Gento Guyon Eps 26 : Liang Pemasang Sukma

 
Eps 26 : Liang Pemasang Sukma


Matahari tepat berada di atas kepala. Udara di siang itu memang terasa menggelisahkan. Panas laksana menggarang batok kepala, ketenangan lembah dan bukit-bukit membiru di sebelah timur Lembah seakan tidak terusik. Namun suara cericit burung yang tengah mencari makan mewarnai ke- sunyian lembah. Beberapa saat kemudian di ten- gah lembah terdengar ada suara menggeram diser- tai makian marah. Hiruk pikuk suara burung le- nyap, mahluk-mahluk lucu itu berterbangan me- ninggalkan lembah mencari selamat. Dan di ten- gah-tengah suara bentakan yang menggelegar itu terdengar suara deru angin ribut. Lalu pepohonan besar yang tumbuh di sekitar kawasan lembah ter- cerabut berhamburan di udara. Bukan hanya pe- pohonan saja, bahkan batu-batu sebesar kerbau juga nampak berpelantingan ke berbagai arah. Hanya dalam waktu sekejap kawasan lembah hampir gundul.

Sedangkan di tengah lembah berdiri tegak seorang laki-laki tua setengah baya dan seorang perempuan bertubuh tinggi dan berbadan besar seperti raksasa. Kedua orang itu saling berhada- pan dengan mata mencorong dan wajah melua- pkan kemarahan.

"Kau terlalu berburuk sangka, suamiku. An- tara aku dengan Tabib Setan tidak punya hubun- gan apa-apa. Mengapa kau marah membabi buta?" tanya si perempuan raksasa heran. Laki-laki raksasa yang bernama Senggana yang bukan lain adalah suami dari perempuan itu mendengus geram sambil palingkan wajahnya ke jurusan lain. "Siapa percaya dengan mulutmu, Senggini. Aku melihat dari tatapan matamu bahwa kau menaruh gairah pada kakek keparat itu!" te- riak si raksasa tua yang merasa kesal karena di- bakar api cemburu.

Senggini tersenyum. "Kakang Senggana, bi- arpun kau pernah mengatakan telah merelakan aku mencari pengganti dirimu. Tapi aku tidaklah segila itu. Kuakui sebagai istri aku memang per- nah kecewa dan menderita batin hebat akibat kau tak mampu lagi menjalankan kewajibanmu seba- gai suami. Namun aku juga harus mengerti semua itu bukanlah kesalahanmu. Kau kehilangan ke- perkasaanmu sebagai laki-laki sejati akibat terke- na pengaruh racun Perubah Bentuk. Dalam hal ini mengapa kita tidak berusaha mencari kesembu- han dengan menemui Srimbi?" ujar Senggini.

Apa yang dikatakan oleh sang istri sebenar- nya merupakan jalan terbaik untuk memecahkan persoalan kemelut batin yang mereka alami selama ini. Cuma kiranya rasa cemburu telah membakar jiwa laki-laki raksasa itu hingga dia tidak dapat la- gi menggunakan fikiran sehatnya.

Dengan hati masih dilanda rasa cemburu dia berkata, "Sejuta alasan bisa saja kau katakan. Padahal jauh di lubuk hatimu aku tahu kau ber- harap agar aku cepat mati bukan? Dengan begitu kau bisa mengawini Tabib Setan laknat itu bu- kan?" ujar Senggana disertai seringai sinis. Men- dengar ucapan suaminya Senggini tundukkan wa- jah. Dengan polos dia menjawab. "Semula aku memang berharap begitu, kakang. Tapi kemudian aku berpikir haruskah karena penyakitmu itu anak-anak kita kehilangan orang tua. Padahal ka- lau kita mau berusaha mencari obat dari penya- kitmu itu, bukan mustahil kau bisa kembali seper- ti sediakala!"

"Siapa percaya dengan mulut busukmu, pe- rempuan tengik. Mungkin lebih baik kita mati ber- sama-sama!" Habis berkata Senggana yang memi- liki tenaga besar itu mencabut pohon yang terda- pat di sebelah kirinya. Pohon sebesar pelukan orang dewasa tersebut dibolang-balingkan di uda- ra. Begitu bagian batangnya kena dicekal Sengga- na, maka laki-laki raksasa itu menghantamkan pucuk pohon ke bagian pinggang istrinya. Senggini yang tidak menyangka suaminya masih dilanda kemarahan keluarkan seruan kaget. Cepat dia me- lompat ke samping sambil menundukkan tubuh- nya yang tinggi seperti pohon kelapa. Dia meraih batu besar. Dengan menggunakan batu itu dia menangkis hantaman pohon.

Bress! Praak!

Pohon yang dipergunakan untuk memukul hancur berpatahan, sedangkan batu yang diper- gunakan untuk menangkis patah menjadi dua. Senggini yang semula telah berubah fikiran dan ingin menyembuhkan suaminya dari pengaruh ra- cun Perubah Bentuk ini kini ikut terpancing kema- rahan suaminya.

"Kau tidak mau mendengar segala ucapan- ku tidak menjadi apa. Rupanya memang sudah menjadi takdir bahwa diantara kita harus mati bersama-sama!" teriak Senggini.

"Bagus! Kini ternyata tidak ada lagi keme- sraan dan kelembutan. Kau telah berani melawan dan berani menentang. Sekarang aku tak segan- segan lagi untuk membunuhmu!" geram Senggana. Begitu selesai berucap, Senggana melesat ke arah istrinya sambil hantamkan tangannya ke dada dan perut Senggini.

Perempuan raksasa itu tentu saja tahu su- aminya bermaksud jatuhkan tangan keji. Karena itu tanpa bicara lagi dia juga menyambuti pukulan Senggana. Akibatnya terjadilah benturan yang amat dahsyat. Kedua suami istri itu sama-sama terlempar sejauh dua tombak, lalu jatuh bergede- bukan seperti suara gunung meletus.

Bentrok pukulan membuat keduanya mera- sa tangan mereka seperti hancur sedangkan dada terasa sakit luar biasa. Bahkan dari mulut Senggi- ni meneteskan cairan kental berwarna merah.

Senggini menyeka mulutnya. Begitu melihat darah perempuan itu menjadi bertambah kalap. Dengan terhuyung-huyung dia bangkit. "Bertahun- tahun aku menjadi teman hidupmu, telah banyak kesenangan yang kau dapatkan dari diriku. Tak pernah kusangka kini kau malah menghendaki kematianku!"

'Huh, jika seorang istri menjadi tidak ber- guna malah jadi bumerang dalam hidup, buat apa aku memeliharanya!" sahut Senggana sambil bangkit berdiri. "Aku sudah tahu seberapa hebat ilmumu.

Sekarang marilah kita mengadu nyawa!"

Senggana menyeringai mendengar tantan- gan istrinya. Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam lalu menyalurkannya ke bagian tangan. Se- kejap saja kedua tangan laki-laki raksasa itu telah berubah menjadi biru pertanda dia telah menge- rahkan suatu ilmu dahsyat yang dikenal dengan name 'Raksasa Menelan Bintang'. Senggini terke- siap melihat suaminya menggunakan ilmu yang menjadi andalan keluarga mereka itu. Tapi tanpa banyak bicara perempuan itu juga tak mau men- galah dan dengan segera melintangkan kedua tan- gannya siap melepaskan pukulan 'Raksasa Mem- belah Bulan'. Ilmu pukulan ini juga bukan ilmu sembarangan. Tingkatannya hampir sama dengan pukulan Raksasa Menelan Bintang, namun puku- lan yang hendak digunakan Senggini mempunyai keanehan lain yaitu bila pukulan telah slap dile- paskan tak mungkin dibatalkan. Jika hal itu sam- pai terjadi pasti dapat menewaskan pemiliknya sendiri. Tapi rupanya Senggini sudah tidak meng- hiraukan apapun yang bakal terjadi. Dalam waktu hampir bersamaan dia hantamkan kedua tangan- nya ke arah Senggana.

Sinar kuning kehitaman berkiblat menderu dari telapak tangan perempuan itu, sedangkan da- ri arah depannya menderu segulung angin panas disertai melesatnya sinar biru. Di saat dua puku- lan manusia raksasa itu hampir bertubrukan di udara, pada waktu hampir bersamaan terdengar seruan disertai berkelebatnya sosok berpakaian serba kuning. "Tidak kubiarkan orang tua saling membunuh hanya karena persoalan sepele!" Sam- bil berteriak dengan gerakan sedemikian rupa so- sok yang besarnya tidak sampai sepersepuluh dari kedua raksasa tersebut hantamkan kedua tangan- nya ke dua arah. 

Dua larik sinar kuning redup melesat dari telapak tangannya. Satu memapas sinar kuning yang melesat dari tangan Senggini sedangkan sa- tunya lagi menghantam Senggana.

"Akh...celaka...!" Kedua suami istri itu ham- pir bersamaan keluar seruan kaget. Tapi tak satu- pun dari mereka yang dapat menghentikan puku- lan yang terlanjur mereka lepaskan.

Tak dapat dihindari terjadilah bentrokan yang sangat keras luar biasa. Sosok berpakaian kuning yang kebetulan berada di antara dua puku- lan tak sanggup menyelamatkan diri. Dua pukulan yang dimaksudkannya untuk membuyarkan puku- lan suami istri raksasa itu tak mampu ditahannya.

Buummm!

Satu ledakan keras mengguncang kawasan lembah. Sosok berpakaian kuning yang bukan lain adalah Anggana putera suami istri itu menjerit ke- sakitan. Tubuhnya yang baru saja kembali ke ujud manusia normal terpelanting tinggi di udara. Lalu meluncur ke bawah dan jatuh bergedebukan.

"Anakku!" pekik Senggini. Dia terkesiap me- lihat nasib buruk yang menimpa anaknya. Tanpa fikir panjang lagi dia menubruk Anggagana. Se- dangkan Senggana masih tertegak di tempatnya berdiri. Dua matanya mendelik besar, nampaknya dia masih belum percaya melihat kenyataan itu. Dengan penuh penyesalan dia berjalan mengham- piri Anggagana. Laki-laki itu dengan mata berkaca- kaca duduk bersimpuh di depan anaknya. Sang anak mengerang, pakaiannya hangus, kulit tu- buhnya juga hangus, rambut rontok sedangkan sepuluh jemari tangannya gosong.

Biarpun keadaan Anggana sudah sangat parah dan tak mungkin dapat diselamatkan lagi namun si pemuda masih dapat membuka ma- tanya. Malah setelah memperhatikan ayah dan Ibunya silih berganti dengan suara lirih dia berka- ta. "Ayah...uukh...ibu.... Mungkin inilah akhir dari perjalanan hidupku. Aku sama sekali tidak me- nyesal jika harus mengakhiri hidup dengan cara seperti ini. Ibu yang melahirkan aku ke dunia ini, ibu dan ayah pula yang membesarkan. Andai se- karang harus mati aku tidak menyalahkan siapa- siapa, tapi kuminta padamu ayah dan ibu jangan- lah kalian bertengkar lagi memperdebatkan sesua- tu yang tidak jelas. Jika aku mati jangan pula ka- lian saling menyalahkan dan berniat saling bunuh. Kalian berdua sudah sangat tua, jika dulu bisa saling mencinta mengapa sekarang harus berakhir dengan cara yang amat tragis. Aku tahu ada yang menjadi ganjalan di antara kalian berdua. Tapi ku- rasa itu bisa diselesaikan, penyakit ayah dapat pu- la disembuhkan asal kalian mau terus berusaha mencari nenek Srimbi. Hanya dia satu-satunya yang mampu membuatkan obat penawar racun agar bentuk badan kalian bisa kembali. Ka...kalian...tidak bertengkar lagi...!" habis berkata begitu Anggagana yang menjadi korban pukulan ganas kedua orang tuanya langsung terkulai. Pe- muda itu tewas dengan luka-luka mengerikan di sekujur tubuhnya.

Menyaksikan kematian anaknya Senggini dan Senggana meraung keras. Mereka sama me- meluki jasad sang anak malang.

"Huk huk huk! Anakku, jika bukan ketolo- lan ayahmu tidak mungkin kau berakhir seperti ini." desah Senggini di sela-sela tangisnya.

"Istriku jangan lagi kau menyalahkan aku. Kita berdua sama-sama bersalah!" ujar Senggana dengan sabar. Mungkin kini setelah melihat hasil perbuatannya dia harus sadar tidak ada gunanya lagi mereka berdebat.

"Huh, kau suami tolol. Susah payah aku melahirkan dan membesarkannya tidak tahunya kau malah membuatnya seperti ini!" dengus Seng- gini masih saja memeluki mayat Anggagana.

"Jangan berkata begitu. Dalam hal ini kau tidak boleh melupakan diriku. Anak-anak kita ter- lahir berkat kerjasama yang baik di antara kita. Jika kau tidak turun bakti mana mungkin kau bi- sa hamil, andai kau tidak hamil mana mungkin melahirkan!" ujar Senggana dengan wajah serius.

Dalam keadaan biasa ucapan suaminya pal- ing tidak mengundang tawa bagi istrinya. Tapi alangkah tidak patut ucapan itu dilontarkan oleh seorang ayah di saat mereka kehilangan orang yang mereka cintai.

Dengan geram dia mendamprat. "Laki-laki tak berguna. Anakmu tewas akibat perbuatan tolol yang kita lakukan, dalam keadaan berduka masih juga kau sanggup bicara melantur?"

Senggana terdiam. Rasanya percuma saja dia meladeni sang istri yang sedang dilanda duka. Karena itu tanpa bicara lagi laki-laki tersebut sege- ra meninggalkan Senggini kemudian membuat se- buah kubur tak jauh dari sebuah lapangan kecil yang terdapat di lembah.

Beberapa saat kemudian setelah acara pen- guburan jenazah Anggagana selesai, Senggana berdiri tegak di depan pusara anaknya dengan wa- jah tertunduk dan berlinangan air mata. Sama se- kali dia tidak berani memandang istrinya yang se- dang menancapkan sebuah nisan di kepala ma- kam.

Senggini sendiri setelah selesai menan- capkan batu nisan yang diambil dari batu kali se- gera membuka mulut. "Anggagana anakku, maaf- kanlah kesalahan Ibu dan ayahmu ini nak. Mulai sekarang kami berjanji tidak akan bertengkar lagi." ujar Senggini sambil melirik ke arah Senggana. Sang suami dengan mata masih memerah ang- gukkan kepala.

"Benar anakku, ayah minta maaf. Ketololan yang harus ayah bayar dengan mahal. Oh menga- pa harus berakhir begini? Huk huk huk!" Sengga- na menangis tersedu-sedu.

Sebagai istri Senggini tentu saja tidak tega membiarkan suaminya tenggelam dalam kepedi- han. Dia segera berdiri, lalu menghampiri Sengga- na. Dengan hati masih diliputi kesedihan dia ber- kata. "Kakang, sudahlah. Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan ini. Kita memang sama- sama bersalah, tapi kelewat lama tenggelam dalam penyesalan semua itu tak bakal menyelesaikan persoalan yang kita hadapi." ujar Senggini sambil mengelus-elus bahu suaminya. Mendengar ucapan Senggini dan mendapat belaian sang Istri yang tu- lus Senggana merasa terharu. Dia membalikkan badan lalu memeluk perempuan itu. Beberapa saat lamanya suami istri itu saling berpelukan. Setelah mereka melepaskan rangkulan masing-masing Senggana membuka mulut dan berkata. "Istriku saat ini apapun yang kau katakan aku hanya me- nurut saja. Aku tidak ingin terjadi perpecahan di antara kita. Kematian Anggagana kuanggap seba- gai suatu tindakan tolol oleh orang tua seperti kita. Saat ini jika kau punya rencana katakan saja!"

Senggini terdiam, dia mencoba berfikir ke- ras. Rasanya saat ini satu-satunya jalan adalah mencari nenek Srimbi. Mungkin nenek itu bisa di- bujuk agar mau membuatkan obat pemunah ra- cun 'Perubah Bentuk', karena bagaimanapun apa yang menimpa suami atau dirinya adalah akibat perbuatan Angin Pesut.

Ketika Senggini menceritakan semua ini pa- da Senggana, orang tua itu bertanya. "Kurasa me- nemui nenek Srimbi memang jalan satu-satunya yang terbaik. Tapi untuk kau ketahui nenek Srim- bi paling tidak menyimpan dendam selangit karena merasa dirinya diabaikan Angin Pesut. Jika dia ta- hu Angin Pesut yang telah membuat tubuh kita begini rupa. Sudah pasti dia menolak membuat ramuan obat untuk kita."

Senggini manggut-manggut. Dia terdiam cukup lama. Senggini sadar apa yang dikatakan suaminya itu memang benar adanya. Srimbi pasti tidak mau melakukan apa yang mereka minta ka- rena dia begitu membenci pada Angin Pesut. Kini rasanya tidak ada lagi jalan untuk mencari kesem- buhan bagi mereka terkecuali memaksa Angin Pe- sut untuk membujuk Srimbi.

"Kakang, jika nenek itu tidak mau menolong kita kurasa ada baiknya bila kita mencari jalan lain!" ujar Senggini setelah mempertimbangkannya cukup lama. "Jalan lain apa?" tanya orang tua itu. "Karena manusia laknat bernama Angin Pesut itu yang telah membuat dirimu menjadi begini, ba- gaimana seandainya kita mencari bangsat yang menjadi penyebab dari segala kesusahan kita se- lama ini?"

"Mencari Angin Pesut tidak mudah. Tapi ki- ta pasti menemukannya. Kabar terakhir kudengar Angin Pesut mendapat serangan besar dari mu- suh-musuhnya. Bahkan kudengar gua yang men- jadi tempat tinggalnya telah diserbu. Menurut pendapatku Angin Pesut mungkin telah kena dita- wan oleh musuh-musuhnya."

"Bagaimana jika ternyata manusia dajal itu telah terbunuh?" tanya Senggini ragu-ragu.

Mendengar pertanyaan istrinya sepasang mata Senggana nampak meredup. Tapi demi me- nyenangkan hati istrinya dia berkata menghibur. "Siapapun tahu Angin Pesut memiliki ilmu yang amat tinggi. Selain mempunyai pukulan beracun dia juga memiliki ilmu maha dahsyat berupa pu- kulan 'Ratap Langit'. Ilmunya itu sanggup meng- hancurkan benda apa saja termasuk juga lawan- lawannya. Konon itulah satu-satunya pukulan ter- hebat yang ada di dunia persilatan saat ini. Jadi menurutku lawan setangguh apapun tak bakal mudah merobohkannya!"

Senggini manggut-manggut. Dia menyadari Angin Pesut memang manusia berkepandaian san- gat tinggi. Namun dia yakin setiap ilmu pasti ada kelemahannya, karena sudah menjadi kodrat ma- nusia tidak ada sesuatupun yang sempurna di du- nia ini kecuali Gusti Allah.

"Suamiku, kalaulah benar apa yang kau ka- takan berarti kesempatan untuk mendapatkan ob- at penawar bisa kita peroleh melalui perantaraan Angin Pesut. Sabarlah kakang, jika kita berusaha keras tentu kita bisa mendapatkan semua yang ki- ta inginkan!"

"Jika ternyata laki-laki terkutuk itu meno- lak bagaimana?" tanya Senggana.

Sang istri menyeringai lalu dongakkan ke- pala. Masih dengan tatapan menerawang ke langit perempuan itu berkata. "Jika dia menolak maka aku akan menempurnya sampai salah seorang dari kami binasa!" tegas perempuan itu. Senggana me- rasa sangat terharu sekali mendengar ucapan is- trinya. Keharuan itu begitu mendalam hingga membuat kuduknya menjadi dingin.

Kemudian dengan suara serak bergetar laki- laki itu menimpali. "Istriku aku merasa senang mendengar ucapanmu. Kau tidak sendiri, aku pas- ti membantumu. Jika kita berdua maju bersama, masa' kita tidak sanggup membunuhnya!" tegas Senggana.

Senggini tersenyum sambil acungkan kepa- lan tinjunya. Senggana juga tersenyum lalu acungkan tinjunya ke udara sebagai pertanda su- ami istri itu telah sama mencapai kata sepakat. Te- tapi sebelum senyum mereka lenyap, mendadak sontak dalam keheningan suasana tiba-tiba ter- dengar suara gelak tawa melengking laksana da- tang dari langit. Meskipun Senggana dan Senggini sama terkejut namun mereka tetap bersikap te- nang. Seolah mereka menganggap suara tawa yang mengandung tenaga dalam tinggi itu bagai ngian- gan nyamuk yang bermain di liang telinga.

Tak berselang lama suara tawa lenyap. Sua- sana kembali berubah sunyi. Pasangan suami istri saling pandang tapi tetap tidak lupa bersikap was- pada.

Keheningan tak berlangsung lama karena kemudian terdengar suara orang berkata lantang. "Dua mahluk raksasa tolol. Kalian adalah pembual yang malang. Takdir kematian Angin Pesut sudah ditentukan ada di tanganku. Jika kalian berani mengusiknya bahkan membuat selembar rambut- nya saja gugur maka jiwa kalian bakal tak kuam- puni!" ancam suara itu lantang. Biarpun diejek raksasa tolol kedua suami istri itu tetap berlaku tenang tapi diam-diam memasang telinga coba memastikan dari arah mana suara itu datang. Ke- tika tahu suara datang dari balik pohon yang ter- dapat di sebelah kanan mereka, Senggana yang memiliki tinggi badan sama dengan pucuk pepo- honan langsung gerakkan tangannya.

Braak!

Pohon sebesar batang kelapa berdaun lebat itu berderak hancur, lalu jatuh berdebum disertai suara bergemuruh berat. Hampir bersamaan den- gan tumbangnya pepohonan terdengar suara tawa mengejek disertai berkelebatnya satu bayangan ke arah Senggana. Manusia raksasa itu hantamkan tinjunya menyambuti kedatangan orang. Sekali kena saja bayangan serba hitam dapat dipastikan tubuhnya hancur berantakan. Tapi sesuatu di luar dugaan Senggana terjadi, bayangan hitam menda- dak berkelit ke samping lalu lakukan gerakan ber- jumpalitan sedemikian rupa dan jejakkan diri di antara Senggana dan Senggini.

Tak lama kemudian kedua suami istri itu melihat di depan mereka berdiri tegak sosok pe- rempuan berambut panjang awut-awutan. Penam- pilan maupun ujud si nenek tidak dapat dikatakan sebagai manusia seutuhnya karena setiap saat se- lalu berubah-ubah antara wajah manusia dan se- rigala.

"Nenek jelek muka anjing sebenarnya eng- kau punya hubungan apa dengan Angin Pesut?" Senggana merasa mengenal nenek bermuka seri- gala ini ajukan pertanyaan. Si nenek mendengus geram, namun belum lagi dia sempat menjawab pertanyaan orang, Senggini sudah membuka mu- lut dan berkata, "Suamiku, apakah kau tidak per- nah mendengar sebuah kisah yang meriwayatkan tentang seorang gadis nekad yang membunuh ca- lon mertuanya?"

Senggana terdiam, keningnya berkerut sete- lah berfikir sejenak lamanya sambil tersenyum dia menjawab. "Ahh...sekarang aku baru ingat. Konon kudengar calon mertua tidak merestui hubungan gadis itu dengan anaknya karena gadis yang ber- hasrat menjadi calon menantunya itu ternyata ha- nyalah gadis keji berjiwa telengas."

Senggini seolah ingin membeberkan riwayat hidup orang melanjutkan ucapan suaminya. "Kau benar suamiku. Setelah sang kekasih tahu ayah- nya tewas terbunuh di tangan gadis pujaannya, kemudian pemuda itu menuntut balas, lalu terja- dilah perkelahian sengit antara hidup dan mati   !"

Senggana menyambuti. "Benar benar. Da-

lam perkelahian itu gadis pembunuh kalah. Ke- mudian sang pemuda pujaan menjebloskannya ke suatu tempat bernama 'Liang Pemasung Sukma'."

"Sungguh menyedihkan. Tapi bagaimana gadis yang dulunya cantik kini mukanya bisa be- rubah-ubah seperti serigala?" tanya Senggini.

"Oh ya, aku lupa mengatakannya padamu. Sejak dia dijebloskan ke dalam Liang Pemasung Sukma dendamnya pada pemuda pujaan setinggi langit sedalam lautan. Kemarahannya itu mem- buat dia berhasil membebaskan diri dari penda- man Liang Pemasung Sukma. Konon jika tidak sa- lah aku mendengar dia lalu mempelajari ilmu se- tan yang bernama Serigala Seribu."

"Wah kalau begitu hebat juga ya?" tanya is- trinya disertai senyum mengejek.

Senggana menganggukkan kepala."Kejadian itu memang hebat, bagaimana tidak. Orang yang dulunya sama mencinta pada akhirnya saling bermusuhan seperti musuh bebuyutan. Cinta memang sesuatu yang unik. Karena cinta mem- buat orang bahagia, cinta juga bisa membuat orang menderita. Tapi akibat cinta buta, orang bisa jadi celaka! Ha ha ha."

"Suamiku apakah mahluk tak kenal ujud yang kini berada di hadapan kita termasuk korban cinta buta?" tanya Senggini.

"Oh kalau yang satu ini kurasa bukan kor- ban cinta tapi korban dendam kesumat dan letu- san gunung!'' sahut Senggana. Kedua suami istri itu kemudian tertawa tergelak-gelak.

Si nenek yang tahu dirinya disindir terus menerus sejak tadi sebenarnya sudah tidak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Semua ini ter- cermin jelas lewat wajahnya yang cepat sekali be- rubah-rubah antara wajah manusia dan rupa seri- gala.

Sambil mendengus nenek berpakaian hitam menggeram. "Dua manusia tolol sudah puaskah kalian membeberkan riwayat hidupku atau mung- kin masih ada lagi yang hendak kalian sampai- kan?" tanya si nenek ketus.

Senggini terdiam sedangkan Senggana den- gan tenang berkata. "Bukankah yang kami kata- kan ini adalah kenyataan yang sebenarnya, Ni Pambayon? Suatu kenyataan dari sebuah masa la- lu kelabu dari perjalanan hidupmu sendiri."

Si nenek yang memang memiliki nama Ni Pambayon atau yang lebih dikenal dengan julukan Bayangan Maut tentu saja kaget tak menyangka orang mengenali dirinya bahkan tahu bagaimana masa lalunya. Cuma rasa kaget itu berlangsung sekejap saja karena begitu teringat pada penghi- naan yang dilakukan kedua manusia raksasa itu dia mengumbar kemarahannya. "Dua manusia hi- na dina. Pandai sekali kalian membicarakan kebu- rukan orang, padahal aku tahu kalian sendiri saat ini sedang berada di ambang maut. Di dalam tu- buhmu juga tubuh istrimu mendekam racun jahat berupa racun Perubah Bentuk. Racun itu telah membuat tubuh kalian berkembang tidak wajar hingga menjadi sosok raksasa. Lalu... jika diri su- dah berada diambang maut apa perlunya mencari Angin Pesut?" tanya Ni Pambayon alias Bayangan Maut disertai seringai mengejek.

Senggana dan Senggini saling berpandan- gan. Senggini anggukkan kepala memberi isyarat untuk menjawab pertanyaan si nenek.

"Ni Pambayon, siapapun gelarmu aku tak peduli. Yang jelas, Angin Pesut harus memper- tanggung-jawabkan semua perbuatannya di masa lalu!" tegas Senggana.

"Hik hik hik! Manusia tolol, jika dulu saja kalian tidak bisa mengalahkan si jahanam Angin Pesut, apakah kini kalian mengira bisa membu- nuhnya?" dengus si nenek.

Senggini melangkah maju satu tindak lalu menyambuti ucapan si nenek. "Angin Pesut boleh mempunyai ilmu segudang, dia boleh memiliki il- mu hebat Ratap Langit, tapi kami punya cara un- tuk menghancurkan ilmunya." Bayangan maut terdiam. Dia pernah men- dengar kedua raksasa itu bukan orang sembaran- gan. Mereka juga memiliki ilmu hebat yang tak da- pat dipandang sebelah mata. Suaminya punya il- mu pukulan Raksasa Membelah Bintang, sedang istrinya memiliki pukulan Raksasa Membelah Bu- lan. Dua pukulan hebat itu bila dilepaskan bersa- maan bisa membuat tempat di sekitarnya jadi po- rak poranda.

Tapi nampaknya Bayangan Maut tidak per- duli. Baginya kedua manusia raksasa itu boleh mempunyai ilmu pukulan yang sanggup meron- tokkan gunung sekalipun. Namun jika mereka be- rani membunuh Angin Pesut sebelum dirinya sempat melakukan pembalasan, kedua raksasa itu harus berhadapan dulu dengannya.

"Dua manusia tolol, aku sudah mengatakan bahwa takdir kematian Angin Pesut ada di tangan- ku. Karena itu aku hanya bisa memberi saran, mengingat hidup kalian tidak lama lagi. Mengapa tidak kembali saja ke puncak Kemukus tempat tinggal kalian. Anak kalian telah mati korban keto- lolan sendiri. Sedangkan yang satunya lagi entah kemana. Jika kalian berdua ingin berbulan madu mengenang saat pertama kali dulu. Kurasa seka- ranglah waktunya. Aku memberi kesempatan bagi kalian untuk meneguk sorga dunia yang kedua kali. Hik hik hik!" kata Bayangan Maut disertai ta- wa mengekeh.

"Kalau kami menolak?" tanya Senggana. "Maksudmu?" Si nenek pura-pura tak tahu.

"Kami tetap memutuskan mencari Angin Pesut!" tegas Senggini.

"Angin Pesut tak bakal sanggup membua- tkan obat pemunah untuk kalian!" tegas si nenek mulai tak dapat lagi menahan kesabarannya.

"Jika dia tidak mampu berarti dia harus menebus semua kesalahan dengan nyawanya!"

Habislah sudah kesabaran Bayangan Maut. Dengan suara lantang menggeledek nenek itu ber- teriak. "Aku sudah mengatakan, takdir kematian Angin Pesut ada di tanganku. Jika ada orang be- rani mendahuluinya maka dia harus berhadapan dengan Bayangan Maut. Karena kalian tetap ber- laku nekad, sekarang terimalah kematianmu!"

Baru saja teriakan si nenek lenyap dia la- kukan gerakan berputar setengah lingkaran. Begi- tu tubuhnya berputar dia berkelebat ke arah Senggana sambil berkelebat kedua tangannya yang terpentang melesat ke bagian perut Senggana. La- ki-laki itu tidak tinggal diam, dia segera mengang- kat kakinya. Dengan mempergunakan lutut dia menangkis serangan lawan.

Buuuk! Breeet!

Si nenek terdorong mundur. Benturan keras antara tangan kanan dengan lutut lawannya me- nimbulkan rasa sakit luar biasa. Tapi jemari tan- gan kiri Bayangan Maut sempat membuat robek paha Senggana. Laki-laki itu meringis kesakitan. Biarpun besar dan tinggi lawan bagi raksasa ini tak sampai setengah besar dirinya, namun caka- ran tangan Bayangan Maut menimbulkan luka dan mengucurkan darah. Senggana menggerung, tangannya yang be- sar dan panjang terjulur. Tangan yang satunya be- rusaha mencengkeram pinggang Bayangan Maut, sedangkan yang satunya lagi menghantam kepala si nenek.

Nenek angker yang wajahnya setiap saat be- rubah antara wajah manusia dan serigala ini tak mau berlaku ayal. Dia sadar jika dirinya kena di- cengkeram atau dipukul lawan. Kalau bukan ping- gangnya yang remuk pasti kepalanya jadi hancur. Karena itu dengan gerakan gesit bagaikan serigala menghindar dari sergapan harimau, dia berkelit sambil melompat ke belakang. Baru saja Bayangan Maut jejakkan kakinya dari arah belakang, Seng- gini melepaskan satu tendangan menggeledek ke bagian punggung si nenek.

Gemuruh suara angin tendangan yang tidak ubahnya seperti pohon roboh membuat Bayangan Maut bantingkan diri ke sebelah kanan sambil bergulingan mencari selamat. Namun secepat apa- pun si nenek menghindar, tendangan Senggini ter- nyata datangnya lebih cepat dari yang nenek itu duga.

Buuk!

Tendangan yang amat keras bertenaga dua puluh kali lipat manusia biasa itu membuat Bayangan Maut terpelanting sejauh sepuluh tom- bak. Jika bukan tokoh sesat berkepandaian tinggi, yang terkena tendangan perempuan raksasa itu dapat dipastikan tubuhnya rusak.

"Kau tidak apa-apa suamiku?" Habis mele- paskan tendangan Senggini ajukan pertanyaan. "Kau harus hati-hati, setiap serangannya mengandung racun jahat. Beruntung aku pernah terkena pukulan racun Perubah Bentuk hingga membuat racunnya tidak begitu berbahaya!" ucap Senggana menyahuti.

Sementara itu Bayangan Maut yang dibuat terpelanting jungkir balik oleh lawannya sambil memaki menyemburkan sumpah serapah sudah berdiri tegak. Tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera punggungnya diam-diam si nenek salur- kan tenaga dalam ke bagian tangan. Dua tangan lalu disilangkan, mulutnya berkemak-kemik seper- ti merapal mantra ajian. Setelah itu sambil meng- geram dalam hati Bayangan Maut membatin. "Ke- dua raksasa itu tidak boleh dianggap remeh. Tena- ganya sepuluh kali lipat dari tenaga manusia bi- asa. Aku harus membunuhnya. Dengan ajian Bayangan Serigala ini kurasa aku bisa berbuat banyak!" fikir si nenek. Dengan tangan masih ber- silangan di depan dada dia berteriak. "Dua manu- sia besar keras kepala, baru membuat aku jatuh bukan berarti kalian telah mengalahkan aku. Lihat serangan...!"

Belum lagi suara teriakan si nenek lenyap, tahu-tahu tubuhnya melesat kira-kira setinggi da- da Senggana dan Senggini. Kedua raksasa itu mendengus lalu bersirebut saling mendahului memukul Bayangan Maut. Tapi karena pukulan mereka seolah menghantam angin. Karena biarpun tubuh lawannya terkena pukulan mereka, kedua- nya merasa seolah memukul bayangan. Malah kemudian kedua suami istri itu saling mengadu tinju. Bruuk!

Senggana dan Senggini terhuyung dan sa- ma-sama unjukkan wajah kaget. Sementara dari sebelah kiri Bayangan Maut yang memendam den- dam selangit akibat terkena tendangan Senggini tidak menyia-nylakan kesempatan ini. Tubuhnya yang berputar mengambang di udara meluncur de- ras ke arah perempuan raksasa itu lalu kakinya menghantam.

Dukk! Dees! Dess!

Tendangan keras membuat Senggini jatuh berdebum. Si nenek tidak puas dan kini meluncur deras mengikuti arah jatuhnya Senggini sambil melancarkan serangkaian tendangan dan hujam- kan kuku-kuku jarinya ke arah perut lawan.

Sosok besar Senggini tentu saja tidak dapat bergerak lincah sebagaimana manusia normal lainnya. Karena itu dia dorongkan kedua tangan- nya, menghantam lawan dengan pukulan 'Raksasa Membelah Bulan'. Gerakan melepaskan pukulan termasuk terlambat karena waktu itu Bayangan Maut tidak ubahnya seperti iblis yang berlari ken- cang sempat menghantam perut dan hujamkan kuku-kukunya ke dada Senggini.

Di tengah jeritan Senggini yang menyayat, tubuh Bayangan Maut tiba-tiba seperti disentak- kan ke belakang terhantam sinar kuning yang memancar dari tangan lawan.

Bayangan Maut meraung begitu merasakan bagaimana mulai dada ke atas tiba-tiba terasa se- perti meleleh. Selagi dia terhuyung-huyung sambil mendekap wajahnya, dari arah belakang menderu pula sinar panas luar biasa.

Si nenek terkesiap, dia tidak sempat melihat ke belakang. Tapi sadar seperti Senggini yang telah menghantam dirinya dengan pukulan 'Raksasa Membelah Bulan', Senggana juga pasti melepaskan pukulan 'Raksasa Membelah Bintang'. Sadar akan bahaya yang lebih besar mengancam dirinya. Bayangan Maut dengan terhuyung-huyung me- lompat ke samping. Tak urung pukulan Senggana masih menyambar bagian bahunya.

Si nenek meraung keras. Tubuhnya jatuh terpelanting, sementara Senggana meraung hebat melihat luka yang dialami istrinya. Sebaliknya Bayangan Maut yang cidera akibat hantaman ke- dua lawan segera bangkit berdiri. Dengan mena- han rasa sakit yang mendera wajah dan pung- gungnya si nenek berkata. "Dengan menggunakan ilmu ajian Serigala Seribu aku pasti bisa membu- nuhnya. Tapi ilmu itu sangat membutuhkan kon- sentrasi penuh. Ah... kurang ajar mana mungkin aku bisa konsentrasi dalam keadaan sakit begini. Sebaiknya aku pergi saja. Untuk sementara biar- lah dia meratap seperti orang gila. Kelak bila dia nekad mencari Angin Pesut, disanalah dia kuhabi- si!" membatin si nenek. Selesai berkata begitu tan- pa membuang waktu lagi Bayangan Maut berkele- bat meninggalkan Senggana yang tengah meratap dan memeluki istrinya.

Senggana memang tidak tahu lawannya te- lah melarikan diri. Dia sendiri ketika itu menangis terguguk memeluki jasad istrinya. Ternyata akibat luka menganga di bagian dada tembus sampai ke bagian jantung serta tendangan beruntun yang di- alami istrinya membuatnya tak dapat bertahan hi- dup.

"Istriku mengapa harus berakhir seperti ini?" desis Senggana getir. "Aku tidak rela hal se- perti ini terjadi. Ni Pambayon harus menerima ba- lasanku!" kata Senggana.

Dengan mata bersimbah air mata laki-laki itu palingkan kepala memandang ke arah jatuhnya Bayangan Maut namun Senggana jadi melengak kaget karena lawan yang telah menjadi penyebab kematian istrinya ternyata sudah raib entah pergi ke mana.

Si orang tua menggeram, dua tangannya di- kepal. Sambil menggerung dia berkata. "Kau tidak bakal lolos dari tanganku, Bayangan Maut!" geram Senggana.

Masih dalam keadaan kalut dan duka, Senggana menyempatkan diri menguburkan sang istri tercinta secara layak. Setelah penguburan sang istri selesai tidak menunggu lama lagi dia se- gera mengejar Bayangan Maut.

2

Pemuda itu tegak diam sambil silangkan kedua tangannya di depan dada. Sementara ma- tanya memandang ke arah kali Progo. Tak berse- lang lama dia layangkan pandangannya ke arah deretan pepohonan yang tumbuh menjulang di se- panjang pinggiran kali. Mendadak dia palingkan kepala ke arah bagian hulu Kali Progo. Si pemuda bertelanjang dada yang adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon gelengkan kepala. Sekejap tadi dia mendengar suara gemuruh aneh. Suara gemuruh itu datangnya dari dalam tanah dan sekarang sua- ra itu tiba-tiba lenyap.

Masih dengan sikap tertegun dan sambil mengusap wajahnya pulang balik sang pendekar jadi bicara sendiri. "Jelas suara yang kudengar tadi bukan suara gemuruh air sungai tapi suara sesua- tu di dalam tanah, suara apapun yang kudengar itu jelas bergerak mendekat kemari!" Berkata begi- tu murid kakek Gentong Ketawa itu hentakkan kedua kakinya hingga membuat tubuhnya melesat di udara. Selagi tubuhnya mengambang diatas ke- tinggian dia berkelebat ke arah pepohonan yang terdapat di pinggir sungai. Setelah itu si gondrong jejakkan kakinya di salah satu cabang pohon lalu mendekam di balik kelebatan dedaunan. Pendekar sakti 71 memasang mata mempertajam pendenga- ran. Beberapa saat dia menunggu. Suara gemuruh makin mendekat, tapi dia tidak mendengar tanda- tanda kehadiran seseorang di tempat itu.

Di satu tempat tak jauh dari pohon dimana dia berada sang pendekar melihat daun-daun dan ranting kering yang bertebaran di atas permukaan tanah tersibak. Dengan hati berdebar Gento me- nunggu gerangan apa yang bakal muncul dari ba- wah permukaan tanah. Tak begitu lama apa yang ditunggu oleh Gento pun terjadilah. Mendadak daun-daun kering berterbangan. Bersamaan den- gan hembusan angin yang tak jelas datang dari mana terjadi pula suatu ledakan yang amat dah- syat. Tanah bermuncratan di udara sehingga ter- jadi sebuah lubang besar. Berturut-turut dari da- lam lubang yang menganga melesat dua sosok bayangan. Bayangan pertama yang munculkan diri dari dalam tanah berpakaian serba hitam, sedang- kan yang di belakangnya berpakaian serba putih.

Dalam waktu sekejap tak jauh dari lubang berdiri tegak seorang nenek berwajah setan se- dangkan di sebelahnya tampak pula seorang gadis. Yang mengejutkan gadis yang bersama si nenek cukup dikenal oleh Gento, sedangkan nenek yang bersamanya baru kali ini Gento melihatnya.

"Nenek satu ini mayat hidup atau setan ke- sasar." Fikir Gento sambil mengusap tengkuknya yang merinding. "Wajahnya rusak seperti bekas di- cacah, lidah terjulur, gigi-giginya seperti taring se- rigala sedangkan bagian hidungnya lenyap hingga cuma berupa lubang besar mengerikan. Dan satu lagi yang aneh kulihat dada nenek itu berlubang besar." Gento memperhatikan gerak-gerik si nenek dan dia menemukan satu kejanggalan lagi yang tak mungkin dimiliki oleh manusia lain. Ke- jangggalan itu ada pada kaki si nenek. Kaki itu ti- dak seperti kaki manusia karena nenek itu memi- liki kaki seperti kaki kuda dengan bagian telapak kaki tajam seperti mata tombak.

"Segala keburukan ada padanya. Mungkin dia bukan manusia benaran bisa jadi dia embah- nya siluman. Lalu apa perlunya Mutiara Pelangi bersama nenek itu, apa dia cucu siluman juga?" fikir Gento sambil mencoba menahan geli.

Selagi Gento cengar cengir melihat segala keangkeran serta keanehan yang terdapat pada di- ri si nenek. Nenek berhidung grumpung alias sumplung itu tiba-tiba ajukan pertanyaan pada gadis yang pernah menyelamatkan Gento dari Lu- bang kubur. "Pelangi apa betul pemuda yang kau cintai itu miring otaknya?"

Sang dara terkejut mendengar pertanyaan yang tidak disangka-sangka itu. Sementara di tempatnya mendekam Gento menjadi gelisah.

"Nenek muka hantu itu mudah-mudah bu- kan aku yang dimaksudkannya!"

"Maksud guru?" tanya Mutiara Pelangi. Si nenek delikkan matanya, dengan kesal dia berka- ta. "Rupanya berapa banyak pemuda yang kau cin- tai?"

"Cuma satu guru?"

Di atas pohon Gento mengusap habis wa- jahnya. Kini dia semakin yakin dirinyalah yang menjadi pusat pembicaraan. "Celaka, harusnya aku tinggalkan tempat ini sejak tadi. Sekarang se- galanya sudah kasip, jika aku pergi mereka pasti melihatku!"

"Katakan siapa nama pemuda itu?" kembali terdengar suara si nenek.

"Namanya Gento guru. Terus terang dia ti- dak sinting. Cuma tingkah lakunya saja yang se- perti orang kurang waras." menerangkan sang da- ra dengan muka bersemu merah. "Hik hik hik. Soal ketidak beresan otaknya kita bisa membawanya ke pandai besi. Aku kenal seorang pandai besi yang hebat di Mojogendeng. Sebelum dia menjadi pendamping hidupmu kita bisa betulkan dulu otaknya agar kau bisa mempu- nyai pasangan hidup waras lahir dan batin."

Malu-malu sang dara palingkan wajahnya ke jurusan lain. Dengan suara lirih dia berkata. "Semuanya terserah guru, aku hanya mengikut sa- ja!"

Di balik kerimbunan pohon wajah Gento be- rubah pucat, tubuh menggigil sedangkan pakaian bersimbah keringat dingin. "Celaka! Mengapa Pe- langi jadi tidak bermalu dengan mengatakan men- cintai aku pada gurunya? Padahal aku tidak per- nah berbicara begitu kepadanya! Terus terang aku memang menyukai gadis-gadis cantik. Wah urusan benar-benar jadi kapiran!" gerutu sang pendekar.

Di bawah sana si nenek mengguman sendi- ri. "Ternyata tidak mudah mencari bocah edan itu. Kurasa sebaiknya kita cari dia di keramaian kota, siapa tahu dia sedang jadi peminta-minta di sana! Hik hik hik!"

"Nenek sial!" tanpa sadar Gento mengum-

pat.

Biarpun suaranya hanya perlahan saja, tapi

rupanya si nenek mendengar makian Gento. Cepat orang tua itu palingkan kepala dan memandang ke arah kelebatan pepohonan. Orang tua itupun ke- mudian berteriak keras. "Orang yang bersembunyi di pohon harap tunjukkan diri!" perintah si nenek.

"Ah celaka sudah. Mengapa aku tidak bisa menjaga mulut. Harusnya aku tidak keterlepasan bicara tadi!"

Gento menggerutu menyesali diri. Sementara itu Mutiara Pelangi nampak ke-

bingungan. "Eh...rupanya guru bicara pada siapa?" Si nenek tidak menanggapi. Kembali dia berteriak ditujukan pada Gento. "Jika kau tidak mau tunjukkan dirimu, aku akan membakar mu hidup-hidup di situ!" Dan ancaman ini bukan cu- ma gertakan saja, karena begitu selesai berkata si nenek Palasik angkat tangan kanannya siap untuk

dihantamkan.

Pendekar Sakti 71 sudah melihat adanya gelagat yang tidak baik menanggapi ucapan orang dengan tawa tergelak-gelak. Mutiara Pelangi tentu saja menjadi kaget karena dia memang mengenali siapa adanya orang yang mengumbar tawa terse- but. Dia jadi gelisah, hatinya tidak tenang dan yang jelas dia merasa malu atas pengakuannya ta- di karena pemuda yang mereka bicarakan ternyata berada di tempat itu. Pada saat itu begitu puas mengumbar tawa Pendekar Sakti 71 Gento Guyon berkata dengan nada mencemo'oh. "Nenek wajah remuk, berani kau bicara kurang ajar pada diriku? Apa kau tidak takut kubetoti lidah dan gigi-gigimu yang jelek itu? Ha ha ha!"

Tercengang si nenek mendengar ucapan Gento. Seumur hidup malang melintang di dunia persilatan belum pernah ada orang yang berani bersikap kurang ajar kepadanya. Hari ini seolah- olah dia mendapat mimpi buruk memalukan, apa- lagi penghinaan ini dilakukan di depan muridnya. Sambil menggeram dia pun menghardik. "Kadal sialan! Siapa kau, cepat tunjukkan diri?"

"Rupanya kau setan tuli. Kau dengar...aku adalah rajanya setan. Cepat berlutut di depanku atau kau lebih suka menerima gebukanku?! Ha ha ha!" balas Gento tak kalah lantangnya.

Lenyaplah sudah segala kesabaran nenek Palasik. Sambil menggeram dia salurkan tenaga dalam ke tangan kanan. Setelah itu si nenek ber- kata tegas. "Rupanya kau mau menjadi raja setan benaran. Untuk mengabulkan permintaanmu itu tidak sulit bagiku!" Selesai berkata tangan si nenek pun dihantamkan ke arah deretan pohon dimana Gento bersembunyi. Seketika itu juga lima larik sinar hitam menggidikkan berhawa panas luar bi- asa berkiblat menghantam pohon besar tempat persembunyian Gento.

"Wualah kwalat kau!" Sekejap lagi pukulan lima sinar menghantam pohon terdengar suara sumpah serapah yang disertai melesatnya satu so- sok tubuh bertelanjang dada. Di belakang sosok Gento terdengar suara ledakan berdentum. Pohon hancur porak poranda dikobari api. Gento yang kemudian jejakkan kaki tak jauh dari nenek Pala- sik dan Pelangi jadi leletkan lidah. Jika dia tidak cepat menghindari tadi mungkin dirinya saat ini telah menjadi mayat hangus.

Sang dara sendiri begitu melihat Gento te- gak di depannya meski sebelumnya sudah mendu- ga tetap terkejut. Dia merasa senang bisa bertemu dengan sang pendekar, namun jauh di dalam hati merasa malu bila ingat pembicaraan dirinya den- gan sang guru. Dia yakin Pendekar Sakti 71 pasti mendengar semua yang mereka bicarakan. Dengan muka merah padam Pelangi palingkan wajahnya ke jurusan lain.

Sementara itu nenek Palasik kini meman- dang ke arah Gento, memperhatikan dengan teliti dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. "Ram- butnya gondrong, lagak cengar cengir seperti orang edan tidak memakai baju, hemm." Gumam si ne- nek, lalu ajukan pertanyaan ditujukan pada mu- ridnya. "Apakah pemuda gelo ini yang telah meron- tokkan hati dan jiwamu, Pelangi?"

Malu-malu sambil tundukkan wajahnya sang dara menganggukkan kepala.

"Dia muridnya kakek aneh Gentong Keta- wa!" menerangkan Pelangi juga masih dengan tun- dukkan wajahnya.

Mendengar muridnya menyebut Gentong Ketawa si nenek berjingkrak kaget. Seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri si nenek membuka mulut. "Coba katakan lagi bocah ini murid siapa?"

"Murid kakek Gentong Ketawa."

Si nenek tiba-tiba dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak. "Gentong ketawa...hik hik hik! Jadi gondrong kutu kupret ini muridnya Gen- tong Ketawa? Sejak dulu aku selalu meragukan kewarasan kakak pendengkur itu. Keraguanku ternyata terbukti. Kini dia menularkan penyakit gi- lanya pada sang murid." dengus nenek Palasik.

Baik Gento maupun Pelangi sama terkejut tak menyangka nenek itu kenal dengan kakek Gentong Ketawa.

Dengan sikap acuh si nenek lalu berkata. "Monyet gondrong kau tentu sudah mendengar semua pembicaraan kami. Sekarang aku ingin ber- tanya apakah kau mengenal gadis yang ada di sampingku ini?" tanya nenek Palasik sambil mena- tap tajam pada Gento.

Sang pendekar tersenyum, matanya sengaja dikedap-kedipkan, setelah itu dengan mengguna- kan jemari tangan Gento membembengkan ma- tanya atas bawah baru kemudian manggut- manggut.

"Ohh...aku kenal. Ternyata aku memang mengenalnya. Cuma dia, sedangkan dirimu biar mata ini kubembeng sepuluh kali pasti tidak ku- kenali. Lagipula siapa sudi mengenal nenek tak kenal ujud sepertimu. Muka rusak, hidung lenyap, gigi runcing lidah terjulur. Ibarat pemandangan di- rimu itu tidak sedap dipandang! Ha ha ha!"

Mendengar ucapan Gento yang menjengkel- kan gusarlah si nenek dibuatnya. Tetapi dia beru- saha mengurut dada menabahkan hati. Dia sadar pemuda itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa di samping tentunya kesaktian yang sangat tinggi. Karena itu nenek Palasik me- langkah maju dua tindak. Dengan perlahan dia berkata. "Aku sudah mengenal gurumu, jadi kau tidak perlu lagi menerangkan siapa dirimu. Seka- rang katakan padaku apakah kau mengenal dan mencintai muridku?"

"Ah, disinilah letak pangkal persoalan. Ka- lau kau tanya apakah aku kenal dengan muridmu, terus terang aku mengenalnya. Tapi masalah cinta mana bisa kujawab!" tegas Gento.

"Aku hanya menginginkan jawaban antara iya dan tidak!" tegas si nenek pula.

"Ah nek jangan mendesakku. Terus terang aku menyukai pemandangan yang bagus-bagus dan yang indah. Kalau aku suka bukan berarti aku cinta!"

"Bocah kunyuk sialan. Kau mengira perem- puan itu ibarat pemandangan, selagi bagus kau pandangi terus, kemudian setelah bosan langsung kau tinggalkan? Kurang ajar! Segala kegilaanmu ternyata tidak berbeda jauh dengan gurumu. Le- kas kau jawab ya atau tidak?" desak si nenek.

Gento jadi salah tingkah. Sebaliknya Mutia- ra Pelangi merasa semakin tidak enak hati.

Beberapa saat sang pendekar terdiam. Dia melirik ke arah Pelangi, gadis itu malah palingkan wajahnya ke arah lain. Gento merasa serba salah, namun sang pendekar segera membulatkan hati dengan berkata. "Nek, terus terang aku menyukai muridmu, tapi aku tidak men !"

Ucapan Gento langsung dipotong oleh ne- nek Palasik. "Bocah edan, berani mampus kau menipuku?" damprat si nenek. Cepat dia men- gangkat tangannya siap melepaskan pukulan me- matikan. Tapi pada saat itu Pelangi melompat menghalangi niat keji gurunya.

Lalu dengan getir dia berkata. "Guru, kau hendak membunuh orang yang tidak bersalah? Se- jak pertama aku sudah mengatakan, kau tidak bo- leh ikut campur dalam segala urusanku. Dan kini akibatnya kau tahu sendiri. Campur tanganmu sama sekali tidak membawa pada suatu penyele- saian sebaliknya malah menjadi sesuatu yang amat memalukan bagi diriku." kata sang dara den- gan suara parau.

"Kau gadis tolol yang selalu mengalah. Aku membelamu untuk menemukan titik terang, seba- liknya kau malah menyalahkan diriku!" damprat si nenek kesal.

"Kita hidup pada jaman yang berbeda guru. Segala sesuatu tidak dapat lagi dipaksakan. Su- dahlah, daripada aku menanggung rasa malu lebih lama, sekarang juga aku mohon pamit." selesai berkata begitu Mutiara Pelangi balikkan badan siap meninggalkan tempat itu.

Melihat hal ini Gento cepat berkata, "Pelangi kita harus membicarakan kesalah pahaman yang terjadi antara kita!" Gento kemudian melangkah maju.

Tapi Pelangi gelengkan kepala. "Tidak perlu lagi Gento. Tak ada gunanya kita bicara. Perlu kau ketahui, semula aku ingin merahasiakan semua isi hatiku. Bahkan aku tak bermaksud mencarimu. Tapi nenek itulah yang memaksa!"

Habis berkata begitu sang dara pun dengan hati terluka berkelebat meninggalkan gurunya dan sang pendekar. Nenek Palasik mencoba mencegah sambil berteriak. "Pelangi jangan pergi dulu!"

Sia-sia saja si nenek berteriak karena sang dara telah berkelebat lenyap meninggalkan dirinya. Setelah Pelangi berlalu beberapa saat kehe- ningan menyelimuti tempat itu. Gento sendiri me- rasa serba salah. Ingin dia cepat berlalu, tapi mu- rid kakek gendut Gentong Ketawa takut si nenek tersinggung.

Selagi sang pendekar berada dalam keragu- raguan tiba-tiba saja nenek Palasik membalikkan badan sambil memandang pada Gento dengan ma- ta melotot, sementara wajahnya yang hancur men- gerikan nampak tegang luar biasa.

"Pemuda sinting berani sekali kau mem- permainkan muridku?" teriak si nenek sengit.

Mendapat makian begitu rupa meskipun kesal Gento masih dapat menahan diri. Dengan suara perlahan dia berkata. "Nek... siapa yang be- rani mempermainkan muridmu, apalagi dia per- nah menyelamatkan nyawaku. Semua ini hanya kesalah pahaman saja!"

"Kalau sadar pernah ditolong, kalau kau sa- dar pernah diselamatkan, mengapa sekarang kau lukai perasaannya?"

"Nah...nah...kau salah lagi nek. Muridmu terlalu mengikuti perasaannya sendiri." ujar Gento. Gusarlah si nenek mendengar ucapan sang pendekar. Dengan suara lantang perempuan tua itu berkata. "Apapun pendapatmu kau harus min-

ta maaf pada muridku."

"Bukankah aku sudah melakukannya tadi?" Sepasang alis mata si nenek berkerut tajam. Nenek Palasik terdiam cukup lama. Dia berfikir ti- dak ada gunanya berdebat dengan Gento. Karena itu dengan geram dia berkata. "Rupanya kita harus menyelesaikan segala persoalan ini dengan jalan

kekerasan!" kerja. Gento tersenyum, otak cerdiknya cepat be-

Dengan serius sang pendekar kemudian be- rucap. "Apa yang kau ucapkan itu apakah berarti perkelahian hidup dan mati di antara kita?"

"Tepat!" sahut si nenek tegas. "Tantanganmu itu mengerikan sekali nek.

Aku sendiri takut mati sebab kalau kuhitung anta- ra dosa dan pahalaku tentu masih banyakan do- sa." ujar Gento sambil mengusap-usap wajahnya.

"Kamu takut menghadapi tua bangka seper- tiku?" tanya nenek Palasik disertai tawa mengejek.

"Nek, mungkin kau mempunyai ilmu hebat. Tapi terus terang selama hidup aku tidak pernah takut kepada siapapun terkecuali pada Gusti Al- lah. Jika kau menghendaki ada kematian di antara kita, bagiku tidak jadi soal. Asal kau mau meme- nuhi permintaanku"

"Apa permintaanmu?" potong si nenek ce-

pat.

"Syaratku begini. Jika aku kalah aku mau

memenuhi permintaanmu."

"Apakah termasuk menjadi pendamping hi- dup muridku?"

Pertanyaan itu membuat Gento menjadi ra- gu, namun dia sadar harus mengambil keputusan yang cepat. Sehingga dia menganggukkan kepala.

Si nenek menarik nafas lega, malah orang tua itu sempat mengulum senyum. Dalam hati dia berkata. "Dulu ketika aku bentrok dengan gendut gila guru bocah ini aku sanggup mengatasi hampir semua ilmu pukulannya. Masa' sekarang aku bisa dikalahkan oleh bocah miring bau kencur ini? Ku- rasa dalam tiga gebrakan aku sudah bisa mem- buatnya bertekuk lutut!"

Yakin dengan kemampuannya sendiri den- gan tegas si nenek berkata. "Jika ternyata aku yang kalah?" tanya si nenek.

Lagi-lagi sang pendekar tertawa. Begitu ta- wanya lenyap Pendekar Sakti 71 berkata. "Jika kau kalah maka kau harus ikut denganku. Bukan cuma itu saja, kau juga harus membantu aku me- lenyapkan seorang nenek jahat bernama Ni Pam- bayon alias Bayangan Maut!"

Mendengar ucapan Gento, nenek Palasik berjingkrak kaget. Ni Pambayon alias Bayangan Maut kalau dia tidak salah mengingat adalah mu- suh besar Angin Pesut. Lalu apa hubungannya pemuda ini dengan Angin Pesut. Bekas tokoh sesat yang beberapa hari lalu mempecundangi dirinya?

Merasa curiga nenek Palasik bertanya. "Apakah yang kau minta ini ada hubungannya dengan Angin Pesut?"

"Betul nek. Bagaimana kau bisa tahu?" "Cuah, Angin Pesut adalah bangsat yang te-

lah membunuh suamiku. Buat apa kau membela manusia durjana itu?" tanya si nenek lagi sambil semburkan ludah.

"Dulu Angin Pesut memang manusia jahat. Setelah dia kehilangan anak satu-satunya dia me- nyadari segala kekeliruannya. Dia benar-benar te- lah bertobat. Jika Tuhan mengampuni dosa ham- banya selagi dirinya mau bertobat, sebagai manu- sia mengapa kita begitu sombong tidak mau me- maafkan dosa kesalahan orang?"

"Aku bukan Gusti Allah!" dengus si nenek

ketus.

"Siapa mengatakan dirimu Tuhan nek. Cu-

ma sebagai manusia bukankah kau punya hati nurani, punya perasaan dan akal? Aku tidak me- maksa, kalau kau tidak mau aku membatalkan tawaranmu!" ujar Gento. Sang pendekar kemudian memutar tubuh siap meninggalkan si nenek.

Nenek Palasik jadi serba salah. Bagaimana pun juga perasaannya begitu berat menerima ta- waran Gento karena orang yang akan dia bantu adalah musuh besar pembunuh suaminya. Dia sendiri seperti yang telah dituturkan pada episode sebelumnya telah berusaha membalaskan kema- tian sang suami. Tapi di luar dugaan Angin Pesut dapat mengalahkannya. Kenyataan itu merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan. Sebagai orang yang dikalahkan apakah dia masih punya muka bertemu dengan Angin Pesut?

"Tunggu!" seru nenek Palasik setelah seje- nak sempat bergulat dengan fikirannya sendiri. "Kuterima tantanganmu bocah sinting. Tapi ingat tua bangka yang tegak di belakangmu ini tidak pernah memakai peraturan dalam perkelahian ini. Jika nasibmu masih bagus, mungkin kau bisa lo- los dari kematian. Tapi jika takdir matimu memang ada di tanganku, jangan salahkan aku!"

Bersamaan dengan ucapannya itu dengan kecepatan yang sulit diikuti kasat mata tangan si nenek melesat ke arah Gento. Lima jari tangan menyambar bahu Gento. Sang pendekar terkesiap ketika merasakan ada hawa dingin menghujam ke bagian bahu. Ce- pat dia miringkan kepala sambil meliukkan tu- buhnya, sementara tanpa menoleh dia kibaskan tangannya ke belakang menangkis serangan si ne- nek.

Plak! Breet!

Benturan yang keras membuat nenek Pala- sik terhuyung, tapi salah satu kukunya masih sempat menggores lengan Gento.

Murid kakek Gentong Ketawa segera balik- kan badan, lengannya terasa perih dan mengucur- kan darah.

Si nenek diam-diam menjadi kaget tak me- nyangka lawan ternyata memiliki tingkat tenaga dalam yang tinggi, lebih terkejut lagi serangannya dapat dihindari Gento.

Nenek Palasik mengerung dahsyat. Laksana kilat tubuhnya melesat ke arah Gento sambil lan- carkan serangkaian serangan yang sangat cepat luar biasa. Dalam waktu singkat sosok nenek Pa- lasik tidak ubahnya seperti bayangan maut yang menyambar dari segala penjuru. Setiap serangan- nya pasti tertuju ke arah bagian-bagian tubuh yang sangat mematikan. Biarpun Gento saat itu telah menggunakan serangkaian jurus Belalang Mabuk warisan kakek Gentong Ketawa, tapi apa yang dilakukannya tidak sanggup mengatasi se- rangan si nenek. Tak ayal lagi sang pendekar ter- desak hebat. Pada suatu kesempatan lawan julur- kan tangannya menghantam wajah Gento. Pemuda itu menarik kepala ke belakang. Tapi sang pende- kar terkecoh. Begitu kepala ditarik mundur, tan- gan kiri si nenek menghantam ke arah dada. Gento memang masih sempat melihat gerakan tangan ki- ri nenek itu, tapi tidak sempat lagi menghinda- rinya.

Buuk!

Hantaman yang keras membuat Pendekar Sakti 71 jatuh terbanting. Dadanya seperti ambrol, nafas megap-megap, sedangkan dari mulut me- nyemburkan darah segar.

"Aku sudah mengatakan dalam perkelahian ini aku tidak memakai aturan. Kau salah besar ji- ka menganggap aku bertindak setengah-setengah dalam menyerangmu!" dengus si nenek sambil berdiri tegak siap melancarkan serangan kembali.

Gento menyeringai, biarpun sang pendekar menderita sakit hebat pada bagian dadanya na- mun masih sempatnya Gento bergurau. "Orang tua, jika baru bisa mengeluarkan kecap asin dari mulutku kau jangan bangga dulu. Bagiku semua itu masih belum ada artinya! Ha ha ha!" Kagetlah si nenek mendengar ucapan Gento.

"Bocah ini agaknya memang gila beneran. Dia bersikap seolah tak merasakan apa-apa. Mungkin dia mengharapkan aku benar-benar mengirimnya ke neraka!" batin orang tua itu ge- ram.

Karena memang menginginkan satu keme- nangan mutlak terhadap perkelahian yang terjadi. Tanpa menunggu lama, selagi Gento baru saja berdiri tegak si nenek kini melakukan serangan kedua. Kali ini dia mempergunakan kedua kakinya yang mirip tapak kuda namun berujung runcing seperti tombak. Gento Guyon terpaksa mengerah- kan segenap ilmu kepandaian yang dia miliki. Dengan mengandalkan Jurus 'Dewa Menari di Atas Awan' pemuda itu mencoba menangkis serangan berbahaya nenek itu. Kenyataan yang terjadi ter- nyata di luar perhitungan Gento. Sehebat apapun dia mencoba menangkis atau membuat mentah se- rangan nenek Palasik. Kenyataannya sang pende- kar tetap terdesak. Malah serangan balasan yang dilakukan Gento dengan mudah dapat ditepis la- wan. Gento merasa mati kutu, sementara serangan si nenek makin berbahaya dan tambah ganas. Gento melompat mundur, merasa tak punya pili- han lain dia melepas pukulan 'Iblis Ketawa Dewa Menangis' dan pukulan 'Dewa Awan Mengejar Ib- lis'. Berturut-turut dari telapak tangan sang pen- dekar menderu angin berhawa panas dan dingin disertai melesatnya sinar merah dan biru meng- hantam tubuh si nenek.

Melihat angin kencang menghantam dirinya si nenek malah merentangkan kedua tangan ke atas seolah bersikap pasrah dihantam pukulan sambil mengumbar tawa. "Hanya pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis dan Iblis Tertawa Dewa Me- nangis, siapa takut ?" Bersamaan dengan ucapan mencemo'oh si nenek saat itu pula tubuhnya tergi- las habis dihantam sinar dan gelombang angin yang melesat dari tangan pendekar sakti 71.

Blam! Blam!

Dua ledakan berturut-turut mengguncang tempat itu. Di depan sana satu lubang besar men- ganga mengepulkan asap tebal berwarna kelabu. Namun si nenek lenyap. Gento terkejut besar. Ke- jutan pertama dia tak menyangka lawan mengenali dua pukulan yang dilepaskannya sedangkan keju- tan kedua si nenek yang dihantam pukulannya ti- ba-tiba raib, padahal jelas pukulan tadi melibas di- rinya.

Selagi Gento dilanda keheranan dan rasa tak percaya dengan apa yang terjadi dari lubang besar yang menganga hitam melesat satu bayan- gan hitam yang disertai bergemuruhnya suara ta- wa di udara. Di lain waktu di depan Gento, nenek Palasik berdiri tegak sambil berkacak pinggang.

"Jika ilmu gurumu yang kau pergunakan untuk melawanku. Dalam dua jurus di depan di- rimu cuma tinggal nama!" ejek si nenek.

"Ha ha ha! Jika satu jurus di depan kau tak sanggup berlutut di depan kakiku biar aku ber- henti jadi manusia!" sahut Gento pula tanpa ber- maksud menyombongkan diri.

"Hik hik hik! Ingin kulihat kau bisa berbuat apa bocah!" perempuan tua itu mendengus sinis. Cepat dia memutar kedua tangannya siap melan- carkan serangan yang lebih ganas ke arah Gento.

Sadar lawan memiliki kecepatan gerak dan ilmu yang sangat tinggi, maka Gento pun silang- kan kedua tangan di depan dada siap mengerah- kan ilmu andalan warisan Manusia Seribu Tahun berupa ilmu aneh bernama Merintis Bayangan Ra- ga. Begitu sang pendekar merapal mantra aji ilmu andalannya dari bagian ubun-ubun sang pendekar mengepul asap tipis berwarna putih, Asap tersabut kemudian menyelimuti diri Gento.

Melihat keanehan yang terjadi pada Gento si nenek yang siap melancarkan serangan jadi terke- siap. Dengan mata mendelik dia pandangi lawan- nya. Nenek Palasik kemudian terkesima ketika me- lihat di depan sana sosok pemuda gondrong berte- lanjang dada itu telah mengembar menjadi lima orang.

"Kadal buntung ini, bagaimana mungkin tubuhnya bisa berubah banyak seperti itu? Ilmu gila apa yang dia miliki. Ilmu seaneh itu mustahil warisan dari si gendut gila Gentong Ketawa?" desis si nenek. Menyangka apa yang dilihatnya cuma ti- puan saja, Nenek Palasik kedipkan matanya. Sete- lah berkedip ternyata sosok Gento tetap lima orang. Si nenek gelengkan kepala. "Sungguh tak bisa kupercaya!" batinnya lagi dalam hati.

Selagi nenek Palasik terkesima melihat ke- nyataan itu sosok Gento dan kembarannya berge- rak cepat mengepung si nenek lalu lima mulut membuka serentak.

"Hantam...!" Kelima sosok Gento berteriak, bersamaan itu pula lima sosok bertelanjang dada melakukan gebrakan menghujani nenek Palasik dari segala penjuru dengan serangan-serangan ga- nas.

Melihat serangan datang dari seluruh pen- juru itu si nenek tidak tinggal diam. Dua tangan- nya menghantam kian kemari, tadangkan kakinya melepaskan tendangan berputar. Setiap tendangan yang dilepaskannya pasti mengenai sasaran. Teta- pi anehnya biarpun tendangan mengenai sasaran, semuanya nampak sia-sia karena tidak satupun dari pukulan dan tendangan itu yang sanggup menjatuhkan Gento dan empat kembarannya.

Nenek Palasik jadi kaget besar dia mencoba menggunakan ilmu 'Menyusup Bumi' untuk menghadapi gempuran yang dilakukan lawan- lawannya. Namun belum lagi sempat merapal mantra-mantra ilmunya. Pada waktu bersamaan dari arah belakang salah satu kembaran sang pendekar menyergap si nenek dari belakang. Si nenek meronta sambil hantamkan sikunya ke be- lakang. Tapi biarpun sodokan sikunya tepat men- genai sasaran rasanya seperti menghantam angin.

Kembali si nenek dibuat kaget, sekali lagi dia meronta. Sayang pada waktu yang sama pula empat kembaran Gento yang lain secara beramai- ramai mengangkat dan membanting si nenek di atas tanah.

Wuut! Ngeek! Blegkh!

Nenek Palasik merasakan sekujur tubuhnya remuk, sedangkan perabotan miliknya baik yang di luar maupun yang di dalam seakan rontok. Selagi si nenek mengerang kesakitan, satu sosok berpu- tar cepat memperlakukan diri sedemikian rupa hingga membuat posisinya seperti orang bersujud. Sementara itu begitu sosok lima kembaran Gento silangkan tangannya kembali ke depan dada. Se- rentak lima mulut komat-kamit membaca mantra. Secara perlahan satu demi satu sosok Gento kem- baran berubah menjadi asap. Asap itu melesat ke bagian ubun-ubun lalu lenyap. Lenyapnya keem- pat kembaran sang pendekar membuat pemuda itu kembali seperti sediakala.

Sementara nenek Palasik yang posisinya se- perti orang sujud mengerang lirih. Dengan pan- dangan nanar dia duduk berlutut, ketika dia men- gangkat wajahnya pandangan si nenek membentur sosok Gento yang berdiri tegak selangkah di de- pannya.

"Bocah... ternyata kehebatanmu di luar perhitunganku. Semula aku duga dengan mudah dapat menjatuhkan dirimu." kata si nenek sambil menyeka darah yang menetes di bibirnya.

"Apakah sekarang kau mengakui kekala- hanmu?" tanya si pemuda.

"Sebenarnya aku belum kalah. Tapi karena kau memiliki ilmu setan aku terpaksa mengaku kalah. Aku tidak malu mengakui sebelumnya tak pernah melihat ilmu seaneh itu. Kalau boleh aku tahu, siapa yang telah mengajarkan ilmu itu pa- damu?"

"Aku tidak bisa mengatakannya padamu nek. Yang jelas sekarang kau harus ikut dengan- ku. Kita akan ke Wonosari karena di tempat itulah kemungkinan bagi kita bisa menemukan Angin Pe- sut!"

Si nenek keluarkan suara menggerendeng. Biarpun begitu dia tetap bangkit berdiri. "Kau yang memenangkan perkelahian. Sekarang kau jalan di depan" Gento Guyon tertawa.

"Nek...menang atau kalah itu bukan sesua- tu yang membanggakan bagiku. Jika aku yang berjalan di depan, siapa berani menjamin kau tak bakal menghantamku dari belakang!" kata Gento.

"Bocah keparat! Aku boleh mempunyai rupa yang buruk, namun hatiku tak seburuk wajahku!" damprat si nenek kesal.

"Kalau kau bicara begitu barulah aku per- caya!" Selesai berkata Gento berkelebat tinggalkan tempat itu sedangkan nenek Palasik mengikutinya tak jauh di belakang.

3

Matahari belum lagi menampakkan diri di ufuk sebelah timur. Udara di pinggir sungai itu te- rasa dingin menusuk sedangkan suasana masih disaput kegelapan. Dalam keremangan suasana terdengar suara erangan tak berkeputusan. Dan ternyata suara erangan itu berasal dari salah satu cabang pohon dimana tergantung sosok tubuh seorang kakak berambut dan beralis merah. Kea- daan kakek itu memang sangat mengenaskan. Pa- kaian hitam yang melekat di tubuhnya hancur ter- cabik-cabik. Sedangkan tubuh kakek itu sendiri dipenuhi luka mengerikan akibat cambukan rotan berduri. Sementara darah mengucur dari setiap luka yang ada di tubuhnya.

Di tempat itu ternyata si kakek tidak sendiri karena tidak jauh dari pohon tempat di mana di- rinya tergantung dengan posisi kaki menghadap ke atas dan kepala menghadap ke bawah. Tampak pula seorang gadis cantik berpakaian serba merah. Di bagian pinggang gadis itu tergantung sebilah pedang. Bagian rangka padang terbilang unik ka- rena rangka itu tidak terbuat dari kayu atau besi sebagaimana mestinya melainkan berasal dari po- tongan tangan manusia. Sedangkan di tangan sang dara tergenggam sebatang rotan berduri. Agaknya benda itulah yang dipergunakan gadis berpakaian serba merah ini untuk menyiksa si ka- kek.

Sejak tadi si gadis tidak henti-hentinya me- mandang ke arah si kakek. Agaknya ia merasa he- ran melihat daya tahan yang dimiliki oleh kakek itu. Dan kini setelah sekian lama ia memperhati- kan si kakek dengan tatapan dingin. Akhirnya dia membuka mulut berkata. "Angin Pesut, ternyata selama ini nama besarmu hanya kosong belaka. Gelar Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan di de- panku tidak ada artinya sama sekali. Dulu guruku pernah mengatakan bila bagian tubuhmu terpo- tong dengan cepat bersambung kembali. Satu dari dua yang dikatakan guruku telah kulakukan. Dan kini tinggal satu lagi untuk menguji kebenaran ce- rita itu. Aku sebenarnya sangat ingin memotong tanganmu atau membuntungi kakimu supaya da- pat kulihat apakah anggota tubuhmu yang telah tercerai berai dapat menyambung kembali. Tapi kuanggap hal itu kurang sedap jika tidak kulaku- kan di depan guruku!" ujar si gadis yang adalah Indah Sari ini dengan suara ketus.

Kakek yang tergantung dan dalam keadaan terluka cukup parah itu mengerang. Bibirnya yang bengkak membiru itu berkata, "Indah Sari, segala yang dikatakan gurumu bukan suatu kebohongan. Terkecuali niatnya mengelabui dirimu selama ini. Aku tidak mau melakukan apa yang bisa kulaku- kan karena aku tahu kau adalah putriku, anakku yang hilang!"

"Cukup!" hardik Indah Sari. "Sekali lagi kau mengaku-ngaku aku sebagai anakmu aku pasti membunuhmu! Ketahuilah kedua orang tuaku te- lah lama mati, bahkan mereka mampus sejak aku masih kecil!" dengus sang dara dengan muka me- rah padam menahan kegeraman.

"Kalau itu katamu, aku tidak memaksa. Sa- tu hal yang patut kau ketahui andai aku mau membunuhmu bagiku hanya pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Biarpun tubuhmu mengandung racun hal itu tidaklah begitu berarti bagiku!" kata Angin Pesut.

Mendengar ucapan si kakek mendidihlah darah gadis ini. Sungguh dia tidak habis mengerti mengapa Angin Pesut yang sudah tidak berdaya masih saja bisa bicara sombong. Padahal kini dia sudah tak sanggup melakukan tindakan sekecil apapun.

"Angin Pesut, tua bangka keparat! Benarkah kau dapat membunuhku? Hik hik hik!" Indah Sari tertawa dingin. Dengan tatapan sinis dia melan- jutkan ucapannya. "Mulutmu memang kelewat ta- kabur kakek keparat. Jika aku tidak ingat dengan pesan guruku, pasti saat ini aku telah membu- nuhmu!" geram sang dara. Kemudian tanpa berka- ta apa-apa lagi gadis itu segera melecutkan rotan panjang yang dipegangnya sejak tadi. Begitu rotan melibat pinggang si kakek sang dara langsung me- nyentakkan tubuh Angin Pesut.

Dheel!

Masih dalam keadaan terikat Angin Pesut jatuh berdebum. Orang tua itu mengeluh. Indah Sari tertawa tergelak-gelak. Tak berselang lama se- perti orang kesetanan segera menyeret tubuh si kakek. Karena gadis itu mengerahkan ilmu lari ce- patnya, tak ayal lagi tubuh Angin Pesut yang telah terluka itu membentur bebatuan dan batang pe- pohonan. Angin Pesut benar-benar merasakan de- rita hebat akibat perbuatan darah dagingnya sen- diri.

Setelah sekian lama Indah Sari berlari sam- bil menyeret tubuh Angin Pesut yang sudah tidak berdaya tiba-tiba sang dara menghentikan lang- kahnya. Dia palingkan kepala ke belakang, kening Indah Sari berkerut tajam. Dalam hati dia berkata. "Aku merasakan ada orang yang membayangiku. Tapi mengapa orangnya tidak kelihatan?"

Indah Sari menarik nafas, lalu berkata lagi. "Aku tidak perduli. Siapapun yang coba-coba menghalangiku pasti kubunuh!"

Beberapa saat sang dara menunggu, setelah merasa yakin memang tidak ada orang yang men- gikutinya dia pun segera balikkan badan dan siap melanjutkan perjalanan kembali. Tapi alangkah kagetnya gadis ini ketika melihat di depannya sana kini telah berdiri tegak seorang kakek tua beram- but kaku. Kakek itu berpakaian serba hitam ber- badan tegak, sedangkan kepalanya  selalu dige- lengkan tak mau diam.

"Kakek keparat ini siapa dia adanya? Dia muncul begitu saja seperti setan. Sedangkan aku sendiri tidak mengetahuinya. Sungguh menakjub- kan! Aku yang memiliki ilmu begini tinggipun tidak bisa mengetahui kehadirannya!" fikir Indah Sari. Namun rasa herannya cuma berlangsung sekejap. Dia yang sejak kecil dididik untuk tidak mengenal rasa takut pada siapapun segera membentak.

"Rambut macam ijuk. Aku tidak punya si- lang sengketa denganmu, cepat menyingkir dari hadapanku!"

Si kakek bukannya menuruti perintah sang dara. Sebaliknya malah dongakkan kepala. Den- gan kepala terus menggeleng tak mau diam seba- gaimana kebiasaannya kakek itu tertawa tergelak- gelak.

Tak berselang lama begitu tawanya lenyap si Kakek memandang lurus ke arah Indah Sari. Dengan ketus dia berkata, "Aku Tapa Gedek tak pernah patuh pada perintah raja apalagi perintah rakyat jelata dan anak durhaka sepertimu. Ha ha ha!"

Mendengar ucapan si kakek Indah Sari jadi belalakkan matanya. Dia heran bagaimana kakek rambut kaku itu bisa mengatakan dirinya anak Angin Pesut. Bahkan menuduh dia sebagai anak yang durhaka? Agaknya yang tegak di depan sana itu adalah sahabat Angin Pesut. Karena merasa curiga Indah Sari kemudian ajukan pertanyaan. "Kakek gila kau ini siapa? Ada hubungan apa kau dengan Angin Pesut?" Sebelum menjawab pertanyaan orang kem- bali si kakek mengumbar tawa. "Kau adalah seo- rang gadis yang cantik. Namun sayangnya tuli. Aku sudah mengatakan namaku Tapa Gedek. Hu- bunganku dengan kakek hebat namun berlaku to- lol itu seperti minyak dengan air. Yang jelas dia bukan sanak bukan kadangku." jawab si kakek.

"Kalau bukan apa-apamu mengapa kau membelanya?" hardik Indah Sari jengkel.

Tapa Gedek mengulum senyum. "Angin Pe- sut sudah kesohor tentang segala kejahatan dan rasa penyesalannya. Siapapun tahu kisah getirnya akibat kehilangan anak. Dia telah mengatakan se- galanya kepadamu. Mengapa kau masih tidak per- caya?"

Sang dara terdiam, wajahnya merah padam. Jelas sekali saat itu dia sudah tidak dapat lagi me- nahan kemarahannya. Kakek itu mengetahui se- mua pembicaraan antara dirinya dengan Angin Pe- sut jelas ini merupakan pertanda si kakek telah berada di sekitar sungai sejak lama.

"Tua bangka bermulut usil, kau sudah ter- lalu jauh mencampuri segala urusanku. Kurasa aku harus membungkam mulutmu!"

Tapa Gedek mengguman tidak jelas. Semen- tara itu Angin Pesut yang sempat memperhatikan kakek itu dengan matanya yang bengkak lebam dengan suara perlahan namun jelas segera berka- ta. "Orang tua, siapapun dirimu harap jangan campuri urusan kami. Persoalan diantara kami adalah masalah yang sangat pribadi. Tak boleh ada orang luar yang ikut campur!" ujar Angin Pe- sut mengingatkan.

"Walah, Angin Pesut. Siapa yang mencam- puri persoalan dalam? Sejak tadi aku dengan gadis itu juga membicarakan urusan luar, tidak sampai ke dalam segala. Aku heran Angin Pesut! Dulu kau adalah manusia jahat yang mudah menurunkan tangan jahat tanpa pandang bulu siapapun la- wanmu. Kejahatanmu selangit tembus. Bahkan kalau di atas langit masih ada langit pasti tembus lagi. Sekarang mengapa hanya menghadapi anak yang durhaka ini kau tidak berdaya? Apakah se- mua ini suatu pertanda ilmu yang kau miliki telah rontok?"

"Aku tidak mungkin jatuhkan tangan keras pada anakku sendiri!" jawab si kakek.

Tapa Gedek kembali mengumbar tawa. "Sampai, dunia kiamat kau mengaku dia sebagai anakmu, bocah itu tak bakal mempercayainya. Ka- rena jiwanya sejak kecil diracuni oleh musuh be- sarmu sendiri! Angin Pesut, bersikap pasrah pada ketentuan takdir itu memang sudah menjadi ke- tentuan manusia. Tapi pasrah seperti yang kau la- kukan ini adalah perbuatan tolol besar! Apakah kau mau menunggu keajaiban dari langit, atau kau sedang menunggu datangnya malaikat maut?" tanya Tapa Gedek disertai seringai mengejek.

Indah Sari sendiri tidak bergeming. Sejak kecil dari gurunya si gadis selalu mendapat gem- blengan agar tidak mempercayai semua ucapan orang terkecuali gurunya sendiri.

Karena itu apapun yang dikatakan baik oleh Angin Pesut maupun Tapa Gedek tentang dirinya dia sudah tidak mau mendengarnya lagi. Sebelum Angin Pesut memberi tanggapan apa-apa atas ucapan Tapa Gedek. Sang dara melangkah maju dua tindak. Dengan suara lantang dia berkata. "Orang tua jika kau tidak menyingkir dari hada- panku, tidak ada pilihan lain aku pasti akan membunuhmu!"

"Ha ha ha! Dengan apa kau membunuhku? Dengan pukulan beracun atau dengan mengguna- kan Pedang Tumbal Perawan?" tanya si kakek.

"Mengapa harus menggunakan pedang? Dengan kedua tanganku ini aku sudah sanggup membungkammu!" tegas sang dara. Baru saja ga- dis ini selesai berucap dengan kecepatan laksana kilat sosoknya melesat ke arah Tapa Gedek. Tan- gan kanan menyambar wajah si kakek sedangkan tangan kiri sang dara meluncur deras ke bagian dada.

Angin yang menyambar dari tangan sang dara menebarkan bau busuk luar biasa pertanda serangan yang dilancarkan lawan mengandung ra- cun jahat. Tapa Gedek langsung menutup jalan pernafasannya. Dia lalu jatuhkan tubuhnya, me- mungut sepotong ranting, lalu bergulingan ke samping. Sambil bergulingan ranting di tangan se- gera dikibaskan ke atas.

Tak! Tak!

Hantaman ranting yang keras mengandung tenaga dalam tinggi membuat tangan Indah Sari tersentak, gadis itu bahkan terhuyung namun ti- dak sampai terjatuh. Hantaman ranting yang di- lancarkan si kakek membuat kedua tangannya un- tuk beberapa ketika seakan menjadi lumpuh, nyeri dan panas luar biasa. Namun semua itu segera le- nyap begitu sang dara salurkan tenaga dalamnya ke bagian tangan.

Belum lagi Indah Sari siap dengan serangan kedua, Tapa Gedek kini balas melancarkan seran- gan yang tidak kalah dahsyatnya. Di tangan si ka- kek ranting itu kini menjadi amat berbahaya.

Tetapi Indah Sari yang memiliki ilmu merin- gankan tubuh serta gerakan cepat yang sudah sangat sempurna itu secara mengagumkan dapat menghindari serangan si kakek. Malah sang dara kemudian melompat tinggi di udara, setelah itu dengan gerakan cepat dia melepaskan tendangan beruntun ke arah bagian kepala Tapa Gedek.

Si kakek menyadari betapa berbahayanya serangan kaki Indah Sari. Jika tendangan sampai menghantam kepala, dapat dipastikan kepalanya hancur. Sebaliknya si kakek juga menyadari jika dia menangkis serangan lawan. Tentu tangannya yang dipergunakan untuk menangkis, pasti tan- gannya keracunan karena sekujur tubuh gadis itu memang mengandung racun jahat. Merasa tidak punya pilihan lain sambil bergerak mundur meng- hindari setiap tendangan lawan, Tapa Gedek mele- paskan pukulan 'Tiga Topan Menggulung Bumi' serta pukulan 'Tanpa Ujud'. Tiga larik sinar biru menderu dari tangan si kakek. Sedangkan dari tangan yang satunya lagi melesat hawa yang amat ganas luar biasa. Indah Sari yang tak pernah me- nyangka lawan melepaskan dua pukulan sekaligus jadi terkesiap. Dia mencoba menarik kedua ka- kinya sekaligus lakukan gerakan jungkir balik un- tuk menyelamatkan diri. Sayang tindakan yang di- lakukan oleh sang dara kalah cepat dibandingkan serangan lawan. Tak ampun lagi kedua pukulan itu menghantam kaki kiri Indah Sari.

Tubuh sang dara jatuh terguling. Kakinya yang terkena pukulan lawan seperti hangus. He- batnya dengan penuh ketabahan dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit yang dialaminya dengan terpincang-pincang indah Sari bangkit berdiri. Sejenak dia pandangi kakinya. Bagian kaki celananya sebelah bawah ternyata hangus, kasut kulit yang dipakainya juga hangus. Sang dara me- nyeringai, sakitnya dirasakannya memang cukup hebat, namun lebih hebat lagi kemarahan yang melanda jiwanya.

"Kakek keparat! Kau telah melakukan suatu kesalahan besar. Aku pasti tak bakal mengampuni jiwamu!" geramnya.

"Ha ha ha! Siapa yang minta ampun pada bocah ingusan sepertimu!" sahut si kakek sinis. Dalam hati dia berkata. "Hari ini aku tidak ubah- nya dengan memakan buah simalakama. Bila ku- serang dia dalam jarak rapat aku khawatir tubuh- nya yang beracun dapat membahayakan jiwaku. Sebaliknya bila aku menjaga jarak sama saja ar- tinya dengan membuka kesempatan bagi dia un- tuk melancarkan serangan-serangan dengan ju- rus-jurus serigalanya! Mungkin sudah saatnya ba- giku untuk menggunakan Ilmu pukulan 'Gelombang Naga'. Dengan begitu dia tak bakal mempunyai kesempatan untuk menggunakan Pe- dang Tumbal Perawan!"

Pada waktu begitu selesai laksana kilat In- dah Sari memutar kedua tangannya di atas kepala. Sepuluh jari berkuku runcing, berwarna hitam mengandung racun itu berkelebat menyambar atau menghantam dari atas ke bawah siap menca- bik-cabik.

Angin Pesut yang melihat jurus-jurus sang dara dalam hati berkata. "Kakek berambut jabrik itu. Kurasa sulit baginya untuk meloloskan diri da- ri serangan Indah Sari. Saat ini bocah itu telah mengerahkan jurus 'Seribu Serigala Menyapa Ke- gelapan'.

Dugaan Angin Pesut memang tidak berlebi- han. Begitu Indah Sari merangsak ke depan, Tapa Gedek langsung bersurut langkah. Gempuran he- bat yang dilakukan lawan membuat si kakek da- lam beberapa gebrakan di depan jadi terdesak he- bat. Malah ketika sang dara mencecar bagian pe- rut Tapa Gedek kakek ini nyaris menjadi korban cakaran lawan. Tapi dengan segala kegesitannya ditambah tempaan pengalaman selama berpuluh- puluh tahun membuat Tapa Gedek dapat melo- loskan diri dari serangan sepuluh kuku lawannya.

Indah Sari mendengus geram. Dia terus me- rangsak maju. Tiga kali tendangan berturut-turut dilepaskannya. Si kakek melompat ke samping. Ti- dak terduga begitu si kakek ini berkelit, sambil mi- ringkan tubuhnya lima jari tangan sang dara ber- kelebat di bagian dada. Serangan tak terduga itu tak dapat dielakkan oleh Tapa Gedek.

Breet! Baju di bagian dada robek besar. Tidak hanya itu saja, kuku lawan sempat menggores ku- lit, tembus ke bagian daging. Bukan cuma darah berwarna merah kehitaman saja yang mengucur, tapi sakitnya juga luar biasa. Tapa Gedek ter- huyung, dia sadar adanya racun ganas yang ter- dapat di dalam lukanya. Karena itu si kakek cepat menotok beberapa nadi besar di sekitar bagian lu- ka untuk mencegah menjalarnya racun ke jan- tung. Selagi Tapa Gedek dibuat sibuk oleh lu- kanya. Pada waktu itu pula Indah Sari yang mera- sa berada di atas angin menerjang kembali sambil melepaskan satu pukulan ke bagian kepala lawan- nya. Cahaya hitam berkiblat menghantam kepala Tapa Gedek di saat lawan hantamkan pukulannya. Si kakek berseru kaget ketika secara tiba-tiba da- patkan dirinya terbungkus sinar pukulan yang di- lepaskan lawan. Akan tetapi dia yang sebelumnya telah siap dengan pukulan 'Gelombang Naga' tidak menjadi gugup. Dua tangan yang mendekap dada segera dihantamkannya ke depan menyambuti pukulan sang dara. Di depan sana Indah Sari jadi tercekat saat merasakan tubuhnya seperti meng- hantam tembok baja. Selain itu sayup-sayup dia seperti mendengar pekikan aneh seperti suara na- ga di tengah-tengah deru gelombang laut yang menggila.

Segala sesuatunya berlangsung cuma dalam sekejapan saja. Begitu dirinya merasa menghan- tam tembok baja, pada saat lain mendadak tubuh- nya seperti dilamun badai topan menggila. Indah Sari menggerung, lalu lipat gandakan tenaga da- lam ke bagian tangan dan kembali menghantam ke arah Tapa Gedek. Tetapi sehebat apapun dia men- coba mendobrak serangan lawan. Tetap saja sang dara tak sanggup bertahan.

Bagaikan pohon kering tubuh sang dara tersapu angin dahsyat berhawa panas dan dingin yang bersumber dari Pukulan Gelombang Naga.

Indah Sari jatuh terpelanting, lalu terguling- guling dan terkapar tak jauh dari tempat Angin Pe- sut tergeletak. Gadis itu jelas menderita cidera di bagian perut dan dada. Sedangkan pakaiannya ro- bek di beberapa bagian. Selagi Angin Pesut terke- sima tak menyangka kakak berambut jabrik memi- liki ilmu pukulan sehebat itu, Indah Sari yang ter- luka dan tak mau mengambil resiko terhadap ke- mungkinan bahaya-bahaya yang lebih besar cepat bangkit berdiri. Kemudian dengan terbungkuk- bungkuk dia menyambar rotan berduri yang diper- gunakannya untuk menyeret Angin Pesut. Setelah itu tanpa menunggu lebih lama Indah Sari berke- lebat tinggalkan lawan sambil menyeret Angin Pe- sut.

"Anak durhaka hendak lari kemana kau?" Tapa Gedek memaki. Dia cepat merogoh saku ce- lananya, mengambil lima butir pil berbentuk bulat berwarna merah. Kelima pil itu langsung ditelan- nya. Beberapa saat setelah menelan obat tersebut Tapa Gedek segera merasakan reaksinya. Bagian dadanya yang terluka terasa panas bagai terbakar. Tapa Gedek mengerang kesakitan. Dia jatuhkan diri, lalu bersila. Tapa Gedek menarik nafas sambil pejamkan matanya. "Aku harus memulihkan kondisi tubuhku dulu. Gadis itu pasti pergi ke Kalimayat. Aku tidak mungkin mengejar dalam keadaan seperti ini. Pal- ing tidak aku membutuhkan waktu sepekan untuk menyembuhkan luka beracun yang kuderita. Huakh... aku hanya bisa berharap semoga ada orang lain yang dapat menyingkirkan manusia- manusia seperti Indah Sari dan gurunya!" batin Tapa Gedek. Habis berkata begitu masih dengan mata terpejam si kakek salurkan tenaga sakti ke bagian lukanya. Dari bagian luka terlihat ada uap tipis kebiruan mengepul keluar. Si kakek mencium bau seperti daging terbakar. Tapi dia tidak perduli, berkali-kali tenaga dalam disalurkan ke bagian lu- ka tersebut.

4

Kemarau yang berkepanjangan membuat Kalimayat kering kerontang. Sejauh mata meman- dang dari arah hulu hingga ke hilir yang terlihat hanya bebatuan sungai dan hamparan pasir me- mutih bagaikan untaian mutiara yang gemerlapan tertimpa cahaya matahari.

Sementara tak jauh di bagian hulu Kali- mayat tepatnya di sebuah gua seorang nenek ber- wajah angker berambut panjang riap-riapan du- duk bersila menghadap ke arah sebuah perapian yang berasal dari sumber api abadi. Sedangkan di atas tungku perapian yang senantiasa mengobar- kan api tersebut tergantung sebuah benda berben- tuk empat persegi, terbuat dari batu tebal. Benda dari batu tersebut bentuk yang sesungguhnya sangat mirip dengan ayunan bayi, cuma ukuran dan panjangnya saja yang lebih besar dan lebih panjang. Sewaktu-waktu ayunan batu tersebut bergerak turun naik memasuki lubang perapian yang bagian dasarnya memiliki kedalaman satu tombak. Anehnya setiap ayunan bata seukuran tinggi orang dewasa itu masuk ke dalam liang ma- ka api yang menyala-nyala yang keluar dari liang perapian seolah-olah menjadi padam. Namun bila ayunan batu bergerak naik ke atas apipun kembali berkobar.

Ke arah liang perapian abadi dan ayunan batu tersebutlah perhatian si nenek tercurah sejak tadi.

Entah berapa lama si nenek tenggelam da- lam lamunannya. Yang jelas kemudian si nenek tersenyum sambil menarik nafas pendek. Sepa- sang mata orang tua itu berkilat tajam ketika dia teringat pada kejadian sekitar dua puluh lima ta- hun yang lalu.

"Saat pembalasan itu kini sudah hampir ti- ba. Iblis jahanam itu harus tahu bagaimana ra- sanya tidur dalam ayunan batu kemudian di pen- dam dalam liang perapian. Liang Pemasung Suk- ma... begitu dulu Angin Pesut memberi nama liang perapian itu. Sekarang dia segera tahu tempat itu bukanlah tempat yang nyaman untuk dijadikan sebagai tempat ketiduran. Hik hik hik!" Setelah berkata begitu, si nenek kembali terdiam. Semen- tara tatapan matanya yang menyorot tajam me- mandang lurus ke arah liang perapian yang dulu pernah membuatnya nyaris celaka.

Dalam keadaan menunggu seperti itu agak- nya menimbulkan rasa bosan bagi si nenek. Pe- rempuan renta ini lalu pejamkan matanya. Tetapi itupun tidak berlangsung lama. Mata setan si ne- nek terbuka kembali begitu pendengarannya yang tajam mendengar suara berkeresekan seperti ben- da yang diseret dan dibawa lari cepat. Suara itu datangnya jelas dari arah gua.

Agaknya biarpun belum tahu siapa orang yang datang ke gua itu, namun dia punya penden- garan yang baik. Terbukti si nenek kemudian nampak sunggingkan seulas senyum kemenangan. "Mudah-mudahan dia. Jika memang dia, berarti usahaku dalam membesarkannya selama ini tidaklah sia-sia. Hik hik hik!" si nenek tertawa

perlahan.

Tawa si nenek kemudian lenyap karena di depan pintu gua kini telah berdiri sosok seorang gadis berpakaian serba merah. Pakaian gadis itu tidak lagi utuh tapi robek di sana sini.

"Guru, aku datang menghadap!" kata si ga- dis setelah jatuhkan diri berlutut di belakang si nenek.

Nenek angker yang dikenal dengan julukan Bayangan Maut sama sekali tidak menoleh. Dia te- tap duduk sebagaimana tadi. Lama si nenek ter- diam, barulah kemudian dia berkata. "Kau telah kembali, tapi apakah tugas yang kuberikan kepa- damu telah kau lakukan dengan semestinya?" "Perintahmu telah kulaksanakan. Malah ji- ka aku tidak ingat dengan pesanmu pasti aku te- lah membunuhnya!" habis berkata begitu Indah Sari sentakkan rotan di tangannya. Laksana kilat sesosok tubuh melesat melewati bagian atas kepa- la sang dara lalu jatuh bergedebukan persis di de- pan si nenek. Sosok yang baru terjatuh itu menge- rang, dia mencoba menggerakkan tangan dan ka- kinya yang terikat, tapi usahanya tidak membawa hasil.

"Ha ha ha ha! Angin Pesut.... akhirnya kau bertekuk lutut di bawah kaki muridku. Sekarang apakah kau masih mengenali diriku?" tanya si ne- nek sambil bangkit berdiri. Setelah itu dia meng- hampiri Angin Pesut. Dengan sikap penuh kesom- bongan diinjaknya dada si kakek. Perlahan Angin Pesut membuka matanya yang bengkak dan lebam membiru. Dengan susah payah dipandanginya pe- rempuan tua itu. Angin Pesut menyeringai.

"Aku tak bakal melupakanmu Ni Pambayon. Bagaimana aku bisa melupakan pembunuh orang tuaku sendiri?" sahut si kakek.

"Bagus! Sekarang kulihat kau tidak berdaya Angin Pesut? Padahal baru muridku yang turun tangan. Hik hik hik!"

"Muridmu. bukankah muridmu itu adalah

anakku? Anak yang kau culik belasan tahun yang lalu?" tanya Angin Pesut.

"Hik hik hik! Aku tidak pernah menculik anakmu." Dengus Ni Pambayon alias Bayangan Maut berbohong. "Kau salah besar jika menyangka Indah Sari adalah anakmu!" tegas si nenek dengan suara keras. Hal ini memang disengaja agar mu- ridnya ikut mendengar segala apa yang di- ucapkannya.

"Ha ha ha! Sepanjang hidup boleh saja kau berdusta Ni Pambayon. Tapi sebagai orang tua aku tak dapat ditipu. Terlebih-lebih setelah melihat no- da tahi lalat di punggung Indah Sari."

"Puah... kau boleh saja menyebut seribu tanda. Cuma perlu kau ketahui ketika aku men- gambilnya sebagai murid, orang tua Indah Sari te- lah meninggal terserang wabah penyakit aneh!" te- gas si nenek.

Meskipun Angin Pesut tahu Indah Sari me- mang anaknya. Namun karena si nenek tetap ngo- tot akhirnya dia berkata. "Baiklah Ni Pambayon. Kurasa cuma Tuhan yang tahu kebenaran dari semua pengakuanmu. Lalu sekarang kau mau apa?" tanya si kakek.

Bayangan Maut tidak menjawab. Perem- puan tua itu kitarkan pandangan matanya ke se- genap penjuru ruangan gua. Barulah setelah itu perhatiannya tertuju ke arah liang tungku pera- pian.

"Puluhan tahun yang lalu kau pernah membawaku ke tempat ini. Kau tahu apa yang kau lakukan pada diriku, Angin Pesut?" tanya si nenek. Angin Pesut diam-diam jadi terkesiap. Tanpa sadar dia menoleh dan menatap ke arah liang perapian dimana pada bagian atasnya tergantung sebuah ayunan batu yang dapat digerakkan turun naik.

"Celaka... perempuan ini pasti berniat men- jebloskan aku ke dalam Liang Pemasung Sukma." batin si kakek. "Harapanku untuk menyadarkan Indah Sari agaknya tinggal harapan. Semua per- juanganku sia-sia, kini paling tidak aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diri!" fi- kir si kakek.

Diam-diam Angin Pesut mengerahkan ajian saktinya untuk melenyapkan luka-luka yang dia derita. Satu perubahan tidak terduga kemudian segera terjadi. Sekujur permukaan kulit si kakek mengepulkan asap tipis. Bayangan Maut kelua- rkan suara kaget ketika melihat bagaimana luka- luka yang terdapat di seluruh tubuh Angin Pesut lenyap. Untuk menjaga segala sesuatu dari ke- mungkinan lolosnya Angin Pesut si nenek segera jentikkan tangannya ke arah tiga bagian tubuh Angin Pesut. Berturut-turut dari ujung jemari tan- gannya si nenek melesat lima larik sinar biru menghantam tubuh Angin Pesut.

Tess! Tess!

Angin Pesut mengeluh tertahan ketika han- taman sinar tersebut membuat sekujur badannya mendadak menjadi kaku tak dapat digerakkan.

"Hik hik hik! Kau boleh sanggup menyem- buhkan luka-lukamu dengan Ilmu setanmu Angin Pesut. Tapi kau tak bakal kubiarkan lolos Liang Pemasung Sukma telah menantimu. Sekarang su- dah waktunya bagimu untuk menerima pembala- san dariku!" dengus si nenek.

Sementara itu di belakang sana di depan mulut gua Indah Sari tentu saja terperangah meli- hat Angin Pesut dapat sembuh dari luka-lukanya secepat itu. "Tak kusangka kakek itu ternyata memang mempunyai ilmu setan. Kulihat luka di tubuhnya bertaut kembali. Mengapa proses pe- nyembuhan itu tidak dilakukannya ketika aku me- lakukan berbagai penyiksaan?" fikir Indah Sari. "Apakah mungkin dia memang ayahku? Ah...tidak, aku tidak pernah memiliki ayah sejahat itu!"

Dalam kesempatan itu Angin Pesut berkata. "Ni Pambayon, rupanya hukuman pendam di da- lam liang perapian selama bertahun-tahun tidak juga menyadarkan dirimu. Tidak hanya itu saja kau kemudian melakukan perbuatan salah kaprah dengan meracuni jiwa seorang anak yang tidak berdosa!"

"Kau tidak usah membual Angin Pesut. Kau juga tak perlu mempengaruhi muridku dengan mengaku sebagai ayahnya. Sekarang meskipun kau sanggup menyembuhkan luka-lukamu, kau tak bakal lolos dari Liang Pemasung Sukma." den- gus Bayangan maut. Begitu selesai berucap si ne- nek berpaling ke arah muridnya. Setelah itu dia berkata. "Indah Sari. Cepat bantu aku memasuk- kan bangsat terkutuk itu ke dalam ayunan batu. Biar dia rasakan betapa pedihnya dipendam di da- lam Liang Pemasung Sukma!"

"Guru... demi baktiku kepadamu, apapun pasti kulakukan! Sekarang muridmu ini siap me- lakukan perintah!" sahut Indah Sari. Dengan cepat gadis itu menghampiri Angin Pesut. Kemudian dia berdiri tegak di depan si kakek. Sekilas dia mena- tap ke arah Angin Pesut, namun ketika si kakek menatapnya dengan sorot mata penuh rasa belas kasih sang dara cepat palingkan kepala dan me- mandang ke jurusan lain.

Sementara itu tanpa menunggu lebih lama lagi Bayangan Maut segera menekan salah satu tonjolan batu yang berfungsi sebagai alat untuk menggerakkan ayunan.

Begitu tombol batu diinjak terdengarlah su- ara bergemuruh dahsyat tidak ubahnya sedang terjadi gempa hebat. Ayunan batu yang tergantung di atas liang perapian bergerak turun dan jatuh di samping lubang menganga tersebut.

"Angin Pesut. Jika dulu kobaran api di Liang Pemasung Sukma tidak bisa menghan- guskan tubuhku. Maka kini yang terjadi adalah sebaliknya. Aku telah memasukkan suatu cairan yang membuat Liang Pemasung Sukma menjadi panas berlipat ganda. Jangankan hanya tubuh manusia, besi sekalipun bisa meleleh. Hik hik hik!" "Perempuan keparat! Manusia keji durjana pembunuh orang tuaku. Dosamu tak bakal kuam- puni. Tidak hanya itu saja aku pasti akan mem- bunuhmu!" teriak Angin Pesut dan untuk pertama kalinya setelah dirinya bertobat kini si kakek telah

kehilangan kesabarannya.

"Tua bangka keparat! Berani kau mengan- cam guruku, terimalah tendanganku!" habis ber- kata begitu Indah Sari melepaskan satu tendangan ke bagian perut Angin Pesut.

Buuk!

Si Kakek meskipun telah melindungi tu- buhnya dengan pengerahan tenaga dalam tetap sa- ja merasakan suatu derita sakit yang luar biasa.

"Anak durhaka yang melupakan asal usul, jika kau tidak dapat menggunakan otakmu untuk membedakan mana yang benar dan mana yang sa- lah. Aku bersumpah atas nama Gusti Allah umurmu pasti tak bakal lama!" rutuk si kakek.

Tapi tak kalah sengitnya Indah Sari menja- wab. "Aku tidak punya orang tua sepertimu. Kau sudah menjadi penyebab biang kesengsaraan gu- ruku, karena itu sekarang sudah selayaknya kau menerima balasan dari semua perbuatanmu!" Se- telah bicara begitu sang dara berpaling dan me- mandang ke arah Bayangan Maut sambil berkata. "Guru... aku sudah tidak sabar untuk memasuk- kannya ke dalam ayunan batu."

"Hik hik hik! Kau benar muridku, sekarang gurumu ini telah gatal tangan untuk melakukan tugas. Mari kita angkat dia!" tegas si nenek. Tanpa menunggu lebih lama murid dan guru itu segera menggotong Angin Pesut. Begitu si kakek dima- sukkan ke dalam ayunan maut tersebut dia mera- sakan sekujur tubuhnya panas bukan main seper- ti dipanggang.

"Celaka...! Satu-satunya untuk mengatasi ajian panas di dalam liang itu hanya dengan men- gerahkan ajian Selimut Es. Tapi seberapa lama aku bisa bertahan. Saat ini aku bukan saja dalam keadaan terikat tapi juga tertotok. Bagaimana pun aku harus berusaha membebaskan diri. Anakku sudah tidak dapat lagi diharapkan kesadarannya. Biarpun begitu aku harus mencari kesempatan untuk meloloskan diri!" batin si kakek.

"Angin Pesut, sekarang kau rasakanlah be- tapa nyamannya berada di dalam pendaman Liang Pemasung Sukma. Sekejap lagi kau akan menjadi daging panggang hangus yang tidak berguna! Hik hik hik!" Selesai berucap si nenek dan muridnya segera tinggalkan Angin Pesut. Dia kemudian me- nekan tonjolan batu yang berfungsi sebagai niat penggerak ayunan batu. Kemudian tombol batu di- tekan maka ayunan batu terangkat naik setelah posisinya tepat berada di mulut perapian abadi yang dikenal dengan nama Liang Pemasung Suk- ma itu. Ayunan batu itupun dengan cepat bergerak turun memasuki liang perapian. Kobaran api men- dadak lenyap, sebaliknya api kini membakar ayu- nan batu dimana Angin Pesut terbaring.

Panas luar biasa yang membakar bagian bawah ayunan batu dalam waktu sekejap menjalar kemana-mana. Angin Pesut meraung dan menjerit kesakitan.

Dalam waktu sekejap seiring dengan le- nyapnya ayunan batu dari pandangan mata seku- jur tubuh Angin Pesut basah bersimbah keringat. Tapi biarpun derita siksa sedemikian hebat si ka- kek masih dapat menggunakan otak cerdiknya. Diam-diam dia kerahkan ilmu ajian Selimut Es un- tuk melindungi diri dari pengaruh sengatan panas yang membakar ayunan batu juga dirinya.

Angin Pesut sadar pengerahan ajian secara terus menerus tak mungkin dapat dilakukannya. Tapi dengan menggunakan ajian pelindung tubuh dari sengatan panas luar biasa paling tidak telah memberinya kesempatan dan waktu untuk menca- ri jalan meloloskan diri.

Sementara itu Bayangan Maut tampak me- rasa puas begitu berhasil menjebloskan orang yang sangat dibencinya ke dalam Liang Pemasung Sukma. Dengan disertai seringai sinis dia berkata. "Jahanam tua yang mengaku sebagai ayahmu itu pasti segera mampus tak lama lagi. Muridku seka- rang alangkah baiknya jika kita keluar dari gua ini. Kau harus menceritakan bagaimana caranya me- ringkus Angin Pesut!"

"Meringkus kakek gila itu tidaklah sesulit yang kau bayangkan guru. Cuma ketika aku membawanya kemari aku mendapat satu rintan- gan besar."

"Rintangan besar apakah?" tanya Bayangan Maut sambil melangkah meninggalkan ruangan gua.

Indah Sari menjawab. "Guru tentu sudah melihat keadaanku yang begini rupa. Semua ini terjadi akibat ulah seorang kakek bernama Tapa Gedek."

Mendengar ucapan muridnya si nenek ke- rutkan kening. "Tapa Gedek? Aku belum pernah mendengar nama itu. Kulihat bukan hanya pa- kaianmu saja yang hancur, kulihat kasut mu juga rusak. Bagaimana ciri-ciri orangnya?" tanya si ne- nek.

Dengan perasaan masih memendam geram akibat kekalahannya ketika menghadapi Tapa Ge- dek dia menerangkan ciri-ciri si kakek. Nenek itu manggut-manggut. "Kau tak usah berkecil hati. Ji- ka pada waktu itu kau sempat mempergunakan Pedang Tumbal Perawan yang tergantung di ping- gangmu itu. Aku yakin kakek yang bernama Tapa Gedek itu tak bakal dapat menyelamatkan diri meskipun dia menggunakan seribu ilmu hebat." ujar si nenek.

"Tapi aku masih penasaran guru. Kakek itu mempunyai ilmu aneh yang membuatku hampir celaka!" ujar sang dara.

Bayangan Maut tersenyum sinis. Dia kemu- dian membelai kepala muridnya. Tak berselang lama murid dan guru itu lenyap dari pandangan mata setelah sosok mereka melewati pintu gua.

5

Tak jauh dari tebing curam yang terdapat di Kalimayat, kakek gendut berpakaian hitam tak terkancing itu sejak tadi terus menerus meman- dang ke arah gua. Sesekali si kakek gendut besar mengusap wajahnya yang keringatan. Setelah itu dia kembali mendekam di balik pohon besar, se- dangkan mulutnya berkata: "Orang yang diseret oleh gadis berbaju merah tadi aku yakin adalah Angin Pesut. Jika memang benar dugaanku men- gapa Angin Pesut berlaku tolol. Dia memiliki ilmu kesaktian tinggi. Padahal jika Angin Pesut meng- gunakan salah satu ilmu simpanannya, aku yakin gadis itu tak bakal bisa meloloskan diri bukan ma- lah sebaliknya. Dasar kakek tolol, kurasa dia me- milih mengambil sikap mengalah agar anaknya mau menyadari bahwa sebenarnya Angin Pesut adalah orang tua gadis itu. Tolol... sungguh tolol. Bagaimana gadis itu mau mengakui dia sebagai orang tua jika sejak kecil bocah itu berada dalam didikan musuh besarnya?" batin si kakek. Setelah terdiam sejenak sambil garuk-garuk keningnya yang lebar si kakek gendut yang bukan lain adalah Gentong Ketawa guru Pendekar Sakti 71 Gento Guyon ini kembali julurkan kepala. Sepasang mata si kakek yang bulat bundar memandang tak ber- kesip ke arah mulut gua yang sunyi. Kemudian si gendut bicara sendiri. "Apa yang terjadi di dalam gua itu. Apakah Angin Pesut sudah tewas atau dia menjadi betah karena bertemu dengan bekas ke- kasihnya?" Kakek Gentong Ketawa gelengkan ke- pala. Dia tidak yakin Bayangan Maut mau men- gampuni jiwa bekas dedengkot tokoh sesat itu. Apalagi urusannya menyangkut persoalan den- dam. Lalu apa yang harus dia lakukan kini? Satu- satunya kemungkinan untuk menolong Angin Pe- sut adalah dengan cara menyerbu ke dalam gua. Tapi si kakek nampak meragu. "Kudengar Bayan- gan Maut adalah manusia yang sangat berbahaya. Jika aku menyerbu ke dalam, boleh jadi Bayangan Maut dan muridnya menyerangku secara tiba-tiba. Kalau mereka menyerangku dari dalam nasibku bisa konyol, mati penasaran sebelum dapat meno- long kakek goblok Angin Pesut." kata si gendut.

Di tengah-tengah keraguannya itu si gendut tiba-tiba belalakkan mata ketika melihat dari mu- lut gua keluar dua sosok tubuh. Satu diantaranya yang berpakaian merah adalah gadis yang tadi menyeret Angin Pesut. Sedangkan satunya lagi seorang nenek berpakaian hitam. Kakek Gentong Ketawa menduga, nenek yang bersama gadis ber- baju merah itu pastilah guru sang dara yang ber- gelar Bayangan Maut. "Mereka telah keluar, tapi aku tidak melihat Angin Pesut ada diantara mere- ka. Mungkinkah kakek itu telah mereka bunuh? Hemm.... aku tidak bisa menunggu lebih lama. Apapun yang telah terjadi atas diri kakek malang tersebut aku harus mengetahuinya. Sekarang se- lagi mereka duduk di depan mulut gua, aku akan membuat suatu kejutan!" berfikir begitu si gendut siap keluar dari tempat persembunyiannya, na- mun belum lagi si gendut sempat mendadak son- tak terdengar suara gemuruh hebat yang datang dari arah sebelah selatan Kalimayat. Selagi si gen- dut dibuat terkesima dan belum tahu gerangan apa kiranya yang mengeluarkan suara aneh laksa- na gempa. Dari arah hulu sungai yang kering ke- rontang muncul satu sosok yang tingginya menca- pai pucuk pohon. Sosok itu bukan saja bertubuh tinggi, tapi juga memiliki badan yang sangat besar seperti raksasa. Setiap kakinya menindak selalu mengeluarkan suara gemuruh dan guncangan pa- da tanah yang dipijaknya. Melihat kehadiran sosok raksasa itu si gendut jadi terkagum-kagum sendiri. "Ada manusia setinggi dan sebesar itu. Apakah mungkin dia termasuk salah satu korban pukulan beracun Perubah Bentuk? Lalu apa yang hendak dilakukannya di tempat ini?" kata si kakek seorang diri. Si kakek urungkan niatnya, dia menunggu ge- rangan apa kiranya yang bakal terjadi.

Sementara begitu muncul diri, raksasa be- rusia sekitar hampir enam puluh tahun ini dengan langkah lebar langsung berjalan menuju mulut gua. Langkah laki-laki itu baru terhenti sepuluh tombak di depan gua begitu dia melihat orang yang dicarinya berada disitu bersama seorang gadis yang tidak dikenalnya. Dengan mulut menyeringai dan tatapan nyalang si kakek raksasa berteriak. "Bayangan Maut manusia jahanam! Seperti yang telah kuduga setelah membunuh istriku ternyata kau bersembunyi di Kalimayat ini. Kau pasti men- gira aku tak bakal mengejarmu bukan?" kata rak- sasa itu dengan suara menggeledek. Gentong Ke- tawa buru-buru menutup pendengarannya yang pengang akibat teriakan sang raksasa. "Raksasa gila, teriak tidak kira-kira. Untung tidak ada orang hamil disini. Jika tidak bisa melahirkan menda- dak." gerutu si gendut dengan mulut cemberut.

Sementara itu Bayangan Maut dan murid- nya sudah tegak berdiri. Indah Sari langsung me- nutup telinganya yang pengang. Sedangkan Bayangan Maut dengan sikap tenang sambil ber- kacak pinggang setelah mengumbar tawa segera menyahuti. "Senggana... bagimu masih terbuka kesempatan untuk hidup. Mengapa kau datang mencari penyakit?" Manusia raksasa yang berna- ma Senggana dongakkan kepala, dari mulutnya keluar suara menggeram. Lalu dengan penuh rasa benci Senggana berkata. "Bagiku penyakit telah datang sejak dulu. Kedatanganku kemari adalah untuk mengambil jiwa busukmu!" tegas si kakek.

"Ah, apakah kau telah kehilangan minat un- tuk minta obat penawar racun Perobah Bentuk?" tanya si nenek disertai senyum sinis. "Racun Perobah Bentuk. Keadaanku sudah terlanjur begini. Keinginan untuk menyembuhkan diri telah lenyap begitu istriku terbunuh di tan- ganmu!"

"Hik hik hik. Apa kau mengira jika istrimu masih hidup kau punya harapan untuk menda- patkan obat penawar racun? Huh... ketahuilah, Angin Pesut barang kali saat ini sudah mampus menjadi arang karena aku telah menjebloskannya ke dalam Liang Pemasung Sukma!" kata Bayangan Maut. Sang raksasa kembali memperlihatkan se- ringai dingin. "Aku sudah menduganya Ni Pam- bayon. Kau memang manusia segala keji yang ti- dak layak hidup lebih lama lagi di dunia ini!"

"Kakek sialan! Jangan sekali-kali mencoba menghina guruku, karena aku pasti tidak tinggal diam!" kata Indah Sari. Senggana menatap sang dara dengan sorot mata angker penuh rasa tidak suka sedangkan Bayangan Maut melalui ilmu me- nyusupkan suara memberi peringatan pada mu- ridnya. "Hati-hati muridmu, dia memiliki tenaga sepuluh kali lebih besar dari manusia biasa. Aku sendiri hampir kena dicelakainya. Tapi kau tak perlu risau, kurasa jika keadaan memaksa kita bi- sa membasahi pedang Tumbal Perawan yang ada di pinggangmu dengan darahnya!" Indah Sari ang- gukkan kepala. Senggana yang memang tidak ken- al pada gadis berbaju merah itu dengan suara se- rak namun tetap menyengat telinga berucap.

"Kau masih muda bocah. Gurumu itu ada- lah nenek gila yang punya dendam selangit tembus pada Angin Pesut. Selama ini kau telah ditipunya mentah-mentah. Jika kau mau menurut apa kata- ku, lebih baik kau tak usah mencampuri urusan kami. Pergilah dari tempat ini selagi masih ada ke- sempatan!" ujar Senggana. Rupanya meskipun saat itu Senggana tengah dilanda kemarahan be- sar akibat kematian istrinya yang telah dibunuh Bayangan Maut, namun kiranya dia tidak mau melibatkan gadis itu. Tetapi sayang secara tak ter- duga niat baik manusia raksasa itu oleh si gadis ditanggapi dengan penuh kegusaran. Dengan gu- sar pula dia mencabut pedang miliknya yang ter- gantung di bagian punggung. Lalu sambil menyi- langkan pedang di depan dada Indah Sari berseru. "Kakek raksasa, seperti Angin Pesut rupanya kau juga manusia gila. Kau tidak usah memberi nase- hat padaku. Bagiku aku rela mati demi membela guruku. Karena itu saat ini aku merasa punya ke- wajiban untuk mewakilinya!" selesai berkata begitu sang dara tiba-tiba lentingkan tubuhnya ke udara. Sadar lawan memiliki tinggi badan lima kali lipat dengan tinggi tubuhnya sendiri, maka Indah Sari pun menyerang lawan dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuhnya yang sudah sangat sem- purna.

Setelah tubuh sang dara berada di atas ke- tinggian, dengan gerakan cepat dia memutar tu- buhnya baru kemudian melesat lalu babatkan pe- dang di tangannya ke arah Senggana. Orang tua itu sadar meskipun si gadis masih begitu muda, tapi dia pasti memiliki ilmu kesaktian tak jauh di- bawah gurunya. Itulah sebabnya begitu melihat sinar putih menyambar ke bagian wajah dan teng- gorokannya manusia raksasa ini segera melompat mundur sejauh satu langkah, kemudian tangan- nya ditarik ke atas setelah itu dengan cepat segera di hantamkannya ke bagian kepala sang dara.

Singg! Wuut!

Pedang sang dara melenceng dari sasaran karena begitu dia mendengar suara menderu yang datang dari bagian atas kepala gadis ini juga ter- paksa selamatkan kepala dari hantaman lawan. Tiga kali Indah Sari lakukan gerakan berjumpali- tan. Dilain waktu dia jejakkan kakinya di atas ta- nah. Gadis ini tidak menunggu lebih lama, begitu melihat lawan julurkan tangannya. Dia menyerbu ke depan. Yang menjadi sasaran adalah bagian kaki Senggana. Si kakek keluarkan seruan kaget ketika merasakan sambaran angin dingin disertai berkelebatnya sinar putih bergulung-gulung mela- brak bagian kaki. Cepat kakinya yang menjadi sa- saran pedang lawan diangkat. Begitu lawan berada di bawah telapak kakinya si kakek segera hentak- kan kakinya. Sekali serangan Senggana mengenai sasaran dapat dipastikan tubuh Indah Sari amblas ke dalam tanah dan remuk seketika.

Tapi pada saat itu gurunya berteriak. "Indah Sari, awas dari atasmu."

Sang dara tak sempat memandang ke atas, namun dia sadar akan bahaya yang mengancam- nya. Sambil memaki sang dara segera jatuhkan di- ri, lalu bergulingan hindari hantaman kaki lawan.

Blaaaarr!

Tanah tempat dimana Indah Sari tadi berpi- jak amblas, terjadi guncangan yang sangat keras. Si nenek yang mengawasi berlangsungnya perke- lahian antara murid dan raksasa itu nampak lim- bung. Sedangkan Gentong Ketawa yang juga turut mengawasi perkelahian sengit yang terjadi meng- gerutu. "Raksasa itu agaknya memiliki kesaktian tinggi. Tapi aku khawatir jika Bayangan Maut ikut melakukan penggeroyokan, dia tak bakal dapat meloloskan diri dari kematian. Aku harus bersikap waspada. Jika Bayangan Maut berlaku curang aku juga tak bakal tinggal diam menonton atau jadi orang tolol. Senggana perlu dibantu." batin si ka- kek. "Tapi biar bagaimanapun Angin Pesut tidak boleh mati begitu saja. Bayangan Maut tadi sem- pat mengatakan pada manusia raksasa itu bahwa Angin Pesut kemungkinan telah menemui ajal menjadi arang yang tidak berguna. Akh ... tololnya aku, mengapa tak kupergunakan saja kesempatan ini. Selagi Bayangan Maut lengah, aku bisa mela- kukan pemeriksaan di dalam gua!"

Setelah mengambil keputusan begitu, kakek Gentong Ketawa segera berkelebat menuju ke arah gua. Tapi rupanya kemunculan si kakek kiranya sempat diketahui oleh Bayangan Maut.

"Tamu tak diundang, berani kau masuk ke dalam gua jiwamu tak bakal kuampuni!" bersa- maan dengan bentakan si nenek dia dorongkan kedua tangannya ke arah sosok si gendut yang saat itu tak pernah menduga mendapat serangan seperti itu keluarkan seruan kaget. Karena posi- sinya mengambang di atas ketinggian begitu se- rangkum hawa dingin menebar bau tak sedap me- labrak tubuhnya, membuat si kakek jadi kehilan- gan keseimbangan. Jungkir balik dalam gerakan kalang kabut si kakek berputar-putar di udara. Tak urung dia masih dapat jatuhkan diri dengan kedua kaki menjejak tanah terlebih dulu.

Kini si kakek berdiri tegak sambil bertolak pinggang. Sementara perkelahian antara Indah Sa- ri dan Senggana berlangsung makin sengit, seba- liknya Bayangan Maut terkesima melihat kehadi- ran kakek gendut berwajah bundar berpipi tem- bem yang satu ini.

"Apa yang hendak kau lakukan di dalam gua hingga kau mencoba memasukinya?" tanya Bayangan Maut curiga.

Si Gendut unjukkan sikap seperti orang ti- dak bersalah, enteng saja dia menjawab:"Aku ma- suk kemana saja ku suka perlu apa kau tahu?"

"Kau ini siapa?" tanya si nenek yang merasa geram mendengar jawaban si gendut.

Si kakek bersikap acuh. Dia pura-pura me- mandang ke arah perkelahian dimana Indah Sari saat itu jatuh terjengkang akibat terkena jotosnya Senggana. Gadis itu cepat bangkit berdiri, selan- jutnya kembali menyerbu ke arah lawan dengan serangan yang amat berbahaya.

Sekilas saja si kakek memandang ke arah itu, seolah bosan dia layangkan pandang ke arah si nenek sambil berkata: "Jika kau mau mengenal siapa diriku cepat bebaskan dulu Angin Pesut!"

"Hah ....!" si nenek terperangah. Dengan mata mendelik dia ajukan pertanyaan: "Kau me- mintaku membebaskan Angin Pesut dari Liang Pemasung Sukma? Hik ...hik ...hik!" Bayangan Maut tertawa mengikik. "Kau ini siapa? Kerabat- nya atau sahabatnya?"

"Aku boleh dikatakan orang yang bersimpati atas nasib buruk yang menimpanya." sahut si gendut. Seperti orang tolol orang tua itu lalu ikut- ikutan tertawa.

"Ketahuilah, Angin Pesut mungkin sekarang sudah mampus. Buat apa kau mengurusi manusia terkutuk seperti dia?!" hardik Bayangan Maut sambil unjukkan muka garang. Sebaliknya kakek Gentong Ketawa menyibukkan diri dengan mengu- sap wajahnya yang selalu berkeringat. Selanjutnya dengan mulut terpencong dia berucap. "Nenek ga- lak, kurasa yang keparat itu adalah dirimu. Di du- nia ini mana ada orang yang tega memisahkan anak dari bapaknya. Bukankah gadis itu sesung- guhnya adalah anak Angin Pesut. Tapi dengan ak- al bulusmu kau menipunya sejak bocah itu masih kecil!"

"Gendut kurang ajar. Buat apa kau men- campuri urusanku? Persoalanku dengan Angin Pe- sut menyangkut urusan pribadi, orang luar tak bo- leh campuri" hardik si nenek.

"Ha ha ha. Nenek sinting, keinginanku ma- suk ke dalam gua juga menyangkut kepentingan pribadi, mengapa kau menghalangiku?" Si nenek menjadi gusar mendengar jawaban Gentong Keta- wa. Dia berfikir si gendut itu kalau dilayani omon- gan lama kelamaan dirinya bisa ikutan menjadi gi- la karena itu dengan geram dia berkata.

"Gendut berhidung pesek, kau boleh meli- hat ke dalam gua, kau juga kuizinkan menjenguk Angin Pesut di dalam Liang Pemasung Sukma, namun kau harus meninggalkan kepalamu dulu di sini!" Di luar dugaan kakek Gentong Ketawa me- nyahuti. "Kau menginginkan kepalaku nek? Buat apa, lagipula kepala tanpa badan tidak ada gu- nanya. Lalu kepala yang sebelah mana yang kau inginkan? Ha ha ha!"

"Kau benar-benar gendut gila. Memangnya kepalamu ada berapa bangsat!" damprat si nenek marah. Gentong Ketawa yang merasa tidak punya kesempatan masuk ke dalam gua sebelum dapat merobohkan Bayangan Maut segera menanggapi. "Ha ha ha! Aku lupa aku punya berapa, coba kau hitung saja sendiri!" kata si kakek diselingi tawa bergelak.

Merah padam wajah Bayangan Maut begitu menyadari arti ucapan si kakek, hilang pula kesa- barannya. Tanpa bicara lagi dan tidak membuang waktu si nenek tiba-tiba keluarkan satu jeritan melengking. Bersamaan dengan terdengarnya sua- ra jeritan perempuan itu sosoknya berkelebat lak- sana kilat. Dua kaki secara beruntun lepaskan se- rangkaian tendangan secara susul menyusul. Ber- samaan dengan tendangan yang dilepaskannya si nenek juga lancarkan pukulan berupa jotosan dengan menggunakan tangan kiri, sedangkan tan- gan kanan dengan jemari terkembang menyambar bagian wajah.

Kakek Gentong Ketawa begitu melihat se- rangan itu sebenarnya sempat dibuat terkejut. Be- lum pernah dia melihat seorang lawan dapat me- lancarkan serangan secara bersamaan dengan ke- cepatan seperti itu. Namun dasar kakek konyol sambil melompat selamatkan diri dia masih sem- pat menggumam. "Hebat kurasa inilah jurus nenek moyang serigala. Tak kusangka rupanya kau ma- sih punya hubungan dengan mahluk menjijikkan itu. Serigala tua sambutlah gebukanku!" berkata begitu si gendut hantarkan tangan kirinya me- nangkis tendangan Lawan. Sementara tangan kiri berusaha lancarkan totokan di bagian bawah ke- tiak Bayangan Maut.

Duuk!

Benturan keras antara tangan dan kaki la- wan membuat tubuh si kakek tergetar. Sebaliknya si nenek juga keluarkan seruan kaget. Tubuhnya yang mengapung di udara sempat terdorong mun- dur, tapi lebih celaka lagi jika dia tidak cepat me- narik pukulannya dapat dipastikan totokan lawan mengenai sasarannya. Si kakek begitu melihat la- wan kehilangan keseimbangan dengan gerakan- gerakan gerubak gerubuk seperti orang mabuk merangsang maju. Kini dia melesat ke udara me- nyusul lawan, sementara tangannya yang terkepal dihantamkan ke bagian punggung lawan.

Bayangan Maut tidak sempat lagi menghin- dar. Tak ayal tubuhnya terpental tinggi sejarak se- puluh tombak terkena hantaran tinju orang tua itu. Melihat ini Gentong Ketawa terus melenting- kan tubuhnya mengejar sosok lawannya yang te- rus melambung. "Ha ... ha, ha, ha! Rupanya kau mau terbang ke langit. Bayangan Maut, kau ingin mendarat di bulan, biarlah tua bangka jelek ini membantumu sampai ke tempat tujuan!" berkata begitu kakek Gentong Ketawa hantamkan satu pukulan lagi. Si nenek yang masih belum sempat menguasai diri terpental tinggi ke udara. Kini ja- raknya dengan tanah sekitar tiga puluh batang tombak.

Si nenek yang kemudian meluncur deras ke bawah setelah pada puncak batas tenaga hanta- man si Gendut meraung hebat. Dia tidak lagi menghiraukan rasa remuk redam yang mendera punggungnya akibat serangan penuh kegilaan yang dilancarkan kakek Gentong Ketawa. Dia juga kehilangan keseimbangan hingga saat jatuh ke ta- nah Bayangan Maut jatuh dengan punggung terle- bih dulu menghantam tanah.

Bayangan Maut menggeliat. Dia yang semu- la menganggap remeh lawannya kini menyadari bahwa lawan yang dihadapinya sesungguhnya bu- kanlah manusia gila. Tapi seorang kakek konyol yang menyembunyikan segala kesaktiannya di ba- lik tampang yang tidak meyakinkan.

"Huarkh...!" begitu berdiri tegak si nenek meraung hebat. Rasa amarah yang melanda jiwa si nenek kiranya melebihi rasa sakit yang melanda punggungnya. Dengan tatapan bengis perempuan tua itu berseru. "Gendut kurang ajar, aku Bayan- gan Maut jika hari ini tidak bisa membunuhmu bi- arlah aku akan berguru pada raja iblis!"

Gentong Ketawa tertawa pendek. Dia lalu menirukan ucapan si nenek. "Nenek kerempeng, aku Gentong Ketawa jika hari ini tidak dapat membetot telingamu biarlah aku juga ingin bergu- ru pada setan ompong. Klak klak klak!"

Bukan main geramnya Bayangan Maut me- lihat tingkah si gendut. Sambil katubkan mulut- nya si nenek jatuhkan diri ke tanah. Dari mulut orang tua itu terdengar suara racau aneh. Hanya beberapa saat dia keluarkan racauan dengan sikap seperti serigala hendak menerkam. Setelah itu ke- tika nenek tersebut tegak seperti semula. Maka ki- ni wajahnya nampak mengalami perubahan wajah itu sama sekali bukan wajah si nenek seutuhnya melainkan berubah-ubah antara wajah si nenek atau bagian muka serigala.

Kakek Gentong Ketawa sempat dibuat ter- kesiap melihat perubahan dan penampilan lawan- nya. Dia segera menyadari kalau pada saat itu la- wan tengah mengerahkan salah satu ilmu yang menjadi andalannya.

Si kakek tua tidak mau mengambil resiko, sadar lawan mengeluarkan ilmu simpanan maka si kakek lipat gandakan tenaga dalam. Tenaga dalam lalu disalurkan ke bagian tangan dan kaki. Semen- tara itu di depan sana Bayangan Maut mengelua- rkan suara lolongan panjang. Tak lama setelah su- ara lolongan lenyap Bayangan Maut berkelebat le- nyap dari pandangan kakek Gentong Ketawa. Si gendut cepat memutar tubuhnya sambil memen- tang kedua matanya. Lawan tetap tak terlihat ter- kecuali satu bayangan hitam yang menyambar mengelilingi si kakek disertai berkelebatnya tangan dan kaki yang menyambar ke beberapa bagian tu- buh si kakek. Sadar lawan dapat melancarkan se- rangan dengan kecepatan luar biasa si kakek tiba- tiba jejakkan kakinya hingga tubuhnya melesat di udara. Tapi secara tak terduga lawan dengan cepat menyusulnya, tahu-tahu tangan Bayangan Maut terjulur lalu menyambar bagian pinggang kakek Gentong Ketawa. Si gendut mendapat serangan begitu rupa masih dapat menghindar. Tapi seran- gan berikutnya yang datang tidak terduga bertu- rut-turut menghantam pinggulnya.

Kakek Gentong Ketawa jatuh bergedebukan. Sebelum orang tua ini sempat berdiri tegak lawan yang berada di atas ketinggian kini meluncur ke bawah lalu melepaskan serangkaian tendangan menggeledek. Meskipun si gendut telah menggu- nakan jurus Belalang Mabok untuk menghindari tendangan Bayangan Maut namun salah satu ten- dangan itu masih menyambar dadanya. Tubuh be- sar dengan bobot lebih dari dua ratus kati itupun terpental, lalu jatuh dengan berlutut.

Untuk sementara kita tinggalkan perkela- hian sengit antara kakek Gentong Ketawa dan Bayangan Maut yang berlangsung menegangkan. Kita kembali pada si raksasa Senggana dan Indah Sari yang juga terlibat perkelahian tak kalah se- runya dengan kakek gendut.

Saat itu perkelahian antara sang dara den- gan Senggana sudah berlangsung lebih dari tujuh puluh jurus. Dalam perkelahian yang cukup pan- jang itu Indah Sari beberapa kali terkena pukulan keras yang dilancarkan lawannya. Bahkan darah nampak pula menetes dari sudut bibir Indah Sari. Gadis itu sebenarnya sudah merasakan betapa berbahayanya serangan Senggana. Tubuh sang da- ra yang terkena pukulan seolah remuk. Beruntung Indah Sari mendapat gemblengan dari gurunya sehingga dia dapat bertahan. Sebaliknya serangan baik berupa pukulan dan tendangan beracun yang dilancarkan sang dara juga mengenai punggung, dada maupun perut kakek raksasa itu. Tapi seran- gan-serangan itu bagi sang raksasa tidak menga- kibatkan suatu cidera yang berarti. Celakanya bi- arpun tubuh maupun pukulan sang dara mengan- dung racun hebat, tapi raksasa Senggana ini kebal terhadap serangan beracun maupun sentuhan anggota tubuh lawannya. Hal ini dapat dimengerti karena sebenarnya di dalam tubuh si kakek juga mendekam racun yang tak kalah hebatnya berupa racun Perubah Bentuk.

Akibatnya serangan sang dara yang men- gandalkan racun yang terkandung di sekujur tu- buhnya tidak mempunyai arti apa-apa bagi lawan- nya.

Indah Sari kini merasa telah kehilangan ak- al untuk menghadapi lawannya. Sementara meng- harapkan bantuan gurunya saat itu tidak mungkin mengingat sang guru sendiri sedang menghadapi gempuran kakek gendut yang tidak dia kenal.

Indah Sari memang berada dalam posisi ter- jepit, manusia raksasa yang bernama Senggana tersebut ternyata terlalu tangguh baginya. Dia ti- dak punya pilihan lain. Satu-satunya cara untuk menghadapi gempuran manusia raksasa yang ber- bahaya itu adalah dengan menggunakan Pedang Tumbal Perawan. Karenanya beberapa saat setelah tubuhnya terpental sejauh delapan tombak akibat tendangan Senggana. Indah Sari yang kembali muntahkan darah segar sambil terbungkuk- bungkuk bangkit kembali. Senggana yang melihat kenekadan si gadis saat itu segera memperin- gatkan. "Masih ada kesempatan bagimu untuk pergi dari tempat ini. Asal kau berjanji mau berto- bat dan bersedia meninggalkan gurumu aku pasti bersedia mengampuni jiwamu! Sekarang tinggal- kanlah tempat ini!" perintah si kakek dengan suara nyaring.

Bukannya pergi, Indah Sari sambil mengge- ram segera mencabut pedang Tumbal Perawan da- ri rangkanya. Rangka pedang itu sendiri seperti di- ketahui berasal dari lengan tangan seorang gadis perawan lengkap dengan jari-jarinya.

Sang raksasa sempat sipitkan matanya ke- tika melihat pedang hitam berikut rangka pedang yang tergantung di pinggang sang dara. Dia bah- kan sempat tertegun ketika melihat pedang terse- but langsung menggeletar seolah menjadi hidup ketika berada dalam genggaman lawan.

"Hemm, aku yakin pedang di tangannya itu bukanlah senjata biasa. Dia merupakan sebuah senjata sakti yang menyimpan pengaruh dan ke- kuatan iblis. Rasanya sekarang merupakan saat yang tepat bagiku untuk melepaskan pukulan 'Raksasa Membelah Bintang." fikir si kakek.

Tak lama kemudian begitu Indah Sari me- nyerbu ke arahnya dengan serangkaian serangan mautnya, Senggana segera salurkan tenaga dalam ke arah kedua belah tangannya. Dua tangan ke- mudian diangkat tinggi melewati bagian atas kepa- la begitu dia melihat sinar hitam pekat berhawa dingin luar biasa bergulung-gulung disertai suara deru nyaring memekakkan telinga.

Kira-kira dua depa lagi ujung pedang mem- babat putus kaki Senggana, manusia yang tinggi, dia segera menghantam Indah Sari yang berada di bawahnya.

Wuut! Wuut!

Berturut-turut serangkum sinar biru menyi- laukan mata berkiblat. Hawa panas menggidikkan langsung menyergap diri sang dara. Indah Sari yang siap membabat perut Senggana menjerit ka- get begitu merasakan sambaran hawa panas luar biasa. Bahkan hawa dingin yang memancar dari pedang Tumbal Perawan berubah meredup. Tak punya pilihan lain Indah Sari terpaksa memutar pedang di tangannya di bagian atas kepala mem- bentuk perisai diri.

Begitu pedang diputar hawa dingin kembali menyebar. Tak berselang lama terjadilah benturan dahsyat luar biasa. Satu ledakan keras bagai men- cerai beraikan sekujur tubuh orang-orang yang be- rada di tempat itu. Bahkan Gentong Ketawa dan Bayangan Maut yang terlibat perkelahian sengit juga sempat jatuh terjengkang. Begitu juga halnya Bayangan Maut. Tetapi kedua orang tua itu segera bangkit kembali, lalu kembali terlibat perkelahian seru.

Sementara itu begitu terjadi ledakan keras Indah Sari jatuh terkapar. Pakaian yang melekat di tubuhnya hancur, wajahnya menghitam. Biarpun tidak hangus tapi panasnya luar biasa. Sedangkan Pedang Tumbal Perawan masih tergenggam di tan- gan si gadis. Pedang tersebut terus menggeletar tak mau diam. Di depan sana Senggana yang tegak tergontai-gontai nampak tertegun namun juga ka- get. Dia terkejut karena ternyata lawan dapat ber- tahan dari pukulan maut yang dilepaskannya, pa- dahal jika orang lain yang terkena pukulan itu pasti jiwanya tidak bakal selamat.

"Pasti ada yang salah." gumam Senggana dalam hati. Sesaat dia memperhatikan si gadis yang kini sudah bangkit berdiri. "Tak mungkin dia dapat bertahan seperti itu. Pedang di tangannya itu, aku yakin pasti senjata itulah yang membuat- nya dapat bertahan dari pukulan."

Di depan kakek raksasa itu Indah Sari me- natap tajam ke arah lawannya dengan pandangan sinis. "Orang tua, ilmu pukulanmu memang hebat. Tapi selama padang Tumbal Perawan berada di tanganku jangan harap kau bisa mengalahkan aku. Sekarang lihat serangan...!" Indah Sari berte- riak lantang. Dengan gerakan cepat sang dara me- nyerbu ke depan. Bersamaan dengan itu pedang di tangannya terus menggeletar seolah hidup berke- lebat menyambar ke bagian perut Senggana. Rak- sasa itu tekankan kedua kakinya ke tanah, selan- jutnya tubuh sang raksasa melesat ke udara. Da- lam gerak cepat luar biasa Indah Sari yang gagal menghantam perut lawan kini memutar

><><><> 82-83

6 Untuk sementara kita tinggalkan dulu ka- kek Gentong Ketawa dan Bayangan Maut yang ter- libat perkelahian antara hidup dan mati. Kini kita lihat dulu bagaimana nasib Angin Pesut yang di- masukkan ke dalam ayunan batu lalu dipendam ke dalam Liang Pemasung Sukma.

Setelah Bayangan Maut dan muridnya ber- lalu meninggalkan gua. Angin Pesut tidak menyia- nyiakan kesempatan itu. Dia sadar meskipun di- rinya mengerahkan ilmu Selubung Es untuk me- lawan hawa panas yang membakar ayunan batu, hal itu tidak mungkin dapat dipertahankannya se- cara terus menerus karena dapat menguras habis seluruh tenaga yang dia miliki. Karenanya Angin Pesut kemudian sambil tetap melindungi diri sege- ra mencari jalan keluar. Dia berfikir tak mungkin dirinya dapat keluar dari Liang Pemasung Sukma jika dirinya tetap dalam keadaan tertotok juga teri- kat kedua kaki dan tangan.

"Aku tak tahu Ni Pambayon menggunakan ilmu totokan apa. Tapi aku dapat merasakan pen- garuh totokan sangat kuat sekali. Satu-satunya cara adalah dengan menghancurkan totokan den- gan penyaluran tenaga dalam. Namun jika ini sampai gagal resiko yang kutanggung sangat ting- gi, lalu aku akan kehilangan semua tenaga. Jika tenagaku terkuras habis, dapat kupastikan tu- buhku bisa hangus." Batin si kakek.

Dia terdiam lagi, sambil mencoba mengatur jalan nafas sementara sekujur tubuhnya meskipun telah diselimuti ajian Selimut Es tetap saja ber- mandi keringat.

Tak berselang lama kemudian Angin Pesut mengambil keputusan nekad. Dia tetap bertekad membebaskan diri dari pengaruh totokan Bayan- gan Maut meskipun resikonya jika dia gagal tu- buhnya harus hangus. Sebaliknya jika usaha si kakek berhasil dia paling tidak akan kehilangan setengah dari tenaga dalam dan kekuatan yang dia miliki.

Perlahan Angin Pesut memusatkan fikiran dan segenap panca inderanya. Secara perlahan pu- la si kakek salurkan tenaga yang bersumber dari bagian pusar. Hawa panas mengalir deras dari arah pusar ke bagian yang terkena totokan. Begitu tenaga dalam yang disalurkan menyentuh bagian- bagian tubuh yang kena totokan maka...

Dess! Dess!

Terjadi letupan dua kali berturut-turut. Dari permukaan kulit yang ditotok mengepulkan asap tipis berwarna kelabu.

"Kurang ajar. Mengapa bisa gagal!" desis si kakek dengan hati berdebar dan perasaan kecut.

"Akan kucoba dua kali lagi. Jika sampai gagal habislah sudah. Berarti hidupku memang cuma sampai di sini!" guman Angin Pesut. Si ka- kek lalu pejamkan matanya. Dia melipat gandakan tenaga dalamnya. Setelah itu jika pertama tadi dia salurkan tenaga dalam ke arah totokan dengan ca- ra perlahan maka kini dilakukannya secara cepat.

Deep! Deep! Deep!

Asap tebal mengepul di udara. Si kakek menarik ><><><><><> hal 86-87

lagi. Tapi mengapa tubuhku jadi oleng begi- ni? Eeh... benar-benar oleng!" kata si nenek den- gan tubuh termiring-miring.

"Coba kau ingat-ingat nek. Barangkali kau mabuk, bukankah tadi kau sempat minum air sungai? Siapa tahu air sungainya diracun orang." celetuk Gento kesal.

"Gento, kau jangan bercanda. Apa kau kira telingaku sudah tuli? Tadi sebelum tanah ini ber- guncang keras aku sempat mendengar suara ber- gemuruh seperti pohon tumbang. Suara itu bisa kupastikan datang dari gua Kalimayat.

"Mungkinkah gua yang hendak kita datangi runtuh?" tanya Gento.

"Mengapa bisa runtuh?"

"Mana aku tahu. Melihat gua itu saja aku belum pernah." sahut murid kakek Gentong Keta- wa sambil bersungut-sungut.

"Sebaiknya kita ke sana sekarang!" berkata begitu tanpa menunggu lebih lama nenek berwajah remuk mengerikan berhidung sumplung segera ba- likkan badan. Kemudian tanpa menoleh-noleh lagi dia segera berkelebat pergi. Di satu tempat di atas pendataran tinggi si nenek hentikan langkah. Ka- rena si nenek berhenti Gento yang mengikuti tak jauh di belakangnya juga ikut berhenti.

Hampir bersamaan kedua orang itu lalu sama layangkan pandang ke arah mulut gua yang jaraknya hanya belasan tombak dari tempat mere- ka berada. Baik Gento maupun nenek Palasik sa- ma keluarkan seruan kaget ketika melihat apa yang terjadi di sana.

"Bukankah orang yang tengah terlibat per- kelahian di depan mulut gua itu adalah gendut sinting gurumu Gento?" gumam si nenek.

Sang pendekar tergagap mendengar ucapan si nenek. "Esh... apa katamu nek? Aku yakin sosok besar itu adalah salah satu dari manusia raksasa penghuni puncak bukit Kemukus. Kurasa dia te- was. Sekarang aku tahu suara gemuruh yang kita dengar tadi pasti berasal dari dirinya."

"Bocah edan, kau ini bicara apa?" geram si

nenek.

"Memangnya tadi kau bertanya apa nek?" "Ah, kukira kau memperhatikan gurumu

yang sedang terlibat pertarungan tidak tahunya yang kau lihat manusia raksasa yang sudah mati. Mengapa kau hiraukan dia. Coba kau perhatikan baik-baik, saat ini gurumu mendapat serangan gencar dari lawannya. Jika kita tidak segera mem- bantu gurumu bisa mati penasaran!"

Pendekar Sakti 71 terdiam. Kembali dia layangkan pandang ke arah mulut gua, Gento jadi terkesiap. Apa yang dikatakan nenek Palasik me- mang benar adanya. Saat itu gurunya sedang ter- libat satu perkelahian sengit dengan seorang ne- nek yang tidak dikenalnya. Dari jarak yang cukup tidak begitu jauh itu si pemuda dapat melihat si gendut dalam keadaan terdesak menghadapi gem- puran hebat lawannya.

"Gendut... gendut baru menghadapi nenek bau tanah saja sudah kalang kabut. Apa karena kau dan dia sudah sama-sama tua atau barangkali kau sengaja memberi hati pada lawanmu" kata Gento.

"Bocah goblok, gurumu dalam keadaan ter- desak kau malah mentertawainya. Apa kau tidak melihat lawannya memiliki ilmu dan jurus-jurus yang hebat?" gumam si nenek. Si pemuda me- nanggapi ucapan si nenek dengan mencibirkan mulutnya. Lalu tanpa bicara apa-apa Pendekar Sakti 71 layangkan pandangan matanya ke arah gurunya. Benar seperti yang dikatakan nenek Pa- lasik nampaknya lawan memang bukan manusia sembarangan, jurus-jurus serta pukulan yang di- lancarkannya sangat berbahaya. Tapi semua se- rangannya itu bersumber pada gerak dan tingkah laku binatang.

"Nenek itu menggunakan jurus-jurus Seri-

gala!"

Orang yang diajak bicara menyeringai. "Ru-

panya kau tidak tahu siapa yang dihadapi oleh gu- rumu itu?"

"Memangnya siapa?" tanya Gento.

"Manusia jelek yang satu itu bernama Ni Pambayon bergelar Bayangan Maut. Dia adalah musuh besar Angin Pesut."

"Hah...!" Gento terperangah. "Jika begitu be- rarti Angin Pesut sekarang ini ada di sana!" tukas sang pendekar.

"Kurasa begitu. Cuma aku tidak melihat-

nya."

"Sebaiknya sekarang kita ke sana saja!" usul Gento.

"Hik hik hik! Jika kau sebagai muridnya memiliki kepandaian hebat, masa gurumu tidak sanggup menghadapi nenek itu?" ujar si nenek disertai tawa sinis.

"Yang aku takutkan bukan nenek itu."

"Lalu apa?" tanya nenek Palasik sambil memandang tajam ke arah Gento.

"Muridnya."

Nenek Palasik tertawa mengikik. "Kau aneh, gurunya tidak kau risaukan. Sebaliknya kau ma- lah merisaukan muridnya? Apakah ini tidak terba- lik namanya? Apakah murid nenek itu cantik hingga kau tidak tega menjatuhkan tangan keras padanya?" tanya si nenek lagi sambil menduga- duga gerangan apakah yang menjadi ganjalan bagi pemuda itu.

Pendekar Sakti 71 gelengkan kepala. "Sama sekali bukan kecantikannya, nek. Kerisauanku yang pertama, murid Bayangan Maut kemungki- nan besar adalah putri kakek Angin Pesut. Se- dangkan yang kedua kudengar Pedang Tumbal Pe- rawan saat ini berada di tangan gadis itu."

Nenek Palasik sebenarnya sempat terkejut mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Gento. Biarpun dirinya belum pernah melihat ba- gaimana rupa dan bentuk pedang Tumbal Pera- wan. Namun nenek Palasik sudah mengetahui ka- lau pedang Tumbal Perawan beberapa pekan te- rakhir ini telah menimbulkan suatu kegegeran be- sar dan telah banyak meminta korban. Senjata itu bukan saja merupakan senjata yang sangat berba- haya. Selain mengandung racun jahat pedang Tumbal Perawan menyimpan satu kekejian yaitu menyedot habis darah orang yang menjadi kor- bannya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan. To?" Gento layangkan pandangannya ke arah so-

sok berpakaian merah yang duduk bersila di atas batu. Kemudian dia berkata. "Kau lihat gadis yang di sana itu nek?" tanya sang pendekar sambil me- nunjuk ke arah dimana sang dara berada. Nenek Palasik melirik ke arah yang ditunjuk Gento. Sete- lah itu dia anggukkan kepala.

"Aku menaruh duga gadis itu adalah murid Bayangan Maut putri dari Angin Pesut." ujar nenek Palasik.

"Tepat sekali. Aku menaruh dugaan telah terjadi sesuatu pada kakek Angin Pesut." gumam sang pendekar.

Si nenek kernyitkan keningnya. "Dugaan?

Dugaan apa maksudmu?" si nenek menukas. "Kurasa Angin Pesut sudah tewas nek.

Mungkin dia gagal menyadarkan anaknya. Bisa ja- di gadis itu tidak terima, lalu akibat pengaruh Bayangan Maut dia lalu membunuh ayahnya sen- diri." ka!" "Ah, celaka. Benar-benar anak yang durha-

"Gadis itu tidak bisa disalahkan. Karena se- jak kecil dia berada dalam asuhan Bayangan Maut. Selama dalam asuhannya tentu saja Bayan- gan Maut meracuninya dengan berbagai pengaruh, tipu muslihat pokoknya apa saja sehingga dia ak- hirnya benar-benar merasa yakin bahwa orang tu- anya memang sudah tidak ada lagi di dunia ini."

"Benar-benar gila. Dia telah mengatur sega- la sesuatunya dalam jangka waktu yang amat pan- jang. Bayangan Maut memang benar-benar manu- sia licik."

"Bukan licik, dia cukup cerdik. Balas den- dam yang sangat sempurna. Anak dan ayah saling membunuh, bukankah ini sebuah kenyataan yang menyakitkan?" kata Gento.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" "Guruku mungkin butuh bantuan. Kita

hanya tinggal menunggu kesempatan yang terbaik. Bukannya aku bicara sombong selama gadis itu ti- dak ikut mengeroyok guruku dan mempergunakan pedang Tumbal Perawan. Aku yakin nenek itu tak bakal sanggup membunuhnya. Paling juga mem- buatnya babak belur!" Gento berucap sambil me- nahan senyum.

Si nenek jadi tertawa mendengar gurauan Gento. "Bocah sial kau!"

7 Kita kembali pada Gentong Ketawa dan Bayangan Maut yang tengah terlibat perkelahian antara hidup dan mati. Ketika itu kakek gendut ini telah menderita luka-luka di beberapa bagian tu- buhnya. Bagian keningnya yang terkena tinju la- wannya nampak marah memar, sedangkan pada bagian dada yang terkena sambaran kuku-kuku Bayangan Maut nampak meneteskan darah. Baju hitamnya sudah tidak berupa pakaian lagi, selain kotor berselimut debu juga tercabik-cabik di bebe- rapa bagian.

Selain itu bagian bawah kaki celana si gen- dut juga robek besar. Di balik celana darah terus menetes dari luka memanjang akibat serangan si nenek. Sebaliknya lawan yang pada saat itu me- nyerang si gendut dengan jurus andalan yang di- kenal dengan nama 'Bayangan Serigala' juga men- galami nasib tak jauh lebih baik dari kakek Gen- tong Ketawa.

Pakaian di bagian punggung si nenek yang terkena pukulan si gendut nampak hangus, bagian pipi menggembung bengkak terkena tamparan ke- ras si gendut. Lalu baju di bagian perut robek ter- kena sambaran senjata kakek Gentong Ketawa yang berupa sebuah besi pipih bercabang dua berwarna putih mengkilat berujung runcing den- gan kedua sisi tajam dan berbentuk seperti gagang ketapel.

Dibandingkan dengan Bayangan Maut sesungguhnya kakek Gentong Tertawa lebih men- derita lagi. Sungguhpun saat itu dia masih dalam keadaan segar bugar, namun si kakek di luar se- pengetahuan lawan sebenarnya menderita cidera di bagian dalam. Biarpun dia mengalami nasib se- perti itu, sama sekali si gendut yang satu ini tidak menunjukkan tanda-tanda penderitaan. Mulut ka- kek Gentong Ketawa selalu mengurai senyum. Apa yang diperlihatkan si kakek tentu saja mengun- dang heran bagi Bayangan Maut. Sehingga kini se- telah dapat tegak kembali akibat bentrok pukulan dengan si gendut, sambil memperhatikan gerak ge- rik lawan dalam hati Bayangan Maut berkata. "Gendut sinting yang satu ini entah punya ilmu apa. Pukulanku seolah tidak membawa akibat apa-apa bagi dirinya. Kulihat tubuhnya seolah- olah kebal pukulan. Padahal ketika aku mengha- jarnya tadi, aku menggunakan setengah dari tena- ga sakti yang kumiliki!"

"Nenek serigala. Apa yang ada dalam otak- mu. Sejak tadi kau memandangku terus. Apakah ini merupakan suatu tanda bagiku bahwa kita ti- dak perlu menyambung nyawa. Sebagai gantinya kita saling berpandangan sampai akhirnya kita saling jatuh cinta. Ahh... hidup ini memang asyik- asyik sedap, bukankah begitu nenek cantik?" sin- dir si kakek. Mulutnya berkata begitu. Tapi yang sebenarnya diam-diam dia salurkan tenaga dalam lewat tatapan matanya.

Apa yang dilakukan kakek Gentong Ketawa ini dirasakan benar oleh Bayangan Maut. Sambil mendengus dia palingkan wajahnya ke jurusan lain. Tapi celaka! Kepala si nenek sulit digerakkan, lehernya seolah menjadi kaku seperti dipantek.

"Kakek jahanam itu rupanya diam-diam hendak mengadu jiwa denganku. Aku tidak mau melayaninya dengan cara seperti itu. Sekarang su- dah waktunya bagiku untuk menggunakan jurus Serigala Seribu." geram si nenek.

Sambil menggeram pula Bayangan Maut menggelengkan kepala dengan satu sentakan ke- ras. "Hik hik hik! Kau hendak mencoba menipuku dengan cara seperti itu, gendut? Kau tak bakal bi- sa melakukannya!" dengus si nenek begitu berhasil membebaskan diri dari pengaruh sorot mata kakek Gentong Ketawa.

"Jika sekarang kau sudah bebas, lalu kau bisa berbuat apa? Kau hendak memanggil murid- mu agar dapat bersama-sama melakukan penge- royokan terhadapku? Silahkan saja. Ha ha ha!"

"Kakek keparat perlu apa aku mengeroyok- mu. Dengan kedua tanganku ini aku sanggup membunuhmu!" Bayangan Maut menggeram. Se- kejap saja nenek itu melesat ke arah lawannya. Laksana kilat tubuhnya berkelebatan di udara menyambar dada dan bagian belakang tubuh si kakek. Gentong Ketawa kembangkan kedua tan- gannya, lalu menyambuti serangan lawan dengan tusukan senjata bercabang dua.

Tapi lawannya dengan mudah dapat meng- hindar serangan senjata si gendut yang datang laksana badai, malah kini sambil menghindar Bayangan maut segera melancarkan serangan ba- lasan. Si kakek bergerak mundur hindari tendan- gan dan pukulan yang dilepaskan oleh lawannya. Setelah itu dia balas melakukan serangan yang tak kalah sengitnya.

Tetapi semua serangan balik yang dilancar- kan oleh si kakek ternyata dapat ditangkis oleh si nenek. Bahkan tusukan maupun babatan senjata di tangan si gendut selalu mengenai tempat ko- song. Kenyataan ini tentu cukup mengejutkan bagi kakek Gentong Ketawa. Sadar lawan telah mengerahkan hampir se- bagian besar dari ilmu simpanannya si kakek se- gera melompat ke udara. Melihat lawan berusaha meloloskan diri Bayangan Maut segera memotong gerak lawannya sambil melepaskan satu tendan- gan menggeledek. Dalam keadaan mengambang tentu sangat sulit bagi kakek gendut ini untuk menghindar. Namun dia tidak kehabisan akal, dengan tangan kiri dia menangkis tendangan la- wan sedangkan tangan kanan meluncur deras mencari sasaran di bagian perut.

Dess! Plak!

Tangkisan yang dilakukan si gendut luput. Tendangan mengenai dada si kakek, sebaliknya se- rangan tangan kanan kakek gendut Gentong Ke- tawa juga menghantam perut Bayangan Maut.

Si gendut jatuh bergedebukan, sedangkan lawannya meskipun sempat terhuyung-huyung namun masih bisa jatuhkan diri dengan kedua kaki terlebih dulu menjejak tanah.

Kini sambil memegangi perutnya yang se- perti hancur Bayangan Maut menatap lurus ke de- pan. Dia melihat kakek gendut meringkuk, dari mulutnya yang meneteskan darah terdengar suara erangan tak berkeputusan. Jelas dia menderita lu- ka dalam yang tidak ringan.

Menyangka lawannya sudah tidak berdaya Bayangan Maut dengan nada sinis berkata lan- tang. "Manusia keparat! Kau lihatlah ke langit! Ku- lihat di atas sana malaikat maut siap menjemput nyawamu untuk segera dibawa ke neraka. Kuakui di antara musuh-musuhku kau adalah salah seo- rang lawan yang cukup tangguh. Namun pada ak- hirnya kenyataan membuktikan siapa yang terbaik di antara kita!"

Si gendut menyeringai kesakitan. Setelah bersusah payah akhirnya dia mampu duduk men- jelepok di atas tanah pasir. Sejenak dia menarik nafasnya yang menggap-menggap. Kemudian sam- bil menyeka darah yang meleleh di sudut bibirnya kakek Gentong Ketawa dongakkan kepala meman- dang ke langit. Setelah menatap langit sambil ter- senyum dia menggumam. "Bayangan Maut, ru- panya matamu sudah lamur. Kau mengatakan me- lihat malaikat maut siap menjemputku. Padahal yang kulihat saat ini adalah para bidadari cantik yang tersenyum penuh rasa cinta. Aku yakin kau pasti merasa iri atas kehadiran mereka sehingga kau jadi bicara ngaco! Ha ha ha!"

Lenyaplah sudah kesabaran Bayangan Maut. Dia lalu menarik kedua tangannya ke bela- kang. Dengan cepat si nenek salurkan tenaga da- lam ke bagian tangannya. Sementara itu mulut si nenek berkemak-kemik dan sesekali dari mulut itu keluar lolongan.

Hanya dalam beberapa kejapan kedua tan- gan si nenek telah berubah menjadi merah kehi- taman. Si kakek yang melihat semua itu menyada- ri lawan nampaknya siap melepaskan pukulan yang menjadi andalannya. Dia tidak mau men- gambil resiko. Meskipun saat itu kakek Gentong Ketawa tengah menderita cidera di bagian dalam, namun dia juga siap melepaskan pukulan Raja Dewa Ketawa. Pukulan itu adalah salah satu ilmu andalan si kakek.

"Auuung...!"

Si nenek keluarkan suara lolongan panjang. Bersamaan dengan itu pula sosoknya melesat ke arah kakek gendut sambil hantamkan kedua tan- gannya ke arah orang tua itu. Si kakek jadi terke- sima ketika melihat bagaimana dari tangan Bayangan Maut melesat sinar merah dan hitam. Sinar itu berturut-turut membentuk rupa sosok serigala yang menerkam ke arahnya dengan mulut ternganga siap mencabik-cabik. Yang mengerikan sinar berbentuk sosok serigala itu ternyata tidak satu, tapi banyak saling susul menyusul secara mengerikan.

Si gendut menyadari inilah saatnya dia me- lepaskan pukulan sebelum cahaya berupa serigala tersebut menerjang dan mencabik-cabik tubuhnya. Tanpa menunggu sambil tetap duduk menjelepok di atas pasir si kakek dorongkan kedua tangan menyambuti pukulan lawan. Segulung sinar ber- warna biru merah dan jingga menderu di udara, membuat suasana di sekitarnya berubah panas seperti berada di neraka. Lalu terjadilah benturan keras yang disertai dengan terdengarnya suara le- dakan berdentum.

Sebelumnya si kakek dalam keadaan terlu- ka. Akibat luka-lukanya itu membuat kakek Gen- tong Ketawa tak bisa menggunakan tenaga dalam penuh. Tak ayal si gendut terjengkang. mulutnya kembali menyemburkan darah. Celakanya pada waktu itu Bayangan Maut terus melakukan gebra- kan sambil hantamkan tangan kembali ke arah si kakek.

Cahaya merah dan hitam yang menderu da- ri tangan Bayangan Maut kembali membentuk so- sok serigala yang siap memporak porandakan tu- buh lawannya. Namun ketika pukulan Bayangan Maut hampir menelan habis sosok si gendut, pada saat itulah terdengar suara bentakan menggeledek disertai berkelebatnya dua sosok bayangan ke arah si nenek. "Siapa yang berani membuat celaka si gendut dia harus berhadapan denganku!" bersa- maan dengan terdengarnya suara teriakan itu ter- lihat segulung angin berhawa panas dan selarik sinar biru memapas pukulan yang dilepaskan oleh Bayangan Maut. Pukulan sinar yang membentuk sosok-sosok serigala itu tak dapat dihindari lagi akhirnya berbenturan di udara dengan pukulan yang dilepaskan oleh dua sosok yang berkelebat di udara.

Buuum! Buum!

Dua ledakan dahsyat berturut-turut meng- guncang tempat itu. Bayangan Maut keluarkan je- ritan tertahan, tubuhnya terdorong mundur bebe- rapa tombak. Tapi meskipun tubuhnya sempat oleng nenek itu masih dapat jatuhkan diri dengan kedua kaki terlebih dulu menjejak tanah. Wajah angker si nenek nampak memucat dadanya terasa sesak bukan main. Dengan hati masih diliputi rasa kaget Bayangan Maut memandang lurus ke de- pannya. Dua sosok yang menyerangnya dengan pukulan jarak jauh tidak kelihatan akibat udara di sekitarnya tertutup debu. Barulah ketika debu le- nyap si nenek melihat di depan sana berdiri tegak seorang nenek berpakaian hitam berkaki kuda. Wajah nenek itu tak kalah menyeramkan diban- dingkan dirinya sendiri. Karena muka nenek di depan sana selain hancur mengerikan juga tidak memiliki hidung.

Jika sosok nenek yang satu ini tidak sedap dipandang mata, lain halnya dengan sosok yang satunya lagi. Yang satu ini adalah seorang pemuda tampang berambut gondrong bertelanjang dada. Di bagian dada itu tergantung sebuah kalung perma- ta batu berbentuk bulat lonjong. Lagak si pemuda selalu cengengesan seperti orang sinting. Ketika Bayangan Maut memandang ke arah pemuda itu dia bersikap acuh tak acuh. Seolah dia mengang- gap kehadiran si nenek yang hampir mencelakai si gendut sepi-sepi saja. Malah pemuda gondrong itu bertanya pada kakek Gentong Ketawa. "Gendut... kulihat tubuhmu babak belur begitu? Dasar kakek tolol, pada perempuan jelek seperti itu masih juga bersikap mengalah. Memang apa yang kau ha- rapkan dari tua bangka seperti dia sehingga kau mau saja digebuki? Ha ha ha!"

Si gendut yang setelah peristiwa terjadinya ledakan nampak berusaha menyembuhkan luka dalamnya melalui pengerahan hawa murni segera membuka matanya. Dia memandang ke arah si gondrong. Hatinya menjadi girang melihat kehadi- ran muridnya. Ketika dia melirik ke arah nenek yang bersama sang murid kakek Gentong Ketawa unjukkan wajah cemberut. Sambil bersungut- sungut dan unjukkan wajah marah si gendut mendamprat. "Gege... dasar bocah tolol. Memang- nya selama ini kau kelayapan ke mana saja?"

Dikatakan bocah edan pemuda itu bukan- nya marah, tapi malah tertawa tergelak-gelak. Enak saja dia menjawab. "Menurutmu aku pergi ke mana, ndut? Tentu saja aku pergi ke sorga me- lihat bidadari-bidadari cantik!" sahut sang pende- kar.

Si gendut delikkan matanya. "Otakmu be- nar-benar tidak beres. Kalau kau pergi ke sorga mengapa yang bersamamu itu seorang genderuwo berujud seorang nenek bermuka tak karuan?"

Lagi-lagi sang pendekar tertawa bergelak. Sedangkan nenek yang bersamanya menggerutu geram dan memandang pada kakek Gentong Ke- tawa dengan mata mendelik.

"Guru salah sangka. Selesai ke surga aku mampir ke neraka. Disana aku bertemu dia. Lalu malaikat penjaga menitipkan nenek ini. Aku ter- paksa membawanya. Kata penjaga itu nenek yang kini bersamaku bisa kau jadikan teman hidup. Ha ha ha!"

"Puah...bocah edan. Apa kau mengira gu- rumu ini sudah tak sanggup mencari pendamping hidup sendiri?" damprat si kakek.

"Gendut pesek, lagipula siapa yang sudi menjadi istrimu. Kalau aku mau selusin kakek bu- tut sepertimu masih bisa kudapatkan dengan mu- dah!" damprat si nenek gusar.

"Ha ha ha. Biarpun butut-butut begini aku tidak ada duanya." Si kakek lalu mengelus hi- dungnya. Sambil menyengir dia kembali berkata. "Hidungku memang pesek, tapi masih lumayanlah daripada kau tidak punya hidung sama sekali!"

Sambil tersenyum Pendekar Sakti 71 me- nimpali ucapan gurunya. "Guruku memang tidak ada duanya. Dia tidak ubahnya seperti barang an- tik, seperti yang pernah kulihat perabotannya juga antik! Ha ha ha!"

Nenek Palasik menggeram. Setengah berbi- sik dia berkata ditujukan pada Gento. "Sejak awal memang sudah kuduga, kau dan gurumu si gen- dut gila itu memang bukan orang-orang yang tidak memiliki kewarasan." dengus si nenek.

Melihat nenek Palasik berbisik-bisik kakek Gentong Ketawa bertanya pada muridnya. "Gege... memangnya dedemit kesasar itu bicara apa?"

Pendekar Sakti 71 tersenyum, namun ke- mudian dengan mimik serius dia menyahuti. "Ah... dia cuma mengatakan dulu ketika kau masih mu- da dan badanmu belum segendut sekarang kau merupakan pemuda idaman setiap gadis. Tapi ka- tanya dasar tidak ada keberesan pada otakmu maka kau lebih suka menjalin hubungan kasih dengan para janda genit!"

"Hah dia bicara seperti itu?" teriak si kakek sambil delikkan matanya. Beberapa saat dengan muka merah akibat menahan malu karena raha- sianya dibongkar orang si gendut pandangi si ne- nek. Nenek Palasik tertawa mengikik melihat si gendut yang salah tingkah. Barulah kemudian dia berkata. "Kau lupa padaku Gentong Ketawa? Atau kau sudah tidak mengenali tua bangka buruk ini"

Si gendut terkesiap, bola matanya membu- lat besar. Dengan mulut bergetar si kakek beru- cap. "Kau... kau. Bukankah kau Nyai Palasik, Se- tan Betina dari Ungaran?"

"Hik hik hik. Bagus kalau matamu belum lamur, sobatku."

"Ah, aku tak menyangka yang hadir di ha- dapanku ini dirimu adanya sobatku!" ujar si ka- kek.

"Aku juga tak menduga kakek jelek yang hampir mampus di tangan nenek itu adalah diri- mu!" sahut si nenek.

Gentong Ketawa mengekeh sambi bertanya. "Bagaimana kau bisa bertemu dengan muridku?"

"Mengenai pertanyaanmu itu biarlah mu- ridmu bocah edan ini yang menjawab nanti setelah urusan di sini selesai. Yang terpenting sekarang ki- ta bereskan urusanmu mengenai nenek itu!" ujar nenek Palasik.

Kakek Gentong Ketawa manggut-manggut. Dia bersama yang lain-lainnya kemudian sama memandang ke arah Bayangan Maut juga ke arah gadis berpakaian merah yang masih duduk di atas batu. Gadis itu masih memejamkan mata, seolah tidak perduli dengan semua kejadian yang ber- langsung di tempat itu.

"Inikah manusianya yang menghendaki ke- matian Angin Pesut, ndut?" tanya si nenek dituju- kan pada kakek Gentong Ketawa.

"Kau tidak salah. Konon dulunya dia adalah kekasih Angin Pesut. Tapi kemudian terjadi sesua- tu !"

Ucapan si gendut segera dipotong oleh ne- nek Palasik. "Kau tidak usah menceritakan mimpi buruk hidupnya. Aku sudah tahu, aku sudah mendengarnya sejak lama!" ujar si nenek.

Gento memandang ke segenap penjuru. Ka- rena dia tidak melihat adanya Angin Pesut di seki- tar tempat itu selain mayat manusia raksasa Senggana, pemuda itu lalu ajukan pertanyaan. "Ndut... aku tak melihat kakek Angin Pesut. Di manakah dia? Apakah nenek setan itu telah mem- bunuhnya?"

"Saat ini dia berada dalam Liang Pemasung Sukma. Mengenai nasibnya aku belum tahu. Keti- ka datang aku hendak memeriksa ke dalam gua, tapi nenek itu menghalangiku!" jelas si kakek.

"Hem, lalu bagaimana kakek raksasa ini bi- sa menemui ajal?" tanya sang pendekar.

Kakek Gentong ketawa menunjuk ke atas batu dimana Indah Sari berada. "Dia yang mem- bunuhnya!"

Beberapa jenak lamanya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon dan nenek Palasik memandang pada si gadis. Sang pendekar tak dapat menutupi rasa kagetnya saat melihat pedang yang tergantung di pinggang Indah Sari.

Kepada nenek Palasik dia berbisik. "Senjata itu, bukankah merupakan senjata maut yang ber- nama Pedang Tumbal Perawan?"

Si nenek tidak segera menjawab, dia men- gamat-amati pedang berangka lengan manusia itu beberapa jenak lamanya. Setelah itu barulah dia menganggukkan kepalanya. "Kau tidak salah Gen- to. Pedang yang tergantung di pinggangnya me- mang Pedang Tumbal Perawan. Senjata itu amat berbahaya. Bahkan mungkin tiga kali lebih berba- haya dari nenek yang di depan kita."

"Jika gadis itu tak bisa dibuat sadar, aku terpaksa mengambil tindakan tegas. Pedang Tum- bal Perawan nampaknya sudah memakan korban. Raksasa ini aku yakin adalah orang tua Anggagi- ni."

"Anggagini siapa?" tanya si nenek.

"Seorang gadis yang dulunya pernah mene- rima akibat dari pengaruh Racun Perubah Ben- tuk."

Si nenek terdiam, dia coba mengingat-ingat. "Hh, kalau tak salah keluarga raksasa ini ada em- pat, lalu yang tiga orang lagi kemana?" Gento ge- lengkan kepala. "Kurasa mengenai raksasa itu tak penting. Mereka ada dimana tak perlu kita per- soalkan. Yang harus kulakukan saat ini adalah mencari tahu apakah Angin Pesut masih hidup atau sudah mati!"

"Kalau begitu kau harus masuk ke dalam gua itu Gento!" ujar si nenek.

"Persoalan memeriksa gua serahkan pada- ku." Kakek Gentong Ketawa tiba-tiba menyahuti.

Sang Pendekar memandang gurunya den- gan penuh rasa khawatir. Dia sadar saat ini gu- runya belum pulih sepenuhnya dari luka dalam yang dia derita. Karena itu dia bertanya. "Guru... menurutku urusan melihat Angin Pesut ke dalam gua biar dilakukan oleh nenek Palasik sahabatmu. Sedangkan kau sebaiknya istirahat, kalau perlu kau boleh tidur. Kau cari sendiri tempat yang aman!" ujar sang pendekar.

Si gendut langsung delikkan matanya. "Kau jangan menganggap remeh lawanmu Gege. Nenek itu manusia gila. Jika dia maju bersama muridnya aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian ber- dua!"

"Guru, apa gunanya kau punya murid jika setiap menghadapi kesulitan besar kau yang selalu repot sendiri!" ujar Gento.

Kakek Gentong Ketawa tersenyum. Dia me- rasa senang mendengar ucapan muridnya. Tetapi sebagai guru tentu saja dia tidak ingin terjadi se- suatu yang tidak dikehendaki pada Gege.

"Baiklah. Ada baiknya aku menyingkir ke tempat yang aman. Aku hendak tidur, kalau kau merasa kesulitan cukup berteriak yang keras gu- rumu ini pasti segera datang memberi bantuan!" habis berkata si kakek bangkit berdiri, setelah itu tanpa menoleh dia menghampiri batu bundar, me- rebahkan tubuhnya di sana sambil memejamkan mata namun tetap memasang telinga.

Setelah melihat kakek gendut merebahkan diri, Gento kini berpaling pada nenek Palasik. "Nek...sekarang sudah waktunya kau menyelidiki ke dalam gua itu!" ujar si pemuda.

Nenek Palasik anggukkan kepala. Tanpa menunggu lebih lama nenek itu segera berkelebat ke arah gua. Namun di luar dugaan Bayangan Maut yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik orang tiba-tiba tekankan tumit kaki kirinya.

Wuuut!

Laksana kilat dia melesat menghadang ge- rakan nenek Palasik sambil kirimkan satu jotosan ke arah perut orang. Nenek Palasik terkesiap, tapi cepat lipat sikunya. Siku segera didorong menang- kis jotosan lawan.

Duuuuk!

Terdengar seruan kaget. Nenek Palasik ter- dorong mundur, tubuhnya tergetar namun masih sempat jatuhkan diri dengan dua kaki menjejak tanah. Sebaliknya sosok Bayangan Maut hanya terdorong satu tindak. Dia pandang ke depan den- gan mata melotot.

"Nenek hidung sumplung berkaki kuda, aku sudah sering mendengar namamu. Tak pernah ku- sangka hari ini kita bertemu. Kalau aku tidak sa- lah mengingat bukankah kau sendiri memendam kesumat pada Angin Pesut. Kalau tak salah pula, suamimu dibunuh laki-laki terkutuk itu. Mengapa kini kau malah hendak membantu Angin Pesut?" damprat Bayangan Maut.

Nenek Palasik menyeringai. Dia maklum da- ri benturan tadi ternyata tenaga dalam yang dimi- liki Bayangan Maut berada satu tingkat di atasnya. Dia harus berhati-hati tapi juga segera menjawab pertanyaan orang. "Bayangan Maut, persoalan dendamku kepada Angin Pesut telah kuselesaikan dalam suatu pertarungan yang adil. Jika hari ini aku berada di hadapanmu semata-mata bukan ka- rena aku membela Angin Pesut. Semua itu semata- mata kulakukan demi menepati janjiku pada pe- muda itu!" tegas si nenek.

Bayangan Maut menyeringai. "Memangnya kau punya janji apa dengan bocah gondrong gila ini? Mau hidup bergendak dengannya?" desis Bayangan Maut sinis.

"Hik hik hik. Niat hati memeluk bukit apa daya bukitnya runtuh. Bayangan Maut, kau tidak usah iri. Jika dirimu merasa tertarik pada gon- drong itu silahkan kau bawa saja!"

Bayangan Maut kertakkan rahang. Sekali melompat dia telah berada di hadapan nenek Pala- sik. Kemudian secara tak terduga tangannya kiri kanan secara bersilangan menyambar ke arah ne- nek Palasik. Si nenek tersentak kaget, dia berusa- ha melompat mundur sambil menangkis serangan lawan dengan melakukan totokan pada bagian bawah lengan.

Bret! Bret!

Gerakan nenek Palasik kiranya kalah cepat dengan sambaran kuku lawan. Akibatnya bagian dada si nenek robek besar. Biarpun begitu Bayan- gan Maut juga tak kalah kagetnya ketika menda- pati bagaimana bagian sikunya mendadak menjadi kaku tak dapat digerakkan.

Dengan langkah terhuyung Bayangan Maut cepat mengusap lengannya dengan tangan satu la- gi yang luput dari totokan. Sebentar saja totokan lawan lenyap. Begitu terbebas dari totokan lawan si nenek menyerbu ke arah nenek Palasik. Tapi si nenek yang sudah merasakan kehebatan Bayan- gan Maut tak mau berlaku tolol untuk yang kedua kalinya. Sekali kakinya dihentakkan ke tanah, maka tubuhnya langsung amblas lenyap dari pan- dangan.

Bayangan Maut jadi terkesima untuk bebe- rapa jenak lamanya. Selagi dia tertegun mulutnya mendesis.

"Ilmu Menyusup Bumi...!" Bayangan Maut berseru kaget. Justru pada waktu itu permukaan tanah nampak bergerak-gerak seperti hidup. Gera- kan tanah yang bergelombang seperti air laut cepat sekali mendekat ke arah Bayangan Maut. Perem- puan tua ini baru menyadari bahaya yang men- gancamnya ketika tanah yang dijadikan sebagai tempat berpijak sekonyong-konyong amblas. Lalu dari dalam tanah yang amblas itu menyambar se- pasang tangan ke bagian kaki Bayangan Maut. Da- lam kagetnya tak menyangka mendapat serangan sehebat itu Bayangan Maut masih berusaha me- nyelamatkan diri dengan cara melompat di udara. Tapi gerakan yang dilakukan masih kalah cepat dengan sambaran kedua tangan lawan yang me- nyembul dari bawah permukaan tanah.

Kratp! Kreek!

Begitu kedua kaki kena dicengkeram, Bayangan Maut merasakan tubuhnya dibetot ke bawah dan dibawa masuk ke dalam tanah. Nenek itu tentu saja jadi kelabakan. Apa yang terjadi pa- da dirinya memang merupakan suatu kenyataan yang jauh dari jangkauan akal sehat. Bagaimana mungkin lawan dapat memperlakukan dirinya se- perti itu. Dalam gelapnya suasana di bawah sana Bayangan Maut menjadi sasaran pukulan-pukulan maut lawannya. Si nenek menggerung hebat, se- mentara permukaan tanah nampak bergerak-gerak akibat perkelahian sengit yang berlangsung di da- lamnya. Sementara itu ketika tubuh Bayangan Maut terbetot amblas ke dalam tanah, pada waktu ber- samaan Indah Sari yang merasakan goncangan hebat pada batu yang didudukinya nampak mem- buka matanya. Begitu mata terbuka sang dara memandang ka arah gurunya. Gadis ini segera berseru kaget ketika melihat bagaimana tubuh gu- runya tiba-tiba terperosok amblas ke dalam tanah seolah ada satu kekuatan yang membetotnya dari bagian dalam. Tak ingin melihat gurunya menga- lami nasib celaka. Sambil berteriak nyaring dan menghunus pedang miliknya sendiri Indah Sari berkelebat ke arah lenyapnya Bayangan Maut. Dia lalu hunjamkan pedangnya ke tempat yang dia perkirakan musuh besar gurunya berada. Melihat ini Gento tentu tidak ingin terjadi sesuatu pada nenek Palasik. Karena itu sang pendekar melom- pat ke depan. Dengan gerakan yang sulit diikuti kasat mata dia menghantam tangan Indah Sari yang memegang pedang.

Plak!

Hantaman yang dilakukan Gento tepat mengenai sasaran. Pedang di tangan sang dara ter- lepas mental, melambung tinggi ke udara lalu me- luncur jatuh menimpa salah satu batu yang terda- pat di sekitarnya.

8 Indah Sari tertegun, apa yang terjadi pada dirinya merupakan suatu kenyataan yang sulit di- percaya. Ketika dia memandang ke depan sang da- ra lebih terkejut lagi ketika melihat seorang pemu- da tampan berambut gondrong berdiri tegak di ha- dapannya. Dia yakin pemuda itulah yang telah membuat pedangnya terjatuh.

"Kau... apakah kau muridnya kakek gendut itu?" tanya sang dara dengan suara bergetar.

"Kau tak salah. Kakek gendut yang tidur di atas batu itu memang guruku." Sahut sang pende- kar. "Kalau tak salah bukankah kau anak kakek Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan?"

Di luar dugaan pertanyaan Gento mem- bangkitkan amarah di hati Indah Sari. Dengan ma- ta menyorot tajam penuh kebencian dan muka merah padam sang dara berteriak. "Pemuda ber- mulut lancang. Kau orang gila ketiga yang menga- takan aku sebagai anak Angin Pesut!"

Gento tersenyum. "Kau tidak bisa menging- kari satu kenyataan bahwa sesungguhnya kau anak kakek Angin Pesut. Cuma karena kau terlalu lama bersama dengan Bayangan Maut, kau jadi lupa pada asal usulmu. Aku yakin nenek jelek yang saat ini sedang berjuang melawan maut di dalam tanah itu telah menghasutmu, meracuni ji- wa dan fikiranmu sehingga membuatmu tak bisa menerima kenyataan yang ada. Indah Sari, keta- huilah kakek Angin Pesut sangat merindukan di- rimu selama ini. Belasan tahun dia kehilangan di- rimu. Belasan tahun pula dia meninggalkan kehi- dupan sesat menjalani kehidupan sebagaimana yang telah digariskan Tuhan. Semua itu semata- mata demi rasa cintanya pada dirimu. Mengapa kini kau tidak mau mengakuinya sebagai seorang ayah?" tanya Gento.

Pertanyaan sang pendekar memang cukup menggugah perasaan sang dara. Tapi bila dia ingat pada pesan gurunya yang pernah mengatakan agar dia tidak percaya pada ucapan semua orang. Maka dia jadi mengesampingkan perasaannya sendiri. Malah dengan suara lantang sang dara bertanya. "Jika benar aku adalah anak musuh be- sar guruku apa buktinya?"

"Kakek Angin Pesut pernah mengatakan anaknya yang hilang mempunyai tanda berupa ta- hi lalat di bagian punggungnya. Sekarang tanyalah pada dirimu sendiri apakah kau mempunyai tanda seperti yang kusebutkan itu?"

Indah Sari nampak ragu-ragu. Dia memang harus mengakui apa yang dikatakan Gento. Sang dara menjadi bingung, beberapa saat dia bergulat dengan fikirannya sendiri. Tapi lagi-lagi dia terin- gat pada semua ucapan gurunya. Sehingga dengan keras dia gelengkan kepala.

"Pemuda penipu! Seperti yang lainnya, kau juga manusia sinting yang mencoba mengecohku. Tapi aku tak setolol yang kau duga. Sekarang te- rimalah kematianmu!" selesai berkata, laksana ki- lat sang dara mencabut Pedang Tumbal Perawan yang tergantung di pinggangnya. Di tangan Indah Sari senjata itu bergetar di samping memancarkan cahaya hitam redup menggidikkan. "Pedang di tangannya bukan senjata biasa. Jika bapak raksasa itu dapat dibunuhnya, bukan mustahil dia juga akan membunuh semua orang yang mencoba menyadarkan dirinya." batin Gento. Dengan suara lantang murid kakek gendut Gen- tong Ketawa. "Gadis tolol, siapa yang menipumu. Aku cuma menyadarkan dirimu dengan mengata- kan yang sebenarnya, walau kau tidak percaya, masak aku mau memaksa!"

Sebagai jawaban Indah Sari melompat ke arah Gento sambil gerakkan pedang lancarkan sa- tu tusukan dan babatan. Pedang menggeletar he- bat mengeluarkan suara gemeletak aneh seperti suara tulang terbakar. Sinar hitam bertaburan di udara disertai menebarnya hawa dingin laksana es. Gento merasakan tiba-tiba nafasnya seperti tersendat, tenggorokan laksana dicekik setan ter- kena pengaruh pebawa pedang.

Terkejut pemuda itu melompat mundur. La- lu meliukkan tubuhnya menghindari terjangan senjata lawan. Dalam serangan pertama ini si ga- dis dibuat kecewa karena tusukan maupun baba- tan yang dilakukannya hanya mengenai tempat kosong. Indah Sari tidak merasa putus asa, dia te- rus merangsak maju sambil memperhebat seran- gannya. Sang dara yakin lawan kali ini tidak bakal dapat meloloskan diri dari serangan pedangnya.

Karena Indah Sari menyerangnya dengan kekuatan penuh, dalam waktu sekejap sinar hitam telah mengurung sang pendekar dari segala penju- ru. Gento terus bergerak mundur. Mengandalkan jurus Belalang Mabuk dan jurus Dewa Awan sang pendekar hindari serangan gencar lawannya. Se- sekali tubuhnya melompat di udara. Setiap ada kesempatan dia juga membalas serangan lawan dengan pukulan tangan kosong. Tapi setiap puku- lan yang dilepaskannya membentur pedang lawan. Maka pukulan itu lenyap tanpa bekas.

Gento leletkan lidah, tubuhnya dalam wak- tu lima belas jurus telah basah bersimbah kerin- gat. Dalam pada itu sayup-sayup dia mendengar gurunya yang menelentang di atas batu sambil pe- jamkan matanya menyenandungkan bait-bait syair. entuh Panas yang terik Terang benderang

Seperti kegelapan bagi sang anak Belasan tahun berada dalam gelap Dalam bimbingan sang kelam Mata dan hatinya menjadi buta

Kini setelah lama tersesat dia tidak tahu lagi Kemana arah pulang

Anak yang malang ujudnya tidak dapat dis-

Anak yang malang keayuannya mematikan Di tangannya tergenggam tangan iblis Tangan iblis tidak bisa dibuat sembarangan Kalau tak ingin jiwa melayang

Wahai anak asuhan tabib setan Konon kau punya pentungan?

Punya seribu ilmu tak akan bisa digunakan Banyak ilmu mematikan akal

Pentungan wahai pentungan Dimana kau disimpan

Kemudian suara si kakek lenyap, yang ter- dengar kini hanya berupa suara dengkuran kakek Gentong Ketawa yang seolah telah pulas dibuai mimpi. Sambil Gento sendiri sadar ucapan gu- runya bukan tanpa makna. Dia tahu di dalam se- nandung itu terdapat suatu teka-teki yang harus dicari jalan pemecahannya. Gentopun kemudian sambil menghindari serangan senjata Indah Sari berusaha memecahkan teka-teki tersebut. Dia ta- hu si anak malang yang dimaksudkan gurunya pastilah gadis yang menjadi lawannya. Tapi kata- kata terakhir yang diucapkan gurunya itu apa ar- tinya.

"Gendut brengsek, mau memberi tahu saja mengapa harus berbelit-belit membingungkan orang. Kurang ajar !" Gerutu sang pendekar begi-

tu sambaran pedang lawan nyaris menjebol bagian perutnya. Pendekar Sakti 71 terpaksa berjumpali- tan ke belakang. Indah Sari terus merangsak ma- ju, bahkan kini melepaskan tendangan menggele- dek secara berantai. Menghadapi serangan pedang itu saja Gento sudah dibuat kerepotan, apalagi ki- ni dia harus menghindari tendangan pula. Lebih celakanya lagi Gento juga terpaksa berfikir keras mengartikan kata-kata yang diucapkan gurunya.

"Pentungan! Aku tidak menyimpan pentun- gan!" Gento menggerendeng sambil hindari ten- dangan dan babatan senjata lawannya. Kalang ka- but sang pendekar menghindari serangan- serangan berbahaya. Sedangkan otaknya kem- bali berfikir. "Aku dapat.... gendut itu tak mung- kin menyebut pentungan yang di bawah pusarku ini. Kurasa pentungan yang dimaksudkannya ada- lah senjata warisan Tabib Setan itu pasti yang di- maksudkannya!" Baru saja Gento menemukan ja- waban dari teka-teki dalam senandung syair butut gurunya pedang di tangan lawan berkelebat me- nyambar leher Gento.

Sang pendekar belalakan mata, tapi cepat merunduk dengan kaki setengah ditekuk.

Tess!

Pedang lewat, leher Gento selamat namun ujung pedang masih sempat membabat putus rambut gondrongnya. Gento berseru kaget, lalu ja- tuhkan diri yang dilanjutkan dengan gerakan ber- gulingan di atas tanah. Pada waktu bersamaan la- wan melompati dirinya sambil kirimkan satu ten- dangan menggeledek ke bagian perut Gento. Ce- patnya tendangan serta tak menduga lawan masih dapat mengirimkan tendangan keras ke arahnya membuat Gento tak sempat menghindar.

Buuk! "Wuarkh...!"

Gento menjerit kaget. Tubuhnya terlempar sampai sejauh tiga tombak. Terbungkuk-bungkuk Gento merangkak dan bangkit berdiri. Dia terba- tuk-batuk dari mulutnya menyembur darah segar. Tapi dengan cepat dia keluarkan senjata yang menjadi andalannya.

Begitu senjata yang berupa gada dengan panjang hampir dua jengkal dan besarnya seibu jari. Sambil menyeringai menahan sakit Gento me- lintangkan Penggada Bumi di depan dada. Semen- tara diam-diam dia salurkan tenaga dalam ke ba- gian hulu senjata dalam genggamannya.

Melihat senjata lawan yang sekecil itu Indah Sari meludah. Dengan sinis dan memandang ren- dah dia berkata. "Dengan senjata itu kau hendak melawan Pedang Tumbal Perawan. Ketahuilah jika ada gada yang besarnya seratus kali dari gada yang ada di tanganmu belum tentu sanggup me- nandingi pedangku. Senjata seperti itu untuk menggebuk anjing sekalipun tidak akan terasa!"

Gento tersenyum dingin. "Dengan senjata penggebuk anjing ini aku akan menggebuk tu- buhmu yang beracun sampai lumat!" sahut Gento.

Sang dara yang terus menerus memandang ke arah senjata aneh di tangan Gento hendak mengucapkan sesuatu. Tapi kemudian dia malah keluarkan seruan kaget ketika melihat gada ber- warna kuning keemasan dengan besar tak lebih dari ibu jari kaki itu kini menunjukkan suatu pe- rubahan aneh. Penggada bumi mendadak meman- carkan cahaya kuning kemilau. Mamancarnya ca- haya dibarengi dengan membesarnya gada terse- but.

Mula-mula gada membesar sepuluh kali li- pat dari aslinya. Tapi setiap saat gada terus beru- bah besar dan memanjang sampai akhirnya sebe- sar batang kelapa dengan panjang sekitar dua tombak.

Di atas batu dengkuran si kakek gendut ti- ba-tiba lenyap, mulut komat-kamit seperti orang bermimpi makan enak. Setelah terdengar suara si kakek.

"Senjata itu memang hebat. Tapi sifatnya

kok ya seperti punyaku, suka membesar dan men- gempis. Dasar yang memberikan senjata itu tabib gila, tidak heran jika prilaku senjatanya seperti itu!" setelah itu suara si kakek lenyap berganti dengan suara dengkuran.

Gento tidak menanggapi ucapan si kakek yang entah mengigau atau bicara dalam keadaan sadar. Dia kemudian menyerbu ke depan. Gada di tangannya berputar sebat, angin menderu dingin, cahaya kuning keemasan bertaburan di udara. In- dah Sari kertakkan rahangnya, dia menyambut se- rangan Gento dengan mengibaskan pedang di tan- gannya.

Sementara itu Bayangan Maut yang sempat diseret ke dalam tanah oleh lawannya tiba-tiba terpental ke udara. Sekujur tubuh si nenek sudah berselemotan debu, sedangkan pakaiannya robek di sana sini. Bagian pipi lebam membiru terkena pukulan.

Tak lama setelah nenek itu jejakkan ka- kinya dengan tubuh terhuyung nafas megap- megap. Dari lubang menganga yang dilewati Bayangan Maut berkelebat pula sosok nenek Pala- sik. Tubuh orang tua ini juga nampak dipenuhi luka cakaran. Darah berwarna merah kehitaman mengalir dari setiap luka di sekujur tubuhnya.

Kiranya biarpun nenek Palasik menarik la- wan ke tanah. Lawan ternyata tidak dapat dike- cohnya. Bayangan Maut hanya sekejap saja kela- bakan. Setelah menutup jalan pernafasan untuk menghindari tanah agar tidak masuk ke dalam sa- luran nafas, dia segera membalas serangan gencar lawannya. Kini dalam keadaan sama-sama terluka Bayangan Maut dengan nafas memburu berseru. "Kau tak bakal lolos dari kematian nenek bodoh!"

Nenek Palasik yang sudah terluka tidak menanggapi. Sebaliknya tubuh si nenek melesat ke udara. Selagi di udara dia lakukan gerakan memu- tar tubuh dua kali, setelah itu kakinya melesat menghantam dada Bayangan Maut. Sekali tumit kaki nenek Palasik yang setajam mata tombak itu mengenai sasaran dada Bayangan Maut pasti jebol sampai ke punggung.

Tapi Bayangan Maut dengan gesit mengeser langkahnya ke sebelah kiri sebanyak satu tindak. Tendangan nenek Palasik luput. Menyadari ten- dangannya tidak mengenai sasaran tangan nenek Palasik melayang menghantam wajah.

Plaak!

Bayangan Maut terpelintir akibat hantaman yang mendera wajahnya. Namun dengan cepat tangannya menyambar ke arah dada nenek Pala- sik. Tak menyangka mendapat serangan yang amat cepat seperti itu nenek Palasik tidak sempat mengelak.

Tak ayal lagi sambaran kuku si nenek men- jebol dadanya. Nenek Palasik meraung keras. Ka- kek Gentong Ketawa diam-diam mengawasi jalan- nya perkelahian terkesiap melihat apa yang terjadi pada sahabatnya.

Laksana kilat orang tua itu berkelebat menghantam bahu Bayangan Maut. Lawan menje- rit dan jatuh terbanting. Tapi usaha kakek gendut untuk menyelamatkan nenek Palasik terlambat. Perempuan cacat wajah itu sudah terkapar dengan dada berlubang menyemburkan darah.

"Palasik!" seru si gendut setengah menge- rang. Si nenek mengerang lirih. Dengan nafas me- gap-megap nenek itu berkata. "Gendut sahabatku. Nenek itu terlalu tangguh, kau berhati-hatilah!" se- lesai berkata begitu kepala nenek itupun terkulai. "Sahabatku!" teriak si kakek histeris.

"Kau tak usah bersedih gendut. Karena se- bentar lagi aku juga bakal mengirimmu ke neraka. Kau bisa bertemu dan berkumpul kembali den- gannya di sana!" kata Bayangan Maut yang saat itu telah berdiri di depan si kakek sambil men- gangkat tangannya tinggi-tinggi siap hantamkan pukulan.

Kakek gendut Gentong Ketawa marah besar. Dia bangkit berdiri, tapi sebelum si kakek sempat berdiri tegak, tanpa memberi kesempatan Bayan- gan Maut segera menghantam orang tua itu den- gan pukulan Seribu Serigala Berebut Bangkai.

Gentong Ketawa bergulingan ke samping. Dari tangan Bayangan Maut sinar hitam berkiblat menghantam si kakek. Pada waktu itu pula ter- dengar suara teriakan. "Bayangan Maut jika kau bunuh kakek itu jiwamu tak bakal kuampuni!"

Bersamaan dengan terdengarnya suara te- riakan itu satu bayangan berkelebat dari mulut gua. Sedangkan dari telapak tangannya berkiblat sinar putih menyilaukan mata.

"Pukulan Ratap Langit!" seru Bayangan Maut yang sempat palingkan kepala memandang ke arah orang yang keluarkan seruan.

Buum! Buum!

Terdengar suara ledakan dahsyat dua kali berturut-turut. Ledakan pertama adalah pukulan yang dilepaskan Bayangan Maut yang cuma me- nyambar baju si gendut sampai hangus. Sedang- kan ledakan kedua adalah akibat pukulan yang di- lepaskan sosok bayangan yang keluar dari gua. Bayangan itu bukan lain adalah Angin Pesut. Bayangan Maut tentu saja menjadi kaget seolah tak percaya melihat Angin Pesut mampu bebaskan diri dari pendaman Liang Pemasung Sukma.

Bayangan Maut sendiri sempat terbanting, pukulan yang dilepaskan Angin Pesut menyambar tangannya hingga tangan itu kini hangus hancur mengerikan.

Sebaliknya kakek Gentong Ketawa merasa lega melihat Angin Pesut dalam keadaan selamat.

9

Kedua musuh bebuyutan itu kini saling berhadap-hadapan. Bayangan Maut sambil meno- tok urat besar di bagian sikunya berkata. "Manu- sia jahanam, bagaimana kau bisa meloloskan diri dari Liang Pemasung Sukma?"

Dengan tatapan dingin Angin Pesut yang sempat melirik ka arah Indah Sari yang terlibat perkelahian sengit dengan Gento menjawab. "Hal itu tidaklah penting. Yang jelas, kau jangan li- batkan sahabatku Gentong Ketawa dalam masalah kita." Tegas si Kakek.

"Aku membunuh siapa saja yang berada di pihakmu!" dengus Bayangan Maut.

"Angin Pesut kau tak usah risau. Sebagai sahabat tentu saja kita punya kewajiban saling to- long menolong!" ujar si gendut.

"Sobat Gentong Ketawa. Kuminta menying- kirlah, aku akan membuat perhitungan dengan manusia satu ini!" ujar Angin Pesut.

"Ha ha ha. Kebetulan sekali aku lagi tidak enak badan. Jika kau memintaku begitu dengan senang hati pasti kuturuti!" ujar si gendut. Lalu dengan terbungkuk-bungkuk dia membopong mayat nenek Palasik menyingkir dari situ.

Seperginya kakek gendut Bayangan Maut segera berkata. "Sungguhpun saat ini aku telah kehilangan sebelah tangan, tapi jangan harap kau dapat meloloskan diri dari tanganku!"

"Sungguhpun aku menghancurkan tubuh- mu, hai itu tidaklah sebanding dengan kesala- hanmu yang telah memperdaya muridmu! Dan kau mengira masih bisa membunuhku dengan ke- terbatasanmu itu?" sahut si kakek.

Bayangan Maut berteriak lantang. Seiring dengan teriakannya itu tubuhnya berkelebat le- nyap dari pandangan mata. Bersamaan dengan itu pula tiba-tiba Angin Pesut merasakan ada angin menyambar ke bagian pinggang, dada dan kepa- lanya. Si kakek menggeram, lalu secepat kilat dia memutar tangannya menangkis serangan lawan.

Duk! Duk!

Bentrokan keras terjadi, Bayangan Maut ke- luarkan seruan tertahan. Benturan itu membuat si nenek terhuyung. Angin Pesut menggeram, lalu le- paskan satu jotosan ke dada si nenek.

Bayangan Maut jatuh bergedebukan, dari sudut-sudut bibir si nenek meneteskan darah per- tanda dia mengalami luka di dalam. Tapi Bayan- gan Maut dengan cepat bangkit berdiri. Dia mak- lum tak mungkin dapat menghancurkan Angin Pe- sut dalam keadaan menderita cidera seperti itu. Karenanya Bayangan maut segera mengeluarkan jurus-jurus andalannya berupa rangkaian jurus Serigala Seribu dan juga jurus Bayangan Serigala.

Dalam waktu singkat si nenek yang telah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki tersebut telah menyerang Angin Pesut dengan se- rangan beruntun yang datangnya bagaikan air bah. Beberapa saat Angin Pesut memang sempat terdesak hebat mendapat serangan itu. Namun ke- tika si kakek mengerahkan jurus-jurus andalan- nya pula keadaan jadi berbalik.

Sementara itu perkelahian antara Gento dan Indah Sari sudah sampai pula pada titik pun- caknya. Sang pendekar yang sadar tubuh lawan- nya mengandung racun yang mematikan bila sam- pai tersentuh olehnya terus menggunakan Pengga- da Bumi untuk mencecar lawan. Beberapa kali benturan keras antara Pedang Tumbal Perawan dengan Penggada Bumi terjadi. Bunga api berpija- ran di udara, sedangkan tubuh mereka sama ter- getar hebat. Tapi yang membuat sang dara heran gada yang selalu memancarkan cahaya kuning berkilauan itu tidak putus terbabat senjatanya.

"Pemuda itu dan gada di tangannya bukan senjata sembarangan. Aku harus menyerang ba- gian kakinya!" batin sang dara yang saat itu kem- bali terluka akibat benturan senjata milik sang Pendekar.

Indah Sari melompat mundur ketika gada di tangan Gento menghantam kepalanya. Dia lalu melepaskan pukulan tangan kosong ke arah la- wan. Begitu tangan kirinya menghantam ke depan, maka Indah Sari pun menyerbu ke arah lawan. Pedang di tangan kiri gadis ini membabat ke ba- gian kaki Gento. Si pemuda melompat lalu me- nangkis serangan pedang lawannya.

Traang!

Benturan keras kembali terjadi, pedang di tangan si gadis terlepas dari tangannya. Pedang itu terpental lalu jatuh tak jauh dari tempat terjadinya perkelahian antara Angin Pesut dengan Bayangan Maut.

Melihat senjata lawannya jatuh, Gento se- benarnya tidak ingin menjatuhkan tangan keji pa- da sang dara. Tapi gadis ini kiranya berlaku ne- kad. Dia tetap menyerang Gento dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Merasa didesak si pemuda terpaksa menggerakkan tangannya yang memegang gada.

Dengan begitu pukulan maupun tendangan Indah Sari gagal mencapai sasaran. Sebaliknya gada besar di tangan sang Pendekar terus melun- cur dan menghantam bagian rusuk sang dara.

Braak! "Wuaakhgh...!"

Indah Sari menjerit setinggi langit. Hanta- man gada membuat tubuhnya terpelanting sejauh lima tombak. Gadis itu terkapar tidak berkutik la- gi. Dengan cepat Gento mendatangi. Ketika hendak memeriksa, gurunya yang melihat niat Gento sege- ra berkata. "Jangan kau lakukan. Kau bisa kera- cunan. Biarkan saja, dia hanya pingsan. Mungkin beberapa tulang rusuknya ada yang patah. Jika Angin Pesut selamat, biar gadis itu diurus olehnya karena tubuh Angin Pesut juga kebal terhadap berbagai jenis racun.

"Guru kau sendiri bagaimana?" tanya Gento khawatir.

"Aku, aku tidak apa-apa. Cuma sahabatku Palasik tidak ketolongan jiwanya" sahut si gendut.

"Ah, aku turut sedih mendengarnya." Desah Gento sambil melangkah menghampiri si kakek yang memeluki jasad nenek Palasik.

Sementara itu di tempat terjadinya perkela- hian kembali terjadi benturan keras antara tangan Angin Pesut dengan kaki Bayangan Maut. Tubuh kakek beralis dan berambut merah itu nampak terhuyung-huyung. Di depan sana Bayangan Maut jatuh menelentang. Ketika tangannya menggapai- gapai hendak berdiri tangan si nenek menyentuh hulu pedang Tumbal Perawan. Si nenek yang su- dah terluka parah menyeringai kegirangan. Tapi juga sedih karena menduga muridnya tentulah te- lah binasa di tangan murid si gendut. Sambil me- megang pedang dengan tangan kirinya. Perempuan itu berkata. "Angin Pesut barangkali Indah Sari te- lah tewas akibat kekejaman para sahabatmu. Se- karang kukatakan terus terang kepadamu bahwa sebenarnya Indah Sari adalah anakmu yang kucu- lik belasan tahun yang lalu. Kini setelah anakmu dibunuh oleh pemuda itu apakah tidak tergerak di hatimu untuk menuntut balas atas kematiannya?" tanya si nenek sengaja memanas-manasi. Tapi ru- panya Angin Pesut sungguhpun mengetahui Indah Sari memang anaknya sebagaimana yang dia duga selama ini. Kiranya dia sudah tidak kena dibujuk lagi.

Dengan tegas dia berkata. "Jika dia mati, semua itu bukan salah sahabatku. Mereka semua terpaksa melakukannya demi membela diriku. Kematian Indah Sari kuanggap sebagai suatu tak- dir!"

Mendengar ucapan Angin Pesut legalah hati Gento juga perasaan gurunya. Sebaliknya Bayan- gan Maut menjadi geram karena muslihatnya ter- nyata tidak membawa hasil.

"Angin Pesut kau lihatlah pedang ini!" Dengan tatapan dingin si kakek meman-

dang ke arah pedang di tangan si nenek. Kemu- dian dengan suara dingin pula dia menjawab. "Pe- dang di tanganmu adalah Pedang Tumbal Pera- wan. Konon kehebatannya dapat membuat lawan tidak berdaya. Jika pedang itu kau pergunakan untuk membelah tubuhku. Meskipun aku memiliki ilmu ajian Pancasona, tubuhku dapat dipastikan tidak bakal bersatu kembali. Tapi kau lupa, sebe- lum pedang itu menyentuh tubuhku, mungkin tu- buhmu telah luluh lantak terkena pukulan Ratap Langit! "

"Huh, kita lihat... siapa yang cepat, pukulan mautmu atau pedang di tanganku ini!" Bayangan Maut menutup ucapan dengan memutar sebat pe- dang di tangannya. Suara angin menderu-deru, si- nar hitam berkiblat di udara. Suasana di sekitar- nya mendadak jadi redup terkena pebawa pedang.

Angin Pesut sadar, jika sampai Pedang Tumbal Perawan mengenai bagian tubuhnya, san- gat kecil kemungkinan bagi dirinya dapat melo- loskan diri dari maut. Karena itu si kakek sejak awal sudah merapal ilmu ajian Ratap Langit sam- bil salurkan tenaga sakti ke arah tangannya.

Begitu si kakek melihat sinar hitam bergu- lung-gulung bergerak cepat ke arahnya, si kakek segera menghantamkan kedua tangannya ke arah Bayangan Maut. Dari telapak tangan si kakek ber- kiblat sinar putih menyilaukan mata. Hawa panas bergulung-gulung menyertai melesatnya sinar pu- tih itu. Lalu...

Buuum! Kraaash!

Satu ledakan keras mengguncang tempat itu. Lamping tebing curam runtuh sedangkan di tengah suara ledakan terdengar jeritan lolong Bayangan Maut yang kemudian lenyap. Semua yang berada di tempat itu jadi terkesima. Mereka sama memandang ke arah Bayangan Maut. Na- mun nenek itu tidak kelihatan. Ketika kegelapan yang menyelimuti tempat sekitarnya lenyap ter- dengar suara kerontangan pedang.

Angin Pesut tegak tergontai dengan muka pucat dan pakaian hancur tak karuan. Gento dan gurunya mencari-cari Bayangan Maut. Mereka jadi tercekat ketika melihat tengkorak kepala dan tu- lang belulang yang hangus mengepulkan asap me- nebar bau daging terbakar.

"Apakah yang kita lihat itu adalah tengko- raknya Bayangan Maut guru?" tanya Gento sambil meraba tengkuknya yang mendadak dingin.

"Ya... dia telah menjadi korban ilmu ajian Ratap Langit. Kau lihatlah, Pedang Tumbal Pera- wan yang tergeletak di samping tulang belulang Bayangan Maut juga tinggal besi bengkok yang hangus tidak berguna. Ah, kesaktian yang dimiliki oleh manusia yang satu itu memang sulit dicari tandingannya!" gumam si kakek memuji.

Dalam kesempatan itu Angin Pesut dengan langkah gontai dan wajah kuyu menghampiri me- reka. Orang tua itu setelah menatap pada Gento dan gurunya segera berkata. "Para sahabatku, ka- lian sudah begitu banyak membantu. Entah den- gan apa aku bisa membalas segala budi kalian." ujar Angin Pesut.

"Kakek Angin Pesut. Bantuan yang kami be- rikan tidaklah seberapa. Sebelumnya aku mohon maaf karena terpaksa menciderai anakmu!"

Angin Pesut anggukkan kepala. Dia meno- leh ke arah Indah Sari yang dalam keadaan terluka dan tak sadarkan diri.

Seolah mengerti apa yang dipikirkan Angin Pesut, kakek Gentong Ketawa berkata. "Angin Pe- sut, kau bawalah anakmu. Dia masih bisa kau sembuhkan meski memakan waktu agak lama. Kau bimbinglah dia, mudah-mudahan dia bisa menerima kenyataan yang sebenarnya!" ujar si gendut.

"Anak itu tidak bersalah. Sebagai orang tua akulah yang bersalah. Karena hitam putihnya anakku, baik buruknya jalan yang dia tempuh se- muanya tergantung padaku!" ujar si kakek seolah menyesali.

"Kakek... masih belum terlambat bagi kakek untuk membimbing Indah Sari. Bukankah begitu guru?" kata Gento sambil kedipkan matanya pada si gendut.

"Muridku benar sobatku Angin Pesut. Ba- walah dia secepatnya. Cidera pada bagian tulang rusuknya perlu segera mendapatkan perawatan."

"Kalian semua adalah sahabat-sahabatku yang baik. Sekali ini aku mohon pamit!" ujar Angin Pesut. Kakek itu kemudian menjura penuh rasa hormat. Setelah itu dia menghampiri Indah Sari. Setelah membopong sang dara, Angin Pesutpun berkelebat pergi meninggalkan Gento dan gurunya. Si gendut menarik nafas. "Sekarang lega sudah hatiku. Mudah-mudahan Indah Sari bisa

menerima keberadaan ayahnya!"

"Aku juga berharap begitu. Tapi di hatiku sendiri sebenarnya ada satu ganjalan guru." ujar Gento sambil tersenyum.

"Eeh, bocah edan. Kau punya ganjalan

apa?"

"Aku tak bisa menceritakannya sekarang. Sebaiknya kita urus dulu mayat nenek Palasik." "Ah, kau. Jika kau tak mau mengatakan ge-

rangan apa yang mengganjal hatimu aku tak mau mengubur nenek itu!" kata si gendut sambil ber- sungut-sungut.

"Kalau kau tak mau ya sudah. Aku juga bi- sa menguburnya sendiri. Karena segalanya kuker- jakan sendiri agar mudah aku akan mengubur ne- nek ini dengan posisi berdiri!"

"Bocah gelo. Kau bisa kualat. Lagj pula... akh... kau tidak boleh begitu. Biarpun sudah mati nenek ini bekas sahabatku!" gerutu si kakek.

"Bekas sahabat atau bekas kekasih? Kalau dia bekas kekasihmu berarti nenek ini bukan pe- rawan tapi sudah janda. Ha ha ha!" kata sang pendekar.

Kakek Gentong Ketawa jadi kalang kabut. "Bocah sial. Kau tahu apa!" dengus si ka-

kek. Orang tua ini kemudian meninggalkan mu- ridnya untuk membuat sebuah kubur buat sang sahabat. Di belakangnya Gento terus tertawa men- gekeh.

Tamat