Gento Guyon Eps 17 : Setan Sableng

 
Eps 17 : Setan Sableng


Gulungan kulit harimau itu masih tergeletak di atas pangkuan Ki Lurah Wanabaya, tergulung rapi di- ikat dengan kain pita warna kuning. Delapan belas ta- hun benda ini berada di tangannya. Selama itu Ki Lu- rah merasa tidak ubahnya seperti menyimpan bara menyala. Dia hidup dalam kegelisahan. Setiap waktu Ki Lurah merasa was-was, takut kalau benda yang diti- tipkan kepadanya itu sampai diketahui oleh orang- orang Adipati Purbolinggo.

Sekarang setelah sampai pada waktu yang telah dijanjikan, Ki Lurah paling tidak merasa terlepas dari beban berat yang selama ini harus dipikulnya. Walau begitu menanti kedatangan orang yang ditunggu juga merupakan siksaan tersendiri bagi Ki Lurah Wana- baya. Dia khawatir jika ternyata orang yang sangat dia hormati tidak muncul malam itu, mengingat delapan belas tahun yang lalu saja usianya sudah cukup lan- jut?

Kakek tua ini kemudian menarik nafas panjang. Sepasang mata si kakek berpakaian serba putih, be- rambut dan berkumis putih ini memandang ke sege- nap penjuru ruangan kamar yang diterangi cahaya pe- lita terang temaram. Setelah itu tatap matanya kembali ke arah gulungan kulit harimau yang tergeletak di atas pangkuan. Memandang pada gulungan kulit lebih lama menimbulkan perasaan tidak enak dalam dirinya. Ki Lurah mengambil gulungan kulit, lalu memasukkan- nya ke balik pakaian.

Sambil menghembuskan nafas Ki Lurah Wana- baya berucap. "Jika sampai tengah malam nanti Ki Su- ta Soma tidak juga muncul di rumah ini. Apapun yang terjadi aku harus menyusul ke Ladang Wadas Ciman- gu. Akan kukatakan padanya aku tidak bisa menyim- pan benda ini lebih lama. Orang-orang Adipati cepat atau lambat pasti segera tahu kalau barang titipan ini ada padaku!" kata si kakek.

Dalam kegelisahannya dia terus menunggu. Sampai akhirnya dia tersentak kaget begitu mendengar derap langkah kuda yang dipacu cepat menuju ke tempat tinggalnya. Segala sesuatunya berlangsung sangat cepat sekali. Dalam waktu singkat para pe- nunggang kuda telah mengepung tempat kediaman Ki Lurah Wanabaya.

"Celaka! Lain yang kunanti lain pula yang da- tang!" kata Ki Lurah tercekat. Orang tua itu bangkit berdiri, lalu menyambar Keris Kelabang Geni yang ter- gantung di sudut dinding kamar.

Keris diselipkan di balik pinggang celana sebelah kiri. Belum lagi kakek tua ini sempat beranjak tinggal- kan ruangan itu terdengar suara bentakan menggele- dek di tengah kegelapan malam yang sunyi.

"Ki Lurah Wanabaya, kami tahu Ki Lurah ada di dalam. Dirimu tidak kami ganggu, jiwamu tidak akan kami sakiti. Cepat keluar! Serahkan peta penunjuk ja- lan itu pada kami. Setelah itu kami orang kepercayaan Adipati segera berlalu dari tempat ini!" teriak satu sua- ra.

Di dalam kamar Ki Lurah gelengkan kepala. Tan- gan kanannya bergerak, angin menyambar ke arah pe- lita. Pelita ditengah ruangan padam. Dalam gelap Ki Lurah Wanabaya memandang ke pintu. Dia tahu dide- pan pintu salah seorang kepercayaannya selalu berjaga disitu. Dengan suara pelan Ki Lurah memanggil. "Jonggol Kethu! Cepat kau masuk, ikuti aku. Kita ha- rus tinggalkan rumah ini sedapat yang bisa kita laku- kan.!" kata Ki Lurah tegas. Gema suara Ki Lurah le- nyap. Sunyi. Tak ada jawaban dari balik pintu. Seba- gaimana yang dia harapkan.

"Heran. Jangan-jangan ! "Ki Lurah terdiam, tapi

otaknya berfikir keras. Dalam gelap mata Ki Lurah mendelik besar ketika ingat sesuatu. "Jonggol Kethu, hanya kau yang tahu pertemuan yang akan berlang- sung malam ini. Tidak mungkin para begundal Adipati gentayangan di malam gelap begini jika kau tak mem- bocorkan rahasia ini pada mereka. Keparat! Betapa banyak kau dibayar? Jonggol Kethu, awas. Jika suatu saat terbukti telah berkomplot dengan mereka, aku akan mengubermu walau kau bersembunyi di liang ne- raka sekalipun!" Ki Lurah menggeram. Dia lalu mende- kati yang menghubungkan ke bagian pintu belakang. Palang pintu ditarik lepas hingga pintupun terbuka. Dengan mengendap-endap, Ki Lurah akhirnya sampai dipintu belakang. Melalui celah lubang papan orang tua ini mengintip keluar. Di depan pintu belakang se- dikitnya ada tiga sosok berpakaian hitam berjaga dis- ana dengan pedang terhunus.

"Kurang ajar, mereka rupanya sengaja menge- pung rumahku ini! Aku harus membunuh mereka, kemudian menuju kandang kuda dan tinggalkan tem- pat ini secepatnya!" berfikir begitu Ki Lurah cabut keris Kelabang Geni yang terselip di pinggang. Dengan keris tergenggam ditangan kanan, tangan kiri dengan gera- kan tanpa suara sedikitpun membuka pintu. Selagi pintu baru hendak dibuka lebar, pada saat itu dari ba- gian depan rumahnya terdengar suara menggeledek. "Ki Lurah! Rupanya kau lebih sayang pada peta penun- juk jalan itu daripada nyawamu sendiri? Kami tidak punya waktu banyak, jika kau tak mau keluar kami yang akan menyerbu masuk. Kau hanya tinggal memi- lih, nyawamu atau peta itu yang hendak kau perta- hankan. Ki Lurah, waktumu hanya sampai pada hi- tungan ketiga!" Suara tadi lenyap, kemudian ada suara lain me- nimpali tidak sabar. "Kakang Renggo Medi. Bangsat tua itu manusia keras kepala. Buat apa kita mem- buang waktu. Kita selesaikan saja dia, kita rampas pe- ta itu. Kujamin kita mendapat imbalan besar dari adi- pati karena kita telah membuat jasa besar!"

Orang yang dipanggil Renggo Medi tidak menang- gapi. Dia bahkan mulai menghitung. "Ki Lurah, ini adalah hitungan pertama.!" teriak orang di depan sana. Bersamaan dengan hitungan itu pula Ki Lurah Wana- baya kuakkan pintu belakang. Begitu pintu terbuka dengan kerisnya dia menyerbu ke arah tiga penjaga di- depannya. Tiga sinar merah membersit, melesat dari ujung keris, menghantam tiga laki-laki bersenjata pe- dang yang berjaga-jaga disitu.

Tidak menyangka ada orang keluar dari pintu dan menyerang mereka secara tak terduga, ketiga laki- laki itu tersentak kaget. Dua orang yang berada paling dekat dengan Ki Lurah tidak dapat sempat menyela- matkan diri.

Mereka terjengkang roboh dengan isi perut terbu- rai disertai jeritan menyayat. Sedangkan yang satunya lagi karena agak jauh dari jangkauan senjata Ki Lurah masih sempat melompat mundur dari tusukan senjata itu. Dia memutar pedang sambil berteriak memanggil kawan-kawannya.

"Orang yang kita cari ada di sini...!" Suara teria- kan orang itu terputus. Ki Lurah yang berhasil me- nangkis serangan pedang berhasil pula menikam teng- gorokan lawannya. Tanpa menghiraukan lawan yang tergelimpang roboh tertembus senjatanya Ki Lurah berkelebat ke bagian kandang kuda yang jaraknya hanya beberapa tombak saja dari pintu belakang ru- mah. Sementara Ki Lurah sibuk mengeluarkan seekor kuda dari dalam kandang. Maka jeritan tadi mengun- dang kehadiran teman-temannya termasuk juga pe- mimpin rombongan itu yang bernama Ronggo Medi. Dalam waktu singkat dari samping sebelah kanan dan sebelah kiri rumah Ki Lurah menghambur sedikitnya sepuluh ekor kuda masing-masing ditunggangi seorang laki-laki bersenjata siap di tangan.

Melihat banyaknya orang yang datang, Ki Lurah tidak mau mengambil resiko. Apalagi dia menyadari para pembantu Adipati Purbolinggo itu rata-rata memi- liki kepandaian tinggi. Tanpa membuang waktu Ki Lu- rah melompat ke atas punggung kuda. Binatang tung- gangan ini lalu dipacu secepat yang dapat dilakukan- nya.

Yang jadi pimpinan rombongan ini terkejut. Dia yang baru saja hendak memeriksa ke dalam rumah ba- talkan niat, lalu berbalik, melompat ke atas kuda sam- bil berteriak. "Lurah sial itu hendak meloloskan diri. Kejar.... bunuh !" teriak si baju hitam berbadan besar

itu dengan suara keras.

Dalam gelapnya malam sepuluh kuda mengham- bur, mengeluarkan suara ringkikan keras dan berlari kencang mengejar kuda putih yang ditunggangi Ki Lu- rah. Karena kuda milik Ki Lurah merupakan kuda pili- han, tidak mudah untuk menyusulnya. Dalam waktu singkat mereka tertinggal jauh di belakang. Sambil menggebah kudanya Ronggo Medi yang jadi pimpinan rombongan rupanya pantang menyerah. Sambil me- maki tak karuan laki-laki bertampang sangar ini terus mengejar, menyusul dibelakangnya si tinggi kurus bernama Belek Merat. Sedangkan delapan kuda lain- nya jauh tertinggal dibelakang kedua orang ini.

"Ki Lurah, kau sudah melakukan kesalahan be- sar. Buat apa bercapai melarikan barang yang bukan menjadi milikmu. Masih belum terlambat bagimu un- tuk mendapat. pengampunan, yang terpenting kau ha- rus serahkan peta rahasia perjalanan itu padaku!" te- riakan Ronggo Medi menindih suara langkah kuda yang bergemuruh seperti setan berlari dalam gelap.

Ki Lurah Wanabaya sama sekali tidak menangga- pi, dia malah semakin mempercepat lari kudanya. Ka- rena suasana dalam keadaan gelap gulita, maka Ki Lu- rah tidak dapat menentukan arah secara pasti. Yang dilakukannya saat itu adalah berlari menghindar dari kejaran kaki tangan adipati Purbolinggo. Sampai di sa- tu tempat dibalik kelebatan semak belukar dan kerin- dangan pohon. Tiba-tiba kuda yang ditunggangi Ki Lu- rah meringkik keras dan mengangkat kaki depannya. Jika Ki Lurah tidak sigap dan cepat memeluk leher kuda dia pasti terpelanting dari kuda tunggangannya.

"Putih, mengapa kau bertingkah seperti ini?" hardik Ki Lurah. Kuda putih meringkik, kepala digo- lang-goleng. Ki Lurah dalam herannya memandang ke depan. Orang tua ini tercekat, lalu menepuk kepalanya sendiri.

"Astaga! Putih, beruntung kau binatang bijak. Ji- ka tidak kita berdua celaka terperosok ke dalam jurang sana?" desis Ki Lurah. Matanya memandang ke arah jurang menganga didepannya. Dasar jurang sama se- kali tidak terlihat terkecuali kegelapan yang hitam pe- kat.

Ki Lurah cepat memutar kuda, dia menghambur ke sebelah kiri. Tapi ternyata jalan yang hendak di- tempuhnya buntu. Dalam gelap mata Ki Lurah jelala- tan menjelajahi alam sekitar. Sekali lagi dia memaki kebodohannya sendiri. "Tololnya diriku ini, ini adalah jurang Pegat Nyawa. Letaknya pun tak jauh dariku, mengapa aku sampai lupa pada daerahku sendiri." ka- ta Ki Lurah. Tidak ada pilihan lain, dia harus memacu balik kudanya, namun ini sulit dilakukan karena para pengejar kini telah berada di depannya. Ronggo Medi tertawa tergelak-gelak begitu meli- hat orang yang dikejar menemui jalan buntu.

"Ki Lurah! Setelah nyawamu berada diam-bang maut, baru rupanya mau menyerah? Ha ha ha!" kata Ronggo Medi sambil menghentikan kudanya. Di bela- kang si badan besar, Belek Merat yang baru berhasil menyusul sang teman menimpali. "Rejeki kita memang besar. Ki Lurah Wanabaya malam ini bernasib sial. Tunggu apa lagi, mengapa tidak segera kita bunuh saja dia?" dengus Belek Merat sudah tidak sabaran lagi.

Ronggo Medi sunggingkan seringai aneh dibibir- nya. Dengan tenang dia berkata. "Membunuhnya ada- lah persoalan semudah membalikkan telapak tangan. Bagiku nyawanya tidak penting, yang aku inginkan adalah peta penunjuk jalan yang berada di tangannya. Jika peta ada ditangan kita, adipati bisa hidup tente- ram kita sendiri bakal menikmati kesenangan melim- pah. Imbalan yang dijanjikan cukup besar. Rahasia apapun yang tersembunyi di dalam peta penunjuk ja- lan tidak penting. Yang paling utama saat ini adalah mengambil peta itu dari tangannya."

Si badan besar dan si kurus memandang tajam ke arah Ki Lurah beberapa jenak lamanya. Sementara delapan orang anak buah Ronggo Medi telah sampai di tempat itu. Begitu sampai mereka langsung menyebar melakukan pengepungan dengan posisi setengah ling- karan. Karena Ki Lurah Wanabaya tidak juga menye- rahkan apa yang diminta oleh Ronggo Medi, habislah sudah kesabaran laki-laki itu.

"Ki Lurah, waktumu sudah habis. Sekali lagi ku- tegaskan padamu, serahkan peta penunjuk jalan itu padaku. Jika kau tetap keras kepala, aku Ronggo Medi tidak akan mengampuni jiwamu!" hardik kaki tangan adipati tegas.

Ki Lurah dongakkan wajahnya ke atas. Dia tahu kecil kemungkinan baginya untuk meloloskan diri. Apalagi mengingat Ronggo Medi dan kembarannya Be- lek Merat bukan manusia sembarangan. Mereka memi- liki ilmu serta jurus silat yang hebat di tambah lagi dengan ilmu memainkan golok kembar yang mereka miliki. Maka bagi Ki Lurah kedua orang itu bukan la- wan yang dapat dipandang dengan sebelah mata, wa- laupun Ki Lurah sendiri mempunyai senjata sakti be- rupa sebilah keris bernama keris Kelabang Geni. Biar- pun begitu, bagi Ki Lurah Wanabaya yang namanya amanah titipan orang memang harus dia jaga sedapat yang mampu dilakukannya meskipun nyawa sebagai taruhannya. Apalagi amanah itu adalah harapan satu- satunya bagi orang yang sangat dia hormati untuk di- jadikan petunjuk mencari anak satu-satunya yang hi- lang. 

Akhirnya dengan tegas Ki Lurah berkata. "Ronggo Medi. Sebagai manusia kau rupanya memang buta terhadap sejarah perjalanan hidup seseorang. Peta ini tidak pernah kuberikan pada siapapun, termasuk juga pada dirimu."

"Kau boleh saja memiliki segudang ilmu. Tapi dengan segala kehebatan yang kau miliki bukan berar- ti kau dapat memaksakan segala kehendakmu padaku. Mungkin aku manusia lemah dimatamu, tapi aku tidak akan menyerah pada keadaan dan nasib. Sekarang kau sudah mendengar apa jawabku, apapun yang menjadi keputusanmu segala resikonya akan ku tang- gungkan!"

Mendengar jawaban Ki Lurah Wanabaya kemara- han Ronggo Medi tak terkirakan lagi, kedua pipinya menggembung besar, pelipis bergerak-gerak. Dengan tangan terkepal dia membentak. "Tua bangka tak tahu gelagat. Sikap keras kepalamu itu hanya akan mem- bawa penyesalan yang tak akan ada habisnya!" Belek Merat apalagi. Dia langsung berteriak ditu- jukan pada delapan anak buah mereka yang duduk di atas kuda masing-masing.

"Anak-anak, bunuh tua bangka busuk itu!"

Ki Lurah Wanabaya menggumam tidak jelas begi- tu melihat anak buah Ronggo Medi berlompatan dari atas punggung kuda masing-masing mengepung Ki Lu- rah dengan senjata terhunus. Delapan senjata mende- ru di udara. Sinar putih berkilauan memancar dari se- tiap senjata yang dipergunakan untuk menyerang Ki Lurah. Dalam gelap malam tubuh Ki Lurah seolah le- nyap terbungkus kilatan senjata yang menghantamnya dari delapan penjuru arah. Mendapat serangan hebat dari anak buah Ronggo Medi, Ki Lurah tidak tinggal di- am. Dia langsung mencabut keris Kelabang Geni, ke- mudian keris diputarnya, menangkis serangan lawan sekaligus melakukan serangan balasan. Sinar merah laksana bara menyambar di udara, lalu menangkis se- rangan delapan senjata yang siap mencincang tubuh Ki Lurah.

Traang! Trang! Traang!

Terjadi benturan hebat ketika senjata Ki Lurah menghantam delapan senjata lawan. Delapan penye- rang terdorong mundur disertai seruan kaget. Para pe- nyerang merasakan tangan yang memegang hulu sen- jata sakit luar biasa dan sangat panas sekali. Ki Lurah yang masih berada di atas punggung binatang tung- ganggannya menggigit bibir, tubuhnya sempat tergun- cang, sedangkan senjata ditangan hampir terlepas. Da- ri benturan yang terjadi Ki Lurah dapat merasakan menghadapi delapan penyerang ini saja dia sudah di- buat repot, apalagi jika Ronggo Medi dan Belek Merat maju secara serentak.

"Apapun yang akan terjadi pada diriku, aku ha- rus dapat membunuh para begundal adipati ini!" batin Ki Lurah. Dengan gerakan laksana kilat melesat di udara, tinggalkan kudanya, sedangkan tangan kiri di- pergunakan untuk melepas satu pukulan menggeledek berhawa dingin mematikan. Selagi delapan anak buah Ronggo Medi dibuat sibuk hindari pukulan yang dilan- carkan lawan, dengan cepat keris ditangan Ki Lurah bergerak meluncur deras ke arah dua penyerang yang ada didepannya.

Buum!

Tiga dari penyerang dapat menyelamatkan diri dengan melompat dari kalangan perkelahian, tiga lain- nya nampak terhuyung sambil mendekap dada. Se- dangkan pedang yang dipergunakan untuk menangkis terpental, melayang di udara dan jatuh disertai suara berkerontangan. Dua lainnya memang sempat melom- pat ke samping hindari pukulan, namun keduanya tak dapat meloloskan diri dari sambaran keris ditangan Ki Lurah.

Leher dan dada kedua orang ini robek mengu- curkan darah, beberapa saat keduanya terhuyung, lalu jatuh terjengkang tak berkutik lagi.

"Kurang ajar! Keris itu sangat beracun!" seru Ronggo Medi. Laki-laki itu kemudian berteriak dituju- kan pada enam anak buahnya yang selamat. "Orang- orang goblok tidak berguna, menyingkirlah kalian!"

Mendengar aba-aba dari pimpinannya keenam laki-laki itu serentak berlompatan mundur menjauh, namun tetap bersikap waspada menjaga segala ke- mungkinan yang tidak diinginkan.

"Kakang mari kita berebut pahala menghabisi tua bangka jahanam ini bersama-sama!" kata Belek Merat.

Ronggo Medi anggukkan kepala, disertai teriakan aneh keduanya melompat dari atas kudanya masing- masing. Begitu mereka jejakkan kaki didepan Ki Lurah Wanabaya keduanya langsung menghantam lawannya dengan pukulan tangan kosong. Ki Lurah dalam menghadapi kedua lawan tidak mau berlaku ayal. Be- gitu empat tangan mencecar di delapan bagian tubuh- nya yang paling mematikan dia menyambut dengan sambaran kerisnya. Ronggo Medi dan Belek Merat ke- luarkan seruan kaget ketika merasakan ada hawa pa- nas menyambar dari senjata ditangan lawan. Mereka sama batalkan serangan tapi secara serentak lepaskan tendangan ke bagian dada dan perut lawan.

Serangan ini sungguh tidak terduga. Ki Lurah melompat mundur, tapi tendangan Ronggo Medi masih tak dapat dielakkannya.

Bess! "Hegkh...!"

Ki Lurah menjerit tertahan, tendangan yang san- gat keras membuat orang tua ini terlempar, lalu jatuh menelentang.

Ki Lurah megap-megap, mulut mengucurkan da- rah, sedangkan isi perutnya serasa seperti diaduk- aduk. Ki Lurah Wanabaya lalu meraih kerisnya yang sempat terlempar, dia segera berdiri kembali. Tubuh- nya limbung, kedua lutut bergetar, wajah pucat se- dangkan bibir mengernyit menahan sakit. Melihat se- mua ini Belek Merat dan Ronggo Medi dongakkan ke- pala lalu tertawa bergelak.

2

Sementara itu dibalik semak belukar sepasang mata yang terus mengawasi jalannya perkelahian ge- lengkan kepala disertai seringai mencemo'oh dia berka- ta. "Keris di tangan Ki Lurah memang hebat. Sayang kepandaian orang tua itu sendiri cuma sejengkal. Da- lam satu gebrakan lagi aku yakin Ki Lurah terjungkal. Hemm... aku punya rencana!" batin sosok yang ber- sembunyi di balik semak dalam kegelapan.

Pada saat itu Ronggo Medi dan Belek Merat men- dadak hentikan suara tawanya. Masing-masing tangan kanan orang itu berkelebat menyelinap di balik pa- kaian. Ketika tangan ditarik kembali, tangan langsung diayunkan ke arah Ki Lurah Wanabaya. Dua puluh benda berwarna putih berlesatan di udara disertai ter- dengarnya suara berdesing.

"Senjata rahasia?!" seru orang tua itu ter-cekat. Dalam keadaan seperti itu rasanya mustahil bagi Ki Lurah untuk menyelamatkan diri dari serangan dua puluh senjata rahasia yang disambitkan oleh lawan- nya. Apalagi mengingat, masing-masing dari senjata itu mengincar seluruh bagian tubuh yang mematikan. Dalam kagetnya Ki Lurah memutar keris ditangan hingga menjadi sebuah tameng yang kokoh untuk me- lindungi diri.

Tring! Tring!

Terdengar suara berdentring keras begitu senjata rahasia membentur senjata si kakek. Sepuluh senjata lawan dapat dibuat rontok. Sisanya terpental dan ber- balik hampir menghantam pemiliknya sendiri. Ronggo Medi memaki panjang pendek tak menyangka lawan dapat menangkis pisau terbang yang mereka sam- bitkan. Dengan perasaan penasaran bercampur marah Ronggo Medi raup senjata dibalik pakaiannya. Kali ini dua tangan kembali dihantamkan ke arah si kakek.

Puluhan sinar putih bagai kunang-kunang berta- bur di udara, bergerak laksana kilat ke arah Ki Lurah siap menghujani tubuh orang tua itu. Melihat seran- gan senjata rahasia dalam jumlah tak terhitung, apala- gi saat itu Belek Merat juga melepaskan pukulan maut ke arahnya, kecil sekali harapan bagi si kakek untuk menyelamatkan diri. Apalagi saat itu akibat luka dida- lam membuat tenaganya banyak terkuras sedangkan rasa sakit dibagian dada semakin menghebat Ki Lurah hanya dapat melompat ke samping, sedangkan keris ditangan bergerak lamban menangkis serangan senjata Ronggo Medi dan pukulan yang dilontarkan oleh Belek Merat. Upaya yang dilakukan Ki Lurah untuk menye- lamatkan diri kiranya tidak banyak membawa arti bagi dirinya sendiri. Sambaran angin pukulan Belek Merat membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Padahal pada saat itu senjata rahasia lawan yang bertaburan di udara siap menghujani sekujur tubuhnya.

Ki Lurah delikkan mata keris tetap diputar me- nyambut hujan serangan senjata rahasia lawannya. Di depan sana Ronggo Medi merasa yakin tidak lama lagi Ki Lurah pasti terjungkal roboh ditembusi senjata mautnya. Akan tetapi pada saat yang menegangkan itu terdengar satu teriakan yang disertai berkelebatnya sa- tu sosok tubuh. Ketika sosok itu melesat di udara dari dadanya yang terlindung pakaian warna biru member- sit cahaya putih terang menyilaukan. Cahaya aneh itu bukan saja hanya menghantam runtuh senjata yang dilemparkan Ronggo Medi, tapi juga memapas pukulan Belek Merat hingga membuat pukulan berbalik meng- hantam pemiliknya sendiri.

Berjumpalitan Belek Merat selamatkan diri dari pukulan mautnya. Tapi hebatnya pukulan itu kini seo- lah dikendalikan oleh satu kekuatan yang tak terlihat mata terus mengejarnya. Melihat hal ini Ronggo Medi selain merasa heran tapi tidak tinggal diam. Dia mem- bantu temannya dengan menghantam sinar biru dari samping.

Buuum!

Satu ledakan mengguncang puncak tebing ditepi jurang. Batu-batu dan pasir berlesatan di udara dalam keadaan dikobari api. Ronggo Medi terjajar, sedangkan Belek Merat jatuh dengan kepala menghantam batu. Belek Merat menjerit, lehernya patah. Tindakan penye- lamatan yang dilakukan sang teman malah membuat jiwa Belek Merat tidak ketolongan.

Dalam kagetnya untuk sekian lama Ronggo Medi hanya mampu delikkan mata. Pada saat itu di samping Ki Lurah kini telah berdiri tegak seorang pemuda tam- pan berpakaian serba biru, berambut panjang di ke- pang di bagian belakang. Sambil tersenyum sinis pe- muda itu melirik ke arah Ki Lurah. Setelah itu perha- tiannya beralih pada Ronggo Medi. Sementara dilangit semburat merah sebagai tanda datangnya sang fajar mulai menerangi langit dibagian timur.

Ki Lurah Wanabaya sendiri merasa dirinya telah ditolong dan diselamatkan orang langsung membung- kuk penuh rasa hormat. Dengan sikap sopan dia ber- kata. "Anak muda, siapapun dirimu. Aku si tua Wana- baya menghanturkan banyak terima kasih. Semoga Tuhan membalas semua budi pertolongan yang telah kau berikan padaku hari ini!"

Ucapan polos Ki Lurah Wanabaya ditanggapi dengan tatapan dingin oleh pemuda itu. "Setiap perto- longan bukannya ada imbal baliknya begitu? Ha ha ha. Ingat dipagi ini aku tidak merasa telah memberikan bantuan percuma yang bisa diselesaikan dengan uca- pan terima kasih. Aku telah menghutangkan sebuah kebaikan yang nantinya harus kau bayar berikut bun- ganya." tegas pemuda itu dingin.

Sepasang mata Ki Lurah membelalak lebar, alis mata berkerut. Ki Lurah memandang ke arah pemuda itu dengan tatapan penuh rasa tidak mengerti.

"Anak muda apa maksud ucapanmu?" tanya orang tua itu kemudian.

Si baju biru merasa senang melihat kakek tua itu menjadi bingung. Sambil tertawa dia berkata. "Seka- rang tidak ada waktu bagiku untuk mengatakan segala sesuatunya. Pergilah, kelak dalam waktu yang tidak lama aku pasti akan mencarimu. Nantinya akan kuje- laskan bagaimana caranya kau harus membayar hu- tang dan bunga seperti yang kumaksudkan! Ha ha ha." Walaupun hati Ki Lurah merasa tidak puas seka-

ligus tidak enak melihat cara pemuda itu bicara. Na- mun akhirnya dia surut juga. Keris Kelabang Geni se- gera dimasukkan ke tempat semula. Kakek ini berge- gas menghampiri kudanya, lalu naik ke atas punggung kuda. Sesaat dia menjadi bimbang, mulutnya hendak menanyakan sesuatu. Tapi pertanyaan ditelannya kembali. Ki Lurah Wanabaya menggebah kudanya. Di saat kuda hendak berlari meninggalkan tempat itu, mendadak terdengar suara teriakan Ronggo Medi. "Anak-anak, jangan biarkan tua bangka itu lolos!!"

Enam anak buah Ronggo Medi serentak merin- tangi jalan Ki Lurah sambil babatkan pedang ke bagian kaki kuda si kakek. Kuda meringkik sedangkan pemu- da baju biru tadi menghardik. "Manusia tak tahu cela- ka! Berani menentang diriku berarti kematian bagian- nya!" Baru saja si baju biru selesai berucap. Dari ba- gian dadanya kembali cahaya putih seperti kilat me- nyambar dan menghantam langsung tubuh keenam anak buah Ronggo Medi. Detik itu juga ke enam laki- laki bersenjata pedang berpelantingan roboh dengan sekujur tubuh hangus gosong seperti terbakar api.

Bukan hanya Ronggo Medi yang dibuat tercekat, sebaliknya Ki Lurah Wanabaya yang merasa ditolong juga bergidik ngeri. Tubuhnya menggigil sedangkan tengkuk terasa dingin seperti es. Si kakek tidak me- nunggu lebih lama. Setelah ke enam penyerangnya bergelimpangan roboh dia langsung memacu kudanya tinggalkan si baju biru dan Ronggo Medi. Kaki tangan adipati ini tidak mau gegabah sete- lah mengetahui kehebatan yang dimiliki si baju biru. Untuk sementara walaupun geram dia harus rela membiarkan Ki Lurah lolos dari tangannya. Seperginya Ki Lurah Wanabaya Ronggo Medi berkata. "Baju biru siapa dirimu ini? Kau telah begitu berani mengambil resiko dengan mencampuri urusan Adipati!"

Si pemuda nampak tenang saja mendengar uca- pan Ronggo Medi, disertai senyum mengejek dia men- jawab. "Aku bisa saja memperkenalkan seribu nama. Untuk kau ketahui, agar tidak membuatmu penasa- ran. Namaku Menak Sangaji." jawab si baju biru. Dia menatap Ronggo Medi sekejap, setelah itu melan- jutkan. "Tadi kau menyinggung dan membawa nama Adipati. Kau ini apanya Adipati? Kacung, anjing penja- ga atau cuma bangsat suruhan? Apa kau mengira den- gan membawa nama Adipati dapat membuatku lari terbirit-birit? Huh, seandainya pun kau adalah pan- glima kerajaan siapa takutkan dirimu?"

Ucapan si baju biru membuat wajah Ronggo Medi jadi merah padam. Baru sekarang ini dia merasa tidak dipandang muka oleh orang lain. Dengan suara meng- gelegar Ronggo Medi berkata. "Bocah sial yang menga- ku bernama Menak Sangaji, siapapun dirimu aku tak perduli. Kau telah menggagalkan tugas yang dibeban- kan padaku oleh Adipati Purbolinggo. Selain itu kau juga telah membunuh orang-orangku. Sebaiknya kau menyerah untuk menerima hukuman dari Adipati!" te- riak Ronggo Medi.

Menak Sangaji tertawa tergelak-gelak. Se-kejab kemudian tawanya lenyap. Baik wajah maupun tata- pan matanya kini mendadak berubah dingin.

"Kudengar tadi namamu Ronggo Medi. Kalau aku mau, dengan mudah aku dapat merubahmu menjadi memedi sungguhan. Kau tak perlu sesumbar didepan- ku dengan mengagulkan nama Adipati. Cepat pergi tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah fikiran!" hardik Menak Sangaji.

"Bocah keparat, siapa takutkan dirimu. Makan senjataku ini!" teriak Ronggo Medi tak kalah sengitnya. Rupanya walau sudah tahu kehebatan yang dimiliki lawan, namun mengingat kematian Belek Merat dan delapan pembantunya, laki-laki itu tak dapat lagi men- guasai diri. Begitu selesai berkata Ronggo Medi gerak- kan tangan kanannya ke arah lawan. Tangan bergerak dari setiap ujung jemarinya meluncur masing-masing sebilah pisau tipis ke arah si baju biru.

Orang yang mendapat serangan sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Tapi secara tak terduga dari bagian dadanya kembali melesat sinar putih yang membuat belasan pisau terbang yang dilepaskan seca- ra susul menyusul berjatuhan bagai daun disapu an- gin. Hebatnya lagi seluruh senjata rahasia itu leleh dan mengepulkan uap putih.

Ronggo Medi tercekat, mulut ternganga namun hati masih diliputi rasa penasaran. Tidak membuang waktu lagi dia kembali raup senjata di balik pakaian. Dua tangan bergerak, puluhan senjata rahasia berta- bur di udara siap menghujam tubuh lawannya. Ronggo Medi sendiri kemudian berlari ke depan lakukan se- rangan susulan ke arah Menak Sangaji.

Pemuda yang diserang mendengus. Sekali dia mengebutkan ujung lengan baju birunya, maka dari balik ujung jubah menderu segulung angin yang lang- sung membuat senjata lawan berpelantingan keselu- ruh penjuru arah. Begitu seluruh senjata dibuat run- tuh oleh Menak Sangaji, kini ada dua sinar berkelebat menghantam punggung dan perutnya. Dalam kagetnya sambil berkelit si pemuda mencoba mengenali senjata yang dipergunakan untuk menyerangnya. Si baju biru menyeringai begitu melihat Ronggo Menak mengguna- kan dua golok untuk menggempur dirinya.

Si pemuda membiarkan salah satu dari golok itu melewati pinggangnya. Begitu tebasan golok melesat didepan perut, tangan kanan pemuda itu cepat berke- lebat mencekal pergelangan tangan lawan yang meme- gang golok.

Tep! Kraak!

Terdengar suara tulang lengan berderak patah disertai dengan jerit kesakitan. Salah satu golok terle- pas dari tangan Ronggo Menak. Sedangkan golok yang berada di tangan kirinya direnggut lepas oleh Menak Sangaji. Golok rampasan melesat di udara, membabat putus lengan pemiliknya. Ronggo Menak menjerit seja- di-jadinya. Sama sekali dia tidak menduga dalam wak- tu singkat dia telah kehilangan tangan kiri dan menga- lami patah tulang pada tangan kanan.

Menak Sangaji tertawa lebar. Dengan tatapan si- nis dia berkata. "Manusia tak berguna. Hari ini aku hanya minta sebelah tanganmu. Lain hari aku minta nyawamu. Kau boleh melapor pada Adipatimu. Kata- kan padanya sebaiknya dia serahkan seluruh kadipa- ten juga kekayaan yang dia miliki, kalau tidak mau mencari penyakit. Sekarang pergilah! Katakan semua yang kau ucapkan ini pada majikanmu!"

Rasa dendam dan amarah laksana menggelegak didalam dada Ronggo Medi. Tapi dia sadar, lawan bu- kanlah tandingannya. Apa lagi pemuda itu memiliki kesaktian aneh yang sewaktu-waktu dapat memancar dari bagian dadanya. Dengan bersusah payah Ronggo Menak hampiri kudanya. Satu tangan mencengkeram lehernya. Tapi mendadak dia merasa tubuh laki-laki ini seperti diangkat, lalu dibanting di atas punggung kuda. Kuda itupun kemudian seperti kesetanan berlari kencang tak terkendali. Menak Sangaji tertawa dingin. Dia tadi yang telah melemparkan Ronggo Menak ke atas punggung kuda. Dia pula yang memasukkan jangkerik ke dalam hidung dan telinga kuda, hingga binatang tunggangan itu berubah beringas dan liar.

3

Empat ekor kuda kurus berlari kencang dengan posisi saling berdempetan antara pinggul kuda yang satu dengan kuda yang lainnya. Di atas punggung ku- da nampak rebah membelintang seorang pemuda ber- telanjang dada bercelana hijau berambut gondrong di- ikat pita berwarna hijau. Di atas empat kuda yang ten- gah berlari kencang itu tubuh si pemuda berbadan te- gak terbujur. Dua tangan dipergunakan untuk mende- kap terompet besar terbuat dari tembaga. Sementara dua matanya terpejam, suara dengkur si pemuda me- ningkah suara gemuruh langkah kuda yang menyisir sepanjang dinding lembah batu cadas.

Sampai di ujung lembah ke empat kuda menda- dak hentikan larinya. Ke empat kuda kurus meringkik keras dengan nafas mengengah. Rupanya jalan di ujung lembah buntu, terhalang dinding tebing yang menjulang tinggi.

Suara ringkikan tidak membuat pemuda di atas punggung ke empat ekor kuda terjaga. Rupanya tidur pemuda itu terlalu nyenyak. Empat kuda kurus yang dijadikan tempat ketiduran si gondrong mengguncang badannya sendiri. Si gondrong mengeliat, lalu kedua mata dibuka lebar. Sekejap tatap matanya menera- wang ke langit. Tetapi agaknya rasa kantuk menye- rangnya demikian hebat hingga tak lama kemudian matanya terpejam kembali. Sebentar saja si gondrong sudah mendengkur, tapi rupanya empat kuda tak mau diam. Mereka terus berjingkrak gelisah, membuat tidur si pemuda terusik.

Si gondrong menggerutu, namun dia masih tetap tergeletak menelentang di atas punggung kuda, tidak perduli panas terik memanggang tubuhnya.

"Wuah... sudah siang rupanya. Hei...!" si gon- drong keluarkan seruan kaget. Dia melompat, bangkit berdiri dengan kedua kaki bertumpu pada salah satu punggung kuda tunggangannya. Setelah itu dengan si- kap seenaknya dia duduk di atas kepala kuda terse- but. "Binatang tolol, aku menyuruh kalian mencari ja- lan keluar agar kita dapat meninggalkan lembah ini secepatnya. Lalu mengapa kembali ke ujung jalan bun- tu ini lagi?" Si gondrong mengomel, mulut cemberut sedangkan wajahnya berubah masam.

Ke empat kuda hanya keluarkan suara ringkikan halus seperti putus asa. Si pemuda yang mengomeli binatang tunggangannya kemudian tertawa sambil memukul keningnya sendiri. Begitu kening dipukul da- ri dua lubang telinganya keluar asap tipis berwarna ke- labu. "Aku lupa, aku sendiri yang manusia sudah be- berapa hari memutar otak tidak juga menemukan jalan keluar. Apalagi kalian cuma binatang tentu saja tidak punya akal fikiran. Heh... apa yang harus kulakukan kini. Dua puluh tahun aku terkurung di lembah Cadas Setan ini, dari kecil sampai dewasa. Apa mungkin aku ditakdirkan sampai tua tetap berada disini?" kata si pemuda seperti orang bingung.

Dalam bingungnya si gondrong angkat terompet bermulut besar. Hulu terompet di dekatkan ke mulut- nya. Kemudian si gondrong meniup terompet itu den- gan suara pelan beraturan. Anehnya begitu ke empat kuda kurus mendengar suara tiupan terompet pemuda itu, para binatang ini nampak berjingkrak-jingkrak se- perti orang menari. Si gondrong melompat turun dari atas kepala kuda yang dia duduki, sementara mulut terus meniup terompet kesayangannya. Kuda terus berjingkrak, kepala digoyang ke kiri dan ke kanan, se- dangkan ekor dikibaskan.

Dari perlahan tiupan terompet semakin lama se- makin bertambah keras. Seiring dengan suara tiupan terompet maka gerakan ke empat kuda yang seolah sedang menari itu kian menggila.

Si gondrong tertawa cekakakan melihat binatang kesayangannya itu.

"Bagus... bagus. Kuda kurus kuda edan. Kuda kurang makan, besar kentut sama tulang. Ha ha ha!" kata si pemuda masih dengan tertawa-tawa. Dia ke- mudian hentikan tiupan terompetnya. Begitu suara te- rompet terhenti maka gerakan keempat kuda yang se- dang menari juga berhenti. Nafas binatang itu kem- bang kempis, lidah terjulur, sedangkan mata meman- dang ke arah si gondrong sambil berkedip-kedip.

"Kuda sial! Waduh biung... kepalaku lagi sakit. Mengapa berlaku tolol dengan mengajak aku bercan- da?" damprat si gondrong marah.

Seakan mengerti dan tahu diri empat binatang tunggangan itu tekuk kaki depannya kemudian mere- bahkan badannya di depan pemuda itu.

Sungguh tak dapat ditebak watak pemuda ini, sebentar tadi baru saja dia mengumbar amarahnya, tapi sekarang setelah melihat binatang tunggangannya itu mendekam didepannya dengan sikap seperti orang bersujud dia kembali tertawa tergelak-gelak.

"Dasar binatang, sejak kapan aku mengajari ka- lian agar bersujud di depanku. Binatang tidak bergu- na.... tidak berguna!" damprat si gondrong berulang- ulang. Ketika pemuda ini mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang, keempat kuda langsung bangkit berdi- ri, kemudian meringkik keras lalu membalikkan badan dan lari meninggalkan si gondrong. Dia jadi kaget, mu- lut ternganga mata terbelalak. Ingat akan ajarannya sendiri kalang kabut si pemuda berteriak. "Kalian san- gat berguna... jangan pergi, kalian sangat berguna.!"

Serentak mendengar ucapan si pemuda ke empat kuda kurus yang berlari kencang berhenti mendadak.

"Ah... ha ha ha. Aku lupa dengan apa yang aku ajarkan pada kalian para binatang. Jika kukatakan ka- lian 'tidak berguna', maka kalian menjadi sakit hati, la- lu pergi meninggalkan aku. Kalau kukatakan sebalik- nya kalian menjadi senang hati. Tak pernah ku me- nyangka binatang juga ternyata punya rasa amarah. Kuda yang baik, maafkan kesalahanku ini." kata si gondrong. Sesaat lamanya dia memperhatikan kuda- kuda yang masih tetap berdiri di tempatnya. Dia lalu bangkit berdiri, dengan sudut matanya si gondrong melirik ke sudut kiri lamping tebing. Setelah memper- hatikan bagian legukan di dasar tebing itu si pemuda berucap. "Barangkali aku kurang sopan hendak pergi begitu saja. Mungkin orang tua itu tidak merestui ke- pergianku, hingga sengaja menyesatkan aku. Mustahil di lembah lingkaran tebing ini tidak ada jalan keluar. Aku harus menemui orang tua itu." kata si gondrong.

Sekali pemuda yang memiliki tingkah laku seperti orang kurang waras ini berkelebat tubuhnya lenyap dari pandangan mata.

Beberapa saat kemudian si gondrong bercelana hijau telah berdiri tegak dimulut sebuah gua. Di depan mulut gua yang gelap dan hanya setinggi kepalanya ini bibir si gondrong berkemak-kemik. Selesai berkemak- kemik kedua lubang telinga si pemuda mengepulkan asap tipis warna kelabu. Bersamaan dengan menge- pulnya asap tipis itu pula dibagian dalam gua terden- gar suara gemuruh hebat seperti terbukanya pintu ba- tu. Kemudian kegelapan lenyap berganti dengan ca- haya merah terang.

Si gondrong kemudian melangkah masuk ke da- lam ruangan gua yang luas. Seperti biasanya dia men- gendus bau harum tuak yang menyengat. Si gondrong menyeringai, lalu dia kitarkan pandangan matanya ke- segenap penjuru sudut ruangan. Tidak ada siapapun disitu terkecuali tumpukan kendi dalam jumlah ratu- san. Seluruh kendi itu berisi tuak yang telah tersimpan selama puluhan tahun.

"Percuma saja aku masuk ke dalam ruangan ini. Dua puluh tahun aku berada di Lembah Cadas Setan ini, belum pernah aku bertemu dengan guruku terke- cuali kampret sial penghuni gua. Mungkin orang yang telah mendidikku selama ini adalah bangsanya bapak moyang kampret. Biarlah tidak mengapa asal aku ti- dak ikut menjadi kampret sungguhan." kata si gon- drong sambil gelengkan kepala.

Pemuda itu terdiam, dia memperhatikan tumpu- kan kendi tuak yang tersusun rapi di sebelah kanan sudut gua. Melihat kendi-kendi berwarna hitam yang mulutnya tertutup kain merah timbul keinginan dihati pemuda itu untuk menikmati tuak harum yang selama ini sering dicurinya.

"Kepalaku sudah pusing memikirkan jalan ke- luar. Kurasa sekarang ini baiknya mabuk dulu. Sete- lah mabuk baru nanti kufikirkan bagaimana caranya untuk meninggalkan lembah ini!" kata si gondrong da- lam hati. Pemuda ini kemudian melangkah ke sudut ruangan gua. Tangan dijulurkan untuk mengambil sa- lah satu kendi berisi tuak. Akan tetapi mendadak dari balik tumpukan kendi-kendi itu ada segulung angin menyambar tubuhnya. Si gondrong terhuyung, dia ter- sentak kaget, kepala menggeleng sedangkan mulut mengumbar tawa.

"Setan... siapa yang menyerangku?" teriak si gon- drong.

Belum lagi lenyap rasa kaget dihati pemuda ini mendadak sontak terdengar suara bergemuruh yang disertai dengan suara tawa menggeledek. Suara tawa itu seolah datang dari seluruh penjuru ruangan gua, membuat batu-batu yang bertonjolan di langit-langit gua berjatuhan. Si gondrong yang seharusnya surut melihat semua keanehan yang terjadi, sebaliknya ma- lah bergerak menyambar kendi besar. Angin deras kembali menerpanya membuat kendi hampir terlepas dari tangan pemuda itu. Tegak dengan tubuh sem- poyongan pemuda ini mengangkat kendi itu, mulut di- buka. Tuak di dalam kendi mengucur menebarkan bau harum menyengat.

Gluk! Gluk! Gluk!

"Ha ha ha! Sudah berapa banyak tuakku yang kau curi. Sudah berapa kendi yang amblas ke dalam perutmu anak setan.!" satu suara keras menguman- dang meningkahi suara gemuruh angin yang berputar cepat memenuhi ruangan gua.

"Kau datang lagi orang tua. Seperti dulu sampai sekarang kau tak mau unjukkan dirimu. Apakah ujudmu seperti angin, tidak terlihat namun ada? Ha ha ha. Gluk gluk gluk. Aku tidak perduli. Mungkin kau memang bukan manusia, mungkin kau hantu, dedemit atau setan! Seperti yang pernah kukatakan aku ingin keluar dari lembah ini!" sahut si gondrong. Sambil me- neguk tuaknya dia tertawa-tawa. Kini akibat kerasnya tuak yang dia minum membuat tubuhnya terasa lebih enteng, badan terasa lebih hangat kepala agak pusing sedangkan matanya nampak kemerahan.

"Anak setan. Kau bocah sableng. Aku bukan de- demit, yang pasti aku adalah manusia. Ha ha ha!" Si gondrong yang siap menuang tuak ke dalam mulut jadi tunda keinginannya. Dengan mata mendelik dia memandang ke arah darimana suara itu berasal. Dengan mulut setengah terbuka dia bertanya. "Jadi kau manusia sepertiku?"

"Ha ha ha. Aku yang pantas disebut manusia.

Sedangkan kau bukan?"

Si gondrong belalakkan matanya. "Hah... jadi aku

apa?"

"Kau Setan Sableng!" sahut suara itu.

"Aku tidak perduli. Engkau mau mengatakan di-

riku setan atau iblis terserah. Aku mau minum sepua- sku dulu sebelum kutinggalkan tempat ini. Ha... ha... ha!" sahut si pemuda.

Gluk! Gluk!

Si gondrong terus teguk tuaknya sampai tuntas. Begitu tuak dalam kendi besar habis, dengan seenak- nya kendi dibuang ke lantai. Dengan kepala ber- goyang-goyang Setan Sableng angkat tangan kanan, tangan itu lalu ditarik kebelakang lakukan gerakan se- perti mengambil. Satu kendi besar kembali melayang di udara. Kali ini tanpa menyentuh kendi yang men- gambang di atas kepalanya si gondrong Setan Sableng membuka mulut. Tuak dalam kendi mengucur deras, masuk ke dalam mulut Setan Sableng kemudian am- blas ke dalam perut.

"Enak betul minummu hari ini. Akupun jadi ingin ikutan minum sampai mabuk!" kata satu suara.

"Bapak moyang setan yang tak pernah mau un- jukkan diri, bagaimana kau bisa minum? Ujudmu tak pernah terlihat. Apa kau punya mulut? Jika punya mulutmu berada di atas atau di bawah. Ha ha ha!" ka- ta Setan Sableng.

"Minumku lebih hebat darimu, Setan Sableng. Sekarang kau lihat mulutku bisa berada di mana- mana!" sahut suara itu disertai tawa bergelak. Suara tawa lenyap, kemudian Setan Sableng yang berdiri te- gak ditengah ruangan gua merasakan ada angin me- nyambar didepannya, seolah ada orang yang berjalan didepan pemuda itu.

Tak berselang lama sepuluh kendi nampak me- layang, mengapung di udara dengan posisi bertebaran disetiap sudut. Setelah itu serentak sepuluh mulut kendi terjungkir isinya tumpah dan mengucur deras ke arah lantai gua. Setan Sableng terperangah, mata membeliak. Dia yakin semua tuak yang tercurah dari sepuluh mulut kendi pasti akan terbuang percuma. Namun apa yang terjadi kemudian membuat Setan Sableng jadi golang golengkan kepala. Sejengkal lagi cairan tuak menyentuh lantai gua. Tuak tiba-tiba raib disertai suara bercelengukan di sepuluh tempat dima- na sepuluh kendi itu bertebaran di udara.

Gluk! Gluk! Gluk

"Ha ha ha! Enak... enak sekali. Baru hari ini ku- rasakan nikmatnya tuak wangi." kata suara tanpa ujud itu sambil melahap habis curahan tuak yang mengucur dari sepuluh kendi. Setelah kendi kosong, benda-benda itu berlesatan disudut gua berjejer rapi seperti di susun.

"Setan kesasar yang mengaku sebagai guruku, memangnya kau punya mulut ada berapa? Bagaimana kau bisa melahap sepuluh kendi tuak yang mengucur dari tempat yang berlainan?" tanya Setan Sableng yang sempat dibuat tertegun dan tunda minum tuaknya yang mengucur di udara.

"Setan Sableng. Tololnya dirimu karena tidak pernah menganggap aku sebagai gurumu. Hukh    kau

dengar! Mengenai mulutku tak usah kau tanya ada be- rapa. Mungkin mulutku ada tiga, bisa jadi ada sepu- luh" kata suara tak berujud itu disertai tawa pendek. "Sekarang juga aku harus pergi dari tempat ini!"

"Aku sudah coba melakukannya, tapi yang kute- mui cuma jalan buntu!" kata Setan Sableng. Pemuda itu kemudian dongakkan wajahnya ke atas. Kepala di- gelengkan hingga tuak dalam kendi mengucur dan me- lesat ke dalam mulut Setan Sableng.

"Bocah sableng. Tunda keinginanmu untuk me- nikmati tuak itu. Aku mau bicara!" hardik suara tanpa rupa berang.

Setan Sableng tertawa. Dengan sikap acuh dia menjawab. "Sejak tadi aku sudah mendengarmu. Anta- ra mulut dengan telinga tidak punya hubungan lang- sung. Aku bisa mendengar sambil minum tuak, biar suaramu yang sember itu terdengar merdu ditelinga- ku!"

"Baiklah, kalau begitu biar kusumpalkan seluruh tuak ke dalam mulutmu, setelah itu baru aku bicara padamu!" Gema suara tanpa rupa lenyap. Setan Sab- leng berjingkrak kegirangan. Tetapi kegembiraan hati pemuda sableng ini lenyap seketika begitu melihat se- luruh kendi yang bertumpuk di sudut ruangan gua melesat ke arahnya, menyerang dari berbagai penjuru arah. Seakan ada satu tangan yang menggerakkan se- bagian besar isi kendi bertumpahan sebagian masuk ke dalam mulut Setan Sableng sedangkan sebagian be- sar tertumpah membasahi tubuhnya. Terhuyung- huyung disertai tawa bekakakan Setan Sableng acung- kan telunjuknya ke arah lantai dimana tumpahan tuak tergenang dilantai gua.

Set! Set!

Satu keanehan yang sulit dipercaya terjadi. Tum- pahan tuak yang tergenang di atas lantai tersedot ke atas dan masuk ke dalam mulut pemuda itu.

Melihat tingkah pemuda gondrong itu, suara tan- pa rupa tertawa tergelak-gelak. "Tidak salah aku mem- berimu nama Setan Sableng! Apa kau lupa empat kuda kesayanganmu selalu tidur disitu dimalam hari. Mere- ka memang tahu diri dengan tidak membuang hajat disini. Tapi kencingnya siapa berani menjamin! Ha ha ha."

Mulut Setan Sableng berdecak, hidung mengen- dus begitu mendengar ucapan sang guru. Dia lalu me- rasakan diantara bau wangi tuak juga tercium bau pesing. Mendadak Setan Sableng merasa perutnya menjadi mual.

"Hueek... huek...!" Dengan tubuh sempoyongan Setan Sableng mencoba muntahkan arak yang dis- edotnya dari lantai gua. Sampai pemuda ini merasakan tenggorokannya sakit tuak yang diminumnya tidak ju- ga keluar dari perut Setan Sableng.

Si Sableng gelengkan kepala untuk mengusir ra- sa sakit yang terasa mendera otaknya.

"Pusing ya? Ha ha ha. Itu akibatnya jika kau mi- num tuak bercampur kencing kuda!" kata suara tanpa rupa. Bersamaan dengan terdengarnya ucapan itu pu- luhan kendi tuak yang bertaburan di udara kembali melesat dan tersusun rapi di tempatnya semula.

Setan Sableng jatuh terduduk. Dia mengusap pe- rutnya yang besar akibat terlalu banyak minum tuak keras.

"Sekarang perutku kenyang, mataku jadi men- gantuk. Aku ingin tidur lagi!" kata Setan Sableng. Mu- lut si gondrong terbuka lebar, menguap beberapa kali, sedangkan matanya yang merah nampak mulai terpe- jam. 4

Melihat Setan Sableng yang siap tertidur itu, ma- ka suara tanpa rupa bergerak mendekat. Entah apa yang dilakukannya, yang jelas Setan Sableng menjerit sambil tertawa-tawa. Dia merasa seperti ada sepasang tangan yang sangat kokoh menggelitik perutnya.

"Tobaat... walah...!" kata pemuda itu sambil me- ronta-ronta. Setan Sableng baru diam setelah dia me- rasakan sepasang tangan yang menggelitiknya terasa menjauh. "Bapak moyang setan'' damprat Setan Sab- leng sambil menghembuskan nafasnya. "Sekarang ka- takanlah apa yang ingin kau sampaikan.!" kata pemu- da itu.

"Kau dengar! Dulu kau bertanya tentang ayah-

mu?"

Diingatkan tentang ayahnya Setan Sableng ber-

jingkrak kaget. Dia memandang ke arah datangnya su- ara sambil berkata. "Kau benar! Aku memang ingin mencari ayahku. Konon menurutmu untuk bertemu dengan ayahku yang sedang mengalami seribu pende- ritaan itu aku harus bertemu dengan Ki Lurah Wana- baya. Ki Lurah yang harus kutemui itu sekarang bera- da di mana?"

"Pergilah ke selatan Purbalingga. Disana kau akan menjumpai sebuah desa bernama Ajibarang. Lu- rah itu adalah orang satu-satunya yang dapat mem- pertemukan dirimu dengan ayahmu. Karena dia yang di percaya oleh ayahmu untuk menyimpan peta raha- sia perjalanan."

"Peta rahasia perjalanan apa? Kepalaku sekarang sudah pusing, jangan lagi kau tambah dengan segala penjelasan yang membuat aku jadi bingung." ujar Se- tan Sableng. "Aku tidak tahu apakah peta rahasia perjalanan itu hanya berupa peta biasa, atau menyimpan rahasia tertentu. Yang jelas saat ini Adipati Purbolinggo terus mencari peta itu. Dia bahkan mengerahkan tokoh- tokoh silat cabang atas, dia juga menyebar mata-mata untuk mencari di tangan siapa peta itu berada." jelas suara tanpa rupa.

"Aku tidak perduli dengan segala macam peta. Aku ingin bertemu dengan ayahku." tegas Setan Sab- leng. Pemuda ini terdiam sejenak, setelah berfikir Se- tan Sableng melanjutkan ucapannya. "Kau selalu me- manggilku Setan Sableng, apakah ayahku setan sung- guhan dan tidak terlihat sebagaimana halnya dirimu?"

"Ha ha ha. Kalau dirimu Setan Sableng, boleh ja- di ayahmu dedemit sableng juga. Kau carilah sendiri asal usulmu. Kau telah menguasai segala ilmu yang kumiliki. Sekarang pergi, tinggalkan tempat ini sece- patnya."

"Tunggu.... konon menurut katamu aku mempu- nyai saudara? Siapa saudaraku itu, laki-laki atau pe- rempuan?" tanya Setan Sableng.

"Saudaramu mungkin laki-laki, bisa jadi perem- puan. Mana aku tahu? Lebih baik kau tanyakan saja pada dukun yang menolong saudaramu itu saat mela- hirkan." sahut suara tanpa rupa.

Mendapat jawaban seperti itu Setan Sableng langsung meremas rambutnya sendiri. "Kurang ajar. Bagaimana aku bisa mencari dukun itu?" rutuk Setan Sableng kesal bukan main. Dengan muka cemberut dia bertanya, "Guru yang berujud seperti kentut."

"Setan Sableng sialan, berani kau mengatakan aku kentut?" maki suara tanpa rupa berang.

Setan Sableng tertawa. "Karena yang ku-dengar selama ini hanya suaramu saja, sedangkan kau tak mau unjukkan diri apakah aku tidak pantas memang- gilmu kentut? Ha ha ha!"

"Bocah sial! Katakan apa yang hendak kau ta- nyakan?!" Akhirnya suara tanpa rupa memberi kesem- patan pada muridnya.

"Kalau aku boleh tahu, dimana aku harus me- nemui dukun beranak yang menolong kelahiran sau- daraku itu? Siapa pula namanya?"

Kembali terdengar suara tawa mengekeh. "Aku tidak tahu, kau bisa mencarinya sendiri. Jika waktu itu umurnya sudah tujuh puluhan. Berarti jika masih hidup sekarang sudah hampir seratus tahun. Kau bisa keliling kampung untuk mencari tahu. Kalau tidak kau temukan juga kau bisa mencarinya dikuburan. Se- dangkan nama dukun beranak itu aku juga tidak ta- hu!"

Dengan mulut bersungut-sungut Setan Sableng berucap. "Semua keteranganmu itu hanya akan men- jadi kesulitan bagiku!"

"Sejak kau keluar dari tempat ini, hari-hari hi- dupmu memang akan banyak mengalami kesulitan Se- tan Sableng. Ha ha ha!" sahut suara tanpa rupa. Meskipun jengkel. Setan Sableng akhirnya ikutan ter- tawa juga. "Kau tidak dapat menjawab pertanyaanku tidak mengapa. Tapi aku masih punya satu pertanyaan yang lain." ujar Setan Sableng begitu hentikan ta- wanya.

"Apa pertanyaanmu?"

"Jika kau tidak mengetahui nama saudaraku itu, apakah kau dapat menjelaskan ciri-cirinya?"

Suara tanpa rupa terdiam sejenak. Tak lama se- telah itu suaranya kembali terdengar. "Saudaramu mempunyai satu tanda berupa tahi lalat besar di ba- gian bawah ketiaknya."

"Di ketiak?" desis Setan Sableng hampir berteriak karena jengkel. "Ya, dibagian ketiak. Kau bisa memeriksa ketiak setiap orang. Kalau perlu semua laki-laki atau perem- puan yang kau jumpai periksa ketiaknya! Ha ha ha!"

Mulut Setan Sableng ternganga lebar mendengar jawaban suara tanpa rupa. Tapi dia kemudian terse- nyum. "Baiklah akan kuperiksa ketiak setiap orang yang kujumpai. Sekarang aku mohon pamit. Terima kasih atas budi pertolonganmu selama ini. Kuharap ini bukan perjumpaan kita yang terakhir kali. Sebelum pergi aku Setan Sableng memohon ijinmu untuk mem- bawa serta dua puluh kendi tuak!"

"Ha ha ha! Kalau kuda kurusmu mampu mem- bawa seratus kendi tuak, aku tidak pernah melarang. Karena aku tahu Setan Sableng memang doyan tuak. Sekarang kau pergilah keselatan tebing cadas ini. Dis- ana kau pasti akan menemukan satu jalan keluar," ka- ta suara tanpa rupa memberi petunjuk. Setan Sableng tersenyum. Dia kemudian merasakan ada hembusan angin keras bertiup dan bergerak keluar ke mulut gua. Seiring dengan hembusan angin tadi, puluhan kendi yang tersusun disudut gua lenyap. Kini yang tertinggal hanya satu kendi besar. Setan Sableng melongo.

"Setan kentut. Kau mengizinkan aku untuk membawa ratusan kendi tuak. Tapi mengapa yang kau tinggalkan cuma satu?" teriak si pemuda.

Jauh diluar mulut gua, Setan Sableng sayup- sayup mendengar suara tawa bergelak disertai mene- barnya bau tuak harum.

"Apa kau mengira cuma dirimu yang doyan tuak? Aku juga ingin minum sampai mabuk. Satu kendi yang kutinggalkan untukmu sudah lebih dari cukup. Di da- lam kendi besar itu adalah biangnya tuak. Kau minum satu teguk mabukmu sepuluh hari! Ha ha ha!"

"Oalah... kau guru yang baik, kau setan kentut yang bijaksana. Terimakasih atas warisan yang kau tinggalkan ini. Setan Sableng kelak pasti akan terus mengenangnya biarpun cuma dalam mimpi. Ha ha ha!" kata pemuda itu. Masih dengan tertawa Setan Sableng menghampiri kendi besar disudut dinding gua. Kendi itu kemudian diangkat dan dipanggulnya. Sambil me- manggul kendi Setan Sableng tinggalkan gua itu.

Ketika Setan Sableng sampai didepan mulut gua dia melihat empat ekor kuda tungangannya telah ber- diri berjejer disitu. Si pemuda tersenyum melihat ke- hadiran empat binatang kesayangannya ini. Tapi keti- ka si pemuda meletakkan kendi besar disalah satu kantong perbekalan yang tersampir di atas punggung kuda sepasang alisnya berkerut.

"Kepala ke empat kudaku bergoyang tak mau di- am, kedua matanya merah. Lidah terjulur, jangan- jangan...?" Si gondrong tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah dekatkan hidungnya ke mulut kuda. Si pe- muda bersin dua kali begitu tercium olehnya bau tuak dari mulut kuda. Komat-kamit dengan mata mendelik Setan Sableng mendamprat. "Dasar setan... mengapa kudaku diberi minum tuak, mengapa harus dibuat mabuk?" teriak si pemuda uring-uringan. Empat kuda meringkik, kepala bergoyang, mata dikedip-kedipkan. Agaknya kuda itu hendak mengatakan 'mabuk itu ter- nyata enak'. Tapi tingkah ke empat kuda ini membuat Setan Sableng jadi tambah jengkel. "Kuda tolol. Mung- kin kalau diberi racun kalian minum juga. Dasar bina- tang!"

Seakan mengerti majikannya marah binatang itu hanya diam saja. Kepala tertunduk, kaki diketukkan di atas tanah. Setan Sableng dengan langkah terhuyung lalu melompat di atas punggung kuda. Begitu berada di atas empat kuda yang berdiri dengan posisi saling merapat Setan Sableng rebahkan tubuhnya. Terompet besar yang sejak berada dalam gua tadi disampirkan dibagian punggung kini talinya dilepas. Terompet itu lalu didekatkan ke mulut. Setelah itu mulutnya me- niup.

"Tret.... tet... tel...! Kuda kurus kuda berguna.

Perjalanan dimulai!" kata Setan Sableng.

Empat kuda berlari kencang, terkadang kuda- kuda itu terhuyung ke kiri atau oleng ke kanan. Tidak jarang kuda nyaris tersungkur. Setan Sableng tertawa mengekeh.

"Semula aku mengira terjadi gempa hebat di Lembah Cadas Setan ini. Kurasakan jalan kuda oleng, kepalaku pusing. Tapi ternyata akibat ulah setan angin kudaku jadi ikutan mabuk. Kuda yang ditunggangi mabuk, orang yang menunggangi Setan Sableng yang sedang mabuk. Ha ha ha... semakin asyiik mabukku!"

Tret...titet...titet....!" suara terompet kembali ter- dengar.

Empat kuda mabuk lenyap dari pandangan mata, berlari cepat menuju ke sebelah selatan lembah den- gan membawa majikannya yang sedang mabuk.

5

Laki-laki berpakaian dan berbelangkon warna cokelat itu masih berlutut didepan anak tangga perta- ma tak jauh dari sebuah gedung tua yang terletak di kaki gunung Slamet. Dia terus dalam keadaan seperti itu, tidak berani bergerak apalagi bersuara. Sekujur tubuhnya menggigil, pakaian basah bersimbah kerin- gat. Masih dengan wajah tertunduk orang tua berusia lima puluh tahun itu melirik ke arah kudanya yang tergeletak tak jauh disebelah kanan. Kuda berbulu co- kelat yang menjadi tunggangannya selama ini terkapar dengan tubuh tercabik-cabik seperti di cacah.

Sementara itu tak jauh dibelakangnya lima bocah buas yang terdidik seperti serigala nampak mengepung laki-laki berpakaian bangsawan ini dengan sikap men- gancam. Sadar kelima bocah serigala itulah yang telah membunuh dan merobek-robek kudanya maka si orangtua tak berniat bersikap gegabah.

"Wisang Banto Oleng.... kau biarkan diriku mati ketakutan disini" Atau kau hendak memberikan aku pada lima bocah serigala itu? Selamanya aku tidak pernah melanggar janji, setiap budi pertolongan yang kau berikan padaku pasti aku membalasnya dengan imbalan jasa yang dapat menyenangkan dirimu lahir batin?! Sekarang mengapa kau membiarkan para bo- cah asuhanmu membunuh kuda kesayanganku. Wi- sang Banto Oleng, apakah kau ingin membuat kejutan. Atau semua apa yang kulihat tadi merupakan ujud da- ri kemurkaanmu?!" dalam takutnya laki-laki bangsa- wan itu berkata dalam hati. Orangtua ini lalu memu- tuskan untuk mendaki sepuluh anak tangga menuju bangunan tua. Baru saja dia bangkit berdiri, sepuluh bocah serigala dongak-kan kepala, mulut menyeringai memperlihatkan taringnya yang panjang berlumur da- rah kuda. Kemudian terdengar suara lolong panjang yang tidak ubahnya seperti suara lolong serigala. Sua- ra lolongan lima bocah serigala lenyap, lalu sayup- sayup dikejauhan sana disepanjang lereng gunung Se- lamet terdengar suara lolongan lain menyahuti.

Orang berbelangkon cokelat urungkan niat. Ke- dua lututnya bergetar. Tengkuk sudah tidak terasa tengkuk lagi, tapi berubah dingin laksana batangan es. Dalam takutnya laki-laki bangsawan itu akhirnya memberanikan diri berteriak. "Orang tua sesepuh

puncak dan kaki gunung Selamet. Aku Suryo Lagala- pang datang menyambangi dengan membawa kabar serta maksud baik. Kesediaanmu menjumpai aku ku- anggap sebagai satu kebaikan. Setiap kebaikan yang kau berikan kubalas dengan imbalan yang pantas! Wi- sang Banto Oleng harap sudi kiranya kau menjumpai aku!" kata orang ini dengan suara bergetar. Melihat ca- ra bangsawan ini bicara dan menyebut nama orang. Jelas sekali kalau dia sangat menghormati orang yang hendak ditemuinya.

Lima bocah serigala yang hendak keluarkan sua- ra lolong dan siap menerkam laki-laki itu batalkan niat begitu mendengar orang menyebut nama Wisang Banto Oleng. Mereka kembali mendekam, bagaikan kawanan serigala yang siap menerkam mangsanya.

Tidak begitu lama menunggu kesunyian di kaki gunung kemudian dipecahkan dengan terdengarnya suara tawa bergelak. Suryo Lagalapang menjura ke arah terdengarnya suara tawa sampai keningnya me- nyentuh anak tangga pertama. Perasaan orang tua itu menjadi lega, karena orang yang hendak ditemuinya berkenan menunjukkan diri.

"Orang tua terimalah hormatku!" kata Suryo La- galapang dengan sikap menjilat namun dalam hati dia memaki. "Tua bangka keparat! Seharusnya kau yang menyembah padaku, bukan sebaliknya. Biarlah untuk sementara ini tidak mengapa, aku yang berlaku seperti seorang pengemis sampai tiba pada waktunya kau yang mengemis dihadapanku!"

Dari dalam gedung tua suara tawa mendadak le- nyap. Kemudian terdengar suara langkah kaki bera- laskan trompah. Orang tua berpakaian bangsawan dongakkan kepala memandang pada anak tangga ke- sepuluh. Di atas puncak anak tangga yang berhubun- gan langsung dengan lantai gedung itu kini berdiri te- gak seorang laki-laki berbadan kurus berambut putih sulah dibagian depan. Kakek bercelana hitam dekil ini bertelanjang dada, tulang rusuk bergonjolan pipi ce- kung, pelipis menonjol. Dua rongga matanya begitu le- bar, kumis menutup bibir. Selain itu dua tangan hanya berupa kulit pembalut tulang. Sepuluh jari tangannya ditumbuhi kuku panjang berwarna hitam. Dari pe- nampilan orang tua ini saja terlihat dia pasti adalah orang yang memiliki tingkat kesaktian tak dapat didu- ga dan yang lebih pasti lagi, sepuluh kuku hitam itu merupakan senjata andalan mengandung racun jahat.

Dengan matanya yang cekung si kakek pandangi Suryo Lagalapang. Laki-laki berpakaian bangsawan itu kini berdiri tegak dengan wajah tertunduk. Kakek ber- mata cekung setelah merayapi sekujur tubuh orang yang berdiri di anak tangga pertama dengan lirikan aneh kini beralih pada lima bocah serigala yang selama ini didiknya dengan cara-cara binatang buas dan ga- nas. Pada kelima bocah berusia sekitar delapan tahun ini berseru. "Anak-anakku. Kalian terlalu nakal. Men- gapa kuda tetamu kita harus dibunuh? Akh, tak ku- sangka. Sekarang sebaiknya kalian pergi bermain. Bi- arkan tetamu kita berbincang denganku mengutara- kan segala hajatnya!" kata si kakek disertai gelengan kepala.

Lima bocah serigala yang hanya mengenakan pe- nutup aurat ala kadarnya sama dongakkan kepala. Mulut menyeringai lalu mengeluarkan suara lolongan panjang. Setelah itu tidak ubahnya seperti anak-anak serigala dengan gesit kelima bocah ini berkelebat diba- lik semak belukar, kemudian lenyap dari pandangan mata. Suryo Lagalapang menarik nafas lega. Kini dia memandang kebagian undakan anak tangga paling atas. Si kakek yang berdiri disana anggukan kepala sambil memberi isyarat agar sang tamu datang meng- hampirinya. Orang tua itu sendiri kemudian balikkan badan, tanpa menunggu Suryo Lagalapang sampai di atas undakan anak tangga paling atas si kakek berce- lana hitam butut melangkah masuk ke dalam gedung yang menjadi tempat tinggalnya selama puluhan ta- hun.

Ketika laki-laki berpakaian bangsawan sampai disalah satu ruangan, Wisang Banto Oleng telah du- duk dilantai ruangan yang hanya beralaskan tikar bu- tut. Dengan kaki bersila dan dua mata dipejamkan si kakek berwajah seram membuka mulut. "Adipati Suryo Lagalapang, aku hanya bisa menyambutmu dengan keadaan sebagaimana yang kau lihat. Kau boleh du- duk dimana kau suka."

Suryo Lagalapang yang ternyata adalah seorang adipati itu memandang ke lantai ruangan yang becek licin diwarnai noda darah. Tikar satu-satunya yang ada di ruangan itu adalah tikar butut yang diduduki oleh Wisang Banto Oleng. Duduk bersama di atas tikar yang kecil itu jelas tidak mungkin karena pemilik ru- mah yang memiliki sifat sulit ditebak ini bisa saja be- ranggapan Suryo Lagalapang berlaku kurang sopan.

"Suryo Lagalapang, kau bukan manusia tuli. Tapi mengapa tidak mendengar apa yang aku perintahkan!" suara dingin si kakek menggema didalam ruangan membuat sang tamu cepat jatuhkan diri dengan duduk dilantai. Orang tua didepan sang adipati lanjutkan ucapan seolah memberi penjelasan. "Anak-anakku memang kelewat bandel. Semalam mereka berpesta pora dengan menyantap mangsanya disini. Tapi kau tidak perlu risau dengan keadaan ini. Anggap saja saat ini kau sedang berada di sorga. Ha ha ha!" Wisang Banto Oleng umbar tawanya. Didepan sana Suryo La- galapang perasaannya jadi tidak enak. Dia tahu yang dimaksud mangsa oleh si kakek pastilah manusia yang menjadi korban kebuasan lima bocah serigala yang te- lah membunuh kudanya tadi. Seakan mengerti dengan apa yang dirasakan oleh tamunya si kakek berkata. "Jangan kau hiraukan segala keanehan yang terjadi disini. Kau datang jauh dari Purbolinggo sana tentu bukan untuk mengurusi atau mencari tahu tentang segala rahasia pribadiku bukan?"

Dengan gugup Suryo Lagalapang menyahut. "Engkau benar orang tua. Aku datang berkunjung ke- tempatmu ini karena ada satu urusan penting!"

Perlahan sepasang mata yang terpejam itu mem- buka. Dia memandang tajam pada tamunya. Sejenak pandangan mereka bertemu, Suryo Lagalapang Adipati Purbolinggo cepat alihkan perhatiannya ke lain tempat merasa tak kuat menatap mata bengis penuh seribu kekejian didepannya.

"Seperti katamu, setiap kebaikan harus ada im- balan. Sekarang ini imbalan apa yang hendak kau be- rikan? Apakah nyawamu? Ha ha ha!"

Ucapan si kakek membuat sang tamu menjadi gugup, wajahnya basah oleh keringat dingin. Dengan tangan gemetar dia meraih sesuatu dibalik pakaian ci- kelatnya. Satu kantong cokelat dikeluarkan, pengikat kantong dibuka, isi dituang. Terdengar suara geme- rincing. Isi kantong ternyata terdiri dari emas dan permata. Si kakek angker gelengkan kepala, dari hi- dungnya terdengar suara mendengus. Suryo Lagala- pang merasa serba salah.

"Suryo... hadiah itu mungkin menarik bagi orang lain, tapi tidak bagiku. Aku inginkan suatu bentuk pemberian yang lain, beda dari yang sudah-sudah. Ka- lau kau sanggup, pertolongan pasti akan kuberikan! Jika tidak dapat memenuhi keinginanku, berarti sura- tan hidupmu berakhir di hari ini. Anak-anakku akan membunuhmu, begitu malam tiba para sahabat yang berkeliaran di sekitar kaki gunung ini akan mencabik tubuhmu sampai ujud kasarmu hanya tinggal tulang belulang. Ha ha ha!" kata Wisang Banto Oleng disertai gelak tawa.

Seumur hidup, Suryo Lagalapang adalah manu- sia pemberani yang tak pernah mengenal rasa takut. Kelicikan serta kekejamannya sungguh luar biasa. Se- kali dia menginginkan sesuatu, apa yang dia mau ha- rus tercapai tak perduli dengan cara apapun. Walau harus mengorbankan hartanya maupun nyawa orang lain. Tapi sekarang, berada dihadapan momok nomor satu gunung Selamet ini dia merasa tidak berkutik. Dan untuk pertama kali dalam hidup Suryo Lagala- pang merasakan takut yang amat sangat.

6

Dalam keadaan dicekam rasa takut begitu rupa untuk beberapa saat lamanya Suryo Lagalapang tak mampu bicara apapun. Di depannya Wisang Banto Oleng tertawa bergelak. Setelah meraup emas dan permata yang bertumpuk di atas lantai, sambil mema- sukkan benda-benda berharga itu si kakek angker berkata. "Suryo Lagalapang, hadiah pemberianmu ini kuterima. Tapi aku masih inginkan satu hadiah yang lain." ujar orangtua itu dengan senyum bermain dibi- birnya.

Dengan cepat Suryo Lagalapang bertanya. "Orang tua apapun yang kau minta asalkan tidak nyawaku pasti akan kupenuhi. Kau hanya tinggal mengatakan apa yang kau inginkan?"

Wisang Bantu Oleng kembali sunggingkan se- nyum penuh arti. Dia mengelus-elus jenggotnya, se- dangkan sepasang mata menerawang. "Kau tentu ingat dengan lima bocah serigala tadi." ujar si kakek. Suryo Lagalapang anggukkan kepala. "Kelima bocah itu dari kecil hingga besar berada dalam asuhanku. Kenakalan mereka membuat aku senang. Tapi semakin anak- anak itu bertambah besar, aku jadi repot. Aku ingin kau mencarikan seorang gadis untuk kujadikan istri!" kata si kakek dengan muka memerah karena merasa malu.

Suryo Lagalapang tersenyum sekaligus merasa lega. Semula dia menduga kakek sakti itu meminta se- suatu yang sulit untuk dipenuhi. Tidak tahunya dia hanya inginkan seorang istri. Jika itu yang diminta, jangankan cuma satu, sepuluh gadis cantik pun adipa- ti sanggup menyediakannya. Dengan perasaan senang Suryo Lagalapang bicara apa andanya. "Orang tua ku- kira permintaanmu itu dapat kupenuhi. Aku akan membawakan untukmu gadis yang paling cantik seka- dipanten. Ha ha ha!"

Wisang Banto Oleng gelengkan kepala tegas. "Ti- dak! Bukan begitu, Suryo. Aku telah menentukan ga- dis mana yang harus kau bawa kemari."

"A... apa maksudmu orang tua?" tanya laki-laki itu penuh rasa tak mengerti.

"Ha ha ha. Kau tentu pernah mendengar gadis bernama Mutiara Pelangi bergelar Puteri Kupu Kupu Putih? Gadis itulah yang kuinginkan menjadi istriku.!" kata si kakek.

Mendengar penjelasan orang tua itu, Suryo Laga- lapang tercengang, dia berjingkrak kaget dan surut sa- tu tindak ke belakang.

Apa yang diinginkan oleh kakek itu sungguh tak pernah diduganya sama sekali. Bagaimana dia kenal dengan gadis yang dimaksudkan si kakek. Nama gadis itu beberapa tahun yang lalu sempat menggetarkan dunia persilatan. Selain cantik, ilmu serta kesaktian yang dimilikinya memang sangat tinggi. Tapi bukan itu yang di khawatirkan oleh Suryo Lagalapang. Bagaima- napun gadis yang diinginkan oleh si kakek masih me- rupakan keponakan Karma Sudira, bekas Senopati ke- rajaan sekaligus adipati Purbolinggo yang kini mering- kuk didalam penjara Ladang Wadas Cimangu.

Padahal maksud kedatangannya saat itu karena ada hubungannya dengan paman gadis itu. "Jika per- mintaannya tidak kukabulkan, dia pasti tidak mau membantuku. Sebaliknya jika gadis itu kutangkap dan kuserahkan padanya, cepat atau lambat Mutiara Pe- langi pasti tahu aku yang telah menggulingkan kekua- saan pamannya dan menjebloskan orang tua itu ke da- lam penjara?" fikir Suryo Lagalapang.

"Waktu bagimu untuk berfikir telah habis, Suryo. Sekarang kau hanya tinggal mengatakan sanggup me- menuhi permintaanku atau tidak?" suara Wisangka Banto Oleng mengejutkan adipati. Dengan gugup dia menjawab, "Permintaanmu pasti kupenuhi!"

Si kakek tertawa puas mendengar jawaban ta- munya. Sambil memperhatikan orang didepannya si kakek lalu ajukan pertanyaan. "Sekarang kau hanya tinggal mengatakan pertolongan apa yang kau minta dariku?"

Dengan bersemangat Suryo menjawab. "Pertama aku ingin engkau mencari dua putra Karma Sudira yang sampai saat ini tidak terdengar kabar beritanya."

Si kakek angkat tangannya. "Tunggu... kalau tak salah aku mengingat bukankah yang bernama Karma Sudira itu adalah Adipati lama yang kau gulingkan se- cara pengecut dan kini mendekam dipenjara terasing selama lebih dari delapan belas tahun?"

Wajah Suryo Lagalapang berubah merah padam mendengar ucapan si kakek. Dirinya merasa ditelan- jangi. Untung tidak ada orang lain di tempat itu. Tapi kemudian dia menganggukkan kepala. "Apa yang kau katakan benar orang tua."

"Hemm, jadi kau sendiri tidak tahu dimana bera- danya kedua anak Karma Sudira?" tanya si kakek. Yang ditanya gelengkan kepala.

"Aku Tidak tahu. Yang aku khawatirkan kedua anak Karma Sudira masih hidup. Satu-satunya orang yang mengetahui tentang rahasia kedua bocah itu ada- lah Ki Lurah Wanabaya. Konon dia juga dipercaya me- nyimpan peta penunjuk jalan menuju ke suatu tempat dimana anak itu dititipkan. Celakanya Karma Sudira kedua anaknya itu masing-masing dititipkan di tempat yang berlainan. Semua ini menyulitkan pelacakan." ka- ta adipati.

"Jika peta petunjuk tentang keberadaan kedua anak itu ada, apa susahnya? Lagipula kedua bocah itu sekarang sudah dewasa! Kau menginginkan mereka kubunuh?"

"Benar."

"Kalau begitu katakan namanya?" ujar Wisang Banto Oleng.

"Yang paling besar dulu bernama Rumbapati, se- dangkan yang kedua aku tidak tahu. Pada saat itu dia masih berupa bayi merah." Menerangkan Suryo Laga- lapang.

Wisang Banto Oleng terdiam, tapi mulutnya ter- senyum. Tak berapa lama kemudian dia berkata. "Kau tak usah takut. Pertama yang akan kulakukan adalah mencari Ki Lurah. Jika Ki Lurah tidak kutemukan, aku punya cara lain untuk menyelesaikan kedua bocah itu. Tapi ingat, kau tidak boleh gagal membawa gadis itu kehadapanku. Jika itu sampai terjadi, aku bukan saja tidak mengabulkan permintaanmu ini. Tapi juga aku akan meminta tangan dan kakimu sebagai penebus kesalahanmu!"

"Baiklah orang tua. Aku akan berusaha agar ti- dak membuatmu kecewa. Sekarang kata sepakat su- dah kita dapat. Aku mohon pamit...!" kata Suryo Laga- lapang.

Si kakek menangapinya dengan tawa panjang melengking. sekejap kemudian suara tawanya terhenti. Lalu dia berkata. "Pergilah, kau harus kembali dalam waktu satu pekan. Bawa calon istriku ke sini. Jika kau gagal, kau cukup menyuruh orang-orangmu untuk mengantar potongan tangan serta kakimu, mengerti?"

Suryo Lagalapang anggukkan kepala. "Aku men- gerti." jawabnya. Dia lalu bangkit berdiri. Setelah men- jura hormat ke arah kakek angker itu Suryo Lagala- pang balikkan badan dan langsung tinggalkan ruangan pertemuan yang menebarkan bau amis darah tersebut. 

***

Matahari baru saja tersembul di ufuk sebelah. Suara kicauan burung menambah semaraknya kehi- dupan dipagi itu. Di satu tanah pendataran dari balik batu besar satu kepala muncul, ujudnya masih belum terlihat jelas karena daerah gersang yang dikenal den- gan nama Ladang Cadas Cimangu itu diselimuti kabut memutih laksana hamparan kapas.

Tak berselang lama terdengar suara siulan pen- dek, lalu terdengar pula suara nyanyian. Perlahan dari balik batu muncul sosok seorang pemuda berambut gondrong, berwajah tampan. Cengar-cengir sambil ber- siul dia melompat di atas batu, lalu duduk disana se- dangkan matanya memandang ke arah bangunan pan- jang berdinding batu tak jauh didepannya. Si gondrong bertelanjang dada yang dilehernya melingkar sebuah kalung bermata batu putih buram ini tidak dapat me- mastikan apakah bangunan panjang itu merupakan rumah tinggal penduduk atau sejenis gudang, karena pemandangannya sesekali terhalang kabut yang terus bergerak di tiup angin.

"Di daerah segersang ini, mana mungkin ada orang yang dapat bertahan hidup disini. Selain bangu- nan panjang, tidak kulihat ada rumah penduduk. Lalu siapa yang tinggal di gedung panjang itu?" kata si gon- drong seorang diri.

Karena dia memang tidak melihat ada orang dis- ekitar gedung panjang didepan sana. Maka dengan santainya si gondrong lanjutkan siulannya. Kedua kaki kini dijulurkan, sedangkan dua tangan diletakkan di atas batu. Siulan si gondrong yang bukan lain adalah Pendekar Sakti 71 Gento Guyon adanya mendadak le- nyap begitu dia mendengar derap suara langkah kuda dikejauhan sana. Semakin lama suara kuda semakin bertambah jelas. Gento cepat memandang ke arah sua- ra itu berasal. Tak berapa lama murid kakek gendut Gentong Ketawa ini menunggu, terlihat seekor kuda berbulu putih berlari cepat mendekati bangunan pan- jang. Di atas kuda itu duduk seorang kakek tua berpa- kaian serba putih. Melihat penampilan serta dandanan kakek itu Gento dapat menduga pastilah orang yang datang dengan menunggang kuda bukan orang biasa. Boleh jadi seorang pejabat kerajaan, atau mungkin ju- ga seorang lurah atau demang.

"Orang tua itu apakah dia pemilik gedung itu? Melihat wajahnya aku yakin dia baru saja habis mela- kukan perjalanan yang cukup jauh." Fikir Gento. Ma- sih tetap duduk di tempatnya Gento terus memperha- tikan si penunggang kuda. Tak berselang lama kakek di atas punggung kuda melompat turun. Dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah gedung panjang beratap genteng. Tapi entah mengapa tiba-tiba si ka- kek hentikan langkahnya, dia keluarkan seruan tidak jelas. Gento yang berada di atas batu menjadi heran. Dia bangkit berdiri mencoba melihat apa yang terjadi. Karena tidak jelas secara diam-diam Gento bergerak mendekat dengan mengendap-endap. Di satu tempat dibawah sebatang pohon kering Gento berhenti, diam disitu sambil mengawasi ke depan. Pemuda ini jadi terkejut ketika melihat tiga sosok tubuh tergeletak di- depan pintu dengan dada dan perut ditembus tombak.

"Aneh. Siapa mereka? Melihat pakaiannya, mere- ka seperti penjaga di kadipaten. Hemm, sekarang aku mengerti. Bangunan itu pastilah sebuah penjara. Tapi mengapa letaknya terpencil begini? Siapa rupanya yang dikurung dalam penjara itu?" fikir Gento. Dia memutar otak mencari jawaban sendiri. Tapi otaknya buntu. Tak ada yang dapat dilakukannya terkecuali kembali memandang ke depan dimana kakek tua tadi kini nampak sibuk memeriksa mayat ketiga penjaga tadi.

"Aneh, siapa yang telah membunuh pengawal be- gundal adipati ini?" kata si kakek yang bukan lain ada- lah Ki Lurah Wanabaya. Dengan sikap waspada orang tua itu kemudian mendekati pintu. Pintu didorong dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan menghu- nus keris Kelabang Geni. Ketika pintu terbuka, dibalik pintu dia melihat dua sosok pengawal berseragam juga dalam keadaan terkapar tanpa nyawa. Si kakek surut satu langkah. Keadaan mayat pengawal ini sungguh mengerikan. Bagian wajah seperti dicacah, dada robek, perut terkoyak, sedangkan isi perut berbusaian keluar. "Tidak mungkin! Bagaimana semua ini bisa terja-

di?" desis Ki Lurah tegang.

Selagi fikiran orang tua itu diliputi kekhawatiran terhadap nasib orang yang hendak ditemuinya, pada waktu bersamaan kesunyian dipecahkan oleh terden- garnya suara tawa seseorang. Kemudian atap bangu- nan penjara jebol. Satu sosok tubuh berkelebat dan melesat turun ke arah Ki Lurah. Dilain waktu seorang pemuda berpakaian biru masih dengan tertawa-tawa telah berdiri tegak di depan Ki Lurah. Orang tua itu berjingkrak kaget, seperti melihat setan matanya men- delik besar. Bibir Ki Lurah bergetar ketika berseru. "Kau...?!" Sosok pemuda berpakaian biru bersikap acuh, dia terus saja tertawa.

Di balik batang pohon kering Pendekar Sakti 71 kerutkan keningnya. Dia sama sekali tidak mengenal baik si kakek tua maupun pemuda berbaju biru itu, tapi melihat bagaimana wajah si kakek berubah meli- hat kemunculan pemuda baju biru, Gento merasa ya- kin sebelumnya mereka pernah bertemu dan yang le- bih pasti lagi kakek berpakaian putih itu jerih terhadap si baju biru.

"Apa yang terjadi diantara mereka. Kulihat si baju biru itu sepertinya bukan pemuda baik-baik. Mungkin dia yang telah membunuh para pengawal yang menja- ga penjara itu. Akan kulihat apa yang hendak dilaku- kannya pada kakek baju putih. Masih sepagi ini, nada- nadanya akan terjadi keributan. Aku belum lagi sem- pat mandi, anggap saja apa yang kulihat dipagi ini se- bagai cuci mata.

7

Di depan pintu yang terbuka, si baju biru henti- kan tawanya. Sesungging senyum bermain dimulut, sedangkan tatap mata memandang tajam pada orang tua didepannya. Masih dengan tersenyum pula dia berkata. "Kau tentu tidak menyangka kita bertemu kembali, bukankah begitu? Dan kau tak pernah men- duga aku lebih awal darimu."

"Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku?" tanya Ki Lurah Wanabaya. Si baju biru dongakkan ke- pala, lalu tertawa tergelak-gelak. "Rupanya kau lupa, jika kuselamatkan jiwamu dari tangan Ronggo Medi dan anak buahnya itu berarti kau harus memberikan balasan padaku berikut bunganya. Aku ingin meminta imbalan berikut bunganya sekarang!" kata si pemuda tegas. Ki Lurah Wanabaya tercengang.

"Aku tidak punya barang berharga yang pantas kuberikan padamu." jawab Ki Lurah.

Si baju biru kembali tertawa bergelak. Dia melirik ke bagian perut Ki Lurah. Si kakek gelisah, dia menya- dari peta penunjuk jalan rahasia itu tersimpan dibalik pakaian depannya.

"Ki Lurah, kudengar adipati Purbolinggo saat ini mengerahkan seluruh orang pandai, diantaranya bebe- rapa tokoh sesat cabang atas. Sesuatu yang kau bawa saat ini konon sangat dibutuhkannya guna mencari tahu dimana gerangan beradanya keturunan Karma Sudira. Untuk menemukan mereka tidak mudah, dibu- tuhkan penunjuk jalan rahasia yang tersimpan dalam peta. Aku masih muda, aku inginkan kedudukan, ja- batan tinggi juga kemewahan. Jika aku bisa melaku- kan jasa besar pada adipati, ada kemungkinan aku bi- sa mendapatkan yang kuinginkan, kedudukan juga ja- batan yang aku mau. Nah, semua kunci keberhasilan itu ada ditanganmu. Tidak perlu kujelaskan kau tentu mengerti apa yang kuinginkan! Kau hanya tinggal me- nyerahkan peta penunjuk jalan rahasia yang kau ba- wa, kepadaku. Setelah itu kujamin kebebasanmu. Ha ha ha!"

Mendengar ucapan si baju biru, wajah Ki Lurah nampak pucat pasi. Permintaan si pemuda baginya merupakan sesuatu yang tak mungkin dapat dilu- luskan.

"Anak muda, bukan aku golongan manusia tidak tahu diri dan tak tahu membalas budi kebaikan orang. Untuk semua pertolongan aku mengucapkan banyak terima kasih. Tapi terus terang aku tak dapat meme- nuhi permintaanmu. Apalagi setelah mendengar kau menyatakan diri dan mengaku ingin menjilat pada adi- pati Suryo Lagalapang, manusia keji terkutuk yang te- lah membuat orang paling jujur di kadipaten Purbo- linggo terpisah dari keluarganya bahkan harus mende- rita seumur hidup mendekam dipenjara. Jika kau te- tap memaksakan kehendakmu, kau sama saja laknat- nya dengan adipati itu!" dengus Ki Lurah sinis.

Si baju biru menyeringai, dia sama sekali tidak merasa tersinggung mendengar kata-kata pedas yang diucapkan si kakek. Dengan tatapan dingin dan penuh ketenangan pula si pemuda berkata. "Ki Lurah, segala keinginanku tidak mungkin terkabul hanya dengan ucapan terima kasih darimu. Aku inginkan suatu ke- dudukan dan kehidupan mewah. Aku tidak perduli siapapun adanya adipati itu.!" tegasnya. Si kakek ter- diam, namun makin meningkatkan kewaspadaannya. Si baju biru melanjutkan ucapannya. "Ki Lurah, lebih baik kau serahkan peta itu padaku. Kau harus per- caya, kerismu tidak akan banyak berguna untuk membela dirimu.!"

"Aku datang kemari untuk menemui seseorang!" kata Ki Lurah. "Peta ini hanya dia yang berhak mene- rimanya!"

Si baju biru tersenyum sinis. Tanpa bicara tu- buhnya berkelebat di arah pintu, lenyap sebentar ke- mudian muncul kembali sambil memanggul seorang laki-laki tua berpakaian cokelat. Orang tua yang seku- jur tubuhnya dalam keadaan terluka ini dibantingkan di atas tanah. Ki Lurah begitu mengenali orang yang dibawa si baju biru jadi terkejut.

"Karma Sudira...!" berseru si kakek. Orang tua ini bergegas hendak menghampiri sosok yang terbaring menelentang itu, tapi gerakannya dihalangi oleh si ba- ju biru.

"Orang tua ini tawananku, Ki Lurah. Dia akan kubawa menemui adipati sekaligus membawa peta ra- hasia yang menerangkan keberadaan keturunan bekas adipati ini. Ha ha ha!"

Megap-megap Karma Sudira berseru. "Ki Lurah, jangan hiraukan diriku. Kau larilah, pergi yang jauh. Pemuda edan ini tak perlu dilayani.!"

Si baju biru mendengus geram, kakinya diayun- kan ke bagian perut orang yang baru dikeluarkannya dari penjara. Buuuk!

"Arkh...!" Karma Sudira yang kena ditendang ter- pental sambil menjerit. Melihat penderitaan yang di- alami orang yang sangat dihormatinya hati Ki Lurah berontak, dia menjadi sangat marah sekali. Sambil ber- teriak keras dia melompat ke depan. Lalu keris ditan- gan ditusukkannya ke bagian lambung lawannya.

Si baju biru menyeringai, dari sambaran keris yang menebar hawa panas dia maklum senjata ditan- gan Ki Lurah tentu bukan senjata sembarangan. Kare- na itu sejengkal lagi keris Kelabang Geni amblas ke bagian lambungnya si baju biru berkelit ke samping. Keris ditangan Ki Lurah mengenai tempat kosong. Si kakek cepat berbalik, keris ditangan mengambil sasa- ran dibagian leher si pemuda. Sambaran angin berha- wa panas kembali menderu, tapi si pemuda tundukkan tubuhnya, tangan kiri menyambar ke bagian lengan lawan sedangkan tangan kanan meluncur deras ke ba- gian jemari si kakek, dilain saat tangan orang tua itu kena dicekal lawannya. Si baju biru membuat gerakan berputar sambil menggerakkan dua tangannya satu ke atas dan satunya ke bawah. Kraak!

Terdengar suara tulang lengan yang patah, Ki Lu- rah Wanabaya menjerit keras. Keris dalam gengga- mannya terlepas dari tangan. Selagi senjata itu melun- cur ke bawah si baju biru menangkapnya. Lalu dengan keris itu pula dia menikam dada si kakek. Segalanya berlangsung dengan cepat sekali bahkan tak sampai sekedipan mata. Begitu sosok Ki Lurah terhempas ke tanah, maka ditangan si baju biru kini tergenggam gu- lungan kulit harimau yang diikat pita kuning.

Karma Sudira yang melihat kejadian ini menjerit kaget. Hampir bersamaan dengan suara jeritannya, sa- tu sosok tubuh berkelebat dengan kecepatan laksana kilat. Sosok itu langsung menyambar gulungan kulit harimau yang ada ditangan si baju biru. Tapi pemuda itu dengan cepat melompat ke samping sambil meng- hantam ke depan menahan gerak orang.

Plaak!

Benturan keras membuat si baju biru jatuh ter- duduk. Didepannya sana si gondrong yang gagal me- rampas peta jejakkan kakinya di atas tanah dengan tubuh terhuyung. Walaupun terkejut, si baju biru ce- pat berdiri. Dia tercengang begitu melihat seorang pe- muda bertelanjang dada berdiri tegak didepanya. Pe- muda itu tersenyum sinis, si baju biru jadi heran ka- rena tak menyangka orang yang hendak merampas pe- ta ternyata memiliki tenaga dalam berada di atasnya. Bersikap seperti orang kurang waras, si gondrong yang bukan lain adalah Gento Guyon memperhatikan Ki Lu- rah. Setelah itu perhatiannya beralih pada orang tua yang bernama Karma Sudira. Dia sadar sepenuhnya nyawa Ki Lurah tak mungkin bisa diselamatkan. Da- lam kesempatan itu Karma Sudira telah merayap men- dekati Ki Lurah. Begitu sampai kehadapan Ki Lurah Wanabaya, orang tua ini teteskan air mata begitu me- lihat keadaan si kakek yang sangat menyedihkan. "Ki Lurah, maafkan aku. Kau telah banyak membantuku, sejak dulu sampai sekarang. Pengabdianmu patut ku- hargai, sayang disaat dirimu berada dalam bahaya aku sama sekali tak dapat membantumu!" sesal Karma Su- dira bekas adipati yang terguling disertai isak tangis.

"Karma Sudira... aku... akh...!" kakek itu tak da- pat melanjutkan ucapannya. Kepala Ki Lurah terkulai sedangkan matanya terpejam.

"Ki Lurah...!" seru Karma Sudira sambil memelu- ki jasad sahabatnya sekaligus bekas bawahannya.

Si baju biru tersenyum sinis melihat kematian Ki Lurah yang tewas tertikam kerisnya sendiri. "Manusia tolol, diberi hidup malah minta mati!" dengus si baju biru ketus.

"Hemm, hebat. Kau bunuh dia sesuka hatimu hanya untuk mendapatkan jabatan rendah? Aku jadi heran kau ini manusia atau binatang melata? kurasa dibilang binatang kaupun tak pantas. Kalau binatang tidak mungkin tega membunuh kaum sejenisnya sen- diri. Jadi kau setan! Setan gila jabatan gila kedudu- kan.!" kata Gento dengan suara dingin disertai seringai mengejek. Terkejut si baju biru langsung palingkan kepala dan memandang ke arah Gento.

Memperhatikan pemuda yang bertingkah laku la- gi seperti orang miring membuat hati pemuda itu jadi tidak enak. Tapi kemudian dengan tegas dia ajukan pertanyaan. "Gondrong sinting, buat apa kau men- campuri urusanku? Jika kau ingin selamat cepat ting- galkan tempat ini.!" hardik si baju biru.

Gento gelengkan kepala, bukit hidungnya berge- rak-gerak seperti mengejek tak lama kemudian terden- gar suara tawa panjang. Puas tertawa sambil bertolak pinggang Pendekar Sakti 71 Gento Guyon berkata. "Pemuda edan baju biru. Sama sekali aku tidak suka usil mencampuri urusan orang. Tapi jika urusan gila seperti yang baru kau lakukan pada orang tua itu. Ba- gaimana aku bisa diam? Lagipula buat apa kau bicara tentang keselamatan orang. Padahal banyak orang yang bernama Selamat, malah umurnya tidak panjang. Baju biru, jika kau mau menuruti saranku justeru kau akan mendapatkan satu jabatan tinggi. Kau bahkan bisa menjadi raja disana jika kau mau?" ujar Gento.

Si baju biru terdiam, sepasang alisnya terangkat naik. Ucapan Gento ternyata termakan olehnya. Penuh rasa ingin tahu dia ajukan pertanyaan. "Apa maksud- mu? Dimana aku bisa menjadi seorang raja?" "

"Tentu saja di neraka. Ha ha ha!" jawab Gento disertai tawa terbahak-bahak.

Si baju biru bukan main geram mendengar jawa- ban Gento. Tapi dia masih berusaha menahan ama- rahnya. "Manusia sinting edan, katakan siapa nama- mu!" hardik pemuda itu.

"Namaku pantang kuberitahukan pada manusia sepertimu. Terkecuali jika kau menyebutkan nama- mu!"

"Manusia edan keparat! Orang gila sepertimu memang patut mampus ditanganku!" teriak si baju bi- ru. Laksana kilat tubuh si baju biru berkelebat ke arah Gento. Selagi melesat dia lancarkan satu pukulan tan- gan kosong ke arah murid si gendut Gentong Ketawa. Angin keras menderu menyertai pukulan itu. Gento ta- rik kakinya kebelakang, tubuh dimiringkan, tangan ki- ri dipergunakan untuk menangkis sedangkan tangan kanan melepas satu pukulan kebagian perut.

Plak! Desss!

Dua tangan bentrok di udara membuat si baju bi- ru terdorong mundur disertai pekikan kaget. Bersa- maan dengan benturan tadi pukulan Gento menghan- tam telak perut lawannya. Si baju biru jatuh terjeng- kang. Benturan tangan tadi membuat telapak tangan- nya terasa remuk, ditambah lagi dengan pukulan yang bersarang di bagian perutnya membuat si baju biru mengerang kesakitan.

Gento Guyon sendiri bukan tak merasakan aki- bat dari pukulan itu. Lengannya yang bentrok dengan tangan lawan terasa panas dan kesemutan. Tapi si gondrong bersikap seperti tidak mengalami suatu hal apapun. Dia malah keluarkan siulan.

"Cepat katakan namamu. Atau kau ingin mati sebagai orang yang tidak dikenal? Ha ha-ha!"

Mendengar ucapan Gento, si baju biru seperti terbakar telinganya. Seketika dia bangkit tegak meski- pun langkahnya agak terhuyung. Dengan mata mende- lik dia berteriak. "Gondrong keparat, kau boleh ber- tanya siapa diriku pada Ki Lurah. Sekarang bersiaplah kau untuk menyusul arwah tua bangka itu!" Selesai berkata si baju biru rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Sejajar dengan arah jantung. Setelah itu mulutnya berkemak-kemik. Walaupun Gento tidak ta- hu apa yang hendak dilakukan oleh lawan, namun dia sadar si baju biru pasti hendak mengerahkan ilmu an- dalannya. Dengan sikap mencemo'oh Gento berkata. "Hmm, rupanya mbah dukun sedang komat-kamit memanggil setan. Hebat...!"

8

Di depan sana si baju biru diam tidak menangga- pi, hanya mulutnya sunggingkan seringai aneh. Tidak berselang lama pula tanpa bicara apapun si baju biru kembangkan kedua tangan, lalu mengangkatnya seja- jar dengan telinga. Dua tangan kemudian serentak di- hantamkan ke depan. Sesuatu yang tidak pernah ter- duga oleh Gento tiba-tiba saja terjadi. Dari dua tangan yang dihantamkan lawan menderu angin topan berha- wa panas luar biasa. Angin topan itu menggulung dan menghantam apa saja yang dilaluinya. Gento tercekat, tawanya lenyap. Tanpa membuang waktu dia meng- hantam ke depan melepas pukulan Selaksa Duka den- gan tangan kiri sedangkan tangan kanan menghantam dengan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis. Dua puku- lan menderu, sinar merah dan sinar biru membersit la- lu melesat disertai suara bergemuruh. Benturan hebat kemudian terjadi, tapi Gento jadi tercengang begitu melihat bagaimana pukulan yang dilepaskannya am- blas lenyap ditelan gemuruh angin topan yang ber- sumber dari pukulan lawannya. Dalam kagetnya se- mentara serangan terus melabrak tubuh si pemuda, dia coba selamatkan diri dengan bergulingan ke samp- ing. Tapi yang terjadi kemudian sungguh berada diluar dugaan si gondrong. Angin pukulan lawan berbelok la- lu menyambar tubuh si pemuda.

Braak! Buuum!

Pemuda itu terpental disertai jeritan keras me- nyayat. Setelah terbanting beberapa kali digulung se- rangan lawan, akhirnya dia terkapar rebah menelen- tang. Nafasnya kembang kempis, wajah pucat sedang- kan dari hidungnya mengucurkan darah. Tanpa menghiraukan sakit yang mendera dibagian dadanya Gento cepat berdiri. Dengan mata nanar dia meman- dang ke depan. Tapi dia jadi terkesiap karena lawan ternyata sudah tidak berada lagi disitu.

"Kurang ajar. Dia melarikan diri. Pemuda itu pas- ti pergi ke Kadipaten. Ilmu aneh apa yang dia miliki? Tololnya diriku, jika aku tidak berlaku ceroboh dan lengah, tentu akibatnya tidak seperti ini." gerutu si pemuda memaki dirinya sendiri.

Perlahan kini perhatian si pemuda beralih ke arah orang tua yang bernama Karma Sudira itu bera- da. Dia merasa lega karena ternyata orang tua itu ma- sih berada di tempat. Mungkin baju biru yang telah berniat membawa serta Karma Sudira tak sempat me- lakukannya.

Pendekar Sakti 71 ini melangkah menghampiri orang tua yang terbaring disamping mayat Ki Lurah Wanabaya.

Melihat kedatangan pemuda itu Karma Sudira, orang tua berusia sekitar lima puluh tahun ini menco- ba tersenyum. Gento lalu duduk disamping si orang tua. Dia mengeluarkan se-butir pil berwarna cokelat, lalu memberikannya pada orang tua itu sambil berka- ta. "Makanlah obat ini, mudah-mudahan luka yang paman alami cepat sembuh."

Dengan tatap penuh rasa terima kasih Karma Sudira menerima obat pemberian Gento. Tanpa ragu pula dia menelannya. Beberapa saat setelah menelan obat yang diberikan Gento, Karma Sudira merasakan dada, perut dan sekujur tubuhnya menjadi sejuk, rasa sakit lenyap dan dia merasakan tubuhnya menjadi en- teng.

Tanpa ragu Karma Sudira bangkit, lalu duduk sambil meluruskan ke dua kakinya. "Terima kasih atas budi pertolonganmu. Anak muda siapa namamu?"

"Namaku Gento... Gento Guyon." sahut si pemu- da singkat. "Paman siapa sebenarnya pemuda tadi? Mengapa dia hendak mencelakaimu?" Gento ajukan pertanyaan.

Karma Sudira gelengkan kepala. "Aku tidak men- genalnya. Dia datang begitu saja, membunuh pengawal penjaga penjara. Lalu masuk ke dalam ruangan di ma- na aku ditahan. Kemudian menyiksaku secara mem- babi buta." jawab Karma Sudira.

Gento terdiam mendengar jawaban orang tua itu. Beberapa saat kemudian pemuda ini ajukan perta- nyaan. "Paman berada dalam penjara ini sudah berapa lama, siapa pula yang memenjarakan mu?!"

Karma Sudira menarik nafas panjang. Tatap ma- tanya memandang kosong ke depan. Dengan suara perlahan bergetar dia menjawab. "Kurang lebih sudah delapan belas tahun aku berada di sini. Orang yang memenjarakan aku adalah adipati Purbolinggo yang sekarang, namanya Suryo Lagalapang. Manusia keji itu dulunya adalah bekas bawahanku ketika aku men- jadi Senopati. Setelah aku mengundurkan diri dari ja- batan Senopati, berkat jasa pengabdianku aku diang- kat menjadi adipati di Purbolinggo. Tapi kemudian sa- tu fitnah keji dilakukan Suryo Lagalapang pada diriku. Dia mengadu pada raja bahwa aku bermaksud mela- kukan pemberontakan. Dengan dibantu tokoh-tokoh penting juga ahli silat istana Suryo Lagalapang me- nangkapku. Lalu aku dijebloskan ke tempat pengasin- gan ini dari dulu sampai sekarang." jelas orang tua dengan perasaan marah diliputi dendam.

Gento Guyon manggut-manggut, dia teringat pa- da pemuda baju biru yang melarikan diri dengan membawa peta. Gento pandangi orang tua dihadapan- nya sambil ajukan pertanyaan. "Pemuda tadi melari- kan peta yang dibawa oleh Ki Lurah ini, apakah peta itu sangat berarti bagimu?"

Mendengar pertanyaan Gento wajah Karma Sudi- ra nampak berubah. Gento melihat satu kesedihan ju- ga penderitaan dimata si orang tua.

"Peta itu bagiku tidak ubahnya seperti nyawa ke- dua, dia lebih berharga dari sebuah kerajaan maupun tumpukan emas permata. Terus terang peta itu dibuat oleh seseorang, dititipkan oleh Ki Lurah untuk disam- paikan kepadaku. Jadi bukan aku yang membuat peta itu. Orang yang menitipkan peta itulah yang mengasuh dan membawa pergi anakku yang bernama Rumbapati. Aku sendiri mempunyai keturunan dua orang, yang pertama adalah Rumbapati. Sedangkan yang kedua aku belum sempat memberinya nama. Saat peristiwa penyerangan itu terjadi anakku yang kedua baru be- rumur seminggu. Seseorang menerobos ke dalam ru- mahku yang dikepung ratusan prajurit kerajaan. Dia kemudian membawanya pergi.

Sampai saat ini aku tak tahu dimana anakku yang kedua itu berada. Jika dia masih hidup tentu su- dah sebesar dirimu!"

"Hem, jadi peta itu adalah petunjuk satu-satunya yang menyatakan tempat dimana anakmu berada?" tanya Pendekar Sakti 71.

"Ya, tapi hanya salah satu diantara kedua anak- ku. Sedangkan yang satunya lagi aku tak tahu dima- na."

"Seandainya adipati mengetahui tempat tinggal anakmu, apa sebenarnya yang akan dia lakukan?" tanya Gento lagi.

"Dia pasti akan membunuh putraku."

"Aku tahu, semua itu dilakukan adipati karena tidak ingin kedua anak orang tua ini melakukan balas dendam." batin Gento. Tapi yang membuatnya heran mengapa adipati Suryo Lagalapang tidak membunuh Karma Sudira. Malah dia memenjarakannya selama belasan tahun.

"Paman, jika benar Suryo Lagalapang ingin mem- bunuh anak-anakmu, mengapa dia membiarkanmu hidup.?" tanya si pemuda.

"Aku tidak tahu, kurasa dia sengaja membiarkan aku dalam keadaan seperti ini agar aku dapat menik- mati satu penderitaan panjang. Bisa jadi manusia ja- hanam itu sedang merencanakan sesuatu, siapa yang dapat menduga." jawab Karma Sudira.

"Sekarang apa yang hendak paman lakukan?" Orang tua itu gelengkan kepala. "Aku sudah ti-

dak mempunyai kekuatan apa-apa. Sedangkan diseke- liling adipati setiap saat berkumpul kaki tangannya yang berkepandaian tinggi. Konon kudengar dia juga mempunyai hubungan tertentu dengan momok gu- nung Slamet. Jika kau nekat melakukan penyerangan kesana, sama saja hanya membuang nyawa secara sia- sia." Gento terdiam, dia percaya apa yang dikatakan oleh orang tua ini memang benar adanya. Untuk dapat menerobos ke gedung kadipaten memang tidak mudah, selain penjagaan sangat ketat, disana banyak berkum- pul jago-jago silat yang dibayar adipati. Satu-satunya cara adalah memancing adipati keluar dari kadipaten.

"Paman, aku punya satu rencana. Sekarang kau boleh ikut denganku!"

Karma Sudira memandangi pemuda gondrong di- depannya dengan tatap tak mengerti. "Apa rencana- mu?"

"Kita pergi ke kadipaten. Paman pasti tahu seluk beluk tempat itu, kita menyusup lalu menyeret keluar adipati Suryo Lagalapang. Bagaimana pendapatmu?" tanya Gento.

Karma Sudira tersenyum. Masih dengan terse- nyum dia berucap. "Gento... kuhargai sikap dan kein- ginanmu. Tanpa mengecilkan segala kesaktian yang kau miliki, aku punya pendapat jika kita nekad me- nyerbu ke kadipaten. Aku jamin tak seorangpun dian- tara kita yang dapat keluar dari tempat itu dalam kea- daan hidup." kata si orang tua. Dia lalu melanjutkan.

"Menurutku ada baiknya jika kita mencari anak- ku Rumbapati. Jika anak itu kita temukan kurasa se- karang dia memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Karena setahuku dan menurut pengakuan Ki Lurah anakku diambil murid oleh seorang berkepandaian tinggi yang berdiam tak jauh dari Wadaslintang."

"Paman apakah mengenal daerah itu?"

"Aku tahu. Tapi tempatnya secara pasti aku tidak tahu." jawab Karma Sudira.

"Wadas lintang suatu daerah yang luas. Kurasa tanpa peta yang telah dibawa oleh si baju biru tadi kita tidak mungkin bisa menemukan anakmu. Buat apa orang yang membawa anakmu itu membuatkan peta untukmu jika dia tidak berada di tempat yang sulit di- cari?"

Mendengar ucapan Gento Karma Sudira seperti merasa putus asa. Gento tersenyum, kemudian dia menepuk bahu orang tua itu sambil berkata. "Kau ti- dak usah pusing memikirkan semua ini, sebaiknya paman ikut saja denganku. Sekarang kita pergi." Gento kemudian bangkit berdiri.

"Kemana?"

"Aku ingin membantu menyelesaikan persoalan- mu ini. Karena itu kau ikut saja kemana aku melang- kah!" tegas si gondrong. Walaupun baru pertama kali bertemu dengan Gento Guyon namun dia yakin Gento adalah seorang pemuda yang dapat dipercaya. Karena itu ketika Gento tinggalkan tempat itu, Karma Sudira pun mengikutinya.

9

Suryo Lagalapang begitu kembali dari gunung Se- lamet langsung memerintahkan orang terbaiknya yang bernama Wajalangke untuk menangkap gadis yang di- inginkan oleh Wisang Banto Oleng. Pemuda cerdik berpakaian serba hitam yang diwajahnya digambar dengan tatto sebuah bintang besar ini baru saja bebe- rapa purnama menghambakan diri pada Suryo Lagala- pang. Dia memiliki ilmu kesaktian tinggi, bahkan keti- ka diadakan adu kepandaian tak seorangpun jago silat kaki tangan adipati yang sanggup menjatuhkannya.

Pagi itu merupakan hari kedua bagi Wajalangke dalam upayanya mencari Mutiara Pelangi alias Putri Kupu Kupu Putih. Setelah memacu kuda tanpa men- genal henti. Sampai disatu tempat, disatu pendataran dipenuhi tanaman bunga yang menebarkan bau ha- rum semerbak, Wajalangke, hentikan kudanya. Dua penunggang kuda yang menyertainya dalam perjalanan itu juga ikut pula menghentikan kudanya. Ternyata dua penunggang kuda berbulu hitam dan cokelat itu masing-masing telah berusia lanjut. Satu yang berada disebelah kiri si pemuda dan menunggang kuda coke- lat seorang kakek berpakaian merah, berhidung beng- kok berpipi tembem. Dimulut kakek ini terselip sebuah pipa cangklong yang selalu mengepulkan asap sesuai dengan hembusan-hembusan nafasnya. Cangklong berwarna hitam itu bukan pipa biasa, karena sewaktu- waktu bisa dipergunakan sebagai senjata maut yang dapat mengeluarkan asap beracun. Kakek berpipa cangklong kini di dunia persilatan dikenal dengan ju- lukan Nafas Penebar Maut. Orang kedua yang berada disebelah kanan Wajalangke dan menunggang kuda hi- tam bernama Durga Paksa. Dia juga dikenal dengan julukan Sambar Nyawa. Umurnya sekitar delapan pu- luh tahun, berpakaian serba hitam, rambut hitam ge- lap, mata lebar dengan kening menonjol. Orang tua yang satu ini sangat pendiam. Tapi dia lebih keji dan lebih berbahaya dibandingkan dengan Nafas Penebar Racun. Betapapun mereka memiliki kepandaian tinggi, ternyata masih dapat ditundukkan oleh Wajalangke yang berotak cerdik. Sehingga kini mereka terpaksa menjadi anak buah pemuda itu.

"Aku melihat sebuah rumah, sekeliling rumah di- penuhi taman bunga. Bukankah menurut adipati, Mu- tiara Pelangi tinggal disitu?" tanya Wajalangke dengan tatapan menerawang memandang ke depan. Kakek disebelah kanan pemuda itu anggukkan kepala, bibir yang tertutup kumis putih tebal berucap. "Rumah itu memang tempat tinggal gadis yang kita cari. Tapi nam- paknya sepi. Walaupun sunyi tidak tertutup kemung- kinan dia berada di dalamnya. Hendaknya kita harus berhati-hati, Mutiara Pelangi alias Puteri Kupu Kupu putih bukan gadis biasa."

"Kita bertiga, dia sendiri masa" kalah! Sebaiknya kita kepung rumah itu!" tak Sabar Nafas Penebar Maut menimpali.

Wajalangke berucap dengan mempergunakan ke- cerdikan otaknya. "Aku percaya setinggi apapun ilmu kepandaian yang dimiliki gadis itu, cukup kalian ber- dua yang turun tangan segala sesuatunya pasti beres!"

Sedikit banyak Nafas Penebar Maut merasa se- nang mendengar pujian itu. Lain halnya dengan Durga Paksa alias Samber Nyawa. Dia tidak suka mendengar segala pujian, malah dalam hati dia berpendapat lain atas sanjungan itu. "Pemuda ini tak kuketahui asal usulnya, tapi dia cerdik sekali. Aku harus berhati-hati padanya. Boleh jadi dia hanya mau memanfaatkan te- nagaku demi mencapai apa yang diinginkannya!" Samber Nyawa berkata dalam hati.

"Tunggu apa lagi secepatnya kita dobrak rumah itu!" kata Wajalangke ditujukan pada kakek yang ber- samanya.

Pemuda itu kemudian menggebrak kuda menda- hului kedua kakek yang ikut serta bersamanya. Kedua kakek kemudian menyusul, lalu berpencar membentuk lingkaran. Wajalangke yang berada dihalaman dekat pintu depan lalu berteriak. "Puteri Kupu Kupu Putih, kami datang atas perintah adipati Purbolinggo. Karena kau masih ada hubungan darah dengan Karma Sudira bekas pimpinan pemberontak yang dulu pernah hen- dak menggulingkan kerajaan sekarang kau diminta untuk menyerahkan diri!" kata pemuda itu. Gema sua- ra teriakan si pemuda lenyap, sejenak lamanya mereka menunggu. Tidak ada jawaban. Wajalangke jadi tidak sabar. Sekali lagi dia berteriak memanggil nama asli si gadis. "Mutiara Pelangi, waktumu habis! Kami terpaksa membakar rumahmu!" selesai bicara Wajalangke ge- rakkan kepala memberi tanda pada kedua kakek yang datang bersamanya. Tidak perlu dijelaskan kedua orang tua itu tahu apa yang harus dilakukannya. Tan- pa banyak bicara Sumber Nyawa langsung membuka kantong perbekalan. Dia mengeluarkan beberapa buah obor besar, lalu mengambil dua batu penyala api. Begi- tu batu saling digosok satu sama lain bunga api me- nyambar ke obor. Lima buah obor menyala serentak, kemudian satu demi satu dilemparkannya kebagian dinding juga atap yang terbuat dari rumput ilalang.

Hanya dalam waktu sekejap kobaran api telah membakar rumah itu. Nafas Penebar Maut tertawa ter- gelak-gelak girang bukan main melihat rumah yang terbakar. Sedangkan Jalangke terus memperhatikan setiap sudut berjaga-jaga dari kemungkinan lolosnya orang yang mereka cari. Disaat kobaran ia makin me- luas dan mulai menjalar kemana-mana itulah satu so- sok serba putih berkelebat dari arah sebelah selatan disertai suara pekikan marah.

"Iblis jahanam mana yang berani membakar tem- pat tinggalku!" kata satu suara. Tak lama kemudian ada bayangan putih yang berkelebat menyambar lak- sana walet di atas bubungan rumah. Sosok itu seolah tidak takutkan api terus berputar-putar di atas koba- ran api dan kepulan asap, sedangkan mulut meniup, sedangkan dua tangan menghantam ke tengah api yang berkobar.

Bleep! Bleep!

Secara aneh dan sulit dipercaya, kobaran api yang menyala mendadak padam begitu terkena tiupan sosok yang masih belum jelas siapa adanya. Kini yang terlihat hanya kepulan asap biru yang bergulung- gulung membubung ke langit. Selesai memadamkan api sosok serba putih itu kemudian jejakkan kakinya di atas kayu palang bubungan rumah yang hangus. Ternyata orang yang berteriak tadi adalah seorang ga- dis cantik luar biasa, demikian cantiknya hingga sulit ditandingi. Gadis itu berkulit putih, mata bundar, rambut panjang dikepang. Melihat sosok berpakaian ringkas yang tegak di atas bubungan yang hanya ting- gal kerangkanya saja Wajalangke tercengang. Dia nampak terpesona, sedangkan mata melotot seakan tak percaya melihat kecantikan gadis itu. "Gadis seper- ti dia yang hendak dihadiahkan pada Wisang Banto Oleng? Sungguh adipati benar-benar keledai tua yang tolol. Gadis seperti ini tidak pantas menjadi istri tua bangka rongsokan. Hemm jika adipati dapat kusing-

kirkan, rasanya aku yang lebih pantas mendapatkan gadis ini! Aku harus menggunakan cara agar segala sesuatunya dapat berjalan wajar!" Wajalangke bicara dalam hati.

Dalam kesempatan itu kedua kakek yang berada disebelah kanan dan juga disisi kiri rumah nampak siap melakukan perintah. Karena setelah menunggu ternyata Wajalangke tetap diam saja, malah matanya terus memandang ke arah sang dara  tanpa  pernah berkedip, Nafas Penebar Maut berteriak ditujukan pa- da pemuda itu. "Wajalangke... gadis ini orangnya yang harus kita ringkus.!"

Wajalangke kaget, tapi pura-pura acuh. Dengan ketus dia berkata. "Kalau sudah tahu mengapa cuma diam saja, tidak segera melakukan sesuatu!"

Belum sempat kakek berpakaian merah menang- gapi, gadis yang berdiri di atas bubungan rumahnya yang terbakar berteriak. "Dua kakek keparat, rasanya tampang kalian tidak asing bagiku. Wajah-wajah se- perti anjing penjilat, aku sering melihatnya keluar ma- suk di kadipaten. Tidak salah, kalian berdua pasti anj- ing piaraan adipati." dengus gadis berbaju putih ketus. Dia lalu melirik ke arah Wajalangke. Gadis itu merasa tidak kenal, bahkan baru kali ini melihat pemuda aneh yang wajahnya di tatto dengan gambar bintang terang itu. "Kau... anjing baru yang bergabung dengan anjing tua. Sungguh memuakkan. Selama ini aku tidak per- nah membuat urusan apa pun dengan kadipaten ter- kutuk itu, mengapa kalian datang membakar rumah- ku?!" hardik si gadis marah.

"Gadis, kau tentu yang bernama Mutiara Pelangi. Benar seperti katamu kedua kakek itu memang kaki tangan adipati. Sedangkan aku adalah atasan mereka. Kami terpaksa membakar rumahmu karena adipati te- lah menyediakan sebuah rumah yang baru untukmu. Terus terang gadis secantikmu tidak layak tinggal di- rumah rongsokan itu. Sekarang kau ikutlah dengan kami, karena seseorang yang berniat menjadikanmu sebagai istrinya telah menunggu kedatanganmu!" kata Wajalangke.

Kemarahan dihati si gadis cantik yang memang Mutiara Pelangi adanya belum lagi lenyap, apalagi kini ditambah dengan ucapan Wajalangke barusan tadi membuat dada gadis itu terasa panas laksana dibakar. "Manusia gila! Katakan pada adipatimu sebaik- nya dia membunuh diri. Aku telah mengetahui segala kelicikannya, hingga pamanku dijebloskan ke dalam penjara. Bukan hanya itu saja, pamanku terpaksa berpisah dengan anaknya semata-mata karena ulah- nya. Sekarang cepat tinggalkan tempat ini sebelum aku berubah fikiran!" perintah Mutiara Pelangi.

Tiga pasang mata sama memandang ke arah si gadis, ketiganya sama pula mengumbar tawa. Dalam beberapa kejapan tawa mereka lenyap. Kakek berpa- kaian hitam bergelar Samber Nyawa berucap. "Gadis cantik! Bukan kami yang harus menuruti perintahmu, sebaliknya kaulah yang harus menuruti perintah ka- mi!"

Wajalangke menambahkan. "Apa yang dikata- kannya memang benar. Kami, terlebih-lebih aku tidak mau berlaku kasar apalagi terhadap gadis secantikmu. Karena itu ikuti saja perintah kami. Kujamin tak satu pun dari kedua kakek itu yang berani mengusikmu!"

Merah padam wajah Mutiara Pelangi mendengar ucapan si pemuda. Mereka telah membakar rumah, te- lah melakukan kesalahan besar tapi masih juga bisa bersikap seperti orang yang tidak berdosa.

10

Kalian manusia penjilat sama bejatnya dengan Suryo Lagalapang. Jika tidak ku singkirkan hari ini ke- lak pasti menjadi biang penyakit!" teriak Mutiara Pe- langi sengit.

"Puteri Kupu Kupu Putih, mulutmu kelewat ta- kabur. Sayang adipati telah memerintah kami untuk menangkapmu tanpa cacat. Andai kau tidak diminta oleh Wisang Banto Oleng untuk dijadikan istrinya, ku- rasa aku sendiri sanggup menaklukkan dirimu. Kemu- dian kita dapat hidup disatu tempat menikmati manis madunya cinta sampai tua!" kata Nafas Penebar Maut.

"Orang tua, kulihat kau yang paling bersemangat diantara kami. Kuberi kesempatan padamu selama tiga jurus. Jika kau sanggup menangkapnya, maka kau kuperkenankan menciumnya tiga kali sebagai imbalan! Ha ha ha!" ujar Wajalangke.

Mendengar ucapan pemuda yang jadi pimpinan tentu kakek berpakaian merah ini jadi bersemangat. Tanpa menunggu si kakek langsung melesat ke atas bubungan rumah. Di udara dia lakukan gerakan ber- jumpalitan sebanyak tiga kali, selanjutnya selagi tu- buhnya meluncur deras ke arah si gadis lancarkan to- tokan ke bagian leher Mutiara Pelangi. Gadis itu men- dengus, selagi tangan lawan terjulur di udara gadis itu melompat ke atas, salah satu kakinya memijak bahu lawan, sedangkan kaki yang satunya lagi menginjak kepala Nafas Penyebar Maut.

Duuk!

Satu hentakan yang sangat keras menghantam kepala orang tua itu. Tubuh si kakek amblas dan jatuh ke bawah. Selagi tubuhnya meluncur kebagian ruan- gan dalam rumah yang terbakar sambil berteriak ma- rah dia memukul ke atas.

Pukulan kakek itu mengenai angin, orang yang dipukulnya kini telah melesat ke bawah dan jejakkan kaki dihalaman samping. Dari bagian dalam rumah terbakar terdengar suara bergedebukan disertai ma- kian kotor si kakek. Dinding rumah jebol, si kakek muncul. Wajahnya celemongan dipenuhi arang.

Melihat keadaan si kakek, Wajalangke tak dapat menahan senyumnya. Sebaliknya Nafas Penebar Maut sudah tak dapat lagi menahan kemarahannya. Kini dia menyerbu ke arah si gadis. Walaupun saat itu dia me- nyerang dengan tangan kosong, namun Mutiara Pelan- gi tak berani bersikap gegabah karena pada saat ber- samaan selain lawan mencecarnya dengan pukulan dan tendangan tapi juga mulai menyemburkan asap beracun yang keluar dari pipa cangklong yang selalu terselip dibibirnya.

Mutiara Pelangi dalam beberapa jurus dimuka hanya mampu berkelit atau menghindar dari serangan lawan. Malah dia terpaksa menutup jalan pernafasan- nya agar asap biru yang keluar dari pipa lawan tidak sampai tersedot olehnya. Disatu kesempatan gadis ini melompat tinggi begitu tangan lawan menyambar ke arah dada. Melihat lawan menghindar ke atas, Nafas Penebar Maut langsung semburkan asap beracun dari pipa cangklongnya.

Wuuues!

Asap biru bergulung-gulung memenuhi udara membuat pemandangan jadi terhalang dan mata pedih bukan main. Si gadis merasakan akibat dari semua itu, bahkan kepalanya menjadi pening. Tapi dia tak kehabisan akal, selagi tubuhnya meluncur ke bawah, dengan sekuat tenaga dia menghembuskan nafasnya.

"Phuuh...!"

Seketika asap biru pekat itu berbalik menyerang pemiliknya. Tak menyangka lawan dapat berbuat se- perti itu, maka Nafas Penebar Maut jadi kelabakan. Sebagian asap beracun yang ditutupkannya tersedot masuk ke dalam tenggorokannya. Orang tua keluarkan suara seperti tercekik, matanya mendelik sebelah tan- gan memegangi leher. Dalam waktu singkat sekujur tubuhnya nampak membiru. Beruntung dia masih sempat mengambil obat penawar racun dan langsung menelannya. Jika tidak jiwa si kakek pasti tidak terto- long. "Celaka, hampir saja!" desis Samber Nyawa terce- kat dan sempat khawatir melihat nasib buruk yang menimpa sahabatnya.

"Samber Nyawa, ternyata temanmu hampir tak berdaya. Sekarang kau bantu dia. Jangan membuat aku malu!" teriak Wajalangke.

"Pemuda jahanam, sungguh lagakmu membuat aku semakin muak. Awas, aku akan melaporkan se- mua ini pada Suryo Lagalapang!" geram Samber Nyawa dalam hati. Si kakek berpakaian serba merah itu lalu keluarkan suara mengerang. Laksana kilat tubuhnya berkelebat, sementara Nafas Penebar Maut kini menye- rang kembali dengan mempergunakan tangan kosong, maka kakek berpakaian merah yang memiliki gelar angker Samber Nyawa itu menyerang dari bagian atas Mutiara Pelangi. Mendapat gempuran hebat dari dua tokoh silat yang sudah sangat berpengalaman ini Mu- tiara Pelangi tidak menjadi gentar.

Sambil berteriak tubuhnya berkelebat hindari se- rangan dan jotosan lawan. Bagaikan seekor kupu- kupu dia selalu dapat menghindari serangan lawan. Ketika perkelahian mencapai dua puluh jurus, Mutiara Pelangi bahkan menghantam dada kakek berpakaian hitam. Membuat orang tua itu terdorong satu tindak kebelakang, tubuh terbungkuk, nafas seperti ayam disembelih sedangkan mulut meneteskan darah.

Tapi pada waktu bersamaan secara tak terduga dari atas Samber Nyawa melakukan gebrakan, dia tan- gannya bergerak cepat melakukan totokan di bahu si gadis kanan kiri. Mutiara Pelangi yang sempat merasa- kan sambaran tangan dingin menerpa bahunya segera berkelit, sayang satu totokan masih sempat mengenai bahu kirinya.

Tak ayal lagi gadis itu kini merasakan kedua ka- ki, tangan dan sekujur tubuhnya menjadi kaku. "Ha ha ha!" Akhirnya kau jatuh juga ditangan Samber Nyawa, gadis cantik. Kalau sudah begitu kau bisa berbuat apa?" tanya Wajalangke disertai tawa ter- bahak-bahak.

"Dalam hal ini aku yang paling banyak dirugikan. Karena itu seperti katamu tadi aku harus menciumnya tiga kali!" kata satu suara.

Wajalangke memandang ke arah datangnya sua- ra. Ternyata yang baru bicara tadi bukan lain adalah Nafas Penebar Maut.

"Orang tua, kulihat kau yang paling menderita. Kurasa kau memang pantas untuk mendapat hiburan segar. Kalau mau menciumnya? Kebetulan sekali, aku jadi ingin tahu bagaimana cara orang tua sepertimu mencium seorang gadis cantik. Silahkan.... hayo tung- gu apa lagi?!" kata Wajalangke. Dalam hati dia berkata. "Gadis ini akan kubawa ke suatu tempat. Dia akan menjadi milikku. Nyawamu dan nyawa temanmu si Samber Nyawa harus kuselesaikan sebentar lagi!"

Nafas Penyebar Maut bergerak mendekati si ga- dis. Mutiara Pelangi delikkan matanya. Sementara Samber Nyawa mendengus melihat apa yang hendak dilakukan oleh temannya.

Selagi Nafas Penebar Maut baru sampai didepan Mutiara Pelangi, bersamaan dengan itu pula terdengar satu suara berkata. "Untuk urusan cium mencium, ra- sanya orang tua baju merah itu lebih pantas mencium salah satu pantat kudaku. Sedangkan urusan men- cium gadis itu serahkan saja padaku, aku pasti tidak menolak. Ha ha ha!"

Semua orang yang ada disitu sama melengak ka- get. Mereka memandang ke arah datangnya suara. Le- bih terkejut lagi karena orang yang baru saja bicara tadi sama sekali tidak terlihat. Selagi Wajalangke di- buat heran begitu rupa, serta merta terdengar suara gemuruh langkah kuda. Suara gemuruh kuda yang agaknya lebih dari satu itu semakin bertambah jelas. Tak berselang lama muncul empat ekor kuda kurus berbulu hitam yang berlari cepat ke arah mereka. Em- pat kuda itu berlari saling menghimpit satu sama lain.

Melihat empat kuda kurus yang berlari menuju ke arahnya, Nafas Penebar Maut jadi tercengang. Sam- bil melompat selamatkan diri dari tendangan kuda orang tua itu memaki. "Kuda kurus jahanam!"

Buuk!

Satu kaki kuda yang berlari di sebelah kanan menghantam si kakek membuat orang tua ini jatuh terkapar. Habis menendang Nafas Penebar Maut Em- pat kuda berhenti serentak di depan Mutiara Pelangi. Hampir tidak kelihatan satu tangan menyambar tubuh si gadis. Sekejap kemudian sosok Mutiara Pelangi telah duduk di atas salah satu punggung kuda kurus.

Si gadis tentu saja dibuat tercengang, dia meno- leh mencoba mengenali orang yang telah menolongnya. Sepanjang matanya terbelalak ketika melihat seorang pemuda berambut gondrong bertelanjang dada berce- lana hijau komprang rebah di atas punggung ke empat kuda kurus dengan mata terpejam, dua tangan meme- luk terompet. Di bagian belakang salah satu punggung kuda terdapat satu kantong perbekalan berisi satu kendi tuak menebar bau harum.

Mutiara Pelangi sama sekali tidak mengenali sia- pa pemuda ini. Namun melihat sikap si pemuda yang seperti tidur sungguhan membuatnya ragu apa me- mang benar pemuda itu yang telah menolong dirinya.

Tak jauh disebelah kanan ke empat kuda, Samb- er Nyawa saking kagetnya tak tahu harus berkata apa. Sedangkan kakek berbaju merah yang sudah bangkit berdiri sambil mendekap dadanya yang habis diten- dang kuda nampak tidak dapat berdiam diri. Dia me- lompat maju, dengan mata mendelik dia mengawasi sosok pemuda gondrong yang rebah menelentang di atas empat kuda.

Sebaliknya Wajalangke bersikap lebih teliti. Tadi walau segala sesuatunya berlangsung cepat, dia tahu pemuda gondrong yang menelentang di atas kuda itu- lah yang menarik Mutiara Pelangi. Siapapun si gon- drong penunggang empat kuda kurus itu tentu bukan manusia sembarangan. Kecepatannya ketika menaik- kan Mutiara Pelangi ke atas kudanya sudah merupa- kan suatu bukti kalau si gondrong memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi.

11

Dengan suara lembut dan sikap tenang bersaha- bat Wajalangke berkata. "Sahabat yang datang me- nunggang kuda sambil ketiduran, siapa dirimu? Men- gapa mengganggu urusan kami. Ketahuilah gadis itu adalah calon istriku. Hendaknya kau sudi menurun- kan dari kuda dan menyerahkannya pada kami!"

Si gondrong yang rebah di atas kuda kurus se- perti terusik mendengar suara orang. Setelah itu dia menggeliat, lalu duduk sambil mengucek matanya. Te- rompet diangkat, mulut terompet di tiup.

Buut! Hung! Hung!

Suara terompet menggelegar di udara, menge- jutkan Wajalangke dan dua pembantunya dan mem- buat telinga si gadis yang duduk disebelahnya merasa telinganya seperti mau pecah.

Setelah itu seperti mengindahkan orang-orang yang berada disekitarnya dia rebah kembali. Melihat sikap si pemuda yang seperti memandang rendah, Na- fas Penyebar Maut jadi geram. "Wajalangke, aku tidak suka dengan caramu. Kau terlalu lunak pada pemuda edan itu. Serahkan pemuda itu padaku sekarang juga!" teriak si kakek.

"Ha ha ha! Tidak perlu tergesa-gesa. Pemuda ga- gah itu tengah menikmati tidurnya yang terakhir. Tapi jika kau tak sabar menunggu, boleh saja kau men- gambil tindakan kepadanya!" sahut Wajalangke.

Di atas kuda mulut si gondrong terikat kepala warna hijau ini kembali membuka mata. "Siapa yang inginkan diriku datang sendiri ke sini. Siapa yang mengaku gadis cantik itu sebagai kekasihnya silahkan datang ambil sendiri." celetuk si gondrong yang bukan lain Setan Sableng adanya. Dia lalu duduk lagi, ma- tanya kembali terbuka. Memandang pada Nafas Pene- bar Petaka pemuda itu tiba-tiba tertawa ngakak. "Ka- kek baju merah. Mengapa kau diam disitu? Tadi ka- tanya kau hendak mencium, sekarang ciumlah pantat kudaku. Kau boleh memilih kuda yang mana yang kau suka. Kurasa semuanya sama saja, karena sudah lama aku tidak memandikannya! Ha ha ha!"

"Pemuda jahanam siapa dirimu?" hardik Samber Nyawa ikut menjadi jengkel melihat lagak si pemuda yang dianggap sangat menyebalkan itu. Si gondrong menatap kakek baju hitam sejenak, sesungging se- nyum bermain dimulutnya. "Kakek muka hitam, kuli- hat kau yang paling seram. Kau bertanya siapa aku, ketahuilah, patik yang hina ini biasa dipanggil Setan Sableng. Jika dirimu merasa sebagai setan, itu pertan- da kita masih bersaudara. Nah... apakah kau minta bagian, ingin ikutan mencium seperti kakek kurus ce- robong asap itu. Kalau kau mau bokongku boleh juga kau cium! Ha ha ha!"

Mendidihlah darah Samber Nyawa mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Setan Sableng. Sekilas dia melirik ke arah Wajalangke, pemuda yang dilirik anggukkan kepala.

"Sobatku Nafas Penebar Maut, mari kita pesiangi pemuda setan ini biar menjadi setan sungguhan!" te- riak Samber Nyawa keras. Pada dasarnya kakek ber- pakaian merah ini sejak pertama memang menaruh dendam pada Setan Sableng. Kini mendapat aba-aba dari sahabatnya dengan penuh semangat dia berkele- bat, dengan kecepatan luar biasa kakek melesat ke atas kuda. Kakinya bergerak menghantam kepala Se- tan Sableng. Sekali tendang pastilah kepala Setan Sab- leng dibuat remuk karena lawan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Tapi belum lagi kaki la- wan berhasil menyentuh kepalanya, dengan kecepatan tak terlihat tangan Setan Sableng bergerak. Tahu-tahu Nafas Penyebar Maut terbanting, mulutnya keluarkan jeritan melengking sedangkan dua tangan diperguna- kan mendekap bagian bawah perut. Seperti ayam dis- embelih si kakek bergulingan. Sementara itu Samber Nyawa yang menyerang dari arah samping sudah ge- rakkan sepuluh jari tangan. Begitu tangan terjulur, se- puluh jarinya mencengkeram. Dari sepuluh jari si ka- kek membersit sepuluh sinar hitam yang terus mende- ru siap menghunjam disepuluh bagian tubuh lawan- nya. Setan Sableng masih berlaku tenang. Sebaliknya Mutiara Pelangi yang berada disampingnya menjerit ketakutan.

Dengan tenang Setan Sableng kemudian me- nyambut serangan si kakek dengan memutar terompet ditangan. Sinar kuning berkilau menyilaukan mata berkiblat.

Treeng!

Sepuluh sinar hitam yang memancar dari jari si kakek menghantam terompet Setan Sableng. Asap mengepul, terompet ditangan pemuda itu mendadak berubah panas laksana bara. Disertai jeritan kaget Se- tan Sableng campakkan terompetnya. Dengan dua tangan dia menghantam.

Desss!

Hantaman yang tidak terduga mendera perut Samber Nyawa. Si kakek menjerit, lalu jatuh terbant- ing. Setan Sableng dengan muka cemberut seolah ti- dak menghiraukan lawannya melompat turun dari ku- da, dia memungut terompet sambil meniup-niup alat mainan yang ternyata masih panas. Bagian badan te- rompet yang melingkar berkelok-kelok tidak utuh lagi, tapi telah berubah cacat di sepuluh bagian akibat ter- kena hantaman sepuluh sinar maut yang memancar dari jari si kakek. Melihat terompetnya yang menghi- tam cacat sedemikian rupa, Setan Sableng menjerit ke- ras.

"Terompetku, mainanku. Orang tua kurang ajar, tidak tahu mainan kesayangan orang. Kau harus mengganti terompet ini!" teriak Setan Sableng dituju- kan pada kakek berpakaian hitam. Sambil meringis kesakitan dan tidak pernah menyangka dengan ting- ginya ilmu pemuda bergelar Setan Sableng itu, Sambar Nyawa menjawab. "Aku Telah mengganti terompet bu- tutmu, tapi kau harus mengambilnya di akherat!"

"Sial, mengapa jauh amat? Lebih baik kalian ber- dua yang kukirim kesana. Sekarang bersiaplah untuk berangkat!" hardik Setan Sableng. Sambil tertawa-tawa Setan Sableng Lakukan satu gerakan aneh, lalu tubuh pemuda itu berputar. Dengan mata terpejam seperti orang tidur dan langkah terhuyung Setan Sableng je- jakkan kakinya.

Bet! Bet!

Mendadak sosok pemuda lenyap, Samber Nyawa merasakan ada sambaran angin disertai berkelebatnya sosok tubuh di depannya. Dia gerakkan tangan meng- hantam. Yang dihantam lenyap, kini malah berada dis- amping, tahu-tahu kakek berbadan tinggi itu menjerit keras. Tubuh orang tua itu terbanting roboh, dengan mata mendelik dan tulang tengkuk patah dihantam Se- tan Sableng.

Selagi Wajalangke di buat tercekat melihat keja- dian yang berlangsung sangat cepat itu, Setan Sableng kini mendekati Nafas Penebar Maut. Si kakek melom- pat mundur. Segala kejadian yang berlangsung cepat tadi dan tewasnya Samber Nyawa membuat nyali si kakek jadi ciut. Dia sadar pemuda yang memiliki ting- kah laku seperti orang kurang waras itu pasti bukan tandingannya. Daripada mencari penyakit, rasanya le- bih baik kabur mencari selamat. Begitulah Nafas Pe- nyebar Maut berfikir.

Di depannya saja Setan Sableng dengan mata merah mencorong memandang dingin pada si kakek. "Kau orang tua kurang ajar. Tadinya mau mencium se- telah kusuruh kau malah menolak. Aku Setan Sab- leng, saat ini sedang marah besar, tadi sahabatmu su- dah berangkat ke akherat untuk mengambil terompet pengganti barang mainanku yang dirusaknya. Jika kau punya barang yang dapat kupermainkan, nyawamu kuampuni. Tapi jika ternyata tidak punya kau juga ha- rus menyusul temanmu itu!"

"Pemuda sableng kurang ajar, tadinya aku berfi- kir untuk melarikan diri. Tapi sekarang aku berubah fikiran. Kurasa daripada pergi secara pengecut lebih baik aku membunuhmu!" teriak si kakek. Sambil kelu- arkan suara menggerung orang tua itu dengan segenap kemampuan yang dia miliki mencecar Setan Sableng dengan serangan gencar yang tidak ada putus- putusnya. Mendapat serangan sahabat itu si pemuda malah pejamkan matanya, dua tangan dilipat ke depan dada. Tapi anehnya sehebat apapun serangan yang di- lakukan Nafas Penebar Bencana, tak satupun dari se- rangan itu yang mengenai sasaran.

Wajalangke untuk pertama kali seumur hidup di- buat tercengang. Bagaimanapun serangan si kakek sangat berbahaya sekali. Pukulan maupun tendangan yang dilakukannya tidak dapat diduga. Herannya da- lam keadaan mata terpejam lawan selalu saja berhasil menghindar.

"Jika kulayani pemuda sableng itu, bisa jadi se- gala kehendakku tidak bisa menjadi kenyataan. Seka- rang lebih baik kularikan saja gadis cantik itu mum- pung Setan Sableng sedang repot." berfikir begitu Wa- jalangke melesat ke arah si gadis yang duduk dalam keadaan tertotok di atas punggung kuda. Setelah ber- hasil menyambar si gadis, Wajalangke berlari menda- patkan kudanya. Dengan beban Mutiara Pelangi diba- hunya, Wajalangke membedal kuda tinggalkan tempat itu.

"Setan Sableng, tolong !" teriak Mutiara Pelangi.

Teriakan itu membuat Setan Sableng kaget sekaligus membuka matanya. Dia berteriak ketika melihat gadis yang baru ditolongnya dilarikan orang.

"Kurang ajar, gadis itu hendak kau bawa kema- na?" kata Setan Sableng. Pemuda ini kemudian berge- rak ke arah lenyapnya Wajalangke, tapi gerakannya seketika tertahan karena didepannya sana kakek ber- pakaian merah telah menyerangnya dengan semburan asap beracun yang keluar dari pipa cangklongnya.

"Wueh, kurang ajar. Orang dalam keadaan terge- sa-gesa kau malah menutupi jalan dengan semburan asap keparat! Hasyih...hasyiih !" Setan Sableng bersin

beberapa kali begitu asap terhirup hidungnya. Dia te- tap berdiri tegak sambil menggerendeng. Nafas Penebar Petaka terkejut luar biasa melihat lawannya tetap tegar seperti tidak mempan dengan serangan asap beracun- nya.

"Setan alas, pemuda setan ini punya ilmu apa?

Dia tidak dapat kujatuhkan dengan asap beracun ku." batin si kakek merasa pusing sendiri.

Di depan sana Setan Sableng jadi uring-uringan, Wajalangke yang hendak dikejarnya kini lenyap ber- sama Mutiara Pelangi yang dalam keadaan tertotok. Tapi ketika melihat si kakek didepan sana menjadi bingung, mendadak tawa Setan Sableng bergema di udara.

"Bingung orang tua? Ha ha ha. Melihat kau bin- gung, aku yang sudah sangat marah jadi ikut bingung juga. Kau pasti heran mengapa asap yang kau sem- burkan di udara tidak membuatku mabok. Ketahuilah, aku baru bisa mabok jika minum tuak keras. Jika yang kuhirup cuma asap rokok bagaimana bisa ma- bok.!"

Ucapan si pemuda tentu saja membuat Nafas Pe- nebar Maut jadi terkejut. Dia memeriksa pipa cangklong yang tergantung dibibirnya. Pucatlah wajah si kakek. Pipa itu sama sekali bukan miliknya. Pipa kepunyaannya sendiri berwarna hitam, sedangkan yang sekarang berwarna putih.

"Kau...!" desis si kakek dengan mata men-delik. Setan Sableng tertawa-tawa. "Orang tua pikun,

kulihat kau begitu senang merokok, karena itu aku memberimu pipa yang bagus biar merokoknya makin bertambah asyik...! Sayang tembakau dalam pipa itu kucampur dengan racun yang mematikan. Kujamin saking asyiknya kau sampai lupa bernafas!" kata Setan Sableng.

Nafas Penebar Maut kembali dilanda kaget. Dia langsung jauhkan pipa cangklong putih dari mulut lalu membuangnya. Pada saat itu pula si kakek merasakan tenggorokannya menjadi panas. Dada sesak bukan main. Si kakek megap-megap, sekujur tubuh dan wa- jahnya membiru. Nafas Penebar Bencana kemudian ja- tuh tergelimpang dan tewas seketika. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Ketika Nafas Penebar Bencana me- nyerang Setan Sableng dengan tendangan, pemuda itu menghantam bagian bawah perut si kakek. Orang tua itu kemudian menjerit, cangklong miliknya terjatuh. Dan sebelum si kakek terpelanting akibat pukulan yang mendera bagian bawah perutnya Setan Sableng menggantikan pipa itu dengan pipa miliknya yang di- ambil dari balik kantong celananya. Dan tentu saja pi- pa cangklong Setan Sableng mengandung racun lebih hebat dari yang dimiliki lawannya.

Kini Setan Sableng berdiri tegak di depan Nafas Penebar Petaka yang terkapar tanpa nyawa. Tapi dia jadi tersentak begitu teringat pada gadis cantik yang dilarikan oleh Wajalangke.

"Setan...apa benar gadis yang hendak kutolong tadi memang kekasih pemuda yang wajahnya di tatto bintang besar. Jika memang betul kekasihnya menga- pa tidak terus terang saja kepadaku?" Setan Sableng gelengkan kepala. "Jelas pemuda tadi telah menipuku, dia kira aku kena dibodohi. Dasar kecoak, awas aku pasti akan mencarinya!" kata Setan Sableng. Pemuda itu lalu balikkan badan melangkah dekati empat kuda tunggangannya. Ternyata dia tidak langsung naik dan merebahkan diri di atas punggung kuda, melainkan mengambil kendi besar yang tersimpan di dalam kan- tong perbekalan. Ketika penutup kendi dibuka, ter- cium aroma tuak keras yang sangat harum. Kendi di- angkat tinggi, mulut Setan Sableng terbuka.

Gluuk! Gluuk! Gluuk!

"Hemm...!" Setan Sableng menggumam. Dia me- nyeka mulutnya yang basah berselemot tuak dengan punggung tangan. "Sekarang setelah minum tuak baru bisa kurasakan sesungguhnya dunia ini sangat luas. Tadinya sempit dan sumpek." kata si pemuda. Setelah menutup mulut kendi seperti semula, kendi langsung dimasukkannya kembali ke kantong perbekalan. Setan Sableng baru saja hendak melompat ke atas punggung kuda ketika dia mendengar ada orang berkata. "Minum tuak ditengah panas terik begini memang asyik. Tapi apa enaknya jika diminum sendiri?" Setan Sableng ter- cekat, lalu cepat memandang ke jurusan mana suara berasal. Pemuda ini batalkan niat naik ke atas pung- gung kuda ketika melihat seorang pemuda gondrong muncul di tempat itu bersama seorang laki-laki tua berpakaian cokelat. Baik si orang tua maupun pemuda gondrong itu Setan Sableng sama sekali tidak menge- nalnya.

Si gondrong bertelanjang dada terus bergerak mendekati Setan Sableng. Sejarak tiga tombak pemuda itu hentikan langkahnya. Dia memandang ke arah Se- tan Sableng, lalu tertawa tergelak-gelak. "Kulihat ada dua orang terkapar disini, apakah mereka mabok tuak atau mati karena mencium harumnya tuak?"

"Ha ha ha! Kau betul. Mereka malah mati sebe- lum sempat menikmati lezatnya tuakku. Kau ini siapa sobat gila? Mengapa ikut-ikutan bertelanjang dada se- perti diriku?"

"Dari sananya aku memang sudah begini, nama- ku Gento Guyon. Sedang orang tua itu adalah saha- batku satu perjalanan!" menerangkan Gento. Setan Sableng memandang ke arah Karma Sudira sekilas, tapi entah mengapa dia seperti bosan. Setelah itu kembali berpaling ke arah Gento. "Sobat Gento, kau dari mana dan hendak kemana?"

"Segala urusanku tidak sembarang orang boleh tahu." kata murid Gento Ketawa, sedangkan matanya menerawang memandangi rumah yang hangus. "Sobatku pemilik empat kuda kurus kering. Siapa yang membakar rumah ini?"

"Aku Setan Sableng sudah melihat orang yang membakar rumah itu. Orangnya sekarang tergeletak di depanmu. Ha ha ha!" kata Setan Sableng. Dia kemu- dian melanjutkan ucapannya.

"Sobatku, namaku Setan Sableng. Apakah kau ingin minum tuak bersamaku sampai mabuk?"

"Ha ha ha, dengan seorang sahabat tentu saja aku mau. Tapi dengan setan tentu saja aku tak sudi. Terkecuali jika kau mau membagi tuakmu dengan sa- habatku itu!" kata Gento sambil menunjuk ke arah Karma Sudira. Orang tua didepan sana gelengkan ke- pala.

"Ternyata dia tidak mau. Syukur ....aku senang. Tuakku ini tuak harum. Mana mungkin kubagikan pa- da semua orang. Padamu juga tidak. Tapi mungkin disuatu saat. Aku Setan Sableng pasti bermurah hati memberikan sebanyak tuak yang kau mau!"

"Jadi kau sekarang hendak kemana?" tanya Gen- to heran. Setan Sableng tersenyum.

"Sesungguhnya aku ingin banyak berbincang denganmu. Sangat disayangkan waktunya begitu sem- pit, aku harus mengejar pemuda yang menculik ga- disku. Bukan... dia bukan kekasihku. Maksudku aku harus mengejar pemuda yang melarikan gadis yang baru saja kutolong. Aku takut terjadi sesuatu dengan- nya. Atau kau ingin ikutan mengejarnya?"

"Siapa nama gadis yang kau tolong, siapa pemu- da yang menculiknya?" tanya Gento ingin tahu. Setan Sableng mencoba mengingat-ingat. "Namanya... nama gadis dan pemuda itu... akh... aku lupa, aku belum sempat bertanya." sahut Setan Sableng.

"Dasar pemuda miring. Menolong orang tapi na- manya saja tidak tahu!" gerutu Karma Sudira sambil cibirkan mulutnya.

"Maaf sobat sableng. Aku tak bisa ikut serta den- ganmu. Lagipula kudamu kurus begitu, mana kuat membawa aku." kata Gento.

"Kalaupun mau ikut, kalian bisa berlari-lari dibe- lakangku. Sayang sekali.... kau tidak bisa ikut, se- dangkan aku harus pergi sekarang. Sobat Gento, kelak aku pasti mencarimu. Mohon pamit, sobatmu Setan Sableng harus segera berangkat!" berkata begitu Setan Sableng melompat di atas punggung kuda, lalu rebah menelentang di atas ke empat kuda tunggangannya. Sambil memejamkan mata dan melambaikan tangan segala Setan Sableng berteriak ditujukan ke empat ku- danya.

"Kudaku, kuda berguna. Kita berangkat Hayo,....!" begitu mendapat aba-aba dari Setan Sab- leng, empat kuda menghambur ke depan, Lari tung- gang langgang seperti dikejar serigala. Di atas pung- gung kuda Setan Sableng tertawa tergelak-gelak.

Gento Guyon tepuk keningnya sendiri. Sedang- kan Karma Sudira gelengkan kepala sambil mengham- piri Gento.

"Mestinya kita tanya siapa nama pemuda itu yang sebenarnya! Siapa tahu dia anakku?" sesal Karma Su- dira.

"Paman sendiri yang salah. Mana mungkin aku bertanya pada pemuda gila sepertinya? Namanya Se- tan Sableng. Mungkin dia memang tidak punya nama lain. Boleh jadi dia anak setan sungguhan. Siapa bera- ni menjamin. Ha ha ha!" jawab Gento disertai tawa mengekeh.

"Mungkin ucapanmu memang benar. Dia Setan Sableng. Aku tidak mempunyai anak turun setan. Apa- lagi ditambah dengan embel-embel sableng!"

"Sudahlah paman. Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan ke Wadaslintang. Jika baju biru yang mela- rikan peta itu berhasil menjumpai adipati. Aku khawa- tir keselamatan anakmu sekarang berada dalam an- caman bahaya besar. Mari kita pergi!" kata Gento ke- mudian. Karma Sudira anggukkan kepala. Kedua orang ini lalu melangkah pergi tinggalkan mayat Nafas Penyebar Maut dan Mayat Samber Nyawa yang dingin membeku.

TAMAT