Gento Guyon Eps 19 : Dewa Sinting

 
Eps 19 : Dewa Sinting


Hujan deras laksana tercurah dari langit saat Iblis Edan dan gadis cantik berpakaian putih berambut panjang itu melintasi kawasan lembah belantara di sebelah timur gunung Slamet. Suara angin menderu, kabut memutih laksana kapas menghalangi pemandangan. Di langit mendung makin menghitam, kilat menyambar petir meng- gelegar. Di beberapa tempat masih disekitar ka- wasan lembah beberapa pepohonan berderak ber- tumbangan dipulas deru angin kencang.

Dinginnya udara saat itu membuat tubuh pemuda bertelanjang dada dan gadis yang bersa- manya menggigil, gigi bergemeletukan, sedangkan wajah menjadi dingin dan pucat laksana mayat.

"Iblis Edan cari tempat perlindungan dis- ekitar sini. Kita tidak mungkin melanjutkan perja- lanan dalam cuaca buruk begini." kata si gadis yang rambut dan pakaiannya basah di guyur hu- jan.

Pemuda gondrong bertelanjang dada kitar- kan pandangan matanya ke sekeliling tempat itu. Tidak ada yang terlihat dalam keadaan hujan de- ras begitu.

"Bagaimana bisa menemukan tempat ber- lindung, mataku sama sekali tak bisa menembus ke depan lebih dari dua tombak." Pemuda yang mempunyai julukan Iblis Edan menyahuti.

Gadis berpakaian putih yang adalah Mutia- ra Pelangi melirik ke sebelah kiri. Kilat menyam- bar membuat suasana disekitar kawasan dimana mereka berada menjadi terang seketika. Suasana terang yang hanya sekejap itu sudah cukup bagi sang dara untuk melihat sesuatu.

Mutiara Pelangi kemudian berseru pada Ib- lis Edan yang berdiri tegak tak jauh didepannya. "Sobat Iblis Edan ikut aku!"

Sang dara tanpa bicara lagi segera melang- kah mendekati satu pohon besar berdaun rindang dimana pada setiap cabangnya dipenuhi akar- akar gantung yang berjuntaian ke bawah.

Iblis Edan segera mengikuti. Biarpun sua- sana di bawah pohon lebih gelap dari keadaan disekelilingnya, namun tempat itu sangat teduh. Tak ada air hujan yang menetes tembus hingga ke bawah. Hingga mereka tidak ubahnya seperti ber- teduh di bawah atap rumah saja.

Iblis Edan tersenyum, dia mengusap wa- jahnya yang basah terkena siraman air hujan. "Coba kalau kita berada disini sejak tadi, tentu pakaian dan badan kita tidak basah seperti ini." Di bawah kegelapan pohon si pemuda mengomel.

"Rasanya seumur hidup baru kali ini aku melihat hujan sederas ini. Pohon-pohon bertum- bangan. Mungkin semua ini merupakan pertanda buruk." ujar Mutiara Pelangi sedangkan tetap ma- tanya memandang lurus ke depan.

"Aku juga baru melihat hembusan angin segila ini. Tidak bisa kubayangkan bagaimana se- andainya seluruh pohon yang terdapat disekelil- ing kita bertumbangan menghantam kita."

Mutiara Pelangi menyeringai. Dia bergidik ngeri dan tak dapat membayangkan bagaimana andai apa yang dikatakan Iblis Edan benar-benar terjadi.

Beberapa saat berlalu, secara tidak terduga hujan mereda, hembusan angin terhenti. Se- dangkan langit yang tadinya disaput mendung tebal kini nampak terang benderang.

Si gadis dan si pemuda saling berpandan- gan. Lalu Iblis Edan mendadak tertawa tergelak- gelak. Merasa tidak ada yang patut ditertawakan Mutiara Pelangi mendengus sinis, dia cepat pa- lingkan perhatiannya ke arah lain. Di saat seperti itulah dia melihat satu benda berbentuk bulat se- perti bola menggelinding di pucuk deretan pepo- honan sebelah kiri, melayang berpindah dari pu- cuk pohon yang satu ke pucuk pohon yang lain- nya. Benda itu terus bergerak mendekati pucuk pohon dimana saat itu si gadis dan Iblis Edan berteduh di bawahnya.

Sraak.!

Benda besar berbentuk bulat berwarna pu- tih lenyap dari pandangan mata sang dara begitu sampai dipucuk pohon dimana dirinya berada.

Rupanya suara berisik jatuhnya benda po- hon terdengar oleh Iblis Edan. Pemuda yang me- miliki tingkah laku seperti orang sinting ini lang- sung dongakkan kepala memandang ke atas po- hon.

"Aku mendengar sesuatu jatuh di pucuk pohon sana." Gumam Iblis Edan. "Sayang daun dan cabang pohon ini rapat dan gelap, aku jadi tak bisa melihat mahluk apa yang baru jatuhkan diri diatas sana."

"Aku bukan hanya mendengar, tapi juga melihat sosok serba putih seperti bola meng- gelinding diatas pucuk-pucuk pohon. Datangnya dari arah sana, lalu berhenti tepat diatas kita." jawab Mutiara Pelangi sambil menunjuk ke arah mana sosok benda tadi berasal. 

Iblis Edan unjukkan wajah terkejut. "Sosok seperti bola katamu? Tidak ada bola dijaman ini. Yang ada cuma kelapa, mana mungkin ada kelapa berwarna putih, lalu seakan punya nyawa ber- lompatan dari pucuk pohon ke pohon lainnya. Ah... kau pasti sedang mabuk. Walau tempat ini gelap, tapi aku bisa melihat wajahmu pucat, tu- buh menggigil." ejek Iblis Edan disertai tawa per- lahan.

Belum lagi Mutiara Pelangi sempat me- nanggapi ucapan Iblis Edan dari atas ketinggian pohon mendadak sontak terdengar suara tawa bergelak. Suara tawa disertai satu guncangan ke- ras pada pohon diatas mereka. Sang dara terce- kat, sebaliknya kening Iblis Edan berkerut.

"Hebat. Mungkin inilah pohon aneh yang dinamakan pohon setan. Bisa bergoyang dan ter- tawa pula. Ha ha ha." kata pemuda itu sambil ter- tawa seenaknya sendiri.

Mutiara Pelangi si cantik yang memiliki ge- lar Puteri Kupu Kupu Putih memberi isyarat agar Iblis Edan hentikan tawa dengan telunjuk ditem- pelkan diatas bibirnya.

Karena pemuda itu masih saja tertawa si gadis tidak lagi dapat menahan kesabarannya. "Iblis Edan. Jika kau tidak mau diam, aku sum- pal mulutmu dengan dedaunan!" bentak si gadis sambil delikkan matanya.

"Kau mau menyumpal mulutku dengan daun? Apa kau kira diriku ini binatang ternak yang kelaparan? Jika ayam panggang yang kau sumpalkan ke mulut ini aku pasti tidak menolak. Udara begini dingin perutku jadi lapar." Iblis Edan usap perutnya yang rata, matanya berke- dap-kedip mendadak dia tepuk keningnya. "Ah... aku hampir lupa, sebenarnya sejak tadi aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi karena disini agaknya kita tidak sendiri, aku takut segala yang ingin kusampaikan padamu itu didengar oleh pi- hak ketiga. Pelangi bagaimana kalau aku menye- lidik di pucuk pohon ini dulu?"

"Apa yang ingin kau katakan, Iblis Edan. Kau hendak mengatakan siapa dirimu yang sebe- narnya atau kau ingin menawarkan sesuatu yang lain?" tanya Mutiara Pelangi.

Iblis edan tidak menjawab, dia hanya ter- senyum sambil kedipkan matanya sebelah kiri. Sekejap dia mendongak ke atas pohon dimana suara tawa tadi sempat terdengar. Terhalang oleh kelebatan daun-daun yang lebat dia tidak dapat melihat apa-apa.

Masih dengan mata memandang ke atas Ib- lis Edan tiba-tiba membentak. "Orang diatas po- hon siapapun dirimu, jika datang tak mau unjuk- kan diri aku menganggap kau adalah manusia ja- hat." Suara teriakan Iblis Edan bergema merobek kesunyian lembah. Gema suara lenyap. Suasana tetap sunyi.

Iblis Edan jadi penasaran. Mutiara Pelangi baru saja hendak mengatakan sesuatu, namun pada saat itu bagaikan seekor elang Iblis Edan te- lah berkelebat ke atas pohon. Gerakan pemuda ini sungguh cepat luar biasa hingga dalam waktu sekejap tubuhnya telah berpindah dari salah satu cabang ke cabang yang berada di atasnya. Tak lama sosoknya lenyap dari pandangan mata si gadis.

Sementara itu suasana yang semula redup kini telah berubah menjadi terang kembali. Di langit matahari bersinar cerah.

Beberapa saat menunggu dalam kegelisa- han, Mutiara Pelangi mendadak dikejutkan den- gan terdengarnya suara bentakan seseorang di- atas pucuk pohon sana. "Bocah edan, beraninya cari penyakit mengganggu orang yang sedang ti- dur disini. Kalau tak kuberi pelajaran kau hari ini, kelak pasti sikapmu makin bertambah kurang ajar saja!" Kemudian Mutiara Pelangi mendengar satu seruan kaget. Jelas suara Iblis Edan. "Hei... siapa kau? Tidur melingkari pucuk pohon? Ma- nusia apa trenggiling!"

Kemudian terdengar suara tawa mengakak disusul dengan suara robeknya pakaian dan sua- ra bak bik buk dari atas sana. Mutiara Pelangi yang menunggu dibawah jadi kaget, jantung ber- detak keras, tenggorokan tercekat dan wajah pu- cat. Mulutnya sempat keluarkan satu seruan. "Celaka...!"

Dari pucuk pohon kembali terdengar suara jerit diselingi caci maki, kemudian disusul pula dengan terdengarnya suara berkerosakan, seperti ada benda berat terjatuh namun tersendat-sendat karena terhalang beberapa cabang pohon yang terdapat di bawahnya.

Wuuus! Blukk!

Satu sosok tubuh jatuh menggelundung hanya sejarak satu tombak di depan Mutiara Pe- langi. Dalam kejutnya sang dara melompat mun- dur dua langkah, mata terbelalak, tangan kiri di- pergunakan menutup mulutnya yang nyaris men- jerit.

"Iblis Edan apa yang terjadi?" Dalam ka- getnya Mutiara Pelangi berseru. Matanya yang mendelik tetap memandang ke depan dimana so- sok Iblis Edan tergeletak disitu. Celana hitamnya yang komprang tidak berupa celana lagi, hancur tercerai berai seperti dicabik atau seperti terkena suatu benda tajam mirip gergaji.

Celana itu buntung sampai setinggi paha. Yang lebih mengejutkan lagi di bagian kening, pe- lipis kanan dan pelipis sebelah kiri si pemuda nampak benjut besar dan benjol membiru sebesar kepalan tangan. Dalam kagetnya Mutiara Pelangi juga tak mampu menahan tawa melihat keadaan tampang sahabatnya yang acak-acakan tak ka- ruan rupa.

"Sobat Iblis Edan, apa yang kau kerjakan diatas pucuk pohon sana sampai tubuhmu babak belur begitu? Memangnya kau habis cakar- cakaran dengan monyet. Hi hi hi." Iblis Edan mengerang, nafasnya megap- megap dengan matanya yang sipit bengkak lebam ke atas. Dengan langkah sempoyongan pula se- perti orang mabuk pemuda itu bangkit berdiri. "Kau tak salah. Diatas sana memang ada monyet besar tidur bergelung. Semula aku mengira dia ti- dur sungguhan, tidak tahunya dia menipuku. Ku- rang ajar.... jika tidak kuberi pelajaran hatiku mana bisa tenteram!" dengus si pemuda. Dia me- noleh ke arah sang dara. "Pelangi kau menying- kirlah!"

Walaupun si gadis tak mengerti apa yang hendak dilakukan oleh pemuda itu namun dia te- tap menjauh dari bawah pohon. Iblis Edan sung- gingkan seringai, tangan kanan diangkat, tenaga dalam dialirkan ke bagian tangan itu. Tak lama tangan kanan Iblis Edan telah berubah berwarna biru berkilauan. Semula Mutiara Pelangi me- nyangka Iblis Edan hendak memukul bagian atas pohon, tapi ternyata tidak. Tangan yang telah mengandung tenaga sakti dihantamkannya lang- sung ke batang pohon. Justru pada waktu yang bersamaan terdengar suara tawa keras yang dis- ertai terdengarnya suara gemuruh aneh. Mutiara Pelangi yang cepat memandang ke atas begitu su- ara tawa terdengar jadi tercekat. Diapun tanpa sadar berseru. "Iblis Edan, awas...!"

"Keparat!" maki Iblis Edan. Laksana kilat dia menarik tangannya kembali kemudian dengan gerakan cepat laksana kilat dia berjumpalitan ke belakang menjauh dari pohon selamatkan diri.

Brak! Braak! Terdengar suara puluhan cabang pohon ja- tuh terhempas di tanah. Pasir dan kebatuan be- terbangan. Iblis Edan jatuh terduduk dengan wa- jah pucat, tapi mata menyorotkan rasa amarah luar biasa. Apa yang terjadi?

Ketika Mutiara Pelangi memandang ke atas pohon begitu suara tawa terdengar. Tiba-tiba dia melihat satu sosok serba putih bergerak, kemu- dian cecabang pohon berjatuhan seperti ditabas senjata yang sangat tajam. Dari mulai pucuknya dan terus bergerak ke bawah. Hingga dalam wak- tu sekejap pohon menjadi gundul.

Satu sosok serba putih jatuh menggelind- ing menyusuri batang pohon yang gundul. Sosok itu kemudian menggeliat, kakinya yang tak lepas mengapit kepalanya terbuka sosok serba putih duduk, mulut menguap, tangan yang disembu- nyikan dibalik ketiak terbuka. Ternyata di kedua tangan sosok kakek berpakaian serba putih be- rambut putih yang kepalanya botak di bagian be- lakang ini tergenggam dua bilah senjata aneh dengan besar seperti golok, memiliki panjang se- perti pedang, namun di bagian punggung senjata berkelak-kelok seperti mata gergaji.

Sejenak suasana di tempat itu dicekam ke- bisuan. Mutiara Pelangi yang memiliki banyak pengalaman di dunia persilatan begitu melihat dua golok berwarna putih mengkilat di tangan si kakek keluarkan seruan kaget. "Sepasang Golok Kembar Gigi Dewa."

Iblis Edan yang sempat mendengar seruan sang dara berpaling pada si gadis dan me- mandangnya penuh rasa tak mengerti.

"Pelangi, kau kenal dengan kakek yang ke- palanya botak dibagian belakang itu?" bertanya Iblis Edan dengan suara pelan namun mengan- dung kejengkelan.

"Bertemu dengannya baru kali ini. Tapi nama besarnya sering kudengar. Dia manusia gila seperti dirimu, otaknya agak miring seperti otak- mu kalau tak salah dialah orangnya yang memili- ki gelar Dewa Sinting. Setahuku dia berdiam di daerah pesisir Tegal Kramat, lalu mengapa seka- rang dia sampai berkeliaran disini?!"

Walaupun wajah Iblis Edan benjol di sana sini namun dia masih dapat tersenyum dengan mulut terpencong.

"Sialan. Dia sama sekali tidak dapat dis- amakan dengan diriku. Melihat botaknya kurasa dia memang orang gila sungguhan. Tapi sudah te- lanjur kepalang basah, pakaianku dibuatnya se- perti ini, kepala juga jadi tambah jelek begini. Ka- lau semuanya belum dibuat impas, mana mung- kin aku bisa memaafkan!"

"Sobat Iblis Edan. Dia bukan manusia sembarangan. Kau bisa dibuatnya babak belur?"

Belum lagi Iblis Edan sempat menanggapi. Di depan sana di bawah pohon besar yang gun- dul, diatas tumpukan cabang pohon kakek be- rambut putih berbadan kurus yang dikeningnya terdapat sebuah titik merah besar sudah bangkit berdiri. Sejenak dia memandang ke arah Iblis Edan dan Mutiara Pelangi silih berganti. Dua bi- lah golok aneh digerakkan di udara kemudian se- cara perlahan dua golok dimasukkan ke dalam mulut. Dua golok tajam luar biasa amblas lenyap ke dalam mulut si kakek lalu masuk ke dalam pe- rut. Sang dara kembali dibuat tercekat. Apa yang dilihatnya ini adalah satu pemandangan yang sangat luar biasa dan sulit untuk dipercaya. Se- baliknya Iblis Edan yang masih diselimuti pera- saan marah akibat apa yang terjadi pada dirinya hanya mendengus sinis sambil berkata mencibir. "Segala permainan sihir seperti itu cuma pantas diperlihatkan pada anak kecil. Ingat kau punya hutang celana dan benjolan di jidatku. Sebelum aku meminta kau membayarnya. Aku juga akan perlihatkan padamu sesuatu yang tak pernah kau lihat seumur hidup!"

Kakek tua yang menelan dua bilah golok- nya sendiri berdiri sambil berkacak pinggang. Ke- pala mendongak mulut mengumbar tawa. "Pemu- da edan? Apa yang hendak kau perlihatkan pada- ku?" tanya si kakek sinis.

Iblis Edan sama sekali tidak menjawab. Sepasang matanya berkedap-kedip. Dia berfikir inilah kesempatan baginya untuk membalas dan mengerjai kakek yang tidak dikenalnya itu.

2

Tidak lama dua tangan Iblis Edan disilang- kan diatas kepala. Ketika dua tangan itu saling bersilangan begitu rupa, Iblis Edan keluarkan su- ara racauan aneh. Tak lama tubuhnyapun berge- tar. Suara racau semakin lama semakin bertam- bah keras, bersamaan dengan itu pula dari tan- gan yang bersilangan diatas ubun-ubun mengepul asap tipis. Asap tipis ternyata tidak saja keluar dari bagian kepala, namun juga dari seluruh tu- buh si pemuda.

"Apa yang hendak dilakukan oleh Iblis Edan ini?" pikir Mutiara Pelangi yang merasa he- ran melihat apa yang terjadi pada Iblis Edan. Se- baliknya kakek aneh yang datang dengan cara bergelung menggelinding seperti trenggiling sung- gingkan seringai mengejek. Tapi seringai kakek ini mendadak lenyap begitu melihat sosok Iblis Edan yang sekujur tubuhnya diselimuti asap putih mendadak raib dari pandangan. Dalam kagetnya si kakek memandang kesekitar tempat itu.

"Bocah gila calon muridku. Kau hendak mengelabuhi Dewa Sinting? Ha ha ha. Bagaimana bisa kejadian orang gila bisa mengelabuhi orang waras!" kata orang tua itu sinis disertai tawa ter- gelak-gelak.

Tidak ada suara apapun begitu gema suara si kakek lenyap. Mutiara Pelangi sendiri tidak ta- hu apa yang dilakukan Iblis Edan. Yang jelas tak begitu lama kemudian dia melihat si kakek yang mengaku dirinya sebagai Dewa Sinting itu nam- pak berjingkrak-jingkrak sambil mendekap perut- nya kalang kabut.

"Bocah keparat ! Beraninya kau menggelitik tubuhku!" teriak si kakek. Si kakek berteriak mengatakan dirinya digelitiki. Tapi sesungguhnya sang dara tidak melihat ada orang berada di seki- tar orang tua itu. Agaknya Iblis Edan yang ternya- ta memiliki ilmu melenyapkan diri itu kini mulai mengerjai si orang tua.

Beberapa saat kemudian orang tua ini me- lompat mundur. Sumpah serapah menghambur dari mulut si orang tua. Dengan wajah pucat si kakek memandang ke depan. Kemudian dia membentak. "Bocah kadal, punya hubungan apa kau dengan Ageng Tirtomoyo?"

Pertanyaan si kakek disambut dengan tawa panjang bergema. Jelas yang tertawa adalah Iblis Edan. Namun pemuda itu sendiri tak terlihat, le- nyap. Seolah dirinya adalah setan gentayangan.

"Tua bangka gila mengaku bergelar Dewa Sinting. Rupanya kau kenal dengan kakek Ageng Tirtomoyo alias Paduka Diraja Iblis. Kalau kau mau tahu dia adalah guruku." sahut iblis Edan yang hanya suaranya saja bergema di tempat itu.

"Ha ha ha. Rupanya kau murid Iblis kesa- sar dari Wadaslintang itu. Sejak pertama kali aku mengikutimu aku memang sudah menduganya. Pantas aku melihat ketidak beresan pada otak- mu." kata Dewa Sinting disertai tawa bergelak. Setelah diam sejenak orang tua itu melanjutkan ucapannya. "Aku tahu Ageng Tirtomoyo memiliki ilmu pengecut melenyapkan diri. Sekarang se- baiknya kau tunjukkan dirimu, karena begitu ba- nyak yang ingin kubicarakan denganmu!"

Iblis Edan mendengus, apa yang terjadi pada diri dan wajahnya membuat pemuda yang tengah berada dalam penerapan ilmu menghilang ini tak menghiraukan perintah Dewa Sinting sa- ma sekali.

"Kau manusia sinting kakek tua. Engkau mengira diriku siapa? Anak bukan, saudara bu- kan, keponakan juga bukan? Enak saja kau men- gatur diriku? Lihat ke samping kananmu!" teriak Iblis Edan.

Terpancing oleh ucapan Iblis Edan, maka laksana kilat Dewa Sinting cepat palingkan wa- jahnya sekaligus memandang ke arah sebelah ka- nannya. Justru pada waktu bersamaan dari arah sebelah kiri terdengar suara desiran halus disertai dengan terdengarnya suara benda keras memben- tur kepala Dewa Sinting.

Plak!

Si kakek terhuyung, tubuhnya nyaris ter- pelanting. Sempoyongan dia bangkit, mulutnya mendamprat sambil menjerit marah. Belum lagi suara jeritan lenyap terdengar suara robeknya pakaian.

Bret! Breet!

"Keparat kurang ajar!" maki si kakek begitu melihat bahu pakaiannya robek besar. Dewa Sint- ing menjadi kalap, tapi mulutnya keluarkan tawa panjang bergema. Setelah itu sambil tertawa den- gan tidak terduga dia hantamkan dua tangannya ke delapan penjuru arah. Sedikitnya sepuluh larik sinar putih menyilaukan berhawa panas luar bi- asa menderu di udara.

Mutiara Pelangi yang berdiri tegak tak jauh dari kakek itu jatuhkan diri bergulingan menjauh sambil memaki. "Orang tua kau seperti orang ku- rang waras saja. Datang dengan tujuan tidak je- las, kini mengamuk seperti setan gentayangan." Baru saja sang dara berlindung dibalik ba-

tu besar. Disekitar tempat itu terdengar suara le- dakan berdentum delapan kali berturut-turut. Se- saat lamanya suasana dikawasan lembah laksana diguncang gempa hebat. Si kakek tertawa berge- lak. Tapi suara tawanya mendadak lenyap begitu terdengar suara tawa lain yang disertai dengan ucapan. "Tua bangka gila bergelar Dewa Sinting. Gelaranmu memang sesuai dengan tingkat kewa- rasan otakmu. Dari sini, dari atas ketinggian ini aku melihat delapan lubang besar menganga hi- tam akibat pukulan hebat yang kau lepaskan. Aku bangga dengan apa yang terjadi. Hebat. Ha ha ha!" kata Iblis Edan yang kini sosoknya kem- bali terlihat dan saat itu si pemuda duduk me- nangkring di atas pohon di sebelah kanan si ka- kek. Dengan tenang si pemuda melanjutkan. "Pamer ilmu pamer kehebatan boleh saja. Tapi ji- ka harus pamer aurat bulukan didepan gadis se- cantik sahabatku Mutiara Pelangi apakah tidak merasa malu? Ha ha ha!"

Mutiara Pelangi yang sempat melihat cela- na putih si kakek melorot sampai sebatas lutut dengan muka merah langsung palingkan wajah memandang ke jurusan lain. Sebaliknya si kakek yang sekujur tubuhnya memutih laksana kapas jadi terkejut besar. Cepat dia memandang ke ba- wah, kalang kabut Dewa Sinting tarik celananya ke atas, sambil memaki. "Setan! Berani kau mem- permalukan aku? Kubunuh kau nanti!"

Di atas pohon Iblis Edan menyambut ma- kian si kakek dengan tawa bergelak. Tangannya dilambaikan, ternyata dalam genggaman Iblis Edan menjuntai kain putih ikat pinggang celana si kakek yang berhasil direnggut lepas begitu dia habis menghantam kepala Dewa Sinting tadi. Wa- laupun Iblis Edan mengumbar tawa, namun da- lam hati kaget juga melihat hantamannya tadi ti- dak membawa akibat apapun bagi orang tua itu.

"Tua bangka gila itu punya ilmu apa. Ku- hantam dia dengan pengerahan seluruh tenaga dalam yang kumiliki. Jangankan pecah, benjol seperti benjolan di jidatku pun tidak."

Sementara itu Dewa Sinting setelah sibuk membenahi celananya jadi terkejut. Dia merasa ada sesuatu yang hilang. Jelalatan dia mencari- cari. Di atas pohon sambil berucang-uncang kaki Iblis Edan menyeletuk. "Sejak tadi kau sibuk me- megangi celanamu, kalau kufikir kau memang mirip bocah lima tahun. Orang tua sinting, ber- pakaian saja tidak beres, apakah kau mencari tali pengikat celanamu?!"

Wajah si kakek mendadak berubah jadi pucat. Dia memandang ke atas. Mulutnya tern- ganga begitu melihat Iblis Edan melambai- lambaikan selembar kain putih selebar dua jari tangan dengan panjang tak lebih dari setengah depa.

"Bocah kurang ajar, serahkan tali...!" Dewa Sinting yang sempat melirik ke arah Mutiara Pe- langi tak jadi teruskan ucapannya.

Iblis Gila menanggapi. "Tali kolormu? Ha ha ha. Benda ini tidak akan kukembalikan kepa- damu sebelum kau memberikan obat yang dapat melenyapkan beberapa benjolan di wajahku."

"Bocah Edan?" rutuk si kakek.

"Aku memang Iblis yang penuh keedanan. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya pada- mu? Ha ha ha."

"Serahkan barangku!" hardik si kakek. "Yang ada ditanganku bukan barangmu.

Aku hanya mengambil tali pengaman pelindung- nya. Ha ha ha."

"Kurang ajar." maki si kakek. Mendadak dia angkat tangan kanannya siap melepaskan pu- kulan ke atas, dimana Iblis Edan duduk tenang di salah satu cabang pohon. Sedangkan tangan kiri dipergunakan untuk memegangi bagian depan ce- lana putih.

Sadar dengan apa yang hendak dilakukan oleh si kakek. Iblis Edan berteriak mengancam. "Berani kau melepaskan pukulan ke arahku, ku- hancurkan kain sabuk pengaman celanamu ini. Aku tidak akan malu berjalan dengan muka bo- nyok benjut begini. Tapi kau pasti akan menjadi tontonan para bocah berjalan dengan pakaian ke- dodoran begitu rupa. Cepat serahkan obat yang kuminta, atau kau segera melihat pengaman ce- lanamu ini hangus menjadi bubuk tak berguna!" sambil mengancam, Iblis Edan salurkan tenaga dalam berhawa panas kebagian tangannya yang memegang kain putih itu. Melihat apa yang dila- kukan oleh si pemuda si kakek berseru. "Hei, jan- gan kau hanguskan sabuk itu. Bbb... baiklah, aku mengalah. Aku akan berikan obat yang kau minta." Berkata begitu si kakek keluarkan sebuah benda berbentuk bulat berwarna hitam. Melihat pil ditangan si kakek Iblis Edan kedipkan ma- tanya.

"Ini obat yang kau minta, sekarang kau lemparkan sabuk ditanganmu ke bawah. Supaya adil aku akan lemparkan pil ini ke atas!" kata si kakek.

"Baik. Tapi awas jika kau berani menipu- ku.!" kata si pemuda.

Dewa Sinting menanggapi ucapan si pemu- da dengan tertawa.

Tanpa bicara Dewa Sinting lemparkan obat penghilang memar yang diminta oleh si pemuda. Sementara Iblis Edan melemparkan sabuk pen- gaman pinggang celana si kakek ke bawah.

Wuuut! Tep!

Tep!

Dalam satu gerakan yang sangat cepat. Baik si kakek maupun Iblis Edan berhasil me- nangkap benda yang diinginkan masing-masing. Jika Dewa Sinting cepat lilitkan kain putih ke pinggangnya, sebaliknya Iblis Edan cepat masuk- kan obat yang dilemparkan si kakek ke dalam mulutnya.

Beberapa saat setelah menelan obat, Iblis Edan merasakan wajahnya menjadi panas laksa- na dipanggang. Tapi bersamaan dengan itu pula satu keanehan terjadi. Empat benjolan besar di wajah pemuda itu langsung lenyap. Iblis Edan mengusap wajahnya pulang balik. Dia berseru kegirangan. "Ha ha ha. Segalanya kembali mulus. Aku tidak jadi menanggung derita malu." kata pemuda itu. Sambil tertawa senang Iblis Edan la- kukan satu gerakan satu loncatan. Tubuhnya berputar di udara dan kemudian jatuh dengan kedua kaki menjejak tanah tidak jauh di samping Mutiara Pelangi. Si gadis pandangi pemuda itu se- jenak, dia menjadi kagum melihat daya kerja obat pemberian si kakek yang demikian cepat. Tapi ra- sa takjub melihat wajah si pemuda kemudian be- rubah menjadi kaget saat matanya melihat adanya sesuatu yang berubah pada kulit wajah Iblis Edan.

"Sobat Iblis  Edan, wajahmu?!" seru sang

dara.

"Hah, wajahku kenapa Pelangi?" tanya Iblis

Edan terkesiap. Dia mengusap wajahnya. Wajah itu sama sekali tidak berubah, halus rata, tapi mendadak pemuda itu merasakan bagian wajah- nya dijangkiti gatal-gatal yang demikian hebat, hingga dia ini menggaruknya tiada henti.

"Wajahmu merah seperti tomat matang." Mutiara Pelangi memberi tahu. Iblis Edan meng- gerung, rasa gatal bukan saja hanya terjadi diba- gian wajah, tapi beberapa saat kemudian menja- lar ke sekujur tubuh. Sehingga sang iblis nampak begitu menderita karena tangannya terpaksa be- kerja keras menggaruk sekujur tubuhnya.

Dewa Sinting tertawa tergelak-gelak. Mutia- ra Pelangi tercengang dan tak tahu harus berbuat apa.

"Iblis Edan...! Kau tak pantas menyandang gelar iblis. Kau hanya seorang bocah tolol yang gampang diperdaya. Kuakui kau memang berhasil membuat aku hampir menderita malu besar. Tapi kecerobohanmu yang mudah diperdaya oleh orang lain membuatmu harus mau menjadi mu- ridku selama dua puluh purnama. Ha ha ha."

Iblis Edan yang merasa telah ditipu si ka- kek menjadi marah sekali. Dia melompat maju sambil berteriak. "Buat apa aku berguru pada manusia gila sepertimu? Sejak kecil aku telah berlatih diri mempelajari segala ilmu yang ditu- runkan oleh guruku. Dewa Sinting lebih baik simpan mimpimu, kau tidak pernah bisa men- gambilku sebagai seorang murid, sebaliknya lebih bagus kau serahkan obat penawar racun gatal- gatal ini. Sekarang...!"

Dewa Sinting kembali umbar tawanya. Se- jurus dia memandang ke arah Iblis Edan yang nampak terus sibuk menggaruk. Disertai senyum mengejek dia kemudian berkata. "Bocah, racun yang mendekam ditubuhmu sangat ganas. Kau tidak mungkin dapat bertahan hidup dalam wak- tu lebih dari satu purnama di depan. Sebelum ajal itu nantinya menghampiri dirimu, rasa gatal se- makin menghebat. Kemudian tubuhmu membu- suk, lalu kulitmu hancur daging leleh seperti ti- mah yang dicairkan. Gurumu sekalipun tak akan sanggup memberikan obat yang dapat menyem- buhkan dirimu. Racun Gelugut Pring Biru tidak bisa dianggap mainan. Jadi kau hanya punya sa- tu pilihan, datang ke Tegal Kramat untuk menjadi muridku atau mati sia-sia secara tersiksa!" "Kurang ajar. Aku tidak pernah bermimpi menjadi murid kakek sinting sepertimu. Mengaku sebagai seorang Dewa tapi memiliki hati keji seja- hat setan. Lagipula aku banyak urusan!" dengus si pemuda.

"Aku tahu urusanmu, Rumpati. Bukankah kau putera Karma Sudira. Manusia jujur yang menjadi korban fitnah keji Adipati Surya Lagala- pang yang kini menjabat sebagai adipati Purbo- linggo. Ha ha ha."

Iblis Edan tentu saja dibuat kaget menden- gar Dewa Sinting menyebut nama kecilnya. Ba- gaimana kakek setengah gila ini bisa mengenali siapa dirinya bahkan tahu pula siapa orang tua- nya.

Mutiara Pelangi juga tidak kalah kaget. Dia yang selama ini memang mencari jejak ke- beradaan anak-anak pamannya Karma Sudira nampak tercengang.

"Dewa Sinting bagaimana bisa mengenal namaku?" tanya Iblis Edan dengan suara terce- kat.

"Ha ha ha. Perlu apa kau bertanya. Bukan- kah kau juga punya seorang adik yang pada saat terjadi bencana mengenaskan itu belum diberi nama?!"

"Hah... kau tahu juga?" desis si pemuda. "Aku bahkan tahu silsilah keluargamu.

Aku mengenal dirimu tidak ubahnya seperti men- genali telapak tanganku sendiri."

"Lalu apakah kau tahu dimana ayahku dan adikku sekarang?" tanya Iblis Edan. wa. Si kakek dongakkan wajahnya, lalu terta-

Beberapa saat kemudian begitu tawanya lenyap dia berucap. "Ayahmu aku tidak tahu be- rada dimana? Ketika aku datang ke Ladang Wa- das Cimangu, penjara itu telah kosong. Aku hanya menemukan bangkai tengkorak penjaga yang telah membusuk. Sedangkan mengenai adikmu, silahkan cari sendiri. Tapi jika kau mau menjadi muridku, aku berjanji akan memberikan penawar racun gatal-gatal ditubuhmu. Selain itu aku juga akan membantu mencarikan adikmu. Hanya itu saja!"

Mendengar ucapan Dewa Sinting, si pemu- da terdiam. Sedangkan Mutiara Pelangi yang se- dari tadi lebih banyak diam dan setelah mengeta- hui siapa Iblis Edan yang sebenarnya tanpa ragu lagi dan secara tak terduga langsung melompat kedepan. Dua langkah di depan si kakek, sang dara hentikan langkah, kemudian dia berkata. "Orang tua, nama besarmu sudah sering aku mendengarnya. Konon menurut yang kudengar kau adalah manusia berhati baik. Tak kuduga apa yang kudengar selama ini ternyata hanya be- rita kosong belaka. Orang tua, berikan obat pe- munah racun gatal itu pada saudaraku Iblis Edan. Jika tidak aku telah bertekad mengadu jiwa denganmu!" kata si gadis.

Kini Iblis Edan jadi yang dibuat kaget. Ba- gaimana mungkin Mutiara Pelangi mengakuinya sebagai saudara. Padahal kenalpun dengan gadis ini dia baru beberapa hari saja. Edan. "Pelangi apa maksudmu ...?" tanya Iblis

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, Rumbapati. Sebaiknya kita gabungkan kekuatan untuk menempur tua bangka sinting ini sebelum racun glugut Pring Biru membuat tubuhmu leleh menjadi bubur sebagaimana yang dikatakannya!" tegas sang dara.

"Pengakuanmu membuat aku bingung. Ba- nyak yang ingin kuketahui, banyak pula yang in- gin kutanyakan begitu kau mengakui diriku yang buruk ini sebagai saudaramu. Tapi aku juga tidak mau wajahku hancur menjadi bubur. Tunggu apa lagi, mari kita serang dia!" teriak Iblis Edan.

Dua sosok tubuh berkelebat laksana kilat disertai teriakan menggeledek. Di depan sana De- wa Sinting ganda tertawa dan tetap tegak ditem- patnya. Padahal pada waktu itu dia melihat em- pat tangan berkelebat menghantam empat bagian tubuhnya yang paling mematikan. Dan dia tahu pula masing-masing serangan yang dilancarkan oleh sang dara dan si pemuda sama-sama berba- haya dan mengandung tenaga dalam tinggi.

Sesaat lagi, empat pukulan lawan menda- rat di tubuhnya sambil tertawa Dewa Sinting la- kukan gerakan dengan mendorong dua tangan. Tangan kiri di dorong ke arah Mutiara Pelangi, sedangkan tangan kanan digerakkan ke arah Iblis Edan. Dua gerakan mendorong tangan itu terke- san hanya seperti gerakan biasa saja. Tapi aki- batnya membuat si gadis terjungkal, bergulingan di tanah lalu bangkit dengan dada sesak, muka pucat dan lutut bergetar.

Tak jauh disampingnya Iblis Edan walau tidak sampai roboh tapi tubuhnya sempat oleng, kaki tertekuk, kepala yang menjadi sasaran do- rongan tangan Dewa Sinting laksana mau mele- dak.

Bila Iblis Edan memandang kedepan sam- bil menggaruk sekujur tubuhnya dia melihat De- wa Sinting sunggingkan senyum sinis.

"Bocah, Segala ilmu kepandaian yang kau miliki masih belum ada seujung kuku ini." kata Dewa Sinting sambil jentikkan kuku jari keling- kingnya. "Karena itu kau masih punya waktu un- tuk datang ke Tegal Kramat. Obat racun Pring Bi- ru ada di sana, Selamat tinggal!" berkata begitu secara tak terduga Dewa Sinting lesatkan tubuh- nya ke udara.

"Kau hendak kabur kemana dewa gila?" se- ru Iblis Edan. Tidak memberi kesempatan pada si kakek untuk tinggalkan tempat itu, Iblis Edan berlari mengejar sambil lepaskan pukulan jarak jauhnya.

Wuuus!

Dua larik sinar biru laksana mata pedang menderu menghantam ke arah lenyapnya Dewa Sinting.

Glar! Glaar!"

Dua letupan keras menggema diudara. Asap tebal mengepul api berkobar. Ketika asap tebal lenyap Dewa Sinting juga lenyap. Di kejau- han sana lapat-lapat terdengar suara tawa dan suara seperti orang mengomel. "llmumu masih hijau, kalau kau mau ma- sih ada waktu bagimu untuk bisa menjadi iblis beneran. Gelo betul."

"Setan, ke neraka sekalipun aku akan mengejarmu. Terkecuali kau mau memberikan obat penawar racun itu." kata si pemuda.

Seakan lupa pada Mutiara Pelangi yang saat itu baru saja bangkit berdiri, Iblis Edan sege- ra mengejar dan tinggalkan tempat itu.

"Iblis Edan, tunggu aku!" teriak si gadis memanggil pemuda yang ternyata adalah putra pamannya sendiri. Gaung suara si gadis lenyap. Suasana kembali sunyi. "Iblis Edan... kakek sint- ing itu jelas bukan tandingannya. Aku harus me- nyusul, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada sau- daraku itu." fikir Mutiara Pelangi.

Kemudian si gadis segera berkelebat pergi tinggalkan lembah itu.

3

Kabut tipis berwarna putih dalam bentuk seperti sosok manusia itu bergerak mengambang dua jengkal diatas permukaan tanah. Sejak tadi kabut ini melesat laksana hembusan angin. Di sa- tu tempat di tengah-tengah hamparan padang rumput yang luas gerakan kabut yang ujudnya seperti bayangan manusia itu terhenti. Tak jauh dibelakangnya sejarak empat tombak seorang pemuda berambut gondrong yang mengikuti den- gan perasaan heran ikut pula berhenti. "Aneh, ada kabut bentuknya seperti ini. Bergerak seperti bayangan manusia. Mungkin in- ilah yang dikatakan setan sungguhan. Baiknya biar kupukul saja dia!" Si Gondrong membatin dalam hati. Dia salurkan tenaga dalam ke tangan kanan, tapi urung begitu melihat ranting pohon kering tergeletak disitu. Ranting dipungutnya, la- lu dipukulnya ke depan.

Wuuut! "Hah...!"

Si gondrong bertelanjang dada melengak kaget begitu melihat kabut putih melejit ke atas. Si gondrong dalam kagetnya jadi penasaran. Lalu gerakkan ranting ke atas.

Wuus!

Kembali si gondrong keluarkan seruan ka- get, mata dipentang, wajah diusap beberapa kali. Seakan mengerti kabut dalam bentuk bayangan manusia bergerak lebih tinggi ke udara, hingga sabetan ranting tidak mengenai sasaran. Malah kabut itu kini bagai ditiup angin terus membu- bung tinggi di udara. Akhirnya berhenti diam, du- duk disana di atas pucuk pohon anak cemara.

"Gila. Kalau manusia mana ada yang sang- gup duduk diatas pucuk pohon tanpa membuat pohon bergoyang. Mungkin saja dia setan bena- ran. Setan yang baik, bukan yang usil. "gumam si gondrong.

Beberapa saat dia terdiam, kepala dige- lengkan seakan tak percaya dengan apa yang dis- aksikannya saat itu.

Si gondrong tersenyum. "Setan baik, apa yang kulihat hari ini membuat aku ingin berlama- lama disini. Sayang sekali waktuku sangat sem- pit. Ada satu tugas penting yang harus kuselesai- kan. Jadi sekarang aku harus pergi." Si gondrong bertelanjang dada bercelana biru ini lalu balikkan badan siap melangkah pergi. Tapi belum lagi sempat dia langkahkan kaki di belakangnya ada desiran halus bergerak cepat ke arahnya. Kemu- dian si gondrong yang adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon merasakan ada satu tangan me- nyambar dada, membetot kalung yang ter- gantung disitu. Satu sentakan yang sangat keras tidak membuat kalung terbetot lepas, malah tu- buh si pemuda ikut terbetot dan terseret.

Si pemuda berseru kaget, mulutnya mema- ki, tubuh terbanting begitu tangan yang menarik kalungnya seperti dilepas.

"Kurang ajar, siapa yang menarik kalung- ku?!" damprat murid si kakek gendut Gentong Ke- tawa marah. Laksana kilat pemuda itu bangkit berdiri, dia lalu memandang ke arah mana orang yang merampas kalungnya di perkirakan berkele- bat. Tapi dia tidak melihat apa-apa. Ingat akan kabut yang menyerupai bayangan manusia tadi, Gento pun memutar, badan dan memandang ke arah pucuk anak pohon cemara. Gento melegak kaget, kabut putih tadi ternyata lenyap entah ke- mana.

"Kalungku Batu Raja Langit seperti ada yang membetot. Kabut yang kulihat seperti orang duduk diatas pohon tadi juga tidak kelihatan. Ku- rang ajar betul. Dasar setan, baru saja kukatakan baik, langsung tunjukkan wataknya yang asli."

Gento usap mata kalung yang tergantung dilehernya. Dia tersenyum sendiri. Masih dengan tersenyum mulutnya berucap. "Dasar maling se- tan tolol. Aku sendiri saja dulu tak pernah sang- gup melepaskan kalung ini, apalagi hanya seo- rang maling. Ha ha ha!"

Walau hatinya masih diliputi rasa penasa- ran pemuda ini melangkah pergi. Baru beberapa langkah Gento menindak, mendadak langkahnya surut. Dia memandang ke depan, mata diusap, la- lu kembali memandang sejauh dua tombak di de- pannya.

"Sulit kupercaya. Tadi aku tidak melihat ada orang berdiri disitu. Kini bagaimana tahu- tahu orang tua itu bisa muncul disitu. Apa mungkin dia orangnya yang telah berusaha me- rampas kalungku?" batin Gento dalam hati.

Sementara itu sosok berpakaian hitam be- rujud kakek tua berambut putih masih tetap te- gak ditempatnya sedangkan sepasang mata me- mandang ke arah kalung yang tergantung dileher Gento.

"Orang tua ini siapa dia adanya? Dia me- mandangku dengan tatap matanya yang aneh. Tapi aku merasa yakin dialah orangnya yang te- lah berlaku jahil membetot mata kalungku."

"Anak muda. Apa yang baru kau ucapkan tadi. Hatimu mengatakan aku hendak merampas barang rongsokan itu?" tanya si kakek tiba-tiba. Mulutnya berkata begitu, tapi matanya meman- carkan kilatan rasa kagum terhadap kalung yang dipakai Gento.

"Eeh, bagaimana orang tua itu bisa tahu apa yang ada dalam hatiku?!" fikir Gento.

"Aku tidak mengatakan apapun. Apa kau mendengar aku ada mengatakan sesuatu?" Si ka- kek gelengkan kepala, tapi bibirnya tersenyum. "Anak muda siapa namamu?" Ditanya tentang namanya Gento tidak langsung menjawab, seba- liknya malah ajukan pertanyaan, "Orang tua apa- kah kau tidak melihat ada orang di sekitar tempat ini tadi?"

"Ada yaitu dirimu sendiri."

"Aku bertanya sungguhan, orang tua!" kata pemuda itu kesal.

"Aku juga menjawab dengan sungguhan pula. Hanya kulihat sekejap tadi kau bersikap se- perti orang linglung, bicara sendiri tersenyum sendiri. Aku juga melihat kau bicara dengan po- hon. Semula aku menduga dirimu pasti manusia kurang waras. Ternyata...!" Si kakek sengaja tidak melanjutkan ucapannya hingga membuat Gento penasaran. "Ternyata apa orang tua?!" desak si pemuda ingin tahu.

"Ternyata otakmu memang rada-rada mir- ing! Ha ha ha."

Dikatai otaknya rada miring Gento menjadi sewot. "Orang tua siapa bilang aku bicara dengan pohon. Siapa kata aku tertawa sendiri?"

"Kau tak berani mengakui kenyataan yang aku lihat. Jadi kau tadi bicara dan tertawa den- gan siapa? Setan?"

"Orang tua, tadi aku melihat satu keane- han. Aku melihat berbentuk seperti bayangan ma- nusia. Aku mengikutinya, kabut berhenti disini lalu duduk di pucuk anak pohon cemara itu. Aku bicara sendiri karena merasa heran, aku tertawa karena ada yang kuanggap lucu. Lalu apa aneh- nya?!"

Si kakek tersenyum lagi. "Kau mentertawai kabut yang bergerak sesuai dengan kehendak an- gin bertiup, apakah itu tidak gila namanya.!"

Merasa kesal dirinya dikatakan orang gila, maka dengan ketus dan sinis Gento menjawab. "Terserah kau beranggapan diriku ini apa. Aku banyak urusan. Sekarang aku harus pergi.!" begi- tu selesai bicara Gento gerakkan kakinya siap berkelebat tinggalkan si orang tua. Tapi menda- dak si kakek goyangkan bahu kirinya. Begitu ba- hu orang tua itu bergoyang, Gento merasakan ada satu tenaga yang tidak terlihat seperti menarik tubuhnya ke arah kiri hingga membuat pemuda itu terhuyung dan nyaris tersungkur.

Di depan sana si kakek tertawa bergelak. Berlagak seperti orang pilon dia gelengkan kepala. "Panas begini terik, kau tidak sedang berlayar di tengah laut mengapa bertingkah seperti orang mabuk? Anak muda lagipula kau belum memper- kenalkan diri. Atau memang sejak kecil kau tak pernah diajarkan bersikap santun berhadapan dengan orang yang lebih tua darimu?"

Mendengar ucapan si kakek Gento semakin jengkel. Dia tahu pasti kakek itu telah menger- jainya. Berpura-pura goyangkan bahu, padahal dia kerahkan tenaga dalam lalu tarik tangan ki- rinya dari jarak jauh.

"Kurang ajar. Aku tahu ilmunya tinggi, Il- mu tinggi buat apa jika dipakai menjahili orang?" rutuk pemuda itu.

"Buat apa memperkenalkan nama segala. Kau sendiri orang asing bagiku, siapa tahu kau- lah orangnya yang hendak merampas kalungku tadi. Mungkin boleh jadi kau pula yang tadi me- rubah ujudmu menjadi kabut sialan. Perduli apa?" dengus Pendekar Sakti 71 Gento Guyon me- luapkan kekesalannya.

"Ha ha ha. Jika semua yang kau katakan itu memang benar adanya, kau hendak berbuat apa anak muda?"

Jawaban si kakek membuat Gento jadi ter- cengang. Jelas dia berhadapan dengan orang tua berilmu tinggi. Tapi mengapa tadi dia berusaha merampas ke arah si kakek dengan hati curiga.

"Kalung di dadamu itu, walau hanya beru- pa batu butut bulukan pasti bukan batu biasa kan. Hemm... aku tahu sekarang kalung itu pasti Batu Raja Langit. Anak muda, katakan apa hu- bunganmu dengan Manusia Seribu Tahun, ba- gaimana kau bisa bertemu dengannya?" tanya si kakek unjukkan wajah kaget begitu mengenali kalung yang dipakai si pemuda. Dalam hati dia membatin. "Pantas tadi aku tak berhasil membe- tot lepas kalung itu. Pemuda ini ternyata sungguh luar biasa. Konon kudengar kalung batu Raja Langit bila sudah dipakai oleh seseorang tidak mudah diambil atau dirampas, jangankan orang lain pemiliknya sendiri tak sanggup melepaskan- nya."

Sementara itu dalam kagetnya Gento jadi

ajukan pertanyaan pula. "Orang tua, siapa dirimu yang sebenarnya. Bagaimana kau mengenal ka- kek Seribu Tahun?"

"Aku Ageng Tirtomoyo, orang biasa me- manggilku dengan Paduka Diraja Iblis. Walau ju- lukanku begitu buruk, iblis yang sebenarnya ada di neraka, sedangkan aku manusia sebagaimana dirimu. Mengenai bagaimana aku bisa mengenal Manusia Seribu Tahun, nanti bila kau bertemu dengan orang tua itu silahkan kau tanya sendiri padanya. Terus terang kalung batu seperti itu di dunia ini pemilik satu-satunya adalah orang tua yang kusebutkan tadi. Sekarang katakan apa hu- bunganmu dengan orang tua itu?" tanya si kakek, suaranya kini berubah lunak bersahabat.

"Orang tua itu boleh dikatakan guruku sendiri. Aku bertemu dengannya sekitar lima purnama yang lalu." sahut Gento.

Si kakek terdiam, matanya membulat be- sar. Dia berfikir, tidak mudah orang bisa bertemu dengan Manusia Seribu Tahun. Disamping tempat kediamannya saja tidak ada yang tahu secara pasti. Tidak disembarang tempat kakek itu mun- culkan diri. Lagipula dia hanya mau menjumpai orang-orang tertentu yang diinginkannya saja. Ka- laupun seseorang berhajat ingin bertemu dengan- nya sampai setahunpun mencari orang tua itu ti- dak bakal ketemu.

"Anak muda kalau aku boleh tanya bagai- mana kau bisa bertemu dengannya." tanya si ka- kek. Gento tersenyum. Dia jadi ingat kejadian be- berapa purnama silam. Waktu itu dia dan gu- runya berada di sebuah gedung tua di tepi sungai Ronggo Topo Wates. Dalam gelapnya malam tiba- tiba ada angin bagaikan puting beliung menye- rang mereka dan melenyapkan sang guru si Gen- dut Gentong Ketawa. Tak lama setelah gurunya lenyap muncul sosok kakek serba putih yang tu- buhnya meliuk-liuk seperti kabut. Kakek itu membawa si pemuda ke suatu tempat. Di tempat yang serba aneh itulah Gento mendapat gemblen- gan dari si kakek setengah manusia setengah ar- wah. Untuk lebih jelasnya (baca episode Ki Anjeng Laknat).

"Bukan aku yang menemuinya, tapi dia yang menjumpai aku dan membawaku ke suatu tempat yang tak dapat kuceritakan." jawab Gento beberapa saat kemudian.

"Kau pemuda yang beruntung. Ketahuilah tidak sembarang orang bisa bertemu dengan orang tua itu. Terkadang dicari susah sekali. Ti- dak dicari malah munculkan diri. Manusia Seribu Tahun adalah orang yang tingkat kesaktiannya hampir sempurna. Golongan putih menganggap dia seorang sesepuh yang sangat dihormati. Oh ya... siapa namamu anak muda?" tanya Ageng Tirtomoyo.

"Namaku Gento Guyon. Dunia persilatan memberiku gelar jelek Pendekar Sakti 71."

Mendengar Gento menyebut nama dan ge- larannya si kakek tercengang, lalu tanpa sadar dia tepuk keningnya sendiri. "Ah. bagaimana aku bisa sampai berubah pikun begini. Pendekar Sakti 71 Gento Guyon?! Bukankah kau murid ka- kek gendut Gentong Ketawa yang berdiam di gu- nung Merbabu?"

Gento tertawa. Tidak berselang lama begitu tawanya terhenti enteng saja dia menjawab. "Gu- ruku tinggal dimana saja. Terkadang di gunung Merbabu, kadang di gunung Semeru. Malah ter- kadang di gubuk reyot, di kolong jembatan dan bisa dimana saja dia suka." 

"Luar biasa. Aku merasa senang bertemu denganmu. Kau murid seorang tokoh besar dunia persilatan. Mungkin aku bisa minta bantuan pa- damu." ujar si kakek.

"Bantuan... bantuan apa?" tanya si pemu- da heran. "Lagipula apa yang kau katakan tadi adalah sesuatu yang berlebihan. Guruku bukan tokoh besar, badannya kuakui memang sangat besar. Bagaimana kau bisa mengatakan guruku yang otaknya sama seperti diriku manusia besar. Ha ha ha."

"Tidak baik merendahkan guru sendiri, Gento. Aku tidak ingin bertutur banyak tentang jiwa satrianya. Nanti kau boleh tanya sendiri pada kakek itu. Yang jelas kau harus menolongku!"

"Orang geblek sepertiku bisa berbuat apa, bisa memberi pertolongan apa kek?" tanya si pe- muda.

"Ha ha ha. Seorang pendekar memang sela- lu berkata begitu. Bicara suka merendah. Tapi aku percaya kau dapat melakukan sesuatu un- tukku." berkata si kakek penuh semangat. "Jika memang aku bisa membantumu, ten- tu aku tidak keberatan. Katakan saja apa yang harus kulakukan.!"

Di depannya orang tua yang bernama Ageng Tirtomoyo diam sejenak. Sebentar kemu- dian dia berkata. "Terus terang saat ini aku se- dang menyusul muridku. Aku biasa memanggil- nya Iblis Edan. Sedangkan namanya yang asli adalah Rumbapati!"

"Rumbapati....!" seru si pemuda tersentak

kaget.

Melihat sikap Gento kening si kakek berke-

rut tajam. "Gento, kulihat kau seperti terkejut. Apakah kau mengenal muridku, atau pernah ber- temu dengan dirinya?"

Gento gelengkan kepala.

"Bertemu aku belum pernah. Tapi nama itu mengingatkan pada beberapa orang yang pernah kujumpai. "sahut Gento terus terang.

"Siapa orang-orang yang kau maksudkan itu?" tanya si kakek.

"Pertama adalah paman Karma Sudira! Se- dangkan yang kedua adalah Setan Sableng!" Di depan sana Ageng Tirtomoyo tak kuasa menutupi rasa kagetnya. "Karma Sudira, bekas adipati yang terpaksa mendekam di penjara akibat ulah Suryo Lagalapang?"

"Kau betul, kek."

"Orang yang kau sebutkan adalah orang tua Rumbapati alias Iblis Edan. Eeh... Gento ba- gaimana keadaan orang tua itu, dimana dia seka- rang!" tanya si kakek dengan wajah cerah penuh harapan.

Dengan perasaan sedih dan suara perlahan pula Gento menjawab. "Aku belum lama menge- luarkannya dari penjara. Sayang seorang kakek tua bernama Wisang Banto Oleng suruhan adipati Suryo Lagalapang telah membunuhnya!"

"Ah... jahanam itu?!" seru si kakek kaget. Mendadak tubuhnya terasa lemas mendengar ucapan Gento.

4

Gento tentu menjadi heran mendengar orang tua di depannya menyebut Wisang Banto Oleng dengan kata 'jahanam'. Sehingga kehera- nannya itu mendorong Gento untuk bertanya. "Apakah kau mengenal orang yang kusebutkan tadi kek?"

Dengan nafas tersengal dan wajah pucat Ageng Tirtomoyo menyahut. "Aku bukan hanya sekedar mengenalnya. Manusia keji itu belum la- ma ini datang menyantroni tempat kediamanku. Dia mencari Iblis Edan untuk dibunuhnya. Aku tahu pasti Suryo Lagalapang yang memberinya perintah begitu. Membunuh sekaligus menghabisi dua anak Karma Sudira agar kelak tidak menim- bulkan ancaman besar bagi kekuasaannya. Ma- nusia culas, tak pernah kusangka Wisang Banto Oleng telah membunuh Karma Sudira. Kasihan sekali orang tua itu. Bertahun-tahun mengha- biskan umur di tembok penjara. Begitu bebas be- lum lagi bertemu dengan anaknya kini malah ter- bunuh pula. Gento... bagaimana bisa kejadian Karma Sudira terbunuh di tangan Wisang Banto Oleng?" tanya si kakek.

"Saat itu kami, maksudku aku dan paman Karma Sudira bermaksud mencari anaknya yang dia yakin telah dibawa pergi oleh seorang tokoh berkepandaian tinggi ketika bencana penyerbuan Suryo Lagalapang yang dibantu oleh ratusan pe- rajurit kerajaan terjadi. Tidak disangka selagi ka- mi dalam perjalanan muncul kakek sesat itu. Aku sempat dibuatnya kewalahan. Tapi kemudian aku berhasil menghancurkan lengan kiri juga bagian tulang rusuk sebelah kiri. Sayang sebelum itu dia sempat membunuh paman Karma Sudira. Lebih celaka lagi setelah dapat kulukai dia berhasil me- loloskan diri!" kata Gento. Untuk lebih jelasnya (baca episode Iblis Edan).

"Apa yang terjadi dengan Karma Sudira sangat kusesalkan. Tapi Wisang Banto Oleng akan memerlukan waktu lama untuk menyem- buhkan cidera berat yang dialaminya."

"Aku tidak tahu, cuma aku berharap hen- daknya orang seperti dia jangan berumur pan- jang. Sekarang ini segalanya menjadi jelas. Aku telah menemukan orang yang kucari yaitu mu- ridmu Rumbapati."

"Tapi bocah itu sekarang entah berada di- mana?" ujar si kakek.

"Sayang sekali. Padahal jika bertemu den- gannya hari ini aku akan membawanya untuk kupertemukan dengan adiknya." "Adiknya? Memang kau telah bertemu den- gan adik Rumbapati?" tanya si kakek. Sekilas Gento melihat bayangan kegembiraan membias di wajah orang tua itu.

"Betul. Tapi mungkin pemuda itu tidak memiliki nama, dia bergelar Setan Sableng!" jelas Gento.

Ageng Tirtomoyo mendadak keluarkan sua- ra tawa bergelak.

"Orang tua adakah sesuatu yang kau ang- gap lucu?"

"Ha ha ha. Tentu saja Gento. Waktu itu menurut kabar yang kudengar adik Rumbapati yang belum sempat diberi nama diselamatkan oleh Ki Lurah Wanabaya. Orang yang sangat setia pada Karma Sudira. Oleh Ki Lurah bocah itu diti- tipkan pada salah seorang tokoh di selatan yang dikenal dengan nama Mbah Setan. Rupanya tak disangka kakek itu memberinya gelaran gila, Se- tan Sableng. Sedangkan aku memberi gelar mu- ridku Iblis Edan. Apa semua ini tidak kebetulan namanya?!"

Gento manggut-manggut. Tidak lama ke- mudian pemuda ini ikut pula tertawa. "Kek, jika Mbah Setan memberi gelar muridnya Setan Sab- leng, lalu kau sendiri memberikan julukan pada muridmu Iblis Edan. Aku jadi curiga jangan- jangan kau dan Mbah Setan memang manusia gi- la sungguhan. Ha ha ha." kata si pemuda disertai tawa tergelak-gelak.

Wajah si kakek bersemu merah. Walaupun begitu dia masih saja tertawa. Sejurus kemudian begitu suara tawanya lenyap si kakek berucap. "Gila benar sih tidak cuma miring sedikit. Ha ha ha."

"Ya, kurasa otakmu memang miring." Beberapa saat lamanya kedua orang ini ti-

dak ubahnya seperti sahabat lama sama-sama tertawa terpingkal-pingkal. Namun si kakek ke- mudian hentikan tawanya, diam sejenak baru be- rucap. "Gento... aku percaya dengan kemampuan serta kesaktian yang kau miliki. Kebetulan sekali kau memang sedang mencari muridku. Jadi aku tidak usah repot mencari muridku yang gen- tayangan itu. Tolong kau temukan dia, jika sudah bertemu pertemukan dia dengan saudaranya."

"Engkau sendiri hendak kemana, orang tua?" tanya si pemuda.

"Aku... ha ha ha. Setelah Wisang Banto Oleng menderita cidera, rasanya aku tidak lagi terlalu merisaukan keselamatan muridku Si Iblis Edan. Dia sudah dewasa, tentu sanggup mengu- rus dirinya. Hanya kumohon padamu, bantu dia membalaskan dendam kesumat, sakit hati ayah- nya terhadap Suryo Lagalapang. Kejahatan ma- nusia yang satu itu selangit tembus. Tak akan te- rampuni walau dia dibunuh seratus kalipun."

"Kek, apakah kau berharap salah satu dari anak paman Karma Sudira dapat menduduki ja- batan sebagai adipati seandainya Suryo Lagala- pang dapat kami singkirkan?" tanya Gento.

Si kakek tertawa bergelak. "Aku tidak per- nah mengharapkan muridku atau adik muridku itu menjadi adipati. Bagaimana mereka bisa me- mimpin wong mereka sendiri manusia sableng begitu. Seumur hidup aku cuma berharap agar mereka dapat menemukan kehidupan yang tidak menyimpang dari apa yang telah ditentukan oleh Gusti Allah. Berguna bagi sesamanya dan men- jauhi apa yang telah dilarang Tuhan." ujar si ka- kek. Kemudian dia melanjutkan. "Kepadamu me- reka kutitipkan. Aku percaya sepenuhnya."

"Lebih baik kau tak usah terlalu memper- cayaiku kek. Karena aku sendiri mungkin tidak jauh berbeda dengan mereka."

"Aku percaya kau memang agak sinting. Namun kau punya banyak pengalaman bila di- bandingkan dengan Iblis Edan atau adiknya Se- tan Sableng. Jadi kuharap kau yang sudah ber- pengalaman menjadi orang gila bisa mengatur mereka supaya... bisa...!"

Gento Guyon cepat memotong. "Supaya bi- sa menjadi gila sungguhan, begitu kan kek? Ha ha ha."

"Bocah edan. Kau memang sangat keterla- luan. Awas, jika nanti setelah mereka bertemu denganmu berubah jadi tidak waras ke ujung du- nia pun aku akan mengejarmu!"

"Ancamanmu tidak berlaku bagiku, kek. Kau harus percaya aku bukan seorang penunjuk jalan yang baik" ucap Gento.

Ageng Tirtomoyo diam tak menanggapi. Dia kemudian memutar tubuh, sambil berputar mu- lutnya komat-kamit. Setelah itu tangannya diang- kat ke udara. Tangan diputar, kemudian tubuh- nya juga ikut berputar. Tiba-tiba dia melesat ke atas. Wuuuus!

Sosok Ageng Tirtomoyo mendadak raib dari pandangan mata si pemuda, berganti dengan ka- but putih tipis membentuk sosok bayangan ma- nusia. Walau tadinya pemuda ini sudah melihat kabut yang sama, namun tetap saja si pemuda jadi heran. "Banyak ilmu melenyapkan diri yang dimiliki tokoh-tokoh sakti di tanah Jawa ini. Tapi yang satu ini sama sekali lain. Kakek itu memang bisa menghilang, tapi sosoknya masih tetap terli- hat dalam bentuk lain, seperti angin saja. Bagai- mana jika dia masuk ke dalam perutku? Tentu tubuhnya berubah menjadi.... ha ha ha!" Gento tidak lanjutkan ucapannya tapi malah tertawa tergelak-gelak.

Masih dengan tertawa Gento memandang ke depan dimana asap berupa kabut tipis penjel- maan si kakek tadi menggantung. Tapi ternyata kabut tadi lenyap, hilang bagaikan angin.

"Kakek itu pergi tanpa permisi. Kemana aku harus mencari Iblis Edan? Waktuku sangat sempit sekali. Aku yakin saat ini Setan Sableng sudah dalam perjalanan menuju ke selatan kadi- paten. Pemuda itu sulit diduga. Jika besok aku belum tiba di selatan kadipaten, aku khawatir Se- tan Sableng berlaku nekad melakukan penyer- buan sendiri ke gedung adipati." kata si pemuda seorang diri. "Sebaiknya kususul saja Setan Sab- leng. Mudah-mudahan dalam perjalanan aku bisa bertemu dengan Iblis Edan."

Tak lama setelah mengambil keputusan seperti itu Gento Guyon segera berkelebat pergi.

Tak lama setelah kepergian si pemuda, dari balik sebuah gundukan batu besar satu sosok tu- buh yang mendekam disitu sejak tadi keluar dari tempat persembunyiannya. Sosok berpakaian serba putih yang ternyata adalah Mutiara Pelangi menarik nafas lega.

"Sekarang segalanya menjadi semakin ber- tambah jelas. Iblis Edan ternyata memang anak paman adik ibuku. Pemuda gondrong yang ber- nama Gento tadi mengaku dia telah bertemu den- gan Setan Sableng. Ini berarti tak lama lagi Iblis Edan alias Rumbapati segera bertemu dengan adik kandungnya. Gento... Gento. Sudah sering kudengar nama besar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon, tapi aku tak pernah menyangka orangnya segagah dan tampan seperti itu. Kurasa lebih baik aku membayangi pemuda itu. Dia mengatakan hendak menemui Setan Sableng di selatan ger- bang kadipaten. Aku tahu jalan memotong ke tempat itu. Setan Sableng pasti masih mengenali diriku karena beberapa hari yang lalu dia pernah menolong dan berusaha membebaskan aku dari serangan dua pentolan adipati yaitu Nafas Pene- bar Maut dan Si Samber Nyawa!" batin sang dara. Tapi gadis itu sejenak menjadi bimbang. Semula dia berusaha menyusul Iblis Edan yang sedang mengejar Dewa Sinting. Ketika dia tersesat di tempat itu, si gadis kehilangan jejak, sebaliknya secara tidak terduga malah melihat Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Pemuda tampan yang ke- hadirannya menimbulkan kegegeran dimana- mana dan mulai diperhitungkan oleh berbagai ka- langan dunia persilatan itu. Tapi sejenak kemu- dian Mutiara Pelangi coba menepis segala kebim- bangan di hatinya. Hingga tanpa fikir panjang lagi dia tetap memutuskan untuk menyusul Gento.

"Dewa Sinting bermaksud mengangkat Iblis Edan menjadi muridnya. Mustahil dia tega mem- buat pemuda itu celaka!" fikir si gadis.

5

Sejak Wisang Banto Oleng menempatkan bocah asuhannya yang biasa dipanggil 'anak' oleh orang tua itu di gedung Kadipaten, adipati Suryo Lagalapang paling tidak merasa tenteram. Dia ya- kin empat bocah yang sejak kecil dididik seperti serigala yang berjaga-jaga di luar gedung sanggup mengatasi segala bentuk kejadian yang tidak di- inginkan. Sementara adipati sendiri merasa aman berada di kamarnya karena di depan pintu dijaga oleh seorang bocah seganas binatang buas. Yang lebih menyenangkan lagi selain bocah itu di atas atap juga ditempatkan beberapa penjaga bersen- jata lengkap.

Kini setelah terjaga dari tidurnya Suryo La- galapang duduk diatas kursi empuk berlapiskan kulit harimau. Orang tua berusia lima puluhan yang selalu berbelangkon warna cokelat dengan warna pakaian sama dan berambut kelimis licin berkilat ini nampak termenung.

Sekilas dia memandang ke arah pintu. Dis- ana dia mendengar suara erang tak berkeputusan yang keluar dari mulut si bocah serigala. Suara erang terkadang diseling dengan suara berkeroko- tan seperti daging alot yang dicabik binatang buas. Memang seperti yang dianjurkan oleh kakek Wisang Banto Oleng, adipati menyuruh anak buahnya menyediakan daging dan darah segar untuk bocah serigala itu, termasuk juga untuk empat yang berjaga-jaga diluar gedung. Selama dua hari sejak ditinggalkan Wisang Banto Oleng, kelima bocah serigala telah menghabiskan sedi- kitnya sepuluh ekor kambing.

Sungguhpun Suryo Lagalapang merasa aman dengan kehadiran kelima bocah serigala ini, namun pada sisi lain dia juga merasa tidak betah berada di dalam kamarnya sendiri lebih lama. Be- tapa tidak? Hampir setiap saat dia mencium bau amisnya darah dan daging bercampur bau koto- ran bocah itu sendiri. Hingga membuat perut sang adipati merasa mual, kepala pusing dan maunya muntah terus.

"Sial betul. Aku ini tinggal di rumah sendi- ri, tapi tidak ubahnya tinggal di kandang bina- tang. Bocah berprilaku seperti serigala itu enak makan enak tidur di luar sana, tapi aku malah sebaliknya. Kalau begini terus menerus aku bisa menjadi gila, atau bisa jadi mati kelaparan" Suryo Lagalapang merutuk dalam hati. Dia tiba-tiba saja jadi ingat pada kakek Wisang Banto Oleng. Orang tua sakti yang telah diangkat dan diupah menjadi pelindungnya. Entah mengapa begitu ingat orang yang satu ini perasaannya menjadi tidak enak. "Wajalangke dan dua kakek itu sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana nasibnya. Menak San- gaji yang kupercaya untuk membunuh Rumbapa- ti dan adiknya juga belum kembali. Mengapa se- gala urusanku menjadi tidak beres begini? Ha- rusnya Wajalangke, Nafas Penebar Maut dan Samber Nyawa sudah kembali membawa Mutiara Pelangi. Jarak tempat tinggal si gadis dengan ka- dipaten ini tidak begitu jauh. Mengapa lama be- nar?" Suryo Lagalapang mengeluh. "Ada yang ti- dak beres. Mungkinkah Pendekar yang telah mencidrai pelindungku menghadang mereka di tengah jalan?"

Berbagai perasaan dan dugaan berkeca- muk dalam hati sang adipati membuat laki-laki itu makin tidak tenang. Satu hal yang sangat dia khawatirkan bagaimana andainya nanti Wisang Banto Oleng menagih janji? Adipati telah membe- rikan kesanggupan pada orang tua itu untuk menghadiahkan Mutiara Pelangi pada si kakek.

"Jahanam. Mengapa sekarang aku berubah menjadi seorang pengecut? Padahal ilmu kesak- tian yang kumiliki tidak rendah. Malah aku punya beberapa jenis ilmu pukulan yang hebat? Mung- kin aku harus turun tangan untuk menangkap gadis itu. Tapi bagaimana jika musuhku datang menyerang kemari. Para penjaga tidak dapat kuandalkan sepenuhnya. Mereka bisa saja masuk ke gedung megah ini dan menguasainya!" fikir adipati. Dalam keadaan fikiran kalut dimana ke- selamatan terancam seseorang bisa saja merisau- kan segala apa yang telah diraihnya, termasuk juga harta benda juga kedudukan. Rupanya de- mikian pula halnya yang terjadi pada diri adipati saat itu.

Selagi perasaan adipati Suryo Lagalapang dicekam berbagai perasaan yang membuat ha- tinya diliputi kegelisahan, pada saat itu sayup- sayup dia mendengar suara derap langkah kuda yang bergerak cepat menuju gedung kadipaten.

"Jahanam! Siapa lagi yang datang kemari. Apa mungkin Wajalangke pulang bersama dua kakek yang menjadi pembantunya?" batin Suryo Lagalapang dalam hati. Tapi setelah mendengar- kan suara kuda itu lebih seksama orang tua itu merasa yakin suara langkah kuda yang terdengar jelas bukan kuda yang menjadi tunggangan Waja- langke maupun dua kakek yang menjadi pemban- tunya.

"Bukan Wajalangke, lalu siapa?" gumam Suryo Lagalapang. Laksana kilat orang tua itu bangkit berdiri, kemudian dia berseru ditujukan pada bocah serigala yang berjaga di depan pintu kamarnya. "Anak, kau lihatlah keluar sana, bantu empat temanmu. Jika yang datang hanya ber- maksud membuat kekacauan di sini bunuh saja!" perintah Suryo Lagalapang.

Dari depan pintu terdengar suara menge- rang disertai dengan suara lolong panjang seperti serigala. Kemudian dari luar gedung kadipaten juga terdengar suara lolong yang sama empat kali berturut-turut.

Bocah serigala menggerung panjang, lalu berkelebat keluar tinggalkan adipati yang harus dijaganya.

Sementara diluar sana belasan penjaga yang dipimpin oleh seorang laki-laki berbadan tinggi besar bernama Halimun telah mengurung seorang pemuda berpakaian putih yang datang bersama dengan empat kuda kurus tunggangan- nya. Pemuda yang semula menelentang diatas ke empat kuda kini duduk di salah satu punggung kuda yang menjadi tunggangannya.

Sekejap dia memperhatikan para penjaga yang kini jumlahnya semakin bertambah banyak saja.

"Pemuda penunggang kuda, siapa dirimu. Berani mati kau datang ke tempat ini?" hardik kepala penjaga dengan suara lantang.

Si pemuda yang bukan lain Setan Sableng adanya pura-pura unjukkan rasa kaget.

"Eeh.... aku ingin bertemu dengan adipati. Apakah kalian semua adipati Purbolinggo? Men- gapa banyak amat?"

"Kami bukan adipati. Aku kepala penjaga disini. Harap kau suka memperkenalkan nama, katakan apa yang menjadi tujuan setelah itu ce- pat menyingkir jika tidak mau mendapat kesuli- tan!"

"Ha ha ha. Hanya kepala penjaga tapi ga- laknya seperti seorang raja saja. Kalau kau penja- ga, aku yang buruk ingin memperkenalkan diri. Aku ini setan.... Setan Sableng. Ha ha ha!" ujar si pemuda lalu tertawa. Menyangka orang memper- mainkan dirinya, kepala penjaga yang bernama Halimun menjadi sangat marah sekali. "Pemuda kurang ajar, kami bukan orang yang bisa kau ajak bersenda gurau. Tidak usah banyak bicara apa tujuanmu datang kemari?"

"Aku ini anak adipati, wajar saja kalau se- karang ingin bertemu dengan bapak adipati. Jika kalian cuma merasa menjadi anjing piaraan adi- pati sebaiknya kalian panggil adipati, atau bawa aku agar dapat bertemu dengannya.!"

"Penjaga kepala, mengapa melayani pemu- da sableng ini. Lebih baik kita seret saja dia ke- luar dari halaman gedung!" kata salah seorang penjaga yang berbadan tegak berkepala botak di sebelah kanan Halimun. Kemudian ada suara lain menimpali. "Segala orang gila buat apa kita beri hati? Mari kita seret dia beramai-ramai."

Kepala penjaga tidak mengangguk juga ti- dak mencegah. Lima orang penjaga berbadan pal- ing tegap berlompatan mendekati Setan Sableng. Lima pasang tangan berkelebat menyambar. Dia diantaranya mencekal tangan Setan Sableng ka- nan kiri, lainnya lagi menyergap bagian kaki se- dangkan yang satunya meringkus bagian badan.

"Setan alas, orang hendak bertamu kok malah mau dilemparkan keluar halaman, sopan betul!" dengus Setan Sableng menyindir. Selan- jutnya selesai berkata begitu apa yang kemudian terjadi sungguh berada diluar perhitungan semua orang. Hanya sesaat saja sepuluh tangan me- nyentuh Setan Sableng. Pemuda ini lakukan ge- rakan demikian rupa. Tangan kiri bertumpu pada punggung kuda, setelah itu sambil menggerakkan kakinya tubuh pemuda ini melesat di udara. Wut... wuut... wuuut.... wuuuut   wuuuut!

Kelima penjaga menjerit ketika mendapati tubuh mereka tersentak lalu melayang di udara. Dilain kejab kelima penjaga berbadan tegak su- dah jatuh bergedebukan, terkapar diluar tembok pengaman gedung.

Kelima penjaga menjerit ketika mendapati tubuh mereka tersentak lalu melayang di udara. Dilain kejab kelima penjaga berbadan tegak su- dah jatuh bergedebukan, terkapar diluar tembok pengaman gedung.

Halimun tentu saja dibuat kaget besar. Dia tadi hanya sempat melihat si gondrong berpa- kaian putih melentingkan tubuhnya di udara, se- telah itu berjumpalitan beberapa kali kemudian meluncur ke bawah. Bagaimana mungkin si pe- muda yang kini telah duduk di tempatnya semula mampu membuat lima penjaga berpentalan ke- luar tembok gedung.

Selagi Halimun masih dicekam rasa kaget demikian rupa, di depan sana Setan Sableng ter- tawa tergelak-gelak.

"Penjaga kadipaten rupanya orang-orang yang lucu. Katanya mau melemparkan diriku, ti- dak tahunya malah mereka sendiri melemparkan diri keluar!" kata Setan Sableng.

Lima penjaga yang tadi terlempar keluar tembok kini bangkit berdiri. Hampir dalam waktu bersamaan mereka berlompatan kembali ke ha- laman. Begitu jejakkan kaki salah seorang dianta- ranya berseru. "Kepala penjaga. Pemuda itu tidak bisa dianggap remeh. Ilmunya tinggi, pasti dia da- tang dengan membekal maksud jahat!"

"Manusia tolol, kalau sudah tahu mengapa pada bengong begitu. Ringkus dia!" seru Halimun.

Lima pengawal yang sempat dibuat malu oleh Setan Sableng serentak mencabut pedang yang tergantung di pinggang masing-masing. Tanpa ada yang mengkomando kelimanya melesat ke arah Setan Sableng sambil babatkan senjata ke arah pemuda itu.

"Kurang ajar! Kalau begini empat kuda ku- rusku bisa jadi bangkai tak berguna. Empat kuda kurus sekaranglah saatnya bertindak!" berkata begitu Setan Sableng tepuk salah satu pinggul kuda. Satu ditepuk bagian pinggulnya, tiga te- mannya keluarkan suara ringkikan keras. Empat kuda serentak menghambur berpencar menerjang belasan pengawal yang mengurung Setan Sab- leng. Sementara pemuda itu sendiri yang kini su- dah melompat diudara hindari tusukan dan sabe- tan senjata lawan, selagi diudara lakukan gerakan berputar. Dan kini posisinya berada di belakang lima pengawal yang mengeroyoknya.

Lima pedang yang tidak mengenai sasaran beradu keras di udara, mengeluarkan suara beri- sik disertai pijaran bunga api.

Sadar lawan lolos dari serangan kelima pengawal berbadan tegap kini berbalik. Tapi keli- manya keluarkan seruan kaget.

"Kurang ajar, apa yang telah dilakukannya pada kita?" salah seorang diantara mereka berse- ru panik begitu menyadari tubuhnya tak dapat digerakkan dalam keadaan kaku tertotok. Di sudut lain masih di tempat yang sama empat kuda yang sudah sangat terlatih menga- muk membabi buta. Kaki depan kuda-kuda itu menendang kian kemari. Beberapa penjaga ber- pentalan dengan dada remuk atau tangan patah terkena tendangan ataupun diinjak kuda. Semua apa yang terjadi tentu membuat Halimun menjadi sangat marah. Dia lalu mencabut sepasang pe- dangnya yang tergantung dibagian punggung. Sambil membentak keras sosok kepala penjaga ini berkelebat ke arah Setan Sableng yang saat itu enak-enakan rebah menelentang diatas kepala sa- lah satu penjaga yang ditotoknya.

"Pemuda keparat! Kau mengira dengan il- mu yang kau miliki dapat bersikap seenaknya dis- ini!" hardik Halimun. Dan pedang kembar ditan- gannya pun berkelebat menghantam di dua ba- gian tubuh Setan Sableng. Satu mata pedang menghantam leher, satunya lagi menebas ke ba- gian perut.

Karena kepala penjaga bukan saja hanya mengandalkan tenaga kasar, namun juga menge- rahkan tenaga dalam dikedua senjatanya. Maka serangan dua pedang itu berlangsung cepat ba- gaikan kilat menyambar. Masih dengan terkekeh- kekeh Setan Sableng berkata. "Bukannya aku tak mengenal peradatan. Bukan aku tak kenal atu- ran. Akibat terlalu banyak mendengar petuah Mbah Setan, diri ini jadi edan. Hei.... kepala pen- jaga kau berlaku nekad. Tapi mengapa kau bu- nuh temanmu sendiri?!" berkata begitu laksana kilat Setan Sableng gulingkan tubuhnya ke ba- wah. Gerakan yang dilakukannya ini berlangsung singkat, hanya beberapa kejaban saja senjata la- wan membabat putus dua bagian tubuhnya. Kini begitu Setan Sableng gelindingkan diri, maka Ha- limun tidak dapat lagi menahan laju pedangnya.

Tak terelakkan lagi pengawal yang tadi ke- palanya dijadikan tempat ketiduran Setan Sab- leng menjerit. Bahunya kanan kiri terbelah, darah menyembur dari luka yang mengerikan. Dalam keadaan tubuh nyaris terbelah menjadi tiga ba- gian pengawal naas itu roboh. Halimun tercen- gang, mata mendelik sedangkan tubuh menggigil saking tak percaya dengan apa yang terjadi.

Tak jauh disampingnya empat pengawal yang masih dalam keadaan tertotok hanya dapat belalakkan mata, celana mereka di bagian bawah menjadi basah. Agaknya mereka didera rasa takut yang sangat sambil membayangkan seandainya lawan kembali rebah di atas tubuh mereka pasti nasib yang sama terjadi pada diri mereka. Para pengawal penjaga ini tahu persis bagaimana wa- tak pimpinan mereka. Bila sudah kalap biasanya dia akan menyerang secara membabi buta tanpa mempertimbangkan keselamatan kawan sendiri.

6 Rasa kaget Halimun hanya berlangsung beberapa kejaban saja. Begitu dia sadar, laki-laki ini segera berpaling ke arah si pemuda dan me- mandang tajam penuh kebencian. Halimun men- geram. "Setan Sableng.... akibat ulahmu aku ke- terlepasan tangan sampai kubunuh temanku sendiri. Aku tidak akan puas sebelum dapat membelah tubuhmu!"

Di depannya sejauh tiga tombak Setan Sableng tertawa sambil mendengus. "Aku muak melihat tampangmu kepala penjaga. Yang kuin- ginkan bertemu dengan Adipati, bukan dengan- mu! Sekarang kau majulah, kau boleh memilih bagian tubuhku yang sebelah mana hendak kau jadikan sasaran!"

"Manusia sombong, lihat pedangku!" teriak kepala penjaga. Serentak dengan teriakannya Ha- limun melompat ke depan, pedang ditangan ka- nan membabat dari arah dada ke perut. Sedang- kan pedang ditangan kiri menghantam dari ba- gian wajah ke leher. Satu serangan cepat yang ti- dak mungkin dapat dihindari oleh seorang pesilat biasa. Namun Setan Sableng yang gerakannya grubak-grubuk seperti orang mabuk secara tak terduga jatuhkan diri, dua babatan pedang luput sedangkan dua kakinya dengan gerakan oleng menderu menghantam siku lawannya.

Braak! Kraak!

Hantaman yang sangat keras membuat persendian kedua siku Halimun patah hingga la- ki-laki itu menjerit kesakitan. Dua lengan tergon- tai gondal-gandil, dua pedang dalam genggaman terlepas mental dan jatuh menancap di halaman.

Tak kuasa menahan derita sakit yang amat hebat, Halimun roboh dan terkapar pingsan. Se- tan Sableng tersenyum. "Orang aneh, habis ber- kelahi kok langsung tidur."

Sejenak pemuda ini duduk di atas tubuh kepala penjaga sambil berkipas dengan tangan- nya. Di depan sana empat kudanya terus menga- muk membabi buta. Puluhan pengawal gedung bergeletakan dengan tubuh berlumuran darah te- rinjak ataupun karena kena ditendang empat ku- da kurus milik Setan Sableng. Sisanya yang cuma tinggal beberapa orang lagi nampaknya juga tak dapat bertahan lama.

Di tempat duduknya Setan Sableng berte- riak. "Empat kuda kurus, kudaku yang sangat berguna, habisi mereka! Ha ha ha."

Empat kuda sama keluarkan suara ringki- kan keras. Dengan kecepatan luar biasa mereka menerjang ke arah para penjaga yang menyerang kuda-kuda itu dengan pedang di tangannya.

Seakan mengerti kuda-kuda yang sudah sangat terlatih itu dapat menghindari setiap se- rangan yang datang. Malah kemudian serangan balik yang dilakukan empat kuda kurus itu mem- buat para penjaga berpelantingan roboh disertai jeritan kesakitan.

Plok! Plok! Plok!

Setan Sableng bertepuk tangan sambil memuji. "Kuda bagus. Kalian semua pantas men- dapat bingkisan. Satu kendi tuak didalam kan- tong perbekalan boleh kalian minum, tapi harap mengambil sendiri. Ha ha ha!" ujar pemuda itu disertai tawa tergelak-gelak.

Belum lagi lenyap suara tawa Setan Sab- leng, mendadak sontak terdengar suara bentakan disertai perintah. "Pemuda jahanam, berani men- cidrai para pengawalku berarti sudah siap untuk mati!" teriak satu suara. Baru saja Setan Sableng palingkan wajah memandang ke arah datangnya suara, orang tua berbelangkon yang dilihat Setan Sableng berdiri dianak tangga gedung berseru. "Anak-anak, bunuh bocah edan gondrong itu!!"

"Orang tua, kaukah orangnya yang berna- ma Suryo Lagalapang?" tanya si pemuda itu sam- bil bangkit berdiri.

Laki-laki tertawa. Bersamaan dengan ter- dengarnya suara tawanya dari arah belakangnya melompat satu sosok tubuh ke arah Setan Sab- leng. Si pemuda jadi tercekat begitu melihat seo- rang bocah hanya mengenakan pakaian seadanya tahu-tahu sudah menyerang dengan mempergu- nakan kuku-kuku jemarinya yang panjang dan runcing.

Wuut!

Setan Sableng berkelit menghindar, dalam kagetnya dia berseru. "Bocah ingusan. Berani ma- ti kau menyerangku!" hardik Setan Sableng. So- sok bocah menyeringai memperlihatkan dua ta- ringnya yang mencuat tajam. Kemudian terdengar suara lolongan panjang.

"Gila. Bagaimana ada bocah bisa memiliki tingkah laku seperti serigala begini?" batin si pe- muda.

Suara lolongan bocah yang berdiri tegak

dengan wajah beringas didepannya itu disambut dengan suara lolong lainnya. Dari empat penjuru sudut halaman dari balik gerumbul tanaman bunga empat bayangan lain berkelebat menyerang Setan Sableng dari empat arah sekaligus. Menda- pat serangan ganas dari empat bocah, apalagi bo- cah kelima yang tadinya berdiri di depan si pe- muda kini ikut menyerang, Setan Sableng cepat lakukan sesuatu. Mendadak Setan Sableng me- lompat ke udara, begitu tubuhnya mengambang dua tombak di atas tanah dia dorongkan dua tan- gannya ke arah lima bocah yang berada dibawah- nya.

Wuus! Wuuus!

Susul menyusul dua gelombang angin ber- gulung menyambar kelima bocah serigala. Mera- sakan ada sambaran angin menyerang dari atas, bukannya surut kelima bocah serentak gerakkan kakinya menjejak angin. Secara aneh kelima bo- cah ini kemudian melesat pula ke atas mengejar lawan. Lima pasang tangan menyambar kaki bahkan ada pula yang membabat pinggang. Di bawah mereka terdengar suara ledakan akibat pukulan Setan Sableng hanya mengenai tempat kosong.

Sebaliknya tak menyangka kelima bocah itu dapat melakukan gerakan pengejaran sedemi- kian rupa, Setan Sableng jadi tercekat. Kalang kabut kakinya dijejakkan pada bahu salah satu bocah serigala. Bocah yang dijadikan pijakan ja- tuh terhenyak dengan mata mendelik liar mulut mengerang.

Empat temannya nampak sangat gusar se- kali. Delapan tangan berkuku panjang menyam- bar ganas.

Breet! Breet!

"Walah biyung, kakiku kena dikelupasnya, celanaku robek. Sekarang aku tak dapat lagi me- nahan kesabaranku biyung, aku jadi marah bi- yung!" teriak Setan Sableng. Sedangkan kakinya yang kena sambaran kuku lawannya diogel- ogelkan!

Sambil menyeringai kesakitan, setelah la- kukan gerakan jungkir balik beberapa kali dia ja- tuh punggung ditanah. Belum lagi Setan Sableng sempat berdiri tegak. Bocah serigala yang tadi ja- tuh terduduk kini telah menerkamnya. Gerakan bocah itu demikian cepat. Sepuluh kuku tangan membeset perut dan dada, sedangkan mulutnya siap menghunjam ke bagian leher pemuda itu.

Kembali Setan Sableng dalam kagetnya berseru. "Walah Biyung! Bocah ini hendak menci- umku. Aku tidak mau, masih bagus lagi aku di- cium perempuan cantik biyung!"

Lalu tanpa menghiraukan luka akibat ca- karan dibagian kakinya dengan bertumpu pada punggung, tubuhnya berputar, kaki dan tangan menghantam ke atas dan ke samping.

Dess!

Bocah serigala itu terpental, lalu jatuh ter- pelanting terkena tendangan Setan Sableng. Se- perti pertama tadi begitu melihat kawannya di- hantam oleh lawan, ke empat bocah yang tadi menyerang di udara dan kini telah jejakkan ka- kinya ke tanah keluarkan suara lolongan panjang. Empat bocah serigala merobah jurus se- rangannya. Sekarang mereka berputar mengu- rung Setan Sableng. Si pemuda gelengkan kepa- lanya. "Apa yang hendak dilakukan oleh bocah serigala ini?!" batin Setan Sableng. "Mungkin me- reka hendak mengajakmu bermain, bukan berke- lahi sebagaimana yang diperintahkan orang tua

berbelangkon itu!"

Dugaan Setan Sableng meleset. Karena hanya beberapa saat setelah itu, bocah serigala yang kena tendangan Setan Sableng sudah ber- gabung dengan empat temannya. Lima bocah se- rigala sama dongakkan kepala ke atas, lalu secara bersamaan pula terdengar suara lolongan berisik. Lima bocah serentak berputar mengelilingi si pe- muda. Makin lama gerakan mereka semakin ber- tambah cepat. Setan Sableng dibuat bingung. Dia gelengkan kepala untuk mengusir rasa sakit di matanya. Selagi Setan Sableng kerahkan tenaga dalam kebagian tangannya. Pada waktu bersa- maan diawali dengan terdengarnya suara pekik kelima bocah serigala, lima sosok si bocah telah berkelebat melakukan serangan beruntun.

Setan Sableng melihat berkelebatnya lima bayangan tubuh segera menghantamkan tangan- nya sambil berputar lima kali berturut-turut.

Breet! Bret! Breet! Buuk! Buuuuk!

Terdengar suara robeknya kulit dan pa- kaian. Dari kalangan perkelahian dua sosok tu- buh terpental terkena jotosan Setan Sableng. Tiga lainnya terus menyerang. Setan Sableng melom- pat menjauhi ke tiga bocah Serigala yang ternyata mampu menyelamatkan diri dari pukulan si pe- muda. Tiga bocah serigala itu kemudian ikut pula mundur. Dua temannya masih terkapar dengan mulut dan hidung menyembur darah. Di depan sana Setan Sableng wajahnya mendadak berubah pucat begitu melihat pakaian di bagian perut dan dada terkuak lebar koyak kena sambaran kuku bocah-bocah serigala. Bukan hanya itu saja, dari bagian dada dan perut mengalir cairan hangat. Setan Sableng belum bisa menduga yang mengalir di perutnya itu. Kemudian pakaian apa yang ro- bek di bagian dada dan perut disingkap-kan.

"Ah...!" Setan Sableng mengeluh tertahan. Ternyata dada dan perutnya terkena goresan ku- ku hingga terluka memanjang. Walau tidak terlalu parah, tapi semua itu sudah membuka mata si pemuda bahwa lima, bocah serigala ini tak dapat dianggap remeh.

Dua bocah serigala dengan tertatih-tatih mencoba bangkit berdiri. Seakan tidak menghi- raukan luka dalam yang diderita kini keduanya bergabung kembali dengan tiga temannya.

"Bocah ini pasti diperalat oleh seseorang. Rasanya tidak tega aku membunuh mereka. Tapi jika aku tidak bertindak secepatnya, tidak tertu- tup kemungkinan aku berangkat ke akherat du- luan!" Setan Sableng mendekap perutnya. Luka memanjang akibat cakaran bocah serigala kini te- rasa panas luar biasa. "Agaknya aku harus ma- buk dulu!" batin Setan Sableng. Setelah memu- tuskan begitu, Setan Sableng melesat ke arah sa- lah satu kudanya. Dia mengambil sebuah kendi tuak. Sebagian isi kendi langsung ditumpahkan kebagian luka. Begitu cairan tuak mengguyur lu- ka terdengar suara desis aneh seperti besi panas dicelupkan dalam air. Dari luka asap putih kebi- ruan mengepul. Beberapa saat kemudian rasa sa- kit lenyap. Setan Sableng angkat kendi tuaknya ke atas lalu terdengar suara bercelegukan.

"Anak-anak, bunuh pemuda sableng itu!" teriak laki-laki berbelangkon yang bukan lain adalah Suryo Lagalapang adipati Purbolinggo.

Lima bocah serentak berlompatan, tiga di- antaranya menyerang dari arah bawah sedangkan yang dua lagi menyerang dari atas. Walaupun se- rangan kelima bocah serigala ini berlangsung sangat cepat dan selalu mengincar sasaran pada bagian yang paling berbahaya. Namun dengan ge- rakan terhuyung Setan Sableng berhasil meng- hindarinya. Malah kini walaupun dia nampak ter- desak namun mulai melakukan gebrakan laku- kan serangan balasan dengan semburan tuaknya. Akibatnya sungguh luar biasa, benda apa saja yang kena dihantam semburan tuak hangus ter- bakar. Batu-batu besar penghias taman halaman juga berlubang terkena semburan tuak.

"Bocah-bocah buas. Aku tidak punya darah untuk kalian minum, bagaimana jika kalian mulai membiasakan diri minum tuak. Tuakku bisa membuat kalian mabok asyiiik. Ha ha ha!" Dengan langkah terhuyung tak karuan Se- tan Sableng tertawa, sambil tertawa dia teguk tuaknya lalu menyembur setiap lawan yang me- nyerangnya. Melihat dahsyatnya akibat yang di- timbulkan dari semburan tuak membuat kelima bocah serigala ini tidak lagi dapat bergerak dan menyerang secara leluasa.

7

Adipati Suryo Lagalapang terkejut melihat kelima bocah serigala yang diandalkannya kini nampak mulai terdesak hebat. Di bawah undakan anak tangga gedung kediamannya orang tua itu bicara seorang diri. "Bocah serigala tak bisa ku- harapkan. Pemuda itu dengan tuaknya semakin tangguh. Siapa dia? Aku hanya bisa memastikan dia mungkin salah satu dari anak Karma Sudira. Hh.... Wisang Banto Oleng terlalu lambat dalam menyelesaikan segala sesuatunya. Akibatnya kini bencana itu membayangi diriku. Agaknya aku ju- ga harus segera turun tangan untuk membe- reskan pemuda sableng itu!" batin Suryo Lagala- pang.

Baru saja adipati mengambil keputusan, belum sempat melakukan tindakan apapun lima bocah serigala yang tiba-tiba menjadi nekad da- lam melakukan serangan mendadak menjerit ke- ras. Tubuh mereka berpelantingan satu demi sa- tu. Terkapar dengan dada dan perut berlubang, tewas dalam keadaan mengerikan ditembusi cai- ran tuak.

Kejadian yang berlangsung sangat cepat itu membuat Suryo Lagalapang jadi terkesima, seolah tak percaya dengan apa yang terjadi. Selagi adipa- ti Purblinggo dalam keadaan seperti itu, satu bayangan berkelebat. Kemudian terdengar suara berkesiuran yang melabrak ke arah dirinya.

Suryo Lagalapang langsung palingkan mu- ka ke arah mana suara terdengar. Wajah sang adipati mendadak menjadi pucat, sambil sela- matkan diri dari semburan tuak mulutnya mema- ki. "Setan jahanam!"

Ces! Cees!

Suryo Lagalapang berhasil menghindar se- jauh satu tombak, tapi tak urung tengkuknya te- rasa dingin begitu melihat anak tangga dimana dirinya berdiri tadi berlubang besar mengepulkan asap berwarna putih. Dengan perasaan tegang Suryo Lagalapang memandang ke arah samping sebelah kiri dimana bayangan putih tadi jejakkan kaki.

Di depan sana Setan Sableng berdiri tegak, tangan kiri memegang kendi tuak. Tangan kanan berkacak pinggang, mulut mengurai senyum se- dang matanya yang merah memandang tajam pa- da sang adipati.

"Adipati senang sekali aku dapat bertemu denganmu. Sebenarnya ingin sekali aku menga- jakmu minum sampai mabuk. Tapi mengingat kau bukan seorang sahabat dan bukan pula ke- rabatku. Keinginan itu rasanya cuma bisa terwu- jud dalam mimpi. Adipati, hari ini aku mau minta pertanggungan jawab atas segala yang pernah kau lakukan pada keluargaku. Terlebih-lebih ayahku yang tewas terbunuh ditangan salah seo- rang begundal suruhanmu. Kuharap kau tak me- nyangkal semua apa yang kukatakan ini. Dan yang lebih penting lagi kau tidak lupa atas segala yang pernah kau lakukan belasan tahun yang la- lu." kata Setan Sableng. Begitu selesai bicara si pemuda angkat kendi tuaknya. Tuak tercurah dan amblas masuk ke dalam mulut Setan Sab- leng. 

Suryo Lagalapang memang sempat tercekat mendengar ucapan Setan Sableng. Tapi dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Dengan te- nang dia ajukan pertanyaan.

"Jadi kau putranya Karma Sudira?"

"Kau betul. Aku anaknya yang nomer dua. Waktu itu ayahku belum sempat memberiku na- ma. Hingga guruku memberiku gelar jelek Setan Sableng. Ha ha ha!"

Suryo Lagalapang tersenyum mengejek. "Anak muda, tak usah kau berkeinginan muluk untuk membalaskan sakit hati dendam kesumat. Kepadamu aku hanya bisa memberi saran, yang berlalu biarlah tetap berlalu. Kalau kau mau, kau bisa menjadi pembantuku. Aku bisa memberimu jabatan penting jika kau suka!" kata Suryo Laga- lapang. Dalam hati dia berucap. "Siapa sudi be- kerja sama dengan anak seorang musuh. Jika kau terpancing ucapanku lalu mau bekerja sama denganku, aku pasti akan mencari cara agar da- pat membunuhmu secepat yang dapat aku laku- kan."

"Adipati sayang aku tak tertarik dengan tawaranmu. Yang kuinginkan saat ini adalah memenggal kepalamu dan membersihkan kadipa- ten ini dari tangan orang-orang berjiwa pengecut sepertimu! Adipati waktumu habis, aku minta nyawamu sekarang!" teriak Setan Sableng lan- tang.

Selesai berkata sambil menjunjung kendi tuak diatas kepalanya Setan Sableng siap lancar- kan satu pukulan yang sangat mematikan ke arah Suryo Lagalapang. Orang tua ini sudah me- ngetahui sejauh mana kehebatan yang dimiliki Setan Sableng ketika menghadapi lima bocah se- rigala tadi sehingga adipati tidak mau berlaku ay- al. Belum lagi lawan sempat melakukan gebrakan ke arahnya, Suryo Lagalapang salurkan tenaga dalam ke arah kedua tangannya. Dengan tangan dialiri tenaga dalam penuh sewaktu-waktu dia bi- sa menjaga segala kemungkinan yang tidak diin- ginkan. Namun pada waktu itu pula sebelum ke- duanya siap melancarkan serangannya masing- masing satu bayangan berkelebat disertai satu te- riakan kaget.

"Anak-anakku?! Siapa manusianya yang begitu berani mati membunuhi bocah-bocah asu- hanku?!" satu suara berteriak marah.

Suryo Lagalapang yang merasa mengenali suara orang melompat mundur disertai tarikan nafas lega. Sedangkan Setan Sableng cepat pa- lingkan kepala  dan memandang ke arah mana bayangan hitam tadi jejakkan kakinya. Kening Se- tan Sableng berkerut tajam begitu melihat seo- rang kakek tua berpakaian hitam dekil berbadan sedikit bongkok nampak sibuk memeriksa kelima bocah serigala yang dipanggilnya 'anak' tadi. Wa- jah hitam si kakek nampak semakin mengelam, sekujur tubuhnya menggigil bergetar dilanda ma- rah. Melihat kelima bocah serigala itu tewas den- gan tubuh hangus dipenuhi lubang-lubang men- ganga, kakek angker yang kedua matanya menjo- rok ke dalam rongga cepat balikkan badan.

Dia tertegun begitu tatap matanya mem- bentur sosok Setan Sableng yang saat itu juga memandang penuh rasa heran. Setelah itu si ka- kek alihkan perhatiannya pada adipati. Kepada orang tua itu dia ajukan pertanyaan. "Suryo....

karena dosa apa anak-anak itu dibunuh, siapa yang membunuhnya cepat katakan padaku!"

"Orang tua. Yang membunuh para bocah itu adalah pemuda yang di kepalanya menjunjung kendi tuak. Pemuda itu anak Karma Sudira. Dia sengaja datang kemari ingin menuntut balas atas kematian ayahnya. Kakek Wisang Banto Oleng, sekarang orang yang kau cari ada di depan mata, dia bahkan telah membunuh anak-anak asuhan- mu. Tunggu apa lagi, mengapa tidak segera men- gambil tindakan?" tanya Suryo Lagalapang senga- ja memanasi. Wisang Banto Oleng pada hakekat- nya adalah manusia berangasan yang suka men- gesampingkan akal sehat, tapi selalu perturutkan hawa nafsu. Apalagi kini ditangannya dia mem- bekal sebuah senjata sakti mandraguna yang dia pinjam dari sang ayah Kanjeng Romo Bantar Gad- ing yang berdiam di daerah laut selatan. Dengan Pedang Tumbal Segara dia telah bertekat untuk membalas segala rasa sakit hati dendam kesumat pada Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Dengan senjata pinjaman itu pula dia ingin menyingkir- kan semua musuh Adipati.

Seperti telah diceritakan dalam episode Ib- lis Edan. Wisang Banto Oleng dalam satu perke- lahian hidup mati dengan Gento Guyon, oleh pe- muda itu si kakek kena dicidrainya. Tangan ki- rinya patah menjadi tiga bagian, tiga tulang rusuk kirinya juga patah. Cidera berat yang dialaminya itu dapat disembuhkan dalam waktu singkat ka- rena si kakek memiliki ilmu aneh Bubut Putih. Kehebatan ilmu burung itu dapat menyatukan tu- lang yang patah maupun hancur hanya dalam waktu yang singkat.

"Jadi pemuda ini yang telah membunuh anak-anak? Hemm.... Satu kesalahan besar telah dia lakukan. Agaknya bocah edan ini ingin me- nyusul ayahnya!" Wisang Banto Oleng mengge- ram.

"Orang tua, jangan kau bunuh dia secepat kau membunuh ayahnya. Dia masih punya sau- dara. Lebih baik kau tangkap saja dia. Jika sau- daranya muncul ke sini. Kita bisa membunuhnya secara perlahan namun menyakitkan di depan saudaranya itu."

Si kakek angker dongakkan kepala, wajah- nya tengadah ke langit. Bersamaan dengan itu pula dia tertawa terbahak-bahak. "Kau benar. Jika kubunuh dia secepat yang aku mau, kematian itu terlalu enak baginya. Aku akan menangkapnya. Kemudian menyik- sanya secara perlahan. Suryo Lagalapang, otakmu ternyata cerdik juga. Baiklah, karena dia musuh- mu maka aku akan menangkapnya untukmu!" dengus si kakek.

"Orang tua, aku berterima kasih atas ban- tuanmu itu!" sang adipati menyahuti.

"Ucapan terima kasih tidak cukup bagiku, Suryo. Mutiara Pelangi harus kau serahkan pa- daku begitu semua urusanmu kuselesaikan. Kau ingat itu!"

"Orang tua aku tetap mengingatnya!" sahut sang adipati gugup. Si kakek mendengus. Cepat dia balikkan badan, sehingga kini dia berhadapan dengan Iblis Edan.

Di depan sana si pemuda nampak turun- kan kendi tuaknya. Sambil memegang gagang kendi dia meneguk tuaknya beberapa tegukan, setelah itu dengan mata merah dan tubuh ber- goyang tak mau diam Setan Sableng berkata. "Ib- lis berkedok kakek tua, aku Setan Sableng ingin meminta jantungmu, apakah kau sudah siap me- nyerahkannya?!" tanya si pemuda.

"Ha ha ha. Sejak tadi aku sudah siap. Kau hanya tinggal memilih dari depan atau dari bela- kang kau hendak merogoh jantungku?" tantang si kakek disertai senyum sinis.

Setan Sableng gelengkan kepalanya yang mulai pusing. Sejenak dia tertawa. Walau mulut tertawa, tapi mata membersitkan rasa sedih yang mendalam. Mungkin karena dia ingat pada orang tuanya. Sejak kecil mereka tak pernah bertemu, kini setelah dewasa begitu Setan Sableng menca- rinya orang yang hendak dia temui telah berpu- lang.

Dengan suara tertahan Setan Sableng men- jawab. "Orang tua, aku bukan dari golonganmu, aku juga bukanlah manusia pengecut. Aku ingin merogoh jantungmu dari depan. Jika jantungmu sudah kubetot, aku ingin tahu apakah kau masih bisa bertahan hidup atau malah jadi setan pena- saran! Orang tua aku datang menghadap, serah- kan jantungmu sekarang!"

Selesai berkata, laksana kilat Setan Sab- leng melompat ke depan. Tangan kanan diulurkan seperti orang yang siap menerima pemberian orang. Sedangkan kaki depan ditekuk, kaki kiri ditarik ke belakang.

Si kakek merasakan adanya sambaran an- gin dingin luar biasa. Masih tetap berlaku tenang dan umbar tawanya si kakek hantamkan tangan kirinya dengan gerakan dari atas ke bawah, se- dangkan mulutnya berseru. "Kau meminta aku memberi. Terimalah!"

Laksana kilat tangan itu menghantam tan- gan Setan Sableng yang ditadahkan. Hawa panas menyambar, sinar biru berkiblat. Tapi Setan Sab- leng cepat tarik tangan, begitu tangan ditarik ke belakang, tangan itu kembali didorongkan ke arah perut si kakek. Bersamaan dengan itu pula, mu- lutnya semburkan tuak yang mengarah ke wajah dan mata lawan. Sedangkan kaki kirinya lakukan satu tendangan hebat.

Tiga serangan ganas dilancarkan Setan Sableng dalam waktu bersamaan. Serangan per- tama berupa hantaman yang mengarah ke perut, serangan kedua berupa tendangan yang menga- rah ke bagian selangkangan. Sedangkan serangan ketiga berupa semburan tuak ke bagian wajah dan mata.

Si kakek tak menyangka mendapat seran- gan hebat demikian rupa sempat tercekat. Dia ta- hu semburan tuak itu merupakan serangan yang paling berbahaya dibandingkan dua lainnya. Di tangan Setan Sableng semburan tuak dapat menghanguskan bahkan menghancurkan mata si kakek. Karena itu sambil keluarkan seruan keras sebagai pelampiasan rasa kaget dan marah si ka- kek cepat melompat mundur, lalu miringkan tu- buh dan jatuhkan diri ke tanah.

Semburan tuak keras hanya mengenai tembok dibelakang Wisang Banto Oleng. Tembok berlubang seperti bekas ditancapi mata tombak, hangus menghitam mengepulkan asap tipis.

Si kakek selamat dari terjangan tuak, tapi dia tak dapat menyelamatkan diri dari tendangan dan pukulan Setan Sableng.

Dia yang sudah bergulingan diatas tanah nampak mencelat sejauh dua tombak terkena pu- kulan dan tendangan.

Si kakek menggerung kesakitan. Terbung- kuk-bungkuk dia bangkit berdiri. Dengan mata nyalang dia pandangi Setan Sableng. "Pemuda sableng ini serangannya cukup berbahaya, tapi yang lebih berbahaya lagi adalah semburan tuak- nya. Aku harus bisa memecahkan kendi tuak di- tangannya!" batin si kakek disertai seringai din- gin.

"Wisang Banto Oleng, ternyata kau tidak iklas menyerahkan jantungmu. Kau takut aku ju- ga merogoh nyawamu. Tapi kini fikiranku beru- bah sudah. Aku ingin merogoh jantung berikut nyawamu! Gluk... gluk... gluk...!" Habis berkata Setan Sableng teguk tuaknya. Lalu laksana kilat dan dengan gerak sempoyongan Setan Sableng berkelebat lancarkan serangan dengan kekuatan serta kecepatan berlipat ganda.

Melihat datangnya serangan begitu cepat dan sulit diduga ke arah mana lawan jatuhkan serangan, Wisang Banto Oleng tak mau berlaku ayal. Sejak tadi dia sudah gatal ingin menjajal Pe- dang Tumbal Segara yang dipinjamnya dari sang ayah. Tapi begitu dia ingat Suryo Lagalapang menghendaki lawan dalam keadaan hidup, si ka- kek urungkan niat. Pedang yang masih berada dalam rangkanya itu kemudian diangsurkan ke depan, kemudian diputar. Berputarnya pedang yang masih terbungkus rangka yang dibalut den- gan kain hitam ini mengeluarkan suara deru dah- syat disertai membersitnya hawa dingin yang membuat semua orang yang berada disitu terma- suk empat kuda Setan Sableng menggigil kedingi- nan.

Si pemuda jadi tercekat, panas tubuhnya yang dijalari hangatnya tuak mendadak hilang raib. Kini Setan Sableng mulai merasakan tubuh- nya disengat hawa dingin yang luar biasa. Sambil salurkan tenaga dalam tenaga dalam yang ber- sumber pada hawa panas ke sekujur tubuhnya Setan Sableng terus mendesak lawan. Tangan kiri yang memegang tuak didorongnya ke depan me- luncur deras mengambil sasaran di bagian dada. Sedangkan dari mulut, pemuda itu semburkan tuaknya. Sesuatu yang berada diluar perhitungan Setan Sableng terjadi. Semburan tuak tak mampu menembus pertahanan lawan yang melindungi di- ri dengan putaran pedang berangka di tangannya. Malah sebagian semburan berbalik menyerang si pemuda dan lebih celaka lagi ujung rangka pe- dang yang terbungkus kain hitam nyaris meng- hantam hancur kendi tuak di tangan kirinya. Se- tan Sableng keluarkan seruan kaget, kendi tuak ditarik kembali. Namun dengan wajah pucat sambil melompat mundur pemuda itu masih sempat menyarangkan tendangan telak di dada kiri Wisang Banto Oleng.

Si kakek terhuyung beberapa tindak ke be- lakang sambil keluarkan suara gerungan marah bercampur kaget. Sementara itu Setan Sableng yang selamat dari serangan tuak yang membalik jadi tertawa sambil berkata. "Ternyata nyawa dan jantungmu cukup alot juga orang tua. Aku jadi ingin tahu apakah kau masih sanggup memper- tahankan nyawamu setelah kuhantam dengan pukulan Setan Memindah Gunung?!"

"Setan Sableng bocah ingusan. Silahkan kau gunakan seluruh pukulan sakti yang kau mi- liki. Aku Wisang Banto Oleng tak akan lari dari kalangan pertempuran!" sahut si kakek penuh ra- sa kesombongan.

"Aku percaya dengan ucapannya. Dia ber- kata begitu pasti ada sesuatu yang sangat dian- dalkannya. Pedang itu.... hem, aku yakin senjata di tangannya bukan pedang biasa. Menurut Gento sahabatku, kakek ini tidak bersenjata. Dari mana dia dapatkan senjata sakti itu. Dan menurut Pen- dekat Sakti 71 pula kakek ini dibuatnya cedera parah. Tangan putus, rusuk remuk. Tapi yang kulihat sekarang Wisang Banto Oleng seperti ti- dak kekurangan sesuatu apa. Jangan-jangan sa- habat Gento telah mengadali aku. Semua ini sa- lahku, mengapa aku berani nekad menyantroni sarang macan seorang diri. Coba kalau bersabar menunggu kedatangan Gento, paling tidak aku dapat berbagi kesusahan dengannya." batin Setan Sableng. Walaupun hatinya resah melihat kehe- batan yang dimiliki lawan. Tapi Setan Sableng saat itu tetap mengumbar tawanya. Puas dia ter- tawa sekejap kemudian segera berkata. "Tua bangka anjing piaraan adipati. Siapa percaya dengan bualan mulut besarmu. Di depanku kau mengaku tak akan lari dari kalangan ini padahal tiga hari yang lalu kau kabur tunggang langgang ketika sahabatku Pendekar Sakti 71 Gento Guyon menghantammu dengan senjata saktinya. Seka- rang kau berani bicara sombong, agar adipati menganggapmu sebagai orang gagah penuh seri- bu keberanian. Ha ha ha!"

Merah padam wajah Wisang Banto Oleng mendengar ucapan Sableng. Dia tidak jauh be- danya bagai mendengar suara petir menggelegar di telinganya. Setan Sableng bicara seperti itu di depan adipati. Hal ini sama saja dengan menelan- jangi dirinya.

Si kakek merasa kini darahnya memuncak sampai ke ubun-ubun. Tiba-tiba saja si kakek berteriak. "Pemuda sableng mulutmu sangat ber- bisa sekali!"

"Jika apa yang kukatakan ini merupakan suatu kenyataan mengapa kau harus merasa ma- lu untuk mengakuinya? Kau takut adipati tidak mau memakaimu kembali lalu mencampakkan di- rimu ke comberan. Kau takut menjadi anjing bu- duk hina papa tak dikenal orang? ha ha ha?"

Kemarahan Wisang Banto Oleng benar- benar sampai pada puncaknya. Sambil berteriak keras dia melesat ke arah Setan Sableng. Kema- rahan yang demikian meluap membuat si kakek kerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Tak heran ketika orang tua ini gerakkan rangka pedang ke arah lawan. Sinar hitam menggidikkan yang disertai menderunya hawa dingin luar biasa menyambar dada Setan Sableng. Pemuda itu ter- huyung ke belakang, namun dia dengan cepat dapat menguasai diri. Selanjutnya seperti yang dikatakannya tadi Setan Sableng menghantam kakek itu dengan pukulan Setan Memindah Gu- nung.

Begitu si pemuda pukulkan dua tangannya ke depan, sesuatu yang sangat luar biasa terjadi. Mendadak sontak terdengar suara menggemuruh laksana lahar yang baru tertumpah dari puncak gunung, bumi bergetar satu gelombang angin pa- nas datang menerjang menghantam si kakek. Si kakek terkejut ketika mendapatkan dirinya me- lambung tinggi di udara.

Suryo Lagalapang sendiri jika tidak cepat jatuhkan diri hingga tubuhnya sama rata dengan tanah niscaya terhantam hembusan angin dan terbang entah kemana.

Di udara dalam keadaan terus terdorong, Wisang Banto Oleng mendadak keluarkan jeritan keras, rangka pedang diputar sebat. Angin dah- syat dan satu kekuatan aneh yang memancar dari pedang yang masih terbungkus sarung menim- bulkan satu ledakan menggeledar. Setan Sableng terdorong mundur sebaliknya si kakek yang tu- buhnya sempat mengapung diudara setinggi em- pat tombak kini secara aneh meluncur deras ke arah Setan Sableng. Selagi tubuhnya meluncur begitu rupa, Setan Sableng melihat sinar hitam menderu menghantam dada si pemuda.

Sebenarnya serangan ini hanya tipuan sa- ja, karena begitu Setan Sableng menghindar, ma- ka kini serangan kerangka pedang berbalik ke arah tangan si pemuda yang memegang kendi.

Tak ayal lagi kendi besar itu kena dihan- tam pecah. Isinya bertaburan mengguyur tubuh Setan Sableng.

"Waduh pecah kendiku... pecah kendiku!" seru Setan Sableng. Sesaat lamanya dia tercen- gang melihat bagaimana kendi kesayangannya di- hantam pecah oleh lawannya.

Apa yang terjadi pada Setan Sableng yang hanya sekejap itu tak disia-siakan oleh Wisang Banto Oleng. Sambil melompat ke depan dia pun lakukan satu totokan ke leher lawannya.

Si pemuda keluarkan satu seruan kaget ke- tika melihat ada tangan berkelebat ke bagian le- hernya. Cepat dia mengelak dengan miringkan tubuhnya ke samping. Tapi gerakan yang dilaku- kannya kalah cepat dengan gerakan jari tangan lawannya.

Tesss!

Totokan lawannya mendarat di bagian pangkal leher Setan Sableng membuat pemuda itu mengeluh dan dia merasakan tubuhnya men- jadi kaku.

"Ha ha ha! Kau lihat, Suryo. Satu nyawa te- lah berada dalam genggamanmu. Sekarang terse- rah kau mau berbuat apa atas dirinya. Yang jelas sebelum nyawanya kita rubah menjadi setan, aku ingin dia merasakan satu derita siksaan yang ti- dak pernah dia rasakan selama ini!" berkata begi- tu si kakek kemudian lakukan satu totokan lagi di punggung Setan Sableng.

"Akhhh.... iblis terkutuk, apa yang kau la- kukan atas diriku!" jerit Setan Sableng yang men- dadak merasakan sekujur tubuhnya didera rasa sakit yang sangat luar biasa.

"Setan Sableng... Aku telah menotokmu dengan totokan Pelebur Tulang. Dalam waktu dua pekan, tulang belulangmu akan hancur mengeri- kan. Nantinya kau akan menjadi seonggok daging bernyawa yang tidak berguna. Kau akan merasa- kan satu penderitaan yang hebat. Selamat me- nikmati. Ha ha ha!"

"Manusia keji keparat!" teriak Setan Sab- leng sambil mengerang dan merintih.

"Ah, kalau begitu rasanya aku tidak perlu menambahi dengan siksaan yang lain karena itu hanya akan mempercepat kematiannya. Biarkan saja dia disitu." ujar Suryo Lagalapang. Adipati kemudian berpaling pada si kakek angker yang saat itu sedang mengagumi senjata di tangannya. "Orang tua sebaiknya kita rayakan keberhasilan yang kita dapat hari ini!"

"Ha ha ha. Tentu... tentu saja Suryo. Hari ini walaupun aku sangat berduka atas kematian para bocah serigala itu. Tapi dukaku sedikit tero- bat karena aku memiliki pedang ini!" kata si ka- kek.

8

Ketika Gento sampai di sebelah selatan gerbang Kadipaten, pemuda ini menjadi heran ka- rena tidak melihat Setan Sableng berada di tem- pat itu. "Aneh... mestinya Setan Sableng itu su- dah menungguku di sini. Ada yang salah, seha- rusnya aku sudah sampai di sini kemarin. Seka- rang sudah hari ketiga. Jadi sudah terlewat satu hari. Aku tidak dapat menyalahkannya. Waktu yang kujanjikan dengan Setan Sableng sudah le- wat. Kurasa sekarang dia nekad pergi ke Kadipa- ten. Benar-benar mencari mati bocah edan itu!" fikir si pemuda. Sejenak dia terdiam, matanya memandang ke sekeliling tempat itu. Di satu sudut tatapan mata si pemuda membentur sesuatu. "Di balik semak belukar aku melihat ada sesuatu disana. Hem.... aku merasa sejak berpisah dengan Ageng Tirtomoyo, rasanya ada seseorang yang terus membayangi perjalananku! Mungkinkah dia ber- sembunyi disitu?" fikir Gento. Tak lama kemudian si pemuda berseru. "Orang yang bersembunyi di- balik semak belukar sebaiknya keluar. Aku bukan gadis yang patut diintai!"

Begitu si pemuda selesai berucap, dari ba- lik semak belukar melesat satu sosok berpakaian serba putih ringkas berambut panjang. Hanya da- lam waktu sekedipan mata di depan Gento berdiri tegak seorang gadis cantik berkulit putih mulus. "Ah.... kukira....!" Si pemuda tidak lanjutkan uca- pannya, sebaliknya malah mengusap wajahnya.

"Gento...!"

Gadis cantik yang bukan lain adalah Mu- tiara Pelangi adanya unjukkan sikap ramah, membuat Pendekar Sakti 71 Gento Guyon tambah kaget.

"Eeh, bagaimana kau bisa mengetahui na- maku. Kau ini siapa? Mengapa membayangi diri- ku?"

Si gadis tertawa, hingga sederetan giginya yang putih rapih terlihat jelas menambah ke- cantikan.

"Terus terang aku memang mengikutimu, bahkan ikut mendengarkan semua pembicaraan antara engkau dengan guru Iblis Edan!" "Hah...!"

Tak percaya Gento delikkan mata. Bagai- mana pun dia merasa kaget karena tidak me- nyangka pembicaraan mereka didengar oleh orang lain, sementara baik Gento maupun Ageng Tirto- moyo tidak mengetahuinya.

"Rupanya kau orang yang biasa mencuri dengar pembicaraan orang. Sayang sekali. Gadis secantikmu siapa menduga ternyata mempunyai tingkah laku yang tidak terpuji?"

Ucapan si pemuda membuat wajah si gadis berubah merah jengah. "Jangan sembarangan kau menuduh orang. Terus-terang secara kebetu- lan saja aku lewat di tempat kalian berada. Aku sedang mencari seseorang yang kalian bicara- kan!"

"Seseorang? Maksudmu Iblis Edan?" tanya Gento, lalu memandang si gadis dengan penuh rasa heran.

"Benar. Iblis Edan itu saudaraku, karena dia anak paman Karma Sudira adik kandung al- marhum ibuku. Kami berpisah, karena saat itu Iblis Edan mengejar Dewa Sinting!" ujar Mutiara Pelangi. Kemudian sang dara menuturkan segala sesuatunya pada Gento.

Mendengar penjelasan gadis itu sepasang mata si pemuda terbelalak lebar. "Tak pernah ku- sangka, aku seharusnya bisa bertemu dengan Ib- lis Edan. Karena orang tuanya sebelum me- ninggal berpesan padaku agar mencari sauda- ramu itu."

"Aku sesalkan kematian pamanku yang be- gitu cepat" desah Mutiara Pelangi dengan pera- saan sedih dan mata berkaca-kaca. Dia lalu me- lanjutkan ucapannya. "Jika bukan karena perbu- atan Suryo Lagalapang, tentu Iblis Edan dan Se- tan Sableng tidak terpisah dengan ayahnya."

"Rupanya kau ikut mendengarkan pembi- caraan kami semuanya. Saat ini rasanya kita tak dapat menunggu lebih lama. Setan Sableng yang kusuruh menunggu disini agaknya sudah pergi. Dia pasti nekad menyerang gedung tempat ke- diaman adipati. Aku khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri pemuda itu. Pa- dahal Iblis Edan saat ini entah berada dimana!" kata Gento resah.

"Rupanya kau dan Setan Sableng telah ber- janji untuk bertemu di tempat ini?"

Gento anggukkan kepala.

"Kami berpisah karena sama-sama ingin mencari Iblis Edan. Tak kusadari dua hari dari waktu yang kujanjikan telah terlewati. Aku tak dapat memenuhi janjiku pada Setan Sableng. Se- baiknya kita susul saja dia ke kadipaten. Tapi aku tidak mau memaksa. Jika kau ikut, harus be- rangkat bersamaku sekarang!"

"Oh ya, namaku Mutiara Pelangi."

"Nama yang bagus, secantik orangnya." Gento menanggapi apa adanya.

Tak urung membuat wajah sang dara be- rubah, tersipu-sipu dia berucap. "Kau terlalu ber- lebihan. Jika kau mau ke Kadipaten aku ikut. Ba- gaimana pun Setan Sableng adalah saudara se- pupuku. Kau yang orang lain saja menghawatir- kan keselamatannya apalagi aku?"

"Kau mau ikut aku tak melarang. Kurasa berjalan bersama seorang gadis cantik terasa le- bih menyenangkan daripada berjalan sendiri. Bu- kankah begitu?" ujar si pemuda lalu kedipkan mata kirinya.

Pujian polos Gento paling tidak membuat perasaan dan hati Mutiara Pelangi menjadi se- nang. Sejak pertama kali melihat Gento, sang da- ra memang sudah menyukai sifat dan cara bica- ranya yang terkesan apa adanya. Walaupun pada sisi lain pemuda ini sering bertingkah laku seperti orang yang kurang waras.

Kini setelah mendapat tawaran Gento tentu saja Mutiara Pelangi tidak menolak. Dia segera mengikuti Gento begitu murid kakek gendut Gen- tong Ketawa ini melangkah pergi.

***

Sehebat apapun Iblis Edan mengerahkan ilmu lari cepat dan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, ternyata dia tidak sanggup mengejar Dewa Sinting. Hingga dalam waktu singkat pe- muda itu telah tertinggal jauh dari kakek yang di- kejarnya. Yang membuat Iblis Edan jadi penasa- ran setiap dia merasa kehilangan jejak, di depan- nya sana selalu terdengar tawa Dewa Sinting, se- hingga sekilas menimbulkan kesan bagi si pemu- da bahwa kakek itu sengaja menantang Iblis Edan untuk mengejarnya. Tapi semua itu tidak mudah. Disamping Dewa Sinting memiliki ilmu lari lebih hebat dari setan, si pemuda sendiri saat itu mera- sakan serangan rasa gatal di tubuhnya makin menggila. Sehingga berulangkali dia terpaksa berhenti untuk menggaruk sekujur tubuhnya yang dijangkiti rasa gatal luar biasa. "Sial, wajah- ku dan tubuhku mengapa jadi bengkak begini? Dewa Sinting, kalau kau tak mau memberikan obat penawar itu padaku. Ke neraka sekalipun aku pasti akan mengejarmu." kata Setan Sableng lalu kepalkan tinjunya. "Kurang ajar, mengapa semakin gatal begini?"

"Ha ha ha. Apakah bisamu cuma memaki seperti perempuan. Obat penawar yang kau minta ada disini, kau ambillah sendiri.!" kata Dewa Sint- ing sayup-sayup dikejauhan sana.

"Sialan manusia pengecut!" sahut Iblis Edan. Tanpa bicara lagi dia kembali mengejar ke arah mana suara Dewa Sinting terdengar.

Tidak lama kemudian pemuda ini jadi he- ran sendiri karena tanpa dia sadari kini dirinya telah sampai di luar tembok gedung adipati. Ter- cengang Iblis Edan langsung hentikan langkah. "Mengapa tiba-tiba aku sampai disini? Kemana perginya Dewa Sinting? Jangan-jangan dia senga- ja menjebakku. Atau mungkin Dewa Sinting me- rupakan kaki tangan Adipati? Aku ingin tahu di- mana dia bersembunyi?" Habis berkata begitu Ib- lis Edan melompat ke atas tembok benteng. Begi- tu si pemuda jejakkan kakinya diatas tembok benteng dan julurkan kepala memandang keba- gian halaman dalam pemuda ini jadi terkejut. Dia melihat begitu banyak mayat-mayat bergelimpan- gan di halaman itu.

"Apa yang telah terjadi disini? Eeh.   siapa

yang berdiri tegak disana? Kulihat dia menggeliat seperti orang bego? Em.... bukan tolol, tapi dia seperti sedang menderita kesakitan luar biasa. In- gin kulihat siapa dia adanya." Lalu Iblis Edan kembali lakukan satu gerakan hingga tubuhnya melesat turun ke arah si baju putih yang berdiri tegak seperti patung tapi mulutnya keluarkan rin- tihan tak berkeputusan.

Begitu sampai di samping sosok berpa- kaian putih. Iblis Edan tercengang. Dia melihat sosok yang dalam keadaan tertotok itu ternyata seorang pemuda yang wajahnya hampir dengan dirinya.

"Orang baju putih apa yang kau lakukan disini? Kau mengerang seperti perempuan bunt- ing hendak melahirkan, memangnya apamu yang sakit?" tanya Iblis Edan.

Suara erangan terhenti seketika. Pemuda berpakaian putih yang bukan lain Setan Sableng adanya memandang ke arah orang yang mene- gurnya. Begitu melihat wajah Iblis Edan, Setan Sableng menyeringai. "Kau ini orang gila atau apa. Sudah tahu aku menderita akibat terkena to- tokan begini hebat kau malah mentertawaiku."

"Siapa yang mentertawai dirimu. Aku Iblis Edan tidak pernah mentertawai orang yang kesa- kitan? Katakan saja jika kau mau kutolong aku pasti menolongmu."

"Manusia edan seperti aku apa yang dapat diharapkan. Lagipula buat apa kau cari penyakit dengan datang ke tempat ini? Selagi ada kesem- patan, pergilah yang jauh!"

Iblis Edan terdiam. Matanya berkedap- kedip, tapi sepasang alis matanya terangkat naik. "Kau bicara seperti ada sesuatu yang kau ta- kutkan. Aku sendiri sedang mencari seorang."

"Seseorang? Apakah orang yang kau cari itu bernama Wisang Banto Oleng. Tua bangka yang telah membuat remuk kendi tuakku dan menyiksaku dengan ilmu totokan Penghancur Tu- lang?" tanya Setan Sableng.

Mendengar pertanyaan Setan Sableng, Iblis Edan sempat tercekat. Seakan tidak percaya dia memandang tajam ke arah pemuda si depannya. "Kau terkena totokan Jari Penghancur Tulang? Kudengar itu ilmu keji yang sangat berbahaya. Biasanya orang yang terkena totokan itu dalam waktu singkat seluruh tulangnya mulai dari tu- lang kepala sampai ke tulang jari kaki akan han- cur mengerikan. Heran... mengapa kau masih bersikap tenang saja?"

"Wisang Banto Oleng juga berkata begitu. Aku sendiri sudah mengerahkan seluruh kesak- tian yang aku miliki untuk memunahkan totokan di leher dan juga totokan Jari Penghancur Tulang. Tapi aku hanya bisa memunahkan totokan di ba- gian leher. Sedangkan totokan keji dipunggungku tidak juga lenyap."

"Mungkin kau perlu mencobanya sekali la- gi." usul Iblis Edan yang entah mengapa dalam pertemuan yang tidak disengaja itu membuat me- reka cepat akrab. Setan Sableng menyahut. "Aku sudah mencobanya. Sampai mulas perutku totokan Wi- sang Banto Oleng tidak mau punah."

"Wisang Banto Oleng." Iblis Edan menyebut nama yang sama dengan bergumam. "Orang itu bukan yang kucari. Aku mencari Dewa Sinting. Kakek gila yang membuat sekujur tubuhku jadi gatal-gatal begini."

"Pantas sejak tadi kau menggaruk badan terus. Bagaimana ciri-ciri kakek sinting itu?" tanya Setan Sableng.

"Pakaian putih, rambut putih. Badan tinggi kurus. Kalau berjalan suka melipat tubuhnya, menggelinding seperti bola."

"Sayang, aku tidak melihatnya. Yang kuli- hat justru kakek seram Wisang Banto Oleng. Tua bangka itulah yang menjadi pelindung adipati. Padahal aku hampir saja berhasil membalaskan sakit hati dendam kesumat ayahku!" geram Setan Sableng yang tubuhnya terus bergerak tak mau diam akibat totokan Jari Penghancur Tulang. Se- baliknya Iblis Edan terus menggaruk sekujur tu- buhnya sehingga dilihat sepintas lalu keadaan mereka nampak lucu sekali.

9

Iblis Edan hentikan gerakan menggaruk badan ketika Setan Sableng mengatakan ingin membalas dendam kesumat ayahnya. Dengan he- ran Iblis Edan ajukan pertanyaan. "Kau ingin membalas dendam pada adipati atas kematian ayahmu. Siapa nama ayahmu?"

"Ayahku bernama Karma Sudira. Dulu ayahku sekitar belasan tahun yang silam adalah seorang adipati di Purbolinggo ini."

"Jadi ayahmu sudah mati?" tanya Iblis Edan. Saat itu hati dan perasaannya mulai dis- elimuti keresahan.

"Ya, baru beberapa pekan yang lalu. Saha- batku Gento Guyon yang mengatakan hal itu pa- daku, karena pada saat itu ayah bersamanya!"

"Siapa yang telah membunuhnya?"

"Iblis tua bernama Wisang Banto Oleng, orang yang telah menotokku begini rupa." jawab Setan Sableng.

Tidak disangka, Iblis Edan mendadak me- meluk Setan Sableng sambil menangis mengge- rung. Setan Sableng tentu saja jadi kaget juga he- ran. Tapi dia juga menjadi gugup begitu Iblis Edan memeluknya dengan erat. Dengan halus Se- tan Sableng mencoba menjauhkan Iblis Edan dari dirinya. Setelah itu dia ajukan pertanyaan. "Baru terkena gatal-gatal saja tangismu seperti seorang anak yang ditinggal mati ibunya. Aku sendiri yang sudah tau bakal mengalami kehancuran tulang masih bisa bersikap tabah." kata pemuda itu lalu ketawa.

Iblis Edan menggaruk habis bagian wajah- nya. Dia lalu hentikan tangis. Dengan suara ter- sendat-sendat Iblis Edan bertanya. "Kau siapa?"

"Sejak kecil aku tak punya nama, setelah besar aku dipanggil Setan Sableng oleh Mbah Se- tan. Mungkin karena aku mempunyai sifat ura- kan seperti setan."

"Setan Sableng, aku Iblis Edan. Rupanya kita ditakdirkan menjadi manusia yang tidak beres. Tapi kita masih saudara. Aku kakakmu se- dangkan kau adikku!" kata Iblis Edan.

"Heh... bagaimana bisa kejadian. Kenal dan bertemu denganmu saja baru kali ini dan dalam keadaan sama-sama konyol lagi!"

"Karma Sudira yang kau katakan tadi juga adalah ayah kandungku!" tegas Iblis Edan.

"Ah... biyung. Tidak ada petir tak ada hu- jan, bagaimana aku dipertemukan Tuhan dengan saudaraku dalam keadaan sekarat begini. Kakang Iblis Edan... walah. Rasanya tidak pantas sekali aku menyebut julukanmu itu!"

"Adik, apa yang telah diberikan oleh guru- ku yang edan itu harus kusukuri. Sebaliknya kau juga harus berterima kasih pada Mbah Setan yang telah merawatmu sejak kecil. Pertemuan ini sungguh tidak pernah kusangka dan rasanya ber- langsung singkat, karena satu purnama menda- tang aku akan...!" Iblis Edan tidak meneruskan ucapannya. Saat itu mendadak wajah si pemuda berubah sedih. Dia memeluk adiknya Setan Sab- leng. Sebaliknya Setan Sableng balas memeluk- nya seakan mereka memang ingin melampiaskan rasa kerinduannya setelah terpisah hampir dua puluh tahun.

Di sudut atap gedung sebelah timur seo- rang kakek tua berambut dan berpakaian putih yang bergelung diatas batang pohon mangga me- lihat semua kejadian yang berlangsung di hala- man itu.

"Dua bocah yang malang. Aku harus bisa membawa kedua pemuda itu ke Tegal Kramat un- tuk kudidik menjadi dua murid yang hebat! Aku tahu adik Iblis Edan jika tidak kutolong dia akan mengalami kehancuran tulang belulang di seku- jur tubuhnya. Hem, sebaiknya aku bersabar me- nunggu sampai keduanya puas melampiaskan ke- rinduannya masing-masing!" kata si kakek. Tanpa dia sadari ada air mata yang bergulir membasahi pipinya. Dengan cepat si kakek yang tubuhnya bergelung melingkari batang pohon menyeka air matanya. "Oh, aku ikut menangis? Pertemuan dua bersaudara itu sangat mengharukan. Aku ja- di ikutan sedih"

Sementara itu begitu selesai melampiaskan kerinduan dan melepaskan pelukan masing- masing Setan Sableng ajukan pertanyaan. "Apa yang akan kau lakukan satu purnama di depan? Apakah kau akan kawin?"

Iblis Edan agaknya tidak mau larut dalam kesedihan berkepanjangan, karena itu dia menja- wab. "Aku akan mati. Aku mungkin mati muda karena racun Pring Biru yang mendekam di tu- buhku." Iblis Edan lalu menceritakan segala se- suatu yang telah terjadi pada dirinya. Beberapa saat setelah sang Iblis menuturkan keadaan di- rinya, Setan Sableng dengan iba bertanya. "Jadi itu sebabnya kau mengejar Dewa Sinting sampai kemari?"

Iblis Edan mengangguk. Setan Sableng menarik nafas pendek. "Sayang aku tak melihatnya. Orang tua

yang telah mencelakaimu itu kurasa bukan kaki tangan adipati."

"Kalau bukan mengapa dia lari kemari?" tanya Iblis Edan.

"Mungkin hanya kebetulan saja."

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Iblis Edan selanjutnya.

Setan Sableng terdiam. Dia tahu persis di dalam gedung kini hanya tinggal Suryo Lagala- pang berdua dengan Wisang Banto Oleng. Suryo Lagalapang boleh jadi lawan yang tidak begitu be- rat bagi mereka. Tapi Wisang Banto Oleng. Keha- diran kakek itu harus diperhitungkan. Dia memi- liki ilmu yang tinggi. Di samping itu dia juga me- miliki senjata andalan berupa Pedang Tumbal Se- gara. Setan Sableng sudah merasakan baru menghadapi rangka pedangnya saja dia yang menghantam lawan dengan pukulan Setan Me- mindah Gunung tak dapat berbuat banyak. Apa- lagi bila Wisang Banto Oleng mencabut senjata itu dari sarungnya.

"Melihat apa yang dilakukan Suryo Lagala- pang dimasa lalu terhadap ayah juga pada diriku dan dirimu rasanya aku ingin memenggal kepa- lanya saat ini juga. Tapi kita tak dapat bertindak gegabah selama Wisang Banto Oleng berada di si- sinya. Lagipula saat ini aku dalam keadaan terto- tok. Walaupun aku dapat menggerakkan sekujur tubuhku mungkin tenaga dalam yang kumiliki sudah jauh berkurang. Sedangkan kau juga tidak dalam keadaan sehat!" kata Setan Sableng bim- bang.

"Walaupun Suryo Lagalapang dikelilingi se- puluh tokoh sesat seperti Banto Oleng buat apa ditakutkan? Ingat kematian ayah kita, arwahnya pasti tidak akan tenang selama Suryo Lagalapang masih hidup. Lagipula apa yang kita tunggu. Saat ini kita sama menderita. Andaipun kita tak mela- kukan segala sesuatunya saat ini. Dalam waktu satu purnama di depan kita berdua juga akan mati!"

Setan Sableng beranggapan apa yang dika- takan Iblis Edan memang ada benarnya. Pada ak- hirnya mereka berdua akan menemui ajal. Jika sekarang dia mengadakan perhitungan dengan adipati, seandainya mereka tewas tidak akan menjadi penyesalan. Setelah berfikir beberapa je- nak lamanya Setan Sableng akhirnya me- mutuskan. "Kakang Iblis, kalau kau berkehendak melakukan pembalasan sekarang kufikir memang tidak ada salahnya. Kita tidak perlu menyerbu ke dalam. Kita bakar saja gedung ini sampai hangus, masa mereka tidak mau keluar!" Sambil garuk- garuk tubuhnya yang gatal Iblis Edan menyambut ucapan adiknya dengan tawa.

"Kau benar adikku. Mari kita panggang dua tikus tua itu hidup-hidup. Jika mereka tidak mau mampus pasti nanti keluar sendiri." kata Iblis Edan. Kemudian kedua bersaudara itu gosok- gosokkan tangannya satu sama lain siap mele- paskan pukulan yang dapat menimbulkan koba- ran api. Melihat ini Dewa Sinting yang mengintai dengan tubuh bergelung diatas pohon mangga di sudut timur atap gedung hendak berteriak men- cegah. Namun niatnya urung, mulutnya yang membuka terkatub lagi begitu melihat satu bayangan hitam dan bayangan cokelat berkelebat keluar dari dalam gedung melalui pintu depan.

Pada saat itu kedua telapak tangan Iblis Edan maupun Setan Sableng telah berubah me- rah laksana bara disertai mengepulnya asap putih kemerahan yang membersit keluar dari setiap ujung jarinya.

"Berani kalian membakar gedung ini, jiwa- mu dan jiwa adikmu tidak akan kuampuni!" har- dik satu suara mengancam.

Serentak dua bersaudara itu palingkan ke- pala memandang ke arah datangnya suara. Saat itu di sebelah kiri mereka berdiri tegak dua orang laki-laki yang sudah dikenal oleh Setan Sableng.

Orang yang membentak mereka tadi bukan lain adalah adipati Suryo Lagalapang, sedangkan yang disebelahnya kakek angker berpakaian dekil bukan lain adalah Wisang Banto Oleng.

"Kakang... dua monyet tua inilah yang membuat orang tua kita menderita. Mereka pula yang menyebabkan kita terpisah selama belasan tahun!" Setan Sableng memberi bisikan pada sang kakak.

Iblis Edan melirik ke arah Suryo Lagala- pang dan si kakek sekejap. Setelah itu tanpa bica- ra dia kedipkan matanya pada sang adik.

"Orang yang kita cari sudah berada di de- pan kita. Sekarang mari kita bakar mereka hidup- hidup!" Selesai berkata Iblis Edan sekuat tenaga dorongkan tubuhnya ke arah Suryo Lagalapang. Hal yang samapun kemudian dilakukan oleh Se- tan Sableng.

Bukan saja hanya Suryo Lagalapang yang dibuat kaget melihat serangan yang datang den- gan tidak disangka-sangka ini. Sebaliknya Wisang Banto Oleng juga tidak kalah kejutnya.

Sementara sang adipati dibuat terperangah beberapa jenak, sebaliknya si kakek yang berdiri tegak disampingnya melompat kesamping, men- dorong sang adipati hingga jatuh terjengkang, se- telah itu laksana kilat dia balikkan badan lalu menghantamkan kedua tangannya menyambuti serangan kedua pemuda tadi yang seharusnya menghantam adipati.

Bumm! Buum!

Dua ledakan berturut-turut menggelegar di udara menimbulkan satu lubang menganga hi- tam, mengepulkan asap tebal. Baik Setan Sableng maupun Iblis Edan terpental sejauh lima tombak. Dari mulut mereka menyemburkan darah. Seba- liknya Wisang Banto Oleng keluarkan seruan ke- ras sambil melompat mundur, sedangkan kedua tangannya dipergunakan untuk memadamkan api yang berkobar membakar baju dan celananya ba- gian depan.

"Kedua pemuda ini jika tidak kuhabisi se- karang, rasanya bisa membahayakan diriku. Wa- laupun aku tahu Setan Sableng telah kehilangan setengah dari tenaga dalamnya akibat pengaruh totokan Jari Penghancur Tulang yang kulakukan kemarin!"

Di depan sana Iblis Edan dan Setan Sab- leng tanpa menghiraukan rasa sakit di dadanya segera bangkit kembali. Sejenak keduanya saling berpandangan. Kemudian mereka sama melirik ke depan.

"Ha ha ha. Niat kita untuk membunuh adi- pati jahanam itu tak mungkin terlaksana selama setan tua itu menjadi pelindungnya." kata Iblis Edan.

"Huk.... Setan itu memang harus kita sing- kirkan, tapi sebelum nyawanya merat ke neraka, apa salahnya kita buat saja dia telanjang dulu?" sahut Setan Sableng sambil mendekap dadanya yang mendenyut. Dia sadar sepenuhnya akibat pengerahan tenaga sakti yang dia miliki. Kini se- kujur tulang belulang di tubuhnya terasa sakit dan nyeri bukan main. Tapi Setan Sableng mera- sa tidak punya pilihan lain.

Sebaliknya Suryo Lagalapang meskipun menderita sakit di bagian punggung akibat dido- rong oleh si kakek tadi, namun dia sadar jika Wi- sang Banto Oleng tidak menolong dengan mendo- rong dirinya tadi, niscaya tubuhnya hangus ter- panggang pukulan lawan.

Kini dia bangkit berdiri. Setelah itu dia membentak. "Pertemuan dua saudara itu agaknya berakhir menyedihkan di tempat ini. Orang tua, dua orang yang kita inginkan telah datang sendiri ke tempat kediamanku. Sekarang sudah saatnya untuk melenyapkan mereka!" dengus Suryo Laga- lapang. "Permintaanmu akan kukabulkan, Suryo Lagalapang. Tapi sabar dulu, kudengar mereka hendak membuatku telanjang. Aku ingin tahu, apakah disaat nyawa berada di tenggorokan me- reka becus melakukan sesuatu? Ha ha ha!" Den- gan sikap meremehkan si kakek menanggapi uca- pan adipati.

10

Mendengar ejekan Wisang Banto Oleng, baik Setan Sableng maupun Iblis Edan bukan- nya marah, sebaliknya malah tertawa terbahak- bahak. "Kau dengar apa yang dikatakannya?" tanya Setan Sableng begitu tawanya mereda.

"Aku kurang pasti. Tapi kalau tak salah monyet tua yang membawa pedang dibungkus kain apek itu mengatakan ingin bunuh diri di de- pan kita karena terlalu banyak dosa! Ha ha ha!" sahut Iblis Edan sambil menggaruk tubuhnya.

"Kalau begitu berarti adipati akan kehilan- gan pelindung?"

"Jika kakek itu mati, setan dan Iblis seperti kita tentu bisa mengirimnya ke neraka. Nah, se- karang tunggu apa lagi. Tua bangka itu minta mati, kita luluskan saja permintaannya!" kata Ib- lis Edan.

Setan Sableng tertawa terkekeh tak perduli saat itu sekujur tulang belulang di tubuhnya te- rasa sakit bukan main. Dua bersaudara yang sudah menghimpun tenaga sakti dan disalurkan ke bagian kedua be- lah tangan ini tiba-tiba melompat ke depan, begi- tu tubuh mereka berkelebat di udara dua tangan masing-masing didorongkan ke depan.

Wus! Wus!

Angin menderu disertai berkelebatnya sinar merah terang sepanas matahari. Suryo Lagala- pang yang melihat ini langsung melompat men- jauh hindari sambaran dua pukulan yang dilan- carkan kedua kakak beradik. Malah dia sampai pejamkan mata tak berani membayangkan apa yang bakal terjadi begitu kedua pukulan itu sea- kan hendak menggulung kakek Wisang Banto Oleng.

Melihat serangan yang mampu menghan- guskan gunung itu si kakek berlaku tenang, wa- laupun saat itu samberan angin pukulan lawan laksana memanggang tubuhnya.

Sekejap lagi dua gelombang pukulan yang laksana mengobarkan api itu menelan tubuhnya si kakek yang yakin dengan kehebatan pedang di- tangannya. Langsung angkat rangka pedang, ke- mudian pedang yang masih berada dalam rangka itu diputar membentuk perisai diri sekaligus lan- carkan serangan balik menghadang hantaman dua sinar maut tersebut.

Glar! Buum!

Dua ledakan keras bagai gunung meletus bergema di udara. Dua sinar merah begitu mem- bentur rangka pedang di tangan si kakek menda- dak mencuat berbalik menyerang Setan Sableng dan Iblis Edan. Kedua pemuda yang sudah jatuh terpental akibat benturan hebat tadi kini terpaksa harus berjibaku selamatkan diri hindari serangan pukulannya sendiri yang berhasil dihantam membalik oleh ujung rangka pedang lawannya.

Untuk sejenak lamanya halaman gedung kediaman adipati gelap dipenuhi asap tebal menghitam. Begitu asap dan kepulan debu le- nyap. Di depan sebuah lubang menganga hitam akibat ledakan Wisang Banto Oleng berdiri tegak tanpa kekurangan sesuatu apa. Di dadanya rang- ka pedang nampak bersilangan, tampak tatap mata si kakek memandang bengis ke arah kedua lawan, sedangkan bibirnya sunggingkan senyum mengejek.

Dengan nafas megap-megap Setan Sableng yang terkapar menelentang mencoba bangkit. Ta- pi dia jadi kaget begitu menyadari sekujur tulang di tubuhnya laksana remuk berpatahan.

Tak jauh disampingnya Iblis Edan walau mengalami luka dalam akibat bentrokan tadi sambil tiada henti menggaruk masih dapat berdi- ri. Ketika pemuda ini melirik kesamping terkejut dia. Saat itu dia lihat sekujur tubuh adiknya nampak membiru, seolah darah pada bagian urat- urat darahnya membeku.

"Adik apa yang terjadi dengan dirimu?" tanya Iblis Edan, seraya melompat lalu memeluk Setan Sableng.

"Aku... aku merasa darahku berhenti men- galir. Mungkin karena aku terlalu banyak mengu- ras tenaga. Kini sekujur tubuhku seperti dingin membeku. Ah...!" Si pemuda mengerang.

Melihat keadaan Setan Sableng yang men- genaskan Iblis Edan menjadi sangat sedih sekali. Kesedihan yang pada akhirnya berubah menjadi kemarahan begitu dia melihat lawan berdiri ber- kacak pinggang di depan sana. Dengan perasaan geram si pemuda bangkit berdiri. Sepasang ma- tanya memandang penuh rasa benci terhadap ka- kek itu.

"Tua bangka keparat! Jika sampai terjadi apa-apa dengan adikku aku bersumpah akan membunuhmu!" teriak Iblis Edan.

Si kakek tertawa bergelak.

"Adikmu akan mati. Semua itu karena dia terlalu banyak menguras tenaga dalam. Tapi aku bukan manusia yang tidak punya perasaan. Aku bersedia mempercepat kematiannya. Ha ha ha!" berkata begitu si kakek angkat tangan kirinya. Melihat hal ini Iblis Edan segera bangkit berdiri bersikap melindungi adiknya.

Tidak berapa lama tangan si kakek telah berwarna kebiru-biruan pertanda pukulan yang hendak dilepaskannya mengandung racun ganas. Tak begitu lama tangan si kakek dihantamkannya ke arah kedua pemuda itu. Sinar biru melesat menghantam Iblis Edan. Pemuda itu tentu saja tidak mau mati konyol menjadi sasaran pukulan lawan. Dengan cepat pula dia dorongkan kedua tangannya ke depan.

Wuuuut!

Satu benturan kembali terjadi diudara. Ib- lis Edan menjerit keras, tubuhnya terpelanting dan jatuh menindih saudaranya sendiri. Di lain pihak lawan hanya terhuyung saja. Kenyataan ini juga mengejutkan bagi kakek itu sendiri. Dia sa- dar betul pukulan yang dilepaskan oleh lawannya bukan pukulan biasa. Bahkan mengandung tena- ga dalam tinggi. Tapi mengapa dia tidak merasa- kan akibat apapun.

Perlahan dia melirik ke arah pedang Tum- bal Segara yang berada dalam genggaman tangan kanannya. Dia yakin pedang itulah yang telah banyak membantunya. Dengan kekuatan sakti yang terkandung dalam pedang beberapa kali si kakek merasa dibantu.

"Pedang yang sangat luar biasa!" membatin Wisang Banto Oleng penuh rasa terima kasih.

"Orang tua, kedua musuh sudah tidak ber- daya. Mengapa kau tidak menghabisi mereka se- cepat mungkin?!" teriak Adipati.

"Aku sedang berfikir bagaimana cara yang terbaik untuk melenyapkan mereka. Dan semua itu sekarang baru saja kutemukan!" Selesai ber- kata Wisang Banto Oleng keluarkan satu teriakan melengking. Bersamaan dengan itu pula tubuh- nya melesat di udara. Sengaja dia tidak ingin membunuh kedua pemuda itu karena ingin me- remukkan beberapa bagian tubuh lawannya.

Melihat gerakan lawan yang demikian ce- pat, Iblis Edan jadi tercekat. Dia sendiri saat itu tengah menderita luka dibagian dalam yang tidak ringan, jadi mustahil dapat melindungi adiknya. Dan yang lebih celaka lagi jarak diantara mereka cukup berjauhan sehingga tidak mungkin baginya memberikan perlindungan. Semua apa yang ter- jadi ini tentu saja diketahui oleh Dewa Sinting yang berada di atas pohon. Orang tua yang berge- lung di pohon tercekat. "Celaka kakek jelek itu hendak mencelakai calon muridku!" si kakek ke- luarkan seruan tercekat.

Akan tetapi belum lagi dia sempat melaku- kan sesuatu, dari arah lain dua bayangan berke- lebat. Satu bayangan putih bergerak mendahului dan menarik Setan Sableng dari jangkauan puku- lan Wisang Banto Oleng. Sehingga pemuda itu se- lamat dari pukulan maut lawan. Sedangkan sosok yang bertelanjang dada menghantam Wisang Ban- to Oleng hingga membuat orang tua itu jatuh ter- pental.

Buum!

Pukulan yang dilepaskan si kakek meng- hantam tempat kosong dimana Setan Sableng tadi berada. Di sebelah kiri Suryo Lagalapang Wisang Banto Oleng tersungkur. Orang tua ini dengan hati dilanda kemarahan segera bangkit berdiri. Dia jadi kaget sekaligus meluap kebenciannya be- gitu melihat Pendekar Sakti 71 Gento Guyon ber- diri tegak disitu. Tak jauh di sebelah kanan si pemuda seorang gadis berpakaian putih nampak pula sibuk memberikan pertolongan pada Setan Sableng dan Iblis Edan.

Melihat siapa adanya gadis itu, Wisang Banto Oleng jadi agak surut amarahnya. Dia ber- paling ke arah sang adipati. ''Suryo, bukankah gadis ini orangnya yang kuminta padamu untuk kau berikan padaku?!" ujar si kakek. "Kau benar orang tua. Mohon dimaafkan, kurasa orang-orangku tak becus menangkapnya. Kau tak perlu berkecil hati karena gadis yang hendak kau jadikan istri sekarang datang ingin menyerahkan diri kepadamu!" Mendengar ucapan sang adipati Mutiara Pelangi berubah merah pa- rasnya. Dia melirik ke arah pemuda bertelanjang dada. Yang dilirik kedipkan matanya.

"Kau sudah mendengar tua bangka itu in- gin menjadikanmu sebagai istrinya. Sekarang kau sudah bertemu dengan Setan Sableng, dan pe- muda yang menggaruk tubuhnya itu apakah sau- daramu juga?" tanya Gento. Dalam hati sesung- guhnya pemuda ini jadi kaget begitu melihat Wi- sang Banto Oleng yang beberapa hari lalu mende- rita cidera berat di bagian tangan dan tulang ru- suknya dapat menyembuhkan diri secepat itu.

"Dia Iblis Edan. Kedua pemuda ini memang saudaraku. Mereka anak paman almarhum Kar- ma Sudira adik dari ibuku!" ujar Mutiara Pelangi.

Setan Sableng yang baru lolos dari kema- tian begitu juga Iblis Edan yang terluka di bagian dalam dan sibuk menggaruk tubuhnya tentu jadi terkejut mendengar pengakuan Mutiara Pelangi ini. Seakan tak percaya mereka memandang ter- belalak ke arah si gadis.

"Jadi... jadi kau saudara kami?" seru Iblis Edan dan Setan Sableng hampir bersamaan.

Mutiara Pelangi anggukkan kepala.

Di sudut lain adipati Suryo Lagalapang nampak dilanda keresahan. Berulang kali dia memandang Gento. Dalam hati dia berkata. "Mungkin itulah orangnya Pendekar Sakti 71 Gento Guyon yang pernah membuat kakek Banto Oleng mengalami cidera parah."

Kakek angker itu sendiri setelah puas me- lihat dan memandang kecantikan Mutiara Pelangi berteriak keras ditujukan pada sang adipati. "Suryo... Kuminta kau menangkap gadis cantik calon istriku itu. Ini adalah tugas yang paling mudah untukmu. Tapi ingat jangan sampai kau membuat kulitnya yang mulus itu lecet apalagi sampai terluka! Cepat lakukan apa yang aku min- ta!"

"Pemuda gondrong itu bagaimana orang tua?" tanya sang adipati dengan suara bergetar.

"Si gondrong jahanam ini pernah mema- tahkan tulang lengan dan tiga tulang rusukku. Biarkah aku yang mengurusnya!" tegas si kakek.

"Walah... rupanya kau mempunyai ilmu si- luman. Aku jadi tidak heran bila luka yang terjadi padamu dapat sembuh secepat itu!" kata Gento disertai senyum mencibir. Gento melirik pedang ditangan kiri si kakek. Kemudian dia kembali me- nyeletuk. "Agaknya pedang itu bukan senjata bi- asa kadal tua buduk. Dari mana kau dapatkan pedang itu. Hasil dari mencuri atau hasil dari mengemis di tukang loak? Ha ha ha."

"Pemuda jahanam. Dengan pedang ini aku akan menguliti tubuhmu!" geram si kakek.

"Oh, tadinya kau manusia sesat, rupanya sekarang sudah bertobat. Tapi mengapa memilih pekerjaan jadi tukang jagal?" ejek Gento.

Terbakar oleh dendam kesumat yang mem- bara, Wisang Banto Oleng tidak sanggup lagi me- redam gejolak kemarahannya. Disertai dengan suara menggerung keras kakek itu melesat ke de- pan. Begitu tubuhnya mengambang diudara dia kirimkan satu jotosan dengan tangan kiri, se- dangkan tangan kanan memutar pedang yang terbungkus rangka itu.

Gento dengan cepat melompat ke samping, hingga jotosan dapat dielakkannya. Tapi dia jadi terkesiap begitu merasakan adanya sambaran an- gin dingin luar biasa yang bersumber dari rangka pedang ditangan lawannya. Kaget bercampur he- ran si pemuda dorongkan kedua tangannya ke depan. Si gondrong jadi terpekik kaget ketika me- rasakan bagaimana kedua tangan yang dipergu- nakan untuk mendorong tiba-tiba berubah din- gin, setiap ujung jemarinya laksana dicucuki ja- rum, sedangkan hantaman angin dingin tadi bu- kan saja membuat tangkisannya seakan tidak berguna tapi juga membuat Gento jatuh terjeng- kang.

11

Di lain pihak, Mutiara Pelangi kini sudah melangkah maju ke depan. Adipati juga tidak tinggal diam. Sekali bergerak dia telah berada di- depan gadis itu hingga jarak diantara mereka hanya tinggal dua langkah saja.

"Mutiara Pelangi. Lebih baik kau menye- rahkan diri. Selain dua pemuda itu yang memang sudah ditakdirkan mati di tempat ini, aku pasti akan mengampunimu. Kau bisa hidup enak, apa- lagi kakek Wisang Banto Oleng akan menjadi- kanmu seorang istri!" kata adipati lantang.

Mutiara Pelangi mendengus, kemudian semburkan ludah kedepan. Sebagian ludah mem- basahi wajah sang adipati. Laki-laki itu menyerin- gai sambil usap air ludah di wajahnya.

"Siapa yang hendak minta ampun pada manusia durjana bergelimang dosa sepertimu? Sedangkan Tuhan pun akan mengampuni dirimu. Siapa yang sudi menjadi tua bangka iblis itu. Ke- tahuilah, Karma Sudira adalah pamanku. Kedua pemuda itu saudaraku, hari ini adalah saatnya bagi kami untuk menagih segala hutang dosa be- rikut nyawa. Bersiap-siaplah kau untuk mati!" dengus sang dara.

Iblis Edan yang saat itu telah berdiri me- nimpali. "Pelangi! Aku senang karena ternyata kami memiliki saudara yang cantik. Tapi lebih se- nang lagi jika kita bersama-sama dapat membalas segala penderitaan ayah dimasa lalu!"

Setan Sableng yang terkapar diatas tanah tak mau ketinggalan. "Aku juga merasa senang. Tapi sayang aku tak bisa ikutan memenggal kepa- la adipati. Totokan keparat kakek tua itu, serta luka dalam yang aku derita membuat aku tak bi- sa berbuat banyak! Ha ha ha. Huk huk huk!"

"Kalian tiga bersaudara manusia keras ke- pala. Jangan salahkan aku jika terpaksa turun- kan tangan keras!" Selesai berucap sang adipati melompat kedepan. Dengan kecepatan luar biasa tangan kiri dihantamkan ke arah Mutiara Pelangi, sedangkan tangan kanan di dorongkannya ke arah Iblis Edan yang berdiri tak jauh di sebelah kiri si gadis.

Mutiara Pelangi tak tinggal diam. Dia ber- kelit ke samping begitu hawa panas melanda tu- buhnya. Setelah itu sosok si gadis melenting di- udara. Selagi gadis itu berjumpalitan di udara dia menghantam lawannya dengan pukulan Kuku Kupu Menari Di Atas Bunga.

Selarik sinar putih menyilaukan laksana perak menderu diudara. Suryo Lagalapang meng- gerung begitu merasakan sambaran hawa panas bukan kepalang. Cepat sekali dia melompat mun- dur. Tapi dari arah samping Iblis Edan yang lolos dari pukulan yang dilepaskannya telah melabrak orang tua itu dengan satu tendangan menggele- dek.

Menghadapi dua serangan yang datang se- kaligus, tentu adipati dibuat kalang kabut. Den- gan cepat tangan kiri dikibaskan ke samping me- nangkis tendangan lawan, sedangkan tangan ka- nan didorongkannya ke atas kepala.

Wuut!

Bukk! Bummm!

Bentrokan tangannya dengan kaki lawan membuat adipati terhuyung. Tangan yang diper- gunakan menangkis laksana remuk. Dari bagian atas pukulan si gadis juga tak mampu ditahan- nya. Tak ayal lagi Suryo Lagalapang jatuh terdu- duk. Dia merasakan mendadak tubuhnya jadi menciut, bagian kepala terasa panas luar biasa. Adipati mengerang kesakitan. Bersikap seakan ti- dak menghiraukan rasa sakit yang dideritanya terbungkuk-bungkuk adipati bangkit lagi. Begitu bangkit dia langsung menyalurkan tenaga dalam kebagian tangannya, siap melepaskan pukulan 'Dua Topan Melanda Bumi'. Inilah satu ilmu yang sangat diandalkan oleh Adipati Suryo Lagalapang. Tidak berselang lama laki-laki itu memutar kedua tangan diatas kepala. Sesuatu yang menge- rikan kemudian terjadi. Dari dua tangan yang di- putar sebat, angin bergulung-gulung melabrak sang dara yang baru saja jejakkan kakinya, juga menghantam Iblis Edan yang menyerangnya dari arah sebelah kiri. Iblis Edan bertahan mati- matian dari serangan lawannya. Tak urung dia yang sudah terluka dalam itu pada akhirnya ter- pental. Jatuh terkapar dengan mulut menyem- burkan darah. Disebelah kanannya Mutiara Pe- langi yang sudah tekuk kedua kaki dan kerahkan tenaga dalam ke bagian kaki tak urung jatuh ter- pelanting. Adipati tertawa bergelak. Setan Sableng sambil merintih nampak mengomel. "Habis sudah harapan. Mengapa kalian berdua jadi ikut-ikutan

seperti aku?"

Megap-megap Iblis Edan menjawab. "Adipa- ti punya angin. Mungkin tubuhnya memang terdi- ri dari angin seluruhnya."

Mutiara Pelangi diam tidak menanggapi. Sebaliknya dia bangkit berdiri. Begitu bangkit dia merasakan dadanya jadi sesak luar biasa. Setelah menarik nafas dia kembali melompat ke arah la- wan lalu lancarkan serangan ganas dengan puku- lan bertubi-tubi disertai tendangan yang menga- rah ke beberapa bagian tubuh lawan yang paling mematikan. Mendapat serangan sedemikian rupa Suryo Lagalapang ganda tertawa. "Hanya seran- gan tidak berguna!" dengus sang adipati. Dia lalu kembali memutar kedua tangan dan melakukan serangan balik dengan pukulan Dua Topan Me- landa Bumi.

Segulung angin dengan kecepatan laksana badai menderu. Mutiara Pelangi mendadak ter- sentak ke belakang, lalu menjerit dan jatuh ter- guling-guling.

"Kalian semua akan kubunuh dengan tan- ganku sendiri!" teriak sang adipati. Kemudian laksana kilat sambil berdiri berkacak pinggang dia hantamkan pukulan mautnya ke tiga arah se- kaligus. Sinar hitam berkiblat, bergerak cepat ke arah Setan Sableng, Mutiara Pelangi dan Iblis Edan. Wisang Banto Oleng yang tengah bertarung dengan Gento keluarkan seruan keras. "Adipati tolol mengapa hendak kau habisi calon istriku?"

Dan kakek ini kibaskan tangannya me- nangkis pukulan yang mengarah ke arah sang da- ra.

Bum!

Bumm! Buuum!

Pukulan yang mengarah pada Mutiara Pe- langi meledak berdentum di udara begitu bentrok dengan pukulan si kakek angker. Tapi beberapa kejab kemudian terdengar pula suara dua leda- kan berturut-turut. Adipati jadi tercekat sesaat dibuat kebingungan. Kemudian dari arah bagian timur genteng dia melihat sesuatu berbentuk bu- lat seperti bola melesat cepat ke arahnya disertai suara teguran. "Bukan cuma goblok, adipati juga ternyata manusia edan. Bagaimana kau begitu te- ga hendak membunuh dua calon muridku! Masih bagus lagi kucincang tubuhmu!"

Belum habis rasa kaget dihati sang adipati, sosok bulat yang ternyata seorang kakek berpa- kaian putih yang menyatukan kaki dengan kepala dan bergerak secara menggelinding itu sudah me- nyambar ke arahnya. Lebih celakanya lagi begitu berada diatas kepala adipati dua tangannya men- cuat. Dari dua tangan itu menyambar dua bilah golok panjang besar bergerigi di bagian pung- gungnya. Dengan wajah pucat dan tengkuk dingin adipati jatuhkan diri.

Wuss! Wuus!

Sambaran dua bilah senjata itu tidak men- genai sasaran. Tapi sosok kakek bergelung seperti trenggiling ini masih diatas ketinggian tiba-tiba berbalik disertai tawa mengekeh. "Rupanya kau bisa menghindar, tikus busrut! Coba yang ini!" berkata begitu dua bilah golok kembali berkele- bat, bergerak mengayun dari belakang ke depan.

"Jahanam celaka!" Adipati merutuk. Dia kembali lepaskan pukulan Dua Topan Melanda Bumi. Badai Topan bergulung melabrak sosok kakek diatasnya. Tapi pukulan itu hanya mem- buat sosok si kakek membalik ke atas sedikit lalu kembali pada ketinggian seperti semula. Malah dari mulutnya terdengar suara. "Amboi dingin- nya!" Belum lagi suara si kakek lenyap, dua golok besar panjang ditangannya berkiblat menghantam punggung dan bahu adipati. Dalam kagetnya adi- pati tak sempat lagi menghindar. Tak terelakkan lagi tubuhnya menjadi sasaran mata golok kem- bar si kakek.

Craas! Craas!

Satu jeritan laksana merobek langit. Pung- gung dan bahu adipati terkoyak lebar, darah me- nyembur, adipati menggelepar. Tak lama kemu- dian tewas dalam keadaan tubuh mengenaskan.

Wisang Banto Oleng tentu saja tak dapat membantu atau menolong adipati karena saat itu dia tengah menghadapi serangan balik yang dila- kukan Gento Guyon.

Sebelumnya Gento memang sempat dibuat tercekat begitu mendapat kenyataan tangkisan yang dilakukannya malah membuat tangannya seolah beku bahkan tubuhnya terdorong mundur. Dia menjadi heran, pertama kali bertemu dengan Wisang Banto Oleng orang tua itu tak memiliki ilmu sedahsyat itu. Lalu dari mana si kakek men- dapatkan ilmu itu. Akhirnya, sambil terus meng- hindari serangan lawan Gento menemukan satu kenyataan, tenaga sakti berhawa dingin itu ter- nyata bersumber dari pedang ditangan si kakek.

"Aku harus merebut pedang itu!" batin si pemuda. Karenanya Gento akhirnya menyerang lawan dari jarak dekat. Beberapa kali tangannya terjulur untuk merampas senjata. Tapi lawan ki- ranya sudah dapat membaca gerakan juga men- getahui keinginannya. Sambil melompat mundur tarik tangan yang memegang senjata dari jang- kauan lawan Wisang Banto Oleng berseru. "Pen- dekar Sakti 71 Gento Guyon. Bagaimana mungkin pendekar sehebat dirimu tidak bermalu melaku- kan perbuatan rendah hendak merampas senjata orang! Mana senjata sakti Penggada Bumi yang kau agulkan selama ini?"

"Ha ha ha. Kau tak usah takut, senjata itu ada dibalik kantongku. Saat ini aku tak mau menggunakannya karena takut salah merogoh ke- liru mengambil." sahut si pemuda.

"Jahanam, kau pasti menyesal karena ter- lalu meremehkan aku!" teriak Wisang Banto Oleng. "Lihat senjata...!" sambil berteriak begitu si kakek cabut pedang Tumbal Sugoro dari rang- kanya. Begitu pedang dicabut, udara disekeliling- nya berubah menjadi redup dan dingin luar biasa. Dewa Sinting yang tadi sempat dibuat ka-

get mendengar Wisang Banto Oleng menyebut nama dan gelar si pemuda, kini jadi tambah ter- cekat. Orang tua yang telah berdiri tegak itu sege- ra silangkan golok besarnya didepan dada. Mutia- ra Pelangi jadi cemas dan khawatir dengan kese- lamatan Gento. Sebaliknya Iblis Edan hanya mengerang. Sedangkan Setan Sableng delikkan mata.

"Pedang Tumbal Segara?" desis Gento yang pernah mendengar salah satu senjata andalan yang konon milik penguasa pantai selatan itu.

Walaupun Gento sempat dibuat tercekat. Tapi Gento malah mengumbar tawanya. "Senjata jelek hitam butut begitu kau pamerkan didepan- ku!" ejeknya. "Mulutmu berkata begitu pendekar. Tapi aku tahu sebenarnya kau gentar setelah melihat senjataku ini!" dengus si kakek.

"Mungkin pendapatmu benar. Tapi senjata itu bukan lantas membuat diriku jadi seorang pengecut lalu melarikan diri sebagaimana yang pernah kau lakukan! Ha ha ha."

Mendidih darah si kakek mendengar uca- pan si pemuda. Saat itu timbul keinginannya menghabisi si pemuda secepat yang dapat dia la- kukan. Apalagi mengingat kini dirinya hanya tinggal seorang diri. Maka diawali dengan satu te- riakan menggeledek Wisang Banto Oleng melesat ke depan. Pedang ditangannya menderu member- sitkan sinar hitam dingin menggidikkan. Pedang itu bagaikan setan gentayangan menyambar, me- nusuk dan menebas. Celakanya kemanapun Gen- to menghindar senjata lawan seakan mengiku- tinya, hingga membuat Gento jadi sering mati langkah dan mengumpat habis-habisan.

Lebih celakanya lagi setiap pedang me- nyambar, hawa dingin bertabur. Gento merasa- kan tulang belulangnya menjadi ngilu dan tubuh- nya laksana beku, walaupun saat itu dia telah sa- lurkan tenaga dalam berhawa panas untuk me- lindungi tubuhnya.

"Gento ah...!" Diam-diam Mutiara Pelangi mengeluh dan semakin menghawatirkan kesela- matan Gento.

Dalam belasan jurus kemudian Gento be- nar-benar terdesak hebat. Dia telah mengerahkan jurus Belalang Terbang yang kemudian digabung dengan jurus Congcorang Mabuk, dipadu lagi dengan jurus-jurus warisan Tabib Setan. Tapi semua jurus itu hanya dapat dipergunakan untuk bertahan dan tak mampu dipergunakan untuk menyerang balik. Malah beberapa jurus dimuka semua pertahanan yang dilakukan Gento seakan terkoyak oleh kehebatan sekaligus kedahsyatan senjata ditangan lawan.

Kini pedang itu membabat ke arah dada. Kejut pemuda itu bukan main karena hanya seke- jap senjata telah berada seujung kuku di depan dada. Laksana kilat pemuda ini jatuhkan diri lalu lepaskan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis. Si- nar panas menderu disertai sambaran angin lak- sana badai. Tapi begitu pukulan membentur pe- dang lawan terjadi satu keanehan. Pukulan wari- san Tabib Setan seolah amblas lenyap ditelan pe- dang lawan. Wisang Banto Oleng tertawa ngakak.

"Ajalmu telah datang hari ini pendekar Edan!" teriak si kakek sambil ayunkan pedangnya ke dada si pemuda. Gento berkelit menghindar sambil gulingkan tubuhnya ke samping.

Di luar terjadinya perkelahian hidup mati antara Gento dengan lawannya. Tiga suara kelua- rkan seruan berbareng.

"Gento Awas!"

Mereka yang berseru itu adalah Setan Sab- leng, Iblis Edan dan Mutiara Pelangi. Tidak diberi peringatan sekalipun sang Pendekar sudah tahu bahaya yang mengancamnya. Dalam keadaan se- perti itu dimana nyawa sang pendekar berada da- lam ancaman bahaya besar. Dewa Sinting gelun- dungkan diri, dua golok kembar aneh ditangan- nya serentak bergerak menangkis.

Trang! Trang!

Terjadi benturan keras berdering. Bunga api berpijar, si kakek angker terhuyung. Tapi De- wa Sinting yang kedua tangannya seperti lumpuh keluar.

"Mati biyung, dua golokku tinggal gangang-

nya!"

Semua orang sama memandang ke arah si

kakek yang terkulai. Ternyata senjata si kakek aneh memang hanya tinggal gagangnya saja. Ba- dan golok berpatahan hancur berkeping-keping. Kenyataan yang terjadi ini jelas membuat semua orang menjadi terkejut.

Di depannya Wisang Banto Oleng meman- dang ke arah Dewa Sinting sejenak. Rupanya dia tidak mengenali orang tua itu. Dengan perasaan geram dia membentak. "Tua bangka usil, Agaknya kau mau cepat mampus berani mencampuri uru- san orang. Sekarang terimalah kematianmu!" te- riak si kakek angker. Dewa Sinting yang baru saja memulihkan kedua tangannya dengan penyaluran tenaga sakti tentu tidak sempat menghindar dari tebasan pedang maut Wisang Banto Oleng.

"Walah mati aku!" pekik si kakek. Mutiara Pelangi yang melihat semua ini jelas tidak mung- kin dapat menolong si kakek, karena jaraknya yang berada diluar jangkauan juga sang dara da- lam keadaan terluka. Iblis Edan apalagi.

Hanya sedetik lagi si kakek tewas dihantam senjata lawan. Pada saat itu Gento yang duduk setengah berlutut telah mengusap batu kalung yang tergantung di lehernya. Dalam usapan ketiga dari kalung batu Raja Langit membersit lima larik sinar putih berkilauan dalam bentuk lima kepala singa putih dengan mulut ternganga. Kelima sinar berujud kepala singa itu dua menghantam ke arah pedang. Sedangkan yang tiganya lagi meng- hantam tiga bagian tubuh Wisang Banto Oleng. Orang tua yang begitu bernafsu untuk membu- nuh Dewa Sinting itu jadi tercekat begitu men- dengar suara bergemuruh disertai suara raungan. Ketika dia menoleh, si kakek jadi tercekat pedang yang seharusnya membacok kini digerakkan ke samping menangkis sinar yang disangkanya singa sungguhan.

Buum!

Lima ledakan dahsyat terjadi berturut- turut. Si kakek angker menjerit, namun jeritan- nya lenyap tenggelam ditindih suara ledakan. Da- lam keadaan tercerai berai tubuh si kakek terpen- tal. Pedangnya melenting diudara, namun men- dadak raib begitu meluncur ke bawah seakan ada satu tangan tak terlihat menyambarnya.

Mutiara Pelangi palingkan muka ke arah lain begitu melihat keadaan mayat Wisang Banto Oleng yang sudah tak dapat dikenali lagi. Gento bangkit berdiri. Dewa Sinting juga ikut bangkit. Sebagaimana Mutiara Pelangi, kakek ini juga den- gan penuh rasa kagum memandangi Gento.

"Pemuda hebat, kalung luar biasa. Jika ti- dak kau tolong aku, nyawaku bisa amblas dan aku gagal mendidik kedua anak setan itu menjadi muridku! "kata si kakek.

"Bagaimana keadaanmu orang tua?" tanya

Gento.

Si kakek tertawa. "Seperti yang kau lihat,

masih ada nafas masih ada nyawanya." jawab Dewa Sinting.

Gento tertawa. Dia menghampiri Iblis Edan dan Setan Sableng. Sampai di depan kedua pe- muda itu dia berhenti sambil bertanya. "Kalian mengapa sampai babak belur begini. Yang satu menggaruk badan seperti orang kurapan yang sa- tunya lagi mengerang seperti kerbau melahirkan. Ha ha ha."

"Sobat Gento." sahut Setan Sableng. "Ka- kek jahanam tadi telah menotokku dengan ilmu Jari Penghancur Tulang. Mengapa kau bunuh dia sebelum sempat memunahkan totokan ini?"

"Sobat Setan Sableng. Kau tak usah kha- watir. Kudengar kakek sinting ini berhasrat benar ingin mengangkat kalian menjadi muridnya. Ikut saja dengan dia. Dewa Sinting pasti bisa memu- nahkan totokan itu."

"Kalau bisa sembuh ikut orang gila aku mau saja." ucap si pemuda.

"Kalau aku tidak. Penyakit gatal ini dia yang buat. Biarkan aku mati saja!" rutuk Iblis Edan bersungut-sungut sambil tangan sibuk menggaruk. Mutiara Pelangi berkata. "Dua sauda- raku lebih baik ikut apa yang ia sarankan Gento. Jika umur kita panjang kelak kita pasti bertemu lagi." Masih dengan wajah cemberut Iblis Edan menjawab. "Kalau kau yang memutuskan begitu aku mana berani menolak. Kau saudaraku, cantik pula. Akh... kau sendiri hendak kemana? Apa mau pergi dengan pendekar edan itu. Hati-hati, dia pemuda mata keranjang!"

"Aku tidak ke mana-mana." jawab si gadis. Dia lalu melirik ke arah Dewa Sinting. Lalu berka- ta. "Kau bawalah adikku ini. Didik mereka yang benar. Tapi awas, kalau kau berani membuat me- reka celaka aku akan mencarimu!"

"Ha ha ha. Tak usah takut. Aku akan men- didik mereka menjadi orang paling tidak waras sedunia." sahut si kakek. Kemudian dia berpaling pada Gento. "Pendekar, aku berterima kasih pa- damu. Kelak aku akan mencarimu untuk memba- las segala hutang budi dan nyawa yang telah kau berikan hari ini. Tapi kau harus ingat juga, kau punya hutang dua golok padaku!"

"Segala golok butut kau persoalkan! Pergi- lah!" sahut Gento.

Sekali kakek ini berkelebat, Setan Sableng dan Iblis Edan raib dari pandangan Gento. Dike- jauhan sana terdengar suara tawa Dewa Sinting, serta rutuk serapah Iblis Edan dan Setan Sab- leng.

"Tiga manusia gila sudah merat. Aku juga tak mau berlama-lama disini. Atau kau mau ikut aku?" tanya Gento sambil kedipkan matanya.

Si gadis menggeleng. Gento menarik nafas kecewa.

"Sayang sekali. Mungkin kau ingin menjadi adipati disini." desah pemuda itu.

"Aku... aku tidak punya niat sama sekali." jawab sang dara. Sepi tidak ada tanggapan. Keti- ka Mutiara Pelangi memandang ke arah Gento dia jadi kaget karena pemuda itu lenyap dari hada- pannya.

Mendadak sang dara merasakan ada sesu- atu yang hilang dalam dirinya. Hatinya jadi geli- sah. Tanpa sadar dia melangkah meninggalkan halaman gedung lalu pergi ke arah lenyapnya Pendekar Sakti Gento Guyon.

TAMAT

Siklututjang....ha..ha..ha...binatang apa itu? Menurut Tabib Setan makhluk yang satu ini sangat langka. Sang tabib sempat memper- taruhkan nyawa untuk mendapapatkannya. Bina- tang ini mengandung banyak khasiat, antara lain untuk membangkitkan tenaga dalam dan me- nangkal racun. Ini khusus dipersembahkan buat si Gento Guyon

GENTO GUYON harus menolong Nyi Sekar Langit seorang nenek renta yang aslinya adalah seorang gadis jelita. Benarkah TUJUH PEM- BANGKIT TENAGA DALAM, yang dikenal sebagai TUJUH INTI CAKRA dapat memulihkan Nyi Se- kar?

Bagaimana GENTO dapat merubah nenek menjadi gadis dan gadis menjadi nenek renta? Bagaimana dengan DIPATI DURGA yang selalu ingin memaksakan kehendaknya.

Ikuti ceritanya.... jangan ketinggalan..... ya !!

Dalam episode:

" MAKHLUK KUTUKAN NERAKA "