Gento Guyon Eps 16 : Mbah Pete

 
Eps 16 : Mbah Pete


Bukit kecil itu letaknya tidak jauh dari Telaga Tengkorak Hantu. Di Lereng kaki bukit, di bawah cu- rahan hujan lebat sesosok tubuh berpakaian hitam, bertopi tinggi dihiasi dua buah tanduk kerbau duduk diam disana. Bersikap seolah tak perduli dengan apa yang terjadi disekelilingnya, walau saat itu tubuh dan pakaian sosok kakek tua ini basah kuyup terkena si- raman air hujan.

Sekian lama dalam keadaan seperti itu, telinga kiri si kakek bergerak-gerak. Sepasang mata yang ter- pejam terbuka, si kakek gerakkan kepala ke sebelah kiri, dua bola matanya yang merah seperti habis me- nangis memandang ke jurusan Telaga Tengkorak Han- tu. Tidak ada binatang atau satupun manusia yang terlihat, terkecuali kepekatan kabut akibat derasnya hujan yang tercurah. Si kakek kembali pada sikapnya semula. Dia hembuskan nafasnya yang terasa menye- sak di dada, kepala menggeleng, mulut yang tertutup kumis kelabu membuka berucap. "Tidak mungkin. Aku belum tuli, telingaku tidak salah mendengar. Suara yang kudengar barusan tadi sama sekali bukan suara gemuruh hujan. Suara tadi datangnya dari arah telaga. Ada sesuatu yang jatuh ke dalam telaga itu. Batu? Ti- dak! Jika batu sebesar apapun bila jatuh ke dalam te- laga suaranya bukan seperti yang kudengar? Apa mungkin suara setan penghuni telaga?" gumam si ka- kek. Sekali lagi dia putar kepala ke arah telaga, ma- tanya memandang ke tempat itu, berputar liar menco- ba mencermati. Tatap mata si kakek terhenti, diam memperhatikan begitu melihat tiga batang pohon ka- puk besar seukuran tiga pelukan orang dewasa. Ha- tinya mendadak gelisah, jantung berdebar. Satu demi satu ketiga pohon yang terdapat di sebelah barat tepi telaga itu ditelitinya, dari bagian pangkal batang hing- ga ke bagian pucuk pohon. Si kakek jadi tercekat begi- tu melihat sebuah lubang besar di pertengahan batang pohon. Ketiga lubang yang terdapat di pohon itu sama menghadap ke arah telaga. Sedangkan di mulut lubang ditiap pohon itu tersumpal satu tengkorak kepala ma- nusia berwarna hijau ditumbuhi lumut. Memandang ke arah tiga tengkorak dengan mata mendelik, mulut si kakek kembali berucap.

"Tiga pohon kapuk di tepi telaga. Pada masing- masing lubang di sumpal dengan tengkorak kepala. Celaka! Berarti aku telah sampai di Telaga Tengkorak Hantu. Bagaimana aku bisa melantur hingga sampai ke tempat ini?" kata si kakek dengan suara tercekat dan wajah berubah pucat. Cepat dia palingkan wajah- nya ke jurusan lain. Dia kini jadi ingat konon telaga itu sangat angker. Banyak roh jahat dan mahluk gaib tinggal didalam telaga. Belasan tahun telaga itu tak pernah didekati manusia, walau konon pemandangan bagian dasar telaga sangat indah.

Ingat dengan segala cerita yang didengarnya se- lama ini apalagi di tambah dengan suara aneh yang didengarnya barusan tadi membuatnya ingin tinggal- kan bukit itu secepatnya. Si kakek bangkit berdiri, ke- pala didongakkan ke atas, sepasang mata memandang ke langit. Langit tertutup awan kelabu. Sementara cu- rahan hujan tidak lagi sederas tadi, tapi juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan terhenti.

"Aku tidak mau mencari penyakit. Yang ku ta- hu Si Muka Setan telah terbunuh. Tapi tiga orang sak- si mengatakan sahabatku itu belum mati. Malah gen- tayangan, hendak berlaku bejad menodai seorang ga- dis. Sungguh gila. Aku sendiri terlanjur membunuh Rajo Penitis, telah kulakukan satu dosa besar yang ti- dak akan impas jika tidak kutebus dengan kematian pula. Tidak mengapa. Aku rela membayar hutang nya- wa asal aku sudah dapat bertemu dengan Si Muka Se- tan. Aku ingin tahu apakah nenek Muka Setan yang mereka jumpai itu memang sahabatku adanya atau cuma palsu belaka."

Selesai berkata si kakek balikkan badan siap hendak pergi. Di saat dia membalikkan badan itulah sudut matanya menangkap ada sesuatu yang bergerak di tengah telaga. Si kakek tercekat, dia urungkan niat- nya untuk tinggalkan tempat itu. Kembali si kakek pu- satkan perhatian ke tengah telaga. Saat itu air telaga bergolak menimbulkan gelombang hebat disertai den- gan munculnya gelembung memutih laksana buih. Di tengah curah air hujan yang sudah tidak seberapa de- ras lagi gelombang di tengah telaga makin menghebat, bergerak keseluruh penjuru telaga lalu lenyap setelah menghempas tepian telaga.

Terdorong oleh rasa keingintahuan yang besar si kakek membuat satu gerakan. Laksana kilat tubuh- nya berkelebat melesat ke balik batu besar yang terda- pat di sebelah kiri telaga. Dari balik tempat persembu- nyiannya dia julurkan kepala, sepasang mata di pen- tang memandang lurus ke tengah telaga.

Si kakek menduga mustahil gelombang besar itu terjadi akibat curahan air hujan. Ternyata dugaan- nya tidak meleset karena hanya beberapa saat setelah itu di permukaan air muncul satu sosok serba kuning. Sosok itu kemudian melesat ke udara. Di udara dia la- kukan gerakan berjumpalitan sebanyak tiga kali.

Wuuut! Wuut! Wuuut!

Hanya dalam beberapa kejapan sosok yang muncul dari dasar telaga telah jejakkan kakinya di pinggir telaga itu. Kini dengan jelas si kakek dapat me- lihat satu sosok seorang perempuan tua, berambut pu- tih berwajah hancur mengerikan seperti dicacah.

Si kakek jadi tercekat, wajah pucat, tubuh ber- getar. Semua ini bukan karena akibat rasa takut meli- hat betapa angkernya wajah si nenek. Melainkan kare- na sosok yang dilihatnya bukan orang asing dalam hi- dup si kakek tapi adalah orang yang sangat dia kenal.

"Si Muka Setan? Bagaimana dia dapat hidup kembali. Tidak mungkin? Sulit untuk dapat kuper- caya!" kata si kakek dengan bibir bergetar.

Sosok berpakaian kuning berenda putih di tepi telaga yang tubuhnya dalam keadaan basah kuyup ti- ba-tiba dongakkan kepala ke langit. Senyum angker si nenek muka setan mengembang. "Seharusnya bangsat Perampas Benak Kepala sudah datang kesini, meng- hadap padaku dan melaporkan tentang segala yang te- lah dilakukannya. Hemm, sudah satu hari lebih men- gapa dia tidak kembali? Gerangan apa yang terjadi pa- danya?" batin si nenek. Orang tua itu diam sejenak dia ingat sesuatu. Sambil menepuk kepala dia berucap. "Ah, aku lupa bukan dia yang menemuiku, tapi aku yang mencarinya. Terlalu banyak mereguk manisnya madu cinta membuat aku lupa. Untuk sementara se- baiknya kutinggalkan dulu istana sorga kenikmatan di dasar telaga. Aku akan menyelidik, menyirap kabar siapa tahu dua manusia tolol itu sudah dapat me- nangkap Pendekar Sakti Gento Guyon. Pemuda edan itu harus kubunuh secepatnya, kalau tidak dia bisa menjadi penghalang dari semua cita-cita keinginanku!"

Selesai bicara sendiri si nenek hendak beranjak pergi, tapi entah mengapa niatnya urung. Kini dia ma- lah memandang di seputar tepi telaga. Matanya jelala- tan mencari-cari.

Di balik batu kakek bertopi tinggi di buat he- ran. "Dia mengatakan dua manusia tolol? Siapa yang dimaksudkannya? Dia juga menginginkan Gento Guyon? apa benar yang berdiri di tepi telaga itu me- mang Si Muka Setan sahabatku. Rambut, wajah serta pakaian yang dia pakai sama persis. Bisa jadi dia Si Muka Setan. Mungkin Muka Setan yang lain, bukan sahabatku Si Muka Setan yang telah mati." membatin si kakek dalam hati. Dia gelengkan kepala lanjutkan ucapannya. "Mungkin yang kulihat ini adalah saudara Kembar Si Muka Setan. Tidak mungkin, Muka Setan tak pernah mengatakan dia mempunyai saudara kem- bar!" Sesaat si kakek diliputi perasaan bingung. Se- mentara itu ditepi telaga sana Si Muka Setan sudah menghadap ke arah batu dimana si kakek bersem- bunyi. Nenek itu kemudian berkata.

"Dalam hujan begini aku jadi malas untuk me- ninggalkan telaga. Sayang pekerjaanku tak dapat di- tunda. Baiklah, sebelum pergi kurasa ada baiknya aku bereskan dulu tikus comberan yang bersembunyi di balik batu." kata si nenek. Belum lagi gema suara si nenek lenyap laksana kilat dia hantamkan tangan ka- nannya ke arah batu dimana si kakek bersembunyi. Sinar hitam menggidikkan membersit dari lima ujung jari nenek berwajah setan, melesat sebat ke arah batu hingga menimbulkan ledakan berdentum. Si kakek yang sempat melihat datangnya serangan lawan lang- sung melompat ke samping selamatkan diri sehingga ketika pukulan maut menghantam batu si kakek su- dah tak berada lagi di tempat itu.

Batu hancur berkeping-keping, bertebaran di udara dalam keadaan dikobari api, kemudian jatuh berserakan ke berbagai arah.

"Hemm, rupanya kau tikus comberan tua mempunyai kebisaan juga. Pantas saja kau berani muncul di tempat ini?!" dengus si nenek sambil mem- perhatikan kakek bertopi tinggi yang telah berdiri tegak sejarak empat tombak di depannya. Sebaliknya si ka- kek-jadi bertambah heran begitu melihat kenyataan bahwa Si Muka Setan ternyata sudah tak mengena- linya lagi. Untuk meyakinkan dugaannya itu si kakek sengaja berucap menyebut nama asli Si Muka Setan. "Ayu jelita. Astaga! Apakah kau sudah tidak mengenal sahabatmu sendiri. Apa yang terjadi dengan dirimu se- lama ini?"

Diam-diam nenek berwajah setan terkejut. Dia sama sekali tidak tahu kakek itu bersahabat dengan dirinya. Akal cerdik, otak liciknya langsung berfikir mencari jalan untuk memuslihati orang tua didepan- nya.

"Hik hik hik. Sejak terjadi benturan hebat serta guncangan batin yang amat berat dalam jiwaku aku sudah tidak lagi dapat membedakan mana teman ma- na sahabat. Tua bangka bertopi tanduk dapatkah kau membantu diriku untuk dapat mengenal siapa dirimu ini?" tanya Si Muka Setan seperti orang bingung. Wa- jah si nenek berubah memelas, sedih bahkan dia sam- pai teteskan air mata. Jauh berbeda dengan yang dili- hat si kakek pertama tadi, bengis, garang dan penuh kecongkakan.

Si kakek tidak mudah terkecoh. Dia melihat ada yang ganjil, ada sesuatu yang tidak wajar dalam diri nenek yang mengaku dirinya telah menjadi gila ini. Sungguhpun begitu dia tetap menjawab. "Muka Setan. Aku tahu kejadian yang menimpa keluarga dan kera- batmu. Tapi kau harus bisa menerima kenyataan tak- dir yang sudah digariskan Tuhan. Aku, Gelombang Tangis Dalam Duka adalah sahabatmu sendiri. Aku merasa ikut prihatin atas musibah itu!" ujar si kakek.

Menyangka pancingannya sudah mengena pada sasaran yang diharapkan Si Muka Setan masih dengan unjukkan wajah sedih berucap.

"Aku berterima kasih atas simpati yang kau tunjukkan. Aku pasti tidak akan melupakannya! Hanya saat ini dihatiku masih ada beberapa ganjalan!" kata si nenek ragu-ragu.

"Sahabat, kita berteman sudah cukup lama, malah sudah berlangsung belasan tahun. Jika kau memang punya ganjalan dihati katakan saja padaku. Sebagai sahabat aku pasti akan membantumu!"

"Begitukah?" gumam si nenek disertai tatapan menyelidik.

Kakek Gelombang Tangis Dalam Duka angguk- kan kepala.

2

Nenek muka setan mengusap air matanya, da- lam hati ia tertawa penuh kemenangan karena merasa telah berhasil memperdaya orang tua itu. Kemudian dengan suara sedemikian rupa hingga mengundang rasa simpati orang Si Muka Setan berkata. "Kau ingat pertemuan itu?" Di depannya Gelombang Tangis Dalam Duka anggukkan kepala. Si Muka Setan melanjutkan. "Seharusnya aku hadir dan memimpin pertemuan itu. Sayang di tengah perjalanan seorang pemuda berilmu tinggi menghadangku. Dia bermaksud menghalangi aku untuk memimpin pertemuan para pendekar. Kami terlibat perkelahian sengit. Aku kalah bahkan kepala- ku terluka di bagian dalam."

Si kakek cepat memotong. "Bagaimana ciri-ciri pemuda itu?" tanyanya dengan pandangan penuh seli- dik.

"Pemuda itu berambut gondrong, dilehernya melingkar sebuah kalung, bertelanjang dada suka ter- senyum, mungkin otaknya kurang waras. Masih be- runtung aku berhasil menyelamatkan diri. Belakangan baru kuketahui pemuda sakti itu bernama Gento Guyon."

Si kakek terdiam, otaknya cepat berfikir men- gingat. "Ciri-ciri yang disebutkannya sama persis den- gan pemuda itu. Aku baru saja bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Jika dia mengaku dihadang oleh pemuda itu, mungkin ini hanya satu kedustaan saja." fikir Gelombang Tangis Dalam Duka. Masih ku- rang yakin si kakek ajukan pertanyaan. "Sahabatku, mungkin akibat luka di dalam kepalamu membuat fiki- ranmu terganggu. Tapi yang membuat aku heran ba- gaimana setelah mengalami gangguan ingatan kini mengalami perubahan kebiasaan pula?!"

"Apa maksudmu?" tanya si nenek dengan tatap mata tak mengerti.

Gelombang Tangis Dalam Duka tersenyum pe- nuh arti. Dengan sikap tenang namun mengejutkan bagi si nenek dia berucap. "Nenek Muka Setan yang sesungguhnya tidak pernah berendam di dalam air, apalagi yang namanya tinggal di dalam telaga. Malah sahabatku itu seperti kucing. Takut air dan mandinya setiap satu tahun sekali. Itu keanehan pertama. Se- dangkan yang kedua, Si Muka Setan yang kukenal tak pernah suka atau mencintai kaum sejenis. Apalagi sampai berbuat keji pada seorang gadis. Tapi kau me- nurut yang kudengar malah menculik gadis dan mela- kukan perbuatan mesum pada gadis culikannya. Muka Setan, apakah segala kegilaan yang telah kau lakukan ini ada hubungannya dengan cacat cedera yang terjadi di dalam otakmu? Aku sahabatmu Gelombang Tangis mohon diberi penjelasan. Cukup sekian pertanyaanku, si tua yang murah tangis ini menunggu jawaban." kata si kakek.

Tak pernah menyangka mendapat pertanyaan seperti itu, Si Muka Setan tentu saja jadi tercekat. Ru- panya tidak rupa setan lagi, tapi telah berubah memu- tih laksana kertas. Kini dia merasa telah ditelanjangi oleh si kakek. Tapi dasar si nenek banyak akal musli- hat, dengan tenang dia menjawab. "Sahabatku. Dalam keadaan otak tidak waras, seseorang bisa me-lakukan atau berbuat apa saja diluar kesadarannya. Apa yang aku katakan itu kalaupun memang benar terjadi pasti diluar kesadaranku. Karena terkadang aku sendiri ti- dak mengenal siapa diriku. Orang gila sering melaku- kan perbuatan menyimpang diluar kebiasaannya. Jika kau lihat aku mendekam di dasar telaga itu, berdasar- kan apa yang kukatakan masihkah kau menganggap aneh segala yang kulakukan?!"

Si kakek gelengkan kepala. Tapi dia ingat, Si Muka Setan, seperti yang dilihatnya telah mati. Kea- daannya mengenaskan. Kepala berlubang, isi kepala lenyap. Gelombang Tangis Dalam Duka tak mau terke- coh bahkan dia tak kehabisan akal.

"Sahabatku, aku ingin menyembuhkan penya- kitmu agar kau mendapatkan kewaras-anmu kembali. Maukah kau?"

"Tentu saja mau, malah aku merasa berterima kasih sekali." jawab si nenek. Dalam hati, dia bertanya. "Apa lagi yang hendak dilakukan oleh jahanam tua ini? Seandainya dia hendak bertingkah yang tidak-tidak aku harus menghabisinya secepat mungkin."

Didepannya sana Gelombang Tangis Dalam Duka melangkah maju dua tindak sehingga jarak dian- tara mereka hanya tinggal sekitar tiga langkah saja. Si kakek ulurkan tangannya, lalu berucap. "Aku ingin memeriksa luka didalam kepalamu. Aku akan menya- lurkan tenaga sakti di bagian kepalamu itu. Kemari- lah.... maju mendekat...!"

Si Muka Setan tercengang, bukannya maju mendekati si kakek. Sebaliknya dia melompat mundur. Matanya terbelalak seolah saat itu dia melihat satu so- sok hantu besar berdiri tegak di depannya.

"Sahabatku Muka Setan mengapa? Aku ber- maksud baik hendak menolongmu kemarilah!" kata si kakek lagi. Dia maju mendekat. Setiap Gelombang Tangis Dalam Duka melangkah maju sebaliknya si ne- nek bergerak mundur. Sampai akhirnya Si Muka Setan membentak. "Berhenti! Jangan coba-coba mendekati aku lagi!" kata si nenek bengis.

Bentakan keras itu tidak membuat si kakek merasa takut, malah sambil tertawa tergelak-gelak Ge- lombang Tangis Dalam Duka memandang tajam ke arah Si Muka Setan dengan sorot mata sulit ditebak.

"Muka Setan. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan? Sesuatu yang kau tak ingin orang lain mengetahuinya. Aku sudah melihat, aku sudah merasakannya. Ha ha ha!" kata si kakek sambil mengumbar tawanya. Dia kemudian melanjutkan uca- pannya. "Kau bukan sahabatku Si Muka Setan, mung- kin kau orang lain. Seseorang yang sengaja menyaru sebagai Muka Setan untuk kepentingan dan maksud- maksud tertentu. Padahal aku adalah salah seorang yang menyaksikan dengan kepala sendiri bahwa Si Muka Setan yang sebenarnya telah tewas dan kini ber- kubur di Kiara Con-dong."

"Jika kau sudah mengetahuinya, berarti aku akan membungkam mulutmu agar tidak usil lagi. Hik hik hik!" sahut Si Muka Setan. Kini nada suaranya te- lah berubah sama sekali, melengking penuh keangku- han.

"Kau hendak membungkam mulutku. Ha ha ha! Akan kukelupas wajah yang buruk itu hingga aku da- pat melihat wajah aslimu. Setelah itu baru kutelanjan- gi tubuhmu hingga aku dapat melihat apakah kau pe- rempuan sejati atau banci! ha ha ha!" Wajah yang dipenuhi carut marut itu meng- gembung merah, mulut terkatub rapat sedangkan se- pasang matanya mencorong angker.

"Tua bangka tolol kau mengira dirimu itu sia- pa? Kau sama sekali tidak akan pernah dapat menyen- tuh tubuhku. Karena sebelum itu kau lakukan nya- wamu akan kubuat amblas terbang ke neraka!"

Gelombang Tangis Dalam Duka sebagaimana julukannya langsung keluarkan suara menggerung. Dia menangis keras. Si nenek tercekat begitu menya- dari ternyata tangis kakek itu bukan tangis biasa ka- rena mengandung satu kekuatan dan pengaruh hebat hingga bagi orang yang memiliki tingkat tenaga dalam tidak begitu tinggi bisa terpengaruh ikut terseret dalam tangisan itu. Sebaliknya Si Muka Setan begitu menu- tup indera pendengarannya langsung mengumbar ta- wa. Suara tawa dan tangis akhirnya saling tindih, hingga terjadilah adu tenaga sakti melalui suara tawa dan tangis masing-masing lawan.

Beberapa saat keduanya tampak keluarkan ke- ringat dingin, wajah mereka nampak tegang, sedang- kan sekujur tubuh bergetar. Malah kaki si kakek mulai amblas melesak ke dalam tanah. Diam-diam orang tua itu jadi kaget, tak menyangka tenaga dalam lawan ter- nyata tidak berada di bawahnya. Dalam hati Gelom- bang Tangis Dalam Duka merutuk. "Nenek keparat ini jelas bukan Si Muka Setan. Entah siapa dia adanya, tapi aku melihatnya ada hawa keji yang dipergunakan untuk menyerangku lewat suara tawa itu."

Di depan sana masih dengan tertawa mengum- bar tawanya si nenek Muka Setan sendiri memaki. "Tua bangka jahanam! Aku akan menghabisimu. Nya- wamu tidak akan bertahan lebih dari lima jurus dimu- ka!"

Masih dengan tertawa si nenek hantamkan tangannya ke depan. Sinar hitam membersit dari tela- pak tangannya. Kedua sinar berhawa dingin mengidik- kan itu langsung menyambar tubuh lawan disertai su- ara bergemuruh bagaikan tanggul besar yang jebol di- labrak banjir. Si kakek yang menyerang lawan melalui suara tangis kejutnya bukan alang-alang. Dia tidak menyangka dalam keadaan mengadu kesaktian dari ja- rak jauh lawan masih dapat menyerangnya dengan pukulan pula. Padahal salah sedikit saja dalam mela- kukan gerakan akibatnya bisa fatal bagi nenek itu. Ke- nyataan yang terjadi malah sebaliknya. Dua sinar hi- tam itu ternyata dua kali lebih ganas dari serangan yang dilakukan lewat tawa.

Seketika Gelombang Tangis Dalam Duka henti- kan suara tangisnya. Dia melompat ke samping, tapi gerakannya ini kalah cepat dengan pukulan lawan, se- hingga bahu kirinya masih terkena sambaran pukulan lawan. Si kakek menjerit kesakitan, tubuh terhuyung bagian bahu dikobari api. Dia bergerak menjauh se- dangkan tangan kanan sibuk memadamkan api yang membakar pakaian di bagian bahu.

Di belakang si kakek terdengar dua kali leda- kan berturut-turut akibat dua pukulan yang menyam- bar bahu orang tua itu menghantam pohon di bela- kangnya. Pohon hancur tumbang disertai suara gemu- ruh. Tanpa menghiraukan semua itu si kakek ini mele- sat ke depan, mempergunakan kesempatan selagi la- wan siap melepaskan pukulan kedua dia langsung le- paskan tendangan disertai dua pukulan yang menga- rah ke bagian wajah dan bahu lawannya. Nenek Muka Setan terkejut besar, tapi segera melompat ke udara hindari tendangan. Tendangan lawan dapat dielakan- nya tapi si kakek masih berhasil susupkan pukulan- nya ke dada nenek itu.

Deeees! Hantaman yang sangat keras membuat si ne- nek jatuh terjengkang. Tanpa menghiraukan sakit yang mendera dadanya orang tua itu melompat bang- kit, tegak dengan terhuyung-huyung dari mulutnya terdengar sumpah serapah. Kesempatan itu dipergu- nakan oleh Gelombang Tangis Dalam Duka merangsak maju dengan sepuluh jari tangan berkelebat. Lima mencari sasaran di bagian wajah sedangkan lima lain- nya menyambar dada si nenek.

"Tua bangka keparat! Dia mencoba melihat ba- gaimana rupa asliku. Baiklah, rasa penasaranmu akan kubuat impas hari ini!" geram Si Muka Setan dalam hati. Orang tua itu mundur satu langkah, dua tangan cepat diputar sedemikian rupa lalu di dorong ke depan. Pada saat itu dua tangan si nenek telah berubah menghitam sampai sebatas siku

Dua gelombang angin menderu dari telapak tangan Si Muka Setan. Akibatnya sungguh sangat luar biasa. Hantaman itu bukan saja membuat dua seran- gan berupa cakaran si kakek berbalik dan hampir menghantam wajahnya sendiri tapi juga membuat Ge- lombang Tangis Dalam Duka jatuh terjajar lalu tergul- ing-guling.

Si nenek tertawa lebar. Dia memutar tangannya yang semakin menghitam setelah itu laksana kilat si nenek melompat ke arah lawan disertai teriakan me- lengking. Laki-laki tua itu jadi tercekat begitu melihat lawan telah berada disampingnya. Lebih kaget lagi ke- tika melihat kedua tangan si nenek siap melancarkan pukulan mautnya.

Tak punya pilihan lain, masih dalam keadaan menelentang ia sambut serangan lawannya. Dua tan- gan yang diangkat ke udara bergerak secara bersilan- gan seperti gunting begitu tangan si nenek meluncur ke bagian dadanya. Plak!!

Benturan keras terjadi, membuat salah satu dari serangan yang dilancarkan Si Muka Setan tak mengenai sasaran, sebaliknya tangannya yang lain menghantam bagian perut kakek itu, membuat si orang tua menjerit setinggi langit.

Pakaian hitam di bagian perut si kakek hangus robek meninggalkan bekas telapak tangan. Asap men- gepul, bagian perut si kakek hangus gosong menebar- kan bau sangit daging terbakar. Gelombang Tangis Da- lam Duka begitu perutnya terkena pukulan lawan su- dah tak mampu lagi bergerak dari tempatnya. Dia ter- kapar, mata mendelik seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya. Hanya sesaat saja terdengar suara erangan. Di lain kejab erangannya terputus, ke- pala terkulai jiwa melayang.

Si Muka Setan tertawa bergelak. Dia memper- hatikan Gelombang Tangis Dalam Duka sejenak sambil berkata sinis. "Sepuluh manusia berkepandaian seper- timu belum tentu sanggup menghadapi aku. Kelak se- luruh kawan-kawanmu juga akan mengalami nasib seperti dirimu.!" kata si nenek. Selesai bicara sendiri dia bukan langsung tinggalkan mayat lawannya. Seba- liknya mayat si kakek dipanggulnya, kemudian dibawa pergi entah kemana.

3

Di bawah sebatang pohon besar gadis cantik berpakaian putih berkembang merah nampak duduk termenung menekuri pendupaan menyala yang terda- pat didepannya. Tak jauh di depannya seorang kakek tua berambut kelabu, berpakaian hitam berkumis teb- al masih pulas di buai mimpi. Di langit sebelah timur matahari baru saja munculkan diri dari balik bukit. Udara di pagi itu terasa dingin sekali, membuat tidur si kakek kelihatan nyenyak sekali.

Si gadis yang bukan lain adalah Roro Centil adanya jadi tak sabar menunggu. Dia bangkit berdiri, melangkah mendekati si kakek. Setengah berjongkok dia bangunkan orang tua itu.

"Mbah... sudah siang Mbah. Bangun Mbah, kita harus meneruskan perjalanan.!"

Si kakek yang dibangunkan menggeliat seben- tar, tangan ditendangnya tapi kejab kemudian kembali tertidur.

Roro Centil gelengkan kepala. Dia jadi kesal melihat orang tua ini. Sejak meninggalkan gunung Sembung yang merupakan tempat tinggal si kakek, orang tua yang bernama Mbah Petir ini memang selalu membikin ulah. Ada saja keisengan yang dilakukannya hingga membuat perjalanan mereka jadi sering tertun- da.

"Mbah bangun! Pendupaanmu digondol mal- ing!" teriak gadis itu dengan suara keras dekat telinga si kakek. Teriakan yang keras membuat Mbah Petir tersentak kaget.

"Hah, apa? Jeroanku di gondol maling?" sentak si Mbah. Serentak dia bangkit dan duduk. Rasa kejut membuat si kakek terkentut-kentut. Roro Centil me- lompat mundur sambil tekab hidungnya karena kentut Mbah Petir ternyata bau pete.

"Orang tua sialan. Kentut tidak bilang-bilang, mana bau pete lagi!" si gadis mengomel panjang pen- dek.

Si Mbah yang pendengarannya kadang tergang- gu nampak kalang kabut. Bangkit berdiri matanya jela- latan memandang kesegenap penjuru arah. Aneh, ke- mudian tersenyum. Dia mengusap perutnya sendiri. "Roro kau suka menggodaku. Jeroanku masih ada dis- ini kau bilang di gondol maling!" ucap Mbah Petir sam- bil menarik nafas lega.

"Orang tua tuli. Orang bilang pendupaan dia bi- lang jeroan." Roro Centil menggerutu. Di depan sana si kakek melanjutkan ucapannya yang terputus tadi."

"Roro kau jangan kelewat sering membuat aku kaget. Aku bisa terkencing-kencing sambil kentut. Un- tung tadi aku tidak seberapa kaget, jadi cuma kentut saja. Coba kalau tidak, repot aku jadinya."

"Mbah Petir dari pada bicara tak karuan lebih baik Mbah junjung saja pendupaan itu. Beberapa hari yang lalu kulihat kalau Mbah berada dekat pendupaan pendengaran Mbah jadi normal. Dari pada aku harus teriak melulu, lama-lama capek aku!" kata si gadis kesal. Tanpa menunggu jawaban Mbah Petir, Roro Centil langsung angkat pendupaan berisi bara menyala dan segera meletakkannya diatas kepala Mbah Petir. Orang tua yang sering merasa ketakutan bila menden- gar suara petir sejenak lamanya nampak kebingungan. Tapi kenyataan yang terjadi kemudian memang aneh. Karena begitu pendupaan menyala itu diletakkan di atas kepala Mbah Petir telinga orang tua ini jadi terang dan pendengarannya jadi normal kembali.

"Walah kulit kepalaku rasanya seperti hangus terbakar, Roro. Tapi aneh pendengaranku jadi tajam kembali."

"Biar kepalamu hangus melepuh tidak mengapa yang penting kau bisa mendengar suaraku. Dengan begitu aku tidak teriak melulu bila bicara denganmu!" kata si gadis.

Mbah Petir tersenyum. "Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Mbah Petir ajukan pertanyaan sambil menyandarkan punggungnya di batang pohon, sementara asap tebal mengepul dari atas pendupaan yang berada di atas kepalanya.

"Mbah ini bagaimana? Engkau yang menjadi penunjuk jalan. Kau yang menentukan arah langkah. Mengapa sekarang harus bertanya padaku? Kalau be- gitu percuma saja kau dipanggil Dukun Sakti!" gerutu si gadis.

Mbah Petir yang pendengarannya jadi normal akibat pengaruh pendupaan yang diletakkan diatas kepala enak saja menyahut. "Yang mengatakan aku ini dukun sakti kan orang-orang gila yang berobat kepa- daku. Aku sendiri tidak sakti-sakti amat."

"Baiklah, kalau begitu sekarang kau kerahkan kesaktianmu untuk melihat dimana sebenarnya nenek Muka Setan itu berada!"

Mbah Petir manggut-manggut. Dia pejamkan kedua matanya, dua tangan disilangkan ke depan da- da. Kumisnya yang tebal bergerak, mulut komat-kamit membaca mantra. Tak berselang lama terdengar suara Mbah petir yang seperti orang mengigau. "Wes suwi ora mangan pete. Sudah lama nggak makan pete. Tidak juga tempe apalagi dele, Heee... wewe, genderuwo, memedi, jembalang. Aku Mbah Petir ingin melihat se- suatu yang tersembunyi di balik kasatnya mata raha- sia dari orang yang kucari dimana kini gerangan ber- sembunyi!" kata si kakek. Roro Centil yang sangat per- caya dengan kemampuan si kakek dalam dunia perdu- kunan memperhatikan segala ucapan bahkan sampai pada gerak gerik orang tua itu.

Di depannya sana tubuh Mbah Petir tiba-tiba bergetar, seiring dengan itu pula pohon yang dijadikan tempat bersandar berguncang keras. Setelah itu ter- dengar suara kentut si kakek bertalu-talu. Kalang ka- but Roro Centil melompat menjauh hindari berondon- gan kentut Mbah Petir yang menebar bau pete me- nyengat. "Sialan... sialan. Tidak biasanya si Mbah sam- pai terkentut-kentut bila memusatkan perhatian dan menyambung tali rasa dengan dunia gaib. Tapi kali ini agaknya ada sesuatu yang hebat dilihat orang tua ini!" sambil mendekap hidungnya si gadis berkata.

Pada kesempatan itu Mbah Petir berucap. "Aku melihat seorang pemuda gondrong, bertelanjang da- da...!"

Roro Centil yang mengenal orang yang dis- ebutkan langsung memotong ucapan si kakek. "Mbah, kau keliru melihat. Orang yang baru kau sebutkan itu adalah Pendekar Sakti Gento Guyon. Aku mengenal- nya, dia sama sekali bukan orang jahat." menerangkan si gadis. Dalam kesempatan itu Roro Centil jadi terin- gat pada gadis yang bersama Gento. Sehingga secara iseng namun hati berdebar dia ajukan pertanyaan. "Mbah, apakah si gondrong bersama-sama seorang ga- dis cantik?"

Mulut si kakek komat-kamit lagi, masih dengan mata terpejam dia menjawab. "Kalau gadis yang kau maksudkan itu berkumis, berjengggot tebal berpakaian kuning-kuning penuh tambalan dan berambut klimis. Gadis itu saat ini bersama si gondrong menuju ke sua- tu tempat!"

Roro Centil berjingkrak kaget, matanya membu- lat besar, mulut ternganga wajah merah padam. "Mbah kau melantur. Mana ada perempuan berjenggot dan berkumis. Hanya satu manusia di rimba persilatan ini dengan ciri-ciri sebagaimana yang kau sebutkan. Dia adalah Raja Pengemis! Sudahlah Mbah jangan melan- tur seperti itu. Sekarang coba cari dimana bersembu- nyinya Si Muka Setan?"

Si kakek diam tak menjawab, kembali dia ke- rahkan segala kekuatan yang dia miliki, hingga pen- dupaan diatas kepalanya bergetar hebat, sedangkan bara api yang berada didalam pendupaan nampak me- nyala berkobar, membuat si kakek golang golengkan kepalanya yang kepanasan. "Roro, aku hanya melihat telaga tak jauh dari sini. Aku juga melihat mayat se- seorang. Aku melihat bayangan orang berlari, tapi tak dapat kuketahui laki-laki atau perempuan. Ada satu kekuatan yang melindungi dirinya hingga aku tak da- pat meneliti siapa bayangan itu. "jelas si kakek.

"Ada telaga tak jauh dari sini, tapi ada mayat pula. Kemudian ada orang berlari? Apakah ketiga hal yang disebutkan Mbah Petir ada hubungannya satu sama lain? Aneh, mayat itu mayat siapa. Mengapa muncul dalam pandangan mata batin orang tua ini" fi- kir Roro Centil. Merasa bingung gadis ini gelengkan kepala. Baru saja Roro Centil hendak ajukan perta- nyaan. Mendadak sontak kesunyian ditempat itu dipe- cahkan oleh suara gelak tawa seseorang.

Mbah Petir yang sedang memusatkan perhatian dalam tali sambung rasa dengan dunia gaib jadi terke- jut. Konsentrasinya buyar, sedangkan semua apa yang dilihatnya lenyap dalam seketika.

"Pokrol, siapa itu yang tertawa?!" bentak Mbah Petir yang sempat terkencing dan terkentut-kentut mendengar suara tawa orang.

"Bukan aku Mbah. Mungkin setan kobakan yang tertawa!" sahut Roro Centil sambil palingkan wa- jah memandang ke arah mana suara tawa tadi terden- gar. Belum lagi lenyap rasa heran dihati si gadis, dari arah sebelah kanannya dia melihat satu bayangan biru berkelebat ke arahnya. Di lain kejab di depannya ber- diri tegak seorang gadis berjubah biru berdandan me- nor. Gadis ini dengan malu-malu sambil terus tertawa tutupi wajahnya dengan ujung jubah yang menjuntai di bagian dada.

"Jubah biru, muka celemongan tak karuan. Memandangku dengan malu-malu. Agaknya gadis ini manusia yang tidak mempunyai kewarasan." memba- tin Roro Centil dalam hati. Sebaliknya Mbah Petir yang dibuat marah mendengar suara tawa gadis jubah biru ini ketika membuka mata dan memandang ke depan jadi melengak kaget. Dia rasa-rasa kenal dengan gadis berjubah biru. Dicobanya untuk mengingat, sayang otaknya seperti buntu.

"Hik hik hik. Mbah Pete.... Mbah Pete...? Mujur sekali aku dapat bertemu dengan dirimu hari ini, Mbah." kata si gadis yang bukan lain adalah Puteri pemalu, gadis sakit ingatan murid Si Muka Setan. Se- jenak Puteri Pemalu memandang ke arah si kakek, lalu beralih pada gadis yang berada di depan kakek itu. Mulut usilnya berucap. "Mbah Pete... gadis ini apamu- kah? Pembantu, istri atau kekasihmu? Hik hik hik!"

Dikatakan istri Mbah Petir, Roro Centil jadi me- radang. Dengan sengit Roro Centil membentak. "Gadis gila! Melihat tampangmu membuat aku jadi muak. Per- tama kau begitu kurang ajar memanggil sahabatku ini dengan Mbah Pete. Kedua beraninya kau mengatakan aku ini istri sahabatku! Siapakah dirimu ini gadis gi- la?"

Puteri Pemalu tertawa panjang. Ucapan Roro Centil sama sekali tidak membuatnya menjadi marah. Malah dengan tenang dia menyahuti. "Kalau kau tidak merasa jadi istrinya mengapa harus, marah. Aku me- manggil orang tua penjunjung dupa itu dengan panggi- lan Mbah Pete karena memang betul dia paling doyan makan pete. Begitu keranjingannya dia akan pete sampai keringat bau pete, mulut bau pete bahkan sampai kentutnyapun bau pete. Hik hik hik. Bukankah begitu Mbah?"

Bukannya marah Mbah Petir malah ikutan ter- tawa, membuat Roro Centil jadi heran sambil meman- dang pada Mbah Petir dengan mata mendelik. Masih dengan tertawa si kakek terus berusaha mengingat. Mbah Petir kemudian tepuk keningnya sendiri. Pada Roro Centil dia berbisik. "Tak usah diambil hati, aku ingat siapa dia. Gadis ini manusia sinting. Kalau lagi waras bicaranya bisa lempang, tapi kalau gilanya lagi angot bicaranya suka melantur." selesai bicara begitu pada Roro Centil dia kemudian beralih pada gadis ber- jubah biru. Pada gadis ini dia mendamprat. "Kau... hem, beberapa tahun yang lalu kau pernah mengerjai aku. Waktu itu aku sedang mandi di sungai. Begitu se- lesai celana dan pakaianku raib, bukan itu saja. Cela- na kolorku bahkan amblas! Gadis gila sialan.... kau...!" Mbah Petir tidak meneruskan ucapannya. Mungkin dia malu besar, buktinya wajah si kakek bersemu merah.

Puteri Pemalu kembali tergelak. "Biar aku yang lanjutkan ceritanya itu Mbah Pete," kata si jubah biru sambil melirik ke arah Roro Centil. "Kemudian Mbah, kau melihat bajumu melayang dari atas pohon, setelah itu celana panjang dan juga celana kolormu yang bau. Bau pete. Aku juga masih ingat Mbah. Waktu itu kau tak berani keluar dari dalam sungai. Kau berendam didalam air, sampai kulit dan perabotanmu jadi keri- put kedinginan. Kau jadi tak tahan. Sungai kau ken- cingi, kentutmu meledak seperti bunyi petasan. Keeso- kan harinya di bagian hilir sungai kulihat ikan-ikan mati terkapar. Ikan-ikan itu mati karena air kencing dan kentutmu yang bau. Aku sempat memeriksa air sungai itu. Tanganku yang kumasukkan ke dalam air sungai, baunya tujuh hari tak mau hilang Mbah. Sungguh luar biasa, kentut dan kencingmu ternyata sangat beracun! Hik hik hik."

Merasa ditelanjangi di depan Roro Centil, wajah Mbah Petir memang sempat memerah, tapi dia kemu- dian malah tertawa tergelak-gelak. Sambil terkekeh mulutnya menyeletuk. "Mengapa tidak kau minum saja air sungai itu sekalian. Kalau kau lakukan aku yakin kau juga ikut mabok kebauan pete. Tapi kurasa me- mang itu satu-satunya obat untuk menyembuhkan penyakit gilamu. Ha ha ha!"

4

Puteri Pemalu tertawa mengikik mendengar ucapan Mbah Petir. Malu-malu si gadis turunkan ujung jubah lebarnya yang dipergunakan untuk menu- tupi bagian wajah, lalu berucap. "Mbah Pete sebenar- nya aku tidak gila. Orang saja yang mengatakan aku ini orang gila, padahal aku cuma sinting sedikit. Hik hik hik!"

"Aku tidak akan heran, orang yang gilanya me- lebihi takaran memang suka begitu. Mengaku diri pal- ing waras dan paling benar." ucap Roro Centil disertai senyum mengejek.

Puteri Pemalu pandangi Roro Centil sekilas. Se- telah itu kembali beralih pada Mbah Petir sambil aju- kan pertanyaan. "Mbah, temanmu itu usil dan ceriwis- nya seperti dukun beranak. Apakah dia memang du- kun benaran atau cuma gadungan? Sumpah klenger jika aku melahirkan kelak tidak mau memanggil dia. Bisa jadi karena keceriwisannya anak-anak yang mau keluar masuk lagi ke dalam perut. Hik hik hik!"

Mbah Petir tidak menjawab, tapi ikutan terta- wa. Roro Centil langsung menyambuti ucapan Puteri Pemalu. "Gadis jelek, kau bicara soal beranak segala. Bunting tidak, hamil tidak. Lagipula siapa yang sudi menjadi suamimu. Dandanan medok, muka celemon- gan. Setan pun tak kan sudi hidup denganmu!" kata Roro Centil ketus. Tawa Puteri Pemalu mendadak lenyap, wajah gadis itu berubah merah padam. Bola matanya berpu- tar liar memandang Roro Centil dengan penuh keben- cian dan amarah.

"Celaka! Dia mau mengamuk, Roro. Kau sih bi- cara seenakmu sendiri?" sesal si kakek.

"Kalau dia mau marah siapa takutkan dia? Se- sekali gadis gila ini harus diberi pelajaran agar tidak bicara seenaknya!" dengus si gadis. Mbah Petir geleng- kan kepala. "Kau sahabatku, dia juga masih terhitung teman sendiri." sahut Mbah Petir bingung.

Roro Centil tersenyum sinis. "Rupanya Mbah sudah ketularan penyakit edannya. Sudah terang dia mempermalukan dirimu dengan menyembunyikan pa- kaian disaat dirimu sedang mandi, kau kok malah mengakuinya sebagai teman. Jika benar seorang te- man dia tak akan menyusahkan dirimu apalagi mem- buatmu malu besar!"

Mbah Petir seperti orang linglung anggukkan kepala. "Kau benar, seorang sahabat pasti tidak mungkin tega membuat malu temannya. Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Tenang saja Mbah disitu. Gadis ini biar aku yang mengurus!" jawab Roro Centil sambil berlaku waspada.

Di depan sana gadis sakit ingatan agaknya siap menghantam Roro Centil dengan salah satu pukulan tangan kosong. Tapi entah mengapa tangan kanan yang sudah diangkat diatas kepala itu perlahan-lahan diturunkannya kembali. Seperti orang yang baru ingat akan sesuatu cepat sekali dia berpaling pada Mbah Pe- tir.

"Biar, urusanku dengan gadis centil ini kutun- da dulu." kata si gadis. Dia memandang lurus pada kakek didepannya. "Mbah Pete.... sekarang aku baru ingat. Sebenarnya perjalananku kali ini selain mencari seseorang juga ingin menemui dirimu."

Merasa heran, Mbah Petir ajukan pertanyaan. "Menemui diriku? Untuk maksud dan tujuan apakah?" "Mungkin dia hendak mengajakmu pergi pelesi-

ran, Mbah. Siapa tahu kau merupakan laki-laki ida- man baginya. Bukankah sampai sekarang Mbah masih bujangan, masih perjaka? Memang kulihat dirimu ma- sih gagah, wajah tampan." puji Roro Centil perlahan. Mbah Petir sempat merasa senang mendengar pujian itu.

Laki-laki mana yang tidak senang mendapat pujian? Apalagi yang memujinya adalah seorang gadis cantik. "Tapi Mbah.. ketampananmu itu baru bisa dili- hat dimalam buta dan oleh perempuan buta pula, na- mun menurutku lebih baik kau banyak mendekatkan diri pada Gusti Allah. Karena dalam taksiranku umurmu paling juga hanya sampai pada beduk magrib nanti! Hi hi hi!"

Mbah Petir yang tadinya merasa berbunga- bunga mendapat pujian kini berubah cemberut, men- damprat. "Kau memang gadis sialan!"

Si kakek kini sambil mesem-mesem meman- dang ke arah Puteri Pemalu. "Katakan apa kepentin- ganmu?" Mbah Petir ulangi pertanyaannya.

"Mbah Pete, terus terang aku mau minta tolong padamu untuk menyembuhkan guruku, kakak Muka Setan dari kegilaan!"

"Hah...!" Mbah Petir berseru kaget.

"Si Muka Setan masih hidup?!" tanya Roro Cen- til tercekat. "Gadis gila kau jangan bercanda!"

"Kau yang gila!" Puteri Pemalu balas memaki. "Guruku Si Muka Setan memang masih hidup. Hanya sekarang ini dia dalam keadaan terganggu ingatan. Menurut pengakuannya kepala kakakku itu terbentur batu ketika bentrok dengan seorang pemuda bergelar Pendekar Sakti Gento Guyon. Saat ini aku sedang da- lam perjalanan mencari pemuda itu. Aku akan menye- ret pemuda itu untuk mendapat hukuman atas dosa yang dilakukannya!"

Segala yang diucapkan Puteri Pemalu ini tentu mengejutkan bagi Roro Centil. Baru saja beberapa waktu yang lalu dia dan Gento berada di Kiara Con- dong suatu tempat yang dijadikan pertemuan para pendekar. Tapi ketika mereka sampai disana, mereka hanya menjumpai mayat-mayat yang berkaparan. Bahkan di salah satu ruangan rahasia para pendekar juga beberapa tokoh penting tewas diracun dan ada pula yang tewas terkena pukulan Telapak Beracun.

"Bagaimana gadis sakit ingatan ini mengaku gurunya masih hidup, bahkan berani melempar fitnah keji Gento yang telah menciderai Si Muka Setan?"

"Gadis gila Puteri Pemalu. Agaknya penyakit gi- lamu semakin bertambah parah. Aku sendiri telah me- lihat pusara nenek Muka Setan di Kiara Condong. Ba- gaimana sekarang kau mengatakan nenek itu masih hidup?"

"Hik hik hik. Gadis gendeng... aku bicara yang sebenarnya. Beberapa hari yang lalu aku bertemu den- gan kakak Muka Setan. Dia berada di dalam Telaga Tengkorak Hantu, tinggal disana dan baru saja meno- dai seorang gadis. Hal yang tak mungkin dilakukannya jika otaknya waras!" sahut Puteri Pemalu sengit.

Bukan hanya Roro Centil saja yang dibuat ter- perangah, Mbah Petir pun tak kalah kagetnya. Roro Centil jadi ingat waktu Mbah Petir mengadakan sam- bung rasa dengan dunia gaib, dia mengatakan melihat sebuah telaga. Dia juga mengaku melihat ada satu bayangan berkelebat, tak dapat dipastikan siapa bayangan itu adanya. Yang jelas siapapun orang itu pasti dia memiliki ilmu yang sangat tinggi yang sang- gup menangkal pandangan gaib Mbah Petir.

"Mbah, bagaimana pendapatmu tentang uca- pannya tadi?" tanya Roro Centil melalui ilmu mengi- rimkan suara.

"Namanya juga orang gila, mengapa harus di- percaya? Tapi kurasa dia tidak berdusta dalam hal ini." jawab Mbah Petir.

"Maksudmu dia telah bertemu dengan Muka Setan?"

"Benar. Tapi Si Muka Setan yang palsu, atau orang yang sengaja menyaru sebagai Muka Setan un- tuk suatu tujuan dan kepentingan tertentu."

"Apa yang kalian bicarakan? Nampaknya kalian tak percaya bahwa aku benar-benar telah bertemu dengan guruku?" tanya Puteri Pemalu merasa tidak enak hati.

Mbah Petir menyahuti. "Kami tentu saja per- caya. Kau mengatakan Muka Setan telah berbuat keji pada seorang gadis?"

"Benar. Itu karena otaknya sakit." jawab Puteri Pemalu.

"Orang yang sama. Dia juga hampir menodai Sriwidari. Berarti siapa pun adanya Si Muka Setan yang ditemui gadis itu, pastilah dia orangnya yang te- lah membunuh para tokoh di tempat pertemuan itu bersama Perampas Benak Kepala!" fikir Roro Centil.

"Kalau Mbah Pete percaya. Sebaiknya Mbah ce- pat pergi ke Telaga Tengkorak Hantu. Aku mohon kau mau menolongnya. Bantulah dia, sembuhkan otaknya yang sakit, hingga dia mendapatkan kewarasannya kembali!" berkata Puteri Pemalu penuh rasa hormat.

"Kau sendiri hendak kemana?" tanya Mbah Pe-

tir.

"Hik hik hik. Aku tentu saja mau mencari pe- muda gondrong bernama Gento yang telah menciderai guruku!" sahut si gadis. Dengan malu-malu dia melan- jutkan ucapannya, "Selain itu tentu saja aku akan mencari kekasihku."

Sambil tersenyum simpul Roro Centil bertanya. "Siapa kekasihmu itu? Aku tak percaya kau punya ke- kasih!"

Penuh semangat gadis sakit ingatan ini menja- wab. "Kekasihku ciri-cirinya sama dengan Gento Guyon. Namanya Bagus Awan Peteng... aih malu aku telah membuka rahasiaku sendiri. Hik hik hik!"

Roro Centil kerutkan keningnya. Belum lagi dia sempat ajukan pertanyaan Puteri Pemalu telah berke- lebat pergi tinggalkan tempat itu.

Kedua orang ini saling pandang.

"Mbah, menurutmu apakah ada orang dengan nama seperti itu?"

Mbah Petir tersenyum. "Bagus Awan Peteng... Bagus Awan Peteng." Si kakek menyebut nama itu be- rulang kali. Tiba-tiba dia tepuk keningnya sambil ter- tawa tergelak-gelak. "Dia kena tepu, dia telah di tepu. Maksudku dia telah ditipu oleh pemuda yang dite- muinya."

"Maksudmu Mbah?" tanya si gadis tak menger-

ti.

"Mana ada orang dengan nama seperti itu. Ba-

gus Awan Peteng bukankah artinya sama dengan Ba- gus Siang Malam. Dasar gadis gila, bukan mustahil pemuda itu adalah Gento Guyon sahabatmu,"

"Jadi... jadi pemuda edan itu kekasihnya gadis gila tadi?" desis Roro Centil. Mbah Petir menangkap adanya rasa cemburu dalam nada suara si gadis, hing- ga sambil tersenyum dia berucap. "Bisa jadi karena sahabatmu Gento mengetahui dia gadis gila, sehingga Gento memalsukan  namanya. Wah urusan bisa ru- nyam jika mereka bertemu nanti. Ha ha ha!"

Kata-kata yang diucapkan Mbah Petir paling ti- dak menyejukkan perasaan si gadis.

"Mbah, sebaiknya sekarang kita langsung saja menuju telaga itu. Aku ingin cepat mengetahui sekali- gus meringkus Si Muka Setan. Jika sudah tertangkap nanti baru bisa ketahui sebenarnya dia perempuan atau laki-laki yang menyembunyikan jati dirinya diba- lik penyamaran!"

Mbah Petir cepat memotong ucapan si gadis. "Tidak perlu gegabah, Roro. Kau harus ingat sudah dua kali aku mencoba untuk mengetahui siapa adanya orang yang bersembunyi dibalik penyamaran dalam rupa Si Muka Setan. Dua kali pula aku mengalami ke- gagalan. Jika ilmunya tidak tinggi sekali, hal itu tak mungkin bisa dilakukannya. Selain itu kita juga harus ingat, menurutmu apakah mungkin manusia dapat hi- dup dan tinggal didasar telaga sebagai mana yang di- katakan oleh Puteri Pemalu tadi?"

"Mungkin gadis gila itu bicara ngawur, Mbah

Petir?"

"Terkadang dia memang begitu. Tapi apa yang

dikatakannya tadi sama sekali bukan ngawur. Dia bi- cara tentang sebuah kebenaran." ujar Mbah Petir. Ke- mudian tanpa menunggu tanggapan gadis didepannya si kakek melanjutkan. "Dia beruntung, nenek Muka Setan tidak membunuh atau menodainya. Dia cuma diperalat untuk melakukan suatu tugas !"

"Mengingat gadis tadi disuruh menangkap Gen- to Guyon. Apakah mungkin nenek itu mempunyai sua- tu dendam pada Gento?"

"Masih belum dapat kupastikan. Hanya dengan membongkar kedok penyamarannya baru bisa kita ke- tahui siapa dirinya? Boleh jadi dia memang musuh be- buyutan Gento Guyon. Buktinya dia berani memfitnah pemuda gendeng itu sebagai orang yang telah melu- kainya. Sehingga Puteri Pemalu mau saja disuruh mengerjakan perintahnya!" ujar si kakek.

"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan, Mbah?" tanya Roro Centil.

"Tidak ada pilihan lain. Kita memang harus ke telaga itu secepatnya. Seperti yang kukatakan tadi, ki- ta harus berlaku waspada." pesan si kakek. Roro Centil anggukkan kepala. Dia kemudian mengikuti Mbah Pe- tir yang sudah berjalan didepannya.

5

Si gondrong bertelanjang dada itu berdiri tegak di depan gundukan tanah yang masih memerah. Tak jauh di sampingnya persis di bagian kepala makam seorang laki-laki setengah baya berambut panjang hi- tam berpakaian serba kuning diwarnai tambalan du- duk bersimpuh sambil mengguratkan nama orang yang dikubur dengan menggunakan kuku jarinya. Ba- tu besar yang telah diberi nama lalu diletakkan diatas kepala makam.

Masih dengan tanpa kata si orang tua beram- but klimis diam disitu. Si gondrong menarik nafas pendek. Sepasang matanya yang terasa hangat berke- dap-kedip. Dua air mata bergulir, jatuh melewati pi- pinya. Mulutnya bergetar, kemudian terdengar sua- ranya yang parau. "Sriwidari. Kau telah mengorbankan nyawamu hanya untuk membantuku. Perampas Benak Kepala telah ku bunuh untuk menebus dosa-dosanya. Aku yakin segalanya masih belum berakhir. Masih ada orang yang bersembunyi dibalik serangkaian misteri yang disuguhkannya padaku. Tetapi.... kau tak usah khawatir, aku akan terus mencari siapa sebenarnya pelaku dari serangkaian peristiwa keji ini. Nenek Muka Setan!" desis si gondrong yang bukan lain adalah Pen- dekar Sakti Gento Guyon. "Muka Setan kurasa pe- nampilan dan kedoknya hanya palsu belaka. Aku tahu persis Si Muka Setan telah mati. Aku melihat pusa- ranya di Kiara Condong!" geram sang pendekar sambil kepalkan dua tinjunya.

Seperti telah dituturkan dalam episode sebe- lumnya. Pendekar Sakti Gento Guyon terlibat perkela- hian sengit dengan tokoh penyedot otak yang dikenal dengan sebutan Perampas Benak Kepala. Tokoh hitam itu untuk mengecoh Gento menyerang Sriwidari dan Raja Pengemis yang saat itu berada di belakang Gento dengan sinar biru yang memancar dari kepalanya. Se- bagaimana telah diketahui sinar maut yang keluar dari kepala Perampas Benak Kepala sangat berbahaya se- kali. Karena selain sanggup menjebol batok kepala ju- ga dapat memindahkan otak orang kedalam kepalanya hanya dalam waktu yang sangat singkat. Gento sendiri tak sempat menyelamatkan Sriwidari, karena pada saat itu dirinya juga mendapat serangan enam sinar maut. Jika Raja Pengemis lolos dari maut akibat cer- min sakti batu segitiga di tangan, sebaliknya Sriwidari mengalami nasib malang.

Pedang yang dipergunakan untuk menangkis hantaman sinar biru jadi leleh. Sinar maut itu kemu- dian menghantam bagian atas ubun-ubunnya. Gadis itu terkapar dengan luka mengerikan di bagian kepala.

Gento sendiri akhirnya dengan menggunakan kalung Batu Raja Langit. Yaitu batu sakti pemberian Manusia Seribu Tahun berhasil menghantam titik ke- lemahan Perampas Benak Kepala. Hingga dari kepala lawannya yang terluka menyembur cairan otak yang bukan kepalang banyaknya.

"Gento, kesedihan dan kemarahan tidak pernah menyelesaikan satu persoalan apapun yang kau hada- pi. Agaknya gadis ini mempunyai kesan tersendiri di hatimu." Satu suara seakan mengingatkan Gento bah- wa hidup manusia didunia ini sesungguhnya adalah fana adanya. Dan orang yang baru bicara tadi bukan lain adalah laki-laki berbaju kuning Raja Pengemis Tangan Akherat.

"Kau benar paman, kesanku kepadanya semata dalam pandanganku Sriwidari adalah gadis yang baik. Rasanya tidak pantas baginya untuk mati muda!" sa- hut Gento sambil duduk dan menyandarkan pung- gungnya di sebatang pohon yang terletak tidak begitu jauh dari pusara.

"Ingat Gento, bagi seorang pendekar seperti di- rimu rasanya tidak patut pula bagiku untuk mengata- kan bahwa sesungguhnya umur manusia, rejeki jodoh dan maut sudah ditetapkan oleh Gusti Allah. Tidak bersyukur dan tidak mau menerima kenyataan yang telah digariskan sang takdir. Bukankah sama artinya dengan menentang kehendak Gusti Allah?!"

"Ya, aku tahu hal itu paman. Aku bukannya menyesali apa yang telah terjadi. Tapi jika saja Sriwi- dari tidak bersamaku saat itu, mungkin dia tidak akan mengalami kejadian menggenaskan seperti ini!"

"Kau tidak boleh menyesali dirimu sendiri. Seandainya aku juga terbunuh di tangan Perampas Benak Kepala. Apakan kau juga akan menyalahkan di- rimu lagi?" Gento gelengkan kepala.

"Tentu saja tidak paman. Pertama kau sudah berada ditempat itu sebelum aku dan Sriwidari datang. Malah kulihat kau kalang kabut, jika kemudian aku datang membantu anggap saja ini satu keberuntungan bagimu. Tapi seandainya yang terjadi lain. Misalnya kau terbunuh waktu itu, paling aku cuma meman- jatkan doa. Untuk keselamatan diriku!" "Dan kau pasti tidak mau berdoa untukku bu- kan?" kata Raja Pengemis sambil delikkan matanya. Murid kakek gendut Gentong Ketawa ini tertawa men- gekeh. "Tentu saja aku mau. Cuma aku pasti bingung dan malaikat pengantar doa juga ikut bingung, kema- na dia akan mengantarkan doaku itu. Ke surga atau neraka? Melihat potongan dan tongkronganmu, aku ti- dak yakin kau bisa masuk surga. Paling tidak kau ha- rus dimandikan dengan api dulu di neraka jahanam. Ha ha ha!"

"Pemuda edan kurang ajar. Apa kau mengira dirimu bisa masuk sorga heh!" dengus Raja Pengemis.

Tawa Gento semakin bertambah keras menga- kak. "Kalau paman bertanya tentang diriku, jelas aku ragu menjawabnya. Sebab yang ku tahu kakek moyangku tidak meninggalkan warisan di sana. Biar diemperannya sekalipun mungkin tidak bisa. Kesala- hanku banyak, dosaku juga menumpuk. Bagaimana orang banyak dosa bisa masuk sorga. Jadi kurang le- bih bisa mencium bau sorganya saja aku sudah se- nang sekali. Ha ha ha!"

"Dasar sialan." damprat Raja Pengemis. Walau dia bicara begitu, namun diam-diam dia merasa se- nang bersahabat dengan Gento. Di matanya Gento se- lain konyol, agak urakan tapi dia adalah pemuda jujur dan polos disamping juga suka bicara apa adanya.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" ber- tanya Raja Pengemis setelah berdiam diri sejenak la- manya.

"Paman adalah seorang raja, walau cuma Raja Pengemis. Bagaimana jika paman mengajari aku ten- tang bagaimana cara mengemis yang paling baik?" Ra- ja Pengemis mendelik. "Dalam keadaan seperti ini ma- sihkah kau mau berlaku kurang ajar?"

"Hemm...!" Gento menggumam kemudian me- nyeka wajahnya. Setelah itu baru berucap. "Kita me- mang harus mencari tahu dimana beradanya Si Muka Setan. Aku yakin Muka Setan yang sebenarnya me- mang telah tiada. Jadi sekarang yang gentayangan adalah nenek Muka Setan yang palsu. Atau orang yang berkedok sebagai nenek Muka Setan?"

"Bisa jadi dia ibu moyangnya Si Muka Setan." sahut Raja Pengemis.

Gento gelengkan kepala.

"Aku jadi ingat dengan seseorang. Manusia se- gala keji sekaligus musuh besarku. Namanya Panji Anom Penggetar Jagad murid kakek sialan Begawan Panji Kwalat!" berkata sang pendekar dengan suara perlahan.

Raja Pengemis terlonjak kaget mendengar nama yang disebutkan Gento. Dengan mata terbelalak lebar dia bertanya. "Panji Anom, nama itu pernah kudengar. Jadi dia murid Begawan Panji Kwalat? Begawan edan yang tinggal di hutan Banyubiru?"

"Benar paman."

"Manusia yang satu itu bukan saja sangat ber- bahaya karena memiliki ilmu Sabda Alam. Dengan il- munya itu orang dapat dibunuhnya hanya dengan me- lalui ucapan. Disamping itu dia juga mempunyai ilmu kesaktian yang lain. Konon kudengar lagi, mungkin dia sudah mati! Seandainya dia masih hidup dimasa de- pan kau akan mengalami berbagai macam rintangan Gento. Sebab jika mereka berdua telah bersatu, apalagi jika mereka menggabungkan ilmu kemudian diturun- kannya pada muridnya aku tak dapat membayangkan betapa besar malapetaka yang harus kau singkirkan."

"Panji Anom sendiri sebenarnya orang yang berbahaya. Bukan hanya ilmu kepandaiannya saja yang tinggi. Disamping itu Panji Anom sangat licik, memiliki berbagai muslihat juga segudang kekejian lainnya" kata Gento. Dia kejadian menceritakan perte- muannya dengan Panji Anom hingga pemuda itu ak- hirnya terkena hantaman senjata Bintang Penebar Bencana. Untuk lebih jelasnya (silahkan anda ikuti ep- isode Bidadari Biru).

"Aneh, walaupun waktu itu dia terluka parah. Namun beberapa waktu yang lalu dia muncul di se- buah telaga. Panji Anom melukai Sepasang Dewa Ber- wajah Ganda. Beruntung dua manusia cacat itu mem- punyai ilmu bernafas dalam air. Kalau tidak mungkin mereka sudah tewas!" kata Gento.

Raja Pengemis merasa terkesan mendengar pe- nuturan Gento, juga merasa kagum dengan ilmu ke- pandaian serta kesaktian yang dimilikinya. Masih pe- nasaran Raja Pengemis ajukan pertanyaan. "Setelah kejadian di telaga itu, apakah kau mendengar sepak terjangnya selanjutnya?"

"Itulah yang membuat aku heran. Setelah keja- dian itu aku tak pernah mendengar kabar beritanya. Justeru yang sering muncul adalah Si Muka Setan. Padahal nenek tua itu sesungguhnya telah berkubur di Kiara Condong." kata Gento lagi.

Raja Pengemis terdiam sejenak, otaknya berfi- kir. "Kau telah mengutus si picak dan si kaki buntung. Menurut pengakuanmu kedua orang itu saat ini se- dang menuju ke Kiara Condong untuk membongkar pusara Si Muka Setan. Hanya dengan melihat mayat- nya baru kita dapat memastikan Si Muka Setankah yang terkubur disana atau orang lain."

"Kau benar, paman. Tapi mereka sampai seka- rang tidak kembali menemuiku. Sampai disini aku ber- fikir bukan mustahil telah terjadi sesuatu yang tak di- inginkan pada mereka?"

"Maksudmu?"

"Mengingat yang kuhadapi sekarang ini adalah merupakan persoalan besar, aku jadi takut mereka malah terbunuh di tengah jalan!" ujar murid si gendut Gentong Ketawa.

"Sudahlah, jangan terlalu kau risaukan. Jika mereka terbunuh, anggap saja semua ini terjadi atas kehendak takdir." tenang saja Raja Pengemis menim- pali.

Gento gelengkan kepala. "Kau ini manusia aneh paman. Terlalu menggampangkan nyawa orang dan terlalu menganggap remeh persoalan."

"Ha ha ha. Kau pemuda edan, tapi terkadang penuh keperdulian. Aku ingin bertanya apakah kau pernah bertemu dengan manusia pitak?" tanya Raja Pengemis masih dengan tertawa-tawa.

Kedua alis mata Gento terangkat naik, berkerut lalu gelengkan kepala. "Aku tidak pernah bertemu atau mengenal Manusia Pitak. Mendengar namanya saja ba- ru kali ini. Apakah dia bangsanya manusia atau turu- nan memedi?" tanya Gento.

"Dia masih turunan manusia, wataknya aneh. Kelak jika bertemu dengan orang itu kau akan menda- pat pelajaran baru bagaimana caranya dia menghadapi hidup ini!"

"Kalau begitu sebaiknya sekarang kita lan- jutkan perjalanan sambil menyirap kabar apakah sa- habatku Roro Centil telah kembali dari menemui Mbah dukun atau malah berguru pada dukun itu."

"Eh, sahabatku. Ternyata kau begitu banyak memiliki teman wanita. Apakah temanmu yang satu ini hanya sekedar teman atau kekasih?" tanya Raja Pen- gemis lalu kedipkan sebelah matanya.

"Orang tua apa maksudmu?" tanya Gento jadi salah tingkah.

"Nah-nah, kulihat sudah. Gadis yang kau se- butkan pasti bukan hanya sekedar teman, dia pasti kekasihmu."

"Bagaimana kau bisa berangggapan begitu?" "Kulihat wajahmu merah, matamu jadi mengke-

lerep dan begitu bersemangat. Ha ha ha."

"Ha ha ha. Paman bisa saja. Terus terang orangnya cantik, sayang ceriwis. Aku suka berteman padanya dia juga begitu. Sedangkan untuk urusan cin- ta sebaiknya kuserahkan saja pada Mbah Dukun. Ha ha ha!" sahut Gento seenaknya.

"Bagaimana jika Mbah Dukunnya malah jatuh cinta pada Roro Centil?" tanya Raja Pengemis disela- sela tawanya.

"Gampang saja. Aku yang jadi juru nikahnya, kau menjadi saksinya. Roro Centil pasti akan kuka- winkan melawan dukun itu. Ha ha ha!"

Kedua orang ini sejenak larut dalam tawa. Un- tuk sesaat mereka jadi lupa pada persoalan yang me- reka hadapi.

6

Tawa Gento dan Raja Pengemis seketika terhen- ti begitu terdengar suara tawa lain yang disertai berke- lebatnya satu sosok serba biru ke arah mereka. Tak berselang lama di depan Gento dan sahabatnya berdiri tegak seorang gadis cantik berdandan menor memakai jubah kedodoran. Jika Raja Pengemis merasa heran melihat kehadiran gadis itu, sebaliknya Gento seman- gatnya seperti terbang meninggalkan dirinya. Muka pucat, mata terbelalak dan mulut ternganga lebar.

"Gadis sakit ingatan ini bagaimana bisa muncul disini? Waduh, celaka aku!" batin Gento ketakutan se- kali.

"Gento, ada apa dengan dirimu? Mengapa wa- jahmu mendadak pucat begitu rupa?" tanya Raja Pen- gemis.

"Eh, anu...gawat. Urusan bisa gawat lebih baik kita minggat dari sini secepatnya!" Gento berbisik.

"Mengapa harus pergi? Apakah kau merasa ga- dis ini terlalu cakep untukmu?" Belum lagi pertanyaan Raja Pengemis tak sempat dijawab oleh sang pendekar. Gadis berjubah biru ini sambil tutupi wajahnya beru- cap. "Aih, kakang Bagus Awan Peteng, tidak kusangka kita bertemu lagi di tempat ini. Oh kakangku, Keka- sihku, curahan jantungku! Apa yang kau lakukan dis- ini bersama gembel pengemis itu? Hik hik hik!" Raja Pengemis dan Gento saling berpandangan. Sama sekali orang tua itu tidak marah dikatakan dirinya gembel pengemis. Malah dia gelengkan kepala sambil mencoba mencari jawab lewat tatap mata pemuda.

"Kau...benarkah namamu Bagus Awan Peteng? Apa benar kau ini kekasihnya gadis yang baru tercebur dari comberan itu?" tanya Raja Pengemis.

"Semua itu tidak benar. Gadis ini ngaco, pasti otaknya miring!" sahut Gento dengan wajah merah pa- dam.

"Aku tahu kau pasti malu mengakui gadis ini sebagai kekasihmu karena ada aku. Tidak boleh begitu Gento, mau jelek mau cantik, entah mulus entah burik jika kalian sudah saling mencinta tunggu apa lagi?!"

Merasa dipojokkan Gento menjadi kesal. Dia bangkit berdiri, lalu berucap dengan suara keras. "Kau dengar Raja Pengemis. Beberapa hari yang lalu aku memang bertemu dengannya di sebuah kedai. Dari semula aku sudah menduga otaknya pasti miring. Ter- nyata dugaanku tidak meleset, dia bukan saja miring tapi gila sungguhan. Lagipula siapa sudi punya keka- sih seperti dia. Kalau dia merasa dirinya cakep masih bagus berjodoh denganmu. Ha ha ha!" "Kakang Bagus Awan Petang, kau sangat keter- laluan sekali. Setelah memadu kasih denganku, sete- lah kita bermesra-mesra, mengapa kau tega bicara se- perti itu. Kau buang diriku setelah tinggal ampasnya. Huk huk huk!" kata si gadis sambil menangis tersedu- sedu.

"Bicara soal ampas, hampir setiap hari orang membuang ampas. Mengapa harus kau persoalkan. Jika paman pengemis ini mau berikan saja ampasmu padanya. Lagipula dia sangat senang dengan segala sesuatu yang bekas. Dia suka sisa bekas orang! Ha ha ha."

"Sialan! Kau telah berbuat, mengapa tak berani bertanggung jawab!" damprat Raja Pengemis.

Gento semakin jengkel saja mendengar ucapan Raja Pengemis. "Raja Pengemis jangan ngaco. Aku tak pernah memadu kasih, tak pernah pula bermesra- mesra dengan hantu kuntilanak ini. Enak saja kau su- ruh aku bertanggung jawab!" labrak Gento sengit.

"Ha ha ha. Paling tidak kau harus menanggung biaya hidup dan perongkosan melahirkan!"

"Kampret sontoloyo. Siapa yang bunting, siapa yang hamil. Menyentuhnya saja tidak bagaimana bisa bunting. Gila sungguh keterlaluan. Mimpi apa aku se- malam?!" kata sang pendekar sambil menepuk kening- nya yang terasa pusing mendadak.

"Anggap saja kau mimpi kejatuhan kuntilanak ini!" celetuk Raja Pengemis.

Gento sama sekali tidak menanggapi ucapan Raja Pengemis. Dia memandang tajam ke arah Puteri Pemalu.

"Hei kau, gendoruwo kesasar siapa namamu?" tanya Gento sambil tudingkan telunjuknya.

"Hik hik hik. Masa' kakang lupa. Namaku Ayu Seruni atau Puteri Pemalu. Kakang aku rindu, apakah kau tidak mau memelukku?!" berkata begitu Puteri Pemalu kembangkan tangannya.

"Pantas kau telah membuat aku malu hari ini. Kalau kau mau dipeluk mintalah pada Raja Pengemis, dia pasti tidak menolak!"

"Gento, tak usah malu-malu. Lakukan saja apa yang dimintanya. Hitung-hitung aku bisa melihat pe- mandangan gratis. Ha ha ha!" kata Raja Pengemis.

"Gento? Jadi...jadi kau bukan Bagus Awan Pe- teng?" tanya Puteri Pemalu dengan suara tercekat. Se- pasang mata gadis berdandan menor itu mendelik.

Sikap manjanya, suaranya yang lembut ketika memanggil Gento dengan Bagus Awan Peteng kini le- nyap sekali. Mendadak wajah Puteri Pemalu berubah bengis, sedangkan matanya menyorot tajam penuh ke- bencian.

"Wajahmu sangat mirip sekali dengan Bagus Awan Peteng. Tidak tahunya kau Gento Guyon. Orang yang telah membuat celaka guruku Si Muka Setan, hingga dia jadi kehilangan kewarasannya. Kau telah membuat satu kesalahan besar. Aku akan meringkus- mu hidup atau mati!" dengus Puteri Pemalu sinis.

Raja Pengemis dan Gento saling berpandangan. "Celaka Gento, gadis ini penyakit gilanya kambuh lagi." kata Raja Pengemis berbisik.

"Kubilang juga apa? Gadis ini bicaranya suka ngaco. Bertemu dengan Si Muka Setan saja aku belum pernah. Enak saja dia menuduhku telah mencelakai nenek itu." sahut sang pendekar. Tapi dia kemudian segera ingat bahwa Si Muka Setan yang sebenarnya sudah mati. Jika sekarang dia menyebut-nyebut Si Muka Setan pasti orang yang dimaksudkannya adalah Si Muka Setan yang sedang mereka cari.

"Puteri Pemalu. Agaknya kau salah melihat orang, mungkin kau keliru mengenali gurumu. Keta- huilah, Si Muka Setan telah tewas. Kuburnya kami te- mukan di Kiara Condong di depan halaman tempat pertemuan. Kau telah diperdaya oleh musuhmu sendi- ri, malah tidak tertutup kemungkinan dialah yang te- lah membunuh gurumu." tegas Gento.

"Kau hendak memutar balikkan kenyataan? Huh, kau mau menipuku. Kau tak mungkin bisa memperdaya diriku. Sekarang lebih baik kau menye- rah untuk kubawa kehadapan guruku!" teriak Puteri Pemalu sengit.

"Ha ha ha! Dia mengajarmu menjumpai gu- runya. Ikut saja, siapa tahu gurunya hendak memberi restu atas tali kasih yang kalian bina selama ini." satu suara menimpali dan yang baru bicara tadi bukan lain adalah Raja Pengemis.

Meskipun jengkel, Gento menimpali ucapan orang. "Sayang tali kasih itu putus karena kuperguna- kan untuk main layangan. Karena aku tidak punya tali lagi, apakan kau mau meminjamkan tali celanamu un- tuk menyambung tali kasih yang putus itu? Ha ha ha!" Raja Pengemis tidak menanggapi hanya ta-

wanya saja yang makin bertambah keras. Di depan sa- ja Puteri Pemalu mendamprat. "Pengemis semprul. Se- baiknya cepat angkat kaki dari hadapanku, silahkan mengemis di tempat lain. Jangan kau berani mencam- puri urusanku!"

"Tenang saja puteri gila. Raja Pengemis tak mungkin mengemis harta bendamu. Tapi jika keadaan memaksa aku bisa meminta nyawamu. Ha ha ha!" sa- hut Raja Pengemis.

"Paman Raja Pengemis, daripada nyawanya yang kau minta. Masih bagus orangnya sekalian kau bawa pulang. Ha ha ha."

"Semula niatku memang begitu tapi aku takut malah jadi ikut gila!" sahut Raja Pengemis. Mendengar kata-kata bernada mengejek Puteri Pemalu tidak dapat lagi menahan kemarahannya. "Ra- ja Pengemis, aku tak punya urusan denganmu. Se- baiknya kau cepat menyingkir!"

"Ha ha ha. Gento Guyon bagaimanapun saha- batku. Masa' aku harus diam berpangku tangan meli- hat teman sendiri digebuk orang. Sebelum kau berhasil menangkapnya terimalah gebukanku dulu!" bentak la- ki-laki itu.

"Paman biar. !"

Raja Pengemis cepat memotong. "Kau tenang saja disitu. Duduk yang anteng, biar aku akan menjaj- al gadis ini!" potong Raja Pengemis. Gento tersenyum. "Menjajalnya sih boleh saja, tapi jangan keterusan." ce- letuk Gento. Raja Pengemis yang tahu kemana arah ucapan si pemuda delikan matanya. Gento Guyon ter- tawa terkekeh lalu dia beralih pada Puteri Pemalu sambil berucap. "Kau sudah mendengar apa yang di- ucapkannya. Kau hadapi dia dulu. Kau harus dapat membunuhnya atau paling tidak sanggup membun- tungi kedua tangan dan kakinya."

"Dasar bocah edan, rupanya kau senang meli- hat teman sendiri menjadi cacat heh!" hardik Raja Pengemis.

"Kurang lebih memang begitu." sahut sang pendekar enteng.

Di depan sana Puteri Pemalu tanpa banyak bi- cara lagi langsung berkelebat melesat kedepan menye- rang Raja Pengemis dengan pukulan tangan kosong. Angin menderu menghantam wajah laki-laki itu. Raja Pengemis tarik kepalanya kebelakang sambil melompat ke samping. Dua tangan dipergunakan untuk me- nangkis. Hingga terjadi benturan keras.

Duk! Duuk!

Puteri Pemalu memekik kaget dan terhuyung dua tindak kebelakang. Raja Pengemis sendiri nampak bergetar, alisnya mengernyit matanya setengah terbela- lak ketika melihat bagaimana tangannya yang diper- gunakan menangkis pukulan lawan berubah membiru dan mengepulkan asap tipis. Lebih kaget lagi ketika melihat ujung lengan bajunya hangus menjadi bubuk.

Didepan sana Puteri Pemalu sempat merasakan dadanya menjadi sesak, gadis ini cepat memandang ke depan. Melihat ujung pakaian lawannya hangus, dia tertawa lebar.

"Gembel pengemis, saat ini pakaianmu yang kubuat hangus. Sebentar lagi tubuh dan nyawamu akan kubuat amblas! Hik hik hik!"

Raja Pengemis menjadi geram, apalagi ketika melihat Gento. Pemuda itu nampaknya tersenyum mencemooh. Malah si gondrong kemudian sengaja memanas-manasi. "Paman Raja Pengemis, kau sung- guh membuat malu kaum lelaki. Baru menghadapi ga- dis sakit ingatan saja kau sudah kedodoran. Hayo, tunggu apa lagi, keluarkan semua ilmu simpanan yang kau miliki!"

"Kadal gondrong. Lihat apa yang akan kulaku- kan!" teriak Raja Pengemis kesal. Laki-laki itu tiba-tiba saja melompat mundur kebelakang. Dua tangan dipu- tar sedemikian rupa membentuk perisai diri yang ko- koh. Di depannya Puteri Pemalu kembali melakukan gebrakan dengan melancarkan serangkaian serangan bertubi-tubi namun sulit dibaca ke mana arahnya.

"Bagus majulah lebih mendekat!" Raja Penge- mis berseru. Dan ternyata lawan memang semakin bertambah dekat ke arahnya. Bersamaan dengan itu pula Puteri Pemalu lepaskan tendangan dan pukulan- nya.

Tendangan dan pukulan yang dilancarkan ga- dis itu menghantam benteng pertahanan yang dibuat oleh Raja Pengemis. Si gadis jadi tercekat ketika mera- sakan bagaimana pukulan serta tendangan yang dila- kukan seolah menabrak satu benteng yang sangat ko- koh. Selagi si gadis di buat tercengang dengan kenya- taan yang dihadapinya, Raja Pengemis susupkan tan- gannya. Tangan meluncur ke arah perut lawan. Lalu...

Desss! Deees!

Puteri Pemalu keluarkan keluhan panjang. Dua pukulan mendera perutnya, membuat gadis ini jatuh terguling-guling sambil muntahkan darah segar. Meli- hat kejadian itu Pendekar Sakti Gento Guyon berseru. "Walah paman Raja Pengemis. Begitu tega kau terha- dap calon istrimu. Sudah tak pernah kau urus kini kau malah menyakitinya."

"Pemuda sinting. Semua ini kulakukan semata- mata hanya untukmu, tolol!"

"Oh kalau begitu aku harus berterima kasih padamu."

Puteri Pemalu bangkit berdiri. Dia keluarkan suara gerengan marah. Tanpa menghiraukan darah yang menetes di sudut bibirnya gadis ini melompat ke depan. Tubuhnya masih terhuyung-huyung ketika berkata. "Jika aku tak sanggup melenyapkanmu dari dunia ini Raja Pengemis, seumur hidup aku pasti akan merasa penasaran dan dikejar-kejar perasaan berdo- sa!"

"Ha ha ha. Daripada kejar-kejaran dan terus memendam rasa penasaran bukankah lebih baik Raja Pengemis kau ajak kawin saja. Setelah itu jadilah ka- lian raja dan ratu pengemis.!" mulut Gento usil lagi. Hingga bukan saja membuat Raja Pengemis dibuat jengkel. Sebaliknya Puteri Pemalu jadi ingin meringkus pemuda itu secepatnya.

"Raja Pengemis terimalah kematianmu!" teriak Puteri Pemalu. Laksana kilat gadis itu melompat ke udara. Dua tangan diputar didepan dada, hingga dari kedua tangan itu memancar cahaya putih yang me- lingkar bergulung-gulung. Begitu kedua tangan kemu- dian didorong ke depan, lingkaran cahaya putih itu kemudian melesat kedepan disertai suara gemuruh hebat dan sengatan hawa panas yang luar biasa.

"Jaring Jaring Matahari!" teriak Raja Pengemis yang mengenali ilmu pukulan yang dimiliki gadis itu. Sambil dorongkan kedua tangannya ke depan, Raja Pengemis melompat ke samping selamatkan diri. Puku- lan yang dilancarkan laki-laki itu amblas lenyap, begi- tu masuk dalam lingkaran cahaya putih dalam bentuk kerucut terbalik itu.

Buuum!

Satu ledakan berdentum mengguncang angka- sa. Tanah disekitarnya bergetar hebat, batu dan debu beterbangan. Satu lubang akibat pukulan menganga lebar. Gento jadi tercekat, tak menyangka gadis sakit ingatan itu memiliki pukulan hebat.

Sebaliknya di depan sana begitu pukulan luput dan Puteri Pemalu jejakkan kaki diatas tanah dia kem- bali menghantam Raja Pengemis. Orang tua itu segera sadar apa yang harus dilakukannya. Karena itu dia langsung mencabut cermin batu segitiga dari balik pinggang dan kemudian langsung dipergunakan untuk menangkis serangan si gadis.

Teesss!

Sinar putih yang bergerak seperti lingkaran spiral ini langsung berbalik ke arah pemiliknya. Masih untung Puteri Pemalu cepat jatuhkan diri hindari se- rangannya sendiri. Walaupun begitu bagian bahu sampai kebahagiaan ketiaknya masih terkena samba- ran sinar putih tadi. Kalang kabut Puteri Pemalu sam- bil memadamkan api langsung berkelebat melarikan diri. Raja Pengemis tidak sempat mengejar. Dia sendiri sibuk meniup-niup tangannya yang dipergunakan memegang gagang cermin. Rupanya akibat benturan sinar tadi membuat cermin sampai ke gagangnya men- jadi panas luar biasa. Orang tua ini lebih tercekat lagi ketika melihat bagaimana tangannya yang memegang cermin melepuh hangus.

"Raja Pengemis memang hebat. Punya senjata seperti kaca rias milik banci. Ha ha ha. Ada apa den- gan tanganmu?" tanya Gento yang saat itu sudah bangkit berdiri sambil memandang ke arah si orang tua.

Dengan muka masam Raja Pengemis menja- wab. "Gadis gila tadi membuat tanganku melepuh." ru- tuk si orang tua.

"Masih bagus tangan yang melepuh. Kalau si- nar tadi sampai menghantam matamu, kepalamupun bisa meletus paman. Sudahlah... kuucapkan terima kasih atas bantuanmu. Sebaiknya sekarang kita pergi saja." kata Gento dengan lagak tak perduli.

Raja Pengemis menggerutu, lalu mengomel pan- jang pendek dan mengejar ke arah lenyapnya Gento.

7

Ketika Mbah Petir dan Roro Centil sudah me- masuki kawasan telaga Tengkorak Hantu, mereka ti- dak langsung menuju ke tepi telaga, melainkan sengaja mengambil jalan memutar ke sebelah kiri telaga itu untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diin- ginkan. Akan tetapi baru saja beberapa tindak dari ja- lan utama langkah mereka mendadak terhenti. Kedua kaki terasa berat untuk digerakkan sedangkan mata memandang lurus kedepan. Kejut dihati kedua orang ini bukan kepalang. Sekian lamanya mereka terdiam. Perasaan mereka oleh pemandangan yang terpampang di depan satu sosok tubuh dengan leher terjerat tali dadung. Sosok yang dalam keadaan tergantung itu berpakaian serba hitam, lidah terjulur mata membeliak keluar. Dari telinga, hidung dan mulut sosok itu mene- teskan darah berwarna merah kehitaman. Sosok itu ternyata adalah seorang kakek tua memakai topi tinggi yang dihias dengan dua tanduk kerbau. Walau wajah si mayat dalam keadaan menggembung bengkak dan sulit dikenali. Tapi melihat ciri pakaian serta topi yang dikenakan orang Roro Centil masih ingat siapa geran- gan mayat yang tergantung itu adanya.

"Gelombang Tangis Dalam Duka!" desis si gadis sambil meraba tengkuknya yang terasa dingin bagai- kan es.

"Kau mengenal kakek itu?" tanya Mbah Petir dengan suara bergetar. Saking kagetnya orang tua ini tanpa sadar sampai terkencing dan terkentut-kentut.

"Dia adalah salah seorang tokoh yang seharus- nya ikut hadir dalam pertemuan di Kiara Condong itu. Siapapun tidak pernah menduga dia tewas dengan ca- ra seperti ini." ujar Roro Centil.

"Mungkinkah dia mati menggantung diri?" "Tidak mungkin Mbah." sahut si gadis tegas.

Roro Centil terdiam sejenak baru kemudian melan- jutkan. "Aku banyak mengenal watak dan kebiasaan tokoh yang hadir dalam pertemuan itu. Gelombang Tangis Dalam Duka bukan manusia yang gampang pu- tus asa dalam menghadapi persoalan atau musibah. Seseorang pasti telah membunuhnya. Orang yang me- miliki ilmu kesaktian yang luar biasa, lalu menggan- tungnya dengan cara begini keji!"

"Aku jadi teringat dengan pengakuan Puteri Pemalu. Barangkali Si Muka Setan seperti yang diceri- takannya memang ada dan tinggal disekitar Telaga ini. Paling tidak kita sudah sama mengetahui Si Muka Se- tan yang asli telah meninggal dunia. Jadi siapapun adanya Si Muka Setan yang palsu ini, pasti dia me- nyimpan niat keji untuk mencelakakan kita semua!" ujar Mbah Petir dengan suara perlahan.

Roro Centil anggukkan kepala.

Sejenak dia kembali memandang ke arah mayat yang tergantung. Angin berhembus menebarkan bau busuk juga menyingkapkan pakaian sebelah kanan si mayat. Roro Centil melihat sesuatu.

"Mbah, sebaiknya mayat itu kita turunkan saja.

Aku melihat ada yang tidak beres!" kata si gadis.

"Kau betul. Pada pakaian mayat seperti ada pe- san. Ditulis dengan semacam cat dengan warna putih!" Mbah Petir menimpali. Kemudian si Mbah dengan di- ikuti Roro Centil segera mendekati pohon dimana mayat Gelombang Tangis Dalam Duka tergantung dis- itu. Mbah Petir menunggu di bawah, sedangkan Roro Centil mencabut salah satu dari dua pedang pendek yang terselip di pinggang sebelah kiri.

Gadis itu lalu melompat, bergerak mendekati tali, sedangkan pedang di tangan kanannya berkelebat menyambar tali itu.

Teees!

Satu tebasan dilakukan Roro Centil, tali putus dan tubuh kaku tanpa nyawa itu meluncur deras jatuh dalam pelukan Mbah Petir. Bau busuk yang menebar dari diri si mayat membuat si kakek buru-buru mem- baringkan mayat Gelombang Tangis Dalam Duka di- atas rerumputan. Sedangkan Roro Centil yang sudah jejakkan kakinya ke tanah segera masukkan pedang ke tempat semula. Setelah itu tanpa menghiraukan bau busuk yang menyesakkan dada, Roro Centil memerik- sa pakaian si mayat.

Si gadis surut dua langkah ketika melihat satu luka akibat pukulan beracun terdapat di bagian tubuh Gelombang Tangis Dalam Duka. Luka itu berwarna hi- tam, meninggalkan lima jari tangan. Pakaian yang ter- kena pukulan hangus menghitam. Roro Centil jadi in- gat, pukulan yang sama juga telah menewaskan Malai- kat Kuku Seribu dan Si Burung Merak di dalam ruan- gan rahasia. Semua ini merupakan suatu bukti bahwa Gelombang Tangis Dalam Duka terbunuh di tangan orang yang sama.

"Nenek Muka Setan? Siapapun dirimu, aku tak mungkin bisa mengampuni jiwamu!" geram Roro Centil dengan wajah tegang dan geraham bergemeletukan.

Mbah Petir sendiri tak mampu keluarkan sua- ra, lidahnya terasa kelu, tubuh gemetaran.

Hati si kakek saat itu dicekam ketegangan yang luar biasa, hingga kentut dan kencingnya terpancar si- lih berganti.

Roro Centil kemudian mendekati mayat Gelom- bang Tangis. Dengan tangan gemetar dan mata mende- lik dia menyingkapkan pakaian luar si mayat. Gadis ini tercenang begitu melihat dua baris kalimat yang ditulis melintang dari bagian dada sampai ke bagian kaki. Dengan bibir bergetar dia menyimak tulisan itu. 'Kematian akan menghampiri siapa saja yang datang ke tempat ini. Terkecuali bagi mereka yang mau menjadi kaki tangan calon raja diraja rimba persilatan'.

"Manusia gila! Dia beranggapan dirinya malai- kat pencabut nyawa hingga dapat memastikan kema- tian setiap orang." gumam Roro Centil. Gadis ini ke- mudian kitarkan pandangan matanya kesegenap pen- juru sudut, memperhatikan setiap semak belukar, pe- pohonan juga batu-batu di kanan kirinya. Tak ada sia- papun yang terlihat. Suasana tetap lengang, seakan memang tidak ada siapapun disitu terkecuali mereka sendiri. "Mbah Petir! Rasanya kita tidak mungkin men- guburkan mayat kakek ini. Menurutku ada baiknya kalau kita memeriksa kawasan telaga secepatnya. Aku yakin bangsat pembunuh itu bersembunyi di sekitar sini!" terdengar suara Roro Centil memecahkan kehe- ningan suasana.

"Ee... Roro, ada baiknya kalau kita tinggalkan tempat ini secepatnya. Perasaanku mengatakan ada orang yang mengawasi segala gerak gerik kita. Aku berfikir alangkah baiknya kalau kita mencari selamat. Aku... aku takut sekali!" jawab Mbah Petir sambil de- kap celananya yang basah oleh air kening.

Melihat Mbah Petir yang tiba-tiba berubah jadi penakut Roro Centil sangat geram sekali. "Sudah ku- duga sejak semula rasa pengecutmu pasti segera mun- cul begitu kau melihat kejadian seperti ini. Percuma kau jadi laki-laki. Mana keberanianmu, mana kejanta- nanmu sebagai lelaki heh?"

Dengan gugup Mbah Petir menyahut. "Kejantananku....i....ini. Ada ditempatnya, ma-

lah membuat celanaku basah!"

"Mbah dukun gendeng. Bukan itu maksudku, siapa perduli dengan barang bau pesing begitu?" dam- prat si gadis dengan muka merah padam dan perasaan jengkel.

"He he he. Biar pesing tapi antik." kata Mbah Petir cengengesan.

Roro Centil gelengkan kepala. "Tidak Mbah, kita tak mungkin tinggalkan tempat ini. Kita harus mencari nenek Muka Setan, aku harus membuat perhitungan dengannya. Sudah terlalu banyak nyawa yang me- layang secara sia-sia. Kita harus membalaskan kema- tian mereka agar arwah mereka tidak penasaran!" te- gas Roro Centil.

Mbah Petir terdiam, sepasang matanya berke- dap-kedip menerawang entah kemana.

"Kurasa kau benar. Kematian mereka hanya suatu kesia-siaan saja jika kita yang hidup tidak mela- kukan sesuatu. Sekarang apapun keputusanmu aku akan ikut mendukung sepenuhnya. "ujar Mbah Petir.

"Dukungan yang membabi buta hanya akan melahirkan penyesalan seumur hidup. Kalian akan mati ditanganku. Hik hik hik!" teriak satu suara di ser- tai tawa tergelak-gelak.

Baik si gadis maupun si kakek sama tercekat sama pula melengak kaget. Rasa kaget membuat Mbah Petir terkentut-kentut. Kencingnya memancar tak ter- tahankan.

"Gawat... aduh Roro. Aku kencing lagi kentut

lagi."

"Jangan ditahan Mbah keluarkan saja semua!"

sahut Roro Centil dengan perasaan tegang. Dengan ce- pat si gadis memandang ke satu jurusan dimana suara dan tawa tadi terdengar. Mendadak Roro Centil berte- riak ditujukan pada si kakek.

"Mbah Petir menyingkir!"

Kalang kabut Mbah Petir selamatkan diri ber- lindung di balik pohon begitu melihat belasan batu be- sar laksana dilontarkan menerjang ke arah mereka.

Buum! Buuum!

Batu bermentalan menghantam tempat kosong. beberapa diantaranya hancur berkeping-keping setelah membentur bebatuan lain yang terdapat di tempat itu.

"Kiamat... siapa yang melempari kita dengan batu Roro!" dari tempat perlindungannya Mbah Petir ajukan pertanyaan pada si gadis yang bersembunyi tak jauh darinya.

"Bukan demit bukan setan Mbah. Dia pasti manusia, tapi terlalu pengecut untuk menunjukkan di- ri!" sahut Roro Centil. Terhuyung-huyung dia bangkit, lalu keluar dari balik pohon. Tapi gadis ini kemudian tercengang begitu melihat suasana disekelilingnya di- penuhi asap hijau. Saat Roro menarik nafas, dia lang- sung terbatuk. Roro Centil mengendus bau sesuatu yang menyengat. Cepat dia tekab hidungnya.

"Astaga! Mengapa tiba-tiba ada asap hijau me- menuhi tempat ini. Aku... aku seperti mencium bau...!" Malu-malu tapi takut, Mbah Petir menyahuti.

"Asap hijau ini akibat aku terlalu banyak kentut, jan- gan marah Roro. Aku.. aku tak sengaja!"

"Orang tua geblek, kentutmu sebesar apa kok sampai bisa mengebul begini?" damprat si gadis ma- rah.

Belum sempat si kakek menjawab. Dari arah suara tadi kini terdengar makian disertai berkelebat- nya satu sosok tubuh berpakaian serba kuning.

"Iblis dari mana kentutnya bau pete begini!"

Si kakek melengak, dalam kejutnya kentut dan kencingnya terpancar saling susul menyusul, hingga membuat suasana ditempat itu selain dipenuhi bau pesing juga diwarnai bau pete yang menyengat.

8

Hanya dalam waktu sekejapan mata saja dide- pan mereka telah berdiri tegak sosok nenek tua be- rambut putih panjang berpakaian serba kuning beren- da putih. Wajah perempuan tua ini rusak mengerikan seperti bekas di cacah. Berdiri tegak dengan segala keangkerannya si nenek berwajah setan memandang ke arah si kakek dan Roro Centil silih berganti.

Si nenek dongakkan kepala, sepasang matanya yang mencorong tajam penuh kesombongan meman- dang ke langit. Tak lama kemudian terdengar tawanya yang melengking, menusuk telinga.

"Gadis cantik datang ke tempat kediamanku di saat udara dingin begini. Sungguh kau datang pada waktu yang tepat. Hik hik hik." kata Si Muka Setan disertai tawa mengikik panjang. Tak lama setelah puas memperhatikan Roro Centil, dia alihkan perhatiannya pada Mbah Petir sambil berkata. "Rasanya aku tidak membutuhkan tua bangka penjujung dupa sepertimu. Tubuh menebar bau pesing, kentut berasap disertai busuknya bau pete. Jahanam sepertimu layak kukirim ke neraka secepatnya!" dengus si nenek.

Dihina sedemikian rupa, jika semula Mbah Pe- tir ketakutan setengah mati melihat keangkeran nenek itu, maka kini timbul keberaniannya. Mbah Petir maju selangkah, mulutnya mendamprat. "Manusia gila kesa- sar, rupanya kau baru datang dari neraka. Pantas ujudmu tak karuan rupa." kata Mbah Petir. Lalu dia melanjutkan. "Kudengar tadi kau menghendaki saha- batku itu? Agaknya otakmu memang tak waras hingga menyukai kaum sejenis. Tapi setelah melihat tam- pangmu, jangankan Roro Centil kurasa binatang pun tak sudi denganmu!"

"Kakek penjunjung dupa bau pesing pete. Gili- ranmu akan tiba sebentar lagi. Sekarang aku ingin bi- cara dengan gadis ini!" dengus nenek Muka Setan. Dia kemudian berpaling pada Roro Centil. "Gadis cantik, namamu bagus sekali. Sangat sesuai dengan orang- nya. Nama bagus, kulit mulus wajah cantik. Sesuai benar dengan seleraku. Aku akan mengajakmu ke sor- ga, tapi sebelum itu biar kuhabisi dulu kakek penjun- jung dupa bau pesing ini!" Selesai bicara si nenek ba- likkan badan sambil mengangkat tangan siap dihan- tamkan ke arah Mbah Petir. Si kakek tercekat, tapi dia sendiri sudah berlaku waspada dari segala kemungki- nan. Roro Centil yang berdiri tak jauh dari sebelah kiri Mbah Petir melompat maju sambil berteriak.

"Manusia biadab, ternyata bukan perbuatanmu saja yang keji. Tapi rupanya mulut dan hatimu me- nyimpan kebiadapan. Katakan padaku siapa yang te- lah membunuh kakek itu?" hardik Roro Centil sambil menunjuk mayat Gelombang Tangis Dalam Duka yang terbujur kaku didepannya.

Si Muka Setan melirik ke arah si mayat sekilas. Kemudian dia tertawa. "Tua bangka yang suka menan- gis itu memang aku yang membunuhnya agar dia da- pat meneruskan tangisnya di akherat!" jawab Si Muka Setan.

Mendengar jawaban si nenek, Roro Centil diam- diam terkejut. Dia ingat dengan pukulan yang bersa- rang didada si kakek. Pukulan itu yang telah mene- waskannya. "Kau membunuhnya dengan pukulan Te- lapak Beracun, bukankah begitu?" pancing si gadis.

"Ternyata selain cerdik matamu cukup jeli. Aku memang membunuhnya dengan pukulan Beracun!" sahut Si Muka Setan penuh rasa bangga.

Seketika wajah Roro Centil berubah merah pa- dam, mata melotot penuh amarah. Dia jadi ingat den- gan kejadian yang menimpa Si Burung Merak dan Ma- laikat Kuku Seribu. Mereka semua adalah orang pent- ing yang hadir dalam pertemuan para pendekar. Kedua orang itu juga tewas akibat terkena pukulan yang sa- ma. Dengan tubuh bergetar dilanda kemarahan si ga- dis berteriak.

"Jadi kau bangsatnya yang juga telah membu- nuh orang-orang di dalam ruangan pertemuan rahasia itu?"

Meledaklah tawa si nenek mendengar perta- nyaan Roro Centil. "Kau benar, memang aku yang te- lah membunuh mereka. Bukan hanya itu saja aku pu- la yang telah memerintahkan Perampas Benak Kepala membunuh para pengawal pertemuan juga seorang nenek malang yang akan memimpin pertemuan itu. Sayang Perampas Benak Kepala tidak kembali kesini, bahkan seolah dia lenyap di telan bumi!"

Kagetlah Roro Centil mendengar pengakuan Si Muka Setan. Dia tahu Perampas Benak Kepala bukan manusia yang dapat dijatuhkan dengan mudah. Dia dapat membunuh lawan dengan hantaman sinar maut yang keluar dari kepalanya sebelum lawan dapat me- nyentuhnya. Tapi nenek buruk didepannya malah mampu menundukkan si penyedot otak bahkan men- jadikannya sebagai kaki tangan. Siapapun adanya orang yang memakai dandanan dan menyaru sebagai Si Muka Setan ini pastilah memiliki ilmu serta kesak- tian yang sulit dijajaki. Roro Centil sadar dirinya bera- dapan dengan lawan tangguh, karena itu diapun ber- laku waspada.

"Aku yakin Perampas Benak Kepala telah ter- bunuh di tangan seseorang. Orang yang sangat men- ginginkan nyawamu!" pancing Mbah Petir.

Si Muka Setan berjingkrak kaget mendengar ucapan si kakek. Cepat dia berpaling ke arah Mbah Pe- tir. "Tua bangka bau pete? Siapa kau berani mengata- kan budakku terbunuh. Siapa yang membunuhnya?!" hardik Si Muka Setan. Mbah Petir menyeringai.

"Siapa diriku tidak penting bagimu. Cukup kau mengenalku sebagai si Mbah Dukun bau pete. Karena aku dukun, maka aku tahu Perampas Benak Kepala telah tewas di tangan seseorang!" sahut si kakek ber- bohong.

"Jahanam, dukun keparat. Di dunia ini tidak ada manusia yang paling kubenci selain pemuda edan Pendekar Sakti Gento Guyon. Tapi aku tidak yakin dia mampu mengalahkan Perampas Benak Kepala, jan- gankan lagi membunuhnya. Hik hik hik." kata si ne- nek.

"Pengakuanmu itu merupakan suatu bukti

bahwa kau sebenarnya bukan nenek Muka Setan. Kau Muka Setan yang palsu. Karena Si Muka Setan yang sebenarnya tidak punya silang sengketa dengan Gento Guyon, bahkan kenalpun kurasa tidak!"

Sepasang mata si nenek membelalak lebar, dia jadi kaget. Bukan saja karena orang mengetahui raha- sianya, tapi juga tidak menyangka bahwa gadis itu ter- nyata kenal dengan musuh besarnya.

"Gadis cantik, apakah kau punya hubungan tertentu dengan Pendekar Sakti Gento Guyon?" tanya Si Muka Setan disertai pandangan penuh selidik.

"Apakah aku mengenalnya atau tidak, semua itu bukan urusanmu.!" sahut Roro Centil tegas.

Merasa diremehkan Si Muka Setan menggerung marah. "Gadis kurang ajar. Rupanya kau belum tahu siapa dirimu?!" teriak si nenek.

Sambil tertawa-tawa, Mbah Petir menyahuti. "Kira-kiranya aku tahu. Menurut gadis gila Puteri Pe- malu, engkau ini adalah gurunya. Menurut panga- kuannya pula kau mengalami guncangan di bagian kepala, hingga otakmu jadi sinting. Kurang lebih gila- mu lebih hebat dari yang diderita gadis itu. Karenanya dia memintaku untuk mengobati otakmu yang tidak waras. Pengobatan seperti yang diminta gadis itu hanya akan menimbulkan kekacauan dikemudian ha- ri. Jadi menurutku pengobatan yang paling tepat ada- lah dengan memenggal kepalamu. Ha ha ha!" kata si kakek disertai tawa tergelak-gelak.

Kedua pipi si nenek menggembung besar, bibir terkatup sedangkan mata mencorong tajam. "Kau ma- nusia rongsokan tidak berguna, kau yang akan ku- singkirkan terlebih dulu. Setelah itu hem, untuk gadis secantik sahabatmu itu aku sudah punya rencana ter- sendiri!" habis berkata begitu Si Muka Setan berkele- bat ke arah si kakek, tangan kanannya bergerak me- nyambar bagian leher Mbah Petir dengan cengkeraman lima kuku jari siap merobek leher orang tua itu. Kaget kakek itu bukan kepalang membuat kentutnya terpan- car bertalu-talu. Sambil terkentut-kentut si kakek se- lamatkan diri dengan melompat kebelakang. Asap hi- jau mengepul di udara menutupi pemandangan, mem- buat Si Muka Setan kelabakan, sambil memaki dia ki- baskan tangan kiri untuk mengusir asap kentut yang menebar bau busuknya petai. Megap-megap Si Muka Setan melompat mundur. Roro Centil sendiri yang me- nyadari bau kentut si kakek dapat membuat kepalanya jadi pusing jauh sebelumnya sudah menutup penci- uman sambil menahan nafas.

Didepan sana si kakek memandang mendelik sambil memperbaiki pendupaan diatas kepalanya yang miring.

"Manusia keparat? Busuk betul baumu. Tapi aku ingin melihat apakah kau mampu menghindari pukulan Telapak Beracunku!" dengus nenek Muka Se- tan. Perempuan itu diam-diam kerahkan tenaga da- lamnya ke bagian kedua tangan. Si kakek tercekat ke- tika melihat betapa kedua tangan Si Muka Setan hing- ga sampai sebatas siku nampak berubah menghitam disertai menebarnya bau busuk menyengat.

"Mbah Petir! Harap kau berlaku hati-hati. Seka- rang dia mengerahkan pukulan Telapak Beracun. Jan- gan pula kau sampai menjadi korban berikutnya dari keganasan pukulan itu!" melalui ilmu menyusupkan suara Roro Centil memberi peringatan.

"Aku sudah melihat. Kekejian itu paling tidak harus dapat kuhentikan, andai terpaksa aku akan mengadu jiwa dengan setan tua ini!" jawab Mbah Petir. Tak berselang lama mulut si Mbah nampak komat- kamit, kemudian terdengar gumaman tidak jelas. Ber- samaan dengan suaranya yang terdengar, pendupaan diatas kepala si kakek tampak menyala disertai me- mancarnya cahaya yang merah terang disertai dengan mengepulnya asap tebal yang bergulung-gulung. Asap lalu menebar dan meluncur deras ke arah lawan. Pada waktu bersamaan nenek Muka Setan melesat ke arah- nya, dua tangan berkelebat. Satu menghantam pupus asap sirapan yang mampu membuat si nenek pingsan, sedangkan tangan yang satunya lagi menghantam ke arah dada. Asap sirapan yang menebar dari pendu- paan lenyap dihantam pukulan Si Muka Setan, se- dangkan tangan nenek itu menyambar ke atas jan- tung.

Kejut Mbah Petir tidak terkira, kencing meman- cang disertai suara kentut seperti petasan. Si kakek melompat ke samping, tangan bergerak ke atas kepala. Pendupaan melayang lalu diangsurkan ke arah tangan Si Muka Setan yang seharusnya menghantam dada Mbah Petir.

Jross! Braak! "Waaakhh...!"

Si Muka Setan menjerit keras ketika pukulan- nya menghantam pendupaan. Walau pendupaan han- cur dan bara didalamnya bertaburan. Namun sebagian punggung Telapak Tangan Si Muka Setan hangus me- lepuh. Kenyataan ini membuat kemarahan dihati si nenek makin berkobar-kobar. Sementara hancurnya pendupaan membuat pendengaran Mbah Petir ter- ganggu lagi.

"Tua bangka mampuslah!" teriak si nenek. Lak- sana kilat dia kembali menyerbu, merangsak ganas ke arah lawan sedangkan tangan dan kakinya berkelebat menyambar sedikitnya ke sepuluh bagian tubuh si ka- kek. Beberapa saat lamanya Mbah Petir memang dapat menghindari hujan serangan yang makin menghebat itu. Tapi ketika si nenek merobah jurus-jurus silatnya, dalam waktu singkat si kakek terdesak hebat.

"Hebat luar biasa, tapi siapa takut mati!" me- muji si kakek setelah berhasil meloloskan diri dari hu- jan serangan lawan yang sangat gencar itu.

"Ingin kulihat apakah kau memang tidak takut mati!" dengus Si Muka Setan. Sekonyong-konyong Si Muka Setan berkelebat ke arah si kakek, dua tangan bergerak berbareng mencari sasaran didada dan perut si kakek.

"Ilmu Kutukan Mendera Bumi! Mbah Petir me- nyingkir!" teriak Roro Centil yang rupanya mengenali pukulan lawan. Mbah Petir tanpa pendupaan diatas kepalanya tentu saja tidak dapat mendengar suara te- riakan si gadis. Orang tua itu sama sekali tidak berge- rak dari tempatnya, dua tangannya diangkat ke atas menyambut serangan lawan.

Plak! Plak! Desss!

Dua tangan bentrokan keras di udara membuat Mbah Petir menjerit karena tangan yang dipergunakan untuk menangkis laksana terbakar sedangkan tubuh- nya terjengkang akibat satu hantaman berhasil me- nyusup menghantam dada. Sebaliknya di depan sana Si Muka Setan juga belalakkan matanya ketika melihat bagaimana lengan baju kuningnya robek, dibalik baju yang robek kini tersembul pakaian merah.

"Manusia setan siap kau?" teriak Roro Centil kaget. Gadis ini langsung mencabut dua bilah pedang yang terselip dipinggang kanan kiri. Tak jauh di sebe- lah kirinya dengan nafas megap-megap Mbah Petir ber- teriak. "Roro... hoek... aku percaya hanya dengan me- robek-robek wajah setannya kita baru bisa mengetahui siapa bangsat yang menyamar sebagai Muka Setan ini. Hayo tunggu apa lagi apakah kau tidak mau berga- bung denganku berebut pahala melenyapkan nyawa bangsat penipu ini?!"

"Hem, aku khawatir kau tak akan dapat melak- sanakan keinginanmu itu tua bangka bau pete!" den- gus Si Muka Setan. Dia lalu melompat sambil berte- riak. "Ini bagianmu!" bersamaan dengan suara teria- kannya itu si nenek kembali melancarkan pukulan ke arah Mbah Petir. Selarik sinar hitam membersit dari tangan si nenek, bergerak bergulung-gulung kemudian menghantam tubuh Mbah Petir. Dalam keadaan seper- ti itu Mbah Petir coba selamatkan diri dengan bergu- lingan ke samping. Tapi celakanya tubuh si kakek tak dapat digerakkan sama sekali. Seakan bagian pung- gungnya menempel dengan tanah. Tak menyangka ter- jadi hal aneh diluar perhitungannya si kakek hanya mampu belalakkan mata, sedangkan mulutnya komat- kamit membaca mantra untuk menerapkan ilmu anda- lannya.

Didepan sana Roro Centil demi melihat bahaya besar yang dialami oleh sahabatnya tidak tinggal diam. Dua pedang dilemparkannya ke arah lawan. Satu menghujam ke bagian punggung dan satunya lagi me- luncur ke bagian rusuk.

Mendengar suara mendesing dari bagian sam- pingnya, Si Muka Setan cepat berpaling. Dia tercekat, namun cepat mengambil tindakan dengan mengi- baskan tangannya ke arah dua cahaya putih yang me- luncur deras ke arahnya.

Bumm! Buuum! Tring! Tring!

Terdengar suara berdentum disertai dentring senjata yang berhasil di tangkis oleh Si Muka Setan. Guncangan keras membuat Roro Centil tergetar. Gadis itu cepat lakukan satu gerakan untuk menyambut pe- dang yang berbalik menghantam dirinya.

Pedang kena ditangkap kembali. Tapi dia jadi terkejut, ketika melihat bagaimana ujung kedua pe- dangnya putus tidak ubahnya seperti membentur besi baja.

9

Tak begitu jauh dari tempat tegaknya Roro Cen- til, justru Si Muka Setan saat itu dibuat tercengang. Pukulan yang dilepaskannya tadi jelas-jelas menghan- tam tubuh lawan. Tapi mengapa mendadak tubuh Mbah Petir raib tidak meninggalkan bekas? Kemana perginya orang tua itu?

"Tidak mungkin pukulan yang kulepaskan membuat tubuhnya hancur menjadi debu. Apa mung- kin dukun bau pete itu mempunyai ilmu melenyapkan diri?" fikir si nenek. Dia rupanya penasaran hingga ki- tarkan pandang disekitar lubang bekas pukulan yang masih mengepulkan asap hitam. Orang yang dicarinya tetap tidak kelihatan.

"Hi hi hi! Kau heran, nenek setan?" satu suara berucap mengejutkan si nenek. Dia langsung memba- likkan tubuhnya. Melihat kedepan sana Roro Centil tampak berdiri tegak dengan pedang disilangkan dide- pan dada. Melihat pada gadis itu sekilas, si nenek sunggingkan senyum. Tapi senyum itu hanya mem- buat wajahnya semakin menyeramkan.

"Kau sahabatnya, kau pasti tahu apa yang dila- kukan tua bangka tadi?!" ujar Si Muka Setan penuh curiga.

Roro Centil tertawa. "Mungkin dia mati akibat pukulanmu. Bisa jadi tubuhnya amblas kedalam bumi. Perduli apa? Nenek setan, melihat kau melepaskan pukulan 'Kutukan Mendera Bumi', aku rasanya pernah mendengar ilmu pukulan itu. Hemm.. aku baru ingat sekarang. Pukulan itu konon pernah membuat geger rimba persilatan belasan tahun yang lalu. Kalau tak salah pemilik pukulan keji itu adalah manusia keparat bergelar Begawan Panji Kwalat. Ada hubungan apa kau dengan manusia jahanam itu?!" teriak Roro Centil.

"Hik hik hik. Kau baru bisa mengetahui ada hubungan apa antara aku dengannya setelah bersedia menjadi pengantinku satu malam.!" sahut Si Muka Se- tan.

"Perempuan gila, otakmu benar-benar tidak wa- ras! Setelah kau hancurkan rencana pertemuan para pendekar, setelah kau bunuh para pendekar dunia persilatan. Apakah kau mengira dirimu dapat melo- loskan diri dari incaran maut?"

"Maut tak pernah mengincar diriku, karena dia adalah sahabatku. Justeru sekarang ini maut sedang mengintai dirimu. Tapi sebelum maut itu menjemput- mu, aku harus bersenang-senang dulu dengan diri- mu!" kata si nenek disertai tawa terkekeh-kekeh.

"Sebelum kau melakukan niat gilamu, sebaik- nya kau makan pedangku!" bentak Roro Centil. Suara bentakan lenyap, dua pedang pendek yang telah bun- tung pada bagian ujungnya berkiblat, sinar putih lak- sana kilatan cahaya bertabur di udara disertai suara berkesiuran. Ketika Roro Centil merangsak kedepan, maka sinar putih menyilaukan mata itu mengurung Si Muka Setan. Mendapat serangan gencar dengan meng- gunakan jurus andalan ini Si Muka Setan sama sekali tidak menjadi jerih. Sebaliknya dia malah tertawa ter- bahak-bahak. Dengan tenang pula si nenek kibaskan tangannya lancarkan pukulan Telapak Beracun.

Wuuut!

Dua tangan menyambar, satu ke bawah sa- tunya lagi ke atas. Hawa dingin disertai menebarnya cahaya hitam melabrak ke arah Roro Centil membuat dua pedang yang siap menghantam dada dan kepala si nenek tertahan di udara seolah ada satu kekuatan yang menahannya. Selagi Roro Centil dibuat kaget atas kenyataan yang dihadapinya, dua tangan Si Muka Se- tan kembali berkelebat dan tahu-tahu pedang di tan- gan si gadis sudah kena dicekalnya.

Sekuat tenaga Roro Centil berusaha menarik lepas pedangnya dari jepitan tangan lawan. Tapi kedua pedang sama sekali tidak bergerak. Malah badan pe- dang yang berwarna putih mengkilap, kini berubah menghitam. Dalam waktu sekejap seluruh badan pe- dang menghitam keseluruhannya. Roro Centil tercekat, terlebih-lebih ketika merasakan dua tangan yang me- megang hulu pedang tiba-tiba terasa panas. Si gadis sadar akan bahaya yang mengancam jiwanya andai dia terus mempertahankan pedang itu. Tanpa fikir pan- jang lagi pedangpun dilepaskannya, dia melompat mundur sambil melepaskan pukulan tangan kosong.

Tak menyangka lawan sempat melepaskan pu- kulan ke arahnya, maka Si Muka Setan sambil cam- pakkan pedang rampasan segera melompat sela- matkan diri. Tapi tak urung bagian kakinya sempat terkena hantaman pukulan lawan.

Si Muka Setan meraung, sambil berjingkrak tangannya sibuk memadamkan api yang membakar ujung kaki celakanya. Selagi nenek angker ini sibuk memadamkan api, Roro Centil melompat tinggi di uda- ra. Tubuhnya berputar sedangkan kaki melesat meng- hantam si nenek disaat dirinya baru saja tegak berdiri.

Dess!

Nenek muka setan meraung, sebagian kulit wa- jahnya terkelupas tapi tak ada darah yang menetes. Malah dibalik robekan wajahnya tersembul kulit-kulit halus. Tendangan tadi membuat Si Muka Setan jatuh terjengkang. Seakan tidak menghiraukan sakit yang mendera wajahnya si nenek melompat bangkit. Den- dam dan amarah membuat nenek ini menjadi gelap mata.

"Aku yakin wajahmu yang hancur itu hanya palsu adanya. Aku ingin melihat wajah yang sesung- guhnya. Baru kemudian kulucuti seluruh pakaianmu hingga aku dapat melihat engkau laki-laki atau perem- puan!"

"Hik hik hik. Jika kau sudah tahu siapa diriku. Aku takut kau terus merengak, mengemis cinta kasih- ku, tapi apa perlunya kau lihat wajahku. Kau tak cu- kup pantas untuk melihatnya. Gadis cantik bersiap- siaplah untuk menikmati malam indahmu!" Si Muka Setan menyahuti.

Sebelum si nenek mengambil suatu tindakan, guna meringkus Roro Centil, maka pada saat itu pula si gadis melompat ke arahnya dengan tangan terjulur siap lancarkan cakaran ke bagian wajah lawan. Gera- kan yang dilakukan gadis itu sungguh cepat luar bi- asa, tahu-tahu kini tubuhnya hanya tinggal sejarak se- tengah langkah saja dari hadapan lawannya. Di luar dugaan Si Muka Setan dorongkan tangannya ke atas menangkis sambaran tangan kanan lawan, sedangkan tangan kiri meluncur me-remas bagian dada sebelah kiri Roro Centil.

"Tua bangka kurang ajar!" pekik gadis itu. Den- gan gugup dia lakukan gerakan berjumpalitan kebela- kang. Tapi gerakannya ini kalah cepat dengan gerakan tangan lawan yang meremas dada.

Roro Centil menjerit tertahan. Dilain saat dia merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku. Tak ampun lagi gadis ini jatuh terhempas, diam tidak berkutik tapi langsung memaki begitu menyadari dirinya kena dito- tok oleh lawan secara kurang ajar,

"Perempuan hina. Lepaskan totokan keparat

ini!!"

Si Muka Setan datang menghampiri, berdiri te-

gak didepan Roro Centil. Wajah di dongakkan ke atas, sedangkan mulut mengumbar tawa. Dengan mata jela- latan merayapi keelokan tubuh si gadis Si Muka Setan berucap. "Tidak seorangpun perempuan yang sudah berada dalam kekuasaanku kulepaskan. Terkecuali... Hik hik hik." Si nenek tidak melanjutkan ucapannya. Dia memandang lurus ke arah kegelapan di seberang telaga. Di tempat itu dibawah kerapatan pepohonan dia membangun sebuah pondok. Satu tempat peristi- rahatan tersembunyi sekaligus merupakan tempat di- rinya bersenang-senang dengan perempuan culikan- nya. Dengan bibir menyunggingkan senyum penuh ar- ti, Si Muka Setan langsung menyambar Roro Centil. Gadis yang dalam keadaan tertotok kaku ini lalu dile- takkan diatas panggulan dibahu sebelah kiri. Setelah itu dia berlari cepat melewati bagian tepi telaga.

Sadar dengan bahaya besar yang mengancam- nya, Roro Centil berteriak, "Nenek keparat lepaskan aku. Lepaskan...!"

Si Muka Setan sama sekali tidak menanggapi, malah dia semakin mempercepat larinya.

Kembali pada Mbah Petir yang sempat terkena pukulan si nenek. Ketika Si Muka Setan melepaskan pukulan ke arah Mbah Petir. Orang tua ini memang ti- dak sempat menghindar. Pukulan pertama ini telah membuat Mbah Petir menderita luka di bagian dalam. Luka dalam yang tidak dapat dianggap ringan. Disaat seperti itulah Mbah Petir menyadari kalau tenaga da- lam lawannya ternyata dua tingkat diatasnya. Yang dia khawatirkan bukan perbedaan tenaga dalam yang me- reka miliki. Tapi si kakek menyadari pukulan yang di- lepaskan lawannya selain sangat berbahaya juga men- gandung racun ganas. Melihat dari kenyataan yang ada tidaklah mengherankan tokoh-tokoh seperti Ma- laikat Kuku Seribu maupun Si Burung Merak dapat dibunuh oleh nenek itu.

Sadar pula kalau dirinya tidak bakal sanggup menghadapi Si Muka Setan ketika nenek itu mele- paskan pukulan untuk yang kedua kalinya, maka Mbah Petir pun dengan terpaksa menggunakan ajian Panglemunan. Yaitu ilmu melenyapkan diri. Sehingga ketika pukulan Si Muka Setan menghantam ke arah- nya si kakek mendadak raib dari pandangan mata.

Lenyap dari penglihatan orang si kakek me- nyingkir. Namun dia tidak pergi jauh apalagi melarikan diri. Bagaimanapun dia sangat mengkhawatirkan kese- lamatan sahabatnya Roro Centil. Rasa cemasnya atas keselamatan gadis itu kemudian terbukti. Roro Centil bukan saja tak dapat menjatuhkan si nenek, malah dia sendiri kena dicelakai dan ditotok oleh nenek Muka Se- tan itu.

"Apa yang harus aku lakukan kini. Aku seorang diri tak mungkin sanggup menyelamatkan Roro dari cengkeraman nenek keparat itu. Hukh... celaka. Aku sekarang mesti menyembuhkan luka dalamku dulu. Biarlah untuk sementara aku berada dalam penerapan ilmu Panglemunan, sehingga keberadaanku disini ti- dak diketahui oleh siapapun!" kata si kakek.

Mbah Petir kemudian mengeluarkan sebuah kantong kecil butut berwarna hitam dari balik pakaian hitamnya. Kantong lalu dibuka, dia mengeluarkan tiga buah benda berwarna putih, hitam dan merah. Ketiga benda yang terjadi pel mujarab ini cepat dimasukkan- nya kedalam mulut. Begitu obat memasuki tenggoro- kannya, Mbah Petir merasakan adanya hawa panas laksana membakar tenggorokan juga bagian lambung- nya. Beberapa kejap kemudian hawa panas menjalar ke sekujur tubuh Mbah Petir. Orang tua ini meraung hebat. Sekujur tubuh Mbah Petir bergetar, keringat membasahi wajah dan pakaian orang tua ini. Walau- pun begitu hawa panas bukannya makin mereda, tapi semakin menggila seolah membakar dibagian dalam terlebih-lebih di bagian dada.

"Walah tobaat... Obat atau racun yang kumi- num tadi. Walah... walah...!" Tubuh si kakek mengele- par wajahnya nampak merah, sedangkan mata mende- lik seperti mau melompat keluar.

Mbah Petir kemudian terpaksa mencekik leher- nya sendiri agar tidak keluarkan suara teriakan begitu dia mendengar suara orang bercakap-cakap menuju ke arahnya. Dia yang saat itu tak jauh dari sebatang po- hon segera palingkan wajahnya ke arah datangnya su- ara. Si orang tua menahan nafas, mulut terkatub rapat untuk menjaga agar jangan ada suaranya yang keluar walaupun saat itu rasa sakit akibat obat yang dima- kannya terus mendera tidak kunjung henti.

Tidak berapa lama kemudian di tempat itu muncul seorang pemuda berambut gondrong, berwajah tampan bertelanjang dada. Sedangkan dileher si gon- drong yang suka tersenyum seperti orang sinting ini tergantung seuntai kalung bermata batu dengan warna putih buram agak kuning kecoklatan. Bersama si gon- drong adalah seorang laki-laki setengah baya beram- but klimis rapi. Orang ini berpakaian kuning diwarnai tambal-tambalan. Melihat pada penampilan serta pa- kaian yang dikenakanya yang bersama si gondrong itu, Mbah Petir paling tidak mengenali siapa dia adanya.

"Raja Pengemis ini bagaimana bisa muncul ber- sama pemuda gondrong itu? Apakah dia pemuda yang bernama Gento Guyon? Aku ingin tahu apa yang dica- rinya di tempat ini?" kata Mbah Petir. Karena kebera- daannya tidak dapat dilihat oleh siapapun, maka enak saja dia mendengar pembicaraan orang.

Mula-mula yang membuka mulut adalah Raja Pengemis. "Tadi aku seperti mendengar ada suara orang berteriak kesakitan disini. Aneh mengapa suara itu tiba-tiba lenyap?" kata orang tua itu, sedangkan matanya memandang liar memperhatikan kesetiap su- dut.

Pemuda yang bersamanya menyeringai. "Aku tidak mendengar suara apapun. Barangkali telingamu sudah rusak, perlu diganti dengan telinga yang baru. Orang tua seperti paman sebaiknya memakai telinga gajah, jadi pendengaran bisa lebih terang. Ha ha ha!"

"Aku tidak bergurau, Gento. Jelas tadi aku mendengar ada suara orang menjerit. Suara jeritan itu seperti orang yang menderita sakit luar biasa."

Si gondrong Gento Guyon tidak menanggapi. Matanya memandang ke depan. Kening murid kakek gendut Gentong Ketawa berkerut ketika melihat tempat itu berantakan seperti bekas terjadi perkelahian disitu.

10

Pendekar Sakti Gento Guyon sendiri tadi me- mang sempat mendengar suara jeritan. Entah siapa yang menjerit, yang jelas ditempat itu seperti pernah terjadi perkelahian hebat. Lalu Gento mencium adanya bau bangkai. Cepat sekali pemuda itu memeriksa kea- daan disekelilingnya. Jika Gento mengendus bau bu- suk, sebaiknya Raja Pengemis yang berdiri tidak jauh dari Mbah Petir mencium bau pesing petai.

"Bau pesing, orang yang terlibat perkelahian disini rupanya sampai terkencing-kencing. Mungkin dia menghadapi lawan yang tangguh!" Raja Pengemis berkata perlahan.

"Ha ha ha. Ternyata bukan cuma telingamu sa- ja yang tidak beres. Rupanya hidungmu juga menga- lami gangguan. Siapa bilang bau pesing? Siapa bilang bau pete? Aku malah mencium bau busuk!" sahut si pemuda sambil bersungut-sungut.

Di tempat duduknya Mbah Petir yang masih menerapkan ilmu Panglemunan tak dapat menahan senyum.

"Yang bau pesing dan bau pete itu diriku, se- dang yang bau busuk pasti bersumber dari mayat ka- kek Gelombang Tangis!" kata Mbah Petir. Tapi dia ma- sih tidak berani menunjukkan diri. Di sebelah kiri sa- na Gento Guyon mendadak keluarkan seruan terta- han.

"Paman Raja Pengemis, aku menemukan mayat seseorang disini!"

"Mayat... mayat siapa?" tanya Raja Pengemis. Tergesa-gesa dia datang menghampiri. Tak lama ke- mudian dia sudah berdiri disamping Gento. Dua orang ini saling berpandangan.

"Kau mengenalnya?"

Gento anggukkan kepala. "Walaupun mayatnya hampir membusuk, tapi aku tahu siapa orang ini. Be- berapa hari yang lalu dia bertemu denganku setelah membunuh sahabatku Rajo Penitis. Tak disangka se- seorang telah membunuhnya di sini, kemudian mayat- nya digantung. Paman lihatlah pesan itu?!" kata si gondrong sambil menunjuk ke arah dua baris kalimat yang tertera di bagian baju dan celana si mayat.

"Aku sama sekali tidak mengenali siapa yang telah membuatnya?" ucap raja Pengemis disertai ge- lengan kepala.

"Yang kita lihat adalah suatu kesombongan." gumam Gento. "Pemuda jahanam itu mungkinkah dia orangnya?"

"Siapa maksudmu?"

"Aku belum dapat memastikan. Kita lihat saja nanti, sebelum kutemukan bukti aku tidak bisa men- duganya begitu saja. Seperti yang paman lihat ditem- pat ini telah terjadi perkelahian, tapi aku melihat tidak ada korban disini."

"Mungkin mereka yang terlibat perkelahian sa- ma-sama terluka dan sama melarikan diri."

Gento Guyon tersenyum. "Rupanya paman menganggap mereka adalah orang-orang pengecut?"

"Kami bukan pengecut, tapi nenek jahanam itu memang sangat tinggi sekali ilmunya!" satu suara me- nyahuti membuat Gento dan Raja Pengemis melonjak kaget. Mereka lalu memutar tubuh dan menghadap langsung ke arah datangnya suara.

Kejut dihati Gento bukan kepalang ketika meli- hat seorang kakek tua berpakaian serba hitam duduk setengah rebah dengan tubuh bersandar pada batu tak jauh dari tempat mereka berada. Sebaliknya Raja Pen- gemis setelah memperhatikan dan meneliti wajah ka- kek itu tak dapat lagi menahan tawanya.

"Kalau tak salah yang duduk rebahan disitu bukankah dukun sakti yang selama ini dikenal dengan julukan Mbah Petir? Apa saja yang kau lakukan disitu Mbah, sedang kencing atau kentut? pantas tadi aku mencium bau pesing. Rupanya kau sedang dalam kea- daan ketakutan hingga secara pengecut menerapkan ilmu menghilang untuk menghindari musuh.?" tanya Raja Pengemis disertai senyum mengejek.

"Rupanya siapa kakek bau pesing ini?" tanya Gento berbisik.

"Dia si dukun sakti yang hendak ditemui saha- batmu Roro Centil!" jawab Raja Pengemis.

Di depan sana Mbah Petir yang baru saja sem- buh dari luka dalam yang dia alami terbatuk-batuk sambil memegangi dadanya. Terhuyung-huyung Mbah Petir bangkit berdiri.

Si kakek yang menjadi budek kembali akibat pendupaannya hancur dihantam nenek Muka Setan jadi tersenyum-senyum. Bukannya menjawab perta- nyaan Raja Pengemis, Mbah Petir malah ajukan perta- nyaan. "Walah syukur sekali kau datang."

Setelah berkata begitu dia beralih pada Gento. "Dan pemuda gondrong yang bersamamu itu siapa- kah?"

"Kau masih mengenaliku, Mbah. Bagus. Saha- batku pemuda gondrong itu adalah Pendekar Sakti Gento Guyon." jawab Raja Pengemis. Mbah Petir manggut-manggut.

"Mbah, mengapa kau sampai berada disini? Dimana sahabatku Roro Centil. Apa dia belum bertemu denganmu?" tanya si pemuda.

Si kakek entah mendengar pertanyaan Gento atau sebaliknya, malah unjukkan wajah kaget. "Ba- gaimana kalian bisa mengetahui Roro Centil di culik nenek Muka Setan?"

Gento tercengang. "Paman Raja Pengemis. Ter- nyata bicara dengannya tidak menyambung. Rupanya Mbah Petir saking kelewat saktinya jadi tuli. Tak ku- sangka Roro Centil malah mengagulkan kakek budek ini." kata Gento pada Raja Pengemis.

"Tak usah mencaci kekurangan orang. Kau dengar tadi katanya Roro Centil dilarikan nenek Muka Setan. Kita harus mengejarnya!" kata Raja Pengemis pula. gemis. "Mau dikejar kemana?"

"Tanyakan pada Mbah Petir!" sahut Raja Pen- Mesem-mesem sambil mengusap hidungnya Gento ajukan pertanyaan pada kakek didepannya den- gan suara keras. "Mbah budek.... nenek itu membawa Roro centil kemana?"

Suara menggeledek itu tentu saja didengar oleh Mbah petir. Sebaliknya Raja Pengemis yang berada tak begitu jauh dari Gento jadi pengang.

"Gondrong sialan, bicara jangan seperti geledek begitu?" bentak Raja Pengemis sewot. Gento tertawa bergelak.

Di depan mereka Mbah Petir menyahuti.

"Gadis itu... celaka. Nenek Muka Setan mem- bawanya ke seberang telaga."

"Sudah lama Mbah? Siapa saja yang dibawanya kesana?" tanya Gento lembut perlahan.

"Gondrong tolol. Bicara dengannya harus den- gan suara keras!"

"Raja Pengemis. Tadi aku sudah bicara keras kau melarang, sekarang kau malah menyuruhku ber- teriak?"

"Maksudku yang jelas."

"Apa menurutmu suaraku tidak jelas? Sudah- lah dari pada kita berdebat lebih baik kita susul nenek sialan itu!"

Selesai berkata sang pendekar cepat memutar tubuh lalu berkelebat tinggalkan tempat itu. Raja Pen- gemis segera mengikuti.

Mbah Petir sempat termangu melihat kepergian mereka. "Hei... tunggu...!" si kakek berteriak. Suara te- riakannya lenyap, tak ada jawaban. Mbah Petir kemu- dian mengejar ke arah lenyapnya Gento dan Raja Pen- gemis. 11

Di atas sebuah balai kayu tubuh si gadis tergo- lek kaku dalam keadaan tertotok. Suasana didalam pondok yang terang temaram membuat Roro Centil merasa sulit untuk mengenali keadaan didalam pon- dok. Suasana pondok yang sunyi menyadarkan gadis ini bahwa Si Muka Setan tidak berada di pondok saat itu.

"Nenek keparat itu pergi kemana? Apa yang hendak dilakukannya terhadapku?" fikir gadis itu. Da- lam keadaan dirinya tidak berdaya Roro Centil jadi te- ringat pada Sriwidari. Gadis itu pernah mengatakan si nenek pernah hendak berbuat keji terhadap dirinya. Mungkinkah hal yang sama akan menimpa dirinya? Berfikir sejauh itu membuat hati si gadis dilanda kere- sahan.

Dia tahu Si Muka Setan tidak berada di pon- dok, entah pergi kemana dan entah apa pula yang di- lakukannya diluaran sana. Namun Roro Centil menya- dari lambat atau cepat dirinya juga pasti berada dalam incaran bahaya. Nenek itu segera kembali ke pondok. Jika dia memang ingin selamat dari aib besar dan se- gala kekejian yang mungkin dilakukan Si Muka Setan maka kesempatan itu sekarang adanya.

"Aku harus membebaskan diri dari pengaruh totokan!" gumam Roro Centil. Lalu diam-diam si gadis pusatkan fikiran dan segera mengerahkan tenaga da- lamnya. Tenaga dalam selanjutnya disalurkan ke ba- gian dada.

Desss!

Roro Centil mengeluh perlahan ketika merasa- kan tenaga dalam yang dikerahkan kebagian dada yang kena ditotok berbalik. Ternyata totokan Si Muka Setan tak mudah untuk dipunahkan. Penasaran Roro Centil kembali kerahkan tenaga saktinya.

Dess! Dees!

Kembali hal yang sama terjadi. Dia bukan saja gagal melenyapkan totokan orang, tapi juga akibat benturan tenaga dalam dengan tenaga totokan yang melumpuhkan seluruh tubuhnya menimbulkan rasa sakit luar biasa di bagian dalam.

"Apa dayaku kini?" Roro Centil mengeluh putus

asa.

Gadis itu memandang ke langit-langit pondok,

tapi kemudian perhatiannya beralih ke arah pintu pondok begitu dia mendengar suara langkah kaki ber- lari cepat menuju kepondok itu. Satu bayangan berke- lebat melewati pintu yang terbuka. Dilain kesempatan sosok Si Muka Setan telah berdiri tegak disamping ba- lai ketiduran.

Roro Centil tercekat, namun dia memang tidak hendak bicara apapun dengan nenek bermuka seram itu. Hanya sepasang matanya saja yang memandang dengan mata mendelik ke arah orang tua itu.

"Hik hik hik. Aku sudah tahu kau tidak sabar lagi menunggu saat malam pengantin itu. Kekasihku, kau harus bersabar. Aku baru saja mempersiapkan di- ri agar diriku menjadi lebih tangguh dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya!" kata Si Muka Se- tan.

"Tua bangka keparat, siapa sudi berbuat keji denganmu. Lepaskan totokan ini. Man kita bertempur sampai seribu jurus!" teriak Roro Centil marah.

Si nenek tertawa cekikikan. Tawanya kemudian lenyap berganti dengan seringai dikobari nafsu bejat.

"Kita memang akan bertempur. Tidak menung- gu malam nanti, tapi sekarang. Pertempuran seru yang tak mungkin dapat kau lupakan seumur hidup. Malah kelak aku yakin kau pasti mencariku, lalu merengek- rengek mengajak bertarung lagi! Hik hik hik!"

Sadar dengan maksud ucapan Si Muka Setan, Roro Centil pun mendamprat. "Manusia keji, terkutuk. Kau menyangka diriku serendah itu?"

"Disini aku yang berkuasa, disini aku yang me- nentukan. Apa yang kau lihat tidak selalu seperti itu kenyataan yang sebenarnya!" kata si nenek dengan se- nyum bermain dimulutnya.

Dengan penuh kegeraman Roro Centil yang ti- dak dapat menggerakkan tubuhnya itu meludahi wa- jah buruk si nenek. Si Muka Setan seka wajahnya yang dipenuhi ludah. "Hem, ternyata bau ludahmu semerbak, membuat aku tak tahan menunggu lebih lama!" selesai berkata begitu si nenek tertawa bergelak. Tawanya lalu terhenti, sedangkan tangan kanannya berkelebat menyambar ke bagian dada.

Breet! Raaak!

Pakaian yang menutupi bagian dada Roro Cen- til robek besar, aurat si gadis tersibak. Roro Centil memaki memaki panjang pendek. Melihat pada dada yang putih mulus itu membuat si nenek semakin ber- tambah beringas dilanda nafsu setan. Si nenek tidak sampai disitu saja bertindak, digerakkan tangannya lagi ke bawah.

Breet!

"Perempuan sundal, jahanam keparat! Aku ber- sumpah pasti akan membunuhmu!" teriak Roro Centil. "Aku tak percaya kau dapat melakukannya!"

sahut si nenek. Sekali lagi tangannya bergerak. Men- dadak gerakan tangan yang hendak merobek pakaian Roro Centil jadi tertahan ketika terdengar suara gelak tawa tak jauh dari pondok itu.

"Jika punya rejeki besar, jangan serakah sendi- ri lupakan sahabat. Ha ha ha!"

Kemudian ada suara lain menimpali. "Dia me- mang begitu, biar sudah tua tapi masih juga serakah. Aku tidak yakin dia perempuan tua sungguhan!"

Belum lagi lenyap rasa kaget Si Muka Setan, ti- ba-tiba saja dia mendengar suara menderu datang dari dua arah. Tidak jelas apa yang menimbulkan suara de- ru itu, tapi Si Muka Setan menduga deru angin itu pasti bersumber dari pukulan sakti. Dugaannya tidak meleset. Dua sinar panas menghantam pondok itu dari dua arah.

Braak!

Buum! Buuum!

Satu ledakan menggelegar terjadi berturut- turut disertai makian dan jerit kesakitan seorang pe- rempuan. Dua sosok tubuh terpental di udara. Salah satu diantaranya berhasil melakukan gerakan sedemi- kian rupa hingga dapat jatuhkan diri dengan kaki ter- lebih dulu menyentuh tanah.

Wajah orang ini nampak pucat. Sedangkan sa- tunya lagi melayang tak karuan, jatuh dengan kepala membentur tanah. Satu sosok berkelebat menyela- matkan dan menurunkan orang yang ditolong ke tem- pat aman.

Ternyata orang yang baru diselamatkan Raja Pengemis bukan lain adalah Roro Centil.

Di depan sana pondok yang hancur dalam wak- tu singkat telah lenyap dalam kobaran api. Kepingan pondok yang hancur bertebaran dimana-mana.

"Ha ha ha! Rupanya kunyuk betina jelek ini yang telah membuat kegegeran di rimba persilatan. Sayang singgasananya telah hancur, hingga pesta pen- gantin tidak dapat dilangsungkan seperti yang diha- rapkan!"

Terkejut Si Muka Setan cepat palingkan wajah memandang ke arah orang yang baru saja bicara. Ter- nyata orang itu bukan lain adalah seorang pemuda be- rambut gondrong bertelanjang dada. Melihat siapa adanya pemuda ini kejut Si Muka Setan bukan kepa- lang. Rasa kejut kemudian lenyap berganti dengan dendam dan amarah yang selama ini menyesakkan dadanya.

"Pendekar Sakti Gento Guyon. Beberapa waktu yang lalu kau dan temanmu hampir membuat aku ce- laka. Sekarang adalah saatnya pembalasan itu!" mem- batin si nenek. Perlahan dia putar kepalanya ke sebe- lah kanan di seberang pondok yang hancur dilamun api. Dia melihat disana berdiri tegak seorang laki-laki berusia setengah baya. Laki-laki itu berpakaian serba kuning, berambut kelimis. Melihat caranya menyela- matkan Roro Centil tadi, si nenek dapat menduga sia- papun adanya orang tua itu pasti dia bukan manusia sembarangan. Tapi Si Muka Setan tidak takutkan dia. Saat ini orang yang menjadi sasaran utamanya adalah Pendekar Sakti Gento Guyon. Si gondrong itu harus di- lenyapkan hingga dia dapat berbuat apa saja di dunia persilatan kelak tanpa ada orang yang dapat mengha- langi.

"Nenek Muka Setan. Kulihat kau memandang- ku terus sejak tadi. Apakah kau merasa jatuh cinta padaku? Atau kau merasa terganggu atas kehadiran kami? Kalau begitu mohon dimaafkan karena kami ti- dak menyangka kau sedang berbulan madu didalam pondok itu! Ha ha ha." kata Gento lalu tertawa terge- lak-gelak.

"Apa betul dia sedang berbulan madu, Gento. Semula aku menyangka dia dukun beranak dari nera- ka. Tapi siapa yang hendak melahirkan. Kulihat perut gadis sahabatmu ini kempes. Aneh... gadis ini bukan bayi lagi. Mengapa dia hendak menelanjanginya?" cele- tuk Raja Pengemis. Diapun kemudian ikut tertawa. "Kalau begitu dia adalah perempuan gila yang

baru saja terlepas dari penjara neraka!" kata Gento "Bangsat jahanam bernama Gento Guyon. Ru-

panya kau datang sengaja hendak mencari mati! Aku Si Muka Setan memang telah lama menunggumu. Sayang kesempatan bertemu denganmu baru seka- rang, setelah aku merasa lelah membunuh orang- orang tolol yang mengaku dirinya sebagai manusia dari golongan lurus." dengus si nenek disertai seringai si- nis.

Tak menyangka orang mengenal siapa dirinya, tentu saja Gento di buat kaget. Tapi rasa kaget itu hanya berlangsung sesaat saja. Karena di lain saat dia sudah ajukan pertanyaan. "Kuntilanak setan, bertemu denganmu rasanya baru kali ini. Bagaimana kau bisa tahu namaku? Apa arwah Perampas Benak Kepala te- lah datang menyambangimu dan memberi kabar pa- damu bahwa junjunganmu ini akan datang menemui dirimu?"

Si Muka Setan berjingkrak kaget mendengar ucapan Pendekar Sakti Gento Guyon. Dia tak pernah menyangka Perampas Benak Kepala telah tewas bah- kan tak pernah membayangkan pula terbunuh di tan- gan orang yang sangat dia benci. Jika benar Gento mampu membunuh kaki tangannya itu, berarti ilmu kesaktian yang dimiliki lawan telah maju pesat. Si ne- nek melirik ke arah Gento. Dia melihat sebuah kalung bermata batu tergantung di leher Gento.

"Kalung itu, apakah mungkin suatu benda yang menyimpan kesaktian? Lima purnama yang lalu dia ti- dak memiliki benda itu? Akh... kurasa kalung batu itu hanya benda rongsokan yang dipungutnya di tengah jalan. Dasar pemuda edan? Buat apa aku takutkan dia? Malah kini dia harus tunduk dan patuh kepada- ku." kata si nenek dalam hati.

"Muka Setan, sejak tadi kau melirik terus kepa- daku. Apakah kau merasa jatuh cinta? Atau kau se- sungguhnya takut kepadaku karena sadar Perampas Benak Kepala dapat kubunuh dengan mudah?" panc- ing Gento.

"Ha ha ha! Perampas Benak Kepala kuakui memang telah membantuku selama ini. Tapi bagiku dia bukan segalanya. Aku hanya memanfaatkan ke- pandaian dan ilmu yang dia miliki sebagai alat. Jika benar dia terbunuh ditanganmu apa hebatnya?"

"Gento, suara nenek itu. Apa kau yakin dia memang seorang perempuan?" tanya Raja Pengemis terkejut mendengar suara si nenek mendadak jadi be- rubah. Pendekar Sakti Gento Guyon tertawa panjang.

"Raja Pengemis! Sayang aku tak dapat menja- wab pertanyaanmu. Aku sama sekali belum memeriksa perabotannya. Kau tadi yang mengintip dari belakang pondok apa belum melihat bagaimana rupanya dia punya? Putih atau burik bulat atau seperti bintang? Ha ha ha!" 

"Kalau tak salah seperti buah melon, itu juga baru sebelahnya saja. Sedang yang sebelah lagi gelap. Ha ha ha!" sahut Raja Pengemis sambil mengumbar tawanya pula.

"Keteranganmu membuat aku ragu. Mungkin yang kau lihat milik orang lain. Sedang yang dia punya setahuku seperti golok semar. Ha ha ha!"

Merah padam wajah cacat si nenek. Walaupun begitu dia masih berusaha menahan diri. Sambil me- nyeringai penuh keangkuhan Si Muka Setan membuka mulut berucap. "Aku tidak akan heran, orang yang su- dah mendekati ajal biasanya memang suka bicara nga- co. Aneh... orang lain banyak berdoa diakhir hidupnya, tapi kalian tidak. Malah bicara ngaco belo tak ka- ruan...!"

"Muka Setan! Kau kira dirimu wakil malaikat maut, hingga dengan seenaknya sendiri dapat memas- tikan kematian orang?" kata Raja Pengemis.

"Dia bukan wakil malaikat maut, manusia den- gan rupa seperti dirinya pasti wakil dari nafsunya sen- diri!" kata Gento menimpali.

12

Untuk beberapa saat lamanya kawasan di tepi Telaga Tengkorak Hantu itu diwarna gelak suara tawa Raja Pengemis dan Gento Guyon. Nenek Muka Setan kertakkan rahang, dua bola matanya memandang mendelik pada Gento dan Raja Pengemis, kemudian sambil melompat maju Si Muka Setan berucap. "Dua manusia calon puntung neraka. Aku muak mendengar tawa kalian. Karena itu kau dan kawanmu boleh me- neruskannya di neraka!"

Gento hentikan tawanya, sedangkan Raja Pen- gemis diseberang pondok yang telah berubah menjadi bara masih juga mengumbar tawanya. Sang pendekar kemudian berkata. "Rupanya kau penjaga di neraka? Tapi mengapa bisa kesasar kemari? Kalau tak kebera- tan sebaiknya tolong carikan tempat untuk kami di ne- raka sana. Jangan lupa carikan yang ada tempat pe- mandiannya, sebab kawanku Raja Pengemis sudah se- tahun lebih tidak mandi! Ha ha ha."

"Sekalian tukang urutnya. Kalau bisa gadis yang cantik. Bukan nenek berwajah setan sepertimu!" kata Raja Pengemis menimpali.

Tampang angker si nenek berubah tegang, din- gin menggidikkan. Secara tak terduga dia menghantam Raja Pengemis dengan pukulan jarak jauh. Kemudian laksana kilat dia berbalik, berkelebat cepat ke arah Gento sambil kibaskan kedua tangannya ke arah pe- muda itu.

Di sebelah sana segulung angin laksana topan prahara melabrak habis tubuh Raja Pengemis. Orang tua itu sempat tercekat, namun segera sadar bahaya besar mengancam nyawanya. Tidak membuang waktu lagi Raja Pengemis melompat ke sebelah kiri, lalu ja- tuhkan tubuh terus bergulingan hingga dia selamat dari terjangan pukulan lawan. Di belakang orang tua itu terdengar suara ledakan berdentum. Batu bertabu- ran di udara, pepohonan rambas seperti diterjang sen- jata tajam. Raja Pengemis leletkan lidah, muka pucat, sedangkan tengkuk tidak rasa tengkuk lagi, dingin ba- gaikan es.

"Nenek Muka Setan ini entah siapa dia adanya. Tapi kurasa dua atau tiga orang berkepandaian seper- tiku belum tentu sanggup menjatuhkannya!" gumam orang tua itu.

Sementara itu ketika mendapat serangan dari Muka Setan, Gento cepat melangkah mundur satu tin- dak kebelakang. Setelah tangan kanan digerakkan ke atas menangkis serangan lawan, sedangkan tangan ki- ri melesat menghantam perut si nenek.

Duduk! Duuk! Dess!

Bentrokan keras akibat tangkisan Gento, serta hantaman tangan kiri yang berhasil perut si nenek membuat Muka Setan terpental, jatuh dengan kedua kaki ditekuk. Terhuyung-huyung Muka Setan memaki. Tapi pada saat itu Gento telah mencecarnya dengan serangkaian tendangan beruntun. Dua tangannya juga berkelebat menyambar ke bagian wajah si nenek.

Si Muka Setan keluarkan suara raungan dah- syat. Dia memutar tubuhnya ke belakang selamatkan wajah dari sembaran jemari lawan. Sambil berbalik tangan kirinya menyambar kebelakang menyambut tendangan Gento.

Breet!

Bukan hanya sambaran tangan Gento saja yang tidak mengenai sasaran. Sebaliknya kaki kiri sang pendekar yang melepaskan tendangan kena di- hantam lawannya. Sambil berjingkrak menahan sakit dan mata terbelalak ketika melihat bagaimana ujung kaki celananya hangus menjadi bubuk terkena samba- ran tangan si nenek, Gento Guyon selamatkan diri ke samping.

"Jadi kau manusianya yang memiliki pukulan Telapak Beracun? Berarti kau pula orangnya yang te- lah membunuh beberapa tokoh golongan putih cabang atas!" teriak Gento marah.

Si nenek tertawa bergelak sambil bertolak ping- gang. Sesungging seringai mengejek bermain dibibir- nya. "Kalau sudah tahu mengapa tidak cepat berlutut dihadapanku? Jiwamu pasti kuampuni, tapi kau harus menyalak seperti anjing! Hik hik hik!"

"Kalau aku anjing, kau pantas menjadi nenek- nya. Nah sekarang nenek anjing katakan padaku ba- gaimana caranya berlutut. Apakah dengan posisi me- nungging, atau pantatku harus menghadap ke arah- mu. Kalau caranya seperti terakhir yang kusebutkan yang bisa melakukannya hanya Mbah Petir. Karena cuma dia yang bisa kentut, sayang orangnya tidak ada disini! Ha ha ha!" kata Gento dengan nada mengejek.

"Paling tidak kau harus membuka celanamu, Gento. Dengan begitu dia bisa sekalian bercermin di- pantatmu!" celetuk Raja Pengemis menimpali.

Mendengar ucapan kedua lawannya darah si nenek laksana mendidih, sepasang mata berkilat dipe- nuhi nafsu membunuh. "Dua manusia jahanam. Pertama kali aku akan membereskan monyet gondrong ini dulu!" teriak si ne- nek. Kemudian dia melanjutkan ucapannya ditujukan pada Raja Pengemis. "Setelah itu baru giliranmu pen- gemis keparat. Untuk kematianmu aku telah memilih- kan jalan yang paling sulit!" Tanpa memberi kesempa- tan lagi bagi lawan-lawannya untuk bicara. Didahului teriakan keras si nenek menyerbu ke arah Gento. Kali ini dia menghantamkan dua tangannya sekaligus. Dua larik cahaya putih menyilaukan mata berkiblat. Hawa panas menyambar disertai suara gemuruh hebat.

"Pukulan Kutukan Mendera Bumi! Bangsat ja- hanam jadi kiranya kau Panji Anom murid kakek ke- parat Begawan Panji Kwalat?" seru Gento kaget begitu mengenali pukulan lawan.

Si nenek tertawa bergelak. "Bagus kalau kau sudah tahu siapa diriku. Bersiaplah untuk mati!" kata si nenek yang ternyata adalah Panji Anom Penggetar Jagad.

Sadar dengan siapa dirinya berhadapan, Gento Guyon tak mau mengambil resiko. Dengan cepat dia menangkis serangan lawan dengan pukulan Iblis Ke- tawa Dewa Menangis.

Segulung angin menderu disertai melesatnya selarik sinar tujuh warna seperti pelangi. Dua pukulan bentrok di udara menimbulkan ledakan berdentum. Dua sosok tubuh terlempar kebelakang. Gento jatuh bergulingan, dadanya serasa remuk, nafas megap- megap namun cepat bangkit kembali.

Didepannya sana dengan terhuyung-huyung, Si Muka Setan sudah berdiri kembali. Baju dibagian dada robek besar, hangus menjadi bubuk. Dibalik baju yang hangus terlihat pakaian lain berwarna merah. Pada bagian pakaian didepan dada terlihat sulaman ber- gambar bumi berwarna hijau juga lintasan kilat ber- warna putih.

"Panji Anom manusia jahanam, jadi rupanya kau orangnya yang menjadi dalang dari peristiwa yang mengerikan itu? Sejak semula aku memang sudah menduga. Sayang aku berada dalam keraguan!" den- gus Gento Guyon.

Di depannya si nenek robek topeng kulit tipis yang menutupi wajah aslinya. Begitu kedok dibuka maka terlihatlah seraut wajah tampan seorang pemu- da. Wajah yang membayangkan kelicikan serta kesom- bongan.

Raja Pengemis terperangah. Dia sama sekali tak pernah menyangka kalau wajah sosok nenek Muka Se- tan yang dilihatnya sejak tadi sesungguhnya hanya kedok belaka.

"Jadi ini bangsatnya yang bernama Panji Anom. Pantas saja dia hendak berlaku keji pada setiap gadis yang diculiknya!" kata Raja Pengemis sambil gelengkan kepala penuh rasa tak percaya.

Panji Anom tertawa lebar. Tanpa menghiraukan Raja Pengemis kini dia menyerang. Tidak kepalang tanggung untuk serangan kedua ini dia menghantam lawannya dengan pukulan Kutukan Mendera Bumi ju- ga pukulan Tiga Petaka Bumi. Begitu dia menghantam kedepan, kemudian laksana kilat Panji Anom jatuhkan diri dengan posisi berlutut, sedangkan tangan dihan- tamkan ke tanah. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengerikan. Dari atas menderu sinar putih yang lang- sung melibas Gento. Sedangkan dari tanah mendadak terdengar suara bergemuruh disertai melesatnya sela- rik sinar merah yang langsung memecah menjadi tiga bagian. Tiga sinar itu satu diantaranya menghantam bagian kaki Gento, satunya lagi melesat tak terduga ke arah Raja Pengemis. Orang tua itu melompat ke udara. Sedangkan Gento nampak repot sekali. Tak urung pe- muda ini kemudian lesatkan tubuhnya ke udara. Tapi sinar putih masih sempat menghantam bagian ka- kinya.

Buuum!

Murid kakek Gendut Gentong Ketawa jatuh bergulingan. Kedua kaki celananya hangus robek sam- pai sebatas lutut. Jika Raja Pengemis dapat menghin- dari serangan lawan. Maka begitu jatuh Gento merasa sulit untuk berdiri. Dua kakinya yang kena dihantam pukulan lawan selain panas bukan main juga terasa lumpuh. Dia mencoba berdiri tapi jatuh lagi. Melihat hal ini Panji Anom sang musuh bebuyutan tak tinggal diam. Sambil melompat ke arah Gento dia lepaskan tendangan ke wajah lawannya.

Nampaknya sang pendekar merasa sulit meng- hindari serangan itu, tapi dia tetap bergulingan ke samping mencari selamat. Raja Pengemis melihat sa- habatnya berada dalam ancaman bahaya besar segera melompat sambil melepaskan pukulan Penyedot Raga.

Wuuut!

Selarik sinar kebiruan menderu menghantam Panji Anom dari arah samping. Merasakan ada angin dingin menyambar ke arahnya, Panji Anom terpaksa batalkan tendangan ke arah Gento. Tubuhnya berpu- tar, tangan kanan lalu dihantamkan melepas pukulan Prahara Perut Bumi.

Sinar putih kuning dan merah berkiblat dari tangan si pemuda. Tapi kejut si pemuda bukan kepa- lang ketika melihat bagaimana pukulan yang dile- paskannya amblas tersedot oleh serangan lawan. Bu- kan hanya itu saja, tubuhnya sendiri kemudian ikut tertarik ke arah lawan. Tak mau konyol dan celaka di- hantam pukulan lawannya. Panji Anom gerakkan tan- gan kanan ke atas, tangan yang bergetar dan menebar bau busuk itu lalu didorongnya ke arah Raja Penge- mis. Wuuut!

"Ilmu Kutukan Dalam Pusara!" seru Raja Pen- gemis kaget. Sadar betapa ganasnya pukulan lawan, Raja Pengemis tarik balik serangannya. Dengan cepat dia melompat mundur selamatkan diri. Sayang gera- kan yang dilakukannya kalah cepat dengan serangan Panji Anom.

Hanya dalam waktu sekejap tubuhnya mencelat lima tombak terkena pukulan lawannya. Raja Penge- mis menjerit, tubuhnya jatuh tenanting, dari mulut dan hidungnya menyemburkan darah, sedangkan se- kujur tubuh orang tua itu nampak membiru, nafas megap-megap mata mendelik.

"Manusia keparat! Kau telah mencelakai saha- batku! Kubunuh kau!" teriak Gento yang kini sudah dapat berdiri. Panji Anom balikkan badan menghadap langsung ke arah si pemuda.

"Ha ha ha! Kau bisa apa Gento. Dengan ilmuku yang sekarang kau tidak akan lolos dari kematian!" ka- ta Panji Anom bangga. Gento tersenyum. "Aku tidak percaya dengan segala bualanmu, Panji Keparat! Ha ha ha!" sahut Gento.

Merasa diri diremehkan lawannya. Panji Anom sambil keluarkan suara menggerung melesat kedepan, selagi melesat di udara dia lakukan gerakan aneh. Tu- buhnya dibungkukkan sedemikian rupa sedangkan tangannya terjulur menghantam dada Gento. Si gon- drong coba menangkis, tangkisan luput karena kini tangan bergerak ke bawah menghantam perut.

Desss!

Satu hantaman yang sangat keras mendera pe- rut Gento membuat pemuda ini jatuh terduduk, me- nyeringai kesakitan sambil pegangi perutnya yang mendadak terasa beku dan menimbulkan sakit luar biasa. Memandang kebagian perutnya mata Gento mendelik besar begitu melihat bagaimana bagian pe- rutnya nampak membiru.

Cepat pemuda ini mengambil dua butir pel berwarna hitam dan menelannya. Begitu obat ditelan si pemuda merasakan adanya hawa panas menyebar ke- bagian perut, hawa dingin akibat pukulan berangsur lenyap. Sambil menyeringai Gento bangkit berdiri. Pan- ji Anom terkejut melihat lawan dapat menyembuhkan diri dari pukulan Kutukan Dalam Pusara secepat itu. Tapi dia nampaknya tidak perduli. Saat itu dia sangat bernafsu sekali untuk menghabisi lawannya. Didahului dengan bentakan keras dia melompat kedepan siap lancarkan tendangan dan pukulan. Tapi pada saat itu Gento telah mengerahkan salah satu ilmu andalannya, yaitu ilmu Menitis Bayangan Raga warisan manusia setengah roh setengah manusia Kakek Seribu Tahun. Gerakan Panji Anom sekonyong-konyong jadi tertahan ketika melihat bagaimana tubuh dan sosok Gento kini telah mengembar menjadi lima orang.

"Jahanam keparat! Pemuda edan ini punya il- mu apa? Mengapa aku dulu tidak melihatnya?!" kejut si pemuda. Walaupun hatinya sempat menjadi jerih melihat lawannya yang bisa berubah menjadi lima orang itu. Namun Panji Anom adalah manusia penuh kesombongan. Dengan penuh rasa percaya diri dia li- pat gandakan tenaga dalamnya lalu menghantam den- gan dua pukulan berturut-turut ke lima arah.

Wuuut! Wuuut!

Udara dingin dan panas datang silih berganti menderu dan langsung menghantam kelima sosok Gento. Di depan sana kelima sosok Gento kerahkan tenaga kebagian kalung. Kemudian mata Kalung Raja Langit diusap tiga kali. Dari kelima masing-masing ma- ta kalung yang tergantung dileher lima kembaran Gen- to membersit sinar putih yang langsung menyambar kedepan menyambat pukulan Panji Anom.

Buuum!

Satu ledakan menggelegar laksana menggun- cang seluruh bumi. Panji Anom menjerit. Tubuhnya terpental, pakaian dikobari api. Di depan sana sosok Gento tergontai, empat kembarannya lenyap. Asap teb- al menutupi pemandangan. Dalam gelap Gento me- lompati lubang besar dikobari api yang terjadi akibat ledakan tadi. Dia memburu ke arah jatuhnya Panji Anom. Tapi Gento akhirnya menjadi kaget ketika men- dapati Panji Anom telah lenyap meninggalkan tempat itu.

Pemuda ini hanya melihat ceceran darah dan serpihan pakaian yang hangus di tempat jatuhnya Panji Anom. Gento menarik nafas. Saat itu asap tebal telah sirna dan suasana menjadi terang seperti semula. Gento memandang ke sebelah kiri.

"Pemuda jahanam itu telah melarikan diri!" ka- ta Raja Pengemis yang saat itu sudah dapat duduk kembali, namun beberapa bagian tubuhnya nampak masih membiru.

"Ya, ini sangat kusesalkan. Harusnya pemuda itu tak kubiarkan lolos agar kelak tidak menimbulkan malapetaka lagi!" sesal Gento.

"Sudahlah. Sebaiknya kau bebaskan dulu gadis sahabatmu itu dari pengaruh totokan." ujar Raja Pen- gemis.

"Tidak usah, aku sudah membebaskannya!" sa- tu suara menyahuti. Lalu Gento dan Raja Pengemis mencium adanya bau pesing dan bau kentut. Mereka cepat menoleh ke arah Roro Centil. Keduanya melen- gak ketika melihat Mbah Petir sudah duduk disamping si gadis dan nampak sibuk mengganti pakaian gadis itu dengan pakaian yang baru. "Mbak Pesing, bagaimana kau bisa ada disitu!" desis Gento heran.

"Ha ha ha. Sebenarnya aku sudah disini sejak tadi. Tapi aku tidak berani menolong, tidak pula berani membantu. Jadi aku bersembunyi saja di batu itu." Mbah Petir sambil menunjuk ke arah batu besar seja- rak dua langkah dibelakangnya.

"Dasar manusia pengecut, orang tua sepertimu buat apa hidup jika tidak berguna?!" damprat Raja Pengemis.

"Ingat, aku seorang dukun. Bukan jago silat. He he he!" sahut Mbah Petir tenang.

"Dukun gila, mengobati sakit kentut dan ken- cingmu sendiri saja tidak becus. Sebenarnya Mbah le- bih pantas menjadi penjaja pete" kata Gento bersun- gut-sungut. Pemuda itu kemudian menghampiri Raja Pengemis. Melihat keadaan orang tua itu dia gelengkan kepala. Kemudian tanpa bicara apa-apa dia sumpalkan tiga butir pel kemulut Raja Pengemis.

"Hoek, apa ini?" teriak Raja Pengemis sambil berusaha muntahkan obat pemberian Gento. Pemuda itu sambil terkekeh-kekeh ketuk tenggorokan Raja Pengemis. Akibatnya obat tadi masuk kedalam perut Raja Pengemis.

"Aku suka lupa. Yang kuberikan padamu tadi entah obat entah racun, paling tidak salah satu dianta- ranya. Ha ha ha! Tunggu satu hari, kalau paman sehat berarti yang kuberikan adalah obat, jika sebaliknya be- rarti yang paman makan tadi racun.!"

"Pemuda edan, tega betul kau!" teriak Raja Pen-

gemis.

Gento tidak ambil perduli. Dia melirik ke arah

Roro Centil. Si gadis dengan tatap mata berbinar se- perti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi ke- tika melihat Gento kedipkan mata ke arahnya. "Sebaiknya untuk sementara kau bersama Mbah bau pete itu Roro. Siapa tahu kelak kau berjo- doh dengannya. Tapi jika boleh aku memberi saran, sebaiknya kau memilih aku saja. Ha ha ha." kata Gen- to sambil tertawa. Tak lama dia berpaling pada Raja Pengemis. "Paman, paling tidak kau membutuhkan waktu satu hari untuk beristirahat disini. Aku berjanji akan mencari muridmu."

"Kalau begitu aku ikut?!" kata Raja Pengemis. Gento gelengkan kepala.

"Tak usah. Jika kau ikut berarti aku harus menggendongmu. Menggendong tua bangka dan pen- gemis sepertimu aku takut ketularan jadi kere. Ha ha ha!"

"Bocah sialan. Berani sekali kau menghinaku!" damprat Raja Pengemis.

Yang dimaki terkesan tidak perduli. Masih den- gan tertawa-tawa dia hampiri Roro Centil. Ditoelnya dagu gadis itu. Wajah Roro Centil berubah kemerahan. "Pemuda kurang ajar kubunuh kau!" teriak si gadis. Mulutnya membentak marah, tapi sebenarnya hati si gadis merasa berbunga-bunga.

Tawa Gento makin melebar. Tepat disamping Mbah Petir dia hentikan langkah, tubuhnya mem- bungkuk mulut didekatkan ke telinga Mbah Petir. Tapi tiba-tiba dia tegak kembali.

"Mbah budek Mbah Pete, tadinya aku mau mengucapkan selamat tinggal padamu. Tapi tak jadi, telingamu ternyata selain culean juga bau pete. Ha ha ha!" kata Gento sambil berkelebat pergi.

Mbah Petir yang tidak mendengar ucapan Gen- to hanya senyum-senyum saja. Mulutnya berucap. "Te- rima kasih. Kau memang pemuda hebat. Ha ha ha!!!" Roro Centil tersenyum.

"Kakek geblek, orang menghina dirinya dia ma- lah berterima kasih! Dasar tolol!" dengus laki-laki itu lalu tertawa tergelak-gelak.

TAMAT