Gento Guyon Eps 18 : Iblis Edan

 
Eps 18 : Iblis Edan


Satu sosok bayangan serba ungu berkele- bat menuruni bukit sebelah timur Wadaslintang. Sampai di satu tempat di bawah kerindangan po- hon-pohon sosok itu hentikan langkahnya. Ter- nyata dia seorang kakek tua berwajah angker dengan sepasang mata menjorok ke dalam rong- ga, berkumis tebal rambut putih awut-awutan. Kakek tua berkulit hitam ini berpakaian serba hi- tam berbadan kurus tinggi sedangkan badan agak bongkok. Berada di bawah kerindangan pohon, sepasang matanya memandang tajam ke arah pondok miring yang berada di kaki bukit. Tak la- ma si kakek menyeringai sehingga terlihat gigi- giginya yang hitam menjijikkan. Sejurus kemu- dian dia memandang ke belakang, lalu berkata ti- dak jelas ditujukan pada siapa. "Anak-anakku....

matahari belum lagi terlihat, kabut mengambang dimana-mana. Dalam keadaan dingin seperti ini, kalian tentu butuh sesuatu untuk menangsal pe- rut. Di dalam pondok itu makanan yang kalian butuhkan tersedia. Hanya segala sesuatunya memakai aturan. Aku yang punya kuasa punya aturan. Kalian tunggu aba-aba dariku!" Sekali lagi si kakek perlihatkan seringai aneh.

Di belakangnya dari balik semak belukar terdengar suara erangan disertai lolong panjang saling bersahut-sahutan.

Si kakek tersenyum, lalu berkelebat menu- ju pondok di kaki bukit dengan gerakan  tidak menimbulkan suara. Hanya beberapa kejapan sa- ja dia telah sampai depan pintu pondok. Begitu sampai orang tua ini berteriak. "Ageng Tirtomoyo, aku Wisang Banto Oleng datang menyambangi. Harap keluar ada hal penting yang ingin kubica- rakan!"

Gema suara kakek yang mengaku sebagai Wisang Banto Oleng bergema memecahkan kesu- nyian. Suara teriakan lenyap, si kakek angker di- am menunggu. Tak lama dari dalam pondok ter- dengar ada suara menyahuti. "Matahari belum la- gi terlihat, belek dimataku belum juga kering. Orang gila dari mana yang berani berteriak mem- bangunkan tidurku?"

"Ageng Tirtomoyo, kau tidak tuli. Sudah kukatakan aku Wisang Banto Oleng ingin membi- carakan urusan penting. Jika tidak mau cepat ke- luar pondokmu akan ku bakar!" kata kakek itu mengancam.

"Kurang ajar! Kau jahanam dari gunung Selamet. Bertamu selagi orang terlelap, mengan- cam hendak membakar pondok. Kubunuh kau!" damprat orang dari dalam pondok.

Wisang Banto Oleng menyeringai, dari da- lam pondok terdengar suara langkah enggan. Pin- tu pondok kemudian terbuka. Dari balik pintu yang terkuak muncul sosok tubuh berbadan ge- muk pendek bertelanjang dada bercelana hitam. Laki-laki gemuk itu berusia sekitar tujuh pulu- han. Cuma perawakannya tidak beda dengan orang yang berumur empat puluhan.

Begitu munculkan diri si kakek berwajah awet muda mengusap matanya dua kali. Setelah itu dia memandang ke depan.

Melihat siapa adanya orang di depan sana kiranya si kakek gemuk pendek mengenali. Se- hingga tanpa dapat ditahan lagi tawanya meledak. "Wisang Banto Oleng, serasa kehadiranmu

ini tidak ubahnya seperti mimpi. Puluhan tahun kita tak bertemu, aku tetap begini saja, awet mu- da tanpa perubahan. Sedangkan engkau sekarang bertambah dekil bertambah butut. Wajah dipenu- hi keriput, kening berkerut. Aku yakin dalam ba- tok kepalamu dijejali berbagai fikiran busuk yang kau biarkan berlarut-larut. Ha ha ha!" kata si gendut Ageng Tirtomoyo dengan nada mengan- dung ejekan.

Wisang Banto Oleng berubah merah padam wajahnya. Dengan tatap mata mencorong tajam dia berucap. "Aku bisa maklum, orang yang hen- dak mampus memang suka bicara ngaco."

Ageng Tirtomoyo berjingkrak kaget dan un- jukkan muka terkejut. "Wisang Banto Oleng. Ti- dak kucium bau minuman. Tidak kulihat kau membawa kendi tuak. Bagaimana kau bisa bicara melantur seperti orang mabuk di pagi buta begini. Melihat tampangmu yang celemongan begitu, aku yakin kau pasti mabuk air comberan. Ah, kasi- han. Tidak kuat beli tuak mengapa harus air comberan yang kau buat mabuk, mengapa bukan air tuba saja biar enak mabukmu?! Ha ha ha." ka- ta Ageng Tirtomoyo disertai tawa tergelak-gelak.

Segala ucapan kakek gendut pendek ini membuat darah Wisang Banto Oleng laksana mendidih. Sesaat dia mencoba menekan pera- saannya sendiri. Dengan suara bergetar kemu- dian dia berkata. "Ageng Tirtomoyo, aku datang kemari ingin menanyakan tentang seorang bocah yang kau asuh sekitar dua puluh tahun yang si- lam. Pemuda itu aku yakin kini sudah dewasa. Kuminta kau menyerahkannya padaku jika kau memang sayangkan nyawamu!" tegas si kakek.

Jika pertama tadi kaget si kakek gemuk ti- dak dibuat-buat, maka kini segala rasa kejutnya hanya suatu kepura-puraan saja. Dengan mata terbelalak mulut ternganga dia menyahuti. "Tadi kau bicara soal kematian. Sekarang kau malah mengemis minta pemuda yang menjadi muridku. Jika tidak gila kujamin otakmu sudah miring!"

"Aku tidak gila, otakku juga tidak miring. Aku minta pemuda itu diserahkan padaku. Jika tidak kau akan kubunuh!" teriak Wisang Banto Oleng ketus.

Ageng Tirtomoyo sunggingkan seringai aneh. Dia tahu kakek angker yang saat ini berdiri di depannya adalah salah satu tokoh golongan hi- tam yang nama besar dan kejahatannya terkenal diseluruh penjuru tanah Jawa. Selama ini walau- pun saling mengenal, tapi diantara mereka tidak ada permusuhan. Jika sekarang dia datang me- minta muridnya yang telah dia didik selama bela- san tahun pastilah semua itu bukan atas kehen- daknya sendiri. Dengan tenang Ageng Tirtomoyo berucap. "Pemuda itu bukanlah seorang gadis. Ji- ka kau memintanya apakah hendak kau jadikan kekasih? Sejak kapan kau mempunyai kelainan hingga menyukai kaum sejenis?" pancing si kakek pendek.

"Ageng keparat! Aku belum gila untuk mencintai kaum sejenis. Aku ingin menyerahkan pemuda itu pada seseorang untuk ditukar dengan seorang gadis!" tanpa sadar Wisang Banto Oleng mengatakan rahasianya sendiri.

Ageng Tirtomoyo terdiam, otaknya berfikir. Dia jadi ingat dengan asal-usul sang murid. Orang tua ini jadi kaget, tapi berusaha menutupi perasaannya dengan berkata. "Aku ingat seka- rang, dajal manusia keji di Purbolinggo ini hanya adipati Suryo Lagalapang. Mengingat segala keja- dian dimasa lalu rasanya tidak salah jika adipati ingin memusnahkan turunan Karma Sudira. Sungguh malang orang tua itu. Sudah dipenjara selama belasan tahun, terpisah pula dari anak- anaknya, kini anak turun harus memikul bala yang seharusnya tidak terjadi. Selain itu agaknya Suryo Lagalapang sudah biasa mempergunakan tanganmu untuk mencapai apa yang dia ingin- kan! Herannya lagi mengapa manusia sesat seper- timu tidak cepat mampus ya...?" kata Ageng Tir- tomoyo seakan heran sambil geleng kepala.

Wisang Banto Oleng tertawa terkekeh. "Ageng Tirtomoyo, tidak ada waktu bagiku untuk melayani orang gila sepertimu. Sekarang suruh keluar muridmu. Setelah itu kujamin aku tidak akan mengusikmu!" tegas si kakek.

"Walah. Lagakmu keren amat, Banto Oleng. Muridku yang kau cari itu sekarang ini sudah ti- dak lagi bersamaku. Dia sudah bukan manusia lagi tapi telah berubah menjadi Iblis Edan. Jika kau ingin menangkapnya carilah sendiri. Satu hal yang harus kau ketahui, muridku si Iblis Edan bukan didikanku. Dia dididik oleh golongan bang- sa lelembut, wewe, juga iblis. Nah... aku Paduka Raja Iblis telah menenangkan segala sesuatunya. Sekarang semuanya terpulang padamu. Tinggal- kan tempat ini! Aku hendak meneruskan tidur- ku!" selesai berkata, Ageng Tirtomoyo balikkan tubuhnya siap masuk kembali ke dalam pondok. Namun pada saat itu kakek angker di depan sana berteriak. "Ageng Tirtomoyo siapa yang percaya dengan segala bualanmu!" selesai berteriak dia berpaling ke belakangnya sambil berseru. "Anak- anak, hidangan pagi telah kusediakan. Sekarang tunggu apa lagi!"

Dari balik semak belukar terdengar suara lolong menyahuti. Bersamaan dengan terdengar- nya suara lolongan itu lima sosok tubuh yang hanya memakai penutup aurat dari cawat melesat ke arah si kakek gemuk dengan kecepatan luar biasa sekali.

Merasa terkejut dan belum mengetahui makhluk apa yang menyerangnya Ageng Tirto- moyo cepat menoleh ke arah belakangnya. Dia ja- di kaget melihat lima bocah laki-laki berusia seki- tar sepuluh tahun dengan buas dan penuh kebe- ringasan menyerangnya. Melihat cara menyerang yang dilakukan kelima bocah liar ini, sadarlah Ageng Tirtomoyo bahwa kelima bocah itu tentulah murid Wisang Banto Oleng yang sejak bayi telah dididik seperti anak serigala. Mendapat serangan kelima bocah serigala, Ageng Tirtomoyo tidak tinggal diam. Sambil me- lompat ke atas atap pondok dia kibaskan tangan- nya ke belakang.

Wuuus!

Hawa panas menyambar dan langsung me- nebar bukan saja membuat kelima bocah buas itu tak dapat melanjutkan gerakannya, tapi juga memaksa mereka selamatkan diri dengan melom- pat ke belakang. Di atas atap pondok sambil ke- rutkan keningnya Ageng Tirtomoyo berkata. "Wi- sang Banto Oleng manusia keblinger. Kau betul- betul edan. Kau didik manusia hingga bertingkah laku seperti binatang. Tapi terus terang kukata- kan padamu, bocah serigala itu belum layak un- tuk menghadapi aku!"

"Kau kelewat takabur, Tirtomoyo. Sekarang aku hendak mengobrak-abrik seisi pondokmu. Sementara untuk mengurus dirimu kuserahkan pada anak-anak itu!" kata Wisang Banto Oleng. Selesai berkata kakek tua bertampang dekil ini segera berkelebat masuk ke dalam pondok. Tapi Ageng Tirtomoyo jejakkan kakinya ke atap pon- dok. Atap jebol tubuh si kakek gemuk amblas ke bawah. Saat itu lawan telah melewati pintu pon- dok. Karenanya begitu melayang Ageng Tirtomoyo gerakkan kaki kanannya. Kaki menderu meng- hantam Wisang Banto Oleng. Mendapat serangan yang tidak terduga sambil memaki dan tunduk- kan kepala si kakek berpakaian ungu gerakkan dua tangannya. Hingga terjadi benturan hebat.

Duuuk! Benturan yang keras membuat si kakek kurus terdorong mundur. Sedangkan Ageng Tir- tomoyo jatuh punggung. Bergulingan menjauh dari lawan si kakek gemuk menghantam ke de- pan. Tapi orang yang dihantam lenyap ke dalam ruangan pondok yang lain. Satu ledakan keras berdentum menghancurkan dinding depan dan pintu pondok. Serpihan kayu dan puing-puing papan bertaburan di udara. Udara sontak menja- di gelap. Di ruangan lain terdengar suara tawa Wisang Banto Oleng. "Manusia kalau sudah gila memang begitu, pondok sendiri dihancurkannya. Sayang orang yang kucari tak berada di sini!" Lalu dari balik dinding dimana Wisang Banto Oleng melenyapkan diri terdengar suara menggemuruh, angin menderu dan pondok yang cukup besar itu mendadak terangkat naik, membubung tinggi ke udara. Selagi pondok melayang di udara terdengar suara ledakan, pondok hancur menjadi kepingan debu yang akhirnya berjatuhan diberbagai tem- pat.

Ageng Tirtomoyo mengerung marah, posi- sinya kini berada di tempat terbuka dari bekas pondoknya yang hancur. Tak jauh disebelah ki- rinya lawan berdiri tegak disitu sambil tertawa. Sedangkan didepannya sana, lima bocah serigala berlompatan menyerang Ageng Tirtomoyo. Orang tua berbadan gemuk melihat apa yang dilakukan oleh lawan nampaknya tidak lagi memberi hati. Begitu lima bocah serigala menyerangnya dengan sambaran kuku tangan juga hunjaman taring yang tajam segera melesat ke depan bergerak mendahului. Dua tangan yang telah teraliri tena- ga-dalam diputar sedemikian rupa, kemudian menghantam dengan gerakan bersilangan.

Dua bocah yang menyerang dari depan ke- na dipukul mental, jatuh terkapar dengan dada berwarna merah seperti darah. Dua lagi yang me- nyerang dari samping masih dapat berkelit hinda- ri serangan si kakek. Tak terduga begitu meng- hindar secepat kilat kedua bocah serigala ini ber- balik dan menerkam kaki Ageng Tirtomoyo. Si ka- kek yang saat itu menggerakkan tangan ke atas hindari terkaman bocah serigala yang menyerang bagian kepala nampak terkesiap. Tangkisan kea- tas diteruskannya, hingga membentur dada bocah serigala itu. Si bocah serigala jatuh terjengkang, tapi Ageng Tirtomoyo kemudian menjerit keras begitu kakinya kena dicabik oleh dua bocah seri- gala tadi.

Sambil menggerung kesakitan Ageng Tir- tomoyo hantamkan dua tangannya ke bawah. An- gin menderu, sinar merah berkiblat menghantam lurus ke bagian batok kepala si bocah serigala. Sekejap lagi pukulan si gemuk ini menghantam remuk batok kepala kedua bocah serigala, dari arah belakang ada angin deras berhawa dingin luar biasa menyambar ke arah tangan Ageng Tir- tomoyo. Akibatnya bukan saja membuat serangan jadi melenceng dan mengenai bahu kedua bocah buas itu, tapi juga membuat kakek gemuk itu ter- jungkal.

Dua bocah serigala jatuh terhenyak, dua lainnya yang tadi kena dipukul mentah kini su- dah bangkit, setelah dua kali berjumplitan di atas tanah pada kali yang ketiga tubuh mereka men- dadak melesat di udara, dua tangan dengan kuku runcing yang bersilangan di depan dada laksana kilat menyambar di bagian perut, sedangkan bo- cah yang satu lagi menyerang di bagian leher. Ageng Tirtomoyo jelas menyadari dua serangan yang dilancarkan kedua bocah serigala ini me- mang sangat berbahaya bahkan mengancam ke- selamatannya sendiri. Di lain sisi dia merasa ti- dak tega, untuk mencidrai mereka apalagi mem- bunuhnya, mengingat kelima bocah ini diperalat dan dididik untuk membunuh oleh Wisang Banto Oleng. Karena itu begitu serangan kedua bocah buas ini hampir mencapai sasarannya, Ageng Tir- tomoyo tiba-tiba gerakkan tangannya ke depan sedangkan mulut berkemak-kemik seperti mem- baca sesuatu.

Di luar dugaan lawan tiba-tiba dia berte- riak. "Lima bocah serigala, yang kalian serang bukan aku, tapi kuda kurus yang berdiri di sebe- lah sana!"

Dua bocah serigala yang siap merobek leh- er dan perut Ageng Tirtomoyo tarik serangan dan berkomplotan mundur. Tiga lainnya yang siap hendak menyerang sejenak nampak bingung, namun mereka serentak memandang ke arah Wi- sang Banto Oleng. Entah mengapa kini kelima bocah buas itu melihat Wisang Banto Oleng tidak lagi berupa manusia, tapi telah berubah menjadi seekor kuda putih.

"Bunuh kuda itu!" teriak Ageng Tirtomoyo. Lima bocah serigala hasil didikannya sen- diri mendadak berbalik, dengan ganas pula me- nyerang Wisang Banto Oleng.

"Anak-anakku, kalian telah tertipu. Aku adalah ayah yang membesarkan dan mendidik kalian!" seru si kakek.

Lima bocah serigala selagi tubuhnya men- gambang di udara sama gelengkan kepala. Tapi teriakan yang sempat membuat kelima bocah ini bingung tidak pernah mampu merubah peman- dangan mereka. Wisang Banto Oleng tetap tam- pak seperti seekor kuda.

"Ageng Tirtomoyo jahanam!" teriak si kakek kurus.

Yang dimaki tertawa bergelak. "Banto Oleng, susah payah kau mendidik mereka tidak disangka kini mereka malah ingin memangsamu. Mungkin mereka beranggapan daging orang yang telah mengasuhnya lebih sedap daripada daging- ku. Ha ha ha! Wisang Banto Oleng, beruntung ha- ri ini aku sedang tidak punya nafsu untuk me- layanimu. Aku muak melihat tampangmu, aku hendak pergi. Lebih baik kau berkelahi dengan anak-anakmu sendiri" berkata begitu, Ageng Tir- tomoyo usap wajahnya tiga kali. Setiap usapan selalu diteruskan hingga ke ujung kaki. Pada usapan ketiga itulah sesuatu yang sulit dipercaya terjadi. Secara cepat wajah, badan, kaki maupun tangan Ageng Tirtomoyo lenyap, hilang raib tidak meninggalkan bekas. Wisang Banto Oleng yang sudah merasa yakin dengan kesaktian yang dia miliki mampu membunuh lawannya kini dibuat tercengang.

Tanpa sadar dia berucap. "Ilmu Pelenyap Raga...?"

Ageng Tirtomoyo yang tidak terlihat kasat- mata tertawa panjang. "Kau heran Banto Oleng? Dulu kau kelayapan di Cagak Siluman untuk mendapatkan Kitab Ilmu Pelenyap Raga. Dasar jodoh, suatu saat pemiliknya menyerahkannya secara langsung kepadaku. Sekarang aku ingin mencari muridku. Aku khawatir Iblis Edan bu- kannya mencari orang tuanya, tapi malah nyasar ke tempat pelesiran! Ha ha ha!"

Suara Ageng Tirtomoyo kemudian lenyap, agaknya kakek gemuk itu benar-benar telah pergi. Sementara Wisang Banto Oleng hanya dapat me- nahan kegeramannya. Rasa marahnya akibat tak mampu membunuh lawan, bahkan lawan malah dapat meloloskan diri kini dilampiaskannya pada kelima bocah buas yang menyerangnya.

"Bocah-bocah tolol begitu mudahnya ter- pengaruh ilmu sirapan iblis pendek tadi?!" teriak si kakek. Dua tangan dengan jemari terkembang mendadak diangkat ke udara. Dia lalu melompat setinggi satu kaki begitu kelima bocah serigala siap hunjamkan taring dan kuku-kukunya yang panjang ke sekujur tubuh si kakek. Begitu kelima bocah buas ini berada dalam jangkauan Wisang Banto Oleng, sepuluh jari tangan si kakek berke- lebat menyambar dengan gerakan yang tak mungkin dapat dihindari oleh kelima bocah itu.

Tak! Tak! Tak! Dess! Dess! Tiga totokan mendarat dibagian punggung. Dua pukulan menghantam bagian dada dua bo- cah lainnya.

Kelima bocah buas itu jatuh serentak di atas tanah. Benturan yang keras membuat penga- ruh ilmu Ageng Tirtomoyo lenyap. Mengerang sambil tertatih-tatih kelima bocah nampak bin- gung. Seakan baru menyadari mereka telah me- nyerang pengasuhnya sendiri, kelima bocah seri- gala ini jatuhkan diri berlutut dihadapan Wisang Banto Oleng. Si kakek mendengus, lalu palingkan wajahnya ke arah lain. "Lima bocah keparat, begi- tu mudahnya kalian dikelabuhi oleh iblis gendut tadi?! Gara-gara ketololan kalian aku jadi gagal membunuhnya! Sekarang sebaiknya kalian kem- bali ke gunung Slamet. Jangan ikuti aku dan tunggu di sana sampai aku pulang!" perintah si kakek angker dingin.

Lima bocah serigala sama anggukkan kepa- la, begitu mereka kembali memandang ke depan sosok Wisang Banto Oleng telah lenyap dari tem- pat itu. Lima bocah buas ini saling pandang satu sama lain. Setelah keluarkan lolongan panjang mereka juga berkelebat pergi tinggalkan tempat itu.

2

Seekor kuda berlari kencang memasuki ha- laman gedung kadipaten Purbolinggo. Di atas punggung kuda rebah menelungkup seorang laki- laki berpakaian hitam. Tepat di halaman gedung kuda berhenti, para pengawal yang berjaga-jaga di gedung yang memang mengenal baik kuda mau- pun penunggangnya segera datang menghampiri. Tapi mereka jadi kaget bahkan jadi surut mundur begitu melihat bagaimana keadaan penunggang kuda itu.

"Kakang Ronggo Medi apa yang terjadi?" tanya satu suara.

Kemudian ada suara lain berteriak. "Cepat panggil gusti adipati!"

Seorang penjaga yang berada di sebelah ki- ri tak jauh dari kuda segera bergegas keluar dari kerumunan orang banyak. Sedangkan si tinggi besar yang berteriak tadi segera menghampiri so- sok berpakaian hitam yang kehilangan kedua tangannya. Begitu si tinggi besar menurunkan orang di atas punggung kuda, lalu membaring- kannya di tanah. Semua penjaga yang berada di tempat itu sama keluarkan seruan kaget.

"Dia tewas! Siapa yang telah membunuh kakang Ronggo Medi?!"

"Mengerikan sekali." kata penjaga lainnya. Apa yang telah terjadi pada orang kepercayaan sang adipati yang bernama Ronggo Medi ini? Se- perti telah dituturkan (dalam episode Setan Sab- leng), salah satu kaki tangan adipati ini hampir saja berhasil membunuh Ki Lurah Wanabaya yang mereka ketahui telah menyimpan peta raha- sia perjalanan. Tapi tanpa terduga muncul seo- rang pemuda berbaju biru yang mengaku berna- ma Menak Sangaji. Pemuda sakti yang dari da- danya memancarkan kesaktian aneh itu ternyata memiliki ilmu tinggi. Delapan pengikut Ronggo Medi dibunuhnya, bahkan laki-laki itu sendiri terpaksa kehilangan tangannya. Oleh Menak San- gaji dalam keadaan terluka parah Ronggo Medi di- lepas dan diperintahkan agar kembali ke kadipa- ten. Tapi karena kehilangan tangan dan kehilan- gan banyak darah, perjalanannya jadi lambat. Dia bahkan tewas diperjalanan karena kehilangan da- rah.

Kembalinya Ronggo Medi ke kadipaten me- nimbulkan kegemparan bagi orang-orang yang berada di kadipaten itu. Bagaimanapun mereka Ronggo Medi bukan manusia sembarangan. Ting- kat kesaktian yang dimilikinya hampir sama den- gan tokoh silat kadipaten seperti Nafas Penebar Maut maupun Durga Paksa alias Samber Nyawa. Jika Ronggo Medi sampai mengalami nasib seperti ini tentu siapapun yang telah mencelakainya pas- tilah dia adalah orang yang memiliki ilmu kepan- daian yang tidak dapat diduga.

Selagi halaman gedung dipenuhi oleh ke- rumunan pengawal yang ingin melihat apa yang telah terjadi. Selagi perasaan para pengawal kadi- paten dicekam rasa takut yang luar biasa, men- dadak saja terdengar suara seruan disertai tawa membahak. "Kematian akan menghampiri setiap jiwa pengecut dan berlaku khianat. Apa yang ka- lian lihat, mayat yang terbujur di atas tanah itu merupakan suatu bukti nyata gagalnya sebuah penghianatan. Ha ha ha!"

Semua mata terbelalak, para penjaga yang. memenuhi halaman jadi terkesima. Serentak hampir bersamaan, tanpa dikomando berpuluh pasang mata memandang ke arah terdengarnya suara tawa. Mereka jadi melengak begitu melihat di atas tembok pagar gedung di atas pecahan ka- ca duduk sambil uncang-uncang kaki seorang pemuda tampan berpakaian biru. Bukan hanya pakaian pemuda itu saja yang berwarna biru, namun juga ikat kepalanya berwarna biru.

Memperhatikan pemuda yang berada di atas tembok gedung, tak seorang pun dari penja- ga yang buka bicara. Mulut mereka sama tern- ganga, bukan saja karena mereka memang tidak mengenal siapa adanya pemuda berpakaian biru ini, tapi yang membuat mereka heran bagaimana pemuda baju biru itu mampu duduk di atas pe- cahan kaca runcing pengaman pagar. Jika dia bukan orang yang memiliki ilmu meringankan tu- buh cukup tinggi, tentu bokong dan pahanya te- lah terluka ditembus pecahan kaca yang berteba- ran di atas tembok.

Rasa kagum berlangsung sebentar saja. Begitu mereka ingat ucapan si baju biru yang seo- lah telah menuduh Ronggo Medi, orang yang me- reka segani telah melakukan satu kecurangan dan berkhianat. Maka si tinggi besar melangkah maju menyibakkan para penjaga yang berada di depannya. Sambil bertolak pinggang si tinggi be- sar yang memiliki jabatan sebagai kepala penjaga gedung adipati ini berteriak. "Kunyuk biru yang duduk di atas tembok. Siapa dirimu? Berani kau memfitnah kakang Ronggo Medi dengan mengata- kan telah berlaku khianat? Agaknya kau manusia yang sudah bosan hidup!" hardik si tinggi besar kepala penjaga gedung adipati. Pemuda di atas tembok sama sekali tidak merasa tersinggung, mulutnya mencibir, malah dia kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Kau anjing penjaga tahu apa. Siapa yang telah berkhianat dan siapa yang telah berlaku ju- jur mana kau tahu. Jadi buat apa kau bertanya siapa aku. Sama sekali aku tidak punya kepen- tingan denganmu. Sekarang lebih baik kau pang- gil adipati. Aku punya satu urusan dengan be- liau!" Kata-kata kasar yang diucapkan oleh si ba- ju biru membuat si tinggi besar juga para penjaga lainnya jadi sangat marah sekali.

"Kunyuk biru keparat! Rupanya kau me- mang pingin cepat mampus!" teriak kepala penja- ga gedung adipati. Dia lalu berpaling pada semua anak buahnya. Dengan lantang dia berkata. "Anak-anak bunuh pemuda gila di atas sana!"

Disertai teriakan menggemuruh dan keron- tangan senjata yang ditarik dari sarungnya pulu- han penjaga gedung langsung menyerbu dan ber- lompatan ke atas tembok.

Melihat banyaknya penjaga yang menyerbu ke arahnya dengan senjata terhunus si baju biru bukannya jadi ciut, sebaliknya malah tertawa panjang. Sambil berdiri hindari kaki dari tebasan belasan senjata lawan dia berkata ditujukan pada kepala penjaga. "Manusia tinggi besar, tadinya kau mengatakan aku kunyuk biru, barusan kau mengatakan aku pemuda gila. Mungkin matamu sudah terbalik, otak tidak waras. Coba sekarang perhatikan baik-baik bagaimana seekor kunyuk membantai anak buahmu!" berkata begitu sambil hindari sabetan senjata yang bertaburan me- ngurung dirinya si baju biru kibaskan tangannya ke dada.

Gerakan tangan yang dilakukan pemuda itu membuat lima penyerang yang berada di ba- gian depan berpentalan jatuh dari tembok disertai jeritan menyayat. Belum hilang kaget di hati ke- pala penjaga dari bagian dada baju biru melesat sinar putih. Begitu sinar putih membersit dari dadanya si baju biru memutar tubuh, dengan be- gitu sinar putih yang keluar dari dada laksana pedang menyambar dada orang-orang yang bera- da di depannya sana. Bagaikan durian runtuh pa- ra penjaga yang berada di atas tembok benteng ja- tuh begedebukan. Bila lima penjaga pertama tadi tewas dengan muka hancur terkena hantaman, maka belasan penjaga yang jatuh ber- gelimpangan ini tewas dengan satu luka me- manjang dibagian dada. Bagian yang terluka nampak hangus mengepulkan asap tebal berbau busuk. Apa yang terjadi memang sempat mem- buat nyali si tinggi besar menjadi ciut, namun be- gitu melihat demikian banyak anak buahnya yang tewas kini kepala penjaga jadi tak dapat lagi men- guasai kemarahannya.

"Pemuda iblis, kau datang dengan memba- wa fitnah busuk. Kini kau bunuh orang-orangku secara keji. Adipati pasti tidak akan mengampuni jiwa busukmu!" teriak kepala penjaga, serentak dia mencabut pedang besar yang tergantung di- bagian punggung. Begitu pedang diguncang, ma- ka pedang itupun terbagi dua. Rupanya pedang milik kepala penjaga merupakan pedang kembar, sewaktu-waktu bila tidak dibutuhkan dapat diga- bung menjadi satu.

Di atas tembok si baju biru tersenyum mengejek. Masih dengan tersenyum dia berkata. "Kukira adipati lebih bijaksana bila dibandingkan dirimu. Dimataku kau tidak ubahnya seperti see- kor keledai gemuk tanpa otak tanpa fikiran!"

"Kunyuk biru jahanam, kubunuh kau!" pe- kik kepala penjaga berang. Dengan gerakan rin- gan dan kecepatan bagaikan kilat si tinggi besar berkelebat ke atas tembok. Namun gerakannya mendadak tertahan begitu mendengar satu se- ruan.

"Kepala Penjaga, tahaan...!"

Serentak kepala penjaga berpaling, walau- pun kecewa tapi keinginannya jadi surut begitu melihat siapa yang datang. Dia cepat balikkan badan, menghadap ke arah orang yang datang. Setelah itu berlutut sambil menjura ke arah sosok yang datang bersama seorang pengawal yang memberikan laporan tadi.

Adapun yang datang bersama pengawal itu bukan lain adalah seorang laki-laki berusia enam puluhan. Berbelangkon warna cokelat, berpa- kaian mewah dengan warna yang sama. Sekali melihat penampilan orang, pemuda di atas tem- bok segera maklum orang yang baru datang ke tempat itu pastilah adipati Purbolinggo bernama Suryo Lagalapang.

Setelah berhenti di depan mayat Ronggo Medi yang tergeletak tak jauh dari kaki kuda, la- ki-laki itu memandang ke arah mayat beberapa penjaga yang bergeletakan di bawah tembok. Se- telah itu perlahan wajahnya terangkat, tatapan matanya baru berhenti setelah membentur sosok pemuda berpakaian biru yang berdiri dengan si- kap gagah, berpijak pada pecahan kaca yang ber- tebaran di atas benteng gedung kediaman adipati. "Pemuda gagah, apa yang kau cari ditem-

pat ini?" tanya laki-laki berpakaian bangsawan kraton yang bukan lain adalah Suryo Lagalapang dengan suara perlahan berwibawa.

"Gusti, pemuda itu hendak membuat keka- cauan. Dia pantas di...!"

"Diam!!" hardik adipati pada kepala penja- ga. Si tinggi besar langsung katubkan mulut, wa- jahnya tertunduk. Dalam hati dia memaki habis- habisan mengapa nasibnya sial betul hari ini.

Di depan si tinggi besar Suryo Lagalapang kembali memandang ke atas tembok. "Anak muda kau turunlah!"

"Saya ingin menemui adipati!" kata pemuda itu. Lalu dengan gerakan dia melompat turun dari atas tembok.

"Aku adipati disini. Kau siapa dan ada ke- perluan apa?" tanya adipati begitu si baju biru je- jakkan kaki di atas halaman.

Mengetahui orang yang berdiri dihadapan- nya adalah adipati Purbolinggo, si baju biru lang- sung menjura hormat, tidak berlutut seperti hal- nya kepala penjaga.

"Kebetulan sekali. Saya datang ingin me- nyampaikan sesuatu pada gusti. Nama saya Me- nak Sangaji." kata si baju biru memperkenalkan diri.

Adipati kernyitkan alisnya. Dalam hati dia berkata. "Pemuda ini jelas memiliki ilmu yang cu- kup lumayan. Dia membunuh orangku hanya da- lam sekali gebrakan saja. Apapun keperluannya jika aku bisa memanfaatkan tenaganya, tentu ke- dudukanku semakin bertambah kuat."

Kemudian dengan suara lantang Suryo La- galapang berkata. "Apa keperluanmu cepat kata- kan!"

"Saya membawa sebuah peta rahasia perja- lanan. Peta yang menunjukkan dimana beradanya keturunan musuh gusti adipati!" jelas Menak Sangaji. Ucapan itu membuat adipati jadi melen- gak kaget. Tak pernah menyangka pemuda ini mengetahui apa yang dicarinya selama ini. Dasar cerdik dia tidak mau menyinggung soal peta se- bagaimana yang dikatakan si baju biru, tapi ber- tanya tentang hal lain.

"Kau datang aku tak mengundang. Kau li- hat mayat di depanku ini?" tanya Suryo Lagala- pang. Yang ditanya anggukkan kepala. "Mayat itu adalah bangkai busuk Ronggo Medi. Dia hendak bersekutu dengan Ki Lurah Wanayasa karena Ki Lurah memberi satu imbalan yang sangat besar pada Ronggo Medi.!" kata Menak Sangaji. Penjela- san ini jelas mengejutkan bagi adipati. Dia me- mandang tajam pada si baju biru, disertai serin- gai penuh arti laki-laki itu bertanya. "Kecerdi- kanmu sungguh luar biasa anak muda. Bagaima- na kau tahu Ronggo Medi orangku, kemudian ba- gaimana kau bisa mengetahui yang dicari Ronggo Medi adalah peta rahasia?" Pertanyaan itu sempat membuat si baju biru merasa terpojok. Tapi kare- na pada dasarnya si baju biru adalah pemuda cerdik yang kecerdikannya tak kalah dibanding- kan dengan Suryo Lagalapang, meskipun segala yang diucapkannya adalah suatu kedustaan bela- ka.

Dengan sikap tenang pula Menak Sangaji menjawab. "Gusti, terus-terang saya sama sekali tidak mengenal Ronggo Medi, tapi setelah melihat sembilan pengikutnya dan setelah mendengar pembicaraan Ki Lurah dengan Ronggo Medi ak- hirnya saya jadi tahu kalau Ki Lurah sedang membujuk orang kepercayaan gusti agar tidak mempersoalkan peta yang dicarinya. Sebagai im- balan Ki Lurah memberikan sekantong emas. Tapi hamba kemudian menggagalkan penghianatan itu. Sayang orang kepercayaan gusti tak dapat saya bawa kemari dalam keadaan hidup bersama anak buahnya juga Ki Lurah karena mereka ber- maksud membunuh saya." kata si baju biru. Da- lam hati dia berkata. "Mampus kau, kena juga aku bohongi."

Mendengar penjelasan Menak Sangaji, Suryo Lagalapang manggut. Walaupun begitu se- bagai manusia licik dia tidak mau percaya begitu saja. Sehingga dia ajukan pertanyaan. "Anak mu- da sebelumnya kau sama sekali tidak mengenal- ku, lalu mengapa kau tiba-tiba berada dipihak- ku?"

Si pemuda tersenyum, sambil rangkapkan dua tangannya di depan dada dan dengan sikap sopan mengundang simpati dia berucap. "Gusti, memang benar saya tidak pernah bertemu dengan gusti. Tapi nama besar adipati Purbolinggo serta sikap bijaksananya selaku pemimpin besar yang disegani baik oleh kawan maupun lawan sudah sejak lama saya mendengarnya. Orang dengan si- kap serta kedudukan semulya adipati, jangankan saya yang cuma pengembara biasa. Seorang raja sekalipun pasti selalu membela gusti."

Suryo Lagalapang merasa senang sekali mendengar sanjungan pemuda itu. Sambil terse- nyum dan tetap unjukkan sikap berwibawa yang berlebihan orang tua itu kemudian berucap. "Kau seorang pemuda yang cukup mengagumkan. Ka- dipaten ini sangat membutuhkan orang seperti- mu. Aku akan mengangkatmu menjadi salah seo- rang kepercayaan, tapi sebelum itu hendaknya kau mau menyerahkan peta rahasia itu!"

Dari balik pakaiannya Menak Sangaji men- geluarkan gulungan kulit harimau. Gulungan be- risi peta yang menunjukkan tempat keberadaan putra Karma Sudira itu diikat dengan pita ber- warna kuning. Dengan terbungkuk-bungkuk si pemuda menyerahkan peta itu pada Suryo Laga- lapang. Sang adipati segera membuka peta kemu- dian memeriksa beberapa jenak lamanya.

"Aku yakin anak Karma Sudira tidak ting- gal di Wadaslintang ini seluruhnya. Jika kau mau berbuat jasa besar pada kadipaten sekarang saatnya." kata Suryo Lagalapang.

"Apa maksud gusti?" tanya Menak Sangaji pura-pura tak mengerti.

"Kau mau kuangkat menjadi salah seorang pejabat kadipaten?"

"Jika saya, gusti anggap pantas menempati jabatan itu tentu saja mau." sahut si pemuda.

Suryo Lagalapang tersenyum. "Bagus. Ke- lak segala pengabdianmu akan mendapat imbalan besar." kata adipati. Sejenak lamanya dia pan- dangi Menak Sangaji. Setelah itu dia melanjutkan ucapannya. "Untuk pertama ini kau harus pergi ke Wadaslintang sesuai dengan petunjuk dalam peta ini. Kau cari pemuda bernama Rumbapati, bila kau bertemu dengannya dia harus kau bu- nuh."

"Gusti apakah saya boleh tahu siapa Rum- bapati itu?" tanya Menak Sangaji.

"Rumbapati anak musuh besarku." jawab Suryo Lagalapang.

"Jika tugasmu telah kau jalankan dengan baik, kau harus mencari orang-orangku yang be- lum kembali hingga saat ini. Mereka itu adalah seorang pemuda bernama Wajalangke dan dua orang kakek bergelar Nafas Penebar Maut dan sa- tunya lagi si Samber Nyawa. Ketiga orang yang kusebutkan ini beberapa hari yang lalu kutu- gaskan mencari seorang gadis bernama Mutiara Pelangi. Tapi herannya sampai sekarang mereka belum juga kembali. Padahal aku telah berjanji pada seseorang untuk menyerahkan gadis itu ke- padanya." kata adipati dengan mata menerawang. Tidak berapa lama kemudian Suryo Lagalapang menerangkan ciri-ciri tiga orang yang harus dicari oleh Menak Sangaji. Pemuda itu anggukkan kepa- la tanda mengerti.

"Sekarang berangkatlah! Waktumu sangat terbatas, karena aku khawatir seandainya Mutia- ra Pelangi tidak segera ditemukan, orang tua itu menjadi marah dan terlalu menyalahkan aku,"

"Siapakah orang tua yang gusti maksud- kan?" tanya si pemuda ingin tahu.

Suryo Lagalapang tersenyum. "Kau tak per- lu tahu siapa dia. Laksanakan saja tugasmu. Kau boleh menggunakan kuda di belakang gedung ini." Laki-laki itu kemudian hendak menyuruh kepala penjaga, tapi Menak Sangaji mencegahnya. "Gusti, saya lebih suka melakukan perjala-

nan tanpa kuda. Sekarang juga saya mohon diri." "Berangkatlah, anak muda. Di sini setiap

saat aku menunggumu!" kata Suryo Lagalapang. Menak Sangaji kemudian memutar badan,

sekali berkelebat sosok pemuda itu lenyap dari pandangan mata. Orang tua itu berdecak penuh rasa kagum. Luar biasa, dia ternyata bukan ma- nusia sembarangan. Batin adipati. Tak lama Suryo Lagalapang berpaling pada kepala penjaga yang masih berlutut di tempatnya.

"Kau mengapa terus disitu? Apa minta ku- tendang? Kau urus mayat teman-temanmu itu!" perintahnya.

"Bbb... baik gusti." Terbungkuk-bungkuk kepala penjaga berlalu dari hadapan adipati. Se- pertinya kepala penjaga orang tua itu masukkan gulungan kulit harimau ke balik pakaian. Tak la- ma kemudian berlalu kembali masuk ke dalam gedung.

3

Setelah memacu kuda sekian lama akhir- nya pemuda berpakaian hitam yang di wajahnya dihias dengan gambar tatto besar berbentuk bin- tang ini perlambat lari kudanya. Disatu tempat di bawah keteduhan sederet pepohonan kuda berbu- lu cokelat itu berhenti sama sekali. Sekejap la- manya pemuda itu terdiam, mulut menyeringai, sedangkan mata memandang sosok gadis berpa- kaian putih yang rebah menelungkup dalam kea- daan tertotok di pangkuannya.

Memperhatikan gadis yang berhasil dilari- kannya ini menimbulkan berbagai pertentangan batin di dalam hati si pemuda. Gadis dalam pangkuannya itu memiliki kecantikan sungguh luar biasa. Rasanya jika harus diserahkan pada Wisang Banto Oleng, tua bangka itu tidak ubah- nya seperti mendapat durian runtuh. Sedangkan dia cuma mendapat kulitnya sambil gigit jari. Dia jadi teringat pada ucapan adipati beberapa saat sebelum dirinya dan dua kakek yang ditugaskan membantu dalam pencarian itu berangkat me- ninggalkan kadipaten. Adipati berjanji jika dia sampai berhasil membawa gadis berpakaian putih ini sebagai hadiah si pemuda berhak menda- patkan tanah di daerah Ajibarang sekaligus men- jadi tumenggung di sana.

Janji ini memang cukup menggiurkan, na- mun jauh dilubuk hati si pemuda bertatto bintang dia tidak hanya menginginkan sekedar jabatan itu. Dia memiliki cita-cita dan keinginan besar. Kalau perlu secara perlahan dia harus membu- nuh adipati Suryo Lagalapang, dengan begitu ke- lak dia bisa menjadi pemimpin di kadipaten.

Tapi sekarang setelah gadis ada di tangan- nya, entah mengapa perasaan si pemuda menjadi bimbang. Pada satu sisi dia ingin memiliki si ga- dis atau paling tidak menjadikannya sebagai ke- kasih. Sedangkan pada sisi lain keinginannya un- tuk menggulingkan Suryo Lagalapang begitu menggodanya. Sekali lagi si pemuda yang dikenal dengan nama Wajalangke ini memandangi gadis dalam pangkuan. Mendadak timbul keinginan, muncul pula hasrat kotor di dalam benaknya. Pinggul bagus si gadis dielusnya tiga kali. Ter- nyata si baju putih yang rambut panjangnya men- juntai ke bawah sampai kebagian perut kuda bu- kannya sedang tidur atau tidak sadarkan diri ka- rena begitu pinggul dielus si gadis mendamprat. "Pemuda jahanam terkutuk, aku bersumpah akan membunuhmu!"

Wajalangke berjingkrak kaget, demikian kagetnya membuat surut kebagian belakang punggung kuda. Dengan begitu tentu saja gadis yang dalam keadaan tertotok itu kehilangan ke- seimbangan. Tak ayal lagi sosok gadis itu melun- cur jatuh punggung ke tanah di bawah kaki kuda. Melihat kejadian ini Wajalangke tertawa terbahak-bahak. "Dasar gadis bodoh, kebanyakan perempuan suka dipeluk, kau malah memilih menyiksa diri.!" berkata begitu Wajalangke me- lompat turun dari punggung kuda. Dia lalu ham- piri si gadis. Sosok gadis yang dalam keadaan ka- ku badan namun masih bisa bicara bebas digo- tongnya ke arah sebuah batu, lalu gadis itu dis- andarkan dibagian batu yang rata. Wajalangke sendiri lalu duduk bersimpuh disamping gadis baju putih. Selama dirinya diangkat dan dipin- dahkan dari kaki kuda ke batu, gadis ini meman- dang mendelik penuh rasa marah pada pemuda yang menggotongnya, tapi Wajalangke bersikap seolah tak perduli.

"Pemuda setan, jangan mengira aku tun- duk dibawah perintahmu. Aku belum mengguna- kan semua ilmu kesaktian yang kumiliki. Sean- dainya semua ilmu simpanan kukerahkan apakah kau mengira bakal lolos dari kematian?" damprat si gadis dengan mata mendelik. Wajalangke me- natapnya sekilas, seolah merasa tidak pernah me- lakukan suatu kesalahan apapun dia menjawab. "Dalam keadaan seperti ini tidak ada gunanya kau bersikap keras kepadaku. Dengan jiwa dan ragamu sepenuhnya berada dalam kekuasaanku. Jika menuruti perintah adipati, seharusnya saat ini aku membawamu ke gunung Selamet untuk diserahkan pada Wisang Banto Oleng. Sebagai imbalan Adipati memberiku hadiah berupa sebi- dang tanah luas di Ajibarang, sementara aku sen- diri diangkat menjadi tumenggung daerah itu. Ja- batan dan hadiah itu kuanggap tidak sebanding jika harus ditukar dengan gadis secantikmu. Jika menuruti kata hati aku ingin menjadi adipati, tapi itu membutuhkan waktu yang lama."

"Aku tidak perduli dengan segala cita-cita dan keinginanmu. Sekarang juga cepat bebaskan aku.!" teriak si gadis. Secara diam-diam dia sendi- ri sebenarnya sejak tadi sudah berusaha membe- baskan diri dari pengaruh totokan yang dilakukan oleh kakek aneh bergelar Samber Nyawa, tapi to- tokan kakek itu luar biasa hebat, hingga gadis ini walaupun telah mencoba berulang kali usahanya tidak membawa hasil.

Seperti telah diceritakan dalam episode ‘Se- tan Sableng’ saat itu Wajalangke datang kedia- man si gadis yang terletak di satu daerah penda- taran subur yang diwarnai berbagai jenis tana- man bunga. Wajalangke bersama dua orang ka- kek bergelar Nafas Penebar Maut dan Samber Nyawa membakar rumah si gadis. Ketika gadis pemberani ini muncul terjadi perkelahian hebat. Walaupun ilmu si gadis cukup tinggi, namun ka- rena diserang oleh dua lawan sekaligus apalagi salah satu diantaranya menggunakan asap bera- cun, maka gadis ini akhirnya tertotok. Di saat se- perti ini muncul empat kuda kurus yang ditung- gangi oleh seorang pemuda aneh mengaku berge- lar Setan Sableng. Pemuda itu berhasil membu- nuh Samber Nyawa, tapi ketika Setan Sableng tengah menghadapi gempuran Nafas Penebar Maut, kesempatan ini dipergunakan Wajalangke untuk melarikan gadis itu. Kini Wajalangke beringsut lebih mendekat dengan si gadis. Kepala dijulurkan hingga wajah mereka hanya berjarak setengah jengkal saja satu sama lain. Gadis baju putih jadi jengah, dengan penuh kemarahan dia semburkan ludah, hingga mengenai wajah Wajalangke. Pemuda itu agaknya menjadi kalap. Sambil keluarkan suara mengge- rung dia menampar wajah si gadis.

"Keparat! Manusia keji laknat, aku ber- sumpah akan memenggal kepalamu!" teriak si ga- dis yang wajahnya jadi merah akibat tamparan. Disertai seringai sinis Wajalangke usap ludah yang membasahi mukanya. Kemudian dengan suara dingin pula dia berkata. "Mutiara Pelangi, kau dengar. Segala apa yang baru kau ucapkan tak ada artinya bagiku. Jika aku mau, aku bisa berbuat apa saja atas dirimu. Aku juga bisa ber- laku kejam diluar yang kau bayangkan. Sekarang ada dua pilihan untukmu. Pertama kau akan ku- serahkan pada si tua Wisang Banto Oleng, kakek keparat yang mendidik anak manusia menjadi se- buah serigala. Jika kau kuserahkan padanya be- rarti kau akan dijadikannya seorang istri. Hidup dijadikan istri piaraan oleh tua bangka semacam Wisang Banto Oleng apa enaknya, tubuh dekil, nafas bau kubur dan kujamin perabotannya su- dah usang. Karena itu sebaiknya kau menjadi ke- kasihku saja, kalau kau mau kita berdua bisa menjadi pasangan kekasih yang hebat. Aku punya rencana, kita jalankan rencana itu untuk meng- gulingkan kekuasaan Suryo Lagalapang. Jika ka- dipaten jatuh ke tangan kita, berarti kau juga ikut hidup dalam gelimang kemuliaan dan kemewa- han. Bagaimana manisku...!" sambil berkata Wa- jalangke menyentuh dagu si gadis.

Diperlakukan seperti itu Mutiara Pelangi menjadi berang. "Pemuda sinting, lakukan sendiri apa yang menjadi keinginanmu. Jangan pernah bermimpi aku mau menjadi kekasih pemuda bu- ruk sepertimu!"

Dihina demikian rupa, membuat kesabaran Wajalangke jadi lenyap. Sambil cengkeramkan tangannya kebagian bahu Mutiara Pelangi atau lebih dikenal dengan julukan Puteri Kupu Kupu Putih pemuda itu berucap. "Gadis sial! Tampang ganteng begini kau bilang buruk. Rupanya kau ingin aku mentatto wajahmu, atau kau mau aku berlaku kasar?!" dengus Wajalangke. Memandang sesaat ke bagian pakaian di belahan dada si ga- dis, Wajalangke menyeringai aneh. "Tempat ini memang sangat sunyi, agaknya kau ingin agar aku mencumbui dirimu? Baiklah kalau itu per- mintaanmu dengan senang hati akan kulakukan!" selesai berkata, tangan yang dipergunakan men- cengkeram bahu bergerak.

Breet!

Terdengar suara robeknya pakaian, Mutia- ra Pelangi memekik kaget ketika mendapati ba- gaimana baju dibagian bahu robek besar me- nyingkapkan bagian punggungnya yang putih mulus. Mutiara Pelangi memaki panjang pendek. Dia mencoba menutupi bahunya, tapi urung begi- tu menyadari tangannya terasa lemah tak dapat digerakkan. "Pemuda keparat, aku bersumpah untuk membunuhmu!" damprat gadis itu dengan muka merah padam.

Wajalangke tertawa mengekeh, apa yang dilihatnya membuat dadanya bergemuruh, darah menggelegak dibakar nafsu.

"Lebih baik kau telan sumpahmu, kita ha- biskan waktu disini untuk bersenang-senang. Ku- jamin kau pasti akan senang. Ha ha ha!" kata Wa- jalangke disertai tawa panjang.

Kemudian tanpa memberi kesempatan lagi pada si gadis, kembali tangannya berkelebat me- nyambar ke arah pakaian yang menutupi bagian dada. Tapi belum lagi jemari tangan Wajalangke sampai pada sasaran, saat itu melesat satu benda sebesar jari kelingking menghantam punggung tangan si pemuda.

Taak! "Akh...!"

Wajalangke keluarkan jeritan keras. Tan- gan yang melesat siap merobek pakaian dibagian dada si gadis mendadak terasa kaku, tak dapat digerakkan dan celakanya lagi tangan itu seperti ditusuki ratusan batang jarum yang panas mem- bara.

Sambil meringis menahan sakit Wajalangke kerahkan tenaga dalam, lalu mengalirkannya ke bagian tangan yang tak jelas kena dihantam ben- da apa, karena benda yang menghantam tangan- nya terpental entah kemana. Ketika hawa hangat mengalir kebagian tangan, Wajalangke dapat menggerakkan tangan yang kaku, tapi tak mam- pu melenyapkan rasa sakit yang rasanya tidak beda dengan ditembus jarum membara.

Sambil mengibas-ngibaskan tangan Waja- langke melompat, dilain kejab dia sudah berdiri tegak. Sepasang matanya jelalatan menyisir setiap sudut. Dia tidak melihat ada orang bersembunyi di sekitar situ. Jika tidak ada orang yang me- nyambitnya, lalu siapa yang telah menimpuk tan- gannya tadi? Dengan tatapan nyalang dan dada menyesak dibuncah amarah Wajalangke berte- riak.

"Manusia keparat, berani usil tapi tak punya nyali tunjukkan tampang. Sebaiknya ke- luarlah kau! Aku ingin melihat bagaimana wajah setan yang telah berani mencampuri urusanku!" seru pemuda itu berang.

Satu tawa kemudian merobek kesunyian di tempat itu. Anehnya lagi suara itu datang dari dua arah, seakan yang sedang mengumbar tawa memang ada dua orang. Wajalangke jadi tertegun, kening berkerut. Dia lalu memandang ke arah mana dua suara tawa tadi berasal. Baru saja pe- muda ini bermaksud mengejar ke arah datangnya suara tawa, mendadak tawa lenyap. Lalu ada orang berkata. "Wajalangke, matamu tidak buta masa kau tidak bisa melihat manusia sebesar ga- jah bengkak begini? Lihat ke belakangmu!" Kare- na memang suara orang yang baru bicara datang dari belakang, dengan cepat Wajalangke balikkan badan memutar langkah. Dia tercengang tapi juga marah karena tidak melihat siapapun disana se- lain Mutiara Pelangi yang masih tetap tersender di punggung batu.

"Jahanam keparat! Jangan kau berani mempermainkan aku!" teriak Wajalangke geram.

"Siapa yang mempermainkan dirimu pe- muda buruk wajah bertatto bintang. Coba kau perhatikan baik-baik, tenangkan hatimu, bersih- kan fikiranmu dari segala macam yang berhu- bungan dengan maksiat. Jika kau telah mengua- sai nafsu busuk dan fikiran kotormu sekarang li- hatlah ke belakangmu!" kata suara itu.

Mutiara Pelangi mencoba memandang ke belakang, tapi gerakan kepala yang berputar jadi tertahan. Totokan itu membuat si gadis tak dapat menggerakkan kepala secara leluasa.

Dalam kemarahannya karena merasa di- permainkan orang, Wajalangke kembali memba- likkan badan. Dia jadi terperanjat ketika melihat satu sosok berbadan besar bertelanjang dada berperut gendut telah berdiri disana sambil terse- nyum dan usap-usap kepalanya yang botak pe- lontos dengan tiga pitak dibagian atas kening.

"Sobatku sedang marah tidak melihat orang sebesar gajah. Tadi kau kudengar memang- gilku setan, sebenarnya aku bukan setan, tapi ib- lis. Ha ha ha!" kata si pemuda gemuk berkepala botak sambil tersenyum cengengesan. Di depan- nya sana Wajalangke terdiam, siapapun pemuda yang bertingkah laku seperti orang edan itu pasti bukan pemuda sembarangan. Rasanya baru kali ini Wajalangke bertemu dengan pemuda yang ba- junya hanya disampirkan di atas bahu kiri itu.

"Pemuda gila, kau jangan bergurau. Cepat minggat dari hadapanku dan jangan campuri urusanku!" hardik si pemuda.

Pemuda gendut berkepala botak tidak men- jawab, dia hanya tersenyum tapi matanya melirik ke arah Mutiara Pelangi. Sambil mengusap-usap kepala botaknya dia berkata. "Aku mau saja pergi dari sini. Tapi siapa yang berani menjamin kau ti- dak akan mencopoti pakaian gadis ini. Kalau kau copot pakaiannya kasihan dia. Gadis ini bisa ke- dinginan dan masuk angin. Ya kalau cuma masuk angin, bagaimana jika sampai bunting." kata si botak. Dia kemudian seperti terperanjat.

Mulut ternganga mata terbelalak. "Aih... sudah kau apakan dia? Mengapa tidak bisa ber- gerak? Walah... ternyata kau pemuda yang nakal. Kalau orang tak suka padamu jangan suka me- maksa. Apalagi harus ditotok segala. Aku ingin membebaskan totokan apakah boleh?" tanya si pemuda botak gendut sambil memandang pada Mutiara Pelangi dan Wajalangke silih berganti.

"Sobat botak, tolong aku, punahkan toto- kan. Pemuda itu jahat hendak berbuat keji pada- ku.!" seru si gadis yang merasa ada harapan un- tuk meloloskan diri.

"Walah benar-benar keliwatan kau!" kata si botak ditujukan pada Wajalangke.

"Berani membebaskan totokannya kukelu- pas kulit kepalamu!" hardik Wajalangke dengan mata mendelik.

Sesaat si gendut berkepala botak jadi bin- gung sambil usap kepala botaknya pulang balik. 4

Wajalangke tertawa bergelak. Sekali me- lompat kini dia telah berdiri tegak dua langkah di depan pemuda gemuk botak. Dia garuk kepala, selesai digaruk kepala diusap. Sekali lagi si pe- muda botak pitak menyengir. Sama sekali dia ti- dak merasa heran melihat gerakan Wajalangke yang sangat cepat luar biasa.

"Kalau cuma seperti itu aku Iblis Edan bisa melakukannya lebih cepat. Tapi buat apa pamer kebolehan disini. Rasanya setelah berfikir baik buruknya, lebih bagus lagi bila kubebaskan gadis itu. Rasanya jika harus bertelanjang dada seper- tiku tidak tega aku melihatnya. Jadi kuharap kau bisa memaafkan jika aku terpaksa harus membe- baskan totokan ditubuhnya!" berkata begitu me- langkah lurus ke arah Mutiara Pelangi.

Baru saja satu tindak Iblis Edan bergerak ada angin menderu menyambar tubuhnya mem- buat si gemuk botak dengan tiga pitak di atas kening berbentuk bulan sabit terhuyung nyaris terjengkang ke belakang.

"Walah, tidak mabuk tidak pula sedang ter- jadi badai topan mengapa tubuhku jadi sem- poyongan begini?" desis Iblis Edan. Enak saja si botak ayunkan kakinya ke belakang, kemudian dengan gerakan seperti orang menendang kaki melesat ke depan menangkis pukulan lawannya.

Angin menderu hawa dingin menebar. Wa- lau tercekat tapi Wajalangke teruskan serangan- nya sehingga terjadi satu benturan keras.

Duuuuk!

Wajalangke terjajar, tangan yang bentrok di udara dengan kaki lawan terasa sakit, dingin seo- lah membeku. Di depannya sana Iblis Edan berdi- ri tegak sambil usap-usap kakinya yang meng- gembung bengkak. Masih tersenyum Iblis Edan membungkuk seperti orang yang hendak berjong- kok. Tapi yang sebenarnya tidak, karena begitu tubuh membungkuk dia berlari ke depan menye- ruduk lawan dengan kepalanya.

Tak menyangka mendapat serangan begitu rupa, Wajalangke dalam kagetnya melompat ting- gi. Serudukan Iblis Edan mengenai angin. Begitu kepala lawan lewat dibawahnya, Wajalangke han- tamkan tangannya dari atas. Karena tangan diali- ri tenaga dalam penuh, Wajalangke sudah merasa yakin pukulannya akan membuat remuk kepala pemuda sinting itu. Hantaman keras luar biasa mendera batok kepala Iblis Edan. Satu pekikan keras merobek kesunyian. Sosok tubuh terpental, lalu jatuh bergedebukan di atas tanah. Ternyata yang jatuh bukan Iblis Edan, melainkan Waja- langke sendiri. Dengan cepat sambil menggerung marah. Wajalangke bangkit berdiri. Dia dekap ba- gian keningnya yang benjol besar benjut membi- ru. Apa yang terjadi? Ternyata ketika pukulannya mengenai kepala lawan. Kepala orang yang dipu- kulnya tidak ubahnya seperti karet. Tidak ayal la- gi tangan yang dipergunakan untuk memukul jadi membal berbalik menghantam keningnya sendiri.

Dengan mata memerah menahan amarah Wajalangke memandang ke depan. Orang yang diserangnya lenyap. Ketika pemuda itu meman- dang ke arah Mutiara Pelangi, dia jadi kaget. Iblis Edan ternyata tidur rebahan di atas batu. Kedua kakinya dipergunakan untuk menendang bahu si gadis kanan kiri. Habis ditendang ternyata toto- kan dibagian bahu punah. Mutiara Pelangi lang- sung melompat begitu terbebas dari totokan. Sambil berteriak dia yang sudah memendam ke- marahan sejak langsung melabrak Wajalangke sambil melepaskan tendangan dan pukulan be- runtun. 

"Gadis nekad. Diajak memadu kasih kau malah mencari penyakit. Jangan salahkan aku!" teriak Wajalangke kalap. Sambil melompat mun- dur hindari serangan kini dia salurkan tenaga da- lam ke bagian kedua tangan. Dua tangan berge- tar, lalu mengepulkan asap tipis berwarna biru sampai akhirnya kedua tangan berubah biru sampai sebatas pangkal lengan.

Saat itu walau Mutiara Pelangi sempat me- lihat perubahan tangan lawannya tapi tetap me- neruskan serangannya. Tangan kanan menyam- bar ke bagian kepala, sedangkan tangan kiri ber- gerak mencengkeram perut. Diantara dua seran- gan ini tentu yang sangat berbahaya adalah se- rangan yang mengarah dibagian perut. Karena sekali perut kena dicengkeram, usus dan bagian dalam perut jadi berantakan.

Wajalangke sadar betul akan hal itu. Den- gan cepat dia berkelit ke samping sambil runduk- kan kepala. Serangan yang mengarah kepala Lu- put, dua tangan si pemuda didorongkan ke depan menepis cengkeraman tangan kiri.

Sambaran hawa panas yang memancar da- ri tangan Wajalangke membuat lawan tarik tan- gan kirinya. Dia melompat di udara ketika tangan lawan yang tadinya mendorong kini berbalik men- jadi gerakan menghantam. Sinar biru membersit, menyambar kaki Mutiara Pelangi. Si gadis le- satkan tubuhnya lebih ke atas lagi sehingga kini kaki selamat dari terjangan sinar maut yang ke- luar dari telapak tangan lawan. Masih dalam kea- daan mengambang kakinya bergerak menyambar kepala lawan.

Dess!

Satu hantaman menderu kepala Waja- langke, tapi tidak membuat pemuda roboh. Malah kini tanpa menghiraukan rasa sakit yang mende- ra kepalanya dia melompat ke atas. Satu tangan menyambar kaki si gadis. Mendapat serangan ba- lik yang tidak disangka-sangka ini Mutiara Pelan- gi jadi kaget sekaligus gugup. Gerakan tubuhnya jadi sulit terkendali. Selagi gadis itu berjumpali- tan menjauhi lawannya. Kaki kirinya kena disam- bar oleh lawan.

Creep!

Cengkeraman yang demikian keras mem- buat Mutiara Pelangi tak mampu bebaskan ka- kinya, walau saat itu dia sudah meronta. Cekalan tangan lawan tidak ubahnya seperti jepitan besi. Si gadis menjerit ketika merasakan kakinya jadi panas laksana terbakar. Wajalangke tertawa ter- bahak-bahak. Puas tertawa tubuh si gadis dipu- tarnya bagaikan kitiran.

"Kubuat dulu dirimu seperti orang linglung, setelah itu batok kepalamu kubenturkan dibatu. Kau pasti menyesal karena harus mati muda!" te- riak Wajalangke sambil ikut berputar pula mengi- kuti gerakan tubuh si gadis. Melihat ini Iblis Edan bangkit, lalu duduk di atas batu. Memandang ke arah Mutiara Pelangi yang kena dipermainkan la- wan berucap. "Eeh... bercanda boleh saja, tapi jangan dibuat pusing anak gadis orang!"

Wuuut! Wuuut!

Tanpa bergerak dari tempatnya Iblis Edan lambaikan tangannya. Secara mengejutkan dari kelima ujung jari pemuda itu melesat sinar putih. Dua dari kelima sinar menghantam ruas perge- langan tangan yang mencekal kaki Mutiara Pelan- gi. Sedangkan satunya lagi meluncur ke bagian kepala, sedangkan sisanya menghantam sekujur tubuh pemuda itu.

Belum lagi kelima sinar menyentuh tubuh- nya Wajalangke merasakan ada hawa dingin me- nyungkup tubuhnya. Mendadak bukan hanya ke- dua tangan saja yang terasa dingin membeku, ta- pi perasaan yang sama juga mendera sekujur tu- buhnya. Yang paling tersiksa akibat serangan hawa dingin ini tentu saja Mutiara Pelangi. Se- mentara itu Wajalangke merasa tak sanggup mempertahankan kaki lawannya. Cekalannya pa- da kaki lawan lepas, tubuh si gadis meluncur dengan kepala mengarah pada sebatang pohon. Melihat kepala si gadis sekaligus keselamatannya terancam bahaya besar Iblis Edan enak saja du- duk di atas batu sambil uncang-uncang kaki dan tertawa lepas melihat Wajalangke berkutat beru- saha membebaskan diri dari pengaruh serangan lawan. Sesaat lagi kepala Mutiara Pelangi remuk menghantam pohon, Iblis Edan menoleh. Matanya mendelik mulut keluarkan seruan kaget sedang- kan jari telunjuk digerakkan ke arah Mutiara Pe- langi.

Secara aneh dan sulit dipercaya kepala yang seharusnya menghantam pohon tiba-tiba berbalik ke arah Iblis Edan kemudian melesat dan jatuh ke atas pangkuan pemuda itu.

Iblis Edan tertawa terbahak-bahak. Masih dengan tertawa Iblis Edan pindahkan Mutiara Pe- langi dari pangkuan ke atas batu. Si gadis geleng- kan kepala. Dia sadar Iblis Edan telah menyela- matkan jiwanya. Ingin dia mengucapkan terima kasih pada pemuda yang agaknya berotak miring itu. Tapi Iblis Edan sudah bangkit, kini malah memeriksa bagian kaki si gadis yang melepuh. Bukan hanya kaki yang dicengkeram lawan tadi saja yang melepuh, tapi bagian ujung kaki cela- nanya juga hangus dan robek besar.

"Walah... adikku, kakimu terluka. Monyet comberan itu telah melukaimu. Setan betul dia!" Kau tidak bisa membalas, biar aku yang akan me- lakukannya. Aduh kasihan, biar kuobati dulu ya?" sambil berkata iblis Edan ludahi kedua tela- pak tangannya. Kemudian dua tangan digosok sa- tu sama lain. Setelah itu kedua tangan ditempel- kan dibagian yang terluka, setelah itu tangan ber- gerak mengusap dari atas ke bawah. Asap putih tebal berbau amis menebar menutupi kaki yang terluka. Begitu tangan diangkat dan asap lenyap, maka kaki yang terluka sembuh, kulitnya pulih seperti sediakala. Mutiara Pelangi delikkan mata seakan tak percaya dengan apa yang terjadi.

Sementara itu Wajalangke yang terpaksa menguras seluruh tenaga dalam untuk me- munahkan pengaruh hawa dingin yang menye- rang sekujur tubuhnya sempat dibuat kaget meli- hat segala keanehan sekaligus kehebatan yang dimiliki Iblis Edan. Tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Setelah menguras kemampuan yang dia miliki akhirnya Wajalangke dapat membebaskan diri dari pengaruh hawa din- gin yang dapat menjadikan dirinya seperti patung es. Dalam keadaan seperti itu otak cerdiknya be- kerja dan timbul keinginan dalam hati jahatnya untuk mencelakai lawan.

Sehingga sampai saat itu dia bersikap ma- sih berada dalam pengaruh serangan Iblis Edan. Wajalangke merintih tubuh menggigil, wajah pu- cat, mulut bergetar ketika dia berucap. "Tobaat biyung. Ampuni selembar nyawaku. Maafkan do- saku Iblis Edan. Maafkan kesalahanku Mutiara Pelangi." Nampak dengan bersusah payah Waja- langke bergantian memandang dengan wajah memelas ke arah dua nama yang baru disebutnya tadi.

"Jika kau mampus hari ini aku merasa puas!" dengus Mutiara Pelangi. Gadis ini bangkit berdiri, ingin rasanya dia melabrak Wajalangke, pemuda yang hendak berbuat keji padanya. Tapi Iblis Edan gelengkan kepala.

"Sobat Iblis Edan. Pemuda itu jelas hendak berlaku keji atas diriku. Tapi kulihat sekarang kau nampaknya memberi hati!" teriak Mutiara Pe- langi merasa kecewa melihat sikap yang ditun- jukkan Iblis Edan.

Si gendut botak berpaling pada si gadis, memperhatikannya sejurus sambil kedipkan ma- tanya. Setelah itu dia berpaling ke arah Waja- langke, kemudian melangkah ke arah pemuda berbaju hitam yang wajahnya di tatto gambar bin- tang itu. Memang kesempatan inilah yang paling ditunggu oleh pemuda itu. Begitu Iblis Edan mendekat, dia siap menghantam dengan dua pu- kulan sekaligus. Tangan kiri siap menghantam dengan pukulan Topan Api Melabrak Gunung, se- dangkan tangan kanan siap melepas pukulan Ba- dai Topan Menggulung Bukit. Dua pukulan ini merupakan kesaktian yang paling diandalkan oleh Wajalangke.

Di depan sana sejarak dua tombak, Iblis Edan hentikan langkah. "Seperti yang dikatakan sobatku yang cantik itu, sebenarnya aku tak mau memberi hati padamu. Aku malah ingin membe- rimu tulang, kalau perlu mencabut nyawamu. Ta- pi Iblis Edan segala keedanannya masih dalam batas takaran. Jika kau mau bertobat, aku akan membebaskanmu dari pengaruh serangan Sinar Inti Es yang mendera tubuhmu!"

"Iblis Edan jangan percaya dengan mulut- nya. Dia pasti menipumu!" Masih dengan berdiri tegak ditempatnya Mutiara Pelangi berteriak memberi peringatan.

"Tolong, aku sudah tak tahan lagi. Ak... aku berjanji. Aku tobat, kalau pun kalian tak mau memaafkan aku tidak mengapa. Sekarang bunuh- lah aku. Ohk, aku sudah tak sanggup lagi! Tou- baat...!" Wajalangke menggeliat tubuh dan wajah- nya nampak semakin membiru.

"Baik, kalau kau memang sudah bertobat aku akan memunahkan pengaruh pukulan Sinar Inti Es dari tubuhmu!" kata Iblis Edan. Dengan polos dan tanpa prasangka apapun Iblis Edan bergerak mendekati Wajalangke. Begitu pemuda gendut berkepala botak pelontos ini berada satu langkah di depan Wajalangke, laksana kilat kedua tangan pemuda berpakaian hitam ini dihantam- kan ke depan.

Mutiara Pelangi yang sempat melihat gera- kan tangan Wajalangke berteriak memberi perin- gatan.

"Iblis Edan, sobat penolongku! Awaas...!" Teriakan gadis cantik itu tenggelam terte-

lan gemuruh suara pukulan lawan yang mene- barkan hawa panas luar biasa. Iblis Edan menje- rit, tubuhnya lenyap tenggelam dalam buntalan sinar merah yang kemudian setelah menyatu dengan udara berubah menjadi kobaran api. Wa- jalangke umbar tawa menggeledek. Di depan sana sejarak lima tombak ditengah suara gemuruh dahsyat itu terdengar ada suara orang jatuh. Di tengah kobaran api mendadak muncul hembusan angin berputar laksana puting beliung. Api men- dadak padam. Wajalangke berdiri tegak, mata di- pentang melihat bagaimana nasib lawannya.

Mutiara Pelangi yang cemas melompat ba- tu. Dia menerobos ke dalam kepulan sisa api dan asap menghitam. Tak berapa lama setelah kegela- pan asap yang menyelimuti udara disekitarnya lenyap. Tawa Wajalangke mendadak sirap.

Pemuda itu mendelik seperti melihat setan. Di depan sana di depan Mutiara Pelangi, Iblis Edan nampak terkapar. Celana hitamnya yang komprang hangus sampai di bagian atas lutut. Tubuh celemongan dipenuhi jelaga terbakar. Tapi tubuh Iblis Edan tidak mengalami cidera sedikit- pun. Hanya keadaannya kini nampak menggeli- kan. Wajah menghitam bagian dada sebelah kiri seperti ubi bakar.

"Sobat Iblis Edan.... Kk... kau     apakah

kau terluka?" tanya Mutiara Pelangi dengan suara bergetar dan perasaan haru. Jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan paling tidak dia merasa turut berdosa karena Iblis Edan melakukan sesu- atu semata karena untuk menolong dirinya. Kha- watir jiwa pemuda berkepala botak itu tak dapat diselamatkan Mutiara Pelangi pegang urat nadi dipergelangan Iblis Edan. Urat nadi dipergelangan tangan itu ternyata tidak berdenyut.

"Iblis Edan.!" Gadis itu memekik histeris. Di depan sana menyangka lawannya me-

nemui ajal terkena dua pukulan sakti yang dile- paskannya, Wajalangke tersenyum sinis. Sambil melangkah maju mendekati Iblis Edan dan sang dara, Wajalangke berucap. "Jika pemuda gila yang memiliki ilmu tinggi itu mampus ditangan- ku, apalagi kau. Sekarang sudah tidak ada lagi yang merintangi diriku. Kau harus ikut dengan- ku!"

Bukannya takut, Mutiara Pelangi begitu mendapati jantung Iblis Edan seperti tak berdetak lagi dengan penuh kegeraman segera bangkit ber- diri.

"Kau mengira aku takut denganmu, Waja- langke! Daripada harus ikut dengan manusia be- jat sepertimu lebih baik aku menyabung nyawa, bertarung denganmu sampai seribu jurus!"

Wajalangke dongakkan kepala, lalu me- ngumbar tawa. Dengan sinis dia berkata. "Ru- panya kau ingin merasakan dua pukulan saktiku! Lihat serangan!" berkata begitu Wajalangke men- dadak berkelebat sambil julurkan tangannya ke depan. Gerakan yang dilakukannya ini bukan be- rupa pukulan, melainkan satu cara untuk meno- tok lawannya.

Mutiara Pelangi tidak tinggal diam. Ketika merasakan ada angin menyambar disertai berke- lebatnya tangan lawan yang menjangkau keba- gian leher dia melompat ke samping, sedangkan kaki kanan tanpa terduga lancarkan tendangan kilat.

Serangan ini membuat Wajalangke jadi ter- cekat. Masih terus ulurkan tangan kanan, tangan kiri dipergunakan untuk menangkis.

Plak! Dess!

Benturan keras terjadi, hebatnya kaki sang dara terus meluncur dan menghantam perut pe- muda itu. Dengan tubuh terbungkuk dan langkah terhuyung Wajalangke dekap perutnya. Di saat bersamaan secara tidak terduga Iblis Edan yang semula dikira mati oleh Mutiara Pelangi maupun Wajalangke sekonyong-konyong bangkit berdiri. Sambil tertawa ha ha hi hi, Iblis Edan melompat ke arah Wajalangke. Karena jaraknya hanya satu langkah dari Iblis Edan tentu saja Wajalangke ti- dak dapat menghindar ketika dua tangan Iblis Edan laksana kilat bergerak ke bagian kepala. Dengan gerakan tak terlihat kedua tangan Iblis Edan kini terlihat menempel ketat di bagian atas daun telinga Wajalangke.

Sesuatu yang mengerikan kemudian terjadi mengiringi terdengarnya suara jeritan Waja- langke. Hawa panas luar biasa menyerang kepala pemuda itu. Demikian panasnya hingga kepala itu mengepulkan asap tebal. Dalam keadaan se- perti itu Wajalangke mencoba membebaskan diri dengan melepaskan pukulan ke bagian dada dan perut Iblis Edan. Tapi Wajalangke tidak ubahnya seperti memukul tumpukan karet. Pukulan ber- balik menghantam tubuhnya sendiri.

Cekalan dua tangan Iblis Edan pada kepala lawan masih belum lepas. Hawa panas yang san- gat luar biasa membuat rambut Wajalangke ber- guguran seketika hingga membuat kepala itu menjadi botak sedangkan wajah bengkak meng- gembung merah seperti digarang di atas bara api.

Tak lama kemudian dari mulut, hidung dan telinga Wajalangke meleleh darah kental. Dua matanya mendelik, satu jeritan mengiringi terka- parnya Wajalangke.

Iblis Edan melepaskan jemari tangan yang menempel pada kedua bagian pelipis lawan. Meli- hat kepala Wajalangke yang sekarang jadi botak pelontos seperti dirinya Iblis Edan berjingkrak ke- girangan. Dia menari seperti orang gila. Sambil menari mulutnya berucap. "Dia menyangka aku mati sungguhan. Padahal aku punya ilmu Mati Sejenak. Siapa dapat menahan ilmu Pelepas Api, kalau pun botak ini masih bisa hidup otaknya pasti miring. Dia akan terkapar seperti ini selama dua purnama lebih. Keadaannya menggenaskan, hidup tidak matipun tidak. Ha ha ha! Katanya mau tobat, tapi setelah kuberi kesempatan hidup malah hendak mencelakai diriku."

"Sobat Iblis Edan! Aku tak percaya dia se- karat, baiknya kucincang saja tubuhnya biar aku bisa memastikan tentang kematiannya!" kata Mu- tiara Pelangi yang diam-diam merasa gembira ka- rena penolongnya tidak menemui ajal sebagaima- na yang dia kirakan. Sang dara melangkah men- dekati Wajalangke yang terkapar diam tidak ber- gerak. Perlahan dia angkat tangan kanan siap me- lepaskan pukulan yang mampu membuat tubuh Wajalangke menjadi arang. Gerakannya tertahan karena Iblis Edan yang sudah berhenti menari ki- ni menghalangi.

"Sobatku cantik, jangan lakukan. Membu- nuh lawan yang sudah tak berdaya bahkan tak sadarkan diri bukan perbuatan ksatria. Biarkan saja dia tetap hidup. Seandainya dia mampu ber- tahan, pemuda jelek ini pasti kehilangan kewara- sannya. Selain itu otaknya setiap saat akan dide- ra rasa sakit luar biasa. Hebat bukan...?"

Mutiara Pelangi sebenarnya merasa sangat kecewa karena tak dapat melampiaskan niatnya. Tapi demi menghormati orang yang telah meno- longnya sang dara terpaksa telan rasa kecewanya.

Senyum-senyum Iblis Edan pandangi si gadis, kemudian duduk menjelepok di atas tanah. Sambil mengusap kepalanya yang botak dia aju- kan pertanyaan. "Eeh, sobatku cantik. Namamu siapa? Bagaimana pemuda itu bisa membawamu kemari?"

Mutiara Pelangi ikut pula duduk tak jauh di depan Iblis Edan. Dia menarik napas pendek. Mata menerawang ketika menjawab. "Aku Mutiara Pelangi. Pemuda itu datang ke tempat kediaman- ku bersama dua orang kakek aneh. Mereka mem- bakar rumah. Dia merupakan orang suruhan se- kaligus kaki tangan adipati Purbolinggo. Dua ka- kek yang menyertai pemuda ini terbunuh ditan- gan pemuda aneh penunggang kuda kurus berge- lar Setan Sableng...!" menerangkan sang dara.

Mendengar Mutiara Pelangi menyebut Se- tan Sableng, Iblis Edan kedip-kedipkan matanya. Kepalanya yang botak digaruk, kemudian diusap. Selesai mengusap dia tertawa.

Sang dara memperhatikan tingkah Iblis Edan dengan kening berkerut dan perasaan he- ran. Di matanya pemuda ini hampir sama dengan Setan Sableng. Suka tersenyum sering tertawa, tingkahnya sama pula seperti orang kurang wa- ras. "Setan.... Sableng.... Setan Sableng. Satu gelaran aneh. Aku, Iblis Edan.!" Si pemuda me- nyebut dua nama itu berulang kali. Kemudian dia tepuk keningnya sendiri. "Dunia ini agaknya su- dah dipenuhi oleh orang gila rusak fikiran. Gela- ran jelek seperti yang kumiliki mengapa ada yang meniru? Guruku memberi aku gelar Iblis tapi ada edannya. Lalu ada orang gila satu lagi mengaku punya julukan Setan Sableng. Ha ha ha." Iblis Edan tiba-tiba hentikan tawanya begitu ingat se- suatu. Dengan cepat dia menoleh memandang se- pasang mata yang tajam bening di depannya. Po- los saja Iblis Edan ajukan pertanyaan. "Sobatku, apakah Setan Sableng itu manusia sungguhan atau setan geblek gentayangan?"

"Dia manusia seperti halnya dirimu!" "Walah gelar jelek begini saja ada yang me-

niru. Akh... mudah-mudahan aku bisa bertemu dengan Setan Sableng. Nanti bila aku bisa ber- jumpa kepalanya akan kupuntir, otaknya kubuat miring biar jadi Setan Sableng penasaran. Ha ha ha!"

"Iblis Edan sahabatku. Aku berterima kasih atas pertolonganmu."

Iblis Edan hentikan tawa, memandang pa- da sang dara lalu tertawa lagi. Sambil tertawa pu- la Iblis Edan menjawab. "Tidak usah berterima kasih. Aku tidak merasa menolongmu, tadi aku cuma bergurau dengan pemuda itu. Eh sobatku, engkau hendak kemana? Tadi kau menyebut adi- pati Purbolinggo. Menurut guruku dia orang jahat yang harus aku singkirkan." Mendengar ucapan Iblis Edan sang dara jadi tercenung. "Kau mengenalnya. Atau mungkin gurumu punya silang sengketa dengan adipati?"

"Tidak tahu. Guruku cuma pernah menga- takan, hendaknya aku jangan memberi hati bila bertemu dengan orang Purbolinggo itu."

Mutiara Pelangi yang masih merupakan keponakan bekas adipati Purbolinggo yang lama menatap wajah Iblis Edan. Dalam hati dia berka- ta. "Nasib paman Karma Sudira sampai saat ini aku tidak tahu. Dua anaknya yang raib ketika penyerbuan prajurit kerajaan ke kadipaten saat paman memimpin Purbolinggo jika hidup tentu sudah sebesar pemuda ini. Sayang aku sendiri saat itu juga masih kecil. Mungkin sekarang ma- sih belum terlambat jika kutelusuri jejak kedua putra paman."

"Sobatku yang cantik, kau diam. Matamu memandangku terus, apakah berarti kau jatuh cinta padaku?" Iblis Edan ajukan pertanyaan membuat sang dara tersipu dan tersadar dari la- munannya.

Gadis ini gelengkan kepala.

"Aku hanya ingin tahu apakah kau punya nama selain gelaran itu?" tanya si gadis.

"Guruku bilang ada. Tapi nama itu disim- pan guru. Aku lupa nama sendiri, aku juga malas mengingat."

"Dasar edan, nama sendiri saja bisa lupa." gerutu Mutiara Pelangi dalam hati.

"Tidak."

"Kalau tidak mengapa ditanyakan." kata Ib- lis Edan dengan muka cemberut. "Sekarang kau hendak kemana?"

Ditanya tentang tujuan, Iblis Edan yang suka kelayapan tak berkejuntrungan ini jadi bin- gung. "Aku tidak tahu. Inginnya pergi ke kadipa- ten. Kabarnya kadipaten adalah sebuah kota, aku suka keramaian."

"Celaka. Seandainya dia adalah putra pa- man ku. Tidak mungkin. Paman ku orang yang cerdas, sedangkan dia walau ilmunya tinggi tapi pemuda tolol." Fikir gadis itu. Tapi biar begitu dia jadi tak tega membiarkan Iblis Edan pergi ke ka- dipaten.

"Sobatku, sebaiknya kau jangan kesana. Kau ikut saja denganku dulu. Kita bisa pergi un- tuk mencari seseorang. Seandainya orang itu bisa kita temukan dan masih hidup hingga saat ini mungkin kita bisa menemukan titik terang." kata sang dara.

"Sobatku, walah. Ucapanmu membuat aku bingung. Dalam hidup aku tidak mau pusing. Aku bersedia mengikuti kemana kau pergi. Kurasa pergi dengan seorang gadis cantik tak ada ru- ginya. Ha ha ha!"

Mutiara Pelangi gelengkan kepala. Tak la- ma kemudian dia dan Iblis Edan tinggalkan tem- pat itu.

5

Laki-laki tua berpakaian cokelat itu duduk termenung di atas sebatang pohon tumbang yang membelintang di atas sungai kecil. Tatap matanya menerawang kosong memandang ke depan. Tak begitu lama dalam sikap seperti itu sesosok tubuh bertelanjang dada berambut gondrong berkelebat mendatangi dari arah belakang.

Orang tua berpakaian serba cokelat, ber- kumis dan berjanggut lebat tak terurus cepat pa- lingkan wajahnya ke belakang. Dia menarik napas lega begitu mengenali siapa adanya orang ini.

"Gento dari mana saja kau?" satu perta- nyaan meluncur dari mulut si orang tua.

Si gondrong usap wajahnya pulang balik. Dia lalu duduk dibatang pohon tak jauh disebelah orang tua itu.

"Paman Karma Sudira, aku baru saja me- nyelidik di sekitar sini. Tak kulihat orang kadipa- ten berkeliaran di sekitar tempat ini. Mungkin se- baiknya kita datang saja ke kadipaten. Kita bisa menangkap Suryo Lagalapang, kalau perlu kita seret pakai kuda. Setelah jauh dari kadipaten ba- ru kita gebuki!"

Si orang tua gelengkan kepala. "Tidak! Aku bukannya takut pada adipati atau para begun- dalnya. Disaat usiaku seperti sekarang ini aku ti- dak lagi tergiur dengan segala macam kedudukan atau jabatan. Yang kufikirkan sekarang ini adalah mencari tahu dimana kedua anakku berada. Rumbapati jika umurnya panjang sekarang sudah berumur dua puluh delapan tahun. Sedangkan adiknya sayang aku belum sempat memberinya nama ketika penyerbuan prajurit kerajaan dan perwira tinggi berlangsung. Mungkin bocah itu sudah sebesar Setan Sableng." gumam Karma Sudira. Dengan mata berkaca-kaca orang tua itu melanjutkan ucapannya. "Setan Sableng pemuda aneh, tingkah lakunya seperti orang gila, tapi il- munya tinggi. Entah mengapa begitu melihatnya hatiku bergetar, seakan hati dan perasaanku be- gitu dekat dengannya."

"Paman orang baik, fikiran normal. Apa mungkin paman mempunyai hubungan darah dengan Setan Sableng. Pemuda itu jelas manusia sinting, otaknya pasti miring. Gelarannya saja Se- tan Sableng. Jika paman menduga dia anak pa- man, dugaan itu pasti salah besar. Paman manu- sia waras, sehat lahir batin, bagaimana mungkin punya anak setan dan sableng pula. Ha ha ha. Ibu setan tidak pernah melahirkan anak manusia, sedang ibu manusia tidak pernah pula melahir- kan anak setan. Setan bahkan tak pernah punya keinginan jadi manusia, cuma manusia saja yang banyak menjadi setan. Ha ha ha!" celetuk Pende- kar Sakti 71 Gento Guyon diiringi tawa tergelak- gelak.

Mendengar ucapan Gento, Karma Sudiro tak dapat menahan senyum. Dia merasa senang bersama dengan seorang pemuda seperti si gon- drong. Orangnya polos, bicara seenaknya sendiri, walau tingkah lakunya tidak beda dengan Setan Sableng tapi dia cerdik dan berjiwa ksatria.

"Segala sifat dan watak orang tua biasanya sering menurun pada anaknya, tapi lurus tidak- nya langkah hidup seseorang tergantung diling- kungan mana dia dibesarkan. Jika dia hidup di tengah kehidupan binatang, maka tingkah la- kunya juga akan seperti binatang." berkata Karma Sudira beberapa saat kemudian.

"Aku percaya, lalu sekarang apa rencana paman? Apakah paman tetap berkeinginan men- cari dua anak paman yang hilang?" tanya ber- tanya.

"Benar. Aku tetap bertekad mencarinya." jawab si orang tua.

"Kurasa itu akan sulit karena waktu pa- man ditinggalkan mereka keduanya masih kecil. Malah salah seorang diantaranya masih bayi. Se- telah mereka dewasa bagaimana paman bisa mengenali wajah mereka? Lagipula paman tidak tahu ditangan siapa saja mereka dibesarkan. Sa- tu-satunya petunjuk hanya bisa kita dapatkan dari Ki Lurah Wanayasa, sedangkan orang tua itu tewas terbunuh di tangan si baju biru" Untuk le- bih jelasnya silahkan ikuti episode Setan Sableng. Kama Sudira terdiam sejenak, apa yang di- katakan Gento memang benar. Anak kecil tentu akan mengalami perubahan wajah sesuai dengan perkembangan umurnya. Tapi salah satu anak- nya yang bernama Rumbapati itu mempunyai sa- tu tanda berupa tahi lalat besar dibagian ketiak-

nya.

"Gento, aku bisa mengenali anakku. Dia mempunyai tanda di bagian ketiak. Sedangkan satunya lagi yang nomor dua memang akan sulit bagiku untuk melacaknya. Tapi aku selalu yakin dengan kebesaran Tuhan. Jika Dia memang ber- kenan mempertemukan aku dengan kedua darah dagingku segalanya bisa menjadi mudah!"

Gento tersenyum dengan mulut terpen- cong. "Aku percaya dengan pendapat paman, tapi jika kita tidak berusaha, sampai botak menunggu paman tak akan bisa bertemu dengan mereka. Ha ha ha!"

Karma Sudira unjukkan wajah cemberut. "Dasar pemuda edan."

"Hari ini setelah satu kesialan terlewati, rupanya aku mendapat keberuntungan besar. Orang yang kuinginkan nyawanya tak disangka ada di sini bersama seorang pemuda edan. Ha ha ha!" Satu suara bergema di tempat itu merobek kesunyian pagi menjelang siang.

Tawa si gondrong bertelanjang dada men- dadak sirap. Dia dan Karma Sudira sama me- mandang ke arah mana suara tadi berasal. Suara tawa yang terdengar lenyap.

Kini malah Gento yang tertawa mengekeh. "Setan kesasar dari mana yang bicara dan tertawa tadi. Aku mencium bau busuk, jangan-jangan ada hantu kuburan yang bicara tadi."

"Hati-hati Gento, aku mencium adanya ge- lagat tidak baik." Dengan suara perlahan Karma Sudira memberi ingat.

"Aku memang hantu penasaran yang siap memberangkatkan dua nyawa tak berguna ter- bang ke langit!" suara tadi kembali menyahuti.

"Walah, kurang kerjaan amat. Malaikat sa- ja tidak berani sembarangan membetot nyawa orang, apalagi kau cuma hantu kesasar. Bagai- mana berani melancangi aturan malaikat, apa ti- dak takut kualat? Ha ha ha." dengus murid kakek gendut Gentong Ketawa sinis.

"Gondrong jahanam, agaknya kau harus membuka matamu untuk mengenali orang? Kau tidak melihat betapa tingginya gunung yang bera- da di hadapanmu?!" hardik suara itu.

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon tertawa terpingkal-pingkal. Sambil pegangi perutnya yang berguncang keras dia berkata. "Bicara membawa gunung segala. Mengapa tidak kau sebut langit, hutan, air dan lautnya sekalian. Jadi kau bisa melukis satu pemandangan bagus, atau kau ini memang tukang jual lukisan? Aneh, jual lukisan kok di hutan. Kalau tidak gila pasti kau manusia sinting! Ha ha ha."

Dari balik semak belukar terdengar suara menggerung marah. Lalu semak belukar tersibak, satu kepala muncul, dua benda hitam melesat, menderu mengeluarkan suara berdengung mem- belah udara.

Tawa Gento mendadak lenyap, dia coba mengenali kedua benda yang meluncur ke arah leher dan perutnya. Tapi karena begitu kecil dan derasnya benda yang meluncur ke arahnya Gento tidak dapat menduga benda apa yang disam- bitkan orang. Dengan gesit sambil lesatkan tu- buhnya ke udara, pemuda ini berseru. "Walah kau baik amat. Aku yang tidak pandai melukis malah kau kirimi alatnya. Rasanya aku tidak bu- tuh. Terima kasih atas pemberianmu, tak lupa memohon maaf sekarang kukembalikan saja pe- ralatanmu ini!" Dengan kecepatan luar biasa Gen- to lakukan gerak jungkir balik. Begitu kepala menghadap ke bawah tangan diputar sedemikian rupa kemudian dipergunakan untuk memukul dua benda hitam panjang yang agaknya merupa- kan senjata rahasia.

Bet! Bet!

Angin menderu menyertai berkelebatnya tangan Gento. Dua benda hitam berbalik, melesat dengan kecepatan berlipat ganda ke arah mana benda itu datang.

Dari semak belukar terdengar suara meng- gerendeng. Sesaat lagi dua benda itu menerabas semak belukar. Dari balik semak melesat sesosok tubuh serba hitam ke arah Gento dan Karma Su- dira. Hanya dalam waktu sekedipan mata seorang kakek tua berbadan tinggi agak bungkuk berpa- kaian hitam dekil berambut sutra telah berdiri te- gak di depan mereka.

Jika Gento memandang kehadiran kakek itu dengan mata berkedap-kedip, sebaliknya Karma Sudira dalam kagetnya langsung melom- pat berdiri kemudian turun dari atas batang po- hon, sedangkan mulut ternganga, mata melotot seperti melihat setan.

Gento yang melihat ini jadi heran. "Pa- man... rupanya kau mengenal hantu kuburan de- kil ini? Mengapa harus takut. Jika bertingkah kita korek saja biji mata dan biji-bijian yang lain. Ha ha ha."

Di depan sana wajah yang hitam itu tam- bah mengelam, sepasang mata si kakek yang menjorok ke dalam rongga mendelik menyorotkan sinar angker dingin menggidikkan.

"Gento, kakek ini bukan manusia semba- rangan. Konon kudengar dia merupakan orang upahan adipati. Ilmunya tinggi, pukulannya ga- nas. Yang paling keji adalah sepuluh kuku jari tangannya." Karma Sudira kembali berbisik mem- beri ingat.

Mendengar ucapan orang tua disamping- nya Gento Guyon melirik ke sepuluh jari tangan. Dia melihat kuku yang panjang dan hitam itu. Gento yakin di dalam kuku itu disamping meru- pakan senjata juga mengandung racun ganas.

Si kakek sejenak memandang ke arah Gen- to, setelah itu perhatiannya beralih pada Karma Sudira. Bibirnya yang hitam sunggingkan seringai aneh. "Tepat seperti dugaanku tadi, kau tentu be- kas adipati pecundang Karma Sudira. Bagaimana kau bisa lolos dari penjara dan kini berkeliaran bersama monyet gondrong edan ini?" tanya si ka- kek.

"Ha ha ha. Aku monyet gondrong budiman tentu tidak tega membiarkan orang tak bersalah hidup sengsara dibalik tembok pengap. Lalu kau sendiri bapak moyang gorila apa tidak malu men- jadi kacung hina Suryo Lagalapang?"

"Gondrong jahanam. Kau diam disitu, aku hendak menyelesaikan urusan dengan Karma Sudira. Setelah itu baru giliranmu!" maki si ka- kek.

"Aneh, menyelesaikan urusan saja harus menunggu giliran. Seperti menunggu hukum pancung saja." Gento kembali menyeletuk.

Si kakek tak memperdulikan berlagak tuli.

Kini dia kembali menghadap Karma Sudira. "Karma Sudira siapa yang menolongmu

kabur dari penjara!" hardik si kakek.

Karma Sudira menanggapi. "Siapa yang menolongku keluar dari penjara kau tak perlu ta- hu, Wisang Banto Oleng."

"Jadi gorila dekil ini namanya Wisang Ban- to Oleng. Pantas kulihat tadi jalannya miring." Gento menimpali disertai seringai mengejek.

"Gondrong kurang ajar. Rupanya aku me- rasa perlu menyingkirkanmu lebih cepat! Kau dengar! Karma Sudira salah satu dari tiga orang yang harus kusingkirkan dari muka bumi ini!"

"Dia salah satunya, jadi yang duanya lagi siapa?" tanya Gento.

Sambil kertakkan rahang Wisang Banto Oleng menyahuti. "Yang dua lagi adalah anaknya. Tapi sekarang ada satu sebagai tambahan."

"Hebat. Membunuh sampai nambah segala, seperti orang makan saja! Kalau boleh aku tahu, siapa lagi yang hendak kau jadikan tambahan?!"

"Sebagai tambahan adalah monyet gon- drong edan yang kini jual lagak di depanku." seru si kakek. Cengengesan mendengar ucapan orang Gento Guyon seka wajahnya yang keringatan. Se- jenak dia melirik ke arah Karma Sudira, kepada orang tua itu enak saja dia berkata. "Paman....

rupanya gorilla dekil anjing upahan adipati ini sudah terlalu kaya. Dia mau memberikan pesan- gon pada kita. Setelah diberi sangu kita hendak dikirimnya ke akherat. Aku sih senang saja, apa- lagi konon di sana tinggal para bidadari cantik. Paman, aku tak keberatan menemanimu, ayo tunggu apalagi?"

"Bocah edan. Jangan terus bergurau. Apa yang dia katakan bukan bualan kosong!" kata Karma Sudira dengan mata mendelik.

"Kalau begitu, menyingkirlah. Aku ingin tahu apakah gorilla tua ini masih bisa unjukkan gigi di depanku. Kurasa dia malu memperlihatkan giginya, karena tadi sempat kulihat gigi gorilla ini hitam berbau busuk air comberan! Ha ha ha."

Lenyaplah sudah kesabaran di hati Wisang Banto Oleng mendengar segala ucapan Pendekar Sakti 71 yang terasa menyakitkan telinga. Kema- rahannya tidak lagi dapat dibendung. Sekali dia melompat ke depan. Tangan kiri menyambar ke dada Karma Sudira, sedangkan tangan kanan bergerak menyambar wajah Gento.

Dua serangan itu bukan serangan biasa. Sekali sepuluh kuku mengenai sasaran, dada Karma Sudira bisa dibuatnya robek, bagian yang terluka langsung meleleh membusuk keracunan. Seandainyapun lawan dapat bertahan hidup dia akan menderita cacat mengerikan berupa koreng yang tak mungkin dapat disembuhkan. Gento sa- dar betul akan hal itu. Karenanya sambil melom- pat ke samping menghindari serangan lawan, tangan kirinya dipergunakan untuk mendorong bahu Karma Sudira.

Orang tua ini terjungkal roboh bergedebu- kan. Walau bahunya yang jatuh ke tanah terasa sakit, namun dia selamat dari hunjaman kuku lawan yang sangat beracun.

Gento sendiri akibat menyelamatkan Kar- ma Sudira, wajahnya nyaris menjadi sasaran tan- gan kanan lawannya. Dengan tubuh menghuyung dia membungkuk, sedangkan tangannya digerak- kan dari bawah ke atas tepat di bagian siku.

"Keparat!" Wuuus!

Wisang Banto Oleng tarik tangannya yang hendak menjadi sasaran kepalan tinju si pemuda. Dia rupanya menyadari jika tangannya sampai dihantam lawan, persendian tangannya bisa ter- lepas, copot tanggal tidak berfungsi lagi.

Dalam kejutnya tak menyangka si gon- drong memiliki gerakan tubuh yang demikian ce- pat, Wisang Banto Oleng melompat mundur. Wa- jah hitamnya sempat memucat. Mulut terkatup, pelipis bergerak-gerak, sedangkan mata menco- rong tajam memancarkan kegeraman.

Di depan sana Gento berdiri berkacak pinggang, mulut tersenyum hidung dikembang kempiskan. "Gorilla tua, aku sudah berbaik hati hendak memotong kukumu, lalu mengapa kau menolak kebaikan orang?" tanya Gento.

6

Di depan sana mendengar canda ejek Gen- to, wajah Wisang Banto Oleng berubah hitam mengkelerep. "Kau memang pemuda tolol yang in- gin mencari mampus!" habis berkata si kakek si- langkan kedua tangan di depan dada, salah satu kaki yang membentuk kuda-kuda digerakkan, mendadak tubuhnya melesat setinggi satu tom- bak kemudian meluncur deras ke arah Gento. Be- gitu lawan berada dalam jangkauannya kaki si kakek melesat menghantam kepala Gento. Seran- gan ini ternyata hanya tipuan karena begitu Gen- to rundukkan kepala, tubuh Wisang Banto Oleng meluncur turun, sambil jejakkan kaki, tangan yang bersilangan tadi menyodok ke depan dengan gerakan menggunting.

Gento jadi terkesiap, jika dua tangan itu dapat dielakkannya, paling tidak ujung kuku la- wan pasti mengenai tubuhnya. Tidak ada pilihan lain, pemuda ini pun kemudian melompat mun- dur. Walaupun gerakan yang dilakukannya ber- langsung sangat cepat, tak urung bagian ujung kuku lawan masih menyambar bagian lehernya.

Greng!

Terhuyung Gento melengak, bagian leher- nya nampak mengepulkan asap tipis. Gento cepat memandang dan mengusap lehernya. Dia jadi menarik nafas lega begitu melihat kenyataan bahwa yang terkena sambaran kuku lawan ter- nyata adalah bagian batu mata kalung Raja Lan- git. Sesaat lamanya batu kalung bergetar, war- nanya yang putih pudar nampak menghitam, tapi begitu tebaran asap lenyap mata kalung berubah kembali ke warna aslinya, putih buram cokelat kekuningan.

Di lain pihak Wisang Banto Oleng juga tak kalah kagetnya. Dengan mata membeliak dia memandang ke bagian leher dimana kalung Batu Raja Langit tergantung. Setelah itu dia memper- hatikan kuku jari tangan kanannya. Tiga kuku ja- ri kelingking sampai ke jari tengah hangus go- song. Si kakek tercengang. Dia tahu batu kalung di leher lawan itulah yang menjadi penyebabnya.

"Kurang ajar! Tanganku terasa ngilu, panas bagai terpanggang. Tiga kuku jariku hangus. Ka- lung batu dileher pemuda itu ternyata bukan ka- lung sembarang. Mata kalung itu pasti adalah ba- tu sakti. Aku harus bisa merampasnya sekalian menghabisi pemuda itu!" batin Wisang Banto Oleng dalam hati.

"Hei tua bangka, mengapa kau diam seperti patung bego? Atau kau tengah berfikir mencari cara untuk merampas kalung ini?" kata Gento disertai senyum mengejek.

"Gondrong edan, Kau boleh punya seratus kalung batu butut. Tapi kau kujamin tidak dapat menyelamatkan diri dari tanganku!" teriak si ka- kek.

Orang tua ini sambil keluarkan gerungan pajang segera melakukan gerakan aneh. Tubuh- nya berputar, sosoknya terangkat naik, mengam- bang di udara seolah tanpa bobot. Setelah itu dia lakukan gerakan berjumpalitan di udara. Gerakan ini jelas menuju ke arah si pemuda. Gento tidak tinggal diam, dengan jurus Belalang Terbang dia hindari serangan lawannya. Mula-mula dia jatuh- kan diri, cengkeraman tangan lawan di bagian kepala luput. Si kakek meluncur ke bawah, ka- kinya yang berkuku panjang menyambar. Gento tak mau mengambil resiko. Dengan cepat dia ber- gulingan menjauh dari kaki lawan. Dengan kedua kaki bertumpu pada tanah, Gento lalu lentikkan tubuhnya, setelah berdiri dia berbalik lalu do- rongkan kedua tangan ke arah lawan.

Sinar merah berkiblat, angin panas mende- ru. Si kakek yang dalam keadaan mengambang di atas tanah tentu jadi kaget, tapi dia cepat men- gambil tindakan. Sambil miringkan tubuh dia mendorong tangannya siap menangkis serangan lawan.

Serangan yang dilakukannya ternyata ka- lah cepat dengan datangnya pukulan yang dile- paskan oleh murid si gendut Gentong Ketawa.

Tak ayal lagi pukulan Gento menghantam tubuh si kakek hingga menimbulkan ledakan he- bat. Sesaat si kakek menjerit, tubuhnya lenyap tenggelam dalam kepulan asap tebal yang meme- nuhi udara.

Tapi begitu asap tebal yang menyelimuti berangsur lenyap. Tiga tombak di depan sana Wi- sang Banto Oleng tegak berdiri. Pakaian hitamnya hancur di beberapa bagian, hangus gosong men- jadi bubuk.

Kini Gento yang dibuat tercengang, bagai- mana tidak. Tadi dia menghantam lawan dengan pukulan Iblis Tertawa Dewa Menangis. Salah satu pukulan simpanan yang diwarisinya dari sang guru Gentong Ketawa. Jangankan pohon atau ba- tu karang, sedangkan besipun dapat dibuat leleh bila terkena pukulan itu. Tapi sekarang dia meli- hat satu kenyataan hanya pakaian lawan saja yang dibuat hangus, sedangkan kakek tua itu sendiri nampaknya tidak terluka. Hal yang sebe- narnya Wisang Banto Oleng akibat terkena puku- lan Gento sempat mengalami guncangan di ba- gian dalam, namun dia tidak menghiraukan dan bersikap seolah tubuhnya tidak mempan puku- lan.

Kini melihat Gento lengah, kesempatan yang hanya sesaat itu langsung dipergunakannya untuk melakukan satu gebrakan. Laksana kilat Wisang Banto Oleng berkelebat, dua tangan di- hantamkan, satu kebagian dada, sedangkan sa- tunya lagi mengarah ke bagian kepala.

Gento menyadari akan kesalahan yang dia buat sendiri. Melihat bagaimana tangan lawan menyambar kebagian kepala, dia miringkan tu- buh lalu menarik kepala ke samping. Serangan yang menghantam kepala tidak mengenai sasa- ran, tapi hantaman yang seharusnya mengenai dada kini menyambar bahunya.

Dess! "Akh...!"

Satu jeritan merobek udara. Sosok Gento terpental, bergulingan beberapa kali, lalu terkapar sambil mengerang pendek.

Melihat apa yang terjadi pada si gondrong dan menyangka jiwa pemuda itu tak dapat dis- elamatkan, Karma Sudira yang sejak tadi menga- wasi jalannya perkelahian sengit itu tak dapat lagi membendung kemarahannya.

"Gento, kau...!" Karma Sudira berteriak memanggil si pemuda. Si orang tua hanya men- dengar suara erangan Gento sebagai jawaban. Orang tua ini berpaling pada Wisang Banto Oleng dengan tatap penuh kebencian. "Tua bangka ter- kutuk. Aku akan mengadu jiwa denganmu!" Diba- rengi teriakan keras Karma Sudira tanpa menghi- raukan keselamatannya berkelebat ke depan. Se- lagi tubuhnya melesat di udara, tangan kanan Karma Sudira mencabut sesuatu dari balik ping- gangnya. Setelah itu tangan kanan digerakkan ke depan. Satu benda hitam berupa mata tombak yang dihubungkan dengan seutas tali yang lebih keras dari seutas baja menderu menyambar ke sekujur tubuh lawan dari atas ke bawah.

Sambaran mata tombak membuat Wisang Banto Oleng terhuyung, namun matanya yang awas membuatnya menyadari senjata di tangan lawan bukan senjata sembarangan. Sambil berse- ru dan mendorong kedua tangan menangkis sen- jata lawan si kakek melompat mundur. Segulung angin menderu membuat serangan mata tombak yang seharusnya menghantam dada dan bagian perut lawan melenceng. Karma Sudira mengge- rendeng, tali tombak dikedutkan. Kini laksana mata kail mata tombak kembali meluncur lurus ke depan sesuai dengan yang diinginkan pemilik- nya.

Mendapat serangan bertubi-tubi, walaupun hatinya sempat tergetar, namun Wisang Banto Oleng ganda tertawa. "Tombak Pembalik Raga Pe- numpas Nyawa, sudah lama aku mendengar sen- jata butut karatan ini. Sekarang aku baru melihat rupa dan kehebatannya!" Wuut!

Suara si kakek terputus, mata tombak hampir saja merobek mulutnya. Tercekat dan dengan tubuh keluarkan keringat dingin Wisang Banto Oleng jatuhkan diri, namun ujung mata tombak masih sempat menyambar dan merobek lengannya.

Si kakek menjerit, tangan yang tergores senjata lawan terasa panas mendenyut. Tapi dia terus bergulingan, begitu lawan berada dalam jangkauanya, tubuh si kakek disentakkan ke atas. Begitu bagian punggung mengambang dua jengkal di atas tanah, tangannya bergerak me- nyambar ke bagian perut Karma Sudira.

Raaaaak! Breeeet!

Perut lawan robek besar, Karma Sudira menjerit keras begitu isi perutnya berbusaian ke- luar. Tombak terlepas, sambil mendekap perutnya yang menganga Karma Sudira bermaksud lan- jutkan serangan dengan melepaskan pukulan tangan kosong. Tapi tubuh si orang tua ambruk, perut yang robek leleh sampai keusus-ususnya, asap berbau amis mengepul dari luka itu dan Karma Sudira pun tidak dapat diselamatkan lagi.

Sambil tertawa tergelak-gelak melihat ke- matian lawan, Wisang Banto Oleng pungut be- nang pengikat mata tombak. Senjata itu dipan- danginya beberapa jenak, lalu dia balikkan badan menghadap langsung ke arah Gento yang masih terkesima melihat kematian bekas adipati Purbo- linggo.

"Satu nyawa telah kuberangkatkan ke lan-

git. Seperti kataku tadi, kau orang berikutnya yang harus menyusul Karma Sudira." kata kakek itu dengan suara lantang.

Seakan baru terjaga dari sebuah mimpi yang amat buruk Gento tersentak. Bahu kirinya yang kena dihantam lawan nampak merah me- mar, untung tidak remuk dibagian dalam. Termir- ing-miring Gento bangkit, kematian Karma Sudi- ra, orang tua yang dianggapnya telah mengalami perlakuan tidak adil selama belasan tahun mem- buat tampang polos, sikap konyol senda gurau si pemuda seolah lenyap. Kini dengan wajah tegang dan tatapan dingin dia memandang ke arah si ka- kek.

Mulut Pendekar Sakti 71 Gento Guyon membuka berucap. "Kau mengira segalanya akan menjadi mudah bagimu, gorilla rongsokan. Yang aku khawatirkan saat ini akibat terlalu meman- dang rendah orang lain membuat jiwamu tidak ketolongan.!"

"Ha ha ha! Aku sudah meraba sejauh mana ilmu kesaktian yang kau miliki. Apa susahnya membunuh kunyuk edan sepertimu?!"

"Yang kau raba cuma kulitnya, gorilla bu- tut. Aku sama sekali tidak dapat disamakan den- gan paman Karma Sudira!" sahut Gento disertai seringai mengejek.

"Gondrong sial, makan mata tombak ini!" teriak Wisang Banto Oleng. Orang tua ini cepat menyerbu ke depan. Di tangan si kakek mata Tombak Pembalik Raga Penumpas Nyawa menjadi sebuah senjata yang lebih berbahaya bila diban- dingkan ketika berada di tangan pemiliknya sen- diri. Mata tombak kini meliuk, mencecar sepuluh bagian mematikan di tubuh Gento, tidak jarang tombak itu menghantam dari atas ke bawah men- gincar batok kepala lawan. Dan setiap gerakan yang berlangsung terjadi dengan sangat cepat se- kali. Hal ini tentu dapat dimaklumi mengingat tingkat kesaktian, tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Wisang Banto Oleng berada jauh di atas mendiang Karma Sudi- ra.

Dalam lima belas jurus dimuka Gento ter- desak hebat. Padahal saat itu dia sudah menge- rahkan jurus Congcorang Mabuk yang digabung- kan lagi dengan jurus warisan Tabib Setan. Satu saat mata tombak menderu ke bagian kaki, Gento melompat ke udara. Serangan luput, tak disangka lawan kedutkan tali pengikat mata tombak. Kini senjata maut berwarna hitam melesat ke atas, la- lu menyambar bagian punggung belakang. Seran- gan ini sudah tak dapat lagi dihindari oleh lawan. Tapi Gento masih berusaha bungkukkan tubuh- nya. Tidak urung mata tombak masih sempat menggores kulit punggungnya.

Cres!

Gento mengeluh tertahan, punggung yang terluka terasa panas laksana terbakar. Ada cairan darah yang meleleh. Gento tak tahu apakah sen- jata itu mengandung racun ganas atau tidak, na- mun untuk menjaga hal yang tidak diinginkan dia cepat keruk saku celananya. Dari dalam saku ce- lana dia mengambil dua obat mujarab pemberian Tabib Setan. Begitu obat amblas ke dalam perut Gento merasakan hawa panas berangsur lenyap. Tapi belum lagi dia siap dalam posisinya, kini Wi- sang Banto Oleng tanpa memberi hati kembali lancarkan serangan. Malah kini disamping meng- gunakan tombak Pembalik Raga Penumpas Nya- wa dia juga melepaskan pukulan saktinya.

Serangan mata tombak itu saja sudah membuat repot kalang kabut murid kakek gendut Gentong Ketawa. Apalagi kini disamping serangan tombak lawan juga mengumbar pukulan maut- nya.

Dalam waktu singkat suara desing senjata berbaur dengan suara ledakan akibat pukulan Wisang Banto Oleng mengenai tempat kosong. Gento sendiri mengandalkan gerak cepat disamp- ing ilmu meringankan tubuhnya untuk menghin- dari serangan gencar lawannya.

Pada suatu kesempatan selagi tubuhnya berjumpalitan di udara, lawan menghantam arah gerakan pemuda itu, kemudian tali tombak dike- dutkan hingga mata tombak meluncur, menyam- bar dari bawah ke atas tepat dibagian punggung Gento.

"Setan laknat!" maki Gento begitu menya- dari posisinya dalam keadaan terjepit. Satu tan- gan didorongkan ke depan menangkis pukulan lawan, tangan kanan digerakkan ke bagian pung- gung celana. Setelah itu tangan diputar. Seketika angin menderu, sinar kuning berkilauan berkele- bat, bergulung-gulung membentuk perisai diri. Berkelebatnya sinar kuning semakin lama sema- kin melebar dan tambah membesar. Lalu terjadi benturan disertai ledakan dan dentring bera- dunya senjata. Bersamaan dengan itu Wisang Banto Oleng terlempar. Namun dengan cepat dia bangkit berdiri. Si kakek terkesiap begitu melihat senjata yang dipergunakan untuk menyerang tadi kini cuma tinggal talinya saja. Sedangkan mata tombak terpental entah kemana.

Dengan perasaan kaget si kakek pandang ke depan. Empat tombak di depan sana tegak berdiri si gondrong. Di tangan pemuda itu kini tergenggam satu senjata berupa sebuah gada berwarna kuning. Begitu mengenali senjata itu si kakek keluarkan satu seruan. "Penggada Bumi! Bagaimana senjata itu bisa berada di tanganmu? Ada hubungan apa kau dengan Tabib Setan?!" tanya Wisang Banto Oleng dengan mata mendelik. Seperti diketahui, senjata sakti milik Gento itu memang pemberian Tabib Setan. Untuk lebih je- lasnya (baca episode Tabib Setan).

"Katanya kau manusia hebat, silahkan nanti kau tanyakan pada setan kuburan! Ha ha ha!" jawab Gento lalu tertawa mengekeh.

"Kecoak keparat! Mampuslah kau!" Selesai berkata, Wisang Banto Oleng adu dua tangannya satu sama lain.

Laap!

Cahaya putih laksana kilat mendadak ber- kelebat dari dua tinju si kakek. Lidah api lang- sung menderu, namun semakin bertambah besar begitu berada di udara. Sinar putih kemudian menyungkup Gento dari arah atas kepala. Seketi- ka Gento merasakan satu sengatan hawa dingin yang sangat luar biasa. Sadar betapa berba- hayanya seandainya dia sampai tergulung sinar putih yang menebar bagaikan jala ini, Gento sege- ra putar senjata ditangannya. Angin bergulung- gulung, hawa panas menerjang sinar putih yang siap meringkusnya itu.

Lalu terdengar suara. Dess! Dees!

Sinar putih bulat lebar yang hendak me- ringkus Gento mengalami kehancuran di dua tempat. Gento begitu melihat celah menganga langsung menerobos keluar, setelah itu melesat ke atas lawan sambil ayunkan gada di tangan.

"Jahanam bagaimana dia bisa lepas dari Jala Sukma?" rutuk si kakek. Begitu dua tangan dipergunakan untuk menangkis, di depan sana sinar putih yang mengembang seperti jala dite- barkan langsung lenyap. Si kakek terkesima begi- tu sadar atas kekeliruan yang telah dia lakukan, dengan cepat dua tangannya ditarik, tapi gerakan tangan kiri kalah cepat dengan gerakan senjata lawan. Tak ampun lagi gada lawannya menghan- tam tangan itu.

Kraaak!

Terdengar suara tulang bergerak hancur. Wisang Banto Oleng melolong kesakitan. Selagi dia terhuyung, satu hantaman menghantam dada membuat sedikitnya empat tulang iga berpatahan. Menyadari keselamatan dirinya berada dalam an- caman bahaya besar si kakek melompat mundur, lalu meraih sesuatu dari balik kantong celananya. Ternyata yang diambil adalah sebuah benda hi- tam, benda itu langsung dibanting, meledak dan mengepulkan asap tebal memenuhi udara. Gento melompat menjauh dari kepulan asap, rupanya dia khawatir asap tebal mengandung racun jahat. Begitu asap biru yang memenuhi udara sirna, maka sosok Wisang Banto Oleng lenyap pula dari pandangan mata.

"Kurang ajar. Rupanya dia sengaja mencari kesempatan untuk melarikan diri. Mestinya tadi kuhantam remuk kepalanya!" gerutu pemuda itu kesal. Dia lalu menarik tenaga dalam yang dialir- kannya ke badan gada. Begitu tenaga dalam dita- rik balik gada itu berubah menyusut dan menge- cil keujud aslinya yang cuma sebesar jari kaki se- panjang sejengkal. Sambil memasukkan gada ke balik celana dia menghampiri mayat Karma Sudi- ra.

Keadaan orang tua itu sungguh mengge- naskan sekali, tubuh utuh tapi bagian perut ro- bek besar.

"Paman, aku menyesal tak dapat meno- longmu. Tapi aku berjanji akan mencari kedua anakmu!" kata si pemuda. Tak lama kemudian pemuda itu balikkan badan lalu melangkah pergi!

7

Empat kuda kurus berlari kencang dengan posisi saling berhimpitan. Keempat kuda itu dili- hat sepintas lalu bagai kuda liar yang tidak ber- penunggang sama sekali.

Sebenarnya tidak, karena di atas ke empat punggung kuda tergeletak menelentang seorang pemuda berpakaian serba putih. Pemuda beram- but gondrong ini nampaknya tengah tertidur le- lap, dua mata terpejam. Sedangkan kedua tangan bersilangan di depan dada.

Dalam keadaan berlari kencang tak perduli segala rintangan, sesekali tubuh si pemuda ber- goyang keras, tak jarang tubuhnya terangkat naik kemudian jatuh kembali di atas punggung kuda.

Di satu tempat setelah melewati tikungan jalan yang diapit dua tebing tinggi, ke empat kuda mendadak berhenti serentak. Keempatnya kelua- rkan suara ringkikan, kaki depan sama diangkat. Hingga pemuda yang tidur memberlintang di atas ke empat punggung meluncur ke bawah dan ja- tuh bergedebukan. Hempasan yang keras mem- buat pemuda itu menggeliat disertai keluhan pendek.

"Setan alas, lagi enak tidur mengapa di- banting?" rutuk pemuda itu sedangkan tangan mengusap kedua matanya. Si gondrong kemudian bangkit berdiri. Masih dengan mata mengantuk dia memandang ke arah empat ekor kuda yang mengangkat kaki depannya.

"Eeh... eh.... kuda kurus sialan, rupanya kalian pikun semua. Tidak ada orang yang me- nyuruh berhenti, mengapa kalian berhenti. Kaki diangkat seperti menghormat. Siapa yang kalian hormati!" damprat si pemuda. Dia lalu melirik ke arah kantong perbekalan dimana beberapa kendi tuak keras tersimpan disitu.

Pemuda gondrong yang suka berganti-ganti pakaian ini mengusap perutnya. "Hmm, panas di siang ini memang panas sekali. Aku jadi haus. Lebih baik kucicipi tuak harum sekalian istirahat melepas lelah." Lalu si pemuda menghampiri kan- tong perbekalannya. Setelah mengambil sekendi tuak besar dia tepuk ke empat pinggul kuda. "Tu- runkan kaki kalian dan bersikaplah yang manis!"

Empat kuda turunkan kaki depannya, tapi para binatang itu tetap keluarkan suara ringkik gelisah. Bersikap tak perduli si pemuda melang- kah ke arah tebing, lalu duduk sambil menyan- darkan tubuhnya di bawah tebing itu. Si pemuda kemudian meletakkan kendi besar di atas pang- kuan. Penutup kendi dibuka, dari mulut kendi yang terbuka tercium aroma wangi tuak yang me- nyengat.

Caping hidung si pemuda bergerak-gerak.

Mulutnya berguman. "Hmm, harum sekali."

Tak berselang lama mulut kendi diangkat dan didekatkan ke mulutnya. Terdengar suara bercelegukan penuh nikmat. Setelah isi kendi hanya tinggal setengah saja si gondrong letakkan kendi di atas tanah. Dengan punggung tangan dia menyeka mulutnya yang berselemotan tuak. Wa- jah pemuda itu berubah kemerahan, matanya ju- ga secara perlahan ikut memerah. Hawa panas mengalir menghangati sekujur tubuh pemuda itu. Kini dia merasakan tubuhnya menjadi enteng. Si gondrong yang bukan lain Setan Sableng adanya tertawa gelak-gelak.

"Ha ha ha. Kucari sampai pusing kepala ini, orang itu tidak kunjung aku temukan. Agak- nya aku merasa perlu segala sesuatunya berlalu begitu saja. Hmm, Mbah Setan juga manusia edan. Memberi keterangan tidak pernah komplit. Akhirnya aku dibuat pusing. Ayahku konon dijeb- loskan ke dalam penjara oleh Suryo Lagalapang. Aku tidak tahu apakah sekarang dia masih hidup atau sudah jadi almarhum. Mestinya kucari dia, tapi aku tidak tahu dia dipenjarakan di tempat mana? Guruku Mbah Setan malah menganjurkan agar aku mencari saudaraku. Namanya aku tidak tahu, menurut keterangan Mbah Setan di bagian ketiak saudaraku itu ada tahi lalatnya. Bagaima- na aku bisa mengenali jika seandainya di semua ketiak laki-laki ada bulunya? Ha ha ha. Mbah Se- tan memang setan ngacok, berbelit-belit seperti angin yang melewati usus. Uuh, panas sekali. Pusing kepalaku lebih baik aku minum lagi." Cengengesan seorang diri Setan Sableng angkat kendinya. Mulut dibuka...

Gluk! Gluk! Gluk!

"Sedap betul!" kata pemuda itu dengan mu- lut mendecap-decap.

"Minum tuak memang enak, apalagi jika mau berbagi dengan sahabat. Sayang kerakusan terkadang membuat manusia lupa diri, lupa sau- dara lupa pula pada teman.!" kata satu suara me- nyambuti ucapan Setan Sableng. Terkejut pemu- da itu hingga membuatnya memutar kepala, edarkan pandang. Si pemuda jadi tercengang ke- tika tatap matanya membentur satu sosok berte- lanjang dada berambut gondrong bercelana hi- tam.

"Eeh, kau bukankah pemuda edan yang pernah bertemu denganku beberapa hari yang la- lu? Mana sahabatmu orang tua pikun itu?" tanya Setan Sableng sambil mengumbar tawa.

"Kau betul Setan. Meskipun sableng ru- panya otakmu yang miring itu masih mampu mengingat dengan baik!" sahut si gondrong berte- lanjang dada. Pemuda itu tertawa. Setan Sableng menunjuk-nunjuk ke arah si gondrong.

"Sekarang aku baru ingat, bukankah kau yang menyandang gelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon? Aaaa.... tampang tidak meyakinkan begi- tu menyandang gelar Pendekar Sakti segala." Se- tan Sableng berkata mencemo'oh, lalu kembali meneguk tuaknya.

"Sedap betul!" celetuk Gento meniru uca- pan Setan Sableng.

"Ha ha ha. Rupanya aku yang minum kau yang menikmati rasanya. Hebat, baru kali ini aku melihat ada orang memiliki kelebihan seperti di- rimu." kata Setan Sableng mengolok.

"Setan, kalau minum jangan dinikmati sendiri. Sejak tadi tenggorokanku kering. Aku haus, jika kau mau memberi barang sedikit, tentu aku sangat berterima kasih sekali!"

"Oh oh, aku lupa. Beberapa hari yang lalu aku sudah berjanji akan mengajakmu minum. Eh, temanmu orang tua itu kemana?! Lebih baik kau panggil kesini, kita ajak minum bersama."

Gento terdiam, wajahnya muram. "Orang tua itu sudah menjadi almarhum. Dia terbunuh ditangan Wisang Banto Oleng."

Mata Setan Sableng terbuka lebar. "Apa kau bilang, dia sudah mati. Aku tidak tuli, tapi coba kau ulang sekali lagi ucapanmu tadi?"

"Setan Sableng, orang tua itu sudah mati!

Kau dengar?" kata Gento Guyon.

Setan Sableng tepuk keningnya. "Akh, tak kusangka. Menyedihkan sekali nasibnya. Biarlah aku mengucapkan turut berduka cita. Untuk mengenang arwahnya kuteguk tuak ini. Gluk...gluk...gluk...!"

"Setan Sableng bukan begitu cara menge- nang kepergian orang!" teriak Gento Guyon, dia lalu bangkit berdiri kemudian melangkah lebar mendatangi Setan Sableng.

"Jadi bagaimana?" tanya Setan Sableng. Kendi tuak diturunkan lalu diletakkan di atas ta- nah kembali.

"Kau harus berdoa!"

Setan Sableng tepuk keningnya. "Kau be- tul, aku sampai lupa." Kemudian pemuda itu angkat kedua tangannya, wajah tengadah me- mandang ke langit sedangkan mulut komat-kamit seperti orang yang membaca doa. Tidak menung- gu lebih lama, Gento sambar kendi tuak di samp- ing Setan Sableng, kemudian dia meneguk isinya.

Gluk! Gluk! Gluk!

"Hei...!" Setan Sableng hentikan doa dan langsung berseru. "Mengapa kau meminum tua- kku selagi aku berdoa?"

"Ha ha ha. Kau yang berdoa dan aku yang minum tuakmu!" sahut Gento. Setan Sableng ter- diam. Tapi kemudian dia manggut-manggut.

"Aku berdoa, kau minum tuak." gumam Se- tan Sableng. "Satu pekerjaan yang tidak lucu, tapi buat apa aku mendoakan orang yang sama sekali tidak kukenal. Semua itu hanya membuang wak- tu sia-sia. Padahal aku sendiri saat ini sedang mencari seseorang."

Terdiam beberapa jenak sambil meletakkan kendi ke atas tanah Gento menatap tajam ke arah Setan Sableng. "Sobat Setan Sableng apakah se- seorang yang kau cari itu dalam ujud manusia adanya atau makhluk lelembut jejadian?"

"Kurang ajar, tentu saja manusia seperti halnya diriku." dengus pemuda itu dengan mulut terpencong.

"Kalau dia manusia siapa orangnya?"

Setan Sableng gelengkan kepala. "Aku ti- dak kenal. Guruku mengatakan dia saudaraku satu-satunya."

"Namanya siapa? Apa kau pernah bertemu dengan saudaramu itu?" tanya Gento.

"Aku tidak pernah bertemu, namanya pun aku tak mengenalnya."

"Aneh, bertemu belum pernah, namanya juga kau tidak tahu. Agaknya kegilaanmu mem- buat kau tidak mengenal saudara sendiri. Ha ha ha. Bagaimana kau bisa menemukannya kalau nama saja tidak kenal?"

Setan Sableng kemudian ikut pula tertawa. "Sobatku, bagaimana aku bisa mengenal orang, sedangkan pada waktu itu aku masih bayi yang tidak bisa mengenali siapapun?"

"Oh, jadi kau terpisah dengan saudaramu sejak masih kecil? Kasihan sekali. Jadi bagaima- na kau bisa menemukan saudaramu, memang kau ini anak siapa?" tanya Gento.

"Walaupun aku tak mengenalnya, menurut guruku Mbah Setan saudaraku itu mempunyai tanda berupa tahi lalat di bagian bawah ketiak- nya. Sedangkan mengenai ayahku, guru tidak pernah menjelaskan."

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon begitu Se- tan Sableng menyebut ciri-ciri orang yang dica- rinya jadi melengak kaget.

Dia memandang pada Setan Sableng bebe- rapa jenak lamanya dengan tatapan tak berkesip.

8

Setan Sableng sendiri yang menjadi pusat perhatian orang tentu jadi salah tingkah. "So- batku gondrong, matamu mendelik, mulutmu ternganga seperti orang tolol. Apakah dimatamu aku ini sudah berubah menjadi bidadari cantik, atau seorang dara berbadan montok?"

"Sama sekali tidak. Segala keteranganmu itu mengingatkan aku pada seseorang. Seseorang yang baru saja meninggal." kata Gento dengan wajah muram. "Ah, banyak amat temanmu yang mening- gal? Heh, sobatku jangan membuat aku jadi bin- gung. Coba katakan siapa temanmu yang me- ninggal itu?"

"Sahabatku yang tewas adalah mendiang paman Karma Sudira. Orang yang telah kucerita- kan tadi. Dia bekas adipati Purbolinggo. Hidup orang tua itu penuh penderitaan. Sejak badai fit- nah melanda kehidupannya, sejak kekuasaannya digulingkan oleh Suryo Lagalapang. Dia bukan saja kehilangan jabatan dan terpaksa meringkuk di penjara selama belasan tahun. Tapi paman Karma Sudira juga kehilangan mata rantai pent- ing dalam hidupnya. Sampai ajal datang menjem- putnya dua mata rantai yang hilang itu belum di- temukannya. Aku sebagai orang yang diberi ama- nat, sebagai sahabatnya tetap akan mencari dua anak turunnya yang hilang." ujar Gento.

Setan Sableng nampak bingung mendengar penjelasan Gento. Dalam bingungnya dia mene- guk tuak. Setelah beberapa tegukkan dia letakkan kendi tuak di depan Gento. Dengan suara berge- tar Setan Sableng ajukan pertanyaan. "Sahabat Gento, mendengar penjelasanmu hatiku jadi tidak enak. Konon kudengar diriku ini juga masih ada hubungan darah dengan adipati Purbolinggo yang lama. Tapi aku Setan Sableng tidak berani men- gakui sebagai anak turun manusia terhormat. Guruku hanya mengatakan aku punya saudara yang memiliki tanda di bagian ketiaknya."

"Paman mendiang Karma Sudira juga men- gatakan anaknya yang paling sulung mempunyai tanda seperti yang kau katakan. Hanya dia tidak tahu bagaimana anaknya yang nomor dua, apa masih hidup atau sudah berpulang. Kalau masih hidup apakah dia sudah menjadi orang sakti, atau malah menjadi manusia edan. Waktu itu dia belum sempat memberinya nama ketika seseo- rang yang agaknya memiliki kepandaian tinggi menyelamatkan bocah itu dan membawanya per- gi." jelas murid kakek gendut Gentong Ketawa se- rius.

Segala uraian yang diucapkan Gento ini membuat Setan Sableng merasa dadanya menjadi sesak, sekujur tubuhnya menggigil, wajah basah oleh keringat. Setan Sableng tundukkan wajah- nya, sepasang matanya berkaca-kaca. Dia men- coba hendak mengatakan sesuatu, tapi hanya bi- birnya saja yang bergetar, tenggorokan mendadak kering dan lidah kelu tak dapat digerakkan. Meli- hat ada air mata yang menetes dari sepasang ma- ta Setan Sableng, Gento jadi tersenyum.

"Eeh, sobatku Setan Sableng. Apakah te- manmu ada yang mati hingga kau jadi sedih ma- lah titikkan air mata segala. Orang mati tak usah kau tangisi. Lebih baik kita adakan pesta tuak, biar lenyap segala kegundahan dan kesedihan hi- dup yang mengganjal di dalam hatimu. Ha ha ha." Tak terduga Setan Sableng gerakkan tan-

gannya ke arah Gento.

Wuuus!

Angin menderu menghantam tubuh pemu- da itu. Tak menyangka mendapat serangan yang tidak terduga ini Gento tak sempat menyela- matkan diri. Pemuda itu jungkir balik lalu jatuh terkapar di atas tanah.

"Setan sialan. Teganya kau menyerang di- riku?" damprat Pendekar Sakti 71 Gento Guyon sambil bangkit duduk dia mengusap dadanya yang mendenyut.

"Sahabat Gento." Setan Sableng berkata li- rih, bersikap tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka. "Orang tua yang kau sebutkan itu pastilah ayahku. Akulah anak yang belum diberinya nama. Kemudian ketika Suryo Lagalapang menyerang kadipaten dengan ban- tuan prajurit kerajaan, Mbah Setan membawaku pergi. Menyesal sekali ketika kau datang bersa- manya waktu itu aku malah menghinanya. Huk huk huk." Setan Sableng tiba-tiba menangis menggerung.

"Setan Sableng, jangan kau tangisi orang yang sudah mati. Semua itu hanya membuat rohnya tidak tenang. Masih bagus lagi kita bikin acara selamatan."

"Hu hu hu. Bapak... emaak.... ayah....

ohooo...!" Tidak menghiraukan ucapan Gento Se- tan Sableng terus saja menangis sejadi-jadinya. Gento beringsut mendekati. Setelah dekat di- usapnya rambut Setan Sableng yang hitam lebat. Tangis Setan Sableng semakin terguguk. Entah dia merasa terharu atas perlakuan Gento atau sedih ditinggal mati orang yang juga dalam penca- hariannya selama ini.

"Setan Sableng, engkau ini laki-laki atau banci? Kalau laki-laki mengapa secengeng ini?" "Setan kau. Orang bersedih mengapa dila- rang?" dengus Setan Sableng. Seketika Setan Sab- leng hentikan tangisnya. Laksana kilat pemuda itu gerakkan tangan kanannya. Dilain saat ram- but gondrong Gento sudah kena dijambaknya.

Gento jadi kelabakan. "Hei, apa-apaan kau? Apa sudah gila? Lepaskan cengkeraman- mu.!" hardik si pemuda.

Bukannya dilepas, Setan Sableng malah memperkuat jambakannya hingga Gento meringis kesakitan.

"Rambutmu akan kubetot jika kau tidak mau mengatakan siapa orang yang membunuh ayahku?!"

"Setan gila. Otakmu pasti miring, tadi juga aku kalau tak salah sudah aku katakan padamu bahwa yang membunuh paman Karma Sudira adalah Wisang Banto Oleng. Wisang Banto Oleng adalah kaki tangan Suryo Lagalapang. Kau pa- ham?!" habis berkata Gento cengkeram tangan orang yang menjambaknya. Setan Sableng menje- rit, lalu lepaskan cengkeramannya pada rambut Gento.

"Sialan kau, modol rambutku!" maki pe- muda itu sambil beringsut menjauh.

Setan Sableng tersenyum, namun wajah- nya tetap menunjukkan tampang sedih. Dengan sikap acuh Setan Sableng berucap. "Jadi penye- bab kesengsaraan dan penderitaan sekaligus ke- matian ayahku adalah Suryo Lagalapang? Kurang ajar, aku tidak akan membiarkan adipati itu hi- dup lebih lama. Aku juga akan mencari Wisang Banto Oleng, aku harus membuat perhitungan dengannya!" geram Setan Sableng sambil kepal kedua tinjunya.

Gento menyahuti. "Membuat perhitungan dengan Suryo Lagalapang adalah persoalan yang gampang. Apa lagi aku telah membuat remuk tangan Wisang Banto Oleng. Orang tua itu adalah tangan kanan sekaligus orang yang paling dian- dalkan oleh Suryo Lagalapang. Dua kakek yang kau bunuh beberapa hari yang lalu juga merupa- kan kaki tangannya. Aku belum tahu berapa orang kaki tangannya yang bercokol di Kadipaten. Hanya menurutku setelah para pentolan yang menjadi andalan adipati kita singkirkan, untuk menyeret adipati ke tiang gantungan kurasa kita tidak akan menemui banyak kesulitan. Tapi se- perti katamu tadi, kukira untuk sementara ini memang ada baiknya jika kita mencari saudara- mu dulu. Nanti bila kita sudah menemukannya baru secara bersama-sama kita buat perhitungan dengan adipati." kata Gento mengajukan usul.

Setan Sableng manggut-manggut, apa yang dikatakan Gento mungkin memang ada benarnya. Karena itu dia berkata. "Seperti yang kau lihat, kudaku ada empat ekor. Tapi semuanya kurus. Aku tak mungkin meminjamkan salah satu dian- taranya kepadamu. Satu kupinjamkan padamu, tiga temannya bisa marah besar. Jadi kau tetap berjalan kaki, sedangkan aku tetap menunggang kuda itu."

"Ha ha ha. Bagiku buat apa menunggang kuda kurang makan begitu. Tubuhnya menebar bau pesing. Lebih baik aku berjalan dengan ke- dua kakiku sendiri. Tapi aku tidak akan pergi bersamamu," ujar Gento.

Setan Sableng jadi heran. "Jadi kau pergi dengan siapa?"

"Sendiri saja. Aku ke arah timur, sedang- kan kau ke arah utara. Apapun yang terjadi, dua hari yang akan datang kuharap kau mau me- nungguku di gerbang sebelah selatan kadipaten. Kuharap salah seorang bisa menemukan sauda- ramu."

"Aku setuju. Tapi nampaknya kita akan re- pot." "Apa maksudmu?" tanya Gento.

Setan Sableng tertawa  lebar.  "Bagaimana tidak repot. Untuk menemukan tanda di bawah ketiak bukan pekerjaan mudah. Kau harus me- meriksa ketiak setiap orang yang lewat. Jika pe- runtunganmu bagus orang kita cari pasti cepat kita temukan, tapi jika apes kau harus rela menghitung bulu ketiak orang. Ha ha ha!"

"Setan sial. Kukira apa." damprat Gento sambil mengusap wajahnya. Setan Sableng bang- kit berdiri. Dia menepuk bahu Gento. Murid si gendut Gentong Ketawa ikut pula berdiri. Sebe- lum pergi Setan Sableng berkata. "Atas segala ke- baikanmu aku tidak dapat memberikan sesuatu yang berarti." Setan Sableng lalu merogoh saku celananya. Begitu tangan ditarik dalam kepalan tangan pemuda itu tergenggam sesuatu. Gento kerutkan keningnya sambil membatin. "Eh, si sableng ini rupanya hendak memberiku apa?" Di depannya Setan Sableng ulurkan tan- gannya. "Kau terimalah! Jangan kau tanya apa yang kuberikan padamu, jangan pula kau buka sebelum aku pergi. Jangan lupa, dua hari menda- tang kau kutunggu di selatan Kadipaten. Selamat tinggal Gento, selamat menikmati!" berkata begitu Setan Sableng sambil tertawa mengekeh sambar kendi tuaknya. Dilain kejab tubuhnya berkelebat. Sebentar kemudian dia sudah rebah menelentang di atas punggung kuda. Masih dengan tertawa- tawa Setan Sableng berseru ditujukan pada ke empat kuda yang menjadi tunggangannya. "Ku- daku kuda kurus. Kuda pembawa berkah kuda sangat berguna! Mari kita tinggalkan Si gondrong gila!" Empat kuda meringkik keras, laksana ter- bang berlari cepat meninggalkan Gento. Dilain ke- jab empat kuda dan Setan Sableng lenyap dari pandangan mata.

Sepeninggalan Setan Sableng, Gento mem- perhatikan buntalan kecil yang terbungkus daun pisang kering. Begitu bungkusan terbuka tercium bau harum semerbak. Gento menyengir lalu men- gendus benda dalam bungkusan yang cuma sebe- sar ibu jari itu.

"Dasar Setan Sableng, memberi gula-gula saja seperti orang memberi batu permata. Dari mana Setan Sableng mendapatkan makanan ini. Baunya saja sudah wangi, apalagi rasanya. Hemm...!" Pendekar Sakti 71 masukkan gula-gula berwarna cokelat kehitaman. Setelah itu dia men- gunyah dan menelannya.

"Enak, sedap sekali." katanya seorang diri. Tapi tak berapa lama kemudian mendadak wajah Gento berubah, kening mengernyit mata melotot.

Bersamaan dengan itu Gento mendekap perutnya yang mules mendadak.

"Sialan....uuh, suakitnya perutku. Kurang ajar, Setan Sableng mengerjai aku...!" rutuk Gen- to.

Semakin lama rasa mulas semakin menja- di-jadi. Terbungkuk-bungkuk Gento merintih. "Setan...isi perutku serasa mau ambrol. Aku, wa- lah aku seperti mau buang hajat. Kurang ajar Se- tan Sableng. Manusia edan yang satu itu sungguh keliwatan. Aku jadi tak tahan...!" terbungkuk- bungkuk Gento Guyon pergi ke balik semak belu- kar di sebelah kiri lamping bukit. Celana diturun- kan ke bawah. Tubuhnya kemudian lenyap, men- dekam dibalik semak belukar. Dari balik semak pula Gento menggerutu. "Setan edan, awas! Aku pasti akan balas semua apa yang kau lakukan padaku hari ini!"

9

Berlari dengan tubuh terhuyung sambil membawa cidera hebat di bagian tangan dan tu- lang iganya Wisang Banto Oleng seakan tidak menghiraukan arah tujuan.

Tanpa disadari langkah kaki orang tua itu telah membawanya ke Kadipaten. Saat itu mata- hari baru saja tenggelam di upuk sebelah barat. Begitu si kakek menginjakkan kaki di halaman Kadipaten beberapa penjaga gedung langsung mengurungnya, namun segera mundur teratur begitu mengenali siapa orang yang datang.

Malah kepala penjaga yang berada disitu keluarkan seruan kaget melihat cidera hebat di- tangan kiri juga dibagian dada orang itu. "Kakek Wisang Banto Oleng, apa yang terjadi dengan di- rimu?"

Si kakek sambil menyeringai kesakitan mendengus. "Manusia sialan, sudah tahu aku mendapat luka begini rupa mengapa kalian tidak membantuku. Cepat gotong aku. Saat ini aku su- dah hampir tidak kuat berjalan!"

Karena takut pada kakek angker yang se- lama ini mereka anggap memiliki segudang ilmu hebat, maka tanpa menunggu lebih lama lagi ke- pala penjaga dengan dibantu tiga penjaga lainnya langsung menggotong Wisang Banto Oleng. Tan- gan kiri si orang tua nampak terkulai gondalgan- dil begitu para penjaga itu mendukungnya. Dari mulut si kakek terdengar suara erangan tak ber- keputusan.

"Bawa aku ke ruangan pertemuan, panggil Suryo Lagalapang untuk menemuiku segera!!" pe- rintah si kakek dengan suara tersendat, sedang nafas megap-megap.

"Baik kek." sahut kepala penjaga. Tak lama begitu selesai membaringkan orang tua itu kepala penjaga bergegas pergi. Tiga penjaga menunggu disitu. Barulah setelah adipati muncul, tiga pen- jaga beranjak keluar untuk melaksanakan tugas- nya. Suryo Lagalapang tertegun begitu melihat keadaan si kakek, manusia yang selama ini paling diandalkannya kini terkapar tidak berdaya dalam keadaan tangan patah dan tiga tulang iga remuk. Sungguh apa yang dia lihat seolah merupakan suatu kenyataan yang sulit dipercaya.

"Suryo Lagalapang, kau berdiri tegak disitu tak melakukan sesuatu, seakan kau tak mengenal sesuatu. Cepat lakukan sesuatu, ambil tiga lem- bar daun bakung, kau sediakan darah tiga ekor ayam hitam, apa yang aku pinta tadi lekas bawa kemari!" hardik Wisang Banto Oleng.

"Jahanam tua keparat ini, sudah mau mampus begini juga masih suka membentakku!" maki Suryo Lagalapang geram. Walau begitu dia cepat berpaling pada kepala penjaga. "Kau dengar apa yang diminta orang tua ini. Lekas kau sedia- kan tiga lembar daun bakung dan darah tiga ayam hitam!" dengus laki-laki itu dengan mata mendelik.

Kepala penjaga jadi ciut nyalinya. Dengan terbungkuk-bungkuk dia balikkan badan, lalu se- gera tinggalkan ruangan.

Suryo Lagalapang datang menghampiri, kemudian duduk bersimpuh tak jauh dari tempat pembaringan si kakek. Sebenarnya banyak yang ingin ditanyakannya pada kakek itu, termasuk juga siapa yang telah membuatnya menderita ci- dera hebat begitu rupa. Namun melihat keadaan si kakek yang lemah, Suryo Lagalapang telan kembali keinginannya.

"Suryo.... bantu aku duduk.!" kata si ka- kek.

Adipati lakukan  apa yang  diminta kakek

itu. Setelah duduk, Wisang Banto Oleng tatap orang disampingnya dengan pandangan sulit di- tebak. Setelah itu dia perhatikan lengan kirinya yang patah juga tiga tulang iganya yang mencuat keluar.

Tubuh si kakek menggigil, matanya berki- lat aneh. Mulutnya menggumankan sesuatu, lalu berkemak-kemik seperti membaca mantra. Sete- lah itu tangan kanannya diangkat, telapak tangan dikembangkan, kemudian ditiup tiga kali. Segala apa yang dilakukan Wisang Banto Oleng disak- sikan oleh Suryo Lagalapang. Tapi adipati itu tak berani bersuara atau ajukan pertanyaan. Dia ya- kin tokoh sesat yang satu ini tengah berusaha menyembuhkan luka hebat yang dideritanya. Suryo Lagalapang terus menunggu apa kiranya yang hendak diperbuat atau yang bakal terjadi pada orang tua itu.

Wisang Banto Oleng setelah meniup tela- pak tangan kanannya langsung mengusapkan tangan itu ke bagian tangan kiri yang remuk. Sambil mengusap tangannya Wisang Banto Oleng berseru. "Kemana perginya pengawal penjaga ta- di? Mengapa lama amat?!" teriak Wisang Banto Oleng tidak sabar. Baru saja Suryo Lagalapang hendak menjawab, penjaga kepala muncul mem- bawa apa yang diminta oleh kakek itu. Darah ayam hitam yang sudah diletakkan di dalam se- buah piring tanah berikut tiga lembar daun ba- kung di depan si kakek. Piring tanah berisi cairan darah diangkat, kembali mulut Wisang Banto Oleng berkemak- kemik. Tak berapa lama tangan kanan yang me- megang piring mengepulkan asap tipis merah, menebarkan bau amis luar biasa. Tubuh si kakek kemudian bergetar hebat. Seiring dengan itu si kakek mengerang. Darah dalam piring tanah yang mengepulkan asap dan laksana mendidih lang- sung ditumpahkan ke tangan dan iga yang patah. Piring diletakkan dilantai, lalu tangan yang me- megang piring tadi digerakkan ke lengan dan ba- gian iga yang patah.

Kraak! Kraak!

Satu sentakan dilakukan si kakek, orang tua yang sekujur tubuhnya diselimuti asap tebal menjerit. Tiga daun bakung satu ditempelkan di bagian iganya, sedangkan dua yang lainnya lang- sung dibalutkan ke bagian lengan yang patah.

Tak berapa lama kemudian asap tebal yang menyelimuti sekujur tubuh si kakek lenyap. Di depannya Suryo Lagalapang tercekat, mata mem- beliak.

Segala sesuatu yang terjadi di depan sang adipati memang sulit dipercaya. Bagaimana mungkin luka berupa patahnya tulang yang men- gerikan itu bisa kembali seperti semula?

"Orang tua, tangan dan tulang igamu...?!" seru Suryo Lagalapang. Di depannya sana Wisang Banto Oleng tertawa tergelak-gelak. Kepala penja- ga yang juga ikut menyaksikan semua kejadian itu bergidik ngeri.

"Orang tua ini sungguh luar biasa? Punya ilmu apa dia? Mengherankan, tulang lengan dan iganya yang dapat dia sembuhkan hanya dalam waktu sekejap?" batin kepala penjaga takjub. Dia lalu pergi dari ruangan itu. Sementara si kakek yang bagian tulangnya berpatahan hentikan tawa.

Sejenak lamanya dia memandang tajam ke arah Suryo Lagalapang. Orang itu ajukan perta- nyaan. "Orang tua yang kuhormati. Jika tidak sa- lah penglihatanku bukankah engkau baru saja menggunakan ilmu Bubut Putih untuk menyam- bung lagi tulangmu yang remuk. Padahal kuden- gar ilmu langka ini hanya dimiliki oleh salah seo- rang tokoh sesat yang berdiam di pesisir pantai selatan. Bagaimana kau bisa memiliki ilmu itu?"

"Orang yang kau maksud tentu Kanjeng Romo Bantar Gading. Terus terang, dia adalah orang tuaku." jawab Wisang Banto Oleng.

"Ah...!" Suryo Lagalapang keluarkan seruan tertahan. Selama ini dia tak tahu kalau Wisang Banto Oleng, kakek yang selalu dimintai ban- tuannya masih punya hubungan darah dengan Kanjeng Romo Bantar Gading. Dedemit nomor sa- tu dari selatan yang sepak terjang dan kejahatan- nya membuat para setan sekalipun merinding. Pantas saja Wisang Banto Oleng dapat menyem- buhkan cidera berat pada tangan dan beberapa tulang iganya, tak disangka kiranya dia merupa- kan anak momok dari pantai selatan itu.

"Orang tua, aku merasa bangga bersahabat baik denganmu. Segala bantuanmu tak pernah kulupakan. Tapi kalau boleh aku tahu, siapa orangnya yang membuatmu menderita cidera be- gitu parah?!" tanya sang adipati memberanikan diri.

Orang tua itu terdiam sesaat, dua matanya yang seolah tenggelam ke dalam rongga berputar liar, pipi menggembung, pelipis bergerak-gerak. Jelas sekali si orang tua berusaha meredam gejo- lak amarah yang menyesakkan dadanya. Sambil menggeram Wisang Banto Oleng menjawab. "Aku telah melaksanakan apa yang kau minta. Sayang ketika sampai di Wadaslintang orang yang kau perintahkan padaku untuk membunuhnya tidak berada di situ lagi. Aku cuma bertemu dengan gu- runya, aku labrak dia. Ketika aku berhasil menci- dera orang tua ini dia melenyapkan diri seperti se- tan. Kemudian aku pergi mencari sasaran lain- nya. Aku berjumpa dengan Karma Sudira...!"

Mendengar si kakek menyebut nama Kar- ma Sudira, Suryo Lagalapang berjingkrak kaget. Dengan suara bergetar dia bertanya. "Bagaimana bangsat tua itu bisa berkeliaran bebas, padahal seharusnya dia meringkuk di penjara Ladang Wa- das Cimangu."

Si kakek gelengkan kepala.

"Mengenai kebebasannya mana aku tahu. Yang jelas dia bersama seorang pemuda sinting. Pemuda itu bergelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Akhir-akhir ini aku memang sering men- dengar nama pemuda itu. Tak kusangka ternyata ilmunya sangat tinggi. Konon dia murid seorang kakek aneh bernama Gentong Ketawa, orang tua sakti yang berdiam di lereng Merbabu." mene- rangkan si kakek. Dengan cepat Suryo Lagalapang memotong. "Tokoh sakti bertabiat seperti orang kurus, bertu- buh besar lebih dari dua ratus kati. Apakah mungkin bangsat gendut itu masih hidup?"

"Mengenai hidup matinya bangsat gendut itu mana aku perduli. Yang jelas senjata yang di- pergunakan pemuda edan itu bukan milik Gen- tong Ketawa. Atau kau pernah mendengar senjata aneh bernama Penggada Bumi, Suryo?" tanya si kakek menyebut nama kecil sang adipati.

Kembali wajah Suryo Lagalapang menun- jukkan rasa kaget. "Penggada Bumi, tiga puluh tahun yang lalu senjata itu pernah menimbulkan kegegeran di timur tanah Jawa. Kehebatan senja- ta itu dapat membesar dan memanjang seperti...!" Sang Adipati tidak meneruskan ucapannya, tapi dekap mulutnya agar tidak tertawa.

Wisang Banto Oleng menanggapi. "Aku ta- hu maksudmu. Ketika terjadi kegegeran di timur Jawa senjata itu ada di tangan Tabib Setan. Tabib gila yang sama memiliki watak aneh sebagaimana halnya Gentong Ketawa. Aku tidak tahu Pendekar Sakti 71 punya hubungan apa dengan Tabib Se- tan. Yang jelas senjata itulah yang telah mema- tahkan tangan kiri dan menghancurkan tiga ru- sukku sebelah kiri!" geram si kakek.

"Artinya kita sekarang ini mendapat satu kesulitan besar?" kata Suryo Lagalapang setengah bergumam.

Sambil menyeringai kecut si kakek ang- gukkan kepala.

"Lalu bagaimana dengan Karma Sudira?" Si kakek angker tersenyum sinis. "Orang itu nyawanya sudah terbang ke neraka."

"Tapi aku akan melakukan sesuatu. Aku akan memanggil lima bocah serigala untuk berja- ga-jaga disini. Lima bocah serigala akan menjadi pelindungmu yang akan menjaga dirimu dari jangkauan tangan siapapun."

"Bagaimana dengan dua anak Karma Sudi- ra?" tanya Suryo Lagalapang begitu teringat den- gan dua anak musuh besarnya.

"Keduanya akan kucari."

Dalam hati se-benarnya adipati tua ini me- rasa tidak puas mendapat jawaban seperti itu. Bagaimanapun dia tak mungkin bisa hidup tente- ram sebelum anak keturunan bekas adipati yang lama dapat dibunuh selekas mungkin. Kedua pe- muda itu pasti kelak bisa menimbulkan malape- taka baginya.

"Suryo.... aku telah banyak membantu. Se- karang aku ingin tahu, apakah gadis yang kuin- ginkan dan hendak kupersunting menjadi istriku itu sudah dapat kau tangkap?"

Pertanyaan Wisang Banto Oleng sempat membuat adipati terkejut. Hanya sesaat saja rasa kagetnya lenyap, mulutnya mengurai senyum. "Orang tua, aku telah mengutus tiga orang keper- cayaanku untuk mencari Mutiara Pelangi alias Puteri Kupu Kupu Putih. Harap kau mau bersa- bar karena orangku belum kembali. Lagipula se- suai perjanjian, kau harus membunuh dua orang anak Karma Sudira. Jadi diantara kita masih ada ganjalan, artinya kita masih belum menyelesaikan apa yang menjadi tugas dan kewajiban masing- masing. Bukankah begitu?!" ujar sang adipati. Dalam hati orang tua itu memaki. "Kewajiban be- lum lagi kau jalankan secara penuh, kini kau me- nuntut apa yang menjadi hakmu. Apa kau kira aku manusia tolol?"

Di depannya sana si kakek membelai jeng- gotnya, sedangkan tatap matanya memandang tak berkesip pada adipati. Dalam hati dia berkata. "Apa yang ada dibalik batok kepala manusia licik ini? Awas, jika ternyata dia menipuku, nyawanya pasti tidak kuampuni. Malam nanti akan kukirim kelima bocah serigala itu untuk menjadi penga- was di sini. Aku sendiri akan minta pada ayah untuk memberiku pinjaman salah satu senjata yang mungkin dapat kugunakan untuk menan- dingi Penggada Bumi milik Pendekar Sakti 71 Gento Guyon."

"Orang tua adakah kau keberatan dengan ucapanku tadi?" tanya Suryo Lagalapang, diam- diam merasa khawatir.

"Sama sekali tidak. Aku tetap membantu- mu." "Aku merasa berterima kasih, orang tua." Wisang Banto Oleng mendengus sinis. "Hanya kau harus ingat, Suryo. Sekali kau menyalahi janji, aku pasti akan minta upahku di- tambah dengan kepala dan jantungmu. Ha ha ha!"

Tengkuk sang adipati mendadak menjadi dingin. Dia percaya ucapan kakek itu bukan sua- tu bualan kosong. Ancamannya selalu dibuktikan. Apalagi Adipati merasa kakek itu sudah begitu banyak membantunya, sejak dulu ketika dia me- rampas jabatan adipati dari tangan Karma Sudira sampai sekarang.

"Baiklah orang tua. Aku tidak lupakan jan- jiku. Tapi kuminta kau membereskan dua pemu- da itu secepatnya. Atau engkau membutuhkan peta penunjuk jalan untuk menemukan mereka?"

Wisang Banto Oleng tertawa ngakak. "Ma- taku tidak buta, telinga belum tuli, buat apa sega- la macam peta? Aku harus pergi sekarang!" kata si kakek. Orang tua itu kemudian bangkit berdiri. Kemudian dia memutar tubuh tanpa menghirau- kan sang adipati dia jejakkan salah satu kakinya ke lantai.

Duuk! Dess!

Seketika Wisang Banto Oleng raib dari ha- dapan Suryo Lagalapang. Laki-laki itu berdecak kagum, tapi hatinya digelayuti rasa cemas. Dia tak berani membayangkan bagaimana andainya tak dapat memenuhi keinginan si kakek. Apalagi bila mengingat tiga orang utusan yang diperin- tahkannya untuk menangkap Mutiara Pelangi sampai saat ini belum juga kembali.

10

Kembali pada kejadian di pinggir jalan yang diapit dua tebing curam, Pendekar Sakti 71 Gento Guyon nampak keluar dari balik semak belukar sambil membenahi pakaian bawahnya. Masih dengan perasaan diwarnai kejengkelan pemuda itu sandarkan tubuhnya di bawah sebatang po- hon rindang. Bagian perutnya yang mulas kini sudah terasa lega, tapi sekujur tubuhnya me- mang masih terasa lemas.

Dalam keadaan bersandar demikian rupa, tiada henti Gento mengomel, tampangnya nam- pak cemberut. "Setan Sableng, rasanya aku tak bisa melupakan kejadian ini. Sekali kau menga- dali aku, kelak kau akan tahu rasa." Gento men- gusap wajahnya yang pucat berkeringat. Dalam keadaan seperti itu dia jadi teringat pada men- diang Karma Sudira. "Paman Karma Sudira, nalu- ri seorang ayah ternyata tidak keliru. Kau pernah mengatakan ketika bertemu dengan Setan Sab- leng perasaanmu jadi gelisah, hati tidak tenang. Ternyata kau benar, Setan Sableng ternyata anakmu. Tidak kusangka orang sewaras dirimu mempunyai anak sableng. Walaupun dirimu kini sudah almarhum, kau boleh bangga karena anakmu punya kepandaian serta memiliki ilmu sebagaimana yang kau harapkan. Tapi semoga kau tidak kecewa karena disamping ilmu, dia juga mempunyai kelainan otak. Kalau dia waras mana mungkin dia mengerjai teman sendiri." kata Gento bersungut-sungut.

Gento kembali terdiam, otaknya berfikir. Dia jadi ingat dengan satu tugas lagi yang harus diselesaikannya. "Rumbapati, pemuda yang satu itu juga harus kutemukan secepat mungkin. Adi- pati tidak bisa kubiarkan duduk anteng di atas singgasananya lebih lama. Orang tua itu harus segera dipindahkan ke atas singgasananya yang ada di neraka." kata si pemuda.

Sekali lagi dia mengusap wajahnya, dia ba- ru saja berniat tinggalkan kawasan itu ketika sayup-sayup dia mendengar suara langkah kuda dari arah timur jalan.

"Rupanya ada lagi setan yang lewat di tem- pat ini!"

Gento lalu memutar kepala memandang ke arah suara kuda yang datang. Tak berselang lama di tempat itu muncul seekor kuda besar berbulu cokelat. Kuda sebagus dan sebesar itu diperkira- kan Gento hanya dimiliki oleh kalangan orang penting Kadipaten.

Dengan seksama si gondrong memandang ke atas punggung kuda. Ternyata penunggang kuda besar itu adalah seorang pemuda berpa- kaian serba biru. Pemuda ini jadi kaget begitu mengenali wajah si baju biru. Pemuda yang kini menghentikan kuda tak jauh dari tempat Gento berdiri bukan lain adalah pemuda yang telah membunuh Ki Lurah Wanayasa dan yang telah melarikan peta rahasia penunjuk jalan tentang keberadaan anak almarhum Karma Sudira.

"Ular mencari pentung. Waktu itu dia lolos dari tanganku. Tapi kali ini aku tak membiarkan hal itu sampai terjadi.!" batin Gento dalam hati.

Sementara itu si baju biru sebenarnya me- rasa heran melihat begitu banyak jejak kaki kuda di jalan yang dilaluinya. Dia sendiri seperti sama diketahui sedang melakukan tugas mencari orang-orang yang diperintahkan adipati untuk membunuhnya, sekaligus menyelidik tentang raibnya tiga orang kepercayaan adipati yang di- percaya untuk menangkap seorang gadis bernama Mutiara Pelangi.

"Jejak kaki kuda ini nampaknya masih ba- ru. Tapi siapa mereka. Kurasa perjalanan ke Wa- daslintang masih jauh. Aku beruntung sempat membawa kuda ini setelah berada di luar gedung Kadipaten. Kalau tidak tentu waktuku terkuras habis diperjalanan." berkata begitu si baju biru kitarkan pandang. Selagi si pemuda sibuk mem- perhatikan keadaan disekelilingnya pada saat yang bersamaan dia dikejutkan dengan terden- garnya satu suara keras menggelegar.

"Baju biru, pembunuh keji pencuri licik! Agaknya dunia ini terlalu sempit bagi kita. Waktu itu kau berhasil lolos dari tanganku. Dasar jodoh kini Tuhan mempertemukan kita! Ha ha ha."

Pemuda baju biru tercekat, sekaligus me- mandang ke arah mana suara yang terdengar be- rasal. Dia terperangah begitu melihat satu bayan- gan melesat dari bawah pohon, bergerak lurus membubung tinggi ke atas sedang kaki melayang siap menghantam remuk kepalanya.

Kalau si baju biru tidak jatuhkan diri hing- ga tubuh dan kepalanya sama rata dengan pung- gung kuda, tentu detik itu juga dia menemui ajal.

"Kurang ajar, tidak ketahuan ujung pang- kal enak saja menyerang orang?" maki si baju bi- ru sambil memandang ke arah berkelebatnya so- sok yang menendang bagian kepalanya tadi. Di sebelah kiri jalan si baju biru melihat seorang pemuda berambut gondrong bertelanjang dada. Yang membuat si baju biru jadi terkejut ka- rena dia merasa pernah bertemu bahkan sempat bentrok dengan pemuda itu. "Kk....kau...?"

Gento menyeringai, dengan suara perlahan dia menyahut. "Ya... aku. Aneh bukan? Kita ini seperti saudara saja selalu dipertemukan oleh Tuhan. Sayang walaupun sering bertemu namun aku tidak pernah tahu namamu. Agar lebih enak dan terasa lebih akrab bagaimana kalau kau ku- panggil kadal biru saja? Ha ha ha."

Sepasang mata pemuda baju biru itu men- delik, pelipis bergerak-gerak. Dengan marah dia membentak. "Pemuda edan aku tidak punya wak- tu untuk melayanimu?"

"Kau tidak punya waktu? Hem, rupanya adipati sudah memberimu satu jabatan penting yang membuatmu benar-benar sibuk. Kau boleh pergi, tapi tinggalkan dulu peta rahasia itu beri- kut nyawamu sebagai pengganti nyawa Ki Lurah!" ujar Gento tegas.

"Kau kira semudah itu. Jika beberapa hari yang lalu aku terpaksa menghindar darimu sema- ta-mata bukan karena takut, tapi karena aku in- gin menyelamatkan peta itu. Sekarang kau ingin minta nyawaku, kalau kau mampu ambil sendi- ri.!" tantang si baju biru. 

Pendekar Sakti 71 Gento Guyon terse- nyum. "Kau kelewat takabur bunglon biru. Apa- kah begitu aku menuliskan namamu dibatu nisan kuburmu nanti, atau kau punya nama lain?" "Kau rupanya penasaran. Dengar baik- baik, namaku Menak Sangaji. Aku akan cabut nyawamu agar tidak usil lagi ikut campur segala urusanku!" dengus si baju biru.

Murid kakek gendut Gentong Ketawa ber- jingkrak kaget bahkan sempat surut satu lang- kah. Sepasang matanya mendelik seperti melihat setan.

"Aku belum tuli, kujamin pendengaranku masih bagus. Tapi coba kau ulangi siapa namamu tadi?" tanya si pemuda.

Si baju biru dongakkan kepala ke langit, kemudian dia tertawa tergelak-gelak.

"Aku Menak Sangaji. Kau dengar?!" Mendengar si baju biru sebut namanya,

Gento Guyon mendadak mengumbar tawanya. Menak Sangaji tentu saja menjadi terheran-heran. Dengan suara keras dia menghardik. "Gondrong sinting apakah namaku kau anggap sebagai sesu- atu lelucon?"

Tawa Gento sirap mendengar pertanyaan itu. Kini dia memandang lurus ke depan dengan tatapan tajam menusuk.

Setelah itu dia menjawab. "Namamu me- mang tidak lucu, tapi begitu kau menyebut na- mamu sendiri aku jadi ingat seseorang. Seorang guru yang bergelar Raja Pengemis. Dia punya seo- rang murid keparat, murid yang tak tahu berteri- ma kasih dan membalas kebaikan orang. Aku di- tugaskan oleh orang itu untuk mencari muridnya yang telah mencuri Jimat Sakti Lisus Sukmo. Orang tua itu berpesan jika aku bertemu dengan- nya aku dimintanya untuk mengambil Jimat Sak- ti Lisus Sukmo dari tangannya. Tapi aku ingin membantu meringankan beban Raja Pengemis. Aku bukan saja hanya sekedar mengambil jimat sakti itu, tapi juga akan menguras seluruh ilmu kesaktian orang itu hingga keadaannya tidak ubahnya seperti kere dipasar."

Wajah si baju biru mendadak berubah memutih laksana mayat begitu mendengar uca- pan Gento. Semua ini tentu saja sempat dilihat oleh pemuda itu. Sehingga pemuda itu ajukan pertanyaan. "Kadal biru itulah tugas yang harus kujalankan. Yang membuat aku tertawa karena namamu dan nama pemuda kadal murid murtad itu sama persis. Apakah ini hanya satu kebetulan, atau kau memang orangnya?!"

Dengan cepat si baju biru menjawab. "Ba- nyak orang didunia ini yang memiliki kemiripan wajah dan persamaan nama. Mengapa kau begitu merasa yakin kalau diriku ini adalah orang yang kau cari?" dengus si baju biru.

Gento tertawa pendek. "Aku tidak berpen- dapat begitu. Aku cuma ingin bertanya apakah kau pernah merasa punya seorang guru bergelar Raja Pengemis?"

Menak Sangaji gelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak punya guru dengan gelaran jelek seper- ti itu!"

"Salah satu ucapan manusia murtad me- mang begitu. Untuk membuktikan benar tidaknya pengakuanmu ini hanya ada satu cara, aku akan geledah tubuhmu. Jika ternyata ditubuhmu tidak kudapatkan Jimat Sakti Lisus Sukmo berarti pengakuanmu itu memang benar adanya."

Menak Sangaji yang masih duduk di atas punggung kuda tertawa terbahak-bahak. "Kau in- gin menggeledah diriku, lakukanlah. Aku sama sekali tidak merasa memiliki apa yang kau kata- kan, jadi untuk apa aku takut.?" kata pemuda itu. Selesai bicara Menak Sangaji melompat turun dari atas punggung kuda. Sikapnya seperti orang pasrah dan terkesan mengalah. Gento terdiam berfikir, mata menatap pada si baju biru. Tak la- ma kemudian dia pun menghampiri Menak San- gaji.

Sejarak dua tombak di depan pemuda baju biru Gento berhenti. Menak Sangaji sunggingkan senyum bersahabat. "Mengapa ragu, aku sama sekali tak bermaksud melakukan kecurangan. Kau mau memeriksa diriku, lakukanlah. Jika benda yang kau maksudkan tadi memang ada di- tanganku kau boleh mengambilnya. Aku bahkan tidak akan melawan seandainya pun kau mengu- ras ilmuku." ujar pemuda itu perlahan. Tapi di- am-diam sebenarnya dia sudah menyiapkan pu- kulan keji bertenaga dalam tinggi di tangan kiri kanannya. Bagaimanapun dia tak mau kehilan- gan benda sakti yang dicari si gondrong karena jimat itu memang ada ditangannya.

Di depannya sana tanpa merasa ragu lagi Gento segera mendekati. Sejarak satu setengah tombak tanpa pernah diduga oleh sang pendekar laksana kilat dua tangan Menak Sangaji berkele- bat ke depan menghantam murid Gentong Keta- wa.

Gento terkejut luar biasa, dalam keadaan

seperti itu dan tak menyangka lawan menyerang dirinya, Gento tentu tak mungkin dapat sela- matkan diri. Dalam kagetnya dia hanya sempat dorongkan kedua tangan yang berisi sepertiga da- ri seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Tapi pu- kulan lawan yang mengandung hawa dingin luar biasa membuat tangkisan yang dilakukannya tak dapat diharapkan berbuat banyak dalam meno- long dirinya.

Tak dapat ditahan lagi Gento pun jatuh terpelanting. Pemuda itu keluarkan jerit tertahan. Di depan sana Menak Sangaji tertawa tergelak- gelak. "Gento Guyon pendekar bodoh, kau mengi- ra dengan semudah itu aku menyerahkan Jimat Sakti Lisus Sukmo. Nyawamu dulu serahkan pa- daku, setelah itu baru kuserahkan barang yang kau minta!" dengus si pemuda sinis.

Gento mengerang, sekujur tubuhnya terasa dingin laksana beku. Kepala berdenyut sakit lak- sana mau pecah, pandangan berkunang-kunang, sedangkan dada sakit seperti ditindih batu gu- nung. Sambil menahan derita sakit yang sungguh luar biasa sekali coba kerahkan tenaga sakti ber- hawa panas yang bersumber dari bagian pusar- nya. Sekali dia mencoba, gagal. Sekali dicobanya lagi. Pada kali yang kedua perlahan Gento dapat merasakan adanya hawa panas yang mengalir de- ras dari bagian pusarnya. Hawa panas menjalar serentak, sebagian mengarah pada bagian kaki, sebagian lagi ke atas hingga sampai keseluruh tubuhnya.

Terhuyung-huyung sambil katubkan bibir- nya Gento bangkit berdiri. Dari sudut mulutnya yang meneteskan darah keluar satu erangan. Dengan pandangan nanar Gento menatap lurus ke depan. Saat itu dia melihat Menak Sangaji membuka kancing baju dibagian atas, dari balik baju di bagian dada dia menarik sesuatu berwar- na hitam berbentuk empat persegi.

"Manusia jahanam. Pasti benda itu yang menghantam Ki Lurah. Ya, aku ingat, saat itu da- ri dada pemuda ini memancar cahaya putih. Ki- ranya jimat Lisus Sukmo tersimpan disitu!" batin Gento.

Di depan sana Menak Sangaji sesungguh- nya jadi terkejut melihat lawan masih bertahan hidup setelah terkena pukulan saktinya. "Pemuda ini sungguh memiliki daya tahan yang luar biasa. Seharusnya dia mampus terkena pukulan sakti- ku. Tapi kenyataannya dia dapat bertahan dan cuma mengalami luka dalam saja!" fikir Menak Sangaji geram

"Jimat itu!" teriak Gento Guyon. "Cepat se- rahkan padaku jika kau tak ingin satu malapeta- ka besar melanda dirimu!"

"Ha ha ha. Percuma saja kau mengancam diriku. Hari ini akan kita buktikan siapa diantara kita yang paling layak hidup di dunia ini. Aku atau dirimu!" dengus Menak Sangaji sinis.

"Manusia sombong. Kau ingin membunuh- ku, lakukanlah!" sahut Gento.

Menak Sangaji menyeringai. Mulutnya ke- mudian keluarkan desisan panjang sedang jimat sakti yang tergenggam ditangan kanannya diputar sedemikian rupa. Hanya dalam waktu sekian de- tik, sinar putih menyilaukan mata berkiblat diser- tai dengan suara gemuruh laksana badai topan yang siap memporak porandakan apa saja yang dilaluinya. Memang itulah yang kemudian terjadi. Dari jimat Lisus Sukmo yang tergenggam ditan- gan Menak Sangaji menderu badai topan seperti angin lisus yang berputar menggulung apa saja, bahkan membuat tanah yang dilaluinya terbakar menimbulkan lubang besar menganga. Gento Guyon yang bertahan di depan sana tidak ubah- nya seperti pucuk cemara yang diguncang topan prahara. Tubuhnya meliuk-liuk, kedua kakinya terseret ke belakang, sedang sekujur tubuh pe- muda itu terasa perih seperti disayat-sayat. Sam- bil kerahkan sebagian tenaga dalam ke kakinya Gento silangkan dua tangan di depan dada. Tak perduli lagi rambut panjangnya yang acak-acakan Gento pejamkan matanya. Saat itu kaki si pemu- da sudah amblas sedalam mata kaki. Tapi men- dadak saja sosok Gento kini mengembar. Seolah dari tubuhnya keluar Gento yang lain. Dua sosok Gento bergerak ke kiri sedangkan yang dua lagi bergerak ke kanan.

Kini sosok pemuda itu telah menjadi kem- bar sebanyak lima orang. Di depan sana Menak Sangaji terkesiap. Dari mulutnya keluar ucapan. "Ilmu Menitis Bayangan Raga?!"

Lima sosok Gento keluarkan suara tawa berbarengan. Bersamaan dengan itu pula kelima sosok Gento menghantam ke depan. "Heaaa...!"

Wuuuut! Wuuut!

Sepuluh larik sinar menderu, suara gemu- ruh angin topan yang keluar dari Jimat Sakti Li- sus Sukmo seolah tenggelam tertindih suara ge- muruh pukulan yang dilepaskan oleh Gento dan empat kembarannya.

Terdengar suatu ledakan berdentum yang sangat dahsyat sekali. Menak Sangaji menjerit, tapi jeritannya tak terdengar tertindih dahsyatnya suara ledakan.

Pemuda itu terjungkal, tergeletak tewas dengan sekujur tubuh mengucurkan darah. Di lain pihak lima sosok kembaran Gento nampak terhuyung. Kelimanya sama mendekap dada. Agaknya Gento mengalami guncangan di bagian dalam. Tak lama setelah itu kelima sosok gento sama silangkan kedua tangannya ke depan dada.

Satu demi satu sosok kembaran Pendekar Sakti Gento Guyon lenyap seolah menyatu kem- bali dengan diri Gento yang sebenarnya.

Setelah kembali dalam keadaan seperti se- mula si pemuda langsung menghampiri Menak Sangaji. Keadaan pemuda itu sungguh menyedih- kan. Gento gelengkan kepala, dia memandang ke tangan kanan Menak Sangaji yang sudah tidak bernyawa. Jimat Sakti Lisus Sukmo ternyata ma- sih berada dalam genggaman pemuda itu. Gento membungkuk, jimat itu diambilnya. Dia merasa- kan jimat itu bergetar.

"Benda ini bisa jadi malapetaka jika tidak cepat kukembalikan pada paman Raja Pengemis!" batin si pemuda. Dia lalu masukkan jimat Lisus Sukmo ke dalam saku celananya. Setelah itu sambil mendekap dadanya Gento berkelebat per- gi. Bersamaan dengan lenyapnya Gento sayup- sayup dikejauhan sana terdengar suara siulan panjang tak beraturan.

***

Kepekatan malam membungkus suasana di sekitar pantai selatan. Hembusan angin yang menderu bagaikan suara setan yang menyanyikan senandung kematian dalam gelapnya suasana.

Sesekali terdengar suara gemuruh ombak dan deburan air yang, menghempas karang dis- epanjang pesisir pantai. Di bawah sebatang pohon beringin putih yang diapit dua puncak bukit ka- rang, dicelah sempit permukaan batu rata satu sosok serba hitam duduk diam disana. Dua kaki bersilangan, yang sebelah kiri ditumpangkan di atas kaki kanan. Kedua tangan terjulur menjuntai diletakkan di atas dua lututnya. Walau kedua ma- tanya terpejam rapat, tapi sosok seperti arca bud- ha ini sama sekali tidak tidur. Dua telinganya di- pasang, mencoba menangkap dan membedakan setiap suara yang terdengar. Sedangkan mulutnya yang hitam tertutup kumis putih menjuntai pan- jang nampak berkemak-kemik tak ada henti.

"Kepada ratu penguasa pantai ini, aku mo- hon maafmu. Diriku Wisang Banto Oleng mohon diberi restu bertemu dengan ayahku, Kanjeng Romo Bantar Gading. Dia masih salah satu ham- bamu. Orang yang berada dibawah pengaruh ku- asamu." kata sosok itu yang ternyata adalah si kakek jahat Wisang Banto Oleng.

Sejenak orang ini terdiam, mata tetap ter- pejam, dua telinga tetap pula dipasang. Sayup- sayup terdengar gemuruh ombak, sementara an- gin dingin menderu tiada henti membuat hati si kakek dicekam perasaan gelisah dan tegang.

"Kanjeng Romo Bantar Gading. Aku anak- mu, Wisang Banto Oleng ingin bertemu. Ada satu hajat hendak kusampaikan, ada sesuatu yang in- gin kupinta.!" Sekali lagi si kakek ulangi ucapan- nya. Setelah mengulang kata-kata yang sama se- banyak tiga kali mendadak sontak kilat menyam- bar disertai geletar petir yang menghantam per- mukaan air laut. Seiring dengan gelegar petir yang terdengar, di tengah laut dimana petir tadi menyambar muncul satu cahaya putih menyilau- kan mata. Si kakek buka matanya. Mata itu men- dadak jadi kesilauan begitu dia memandang ke tengah laut yang membentang tak jauh di depan- nya.

Bersamaan dengan memancarnya cahaya putih menyilaukan mata, dari mana cahaya putih itu berasal muncul sesuatu yang bergerak cepat menuju ke bagian pantai dimana Wisang Banto Oleng menunggu. Ternyata sosok yang melaju di tengah laut yang seolah terbelah di mana airnya tersibak ke kiri dan ke kanan itu adalah sebuah kereta kuda. Kereta kuda berwarna hitam, se- dangkan dua kuda penarik kereta juga berbulu hitam. Bersamaan melesatnya dua kereta yang muncul dari dasar laut itu terdengar pula suara gemerincing aneh.

Sekali Wisang Banto Oleng yang dilanda rasa takjub kedipkan matanya, maka kini di de- pan si kakek yang duduk di bawah pohon berin- gin putih kereta kuda tadi telah berada disitu.

Tirai penutup kereta dibagian depan yang juga berwarna hitam tersibak. Satu sosok kepala muncul disertai kemunculan bagian tubuh lain- nya. Kemudian sosok tinggi yang munculkan diri dari dalam kereta berdiri tegak di atas kereta, memandang langsung ke arah si kakek.

Terkecuali pakaiannya yang berwarna hi- tam, sosok ini wajahnya tidak terlihat jelas terlin- dung kepekatan malam. Cahaya satu-satunya adalah cahaya putih yang memancar di tengah laut dimana kereta kuda tadi munculkan diri.

"Wisang Banto Oleng, aku ayahmu Kanjeng Romo Bantar Gading. Kau mengusik ketenangan- ku di dasar samudera. Waktuku tidak lama, ka- takan apa yang menjadi keperluanmu!" kata so- sok hitam yang berdiri dibagian depan kereta ku- da.

Wisang Banto Oleng rangkapkan dua tangannya. Dia gembira karena sang ayah berke- nan menjumpainya. Setelah itu tanpa menunggu lama si kakek berkata. "Kanjeng Romo Bantar Gading. Saya sedang menghadapi satu kendala. Saya ingin membantu seseorang, tapi mungkin tak dapat kuselesaikan dengan baik jika aku ti- dak memiliki bekal yang pantas!" Sosok hitam yang wajahnya tertutup tu- dung hitam memandang ke arah si kakek. Dia kemudian berucap. "Tak usah kau jelaskan aku sudah tahu apa kendalamu dan apa pula yang kau minta. Ketahuilah anakku, pendekar yang sempat meremukkan tangan dan tulang dadamu itu bukan manusia sembarangan. Dia berada da- lam lindungan manusia Seribu Tahun. Gada itu adalah satu dari sekian kehebatan yang dia mili- ki. Aku tidak mau mencegah apa yang menjadi keinginanmu. Sekarang kalau kedatanganmu in- gin meminjam senjata, aku telah memohonkan- nya pada Kanjeng Sri Ratu penguasa pantai ini. Kau boleh membawa Pedang Tumbal Segara un- tuk menyerang pemuda itu. Tapi ingat sungguh pun senjata yang hendak kuberikan ini sangat hebat, namun kau tidak boleh menyombongkan diri apalagi takabur. Sifat takabur hanya akan menghancurkan manusia itu sendiri dan menye- retnya ke lembah kebinasaan." kata kakek di atas kereta kuda. Kemudian tanpa memberi kesempa- tan pada Wisang Banto Oleng bicara orang berju- bah hitam lambaikan tangannya ke udara. Dilain saat sebilah pedang dengan hulu berukir gelom- bang laut dengan rangka terbuat dari kain hitam sudah berada di tangan sosok tinggi di atas kereta kuda. Si kakek ulurkan tangannya dan serahkan Pedang Tumbal Segara pada Wisang Banto Oleng.

Dengan tangan gemetar si kakek menang- gapi. Dia meletakkan senjata itu di atas pang- kuannya. Dua tangan kembali dirangkapkan, ke- pala menunduk sedangkan mulut Wisang Banto Oleng berucap. "Ayahku Kanjeng Romo Bantar Gading. Budi baikmu tak akan saya lupakan. Jika aku telah berhasil menumpas musuhku pedang ini akan kembalikan padamu!" ujar si kakek.

Si tinggi berpakaian hitam tidak menang- gapi. Hanya matanya memancarkan kilatan aneh yang sulit ditebak. "Aku kembali anakku, menuju ke istana mengabdikan diri pada paduka Sri Ra- tu!"

"Kanjeng Romo...?!"

Wisang Banto Oleng tidak teruskan uca- pannya karena detik itu kereta kuda telah berpu- tar dan kembali menghadap ke arah mana mere- ka berasal.

Selanjutnya kereta kuda melesat ke arah mana sinar putih memancar. Sampai di tengah ti- tik sinar putih kereta kuda mendadak lenyap. Di langit, kilat menyambar petir menggelegar. Sinar putih yang memancar dari dalam laut lenyap. Se- telah itu kegelapan kembali menyelimuti. Si kakek bangkit berdiri. Pedang Tumbal Segara digenggam di tangan kiri. Sambil menyeringai dia berkata. "Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Saat ini kau bo- leh berpuas diri atas apa yang terjadi padaku. Aku pasti akan mencarimu. Aku akan membuat perhitungan denganmu sampai segalanya menjadi impas!" kata si kakek.

Si kakek lalu tertawa panjang. Sambil me- nenteng pedang di tangan kanan, bagaikan hantu gentayangan sosoknya berkelebatan menyusuri batu karang tinggalkan pesisir pantai selatan. 

TAMAT