Gento Guyon Eps 22 : Iblis Penebus Dosa

 
Eps 22 : Iblis Penebus Dosa


Petir menggelegar hujan bagai tercurah dari langit saat seekor kuda yang ditunggangi laki-laki berpakaian serba merah memasuki kotagede. Dari caranya menunggang kuda yang dipacu tiada hen- ti, jelas dia dalam keadaan tergesa-gesa. Di samp- ing itu juga dia cukup mengenal seluk-beluk kota tua tersebut.

Setelah melewati deretan bangunan tinggi tanpa mengurangi kecepatan kudanya, dia mem- belokkan binatang tunggangannya ke arah jalan di sebelah kiri. Setelah melewati belasan rumah pen- duduk yang terdapat di kanan kiri jalan. Kuda itu membelok memasuki sebuah halaman luas di de- pan rumah berdinding papan.

Kuda berhenti di halaman rumah yang di- genangi air. Orang berpakaian serba merah me- lompat turun dari kuda. Binatang tunggangan itu lalu ditambatkan di bawah sebatang pohon jambu. Hujan semakin bertambah keras, kilat me- nyambar petir menggelegar. Suara angin menderu berbaur dengan suara gemuruh hujan. Laki-laki berpakaian merah melangkah lebar menuju bagian teras depan. Tanpa menghiraukan pakaian serta tubuhnya yang basah bersimbah air hujan orang

itu mengetuk pintu berukir gambar naga.

"Ki Ageng Pamanakan, aku datang untuk mengambil barang pesanan!" kata orang itu. Walau telah bicara dengan suara keras, namun suara orang ini seolah tenggelam lenyap ditelan gemu- ruhnya angin dan hujan yang makin menggila.

Untuk sejenak lamanya dia menunggu, tapi ketika tidak terdengar suara jawaban dari dalam sana sekali lagi dia mengetuk pintu.

"Ki Ageng.... aku Wedus Jaran Kalabakan datang ingin bertemu!" teriaknya tidak sabar.

"Tamu yang datang mengapa harus berte- riak? Aku masih belum tuli untuk dapat membe- dakan suara hujan dan suara dengus kasar ma- nusia. Masuklah!" satu suara dari dalam menya- huti.

Mendengar jawaban orang Wedus Jaran Ka- labakan menyeringai. Pintu didorongnya. Dari ba- gian dalam ruangan dia merasa ada hawa hangat menyambut kehadirannya. Jaran Kalabakan me- langkah masuk, sampai di tengah ruangan yang hanya diterangi sebuah pelita gantung laki-laki itu hentikan langkah. Sepasang matanya memandang ke depan. Saat itu dia melihat seorang kakek tua berusia sekitar enam puluh tahun, berpakaian dan berambut serba putih duduk di atas balai kayu be- ralaskan kulit kambing.

Sedangkan di depan si kakek tergeletak so- sok seorang gadis berambut panjang berpakaian hitam transparan. Di atas perut si gadis terdapat sebuah pendupaan berisi bara menyala mengepul- kan asap biru kelabu. Yang membuat Wedus Ja- ran Kalabakan bergidik ngeri di bagian dada gadis itu tertancap sebilah pedang berhulu kepala seekor cobra. Baik badan maupun hulu pedang berwarna hitam kebiruan pertanda senjata itu mengandung racun jahat. "Pedang Tumbal Perawan...!" Jaran Kalaba- kan menyebut nama senjata yang menancap di dada si gadis dengan suara tercekat. Kakek di de- pan sana tertawa bergelak.

"Senjata yang diminta oleh saudaramu telah kubuat. Senjata ini terbuat dari perak asli. War- nanya jadi berubah setelah ku rendam dalam ra- cun Seratus Hari. Jaran Kalabakan, Pedang Tum- bal Perawan adalah senjata yang kuciptakan yang terakhir kalinya selama hidup. Setelah itu aku ti- dak akan pernah lagi menciptakan senjata yang lain." kata si kakek. Mendengar ucapan si kakek Jaran Kalabakan terdiam sejenak lamanya. Apa yang telah diputuskan oleh Ki Ageng Pamanakan diam-diam membuat perasaan Jaran Kalabakan menjadi lega. Dia sadar betul Ki Ageng adalah sa- tu-satunya pembuat senjata ampuh mandraguna yang tiada tanding di Kotagede. Kehebatannya da- lam membuat senjata tak perlu diragukan, teru- tama senjata yang terbuat dari perak. Nama besar Ki Ageng dikenal oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru tanah Jawa.

Semula saudara tua Wedus Jaran Kalaba- kan telah memberinya perintah begitu senjata pe- sanan selesai dibuat dan diserahkan pada dirinya. Jaran Kalabakan harus membunuh orang tua itu, agar kelak tidak akan ada lagi pemesan senjata yang datang pada Ki Ageng. Kini rasanya kekejian itu tidak perlu dilakukannya terhadap diri si orang tua.

"Ki Ageng...!" setelah terdiam cukup lama Jaran Kalabakan akhirnya membuka mulut beru- cap. Si kakek memandang lurus ke arah sang ta- mu dengan tatapan tajam menyelidik. Sedangkan Jaran Kalabakan melanjutkan ucapannya. "Senja- ta aku lihat telah selesai dibuat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, selanjutnya aku in- gin bertanya apakah aku boleh membawa Pedang Tumbal Perawan untuk kuserahkan pada kakang ku Kertadilaga?" Ki Ageng kembali memandang ke depan. Entah mengapa orang tua ini merasa pera- saannya jadi tidak enak, sehingga dia kemudian menegaskan. "Kakang mu tentu sudah menje- laskan beberapa perjanjian yang telah sama kami ikrarkan ketika dia datang kemari minta dibua- tkan senjata sakti mandraguna ini." ujar si kakek.

"Betul Ki Ageng. Kakang pernah mengata- kan salah satu sumpah perjanjian antara dirinya dengan Ki Ageng adalah bila senjata itu telah sele- sai dibuat, maka dia hanya boleh dipergunakan khusus untuk membunuh Kala Bayu alias Angin Pesut, Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan yang telah begitu banyak membunuh saudara kita satu golongan. Setelah itu senjata harus diserahkan pada Ki Among Rogo Katisan."

"Kau benar, salah satu bunyi perjanjian itu memang sebagaimana yang kau katakan. Tapi in- gat, masih ada dua perjanjian lain yang harus di- penuhi oleh Kertadilaga. Apakah dua perjanjian itu ada dikatakannya padamu?" tanya Ki Ageng.

Jaran Kalabakan gelengkan kepala.

"Tidak Ki Ageng, kakang tidak pernah men- gatakan apapun selain perjanjian pertama seba- gaimana yang kusebutkan tadi!" "Sayang sekali. Tapi tidak mengapa, aku bukan manusia yang suka membuat dosa dengan menyalahi janji. Pedang tanpa sarung ini akan ku- serahkan padamu. Senjata pusaka ampuh, seo- rang gadis telah ku korbankan sebagai tumbal un- tuk memperhebat pengaruh iblis yang terkandung di dalamnya. Jika kubiarkan selamanya dia akan menancap di tubuh mayat gadis malang ini. Kare- na kau tak mengetahui dua syarat yang telah ku- katakan pada saudara tuamu, sekarang kau ku- persilahkan mencabut senjata ini sendiri. Jika kau mampu mencabutnya kau boleh membawanya pergi!" kata si kakek.

Wedus Jaran Kalabakan diam-diam menjadi kaget mendengar ucapan Ki Ageng Pamanakan. Akan tetapi di hatinya sedikit pun tidak ada rasa curiga.

Laki-laki itu menjura hormat ke arah si ka- kek. Tidak berselang lama setelahnya dia melang- kah maju mendekati pedang yang tertancap di be- lahan dada mayat gadis berdaster hitam panjang. Berdiri tegak di depan mayat yang terlentang di atas balai-balai kayu itu, Jaran Kalabakan me- mandang lurus ke arah pedang dan wajah si gadis silih berganti. Sementara itu Ki Ageng Pamanakan telah menggeser pendupaan menyala di atas perut si mayat dan kini meletakkannya di atas bagian kepala.

Mula-mula Jaran Kalabakan merasakan tengkuknya merinding. Perasaan seram menyeli- muti dirinya. Tapi perasaan itu secara cepat hilang dengan sendirinya dan kini muncul perasaan lain, rasa dan keinginan sebagaimana umumnya laki- laki tertarik pada lawan jenisnya.

Sebagai orang yang memiliki tingkat kepan- daian tinggi begitu merasakan keanehan terjadi pada dirinya dia segera kerahkan tenaga dalam ke sekujur tubuhnya untuk melenyapkan pengaruh gejolak aneh yang terjadi pada dirinya. Begitu Ja- ran Kalabakan dapat menguasai diri sambil ulur- kan tangannya dalam hati dia berkata. "Apa sebe- narnya yang telah terjadi pada diriku. Aku merasa seperti ada kekuatan iblis yang menguasai pedang dan mayat gadis itu. Tapi apakah dugaanku ini benar? Atau aku cuma terbawa pengaruh pera- saanku karena melihat mayat yang begini menan- tang?"

"Wedus Jaran Kalabakan. Tunggu apa lagi, mengapa kau malah memandangi mayat yang ti- dak berguna itu?" satu suara menegurnya mem- buat Jaran Kalabakan tersentak kaget. Dia menja- di malu sendiri ketika melihat kakek yang duduk di atas balai kayu itu ternyata terus memperhati- kan dirinya sejak tadi.

Tak lama kemudian Jaran Kalabakan julur- kan tangannya. Jemari tangan yang bergetar itu bergerak ke arah hulu pedang.

"Tak usah ragu, cepatlah kau ambil pedang itu sebelum aku berubah fikiran!" seru Ki Ageng Pamanakan.

Jaran Kalabakan akhirnya tanpa ragu lagi mencengkeram erat hulu pedang bergambar kepa- la ular cobra itu. Tapi di luar dugaan begitu tan- gannya menyentuh hulu pedang mendadak dia merasakan ada hawa dingin menyengat tangan- nya. Hawa dingin dengan cepat terus menjalar ke sekujur tubuhnya hingga laki-laki itu menjerit, se- kujur tubuhnya menggigil. Ketika dia menarik tan- gannya dari hulu pedang, sepasang mata Jaran Kalabakan mendelik besar. Tangan itu kini telah berubah membiru kehitam-hitaman.

"Akh... apa yang telah terjadi pada diriku ini?" jerit Jaran Kalabakan sambil memandangi tangannya juga si kakek silih berganti.

"Ha ha ha! Tubuhmu kini telah keracunan, Jaran Kalabakan. Racun itu hanya aku yang dapat memusnahkannya!" kata Ki Ageng Pamanakan disertai tawa tergelak-gelak.

"Ki Ageng... apa maksudmu...?" tanya Jaran Kalabakan kaget juga penuh rasa tidak mengerti.

"Heh, kau kira akan semudah itu untuk mendapatkan pedang maut ini? Aku harus mengi- kuti kehendak kalian, menuruti apa saja yang engkau mau. Jika kakang mu punya rencana un- tuk membalaskan sakit hati dendam kesumat pa- da Kala Bayu, aku malah punya segudang rencana setelah berhasil mendapatkan pedang ini. Kau dan saudaramu itulah yang harus menuruti apa yang menjadi kehendakku, bukan aku yang harus pa- tuh pada perintah kalian. Ha ha ha!"

"Ki Ageng sungguh aku tidak mengerti akan semua ini." ujar Jaran Kalabakan bingung.

"Kau tidak akan pernah mengerti. Tapi ke- lak kau akan tahu sendiri. Sekarang ikuti aku!" perintah si kakek. Selesai berkata Ki Ageng Pama- nakan melompat bangkit dari balai kayu, sementa- ra pendupaan berisi bara panas menyala masih terletak di atas kepalanya.

"Ki Ageng aku tidak dapat mengikuti kehen- dakmu. Pedang itu harus kubawa lalu kuserahkan pada kakang Kertadilaga sesuai dengan perjanjian yang telah sama kita sepakati." ujar Jaran Kalaba- kan sengit.

"Hemm, begitu? Coba kau sebutkan perjan- jian kedua dan ketiga!"

"Ki Ageng... yang membuat perjanjian ada- lah kau dan saudaraku. Aku sama sekali tidak ta- hu menahu dalam urusan itu." jawab laki-laki itu.

"Untuk membuatmu mengerti, kau harus ikut aku!" seru Ki Ageng Pamanakan. Selesai ber- kata tanpa menghiraukan Jaran Kalabakan dia ge- rakkan tangan kirinya ke arah si mayat. Ketika tangan melambai di udara segulung angin berhawa panas menderu di udara, lalu bergerak lurus me- nyambar ke arah mayat gadis berdaster hitam. Kemudian Ki Ageng Pamanakan keluarkan seruan keras. "Wahai gadis yang tersia-sia. Sekarang bangkitlah, bangun! Tidak ada tidur abadi terke- cuali dalam kubur. Kau belum lagi terkubur. Ja- sadmu masih berada di alam fana, karena itu bangkit! Ikuti aku dan ikuti semua petunjukku!" ujar si kakek dengan suara bergetar tapi mengan- dung pengaruh gaib yang membuat tengkuk Jaran Kalabakan berubah dingin laksana es.

"Kakek jahanam ini telah ingkar janji. Seka- rang apa yang hendak dilakukannya? Aku harus mampu menghantamnya dengan satu pukulan mematikan. Setelah itu secepatnya aku ambil pe- dang itu dan melarikan diri!" batin Jaran Kalaba- kan dalam hati.

Selagi kakek di depan sana sibuk dengan mayat yang dadanya ditancapi pedang. Diam-diam laki-laki berpakaian merah itu salurkan tenaga da- lam ke bagian tangannya. Dalam waktu sekejap kedua tangan Jaran Kalabakan telah berubah warna menjadi hitam kebiruan. Laksana kilat tan- gan kanan kiri lalu dihantamkan ke arah Ki Ageng. Segulung hawa dingin menderu menghantam tu- buh si kakek. Di depannya sana Ki Ageng yang hampir berhasil membangkitkan mayat gadis ber- daster hitam sempat dibuat kaget tak menyangka mendapat serangan seperti ini. Rasa kejut hanya berlangsung sekejap, setelah itu dengan perasaan geram namun acuh dia kibaskan ujung lengan ba- junya.

Wuuut!

Segulung angin menderu melabrak habis pukulan yang dilakukan oleh Jaran Kalabakan. Terjadi ledakan berdentum yang membuat seluruh bangunan yang terbuat dari papan itu bergetar hebat. Jaran Kalabakan terdorong mundur, lalu ja- tuh terhenyak. Dia mencoba bangkit berdiri di saat Ki Ageng kembali gerakkan tangan kirinya ke arah si mayat.

Kejut di hati Jaran Kalabakan bukan alang- alang ketika mendapati sekujur tubuhnya tak da- pat digerakkan lagi. "Huarkh...!" bersusah-payah dia mencoba bangkit. Kenyataannya segala apa yang dilakukannya hanya sia-sia. "Bangsat, men- gapa tiba-tiba saja aku menjadi seperti ini. Dadaku sakit bukan main, sekujur tubuhku jadi kaku. Apakah mungkin ini pengaruh dari racun yang terdapat di hulu pedang itu?" fikirnya.

Sementara itu mayat si gadis dengan dada tertancap pedang Tumbal Perawan kini nampak mulai bergerak bangkit, sepasang matanya men- gerjab membuka. Lalu secara perlahan dan dengan gerakan yang kaku dia berdiri tegak. Memandang ke arah Jaran Kalabakan sekilas membuat laki- laki yang sudah tidak berdaya ini jadi bergidik nge- ri. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama. Di ke- jab kemudian mayat yang telah dihidupkan itu berbalik menghadap ke arah Ki Ageng Pamanakan. Melihat mayat telah dapat dibangkitkannya

Ki Ageng tersenyum puas. Dia kemudian berkata, pelan namun cukup berpengaruh. "Gadis cakep. Aku merasa senang kau telah terjaga dari tidurmu. Sekarang kau harus ikut denganku. Laki-laki itu agaknya memang berjodoh dengan dirimu. Mari ki- ta pergi ke suatu tempat dimana aku akan tunjuk- kan kebahagiaan padamu." ujar si kakek. Perlahan dia alihkan perhatiannya pada Jaran Kalabakan. Kembali si kakek menyeringai. "Bagaimana, bocah. Aku tahu kau memiliki kesaktian yang tidak ren- dah, tapi hal itu tidak ada gunanya karena kau te- lah terkena racun Cobra yang terdapat di bagian gagang pedang itu. Kau akan tersiksa selamanya, hidupmu akan menderita. Ha ha ha!"

Wajah Jaran Kalabakan yang telah berubah pucat kebiru-biruan kini tampak berubah merah. Pelipis bergerak-gerak, sepasang matanya menco- rong tajam menyimpan amarah. "Kakek keparat apa sebenarnya keinginan- mu? Aku datang kemari untuk mengambil senjata pesanan, tapi kau malah menjebakku!" teriak laki- laki itu geram.

"Keinginanku banyak sekali tak mungkin untuk kusebutkan satu persatu. Yang jelas kau ikuti saja kemauanku, nantinya kau pasti akan memiliki sebuah senjata yang tidak kalah hebat- nya dengan Pedang Tumbal Perawan! Ha ha ha...!"

"Kurang ajar, kakang ku dan orang-orang dunia persilatan pasti tidak akan diam berpangku tangan setelah mengetahui kejadian ini!" dengus Jaran Kalabakan sengit.

Si kakek dongakkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak.

"Persetan dengan saudaramu dan orang rimba persilatan, mereka orang-orang luar. Yang terpenting kau harus ikut denganku, kau dan ga- dis mayat itu akan berjodoh satu sama lain. Kalian akan menjadi pasangan hebat. Sedangkan aku anggap saja sebagai seorang ayah yang baik! Ha ha ha!"

"Tua bangka keparat apa maksudmu?" te- riak Jaran Kalabakan kaget tapi juga marah sekali. Ki Ageng tidak menanggapi. Dia gerakkan tangannya ke arah Jaran Kalabakan. Ketika ada hawa panas menyambar tubuhnya laki-laki itu mencoba untuk menghindar. Tapi seperti tadi, tu- buhnya sama sekali tak dapat digerakkan. Malah kini sosoknya dengan cepat terbetot ke arah si ka- kek seolah ada tangan yang tidak terlihat telah

menariknya. Di lain waktu leher Jaran Kalabakan kena dicekal oleh kakek itu. Ki Ageng sunggingkan se- ringai. Sambil menenteng Jaran Kalabakan di tan- gan kirinya dia berkata pada mayat gadis berdaster hitam. "Tempat ini sudah tidak nyaman lagi bagi kita. Sekarang kita pindah ke  tempat baru!" ucap Ki Ageng.

Dengan gerakan yang kaku gadis mayat anggukkan kepala. Dia mengikuti Ki Ageng Pama- nakan ketika kakek itu berjalan menuju pintu be- lakang rumahnya. Dalam hujan sambil menenteng Jaran Kalabakan yang terus memaki semburkan sumpah serapah dan dengan diikuti mayat yang telah dihidupkan, si kakek tinggalkan Kotagede.

2

Api yang dipergunakan untuk memanggang Siklututjang makhluk langka yang diyakini oleh Tabib Setan sebagai hewan yang mengandung khasiat tinggi baru saja dinyalakan. Di bawah se- batang pohon di balik batu besar si kakek berpa- kaian serba putih berjanggut panjang menyela nampak sibuk menguliti binatang bawaannya. Se- lesai menguliti tubuh binatang itu dia melumu- rinya dengan darah hewan yang dipotongnya. Tak lama setelah itu si kakek mengikatkan kedua kaki depan dan kaki belakang binatang yang telah di- kulitinya pada sebatang kayu panjang.

"Gento, apakah kayu yang kau bakar sudah menjadi bara?" tanya si kakek dari balik batu. "Sudah, apakah kau hendak ikutan mem- bakar diri Tabib?" tanya si gondrong bertelanjang dada yang duduk mencangkung di depan  bara yang baru saja dibuatnya.

Di balik batu si kakek bersungut-sungut, la- lu dia bangkit berdiri selanjutnya berjalan meng- hampiri si pemuda dan duduk menjelepok di samping Pendekar Sakti 71 Gento Guyon.

Tabib Setan meletakkan Siklututjang di atas api membara. Sambil membolak-balik daging yang dipanggangnya dia berucap. "Biarpun sudah tua begini, aku tak ingin Gusti Allah cepat-cepat men- cabut nyawaku. Bagaimana kau yang sudah kua- nggap sebagai anak sendiri mengapa begitu tega mendoakan aku agar cepat mati!"

"Ha ha ha! Kau tak usah gusar tabib, bi- asanya orang banyak dosa sepertimu selalu diberi umur panjang oleh Tuhan. Sedangkan mengenai segala doaku jangan kau ambil hati. Doa orang geblek dan banyak salah seperti diriku ini cuma didengar setan." ujar Gento.

Mendengar ucapan Gento si kakek merasa senang. Dengan penuh semangat dia berkata lagi. "Jangan  suka  menyumpahi  aku.  Susah  payah  aku mencarimu semata-mata aku ingin kau menda- patkan yang terbaik dariku. Setelah kejadian bu- ruk yang pernah kulakukan dulu, kini aku ingin memberinya yang terbaik untukmu."

"Kalau benar katamu, buktinya apa?" "Seperti yang kau lihat, aku membawakan

binatang ini untukmu. Khusus kuberikan untuk- mu.  Malah  ketika  aku  bertemu  gurumu  dia  me- minta Siklututjang. Aku tidak memberikannya, padanya kukatakan binatang ini sangat beracun. Ee...dia percaya, sungguh tolol dia."

"Siapa Siklututjang?" tanya Gento. "Siklututjang adalah binatang yang kupang-

gang ini."

Gento gelengkan kepala.

"Aneh, baru kali ini aku mendengar nama binatang seaneh ini." gumam sang pendekar sam- bil menatap kakek yang berada di sampingnya.

Tabib Setan tertawa mengekeh. Begitu ta- wanya lenyap dia berkata. "Siklututjang adalah nama pemberianku. Nama binatang ini sendiri yang sebenarnya aku tak tahu. Siklututjang ke- pendekan dari binatang bersisik, badan berbulu dan buntutnya panjang."

"Ha ha ha. Dasar tabib gila, ada-ada saja." celetuk pemuda itu. Sang pendekar mendadak hentikan tawanya. Lalu dia memegang pundak Ta- bib Setan. "Tadi kau ada mengatakan telah berte- mu dengan guruku. Mengapa kau membiarkannya gentayangan, tidak membawanya ke Teluk Rem- bang?"

Si kakek unjukkan tampang jerih, lalu menggaruk telinganya habis-habisan. "Mana aku tahu kita akan bertemu? Lagi pula kau tahu sendi- ri, sejak dulu dia selalu bersikap memusuhi aku. Setiap bertemu dia pasti marah, tampaknya me- mang sudah ditakdirkan dia membenciku sela- manya." ujar si kakek sedih.

"Si gendut tidak bisa disalahkan. Pertama kali bertemu denganmu dia memang tidak menyu- kaimu. Dulu kau menyiksaku, mungkin itulah yang membuatnya tak pernah mempercayaimu. Biarlah gendut gentayangan tak karuan. Jika dia tetap bersamaku terkadang aku suka dibuatnya repot. Bukannya apa, si gendut bawelnya seperti nenek tua."

"Bagaimana jika aku bersamamu?" tanya si kakek sambil mengangkat daging panggang yang kini sudah matang. Disertai senyum Pendekar Sakti 71 Gento Guyon menjawab.

"Bersamamu ternyata lebih memuakkan di- bandingkan aku bersama kakek Gentong Ketawa. Menurutku lebih enak, lebih asyik lagi bersama seorang gadis. Sayang Mutiara Pelangi minggat en- tah kemana ketika aku menolong Nyi Sekar Langit. Ha ha ha."

"Bocah edan sial. Hampir setiap waktu aku selalu memikirkan dirimu, tapi ternyata kau tidak menghargai aku sama sekali! Nih, ambil daging panggang ini, makan sampai habis!" rutuk Tabib Setan namun tetap sodorkan daging panggangnya pada Gento.

"Tabib, kalau mau marah karena ucapanku silahkan saja. Yang jelas pemberianmu ini pasti ti- dak kutolak!" Gento menyambar daging yang di- angsurkan kepadanya. Setelah itu dengan lahap dia memakan daging panggang yang lezat tersebut. Dengan mulut penuh berisi   makanan   si pemuda berucap. "Enaknya bukan main tabib.

Kau tidak menyesal memberikan semua daging ini kepadaku?"

Tabib Setan gelengkan kepala. "Sebaliknya apakah kau tidak curiga daging itu kububuhi racun? Ingat aku Tabib Setan bisa berbuat apa saja! Ha ha ha." kata si kakek disertai tawa mengekeh.

"Hah...!" Gento keluarkan seruan tertahan. Matanya mendelik besar, begitu kagetnya dia sam- pai sisa daging yang berada di mulutnya dia mun- tahkan semua. Selagi murid kakek gendut Gen- tong Ketawa dibuat tercengang seperti itu, Tabib Setan julurkan tangannya ke arah Gento. Di lain saat tahu-tahu sisa daging panggang telah berpin- dah tangan. Kini si kakek sambil uncang-uncang kaki memakan daging itu dengan lahap.

"Ha ha ha! Dasar tolol, seperti gurumu. Dari dulu sampai sekarang ternyata kau tidak percaya padaku. Aku telah bersumpah meninggalkan sega- la kesesatan. Tapi ternyata kau masih curiga pa- daku. Siapa mau meracuni daging yang lezat ini? Krauk...mmm...enak...!"

"Tabib, kau curang sekali. Berikan  daging itu padaku." seru si pemuda.

"Kau boleh merogohnya di dalam perutku!

Ha ha ha!"

Gento bangkit berdiri, dia menyerbu ke arah si kakek. Tapi gerakannya mendadak terhenti begi- tu dia merasakan sekujur tubuhnya terasa panas laksana dibakar dari bagian dalam.

Terbungkuk-bungkuk Gento pegangi perut-

nya.

"Tabib, mengapa jadi begini? Badanku jadi

panas, perut bagai terbakar. Apakah daging bina- tang itu benar-benar mengandung racun?" tanya si pemuda dengan suara seperti orang tercekik.

Tak jauh di depannya sana si kakek juga unjukkan air muka kaget, mata terbelalak dan mulut ternganga. Jatuh dengan kedua kaki terte- kuk. Sama seperti Gento si kakek juga dekap pe- rutnya.

"Hegh...sungguh luar biasa daging Siklutut- jang ini. Begitu kumakan isi perutku langsung mau ambrol. Uh...uhhh...mungkin perabotan di dalam perutku sudah usang hingga begini keja- diannya. To...Gento, apakah kau merasa perutmu mulas?" kata si kakek seperti orang mengerang, sedangkan saat itu posisinya dalam keadaan me- nungging.

"Perutku tidak apa-apa, walah...tapi tubuh- ku seperti dibakar dari bagian dalam." Gento me- nyahuti. Walau dalam keadaan seperti itu masih saja muncul keisengan si pemuda untuk mengerjai si kakek. Sambil meringis kegerahan dia berkata. "Tabib lari di belakangmu kulihat ada harimau?!"

"Heh, mana...!" seru Tabib Setan. Cepat dia bangkit berdiri lalu berpaling ke belakang. Di saat sang tabib menoleh itulah Gento menyelinap ke balik semak belukar yang terdapat di sebelah ki- rinya.

"Bocah setan. Kau menipuku...!" damprat sang tabib. Tapi kemudian betapa kaget orang tua ini ketika mendapati Gento ternyata lenyap entah ke mana. "Bocah itu minggat kemana lagi?" batin si kakek.

Tabib Setan memperhatikan ke segenap penjuru arah sambil memanggil-manggil si pemu- da. Sepi tak ada jawaban.

"Oalah, aku kena dikerjainya lagi. Dia mungkin sengaja menghindar dariku karena tidak mau menjelaskan pertemuannya dengan Manusia Seribu Tahun. Byuh...dasar bocah licik. Kemana sekarang aku harus mencarinya?" kata sang tabib seorang diri.

Di balik semak belukar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon menyeringai. "Aku tak mungkin men- jelaskan pertemuanku dengan Manusia Seribu Ta- hun pada siapapun termasuk juga tabib gendeng itu."

"Gento...bocah kampret sial. Minggat kema- na kau?!" teriak Tabib Setan. Orang tua ini baru saja hendak meninggalkan tempat itu. Tapi baru saja dia langkahkan kaki kanannya mendadak sontak perutnya kembali mulas, malah kali ini be- nar-benar tak dapat ditahankan.

"Biyuh, biyuh...sungguh daging yang penuh khasiat. Walah, kalau begitu aku jadi tidak tahan." desis si kakek. Terbirit-birit sambil mendekap pe- rutnya Tabib Setan menyelinap di balik batu di- mana tadi dia menguliti binatang bawaannya. Tapi ternyata isi perutnya tidak mau kompromi sehing- ga belum lagi dia mencapai balik batu pertaha- nannya ambrol. Untung tak ada orang melihat.

"Aduh, celaka sudah. Memalukan sungguh memalukan...!" Lagi-lagi Tabib Setan mengomel. Kalang kabut dia menuju sungai  yang  terdapat dua tombak di depannya. Tabib Setan setelah pe- lingak-celinguk memastikan tak ada orang di situ langsung membuka celananya yang kotor. Enak saja dia berjongkok mencuci pakaiannya sambil membersihkan punggung pantatnya.

Sementara itu Gento yang melihat sang ta- bib cuma memakai baju tanpa celana tak dapat la- gi menahan tawa.

"Rasakan, dasar kakek rakus. Untung aku membaca gelagat, sebagian daging kulumuri den- gan serbuk lada. Sekarang rasakan sendiri akibat- nya!" kata Gento menyeletuk sendiri.

Tak sadar dirinya telah dikerjai Gento, ma- sih dengan mulut bersungut-sungut dengan sese- kali diselingi gerutuan si kakek mengambil celana kering dari balik kantong perbekalannya. Di saat sang tabib hendak memakai pakaiannya menda- dak sontak kesunyian dipecahkan dengan terden- garnya suara bentakan menggelegar.

"Kelewatan betul, kakek cebol kurang ajar. Beraninya kau mencuci pantat sambil buang hajat di sungai sumber air minumku?!"

Kaget sang tabib membuat celana yang di- pegangnya jatuh. Seakan lupa dengan keadaan di- rinya dengan alis berkerut dan wajah pucat si ka- kek berpaling lalu memandang ke arah jurusan datangnya suara.

Sekejap kemudian kedua mata Tabib Setan bagai mau melompat keluar dari dalam rongganya begitu dia melihat satu sosok berambut panjang berkulit hitam gosong dengan tinggi melampaui pepohonan yang terdapat di sekitar tempat itu berdiri tegak sejarak sepuluh tombak di depannya.

Melihat wajah angker sosok tinggi berbadan besar luar biasa itu Tabib Setan merasa seman- gatnya langsung terbang, sekujur tubuhnya meng- gigil, wajah pucat laksana mayat. Melihat kehadi- ran sosok raksasa itu Tabib Setan semakin lupa dengan keadaannya sendiri.

Sementara itu dibalik semak dimana Pen- dekar Sakti 71 Gento Guyon mendekam ternyata pemuda ini tidak kalah kagetnya dengan sang ta- bib. Malah Gento hampir tak tahan menahan kencing saking takutnya.

"Manusia atau malaikatkah yang berdiri mengangkang di sungai itu? Makhluk sebesar dan setinggi itu bagaimana mungkin aku tidak sempat mendengar kehadirannya?" kata si pemuda. Tak urung si pemuda terpaksa menahan tawa ketika melihat ke arah Tabib Setan. Orang tua yang dike- nalnya sebagai manusia pemberani yang tidak mengenal rasa takut terhadap apa dan siapa pun itu kini tertunduk lemas. Tak kuasa beranjak tak mampu meranjak kemana pun.

"Kasihan kakek itu. Akibat rasa takut yang demikian hebat membuat dia lupa menutupi ba- rangnya sendiri. Barang jelek begitu dipertonton- kan, apa raksasa itu bisa melihatnya. Kalau pun bisa melihat apa iya dia jadi tertarik. Paling juga jika manusia raksasa itu berminat cuma dijadikan korek hidung atau korek kuping!"

"Kakek cebol kuntet, aku bertanya kau ma- lah enak duduk di situ. Mengapa sungai itu tidak cepat kau bersihkan. Apa kau ingin aku mema- kanmu hidup-hidup?" kembali terdengar bentakan laksana merobek langit. Bentakan itu membuat Tabib Setan terguncang jatuh bangun. Sang tabib kemudian merangkak, setelah itu dia bangkit ber- diri. Dengan suara keras dia menyahuti. "Ba- gai...bagaimana aku membersihkan sungai ini. Anuku bukankah sudah hanyut dibawa arus. La- gipula aku tidak menyangka sungai ini adalah mi- likmu!" jawab sang tabib gugup.

"Kakek kuntet cebol. Kau kira sungai ini mi- lik siapa?" hardik sosok raksasa membuat Tabib Setan makin menderita. Suara sosok besar yang tingginya melebihi pucuk cemara itu laksana me- robek gendang telinga. Si kakek bahkan merasa kepalanya seperti mau meledak. Dengan sekujur tubuh bersimbah keringat si kakek menjawab. "Kukira...kukira sungai ini memang milik Tuhan.

"Kakek kuntet cebol pandai bicara. Semua yang ada di bumi ini memang milik Tuhan. Kau tak usah mengguruiku."

"Sialan. Aku bukan manusia cebol, atau kuntet. Ukuranku sama dengan manusia normal lainnya. Enak saja dia mengatakan aku orang ce- bol." maki Tabib Setan dalam hati.

"Kakek cebol, tunggu apa lagi. Cepat ber- sihkan air sungai ini, sebentar lagi di bawah sana adikku akan mati."

"Bagaimana mungkin... aku tak sanggup membersihkannya. Lagipula ampasnya sudah ha- nyut!" dengan memberanikan diri Tabib Setan menjawab.

"Ha ha ha. Kalau begitu celaka besar bagi- mu. Kau telah melakukan kesalahan, kau telah membuat dosa besar yang ternyata tak mampu kau tebus. Sebagai hukumannya kau akan kure- bus hidup-hidup untuk dijadikan campuran ra- muan obat penyembuh penyakit ayah dan ibuku!"

Dalam keadaan tubuh jungkir balik akibat pengaruh suara tawa manusia raksasa itu si kakek merasa nyawanya laksana terbang mendengar ke- putusan manusia raksasa. Dalam keadaan seperti itu kesadarannya masih utuh sepenuhnya. Walau- pun dirinya tidak berarti dibandingkan sosok ma- nusia raksasa itu. Tapi dia tak mau menyerah be- gitu saja. Dia akan berusaha meloloskan diri. Ka- lau hal itu tak mungkin dilakukannya, dia akan melawan sampai titik darah terakhir. Namun di sudut lain dia akan berusaha bersikap lunak dan membujuk sosok bertampang seram itu.

Tak lama kemudian Tabib Setan dongakkan kepala memandang lurus ke wajah makhluk rak- sasa. "Makhluk besar tinggi, siapa dirimu?" si ka- kek ajukan pertanyaan.

"Ha ha ha! Kakek cebol kau mau tahu siapa diriku. Akulah Anggagana. Aku tinggal di lereng bukit sebelah sana." kata manusia raksasa sambil menunjuk ke seberang sungai.

Si kakek memandang ke arah bukit yang di- tunjuk sosok raksasa itu. Tabib Setan menelan lu- dah. Dengan suara parau dia berkata. "Kau tak perlu merebusku hidup-hidup. Aku seorang tabib, aku juru obat yang belum pernah gagal menyem- buhkan berbagai jenis penyakit. Jika kedua orang tuamu memang sakit. Bawalah aku kepadanya. Mudah-mudahan aku bisa membantu menyem- buhkannya." kata si kakek.

Makhluk raksasa  yang  mengaku  bernama Anggagana terdiam sejurus. Sepasang alisnya ber- gerak turun naik, nafas mendengus. Dengus yang hanya perlahan saja, namun bagi si kakek tidak ubahnya angin topan yang disertai suara bergemu- ruh hebat membuat orang tua ini jatuh bangun tunggang langgang dan makin menderita saja.

3

Beberapa saat lamanya si kakek diam me- nunggu. Dia berharap sosok manusia raksasa itu mempercayai ucapannya. Pada saat itu di tempat persembunyiannya Gento hampir tiada henti me- nyeka   wajahnya   yang   berkeringat.   "Jika   raksasa itu tak percaya dengan ucapan tabib, aku tidak dapat bayangkan bagaimana nasibnya nanti. Dia akan direbus, tubuhnya bisa leleh seperti ingus. Kasihan sekali dia, sudah tua harus mati sengsa- ra! Bagaimana pun aku tak bisa berdiam diri ber- pangku tangan, aku harus menolongnya. Tapi mungkin aku harus memberi ingat agar tabib ber- pakaian pantas." ujar Gento.

Pemuda itu baru saja hendak mengisiki Ta- bib Setan yang masih terduduk menjelepok di atas bebatuan yang terdapat di pinggir sungai. Akan te- tapi pada waktu bersamaan secara tak terduga tangan kanan manusia raksasa itu bergerak me- nyambar pinggang Tabib Setan. Laksana kilat sang tabib berusaha menghindar, sayang gerakan yang dilakukannya kalah cepat dengan gerakan tangan Anggagana. Kini tahu-tahu Tabib Setan telah be- rada dalam cengkeraman jemari tangan Anggaga- na.

Terjepit diantara lima jemari tangan mak- hluk raksasa itu Tabib Setan merasa dadanya lak- sana mau meledak. Tak mau mengalami nasib ce- laka di tangan orang, sang tabib siapkan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis. Dua tangannya yang bebas siap menghantam ketika tiba-tiba Anggaga- na berkata. "Kakek cebol benarkah kau ini seorang tabib?"

"Iya...aku, aku seorang tabib."

Mendengar jawaban si kakek cengkeraman pada bagian pinggang si kakek terasa mengendur. Malah Anggagana meletakkan Tabib Setan yang cuma sebesar lengan raksasa itu di telapak tan- gannya. Di atas telapak tangan sosok besar  ini sang tabib berusaha berdiri. Tapi ketika telapak tangan itu digoyang, si kakek jatuh bangun.

Agaknya Anggagana baru melihat keadaan sang tabib yang cuma berpakaian dari bagian pu- sar ke atas.

"Ha ha ha. Kakek cebol sialan. Rupanya kau tidak memakai celana dan kulihat jenggotmu lebat atas bawah. Barang jelek kau pamerkan tabib, un- tuk menggelitik telingaku saja tidak terasa. Ha ha ha!" kata Anggagana disertai tawa terkekeh-kekeh.

"Hah, setan alas sialan. Bagaimana aku sampai lupa kalau sejak tadi aku dalam keadaan polos?!" maki si kakek. Kalang kabut Tabib Setan tutupi auratnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan sibuk mengobrak-abrik buntalan pakaiannya. Dalam keadaan pontang-panting ka- rena tangan sosok raksasa itu tak mau diam aki- bat terlalu banyak mengumbar tawa si kakek cepat kenakan celana yang diambilnya dalam buntalan pakaian.

"Sejak dulu aku memang sudah tahu ba- rang tabib jelek, sudah burik ada lumutnya lagi. Dan raksasa gosong itu sial empat puluh hari ga- ra-gara melihat anunya Tabib Setan!" celetuk Pen- dekar Sakti 71 Gento Guyon yang kini sudah bangkit berdiri.

Pada saat itu tawa Anggagana lenyap. Den- gan mata berkedap-kedip dan mulut mengurai se- nyum manusia raksasa setinggi pucuk pohon ber- kata.  "Jadi  kau  seorang  tabib?  Hemm...jika  benar. Jiwamu kurasa bisa kuampuni dengan syarat kau harus bisa menyembuhkan ayah ibuku!"

"Aku akan mencobanya. Bawalah aku men- jumpai kedua orang tuamu. Dengan begitu aku bi- sa mengetahui penyakit dan tentukan obatnya." ujar si kakek.

"Baik. Sekarang juga aku akan memba- wanya kesana." berkata begitu Anggagana ka- tupkan lima jari tangannya, hingga Tabib Setan kembali terjepit diantara celah jari manusia raksa- sa itu.

"Huek...!" Tabib Setan keluarkan suara se- perti orang mau muntah. "Sial! Gara-gara bocah edan itu hari ini nasibku jadi apes!"

Gento Guyon menyeringai lebar. Anggagana yang tidak melihat kehadiran Gento di tempat itu segera memutar tubuh, balikan badan lalu berke- lebat menaiki bukit yang terdapat di seberang sun- gai.

"Tabib Setan,  bagaimana  pun  kau  sudah

kuanggap seperti orang tua sendiri. Aku tahu un- tuk sementara mungkin kau aman. Tapi jika kau sampai gagal menyembuhkan bapak dan ibu rak- sasa itu dirimu bisa berubah menjadi setan bena- ran. Mengingat segala budi baik yang telah kau be- rikan kepadaku pasti aku akan menolongmu!" Se- telah mengambil keputusan begitu Gento keluar dari tempat persembunyiannya. Sejurus dia me- mandang ke arah lenyapnya Anggagana. Gento sa- dar, manusia raksasa itu memiliki ilmu meringan- kan tubuh yang sudah sangat sempurna. Ini se- babnya kehadiran maupun kepergian sosok raksa- sa itu tidak menimbulkan suara sebagaimana yang semestinya.

"Aku tidak tahu manusia raksasa itu orang jahat atau baik. Untuk menolong Tabib Setan bu- tuh waktu, butuh akal serta kesabaran. Sebaiknya sekarang aku mulai mendaki bukit itu." kata si pemuda.

Gento kemudian melangkah menyeberangi sungai dangkal berbatu dengan airnya yang jernih. Baru sampai di tengah sungai langkah murid ka- kek gendut Gentong Ketawa ini mendadak terta- han saat pemuda ini mendengar kecipak air dan suara merdu perempuan bersenandung.

Gento mempertegas pendengarannya.

"Jelas   aku   mendengar   suara   seorang   pe- rempuan di bawah sana. Mungkinkah perempuan, bukan Anggagana? Siapa tahu dia sempat meli- hatku tadi dan kini sedang memasang siasat un- tuk menjebakku!" Beberapa saat Gento terombang ambing dalam kebimbangan. Sementara suara se- nandung makin bertambah jelas. Terdorong oleh rasa curiga Gento segera menyeberangi sungai. Se- lanjutnya dia menyisir tepian sungai dan terus bergerak ke bawah sambil mengendap-endap. Di satu tempat sang pendekar hentikan langkah, dia menyelinap dibalik bebatuan yang terdapat di tepi sungai itu. Memandang ke tengah sungai seketika sepasang mata pendekar 71 terbelalak. Tak per- caya dengan penglihatannya sendiri Gento mengu- sap matanya pulang balik. Penglihatannya me- mang tidak salah, saat itu di tengah sungai yang airnya setinggi dada manusia normal duduk ber- simpuh sosok gadis berambut panjang sepinggang, berkulit putih lembut namun memiliki tinggi ham- pir sama dengan sosok raksasa yang menculik Ta- bib Setan tadi. Dalam keadaan polos tanpa selem- bar benang dan duduk di kedalaman air yang cu- ma sedalam pinggulnya, sosok gadis ini tingginya setengah dari tinggi pohon. Sampai sejauh itu Gento sama sekali tak dapat melihat bagaimana rupa gadis raksasa yang mandi dengan asyiknya itu, karena gadis berkulit putih mulus itu tunduk- kan wajah dan nampak sibuk membasahi rambut- nya.

"Bukan main. Gadis ini segalanya luar bi- asa. Jika aku sampai terjepit di ketiaknya atau tergencet bagian yang lain, dadaku bisa remuk. Apakah gadis ini adiknya raksasa berkulit gosong tadi. Heh...aneh, apa sebenarnya yang telah terjadi di sini. Saat ini aku berada di Wates, bagaimana mungkin ada manusia sebesar dan setinggi ini?" fikir Gento.

Sekali lagi dia memandang ke tengah sun- gai, kini gadis itu dongakkan wajahnya. Gento jadi tercengang ketika melihat gadis itu ternyata memi- liki wajah cantik luar biasa. Selagi sang pendekar dibuat terkagum-kagum melihat kecantikan gadis itu. Pada waktu bersamaan terdengar satu suara berkata memuji.

"Cantik, mulus dan besar-besar. Peman- dangan bagus, tidak dilewatkan dosa, dilewatkan mubazir."

Sama seperti Gento, gadis berbadan tinggi besar yang berendam di tengah sungai juga melen- gak kaget. Cepat sekali sambil menjerit jerit, ka- lang kabut dia tutupi auratnya di bagian dada. Sementara tangannya yang lain segera menyambar pakaiannya yang berwarna kuning.

"Pengintip tengik sialan. Berani mati kau datang ke tempat ini!" teriak si gadis sambil men- genakan pakaiannya. Setelah pakaian menutupi seluruh auratnya si gadis melompat ke tepi sungai. Dengan tatapan liar dia memandang ke jurusan suara tadi berasal. Saat itu gadis dengan tinggi hampir sama dengan pucuk pohon itu melihat sa- tu bayangan serba putih berkelebat. "Orang kuntet baju putih, pengintip keparat hendak lari kemana kau!" teriak si gadis. Sambil berkata tangannya laksana kilat menyambar bergerak mencengkeram sosok berpakaian serba putih tadi. Sambaran tan- gan disertai suara gemuruh angin berkesiuran membuat sosok serba putih tadi terpelanting ja- tuh, bergulingan sambil mengaduh dan umbar ta- wa. Beberapa lompatan aneh dilakukannya mem- buat sosok serba putih tadi lenyap dari pandangan mata gadis raksasa.

Dengan badan setengah membungkuk dan mulut mengumbar amarah gadis raksasa itu men- gobrak-abrik batu besar yang dijadikan tempat mengintai sosok serba putih tadi.

Belasan batu sebesar kerbau berpentalan di udara membuat Gento jadi merinding.

"Celaka, jika aku tidak menyingkir dari tempat ini, bisa jadi akhirnya dia mengetahui ke- hadiranku." kata si pemuda. Tertarik dengan ke- hadiran sosok berpakaian serba putih tadi, Gento jadi melupakan Tabib Setan. Kemudian sambil mengendap-endap Gento tinggalkan tempat per- sembunyiannya.

Seakan mengetahui ada orang lain di bela- kangnya si gadis raksasa mendadak menoleh dan memandang ke arah Gento. Sepasang mata si ga- dis terbelalak lebar.

"Hah...siapa lagi kau bocah cebol gondrong sialan! Kau ikut mengintip juga sebagaimana cebol baju putih tadi?"

Merasa terjebak dengan gugup sang pende- kar menjawab. "Bukan. Aku tidak mengintipmu, yang kuintip justru orang berpakaian putih yang mengintipmu tadi!"

"Bocah gondrong kurang ajar. Siapa percaya ucapanmu. Lancang betul kau masih kecil berani mengintip!" berkata begitu si gadis cengkeramkan jemarinya ke kepala Gento. Melihat tangan raksasa itu bergerak hendak menjebol ubun-ubunnya, Gento jatuhkan diri, bergulingan menjauh kemu- dian menyelinap di balik semak belukar dan le- nyap dari balik jangkauan tangan gadis raksasa.

"Bocah cebol sial. Hendak lari kemana kau!" teriak si gadis. Suara teriakan si gadis bergema ke seluruh penjuru bukit, kedua kaki terus bergerak menginjak-injak rumpun semak belukar yang ter- dapat di sekitar tempat itu. Ternyata sampai selu- ruh rerumpun semak belukar yang terdapat di tempat itu sama rata dengan tanah si gondrong le- nyap tidak meninggalkan bekas.

Gadis berbadan lima kali lebih besar dan lima kali lebih tinggi dari gadis biasa ini akhirnya menjadi letih sendiri. Dia tertegun, otaknya berpi- kir, hati berkata. "Si gondrong tadi, jika besar dan tingginya seperti aku tentulah dia pemuda dewasa. Walau tidak jelas, tapi aku sempat melihat wajah- nya yang tampan. Aku belum pernah melihatnya sebelum ini. Apakah benar kebetulan saja dia be- rada disini, dia mengintai laki-laki cebol baju putih tadi sebagaimana yang dikatakannya. Jangan- jangan dia menipuku. Dia mengintipku seperti yang dilakukan cebol keparat tadi."

Membayangkan saat dirinya berada dalam sungai tadi wajah gadis itu berubah merah jengah. Dengan tangan terkepal dan perasaan men- dongkol dia tinggalkan tempat itu. Sepanjang jalan menuju puncak bukit tak hentinya dia menggeru- tu. "Sayang... ayah dan ibuku sedang sakit keras. Jika tidak pemuda gondrong kerdil tadi pasti akan kucari." katanya sambil gelengkan kepala. 4

Bangunan batu berbentuk kubah itu sepe- nuhnya telah hancur porak poranda dan kini ting- gal menjadi puing-puing berserakan. Sementara di sekeliling reruntuhan gedung tulang belulang ber- taburan tidak terurus. Agaknya beberapa tahun sebelumnya telah terjadi peperangan besar di tem- pat ini. Semua itu dibuktikan dengan banyaknya senjata yang bergeletakan di sembarang tempat.

Siang itu terik matahari terasa begitu me- nyengat, namun angin bertiup keras. Tak jauh di belakang gedung yang runtuh di tepi sebuah telaga seorang kakek tua berumur hampir sembilan pu- luh tahun duduk diam di atas batu bundar. Orang tua itu berpakaian serba hitam, sepasang alis ber- warna merah, rambutnya yang panjang menjela juga berwarna merah, bertampang seram berhi- dung mancung berkuku panjang hitam dan runc- ing.

Beberapa saat si kakek diam seperti itu, ti- dak bergerak tidak bersuara. Sedangkan sepasang matanya yang merah angker menatap lurus ke arah birunya air telaga. Setelah itu dia menghem- buskan nafas panjang disertai gelengan kepala.

"Terlalu lama aku menunggu datangnya sang maut. Ternyata penantian hanya sia-sia. Mungkin Tuhan sengaja memanjangkan umurku agar aku dapat melebur segala dosa yang pernah kulakukan." kata si kakek seorang diri. Agaknya si kakek menjadi bosan berada di tepi telaga itu lebih lama, sekejap kemudian dia bangkit berdiri siap tinggalkan telaga. Namun pada waktu bersamaan dari empat penjuru arah terdengar suara bentakan menggeledek yang disertai berkelebatnya empat bayangan serba kuning ke arah si kakek. "Angin Pesut alias Kala Bayu alias Iblis Tujuh Rupa Dela- pan Bayangan. Kami datang ingin menagih hutang nyawa dua saudara kami juga hutang tangan kami yang telah kau buat buntung dua tahun yang la- lu...!"

Mendengar suara teriakan seperti itu si ka- kek sempat tersentak kaget, hanya sesaat saja. Di lain kejab air mukanya telah berubah biasa kem- bali. Dia kitarkan pandang matanya ke empat su- dut penjuru tepian telaga. Sepasang alis matanya yang merah mengernyit ketika melihat kehadiran empat laki-laki berpakaian serba kuning berwajah angker dan masing-masing buntung pada bagian tangan sebelah kiri berdiri tegak tak jauh dari tempat berada.

"Empat Pedang Bayangan. Aku tidak akan melupakan segala apa yang telah kulakukan di- masa lalu. Kedatangan kalian kali ini kuanggap sebagai pembawa amanat dan kehendakku. Terus- terang, sejak dua tahun setelah kedatanganku ke tempat kalian, aku telah bersumpah untuk tidak lagi menggunakan senjata sebagai jalan satu- satunya untuk menyelesaikan persoalan. Aku pun bersumpah untuk menjauhi kehidupan dunia den- gan mengasingkan diri di tempat ini.!" ujar si ka- kek sambil menatap ke empat orang yang me- ngepung dirinya dengan pandangan datar. Empat Pedang Bayangan sama keluarkan suara mendengus. Kemudian laki-laki yang berba- dan besar tinggi berkumis tebal yang jadi pimpi- nan dari tiga temannya melompat maju. Dengan mata mendelik sambil mencabut pedangnya dia berteriak. "Angin Pesut, begitu banyak orang yang hendak menagih hutang nyawa kepadamu. Dalam waktu tidak lama lagi, tempat ini tentu akan di- banjiri oleh orang-orang yang ingin membalaskan segala sakit hati dan dendam kesumat kepadamu. Karena itu kami tak ingin keduluan oleh mereka. Hari ini kau harus menyerahkan kedua kaki, tan- gan serta kepalamu kepada kami, setelah yang kami minta kau serahkan, baru nanti kami minta nyawamu sebagai pengganti nyawa kedua saudara kami!"

"Itupun belum cukup. Dia harus menyerah- kan kitab Hitam Pembangkit Mayat pada kita." ka- ta laki-laki berbadan pendek menimpali.

"Ha ha ha. Jangan lupa saudaraku semua. Selain kitab dia mesti menyerahkan senjata sakti Panah Matahari. Bukankah dengan senjatanya itu dulu dia pernah membuat kegegeran di Kotagede dengan membunuh dua ribu perajurit Senopati Waduk Kedung dari Kalasan?" kata laki-laki ber- wajah pucat yang berdiri tegak di samping si ge- muk pendek. Sedangkan yang berada di sebelah kiri wajah pucat hanya diam mendengarkan. Cu- ma matanya saja yang berkedip tak mau diam.

Walaupun laki-laki itu sangat jarang sekali bicara. Diantara tiga saudaranya yang lain dialah yang memiliki ilmu sulit dijajaki, jurus-jurus pe- dangnya sangat dahsyat, cepat dan mematikan. Tidak heran jika selain bergabung dengan tiga saudaranya hingga mereka dijuluki Empat Pedang Bayangan, si mata berkedip juga memiliki julukan lain yaitu Pembunuh Tanpa Jejak.

"Hem, kalian benar. Dia memang harus me- nyerahkan kitab dan panah saktinya pada kita." ujar si tinggi besar. Laki-laki itu lalu berpaling kembali dan menatap si kakek dengan seksama. Beberapa saat kemudian dia berkata tegas. "Angin Pesut, kau sudah dengar apa yang dikatakan oleh saudaraku. Serahkan dulu apa yang kami minta. Baru setelah itu serahkan tubuh dan jiwa busuk- mu!"

Si kakek tersenyum, sungguh senyum serta tatap matanya kini telah jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu. Jika dulu senyum dan tatap ma- tanya mengisyaratkan maut, maka kini senyum maupun tatap mata si kakek begitu arif, penuh ra- sa penyesalan dan sarat dengan berbagai gejolak batin yang membuat si kakek nampak begitu menderita.

Tanpa dia sadari dari kedua mata yang ce- kung terlihat ada air matanya bergulir, menuruni pipi yang kempot.

Tanpa emosi dan penuh sabar, kemudian si kakek menjawab. "Bukannya aku takut pada ka- lian para pendekar gagah. Kalian ingin meminta atau mencincang tubuhku pasti kuserahkan. Ka- lian menghendaki nyawaku, pasti tidak akan kuto- lak. Mohon dimaafkan, jika kalian meminta diluar apa yang menjadi tanggunganku untuk meluna- sinya, tentu aku tidak dapat mengabulkan. Pula buat apa Panah Matahari bagi kalian, buat apa pu- la Kitab Hitam Pembangkit Mayat. Dua benda yang kalian sebutkan itu hanya akan menjadi malape- taka bagi semua orang. Sebagai orang yang men- gaku dari kalangan pendekar golongan putih, Em- pat Pedang Bayangan tidak pantas memilikinya. Karena begitu panah dan kitab ada di tangan ka- lian. Seketika jalan hidup kalian akan berubah menjadi sesat!" menerangkan si kakek bersung- guh-sungguh.

"Dia berdusta!" teriak si wajah pucat. "Bangsat itu sengaja menipu kita." kata si

gemuk pendek menimpali.

"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kekua- tan batin serta ketabahan yang kalian miliki untuk menahan rebawa jahat yang terkandung dalam kedua benda yang kalian minta lebih dahsyat dari kekuatan batin kalian. Kuminta urungkan niat ja- hat sifat serakah itu. Dan aku telah siap untuk menebus dosa-dosanya."

"Iblis sombong jahanam, kau terlalu meren- dahkan kami!" teriak si muka pucat.

"Bunuh...!" kata si gemuk tinggi.

Begitu mendapat aba-aba dari pimpinan mereka, si gemuk pendek dan si muka pucat lang- sung meloloskan pedangnya. Dengan dibarengi te- riakan menggeledek ketiga laki-laki itu menyerbu ke depan. Pedang di tangan mereka berkelebat menyambar ke sekujur tubuh si kakek, membabat, menusuk dan membacok ke berbagai arah. Sam- baran pedang menimbulkan suara gemuruh hebat, cahaya putih bertabur di udara. Si kakek sama se- kali tidak beranjak dari tempatnya.

Tidak pelak lagi tubuh si kakek pun menja- di sasaran senjata lawan.

Crak! Craak! Cring!

Terdengar suara berdentring hebat ketika mata pedang membentur tubuh Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Si kakek ja- tuh terjengkang akibat hantaman yang sangat ke- ras itu. Tiga sosok tubuh terdorong mundur. Keti- ganya keluarkan seruan tertahan dan sama me- mandang ke arah si kakek dengan mulut terngan- ga dan mata terbelalak seolah tak percaya. Mereka lebih terkejut lagi ketika melihat mata pedang yang menghantam tubuh Angin Pesut rompal seolah membentur besi baja.

Di depannya sana si kakek sudah bangkit berdiri. Tubuhnya sama sekali tidak cedera. Se- mua ini tentu tidak luput dari perhatian saudara mereka yang pendiam.

Dengan mata yang senantiasa berkedip tak mau diam orang itu mencabut senjatanya.

"Saudaraku semuanya. Kalian tidak mung- kin sanggup membunuhnya dengan cara seperti tadi. Dia memiliki ilmu kebal. Aku bergabung den- gan kalian. Tusukkan ujung pedang kalian ke ta- nah. Gabungkan seluruh kekuatan dan ser- buuu...!" teriak si mata berkedip.

Empat pedang ditusukkan lalu digerakkan di atas tanah. Sambil berkelebat empat pedang yang diseret menyentuh tanah itu serentak meng- hantam kaki. Cahaya putih berkiblat dari empat penjuru disertai deru angin dingin menusuk.

Melihat empat pedang mengarah ke bagian kaki kiri, si kakek gerakkan kedua kakinya hingga tubuhnya melesat tinggi di udara. Empat Pedang Bayangan tidak membiarkan lawannya lolos, me- reka berlompatan di udara. Sebagaimana julukan mereka, empat pedang kini bagaikan kilat bertabur menghantam sekujur tubuh si kakek. Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan yang sama sekali me- mang tidak bermaksud melakukan perlawanan atau menghindar dari setiap serangan kini terku- rung oleh kilatan sinar putih yang bersumber dari kecepatan gerak senjata lawannya. Semakin lama Empat Pedang Bayangan semakin memperkecil ruang gerak si kakek.

"Bunuh sekarang...!" teriak si Mata Berkedip memberi aba-aba.

Singg!

Cras! Craas! Ces! Ces!

Empat mata pedang menyambar sekujur tubuh si kakek, tak ayal lagi tubuh orang tua itu terbabat putus, terkutung-kutung menjadi bebera- pa bagian. Darah bermuncratan di udara. Poton- gan tubuh orang tua itu berjatuhan di atas tanah di pinggir telaga.

Empat Pedang Bayangan serentak bergerak turun dan sama jejakkan kakinya di tanah dalam waktu bersamaan. Melihat tubuh si kakek yang te- lah tercerai-berai si tinggi besar berseru memuji. "Adik ke Empat benar katamu. Ternyata kelema- han ilmunya bersumber pada tanah. Terbukti sete- lah senjata kita tusukkan ke tanah dia sama sekali tidak dapat menyelamatkan diri. Ha ha ha!"

"Dunia persilatan pasti akan gempar. Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan yang selama ini menjadi momok bagi semua pihak dan konon keb- al terhadap semua senjata ternyata dapat kita bu- nuh secara mudah!" kata si gemuk pendek.

"Dendam berkarat yang menggerogoti pera- saan kita selama ini sekarang benar-benar terbalas impas. Sekarang setelah dia mampus kita hanya tinggal mencari Kitab Hitam Pembangkit Mayat dan Panah Sakti Matahari!" ujar si muka pucat pu- la. Si tinggi besar kini memandang ke tengah puing reruntuhan bangunan batu tak jauh di sebelah kanannya. Dia tidak tahu di mana tempat tinggal Angin Pesut atau Kala Bayu ini setelah tempat ke- diaman utamanya konon dihancurkan oleh bela- san tokoh dunia persilatan golongan hitam dan go- longan putih beberapa belas tahun yang lalu.

Selagi si tinggi besar sedang mengira-ngira tentang keberadaan kitab dan panah yang mereka inginkan disembunyikan. Secara tak terduga men- dadak angin sedahsyat topan berhembus mener- bangkan pasir dan debu hingga menutupi peman- dangan Empat Pedang Bayangan. Ke empat laki- laki itu terkesiap dan masing-masing terpaksa alirkan tenaga dalam ke bagian kaki agar mereka tidak tersapu mental oleh hembusan angin aneh tersebut.

Herannya hembusan angin itu hanya berpu- tar-putar di sekitar tubuh si kakek yang terku- tung-kutung, secara tak terduga pula masing- masing penggalan tubuh itu satu sama lain saling bergerak mendekati ke arah kepala Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan yang tergeletak di tepi te- laga. Dalam gelapnya suasana akibat hembusan angin yang menerbangkan debu, ke empat laki-laki yang sibuk mempertahankan diri dari amukan an- gin topan, tentu saja mereka tak dapat melihat ke- jadian aneh, ganjil dan sulit dipercaya itu.

Tak berselang lama kemudian tubuh yang telah tercerai berai itu satu sama lain bertaut kembali, menyatu secara utuh tanpa kekurangan sesuatu apapun.

Sosok kakek yang kini telah kembali seperti sediakala bangkit berdiri. Begitu Angin Pesut bangkit badai topan yang muncul akibat kesaktian si kakek berangsur lenyap sampai pada akhirnya hilang sama sekali.

Kegelapan yang menyelimuti kawasan di se- kitar telaga lenyap, kembali sebagaimana semula.

"Empat Pedang Bayangan ternyata bukan nama kosong. Kecepatan dan kecerdikan yang di- miliki Si Kedip Mata memang patut kupuji. Tapi ternyata walaupun kalian telah sanggup mencerai beraikan tubuhku sayang tidak sanggup membuat aku binasa!" ujar si kakek dingin.

Ke empat laki-laki berpakaian serba kuning begitu mendengar suara si kakek sama tujukan perhatian ke arah tepi telaga. Mereka surut satu langkah begitu melihat Angin Pesut berdiri tegak di situ tanpa kekurangan suatu apapun. Empat Pe- dang Bayangan saling pandang satu sama lain. Si tinggi besar saking tak percaya sempat mengusap matanya beberapa kali.

"Satu keajaiban yang mustahil dapat terjadi. Bagaimana mungkin tubuhnya yang telah terku- tung-kutung itu kini dapat menyatu kembali?!" de- sis laki-laki itu.

"Dia bukan manusia. Mungkin dia iblis yang menyamar sebagai Angin Pesut!" kata si muka pu- cat menimpali.

Selagi Empat Pedang Bayangan bicara se- samanya si kakek pandangi mereka dengan tata- pan sedih penuh rasa iba.

5

Beberapa saat berlalu suasana di tepi telaga yang terletak di belakang bangunan kubah yang runtuh dicekam kesunyian. Angin Pesut agaknya tidak mau membuang waktu lebih lama karena kemudian dia berkata. "Sudah kukatakan  sejak dua tahun yang lalu, kalian yang dulu terdiri dari Enam Pedang Bayangan tak sanggup membunuh- ku dengan cara seperti tadi. Dua saudara kalian telah binasa. Sejak saat itu kematian menjadi da- sar pertimbanganku. Setelah lama aku merenung tentang asal usul kehidupan manusia. Aku jadi menyadari kalau setiap orang tidak punya hak wa- lau seujung rambut sekalipun untuk menghilang- kan nyawa orang lain. Lalu... akupun jadi mengerti sebelumnya hidupku terlalu menuruti hawa nafsu mengikuti kehendak amarah. Dosaku pada manu- sia selangit tembus, kesalahanku pada Tuhan se- banyak tujuh lapis bumi. Empat Pedang Bayan- gan, kukatakan terus-terang dengan ilmu sekali- gus jurus pedang yang kalian miliki saat ini kuja- min kalian berempat tak bisa membunuhku. Pu- langlah, biarkan orang lain yang membunuhku!"

Empat Pedang Bayangan yang tadi sempat menjadi ciut melihat lawan dapat hidup kembali mendengar ucapan Angin Pesut kini merasa terhi- na. Ucapan itu bagi mereka tidak ubahnya bagai suatu tamparan yang membuat telinga jadi merah dan otak laksana mendidih.

Kini si tinggi besar melangkah maju dua tindak ke depan. Mewakili tiga saudaranya dengan lantang dia menjawab. "Angin Pesut...kami bukan manusia berkepandaian rendah. Ilmu kesaktian yang kau miliki boleh tinggi, tapi jangan kau ang- gap aku dan tiga saudaraku takut padamu!"

Si kakek gelengkan kepala.

Belum lagi dia sempat berucap si baju kun- ing muka pucat berseru. "Kami juga tak mungkin tinggalkan tempat ini atau kembali ke Tengger se- belum dapat membunuhmu!"

"Muka pucat! Kau menghendaki nyawaku, kau inginkan tubuhku boleh saja. Majulah kemari, aku akan terima lima belas tebasan  senjatamu. Aku tidak akan membalas. Kedua tanganku akan kurantai. Tapi ingat, jangan salahkan aku jika ke- mudian terjadi sesuatu yang tidak diharapkan pa- da dirimu. Aku orang yang memiliki kesaktian di atas orang-orang sakti. Di luar kehendakku sendiri sewaktu-waktu ilmu itu dapat bekerja dengan sen- dirinya. Hanya jika kau tak dapat kuperingatkan, ikutilah apa yang menjadi kemauanmu. Sekarang aku sudah siap!" ucap si kakek, perlahan penuh ketenangan.

Kemudian Angin Pesut merogoh saku celana hitamnya. Dari balik celana dia mengeluarkan seuntai rantai baja berwarna hitam. Rantai itu lalu dililitkannya di kedua pergelangan tangan, se- dangkan kedua ujung rantai ditautkan satu sama lain. Dua tangan yang terbelenggu rantai diacung- kan ke atas kepala hingga bagian tubuh Angin Pe- sut tidak terlindung sama sekali.

Melihat hal ini, terkecuali Si Mata Kedip, ti- ga dari Empat Pedang Bayangan dengan senjata terhuyung berkelebat ke arah si kakek. Tiga bayangan kuning mengepung si kakek, pedang di tangan mereka kini menyambar ganas menghan- tam dada dan perut juga bagian leher Angin Pesut.

Crang! Craang! Craang! Bukk! Buk!

Bacokan, tusukan maupun hantaman keti- ga bersaudara itu membuat tubuh si kakek ter- lempar. Tiga pedang yang membentur tubuh Angin Pesut berpijar memercikkan bunga api. Si tinggi besar, si gemuk pendek dan muka pucat kelua- rkan seruan kaget. Pedang di tangan nyaris terle- pas, sedangkan tangan yang memegang pedang langsung melepuh, kaki mereka yang diperguna- kan untuk menendang juga menggembung beng- kak. Walaupun rasa kejut sempat menyelimuti pe- rasaan tiga bersaudara ini, namun demi melihat si kakek dalam keadaan terkapar. Serentak mereka kehilangan takut, lalu kembali menyerbu sambil hantamkan pedangnya ke tubuh Angin Pesut.

Crang! Cring! Crak! Crok!

Selagi tubuh si kakek dihujani serangan senjata begitu rupa, sementara orang tua itu sen- diri tidak melakukan perlawanan sedikitpun. Pada saat bersamaan mendadak sontak terjadi peruba- han pada sekujur tubuhnya. Kulitnya yang semula berwarna putih dengan cepat kini berubah merah membara memancarkan hawa panas luar biasa. Rantai baja yang membelenggu kedua tangannya kini meleleh. Setelah itu secara tak terduga dari sekujur tubuh si kakek menyembur hawa panas yang kemudian menghantam ke seluruh penjuru arah. Hawa panas berwarna merah yang disertai hembusan angin itu memang sempat dilihat oleh para penyerang si kakek. Karena itu demi menye- lamatkan diri mereka memutar senjata memben- tuk perisai diri. Pertahanan yang mereka lakukan tidak membawa arti sama sekali, karena ketiganya langsung terpental sejauh belasan tombak di uda- ra, lalu jatuh bergedebukan dengan tubuh dipe- nuhi lubang mengucurkan darah.

Melihat kematian tiga saudaranya Si Mata Kedip untuk sesaat lamanya hanya dapat belalak- kan mata seolah tak percaya dengan apa yang ter- jadi. Namun ketika kesadarannya pulih, meledak- lah amarah laki-laki itu.

"Saudara-saudaraku, huuuu...!" jerit Si Ma- ta Kedip menangis mengerung.

"Mata Kedip, cepat kau berlalu dari ha- dapanku. Aku sudah hampir tidak dapat lagi men- gendalikan ilmu Ratap Langit? Aku sama sekali ti- dak bermaksud membunuh tiga saudaramu. Tapi ilmu ini bekerja dengan sendirinya!" ujar Angin Pe- sut alias Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan yang saat itu sudah berdiri dan nampak mati-matian berusaha mengendalikan ilmu anehnya yang san- gat langka itu.

Buuum! Buum!

Di dalam telaga terjadi ledakan berturut- turut saat si kakek berusaha mengendalikan gejo- lak ilmu saktinya agar tidak mengenai Si Mata Ke- dip. Sebaliknya lawan sudah tidak dapat lagi menggunakan akal sehat lagi saat melihat tiga saudaranya tewas menggenaskan.

Dengan wajah tegang dan dada laksana ter- bakar Si Mata Kedip berteriak.

"Bagaimana aku bisa pergi begitu saja sete- lah kulihat kematian menggenaskan tiga saudara- ku. Aku tidak perduli dengan segala ilmu setan- mu? Hiaa...!" Laksana kilat Si Mata Kedip orang yang paling berbahaya dibandingkan tiga Pedang Bayangan nampak menyerbu ke depan.

Melihat hal itu Angin Pesut jadi gugup. Di- apun jatuhkan diri hingga sama rata dengan tanah cuma untuk satu tujuan. Agar ilmunya yang san- gat liar, ganas dan dapat bekerja dengan sendi- rinya itu tidak mengenai Si Mata Kedip. Tak pelak lagi pedang ditangan laki-laki itu menghantam punggung si kakek. Karena pedang di tangan Si Mata Kedip sebelumnya telah ditusukkan ke ta- nah. Tak pelak lagi kini punggung yang terkena hantaman pedang jadi terluka. Namun dengan be- kerjanya ilmu Ratap Langit di tubuh si kakek membuat luka yang menganga itu dengan cepat bertaut kembali. Malah kini secara tak terduga da- ri sekujur tubuh Angin Pesut menderu hawa panas mengerikan yang dengan sangat cepat sekali mele- sat menghantam Si Mata Kedip. Dalam keadaan seperti itu Angin Pesut yang tidak ingin ada korban jatuh lagi sempat berteriak memberi peringatan. "Mata Kedip, demi Gusti Allah aku nyatakan diriku bertobat. Aku tidak ingin ada nyawa melayang sia- sia."

Peringatan si kakek ternyata tidak dihirau- kan sama sekali oleh Si Mata Kedip. Sebaliknya disertai suara teriakan menggerung dia kembali menyerbu ke arah si kakek. Tak pelak lagi samba- ran hawa panas yang bersumber dari ilmu Ratap Langit menghantam tubuh laki-laki itu. Si Mata Kedip menjerit kesakitan. Sosoknya laksana daun ditiup angin kembali terlempar, lalu jatuh terhem- pas dengan sekujur tubuh dipenuhi lubang men- gucurkan darah. Si Mata Kedip berkelojotan seje- nak, namun kemudian sosoknya terdiam. Dia te- was dengan mata mendelik penasaran.

Melihat kematian musuh-musuhnya, kakek yang memiliki segala kesaktian ini bukannya me- rasa senang, sebaliknya malah menangis mengge- rung seperti anak kecil.

"Habis...habis sudah usahaku. Mengapa disaat aku menginginkan agar jangan ada jiwa yang terbuang percuma, justru malah banyak nyawa yang melayang ditanganku. Bagaimana ca- ranya aku memusnahkan seluruh ilmu yang kumi- liki agar orang-orang yang pernah kusakiti dapat membunuhku dengan cara yang mudah. Tuhan. Gusti Allah, berilah hambamu yang hina ini suatu jalan, beri aku petunjuk. Aku muak melihat darah, aku bosan melihat kematian. Aku ingin bertobat, aku ingin membersihkan diri dari segala dosa agar jiwa ini menjadi tenang. Tuhan cabutlah nyawaku karena kehadiranku hanya menjadi malapetaka bagi orang lain. Huk huk huk!" rintih si kakek dis- ertai tangis tersedu-sedu.

Entah berapa lama si kakek menangis sam- bil meratap. Tapi tak berselang lama dia mengusap air matanya. Orang tua ini sejenak memandang ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan. Semakin tercabik-cabik saja perasaannya melihat empat mayat yang mengenaskan itu.

"Ilmu celaka...ilmu sialan...!" pekik si kakek sambil menghantam dadanya sendiri pulang balik. Hantaman itu bukan hantaman biasa, tapi men- gandung tenaga dalam penuh. Jangankan dada, batu karang sekalipun pasti hancur menjadi debu terkena hantaman si kakek. Tapi dengan hanta- man sehebat itu dan dilakukan secara bertubi-tubi pula, dada si kakek sama sekali tidak remuk, apa- lagi hancur. Sampai Angin Pesut jadi letih dan dengan perasaan putus asa dia menghentikan ke- gilaannya sendiri.

"Hidup bagiku tidak akan menjadi lebih baik. Tidak ada orang yang mampu menghilang- kan nyawaku, sekarang aku punya cara bagaima- na bisa mati secepat yang kuharapkan!"

Setelah menemukan akal yang dianggapnya terbaik, tanpa menunggu lebih lama Angin Pesut alias Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan segera tinggalkan tempat itu.

6

Hujan gerimis masih belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Luapan Kaliurang menggenangi dataran rendah yang terdapat di ka- nan kiri sungai. Belasan kubur yang berada di sisi sebelah kanan sungai juga digenangi air, hingga yang terlihat hanya batu nisannya saja. Tak jauh dari belasan makam yang terdapat di pinggir sun- gai terdapat sebuah kuil yang telah lama tak ter- pakai ada sesosok tubuh berkulit serba hijau tidur menelentang di atas lantai. Sosok bertelanjang da- da itu nampaknya tidak menghiraukan keadaan disekelilingnya. Dia tidur terlalu nyenyak, padahal udara dikawasan kali terasa dingin  menggigil. Yang aneh sosok yang hanya mengenakan celana hitam komprang ini tubuhnya malah bersimbah keringat.

Entah sudah berapa lama sosok kakek ber- kulit hijau tidur mendengkur seperti itu. Yang jelas di tengah hujan gerimis dari sebelah barat kuil tua satu bayangan berkelebat diantara kerapatan pe- pohonan menuju kuil dimana kakek berkulit hijau terlelap dalam tidurnya. Hanya dalam waktu seke- jap sosok bayangan hitam tadi telah jejakkan ka- kinya di bagian emperan kuil.

Ternyata dia adalah seorang kakek berba- dan kurus ceking berbaju dan bercelana hitam panjang melewati ujung jemari tangan juga jemari kakinya. Yang terasa aneh dalam penampilan ka- kek ini, kedua tangannya selalu terlipat di depan dada, sedangkan kepalanya nampak menggoleng tak mau diam dari kiri ke kanan. Di dunia persila- tan kakek ceking yang satu ini dikenal dengan ju- lukan Tapa Gedek, sedangkan nama yang sesung- guhnya atau asal-usul si kakek jarang sekali orang yang tahu.

Sejenak lamanya si kakek berdiri tegak di tempatnya. Kedua mata menatap ke dalam ruan- gan kuil. Si kakek jadi terkejut ketika melihat se- sosok tubuh tidur di tengah ruangan kuil itu.

"Datuk Lemah Hijau," desisnya. "Apakah kakek beracun yang satu ini juga diundang oleh Kertadilaga? Enak saja dia tidur di situ, apa tidak takut dikutuk dewa? Hemm, agaknya urusan bak- al jadi runyam. Biar dia tidur berpuas-puas di situ. Untuk menunggu kedatangan sahabat yang lain biarlah aku duduk di emperan kuil tua ini. Aku manusia waras, masih tahu aturan. Biar aku tak pernah sembahyang, tapi Dewa pasti tahu dalam hatiku aku tetap menghormat padanya. Tidak se- perti Datuk itu, dia terlalu ceroboh." Kemudian si kakek sambil geleng-gelengkan kepala melangkah menuju emperan samping kuil, lalu duduk di situ. Belum begitu lama si kakek duduk, dua bayangan datang bersamaan dari arah yang berlawanan. Si kakek memandang ke arah orang yang datang. Dia menarik nafas pendek begitu melihat seorang laki- laki bersenjata pedang berpakaian biru jejakkan kaki di halaman kuil. Sedangkan tak jauh di sebe- lahnya tegak pula seorang kakek bermata lebar, bertelinga panjang berwajah kusam. Kakek yang satu ini berumur sekitar enam puluh tahun, wajah kusam seperti orang bangun tidur berpakaian me- rah.

Kedua orang yang baru datang saling pan- dang sejenak, setelah itu mereka sama menjura.

"Kebetulan sekali kita sedang bersamaan. Mungkin inilah yang dikatakan nasib peruntungan yang baik!" berkata si kakek.

"Terima salam hormatku, Ki Menoreh. Teri- ma asih atas kesediaanmu hadir memenuhi un- danganku." kata laki-laki berbaju biru yang bukan lain adalah Kertadilaga.

"Ha ha ha. Dengan sahabat sendiri tak perlu memakai segala peradatan dan sikap basa-basi. Aku tentu saja tidak melewatkan kesempatan ini karena kita memiliki kesempatan yang sama." ujar Ki Menoreh.

Keduanya saling mendekat, lalu mereka pun berangkulan. Selagi kedua orang ini mele- paskan rangkulannya dan kemudian memasuki kuil mereka dikejutkan oleh terdengarnya suara celetukan seseorang.

"Mata belok, telinga panjang tampang ma- cam orang belum mandi baru datang langsung di- beri penghormatan segala. Aku yang sudah meng- gigil kedinginan sejak tadi dilupakan begitu saja. Rupanya tua bangka sepertiku sudah tidak dipan- dang muka lagi. Biarlah aku pergi saja, huk...!"

Ki Menoreh dan Kertadilaga tersentak kaget, serentak dia memandang ke arah datangnya sua- ra.

"Astaga...! Bagaimana mungkin kita tak me- lihat si ceking geleng kepala ini?!" seru Ki Menoreh. "Ah, kakek Tapa Gedek. Maafkan aku kare-

na tidak melihat kehadiranmu disini. Apa kabarmu orang tua?" tanya Kertadilaga sambil menjura hormat.

"Kabarku seperti yang kau lihat, sehat tak kekurangan sesuatu apa terkecuali mata sedikit lamur dan tetap belum beristri." sahut Tapa Gedek sambil bersunggut-sungut dan kepala digolang go- leng.

"Tua bangka macammu perempuan mana yang mau. Kepala saja tak pernah lempang bagai- mana bisa punya istri." ujar Ki Menoreh disertai tawa mengekeh. "Tapa Gedek, mari bergabung dengan kami. Sekejap lagi pertemuan akan dilaku- kan!"

"Hem, kau nampaknya yang paling tidak sabar. Aku punya firasat kau orang pertama yang bakal menemui ajal di tangan Iblis Tujuh Rupa De- lapan Bayangan! Ha ha ha."

Terkejutlah Kartadilaga dan Ki Menoreh mendengar ucapan Tapa Gedek. Mereka tahu bi- asanya apa yang dikatakan oleh Tapa Gedek selalu menjadi kenyataan karena orang tua yang punya kebiasaan buruk golang-golengkan kepala ini me- miliki sejenis ilmu yang dapat memandang jauh ke depan. Dan semua itu telah dibuktikan dalam be- berapa kali kejadian besar yang melanda tanah Jawa. "Tapa Gedek, tua bangka ceking keparat. Kuharap kau pandai menjaga mulutmu!" hardik Ki Menoreh gusar.

"Kakek Tapa Gedek, jangan mencari keribu- tan di sini. Kalian semua kuundang untuk mencari kata sepakat, bukan menjadikan pertemuan kita menjadi tempat perdebatan dan timbulnya malape- taka." ujar Kertadilaga merasa tidak enak hati.

Tenang saja dan masih gelengkan kepala Tapa Gedek menyahut. "Siapa yang mau ribut dengan kambing dekil itu. Aku cuma sekedar bica- ra, kalau nanti menjadi suatu kenyataan itu me- rupakan persoalan takdir semata."

"Tapi ucapanmu bisa membuat semua orang yang hadir disini jadi kehilangan nyali!"

"Ki Menoreh, yang kehilangan nyali itu sia- pa? Kau? Kalau kau tak punya nyali pulanglah ke kampungmu di puncak Menoreh. Aku sendiri biar tubuhku kecil begini namun nyali tetap besar."

"Kurang ajar! Tua bangka... kupecahkan ba- tok kepalamu!" teriak Ki Menoreh. Berkata begitu si kakek siap melompat dan memukul kepala Tapa Gedek. Tapi belum sempat si kakek bergerak tan- gannya sudah dicekal oleh Kertadilaga. "Harap da- pat menahan diri. Tidak ada gunanya bersitegang dengan teman sendiri Ki Menoreh." ujar laki-laki itu.

"Kertadilaga, biarkan saja. Lepaskan  dia! Dia tak mungkin berani padaku. Berani tua bang- ka itu mendekat kemari, kubetot tanggal daun te- linganya yang panjang itu. Ha ha ha!"

"Ceking  keparat,  kubunuh   kau...   kubu- nuh...!" teriak Ki Menoreh.

"Yang hendak kau bunuh apaku? Kentutku atau bayanganku. Sudahlah lebih baik kalian ma- suk ke dalam. Datuk Lemah Hijau sampai ngiler menunggu kehadiran kalian."

Ki Menoreh dan Kertadilaga saling berpan- dangan.

"Ah, orang itu telah datang rupanya!" desah Kertadilaga. Laki-laki itu kemudian berpaling pada Tapa Gedek. "Kek, apakah kau tidak ikut masuk sekarang?" tanya Kertadilaga.

"Ha ha ha. Masih enak disini. Duduk tenang sambil menunggu bidadari lewat, biarpun cuma bidadari kesasar." kata Tapa Gedek. Kakek itu ke- mudian kembali duduk menjelepok di tempatnya semula.

"Tua bangka ceking, urusan diantara kita belum berakhir. Seusai pertemuan nanti aku akan menjajal kehebatanmu!" dengus Ki Menoreh, lalu balikkan badan dan menyusul Kertadilaga yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam ruangan kuil. Enak   saja   sambil   gelengkan   kepala  Tapa Gedek menyahuti ucapan orang. "Yang hebat itu siapa, orang kalau sudah mau mampus memang

selalu bicara yang aneh-aneh." "Kuuk! Kuuung! Kuuung!"

"Heh...siapa tadi yang menyahuti ucapan- ku?" celetuk si kakek tersentak kaget.

"Aku mendengar seperti suara kodok, tapi mengapa suaranya besar amat! Jangan-jangan dia...!" fikir si kakek lalu matanya mencari-cari ke arah datangnya suara. Suara tadi ternyata berasal dari arah belasan makam yang digenangi air.

Beberapa saat dia tercenung, memandang ke arah makam tengkuknya mendadak terasa din- gin seperti es. Tapa Gedek lebih tercekat lagi ketika melihat seseorang berada di tengah tanah makam. Sosok berbadan pendek berperut menggelembung itu dalam keadaan mengambang dengan posisi menelungkup. Dalam suasana yang sedingin  itu dia cuma mengenakan penutup aurat ala kadar- nya.

"Mungkinkah dia? Sejak kapan dia berada di situ? Apakah sudah mampus atau sengaja ber- main di atas air." batin si kakek.

"Dewa kodok, engkaukah itu?" teriak Tapa Gedek yang menyangka sosok yang mengambang di atas air di tengah makam adalah sahabatnya sendiri. Sebagaimana yang dia ketahui sahabatnya Dewa Kodok memiliki kemampuan mengambang di atas air dengan cara menggelembungkan perutnya yang dapat membesar dan mengecil.

"Kok...kok...kung...!" Sosok gemuk pendek seperti kodok keluarkan suara tidak ubahnya se- perti kodok.

Dengan kepala tetap digelengkan tiada hen- ti, Tapa Gedek kini bangkit berdiri. Wajah orang tua ini nampak berubah cerah seketika. "Dewa Kodok. Ha ha ha. Sudah kuduga memang kau orangnya. Sobatku kemarilah, berendam lama di dalam air bisa membuatmu masuk angin."

Begitu suara si kakek lenyap, dengan meng- gunakan perutnya yang melembung besar sosok berbadan pendek namun tegak meluncur ke arah Tapa Gedek. Begitu tubuhnya hampir mendekati batas air dengan kuil tua dia lakukan gerakan ber- jumpalitan sedemikian rupa, lalu jatuhkan diri di depan si kakek ceking dengan dua tangan dan ka- ki menyentuh lantai.

Kuung!

Satu suara panjang seperti kodok bergema, bersamaan dengan terdengarnya suara itu maka perut yang tadinya menggelembung besar seperti mau meletus kini mengecil kembali ke ukuran normal.

Si ceking dan si gendut pendek saling ber- pandangan, kemudian sama mengumbar tawa be- kakakan.

"Sobatku ceking geleng kepala.  Rupanya kau dapat undangan butut dari Kertadilaga. Tak kusangka mau-maunya kau datang kemari." kata Dewa Kodok yang memiliki wajah polos tanpa ku- mis tanpa janggut dan bermuka seperti kodok.

"Kau sendiri rupanya menerima undangan itu. Kemudian kau datang kemari memenuhi un- dangan bocah ingusan."

"Siapa bilang aku memenuhi undangannya. Kau sudah tahu  kebiasaanku. Di mana ada  hujan di situ ada Dewa Kodok. Dimana ada air Dewa Ko- dok pasti tinggal di situ. Bagiku sendiri undangan itu tidak menarik perhatian, tapi apa yang terjadi setelah orang-orang yang menghutangkan dosa pada Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan."

"Maksudmu...?"

Dewa Kodok menyapu wajahnya yang polos dengan telapak tangan. Setelah  itu dengan nada prihatin dia berkata. "Angin Pesut bukan manusia biasa. Dia benar-benar seorang iblis yang tak seo- rangpun tahu dimana titik kelemahan ilmunya ka- rena begitu banyak ilmu sakti yang dia miliki. Be- lum lama ini aku bahkan menyirap kabar Angin Pesut telah bertobat. Dia mengasingkan diri di sa- tu tempat tak jauh dari Kotagede. Di sana dia be- rusaha menebus segala dosa kesalahan yang per- nah dia lakukan. Konon pula dia telah berusaha memusnahkan ilmu sakti yang dia miliki. Tapi il- mu yang dimilikinya demikian banyak, satu dian- tara ilmu yang dia miliki kabarnya dapat menye- rang musuh di luar kehendak Angin Pesut." jelas Dewa Kodok.

"Kalau Angin Pesut memang berusaha me- musnahkan ilmu di tubuhnya, aku percaya dia bertobat. Tanpa ilmu kita dengan mudah dapat membunuhnya dan mengambil barang-barang pu- saka yang pernah dirampasnya!"

"Tapa Gedek, enak saja kau bicara. Ru- panya kau belum dengar, Angin Pesut tak sanggup memusnahkan ilmu yang dia miliki. Jika dia sen- diri tak sanggup memusnahkan ilmu yang ada pa- da dirinya apa kau mengira kita bakal sanggup membunuhnya?"

"Ha ha ha. Jika kita datang ke selatan Kota- gede dengan menempuh jalan seorang diri. Kurasa tak satupun dari kita yang bakal dapat keluar dari tempat itu dalam keadaan hidup. Tapi aku yakin jika kita berlima bersatu padu gabungkan kekua- tan, masakan kita tak mampu membunuh  iblis itu." ujar Tapa Gedek. "Kita berlima, apa maksudmu?" tanya Dewa Kodok tak mengerti.

"Rupanya kau tak tahu di dalam kuil itu te- lah berkumpul Datuk Lemah Hijau, Ki Menoreh dan Kertadilaga."

"Jika  sudah  berkumpul  mengapa  kau  tidak masuk ke dalam bergabung dengan mereka?" Tapa Gedek geleng kepala.

"Apapun keputusan dari hasil  pertemuan itu aku setuju saja. Yang terpenting aku dapat me- rebut kembali kitab Gelombang Naga yang dicuri Angin Pesut puluhan tahun yang silam."

"Kitab milik gurumu itu mungkin telah di- musnahkannya. Apalagi sejak lama Angin Pesut telah berhasil mengamalkan ilmu maut itu."

"Tidak menjadi soal, namun aku ingin sega- lanya menjadi jelas. Kitab itu menjadi tanggung jawabku."

Dewa Kodok manggut-manggut. "Aku juga mempunyai tugas untuk mengambil kitab Guntur Bumi." ujar laki-laki itu.

"Berarti kita mempunyai tujuan yang sama." "Kalau begitu sebaiknya kau ikut dalam

pertemuan ini." kata Dewa Kodok.

"Tidak! Kau masuklah ke dalam, aku ingin berjaga-jaga di luar sini." kata Tapa Gedek.

Dewa Kodok terdiam sejenak seolah sedang berpikir keras. Tak lama kemudian Dewa Kodok tertawa mengekeh. "Aku tahu sekarang, di dalam sana ada Ki Menoreh. Agaknya ganjalan yang ter- jadi antara kalian dimasa lalu masih belum lenyap dari hatimu. Ah...sudah tua, kau mungkin masih perjaka. Tapi perlu dipertanyakan apakah dia sampai saat ini masih seorang gadis dan yang le- bih penting lagi mungkinkah dia masih mencin- taimu?"

Tapa Gedek melengak kaget.

"Eh, apa maksudmu Dewa Kodok?" tanya si kakek ceking pura-pura tak mengerti.

"Ha ha ha. Masa lalumu begitu kelabu, hingga membuatmu pernah kehilangan kewara- san. Walaupun sempat menjadi sinting kemudian waras lagi, masa kau lupa dengan  perempuan yang bernama Ni Mesra Selangit?"

"Ah...!" Tapa Gedek mengeluh tertahan, lalu tepuk keningnya sendiri. "Mudah-mudahan dia tak diundang oleh Kertadilaga."

"Kuharap begitu. Tapi ketahuilah jika sam- pai sekarang kalian masih tetap berselisih dengan Ki Menoreh karena persoalan lama, aku mengang- gap kau ini manusia tolol."

"Aku tak pernah mempersoalkan masa lalu

lagi."

"Lalu kenapa kau sepertinya tidak suka me-

lihat kehadiran Ki Menoreh yang ikut hadir dalam pertemuan ini?"

"Aku suka, tapi kami tadi sudah terlibat pertengkaran karena aku mengatakan dia adalah korban pertama yang akan menemui ajal di tangan Angin Pesut."

"Ramalan gila. Lalu aku korban ke berapa?

Ha ha ha."

Tapa Gedek gelengkan kepala. "Manusia se- pertimu tak usah kuramal nanti juga mati sendiri." jawab si kakek.

"Kau benar. Sekarang aku mohon  pamit. Aku ingin bergabung dengan mereka yang sudah berkumpul di dalam sana."

Tapa Gedek anggukkan kepala. Dewa Kodok sendiri kemudian menggelundungkan diri menuju ke arah bagian dalam kuil. Hanya sekejap saja so- sok bulat pendek itu lenyap dari hadapan Tapa Gedek. Si kakek gelengkan kepala, lalu kembali duduk mencangkung di tempatnya semula.

7

Kita tinggalkan dulu Tapa Gedek dan para sahabatnya yang telah berkumpul di kuil tua di tepi Kaliurang. Marilah kita ikuti perjalanan Ki Ageng Pamanakan yang saat itu telah jauh me- ninggalkan Kotagede bersama Wedus Jaran Kala- bakan yang menderita keracunan. Kini mereka te- lah menyeberangi sungai Oyo. Setelah menyebe- rangi sungai mereka masih harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Wonosari. Di tempat ini Ki Ageng Pamanakan memiliki sebuah tempat peristi- rahatan yang terletak di tepi rimba belantara. Da- lam benak orang tua ini sudah tersusun segudang rencana untuk mendapatkan apa yang dia ingin- kan, sementara tak jauh di  belakangnya  gadis yang telah dibangkitkannya terus mengikuti si ka- kek dengan langkah-langkah kaku. Sepanjang ja- lan dari bagian luka di dada si gadis yang ditanca- pi Pedang Tumbal Perawan tidak hentinya mene- teskan darah.

Ketiga orang ini akhirnya sampai di lereng bukit. Dari kaki bukit terlihat sebuah rumah se- derhana berdinding papan dengan pintu berwarna hitam.

Ki Ageng Pamanakan sunggingkan seringai aneh. Dia pindahkan Wedus Jaran Kalabakan yang semula dalam kempitan ketiaknya ke atas bahu.

"Ki Ageng...apa sebenarnya yang  hendak kau lakukan kepadaku?" tanya Jaran Kalabakan yang suara tercekat.

"Aku akan mengawinkan dirimu dengan Mayat Hidup yang ikut bersama kita itu. Para se- tan akan menjadi saksi atas pernikahan  kalian. Kau pasti akan berbahagia hidup dengannya. Se- lagi kau berbulan madu dengan gadis mayat itu, aku akan membuat senjata yang tak kalah hebat- nya dengan Pedang Tumbal Perawan. Keris yang kubuat nantinya akan kuberi nama Keris Tumbal Perjaka. Ha ha ha!"

Terkejutlah Jaran Kalabakan mendengar penjelasan si kakek. "Tua bangka keparat, rupanya otakmu sudah berubah sinting. Lepaskan aku!" te- riak laki-laki itu.

Si kakek tersenyum sinis. "Saat ini tubuh- mu menderita keracunan hebat. Kulepas juga per- cuma. Kau bisa tewas seketika setelah bergerak sebanyak sepuluh langkah! Ha ha ha!"

Mendidihlah darah Jaran Kalabakan di- buatnya. Dia sama sekali tidak pernah menyangka Ki Ageng Pamanakan akan memperlakukan dirinya begitu rupa. Padahal selama ini kakek sakti ahli pembuat senjata bertuah itu dia kenal sebagai orang tua yang sangat santun, rendah hati juga orang yang selalu memenuhi janji. Tapi kali ini mengapa Ki Ageng berubah menjadi manusia ber- hati keji? Setan mana yang telah merasuki ji- wanya?

"Ki Ageng...ketika aku mengambil senjata pesanan ke rumahmu, kakang ku Kertadilaga mengetahui kepergianku. Dia pasti tidak tinggal diam jika aku tidak kembali dalam waktu dua ha- ri."

"Persetan dengan Kertadilaga. Sepuluh o- rang seperti kakang mu aku tidak takut. Kau tak perlu menggertakku. Jika ingin bahagia dan ingin keselamatan, sebaiknya kau ikuti apa yang menja- di keputusanku!" ujar si kakek tegas.

Orang tua itu kemudian kembali langkah- kan kaki mendaki lereng bukit sementara Mayat Hidup terus mengikuti orang tua itu.

Jaran Kalabakan tentu saja tidak mau di- rinya dijadikan korban oleh si kakek apalagi dijo- dohkan dengan gadis yang telah menjadi  mayat itu. Karenanya diam-diam diapun mengerahkan tenaga dalam ke bagian kedua tangannya. Dia ber- fikir begitu berhasil menyalurkan seluruh kekua- tan sakti yang dia miliki dia akan menghantam kepala Ki Ageng Pamanakan. Dengan sekali han- tam pasti kepala orang itu remuk.

Tetapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat Jaran Kalabakan jadi terkejut setengah mati. Dia bukan saja tak mampu mengerahkan te- naga sakti yang dimilikinya, namun juga akibat pengerahan tenaga dalam yang gagal membuat dadanya laksana mau meledak. Laki-laki itu ma- kin bertambah kaget ketika merasakan ada cairan hangat yang menetes dari lubang hidungnya. Tak ingin Ki Ageng tahu apa yang tengah terjadi, Jaran Kalabakan menyeka hidungnya. Lalu dia perhati- kan punggung tangannya. Darah! Ternyata darah yang menetes dari lubang hidung Jaran Kalaba- kan.

"Gila! Racun itu rupanya telah menyerang jantung dan sekujur pembuluh darah yang ada di tubuhku." batinnya kecut.

"Aku tak mungkin dapat menyelamatkan di- ri!" kata Jaran Kalabakan lagi.

Sementara itu mereka kini sudah sampai di halaman rumah milik Ki Ageng Pamanakan yang berada di lereng bukit itu. Ki Ageng kemudian mendorong pintu. Terdengar suara berkereketan ketika daun pintu terbuka lebar. Dengan diikuti oleh Mayat Hidup laki-laki itu melangkah masuk. Orang tua berpakaian serba putih menurunkan Jaran Kalabakan dari atas panggulannya, kemu- dian membaringkan laki-laki itu di atas balai bam- bu.

"Tidurlah dengan tenang di situ. Aku akan mempersiapkan perhelatan besar agar acara per- nikahan kalian dapat dilangsungkan dengan me- riah!" ujar si kakek. Selesai berkata begitu dia ber- paling pada Mayat Hidup yang berdiri tegak tak jauh di sampingnya. Kepada gadis cantik berdaster hitam yang dadanya ditancapi pedang ini si kakek berucap. "Gadis yang dikorbankan, kau jaga calon suamimu itu. Jangan biarkan dia pergi kemana- pun.!" ujar si kakek.

Mayat Hidup keluarkan suara menggerung disertai anggukkan kepala dengan gerakan yang serba kaku.

Ki Ageng menyeringai puas. Lalu dia balik- kan badan, selanjutnya berkelebat keluar lenyap entah kemana.

Jaran Kalabakan yang ditinggalkan tidak tinggal diam. Dengan cepat dia melompat turun dari atas balai bambu. Tak lama kemudian dia mendekati gadis berdaster hitam. "Aku harus da- patkan pedang yang menancap di dada mayat ini. Aku tahu Pedang Tumbal Perawan sangat beracun. Kini tubuhku terlanjur keracunan karena menyen- tuh pedang itu. Apa salahnya jika aku menco- banya sekali lagi." batin Jaran Kalabakan.

"Kau mencoba mengambil pedang ini, calon suamiku? Kau tidak akan mendapatkannya. Ter- kecuali kau benar-benar telah menjadi suamiku!" Mayat Hidup tak terduga keluarkan suara mengge- rung, hingga membuat langkah Jaran Kalabakan jadi  tertahan.  "Jahanam,  bagaimana  mungkin  dia mengetahui segala rencanaku? Dan yang anehnya lagi mengapa kini dia bisa bicara?" batin laki-laki itu. Jaran Kalabakan raba tengkuknya yang dingin laksana es. Dengan mata mendelik dia meman- dang ke arah gadis di depannya. Belum lagi hilang rasa kaget di hati pada waktu bersamaan pula ter- dengar tawa mengikik keras yang disertai dengan berkelebatnya satu sosok tubuh yang langsung menerobos masuk ke bagian dalam rumah. Rasa kaget di hati Jaran Kalabakan melihat Mayat Hi- dup dapat bicara kini berganti dengan ragu kagum begitu melihat kehadiran seorang gadis cantik ber- pakaian serba merah berambut panjang di dalam ruangan itu.

Sebaliknya Mayat Hidup begitu mendengar kehadiran gadis itu diam-diam mulai bersikap waspada. "Gadis berpakaian merah siapa dirimu dan ada keperluan apa kau datang kemari?" tanya Jaran Kalabakan. Jauh dilubuk hati laki-laki itu kehadiran gadis cantik ini menumbuhkan harapan tersendiri baginya untuk meloloskan diri dari tan- gan Ki Ageng Pamanakan.

Di luar dugaan teguran rumah Jaran Kala- bakan disambut dingin oleh gadis itu. Disertai se- ringai sinis dia menjawab "Aku melihat tubuhmu keracunan. Kupastikan umurmu tidak sampai sa- tu hari lagi jika kau tidak cepat mendapatkan per- tolongan!"

Apa yang dikatakan gadis berpakaian merah membuat Jaran Kalabakan jadi kaget. Dengan ta- tapan seakan tak percaya dia pandangi gadis itu. Dalam hati berkata. "Bagaimana dia bisa tahu aku keracunan? Siapa dia yang sebenarnya?"

"Kudengar tadi kau bertanya siapa aku dan apa keperluanku? Hi hi hi. Siapa aku tidak pent- ing. Aku sengaja datang menyusul kemari karena aku inginkan Pedang Tumbal Perawan yang me- nancap di dada mayat gadis itu."

"Ah, celaka. Dia menginginkan benda yang sama. Tapi jika aku pandai menggunakan akal muslihat, kurasa aku dapat memanfaatkan tena- ganya." fikir laki-laki itu.

"Sobat, jika kau mau mengambil pedang di dada mayat itu cepatlah ambil. Setelah itu tinggal- kan tempat ini. Aku khawatir Ki Ageng segera muncul lagi di tempat ini!"

"Kau seperti merestui keinginanku. Bagai- mana dengan dirimu sendiri?" tanya gadis itu dis- etai tatapan penuh selidik.

Jaran Kalabakan tersenyum kecut. "Mengenai diriku tak usah kau hiraukan.

Tubuhku menderita keracunan hebat, tak mung- kin tersembuhkan. Aku segera mati. Yang aku khawatirkan adalah dirimu, kau masih begini mu- da, cantik luar biasa. Jika Ki Ageng melihat keha- diranmu disini aku takut dia tak bakal mele- paskanmu. Ki Ageng bukan orang yang dulu ku- duga. Kini segala tindak tanduknya sulit ditebak. Begitu dia datang, kau bukan saja mendapat kesu- litan. Tapi malapetaka besar mungkin bisa me- nimpamu!" ujar Jaran Kalabakan. Wajahnya terli- hat sangat ketakutan sekali. Gadis cantik berpa- kaian merah yang tadinya bermaksud menghabisi semua yang ada di dalam rumah itu kini merasa simpati pada Jaran Kalabakan. Dia tersenyum, wajahnya nampak bersahabat. Sedangkan tatap matanya yang dingin kini berubah ramah.

"Terima kasih atas peringatanmu. Guruku mengatakan setiap laki-laki tidak boleh dipercaya. Kepadamu pun aku tidak percaya, tapi jika kau mau bekerja sama denganku, kemungkinan aku bisa menolongmu!" "Aku tak pernah berharap kau percaya pa- daku. Apa yang kukatakan adalah kenyataan yang sebenarnya. Cepat kau ambil pedang itu dan sete- lah itu tinggalkan tempat ini sedapat yang kau la- kukan!" ujar Jaran Kalabakan.

"Terima kasih atas peringatanmu, sobat." kata gadis berpakaian merah. Dia kemudian me- mutar tubuh hingga kini menghadap langsung ke arah Mayat Hidup.

"Gadis Malang, jika kau mau menyerahkan Pedang yang menancap di dadamu itu dengan su- karela, kujamin jasad mu tidak kusakiti. Jika kau menolak aku pasti akan menghancurkanmu!"

Mayat Hidup sunggingkan seringai dingin. Matanya yang menatap kosong memperlihatkan rasa tidak senang. Dengan suara terputus-putus dia menjawab. "Di-ri-ku se-pe-nuh-nya mi-lik Ki A- geng. Tu-buh-ku mi-lik ca-lon su-a-mi-ku. Ka-u be-ra-ni me-nyen-tuh-ku, be-rar-tik ke-ma-ti-an ba-gi-mu...!"

"Jangan hiraukan ucapannya. Ambil pedang di dadanya cepat...!" seru Jaran Kalabakan.

Mendengar ucapan laki-laki itu terkejutlah mayat hidup. "Ka-u ca-lon su-a-mi ya-ng ti-dak ber-bak-ti...!"

"Mayat keparat, siapa sudi kawin dengan bangkai!" sahut Jaran Kalabakan sengit.

"Tenang sobat, biar kubereskan mayat keras kepala ini secepatnya!" kata gadis berpakaian me- rah. Lalu dengan kecepatan laksana kilat gadis itu berkelebat ke depan. Tangan kanan dipergunakan untuk mencabut pedang yang tertancap di dada si mayat, sedangkan tangan kiri menghantam kepala Mayat Hidup. Dua serangan ini masih dibarengi dengan tendangan kaki. Empat serangan dilaku- kan sekaligus, tentu tidak sembarang orang dapat melakukannya, walau seorang tokoh persilatan berkepandaian tinggi sekalipun. Di tempatnya ber- diri Jaran Kalabakan sampai tercengang dibuat- nya. Namun timbul pula keraguan di hati laki-laki itu. Gagang pedang mengandung racun memati- kan, begitu tangan si gadis menyentuh pedang itu, dia pasti akan mengalami hal sebagaimana yang terjadi pada dirinya.

Sementara itu Mayat Hidup dengan gerakan yang kaku selamatkan kepalanya dengan meng- hindar ke kiri. Hantaman yang mengarah ke ba- gian kepala dapat dielakkan oleh Mayat Hidup, namun dua tendangan yang menghantam  perut tak mampu dia hindari. Tidak itu saja gagang pe- dang kena dicekal pula oleh gadis cantik ini.

Des! Des! Broll

Tendangan yang amat cepat dan keras luar biasa membuat Mayat Hidup jatuh terpelanting bergedebukan menghantam dinding ruangan yang ada di belakangnya. Lebih dari itu kini pedang di dada mayat itu telah berpindah tangan.

"Astaga! Sulit dipercaya. Gadis itu sama se- kali tidak terperangah oleh racun ganas yang ter- dapat di hulu pedang?" seru Jaran Kalabakan he- ran namun juga bergidik ngeri.

Di depan sana gadis baju merah nampak berputar-putar. Pedang ditangannya secara aneh seolah berubah liar dan sulit dikendalikan. Dalam kesempatan itu Jaran Kalabakan yang pernah mendengar penjelasan Ki Ageng Pamanakan begitu melihat kejadian ini segera berseru.

"Gadis baju merah sobatku. Pedang itu tak memiliki rangka, kau harus memberinya rangka. Tidak ada rangka yang aman baginya terkecuali bagian tubuh manusia. Potong tangan mayat itu!"

Gadis baju merah yang saat itu nampak ke- repotan mengendalikan pedang di tangannya begi- tu mendengar aba-aba Jaran Kalabakan segera menyerbu ke arah Mayat Hidup yang tengah beru- saha bangkit berdiri. Melihat sinar hitam menderu ke arah pangkal lengannya Mayat Hidup coba me- nyelamatkan diri dengan bergulingan ke samping. Namun gerakannya kaku dan lambat sekali. Tanpa ampun Pedang Tumbal Perawan di tangan sang dara menebas putus pangkal lengannya. Seperti kilat menyambar gadis berpakaian merah sambar kutungan tangan. Pedang kemudian ditusukkan mulai dari pangkal lengan hingga ke ujung jari mi- lik mayat hidup.

Begitu senjata bersarang di penggalan pangkal lengan. Pedang tidak lagi meronta. "Pe- dang aneh...pedang kematian bagi setiap orang yang harus kusingkirkan!" batin si gadis kagum.

Wuuus!

Dara berpakaian merah tercekat ketika me- rasakan ada angin dingin menyambar di bela- kangnya. Dia cepat jatuhkan diri, kemudian balik- kan badan. Ternyata sambaran angin berasal dari serangan Mayat Hidup. Gadis itu kertakkan ra- hang.

"Akan kubuat leleh tubuhmu sampai tinggal

tulang belulangmu saja!" dengus si gadis. Lalu se- telah gantungkan pedang berangka tangan manu- sia sang dara cengkeramkan sepuluh jari tangan- nya ke bagian dada dan perut Mayat Hidup.

Crees! Jesss! Cessss!

Hunjaman sepuluh jari tangan di dada dan bagian perut Mayat Hidup membuat mayat berdas- ter hitam itu melolong. Asap tebal menebar bau busuknya bangkai mengepul di udara. Secara aneh namun mengerikan sosok mayat itu meleleh dari bagian dada, perut, kepala dan ke sekujur tu- buh Mayat Hidup. Tak berapa lama kemudian mayat itu pun ambruk dalam rupa tulang belulang yang hangus gosong seperti terbakar.

Gadis berpakaian merah tarik kedua tan- gannya. Dia menyeringai, sedangkan tatap ma- tanya berubah dingin menggidikkan. "Sobatku, ce- pat tinggalkan rumah ini, aku akan menghancur- kannya!" perintah gadis itu.

"Ah, ilmu apa yang dimiliki gadis ini? Mayat itu dibuatnya leleh?" batin Jaran Kalabakan. Tak urung dengan gugup dia menjawab. "Baiklah, aku akan keluar secepatnya!" Laki-laki tua segera ke- luar menuju halaman depan. Di dalam rumah ga- dis itu mengetrapkan ajian yang dia miliki. Dua tangan yang bersilangan di depan dada kemudian diputar, lalu tubuhnya melesat ke atas dalam kea- daan berputar pula.

Wuuus! Wus! Byar! Byarr...!

Sinar hitam menggidikkan yang mencuat dari kedua tangan sang dara membuat rumah itu porak poranda. Puing-puing bertebaran di udara dalam keadaan dikobari api. Sosok gadis itu sendi- ri kemudian muncul diantara puing-puing rumah dalam ketinggian tujuh tombak, lalu berjumpalitan melewati kobaran api. Dengan gerakan tanpa sua- ra sedikitpun dia jejakkan kaki tak jauh dari Jaran Kalabakan yang tegak tercengang menyaksikan se- gala kedahsyatan ilmu yang dimiliki gadis terse- but.

"Gadis ini bukan manusia sembarangan. Tubuhnya mengandung racun ganas. Tapi jika aku pandai memanfaatkannya aku pasti memperoleh banyak keuntungan dari dirinya!" batin Jaran Ka- labakan yang kini selain ingin merebut pedang Tumbal Perawan juga muncul keinginan-keinginan kotor dalam hatinya.

8

Penuh rasa kagum Jaran Kalabakan mena- tap gadis di sampingnya beberapa jenak lamanya. Kemudian dengan mulut mengurai senyum dia berkata. "Belum pernah aku melihat gadis memili- ki kehebatan seperti dirimu. Masih sangat muda tapi memiliki ilmu hebat!" puji Jaran Kalabakan.

"Kau sudah mau mati tapi masih saja ber- mulut manis!" dengus si gadis.

"Aku bicara apa adanya! Dan semua...!" Ja- ran Kalabakan tidak lagi sempat melanjutkan uca- pannya karena pada waktu bersamaan terdengar suara teriakan mengguntur yang disertai dengan berkelebatnya satu sosok serba putih ke arah me- reka. "Manusia keparat manalagi yang berani me- rusak segala rencanaku?"

Begitu suara teriakan lenyap, di depan gadis berpakaian merah berdiri tegak sosok kakek tua berpakaian serba putih yang bukan lain adalah Ki Ageng Pamanakan.

Melihat kehadiran orang tua itu sang dara tersenyum dingin, sedangkan Jaran Kalabakan ja- di cemas.

Orang tua itu menatap ke arah si gadis dan Jaran Kalabakan silih berganti. Setelah itu dia memandang ke arah rumahnya yang telah beru- bah menjadi puing-puing dikobari api.

Menatap ke arah tempat kediamannya wa- jah si kakek berubah bengis dan angker. Ketika memandang ke bagian pinggang si gadis dimana pedang rampasan itu tergantung mengerunglah kakek ini. "Keparat jahanam siapa kau?" hardik si kakek marah bukan main.

"Dia adalah orang yang akan mengirimmu ke neraka, Ki Ageng!" Jaran Kalabakan menyele- tuk.

"Aku tak bertanya padamu Jaran jahanam!" hardik si kakek sengit

"Ha ha ha. Kau tidak bertanya. Aku telah berbaik hati sekedar menerangkan!"

"Kau manusia mau mampus. Kau tidak bakal lolos jauh dari tanganku." Ki Ageng Pamana- kan keluarkan suara menggeram.

Jaran Kalabakan tidak menanggapi, dia hanya tertawa mengekeh. Sedangkan Ki Ageng memandang dengan tatapan sinis ke arah dara berpakaian merah.

"Pedang itu bagaimana bisa berpindah tan- gan? Dia juga tahu cara menyimpan pedang agar tidak menjadi liar. Aku harus dapatkan senjata itu kembali. Gadis ini harus kutangkap hidup-hidup. Tubuhnya cantik mulus, nanti sebelum aku be- rangkat ke selatan Kotagede untuk menemui Angin Pesut aku akan meluangkan waktu agar dapat bersenang-senang dengannya." batin Ki Ageng Pa- manakan.

Dengan suara keras kakek ini kemudian berkata. "Gadis cantik siapa dirimu? Kembalikan pedang itu kepadaku!"

"Jika   kau   minta   pedang,   aku   pasti   tidak akan mengembalikannya. Aku Indah Sari Purna- ma, jika kau inginkan diriku sekarang juga aku bersedia menjadi milikmu!" kata gadis itu disertai senyum memikat.

Ki Ageng tercengang, dia tidak ubahnya se- perti mendapat durian runtuh mendengar kata- kata gadis itu.

"Benar kau bersedia menjadi kekasihku?" tanya Ki Ageng seolah tidak percaya.

Indah Sari Purnama anggukkan kepala. "Celaka, gadis ini kata-katanya tidak dapat

dipegang. Bagaimana dia bisa berubah pikiran da- lam waktu sekejap?" batin Jaran Kalabakan ce- mas.  Dia  bisa  membayangkan  bagaimana  posi- sinya bila Indah Sari Purnama berada di pihak si kakek.

"Seribu pedang bisa kubuat. Jika kau men- jadi kekasihku, pedang Tumbal Perawan boleh menjadi milikmu!"

"Hi hi hi. Kemarilah orang tua gagah, maju lebih mendekat. Peluklah aku...!" kata gadis berba- ju merah, seraya kembangkan kedua tangannya. Dada dibusungkan, bibir yang kemerahan dibasahi siap dilumat.

Melihat tingkah si gadis yang menantang, mendidih darah tua Ki Ageng, dada terasa menye- sak, wajah memerah dibakar gairah. Tanpa fikir panjang si kakek menghambur dalam pelukan In- dah Sari Purnama. Tapi begitu tangannya menyen- tuh leher gadis itu mendadak Ki Ageng keluarkan seruan keras. Pelukannya di pinggang sang dara sontak dilepaskan. Dan dia melompat mundur se- jauh tiga tombak.

Ketika Ki Ageng memandang ke arah kedua tangannya, tercekatlah dia. Kedua tangannya kini tidak utuh lagi, tapi sudah hangus gosong menge- pulkan asap tipis kebiruan. Warna biru juga den- gan cepat menjalar naik dari telapak tangan ke ba- gian lengan. Bukan hanya itu saja dadanya yang tadi sempat menempel ketat di dada sang dara nampak hangus.

"Racun...tubuhmu beracun?" pekik Ki Ageng Pamanakan dengan muka pucat dan nafas tersengal. Gadis itu sendiri nampak bingung den- gan apa yang terjadi. Tadinya begitu si kakek mendekat dia telah siap mematahkan batang leher Ki Ageng. Tapi tak disangka racun dalam tubuh- nya bekerja begitu saja. "Pasti semua ini adalah perbuatan guruku!" batin Indah Sari Purnama.

Ki Ageng Pamanakan sendiri saat itu nam- pak sibuk menotok beberapa urat darah yang ter- dapat di bagian dada dan juga di kedua lengannya mencegah agar racun tidak menjalar ke sekujur tubuhnya.

"Gadis ini ternyata lebih berbahaya dari ular berbisa." membatin Jaran Kalabakan. Laki-laki itu menjauh dari halaman untuk melihat apa yang bakal terjadi.

Dicelakai seperti itu Ki Ageng Pamanakan tentu saja menjadi sangat marah sekali. Dia me- lompat maju sambil berteriak. "Gadis penipu! Eng- kau mengira dapat meloloskan diri dari tanganku? Setelah kau buat cacat tangan dan dadaku begini rupa, aku bersumpah akan mencincangmu!" teriak si kakek. Teriakan menggeledek Ki Ageng disusul dengan hantaman kedua tangannya ke arah si ga- dis. Dari telapak tangan yang cacat menderu sege- lombang angin berhawa panas luar biasa. Indah Sari memang sempat terkesiap begitu merasakan sambaran hawa panas yang menerpa tubuhnya. Namun sambil tertawa tergelak-gelak dia cepat je- jakkan kakinya hingga sosok sang dara melesat di udara. Di tempat Indah Sari berdiri terjadi ledakan berdentum disertai mencuatnya satu lubang men- ganga hitam akibat pukulan Ki Ageng yang tidak mengenal sasarannya. Ki Ageng tak membiarkan lawannya lolos begitu saja. Sambil mencabut keris kembar yang tersembunyi di balik pakaian dia mengejar lawan, hingga terjadilah pertarungan sengit di udara. Keris di tangan si kakek secara bersilangan dan silih berganti menghantam Indah Sari.

Hebatnya dalam keadaan mengapung seper- ti itu dengan gerakan yang gesit sekali sang dara selalu dapat menghindari babatan maupun tusu- kan keris lawannya.

Tak menyangka lawannya memiliki ilmu se- hebat itu, sambil kertakkan rahang Ki Ageng Pa- manakan kini gerakkan kerisnya ke bagian wajah dan juga ke perut Indah Sari. Masih dengan men- gambang di udara gadis itu bergerak mundur. Tak kalah sengit sambil menghindari sabetan keris yang mengandung racun itu sang dara lancarkan serangan balasan. Namun si kakek yang telah ma- tang dalam pengalaman bertempur ini dengan mudah dapat menghindari serangan balasan la- wannya.

Satu saat Ki Ageng babatkan keris di tangan kanannya dari atas ke bawah, sedangkan keris di tangan kiri membabat ke arah pinggang dengan gerakan mendatar. Serangan ini jelas tak dapat di- elakkan dengan mudah. Indah Sari terpaksa laku- kan gerakan berjumpalitan ke belakang menjauhi si kakek. Akan tetapi si kakek yang sudah dapat membaca gerakan lawan segera mengejar. Selagi tubuh sang dara meluncur ke bawah kaki Ki Ageng bergerak menyambuti.

Deees!

Tendangan yang luar biasa kerasnya mem- buat Indah Sari jatuh terpelanting. Gadis itu kelu- arkan suara raungan aneh. Pinggangnya yang ke- na ditendang lawan seperti mau remuk. Dia nam- paknya membutuhkan waktu agar dapat kembali tegak berdiri.

Melihat ini si kakek tak menyia-nyiakan ke- sempatan yang ada. Diapun menyerbu siap hun- jamkan dua bilah senjata saktinya ke dada dan pe- rut sang dara.

Melihat bahaya besar mengancam Indah Sari, Jaran Kalabakan pura-pura menunjukkan rasa simpatinya dengan menyerang Ki Ageng dari arah samping. Tanpa menoleh Ki Ageng gerakkan kakinya. "Manusia sampah jangan campuri uru- sanku!"

Dess!

Tendangan keras kakek itu yang mengenai bagian kepala si Jaran membuatnya jatuh terpe- lanting. Saat terhempas dia merasa kepalanya lak- sana mau meledak dan dia merasakan sejuta ku- nang-kunang bertabur dalam pemandangannya.

Gerak tubuh Ki Ageng tidak terbendung, la- ju serangannya tak ada lagi yang dapat menahan- nya. Dua jengkal lagi ujung keris di tangannya mengenal sasaran. Indah Sari cepat mencabut Pe- dang Tumbal Perawan dari rangka tangan yang tergantung di bagian pinggang.

"Agaknya kau sudah ditakdirkan mampus oleh senjatamu sendiri kakek tua!" ucapan sang dara dibarengi dengan berkelebatnya pedang di tangan Indah Sari. Bagaimanapun senjatanya le- bih panjang dibandingkan senjata di tangan si ka- kek. Tak ayal lagi senjata itupun mencabik perut Ki Ageng dari kiri ke kanan.

Ki Ageng menjerit setinggi langit, mata men- delik seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Perutnya berbusaian keluar, darah mengucur deras. Dia ambruk, jatuh menelungkup di samping Indah Sari. Sebelum senjata yang seo- lah memiliki nyawa itu bergerak mengikuti ke- mauannya sendiri sang dara kembali masukkan pedang Tumbal Perawan ke tempat semula, yaitu lengan mayat gadis yang dijadikan rangka pedang.

Dengan terhuyung-huyung dara yang seku- jur kulitnya mengandung racun ganas mematikan ini bangkit berdiri. Sejenak dia menarik nafas pan- jang sedangkan sepasang matanya memandang ke arah Jaran Kalabakan yang ketika itu nampak memijit-mijit kepalanya.

Dari balik celananya Indah Sari mengelua- rkan sebuah tabung terbuat dari batang padi. Isi tabung dikeluarkan. Tiga buah benda hitam meng- gelinding jatuh di telapak tangannya. Tabung dis- impannya lagi. Dia melangkah mendekati Jaran Kalabakan. Lalu menyerahkan tiga obat itu pada sang Jaran.

"Paling tidak kau telah menolongku. Makan- lah obat itu. Racun dalam tubuhmu segera punah dalam waktu dua hari!" ujar si gadis.

"Terima kasih, aku berhutang nyawa pada- mu, Indah Sari Purnama!" ucap Jaran Kalabakan sambil bungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

Si gadis diam saja, Jaran Kalabakan telan tiga obat pemunah racun. Setelah  menelan  obat itu dia merasakan tenggorokan dan tubuhnya lak- sana terbakar. Tapi hawa panas tak lama kemu- dian berangsur lenyap, berganti dengan hawa din- gin menyejukkan.

"Ah, obatmu sungguh manjur sekali! Kau gadis yang sangat luar biasa." puji laki-laki itu. Se- jak mengetahui kehebatan Indah Sari Purnama, Jaran Kalabakan kini sikapnya memang terkesan menjilat sekali.

"Aku tak butuh pujianmu. Saat ini aku se- dang mengemban suatu tugas yang cukup berat. Aku hendak pergi ke selatan Kotagede! Kau hen- dak kemana?" tanya sang dara.

"Aku...aku tak punya tujuan. Kalau tak ke- beratan bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Ja- ran Kalabakan. Indah Sari terdiam sebentar seolah tengah berfikir. Baru kemudian dia menjawab. "Terserah padamu. Aku tidak menyuruh, tidak pu- la menolak."

"Kalau boleh aku tahu, buat apa kau pergi ke selatan Kotagede?"

Wajah cantik itu berubah seketika. Walau- pun menunjukkan rasa tidak senang dengan tegas dia menjawab. "Guruku memberiku satu tugas un- tuk membunuh seseorang!"

Jawaban si gadis membuat Jaran Kalaba- kan sempat tercekat. "Jangan-jangan...?  Hanya dia yang tinggal disana." batin laki-laki itu.

"Kalau ikut, sekarang berangkat. Tapi aku harus mencari sungai dulu, aku perlu mandi un- tuk membersihkan badanku yang kotor."

"Ah...ini adalah kesempatan yang bagus. Ji- ka dia mandi aku pasti bisa berbuat banyak!" fikir Jaran Kalabakan. Dengan muka manis dia lalu berkata. "Indah Sari, tak jauh dari sini ada sebuah sungai. Airnya cukup dalam dan jernih. Mari ku- tunjukkan...!"

Indah Sari Purnama anggukkan kepala, namun wajah maupun tatapan matanya tetap din- gin tak bersahabat.

Tak lama mereka akhirnya melangkah pergi tinggalkan tempat itu.

9

Kembali pada Gento yang baru saja berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis cantik berbadan tinggi tidak ubahnya raksasa itu kini memperlam- bat larinya. Di satu tempat sang pendekar dengan nafas masih mengengah segera hentikan langkah. Takut gadis raksasa itu masih mengejar dirinya beberapa kali dia menoleh ke belakang. Pendekar Sakti 71 Gento Guyon seka wajahnya yang ber- simbah keringat. Dia mengurut dada untuk mene- nangkan diri meredakan debaran jantung.

"Selamat...selamat-selamat. Untung aku ti- dak kena ditangkapnya, masih sukur dia tak sam- pai menginjakku. Aku heran, bagaimana ada ma- nusia raksasa di tanah Jawa ini. Kukira ada sesu- atu yang tidak beres. Huuuh...aku merasa letih sekali." gumam Gento. Murid kakek gendut Gen- tong Ketawa kitarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Tak jauh di sebelah kirinya terdapat sebuah pohon gundul yang batangnya setengah condong ke tengah rawa. Ke tempat itulah Gento langkahkan kakinya. Tak berapa lama sang pen- dekar dengan santainya merebahkan diri di batang pohon condong yang menghadap ke tengah rawa.

Dengan berbantalkan kedua tangan, se- dangkan kaki bersilangan di atas lutut pemuda ini mencoba pejamkan matanya.

Justru begitu mata terpejam yang terbayang di matanya pemandangan yang dilihatnya di ten- gah sungai tadi. Gento tersenyum-senyum sendiri seperti orang sinting.

"Wajah cantik, kulit mulus, dada putih be- sarnya macam gentong, pinggul luar biasa. Pemu- da macammu mana mungkin bisa menjadikan ga- dis raksasa tadi sebagai istrimu. Sekali dia menin- dihmu, badanmu bisa amblas dan kau bisa men- dapat tambahan almarhum di depan namamu se- ketika, gondrong gila? Ha ha ha!" satu suara tiba- tiba berkumandang merobek kesunyian rawa di tengah lembah.

Senyum Gento seketika lenyap, rasa kaget membuat dia hampir jatuh tercebur ke tengah ra- wa berair keruh itu. Kelabakan pemuda itu bangkit kemudian duduk. Sepasang matanya mencari-cari, memandang ke segenap sudut penjuru rawa. Tapi dia tak melihat ada orang lain di tempat itu.

"Bingung gondrong tukang mengintip? Atau lamunanmu buyar gara-gara mendengar suara- ku? Hem...hampir saja kau tercebur ke dalam ra- wa itu." kembali satu suara mengumandang mero- bek kesunyian yang disetai gelak tawa yang tak berkeputusan. Gento usap wajahnya pulang balik. "Ada suara tak ada orangnya. Dia mengetahui kejadian di pinggir kali. Jangan-jangan dia si baju  putih yang sempat dikejar oleh gadis raksasa tadi." Gen- to membatin. Dengan suara keras sang pendekar berkata. "Kau bukan hantu penunggu rawa. Kau melihat apa yang kulakukan, ketahuilah aku bu- kan mengintip gadis mandi. Dan cuma melihat sa- ja, mubazir kan melewatkan pemandangan bagus. Dan aku mulai yakin kau sebenarnya biangnya tukang mengintip!"

"Ha ha ha. Tahu saja kau bocah gondrong. Gadis raksasa itu tadi memang luar biasa. Tapi sayang dia sarat dengan riwayat. Hidupnya pun ti- dak bahagia, kasihan!"

"Eh, kau tahu latar belakang kehidupan orang, aku curiga jangan-jangan tiap malam kau tidur dengannya. Atau kau mengintip bagaimana caranya gadis raksasa itu tidur, ngorok atau tidak, ngiler atau ngompol. Ha ha ha!" sahut Gento lalu tertawa gelak-gelak.

"Gondrong sial. Aku tidak usil amat seba- gaimana yang kau bayangkan. Paling juga kalau ada kesempatan aku bersembunyi di dalam lubang hidungnya. Atau duduk di atas  dadanya,  ha  ha ha."

"Setan! Siapa kau? Apakah penunggu rawa ini atau calon suami gadis raksasa tadi?" tanya Gento.

"Aku sudah tua, gondrong. Walaupun sama tinggi sama besar denganmu tapi di mata gadis ta- di aku tak ada artinya. Kalau dia kawin denganku sama saja dia kawin dengan nyamuk. Kau tahu apa maksudku bukan.? Ha ha ha!"

"Ha ha ha! Kau setan sialan. Bicara ngacok tapi tak mau tunjukkan diri!" dengus Gento.

"Siapa bilang aku tak mau tunjukkan diri. Sejak tadi aku berada di sini. Masa' kau tak meli- hatku. Apakah matamu sudah berubah seperti mata raksasa tadi, hingga aku tak terlihat oleh- mu?"

Sekali lagi Gento edarkan pandangan ma- tanya ke segenap penjuru arah. Dia tak melihat apa-apa terkecuali rawa yang sangat luas seakan tak mengenal batas.

"Bocah gelo, matamu jelalatan kemana- mana. Aku ada disini, di pohon ini tolol!" kata sua- ra itu.

"Eeh, suaranya dekat sekali!" batin Gento. Cepat sekali pemuda ini memandang ke ujung ba- tang pohon yang didudukinya. Ternyata pada sa- lah satu cabang pohon dimana dirinya berada ter- lihat seorang kakek tua berbadan tegak berhidung pesek pipi tembem. Wajah kakek itu mengingatkan Gento pada gurunya si gendut Gentong Ketawa. Bedanya kakek berpakaian serba putih ini tidak sebesar dan seberat gurunya. Melihat cara kakek itu duduk di ujung cabang pohon serta kehadiran- nya yang tidak diketahui oleh sang pendekar, dia maklum siapapun adanya orang tua aneh itu pas- tilah memiliki ilmu meringankan tubuh yang sem- purna disamping memiliki ilmu kesaktian yang ti- dak terduga.

"Pengintip tua sialan. Rupanya kau punya kebiasaan pamer ilmu di depan orang lain?" kata si pemuda. Dia tak dapat menahan senyum melihat tampang lucu si kakek.

Yang diejek malah tertawa tergelak-gelak. "Aku datang kesana bukan hendak mengin-

tip gadis mandi telanjang." ujar orang tua itu se- rius.

"Bukan mengintip? Lalu kau datang ingin menyiasati gadis raksasa yang seperti katamu tadi sarat dengan riwayat?" dengus sang pendekar dis- ertai senyum mengejek.

Orang tua di ujung cabang pohon menye- ringai, lalu dengan gerakan enteng dia berjumpali- tan di udara sebanyak delapan kali kemudian je- jakkan kakinya tak jauh dari pinggir rawa.

Enak saja dia duduk di atas batu. Dua tan- gan menopang dagu, sedangkan sepasang ma- tanya yang jenaka memandang kosong ke tengah rawa yang berair keruh dan permukaannya selalu bergejolak tak mau diam.

"Kau termenung. Apakah pemandangan ba- gus tadi kini memenuhi isi batok  kepalamu?" tanya Gento yang kini turun lalu berdiri tegak di depan si kakek.

Si kakek geleng kepala. Wajahnya yang sela- lu mengesankan kelucuan nampak berubah se- rius. Tak lama kemudian dia memandang ke arah Gento dengan tatapan seolah penuh selidik.

"Gondrong sialan siapa namamu?" Tiba-tiba si kakek ajukan pertanyaan.

Jengkel dikatai sialan terus menerus Gento menjawab. "Kau sudah tahu namaku. Namaku ya si sialan itu!'

Orang tua berpakaian serba putih mengga- ruk habis kepalanya, lalu tertawa tergelak-gelak. "Rupanya pemuda tolol macammu masih mengen- al rasa marah. Katakan siapa namamu?"

"Namaku Gento Guyon!" sahut si pemuda singkat.

Di depan sana si kakek berjingkrak kaget. Mulut ternganga sedangkan air mukanya sempat berubah. "Kau... bukankah kau orangnya yang bergelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Murid kakek aneh berbadan besar Gentong Ketawa?" de- sis si kakek.

Kini Gento yang jadi melongo.

"Eh, bagaimana kau bisa mengenalku? Ber- temu dengan makhluk langka macammu rasanya baru sekali ini!"

"Ha ha ha. Nama besarmu sudah lama aku dengar. Apa ini kau anggap suatu keanehan?"

"Tidak. Kurasa memang tidak ada yang aneh. Sesuatu yang kuanggap aneh kurasa justru ada pada dirimu." ujar si pemuda.

Si kakek memperhatikan dirinya sendiri. "Kurasa diriku pun tidak ada yang aneh." "Apakah tidak aneh jika orang tua seperti-

mu masih punya keisengan dengan mengintip ga- dis? Biasanya orang tua yang sudah bau tanah le- bih banyak mendekatkan diri memohon pengam- punan dosa pada Gusti Allah, kau malah sebalik- nya!"

Wajah si kakek bersemu merah mendengar ucapan Gento. "Kau tidak tahu apa yang sedang kufikirkan. Jika kau mengerti duduk persoalan yang sebenarnya kau juga pasti jadi pusing kepa- la."

Gento terdiam sejenak, lalu berkata. "Apakah ini ada hubungannya dengan intip

mengintip itu?"

"Heh, jangan sembarangan kau bicara. Aku baru beberapa kali datang ke sana. Dan tadi itu segalanya secara kebetulan." ujar si kakek.

"Maaf, apakah kebetulan yang kau mak- sudkan adalah kebetulan ketahuan oleh gadis itu? Ha ha ha."

"Terserah kau mau berpendapat apa, Pen- dekar Sakti 71. Yang jelas aku merasa perjumpaan kita yang tidak sengaja ini kuanggap awal dari su- atu keberuntungan."

Sang pendekar kerutkan keningnya tanda tak mengerti.

"Apa maksudmu orang tua?" "Namaku Sateaki...!"

Ucapan si kakek terputus karena Gento langsung tertawa begitu si kakek menyebut na- manya. Begitu tawanya terhenti Gento bertanya. "Namamu aneh amat orang tua. Sebenarnya kau ini pedagang sate atau tukang makan sate. Atau aki-aki tukang sate?" Sateaki geleng kepala.

"Aku bukan salah satu dari yang kau se- butkan. Mungkin orang tuaku dulu tukang jual sate. Entahlah, namaku memang begitu adanya, kau jangan membuat kepalaku jadi tambah pus- ing!"

"Baiklah," ujar Gento. "Tadi  kau mengata- kan perjumpaanmu denganku kau anggap sebagai suatu keberuntungan. Apa maksudmu...?!" tanya Gento. Si kakek tidak langsung menjawab. Dia te- gadahkan wajahnya ke langit. Langit cerah, mata- hari bersinar cerah. Beberapa ekor kawanan bu- rung yang terbang melintas di atas mereka kebetu- lan buang hajat. Kotorannya menimpa ke wajah Sateaki. Si kakek menyumpah habis-habisan. Gento yang melihat wajah Sateaki berlepotan koto- ran burung tak dapat menahan tawanya.

"Anggap saja itu satu keberuntungan juga.

Ha ha ha!"

"Burung-burung sialan." umat Sateaki. Kini dia memandang ke arah pemuda yang sudah du- duk di depannya.

"Kau lihat  rawa  yang  luas  itu,  Pendekar

71?"

"Sejak  tadi   aku   sudah   melihatnya.   Lalu

apanya yang aneh?" tanya Gento heran.

Sateaki tersenyum getir. "Disinilah duduk persoalannya! Sudah sebulan ini aku mondar- mandir di tempat ini. Aku ingin menyeberang ke tengah rawa itu. Aku mau mencapai pulau yang terletak di tengah rawa."

"Buat apa? Apakah kau mau bunuh diri? Lagi pula aku tidak melihat adanya pulau di ten- gah rawa itu?"

"Pulau apung itu tertutup kabut di siang hari. Aku bermaksud datang kesana bukan mau membunuh diri, tapi ingin menjumpai seseorang." Menerangkan kakek itu.

"Lalu mengapa  tidak  segera  kau  lakukan, apa yang menjadi kesulitanmu Sate?"

"Panggil saja aku kakek aki!" kata si kakek menyebut nama panggilannya.

"Ah, kau ini manusia aneh. Bukankah Aki juga berarti kakek. Jadi aku harus memanggilmu, Kakek Kakek begitu. Sudahlah biar kupanggil di- rimu Aki saja!"

"Terserahmulah kau mau memanggil apa." ujar Sateaki mengalah. Setelah pandangan ma- tanya menerawang sebentar ke tengah telaga dia kemudian melanjutkan. "Aku punya seorang sau- dara seperguruan. Namanya Angin Pesut, atau Ka- la Bayu, namun dia dikenal dengan gelaran Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan. Kejahatannya se- langit tembus. Ilmunya sulit dijajaki, karena sejak muda dia gemar mencuri kitab berisi pelajaran il- mu sakti juga mencuri berbagai senjata. Puluhan tahun dia malang melintang di rimba persilatan. Kejahatan dia tebar dimana-mana. Banyak tokoh dibuat cacat, tewas hingga melahirkan dendam bagi mereka yang ditinggalkan. Namun kini di saat begitu banyak orang ingin membalaskan sakit hati dendam kesumat dia telah bertobat. Saudaraku Angin Pesut sendiri tidak perduli dengan pembala- san yang dilakukan orang-orang yang pernah diru- gikannya. Kalau pun harus mati di tangan mereka, dia sudah pasrah dan sedikitpun tidak ada keingi- nan untuk melawan. Jika pun mereka yang datang ingin mengambil kitab atau senjata yang pernah dicuri oleh saudaraku itu dia juga  telah  pasrah dan pasti akan dikembalikan. Tobat yang dia laku- kan telah membuat dia rela mengorbankan nya- wanya demi menebus segala dosa yang telah dila- kukannya. Sampai saat ini Angin Pesut masih hi- dup. Orang-orang rimba persilatan yang ingin me- nuntut balas tewas secara menggenaskan...!" ujar si kakek.

"Aki, kau mengatakan saudaramu tidak akan melakukan perlawanan jika bekas musuh- musuhnya datang menyerang. Kalau demikian halnya bagaimana orang-orang bisa mati?"

"Perlu kau ketahui, sampai saat ini Angin Pesut tak sanggup memunahkan ilmu yang dia mi- liki. Karena ilmunya begitu banyak. Salah satu da- ri segala ilmu hebat yang dimilikinya itu adalah il- mu Ratap Langit. Sejak dulu Angin Pesut tak sanggup mengendalikan ilmu yang satu ini. Sebab ilmu Ratap Langit dapat bekerja dengan sendirinya tanpa terkendali bila pemilik ilmu itu berada da- lam ancaman bahaya besar. Selain yang kuse- butkan tadi, dia juga memiliki ilmu Gelombang Naga. Ilmu itu tak pernah dipergunakannya lagi sejak dia menurunkannya pada salah seorang mu- ridnya yang bernama Sanjaya ketika Angin Pesut tinggal di Lembah Setan."

"Sanjaya...!" seru Gento kaget.

"Kau kenal pemuda itu?" tanya si kakek. "Benar, aku pernah bertemu dengan San-

jaya alias Pendekar Sesat Patah Hati." jawab Gen- to. Dia kemudian menuturkan segala apa yang di- lakukan oleh pemuda berwajah rusak bagai dica- cah itu secara gamblang dan jelas. Untuk lebih je- lasnya (Baca Episode Tabib Setan). 10

Beberapa saat berlalu, Sateaki terdiam mencoba merenungi apa yang dikatakan oleh Pen- dekar Sakti 71 Gento Guyon. Tak lama kemudian terdengar suara si kakek memecah keheningan suasana. "Menurutku, korban akan banyak berja- tuhan jika para tokoh melakukan penyerangan be- sar-besaran ke tempat tinggal Angin Pesut. Terke- cuali ada orang yang sanggup memusnahkan selu- ruh ilmu yang dia miliki."

"Menurutmu, siapa yang sanggup melaku- kannya?" tanya Gento.

"Aku tidak tahu, Angin Pesut pernah men- gatakan padaku, jika ada orang yang mampu membangkitkan tenaga dalam dari lima sumber ti- tik di tubuhnya barangkali seluruh ilmunya baru bisa dikuras habis dari tubuhnya..." Menerangkan si kakek.

Gento diam-diam terkejut. "Lima sumber pembangkit tenaga dalam. Aku sendiri, oleh Ma- nusia Seribu Tahun telah diwarisi tujuh pembang- kit tenaga dalam. Tujuh cakra, tujuh pusat kekua- tan. Tapi aku tak mau bersikap jahil dengan mem- pergunakan tujuh Cakra atau sumber pusat tena- ga untuk melenyapkan ilmu siapapun. Kakek ini tak tahu, lebih baik aku tak mengatakannya." fikir Gento.

"Aki...apakah orang-orang  itu  tidak  dapat dicegah? Atau apakah mereka tidak tahu kalau il- mu yang mereka miliki masih belum dapat diper- gunakan untuk membunuh saudaramu itu?"

"Para tokoh, juga pendekar dunia persilatan itu terlalu keras kepala perturutkan kata hati mengikuti amarah. Lagi pula mereka datang untuk meminta benda-benda berharga milik sanak ka- dangnya yang dulu pernah diambil paksa oleh An- gin Pesut."

"Mengapa kau tidak mau memberi penjela- san pada mereka tentang adanya kemungkinan bahaya yang mengancam diri mereka?" ujar Gento. "Kau  masih  belum  juga  mengerti  penjela- sanku, Pendekar Sakti 71. Kau  harus  ingat,  aku ini adalah adik seperguruan Angin Pesut. Jika ku- jelaskan apa yang kau katakan itu pada mereka. Mereka tentu saja beranggapan aku melindungi Angin Pesut dan menganggap ada persekongkolan diantara kami. Aku bukan Angin Pesut, ilmu yang kumiliki serba terbatas. Salah-salah mereka bisa

membunuhku!"

Apa yang dikatakan Sateaki memang masuk akal. Pada umumnya para tokoh yang datang men- jumpai Angin Pesut adalah orang yang merasa pernah dirugikan. Setidaknya kedatangan mereka ke tempat kediaman Angin Pesut selain ingin me- minta kembali apa yang diambil Iblis Tujuh Rupa Delapan Bayangan paling tidak juga untuk mem- balas dendam. Mengingat kakek Sateaki masih mempunyai hubungan saudara seperguruan den- gan Angin Pesut, tindakan pencegahan yang dila- kukan Sateaki bisa menimbulkan kesalah faha- man.

"Aki, sekarang dimana saudaramu itu bera-

da?" tanya Gento setelah terdiam cukup lama. "Saudaraku itu saat ini tinggal tak jauh di

sebelah selatan Kotagede. Umurnya sudah sangat lanjut, kasihan sekali."

"Lalu apa yang kau lakukan disini? Kau mengaku hampir sebulan berada di tepi rawa ini."

"Benar. Aku telah mengatakan hendak me- nuju ke tengah rawa. Aku ingin ke pulau ter- apung yang terdapat di tengah rawa itu untuk menjumpai seorang perempuan bernama Serimbi." "Srimbi itu apamukah. Istrimu, kekasih

atau nenekmu, Ki?"

"Bocah sial. Mulutmu jangan asal bicara. Makanya dengar dulu." kata Sateaki sambil un- jukkan tampang cemberut. Gento tersenyum si kakek melanjutkan. "Srimbi adalah bekas istri per- tama Angin Pesut."

"Oh!!...memang istrinya ada berapa?"

"Yang resmi ada lima belas. Yang tidak res- mi mana aku tahu. Walah sejak tadi kau bertanya melulu jadi aku sampai lupa apa yang hendak ku- katakan." damprat si kakek.

"Angin Pesut menyuruhku untuk mene- muinya guna meminta obat penawar racun pem- besaran tubuh yang terjadi pada keluarga gadis raksasa tadi. Dulu Angin Pesut telah mencelakai ayah dan ibu kedua anak raksasa tadi dengan ra- cun Perubah Bentuk. Sehingga tubuh mereka te- rus membesar melebihi ukuran manusia normal. Sekarang nampaknya setelah insaf Angin Pesut in- gin menebus dosa kesalahannya pada keluarga Senggana dan Senggini. Dengan memberikan obat penawar racun Perubah Bentuk tubuh mereka akan kembali ke ukuran yang semestinya."

"Jadi  Angin  Pesut  tak  punya  obat  penawar, tapi punya racunnya?"

"Racun dan obat penawar itu sendiri dulu yang menciptakan adalah Srimbi. Semasa mereka masih menjadi suami istri, Srimbi memberikan ra- cun Perubah Bentuk itu pada saudaraku, tapi ti- dak memberikan penawarnya. Kemudian mereka berpisah setelah terjadi perselisihan besar. Perseli- sihan Angin Pesut dengan istrinya dikarenakan anak perempuan mereka satu-satunya hilang en- tah kemana. Sampai sekarang anak perempuan itu entah dimana. Seandainya dia masih hidup, mungkin usianya sama denganmu."

"Kemudian mengapa kau tidak mau mene- mui orang tua gadis raksasa tadi?"

"Untuk apa? Mencari mati! Sampai saat ini mereka mendendam pada Angin Pesut. Malah ku- dengar mereka sedang bersiap-siap mencari sau- dara seperguruanku itu. Namun mereka tak dapat berangkat secepatnya karena kudengar Senggana dan Senggini saat ini sedang menderita sakit."

"Ah, dunia ini memang aneh. Seharusnya mereka bersyukur karena akibat terkena Racun Perubah Bentuk tubuh mereka menjadi besar se- perti raksasa. Aku sendiri berfikir bagaimana ca- ranya agar bisa seperti gadis itu!"

"Otakmu memang tidak waras. Aku tahu, dalam fikiranmu yang kotor jika tubuhmu bisa be- rubah besar seperti gadis itu dengan leluasa kau dapat menjalin tali kasih dengan gadis cantik itu bukan?"

Gento menyengir sambil mengusap wajah- nya pulang balik. "Tau saja kau Ki!"

"Aku pernah muda. Sudah menjadi sifat la- ki-laki, pantang melihat perempuan cantik berji- dad licin."

"Wah, ternyata walaupun sudah tua selera kita sama ya Ki?"

"Laki-laki tidak tua, tidak yang muda dalam urusan yang satu itu semua hampir sama. Umur boleh tua, kulit boleh keriput. Tapi soal yang begi- nian boleh diadu sampai semaput."

"Dasar kakek diamput!"

Sateaki dan Gento sama tertawa terbahak- bahak.

Tak berselang lama begitu tawa si kakek terhenti dengan wajah serius dia berucap. "Pende- kar Sakti 71 walau bagaimana pun aku harus bisa menolong saudaraku. Walau sekedar meringankan beban penderitaan batin yang menekan perasaan- nya."

"Berarti kau harus menuju ke tengah rawa itu untuk menjumpai bekas istri Angin Pesut." te- bak Gento.

"Kau benar." jawab Sateaki. "Mengapa tidak kau lakukan. Kau bisa berenang atau mengguna- kan balok kayu sedangkan aku bisa menontonmu dari sini sambil makan angin!"

"Bocah geblek. Enak saja kau bicara, kau belum tahu makhluk apa yang berdiam di tengah rawa itu."

"Memangnya apa?" tanya si pemuda. Tanpa bicara si kakek memungut sebuah batu sebesar kepalan tangan. Kemudian batu dilemparkannya ke tengah rawa. Begitu batu menyentuh permu- kaan air, lalu bergerak tenggelam. Pada saat itu pula air rawa bergolak di segala penjuru arah. Ge- rakan semakin nyata dengan munculnya belasan makhluk bermoncong runcing panjang bergigi runcing dengan ekor panjang bergerigi. Pendekar Sakti 71 Gento Guyon tercengang dengan mulut terganga melihat pemandangan di tengah rawa itu. "Rawa ini ternyata dihuni oleh   kawanan buaya?" membatin sang pendekar dalam hati. Kini dia baru mengerti mengapa kakek Sateaki selama sebulan kerjanya cuma mondar-mandir di sekitar telaga tanpa berani melakukan penyeberangan. Walaupun begitu dengan bercanda dia berkata. "Orang tua pengecut baru menghadapi kawanan

kadal air saja sudah kehilangan nyali."

"Pemuda sinting. Yang kau lihat itu buaya, sama sekali bukan kadal air." damprat si kakek.

"Lalu bagaimana kau bisa menyeberang agar sampai ke pulau terapung di tengah rawa ini?"

"Aku sudah mencobanya dengan menggu- nakan rakit dan perahu kayu. Rakitku langsung hancur dihantam puluhan ekor bergerigi yang muncul secara tak terduga. Kemudian ketika aku menggunakan perahu. Perahu itu juga berkeping- keping menjadi sasaran mereka." ujar si kakek pu- tus asa. "Artinya kau tidak akan pernah sampai ke pulau itu terkecuali kau punya sayap seperti bu- rung hingga kau aman dari jangkauan buaya- buaya itu."

"Kau betul, sayang aku dilahirkan sebagai manusia bukan sebagai burung." sahut Sateaki.

Gento kembali terdiam, otaknya berfikir. Tak lama kemudian dia mendapatkan satu akal hingga membuat wajahnya berseri-seri. Sateaki yang melihat semua itu cepat ajukan pertanyaan.

"Kau punya usul Pendekar 71?"

"Usulku banyak. Pertama aku bisa mem- buat sebuah perahu panjang, aku yang men- dayung perahu sedangkan kau kujadikan umpan di belakang. Kujamin kawanan buaya tidak akan menggangguku karena ada yang mereka mangsa di belakang perahu, yaitu dirimu!" menerangkan Gento dengan mimik serius.

"Pemuda gila." damprat si kakek.

Dengan tenang dan tanpa menghiraukan ucapan si kakek Gento melanjutkan ucapannya.

"Yang kedua, bagaimana kalau kita buat semacam sayap. Sayap buatan itu bisa kita ikat di lengan kanan dan lengan kirimu. Tapi mengguna- kan sayap buatan untuk mengarungi rawa yang begitu luas harus menunggu angin kencang."

"Ah, pemuda cerdik, usulmu bagus sekali.

Aku memilih usul ini. Tapi... tapi...!" "Tapi kenapa Ki?"

"Aku...aku takut ketinggian." kata Sateaki malu-malu.

"Jadi bagaimana?" tanya Gento. "Inilah susahnya."

"Aku tidak takut ketinggian. Cuma aku ti- dak kenal dengan orang yang hendak kau jumpai!" "Apakah ini berarti kau bersedia memban-

tuku?"

"Membantu bagaimana?"

"Maksudku mewakili diriku pergi ke tengah

rawa ini?"

"Ha ha ha! Enak di Aki tidak enak di aku. Kau duduk tenang di sini menonton  sementara aku menggantikan tugas yang seharusnya engkau yang melakukan. Padahal kau tahu terlalu besar resiko yang harus kuhadapi. Aki...apakah kau pernah membayangkan bagaimana jika sayap ti- ruan yang kita buat tiba-tiba patah sebelum sam- pai ke tempat tujuan?"

"Tentu nyawa taruhannya." sahut Sateaki. "Kalau aku mati apakah kau bisa mengganti

nyawaku dan menghidupkan aku kembali?" Dengan muka sedih si kakek gelengkan ke-

pala.

"Kalau kau mati, aku tak bisa berbuat apa-

apa. Namun terus-terang aku sebenarnya malu bertemu dengan bekas kakak iparku. Kalau eng- kau bersedia mewakili aku memintakan obat pe- munah racun itu tentu aku sangat berterima ka- sih!"

Gento terdiam, setelah memikirkan segala sesuatunya diapun kemudian mengalah. "Baiklah, aku akan membantu. Sekarang kita harus mem- buat sayap agar aku dapat terbang kesana!"

Mendengar  keputusan   Gento,   tentu   saja kakek itu merasa senang sekali. Disalaminya Gen- to berulang-ulang. "Terima kasih. Terima kasih...!"

11

Kedua sosok yang terbaring di atas ranjang kayu raksasa itu tidak ubahnya seperti balok rak- sasa yang baru saja habis ditebang. Ketika pemu- da raksasa membawa Tabib Setan ke dalam ruan- gan rumah raksasa terdengar suara dengkur dan erangan yang tak berkeputusan. Membuat telinga si kakek jadi pengang sendiri.

"Dua manusia ini besarnya seperti ikan paus. Melihat tidurnya yang nyenyak begini ra- sanya mereka bukan seperti orang yang sakit?" membatin di kakek yang berada dalam genggaman tangan pemuda raksasa berkulit hitam gosong yang menangkapnya.

"Kau telah melihat orang tuaku, kakek ker- dil. Sekarang aku akan membangunkan mereka." kata pemuda yang tingginya hampir menyandak langit-langit rumah besar itu perlahan. Sebelum sosok manusia besar ini bergerak menghampiri pe- rempuan dan laki-laki tua yang terbaring di atas ranjang kayu dia menurunkan Tabib Setan.

"Ayah...ibu, aku Anggagana datang meng- hadap!" kata pemuda itu sambil mengguncang ba- hu perempuan dan laki-laki tua itu silih berganti.

Tak berselang lama suara dengkur dan erang kesakitan lenyap. Laki-laki dan perempuan tua tersebut menggeliat, sepasang mata yang ke- merahan terbuka, kemudian keduanya bangkit dan duduk di atas ranjang.

"Aggagana, mana adikmu Anggagini? Apa- kah kau telah membuatkan obat untuk kami?" tanya sosok laki-laki tua itu sambil usap janggut- nya yang meranggas seperti pohon bambu yang habis terbakar.

"Seperti yang ayah lihat, api di tungku be- lum menyala. Kuali yang kugunakan untuk mere- bus ramuan masih kosong...!" jawab Anggagana dengan wajah tertunduk.

"Jadi  apa  saja  kerjamu,  anakku?  Kau  tidak tahu, kepala kami rasanya mau meledak. Perut mulas seperti diiris-iris. Penderitaan yang kami ra- sakan rasanya sudah tidak tertahankan lagi!" kata raksasa tua marah.

"Sudahlah, jangan kau marahi anak kita te- rus menerus, terlalu banyak kau marahi dia bisa jadi tolol kakang!" kata manusia raksasa perem- puan.

"Tidak kumarahi sekalipun sejak dulu dia memang sudah tolol." sahut sang suami ketus.

"Ayah...tidak baik marah melulu. Aku be- lum menyiapkan obat seperti biasanya karena aku telah bertamu dengan tamu ini!" berkata begitu Anggagana menunjuk ke arah Tabib Setan yang berdiri di pinggir ranjang. Sepasang suami istri itu memandang ke arah Tabib Setan. Keduanya ber- jingkrak kaget hingga membuat ranjang kayu ber- goyang terus. Tabib Setan terhuyung, dengus na- fas suami istri manusia raksasa tua itu membuat tubuh sang tabib laksana dipanggang.

"Kau membawa kakek cebol berjanggut ke rumah kita untuk apa? Apakah dia cukup berkha- siat untuk dijadikan campuran ramuan obat ka- mi?" tanya raksasa perempuan.

Anggagana gelengkan kepala.

"Lalu untuk apa kakek cebol  rongsokan ini?" hardik raksasa laki-laki.

"Sialan, enak saja dia mengatakan aku ce- bol rongsokan." gerutu Tabib Setan bersungut- sungut.

"Ayah, dia mengaku dirinya adalah seorang tabib." jawab Anggagana.

Sepasang mata laki-laki tua itu nampak berkedip-kedip. Sekali tangannya bergerak, ping- gang Tabib Setan kena diraihnya. Dia memandangi sang tabib dengan tatap penuh selidik.

"Benar kau seorang tabib, kakek cebol?" Ta- bib Setan anggukkan kepala.

"Aku Senggana  dan  itu  istriku  Senggini.

Siapa dirimu?"

"Aku Tabib Setan...!"

"Sial." maki laki-laki itu tanpa sadar dia me- lepaskan sang tabib. Jika si kakek tidak berjumpa- litan selamatkan diri mungkin kepalanya sudah membentur bibir ranjang. Baru saja si kakek je- jakkan kaki, laki-laki itu membentuk anaknya. "Anak goblok. Mengapa setan kau bawa kemari? Dia tabibnya para setan, mana mungkin bisa men- gobati kami!"

"Kalau begitu kita rebus saja dia untuk di- jadikan bubur." sahut Anggagana lugu.

Mendengar ucapan ayah dan anak itu hi- langlah kesabaran dan rasa takut yang menyeli- muti perasaan sang tabib. Dengan lantang dia ke- mudian berkata.

"Keluarga manusia besar. Kalian dengar, Tabib Setan hanyalah sebuah gelar. Aku bukan se- tan benaran. Kalian ini manusia, tapi cuma besar badan tak punya otak untuk berfikir. Gajah dan kerbau badannya sama besar, otak ada fikiran ti- dak punya. Lalu apa bedanya kalian dengan ker- bau?"

"Kakek cebol. Lancang sekali kau bicara. Mereka adalah orang tuaku, jaga mulutmu!" har- dik Anggagana. Suaranya yang keras kembali membuat sang tabib jadi terhuyung-huyung, kepa- la sakit dan telinganya laksana mau jebol.

Sambil menahan sakit sang tabib berkata. "Aku tahu sepanjang hidup lebih dari dua puluh tahun kalian menderita. Jika kalian ingin aku memberikan obatnya, aku harus memeriksa kalian lebih dulu." kata si kakek.

Mendengar ucapan Tabib Setan terkejutlah Senggana dan Senggini. Yang membuat mereka heran bagaimana kakek itu tahu penyakit yang mereka derita sudah berlangsung selama itu? "He- bat, kau dapat menebak berapa lama penyakit yang kuderita ini. Sekarang aku baru percaya ka- lau kau adalah seorang tabib." kata Senggana den- gan suara berubah pelan bersahabat.

"Kalau begitu katakan apa penyakit kami dan apa pula obatnya?" tanya raksasa perempuan. "Aku bukan Tuhan yang Maha tahu. Ba- gaimana aku bisa mengatakan penyakit kalian jika aku belum memeriksanya?" dengus Tabib Setan jengkel.

"Aku harus melakukan pemeriksaan di ba- gian dada dan kepala. Baru nanti kukatakan apa penyakit yang kau derita!" tegas si kakek lagi.

"Aku saja atau istriku juga?" "Keduanya."

"Aku setuju. Sekarang lakukanlah!" ujar Senggana. Laki-laki tua itu kemudian merebahkan diri di atas ranjang. Si kakek segera menghampiri. Dalam keadaan rebah permukaan  dada  raksasa itu tingginya sebatas leher sang tabib. Tak lama sang tabib segera melakukan pemeriksaan. Kepala Senggana diketuk-ketuknya beberapa kali. Setelah itu dia berpindah ke bagian dada sang raksasa. Dada dipencet diketuk, pencet ketuk. Begitulah yang dilakukan berulang-ulang. Setelah itu tanpa bicara apa-apa dia memberi isyarat pada Senggini agar melakukan apa yang dilakukan Senggana. Pe- rempuan berusia empat puluhan namun masih te- tap cantik itu tanpa ragu merebahkan tubuhnya. Sang tabib datang menghampiri. Sama  seperti yang dilakukannya terhadap senggana, Tabib Se- tan pun mengetuk-ngetuk kepala perempuan itu sambil manggut-manggut. Selesai mengetuk kepa- la dia pun memeriksa ke bagian dada. Bedanya ji- ka tadi dia memencet dan mengetuk dada Sengga- na dengan keras. Kini yang dilakukan Tabib Setan agak lain. Dada Senggini diusap, dielus, diusap la- gi dan lagi. Hingga membuat mata perempuan itu berkedap-kedip.

Dasar Tabib Setan melihat Senggini kedip- kedipkan matanya seperti keenakan dia terus saja mengusap. Dalam hati sang tabib menyeletuk. "Nah... yang ini baru sip. Lembut kulitnya, hangat suasananya. Tidak seperti Senggana, kasar kulit- nya besar dan keras tulang rusuknya."

"Tabib, apa yang kau lakukan? Mengapa lama amat kau memeriksa dada istriku?" hardik Senggana curiga ada cemburu juga ada.

Kaget, sang tabib cepat tarik kedua tangan- nya yang dipergunakan untuk mengusapi dan membelai.

Sebaliknya Senggini yang sempat terbuai dengan usapan lembut si kakek nampak terbatuk- batuk sambil pegangi dadanya.

"Penyakit istrimu paling parah. Aku mem- butuhkan waktu agak lama untuk mengetahui pe- nyakitnya." kata si kakek tenang. Raksasa Sengga- gana manggut-manggut! Dalam hati sang tabib mencibir. "Rasakan, sesekali kau memang perlu dikerjai. Ternyata istrimu lebih cerdik, keenakan dia kuusapi. Agar tak menyolok dia pura-pura ba- tuk kesakitan. Agaknya ada yang tidak beres terja- di pada suami istri ini. Perempuan ini seperti orang kelaparan. Namun mereka mengidap racun yang sama."

"Tabib, katakan apa penyakit kami?" tanya Senggana sudah tidak sabar lagi.

Si kakek tak segera menjawab. Dia duduk, hingga dalam penglihatan ketiga raksasa itu so- soknya semakin bertambah kecil saja. Tak lama kemudian sang tabib dengan tenang menjawab. "Kalian dulu pasti pernah terkena pukulan bera- cun 'Perubah Bentuk'. Racun seperti yang kuse- butkan selain langka juga sangat berbahaya. Ra- cun Perubah Bentuk telah mempengaruhi kelenjar otak kecil dan mengganggu keseimbangan otak be- sar. Terganggunya fungsi otak membuat sel-sel tu- buh kalian mengalami perubahan. Perubahan itu juga terjadi pada tulang belulang hingga membuat tubuh kalian menjadi besar seperti ini. Aku berani menjamin dulunya kalian adalah manusia biasa. Perubahan sel-sel tubuh yang terjadi akhirnya menurun pada anakmu yang bernama Anggagana ini." kata sang tabib.

Ketiga manusia raksasa sama tercengang, tak menyangka Tabib Setan dapat mengetahui pe- nyakit mereka secara tepat.

"Sungguh, kau kakek cebol dan tabib yang amat luar biasa?" memuji Senggini dengan mata berbinar penuh rasa kagum.

"Apa yang kau katakan memang benar Ta- bib. Seseorang telah mencelakai kami dengan pu- kulan beracun. Kini yang menderita bukan saja Anggagana, tapi puteri kami juga mengalami hal yang sama." kata Senggana menimpali.

"Lalu mengapa kami menderita pusing ke- pala serta rasa mual yang hebat kakek tabib?" tanya Senggini. Tabib Setan menatap wanita can- tik itu sejenak. Diam-diam si kakek jadi kaget. Dia merasa tatap mata Senggini bukan tatap pandang yang wajar. Tatapan perempuan itu menyimpan suatu keinginan yang membakar.

"Gawat... jangan-jangan keisenganku tadi telah ditafsirkan lain olehnya. Dia menderita kera- cunan, tapi racun lain yang lebih hebat mengeram jauh di lubuk hatinya." batin si kakek.

"Puluhan tahun kalian mengalami keracu- nan, tanpa pernah mengobatinya secara tepat. Ke- jadian yang telah berlangsung lama itu membuat otak kalian mengalami kerusakan, begitu juga ba- gian jantung." jelas si kakek.

"Jahanam  keparat,  semua  ini  karena  ulah Angin Pesut!" geram Senggana sambil kepal- kepalkan tinjunya.

"Siapa Angin Pesut." tanya si kakek.

"Angin Pesut adalah iblis manusia durjana yang menimbulkan malapetaka dimana saja." jelas Senggini. Dia lalu menceritakan segala sesuatunya yang berhubungan dengan Iblis Tujuh Rupa Dela- pan Bayangan itu.

"Kami ingin membalas segala penderitaan kami selama ini. Sayang baru saja rencana hendak dijalankan keadaan kami sudah begini." ujar Senggana.

"Aku tidak mau mencampuri urusan orang. Aku hanya ingin membantu mengobati penyakit kalian." ujar si kakek yang diam-diam sempat ka- get begitu Senggini menyebut nama Angin Pesut.

"Aku tahu, tapi apakah kau bisa mengem- balikan keadaan kami seperti sebelumnya?" tanya Senggana.

"Aku hanya seorang tabib. Ilmu pengetahu- anku tentang pengobatan boleh luas. Tapi sebagai manusia aku tetap memiliki keterbatasan. Sejauh yang bisa kulakukan hanyalah menyembuhkan. Bukan mengembalikan keadaan tubuh kalian se- bagaimana semula." jawab si kakek. "Jadi  kami  tetap  dalam  keadaan  seperti  ini selamanya?" tanya Senggini kecewa.

Tanpa berani memandang ke arah perem- puan itu si kakek menjawab. "Setiap penyakit pasti ada obatnya. Setiap racun pasti ada penawarnya. Begitulah Gusti Allah dengan kekuasannya yang tak terhingga menjadikan segala sesuatunya seca- ra berpasang-pasangan!" ujar si kakek.

"Tabib, kami bisa memaklumi apa yang kau katakan. Kalaupun kami tak bisa kembali seperti semula. Kami sudah sangat berterima kasih jika kau mampu menyembuhkan penyakit kami. Seka- rang katakan apa yang harus kami lakukan." ujar Senggana.

"Aku membutuhkan daun Sembung, daun Tapa Dara, daun Sambung Nyawa, daun kumis Dewa, daun puteri Pemalu juga air Kencing Dewa. Yang kusebutkan terakhir tak usah dicari karena aku punya persediaannya."

"Kalau begitu biar kucari ramuan yang di- katakan kakek cebol ini, ayah, ibu...!" kata Angga- gana dengan senang hati.

Suami istri itu anggukkan kepala. "Pergilah anakku." ujar Senggini.

Anggagana bangkit berdiri. Sebelum pergi dia berkata pada Tabib Setan."Tabib... jika ternya- ta nanti kau tak mampu menyembuhkan penyakit orang tuaku, kubunuh kau!" ancam pemuda itu.

"Ha ha ha. Usaha di  tangan manusia. Tak- dir di tangan Tuhan." kata si kakek disertai tawa mengekeh.

"Tabib sialan  enak  saja  dia  bicara."  rutuk Anggagana sambil berkelebat pergi.

Sepeninggalnya si pemuda, Tabib Setan berkata. "Dua suami istri raksasa. Maaf, aku ha- rus meninggalkan kalian. Aku akan keluar seben- tar untuk menyiapkan segala sesuatunya." ujar si kakek.

"Baiklah. Tapi awas, jika kau sampai mela- rikan diri, aku pasti akan mencarimu!" ancam Senggana.

"Aku tak akan pergi kemana-mana." kata sang tabib.

Tak lama kemudian si kakek melangkah ke- luar dari rumah yang besar itu. Senggana begitu Tabib Setan berlalu segera merebahkan diri di atas ranjang. Lain halnya dengan Senggini istrinya. Pe- rempuan itu nampak gelisah.

"Tabib Setan, bagaimana aku harus memu- lainya. Setelah kelahiran anakku yang kedua. Se- panjang hidupku dilanda kesunyian. Aku telah lama kehilangan kehangatan dari seorang suami. Aku merindukannya. Apakah mungkin tabib itu mengetahui segala keresahanku?" batin Senggini. Dia mengusap dadanya tepat di bagian yang dibe- lai sang tabib tadi. Perempuan itu mendesah halus disertai sesungging senyum penuh harapan.

TAMAT