Gento Guyon Eps 11 : Bidadari Biru

 
Eps 11 : Bidadari Biru


Kegelapan masih menyelimuti kawasan hu- tan di kaki bukit. Di langit tak terlihat bintang, sedangkan cahaya bulan yang sekejap tadi sem- pat menerangi kawasan bukit juga sebuah kuil yang berada di bagian puncaknya kini tertutup sekelompok awan. Suasana di sekitar bukit dan kuil terasa sunyi mencekam. Kesunyian tak ber- langsung lama, mendadak sontak terdengar suara ledakan berdentum yang disertai guncangan ke- ras dan semburan api yang memporak- porandakan kuil dan bukit itu. Dari salah satu le- reng bukit di sebelah timur satu sosok terlempar tinggi di udara akibat ledakan yang luar biasa he- bat. Sosok serba hitam menjerit ketakutan. Tu- buhnya jungkir balik, berputar tidak tentu arah, kemudian jatuh menyangsang di atas cabang po- hon berduri. Sekali lagi sosok yang hanya mema- kai celana hitam ini menjerit saat tubuhnya ter- hempas di atas duri. Sakitnya luar biasa, dia menggeliat, meringis sedangkan matanya me- mandang ke puncak bukit dimana Kuil Setan yang porak poranda tampak dikobari api.

Sambil merintih tak berkeputusan sosok hitam yang biasa dipanggil dengan sebutan Me- medi Santap Segala berusaha menggapai cabang lainnya. Ternyata tidak semudah yang dia bayangkan. Karena cabang yang hendak diraih- nya dan dijadikan tempat berpegangan juga dipe- nuhi duri. Tapi dia juga merasa tak punya pilihan lain. Sehingga dengan nekad dia meraih cabang di atasnya.

Wuuuut! Sekali dia menggerakkan tubuh- nya maka pemuda ini melayang dan jatuh di ba- wah pohon. Pada saat dirinya jatuh dengan kaki lebih dulu sampai di atas tanah inilah dia merasa menginjak sesuatu.

"Astaga apa pula ini lembek-lembek?" batin pemuda ini. Dalam kagetnya dia memandang ke bawah. Wajah hitam Memedi Santap Segala lang- sung berubah pucat ketika dia mendapatkan satu kenyataan bahwa posisi jatuhnya persis di atas punggung satu sosok berpakaian merah. Cepat sekali dia melompat menjauhi punggung orang. Tapi pada waktu yang bersamaan satu tangan dengan gerakan tak terlihat menyambar ke arah kaki kanannya. Di lain waktu kaki Memedi San- tap Segala sudah kena dicekal orang. Sosok ber- pakaian merah lakukan gerakan aneh pada tan- gannya yang mencekal. Si pemuda merasakan tu- buhnya seperti dilempar ke atas lalu dibanting ke bawah.

Bruk!

Laksana dihempaskan Memedi Santap Se- gala jatuh menelungkup. Si pemuda idiot meme- lintir sambil dekap selangkangannya. "Aduh bi- yung, mengapa begini amat sakitnya. Oalah... toobaat...!" rintihnya sambil memelintir dan menggerung tak karuan.

Belum lagi Memedi Santap Segala sempat berdiri tegak, si baju merah yang tadi mencekal dan membantingnya kini sudah berdiri tegak di hadapan pemuda itu. Ternyata dia adalah seorang pemuda tampan berambut hitam lebat, beralis tebal hidung mancung, dagu bersegi. Selain pa- kaiannya yang serba merah, dia juga memakai ikat kepala warna merah. Ketika memandang ke arah Memedi Santap Segala, tatap matanya men- corong tajam menyembunyikan kecongkakan se- kaligus kelicikan.

"Tubuh ditumbuhi bulu, muka hitam, hi- dung amblas ke dalam, perut buncit puser bo- dong. Semua kejelekan yang ada di muka bumi ini rupanya ada dalam dirimu. Manusia menyeru- pai kunyuk hitam siapa dirimu ini? Apakah kau turunan manusia atau turunan monyet? Jika manusia mengapa begitu tak mengenal sopan ja- tuhkan diri di punggung orang?" hardik pemuda berpakaian merah penuh teguran.

Mendengar ucapan seperti itu, sebenarnya Memedi Santap Segala jadi tersinggung juga ma- rah, namun mengingat dirinya tadi memang ber- salah maka dia menjawab. "Aku Memedi Santap Segala. Aku mohon maaf, karena jatuh tak senga- ja menginjak punggungmu. Semua itu bukan ke- salahanku, tapi kesalahan bukit sialan disana. Kalau dia meletus memberitahu sebelumnya ten- tu aku bisa menyelamatkan diri, tidak jatuh seng- sara seperti tadi!"

Jika pemuda ini bicara seperti itu di depan Gento atau orang lain, mungkin orang sudah ter- tawa atau paling tidak tak kuasa menahan se- nyum. Tapi kali ini sosok yang berada di depan- nya adalah seorang pemuda angkuh, berjiwa sombong, licik dan memandang orang lain lebih rendah derajatnya. Sehingga dia merasa tidak pantas untuk tersenyum jangankan lagi tertawa. Malah setelah kaget mendengar Memedi Santap Segala ada menyinggung tentang bukit meledak, sepasang matanya membulat besar. Dia sendiri yang saat itu berada di sebelah selatan puncak bukit juga sempat terlempar dan jatuh di tempat itu dalam keadaan menelungkup.

Dalam hati dia berpendapat tak mungkin pemuda bermuka monyet itu berada di Kuil Setan jika tidak punya satu kepentingan.

Si baju merah yang bukan lain adalah Lira Watu Sasangka alias Panji Anom Penggetar Jagad atau yang dikenal dengan julukan Baginda Bega- wan Muda murid Begawan Panji Kwalat terse- nyum dingin mendengar penjelasan Memedi San- tap Segala.

"Monyet hitam, kau berada disana tentu ti- dak secara kebetulan saja bukan. Kau pasti mempunyai tujuan atau maksud maksud terten- tu." Ujar Lira Watu Sasangka sambil memandang dengan tatapan mata menyelidik.

"Jika kau sayangkan nyawamu sebaiknya jangan mencoba menipu atau memberi jawaban dusta."

Memedi Santap Segala terdiam sejenak, berfikir sambil menduga-duga siapa adanya pe- muda ini. Melihat pada tatapan mata dan caranya bicara pemuda itu pastilah bukan orang yang mempunyai tujuan baik. Karena itu dengan hati- hati Memedi Santap Segala menjawab. "Aku pe- muda yatim piatu. Orang tua tak punya rumah apalagi. Waktu itu aku sedang berburu. Sejak pa- gi hingga malam sampai paginya lagi aku tak mendapatkan buruan terkecuali burung-burung emprit. Karena terlalu kecil burung itu ku santap dengan bulu-bulunya." kata Memedi Santap Sega- la dengan serius.

Orang secerdik Lira Watu Sasangka mana kena dibohongi. Dia menyeringai. Sekali tangan- nya bergerak, maka rambut pemuda itu sudah kena dijambaknya.

"Manusia kunyuk! Berani sekali kau meni- puku? Apa kau kira aku kena dibohongi. Ha ha ha! Katakan, apa yang kau cari di Kuil Setan? Be- rani kau membohongi ku, kupatahkan batang le- hermu." geram pemuda itu sambil mempererat cekalannya hingga membuat Memedi Santap Se- gala jadi meringis kesakitan.

"Cepat katakan! Jawab dengan sejujurnya sekali lagi Lira Watu Sasangka alias Panji Anom Penggetar Jagad dengan sikap mengancam. Men- dapat ancaman seperti itu Memedi Santap Segala tidak menjadi gentar. Malah keberaniannya sea- kan terbangkitkan kembali.

"Aku hanya mencari majikanku. Majikanku hilang di tempat itu." jawab si pemuda.

Dessss!

Satu jotosan keras mendarat di perut bun- cit Memedi Santap Segala. Dia menjerit keras, ka- kinya terangkat, tubuhnya tersentak tapi tak sempat terpelanting karena rambut panjangnya masih berada dalam cengkeraman lawannya.

"Manusia jahanam! Inilah kesempatan te- rakhir bagimu. Jika kau masih ingin panjang umur sebaiknya cepat mengaku!" Seiring dengan ucapannya itu, diam-diam Panji Anom kerahkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Hawa panas mengalir deras ke bagian telapak tangan pemuda itu. Hanya dalam waktu sekedipan mata tangan kanannya telah berubah menjadi merah kehita- man. "Kau lihat tanganku? Dengan tangan ini aku bisa membunuhmu semudah membalikkan tela- pak tangan." Lalu Panji Anom Penggetar Jagad angkat tangannya.

"Tunggu... jangan bunuh aku. Aku... aku mau mengaku...!" kata Memedi Santap Segala dengan suara terbata-bata. Panji Anom tersenyum penuh kemenangan. Dia menunggu sejenak la- manya, sampai kemudian Memedi Santap Segala berucap.

"Aku dan majikanku Batuk Labalang da- tang ke Kuil Setan untuk mencari satu senjata hebat bernama Bintang Penebar Petaka. Tapi... tapi kami terpisah karena aku terjebak dalam se- buah lubang. Sampai sekarang aku tak tahu ma- jikanku berada dimana?"

"Mendengar logat bicaramu, juga sebutan datuk pada nama depan majikanmu. Agaknya ka- lian bukan orang sini." sergah Panji Anom.

"Benar. Kami bukan orang daerah sini. Kami datang dan tanah Andalas" jelas Memedi Santap Segala. Perlahan cekalan pada rambutnya mengendur, tangan pemuda itu yang telah beru- bah memerah juga diturunkan.

"Kau pendatang asing, tidak selayaknya berkata dusta di hadapanku. Sekarang kau harus berkata jujur padaku, dimana senjata Bintang Penebar Petaka berada?" tanya si pemuda.

Mendengar pertanyaan seperti itu kagetlah Memedi Santap Segala dibuatnya.

Dalam hati dia membatin. "Orang ini men- cari senjata yang sama. Aku sudah tahu dia me- miliki tenaga dalam yang tinggi. Aku yakin dia bukan manusia sembarangan. Tak mungkin aku mengatakan senjata itu berada di tanganku. Se- perti Datuk Labalang, dia juga bukan manusia yang dapat kupercaya. Tak akan kuserahkan sen- jata ini padanya, tidak juga pada Datuk Labalang. Terkecuali aku benar-benar bertemu dengan orang yang tepat!" gumamnya. Setelah terdiam se- jenak lamanya, Memedi Santap Segala kemudian berucap. "Mengenai senjata yang kau tanyakan, aku terus-terang belum menemukannya. Mung- kin junjunganku Datuk Labalang yang menemu- kannya." "Ha ha ha. Jika benar apa yang kau kata- kan sekarang aku ingin tahu dimana junjungan- mu si Datuk keparat itu?" tanya Panji Anom Penggetar Jagad.

Memedi Santap Segala jadi terkesiap. "Itu satu hal yang tak mungkin untuk kulakukan!" se- ru si puser bodong tercekat.

"Keparat terkutuk. Kau mengatakan tak mungkin, wajah monyetmu nampak ketakutan. Pasti telah terjadi sesuatu antara kau dengannya. Bukankah begitu?" dengus Panji Anom. Dia me- mandang tajam pada pemuda di depannya. Tatap matanya dingin menusuk. "Tiga kali kau berbo- hong padaku. Sekarang tidak ada keampunan ba- gimu." Selesai bicara begitu Panji Anom tuding- kan jari telunjuknya ke arah Memedi Santap Se- gala. Sambil tudingkan telunjuk, mulut berkomat- kamit. Setelah itu dia berseru. "Berputarlah tu- buhmu secepat gasing berputar!" seruan itu ter- nyata bukanlah seruan biasa, karena pada detik itu juga Memedi Santap Segala merasakan tu- buhnya langsung berputar seakan ada satu keku- atan yang tidak terlihat telah memutarnya. Tak mau konyol dirinya terbawa pengaruh ucapan orang, Memedi Santap Segala kerahkan tenaga luar dalam untuk bertahan. Salah satu kakinya dihentakkan di atas tanah. Hingga kaki itu am- blas terbenam ke dalam tanah, walau pun begitu tetap saja pemuda berkulit hitam ini tak dapat berbuat banyak. Kini tubuhnya malah mulai te- rangkat mengambang tidak menyentuh tanah. Di saat satu kekuatan yang tidak terlihat itu mulai memulas tubuh Memedi Santap Segala. Pada ke- sempatan itu pula dia lepaskan satu pukulan menggeledek ke arah lawannya.

"Seranganmu hanya mengenai angin. Kau tetap berputar seperti gasing sesuai dengan apa yang kuinginkan!" teriak Panji Anom Penggetar Jagad. Kenyataannya memang itulah yang terjadi kemudian. Pukulan yang dilepaskan oleh si pe- muda, karena saat itu tubuhnya telah bergerak laksana gasing, hingga arah pukulan jadi melen- ceng.

"Wuakh.... pemuda tengik. Kau mengguna- kan ilmu iblis untuk mencelakai orang lain. Sungguh aku akan membalas segala apa yang kau lakukan terhadapku ini!" teriak Memedi San- tap Segala yang saat itu merasakan seolah dunia ini ikut berputar dan kepalanya sakit berdenyut, perut mual dan mata berkunang-kunang.

"Ha ha ha! Dalam keadaan begini, setiap perkataanku adalah sabda. Perkataan iblis yang mempunyai sambung rasa dengan lidah. Tidak ada yang bakal selamat dari ilmu Kontak Suara yang kumiliki, terkecuali mereka yang mau me- matuhi perintah dan kehendakku!" dengus Panji Anom sinis.

"Kau iblis laknat!" maki Memedi Santap Se- gala. Dalam kesempatan itu dia mencoba masuk- kan jari tangannya ke balik saku celana guna mengambil Batu Rembulan. Tapi tangannya sea- kan tak bertenaga sama sekali. Dalam keadaan begitu rupa dia memang telah kehilangan keseim- bangan tubuh tenaga juga kesadaran. Hanya ke- beranian yang masih membara di hatinya. Itulah sebabnya dia terus berusaha mengumpulkan se- genap tenaga dan sisa kekuatan. Akan tetapi se- gala keinginannya untuk melakukan satu tinda- kan agaknya tak dapat terlaksana karena pada waktu itu Panji Anom telah menggerakkan tan- gannya ke arah sebatang pohon. "Hei tubuh bu- ruk hina, hempaskanlah dirimu ke batang pohon itu!" seru pemuda itu. Seiring dengan ucapannya maka sosok Memedi Santap Segala yang tadinya berputar di udara kini melesat ke arah pohon se- suai dengan apa yang diucapkan oleh Panji Anom Penggetar Jagad. Bersusah payah Memedi Santap Segala mencoba mengendalikan diri. tapi daya luncur tubuhnya yang demikian hebat tak dapat dibendung. Tak ayal lagi laksana dihempaskan tubuh pemuda itu menghantam pohon.

Braak!

Pohon hancur, tumbang disertai suara ber- gemuruh berisik menyakitkan telinga. Si puser bodong merintih, pinggangnya yang terhempas ke pohon laksana remuk dan menimbulkan rasa sa- kit yang luar biasa. 2

Pemuda itu mencoba bangkit, tapi tak mampu. Malah dari mulutnya menyembur darah kental. Dalam hal ilmu kesaktian, Memedi Santap Segala bukan manusia berkepandaian rendah. Ji- ka dia dapat diperlakukan demikian rupa oleh la- wan, berarti kekuatan yang dimiliki lawannya ti- dak dapat dianggap main-main. Apalagi bila men- gingat lawan memiliki ilmu Kontak Suara. Dengan ilmunya yang aneh itu dia dapat melakukan apa saja.

"Sekarang kau dalam keadaan hampir ti- dak berdaya. Kini tiba giliran bagiku untuk mene- lanjangi dirimu. Kau pasti menyembunyikan sen- jata itu. Jika senjata memang tidak ada padamu, akan kukorek jantung dan juga biji matamu...!" dengus Panji Anom penuh ancaman.

Ancaman yang dilakukan murid Begawan Panji Kwalat sama sekali tidak membuat Memedi Santap Segala jadi khawatir apalagi takut. Yang dia takutkan bagaimana jika lawan menemukan senjata Bintang Penebar Petaka yang terselip di dalam kantong bekal makanannya?

"Andai saja aku dapat mengambil Batu Rembulan dari dalam saku celanaku, mungkin keadaannya akan menjadi lain. Tapi bagaimana aku bisa mengambil batu sakti itu, atau memper- gunakan Bintang Penebar Petaka, sedangkan menggerakkan tangan saja aku sudah tak sang- gup?" keluh pemuda itu. Satu-satunya usaha yang dapat dilakukannya adalah menghimpun te- naga dalam sedikit demi sedikit. Tapi pada waktu yang bersamaan pula mendadak terdengar suara menggelegar yang datang dari arah sebelah kiri dimana Memedi Santap Segala tergeletak.

"Makhluk kunyuk pembantu sialan. Dicari kemana-mana tidak tahunya kau ketiduran dis- ini! Mana senjata itu? Jangan coba-coba membo- hongi majikanmu ini lagi. Aku bisa membunuh- mu!" kata satu suara keras penuh teguran.

"Satu lagi manusia edan datang kesini!" ke- luh Memedi Santap Segala yang rupanya memang mengenal suara itu.

Hanya beberapa saat setelah gema suara lenyap. Di tempat itu muncul kakek angker den- gan tubuh tinggi seperti galah. Berkulit hitam, berdaster dan berkerudung hitam. Bila Memedi Santap Segala tercekat melihat kehadiran kakek tinggi berwajah angker ini maka sebaliknya Panji Anom sempat dibuat terheran-heran. Seumur hi- dup rasanya dia belum pernah melihat ada orang memiliki badan setinggi itu. Sejenak dia memper- hatikan si kakek dan sosok pemuda yang telah dihempaskannya ke batang pohon. Nampak jelas pemuda itu sangat ketakutan sekali.

"Aku yakin kakek ini orangnya yang di- maksudkan oleh muka kunyuk itu. Jika senjata ada ditangan orang tua ini tentu dia tidak mena- nyakan senjata itu padanya. Gila! Berani benar dia mendustai diriku." geram Panji Anom. "Dua manusia bangsat itu akan ku sikat semuanya. Bi- ar mereka tahu siapa aku yang sebenarnya?" gu- mam si pemuda dalam hati.

Di depannya sana bersikap seakan tidak menghiraukan si baju merah, si kakek setinggi galah yang bukan lain adalah Datuk Labalang melangkah cepat mendekati Memedi Santap Sega- la.

Begitu sampai di depan pemuda, si kakek langsung membungkukkan badan, tangannya yang panjang terjulur. Sekali sentak Memedi San- tap Segala yang sudah dalam keadaan terluka ini terangkat naik. Matanya mendelik, nafasnya me- gap-megap karena lehernya dalam keadaan terce- kik.

"Anak setan, kecil ku besarkan. Sejak dulu setiap ucapanmu selalu kupercaya. Kini, setelah kau kubawa jauh mengarungi lautan mengapa ti- ba-tiba otakmu jadi miring dan jalan fikiran mu jadi berubah?" hardik Datuk Labalang. "Dimana senjata itu kau sembunyikan? Cepat katakan pa- daku!"

"Da... Datuk. Ku mohon lepaskan dulu ce- kikan itu. Aku... aku bisa mati kehabisan nafas Datuk." kata Memedi Santap Segala dengan lidah terjulur, tangan menggapai udara dan kaki mele- jang-lejang.

"Biarpun kau mampus disini, siapa yang mau perduli." dengus sang Datuk, malah kini dia semakin mempererat jepitannya di leher pemuda itu. "Katakan cepat dimana senjata itu kau sem- bunyikan. Atau kau lebih suka aku membunuh- mu sekarang ini?!"

"Lep... lepaskan dulu Datuk. Sebelum aku terangkan padamu dimana senjata itu apakah kau tidak merasa perlu mengusir orang itu. Dia memaksaku untuk menyerahkan senjata hingga aku dibuatnya begini rupa. Jika kau tak membu- nuhnya bisa jadi dia akan merampas senjata yang hendak kuberikan padamu!" ujar Memedi Santap Segala.

Mendengar ucapan pemuda itu Datuk La- balang menoleh ke arah Panji Anom. Sejak tadi sebenarnya dia memang sudah melihat kehadiran pemuda itu. Dia bahkan sempat melihat bagai- mana Panji Anom membanting Memedi Santap Segala ke batang pohon hanya dengan bicara dan tudingkan jari telunjuknya.

Kini setelah melihat si baju merah masih berdiri di tempatnya Datuk Labalang membentak. "Mengapa kau tetap berada disini? Cepat me- nyingkir!" perintah Datuk Labalang.

Panji Anom Penggetar Jagad tersenyum si-

nis.

Sejenak lamanya dia pandangi orang tua

itu. Sampai kemudian terdengar suara tawanya yang melengking tinggi hingga membuat Datuk Labalang diam-diam jadi kaget.

"Orang tua setinggi galah. Dirimu tak pan- tas menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendakku. Dalam soal senjata, engkau yang sudah tua bangka tidak pantas un- tuk memilikinya. Sebaiknya pergilah kau secara tenang. Jika kau membangkang aku tidak akan segan untuk mengirimmu ke neraka!" kata pemu- da itu tegas.

Selama malang melintang di dunia persila- tan belum pernah ada orang yang berani bicara seperti itu di depan sang Datuk. Apa yang dikata- kan Panji Anom membuat sang Datuk tersing- gung. Wajah si kakek berubah menghitam, sepa- sang mata mencorong tajam, sedangkan pelipis bergerak-gerak.

"Berani kau bicara seperti itu pada Datu Penguasa Tujuh Telaga. Tak ada keampunan ba- gimu. Kau harus kubuat mampus detik ini juga." teriak Datuk Tinggi. Sebelum gema suaranya le- nyap di udara, tubuh jangkung sang Datuk mem- bungkuk. Tangan kanan terjulur menggapai ke arah kepala dengan gerakan mengemplang, se- dangkan tangan kiri yang terkepal menjotos ke bagian dada pemuda itu.

Mendapat serangan ganas dan sangat ber- bahaya ini tentu Panji Anom tidak tinggal diam.

Apalagi dia mengetahui serangan itu selain sangat cepat juga ganas sekali karena disertai su- ara gemuruh angin dingin berbau busuk pertanda dalam serangan itu terkandung racun yang amat jahat. Tanpa fikir panjang Panji Anom melompat ke samping. Sedangkan tangannya yang satu di- gerakkan ke atas dan satunya lagi dihantamkan sejajar ke arah tangan lawan yang menghantam ke arah dada. Dari telapak tangan Panji Anom membersit sinar hitam menggidikkan, mengan- dung hawa panas luar biasa. Karena Panji Anom memang berniat mengadu tenaga dalamnya den- gan lawan. Maka bentrokan keras tak dapat di- hindari lagi.

Plaak! Plaak!

Dua kali benturan berturut-turut terjadi. Panji Anom mengeluh tertahan, tubuhnya terdo- rong mundur sejauh tiga langkah ke depan. Dua tangannya yang sempat beradu dengan tangan lawan terasa dingin luar biasa, menimbulkan sa- kit berkepanjangan. Di depannya sana Datuk La- balang sempat mengernyit, tubuhnya limbung dan menghuyung, tangan seperti kesemutan.

"Hemm, ternyata dia memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Aku harus dapat menjatuh- kannya secepat mungkin. Jika tidak aku sendiri yang dibuatnya celaka!" pikir Datuk Labalang.

"Ha ha ha. Ternyata walaupun sudah mau mampus tenagamu masih hebat juga tua bangka! Sekarang terimalah balasan dariku!" teriak Panji Anom. Seiring dengan teriakannya itu si pemuda melompat ke depan, satu tendangan dilancarkan- nya disusul dengan satu pukulan yang sangat ke- ras mengarah ke bagian perut. Demikian cepat serangan balasan yang dilakukan oleh pemuda ini. Sehingga Datuk Labalang hanya dapat meng- gerakkan tangannya untuk menangkis serangan kaki lawan.

Buuk! Satu hantaman yang keras membuat Da- tuk Labalang terjajar. Bagian yang terkena puku- lan terasa sakit bukan main. Bahkan daster hi- tamnya tampak berlubang di bagian perut. Ini pertanda serangan yang dilakukan Panji Anom juga merupakan serangan yang sangat memati- kan.

Sambil menahan rasa sakit yang mendera perutnya, Datuk Labalang melirik ke arah daster- nya. Betapa kaget orang tua ini dibuatnya ketika melihat pakaiannya hangus. Rasa kaget bercam- pur marah yang bergelora menyesakkan dada membuat sang Datuk menjadi gelap mata. Den- gan mata mendelik kakek ini berteriak. "Aku Da- tuk Labalang, Datu Penguasa Tujuh Telaga. Jika hari ini aku dapat dipencundangi oleh bocah in- gusan sepertimu, alangkah sangat memalukan sekali!"

"Lalu kau mau menunjukkan semua ke- pandaianmu di hadapanku? Ha ha ha. Tidak usah ragu. Aku baginda mu ini siap menghada- pinya?" tentang Panji Anom dengan sikap jumawa penuh kesombongan. Dia kemudian melanjutkan ucapannya. "Sebelum kau melakukan sesuatu, sekarang sebaiknya kau terbanglah dulu di uda- ra. Bertingkah seperti burung yang baru bisa ter- bang dan bantingkan diri di atas batu!" teriak Panji Anom yang rupanya telah mengerahkan il- mu Kontak Suara.

Bersamaan ucapan pemuda itu, Datuk La- balang merasakan mendadak tubuhnya bergetar hebat, kaki tangan serta bagian tubuh lainnya seolah seperti disentakkan ke atas. Sang Datuk sunggingkan satu seringai aneh. Dia kerahkan tenaga dalam ke bagian kaki. Sehingga walaupun Panji Anom mengulangi kata-katanya yang am- puh itu lawan tetap tidak bergerak sebagaimana yang dia inginkan. Murid Begawan Panji Kwalat manusia yang selalu memandang orang lain lebih rendah derajatnya itu tersentak kaget.

"Keparat jahanam, dia sama sekali tak ter- pengaruh oleh Ilmu Kontak Suara ku. Kalau begi- tu aku harus menghantamnya dengan pukulan Kutukan Mendera Bumi!" batin si pemuda. Baru saja Panji Anom memutar kedua tangannya di depan dada, pada saat itu pula meledaklah tawa Sang Datuk.

"Dengan ilmu iblis itu kau hendak mem- permalukan aku sebagaimana halnya yang telah kau lakukan pada pembantu tolol. Ilmu itu tak bisa mempengaruhi diriku karena kau kalah tua dan kalah dalam hal hawa murni. Kudengar ko- non gurumu yang mewariskan ilmu keji itu pa- damu. Heemm, seandainya gurumu saat ini bera- da disini, sampai botak sekalipun dia tak akan dapat mencelakai aku dengan cara seperti itu. Ha ha ha...!" kata Datuk Labalang sambil tertawa ter- gelak-gelak.

Tak menyangka lawan mengetahui siapa gurunya, Panji Anom sempat dibuat tercekat. Be- lum lagi hilang rasa kejutnya, di depan sana ter- dengar suara menggemuruh laksana badai topan yang melanda. Panji Anom memandang ke depan. Pada saat itu dia melihat tujuh cahaya putih lak- sana balok es berputar sebat ke arahnya. Ketujuh cahaya putih itu berbentuk bulat seperti batang kelapa nampak berputar menyerang Panji Anom dari segala penjuru arah.

"Kurang ajar! Ilmu apa yang digunakan oleh tua bangka ini?" rutuk si pemuda. Tanpa membuang waktu lagi dia segera hentakkan salah satu kakinya. Seiring dengan itu tubuhnya mele- sat ke depan. Serangan sinar putih berbentuk bu- lat berhawa dingin luar biasa ini akhirnya saling bentrok satu sama lain. Sedangkan salah satu di- antaranya langsung melejit ke atas mengejar pe- muda itu.

3

Satu ledakan berdentum menggema di udara. Di atas sana Panji Anom menjerit keras ke- tika pahanya kena dihantam pukulan Datuk La- balang. Bagian ujung celananya sampai sebatas pangkal paha hancur berkeping-keping, selain itu kaki yang terkena hantaman lawannya nampak melepuh menggembung besar. Panji Anom yang merasakan kakinya laksana disiram air mendidih jatuh dengan tubuh termiring-miring. Sakit yang diakibatkan pukulan itu saja sudah sangat luar biasa sekali. Tapi Panji Anom Penggetar Jagad le- bih merasa sakit hati lagi ketika melihat bagai- mana celananya jadi robek hancur seperti dica- cah. Sambil menggerung bagaikan harimau kela- paran, Panji Anom Penggetar Jagad himpun selu- ruh tenaga dalamnya. Begitu seluruh tenaga dis- alurkan ke bagian kedua tangan. Sekujur tubuh pemuda ini, mulai dari wajah, kedua tangan hing- ga ke ujung kaki langsung berubah menjadi me- rah kebiru-biruan. Dua matanya yang juga telah menjadi biru memandang tajam ke arah lawan. Sepasang bibir sunggingkan senyum sinis meng- gidikkan.

"Tiga Petaka Mendera Bumi.... satu ilmu pukulan yang menurut guruku belum ada dua- nya. Aku ingin tahu apakah Begawan Panji Kwa- lat bicara yang sesungguhnya atau berkata dusta. Kau calon korban pertama jika apa yang dikata- kan guruku memang merupakan satu kenya- taan!" ujar Panji Anom. Dengan penuh keponga- han dan disertai satu teriakan menggeledek pe- muda itu menerjang ke arah lawannya. Satu tan- gan dihantamkan lurus ke arah lawan. Sedang- kan tangan kirinya yang terkepal dihantamkan ke bumi. Saat itu juga dari bagian bawah tanah ter- dengar suara menggelegar laksana gejolak gu- nung yang hendak meletus. Kemudian setelah itu permukaan tanah nampak bergolak hebat menge- rikan. Lalu terlihatlah satu belahan memanjang yang mana dari bagian tanah yang terbelah itu menyembur lidah api. Lidah api tidak langsung menjilat tubuh lawan, begitu juga tanah yang membelah tidak menelan tubuh sang Datuk. Jilatan lidah api yang mencuat ke permu- kaan langsung menyambar tubuh Panji Anom. Dimulai dari kedua ujung kaki, terus merayap ke sekujur tubuh, hingga ke ujung rambut dan tan- gannya. Semua yang terjadi pada Panji Anom ber- langsung sangat singkat sekali. Sehingga lidah api yang menjalar disekujur tubuhnya menjadi satu tenaga yang Maha dahsyat.

Datuk Labalang sempat terperangah, mata mendelik mulut ternganga seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Namun karena menyadari ilmu aneh yang digunakan lawannya bukan ilmu yang dapat dianggap remeh, maka laksana walet menyambar dia menghantam men- dahului lawannya.

Hawa panas menyambar, sinar biru berkib- lat, menderu ke arah Panji Anom dengan sangat cepat sekali. Tapi pada detik itu pula dari bagian tangan Panji Anom yang terkepal melesat bertu- rut-turut lima larik sinar maut berwarna merah berkelok-kelok laksana ular yang berlari cepat.

Des! Des! Buuuuum!

Satu ledakan berdentum menggelegar di udara. Datuk Labalang menjerit keras, namun suara jeritannya seolah tenggelam ditelah gemu- ruh suara ledakan tadi. Datuk Labalang untuk sesaat lamanya lenyap, tenggelam dalam kobaran api. Dia jatuhkan diri dan bergulingan di atas ta- nah. Api yang membakar pakaiannya membuat tubuhnya jadi menghitam. Masih beruntung tidak jauh dari tempat terjadinya perkelahian hebat ini terdapat sebuah sungai. Ke arah sungai itulah sang Datuk selamatkan dirinya. Beberapa saat tubuh sang Datuk timbul tenggelam diseret arus. Panji Anom yang merasa berada dalam kemenan- gan tidak membiarkan lawannya meloloskan diri begitu saja. Dia langsung mengejar, siapkan satu pukulan yang tak kalah hebatnya dari pukulan Tiga Petaka Mendera Bumi. Tapi begitu dia sam- pai di tebing kali sosok kakek setinggi galah le- nyap tak kelihatan. Pemuda ini meskipun masih merasa penasaran tapi tetap yakin jiwa sang Da- tuk pasti tidak ketolongan mengingat sekujur tu- buhnya mengalami luka bakar yang sangat parah. Jika pun Datuk Labalang dapat bertahan hidup, paling tidak dia akan menderita cacat seumur hi- dup. Panji Anom begitu ingat dengan senjata Bin- tang Penebar Petaka pada akhirnya bersikap tidak perduli dengan lenyapnya Datuk Labalang yang mungkin tenggelam ditelan derasnya arus sungai. Dia kembali ke tempat terjadinya perkelahian he- bat tadi. Saat itu tanah yang terbelah akibat me- nyembur nya lidah api dari dalam bumi yang me- rupakan salah satu pembangkit tenaga sakti pe- muda ini sudah bertaut kembali. Yang terlihat hanya sebuah garis menghitam selebar telapak tangan berkelok sepanjang penglihatan mata.

Panji Anom sunggingkan satu seringai be- gitu melihat bekas lintasan lidah api yang menjadi sumber dari kekuatan saktinya. Akan tetapi tak berapa lama kemudian dia cepat memandang ke arah mana Memedi Santap Segala terbaring. Mendadak sontak tubuh si pemuda bergetar, wa- jahnya memucat, kedua alisnya yang tebal ber- taut ketika menyadari Memedi Santap Segala te- lah lenyap entah kemana. Dengan tatapan mata liar dan nafas sesak karena menahan kegeraman Panji Anom Penggetar Jagad memandang ke se- tiap penjuru sudut. Sampai sejauh itu orang yang dicarinya tidak terlihat. Semua ini membuat ke- marahan Panji Anom semakin meluap-luap.

Dengan kedua tangan terkepal dia mengge- ram. "Manusia kunyuk keparat. Dia rupanya sen- gaja melarikan diri di saat aku berkelahi dengan tua bangka tadi. Dia sudah terluka, tak mungkin dapat melarikan diri dariku. Awas... jika sampai kutemukan, akan kubeset kulitnya." desis Panji Anom. Pemuda itu kemudian melampiaskan ke- marahannya dengan melepaskan pukulan ke arah semak belukar di samping pohon besar yang tumbang. Sinar hitam berkiblat, semak belukar rambas, lalu terdengar suara ledakan menggele- gar. Debu pasir dan reranting pohon bertaburan di udara dalam keadaan dikobari api. Untuk be- berapa saat lamanya suasana di tempat itu beru- bah menjadi gelap. Ketika kegagalan sirna dan suasana menjadi terang kembali Panji Anom su- dah tak terlihat lagi berada di situ.

***

Memedi Santap Segala memang sangat menyadari, cepat atau lambat salah seorang dari mereka yang terlibat perkelahian sengit itu pada akhirnya akan keluar sebagai pemenang. Sedang- kan yang satunya jika tidak terbunuh paling tidak terluka parah. Siapapun yang memenangkan per- kelahian hebat itu bagi Memedi Santap Segala ti- dak begitu penting karena masing-masing dari mereka sama-sama ingin merebut senjata Bintang Penebar Petaka dari tangannya.

Hal seperti itu tidak boleh terjadi. Senjata maut itu tidak akan dibiarkannya jatuh di tangan salah seorang diantara mereka. Karena itulah ke- tika perkelahian sengit terjadi Memedi Santap Se- gala yang mengalami luka dalam di bagian pung- gung dengan segenap sisa kekuatan yang dia mi- liki berusaha melarikan diri dari mereka. Akan te- tapi pemuda ini tentu tidak dapat pergi jauh ka- rena dia hanya dapat berjalan biasa tanpa mam- pu mengerahkan ilmu lari cepatnya. Setelah se- kian lama bersusah payah melarikan diri sekali- gus menghindar dari tangan-tangan serakah yang menghendaki senjata Bintang Penebar Petaka, dia merasa kehabisan tenaga dan kelelahan sendiri.

Sampai di suatu tempat yang terlindung dari kelebatan semak belukar dan reranting pe- pohonan Memedi Santap Segala menyelinap dan berdiam disitu, sambil mencoba mengatur nafas dan berfikir apa yang harus dilakukan selanjut- nya.

"Untuk menyerahkan senjata ini pada orang yang berhak menerimanya, atau mungkin orang yang pantas kutitipi senjata ini aku harus benar-benar memiliki kekuatan yang penuh. Tu- buhku harus sehat, tidak sakit sebagaimana se- karang. Mungkin sekarang aku harus menyem- buhkan luka dalamku melalui pengerahan tenaga dalam. Jika itu dapat kulakukan dan hasilnya se- suai dengan yang kuharapkan aku yakin bukan saja dapat menemukan orang yang cocok untuk kutitipi senjata ini, tapi aku juga pasti mampu menghindar dari Datuk Labalang atau juga Panji Anom." batin Memedi Santap Segala.

Akhirnya tanpa fikir panjang lagi Memedi Santap Segala yang saat itu duduk bersila segera pejamkan mata. Begitu mata terpejam dia mulai kerahkan hawa murninya yang bersumber dari bagian pusernya yang bodong. Puser yang menon- jol keluar sepanjang ibu jari itu berkerut atau bergoyang ke kanan ke kiri ke atas dan ke bawah. Cukup lama juga si pemuda berusaha mengerah- kan tenaga saktinya untuk disalurkan ke bagian punggung. Namun semua usaha yang dilakukan- nya tidak membawa hasil sebagaimana yang diha- rapkan. Padahal saat itu sekujur tubuhnya telah bersimbah keringat, nafas megap-megap dan se- kujur tubuh telah pula bersimbah keringat.

Memedi Santap Segala gelengkan kepala. "Aneh... mengapa aku tak bisa menggunakan te- naga saktiku? Jangan-jangan Panji Anom telah mengambil tenaga saktiku secara licik, atau ba- rangkali sumber tenaga dalamku telah berubah menjadi angin, menjadi kentut. Jika itu sampai terjadi, aduh matilah aku." Memedi Santap Segala tepuk keningnya sendiri. Sementara itu akibat pengerahan tenaga dalam membuat luka di ba- gian pinggangnya jadi semakin bertambah sakit. Si pemuda meringis.

Dia terdiam sesaat, berfikir mencari jalan keluar. Sampai kemudian terlintas sesuatu di da- lam benaknya.

"Batu Rembulan... batu itu telah banyak memberi bantuan ketika aku terperangkap di da- lam lubang batu. Sekarang aku harus mengguna- kan batu sakti itu." batin si pemuda. Tangannya kemudian bergerak ke bagian saku celananya. Dia meraba kian kemari, hatinya berdebar pera- saan jadi cemas. Akhirnya dia merasa lega ketika mendapati batu itu masih berada di tempatnya.

Batu putih sebesar dan berbentuk seperti telur ayam dan menyimpan kekuatan sakti itu di- ambilnya. Memedi Santap Segala memperhatikan batu tersebut beberapa jenak. Setelah itu batu di- genggamnya erat-erat. Mulut komat-kamit seben- tar disertai desis aneh. Baru setelah suara desi- san lenyap terdengar pemuda ini berucap. "Batu Rembulan batu sakti, batu kesayanganku. Kepa- damu aku mohon satu pertolongan sekali lagi. Dengan kesaktian yang kau miliki, harap kau bantu aku sembuhkan luka di bagian pinggang- ku!" kata si pemuda. Sesaat dia menunggu, detik demi detik berlalu. Tapi tidak terjadi reaksi atau perubahan apapun. Batu dalam genggaman tan- gannya tidak menghangat, juga tidak memancar- kan cahaya putih  ke kuning-kuningan. Melihat kenyataan ini tentu saja Memedi Santap Segala jadi terheran-heran. "Tak biasanya Batu Rembu- lan ini tidak memberi reaksi atas semua perin- tahku. Mengapa sekarang jadi begini? Mungkin ada satu kesalahan, mungkin kesaktian batu ini sedang tertidur hingga dia tidak mendengar aba- aba dariku." Fikir Memedi Santap Segala.

Karena masih juga merasa penasaran, ma- ka dia segera berucap kembali dengan suara ke- ras, hingga jika ada orang disekitarnya tentu orang itu dapat mendengarnya dengan jelas.

"Batu Rembulan batu sakti     Bantulah

aku."

Selesai berkata Memedi Santap Segala

kembali menunggu. Seperti tadi batu sakti ditan- gannya tidak menunjukkan perubahan apapun.

"Batu Rembulan batu sakti...!" Untuk yang ketiga kalinya dia mengulangi, namun sebelum dia sempat melanjutkan ucapannya mendadak saja terdengar suara kentut besar yang kemudian disusul dengan suara tawa yang seakan datang dari atas langit.

Memedi Santap Segala jadi kaget bukan main, wajah hitamnya sempat berubah memucat. Tanpa sadar dia dongakkan kepala memandang ke langit dimana suara tawa tadi terdengar.

"Mungkin dewakah yang mentertawaiku tadi? Tobat... apa yang harus kulakukan?" desis Memedi Santap Segala. Dia tiba-tiba merasa sa- dar telah melakukan suatu kesalahan. Jika dia membutuhkan satu pertolongan mengapa tidak memintanya pada Tuhan? Mengapa harus pada batu? Benda yang sesungguhnya merupakan ba- gian terkecil dari sekian banyak ciptaan Tuhan. Mungkin Tuhan jadi marah, hingga Dia mengam- bil kekuatan yang dimiliki batu tersebut.

Ingat akan semua itu membuat Memedi Santap Segala menggigil. Pada saat itu suara tawa telah lenyap. Memedi Santap Segala tak berani memandang ke langit. Dia jadi malu dan takut pada Gusti Allah.

Di saat pemuda itu diliputi berbagai pera- saan itulah satu suara terdengar mengguntur.

"Bocah yang kulitnya seperti pantat kuali. Kau tak mungkin dapat sembuh dari luka itu. Kau bisa lumpuh, menderita seumur hidup dan bisa juga mati jadi roh gentayangan. Manusia sa- lah kaprah kau harus melakukan sesuatu, ha- rus...!"

Memedi Santap Segala jadi tertegun. Me- nyangka yang baru saja bicara tadi dewa, maka dia rangkapkan kedua tangan sambil menjura hormat.

Suara yang seakan datang dari atas langit perdengarkan suara tawa mengekeh.

"Ampun dewa. Sesungguhnya aku ini orang bodoh...!"

"Kau memang tolol, lihat saja sendiri tam- pangmu mirip sekali dengan monyet." sergah sua- ra itu sambil tetap tertawa-tawa.

"I... iya, tampangku memang seperti mo- nyet. Mengapa begini, apakah kau bisa mengganti buruk rupaku dengan rupa yang lain?" tanya Memedi Santap Segala polos.

"Hust, wajah yang seperti itu adalah wajah langka. Kelak akan banyak orang yang mencari- mu. Ha ha ha." sahut suara itu.

"Oh sedihnya diriku. Siapakah dirimu? Apakah kau malaikat?" tanya Memedi Santap Se- gala dengan suara bergetar dan wajah masih ter- tunduk.

"Bukan...!" menyahuti suara itu sambil ter- tawa-tawa.

"Mungkin kau dewa?"

"Juga bukan." sahut si suara.

"Apakah kau setan?" tanya Memedi Santap Segala lagi.

"Ya, aku setan. Aku bapak setan. Ha ha

ha."

Si pemuda lugu yang memiliki daya fikir

rendah ini terbelalak dengan mulut menganga le- bar.

"Sewan... eh, setan?! Aku paling takut pada setan." desis Memedi Santap Segala alias Mak- hluk Tangan rembulan.

"Manusia tolol, kau takut pada Setan, bu- kan pada Tuhan. Sungguh aku akan memperce- pat kematianmu sekarang juga!" bentak suara itu sinis.

"Oh jangan, aku masih ingin hidup. Siapa- pun adanya dirimu ini aku ingin kau mengatakan padaku apa yang harus kulakukan!" ujar si pe- muda. lan?" "Ha ha ha. Kau ingin aku memberimu ja-

"I... iya." jawab si pemuda tersendat.

"Kalau begitu sebaiknya kau membunuh diri!" Laksana terbang nyawa Memedi Santap Se- gala mendengar anjuran suara itu. Dia berfikir ji- ka suara itu memang setan adanya, tentu dia ti- dak salah memberi jalan menyesatkan. Karena hal-hal seperti itu memang pekerjaan setan. Tapi haruskah dia membantah?

"Kau ragu untuk menjawab, mulutmu ter- katub diam membisu, ataukah kau punya usul lain." sentak suara itu.

"Betul... aku ingin hidup, aku ingin sela- mat!" jawab Memedi Santap Segala dengan terba- ta-bata.

"Tidak ada jalan selamat bagimu terkecuali kau mau menelan Batu Rembulan di tanganmu dan menyerahkan Bintang Penebar Petaka yang tersimpan di salah satu kantong perbekalan mu padaku!" tegas suara itu.

4

Laksana disambar petir Memedi Santap Segala langsung terkulai di tanah, tengkuk tidak terasa seperti tengkuk lagi, tapi telah berubah menjadi dingin laksana es. Apa yang dikatakan oleh suara itu bagi Memedi Santap Segala dia anggap sebagai suatu nasehat gila. Bagaimana mungkin dia bisa menelan Batu Rembulan ke- sayangannya. Sedangkan selain batu itu beruku- ran cukup besar juga satu-satunya benda berhar- ga yang dia miliki.

Masih dengan keadaan rebah di atas ta- nah, Memedi Santap Segala ajukan pertanyaan. "Apakah tidak ada cara lain untuk menyembuh- kan diriku?"

"Manusia tolol, melihat pada tubuhmu kau pantas mendapat julukan memedi, karena tu- buhmu hitam legam. Lalu apa artinya santap se- gala? Bukankah itu berarti kau memakan segala sesuatunya. Apa saja kau sikat. Lalu apa artinya jika harus menelan sebuah batu demi kesembu- hanmu sendiri? Tapi semua terserah padamu, ji- ka kau tak mau turuti. Kujamin tak sampai se- tengah jam di depan nyawamu benar-benar am- blas. Ha ha ha," kata suara itu disertai tawa ter- kekeh-kekeh.

Takut apa yang dikatakan orang menjadi kenyataan, Memedi Santap Segala buru-buru be- rucap. "Aku... aku tak punya. pilihan lain. Tapi seperti katamu, batu ini akan kutelan. Terus- terang aku takut mati, karena mungkin aku ba- nyak dosa. Tapi aku butuh air!" ujar si pemuda.

"Tidak ada air, apakah kau mau minum air kencingku. Ha ha ha!" sahut suara itu sambil ke- luarkan tawa membahak.

"Setan keparat, dia rupanya bangsanya se- tan gila. Ada saja yang dikatakannya." rutuk Me- medi Santap Segala. Sejenak dia menjadi ragu apakah harus menelan Batu Rembulan atau ba- talkan niatnya. Namun dia takut menjadi sesuatu yang tidak diingini. Dalam kesempatan itu ter- dengar suara lagi.

"Cepat lakukan!"

Memedi Santap Segala akhirnya patuhi apa yang dikatakan suara tadi. Batu Rembulan dide- katkan ke mulut, sedangkan mulut dibuka lebar- lebar. Batu sebesar telur lalu dimasukkan ke da- lam mulutnya. Setelah itu tenggorokan lakukan gerakan menelan.

"Egkh...!" Memedi Santap Segala keluarkan suara seperti tercekik. Matanya mendelik, tenggo- rokannya naik turun berusaha menelan, tapi ka- rena batu itu cukup besar, sehingga hampir tak dapat melewati bagian tenggorokannya. Kini Me- medi Santap Segala jadi sulit bernafas, tangannya menggapai kian kemari, sedangkan kedua kaki melejang-lejang seperti orang yang meregang ajal.

Penderitaan si pemuda tidak hanya sampai disitu saja, karena begitu batu berada di dalam tenggorokan, maka dibagian itu terasa panas se- perti terbakar. Rasa panas menjalar ke sekujur tubuh, menimbulkan mulas di perut dan rongga dada laksana terbakar. Selagi Memedi Santap Se- gala dalam keadaan tak mampu menelan atau mengeluarkan Batu Rembulan dari dalam mulut- nya, maka pada waktu itu pula satu bayangan serba hitam berkelebat dari arah belakangnya. Bayangan itu menyambar ke arah si pemuda. Di lain waktu Memedi Santap Segala merasakan ada tangan dingin menekan ubun-ubun, sedangkan sarung tangan yang lainnya menghantam bagian perut.

Kleer!

Hantaman dan pijitan membuat Batu Rembulan amblas ke dalam perut si pemuda. Akibatnya bagian perut terasa seperti diremas dan dibakar dari bagian dalam.

"Uwalah, tobaaat...!" teriak si pemuda sam- bil mengusap perutnya sambil julurkan lidah.

Di depan Memedi Santap Segala sosok tinggi besar luar biasa berpakaian serba hitam dengan dada tak terkancing, bermuka bulat, hi- dung pesek berpipi tembem dengan kening lebar tertawa terkekeh-kekeh. Perutnya yang besar ber- goyang keras.

Memedi Santap Segala meskipun kaget me- lihat kehadiran sosok tinggi besar ini namun te- rus bergulingan di atas tanah.

"Setan alas. Walah... tubuhku, perutku se- perti dipanggang. Batu Rembulan benar-benar menyiksaku!" teriak si pemuda, marah, kesal juga kebingungan.

"Apakah kau membutuhkan air untuk membuat dingin perutmu?" tanya sosok gendut besar yang bukan lain adalah kakek Gentong Ke- tawa. Memedi Santap Segala sama sekali tidak menyahut. Pemuda itu masih saja bergulingan. Diam-diam si kakek gendut dengan bobot lebih dari dua ratus kati ini memperhatikan Memedi Santap Segala. Begitu pandangan matanya mem- bentur sosok di depannya, si gendut jadi terke- siap. Sosok yang tadinya hitam macam arang kini telah mengalami perubahan hebat di sekujur tu- buhnya. Memedi Santap Segala tidak lagi berkulit hitam, melainkan sekujur tubuhnya telah beru- bah menjadi merah kekuning-kuningan. Satu proses aneh terus berlangsung pada dirinya. Tu- buh yang semula berwarna kuning kini telah be- rubah menjadi sebening kristal. Sehingga bagian dalam tubuhnya terlihat dengan jelas. Mulai dari tengkorak kepala yang terbalut kulit dan daging, tenggorokan, pernafasan, lambung, hati dan isi perut lainnya semua membayang. Seakan di da- lam tubuh Memedi Santap Segala Batu Rembulan memancarkan cahaya ke sekujur tubuhnya. Tapi yang lebih hebat lagi dan sempat si kakek gendut jadi terkagum-kagum kedua tangan Memedi San- tap Segala memancarkan sinar terang laksana bulan purnama.

"Hebat.... kini kau tidak ubahnya seperti dewa yang menerangi kegelapan. Kau tak pantas lagi mempunyai nama Memedi, kau lebih pantas disebut Makhluk Tangan Rembulan. Kukatakan makhluk karena ku sebut kau sebagai manusia kurang cocok, bila kukatakan monyet juga tidak pantas. Ha ha ha...! Sekarang lihatlah dirimu, kau perhatikan baik-baik. Kini kau tampak lebih ga- gah, lebih putih bahkan lebih bersinar. Tidak bu- lukan, kusam sebagaimana tadi."

Memedi Santap Segala yang merasa bagian dalam perutnya tidak terasa panas sebagaimana tadi kini duduk dan perhatikan diri sendiri. Dia terkejut melihat apa yang terjadi.

"Sungguh sulit kupercaya. Bagaimana tu- buhku bisa berubah bening seperti ini?" desis si pemuda. Heran juga puas melihat kedua tangan- nya, kini dia memperhatikan dada dan perutnya. Begitu melihat ke bagian itu dia langsung mende- kap wajahnya.

"Bagian dalam perutku kini mengapa jadi kelihatan. Aku... aku takut...!" rintih si pemuda.

"Manusia tolol, kini kau memiliki satu ke- saktian hebat, mengapa jadi takut melihat perut sendiri?" dengus si gendut Gentong Ketawa. Orang tua itu kemudian melanjutkan. "Batu Rembulan telah menyatu dalam dirimu, sekarang apakah kau tidak hendak mengatakan padaku untuk apa lagi kau membawa senjata Bintang Pe- nebar Petaka yang menjadi incaran banyak orang?" kata Gentong Ketawa.

Diam-diam Memedi Santap Segala jadi ter- heran-heran juga terkejut mendengar ucapan Gentong Ketawa.

"Bagaimana kau bisa mengetahui senjata itu ada padaku, orang tua?" tanya Memedi Santap Segala.

"Ha ha ha. Bukankah aku setan?" sahut si kakek gendut. "Tapi terus-terang saja aku me- mang mengikutimu, bahkan sejak kau mendapat perlakuan bagus dari Panji Anom."

"Hah, kalau begitu kau juga melihat kakek tinggi, Datuk Labalang junjunganku?" tanya si pemuda.

"Aku melihat hantu jelek berpakaian seper- ti banci dimandikan dalam lautan api oleh Panji Anom. Setelah puas mandi api, dia baru kemu- dian berenang dalam sungai. Bagaimana nasib kakek jelek itu selanjutnya aku tidak tahu!"

Memedi Santap Segala gelengkan kepala. Dia sempat terdiam beberapa saat lamanya. Da- tuk Labalang selama jadi majikannya memang tak pernah menyakiti dirinya. Hanya orang tua itu sering melakukan kejahatan pada orang lain. Dia khawatir, jika orang tua itu sampai memiliki sen- jata Bintang Penebar Petaka, kejahatan yang dila- kukannya semakin menjadi-jadi. Karena alasan inilah Memedi Santap Segala tidak bersedia mem- berikan senjata yang telah ditemukannya.

"Anak muda, walaupun Batu Rembulan ki- ni telah menyatu dengan dirimu, ini bukan berarti kau sanggup menghadapi mereka. Setiap saat ji- wamu terancam. Jika kau mau menuruti apa yang aku sarankan kurasa aku bersedia memban- tumu." ujar si gendut.

"Apa yang harus kulakukan. Apakah eng- kau juga menginginkan senjata ini?" tanya si pe- muda curiga, namun dia juga sempat berfikir se- telah merasa dirinya ditolong mungkinkah orang tua ini dapat dipercaya?

"Aku tidak kemaruk dengan segala macam senjata. Kalau kau tak keberatan, mungkin kita dapat menemui guruku untuk meminta petun- juknya." ujar si gendut. "Aneh... orang setua dirimu masih punya guru?" ucap Memedi Santap Segala heran.

Gentong Ketawa anggukkan kepala lalu ter- tawa tergelak-gelak. "Guru aku punya, murid aku juga punya. Mungkin anak istri yang tidak kumi- liki! Ha ha ha."

Si pemuda yang kini tubuhnya telah beru- bah sebening kaca dan tembus pandang ini ak- hirnya mengangguk setuju.

"Baiklah, aku percaya padamu. Aku akan ikut denganmu, jika kau ternyata menipuku. Aku tak akan segan untuk membunuhmu!" ancam Memedi Santap Segala.

Si kakek gendut menanggapinya dengan tawa mengekeh. Bagaimanapun saat ini masih cukup banyak persoalan yang harus diselesaikan nya. Sejak terpisah dengan Gento Guyon di pun- cak bukit sebelah timur Kuil Setan dia masih be- lum bisa mengetahui bagaimana nasib muridnya. Lalu bagaimana si kakek gendut yang semula be- rada di dalam sebuah ruangan di Kuil Setan itu kini bisa keluar dari Kuil Setan? Padahal saat itu ketika puncak bukit meledak, Kuil Setan juga ikut meledak.

***

Sejenak kita ikuti dulu apa yang terjadi be- berapa saat sebelum terjadi ledakan dahsyat pada bagian puncak bukit juga Kuil Setan. Ketika itu Gentong Ketawa bersama gurunya si kakek pen- dek cebol Kuntet Mangku Bumi bergelar Dewa Kincir Samudera sedang memeriksa kamar-kamar maut yang jumlahnya cukup banyak. Di dalam setiap ruangan mereka menemukan tulang belu- lang serta tengkorak yang bergeletakan di setiap sudut. Belasan ruangan telah mereka teliti, na- mun Gentong Ketawa tidak menemukan murid- nya berada di salah satu ruangan itu.

"Kita harus memeriksa ruangan yang di- tempati oleh Iblis Berjubah Merah. Jika cucu mu- ridku telah dicelakainya, aku bersumpah akan membuat tulang belulang setan gentayangan itu jadi debu." guman si kakek. Lalu orang tua ini dengan tergesa-gesa memasuki sebuah ruangan besar dimana di seberang ruangan terdapat se- buah pintu batu berwarna merah.

"Apakah dia tinggal di sebelah sana?" tanya si kakek gendut sambil memandang ke arah si kakek berambut putih yang tingginya tak sampai sebatas pinggang itu.

Si pendek cebol yang usianya lebih dari se- ratus tahun ini anggukkan kepala. Tanpa bicara lagi orang tua ini angkat tangan kanannya ke atas kepala. Begitu diangkat tangan langsung menge- pulkan asap tebal berwarna putih. Dibelakangnya si kakek gendut besar tersenyum.

"Si cebol guruku ini rupanya hendak menghancurkan pintu batu. Huh, apakah tidak ada cara lain. Jika pintu hancur tidak mengapa, tapi bagaimana jika seluruh ruangan ini ikut run- tuh? Bukan hanya dia saja, akupun bisa ikut ter- kubur hidup-hidup disini." Fikir si gendut dalam hati. Akan tetapi belum lagi Dewa Kincir Samude- ra sempat melepaskan pukulan mautnya. Pada saat itu terjadi satu guncangan keras yang diser- tai dengan ledakan disana sini.

Gentong Ketawa tercekat, Dewa Kincir Sa- mudera terkejut. Terlebih-lebih ketika merasakan lantai yang dipijaknya menunjukkan tanda-tanda hendak amblas ke bawah.

Lalu suara gemuruh terdengar dari segala penjuru arah. Hawa di dalam ruangan dimana mereka berada semakin bertambah panas.

Wuus! Wuus!

Api entah dari mana datangnya menyem- bur menjilat-jilat dari setiap pintu yang terkuak lebar.

"Gila tapi juga hebat, pukulan belum dile- paskan tapi api sudah menyembur dari semua arah. Ilmu apa yang guru pergunakan?" celetuk Gentong Ketawa. Orang tua ini tertawa tergelak- gelak, walau sesungguhnya jauh di lubuk hati si gendut merasa kaget juga tegang menyaksikan semua kejadian yang tak pernah disangka-sangka ini.

"Tua bangka konyol, cepat kita tinggalkan ruangan ini. Aku menaruh firasat darah murid kesayangan Yang Agung alias Iblis Berjubah Me- rah tertumpah membasahi puncak bukit ini. Se- baiknya kita keluar, jika tidak kita bisa mampus." teriak Dewa Kincir Angin. Kemudian dengan san- gat cepat sekali si kakek pendek cebol memutar langkah. Sekali berkelebat dengan diikuti Gentong Ketawa mereka telah meninggalkan ruangan.

Ruangan demi ruangan mereka lewati, na- mun baru saja mereka sampai di depan pintu kuil. Pada waktu bersamaan terjadi ledakan ber- dentum. Kuil Setan meledak dahsyat disertai sua- ra gemuruh api dan terpentalnya batu-batu besar ke segala penjuru arah. Gentong Ketawa dan gu- runya ikut terlempar. Tubuh mereka melambung tinggi. Karena tubuh si gendut lebih berat, maka jatuhnya tak begitu jauh dari lembah bukit. Se- dangkan Dewa Kincir Samudera karena tubuhnya lebih kecil dan ringan maka dia terlempar jauh dan jatuh entah kemana.

Ketika si gendut jatuh, jatuhnya tepat di atas kerimbunan pohon, hingga membuat tubuh- nya menyerangsang, lalu meluncur turun ke ba- wah disertai suara bergedebukan saat si kakek ja- tuh di atas batu. Batu amblas, si kakek mengge- liat. Dalam kegelapan menjelang pagi dia mengge- rutu. "Untung ada batu, jadi tubuhku yang terasa pegal kini seperti diurut." Si kakek kemudian bangkit berdiri. Dia menggeliatkan tubuhnya be- berapa kali. Saat itu suasana telah mulai terang tanah sedangkan udara dingin terasa demikian mencucuk. Untuk pertama kalinya Gentong Ke- tawa memandang ke arah bukit. Puncak bukit sudah tidak nampak lagi, setelah meledak kini bukit tersebut sudah hampir rata sama sekali.

"Mudah-mudahan guruku tak ketinggalan di kuil itu. Aku tak tahu dia jatuh dimana? Pera- saanku mengatakan dia dalam keadaan selamat. Biarlah tubuhnya pendek asalkan umurnya pan- jang." batin si gendut. Dia mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Selagi si gendut berfikir dan teringat pada muridnya Gento Guyon. Pada waktu bersamaan mendadak terdengar suara bentakan- bentakan keras tak jauh dari tempat dimana dia berada.

"Matahari belum lagi terlihat." berkata si gendut sambil memandang ke langit sebelah ti- mur. Saat itu yang terlihat hanya rona merah di- mana matahari akan munculkan diri. "Orang- orang gila mana lagi yang berkelahi di pagi buta begini?"

Karena hati si kakek gendut dipenuhi rasa ingin tahu, maka dia kemudian menyelinap diba- lik semak belukar sampai akhirnya berhenti di sa- tu tempat dan mengintai dari balik pohon besar. Gentong Ketawa tertegun begitu melihat seorang pemuda berpakaian serba merah berwajah tam- pan gagah namun congkak tengah menyerang seorang kakek tua berdaster dan berkerudung hi- tam. Yang membuat orang tua ini jadi terheran- heran adalah mengenai keadaan fisik si kakek bertampang seram itu. Tubuh si daster hitam tinggi bukan main, begitu tingginya sampai ham- pir menyamai pohon-pohon yang terdapat di keli- lingnya.

Melihat hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan oleh kedua belah pihak, si gendut dapat memastikan mereka pastilah dua orang yang memiliki kepandaian tinggi. Tapi siapa pe- muda berpakaian merah itu? Setiap pukulan yang dilancarkannya mengandung hawa keji. Masih sangat muda tapi ilmunya sangat tinggi. Si kakek terdiam sambil berfikir. Dia lalu tepuk keningnya. "Mungkin pemuda ini Lira Watu Sasangka,

alias Panji Anom Penggetar Jagad, murid kakek lumpuh Begawan Panji Kwalat. Bocah keblinger ini tentu mewarisi ilmu kesaktian dari gurunya." batin si gendut.

Sementara perkelahian semakin bertambah sengit dan menghebat, Gentong Ketawa alihkan perhatiannya ke lain tempat masih disekitar tem- pat terjadinya perkelahian.

"Astaga. Pemuda hitam rupa seperti ku- nyuk itu siapa adanya. Kulihat dia dalam kea- daan terluka. Aku tak salah mendengar, tadi aku sempat mendengar ada orang menyebut-nyebut tentang senjata Bintang Penebar Petaka. Semula suara itu datang dari langit. Mana mungkin ada dewa berebut senjata. Bisa jadi senjata yang dica- ri selama ini ada di tangan pemuda hitam itu. Eeeh... dia hendak pergi. Ternyata dia cukup cer- dik. Mempergunakan kesempatan untuk menye- lamatkan diri selagi orang sibuk berkelahi!" desis si gendut. Dia tersenyum sambil mengusap-usap keningnya. Pada waktu itu timbul keinginannya untuk mengikuti Memedi Santap Segala, namun pada waktu yang bersamaan Panji Anom menge- rahkan ilmu pukulan Tiga Petaka Bumi. Gentong Ketawa sempat tercekat ketika melihat bagaimana bumi jadi rengkah terbelah. Di balik rengkahan bunuh api menyembur dan langsung tersedot ke dalam tubuh Panji Anom. Melalui tenaga yang be- rasal dari semburan api dari dalam tanah inilah dia menghabisi lawannya.

Ketika Datuk Labalang terbakar dan lang- sung ceburkan diri ke dalam kali itulah Gentong Ketawa tinggalkan tempat itu dengan perasaan tegang bercampur ngeri.

"Pemuda tadi tak bisa dianggap remeh. Aku harus memberi tahu apa yang kulihat di pagi ini pada Gento, agar kelak dia dapat bersikap hati- hati." guman si gendut, lalu dia mengejar ke arah lenyapnya Memedi Santap Segala.

5

Udara di pagi itu terasa dingin mencucuk, burung-burung berkicauan menyanyikan senan- dung yang merdu. Kuil Setan yang berada di pun- cak bukit tidak tampak lagi, lenyap sama rata dengan tanah akibat ledakan dahsyat yang terjadi malam tadi. Dari tempat pemuda itu terjatuh, dia hanya melihat kepulan asap hitam, bergulung- gulung menjulang tinggi menggapai angkasa. Si gondrong tampan bertelanjang dada ini kerjabkan matanya, otak berusaha berfikir, mengingat-ingat segala sesuatu yang telah terjadi. Mendadak ke- palanya jadi pening.

Si gondrong memijit keningnya, mata ter- pentang memandang ke sekeliling tempat itu. Kini dia baru sadar dan ingat segala sesuatu yang te- lah terjadi.

"Ledakan itu telah melemparkan aku se- jauh ini? Kemana gadis cantik berpakaian dan bertubuh serba hijau itu?" sambil berkata begitu si pemuda tampan yang tiada lain adalah Gento Guyon ini bangkit berdiri. Tubuhnya agak ter- huyung, kepala terus mendenyut, sedangkan ba- gian tubuhnya yang lain terasa sakit seperti re- muk. Sekali lagi dia kitarkan pandangan ma- tanya. Samar-samar murid Gentong Ketawa ini melihat satu sosok tubuh dalam keadaan rebah miring memunggungi dirinya. Pakaian tipisnya yang berwarna hijau acak-acakan. Tak percaya dengan penglihatannya sendiri Gento mengusap matanya.

Sepasang matanya yang bulat kini terbela- lak sedangkan, mulut membuka lebar. "Gila... tak kusangka ledakan yang terjadi membuat aku dan dia tercampak sampai ke sini. Apa yang terjadi dengannya? Apa mungkin dia terluka karena le- dakan itu?" Gento membatin dalam hati. Namun dia cepat mendatangi. Dua tombak lagi dia sam- pai di belakang si gadis, langkah Gento mendadak terhenti. Dia mendengar suara batuk, bila me- mandang ke depannya gadis itu menggeliat.

Karena gadis itu tak kunjung bangun, Gen- to bermaksud memberikan satu pertolongan. Se- kali lagi Gento jadi bimbang. Dia takut jika perto- longan yang dilakukannya malah mengundang kemarahan bagi gadis berwajah secantik bidadari itu.

Sampai akhirnya si gadis berpakaian serba hijau dan berkulit hijau ini bangkit sendiri. Bersi- kap seperti tidak ada orang lain di tempat itu si gadis yang bukan lain adalah Dwi Kemala Hijau ini langsung bersila, mata terpejam dan nafas di- hembuskan dengan teratur. Rupanya dia bermak- sud menghimpun tenaga dalam dan mengatur pe- redaran darahnya yang sempat menjadi kacau.

Beberapa saat berlalu, si gadis masih tetap duduk bersila dengan mata terpejam. Gento ber- diri tegak ditempatnya. Dalam hati dia berkata. "Sejak pertama kali melihatku, dia memperli- hatkan satu perhatian. Entah apa yang diingin- kan oleh gadis berkulit hijau ini. Aku sebenarnya merasa curiga, walaupun kulihat sikapnya begitu baik kepadaku. Tapi siapa tahu hatinya menyim- pan maksud jahat hendak mencelakai aku. Apa- pun tujuannya aku tidak boleh lengah."

"Bagaimana keadaanmu Gento? Apapun dugaanmu tentang diriku, semua itu tidak berala- san sama sekali." suara si gadis yang merdu me- mecahkan keheningan suasana hingga membuat Gento jadi berjingkrak kaget.

"Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang ku fikirkan? Apakah mungkin dia seorang du- kun?" kata Gento dalam hati.

"Nah, kau bicara lagi. Sudah kukatakan semua dugaanmu tidak beralasan sedikitpun. Aku bukan orang jahat," ujar Dwi Kemala Hijau sambil buka matanya. Dia lalu memutar tubuh- nya hingga kini menghadap ke arah Gento. Si ga- dis julurkan kedua kaki, sedangkan punggungnya disandarkan pada sebuah batu yang berada dis- itu.

Cukup lama Dwi Kemala Hijau memperha- tikan pemuda didepannya. Gento jadi salah ting- kah, namun tetap sunggingkan senyum.

Beberapa saat kemudian si pemuda mem- buka mulut, ajukan satu pertanyaan.

"Gadis hijau secantik bidadari. Siapa sebe- narnya dirimu?"

Dwi Kemala Hijau sunggingkan seulas se- nyum. Sungguh senyum itu membuat laki-laki yang memandangnya tadi belingsatan.

"Aku sebenarnya seorang bidadari kayan- gan." Menerangkan si gadis dengan suara merdu dan enak didengar. Berlagak sok tahu Gento Guyon yang sempat kaget mendengar jawaban si gadis berkata. "Aku memang sudah menduga ga- dis secantikmu pasti berasal dari Kayangan. Di dunia ini mana ada gadis secantik dirimu. Tapi... sebenarnya kayangan itu ada di mana?"

Mendengar pertanyaan Gento yang polos, dengan tenang gadis cantik itu menjawab. "Kayangan adalah suatu tempat yang sangat in- dah. Belum pernah dilihat oleh seorang pun pen- duduk bumi. Tempat itu penuh kedamaian. Tidak ada sengketa, tidak ada darah yang tertumpah disana akibat nafsu amarah. Hanya tempatnya sangat jauh melewati laut menyeberangi awan. Tak seorangpun yang sanggup mencapai tempat itu. Terkecuali penduduk tetap di sana dan orang- orang yang dikehendaki." jelas Dwi Kemala Hijau.

Murid Gentong Ketawa manggut-manggut. Apapun dan dimanapun tempat itu Gento tidak perduli. Karena saat itu dia tak mau dipusingkan dengan segala sesuatu yang sulit diterima akal.

"Mungkin suatu saat aku bisa sampai ke tempat itu. Aku akan menggunakan seribu bu- rung merpati. Ha ha ha." kata si pemuda sambil tertawa lebar. "Kemala Hijau, sebenarnya aku he- ran mengapa Kuil Setan bisa meledak?" Gento Guyon sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Meledaknya Kuil itu tentu ada sangkut pautnya dengan kematian Maut Tanpa Suara...!"

"Bagaimana mungkin kematian pemuda itu ada hubungannya dengan Kuil Setan?" potong murid Gentong Ketawa terheran-heran.

Dwi Kemala Hijau tersenyum lagi. Dia me- narik nafas perlahan, untuk kemudian meng- hembuskannya kembali. Setelah itu dia mene- rangkan. "Maut Tanpa Suara adalah murid ke- sayangan Yang Agung atau yang lebih dikenal dengan julukan Iblis Berjubah Merah. Maut Tan- pa Suara adalah penerus dan orang yang kelak diharapkan dapat menggantikan gurunya. Seba- gai orang yang mewarisi kuil maut itu, darahnya tidak boleh tertumpah di tempat yang akan men- jadi singgasananya. Terkecuali darah orang lain. Jika hal ini sampai terjadi, sebagaimana ikrar sumpah pada saat Kuil Setan didirikan, maka Kuil Setan akan runtuh." kata Dwi Kemala Hijau.

Gento sesungguhnya kurang begitu paham dengan keterangan gadis itu. Akan tetapi baginya kehancuran kuil setan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan. Dari pada kelak dikemudian hari akan timbul bencana lagi di tempat itu. Kini Gento teringat akan keberadaan si gadis di Kuil Setan. Sehingga dengan tatapan curiga dia ajukan pertanyaan. "Semua penjelasanmu yang ada hu- bungannya dengan kematian Maut Tanpa Suara dan kehancuran Kuil Setan, terus-terang memang sulit kupercaya. Kau sendiri konon kudengar ma- sih merupakan murid Yang Agung, lalu sebelum tewas Maut Tanpa Suara ada mengatakan sesua- tu. Matanya memandangku tidak senang, jika tak mau kukatakan cemburu. Agaknya selain kalian mempunyai hubungan sebagai saudara sepergu- ruan mungkin diantara kalian sudah terikat da- lam satu pertalian cinta kasih!" berkata begitu murid si gendut Gentong Ketawa hendak sembur- kan tawa. Tapi ketika dilihatnya wajah si gadis berubah menjadi hijau tua sedangkan matanya mendelik besar memandang penuh rasa marah pada Gento, maka pemuda ini langsung dekap mulutnya dengan tangan kanan.

"Aku bangsanya bidadari tidak pernah be- rucap kasar apalagi memaki. Tapi jika kau bicara sembarangan, aku tak akan segan menampar mulutmu!" kata Dwi Kemala Hijau ketus.

"Ha ha ha. Gadis secantikmu jika sedang marah ternyata membuat wajahmu semakin ber- tambah cantik. Jika kau sering marah-marah di- depanku, bisa jadi lama-kelamaan aku jatuh cinta padamu." celetuk Gento disertai tawa terbahak- bahak.

Mendengar ucapan si pemuda Dwi Kemala Hijau jadi tersipu dan cepat palingkan wajahnya ke jurusan lain.

"Aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting padamu, pemuda konyol mata ke- ranjang. Jika kau terus bergurau, aku akan pergi dari sini!" kata Dwi Kemala Hijau. Selesai berkata begitu si gadis jauhkan tubuhnya dari batu yang dijadikan tempat bersandar. Tak lama kemudian dia bangkit berdiri dan siap melangkah pergi.

"Ah tak kusangka selain cantik ternyata dia besar ambeknya." batin Gento. Dia dengan cepat julurkan tangan menangkap pergelangan gadis itu. "Tunggu dulu, jangan marah begitu. Aku ter- kadang memang suka usil. Tapi bukan berarti aku tak bisa bersikap serius. Seandainya kau punya sesuatu yang hendak kau bicarakan, bica- ralah. Aku siap mendengarkannya." berkata Gen- to beberapa saat kemudian, sementara cekalan- nya pada lengan si gadis masih belum dile- paskannya. Dan gadis jelita berpakaian tipis menggoda ini sama sekali tidak marah. Dia mena- rik tangannya perlahan, lalu duduk ditempatnya kembali.

"Untuk kau ketahui, Maut Tanpa Suara se- benarnya bukan saudara seperguruanku, dia juga bukan kekasihku. Jika kemudian dia menaruh rasa cinta kepadamu, itu salahnya sendiri. Dia sesungguhnya pantas memanggil bibi kepadaku. Karena aku yang merawatnya sejak dia kecil."

"Keteranganmu itu membuat aku yang bo- doh ini menjadi semakin tolol. Eeh... apakah kau tidak bisa menjelaskannya segamblang mungkin kepadaku?" sergah Gento memotong ucapan Dwi Kemala Hijau.

Gadis itu menganggukkan kepala. Dia ber- fikir sejenak lamanya, baru kemudian berucap kembali. "Aku sesungguhnya seorang utusan ke- tua Bidadari dari Kayangan. Di tempat tinggalku orang sering memanggilku dengan sebutan Bida- dari Biru. Pada suatu saat, salah satu senjata kami, yaitu Bintang Penebar Petaka raib dari tempat penyimpanan senjata. Setelah dilakukan penyelidikan ternyata ada seorang berkepandaian tinggi menyusup ke Kayangan dan mencuri senja- ta itu. Si pencuri itu bukan lain adalah Iblis Ber- jubah Merah. Ketua para bidadari kemudian mengutusku untuk mengambil senjata dan mem- bunuh Iblis Berjubah Merah. Aku hampir dapat menjalankan tugas dengan baik, manusia tengko- rak itu kuhantam dengan satu pukulan sakti se- hingga dia menderita cidera berat. Tapi dia me- muslihati aku dengan berpura-pura menyerahkan senjata yang dicurinya. Begitu aku mendekat, se- cara pengecut dia memukulku dengan satu puku- lan beracun yang membuat tubuhku berubah se- bagaimana yang kau lihat. Aku bukan saja gagal menjalankan tugas, tapi akhirnya aku menjadi seorang pelayan bagi seorang bocah yang berna- ma Maut Tanpa Suara." kata Dwi Kemala Hijau sedih.

Gento merasa ikut terharu mendengar pen- jelasan gadis itu. Iblis Berjubah Merah selama dia ditawan di salah satu ruangan dalam Kuil Setan sekalipun dia belum pernah berjumpa. Walaupun begitu agaknya manusia yang satu itu harus dile- nyapkan.

"Dwi... setiap saat kau punya kesempatan untuk meloloskan diri. Kau pasti sudah mengeta- hui seluk-beluk kuil itu, juga termasuk segala ra- hasia yang tersimpan di dalamnya. Lalu mengapa kau tetap tertahan di situ?" tanya Gento heran.

Mendengar pertanyaan Gento Guyon, Dwi Kemala Hijau tersenyum sedih. "Apa yang kau ka- takan memang tak dapat ku bantah. Hanya kau harus ingat Gento. Aku tak mungkin dapat me- ninggalkan Kuil Setan tanpa senjata itu. Lagipula tubuhku dalam keadaan keracunan Iblis Berju- bah Merah hanya memberiku kesembuhan sela- ma satu hari dalam satu purnama. Selebihnya aku dalam keadaan sakit, padahal untuk kembali ke Kayangan membutuhkan waktu lebih dari satu hari. Aku bisa tewas dalam perjalanan. Selain itu aku tak mungkin kembali menghadap ketua para bidadari dengan berhampa tangan. Kembali ke sana tanpa senjata itu sama saja mempermalu- kan diri sendiri." jelas Dwi Kemala Hijau seakan mengadukan nasibnya pada Gento.

"Kalau begitu sampai sekarang kau masih berada dalam ancaman racun?" tanya Gento. "Kenyataannya memang begitu. Terkecuali

aku bisa merampas penawar racun yang tersim- pan di dalam saku jubah manusia tengkorak itu."

"Kalau misalnya obat penawar bisa kita dapatkan, apakah tubuhmu tetap hijau seperti sekarang ini?" tanya si pemuda sambil mengulum senyum.

"Kami para bidadari tidak ada yang berkulit hijau. Kulit kami putih bersih."

"Lalu apakah setelah kesehatanmu pulih kembali, kau segera kembali ke Kayangan?" tanya Gento lagi.

"Tidak mungkin bisa kulakukan terkecuali Bintang Penebar Petaka dapat kubawa serta. Pa- dahal saat ini aku tidak tahu apakah ketika Kuil Setan meledak senjata itu masih berada di satu tempat penyimpanannya atau sudah di bawa oleh seseorang."

"Masalahnya jika Bintang Penebar Petaka berada di dalam kuil di saat kuil itu meledak. Be- rarti kecil kemungkinannya bagimu untuk men- dapatkannya. Akan tetapi jika memang dicuri oleh seseorang, maka ada harapan bagi kita untuk merebutnya dari tangan si pencuri." ujar Gento.

"Jika memang benar kau mau membantu- ku dan berhasil mendapatkan senjata itu kemba- li. Aku atas nama seluruh bidadari Kayangan pas- ti sangat berterima kasih sekali." sahut Dwi Ke- mala Hijau disertai seulas senyum.

"Aku lebih senang jika kau tidak kembali ke Kayangan. Jadi kita bisa berteman selamanya. Ha ha ha."

Dwi Kemala Hijau alias Bidadari Biru tersi- pu malu. "Keinginanmu akan kupertimbangkan nanti. Tapi harap jangan salahkan aku jika nanti ada seorang gadis lain yang marah padamu." ujar Dwi Kemala Hijau sambil tersenyum.

"Eeh... gadis yang mana?" tanya Gento jadi salah tingkah.

"Gadis yang berpakaian putih itu."

Gento Guyon tertawa lebar. "Dia hanya seorang teman. Dia tidak akan marah tapi malah menganjurkan agar aku memiliki banyak teman wanita. Ha ha ha."

"Dasar pemuda buaya. Hayo kita pergi!" ka- ta si gadis. Setelah bangkit berdiri dia langsung melangkah menuju ke arah barat. Gento Guyon masih dengan terkekeh-kekeh segera mengikuti.

6

Khawatir akan keselamatan muridnya, ka- kek berwajah tirus berpipi cekung sekujur tu- buhnya dibaluri kapur putih akhirnya meninggal- kan bukit kapur yang terletak di tengah hutan Banyubiru. Dengan Ilmu kesaktiannya yang ting- gi, sosok kurus kering macam jerangkong dan lumpuh kaki hanya dalam waktu setengah hari telah sampai di sekitar kawasan Kuil Setan. Meli- hat keadaan bukit dimana Kuil Setan berada yang hancur berantakan, si kakek yang melakukan perjalanan dengan tubuh mengambang di udara, jadi terkejut bukan main.

Dia kemudian melambungkan tubuhnya lebih tinggi, sehingga dari satu ketinggian dia da- pat melihat keadaan Kuil yang telah porak poran- da.

"Apa yang telah terjadi di tempat ini? Di sekitar bukit ini seperti baru saja terjadi bencana alam yang hebat. Huh... segala malapetaka apa- pun yang menimpa dunia ini aku tak perduli. Mengenai keselamatan muridku itu yang aku khawatirkan. Apakah dia sudah mendapatkan senjata itu. Atau dia belum mendapatkannya?" fi- kir si kakek angker. Setelah berfikir sejenak la- manya si kakek

berpakaian hitam yang sekujur tubuhnya diliputi kapur akhirnya bergerak melayang ke bawah. Se- jarak dua tombak diatas permukaan tanah, tu- buhnya yang meluncur tadi kini seakan tertahan, seolah ada satu kekuatan yang menahannya hingga nampak mengambang begitu rupa.

"Tak ada tanda-tanda kehidupan kulihat disini. Mungkinkah semua orang yang menghuni Kuil Setan tewas?" fikir si kakek yang bukan lain adalah Begawan Panji Kwalat. Dia lalu teringat pada Si Tangan Sial. Si malang bertangan sakti yang diperalatnya untuk mendapatkan senjata Bintang Penebar Petaka. Beberapa waktu yang la- lu dia kehilangan kontak sambung rasa dengan Si Tangan Sial. Ini merupakan suatu pertanda bah- wa jarum Penggendam Roh yang ditanam di tu- buh Si Tangan Sial telah dilepaskan oleh seseo- rang. Sedangkan kemungkinan lain Si Tangan Si- al tewas terbunuh.

"Apapun yang terjadi dengannya aku tidak perduli. Dia hanya merupakan alat bagiku untuk mencapai tujuan. Seandainya gagal, kematiannya tidak pernah merisaukan hatiku.!" kata Begawan Panji Kwalat disertai senyum sinis. Tak lama ke- mudian, si kakek tua segera berkelebat tinggalkan tempat itu. Akan tetapi belum jauh dia bergerak pada saat yang bersamaan dari arah sampingnya menderu hawa dingin yang langsung menyambar ke arah sang Begawan.

Wuues!

Hempasan yang keras bukan saja meng- hantam tubuh si kakek, tapi juga mendera kekua- tan tak terlihat yang mendukungnya kemanapun dia pergi.

Dalam kagetnya walaupun dengan mudah Begawan Panji Kwalat dapat menghindari seran- gan gelap itu, namun kekuatan gaib yang mem- buatnya mampu bergerak mengambang laksana terbang jadi pupus. Tak ayal lagi orang tua ini ja- tuh bergedebukan.

Rasa sakit akibat terjatuh tadi memang ti- dak seberapa, yang membuatnya terkejut juga he- ran, bagaimana orang bisa mengetahui bahkan mampu menghancurkan sumber kekuatan gerak- nya. Dalam hati Begawan Panji Kwalat merasa yakin siapapun adanya penyerang itu pasti memi- liki ilmu kepandaian yang sangat tinggi luar bi- asa.

Dengan cepat sekali sang Begawan segera putar kepala, memperhatikan setiap sudut se- dangkan hatinya merutuk habis-habisan. Sunyi! Tidak ada sesuatupun yang terlihat.

"Hemm, di siang bolong begini tidak mung- kin ada hantu atau arwah gentayangan. Apa yang terjadi padaku pasti karena ulah seseorang. Na- mun sangat disayangkan dia begitu pengecut un- tuk tunjukkan diri!" dengus Begawan Panji Kwalat dengan suara sengaja dikeraskan.

"Kau mencari siapa, Begawan? Seorang Be- gawan seharusnya berada di tempat-tempat suci, menyepi mendekatkan diri pada sang Maha Pen- cipta. Tidak seperti yang kau lakukan, bergen- tayangan di delapan penjuru angin, menebar ke- rusakan membuat angkara. Apa yang kau cari di dunia ini? Jika hidup hanya untuk menumpuk dosa, lebih baik membunuh diri saja!" kata satu suara bernada ketus dan sinis hingga membuat telinga Begawan Panji Kwalat jadi merah. Orang itu sempat berjingkrak. Kedua tangan ditekankan di atas tanah. Lalu...

Wuuus!

Mendadak sontak sosok Begawan itu me- lambung di udara. Begitu berada di atas keting- gian dia memutar tubuhnya, mata kembali me- mandang ke sekeliling tempat itu. Rasa kaget si Begawan bukan kepalang ketika dia melihat satu sosok pendek cebol berpakaian serba putih duduk bersila di atas sebuah batu dengan posisi me- munggungi. Wajah sosok kerdil ini memang be- lum terlihat oleh Begawan Panji Kwalat. Akan te- tapi dia sudah dapat memperkirakan siapa adanya orang yang satu ini.

"Kuntet Mangku Bumi, bergelar Dewa Kin- cir Samudera. Konon dia telah mampus ditelan hiu belasan tahun yang silam. Bagaimana seka- rang dia bisa muncul di tempat ini?!" batin Bega- wan Panji Kwalat. Dia menyadari tokoh sakti yang satu ini memiliki ilmu yang sangat tinggi sekali, bahkan konon pukulan Kincir Samudera yang dimilikinya mampu menghancurkan pulau ka- rang, menimbulkan gelombang hebat juga men- gundang badai. Tapi orang seperti Begawan Panji Kwalat mana mengenai rasa takut apalagi jerih. Sama seperti muridnya dia juga adalah orang yang suka memandang rendah orang lain serta menganggap orang tidak memiliki arti apapun di- hadapannya.

"Orang tua laknat, kaukah tadi yang bica- ra?" bentak si Jerangkong ketus.

Si pendek cebol di atas batu yang bukan lain memang Dewa Kincir Samudera tertawa pen- dek, namun terasa dingin angker.

"Di tempat ini hanya ada kita berdua. Jika bukan aku yang bicara apakah kau menyangka yang menyapamu tadi adalah setan laknat?!" sa- hut si pendek cebol di atas batu.

Mendengar jawaban Dewa Kincir Samude- ra, paras sang Begawan yang berselimut kapur tebal nampak menegang. Sepasang matanya men- corong merah menyala. Walaupun begitu dia ti- dak langsung mengumbar amarahnya. Dalam menghadapi manusia seperti Dewa Kincir Samu- dera dia harus menggunakan akal jalankan mus- lihat. Begawan Panji Kwalat kemudian tersenyum. Senyumnya aneh, karena senyum itu seperti pe- rempuan yang hendak melahirkan.

"Dewa Kincir Samudera, nama besarmu bukan hanya melambung di delapan penjuru du- nia persilatan. Namamu dikenal meluas sampai ke empat penjuru lautan. Yang membuatku he- ran, gerangan apa yang membuatmu sampai ke tempat celaka ini? Apakah kau juga ikutan men- gincar senjata Bintang Penebar Petaka. Ha ha ha...." kata Begawan Panji Kwalat. Mendengar ucapan Begawan Panji Kwalat, si kakek pendek cebol tertawa tergelak-gelak. Sebagaimana tadi, tawa si kakek langsung lenyap. Kini dia memba- likkan badan, hingga langsung berhadap-hadapan dengan sang Begawan.

Melihat Begawan itu dalam keadaan men- gapung, Dewa Kincir Samudera sempat ker- nyitkan keningnya.

"Kulihat ilmunya semakin maju pesat. Te- rakhir aku mendengar kabar dia menciptakan il- mu Kontak Suara. Satu ilmu aneh yang bisa membuat lawannya jungkir balik dan celaka hanya dengan melalui ucapan saja." pikir Dewa Kincir Samudera. Setelah memperhatikan orang tua lumpuh kaki itu sejenak, si kakek pendek ce- bol berkata. "Dalam usiaku yang sudah setua ini, aku tak butuh dengan segala macam senjata. Ma- lah melihat kemunculanmu aku jadi menduga kau sendiri yang ingin mendapatkan senjata itu."

Tanpa malu-malu, Begawan Panji Kwalat menjawab. "Penglihatanmu ternyata masih awas juga. Sungguh tak kusangka. Terus-terang aku memang mencari senjata itu untuk keperluan muridku. Sayang ketika aku sampai disini, bukit dan Kuil Setan telah runtuh. Apakah mungkin keruntuhan itu ada hubungannya dengan kehadi- ranmu disini?"

Wajah angker si kakek cebol nampak beru- bah mengelam. Mulutnya terkatub, rahang berge- rak mengeluarkan suara gemeletukan, sedangkan kedua matanya mencorong memandang pada Be- gawan Panji Kwalat,

"Begawan, pandai sekali kau mencari lantai terjungkit. Melempar kesalahan pada orang yang sudah tidak perduli dengan segala bentuk kese- rakahan. Setelah kita bertemu disini, apakah ti- dak sebaiknya kita cari kata sepakat untuk sama- sama kembali ke tempat kediaman masing- masing. Aku sudah rindu akan birunya laut dan gemuruh suara ombak. Tunggu apa lagi, mari kita pergi!" ujar Dewa Kincir Samudera. Apa yang di- katakan orang tua itu sebenarnya hanya satu sindiran saja. Akan tetapi manusia seperti Bega- wan Panji Kwalat mana mau perduli. Dengan te- nang dia berkata. "Aku baru saja sampai disini. Aku rindu pada muridku, Panji Anom Penggetar Jagad. Bagaimana mungkin aku bisa pergi jika belum bertemu dengannya. Atau kau ingin aku mengantarmu kembali ke laut lepas. Jika kau berkehendaki begitu, sekarang juga aku bersedia mengirimmu ke neraka!" kata Begawan Panji Kwalat. Dewa Kincir Samudera tersenyum sinis. Dia tetap duduk di tempatnya yaitu menjelepok di atas batu. Pada saat itulah Begawan Panji Kwalat keluarkan satu seruan.

"Duduk dengan baik dalam posisi me- nungging!" kata si kakek lumpuh. Karena sang Begawan mengerahkan ilmu Kontak Suara, begitu dia selesai berkata maka tubuh si kakek pendek cebol langsung terangkat. Di udara. Hanya yang membuat sang Begawan jadi kaget batu besar yang dijadikan tempat duduk Dewa Kincir Samu- dera ikut pula terangkat, seakan batu yang berat- nya ratusan kati itu menempel dengan punggung orang tua itu.

Dalam keadaan terjungkir, Dewa Kincir Samudera berucap. "Sungguh batu ini amat setia padaku. Aku menungging dia ikut pula menungg- ing. Padahal dia sama sekali tidak diperintah me- lakukan seperti yang aku lakukan. Ha ha ha!" ka- ta si kakek cebol disertai tawa tergelak-gelak.

Melihat kenyataan ini Begawan Panji Kwa- lat jadi tertegun. Tapi kemudian terlintas sesuatu didalam benaknya.

"Batu menempel di bokong bangsat cebol itu. Dia pasti hendak mempermalukan aku. Seka- rang apa salahnya aku pendam dia dengan batu yang didudukinya mumpung posisinya dalam keadaan terjungkir." fikir si kakek. Kini dia kem- bali keluarkan satu seruan. "Batu setia, pendam dia di dalam tanah.!"

Laksana kilat seakan ada satu kekuatan dahsyat yang menekan dari bagian atas, batu me- luncur deras ke bawah sementara Dewa Kincir Samudera terus menempel di bagian bawah batu dengan kepala menghadap ke tanah.

Wuuut! Praak!

Batu meluncur deras ke bawah dan seba- gian batu besar itu amblas terpendam di dalam tanah. Bersamaan dengan jatuhnya batu terden- gar pula suara berderak seperti hancurnya tulang belulang yang tertindih batu. Siapapun orangnya tak mungkin selamat tertimpa batu sebesar itu. Apalagi orang tua kerdil pendek tadi. Begawan Panji Kwalat tersenyum. "Tidak pernah kusangka akan semudah itu untuk melenyapkan manusia yang sangat ditakuti oleh kalangan dunia persila- tan. Ilmu Kontak Suara yang kumiliki memang sangat hebat tiada duanya. Dengan ilmu itu mu- ridku pasti bisa menguasai dunia persilatan." ka- ta si kakek.

Di luar sepengetahuannya, batu besar tadi nampak bergerak-gerak. Setelah itu di atas batu entah sejak kapan Dewa Kincir Samudera sudah duduk diatasnya sambil uncang-uncang kaki.

Dengan sikap acuh dia menyeletuk. "Ilmu Kontak Suara memang hebat. Tidak mengheran- kan bila si kuntet Dewa Kincir Samudera amblas terpendam terhimpit batu jadi ikan pepes. Dan kini tinggal arwahnya yang gentayangan, duduk di atas batu sambil uncang-uncang kaki. Ha ha ha!" kata si kakek cebol sambil tertawa.

Terkejutlah Begawan Panji Kwalat melihat kenyataan ini. Sungguh dia tidak menyangka la- wan masih sanggup meloloskan diri dari maut.

Tapi dia dengan jelas melihat Dewa Kincir Samudera amblas ke dalam tanah terhimpit batu. Bagaimana sekarang dia bisa duduk disana sea- kan tidak ada satu kejadian apapun yang menim- panya?

"Tak mungkin. Segalanya sangat sulit un- tuk kupercaya!" desis kakek itu.

"Begawan, rupanya masa kecilmu tidak bahagia sehingga setelah menjadi tua bangka se- perti sekarang kau masih juga senang membuat lelucon dengan ilmu sampah. Ha ha ha!" berkata Dewa Kincir Segara sambil tertawa.

"Pendek cebol keparat, menyungkurlah su- jud di hadapanku!" teriak Begawan Panji Kwalat mencoba menjatuhkan lawan dengan ilmu Kontak Suara, tapi kali ini lawannya tidak bergeming se- dikitpun. Memang Dewa Kincir Samudera sempat merasakan tubuhnya seperti dihempaskan ke de- pan, tapi dia tetap bertahan. Malah dengan suara lantang dia berkata. "Dudukmu masih belum be- nar. Dengan mengambang di udara seperti itu kau menyalahi aturan menyalahi kodrat. Aku si tua kecil akan memberimu tempat dudukan batu, anggap saja seperti kursi bagus yang ada di sing- gasana raja.!" berkata begitu si kakek cebol laku- kan gerakan jungkir balik menjauh dari batu. Be- gitu sampai di belakang batu dia lalu meniup ba- tu besar itu.

Puuuh!

Laksana kilat batu bulat sebesar kerbau itu melesat deras ke arah Begawan Panji Kwalat. Bukan meluncur ke bagian kaki, batu ini me- layang menghantam kepala sang Begawan.

"Bangsat keparat!" maki kakek tua itu sambil lakukan gerakan berjumpalitan sehingga batu menghantam tempat kosong.

7

Kini setelah selamat dari hantaman batu, dengan tubuh masih mengambang di atas tanah, Begawan Panji Kwalat cepat balikkan badan. Be- gitu dia menghadap ke arah lawan, tangan kiri diputar diatas kepala sebanyak tiga kali. Begitu diputar angin menderu dari jemari tangannya mencuat tiga bola api sebesar kelapa.

"Ini bingkisan sebagai pengantar kema- tianmu!" teriak Begawan Panji Kwalat sambil me- lontarkan tangannya ke arah lawan. Setelah itu dengan tangannya yang lain dia menghantam la- wan dengan satu pukulan lain yang memancar- kan sinar putih panjang laksana pedang.

Lima bola api berturut-turut menghantam, kepala, dada, perut dan kedua kaki si kakek ce- bol. Sedangkan pukulan kedua membabat ping- gang dan dada orang tua ini. Mendapat serangan ganas yang berlangsung cepat dan datang secara berturut-turut itu, Dewa Kincir Samudera gerak- kan tangan kirinya menepis sinar yang membabat rusuk dan pinggangnya.

Tups! Tups!

Begitu terkena sambaran angin dari tangan si kakek sinar putih tadi langsung hancur berpen- talan ke segala penjuru arah. Sedangkan sebelum itu mulut si kakek meniup bola-bola api yang me- nyerang lima bagian tubuhnya.

Puuh!

Lima bola api berpentalan di udara. Bega- wan Panji Kwalat lipat gandakan tenaga dalam- nya. Lalu mengarahkan bola api yang sempat te- rombang-ambing di udara itu ke arah lawan. Se- kali lagi bola-bola api meluncur deras ke arah si kakek cebol dengan kecepatan berlipat ganda.

Di depan sana si kakek cebol guru si gen- dut Gentong Ketawa menyeringai. Diam-diam dia mengerahkan inti kekuatan yang mengandung hawa dingin luar biasa sambil berkata. "Matahari memang belum terlalu panas. Walaupun begitu tubuhku sudah kepanasan. Kau orang gila dari mana membuat bola api dengan panas begini ru- pa. Rasanya aku tak terima, sebaiknya biar ku padamkan saja!" teriak si kakek.

Begitu selesai bicara si cebol lambaikan tangannya lima kali berturut-turut. Dari tangan si kakek hawa dingin bercampur uap putih menderu dan melabrak habis bola-bola api di depannya.

Blok!

Tess! Tess! Tess!

Lima bola api langsung padam. Masih pe- nasaran dan tak percaya dengan kenyataan yang terjadi Begawan Panji Kwalat kembali kirimkan bola-bola api ke arah lawannya.

"Tua bangka edan, rupanya kau masih mau main-main dengan api itu. Biar kutelan bola panas itu sedangkan sisanya kukembalikan pa- damu!" seru Dewa Kincir Samudera. Bersamaan dengan itu orang tua pendek ini melesat di udara, mulut dibuka lebar. Hingga dua bola api langsung amblas ke dalam mulutnya, sedangkan tiga lain- nya langsung disentil dengan telunjuk, hingga ki- ni ketiga bola api itu berbalik dan meluncur cepat ke arah pemiliknya dengan kecepatan berlipat ganda.

Begawan Panji Kwalat memang sempat di- buat kaget, tapi dengan cepat dia berkelit meng- hindar. Dua bola api berhasil dihindarinya, se- dangkan yang satunya lagi begitu dihantam, ma- lah melejit keras dan menyambar ke bagian wa- jah. Jika si kakek yang mengambang di udara itu tidak cepat miringkan tubuhnya sambil runduk- kan kepala niscaya bagian kepalanya hangus di- hantam bola api.

Tak urung walaupun dia dapat selamatkan wajahnya, namun rambutnya yang dipenuhi ka- pur sempat terbakar. Begawan Panji Kwalat sam- bil memaki-maki nampak sibuk memadamkan api yang membakar rambutnya. Pada saat itu dua bo- la yang luput mengenai sasaran kini menghantam semak belukar hingga mengeluarkan suara leda- kan keras.

Belum lagi sang Begawan sempat melaku- kan sesuatu, kini lawannya menghantam orang tua itu tepat di bagian kepala.

Sedapat mungkin si Begawan menepis se- rangan lawan. Tapi secepat apapun tangkisan yang dilakukannya ternyata dia kalah cepat.

Plaaak!

Begawan Panji Kwalat terpelanting ke bela- kang. Tapi walaupun begitu dia tak sampai jatuh ke tanah. Karena tubuhnya tetap mengambang. Dalam keadaan rebah di udara sang Begawan le- paskan pukulan sambil menendang lawannya dengan kakinya yang lumpuh.

Wuuut! Wuuut! Dua pukulan kembali me- labrak perut seru Dewa Kincir Samudera, se- dangkan tendangan kaki si Begawan ternyata mengandung satu kekuatan yang begitu me- nyambar ke arah lawannya membuat orang tua ini laksana diterpa badai. Tak pelak lagi Dewa Kincir Samudera jatuh tunggang langgang. Si ka- kek dekap perutnya yang terasa mulas bukan main. Dia kemudian lakukan gerakan berputar, dua tangan dihantamkan ke empat penjuru arah.

Angin kencang menderu-deru, hawa panas menghampar hingga keadaan di sekitar tempat itu berubah panas laksana di neraka. Begawan Panji Kwalat keluarkan suara menggerung. Dia melesat ke arah lawan, menero- bos pertahanan, menembus sinar maut yang me- mancar dari tangan lawan sedangkan kedua tan- gan langsung dihantamkan ke tubuh seru Dewa Kincir Samudera.

Satu benturan keras terjadi membuat dua orang itu sama-sama terpental sejauh tiga tom- bak. Begawan Panji Kwalat yang kali ini terpelant- ing nampak megap-megap, nafasnya terasa me- nyesal darah menyembur dari mulutnya. Di de- pannya sana Dewa Kincir Samudera nampak ter- huyung, wajahnya pucat laksana kapas.

"Ha ha ha, kau akhirnya duduk juga di atas tanah. Kau lihatlah, dari mulutmu keluar kecapnya. Begawan, menurutku lebih baik kau kembali ke Banyubiru, sampai disana kau gali sebuah kubur untuk dirimu sendiri!" kata Dewa Kincir Samudera disertai tawa terkekeh-kekeh.

Kakek berbadan jerangkong di depan sana menggerung marah. Dua tangannya langsung di- letakkan ke tanah. Setelah itu tubuhnya kembali melesat ke udara, mengambang seperti semula dalam keadaan duduk.

"Dewa keparat, jangan kau merasa setelah dapat menjatuhkan aku bahwa itu satu keme- nangan bagimu. Kau lihatlah kenyataan yang ha- rus kau hadapi!" teriak Begawan Panji Kwalat. Bersamaan dengan teriakannya itu si kakek men- gangkat tangannya lurus sejajar dengan kepala. Tak lama kemudian tangan si kakek telah beru- bah membiru. Sinar terang memancar dari tela- pak tangan si kakek. Setelah itu dia arahkan ke- dua tangan yang terkepal itu pada lawannya.

"Tinju Langit Mendera Bumi!" desis Dewa Kincir Samudera menyebut pukulan yang dile- paskan oleh Begawan Panji Kwalat. Dalam kaget- nya kakek cebol ini mendadak mendengar suara bergemuruh dahsyat, belum lagi tinju lawannya sempat melabrak tubuh si kakek, dia merasakan hawa panas laksana memanggang tubuhnya. Si kakek cebol lipat gandakan tenaga dalamnya yang kemudian langsung dialirkan ke bagian kedua tangan. Tubuh si kakek kemudian berputar, ber- samaan dengan itu pula tangannya ikut diputar pula. Angin dingin menderu-deru membentuk lingkaran melingkupi tubuh si kakek. Angin ber- campur awan putih yang mirip dengan buih om- bak ini lalu melesat meninggalkan tubuh si ka- kek, bergerak lurus menyambut serangan lawan hingga akhirnya beradu di udara. Beberapa saat berlangsung, terjadi adu tenaga sakti. Sosok Be- gawan Panji Kwalat akibat tekanan hebat dari te- naga lawannya kini tubuhnya bergerak turun mendekati tanah. Di depan sana kedua kaki si kakek mulai amblas ke dalam tanah sedikit demi sedikit. Dari telapak kaki mengepul uap tipis ba- gaikan es yang mencair terkena panas. Sedang- kan tubuh pendeknya nampak bergetar hebat, wajah tegang luar biasa. Tapi dia terus memutar kedua tangan, sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya terjadi  ledakan menggelegar.  Begawan Panji Kwalat terjungkat ke belakang sambil men- jerit tertahan. Debu, pasir dan batu-batu ber- hamburan di udara, hingga membuat suasana menjadi gelap.

Dari jatuhnya si Begawan tadi, jelas orang tua itu menderita luka dalam yang cukup parah. Sedangkan Dewa Kincir Samudera yang baru saja menggunakan jurus Kincir Berputar di atas laut ini segera tarik kakinya yang amblas sampai se- batas lutut. Begitu kedua kakinya dapat ditarik keluar dari dalam tanah, dia segera siapkan pu- kulan ditangan kanan untuk menjaga segala ke- mungkinan yang tidak diingini. Hanya dia jadi sangat kecewa karena begitu suasana berubah menjadi terang kembali, lawan telah lenyap entah kemana.

Si kakek pendek cebol seka keringat yang membasahi wajahnya. Dia melangkah mendekati ke arah mana lawannya terjatuh tadi. Disana dia melihat ceceran darah.

Dewa Kincir Samudera tengadahkan wajah memandang ke langit. Mulutnya yang tertutup kumis tebal berwarna putih berucap. "Bagaimana pun ilmu Begawan salah kaprah itu sangat tinggi. Tenaga dalamnya mungkin dua tingkat di bawah- ku. Tapi jika dia menggunakan ilmu Kontak Sua- ra, aku khawatir muridku Gentong Ketawa dan cucu muridku Gento Guyon kena dikerjainya" fi- kir si kakek. Beberapa saat lamanya dia terdiam. Sejak Kuil Setan meledak dia tak tahu bagaimana nasib muridnya si gendut Gentong Ketawa. Ba- gaimana pun sebelum meninggalkan tempat itu dia ingin tahu bagaimana keadaan muridnya. Ka- rena itu si kakek cebol berkata. "Sebaiknya kucari tahu dulu bagaimana keadaan si gendut. Apakah dia dalam keadaan selamat atau sudah konyol. Aku tahu walaupun Begawan Panji Kwalat sudah terluka, dia pasti tetap mencari senjata itu."

Tanpa menunggu lebih lama lagi Dewa Kin- cir Samudera akhirnya tinggalkan tempat itu.

8

Malam itu cuaca demikian cerah. Bulan ke- tiga belas nampak terang, memancarkan ca- hayanya yang kuning keemasan. Bintang-bintang bertaburan di angkasa. Menambah keindahan di suasana malam yang sejuk dan damai.

Di sebuah dangau yang sudah tidak terpa- kai, Dwi Kemala Hijau alias Bidadari Biru rebah menelentang di atas balai-balai yang sudah tua hanya dengan berbantalkan kedua lengannya sendiri. Sepasang matanya yang bening meman- carkan daya pesona memandang lurus ke langit melalui atap dangau yang berlubang besar. Me- mandang pada keindahan bulan dia jadi ingat akan negerinya. Suatu negeri yang jauh, yaitu ne- geri kayangan.

Biasanya pada malam bulan purnama se- perti sekarang ini, bersama para bidadari lainnya mereka bermain di taman bunga yang indah me- nebarkan bau harum semerbak. Mereka bebas bercengkerama, bergurau atau melakukan apa saja dalam suasana yang damai.

Agaknya semua kebahagiaan itu hanya akan menjadi kenangan selamanya. Karena sam- pai saat ini dirinya masih terpuruk di tanah Jawa. Dia tidak mungkin menempuh perjalanan pan- jang mengarungi lautan awan, sementara dirinya saat ini menderita keracunan. Selain itu Bintang Penebar Penebar Petaka juga entah berada di tan- gan siapa. Tanpa senjata itu bagaimana dia bera- ni menghadap ketua para bidadari. Kembali ke Kayangan adalah suatu hal yang memalukan jika dia tidak dapat menjalankan tugas yang dibeban- kan kepalanya dengan baik. Semua gadis-gadis Kayangan pasti akan menjauhinya.

Ingat akan semua, Dwi Kemala Hijau tiba- tiba menjadi amat sedih. Sekarang ini dia hidup dalam kesunyian, di negeri asing dimana setiap saat bahaya bisa muncul secepat angin berhem- bus. Masih beruntung pada akhirnya dia bisa ber- temu dengan Gento Guyon. Pemuda kocak yang secara disadari atau tidak oleh pemuda itu selalu menghiburnya dengan ucapan-ucapan yang lucu.

"Aku lebih senang jika kau tidak kembali ke Kayangan. Jadi kita bisa berteman selamanya!" Kata-kata yang diucapkan pemuda itu kini kem- bali terngiang di telinganya. Dwi Kemala Hijau tersenyum. Dia tak tahu apakah ucapan si pemu- da hanya bermaksud iseng atau bersungguh- sungguh yang jelas sejak pertama kali bertemu dengan Gento, dia merasa ada satu getaran aneh di hatinya yang selama ini belum pernah dia ra- sakan. Sejak melihat Gento pula timbul harapan baginya untuk menyelamatkan diri dari cengke- raman Yang Agung alias Iblis Berjubah Merah.

"Gento.... akupun tidak dapat memastikan apakah aku dapat kembali ke negeriku. Pintu Awan hanya terbuka sekali dalam setahun, aku juga tidak bisa keluar masuk dari pintu itu sesu- ka hati. Selain itu perjalanan ke sana membutuh- kan tenaga yang cukup besar. Seandainya Bin- tang Penebar Petaka bisa kudapatkan kembali, keadaan tubuhku kurasa belum pulih benar. Aku butuh waktu yang lama agar dapat sembuh total. Karena aku yakin racun yang mendekam di tu- buhku kini bukan saja hanya telah menyebar ke seluruh pembuluh darah dan daging, tapi juga sudah sampai meresap ke dalam tulang. Gento....

Gento Guyon.... mungkin aku ingin bersahabat denganmu, bisa jadi lebih dari sekedar itu. Tapi apakah masih ada kejujuran di negerimu yang penuh dengan angkara murka ini?" guman Dwi Kemala Hijau.

Bila fikiran seseorang larut dalam memi- kirkan sesuatu, bukan hanya fikirannya saja yang menerawang. Tapi kewaspadaannya juga jadi ber- kurang. Hal seperti itu terjadi pada diri si gadis. Dia sama sekali tidak tahu kalau sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengintai, mengawa- sinya dari jarak yang tidak begitu jauh dengan rongga matanya yang merah seperti memancar- kan api.

"Kucari kemana-mana, tak tahunya murid murtad itu ada di sini!" satu suara menguman- dang penuh rasa tidak senang.

Tak berapa lama menunggu, sosok berju- bah merah itu akhirnya berkelebat meninggalkan kegelapan di balik pohon. Laksana hembusan an- gin sosok berjubah merah mendekati dangau.

Sampai di depan mulut dangau berlantai tinggi, sosok serba merah dengan kepala tertutup topi jubah hentikan langkah.

"Dia rupanya tidak sadar aku berada disini. Entah apa yang difikirkannya. Barangkali dia ten- gah berfikir hukuman apa gerangan yang akan kujatuhkan kepadanya!" batin sosok ini.

Di dalam dangau entah sengaja atau tidak, atau mungkin pula mengira orang yang ditunggu telah kembali, Dwi Kemala Hijau palingkan wa- jahnya ke arah pintu dangau yang terkuak lebar. Mendadak si gadis jadi tercekat, jantungnya sea- kan berhenti berdenyut, tengkuk terasa dingin, mata mendelik besar sedangkan mulut ternganga seperti melihat setan.

"Bagaimana iblis rongsokan ini bisa sampai kemari? Aku tidak melihat tanda-tanda kehadi- rannya. Apa yang harus kulakukan ini." batin Dwi Kemala Hijau. Ingat dengan segala malapetaka yang mungkin terjadi, si gadis jadi ingat pula pa- da Gento. "Gento... dimana kau? Jika kau menca- ri binatang buruan, seharusnya kau sudah kem- bali." keluh gadis itu sementara matanya tak per- nah lepas dari memandang ke arah sosok berju- bah merah yang hanya berupa tengkorak kepala tanpa mata, tulang leher, rusuk, lengan juga tu- lang kaki.

"Dwi Kemala Hijau, begitu aku memberi nama karena tubuhmu berwarna hijau keracu- nan." kata sosok yang tubuhnya hanya berupa tu- lang belulang tanpa kulit tanpa daging. Kemudian mulut yang tidak terbalut kulit ini membuka, memperlihatkan gigi-giginya yang putih kehita- man. Lalu terdengar satu suara sayup-sayup di- kejauhan. "Tidak pernah ku menyangka kau ak- hirnya mengkhianati diriku. Kau bukan saja membiarkan murid kesayanganku Maut Tanpa Suara tewas dibantai orang, tapi kau juga ikut melepaskan satu pukulan hingga membuat pe- muda itu menemui ajalnya. Padahal kau menge- tahui antara Kuil Setan dan Maut Tanpa Suara berada dalam satu jiwa, terikat dengan perjanjian, jika salah satunya binasa atau hancur maka yang lainnya juga akan mengalami hal yang sama. Se- karang apa pertanggung jawabmu atas petaka yang telah terjadi?!" tanya Yang Agung dingin.

Dwi Kemala Hijau cepat bangkit dari tem- pat dia merebahkan diri. Dia sadar betul siapa orang yang dihadapinya. Sosok tengkorak yang memakai jubah merah ini bukan lagi dapat dis- ebut sebagai manusia, tapi iblis yang mempergu- nakan seperangkat tulang belulang sebagai alat untuk melakukan apa yang dia inginkan. Selain itu, bahaya lain yang mengancam jiwanya juga harus difikirkan. Jika dia sanggup membunuh Yang Agung, selama obat penawar racun tidak bi- sa dia dapatkan, cepat atau lambat dirinya pasti akan mengalami kebinasaan.

Karena itu dengan suara tenang dia men- jawab. "Yang Agung, apapun yang terjadi pada ca- lon pewarismu, semua itu sudah menjadi suratan sang takdir. Jika takdir sudah berkehendak begi- tu, tak seorang pun dapat menolaknya. Aku sen- diri mungkin hanya sebagai alat kepanjangan tangan Gusti Allah yang tanpa sadar harus mele- paskan pukulan demi untuk membela diri!" kata si gadis.

Tulang belulang dibalik jubah nampak ber- getar, sedangkan gerahamnya yang hanya berupa tulang bergemeletukan pertanda Yang Agung be- rusaha menahan marah.

"Begitu mudahnya kau bicara memutar ba- lik kenyataan bahkan membawa kebesaran Tu- han. Padahal mengingat keadaanmu seharusnya kau berada di pihakku, bukan malah membela para keparat itu?!" hardik Yang Agung.

Dwi Kemala Hijau tundukkan kepala, na- mun tetap tak kehilangan kewaspadaannya.

"Yang Agung, terus-terang aku tak dapat tinggal di Kuil Setan. Sejak semula kau sudah ta- hu, bahwa kedatanganku ke tanah Jawa karena mengemban satu amanat. Ketua para bidadari memberiku perintah agar aku mengambil senjata milik kami yang kau curi. Apakah semua ini ma- sih belum jelas juga bagimu, Yang Agung?" tanya Dwi Kemala Hijau.

Jawaban yang diberikan gadis bidadari ini tentu membuat kemarahan Yang Agung semakin memuncak. Tetapi sebelum dia memutuskan se- suatu, sosok yang hanya berupa tengkorak kepala dan tulang belulang ini ajukan satu pertanyaan. "Jika kau sudah bicara tentang pendirianmu, apakah ini berarti kau telah mendapatkan senjata Bintang Penebar Petaka dan kini siap untuk me- larikannya?"

"Terus-terang senjata itu tidak ada padaku. Pula aku tidak tahu dimana tempat penyimpa- nannya." jawab Dwi Kemala Hijau.

Sepasang rongga mata menghitam tanpa biji mata itu memandang ke arah Bidadari Biru. Tak lama kemudian dia berkata.

"Aku percaya kau tidak berdusta. Inilah ke- jujuran pertama yang kau tunjukkan padaku se- telah Kuil Setan Hancur. Tapi apa yang kau kata- kan sejak pertama tadi adalah suatu kedustaan belaka. Mungkin aku masih bisa mengampuni di- rimu jika kau ikut denganku. Bukan hanya itu saja, aku berjanji akan memberikan obat pemu- nah racun yang mendekam di tubuhmu!" ujar Yang Agung.

Dwi Kemala Hijau tersenyum. "Iblis yang satu ini mana bisa dipercaya. Apapun alasan ser- ta janji yang dia katakan aku tetap pada pendi- rianku. Kebetulan sekali Bintang Penebar Benca- na tidak ada di tangannya, jadi sekarang aku hanya tinggal menyelesaikan satu urusan yaitu merampas obat penawar racun yang berada  di saku kanan jubahnya itu." batin si gadis bidadari. "Bagaimana? Apa lagi yang kau fikirkan?

Lekas kau Ikut denganku!" teriak Yang Agung su- dah tidak sabar lagi.

Dwi Kemala Hijau gelengkan kepala. "Aku tak ingin lagi ikut denganmu Yang Agung." tegas si gadis.

"Hmm, rupanya kau tak takut jiwamu akan melayang dengan percuma? Ketahuilah, jika da- lam waktu tiga puluh hari mendatang kau tidak kuberi obat penawar, aku jamin kau akan mene- mui ajal secara menggenaskan. Mula-mula tu- buhmu yang bagus dan wajahmu yang cantik itu akan mengalami kerusakan. Kerusakan disertai dengan rasa sakit yang sangat luar biasa. Setelah itu kulitmu yang mulus terkelupas, dagingmu bertanggalan. Setelah daging terkikis habis baru kau akan mati secara menggenaskan. Ha ha ha!"

Penjelasan Yang Agung membuat tengkuk Dwi Kemala Hijau menjadi dingin. Apa yang dika- takannya bukan gertakan belaka, si gadis bidada- ri tahu betul akan kenyataan ini, karena dia sen- diri pernah melihat beberapa tawanan menderita hebat sebagaimana yang dikatakan oleh Yang Agung. Hanya Dwi Kemala Hijau telah membu- latkan tekadnya, dia tetap pada pendirian semula. "Apapun yang terjadi pada diriku, aku siap menanggung segala akibatnya. Jadi kuharap kau tak usah memaksaku, Yang Agung." Pada akhir- nya Dwi Kemala Hijau menjawab tegas.

Lenyaplah sudah kesabaran iblis Berjubah Merah ini. Tiba-tiba dia acungkan telunjuknya sambil berteriak. "Kuajak baik-baik kau tak mau. Rupanya kau mau aku mengirimmu ke neraka?" Suara Yang Agung lenyap ditelan gemuruhnya angin dingin yang langsung menyambar tubuh Dwi Kemala Hijau. Dalam waktu tak sampai se- kedipan mata saja, si gadis merasakan tubuhnya terbetot ke depan seolah tertarik oleh satu kekua- tan yang bukan saja menyedotnya ke depan tapi juga membuat tubuhnya laksana beku. Hanya se- saat saja Dwi Kemala Hijau kehilangan keseim- bangan. Tak lama kemudian dengan kecepatan sulit dipercaya gadis bidadari ini langsung kerah- kan tenaga ke bagian kaki. Dia berteriak keras sambil melompat ke samping, dalam keadaan me- lompat si gadis pukulkan ke dua tangannya me- mapaki serangan lawan.

Breees!

Satu benturan terjadi di udara, tapi aki- batnya si gadis jadi memekik tertahan karena te- naga serangan yang dilancarkan Dwi Kemala Hi- jau berbalik menghantam dirinya sendiri. Jika gadis itu tidak cepat jatuhkan diri hingga sama rata dengan lantai dangau niscaya tubuhnya hangus karena pukulan yang dia lepaskan men- gandung hawa panas membakar.

Di depan sana Yang Agung keluarkan sua- ra tawa aneh. Dwi Kemala Hijau dengan wajah pucat berkeringat cepat bangkit. Di belakangnya terdengar suara ledakan keras. Dinding dangau dibelakang si gadis tenggelam dikobari api. Api bahkan semakin membesar menjalar ke bagian atap sampai akhirnya melumat habis seluruh bangunan dangau. Tak mau terpanggang hidup- hidup Dwi Kemala Hijau melompat keluar ting- galkan dangau. Belum lagi kedua kakinya menje- jak ke tanah dua larik sinar merah menyambar perutnya. Melihat serangan maut ini, si gadis bi- dadari langsung lakukan gerakan berjumpalitan di udara. Sementara kedua tangannya langsung dihantamkan ke arah Yang Agung.

Segulung angin menderu melabrak apa sa- ja yang dilaluinya hingga membuat tempat itu jadi porak poranda.

"Pukulan yang hebat. Tapi bagiku tak ada artinya!" dengus Yang Agung. Sambil bicara sosok berupa tulang belulang ini angkat telapak tan- gannya yang berwarna putih tanpa daging. Puku- lan yang dilepaskan Dwi kemudian tersedot am- blas ke dalam telapak tangan Yang Agung.

"Masih ada lagi?" tanya Yang Agung penuh tantangnya.

Untuk yang kesekian kalinya Dwi Kemala Hijau dibuat tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dia gelengkan kepala dan bingung apa hendak dilakukannya. Selagi dia tertegun menco- ba mencari jalan untuk menjatuhkan lawan di depan sana Yang Agung sudah berkelebat ke arahnya dengan dua tangan tulang terpentang siap meringkus. Di saat seperti itu si gadis jadi te- ringat akan selendang sakti yang selalu dipergu- nakan untuk mengarungi udara. Tanpa fikir pan- jang dia langsung menarik selendang biru yang tersimpan di balik pakaian hijaunya. Tepat kedua tangan lawan nyaris menyentuh tubuhnya, maka pada saat itu pula si gadis kebutkan selendang birunya.

Preet!

Selendang meluncur deras di udara, mem- babat kedua tangan tulang lawan laksana mata pedang. Yang Agung terkesiap, batalkan niat me- ringkus si gadis, melompat mundur sambil me- maki panjang pendek.

9

Angin dingin yang keluar dari sambaran selendang membuat Yang Agung agak tergontai, jubah merahnya berkibar. Tubuh yang hanya ter- diri dari serangkaian tulang belulang itu berde- rak-derak seperti hendak bertanggalan satu sama lain.

Tengkorak berjubah ini tentu saja terkejut bukan main dan selama ini tak pernah menyang- ka gadis itu memiliki satu senjata berupa selen- dang yang mampu menggoyahkan dirinya.

"Jika dia tidak cepat kutangkap, bisa jadi aku yang dibuatnya celaka!" batin Yang Agung alias Iblis Berjubah Merah.

Dia kemudian membentak keras, satu pu- kulan jarak jauh dilepaskannya. Begitu sinar biru menderu di udara, si gadis langsung menyambut- nya dengan kebutan selendang birunya. Ketika ujung selendang membentur sinar biru itu, maka terdengar satu ledakan menggelegar di udara, me- robek kesunyian dan membuat Dwi Kemala Hijau terhuyung. Rupanya pukulan yang dilepaskan Yang Agung itu kiranya hanya tipuan belaka, ka- rena ketika lawan kebutkan selendang birunya dan tubuh si gadis terhuyung. Maka pada saat itu pula Yang Agung melesat cepat ke arah lawan. Jari-jari tulangnya menghantam ke dada si gadis.

Dwi Kemala Hijau jadi terkesiap melihat se- rangan yang tidak disangka-sangka ini. Tapi dia cepat miringkan tubuhnya, serangan yang dilan- carkan ke arah dada tidak mengenai sasaran yang diharapkan tapi menghantam bagian bahunya.

Dessss!

"Akh...!" Dwi Kemala Hijau menjerit terta- han. Tubuhnya jatuh terhempas, bergulingan di atas tanah. Bagian bahunya yang terkena tusu- kan terasa sakit luar biasa dan seperti remuk di bagian dalam. Termiring-miring dia bangun lagi, selendang di tangan kanan kini dipindahkan ke tangan kiri. Belum lagi gadis ini siap dengan posi- sinya, kembali Yang Agung lakukan serangan ga- nas dan cepat luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, dimana selain lawan menyerang dengan mempergunakan kedua kaki dan juga tangan tu- langnya. Tentu saja Dwi Kemala Hijau sangat ke- repotan sekali. Dalam jarak sedekat itu dia tidak lagi sempat mempergunakan selendang saktinya. Untuk menangkis serangan ganas yang datang secara berbarengan itu terlalu besar resiko yang harus ditanggungnya, tak ada pilihan lain Dwi Kemala Hijau gerakkan tangan ke belakang. Sete- lah itu diapun berjumpalitan.

Hanya serangan tangan tulangnya saja yang dapat dihindari si gadis. Sedangkan tendan- gan kaki kiri Yang Agung tepat menghantam tu- lang rusuk Dwi Kemala Hijau di sebelah kanan.

Sekali lagi gadis ini menjerit tertahan, tu- buhnya terbanting, tulang rusuk seperti patah dan terasa dingin laksana beku. Dalam keadaan terbaring menelungkup gadis bidadari itu menge- rang. Di depan sana Yang Agung tertawa tergelak- gelak. "Kini siapa yang menjadi pelindung ku se- lain diriku? Setelah kau dalam keadaan begini, apakah sekarang kau masih tak mau ikut den- ganku?" tanya Yang Agung.

"Aku tetap tidak ikut denganmu, apapun yang terjadi!" tegas Dwi Kemala Hijau.

"Begitu? Ternyata kau manusia keras kepa- la. Pengampunan dari kesalahan yang kau laku- kan telah aku berikan. Kutawarkan obat pemu- nah racun untukmu, namun rupanya kematian bagimu lebih menyenangkan. Padahal orang tua yang sudah lama terkubur saja kalau bisa masih ingin meminta dihidupkan lagi. Ha ha ha... seka- rang juga permintaanmu akan kululuskan!" seru Yang Agung. Tengkorak kepala yang tertutup topi jubah itu nampak bergoyang-goyang. Sepasang rongga mata yang besar menghitam kemudian memancarkan cahaya merah redup, sehingga tampak angker menggidikkan. Rupanya Yang Agung tengah menggunakan kekuatan rongga matanya untuk menghabisi lawannya. Sementara itu Dwi Kemala Hijau sendiri kini sudah memba- likkan tubuh, namun tak sanggup untuk berdiri. Ketika dia melihat rongga mata yang menghitam itu kini telah memancarkan sinar merah, dia sa- dar lawan hendak menghabisinya dengan serang- kaian serangan Mata Iblis yang bersumber dari kekuatan mata. Untuk itu si gadis berusaha se- dapat mungkin untuk menjauh. Tapi jangankan bangkit berdiri, sedangkan bergerak pun sulit bu- kan main.

"Agaknya aku sudah ditakdirkan mati den- gan cara seperti ini!" rintih Dwi Kemala Hijau.

Selagi gadis bidadari ini merasa tidak ber- daya dan tak mampu melakukan apapun, pada waktu itu pula dari rongga mata Yang Agung me- lesat dua larik sinar merah pipih laksana mata tombak. Sinar itu melesat laksana kilat ke arah Dwi Kemala Hijau. Agaknya nasib buruk si gadis benar-benar segera terjadi jika pada saat itu dari balik kegelapan tidak muncul satu bayangan yang langsung berkelebat sambil hantamkan tangan- nya ke arah sinar itu.

Dari telapak tangan sosok yang baru da- tang berturut-turut menderu sinar hitam dan me- rah berhawa dingin bukan main. Dua pukulan saling bertubrukan di udara. Blaaar!

Satu ledakan berdentum laksana merobek langit. Yang Agung terhuyung-huyung ke bela- kang. Sosok baru datang yang ternyata Gento Guyon adanya jatuh terduduk dengan kaki terli- pat.

"Tobaaat...! Rongsokan tulang belulang itu membuat nafasku jadi sesak dan kepala serasa mau meledak." kata Gento yang di bahu kirinya tergantung dua ekor ayam hutan hasil buruan.

Terseok-seok Gento Guyon berlari menda- patkan Dwi Kemala Hijau. Sementara di sebelah depannya sana Yang Agung nampak seperti terte- gun. Sekujur tubuhnya yang hanya berupa tulang belulang berderak keras. Seakan tak percaya den- gan kenyataan yang terjadi dia berseru.

"Pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis, ada hubungan apa kau dengan Tabib Setan?" tanya Yang Agung.

Gento Guyon yang baru saja membawa si gadis bidadari ke tempat yang aman segera mem- balikkan badan menghadap langsung ke arah Yang Agung. Begitu melihat keadaan Yang Agung, Gento jadi melengak kaget. Tapi tak lama kemu- dian dia tertawa terkekeh-kekeh.

"Tak kusangka aku akan berhadapan den- gan tulang belulang rongsokan begini rupa." kata Gento "Eeh, kau tadi bertanya apa? Tentang Tabib Edan jika tak salah aku mendengar. Hubungan ku dengan tabib itu sebenarnya tidak ubahnya seperti hubungan kucing dengan anjing. Aku kuc- ing dia anjingnya. Sedangkan mengenai pukulan itu memang aku dapat warisan darinya. Kau punya hubungan apa pula dengan Tabib Setan itu? Apakah dia masih terhitung saudaramu. Atau kau ingin agar tabib itu mengobatimu hing- ga tulang-tulangmu jadi gemuk? Ha ha ha."

"Aku tidak punya hubungan apapun den- gan bangsat gila itu. Malah dia yang membuat di- riku jadi begini rupa. Jika bertemu aku pasti akan membunuhnya. Kebetulan sekali kau men- gaku murid tabib edan itu. Jadi kalaupun saat ini aku tidak dapat bertemu dengannya, kurasa den- gan membunuhpun sudah menjadi kepuasan ba- giku!" dengus Yang Agung.

"Ha ha ha. Tulang rongsokan, mungkin apa yang kau katakan itu hanya mimpi belaka. Kau harus tahu disekitar sini banyak serigala berke- liaran. Aku punya satu rencana bagus untukmu!" ujar Gento. Belum lagi dia sempat melanjutkan ucapannya, Yang Agung yang sebenarnya me- mang tidak mengerti akan maksud ucapan pemu- da itu tanpa banyak bicara lagi segera berkelebat ke arah lawannya. Serangkaian serangan ganas dilancarkannya, sehingga setiap tangan tulang itu menyambar deru angin yang ditimbulkannya membuat Gento jadi terhuyung ke belakang. Be- tapapun ganasnya serangan itu namun tak satu- pun serangan lawan mengenai tubuh Gento. Den- gan gerakan terhuyung-huyung, dan jemari dira- patkan seperti tangan congcorang pemuda ini da- pat menghindari setiap serangan yang datang. Melihat serangan ganasnya selalu dapat dihindari oleh lawannya, maka Yang Agung jadi penasaran. Dia lalu merobah jurus serangannya. Jika pertama tadi dia mengandalkan kedua tan- gannya, maka sekarang Yang Agung juga pergu- nakan kaki tulangnya. Mendapat serangan gencar sedemikian rupa, maka Gento yang ketika itu menggunakan jurus Congcorang Mabuk hanya dalam waktu singkat mulai terdesak mundur.

"Huup...!"

Gento berkelit ke samping ketika satu ten- dangan melesat menghantam pinggangnya. Ten- dangan luput, tapi tangan tulang Yang Agung meneruskannya dengan serangan susulan.

Dess!

Satu pukulan mendera di bagian dada membuat pemuda ini jatuh terjengkang dengan mulut menyemburkan darah. Dwi Kemala Hijau yang dalam keadaan terluka menjadi cemas meli- hat pemuda.

"Gento... hantam di bagian rongga ma- tanya!" teriak gadis itu memberi aba-aba.

Walaupun pemuda gondrong ini menden- gar teriakan Dwi Kemala Hijau, tapi dia tidak me- nanggapi. Apalagi saat itu lawan memburunya sambil melepaskan satu tendangan ke perut pe- muda itu.

Murid si gendut Gentong Ketawa ini lang- sung gulingkan diri ke samping. Tendangan lu- put, terus menderu dan menghantam semak be- lukar di belakang Gento. Wuuus! Byaaaaar!

Semak belukar rambas gosong, seperti di- terabas pedang yang menyala. Lagi-lagi Yang Agung dibuat tercengang melihat serangannya gagal mengenai sasaran. Mempergunakan kesem- patan itu, Gento yang sudah bangkit berdiri lang- sung melesat ke depan. Satu tangannya dihan- tamkan ke bagian tengkorak kepala, sedangkan tangan yang satunya lagi berkelebat ke bagian kantong jubah. Semua apa yang dilakukan Gento ini berlangsung sangat cepat dan mustahil dapat dilakukan oleh seorang pendekar biasa. Mendapat serangan seperti itu, Yang Agung menyangka tan- gan lawan hendak menghantam bagian rongga matanya. Sehingga dia cepat menghindar dengan menarik kepala ke belakang. Dia lupa akan mak- sud tujuan Gento yang sebenarnya. Gento sendiri kemudian melompat mundur sambil masukkan sesuatu yang diambilnya dari jubah lawan ke da- lam kantung celana hitamnya.

"Iblis Berjubah Merah!" hardik si pemuda dengan bibir menyunggingkan senyum. "Nama serta julukanmu bagus amat. Tapi aku lebih suka memanggilmu tulang rongsokan santapan seriga- la. Jika kau bermaksud melampiaskan dendam- mu pada Tabib Setan, mengapa kau tidak cepat membunuhku? Ha ha ha!"

"Hati-hati kau bicara, kau tak mungkin menghancurkannya bila bulan di atas sana masih menampakkan diri." satu suara seperti ngiangan nyamuk terdengar ditelinga Gento. Tak perlu me- noleh, murid si gendut ini tahu siapa yang bicara. Pasti Dwi Kemala Hijau. Tanpa sadar Gento men- dongak ke langit, saat itu dia melihat awan putih berarak bergerak mendekati bulan. Sekali lagi Gento Tersenyum

"Tak usah menunggu bulan tertutup awan. Aku punya rencana lain untuknya!" batin Gento dalam hati.

Di depannya sana Yang Agung ternyata terpancing oleh ucapan Gento. Sambil keluarkan suara menggerung dia berteriak menggeledek. "Bocah keparat, rupanya kau ingin agar aku ce- pat-cepat mengirimmu ke neraka? Baiklah kein- ginanmu itu segera kukabulkan!" Usai bicara, se- pasang tangan tulang Yang Agung diputar sebat hingga menimbulkan suara angin menderu diser- tai berkiblatnya hawa dingin yang amat sangat. Melihat sambaran angin yang ditimbulkannya, Gento sadar, lawan mempergunakan pukulannya yang paling berbahaya disertai pengerahan tenaga dalam tinggi, itulah sebabnya dia tak mau berla- ku ayal. Tanpa fikir panjang pemuda itu langsung persiapkan dua pukulan sekaligus.

Tangan kiri melepaskan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis, sedangkan di tangan kanan dia siapkan pukulan Selaksa Duka. Di depan sa- na lawan berkelebat sambil hantamkan kedua tangan sekaligus, Gento berteriak keras, lalu me- lompat ke depan, tangan didorong ke depan. Tan- gan kiri memancarkan cahaya merah hitam ber- hawa dingin, sedangkan dari tangan kanan men- deru cahaya seputih perak berhawa panas luar biasa. Hawa panas dan hawa dingin memenuhi udara di sekitar tempat terjadinya perkelahian hebat dan seru ini hingga membuat Dwi Kemala Hijau yang berada di luar kalangan pertempuran jadi menggigil.

Benturan keraspun tak dapat dihindari la- gi. Suara jeritan dari kedua belah pihak yang sa- ma-sama terpelanting ke belakang tenggelam oleh suara gemuruh ledakan.

Ledakan itu menimbulkan akibat yang sangat mengerikan sekali. Semak belukar diseke- lilingnya hancur dan hangus. Pohon-pohon ber- tumbangan, tanah dan batu berhamburan. Di ba- lik rerumputan yang hangus Gento terkapar. Na- fas megap-megap, tubuhnya laksana beku. Dari sudut bibirnya darah kental menetes. Sungguh- pun rasa sakit mendera di sekujur tubuhnya, pemuda ini masih berusaha duduk. Ketika batu dan debu yang bertaburan di udara lenyap, maka pada saat itulah Gento melihat Yang Agung me- langkah ke arahnya dengan langkah mengundang maut.

Gento jadi tercekat, tak percaya seakan Yang Agung tidak mengalami akibat apapun. Hanya tulang tangan kirinya saja yang tanggal.

"Setan.... bagaimana dia bisa tetap berta- han. Padahal akibat benturan tadi sudah mem- buat tubuhku seperti tercerai berai. Edan... mungkin sekaranglah saatnya!" berkata begitu Gento telan pil mujarab pemberian Tabib Setan. Setelah menelan pil itu dadanya terasa panas se- perti terbakar. Tapi tak lama kemudian sekujur tubuhnya terasa sejuk dan menjadi segar kemba- li.

Tak menunggu lebih lama murid Gentong Ketawa ini keluarkan suara teriakan keras.

Tidak lama setelah itu tanpa fikir panjang lagi Gento segera himpun tenaga dan menyalur- kannya ke arah kedua belah tangannya. Tangan itu kemudian bergetar dan berubah memutih sampai ke bagian pangkal lengan. Selanjutnya dengan kecepatan laksana kilat Gento menyerbu ke depan, dua tangan diarahkan ke bagian dada. Serangan ini sebenarnya hanya tipuan saja kare- na begitu tangannya yang tinggal hanya bagian sebelah kanan itu menangkis, maka dua tangan Gento segera dibelokkan ke atas ke arah dua buah rongga mata lawannya.

Braaaak! Buuum!

Terdengar suara tengkorak kepala berderak disertai dengan ledakan menggeledek. Sosok Yang Agung yang bagian tubuhnya terdiri dari tulang belulang itu berpentalan ke seluruh penjuru arah. Bagian kepala yang meledak hancur bertaburan dikobari api. Sedangkan jubahnya terlepas me- layang ditiup angin entah kemana. Gento menarik nafas, dengan tubuh termiring-miring dia berlari mendekati Dwi Kemala Hijau. Si gadis yang se- dang terluka langsung dibawanya pergi menjauh dari tempat itu.

10

Di satu lapangan kecil Gento Guyon henti- kan larinya. Nafas mengengah tapi tubuhnya yang terluka sudah tidak terasa sakit lagi akibat obat mujarab pemberian Tabib Setan yang mempunyai daya sembuh yang sangat kuat sekali. "Hebat ju- ga tabib itu, dia mewarisi aku obat yang bentuk- nya seperti tahi kambing, tapi agak bau pesing. Boleh jadi salah satu campuran ramuannya air kencing tabib itu sendiri. Gila! Tapi walau bagai- manapun aku harus berterima kasih." fikir Gento sambil gelengkan kepala dan tersenyum sendiri.

Di bawah sebatang pohon di pinggir lapan- gan pemuda ini kemudian menurunkan Dwi Ke- mala Hijau. Diam-diam ketika berada dalam pon- dongan si pemuda rupanya si gadis perhatikan Gento yang tersenyum-senyum seperti orang ku- rang waras, hingga membuatnya jadi tidak enak sendiri.

"Gento apa yang kau tertawakan?" tanya Dwi Kemala Hijau sambil memijit-mijit perutnya.

Si pemuda gelengkan kepala. "Aku hanya ingat seorang sahabat, musuh juga guruku. Dia memberiku obat hebat hingga luka dalam yang ku derita dapat sembuh dengan cepat." jawab pemu- da itu. Dia lalu menceritakan tentang hubungan- nya dengan Tabib Setan. Mengenai riwayat Tabib Setan dapat diikuti dalam Episode Tabib Setan. "Sungguh dia manusia aneh, tapi memiliki

ilmu pengobatan yang sangat luar biasa. Obat yang kau berikan padaku juga sudah begitu ba- nyak membantu memulihkan kesehatan ku." ujar si gadis dengan tatapan penuh rasa terima kasih. "Oh ya, mengapa kau tadi membawa aku pergi, padahal kita belum tahu apakah Yang Agung be- nar-benar hancur atau malah sebaliknya dia tetap hidup dengan kekuatannya yang baru!"

"Aku yakin dia tak dapat hidup lagi. Lagi- pula banyak sekali kawanan serigala kelaparan berkeliaran di sekitar tempat itu. Karena itu aku terpaksa membawamu pergi karena aku sangat khawatir sekali, kawanan serigala itu akan me- nyerang kita begitu mereka selesai menyantap se- luruh tulang-tulang polos tanpa darah dan dag- ing. Ha ha ha." Gento menjawab sambil tertawa terkekeh.

Ucapan Gento itu membuat Dwi Kemala Hijau jadi tercekat. Semula dia menyangka Gento tak sanggup menghadapi lawannya, tapi secara tak terduga ternyata pemuda ini mampu meng- hancurkan Yang Agung.

"Bagaimana keadaanmu sendiri Gento?" tanya si gadis. "Rasanya aku hampir tak percaya kau dapat melakukannya." kata Dwi Kemala

Tawa pemuda itu makin bertambah lebar. Setelah tawanya terhenti dia berkata. "Segala se- suatunya memang sangat kusangsikan, seperti katamu aku percaya dia pasti memiliki satu ke- lemahan. Maka aku akhirnya menyatukan tenaga, menggabungkan beberapa pukulan, lalu kuhan- tam bagian titik kelemahan Yang Agung." jawab Gento.

Diam-diam gadis bidadari itu semakin me- rasa kagum melihat kelebihan serta kecerdasan yang dimiliki Gento. Sekejap dia pandangi pemu- da itu. Si gadis kemudian berkata dalam hati. "Terkadang dia suka bertingkah konyol, sering ja- hil, tapi aku sama sekali tak pernah menyangka dibalik ulahnya dia memiliki kesaktian tinggi!"

"Adakah kau memikirkan sesuatu? Apa mengenai racun yang mendekam dalam tubuh- mu, atau kau memikirkan diriku?" tanya Gento sambil tertawa.

Diingatkan akan racun yang berada dalam tubuhnya, wajah Dwi Kemala Hijau mendadak ja- di berubah.

"Celaka, obat pemunah racun itu ada pada Yang Agung di bagian kantong jubahnya. Bagai- mana ini kita harus mengambilnya!" kata si gadis bingung.

Tenang saja Gento menjawab. "Jubah itu kulihat entah terbang kemana, kalau mau dicari tak tahu kemana aku harus mencarinya. Tapi kau tak usah cemas karena aku punya obat yang lain.!"

"Obat pemunah, obat penawar darimana kau mendapatkannya?" tanya si gadis heran.

Gento Guyon merogoh saku celananya. La- lu dari dalam celana dia keluarkan sesuatu yang diambilnya dari jubah Yang Agung. Ketika telapak tangan dibuka sepasang mata Gento terbelalak lebar.

"Mustahil, tak dapat kupercaya. Bagaimana obat bisa berubah menjadi gigi?!" desis si pemuda bingung sekaligus kaget. "Ini pasti giginya Yang agung bisa berada di dalam kantong jubah?" Tak percaya Gento dengan mempergunakan tangan kiri merogoh kantung celananya lagi. Dia pun jadi tersenyum dan menarik nafas lega ketika dia me- nemukan sebuah tabung kecil dari bambu. Gigi- gigi yang ada ditelapak tangan kanannya lang- sung dibuang. Tapi Dwi Kemala Hijau langsung memungut tiga dari gigi yang dicampakkan.

Terheran-heran Gento ajukan pertanyaan. "Buat apa kau ambil giginya iblis itu? Ini obat pemunah racun yang sebenarnya!" kata Gento, la- lu dia angsurkan tangannya serahkan tabung bambu sebesar telunjuk pada si gadis. Dwi Kema- la Hijau gelengkan kepala.

Sambil tersenyum dan telan dua benda yang bentuknya seperti gigi si gadis menjawab. "Obat yang tersimpan dalam tabung bambu itu sesungguhnya adalah racun yang mematikan. Aku tahu bagaimana akal licik Yang Agung. Dia sengaja membuat obat dengan bentuk sedemikian rupa untuk mengecoh orang. Sesuatu yang kita anggap sebagai barang tak berguna, itulah obat yang kita cari, begitu juga sebaliknya." kata Dwi Kemala Hijau.

Gento terdiam, seakan tak percaya dengan penjelasan si gadis bidadari. Pemuda ini kemu- dian menatap seraut wajah yang memiliki kecan- tikan sangat luar biasa itu. Tapi Gento kemudian berjingrak kaget sambil berseru. "Kemala, wajah- mu!"

"Hah, ada apa dengan wajahku?" tanya Dwi Kemala Hijau. Saat itu dia merasakan tubuhnya terasa dingin. Semakin lama hawa dingin menye- rangnya dengan hebat.

"Kemala... kau... jangan-jangan kau salah memakan obat?!" seru Gento ketika melihat tu- buh Dwi Kemala Hijau tergelimpang meringkuk seperti udang kering.

Dengan tubuh menggigil dan gigi bergeme- letukan si gadis masih berusaha menjawab. "Yang terjadi ini adalah reaksi antara racun dan obat pemunahnya. Aku... aku tak akan apa-apa...!"

Walaupun Dwi Kemala Hijau sudah beru- saha menjelaskan, namun Gento masih tetap tak percaya. Apalagi ketika melihat tubuh si gadis mulai kejang-kejang. Kini tumbuh dalam fikiran- nya untuk membuka tabung bambu dan mema- sukkan obat yang ada didalamnya ke dalam mu- lut si gadis. Tapi dia meragu, andai isi tabung memang obat pemunah racun, semuanya tidak akan menjadi persoalan. Tapi jika racun memati- kan sebagaimana yang dikatakan gadis bidadari itu, tentu akibatnya semakin fatal bagi gadis itu sendiri.

Selagi Gento diselimuti rasa bingung untuk menentukan keputusan di saat yang sama ter- dengar suara tawa menggeledek bergema di uda- ra. Suara tawa kemudian lenyap, selanjutnya ter- dengar pula suara orang berkata. "Jika kau bin- gung memikirkan nasib gadisnya, sedang yang sa- tunya lagi menggelepar di atas tanah. Dari pada bingung mengapa tidak diserahkan saja gadis se- cantik bidadari itu kepadaku? Gadis secantik dia, jangankan untuk mengobati, membawanya ke sorga penuh nikmat aku sendiri sanggup. Ha ha ha!"

"Sialan, siapa lagi kadal buntung yang be- rani mencari penyakit itu?" rutuk Gento dalam hati. Pemuda ini lalu kitarkan pandangan ma- tanya ke segenap penjuru arah. Sementara itu sa- tu perubahan besar telah terjadi pada diri Dwi Kemala Hijau. Sekujur tubuhnya yang berwarna hijau kini kembali ke warna aslinya. Putih halus dan berkilauan. Bukan hanya itu saja, wajahnya yang cantik mempesona kini semakin bertambah memikat.

Karena orang yang tertawa dan bicara tadi tidak kunjung munculkan diri, maka Gento kem- bali pandangi Dwi Kemala Hijau. Gadis itu ternya- ta sudah tidak merintih-rintih seperti tadi, yang membuatnya terkejut sekujur tubuhnya yang hi- jau sekarang telah berubah menjadi putih.

"Aku tak percaya jika tidak melihatnya sendiri." batin murid si gendut Gentong Ketawa. Baru saja dia hendak ajukan satu pertanyaan. Pada saat itulah dia melihat satu bayangan merah berkelebat ke arahnya. Hanya dalam waktu yang singkat di depan Gento kini telah berdiri seorang pemuda berpa- kaian merah beralis tebal. Rambutnya yang gon- drong diikat sehelai kain berwarna merah. Di ba- gian dada bajunya terdapat sulaman bergambar bumi dengan satu lintasan putih berkelok-kelok seperti kilat yang menyambar. Di punggung ba- junya juga terdapat gambar yang sama hanya ukuran dan bentuknya lebih besar.

Gento Guyon sejenak lama memandang ke depan. Saat itu cahaya bulan cukup terang. Se- hingga Gento dapat melihat wajah pemuda itu dengan jelas. Dia masih begitu muda, usianya mungkin terpaut beberapa tahun dari Gento. Wa- jahnya tampan, tapi menyimpan kelicikan dan keangkuhan.

Memandang pemuda itu cukup lama, Gen- to jadi ingat dengan Iblis Racun Hijau. Ciri-ciri yang sama pernah dijelaskan orang tua itu ketika dia dan gurunya bertemu dengan Iblis Racun Hi- jau di telaga dekat kediaman manusia beracun itu.

"Mungkin inilah orangnya yang bernama Lira Watu Sasangka, bergelar Panji Anom Pengge- tar Jagad alias Baginda Begawan Muda. Dia begi- tu bernafsu untuk mendapatkan senjata Bintang Penebar Petaka. Apakah senjata itu kini telah di- dapatkannya?" fikir Gento.

"Yang satu bertelanjang dada, rambut gon- drong, wajah konyol. Orang dengan ciri-ciri seper- ti manusia edan ini aku tak mengenalnya. Kalau yang satunya lagi pastilah Dwi Kemala Hijau. Tapi mengapa wajah dan kulit tubuhnya kini berubah putih? Jangan-jangan guru salah dalam memberi penjelasan tentang penghuni Kuil Setan ini." membatin pemuda berpakaian merah ini dalam hati.

"Sudah puas kau memandang wajahku yang cakep ini? Kalau sudah puas katakan apa kepentinganmu datang kesini?" tanya Gento.

Si pemuda tersenyum mengejek. Dia ke- mudian kembali alihkan pandangannya pada Dwi Kemala Hijau yang kini sudah bangkit dan duduk disamping Gento. Melihat sikap orang yang acuh tak acuh bahkan terkesan memandang sebelah mata Gento pun jadi kesal.

"Setan... pertanyaanku kutunjukkan pa- damu. Rupanya kau tertarik pada gadis saha- batku ini?" dengus Gento bersungut-sungut. Dia kemudian menambahkan. "Jika kau tertarik pa- danya, aku jamin sahabatku pasti mau... mau muntah melihatmu? ha ha ha."

Sepasang mata yang penuh keangkuhan dan angkara murka ini nampak berkilat tajam. Mulut terkatup rapat, tapi Gento dapat mengeta- hui kalau sesungguhnya si baju merah menjadi tersinggung mendengar ucapannya.

"Pemuda edan salah kaprah, seribu gadis cantik seperti dia dengan mudah dapat kucari. Siapa bilang aku tertarik padanya. Jikapun aku punya hasrat mungkin hanya sekedar untuk ber- senang-senang. Setelah aku bosan pasti dia ku- bunuh!" sahut si pemuda yang bukan lain adalah Lira Watu Sasangka alias Panji Anom Penggetar Jagad.

Tawa Gento makin melebar. Dia melirik ke arah Dwi Kemala Hijau alias Bidadari Biru, sete- lah itu baru alihkan perhatiannya pada Panji Anom. Dengan senyum bermain dibibir seakan tak menghiraukan ucapan Panji Anom mulutnya berucap. "Aku percaya dengan semua ucapanmu. Orang dengan tampang sepertimu tentu dengan mudah mendapatkan perempuan, tapi aku jamin bukan perempuan yang baik tapi pelacur mura- han. Tampangmu saja sudah sama persis dengan hidung belang.!"

Mengelam wajah pemuda itu mendengar ucapan Gento. Bola matanya mendelik besar se- perti hendak melompat keluar. Hawa amarah te- lah membuat dada si pemuda terasa sesak. Hing- ga tubuhnya jadi bergetar. Dengan suara lantang dia menghardik. "Pemuda edan sinting, aku Panji Anom paling pantang dihina. Agar kau tahu saat ini aku tidak mencari perempuan...!"

"Mungkin kau mencari nenek tua yang su- dah bau tanah, begitu!" celetuk Gento sengaja membuat pemuda itu jadi marah.

"Keparat terkutuk. Kau buka telingamu, pasang pendengaran dengan baik. Saat ini aku sedang mencari senjata Bintang Penebar Petaka.!" menerangkan Panji Anom dengan perasaan geram sekali.

Mendengar ucapan Panji Anom Dwi Kemala Hijau maupun Gento Guyon diam-diam jadi ka- get. Tapi Gento sendiri malah manggut-manggut.

"Oh rupanya kau mencari senjata itu, aku tahu dimana senjata yang kau cari itu berada."

"Kalau kau tahu lekas kau katakan pada baginda mu ini!" perintah Panji Anom tak sabar.

"Konon menurut yang kudengar senjata itu kini berada di satu tempat penyimpanan di nera- ka. Jika kau mau aku bersedia mengantarmu ke neraka. Hak hak ha!"

"Pemuda bangsat terkutuklah dirimu!" ma- ki Panji Anom semakin gusar bukan main. Tak menunggu lebih lama Panji Anom langsung ber- niat melakukan serangkaian serangan ganas ke arah Gento. Namun pada waktu itu terdengar sa- tu suara dari sebelah kirinya. "Kau inginkan sen- jata Bintang Penebar Bencana, Panji Anom? Sen- jata itu sampai kini masih berada di tanganku." Kemudian ada suara lain menimpali. "Baginda kenapa jadi bingung? Kami mencari baginda ke- mana-mana untuk serahkan senjata. Tak dinyana kiranya Baginda juga sedang mencari kami. Ak- hirnya kita jadi seperti orang linglung karena sa- ma sibuk mencari-cari. Ha ha ha!"

Jika Gento tak mengenal suara orang yang bicara pertama tadi, sebaliknya dia tentu saja mengenali orang yang bicara kemudian. Pemuda ini tersenyum.

"Gendut... kau pergi kemana saja? Apa si- buk merubuhkan Kuil Setan. Atau malah gen- tayangan mencari janda. Ha ha ha." "Murid edan bicara seenaknya sendiri. Satu janda saja sulit kucari apalagi, apalagi seribu ga- dis seperti yang dikatakan murid si kakek lum- puh Begawan Panji Kwalat. Ha ha ha."

"Mungkin yang dimaksudkannya kambing perawan." kata suara yang bicara pertama tadi.

"Tak kusangka dia muridnya Begawan Pan- ji Keparat...!" sahut Gento.

"Kau salah sebut bocah edan. Kwalat... bu- kan keparat...!"

"Apa saja bagiku sama saja. Eeh... gendut apakah kau tak mau kemari? Terus mendekam disitu seperti ayam mau bertelur. Atau kau se- dang memadu kasih dengan insan sejenis? Ha ha ha!"

"Bocah edan, mulutmu perlu ku guyur dengan air kencingku!" damprat suara itu. Walau mulutnya mendamprat namun dia tetap tertawa hehahehe. Sedetik kemudian dari sebelah kiri Panji Anom berkelebat dua sosok bayangan. So- sok yang satu dan berada paling depan sekujur tubuhnya seperti bercahaya. Sedangkan kedua tangannya lebih terang dari bagian badan. Se- dangkan sosok yang berada di belakangnya ber- badan tinggi besar bukan main. Walaupun tu- buhnya besar luar biasa, namun ketika jejakkan kaki di samping pemuda muka monyet yang ba- gian dalam tubuhnya terpampang dengan jelas, sama sekali kakinya tidak menimbulkan suara.

Jika Gento dan Dwi Kemala Hijau terheran- heran juga merasa geli melihat pemuda berbadan sebening kaca ini. Sebaliknya Panji Anom yang mengenali pemuda itu sempat berjingkrak kaget dan melompat mundur. Mulut ternganga mata di- pentang. Bibirnya mendesis menggumamkan ka- ta-kata yang tidak jelas.

"Sulit kupercaya, bagaimana manusia lu- tung itu kini telah berubah seperti itu. Beberapa hari yang lalu kulitnya hitam legam. Sekarang ba- gaimana bisa menjadi putih sebening kaca?" fikir Panji Anom. Dia lalu alihkan perhatiannya pada si gendut. "Gendut besar ini memanggil murid pada pemuda gondrong edan itu. Jadi mereka murid dan guru. Selain tubuh, kulihat mereka banyak memiliki persamaan. Gurunya sinting, muridnya edan. Sungguh ini merupakan suatu kenyataan yang menyedihkan!" batin Panji Anom disertai se- ringai sinis.

11

Di depan sana seakan tak menghiraukan Panji Anom lagi si gendut Gentong Ketawa ajukan satu pertanyaan pada sang murid. "Gento, bagai- mana kau bisa mendapatkan gadis cantik ini?"

Yang ditanya mesem-mesem sambil men- gusap keningnya yang keringatan. Sebentar dia melirik pada Dwi Kemala Hijau, sebelah mata di- kedipkan satu kali baru kemudian menjawab. "Semua ini anugerah. Yang semula musuh bisa kujadikan teman, mana cantik lagi. Dan kau sen- diri bagaimana bisa bertemu dengan pemuda ber- badan bagus seperti ini, ndut? Tubuhnya bening isi bagian dalam kelihatan. Rupanya peruntun- ganmu sedang bagus, ya?! Ha ha ha."

"Ha ha ha, kalau kau melihat sebelum ini. Rasanya singkong bakar masih kalah gosong." ja- wab Gentong Ketawa.

Setelah Gento memperkenalkan Dwi Kema- la Hijau pada gurunya, kakek Gentong Ketawa berkata. "Peruntunganmu rupanya sedang bagus. Bisa berkenalan dengan gadis cantik dan seorang bidadari pula. Tidak seperti aku!" kata si kakek bersungut-sungut.

"Ya, peruntunganmu buruk sekali orang tua. Apalagi jika kau tak mau menyerahkan sen- jata itu padaku, bukan hanya kau dan muka ku- nyuk itu saja yang akan kubunuh. Tapi muridmu juga gadis itu tak akan lolos dari kematian!" Panji Anom yang sedari tadi hanya diam saja kini ikut bicara.

Kini Gento dan Dwi Kemala Hijau meman- dang ke arah Gentong Ketawa. Merasa diperhati- kan seperti itu, si kakek jadi salah tingkah. "Sen- jata Bintang Penebar Petaka bukan ada padaku, tapi dia yang memegangnya." sambil berkata begi- tu dia menunjuk ke arah Memedi Santap Segala.

"Guru, bukan aku menuduh mu." ujar Gento. "Tapi ketahuilah senjata itu milik Kayan- gan. Bidadari Biru ditugaskan untuk mengambil- nya kembali." tegas si pemuda. Lalu dia menceri- takan tentang segala sesuatunya yang terjadi pa- da Dwi Kemala Hijau. Begitu Gento selesai menu- turkan segala sesuatunya, maka Memedi Santap Segala memberi jawaban.

"Jika senjata ini milik Kayangan dan kau ditugaskan untuk mengambilnya, maka sekarang juga aku bersedia menyerahkannya padamu. Aku tidak kemaruk dengan segala macam senjata!" ka- ta Memedi Santap Segala. Selesai bicara pemuda ini lalu mengeluarkan senjata dari balik salah sa- tu kantong perbekalannya. Begitu senjata berada di tangannya, maka terlihatlah sebuah benda berbentuk bintang empat sudut dengan delapan sisi tajam, sementara di tengah-tengah bintang itu terdapat sebuah lubang bulat. Selagi Gento dan gurunya dibuat tercengang melihat senjata yang diserahkan Memedi Santap Segala pada Dwi Kemala Hijau, maka pada saat itu pula terdengar satu teriakan.

"Senjata itu harus menjadi milikku. Dia tak boleh berada di tangan siapapun!" Bersamaan dengan itu pula terdengar suara deru angin dah- syat yang langsung menyambar ke arah si gadis bidadari. Menyadari ada serangan dahsyat men- dera dirinya, Dwi Kemala Hijau yang telah meme- gang senjata langsung melompat mundur sela- matkan diri. Sedangkan Memedi Santap Segala ja- tuhkan diri sambil bergulingan untuk menghin- dari pukulan orang.

Gentong Ketawa dan muridnya walaupun sempat kaget, namun cepat memandang ke bela- kang. Begitu mengetahui yang menyerang Dwi Kemala Hijau tadi bukan lain adalah Panji Anom, maka Gento berseru. "Manusia tidak bermalu, in- gin mengangkangi milik orang. Lebih baik kau bawa pulang oleh-oleh dariku ini!" berkata begitu Gento hantamkan tangan kanannya melepaskan pukulan Iblis Tertawa Dewa Menangis.

"Aku yang tua juga masih ingin berbaik ha- ti untuk menambahkan bingkisan untukmu!" Dengan sebat sambil tertawa-tawa, Gentong Ke- tawa hantamkan dua tangannya yang besar seka- ligus ke arah Panji Anom.

Sinar merah panas dan hawa dingin men- deru di udara. Pukulan yang dilepaskan Gento sa- ja sudah menimbulkan akibat yang sangat luar biasa. Apalagi gurunya ikut pula melepaskan pu- kulan mautnya. Akibat yang ditimbulkannya ten- tu sangat hebat sekali. Angin menderu laksana gemuruh suara ombak yang menyerang dari dua arah menggulung Panji Anom hingga membuat pemuda itu yang telah mencoba melepaskan pu- kulan untuk menangkis serangan lawan jadi ja- tuh terpelanting. Panji Anom terkapar, pakaian- nya di bagian dada dan juga bagian celananya ro- bek besar, Pemuda itu merasakan dadanya ber- denyut hebat. Tapi tanpa menghiraukan bagian kaki dan dadanya yang sakit luar biasa dia cepat bangkit berdiri. Wajah murid Begawan Panji Kwa- lat ini nampak merah kelam. Belum lagi dia sem- pat bicara. Dwi Kemala Hijau sudah berucap. "Menghadapi diriku, mungkin aku bukan tandin- gan mu. Tapi kudengar kau menginginkan senjata ini. Karena itu kau harus berusaha menda- patkannya sendiri!" seru si gadis. Dia kemudian berpaling pada Gento, juga gurunya si gendut Gentong Ketawa dan Memedi Santap Segala. "Pa- man, Gento dan kau si badan kaca. Sebaiknya kalian menyingkir di tempat yang aman. Dia in- ginkan senjata ini, karena itu dia berurusan lang- sung dengan diriku!"

"Ha ha ha! Aku tak keberatan menonton pertunjukan gratis." kata Gentong Ketawa sambil tertawa-tawa dia melompat mundur, lalu duduk menjelepok di pinggir lapangan.

"Aku sependapat dengan guruku. Tapi kau harus hati-hati, Dwi Kemala." kata Gento pula. Lalu dia ikutan duduk seperti gurunya, tapi tetap bersikap waspada.

"Aku lebih baik berdiri disini. Terlalu lama duduk pantatku bisa kapalan." celetuk Memedi Santap Segala, hingga membuat Gento dan gu- runya tak kuasa menahan tawa.

Di depan sana, si gadis telah lintangkan senjata Bintang Penebar Bencana di depan dada. Bibir gadis ini berkemak-kemik, seakan membaca mantra. Beberapa saat setelah itu, senjata di tan- gannya terlihat memancarkan sinar merah redup disertai membersitnya hawa dingin yang bukan alang kepalang.

"Siapapun dirimu, Panji Anom. Kau pasti tak bakal sanggup menghadapi senjata ini, meskipun kau memiliki ilmu setinggi langit." te- riak Dwi Kemala Hijau. Panji Anom Penggetar Jagad sunggingkan senyum sinis. "Aku adalah orang yang tidak kena digertak, tidak pula kena ditakut-takuti!" dengus Panji Anom. Begitu selesai bicara pemuda ini pan- tangkan kedua tangannya lurus ke depan. Setelah itu tubuhnya melesat ke depan. Dalam satu se- rangan kilat ini, Panji Anom bermaksud meram- pas senjata di tangan si gadis. Tapi sejarak dua tindak lagi tangan si pemuda hampir menyentuh senjata Bintang Penebar Petaka. Tiba-tiba saja seakan ada satu kekuatan dahsyat yang keluar dari senjata itu menyambar ke arah Panji Anom, mendorongnya dengan satu tenaga yang sangat besar luar biasa.

Bruuk!

Panji Anom tak kuasa mengendalikan diri menjaga keseimbangan, tubuhnya jatuh terbant- ing. Gentong Ketawa tertawa mengekeh. Sedang- kan Gentong Guyon langsung menyeletuk. "Ho- hoho, senjata belum diambil kok sudah jatuh du- luan. Memalukan!"

Mendengar ejekan Gento, kedua pipi Panji Anom menggembung besar. Darahnya serasa menggelegak. Dia segera bangkit berdiri, lepaskan satu pukulan ke arah Gento, lalu laksana kilat tubuhnya melesat kembali ke arah Dwi Kemala Hijau.

Di sebelah sana murid dan guru bergulin- gan dengan arah berlawanan untuk selamatkan diri. Di tempat mereka duduk tadi terjadi satu le- dakan menggelegar. Ketika murid dan guru ini kembali duduk dalam jarak terpisah jauh, mereka jadi melengak kaget begitu melihat bekas ledakan menimbulkan satu lubang besar.

"Senjata harus menjadi milikku!" teriak Panji Anom. Ketika itu Panji Anom sudah begitu dekat dengan lawannya. Tapi tanpa terduga Dwi Kemala Hijau putar senjata itu di bagian tengah- nya yang berlubang, lalu melemparkannya di udara.

Begitu terlempar senjata Bintang Penebar Petaka langsung berputar laksana baling-baling, mengeluarkan suara bergemuruh hebat disertai deru hawa panas yang membuat tempat itu lak- sana terbakar dilamun api.

Panji Anom terkesiap melihat kenyataan ini, apalagi ketika melihat senjata itu mendadak menukik ke bawah dan menyerang dirinya laksa- na seekor elang yang menyambar.

Tak ada pilihan lain, pemuda ini langsung jatuhkan diri. Begitu tubuhnya rebah hingga sa- ma rata dengan tanah, maka dia melepaskan pu- kulan Kutukan Mendera Bumi. Sinar biru berha- wa panas berkiblat di udara menghantam senjata maut yang terus menderu tajam ke arahnya. Satu letusan disertai berpijarnya bunga api terjadi di udara, hingga membuat suasana di sekitarnya semakin terang benderang.

Benturan itu ternyata hanya membuat sen- jata Bintang Penebar Petaka hanya bergetar saja, selanjutnya terus meluncur menghantam ke arah perut lawan. "Senjata iblis keparat!" maki Panji Anom. Diapun kemudian menggulingkan dirinya ke samping. Tapi tak urung baju di bagian perut pe- muda itu robek besar terkena sambaran senjata Kayangan.

Sambil memaki, Panji Anom bangkit berdi- ri. Wajahnya berubah pucat laksana mayat. Otaknya berfikir keras bagaimana caranya agar dia dapat menangkap senjata itu tanpa menim- bulkan petaka bagi dirinya sendiri. Dalam kea- daan seperti itu dia lalu ingat akan sesuatu. Tan- pa menghiraukan Gento dan gurunya yang berte- puk tangan sambil memuji kehebatan senjata Kayangan, Panji Anom tiba-tiba jejakkan salah satu kakinya hingga membuat tubuhnya melesat tinggi di udara. Dalam keadaan seperti itu dia bermaksud menangkap senjata dari arah atas. Itulah sebabnya begitu sampai pada satu keting- gian Panji Anom langsung meluncur ke bawah be- rusaha menangkap bagian tengah senjata yang terus berputar mendesing tak ada henti.

Apa yang terjadi kemudian membuat Panji Anom terkejut. Tak ubahnya seperti memiliki ma- ta dan perasaan saja senjata tiba-tiba berbalik arah dan kini bagian sisinya menghadap ke atas menerabas tangan Panji Anom.

"Jahanam terkutuk!" teriak Panji Anom yang tangannya hampir saja putus terbabat sen- jata. Gagal menangkap senjata, dia lakukan gera- kan berjumpalitan dan jatuhkan diri di atas ta- nah. Wajahnya seperti bukan wajah lagi. Akan te- tapi telah berubah sepucat kertas. Belum lagi hi- lang rasa kagetnya, senjata itu kini meluncur berputar lalu menderu ke arah Panji Anom. Tak mau mati konyol. Panji Anom lepaskan pukulan Prahara Mendera Bumi.

Wuut! Wuuus!

Dua tangan langsung dihantamkan ke arah senjata. Hawa dingin melesat laksana kilat dan tepat mengenai senjata itu.

Traang!

Terdengar suara berdentrang. Senjata hanya oleng sesaat, lalu kembali meluncur meng- hantam dada Panji Anom. Karena jaraknya begitu dekat, sementara pemuda ini sendiri seakan tak percaya melihat kenyataan yang terjadi. Tak ayal lagi dadanya kena disambar senjata itu.

Craas!

Panji Anom menjerit keras, baju di bagian dada hancur, dadanya terluka cukup dalam, bah- kan salah satu rusuknya nyaris putus. Sementara dari arah belakang Bintang Penebar Petaka kem- bali menderu membabat ke bagian pinggang. Pada saat seperti itu, dimana dirinya merasa hampir putus asa karena tak mampu menangkap. senjata tersebut. Mendadak sontak satu bayangan berke- lebat menyambar Panji Anom. Demikian cepatnya hal itu terjadi sampai Gento dan gurunya tak sempat melakukan sesuatu. Memedi Santap Sega- la sambil berteriak keras sempat lepaskan salah satu pukulannya.

"Hendak dibawa kemana dia?!" teriak pe- muda itu.

"Manusia-manusia calon celaka, suatu hari kalian semua akan mendapat balasan dariku!" kata satu suara di kejauhan.

Pukulan Memedi Santap Segala hanya mengenai angin. Di sebelah kanan mereka Dwi Kemala Hijau gerakkan tangannya ke arah senja- ta, hingga senjata itu kini berputar menuju ke arahnya.

Tep!

Dengan mudah senjata itu dapat ditangkap kembali oleh si gadis bidadari. Sementara itu Gento dan si gendut saling pandang. Wajah mere- ka masih memperlihatkan rasa kagum, tapi juga kecewa karena Panji Anom berhasil diselamatkan oleh seseorang.

"Dia merupakan satu momok dan rintan- gan besar bagimu dimasa yang akan datang!" gu- man si gendut.

"Seharusnya kita tangkap dan pesiangi tu- buhnya sejak tadi. Tapi aku sendiri jadi ragu, ta- kut senjata itu malah salah sasaran dan melumat habis diriku. Kalau engkau yang jadi korban, mungkin aku cuma satu hari berduka cita, sete- lah itu aku buat pesta, pukul beduk pukul gen- dang. Agar lebih meriah dalam pesta ku gelar aca- ra tarian. Ha ha ha."

"Murid setaaan!" damprat si gendut sambil pelototkan mata dan kepalkan tinjunya.

"Gento, kuucapkan terima kasih besar pa- da dirimu juga pada gurumu." kata Dwi Kemala Hijau.

"Terlebih-lebih pada Memedi Santap Segala

yang mencuri senjata itu dari tempat penyimpa- nan di Kuil Setan." kata Gentong Ketawa. Dia lalu menunjuk ke arah pemuda bertubuh bening. Tapi yang ditunjuk telah lenyap entah kemana. Sesaat si gendut mencari-cari. Dia lalu geleng kepala.

"Ah sahabat kita itu agaknya tahu dia, dia buru-buru pergi sebelum diusir. Ha ha ha." cele- tuk si gendut sambil tertawa hingga membuat pe- rut gendutnya terguncang keras.

"Maafkan guruku ini Dwi Kemala Hijau. Dia memang begitu, bila di depan gadis suka jadi salah tingkah jadi bicaranya suka melantur!" ujar si pemuda. Dwi Kemala Hijau tersenyum. "Tidak mengapa, tanpa kalian dan pemuda tadi tentu senjata ini sulit kudapatkan. Aku akan mengingat semua itu, mengenangnya dalam hati sampai ak- hir hayatku!"

"Eeh, tapi apakah kau akan kembali ke Kayangan?" tanya Gento dengan perasaan tidak enak dilanda keresahan.

Sekali lagi si gadis tersenyum, hingga membuat Gento jadi semakin tidak enak. "Aku akan pergi ke suatu tempat. Pada waktunya aku akan kembali ke Kayangan untuk mengembalikan senjata ini pada ketua para bidadari." Dwi Kemala Hijau dengan lembut. "Selamat tinggal Gento, se- lamat tinggal paman." ujar si gadis. Sebelum pergi dia masih menyempatkan diri melirik ke arah Gento. Si pemuda kedipkan matanya. Sekali berkelebat Dwi Kemala Hijau lenyap dari pandangan mata. Gento tertegun meman- dang ke arah lenyapnya si gadis. Satu tangan ke- mudian menepuk bahunya.

"Dia memang cantik, tapi kurasa tak pan- tas untukmu karena dirinya adalah seorang bida- dari." kata Gentong Ketawa seakan mengerti pera- saan muridnya.

Gento bukannya terkejut mengetahui si gendut seolah tahu apa yang ada dalam pera- saannya, dia tertawa panjang sambil berkelebat tinggalkan tempat itu. Akan tetapi tawa itu begitu sumbang dan mengandung rasa kehilangan.

"Murid edan, rupanya kau mulai kasma- ran? Kencing saja belum lempang. Ha ha ha ha." seru Gentong Ketawa, lalu segera mengejar mu- ridnya.

TAMAT