Gentong Ketawa itu?"

"Hmm, dia seorang kakek aneh, salah satu tokoh dunia persilatan. Ilmunya hebat tapi orangnya aneh."

"Seandainya dia tidak mau memberikan apa yang gusti minta, kita hendak berbuat apa?"

Pangeran Sobali tersenyum licik. "Siapa yang melawan keinginanku sama halnya dengan menantang kerajaan. Aku tidak akan membiar- kannya. Aku pasti bakal menjatuhkan hukuman berat" tukas laki-laki itu.

"Aku sependapat dengan pangeran. Cuma yang kita dengar sebenarnya masih simpang siur. Saya berharap kita punya kesempatan lain."

"Gusti benar. Setelah Tunggul Oleng dan Tunggul Miring tak bisa kita harapkan kita me- mang harus menentukan pilihan lain."

Pemuda gagah berpakaian kuning bergela- pan itu anggukkan kepala.

"Seharusnya Pengemis Nyawa bisa dihu- bungi. Jika ia mau membantu kita sebenarnya aku punya rencana untuk mengangkat dia jadi Tumenggung. Tapi agaknya kita tidak bisa berha- rap banyak lagi."

Tangan Besi yang mempunyai kesaktian tingkat tinggi itu menyadari ucapan pangeran So- bali. Ia tahu pangeran Sobali tidak ingin kegaga- lan. Tapi Tangan Besi tidak mau banyak bicara. Segera saja dipacunya kuda ke depan. Tak sam- pai sepeminum teh rombongan ini tiba di kawa- san belantara batu yang diapit dua bukit curam. Jalan di tempat itu sunyi sekali dan kelihatannya jarang dilewati orang.

Tangan Besi yang memimpin di depan tiba- tiba merasa tengkuknya merinding. Sementara itu kuda tunggangannya mulai meringkik gelisah. Tangan Besi segera memberi aba-aba. Para praju- rit yang berada di belakang termasuk pangeran Sobali segera hentikan kudanya.

"Ada apa?" Tanya pangeran pada Tangan

Besi.

"Pangeran sebaiknya kita memutar arah

saja. Di depan sana banyak tulang belulang ber- serakan. Saya yakin ada yang tidak beres di tem- pat ini!" ujar si Tangan Besi.

Sang pangeran menggeram marah. "Jika kau berbalik mundur, berarti kau seorang penge- cut. Aku benci manusia pengecut. Namun jika kau tetap bersikeras aku tidak melarang. Tetapi sebelum itu kau lakukan sebaiknya kau gorok du- lu lehermu!"

Suara tegas sang pangeran membuat ciut hati prajurit-prajurit yang turut serta bersa- manya.

Si Tangan Besi berdiri tercekat. Dengan pe- rasaan kecut ia berkata. "Kalau pangeran tidak berkenan mengambil jalan lain, baiklah, kita le- wati jalan ini. Biarkan saya yang memimpin di depan." Pangeran mendengus. "Sekarang jalan!" pe- rintahnya ketus.

Prajurit-prajurit bergerak. Tangan Besi menggebrak kudanya. Belum lagi mereka jauh berlalu, tiba-tiba kuda tunggangannya kembali meringkik. Bersamaan dengan itu terdengar pula suara tawa bergelak yang seakan datang dari se- gala penjuru.

Pada waktu bersamaan dari atas ketinggian melesat cepat sosok bayangan yang terdiri dari bayangan biru, merah, hitam dan kuning.

Semua orang yang berada di jalan itu tentu saja tersentak kaget. Ketika mereka semua me- mandang ke depan di tengah jalan berdiri tegak satu sosok serba merah.

Baik pangeran Sobali maupun Tangan Besi dongakkan kepala ke kanan dan kiri tebing. Ter- nyata tiga sosok lainnya kini tampak menempel bergelayutan di tebing itu tidak ubahnya seekor laba-laba.

Empat sosok berpenampilan warna warni tadi ternyata terdiri dari dua laki-laki dan dua pe- rempuan.

Tetapi mereka jelas bukan manusia biasa. Mereka masing-masing memiliki tangan empat buah, sedangkan setiap jarinya berkuku runcing dan tajam. Melihat penampilan keempat sosok itu, pangeran Sobali segera mengenali mereka.

Adapun keempat orang tersebut bukan lain adalah Empat mahluk laba-laba yang dikenal dengan julukan Empat Laba-Laba Beracun. Pangeran Sobali kini jadi menelan ludah. Dalam hati ia membatin. "Mengapa aku harus bertemu dengan para iblis ini? Mereka bukanlah manusia sembarangan. Biasanya dimana pun me- reka hadir selalu menebar maut. Belum pernah ada yang lolos bila berada di tangan mereka. Aku tidak mau mencari permusuhan. Kalau perlu aku harus menggunakan muslihat untuk meman- faatkan jasa mereka."

Baru saja sang pangeran berkata begitu, tiba-tiba gadis bertangan empat berpakaian kun- ing buka suara. "Saudara-saudaraku, nampaknya hari ini kita mendapat rejeki besar." Ujarnya sambil bergelayutan di sisi tebing sebelah kanan.

"Kau benar saudara kuning. Semakin ba- nyak kita membunuh semakin hebat pula daya serang racun yang kita miliki." Sahut laki-laki berbaju merah yang menghadang di tengah jalan.

"Jangan terlalu cepat mengambil keputu- san. Rasanya sebelum membunuh alangkah lebih baik jika kita tanyai mereka dulu. Seandainya mereka berguna mengapa tidak biarkan mereka hidup untuk sementara?" ujar laki-laki muda berpakaian hitam berkulit hitam macam arang. Sama seperti saudaranya yang lain pemuda ini juga mempunyai empat buah tangan.

Gadis berpakaian merah yang bergelayutan di sisi tebing sebelah kanan tiba-tiba saja men- gumbar tawa. Dengan gerakan seperti seekor la- ba-laba memburu mangsa ia berkelebat. Hanya dalam waktu sekedipan mata ia telah berdiri di depan pangeran Sobali.

Sejenak ia menatap tajam ke arah sang pangeran, lalu sambil sunggingkan seulas se- nyum tipis ia berkata. "Yang satu ini kukira bu- kan manusia biasa. Pakaiannya begini mewah, badan sedikit bau menyan. Kurasa ia seorang bangsawan. Orang seperti dia alangkah baiknya jika kupajang di sarangku!"

"Tidak begitu. Justru dia harus dipajang di sarangku!" tukas gadis berpakaian kuning ketus.

"Kakak kuning, kau tidak berhak atas di- rinya. Kau sudah banyak memiliki pajangan yang terdiri dari pemuda gagah. Jadi kali ini dia harus menjadi milikku!"

"Kalian jangan berebut..." menyela pemuda berbaju biru. "Sebaiknya diam di tempat masing- masing. Aku punya beberapa pertanyaan untuk mereka!"

Kedua gadis yang memiliki paras lumayan cantik jadi terdiam. Pemuda berpakaian biru kini melangkah lebih mendekat.

Tak lama ditatapnya Tangan Besi dan Pan- geran Sobali silih berganti. Setelah itu ia pun ber- tanya. "Kalian ini kunyuk dari mana hah?"

Tangan Besi menggeram begitu dirinya dis- ebut kunyuk. Tapi pangeran Sobali dengan cepat menjawab. "Aku pangeran Sobali dari Kediri. Yang di sebelahku ini adalah Tangan Besi orang keper- cayaanku, sedang yang di belakang sana adalah orang-orangku. Lalu para sahabat ini siapakah?" Tanya pangeran Sobali lemah lembut. Padahal ha- tinya geram bukan main.

Empat mulut tiba-tiba terbuka dan kelua- rkan tawa serentak. Hanya beberapa saat tawa mereka lenyap juga secara bersamaan.

Gadis berbaju kuning membuka mulut memberi pujian. "Ah... ternyata dia adalah seo- rang pangeran."

'Pantas saja pakaiannya bagus, penampilan bagus. Kudanya juga bagus." Ujar gadis berbaju merah tak mau kalah.

Pemuda berbaju hitam dan gadis berbaju kuning tiba-tiba lakukan gerakan. Tubuhnya ber- kelebat melayang ke bawah. Selanjutnya ia jejak- kan kakinya di atas tanah.

"Kami adalah Laba-Laba Beracun. Gadis berbaju merah dan yang berbaju kuning itu ada- lah Laba-Laba Merah dan Laba-Laba Kuning. Se- dangkan pemuda berbaju hitam adalah Laba- Laba Hitam dan aku sendiri Laba-Laba Biru." Je- las pemuda berbaju biru. Dia lalu melanjutkan. "Sesuai ketentuan siapapun yang lewat di tempat ini, mereka tidak akan kami biarkan hidup. Tapi mengingat dirimu seorang pangeran, rasanya aku masih bisa mempertimbangkan nyawamu."

"Aku menghargai sikapmu, Laba-Laba Bi- ru. Nama besar kalian sudah sering kudengar. Mohon dimaafkan jika aku dan rombongan ini di- anggap lancang karena memasuki kawasan keku- asaanmu tanpa ijin." Ujar Pangeran Sobali.

"Aku bisa memakluminya. Tapi harap je- laskan kalian hendak pergi ke mana?" Tanya La- ba-Laba Biru curiga.

Pada kesempatan itu tiba-tiba Laba-Laba Kuning menyela tidak puas. "Kakang mengapa kau memaafkannya? Seharusnya dia dan rom- bongannya kita bunuh!"

"Adik. Demi memandang kedudukan orang kali ini kita harus melakukan suatu pengecua- lian. Kau diam saja di situ, tak usah campuri du- lu pembicaraan kami." Kata Laba-Laba Hitam

Laba-Laba Kuning sebenarnya merasa ke- cewa, tapi demi menghormati dua saudara laki- lakinya dia diam membisu.

Sementara demi mendengar pertanyaan Laba-Laba Biru, pangeran Sobali terdiam. Dia ra- gu untuk mengatakan yang sebenarnya. Diapun melirik ke arah Tangan Besi.

Si baju Ungu bersenjata golok besar dan memiliki tangan sekeras baja ini anggukkan kepa- la.

3

Pangeran Sobali sadar anggukkan kepala tangan kanannya itu merupakan isyarat persetu- juan. Karena itu sang pangeran lanjutkan berka- ta. "Kami sebenarnya sedang melakukan perjala- nan guna mencari sebuah benda sakti. Benda itu tidak dan belum jelas berada di tangan siapa. Ta- pi berdasarkan petunjuk yang kami dapatkan, Sengkala Angin Darah kabarnya berada di tangan seorang kakek sakti bernama Gentong Ketawa." Empat Laba-Laba Beracun saling pandang,

satu sama lain kemudian mereka berbisik. Meli- hat empat bersaudara itu bicara dengan cara se- demikian rupa pangeran Sobali menjadi tidak enak hati.

"Aku telah berjanji siapa saja yang bisa mendapatkan benda sakti itu, aku akan membe- rikan imbalan berupa hadiah besar. Apa saja permintaannya bahkan kuturuti. Tentu saja se- panjang permintaan itu dapat kukabulkan."

"Pangeran Sobali, bagaimana kalau kami minta nyawamu. Apakah kau juga bersedia me- nyerahkan nyawamu sebagai imbalan?" Tanya Laba-Laba Hitam.

Pertanyaan ini sudah barang tentu cukup mengejutkan bagi pangeran itu dan juga orang- orangnya. Tetapi ternyata dalam segala hal pange- ran Sobali tidak pernah kekurangan akal dan se- lalu bersikap tenang.

Dengan tersenyum ia kemudian bahkan menjawab. "Jika memang itu persyaratan yang kalian minta tentu aku tidak dapat menyanggu- pinya. Sebelumnya bukankah sudah kukatakan sepanjang permintaan itu dapat kukabulkan." Ujar sang pangeran.

Laba-Laba Kuning tersenyum, dia lalu be- rucap. "Pangeran jika kuminta kau bersenang- senang dengan diriku apakah kau mau?" Tanya si gadis sambil membusungkan dada.

"Hmm, kau gadis yang cantik. Kurasa tidak patut melakukan apa yang kau sebutkan karena diantara kita belum terdapat ikatan suami istri." Ujar pangeran Sobali.

"Jika kami menyanggupi permintaanmu apakah kau mau menikahi kedua adikku dan mengangkatnya menjadi permaisuri? Lalu kau bersedia pula memboyongnya ke Kediri dan men- jadikannya ratu di sana?" bertanya Laba-Laba Hi- tam yang disambut tawa mengikik Laba-Laba Kuning.

Sedangkan Laba-Laba Merah hanya tersipu

malu.

"Kakang Hitam jaga mulutmu. Siapa yang

inginkan jodoh." Dengus Laba-Laba Merah pura- pura marah. Padahal di dalam hatinya merasa senang. Siapa yang tidak senang berjodoh dengan seorang pangeran, orangnya tampan, terpandang dan memiliki pengaruh luas. Laba-Laba Merah yang semula sangat bernafsu membunuh rom- bongan kerajaan itu kini berubah fikiran setelah dapat memahami keinginan yang terkandung di dalam ucapan saudaranya. Dia tahu, jika mereka dapat menjadi permaisuri Kediri, tentu jalan un- tuk menuju kejayaan terbuka luas. Dia dan Laba- Laba Kuning tentu pula dapat mempengaruhi pangeran Sobali.

"Adik tidak perlu marah. Jika pangeran ini menerima kalian menjadi istrinya. Tidak ada sa- lahnya jika kita membantu apa yang kini sedang dia cari." Ujar Laba-Laba Biru.

"Pangeran... gusti harus berhati-hati. Saya melihat mereka bukanlah orang baik. Mereka bi- cara di balik satu siasat keji!" ujar Tangan Best memberi ingat melalui ilmu menyusupkan suara.

Pangeran Sobali tersenyum. Dia tahu apa yang ditakutkan oleh Tangan Besi. Seakan tidak menghiraukan peringatan pembantunya, Pange- ran Sobali berkata. "Dua adik kalian adalah gadis yang cantik. Merupakan satu kehormatan bagiku jika dapat mempersunting mereka. Kebetulan aku belum punya pendamping. Aku bersedia men- gangkat mereka menjadi permaisuri. Asalkan ka- lian mau menerima dan dua syarat!"

"Apa syaratmu katakan pada kami!" sahut Laba-Laba Biru penuh tantangan. Sedangkan La- ba-Laba Merah dan Laba-Laba Kuning tampak bahagia sekali.

"Pangeran katakan apa syaratmu. Kami Empat Laba-Laba Beracun pasti akan memenu- hinya!" ujar gadis berpakaian merah.

"Pertama kali kalian harus menemukan Sengkala Angin parah. Setelah benda sakti itu di- dapatkan serahkan padaku. Namun sebelum itu, untuk mengetahui apakah kalian memiliki ilmu tinggi, salah seorang diantara kalian berempat harus sanggup mengalahkan Tangan Besi!" tegas pangeran Sobali.

Mendengar ucapan pangeran Kediri yang terakhir itu Empat bersaudara Laba-Laba Bera- cun sama mengumbar tawa. Tangan Besi tentu saja menjadi sangat geram karena kedua gadis dan pemuda itu nampak seperti meremehkan di- rinya. Belum lagi Tangan Besi sempat mengu- capkan sepatah katapun, tawa keempat laba-laba mendadak terhenti. Lalu Laba-Laba Hitam berka- ta dengan suara lantang. "Pangeran, siapapun di- antara kami yang kau hendaki untuk menghadapi orangmu akibatnya pasti akan sama saja. Kau hanya tinggal menyebutkan, apakah setelah orang itu boleh kami habisi?"

"Tidak! Tangan Besi adalah pembantu se- tiaku. Kalian hanya berhak menunjukkan kehe- batan yang kalian miliki. Sehingga untuk urusan benda sakti itu aku tidak merasa telah keliru da- lam memilih orang!" ujar Pangeran Sobali.

"Kalau begitu biarkan aku saja yang maju, sekalian ingin menunjukkan pada pangeran bah- wa aku bukanlah seorang calon permaisuri yang mengecewakan!" kata gadis berbaju kuning.

Laba-Laba Kuning kemudian melompat maju, berdiri dengan berkacak pinggang di depan Tangan Besi, sedangkan dua tangannya yang lain terlipat di depan dada.

Melihat sikap gadis bertangan empat yang terkesan sangat meremehkan itu mendidih ra- sanya darah Tangan Besi.

"Gadis ini harus kuberi pelajaran. Jika ti- dak sikapnya semakin bertambah kurang ajar!" geram laki-laki itu dalam hati.

"Tangan Besi, tunggu apa lagi. Calon per- maisuriku siap menghadapimu. Ingat kalian tidak boleh saling membunuh karena aku hanya ingin memastikan tidak keliru menilai orang!" ujar pan- geran.

"Baiklah. Saya pun siap menguji orang!"

sahut Tangan besi. Laki-laki itu kemudian bung- kukkan badan. Begitu tubuhnya membungkuk sosoknya amblas lenyap di udara. Bukan main cepat gerakan Tangan Besi ini, begitu semua mata memandang ke atas. Laksana gasing berputar tu- buhnya sudah meluruk deras ke bawah.

Wuut!

Sambaran kedua tangannya yang meng- hantam bahu dan kepala Laba-Laba Kuning tidak mengenai sasaran karena lawan mendadak le- nyap, berkelebat di udara. Begitu tubuh gadis ini mengambang di udara, dia berputar, kakinya me- lesat menghantam pinggang Tangan Besi.

Laki-laki berpakaian ungu ini begitu mera- sakan ada angin yang menyambar pinggang sege- ra menyambuti serangan lawan dengan mendo- rongkan tangan kirinya yang sekeras baja.

Blaak!

Benturan keras antara tangan dan kaki la- wan membuat Tangan Besi tergetar. Tapi gadis itu sebaliknya meraung kesakitan. Kakinya yang di- pergunakan untuk menendang laksana remuk. Dalam sakitnya dia memandang ke depan. "Kepa- rat itu punya ilmu apa. Tangannya benar-benar keras luar biasa." maki Laba-Laba Kuning dalam hati. Sebaliknya Tangan Besi yang merasa berada di atas angin tidak lagi memberi kesempatan pada gadis itu. Sambil melompat ke depan, dua tan- gannya kembali dihantamkan ke dada dan perut lawannya.

Tapi kali ini Laba-Laba Kuning sudah ber- kelit menghindar. Dengan kecepatan luar biasa dia melesat ke atas, lalu bagaikan seekor laba- laba tangan dan kakinya menempel di dinding tebing yang terjal. Pukulan Tangan Besi meng- hantam sisi tebing, membuat batu tebing hancur berlubang besar seperti dihantam petir.

Keluarga Laba-Laba berdecak kaum meli- hat kedahsyatan pukulan Tangan Besi. Tapi me- reka sama sekali tidak menjadi ciut karena sadar biar bagaimanapun segala ilmu maupun kesak- tian yang dimiliki Laba-Laba Kuning jauh lebih tinggi dari Tangan Besi.

Sebaliknya Tangan Besi begitu melihat la- wan dapat meloloskan diri dari pukulannya tanpa menunggu lebih lama lagi jejakkan kakinya. Tu- buh laki-laki itu melesat ke udara. Setelah berada di atas ketinggian dia lakukan gerakan berjumpa- litan mendekati tebing dimana lawan bergelayu- tan di situ.

Dua tombak jaraknya dengan sasaran, Tangan besi hantamkan tangannya kembali. Tapi secara tak terduga dengan menggunakan tangan kanan sementara tangan yang lain melekat pada tebing, sang dara ikut pula menghantam me- nangkis serangan lawan. Selarik sinar kuning menderu, terjadi benturan keras. Anehnya puku- lan gadis itu terus meluncur melabrak Tangan Besi. Tak ayal lagi laki-laki itu menjerit sambil dekap dadanya yang terasa ditembus dua batang tombak. Tangan Besi jatuh bergedebukan. Tanpa menghiraukan rasa sakit yang dia derita, secepat kilat dia bangkit berdiri. Laksana kilat sambil menggerung dia mencabut goloknya. Golok dipu- tar hingga mengeluarkan suara angin menderu yang disertai berkelebatnya sinar putih menyilau- kan mata.

"Hem, rupanya kau punya senjata hebat. Ingin kulihat apakah kau dapat menggunakan senjata itu dengan baik!" kata Laba-Laba Kuning yang sudah jejakkan kakinya di atas jalan disertai senyum sinis.

Tanpa menghiraukan ucapan orang Tangan Besi segera merangsak ke depan. Golok besar menyambar ke segenap penjuru arah menimbul- kan angin dingin luar biasa dan mengurung se- tiap gerak gadis itu hingga membuat Laba-Laba Kuning jadi terdesak.

Ketika mata golok menyambar pinggang dan kaki gadis ini, sang dara cepat berkelit, lalu jatuhkan diri bergulingan dan dia kemudian jen- tikkan sepuluh jarinya siap menangkis dengan ilmu Jaring Laba-Laba.

Sinar Kuning berpilin-pilin seperti jaring meluncur dari sepuluh jari Laba-Laba kuning. Tangan Besi yang belum pernah merasakan ke- hebatan jaring laba-laba itu teruskan babatan go- loknya. Dengan sekali tebas tentu jaring laba-laba itu akan hancur porak poranda. Setidaknya begi- tulah Tangan Besi berfikir.

Tapi segala perkiraannya meleset. Begitu mata golok menyentuh untaian jaring yang ter- buat dari air liur yang lengket. Ternyata gerakan golok jadi tertahan. Tangan Besi menarik golok besarnya. Golok tidak bergeming. Tangan Besi terkejut. Pangeran Sobali apalagi. Dia tahu senja- ta andalan pembantunya itu bukan senjata sem- barangan. Selama ini belum pernah ada lawan berkepandaian tinggi dapat lolos dari kematian mendapat serangan golok. Tapi kini tidak disang- ka seorang gadis yang masih muda belia mampu memupus serangan Tangan Sesi hanya dengan cara seperti itu.

"Aku harus berhati-hati. Segala siasat ha- rus kujalankan secara halus agar aku tidak men- dapat celaka!" batin Pangeran Sobali. Kemudian pemuda itu bertepuk tangan memberi isyarat pa- da kedua orang di depannya yang sedang terlibat mengadu kepandaian.

"Laba-Laba Kuning, lepaskan dia. Sekarang aku percaya dengan kemampuan yang kalian mi- liki!" ujar pemuda itu.

Si gadis tersenyum, dua tangannya dige- rakkan secara bersilangan. Begitu tangannya ber- gerak maka jaring laba-laba yang dipergunakan memerangkap Tangan Besi lenyap. Tangan Besi menarik nafas pendek. Berbagai perasaan berke- camuk dalam hatinya. Malu, penasaran, juga ke- cewa. Setelah sarungkan kembali senjatanya Tan- gan Besi kembali menghampiri kudanya. Dengan kesal dia melompat ke atas kuda.

"Sekarang kalian berempat kuterima di lingkunganku. Syarat pertama sudah kalian pe- nuhi. Jika Sengkala Angin Darah cepat kalian te- mukan. Pintu istana terbuka lebar untuk kalian!" ujar Pangeran Sobali memberi harapan.

"Kuingatkan janjimu itu pangeran. Jika ternyata nanti kau ingkar janji kami akan datang ke Kediri. Istanamu akan kami ratakan dan kau harus menyerahkan nyawamu!" ujar Laba-Laba Biru, saudara paling tua diantara tiga laba-laba lainnya.

Laba-Laba Biru selesai berkata segera memberi isyarat pada tiga saudaranya. Kemudian tanpa pamit lagi mereka meninggalkan tempat itu.

"Mereka sangat berbahaya gusti pangeran." Kata Tangan Besi.

Pangeran Sobali tersenyum. Sambil me- nyentakkan tali kekang kuda dia menjawab. "Se- gala sesuatunya tergantung keadaan. Menda- patkan Sengkala Angin Darah bukan pekerjaan mudah. Kita menghadapi banyak kesulitan. Kita juga bakal menghadapi gelombang kekuatan be- sar. Untuk apa berlatih diri menguras tenaga. Ji- ka kita dapat menghimpun tenaga orang lain se- gala macam cara dapat kita tempuh untuk meraih apa yang kita inginkan di dunia ini!" sahut Pange- ran Sobali disertai seringai lirih.

"Apa maksudmu, Pangeran?"

"Ha ha ha. Dasar manusia tolol. Apa kau mengira aku mengangkat dua gadis salah kaprah itu menjadi permaisuri sungguhan? Mereka ha- nyalah alat untuk mencapai suatu tujuan!"

"Ah, tak saya sangka. Ternyata pangeran sangat cerdik. Semula saya kaget mendengar pangeran berniat menjadikan gadis tadi sebagai permaisuri. Ternyata itu hanyalah tipu muslihat saja." ujar Tangan Besi. Laki-laki itu menggebrak kudanya. Kudapun kemudian berlari meninggal- kan tempat itu dengan diikuti ratusan prajurit bersenjata.

4

Orang tua berkulit hitam, bermata cekung itu duduk diam di bagian pendopo depan kedia- man Pasadewa. Sembilan ekor ular berbelang- belang kuning tetap bergelayut di sekujur tubuh- nya dan terutama di bagian leher. Di langit men- dung kian menebal dan si kakek pejamkan ma- tanya.

Perjalanan jauh telah ditempuhnya, se- dangkan telaga Setan telah pula ia tinggalkan. Semua itu ia lakukan karena demi memenuhi permintaan Pasadewa. Tidak disangka ketika sampai di tempat kediamannya ternyata Pasade- wa entah pergi kemana.

Kakek angker yang sekujur tubuhnya dilili- ti sembilan ular beracun menarik nafas dalam- dalam. Dia mendengar suara keluh Pandan Arum yang tengah menyiapkan makan malam untuk kakek ini. Ingat dengan kecantikan gadis ini dan membayangkan lekuk lengkung tubuhnya. Sekali lagi kakek yang dikenal dengan julukan Iblis Ular Sembilan ini jadi terjebak oleh keinginannya sen- diri.

Tubuh kakek berumur tujuh puluhan ini bergetar hebat. Sebenarnya ini adalah kesempa- tan bagi si kakek untuk mencicipi kehangatan Pandan Arum. Suasana yang ada terasa benar sangat mendukung. Pasadewa tidak berada di tempat sementara langit gelap gulita. Dengan il- mu lidahnya yang mampu membuat seseorang mau menuruti apa yang ia inginkan. Tentu tidak sulit baginya menjadikan Pandan Arum jatuh ke dalam pelukannya.

Tetapi bila melihat keadaan dirinya saat itu, tiba-tiba saja Iblis Ular Sembilan merasa da- rahnya mendidih terbakar amarah. Lalu kedua pipinya yang kempot menggembung besar, rahang bergemeletukan, sedang dua tangannya terkepal.

Iblis Ular Sembilan raba auratnya yang cuma tertutup selembar kain dekil. Ternyata po- los. Dia telah kehilangan kebanggaannya sebagai laki-laki. Ia kehilangan senjata pusaka yang ia bawa sejak lahir. Benda itu telah diambil secara paksa tapi tidak terasa oleh seorang kakek sinting ahli sihir yang dikenalnya dengan nama Ki Comot Jalulata. Padahal saat itu ia hampir saja berhasil melampiaskan hasratnya pada Arum Pandan yang ketika itu telah berada dalam pengaruhnya. Sayang tiba-tiba saja muncul Ki Comot Jalulata. Kakek aneh berdaster biru itu bukan saja meng- gagalkan keinginannya, lebih dari itu tanpa dis- adarinya Ki Comot diam-diam telah mengambil anunya kemudian dia masukkan ke dalam kendi es, kendi perak yang selalu tergantung di ping- gangnya.

Ingat dengan semua itu iblis Ular Sembilan dengan mata mendelik tiba-tiba menggeram.

"Ki Comot Jalulata, kau penyebab dari se- mua sengsara dan derita hidupku. Jangankan ke lubang semut ke neraka sekalipun kau tetap ku- cari! Karena ulahmu aku jadi tidak dapat lagi ber- senang-senang dengan perempuan. Padahal ke- sempatan itu kini terbuka lebar. Aku tak perduli kau memiliki segudang ilmu sihir. Apa yang kau lakukan harus kau bayar mahal. Nasibmu bakal celaka! Apalagi bila barangku sampai rusak. Eng- kau kira barang itu buat mainan? Biarpun bulu- kan selama ini tidak pernah mengecewakan. Jika kau tidak melarikan diri, sembilan ularku pasti saat itu telah menggerogoti daging dan tulang be- lulangmu. Bahkan kentutmu sekalipun tidak akan tersisa."

Belum lagi kekesalan si kakek lenyap. Di langit tiba-tiba kilat menyambar. Petir menggele- gar dan hujan pun turun bagai tercurah dari lan- git.

Di saat hujan turun dan angin kencang bertiup, bersamaan dengan itu pula Pandan Arum keluar menemuinya. Pandan Arum berpakaian kuning, tapi nampaknya sengaja memakai pa- kaian yang tipis ketat hingga menonjolkan lekuk lengkung tubuhnya.

Iblis Ular Sembilan seketika belalakkan matanya, sayang dia cuma bisa menelan ludah tanpa dapat berbuat apa-apa.

Sambil tersenyum genit mengundang per- hatian, gadis itu berkata. "Orang tua, kekasihku mungkin akan kembali besok pagi. Aku sudah menyiapkan hidangan untukmu di dalam sana. Ada ikan pepes, ada tuak juga jengkol mata ker- bau. Lekaslah masuk, di luar dingin lebih baik berada di dalam."

Iblis Ular Sembilan menelan ludah.

"Mmm, ikan pepesmu pasti enak. Sayang aku datang pada waktu yang kurang tepat." ka- kek itu menggerutu kesal.

Pandan Arum yang berdiri di depan pintu kedipkan matanya. "Eh, apakah maksudmu? Kau tidak suka dengan hidangan yang kusediakan? Apakah mungkin kau lebih suka bila aku meng- hidangkan diriku?" goda Pandan Arum lebih be- rani.

"Ha ha ha. Aku tentu saja suka dengan hi- dangan mu. Sayang kekasihmu tidak berada di tempat." kilah si kakek.

"Kau tidak perlu risau orang tua. Anggap saja kau berada di rumahmu sendiri." Ujar Pan- dan Arum.

Si kakek bangkit berdiri. Tanpa bicara apa- apa ia melangkah masuk ke dalam. Pandan Arum segera mengikuti di belakang. Iblis Ular Sembilan duduk di atas kursi kayu, menghadap ke sebuah meja bundar. Di atas meja itu terhidang makanan berikut lauk pauk- nya. Dua kendi tuak keras juga tersedia. Iblis Ular Sembilan segera menuangkan nasi ke dalam pir- ing tanah, mengambil beberapa lauk pauk dan mulai mengunyah.

Sementara di luar sana hujan turun den- gan deras, malah makin lama makin bertambah deras. Di halaman air menggenangi.

Kilat menyambar dan di kejauhan terden- gar suara guruh. Seketika kegelapan berubah menjadi terang benderang. Dan sebelum kegela- pan kembali menyelimuti alam sekitarnya. Dari arah sudut sebelah timur rumah tersebut terlihat dua bayangan berkelebat menuju ke arah pendo- po depan.

Sosok pertama adalah seorang pemuda bertelanjang dada berambut gondrong, sementara pada saat berlari menuju pendopo kedua tangan- nya ditekabkan ke bagian telinga. Sedangkan di belakang si gondrong terlihat satu sosok lainnya. Orang kedua berkepala botak plontos berpakaian serba putih. Di punggung si botak tergantung se- bilah pedang panjang dengan bagian gagang be- rukir bagus.

Baik si gondrong yang berada di depan maupun si gadis berpakaian putih keduanya sa- ma dalam keadaan basah kuyup. Begitu sampai di pendopo si gondrong tertawa terpingkal- pingkal. "Hebat!" pujinya. "Di sepanjang jalan kita dimandikan oleh malaikat. Rupanya malaikat ta- hu aku tak pernah mandi, sekarang basah ja- dinya luar dalam. Dan kau... wah untung kepa- lamu tidak ada rambutnya. Tapi melihat pa- kaianmu yang basah kuyup mata ini ingin kedip melulu. Hujan begini memang asyik, apalagi jika ada makanan dan tuak harum. Tentu jauh lebih enak dan lebih hangat. Ha ha ha...!" Pemuda itu tepuk perutnya hingga mengeluarkan suara aneh. Gadis berkepala botak berdandan dan ber- pakaian seperti laki-laki tidak menanggapi. Seba- liknya dia memperhatikan suasana di sekeliling pendopo yang gelap temaram. Kemudian iapun

melihat cahaya yang membersit keluar.

Gadis itu lalu berkata. "Sebaiknya kita minta ijin berteduh pada pemilik rumah, Gento."

Enak saja si gondrong menanggapi. "Walah buat apa minta ijin segala? Kita menumpang cu- ma sebentar, setelah hujan reda kita pergi."

Dengan seenaknya si gondrong yang ada- lah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon malah men- dekati dinding bilik yang terbuat dari bambu. Se- lanjutnya Gento mengintai ke dalam.

Sepasang mata pemuda ini terbelalak lebar ketika melihat pemandangan di dalam sana. Tan- pa sadar ia menggerutu. "Kakek jelek itu agaknya seorang pemain sulap. Tubuhnya dipenuhi ular berbisa, hm... siapa dia?" Si gadis jadi heran. "Kau bicara apa?" Tanya gadis itu, tapi kemudian diapun ikutan pula mengintai. Begitu dia melihat pemandangan di dalam sana, gadis yang biasa dipanggil Taktu alias botak ke satu ini jadi tercekat. "Kakek aneh. Tubuhnya dililiti ular. Dia makan dengan lahap seperti orang kesurupan, ditemani seorang gadis cantik. Ra- sanya aku belum pernah bertemu atau mengenai manusia dengan ciri-ciri seperti dia." kata gadis itu tegang.

Berbeda dengan Gento. Melihat makanan yang terhidang di atas meja, pemuda ini malah menelan ludah.

"Makanan itu pasti enak, apalagi ada tuak- nya. Kalau saja kita boleh ikut makan bersama pasti asyik. Tapi bila melihat kakek itu, bisa-bisa selera makanku jadi lenyap. Ular yang bergelayut di tubuhnya memang menjijikkan. Namun lebih menjijikkan tubuh telanjang kakek itu. Kau bayangkan dia hanya memakai cawat. Jauh ber- beda dengan gadis yang menemaninya, gadis itu cantik. Pakaiannya menerawang, yang seharus- nya ditutupi malah mengintip keluar."

"Kau jangan bicara ngaco, Gento. Sebaik- nya lekas kita tinggalkan tempat ini. Terus terang aku merasa geli melihat ular-ular itu." Kata Taktu berbisik.

Bisikan yang begitu dekat dengan telinga membuat Gento merinding. Pemuda itu tekap te- linganya. Sambil mengusap-usap telinganya ia berkata. "Jangan terburu-buru. Kita sebaiknya menunggu sebentar lagi."

Suara Gento yang diucapkan agak keras tentu saja membuat kaget orang yang berada di bagian dalam.

Si kakek tiba-tiba membentak. "Siapa di- luar?" tanya. "Di dalam siapa?" Gento malah balik ber- "Kurang ajar, ditanya malah balas ber- tanya!" geram kakek di dalam.

"Oh begitu. Aku Gento dan sahabatku ini Taktu. Situ dan gadis itu siapa?" Tanya sang pen- dekar pula kaku.

"Gento... Gento siapa cepat katakan!" "Gento! Gento ya Gento, laki-laki seperti-

mu. Cuma masih gagah, belum peot dan jelek se- perti dirimu." Ujar sang pendekar ketus.

Sunyi sejenak. Baru saja Gento hendak mengintai ke dalam lagi mendadak sontak dinding yang dipergunakan mengintip berderak jebol.

Braak!

Dari balik dinding yang jebol tiba-tiba ber- kelebat satu sosok bayangan. Bayangan itu bu- kan lain adalah bayangan si kakek angker yang diikuti oleh gadis berpakaian serba kuning.

Hanya beberapa saat, tidak jauh di depan Gento dan Taktu berdiri tegak kakek aneh itu. Ia memandang ke arah Gento dengan kedua ma- tanya yang menyorot tajam.

Dia pun lalu membentak. "Apa yang kalian lakukan di sini? Mengintai orang bisa membuat kalian celaka!"

Enak saja Gento menjawab. "Eeh, orang tua siapa yang mengintai dirimu? Kami hanya menumpang berteduh, kalau tidak boleh biarkan kami pergi!" kata pemuda itu.

Kakek itu tertawa tergelak-gelak. Begitu tawanya lenyap ia berkata. "Kau dan kawanmu itu tidak akan kubiarkan pergi begitu saja. Terke- cuali kau jawab dulu beberapa pertanyaanku." Dengus Iblis Ular Sembilan.

Sementara itu Pandan Arum diam-diam merasa kagum melihat kehadiran Gento yang ber- tubuh kekar dan berwajah tampan itu. Dalam ha- ti ia membatin. "Sayang aku sudah punya keka- sih. Jika tidak tentu aku bisa menjadikan dia se- bagai kekasihku!"

Di depannya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon pada saat itu telah tertawa terbahak- bahak. "Kakek bengek, kau ini sebenarnya siapa? Jika aku mau pergi aku bisa pergi sekehendak hati. Mana bisa kau melarang kami?" dengus mu- rid si gendut Gentong Ketawa sambil mengusap- usap bukti hidungnya.

Di mata kakek itu sikap Gento ia anggap sebagai suatu penghinaan. Dengan geram ia men- jawab. "Pemuda sinting, ketahuilah aku adalah Iblis Ular Sembilan."

Gento unjukkan tampang kaget, tapi mulut tetap sunggingkan seringai mengejek. "Iblis Ular Sembilan. Jadi kau iblis itu... pantas tampangmu kulihat memang sangat mirip dengan setan. Tapi mengingat tubuhmu yang kurus bagaimana kalau nama itu kuubah menjadi Iblis Kurus Cacingan? Ha ha ha."

Penghinaan itu membuat wajah si kakek berubah menjadi merah kelam. Taktu sendiri tak dapat menahan tawa. Sedangkan Pandan Arum cepat palingkan wajah ke jurusan lain sambil me- nyembunyikan senyumnya. Masih belum lenyap kejengkelan di hati si kakek, Gento kembali me- nyeletuk. "Namamu sekarang jadi bagus. Seka- rang aku ingin tahu gadis cantik baju kuning itu siapa? Istrimu atau anakmu?"

Si kakek mendamprat. "Kau tidak layak bertanya!"

Pandan Arum sendiri sebenarnya ingin menjawab, tapi dia takut didamprat oleh si kakek. "Jika kau tidak layak bertanya, berarti aku

pun tidak layak menjawab pertanyaanmu." Kata Gento. Pemuda itu lalu palingkan kepala ke arah Taktu. Pada Taktu ia berkata. "Sobatku botak tu- runan, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Hu- jan sudah reda, aku kasihan pada guruku. Aku takut gara-gara mengkhawatirkan diriku dia ma- lah kesasar di neraka. Nanti aku bisa dibuat re- pot. Lagipula tugas kita adalah mencari tahu benda sakti itu sebenarnya berada di tangan sia- pa?"

Di luar dugaan begitu Gento ada menyebut tentang benda sakti, Iblis Ular Sembilan langsung berkelebat ke arahnya. Dua tangan menyambar ke arah pinggang. Tapi Gento cepat berbalik sam- bil mendorong Taktu ke samping, Taktu terjatuh, namun ia selamat dari tendangan si kakek. Seba- liknya serangan tangan yang dilakukan kakek itu juga tidak mengenai sasarannya.

Bukan cuma Pandan Arum, Iblis Ular Sembilan sendiri diam-diam jadi kaget. Sama se- kali dia tidak pernah menyangka si gondrong yang semula dianggapnya hanyalah pemuda le- mah ternyata mampu menghindari serangan mautnya. Padahal tadi ia mengerahkan jurus Ular Melibas Mangsa.

Si kakek menggerung, tapi sebelum lan- jutkan serangan masih sempat ajukan satu per- tanyaan. "Tadi kau ada menyebut tentang benda sakti. Apakah benda yang kau maksudkan adalah Sengkala Angin Darah?"

Kini Gento yang dibuat kaget mendengar pertanyaan si kakek. Dia tidak menduga Iblis Ular Sembilan ternyata tahu juga tentang kemunculan benda sakti itu. Karena pada dasarnya pemuda ini seorang pemuda konyol suka mempermainkan perasaan orang, enak saja ia berkata. "Kalau ben- da itu kau tanyakan padaku mana aku tahu. Apa yang kukatakan tadi adalah tentang benda yang lain."

Iblis Ular Sembilan mana mungkin bisa di- buat percaya. Dia gelengkan kepala berulang kali. Ketika kepala si kakek menggeleng, sembilan ular yang melingkari tubuh kakek ini juga ikut ber- goyang 5

Gento memperhatikan setiap gerak yang di- lakukan oleh Iblis Ular Sembilan. Dia sangat ya- kin. Dengan julukannya tentu sembilan ular-ular yang melingkari tubuhnya tentu sangat berba- haya.

Sementara itu Pandan Arum ajukan perta- nyaan pada si kakek. "Iblis Ular Sembilan, apakah kau ingin agar aku meringkus gadis berkepala bo- tak itu?"

Tanpa berpaling dari Gento si kakek men- jawab. "Dalam keadaan biasa walau kepalanya botak aku pasti sangat membutuhkannya. Tapi saat ini aku benar-benar tidak butuh perempuan yang manapun." Dengus si kakek.

Jawaban ini cukup membingungkan Pan- dan Arum. Dia merasa ada keanehan terjadi pada kakek itu. Tapi apa dan bagaimana bentuk kea- nehan itu sang dara tidak tahu.

Kemudian Pandan Arum pun teringat pada benda sakti yang baru saja dikatakan oleh Gento. Dia menduga Gento dan Taktu pastilah tahu ba- nyak tentang Sengkala Angin Darah. Itu sebabnya tanpa menghiraukan ucapan Iblis Ular Sembilan, Pandan Arum sekonyong-konyong melompat ke depan. Lalu dengan sekonyong-konyong ia me- nyerang Taktu dengan kecepatan luar biasa.

"Ah rupanya kau gadis keras kepala. Kakek itu menyuruhmu menontonnya, tapi kau malah menyerang diriku. Baiklah, aku siap melayani- mu!" dengus Taktu. Gadis itu jatuhkan diri hinda- ri serangan. Begitu satu hantaman lewat di bela- kangnya, dengan kakinya Taktu lakukan satu ge- rakan bersilangan bagai menggunting.

Wuuut!

Serangan ini dengan mudah dapat dihinda- ri oleh Pandan Arum. Tubuh gadis itu melesat ke udara. Selagi tubuhnya mengapung ia menghan- tam kepala botak Taktu.

Taktu rupanya maklum jika sampai kepala botaknya terkena tendangan lawan, kepala itu mungkin saja bisa remuk atau rengat. Dengan bertumpuan pada kedua tangan kaki kirinya me- lesat menyambut serangan lawan.

Plak!

Benturan keras yang terjadi membuat Pan- dan Arum terjatuh. Sedangkan Taktu tanpa menghiraukan rasa sakit akibat benturan segera bangkit berdiri. Selanjutnya ia pun melesat ke arah lawan sambil hantamkan kedua tangan dan kakinya ke arah lawan. Mendapat serangan ganas yang dilakukan secara bersamaan itu, Pandan Arum benar-benar tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya.

Gadis itu tidak dapat lagi berfikir lama. Se- gera disambutinya serangan itu. Dua tangan tiba- tiba didorongkan ke depan.

Plak!

Dua bentrokan keras kembali terjadi. Begi- tu tangannya membentur tangan Taktu diapun melesat ke atas. Kali ini dia melepaskan tendan- gan yang mengarah ke bagian wajah Taktu.

Taktu melompat mundur sambil lindungi wajahnya. Tidak urung tendangan Pandan Arum masih mengenai bagian bahu. Murid Peri Tanpa Bayangan terhuyung, bahunya terasa nyeri, na- mun dengan cepat ia sudah berdiri lagi dengan posisi siap menyerang.

Sementara pada waktu bersamaan Iblis Ular Sembilan saat itu sudah merangsak ke de- pan. Dia menggempur lawan dengan serangan- serangan hebat, ganas dan berlangsung dengan cepat.

Menghadapi serangan ganas yang dilan- carkan oleh Iblis Ular Sembilan, Gento mengelak sambil menangkis. Tidak jarang dengan mengan- dalkan jurus Congcorang Mabuk yang dipadu dengan jurus Manusia Seribu Tahun Gento serta merta melakukan serangan balik.

Iblis Ular Sembilan dibuat melengak kaget. Sambil memandang ke arah lawan dia membatin di dalam hati. "Aku sungguh tidak pernah men- duga pemuda sinting ini ternyata memiliki ilmu yang tinggi. Mungkin aku harus menggunakan ju- rus Sembilan Ular Terbang untuk meringkusnya. Jika meringkus pun tak dapat kulakukan, lebih baik dia kubunuh saja!"

Selagi lawan tertegun, pada saat itu Gento berteriak! "Iblis cacingan. Apakah kau telah keha- bisan tenaga? Kulihat nafasmu kembang kempis. Melihat keadaanmu, apakah kau masih juga ingin tahu tentang benda sakti itu?" Tanya si pemuda disertai senyum mengejek.

"Manusia sombong, apakah kau masih bisa bermulut sombong setelah kuhujani dengan se- ranganku?" dengus si kakek.

"Aku tahu di luar memang hujan, tapi apa benar kau mempunyai kemampuan menyerang dengan kecepatan seperti hujan?" Tanya Gento sinis.

Bukan jawaban yang didapat Gento, seba- liknya ia malah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dengan mata menyorot tajam tu- buh si kakek bergetar hebat. Ternyata saat itu si kakek tengah mengerahkan dalam yang ia miliki. Kemudian bersamaan dengan itu pula sembilan ular yang melingkari tubuhnya mengeliat, sembi- lan kepala terangkat tegak disertai desis mengeri- kan. Mulut sembilan ular terbuka memperli- hatkan taring-taringnya yang runcing, lidah- lidahnya yang bercabang terjulur siap menyerang Gento.

Gento terkesima melihat ular yang semula terkesan jinak, kini menjadi beringas. Belum lagi hilang rasa kaget di hati Gento, Iblis Ular Sembi- lan mendadak lakukan gerakan berputar. Dua tangan yang bersilangan kini disibakkan, dengan gerakan laksana kilat kakek ini melesat ke arah Gento.

Sosok si kakek berkelebat lenyap seperti bayangan. Tahu-tahu sekarang berada di depan pemuda itu. Gento merasakan ada angin yang menyambar dadanya. Tidak membuang waktu Gento berkelit lalu melesat ke udara. Namun se- cepat apapun gerakan yang dilakukan oleh murid Gentong Ketawa ini, tak urung bagian kakinya masih kena dihantam lawan. Gento menjerit ter- tahan, walau kakinya seperti remuk hebatnya ia tidak sampai terjatuh.

Iblis Ular Sembilan jadi penasaran. Dengan mengandalkan jurus Sembilan Ular Terbang si kakek mengejar Gento yang sudah melesat di udara.

Dalam keadaan mengambang di udara, ter- jadilah perkelahian sengit. Keduanya saling mele- pas pukulan dan tendangan yang sangat berba- haya. Tetapi Gento tiba-tiba melambung lebih ke atas lagi. Dengan beberapa kali gerakan di lain waktu dia telah berada di belakang lawannya. Laksana kilat dia hantamkan tangannya ke ba- gian punggung kaki itu.

Plak! Desss!

Satu hantaman keras membuat si kakek jatuh tersungkur. Tetapi begitu tubuhnya jatuh, dengan cepat dia bangkit lagi. Orang tua ini menggeram dengan sengitnya.

Dia dongakkan wajahnya ke atas, setelah itu tangan digerakkan ke arah badan, lalu diki- baskan.

Tiga ekor ular besar berbelang kuning me- lesat membeset udara dengan kecepatan laksana anak panah mengincar tiga bagian di tubuh Gen- to. Melihat ini sang pendekar sempat terkejut, te- tapi dia juga tidak menunggu lebih lama. Dengan cepat dia dorongkan dua tangan ke depan. Ru- panya ia melepaskan pukulan Iblis Tertawa Dewa Menangis.

Begitu dua tangan didorong, terdengar sua- ra bergemuruh disertai berkiblatnya sinar merah berhawa panas luar biasa. Pukulan itu melabrak tiga ular yang menyerangnya. Dua ular langsung terpental ke tanah, namun tidak mati terkena pu- kulan Gento. Sedang ular yang satunya lagi ber- balik, kemudian melesat ke arah Taktu yang se- dang terlibat perkelahian dengan Pandan Arum. Melihat ini Gento tercekat. Sang Pendekar pun kemudian berteriak.

"Sobat botak awas di belakangmu!"

Taktu sempat kaget, tanpa menoleh ke be- lakang gadis ini segera jatuhkan diri dan bergu- lingan menjauh. Tak ayal lagi ular itu meluncur ke arah Pandan Arum.

"Pandan    menyingkirlah!" teriak Iblis Ular

Sembilan begitu melihat mahluk piaraannya ma- lah membahayakan keselamatan Pandan Arum.

Meski sudah diperingatkan, namun gera- kan menghindar yang dilakukan gadis itu kalah cepat dengan daya luncur mahluk itu. Tak ayal lagi ular itu menghujam di bagian dada Pandan Arum tepat di bagian jantung.

Si gadis menjerit keras, matanya mendelik. Tubuhnya langsung membiru, lalu ambruk dan tewas seketika. Sedangkan ular yang memangut- nya kemudian kembali ke arah si kakek, selan- jutnya kembali bergelung di tubuh orang tua itu.

Tak terkirakan betapa marahnya orang tua ini. Apa yang terjadi setidaknya membuat pera- saan dan jiwanya terguncang. Lebih celaka lagi bila mengingat ia harus mempertanggung jawab- kan kematian Pandan Arum di depan kekasihnya Pasadewa.

"Jahanam betul! Kau telah membuat uru- sanku menjadi kapiran. Kau harus mampus!" ge- ram si kakek yang kini telah berdiri di hadapan pemuda itu.

"Ha ha ha... urusanmu yang mana yang te- lah kubuat menjadi kapiran? Kau melakukan tin- dakan tolol dengan membunuh kawan sendiri. Kau yang membunuh, mengapa harus menyalah- kan aku?"

Apapun alasan Gento tentu si kakek tak dapat menerimanya. Tanpa bicara lagi Iblis Ular Sembilan dorongkan kedua tangannya ke arah sang pendekar. Gerakan yang dia lakukan kali ini tampaknya biasa saja, bahkan terkesan begitu lemah. Ini bertolak belakang dengan serangan se- belumnya. Tetapi akibat yang ditimbulkan sung- guh sangat luar biasa sekali.

Murid Gentong Ketawa mendadak merasa- kan sekujur tubuhnya seperti ditindih gunung es. Sekujur tubuhnya terasa kaku dan nyeri di setiap persendian. Dalam kagetnya tak menyangka la- wan memiliki ilmu seaneh itu Gento cepat salur- kan tenaga dalam ke bagian tengah. Setelah tena- ga mengalir ke bagian tengah. Dia segera dorong- kan kedua tangan itu ke depan.

Hawa panas membersit dari tangan pemu- da itu. Tetapi apa yang menjadi kenyataan kemu- dian membuat Gento lebih kaget lagi. Serangan yang dilancarkannya seolah amblas begitu saja, sedang dari arah depan hawa dingin menyerang- nya dengan kekuatan berlipat ganda.

"Kurang ajar! Ilmu apa yang dimiliki oleh iblis satu ini?" rutuk Gento. Pemuda itu segera berkelit ke samping. Sementara di depan sana la- wan sudah lakukan lompatan sambil melepaskan pukulan ke beberapa bagian di tubuh pemuda itu.

Gento yang merasa tubuhnya seolah men- jadi beku akibat serangan pertama segera me- nangkis sambil menghindar. Sayang salah satu pukulan lawan masih sempat mendarat di tubuh- nya.

Buuk! Buuk!

Dua pukulan keras berturut-turut meng- hantam dada Gento membuat pemuda ini jatuh terlentang di halaman yang digenangi air. Melihat kenyataan ini Taktu pun tidak tinggal diam. Tu- buhnya berkelebat, melesat setengah tombak di udara. Lalu dengan cepat kakinya menghantam pinggang si kakek.

Dess!

Iblis Ular Sembilan jatuh ke samping. Dia menggeram begitu melihat siapa yang telah me- nyerangnya. "Gadis berkepala botak, rupanya kau ingin mampus mendahului temanmu? Baiklah, biar sa- lah satu mahluk piaraanku ini membantumu be- rangkat ke akherat!" Si kakek bangkit berdiri. Kemudian dengan gerakan cepat melemparkan salah satu ularnya ke arah Taktu.

Di udara terlihat benda hitam panjang ber- belang kuning melesat cepat ke arah Taktu. Gadis ini tanpa membuang waktu langsung berkelit. Ta- pi begitu ular itu tidak mengenai sasarannya, ti- ba-tiba saja mahluk ini berbalik dan mengejar Taktu. Taktu tercekat. Kalang kabut gadis ini se- lamatkan diri dengan melesat ke atas. Serangan ular lewat setengah jengkal di bawah kakinya. Se- perti tadi, begitu sasarannya luput maka ular itu berbalik. Semula Taktu sudah melihat bahwa ular itu sepertinya tidak mempan pukulan. Itu sebab- nya tanpa fikir panjang lagi ia segera mencabut pedangnya. Sambil berjumpalitan di udara. Taktu babatkan pedangnya ke arah ular yang melesat ke arahnya.

Sinar putih berkiblat disertai deru angin kencang. Tidak dapat dihindari lagi mata pedang kemudian menghantam mahluk melata tersebut.

Tringg!

Terdengar suara berdentring. Taktu terke- jut. Ular itu sama sekali tidak terluka. Sementara gagal membunuh lawan, ular itu kemudian men- jalar merambati kaki si kakek, lalu melingkar ber- gelung di kaki itu bagai seorang bocah yang mele- paskan lelah. Walau kecewa ularnya tidak dapat mem- bunuh Taktu, namun Iblis Ular Sembilan nam- paknya tidak begitu perduli, sebab baginya yang terpenting saat itu adalah membunuh atau me- nangkap si gondrong yang dia anggap sangat ber- bahaya bahkan memiliki ilmu yang tidak rendah.

Sadar lawan berilmu tinggi dan tidak ter- duga Iblis Ular Sembilan tiba-tiba melemparkan lima ularnya ke arah sang pendekar.

Ternyata serangan yang dilakukannya kali ini hanya muslihat saja, terbukti begitu Gento menghindar dari serangan lima ular itu Iblis Ular Sembilan berkelebat ke arah Gento.

Empat jari tangannya berkelebat menyu- sup ke arah pertahanan pemuda itu. Dan semua ini dilakukan dengan tiba-tiba. Sang pendekar tercengang. Serangan kelima ular itu saja sebe- narnya telah membuatnya kewalahan. Apalagi ki- ni lawan ikut menyerangnya dari jarak yang begi- tu dekat.

Sebagai pemuda cerdik Gento segera men- gambil tindakan dengan menghindari patukan ke- lima ular yang berputar-putar mengelilinginya. Luput dari kepungan lawan dia sambut dengan pukulan Raja Dewa Ketawa. Ini adalah salah satu pukulan dahsyat yang jarang dipergunakan Gento dalam pengembaraannya. Seandainya lawan ter- kena pukulan ini maka tubuhnya akan seperti di- gelitik. Dia akan terus tertawa sampai menemui ajal dalam keadaan tertawa.

Iblis Ular Sembilan memang belum men- genal betul siapa pemuda ini. Itu sebabnya walau dirinya sempat merasakan ada hawa dingin me- nyambar tubuhnya, namun tetap saja dia julur- kan jarinya ke arah leher Gento dalam usahanya melakukan totokan.

Dess!

Sebelum totokan tepat mengenai sasaran, pukulan yang dilakukan Gento menghantam tu- buh kurus lawannya. Orang tua itu seketika terja- jar, tertegun lalu tertawa terpingkal-pingkal.

Gento bergulingan menjauh. Lima ular kini sudah tidak terkendali lagi. Mereka saling bertu- brukan satu sama lain, begitu jatuh mereka lari berserabutan mendapatkan kakek itu.

Melihat kejadian aneh ini Taktu yang se- mula hendak turun tangan membantu Gento kini malah terheran-heran.

"Kau apakan dia?" Taktu bertanya begitu berada di depan Gento.

Gento tersenyum. "Aku cuma berusaha membuat hatinya senang, itu sebabnya kuhantam dia dengan pukulan Raja Dewa Ketawa. Sekarang sebaiknya kita cepat pergi. Kurasa tenaga dalam kakek itu tidak rendah. Begitu dia sadar dan da- pat menggunakan tenaga dalamnya. Dia pasti se- gera bisa mengatasi keanehan yang terjadi pa- danya."

Taktu mengangguk.

Sebelum Gento berkelebat tinggalkan Iblis Ular Sembilan pemuda itu tiba-tiba berteriak lan- tang. "Iblis Ular Sembilan. Tertawalah kau sam- pai puas, kalau perlu sampai gila dan sampai mampus. Kuharap kau cepat mati, agar di lain waktu aku tidak bakal pernah bertemu dengan kakek edan sepertimu! Ha ha ha !

Si kakek tidak menjawab. Orang tua ini te- rus saja tertawa. Tetapi jauh di lubuk hati sebe- narnya Iblis Ular Sembilan kaget juga mendapati dirinya dalam keadaan seperti itu.

Iblis Ular Sembilan merasa mulutnya se- perti mau robek dan otaknya bagai mau meledak pula. Kemudian kesadarannya pulih. Dia sadar dirinya sudah dikerjai orang. Itu sebabnya si ka- kek berteriak keras di tengah suara gelak ta- wanya.

Sejalan dengan teriakannya, tawa si kakek mendadak terhenti. Iblis Ular Sembilan ter- huyung-huyung seperti orang linglung.

"Jahanam pemuda gondrong itu." Geram- nya dengan nafas megap-megap. "Bagaimana dengan ilmunya bisa membuat diriku seperti ini? Hmm... aku harus mengejar. Aku harus bisa mengorek keterangan dari mulutnya. Barulah se- telah itu aku membunuhnya!" geram si kakek.

Iblis Ular Sembilan lalu balikkan badan. Selanjutnya tanpa menghiraukan mayat Pandan Arum dia berlari cepat ke arah Gento dan Taktu lenyap. 6

Puncak gunung yang semula dalam kea- daan sunyi tiba-tiba dikejutkan oleh suara ber- gemuruh hebat. Bersamaan dengan itu tanah di sekitarnya juga bergetar, pepohonan bertumban- gan.

Kejadian ini berlangsung cepat. Tidak lama setelah itu dari balik gua yang terbelah porak po- randa terlihat satu sosok serba kuning melesat ke udara membebaskan diri dari bebatuan yang menghimpitnya.

Sosok serba kuning itu jatuh bangun di- hempas angin yang datang dari arah depan. Dia yang ternyata adalah seorang kakek bertato teng- korak tepat di bagian kening itu jadi menggeram.

Gler!

Ujung tongkat amblas sejengkal ke dalam tanah disertai percikan bunga api. Kemudian orang tua ini hantamkan tangan kirinya ke arah depan persis dengan arah datangnya angin topan tersebut.

Buum!

Satu ledakan akibat benturan pukulan dan hembusan angin mengguncang bagian puncak gunung. Kakek angker berpakaian kuning diwar- nai tambalan bergambar tengkorak itu jatuh ber- lutut. Dentuman tadi sekaligus mengakhiri hem- busan topan yang melanda tempat itu.

Terbungkuk-bungkuk sambil dekap   da- danya yang berdenyut si rambut putih ini bangkit berdiri. Dua matanya menatap ke depan. Tak la- ma kemudian si kakek dongakkan kepala dan ter- tawa tergelak-gelak.

"Ha ha ha. Duniaku baru saja dilanda ben- cana hebat. Aku tahu rencana itu bukan kehen- dak Tuhan. Penyair Halilintar, mengapa kau usik tapaku. Katakanlah apa salah dan dosaku?" Ge- ram si kakek merasa tidak senang.

Suara si kakek kemudian lenyap. Lalu dia menunggu. Tak lama kemudian dari arah lereng bukit tiba-tiba terdengar suara raungan mengge- ledek.

Suara raungan bergerak menjauh, namun satu bayangan bergerak cepat menuju ke bagian puncak gunung.

Tak lama kemudian kakek baju kuning me- lihat satu sosok berpakaian serba putih berjalan mengambang di permukaan tanah. Walau si baju putih berjalan biasa namun sekejap saja telah sampai di depan kakek berpakaian sutera kuning. Yang baru datang itu ternyata adalah seo-

rang pemuda, badan tegap, wajah tampan namun dipenuhi cambang bawuk lebat, rambut panjang menjela namun tersisir rapi.

Melihat pada penampilan pemuda yang sa- tu ini ia tidak ubahnya seperti seorang sastrawan. Melihat siapa yang datang di depannya se-

gera berseru, "Penyair Halilintar, mengapa kau hancurkan tempat ini?"

Si pemuda bersikap tenang. Tidak hanya itu, ia kemudian juga tersenyum. Senyum tipis yang menggambarkan kekerasan jiwa.

"Kakek Wanaraga, kukenal kau dengan ju- lukan si Pengemis Nyawa. Keberadaanmu di sini telah mengusik ketenteraman Semerah Darah. Mahluk itu kini menjadi beringas. Padahal aku sedang meneliti sisi kehidupannya yang lain. Se- mua itu kulakukan agar aku bisa membuat kehi- dupan mahluk itu berguna bagi manusia!"

"Kurang ajar!" bentak si kakek berapi-api. "Kau biarkan mahluk terkutuk penghisap darah itu hidup bebas? Sementara kau hendak mengu- sir diriku dari tempat tapa ini?" Pengemis Nyawa kini merasa tersinggung. Sekali lagi Penyair Hali- lintar tersenyum.

"Rasanya bukan keberadaanmu yang men- jadi persoalan bagiku!"

"Jika bukan aku lalu apa?" sentak si ka-

kek.

Penyair Halilintar menarik nafas dan

menghembuskannya. Setelah itu sambil meman- dang tajam ke arah Pengemis Nyawa ia membuka mulut buka suara. "Beberapa hari yang lalu mun- cul prajurit Pangeran Sobali. Kudengar pangeran itu masih punya hubungan persahabatan den- ganmu."

"Memang kuakui. Tapi hubungan persaha- batanku dengannya tidak lebih dekat dibanding- kan hubunganku dengan Empu Barada Sukma." Sahut Pengemis Nyawa dengan tegas.

"Begitukah?" gumam   Penyair   Halilintar. "Kalau demikian halnya kau mewakili kebaikan. Hendaknya kau suka memberi peringatan pada sahabatmu itu agar jangan suka memperkeruh suasana yang terjadi saat ini."

Mendengar itu sepasang mata si kakek berkerut tajam.

"Apa maksudmu, Penyair Halilintar?" Tanya si kakek tidak mengerti.

"Mungkin kau hanya pura-pura Pengemis Nyawa, itu aku tidak perduli. Aku hanya ingin bertitip pesan, hendaknya Empu Barada Sukma jangan lagi menyebar fitnah demi keuntungan di- rinya sendiri!"

Si kakek jadi bingung tentu saja semakin bertambah jengkel.

"Jahanam. Aku tidak tahu apa maksudmu, ucapanmu hanya membuat kepalaku jadi pusing. Bicaralah terus terang!" bentak si kakek tidak sa- bar.

"Aku tidak layak menerangkannya pada- mu. Kau cari sendiri sahabatmu itu, kemudian kau tanyakan duduk persoalan yang sebenarnya," "Jika kau tahu apa yang dilakukan saha-

batku Barada Sukma mengapa kau tidak membe- ritahukannya padaku?"

"Dunia persilatan sedang dilanda keka- cauan. Mana mungkin aku jelaskan segalanya padamu. Aku tidak punya waktu bicara panjang lebar denganmu!" sahut Penyair Halilintar.

Pengemis Nyawa benar-benar merasa ter- hina mendengar ucapan Penyair Halilintar. "Penyair gila. Mengingat usiaku seharusnya kau bisa berlaku hormat kepadaku. Tapi kau sendiri malah sebaliknya."

"Penghormatanku hanya berlaku pada orang yang menjunjung tinggi keadilan." Sahut pemuda itu dingin.

"Itu berarti kau hanya mencari perkara denganku!"

"Terserah kau mau beranggapan apa. Yang panting bagiku cepat kau tinggalkan tempat ini!" perintah Penyair Halilintar.

Sebagai orang tua, kata-kata yang di- ucapkan pemuda itu tidak ubahnya bagai sebuah tamparan yang cukup pedes hingga membuat Pengemis Nyawa merasa harga dirinya sebagai orang tua seperti dicabik-cabik.

Dengan suara lantang menyimpan geram, Pengemis Nyawa akhirnya bertanya. "Penyair Ha- lilintar, kau tadi mengatakan ada prajurit kera- jaan mencari diriku. Sekarang mereka berada di mana?"

"Mereka telah tewas dicabik-cabik mahluk penghisap darah, pemakan daging manusia tanpa aku sempat mencegahnya."

"Apakah kau tahu mengapa mereka men- cariku?" Tanya si kakek diam-diam merasa ngeri.

"Mungkin untuk satu kepentingan. Mung- kin mereka ingin minta bantuanmu untuk men- dapatkan benda sakti bernama Sengkala Angin Darah itu. Aku tidak tahu pasti. Lebih baik kau tanyakan saja pada pangeran Sobali." "Celaka. Kau telah membunuh para teta- muku tanpa memberi kesempatan pada mereka untuk menemuiku?" teriak Pengemis Nyawa.

"Yang membunuh mereka bukan aku, tapi mahluk Semerah Darah." Jawab pemuda itu te- nang.

"Tapi mahluk terkutuk itu berada dalam pengawasanmu. Karena itu kau harus memper- tanggung jawabkan perbuatannya."

"Orang tua kau dengar! Aku tidak bertang- gung jawab atas semua perbuatan Semerah Da- rah. Yang kulakukan selama ini adalah sekedar ingin mengetahui asal usul dan tabiat hidupnya. Mahluk itu tidak dapat digolongkan sebagai bina- tang, tapi juga tak bisa disebut manusia. Penge- mis Nyawa, sebagai orang yang kenal baik dengan Barada Sukma, sebaiknya kau temuilah dia dan tinggalkan tempat ini!"

Pengemis Nyawa tentu tambah jengkel. "Jahanam! Kau kira dirimu siapa? Kau be-

ranggapan dapat memerintahku sesuka hatimu sendiri?" dengus si kakek dengan mata mendelik.

Pemuda itu tersenyum. Dia dongakkan ke- pala ke langit. Setelah itu mulutnya berkemak- kemik. Bersamaan dengan itu dua tangan diang- kat seperti layaknya orang berdoa kemudian dari mulutnya menggumam lantunan bait-bait syair.

Hidup dalam puluhan tahun

Belum pernah bertemu maut dan cela

Naluri berbisik melihat angkara murka ma- nusia....

Berjalan diantara hembusan angin Ingin kutegakkan jalan keadilan

Lalu musuh bermunculan di mana-mana Kepadamu banyak kugantungkan harap Agar tidak banyak jiwa melayang sia-sia Tapi jika harapan tak bersambut Mengumbar nafsu amarah bukanlah jalan

terbaik

Orang tua

Kuminta kau pergi dengan tutur kata Jika kau keras kepala

Jangan salahkan jika tangan terpaksa bica-

ra

Selesai Penyair Halilintar melantunkan

bait-bait syairnya saat itu pula terlihat kilat me- nyambar diiringi dengan gelegar suara petir dan halilintar sambung menyambung. Pengemis Nya- wa bukan kaget, sebaliknya malah tertawa terge- lak. Tongkat hitam di tangan langsung dilintang- kan ke depan dada.

Dengan nada mengejek dia berkata, "Itulah senandung terakhir yang aku dengar. Selanjutnya kau akan melantunkan syair bututmu di neraka!"

Selesai berkata begitu, Pengemis Nyawa pukulkan tongkat hitamnya ke atas tanah. Begitu tongkat menyentuh permukaan tanah terjadi le- dakan dahsyat menggelegar memekakkan telinga. Debu dan batu berlesatan di udara. Si kakek mendadak raib dari pandangan mata. Penyair Ha- lilintar segera mencari-cari. Pemuda ini segera melompat mundur ketika melihat sepasang tan- gan tanpa badan terjulur cepat dengan gerakan menjebol dada dan membetot jantung.

Walau si pemuda sempat kaget melihat ke- jadian ini, tapi dengan tenang dia menyambut se- rangan tangan itu yang mencuatkan kuku- kukunya yang panjang.

Plak! Plaak!

Benturan terjadi dua kali berturut-turut. Dua tangan yang terjulur siap membetot jantung nampak bergetar, sekaligus membuat si kakek terlihat seutuhnya kembali. Orang tua ini tercen- gang.

Tidak membuang waktu dia segera han- tamkan tongkat saktinya ke udara. Ketika tongkat memukul udara kembali terdengar suara ledakan menggeledek. Tetapi sebelum Pengemis Nyawa be- rubah lenyap menjadi bayangan, Penyair Halilin- tar tiba-tiba keluarkan suara raungan yang keras. Tubuhnya berputar tiga kali. Gerakan berputar yang dia lakukan membuat sosoknya melambung di udara.

Begitu tubuhnya melambung dari langit mencuat cahaya kilat yang langsung menyambar tubuh pemuda itu.

Dalam waktu sekejap sang penyair telah di- lingkupi cahaya putih menyilaukan yang bergetar menjalari sekujur badan. Ketika cahaya itu be- rangsur lenyap, maka dari tubuh itu pula mende- ru angin yang sangat dahsyat luar biasa. Deru angin itu melabrak si Pengemis Nyawa.

Tak ayal lagi Pengemis Nyawa jatuh ter- banting. Sambil semburkan sumpah serapah si kakek cepat gerakkan tongkatnya ke permukaan tanah.

Braak!

Tanah berderak. Berpegangan pada tongkat saktinya Pengemis Nyawa dapat bertahan, walau tidak urung pakaian kuningnya robek di beberapa bagian.

"Pengemis Nyawa, bukankah aku sudah mengatakan kepadamu agar meninggalkan pun- cak gunung Kawi ini secepatnya?"

"Aku baru mau pergi setelah dapat me- menggal kepalamu!" sahut Pengemis Nyawa sinis.

"Kalau begitu lakukanlah jika kau mampu!" Dengan tubuh mengambang di udara Pe-

nyair Halilintar berputar tiga kali. Apa yang ke- mudian terjadi benar-benar merupakan kenya- taan yang sulit dipercaya.

Dari sekujur tubuh pemuda itu angin dah- syat kembali menderu. Kekuatan yang menyer- tainya bahkan berlipat ganda. Pengemis Nyawa kali ini jadi tercekat. Dia berusaha bertahan seka- ligus hendak melepaskan serangan balik, tapi pa- da waktu bersamaan ujung tongkat yang tertan- cap di tanah berderak patah.

Patahnya tongkat membuat Pengemis Nya- wa jatuh terpelanting, bergulingan lalu melesat lenyap ke arah lereng gunung.

Terdengar suara jerit menggidikkan disertai suara berdebum seperti suara tubuh terhempas ke atas batu. Setelah itu sunyi menghantui. Pe- nyair Halilintar kembali memutar tubuhnya den- gan gerakan berlawanan arah. Tak lama ia mele- sat turun dan jejakkan kakinya di atas tanah.

"Aku tidak tahu apakah orang tua itu hi- dup atau mati. Apapun akibatnya bagiku sama saja. Aku harus membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan." Fikir pemuda itu.

Sejenak ia memandang ke arah lereng gu- nung. Lalu pemuda ini bersuit nyaring.

Dari lereng gunung terdengar suara raun- gan menggidikkan. Dengan wajah muram Penyair Halilintar berkata. "Semerah Darah mahluk dari alam lain. Kau boleh mengiringi perjalananku. Tapi kau tidak boleh membuat kekacauan atau membunuh dengan seenak sendiri. Kau tidak bo- leh memakan manusia atau meminum darahnya." Dari lereng gunung terdengar suara raun-

gan panjang.

Pemuda itu tersenyum, lalu dengan suara perlahan ia berkata. "Sejak kecil manusia harus belajar agar setelah besar tidak menjadi kurang ajar. Kau hanyalah mahluk ciptaan gusti Allah juga. Aku tidak mengatakan dirimu adalah manu- sia seperti diriku, Semerah Darah, namun aku ju- ga tidak dapat mengatakan dirimu adalah bina- tang. Dalam ujudmu yang menyeramkan kau juga punya darah, jantung dan otak. Mungkin suatu saat kau dapat berkata bahwa hidup tidak berpi- hak kepadamu. Itu bukanlah suatu hal yang per- lu kau tangisi. Segala yang terjadi atas mahluk bernyawa semuanya berjalan atas ketentuan sang takdir. Jika kau terlahir dari rahim ibu manusia jangan kau salahkan ibumu. Kau berada dalam pengawasanku. Sekarang kita pergi untuk mela- kukan suatu tugas, jangan kau cemarkan nama- ku dengan perbuatan nistamu!" Penyair Halilintar lalu balikkan badan. Setelah itu berkelebat ting- galkan tempat itu.

Dari lereng gunung terdengar raungan mi- rip ratap tangis. Ratapan yang kemudian mengi- kuti kemana perginya penyair itu.

7

Tunggul Miring memacu kudanya mening- galkan gunung Kawi. Setelah sampai di pinggir sungai kecil, laki-laki itu melompat turun dari kudanya. Laki-laki itu sendiri kemudian duduk menyandarkan punggungnya di batang pohon. Dia menarik nafas, sementara fikirannya mene- rawang membayangkan kejadian di gunung Kawi. Semuanya berlangsung cepat. Delapan prajurit tewas tercabik-cabik dalam waktu singkat. Bukan cuma itu sobatnya Tunggul Oleng juga kemudian menjadi korban. Tidak jelas siapa yang membu- nuh mereka. Tunggul Miring sendiri hanya meli- hat satu bayangan berkelebat. Sosok itu miring binatang, tapi juga hampir mirip manusia.

"Aku tidak bisa menduga. Mungkin juga dia adalah Pengemis Nyawa. Jika Pengemis Nya- wa, mengapa ia mengaku sebagai Penyair Halilin- tar. Pangeran Sobali memintaku untuk menjum- pai kakek itu, sebelum usaha mencapai hasil ma- lapetaka datang menghadang. Apa yang harus ku- lakukan kini. Kembali ke Kediri adalah hal yang tidak bisa kulakukan," fikir laki-laki itu. Tunggul Miring pejamkan matanya.

Dia sama sekali tidak tahu sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak geriknya. Tidak lama setelah Tunggul Miring pe- jamkan matanya orang itu berkelebat tinggalkan tempat persembunyiannya. Sesaat kemudian dia telah jejakkan kaki di depan Tunggul Miring. La- ki-laki itu terkejut, dia membuka matanya. Dan lebih kaget lagi ketika melihat siapa sosok yang berdiri di depannya. "Setan Santet Delapan Penju- ru?" Tunggul Miring ajukan pertanyaan sambil rangkapkan kedua tangan di depan dada. Yang ditanya sunggingkan seringai dingin. Sepasang matanya memandang angker ke arah Tunggul Miring, membuat laki-laki itu jadi tidak enak hati. "Bukankah kau sendiri kaki tangan pange-

ran Kediri? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" "Benar Mbah, aku adalah orang keper-

cayaan Pangeran Sobali."

"Tepat seperti yang kuduga dan dugaanku ternyata tidak salah." guman kakek itu. Dengan perasaan kesal Tunggul Miring menjawab."Aku baru saja menjalankan perintah pangeran Sobali."

"Tugas apa?" "Tugas... eh, tugasku menemui seseorang bernama Pengemis Nyawa." jawab laki-laki itu gu- gup. Kegugupannya bukan karena melihat tam- pang angker kakek itu, melainkan karena seko- nyong-konyong ia melihat di atas kepala kakek itu muncul seraut wajah mengerikan. Wajah itu se- perti iblis yang tingginya hampir menyandak lan- git. Herannya sosok itu lenyap begitu Tunggul Miring kedipkan matanya. "Pengemis Nyawa, hmm. Orang tua itu sama liciknya dengan Barada Sukma. Aku telah mencium adanya hal yang ti- dak beres. Aku sebenarnya sudah mendapat pe- tunjuk di tangan siapa benda sakti itu berada. Pangeran Sobali, hmm... ternyata kau tidak bisa menaruh kepercayaan penuh kepadaku. Kau ular kepala dua, kau meremehkan jerih payahku. Ke- lak kau pasti akan menyesali tindakanmu. Aku tahu banyak orang mengatakan Sengkala Angin Darah jatuh ke tangan Gentong Ketawa. Tapi aku lebih percaya pada penglihatan mata batinku. Orang boleh memburu Gentong Ketawa, tapi aku tidak bakal berbuat tolol dengan mengikuti arus yang menyesatkan." batin si kakek dalam hati. Setan Santet Delapan Penjuru kemudian meman- dang ke depan, memperhatikan Tunggul Miring yang seperti orang kebingungan.

"Kau tidak kembali ke Kediri?" tanya si ka- kek tiba-tiba.

"Tidak. Aku tidak akan pernah kembali ke-

sana."

"Itu berarti kau telah melakukan suatu ke- salahan? Kau gagal melakukan tugasmu? Jika begitu orang sepertimu sudah sepantasnya dis- ingkirkan." Pucat wajah Tunggul Miring menden- gar ucapan si kakek. Dengan suara bergetar dia bertanya." A... apa maksudmu?"

"Hahaha. Sebab betapapun kau dan pange- ran mu sama memuakkan bagiku. Kau akan ku- bunuh!" dengus kakek itu sengit. Seketika sepa- sang mata laki-laki itu mendelik besar. Semula dia menaruh harapan bisa minta perlindungan pada kakek ini, tidak disangka harapannya sia- sia. Tunggul Miring tidak mau mati konyol. Den- gan cepat dia mencabut pedang. Melihat ini si ka- kek tertawa tergelak-gelak.

"Dengan pedang itu kau hendak melawan- ku? Pedang itu tak bakal sanggup melukai diri- ku." Selesai berkata Setan Santet Delapan Penju- ru mengambil boneka kayu berbentuk orang- orangan. Dia juga mengeluarkan sebatang jarum. Tunggul Miring tak tahu apa yang akan dilakukan kakek itu yang jelas saat itu dia melihat bibir si kakek berkemak kemik membaca sesuatu.

"Dia hendak melakukan sesuatu padaku?!" fikir Tunggul Miring. Dan sebelum si kakek sele- sai dengan mantra-mantranya Tunggul Miring se- gera mengambil tindakan.

Diawali dengan teriakan melengking Tung- gul Miring melompat ke depan lalu babatkan pe- dangnya ke perut lawan. Si kakek sama sekali ti- dak mengelak. Serangan pedang tepat mengenai sasaran. Bahkan ujung pedang amblas ke dalam perut tembus ke punggung. Si kakek yang perut- nya di tambus pedang tenang saja. Malah dia ma- sih sempat mengumbar tawa.

"Sudah kukatakan, pedangmu tidak berarti bagiku!" kata si kakek.

Tunggul Miring tercengang, geram juga ce- mas. Dan selagi dirinya dalam keadaan seperti itu, kaki si kakek tiba-tiba berkelebat menghan- tam dada Tunggul Miring. Tunggul Miring jatuh terjengkang, pedang di tangan terlepas. Di depan sana Setan Santet Delapan Penjuru usap luka be- kas tusukan. Luka itu mendadak lenyap tidak berbekas. Laki-laki itu terkesima, wajahnya pucat sedangkan sekujur tubuh basah bersimbah ke- ringat.

"Dia bukan manusia, dia setan...!" Tunggul Miring bangkit berdiri sambil memungut pedang- nya. Melihat lawan siap menyerangnya kembali si kakek tertawa sambil berkata. "Kau hendak me- lawan Setan Santet Delapan Penjuru? Semua usahamu hanya akan sia-sia manusia tidak ber- guna."

Setelah itu dia kemudian menusuk bagian depan patung kayu itu.

Cees!

Terdengar suara desis aneh disertai men- gepulnya asap tipis dari bagian tangan yang ditu- suk jarum. Bersamaan dengan itu Tunggul Miring tiba-tiba menjerit kesakitan. Pedang di tangan ter- lepas jatuh berkerontangan. Tunggul Miring de- kap lengan tangan kanan yang menggembung bi- ru dan mengucurkan darah. Tetapi ketika si ka- kek menggoyang jarum yang menancap di lengan patungnya. Tunggul Miring menjerit kembali. Sa- kit pada bagian lengannya semakin menjadi-jadi.

"Lenganmu sudah tidak berguna, sekarang aku akan mengaduk-aduk perutmu! Hahaha...!" kata si kakek yang menyerang lawan dengan menggunakan ilmu hitamnya. Dengan cepat ja- rum yang menancap pada lengan patung dicabut. Kemudian ditusukkannya kembali ke bagian pe- rut. Sekali lagi Tunggul Miring meraung kesaki- tan. Sambil mendekap perutnya yang seperti di- remas-remas, Tunggul Miring jatuh terduduk. Da- ri bagian pusar kaki tangan pangeran Kediri itu mengucur darah. Tidak hanya sampai disitu, pe- rut Tunggul Miring kini secara perlahan namun pasti tampak menggelembung besar seperti pe- rempuan hamil sembilan bulan. Penderitaan Tunggul Miring tambah menjadi-jadi bila si kakek memutar mutar jarum yang menghunjam pada perut patung. Laki-laki itu mencoba bangkit ber- diri, namun keinginannya ini tidak terlaksana.

Di depannya sang dukun tersenyum din- gin. Puas membuat perut lawan melembung besar seperti mau meletus kini dia memindahkan jarum dan menusukkannya di bagian kepala. Ketika ja- rum menembus kening patung, kening Tunggul Miring kini menyemburkan darah. Darah ternyata tidak keluar dari bagian itu saja. Tapi juga dari bagian mata, hidung, mulut dan telinga. Tidak terperikan bagaimana penderitaannya. Si kakek lagi-lagi mengumbar senyum.

"Kakek keparat! Jika kau tidak membu- nuhku hari ini, kelak aku pasti mencarimu untuk mengadakan perhitungan." kata Tunggul Miring dengan suara tersendat.

"Tunggul Miring manusia terkutuk. Kau ti- dak bakal dapat melakukan keinginanmu. Aku Setan Santet Delapan Penjuru telah menyantet perut dan kepalamu. Jika aku mau sekarang juga kepala dan perutmu meledak. Kau akan menemui ajal secara menyedihkan. Hahaha..." kata si ka- kek sinis.

Tunggul Miring yang keadaannya sudah ti- dak karuan, kedua kakinya bergerak, tangan menggapai berusaha bangkit berdiri. Tapi keingi- nannya itu tidak terlaksana. Setan Santet Dela- pan Penjuru tertawa bergerak. Dia lalu balikkan badan dan berkelebat tinggalkan tempat itu.

"Setan Santet Delapan Penjuru... manusia pengecut laknat! Kau... aark...!" Jerit Tunggul Miring terhenti seketika karena tiba-tiba saja ke- pala dan perutnya meletus secara bersamaan. Darah, otak dan isi bagian dalam perut berham- buran keluar. Bersamaan dengan itu Tunggul Miring pun tewas seketika. 8

Tidak berselang lama setelah Tunggul Mir- ing menemui ajal secara menggenaskan di tangan Setan Santet Delapan Penjuru. Tiba-tiba saja ti- dak jauh dari tepian sungai tersebut muncul dua sosok berpakaian hitam dan kuning. Kedua orang tersebut yang satu adalah seorang kakek berpa- kaian hitam tidak terkancing. Tubuhnya besar luar biasa, pipi tembem berkening lebar. Sedang- kan orang yang bersamanya adalah seorang gadis cantik berambut panjang.

Ketika mereka sampai di tepi sungai itu si kakek gendut yang adalah Gentong Ketawa adanya guru pendekar Sakti 71 sempat terkesiap kaget melihat mayat Tunggul Miring yang dalam keadaan menggenaskan sedemikian rupa. Gadis yang datang bersamanya juga tidak kalah kaget- nya.

Sejenak lamanya si gendut memperhatikan keadaan mayat itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

Dengan perasaan heran ia berkata, "Aneh... orang ini tewas dengan kepala dan perut meledak. Rasanya dia tidak mungkin jatuh dari langit. Bila melihat bekas luka-luka di tubuhnya kemungki- nan besar dia adalah korban guna-guna."

"Memangnya dia siapa kek?" tanya gadis berpakaian serba kuning yang bernama Anggagi- ni. "Aku kurang begitu yakin. Tapi melihat ci- ri-ciri serta pakaiannya yang begini mewah paling tidak dia adalah orang kepercayaan Pangeran Ke- diri. Rasanya aku belum pernah melihat kekejian sehebat ini. Setan Santet Delapan Penjuru, apa salah dosa orang ini. Aku yakin ilmunya sangat tinggi. Tetapi semua orang juga tahu tidak mudah mengalahkan apalagi mencelakai kakek itu!"

"Apakah kau mengenal Setan Santet Dela- pan Penjuru itu kek?"

"Aku pernah mendengar. Ciri-ciri perbua- tannya dapat kukenali tapi bertemu orangnya aku belum pernah. Aku tidak tahu apakah ini ada hu- bungannya dengan benda sakti itu. Nampaknya kekacauan mulai terjadi di mana-mana!" gumam si kakek. Dia lalu melirik ke arah Anggagini. Se- lanjutnya orang tua ini berkata. "Sebaiknya kita teruskan perjalanan. Aku berharap semoga tidak terjadi sesuatu pada bocah edan itu. Nanti kita juga akan menyelidiki apa sebenarnya yang dicari Setan Santet Delapan Penjuru." ujar si kakek. Ba- ru saja si gendut dan Anggagini hendak melang- kah pergi, mendadak dia mendengar suara tam- bur yang diiringi suara langkah kaki kuda. Kuda- kuda itu tampaknya memang menuju ke arah me- reka.

"Lekas bersembunyi!" perintah si kakek di- tujukan pada si gadis. Kedua orang ini kemudian melompat ke balik sebatang pohon tidak jauh dari mayat Tunggul Miring.

Tidak berselang lama di tempat itu muncul dua penunggang kuda. Penunggang kuda pertama berpakaian mewah seperti layaknya seorang bangsawan. Sedangkan satunya lagi adalah seo- rang laki-laki berpakaian ungu. Di punggung laki- laki itu membekal sebuah golok besar berwarna putih mengkilap. Kehadiran orang ini kemudian diikuti oleh kehadiran ratusan prajurit. Melihat seragam orang-orang itu, si kakek segera tahu bahwa mereka adalah para prajurit Kediri.

"Yang berbaju putih pastilah pangeran Ke- diri. Tapi apa perlunya dia membawa serta sekian banyak prajurit?" fikir si kakek.

Sebaliknya begitu sampai pangeran Kediri sendiri sangat terkejut melihat kuda milik Tung- gul Miring berada di situ. Bukan cuma itu dia le- bih kaget begitu melihat mayat Tunggul Miring.

"Tangan Besi, cepat kau periksa apakah itu mayat Tunggul Miring?" perintah sang pangeran. Tangan Besi dengan hati berdebar segera turun dari kudanya. Dia segera merinding begitu meli- hat keadaan si mayat.

"Gusti... ini memang mayat Tunggul Mir- ing!" seru Tangan Besi. Pangeran Sobali tercekat.

"Aku menyuruhnya menemui Pengemis Nyawa. Mengapa si tolol ini malah kesasar sampai kemari? Lalu kemana Tunggul Oleng?" Tanya sang pangeran dengan nada geram.

Di balik pohon Gentong Ketawa menjadi terheran-heran. Dia membatin dalam hati. "Aku kenal dengan keparat Pengemis Nyawa. Dia saha- bat Empu Barada Sukma. Aku bahkan tahu hu- bungan mereka tidak beda dengan kotoran den- gan kentut. Lalu apa perlunya pangeran ini me- minta kaki tangannya menemui Pengemis Nya- wa?"

Sementara pada kesempatan itu Tangan Besi berkata, "Pangeran, menurut hemat saya ada beberapa kemungkinan mengenai Tunggul Miring. Kemungkinan pertama dia memisahkan diri den- gan Tunggul Oleng. Kemungkinan kedua bisa jadi dia dan Tunggul Oleng sudah sampai ke gunung Kawi. Mungkin terjadi sesuatu yang luar biasa di tempat itu. Merasa terdesak Tunggul Miring mela- rikan diri ke sini." Ujar Tangan Besi menyampai- kan pendapatnya.

"Kalau benar pendapatmu itu, lalu siapa yang membunuhnya?" Tanya sang pangeran.

Tangan Besi terdiam. Dia kembali mem- perhatikan mayat Tunggul Miring. Melihat luka- luka itu membuat Tangan Besi menggigil ketaku- tan. kat. "Pangeran..." ujarnya dengan suara terce-

"Kau menemukan suatu petunjuk?"

Dia menelan ludah basahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Akhirnya ia berka- ta, "Kalau tidak salah saya dapat memastikan kematian Tunggul Miring pasti akibat perbuatan santet. Tidak ada orang yang memiliki kemam- puan santet seperti ini selain Setan Santet Dela- pan Penjuru!"

Kening Pangeran berkerut tajam. Heran ju- ga tidak begitu percaya.

"Setan Santet Delapan Penjuru? Mengapa dia membunuhnya? Padahal dia tahu Tunggul Miring adalah orang kepercayaanku? Dan yang lebih mengherankan lagi beberapa hari yang lalu kau menjumpainya untuk meminta bantuannya?"

"Memang betul pangeran!"

"Waktu itu kau mengatakan dia menyang- gupi permintaanku. Bukankah begitu?"

"Benar pangeran." Sahut Tangan Besi. "Jika benar, sekarang dapatkah kau menje-

laskan padaku mengapa dia membunuh Tunggul Miring?"

Tangan Besi terdiam.

Tapi kemudian menjawab. "Apa yang gusti tanyakan sangat sulit bagi saya untuk menje- laskannya. Tapi kemungkinan Setan Santet tahu kemungkinan pengkhianatan yang dilakukan Tunggul Miring. Karena dia membantu kita, si kakek merasa perlu membereskan orang-orang yang berusaha mengkhianati gusti!"

Penjelasan itu memang masuk di akal.

Pangeran manggut-manggut.

"Kebenarannya nanti bisa kita tanyakan pada kakek itu. Sebenarnya saat ini kita kehilan- gan petunjuk. Gentong Ketawa yang kita cari ti- dak kita ketahui dimana rimbanya. Aka takut di- dahului orang. Padahal yang kuinginkan Sengkala Angin Darah dapat kumiliki selekas mungkin."

"Pangeran apakah benar Sengkala Angin Darah berada di tangan Gentong Ketawa?" Tanya Tangan Besi ragu-ragu.

"Mengapa kau tidak mempercayainya? Ba- nyak petunjuk mengarah pada orang tua itu. buk- tinya orang-orang dunia persilatan kini mencari- cari kakek itu."

Di tempat persembunyiannya bukan Ang- gagini saja yang dibuat kaget. Si gendut juga ter- kesima.

Dalam hati ia memaki. "Sial betul. Bagai- mana pangeran bisa-bisanya menuduhku? Rupa benda keparat itu saja aku tidak tahu." Sadar di- rinya difitnah orang kakek gendut itu kemudian berteriak lantang.

"Siapa berani menyebar kabar keji terha- dap tua bangka sepertiku? Dia pasti akan men- dapat ganjaran yang setimpal. Ha ha ha !"

Pangeran Sobali, Tangan besi dan semua prajurit yang berada di situ terperanjat. Hampir bersamaan mereka memandang ke pohon di ma- na suara tadi berasal.

Tanpa bicara Tangan Besi segera berkele- bat ke arah pohon sambil hantamkan kedua tan- gannya ke pohon itu.

Belum lagi pukulan mengenai sasaran dari balik pohon ada angin menderu dan segera menghantam Tangan Besi.

Tangan Besi terdorong mundur, jungkir ba- lik lalu terjatuh di kaki kuda Pangeran Sobali.

Sambil menggeram marah Tangan Besi bangkit berdiri, dia lalu berteriak keras. "Kurang ajar! Siapa dirimu harap tunjukkan diri!" Sebagai jawaban satu bayangan kuning berkelebat ke arah Tangan Besi. Satu tamparan keras melesat bersiutan di udara. Tangan Besi be- rusaha menghindar, tapi sayang gerakannya ka- lah cepat dari datangnya tamparan itu.

Plak!

Tamparan mendarat di pipi Tangan Besi. Pipi laki-laki itu memerah sedangkan dirinya ter- jajar.

Dua kali Tangan Besi merasa dipermalu- kan orang. Tidak terkira betapa malunya Tangan Besi dibuatnya. Ketika dia memandang ke arah orang yang menamparnya tadi Tangan Besi jadi melengak kaget.

Di depan sana berdiri tegak seorang gadis berwajah cantik sekali berpakaian kuning ketat berambut panjang. Gadis itu berkacak pinggang.

"Siapa kau?" hardik Tangan Besi. Sementara itu Pangeran Sobali tetap men-

gawasi dari atas kudanya. Pangeran ini sendiri memang harus mengakui kecantikan gadis ini ti- dak kalah cantik dengan putri-putri raja. Tapi tindakannya menampar Tangan Besi merupakan sesuatu yang tidak dapat dimaafkan.

"Kau bertanya diriku siapa?" ujar Anggagini disertai senyum sinis. "Aku adalah sahabat orang yang baru kalian fitnah."

Tangan Besi dan pangeran Sobali saling pandang.

"Jadi kau sahabat kakek Gentong Ketawa?" Tanya sang pangeran beberapa saat kemudian. rang?" "Betul."

"Hmm, lalu dimana orang tua itu seka-

"Buat apa kau menanyakannya?"

"Dia harus menyerahkan Sengkala  Angin Darah pada pangeran Sobali !" dengus Tangan Besi.

"Kurang ajar, pandai-pandainya kalian mengatakan benda itu ada padanya!" hardik Ang- gagini marah.

"Gadis cantik, kau tidak perlu melindungi sahabatmu. Semua orang tahu benda sakti itu memang ada padanya." Tukas Tangan Besi tetap bersikeras.

"Segala fitnah keji memang sudah ada se- jak iblis diciptakan. Tapi aku belum pernah meli- hat tukang fitnah yang gilanya sehebat kalian. Kurang ajar....benar-benar kurang ajar dan patut diajar!" kata satu suara keras melengking.

Kemudian dari balik pohon melesat satu sosok berbadan besar luar biasa.

Dengan gerakan enteng sosok itu kemu- dian berjumpalitan di udara. Selanjutnya dia je- jakkan kakinya di samping Anggagini.

Dengan lagaknya yang terkesan tidak per- duli kakek itu berkipas-kipas dengan mengguna- kan jari-jari tangannya yang sengaja dirapatkan.

Saat itu juga terdengar suara angin mende- ru-deru keluar dari jemari si kakek yang digerak- kan ke depan dan ke belakang.

Para prajurit yang berada di belakang kuda pangeran tampak terhuyung-huyung nyaris ter- jengkang.

Sedangkan Pangeran Sobali sendiri yang berada di depan hampir terpelanting dari atas punggung kudanya.

9

Si gendut terus saja berkipas-kipas hingga membuat jengkel orang sang pangeran dan Tan- gan Besi. Malah orang tua itu bersikap acuh keti- ka belasan prajurit bergerak mengepungnya den- gan senjata terhunus.

Orang tua ini selanjutnya berkata. "Suasa- na semakin bertambah panas ketika tukang fit- nah hadir di sini. Seharusnya aku marah besar difitnah orang. Tapi biarlah tidak mengapa, aku berusaha membuat badan jadi dingin. Agar hati dan otakku ikutan menjadi dingin."

Walaupun Pangeran Sobali maupun Tan- gan Besi sebelumnya tidak pernah bertemu den- gan Gentong Ketawa. Melihat penampilan si ka- kek setidaknya mereka dapat menduga tentu orang tua ini orangnya yang mereka cari.

Itu sebabnya pangeran Sobali segera berka- ta, "Orang tua, kau tentu sudah mendengar pem- bicaraan kami."

Si kakek mendengus.

"Pembicaraan apa?" ujar si gendut berhenti berkipas.

"Tentu saja tentang Sengkala Angin Da- rah." Tangan Besi menyahuti.

Gentong Ketawa dongakkan kepala. "Ten- tang benda itukah yang kalian maksudkan?"

"Betul." Sahut Pangeran Sobali.

"Aku sama sekali tidak tahu tentang Seng- kala Angin Darah. Jika benda sakti yang lain ten- tu saja aku punya. Tapi benda itu tidak akan ku- berikan kepada siapapun. Lagipula buat apa se- bab kalian juga punya. Ha ha ha...!"

"Gendut kau bicara apa?" hardik Tangan

Besi.

"Ah kau siapa? Yang kukatakan cukup je-

las, kau bicara tentang benda aneh milikku sendi- ri."

"Kakek jahanam, bukan itu yang kami maksudkan!" hardik Tangan Besi marah. "Lalu apa?"

"Kami menginginkan Sengkala Angin Da- rah. Cepat kau serahkan benda yang kami minta itu. Jika tidak kau akan segera merasakan aki- batnya!" ujar Tangan Besi berapi-api.

Sambil berkacak pinggang si gendut kem- bali mengumbar tawa. Pada kesempatan itu Ang- gagini berbisik. "Kakek gendut. Orang kerajaan ini ngawur. Kalau tidak diberi pelajaran mereka se- makin kurang ajar."

"Tenang saja. Jika mereka berani bertindak gegabah akan kubuat barisan prajurit itu menjadi porak poranda. Bahkan kalau perlu pangeran dan orang jelek bersenjata golok itu akan ku obrak- abrik!" sahut si kakek berbisik sambil kedipkan matanya.

Anggagini terkejut.

Sementara kakek itu sendiri kini mengha- dap ke arah pangeran Sobali dan Tangan Besi. "Pangeran, terus terang kukatakan padamu. Ben- da yang kalian cari itu memang tidak ada padaku. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang Sengkala Angin Darah." Ujar si kakek.

Pangeran Sobali mendengus. "Siapa yang percaya ucapanmu?"

"Aku tidak pernah memintamu memper- cayai ucapan tua bangka gendut sepertiku. Tapi hendaknya kau mau berfikir dengan kepala din- gin untuk melakukan fitnah keji seperti yang kau ucapkan tadi!"

"Hem, banyak bukti yang mengarah pada- mu, Gentong Ketawa. Orang-orang di rimba persi- latan kini mengincarmu. Jadi sebelum Sengkala Angin Darah jatuh ke tangan orang lain, sebaik- nya serahkan benda itu kepada kami!" tegas Tan- gan Besi.

"Fitnah busuk. Monyet mana yang telah mengatakan pada kalian benda itu ada padaku? Coba jelaskan biar si tua ini bias memberi jawa- ban!" kata si kakek jengkel.

"Tidak perlu kami memberi penjelasan!" dengus Tangan Besi. Dia kemudian berteriak pa- da belasan prajurit yang mengepung si kakek dan Anggagini. "Prajurit, geledah orang tua dan gadis itu!"

"Pangeran sinting. Jangan kau salahkan

diriku jika kau terpaksa bertindak kasar!" teriak Gentong Ketawa geram.

Sementara itu belasan prajurit berlompa- tan ke arah Anggagini dan Gentong Ketawa.

Belasan tangan menggerayangi tubuh gadis itu. Tapi Anggagini tidak memberi hati. Melihat tangan-tangan prajurit bergerak merayapi tubuh- nya. Laksana kilat sebelum tangan-tangan itu menyentuh bagian-bagian tubuhnya, Anggagini gerakkan tangannya secara berputar. Sedikitnya enam prajurit dibuatnya terpental, jatuh bergede- bukkan. Sedangkan beberapa prajurit yang me- nyerang si gendut mendadak berpelantingan se- perti dihembus angin, lalu jatuh tumpang tindih sejarak tujuh tombak dari kakek itu. Gentong Ke- tawa mengumbar tawa. Sambil berkacak pinggang dia berkata. "Pangeran tolol. Kutegaskan sekali lagi benda sakti itu tak ada padaku. Jika kau te- tap nekad hendak menggeledahku kalian semua bisa menemui nasib celaka atau paling tidak mendapat bogem mentah dariku. Sebaiknya kau pergilah, bawa semua prajuritmu!" perintah si gendut.

"Kau tidak layak memerintahku! Prajurit, tangkap dan bunuh kakek gila dan gadis itu!" te- riak Pangeran Sobali.

Bukan hanya puluhan, kini ratusan praju- rit dengan senjata bagaikan serigala kelaparan segera menyerang Gentong Ketawa dan Anggagini. Anggagini menggeram, dua tangannya diam-diam telah dialiri tenaga dalam mendadak sontak dido- rongkannya ke depan. Angin menderu, sinar biru berkiblat dan menghantam puluhan prajurit yang menyerangnya dari arah depan. Para prajurit ber- gelimpangan roboh disertai raung kesakitan di sana sini.

Jika Anggagini tidak memberi hati pada prajurit-prajurit yang menyerbu ke arahnya. Lain halnya dengan Gentong Ketawa. Kakek ini sengaja kebutkan lengan baju hitamnya melancarkan to- tokan dari jarak jauh. Akibatnya sungguh luar bi- asa. Angin sedingin es menerpa prajurit-prajurit itu. Suara pekikan kaget terdengar silih berganti. Puluhan prajurit tak mampu lagi gerakkan tu- buhnya. Mereka kaku tertotok dalam posisi me- nyerang.

Melihat kenyataan ini kagetlah Pangeran Sobali dibuatnya. Ketika puluhan prajurit lainnya siap merangsak maju. Pangeran Sobali angkat tangannya ke atas. "Tahan...! Ternyata gendut gila ini punya sesuatu yang diandalkannya. Pantas saja dia berani jual lagak di depanku!" geram sang pangeran. "Tangan Besi, sekaranglah saatnya ba- gimu menunjukkan bakti kepadaku. Cepat kau bunuh dia! Biar aku yang meringkus gadis cantik itu!" perintah sang pangeran.

"Manusia tolol mencari penyakit. Majulah kalian berdua jika memang ingin konyol." Dengus Gentong Ketawa.

"Tua bangka gendut sambutlah kepalan tanganku!" teriak Tangan Besi pula tak kalah sengitnya.

Gentong Ketawa tertawa pendek ketika me- lihat lawannya merangsak maju sambil hantam- kan kedua tangannya ke bagian dada dan perut. Angin deras menyambar. Si kakek gembungkan perutnya.

Buuk!

Satu hantaman keras mendarat di perut si gendut. Sedangkan hantaman yang mengarah ke bagian dada sengaja ditepisnya. Si kakek menjerit tubuhnya bergetar. Sama sekali dia tidak men- gangkat tangan lawannya ternyata bukan saja sanggup menggoyahkan kuda-kudanya, tapi aki- bat hantaman itu membuat bagian isi dalam pe- rutnya seperti remuk. Si kakek meringis sambil mengusap perutnya yang merah memar.

"Hem, tak percuma rupanya kau dijuluki Tangan besi. Ternyata tanganmu memang seatos besi! Boleh juga!" kata si kakek meski kesakitan namun ternyata masih sempat mengumbar se- nyum.

Sebaliknya diam-diam Tangan Besi sendiri dibuat kaget. Pukulan yang dilepaskannya tadi menggunakan tenaga dalam penuh. Jangankan batu karang, tembok baja sekalipun hancur jika sampai terkena pukulannya. Aneh! Kakek itu jan- gankan tewas, ciderapun tidak. Bahkan dia masih sempatnya tersenyum.

Terdorong oleh rasa penasaran. Tangan Besi kini salurkan seluruh tenaga dalamnya ke bagian tangan. Dengan suara lantang Tangan Be- si berkata. "Kakek gendut keparat! Jika aku tidak sanggup membongkar isi perutmu dan meremuk- kan tulang belulangmu, biarlah untuk selanjut- nya aku ingin berhenti sebagai manusia!"

Si kakek tertawa ngakak. "Edan amat. Jika kau hendak berhenti jadi manusia. Selanjutnya kau mau jadi apa? Jadi monyet, jadi tikus combe- ran atau jadi arwah gentayangan tak diterima langit dan bumi? Untuk merubahmu menjadi se- perti yang kau inginkan, itu persoalan mudah. Cuma aku orangnya tidak tegaan. Orang yang su- dah mati saja kalau dibolehkan memilih oleh gus- ti Allah masih pingin hidup. Kau yang hidup ma- lah ingin mampus! Ha ha ha!" kata si kakek.

"Tua bangka bukan kau yang hidup! Seba- liknya kaulah yang pantas mati!" teriak Tangan Besi.

Disaksikan ratusan prajurit terkecuali Pangeran Sobali yang kini terlibat perkelahian sengit dengan Anggagini. Tangan Besi tiba-tiba saja melompat ke depan. Dua tangannya dihan- tamkan ke tubuh si kakek dengan gerakan cepat luar biasa. Gentong Ketawa tidak tinggal diam. Meskipun tubuhnya besar luar biasa. Dengan ge- rakan ringan kakek ini berkelit. Di lain waktu tangannya terjulur dan berhasil menyambar salah satu tangan lawannya. Si kakek lakukan gerakan jungkir balik. Dengan begitu tangan lawan jadi terpelintir. Selanjutnya si gendut sentakkan tan- gan lawan ke atas. Kraaak!

Terdengar suara tulang lengan patah lepas dari persendian. Tangan Besi meraung hebat, tangan kanannya nyaris tanggal. Laki-laki itu ter- huyung. Sambil menjerit-jerit dia pandang ke de- pan. Di depan Gentong Ketawa berdiri tegak den- gan dua tangan dilipat ke depan. Kakek itu berka- ta. "Masih ada waktu bagimu untuk memperbaiki diri, memperbaiki tangan dan terpenting lagi memperbaiki kau punya mulut agar tidak melon- tarkan fitnah sembarangan! Aku masih bisa men- gampunimu!" ujar si gendut serius.

Dalam keadaan seperti itu apapun yang di- katakan Gentong Ketawa bagi Tangan Besi sudah tidak ada gunanya. Dia sudah terlanjur cidera be- rat, dia sudah terlanjur malu. Dan yang lebih mengerikan lagi saat itu hati dan fikirannya su- dah disesaki amarah dendam yang meluap-luap. Tanpa terduga Tangan Besi menyambar goloknya yang tergantung di pinggang. Dengan tangan ka- nan golok itu dibabatkan ke arah si kakek selagi orang tua itu berbalik arah siap membantu Ang- gagini yang nampaknya agak terdesak menghada- pi serangan pedang Pangeran Sobali.

Si kakek yang merasa ada sambaran angin dingin menerpa punggungnya cepat berbalik. Dua jari tangan digerakkan. Menakjubkan, mata golok itu kemudian terjepit di antara celah jari tangan- nya. Tangan Besi berusaha menarik lepas golok- nya. Tapi jepitan jari si kakek amat keras sekali.

Si kakek menggeram. "Kuberi kau kesem- patan hidup, ternyata tindakanmu makin nekad tak berkejuntrungan." Ujar si gendut. Jemari tan- gan kemudian digerakkan ke kiri.

Taak!

Golok besar patah dua, membuat prajurit belalakkan mata. Tangan Besi terkesima. Belum lagi hilang rasa kagetnya. Patahan golok berkele- bat menyambar bagian dada dan terus amblas sampai ke punggung. Tangan Besi menjerit terta- han. Matanya mendelik, dia terhuyung sambil mendekap dadanya yang tertembus potongan go- lok setelah itu jatuh menelentang. Berkelonjotan sebentar. Lalu terdiam selamanya.

10

Sebenarnya apa yang terjadi pada Tangan Besi tidak luput dari perhatian Pangeran Sobali. Tapi nampaknya dia sendiri pada saat itu lebih mengkonsentrasikan diri pada serangannya yang ditujukan pada Anggagini. Kematian Tangan Besi memang sempat membuatnya kaget, marah serta kesal yang dikemudian dilampiaskannya pada Anggagini. Tidaklah mengherankan jika kemudian serangannya semakin bertambah hebat. Mata Pe- dang yang berkelebat di udara menaburkan sinar putih menyilaukan mata. Angin menderu-deru menyertainya berputarnya pedang di tangan. Se- dangkan tubuh pemuda itu laksana kilat berkele- bat, memotong setiap jalan gerak yang dilakukan lawannya.

Dalam perkelahian yang telah berlangsung belasan jurus itu Anggagini memang sempat ter- desak hebat. Bahkan ketika dia menghindari sambaran pedang yang mengarah ke bagian ujung lawan masih sempat memapas rambutnya yang panjang. Anggagini melompat ke samping hindari tusukan pedang yang datang bertubi-tubi. Tapi secara aneh pedang di tangan Pangeran So- bali kemudian bergerak dari bawah lalu menyam- bar kebagian dagu. Tak mau wajahnya yang can- tik menjadi sasaran pedang lawannya. Maka Ang- gagini melompat mundur. Namun tak urung pe- dang lawannya menggores bagian bahu.

Breet!

Anggagini menjerit tertahan. Sambaran pe- dang bukan saja hanya merobek pakaiannya hingga menyingkap kulit yang putih mulus. Tapi kulit bahunya juga terluka mengucurkan darah. Melihat kenyataan ini, Pangeran Sobali tertawa tergelak-gelak. "Sekarang bahumu, sebentar lagi tubuhmu akan kubuat telanjang!" kata pemuda itu sambil terus merangsak maju.

"Pangeran kurang ajar! Kau boleh bicara seenak perutmu. Tapi sebentar lagi aku akan membuatmu menjadi patung hidup!" teriak sang dara sengit. Hampir bersamaan dengan ucapan- nya itu Anggagini mendadak melompat mundur. Tusukan dan babatan pedang yang dilancarkan lawan dapat dihindarinya. Laksana kilat Anggagi- ni melompat ke udara. Pangeran Sobali yang su- dah merasa berada di atas angin mana mau membiarkan lawan lolos begitu saja. Pemuda itu dengan cepat jejakkan kaki, berjumpalitan dia mengejar lawan sambil babatkan senjatanya seca- ra menyilang. Serangan yang dilancarkan pemuda itu bukan serangan biasa karena sang pangeran mempergunakan jurus Kidung Kematian. Sekejap saja sinar pedang telah mengepung Anggagini dari segala penjuru arah.

"Celaka! Pangeran sinting ini ilmu pedang- nya ternyata tidak bisa dianggap enteng. Ha- ruskah aku turun memberi bantuan?" fikir Gen- tong Ketawa yang terus mengawasi.

Sementara itu Anggagini segera tidak ter- duga tiba-tiba hantamkan salah satu tangannya ke bagian lengan Pangeran Sobali. Sekali pukul pedang di tangan lawan paling tidak terjatuh. Ta- pi ternyata Pangeran Sobali dapat membaca gela- gat dan gerak orang. Melihat tangan si gadis ber- kelebat menghantam lengannya dia cepat tarik pedangnya ke belakang.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Anggagini. Tangan kanannya bergerak cepat lan- carkan totokan yang mengarah pada bagian dada dan punggung Pangeran Sobali.

Wuuuut! Wuuuut!

Dua larik sinar merah menyambar ke dada dan punggung pemuda itu. Lawannya masih be- rusaha menangkis, namun kalah cepat dengan gerakan sinar berhawa dingin tersebut. Tak ayal lagi begitu kedua sinar menghantam tubuhnya. Seperti pohon ditebang Pangeran itu jatuh berge- debukan dengan tubuh kaku dalam keadaan ter- totok. Gentong Ketawa tersenyum. "Hebat, ternya- ta ilmu totokanmu tidak mengecewakan Anggagi- ni." kata si kakek. Cepat dia melompat mengham- piri Pangeran Sobali. Anggagini sendiri dengan cepat memungut pedang milik lawannya. Pedang kemudian ditempelkannya ke leher Pangeran itu. Melihat kejadian ini ratusan prajurit yang sejak tadi terkesima menyaksikan perkelahian antara sang Pangeran dengan Anggagini kini di buat ka- get. Sadar junjungannya berada dalam ancaman bahaya besar. Dengan senjata terhunus mereka berlompat mengurung si kakek gendut dan Ang- gagini.

"Kalian dengar! Siapa saja diantara kalian yang berani maju. Jiwa pangeran mu pasti tidak akan tertolong.!" ancam Anggagini.

"Berani kau melukainya. Kami semua pasti akan membunuhmu!" teriak salah seorang praju- rit berbadan tinggi besar berwajah paling angker diantara prajurit lainnya. Anggagini tersenyum sinis. Sedangkan Pangeran Sobali segera berseru. "Kalian semua jangan perdulikan aku. Bunuh ke- dua manusia keparat ini!" perintah si pemuda.

"Ha ha ha. Aku memiliki bobot lebih dari dua ratus kati. Jika kalian bertindak nekad men- gikuti perintah pangeran gila ini, sekali aku ge- rakkan kaki, tubuhnya akan menjadi mejret sam- pai ke ampas-ampasnya!" seru si kakek sambil angkat kaki kanannya siap di hentakkan ke punggung Pangeran Sobali.

"Jangan kau hiraukan gendut miring itu. Cepat kalian bunuh mereka'" teriak Pangeran So- bali yang sudah tak kuasa berbuat apapun kare- na sekujur tubuhnya menjadi kaku. Meskipun Pangeran Sobali sudah berkata begitu. Tapi tak satupun di antara prajurit yang berani bertindak gegabah. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang ti- dak diinginkan pada pangerannya. Lagipula me- reka tahu si gendut tidak bisa dibuat main-main. Terbukti dengan mudah dia dapat membunuh Tangan Besi. Ingat semua itu, akhirnya prajurit berwajah angker yang bicara tadi memilih men- gambil jalan selamat dengan berkata. "Jangan kau bunuh pangeran kami!"

"Jahanam, mengapa kau jadi sepengecut itu!" hardik pangeran merasa terhina.

"Pangeran, keselamatanmu saat ini lebih panting dari segalanya!" ujar pengawal itu.

"Bangsat tolol!" maki Pangeran Sobali sen-

git.

Anggagini dan Gentong Ketawa tersenyum.

Jika menuruti kata hati ingin sekali si gadis membunuh Pangeran Sobali. Tapi dia merasa le- bih baik menahan diri demi menghormati si ka- kek gendut. Dalam kesempatan itu Gentong Ke- tawa berkata ditujukan pada seluruh prajurit. "Jika kalian ingin aku mengampuni pangeran sial ini. Berlutut kalian semua di depanku!" Semua prajurit saling berpandangan. "Jangan kalian lakukan!" teriak Pangeran Sobali.

"Berlutut!" kata pengawal angker tanpa menghiraukan ucapan junjungannya. Semua pra- jurit segera berlutut. Gentong Ketawa kedipkan matanya ke arah Anggagini. Setelah itu dia me- lanjutkan. "Tundukkan kepala, mata terpejam, setelah itu berkokok seperti ayam jantan seba- nyak tiga kali!"

"Tapi...!" prajurit kepala hendak mengu- capkan sesuatu.

Gentong Ketawa cepat memotong. "Mem- bangkang berarti kepala pangeran mu kubuat menggelinding.'" ancam si kakek.

"Jahanam tua. Aku bersumpah jika kau biarkan aku hidup. Aku pasti akan terus membu- rumu. Mulai detik ini kau kunyatakan sebagai buronan Kediri!" teriak Pangeran Sobali. Si kakek tertawa. "Terima kasih. Dengan begitu aku men- ganggap diriku ini termasuk orang penting." sahut si kakek. "Kalian tunggu apa lagi." teriak si kakek ditujukan pada ratusan prajurit yang sudah ber- lutut didepannya.

Seluruh prajurit itu dengan terpaksa dan demi keselamatan Pangeran Sobali akhirnya ke- luarkan suara seperti ayam jantan berkokok. Di luar sepengetahuan mereka. Si kakek dan Angga- gini sambil menahan geli dengan cepat sekali ber- kelebat tinggalkan tempat itu. Pangeran Sobali yang merasa terbebas dari ancaman orang, ketika melihat prajuritnya masih saja berkokok seperti ayam jantan dengan geram berteriak. "Prajurit pandir tidak berguna. Hentikan kegilaan kalian! Cepat bantu aku duduk!"

Ratusan prajurit tersentak kaget. Mereka hentikan suaranya dan segera memandang ke de- pan. Ternyata kakek dan gadis itu lenyap entah kemana. Beberapa prajurit saling bersirebut me- nolong Pangeran Sobali duduk. Setelah pemuda itu dapat duduk bersila sambil menggerutu, me- maki ketololan prajuritnya dia segera kerahkan tenaga dalam untuk melenyapkan pengaruh toto- kan yang bersarang di dada dan punggungnya. Tapi aneh dan yang membuat pangeran itu terke- jut, setiap tenaga dalam dialirkan ke bagian yang tertotok, tenaga dalam itu selalu berbalik ke pu- sar, terus turun ke bawah perut. Pangeran pun terkentut-kentut. Beberapa prajurit tidak dapat menahan tawa. Sedangkan prajurit yang baru menolong jadi terheran-heran.

"Prajurit keparat, menyingkirlah! Gadis itu sengaja mengerjai aku. Totokannya sulit kumus- nahkan. Sialan... keparat, jika kelak bertemu akan kubuat dia sengsara seumur hidup." Pange- ran Sobali jadi uring-uringan. Sisa prajurit segera menjauh takut kena didamprat. Beberapa dianta- ranya terpaksa menutupi mulut menahan tawa. Sedangkan Pangeran Sobali cuma bisa mendelik dan terus mendelik.

TAMAT