Gento Guyon Eps 12 : Ki Anjeng Laknat

 
Eps 12 : Ki Anjeng Laknat


Matahari hampir tenggelam ke balik peraduan- nya saat pemuda gondrong bertelanjang dada dan ka- kek berbadan gendut besar luar biasa itu sampai di sebuah tebing sungai Topo Wates. Beberapa saat la- manya si gondrong dan si gendut yang bukan lain ada- lah Gento Guyon dan gurunya kakek gendut Gentong Ketawa menelusuri tebing curam di tepi sungai Topo Wates ini mendadak hentikan langkahnya. Si kakek gendut memandang lurus ke depan, orang tua ini ke- mudian menarik nafas.

"Matahari baru saja tenggelam, mengapa dae- rah ini cepat sekali berubah gelap. Padahal tebing ini tidak terlindung oleh pepohonan tinggi atau gunung menjulang." berkata si kakek dengan suara perlahan namun juga ada sekelumit rasa heran dalam nada su- aranya itu.

Si gondrong bercelana biru sama mengawasi tempat sekelilingnya. "Keadaan seperti ini apa aneh- nya. Kiara Condong masih jauh dari sini. Sebaiknya ki- ta teruskan saja perjalanan ini!" ujar si gondrong me- nanggapi. Gentong Ketawa gelengkan kepala.

"Perjalanan tidak diteruskan malam ini. Aku perlu mencari tempat berlindung untuk melepas lelah. Besok pagi sekali baru kita lanjutkan perjalanan kita!"

"Mengapa begitu? Aku tidak merasa lelah. Ka- lau guru mau bermalam di sini sendirian silahkan, se- dangkan aku tetap melanjutkan perjalanan seorang di- ri." kata Gento.

"Rupanya kau tahu arah ke Kiara Condong?" tanya si kakek gendut, lalu cibirkan mulutnya.

"Ha ha ha. Ndut... gendut. Itulah gunanya punya mulut. Walau aku kurang tahu letak daerah itu. Di perjalanan aku bisa bertanya pada siapa saja yang kujumpai disana. Aku akan menuju ke arah matahari terbit. Bukankah daerah yang hendak kita tuju letak- nya seperti yang kusebutkan tadi?"

Si kakek gendut unjukkan wajah cemberut. Tanpa pernah terduga tangan kirinya berkelebat me- nyambar. Tahu-tahu kini bahu kiri Gento sudah bera- da dalam cengkeraman gurunya.

"Hei, apa-apaan ini gendut? Apakah kau sudah gila!" teriak si pemuda. Lalu dengan gerakan cepat Gento Guyon gerakkan bahunya yang dicengkeram gu- runya. Tapi jangankan terlepas, sebaliknya akibat ge- rakan meloloskan diri yang dilakukannya membuat cengkeraman semakin bertambah keras. Sakit yang di- timbulkan akibat cengkeraman itu sungguh sangat luar biasa sekali.

"Kau tidak pernah pergi kemanapun, apalagi untuk pertemuan para pendekar di Kiara Condong tanpa diriku! ha ha ha."

"Gendut sinting. Kau berlaku sesuka hatimu pada muridmu. Jangan salahkan jika aku terpaksa bersikap kurang ajar!" selesai berucap dengan gerakan cepat bukan main si pemuda memutar tubuhnya, lalu sikunya dihantamkan ke dada gurunya yang gembrot.

Desss!

Tak menyangka mendapat serangan seperti itu dari muridnya. Tubuh besar dengan bobot lebih dari dua ratus kati itu jatuh terpental. "Walah bocah edan, memukul tidak bilang!" damprat si kakek. Dengan ge- rakan ringan si kakek bangkit berdiri. Ia usap dadanya bekas pukulan yang berwarna kemerahan. Di depan- nya Gento Guyon berdiri berkacak pinggang.

"Kau mau minta tambah lagi ndut?" tanya Gen- to disertai seringai mengejek.

Kakek gendut Gentong Ketawa tersenyum sinis

pula.

Enak saja dia menjawab. "Boleh juga, sudah

lama aku menginginkan hal seperti ini. Pukulan dan tendangan bisa membuat badanku seperti dipijit. Tapi jika cuma pukulan seperti yang kau lakukan ini, bagi- ku tidak ada artinya sama sekali. Sekarang carilah ba- gian tubuhku yang paling empuk, kau boleh menghan- tam bagian mana saja yang kau suka. Ha ha ha." Dan si gendut pun kemudian tertawa gelak-gelak.

Baru saja murid si Gento Guyon hendak men- gatakan sesuatu, mendadak sontak terdengar suara bergemuruh hebat yang datang dari arah sebelah sela- tan muara sungai Topo Wates. Gento tercekat, sebalik- nya tawa si kakek lenyap seketika. Orang tua itu me- mutar badan menghadap langsung ke arah terdengar- nya suara menggemuruh yang semakin bertambah ke- ras itu.

Dalam kegelapan petang menjelang malam, murid dan guru sama pentang matanya lebar-lebar. Tak ada kata yang terucap, namun baik Gento dan si kakek tanpa sadar segera bersikap waspada.

Suara bergemuruh semakin mendekat disertai dengan hembusan angin kencang yang pada akhirnya diiringi dengan munculnya cahaya putih bergulung- gulung ke arah si kakek.

Melihat cahaya putih yang datang bersama pu- saran angin bergemuruh yang menyergap ke arah si kakek. Maka Gento pun berteriak keras.

"Gendut menyingkir!"

Dan sebelum teriakan si pemuda lenyap si gen- dut dengan gerakan cepat jatuhkan diri lalu bergulin- gan menjauhi sergapan cahaya putih itu. Serangan ca- haya aneh yang datang ini begitu luput dari sasaran- nya kini malah menyerang ke arah Gento yang berdiri di depannya. Tak tinggal diam pemuda itu hantamkan kedua tangannya yang telah teraliri tenaga dalam ke arah cahaya putih yang begulung berputar ke arahnya. Begitu dua tangan dilontarkan sinar merah menderu, sedangkan sosok Gento melesat ke udara.

Buuuum!

Benturan yang demikian keras tidak membuat pecahan cahaya putih itu hancur atau tercerai berai. Malah kini setelah bergetar hebat bergerak ke kiri me- labrak Gentong ketawa. Si kakek tercekat, dia melihat di sebelah sana Gento baru saja jejakkan kakinya. Wa- laupun saat itu suasana dalam keadaan gelap, namun agaknya si kakek tahu muridnya mengkhawatirkan keselamatannya.

Sama seperti apa yang dilakukan oleh Gento tadi, si gendut pun tanpa membuang waktu segera do- rongkan kedua tangannya ke arah lingkaran cahaya yang berpilin-pilin mengejar ke arahnya.

Wuuut! Plesh!

Satu keanehan yang sulit dipercaya terjadi. Sa- tu gelombang angin yang bersumber dari pukulan si kakek menderu dan menghantam lingkaran cahaya putih yang bergerak disertai hembusan angin keras luar biasa. Tapi yang mengherankan dan membuat si gendut geleng kepala, hantaman bertenaga dalam ting- gi yang dilepaskannya tadi sama sekali tidak membawa akibat apa pun sebagaimana yang diharapkannya. Ma- lah kini Gentong Ketawa merasakan seolah tubuhnya ikut tertarik memasuki lingkaran cahaya putih yang terus bergerak ke arahnya.

Dalam keadaan heran bercampur rasa kecut itu si kakek kembali mengumbar pukulan-pukulan maut- nya. Tapi gerakan maupun serangan yang dilakukan- nya ini saking kerasnya daya tarik sang cahaya di da- lam pandangan muridnya segala gerakkan yang dila- kukan si kakek seolah seperti gerakan orang tenggelam menggapaikan tangannya.

"Guru.... apa-apaan kau?" seru Gento yang menganggap gurunya terus bercanda.

Pada saat itu si kakek semakin tenggelam da- lam lingkaran cahaya putih. aneh yang mengurungnya. "Gento... kau larilah selamatkan dirimu!" dalam keadaan terjebak demikian rupa si kakek berteriak memberi ingat pada muridnya. Melihat keadaan gu- runya yang seperti tidak berdaya. Barulah Gento men- gerti bahwa yang dilihatnya tadi bukan suatu kenya- taan yang dibuat-buat melainkan satu bukti bahwa gurunya saat itu tengah menghadapi satu masalah rumit tak terpecahkan. Apapun dan dari manapun asal usul cahaya putih yang datang bersama hembusan to- pan puting beliung itu Gento tidak tahu sama sekali. Hanya pemuda itu merasa pasti ada sesuatu yang ti- dak beres bakal segera terjadi. Karena itu dengan hati diliputi perasaan tegang Gento mencoba menolong gu- runya. Dia melompat ke depan, tangan kiri siap mele- paskan pukulan sakti Raja Dewa Ketawa sedangkan tangan kanan siap menghantam dengan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis. Masing-masing pukulan sakti itu adalah warisan gurunya Gentong Ketawa dan Tabib

Setan.

Dua tangan siap di dorongkannya ke depan. Tapi tak urung si gondrong bertelanjang dada ini di- buat melengak ketika melihat kini betapa sosok gu- runya kini sudah terangkat naik terbungkus dalam lingkaran cahaya putih yang terus berputar seperti gasing.

"Guru... apa yang terjadi dengan dirimu!" teriak

Gento cemas.

Dari balik cahaya sebening kaca mulut si kakek nampak bergerak-gerak seolah memberi jawaban. He- rannya Gento sama sekali tak dapat mendengar suara gurunya. Seolah suara si kakek terhalang satu tembok kaca.

"Kurang ajar! Bagaimana semua ini bisa terja- di?" seru Gento sengit dan tanpa fikir panjang lagi dua tangannya langsung dihantamkan ke atas.

Wuuuues! Wuuus!

Sinar merah dan sinar biru berkiblat melesat cepat dari telapak tangan pemuda itu, tapi karena ja- rak sasaran sudah sangat jauh dari jangkauan maka pukulan Gento yang menghantam tepat pada sasaran tidak menimbulkan akibat apa-apa. Sementara itu ca- haya putih yang berhasil memulas dan menggulung tubuh si gendut kini terus melesat bersama si kakek yang telah diringkusnya.

"Celaka, guru...?!" desis si gondrong. Tanpa membuang waktu lagi pemuda ini mengejar ke arah lenyapnya Gentong Ketawa. Sampai di satu tempat dia terpaksa hentikan pengejaran begitu melihat cahaya yang membawa gurunya mendadak raib dari pandan- gan mata.

"Kurang ajar? Tidak akan ada cahaya yang mampu membawa guruku. Aku yakin cahaya itu pasti berasal dari ilmu kesaktian seseorang. Tapi siapa orangnya yang memiliki ilmu sehebat itu. Guruku yang gendut saja mampu diringkus dan dibawanya, apalagi aku? Kemana aku harus mencari. Mungkinkah ada se- seorang yang tidak menghendaki aku dan guruku pergi ke Kiara Condong? Aku mencium adanya satu gelagat yang tidak baik. Aku harus menyelidiki semua ini. Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diingini pada si gendut. Malam begini gelap, apakah aku harus terus mengejar guruku atau bermalam di daerah ini." kata Gento seorang diri.

Pemuda ini menarik nafas pendek. Kemudian dia duduk di atas gundukan batu besar. Dia terdiam, tercenung dan mencoba memikirkan segala suatu yang baru saja terjadi pada gurunya. Selagi Gento terom- bang ambing dalam fikirannya sendiri. Pada saat yang sama hidungnya mengendus bau sesuatu yang sangat menyengat. Bau kemenyan.

Gento melengak kaget, cepat dia palingkan ke- pala dan memandang ke arah mana bau menyengat yang membuat dingin tengkuknya itu berasal. Tidak ada sosok apapun yang terlihat, terkecuali kegelapan yang demikian pekatnya.

"Aneh, tidak ada siapapun, tidak ada pula hembusan angin. Tapi aku mencium bau aneh ini ber- campur bau orang yang sudah hampir mati. Jangan- jangan memang ada mahluk halus pemakan kemenyan gentayangan di sekitar tempat ini?" fikir si pemuda.

2

Tak lama berselang belum lagi hilang rasa he- ran di hati sang pendekar, mendadak terlihat ada ca- haya putih laksana kilat menyambar dari langit. Seke- tika kegelapan di sekitar bibir tebing di tepi sungai Topo Wates berubah menjadi terang benderang. Dan pemuda itu mengusap matanya beberapa kali ketika melihat di sebelah kirinya entah dari mana datangnya muncul kabut putih tebal mengapung di udara dalam ketinggian tidak lebih dari setengah tombak. Selagi pemuda itu diliputi rasa heran yang amat sangat, ca- haya kilat lenyap dan suasana di sekeliling tempat itu kembali di saput kegelapan.

"Anak manusia yang bernama Gento Guyon. Lihat dan pandanglah kemari!" satu suara berseru membuat Gento melengak kaget dan berpaling ke arah mana suara tadi terdengar. Kali ini Gento benar-benar melengak kaget. Tidak jauh di sebelah kirinya dimana tadi kabut putih munculkan diri kini berdiri tegak se- sosok tubuh. Sosok dalam rupa seorang kakek tua renta bermata jernih dengan tatap matanya yang me- nyorot tajam namun mengandung sejuta kasih dan ke- lembutan. Sosok kakek itu berpakaian serba putih, kedua pipi cekung, gigi putih laksana kilauan mutiara. Sedangkan di atas kepala orang tua ini bertengger se- buah songkok putih yang menutupi rambutnya yang juga putih dalam keadaan tergelung.

Melihat kemunculan orang tak dikenal, timbul kecurigaan di hati sang pendekar bukan mustahil ke- munculan orang tua berwajah bersih seakan tanpa do- sa ini ada kaitan dengan lenyapnya sang guru.

Walaupun begitu Gento untuk beberapa saat lamanya tak mampu bicara apapun melihat kemuncu- lan orang tua yang tidak terduga ini.

"Pemuda gondrong, aku datang untuk menjem- put mu lalu membawamu ke suatu tempat yang jauh dari gemerlapnya kehidupan dunia." kembali si kakek berucap.

Gento tersenyum, lalu ajukan pertanyaan. "Orang tua siapa dirimu ini? Kau mengatakan hendak menjemputku dan meninggalkan gemerlapnya kehidu- pan dunia. Maksudmu apakah kau hendak membawa- ku ke akherat?"

Kakek di depan Gento tersenyum. Dia kemu- dian menjawab. "Kau boleh memanggilku Manusia Se- ribu Tahun. Aku bukan hendak membawamu ke akhe- rat. Tapi ke satu tempat yang kuberi nama Alam Batas Kehidupan."

Gento tertawa bergelak. Sesaat setelah tawanya lenyap dia berucap. "Alam Batas Kehidupan? Tempat apakah itu? Apakah alamnya orang-orang sekarat dan mereka yang hendak mati? Huh...orang tua, siapapun dirimu. Ketahuilah sekarang ini fikiran ku sedang pus- ing, begitu banyak persoalan yang harus kuselesaikan bersama guruku. Tapi entah siapa yang punya ulah, mendadak guruku lenyap entah dibawa kemana oleh cahaya putih celaka. Atau mungkin kau tahu kemana cahaya putih itu membawa guruku?" tanya sang pen- dekar sambil menatap sosok kakek yang berdiri men- gambang di atas tanah.

"Mengenai gurumu tidak susah kau fikirkan. Nasibnya tergantung apa yang dia lakukan. Takdir apapun yang terjadi pada gurumu, semua itu merupa- kan kehendak Gusti Allah, tak seorang pun manusia yang dapat menentang takdir kehendak Tuhan!" si ka- kek menjawab.

"Orang tua, apa yang kau katakan adalah sua- tu kenyataan yang tidak dapat ku pungkiri. Tapi terus terang aku tidak dapat pergi begitu saja tanpa aku ta- hu bagaimana nasib guruku!"

"Bocah nakal, waktuku tidak banyak. Sudah kukatakan jangan kau fikirkan gurumu. Kau harus ikut denganku, sekarang juga!!" tegas si kakek namun tetap dengan nada lembut membujuk.

Sang pendekar menyeka wajahnya, memandang ke arah si kakek sesaat kemudian tawanya pun mele- dak.

"Kakek aneh, aku bukan barang yang gampang

di tenteng mudah dibawa. Aku juga bukan bocah tolol yang mau ikut dengan orang yang tak kukenal begitu saja, tanpa kuketahui maksud dan tujuanmu memba- waku. Jika kau tak mau mengatakan tujuanmu yang sebenarnya, jangan harap aku ikut denganmu!" tegas Gento.

"Hem." si kakak menggumam sambil usap-usap jenggotnya yang putih berkilau. "Gento... aku memba- wamu ke tempat kediamanku karena aku ingin menja- dikan mu sebagai seorang pendekar sakti. Seorang pendekar bukanlah seperti dirimu yang sekarang. Kau harus digembleng lagi secara lahir batin. Hingga kelak bukan hanya keadaan lahirnya saja yang menjadi ko- koh, tapi sebaliknya batinmu juga akan memiliki ke- kuatan yang seimbang. Harusnya kau patut bersyukur kepada Gusti Allah karena kau terpilih olehku menjadi manusia yang kuharapkan dapat menegakkan keadi- lan dan menjadi pembela kebenaran, menolong kaum lemah yang tertindas dari tangan penguasa yang sewe- nang-wenang dan kejamnya kehidupan dunia ini. Itu adalah bagian yang terkecil yang perlu kusampaikan kepadamu. Sekarang bersiap-siaplah kau untuk mela- kukan perjalanan denganku!" berkata begitu kakek yang mengaku bergelar Manusia Seribu Tahun itu tan- pa terduga julurkan tangannya. Anehnya tangan yang terjulur itu mendadak berubah panjang, meliuk berke- lok-kelok bagaikan lidah siap melilit tubuh sang pen- dekar.

Meskipun Gento sempat dibuat heran juga me- lihat tangan si kakek dapat berubah sedemikian rupa. Tapi Gento tak kehilangan kewaspadaannya. Ketika dia melihat tangan si kakek mencengkeram ke arah ping- gang pemuda ini melompat mundur selamatkan diri sambil melepaskan pukulan mautnya.

Wuuus!

Dari telapak tangan Gento lidah api mencuat dan menyambar tangan si kakek. Orang tua ini diam- diam terkejut, tapi kemudian mengumbar senyum sambil berkata. "Pukulan Selaksa Duka? Sungguh pu- kulan seperti itu dimataku menjadi tidak berguna!"

Habis berkata tangan si kakek yang terjulur dan berubah menjadi panjang itu kemudian sengaja di tadahkan.

"Sengaja mencari mati, buntung tanganmu!" desis si pemuda dalam hati. Dan dengan telak pukulan itu menghantam tangan si kakek.

Besss!

Dengan telak pukulan yang dilancarkan Gento mengenai sasarannya. Tapi sungguh aneh pukulan yang menghantam tangan kakek itu sama sekali tidak mengakibatkan apapun bagi Manusia Seribu Tahun.

"Bukan aku bicara sombong andaipun kau per- gunakan seluruh ilmu pukulan yang kau miliki. Bagi- ku semua itu tidak akan ada gunanya. "kata si kakek.

Mendengar ucapan orang yang terkesan men- cemooh itu Gento jadi kesal sehingga tanpa bicara apapun murid si kakek gendut Gentong Ketawa ini se- cara bertubi-tubi dan silih berganti mengumbar puku- lan mautnya.

Pukulan maut yang dilepaskan secara berun- tun itu menimbulkan ledakan-ledakan keras mengge- legar membuat tebing di pinggir sungai itu laksana di guncang gempa. Tapi kenyataan yang terjadi di depan- nya sungguh membuat Gento jadi tercengang. Sosok kakek di depannya sana walaupun terkena pukulan Gento yang bertubi-tubi, jangankan terluka atau ro- boh, sedang bergeming pun tidak.

"Celaka! Kakek ini kukira bukan manusia bena- ran, tapi mungkin setan yang menjelma menjadi ma- nusia? Jika dia memang manusia sungguhan pasti se- jak tadi tubuhnya hancur berkeping-keping terkena pukulanku!" batin Gento dalam hati sambil menarik nafas dan gelengkan kepala.

Di depannya sana sambil tersenyum seolah mengerti apa yang tersimpan di lubuk hati pemuda itu Manusia Seribu Tahun berucap. "Ketahuilah anak ma- nusia yang bernama Gento Guyon. Aku bukan setan, bukan pula iblis, bukan hantu atau sebangsanya me- medi. Diriku sama halnya seperti dirimu. Terdiri dari darah, tulang dan daging. Cuma aku memiliki tingka- tan lebih tinggi dari manusia lain. Sekarang... demi ke- baikanmu sendiri kau harus ikut denganku. Pergi ke suatu tempat !"

"Ha ha ha! Bicara melantur boleh saja. Tapi persoalannya menjadi tidak semudah yang kau bayangkan. Kau boleh membawa pergi bayangan ku, orang tua. Sedangkan aku bebas pergi kemanapun aku suka!" berkata begitu murid Gentong Ketawa ini balik- kan badan lalu berkelebat pergi tinggalkan Manusia Seribu Tahun.

Dalam gelapnya malam sosok Gento lenyap dari pandangan si kakek. Orang tua itu tertawa bergelak.

"Ha ha ha. Bocah keblinger. Kau belum tahu, gerak dan langkahku tidak terbatas pada jarak, ruang dan waktu. Walaupun kau dapat lari secepat yang di- lakukan setan, namun aku dapat mengejarmu hanya dalam sekedipan mata!" kata si kakek.

Di kejauhan sana Gento yang masih mendengar ucapan Manusia Seribu Tahun sambil terus berlari sunggingkan senyum sinis. "Dasar kakek gila. Dia mengira dapat mengejarku yang sudah berlari sejauh ini. Coba saja kalau mampu!"

Plash! Jlik!

"Hah....!" Gento terperangah. Sekonyong- konyong langkahnya terhenti ketika secara tak terduga orang yang ditinggalkannya kini telah menghadangnya. "Kau hendak lari kemana, bocah? Aku baru sa-

ja hendak menunjukkan mu suatu jalan menuju ke surga, tapi kau malah memilih jalan ke neraka. Sung- guh manusia tolol!"

"Orang tua, aku tak sudi ikut denganmu!" den- gus si gondrong. Seperti tadi dia cepat balikkan badan dan siap meninggalkan Manusia Seribu Tahun. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat pemuda ini terce- kat. Mendadak dia merasa sekujur tubuhnya tak dapat digerakkan, kaku seperti tertotok walau sebenarnya Manusia Seribu Tahun tidak menotoknya.

"Habis sudah! Apa yang dilakukan kakek ini terhadapku? Aku hanya merasakan hembusan angin menerpa punggungku, setelah itu aku tak mampu ber- gerak sama sekali!" Sang pendekar diam-diam menge- luh. Sebelum Gento sempat bicara apapun atas keja- dian yang menimpa dirinya, pada saat itu dia merasa- kan ada satu tangan yang begitu besar mencengkeram pinggangnya. Setelah itu Gento merasa tubuhnya se- perti diangkat dan dibawa melesat ke udara.

"Hei, apa-apaan ini...!" teriak si gondrong, se- dangkan tangannya menggapai kian kemari mencari selamat.

Pada saat itu terdengar bentakan di belakang- nya. "Kau mau meloloskan diri, lalu minggat mencari gurumu. Lakukanlah, aku akan melepaskanmu. Begi- tu kulepas tubuhmu akan melayang dan jatuh. Sampai di bawah kepalamu menghempas batu lalu remuk. Ji- ka kepalamu hancur, rohmu gentayangan penasaran, tidak diterima langit tidak diterima bumi!"

"Sialan memang sekarang aku berada di ma- na?" teriak Gento masih juga meronta.

"Ha ha ha. Buka matamu, setelah itu lihat ke bawah!" seru si kakek keras.

Tanpa sadar Gento lakukan apa yang diperin- tahkan si kakek. Mendadak sontak gerakan meronta yang dilakukannya terhenti. Mata si pemuda mendelik besar mulut ternganga. Tubuh menggigil tengkuknya tidak terasa tengkuk lagi, melainkan setelah berubah menjadi dingin laksana es. Dengan suara bergetar, dan dalam takut yang demikian mencekam Gento akhirnya mampu juga membuka mulut ajukan pertanyaan. "Kk... kau membawaku terbang?"

"Ha ha ha! Anggap saja begitu!" menyahuti si

kakek.

"Ah, gila. Sulit kupercaya. Tidak punya sayap

kok bisa terbang!" desis sang pendekar dengan pera- saan kecut. Dalam takutnya diapun pejamkan mata. Sedangkan hati tidak putus-putusnya memanjatkan doa. Dalam keadaan seperti itu pula tanpa sadar ba- gian bawah celana Gento basah kuyup, entah karena keringat atau air kencing.

3

Dinginnya udara malam menjelang pagi terasa mencucuk hingga ke sumsum tulang. Suasana dalam keadaan gelap dan hanya diterangi cahaya bintang gemintang yang bertaburan angkasa sana. Di satu pendataran tanah berbatu, satu sosok terkapar disitu dalam keadaan menelentang, sedang- kan tangan serta kedua kakinya terbelenggu empat rantai panjang terbuat dari batu yang kerasnya mele- bihi baja.

Sosok itu sama sekali tidak bergerak, wajah menengadah ke atas sedangkan kedua matanya yang terlindung rambut panjang awut-awutan melotot me- mandang ke arah bintang yang bertaburan di langit.

Dilihat sepintas lalu sosok berpakaian hitam ini tidak ubahnya seperti orang yang sudah meninggal dunia, karena sekujur tubuhnya seakan diam membe- ku, sedangkan dada sama sekali tidak bergerak seba- gaimana umumnya orang yang sudah mati.

Keadaan seperti itu ternyata tidak berlangsung lama karena sesaat kemudian satu keanehan terjadi pada diri orang ini. Sosok yang diam itu bergetar he- bat, getaran diiringi dengan keluarnya asap tipis yang bergulung-gulung seperti kabut. Kabut itu kemudian menebar ke seluruh permukaan tubuh si gadis, hingga sosoknya seolah lenyap. Seiring dengan itu pula, tan- gan dan kaki yang terbelenggu rantai bergetar hingga menimbulkan suara berkerontakan berisik.

"Hraaagh...!"

Terdengar suara pekik melengking. Kabut putih yang menyelimuti sosok kakek berpakaian hitam le- nyap. Bersamaan dengan itu pula belenggu rantai batu yang melilit kedua tangan dan kaki si kakek berubah merah laksana bara. Cahaya merah semakin menjadi- jadi. Anehnya si kakek tidak merasakan panas akibat semua ini. Malah dia dengan segenap tenaga yang dia miliki akhirnya menggerakkan kedua kaki dan tangan- nya serentak.

Rettt! Raaak! Satu sentakan yang keras luar biasa membuat rantai batu hancur menjadi kepingan bara api menyala yang berlesatan ke segala penjuru arah dan menerangi suasana di sekelilingnya yang di saput kegelapan.

Begitu tangan serta kakinya terbebas dari be- lenggu rantai batu meledaklah tawa sosok kakek ber- pakaian hitam itu. "Ha ha ha! Pada akhirnya aku dapat juga menikmati kebebasan dari akhir sebuah huku- man. Sekarang aku dapat pergi kemanapun aku su- ka.!" kata orang tua itu.

Dia lalu gerakan badan dan duduk di tempat mana dirinya selama ini terbaring. Baru saja suara si kakek lenyap. Di belakangnya tiba-tiba terdengar satu suara menyahuti. "Kau tidak akan pernah pergi kema- napun, tua bangka. Walau kau mampu membebaskan diri dari rantai batu yang membelenggu tangan dan kedua kakimu!"

Bagaikan di sengat kalajengking yang sangat berbisa, si kakek berjingkrak kaget, serentak dia me- mutar badan menghadap ke belakang lalu matanya je- lalatan memandang ke depan. Kakek yang baru terbe- bas dari belenggu rantai jadi tercekat.

Wajahnya memucat dibasahi keringat dingin. Sepasang mata membeliak sedangkan mulut ternganga lebar.

"Kunti Menak.... Bagaimana kau tahu-tahu muncul kembali di sini?" desis si kakek. Heran juga merasa jerih. Dalam gelapnya malam si nenek dongak- kan wajah, lalu tongkat hitam di tangan kiri diketuk- kan di atas batu tiga kali. Setelah itu perempuan ber- badan bongkok inipun mengumbar tawanya.

Puas dia tertawa nenek yang dipanggil Kunti Menak menatap lurus ke arah kakek yang duduk di depannya. "Aku bisa muncul di mana saja Ki Anjeng Lak- nat! Aku gentayangan seperti setan, walaupun aku bu- kan turunan setan sungguhan. Hik hik hik!" jawab pe- rempuan itu disertai tawa.

"Kunti, apapun katamu, sekarang aku mohon kebijaksanaan mu. Dulu kau pernah mengatakan, jika aku mampu menghancurkan rantai batu ini, berarti aku sudah bebas dari hukumanmu. Sekarang aku mampu menghancurkan rantai batu yang telah mema- sung ku selama ini. Sesuai dengan perjanjian aku min- ta kebebasan!" ujar si kakek.

Nenek di depannya berkacak pinggang. Dari mulut perempuan itu terdengar suara dengusan pan- jang. Sementara dada si nenek nampak kembang kem- pis seakan tengah berusaha meredam satu gejolak yang membuncah di dalam hatinya. Dengan suara lan- tang dia membentak. "Kau tidak akan pernah mempe- roleh kebebasan apapun Anjeng Laknat. Aku telah ke- hilangan segalanya. Kau harus menjalani hukuman lain sampai tiba masanya rasa puas di hati gundah di hatiku hilang tak berbekas."

"Kunti.... segala sesuatu yang telah terjadi tak mungkin dapat kembali sebagaimana keadaan semula. Muridmu yang tewas tak mungkin dapat hidup lagi. Semuanya sudah merupakan takdir ketentuan yang maha kuasa. Lagi pula muridmu kini sudah ada yang menggantikan, yaitu anaknya. Dia sudah menjadi pe- muda dewasa, selain itu dia bahkan telah mewarisi hampir semua ilmu yang diturunkan oleh adikku. Se- harusnya kau merasa bangga mempunyai cucu sehe- bat Lira Watu Sasangka. Aku sudah menerima salah....

aku jalani hukuman yang kau jatuhkan selama hampir dua puluh tahun. Jika saja aku tidak mengingat hu- bungan lama, apakah kau mengira aku mau kau per- lakukan seperti ini? Aku bisa bertempur denganmu sampai salah seorang dari kita terpaksa menjadi bang- kai tak berguna."

Mendengar ucapan si kakek, nenek bertongkat hitam itu merasa darahnya laksana mendidih. "Tua bangka keparat. Apapun alasanmu kau tetap tidak da- pat menghidupkan muridku yang sudah mati. Ki An- jeng Laknat hukuman itu harus kau jalani lagi, paling tidak sampai sepuluh tahun mendatang. Jika kau me- nolak aku akan jatuhkan tangan keras kepadamu!" Si nenek mengancam. Ki Anjeng Laknat tertawa tergelak- gelak, lalu gelengkan kepala.

"Kunti.... menurutkan sebaiknya kita sudahi saja persoalan ini. Kau seharusnya ingat dulu kau adalah kekasihku. Karena persoalan Mawar Pelangi membuat hubungan kita yang baik menjadi renggang. Sekarang sudah saatnya kita berbaikan kembali, lalu kita jalani hidup ini sebagaimana adanya susah se- nang kita tanggung berdua. Kita bahkan bisa menik- mati manisnya sisa madu asmara meskipun kita su- dah tua. Ha ha ha!"

Merah padam wajah si nenek, kedua matanya mendelik besar. Mata berkilat-kilat memancarkan ca- haya kebencian. Dengan geram pula dia membentak. "Tua bangka keparat. Aku ingat, dulu pernah menjadi kekasihmu selama belasan tahun. Tidak terhitung kau mengajakku berbuat terkutuk, tapi kau tidak pernah mau bersedia menikahi ku. Tua bangka tak bertang- gungjawab. Jangan kau pernah berfikir kita bisa ber- baikan kembali, kau tetap berada disini. Aku akan me- rantai mu, sampai tiba saatnya masa pembebasan se- puluh tahun yang akan datang!" Kunti Menak mene- gaskan. Lalu laksana kilat dia gerakan tangannya ke udara, detik kemudian entah dari mana datangnya di tangan si nenek tergenggam dua buah rantai batu baja yang berlubang pada bagian tengahnya. Melihat dua benda di tangan si nenek, Ki Anjeng Laknat tercekat. Dia sadar, walau rantai itu terlihat sebagai barang yang sangat sederhana namun bila sampai dilempar- kan ke udara bisa berubah menjadi senjata yang san- gat berbahaya. Setiap saat ujung rantai bisa meliuk, melilit atau mematuk tidak ubahnya seperti seekor ular.

"Kunti... kau jangan main-main dengan benda di tanganmu, urungkan keinginanmu. Sebaiknya kita berdamai dan akhiri segala silang sengketa yang terjadi antara kita selama ini!" pinta Ki Anjeng Laknat.

"Siapa yang main-main?" "Kunti kekasihku?!"

"Aku bukan kekasihmu!" hardik si nenek tegas. "Oh Kunti. Ingat... Kunti, aku menyesal atas ke-

jadian itu. Namun satu hal yang harus kau sadari, jika seluruh manusia dan jin bersatu kekuatan untuk menghidupkan orang yang mati, semua itu tidak mungkin pernah tercapai. Tidak ada manusia yang mampu menentang kehendak takdir yang telah diga- riskan Gusti Allah." Si kakek masih berusaha menya- darkan Kunti Menak.

Perempuan itu tertawa panjang menyeramkan. "Gusti Allah, kau ingat pada Nya? Selama hidup kau bergelimang kesesatan bermandi dosa. Selama hidup banyak orang kau bunuh semena-mena, banyak pula anak gadis orang yang kau nodai. Ini salah satu kor- ban dari ilmu tololmu itu!" selesai berkata si nenek dengan gerakan perlahan ketukkan tongkat hitam di tangannya. Tanah kemudian bergetar disertai suara gemuruh hebat. Api menyala yang menerangi pendata- ran puncak bukit tersibak, lalu tanah di bagian bawah api unggun meledak. Api unggun bertebaran di udara, bersamaan dengan itu dari bagian tanah yang meledak melesat satu sosok tubuh berambut panjang riap- riapan. Si nenek melesat ke udara, dengan tangan ka- nan dia sambuti sosok telanjang yang baru saja ter- lempar keluar dari dalam tanah yang terbelah itu.

Kemudian ketika si nenek jejakkan kakinya ke tanah, dia memondong sosok tubuh perempuan telan- jang tadi. Dengan perlahan dia baringkan sosok kaku telanjang di atas tanah.

Sejurus dia memandang ke depan, setelah itu dia berseru. "Ki Anjeng Laknat kau lihatlah perempuan malang ini. Tubuhnya putih mulus, dada montok ping- gul bagus. Perempuan secantik ini seharusnya tidak mati secepat itu. Dia layak hidup lima puluh tahun la- gi, dia pantas mendapat kehangatan pelukan laki-laki. Tapi... karena ulahmu dia menemui ajal secara sia- sia.!"

Di depan sana Ki Anjeng Laknat sibakkan se- bagian rambutnya yang memutih panjang riap-riapan menutupi wajah. Sepasang mata yang seperti amblas ke dalam rongga terbuka lebar. Bagian hidungnya yang seperti remuk bekas benturan benda keras kembang kempis mengendus. Dengan tatap tak berkedip dia pandangi sosok yang dalam keadaan polos telanjang tanpa nyawa tersebut. Sosok mayat telanjang itu me- mang tidak kehilangan kecantikannya bagian tubuh masih utuh karena si nenek sengaja membaluri mayat itu dengan sejenis ramuan yang membuatnya tidak ru- sak. Sedetik lamanya si kakek merasa darahnya lak- sana mendidih, tenggorokan turun naik. Namun bila perhatiannya beralih ke arah bagian perut, si kakek mendadak merasa mual dan jadi miris sendiri.

Di bagian perut mayat terdapat sebuah luka menganga yaitu berupa robekan besar memanjang. Luka itu terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu, saat si mayat yang bernama Mawar Pelangi hendak melahirkan anaknya. Meskipun dua puluh tahun telah berlalu luka itu nampaknya tidak pernah berubah, be- gitu juga dengan tubuhnya yang hanya tinggal sosok tanpa nyawa.

"Tatap dan pandanglah baik-baik. Pandang dengan hati nurani mu sebagai manusia, bukan den- gan nafsumu. Andai dia yang sudah mati bisa bicara, dia pasti ingin membunuhmu seratus kali. Kebencian serta rasa dendamnya kepadamu dia bawa sampai ma- ti. Ki Anjeng Laknat, ingatlah akan segala kesalahan yang telah kau perbuat, buka fikiranmu, lapangkan dadamu!" kata si nenek dengan suara perlahan namun membuat si kakek jadi tersentak kaget.

Dengan suara tersendat dia kemudian menja- wab. "Semuanya terjadi luar perhitungan. Aku ingin menjadikan anaknya sebagai raja diraja dunia persila- tan. Jika akhirnya nyawa Mawar tidak tertolong, tentu ini diluar kuasa dan kemampuanku!" Ki Anjeng Laknat membela diri.

"Puah, laki-laki keparat. Enak saja kau bicara. Serahkan kedua tangan serta kedua kakimu jika tak ingin mencari perkara!" hardik Kunti Menak.

"Kunti aku tidak takutkan dirimu. Aku menga- lah semata-mata karena aku masih punya rasa cinta kepadamu. Aku tak tega menurunkan tangan jahat kepadamu. Kunti, percayalah walau kita sudah sama tua cintaku padamu selalu panas menggebu. Bukan- kah lebih baik kau lupakan saja mimpi buruk itu. Kita bisa menjalin cinta kembali, bersenang-senang layak- nya pengantin?!"

Semakin bertambah gusar Kunti Menak men- dengarnya. Sambil menahan kemarahan si nenek pan- dang sosok Mawar yang tergeletak dekat api unggun. Melihat mayat itu terkenang kembali segala kejadian yang telah berlangsung puluhan tahun yang silam.

4

Puri Bahagia Setan dua puluh tahun yang lalu. Pagi itu mendung tebal menyelimuti daerah sekitarnya. Di salah satu ruangan seorang perempuan tua berba- dan bongkok beberapa kali ketukkan tongkat hitamnya di atas perut seorang perempuan muda berwajah can- tik berpakaian kembang-kembang. Walaupun ketukan itu cuma perlahan saja, namun sakit yang ditimbulkan akibat ketukan sungguh sangat luar biasa. Perempuan cantik itu menggeliat, merintih namun tak berani men- jerit. Tatap matanya menerawang kosong memandang ke bagian langit-langit kamarnya. Sedangkan dari ma- tanya air mata terus bergulir tiada henti.

"Mawar Pelangi....setelah kuketuk perutmu, se- telah kurasakan gerakan yang ada. Sekarang aku tahu mengapa kau muntah, kepalamu pusing sepanjang ha- ri. Muntah mu itu pasti karena kau terlalu banyak ti- dur dengan laki-laki. Gadis goblok tolol, sekarang kau bunting sudah. Siapa laki-laki bejad yang telah mem- buatmu jadi seperti ini?" hardik perempuan itu sengit.

"Guru... laki-laki itu adalah Rajo Penitis." sahut Mawar Pelangi. Mendengar jawab muridnya si perem- puan bertongkat berjingkrak kaget dan sampai surut dua langkah. Sepasang mata membelalak lebar.

"Bangsat jahanam. Bagaimana gadis secantik- mu bisa tertarik dan jatuh dalam pelukan laki-laki gendut pendek hidung pesek berbibir dower itu? Agak- nya matamu sudah terbalik, otak berubah pikun. Ba- nyak pemuda gagah yang bisa kau taklukkan. Tapi kau malah tergoda pada bangsat penggoda wanita yang anak turunnya keleleran di sepanjang jalan. Bukan hanya bergaul, tapi bunting segala malah. Semprul edan!" teriak sang guru. Melihat kemarahan gurunya, sementara ujung tongkat orang tua itu masih bersite- kan pada perutnya yang putih mulus, tentu saja Ma- war Pelangi tak berani bertindak sembarangan yang dapat membuat perempuan itu jadi gelap mata.

Dengan suara tercekat dia menyahuti. "Guru....

antara aku dan Rajo Penitis sudah sama saling cinta. Kami juga diluar sepengetahuan guru sudah menikah. Jika sekarang aku hamil buat apa hal ini kita ri- butkan. Anak ini kelak akan membuat suasana di Puri Bahagia Setan akan menjadi lebih hidup!"

"Jadah! Kau menikah dengan bangsat laknat itu di luar sepengetahuanku. Aku tak sudi meres- tuinya, dan aku tetap menganggap hubunganmu den- gannya tidak sah. Jika orang melempar wajahku den- gan kotoran sapi sakitnya kuanggap tidak seberapa. Jika kau menusukkan seribu mata pedang di tubuh- ku, kuanggap kematianku sebagai hal yang lumrah. Tapi kau mencoreng wajahku dengan aib besar serta rasa malu yang tak terhingga. Inikah balas budimu se- lama bertahun-tahun aku mengurus mu?!"

"Guru harap maafkan aku. Aku sangat mencin- tainya. Karena itu aku menikah dengannya secara di- am-diam." kata Mawar Pelangi membela diri.

"Kau menikah, kau kawin diam-diam kau men- gatakan cinta padanya, apakah semua itu kau lakukan bukan karena nafsu?"

"Cinta campur nafsu, guru." jawab Mawar Pe- langi.

"Setan! aku tak akan biarkan anak itu hidup

dan terlahir ke dunia ini. Dia harus kubunuh. Kelak kau harus menikah dengan laki-laki yang aku senan- gi!" Selesai berkata perempuan ini jauhkan tongkat da- ri perut Mawar Pelangi. Dengan tangan kiri yang telah teraliri tenaga sakti berhawa dingin si nenek bermak- sud mengeluarkan calon bayi di dalam rahim murid- nya. Tidal lama berselang tangan yang telah dialiri te- naga dalam itu kemudian ditempelkan di bagian perut sebelah bawah.

Melihat apa yang dilakukan gurunya dan sete- lah merasakan adanya hawa panas yang mengalir de- ras ke bagian rahim Mawar Pelangi berseru. "Guru apa yang hendak kau lakukan?"

"Perempuan tolol, tentu saja mengeluarkan ca- lon bayi dari perutmu!" dengus si nenek.

"Tidak. Kau tidak boleh melakukannya.!" cegah gadis itu. Dengan sekuat tenaga dia berusaha membe- baskan diri dan menepis tangan kiri gurunya yang menekan di bawah perut. Tapi laksana kilat gurunya menotok beberapa bagian tubuhnya hingga membuat Mawar Pelangi tak dapat berbuat apapun.

Tak ada yang dapat dilakukan oleh si gadis ter- kecuali menangis. Sementara itu hawa panas yang menyakitkan mulai mengalir deras menembus bagian letak janin. Di bagian perut terasa ada gerakan serta getaran-getaran seolah janin di dalam rahim itu me- ronta.

Perempuan setengah baya itu mendadak ker- nyitkan keningnya. Ada sesuatu yang membuatnya ka- get. Selagi hati Kunti Menak ini dipenuhi rasa kaget dan tanda tanya besar. Satu tenaga yang sangat hebat menghantam tangan kirinya yang menempel di bagian perut Mawar Pelangi.

Dess! Dess! Dess! "Akhh !"

Laksana dicampakkan Kunti Menak jatuh ter- pental. Punggungnya menabrak dinding. Dinding Puri Bahagia Setan hancur berkeping-keping. Perempuan itu dalam kejutnya berusaha bangkit berdiri. Apa yang dilakukannya itu ternyata tidak mudah karena pung- gungnya seperti remuk. Wajah pucat, nafas sesak dan hidung kembang kempis.

Kunti Menak himpun tenaganya, begitu bangkit dia memandang ke arah balai ketiduran dimana mu- ridnya rebah di situ tak bisa bergerak hanya bisa kelu- arkan suara.

"Siapa yang memukulku tadi. Mustahil Mawar yang melakukannya. Tubuh bocah kupret itu dalam keadaan tertotok"

Kunti Menak gelengkan kepalanya yang terasa pusing. Dia mencoba berfikir, mengingat-ingat. Sewak- tu dia kerahkan tenaga sakti yang mematikan tadi, ti- ba-tiba dia merasa ada satu kekuatan dan dalam yang bergerak menolak kekuatan tenaga dalamnya. Satu kekuatan hebat yang bukan saja membuat tangan ki- rinya terasa lumpuh tapi juga mampu mencampakkan Kunti Menak bahkan melukai tubuh di bagian dalam.

"Jadi... jadi bayi itukah yang telah menyerang- ku tadi? bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" de- sis Kunti Menak masih belum juga mampu menghi- langkan rasa kagetnya.

Sebaliknya Mawar Pelangi sendiri sebenarnya juga merasa heran dan tak pernah mengerti mengapa gurunya sampai terbanting. Tapi paling tidak untuk sementara dia merasa lega karena gurunya tidak beru- saha membuat janinnya celaka. Jauh di dalam hati dia berharap agar Rajo Penitis yang menjadi suaminya da- tang ke Puri Kebahagiaan Setan guna menyelamatkan dirinya.

Di depannya sana sang guru tertegun. Dia ma- sih berniat melakukan keinginannya. Tapi keraguan menyelimuti diri perempuan itu, takut hal yang sama terulang kembali.

"Ada yang tidak beres. Aku yakin sekali. Aku harus menemui Ki Anjeng Laknat. Hanya dia yang bisa mengetahui berbagai hal yang tak dapat dilihat oleh kasat mata." fikir Kunti Menak. Tanpa bicara apapun pada muridnya lagi Kunti Menak tinggalkan kamar muridnya dan berkelebat pergi menuju ke tempat ting- gal Ki Anjeng Laknat yang letaknya tak jauh dari Puri Bahagia Setan.

***

Ki Anjeng Laknat duduk diam di atas tumpu- kan lima tengkorak kepala manusia yang dilapisi jera- mi pada bagian atasnya. Rambut yang panjang kelabu dan hampir memutih secara keseluruhan dibiarkan menutupi sebagian wajahnya. Di depan tokoh sesat, momok yang sangat ditakuti di dunia persilatan itu terdapat sebuah benda bulat mirip bola berwarna kebi- ru-biruan. Kelebihan bola itu bila disentuh akan me- mancarkan cahaya terang mengagumkan. Selain itu melalui benda bulat yang berasal dari batu bernama Batu Bola Neraka itu pemiliknya dapat melihat hal-hal yang berhubungan dunia gaib atau sesuatu yang tak mampu ditembus dengan kasat mata.

Duduk lama di depan Batu Bola Neraka, kakek yang memiliki bola mata melesak ke dalam rongga ber- hidung remuk berpakaian hitam tampak tak pernah bergerak sama sekali. Sepasang matanya memandang ke depan. Tapi tak urung ketika dia mendengar suara langkah-langkah kaki mendekati pintu rumahnya dia alihkan perhatian ke arah pintu.

"Ki Anjeng Laknat aku hendak bertemu den- ganmu. Apakah kau ada di dalam?" tanya satu suara. Si kakek yang mengenali suara orang langsung menja- wab.

"Masuklah Kunti Menak. Untuk kepentingan mu pintu rumahku selalu terbuka." sahut Ki Anjeng Laknat disertai tawa pendek.

"Maksudku apakah kau tidak sedang....?!" sua- ra Kunti Menak terputus seolah ragu untuk melan- jutkan.

Di dalam terdengar suara tawa panjang. Ru- panya Ki Anjeng Laknat tahu arah ucapan Kunti Me- nak.

"Kau tak usah khawatir. Pintu ku terbuka sela- lu, tapi bukan berarti tubuhku juga dalam keadaan terbuka seluruhnya. Tapi jika kau mau, jika kau me- minta aku tak keberatan melakukannya, kekasihku! Ha ha ha!!" kata si kakek disertai tawa panjang.

"Tua bangka gila. Jangan bicara melantur. Saat ini aku punya satu kepentingan yang tak dapat ditun- da. Aku butuh pertolonganmu." dengus si nenek sen- git.

"Untukmu pertolongan selalu pula kuberikan. Tapi setelah itu kau harus mengucapkan janji untuk bersenang-senang denganku. Sudah lama kita tidak bermesraan. Padahal darahku selalu panas bergelora, kekasihku!" ujar Ki Anjeng Laknat.

Kunti Menak memaki panjang pendek, pintu di- tendangnya hingga terbuka lebar. Memandang ke da- lam ruangan suasana nampak gelap temaram. Kunti Menak juga melihat si kakek yang bernama Ki Anjeng Laknat duduk menghadap bola batu. Perempuan itu melangkah masuk. Ki Anjeng Laknat yang memperha- tikan kehadirannya sejak tadi mengulum senyum dan menelan ludah.

"Beberapa purnama tidak bertemu ternyata kau semakin bertambah cantik Kunti. Ingin sekali rasanya aku memelukmu!" kata kakek angker itu sambil me- nyeka bibirnya.

"Jangan berani kau berlaku kurang ajar pada- ku. Aku bisa membunuhmu!" hardik Kunti Menak. Walau begitu dia tetap menghampiri Ki Anjeng Laknat bahkan kini duduk di hadapan kakek itu.

Ki Anjeng Laknat sama sekali tak hiraukan ucapan Kunti Menak. Malah ketika bicara kemudian ucapannya berbau mesum. "Seribu kali kau mengan- camku hendak membunuh. Tapi setelah kau jatuh da- lam pelukan kau malah merengek, meminta tambah lagi... dan lagi. Kunti Menak, bagaimana kalau malam nanti kita habiskan waktu untuk bersenang dan ber- puas-puas diri. Kau pasti bersedia melayaniku bukan!" kata si kakek, lagi-lagi dia tertawa.

Blaak!

Satu tamparan keras mendarat dipipi si kakek hingga membuat orang tua itu terjajar.

Pipi keriputnya memerah sedangkan bibirnya meneteskan darah. Ki Anjeng Laknat usap pipinya be- kas tamparan pulang balik. Bukannya marah dia ma- lah tersenyum. Kini dia sadar kalau kekasihnya saat itu sedang membawa satu persoalan yang serius.

Selesai mengusap pipi Ki Anjeng Laknat ajukan pertanyaan. "Kunti sayang ku, baiklah sekarang kata- kan apa keperluanmu menyambangi diriku?!" ujar si kakek bersikap sungguh-sungguh. "Aku datang kemari semata-mata karena murid tolol itu. Mawar Pelangi hamil?!" menerangkan Kunti Menak. Semula dia berharap kakek tua yang menjadi kekasih gelapnya selama ini terkejut mendengar penje- lasannya. Tapi apa yang diharapkannya itu ternyata tidak terjadi. Wajah angker Ki Anjeng Laknat tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tetap datar biasa saja.

"Sudah menjadi kodratnya perempuan memang harus melahirkan, itu kenyataan yang wajar. Lain lagi halnya bila ada laki-laki hamil. Kurasa itu baru meru- pakan suatu kejutan. Dan aku merasa perlu melihat- nya. Lalu apa istimewanya bila muridmu hamil. Kau sendiri sering hamil, hamil denganku diluar nikah. Anak-anak yang kau kandung tak pernah hidup, kare- na kau memaksanya keluar selagi dia masih berada dalam kandungan." kata Ki Anjeng Laknat memberi tanggapan.

Kunti Menak delikkan mata mendengar ucapan kekasihnya. Tubuhnya bergetar menahan amarah. Dengan suara tertekan dia membuka mulut. "Keparat tua. Jangan kau ungkit masalah pribadiku. Semua ini gara-gara ulahmu. Sedangkan mengenai muridku Ma- war Pelangi. Aku tak mau dia meniru apa yang telah terjadi denganku," dengus Kunti Menak.

Ki Anjeng Laknat menarik nafas pendek. Dia terdiam sejenak, berfikir baru kemudian melanjutkan.

"Tak ada gunanya kita bertengkar. Sekarang lanjutkan ucapanmu!"

"Adapun orang yang menghamili Mawar Pelangi adalah si keparat Rajo Penitis." ujar Kunti Menak. Dia lalu menceritakan segala sesuatu yang terjadi terma- suk juga saat dirinya hendak memijit hancur calon bayi yang dikandung oleh Mawar Pelangi. Selesai Kunti  Menak menceriterakan segala sesuatunya, Ki Anjeng Laknat jadi geleng kepala juga merasa takjub.

"Ini merupakan kejadian yang sangat luar bi- asa. Kunti Menak.... jika kau mau turut apa kataku. Sebaiknya kau jangan bunuh bayi itu. Biarkan dia hi- dup. Aku yakin bila besar nanti dia akan menjadi raja diraja dunia persilatan sepanjang masa." ujar si kakek. Mendengar keputusan Ki Anjeng Laknat, Kunti

Menak jadi terkesiap. Apa yang dikatakan kekasihnya sungguh bertentangan dengan apa yang menjadi kein- ginannya.

"Aku tak mau memelihara anak turun Rajo Pe- nitis. Akupun tak sudi mempercayai ucapanmu begitu saja. Terkecuali kau bisa membuktikannya melalui Ba- tu Bola Neraka. Aku melihat dengan mata kepalaku apa yang tergambar di dalam batu biru kemudian aku akan mempertimbangkannya." tegas perempuan itu te- tap ngotot.

Ki Anjeng Laknat terdiam, tapi hatinya berkata. "Jika aku tidak salah kehamilan Mawar Pelangi pernah tergambar di dalam mimpi ku. Aku sudah mendapat semacam petunjuk. Jika kau berhasil merawatnya dan menjaga Mawar Pelangi sampai tiba waktunya mela- hirkan, barangkali kelak aku bisa menjadikan bayi yang terlahir sebagai raja diraja dunia persilatan. Hem.......... aku bisa menurunkan ilmuku selagi bayi itu dalam kandungan. Mawar Pelangi adalah gadis yang cantik. Sudah lama aku inginkan dia, kurasa jika aku dapat mengancamnya dia pasti bersedia menuruti apa permintaanku. Untuk menjadikan bayi itu sem- purna tak ada salahnya jika aku ikut membantu lahir batin" Ki Anjeng Laknat tersenyum penuh arti.

"Tua bangka, apa yang membuatmu terse- nyum?" tanya Kunti Menak setengah membentak. Ki Anjeng Laknat gelengkan kepala. "Tak ada kekasihku. Jika pun aku tersenyum, semata-mata ka- rena aku mengingat betapa keras kepalanya dirimu. Aku maklum, sekarang juga akan ku penuhi permin- taanmu. Nanti aku akan tahu apakah bayi dalam kan- dungan muridmu itu punya arti di masa depan atau tidak. Jika ternyata dugaanku meleset dan kehadiran- nya tidak membawa guna bagi kita, seperti keinginan- mu maka kita harus membunuhnya." tegas Ki Anjeng Laknat.

Kakek tua itu lalu memberi isyarat dengan ang- gukkan kepala agar Kunti Menak mendekat padanya.

Dengan cepat Kunti Menak mendekati si kakek. Setelah dia duduk di sebelah Ki Anjeng Laknat, si ka- kek beringsut lebih ke depan mendekati Batu Bola Ne- raka.

Ki Anjeng Laknat tarik nafas dan menghem- buskannya dengan perlahan. Kedua mata yang melesat ke dalam rongga setengah dipejamkan. Bibirnya yang berwarna merah segar berkemak-kemik seperti mem- baca mantra sedangkan kedua tangannya yang hitam ditumbuhi bulu lebat dijulurkan lurus ke arah Batu Bola Neraka yang sengaja diletakkan di atas tungku dupa batu. Saat kedua telapak tangan menempel di kedua sisi Batu Bola Neraka, maka batu itu bergetar. Bukan hanya Batu Bola Neraka saja yang bergetar he- bat. Tapi sekujur tubuh si kakek ikut bergetar, se- dangkan bagian wajahnya bermandikan keringat. Per- lahan namun pasti bola batu yang berwarna biru nampak memijar, memancarkan cahaya biru terang namun sejuk. Hingga membuat siapapun yang meli- hatnya jadi merasa ngantuk.

Beberapa saat berlalu, semakin lama Batu Bola Neraka semakin bertambah terang. Sedangkan ra- cauan dari mulut Ki Anjeng Laknat semakin bertam- bah keras dan jelas. "Batu sakti batu bertuah, pembe- rian iblis bingkisan setan. Aku ingin kau perlihatkan kesaktianmu. Dunia gaib menjadi tempat asal usulmu. Antara gaib dengan gaib saling berhubungan. Aku in- gin kau memperlihatkan bagaimana bentuk janin dan masa depan bayi itu kelak, bayi yang saat ini berada dalam kandungan seorang anak manusia bernama Mawar Pelangi." kata Ki Anjeng Laknat.

Baru saja kakek itu katupkan bibirnya, detik itu pula dari bagian Batu Bola Neraka terdengar suara desisan panjang yang diiringi dengan menebarnya asap biru yang memenuhi seluruh permukaan bola batu. Asap biru berbau amis membubung tinggi ke udara. Suara desisan yang mengepulkan asap lenyap berganti dengan letupan dua kali berturut-turut. Suara letupan itu membuat asap biru yang menyelimuti sekeliling bo- la batu juga bagian kedua tangan Ki Anjeng Laknat le- nyap seketika. Batu Bola Neraka nampak seperti biasa, hanya warnanya lebih biru. Sedangkan pada salah sa- tu bagian permukaannya terlihat satu bentuk perut dan sosok perempuan cantik dalam keadaan hamil empat bulan.

Ki Anjeng Laknat menoleh ke arah Kunti Menak sambil berkata. "Kau lihatlah baik-baik."

Secara aneh begitu Kunti Menak memperhati- kan bagian perut mengandung janin yang terlihat di permukaan bola batu biru semakin membesar. Sema- kin lama terlihat sebentuk sosok calon anak manusia. Tetapi yang mengherankan sosok calon bayi itu nam- paknya mengalami pengerasan dan seperti terbungkus sesuatu berbentuk bulat tidak ubahnya bagai anak ayam yang terbungkus cangkang telur.

"Ada sesuatu yang aneh, ada yang tidak beres. Tapi mungkinkah....!" batin Ki Anjeng Laknat. Dia lalu berkata keras. "Batu Bola Neraka, katakan, perli- hatkan pada kami apakah bayi itu kelak punya guna dan kekuasaan di dunia ini atau tidak!"

Batu Bola Neraka bergetar. Seakan mengerti dari bagian kepala bayi memancarkan cahaya terang berwarna merah laksana darah. Melihat isyarat ini wa- jah Ki Anjeng Laknat berubah berseri-seri. Dia bahkan anggukkan kepala ke arah Kunti Menak.

Puas melihat apa yang telah diperlihatkan oleh Batu Bola Neraka itu, mulut Ki Anjeng Laknat kembali berkemak-kemik. Dua tangan yang menempel pada bo- la batu digerak-gerakkan. Cahaya biru yang memancar dari sekeliling batu sakti nampak meredup kehilangan cahaya, hingga pada akhirnya bola batu itu kembali seperti semula.

Ki Anjeng Laknat angkat kedua tangan dari bo- la itu. Dia memutar tubuh hingga kini duduk saling berhadapan dengan Kunti Menak.

"Sekarang segalanya semakin bertambah jelas. Bayi itu kelak akan merubah wajah dunia, kemungki- nan besar dia bisa menjadi raja diraja dunia persilatan. Semua bukti sudah kau lihat sendiri. Sebagian dianta- ra bukti dari kebesaran baik itu kau sudah merasa- kannya. Kekasihku... jika kau membunuh bayi itu sa- ma artinya kau menghilangkan satu keberuntungan yang sangat besar. Tapi untuk membuat dia menjadi seperti yang kita inginkan, sebaiknya Mawar Pelangi aku yang merawatnya sampai dia melahirkan." tegas Ki Anjeng Laknat.

"Apa? kau yang merawatnya? Tidakkah kau punya niat mesum, memanfaatkan kesempatan yang ada dengan mengail di air keruh?" sindir Kunti Menak sambil memandang tajam pada si kakek. Ki Anjeng Laknat tertawa. "Kunti-Kunti. Sama sekali rupanya kau tak percaya padaku. Masa aku tega berbuat yang tidak-tidak pada muridmu. Bagiku dapat bermesraan denganmu pun sudah kuanggap lebih dari cukup. Walaupun aku hidup dalam kesesatan, tapi ha- tiku tak pernah mendua!" kata kakek. Walau dia bicara begitu tapi hatinya lain lagi.

"Kejadian ini sungguh memalukan. Bocah itu telah mencorengkan kotoran di wajahku. Tapi kau se- perti membelanya." kata si nenek seolah menyesalkan.

"Tak ada siapapun yang ku bela, karena kau tahu rasa kesalmu adalah kekesalanku juga. Kunti....

sudahlah, jangan banyak berfikir. Tugasku sudah sele- sai. Sebaiknya kita bersenang-senang saja." ujar Ki An- jeng Laknat. Berkata begitu si kakek raih bahu Kunti Menak. Tak lama kemudian dia sudah tenggelam da- lam pelukan si kakek.

Sepasang tangan Ki Anjeng Laknat gentayangan ke sekujur tubuh Kunti Menak. Sedangkan nafasnya mendengus bagaikan kuda tua yang habis berlari jauh. Walaupun Kunti Menak nampak meronta, namun si kakek tahu kalau penolakannya itu hanya suatu kepu- ra-puraan saja. Di langit dua kelompok mega berben- tuk kuda seakan berkejar-kejaran. Sementara di seke- liling rumah kediaman Ki Anjeng Laknat suasana nampak sunyi.

5

Menunggu datangnya masa kelahiran, berbagai ramuan berkhasiat telah dimakan oleh Mawar Pelangi. Selama itu dia benar-benar dimanja oleh Ki Anjeng Laknat. Segala permintaan perempuan cantik itu dipe- nuhi, terkecuali satu hal yaitu mencari Rajo Penitis suami dari perempuan itu. Hanya diluar sikap baik kakek ini, di balik sepengetahuan Kunti Menak dalam waktu-waktu tertentu Ki Anjeng Laknat meminta sesu- atu berupa imbalan pada Mawar Pelangi. Imbalan itu berupa pelampiasan nafsu keji dari si kakek.

Karena permintaan itu disertai ancaman yang bisa membahayakan keselamatan Mawar Pelangi juga bayi yang dikandungnya. Maka perempuan cantik itu tak kuasa menolak. Apalagi Ki Anjeng Laknat menga- takan melalui hubungan seperti itulah dia dapat me- nyalurkan sekaligus menurunkan kesaktian yang dimi- likinya pada sang bayi.

Siang itu genap menginjak bulan ketiga belas kehamilan Mawar Pelangi. Di dalam kamarnya dia nampak merintih tidak berkeputusan. Ki Anjeng Lak- nat dengan telaten menungguinya.

"Paman... perutku mulas sekali. Aku sudah ti- dak tahan." keluh Mawar Pelangi sambil menyeringai kesakitan.

"Kehamilan mu ini memang sangat luar biasa. Seharusnya kau melahirkan tepat di saat kandungan mu berumur sembilan bulan, tapi aneh sampai usia kandungan mencapai usia tiga belas bulan tanda- tanda melahirkan itu baru ada. Bersabarlah... aku pasti membantumu!" kata Ki Anjeng Laknat dengan dada berdebar. Kakek tua ini lalu memijit perut Mawar Pelangi. Astaga! Si kakek jadi kaget ketika merasakan perut Mawar Pelangi kerasnya melebihi batu.

"Celaka. Dia tidak mungkin bisa melahirkan se- cara wajar. Tubuh bayi dalam perutnya ini pasti dis- elubungi lapisan keras seperti batu. Apa yang harus kulakukan?" batin Ki Anjeng Laknat. Si kakek terdiam, sedangkan matanya memandang bagian bawah perut Mawar Pelangi yang tertutup kain hingga sebatas ba- gian paha. Apa yang dilihatnya kemudian membuat si kakek jadi tercekat.

Diantara cairan bening dia melihat adanya cai- ran darah bergumpal-gumpal. Bahkan semakin diper- hatikan darah yang keluar dari bagian bawah perut itu semakin banyak yang keluar.

"Dia mengalami pendarahan hebat!" desis Ki Anjeng Laknat panik. Sementara itu Mawar Pelangi nampak semakin lemah, wajah perempuan itu kian bertambah pucat. Sedangkan matanya sayu seolah te- lah kehilangan harapan untuk hidup lebih lama.

"Mawar... Mawar.   bertahanlah. Aku akan me-

lakukan sesuatu untukmu!" kata si kakek. Dengan tergopoh-gopoh dia berlari ke ruangan depan dimana Batu Bola Neraka berada. Langkah si kakek tertahan ketika dirinya sampai diambang pintu. Sepasang mata si kakek mendelik seperti melihat setan. Ada rasa ta- kut membayang diwajahnya.

"Kk... kau... Bagaimana kau bisa mengetahui Mawar saat ini telah menunjukkan tanda-tanda mela- hirkan?" tanya si kakek.

Si perempuan yang ternyata adalah Kunti Me- nak adanya diam tak memberi jawaban. Dia malah me- lompat ke arah tempat tidur. Sampai di balai ketiduran muridnya dia langsung memeriksa nadi di pergelangan tangan Mawar Pelangi. Tidak ada detak nadi, tak ada pula detak jantung. Saat dia memandang ke bagian wajah perempuan itu dilihatnya sepasang mata Mawar Pelangi membeliak lebar dan tak pernah berkedip lagi.

"Dia mati. Sekarang mana tanggung jawabmu tua bangka Laknat? Muridku-muridku mati. Huhu- hu....!" seru Kunti Menak sambil menangis tersedu- sedu. "Kunti... dia tadi masih hidup. Dia hendak me- lahirkan, aku telah berusaha untuk menolongnya. Kunti, bayi itu tidak bisa keluar dari jalan yang semes- tinya. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyela- matkannya!" sergah Ki Anjeng Laknat.

"Tua bangka keparat, penipu tengik sialan. Mawar muridku telah mati. Apa lagi yang hendak kau lakukan padanya heh?!" bentak Kunti Menak sengit.

"Menyingkirlah sebentar. Mawar boleh saja ma- ti, tapi anaknya harus diselamatkan!" seru Ki Anjeng Laknat.

"Kau hanya membuat muridku menderita. Apa- pun yang kau lakukan nanti, bagiku bayi itu tidak penting. Kau harus menerima hukuman pasung dari- ku.!" Sekali lagi si nenek berteriak. Namun dia masih memberi kesempatan pada Ki Anjeng Laknat untuk mengerjakan apa yang ingin dilakukannya.

Ki Anjeng Laknat tanpa fikir panjang lagi lang- sung dekati Mawar Pelangi. Dengan mempergunakan kuku jari telunjuknya yang panjang dia membelah ba- gian bawah perut perempuan itu. Begitu perut bawah terkuak dia mengeluarkan sesuatu berbentuk bulat seperti telur dari bagian rahim Mawar Pelangi. Benda terbalut cairan darah itu ternyata memang sangat ke- ras luar biasa. Tak mungkin dapat dibelah walaupun dengan menggunakan golok tajam sekalipun.

Sementara itu Kunti Menak begitu melihat apa yang dilakukan oleh Ki Anjeng Laknat jadi marah be- sar.

"Ki Anjeng apa yang kau lakukan. Kau menjebol perut Mawar. Kubunuh kau, kubunuh?!" teriak si ne- nek menggerung.

"Kau boleh membunuhku, kau boleh menghu- kumku, tapi nanti setelah aku selesai memecahkan se- lubung batu yang menyelimuti bayi ini." sahut si kakek dengan sikap seakan tidak peduli. Tanpa merasa kha- watir Kunti Menak memukulnya dari arah belakang si kakek menggunakan seluruh kesaktiannya untuk menghancurkan selubung batu yang bentuknya mirip kulit telur itu. Berkali-kali usaha ini dilakukannya dengan sangat hati-hati. Pada kali yang ke tujuh selu- bung lapisan batu yang menyelimuti sang bayi dapat dihancurkan.

Begitu selubung batu terkuak, maka bayi laki- laki itu menangis. Si  kakek berjingkrak kegirangan.

Sebaliknya Kunti Menak tetap menangis

"Bocah hebat ini, Kunti lihatlah. Di bagian da- danya terdapat tujuh buah sisik besar. Sisik ini seperti sisik ular, tapi juga keras seperti lapisan batu. Bayi hebat bayi ajaib!"

"Aku tidak perduli dengan bayi itu. Kelahiran- nya telah merenggutkan nyawa muridku. Kau harus bertanggung jawab, kau harus dihukum." kata Kunti Menak. Tiba-tiba saja dia bangkit berdiri. Dia melang- kah cepat mendekati Ki Anjeng Laknat. Si kakek cepat menoleh dan bersikap melindungi bayi. Dia jadi kaget begitu melihat di tangan Kunti Menak kini telah ter- genggam dua buah rantai batu. Itulah rantai belenggu yang siap memasung kaki dan tangan kekasihnya.

"Kunti, kemarahan tidak pernah menyelesaikan persoalan. Eling Kunti. Ingat, hati boleh panas tapi ke- pala harus dingin."

"Dulu kau pernah mengatakan akan bertang- gung jawab bila sampai terjadi sesuatu pada muridku." "Memang, aku tidak akan mengingkari janji.

Tapi. Apakah kau sudi mengurus bayi ini?" tanya Ki Anjeng Laknat.

"Aku lebih senang merawat mayat Mawar dari pada bayi itu." tegas Kunti Menak dingin. "Bukankah bocah ini cucumu?"

"Aku tak pernah mengakui dia sebagai cucuku. Karena kuanggap kehadirannya sebagai pembawa bala."

Si kakek gelengkan kepala. "Baiklah Kunti. Hu- kuman pasung itu akan kuterima, tapi aku harus me- nunggu Begawan Panji Kwalat adikku. Sebab selama aku menjalani hukuman yang kau jatuhkan. Anak ini akan kutitipkan padanya. Aku tahu dia pasti akan da- tang sebentar lagi!" ujar si kakek.

Baru saja suara si kakek lenyap mendadak pin- tu depan terbuka dihembus angin keras. Baik Ki An- jeng Laknat maupun Kunti Menak sama palingkan ke- pala dan sama pula memandang ke arah pintu.

Tak berselang lama muncul satu sosok. Sosok seorang kakek tua berpakaian hitam berambut pan- jang, berkaki lumpuh. Dia tidak berjalan dengan kaki maupun tangannya. Melainkan mengambang di udara dalam keadaan bersila.

"Adikku Begawan Panji Kwalat, syukur salam gaib mu sampai padamu. Kau datang tepat pada wak- tunya!" kata Ki Anjeng Laknat disertai senyum. Si kaki lumpuh yang datang dengan keadaan bersila dan tu- buh mengambang itu sama sekali tak bergeming. Tatap matanya mencorong tajam memandang pada Ki Anjeng dan Kunti Menak. Sebaliknya Kunti Menak tentu saja jadi kaget karena baru pertama kali ini bertemu den- gan Begawan Panji Kwalat yang bukan lain adalah adik Ki Anjeng Laknat.

"Setan lumpuh ini agaknya memiliki kesaktian tinggi. Konon kudengar setiap kata yang diucapkannya dapat menimbulkan bencana bagi musuh-musuhnya. Tapi siapa perdulikan dia?!" dengus Kunti Menak da- lam hati.

"Kakang seperti mimpi ku tadi malam, bayi ba- tu ini lahir hari ini. Sungguh sulit kupercaya. Kita da- pat rejeki besar. Bayi ini kelak akan menjadi manusia hebat. Biarkan aku mengurusnya." ujar Begawan Panji Kwalat. Masih dalam keadaan mengambang di udara, Sang Begawan dekat bayi itu. Dia meneliti, mulutnya berdecak beberapa kali. Setelah mengambil bayi dari atas balai-balai bambu. Begawan Panji Kwalat berpal- ing dan memandang ke arah Kunti Menak. "Kakak....

aku yakin kau adalah kekasih kakang ku. Aku Bega- wan Panji Kwalat tidak mau mencampuri urusanmu dengan kakang ku. Terus terang bayi ini akan kubawa pergi." tegas sang Begawan yang telah menggendong bayi. Dia lalu menoleh pada Ki Anjeng Laknat. "Kakang janji apapun yang telah kau ucapkan padanya kau tak boleh mengingkarinya. Jalani hukuman itu. Jangan kau fikirkan bayi ini karena aku akan mendidiknya. Kelak, jika ada umur panjang mungkin kita bisa menggembleng bayi aneh ini bersama-sama." Selesai berkata Begawan Panji Kwalat berkelebat pergi.

Seperginya Begawan itu Ki Anjeng Laknat ber- kata pada Kunti Menak. "Kunti kekasihku. Aku tahu kesaktianku tiga kali lebih tinggi di atasmu. Tapi aku tak mau menyakitimu. Sekarang jika kau hendak menghukum aku dengan rantai batu pemasung jasad itu lakukanlah!" ujar si kakek.

Kunti Menak mendengus. "Jika menurut kata hati aku ingin sekali membunuhmu. Tapi biarlah. Hu- kuman pasung badan ini juga tidak lebih ringan dari hukuman mati." dengus Kunti Menak.

Perempuan itu lalu lemparkan dua rantai batu. Satu ke bagian tangan si kakek sedangkan satunya la- gi ke bagian kaki. Rantai batu melayang dan menjerat kaki serta tangan Ki Anjeng Laknat hingga kakek itu jatuh terdu- duk dalam keadaan tidak dapat bergerak sama sekali.

Sedangkan Kunti Menak segera mengurus mayat Mawar Pelangi untuk diawetkan.

6

Sudahlah kau ingat semuanya Ki Anjeng Lak- nat. Tidakkah dapat kau bayangkan betapa pedihnya hatiku? Aku terus merasa kehilangan muridku Mawar Pelangi. Itulah sebabnya sampai hari aku selalu me- nyimpan mayatnya. Agar dapat selalu ku kenang sega- la kelucuannya di masa kecil. Tapi kau membuat sega- lanya menjadi rusak dan berubah. Atau mungkin keti- ka muridku ini berada dalam pengasuhan mu kau te- lah memintanya untuk melakukan tindakan keji seba- gaimana yang kau lakukan padaku? Kau harus men- gaku Ki Anjeng. Kau tak bisa memungkirinya!"

Ki Anjeng Laknat tersentak dari lamunannya. Beberapa saat berlalu si kakek berambut putih pan- jang riap-riapan hanya mampu memandangi Kunti Menak.

"Kau diam, berarti semua apa yang kukatakan ini memang benar adanya. Bukankah begitu Ki Anjeng, kau memaksa Mawar untuk tidur denganmu.?" tanya si nenek disertai seringai sinis.

"Kunti... bagiku kau adalah !"

"Cukup! Kurasa semua laki-laki memang begi- tu. Pandai berdusta dan suka menipu. Serahkan tan- gan dan kakiku cepat!" perintah Kunti Menak.

Karena semua yang dikatakan oleh bekas keka- sihnya itu merupakan suatu kenyataan yang tak mungkin disangkal, maka Ki Anjeng Laknat ulurkan kedua tangannya pada Kunti Menak. Begitu tangan terjulur dan kedua kaki dirapatkan, maka Kunti Me- nak gerakkan tangan ke depan. Satu ke arah tangan sedangkan yang satunya lagi ke bagian kaki. Dua ran- tai batu di tangan si nenek laksana kilat meluncur se- bat ke dua arah. Tahu-tahu ke dua rantai batu telah melilit tangan sekaligus kaki Ki Anjeng Laknat

Sreet! Sreeet!

Melihat belenggu rantai telah menjerat dua anggota tubuh penting Ki Anjeng Laknat, maka Kunti Menak pun tertawa tergelak-gelak. Si kakek tentu saja menjadi kaget. Dia tak tahu apa yang akan dilakukan oleh nenek tua ini.

"Dasar laki-laki bodoh. Sekarang ini apakah kau mengira aku hanya sekedar menghukum dengan cara seperti itu. Apa kau menduga sikapmu yang pura- pura baik dan menurut itu akan membuat hatiku menjadi luluh. Lalu kau berharap aku akan kembali jatuh dalam pelukan mu. Tua bangka rongsokan, perlu kiranya kau ketahui sejak Mawar Pelangi meninggal pintu hatiku telah tertutup untukmu. Mawar melebihi anakku sendiri. Tapi secara tidak sengaja kau telah menyia-nyiakan titipan ku. Tindakanmu itu merupa- kan suatu kesalahan besar yang tak dapat ku maaf- kan!"

Ki Anjeng Laknat tatap ke depan. "Kunti, buruk nian nasib tua bangka ini. Apakah aku sudah tidak bo- leh membuka pintu hatimu mengetuk pintu maaf, memohon pengertian darimu."

"Huh, mana mungkin. Pintu hatiku telah ter- kunci, kuberi palang dan kupantek dari bagian dalam. Tidak ada maaf bagimu." "Kunti, apakah aku tidak boleh berdiri atau du- duk di depan pintu mu yang telah terkunci itu?" tanya si kakek memelas.

"Tidak bisa walau cuma di emperannya saja." dengus Kunti Menak sinis.

"Kunti, aku bisa mati. Tanpa cinta mu aku tak akan bisa hidup lebih lama lagi."

"Semua itu akan lebih bagus agar dunia ini ti- dak penuh sesak oleh manusia busuk sepertimu."

"Oh, kiamatlah sudah harapanku." si kakek mengeluh tertahan.

Kunti Menak sama sekali tak menjawab, tong- kat di tangan kanannya digerakkan ke atas, sedangkan tangan kiri menarik bagian ujung tongkat.

Sreeet!

Ternyata tongkat itu bukan hanya sekedar tongkat biasa. Karena begitu salah satu ujungnya dis- entakkan maka terlihatlah kilatan cahaya putih menyi- laukan.

Ki Anjeng Laknat tercekat, mata mendelik se- dangkan tubuh kucurkan keringat dingin.

"Kun... Kunti jangan main-main dengan senjata itu. Kau hendak berbuat apa?" tanya si kakek, sua- ranya bergetar dilanda ketakutan. Dia sadar jika si ne- nek menggunakan pedang untuk mencelakainya, jelas ini bisa membahayakan keselamatan jiwa, karena saat itu tangan dan kakinya dalam keadaan terikat.

Di depan sana Kunti Menak tertawa tergelak- gelak. Tawa lenyap, dengan mata mendelik dia meng- hardik. "Siapa yang main-main dengan tongkat pe- dang. Dasar tua bangka pikun. Beratus kali menipuku, kau perdayai aku dengan cinta palsumu. Kini Mawar Pelangi telah tiada. Dia mati harapanku lenyap. Me- nanti janjimu hanya satu kedustaan saja. Kau sering mengatakan hendak menikahi ku, mengawini aku. Ta- pi sampai sekarang, hingga wajah yang dulu cantik ini jadi keriput dan tubuh segar menggairahkan jadi reyot segala janjimu tak pernah kau laksanakan."

"Kunti masalah kawin bukankah sudah, hanya menikahnya saja yang selalu tertunda. Sekarang be- baskan aku, kita cari dukun untuk menikahkan kita!" kata Ki Anjeng Laknat. Saking gugupnya dia tidak da- pat mengontrol kata-katanya hingga jadi salah ucap.

Kunti Menak menjadi berang, lalu putar pedang merangkap tongkat yang tergenggam di tangannya. Pe- dang menderu memancarkan gulungan sinar putih kemilau memedihkan mata.

"Rupanya otakmu benar-benar sudah pikun. Orang kawin harus ke juru nikah, bukan ke dukun!" hardik Kunti Menak sengit.

"I... iya kau betul. Maksudku juga ke situ, aku hanya salah bicara!" kata Ki Anjeng Laknat yang mera- sa semakin miris karena sinar pedang itu kini bergerak membabat ke bagian lengan dan kaki.

"Celaka, Kunti   !"

Teriakan si kakek sudah tak dihiraukanya lagi. Pedang terus meluncur membabat bagian pangkal len- gan kiri kanan. Sekejap lagi nampaknya Ki Anjeng Laknat benar-benar kehilangan tangannya jika saja pada saat itu tidak terdengar suara teriakan menggele- dek merobek kesunyian.

"Pedangmu pedang tumpul. Yang kau babat adalah baja keras. Pedang patah dan bagian ujungnya menembus dadamu sendiri!" Apa yang terjadi kemu- dian memang sama persis dengan apa yang dikatakan oleh suara tadi. Pedang Kunti Menak mengeluarkan suara berdentring keras saat menghantam pangkal lengan Ki Anjeng Laknat. Tidak hanya sampai disitu saja. Pedang itu patah, bagian ujungnya terpental ber- balik lalu meluncur deras ke arah Kunti Menak. Kejut si nenek bukan alang-alang. Dia lebih kaget lagi ketika melihat patahan pedang berbalik meluncur menghan- tam ke bagian dada.

Perempuan tua ini melompat ke samping, ja- tuhkan diri dan terus bergulingan. Cepat sekali dia bangkit, lalu memutar tubuh memandang ke arah da- tangnya suara.

"Begawan Panji Kwalat! Begawan edan berani kau mencampuri urusan orang!" hardik Kunti Menak kalap. Begawan Panji Kwalat kalap. Begawan Panji Kwalat yang datang dengan membawa seorang pemuda yang dalam keadaan terluka di atas pangkuannya ini hanya tersenyum sinis. Dia yang selalu berjalan den- gan tubuh mengambang sesuai dengan yang dia ke- hendaki malah alihkan perhatiannya pada Ki Anjeng Laknat.

"Kakang sampai kapan kau berlaku bodoh aki- bat diperbudak cinta. Dua puluh tahun kau dihukum seperti itu. Kini malah kedua tangan dan kakimu hen- dak dia buntungi. Celakanya kau hanya diam saja, pa- dahal kesaktian yang kau miliki jauh lebih tinggi ting- katannya dibandingkan diriku dan dirinya. Sebaiknya kita habisi saja dia sekarang agar tak menjadi penyakit di kemudian hari!" dengus Begawan Panji Kwalat sen- git.

"Adikku, jangan kau bunuh dia. Dia sorgaku, dia permataku. Jika dia mati aku bisa kehilangan sor- ga!" cegah Ki Anjeng Laknat. Berkata begitu si kakek diam-diam perhatikan pemuda gondrong berpakaian merah yang nampaknya dalam keadaan terluka itu. "Mungkinkah yang dibawa Begawan Panji Kwalat ada- lah si bocah itu. Si bocah itu Lira Watu Sasangka?" ba- tin si kakek.

"Kakang seribu gadis bisa ku carikan untukmu. Buat apa kau mencintai nenek rongsokan itu? Dia cu- ma rongsokan hidup yang tidak ada gunanya." kata sang Begawan mencemooh.

Akibat campur tangan si Begawan saja sudah membuat Kunti Menak menjadi marah bukan main, apalagi kini Begawan berkaki lumpuh itu menghinanya dengan kata-kata yang menyakitkan. Kunti Menak ten- tu semakin tidak dapat menahan diri.

"Begawan palsu, manusia laknat lahir batin. Kau memang layak kubuat mampus!" si nenek berte- riak lantang. Laksana kilat dia hantamkan kedua tan- gannya ke arah sang Begawan. Sinar hitam melesat dari telapak tangan Kunti Menak, hawa panas memba- kar. Begawan Panji Kwalat walaupun membawa beban namun dengan cepat bergerak ke samping. Tangan di- putar lalu diangkat, satu gelombang sinar putih ber- bentuk kerucut terbalik menyambut hantaman si ne- nek.

"Dingin....!" teriak si kakek lumpuh yang berja- lan mengambang di udara. Ketika pukulan berhawa panas itu memasuki lingkaran kerucut dari cahaya mendadak saja pukulan sakti Kunti Menak berubah menjadi dingin. Masih dengan memangku pemuda yang dibawanya dia angkat tangan kirinya siap meng- habisi Kunti Menak.

"Adikku.... jangan bunuh dia. Ku mohon !"

satu suara berseru. Tak perlu melihat ke arah datang- nya suara Begawan Panji Kwalat yang sekujur tubuh- nya dipenuhi serbuk kapur sudah tahu yang baru saja bicara tadi adalah kakangnya Ki Anjeng Laknat.

"Kau meminta aku tidak membunuhnya, pa- dahal dia hampir membuat kau celaka. Mengingat kita saudara sedaging, baiklah permintaanmu ini akan ku- kabulkan. Aku hanya akan membuatnya menjadi pa- tung!" sahut Begawan itu dingin. Dia lalu robah gera- kan tangannya. Tangan diangkat tinggi, lalu bergerak turun seperti gerakan mengusap ke arah Kunti Menak, mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.

"Jadilah kau patung hidup. Tidak akan pernah terjaga tidak pula dapat bergerak terkecuali ada suara petir menyambar dekat telingamu!" seru si kakek. Ucapannya ini bukan ucapan biasa, tapi mengandung satu kekuatan yang bisa membuat orang menjadi se- perti yang diinginkannya. Dan memang itulah yang kemudian terjadi pada Kunti Menak. Si nenek yang masih dalam keadaan tercengang melihat serangannya dapat dilumpuhkan lawan tiba-tiba merasakan ada hawa dingin yang sangat luar biasa menyergap tubuh- nya mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Bersamaan dengan itu pula dia tak dapat menggerak- kan seluruh bagian tubuhnya. Tubuh itu bukan saja hanya terasa kaku, tapi juga terasa dingin luar biasa.

"Kurang ajar! Aku tak mau dipermalukan se- perti ini." rutuk Kunti Menak. Dia kemudian bang- kitkan tenaga dalam berhawa panas yang bersumber dari bagian pusar. Tenaga dalam tidak bekerja, reaksi yang diharapkan tidak kunjung muncul. Pucat pasi wajah si nenek.

"Bangsat kau Begawan. Jika tidak kau bunuh aku hari ini, aku bersumpah kelak pasti akan menca- rimu!" teriak Kunti Menak. Suara makian hanya diba- las dengan tawa panjang Begawan Panji Kwalat. Se- mentara itu dia semburkan ludahnya ke rantai batu yang mengitari tangan serta kaki Ki Anjeng Laknat. Saat rantai batu terkena semburan ludah maka rantai batu mengepulkan asap putih disertai suara gemere- tak. Rantai hancur berkeping-keping. Ki Anjeng Laknat begitu terbebas langsung berlari mendapatkan Kunti Menak.

"Kekasihku... kekasihku, kau tidak apa-apa bukan?" tanya si kakek merasa cemas.

Akan tetapi si nenek malah mendampratnya. "Tua gila, sebaiknya minggat kau ke neraka. Aku tak sudi melihatmu lagi!"

Ki Anjeng Laknat nampak kecewa sekali. Meli- hat sang kakak berubah sedih Begawan Panji Kwalat sudah tak dapat lagi menahan rasa jengkelnya pada sang kakek.

"Dia muak melihat tampangmu kakang. Se- baiknya kau ikuti aku. Muridku Lira Watu Sasangka, Panji Anom Penggetar Jagad perlu kita obati!" seru si kakek.

Seakan baru tersadar Ki Anjeng Laknat cepat berpaling. "Diakah orangnya yang waktu masih dalam kandungan ku rawat dulu?" tanya Ki Anjeng Laknat. Adiknya Begawan Panji Kwalat tidak menanggapi, dia malah melesat tinggalkan tempat itu.

Tidak menunggu lebih lama, setelah meman- dang ke arah Kunti Menak si kakek pun berkelebat pergi.

"Bangsat kakak beradik itu, kelak aku pasti akan menghabisinya. Tapi apakah pemuda tadi me- mang benar anak Mawar Pelangi? Anak jahanam se- perti itu firasat ku mengatakan hanya menjadi penebar bencana saja!" rutuk Kunti Menak sinis.

7 Dua ekor kuda di pacu cepat meninggalkan Kiara Condong. Di atas punggung kuda berbulu hitam itu masing-masing ditunggangi oleh seorang laki-laki berbadan tegak, berpakaian serba hitam, berwajah angker dipenuhi cambang brewok lebat. Melihat cara mereka menunggang kuda yang tidak ubahnya seperti di kejar setan, paling tidak mereka sedang tergesa-gesa atau hendak melakukan sesuatu yang amat penting.

Sampai di tepi hutan Watu Gamping, penung- gang kuda yang berada di bagian belakang memper- lambat lari kudanya. Sampai akhirnya kuda tunggan- gan dihentikan secara mendadak.

Melihat orang di depan hentikan kuda, maka yang berada di belakang juga ikut menghentikan tung- gangannya.

"Mengapa berhenti?" tanya si brewok yang ber- badan agak pendek.

"Adik Sugriwa? Tidakkah kau mendengar ada seseorang yang mengikuti kita?" kata orang yang di depan resah.

"Suara apa? Sejak tadi aku tak mendengar sua- ra apapun." sahut si berewok yang dipanggil Sugriwa. Mendengar jawaban itu si tinggi besar yang wajahnya tak kalah seram dengan sang teman nampak tidak puas. Dia geleng kepala. Tatap matanya memandang ke jurusan hutan yang terdapat di sebelah kiri mereka. "Aku mendengar suara siulan. Sejak mening-

galkan pemuda itu perasaanku entah mengapa jadi ti- dak enak. Jangan-jangan dia tak mempercayai kita. Lalu sengaja membiarkan kita pergi, untuk kemudian membunuh kita di tempat ini!" Mendengar ucapan si tinggi tegap Sugriwa bulu kuduknya meremang. Hati dan fikirannya jadi tidak enak. Tapi dia malah tertawa. "Kakang Subali. Jangan perturutkan kata hati dan perasaan. Pemuda jahanam itu tak mungkin me- nyusul kita. Bukankah kita sudah berjanji untuk men- gabdi kepadanya? Dia malah menjanjikan imbalan be- sar, jika kita sanggup menggagalkan pertemuan para pendekar di Kiara Condong nanti."

"Mengabdi...? desis Subali disertai seringai aneh, namun wajah membayangkan rasa tidak puas. Dengan perasaan jengkel dia melanjutkan. "Sejak ne- nek moyang kita masih hidup, Macan Seribu belum pernah hidup menjadi budak orang lain. Sampai seka- rang sebagai keturunannya kita juga tidak layak men- gabdi kepada siapa saja, juga termasuk kepada pemu- da jahanam yang tidak kita kenal asal usulnya!" den- gus Subali.

"Aku sendiri juga punya tekad yang sama. Tapi pemuda itu telah memberikan minuman beracun pada kita. Kita tak mungkin lolos dari kematian, hanya dia yang dapat memunahkan racun di dalam tubuh kita. Pengaruh racun itu kurasakan semakin menghebat, kalau tidak percaya coba kakang hirup udara dalam- dalam." kata Sugriwa

Di sertai senyum mencibir Subali menarik na- fas dalam-dalam. Mendadak dia merasakan dadanya jadi sakit, sesak luar biasa. Sedangkan Sugriwa dapat melihat wajah Subali berubah pucat laksana mayat.

"Kakang wajahmu ?!" seru Sugriwa.

"Keparat jahanam!" maki Subali gusar. Dia mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Sedang- kan matanya dipejamkan. Dengan mata masih terpe- jam pula dia berkata. "Kau benar, pemuda sial itu ti- dak main-main dengan ancamannya. Baru kali ini kita kena dikerjai orang."

"Apakah engkau masih tidak mau mengakui kenyataan yang terjadi dengan kita kakang?!" "Diam...!" Subali berteriak marah. "Tidak, per- nah kusangka kelalaian kita yang sekejap itu harus dibayar mahal. Hem... agaknya kita memang tidak punya pilihan lain. Kita harus turuti apa yang menjadi keinginannya. Tidak mengapa, tapi bila kelak dia memberikan obat penawar racun itu pada kita, disitu- lah kesempatan kita untuk membalas dendam!" geram Subali.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan, ka- kang?" tanya Sugriwa.

Yang ditanya terdiam beberapa saat lamanya.

Setelah itu dia menggelengkan kepala.

"Pemuda itu menyuruh kita menghalangi setiap orang yang dalam perjalanan ke Kiara Condong. Apa- pun tujuannya jelas dia tidak ingin siapapun sampai ke tempat itu."

"Konon di tempat itu akan diadakan pertemuan para pendekar dan beberapa tokoh golongan lurus. Apa maksud dan tujuan dari pertemuan mereka aku tak tahu!" jelas Sugriwa.

"Tugas kita tidak ringan. Yang akan kita hadapi adalah orang-orang berkepandaian tinggi. Ini akan menyulitkan kita."

"Tapi untuk mundur nampaknya juga tidak mudah. Kita hanya punya kesempatan hidup selama lima puluh hari lagi. Jika sampai pada waktu yang di- tetapkan kita tidak kembali menemui pemuda itu, ajal segera datang menjemput. Riwayat Macan Seribu ta- mat, dan kita mati sia-sia." Sugriwa menimpali.

"Sudahlah, kita memang sedang dihadapkan pada pilihan sulit. Seandainya kita tidak turuti keingi- nan pemuda itu kita bakal kehilangan kesempatan un- tuk memandang indahnya dunia lebih lama. Karena itu sebaiknya kita turuti saja keinginannya." pada ak- hirnya Subali memutuskan.

Sugriwa tentu saja merasa senang. Karena jauh di lubuk hati laki-laki itu dia tidak ingin mati muda. Kalau mungkin dia ingin hidup seribu tahun lagi.

"Kakang... dalam keadaan seperti ini kurasa pi- lihan mu adalah pilihan yang bijaksana. Sekarang alangkah baiknya kita lanjutkan saja perjalanan ini!" kata Sugriwa siap menyentakkan tali kekang kuda. Ba- ru saja Subali anggukkan kepala, pada saat itu kemba- li terdengar suara siulan panjang. Macan Seribu ter- sentak kaget. Hampir bersamaan mereka memandang ke arah datangnya suara.

Di sebelah kiri jalan dimana suara siulan tadi terdengar tidak terlihat siapapun berada di sana. Sub- ali dan Sugriwa saling pandang.

"Apa kataku, sejak kita meninggalkan pemuda itu aku merasa seperti ada orang yang mengikuti. Du- gaanku ternyata tidak meleset!" desis Subali. Suaranya lirih perlahan.

"Ada suara tak ada orangnya. Jelas suara si- ulan itu datang dari satu tempat yang sangat jauh. Be- rarti siapapun orangnya pasti memiliki tenaga dalam serta kesaktian yang tidak rendah!" Sugriwa menyahu- ti.

"Kau benar. Agaknya inilah tugas pertama yang harus kita bereskan!" berkata begitu Subali kitarkan pandang matanya ke sekeliling tempat dimana mereka berada.

Orang yang keluarkan siulan sama sekali masih belum terlihat. Subali menjadi gusar. "Kurang ajar, ada orang hendak mempermainkan kita!" kata laki-laki bertampang seram itu sambil kepalkan tinjunya.

"Kakang lihat....!" Sugriwa tiba-tiba keluarkan seruan tercekat. Dia menunjuk ke depan dengan mata mendelik.

Seketika Subali pun memandang ke arah yang dimaksud. Laki-laki itu terperangah ketika melihat di tengah jalan setapak itu berdiri tegak seorang kakek berpakaian kuning gading berambut panjang riap- riapan. Wajah orang itu sama sekali tidak terlihat ka- rena tertutup rambut. Melihat kehadiran orang yang entah sejak kapan berada disitu, Macan Serbu mak- lum siapapun adanya kakek ini tentu dia bukan orang sembarangan. Sehingga Subali berbisik pada Sugriwa. "Aku mencium adanya gelagat yang tidak beres. Hen- daknya kau bersikap waspada!"

Sementara itu kakek yang berdiri di tengah ja- lan saat itu membuka mulut berucap. "Keadaan begini gelap, padahal matahari panas membakar. Kiara Con- dong entah berada dimana, si tua berjalan tidak tahu arah. Wahai saudara dapatkah kau tunjukkan arah kepadaku?"

"Siapa dirimu adanya?" tanya Subali

"Ha ha ha. Orang memanggilku Si Mata Aneh, padahal lihatlah, apakah aku memiliki mata?" berkata begitu orang berpakaian kuning gading singkapkan rambutnya yang panjang menutupi wajah.

"Hah...!" Sugriwa dan Subali sama keluarkan seruan tertahan ketika melihat seraut wajah seorang kakek di penuhi cacat parut besar, sedangkan sepa- sang matanya sama sekali lenyap, hanya tinggal beru- pa rongga besar berwarna hitam kemerahan. Sungguh mengerikan sekaligus menjijikkan keadaannya.

Di depan mereka si kakek tertawa mengekeh. Beberapa saat sepasang mata yang hanya berupa dua rongga besar itu seolah memandang ke arah Subali dan Sugriwa.

"Setelah berpuas diri melihatku, sekarang aku ingin meminta pada kalian untuk mengantarku ke Kia- ra Condong!" kata Si Mata Aneh. Subali tertegun, rasa takutnya melihat keadaan kakek itu kini mendadak le- nyap berganti dengan keberanian begitu teringat pada pemuda yang telah meracuni mereka.

"Orang tua apa kepentinganmu pergi ke tempat itu.?" tanya Subali.

"Apa kepentinganku, buat apa kuberitahukan pada kalian. Cepat antarkan aku kesana jika kalian ti- dak ingin mendapat kesulitan!" hardik si kakek.

"Kakek buta, kami bukan budakmu. Bagaima- na mungkin kami harus mengantarmu ke Kiara Con- dong, sedangkan seseorang telah memberikan tugas pada kami untuk membunuh siapa saja yang coba- coba datang ke sana!" dengus Sugriwa. Tanpa disadari dia telah keterlepasan bicara.

Si kakek dongakkan kepalanya ke atas lalu umbar tawanya. Begitu suara tawa lenyap dia meng- hardik. "Dua kurcaci keparat, berani menolak permin- taanku apakah tidak takut mati?"

"Percuma kau mengancam kami kakek buta. Kami Macan Seribu mana takut mati." dengus Subali gusar.

"Macan Seribu.... Macan Seribu....!" Si kakek berkata sambil mengingat-ingat. Begitu teringat siapa adanya Macan Seribu tawa Si Mata Aneh pun seolah tidak terbendung lagi.

"Macan Seribu, nama kalian pernah aku den- gar. Orang lain boleh takut mendengar gelaran kalian, tapi bagiku tidak ada artinya sama sekali!" ucap Si Ma- ta Aneh dingin. Merasa tidak dipandang muka oleh Si Mata Aneh, Subali dan Sugriwa pun menjadi berang. Dia berpaling pada adiknya sambil berteriak. "Bunuh tua bangka buta itu!" "Ha ha ha. Yang kau minta memang yang ku- tunggu sejak tadi!" jawab Sugriwa.

"Jika minta mampus mengapa tidak maju seka- ligus?" tantang Si Mata Aneh.

"Kakek buta keparat. Melihat cacat mu rasanya kau tidak layak menghadapi kami berdua!" seru Sub- ali.

"Ha ha ha. Oh... begitu. Sikap takabur dan memandang rendah orang lain hanya akan mencela- kakan diri sendiri. Sekarang tunggu apalagi, majulah!" teriak Si Mata Aneh sinis.

Subali sama sekali tidak menanggapi, sebalik- nya Sugriwa tanpa menunggu lebih lama lagi langsung menggebrak kudanya. Kuda meringkik keras, lalu ber- gerak menerjang Si Mata Aneh. Sementara Sugriwa yang duduk di atasnya langsung menghantam kepala kakek itu dengan pukulan tangan kosong. Si Mata Aneh tertawa tergelak begitu merasakan adanya hawa dingin menyambar kepala. Seakan melihat saja dia me- lompat ke belakang hindari pukulan lawan, sedangkan tangan kiri dihantamkannya ke bagian kaki depan ku- da yang bergerak menerjang ke bagian dada.

Wuut!

Kraak! Kraak!

Terdengar suara tulang bederak. Kuda besar itu meringkik keras ketika dua kaki depannya patah ter- kena hantaman pukulan si kakek. Kuda tersungkur ke depan. Jika Sugriwa tidak melompat ke udara ber- jungkir balik tiga kali niscaya tubuhnya ikut terbant- ing.

"Jahanam keparat! Kau patahkan kaki kudaku, tua bangka buta!" teriak laki-laki itu kalap.

"Sekarang kaki kuda, sekejap lagi kaki dan le- hermu yang kau patahkah!" sahut Si Mata Aneh. Kalaplah Sugriwa mendengar ucapan sinis la- wannya. Sementara Subali yang tidak pernah me- nyangka kehebatan yang dimiliki lawan diam-diam terkejut. "Kakek buta jahanam itu. Ternyata dia tidak dapat dipandang enteng. Jika Sugriwa tidak segera menggunakan goloknya. Bisa jadi Si Mata Aneh dapat mencelakainya!" batin Subali. Namun dia masih belum turun tangan membantu Sugriwa.

Seakan mendengar apa yang dikatakan Subali, Sugriwa tiba-tiba mencabut golok besarnya yang ter- gantung di pinggang. Golok yang berbadan lebar pada bagian ujungnya dan mempunyai empat lubang yang berderet rapi dari bagian ujung hingga ke pangkal itu berwarna merah darah. Sambil mengacungkan golok di atas kepala Sugriwa berteriak. "Mata Aneh kau lihat

apa yang di tanganku ini?" Seru laki-laki itu lantang.

Si Mata Aneh yang saat itu berdiri bertolak pinggang, dengan rongga matanya yang bolong me- mandang lurus ke depan. Tak lama dia tersenyum si- nis.

"Mataku buta, mata batin melihat saat ini kau memegang senjata. Aku tak dapat memastikan senjata apa, tapi aku dapat merasakan perbawa ketajaman- nya!" sahut si kakek.

"Bagus." ujar Sugriwa yang sempat terkejut ka- rena lawan mengenali benda yang digenggamnya wa- laupun dia tak memiliki mata sama sekali.

"Dengan golok ini aku aka memenggal kepala-

mu!"

"Jangankan memenggal kepala, menggores tu-

buhku sekalipun barangkali tak akan mampu melaku- kannya! Ha ha ha." ***

8

Wajah Sugriwa semakin mengelam mendengar ucapan Si Mata Aneh. Perlahan golok bergerak turun. Mata golok menghadap ke depan, sedangkan pung- gungnya menempel di bagian hidung. Sugriwa berko- mat-kamit, tubuhnya bergetar hebat. Lalu golok yang menempel pada hidung dan dahinya itu beberapa ke- jab kemudian nampak mengepulkan asap kemerahan.

Wuut!

Disertai kepulan asap menebar bau amis darah golok berkelebat ke depan menyambar pinggang Si Ma- ta Aneh. Sambaran golok yang disertai menebar hawa dingin luar biasa itu membuat si kakek maklum senja- ta di tangan lawan bahkan senjata sembarangan, pal- ing tidak mengandung racun jahat. Karena itu dia tak mau bersikap ayal. Begitu golok membabat pinggang dia berkelit ke belakang. Sambaran golok luput dari sasaran, tapi dengan cepat Sugriwa sudah membalik- kan badan. Dengan beringas dia mengayunkan senja- tanya ke arah dada. Selagi senjata itu menderu Mata Aneh miringkan tubuhnya ke kiri. Tangan kanan beru- saha memukul pergelangan tangan lawan yang meme- gang golok. Sedangkan kepalanya di gelengkan ke de- pan.

Sugriwa yang tak menyangka lawan dapat me- lakukan serangan balik seperti itu begitu sabetan go- loknya luput dia cepat tarik senjata ke belakang. Tapi pada saat itu hantaman rambut di kakek yang tiba- tiba berubah kaku laksana kawat baja mendera wa- jahnya.

"Kurang ajar!" seru Sugriwa. Cepat sekali dia tarik wajahnya hindari sambaran rambut. Namun tak urung bahunya masih kena di hantam belasan ujung rambut lawannya.

Ceep! Cep! Cep! "Akh !"

Terhuyung-huyung dengan muka pucat Sugri- wa masih dapat selamatkan diri. Akan tetapi bahunya mengucurkan darah. Rasa nyeri mendera membuat la- ki-laki itu mengernyit kesakitan.

"Hantam kepalanya Sugriwa!" teriak Subali.

Tidak diingatkan sekalipun Sugriwa saat itu memang bermaksud menghantam kepala lawannya. Tapi laki-laki itu tidak langsung menyerang bagian yang diincarnya. Begitu dia melihat kesempatan senja- ta di tangannya berkelebat menderu menghantam ke- dua kaki Si Mata Aneh. Mendapat serangan seperti itu si kakek yang mengandalkan pendengaran itu melom- pat di udara.

Bret! Breet! Cess! Cess!

Kedua orang itu sama keluarkan pekikan keras. Ketika Si Mata Aneh jejakkan kakinya kembali nampak jelas bagian pahanya kanan kiri mengucurkan darah. Celana di bagian paha robek besar, sedangkan Sugriwa sendiri sekarang dekap wajahnya yang mengucurkan darah. Golok besar di tangan terlepas mental jauh dari jangkauan. Kiranya ketika melompat ke atas tadi la- wan kibaskan rambut panjangnya yang dapat melentur atau berubah keras laksana kawat baja. Tak pelak lagi ketika Sugriwa dengan penuh semangat dapat melukai paha lawan, di sisi lain rambut si kakek bagaikan ja- rum menancapi wajah Sugriwa. Melihat kejadian yang berlangsung sangat cepat ini, Subali menggerung marah. Dia mencabut goloknya dengan gerakan laksana kilat laki-laki itu melesat dari atas punggung kuda. Sambil berkelebat golok terayun ke bagian dada, leher dan perut Si Mata Aneh. Sinar Merah menderu dan agaknya si kakek tak mungkin la- gi dapat menghindar selamatkan diri.

Perhitungan Subali ternyata meleset, karena lawan dengan mengandalkan ilmu mengentengi tubuh kini berkelebat melesat di udara. Selagi tubuhnya mengambang di udara tangan kiri bergerak mengusap telunjuk jari tangan kanan. Begitu diusap, dari bagian punggung jemari tangan Mata Aneh terkuak. Sesuatu yang mirip dengan mata tapi berwarna putih polos berkedip. Jemari telunjuk itu kemudian diarahkannya pada Subali dan Sugriwa.

Wuus! Wuus! Wuuus!

Sebagaimana julukannya, si kakek bergelar Si Mata Aneh. Karena dia memiliki senjata andalan beru- pa sebuah mata yang secara aneh melekat di bagian jari telunjuk. Kenyataan ini nampaknya baru disadari oleh Subali ketika dia melihat dari punggung jari telun- juk lawan menderu berturut-turut tiga larik sinar me- rah kehitaman yang langsung menghantam tiba bagian tubuhnya.

Rasa kaget di hati laki-laki itu berlangsung se- kejap saja, di lain saat dia memutar golok di tangannya hingga membentuk perisai diri yang amat kokoh.

Trang!

Subali memekik kaget ketika golok besarnya yang dipergunakan untuk menangkis nampak leleh seperti dilebur di atas bara. Subali terpaksa campak- kan golok yang kini hanya tinggal setengahnya. Dia ja- tuhkan diri berguling-guling mencari selamat. "Bagus kalau kau bisa mengelak. Sekarang ku- bunuh dulu adikmu!" gumam Si Mata Aneh yang saat itu telah jejakkan kedua kakinya sejarak empat tom- bak dari Sugriwa. Begitu kaki si kakek menyentuh lan- tai, dia kibaskan tangannya ke arah laki-laki itu. Su- griwa yang saat itu menjerit-jerit karena kedua ma- tanya yang berlumuran darah tak dapat dipergunakan untuk melihat lagi nekad menyerang si kakek dengan sambaran kuku-kuku tangannya yang panjang hitam mengandung racun.

Meskipun Si Mata Aneh tak dapat melihat, se- rangan berbahaya Sugriwa ini dengan cepat dapat di- elakkan. Sambil mengelak ibu jari digerakkan dari ka- nan ke kiri.

Wuut! Wuut! Buuum!

Sugriwa terbanting keras ketika sinar maut yang memancar dari punggung jari telunjuk si kakek menghantam dada dan perutnya. Laki-laki itu menjerit setinggi langit, dadanya berlubang, isi perut berbu- raian keluar. Sugriwa berkelojotan sesaat, kemudian terdiam tak berkutik lagi. Melihat kematian adiknya Subali menggerung. Dengan mata mendelik besar dia berteriak. "Kau bunuh saudaraku satu-satunya. Sung- guh aku tak akan mengampuni jiwamu!"

"Ha ha hai. Untuk membunuhku bukan persoa- lan yang mudah. Majulah, aku telah siap untuk mene- rima hukuman darimu!" kata Si Mata Aneh lantang.

Benar si kakek berkata begitu, malah dia meli- pat kedua tangan di depan dada bersikap seperti orang yang pasrah siap menerima kematian. Tapi ketika Subali menyerang Si Mata Aneh dengan jurus-jurus Macan Seribu, lawan ternyata tidak tinggal diam. Den- gan gesit dia menghindari sambaran kuku-kuku Sub- ali. Tendangan beruntung yang dilakukan laki-laki itu juga dapat dielakkannya.

Melihat ketangguhan lawan, Subali jadi tambah penasaran. Dia lipat gandakan tenaga dalamnya, sete- lah kembali menyerang dengan kecepatan luar biasa. Dua sosok tubuh itu kini tak ubahnya seperti bayan- gan saja. Saling serang dan saling gempur tidak berke- putusan. Sampai akhirnya terdengar suara bergedebu- kan disertai suara robeknya kain di susul dengan ter- pentalnya dua sosok tubuh, satu ke kanan dan sa- tunya lagi ke sebelah kiri.

Si Mata Aneh dekap dadanya yang robek terke- na sambaran kuku Subali. Baju kuningnya robek be- sar, darah meleleh dan si kakek menyeringai menahan sakit.

Tak jauh didepannya Subali nampak megap- megap akibat terkena pukulan Mata Aneh di bagian dadanya. Susah payah Subali mencoba bangkit berdiri. Tapi belum lagi dia semua berdiri tegak, lawan telah menyerangnya dengan mempergunakan kekuatan ma- ta tunggal di bagian jari telunjuk.

Serangan pertama si kakek dapat dihindarinya, tapi ketika dari mata tunggal di atas jari telunjuk membersit tiga larik sinar merah berturut-turut Subali tak mampu menghindar seluruh serangan itu. Salah satu sinar menghantam bagian kening. Subali jatuh terpental, keningnya berlubang besar mengepulkan asap tipis. Ketika sosok laki-laki ini jatuh menyentuh tanah dia tewas seketika dengan mata mendelik. Mata aneh tertawa dingin. Tanpa menghiraukan mayat la- wannya dia balikkan badan dan berkelebat pergi ting- galkan tempat itu.

*** Kakek bersongkok putih Manusia Seribu Tahun membawa Gento Guyon melewati pintu gerbang putih yang diselimuti kabut putih tebal setelah sampai pada akhir batas perjalanan mereka.

Setelah melewati pintu gerbang dia merasakan sekujur tubuhnya menjadi enteng dan sejuk. Lalu per- lahan pemuda itu merasakan kakinya menyentuh be- ludru yang amat sejuk.

Gento membuka mata ketika tidak lagi merasa- kan sentuhan tangan orang di bagian punggungnya. Dia memperhatikan suasana di sekelilingnya. Si pe- muda jadi tercekat ketika mendapati dirinya berada di suatu tempat yang asing di mana tanah, bukit serta bebatuan yang terdapat di tempat berwarna biru ba- gaikan hamparan laut luas.

"Kakek Seribu Tahun, dimana saat ini aku be- rada? Aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya." kata Gento heran juga bingung. Tapi, tak ada jawaban. Ketika pemuda itu palingkan kepala ke belakang dia jadi tambah kaget karena Manusia Se- ribu Tahun yang telah membawa ke tempat itu sama sekali lenyap entah kemana.

"Kakek... dimanakah kau?" tanya Gento lagi, beberapa saat lamanya dia menunggu. Gema suaranya lenyap, namun dia tetap tidak melihat atau mendengar suara si kakek. Gento berpaling ke belakang. Sepi! Yang terlihat tidak lebih hanya hamparan kabut me- mutih bagaikan permadani yang menghalangi pandan- gan mata.

"Celaka, jangan-jangan dia memang sengaja hendak mencampakkan aku di tempat ini? Tempat apa ini namanya? Tidak ada manusia, tidak ada siapapun meski cuma seekor kecoak." gerutu si pemuda. Gento kemudian berjalan mondar-mandir di atas hamparan tanah berwarna biru itu dengan hati diliputi kebim- bangan.

"Mungkin inilah tempatnya yang sering disebut orang sebagai tanah tak bertuan. Tanpa kakek itu jelas aku tak mungkin bisa menemukan jalan pulang. Aneh, dia seperti orang yang tidak bertanggung jawab. Aku jadi khawatir bukan mustahil dia telah menipuku!" fi- kir Gento.

Selagi fikirannya dibuncah berbagai perasaan curiga, maka pada saat itu pula mendadak sontak ter- dengar suara raungan aneh sayup-sayup di kejauhan. Murid kakek gendut Gentong Ketawa tersentak kaget. Dia cepat balikkan badan dan memandang ke arah mana suara tadi berasal. Belum lagi lenyap rasa kaget yang menyelimuti perasaannya pada saat itu pula di depannya muncul satu sosok angker mengerikan. Sa- ma seperti dirinya sosok itu bertelanjang dada. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat, berkuku panjang, rambut panjang hitam riap-riapan. Sedang- kan wajahnya juga ditumbuhi bulu, alis mata hitam kereng, mata merah laksana bara. Selain itu di sudut bibir sosok angker ini mencuat dua pasang taring yang runcing dan tajam berlumuran darah.

Yang membuat Gento jadi bertambah heran raut wajah sosok bercelana biru itu sama persis seperti dirinya. Hanya tubuhnya dua kali lebih tinggi dari di- rinya.

"Mahluk salah kaprah, siapa dirimu adanya? Wajahmu mirip sekali dengan diriku, sedangkan ba- gian yang lainnya seperti setan. Atau kau memang se- tan kesasar yang sengaja menyaru seperti diriku?" tanya Gento heran.

"Ya, karena aku adalah amarah, aku kebencian, aku angkara murka dan aku malapetaka. Aku adalah bagian dari dirimu yang paling buruk. Gento sosok

ku ada dalam diri setiap orang. Siapa saja yang mengi- kuti sifat-sifat yang kusebutkan dia berada dalam ke- sesatan, hidup dalam kehinaan dan sengsara sela- manya. Ha ha ha!" kata sosok angker mirip Gento.

"Tapi... aku tak pernah merasakan kehadiran dirimu. Bagaimana kau bisa mengaku kau adalah ba- gian dari diriku. Sejak kapan kau mengikuti aku?" tanya Gento heran.

Sosok Gento berwajah angker mengerikan di depan sana menyeringai. "Aku tidak mengikutimu, tapi menyertaimu, menyatu dalam jiwa dan telah ada sejak kau dilahirkan di dunia ini. Aku adalah amarah....

ujud ku baru terlihat dalam bentuk perbuatan. Celaka- lah orang yang selalu mengikuti kehendakku. Betapa mulia orang yang mampu merantai tangan dan kaki- ku." kata sosok itu pelan.

"Sekarang aku mengerti, jadi kau ini adalah emosi jiwa?"

"Kau benar."

"Lalu mengapa kau memperlihatkan diri?" tanya si pemuda. "Apakah kau ingin aku merantai mu?"

"Kau hanya bisa melakukan itu bila telah me- mahami sifat ku. Bila kau membuatku tidur selamanya berarti kau telah membelenggu seluruh tubuhku!"

"Berarti aku harus bersikap sabar, menahan di- ri dari amarah."

"Benar. Karena kau adalah seorang calon pen- dekar sakti, maka kau harus mengutamakan sikap sa- bar."

"Hal seperti itu sangat sulit dilakukan manusia pada umumnya, terkecuali para dewa." "Kau bukan manusia umum, bukan orang ke- banyakan. Sikap sabar harus lebih banyak kau tum- buhkan dalam dirimu. Jika kau tidak ingin aku men- gendalikan hidupmu. Andai aku yang menjadi kendali dalam kehidupanmu, maka yang kau dapatkan hanya malapetaka dan segala keburukan yang seharusnya ti- dak perlu terjadi!"

"Baiklah, sekarang lebih baik kau pergi saja. Aku muak melihat tampangmu!" kata Gento sambil tertawa.

"Hmm, aku memang akan pergi. Sebelum pergi dan kembali dalam dirimu kau harus mengingat satu hal, aku hanya bisa kau kalahkan dengan akalmu!" ujar si sosok angker.

Gento anggukkan kepala. Begitu si pemuda mengangguk, pemuda ini merasakan adanya hembu- san angin yang menampar sekujur tubuhnya. Samba- ran angin yang terasa panas itu membuat si gondrong memandang ke depan. Gento dibuat melongo, karena sosok angker yang mengaku sebagai bagian dari di- rinya itu ternyata telah lenyap. Sebagai gantinya kini muncul sosok Gento yang lain. Sosok serba putih ber- kepala besar bukan main, kemudian di sebelah kirinya muncul sosok lain berwarna merah seperti darah. Tak sampai di situ saja di sebelah kanan sosok serba putih yang berasal dari kabut itu muncul pula sosok Gento yang sangat besar luar biasa.

Kehadiran ketiga sosok yang semuanya mirip dengan dirinya ini membuat menjadi lemas, lututnya goyah dan diapun jatuh terduduk.

"Kalian siapa lagi? Apakah masih merupakan bagian dari diriku? Mengapa banyak amat?" tanya pe- muda itu dengan suara bergetar.

"Benar, kami memang merupakan bagian dari dirimu." ketiga sosok yang berdiri tegak di depan Gento dan nampak meliuk-liuk ketika ditiup angin menjawab serentak. Aneh bahkan sungguh sulit dipercaya, hing- ga membuat Gento gelengkan kepala berulang kali.

"Apa yang kulihat saat ini rasanya tidak masuk akal!" katanya.

"Gento, akulah akalmu. Atas izin Gusti Allah dan dengan keinginan orang yang telah membawamu ke alam Tanpa Benci itu, kami yang merupakan bagian dari dirimu hadir di depanmu." Yang menjawab adalah sosok serba putih yang berdiri tegak diantara dua lainnya. 

"Kau siapa?" tanya Gento sambil matanya men- cari-cari kalau Manusia Seribu Tahun hadir pula dis- itu. Tapi kakek itu bersongkok hitam yang usianya mendekati seribu tahun itu tak terlihat.

"Aku adalah akalmu, Gento. Jika kau mampu membuat aku terjaga selamanya, maka aku bisa me- nunggang nafsumu, aku bisa mengendalikan sosok yang bernama amarah, aku bisa mengatur nafsu serta berbagai keinginan rendah yang ada dalam dirimu. Ji- ka kau menjadi kendali dalam dirimu, hidup berada dalam keselamatan, sebaliknya jika aku yang dikenda- likan nafsu serta amarahmu. Kau akan hidup dalam kesesatan dan celaka." kata sosok serba putih tenang.

"Lalu yang di sebelah kirimu siapa?" tanya mu- rid Gentong Ketawa sambil melirik ke arah sosok serba merah seperti darah.

"Aku adalah bagian dirimu yang terlihat." me- nyahuti sosok serba merah. "Aku adalah ujud kasar- mu, terdiri dari kulit daging tulang dan darah. Aku adalah selimut sekaligus tempat bernaung dari tiga bagian lainnya. Tiga bagian yang berteduh dalam naungan ku adalah, akal atau fikiran. Perasaan yang terbagi menjadi beberapa bagian. Diantaranya adalah yang menemuimu pertama tadi, lalu perasaan kesaba- ran dan kasih sayang. Bagian ketiga yang berada da- lam perlindungan ku adalah tenaga....!" menerangkan sosok serba putih.

"Akulah tenaga!" menyambungi sosok Gento yang berbadan besar luar bisa. "Aku adalah kekuatan. Dengan kehadiranku kau dapat berbuat apa saja. Tapi diriku akan sangat menderita bila kau pergunakan pa- da jalan yang dimurka Gusti Allah."

"Seumur hidup baru kali ini aku melihat ba- gian-bagian dari diriku sendiri." ujar Gento takjub.

"Kau merasa beruntung karena semua ini atas bantuan Manusia Seribu Tahun. Jika bukan atas ke- mauannya dan juga atas izin Gusti Allah, jangan harap kau dapat melakukannya." kata sosok akal.

"Lalu apa tujuan kalian memperlihatkan diri?" tanya si pemuda penuh rasa ingin tahu.

"Kami tidak punya kuasa untuk menerangkan- nya. tanyakan saja semua itu pada Manusia Seribu Tahun! Sekarang sudah tiba waktunya bagi kami un- tuk menyatu kembali dengan dirimu!" kata sosok serba putih.

Tak berselang lama sosok berkepala besar ujudnya memudar, semakin lama semakin melenyap, ia berubah menjadi cahaya putih. Secara aneh cahaya itu akhirnya melesat, bergerak di bagian ubun-ubun Gento lalu lenyap dari pandangan mata.

Gento merasakan fikiran dan pandangan ma- tanya menjadi terang kembali. Kemudian hal yang sa- ma juga terjadi pada sosok serba merah yang mengaku sebagai ujud kasar Gento. Kemudian disusul pula oleh sosok tenaga. Sosok besar yang telah berubah menjadi cahaya kemilau itu kemudian bergerak menyelimuti Gento dan meresap ke sekujur tubuhnya. "Akkh !"

Gento mengeluh tertahan ketika merasakan hawa panas terasa seolah menembusi sekujur tubuh- nya. Dia rebah terkapar, sepasang matanya menatap ke arah langit biru. Apa yang dilihat dan yang terjadi tadi rasanya memang sulit di terima olehnya.

Sejuta tanya kini menemui otaknya. Ingin seka- li dia bertemu dengan manusia Seribu Tahun secepat- nya. Tapi dia tak tahu dimana orang tua itu saat ini berada. Kakek itu setelah melewati gerbang putih me- ninggalkan dirinya begitu saja. Padahal begitu banyak masalah yang ingin ditanyakannya.

9

Saat murid gendut Gentong Ketawa masih da- lam menelentang seperti itu tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki yang begitu ringan di belakangnya. Gento cepat bangkit, duduk sambil palingkan kepala ke belakang. Pemuda ini tertegun ketika melihat seo- rang gadis berpakaian serba putih berdiri tegak hanya dua langkah di belakangnya.

"Kau... kau siapa?" tanya si pemuda terbata-

bata.

"Aku utusan Manusia Seribu Tahun. Dia mem-

beri perintah padaku untuk membawamu ke ruangan penggodokan!" sahut gadis cantik itu tegas.

"Ruang penggodokan! Apakah ini berarti dia hendak memasak ku hidup-hidup? Hei... kau jangan bercanda. Sekarang ini aku sedang bingung, jangan kau buat aku jadi marah!" "Bukankah amarah telah bertemu dengan diri- mu? Bukankah dia telah memperlihatkan rupanya yang asli. Mengapa kau lebih suka membebaskan ran- tai yang membelenggunya?"

"Ah, ternyata kau sudah tahu. Bagus, sekarang aku ingin bertemu dengan kakek itu!" kata si pemuda.

"Kalau kau ingin bertemu, sebaiknya ikuti aku!" kata si gadis.

Gento bangkit berdiri. Ketika dia hendak men- gikuti si gadis mendadak pemuda itu jadi ragu.

"Apa lagi yang kau tunggu?" tanya gadis berpa- kaian putih begitu melihat Gento tidak juga beranjak dari tempatnya.

"Aku khawatir kau menipuku, sebagaimana kakek itu menipu diriku!"

Terlihat ada kilatan aneh dimata si gadis begitu mendengar ucapan Gento. "Kakek itu tak pernah me- nipumu, kau sekarang berada di Alam Batas Biru. Di tempat ini tidak ada manusia lain yang dirugikan!"

"Baik. Jika kau sudah berkata begitu. Sekarang kita temui kakek itu." kata Gento akhirnya.

Gadis berpakaian serba putih itu memutar tu- buhnya, lalu berkelebat pergi dengan diikuti oleh Gen- to di belakangnya. Tak lama mereka berlari sampailah mereka di satu tempat yang diselimuti tabir merah. Tabir merah yang membentang di depan mereka ben- tuknya seperti bangunan megah menjulang tinggi ke langit. Si gadis mendekati pintu yang bentuknya seper- ti tabir. Lalu tangannya menyentuh tabir itu dengan gerakkan menyibak sebanyak tiga kali. Tabir di depan si gadis mendadak terbuka, dari dalam ruangan yang diselimuti tabir itu memancar cahaya merah terang. Dari tempatnya berdiri meskipun ada cahaya yang memancar dari balik tabir Gento sama sekali tak dapat melihat apapun yang terdapat di dalamnya. Namun pada saat itu pula Gento mendengar suara yang sangat di kenalnya, suara Manusia Seribu Tahun.

"Masuklah anak manusia yang terlahir dengan nama Gento Guyon!" kata si kakek. Orang tua itu ke- mudian bicara ditujukan pada sang dara. "Terima ka- sih atas bantuanmu, Ratih Kumala. Kembalilah ke tempat peristirahatan mu!" Si gadis rangkapkan kedua tangannya di depan dada. Kemudian tubuhnya di- bungkukkan sebagaimana orang yang memberi peng- hormatan pada orang yang sangat dihormatinya.

"Terima kasih, kek." kata Ratih Kumala. Ber- samaan dengan itu pula saat kening si gadis menyen- tuh tanah, maka terdengar suara letusan keras yang disertai dengan menebarnya asap tebal berwarna putih menghalangi pemandangan. Ketika asap lenyap, maka sosok Ratih Kumala pun lenyap dari pandangan mata.

"Gadis itu, mungkin saja gadis jejadian. Boleh jadi dia tercipta dari angin!" Sekali lagi Gento geleng- kan kepala.

Setelah itu si pemuda langkahkan kakinya me- nuju tabir merah. Dia lalu memasuki pintu tabir yang terbuka. Sampai di dalam ruangan yang diselimuti ta- bir dan diterangi cahaya merah menyala dia melihat Manusia Seribu Tahun duduk di atas batu biru ber- bentuk bundar. Gento bergerak lebih mendekat lalu duduk tak jauh di depan orang tua bersongkok putih tersebut. Perlahan sepasang mata si kakek yang terpe- jam nampak membuka. Sekejap dan pandangi pemuda itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Setelah itu mulutnya yang tertutup kumis serba putih mem- buka berucap. "Aku melihat begitu banyak beban per- tanyaan yang memenuhi kepalamu. Sebelum aku bica- ra pada inti persoalan, sekarang ini jika di hatimu ada ganjalan, katakan saja!"

Gento terdiam sejenak, berfikir. Tak lama ke- mudian dia bertanya. "Kek setelah melewati gerbang

putih, mengapa kau meninggalkan aku?"

Dengan tenang si kakek menjawab. "Sengaja ku tinggalkan dirimu karena aku ingin memberimu ke- sempatan untuk bertemu dengan dirimu."

"Dengan diriku sendiri? Apa maksudmu?" tanya si pemuda tak mengerti.

Si kakek tersenyum, namun hanya sekedar se- nyum sekilas dan tidak berlebihan. Setelah senyu- mannya lenyap dia berkata. "Bukankah atas kuasa Gusti Allah kau telah bertemu dengan amarahmu, naf- su yang membuat manusia jadi gelap mata kehilangan kendali diri. Kemudian kau berjumpa dengan akal so- sok yang tidak dapat dilihat namun dapat dirasa keha- dirannya. Akal itu adalah puncak dari segalanya. Akal pula yang menentukan baik buruk, jahat tidaknya se- seorang."

"Lalu sosok merah yang menyerupai diriku itu siapakah?" tanya Gento.

"Dia sudah mengatakan bahwa dirinya meru- pakan bagian dari tubuhmu, atau jasad kasarmu. Tanpa jasad manusia tidak akan terlihat. Jasad tidak ubahnya seperti rumah. Di rumah itu diam beberapa anggota keluarga yang satu sama lain mempunyai ika- tan dan rasa saling ketergantungan. Jika rumah bo- brok dan hancur, maka para penghuninya menjadi sangat menderita bahkan mati. Di samping semua itu Gento, dengan adanya jasad kasar manusia jadi mem- punyai tenaga. Tenaga adalah satu kekuatan, dia siap melakukan apa saja. Sedangkan baik buruknya diri apa yang dihasilkan tenaga itu segalanya tergantung akal dan niat." jelas si kakek. "Jadi apa artinya dari semua yang kau perli- hatkan kepadaku itu kek?" tanya Gento.

"Aku tidak akan menerangkan segalanya secara lebih mendalam. Karena jika kau tak kuat meneri- manya kau menjadi gila."

"Padahal sekarang ini sudah agak miring, bu- kankah begitu kek?" ujar Gento disertai senyum.

"Terserah kau menilai dirimu apa. Yang jelas dirimu terdiri dari kulit, daging, tulang dan darah. Itu ujud kasarmu. Sedangkan ujud yang tak terlihat ada- lah, akal fikiran, nafsu, roh dan tenaga. Segala apa yang kusebutkan ini membuat dirimu bernama Gento. Itulah unsur kesatuan yang tidak dapat dipisah- pisahkan. Yang ingin kubicarakan saat ini bukan men- genai dirimu, melainkan tenaga yang ada dalam dirimu yang dapat dipergunakan untuk menolong sesama manusia, membela golongan yang tertindas dan men- jadi penegak kebenaran. Kelak kau dapat menjadi sa- lah satu Pendekar Penegak kebenaran. Untuk menjadi seorang pendekar yang tangguh, pendekar sakti kau harus kuat lahir dan batin."

"Kek, jika masalah kekuatan batin kau tak per- lu risau. Kujamin batin ku kuat, karena hampir setiap pagi aku minum ramuan jamu yang dicampur dengan telor setengah matang!" celetuk si pemuda.

"Bocah pokrol kampret. Yang ku maksud bukan itu. Kuat batin bukan berarti kau sanggup memberi kebahagiaan kepada istri. Yang ku maksud dengan ba- tin yang kuat kau harus mempunyai pendirian teguh, mampu mengendalikan nafsu rendah dan sanggup menghadapi segala cobaan yang terjadi dalam hidup- mu! Kau harus mampu mengekang amarahmu, kau juga mesti sanggup menggunakan akal sehat dalam si- tuasi apapun." "Kalau begitu berat juga kek. Terus terang aku masih muda, orang muda pantang melihat kulit mulus dan jidat licin. Artinya jika melihat gadis yang cantik aku masih suka tertarik." kata si pemuda polos.

"Jidat ku juga licin Gento. Apakah kau tertarik

juga?"

Gento cepat gelengkan kepala.

"Walah, aku belum gila, otak belum lagi rusak,

bagaimana mungkin aku bisa menyukai kaum sejenis. Ha ha ha!"

"Anak manusia, batasi bicaramu." hardik Ma- nusia Seribu Tahun. Mendapat teguran seperti itu Gento langsung katupkan mulutnya. "Dengar Gento. Sebagai manusia normal wajar saja tertarik pada la- wan jenisnya. Tapi harap kau tahu batas dan aturan. Aku ingin menjadikan mu sebagai seorang Pendekar Sakti. Aku mau kau bisa mewakili keinginan baikku untuk menegakkan keadilan di dunia persilatan. Kare- na itu aku akan menurunkan beberapa ilmu sakti yang kumiliki kepadamu. Di samping itu aku akan mengajarimu cara menghimpun atau membangkitkan tenaga sakti yang bersumber dari tujuh bagian di tu- buhmu. Pusat pembangkit tenaga itu aku menama- kannya Cakra."

Mendengar ucapan si kakek Gento jadi tercen- gang. "Kek selama ini yang ku tahu orang hanya bi-

sa menghimpun atau mengerahkan tenaga dalam dari bagian pusarnya saja. Bagaimana kau bisa mengata- kan tenaga dalam bisa dihimpun dan dikerahkan dari tujuh titik di bagian tubuh seseorang?" tanya si pemu- da heran.

"Cara seperti yang kau sebutkan itu sudah ku- no, aku tahu cara seperti itu yang paling banyak dipa- kai oleh orang-orang di rimba persilatan." "Memang benar, kek."

"Membangkitkan tenaga atau Cakra hanya dari satu sumber sangat berbahaya bagi orang itu. Karena jika seseorang memusnahkan sumber pembangkit te- naga dalam satu-satunya itu, dia berarti telah kehilan- gan kekuatan dan kesempatan. Dengan begitu dia dengan mudah dapat ditaklukkan oleh lawannya. Tapi jika selain itu orang memiliki enam pembangkit cakra lainnya. Maka orang itu tidak mudah ditundukkan, dia dapat menggunakan sumber tenaga dari bagian mana saja yang dia inginkan!" jelas Manusia Seribu Tahun.

Mendengar penjelasan si kakek Gento manggut- manggut penuh rasa takjub. "Kek kalau begitu aku mau kau mengajari aku membangkitkan tenaga sakit di enam bagian tubuhku yang lain." ujar si pemuda penuh semangat.

"Boleh saja. Semua itu segera kau dapatkan. Cuma....!" Manusia Seribu Tahun tidak lanjutkan uca- pannya.

"Cuma apa kek?"

Si kakek gelengkan kepala.

"Apakah aku tidak pantas mempelajarinya?" "Bukan itu." sahut si orang tua.

"Apakah kau menilai orang geblek macamku ini tidak sanggup mengamalkannya?"

"Lalu apa?" tanya Gento lagi.

"Untuk memudahkan mu menyerap ilmu dan membuka enam titik sumber pembangkit cakra yang baru kau harus menjalani puasa tidak makan, tidak minum di tambah tidak tidur selama dua puluh satu hari. Kau sanggup?" ujar si kakek.

Mendengar jawaban Manusia Seribu Tahun Gento terdiam. Namun setelah berfikir sejenak akhir- nya dia anggukkan kepalanya. "Aku sanggup... aku akan mencobanya!" ujar si pemuda.

"Bagus. Kalau begitu tetaplah kau duduk dis- itu, jangan bergerak, jangan pula bersuara. Sampai aku membangunkan mu dua puluh satu hari yang akan datang!" habis berkata sosok si kakek mendadak raib. Gento sendiri tak melihat kemana lenyapnya ka- kek itu.

Dia menarik nafas pendek, lalu perlahan mulai pejamkan matanya.

10

Dalam dua puluh dua di Tabir Batas Biru, bu- lan empat belas memancarkan cahayanya yang kuning kemilau. Sinar bulan yang kuning keemasan meman- tul dipermukaan tanah biru, menyajikan pemandan- gan sejuk indah dipandang mata.

Sementara di dalam tabir merah yang berben- tuk sebuah bangunan tempat tinggal Gento telah dua puluh satu hari melakukan tapa tanpa makan minum juga tidur. Gento benar-benar sangat tersiksa sekali. Apalagi di tempat itu bila siang hari panas terik bukan main, sedangkan malam hari dinginnya bukan main. Tapi berkat semangat ketabahan serta keyakinan diri, Gento akhirnya mampu juga menyelesaikan tapa seba- gaimana yang diminta oleh si kakek.

Malam itu tepat tengah malam Gento membuka matanya ketika dia mendengar suara langkah-langkah kaki mendekat ke tengah ruangan. Sepasang matanya terbelalak lebar ketika melihat berbagai jenis buah- buahan terhidang di depannya. Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Gento yang selama dua puluh sa- tu hari tidak makan walau barang sebutir nasi pun. Melihat buah-buahan yang terhidang di depannya Gento julurkan tangan hendak mengambil buah- buahan itu. Selagi tangannya hampir menyentuh ane- ka buah-buahan yang terhidang, pada saat itu pula dia mendengar suara seseorang menegurnya.

"Eitt... jangan kau sentuh. Jangan pula kau makan!"

Kaget murid Gentong Ketawa segera palingkan wajah dan memandang langsung ke arah datangnya suara. Wajah Gento jadi cemberut ketika mengetahui orang yang menegurnya tadi bukan lain adalah Manu- sia Seribu Tahun.

"Orang tua, perutku lapar sekali. Ada makanan mengapa tidak boleh dimakan, kalau cuma membuat aku ngiler mengapa kau suguhkan di hadapanku?" ka- ta pemuda itu dengan suara lirih.

"Kau lihat baik-baik, apakah yang terhidang di hadapanmu memang makanan atau sebaliknya?" ujar si kakek. Gento pun melakukan apa yang diperintah- kan si kakek. Dia jadi tercengang begitu melihat buah- buah tadi kini sama sekali berubah menjadi belatung berwarna hitam kecoklat-coklatan. Gento merasakan perutnya bergelung, mual dan ingin muntah.

"Orang tua apa maksud dari semua ini?" tanya Gento merasa jijik ada marah juga ada. Si kakek me- langkah mendekati. Dia mengulurkan kendi berisi air berwarna putih pada pemuda itu. Setelah itu dia ki- baskan tangannya ke arah nampan tanah berisi bela- tung.

Nampan mental dan langsung lenyap begitu menyentuh selubung merah yang menyelimuti tempat itu.

"Minumlah sampai habis. Air itu akan membuat tubuhmu yang lemah menjadi segar kembali." kata si kakek. Sesuai anjuran Manusia Seribu Tahun Gento meneguk isi kendi sedikit-demi sedikit hingga tuntas. Beberapa saat kemudian pemuda merasakan sekujur tubuhnya terasa segar dan ringan sekali. Gento pan- dangi kendi yang telah kosong. "Hemm, enak sekali, air apa ini namanya?"

"Aku menamakannya air Pelenyap Sejuta Kele- suan. Siapa yang meminumnya tubuhnya yang lemah akan terasa segar, tenaga yang dia miliki juga akan pu- lih seperti sediakala."

"Apa yang kau katakan nampaknya memang benar. Kini aku merasakan semua yang kau katakan itu!" kata Gento.

Manusia Seribu Tahun tersenyum. Dia kemu- dian berkata. "Gento.... agaknya sekarang saatnya ba- giku untuk mengatakan bahwa aku akan menurunkan sebagian ilmu sakti yang kumiliki. Tapi sebelum itu aku akan jelaskan padamu tentang tujuh Inti Cakra pembangkit tenaga manusia."

"Kakek Seribu Tahun, sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas kepercayaan yang kau beri- kan. Tapi apakah engkau mau menurunkan cara membangkitkan tenaga dalam itu padaku?" tanya si pemuda. Manusia Seribu Tahun anggukkan kepala.

"Tepat. Karena itu duduklah yang baik!"

Gento memperbaiki sikap duduknya. Kedua kaki dalam keadaan bersila sedangkan kedua tangan- nya ditumpangkan di atas lutut. Setelah memperhati- kan Gento sekilas si kakek melanjutkan. "Pada dasar- nya di dalam tubuh manusia yang satu tersimpan tu- juh sumber pembangkit tenaga sakti. Tujuh sumber pembangkit tenaga, atau cakra manusia terletak di tu- juh titik mulai dari bagian kepala sampai ke bagian punggung. Masing-masing pusat cakra atau pusat ke- kuatan mempunyai kemampuan daya serang tersendi- ri. Aku akan menyebutkan ketujuh pusat cakra itu. Agar kau lebih mudah mengingatkannya pusat pem- bangkit cakra sebagai pusat pembangkit tenaga. Kau paham?" Gento anggukan kepala.

"Pusat pembangkit tenaga manusia yang per- tama berada di bagian atas kepala. Sebenarnya inilah pusat seluruh kekuatan. Jika kau mampu menghim- pun tenaga dan mengerahkannya dari bagian atas ke- palamu, aku mampu menghancurkan apa saja yang ada di depanmu. Tapi yang terpenting segala apapun yang kau lakukan akibatnya harus kau tanggung sen- diri. Sedangkan yang kedua adalah tenaga yang berpu- sat di bagian kening. Orang yang mampu membang- kitkan tenaga hendaknya dia sanggup berfikir secara jernih dalam menghadapi masalah. Sedangkan pem- bangkit tenaga yang ketiga terletak dibagian tenggoro- kan. Jika kau mampu membangkitkan tenaga dari ba- gian yang kusebutkan ini hendaknya kau sanggup un- tuk bicara benar. Katakan saja jika memang salah dan katakan yang benar jika itu benar. Lalu pusat pem- bangkit tenaga ke empat berada di bagian jantung. Ji- ka kau telah mampu mengerahkan tenaga dalam dari bagian jantung ini, dengan sendirinya kau memiliki ra- sa cinta, rasa kasihan. Kekuatan yang bersumber dari jantungmu bahkan sanggup menumbuhkan berbagai penyakit batin. Bila kau pergunakan untuk mengha- dapi musuh yang keras kepala lagi tinggi hati, mudah- mudahan segala sifat yang dia miliki akan luntur. La- wan bisa berubah menjadi kawan, sedangkan rasa benci dapat berubah menjadi rasa cinta. Karena se- sungguhnya segala kekerasan serta pertikaian yang terjadi di dunia ini karena tidak adanya rasa saling sayang menyayangi dan kasih mengasihi sesamanya. Sedangkan yang kelima pusat pembangkit tenaga sati itu letaknya berada di bagian pusar. Kau sudah tahu cara menghimpun serta mengerahkan tenaga yang bersumber dari bagian ini. Bagian pusat juga merupa- kan tempat bersemayamnya keangkuhan manusia. Ka- rena itu kau harus pandai mengekangnya. Sebab ke- sombongan cepat atau lambat dapat menghancurkan manusia itu sendiri. Yang ke enam adalah sumber te- naga yang berpusat di sekitar bagian alat kelamin ma- nusia. Sumber tenaga yang berpusat di bagian ini san- gat jarang sekali dipergunakan, terkecuali bila seseo- rang ingin punya keturunan atau orang itu sudah me- nikah !"

"Kek... bagaimana kalau aku kebetulan lupa dan sampai menggunakannya?" tanya Gento tiba-tiba.

"Kalau sampai lupa, sebaiknya kau mengarah- kannya ke pohon berduri atau pohon bambu." sahut si kakek. walau Gento tersenyum-senyum, namun wajah si kakek tetap nampak begitu serius. "Bagaimana kau bisa lupa terkecuali kewarasan otakmu benar-benar terganggu. Kau dengar... yang ke tujuh adalah Pusat tenaga sakti yang bersumber dari bagian dasar pung- gungmu. Bagian ini adalah pusat segala pertahanan- mu yang terakhir. Kau bisa menggunakannya kapan saja dimana kau butuhkan."

Lagi-lagi Gento memotong. "Kalau ku kerahkan tenaga dalam dari bagian bawah punggung apakah orang tidak marah padaku?"

"Maksudmu?"

"Karena aku pasti tak dapat menahan kentut!" ujar Gento.

Wajah si kakek mengernyit, tapi matanya yang bening nampak berbinar. "Ya, paling tidak kau harus bisa melakukannya bila kentut. Karena dengan begitu daya serangnya akan makin bertambah hebat. Siapa- pun yang kau hadapi dapat kau jatuhkan tanpa kau lukai, sementara dia akan sadar kembali begitu tenaga yang terkandung dalam serangan dasar punggungmu lenyap!" menerangkan si kakek.

Gento gelengkan kepala sambil unjukkan tam- pang cemberut. "Akibatnya tentu akan membuat malu diriku kek. Orang pasti akan memberi ku gelar baru Pendekar tukang buang angin, tukang kentut. Lebih baik aku tak usah mengajarkan yang satu itu padaku kek."

"Anak manusia. Tidak bisa, tujuh titik yang ku- sebutkan itu merupakan satu kesatuan. Tujuh kekua- tan yang terdapat dalam satu tubuh, satu jasad, satu diri, yaitu dirimu Gento. Jika kelak kau tinggalkan tempat ini kau akan kuberi gelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon apakah semua ini tidak menyenangkan hatimu?"

"Setiap kepercayaan yang kau berikan padaku adalah suatu amanah yang harus kujalankan. Bukan- kah menyia-nyiakan kepercayaan orang adalah suatu dosa, bagaimana aku bisa senang?" ujar Gento.

"Bagus, ternyata otakmu cukup cerdik. Seka- rang kau bersiap-siaplah! Aku akan mengerahkan se- bagian kekuatan sakti yang kumiliki kepadamu!" ujar si kakek.

Gento menarik nafas dalam, lalu menghem- buskannya secara perlahan. Setelah itu diapun meme- jamkan matanya.

11 Di depan sana Manusia Seribu Tahun silang- kan kedua tangannya di depan dada. Mulut orang tua ini berkemak-kemik, lalu secara perlahan sekujur tu- buh kakek itu nampak bergetar. Getaran semakin la- ma semakin menghebat yang disusul dengan menge- pulnya kabut tipis berwarna seperti pelangi. Ketika ka- but yang keluar dari bagian ubun-ubun Manusia Seri- bu Tahun bergerak dalam ketinggian sejengkal di atas kepala si kakek, kabut itu membentuk sosok Manusia Seribu Tahun dalam rupa cahaya tujuh warna yang berkilauan menyilaukan mata. Cahaya selanjutnya bergerak melesat dari sosok Manusia Seribu Tahun melesat kebagian atas kepala Gento. Kemudian secara perlahan seolah tersedot masuk ke dalam tubuh si pemuda melalui bagian atas kepalanya.

Gento terguncang, tubuhnya menggeletar dan dibasahi keringat bercucuran ketika tujuh cahaya da- lam membentuk serta rupa si kakek menjalar ke seku- jur tubuhnya. Pemuda ini meronta, menggeliat dan ke- luarkan suara raungan hebat.

Hawa panas dan hawa dingin mendera pemuda itu silih berganti. Tubuh laksana dicabik, tulang belu- langnya seperti bertanggalan. Keadaan seperti itu ber- langsung cukup lama, bahkan kemudian terlihat ada darah menetes dari bagian hidung, lubang telinga serta mulut Gento.

Tidak kurang dari sepeminum teh, cahaya tu- juh warna dalam tujuh rupa bayangan Manusia Seribu Tahun bergerak keluar, berpindah dari bagian atas ubun-ubun Gento kebagian kepala sosok si kakek yang duduk bersila di depan pemuda itu. Tujuh sinar pelangi pada akhirnya lenyap dan amblas kembali ke dalam tubuh orang tua itu. Di depannya sana Gento mengerang. Sekujur tubuhnya mendadak seperti terse- rang demam tinggi. Dia berusaha membuka mata, tapi begitu mata terbuka pandangan matanya malah men- jadi gelap. Murid kakek gendut Gentong Ketawa itu akhirnya terguling tidak sadarkan diri.

Manusia Seribu Tahun turunkan kedua tan- gannya yang bersilangan di depan dada. Setelah itu dia bangkit berdiri. Kembali mulutnya berkomat-kamit. Setelah itu jari telunjuknya diacungkan. Berturut- turut tujuh larik sinar melesat dari ujung jemari si ka- kek. Sinar pertama berwarna putih melesat ke bagian atas kepala Gento. Sinar itu segera lenyap begitu me- nyentuh kepala Gento. Sedangkan sinar kedua yang melesat dari ujung jemari tangan si kakek berwarna Ungu. Sinar ini menderu ke bagian kening dan segera lenyap begitu menyentuh pertengahan kening Gento. Begitu sinar ungu amblas meresap ke bagian kening- nya, maka melesat pula sinar yang ketiga. Sinar ke tiga berupa sinar biru yang bergerak lurus ke bagian teng- gorokan si pemuda. Sebagaimana dua sinar lainnya. Sinar biru ini langsung lenyap begitu menyentuh teng- gorokan. Setelah itu dari ujung jemari si kakek melesat sinar hijau kemerahan. Sinar ini bergerak ke arah jan- tung dan hati Gento. Lalu sinar yang ke lima, ke enam dan ketujuh masing-masing berwarna, kuning, kuning gading dan merah. Ketiga sinar itu berturut-turut me- lesat ke bagian pusar, bawah pusat juga bagian dasar punggung Gento.

Meresapnya tujuh larik sinar yang mengenai tu- juh titik bagian di tubuh pemuda itu membuat sosok Gento yang masih belum sadarkan diri berguncang hebat.

Tetapi ternyata apa yang dilakukan si kakek ti- dak hanya sampai disitu saja. Dia kemudian mengam- bil sesuatu dari balik saku bajunya. Benda yang diam- bil si kakek ternyata berupa kalung bermata batu ber- warna putih buram kecoklatan, berbentuk bulat lon- jong. Si kakek menimang kalung di tangannya sekejap. Mulutnya seakan bergumam berucap. "Kalung Batu Raja Langit. Orang yang kita tunggu telah datang. Aku telah mengisi tubuhnya dengan ilmu Menitis Bayangan Raga dan Ilmu Membelah Jasad. Aku juga sudah membuka tujuh titik pembangkit cakra, tujuh pem- bangkit tenaga dalam di tubuhnya. Selanjutnya, batu Raja Langit kau boleh menyertai Pendekar Sakti 71 Gento Guyon!" kata si kakek. Mendadak dia memegang mata kalung dengan jari telunjuk dan ibu jari. Bagian depan mata kalung yang bertitik hitam pada bagian tengahnya di arahkan pada bagian telapak tangan dan dada kiri pemuda itu. Setelah itu Manusia Seribu Ta- hun menekan kedua sisi mata kalung.

Set! Seet!

Berturut-turut dari titik hitam di bagian depan mata kalung menderu angin laksana topan yang diser- tai melesatnya dua larik sinar biru. Sinar itu masing- masing menghantam dada kiri juga telapak tangan ka- nan Gento. Asap bercampur menebarkannya bau se- perti daging terbakar mengepul. Ketika asap lenyap, baik di bagian dada kiri maupun di bagian telapak tangan kanan Gento yang terkena hantaman sinar biru tadi kini tertera rajah berupa angka 71. Manusia Seri- bu Tahun selanjutnya menghampiri Gento. Kalung bermata batu berbentuk bujur telur lalu dilingkarkan dileher pemuda itu.

Tak berselang lama si kakek berdiri tegak kem- bali Lalu tangan kirinya dilambaikan ke arah dada te- pat di bagian jantung pemuda itu. Gento yang dalam keadaan tak sadarkan diri tersentak. Beberapa jenak lamanya dia tertegun. Pertama yang dirasakannya ada- lah rasa sakit di dada juga dibagian telapak tangan. Ketika dia melihat telapak tangan dan dadanya pemu- da ini tersendak kaget.

"Tujuh satu, apa-apaan ini kek?" desis pemuda itu. Dia mengusap dadanya pulang balik. Tapi angka 71 juga tidak mau hilang.

"Ha ha ha. Seperti yang kukatakan aku membe- rimu gelar Pendekar Sakti 71 Gento Guyon. Selain itu aku juga telah menurunkan ilmu Menitis Bayangan Raja dan ilmu Membelah Jasad."

"Menitis Bayangan Raga, bagaimana caranya aku menggunakannya?" tanya si pemuda.

"Kedua ilmu itu dapat kau pergunakan di saat kau benar-benar terdesak. Cukup kau menyebut kebe- saran Gusti Allah, setelah itu bayangkanlah wajahku. Maka kedua ilmu itu dapat bekerja dengan sendirinya." Menerangkan si kakek. Gento menjadi terkesan sekali mendengar uraian Manusia Seribu Tahun. Sekali lagi dia memandang dadanya, kembali dan dibuat kaget ketika melihat sebuah kalung bermata batu melingkar di lehernya.

"Kalung apa ini kek, jelek amat?"

"Itulah kalung Batu Raja Langit. Kalung itu menyimpan kesaktian dan kekuatan dahsyat. Kau bisa menggunakannya cukup dengan mengerahkan tenaga dalam ke bagian mata kalung, lalu mengusap kalung itu tiga kali." ujar si kakek.

"Apakah aku boleh mencoba seluruh ilmu yang kau berikan di tempat ini kek?"

Manusia Seribu Tahun gelengkan kepala

"Alam Batas Biru adalah tempat yang sangat rawan dengan berbagai gangguan. Jika kau menggu- nakan ilmu itu di tempat ini, berarti tempat tinggalku akan jadi porak poranda. Ketahuilah, ketika dirimu ti- dak sadarkan diri aku telah membuka tujuh titik pem- bangkit tenaga dalammu. Cara menggunakan tenaga dalam yang terletak di enam titik itu sama seperti mengerahkan atau menghimpun tenaga dalam yang bersumber dari bagian pusar. Hanya penggunaan te- naga dalam di bagian atas kepalamu boleh diperguna- kan tiga purnama sekali. Jika kau melanggar pantan- gan ini jangan salahkan aku jika nantinya kau beru- bah menjadi orang yang kurang waras."

"Segala pesanmu akan ku ingat baik-baik. Aku mengucapkan rasa terima kasih atas segala apa yang kau berikan padaku. Tapi kek, setelah pergi dari sini apakah kelak aku boleh menyambangimu?"

"Sebaiknya tak usah. Jika aku merasa ada yang ingin kusampaikan, aku pasti akan mencarimu."

"Bagaimana kalau aku memerlukanmu kek?" "Kau cukup mengetuk bumi tiga kali sambil

memanggil namaku!" jawab si kakek. "Nah, usai sudah apa yang menjadi kewajibanku. Selanjutnya aku ti- tipkan amanat kepadamu. Sekarang bersiap-siaplah kau. Aku akan mengantarmu ke alam kehidupanmu yang sebenarnya!"

"Kek sebelum pergi, apakah boleh aku bertemu dengan Ratih Kumala sekedar ingin mengucapkan te- rimakasih dan salam perpisahan?" tanya Gento sambil menyeringai.

Si kakek gelengkan kepala.

"Salam mu akan kusampaikan. Kelak kau pasti bertemu dengannya!"

Walaupun agak kecewa mendengar ucapan si kakek, namun akhirnya Gento berdiri juga. "Aku su- dah siap kek?" Tanpa bicara barang sepatah katapun si kakek mendekati Gento. Begitu Manusia Seribu Ta- hun menyentuh punggungnya Gento merasakan tu- buhnya laksana di bawa terbang. Sekejap kemudian Gento merasakan tangan si kakek yang menempel di punggungnya di tarik lepas. Gento jadi kaget ketika mendengar suara orang tua itu.

"Cukup hingga disini aku mengantarmu!" "Kek....!" ucapan Gento mendadak terputus ke-

tika mendapati tubuhnya meluncur deras ke bawah, lalu jatuh berkerosakan menimpa reranting pepoho- nan.

Bluk!

Pendekar Sakti Gento Guyon jatuh bergedebu- kan dan terhempas di pinggir sungai. Pemuda itu me- ringis kesakitan, tubuhnya menggeliat, matanya ter- pentang lebar. Mata itu makin membulat besar ketika dia melihat sosok seorang gadis setengah telanjang yang mandi di kali itu nampak repot menutupi aurat- nya sambil berlari ke balik semak belukar.

"Ha ha ha! Nasibku tidak jelek-jelek amat. Ka- kek itu iseng menjatuhkan aku di pinggir sungai ini. Agaknya dia sengaja agar aku berkesempatan melihat pemandangan bagus.!" kata pemuda itu sambil tertawa terkekeh. Sejurus lamanya dia memandang ke arah le- nyapnya sang dara, lalu tanpa menunggu lama lagi dia berkelebat pergi.

TAMAT