Gento Guyon Eps 23 : Racun Darah

 
Eps 23 : Racun Darah


Matahari belum lama tenggelam. Tapi Kuil tua yang bersebelahan dengan belasan makam yang terletak di tepi Kaliurang itu telah terbungkus kegelapan. Hujan gerimis sudah lama terhenti, hanya mendung masih nampak bergayut di langit. Kesunyian di kawasan Kaliurang yang mencekam sesekali diseling dengan suara deru angin dan su- ara kodok.

Tapi suasana seperti itu nampaknya tidak berpengaruh bagi kakek berambut lurus berpa- kaian hitam yang duduk mencangkung di bagian emperan depan kuil.

Ketenangan si kakek tak berlangsung lama karena tiba-tiba dia mendengar suara desah tari- kan nafas seseorang dari arah sudut sebelah kiri kuil. Anehnya si kakek tidak melihat siapapun ha- dir di situ. Si kakek menyeringai, lalu gelengkan kepala. Dari mulutnya kemudian terdengar ucapan perlahan. "Heran, yang kudengar tadi sama sekali bukan suara desau angin, tapi jelas suara tarikan nafas orang. Datangnya bukan dari dalam, tapi da- ri luar. Lalu siapa?"

Kakek ini kembali memandang ke sudut se- belah kiri kuil. Tidak ada tanda-tanda ada orang muncul disitu, tapi si kakek yakin apa yang sem- pat didengarnya tadi sama sekali bukan angin. Tak sabar dia berseru. "Orang yang baru datang! Apa maksudmu bersembunyi di situ? Jika kau datang dengan maksud baik hendaknya cepat keluar tun- jukkan diri!"

Suara si kakek berlalu. Tak ada jawaban.

Dinginnya udara menjelang malam terasa semakin menggigit. Si kakek berpakaian hitam jadi tidak sabar

Sekali si kakek berpakaian hitam berambut panjang lurus membuat gerakan, tahu-tahu so- soknya telah melesat, mengapung beberapa jenak dalam ketinggian lebih dari tiga tombak lalu ber- jumpalitan ke arah rerumpun semak belukar yang terdapat di sudut kiri kuil.

Ketika orang tua ini jejakkan kaki di balik rerumpun semak itu diam-diam dia jadi tercekat. Tak percaya dengan pandangan matanya sendiri si kakek pentang matanya. "Kegelapan menyelimuti tempat ini, tapi aku jelas tak salah melihat. Sosok hitam yang berdiri tegak di bawah pohon itu me- mang manusia. Dari sini wajahnya tak dapat kuli- hat jelas. Tapi sepasang matanya yang memancar- kan cahaya dalam gelap, ah... jangan-jangan me- mang dia?!" si kakek membatin, lalu gelengkan ke- pala.

Belum lagi si kakek sempat ajukan perta- nyaan, sosok hitam yang berdiri tegak di bawah pohon berucap. "Kita bertemu kembali, Tapa Ge- dek. Sepuluh tahun berlalu sudah. Setelah persa- habatan tidak lagi mesra bagai layaknya sepasang kekasih. Satu sama lain diantara kita masih ada ganjalan di dalam hati. Aku inginkan nyawamu saat ini, sayang para sahabatmu di dalam kuil ma- sih membutuhkan kehadiranmu dan aku pun ma- sih harus menyelesaikan satu urusan besar. Ha ha ha hik hik hik!"

Tak menyangka orang mengenali siapa di- rinya kakek yang dikenal dengan julukan Tapa Gedek itu surut mundur satu langkah.

Sebagaimana kebiasaannya si kakek ge- lengkan kepala pulang balik. Kening berkerut, Ta- pa Gedek berfikir keras mencoba mengingat siapa adanya orang yang berdiri dalam kegelapan di ba- wah pohon. Tapi dia tak mampu mengingat dalam hati cuma bisa menduga. "Kalau memang dia... ah rasanya tak mungkin, aku tahu matanya tidak se- perti mata orang ini, terang seolah memancarkan cahaya...!"

"Kau sudah tak mengenali aku lagi bukan? Bagus... kelak akan ada setan yang memberimu petunjuk. Tapa Gedek, dosamu kepadaku seperti buih di lautan. Dua minggu mendatang aku akan datang menagihnya. Hik hik ha ha ha!"

Selesai berkata sosok hitam dalam kegela- pan memutar tubuh siap melangkah pergi. Ternya- ta Tapa Gedek tidak membiarkan orang pergi begi- tu saja. Sekali dia berkelebat tahu-tahu sudah menghadang langkah orang. "Kau hendak lari ke- mana? Jika aku memang punya salah denganmu cepat jelaskan yang salah apa ku. Seandainya aku punya dosa padamu kapan aku melakukannya." dengus si kakek.

Sosok hitam tertawa mengekeh. "Kuberi kau kebebasan menikmati udara segar sampai dua minggu mendatang kau malah menentang maut. Engkau mengira dengan ilmu Tiga Topan Meng- guncang Bumi, kau mampu menghalangi niatku untuk mencabut nyawamu? Hik hik hik."

Walau sempat terkejut tak menyangka orang mengenal ilmu pukulan sakti yang dia mili- ki, tapi dengan penuh ketenangan Tapa Gedek sambil gelengkan kepala menjawab. "Bagus, ru- panya kau mengenali ilmuku. Jika kau tak mau mengatakan siapa dirimu dan dosa apa yang telah kulakukan, dengan ilmu itu pula aku menghajar- mu." geram si kakek.

"Kau manusia keras kepala, Tapa Gedek. Penjelasan yang kau minta baru akan kau da- patkan dua minggu yang akan datang!" sahut so- sok serba hitam.

"Kurang ajar. Aku orang yang paling tidak suka menunda urusan. Sekarang juga aku akan membereskan persoalan diantara kita!" habis be- rucap tanpa pernah terduga Tapa Gedek rentang- kan lima jari tangan kanannya di atas dada. Begitu tangan diangkat dan digoyangkan ke depan berta- burlah tiga cahaya merah biru dan kuning di uda- ra. Tiga sinar bagai kunang-kunang menderu ke arah sosok di depannya. Namun betapa pun dia menyadari serangan itu dapat menghanguskan apa saja yang menjadi sasarannya, sosok ini ma- lah umbar tawa dingin menggidikkan.

"Tapa Gedek, neraka telah merindukan ke- datanganmu. Segala ilmu rongsokan kini tak laku lagi di hadapanku!" Sambil berucap orang itu me- mutar tubuhnya.

Wuuuus! "Hah...!" Tapa Gedek tercengang begitu melihat ba- gaimana orang di depannya mendadak raib beru- bah menjadi gumpalan asap. Pukulan yang dile- paskan mengenai tempat kosong, mengguncang kawasan di sekitar kuil. Dengan wajah pucat dan tatapan nyalang si kakek mencari-cari. Dalam ge- lapnya malam si kakek tak dapat melihat dimana orang yang diserangnya itu berada. Selagi Tapa Gedek dalam kebingungan seperti itu mendadak dia merasa ada angin menyambar di bagian telinga yang disusul dengan suara orang berbisik.

"Aku bukan seperti dulu, Tapa Gedek. Saat ini aku dekat sekali dengan urat lehermu. Jika aku mau mencabut nyawamu semudah membalikkan telapak tangan. "

Disambar petir Tapa Gedek mungkin tidak akan sekaget ini. Bagaimana tidak? Orang yang dia serang tahu-tahu berada di sampingnya se- dangkan dia sama sekali tidak merasakan kehadi- ran orang itu.

Si kakek laksana melihat setan hantamkan tangannya ke sebelah kiri. Pukulan Tiga Topan Mengguncang Bumi berkiblat disertai suara ber- gemuruh luar biasa.

"Hik hik ha ha! Kau menyangka dapat membunuhku dengan cara semudah itu Tapa Ge- dek. Aku ada disini, di depanmu...!" satu suara menggema di tengah-tengah suara deru dahsyat pukulan yang dilepaskan si kakek. Di sampingnya kembali terdengar suara ledakan berdentum. Tu- buh Tapa Gedek bergetar dilanda guncangan pu- kulan sendiri. Cepat dia memandang ke depan mencoba menembus kegelapan. Kini kembali dia melihat sepasang mata berpijar memancarkan ca- haya, memandang ke arahnya dengan tatapan mengejek.

"Tapa Gedek, yang baru kau saksikan hanya sebagian dari apa yang aku miliki. Sekarang kau boleh melihat bagian yang lain. Selamat ting- gal Tapa Gedek, tak lama lagi aku pasti kembali untuk mengambil nyawamu!" berkata begitu sosok yang diserangnya tadi hentakkan kaki kanannya ke tanah.

Buuum!

Satu ledakan keras berdentum merobek ke- sunyian, api berpijar. Tanah yang dipijaknya am- blas, menimbulkan lubang besar. Bersamaan den- gan itu pula sosok hitam tadi ikut amblas, seolah tubuhnya tersedot ke dalam lubang menganga. Se- lanjutnya terdengar tawa panjang, tanah tempat Tapa Gedek berpijak bergetar disertai suara meng- gemuruh hebat seolah ada makhluk raksasa yang bergerak merayap di dalamnya. Dalam kagetnya Tapa Gedek keluarkan seruan tertahan.

"Ilmu Menyusup Bumi?!" Si kakek geleng- kan kepala berulang kali. "Bagaimana mungkin? Tak kusangka ilmu itu benar-benar ada? Tapi sia- pakah orang tadi. Kejadian sepuluh tahun yang la- lu... terlalu banyak peristiwa yang terjadi dimasa itu, tak mungkin aku mengingatnya satu persatu." Lagi-lagi Tapa Gedek gelengkan kepala.

Setelah menarik nafas beberapa kali dan memandang ke arah lubang dimana sosok hitam yang matanya memancarkan cahaya tadi mele- nyapkan diri, kakek itu akhirnya kembali ke kuil dan masuk ke ruangan dalam.

Ketika si orang tua sampai di ruangan da- lam. Setidaknya empat pasang mata memandang kedatangannya dengan penuh tanda tanya. Mas- ing-masing dari ke empat orang itu. Yang pertama dan duduk dekat pelita adalah seorang kakek be- rambut hijau, berkulit hijau bermata sipit seperti orang hendak tidur. Kakek yang satu itu dikenal dengan nama Datuk Lemah Hijau. Ilmunya tinggi, puluhan tahun yang silam kabarnya dengan ke- saktian yang dia miliki menenggelamkan beberapa pulau di pantai selatan.

Yang kedua adalah seorang kakek bermata lebar, berpakaian serba merah bertubuh kurus ceking bertelinga panjang seperti telinga kelinci. Orang tua yang satu ini bernama Ki Menoreh Sete- runya Tapa Gedek. Itu sebabnya melihat kedatan- gan kakek ini dia hanya melirik sebentar, lalu ce- pat palingkan wajahnya ke arah lain. Tapa Gedek tersenyum mencibir dan bersikap tidak mau per- duli.

Di sebelah si ceking duduk seorang laki-laki berpakaian biru, berumur sekitar empat puluh li- ma tahun, berkening menonjol bersenjata pedang. Laki-laki itu bukan lain adalah Kertadilaga. Yang terakhir adalah seorang laki-laki bertelanjang dada bercawat hitam. Orang yang satu ini berbadan pendek bundar seperti bola, wajahnya polos men- gesankan keluguan dan lucu. Adapun orang yang perut maupun lehernya ini dapat membesar dan mengecil seperti kodok dikenal dengan julukan Dewa Kodok.

Si gendut pendek seperti bola inilah yang pertama menegur Tapa Gedek begitu melihat ke- hadiran kakek itu.

"Kami disini tadi mendengar suara ledakan dan seperti ada orang berkelahi. Katakan apa yang terjadi di luar sana!"

Tapa Gedek menyeringai, lalu duduk di samping Dewa Kodok. Dia memandang ke arah empat orang yang telah berkumpul di dalam ruan- gan kuil itu sejenak. Setelah itu baru menjawab pertanyaan Dewa Kodok. "Aku telah berada di luar sana cukup lama. Tak terdengar olehku suara le- dakan, juga suara orang berkelahi seperti katamu, Dewa Kodok. Mungkin kau terlalu banyak beren- dam dalam air hingga menjadikan telingamu tuli!"

"Kami semua disini mendengar suara leda- kan itu dan merasakan getarannya." kata Datuk Lemah Hijau dan Kertadilaga hampir bersamaan. Si kakek usap-usap janggutnya yang lebat, lalu tersenyum mencibir.

"Yang kalian dengar adalah suara geluduk menyambar pucuk pohon. Tak perlu dipersoalkan, tak usah diributkan. Daripada membicarakan hal yang tidak perlu bukankah lebih baik sekarang membicarakan persoalan yang menjadi dasar per- temuan kita di tempat ini?" ujar Tapa Gedek diser- tai gelengan kepala. 2

Terkecuali Ki Menoreh yang kurang begitu suka pada Tapa Gedek tiga orang lainnya merasa tidak puas mendengar jawaban si kakek. Pasti ada sesuatu yang terjadi, sesuatu yang dirahasiakan oleh Tapa Gedek dan orang lain tak boleh menge- tahuinya.

Kertadilaga ingin bertanya lebih jauh, na- mun pada saat itu Datuk Lemah Hijau sudah membuka mulut. "Aku yang paling lama berada disini. Sebelum kalian sampai aku telah sampai lebih dulu. Kertadilaga, kau yang punya hajat dan keperluan. Undanganmu telah kami terima. Seka- rang katakan apa kepentinganmu mengundang aku dan orang-orang yang hadir disini?"

Laki-laki berpakaian serba biru ini angguk- kan kepala, lalu dengan tatapan bersahabat dia berkata. "Pertama saya mengucapkan banyak te- rima kasih atas kesediaan para sahabat yang su- dah saya anggap sebagai sesepuh sekaligus orang tua sendiri di tempat ini. Sebagaimana yang telah sama kita ketahui di luaran terbetik kabar bahwa selama dua tahun belakangan ini musuh nomor satu dunia persilatan golongan putih, yaitu Kala Bayu alias Angin Pesut atau yang lebih dikenal dengan julukan Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayan- gan telah mengasingkan diri di wilayah sebelah se- latan Kotagede. Konon kabarnya dia bertobat dan mensucikan diri di tempat itu. Apa yang dilaku- kannya adalah sesuatu yang wajar, sebagaimana lazimnya manusia yang pernah melakukan seribu satu kejahatan. Tapi mengingat kita masih punya kepentingan dengan orang tua itu, sudah sepatut- nya kita meminta apa yang menjadi hak kita!"

"Kau betul, Kertadilaga. Sengaja dari jauh aku datang ke tempat ini memenuhi undanganmu adalah agar aku dapat mengambil kembali kitab Hitam Pembangkit Mayat yang telah dicuri oleh Angin Pesut belasan tahun yang lalu. Bukan hanya itu saja. Dia juga harus menanggung akibat dari dosanya karena telah membunuh adikku, Da- tuk Lemah Habang." kata kakek angker berbadan hijau menggeram. "Aku sendiri punya kepentingan untuk mengambil kitab Gelombang Naga yang di- curi Angin Pesut puluhan tahun yang silam" me- nimpali Tapa Gedek sambil gelengkan kepala.

"Persoalannya tidak akan semudah itu. An- gin Pesut bukan lagi manusia tapi iblis yang memi- liki segudang ilmu segudang kepintaran. Puluhan tahun segala kitab yang dicuri ada di tangannya. Aku yakin Angin Pesut telah berhasil menguasai seluruh isi kitab curiannya itu. Bukan hanya itu saja para sahabat. Angin Pesut juga orangnya cer- dik. Dia telah menciptakan ilmu lain yang tak ka- lah dahsyatnya dari ilmu yang didapatnya dari ki- tab curian!" menerangkan Dewa Kodok.

"Betapapun hebat ilmu yang dimilikinya, ji- ka kita yang hadir disini menggempurnya secara serentak masakan tak dapat membunuhnya?" dengus Ki Menoreh disertai seringai sinis.

"Persoalannya tidak segampang yang kita bayangkan. Angin Pesut telah menguasai ilmu Pembangkit Mayat. Ilmu itu didapatnya dari kitab Hitam Pembangkit Mayat yang bukan lain adalah kitab milik guruku. Jika dia menggunakan ilmu itu. Satu-satunya senjata yang kuperkirakan dapat menandinginya adalah Pedang Tumbal Perawan!" kata Kertadilaga.

Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sama kerutkan alisnya dan sama pula meman- dang ke arah si baju biru.

"Pedang Tumbal Perawan. Baru sekali ini aku mendengar nama senjata itu." Desis Datuk Lemah Hijau.

Kertadilaga menyeringai.

"Datuk benar. Senjata yang saya sebutkan itu memang baru saya pesan dari seorang ahli pembuat senjata dari perak di Kotagede. Adik saya Wedus Jaran Kalabakan beberapa hari yang lalu saya perintahkan untuk mengambil senjata yang kupesan itu. Tapi...!" Kertadilaga hentikan ucapan. Wajahnya mendadak berubah murung.

"Apa yang telah terjadi Kertadilaga?" tanya Dewa Kodok.

Si baju biru menarik nafas pendek. Matanya menatap kosong ke arah pelita satu-satunya yang menerangi ruangan itu. "Saya tidak tahu apa yang terjadi paman. Sampai saat ini adik saya itu masih belum juga kembali!"

"Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi. Kertadilaga, tolong kata- kan padaku siapa orangnya yang kau percaya membuat senjata untukmu itu?" tanya Tapa Ge- dek. laga. "Ki Ageng Pamanakan kek." jawab Kertadi-

"Dia orang tua sakti yang sangat ahli dalam bidangnya." memuji Ki Menoreh. "Pilihanmu tidak keliru."

"Ki Ageng Pamanakan manusia licik pemuja setan. Bagaimana memesan senjata padanya seba- gai suatu pilihan yang tepat?" dengus Tapa Gedek.

"Apa maksudmu orang tua?" tanya Kertadi- laga heran.

"Aku tahu rahasia kehidupan pembuat sen- jata di Kotagede. Dalam pandanganku, saat ini adikmu sedang mengalami suatu kesulitan besar. Dia terpancing oleh nafsunya sendiri. Dan semua itu bisa mencelakakannya." ujar Tapa Gedek se- rius.

Mereka yang berada di dalam ruangan itu tercengang mendengar ucapan Tapa Gedek. Kerta- dilaga jadi cemas, Datuk Lemah Hijau tak dapat menutupi kegelisahannya. Sedangkan Dewa Kodok keluarkan suara raungan seperti kodok. Lehernya yang dapat menggelembung besar kembang kem- pis. Kemudian dia memandang ke arah Tapa Ge- dek sambil ajukan pertanyaan.

"Apakah senjata yang dipesan Kertadilaga bukan senjata sakti mandraguna?"

Dengan tenang Tapa Gedek menjawab. "Da- lam pandangan batinku, aku melihat satu kekua- tan dahsyat terkandung dalam senjata tersebut. Namun aku lebih banyak melihat kekuatan dan pengaruh iblis lebih banyak menguasainya. Senja- ta itu akan menjadi sulit dikendalikan oleh siapa- pun. Dia dapat bergerak dengan sendirinya. Hal ini mengingatkan aku pada ilmu Ratap Langit yang dimiliki oleh Angin Pesut. Angin Pesut juga tak sanggup mengendalikan ilmu Ratap Langit jika di- rinya diserang orang. Walaupun misalnya dia tidak punya keinginan untuk menyakiti orang lain!" ujar kakek yang mempunyai kebiasaan geleng kepala itu.

"Tak usah didengar. Dia orang tidak waras. Belum lama ketika aku sampai disini dia bahkan meramalkan akulah orang pertama yang bakal menemui ajal di tangan Angin Pesut." Dengus Ki Menoreh disertai tatapan sinis.

Mendengar ucapan kakek berpakaian me- rah bermata lebar bertelinga panjang macam telin- ga kelinci, Tapa Gedek sama sekali tak tersing- gung. Sebaliknya dia malah mengumbar tawa sambil berucap. "Kalian semua yang ada di kuil butut ini jangan ada satupun yang percaya pada- ku. Seperti yang dikatakannya aku memang orang gila. Tapi nanti akan kita lihat apa yang bakal ter- jadi. Ha ha ha!"

"Sudah, jangan ada lagi pertikaian diantara kita." ujar Datuk Lemah Hijau. Dia lalu berkata di- tujukan pada Kertadilaga. "Hendaknya mengenai adikmu kita kesampingkan dulu. Yang terpenting untuk saat itu kita harus bersatu kekuatan agar dapat menghancurkan Angin Pesut."

"Tapi saya membutuhkan senjata itu." ujar Kertadilaga.

"Senjata yang kau pesan walau berada di tangan siapapun tetap akan menimbulkan malape- taka." ujar Tapa Gedek.

"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjut- nya?" tanya Dewa Kodok.

"Tidak ada pilihan lain. Segala sesuatu nampaknya tidak bisa ditunda. Sekarang juga kita berangkat ke Imogiri." kata Ki Menoreh tegas.

"Kalau sudah kita dapatkan kata sepakat, sebaiknya segera kita tinggalkan tempat ini." ber- kata Datuk Lemah Hijau. Dia lalu bangkit berdiri. Dengan diikuti oleh yang lainnya sang Datuk ke- luar dari kuil.

"Kau mengapa tidak segera beranjak dari si- tu, Tapa Gedek?" tanya Dewa Kodok yang sudah siap tinggalkan ruangan itu. Si kakek gelengkan kepala. Sambil tersenyum Tapa Gedek segera ber- diri. "Biasanya orang yang datang paling akhir akan menemui ajal belakangan. Naluriku menga- takan kau akan babak belur di tangan Angin Pe- sut, sobat Dewa Kodok! Ha ha ha!"

"Tapa Gedek manusia sialan. Semakin tua otakmu rupanya semakin tidak beres hingga bica- ramu selalu ngaco!"

Tapa Gedek tidak menanggapi, hanya ta- wanya menggema di kegelapan malam yang pekat.

* * *

Obat penawar racun yang diberikan oleh Indah Sari Purnama memang dirasakan oleh Jaran Kalabakan dapat mengurangi penderitaan yang di- alaminya akibat menyentuh pedang Tumbal Pera- wan yang kini berada di tangan gadis itu. Tapi kini setelah pedang berada di tangan dara berpakaian serba merah itu, tentu timbul ke- sulitan lain bagi Jaran Kalabakan. Bagaimana pun pedang harus dapat direbutnya. Senjata pesanan yang telah merenggut nyawa pembuatnya sendiri sangat dibutuhkan oleh Kertadilaga guna untuk menghadapi Angin Pesut. Tapi kini, setelah pedang jatuh di tangan Indah Sari Purnama, Jaran Kala- bakan juga merasa tidak mudah untuk menakluk- kan gadis itu. Indah Sari walaupun masih sangat muda, ternyata memiliki kepandaian sangat tinggi. Di samping itu sekujur tubuhnya mengandung ra- cun. Hanya ada satu kesempatan yang dapat dila- kukannya. Kesempatan itu akan datang tidak lama lagi. Karenanya tanpa bicara apa-apa Jaran Kala- bakan terus mengikuti si gadis yang berjalan di depannya.

"Inikah sungai yang kau maksudkan itu, orang tua?" tanya sang dara sambil hentikan lang- kah dan menatap ke arah sungai berbatu berair jernih yang terdapat di depannya.

"Iya, betul. Inilah sungai yang kukatakan. Airnya bening, cukup dalam. Kau bisa mandi se- puasmu!" jawab Jaran Kalabakan.

"Kalau begitu aku ingin mandi selekasnya. Menjauhlah dari sini, orang tua. Jangan berani mengintip jika tak ingin aku membutakan mata- mu!" tegas gadis itu.

"Gadis penolongku. Jika aku terlalu jauh darimu, siapa nanti yang akan menjaga pedang. Begitu banyak orang yang menginginkan senjata itu. Aku sendiri sudah tua, buat apa berlaku tolol dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna?!" "Hemm, begitu. Kau boleh tetap berada dis-

ini, tapi jangan berani memandang ke sungai sebe- lum mendapat aba-aba dariku!"

"Baiklah Indah Sari. Aku akan duduk disini memandang ke jurusan lain." ujar Jaran Kalaba- kan.

Sang dara berjalan mendekati tepian sun- gai. Pedang Tumbal Perawan yang berangka lengan gadis mayat hidup diletakkannya di atas batu. Se- telah itu tanpa sungkan dan curiga pada suasana di sekitarnya dia menanggalkan pakaiannya hing- ga sang dara dalam keadaan polos telanjang.

Byuuuur!

Terdengar suara kecipak air di dalam langit. Dengan bebas sang dara berenang mondar-mandir penuh keriangan.

Di tempat duduknya Jaran Kalabakan tidak dapat lagi menenangkan perasaan. Aku sudah memikirkan segala sesuatunya. Yang terpenting saat bukan bersenang-senang dengan gadis itu. Dia terlalu berbahaya bagiku. Aku harus mengam- bil pedang dan pergi secepatnya dari sini selagi dia berada di dalam sungai. Tapi aku tak mungkin menyentuh gagang pedang itu. Aku harus meng- gunakan alat pelapis tangan agar tidak keracu- nan!" kata laki-laki itu dalam hati. 3

Dari balik pakaiannya Jaran Kalabakan mengeluarkan sarung tangan dari kulit. Cepat se- kali dan tanpa menimbulkan kecurigaan setelah memasang benda itu di tangannya, Jaran Kalaba- kan menahan nafas. Kemudian dengan posisi tetap memunggungi sungai dia beringsut mendekati ba- tu dimana Pedang Tumbal Perawan tergeletak di bawah tumpukan pakaian Indah Sari Purnama. Begitu posisinya berada dekat dengan benda yang menjadi incarannya. Jaran Kalabakan dengan ke- cepatan luar biasa langsung menyambar pedang itu.

Tapi pada waktu bersamaan secara tak ter- duga dua bayangan kuning melesat keluar dari ba- lik ketinggian pohon. Satu bergerak ke arah Jaran Kalabakan dan satunya lagi melesat ke arah sun- gai di sertai dua bentakan berturut-turut.

"Baju merah kau tak pantas memiliki pe- dang itu!"

"Peruntungan baik. Hari ini Dua Budak Se- tan dapat rejeki besar. Yang satu berupa gadis cantik mulus menggiurkan. Satunya lagi pedang pembunuh yang luar biasa!"

Belum lenyap rasa kaget dihati Jaran Kala- bakan, pedang yang menjadi incarannya kini telah berada di tangan orang. Baru saja laki-laki ini memandang ke depannya dan belum lagi dia sem- pat melihat siapa adanya orang itu satu hantaman keras menghantam dadanya. Buuuk! Kraaak!

Jaran Kalabakan menjerit keras, tubuhnya terpelanting, tiga tulang rusuknya berderak patah membuat Jaran Kalabakan meraung kesakitan. Megap-megap dengan mulut semburkan darah, Jaran Kalabakan memandang ke depannya. Dia melihat satu sosok berbadan tinggi tegap beram- but lurus berjari tangan dua, terdiri dari jempol dan empat jari lainnya yang saling dempet satu sama lain berdiri tegak di depannya.

Sosok pemuda itu berwajah angker, rambut lurus seperti jarum. Sedangkan mulut lancip, wa- jahnya berbentuk segitiga. Selain wajahnya yang bersisik di seling bulu-bulu kasar, kedua tangan- nya juga dipenuhi sisik yang kerasnya melebihi ba- ja. Belum lagi lenyap rasa kaget di hati Jaran Ka- labakan melihat kemunculan pemuda aneh berjari gampit ini, pada waktu bersamaan pula terdengar suara pekikan Indah Sari. Jerit kaget yang disertai dengan makian. "Manusia tak berujud, bangsat kurang ajar. Berani mati muncul di tempat ini se- lagi aku mandi! Jahanam, minggat dari hadapan- ku!" teriak gadis itu sengit. Berkata begitu dia han- tamkan tangan kanannya ke arah orang yang ber- gerak menyambarnya. Kemudian laksana kilat dia menyelam untuk menyembunyikan auratnya yang tak terlindung apa-apa.

Orang yang dimaki dan diserang tidak urungkan niatnya. Dia malah tertawa ganda, lalu miringkan tubuhnya ke kiri hindari serangan ga- nas yang dilepaskan sang dara. Setelah berjumpalitan di udara, dia jejakkan kakinya di atas air. Hebat luar biasa. Begitu men- jejak diatas permukaan air tubuhnya sama sekali tidak tenggelam. Kedua kaki bahkan tetap menga- pung. Jelas sekali apa yang dilakukannya itu san- gat jarang bahkan mustahil dapat dilakukan oleh tokoh silat yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna sekalipun.

Sosok serba kuning itu kini sambil tertawa- tawa balikkan badan. Gerakan kakinya tidak jauh berbeda dengan orang yang menginjak tanah. So- sok yang keadaannya sama dengan orang yang menyerang Jaran Kalabakan itu memandang ke dalam air dimana Indah Sari nampak sibuk men- jauh darinya.

"Ha ha ha! Kakang, aku melihatnya dengan jelas. Tubuhnya padat, mulus luar biasa. Ahk...kakang, aku jadi tidak sabar...!" seru orang ini dengan lidah terjulur mata belingsatan seperti hendak melompat dari dalam rongganya.

Sosok satunya yang saat itu siap menghabi- si Jaran Kalabakan tanpa menoleh langsung me- nanggapi. "Ikan segar ada di depanmu. Cepat kau tangkap. Nanti setelah kau dapat baru kita bagi dua. Kau yang duluan juga boleh. Tapi sebaiknya aku yang lebih tua mendapat giliran pertama. Se- karang pedang telah kudapatkan. Cepat tangkap gadis itu!" teriak orang yang dipanggil kakang.

"Akan kulakukan. Akupun sudah sangat in- gin memeluknya!" sahut sang adik yang berdiri te- gak di atas air sungai.

Pemuda itu kemudian memutar kedua tan- gannya yang langsung diarahkan ke permukaan air. Angin menderu disertai suara gemuruh luar biasa. Begitu serangan sepasang tangan berjari dempet satu sama lain menyentuh permukaan air, secara mengejutkan air sungai dimana gadis bera- da berputar membentuk satu pusaran hebat. In- dah Sari bertahan agar dirinya tidak terbawa pen- garuh pusaran air yang diciptakan pemuda baju kuning. Dalam keadaan tubuh polos dia berpikir keras.

"Pertama yang harus kulakukan adalah menyelamatkan diri agar dapat berpakaian leng- kap. Setelah itu aku baru menghajar mereka!" ba- tinnya dalam hati.

Pada saat si gadis yang mulai terombang ambing terseret pusaran arus sungai. Mendadak pemuda tadi sentakkan tangannya ke atas. Air muncrat kemana-mana, sosok si gadis ikut terbe- tot ke atas. Dia mencoba bertahan namun sia-sia. Kejap kemudian sosok Indah Sari melayang ke udara. Pemuda baju kuning yang semula siap lan- carkan totokan ke bagian tubuh gadis itu untuk beberapa saat jadi terpesona melihat sosok telan- jang yang mengapung di udara.

"Ahhh...ckk...ckk...ck... luar biasa...?" si pemuda tanpa sadar berseru memuji.

Selagi pemuda itu terkagum-kagum melihat pemandangan yang terpentang di depan matanya, kesempatan yang sekejap ini dipergunakan oleh sang dara. Begitu tubuhnya meluncur deras ke arah pemuda berwajah segi tiga itu, tubuhnya ber- putar, kaki meluncur lalu menjejak dada pemuda itu. Dengan mempergunakan daya dorong kaki yang menjejak dada orang Indah Sari melesat ke seberang sungai.

Wuut!

Jlik! Jlik! Jlik! Slap!

Begitu jejakkan kaki ke seberang sungai, hanya dengan tiga kali berjumpalitan saja sosok- nya lenyap. Pemuda berpakaian kuning yang sem- pat terhuyung akibat hantaman kaki gadis tadi ki- ni berseru kaget.

"Kakang, ikannya lolos... walah ikan bagus itu lolos...!" teriaknya kalang kabut.

"Sial. Mengapa kau biarkan lolos, kejar dan tangkap!" Sang kakak balas berteriak.

Dengan nafas memburu tersengal serta da- da menyesak dikobari nafsu pemuda itu berkelebat ke arah lenyapnya sang dara. Sementara itu pe- muda satunya lagi kini bergerak mendekati Jaran Kalabakan dengan sikap mengancam.

"Untuk melenyapkan jejak, aku terpaksa membunuhmu orang tua!" kata pemuda itu dingin. Jaran Kalabakan keluarkan suara mengge-

rung, nafas megap-megap karena tiga tulang ru- suknya yang patah salah satu diantaranya mero- bek paru-parunya.

"Kau hendak membunuhku? Apa salah dan dosaku!" tanya Jaran Kalabakan sambil meman- dang mendelik penuh amarah dendam ke arah so- sok mengerikan di depannya.

"Dua Budak Setan adalah kami, aku salah satu diantaranya memang ditugaskan melakukan apa saja di muka bumi ini. Termasuk diantaranya menggoda, menghasut, membunuh dan mengan- jurkan agar manusia melakukan perbuatan mak- siat sepanjang hidupnya. Ha ha ha, Tadi kau ber- tanya apa salah dan dosamu? Kesalahanmu kare- na kau terlalu bodoh, dosamu karena kau mengi- kuti nafsumu."

"Jahanam! Kubunuh kau!" teriak Jaran Ka- labakan. Dengan tubuh terhuyung dia segera bangkit berdiri. Begitu dia dapat berdiri tegak, Ja- ran Kalabakan segera menyerbu ke depan. Dua pukulan beruntun dilepaskannya. Itupun masih belum cukup, begitu pukulan melabrak tubuh la- wan dia menyusulnya dengan satu tendangan ga- nas luar biasa.

Buum!

Dua pukulan mengenai tempat kosong me- nimbulkan ledakan berdentum. Tapi Jaran Kala- bakan jadi terkesiap ketika melihat kenyataan la- wan mendadak raib, lenyap dari hadapannya.

Selagi Jaran Kalabakan masih diliputi rasa kaget luar biasa dia mendengar suara dengus na- fas dibelakangnya. Laksana kilat dia balikkan ba- dan, tapi pada saat itu ada satu tangan menceng- keram rambutnya. Sambil menahan rasa sakit luar biasa di bagian dada dan kepalanya dia mencoba memandang ke depan.

"Hah.... bagaimana mungkin dia tahu-tahu berada disampingku?" rutuk laki-laki itu. Pemuda berbaju kuning menyeringai.

"Takdirmu mati di tanganku!" kata si pemu- da. Kemudian dia mempererat jambakannya. "Makhluk keparat tak berujud, apa yang kau katakan tak semudah yang kau bayangkan." sahut Jaran Kalabakan. Dengan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dia menghantam dada dan perut pemuda itu.

Buuk! Buuk!

"Ha ha ha! Pukulanmu tak ada artinya ba- giku!" seru Budak Setan Ke Satu sambil mengum- bar tawanya. Jaran Kalabakan kembali dicekam rasa kaget. Pukulan yang dilepaskannya tadi ada- lah pukulan Memecah Gunung Memecah Karang. Jangankan manusia, tembok baja sekalipun pasti akan leleh. Tapi pemuda itu sama sekali tak ber- geming. Malah tangan yang dipergunakan untuk memukul kini menggembung bengkak.

"Jahanam ini bagaimana bisa memiliki tu- buh melebihi baja?"

Belum hilang rasa kaget di hati Jaran Kala- bakan satu cahaya merah menyambar dadanya.

Sebelum dia tahu benda apa adanya cahaya tadi telah menembus dada. Jaran Kalabakan kelu- arkan suara seperti tersedak ketika hawa panas menikam dadanya. Laki-laki itu menggelepar, se- pasang matanya mendelik. Secara samar seiring dengan pandangannya yang makin memudar dia melihat benda merah panjang terjulur dari mulut lawannya. Benda sepanas bara, setajam pedang yang bukan lain adalah lidah pemuda itu secara perlahan bergerak menyusut, selanjutnya lenyap di balik mulutnya.

Jaran Kalabakan jatuh terhempas. Nya- wanya amblas sebelum tubuhnya menyentuh ta- nah. Budak Setan Ke Satu timang pedang di tan- gannya. Mulut menyeringai memperhatikan kea- nehan sarung pedang yang terbuat dari lengan tangan manusia.

"Aku mencium adanya hawa iblis dalam senjata ini. Dengan pedang ini aku dan adikku pasti sanggup membunuh orang itu, paling tidak meringkusnya lalu membawa dia ke hadapan Em- pu Jagad Sukma." membatin Budak Setan Ke Sa- tu.

"Kakang... gadis itu lenyap. Pesta kita gagal. Ah, cilaka sekali...!" satu suara berseru disertai berkelebatnya sosok tubuh menyeberangi sungai.

"Tolol dan celaka sekali dirimu. Kau bagiku selalu tidak berguna dan pembawa kesialan. Me- nangkap seorang gadis saja tidak becus. Agaknya kau ingin aku memusnahkan dirimu, lalu men- gembalikanmu ke neraka?" maki Budak Setan Ke Satu, sengit.

Budak Setan Ke Dua menggigil ketakutan. "Kakang jangan! Aku menerima salah, mohon di- maafkan." kata pemuda itu.

"Seribu kali aku memberimu maaf. Seribu kesalahan kau lakukan. Ketahuilah, Empu Jagad Sukma mengutus kita bukan untuk kesia-siaan. Sekarang kau ikuti aku. Orang tua itu harus kita tangkap secepatnya!" dengus Budak Setan Ke Satu sengit.

Sang adik hanya anggukkan kepala. Kedua pemuda itu kemudian berkelebat pergi.

Selang tak berapa lama setelah kepergian Dua Budak Setan. Dari seberang sungai berkelebat satu sosok tubuh dalam keadaan polos. Sosok yang bukan lain adalah Indah Sari Purnama mera- sa lega, karena pakaiannya masih tetap utuh te- ronggok di tempat semula. Cepat si gadis sambar pakaian dan mengenakannya.

Setelah berpakaian lengkap dia memandang ke atas batu. Wajah gadis itu mendadak berubah pucat, mulut bergetar seperti hendak mengu- capkan sesuatu, sedangkan sepasang matanya melotot. Dia tak melihat Pedang Tumbal Perawan ada di tempatnya.

"Dua pemuda tak karuan ujud itu pasti yang telah membawanya. Siapa mereka yang se- benarnya. Kudengar tadi salah seorang dianta- ranya menyebut nama Empu Jagad Sukma. Apa hubungannya mereka dengan si terkutuk yang sa- tu itu?" kata Indah Sari. "Tak ada pilihan lain, aku harus mengejar mereka dan merebut pedang itu kembali!"

Sang dara kitarkan pedang ke sekitar tem- pat itu. Dia melihat Jaran Kalabakan terbujur ka- ku dengan dada berlubang hangus menghitam se- perti terkena senjata tajam yang sangat panas luar biasa.

"Belum begitu banyak yang kuketahui ten- tang Jaran Kalabakan. Tak kusangka dia mati se- cepat itu. Aku tak perlu mengurusnya." Gumam si gadis.

Tanpa fikir panjang Indah Sari Purnama la- lu memutar tubuh siap melangkah pergi. Tapi pa- da saat itu matanya membentur satu sosok berupa kabut dalam ujud yang berubah-ubah. Tanpa sa- dar sang dara surut satu langkah, sedangkan bi- birnya yang tipis kemerahan mengundang gairah mendesis.

"Guru...?!"

Ketika Indah Sari menyebut kata itu. Kabut yang ujudnya dalam rupa seorang nenek dan seri- gala itu lenyap tidak meninggalkan bekas. Setelah itu sayup-sayup sang dara mendengar suara beru- pa ngiangan seperti suara nyamuk ditelinganya.

"Kau kutugaskan untuk membunuh musuh besarku Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Dela- pan Bayangan. Mengapa kau malah melantur den- gan mengurusi segala macam pedang pembawa petaka? Ketahuilah, setiap laki-laki adalah musuh yang harus kau bunuh. Kau tidak boleh bergaul dengan mereka. Sekarang jangan kau tunda lagi, pergi ke Imogiri. Angin Pesut ada di sana. Lakukan apa yang menjadi tugasmu!"

"Ta... tapi pedang itu, guru... Aku berkein- ginan untuk memilikinya." sahut si gadis.

Kembali terdengar suara ngiangan di telinga gadis itu. "Untuk sekarang tidak. Tapi nanti sete- lah tugasmu selesai kau jalankan!"

"Baiklah, murid tidak berani membantah. Sekarang aku pergi!" kata gadis itu. Setelah men- jura hormat ke arah lenyapnya sosok dalam rupa seorang nenek dan serigala tadi Indah Sari balik- kan badan dan berkelebat tinggalkan tempat itu. 4

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon duduk ter- menung menatapi sayap buatan yang tergeletak di depannya. Ternyata untuk membuat sayap buatan tidak mudah. Beberapa kali sayap dicoba. Kalau tidak robek tertiup angin pasti patah.

Sang pendekar merasa kepalanya menjadi pusing, dia usap wajahnya yang basah pulang ba- lik.

Tak lama setelah pulang balik mengitari sayap buatan yang hancur, Gento melirik ke arah kakek berpakaian putih berhidung pesek berwajah polos yang juga sibuk dengan sayap buatannya.

"Bagaimana Ki. Apakah sayap buatanmu sudah siap untuk membawa diriku dan dirimu terbang mengarungi rawa ini?" tanya sang pende- kar sambil cibirkan mulut, sementara tatap ma- tanya memandang lurus ke tengah Rawa yang di- huni ratusan kawasan buaya.

Si kakek menggaruk rambutnya, kemudian dia duduk diam. Wajahnya membayangkan rasa putus asa.

"Kalau sayap kita buat dari kulit dan rang- kanya kita buat dari besi, mungkin sayap buatan baru dapat menahan berat badanmu."

"Badanmu juga, Aki."

"Hah, bukankah menurut perjanjian kau yang akan menyeberang ke pulau apung di tengah rawa itu?" tanya si kakek nampak jerih.

Sang Pendekar tertawa lebar. "Perjanjiannya memang begitu, Ki. Tapi engkau harus ingat, yang hendak kulakukan menyangkut kepentinganmu sendiri. Pula aku tak kenal dengan Srimbi. Bagai- mana aku memberi penjelasan begitu muncul di pulau itu. Ha ha ha."

"Kau bisa jelaskan kalau dirimu saha- batku!"

"Tidak semudah itu Aki. Dunia ini penuh muslihat, orang tidak akan mudah percaya pada orang lain. Apalagi orang itu baru dikenalnya. Apapun alasanmu kau harus ikut. Jika kau meno- lak, berarti pergi ke pulau terapung gagal karena aku tak mau melakukannya seorang diri."

"Ah, Pendekar 71, kau telah mengadali tua bangka ini. Mana aku punya muka untuk bertemu dengan bekas kakak iparku itu." kata kakek Sa- teaki kecut. Nampaknya ada ganjalan dihati kakek itu hingga dia begitu memaksa agar Gento yang pergi mewakili dirinya. Gento tertawa lebar. "Kalau kau merasa malu bertemu dengan bekas kakak iparmu bagaimana kalau mukamu kukuliti, atau kupenggal saja kepalamu. Kujamin kau tak bakal dikenalinya. Ha ha ha."

"Pendekar sinting, kepalaku pusing memi- kirkan semua ini. Kau masih terus saja bercanda. Ingat Gento, waktuku begitu sempit. Aku ingin menolong saudaraku Angin Pesut. Kuharap aku bisa melakukan apa yang dipesannya sebelum dia tewas ditangan musuh-musuhnya."

"Kalau begitu hentikan pembuatan sayap ti- ruan ini."

"Hah...apakah kau sudah gila?!" hardik si kakek kaget.

"Ha ha ha. Kau betul Ki, dalam keadaan se- perti ini kau harus bisa berfikir sepertiku. Seperti cara berfikirnya orang gila!" kata Gento.

Kakek Sateaki kerutkan keningnya. Dia memandang tajam ke arah pemuda itu. "Apa mak- sudmu?"

"Maksudku begini. Kita tak usah lagi memi- kirkan segala macam sayap buatan ini. Karena ki- ta bukan burung. Bagaimana kalau kita mencari burung benaran yang dapat membawa kita ke pu- lau itu?"

Diingatkan tentang burung, si kakek lang- sung dekap dan raba-raba bagian bawah perutnya. "Aku juga punya. Bocah sial. Sejak dulu

yang ini mana bisa terbang. Tidak punya sayap. Paling juga bisanya bangun tidur, bangun lagi lalu tidur lagi." kata si kakek polos.

"Aki sialan, jangan ngaco. Yang ku maksud adalah burung sungguhan. Bukan barang rongso- kan seperti punyamu itu. Ha ha ha."

"Pendekar edan. Siapa bilang punyaku rongsokan. Kau boleh melihat punyaku masih ba- gus." dengus si kakek sengit. Seakan lupa diri dia selorotkan celananya ke bawah.

"Bagus, keluarkan saja. Kalau perlu telan- jang sekalian biar kupentung...!"

Si kakek batalkan niatnya. Dengan wajah cemberut dia bangkit berdiri. Beberapa saat dia mundar-mandir di depan Gento.

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan. Apakah kau punya burung besar yang dapat membawa kita menyeberangi Rawa Buaya ini?" "Ha ha ha. Kebetulan yang aku punya seba-

gaimana adanya. Tapi aku akan berusaha mencari akal untuk menghadirkan apa yang kita inginkan." ujar sang pendekar.

"Bicara melantur boleh saja, Gento. Satu hal yang perlu kau ingat, sejak aku masih bayi hingga sampai ubanan begini. Aku belum pernah melihat burung sebesar yang ada dalam fikiranmu." kata si kakek sinis.

Gento terdiam. Dia berfikir andai waktu itu Tabib Setan tidak menghancurkan burung silu- man yang oleh Dipati Durga diberinya nama Mak- hluk Kutukan Neraka dengan ilmu Kaji Asal. Tentu burung itu dapat dipergunakannya untuk menye- berangi rawa. Untuk lebih jelasnya (Baca Sang Pe- taka).

"Ilmu Kaji Asal. Hemm... tabib penuh kesia- lan itu memang pernah mengajarkannya padaku. Apakah ilmu itu kini dapat kupergunakan untuk mengembalikan Makhluk Kutukan Neraka kembali seperti semula? Dia makhluk siluman, mungkin tidak akan sulit untuk membangkitkannya." fikir sang pendekar. "Akan kucoba...!"

Murid si gendut Gentong Ketawa lalu duduk di atas batu. Tanpa bicara dia lipat kedua kakinya. Dua tangan diletakkannya di atas lutut, lalu per- lahan kedua matanya dipejamkan.

Melihat apa yang dilakukan Gento mengun- dang rasa heran dihati si kakek.

"Apa yang hendak dilakukan oleh Pendekar edan ini? Mulut komat-kamit dada kembang kem- pis, kepala digelengkan seperti orang menderita penyakit ayan. Huh... ada-ada saja. Ingin kulihat apa yang terjadi!" berkata si kakek disertai terse- nyum mencibir. Lalu dengan mulut melongo Sa- teaki pandangi Gento yang saat itu sekujur tubuh- nya telah basah bersimbah keringat.

Sementara itu di atas batu Gento masih te- tap dalam sikapnya. Mata terpejam, dua kaki ber- sila hanya kedua tangannya kini disilangkan ke depan dada.

"Makhluk Kutukan Neraka. Makhluk Silu- man.... kutahu dirimu telah hancur. Mungkin hangus gosong. Atas restu Gusti Allah, berkat ilmu Kaji Asal kuharapkan kehadiranmu. Di sini dalam waktu secepatnya...!" desis Gento. Kata-kata itu diucapkannya berulang kali sampai mulut sang pendekar mengeluarkan busa putih. Bagian atas kepalanya mengepulkan asap tipis bergerak me- liuk-liuk di udara kemudian lenyap di tiup angin.

Pada waktu bersamaan di saat Gento teng- gelam dalam rapalan mantra-mantranya. Di satu tempat tepatnya di daerah Teluk Rembang air laut di bagian teluk itu bergolak hebat. Gejolak air me- nimbulkan gelombang menggila. Lalu secara per- lahan namun cukup pasti dari bagian dasar laut di tepi teluk itu menyembur satu sosok berupa mak- hluk besar.

Makhluk besar berwarna hitam berkepala seperti burung rajawali dan bersayap seperti kele- lawar keluarkan suara pekikan keras. Kemudian makhluk yang seolah baru bangkit dari kematian dan berkubur di tempat itu kepakkan dua sayap raksasanya.

Wuuuk! Wuuuhk...!

Bersamaan dengan kepakan sayap sang makhluk, bagian tubuhnya yang lain terangkat naik. Dua sayap kembali mengepak, makhluk hi- tam raksasa itu membubung tinggi lalu melesat deras ke arah suara orang yang seakan-akan me- manggil dirinya.

Di tempat Gento dan Sateaki berada saat itu suasana masih dalam keadaan redup. Namun se- kujur tubuh pemuda itu telah basah bersimbah keringat.

"Pemuda gelo ini mungkin sengaja me- ngelabuhi aku. Tapi kulihat dia begitu serius. Sia- pa Makhluk Kutukan Neraka yang disebutnya be- rulang-ulang tadi. Kakeknya atau kerabat pemuda ini?" batin si kakek.

Selagi orang tua itu terombang-ambing da- lam keraguan. Pada waktu itu pula mendadak di kejauhan sana terdengar suara pekikan menggele- dek. Si kakek tercekat, lalu cepat arahkan pan- dang ke arah datangnya suara aneh tadi.

Lain lagi halnya dengan Gento. Begitu dia mendengar suara pekikan yang sangat dikenalnya dia langsung melompat dari atas batu, lalu sambar tali dadung yang tergeletak di depannya.

"Makhluk Kutukan Neraka?!" desis pemuda itu, gembira ada kecut juga ada.

"Heh, apa yang hendak kau lakukan, Pen- dekar Sakti 71?" tanya Sateaki heran.

"Bersiaplah, Ki. Makhluk Kutukan Neraka telah datang. Banyak-banyak berdoa. Kalau perlu kau juga harus mempergunakan tali." ujar sang pendekar.

Selagi si kakek dibuat heran mendengar su- ara pekikan menggeledek tadi kini rasa heran di- tambah lagi oleh perasaan bingung.

"Gento, buat apa segala macam tali."

Kesal si kakek bertanya melulu dengan ke- tus sang pendekar menjawab. "Untuk persediaan gantung diri Ki. Bukankah orang tua jika sudah ti- dak berguna lebih baik membunuh diri saja. Ha ha ha!"

"Pendekar gila sialan!" mulut Sateaki berka- ta begitu, tapi walau dia tak mengerti kegunaan ta- li itu namun si kakek tetap menyambar tali yang tergeletak di atas tanah. Baru saja si kakek bang- kit berdiri kembali dia dikejutkan dengan terden- garnya suara menggemuruh yang disertai dengan pekikan dahsyat luar biasa. Cepat dia putar kepala ke arah sebelah timur. Seketika sepasang mata Sa- teaki yang redup terbelalak lebar. Mulut ternganga tapi tak sepatah katapun yang keluar dari bibir- nya. Apa yang dilihatnya saat itu bukan lain ada- lah sosok makhluk raksasa, berkepala seperti ra- jawali bersayap seperti kelelawar. Sedangkan ka- kinya mencuat panjang terjuntai seakan hendak menghunjamkan kuku-kuku jarinya yang panjang tajam.

"Ki jangan bengong disitu. Begitu burung si- luman itu melintas di depan kita sangkutkan tali diantara cakar-cakar binatang itu. Kita siap berge- layutnya mengarungi rawa buaya. Aku jamin sega- lanya menjadi asyik Ki." teriak Gento. "Astaga. Apa aku sanggup melakukannya? Pemuda itu sengaja ingin mencari mati dalam kegi- laannya!" membatin Sateaki dengan perasaan ciut dan tubuh keluarkan keringat dingin.

"Sekarang, Ki. Burung itu lewat diatas kita!" teriak sang pendekar. Sambil berteriak dengan se- kuat tenaga Gento lemparkan talinya yang telah dibubul pada bagian ujungnya ke arah kaki mak- hluk siluman itu. Sebaliknya jika tali milik Gento tersangkut pada salah satu kaki binatang itu maka tali yang dilemparkan Sateaki gagal mencapai sa- saran akibat si kakek terlalu gugup disamping tu- buhnya sempat terhuyung dilanda angin kepakan sayap Makhluk Kutukan Neraka.

"Sial, aku gagal Gento." teriak si kakek ditu- jukan pada sang pendekar yang saat itu mulai bergelayutan pada tali yang salah satu ujungnya melihat kaki Makhluk Kutukan Neraka.

"Walah kakek tolol. Cepat kau sambar ujung taliku. Kau boleh bergelantungan disana. Cepat lakukan...!" seru pemuda itu.

Dengan gugup, sebagaimana yang dikata- kan Gento, Sateaki berlari mengejar ujung tali yang terus bergerak dan kini menggantung di uda- ra itu.

Yeep!

"Kena...kena Gento. Ha ha ha. Tak disangka berhasil juga akhirnya!" ujar kakek itu dengan pe- rasaan bangga.

"Kau boleh tertawa sepuasmu, Ki. Tapi jaga kedua kakimu jangan sampai digerogot putus oleh makhluk-makhluk liar yang berdiam di tengah ra- wa! Ha ha."

Selagi si kakek yang bergelantungan di ujung tali dan berada persis di bawah Gento terta- wa tergelak-gelak, begitu memandang ke bawah tawa si kakek lenyap seketika. Wajahnya menda- dak berubah pucat. Si kakek menjerit kalang ka- but sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi men- jauh dari air.

"Gento, tolong aku. Perintahkan burung itu terbang lebih tinggi agar kakiku tidak menyentuh air rawa. Pendekar Sakti 71, celaka...kawanan buaya bermunculan. Mereka menyambar kakiku. Oala...tobat...tolong...!" jerit Sateaki panik.

Meskipun saat itu murid si Gendut Gentong Ketawa sendiri sempat dibuat merinding melihat kemunculan puluhan buaya yang menyambar sal- ing berebut kaki si kakek yang terseret-seret diatas permukaan air. Tak urung dia tidak dapat mena- han tawanya juga.

"Hebat, Ki. Nasibmu memang seperti umpan di ujung kail. Aku sendiri mana bisa memerintah Makhluk Kutukan Neraka. Dia bukan binatang piaraanku. Mungkin dia hanya patuh pada perin- tah setan. Lihat... nampaknya dia kurang senang kita bergelayutan di kakinya. Gawat Ki. Binatang yang membawa kita mulai berontak. Ah...lehernya terjulur, kepalanya melengkung. Paruh mematuk- matuk tali yang menahan tubuh kita." kata Gento. Pemuda itu semakin mempererat cekalannya pada tali.

"Setan sialan. Kau masih bisa tertawa dis- itu. Aku disini ketakutan setengah mati. Sialan, kencingku ngocor...!" teriak Sateaki.

Gento katubkan mulutnya. Dia mencoba sentakkan tali agar Makhluk Kutukan Neraka ter- bang lebih tinggi. Apa yang diharapkan Gento me- mang terjadi sehingga si kakek kini aman dari jangkauan mulut kawanan buaya air itu. Tapi be- rada dalam ketinggian baik Gento maupun Sateaki malah semakin tersiksa. Makhluk Kutukan Neraka terbang tak tentu arah, terkadang tubuhnya oleng, melambung naik dan berusaha mematuk Gento yang berada di bawahnya. Tak ayal lagi tubuh me- reka pontang-panting tak karuan arah. Gento mu- lai merasa perutnya mual bukan main, kepala pen- ing dan perutnya bergelung mual.

Penderitaan Sateaki lebih parah lagi. Dia yang pontang-panting bergelayutan pada ujung tali hampir tak sanggup bertahan. Pandangannya ber- kunang-kunang, wajah si kakek pucat pasi.

5

Kaak! Kreak! Kreak! Kaki makhluk siluman berkepala burung rajawali dan bersayap kelelawar kini melejang-lejang disertai pekikan laksana me- robek langit. Kepalanya yang dapat menjulur pan- jang dengan posisi menekuk menyambar ke arah Gento. Dengan begitu sang pendekar terpaksa me- rosot lebih ke bawah untuk menghindari patukan paruh makhluk siluman yang tajam berkeluk.

"Pendekar tolol, mengapa kau turun disini? Posisiku makin terjepit aku bisa jatuh!" pekik si kakek.

"Aku terpaksa melakukannya. Kalau tidak

aku bisa mampus dicabik-cabik binatang itu." sa- hut si pemuda. Dia lalu memandang ke kawasan rawa. Tak ada apapun yang terlihat dari ketinggian itu.

"Aki... dimana pulau terapung yang kau ka- takan itu?"

"Adanya di tengah rawa di bawah sana, Gento." sahut si kakek. Dengan tubuh terombang ambing dihempas angin juga gerak makhluk yang tidak menentu Sateaki coba memperhatikan kawa- san rawa luas di bawahnya. Kemudian samar- samar dia melihat satu gugusan pulau kecil ber- warna hijau. Si kakek kembali berteriak.

"Pendekar Sakti 71, aku sudah melihat pu- lau itu. Letaknya di sebelah kanan posisi kita. Se- karang apa yang akan kita lakukan. Kau harus memerintahkan makhluk sialan itu terbang me- rendah ke sebelah kanan."

"Makhluk ini sudah kukatakan bukan bina- tang piaraanku. Aku tak dapat memberinya perin- tah apapun. Ahk... dia terbang semakin tinggi. Mungkin dia marah karena kau mengatakan mak- hluk sialan."

"Kalau begitu kita harus terjun dari keting- gian ini." usul si kakek.

"Jadi manusia jangan tolol. Sekarang kita berada diatas ketinggian lebih dari dua ratus tom- bak. Kalaupun itu dapat kita lakukan, begitu me- nyentuh air kita segera lumat dihantam buaya- buaya di dalam rawa." "Kau betul juga. Pulau itu diluar jangkauan kita. Tapi... kudengar kau punya gada aneh. Den- gan gadamu kurasa kita dapat sampai ke pulau itu." ujar si kakek.

"Kakek sialan. Yang punya gada bukan hanya aku saja, kau juga punya gada aneh. Per- gunakanlah gada milikmu sendiri. Aku jamin begi- tu gada kau buka, buaya dalam rawa langsung menggerogotnya sampai putus. Ha ha ha!"

"Pendekar Sakti 71, maksudku gadamu yang bisa membesar dan memanjang itu." Si kakek kembali berteriak.

Gento pun menyahut tidak kalah kerasnya. "Aki... agaknya otakmu memang sudah miring. Kau tahu bukan cuma gadaku yang bisa membe- sar dan panjang. Tapi gadamu juga bisa begitu, apalagi bila melihat perempuan cantik, jidad licin. Kita sama punya gada, perlu apa lagi diributkan?" jawab sang pendekar jengkel.

Si kakek lebih mendongkol lagi. Gento jelas salah mengerti tentang apa yang dimaksudkannya. Dengan geram Sateaki berkata. "Pendekar sinting. Turut yang kudengar kau memiliki senjata sakti mandraguna berupa Gada Sakti Pendera Bumi."

"Ha ha ha. Kalau gada itu yang kau mak- sudkan aku memang punya, kukira gada yang lain." kata Gento disertai tawa terpingkal-pingkal.

"Benar-benar pendekar edan. Kau fikir gada yang mana?"

"Gada yang itu, kau tahu maksudku bu- kan? Ha ha ha!"

Si kakek yang mengetahui maksud ucapan Gento tak lagi dapat menahan tawanya. Kedua orang ini memang aneh, walau mereka saat itu se- dang berada dalam ancaman bahaya besar, na- mun masih sempatnya mereka tertawa.

Kieek!

Makhluk Kutukan Neraka kembali meme- kik. Kali ini kakinya yang terlilit tali dikibaskan ke depan. Begitu tali mengikuti gerakan kaki sang makhluk, tanpa ampun lagi sosok Gento dan Sa- teaki yang bergelantungan di tali itu ikut terpental ke depan. Si kakek kembali menjerit ketakutan. Sedangkan Gento merutuk tak berkeputusan.

Belum lagi mereka dapat menguasai diri, mendadak Gento merasakan tubuhnya meluncur deras ke bawah. Kaget pemuda itu mendongak ke atas. Wajah pemuda itu sontak berubah pucat.

"Celaka...! Aku... tali yang melilit kaki Mak- hluk Kutukan Neraka terlepas. Ah...gawat...!" te- riak pemuda itu.

"Habislah sudah, tamat riwayat kita!" seru Sateaki tak kalah paniknya. Makhluk Kutukan Ne- raka begitu dapat membebaskan diri dari libatan tali segera membumbung tinggi ke angkasa. Ber- putar-putar beberapa kali lalu bergerak ke sebelah timur dan lenyap dari pandangan mata.

Baik Gento maupun Sateaki sudah tak sempat memperhatikan semua itu. Tubuh mereka terus meluncur ke bawah. Dalam kesempatan itu Gento sudah meraih senjata saktinya yang cuma sebesar ibu jari kaki dengan panjang tidak lebih dari dua jengkal yang terselip di pinggangnya. Tapi ketika dia hendak mengerahkan tenaga sakti ke bagian dada, timbul keraguan di hatinya mampu- kah gada itu nantinya menahan berat tubuh me- reka?

Keraguan di hati sang Pendekar berangsur lenyap ketika si kakek yang jatuh kalang kabut berteriak. "Cepat kerahkan tenaga dalammu. La- kukan apa saja yang kau bisa. Jika Gada sudah membesar, pergunakan ilmu mengentengi tubuh untuk menahan beratnya. Biarkan aku yang men- dayung dari belakang." ujar Sateaki.

"Bagus, kurasa itu memang gagasan yang tepat." sambil menyahuti ucapan orang tua itu Gento segera kerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Mendadak sontak suatu keanehan yang sangat luar biasa terjadi. Gada yang sebesar ibu jari kaki dengan panjang hanya dua jengkal itu se- ketika berubah menggelembung besar, panjangnya juga bertambah hampir tiga puluh kali lipat. Gento terus kerahkan tenaga dalam dan menyalurkannya ke bagian hulu gada. Senjata sakti itu kini tidak dapat lagi dicekal walaupun dengan memperguna- kan dua tangannya. Gento terpaksa memeluk gada yang besarnya mencapai seratus kali lipat.

"Celaka... gada ini hampir tak terpeluk olehku, Ki." seru Gento yang saat itu hanya dapat memeluk setengah dari hulu gada yang telah be- rubah membesar.

Sateaki tidak menyahuti. Gento hanya mendengar suara benda berat terjatuh ke air. Keti- ka melihat ke bawah, sang pendekar mendapati kakek berpakaian putih itu telah tercebur ke da- lam rawa. Tubuhnya tenggelam lenyap sesaat, un- tuk kemudian muncul lagi. Bersamaan dengan munculnya kepala si kakek dari segala penjuru kawasan rawa yang tak terukur dalamnya itu ber- munculan pula ratusan buaya besar berkepala kuning. Kawanan binatang melata ini segera me- nyerbu ke arah jatuhnya kakek Sateaki. Melihat ratusan kepala bergerak mengapung ke arahnya dengan mulut ternganga lebar si kakek menjerit tak karuan.

Byuur!

Gento dan gadanya yang telah membesar ja- tuh tak jauh di samping si kakek.

"Orang tua, senjataku kini telah berubah seperti balok besar. Sekarang aku kerahkan tena- ga dalam ke gada ini agar tetap dalam keadaan se- perti ini. Kau harus mendayung selekasnya. Kare- na aku tak punya kekuatan untuk membuat gada ini terapung diatas air lebih lama!" seru sang pen- dekar dengan nafas memburu.

Si kakek cepat naik ke atas gada, sela- matkan kaki dan tangannya dari sambaran kawa- nan mulut buaya.

"Dengan apa aku harus mendayung. Tidak ada kayu kulihat disekitar sini!" ujar si kakek den- gan wajah pucat dan lidah terjulur.

"Ah, mengapa berlaku tolol. Pergunakan ke- dua tanganmu, dua kaki atau apa saja. Pulau itu sudah tidak jauh lagi. Lekas lakukan...?!" teriak si pemuda.

Perintah sang pendekar membuat jantung si kakek seolah berhenti berdenyut. Betapa tidak kawanan buaya rawa itu sekarang mulai menye- rang gada yang ditumpangi Gento dan si kakek. Libasan ekor yang dilakukan kawanan binatang itu silih berganti membuat gada dan orang-orang yang berada di atasnya jadi berombang-ambing dan nyaris terpental ke dalam rawa. Sateaki berfi- kir jika tangannya dipergunakan untuk men- dayung, begitu tangan menyentuh air tentu pulu- han moncong buaya yang berada di bawah gada siap menyambutnya. Apa yang hendak dilakukan- nya memang penuh bahaya. Dia bisa kehilangan kedua tangan, tapi membiarkan Gento mengerah- kan ilmu mengentengi tubuh untuk menahan Ga- da agar jangan sampai tenggelam tentu saja mus- tahil sekali. Lama kelamaan kekuatannya akan melemah dan pada akhirnya gada itu bersama me- reka juga pasti tenggelam.

"Sialan, semua urusan benar-benar jadi ka- piran!" maki si kakek kesal. Orang tua ini kemu- dian menghantam sisi kanan kiri gada. Air mun- crat ke udara disertai ledakan berdentum. Bebera- pa buaya kena dihantam remuk. Air rawa berubah memerah. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Sateaki. Dengan sekuat tenaga dia mendayung dengan kedua tangannya. Kawanan buaya yang luput dari pukulan maut si kakek bergerak menge- jar. Tergesa-gesa si kakek terus mendayung. Bebe- rapa kali tangannya nyaris menjadi santapan. Wa- laupun saat itu Gento benar-benar dilanda kete- gangan yang luar biasa. Namun melihat si kakek yang mendayung pulang balik mengangkat tan- gannya dari jangkauan mulut buaya yang terus mengejar mereka Gento jadi tak dapat menahan tawanya.

"Terus Ki. Tidak ada jalan selamat bagi kita selain dapat mencapai pulau itu secepatnya. Ter- kecuali kau mau menyerahkan dirimu pada buaya-buaya kelaparan itu. Ha ha ha!"

"Inilah perjalanan yang paling gila dan pal- ing sial sepanjang hidupku. Kalau aku tak berte- mu dengan pendekar sinting sepertimu, mungkin akan jadi lain ceritanya."

"Ha ha ha. Aku yakin sampai ajal datang menjemputmu kau tetap tak bisa melakukan se- suatu apapun untuk melaksanakan tugas yang di- berikan oleh saudara seperguruanmu itu." sahut Gento masih dengan tertawa-tawa.

"Kuakui kau memang cerdik. Tapi tindakan nekad yang kau lakukan penuh resiko dan maut." kata Sateaki di tengah dengus nafasnya yang memburu.

"Tenang Ki. Tak usah marah, kita sudah hampir sampai. Tapi... akh... tenaga saktinya su- dah hampir terkuras habis. Aki, gada ini mulai kembali ke ujud semula." teriak si pemuda.

"Biyung... tobat. Biar kudayung lebih cepat!" sahut si kakek. Dan tangannya laksana titiran kini bergerak mengayuh di kedalaman air. Begitu ujung gada menyentuh tepi daratan pulau terapung Gen- to berseru.

"Ki... kita telah sampai. Sekarang kau me- lompatlah lebih dulu."

"Hah, kita sudah sampai. Selamat... sela- mat...!" Sateaki bangkit berdiri. Dengan tubuh ter- huyung dia melompat ke daratan, lalu jatuh ter- duduk dengan muka pucat nafas kembang kem- pis. Gento tarik balik tenaga saktinya. Secara per- lahan senjata Sakti Gada Pendera Bumi kembali mengecil kembali ke ujudnya semula.

Kawanan buaya tidak lagi mengejar, mereka hanya mundar-mandir di tepian rawa. Pendekar Sakti 71 Gento Guyon segera menyelipkan senjata saktinya di balik pinggang celana. Dia lalu duduk bersila, mencoba mengatur jalan nafas dan mene- nangkan debaran jantung. Tak sampai sepeminum teh, sang pendekar membuka matanya yang terpe- jam. Dia kitarkan pandang ke sekeliling tempat itu. Yang pertama dilihatnya adalah pendataran tanah gambut yang hitam, lalu pepohonan yang menju- lang tinggi dan bebatuan hitam yang berkilat-kilat terkena sinar matahari.

Gento melirik kesamping dimana Sateaki duduk disitu dalam keadaan terangguk-angguk karena mengantuk dan kelaparan.

"Ki...!" Gento memanggil.

Si kakek berjingkrak kaget. Dua mata dibu- ka lebar. "Ada apa?" tanya si kakek.

"Pulau ini sepi sekali Ki? Tapi aku merasa seperti ada orang yang mengawasi kehadiran kita." "Kau terlalu berperasangka buruk. Pulau ini

tidak seberapa luas, sebaiknya sekarang kita cari tempat kediaman bekas kakak iparku itu." Gento mengangkat bahu.

"Terserah. Aku hanya mengikut saja!"

Lalu keduanya bangkit berdiri, kemudian berjalan beriringan memasuki kawasan semak be- lukar yang terlindung pepohonan menjulang tinggi yang terdapat di pulau apung itu.

6

Setelah melewatkan malam di Kotagede dan mencari keterangan tentang muridnya pada pen- duduk setempat kakek berpakaian hitam berpipi tembem berhidung pesek berkening lebar dengan bobot lebih dari dua ratus kati itu akhirnya memu- tuskan untuk pergi ke Imogiri.

Sore harinya ketika matahari hampir teng- gelam di ufuk barat kakek gendut yang bukan lain adalah Gentong Ketawa ini sampai di sebuah ban- gunan batu yang telah porak poranda. Tak jauh di belakang reruntuhan puing gedung itu di tepi se- buah telaga berair jernih bergeletakan empat sosok mayat yang telah membusuk.

Untuk beberapa jenak lamanya si gendut pandangi mayat-mayat itu. Merasa kurang puas, sambil mendekap hidung dia memeriksa ke empat mayat itu. Si kakek melihat empat pedang tergele- tak tak jauh dari mayat. Ketika melihat bentuk ba- dan dan gagang pedang si gendut keluarkan suara tercekat.

"Bukankah mereka ini empat dari Enam Pe- dang Bayangan? Siapa yang telah membunuh me- reka. Tadi aku juga melihat tulang belulang berse- rakan di sekitar reruntuhan gedung. Tempat ini ti- dak ubahnya seperti ladang pembantaian." Si ka- kek membatin dalam hati.

"Sialan... mengapa aku selalu dihadapkan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan begini? Bocah edan itu hilang raib tak karuan. Apakah mungkin dia telah bertemu dengan tabib gila, lalu mengikuti tabib geblek itu tak karuan kejuntrun- gannya. Gelo betul, aku sudah letih mencari. Jan- gankan orangnya, kentut bocah sial itu pun tak tercium olehku!" maki si kakek.

Matahari hampir tenggelam di punggung bukit, membiaskan semburat merah bagaikan ba- ra api yang menganga. Udara di kawasan itu mulai terasa dingin menusuk. Angin bertiup keras menghempas bebatuan yang mencuat bertonjolan di sekitar kawasan telaga, menimbulkan suara bergemuruh menyeramkan.

Tak lama serombongan burung belibis me- lintas di tempat itu. Suasana menjadi gegap gempi- ta oleh kelepak sayap dan suara burung tersebut. Setelah itu kesunyian kembali menyelimuti daerah di sekitar kawasan telaga.

Si kakek dongakkan kepala. "Tidak kulihat tanda-tanda kehadiran muridku di tempat ini. Mungkin dia berada di satu kawasan lain, berca- kap-cakap dengan seorang gadis. Gadis yang ma- na? Mutiara Pelangi, Bidadari Biru atau Nyi Sekar Langit. Begitu banyak gadis yang pernah ditemui oleh bocah edan itu. Tapi tak satupun yang leng- ket. Bocah tolol begitu gadis mana yang mau den- gannya? Ha ha ha!"

Selagi si kakek mentertawakan ucapannya sendiri. Pada waktu bersamaan satu bayangan hi- tam ke arah si kakek. Tawa si gendut Gentong Ke- tawa mendadak lenyap. Air mukanya berubah dan si gendut sempat surut mundur satu langkah ke belakang begitu melihat sesosok tubuh tinggi se- mampai berpakaian serba berambut dan beralis merah tahu-tahu berdiri tegak berkacak pinggang hanya sejarak tiga langkah di depannya.

Beberapa saat lamanya kakek Gentong Ke- tawa menatap orang di depannya dengan pandan- gan menyelidik. Dia rasa-rasa mengenali kakek yang satu ini. Tapi kapan dan dimana si gendut lupa.

Selagi hati si gendut menduga-duga tak in- gin memastikan siapa adanya kakek angker yang satu ini. Mendadak kesunyian dipecahkan dengan terdengarnya suara tangis putus asa.

"Ah, dia menangis. Tidak ada kabar duka ci- ta, akupun bahkan belum mengatakan apa-apa, aneh mengapa tiba-tiba saja dia menangis. Hem, agaknya orang ini memang bukan manusia waras. Atau dia begitu sedih melihat tubuhku yang begini besar?" batin si gendut sambil berkipas-kipas den- gan tangannya.

Tangis dan lolong kakek itu demikian pilu hingga mengundang si kakek untuk bertanya.

"Orang tua beralis merah. Gerangan apa ki- ranya yang membuatmu menangis pilu di malam gelap dimana purnama pun tidak mau unjukkan diri. Apakah kau menangisi empat mayat yang ter- bujur di pinggir telaga itu atau ada lain hal yang membuatmu begitu bergundah, sedih hati?" tanya si kakek. Kemudian dia berkata lagi seolah dituju- kan pada diri sendiri. "Seandainya saja aku dapat menolong. Jika saja aku bisa meringankan pende- ritaanmu, tentu dengan senang hati aku dapat me- lakukannya!"

Mendengar ucapan tulus si gendut seketika itu juga tangis si kakek terhenti. Dua belah pipinya yang bersimbah air mata diusapnya hingga licin, sedangkan sepasang mata si alis merah yang me- natap kosong kini berkedap-kedip. Tidak disangka pula si kakek jatuhkan diri berlutut di depan kaki si gendut. Beberapa kali kepalanya dibenturkan ke tanah sebagai rasa pengungkapan terima kasih yang mendalam.

Untuk yang kedua kalinya kakek gendut di- buat tercengang juga melongo melihat sikap orang. Dia tersenyum sambil mengusap kening lebarnya pulang balik.

"Orang ini agaknya siluman penghuni tela- ga. Tak ada manusia menyembah manusia. Tapi dia malah menyembah gendut tolol begini." batin si kakek.

Gendut ini melangkah maju lalu tepuk bahu kakek beralis merah. Orang itu ternyata tak juga beranjak dari tempatnya. Malah masih dengan si- kap seperti orang menyembah dia berkata. "Gen- dut yang kuhormati, boleh jadi kau tak mengenal- ku, boleh jadi kau lupa pada keganasanku pulu- han tahun yang silam. Namun aku yang hina ini dengan mengesampingkan rasa malu terhadapmu berterus-terang ingin mengakui segala macam do- sa yang pernah kulakukan."

"Dosa apa yang pernah kau lakukan, orang tua?" tanya si gendut.

"Aku... aku, telah melakukan lima kejaha- tan besar. Pertama aku pernah melakukan pem- bunuhan. Kedua aku juga pernah melakukan pen- curian dan perampokan, yang ketiga aku pernah melakukan fitnah keji, yang ke empat aku pernah merusak puluhan kehormatan wanita. Dan yang ke lima aku durhaka pada kedua orang tuaku!" jawab si kakek. Tangisnya kembali meledak begitu dia mengucapkan dosa ke lima.

Si gendut Gentong Ketawa merasa tengkuk- nya merinding mendengar pengakuan kakek bera- lis merah. Rasanya belum pernah dia mendengar atau melihat orang melakukan kejahatan sekeji itu.

Setelah menatap orang yang berlutut di de- pannya dengan penuh sikap waspada akhirnya si gendut berucap. "Kejahatanmu melebih takaran, orang tua. Bangsa Iblis sekalipun belum tentu me- lakukan kejahatan sebanyak itu. Aku yakin setan merinding mendengar pengakuanmu. Rasanya kau tidak layak tinggal di atas dunia ini."

"Lalu aku pantasnya tinggal di mana?" tanya si alis merah.

"Kau patut tinggal di kakus, comberan atau neraka jahanam." sahut si gendut tegas. Walau begitu dalam hatinya dia berkata setengah meru- tuk. "Kau mau tinggal dimana buat apa aku perdu- li. Apa kau mengira aku ini ki lurah yang bertugas mengawasi penduduk?"

Mendengar ucapan si gendut kakek berpa- kaian hitam beralis merah sama sekali tidak ma- rah. Dia kemudian malah berkata penuh harap. "Apa yang kau katakan itu membuat aku semakin yakin kau pasti sanggup menolongku. Ah, betapa aku gembira karena hidupku segera berakhir!" ka- ta si kakek, lalu dongakkan kepala memandang kegelapan malam.

"Bicaramu kacau. Kau belum mengatakan pertolongan apa yang bisa kiranya aku berikan. Bagaimana kau menjadi yakin sedangkan aku be- lum tentu menyanggupi pertolongan yang kau minta?" ucap si gendut.

Kakek berbadan tinggi semampai yang me- nyungkur sujud di depannya kini bangkit berdiri. Melihat cara orang bergerak yang demikian cepat, si gendut merasa yakin pastilah orang di depannya berkepandaian tidak rendah. Kembali Gentong Ke- tawa berfikir keras untuk mengingat siapa adanya orang beralis merah ini. Tapi otaknya ternyata tak mampu mengingat.

"Mau tidaknya kau menolongku itu persoa- lan nanti. Sekarang kau adalah tamuku. Karena itu sebaiknya ikut ke tempat kediamanku yang le- taknya tak jauh dari sini."

"Kalau kau beranggapan begitu aku tidak keberatan. Tapi jika kau ternyata menipuku, aku tak akan mengampuni dirimu!" kata si gendut.

Kakek alis merah tidak menanggapi. Dia memutar tubuh, lalu berkelebat ke arah sebelah timur telaga dengan diikuti oleh kakek Gentong Ketawa.

Tempat tinggal si tinggi besar ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh si gendut, yaitu bangunan sederhana yang disekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman dan pohon buah-buahan. Tak disangka tempat tinggal kakek ini hanya berupa sebuah gua yang terletak di sebuah celah sempit yang diapit dua bukit curam dan terjal. Bagian mulut gua terlindung oleh akar-akaran tetumbu- han merambat. Jika mata tidak jeli tentu orang ti- dak mudah menemukan gua ini.

Ketika si gendut mengikuti kakek tinggi memasuki mulut gua dia melihat cahaya merah te- rang benderang menerangi seantero penjuru ruan- gan bagian dalam gua yang luas. Tapi langkah si kakek mendadak terhenti begitu dia melihat satu pemandangan aneh dan menyeramkan. Di sebelah kiri ruangan gua si gendut melihat sebuah kapak besar menancap di bagian dada sosok mayat yang telah menjadi kerangka. Kerangka mayat itu ter- sandar di dinding gua. Tak jauh dari mayat perta- ma terlihat pula dua sosok mayat lainnya. Kedua mayat itu tergeletak di lantai dengan tubuh han- gus gosong mengerikan hingga si gendut tak dapat memastikan siapa adanya dua orang yang mene- mui ajal secara menggenaskan ini.

Melihat keadaan mayat-mayat tersebut mengingatkan si gendut pada satu ilmu ganas yang di dunia persilatan hanya dimiliki oleh seo- rang tokoh sesat. Si kakek merasakan tengkuknya menjadi dingin. Dia memandang mendelik pada orang yang kini duduk menghadapnya di tengah ruangan gua. Sekali lagi si kakek pandangi orang itu, mulai rambut, wajah dan kedua alisnya yang merah. Ingat akan sesuatu si kakek menepuk ke- ningnya sendiri. Dengan suara bergetar mulutnya berucap. "Kalau tak salah bukankah dua orang yang terbunuh ini akibat terkena hantaman ilmu Ratap Langit? Kalau tak salah, bukankah engkau orangnya yang bergelar Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan asli bernama Kala Bayu alias Angin Pe- sut?" tanya kakek Gentong Ketawa dengan mata mendelik.

Kakek alls merah yang duduk menunggu sempat unjukkan wajah kaget. Tapi dia kemudian dengan penuh ketenangan anggukkan kepala.

Dengan tenang pula dia menjawab. "Aku maklum kegelapan di luar sana membuat engkau tak segera mengenaliku, orang gendut. Tapi walau belum pernah berjumpa denganmu, melihat pe- nampilanmu aku bisa memastikan kau pasti ka- kek sakti Gentong Ketawa dari gunung Merbabu," kata si kakek tinggi. Si gendut diam-diam terkejut tak menyangka orang mengenali siapa dirinya. Ra- sa kaget si gendut kemudian berubah menjadi ta- wa.

"Katakan terus terang bukankah kau Angin Pesut?" tanya si kakek masih terus saja tertawa.

Ketika Kakek alls merah anggukkan kepala seketika itu juga tawa si gendut lenyap. Mata si- pitnya mendelik seperti melihat setan.

"Kau tak salah menerka, orang itu memang mati akibat terkena hantaman ilmu Ratap Langit dan benar pula kuakui diriku yang kini berada di hadapanmu adalah Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Namun hendaknya kau ketahui orang itu terbunuh bukan atas kemauanku sendiri. Dua orang yang tergeletak di atas lantai itu adalah Iblis Tangan Batu dan Iblis Lidah Api. Mereka sengaja datang dari tanah seberang karena ingin meminta senjata Sakti Panah Matahari. Senjata itu dulu mi- lik gurunya. Hantu Pembawa Petaka..."

"Panah Matahari. Kalau tak salah kau per- nah membuat kegegeran dengan senjata itu dian- taranya dengan membunuh ratusan perajurit se- napati Waduk Kedung di Kalasan." potong Gentong Ketawa.

Sepasang mata Angin Pesut nampak mere-

dup.

"Apa yang kau katakan itu memang tidak

keliru."

"Kau bunuh mereka karena kau tak mau mengembalikan senjata curian milik guru mereka bukan?" tanya si gendut.

Angin Pesut gelengkan kepala.

"Dalam hal ini justeru kau keliru, orang tua. Panah Matahari kuserahkan pada mereka, namun mereka meminta belasan kitab curianku yang lain. Aku tak memberikannya, lalu mereka meminta nyawaku. Dengan senang hati aku menyuruh me- reka mengambilnya. Karena sejak aku mengun- durkan diri dari dunia persilatan dua tahun yang lalu, aku telah menyatakan bertobat. Tapi sayang...!" kata Angin Pesut sambil gelengkan ke- pala. "Mereka tak sanggup membunuhku. Padahal aku tak melakukan perlawanan sekalipun, meski- pun mereka menggunakan panah matahari yang baru saja kuserahkan!"

"Aku merasa senang jika semua yang kau katakan itu memang benar adanya. Padahal bila mengenang segala kejahatan yang pernah kau la- kukan ingin rasanya aku mewakili para tokoh rim- ba persilatan untuk menghukummu. Hanya bila kufikir lebih jauh lagi, biarlah waktu yang akan menghukummu."

"Tidak orang tua. Kau sudah berjanji mau menolongku. Sekarang aku benar-benar sangat mengharapkan pertolonganmu itu." kata Angin Pe- sut setengah meratap.

Tentu saja ucapan kakek alis merah ini membuat Gentong Ketawa tak dapat menahan ta- wanya. Beberapa saat kemudian ketika tawa si ka- kek lenyap dia berkata. "Angin Pesut pertolongan apa yang dapat kau harapkan dari orang tua geb- lek macamku ini. Kau manusia yang memiliki se- gala macam kesaktian, kau bahkan salah satu dari pentolan tokoh sesat. Kau memiliki segudang ilmu, lalu pertolongan apa lagi yang bisa kau harapkan dariku?"

"Orang tua, kau adalah sesepuh kaum go- longan putih. Kau dikenal sebagai memiliki kecer- dikan luar biasa. Terus-terang aku ingin meminta padamu agar kau sudi kiranya menguras semua ilmu yang kumiliki, hingga tidak bersisa barang satupun. Setelah semua ilmuku kau kuras kau ju- ga harus membunuhku...!" ujar Angin Pesut.

Tercenganglah si gendut mendengar per- mintaan Angin Pesut. Beberapa saat lamanya dia menatap tajam pada kakek yang duduk di depan- nya dengan mulut tercengang seolah tidak per- caya.

"Angin Pesut, agaknya kau telah kehilangan kewarasanmu. Begitu banyak manusia di rimba persilatan ini yang ingin memiliki ilmu kesaktian tinggi, tapi kau malah ingin menguras ilmumu. Sungguh permintaanmu itu suatu keinginan gila dan tak masuk akal?!" ujar si kakek gendut.

Angin Pesut tundukkan wajahnya.

Dengan mata berkaca-kaca dia menyahut. "Ilmu tinggi tanpa didasari keluhuran budi pekerti hanya membuat seseorang hidup terpuruk dalam kehinaan. Dia akan menjadi hamba dari amarah dan budak hawa nafsunya sendiri. Aku tidak bica- ra dusta, hal itu telah terjadi pada diriku sendiri. Akibat perbuatanku dulu membuat banyak nyawa melayang sia-sia. Banyak fihak merasa dirugikan, sehingga kini sebagian diantaranya menyimpan dendam kesumat padaku."

"Kau takut pada mereka?"

"Ha ha ha. Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan mengenal rasa takut pada sesama ma- nusia? Allah. Aku takut Dia tak berkenan men- gampuni diriku. Dosaku menggunung, melebihi buih dilautan banyaknya. Aku tidak mau lagi ada nyawa melayang sia-sia di tanganku." ucap Angin Pesut penuh kesungguhan.

Si gendut tersenyum mencibir. "Mulutmu berkata begitu, tapi ternyata masih ada saja orang yang kau bunuh!" dengus si kakek.

Ucapan si gendut membuat Angin Pesut ke- luarkan suara tangis menggerung. Dua tangan di- remas dan dibantingkan di atas batu besar yang terdapat di sebelah kirinya.

Plang! Plang!

Tangan yang sengaja hendak dihancurkan- nya itu tidak cidera sama sekali. Malah benturan tangan dengan batu memijarkan bunga api. Batu hancur berkeping-keping. Masih dengan menangis sesunggukan kakek alis merah mengambil palu batu. Tangan kiri diletakkan di lantai gua yang ke- ras. Lalu palu dihantamkan ke tangan itu.

Treng! Treeng!

Tangan kiri tidak remuk Angin Pesut seakan seperti lupa diri. Dia menyambar pedang baju pu- tih yang tergantung di dinding gua. Dengan pe- dang itu dia membabat tangan kanan kiri silih berganti. Karena dua tangan juga tidak putus, pe- dang di arahkan ke kaki, lalu berpindah ke perut, selanjutnya ditikamkannya pula ke dada dan be- rakhir di kepala.

Pletak! Pletak!

Tak satu pun dari tusukan bacokan mau- pun tebasan pedang yang mampu menciderai tu- buh Angin Pesut.

Si gendut yang menyaksikan semua ini dan tidak sempat mencegah dengan mata terbelalak kini geleng kepala.

"Hebat. Ini suatu pertunjukan yang jarang terjadi. Ilmu kesaktianmu begitu tinggi Angin Pe- sut, sungguh hebat luar biasa. Aku menyatakan salut kepadamu." memuji kakek Gentong Ketawa.

Tangis Angin Pesut tiba-tiba terhenti. Pe- dang di tangan kanan yang telah rompal bergugu- san dicampakkannya ke lantai. Kini dengan mata mendelik dia menatap si gendut. "Orang tua... aku sama sekali tidak memintamu untuk mengagumi apa yang kau lihat. Ucapanmu itu hanya menya- kitkan perasaanku!" pekik Angin Pesut sedih. "Apa yang kau saksikan saat ini semuanya sebagai sua- tu tanda bahwa aku ingin membunuh diri, karena aku tak ingin menyakiti orang lain. Ketahuilah orang tua, aku tidak membunuh kedua orang itu. Iblis Tangan Batu dan Iblis Lidah Api tewas terke- na serangan ilmu Ratap Langit. Ilmuku itu bekerja dengan sendirinya tanpa sanggup kukendalikan bila aku merasakan sakit yang hebat."

"Sungguh satu ilmu yang keji!" desis kakek Gentong Ketawa merinding.

"Bukan hanya keji, tapi juga ganas. Itulah sebabnya setelah bertobat aku berusaha membu- nuh diri, karena aku tak ingin ada orang lagi yang celaka di tanganku. Sayangnya tak satupun senja- ta yang dapat melukai tubuhku!"

"Ha ha ha. Apakah membunuh diri jalan sa- tu-satunya untuk menyelesaikan masalah yang kau hadapi. Angin Pesut? Apa kau mengira Tuhan tidak menghukummu, jika kau mati secara sesat seperti itu? Angin Pesut... ketahuilah, berbuat baik setelah bertobat jauh lebih baik dari membunuh diri. Orang mati kalau bisa bicara masih ingin hi- dup. Tapi kau justeru memilih jalan sebaliknya." kata si kakek.

Mendengar ucapan si gendut, Angin Pesut jadi terdiam mencoba merenungi dan memikirkan apa yang diucapkan kakek Gentong Ketawa. 7

Apa yang dikatakan oleh si gendut nam- paknya memang dapat diterima oleh Angin Pesut. Hingga tak lama kemudian dia berkata. "Kalau be- gitu aku tak jadi bunuh diri. Tapi kau harus me- musnahkan seluruh ilmu yang kumiliki." ujar si kakek kemudian.

"Ha ha ha. Aku tidak keberatan menghan- curkan ilmu kesaktian yang kau miliki. Tapi sete- lah melihat begitu tinggi dan banyaknya ilmu yang kau miliki, rasanya aku tak mungkin sanggup menghancurkan seluruhnya. Terkecuali aku sang- gup membangkitkan tiga sumber tenaga dalam yang ada di tubuhku. Dengan tiga sumber tenaga dalam yang berasal dari titik yang berlainan kura- sa baru dapat menguras ilmu yang ada padamu, namun sejauh ini tak seorangpun tokoh hebat di dunia persilatan yang memiliki tiga titik pembang- kit tenaga dalam seperti yang aku sebutkan. Satu- satunya yang mempunyai kemampuan hebat se- perti itu hanyalah kakek setengah roh setengah manusia yang bergelar Manusia Seribu Tahun. Sayang... tak ada orang yang mengetahui dimana keberadaan orang yang satu ini." menerangkan si gendut dengan serius.

"Tak bisa kau memusnahkan seluruhnya, sebagian pun tak jadi apa!"

"Angin Pesut. Tidak dapatkah kau memikir- kan hal lain selain memusnahkan ilmu yang kau miliki?" "Ada... pertama aku berfikir untuk men- gembalikan beberapa kitab milik orang lain yang dulu pernah kucuri. Yang kedua aku merindukan puteriku yang diculik orang delapan belas tahun yang lalu." jawab si kakek.

"Kau tahu siapa yang menculiknya?" "Seandainya aku tahu, tentu sudah sejak

dulu aku melabraknya." jawab orang tua itu. "Siapa nama puterimu itu?" tanya kakek

Gentong Ketawa.

"Aku belum sempat memberinya nama, waktu diculik usianya baru beberapa pekan saja. Kau melarang aku bunuh diri dan kau juga kulihat tak bersedia memusnahkan ilmuku. Jadi sekarang kuminta pendapatmu, apa yang seharusnya aku lakukan?!"

Si gendut terdiam sejenak, setelah berfikir baru dia berkata. "Untuk mencari anakmu tentu sulit karena aku tak tahu namanya. Lagipula jika dia hidup tentu sekarang sudah dewasa. Kau pasti tak mengenalnya?"

"Putriku punya tanda berupa tahi lalat di bagian punggungnya." menerangkan Angin Pesut.

"Lalu apakah kau harus menyingkap pa- kaian di punggung setiap gadis yang kau jumpai? Setiap orang bisa melabrakmu. Jadi menurutku alangkah baik jika kau kembalikan kitab-kitab yang kau curi pada pemiliknya."

"Mereka pasti akan membunuhku!"

"Itu adalah salah satu resiko yang harus kau tanggung!" ujar si gendut.

Angin Pesut tidak segera menanggapi uca- pan Gentong Ketawa. Wajahnya jelas membayang- kan keraguan.

Selagi suasana di dalam ruangan gua dice- kam kebisuan, pada waktu bersamaan pula dari arah mulut gua terdengar satu suara. "Angin Pe- sut, manusia seribu satu dosa bergelar Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Saat datangnya pemba- lasan itu sudah hampir tiba. Seseorang telah ku- percayakan untuk menjemput nyawamu, lalu menghancurkan tubuhmu hingga menjadi daging bubur meleleh. Kau akan mendapatkan azab yang pedih. Ha ha ha!"

Kedua orang yang berada di dalam gua ter- sentak kaget dan sama memandang ke mulut gua. Tapi mereka tak melihat apa-apa, karena mu- lut gua diselimuti kabut putih yang tak jelas dari mana datangnya.

"Siapa kau?" tanya Angin Pesut dengan ber- getar, perlahan namun cukup jelas.

"Hik hik hik. Siapa diriku kelak jika rohmu sudah diseret ke neraka bisa kau tanyakan pada malaikat penjaga disana, Angin Pesut. Kau den- gar... ilmu kepandaianmu boleh tinggi. Namun kematian tetap datang padamu. Kau hanya tinggal menunggu...!"

"Aku tak takut mati. Jika kau inginkan nyawaku datanglah kemari, unjukkan dirimu!" te- riak kakek itu.

Mendadak dia bangkit berdiri. Sekali dia bergerak sosoknya berkelebat lenyap dan kini telah berdiri pula di luar gua. Kakek Gentong Ketawa yang datang menyusul berkata dengan suara per- lahan. "Kau lihat, kabut di mulut gua lenyap. Aku yakin siapapun dia adanya, dia tak datang lang- sung kesini. Dia mengirimkan suaranya dari satu tempat yang jauh beribu tombak. Suara itu tak dapat dibedakan sama sekali. Mungkin dia laki- laki, boleh jadi juga seorang perempuan. Angin Pe- sut, sebaiknya tak-usah kau tanggapi. Jika kau ti- dak melanggar permintaanku dengan tidak mem- bunuh lagi. Aku berjanji akan membantumu." kata si kakek gendut.

"Aku sudah mengatakan tidak akan ada lagi pembunuhan yang kulakukan. Terkecuali satu hal, terhadap ilmu Ratap Langit aku tidak dapat berbuat apa-apa." sahut Angin Pesut dengan suara perlahan.

"Angin Pesut. Kematian yang akan menjem- putmu bisa datang dalam bentuk apa saja. Kau tunggulah... hik hik hik!"

Gema suara tanpa rupa itu kemudian le- nyap. Angin Pesut kepalkan kedua tinjunya sambil berkata. "Jika itu memang menjadi suatu kenya- taan aku merasa sangat berterima kasih sekali!" gumam si kakek. Dalam gelap dia memandang ke arah kakek Gentong Ketawa. Selanjutnya dia beru- cap. "Orang tua, kepadamu aku menaruh satu permintaan. Jika aku mati tolong carikan anakku. Seandainya kau bertemu dengannya tolong sam- paikan salamku bahwa aku mencintai dan merin- dukannya selalu."

"Kau hendak kemana?" tanya si kakek.

"Aku tak pergi kemanapun. Kau pergilah, o- rang tua. Kumohon...?!" "Kau yakin tidak akan membunuh diri?" "Aku akan menjalani hidup sebagaimana

yang kau anjurkan! Segala kenyataan apapun yang terjadi padaku, sedapatnya aku akan beru- saha menerima dengan dada lapang."

"Baiklah. Sekarang aku mohon pamit. Aku berdoa semoga Gusti Allah selalu memberimu pe- tunjuk jalan yang benar, hingga kau menemukan suatu kedamaian hidup yang selama ini belum pernah kau dapatkan!"

"Terima kasih orang tua. Jika kau mau aku ingin menitipkan Panah Matahari padamu."

"Buat apa?" tanya si gendut kaget.

"Boleh jadi umurku tak akan lama. Aku me- rasa aman jika senjata itu ada padamu yang kelak dapat kau serahkan pada Hantu Pembawa Petaka di tanah Andalas."

"Orang tua yang kau sebutkan sulit ditemui, bahkan mungkin sekarang telah berpulang!"

"Belum... mungkin dia masih hidup. Seti- daknya itu dibuktikan dengan datangnya dua mu- rid Hantu Pembawa Petaka. Iblis Tangan Batu dan Iblis Lidah Api sebelum hendak membunuhku ada mengatakan mereka diutus gurunya untuk men- gambil Panah Matahari. Tapi mereka tidak hanya meminta senjata itu saja. Iblis Tangan Batu me- minta beberapa kitab sakti lain yang bukan milik guru mereka. Sangat disayangkan mereka bukan saja tak sanggup membunuhku, tapi malah terbu- nuh oleh ilmu Ratap Langitku."

"Konon yang kudengar Hantu Pembawa Pe- taka bukan manusia berhati serakah. Tubuhnya tidak sempurna tapi dia memiliki keluhuran jiwa. Aku sendiri ragu apakah Hantu Pembawa Petaka mempunyai murid atau tidak. Dan mungkin pula kedua orang yang termakan ilmumu itu memang bukan muridnya?"

"Lalu mereka murid siapa?"

"Bisa jadi murid setan. Mengingat musuh- mu tidak sedikit, tentu banyak sekali kemungki- nan yang terjadi di luar perhitunganmu!" ujar ka- kek Gentong Ketawa.

"Baiklah, sekarang aku semakin bertambah yakin hanya kau yang dapat kupercaya untuk me- nyimpan senjata ini." Lalu Angin Pesut mengelua- rkan sebuah bungkusan terbuat dari kain putih sepanjang tiga jengkal belum lagi si gendut sempat mengucapkan sesuatu, Angin Pesut ulurkan tan- gan yang memegang bungkusan itu.

"Terima dan simpanlah." ujar si kakek alls merah.

"Mana aku berani menerimanya?"

"Orang tua, apakah kau lebih suka senjata berbahaya ini jatuh ke tangan orang jahat? Kau sudah mendengar bahwa aku tidak akan melawan siapapun. Semua musuh-musuhku setiap saat bi- sa saja datang kemari. Jika andainya mereka da- pat membunuhku, mereka pasti menjarah apa saja yang ada di dalam gua ini. Tolong simpan senjata itu, Gentong Ketawa!" pinta si kakek bersungguh- sungguh.

Melihat Angin Pesut nampak begitu me- maksa, semakin tidak enak saja perasaan si gen- dut untuk menolak. Diapun kemudian ulurkan tangan menerima kain putih pembungkus Panah Matahari.

Gentong Ketawa masukkan kain putih itu di balik pakaian hitamnya. Setelah itu dia balikkan badan siap hendak melangkah pergi. Tapi pada saat itu Angin Pesut berkata. "Tunggu orang tua?"

"Ada lagi yang hendak kau sampaikan?" "Aku punya saudara seperguruan. Namanya

Sateaki, dia sama sekali tidak tahu menahu ten- tang kejahatanku. Jadi kuharap kau jangan me- musuhinya."

"Semoga aku dapat memperhatikan permin- taanmu itu!" kata si kakek gendut. Selanjutnya tanpa menunggu lebih lama lagi orang tua itu ber- kelebat tinggalkan Angin Pesut yang masih berdiri tegak disamping mulut gua.

8

Kekesalan gadis berpakaian putih ini pada gadis yang bernama Nyi Sekar Langit bukan kepa- lang. Seandainya dia tahu Nyi Sekar Langit yang semula berupa seorang nenek tua berwajah buruk itu sesungguhnya adalah seorang gadis cantik jeli- ta. Tentu dia tak akan mengizinkan Gento mem- bantu gadis itu. Gara-gara Nyi Sekar Langit, gadis berpakaian putih merasa dirinya diabaikan. Dalam pandangannya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon nampaknya lebih tertarik pada gadis jelita itu.

Entah mengapa dia begitu marah pada Nyi Sekar ketika melihat gadis itu memandang Gento dengan mata berbinar. Masih jelas terbayang di matanya saat mereka berada di gua karang di te- luk, Nyi Sekar Langit langsung memeluk Gento be- gitu dirinya terbebas dari belenggu ketuaan.

"Dia pernah mengatakan suka kepadaku. Tapi mengapa dia mudah tergoda oleh perempuan lain." batin si gadis yang bukan lain adalah Mutia- ra Pelangi. Sejenak dia menarik nafas, lalu pan- dangannya menatap kosong ke arah sungai kecil yang terdapat di depannya. "Mungkin rasa su- kanya kepadaku hanya suatu kedustaan belaka. Gento... ahk apakah kau tidak tahu bagaimana pe- rasaanku kepadamu?" rintih si gadis. Tanpa sadar sepasang matanya nampak berkaca-kaca.

"Mengapa perasaanku jadi begini. Gara-gara Nyi Sekar aku terpaksa meninggalkan Gento. Kini setelah aku tak berada di dekatnya aku jadi kha- watir jangan-jangan Nyi Sekar dengan segala ke- cantikannya berusaha memikat pemuda itu. Hmm... Nyi Sekar. Jika kau mencoba memperdaya orang yang aku kasihi, aku bersumpah pasti akan membunuhmu. Jangan mengira aku takut pada- mu!" geram Mutiara Pelangi sambil kepal-kepalkan tinjunya.

Sang dara gelengkan kepala. Kini wajahnya nampak berubah muram. Matanya yang menatap kosong memandang ke sungai dimana sepasang ikan nampak berenang mundar-mandir dengan bebasnya.

"Diriku tidak sebebas ikan itu. Guruku yang misterius bahkan sering mengingatkan aku agar jangan mudah percaya dengan segala bujuk rayu mulut laki-laki. Gento... tanpa sadar apa yang per- nah kau ucapkan telah menumbuhkan harapan di hatiku. Tapi ternyata, tingkah lakumu membuat aku ragu, apakah benar kau mencintai diriku?" fi- kir Mutiara Pelangi alias Puteri Kupu-kupu Putih gelisah. Kegelisahan serta segala kegalauan hati kadangkala membuat seseorang berlaku ceroboh dan tidak cepat tanggap dengan apa yang berada di sekitarnya. Begitu juga halnya dengan Pelangi. Kegelisahan serta fikirannya yang tertuju pada Pendekar Sakti 71 Gento Guyon membuatnya tak menyadari kalau sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.

Pemilik sepasang mata yang hanya kepa- lanya saja menyembul di permukaan tanah mena- tap ke arah Pelangi dengan penuh kegusaran.

"Bocah itu apa yang dilakukannya di tempat ini? Seharusnya dia membantu Iblis Edan dan Se- tan Sableng membebaskan ayahnya yang dipenja- rakan Adipati di Ladang Wadas Cimangu. Eeh... dia malah menangis? Aku tak pernah mengaja- rinya ilmu menangis! Dasar setan!" dengus sosok yang sebagian tubuhnya terpendam di dalam ta- nah. Kepala yang tersembul di atas permukaan ta- nah itu mendadak lenyap. Diatas permukaan ta- nah terjadi gerakan disertai suara bergemuruh aneh.

Apa yang terjadi berlangsung sangat cepat, dan mendadak Pelangi menjerit ketika satu kekua- tan menariknya ke bawah hingga membuat sosok Pelangi lenyap ke dalam tanah untuk kemudian melesat ke udara seperti dilemparkan dari dalam tanah. Selagi gadis itu berjumpalitan di udara be- rusaha keras agar tidak jatuh punggung sang dara kembali dikagetkan dengan terdengarnya suara bentakan yang seakan berasal dari kedalaman pe- rut bumi. "Murid tolol keblinger. Sedari kecil aku mendidikmu dengan maksud agar mempunyai pendirian sekokoh karang dan hati sekeras baja. Tidak kusangka baru dua purnama turun gunung kau tak sanggup menghadapi tantangan hidup!"

Pelangi yang baru saja jejakkan kakinya nampak bergetar, wajah berubah pucat dan mata memandang membeliak ke arah lubang menganga dimana tadi dia sempat ditarik amblas ke dalam- nya.

Menyadari siapa yang datang Pelangi jatuh- kan diri berlutut sambil menjura penuh hormat ke arah lubang dimana orang yang bicara tadi belum juga terlihat sosoknya.

"Guru... maafkan aku. Maafkan segala kesa- lahanku. Murid mengaku bersalah. Aku mohon pe- tunjuk. Belasan tahun aku menjadi muridmu, se- lama itu aku tak pernah melihat ujudmu yang se- benarnya. Kini aku berharap guru mau memperli- hatkan diri!" kata Pelangi masih dengan sikap menghormat.

"Huh, memperlihatkan diri padamu apa su- sahnya. Kau pentang dua matamu, lihat baik-baik kemari!" kata suara dari lubang yang selalu mela- kukan perjalanan dengan menggunakan Ilmu ‘Me- nyusup Bumi'

Sesuai dengan perintah suara itu, Mutiara Pelangi memandang ke depan. Begitu perhatiannya tertuju ke arah suara yang terdengar. Mendadak sontak terdengar suara bergemuruh hebat dari dalam bumi. Lalu permu- kaan tanah tersibak, serpihan tanah berlesatan ke segenap penjuru arah. Pelangi lindungi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di lain kejab begitu suara bergemuruh lenyap terdengar pula suara tawa panjang menggidikkan.

"Kau lihatlah kemari Pelangi. Sewaktu aku menggemblengmu selama belasan tahun sekalipun kau belum melihat diriku. Kini kesempatan itu terbuka bagimu. Lihat...!"

Perlahan Pelangi tengadahkan wajahnya memandang lurus ke depan. Gadis ini memekik kaget, mata melotot, sedangkan tangan kiri cepat dipergunakan untuk menutup mulutnya. Bebera- pa saat lamanya Pelangi tak kuasa bicara, sekujur tubuhnya malah basah bersimbah keringat dingin. Apa yang dilihatnya bukanlah seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Sosok berpakaian serba hi- tam itu tidak menyerupai manusia. Ujudnya boleh dikata setengah manusia setengah binatang.

Betapa tidak? Wajah si nenek rusak hancur mengerikan, hidung sumplung mata belok, telinga lenyap entah kemana. Sedangkan lidahnya terjulur merah meneteskan darah, lalu di kanan kiri lidah yang terjulur terdapat dua pasang taring yang ta- jam, panjang dan berlumuran darah. Selain itu dada si nenek nampak berlubang besar, hangus menghitam seperti bekas terbakar. Karena dia hanya memakai celana panjang sebatas lutut, dengan jelas Pelangi dapat melihat sepasang kaki si nenek yang kecil bengkok cacat penuh codet. Bagian betis bersambung dengan besi seperti mata tombak. Mungkin dengan kedua kaki bertumit runcing inilah dia melubangi bagian permukaan tanah, hingga dia dapat menembus tanah mana saja yang dia suka.

"Kau melihatku seperti melihat setan, Pe- langi?" hardik si nenek.

"Wajah guru bahkan lebih angker dari se- tan!" sahut sang dara.

"Hik hik hik! Sekarang setelah bertemu dan melihat rupaku. Aku ingin bertanya ketika kau tu- run gunung mengatakan ingin membebaskan pa- manmu. Lalu apakah kau telah berhasil melaku- kannya? Dan apakah kau telah bertemu dengan Setan Sableng dan Iblis Edan adik misanmu itu?" tanya si nenek yang dikenal dengan nama nenek Palasik itu dengan tatapan menyelidik.

Mendapat pertanyaan seperti itu wajah sang dara berubah muram. Dengan suara bergetar me- nahan kesedihan dia menjawab. "Pamanku Karma Sudira tewas terbunuh. Sedangkan Setan Sableng dan Iblis Edan kini ikut dengan Dewa Sinting." menerangkan si gadis. Dia kemudian juga mence- ritakan bagaimana caranya sampai bisa membu- nuh Adipati Purbolinggo yang telah membuat sengsara kerabat pamannya itu. Tak lupa dia juga menceritakan pertemuannya dengan Gento dan bantuan yang diberikan oleh pemuda itu. (Untuk lebih jelas, silahkan baca Episode Setan Sableng).

"Kedua adik misanmu itu semoga bisa men- jadi manusia berguna di dalam didikan Dewa Sint- ing. Lalu mengapa kau tinggalkan Kadipaten bu- kan malah mendudukinya setelah kau dapat me- numpas Adipati Purbolinggo dan orang-orangnya?" tanya si nenek. Dua bola matanya yang belok me- natap penuh selidik ke arah Pelangi.

"Mohon dimaafkan, guru. Aku wanita, aku merasa tidak pantas menduduki jabatan itu. Un- tuk sementara biarlah Purbolinggo dibiarkan ko- song tanpa pemerintahan."

"Hik hik hik. Aku tahu jalan fikiranmu, kau sejak dulu lebih suka hidup sebagai manusia biasa tanpa embel-embel segala macam tahta jabatan! Lalu, kulihat tadi kau menangis? Apa yang terjadi padamu?"

Sang dara nampak tersipu dan sempat be- rubah merah air mukanya.

"Tidak! Aku tidak menangisi apapun." Nenek angker di depannya dongakkan kepa-

la lalu tertawa panjang. Beberapa saat kemudian setelah tawa dinginnya lenyap dia berkata. "Aku tahu kau berdusta. Sejak dulu aku tak pernah mengajarimu berbohong terkecuali bila dalam kea- daan terpaksa dan terjepit. Aku tahu, di hatimu ada satu ganjalan. Matamu bahkan menyimpan suatu rasa, kerinduan, benci, cemas dan rasa ta- kut kehilangan. Kau sedang memendam berbagai perasaan. Pasti yang satu ini erat hubungannya dengan laki-laki, dengan seorang pemuda. Kau ja- wab, betul atau tidak yang kukatakan ini?"

Terkejutlah sang dara. Sama sekali dia tak menyangka gurunya mengetahui apa yang terjadi pada dirinya saat itu. Sekarang dia menjadi ragu apakah merasa perlu untuk berterus-terang? Pe- langi menarik nafas, lalu menghembuskannya sambil gelengkan kepala. "Tidak benar guru!"

Sepasang mata belok Si nenek mendelik be-

sar.

"Bocah kurang ajar. Sekarang kau mulai be-

rani membohongi dirimu dan gurumu ini? Aku pernah muda muridku. Kalau kau tak mau berte- rus-terang kupecahkan kepalamu!"

Mendapat ancaman ini tentu saja Pelangi jadi takut. Sehingga dengan muka merah dan pe- rasaan malu dia akhirnya berterus-terang.

"Guru... aku... aku...!"

"Ah, suaramu bergetar. Jantungmu pasti berdetak keras. Katakan siapa laki-laki yang telah menggerogoti fikiran dan hatimu itu?"

"Namanya Gento, guru...!" jawab Pelangi sambil tundukkan wajahnya.

"Gento siapa dia? Orangnya tua atau masih muda? Apakah dia masih perjaka tulen?"

"Aku tidak tahu dia perjaka atau bukan.

Tapi dia masih muda."

"Dia seorang pembuat senjata atau peda- gang getuk keliling?"

"Dia adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon." menerangkan sang dara. Nenek angker di depannya manggut-manggut, tapi keningnya ber- kerut seolah tengah berfikir keras dan menduga siapa gerangan pendekar itu.

"Hemm, Pendekar Sakti 71. Akhir-akhir ini namanya memang sering menjadi pembicaraan orang. Konon dia memiliki ilmu kesaktian tinggi. Sayang otaknya agak sinting. Jadi pemuda edan itu yang telah menyakiti perasaanmu?"

"Dia tidak menyakitiku."

"Lalu apakah dia pernah mengatakan cinta padamu?"

"Tidak. Tapi dia pernah mengatakan suka padaku." jawab Pelangi.

"Suka bukan berarti cinta. Sejak dulu su- dah kukatakan, laki-laki itu memang suka me- rayu. Laki-laki mulutnya beracun. Apa kau lupa aku telah menyuruhmu untuk menjauhi semua laki-laki. Kau lihat wajahku, diriku menjadi cacat begini rupa karena ulah laki-laki. Aku tak mau apa yang menimpa diriku terjadi padamu." kata si ne- nek dingin.

"Ah, jadi cacat di sekujur tubuhmu itu ka- rena ulah laki-laki, guru?" Si nenek anggukkan kepala perlahan. Dengan wajah murung, namun pandangan mata dingin si nenek membuka mulut berucap. "Kau tak usah risau, muridku. Jika kau suka pada pemuda geblek edan itu aku bisa men- carinya. Dia tidak mungkin dapat meloloskan diri dari tanganku. Namun apakah kau benar-benar menyukainya?"

"Suka guru." jawab Pelangi malu-malu. "Kau cinta padanya?" tanya si nenek lagi. "Cinta guru."

"Cinta lahir batin?" "Lahir dan batin."

"Ah, kalau begitu aku akan punya menantu. Aku akan jodohkan kau dengannya!" kata nenek Palasik. Sosok angker itu memandang muridnya dengan mata berbinar gembira.

Sebaliknya mendengar ucapan si nenek wa- jah Pelangi nampak berubah pucat. "Jangan mem- buat aku malu. Gento belum tentu cinta kepada- ku. Mungkin hanya aku yang punya perasaan se- perti itu kepadanya, sedang dia mungkin saja hanya menganggapku sebagai sahabatnya. Lagipu- la...!"

"Lagi pula apa heh...?" tanya si nenek gusar. "Lagi pula ada gadis lain yang lebih cantik dariku. Gadis itu agaknya suka pada Gento..."

"Nah... nah, apa kataku. Bukankah sudah kubilang, laki-laki itu suka mempermainkan pe- rempuan. Siapa nama gadis itu?"

"Nyi Sekar Langit."

"Nyi Sekar Langit." mengulang si nenek. "Apakah dia secantik dirimu?" Dengan suara ter- sendat sang dara menjawab. "Dia bahkan lebih cantik dariku."

"Kurang ajar. Pendekar edan yang kau su- kai kalau begitu memang patut dihajar. Tenang... kau tak usah gusar. Aku punya cara agar pemuda itu tak banyak bertingkah. Dia pasti menjadi jo- dohmu." tegas si nenek.

"Guru... kau hendak berbuat apa? Lebih baik kau lupakan saja masalah pribadiku."

"Gadis sontoloyo. Bicara plintat pelintut macam kentut. Apa yang telah kuputuskan jangan coba-coba kau bantah. Urusanmu itu harus dis- elesaikan sampai tuntas, tapi nanti setelah dua urusanku selesai!" tegas si nenek.

Mendengar ketegasan si nenek tentu Pelangi tak berani membantah. Dia tahu gurunya orang yang berwatak keras. Segala apa yang dimauinya tak bisa ditawar-tawar. Baginya lebih baik berdiam diri, walau jauh di lubuk hatinya dia tak setuju dengan cara yang hendak ditempuh nenek itu.

"Dua urusan yang hendak kau selesaikan itu, apakah ada hubungannya dengan masa lalu- mu guru?" tanya sang dara sengaja mengalihkan pembicaraan. Si nenek tak segera menjawab. Se- baliknya dia memandang ke satu jurusan. Lalu tanpa terduga dia balikkan badan, dua tangan di- hantamkan ke arah segerumbul semak belukar sambil berseru keras. "Pengintai tengik sialan. Ikut menguping pembicaraan orang adalah dosa yang patut dapat ganjaran!"

Wuss! Wuus!

Dua larik sinar hitam berkiblat dari tangan si nenek disertai suara bergemuruh dahsyat dan hawa panas luar biasa. Dua pukulan tangan ko- song dengan cepat sekali menghantam semak be- lukar itu hingga membuatnya hancur berkeping- keping. Tapi beberapa saat sebelum pukulan yang dilancarkan si nenek memporak porandakan se- mak belukar itu dua sosok bayangan kuning ber- kelebat keluar ke arah si nenek dan muridnya sambil berseru memuji. "Nenek muka iblis. Sung- guh hebat kesaktian yang kau miliki. Sayang jika kami tak membalasnya!" berkata begitu selagi dua sosok yang meluncur deras ke arah mereka itu masih mengambang di udara keduanya jentikkan jari tangannya secara bersilangan.

Wuus! Wuus!

Sinar merah secara bersilangan melabrak ke arah si nenek dan Pelangi. Si gadis tidak tinggal diam, dia kebutkan ujung lengan bajunya hingga menderulah segulung angin dingin yang sangat ke- ras luar biasa.

Sebaliknya nenek angker Palasik gerakkan bahunya sebelah kiri. Begitu bahu digerakkan dari bagian dada si nenek yang berlubang membersit sinar hitam berbau busuk berhawa dingin luar bi- asa.

Gelombang angin membadai yang keluar dari ujung jubah Pelangi membuat sinar merah yang keluar dari jari tangan sosok baju kuning amblas. Bahkan memaksa pemilik serangan jatuh terbanting. Sebaliknya orang yang mendapat se- rangan balasan dari si nenek secara tak terduga terdorong mundur ke arah mana dia tadi datang, lalu jatuh terhempas disertai pekikan keras.

Nenek Palasik keluarkan suara tawa dingin menyeramkan. Sebaliknya sang murid segera mengambil sikap waspada. Murid dan guru kini sama memandang ke depan. Dua orang yang me- nyerang mereka kini nampak bangkit berdiri. Begi- tu melihat wajah dua sosok laki-laki berbadan tinggi itu terkejutlah sang dara. Betapakan tidak. Kedua orang itu memiliki wajah bersisik seperti si- sik ular, disetiap celah sisik ditumbuhi bulu kasar. Dua tangan mereka juga ditumbuhi sisik sampai ke siku. Yang lebih aneh lagi adalah bagian jari tangannya. Jari tangan hanya terdiri dari ibu jari dan jari telunjuk. Jari kelingking, jari manis dan jari tengah menyatu dengan jari telunjuk. Jauh berbeda dengan manusia normal umumnya.

Pelangi sama sekali merasa belum pernah bertemu dengan mereka. Lain halnya dengan ne- nek Palasik. Orang tua itu nampak begitu tenang sedangkan mulutnya mengurai senyum sinis.

9

"Nenek jelek." berkata pemuda aneh yang tadi serangannya dapat dimentahkan oleh Pelangi. "Kau mengatakan hendak menjodohkan muridmu dengan Pendekar edan bernama Gento Guyon? Mengapa bersusah payah mencari pemuda itu. Muridmu cantik, jika kau berkenan kami berdua siap menjadi jodohnya. Ha ha ha!"

Lalu yang satunya lagi menimpali. "Dia be- nar. Kami berdua pasti bisa membahagiakan mu- ridmu. Dengan menjadi istri kami muridmu tidak akan kesepian apalagi kecewa."

"Dan lagi, jika kau inginkan cucu. Dalam waktu sekejap kami dapat memberimu cucu bera- papun yang kau minta! Ha ha ha."

Mendengar ucapan kedua pemuda berwajah aneh ini wajah Pelangi nampak berubah merah padam. Darahnya menggelegak dan dia siap me- lancarkan serangan ganas ke arah mereka. "Ma- nusia jahanam tak tahu diri. Berani bicara lancang kurobek mulutmu!"

"Kau mau merobek atau minta kami cium? Ha ha ha." kata pemuda kedua sambil monyong- kan mulutnya yang lancip.

Pelangi semakin bertambah gusar saja di- buatnya. Sebaliknya nenek Palasik diam menga- wasi. Dalam hati dia berkata. "Dua pemuda bersi- sik seperti ular beludak ini pastilah yang dijuluki Dua Budak Setan. Murid Si Pengemis Nyawa. Dua manusia tak tahu diuntung. Aku tahu guru mere- ka bersahabat dengan Empu Barada Sukma. Apa- kah kemunculan mereka ada hubungannya den- gan dendam kesumat Empu Barada Sukma den- gan gendut gila Gentong Ketawa?"

"Nenek jelek, kami melihat sejak tadi kau diam saja. Apakah diammu sebagai suatu tanda bahwa kau setuju dengan permohonan kami?" tanya salah seorang dari pemuda itu.

Nenek Palasik tiba-tiba tertawa tergelak- gelak. Melihat sikap gurunya yang masih belum mengambil tindakan apa-apa Pelangi jadi tidak sa- bar.

"Guru, izinkan aku menggebuk mereka!" ka- ta sang dara lantang.

Si nenek hentikan tawanya. Dia meman- dang dengan mata mendelik ke Arah kedua pemu- da berwajah dipenuhi sisik. "Bocah-bocah keparat. Bukankah kalian yang dijuluki Dua Budak Setan, murid Si Pengemis Nyawa? Beraninya kau muncul dihadapanku. Atau kedatangan kalian karena di- utus oleh Empu Barada Sukma? Hik hik hik!"

Tak terbayangkan betapa kagetnya kedua pemuda ini mendengar ucapan si nenek. Sama se- kali mereka tak menyangka nenek yang lidahnya selalu terjulur itu mengenal siapa mereka adanya. Hanya rasa kaget itu cuma berlangsung sekejap, sebentar kemudian pemuda yang berbadan paling tinggi dari yang satunya lagi berkata. "Ha ha ha. Penglihatanmu ternyata cukup tajam. Kami me- mang Dua Budak Setan. Aku Budak Setan ke satu biasa dipanggil Setan Satu dan ini adikku Budak Setan Ke Dua, atau Setan Dua. Kau sudah men- genal siapa kami, guru kami juga Empu Barada Sukma. Terus terang kami memang sedang men- cari Gentong Ketawa. Dimana beradanya orang tua itu harap kau suka memberitahukannya pada ka- mi!" kata Setan Satu.

"Anak-anak setan sialan. Tadinya kalian minta dijodohkan dengan muridku. Sekarang bica- ra yang lain lagi. Apakah kau mengira aku ini gen- daknya Gentong Ketawa?" hardik si nenek dengan mata mendelik.

"Orang tua, muridmu kenal dengan Gento Guyon, malah sudah mengaku jatuh cinta. Gento konon adalah murid tunggal orang yang kami cari. Jika dia dekat dengan muridnya masa tak tahu dimana gurunya?!" kata Setan Dua pula.

Mendengar ucapan pemuda di depannya tentu saja si nenek tak sanggup menutupi rasa he- rannya. Dia berpaling pada Pelangi sambil ajukan pertanyaan. "Benar Pendekar Sakti 71 murid ka- kek geblek Gentong Ketawa?"

Pelangi anggukkan kepala.

"Gento pernah berkata begitu. Aku sendiri belum pernah bertemu. Malah Gento sampai saat ini sedang mencari gurunya." jawab sang dara.

"Nah, kau dan adikmu sudah mendengar- nya sendiri. Sekarang enyahlah dari hadapanku sebelum aku berubah fikiran!" tegas nenek Palasik. Setan Satu dan Setan Dua saling berpan-

dangan.

Setan Dua kemudian anggukkan kepala. "Nenek tua, kami tidak puas dengan penje-

lasan muridmu. Dia bisa saja berbohong. Mungkin ingin melindungi Gentong Ketawa karena muridmu itu mencintai murid orang yang kami cari." dengus Setan Satu.

Hilanglah sudah kesabaran si nenek. Den- gan hati jengkel dan perasaan geram dia memben- tak. "Anak setan ingusan. Perlu apa aku melin- dungi tua bangka gendut itu? Aku punya firasat, kalau kau dan adikmu tetap nekad mencari gen- dut sinting itu, umur kalian tak bakal lama. Pu- langlah, katakan pada Empu Barada Sukma agar dia menyelesaikan urusannya sendiri."

"Nenek tua, mungkin kau atau muridmu memang tak tahu dimana beradanya orang yang kucari. Lalu bagaimana jika kami minta muridmu untuk menjadi teman seperjalanan. Dengan begitu bila malam hari kami tidak akan kedinginan!" kata Setan Dua.

Setan Satu tertawa gelak-gelak mendengar ucapan adiknya. Dia malah secara kurang ajar menambahkan. "Sudah lama kami tak merasakan kehangatan pelukan perempuan apalagi gadis se- cantik muridmu itu!"

"Oh, jadi kalian menginginkannya. Boleh sa- ja, tapi terimalah gebukanku dulu!" Selesai berkata si nenek membarenginya dengan satu serangan ja- rak jauh yang langsung menghantam bagian kaki kedua pemuda itu. Mendapat serangan ganas Dua Budak Setan melompat ke udara, lalu balas me- nyerang dengan menghantamkan dua pukulan yang tak kalah hebatnya. Melihat hal ini Pelangi ti- dak tinggal diam. Dari arah samping dia hantam- kan dua tangannya menyambuti pukulan yang mengarah pada gurunya.

Buum!

Satu ledakan berdentum mengguncang tempat itu. Sang dara terjajar dengan wajah pucat dan dada bergetar hebat. Dua tangan yang diper- gunakan untuk menangkis pukulan lawan terasa panas seperti terbakar. Selagi gadis ini siap melan- carkan serangan balasan gurunya berseru.

"Muridku... jangan kau campuri urusanku. Dua budak setan ini rupanya memang kurang mendapat pengajaran dari Si Pengemis Nyawa. Duduklah yang tenang, cari tempat sebaik mung- kin. Biar kubunuh dulu dua bocah setan terkutuk bermulut keji ini!"

Walau merasa geram dan penasaran. Mutia- ra Pelangi tentu saja tak berani membantah uca- pan gurunya. Sehingga dia pun memilih menying- kir ke tempat yang aman. Sementara itu Setan Sa- tu dan adiknya kini menyerang si nenek dari dua arah sekaligus. Masing-masing jari tangan mereka menyambar ganas dan berusaha mencekal tangan atau leher lawannya. Jari tangan yang menyatu satu sama lain tersebut merupakan senjata anda- lan yang sangat hebat dan perlu mendapat perha- tian dari si nenek. Sudah belasan nyawa me- layang akibat tersambar atau terjepit jari tangan dempet itu.

Tapi kini orang yang dihadapi oleh Dua Bu- dak Setan adalah nenek Palasik, salah satu de- dengkot dunia persilatan yang memiliki kesaktian serta tenaga dalam yang jauh lebih tinggi dari me- reka. Bahkan mungkin sama dengan guru mereka sendiri. Disamping itu gerakan si nenek yang de- mikian gesit membuat serangan hebat yang dilan- carkan Setan Satu dan Setan Dua selalu menemui tempat kosong. Pada gebrakan selanjutnya nenek ini dibarengi dengan teriakan menggeledek tiba- tiba melompat tinggi ke udara. Begitu tubuhnya mengapung di udara kaki kanannya yang berben- tuk aneh seperti ladam kuda namun memiliki ke- tajaman seperti mata tombak bergerak berputar menyapu bahu dan kepala lawannya.

Setan satu dengan cepat melompat ke samping, bergulingan selamatkan diri. Sedangkan Setan Dua walau sempat berusaha mengelak na- mun gerakannya kalah cepat dengan gerakan kaki si nenek. Tak ayal lagi ujung kaki yang setajam mata tombak berbentuk tiga persegi namun pipih ini mengoyak bahunya.

Raak! "Akrh...!"

Setan Dua menjerit, tubuhnya limbung, da- rah mengucur dari luka di bahu. Luka menganga yang dialami Setan Dua tidak membuat pemuda itu surut. Kini dengan tangan kiri dia menyerang nenek itu. Setan Satu juga tidak tinggal diam. Be- gitu melihat adiknya terluka dia jadi sangat marah sekali. Kembali dia menyerbu, dua tangan kemu- dian diputar sebat hingga terciptalah segulung an- gin berputar yang memulas apa saja yang dila- luinya. Pepohonan besar yang berada di sekitarnya tercabut. Seakan ada satu kekuatan yang sangat besar pohon-pohon terangkat naik ke udara lalu melayang, lenyap dan jatuh berkerosakan di ke- jauhan disertai suara bergemuruh mengerikan.

Pelangi sendiri jika tidak cepat melompat dan berlindung di balik batu besar pasti sudah ikut digulung pusaran angin yang diciptakan oleh Dua Budak Setan. Berturut-turut mendapat se- rangan ganas berupa pusaran angin yang dicipta- kan lawannya ini walau pakaian si nenek mulai tercabik-cabik akibat menahan serangan itu, na- mun tidak membuat nenek Palasik menjadi jerih.

Kini disaat Setan Satu dan Setan Dua ber- gerak mendekat sambil lipat gandakan serangan- nya. Si nenek merasa tiba-tiba dirinya terbetot ke dua arah. Sekujur tubuhnya seperti tercabik. Dia nampak terhuyung, sementara dari lubang hi- dungnya mengucur cairan darah. Pelangi tentu sa- ja menjadi cemas. Namun dia tak berani turun membantu karena takut gurunya jadi tersinggung.

Dia hanya mampu memperhatikan segala yang terjadi dengan penuh kecemasan.

Setan Satu merasa yakin lawan pasti tak bakal sanggup meloloskan diri dari maut. Sedang- kan Setan Dua yang saat itu banyak mengelua- rkan darah akibat pengerahan tenaga sakti yang terus menerus membuat wajahnya pucat dan mu- lai merasa lemas. "Dua bocah ingusan sialan! Jadi rusak pa- kaianku karena kenakalan kalian. Jika tidak ku- bunuh rasanya menyesal aku membuang tenaga!" didahului teriakan seperti itu si nenek hantamkan kaki kirinya ke atas tanah sedang mulut nampak berkomat-kamit seperti orang merapal sesuatu. Satu keanehan pun kemudian terjadi. Tubuh si nenek mendadak amblas lenyap masuk ke dalam. Lalu kedua lawan merasakan mendadak tanah yang dipijaknya bergerak-gerak. Dua lawan terce- kat, saling berpandangan lalu terdengar suara te- riakan Setan Satu.

"Awas... nenek itu menggunakan Ilmu Me- nyusup Bumi!" Bersamaan dengan peringatan Se- tan Satu. Tanah di tempat Setan Dua berpijak mendadak dijebol dari bagian dalam. Kemudian satu tangan mencekal kedua kaki Setan Dua dan menariknya ke bawah.

"Kakang...!" jerit Setan Dua. Jeritan pemuda itu lenyap karena tubuhnya langsung amblas le- nyap ke dalam tanah. Dari dalam tanah terdengar seperti suara tulang berpatahan tidak ubahnya di- lilit ular piton. Tercengang dan bergetarlah sekujur tubuh Setan Satu melihat kejadian aneh yang ber- langsung singkat itu.

"Nenek jahanam, kau apakan adikku...!" te- riak Setan Satu lantang. Teriakan gusar pemuda itu dijawab dengan tawa dingin si nenek. Lalu ter- dengar suara sayup-sayup si nenek dari dalam ta- nah.

"Kau inginkan adikmu bocah ingusan. Adikmu sudah kujadikan ikan pepes. Jika kau su- ka memakan daging saudaramu sendiri, silahkan saja kau boleh memakannya. Ini terimalah...!" Su- ara si nenek lenyap. Kembali terdengar suara ber- gemuruh. Lalu tiga langkah di depan Setan Satu tanah tiba-tiba terbelah rengkah. Satu sosok serba kuning berlumuran darah terlempar dari dalamnya dan jatuh persis satu langkah di depan kaki Setan Satu.

Pemuda itu tercengang, dua mata mendelik besar sedangkan tengkuknya menjadi dingin. Di depannya sang adik terkapar menjadi mayat. Mu- lai dari kepala hingga ke bagian kaki hancur men- gerikan seperti habis digulung ular besar. Dua ma- ta amblas, biji mata hancur. Tak kuat Setan Satu menyaksikan semua itu membuatnya keluarkan suara raungan menggidikkan.

"Nenek jahanam! Kau bunuh adikku dengan cara begini rupa? Tidak puas hatiku jika belum mencincang tubuhmu. Keluarlah...!" teriak pemu- da itu kalap.

Kembali terdengar tawa si nenek yang tak kalah dinginnya dengan tawa Setan Satu. Permu- kaan tanah terbelah. Dari tanah yang terbelah me- lesat keluar nenek Palasik.

"Rupanya kematian adikmu tidak juga membuka mata dan membuatmu berfikir untuk tinggalkan tempat ini?" hardik si nenek sambil ber- tolak pinggang.

"Jahanam! Kau boleh bangga dengan ilmu anehmu. Jika aku pergunakan Pedang Tumbal Pe- rawan apakah masih ada kemungkinan bagimu untuk menyelamatkan diri. Kau yang kubunuh duluan. Setelah aku berpuas diri dengan muridmu baru dia akan menyusulmu!"

"Pedang Tumbal Perawan. Kudengar senjata itu dibuat oleh Ki Ageng Pamanakan. Kertadilaga yang memesannya untuk keperluan membalas dendam pada Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Bagaimana senjata itu kini berada di tangan anak setan ini?" batin si nenek. Diam-diam dia melirik ke arah pedang dengan rangka aneh yang tergan- tung di pinggang Setan Satu. Dikata aneh karena rangka pedang tidak sebagaimana lazimnya ter- buat dari kayu atau besi. Rangka pedang itu jelas berasal dari potongan pangkal lengan manusia, mungkin juga lengan seorang gadis. Sesuai dengan nama pedang Tumbal Perawan!

"Pedang itu dibuat oleh Ki Ageng Pamana- kan. Kakek sakti ahli pembuat senjata. Aku punya dugaan pedang ditangan bocah setan itu bukan senjata sembarangan. Aku merasakan seolah ada kekuatan iblis yang menyelubungi pedang tersebut disamping jelas mengandung racun." batin nenek Palasik.

"Nenek keparat, bersiap-siaplah kau untuk menerima kematian!" habis berkata, Setan Satu segera menghunus pedangnya. Satu keanehan ter- jadi dan dirasakan oleh pemuda ini. Begitu pedang berada dalam genggaman tangannya, pedang tera- sa bergerak dan sulit dikendalikan.

"Senjata iblis!" dengus si nenek ketika meli- hat pedang ditangan lawan nampak menggeletar memancarkan sinar hitam redup menebar bau amis. "Kau benar. Senjata iblis siap memenggal kepalamu. Kau harus ingat nenek jahanam. Pe- dang ini sangat beracun. Tanganku sendiri jika ti- dak tebal dan memiliki kekebalan pasti bisa han- gus melepuh seketika. Hiaa...!" satu teriakan menggelegar mengawali serangan ganas yang di- lancarkan Setan Satu. Yang diarahnya adalah ba- gian perut dada, leher juga kepala nenek itu. Se- dangkan yang dipergunakan Setan Satu adalah ju- rus Dua Setan Membongkar Kubur.

Tentu saja serangan ini bukan main dah- syatnya di samping sangat ganas luar biasa. Sosok Setan Satu berkelebat cepat laksana bayangan se- tan. Sedangkan pedang ditangannya dalam waktu yang demikian singkat telah mengurung lawannya hingga membuat nenek Palasik terpaksa mengan- dalkan seluruh kecepatan gerak disamping ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai pun- caknya.

Walau begitu ujung pedang Tumbal Pera- wan masih sempat menyambar ujung lengan baju si nenek.

Breet!

Orang tua itu memekik kaget sambil me- lompat mundur. Ketika dia melirik ke arah ujung lengan bajunya, pucatlah wajah nenek Palasik. Ujung lengan bajunya bukan hanya sekedar robek terkena sambaran pedang tapi juga hangus men- jadi bubuk. Untung kulit lengannya tidak sampai tergores. Di depannya sana lawan menyeringai. "Sekarang lengan bajumu, sekejap lagi nyawamu yang dibuat amblas oleh ketajaman pedang ini!" dengus si pemuda sambil sibuk mengendalikan pedang ditangan yang terus menggeletar bergerak liar dengan sendirinya.

"Pedangmu boleh hebat. Tapi kehebatan senjata tanpa didukung oleh kemampuan pemilik- nya cuma bualan kosong. Bocah ingusan... pedang itu bukan milikmu. Dari siapa kau mencurinya? Senjata hebat tapi hasil curian. Hik hik hik!"

"Persetan dengan segala ucapanmu!" teriak si pemuda. Kemudian dengan kecepatan laksana kilat dia kembali menyerbu ke arah si nenek. Pe- dang di tangan Setan satu menghantam secara bersilangan.

Wuus!

Mendadak lawan yang mendapat serang- kaian serangan hebat lenyap. Setan Satu sejenak jadi kebingungan menyangka lawan kembali mene- rapkan ilmu Menyusup Bumi.

Selagi lawan dibuat bingung dengan mata liar mencari-cari. Dari atas pohon terdengar suara tawa mengikik.

"Aku disini, bocah ingusan. Kau tak punya kemampuan mengejarku!" seru si nenek sambil menyeringai.

"Huh...! Ke neraka sekalipun kau akan ku- kejar!" dengus Setan Satu. Sekali dia berkelebat tubuhnya lenyap. Mendadak terdengar suara ca- bang-cabang pohon seperti ditebas, disertai den- gan runtuhnya cabang pohon dari bagian bawah hingga ke pucuknya. Di bawah pohon terdengar suara bergemuruh dari runtuhnya cabang yang terbabat pedang. Pohon menjadi gundul. Lawan kembali lenyap.

"Jahanam. Kau rupanya manusia penge- cut!" maki Setan Satu.

"Hik hik hik. Muridku... lebih baik kita ting- galkan bocah edan penebang pohon itu. Biarkan dia mengamuk seperti orang gila. Badanku terasa gerah dan urusan pun belum selesai!" kata si ne- nek yang tahu-tahu sudah berada di bawah pohon kembali.

Di balik batu Pelangi merapal mantra- mantra ilmu Menyusup Bumi. Hampir bersamaan dengan gurunya dia jejakkan kaki kirinya ke atas tanah.

Duuk!

Serta merta tubuh murid dan guru ini am- blas lenyap ke dalam tanah. Setan Satu yang telah kehilangan adiknya tentu tidak membiarkan la- wannya lolos begitu saja. Laksana elang menyam- bar dia berkelebat turun, pedang diayunkan ke arah kepala si nenek yang hampir tenggelam le- nyap ke dalam tanah.

Wuuuut!

Serangannya luput. Si nenek dan muridnya lenyap meninggalkan tawa berkepanjangan. Setan Satu seperti kesurupan terus mengejar dan berte- riak-teriak ke arah lenyapnya sang lawan. Sambil berlari pedang di tangan dimasukkan lagi ke dalam sarungnya. Sampai suaranya parau, dan pemuda ini letih sendiri. Orang yang dikejar tetap tidak muncul dari bawah tanah sebagaimana yang dia harapkan. 10

Di bawah kerindangan pohon kakek berpa- kaian serba putih berambut dan berjanggut putih panjang hingga sampai sebatas dada itu mengerja- kan tugasnya. Beberapa jenis tetumbuhan yang berhasil dikumpulkan oleh pemuda berbadan rak- sasa bernama Anggagana itu seluruhnya hampir selesai diramunya.

Si kakek yang bukan lain adalah Tabib Se- sat alias Tabib Setan ini kadang kala nampak ter- tegun memikirkan Gento yang saat ini entah bera- da dimana. Seperti telah diceritakan dalam episode Iblis Penebus Dosa. Tabib Setan ketika sedang menikmati daging binatang langka bersama Pen- dekar Sakti Gento Guyon, selagi perutnya mulas tak tertahankan muncul seorang pemuda yang memiliki besar badan luar biasa dan tinggi melam- paui pucuk pohon cemara. Pemuda raksasa yang kemudian diketahui bernama Anggana itu lalu menangkapnya dan membawa sang tabib ke pun- cak bukit dimana kedua orang tua manusia raksa- sa itu menderita sakit keras. Takut akan kesela- matan jiwanya, Tabib Setan kemudian menyang- gupi dapat menyembuhkan penyakit Senggana dan Senggini, yaitu orang tua pemuda raksasa itu.

Kini setelah selesai membuat ramuan obat yang dibutuhkan, tabib yang menguasai seribu sa- tu macam ilmu pengobatan tersebut duduk men- cangkung dengan punggung bersandar pada po- hon di belakangnya. "Bocah edan itu. Seandainya dia ada disini, paling tidak aku tidak merasa begitu tegang. Aku khawatir keluarga raksasa itu ingkar janji. Jika ternyata nanti setelah kusembuhkan, aku tidak mereka bebaskan. Tamatlah sudah riwayatku. Sayang aku tak dapat membuat penawar Racun Perubah Bentuk yang mendekam dalam tubuh mereka selama puluhan tahun. Seandainya obat penawar itu bisa kubuat, tentu tubuh mereka yang besar itu dapat dikembalikan seperti sediakala." batin sang tabib.

Kakek itu begitu tenggelam dalam fikiran- nya sendiri. Sehingga dia tidak menyadari gerak geriknya sejak tadi tak luput dari perhatian sepa- sang mata yang terus mengintai dari balik tebing kiri puncak bukit.

Pemilik sepasang mata itu memandangnya penuh rasa kagum. Matanya yang berbinar dan menyimpan kesepian hidup nampak berkedap- kedip.

Tak lama setelah berusaha menenangkan debaran jantung dan gemuruh di dadanya sosok yang ternyata adalah perempuan cantik berusia empat puluhan bertubuh tinggi seperti raksasa namun ramping melangkah menghampiri sang ta- bib.

Jarak lamping bukit dengan pohon besar dimana si kakek berada sebenarnya mencapai be- lasan tombak. Tapi hanya dengan beberapa kali langkahkan kaki perempuan raksasa itu telah ber- diri tegak di depan Tabib Setan.

Si kakek terkejut melihat kehadiran perem- puan itu. Beberapa saat lamanya dia tak mampu berkata apa-apa. Perempuan itu tersenyum ramah, lalu julurkan lidah basahi bibirnya yang putih pu- cat.

"Kakek tabib. Apakah obat untukku dan untuk suamiku telah selesai engkau buat?" tanya perempuan setengah baya namun tetap cantik itu ramah.

"Ah... sudah. Senggini, kurasa dengan me- minum obat buatanku tiga kali dalam sehari pe- nyakitmu akan sembuh." ujar sang tabib.

Sepasang mata perempuan itu membulat besar. Secercah senyum menghias di wajahnya. Dia kemudian bungkukkan tubuhnya yang seting- gi pohon. Tabib Setan menatap Senggini. Mata si kakek yang nakal sempat melihat celah belahan dada perempuan yang tersembul dari balik pa- kaiannya. Putih mulus dan tabib iseng ini dalam hati berkata. "Jika aku sampai terjatuh di sana. Sepuluh tahun pun aku betah mendekam di tem- pat itu!"

"Kau baik sekali tabib. Seandainya Racun Perubah bentuk itu dapat kau buatkan obat pena- warnya, aku pasti bersedia mengabdi padamu se- panjang hidupku!" kata Senggini. Suaranya demi- kian pelan. Sang tabib merasakan hembusan na- fas hangat si raksasa itu menyapu lembut daun te- linga, membuat si kakek menggeliat tapi juga ka- get. bib. "Apa maksudmu, Senggini?" tanya sang ta- "Aku ingin kau menjadi suamiku?" bisik Senggini.

Tabib Setan tidak akan sekaget itu bila ti- dak mengingat Senggini belum bersuami. Lagipula dia sudah mempunyai dua anak. "Perempuan ini sudah gila agaknya. Mentang-mentang aku seo- rang tabib, dia beranggapan aku ini kerjanya me- ramu obat kuat. Sekali aku kena dijepitnya bisa mejret!" batin kakek itu sambil menyengir dan ga- ruk kepalanya sendiri.

"Kau bergurau, kau bermaksud menjebak- ku. Ketahuilah, walau usiaku tidak terbilang muda lagi namun aku masih punya kewarasan. Uca- panmu itu jika sampai didengar oleh suamimu, bukan kau saja yang mendapat kesulitan, tapi aku juga bisa mendapat celaka." kata si kakek.

Raksasa Senggini gelengkan kepala.

"Kau tahu mengapa aku mengungkapkan perasaanku padamu?" tanya perempuan itu sambil kedipkan matanya.

"Aku tak mau tahu dan aku tidak ingin mendengarnya!" tegas si tabib dengan mata jelala- tan memandang kian kemari seperti maling yang takut ketahuan.

"Dengar kakek tabib. Aku mengagumimu begitu melihat kehadiranmu pertama kali. Kurasa inilah yang dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama."

"Aku tidak perduli apakah kau jatuh cinta pada pandangan yang ke sepuluh atau yang kese- ribu kali. Apa yang kau ucapkan jika sampai dike- tahui suami atau anakmu bisa ikut menyengsara- kan diriku." ucap sang tabib makin bertambah cemas.

Senggini gelengkan kepala.

Masih dengan tersenyum dan tubuh mem- bungkuk perempuan itu berkata. "Kau dengar ta- bib. Suamiku sejak dua puluh tahun yang lalu ti- dak dapat lagi menjalankan kewajibannya sebagai mana layaknya. Sebagai istri aku sangat tersiksa sekali. Sebagai suami dia mengakui kelemahan- nya, karena itu jika aku menikah dengan laki-laki lain asal aku bahagia dia pasti merestuinya."

"Walah, bicaramu ngaco Senggini. Suami mana yang merelakan istrinya kawin dengan laki- laki lain? Bisa jadi kau dibunuhnya!" menyahuti si kakek sambil cibirkan mulutnya.

"Tabib...!"

Belum sempat Senggini melanjutkan uca- pannya mendadak terdengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka. Cepat sekali perempuan ini tegak berdiri. Melihat siapa yang datang dia berkata dengan suara mengguntur, hingga mem- buat si kakek kalang kabut dan telinga menjadi pengang.

"Tabib... sejak tadi kerjamu hanya duduk saja. Mana obat yang kami minta?!"

"Sialan perempuan ini, pandai dia bersilat lidah!" rutuk si kakek. Cepat orang tua itu paling- kan kepala memandang orang yang datang. Semu- la Tabib Setan menduga yang datang adalah Ang- gagana. Dugaannya ternyata meleset. Yang datang bukan Anggagana putera perempuan itu, melain- kan seorang gadis berpakaian kuning, berkulit pu- tih mulus berambut panjang sepinggang. Sama seperti Senggini gadis ini juga berbadan tinggi se- mampai seperti raksasa.

"Ibu, apa yang kau lakukan disini? Kakek cebol ini siapa?" tanya si gadis sambil memandangi Tabib Setan.

"Sialan. Aku dikatai kakek cebol." maki si kakek dalam hati. "Kalau saja Gento ada disini. Gadis ini pasti cocok buatnya."

"Dia seorang tabib. Kakangmu Senggana baru menangkapnya. Seharusnya kakek ini dijadi- kan bubur, tapi karena dia punya kepandaian me- ramu obat ayahmu memintanya untuk membua- tkan obat untuk kami!" menerangkan Senggini. Dia lalu berkata lagi ditujukan pada Tabib Setan. "Mana obatnya!"

"Bawalah obat ini. Kau dan suamimu boleh meminumnya. Setelah itu segala penyakit yang ka- lian derita pasti sembuh." ujar si kakek sambil angsurkan sepuluh butir obat sebesar kepalan tangan namun bagi raksasa itu hanya sebesar jari kelingking.

Senggini menerima obat pemberian sang ta- bib. Sebelum pergi dia berkata. "Anakku, kau jaga kakek ini. Jangan biarkan dia pergi kemana pun. Jika dia meloloskan diri kau bunuh saja!"

"Baik bu," kata si gadis.

"Aku sudah buatkan obat yang kalian min- ta, mengapa aku tak dibebaskan?" tanya si kakek.

"Kehebatan obatmu harus dibuktikan dulu. Jika ternyata kami bisa sembuh perlu apa kami menahanmu?"

"Huh, mulutmu berkata begitu. Tapi aku tahu hatimu berkata lain, "kata sang tabib nam- pak bersungut-sungut.

Seperginya perempuan cantik berusia se- tengah baya itu, gadis yang disuruh ibunya men jaga sang tabib segera duduk. Sebentar dia pan- dangi Tabib Setan. Lalu dia tersenyum. "Dengan jari tangannya yang besar dibelainya kepala si ka- kek. Tabib Setan tentu saja merasa senang. Laki- laki mana yang tidak senang dibelai apalagi dipe- luk oleh gadis cantik. Tapi kegembiraan Tabib Se- tan kemudian berubah jadi jerit tertahan ketika te- lapak tangan gadis raksasa itu menekan ubun- ubun kepalanya. Jika Tabib Setan tidak cepat sa- lurkan tenaga dalam ke sekujur tubuhnya dapat dipastikan kepala sampai ke punggungnya remuk.

Walau pun si kakek telah salurkan tenaga dalam tetap saja pantatnya amblas dua jengkal ke dalam tanah.

"Gadis cantik namun edan, mengapa kau perlakukan aku seperti ini. Apa kau ingin aku ma- ti?" tanya si kakek geram.

Gadis raksasa itu turunkan tangannya yang menekan kepala si kakek. Lalu dia tertawa terge- lak-gelak. "Apa yang bisa kau lakukan padaku, kakek cebol. Kau mau melawanku dengan ilmu pukulan sakti, senjata pedang, tusukan tombak atau apa? Kau tak bakal sanggup membunuhku, tabib cebol. Hi hi hi!" kata gadis itu.

"Tak kusangka ternyata kau gadis berhati jahat." kata Tabib Setan sinis.

Gadis itu gelengkan kepalanya. "Tidak. Aku bukan gadis jahat, kakek cebol. Aku adalah seo- rang gadis baik. Mau dengar... ada beberapa per- tanyaan yang perlu kuajukan. Jika kau bisa men- jawabnya dengan jujur, aku pasti bersedia mele- paskanmu!" kata si gadis. Dia lalu cengkeramkan tangan kirinya ke pinggang Tabib Setan. Begitu kena dicekal, sang tabib diangkat, lalu didekatkan ke wajahnya. Diperlakukan seperti itu si tabib pu- ra-pura meronta, tapi mata nakalnya kembali me- lirik ke bawah. "Ah, dada itu lebih mulus lebih ba- gus!" kata si kakek dalam hati.

"Apa pertanyaanmu?" dengus si kakek pu- ra-pura tak senang.

Si gadis raksasa diam sebentar. Setelah mencoba mengingat sesuatu dia kemudian berka- ta.

"Namaku Senggini. Tadi pagi ketika aku mandi, ada seorang pemuda gondrong mengintai- ku. Bukan hanya dia, tapi ada laki-laki cebol lain- nya yang tak perlu kujelaskan siapa dia adanya. Pemuda itu berambut gondrong. Badannya seting- gi dirimu."

"Gondrong... siapa lagi pemuda gondrong kalau bukan bocah edan itu?" batin si kakek.

"Lalu apa gunanya kau tanyakan pemuda itu padaku?" dengus si kakek.

"Mungkin kau mengenalnya, mungkin dia temanmu."

"Hah... bagaimana ciri-ciri pemuda itu?" tanya si kakek.

"Rambut gondrong sebahu, bertelanjang dada dan dilehernya ada kalung kecil bercelana bi- ru!" menerangkan Anggagini. "Aku tidak punya teman tukang mengintip. Siapa pemuda sialan itu mana aku tahu. Lalu jika dia telah berbuat kurang ajar mengintip orang mandi mengapa kau tak menangkapnya?"

"Pemuda gondrong cebol itu cepat sekali menghilang. Lagipula dia bukan pemuda kurang ajar, dia hanya pemuda nakal."

"Gadis aneh, sudah jelas si gondrong bersa- lah dia cuma mengatakan hanya pemuda nakal. Dasar sial, coba kalau aku ikut mengintip. Paling dia juga mengatakan kakek cebol tua yang nakal. Wah, rugi aku. Gadis ini pasti memiliki bentuk ba- dan yang sangat luar biasa bagusnya." batin si ka- kek lalu menyengir sendiri.

"Kakek cebol apa yang kau tertawakan? Kau pasti mengenal pemuda gondrong itu. Katakan! Ji- ka tak mau mengaku kuremukkan pinggangmu!" berkata begitu Anggagini cengkeramkan lima jari tangannya. Si kakek menjerit kesakitan. Tubuhnya melintir, lidah terjulur, nafas megap-megap dan pemandangan berkunang-kunang.

"Mau mengaku tidak?"

"Ba... baiklah... gondrong sialan itu memang temanku. Tapi mana aku tahu dia mengintipmu."

"Namanya. Coba kau sebutkan namanya?" ujar Anggagini.

"Namanya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon." sahut Tabib Setan.

"Seorang pendekar tapi nakal. Tabib apa yang kau dan temanmu cari di tempat ini?" tanya gadis itu lagi mengalihkan pembicaraan.

"Sahabatku itu mencari gurunya. Sedang- kan aku sendiri hanya menemani." sahut si kakek. "Hem, kalau aku melepaskanmu, apakah

kau mau mempertemukan aku dengan sahabatmu itu?"

"Untuk apa?"

"Mungkin menghukumnya. Tapi kesalahan- nya bisa kumaafkan asalkan dia mau membantu- ku meminta obat Penawar Racun Perubah Bentuk pada dedemit Rimba Persilatan bergelar Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan."

"Kau ingin agar tubuhmu kembali pada ukuran yang seharusnya?" tanya si kakek.

"Kurasa betul. Aku ingin seperti manusia

biasa."

"Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Orang

itu yang telah mencelakai kedua orang tuamu den- gan pukulan beracun Perubah Bentuk. Hingga ka- lian sekeluarga berubah menjadi manusia raksa- sa."

"Kau benar."

"Aku tidak berani berjanji. Pendekar Sakti

71 mempunyai watak sulit diduga. Terkadang ti- dak diminta dia mau saja membantu orang. Tapi jika menginginkan pertolongannya mencari bocah edan itu sulit."

"Aku tak tahu. Sekarang kita berangkat." ujar Anggagini, seraya lalu bangkit berdiri. Masih sambil membawa Tabib Setan dalam genggaman- nya Anggagini melangkah tinggalkan puncak bu- kit. Ketika mereka mulai menuruni bukit itu, Tabib Setan ajukan pertanyaan. "Bagaimana jika kakak dan ibumu marah?" "Kau berada dalam tanggunganku karena aku yang membawamu. Aku pula yang akan menghadapi mereka!" jawab si gadis tegas.

Tabib Setan terdiam. Dia coba memejamkan matanya. Sedangkan Anggagini terus melangkah dengan gerakan ringan tanpa suara.

11

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon yang berja- lan di belakang Sateaki mendadak hentikan lang- kahnya begitu mereka melewati sebuah lapangan kecil yang terdapat di tengah-tengah pulau tera- pung itu. Dia merasa heran, sebenarnya pula di tengah rawa dimana mereka berada saat itu tidak begitu luas. Tapi setelah sekian lama mereka men- cari tempat kediaman Srimbi di pulau itu tidak ju- ga mereka temukan.

"Aki, mungkin kita telah datang ke tempat yang salah." kata Gento tiba-tiba.

Sateaki berpaling ke belakang. "Eeh, apa maksudmu Pendekar 71?" tanya kakek berpakaian putih itu sambil berpaling ke belakang.

"Apakah menurutmu tidak aneh. Pulau ini tidak begitu besar, rasanya sejak tadi kita berputar disini-sini saja, seolah ada satu kekuatan yang ti- dak terlihat sengaja menyesatkan kita." Si kakek terdiam. Beberapa saat lamanya dia mencoba mengingat-ingat. Kalau tak salah tempat kediaman kakak iparnya terletak di tengah pulau tak jauh dari lapangan kecil. Apa mungkin kakak iparnya itu sekarang sudah tidak lagi tinggal di pulau itu? Sateaki gelengkan kepala.

"Aku ingat sekarang. Kakakku rumahnya tak jauh dari lapangan ini. Sebaiknya kita melinta- si lapangan. Kurasa di balik kerapatan pohon di seberang lapangan itulah dia berdiam. Hayo tung- gu apa lagi?!" berkata si kakek. Dia kemudian me- lanjutkan langkahnya. Dengan diikuti oleh sang pendekar keduanya menyeberangi lapangan. Me- reka terus berjalan melewati kerapatan pepoho- nan. Ternyata apa yang dikatakan si kakek me- mang benar adanya. Di balik pepohonan besar ter- dapat sebuah gubuk panggung beratap dedaunan.

"Apa kataku, tempat yang kita tuju akhir- nya kita temukan juga. Tapi mengapa sunyi...?"

"Mungkin bekas kakak iparmu sudah me- ninggal, Ki!" sahut Gento dengan suara berbisik.

"Tidak mungkin. Kakakku masih sangat muda." ujar si kakek.

"Kalau begitu tunggu apa lagi. Sebaiknya ki- ta datangi pondok." usul si pemuda. Sateaki ang- gukkan kepala. Tapi baru saja dia hendak melang- kah, gerakan kakinya jadi tertahan karena menda- dak terdengar suara ratapan seseorang dari dalam pondok itu.

"Akibat terlalu lama menanggung beban de- rita, jiwa rapuh tidak berguna. Tangis sedihku membuat dunia ini menjadi gelap. Buah hati yang kukasihi lenyap entah kemana. Dua puluh tahun terpisah dengan sanak kerabat membuat hati ini menjadi buta dan mati. Jahanam... siapa yang te- lah menculik anakku?" Suara itu kemudian lenyap. Suasana kem- bali tenggelam dalam kesunyian. Gento dan Satea- ki yang mendekam di balik pohon saling berpan- dangan.

Sang pendekar menyeringai. "Agaknya kita datang pada waktu yang tidak tepat, Ki. Mungkin kakak iparmu itu sekarang telah terganggu inga- tannya!" celetuknya.

"Apa maksudmu?" tanya si kakek tak men-

gerti.

"Ah, kau ini berlagak tolol, padahal memang

bego. Kau tidak dengar ucapannya tadi. Dia begitu sedih kehilangan anaknya."

"Kau benar. Kurasa semua ini salah kakang Angin Pesut. Jika dulu dia tak begitu cepat men- gambil keputusan dengan meninggalkannya. Pal- ing tidak kakak Srimbi tidak merasa terpukul se- perti sekarang!" ujar si kakek menyesalkan.

"Sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, bu- burnya sudah basi. Buat apa kau sesali segala yang telah terjadi. Lebih baik kita datang kepa- danya. Kalau perlu kau hibur dia setelah itu baru kau minta obat penawar Racun Perubah Bentuk." usul sang pendekar.

Si kakek manggut-manggut. Tapi baru saja dia bangkit berdiri, tiba-tiba terdengar bentakan keras menggelegar. "Kepada dua tamu yang da- tang. Saat ini aku sedang larut dalam duka yang teramat sangat, apakah kalian datang mengantar- kan anakku? Hik hik hik!"

"Celaka, apa kataku. Kakak iparmu itu ter- nyata sudah terganggu kewarasannya?" desis Gen- to.

Sateaki tercekat. Dia hendak mengatakan

sesuatu, tapi tak sepatah kata pun yang keluar da- ri mulutnya.

"Dua tamu kurang ajar. Kalian tak mau menjawab pertanyaanku. Apa kalian ingin aku memanggil para sahabat buaya?" sekali lagi ter- dengar bentakan dari dalam pondok panggung. Belum lagi suara bentakan lenyap satu sosok tu- buh berkelebat keluar dari pintu pondok yang ter- buka. Dilain kejap di depan Gento dan Sateaki berdiri tegak satu sosok berpakaian biru lusuh berbadan kurus luar biasa macam jerangkong. Rambutnya yang hitam lebat awut-awutan, pipi cekung dan matanya merah laksana darah.

Kalau Gento sempat terkejut melihat pe- nampilan perempuan ini. Sebaliknya Sateaki ma- lah tercengang. Dia sama sekali tak menyangka, bekas kakak iparnya yang dulu cantik mempesona kini telah berubah menyedihkan begitu rupa. Ke- cantikan sang kakak ipar yang dulu begitu mem- pesona kini lenyap sama sekali.

"Ah, kasihan sekali dia. Mungkin kedukaan kehilangan orang yang dia kasihi begitu hebat mendera batinnya hingga membuat bekas kakak ipar jadi begini menderita." batin si kakek.

Sementara itu di depan si nenek baju biru memandang ke arah Gento dan Sateaki silih ber- ganti. Sang pendekar menyambut kehadiran si ne- nek dengan senyum ramah. Tapi nenek itu sama sekali tidak menanggapi.

"Mana anakku? Kalian datang tidak mem- bawa anakku, apakah ini berarti kalian mengan- tarkan daging segar dan nyawa kemari?"

Gento jadi celingukan. Pada Sateaki dia berbisik.

"Ki apakah kau merasa membawa daging segar?"

"Pendekar Sakti 71. Kau jangan bercanda, yang dimaksudkan daging segar oleh nenek ini adalah kau juga aku." sahut si kakek lalu telan lu- dah membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.

"Celaka, dia mau mengumpankan kita pada buaya-buaya itu?"

"Kurang lebihnya memang begitu!"

"Apakah kalian tidak mendengar perta- nyaanku?" hardik si nenek gusar.

"Kakak... maafkan kami. Mengenai putrimu kami belum menemukannya. Aku dan sobatku ini sudah mencari kemana-mana, tapi seperti yang kau lihat dia raib entah kemana." kata Sateaki berbohong.

"Kau siapa?" tanya si nenek sinis.

"Ki, nenek ini ingatannya ternyata memang tidak beres. Jangan sampai salah kau bicara." kata Gento mengisiki.

"Kakak ipar. Aku Sateaki, adik Angin Pesut!" jawab si kakek. Mendengar jawaban si kakek be- rubahlah air muka nenek itu. Cukup lama si ne- nek terdiam, sementara sepasang matanya yang merah membara memandang tajam pada Sateaki.

"Hik hik hik. Jadi kau adik iparku, jadi kau adik Angin Pesut. Manusia paling terkutuk yang pernah kukenal. Apakah jahanam itu sekarang sudah mampus?" tanya si nenek. Si kakek ter- diam.

"Kau takut menjawab pertanyaanku. Apa- kah ini berarti Angin Pesut masih hidup?" hardik si nenek.

"Nek, Angin Pesut sudah mampus berku- bur." jawab Gento. Dalam hati dia berkata. "Nenek sinting ini jika tak dikadali dia bisa membuat cela- ka. Apalagi kulihat dia begini benci pada bekas su- aminya."

Si nenek memutar kepala dan alihkan per- hatiannya pada Gento. "Pemuda gondrong. Kau siapa?" hardik si nenek.

Sebelumnya Gento pernah mendengar dari Sateaki, bahwa Srimbi mempunyai seorang adik laki-laki yang hilang raib akibat musibah di Ben- gawan Solo. Karena itu enak saja dia menjawab. "Kakak... apakah kau sudah lupa kalau aku ini adikmu. Aku Belalang kecil. Bukankah begitu dulu kau memanggiiku!" kata Gento. Dalam hati dia ter- tawa terkekeh-kekeh.

"Belalang kecil... Belalang Kecil...!" kata si nenek berulang-ulang. Sepasang mata yang me- mancarkan kemarahan itu perlahan berangsur re- dup.

"Bocah gendeng itu pandai betul dia bergu- rau." batin si kakek.

"Bukankah adikku telah tewas tenggelam di Bengawan Solo?" tanya si nenek bingung.

"Kakak... aku masih hidup. Berkat belas kasih dan Kuasa Gusti Allah aku diberi keselama- tan."

"Mengapa kau menghilang begitu lama?"

tanya perempuan itu lagi ragu. Dan sebelum kera- guan berubah menjadi rasa curiga, buru-buru Gento menjawab. "Aku menghilang sekian lama karena aku merasa malu denganmu. Bukankah dulu kau pernah mengejekku, aku Belalang Kecil yang tidak berguna. Apa yang kau katakan itu membuat aku merasa rendah diri, kemudian aku berguru pada seseorang menimba ilmu kesaktian, agar aku tidak malu lagi bila bertemu denganmu!"

"Ah, apakah aku pernah berkata begitu pa- damu? Rasa-rasanya...!"

"Kakak... kau pasti lupa. Kejadian itu sudah belasan tahun telah berlalu. Setelah kita berpisah tentu fikiranmu selalu kusut karena dibebani ber- bagai beban yang tidak pernah kau duga sebelum- nya." potong Gento cepat.

Si nenek terdiam, keningnya berkerut da- lam. Tiba-tiba secara tak terduga dia memeluk Gento.

"Ah, maafkan aku Belalang Kecil. Kau be- nar, belasan tahun ini fikiranku begitu kacau. Aku sedih kehilangan anakku. Celakanya Angin Pesut malah menuduhku yang bukan-bukan. Maafkan aku, adikku... huk huk huk...!" kata si nenek sam- bil memeluk sang Pendekar.

Gento kedipkan matanya ke arah Sateaki. "Sialan, entah berapa tahun nenek ini tidak

mandi. Badannya bau amat!" umpatnya dalam ha- ti. 12

Sateaki menyeringai. "Di peluk gadis cantik mungkin aku bisa ikut ngiler. Dipeluk nenek bau begitu biar sehari penuh aku tak akan tergoda." celetuk si kakek perlahan.

Tak lama kemudian si nenek lepaskan pe- lukannya. Beberapa saat lamanya dia pandangi Gento dengan mata berkaca-kaca. Melihat air mata bergulir di pipi si nenek, Gento menyekanya den- gan punggung tangan.

"Kakak, tak usah menangis lagi. Bukankah kini kita sudah dipertemukan Tuhan. Seharusnya kau merasa gembira, bukan menangis seperti se- karang."

"Ah, kau baik sekali Belalang kecil. Menyes- al sekali aku dulu selalu menghinamu." kata si nenek.

"Yang telah berlalu biarlah berlalu, kakak." ujar Gento lembut. Dalam hati dia berkata. "Siapa punya kakak setua dia. Kalau bukan karena mem- bantu kakek geblek itu, tidak nantinya aku mau ikutan jadi orang tidak waras!" gerutunya.

"Kau benar, Belalang Kecil. Mungkin kau mau berbagi cerita denganku. Bagaimana kau bisa menjadi seperti sekarang ini."

"Nanti saja, kakak. Aku... aku sengaja da- tang kemari untuk satu keperluan."

"Bukankah untuk melihatku? Tapi...eh, ba- gaimana kau bisa menemukan tempat ini?" tanya nenek Srimbi heran. "Aku telah memaksa kakek itu untuk me- nunjukkan tempat kediamanmu." jawab Gento berbohong.

Seolah diingatkan, tiba-tiba saja si nenek balikkan badan. Mendadak dia melompat ke hada- pan Sateaki. Sekali tangannya berkelebat, tanpa sempat mengelak krah baju kakek itu kena dicekal lalu dicengkeram erat.

"Kau adik Angin Pesut. Manusia yang telah membuatku melahirkan anak tapi kemudian membuahkan kesengsaraan berkepanjangan bagi- ku. Tak ada jalan selamat. Kau akan kubunuh lalu kuumpankan pada para sahabatku penghuni ra- wa!" geram perempuan itu dengan suara dingin menusuk.

Sateaki jadi ketakutan. Terbata-bata dia be- rucap. "Kakak ipar...!"

"Aku bukan kakak iparmu lagi." dengus Srimbi.

"Dengar kakak. Yang bersalah adalah ka- kang seperguruanku. Mengapa kau hendak meng- hukumku?"

"Setiap orang yang ada hubungannya den- gan Angin Pesut harus mati di tanganku!" geram si nenek. Lalu dia cengkeramkan lima kuku jari tan- gannya yang beracun itu, hingga membuat Sateaki megap-megap sulit bernafas.

"Kalau aku tak mencegah, kakek konyol itu bisa dibuat celaka oleh si nenek sinting ini." batin Gento. Dia kemudian melangkah menghampiri Srimbi. Dengan lembut dia memegang lengan si nenek. "Kakak Srimbi. Jangan kau bunuh dulu dia. Jika aku tak mengenal dia mana mungkin aku bisa bertemu denganmu. Dia yang menunjukkan tempat ini padaku."

"Kau membelanya?"

"Sama sekali tidak membela. Mau kau bu- nuh dia sama sekali aku tak melarang." jawab Gento.

"Pendekar Sakti 71 sialan. Dia bukan mem- belaku, tapi malah mengatakan tidak melarang!" maki Sateaki dalam hati.

"Jadi apa maksudmu?" tanya si nenek.

"Beri dia kesempatan untuk menghirup udara segar. Membunuhnya adalah persoalan ke- cil. Ketahuilah... aku begitu senang bertemu den- gan dirimu. Kebahagiaan bertemu denganmu me- lebihi apapun di dunia ini."

Mendengar ucapan Gento, si nenek le- paskan cengkeramannya pada krah baju Sateaki. Kepada kakek itu dia lalu berkata. "Ingat... jika aku melepaskanmu bukan berarti aku tidak mem- bunuhmu. Aku bukan orang bodoh. Aku tak per- caya Angin Pesut sudah mati. Jika benar telah ma- ti aku harus melihat kuburnya!"

"Nah rasakan...!" batin si kakek sambil meli- rik ke arah Gento.

Yang dilirik mengusap telinganya pulang balik. Srimbi kemudian menghadap ke arah Pen- dekar Sakti 71 Gento Guyon. Dengan suara lembut dia berkata. "Aku pun turut merasakan hal yang sama. Cuma sekarang ini masih ada satu ganjalan di hatiku."

"Apakah itu kakak? Jika aku dapat mem- bantumu, tentu dengan senang hati akan kulaku- kan."

"Belalang Kecil. Aku ingin bertemu dengan anakku yang diculik orang. Rasanya aku tak bisa menutup mata dengan tenang sebelum bertemu dengan putriku itu." ujar si nenek sedih.

"Kakak, anakmu berarti keponakanku juga. Jika kau merasa kehilangan aku pun merasakan hal yang sama. Bagaimana jika kita cari anakmu itu bersama-sama?"

Sepasang mata si nenek yang cekung berbi- nar-binar. "Sungguhkah itu?"

"Aku tidak berbohong." sahut Gento. "Padahal sejak tadi kau sudah mengadali

nenek itu mentah-mentah." celetuk si kakek dalam hati.

"Tapi... sekarang ini masih ada satu ganja- lan di hatiku."

"Ganjalan... ganjalan apakah Belalang Ke- cil?" tanya Srimbi.

"Sebenarnya aku ingin menolong seorang sahabat. Sahabatku itu kini sedang menanggung penderitaan luar biasa."

"Apa maksudmu?" tanya si nenek dengan kening berkerut. "Katakan saja. Jika aku mampu membantu pasti kubantu."

Legalah perasaan Sateaki mendengar uca- pan Srimbi.

"Begini, sahabatku itu terkena Racun Peru- bah Bentuk. Akibat racun tersebut kini tubuhnya menjadi besar dan tinggi seperti raksasa. Bukan- kah kau memiliki obat penawar racun itu. Aku in- gin minta obat penawar itu untuk kuberikan pada sahabatku"

Paras nenek macam jerangkong seketika be- rubah. Tatapan matanya mendadak menjadi ben- gis. "Semua ini pasti gara-gara ulah Angin Pesut, kakang seperguruan kakek muka kambing itu! Kukata tadi apa, lebih baik kubunuh dia seka- rang!" dengus si nenek. Dia kemudian angkat tan- gannya, siap dihantamkan ke arah si kakek. Orang tua itu tercekat, tapi siap menghindari serangan maut si nenek.

"Kakak... jangan. Biarkan dia hidup."

"Kau selalu menghalangi aku untuk mem- bunuhnya, mengapa?" kata si nenek kesal.

"Aku berhutang budi padanya. Karena dia telah mempertemukan aku denganmu. Jika bukan karena dia seumur hidup kita tak akan pernah berjumpa!"

Meskipun jengkel, si nenek perlahan turun- kan tangannya. Dia menarik nafas pendek. Kemu- dian mulutnya berucap. "Belalang Kecil. Sekali lagi kuturuti keinginanmu. Aku juga akan membantu menyembuhkan sahabatmu dari pengaruh racun Perubah Bentuk. Tapi ingat yang bisa kutolong cuma dua orang, tidak lebih. Karena sisa obat pe- nawar racun Perubah Bentuk kini cuma tinggal dua butir lagi. Aku sudah tidak membuatnya dan tidak akan pernah membuatnya lagi!"

"Wah, celaka. Padahal menurut kakek itu orang yang harus disembuhkan ada empat. Dalam keadaan seperti ini aku tak mungkin membujuk- nya agar mau membuatkan obat penawar lagi. Sa- lah-salah dia mengetahui bahwa aku telah mem- bohonginya!" pikir Gento.

"Kau tunggu apa lagi. Sekarang ikuti aku.

Kita tinggalkan pulau ini!" ujar si nenek.

"Memang kau hendak kemana kakak?" tanya Gento.

"Belalang pikun. Bukankah aku hendak mencari anakku, memberikan obat penawar racun pada sahabatmu, lalu melihat kubur si keparat Angin Pesut!"

"Ah, maafkan. Aku terlalu gembira hingga lupa." sahut Gento.

"Kutunggu kau di pinggir pulau sebelah ba- rat!" kata si nenek lalu berkelebat pergi.

"Celaka, Ki. Dia ingin datang langsung me- nemui manusia-manusia raksasa itu. Dia juga in- gin melihat kubur saudaramu. Padahal pada ke- luarga raksasa aku sama sekali tak mengenalnya. Lebih celaka lagi, Angin Pesut jelas masih hidup." kata Gento cemas.

"Salahmu sendiri, mengapa kau membo- honginya?" dengus si kakek ikutan bingung.

"Semula aku ingin agar segala sesuatunya berjalan mudah dan lancar. Sama sekali aku tak menyangka urusan jadi kapiran begini." ujar si Pendekar Sakti 71 jadi bingung.

"Sudahlah, kita fikirkan saja nanti. Lebih baik kita ikuti dia agar tidak lebih curiga."

"Memang apa yang hendak dilakukannya?" tanya sang pendekar.

"Dia tak punya burung seperti kau dan aku. Mungkin dia sedang mempersiapkan kawanan buaya untuk menyeberang."

"Kau benar Ki. Dia tidak punya burung. Cuma kita yang punya. Ha ha ha!" berkata begitu Gento raba bagian bawah perutnya.

"Hei, gila apa yang kau lakukan?"

"Cuma ingin memastikan apakah masih ada di tempat atau tidak. Ternyata burungnya sedang mengeram. Ha ha ha."

"Pendekar sialan!" kata si kakek ikut pula tertawa. Sebelum berkelebat tinggalkan tempat itu dia raba celananya.

Masih dengan tertawa berkekeh-kekeh si kakek berkata. "Kau benar. Dia masih tidur. Ha ha ha!"

Tawa Gento dan Sateaki lenyap begitu me- reka sampai di pinggir pulau. Mereka sama tercen- gang dan belalakkan mata begitu melihat puluhan bahkan ratusan kawanan buaya besar kini berjejer berbaris dengan posisi mengambang di permukaan air.

Sementara si nenek nampak sibuk memberi aba-aba pada kawanan buaya itu dengan bahasa yang sulit dimengerti.

"Kalian tunggu apa lagi. Cepat menyebe- rang. Anggap saja kepala buaya-buaya itu sebuah jembatan!" ujarnya.

"Kakak! Bagaimana aku berani melakukan- nya?" tanya Gento ketakutan.

"Belalang kecil. Kalau kau takut biarkan aku yang memimpin di depan." Selesai berucap si nenek segera melompat. Lalu melesat berpindah dari satu kepala buaya ke kepala buaya yang be- rada di belakangnya. Gento kemudian mengiku- tinya. Di susul dengan Sateaki yang gemetaran dan takut luar biasa.

Setelah melewati ratusan kepala buaya. Ak- hirnya mereka pun sampai di seberang. Sateaki merasa tengkuknya menjadi dingin hingga dia tak mau menoleh ke belakang. Dalam kesempatan itu Gento sambil memandang kakek itu berucap.

"Selamat Ki. Ternyata segalanya menjadi mudah atas bantuan kakakku."

"Aku... entahlah, aku begitu takut."

"Ha ha ha. Ternyata celanamu basah, Ki. Kau ngompol. Kau terkencing-kencing dicelana! Untung buaya itu tak terkena air kencingmu. Ka- lau tidak mereka bisa marah dan menelan itu- nya... kemudian kau tak bisa kencing selamanya!" kata sang pendekar.

"Sial. Seumur hidup baru sekali ini aku sampai terkencing-kencing. Tapi tak apa, hitung- hitung mandi lagi walau cuma mandi sepotong ba- dan! Ha ha ha!" celetuk si kakek.

Bersama Gento dia berkelebat ke arah le- nyapnya si nenek jerangkong.

TAMAT