Gento Guyon Eps 15 : Sang Pembantai

 
Eps 15 : Sang Pembantai


Matahari telah lama tenggelam. Dingin udara menjelang malam terasa mencucuk tulang. Di langit sebelah timur bulan mulai menampakkan diri meng- gantikan sang surya yang lenyap di ufuk barat. Di ba- wah sebatang pohon rindang, satu sosok dengan besar badan seperti raksasa tidur melingkar dengan tangan bersilangan di depan dada. Nampaknya dia tidur pulas sekali. Dada kembang kempis, mulut sesekali perden- garkan suara mendengkur. Nyenyak tidur sosok raksa- sa yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu hitam lebat tak berlangsung lama. Sesaat kemudian tubuhnya menggeliat, dua kelopak mata yang terpejam bergerak- gerak. Sayup-sayup telinganya mendengar suara berla- ri di kejauhan. Sosok raksasa ini membuka mata. Dia kemudian bangkit, duduk dengan kedua tangan men- dekap lutut. Dua matanya makin melebar, memandang ke satu arah di sebelah kiri dimana suara orang berlari makin bertambah dekat, makin jelas.

Masih tetap berada di tempatnya, sosok tinggi besar manusia raksasa ini menoleh ke kanan. Disana berdiri tegak sebuah pondok berlantai tinggi. Kebera- daan pondok di tengah hutan sunyi diapit kerapatan pohon besar ini sejak dia sampai di tempat itu sore ta- di memang sempat mengundang tanya. Pondok bagus di tengah hutan, berpintu tapi tidak bertangga. Entah siapa tuan dari pemilik pondok itu. Kini setelah men- dengar ada suara orang berlari ke arahnya paling tidak menimbulkan dugaan bahwa orang yang datang bukan lain pemilik pondok itu.

Suara langkah kaki orang berlari makin ber- tambah dekat. Timbul perasaan tidak enak bagi sosok raksasa. Masih dalam keadaan terduduk dia lakukan satu gerakan. Laksana kilat tubuhnya melesat ke atas cabang pohon, mendekam di situ di balik reranting daun sambil mengintai. Tidak berapa lama satu semak belukar tersibak, muncul seorang nenek berambut pu- tih, berpakaian kuning dengan renda-renda putih pada setiap sisinya. Sosok raksasa terus mengawasi. Nenek yang baru munculkan diri ternyata berwajah seram rusak seperti bekas dicacah. Wajahnya seolah bukan rupa manusia lagi, tapi angker laksana setan. Rupanya dia tidak sendiri karena di atas bagian bahu sebelah kiri tergeletak menelungkup satu sosok lain, agaknya seorang gadis, berpakaian serba ungu. Wajah gadis itu sama sekali tidak terlihat tertutup rambutnya yang ter- juntai ke bawah.

Sampai di depan pondok si nenek hentikan langkah, sepasang mata memandang ke atas pondok sekilas. Sesungging senyum bermain dibibirnya mem- buat wajah setan si nenek bertambah angker. Tak la- ma dia melompat ke dalam pondok. Pondok bergetar. Si nenek lalu melangkah ke sudut ruangan kemudian baringkan sosok dalam panggulannya di atas balai bambu.

Si nenek menyeringai, dia lalu duduk di balai ketiduran. Tangannya terjulur bergerak mengelus dagu gadis baju ungu yang ternyata seorang gadis cantik berkulit putih mulus.

Si gadis yang dalam keadaan tertotok hanya bi- sa memaki si nenek karena sekujur tubuhnya memang sulit digerakkan, dalam keadaan kaku tertotok. Tidak hanya tubuh, ternyata jalan suaranya juga tertotok. Belaian pada dagu membuat sang dara mendelik.

"Perempuan busuk, manusia edan berotak sint- ing. Apa yang hendak kau perbuat pada diriku. Tua bangka edan, berani kau berbuat kurang ajar kubu- nuh kau!" teriak si gadis. Tapi suara si gadis hanya bergema disekitar rongga dada dan terhenti ditenggo- rokan. Tak sepatah katapun yang terucap.

Seolah mengerti apa yang ada dalam hati si ga- dis, si muka setan tersenyum. Tangan yang membelai dagu kini beralih ke bagian leher. Dia lakukan tiga usapan di leher sebelah kanan dan sebelah kiri si ga- dis. Setelah itu si nenek berucap. "Rupanya kau sudah tidak sabar kekasihku. Berdua-dua tanpa bicara me- mang kurang enak. Sekarang kau boleh bicara. Hik hik hik."

Pada usapan keempat membuat si gadis dapat menggerakkan bagian kepala sekaligus bicara, namun tetap tak mampu menggerakkan bagian tubuh lainnya. Begitu jalan suara terbebas dari totokan si gadis men- damprat. "Perempuan iblis, lepaskan totokan ini. Apa- kah kau sudah gila hendak berbuat mesum dengan se- sama jenis mu?"

Si nenek tertawa panjang. Dengan mata melotot dikobari nafsu setan tangan si nenek berkelebat berge- rak kebagian dada.

Breeet!

Si gadis menjerit kaget. Pakaian di bagian dada sebelah kiri robek, memperlihatkan bagian dada yang putih. Darah si nenek laksana menggelegak, otot dis- ekujur tubuhnya menegang. Tangan si nenek celami- tan sedangkan mulutnya berucap. "Aku belum gila, ta- pi keindahan tubuhmu membuat aku tergila-gila. Kau tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Hik hik hik."

Di atas pohon besar sosok raksasa terus mem- perhatikan ulah si nenek dengan perasaan heran.

Dia membatin. "Gadis itu jelas gadis culikan. Tubuhnya dalam keadaan tertotok. Lalu siapa nenek edan ini? Buat apa dia melakukan semua kegilaannya pada si gadis? Jangan-jangan nenek muka setan itu punya kelainan. Kudengar banyak orang yang mem- punyai kelainan seperti itu. Seperti laki-laki yang hanya suka pada sesama jenisnya. Gila...!" Sosok rak- sasa gelengkan kepala.

Sepasang matanya terus memperhatikan, men- gintip melalui celah atap pondok dan menunggu apa yang hendak dilakukan si nenek.

Sambil menunggu si raksasa berfikir, dia tak dapat melihat bagaimana wajah si gadis. Belakangan ini terlalu banyak kejadian aneh yang terjadi. Salah sa- tu diantaranya adalah mengenai pertemuan para pen- dekar golongan putih. Di Kiara Condong.

Konon kabarnya pertemuan itu dilaksanakan atas gagasan seorang tokoh perempuan yang dikenal dengan julukan Si Muka Setan. Seorang tokoh golon- gan lurus namun memiliki wajah seangker setan. Ber- temu dengan orangnya manusia raksasa ini belum pernah, tapi melihat si nenek dalam pondok ciri-cirinya sama persis dengan tokoh itu.

Mungkinkah dia orangnya? Manusia yang se- lama ini dihormati oleh kalangan dunia persilatan. Apapun yang dilakukan si nenek dalam pondok jelas dia menyimpan maksud keji pada si gadis. Agaknya sosok raksasa itu tak perlu menunggu lebih lama ka- rena pada waktu itu terdengar suara gelak tawa diser- tai robeknya pakaian yang direnggut paksa.

Lalu terdengar suara si nenek berucap diantara deru nafasnya yang memburu tersengal. "Tenang ga- disku, kita akan bercinta bagaikan suami isteri. Aku kekasihmu, aku suamimu. Hik hik hik!"

"Nenek keparat. Lepaskan aku!" satu pekikan terdengar. Di dalam pondok di atas balai bambu sosok ga- dis cantik itu pakaiannya awut-awutan tak karuan. Dia mencoba menutupi dadanya, tapi tentu saja hal itu tak bisa dia lakukan karena tangannya juga tak dapat bergerak.

Melihat keindahan yang terpentang di depan matanya si nenek jadi tak sabar, nafas memburu da- rah menggelegak.

Laksana kilat dia melompat ke atas balai bam- bu. Baru saja si muka setan siap memeluk tubuh gadis itu, tiba-tiba dari bagian atas atap pondok menderu segelombang angin panas yang langsung melabrak atap pondok. Atap jebol, tembus sampai ke bagian da- lam dan menghantam tubuh si nenek. Ternyata dalam keadaan diri diamuk badai rangsangan si nenek tidak kehilangan kewaspadaannya. Lebih hebat lagi dia ma- sih sanggup bergulingan ke lantai pondok sambil me- nyambar tubuh gadis itu.

Hantaman yang datang dari atap pondok menghancurkan balai bambu tersebut.

Dengan membiarkan gadis culikan tergeletak di atas lantai, laksana kilat si nenek melompat bangkit, berdiri tegak memandang ke arah atap yang jebol ber- lubang besar, sedangkan mulut semburkan makian marah. "Kurang ajar, mencari mati berani mencampuri urusan orang!"

Sosok manusia raksasa yang memiliki nama aneh Rajo Penitis yang kini telah berdiri di atas bu- bungan pondok balas menghardik. "Tua bangka bu- suk, muka setan. Usia sudah mendekati ajal. Hendak berbuat keji dan mesum dengan sesama kaumnya sendiri, mengapa menyalahkan orang!"

Mendengar jawaban orang darah si nenek lak- sana mendidih, bukan karena kobaran nafsu melain- kan karena dibakar amarah. Lalu dia mendongak ke atas, tangan ditarik ke belakang siap melepaskan satu pukulan keji. Tindakan yang hendak dia lakukan tak sempat terlaksana. Karena pada saat itu pula terden- gar suara tawa bergelak panjang disertai pusaran an- gin yang menjebol atap pondok. Atap berikut kayu pe- nyanggahnya terangkat terbang ke udara, berputar la- lu lenyap di pulas pusaran angin. Dari atap yang jebol melesat turun satu sosok dengan besar tubuh sangat luar biasa sekali. Sambil melesat ke lantai pondok se- cara tak terduga manusia raksasa ini lepaskan ten- dangan ke arah si nenek.

Muka setan yang belum habis rasa kagetnya, surut satu langkah dua tangan dipergunakan untuk menangkis.

Dess! Dess! Buuk!

Tangkisan bertenaga dalam penuh mampu membuat sosok besar ini jatuh terduduk. Tapi kaki la- wan yang sangat besar itu sempat menghantam dada si nenek, membuatnya mencelat, melayang di udara la- lu jatuh di atas tanah.

Sambil bangkit berdiri si raksasa yang sempat melihat wajah gadis itu dua kali dibuat kaget. Pertama dia kaget karena tak menyangka nenek muka setan itu memiliki tenaga dalam sangat tinggi. Bahkan akibat benturan membuat kakinya panas laksana terbakar. Sedangkan yang kedua dia tidak menyangka gadis yang hendak digagahi oleh nenek wajah setan adalah gadis yang sangat dia kenal. Gadis ini bukan lain ada- lah Sriwidari yang beberapa hari lalu sempat dilari- kannya untuk dijadikan istri. Sebaliknya gadis berpa- kaian ungu begitu melihat ada orang telah menyela- matkan dirinya dari aib besar sempat gembira. Tapi kini jadi kaget dan kembali dilanda ketakutan. Dito- long oleh manusia raksasa itu baginya sama saja, tidak ubahnya lepas dari mulut harimau jatuh ke mulut ikan hiu. Malah kini dia menjadi sangat marah melihat kemunculan Rajo Penitis. Dendamnya pada manusia raksasa itu setinggi langit karena dialah yang telah membunuh ayahnya. Juru Obat Angin Laknat. Untuk lebih jelas (silahkan baca Episode Ki Anjeng Laknat).

Si raksasa sudah tak sempat lagi memikirkan gadis itu, apalagi menutupi auratnya yang tidak ka- ruan. Karena di bawah sana nenek muka setan yang gusar melihat campur tangan raksasa itu telah bangkit berdiri sambil memandang sosok besar yang tegak di atas lantai pondok dengan mata mencorong marah, disertai tatapan penuh selidik.

Jauh dalam hati sesungguhnya dia juga kaget.

Manusia raksasa ini tentu memiliki berat badan mungkin lebih dari tiga ratus lima puluh kati. Anehnya ketika dia jejakkan kaki di atas atap pondok tadi sama sekali tidak menimbulkan guncangan. Bahkan si ne- nek sampai tidak tahu ada orang berada di atas pon- dok. Jika tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sangat luar biasa mana mungkin hal itu dapat di- lakukannya.

***

2

Betapapun nenek muka setan sempat dibuat kagum, tapi kemarahan ternyata lebih besar mengua- sai jiwa dan fikirannya. Dia tak mengenal siapa raksa- sa ini, namun dia menyadari sosok raksasa di depan- nya selain mempunyai tenaga dalam tinggi juga memi- liki ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna.

"Makhluk raksasa keparat, aku tak pernah ber- temu denganmu sebelumnya. Mengapa berani lancang mencampuri urusan orang, siapa dirimu ini yang se- benarnya!" hardik si nenek.

Si raksasa keluarkan suara tawa pendek. Se- saat dia pandangi si nenek, merasa muak dia langsung berkata. "Tua bangka dalam rupa setan. Kau telah me- lakukan satu kesalahan besar. Bagaimana aku bisa diam jika orang yang hendak kau gagahi itu adalah ca- lon istriku? Ha ha ha." Lalu tanpa memberi kesempa- tan pada nenek muka setan dia melanjutkan ucapan- nya. "Kau ini bukan saja perempuan edan, tapi juga memiliki kelainan. Kau hendak berlaku keji pada kaum sejenis. Apakah ini tidak keliru? Mestinya jodoh-mu adalah laki-laki, karena cuma laki-laki yang memiliki pedang. Lagi pula jika laki-laki yang kau ajak berbuat mesum, mereka pasti tidak akan marah. Bisa jadi laki- laki itu senang. Tapi laki-laki mana yang mau den- ganmu, muka rusak, hancur mengerikan seperti setan. Kurasa setan bengekpun tak sudi bergendak dengan- mu!"

"Jahanam tengik, kau tak tahu siapa diriku. Sampai kau mati kau tak bakal mengenali siapa jun- junganmu ini. Manusia terkutuk cepat katakan siapa dirimu?" bentak muka setan mengulangi pertanyaan- nya.

"Rupanya kau penasaran. Kau dengar, namaku Rajo Penitis. Sekarang kau harus mengganti pakaian calon istriku, kau juga musti memotong tanganmu yang telah kau pergunakan untuk menggerayangi ga- dis itu!" berkata Rejo Penitis ulurkan tangan bersikap seolah meminta. "Rajo Penitis, hem. Jika gadis itu calon istrimu, aku tidak merasa berat mengganti pakaian dan menye- rahkan dua tanganku ini. Kau meminta ambillah sen- diri!"

Nenek muka setan lalu ulurkan tangan kirinya. Ternyata bukan untuk diserahkan karena begitu tan- gan si nenek diangsurkan ke depan dari telapak tan- gan itu menderu angin merah ke arah Rajo Penitis dan juga ke pondok dimana si raksasa dan Sriwidari bera- da. Sadar lawan lepaskan pukulan jarak jauh bertena- ga dalam tinggi, Rajo Penitis melesat ke udara, ber- jumpalitan dua kali lalu jatuh berdiri di luar pondok. Justru pada waktu itu terdengar suara berderak pon- dok yang hancur disertai jeritan si gadis yang terpe- lanting di udara bersama puing-puing pondok yang bertebaran dikobari api. Rajo Penitis terkejut, tapi ce- pat melompat menangkap Sriwidari yang meluncur ce- pat ke arah batu dengan kepala terlebih dulu. Selagi Rajo Penitis berusaha selamatkan si gadis dari han- curnya kepala akibat membentur batu. Maka kesempa- tan ini dipergunakan si muka setan dengan mele- paskan satu pukulan susulan yang tak kalah dahsyat.

Rajo Penitis menjadi gugup, dia dorongkan tan- gan kanan menyambuti pukulan lawan, sedangkan tangan kiri diteruskan menangkap tubuh si gadis. Ka- rena pikirannya terpecah, baik tangkisan yang dilaku- kannya maupun gerakan tangan kiri untuk menyela- matkan Sriwidari tak dapat dilakukannya dengan baik. Dia hanya dapat menyambar dan membalik kepala si gadis. Sedangkan bagian tubuhnya tetap jatuh meng- hempas ke batu. Sekali lagi gadis itu menjerit, bentu- ran keras pada bagian punggungnya membuat Sriwi- dari jatuh pingsan seketika.

Manusia raksasa itu sendiri mencelat sejauh satu tombak terhantam sebagian pukulan lawan yang tak sempat ditangkisnya. Laksana kilat dia bangkit berdiri. Akibat pukulan membuat tubuhnya terasa pa- nas laksana terbakar. Rajo Penitis keluarkan suara menggerung. Sebaliknya si nenek yang tegak di depan sana diam-diam menjadi kaget. Pukulan yang dile- paskannya tadi termasuk salah satu pukulan hebat yang dia miliki. Tapi pukulan sakti itu hanya membuat lawan jatuh terjengkang bukan tewas seperti yang di- harapkan.

Pingsannya Sriwidari membuat Rajo Penitis jadi marah besar. Kini dia melangkah maju, setiap gerakan kakinya menimbulkan getaran hebat pada tanah yang dipijaknya.

"Kau pasti menyesal telah membuat calon istri- ku jadi seperti itu. Kalau dia sampai mati, kepalamu akan ku pelintir sampai putus!"

"Hik hik hik! Kalau dia tak dapat kumiliki, ba- gusnya kau dan dia kukirim ke neraka saja!" teriak nenek muka setan.

Suara teriakan dijawab dengan satu tendangan menggeledek yang menghantam ke dahi, leher dan tenggorokan si nenek. Angin keras menderu, hebatnya lagi walau kaki itu besar sekali tapi dapat bergerak laksana kilat, membuat si nenek keluarkan seruan ka- get, lalu melompat mundur kemudian berkelebat gesit hindari tendangan lawan. Sambil menghindar muka setan membalas dengan pukulan-pukulan mautnya hingga perkelahian itu berlangsung seru menegang- kan.

Beberapa jurus lamanya si nenek sempat terde- sak hebat mendapat tendangan beruntun itu. Tapi se- telah empat puluh jurus kemudian si nenek melaku- kan gerakan aneh, lalu dia merobah jurus silat serta gerakan tubuhnya. Sampai akhirnya sekarang dia ba- las mendesak lawan, malah beberapa kali jotosan dan tendangan kilat yang dilakukannya sempat mengenai bagian tubuh lawannya. Rajo Penitis bertahan mati- matian. Dia lalu lakukan serangan balasan yang da- tangnya tidak terduga. Beberapa kali Rajo Penitis ber- hasil susupkan tangannya lakukan jotosan ke tubuh lawan. Nenek muka setan yang kena hantaman ter- huyung. Jotosan itu memang tak membahayakan ji- wanya, tapi mampu membuat tubuh goyah, inipun ba- ginya sudah merupakan sesuatu yang memalukan.

Sekali ini si nenek melompat mundur sejauh ti- ga langkah dari lawannya. Kemudian tangan diangkat, lalu dikepal. Mulut nenek muka setan berkemak- kemik. Dari tinjunya mengepulkan asap tipis kehita- man, bukan hanya asap yang keluar tapi tinju sampai sebatas siku telah pula berubah hitam menggidikkan. Rajo Penitis menyadari lawan agaknya siap mele- paskan pukulan saktinya. Si raksasa tidak tinggal di- am. Dia segera salurkan tenaga dalam ke bagian tan- gan dan kedua kakinya.

Sementara itu di balik sebatang pohon di sebe- lah kiri tak jauh dari jatuhnya Sriwidari. Satu sosok mendekam disana. Sosok berjubah biru yang selalu menutupi wajahnya dengan ujung jubah yang menjun- tai di depan dada. Sosok ini berada di situ sejak nenek muka setan siap menodai Sriwidari. Dia bahkan me- nyaksikan perkelahian sengit itu. Entah mengapa begi- tu melihat si nenek hendak menodai si gadis dia malah menangis tanpa suara sambil tutupi wajahnya dengan ujung kain jubah birunya.

"Hik hik hik. Mengapa dia berubah, mengapa dia hendak berbuat mesum dengan gadis itu? Hik hik hik. Malu aku jadinya. Apakah terlalu banyak yang di- fikirkannya, apakah terlalu berat beban yang meng- himpit batin hingga membuatnya jadi gila, tidak waras pikiran." Sosok yang ternyata seorang gadis berdandan menor turunkan kain jubah yang dipergunakan untuk menutupi wajah. Malu-malu dia julurkan kepala, men- gintip ke arah orang yang berkelahi. Kemudian dia me- lirik ke arah Sriwidari. Pakaian si gadis yang menying- kapkan aurat atas bawah membuatnya menjadi malu, kasihan juga iba.

"Kakakku memalukan, dia mungkin sudah tak waras. Jadi gila, padahal ilmunya tinggi, ini sangat berbahaya. Aku harus membawa gadis itu, menyingkir yang jauh mencari selamat! Hi hi hi." Dan gadis berju- bah biru ini berkelebat dengan satu gerakan cepat luar biasa tepat pada saat nenek muka setan melepaskan pukulan ganas ke arah Rajo Penitis. Si gadis sempat melihat berkiblatnya sinar hitam ke arah si raksasa. Dia juga melihat manusia raksasa itu melepaskan satu pukulan yang tak kalah hebatnya.

Tanpa perduli dengan apa yang akan terjadi, si jubah biru sambar tubuh Sriwidari, lalu berkelebat pergi dengan kepala dipenuhi tanda tanya melihat pu- kulan si muka setan.

"Hei... jahanam pencuri hendak kau bawa lari kemana dia!" teriak muka setan. Berkata begitu sekali lagi dia lepaskan pukulan ke arah orang yang melari- kan gadis culikannya. Dua ledakan terjadi berturut- turut. Ledakan pertama adalah akibat pukulan si ne- nek yang berbenturan dengan pukulan Rajo Penitis. Ledakan kedua adalah pukulan si nenek yang diarah- kan oleh sosok gadis berjubah biru yang tak mengenai sasaran.

Si nenek yang terhuyung-huyung akibat bentu- ran pertama, menyumpah habis-habisan karena puku- lan kedua untuk mencegah orang melarikan Sriwidari tak mengenai sasaran. Dia semakin geram karena di- kejauhan dia mendengar ada suara orang berkata.

"Walah... hampir mati aku. Sialan... tobaat...!" Suara lenyap, sosok jubah biru juga lenyap.

Si nenek memandang ke depan. Di depannya sana Rajo Penitis nampak terkapar. Mulutnya yang menyemburkan darah keluarkan suara erangan, dada kembang kempis laksana mau meledak. Kecewa atas segala yang terjadi, kini sambil menyeringai dia hendak lampiaskan kemarahannya pada Rajo Penitis yang ru- panya menderita luka dalam hebat akibat benturan pukulan tadi. Dia melangkah tiga tindak. Tangan ka- nan di angkat tinggi siap melepaskan satu pukulan mematikan.

"Malam ini ajalmu sampai, kau segera mengha- dap malaikat penjaga neraka makhluk raksasa tolol!" Si nenek Muka Setan menggeram. Perlahan tangan di- turunkan siap menghantam. Namun gerakannya jadi tertahan seketika, mulut ternganga mata memandang ke satu arah ketika mendadak dia mendengar suara siulan yang datang dari kejauhan. Si nenek batalkan niat untuk membunuh lawannya, seperti orang gugup dia balikkan badan. Tanpa menoleh dia berucap ditu- jukan pada Rajo Penitis. "Makhluk keparat pengganggu kesenangan orang. Nyawamu ku perpanjang tiga hari lagi. Nanti bila urusan pentingku selesai aku akan mencarimu, mencabut nyawa busukmu!" habis berka- ta dengan tergesa-gesa si nenek berkelebat pergi ting- galkan Rajo Penitis seorang diri.

Seperginya nenek muka setan, Rajo Penitis ke- luarkan suara erangan. Dia terbatuk, dada semakin menyesak, mulut kembali semburkan darah hidup. Cepat Rajo Penitis masukkan tangannya ke dalam kan- tong celana dia mengambil dua buah benda kecil ber- warna merah, lalu memasukkan benda itu ke dalam mulut.

Begitu obat memasuki kerongkongannya, rasa panas di dada berangsur lenyap, berganti dengan rasa sejuk. Si raksasa bangkit, duduk dan terlolong seperti orang bodoh. Dia kitarkan pandang, Sriwidari ternyata lenyap. Tadi dia memang sempat melihat berkelebat- nya sosok serba biru. Mungkin sosok itulah yang telah melarikan Sriwidari. Dengan perasaan sedih dia berka- ta.

"Gadis itu sudah dua kali dilarikan orang. Mungkin dia tidak berjodoh denganku. Kasihan, orang tuanya terlanjur terbunuh di tanganku. Karena aku harus mencarinya." Membatin Rajo Penitis. Mendadak dia usap keningnya, kening langsung mengernyit keti- ka teringat sahabatnya Gento Guyon. Setengah menge- rang si raksasa berguman. "Kurcaci kecil, kurcaci je- lek. Kemana kau? Aku sekarang tidak butuh istri pengganti. Aku memerlukan seorang sahabat. Kurcaci kecil! Aku Kurcaca ingin bertemu denganmu!"

Terhuyung-huyung Rajo Penitis bangkit berdiri. Tangan kanan mendekap dada yang masih terasa sa- kit. Entah mengapa saat itu dia merasa begitu rindu pada Gento. Kerinduan yang makin menghunjam da- da, melecut kalbunya yang paling dalam. Aneh entah kerinduan atau terkenang pada nasib hidupnya sendi- ri, Rajo Penitis kucurkan air mata. Kemudian seperti orang mabuk dia berlari tinggalkan tempat itu.

*** 3

Gadis cantik berdandan menor berjubah biru membawa Sriwidari ke sebuah tempat sunyi tak dari sungai Citarum. Saat itu banjir besar melanda sekitar kawasan sungai sampai kebagian pendataran rendah.

Di satu tempat perbukitan si jubah biru turun- kan gadis dalam panggulannya. Sriwidari lalu diba- ringkan di atas tanah dengan hanya beralaskan daun dan rumput-rumput kering. Sesaat lamanya gadis ber- dandan menor yang sering tertawa-tawa sendiri itu pandangi gadis yang ditolongnya, dari kepala sampai ke bagian kuku. Si jubah biru menjadi kasihan melihat bagaimana pakaian Sriwidari yang acak-acakan, dis- ana sini. Rasa malu melihat semua itu membuat dia tutupi wajahnya dengan ujung jubah.

"Hik hik hik. Bagaimana aku harus menolong, bagaimana aku harus mengganti pakaian yang rusak? Bajuku cuma satu, pakaian juga cuma satu." Kata ju- bah biru sambil memandangi dirinya sendiri. Dia lalu gelengkan kepala ketika melihat buntalan yang tergan- tung dipinggangnya. "Mengapa aku lupa. Dalam bunta- lan ini bukankah terdapat dua lembar pakaian salinan. Sialan otak masih waras tapi mudah pikun." Si jubah biru yang bukan lain adalah gadis sinting yang biasa dipanggil Puteri Pemalu dengan cepat menarik bunta- lan lalu membukanya. Dia mengambil seperangkat pa- kaian lengkap, kebetulan sekali pakaian itu berwarna ungu. Gadis sakit ingatan ini lalu mendekati Sriwidari.

"Dia tidur atau pingsan. Hik hik hik, mungkin pingsan. Selagi gadis ini pingsan sebaiknya pakaian- nya kuganti saja." Kata Puteri Pemalu. Beberapa saat lamanya Puteri Pemalu nampak sibuk mengganti pa- kaian Sriwidari. Selesai mengganti pakaian orang Pute- ri Pemalu duduk termenung. Wajahnya nampak sedih, tapi mulut tetap tertawa.

"Kakakku itu, bagaimana mungkin perangainya bisa berubah begitu rupa? Dia mengatakan aku gila, otakku miring. Tak tahunya sekarang malah dia yang gila. Tapi benarkah karena kegilaannya itu membawa perubahan pada pukulan sakti yang dia miliki? Puku- lan yang dilepaskannya padaku sama sekali bukan pukulan yang biasanya kulihat. Pukulan itu lebih keji, lebih dahsyat bahkan mengandung racun jahat. Puku- lan seperti itu tidak pernah dia miliki sebelumnya. Ayu Jelita alias Muka Setan. Apa yang telah terjadi pada di- rimu? Mengapa kau hendak berbuat keji pada kaum sejenis?" kata Puteri Pemalu dengan perasaan sedih. Walau dirinya merasa prihatin melihat apa yang terjadi pada Si Muka Setan, namun mulutnya tetap menyem- burkan tawa. Suara tawa lenyap, Puteri Pemalu pan- dangi Sriwidari. Gadis itu masih belum sadarkan diri. Gadis berdandan menor mulai diliputi kegelisahan. Bukan gelisah memikirkan Sriwidari, melainkan kare- na hati dan fikirannya merasa tidak dapat menerima apa yang telah dilakukan oleh Si Muka Setan. Dia ma- sih ingat beberapa waktu yang lalu telah terjadi pem- bantaian keji atas keluarga Si Muka Setan. Seperti di- ketahui, Si Muka Setan sesungguhnya adalah guru Pu- teri Pemalu, namun gadis yang terganggu ingatan ini suka memanggilnya kakak.

Puteri Pemalu ingat beberapa hari yang lewat Si Muka Setan pergi untuk memimpin pertemuan di Kia- ra Condong. Puteri Pemalu mencoba mengikuti tapi kehilangan jejak. Kelanjutan pertemuan gadis sakit in- gatan itu tidak tahu. Tapi kemudian terjadi sesuatu yang mengejutkan. Dia yang dalam perjalanan menuju ke tempat pertemuan untuk mencari Bagus Awan Pe- teng melihat gurunya hendak melakukan perbuatan terkutuk pada seorang gadis.

Puteri Pemalu dekap wajahnya, mulut bergu- man. "Muka Setan. Benarkah dia kakakku? Atau mungkin masih ada si Muka Setan yang lain. Jika be- nar yang kulihat tadi malam itu adalah kakakku, men- gapa pukulannya lain? Pukulan sakti yang dile- paskannya sama sekali bukan pukulan yang biasanya? Apakah mungkin dia menciptakan ilmu pukulan baru yang tak pernah diajarkannya padaku? Harusnya aku segera menyelidik. Tak mungkin aku menunggui gadis ini sampai sadar. Jika dia nanti tahu aku punya hu- bungan dengan Muka Setan aku bisa mendapat malu besar! Hik hik." Kata Puteri Pemalu disertai gelak tawa panjang.

Sekali lagi gadis sakit ingatan ini pandangi Sri- widari. Setelah itu dia lakukan tiga totokan di bagian dada untuk memperlancar jalan darah di tubuh Sriwi- dari, kemudian dia bangkit berdiri. "Aku tak bisa me- nunggumu sampai sadar. Aku takut banyak perta- nyaanmu. Aku bisa jadi malu. Aku harus pergi menca- ri Si Muka Setan. Aku akan bertanya segala sesuatu tentang kebejatan yang hendak dia lakukan padamu. Hik hik hik!" selesai dengan ucapannya Puteri Pemalu jejakkan kaki, lalu berkelebat tinggalkan Sriwidari seo- rang diri.

Tak lama setelah perginya gadis sinting tadi, Sriwidaripun siuman. Dia jadi kaget ketika dapatkan dirinya berada di pinggir sungai itu seorang diri, lebih kaget lagi ketika mendapati pakaiannya yang hancur habis tercabik-cabik kini telah berganti dengan pa- kaian yang lain. Ingat sekaligus sadar dirinya telah di- tolong oleh seseorang, tanpa menghiraukan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya Sriwidari kitarkan pandang. Tidak terlihat Rajo Penitis, tidak terlihat pula Si Muka Setan yang hendak menodai dirinya.

Tempat itu sama sekali telah berubah. Saat itu dia mulai menyadari dirinya berada di tepi sebuah sungai, di pinggir kawasan hutan pinus.

Sriwidari merasa gembira karena dirinya terle- pas dari ancaman aib besar. Tapi siapa yang telah me- nolong dan memberinya pakaian? Gadis itu pejamkan matanya, mencoba mengingat-ingat. Yang teringat olehnya justru ketika pondok yang terkena hantaman pukulan nenek Muka Setan hancur berantakan, dia yang berada di atas lantai pondok terpelanting tinggi ke udara. Kemudian selagi tubuhnya meluncur deras dengan kepala menghadap ke arah batu, si raksasa Rajo Penitis mencoba menyelamatkannya. Bagian ke- pala dapat diselamatkan dari kehancuran, tapi bagian tubuh yang lain menghantam batu. Lalu dia jadi tak sadarkan diri. Sriwidari menduga mungkin selagi di- rinya dalam keadaan tak sadar itulah seseorang yang begitu baik hati telah menyelamatkannya. Memba- wanya pergi ke tempat yang aman, di pinggir sungai itu.

"Siapapun yang telah menyelamatkan diriku aku patut mengucapkan rasa terima kasih. Tapi dima- na penolongku itu sekarang? Dia sengaja tidak mau menungguiku hingga sadar. Tidak mau mendengar se- gala basa-basi atau memang ada sesuatu yang diraha- siakannya!" batin si gadis. Beberapa saat berlalu, Sri- widari masih dalam sikapnya, menelentang sedangkan mata menerawang memandang ke langit dimana ma- tahari baru saja menampakkan diri di langit sebelah timur.

Sriwidari lalu menggeliat, bangkit duduk. Saat duduk dia merasakan kepalanya berdenyut sakit. Dia gelengkan kepala untuk mengusir rasa sakit yang menghebat. Belum lagi rasa sakit hilang sepenuhnya mendadak dia mendengar suara langkah kaki. Sriwida- ri tercekat, mengira yang datang adalah orang-orang yang tidak diharapkan atau yang sangat dia benci.

Dia menoleh, memandang ke jurusan mana su- ara langkah kaki terdengar. Semak belukar di bawah deretan pohon pinus tersibak. Muncul sosok kepala, tidak satu tapi sebanyak empat orang. Orang pertama yang munculkan diri di tempat itu adalah seorang ga- dis cantik berpakaian putih berkembang merah. Ram- but terurai, kulit putih mulus. Di pinggang sebelah kiri membekal sebilah pedang, sarung pedang berwarna kuning keemasan. Sedangkan yang di belakangnya dua laki-laki cacat berpakaian kuning. Laki-laki yang satu berbadan kurus, tangan dan kaki kecil, perut buncit besar mata buta. Di atas bahu si buta duduk sang teman atau mungkin saudaranya. Orang yang duduk di atas bahu badannya lebih besar, sehingga yang mendukung dengan yang didukung memiliki be- sar tak seimbang. Laki-laki ini kedua kakinya buntung sebatas lutut, wajah ceria selalu memperlihatkan ke- bahagiaan, sayang setiap tarikan nafas mengeluarkan suara aneh seperti orang bengek.

Hati Sriwidari berdebar gelisah, dia sama sekal tak mengenai ketiga orang itu. Tapi kemudian dia me- narik nafas lega begitu melihat kemunculan orang ke empat. Yang terakhir muncul adalah seorang pemuda berambut gondrong sebahu, bertelanjang dada berce- lana hitam. Di leher pemuda gagah itu tergantung me- lingkar seuntai kalung. Mata kalung terbuat dari batu berwarna putih buram kuning kecoklatan, bentuk ma- ta kalung bulat lonjong. Jika tiga temannya terheran-heran melihat ga- dis yang duduk di atas tanah perbukitan itu, sebaik- nya si gondrong tercekat, mulut tersenyum sedangkan mata dipentang lebar. Bagaimanapun dia tak akan lu- pa pada gadis di depannya sana, beberapa hari yang lalu dia menolong si gadis dari cengkeraman Rajo Peni- tis. Gadis yang sangat cantik, sering mengusik fikiran- nya beberapa malam belakangan sayang dia tak tahu namanya.

Sebaliknya Sriwidari merasa gembira sekali ber- temu dengan si gondrong. Pemuda ini yang telah membuatnya nekad meninggalkan rumah setelah pe- ristiwa terbunuhnya sang ayah tercinta Juru Obat An- gin Laknat di tangan Rajo Penitis. Sriwidari tidak mampu melupakan si gondrong sejak pertemuan yang tidak terduga itu. Dia yang sempat marah ketika meli- hat si gondrong jatuhkan diri ke sungai, di saat dirinya sedang dalam keadaan polos mandi di sungai. Pemuda itu memang sempat menyebalkan, tapi belakangan en- tah mengapa di hatinya timbul bunga-bunga kerin- duan terhadap pemuda itu. Dia ingin menyapa, sayang nama si gondrong dia tak tahu. Di samping itu hatinya jadi tidak enak karena si gondrong datang bersama seorang gadis yang memiliki wajah tak kalah cantik dengannya.

"Kau... bukankah...!" Agak ragu si gondrong yang bukan lain Pendekar Sakti Gento Guyon adanya mencoba menyapa ramah.

"Iya aku, Sriwidari. Orang yang pernah kau se- lamatkan dari tangan manusia raksasa keparat itu!" kata si gadis.

"Aku... aku Gento. Maaf waktu itu aku tak sempat perkenalkan diri!" kata sang pendekar. Dia lalu melirik ke arah tiga sahabatnya yang memandangnya penuh heran karena tak menyangka Gento ternyata mengenal gadis berpakaian ungu itu. Tanpa diminta Gento memperkenalkan nama ketiga sahabatnya. "Ga- dis berbaju putih yang ada kembangnya ini adalah sa- habatku, namanya Roro Centil. Pakaiannya indah, se- tiap pakaian yang dia miliki selalu ada kembangnya. Karena selain menyukai kembang, orang tuanya me- mang tukang jual kembang di pasar Kelewer," mene- rangkan Gento sambil tertawa lepas. Gadis yang ber- nama Roro Centil delikkan mata pada si pemuda dan Gento pura-pura tak melihat. Lalu setelah hentikan tawanya dia berpaling pada sahabatnya cacat. "Ka- wanku si kuda gering perut buncit ini namanya Sapa. Matanya kurang awas, hingga biarpun gajah lewat di depan mata dia pasti tak melihat. Sedangkan yang menjadi majikannya dan duduk di atas bahu itu ada- lah si pemalas bernama Nyana. Kakinya buntung, mungkin dulu disambar petir. Mereka berdua dikenal dengan sebutan Sepasang Dewa Berwajah Ganda. Tapi aku lebih suka memanggil mereka Dewa cacat berna- sib sengsara. Ha ha ha!" Gento mengakhiri ucapannya dengan tawa bergelak.

"Bocah edan sialan. Mulutmu sungguh mem- buat gatal telinga kami!" damprat Sapa, tangan si buta menggapai hendak memukul. Tapi dia memukul angin karena tak tahu posisi Gento secara pasti.

"Nah, kau dapat melihat begitulah kalau gi- lanya lagi angot. Orang yang hendak dipukulnya di- mana, memukulnya kemana." Kata Gento masih saja tertawa. Si buta Sapa jadi kesal hingga membanting kakinya. Kaki amblas, Sriwidari kaget sekaligus sadar bahwa laki-laki itu pasti memiliki tenaga dalam tinggi.

"Sudah, kalian jangan bertengkar. Persoalan yang kita hadapi belum selesai. Jika kalian terus bica- ra melantur, biar aku pergi mencari pembunuh kepa- rat itu seorang diri!" tegas Roro Centil yang diam-diam rupanya merasa tidak enak hati melihat Gento sering melirik ke arah gadis cantik yang bernama Sriwidari.

Sepasang Dewa Berwajah Ganda langsung ter- diam. Gento mengusap wajahnya pulang balik. Se- dangkan Sriwidari yang mendengar ucapan Roro Centil jadi terheran-heran tapi kemudian ajukan pertanyaan. "Pembunuh? Siapa yang dibunuh siapa pula yang membunuh?"

Roro Centil tidak menjawab pertanyaan orang, dia memandang ke arah Gento sambil berkata. "Untuk pertanyaanmu itu biar si gendeng Gento yang menja- wab!"

Pendekar Sakti Gento Guyon pandangi Roro Centil sekilas, lalu menatap ke arah Sriwidari. Si Gadis tundukkan kepala, tapi telinga tetap dipasang siap mendengar penjelasan orang.

"Begini, beberapa hari yang lalu kami baru saja sampai ke Kiara Condong untuk melihat pertemuan para tokoh dan pendekar golongan putih, sekalian in- gin ikut mendengar hasil pertemuan yang dipimpin oleh Si Muka Setan." Ujar Gento. Mendengar pemuda itu menyebut Si Muka Setan, wajah Sriwidari sempat berubah, namun dia memendam keinginannya untuk tidak bertanya. Gento kemudian melanjutkan. "Tapi apa yang terjadi disana benar-benar di luar dugaan. Seluruh penjaga pertemuan tewas terbunuh, otak me- reka lenyap kepala bolong. Kemudian mereka yang ha- dir di dalam ruangan rahasia juga tewas di racun, be- berapa diantaranya terkena pukulan Telapak Beracun. Bukan hanya itu saja, bahkan pemimpin pertemuan agaknya mati sehari sebelumnya. Kami menemukan pusara tak jauh di halaman rumah." "Pertemuan. Aku memang mendengar tentang rencana ini sebelumnya," gumam Sriwidari dalam hati. Dia lalu ajukan pertanyaan. "Apakah kau dan saha- batmu itu sudah tahu siapa kiranya pembunuh keji itu?"

"Pembunuhan itu mungkin tak bekerja seorang diri, bisa jadi dua orang. Masih dalam penyelidikan. Tapi salah seorang diantaranya kami sudah dapat menduga. Dia adalah si penyedot otak yang dikenal dengan julukan Perampas Benak Kepala," menerang- kan Roro Centil.

"Perampas Benak Kepala. Aku tak mengenal- nya. Tapi... tadi sahabatmu yang pernah menolongku mengatakan dia menemukan sebuah kubur pemimpin pertemuan. Kalau tak salah aku mendengar bukankah yang memimpin pertemuan itu adalah Si Muka Setan?"

"Benar," sahut Nyana.

Kini Sriwidari dibuat terkejut. Mulut menggu- mam sedangkan kepala digelengkan beberapa kali. Keempat orang di depannya tentu saja menjadi heran. Seakan tak perduli dengan sikap yang ditunjukkan orang, Sriwidari berkata. "Aku tak percaya bangsat yang bergelar Si Muka Setan itu benar-benar mampus! Mungkin pusara itu hanya tipuan, atau sesuatu yang dibuat untuk mengelabuhi orang lain."

"Gadis cantik, mulutmu lancang sekali. Si Mu- ka Setan adalah manusia yang sangat disegani, men- gapa kau seperti membenci dirinya?" tanya Sapa mera- sa tidak senang.

Sriwidari tertawa panjang, tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa benci. "Orang lain bisa berangga- pan begitu, tapi aku tidak. Malah jika aku bertemu dengannya Muka Setan akan kupenggal kepalanya." Dengus si gadis. Semakin bertambah heranlah Gento, Roro Cen- til juga Sepasang Dewa Berwajah Ganda mendengar suara ketus Sriwidari. Roro Centil yang kenal betul dengan Si Muka Setan melompat maju. Wajah gadis ini merah padam, matanya mendelik memandang pada gadis itu.

"Gadis lancang, berani kau menghina dan men- caci orang yang telah berkubur? Apa salah dan do- sanya kepadamu hingga kau tega mengucapkan kata- kata seperti itu?" hardik Roro Centil siap melabrak Sriwidari.

Si gadis tersenyum sinis.

"Dosa si keparat Muka Setan selangit tembus sedalam lautan. Perbuatannya terhadapku lebih ren- dah dari binatang. Si Muka Setan baru saja tadi ma- lam hendak berbuat keji, ingin melampiaskan nafsu mesumnya kepadaku. Beruntung ada seseorang yang menolongku, jika tidak mungkin aku mendapat aib be- sar!" kata Sriwidari. Dia kemudian menuturkan keja- dian yang sebenarnya. Termasuk juga tentang kemun- culan Rajo Penitis yang membelanya. Tapi pertolongan manusia raksasa itu tak ada arti bagi Sriwidari karena orang itu telah membunuh ayahnya, lebih celaka lagi hendak memperistri dirinya.

Gento dan para sahabatnya tentu jadi tercen- gang mendengar penjelasan Sriwidari. Bagaimana mungkin Si Muka Setan yang sudah berkubur di da- lam pusara bisa gentayangan kembali. Malah berubah jahat bahkan hendak berbuat keji pada Sriwidari. Apa- kah Si Muka Setan memang masih hidup, atau mung- kin ada Muka Setan yang lain? Lalu siapa yang terku- bur di halaman rumah pertemuan itu? Paling tidak pertanyaan ini menyelimuti benak setiap orang yang ikut mendengar penjelasan gadis itu. Karena Sriwidari melihat rasa tidak percaya pa- da tatapan mata Gento dan kawan-kawannya. Dia lalu gerakkan tangannya ke balik pakaian pemberian orang lalu merenggut pakaiannya yang asli.

Bret! Bret!

Pakaian yang tercabik-cabik itu ditunjukkan pada Gento. Si gondrong memperhatikannya dengan mata mendelik. Dia tahu pakaian itulah yang dipakai Sriwidari saat dirinya dibawa lari oleh Rajo Penitis. Ini berarti Sriwidari memang tidak berkata dusta. Gento menganggukkan kepala ketika Sapa, Nyana dan Roro Centil menatap kepadanya.

"Rasanya sulit untuk bisa kupercaya. Nenek Muka Setan kuketahui sebagai orang normal. Dia per- nah bersuami, punya anak punya keturunan. Bagai- mana mungkin dia menyukai kaum sejenis. Kalaupun itu benar, tentu sudah dilakukannya padaku." Kata Roro Centil dengan mulut bergetar dan tubuh terasa dingin.

Gento terdiam, untuk membuktikan apakah Si Muka Setan benar-benar telah mati atau masih hidup, dia harus membongkar pusara di Kiara Condong. Tapi mungkin jasadnya sudah mulai membusuk. Satu- satunya cara adalah menemukan dimana beradanya Si Muka Setan yang hampir menodai Sriwidari. Jika su- dah bertemu baru bisa dipastikan orang itu apakah Si Muka Setan yang asli, atau cuma seseorang yang me- nyamar sebagai Si Muka Setan. Fikir Gento.

"Bagaimana Gento, kau percaya dengan ucapan gadis itu?" tanya Roro Centil dalam kebimbangan.

"Aku percaya dia bicara benar. Kurasa memang ada orang yang sengaja menyiasati kita, melakukan beberapa penipuan supaya kita jadi bingung. Aku punya usul, itupun kalau kalian setuju!" ujar Gento, lalu si gondrong terdiam melihat reaksi gadis disebe- lahnya.

"Apa usulmu. Asal kau tak menyuruh kami me- lakukan hal yang tidak-tidak, kami pasti akan mela- kukannya!" ujar Nyana.

Gento tersenyum. "Usul pertama cocok untuk kalian. Pekerjaan ini memang pantas untuk dilakukan berdua."

"Katakan cepat!" kata Sapa.

"Baik. Untuk membuktikan benar tidaknya Si Muka Setan telah mati, kalian harus membongkar ku- burnya. Dengan begitu kita baru bisa menyakini apa- kah orang yang hendak berbuat keji pada Sriwidari, apakah roh Si Muka Setan atau hanya seseorang yang hendak mencari keuntungan dibalik kematian orang tua itu." Kata Gento memberi penjelasan.

Sapa dan Nyana tercekat kaget. Sama sekali dia tak menyangka akan mendapat tugas seperti itu. Tak dapat dibayangkan betapa ngerinya mereka harus mengeluarkan orang yang sudah mati dari kuburnya.

"Gento, apakah kau tidak bisa memberi tugas yang lain untuk kami?" tanya Sapa dengan suara ter- cekat lidah kelu. Sementara itu Roro Centil yang tidak mengerti dengan tujuan Gento kernyitkan alisnya.

"Tentu saja bisa," sahut si gondrong dengan se- nyum bermain dibibirnya. "Paman berdua boleh men- cari Perampas Benak Kepala, setelah itu cari nenek je- lek kurang ajar itu. Apa benar dia Si Muka Setan sebe- narnya atau cuma hantu kesasar yang menyamar se- bagai Si Muka setan...!"

"Lalu kau sendiri bagaimana?" tanya Nyana in- gin tahu.

"Aku... aku bersama dua gadis ini akan mencari musuh besarku Panji Anom. Sejak dia menghantam kalian di telaga, aku tidak lagi mendengar kabar beri- tanya. Apakah dia sudah menjadi diraja dunia persila- tan atau malah menjadi raja diraja

cacing tanah." Kata Gento sambil tertawa.

"Apa yang hendak kau lakukan itu cukup sulit dan memakan waktu yang lama, Gento. Selain itu an- caman besar selalu membayangi jiwa kita." Kata Roro Centil. Centil. Gento terdiam, tapi memandang pada Roro

"Maksudmu?"

"Aku tak akan pergi bersamamu, aku lebih baik mengambil jalan pintas yang gampang tak mengan- dung banyak resiko. Terus-terang aku akan menemui orang pintar. Dia seorang dukun sakti, namanya Mbah Peti. Dia tahu berbagai hal gaib yang susah dipecah- kan. Melalui dia aku akan tanyakan segala teka-teki pembunuhan keji ini, aku juga akan bertanya apa memang benar Sriwidari hendak dinodai nenek Muka Setan!" ujar Roro Centil, diam-diam dia melirik ke arah gadis berbaju ungu.

"Mendengar nada ucapan sahabat Roro Centil, agaknya dia tidak mempercayai ucapanku."

"Bukan tidak percaya, segala sesuatunya harus dibuktikan bukan? Kami sendiri melihat pusara nenek Muka Setan di Kiara Condong. Sekarang kau mengata- kan Si Muka Setan hampir saja menebar aib atas diri- mu, apakah ini tidak membingungkan?!" ujar Roro Centil sinis.

"Sudahlah, tak perlu berdebat. Kalau Roro Cen- til mau bertemu dengan dukun sakti bernama Mbah Pentil itu silahkan saja. Jika nanti bertemu katakan padanya, Gento kirim salam," ujar si gondrong.

"Apakah kau mengenal dukun sakti dari gu- nung Sembung itu?" tanya Roro Centil terheran-heran. Murid si gendut Gentong Ketawa tertawa terba-

hak-bahak. "Mendengar namanya saja baru kali ini. Bagaimana Mbah Sentir... eeh apa tadi namanya?"

"Mbah Petir." Jawab Roro Centil.

"Ya, Mbah Petir bisa mengenalku? Ha ha ha!" "Dasar pemuda sinting, tak kenal berlagak ra-

mah." Dengus Roro Centil bersungut-sungut. Gadis itu kemudian memutar badan, setelah melirik sekilas pada Sriwidari dia pun berkelebat pergi.

"Agaknya Roro Centil membawa satu ganjalan di hati. Dia seperti tidak suka padaku." Kata Sriwidari seperginya Roro Centil.

Gento tertawa pendek. "Tak usah kau risaukan dia. Roro Centil memang besar ambek, tapi dia gadis yang baik." Jawab si pemuda.

"Gento, jadi apa yang harus kami lakukan?" sa- tu suara bertanya. Yang baru bicara itu adalah Nyana. Salah seorang dari Sepasang Dewa Berwajah Ganda.

"Kalau kami harus mencari tiga orang yang kau sebutkan tadi, mungkin cuma arwah kami yang bisa menjumpaimu lagi!" Sapa menimpali.

"Jika paman berdua merasa tugas ini sangat berat, sebaiknya paman kembali ke Kiara Condong, la- lu pastikan apakah benar Si Muka Setan yang terku- bur di pusara itu. Tapi ingat, jangan kalian ikutan pula menguburkan diri disana. Ha ha ha."

"Gento, walaupun kami berdua para orang ca- cat. Kami juga menginginkan keselamatan dan ingin umur panjang juga. Walaupun bagian badan ini cacat tapi yang lain-lainnya ditanggung mantap." Celetuk Sapa sambil tersenyum. Gento menjadi heran, lalu ajukan pertanyaan. "Apa yang lain-lainnya itu?" Sapa dan Nyana tertawa tergelak-gelak. Si kurus Sapa ba- likkan badan sambil melangkah pergi dia menjawab. "Sebagai orang muda kau tentu tahu apa yang kumak- sudkan. Kau laki-laki aku laki-laki. Perabotan sama selera sama. Ha ha ha!"

Sang pendekar yang akhirnya tahu maksud ucapan si buta Sapa jadi geleng kepala sambil me- nyengir sendiri. Masih dengan tersenyum dia pandangi Sriwidari, bersama gadis itu memandang kepadanya juga. Sehingga mata mereka saling bertemu pandang. Gento kedipkan matanya tiga kali. Sriwidari tunduk- kan kepala dengan wajah bersemu merah.

"Sekarang kau hendak kemana, Gento?" tanya si gadis, suaranya bergetar menahan deburan jantung yang tidak karuan.

"Mencari pembunuh itu, juga mencari Si Muka Setan." Jawab Gento.

"Jika aku ikut denganmu apakah tidak kebera-

tan?"

"Ha ha ha. Aku senang saja diikuti gadis secan-

tikmu. Tapi bagaimana jika calon suamimu Rajo Peni- tis nanti cemburu melihat kita berduaan?"

Diingatkan akan nama itu wajah Sriwidari nampak menegang. Dia kepalkan tinjunya, lalu berka- ta. "Jika bertemu dengannya merupakan satu kebe- runtungan karena dengan begitu aku dapat membu- nuhnya, membalaskan kematian ayahku Juru Obat Angin Laknat!" geram si gadis.

Gento tidak ingin menanggapi karena takut Sriwidari jadi bertambah marah. Dia hanya tertawa dan tertawa lagi sambil tinggalkan tepian sungai cita- rum yang meluap-luap.

*** 4

Nenek Muka Setan terus berlari ke arah mana siulan tadi terdengar. Sepanjang semak belukar yang dilewatinya mulutnya terus semburkan kata makian. Rupanya dia masih kesal karena niat untuk membu- nuh Rajo Penitis jadi tak kesampaian akibat siulan yang didengarnya tadi. Di satu tempat tak jauh dari kerapatan pepohonan besar nenek muka setan henti- kan langkah. Saat itu daerah disekitarnya masih dis- aput kegelapan, udara malam menjelang pagi terasa dingin mencucuk. Bersikap seolah tidak terpengaruh oleh keadaan alam disekitarnya, si nenek kitarkan pandang ke sekeliling tempat itu.

Orang yang dicari dan keluarkan siulan tak ada di tempat itu. Kini dia putar kepala ke kiri. Disana ter- dapat tebing tanah merah yang longsor. Si Muka Setan sempat melengak begitu melihat satu sosok duduk di atas gundukan reruntuhan tanah, duduk dengan kaki tertekuk menyentuh dagu, sedangkan kedua tangan memegang kepalanya yang besar bukan main. Sosok itu berpakaian hitam, wajah ditumbuhi bulu, kedua mata hampir tertutup seperti terdesak cairan yang memenuhi bagian atas serta samping kepalanya yang besar dipenuhi urat bersembulan, berkerenyutan se- perti hendak meletus.

Memandang pada manusia berkepala besar se- tengah botak ini membuat si nenek sunggingkan seu- las senyum sinis, tapi matanya memandang ke arah laki-laki berpakaian hitam di atas longsoran tanah dengan tatapan aneh jika tidak dapat dikatakan takut.

"Manusia penyedot otak bergelar Perampas Be- nak Kepala. Kau baru saja menggagalkan niatku untuk membunuh makhluk raksasa jahanam yang telah mengusik kesenanganku. Kau memanggilku, heh?!" tanya nenek Muka Setan penuh teguran.

Manusia dengan kepala lima kali lebih besar dari manusia biasa perlihatkan seringai. Otaknya yang sering kacau karena begitu banyak otak orang lain yang bercampur aduk dengan otaknya sendiri berfikir. "Tua bangka muka setan ini tak bisa kupandang en- teng. Ilmunya tinggi, keji, dan berbahaya. Empat ma- lam yang lalu aku dapat dikalahkannya, sehingga aku harus patuh dengan segala perintahnya. Tapi aku tak boleh tunduk padanya, bersikap patuh selama hi- dupku. Aku harus menggunakan akal, mencari cara agar suatu hari nanti, bukan aku yang berada di ba- wah perintahnya. Melainkan dia yang harus menjalan- kan perintahku!" batinnya berkata begitu tapi mulut- nya tetap bicara lain. "Nenek Muka Setan, aku tak sengaja telah mengusik kesenangan mu, aku mohon maaf. Aku sengaja memanggilmu karena ingin bicara padamu!" jawab Perampas Benak Kepala, suaranya pe- lan sedangkan wajahnya tertunduk hingga mengesan- kan laki-laki angker itu jerih terhadap si nenek.

Si nenek menatap sekilas orang didepannya, otaknya mulai menduga gerangan apa yang ada dalam hati manusia cerdik berkepala besar ini. Dia gelengkan kepala berusaha membuang prasangka buruknya se- jauh mungkin. Rasanya tak mungkin Perampas Benak Kepala yang telah ditundukkannya itu berkhianat ke- padanya. Perampas Benak Kepala boleh saja punya se- ribu akal. Tapi si nenek merasa memiliki akal panjang.

"Katakan apa yang ingin kau sampaikan!" ber- kata Si Muka Setan kemudian setelah terdiam cukup lama.

Perampas Benak Kepala Angkat wajahnya. Se- pasang mata laki-laki itu memandang tajam ke arah si nenek. Mulutnya membuka. "Nenek Muka Setan. Se- suai dengan perjanjian kita. Tugasku membunuh para penjaga pertemuan telah kulaksanakan. Sesuai dengan perjanjian pula, akhir dari kematian para penjaga me- rupakan akhir dari pengabdianku kepadamu! Bukan- kah begitu?"

Si Muka Setan gelengkan kepala, lalu tertawa tergelak-gelak.

"Perjanjian itu aku yang membuat, aku yang atur aku pula yang menentukan. Bila aku menghen- daki perjanjian diperpanjang. Maka untuk selanjutnya kau tidak akan bisa menghindar dari tugas-tugas yang harus kau laksanakan. Hik hik hik!"

Perampas Benak Kepala tersentak kaget, ma- tanya yang hampir tertutup membuka lebar, meman- dangi si nenek dengan kilatan api amarah, bibir terka- tub rapat sedangkan gerahamnya bergemeletukan.

"Muka Setan keparat! Kau hendak memperalat diriku, mau memanfaatkan tenagaku demi memenuhi segala cita-cita gilamu?" geram Perampas Benak Kepa- la merasa diperbudak.

"Hik hik hik. Benar kuakui otakmu cerdik, tapi aku lebih pintar, lebih licik darimu. Diriku berada di atas segala kecerdikan orang. Kau boleh saja memban- tah, kau boleh saja tidak patuhi perintahku. Tapi kau tidak mungkin bisa lari dariku. Aku tahu dimana ke- lemahanmu, aku tahu apa saja yang bisa kuperbuat atas dirimu!"

"Tua bangka jahanam. Baiklah untuk sementa- ra aku memang tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi kau harus ingat aku manusia yang mempunyai seribu akal. Seluruh otak yang ada dikepalaku ini kelak akan ku- kerahkan untuk memecahkan teka-teki ilmu pukulan yang kau miliki."

Nenek Muka Setan hanya tertawa mendengar ucapan Perampas Benak Kepala. Dengan sikap tenang, namun penuh kesombongan dia berkata. "Segala kein- ginanmu tak mungkin terwujud, malah kau bisa cela- ka di tanganku." Dengus si nenek. Dia lalu melan- jutkan ucapannya. "Kau dengar, tugas yang harus kau lakukan adalah mencari seorang pemuda gondrong bernama Gento Guyon. Jika kau bertemu dengannya, kau harus menangkap pemuda itu hidup atau mati. Setelah itu kau harus membawanya ke hadapanku!" Si Muka Setan kemudian menjelaskan ciri-ciri pemuda yang diinginkannya.

"Orang yang kau maksudkan belum pernah aku bertemu dengannya." Kata Perampas Benak Kepa- la jengkel.

"Kau manusia cerdik, kau tahu apa yang harus kau perbuat. Selain itu kau juga harus membunuh pa- ra sahabat pemuda itu, jangan sisakan walau seorang- pun!"

"Tugas yang kau berikan tidak mudah. Kalau boleh aku tahu, mengapa kau menginginkan Gento Guyon?". tanya Perampas Benak Kepala.

"Hik hik hik! Manusia keparat. Kau tidak layak bertanya. Kau hanya berhak jalankan perintahku!" te- riak nenek Muka Setan.

"Kau juga perempuan edan keparat! Awas! Ke- lak aku akan membunuhmu!" geram si kepala besar dalam hati.

"Sekarang juga kau harus berangkat!"

"Aku berangkat kapan saja aku mau. Untuk yang satu itu kau tak boleh mengatur aku. Satu hal yang ingin kutanyakan, jika pemuda itu telah kuring- kus kemana aku akan membawanya?" "Kau tak usah bertanya, aku nanti yang akan mencarimu!" sahut si nenek.

"Keparat kurang ajar, nenek tua ini semakin membuat aku geram!" Si Kepala Besar kembali meru- tuk dalam hati.

"Baik, sekarang segalanya kau yang menentu- kan. Cepat kau menyingkir, aku ingin memulihkan te- naga dalamku!" dengus Perampas Benak Kepala sinis. Si nenek tersenyum, lalu memutar langkah, sekali dia gerakkan kaki maka sosoknya lenyap dari hadapan Pe- rampas Benak Kepala. Seperginya nenek Muka Setan, laki-laki itu terdiam. Dia jadi ingat kejadian empat ma- lam yang lalu. Semua yang berlangsung di malam itu sekarang seorang membayang jelas di matanya.

Malam itu setelah terjadi perkelahian antara di- rinya dengan kakek buta yang dikenal dengan julukan Si Mata Aneh. Tanpa menunggu lebih lama setelah berhasil membunuh tokoh sesat bermata ganjil di ba- gian jari tangannya itu si penyedot otak langsung ber- kelebat pergi tinggalkan lawannya. Di satu pendataran rendah tidak jauh dari tempat terjadinya perkelahian Perampas Benak Kepala hentikan larinya. Dia merasa sejak tadi seperti ada orang yang mengikuti tak jauh dibelakang. Laki-laki berkepala besar itu menoleh, memandang ke belakang dengan tatapan penuh seli- dik. Tapi aneh. Dia tidak melihat sesuatu apapun dibe- lakangnya. Langkah orang yang mengikuti seakan le- nyap ditelan bumi.

"Tidak mungkin aku salah mendengar. Aku je- las dapat merasakan ada orang yang mengikuti, men- gapa sekarang lenyap? Lenyap kemana?" fikir si besar kepala.

Sekali lagi dia memandang ke sekelilingnya. Si penguntit yang diharapkannya muncul saat itu juga tak mau memperlihatkan diri. Perampas Benak Kepala akhirnya jadi tidak sabar. Dia memutuskan hendak meneruskan perjalanannya. Tapi baru saja manusia penyedot otak ini hendak memutar tubuh dan tinggal- kan tempat itu, entah dari mana datangnya seko- nyong-konyong di tempat itu telah muncul sosok seo- rang nenek angker berpakaian kuning berenda putih. Wajah nenek itu rusak mengerikan bahkan lebih bu- ruk dari wajah setan. Perampas Benak Kepala yang sempat tercekat pandangi orang tidak dikenalnya ini untuk beberapa jenak lamanya. Dengan suara bergetar dia ajukan pertanyaan. "Makhluk aneh berujud seo- rang perempuan, wajah buruk mengerikan seperti se- tan. Aku merasakan kau membayangi diriku sejak ta- di. Apakah kau tidak takut mati? Atau kau tidak takut otakmu kupindahkan ke dalam kepalaku?"

Yang ditanya bukannya menjawab, sebaliknya malah tertawa tergelak-gelak. Tawa si nenek lenyap, mulut komat-kamit sambil sunggingkan senyum.

"Apa perlunya takut kepadamu. Buat apa aku takut mati. Jika kau mempunyai kemampuan memin- dahkan otak orang lain ke dalam kepalamu, maka aku punya kemampuan memindahkan rohmu ke neraka. Hik hik hik!" jawab si nenek dengan sikap pongah dan tak memandang dengan sebelah matapun pada orang di depannya.

Perampas Benak Kepala keluarkan suara menggeram! "Lagakmu seperti malaikat pencabut nya- wa. Agaknya kau belum tahu siapa diriku adanya!"

"Hik hik hik. Justru karena aku tahu siapa di- rimu, justru aku tahu kelebihan yang kau miliki maka aku mengikutimu, membayangi dirimu. Apakah kau mengira aku mau melakukan sesuatu hanya untuk kesia-siaan heh?!" Perampas Benak Kepala jadi tercengang. Dia berpikir dan tak habis mengerti apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh nenek bermuka setan ini. Belum lagi Perampas Benak Kepala sempat ajukan perta- nyaan, nenek Muka Setan melanjutkan ucapannya ta- di. "Ketahuilah, terus-terang aku merasa kagum den- gan kelebihan yang kau miliki. Untuk itu kau harus merasa beruntung karena aku telah memilihmu. Pili- han yang tepat untuk seorang calon raja di raja dunia persilatan."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku?! Hik hik hik. Kau telah kupilih menjadi seorang pembantu, kau akan berangkat men- jadi kacung. Satu kedudukan terhormat bagimu kare- na kau akan kupercaya melakukan tugas-tugas pent- ing!" tegas nenek Muka Setan.

Wajah angker Perampas Benak kepala nampak berubah merah padam. Sekujur otot-otot tubuhnya menegang, mulut terkunci rahang bergerak-gerak. Se- dangkan urat-urat darah yang bersembulan dikepa- lanya nampak menggembung, kepala itu sendiri berke- renyutan tidak ubahnya seperti jantung yang berde- nyut.

Perlahan dia memandang ke depan, menatap tajam pada nenek muka setan yang kelihatannya me- rasa tidak bersalah atas apa yang telah diucapkannya. Perampas Benak Kepala lalu berkata dengan suara dingin menusuk. "Tua bangka rongsokan muka setan! Sungguh kau tidak tahu gelagat. Kau mengira kau da- pat memaksa diriku menjadi seperti apa yang kau in- ginkan? Aku manusia cerdik. Jika pada Tuhan aku yang diciptakan tak pernah mengabdi kepadaNya, ada- lah suatu mimpi jika aku harus berhamba pada manu- sia butut rongsokan sepertimu!" dengus laki-laki itu sengit. Si Muka Setan tertawa bergelak.

"Hidupku tak pernah berpijak pada mimpi. Apapun yang kukatakan adalah kenyataan. Berhari- hari aku mengikutimu, seluruh gerak gerikmu berada dalam pengawasanku. Hingga di balik segala keheba- tanmu aku menemukan sesuatu. Suatu rahasia yang mungkin tak pernah kau sadari dan mungkin pula tak pernah diketahui oleh orang lain. Apakah kau ingin mengatakan apa yang kuucapkan ini sebagai suatu kedustaan belaka? Aku tak pernah mau ambil perduli. Yang terpenting bagiku, kau harus menjadi pembantu- ku. Hik hik hik!" 

Si penyedot otak menggeram. "Kau hanya akan mati sia-sia ditanganku, nenek Muka Setan?!"

Nenek Muka Setan mendengus sinis. "Kau be- lum tahu siapa diriku. Sikapmu yang menganggap en- teng orang lain hanya membuat kau cepat jatuh ke tanganku!"

Perampas Benak Kepala tidak menanggapi. Se- perti biasanya dia siap mengambil posisi menyerang dengan mengerahkan kekuatan kepalanya. Tapi tu- buhnya tak bergerak sama sekali dari tempatnya. Si Muka Setan sadar betul jika sampai dari kepala lawan memancarkan sinar biru, maka dia bisa mendapat ke- sulitan besar. Karena itu habis berkata Si Muka Setan melesat ke arah lawan sambil gerakkan tangan kanan kiri ke bagian samping kepala lawannya.

Perampas Benak Kepala tercekat tak menyang- ka akan mendapat serangan dibagian itu. Sehingga dia melompat mundur, dua tangan diangkat dipergunakan untuk melindungi bagian kepalanya, sedangkan kaki kiri tanpa terduga menyambar perut lawannya.

Plak! Plak! Desss! Dua tangan beradu keras. Benturan itu saja sudah membuat keduanya bergetar, tapi tendangan yang menghantam perut si nenek membuatnya terpe- lanting sejauh tiga langkah. Terbungkuk-bungkuk sambil menahan sakit luar biasa Si Muka Setan meng- gerung. Dia terbelalak begitu melihat bagaimana tan- gannya yang bentrok dengan tangan lawan nampak gembung bengkak membiru. Tak menyangka lawan ju- ga memiliki tenaga dalam setinggi itu. Maka nenek Muka Setan lipat gandakan tenaga dalam. Dua tangan lalu diangkat tinggi, tanpa memberi kesempatan pada lawan untuk menggunakan kekuatan kepalanya. Ne- nek Muka Setan kembali berkelebat, lalu menyerang dalam jarak dekat tanpa memberi jarak pada lawan- nya. Perampas Benak Kepala yang selalu mencari ke- sempatan untuk memusatkan perhatian siap menye- rang lawan dengan kekuatan kepalanya jadi tercekat. Dia berkelebat ke samping mencoba hindari hantaman dan tendangan lawan yang selalu terarah di bagian samping kepalanya.

Melihat lawan sibuk selamatkan kepalanya, Si Muka Setan tertawa terkekeh. Tangan kiri lalu berge- rak menyambar. Dari tangan itu berturut-turut mele- sat sinar hitam, bergerak sedemikian rupa, seperti di- atur. Tiga sinar menghantam dari depan belakang juga samping kepala Perampas Benak Kepala. Sambil meru- tuk panjang pendek, laki-laki itu cepat tekuk kakinya, bungkukkan badan hingga kepalanya selamat dari hantaman sinar menggidikkan tadi. Dalam keadaan membungkuk tangan digerakkan ke atas.

Buuum!

Tiga letusan keras menggelegar, menggoncang tempat disekelilingnya, merobek kesunyian malam. Si Muka Setan terhuyung, Perampas Benak Kepala jatuh terduduk.

Muka Setan kembali terkekeh, benturan tadi memang sempat membuat dadanya terguncang kepala mendenyut sakit. Dia yang penuh kesombongan dan selalu menganggap rendah orang lain tidak merasa- kannya. Malah kini dia kembali melabrak ke depan siap menghantam titik kelemahan lawan dengan jari tangannya. Justru pada waktu itu dari bagian kepala lawan nampak mengepulkan asap putih kebiruan. Lalu dari kedua sisi kepala di atas bagian telinga membersit sinar biru. terang. Sinar bergerak sedemikian rupa, berkelebat menyambar ke arah Si Muka Setan yang sedang mengapung di udara.

Si nenek tercekat dan keluarkan jeritan me- nyayat begitu merasakan sambaran angin sinar maut itu. Tubuhnya sontak berubah kaku, nyeri bukan main seperti ditusuk ribuan batang jarum. Selain itu pan- dangannya seolah menjadi gelap, kepala mendenyut. Si Muka Setan tercekat, dia sadar bahaya besar kini se- dang mengancam dirinya. Untuk itu dia kerahkan se- luruh tenaga, lalu lakukan gerakan sedemikian rupa hingga membuat tubuhnya yang sedang mengambang jatuh ke bawah

Brees!

Begitu jatuh dia langsung bergulingan mende- kati lawannya. Sinar yang seharusnya menghantam batok kepala Si Muka Setan kini tiba-tiba berbalik te- rus bergerak mengejar ke arah si nenek. Melihat ini Si Muka Setan tercekat. "Keparat jahanam. Dia benar- benar hendak membolongi kepalaku!" rutuk Si Muka Setan.

Mulutnya merutuk, tapi niatnya tetap berjalan. Baginya tak ada sesuatu yang dapat menghentikan se- rangan cahaya maut itu terkecuali dia langsung meng- hancurkan sumbernya. Karena itu tanpa menghirau- kan sinar yang melesat dari arah belakang, kini dia la- kukan satu lompatan. Dua jari tangan bergerak menu- suk bagian atas telinga kiri kanan.

Perampas Benak Kepala menjerit, jeritan kesa- kitan membuat sinar maut yang mampu menjebol ba- tok kepala dan memindahkan otak lawannya berang- sur-angsur surut, lalu lenyap dibalik kepala lawannya. Laki-laki itu meronta, mencoba membebaskan diri dari jari lawannya yang menusuk bagian samping kepala yang lunak. Tapi semakin dia meronta, maka tusukan yang dilakukan si nenek semakin menghunjam, malah kepala itu kini mulai meneteskan darah.

"Jahanam, lepaskan tanganmu! Lepaskan...!" teriak Perampas Benak Kepala sambil meringis kesaki- tan, sedangkan wajahnya yang angker kini berubah sepucat kapas.

Si Muka Setan tertawa bergelak, mulutnya me- nyeringai penuh kemenangan.

"Jika aku mau, dua jariku itu bisa langsung menembus otakmu. Kau tak bakal lolos dari kematian. Kini keselamatan jiwamu tergantung pada kemurahan hatiku!" geram Si Muka Setan dingin.

"Keparat! Bagaimana kau tahu salah satu ba- gian titik kelemahanku?" tanya Perampas Benak Kepa- la dengan nafas mengengah.

"Hik hik hik! Seperti yang kukatakan, kau boleh saja memiliki seribu akal, tapi aku manusia yang pan- jang akal. Orang lain boleh jerih bertemu denganmu, mereka boleh kau ambil otaknya. Tapi aku, hik hik hik. Dihadapanku segala kehebatanmu tak mempu- nyai arti sama sekali!" kata Si Muka Setan ketus.

Perampas Benak Kepala terdiam. Baginya saat ini yang terpenting adalah mencari selamat. Dalam keadaan seperti itu tak mungkin dia melawan. Nenek Muka Setan tahu akan kelemahannya. Tak ada jalan selamat, satu-satunya jalan adalah mengikuti apa yang diinginkan nenek itu.

"Sekarang kau bisa berbuat apa? Hendak me- nentang kekuasaanku?!" Si Muka Setan berkata diser- tai seringai mengejek. Walaupun darah akibat tusukan jari dikepalanya sudah menetes membasahi sebagian wajahnya. Namun sedikitpun Perampas Benak Kepala tidak unjukkan sikap takut. Dengan suara menggereng dia ajukan pertanyaan. "Aku mengakui kali ini kau menang. Sekarang katakan apa yang harus kukerja- kan untukmu!"

Si Muka Setan dongakkan kepala, lalu tertawa. Dia lalu berkata. "Kau harus pergi ke Kiara Condong. Habisi seluruh penjaga pertemuan para pendekar. Se- telah itu menyingkir yang jauh. Untuk tugas berikut- nya aku yang akan melakukannya sendiri!"

"Tugas itu akan kulakukan sekarang. Tapi in- gat, setelah itu kita tidak mempunyai ikatan atau per- janjian apapun!" kata Perampas Benak Kepala. Si Mu- ka Setan tertawa bergelak. Dia lalu tarik kedua jarinya dari kepala laki-laki itu. Perampas Benak Kepala lang- sung mengusap luka kecil disamping kepalanya. Begi- tu diusap luka lenyap tak meninggalkan bekas. Si ne- nek sempat melengak, tapi dia tutupi rasa kagetnya dengan tawa bergelak.

"Sekarang kau harus pergi ke Kiara Condong. Jika tugas telah kau lakukan baru kau boleh menemui aku! Hik hik hik." Selesai berucap dan sambil men- gumbar tawa si nenek tinggalkan lawannya.

Perampas Benak Kepala menggeram, dalam ha- ti dia bersumpah akan mencari dan membunuh nenek Muka Setan itu untuk membalas kekalahannya malam ini.

***

5

Gadis itu berlari diantara semak belukar dan batu cadas yang bertonjolan di permukaan tanah. Sampai di satu ketinggian dia hentikan larinya. Mata menyapu pandang ke daerah di sekelilingnya. Dari ke- tinggian bukit dimana dia berdiri saat itu gadis berbaju putih berkembang merah ini dapat melihat hijaunya pemandangan di daerah itu. Dia kemudian menoleh ke sebelah kiri, bibirnya tersenyum. Gunung Sembung yang menjulang tinggi ke angkasa sudah tak seberapa jauh lagi dari tempat dirinya berada. Disayangkan cua- ca kurang begitu baik. Disana sini terlihat kabut men- gantung menghalangi pemandangan. Selain itu di atas sana mendung nampak kian menebal. Si gadis merasa perlu berpacu dengan waktu, dia tak ingin hujan turun di saat mendaki lereng Sembung.

"Mudah-mudahan Mbah Petir ada di tempat. Aku harus bisa sampai ke pondoknya sebelum kabut menghadang perjalananku!" kata si gadis yang bukan lain adalah Roro Centil.

Tidak menunggu lebih lama Roro Centil berke- lebat tinggalkan bukit yang berada di kaki gunung. Dia lalu mengerahkan ilmu lari cepatnya, hingga dalam waktu tidak lama dia sudah berada di jalan setapak di lereng sebelah barat gunung Sembung.

Turunnya rahmat Tuhan ternyata tidak dapat ditunda. Sebelum Roro Centil sampai ke tempat tujuan kilat menyambar, petir menggelegar sambung me- nyambung tiada henti. Lalu hujan pun turun tak kepa- lang tanggung derasnya. Si gadis semakin memperce- pat larinya. Sampai di satu lapangan Roro Centil hen- tikan langkah. Dia memandang ke sebelah kiri, gadis ini tercekat, mata membelalak mulut ternganga.

Dia melihat satu pondok porak poranda dikoba- ri api. Tak jauh di halaman pondok yang tenggelam da- lam kobaran api, di atas tanah satu sosok menelung- kup dengan wajah dibenamkan ke tanah, dua tangan menutup telinga, pantat menungging seperti orang su- jud, sedangkan pakaian tercabik-cabik hangus disana sini.

Dalam keadaan seperti itu dari mulut sosok yang menungging terdengar suara ratap tak berkepu- tusan.

"Malaikat, walah tobaaat aku. Pondokku habis, harta benda ludes dihantam petir. Habis sudah semua, Walah... bagaimana ini? Kemana aku harus cari sela- mat. Duh Gusti... apa dosa hamba Mu ini. Kalau aku memang banyak dosa mohon dimaafkan. Oh... tobat... aku takut... Petir-petir, kalau mau menyambar jangan dekat-dekat sini. Aku suka kagetan...!" ratap sosok yang ternyata adalah seorang kakek tua penuh rasa takut. Belum lagi ratap takutnya terhenti, tak jauh dari si kakek kilat kembali menyambar, petir menggelegar. Hingga bukan saja membuat si kakek bertambah ke- cut, tapi kencingnya pun terpancar.

Dut! Dut! Dut!

"Walah tobat, hancur sudah kencingku, wa- duh... waduh tak tertahan sudah kentutku. Sialan, sungguh sialan. Beginilah kalau jadi orang suka kage- tan." Cepat sekali si kakek pergunakan tangan untuk mendekap aurat serta ujung punggungnya agar kenc- ing dan kentutnya tidak keluar lebih banyak lagi. Usaha yang dilakukannya ini hanya sia-sia, kencing tetap terpancar sedang kentut terus terdengar bertalu-talu.

Si kakek berambut panjang kelabu jadi kalang kabut. Dia bangkit berdiri. Tangan kiri dipergunakan untuk mendekap auratnya, sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk mendekap bagian pantatnya. Memancarnya air kencing dan deru suara kentut terus saja terdengar, apalagi saat itu entah petir terus me- nyambar menggelegar disekitar lapangan.

"Waduh kaget lagi, ngocor lagi, kentut lagi! Sia- lan. Kalau begini jika sampai ketahuan orang aku bisa malu besar. Masa sudah tua bangka kencing dan ken- tut di celana!" si kakek merutuk habis-habisan.

Tak jauh dari si kakek yang tampak kalang ka- but menghentikan kencing dan kentutnya. Roro Centil yang memperhatikan sejak tadi tak dapat lagi mena- han tawanya. Walau si kakek yang selalu menonggeng dan sibuk mendekap aurat serta bagian di bawah au- rat setiap mendengar suara petir walau pakaiannya sudah kacau sedemikian rupa tapi jelas dia masih mengenali orang tua itu. Si gadis kemudian berseru keras.

"Mbah Petir dukun sakti yang suka kagetan.

Aku Roro Centil datang menyambangimu?"

Si kakek berpakaian hitam berbadan tinggi be- sar yang sering kaget dan ketakutan bila mendengar suara petir nampak celingukan. Dia lalu berdiri tegak, tangan masih mendekap selangkangan dan bagian ba- wah selangkangannya. Sementara itu suara petir tidak lagi terdengar, hujan mulai mereda. Si kakek terheran- heran, tubuhnya yang terus bergoyang tak mau diam bagaikan pucuk ilalang ditiup angin kemudian berpu- tar. Dia jadi melengak kaget. Rasa kaget yang mem- buat kencing dan kentutnya keluar tak dapat ditahan lagi.

"Waduh, mancur sudah. Waduh kentut lagi...!" Si kakek sambil mendumel dan merasa malu tutupi bagian yang memancarkan kencing dan keluarkan kentut, sehingga keadaannya saat itu membuat geli bagi orang yang melihatnya.

Si gadis melangkah mendekati si kakek. Orang tua itu dengan malu-malu malah melangkah mundur menjauh. Sedangkan tatap matanya memandang ke depan berusaha mengenali orang. Sepasang alis si ka- kek kemudian berkerut. Mulutnya keluarkan satu se- ruan. "Kau... kau... bukankah kau gadis konyol yang dulu suka menjahiliku?" tanya si kakek yang penden- garannya agak budek ini. Si gadis hanya tersenyum mendengar ucapan Mbah Petir. Kemudian orang tua itu ketuk keningnya. "Tidak salah, kau pasti Roro Upil. Bocah kampret yang dulu sering menggelitik telingaku selagi tidur hingga sekarang terjadi ketidak beresan pada pendengaranku."

"Bukan itu namaku, namaku Roro Centil...!" "Apa...?? Roro Cendil?"

"Bukan Cendil. Cendil itu bubur Mbah! Maka- nan ringan buatan orang jawa. Namaku Roro Centil, Centil, bukan Cendil!" teriak si gadis dengan suara ke- ras dan perasaan jengkel.

Mbah Petir tersenyum. "Oh, ya... aku baru in- gat, bukankah namamu Roro Centil, bukan Upil atau Cendil?!" kata si kakek.

Roro Centil yang sekujur tubuh dan pakaian- nya jadi basah terkena curahan air hujan jadi bersun- gut-sungut.

"Sejak tadi aku juga sudah bilang begitu!" kata si gadis. Dia lalu pandangi kakek di depannya. Menya- dari dirinya diperhatikan begitu rupa Mbah Petir jadi celingukkan. Dia malu, karena sadar celananya yang basah bukan saja karena terkena siraman air hujan, tapi juga karena terkena pancaran air kencingnya sen- diri.

"Mbah... kau kencing di celana ya Mbah? Mbah kaget lagi, Mbah jadi terkencing-kencing dan kentut lagi, bukankah begitu Mbah?" tanya si gadis.

Dalam suasana hujan begitu rupa, pendenga- ran si kakek semakin ngaco. Sehingga lain yang di- tanya lain pula yang jawaban si kakek.

"Siapa bilang aku membakar gubukku sendiri. Apa kau kira aku sudah gila. Pondok itu baru saja di- hantam petir. Untung aku masih bisa menyelamatkan diri. Syukur cuma pakaianku yang terbakar, bagaima- na kalau sekujur tubuhku yang terbakar. Lagipula sialnya dirimu ini, datang bertamu di saat musim hu- jan begini!" Mbah Petir mengomel.

Roro Centil menarik nafas, lalu gelengkan kepa- la. Rasanya tak sabar dia menghadapi orang tua tuli yang suka kagetan ini. Mau bicara salah tak bicara ju- ga salah?

"Terserahmulah, Mbah. Aku bicara apa kau menjawab kemana?" kata Roro Centil dalam hati.

"Roro Centil. Kau tak usah sedih. Aku punya tempat tinggal lain tak jauh dari sini. Mari ikuti aku.!" berkata begitu si kakek balikkan badan kemudian ber- kelebat menyisir jalan setapak di sebelah timur pondok yang terbakar. Roro Centil yang mengikuti tak jauh di- belakang terpaksa dekap hidungnya saat tercium bau pesing menyengat.

"Orang tua ini mungkin sepanjang hidup yang dimakannya cuma jengkol melulu!" umpat gadis itu.

Tak lama setelah melewati pepohonan besar mereka sampai di sebuah pondok sederhana yang be- rada di bawah sebatang pohon berdaun lebat. Mbah Petir membuka pintu, dia melangkah masuk, lalu pin- tu di tutupnya kembali. Dari dalam pondok terdengar suara si kakek.

"Kau tunggu dulu di situ. Aku tadi banyak ka- get dan ketakutan sekali. Kau sudah tahu penyakitku, jika terkejut dan takut terus menerus akibatnya kentut dan kencingku tak dapat ku tahan.!"

Roro Centil menanggapi. "Bagaimana jika kau ketakutan dan terkejut sepanjang hari. Cairan ditu- buhmu bisa amblas menjadi kencing, sedangkan ken- tutmu tidak berupa angin lagi tapi ampasnya juga ikut keluar. Hi hi hi!"

Karena pada dasarnya Mbah Petir orang tuli. Maka ucapan si gadis terdengar samar ditelinganya. Sehingga enak saja dia menjawab. "Sabar dulu kau di situ. Aku baru hendak bertukar celana."

Mendengar jawaban si kakek, Roro Centil hanya dapat mengurut dada. Dia pun akhirnya memilih diam. Fi- kirnya dari pada bicara dan dijawab tak karuan kejun- trungannya lebih baik berdiam diri. Tak lama pintu pondok terbuka. Di dalam pondok suasana nampak te- rang temaram karena di dalam ruangan itu hanya ada sebuah pelita kecil yang menerangi. Roro Centil duduk di sudut kiri, sedangkan di depannya Mbah Petir yang sudah berganti pakaian duduk menghadap sebuah pendupaan berisi bara menyala.

*** 6

Mulut Mbah Petir yang tertutup kumis berwar- na putih kelabu komat-kamit, entah membaca mantra atau apa. Roro Centil jadi ingat Mbah Petir dulu suka minum teh tubruk. Tak pernah menggunakan sarin- gan. Habis minum serbuk teh menempel dikumisnya. Jadi kumis itu fungsinya antara lain sebagai penyaring teh.

Habis komat-kamit, Mbah Petir taburkan ser- buk kayu damar. Terdengar suara berkeretakan ketika serbuk damar menyentuh permukaan bara. Pondok kecil itu kemudian menjadi gelap diwarnai asap tebal agak kecoklatan. Dalam gelap Mbah Petir terbatuk dis- elingi suara kentut bertalu-talu. Untung di dalam ruangan itu dipenuhi asap serbuk damar yang terba- kar, sehingga kentut Mbah Petir yang konon mengan- dung racun jahat mematikan tak tercium oleh Roro Centil.

Setelah menunggu tak seberapa lama asap teb- al lenyap, di depan sana wajah Mbah Petir semakin hi- tam dipenuhi jelaga. Roro Centil berlagak tak tahu. Beberapa saat si kakek dan gadis itu saling berpan- dangan. Mbah Petir kemudian membuka mulut, sua- ranya memecah keheningan suasana.

"Roro Centil! Kita bersahabat sudah cukup la- ma. Kau datang kemari tentu bukan ingin menjam- bangi tua bangka ini bukan? Kau datang dengan membekal satu persoalan pelik, menyangkut kegegeran yang terjadi di Kiara Condong, bukankah begitu?" tanya si kakek. Sesaat dia memandang ke atas bara dalam pendupaan, kemudian mengangkat wajah lalu memandang lurus ke arah si gadis. "Begitulah kira-kira, Mbah. Aku memang da- tang membekal suatu persoalan rumit. Persoalan itu menyangkut terbunuhnya pemimpin pertemuan para pendekar yang seharusnya berlangsung dua hari yang lalu. Saya datang kemari adalah ingin menanyakan siapa sebenarnya yang telah membunuh para tokoh dan pendekar yang berkumpul di dalam ruangan raha- sia. Kiranya Mbah Petir bisa membantu saya melalui kekuatan batin yang Mbah miliki!" Kata si gadis menje- laskan maksud tujuannya.

Mbah Petir anggukkan kepala. Dalam hati Roro Centil jadi heran, kakek di depannya itu entah menga- pa setiap berada di depan pendupaan pendengarannya seakan pulih kembali.

"Hebat. Urusanmu menyangkut masalah pelik. Orang terbunuh, tapi kau tak tahu siapa pembunuh- nya? Bagaimana kau bisa tak tahu?" tanya si kakek dengan mata terpejam.

"Kalau aku tahu buat apa aku jauh-jauh da- tang menemui dan bertanya padamu, Mbah!" sahut si gadis kesal.

Mbah Petir manggut lagi, lalu dia tertawa hing- ga terlihatlah gigi si kakek yang hanya beberapa buah. "Kau benar. Jika kau tahu untuk apa susah payah da- tang ke sini." Ucap Mbah Petir. Si Mbah kemudian mentertawai ketololannya sendiri. Dia kemudian men- gambil sikap duduk bersila. Dua tangan diletakkan di atas lutut, dua mata dipejamkan. Mulut Mbah Petir kembali komat-kamit. Roro Centil sadar saat itu si ka- kek sedang mengerahkan kekuatan untuk melakukan sambung rasa dengan dunia gaib, sehingga si gadis tak bicara apa-apa lagi takut mengganggu konsentrasi si kakek. Dia hanya memandang Mbah Petir dengan te- linga dipentang siap mendengarkan. Tak berselang lama sekujur tubuh Mbah Petir bergetar, keringat bercucuran membasahi sekujur tu- buh dan pakaian Mbah Petir. Mulut Si kakek yang ko- mat-kamit kemudian terkatub, setelah itu terdengar suara racau yang tak berkeputusan. Pendupaan yang terletak di depan Mbah Petir bergetar hebat, sedangkan wajah si kakek nampak berkerut tegang.

"Kau dengar!" dengan mata terpejam si kakek berucap. "Aku melihat ada rumah besar. Kejadian ini kurasa sebelum terjadinya pembantaian itu." Mene- rangkan si kakek. Dia lalu melanjutkan ucapannya. "Aku melihat banyak penjaga disana. Ada umbul- umbul, banyak pula penjaga yang bersembunyi. Aku juga melihat... aku melihat ada seorang laki-laki ber- kepala setan, maksudku kepalanya besar sekali. Laki- laki itu dihadang oleh dua orang pengawal berseragam putih. Oh... oh, dua pengawal itu dibunuhnya dengan satu pukulan. Kulihat pengawal lain berhamburan mengepung laki-laki itu. Tapi... tapi dari kepala si ka- kek itu bermunculan sinar biru. Sinar-sinar maut itu menyambar ke arah mereka, menghantam ubun-ubun. Batok kepala berlubang, otak bercampur darah ber- hamburan dan oleh sinar biru dipindah ke kepala ka- kek itu sendiri. Aku melihat dari tempat tersembunyi bermunculan pengawal yang lain. Tapi... akh sayang mereka mengalami nasib yang sama. Sekarang kulihat si kepala besar tinggalkan tempat itu, lari terhuyung seperti orang mabuk sambil memegang kepalanya..."

"Pastilah orang yang dilihat Mbah Petir adalah Perampas Benak Kepala." kata Roro Centil membatin dalam hati.

Di depannya sana tubuh Mbah Petir nampak berguncang, terkadang oleng ke kiri, kadang ke kanan. Tidak jarang hampir terlentang seperti orang yang be- rada di dalam perahu kecil yang dihantam topan dan ombak. Walaupun begitu si kakek tetap menuturkan apa yang dilihatnya melalui sambung rasa dalam gaib itu. "Si kepala besar pergi, tapi kemudian muncul seo- rang nenek. Nenek itu celingak-celinguk seperti mal- ing. Dia berpakaian serba kuning berenda putih. Wa- jahnya rusak seperti dicacah. Mukanya hancur menye- ramkan seperti Muka Setan. Nenek ini tertawa melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia lalu berkelebat ke dalam rumah. Wadow... di dalam rumah gelap seka- li. Agak remang-remang, nah sekarang sudah kulihat. Dua orang bersenjata pedang menghadang nenek mu- ka setan. Terjadi pertengkaran mulut. Tapi tak diduga Si Muka Setan menghantam dua orang itu dengan pu- kulan ganas. Orang itu roboh... terus...!"

"Tak usah diteruskan Mbah" kata Roro Centil yang memang sudah melihat apa yang dituturkan Mbah Petir beberapa hari yang lalu bersama Gento. Untuk lebih jelasnya (Ikuti Gento Guyon Episode Ke- melut Iblis). Di depan sana si kakek tidak meneruskan apa yang dilihatnya melalui indera gaibnya itu. Tapi matanya tetap terpejam, sedangkan tubuh bergetar pertanda dia belum keluar atau melepaskan diri dari lingkaran tabir gaib. Heran mendengar penuturan si kakek, Roro Centil akhirnya ajukan pertanyaan. "Mbah, di halaman depan kulihat sebuah pusara, pada nisan nama tertera nama Si Muka Setan, Aku jadi cu- riga jangan-jangan Si Muka Setan yang kau lihat hanya palsu belaka. Atau kalau mbah sanggup, coba pastikan siapa kiranya yang terkubur dalam pusara itu!"

"Aku akan mencoba memastikan keduanya se- kaligus. Akan ku mulai dari nenek yang menuruni anak tangga ruangan bawah tanah. Nenek itu menye- bar racun yang merusak pernafasan, dia kemudian membunuh laki-laki dan perempuan tua. Astaga orang itu adalah Si Burung Merak dan Malaikat Kuku Seribu Kepang Lima Belas. Sayang... celaka... aku tak dapat menentukan apakah nenek Muka Setan itu asli adanya atau palsu. Ada satu kekuatan yang menghalangi pe- mandanganku. Kekuatan itu datang dari sekujur tu- buhnya. Aku tak dapat menembus perisai gaib yang berasal dari kesaktiannya sendiri." Kata si kakek, den- gan wajah pucat, nafas mengengah dia lanjutkan uca- pannya.

"Di dalam kubur itu kulihat ada sosok mayat perempuan. Pakaiannya berwarna kuning seperti yang dipakai nenek Muka Setan yang kulihat di dalam ruangan bawah. Kepala mayat itu bolong, wajahnya sudah tak dapat ku kenali, rusak membusuk dipenuhi belatung." Menerangkan si kakek.

"Cukup Mbah. Segalanya sudah cukup jelas bagiku. Aku merasa yakin mayat yang terkubur dalam pusara yang Mbah lihat adalah Mayat Si muka Setan. Ini berarti ada ketidak beresan yang sedang terjadi. Aku sekarang baru yakin dengan pengakuan Sriwida- ri...!" kata si gadis.

Di depannya Mbah Petir nampak membuka ma- tanya. Wajah orang tua itu nampak letih dibasahi ke- ringat. Memandang ke arah si kakek Roro Centil sem- pat dibuat kaget, di mata si gadis mendadak wajah orang tua itu berubah sepuluh tahun lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Si kakek menarik nafas, lalu memandang ke pendupaan dengan tatap matanya yang kuyu. Bara di atas pendupaan padam, bersamaan dengan padamnya bara maka penyakit budek tuli si Mbah kembali seperti sediakala. "Aku telah melakukan sesuatu yang sangat ja- rang kulakukan akhir-akhir ini. Semua itu semata ka- rena demi mengingat persahabatan kita. Sekarang apa yang hendak kau lakukan?" tanya Mbah Petir, sedang- kan tubuhnya terus bergoyang tak mau diam seperti ilalang ditiup angin.

"Kurasa aku harus mencari perempuan itu, ne- nek Muka Setan yang kau lihat dalam tali sambung ra- sa antara dunia nyata dengan alam gaib." Sahut Roro Centil.

Mbah Petir manggut-manggut, entah menden- gar atau tidak yang jelas ketika dia bicara kemudian membuat gatal telinga si gadis.

"Tak usah kau bongkar pusara itu. Sebaiknya kau cari saja nenek berwajah setan itu. Jika bertemu kau harus bisa menotoknya baru nanti kau bisa me- mastikan apakah dia Si Muka Setan yang asli atau palsu adanya. Jika dia yang asli, berarti perempuan yang berkubur di Kiara Condong itu bukan Si Muka Setan, mungkin mayat orang lain."

"Ya si Mbah. Budek dipelihara, jadinya seperti ini." Roro Centil mengomel dalam hati.

"Roro, Sekarang aku ada usul. Bagaimana jika aku ikut denganmu. Rasanya tidak tega hati ini meli- hatmu mencari pembunuh itu seorang diri. Bagaimana pendapatmu?" tanya Mbah Petir penuh harap. Roro Centil dongakkan wajahnya ke langit-langit pondok, berfikir sejenak baru kemudian berkata sambil terse- nyum.

"Mbah Petir sebagai teman aku merasa berteri- ma kasih atas bantuan yang telah kau berikan juga keinginanmu untuk ikut denganku. Tapi dengan ikut- nya Mbah Petir, apakah nantinya bukan malah mere- potkan diriku? Mbah orangnya suka kaget, kalau su- dah kaget kentut dan kencing tak dapat Mbah tahan. Aku bisa malu berpergian denganmu, Mbah?"

Mbah Petir tersenyum. "Bagus, aku tahu kau pasti mau kuikuti. Aku senang. Sudah lama si tua ini mendekam di gunung Sembung. Sesekali aku juga in- gin melihat perkembangan dunia luar. Jadi sekarang kita berangkat? Kau tunggu disini, aku akan memper- siapkan bekal juga pakaian ganti yang banyak supaya nanti jika aku kaget dan kencingku terpancar aku bisa ganti secepatnya. Dasar gadis nakal yang baik." Kata Mbah Petir.

Roro Centil jadi melongo. "Ya si Mbah, me- mangnya tadi aku bicara apa Mbah? Aku belum men- gijinkan kau ikut denganku kau kok malah kegiran- gan?!"

Mbah Petir yang mempunyai gangguan pada te- linganya tanpa menunggu lagi langsung bangkit berdi- ri. Dia menghampiri gerobak tempat pakaian, menge- luarkan beberapa helai pakaian dari dalam gerobok itu lalu memasukkannya ke dalam kantong perbekalan.

Tak lama kemudian Mbah Petir sudah kembali menghampiri Roro Centil.

"Aku sudah siap, sekarang kita berangkat!" ka- ta Mbah Petir.

"Mbah, mestinya kau tak usah ikut denganku. Nantinya aku bisa jadi repot!" ujar si gadis masih tetap duduk di depannya.

"Tepat sekali, aku juga berpendapat begitu. Pergi seorang diri memang tidak enak. Masih bagus berdua seperti katamu itu. Kita bisa bertukar fikiran, bisa satukan pendapat untuk menemukan pembunuh sialan itu!" sahut Mbah Petir.

"Mbah Petir!" teriak Roro Centil jengkel. Di de- pannya si kakek kerutkan keningnya. Suara teriakan si gadis ditelinganya hanya merupakan suara sayup- sayup yang samar.

"Ada apa? Bicaralah yang keras!"

"Aku sudah berteriak Mbah. Tenggorokanku mau pecah. Mbah budek, Mbah tuli. Percuma saja kita bicara. Sekarang kalau mau ikut, ayolah!" kata Roro Centil setengah berteriak.

Mbah Petir tertawa lebar. Dia kemudian mem- buka pintu, sedangkan si gadis segera mengikuti tak jauh di belakangnya.

Tidak berselang lama kedua orang ini telah berkelebat menyusuri lereng gunung Sembung melalui jalan setapak.

***

7

Di bawah terik matahari bersikap seakan tidak perduli kakek berpakaian hitam bertopi tinggi yang ke- dua sisinya dihias dengan tanduk kerbau ini terus saja menangis. Tangisnya makin lama makin terguguk ti- dak perduli wajahnya yang bercelemongan hitam itu telah basah oleh keringat dan air mata. Yang aneh dan hebatnya lagi saat kakek ini menangis tanah di sekeli- lingnya terguncang keras. Tidak hanya itu saja daun menghijau yang terdapat di pepohonan berguguran. Sedangkan air yang terdapat di dalam telaga kecil tak jauh di sebelah kirinya berguncang, muncrat di udara seakan dilanda gempa.

Tangis si kakek tak berlangsung lama, karena saat itu tiba-tiba dia mendengar ada suara gemuruh yang disertai dengan terdengarnya suara bergedebu- kan seperti suara orang berlari cepat yang tengah me- nuju ke arahnya. Si kakek seka air mata yang memba- sahi pipi. Kepala dimiringkan ke kanan mencoba men- genali suara langkah orang yang datang. Si kakek ke- mudian mengguman sendiri. "Manusia atau dedemit yang datang kemari. Kalau manusia mengapa lang- kahnya begitu berat? Dasar celaka. Berani sekali da- tang mengganggu ketenangan orang yang sedang ber- duka!" rutuk si kakek.

Siapakah kakek berpakaian hitam bertopi tinggi ini? Seperti telah dituturkan pada episode sebelumnya. Kakek bertopi tinggi yang kedua sisinya dihias dengan tanduk kerbau ini memiliki gelar Gelombang Tangis Dalam Duka. Dia termasuk salah satu tokoh yang di- undang untuk menghadiri pertemuan para pendekar di Kiara Condong. Kakek yang suara tangisnya dapat mempengaruhi orang lain ini begitu terkejut ketika me- lihat Malaikat Kuku Seribu datang bersama Si Burung Merak dengan membawa mayat Si Muka Setan. Pa- dahal Si Muka Setan sendiri sesungguhnya adalah orang yang akan memimpin pertemuan itu. Kematian si nenek berwajah angker yang masih terhitung saha- bat kakek ini sendiri sungguh membuat Gelombang Tangis Dalam Duka menjadi sangat terpukul, diapun kemudian dengan perasaan marah langsung tinggal- kan Kiara Condong untuk mencari pembunuh saha- batnya sambil terus menangis di sepanjang jalan.

Kedukaan yang melanda jiwa si kakek tentu sa- ja membawa kerugian besar bagi orang lain, karena pengaruh tangisnya bukan saja membuat orang lain jadi terhanyut dan ikut menangis, tapi juga akibat tan- gis itu membuat buah pepohonan gugur sebelum wak- tunya, begitu juga ketika si  kakek melewati daerah persawahan penduduk yang luas. Padi yang baru saja menguning rontok dilanda gelombang tangisnya.

Kini di tempatnya duduk, Gelombang Tangis Dalam Duka tak perlu menunggu lebih lama karena pada saat itu pula di belakangnya muncul satu sosok tinggi besar bertelanjang dada dengan sekujur tubuh ditumbuhi bulu hitam lebat. Masih dalam keadaan terduduk orang tua itu memutar badan. Gelombang Tangis Dalam Duka sempat tercengang begitu melihat satu sosok manusia raksasa berdiri disana, tegak mengawasi dengan pandangan terheran-heran. Dalam kagetnya si kakek membuka mulut ajukan pertanyaan. "Makhluk besar apa yang kau cari di tempat

ini? Kehadiranmu membuat tangisku jadi terhenti. Ce- pat katakan siapa dirimu, setelah itu baru kau boleh ikut menangis!"

"Orang tua, aku mencari sahabatku Gento Guyon. Pendekar Sakti 71. Namaku Rajo Penitis, mo- hon dimaafkan kalau keasyikan tangismu merasa ter- ganggu karena kehadiranku!" kata si tinggi besar.

Si kakek terdiam, kening berkerut lalu kepala digelengkan. "Gento Guyon? Pendekar Sakti 71, baru sekali ini aku mendengar nama itu. Lalu kau sendiri bernama Rajo Penitis? Hemm, namamu pernah aku mendengar. Kau manusia yang selalu gagal dalam du- nia percintaan, bertenaga besar, badan besar, tapi to- lol. Rasanya aku tak suka kau berlama-lama berdiri di depanku. Masih ada kesempatan buatmu untuk me- nyingkir. Saat ini aku sedang berduka atas kematian sahabatku Si Muka Setan. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak mau melihat seekor kecoak pun mengganggu ketenanganku!"

Rajo Penitis walau merasa tersinggung men- dengar ucapan si kakek, tapi dia masih saja berdiri di tempatnya. Hal ini tentu menimbulkan kemarahan ba- gi si kakek.

"Kau... apakah tak mendengar perintahku?!" hardik si kakek.

Dengan sikap tenang Rajo Penitis menjawab. "Orang tua siapapun dirimu aku tidak perduli. Baru saja tadi kau ada menyebut Si Muka Setan. Malah kau mengatakan orang tua itu sudah mati. Tapi kurasa pendapatmu itu keliru. Kalau Si Muka Setan yang kau maksudkan adalah seorang nenek berpakaian kuning wajah hancur mengerikan seperti setan. Kurasa orang itu masih hidup," kata Rajo Penitis.

Gelombang Tangis Dalam Duka tercengang mendengar ucapan, Rajo Penitis. Seolah tak percaya dia berucap. "Coba kau ulangi apa yang kau sebutkan tadi?" perintah si kakek.

"Orang tua kurasa kau belum tuli untuk men- dengar apa yang kukatakan tadi. Sekali lagi kukatakan Si Muka Setan mungkin masih hidup!"

Si kakek belalakkan mata lebar, wajah tercen- gang mulutnya ternganga. Sekali lagi dia mengguman kepala digelengkan. "Bagaimana kau bisa mengetahui sahabatku itu masih hidup, sedangkan aku menyaksi- kan dengan mata kepala sendiri. Si Muka Setan tewas, kepala berlubang, isi otak lenyap. Dia terbunuh. Ma- laikat Kuku Seribu yang membawanya ke Kiara Con- dong! Manusia besar badan, jangan kau berani mem- buat pusing kepalaku. Saat ini fikiranku sedang ka- cau. Kau bisa kubunuh di tempat ini!" geram si kakek. Orang tua itu tiba-tiba bangkit berdiri. Dua tangan di- angkat siap melepaskan satu pukulan yang berbahaya.

"Tunggu orang tua!" sergah Rajo Penitis.

"Kau hendak bicara apa, katakan cepat!" ben- tak Gelombang Tangis Dalam Duka tak dapat lagi ber- sabar diri.

"Beberapa hari yang lalu, aku baru saja berte- mu dengan seorang nenek tua yang ciri-cirinya sama persis dengan Si Muka Setan. Aku tak berani menga- takan dia sahabatmu atau bukan, cuma segalanya sama mirip dengan Si Muka Setan."

"Bicaramu ngaco manusia besar, mungkin ada yang tidak beres dalam otakmu! Sekarang teruskan bi- caramu yang ngaco belo tak karuan!" kata si kakek.

"Perempuan itu membawa seorang gadis. Dia kemudian masuk ke dalam pondok dan hendak me- lampiaskan nafsu kejinya pada gadis malang yang di- bawanya. Beruntung aku sempat mencegah, sayang sekali aku hampir celaka dan dia melarikan diri saat mendengar suara siulan!"

"Cukup! Kau bicara tak karuan kejuntrungan- nya. Lebih dari itu kau fitnah pula dirinya. Sahabatku Muka Setan bukan manusia gila. Bagaimana kau be- rani mengatakan dia hendak berbuat keji pada kaum sejenisnya sendiri?" hardik si kakek sengit juga sema- kin bertambah merah.

"Orang tua, aku bicara sesuai dengan kenya- taan yang kulihat. Kalau kau tidak percaya siapa yang memaksamu?!"

"Raksasa tolol jahanam. Jika aku tidak melihat mayat Si Muka Setan dengan mata kepalaku sendiri mungkin aku mempercayai segala ucapanmu. Manusia tengik tega betul kau memfitnah sahabatku yang su- dah berpulang? Kubunuh kau!" teriak Gelombang Tan- gis Dalam Duka. Suara teriakannya belum lagi lenyap ketika dia keluarkan suara raungan tangis menyayat. Suara tangisnya demikian keras, sedih memilukan membuat siapa saja yang mendengarnya ikut terseret, tenggelam dalam kesedihan si kakek. Rajo Penitis me- mang sempat merasakan hal itu. Tapi dia segera me- nutup indera pendengarannya, setelah itu segera ke- rahkan tenaga dalam untuk kemudian disalurkan ke arah kaki dan tangannya. Satu raungan laksana mero- bek langit di tengah panas yang terik membakar. La- lu...

Duk! Duk! Duk!

Terdengar suara bergedebukan ketika Rajo Pe- nitis berlari ke depan menyerbu ke arah lawan sambil lepaskan satu pukulan yang disusul dengan tendangan menggeledek ke perut si kakek.

Angin menderu menyertai tendangan dan pu- kulan yang dilancarkan Rajo Penitis. Si kakek tercekat, namun cepat berkelit ke samping. Dua tangan segera didorongkan menangkis dua serangan yang datang da- lam waktu bersama.

Plak! Plak!

Benturan keras yang terjadi membuat si kakek keluarkan jeritan tertahan. Tubuhnya terdorong mun- dur sejauh satu langkah. Ketika dia melihat kedua tangannya yang terasa sakit, tangan itu nampak me- mar.

Di depannya sana Rajo Penitis terhuyung bebe- rapa tindak, jika dia tidak cepat memperbaiki keseim- bangan tubuhnya niscaya si raksasa jatuh terjeng- kang. Rajo Penitis menggerung, tanpa memperdulikan tangan dan kakinya yang mendenyut sakit dia lang- sung lakukan satu gerakan berputar. Sambil berputar sedemikian rupa tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Gerakannya sangat ringan seakan tubuh yang sangat besar itu tidak memiliki bobot sama sekali.

Masih dalam keadaan melesat sambil berputar, Rajo Penitis menghantam lawan dengan mendorong- kan kedua tangan dengan gerakan melingkar. Wuuut! Satu gelombang angin berputar dahsyat menyambar apa saja yang dilaluinya. Membuat batu dan pasir ber- lesatan di udara membubung tinggi ke angkasa. Lebih hebatnya lagi, tanah yang dilalui pusaran angin aneh itu berlubang dalam berkelok-kelok tidak ubahnya se- perti bekas jejak ular besar yang berjalan di atas tanah lembek.

Gelombang Tangis Dalam Duka sempat dibuat tercekat, tapi hanya sesaat. Dia cepat melompat mun- dur sambil mengumbar tangisnya.

"Manusia salah kaprah, tukang fitnah sahabat orang. Kau rupanya memiliki pukulan Pusaran Topan Prahara? Apa yang telah kau perlihatkan padaku itu hanya akan mempercepat kematianmu. Kau akan ma- ti, huk huk huk. Betapa aku semakin sedih kare- nanya!" teriak si kakek. Masih sambil melompat mun- dur sambil hindari terjangan pusaran angin yang ber- sumber dari pukulan lawan. Gelombang Tangis Dalam Duka siapkan dua pukulan mautnya. Di tangan kiri dia mempersiapkan pukulan 'Duka Dalam Penyesalan' sedangkan di tangan kanan dia siap melepaskan puku- lan 'Gelombang Sakratul Maut'.

Sambil berteriak keras si kakek melesat ke de- pan. Dua tangan kemudian dihantamkan ke arah pu- saran angin yang menggulung bagaikan puting be- liung. Cahaya hitam berkiblat dari tangan kiri si ka- kek, sedangkan dari tangan kanan menderu bahaya putih berkilauan laksana perak.

Bumm!

Satu ledakan keras berdentum ketika masing- masing serangan bertemu di udara, bersamaan dengan itu pula satu jeritan terdengar seolah menenggelamkan suara ledakan itu. Kemudian ada suara jatuhnya satu sosok yang berat di atas tanah. Beberapa saat kegela- pan menyelimuti daerah disekitar situ. Si kakek ter- huyung-huyung dan mencoba menjauh dari kegelapan akibat debu. Ketika kegelapan sirna dan suasana jadi terang kembali, si kakek pun memandang ke depan. Di depannya sana sosok manusia Raksasa Rajo Penitis nampak terkapar. Dari sekujur tubuhnya mengucur- kan darah. Laki-laki itu diam tak berkutik, mungkin juga tewas terkena pukulan lawannya yang sangat ga- nas itu.

Si kakek tercengang, seolah baru tersadar den- gan apa yang dilakukannya dia pandangi kedua tan- gannya sendiri. Wajah si orang tua berubah pucat ke- tika melihat telapak tangannya masih membiaskan si- nar putih dan hitam.

"Aku... aku... telah membunuhnya? Dua tan- ganku telah melakukan suatu perbuatan keji? Huk huk huk! Mengapa aku jadi pembunuh, mengapa aku harus membunuh? Gusti, Gusti... dia mati. Dia mati aku berdosa?!" desis Gelombang Tangis Dalam Duka seakan tak percaya dengan apa yang telah dilakukan- nya sendiri. Orang tua itu kemudian menangis tersedu. Selagi si kakek tenggelam dalam tangisnya. Pada saat itu pula terdengar suara bentakan sekaligus seruan kaget seseorang.

"Astaga! Orang tua, betapa kejinya perbuatan- mu ini. Kau telah membunuh sahabatku!"

Bentakan itu membuat tangis si kakek terhenti seketika. Dalam keadaan terkejut dia memandang ke arah datangnya suara bentakan tadi.

*** 8

Dua bayangan berkelebat, satu langsung menu- ju ke arah Rajo Penitis, sedangkan satunya lagi jejak- kan kakinya tak jauh dari hadapan Gelombang Tangis Dalam Duka. Si kakek dengan mata masih berurai tangis dan hati diamuk kesedihan memandang ke arah orang yang datang. Ternyata sosok berpakaian ungu yang berdiri tegak di depannya adalah seorang gadis cantik berkulit putih mulus dengan bentuk dagu se- perti pinang terbelah. Sedangkan yang satunya lagi adalah seorang pemuda tampan rambut gondrong se- bahu, bertelanjang dada bercelana hitam. Di lehernya melingkar sebuah kalung. Mata kalung berasal dari ba- tu, berwarna putih buram, kuning kecoklatan. Gelom- bang Tangis Dalam Duka memperhatikan keduanya sejenak. Dia gelengkan kepala karena sama sekali tak mengenal siapa adanya pemuda dan gadis itu.

Si gondrong Pendekar Sakti Gento Guyon yang saat itu berada di samping Rajo Penitis dapat melihat betapa sahabatnya yang bermandikan darah akibat terkena pukulan. Si kakek masih bernafas, tapi mung- kin jiwanya tak mungkin dapat diselamatkan lagi.

"Sobatku kurcaca, ini aku sahabatmu kurcaci kecil. Bicaralah, apa yang kau lakukan kepadanya hingga orang tua itu menjatuhkan tangan begini kejam terhadapmu?" tanya Gento, lalu raih tangan besar Rajo Penitis yang besar luar biasa namun telah berubah menjadi dingin laksana es.

Sepasang pelupuk mata yang menggembung bengkak nampak bergerak-gerak. Lalu mata itu terbu- ka sedikit. Rajo Penitis mencoba memaksakan se- nyumnya begitu melihat seraut wajah yang sangat dia kenal.

"Sahabatku kurcaci jelek. Engkaukah ini...?!

tanya Rajo Penitis seakan tak percaya dengan pengli- hatannya sendiri.

"Benar. Ini aku, diriku kurcaci kecil." Jawab Gento, merasa terharu juga sedih. Dia semakin mem- pererat genggaman tangannya pada tangan Rajo Peni- tis. Betapa tangan sang sahabatnya itu kini bertambah dingin. Sepasang mata si raksasa memandang kosong pada Gento. Si gondrong menyadari tak ada harapan lagi bagi Rajo Penitis untuk dapat bertahan lebih lama. "Sahabatku...!" kata Rajo Penitis. Suaranya per-

lahan tercekat, nampak benar bahwa sang sahabat nampak bersusah payah ketika hendak bicara. Dalam keadaan semakin bertambah payah pula dia mene- ruskan ucapannya. "Di dunia ini hidupku hanya seba- tang kara. Beruntung aku punya seorang sahabat di akhir hidupku. Walau otakmu agak sedikit miring, tapi kau baik. Karenamu aku jadi sadar, hingga kini aku tak mengejar perempuan untuk kujadikan istri. Kurca- ci kecil, tolong kau sampaikan salam maafku pada Sriwidari. Aku pernah bersalah membunuh orang tua- nya! Aku juga pernah bersalah hendak memperistri di- rinya...!"

"Kau memang bersalah, kau memang layak di- bunuh seribu kali!" satu suara menimpali disertai ber- kelebatnya satu bayangan ungu yang langsung mele- paskan satu pukulan mematikan ke arah Rajo Penitis.

Tanpa menoleh Gento yang sempat kaget men- dengar teriakan itu sudah dapat menduga orang yang kirimkan pukulan ke arah raksasa sahabatnya itu pas- tilah Sriwidari gadis yang datang bersamanya.

Diapun berseru sambil menghantam ke bela-

kang. "Widari jangan!" Buuum!

Benturan keras disertai dengan terdengarnya suara jeritan. Sriwidari yang pukulannya dimentahkan oleh Gento jatuh terbanting dengan jatuh punggung menghantam tanah.

Merasa serangannya digagalkan Gento si gadis jadi marah. Dia melompat bangkit sambil membentak.

"Mengapa kau membelanya, Gento! Kau hendak melindungi penjahat itu?" Tanpa menoleh dia menja- wab.

"Apakah kau mau menjadi seorang pengecut, membunuh orang yang sudah tak berdaya? Lagipula dia sudah bertobat. Tidakkah kau ikut mendengarnya? Lebih baik kau urus kakek tengik itu, jangan sampai kabur!" ujar Gento.

Meskipun hatinya masih merasa kecewa na- mun Sriwidari tetap lakukan apa yang diperintahkan oleh Gento. Sementara sang pendekar sendiri kemu- dian kembali memandang ke arah Rajo Penitis.

"Mengapa kau cegah dia dari keinginannya un- tuk membunuhku? Aku akan lebih senang mati di tangannya. Tapi sebelum itu kurcaci, aku akan kata- kan padamu. Kalaupun aku mati, tapi rohku tetap akan hidup. Kita bisa terus bersahabat. Kurcaci, satu permintaanku tolong kau carikan anakku...!"

"Anakmu? Siapa nama anakmu?" tanya Gento. Pertanyaan Gento agaknya tidak berjawab ka-

rena pada saat itu kepala Rajo Penitis terkulai. Melihat kematian Rajo Penitis pemuda itu jadi tercekat. Wajah tertunduk, sedangkan genggamannya pada tangan manusia raksasa itu jadi terlepas.

"Sahabatku, mengapa kau pergi secepat itu?" desis Gento seakan menyesali. Kemudian dia pandangi tubuh besar yang terbujur diam di depannya. Tubuh yang berlumuran darahnya sendiri. Gento tahu, Rajo Penitis tidak berilmu rendah, jika dia sampai terbunuh di tangan kakek itu berarti siapapun adanya si kakek pasti memiliki ilmu yang sangat tinggi.

Sementara itu di depan sana si kakek sudah bangkit berdiri, sambil menangis terguguk dia memu- tar langkah siap hendak pergi.

"Orang tua kau hendak kemana? Menghindar dari tanggung jawab?" hardik Sriwidari. Dia kemudian melompat ke depan si kakek sambil hunuskan pedang hingga gerakan orang tua itu jadi terhalangi.

Langkah si kakek jadi tertahan, orang tua itu memandang ke depannya. "Aku hendak pergi, jangan kau halangi!" kata si kakek.

"Kau telah membunuh Rajo Penitis sekarang hendak pergi begitu saja? Orang tua kau harus serah- kan kepalamu, atau paling ringan harus bisa memberi penjelasan padaku mengapa kau membunuh saha- batku itu?!" satu suara berucap, satu bayangan berke- lebat ke arah si kakek. Kemudian tak jauh dari depan Gelombang Tangis Dalam Duka si gondrong Gento berdiri di situ. Wajahnya jelas menyimpan kemarahan pada si kakek juga duka atas kematian Rajo Penitis.

"Engkau ini siapa bocah gondrong? Kau kerabat manusia tolol raksasa itu?" si kakek ajukan perta- nyaan sambil menatap tajam pada Pendekar Sakti Gento Guyon dengan matanya yang merah karena ter- lalu banyak menangis.

"Dia sahabatku!"

Si kakek tersenyum sinis. "Bukan sanak bukan kadangmu. Cuma seorang sahabat. Lalu gadis ini apamukah? Adikmu, kekasihmu atau mungkin istri- mu?!" tanya si kakek lagi, dia melirik ke arah Sriwidari dengan sudut matanya.

"Dia juga sahabatku!"

"Rupanya cuma seorang sahabat juga". Gelom- bang Tangis Dalam Duka tersenyum mengejek. "Jika kalian berdua sahabat manusia itu, ketahuilah aku tak punya waktu banyak untuk memberi penjelasan. Tapi perlu kalian tahu satu hal, aku terpaksa melakukan pembunuhan karena dia telah memfitnah sahabatku Si Muka Setan."

"Fitnah... fitnah apa?" tanya Gento.

"Dia mengatakan sahabatku Si Muka Setan masih hidup, bahkan lebih keji lagi dia mengaku Si Muka Setan hendak berlaku keji terhadap seorang ga- dis. Bagaimana dia berani lancang bicara seperti itu? Sedangkan sahabatku Si Muka Setan telah berkubur di Kiara Condong sehari sebelum pertemuan. Aku bahkan melihat mayatnya dengan mata kepalaku sen- diri!"

Penjelasan itu bukan saja membuat Sriwidari jadi melengak tercekat, begitu pula halnya dengan mu- rid si gendut Gentong Ketawa. "Kakek ini melihat mayat Si Muka Setan. Pantas mayat orang tua itu tak kami temukan di dalam ruangan pertemuan. Semula aku dan Roro Centil menduga nenek itu yang bertang- gung jawab atas kematian para pendekar. Tidak ta- hunya orang yang terkubur dalam pusara di halaman rumah itu memang Si Muka Setan adanya." Selagi Gento tenggelam dalam fikirannya sendiri mendengar penjelasan si kakek yang tidak terduga ini. Sebaliknya Sriwidari berteriak dengan suara lantang. "Orang tua, siapapun dirimu ini yang sebenarnya aku tak perduli. Tapi terus-terang adapun gadis yang dimaksudkan oleh Rajo Penitis itu akulah orangnya. Dia datang mencoba menyelamatkan diriku. Jika dia mengatakan seperti apa yang kukatakan ini, berarti dia tidak ber- dusta, tidak pula memfitnah. Karena apa yang dikata- kannya itu memang benar adanya. Si Muka Setan memang hendak berbuat mesum padaku!"

Laksana mendengar suara petir, sekujur tubuh si kakek bergetar, mata melotot, mulut ternganga se- dangkan wajah nampak pucat bagaikan mayat. Bebe- rapa saat lamanya si kakek tak mampu keluarkan su- ara atau berucap barang sepatah katapun. Hanya ma- tanya memandang kepada Gento dan Sriwidari silih berganti.

"Dia yang mengalami kejadian itu. Dia sak- sinya, apakah kau masih tidak percaya?" suara Gento memecah keheningan.

Dengan mulut bergetar suara tercekat si kakek menyahuti. "Jika apa yang dikatakan sahabatmu itu benar, berarti telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Aku berani bersumpah Si Muka Setan telah mati, aku sendiri yang melihat mayatnya. Aku melihat kepalanya yang berlubang besar, sedangkan isi kepala lenyap sama sekali! Aku yakin ada seseorang yang berusaha mengelabuhi kita untuk mencapai sesuatu yang men- jadi tujuannya. Karena aku tahu jika seandainyapun Si Muka Setan memang masih hidup, dia tak mungkin melakukan perbuatan sekeji itu. Kuakui wajahnya memang angker seperti setan. Tapi aku tahu pasti ha- tinya sangat baik sekali!" jelas Gelombang Tangis Da- lam Duka.

"Sekarang apa yang harus kau lakukan? Kau telah membunuh sahabatku Rajo Penitis. Kau mem- bunuhnya karena kau anggap dia telah memfitnah Si Muka Setan, padahal dia mengatakan yang sebenar- nya. Apa tanggung jawabmu?"

Pertanyaan Gento membuat si kakek sadar ba- gaimana pun dia tidak mungkin menghindar dari dosa yang telah dilakukannya.

"Aku tak akan mungkir dan tidak bakal lari dari segala apa yang telah kulakukan. Jika dia terbunuh di tanganku tanpa rasa bersalah. Berarti aku harus mempertanggung jawabkan kesalahanku. Tapi aku minta waktu, karena saat ini aku ingin mengetahui yang sebenarnya apakah Si Muka Setan masih hidup sebagaimana yang kau katakan atau sudah mati seba- gaimana yang kulihat?" ujar si kakek.

Gento tersenyum, dia melirik ke arah jenazah Rajo Penitis sekilas, baru kemudian beralih pada Sri- widari untuk selanjutnya kembali menatap si kakek.

"Orang tua, katakan kapan kau bersedia mene- rima hukuman dariku?"

"Aku minta waktu sampai aku bisa bertemu dengan Muka Setan. Setelah itu kau baru boleh mem- bunuhku!" kata si kakek dengan mata berkaca-kaca penuh kesadaran dia melanjutkan. "Aku tak akan lari. Kau tak perlu takut. Aku hanya ingin membuktikan kebenaran pengakuan sahabatmu itu."

"Engkaupun tak usah takut, orang tua, juga tak usah menangis. Karena aku hanya akan meminta kedua tanganmu yang kau pergunakan untuk mem- bunuh Rajo Penitis. Bukan nyawamu!" ujar Gento pu- la.

"Tidak, aku telah berhutang nyawa padanya. Maka kau nanti harus mengambil nyawaku, bukan tanganku!"

"Aku cuma minta tangan!"

"Kubilang kau harus mengambil nyawaku!" te- riak si kakek lalu menangis tersedu-sedu. Sriwidari tertegun mendengar tangis si kakek yang serasa meng- getarkan jiwa menyentuh perasaan. "Kakek aneh, dia bisa berlaku kejam dalam se- saat saja, tap mengapa begini cengeng?" fikir si gadis.

Sedangkan Gento saat itu sambil tersenyum se- gera berkata. "Baiklah, kau tak usah menangis lagi. Biar nanti kuambil tangan dan nyawamu sekaligus!"

Si kakek tercengang, mata yang berurai tangis memandang ke depannya dengan tatap seakan tak percaya. "Pemuda edan... sinting. Huk huk huk. Biar aku menyingkir dulu dari hadapanmu, meneruskan tangis di tempat lain sambil mencari Si Muka Setan!" Si kakek dengan terbungkuk-bungkuk sambil menyeka air matanya segera tinggalkan Gento dan Sriwidari. Murid Gentong Ketawa pandangi kepergian kakek itu. Kepala menggeleng, mulut mengurai senyum. "Bagus, menangislah terus sampai tua. Mudah-mudahan kau cepat menemukan nenek itu agar tidak melakukan pembunuhan lagi secara membabi buta!" kata Gento.

"Kau percaya dia mau menebus kesalahannya Gento?" tanya Sriwidari yang ikut memperhatikan ke- pergian si kakek.

"Ha ha ha. Mana aku tahu, manusia yang per- nah melakukan pembunuhan seribu kalipun kalau masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diri pasti dilakukannya. Sudahlah, sebaiknya kita pergi!" kata pemuda itu.

***

9

Ayu Seruni atau yang sering disebut Puteri Pe- malu duduk di bawah satu pohon besar tak jauh dari tepi sebuah telaga. Matanya tak henti mengawasi tela- ga itu dimana tadi dilihatnya satu bayangan masuk ke dalam telaga itu, lenyap lalu tidak muncul-muncul la- gi. Seakan tak percaya dia kerjabkan matanya bebera- pa kali, mulutnya yang selalu sunggingkan senyum baik dirinya sedang berada dalam kesedihan maupun dalam kegembiraan melongo besar. Dia tidak terse- nyum, tidak pula tertawa. Malah wajah gadis yang mengalami gangguan ingatan ini nampak pucat dalam ketegangan yang luar biasa.

Setengah jam berlalu, sosok yang melenyapkan diri ke dalam air telaga masih belum juga muncul atau menyembul ke permukaan air. Si gadis sinting mulai berprasangka yang bukan-bukan. "Orang tadi seperti hendak bunuh diri. Datang langsung menceburkan diri ke tengah telaga lalu tidak timbul lagi. Manusia edan sekalipun tidak mungkin melakukan perbuatan sene- kad itu." Kata Puteri Pemalu. Sebagaimana kebiasaan- nya dia langsung tertawa sambil tutupi wajahnya den- gan ujung jubah birunya. Ketika dia berkata seperti itu sikapnya seolah tidak menyadari bahwa saat itu se- sungguhnya memiliki gangguan ingatan.

Sekali lagi Puteri Pemalu layangkan pandang ke tengah telaga. Telaga tetap sunyi, air telaga tetap pula tenang, tidak beriak tidak pula bergelombang. "Manu- sia atau silumankah yang kulihat tadi. Jika manusia mengapa sudah selama ini masih belum muncul juga? Tidak ada manusia yang mampu menyelam lalu berada di dalam air selama itu?" ujar si gadis. Dia kemudian kitarkan pandangan matanya ke sekeliling telaga. Ken- ing berkerut seakan berusaha mengingat dan menge- nali daerah itu. Dia melihat tiga pohon kapuk besar. Masing-masing dari ketiga pohon kapuk itu terdapat sebuah lubang besar. Di dalam lubang besar itu me- nyumpal satu tengkorak kepala manusia yang sudah sangat tua ditumbuhi lumut.

Melihat pada tiga pohon kapuk ini Puteri Pema- lu keluarkan satu seruan kaget, dua matanya terpen- tang lebar. Mulut bergetar menyebut satu nama. "Bu- kankah telaga ini yang bernama Telaga Tengkorak Hantu? Tempat yang paling angker dimana para hantu dedemit dan makhluk halus sering gentayangan dis- ini?" gumam Puteri Pemalu. Tanpa sadar dia bangkit berdiri, mata memandang lurus ke tengah telaga yang bening. Ketika dia hendak memutar badan siap me- ninggalkan tempat itu. Pada waktu bersamaan pula matanya sempat menangkap adanya satu gerakan di tengah telaga. Terkejut, heran juga tegang membuat Puteri Pemalu urungkan niatnya. Dia lalu melompat ke atas pohon, kemudian mendekam di pohon itu sambil mengintai ke telaga, menunggu apa yang akan terjadi dengan dada berdebar.

Gadis sakit ingatan ini tak perlu menunggu ter- lalu lama, karena begitu dia berada di atas pohon, air ditengah telaga mengalami pergolakan hebat. Bersa- maan dengan terjadinya pergolakan di tengah telaga, dari bagian bawahnya terdengar seperti ada pintu batu yang terhempas. Gelembung-Gelembung air bermun- culan. Satu sosok nampak bergerak dari bagian dasar telaga menuju ke permukaan.

Wuuut! Wuutt!

Satu sosok tubuh terlempar di udara dalam keadaan polos terlanjang. Di belakangnya menyusul satu sosok bayangan serba kuning. Bayangan itu ber- gerak ke arah jatuhnya sosok telanjang berambut pan- jang. Walaupun Puteri Pemalu tak melihat bagaimana rupa sosok polos bugil ini namun melihat dari rambut- nya yang panjang, kulit serta dadanya yang menonjol jelas sosok yang terjatuh di tepi telaga itu adalah seo- rang gadis. Mungkin satu kekejian mengerikan telah terjadi atas dirinya.

Dengan malu-malu gadis sinting ini tutupi wa- jahnya. Tak berselang lama ujung jubah diturunkan, mata memandang ke arah sosok berpakaian kuning yang berdiri tak jauh dari sosok gadis telanjang yang agaknya sudah tak bernyawa lagi.

Untuk yang kesekian kalinya Puteri Pemalu kembali dibuat tercengang. Sosok berpakaian kuning berenda putih yang baru munculkan diri dari dasar te- laga sambil membawa sosok mayat seorang bukannya dedemit ataupun siluman sebagaimana yang dia sang- ka. Melainkan seseorang, sosok nenek berwajah ang- ker seperti setan yang sangat dikenalnya.

"Kakak... kakak Muka Setan? Benarkah dia adanya? Mengapa dia semakin jauh dalam kesesatan. Kemana kebaikan-kebaikan yang dia miliki selama ini?" tanya Puteri Pemalu pada dirinya sendiri.

Sekali lagi Puteri Pemalu memandang ke tepi telaga. Saat itu nenek Muka Setan yang muncul dari dasar telaga nampaknya sudah siap tinggalkan tempat itu. Tapi dia jadi terkejut ketika mendengar satu se- ruan.

"Kakak... Muka Setan tunggu!"

Seruan itu disusul dengan tersibaknya rerant- ing dan dedaunan pohon yang kemudian disusul oleh munculnya satu kepala. Satu sosok berpakaian jubah biru melesat ke arah si nenek yang belum lagi hilang rasa kagetnya.

"Kakak... hik hik hik. Sungguh tak kusangka dirimu telah jauh berada dalam kesesatan. Mengapa kau membunuhnya, mengapa gadis itu kau perlaku- kan secara keji. Kau perempuan dia perempuan, lalu apanya yang...!" Puteri Pemalu tidak lanjutkan uca- pannya, melainkan malah tutupi wajahnya.

Beberapa saat lamanya nenek Muka Setan se- perti bingung melihat kehadiran si gadis dan menden- gar segala apa yang diucapkannya. Tapi karena otak- nya yang cerdik dia segera menyadari apa yang harus dia lakukan.

"Gadis gila, kau tahu siapa diriku ini? Hayo ja- wab?" hardik si nenek dengan mata mencorong me- mandang penuh teguran.

"Kakak, kau adalah Si Muka Setan, yang sebe- narnya masih terhitung guruku sendiri. Aku hanya in- gin mengatakan apa yang kau lakukan beberapa hari belakangan telah jauh menyimpang dari segala yang pernah kau tunjukkan padaku selama ini kakak!"

"Kalau kau sudah tahu dan dapat membedakan kedudukan antara murid dan guru, mengapa kau tak cepat memberi hormat dan minta maaf kepadaku?" dengus Si Muka Setan.

Si gadis tertawa mengikik.

"Hik hik hik. Kakak ini bagaimana, selama ini aku tak pernah melakukan seperti yang kau ucapkan!" jawab gadis itu.

Kening Si Muka Setan berkerut dalam mem- buat wajahnya yang angker bertambah menyeramkan.

"Kau tak melakukan selama ini. Tapi sekarang kau harus mau menghormat dan minta maaf padaku! Jika kau menolak, aku pasti menganggapmu sebagai murid gila yang tidak tahu aturan."

Ucapan si nenek malah membuat tawa Puteri Pemalu makin bertambah keras.

"Hik hik hik! Kakak ini bagaimana, bukankah kau sudah tahu sejak dulu aku sudah gila, kewarasan terganggu sedangkan kesadaran timbul tenggelam. Agaknya kau sendiri mulai ikutan menjadi gila ya?!" Si Muka Setan dibuat tercekat. Kembali otak- nya berfikir, kembali seribu muslihat muncul dibenak- nya. Diapun kemudian menyeringai. Si nenek pun mu- lai mempergunakan muslihatnya.

"Kau benar, sekarang ini fikiranku memang se- lalu kalut, sering pula kacau. Mungkin aku juga kehi- langan kewarasan seperti dirimu." Kata nenek Muka Setan unjukkan muka sedih.

"Hik hik hik. Kau pasti kualat karena sering menghina aku dulu. Tapi mengapa sekarang setelah menjadi gila kau bisa mempunyai kebiasaan jelek ter- kutuk, kakak? Apakah kau melakukan semua itu di luar kesadaranmu?" tanya Puteri Pemalu, dengan ma- lu-malu dia tutupi wajahnya.

"I... iya, kau betul. Mengapa aku melakukan semua itu. Oh, betapa terkutuknya diriku ini? Huk huk huk!" Nenek Muka Setan dekap wajahnya yang cacat mengerikan, dia menangis tersedu sedu sambil memukul kepalanya kanan kiri.

"Betapa memalukan diriku ini, lebih baik kau bunuh saja aku. Bunuh...!" jerit nenek itu.

"Tidak begitu kakak. Mana mungkin aku tega membunuhmu, setelah seluruh kaum kerabatmu di- bunuh orang. Aku maklum telah terjadi kegoncangan batin yang hebat dalam jiwamu. Tapi kau tak perlu ri- sau, aku pernah mendengar seorang dukun hebat, namanya Mbah Petir. Aku bisa minta tolong kepadanya untuk membantu menyembuhkan penyakit gilamu itu. Agar kau tidak lagi berbuat mesum pada kaum sendiri. Hik hik hik!"

Diam-diam Si Muka Setan terkejut. Semua yang diucapkan Puteri Pemalu merupakan sesuatu yang membuatnya menjadi faham dengan keadaan yang sebenarnya. Diam-diam dia melirik ke arah gadis di depannya. "Gadis gila ini sangat berbahaya. Jika dia tak kubunuh sekarang, dia bisa menghancurkan sega- la rencanaku. Tapi...!" Si Muka Setan terdiam, berfikir sejenak lalu menyeringai begitu terlintas satu akal di benaknya. "Tidak! Kematiannya bisa ku perpanjang. Aku akan memanfaatkan tenaganya. Dia akan kusu- ruh mencari pemuda jahanam bergelar Pendekar Sakti Gento Guyon. Rasanya aku tidak mungkin bisa hidup tenteram jika pemuda itu masih gentayangan di rimba persilatan."

"Kakak... apakah kau mau ikut denganku? Aku akan membawamu untuk menemui Mbah Petir. Dia pasti bisa menyembuhkan penyakitmu."

"Kau... ah namamu pun aku lupa!" kata si ne- nek yang memang tidak tahu siapa nama gadis berju- bah hijau itu.

"Hik hik hik! Begitulah kalau orang gila, nama saudara sendiri juga lupa, apalagi kalau gilanya masih baru. Namaku Puteri Pemalu, bukankah dulu kakak yang memberikan nama itu?" ujar si gadis. Seandainya saja Puteri Pemalu bukan gadis yang sakit ingatan. Tentu pertanyaan Si Muka Setan menimbulkan kecuri- gaan dihatinya. Tapi karena pada dasarnya fikiran ga- dis itu memang kurang waras, maka segala kejangga- lan yang dilihatnya dia anggap sebagai sesuatu yang biasa saja.

"Kau benar Puteri Pemalu. Setelah bertemu denganmu fikiranku jadi tambah kacau, apalagi seka- rang aku teringat pada sanak keluargaku yang dibu- nuh orang. Aku merasa berterima kasih atas perha- tianmu. Tapi aku tak bisa ikut denganmu karena diri- ku kini dalam keadaan terancam?" berkata begitu den- gan sangat sempurna sekali si nenek unjukkan mimik ketakutan. Puteri Pemalu menjadi iba sehingga dia meme- luk Si Muka Setan dengan sikap seakan melindungi. "Selama ada aku kau tak boleh takut. Ah, tubuhmu gemetar, keringat bercucuran. Siapakah orangnya yang telah membuatmu jadi begini?"

"Orang itu... masih sangat muda, rambut gon- drong bertelanjang dada. Di leher pemuda itu terdapat sebuah kalung bermata batu, namanya Kalung Batu Raja Langit. Kalung itu sangat berbahaya, dan benda laknat itu pula yang membuat aku jadi kurang waras begini. Andai saja kau bisa membawa pemuda itu pa- daku, atau membunuhnya dan merampas kalung itu sekaligus. Tentu aku tidak menghabiskan waktu den- gan segala penderitaan yang mendera diriku di dalam telaga itu. Aku takut, aku takut muridku!" kata si ne- nek sambil menyembunyikan wajahnya di celah dada Puteri Pemalu. Ketika wajah si nenek menyentuh celah dada si gadis sinting, nafasnya mengengah darah ber- gemuruh sedangkan jantung berdetak lebih cepat. Namun dia mencoba menahan diri dari segala macam rangsangan yang selalu bergelora di dalam jiwanya.

"Kakak, kau sangat ketakutan sekali." Kata Pu- teri Pemalu semakin mempererat pelukannya, hingga wajah buruk si nenek semakin terbenam di dada si ga- dis.

"Kau... kau betul. Aku sangat ketakutan sekali. Kumohon kau cari pemuda keparat itu. Tolong ba- laskan dendamku kepadanya." Pinta si nenek Muka Setan. Sambil mengangguk Puteri Pemalu lepaskan pe- lukannya pada si nenek. Dia surut dua langkah sekali lagi dia pandangi wajah si nenek seakan ingin memas- tikan bahwa perempuan yang baru dipeluknya Si Mu- ka Setan gurunya, bukan orang lain. Si nenek mena- han nafas, dia baru merasa lega ketika mendengar Pu- teri Pemalu berkata.

"Baiklah kakak. Jika menurut kenyataan yang sebenarnya sudah pantas sebagai murid aku membela kepentingan gurunya. Cuma ciri-ciri pemuda yang kau sebutkan itu membuatku heran?"

"Heran, apa yang membuatmu merasa seperti itu?" tanya si nenek dengan tatapan penuh selidik.

"Aku... aku...!" Puteri Pemalu, tutupkan ujung jubah ke wajahnya. *

"Katakan saja tak usah malu-malu.!"

Masih dengan malu-malu, si gadis sinting membuka mulut berucap. "Orang yang baru engkau sebutkan ciri-cirinya hampir sama dengan seseorang yang pernah kukenal. Rambut gondrong, tampan, ber- telanjang dada juga memakai kalung batu. Cuma aku tak tahu, batu mata kalung itu apakah batu kuburan atau batu kali."

"Hem, siapa nama pemuda itu?"

"Namanya... kalau tak salah adalah Bagus Awan Peteng!"

Kening Si Muka Setan kembali berkerut. "Cela- ka, jika sampai gadis gila ini ternyata jatuh cinta kepa- da pemuda itu." Batin si nenek dalam hati. Sambil ter- senyum dan penuh ketenangan dia berkata. "Mungkin pemuda yang kau sebutkan itu hanya kebetulan saja mempunyai ciri-ciri mirip dengan Pendekar Sakti Gen- to Guyon. Apakah kau jatuh cinta pada Bagus Awan Peteng?" berkata begitu si nenek melirik ke arah si ga- dis.

Puteri Pemalu tertawa sambil tutupi wajahnya dengan ujung kain jubah yang lebar. Dengan malu- malu dia menjawab. "Terus-terang aku memang jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Tapi kakak tak perlu risau, kalau ternyata nanti Bagus Awan Pe- teng itu cuma nama samaran, aku tetap berketat akan membawanya kepadamu!"

Semakin bertambah legalah perasaan si nenek. Dia lalu tersenyum. "Puteri Pemalu, kau memang sau- daraku yang baik. Kelak aku pasti akan membalas se- gala kebaikanmu ini dengan satu imbalan besar yang tak akan pernah kau lupakan sepanjang hidupmu. Hik hik hik!"

"Tak usah basa-basi kakak. Aku tidak mengha- rapkan apa-apa. Kau jangan membuat aku malu. Se- karang aku mohon pamit!" kata si gadis. Sambil berke- lebat tinggalkan tempat itu Puteri Pemalu sempat berpesan. "Kakak, aku akan kembali secepatnya. Jaga dirimu baik-baik!"

Si nenek Muka Setan sunggingkan seringai si- nis. "Satu lagi gadis gila tolol kena kuperdaya. Hik hik hik. Ternyata tidak sulit untuk menjalankan segala rencana dan cita-citaku!" gumam si nenek. Tak berse- lang lama setelah perginya Puteri Pemalu, maka nenek Muka Setan itupun berkelebat pergi tinggalkan telaga.

***

10

Sapa berdiri tegak mematung di depan pusara Si Muka Setan. Nyana yang duduk di atas bahunya ju- stru pada saat itu memandang dengan tercengang ke arah bangunan rumah besar yang kini telah sama rata dengan tanah. Bangunan itu bukan hanya hancur, ta- pi telah berubah menjadi kepingan debu yang tidak be- rarti.

Bagaimana mungkin rumah besar yang baru beberapa hari lalu ketika dia meninggalkannya masih dalam keadaan utuh, kini menjadi seperti itu. Siapa yang telah membakarnya? Apa yang dilihat Nyana ma- sih belum seberapa bila dibandingkan dengan rasa ka- getnya ketika melihat ke halaman dan ke sekeliling rumah yang terbakar. Dua hari yang lalu, ketika dia, Gento dan Roro Centil tinggalkan tempat itu banyak mayat-mayat para pengawal pertemuan bergeletakan disana. Tapi kali ini tak satupun mayat yang terlihat. Seolah mayat-mayat itu raib ditelan bumi.

"Aneh, apakah mungkin ada seseorang yang begitu baik hati menguburkan semua mayat pengawal di suatu tempat, dimana?" batin Nyana tidak habis memikir.

"Sejak tadi kau diam, nafasmu tersengal. Ge- rangan apa yang sebenarnya yang kau lihat!" satu sua- ra menyadarkan Nyana dari lamunannya. Dan orang yang baru bicara adalah si buta Sapa yang mendu- kungnya kemanapun mereka pergi.

"Mayat-mayat para pengawal itu, Sapa." "Mengapa mayat para pengawal yang kau bica-

rakan. Kita tidak datang kesini jika bukan untuk me- menuhi permintaan Gento untuk membongkar pusara Si Muka Setan!" kata Sapa seolah mengingatkan.

"Kau benar. Tapi telah terjadi ketidak beresan disini. Mayat-mayat itu lenyap. Seolah mereka hidup kembali, kemudian pergi berbondong-bondong ke sua- tu tempat entah kemana!"

"Nyana kau jangan menakut-nakuti aku!" ujar Sapa, suaranya pelan hampir tak terdengar.

"Aku bicara yang sebenarnya. Bahkan rumah besar itu sekarang sudah menjadi abu."

"Mungkinkah orang yang sudah mati, kepala bolong malah kehilangan otak dapat hidup kembali?" Nyana terdiam, sedangkan matanya meman- dang kesetiap sudut. Dan entah mengapa dia tiba-tiba merasa berpasang-pasang mata seperti tengah menga- wasi gerak-geriknya.

Nyana gelengkan kepala mencoba menghilang- kan segala bayangan menyeramkan yang menyelimuti jiwanya.

"Pernah mendengar ilmu Pembangkit Arwah Pemindah Jasad?" lirih Nyana ajukan pertanyaan.

Sepasang mata buta Sapa dan cuma merupa- kan bola mata memutih berkedip. Dia lalu mengang- guk. "Itu adalah ilmu langka milik salah seorang pen- tolan golongan sesat cabang atas. Konon pemilik dan ilmunya sendiri telah punah." Sahut Sapa.

"Sulit untuk dapat memastikannya. Tapi entah mengapa tempat ini dalam pandanganku berubah menjadi suatu tempat yang angker!" ketika berkata be- gitu Nyana memandang ke arah pusara. Dia melihat gundukan tanah pusara sudah tidak utuh lagi, batu nisannya yang bertuliskan nama Si Muka Setan juga nampak miring. Pusara itu seperti habis dibongkar, la- lu ditimbun kembali.

"Nyana, kita tak usah berlama-lama disini. Se- baiknya makam Si Muka Setan kita bongkar. Nanti se- telah kita dapat memastikan bahwa nenek itu yang memang telah dikuburkan disini baru kita timbun kembali."

"Tunggu...!"

"Ada apa lagi?" tanya Sapa tampak tidak sabar.

Nyana sebenarnya ingin mengatakan ketidak wajaran yang dilihatnya. Tapi entah mengapa lidahnya terasa berat untuk digerakkan.

"Ah, tidak apa-apa. Sekarang mari kita gali pu- sara ini!" Nyana lalu melompat dari bahu Sapa. Dengan menggunakan batu nisan juga potongan bamboo yang ditemukan di sekitar makam, kedua orang cacat ini mulai melakukan penggalian.

Tanah pusara itu ternyata sangat empuk. Hing- ga dalam waktu yang tidak berapa lama penggalian yang dilakukan sudah cukup dalam. Mungkin tidak sampai satu meter lagi mereka pasti sudah sampai di dasar makam. Selagi kedua laki-laki cacat yang biasa dipanggil dengan julukan Sepasang Dewa Berwajah Ganda sibuk melakukan tugasnya. Maka pada saat itu pula di angkasa terlihat kilat menyambar disertai gele- gar petir di samping mereka. Nyana terlonjak kaget, sedangkan Sapa melompat ke samping sebelah kiri kubur sambil menubruk saudaranya.

"Apa yang terjadi? Aku seperti mendengar suara gelegar petir. Nyana apakah kau melihat mendung di langit?" tanya Sapa dengan suara bergetar, tubuh menggigil ketakutan.

Dalam kagetnya Nyana dongakkan wajahnya ke langit. Dia tidak melihat tanda-tanda akan turunnya hujan. Langit tetap bersih, matahari bersinar terang, tapi yang aneh kegelapan menyelimuti sekitar tempat itu.

"Semoga ini bukan awal dari datangnya mala- petaka?!" Nyana menggumam dalam hati. Dugaan laki- laki berkaki buntung itu agaknya meleset karena pada detik itu juga angin tiba-tiba berhembus menerbang- kan kabut yang seolah datang dari segenap penjuru arah. Nyana tercekat, dalam takutnya dia berpelukan dengan saudaranya yang buta. Kemudian kilat kembali menyambar. Suara petir berdentum menghantam pe- pohonan disekitarnya juga membuat tanah makan di- mana kedua orang itu berada jadi rengkah terbelah, menimbulkan lubang memanjang yang sangat dalam. "Saudaraku apa yang terjadi?"

"Celaka, cepat keluar dari lubang ini!" teriak Nyana. Suara teriakan Nyana serta merta berubah menjadi jerit mengerikan. Dia dan saudaranya bukan saja tak mampu keluar menyelamatkan diri dari lu- bang kubur bersama saudaranya. Tapi juga ketika dia hendak melompat keluar tinggalkan lubang kubur yang belum selesai digali, di bagian dasar makam seca- ra tak terduga tanah terkuak lebar menyeret keduanya hingga terperosok ke dalam dasar lubang yang baru ternganga akibat sambaran petir.

Sapa dan Nyana berusaha menggapai sisi ka- nan kiri lubang dalam usaha menyelamatkan diri. Tapi usaha mereka sia-sia. Dalam tiupan angin keras yang diselingi dengan suara petir, kembali terdengar suara jerit menyayat disertai suara gemuruh bertautnya ta- nah yang sempat terbelah.

Blam!

Tanah bertaut, suara jeritan lenyap. Lubang kubur ikut pula lenyap rata dengan tanah. Suara petir terhenti, hembusan angin aneh yang sempat mempo- rak porandakan daerah itu juga mereda.

Kabut putih yang tadinya memenuhi daerah itu juga ikut pula lenyap berubah jadi kepulan asap yang membubung tinggi ke angkasa.

***

Laki-laki tua berambut kelimis berpakaian rapi warna kuning namun diwarnai tambal-tambalan ini duduk diam termenung di atas batu. Dua tangan di- pergunakan untuk mendekap lutut. Udara di senjata itu memang terasa dingin menusuk, apalagi saat itu dia berada di kaki gunung Salak sementara matahari sudah tenggelam dibalik bukit beberapa waktu yang la- lu. Dalam diamnya si kakek berfikir kemana dia harus mencari muridnya yang telah melarikan jimat sakti Li- sus Sukmo yang merupakan warisan keluarga sejak turun temurun. Berkat kehebatan jimat sakti itu dia diangkat menjadi Raja Pengemis oleh seluruh kaum pengemis di delapan penjuru angin. Tapi kini tanpa ji- mat itu kedudukannya sebagai raja pengemis juga bisa runtuh. Karena hanya orang yang memegang jimat Li- sus Sukmo sajalah yang dianggap memiliki kekuatan paling hebat dan juga dianggap paling mampu melin- dungi keamanan para kaum pengemis.

Diam berlama ditempat sesunyi itu ternyata membuat perasaan si orang tua jadi tidak enak. Dia memandang ke sekelilingnya. Saat itu kegelapan mulai menyelimuti daerah sekitarnya.

Si orang tua menarik nafas lalu menghem- buskannya kembali.

"Persoalanku dengan murid murtad itu me- mang menyangkut masalah yang tidak bisa dianggap sepele. Tapi aku sendiri sudah berjanji pada Gento un- tuk membantu mencarikan pembunuh para pendekar yang ikut pertemuan di Kiara Condong. Kurasa ini bu- kan masalah yang gampang. Walaupun berat namun aku tak mau menyalahi janji. Kurasa untuk sekarang ini alangkah baiknya jika aku mencari pembunuh ke- parat itu. Jika nanti persoalan ini telah selesai baru kemudian kucari pula muridku. Menak Sangaji, kau bakal menerima hukuman berat dariku. Bersusah payah aku mendidikmu tidak pernah kusangka setelah besar malah banyak menyusahkan aku!" rutuk Raja Pengemis Tangan Akherat geram.

Laki-laki tua itu baru saja hendak melompat turun dari atas batu ketika sayup-sayup dia menden- gar suara langkah kaki yang diselingi dengan suara orang bicara.

Timbul keinginan di hati laki-laki itu untuk bersembunyi. Akan tetapi belum lagi niatnya terlaksa- na di tempat itu muncul seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Laki-laki itu berwajah angker mengeri- kan, berkepala besar luar biasa, sedangkan matanya hanya merupakan dua buah garis mendatar. Mata hampir lenyap karena pelupuk mata seolah terdesak cairan yang terdapat di bagian atas kepalanya.

Walaupun Raja Pengemis merasa belum pernah bertemu dengan sosok berkepala besar berpakaian serba hitam ini. Paling tidak dia sudah dapat menduga siapa gerangan adanya sosok manusia aneh berkepala besar ini.

"Makhluk jahanam salah kaprah. Melihat ujud- nya aku menjadi muak. Aku yakin sekali dialah orang- nya yang telah membantai para pengawal pertemuan di Kiara Condong." Membatin Raja Pengemis dalam hati.

"Manusia berpakaian kuning. Melihat penampi- lanmu aku sudah dapat menduga siapa kiranya dirimu ini. Kau pasti Raja Pengemis Tangan Akherat? Kebetu- lan sekali, malam ini aku akan mendapat tambahan otak segar. Ha ha ha. Kudengar kau mempunyai fiki- ran dan pengalaman luas. Jika otakmu tergabung den- gan otakku, kurasa bagiku akan terbuka jalan lain un- tuk melakukan suatu pembalasan!"

"Manusia gila salah kaprah, bicara tak karuan kejuntrungannya. Bukankah dirimu ini yang dikenal dengan julukan Perampas Benak Kepala? Kau pula manusianya yang telah membunuh para pengawal per- temuan? Apakah ini berarti kau juga yang telah mem- bantai para pendekar juga beberapa tokoh cabang atas di dalam ruangan pertemuan?" hardik laki-laki itu sengit. Perampas Benak Kepala dongakkan wajahnya ke langit. Saat itu bulan mulai memancarkan ca- hayanya yang kuning keemasan. Tawa sosok berkepala besar itu bergema merobek kesunyian.

"Tidak layak kau ajukan pertanyaan seperti itu kepadaku. Kelak kau akan mendapatkan jawaban per- tanyaanmu setelah berada di neraka!" dengus Peram- pas Benak Kepala.

Raja Pengemis pada dasarnya adalah manusia yang paling tidak suka banyak bicara. Mendengar uca- pan Perampas Benak Kepala darahnya laksana mendi- dih, tubuhnya bergetar. Seumur hidup baru kali ini ra- sanya dia merasa tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain,

"Agaknya inilah saatnya aku memenuhi janjiku pada Gento. Aku yakin dia adalah pembunuh tengik yang telah membunuh banyak tokoh di Kiara Condong. Jika tidak kubereskan dia sekarang, kelak pasti akan menimbulkan bencana lebih besar lagi!" rutuk Raja Pengemis dalam hati. Sambil memandang sosok di de- pannya dengan tatapan dingin Raja Pengemis berkata. "Kau bicara tentang neraka? Seolah kau sudah menge- tahui seluk-beluk tempat terkutuk itu. Apakah kau yakin kau dapat mengirimkan ke sana?"

Perampas Benak Kepala tertawa terbahak- bahak. Setiap tawanya bergema di udara, maka kepa- lanya yang besar berkerenyutan tak mau diam tidak ubahnya seperti denyut jantung.

*** 11

Raja Pengemis diam-diam memperhatikan kea- nehan itu. Hingga dia berkesimpulan agaknya bagian kepala itu selain merupakan ancaman yang berbahaya bagi lawannya juga adalah titik kelemahan Perampas Benak Kepala. "Bagiku walaupun kau seorang raja, ta- pi tetap tak memiliki arti apapun dihadapanku. Apa susahnya mengirimkan ke sana? Sekarang juga aku akan melakukannya!" berkata begitu Perampas Benak Kepala melompat mundur. Kepala digelengkan siap menyerang dengan menggunakan kekuatan kepalanya. Di depan sana walaupun Raja Pengemis belum pernah berhadapan dengan manusia aneh ini namun sudah dapat menduga apa kiranya yang hendak dilakukan oleh lawan. Sehingga sambil keluarkan teriakan keras dia melesat ke depan, menyerbu sambil hantamkan kedua tangannya sekaligus. Satu tangan menghantam dada sedangkan tangan kirinya menghantam kepala, masing-masing dengan pengerahan tenaga dalam pe- nuh.

Perampas Benak Kepala tercekat tercekat, kon- sentrasinya buyar namun dia melompat ke samping. Hantaman di bagian dada luput, tapi tangan kiri lawan tetap menghantam bagian atas kepalanya.

Duuuk!

Begitu tangan membentur kepala lawan, Raja Pengemis tercekat. Kepala yang semula dikiranya me- rupakan bagian titik kelemahan lawan ternyata keras- nya melebihi batu. Bukan hanya itu saja, tangan Raja Pengemis yang dipergunakan untuk menghantam ke- pala terasa sakit luar biasa. Yang lebih mengejutkan lagi tubuh Raja Pengemis terlempar ke belakang seolah ada satu kekuatan hebat yang telah mencampakkan- nya.

Dalam keadaan meluncur jungkir balik, Raja Pengemis sambil memaki berusaha agar dia dapat ja- tuh dengan kaki menyentuh tanah terlebih dahulu. Walau goyah dan terhuyung, laki-laki itu memang da- pat melakukan apa yang dia harapkan. Tapi pada saat itu Perampas Benak Kepala telah menyerbu ke arah- nya sambil menghantam Raja Pengemis dengan se- rangkaian pukulan beruntun.

Deru angin yang ditumbulkan akibat pukulan lawannya membuat Raja Pengemis yang baru berusaha memperbaiki kuda-kudanya jadi terpelanting, jatuh bergulingan, namun laksana kilat masih dalam kea- daan menelungkup laki-laki itu melepaskan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.

Wuuut! Wut!

Saat Raja Pengemis mendorong kedua tangan- nya menanggapi serangan lawan, maka detik itu pula dari telapak tangan si orang tua memancarkan cahaya kuning menyilaukan, berbentuk bulat seperti lingka- ran. Perampas Benak Kepala jadi tercekat ketika mera- sakan seluruh pukulan yang dilepaskannya tersedot ke dalam cahaya lingkaran kuning yang semakin lama bergerak maju ke arah lawannya. Sosok penyedot otak tergontai, dia kembali hantamkan kedua tangannya ke depan. Angin panas menderu, tapi seperti tadi pukulan susulan yang dilepaskan lawan amblas tidak berbekas. Malah kini tubuh Perampas Benak Kepala ikut terseret mendekati lingkaran maut.

"Ilmu Penyedot Raga?!" Perampas Benak Kepala keluarkan satu seruan. Wajahnya mendadak berubah pucat. Tak bisa dia bayangkan bagaimana andai tu- buhnya masuk dalam lingkaran cahaya kuning itu. Bukan hanya tubuhnya saja yang amblas, tapi jiwanya sendiri pasti tidak ketolongan.

Manusia cerdik seribu akal ini cepat alirkan te- naga dalam ke bagian kaki. Setelah itu dua tangan di dorong, bukan ke arah lingkaran cahaya yang mena- riknya. Tapi ke arah tanah.

Wuuut! Buuum!

Satu ledakan berdentum, tubuh Perampas Be- nak Kepala melesat ke udara terdorong oleh tenaga pukulannya sendiri juga gerakkan kaki yang menjejak ke tanah. Selagi tubuhnya mengapung di udara. Maka Perampas Benak Kepala kerahkan seluruh tenaga sakti yang dia miliki ke bagian kepalanya. Ketika tubuhnya meluncur ke bawah, kaki menjejak tanah. Maka pada saat itu pula maka dari bagian depan maupun kedua sisi atas telinganya membersih cahaya biru terang yang semakin memanjang, berkelok-kelok seperti ular, lalu menyerbu ke arah Raja Pengemis.

Buuum!

Satu ledakan menggelegar mengguncang tem- pat itu saat salah satu sinar biru menghantam lingka- ran sinar kuning yang terpancar dari pukulan Raja Pengemis. Lingkaran sinar maut lenyap, sinar biru yang menembusnya terus bergerak ke arah Raja Peni- tis. Masih dalam keadaan terhuyung-huyung akibat benturan yang terjadi, Raja Pengemis selamatkan diri dari serangan tiga sinar yang mengejarnya dengan me- lompat ke belakang. Sadar akan bahaya yang mengan- camnya, Raja Penitis secepat kilat meraih cermin batu segitiga yang terselip di bagian pinggang. Tangan yang memegang cermin bergerak, cermin batu segitiga ber- kiblat menangkis tiga cahaya yang kini bergerak ke atas hendak menembus kepalanya. Angin menderu, hawa aneh dari cermin berta- bur di udara, cahaya putih yang memancar dari cermin menyambar tiga sinar biru yang keluar dari kepala la- wan.

Tes! Tes! Tes!

Terjadi benturan hebat, Raja Pengemis menda- dak menjerit. Cermin batu segitiga yang dipergunakan untuk menangkis jatuh terlepas dari genggamannya. Sedangkan tangan Raja Pengemis mengepulkan asap disertai terciumnya bau kulit hangus terbakar. Laki- laki itu melihat bukan hanya tangannya saja yang hangus, tapi senjata saktinya juga mengepulkan asap. Di udara saat terjadi benturan antara ketiga sinar den- gan cermin tadi sempat membuat ketiga sinar biru itu bergetar, kemudian berbelok arah tapi kemudian kem- bali meluncur menyerang Raja Pengemis.

"Jahanam tengik, celaka!" desis laki-laki itu. Cepat sekali dia jatuhkan diri bergulingan hindari ter- jangan sinar yang menghantam ke bagian kepalanya.

"Celaka. Andai jimat sakti itu ada ditanganku," desis Raja Pengemis putus asa ketika melihat ketiga sinar terus memburunya kemanapun dia menghindar selamatkan diri.

Agaknya laki-laki itu tak mungkin dapat melo- loskan diri dari ancaman maut yang bersumber dari serangan kepala lawannya itu. Beruntung pada saat yang menegangkan itu dari arah belakang Raja Penge- mis terdengar suara teriakan yang disertai dengan ber- kelebatnya dua sosok bayangan ke arah laki-laki itu.

"Berani membuat sahabatku celaka, kubunuh kau!" bersamaan dengan itu pula sinar merah dan si- nar putih berkiblat. Bukan menghantam tiga sinar maut tadi tapi melesat menghantam Perampas Benak Kepala. Si kepala besar tercekat, dalam keadaan ber- konsentrasi seperti itu dia tak mungkin menangkis pukulan yang datangnya tidak terduga ini. Walaupun begitu dengan gugup dia dorongkan kedua tangannya menyambuti.

Glaar! Wuaaak!

Perampas Benak Kepala jatuh bergulingan, ter- lempar sejauh tiga tombak. Tiga sinar maut yang me- nyerang Raja Pengemis lenyap. Di depan sana si kepala besar berusaha bangkit sambil merintih. Sedangkan sekujur tubuhnya hitam gosong, namun dia masih da- pat berdiri tegak sambil memandang ke depannya den- gan wajah pucat hati tercekat.

Dia melihat di depan sana berdiri tegak seorang pemuda berambut gondrong bertelanjang dada berce- lana hitam. Seuntai kalung melingkar dilehernya. Di samping si gondrong, disebelah kiri tak jauh dari Raja Pengemis nampak seorang gadis cantik berpakaian ungu memandang ke arahnya dengan tatap penuh ke- bencian. Di tangan gadis itu tergenggam sebilah pe- dang yang dilintangkan ke depan dada.

"Hampir saja nyawaku amblas ditangan keparat kepala besar itu. Untung kau cepat datang Gento. Aku berhutang nyawa padamu!" kata Raja Pengemis sambil memungut kaca batu segitiga sambil memeriksa senja- ta sakti itu. Ternyata cermin batu tidak mengalami ke- rusakan walaupun tadi dipergunakan untuk menang- kis benturan ketiga sinar sakti lawannya.

Gento tersenyum, namun tetap matanya tetap tertuju lurus ke depan. Sesaat Pendekar Sakti Gento Guyon dan Perampas Benak Kepala saling berpandan- gan.

"Hati-hati, manusia itu sangat berbahaya!" Raja Pengemis yang telah berdiri di belakang Gento membe- ri bisikan.

"Inilah bangsatnya yang telah banyak melaku- kan pembunuhan. Kejahatannya tak mungkin untuk diampuni. Hem... kepala besar begitu rupa. Apakah isinya benar-benar otak sungguhan atau cuma ampas kotoran. Kepala di atas besar bukan main apakah ke- pala yang dibawah juga besar? Ha ha ha!" kata Gento disertai tawa tergelak-gelak.

Perampas Benak Kepala menggeram. Ucapan pemuda itu membuat wajahnya menjadi merah padam. "Pemuda edan! Diantara sekian banyak orang

yang kucari, kaulah yang paling kuinginkan. Jiwa bu- sukmu yang kuanggap paling berharga saat ini. Seka- rang lebih baik kau menyerah untuk kubawa ke satu tempat!" hardik Perampas Benak Kepala tegas.

"Jangan ikuti apa yang dimintanya!" kata Sri- widari pelan.

Gento tertawa bergelak. "Walaupun edan, tapi aku belum gila untuk mengikuti apa yang dimintanya. Malah malam ini aku seharusnya menagih hutang jiwa orang-orang yang tidak berdosa yang telah terbunuh ditangannya!" sahut Gento. Lalu dia bicara ditujukan pada Perampas Benak Kepala. "Perampas Benak Kepa- la. Kulihat kepalamu sudah penuh, melar hingga tu- buhmu jadi tak seimbang. Atas nama kemanusiaan, aku akan memecahkan kepala itu sekarang juga. Tapi sebelum satu kebaikan ini kulakukan untukmu, kau harus menjawab pertanyaanku, kau melakukan segala kejahatan ini untuk siapa?" tanya si pemuda.

Perampas Benak Kepala menanggapi perta- nyaan Gento dengan tawa panjang. "Nantinya kau pas- ti akan tahu jawaban yang kau minta bila otakmu te- lah menyatu dalam kepalaku!" jawab laki-laki itu sing- kat.

"Begitu. Mengingat otakku besar, mana mung-

kin dapat memasuki kepalamu. Karena itu aku harus membelahnya dulu!" sahut Gento. Dalam hati dia ber- kata. "Dia tidak mau mengatakan apa yang kuingin- kan. Sekarang tinggal memastikan jika ternyata nanti dia tidak memiliki ilmu pukulan Beracun berarti selain dia masih ada orang lain yang bertanggung jawab da- lam pembunuhan itu!"

"Pemuda edan, kau diam. Apakah ini berarti kau telah siap menyerahkan kepalamu?" teriak Peram- pas Benak Kepala. Dalam hati pula dia berkata. "Aku akan mengacaukan perhatian pemuda ini. Akan kuse- rang mereka bertiga sekaligus, terlebih-lebih gadis itu. Dari sinar matanya aku melihat gadis berbaju ungu itu menaruh rasa kasih yang begitu besar pada Gento. Hmm."

"Aku telah siap, kepala besar. Mengapa kau ti- dak segera bertindak!" sahut Gento.

Perampas Benak Kepala keluarkan suara menggerung. Laksana kilat tubuhnya melesat ke de- pan, lancarkan satu serangan menggeledek ke arah pemuda itu sambil lepaskan tendangan beruntun. Dengan mengandalkan jurus Congcorang Mabuk, Gen- to hindari serangan lawan, sementara tubuhnya nam- pak menghuyung tak karuan, dua tangan digerakkan ke depan menangkis serangan lawan. Perampas Benak Kepala menemui satu kenyataan tak satupun serangan ganas yang dilancarkannya mengenai sasaran yang dia harapkan. Si banyak akal ini kemudian melompat ke udara. Begitu tubuhnya mengambang kakinya berpu- tar menyapu kepala Gento. Gento cepat tundukkan kepalanya, kemudian melompat mundur seperti orang mau jatuh, tapi cepat menghantam ke atas dengan pu- kulan Dewa Menangis Iblis Tertawa. Pukulan ini ada- lah warisan gurunya Gentong Ketawa. Sinar merah berkiblat, menderu di udara lalu menghantam kaki la- wannya. Hantaman keras dibagian kaki membuat la- wannya terpental, menjerit, lalu jatuh terbanting se- jauh dua tombak. Perampas Benak Kepala meringis kesakitan, kedua kakinya terasa panas seperti ter- panggang. Tanpa menghiraukan rasa sakit yang men- deranya dia berjumpalitan begitu rupa, sehingga kini dia dapat berdiri tegak dan langsung kerahkan tenaga saktinya ke bagian kepala siap melancarkan serangan mautnya.

"Gento, hati-hati. Dia hendak mengerahkan si- nar penyedot otak dari kepalanya." Satu suara berseru memperingatkan. Dan yang baru bicara tadi adalah sahabatnya Raja Pengemis.

Gento maklum betapa berbahayanya jika lawan menggunakan kekuatan kepalanya. Masih dengan menggunakan rangkaian jurus Congcorang Mabuk pemuda itu segera lakukan satu gerakan yang mem- buat tubuhnya melesat ke arah lawan. Dua tangan lalu dihantamkan ke bagian kepala

Buuuk!

Hantaman keras tidak membuat lawannya ja- tuh, kepala itu juga tidak bergeming. Malah Gento me- rasakan tangannya seperti menghantam batu, sedang- kan tubuhnya seperti dilemparkan ke belakang.

Pendekar Sakti Gento Guyon jatuh terduduk. Seolah tak merasakan suatu akibat apapun dia bang- kit berdiri, memandang ke depan dengan mata mende- lik tapi siap melancarkan pukulan Dewa Awan Menge- jar Iblis. Ilmu pukulan ini didapatnya dari Tabib Setan. Sekejab saja kedua tangan Gento telah berubah me- mutih laksana perak hingga kebagian pangkal lengan. Laksana kilat didahului dengan teriakan keras si pe- muda melompat sekaligus hantamkan dua pukulannya ke arah lawan.

Cahaya putih menyilaukan menyambar di uda- ra, melesat deras ke arah Perampas Benak Kepala. Ta- pi sinar itu begitu hampir menyentuh tubuh lawannya sekonyong-konyong terhenti seakan ada tembok gaib yang menahannya. Sejalan dengan tertahannya puku- lan Gento dari kepala lawan membersit keluar sinar bi- ru. Sinar itu bukan sana membuat pukulan Gento ter- sedot lenyap dalam kepala lawan tapi juga kini menye- rang Gento, Sriwidari dan Raja Pengemis yang berjaga- jaga tak jauh di belakangnya. Raja Pengemis yang su- dah mengetahui kehebatan ilmu lawannya ini dengan pengerahan tenaga dalam penuh langsung kiblatkan cermin batu segitiga ditangannya. Sehingga sinar maut yang hendak menjebol batok kepalanya itu membelok ke arah kiri menghantam pohon besar mengeluarkan suara berdentum. Pohon hangus roboh mengeluarkan suara berisik.

Sedangkan Sriwidari sendiri begitu melihat si- nar biru yang memancar dari kepala lawan segera kib- latkan pedangnya menangkis, tapi dia terkejut ketika melihat kenyataan pedang yang dipergunakan untuk menangkis langsung meleleh. Malah sebagian sinar te- rus menyerbu ke arah kepalanya. Si gadis tercekat, mencoba selamatkan diri dari jangkauan sinar dengan melompat ke belakang. Sayang gerakannya kalah ce- pat. Dilain saat terdengar suara letupan mengerikan yang disertai jeritan Sriwidari. Raja Pengemis yang hendak menolong gadis itu tak dapat lakukan niatnya karena pada saat itu sinar biru yang datang kemudian kembali menyerangnya. Tak tertolong lagi Sriwidari terbanting roboh, kepala hancur mengerikan, isi otak- nya bertaburan.

Gento yang melihat semua itu keluarkan suara raungan marah. Tapi dia sendiri saat itu juga sedang berada dalam posisi yang sulit, apalagi sedikitnya ada enam sinar maut yang menyerangnya dari enam juru- san. Kalang kabut sambil keluarkan keringat dingin Gento jatuhkan diri ke tanah, bergulingan lalu mele- paskan pukulan saktinya secara bertubi-tubi ke arah lawan. Seperti tadi pukulan yang dilepaskannya hanya sia-sia, tersedot amblas ke dalam sinar biru. Dalam keadaan diri terancam, bahaya besar begitu rupa ada keinginan di hati si pemuda untuk menggunakan gada saktinya. Tapi semua itu akan memakan waktu. Tak ada jalan lain, dia teringat pada kalung Batu Raja Lan- git pemberian Manusia Seribu Tahun. Dia pun lalu sa- lurkan tenaga ke dada, setelah itu dia mengusap mata kalung tiga kali sambil membayangkan wajah Manusia Seribu Tahun.

Gento berteriak. "Hantam bagian titik kelema- han manusia jahanam itu!" Batu bergetar, sinar putih menyilaukan mata membersit, berkiblat di udara me- mancar laksana seterang sinar matahari lalu menderu laksana gelombang kilat menghantam sisi kepala Pe- rampas Benak Kepala.

Blaaam! Jeeees!

Satu ledakan berdentum terdengar disertai dengan bunyi sesuatu seperti kulit kepala yang bocor ditembus mata pedang. Di depan sana terdengar suara jeritan menyayat. Lawan terpelanting roboh, sisi atas telinga kirinya robek besar. Dari bagian yang robek itu- lah darah dan cairan otak menyembur keluar. Roboh- nya Perampas Benak Kepala membuat sinar maut- maut yang menyerang Gento lenyap, begitu pula sinar yang menyerang Raja Pengemis. Di depan sana lawan merintih, semburan otak semakin bertambah banyak seolah bendungan anak sungai yang jebol. Dengan menyemburnya cairan otak maka kepala Perampas Benak Kepala berangsur men- gecil menyusut dan kembali ke ukuran normal.

Gento tak menyia-nyiakan kesempatan. Dia se- gera melompat ke arah lawan, satu tangan ditekankan ke arah leher. Dari mulutnya keluar satu pertanyaan disela-sela dengus nafas dan erangan marah. "Katakan siapa yang telah menyuruhmu melakukan semua ini?"

Sosok laki-laki itu mengerang, kepalanya yang keriput mengecil menggeleng. Gento memperkeras ce- kikannya pada leher lawan.

"Cepat katakan siapa orang itu?" hardik Gento sengit. Sekali lagi lawan gelengkan kepala. Cekikan Gento yang keras membuat kematian Perampas Benak Kepala semakin bertambah cepat.

"Katakan... katakan...!" teriak pemuda itu lagi. Percuma saja dia berteriak. Karena nyawa lawannya telah amblas dalam cengkeraman maut.

"Gento sahabatku sudahlah. Agaknya kau ha- rus berusaha lebih keras lagi untuk memecahkan mis- teri pembunuhan ini. Sekarang sebaiknya kita urus mayat sahabatmu." Kata Raja Pengemis.

Ucapan orang tua itu mengingatkan Gento pada Sriwidari. Dia bangkit berdiri. Masih dengan perasaan marah dan kecewa Gento hampiri Sriwidari. Pemuda itu tercengang, mata membelalak melihat betapa kepa- la sahabatnya hancur mengerikan sedangkan benak- nya bertaburan.

"Sri... walah... Sriwidari, mengapa segalanya berakhir begini?" desis Gento dengan perasaan sedih, tanpa sadar dia teteskan air mata. "Jahanam itu telah pun binasa, tapi aku yakin masih ada yang lain. Saha- batku aku bersumpah akan mencari bangsat itu. Akan kubunuh dia agar arwahmu tidak penasaran!" desis Gento kemudian. Melihat bagian kepala si gadis kema- rahan Gento makin meluap, untuk pertama kalinya dalam hidup dia seolah merasa kehilangan, kehilangan sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"Sebaiknya kita kuburkan dia!" kata Raja Pen- gemis yang diam-diam merasa berterima kasih pada pemuda itu karena telah menyelamatkan dirinya.

"Baiklah paman. Tolong bantu aku!" sahut Gen- to. Dengan tubuh terasa lunglai dia membantu Raja Pengemis mengangkat jenazah Sriwidari. Perlahan ke- duanya lalu tinggalkan tempat itu.

TAMAT