Gento Guyon Eps 10 : Tangan Rembulan

 

Eps 10 : Tangan Rembulan


Terperangkap dalam satu ruangan yang sangat gelap Memedi Santap Segala yang memiliki gelar Mahluk Tangan Rembulan sempat dilanda ketakutan setengah mati. Sejak dirinya terjeblos dalam perangkap dan tanah yang dipijaknya am- blas ke bawah, pemuda yang wajahnya mirip mo- nyet besar, berkulit hitam legam dengan sekujur tubuh ditumbuhi bulu-bulu halus dan berperut besar serta berpuser bodong ini berteriak me- manggil-manggil majikannya. Tapi suara teria- kannya lenyap ditelan gemuruhnya suara tanah yang naik kembali menutup lubang dimana tadi dirinya meluncur jatuh.

"Datuk Labalang... tolong Datuk. Matilah saya kali ini Datuk. Ayahku.... ibuku, mereka se- mua tak tahu saya dan Datuk telah menyeberang ke tanah Jawa. Oh... Datuk saya takut....!" jerit pemuda itu dengan perasaan tegang dan tubuh basah bersimbah keringat dingin. Di tempat dia terjatuh, Memedi Santap Segala tidak menyadari dirinya berpijak pada lantai, tanah atau di dalam air. Pikirannya terlalu kalut, perasaan diliputi ke- tegangan dan hati pemuda ini didera rasa takut yang bukan kepalang. Dalam keadaan dilanda berbagai perasaan begitu rupa, otaknya yang tolol benar-benar tak dapat dipergunakan untuk berfi- kir. Yang dia tahu, sejak tanah yang membuat di- rinya terjeblos naik ke permukaan dan kembali menutup, di situlah akhir dari semua perjalanan hidupnya.

Benarkah hidupnya akan berakhir hingga disitu, terpendam dalam satu ruangan sempit, disatu tempat jebakan yang entah di buat oleh siapa. Dalam ruangan gelap dan pengap apa yang dapat dia lakukan? Mencari jalan keluar untuk menyelamatkan diri, rasanya itu lebih baik dila- kukan daripada bersikap pasrah menunggu da- tangnya ajal. Tertatih-tatih tanpa menghiraukan pengabnya udara hingga membuat tubuhnya te- rasa panas laksana terbakar, Memedi Santap Se- gala segera memeriksa lantai dimana dia berpijak. Lantai ternyata halus dan licin keras seperti batu namun mengandung air berbau pesing menyen- gat.

"Mungkin aku jatuh ke dalam jamban, sungguh malang sekali nasibku tapi kurasa lebih celaka lagi jika aku tak dapat keluar dari tempat ini" batin si pemuda. Dia berusaha berdiri tegak, sebentar dia menarik nafas. Udara terasa semakin pengap dan dadanya mulai sakit mendenyut. Sambil berjalan tertatih-tatih dalam gelap Memedi Santap Segala mencoba merapat ke dinding ter- dekat, tangan dijulurkan ke depan meraba. Tak lama kemudian dia menyentuh dinding yang licin dan agaknya dinding itu terbuat dari batu.

Sambil melangkahkan kaki, dia meraba se- panjang dinding batu itu. Tidak ada pintu, tidak ada jendela. Tidak ada pula jalan keluar!

"Celaka...!" desis Memedi Santap Segala merasa lelah juga diliputi kebimbangan. "Mung- kinkah takdir ku harus terkubur hidup-hidup dis- ini?" Si pemuda membatin dalam hati. Pada suatu sisi dinding tidak ditemukannya jalan. Tapi masih ada tiga sisi lainnya. Tiga sisi yang belum sempat diperiksa itulah merupakan tumpuan harapan sa- tu-satunya untuk menyelamatkan diri. Mungkin- kah ada pintu di tiga dinding ruangan sempit yang belum diperiksanya? Si pemuda jadi bim- bang. Dia menyadari udara yang terdapat di ruangan itu sangat terbatas. Jika dia terus- menerus bernafas, udara segar akan habis. Ke- mungkinannya dia jadi kehabisan nafas, tubuh- nya menjadi lemas dada bisa meledak dan dia akan mati secara perlahan. Sungguh tragis sekali. "Tidak! Aku tidak mau mati sebelum kete-

mu emak, aku tidak mati sebelum jumpa dengan bapak ibuku." rintih Memedi Santap Segala keta- kutan sekali. Dalam keadaan seperti itu dia ingat pada Tuhan. Hanya kepada Tuhan tempat bagi manusia untuk meminta dan memohon perlin- dungan, tapi pemuda ini menjadi malu.

"Aku tidak pernah berusaha mendekat pa- da Tuhan, aku tidak pernah mengerjakan apa yang diperintahkannya. Walaupun aku memang tidak pernah melanggar larangannya. Mungkin- kah Gusti Allah ingat padaku, sedangkan aku sendiri tak pernah ingat kepadaNya. Tapi jika ti- dak pada Tuhan pada siapa lagi aku berserah di- ri? Kepada Datuk Labalang? Keberadaan orang tua itu saja sampai saat ini aku tak tahu." keluh Memedi Santap Segala. Tidak ada pilihan lain, pemuda berpuser bodong ini akhirnya terpaksa mengerahkan segenap akal fikiran yang dia miliki guna untuk mencari jalan meloloskan diri. Tanpa menghiraukan panasnya udara yang terasa mem- bakar di dalam ruangan itu Memedi Santap Sega- la dengan bertumpu pada dinding segera meram- bat ke sisi dinding berikutnya. Nafas pemuda ini mulai megap-megap, tubuhnya basah bersimbah keringat. Di saat seperti itu kesadarannya mulai timbul tenggelam. Perasaan lelah mendera seku- jur tubuhnya. Belum lagi dia sampai di ujung sisi dinding kedua mendadak lutut pemuda ini terasa goyah, sekujur tubuh gemetar. Bersusah payah dia coba bertahan, namun pada akhirnya dia ter- gelimpang roboh juga.

"Apa dayaku kini?" rintih si pemuda. Da- lam keadaan seperti itu dia teringat pada kantong perbekalan makanannya. Dia ingin makan seda- pat yang dia lakukan. Agar jika malaikat maut menjemputnya, dia bisa menutup mata dengan perut kenyang. Lalu dengan menggunakan tangan kirinya yang terkulai di atas paha, Memedi Santap Segala bermaksud mengambil makanan dari kan- tong perbekalan. Si pemuda mengeluh, dia malah hampir menangis di saat menyadari kedua tan- gannya tak dapat digerakkan sama sekali. Jan- gankan untuk mengambil makanan, sedangkan digerakkan pun sulit. Seolah tangan itu berubah berat menjadi ratusan kati.

"Tuhan... mungkin sudah menjadi takdir ku harus mati dalam keadaan lapar. Oh, jelek amat takdir ku ini. Tapi jika itu memang harus terjadi rasanya aku setengah rela, ya Tuhan. Te- rus terang aku sendiri sangat takut dan belum siap menghadapi kematian. Bagaimana ini?" kata si pemuda. Gema suaranya hanya sampai pada batas tenggorokannya saja. Tak kuasa Memedi Santap Segala menahan berat badannya sendiri yang semakin lama terasa kian bertambah berat, pada akhirnya pemuda itu rebah menelentang tanpa daya. Walaupun dia jatuh rebah di tempat becek berbau pesing, tapi dia tetap merasakan sekujur tubuhnya panas laksana dipanggang di atas bara api. Bahkan tenggorokannya pun terasa kering. Sehingga ketika dia menelan ludah, ma- tanya nampak mendelik seperti dicekik.

Beberapa saat dalam keadaan seperti itu, Memedi Santap Segala mencoba memacu otaknya yang mulai melemah. Dia kemudian ingat akan sesuatu

"Batu Rembulan....!" desis pemuda itu. Se- kelumit harapan muncul di dalam benaknya. Di- apun mengumpulkan segenap tenaga yang tersi- sa, tangannya kembali digerakkan. Kali ini di- arahkannya ke bagian saku celana hitamnya. Dengan tangan gemetar lima jari tangannya me- nyentuh benda bulat sebesar telur ayam yang be- rada di dalam saku kiri.

Batu bulat lonjong itu lalu dikeluarkan. Dengan mata redup dia mencoba menatap batu kesayangannya itu. Tapi dalam gelap, jangankan batu, kedua tangannya sendiri tak terlihat.

"Batu Rembulan batu sakti, tunjukkan se- gala kesaktianmu. Saat ini aku benar-benar san- gat membutuhkan bantuanmu. Bantulah aku Ba- tu Rembulan!" rintih Memedi Santap Segala lirih. Perlahan dia genggam batu berwarna putih itu dengan kelima jemari tangannya. Seluruh sisa te- naga dalam yang dia miliki dikerahkan, lalu dis- alurkan ke bagian tangan yang memegang Batu. Begitu tenaga mulai mengalir ke batu bulat lon- jong itu, maka terjadilah sesuatu yang sangat menakjubkan. Batu Rembulan memancarkan ca- haya redup berwarna putih, cahaya itu semakin lama semakin bertambah terang hingga meneran- gi seluruh ruangan yang sempit pengap dan cuma setinggi sosok Memedi Santap Segala sendiri! Wa- jah yang pias dan bersimbah keringat itu nampak tersenyum,

"Terima kasih. Aku.... aku ingin melihat apakah di salah satu dinding ruangan ini terdapat pintu. Bergeraklah, teliti setiap jengkal batu yang terdapat di seluruh dinding ini!" perintah Memedi Santap Segala. Baru saja suara si pemuda itu le- nyap. Satu keanehan lagi terjadi. Batu melesat meninggalkan telapak tangan pemuda berkulit hi- tam legam, bergerak mengambang menelusuri dinding melewati sisi demi sisi, sampai kemudian Memedi Santap Segala keluarkan satu seruan. "Berhenti di situ Batu Rembulan!"

Seakan mengerti batu yang memancarkan cahaya putih terang yang semula bergerak mene- lusuri dinding kini diam tepat di salah satu sudut dimana terdapat empat garis berbentuk pintu. Lupa akan keadaannya yang lemah tak bertenaga, Memedi Santap Segala segera bangkit dan men- coba mendekati pintu batu. Nafas megap-megap, kini dia merasakan sekujur tubuhnya seakan su- dah tidak memiliki tulang.

Dengan tatapan nanar Memedi Santap Se- gala memandang ke arah Batu Rembulan. Mulut- nya membuka berucap. "Batu Rembulan batu sakti, aku telah kehilangan semua daya yang ku- miliki. Kini aku hanya bisa mengharapkan ban- tuanmu. Batu Rembulan, andai kau mampu mendobrak pintu batu itu, mencari jalan selamat untuk diriku aku pasti akan sangat berterima ka- sih sekali" kata si pemuda

Batu Rembulan yang mengambang di uda- ra tiba-tiba saja berputar mengeluarkan suara angin menderu yang sangat kencang luar biasa. Bersamaan dengan itu pula mendadak Memedi Santap Segala merasakan udara yang luar biasa panasnya di dalam ruangan itu berubah menjadi dingin. Si pemuda yang semula nampak putus asa kini tersenyum sambil menghirup udara da- lam-dalam.

"Terima kasih Tuhan, terima kasih Batu Rembulan!" seru si pemuda sambil bersujud dan bentur-benturkan keningnya di atas lantai yang becek.

Apa yang terjadi pada Batu Rembulan nampaknya masih terus berlanjut, karena masih dengan terus berputar Batu Rembulan tiba-tiba saja melesat menghantam dinding yang berben- tuk pintu. Sinar putih berkiblat, gemuruh angin menggila. Ketika Batu Rembulan membentur dinding batu terjadilah ledakan keras berdentum.

Buuum!"

Pintu batu hancur berkeping-keping. Dind- ing di kanan kiri pintu rengat di sana sini, se- dangkan tiga sisi dinding lainnya bergetar. Gun- cangan yang keras membuat Memedi Santap Se- gala terlempar, jatuh tunggang langgang. Si pe- muda mengusap keningnya yang benjol besar dan meneteskan darah akibat terbentur dinding. Den- gan pandangan nanar berkunang-kunang Memedi Santap Segala memandang ke arah Batu Rembu- lan yang kini hampir kehilangan sebagian besar tenaga dan kesaktiannya akibat menghancurkan pintu batu tadi. Bukan hanya itu saja, Batu Rem- bulan sudah tidak seterang tadi. Dan semua ini merupakan pertanda paling tidak Batu Rembulan membutuhkan waktu satu hari untuk memulih- kan kesaktiannya sendiri.

"Aku sudah bisa bernafas, aku sudah be- bas. Batu Rembulan... aku tahu dirimu sangat le- lah sekali. Kemarilah.... kau istirahat di dalam kantong ku. "Kata Memedi Santap Segala yang sudah melihat di balik hancurnya batu menyeru- pai pintu memancar cahaya merah temaram. 2

Batu Rembulan bergerak cepat, berputar- putar hingga mengeluarkan suara berdesing. Des- ing aneh yang ditelinga Memedi Santap Segala ti- dak ubahnya seperti suara rintih kelelahan. Pe- muda itu kemudian acungkan telapak tangannya. Batu Rembulan jatuh di atas telapak tangan si pemuda. Setelah mencium batu itu beberapa kali dengan penuh rasa terima kasih, dia masukkan batu sakti itu ke dalam saku celananya.

"Aku harus keluar dari tempat ini, melalui pintu batu yang hancur itu agaknya aku bisa me- nemukan sebuah jalan" fikir Memedi Santap Se- gala. Dia lalu bangkit berdiri, berjalan mendekati pintu batu dengan langkah masih sempoyongan.

Begitu pemuda hitam legam ini sampai di balik pintu di mana cahaya merah membersit ke- luar dari segenap penjuru langit-langit ruangan batu, Memedi Santap Segala merasakan ada hawa dingin menyengat tubuhnya. Tapi si pemuda sa- ma sekali tak menghiraukannya, sepasang mata menatap ke seluruh penjuru ruangan yang luas. Dia melihat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar berwarna merah, namun di- atas meja diberi penutup yang bentuknya seperti tudung saji. Dari balik penutup meja dia melihat ada cahaya yang membersit keluar. Cahaya ber- warna putih yang tidak ubahnya seperti kristal.

"Ada meja tak ada kursinya. Di balik penu- tup meja bundar itu mungkinkah terdapat maka- nan disitu?" fikir Memedi Santap Segala. Saat itu dia merasakan perutnya menjadi sangat lapar se- kali. Dia raba dan usap perutnya yang bundar. Lidah terjulur begitu terbayang olehnya makanan yang enak, lezat. 

"Ruangan ini sangat bersih, menebar bau harum semerbak. Mungkin ruangan ini merupa- kan tempat tidur raja." Si pemuda terdiam, sete- lah berfikir sejenak diapun gelengkan kepala. "Ka- lau tempat tidur mengapa tak kulihat peraduan- nya. Boleh jadi ruangan ini tempat bersantap kaum bangsawan." Sambil tersenyum dia membe- tulkan ucapannya yang salah. Beberapa saat la- manya Memedi Santap Segala berdiri tegak di- tempatnya. Setelah memperhatikan meja bundar sekejab, dia kemudian memutuskan untuk mem- buka penutup meja.

"Ketika aku terperangkap di dalam ruangan terkutuk itu hampir saja aku kehilangan harapan hidup. Kini setelah aku bebas aku ingin makan sepuas-puasnya. Mudah-mudahan di atas meja itu terdapat makanan enak. He he he." Sambil tertawa-tawa Memedi Santap Segala melangkah mendekati meja batu yang bagian bawahnya lang- sung menempel di lantai. Sejarak satu tombak di depan meja batu, si pemuda hentikan langkah- nya. Dia memperhatikan bagian penutup meja. Di balik penutup yang berwarna putih mengkilap itu, ada cahaya gemerlap yang memancar terang ben- derang. "Ada cahaya aneh dibalik tudung meja ini. Cahaya apakah, rasanya tidak ada makanan di dunia ini yang memancarkan cahaya," membatin Memedi Santap Segala. Dia tersenyum tapi otak- nya kembali berfikir. "Tidak mungkin yang kulihat ini dijadikan tempat meletakkan makanan. Se- suatu yang memancar di balik tudung ku rasakan mengandung getaran aneh. Bisa jadi meja ini di- jadikan tempat menyimpan benda pusaka. Aku harus membuka penutupnya!" Si pemuda kemu- dian melangkah lebih mendekat lagi. Tangan ka- nan kemudian dijulurkan. Begitu tangan mende- kat ke bagian atas penutup meja, tangan Memedi Santap Segata terasa panas dan bergetar. Ada hawa aneh yang mengalir deras dan menjalar memasuki tubuh Memedi Santap Segala melalui bagian ujung jemarinya.

Dengan perasaan kaget diliputi ketegan- gan, pemuda itu cepat jatuhkan tangannya. Hawa panas yang mengalir melalui tangan tadi kini te- rus menjalar ke sekujur tubuh, sebagian meram- bat ke bagian kepala menembus sel-sel otaknya, sedangkan sebagian lainnya bergerak ke jantung perut dan kemudian lenyap di pusat pengendalian tenaga dalam yaitu disekitar pusat si pemuda yang bodong. Beberapa saat lamanya puser itu berkedut, bergerak, cepat seperti denyut jantung. Tapi pada kesempatan lain Memedi Santap Segala merasa perutnya menjadi mulas.

"Aduh biung celaka benar nasibku ini." ke- luh si pemuda sambil terbungkuk-bungkuk me- megangi perutnya. Perut kemudian diremasnya sampai dia mengeluarkan suara kentut bertalu- talu sebanyak lima kali. Satu keanehan menda- dak terjadi, begitu suara kentut Memedi Santap Segala menggema di dalam ruangan. Detik itu pu- la penutup tudung meja batu merah terpental, ja- tuh di atas lantai merah dan hancur berantakan menjadi serpihan-serpihan halus.

Memedi Santap Segala yang sempat dibuat kaget dengan hancurnya tudung meja kini me- mandang ke arah meja batu merah. Kejut pemuda hitam ini bukan alang kepalang begitu dia melihat satu legukan di atas meja dimana di dalam legu- kan batu itu terdapat sebuah benda berbentuk bintang dengan empat sudut berwarna putih mengkilap yang keseluruhan sisinya memiliki ke- tajaman yang sangat luar biasa.

"Senjata aneh.... putih bercahaya seperti kristal. Aku menduga mungkin inilah barangnya yang dicari Datuk Labalang. Aku yakin benda ini yang bernama Bintang Penebar Petaka. Kalau be- nar dugaanku berarti saat ini aku berada di da- lam ruangan tempat penyimpanan senjata maut ini. Haruskah kuserahkan benda ini pada Datuk Labalang? Aku sendiri tidak kemaruk untuk me- milikinya. Dunia persilatan bisa geger jika senjata ini sampai jatuh ke tangan yang salah." kata Me- medi Santap Segala. Sejenak lamanya si pemuda yang memiliki daya fikir rendah, polos bersahaja ini diam tegak di tempatnya. Bila semula niatnya untuk mencari jalan keluar guna untuk menye- lamatkan diri. Maka kini timbul keinginannya un- tuk mengambil senjata maut berbentuk bintang persegi empat itu.

"Di tanganku senjata ini mungkin bisa aman. Aku tak tahu siapa pemiliknya. Tapi pada yang menyimpan aku ucapkan terima kasih! "kata Memedi Santap Segala. Pemuda ini julurkan tan- gannya kembali. Tangan yang tergetar dilanda ke- tegangan ini kemudian bergerak menyentuh ba- gian tengah senjata. Begitu pertengahan senjata yang berlubang tersentuh olehnya, Memedi San- tap Segala menjerit kesakitan. Jemari tangan yang memegang senjata terasa panas laksana ter- bakar. Tapi anehnya begitu dia mencoba melepas jarinya dari senjata. Jari itu menempel ketat sulit dilepas. Dengan perasaan bingung si pemuda ta- rik tangannya. Begitu tangan ditarik maka Bin- tang Penebar Petaka ikut tertarik keluar dari tem- pat penyimpanannya.

Dia lalu gerakkan tangannya, diguncang berulang-ulang, namun senjata tetap menempel. Sampai Memedi Santap Segala merasa kecapaian sendiri, tapi Bintang Penebar Petaka tetap me- nempel ditangannya. Pemuda ini akhirnya henti- kan gerakan tangan. Dia pandangi senjata itu dengan tatapan penuh rasa tak percaya. Dia lebih terkejut lagi ketika melihat cahaya putih gemerlap yang memancar dari senjata yang tengah dicari banyak tokoh itu mulai meredup. "Bagaimana hal ini bisa terjadi?" Memedi Santap Segala bergu- mam sendiri. Sekali lagi  si  pemuda perhatikan senjata itu. Cahaya berkilau yang memancar dari senjata tersebut kini lenyap sama sekali. Dengan lenyapnya cahaya putih maka hawa panas yang menyengat tangan si pemuda lenyap pula. Dia kemudian menyimpan senjata itu di dalam kan- tong perbekalannya.

"Tak pernah kusangka aku yang menda- patkan senjata ini." Batin Memedi Santap Segala. Dia lalu melangkah meninggalkan bagian tengah ruangan menuju anak tangga yang agaknya menghubungkan ke ruangan lain. Paling tidak saat itu jikapun benar dia terjebak di dalam salah satu ruangan Kuil Setan, dia ingin keluar sedapat yang dilakukannya.

Di luar sepengetahuan Memedi Santap Se- gala sesungguhnya ada sepasang mata yang terus mengawasi setiap gerak geriknya. Pemilik sepa- sang mata yang mendekam disalah satu sudut ruangan besar nampak tercengang seakan tidak percaya begitu melihat dengan mudahnya Memedi Santap Segala mengambil senjata Bintang Pene- bar Petaka. Padahal sebelum kehadiran pemuda itu tadi, dia sudah berusaha mengambil senjata tersebut dari tempat penyimpanannya di atas me- ja. Jangankan untuk mengambil senjata itu, se- dangkan untuk membuka tudung penutup meja pun dia tidak sanggup, seolah tudung yang ter- buat dari kristal itu beratnya mencapai ribuan ka- ti.

"Aneh.... dia sanggup mengangkat tudung meja, padahal kedua tangannya tidak melakukan apapun. Ilmu apa yang dia miliki? Yang kudengar tadi dia memegangi perutnya. Lalu aku menden- gar suara kentut bertalu-talu sebanyak lima kali. Mungkinkah kentut itu yang membuat kesaktian yang menyelimuti meja punah? Atau memang dia memiliki ilmu yang lain. Apa yang harus kulaku- kan kini?" batin sosok itu sambil mencoba memu- tar otak. Dia pun tersenyum ketika selintas akal menyelinap di dalam fikirannya. "Aku harus me- rampas senjata itu dari tangan pemuda bermuka monyet tadi. Tapi aku harus menggiringinya ke- luar. Cepat atau lambat lenyapnya senjata akan menimbulkan kegegeran besar bagi Yang Agung. Rasanya tidak perlu aku membantu mereka. Aku harus menyelesaikan tugasku sendiri. Sedangkan mengenai Gento, Ambini dan yang lain-lainnya. Biarlah Maut Tanpa Suara yang mengaturnya." kata pemilik sepasang mata itu sambil sungging- kan seringai. Dia kemudian memandang ke arah undakan anak tangga. Ternyata pemuda hitam le- gam yang sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu su- dah tidak ada lagi disitu.

Tergesa-gesa pemilik sepasang mata segera keluar dari tempat persembunyiannya dan lang- sung mengejar ke arah lenyapnya Memedi Santap Segala. 3

Sosok besar dalam keadaan tertotok dan kaku seperti kayu terus dibawa berlari dengan kecepatan laksana terbang. Sungguhpun sosok berpakaian serba putih itu memiliki tubuh pen- dek luar biasa, namun si pendek dengan tinggi ti- dak sampai sepinggang orang dewasa itu terus membawa si gendut Gentong Ketawa menjauh da- ri Kuil Setan. Padahal besar badan sosok serba putih bila dibandingkan dengan si kakek gendut jelas tidak sebanding. Bahkan badan Gentong Ke- tawa lima belas kali lebih besar dibandingkan be- sar badan orang yang membawanya.

Semua ini membuktikan kalau sosok pen- dek kerdil itu disamping memiliki ilmu lari cepat serta ilmu meringankan tubuh yang sangat luar biasa, juga memiliki kesaktian yang amat tinggi.

Dalam keadaan dibawa berlari sekencang itu, mendadak saja si gendut berucap. "Seumur hidup belum pernah aku berlari dalam keadaan terlentang begini. Kurasa hari ini peruntunganku memang sedang bagus. Sudah terhindar dari an- caman maut, sekarang digendong pula, Oalah... rasanya sungguh nyaman sekali hidup ini. Kalau keadaan menyenangkan ini bisa berlangsung se- tiap hari, lama-lama tubuhku semakin bertambah gembul. Ha ha ha !"

Sosok pendek kerdil yang membawa kakek Gentong Ketawa diatas kepalanya keluarkan sua- ra mendengus. Sampai disatu tempat yang dipe- nuhi semak berduri, sosok berpakaian serba pu- tih langsung melemparkan si kakek gendut.

Tubuh besar tinggi itu melesat di udara. Karena dalam keadaan tertotok tentu saja dia tak dapat selamatkan diri atau menghindar dari se- mak-semak berduri itu.

Gusraak! Bluk!

"Walah, aduh biyung. Habis dipanggul se- karang kok malah dibanting. Apa salah dosaku?" pekik Gentong Ketawa yang kini tubuh besarnya sudah berada di bawah semak-semak berduri ta- jam.

Si pendek kerdil yang membawanya tadi ti- dak menjawab. Dari mulutnya terdengar suara mendengus kesal. Sedangkan jari diacungkan ke arah si kakek gendut besar. Ada hawa aneh membersit keluar dari jari telunjuknya yang lang- sung menerpa punggung si gendut Gentong Keta- wa.

Tes! Tes!

Hawa dingin menyengat punggung Gentong Ketawa. Begitu merasakan tubuhnya terbebas da- ri pengaruh totokan, maka tawa si kakek pun tak terbendung lagi. "Sekian lama aku dibawa berlari, aku sampai lupa membebaskan totokan di tu- buhku sendiri. Ha ha ha!" kata si gendut.

"Diam! Tidak tahukah kau sedang berha- dapan dengan siapa?" hardik sosok pendek kerdil dengan suara keras menggeledek. Bentakan itu membuat tawa si gendut lenyap seketika. Dia se- gera duduk dan langsung memandang ke arah penolongnya. Begitu menyadari siapa adanya orang ini, wajah si gendut yang biasanya cerah ceria kini mendadak berubah pucat, mata melotot dan mulut ternganga. Saat itu si gendut tidak ubahnya seperti melihat hantu di siang bolong. Tak percaya dengan penglihatannya sendiri orang tua itu sampai mengusap matanya berulang kali.

"Guru.... Guru Kuntet Mangku Bumi. Ah tidak kusangka orang yang telah menolongku ter- nyata Dewa Kincir Samudera. Maafkan muridmu ini, tadinya aku sudah menduga penolongku ada- lah guru sendiri. Tapi karena guru tidak menja- wab, maka aku jadi beranggapan bahwa yang menolongku adalah orang lain!" kata si gendut Gentong Ketawa. Berapa kali dia menjura ke arah kakek renta berpakaian putih berbadan pendek cebol bermuka asam yang berdiri tegak dihada- pannya. Melihat pada sikap si gendut yang nam- pak ketakutan sekali melihat kakek kerdil ini jelas kalau gurunya Gento Guyon itu merasa jerih pada si cebol.

Di depannya sana si kakek kerdil bernama Kuntet Mangku Bumi bergelar Dewa Kincir Sa- mudera diam tak bergeming. Sepasang matanya mencorong tajam, memandang pada si gendut be- sar dengan tatapan tak berkesip.

Melihat si kakek cebol berusia sekitar sera- tus dua puluh tahun ini hanya diam dan unjuk- kan tampang mengandung teguran, maka si gen- dut jantungnya jadi dag dig dug tak karuan. Dia merangkak mendekat, lalu berlutut di depan gu- runya si kakek cebol bermuka masam. Sambil berlutut begitu rupa, dengan wajah ditundukkan tak berani menatap orang didepannya dia beru- cap. "Guru, muridmu ini dari kecil sampai tua se- perti sekarang memang geblek. Bahkan aku punya murid kewarasan otaknya tidak dapat ku- jamin. Hanya biarpun begitu kuharap guru tidak menjadi marah karena satu kesalahan yang aku perbuat. Guru saat ini muridku dalam ancaman bahaya besar. Sebagai murid geblek, aku mohon petunjuk sekaligus saranmu." ujar si gendut den- gan tubuh menggigil dan pakaian basah oleh ke- ringat.

Si Kakek kerdil usap-usap kumis dan jang- gutnya yang lebat memutih. Setelah memperhati- kan Gentong Ketawa untuk beberapa saat la- manya si cebol berkata. "Tua bangka sinting. Apa guna kau diberi kening lebar jika cara berfikirmu terlalu sempit. Mengurus dirimu sendiri saja kau tak punya kebecusan apa-apa, bagaimana kau bi- sa mengawasi muridmu. Aku sebagai gurumu sengaja datang menemuimu bukan karena mengkhawatirkan keselamatanmu. Kalau kau mati, karena ketololan mu sendiri mengingat kau sudah tua mana menjadi penyesalan bagiku. Yang aku khawatirkan saat ini begitu banyak orang yang menginginkan senjata maut Bintang Penebar Petaka. Padahal jika berada di tangan orang yang salah dia senjata itu bisa menjadi pangkal dari segala bencana. Saat ini aku sangat ingin sekali bertemu dengan Yang Agung, mak- hluk jerangkong yang menguasai Kuil Setan. Jika dia mau menerima saranku, aku ingin senjata itu dihancurkan saja." ujar Dewa Kincir Samudera. Si kakek gendut jadi tercengang.

"Mengapa harus dihancurkan guru? Jika senjata itu berada di tangan orang yang bertang- gung jawab, tentu akan menghasilkan banyak manfaat." ujar si gendut.

"Kau murid tolol tahu apa? Ketahuilah se- belum kau muncul di Kuil Setan aku telah me- nyelidik. Sedikitnya ada tiga orang yang mengin- car senjata itu. Pertama adalah seorang tokoh da- ri Andalas, orang ini kulihat lenyap bersama pembantunya dan tidak muncul kembali. Kemu- dian seorang pemuda berpakaian merah, aku te- lah menyirap kabar konon dia murid tunggal Be- gawan Panji Kwalat."

Sepasang mata si gendut membesar men- dengar disebutnya nama itu.

"Begawan Panji Kwalat. Manusia salah ka- prah yang dapat menghancurkan lawan hanya dengan ucapannya saja?" desis Gentong Ketawa.

"Kau benar."

"Lalu yang satunya lagi siapa guru?" tanya si kakek gendut.

"Yang satunya tentu kawanmu, manusia keblinger Si Tangan Sial. Manusia segala kesialan itu hampir mencelakaimu" jelas Dewa Kincir Sa- mudera sambil mencibir. "Tunggu, seingatku walau kami berteman belum begitu lama, Si Tangan Sial tidak kemaruk dengan berbagi macam senjata. Lagi pula menga- pa tiba-tiba dia ingin membunuh Gento. Sekarang aku curiga bukan mustahil Si Tangan Sial sengaja diperalat oleh seseorang."

"Kalaupun benar, orang yang memperalat- nya pasti Begawan Panji Kwalat. Aku tahu persis manusia sesat yang satu itu memiliki berbagai senjata rahasia yang dapat mempengaruhi dan menekan seseorang. Salah satu diantaranya yang paling hebat adalah Jarum Penggendam Roh. Sia- papun yang ditubuhnya telah ditanam jarum itu, otak hati dan fikirannya berada di bawah penga- ruh Begawan Panji Kwalat." Menerangkan bahkan Dewa Kincir Samudera.

"Jika benar, mengapa Begawan itu mengu- tus muridnya kesini?" tanya Gentong Ketawa he- ran.

Untuk pertama kalinya si kakek cebol ter- senyum. "Bocah edan ini setelah puluhan tahun terpisah dariku otaknya tetap goblok seperti dulu- dulu juga." batin si kakek.

"Eeh, mengapa guru tersenyum?" tanya si gendut jadi salah tingkah.

"Aku tersenyum karena merasa menyesal, mengapa sejak dulu aku tidak memelihara kele- dai. Karena aku menganggap keledai sama tolol- nya dengan dirimu." dengus si kakek cebol.

Wajah putih si gendut sempat bersemu me- rah. Tapi dia sama sekali tidak merasa tersing- gung mendengar ucapan gurunya yang paling dia segani. Sebaliknya Gentong Ketawa malah tertawa tergelak-gelak.

"Kalau dulu kau memelihara keledai, aku- pun ikut senang. Kemana-mana aku jadi bisa naik keledai. Ha ha ha." celetuk si kakek diiringi tawa berderai. Melihat muridnya si kakek gendut tertawa, maka si kakek pendek cebol mendadak hentikan wajahnya. Wajah si kakek yang angker kini berubah masam. "Gentong Ketawa....jadi ma- nusia jika tertawa, tertawalah sekedarnya. Agar jika kau bersedih, kesedihan mu hanya sekedar- nya pula. Saat ini kau sedang menghadapi satu masalah yang tidak kecil. Muridmu bisa tidak ke- tolongan jika begini caranya kau mengatasi satu masalah. Selain itu kita juga harus mencegah agar Bintang Penebar Petaka jangan sampai jatuh ke tangan pihak yang salah." kata Kuntet Mangku Bumi alias Dewa Kincir Samudera tegas.

"Guru, untuk memasuki Kuil Setan bukan suatu pekerjaan mudah. Satu-satunya pintu di kuil itu hanya terbuka dalam waktu tertentu. Se- dang saat ini aku tidak tahu dimana muridku di sekap." ujar si kakek gendut sambil mengusap wajahnya.

Mendengar ucapan muridnya, Dewa Kincir Samudera delikkan matanya. Hingga membuat si kakek gendut jadi menciut nyalinya.

"Kelebihan manusia dengan mahluk berka- ki empat, manusia itu diberi perasaan dan otak untuk berfikir. Dalam hidup ini hanya orang yang pandai menggunakan otak dan fikirannya yang dapat menguasai dunia. Kau punya badan begini besar, batok kepala juga besar. Di balik batok ke- pala yang besar itu apakah kau mempunyai otak sebesar nyamuk?"

"Sialan orang tua ini, menghina tidak pakai kira-kira," gerutu Gentong Ketawa. Walaupun ha- tinya kesal mendengar ucapan si kakek cebol, namun dia menjawab juga. "Otakku cukup besar juga guru. Tapi terkadang sering keluar kuning- kuningnya dari lubang telinga. Mungkin cairan yang keluar itu membuat otakku jadi sedikit beb- al, ha ha ha. "kata si gendut disertai tawa.

"Manusia tolol. Sejak kecil aku memang sudah memperkirakan kau akan seperti ini bila besar. Sesuai dugaanku sampai tua ternyata gi- lamu makin menjadi-jadi. Kau selalu tertawa da- lam menghadapi persoalan walaupun itu me- nyangkut urusan mati hidupnya seseorang. Seo- lah hidup dan dunia ini kau pandang indah dan menyenangkan. Lain kali jika bertemu denganku jangan suka tertawa, salah-salah kubetot copot lidahmu." hardik si kakek cebol.

"Jangan! Ampun!" desah si gendut. Saking takutnya si gendut buru-buru katubkan bibirnya. "Sekarang jangan membuang waktu lagi.

Sebelum akhir bulan sabit tiba dan muridmu di- jadikan korban persembahan untuk memuja kea- gungan Iblis Berjubah Merah kau harus ikut den- ganku!" tegas gurunya.

"Iblis Berjubah Merah baru kali ini aku mendengar namanya. Apakah guru dapat menje- laskan padaku siapa orangnya yang guru mak- sudkan itu?" tanya Gentong Ketawa.

Dewa Kincir Samudera terdiam sejenak. Setelah memperhatikan muridnya sejenak baru kemudian dia berkata. "Iblis Berjubah Merah itu- lah Yang Agung. Mahluk penguasa Kuil Setan. Konon kudengar dia masih mempunyai dua orang murid. Salah satu muridnya berwajah buruk mengerikan, sedangkan yang satunya lagi seorang gadis cantik jelita. Konon gadis itu adalah seorang bidadari yang terpesat di negeri ini dan sedang mencari jalan pulang ke Kayangan. !"

"Mengenai Yang Agung dan muridnya aku tidak perduli. Yang ku fikirkan saat ini adalah tentang keselamatan muridku dan seorang saha- bat yang bernama Ambini." kata Gentong Ketawa.

"Gendut tolol, apakah kau mengira jika kita dapat menemukan muridmu dan sahabatmu itu kita dapat membebaskannya begitu saja? Begitu banyak hal yang tidak kau mengerti dan sulit ba- giku untuk menerangkannya. Lebih baik kau iku- ti aku. Aku sudah mengetahui satu jalan rahasia untuk masuk menyusup ke dalam Kuil Setan." te- gas si kakek cebol.

"Apa maksud guru?" tanya si kakek gen-

dut.

"Gendut sinting. Sekarang waktunya bagi

kita untuk melakukan segala sesuatunya. Malam sebentar lagi segera menyelimuti tempat ini. Tiga penjaga Kuil Setan kekuatannya semakin berlipat ganda bila malam hari. Menghadapi Maut Kuning saja aku belum tentu dapat menjatuhkannya, terkecuali aku mengetahui titik kelemahannya. Apalagi jika Maut Merah dan Maut Biru mengga- bungkan kekuatan yang mereka miliki, bukit ini dengan mudah dapat mereka runtuhkan

"Tapi bukankah sebelum guru membawaku kemari, guru telah menghancurkan Maut Kuning dengan pukulan Lima Pusaran Kincir Dewa?" tanya Gentong Ketawa. Dia lalu ingat, sebelum gurunya membawanya pergi dari puncak bukit, dia melihat dua kepala Maut Kuning menggelind- ing di atas tanah. Selain itu tangan dan kaki pu- tus, pinggang terpotong menjadi dua bagian. Orang yang sudah dalam keadaan demikan rupa mungkinkah masih ada harapan untuk hidup kembali? Setidaknya Gentong Ketawa berfikir de- mikan.

"Kau benar, muridku. Lima sinar mautku memang telah membuat tubuhnya terpotong- potong menjadi beberapa bagian. Tapi kau harus ingat, tiga mahluk iblis itu memiliki ilmu Menyen- tuh Bumi Menyatu Badan. Jika bagian tubuhnya yang terpotong-potong itu menyentuh bumi maka dia akan hidup kembali. Terkecuali kita dapat mengetahui titik kelemahannya.

Menerangkan Dewa Kincir Samudera.

"Jadi guru sudah mengetahui titik kelema- han mahluk jahanam itu?" tanya si gendut.

"Belum. Sedang ku fikirkan." jawab si ka- kek cebol. "Apa... Kalau begitu kita sama tidak tahu dimana titik kelemahan mahluk itu? Padahal kita tidak dapat masuk ke Kuil Setan dengan leluasa sebelum dapat melenyapkan tiga mahluk sakti keparat. Guru kurasa....!" Gentong Ketawa ter- paksa telan kembali ucapannya karena begitu melihat kedepan Dewa Kincir Samudera ternyata telah lenyap dari hadapannya. Si Kakek gendut gelengkan kepala. "Kampret juga orang itu. Aku dibiarkannya bicara sendiri seperti orang gila." ge- rutu Gentong Ketawa. Sambil tersenyum-senyum si gendut kemudian berkelebat pergi menyusul gurunya.

4

Sore harinya di saat matahari hampir teng- gelam di ufuk barat. Sebagaimana yang telah di- perintahkan Yang Agung, pemuda berwajah bu- ruk berpakaian merah ini dengan dibantu oleh Maut Biru dan Maut Merah segera mengeluarkan satu sosok berdestar hitam berwajah angker yang sekujur tubuhnya dililit benang merah. Sosok se- tinggi galah berkerudung hitam ini bukan lain adalah salah seorang tokoh dunia persilatan dari tanah Andalas bernama Datuk Labalang dengan gelar Datuk Penguasa Tujuh Telaga. Dalam epi- sode (Maut Merah) telah sama kita ketahui ba- gaimana Datuk berkeinginan memiliki senjata he- bat Bintang Penebar Petaka. Tapi ketika dia bera- da di puncak Bukit di samping Kuil Setan. Maut Merah telah menghadangnya. Tokoh sakti ini ke- mudian bahkan dapat diringkus. Celakanya sungguhpun dia dapat memunahkan totokan Maut Merah. Tapi dia tak dapat memutuskan be- nang-benang merah yang melibat tubuhnya. Kini dalam keadaan terbelenggu demikian rupa Datuk Labalang hanya dapat delikkan matanya sambil memaki panjang pendek.

"Keparat jahanam, aku hendak kalian bawa ke mana?" teriak si kakek berbadan setinggi galah berang. Maut Merah dan Maut Biru, sosok berba- dan besar berleher panjang berkepala empat hanya keluarkan suara mendengus. Sedangkan Maut Tanpa Suara yang di bagian keningnya ber- lubang dimana di dalam lubang itu mendekam seekor ular berbisa tertawa tergelak-gelak.

"Orang tak dikenal setinggi galah. Kami akan mengantarmu ke gerbang maut. Kau tidak perlu takut apalagi gusar dan marah. Karena ada dua orang lagi yang akan menemani arwahmu menuju ke alam baka. Ha ha ha." jawab pemuda buruk wajah sambil tertawa terbahak-bahak.

"Pemuda muka setan, aku Datuk Labalang jangan kira takut menghadapi segala ancaman. Awas jika aku sampai bisa memutuskan benang- benang laknat ini tubuhmu akan kubuat hancur rusak mengerikan!" teriak sang Datuk yang saat itu tengah digotong oleh Maut Merah dan Maut Biru. Maut Tanpa Suara sunggingkan seringai mengejek. "Ucapan yang sama sering kudengar sema- sih dirimu berada di dalam ruangan Penentuan Ajal. Sekarang dalam keadaan menyedihkan begi- ni rupa kau masih juga tidak malu bicara besar?!" dengus Maut Tanpa Suara.

Wajah pemuda itu bergerak-gerak, mata membeliak mendelik besar rupanya dia merasa sangat tersinggung mendengar datuk Labalang menyebutnya 'muka Setan'. Sambil memandang penuh kebencian, Maut Tanpa suara meneruskan ucapannya. "Bagimu tidak ada lagi jalan selamat. Nasib perjalanan hidupmu telah ditentukan be- rakhir malam ini." Selesai berkata, mulut si pe- muda berkemak-kemik seperti orang membaca mantra. Lalu dia menunjuk ke halaman Kuil Se- tan sambil berteriak ditujukan pada Maut Merah dan Maut Biru. "Baringkan dia di ranjang Kebina- saan!" Bersamaan dengan ucapannya itu dari ujung telunjuk Maut Tanpa Suara menderu dan bergulung-gulung serangkum kabut merah. Begi- tu kabut sampai di arah yang ditunjuk pemuda itu, maka kabut melebar seluas satu tombak den- gan panjang lima tombak. Lalu terdengar suara letupan dua kali berturut-turut.

Bleep!

Satu pemandangan aneh sulit dipercayai kini terbentang di depan mata. Kabut Merah tadi sekarang telah berubah menjadi ranjang batu berwarna merah terang, sedangkan permukaan ranjang nampak basah seperti darah.

Diam-diam Datuk Labalang jadi kaget, jika pemuda itu mampu menciptakan sesuatu yang sulit dipercaya, dia tak dapat membayangkan be- tapa tinggi ilmu kesaktian yang dimilikinya. Seba- liknya Maut Merah dan Maut Biru tanpa bicara apa-apa segera membaringkan tawanannya diatas ranjang merah. Ketika tubuh sang Datuk diba- ringkan dan bagian punggung menyentuh permu- kaan ranjang batu, orang tua ini menjerit setinggi langit. Dia merasakan tubuh di bagian punggung laksana dibaringkan di atas bukit es, begitu din- gin membekukan hingga membuat sekujur tu- buhnya bergetar hebat sedangkan gigi bergemele- tukan tak sanggup menahan serangan hawa din- gin. Tak merasa putus asa, Datuk Balabang ke- rahkan tenaga dalamnya. Lagi-lagi dia dibuat ter- peranjat. Tenaga dalam yang berpusat di bagian pusat ternyata tak mau bekerja, seakan pusat pengendalian tenaga sakti itu telah menjadi lum- puh kehilangan daya.

"Kurang ajar, ternyata setelah berada di luar Kuil Setan keadaanku semakin buruk lagi," rutuk Datuk Labalang sambil menggigit bibir. Di depannya sana Maut Tanpa Suara tertawa terge- lak-gelak. Rupanya dia tahu apa yang hendak di- lakukan oleh kakek tinggi itu. Dengan suara lan- tang mencemooh dia berkata,

"Bukan saja hanya tubuhmu yang bisa membeku seperti patung es, tapi segala kesaktian yang kau miliki saat itu juga membeku tak dapat kau pergunakan sama sekali. Ha ha ha !"

"Terkutuklah kau wahai pemuda buruk laknat. Jika aku mati arwahku akan mengejarmu kemanapun kau bersembunyi. Kau dengar aku

akan membayangi terus hingga membuat dirimu tidak enak tidur tidak enak segalanya. Ha ha ha." Mendengar ancaman Datuk Labalang, rupanya Maut Tanpa Suara jadi ciut juga nyalinya. Dia la- lu menoleh, memandang ke arah Maut Biru. "Maut Biru sumpal mulutnya!" perintah si pemu- da.

Dua kepala yang menghadap ke depan mengangguk. Dua tangan berputar-putar di uda- ra.

Wuuut!"

Di tangan Maut Biru tahu-tahu setumpuk benda hijau kehitaman encer seperti bubur me- nempel ditangan itu. Sekali tangan Maut Biru berkelebat maka. Plok! Cairan biru itu menempel di mulut Datuk Labalang lengket seperti perekat. Sang Datuk coba buka mulutnya namun tak sanggup. Hidungnya mengendus-endus. Ternyata dia mencium bau pesing.

"Jahanam keparat! Aku seperti mencium bau kotoran kampret!" teriak si kakek dengan ma- ta mendelik. Tapi karena dua bibirnya terkancing rapat, tentu saja suara Datuk Labalang hanya sampai sebatas tenggorokannya saja.

"Tua bangka setinggi galah, setelah mulut mu ditutup dengan campuran air seni dewa ru- panya kau baru bisa diam. Ha ha ha. Sungguh akhir hidup ini semakin tidak menyenangkan ba- gimu." Dengus Maut Tanpa Suara sinis. Dalam keadaan begitu rupa si Datuk benar-benar mera- sa mati kutu. Tak ada yang dapat dilakukannya terkecuali hanya memaki di dalam hati.

Setelah puas tertawa, Maut Tanpa Suara kemudian berpaling pada Maut Merah, meman- dang pada mahluk berkepala empat itu baru ke- mudian berkata. "Maut Merah, cepat kau temui Dwi Kemala Hijau, katakan padanya agar dia dan Maut Kuning membawa pemuda dan gadis itu kemari. Sedangkan Maut Biru tetap bersamaku disini mengatur segala keperluan sebelum Yang Agung berkenan memimpin jalannya upacara penghormatan!" perintah pemuda itu. Maut Me- rah anggukan kepala. Dia kemudian memutar langkah dan berjalan secepat hembusan angin memasuki Kuil Setan dimana pintunya dalam keadaan terbuka.

***

Di dalam ruangan Penentuan Ajal paling tidak Gento masih dapat bernafas lega melihat Ambini ternyata dalam keadaan selamat. Dia yang dibaringkan tidak berjauhan dengan Ambini sejak pertama dijebloskan di ruangan itu oleh Maut Bi- ru terus memutar otak mencari jalan selamat. Ta- pi Gento Guyon masih belum menemukan cara terbaik untuk menyelamatkan diri, jangankan lagi menolong Ambini.

Dia sudah berusaha memutus benang biru yang membelenggu tangan dan kakinya. Akan te- tapi seakan tidak masuk akal benang itu sulit di- putuskan. Malah sampai tangannya lecet menge- luarkan darah upaya memutuskan tali benang ti- dak membawa hasil. Bukan hanya itu saja usa- hanya untuk memunahkan totokan Maut Biru ju- ga sia-sia. Berulang kali dia kerahkan tenaga da- lam untuk membebaskan diri dari pengaruh toto- kan. Tapi apa yang terjadi kemudian lebih meng- herankan lagi. Setiap kali si pemuda kerahkan tenaga dalam, setiap itu perutnya langsung mu- las, kepala sakit berdenyut sedangkan pandangan berkunang-kunang.

"Sial betul nasibku hari ini. Bagaimana be- nang sekecil ini tak dapat ku putuskan." rutuk murid si gendut Gentong Ketawa. Sebentar mu- lutnya komat kamit, entah membaca mantra en- tah sedang mengomel. Yang jelas suaranya tak terdengar sama sekali. Selesai komat-kamit mulut Gento cemberut lalu monyong dan kemudian be- rubah tegang. Rupanya dia ingat pada Si Tangan Sial. Sahabatnya sendiri yang oleh Maut Biru di- katakannya sebagai orang yang membawa Ambini ke Kuil Setan.

"Kampret sialan itu. Sungguh aku tak tahu apa yang terjadi padanya hingga membuat dia ja- di gila membawa sahabat sendiri ke tempat celaka ini." geram Gento dalam hati.

Di sebelahnya sana Ambini sejak melihat si gondrong bertelanjang dada ini dibawa oleh Maut Biru sesungguhnya jadi kaget juga gembira. Dia kaget karena tidak menyangka Gento muncul di tempat itu dan akhirnya kena ditawan.

Gembira karena sampai saat itu Gento ma- sih dalam keadaan selamat bahkan segar bugar. Ini berati Si Tangan Sial belum dapat melaksana- kan niatnya untuk membunuh pemuda yang di- am-diam sangat dikaguminya itu.

"Aku telah menguras fikiran untuk mem- bebaskan diri dari libatan benang celaka ini. Tapi aku tak habis fikir mengapa benang ini tak dapat ku putuskan. Ah... lebih mengherankan lagi, ku- lihat kau betah tinggal di ruangan terkutuk ini Ambini." Satu suara memecah keheningan. Ketika Ambini menoleh ke samping kirinya, ternyata yang barusan bicara bukan lain adalah pemuda yang baru saja difikirkannya.

"Gento sahabatku?!" sahut Ambini dengan suara bergetar diwarnai rasa rindu. Si gondrong bertelanjang dada hanya menyengir dan tidak da- pat menangkap getar perasaan Ambini. "Bagai- mana kau bisa sampai di tempat ini dan bersama dalam tawanan Maut Biru itu?" Ambini bertanya heran.

Si pemuda tertawa. Polos saja dia menja- wab. "Semula mahluk neraka itu menyaru menja- di gadis cantik. Setelah merayuku dan aku ham- pir tertarik padanya. Ah... tidak kusangka tubuh- nya berubah menjadi setan kuburan. Ha ha ha !"

Wajah si gadis sempat bersemu merah Di- am-diam hatinya dijalari perasaan tidak enak, ka- lau tak boleh dikata cemburu. "Jadi kau sempat dipeluk mahluk terkutuk itu?" dengus si gadis cantik.

"Ha ha ha. Mulanya dirinya hendak ku pe- luk, tak tahunya malah diriku kena diringkus- nya." sahut Gento Guyon sambil tertawa terke- keh-kekeh.

Wajah cantik putih Ambini bersemu merah, mulut bagusnya mencibir. "Dasar pemuda mata keranjang!" maki si gadis. Tawa Gento semakin bertambah keras. Ambini yang sempat dibuat kesal melihat si pemuda masih juga tertawa-tawa, padahal jiwa mereka tengah berada dalam anca- man bahaya besar segera berkata kembali. "Gen- to, tahukah kau apa yang bakal terjadi pada diri kita?"

Murid Gento Ketawa mendadak hentikan tawanya, kepala dimiringkan ke arah kanan. Dia memandang ke arah si gadis dengan mata berke- dip-kedip. "Apa maksudmu Ambini? Aku menden- gar akan ada pesta besar di pintu luar depan kuil. Konon penguasa Kuil Setan sedang berhajat hen- dak menjodohkan kita. Satu perhelatan besar se- dang dipersiapkan. Kita akan menjadi raja dan ra- tu semalam suntuk, bukankah begitu?" ucap Gento.

Mendengar ucapan si pemuda yang terus saja bergurau membuat Ambini delikkan ma- tanya. Sungguh mati mata itu semakin bertam- bah indah bila sedang mendelik. Dan saat itu Gento merasa jantungnya berdetak lebih cepat, perasaannya jadi tak karuan membuat dia ingin menggaruk kepala atau mengusap hidung. Tapi itu tak mungkin dilakukannya karena dua tan- gannya dalam keadaan terikat.

"Apa yang kau katakan itu mungkin benar, Gento." Menyahuti Ambini yang tidak berani be- radu pandang dengan pemuda itu lebih lama. "Tapi agar kau tahu, Yang Agung bermaksud menjadikan mu raja di dalam tungku bara nera- ka. Kau dan aku akan dibunuhnya, dikorbankan untuk menghormati kekuasaan Yang Agung. Jika kau memang ingin cepat mati, maka tertawalah sepuasmu sampai kau bosan. Sementara aku yang ingin hidup akan berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan diri dari ruangan Penen- tuan Ajal ini." kata si gadis tegas.

Melihat ucapan Ambini yang nampak ber- sungguh-sungguh membuat Gento Guyon jadi tercekat, dia menelan ludah namun mendadak tenggorokannya terasa kering.

"Ambini, kapan kita hendak dijadikan kor- ban penghormatan?" Gento Guyon ajukan perta- nyaan.

Si gadis gelengkan kepala. "Aku tak tahu, mungkin malam ini tapi bisa jadi lebih cepat dari waktu yang kuperhitungkan." jawab gadis berpa- kaian serba putih itu singkat.

"Waduh biyung, matilah aku" Gento men- geluh. "Semua ini gara-gara si Tangan Sial. Kalau bukan karena ulah dajal keblinger itu tentu nasib kita agak bagusan sedikit."

"Tak usah mengeluh, tak perlu menyalah- kan orang lain. Tangan Sial mungkin saja dipera- lat orang lain. Jika kita bisa membebaskan diri tentu nantinya kita bisa menyelidiki persoalan itu." kata si gadis.

Gento Guyon baru saja hendak mengata- kan sesuatu ketika terdengar suara pintu itu ber- geser disertai terdengarnya langkah-langkah kaki menuruni anak tangga ke bawah bergerak men- datangi mereka. Gento pasang telinga tajamkan pendengaran. Mendengar suara yang ada pasti yang datang ke ruangan itu bukan satu tapi ada dua orang. Ternyata dugaan si gondrong tidak meleset. Saat itu dia melihat ada dua sosok da- tang ke ruangan penyekapan. Karena ruangan ba- tu tempat mereka disekap diterangi cahaya merah meskipun temaram, Gento dapat melihat kehadi- ran sosok serba kuning berkepala empat. Mahluk mengerikan ini sama persis dengan mahluk biru yang menyerang Gento. Hanya yang membeda- kannya kulit tubuhnya saja yang berwarna kun- ing. Berbeda dengan sosok yang satunya lagi. Yang satu ini berpakaian serba hijau tipis tembus pandang. Kulitnya putih mulus, rambut panjang tergerai, wajahnya cantik luar biasa laksana bi- dadari. Karena saat itu dia berdiri dekat sekali dengan Gento, maka si pemuda dapat mencium bau harum tubuhnya.

"Gadis ini hantu jejadian atau seorang bi- dadari? Sejak tadi dia memandangiku. Pertama melihat aku nampaknya dia seperti terkejut?!" ba- tin Gento. "Kau pemuda tampan yang malang siapa namamu?" tanya si gadis serba hijau. Matanya yang bening memandang tajam ke arah Gento.

"Ha ha ha. Sahabatku itu Ambini, aku sen- diri Gento Guyon. Kau siapa? Benar-benar gadis cantik atau setan penunggu kuil yang tengah me- nyaru jadi gadis cantik?" sahut si pemuda sambil ajukan pertanyaan. Si gadis tersenyum. Ambini yang melihat itu jadi mendongkol. "Pemuda buaya itu, jangan-jangan begitu melihat jidad licin jadi lupa daratan." rutuk si gadis.

"Aku Dwi Kemala Hijau. Datang kemari un- tuk membawamu dan gadis itu keluar." Mene- rangkan gadis berwajah bidadari ini. Dalam hati dia berkata. "Tak kusangka orang yang kutunggu itu telah datang. Jika dia dapat kutolong, kelak mungkin bisa kuharapkan pertolongannya. Tapi bagaimana caranya? Yang Agung jika sampai ta- hu aku berkhianat padanya pasti akan menghabi- si aku. Lalu Maut Tanpa Suara juga pasti tidak tinggal diam, belum lagi tiga Penjaga Kuil Setan."

"Kemala.... Maut Tanpa Suara memerin- tahkan pada kita untuk membawa dua tawanan ini ke luar. Mengapa kita tidak segera laksanakan perintahnya?" Maut Kuning tiba-tiba menegur.

Dwi Kemala Hijau terkejut. Akan tetapi dia masih bisa bersikap tenang sambil menyahuti. "Kau boleh membawa pemuda ini, sedangkan aku yang akan mengurus gadis itu." ujar si gadis. Se- kali lagi dia berfikir. "Jika kuhabisi Maut Kuning sekarang, mungkin aku bisa menyelamatkan pe- muda gondrong ini. Aku tahu dimana titik kele- mahan Maut Kuning. Tapi bagaimana dengan ga- dis itu, apakah harus kubiarkan mati sia-sia? Ji- ka gadis itu sahabatnya Gento pasti sebagai sa- habat Gento tak mau terima temannya tewas pe- nasaran." Selagi Dwi Kemala Hijau tengah berfikir apa yang hendak dilakukannya. Pada saat itu Ambini berucap.

"Gadis serba hijau, jika kau ingin membu- nuh kami mengapa tak kau lakukan sekarang. Sejak tadi kulihat kau selalu tertegun dan sering memperhatikan sahabatku Gento. Apakah kau merasa tertarik padanya?" Gento sendiri sempat dibuat kaget mendengar kata-kata ketus yang di- ucapkan oleh Ambini.

"Apa lagi yang merasuki diri Ambini. Nada ucapannya ketus seperti seorang kekasih yang di- bakar rasa cemburu." kata si pemuda pelan.

Dwi Kemala Hijau melengak kaget. Tapi se- gera berkata tegas karena saat itu dia mendengar ada suara langkah mendatangi.

"Maut Kuning bawa pemuda sinting ini ke- luar!" perintah si cantik. Berkata begitu dia pa- lingkan wajah, memandang ke arah anak tangga. Ternyata yang datang adalah Maut merah. "Per- soalan cukup rumit, terlalu berbahaya bagiku jika harus menghadapi dua lawan sekaligus." pikir- nya. Dwi Kemala Hijau kemudian sengaja bicara keras ditujukan pada orang yang baru datang. "Maut Merah, bawa gadis ini keluar!"

"Kebetulan sekali, Maut Tanpa Suara me- mang memberikan perintah yang sama kepada- ku." sahut Maut Merah.

Dua mahluk berkepala empat masing- masing mendatangi Ambini dan murid Gentong Ketawa. Tidak berapa lama kemudian mereka membawa si gadis dan Gento meninggalkan ruan- gan itu. Jika Gento masih dapat tertawa, walau- pun hatinya dicekam ketegangan luar biasa. Se- baliknya Ambini yang berada dalam pondongan Maut Merah saking takutnya terus menjerit-jerit.

Sementara Dwi Kemala Hijau yang masih berada di dalam ruangan itu terus berfikir. "Bela- san tahun aku berada disini, aku harus mencari jalan agar dapat kembali ke Kayangan. Mungkin satu-satunya jalan yang bisa kuharapkan hanya dari pemuda itu. Tapi bagaimana aku bisa meno- long pemudanya?" batin si gadis bingung.

5

Satu sosok serba merah mendekam di balik legukan sejarak dua tombak dari puncak bukit di sebelah barat. Tak berapa lama sosok itu terus mengendap-endap merayap memasuki lorong sempit serba gelap sepanjang lebih kurang dua puluh tombak. Sampai di ujung lorong gelap dia menemukan sebuah dinding pembatas yang menghubungkan ke ruangan dalam dengan dunia luar. Sosok berpakaian serba  merah ini segera mendorong dinding batu. Karena dengan tenaga kasar batu yang di dorong tidak bergeming sedi- kitpun, maka sosok berpakaian merah dan me- makai ikat kepala warna merah dengan tujuh si- sik besar berwarna putih yang menyatu dengan kulit dada ini segera salurkan tenaga dalam ke- dua belah tangannya.

Tak lama kemudian dia mendorong dinding di ujung terowongan gelap itu. Sekali dua kali tangan bergerak, terus mendorong dengan penge- rahan tenaga dalam penuh.

Terdengar suara batu bergesekan disertai suara gemuruh perlahan. Batu berbentuk empat persegi dengan ketebalan lebih kurang sepanjang siku ini kemudian menggelundung ke dalam. Be- gitu batu menggelinding, dari balik lubang itu ter- lihat satu cahaya memancar dari dalam ruangan. Dengan tergesa-gesa sosok merah merayap ma- suk, sampai kemudian tubuhnya lenyap di balik ruangan.

Pada waktu yang bersamaan di ujung luar lorong tepat dibalik legukan batu muncul pula dua kakek berbadan tinggi besar luar biasa ber- sama seorang kakek bermuka asam berbadan pendek cebol bukan main. Si kakek cebol yang adalah Dewa Kincir Samudera begitu sampai langsung masuk ke dalam lorong rahasia. Karena tubuhnya kecil pendek bukan main, maka dida- lam lorong gelap itu dia dapat berdiri tegak malah bisa pula berjalan biasa. Lain halnya dengan si gendut besar Gentong Ketawa. Karena tubuhnya besar bukan main, mengingat kecilnya lorong dia tidak bisa mengikuti gurunya dengan cara me- rangkak, melainkan merayap seperti seekor ular besar yang kekenyangan. "Guru mengapa tiba- tiba berhenti?" tanya Gentong Ketawa ketika si kakek cebol bermata mencorong tajam hentikan langkah. Karena posisi berdiri Dewa Kincir Samu- dera persis di depan kepala Gentong Ketawa mau tak mau si gendut mengendus bokong gurunya. Si gendut besar bersin beberapa kali.

"Bau apa begini amat? Apa mungkin bau badan orang tua ini?" keluh Gentong Ketawa. Se- baliknya si kakek pendek kecil diam tidak me- nanggapi, hanya tatapan matanya memandang lurus ke depan dimana dia melihat ada cahaya merah samar membesit dari bagian ujung lorong. Bila mata si kakek tertuju ke ujung lorong, maka cuping hidungnya mengendus-endus.

"Aku merasakan sudah ada orang yang masuk mendahului kita, Gentong Ketawa bersiap- lah menghadapi segala sesuatu yang tidak diin- ginkan." kata Dewa Kincir Samudera memberi in- gat.

"Bagaimana kakek cebol ini. Bisa jadi dia membaui keringatnya sendiri bagaimana dia bisa berkata sudah ada orang yang masuk ke mari?" gerutu si gendut dalam hati. Namun dia tetap saja anggukkan kepala sambil berucap. "Apa yang guru katakan mungkin saja benar. Penciuman guru sangat tajam. Tapi siapa orangnya yang bisa mengetahui adanya lorong rahasia ini?" "Aku tak dapat memastikan mungkin Be- gawan Panji Kwalat sudah sampai di tempat ini untuk membantu muridnya. Atau bisa juga murid manusia laknat itu yang telah masuk kesini." ujar Dewa Kincir Samudera.

Selesai berkata sambil memasang mata dan telinga si kakek cebol kembali langkahkan kakinya. Sementara dibelakangnya sambil ber- sungut-sungut Gentong Ketawa terus mengikuti. Terus menerus bergerak seperti itu dalam kea- daan merayap tentu membuat si gendut merasa lelah apalagi perut besarnya terus bergesekan pa- da tanah yang dia lalui.

"Ini pekerjaan gila, jika terus dalam kea- daan begini perutku bisa ambrol." gerutu si gen- dut.

Pada akhirnya mereka sampai juga di ujung lorong dimana batu besar yang menjadi tembok pembatas antara lorong dan sebuah ruangan dalam keadaan terbuka lebar.

"Benar dugaanku sudah ada orang yang sampai di tempat ini mendahului kita. Cepat kita masuk ke dalam ruangan itu!" perintah Dewa Kincir Samudera pada si gendut.

"Ayolah, tubuhku juga sudah mandi kerin- gat akibat terlalu lama berada di dalam lorong pengap ini." sahut Gentong Ketawa sudah tidak sabar lagi.

Sambil tersenyum kakek berkumis dan berjenggot lebat dan sudah memutih sebagaimana halnya dengan bagian rambutnya itu melompati lubang batu berbentuk empat persegi. Kemudian si gendut Gentong Ketawa juga segera ikut me- nyusul.

Kini mereka sudah berada di dalam sebuah ruangan luas berlantai batu dan berdinding batu merah. Di dalam ruangan itu cahaya merah te- rang menyinari dari setiap sudut.

"Bagian dalam Kuil Setan ternyata begini indah dan megah. Tidak seperti yang kubayang- kan !"

"Apa yang ada dalam benakmu sebelum sampai ke sini?" tanya Dewa Kincir Samudera, sementara tatap matanya liar memandang kese- genap penjuru sudut. Dia merasa saat itu ada yang mengawasi kehadiran mereka, hanya si ka- kek tidak mengatakannya pada sang murid.

"Yang terfikir olehku selama ini Kuil Setan merupakan sebuah tempat angker dan dihuni oleh para setan gentayangan."

"Dasar murid sinting." dengus si kakek ce- bol. "Manusia sialan itu ku rasakan keberadaan- nya, tapi aku tidak dapat mengetahui dia bersem- bunyi disebelah mana?"

"Guru, apa yang engkau fikirkan?" tanya Gentong Ketawa yang melihat gurunya tertegun, mata jelalatan mulut komat-kamit seperti bicara seorang diri.

"Tidak apa-apa."

"Aku tahu kau pasti sedang memikirkan seseorang yang berada di dalam ruangan ini. Bi- arkan saja, kita punya kepentingan yang lain. Ke- selamatan muridku dan juga sahabatku lebih utama dari pada mengurusi segala macam tikus pengintip!" kata si gendut dengan suara sengaja dikeraskan. Agaknya supaya sosok yang mengin- tai mereka sengaja mendengarnya.

"Kalau begitu sebaiknya sekarang ini kita cari tahu dimana muridmu yang tolol itu dis- ekap." ujar si kakek cebol. Murid dan guru yang sudah sama kakek-kakek ini kemudian tinggal- kan ruangan itu.

Di balik gundukan batu empat persegi orang yang mendekam disitu kini bangkit berdiri. Dia ternyata adalah seorang pemuda berumur se- kitar dua puluh lima tahun, berpakaian serba merah, berambut gondrong kaku yang di ikat kain merah. Pemuda ini beralis tebal, matanya tajam mencorong menyimpan kebengisan juga kekejian. Di belakang pakaian merahnya terdapat sulaman gambar bumi, sedangkan ditengah sulaman gam- bar bumi membelintang garis putih berkelok- kelok tidak ubahnya seperti lintasan kilat. Ada- pun sosok pemuda angker ini bukan lain adalah Lira Watu Sasangka bergelar Panji Anom Pengge- tar Jagad murid tunggal Begawan Panji Kwalat. Memandang ke arah perginya Gentong Ketawa dan gurunya, si pemuda sunggingkan senyum si- nis.

"Kakek berbadan tinggi besar tadi dan ka- kek cebol itu, menurut ciri-ciri yang pernah dite- rangkan oleh guru adalah tokoh-tokoh sakti di- mana aku harus berhati-hati bila berhadapan dengan mereka. Orang seperti mereka mengapa harus ku takuti. Kalau keadaan tidak memung- kinkan apa salahnya aku membunuh mereka berdua?" gumam Lira Watu Sasangka disertai se- ringai mencemo'oh.

Tak lama kemudian pemuda ini mulai me- meriksa ruangan itu untuk mencari senjata pu- saka Bintang Penebar Petaka. Setelah mengha- biskan waktu sekian lamanya ternyata benda yang dicarinya tidak ditemukan.

"Kurang ajar, berapa banyakkah ruangan rahasia di dalam Kuil Setan ini. Mungkin aku ha- rus mencarinya di tempat lain," fikir Panji Anom sambil menggerutu tak karuan. Dia bermaksud memasuki ruangan yang terdapat disebelahnya. Ketika sampai di depan pintu, langkahnya men- dadak jadi terhenti karena dia mendengar suara hancurnya benda-benda keras seperti dibanting yang kemudian disusul dengan suara teriakan amarah seseorang.

"Benda pusaka itu bagaimana bisa raib jika tidak dicuri oleh seseorang? Jahanam keparat siapa yang melakukan semua ini? Bintang Pene- bar Petaka... oh, siapakah yang telah mengambil- nya?"

Di balik pintu kening Panti Anom berkerut tajam. "Orang itu mungkin saja pemilik senjata yang kucari" fikir si pemuda. "Jika benar Bintang Penebar Petaka telah dicuri oleh seseorang, siapa yang telah mencurinya? Keparat, aku telah da- tang terlambat. Mungkin pencuri itu sudah tidak lagi berada disini. Mungkin pencurinya telah jauh meninggalkan Kuil Setan ini. Siapapun orang yang berada di dalam ruangan itu aku tidak pe- duli, aku harus mengejar!" geram si pemuda. Tanpa membuang waktu lagi dia langsung berke- lebat tinggalkan tempat itu menuju lorong rahasia tempat dimana pertama kali dia datang.

6

Empat obor besar dipasang di empat pen- juru sudut. Cahaya menerangi kegelapan di seki- tar halaman Kuil Setan. Di langit bulan sabit di- malam ke sembilan masih belum terlihat, hanya kerlip bintang bertaburan menerangi. Di tengah- tengah halaman dibagian dalam dimana obor be- sar menyala, tiga sosok tubuh tergeletak tanpa daya di atas sebuah dipan batu merah. Sedang- kan tiga mahluk aneh berkepala empat terus menjaga mereka. Maut Tanpa Suara dan Dwi Ke- mala Hijau masih belum terlihat di tempat pen- gorbanan guna menghormati Yang Agung, pengu- asa Kuil Setan.

Dalam kegelapan malam, suasana disekitar Kuil Setan memang terasa sunyi mencekam. Da- lam pada itu si kakek setinggi galah yang terbar- ing di atas batu panjang yang terletak di sudut kanan tiba-tiba saja berbisik.

"Siapapun adanya kalian berdua, aku Da- tuk Labalang berharap hendaknya kita bekerja sama melakukan sesuatu guna menyelamatkan diri." kata si kakek setinggi galah melalui ilmu mengirimkan suara.

"Apa maksudmu orang tua tinggi?" tanya Ambini melalui cara yang sama pula.

"Berbuatlah apa saja yang dapat kalian la- kukan. Memang kita tidak saling mengenal, tapi apa salahnya kita bekerja sama guna menolong diri kita masing-masing?"

"Memang tidak ada salahnya, kakek. Tapi bagaimana kami bisa mempercayaimu, sedangkan kenal pun kita belum." celetuk Gento Guyon pula. "Dalam keadaan mau mampus masih kita

harus mengenalkan diri kita masing-masing? Kau dengar, begitu bulan sabit ke sembilan muncul nyawa kita sudah mendekati ajal. Kita tidak punya waktu banyak untuk saling kenal satu sa- ma lain!" ujar Datuk Labalang.

Mendengar ucapan sang Datuk, baik Am- bini maupun Gento sama-sama terdiam dan sama pula berfikir.

"Apa yang dikatakannya memang benar. Tapi dalam keadaan begini apa yang harus kula- kukan? Jangankan melarikan diri, menggerakkan tangan dan kaki pun aku tak sanggup!" keluh Gento. Sebaliknya Ambini juga berkata, "Aku memang tidak dalam keadaan terikat sebagaima- na halnya dengan Gento maupun kakek itu. Tapi apa bedanya. Aku sama sekali tak dapat mele- paskan totokan yang dilakukan oleh Si tangan Si- al!" batin si gadis dalam hati. Di tempatnya terbaring Datuk Labalang te- rus memutar otak mencari jalan. Matanya me- mandang ke berbagai arah. Sampai kemudian dia melihat obor besar, sekelumit harapan terselip dalam benak orang tua itu. Dia berfikir panjang batu maut dimana dirinya terbaring tercipta dari satu ketakutan sakti yang bersumber dari ilmu hitam. Andai obor dapat diambil, mungkin bisa dimanfaatkan untuk memusnahkan ranjang yang sangat dingin bahkan telah membekukan seba- gian dari kesaktian yang dia miliki. Tapi siapa yang dapat mengambil obor itu? Dirinya tidak mungkin, sedangkan si gondrong itu juga sama saja. Satu-satunya orang yang tidak dalam kea- daan terikat hanya gadis berbaju putih itu. Mungkin gadis itu bisa diharapkan dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan mereka dari ben- cana maut. Tapi bagaimana pun juga gadis itu tak dapat melakukannya? Beberapa saat lamanya ha- ti Datuk Labalang diwarnai kebimbangan. Di saat sang Datuk dalam keadaan seperti itu, di waktu Gento sendiri Sedang berusaha keras memu- tuskan benang-benang yang melibat tangan dan kakinya maka pada detik yang sama pula menda- dak pintu Kuil Setan yang tadinya dalam keadaan tertutup kini terbuka kembali.

Satu sosok berpakaian merah dan yang lainnya berpakaian hijau keluar menuju ke arah mereka dengan langkah lebar.

Kedua orang yang baru keluar dari dalam Kuil Setan itu bukan lain adalah Maut Tanpa Su- ara dan juga Dwi Kemala Hijau.

Ketika sampai di depan para calon korban- nya, Maut Tanpa Suara hentikan langkah sambil memperhatikan tiga sosok yang terbaring tidak berdaya. Lain lagi halnya dengan Dwi Kemala Hi- jau. Gadis secantik bidadari yang tubuhnya ber- warna kehijauan ini lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada Gento Guyon. Sejak tadi dia terus berfikir mencari cara untuk menyelamatkan Gento sebelum acara pengorbanan itu dilakukan.

"Bulan sabit ke sembilan sudah menam- pakkan diri di langit sana. Sekejap lagi acara akan dimulai." berkata Maut Tanpa Suara sambil memandang ke langit. Setelah itu dia memandang ke arah Maut Merah. Pada mahluk kepala empat itu dia berkata. "Maut Merah, siapkan kampak pemenggal kepala untuk memotong leher ketiga orang ini!"

Maut merah mengangguk dengan tubuh membungkuk kembali tegak, dua tangan yang menghadap ke bagian dada dihantamkan ke ta- nah. Tanah amblas disertai letupan keras. Ketika dua tangan ditarik kembali. Di tangan Maut Me- rah kini tergenggam sebuah kampak besar ber- warna putih mengkilat.

"Nampaknya aku harus bertindak. Maut Merah sudah memegang kampak. Jika tidak ku cegah, pemuda ini pasti segera menemui ajal!" ba- tin Dwi Kemala Hijau.

"Yang Agung sekejab lagi segera hadir di tempat ini, Maut Merah tumpahkan darah mere- ka. Kau, Maut Kuning dan Maut Biru segera ikuti aku untuk mengucapkan puji-pujian!" Maut Tan- pa Suara tiba-tiba keluarkan suara. Bukan hanya Gento. Ambini dan Datuk Labalang sendiri mulai dicekam ketegangan. Terlebih-lebih ketika Maut Merah dengan kampak siap ditangan mendekat ke arah mereka.

Dalam kesempatan itu suara racau aneh keluar dari mulut Maut Tanpa Suara juga dua mahluk kepala empat lainnya. Suara racau saling bersahut-sahutan diselingi suara lolong yang ti- dak ubahnya seperti senandung kematian. Ambi- ni keluarkan keringat dingin saat kampak di tan- gan Maut Merah mulai terarah di bagian lehernya. Melihat ini Gento berteriak keras.

"Mahluk terkutuk! Jika kau bunuh gadis itu, aku bersumpah akan mencabik-cabik tu- buhmu!"

Maut Merah tidak menanggapi. Hanya dari ke empat mulutnya terdengar suara erangan aneh saling susul menyusul. Maut Tanpa Suara sendiri sepertinya tidak terpengaruh mendengar ucapan Gento. Mulut tetap meracau, mata terpejam dan terus memimpin acara puji-pujian.

"Bocah, kekasihmu ternyata mendapat gili- ran lebih awal untuk berangkat ke akherat. Ha ha ha." Datuk Labalang berkata dengan suara keras.

"Kakek setinggi galah, nasibmu lebih be- runtung. Tapi kurasa kematianmu akan lebih mengerikan lagi!" sahut Gento yang semakin ber- tambah tegang melihat mata kampak itu kini su- dah siap memenggal putus kepala Ambini.

Suara racau puji-pujian lenyap. Maut Biru Maut Kuning katubkan mulut. Masing-masing mata tunggalnya yang menempel di bagian kening masih terpejam. Dalam kesempatan itu Maut Tanpa Suara yang berdiri tak jauh dari Dwi Ke- mala Hijau memberi perintah.

"Pemancungan dimulai!"

Maut Merah menggerung sambil gerakkan kampak ditangannya. Datuk Labalang meman- dang dengan mata mendelik. Sedangkan murid si gendut Gentong Ketawa berteriak.

"Ambini, gulingkan dirimu ke samping!"

Laksana kilat entah mendapat kekuatan dari mana si gadis lakukan apa yang diperintah- kan si pemuda. Dia gulingkan diri dan jatuh di samping Ranjang Kematian. Mata kampak yang memancarkan cahaya putih berkilauan itu ber- desing dan menghantam ranjang batu merah.

Bummm!

Hantaman mata kampak yang membentur ranjang batu mengeluarkan suara dentuman ke- ras. Puing-puing ranjang bertaburan di udara di- kobari api. Ambini terus gulingkan diri menjauh dari jangkauan kampak. Sementara ranjang le- nyap meninggalkan kepulan asap tipis. Maut Tanpa Suara yang tidak pernah menyangka adanya kejadian ini tersentak kaget dan buka ma- tanya. Melihat apa yang terjadi dengan penuh kemarahan dia berteriak pada Maut Biru dan Maut Kuning. "Tangkap dan bunuh ketiganya se- kaligus."

Si pemuda kemudian menoleh ke samping. Melihat Dwi Kemala Hijau diam tertegun seperti ragu pemuda buruk rupa ini membentak.

"Kemala mengapa kau tidak segera turun tangan membantu?!" tanya Maut Tanpa Suara terheran-heran.

"Pekerjaan semudah itu mereka bertiga pun sanggup melakukannya!" jawab si gadis sambil menunggu kesempatan untuk melarikan Gento.

"Kurang ajar, kau terlalu menganggap re- meh para tawanan itu!" pekik Maut Tanpa Suara.

Walau dia berteriak begitu, anehnya pemu- da ini tidak segera melakukan tindakan atau be- ranjak dari tempatnya berdiri. Mungkin karena dia melihat Maut Biru dan Maut Kuning kini su- dah berkelebat ke arah Gento dan Datuk Laba- lang, sedangkan Maut Merah mengejar Ambini sambil mengayunkan kampak besarnya. Walau- pun jiwa murid Gentong Ketawa sendiri saat ini berada dalam ancaman bahaya besar karena saat itu Maut Kuning telah lancarkan serangan, den- gan hujaman kuku-kuku yang panjang, namun pemuda ini masih berteriak ditujukan pada Am- bini.

"Kerahkan seluruh tenaga dalammu ke ba- gian yang tertotok. Setelah itu jangan kau layani mahluk gila penjagal, lari, tinggalkan tempat ini!"

"Aku tak akan meninggalkanmu! Bagaima- na aku bisa hidup tenang jika kau tidak selamat!" sahut Ambini sambil melakukan apa yang dipe- rintahkan padanya.

Ucapan si gadis memiliki arti serta kesan mendalam bagi Gento. Dia sendiri sempat menjadi kaget. Hatinya terharu, tapi juga senang. Namun dia lebih terkejut lagi ketika melihat sepuluh ku- ku berwarna kuning menderu mencabik bagian perut dan lehernya.

"Waduh biyung celaka aku!" desis si pemu- da yang jelas tak mungkin mampu menghindari serangan ganas itu karena kedua kaki dan tan- gannya dalam keadaan terikat.

Tapi di saat maut mengincar dirinya men- dadak sontak terdengar suara bentakan mengge- legar laksana merobek langit disertai dengan ber- kelebatnya satu sosok bayangan serba hijau ke arah Maut Kuning.

Dilain waktu tubuh Maut Kuning terpelant- ing ke belakang, jatuh menelentang dengan dada berubah hijau keracunan akibat terkena pukulan. Di sebelah sana tepat dimana Datuk Labalang be- rada juga terdengar pekik kesakitan! Ketika Maut Tanpa Suara memandang ke arah itu, dilihatnya Maut Biru yang hendak membunuh sang Datuk jatuh berlutut sambil dekap perutnya. Sedangkan tak jauh dari tempat kakek setinggi galah ini ter- baring berdiri tegak seorang pemuda berkulit hi- tam legam dengan sekujur tubuh di tumbuhi bulu berperut besar berpuser bodong. Kejut Maut Tan- pa Suara bukan alang kepalang. Dia sama sekali tidak menyangka acara pengorbanan yang baru dipersiapkan menjadi kacau. Lebih kaget lagi me- lihat Ambini kini sudah dapat pula membebaskan diri dari pengaruh totokan.

"Dwi Kemala Hijau, cepat bantu mereka. Para tetamu sialan ini harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya karena mereka telah mengacau- kan acara pengorbanan!" teriak si buruk rupa sangat marah sekali.

Si gadis dalam menghadapi suasana seperti itu menjadi ragu-ragu. Sebaliknya pada saat yang sana terdengar sosok serba hijau yang baru saja menyelamatkan Gento dari serangan maut sudah berkata. "Acara gila ini harus dihentikan! Aku tak ingin melihat ada pertumpahan darah lagi terjadi disini!" kata laki-laki bercelana hitam komprang yang sekujur tubuhnya berwarna kehijauan.

7

Ucapan laki-laki serba hijau yang bukan lain adalah Iblis Racun Hijau ini ternyata cukup berpengaruh. Membuat Maut Merah menahan se- rangan kampaknya yang tertuju ke arah Ambini. Maut Kuning juga berdiri tertegun, sedangkan Maut Biru walaupun siap menyerang Datuk Laba- lang kembali tapi tetap terpacak di tempatnya.

Di depan sana Maut Tanpa Suara meman- dang tajam ke arah Iblis Racun Hijau. Walaupun suasana di halaman Kuil Setan tidak begitu te- rang, namun dia dapat mengenali siapa adanya orang tua yang mulai rambut hingga ke ujung ka- ki berwarna hijau ini. Dia adalah tokoh sesat ber- hati baik yang masih terhitung sahabat Yang Agung juga sahabatnya sendiri.

"Paman Racun Hijau. Mengapa kau men- campuri urusan kami?" bentak Maut Merah pe- nuh teguran.

Si orang tua tertawa mengekeh. Dia melirik ke arah Gento Guyon sambil kedipkan mata ki- rinya. "Bocah konyol, keadaan begini genting. Aku sendiri tidak mungkin sanggup menghadapi me- reka berlima. Jika kau masih bisa semburkan lu- dah, maka semburkan ludahmu ke seluruh be- nang yang melilit tangan dan kakimu. Benang itu akan hancur dengan sendirinya.!" kata Iblis Ra- cun Hijau yang ternyata masih kenali si gondrong. "Sukur kau mau datang menolong dan

mau memberi tahu kelemahan benang sakti yang hampir membuatku celaka ini. Terima kasih pa- man biang racun." Sahut Gento sambil terse- nyum. Diam-diam pemuda ini kumpulkan air lu- dah di rongga mulut. Tak lama kemudian mulut- nya menyembur. Ludah berhamburan, begitu air ludah membasahi benang biru. Terdengar suara mendesis seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air. Libatan benang yang mengikat tubuh- nya raib berubah menjadi kepulan asap biru. Maut Biru tersentak kaget dan keluarkan suara menggerung begitu melihat lawan mengetahui ke- lemahan benang saktinya.

Maut Tanpa Suara yang melihat semua ini kini jadi tahu kalau Iblis Racun Hijau tidak berdi- ri di pihaknya. Sekali lagi sambil memandang kea rah Iblis Racun Hijau dia berteriak. "Paman Iblis Racun Hijau, masih belum terlambat bagimu un- tuk meninggalkan tempat ini. Jika kau tidak mencampuri urusan kami, aku menganggap per- sahabatan kita tetap berjalan sebagai mana yang kita harapkan. Tapi jika kau membangkang dan tetap keras kepala bukan hanya aku saja namun guruku Yang Agung pasti akan membunuhmu!"

"Ha ha ha. Diantara kita tetap bersahabat jika kau mau membatalkan acara pengorbanan gila ini.!" kata Iblis Racun Hijau. Mendengar ja- waban laki-laki berkulit serba hijau itu mendidih- lah darah Maut Tanpa Suara. Sementara itu sejak tadi diam-diam Iblis Racun Hijau berusaha mem- bebaskan totokan di tubuh Gento melalui tiupan dengan mulut.

"Tinggalkan batu ranjang kematian. Kau ti- dak bisa menghadapi mereka karena sebagian be- sar kesaktian yang kau miliki saat ini dalam kea- daan membeku." kata orang tua itu melalui ilmu menyusupkan suara. Gento hanya mengangguk- kan kepala. Hembusan yang dilakukan Iblis Ra- cun Hijau membuat totokan di beberapa bagian tubuhnya lenyap seketika.

Kini Gento dapat bergerak dan bangkit dari ranjang batu yang sangat dingin luar biasa.

"Aku tak mungkin pergi meninggalkan tempat ini! Kau telah menolongku paman Racun Hijau." "Bocah edan, saat ini tidak ada waktu ber- debat bagi kita." teriak orang tua itu. Dalam ke- sempatan yang sama Maut Tanpa Suara berteriak pula memberi aba-aba pada pengawal Kuil Setan.

"Kalian bertiga, bunuh keparat serba hijau itu!" perintah si buruk berbaju merah.

Maut Biru, Maut Merah dan Maut Kuning kini serentak berbalik menghadap ke arah Iblis Racun Hijau. Tiga mahluk berkepala empat ini se- rentak keluarkan pekikan menggeledek. Tubuh mereka secara bersamaan pula melesat, berkele- bat kea rah Iblis Racun Hijau. Dua belas tangan terjulur. Empat dari dua belas tangan tiga mah- luk itu lakukan gerakan menghantam kepala, empat lagi menyambar ke bagian dada dan yang lainnya mencabik ke bagian perut. Dua belas se- rangan maut ini tentu saja sangat berbahaya se- kali. Karena salah satu dari mahluk ini bila mela- kukan serangan saja sudah menimbulkan kesuli- tan besar bagi lawannya, apalagi kini ketiganya maju secara bersamaan. Tapi anehnya Iblis Ra- cun Hijau yang mendapat serangan hebat ini ti- dak nampak gugup, apalagi menciut nyalinya. Ke- tika dia melihat badai serangan datang dari tiga arah sekaligus, Iblis Racun Hijau langsung han- tamkan salah satu kakinya ke atas tanah. Tanah amblas disertai letupan keras menggelegar. Men- dadak bersamaan dengan itu pula tubuh Iblis Ra- cun Hijau lenyap. Dua belas serangan tangan mengenai tempat kosong. Bukan hanya ketiga penyerangnya saja yang di buat kaget, tapi semua yang melihat kejadian itu ikut terperangah.

"Dia punya ilmu Panglemunan!" desis Gen- to Guyon yang kini sudah berdiri tak jauh di sebe- lah Ambini dengan tubuh terhuyung-huyung aki- bat kehilangan tenaga dalamnya.

"Sebaiknya kita bantu orang tua yang itu!" ujar Ambini

"Aku memang sedang berfikir untuk mela- kukannya." kata si pemuda. "Tapi seperti yang di- katakannya, kurasa aku telah kehilangan tenaga dalamku. Aku merasa sulit sekali menggerakkan tubuhku. Semuanya terasa lemas tak bertenaga." keluh murid si gendut Gentong ketawa.

"Kurasa hal yang sama pun terjadi padaku, karena aku juga tadi sempat dibaringkan di atas ranjang kematian." ujar Ambini. Diam-diam si ga- dis coba salurkan tenaga dalamnya ke bagian tangan. Dia jadi terkejut karena tenaga dalam yang dimiliki ternyata tidak bekerja sebagaimana yang diharapkan.

Sementara itu Iblis Racun Hijau yang men- dadak saja raib, lenyap dari serangan lawan- lawannya dalam keadaan tidak terlihat semua orang yang ada di tempat itu kini berputar di uda- ra. Dua tangan di hantamkan ke bagian kepala Maut Kuning, Merah dan Biru secara berturut- turut.

Des! Des! Des!

Hantaman keras membuat ketiga lawan meraung hebat. Mereka terhempas, dua kepala yang menghadap kedepan yang lembek itu pecah menyemburkan darah. Tapi begitu tubuh mereka menyentuh tanah dan salah satu tangan menyen- tuh kepala yang pecah. Masing-masing kepala yang sudah tidak utuh itu kini bertaut kembali. Tiga mahluk aneh ini kembali bangkit, pada saat itu Iblis Racun Hijau begitu jejakkan kaki ke ta- nah, ujudnya kembali terlihat. Dia gelengkan ke- pala. Rasa kejutnya bukan olah-olah, belum lagi hilang rasa kaget yang menyelimuti diri orang tua ini, sekarang ketiga mahluk berkepala empat itu sudah menyerangnya kembali dengan kecepatan berlipat ganda. Enam tangan yang menghadap searah dada menyambar ganas ke arah Iblis Ra- cun Hijau. Berturut-turut sinar biru, merah dari kuning berkiblat. Laki-laki tua yang diserang menggerung dahsyat, tubuhnya berputar lalu mu- lutnya yang menggembung besar menyembur.

Pruuuh!

Laksana kilat pula cairan hijau berhambu- ran dari mulut Iblis Racun Hijau. Melihat apa yang dilakukan oleh Iblis Racun Hijau, Maut Tan- pa Suara berteriak ditujukan pada para penga- walnya.

"Racun Hijau?! Menghindar!"

Maut Merah, Kuning dan Biru sama sekali tidak menggubris peringatan murid majikan me- reka. Bukannya mundur, sebaliknya mereka me- rangsak maju teruskan serangan

Tes! Tes! Tes!

Enam sinar yang melesat dari jari tiga la- wannya langsung lenyap begitu berbenturan den- gan cairan racun yang disemburkan oleh Iblis Ra- cun Hijau.

Tiga mahluk berkepala empat itu menjerit tertahan. Semburan cairan beracun itu ternyata bukan saja hanya memusnahkan sinar berhawa dingin yang mencair dari ujung jari mereka. Lebih mengerikan lagi semburan racun lawan meng- hanguskan kuku-kuku mereka. Tanpa menghi- raukan rasa sakit yang mereka derita, dengan ce- pat mereka memutar tubuh. Dua tangan yang be- rada di bagian punggung kini menyambar.

"Pergunakan Benang Sakti Penjerat Dewa!" Maut Merah berteriak memberi aba-aba pada ka- wannya.

"Benang Sakti siap diluncurkan!" sahut Maut Kuning dan Biru bersamaan. Karena ketika berteriak empat mulut berucap serentak, maka di puncak bukit itu terdengar gelegar berkepanjan- gan. Ambini merasakan dadanya bergetar hebat, telinga berdenyut sakit dan pengang bukan main. Gento Guyon tutupi kedua telinganya, namun dia tidak dapat tinggal diam ketika melihat enam be- nang merah, biru dan kuning laksana kawat baja berturut-turut melabrak ke arah Iblis Racun Hi- jau.

"Pengecut...!" teriak Gento. Sambil melesat di udara dia hantamkan kedua tangannya mele- pas pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis. Pukulan ini warisan Tabib Setan. Walaupun Gento telah kehilangan sebagian tenaga dalam yang dia miliki. Tapi ketika dia menghantamkan kedua tangan ke arah tiga mahluk berkepala empat, dari telapak tangan pemuda ini melesat berturut-turut sinar hitam dan merah disertai deru angin panas ber- gulung-gulung.

Des! Des! Des!

Tiga hantaman telak ini membuat tiga mahluk berkepala empat yang menyerang mereka jadi terhuyung-huyung, hingga serangan enam benang yang nyaris melibat tubuh Iblis Racun Hi- jau meleset dari sasaran.

"Ha ha ha.. Terima kasih sobat sinting. Ji- ka enam benang sialan itu sampai melibat tubuh- ku, habislah sudah harapanku." celetuk Iblis Ra- cun Hijau

"Terima kasihnya simpan saja dulu. Lihat, mahluk keparat itu kini berbalik menyerangku!" teriak Gento. Dia yang sudah jejakkan kakinya di atas tanah kembali lepaskan pukulan Dewa Awan Mengejar Iblis sambil menghindari serangan be- nang yang meliuk menyambar ke bagian lehernya.

Bum!

Berturut-turut tiga pukulan melabrak Maut Merah, Kuning dan Biru. Kembali tubuh mahluk- mahluk ini terhuyung. Bagian dada hangus go- song, empat mulut dari ketiga mahluk ini sem- burkan darah. Tapi mereka seakan tidak merasa- kan sakit sama sekali sungguhpun saat itu mere- ka menderita luka di bagian dalam.

"Sahabat Gento menjauh, aku akan me- mandikan mereka dengan racunku!" teriak Iblis Racun Hijau. Sambil melompat mundur Gento menyahu- ti. "Racun Hijau, kau hendak memandikan orang, apakah dirimu sendiri sudah mandi. Sejak kau hadir dalam acara gila ini aku mencium bau bu- suknya bangkai dan asamnya bau ketiakmu. Ha ha ha!"

"Dasar pemuda sinting sialan!" damprat Ib- lis Racun Hijau. Sekali lagi orang tua ini sembur- kan mulutnya ke tiga arah. Tiga mahluk berkepa- la empat menggerung, dua tangan di bagian bela- kang berputar ke belakang lakukan tangkisan, sedangkan tangan yang berada di bagian depan terus gerakkan benang ke arah Iblis Racun Hijau. Dengan mengandalkan kecepatan gerak dan ilmu meringankan tubuh orang tua ini mampu meng- hindar dari libatan enam benang. Sementara semburan cairan racun yang dilancarkan secara bertubi-tubi kini menghantam tangan lawan- lawannya yang dipergunakan untuk menangkis. Bukan hanya itu saja sebagian cairan hijau yang kena ditangkis bahkan bermuncratan membasahi tubuh mereka.

Ces! Ces! Ces! "Arkh...!"

Maut Biru dan Maut Merah menjerit keras, tubuh mereka berkaparan. Tangan hangus berlu- bang. Tubuh mereka juga dipenuhi lubang akibat terkena percikan racun ganas yang disemburkan Iblis Racun Hijau. Sebaliknya Maut Kuning masih beruntung karena dia dapat selamatkan diri den- gan melompat ke belakang. Di depan sana Maut Biru dan Maut Kuning yang tubuhnya dipenuhi lubang hitam mengerikan dan mengepulkan asap berbau busuk dengan tertatih-tatih bangkit lagi.

"Mahluk sialan, bagaimana dalam keadaan seperti itu masih dapat bertahan hidup?" memba- tin murid Gentong Ketawa

"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini Gen- to. Mereka bukan manusia seperti kita, tapi iblis yang menyaru seperti manusia!" kata Ambini mengisiki. Rupanya dia merasa jerih melihat ke- hebatan mahluk penjaga Kuil Setan itu

Gento gelengkan kepala. Dalam kesempa- tan itu, selagi Iblis Racun Hijau merasa putus asa menghadapi kenyataan yang ada, lapat-lapat Gen- to mendengar satu suara membisiki. "Untuk membunuh mereka, hantam mulutnya, patahkan bagian gigi depan!"

Gento Guyon terkejut, dia memandang ke arah mana suara bisikan berasal. Rasa kagetnya semakin bertambah ketika melihat satu kenya- taan bahwa yang memberitahu kelemahan mah- luk berkepala empat itu bukan lain adalah gadis cantik berpakaian dan bertubuh serba hijau. "Mengapa dia malah membantuku. Apakah ini bukan satu tipuan?" batin si pemuda. Akan tetapi dia sudah tidak dapat berfikir lebih jauh lagi. Ka- rena pada saat itu Maut Kuning telah melabrak ke arahnya. Sedangkan Maut Biru dan Maut Me- rah dengan tubuh dipenuhi luka kembali menye- rang Iblis Racun Hijau.

"Sobatku gondrong sinting. Aku harus ba- gaimana, mahluk-mahluk keparat ini agaknya tak mengenal mati. Tubuhnya sudah hancur begitu tapi tidak mau mampus. Kalau terus menerus semburkan ludah, mulutku bisa kering sariawan!" keluh si orang tua.

"Agaknya kau harus minum air kencingku atau air kencingmu dulu. Biar racunmu semakin bertambah hebat. Tapi kalau tak mau pusing, ikuti saran sobatmu ini. Hantam mulutnya han- curkan giginya. Kujamin nyawa mereka amblas ke neraka! Ha ha ha!" sahut Gento. Sambil tertawa bekakakan pemuda, ini membalas serangan Maut Kuning. Karena dia sering bergerak, tanpa disada- ri pemuda ini tenaga dalamnya yang sempat membeku akibat tersedot ranjang kematian kini mulai berfungsi lagi. Sehingga ketika dia meng- hantam ke mulut lawan, terdengar suara deru angin laksana badai.

Maut Kuning terkesiap, empat tangannya lindungi mulut sambil melompat mundur. Namun Gento cukup cerdik. Begitu wajah di bagian de- pan dilindungi, dia lalu berputar dan kini meng- hantam wajah yang menghadap ke bagian bela- kang. Demikian cepat serangan itu, hingga Maut Kuning tidak sempat. menyelamatkan mulutnya dari hantaman tangan pemuda ini.

Prok!

Satu jeritan keras laksana merobek langit kembali terdengar. Maut Kuning terhuyung darah menyembur dari mulut yang kena hantaman. Se- lagi sosok Maut Kuning limbung, Gento Guyon melompat tangannya menyambar ke arah mulut.

Preet!

Sekali lagi terdengar suara jeritan keras. Maut Kuning terbanting. Ketika tubuh Maut Kun- ing menyentuh tanah, sosoknya langsung hancur meleleh, hangus menghitam hingga berubah jadi seonggok debu. Gento bergidik ngeri, Ambini sen- diri langsung tutupi wajahnya tak sanggup me- nyaksikan kejadian aneh itu.

"Sobatku Racun Hijau, kau sudah melihat, kau sama menyaksikan, tanpa gigi mereka tidak punya daya tak mampu unjuk kekuatan. Seka- rang tunggu apa lagi. Cepat habisi dua kunyuk itu!" seru Gento sambil unjukkan gigi runcing mi- lik lawan yang berhasil dibetotnya.

"Tenang saja, kau cuma dapat dua. Aku akan mencabut habis semua gigi milik Maut Me- rah dan Maut Biru." Selesai berucap Iblis Racun Hijau berkelebat, mulut terus semburkan ludah beracun, sedangkan dua tangan menyambar ke arah mulut lawannya.

Jika Maut Biru sibuk hindari semburan cairan beracun yang disemburkan lawannya sam- bil merangsak kedepan lancarkan serangan den- gan kedua tangan belakang yang dapat digerak- kan ke depan. Sebaliknya Maut Merah yang su- dah terluka parah berfikir lain. Dia kemudian ma- lah memutar arah. Dengan cara berlawanan se- bagaimana orang yang berjalan pada umumnya Maut Merah tanpa terduga berkelebat pergi mela- rikan diri dari tempat itu. Jika Gento tertawa ter- gelak-gelak melihat cara Maut Merah melarikan diri dengan punggung menghadap ke depan dan dada menghadap ke belakang sambil lepaskan pukulan saktinya. Sebaliknya Maut Tanpa Suara menjadi sangat marah.

"Maut Merah terkutuk, jahanam pengecut! Aku tak akan membiarkan dirimu mempermalu- kan Yang Agung!" Laksana kilat tangan kanan Maut Tanpa Suara lepaskan satu pukulan maut- nya. Sinar putih berkeluk-keluk laksana lintasan kilat menderu di udara. Kuil Setan laksana di guncang gempa. Puncak bukit sebelah selatan longsor. Pukulan Gento yang diarahkan ke arah Maut Merah saja sudah membuat puncak bukti laksana dikobari api, apalagi kini Maut Tanpa Su- ara mengarahkan pukulannya pada Maut Merah, dan juga pada Ambini serta Gento. Tak ayal lagi Maut Merah tenggelam oleh kedua pukulan itu.

Terdengar suara ledakan laksana gunung meletus. Api berkobar di ujung selatan bukit, ba- tu-batu dan pasir bertaburan di udara. Suasana berubah gelap. Di saat kegelapan menyelimuti puncak bukit, pada waktu itu pula terdengar satu jeritan. Semua orang tentu jadi kaget karena jeri- tan bukan berasal dari selatan bukit dimana Maut Merah melarikan diri, melainkan terdengar begitu dekat dengan mereka. Ketika empat obor yang sempat meredup terkena sambaran angin pukulan kembali menerangi tempat itu. Semua mata sama terpentang lebar. Ternyata yang men- jerit tadi adalah Maut Biru. Iblis Racun Hijau ter- tawa terkekeh-kekeh sambil unjukkan beberapa buah gigi berlumuran darah pada semua orang yang berada di puncak bukit itu.

"Gento... kau lihat. Aku berhasil menda- patkan gigi lebih banyak. Sayang Maut Biru kebu- ru hangus, sehingga aku tidak sempat mencabut sisa giginya yang lain. Ha ha ha!" kata si orang tua sambil unjukkan belasan gigi ditangannya pada Gento.

Melihat semua ini Gento tertawa menge- keh. Sedangkan Ambini meski pun sempat dilan- da ketegangan akibat hantaman pukulan Maut Tanpa Suara jadi tersenyum.

Jika di saat Maut Tanpa Suara melepaskan pukulan saktinya tadi Gento tidak cepat menarik pinggangnya dan membawanya menghindar dari pukulan lawan, mungkin saat ini dia hanya ting- gal namanya saja.

Sebaliknya Maut Tanpa Suara yang sempat memandang ke arah bekas ledakan semakin ber- tambah geram karena ternyata Maut Merah ber- hasil menyelamatkan diri. Kini dia berbalik menghadap ke arah ranjang kematian yang bera- da paling disudut kanan. Matanya mendelik besar mulut ternganga seakan tak percaya dengan pen- glihatannya sendiri.

"Dwi Kemala Hijau," desis Maut Tanpa Su- ara. "Kau lihat, jahanam setinggi galah itu ternya- ta hilang Raib dari tempatnya." kata pemuda itu sambil melangkah dua tindak ke depan. "Aku tak tahu bagaimana caranya dia melepaskan diri. Ta- di aku hanya melihat ada seseorang bertubuh hi- tam berdiri di sampingnya. Mungkin pemuda itu yang telah membawanya pergi!" sahut gadis se- cantik bidadari ini tenang.

Mendengar jawaban Dwi Kemala Hijau, pu- catlah wajah Maut Tanpa Suara. Dia memandang ke arah si gadis. Namun Dwi Kemala Hijau pa- lingkan wajahnya ke arah Gento. Gento Guyon jadi salah tingkah dan usap keningnya tiga kali.

"Pemuda muka kunyuk itu melarikan Da- tuk keparat, kau disini sejak tadi hanya diam sa- ja? Tidak melakukan sesuatu apapun juga tidak membantu Pengawal Kuil Setan. Sejak tadi kau kulihat malah sering melirik pada si gondrong ke- parat itu. Jangan-jangan....!" Maut Tanpa Suara terdiam sesaat sambil berfikir. Sekarang mata mendelik besar dengan tatapan seakan penuh ra- sa tak percaya. "Aku tahu sekarang, kau pasti yang menunjukkan kelemahan para pengawal Kuil ini pada musuh! Eeh... Dwi Kemala Hijau, apa sebenarnya yang ada dalam benakmu?" har- dik Maut Tanpa Suara.

Yang dibentak terdiam sambil tundukkan kepala. Iblis Racun Hijau, murid si gendut Gen- tong Ketawa dan Ambini saling pandang. Mereka sendiri tak tahu kapan kakek setinggi galah pergi bersama pemuda berwajah monyet besar. Tapi le- bih tak mengerti lagi melihat sikap gadis cantik luar biasa yang nampaknya berada di pihak me- reka. 8

Untuk sementara kita tinggalkan dulu, Gento dan Maut Tanpa Suara yang tengah terhe- ran-heran melihat sikap Dwi Kemala Hijau yang mendadak nampak berubah itu. Sementara itu pada waktu yang bersamaan di sebelah timur puncak bukit, di bawah keremangan cahaya bu- lan sabit di malam ke sembilan terlihat satu sosok tubuh berjalan dengan terseok-seok menjauh dari halaman Kuil Setan. Sosok hitam bertelanjang dada ini bukan berjalan melenggang. Karena di atas bahunya dia memanggul satu sosok berpa- kaian daster hitam dan berkerudung. Sosok tinggi panjang ini bukan lain adalah Datuk Labalang. Kakek setinggi galah yang tubuhnya dilibat be- nang merah. Adapun pemuda yang memanggul- nya dengan lidah terjulur karena lelah bukan lain adalah Memedi Santap Segala.

Seperti telah dituturkan sebelumnya begitu Memedi Santap Segala menemukan senjata Bin- tang Penebar Petaka, dia langsung keluar dari ruangan tempat penyimpanan senjata. Setelah itu tanpa menemui kesulitan dia langsung keluar da- ri Kuil Setan karena pada saat itu pintu kuil da- lam keadaan terbuka. Tapi betapa kagetnya pe- muda ini begitu melihat seperti akan ada acara pengorbanan di halaman kuil. Dia melihat ada ti- ga sosok tergeletak tanpa daya di atas ranjang. Saat itu Memedi Santap Segala yang telah berha- sil mendapatkan Bintang Penebar Petaka yang di- dapatnya secara tidak sengaja melihat Maut Me- rah sudah mengayunkan kampak besar ke arah leher seorang gadis cantik. Karena merasa tidak mengenal, Memedi Santap Segala kurang begitu perduli. Tapi di saat dia memandang ke ranjang kematian yang terdapat di sudut paling kanan dekat obor besar, kagetlah pemuda ini. Dia lalu menghampiri sosok tinggi panjang yang bukan lain adalah junjungannya sendiri Datuk Labalang. Secara tak terduga pada saat itu muncul Iblis Ra- cun Hijau hendak menolong seorang pemuda gondrong. Kehadiran Iblis Racun Hijau cukup menguntungkan bagi Memedi Santap Segala ka- rena perhatian semua yang ada di puncak bukit tertuju pada manusia hijau itu. Termasuk juga Maut Biru yang hampir mencelakai Datuk Laba- lang. Ketika kemudian terjadi perkelahian sengit dimana Maut Biru juga ikut mengeroyok Iblis Ra- cun Hijau, maka kesempatan itu dipergunakan oleh Memedi Santap Segala alias Mahluk Tangan Rembulan untuk membawa Datuk Labalang men- jauhi dari puncak bukit. Usaha ini tidak mudah, karena tubuh Datuk Labalang berat bukan main. Beberapa kali si pemuda nyaris terjungkal, lang- kahnya yang terburu-buru membuat kaki atau kepala Datuk Labalang tersangkut pada semak belukar atau batang pepohonan. Semua ini mem- buat Datuk Labalang sering mendamprat tidak putus-putusnya.

"Memedi Santap Segala, manusia kampret tak berperasaan. Kau kira diriku ini batang kayu? Kepalaku kau benturkan ke batang kayu, muka kau goreskan ke semak-semak. Tidak dapatkah kau memilih jalan yang lebih baik lagi!" semprot si kakek yang kakinya terkadang terpaksa terseret akibat terlalu panjang menjuntai.

"Datuk.... aku takut orang mengejar kita. Pula tubuhmu begini panjang, selain itu beratnya minta ampun. Melarikan dirimu dalam malam yang gelap begini aku tidak ubahnya seperti ma- kan biji kedondong Datuk. Di telan susah ditarik keluar juga susah. Selain tubuh Datuk yang pan- jang bukan main, seperti yang kukatakan tadi be- ratnya bukan kepalang. Mungkin Datuk kebanya- kan dosa, tobat Datuk sebelum maut datang men- jemput!"

Ketika bicara begitu Memedi Santap Segala, sedikitpun tidak tersenyum juga tidak tertawa. Malah kini semakin mempercepat langkahnya. Ti- dak perduli walau terkadang tubuhnya terhuyung ke kiri dan ke kanan.

"Budak hitam terkutuk, beraninya kau menggurui diriku?!" hardik Datuk Labalang.

Entah sengaja atau tidak, setiap kakek se- tinggi galah ini mendamprat, pasti kepala atau kaki Datuk Labalang terbentur pada batang kayu dan rerantingan pohon hingga membuat kakek berbadan kurus tinggi ini jadi semakin uring- uringan.

"Pemuda tukang makan, turunkan aku dis- ini aku ingin memutuskan benang-benang celaka itu sekarang!" perintah si kakek.

"Sekarang Datuk...?" tanya Memedi Santap Segala. Agak dia ragu, namun tetap hentikan langkahnya.

"Ya sekarang. Cukup turunkan!" perintah Datuk Labalang.

"Disini, Datuk? Di semak-semak ini?" tanya pemuda itu lagi.

"Bangsat bertanya melulu. Kupecahkan kepalamu!" dengus Datuk Labalang semakin ber- tambah kesal.

Memedi Santap Segala tersenyum. "Orang tua tak tahu diri. Menggerakkan tangan saja tidak mampu, konon mau memecahkan kepalaku!" ru- tuk si pemuda. Dia kemudian enak saja jatuhkan sosok Datuk Labalang di atas ranting semak. Be- gitu jatuh Datuk ini menjerit kesakitan sambil menyumpah.

"Pembantu kurang ajar, mengapa kau ja- tuhkan aku di atas reranting semak berduri?"

"Datuk ini bagaimana? Tadi aku hendak mengatakan tempat ini dipenuhi semak berduri. Tapi kau tetap ngotot." Sahut Memedi Santap Se- gala tenang.

Datuk Labalang menggerutu dan memaki- maki pembantunya yang bodoh. Dia gerakkan tangannya bermaksud menampar, tapi ketika sa- dar tangannya dalam keadaan terikat Datuk La- balang terpaksa telan keinginannya. Dalam ke- sempatan itu si pemuda membuka suara, "Datuk, kulihat benang ini bukan benang biasa. Sudah- kah Datuk berusaha memutuskannya?"

"Bagus, kalau kau tahu benang terkutuk ini bukan benang sembarangan, sekarang coba katakan padaku apa yang harus kulakukan? Aku telah berusaha memutuskannya tapi aku tak sanggup. "ujar Datuk Labalang berterus terang.

Memedi Santap Segala, dalam gelap ke- ningnya berkerut seakan tengah berfikir keras. Datuk Labalang cemberut. Dia tahu pembantunya ini tidak bisa memikirkan apa-apa. Otaknya tum- pul, daya fikir tidak berkembang. Mungkin cara berfikir pemuda itu hanya dua tingkat di atas monyet.

Tapi ternyata si kakek setinggi galah salah menduga karena pada saat itu Memedi Santap Segala berucap. "Konon orang yang telah diba- ringkan di atas ranjang kematian sebagian tenaga saktinya jadi membeku. Tapi itu tidak selamanya, begitu ia terlepas dari ranjang itu, jika masih ada nyawa dan nafasnya dia dapat menggunakan te- naga dalamnya kembali. Selain itu Datuk aku pasti bisa memutuskan benang merah yang meli- lit tubuhmu." ujar si pemuda. Mendengar ucapan si pemuda, Datuk Labalang berjingkrak kaget sambil delikkan matanya. Kembali dia memaki. "Pembantu sialan. Bicara seenak perutmu. Aku yang memiliki kesaktian begitu tinggi saja tak mampu memutuskan benang-benang ini, konon dirimu!"

"Datuk apa yang kuucapkan semuanya be- nar. Kalau Datuk tak percaya coba Datuk seka- rang kerahkan tenaga dalam yang Datuk miliki." ujar Memedi Santap Segala dengan mulut penuh makanan. Melihat pemuda itu nampaknya ber- sungguh-sungguh, Datuk Labalang diam-diam mencoba kerahkan tenaga dalam yang berpusat di bagian pusar. Mula-mula nafas ditarik perla- han, perut dikencangkan. Dalam gelap Datuk La- balang yang lebih dikenal dengan gelar Datuk Penguasa Tujuh Telaga dari tanah Andalas itu terkejut besar ketika merasakan hawa panas mengalir deras dari bagian pusarnya ke sekujur tubuh.

Sejenak lamanya wajah kakek setinggi ga- lah berubah cerah, namun dilain kejab ketika dia teringat sesuatu wajahnya sontak berubah mu- rung kembali.

"Apa yang kau katakan ternyata benar adanya, pembantuku. Tenaga dalamku pulih kembali, pengaruh ranjang kematian punah. Tapi apa gunanya? Walaupun aku memiliki tenaga da- lam dua kali lipat dari yang ada sekarang ini, ku- rasa aku tak bisa memutuskan benang merah yang melibat tubuhku!" keluh Datuk Labalang putus asa.

"Kau tidak bisa, tapi aku sanggup melaku- kannya Datuk. Tapi... tapi aku takut Datuk nan- tinya jadi marah padaku!"

"Eeh, apa maksudmu? Kalau kau bisa me- mutus benang laknat ini mengapa tak kau laku- kan? Jika kau sanggup menolong mengapa harus marah, malah aku harus berterima kasih pada- mu!"

"Datuk, ketika kita menjauh kesini, aku

sempat mendengar orang hijau itu mengatakan agar gondrong sinting menggunakan air ludah- nya. Aku tahu seumur hidup Datuk tidak pernah meludah, mulut Datuk kering. Kalau Datuk mau sekarang aku bersedia meludahi benang itu!" ujar Memedi Santap Segala.

"Air ludahmu tentu berbau busuk karena kau memakan makanan apa saja." dengus Datuk Labalang.

"Dua minggu setelah terkena air ludahku baunya memang tidak akan hilang, tapi saya kira sudah tidak ada jalan lain. Lebih baik badan jadi bau Datuk. Daripada pelarian kita diketahui oleh orang-orang dari Kuil Setan. Jika Datuk sampai tertangkap lagi, mana berani saya... aku memberi pertolongan."

Mendengar penjelasan pembantunya, mau tak mau Datuk Labalang harus bersedia meneri- ma kenyataan yang ada. Dengan bersungut- sungut kakek tinggi itu berkata. "Manusia salah kaprah, bicara beraku bersaya. Cepat lakukan tu- gasmu. Awas jika ternyata nanti kau tak mampu memutuskan benang ini, lidahmu pasti kubetot lepas dan mulutmu kubeset menjadi dua bagian!" akan si kakek berdestar dan berkerudung hitam.

Memedi Santap Segala usap mulutnya sen- diri. Membayangkan apa yang dikatakan Sang Datuk dia jadi miris. Karena dia sadar orang tua itu tak pernah bergurau dengan ucapannya. "Datuk, ku mohon jangan menakuti aku dengan ancaman seberat itu. Aku hanya berusa- ha, namun ketentuan ditangan Tuhan. Jika Da- tuk tak suka, biarlah aku pergi." Sambil berkata begitu Memedi Santap Segala beranjak dari tem- patnya. Namun Datuk Labalang buru-buru men- cegahnya "Sudah lakukan saja, ancaman ku tidak berlaku lagi bagi dirimu." Si pemuda kembali ke tempat duduknya di samping Datuk Labalang. Dia kemudian kumpulkan ludah didalam mulut, setelah mulutnya gembung besar baru kemudian dia menyembur?

Pruuuh!

Empat kali semburan dilakukannya bertu- rut-turut. Begitu air ludah menyentuh benang yang melibat tangan kaki dan badan Datuk Laba- lang, terdengar suara letupan empat kali bertu- rut-turut. Benang merah sakti hangus gosong mengepulkan asap hitam. Melihat kenyataan yang terjadi Memedi Santap Segala berjingkrak kegi- rangan, sedangkan Datuk Labalang segera bang- kit sambil mengusap-usap pergelangan tangan dan kakinya yang baru terbebas dari ikatan be- nang itu. Sejenak lamanya dia pandangi sang pembantu, matanya yang mencorong tajam me- mancarkan rasa terima kasih yang mendalam. Di saat dirinya merasa terbebas dari libatan benang itu, barulah kini si kakek ingat dan bertanya da- lam hati bagaimana pembantunya Memedi Santap Segala bisa membebaskan diri dari jebakan maut beberapa hari yang lalu. "Kau telah berbuat pahala besar, pemban- tuku. Tapi yang membuat aku heran, bagaimana kau bisa membebaskan diri dari lubang jebakan itu?", tanya sang Datuk. Sambil ajukan perta- nyaan orang tua itu melirik ke arah kegelapan di sebelah kirinya dimana dia melihat ada sosok tu- buh mendekam di balik pohon besar. Sosok itu telah berada di sana sejak tadi.

Memedi Santap Segala terdiam cukup la- ma. Bukan pertanyaan junjungannya yang dia ri- saukan. Melainkan dia tengah berfikir haruskan dia melaporkan apa yang ditemukannya di dalam ruangan penyimpanan senjata pusaka. Padahal kedatangan Datuk itu bersamanya ke tanah Jawa semata-mata adalah untuk mencari senjata yang kini tersimpan di dalam kantong perbekalannya.

Memedi Santap Segala jadi bimbang, dia sadar Datuk Labalang bukan manusia baik, ilmu kesaktiannya tinggi. Jauh sebelum berangkat ke tanah Jawa dia pernah mengatakan akan meng- habisi sedikitnya tiga tokoh golongan putih den- gan senjata yang dicarinya. Jika tiga tokoh sela- tan itu dibunuh dengan senjata Bintang Penebar Petaka, berarti Datuk Labalang berkuasa penuh di daerah selatan dan timur Andalas. Ini sangat berbahaya, karena Datuk Labalang manusia an- gin-anginan yang sulit ditebak maksud dan kein- ginannya.

"Memedi Santap Segala, mengapa kau di- am? Jawab pertanyaanku!" suara Datuk Labalang memecah keheningan. "Eeh, Datuk. Saya.... aku...dapat lolos dari dalam jebakan maut itu atas bantuan Batu Rem- bulan. Batu Rembulan yang menjebol pintu, tem- bus ke ruangan lain hingga aku dapat menyela- matkan diri." sahut si pemuda hitam berpuser bodong.

"Hanya itu saja, kau tak melihat atau me- nemukan dimana senjata yang kita cari?" tanya si kakek setinggi galah disertai pandangan menyeli- dik.

"Tid... tidak Datuk. Tidak ada sesuatupun yang kutemukan!" jawab Memedi Santap Segala gugup.

"Nafasmu tersengal, suaramu gugup. Jika tidak ada yang kau sembunyikan apakah saat ini kau sedang menderita sakit?" pancing si kakek.

"Betul Datuk, aku sakit. Aku lagi tidak enak badan "

Belum lagi suara Memedi Santap Segala le- nyap, mendadak saja terdengar satu suara ber- kumandang tak jauh dari tempat itu disertai tawa tergelak-gelak.

"Otaknya tolol, wajah lugu. Tapi dia adalah seorang pendusta besar. Ha ha ha!"

Jika si pemuda menjadi kaget, sebaliknya Datuk Labalang yang sudah mengetahui kehadi- ran orang hanya tersenyum sinis sambil meman- dang kearah datangnya suara 9

Sejenak dengan wajah pucat Memedi San- tap Segala pandangi sosok tua berdestar dan ber- kerudung hitam. Datuk Labalang tahu dirinya di- perhatikan, namun dia bersikap seakan tidak ta- hu. Tenang saja kakek setinggi galah ini berucap ditujukan pada orang yang baru bicara tadi. "Ta- mu dalam gelap, sudah kuketahui kedatanganmu sejak tadi. Mendekam disitu mencuri dengar pembicaraan orang bukan tindakan terpuji, kalau kau punya keperluan denganku atau salah seo- rang diantara kami sebaiknya cepat datang kema- ri!"

Sosok yang mendekam dibalik pohon bangkit berdiri, lalu dengan gerakan cepat sekali dia berkelebat. Dilain saat sosok berpakaian me- rah bertangan hitam itu telah berdiri tegak di ha- dapan Datuk Labalang. Beberapa jenak lamanya saling berpandang, namun pandangan sosok ber- tangan hitam itu kini lebih banyak tertuju ke arah Memedi Santap Segala.

"Tadi kau mengatakan pembantuku ini te- lah mengucapkan satu kedustaan yang besar. Pertama katakan siapa namamu dan apa maksud dari ucapanmu!" kata Datuk Labalang tegas.

"Aku Si Tangan Sial, sengaja datang ke Kuil Setan untuk menjalankan perintah seseorang. Aku ditugaskan mencari senjata Bintang Penebar Petaka. Senjata itu telah kuketahui letak penyim- panannya, sayang aku tak sanggup mengambil- nya. Tak lama kemudian muncul pemuda muka kunyuk itu. Entah ilmu kepandaian apa yang dia miliki. Kulihat dengan mudah tanpa halangan dia mampu mengambil senjata itu. Lalu aku mengi- kutinya. Mulai dari dalam Kuil, keluar dan sam- pai kesini. Sekarang cepat serahkan senjata itu padaku!" kata Si Tangan Sial dengan mata mene- rawang kosong dan wajah menggerimit menahan sakit.

Hanya sekali lihat Datuk Labalang tahu ka- lau laki-laki dihadapan itu sesungguhnya sedang mengalami penderitaan hebat. Entah apa bentuk penderitaan itu si kakek tak tahu. Dia bahkan tak peduli. Kini sang Datuk memandang ke arah Me- medi Santap Segala. Pemuda yang dipandang ce- pat sekali tundukkan kepala. Dalam hati dia membatin. "Tak mungkin ku serahkan senjata pada Datuk Labalang, juga tidak pada Tangan Si- al. Aku sendiri menginginkan senjata ini, tapi bila senjata ini sampai jatuh ke tangan orang yang sa- lah dia bisa menjadi malapetaka. Kurasa aku ha- rus kembali ke puncak bukit untuk mencari orang yang pantas mengamankan senjata ini."

"Memedi Santap Segala, pembantuku yang paling setia." ujar Datuk Labalang dengan suara lemah lembut. "Seumur hidup kau belum pernah berbohong padaku. Sekarang kuharapkan segala kejujuranmu, benarkah kau telah menemukan senjata Bintang Penebar Petaka?"

"Benar Datuk!" sahut si pemuda. Datuk Labalang tersenyum. "Kau hebat.

Hanya apakah kau tahu siapa kau?"

"Sa.. saya tahu Datuk. Engkau adalah jun- junganku, orang yang segala perintahnya harus ku patuhi."

"Kalau sudah tahu, jika sadar senjata yang kucari ada padamu sekarang coba serahkan sen- jata itu padaku" perintah si kakek setinggi galah.

"Datuk.... aku... aku bukan tak mau se- rahkan senjata padamu. Tapi sebaiknya Datuk singkirkan dulu orang itu Datuk. Jika Datuk su- dah dapat menyingkirkannya, senjata pasti kuse- rahkan padamu," janji Memedi Santap Segala. Datuk Labalang tergelak-gelak. Perasaannya saat itu gembira bukan kepalang.

"Ha ha ha. Kau mau aku berbuat apa pa- danya? Membunuh atau melubangi dadanya?" ka- ta Datuk Labalang.

"Mengenai itu urusan Datuk sendiri. Terse- rah Datuk mau berbuat apa. Menunggu kau me- ringkusnya, sekarang perutku lagi mulas Datuk, aku mau buang hajat besar, tidak jauh dari sini. Permisi dan terima kasih!" Tanpa menunggu ja- waban majikannya, terbirit-birit Memedi Santap Segala tinggalkan tempat itu menuju ke balik se- mak-semak belukar.

"Jangan kau coba minggat apalagi meng- hindar dariku!" seru Datuk Labalang mengin- gatkan. Sebagai jawaban dari balik semak belukar terdengar suara kentut besar. Sang Datuk me- nyumpah dalam hati. Kini dia percaya pemban- tunya itu memang benar-benar hendak buang ha- jat. Karena sudah menjadi kebiasaannya setiap hendak buang hajat Mahluk Tangan Rembulan selalu mengawalinya dengan kentut yang luar bi- asa kerasnya. Yakin pemuda itu tidak akan mem- buat ulah, maka kini Datuk Labalang langsung menghadap ke arah Si Tangan Sial.

"Manusia bertangan hitam, melihat rupa- mu melalui sinar bulan sabit ini aku tahu dirimu tengah menderita sakit yang sangat hebat. Orang menyuruhmu, kau menjalankan perintahnya dengan sangat terpaksa karena kulihat engkau sangat menderita. Jika kau mau aku bisa- meyembuhkanmu atau mencari dimana sumber penyakit itu tertanam. Tapi dengan satu syarat....

jika aku mampu menyembuhkan penyakitmu, ha- rap kau jangan lagi kemaruk untuk mendapatkan senjata Bintang Penebar Bencana. Penawaranku hanya berlaku satu kali, tidak pernah ku ulang. Kau boleh mempertimbangkannya." kata Datuk Labalang.

Di depan sana Si Tangan Sial memang sempat tertarik. Tapi begitu rasa sakit menyerang bahunya kiri kanan juga di bagian belakang leher, maka dia tak dapat berfikir normal. Apalagi ketika itu dia sempat ada suara orang mengancam. "Kau turuti perintahnya, maka penderitaanmu tidak hanya sampai disini saja. Kau akan kubuat men- jadi gila, hilang akal hilang kewarasan seumur- umur." Kata suara itu.

Bersamaan dengan itu  pula hawa dingin menyengat menyerang bagian belakang kepala dan terus menjalar naik ke dalam otak. Si Tangan Sial meraung keras, matanya seketika berubah merah laksana bara. Di depan sana Datuk Laba- lang sempat tercengang. Namun segera mengeta- hui kalau lawan dikendalikan dari jarak jauh oleh seorang. Ilmu hitam semacam ini banyak terdapat di tanah Andalas hingga membuat Datuk Laba- lang tidak begitu heran.

Baru saja kakek setinggi galah berkeru- dung hitam dan berdestar panjang menjela ber- warna sama ini hendak mengatakan sesuatu. Di saat bersamaan Si Tangan Sial telah berkelebat ke arahnya, kirimkan satu jotosan ke bagian wa- jah. Belum lagi jotosan sampai pada sasaran si- nar hitam berhawa dingin laksana es melesat mendahuluinya menghantam wajah si kakek. Ini merupakan tanda lawan mengerahkan tenaga da- lam penuh ketika lancarkan serangan tadi. Men- dapat serangan hebat dan sangat mematikan ini, Datuk Labalang miringkan kepala sambil men- dengus. Dua tangannya menangkis sambil beru- saha menangkap pergelangan tangan lawan yang meluncur deras ke arahnya.

Tangan lawan meluncur di samping kepala Datuk Labalang. Begitu melihat tangan melewati kepalanya, tangan kiri sang Datuk langsung ber- gerak laksana kilat menangkapnya.

Tangan yang menjotos muka tadi kena di- tangkap, tapi sang Datuk menjerit kesakitan dan langsung lepaskan cekalannya pada pergelangan tangan lawannya. Betapa tidak orang tua itu me- rasakan telapak tangannya laksana terbakar, me- lepuh di beberapa bagian dan langsung menghi- tam.

"Gila! Bagaimana dia mampu melepaskan pukulan berhawa dingin, sementara tangannya sendiri terasa panas bukan main" batin Datuk Labalang

"Tangan Sial. Berarti kedua tangan orang ini mengandung satu kesaktian aneh. Aku ingin melihat apakah bagian tubuhnya yang lain juga sama berbahayanya dengan bagian tangan" gu- mam si kakek.

Orang tua ini sudah tak dapat berfikir pan- jang lagi karena pada waktu itu Si Tangan Sial te- lah menggempurnya dengan serangan ganas ber- tubi-tubi yang terarah di lima bagian tubuhnya paling mematikan. Mendapat serangan maut ini Datuk Labalang masih dengan berdiri tegak lang- sung kebutkan lengah daster hitamnya. Segulung angin laksana topan menderu. Di udara terdengar ledakan menggelegar. Si kakek setinggi galah ke- luarkan seruan kaget, sedangkan tubuhnya ter- gontai-gontai. Didepanya sana Si Tangan Sial sampai tersurut sejauh dua tombak wajahnya pu- cat, bibirnya bergetar. Selain kedua tangan sak- tinya, bagian tubuh yang lain seperti disiram air panas. Akan tetapi seakan tak merasakan sakit apapun laki-laki itu sambil melompat ke depan kirimkan satu pukulan jarak jauh yang cukup berbahaya Sinar hitam kembali menderu, dua tangan yang ikut meluncur seakan berubah besar seperti pohon kelapa, mencari sasaran di bagian perut dan kaki lawannya. Datuk Labalang memang sempat tercekat, mata mendelik besar seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Tapi hal itu hanya berlangsung sesaat, karena detik ke- mudian dia sudah melompat di udara, berjumpa- litan begitu rupa hingga kini posisinya berada di belakang lawan. Serangan tinju besar yang men- garah di bagian perut memang luput, tapi tulang betis Datuk Labalang kena dihantam oleh lawan- nya.

Si kakek menjerit tertahan, tapi dia masih meneruskan serangannya ke bagian punggung.

Desss!

Si Tangan Sial jatuh tersungkur, Dibela- kangnya Datuk Labalang yang baru jejakkan kaki nampak terhuyung. Kakinya seperti putus ketika dia melihat ke bagian kaki, celana di bagian de- pan betis robek besar hangus terbakar dan masih mengepulkan asap berbau sangit. Lebih dari itu kulit dibalik celana juga nampak menghitam.

Terpincang-pincang sambil menyeringai kesakitan Datuk Labalang alias Datuk Penguasa Tujuh Telaga melompat ke depan. Saat itu Si Tan- gan Sial akibat terkena pukulan di belakang punggung semburkan darah dan masih belum bangkit dari tempatnya. Sambaran keras meng- hantam bagian pinggang orang tua bertangan sakti ini. Sambil mengerang Si Tangan Sial begitu merasakan sambaran angin dingin menerpa ba- gian punggung segera menggulingkan badan se- lamatkan diri. Gerakan yang dilakukan sayang kalah cepat dengan gerakan lawan. Di lain kejap Si Tangan Sial merasakan sekujur tubuhnya be- rubah menjadi kaku dan dia tak kuasa mengge- rakkan tubuhnya lagi.

"Jahanam terkutuk pengecut! Lepaskan to- tokan ini, aku ingin mengadu jiwa denganmu sampai mati!" teriak laki-laki itu.

Sebagai jawabannya Datuk Labalang men- ginjak kaki kiri lawan dengan satu hentakan yang keras. Si Tangan Sial meraung terlolong-lolong

Datuk Labalang tersenyum sinis, tangan- nya kembali berkelebat, menyambar pakaian la- wannya.

Bret! Breet!

Terdengar suara robeknya pakaian. Baju di bagian punggung Tangan Sial robek besar sehing- ga punggungnya dalam keadaan polos. Datuk La- balang pentang mata lebar memperhatikan pung- gung lawan. Dia lalu menyeringai begitu melihat kedua bahu lawan sampai di bagian leher meng- gembung besar berwarna merah seperti bisul yang hendak meletus.

"Tiga barang laknat yang membuatmu ber- tindak seperti sapi gila telah kutemukan. Aku tak tahu apa nama benda ini, namun aku yakin in- ilah jarum Penggedam Roh. Jika benar dugaanku, seperti yang sering kudengar berarti urusan se- makin bertambah besar. Konon pemilik jarum maut yang membuat orang kehilangan akal fiki- ran ini adalah Begawan Panji Kwalat!" kata Datuk Labalang.

"Jahanam apa yang hendak kau lakukan?" teriak Si Tangan Sial kasar.

"Ha ha ha. Seperti yang telah kukatakan, jika penyakitmu dapat kusembuhkan sebaiknya kau tak usah repot mengurus senjata, lebih baik kau urus dirimu sendiri!" Sekali lagi begitu selesai berkata Datuk Labalang gerakkan tangannya ke bagian bahu, berturut-turut jarum yang terbenam di bagian bahu kiri kanan juga di bagian belakang leher dicabutnya.

"Akrkh...!"

Si Tangan sial mengeluh tertahan. Perla- han dia merasakan belakang bagian tubuhnya yang terasa dingin dan menimbulkan sakit yang hebat di saat dia mencoba berpikir kini mulai le- nyap. Kesadaran orang tua ini kembali pulih. Dan dia nampak bingung tidak ubahnya seperti orang yang baru terjaga dari mimpi buruk berkepanjan- gan.

"Oh dimanakah aku!" desis orang tua ma- lang ini

"Kau berada di neraka, maka tidurlah kembali. Semoga kali ini kau mendapatkan se- buah mimpi yang indah." selesai bicara begitu Da- tuk Labalang acungkan telunjuknya di tengkuk Si Tangan Sial. Sinar biru melesat menyambar ba- gian tengkuk orang. Begitu tengkuknya terkena sambaran sinar biru, Si Tangan Sial merasakan matanya sangat berat. Mata itu dengan cepat ter- pejam, kepala terhempas. Dalam waktu tak sebe- rapa lama Si Tangan sial sudah mendengkur.

"Manusia bodoh." dengus Si Datuk sambil tinggalkan lawannya. Dia kemudian berlari ke arah mana tadi Memedi Santap Segala mengata- kan ingin buang hajat. Tapi begitu sampai di balik semak belukar dia jadi kaget karena dia tidak me- lihat pembantunya ada di sana.

Datuk Labalang mulai berteriak-teriak memanggil pembantunya. Tidak ada jawaban. Sunyi. Memedi Santap Segala lenyap.

"Tangan Rembulan, kau... kau berada di- mana?" teriak si kakek. Setelah menunggu bebe- rapa saat lamanya ternyata tak ada sahutan atau jawaban apapun. "Jahanam keparat. Aku kena dibodohi orang tolol, dia melarikan diri!" maki Da- tuk Labalang. Dia terdiam, mata nyalang mencari kian kemari. Sampai kemudian terfikir olehnya akan sesuatu. "Benarkah dia telah menipuku? Bagaimana jika dia diculik orang mengingat ba- nyak orang yang menginginkan senjata itu. Ah... mengapa selama ini aku berkenan memelihara manusia setolol itu?!" rutuk Datuk Labalang sambil tinggalkan tempat itu untuk mencari pem- bantunya. 10

Kembali ke puncak bukit di bagian hala- man Kuil Setan. Ketika bulan sabit telah berada di atas kepala. Pada saat itu Iblis Racun Hijau, Gento Guyon juga Ambini sudah berdiri berdeka- tan satu sama lain. Sedangkan didepan sana Dwi Kemala Hijau yang sejak tadi tundukkan kepala tanpa sadar melangkah menjauh dari saudara se- perguruannya sendiri.

Sekian saat lamanya tempat itu diliputi ke- sunyian. Dalam kesunyian itu yang terdengar hanya suara deru angin yang tidak ubahnya se- perti suara setan yang membisikkan kejahatan di hati setiap manusia.

"Dwi Kemala Hijau, kau tak mau menjawab pertanyaanku? Aku tahu kaulah yang telah mem- buat kehancuran bagi pengawal kuil ini. Mengapa kau lakukan kekejian itu Kemala? Mengapa kau bertindak seakan-akan berada di pihak musuh?" suara Maut Tanpa Suara itu terdengar memecah keheningan.

Untuk pertama kalinya gadis cantik yang wajahnya mirip bidadari itu palingkan muka, ma- tanya yang bening memandang ke arah Maut Tanpa Suara. Di bawah siraman cahaya bulan sabit mulut bagus Dwi Kemala Hijau membuka berucap. "Maut Tanpa suara, sesungguhnya aku bukan kerabat Kuil Setan. Aku adalah penghuni negeri Kayangan. Satu tempat yang sangat jauh dari sini. Sekarang ini aku ingin kembali ke negeri ku, tidak ada jalan kembali jika aku tidak men- dapat bantuan seseorang. Seseorang yang ku- maksudkan adalah pemuda gondrong yang ber- nama Gento Guyon!" berkata begitu Dwi Kemala Hijau menunjuk ke arah Gento hingga membuat murid kakek Gendut Gentong Ketawa itu jadi ter- cekat, bingung dan usap hidungnya.

Di sampingnya Maut Tanpa Suara ber- jingkrak kaget. Mata mendelik memandang tajam pada si gondrong. "Bantuan apa yang bisa kau harapkan dari pemuda gondrong edan itu? Apa- kah kau mengira Yang Agung akan melepaskan- mu begitu saja? Ha ha ha." tanya Maut Tanpa Suara disertai tawa mengejek.

"Aku tahu Yang Agung tidak akan melepas ku. Karena sejak dulu pun ketika diriku tersesat ke negeri ini dia telah menjebakku, dia memaksa agar aku jadi pengikutnya dengan kedok pura- pura dijadikan murid. Saat itu dirimu belum ada di kuil ini Maut Tanpa Suara, mungkin ketika itu kau masih menjadi angin, mungkin saat itu kau masih berada di dalam tulang rusuk ayah ibu- mu." ujar si gadis.

Mendengar ucapan Dwi Kemala Hijau Gen- to tak dapat menutupi rasa kagetnya. Dia tak bisa memperkirakan berapa usia gadis serba hijau ini sekarang. Ambini gelengkan kepala. Sedangkan Iblis Racun Hijau hanya tersenyum sambil ke- dipkan matanya pada Gento.

"Mungkin saat itu saudara seperguruanmu si muka buruk itu masih berada di dalam perut kuda, Kemala. Lalu dia jadi kentut dan begitu kentut keluar terhirup oleh ibunya. Ibunya ke- mudian hamil dan lahirlah anak manusia seba- gaimana yang ada didepan kita. Ha ha ha!" cele- tuk si gondrong disertai tawa berderai.

Wajah buruk Maut Tanpa Suara berubah mengelam. Walaupun kemarahannya pada Gento telah memuncak demikian hebat, namun dia ma- sih mencoba bersabar diri dengan berkata dituju- kan pada Dwi Kemala Hijau.

"Apapun keinginanmu, terlebih-lebih yang menyangkut masa lalumu apa hubungan den- gannya? lagi pula kau tidak mungkin kembali ke negerimu. Yang Agung pasti tak akan memberi izin, begitu juga aku!" kata pemuda itu tegas.

"Mengenai apa yang harus kulakukan atau pertolongan apa yang kuharapkan darinya kau tak perlu tahu. Yang Agung boleh saja melarang, kau bisa saja menghalangi. Tapi aku tidak perdu- li.!"

"Kemala, rupanya kau tak tahu bahwa se- lama ini aku....!" Maut Tanpa Suara tidak te- ruskan ucapannya

Gento tersenyum lebar. "Gadis cantik, aku tahu kelanjutan dari ucapan saudara sepergu- ruanmu itu. Dia pasti hendak mengatakan sebe- narnya selama ini menaruh harapan dan cinta padamu. Cuma karena disini ada kami dia jadi malu, bukankah begitu paman Racun Hijau?"

"Aku sependapat. Jika dia cinta pada gadis secantik ini boleh saja. Tapi rasanya dia harus mengikis wajahnya yang buruk biar jadi bagusan sedikit. Jika dia tetap dalam keadaan seperti itu, rasanya tidak sepadan antara si buruk dan si cantik berdampingan hidup bersama. Mending gadis ini menjadi kekasihku karena kami sama- sama memiliki kulit hijau. Ha ha ha." sahut Iblis Racun Hijau

"Kalau kalian jadi menikah apa jadinya nanti dengan warna kulit anakmu? Ha ha ha...!" kata Gento menimpali.

Ambini jadi cemberut, sedangkan Dwi Ke- mala Hijau jadi tersipu-sipu. Iblis Racun Hijau tertawa ngakak. Di depan sana wajah Maut Tanpa Suara sebentar memucat sebentar memerah. Tu- buhnya menggigil, pelipis bergerak-gerak, rahang menggembung pertanda bahwa kemarahannya sudah sulit dikendalikan.

"Manusia kurang ajar. Malam ini kalian akan terkubur di puncak bukit ini secara sia-sia." teriak Maut Tanpa Suara. Dia kemudian berpaling ke arah Dwi Kemala Hijau. "Kau tidak pernah pergi kemana pun apalagi bersama kunyuk gon- drong itu!" seru Maut Tanpa Suara. Bersamaan dengan ucapannya itu laksana kilat secara tak terduga Maut Tanpa Suara berkelebat ke arah si gadis dan langsung lancarkan satu totokan di ba- gian dada Dwi Kemala Hijau. Tapi rupanya gadis ini telah bersikap waspada sejak tadi, sehingga begitu dia merasakan ada sambaran angin dingin menghantam ke bagian dada dia langsung me- lompat mundur sambil melancarkan serangan ba- lasan berupa tendangan menggeledek ke bagian perut.

Dari bagian kaki si gadis menderu hawa dingin yang disertai dengan berkiblatnya sinar hi- jau yang langsung menghantam ke arah sasaran. Lawan tertawa mengejek, lalu dorongkan tangan kanannya menyambut tendangan lawan. Dengan tangan kiri dia balas menghantam. Dwi Kemala Hijau yang tahu kehebatan dan tenaga sakti yang dimiliki lawannya tidak menjadi surut ketika me- lihat lawan bukan saja hanya menangkis. Tapi sambil menangkis dia juga balas menghantam.

Tak dapat dihindari lagi benturan keras terjadi. Si gadis menggerakkan kepala ke bela- kang. Sehingga jotosan tangan kiri lawan luput namun akibat benturan antara kaki dan tangan kanan lawannya membuat Dwi Kemala Hijau ter- huyung dan hampir terjatuh. Selagi dirinya dalam keadaan seperti itu lawan telah berkelebat ke arahnya sambil lancarkan satu pukulan mengge- ledek. Si gadis nampaknya kali ini tidak dapat menghindar walaupun dia sudah mencoba berke- lit dengan memutar badan ke samping

Buuk! "Hukh...!" Gusrak!

Satu tendangan yang dilakukan Maut Tan- pa Suara tepat mendarat di bagian perut gadis serba hijau, hingga membuat gadis ini terpelant- ing roboh dengan perut terasa pecah, panas seo- lah mau meledak. Darah menetes dari sudut bibir Dwi Kemala Hijau. Belum lagi gadis ini sempat bangkit berdiri lawan telah menyerangnya kemba- li sambil hantamkan kakinya ke arah kepala gadis itu. Melihat ganasnya serangan yang datang itu tentu membuat Gento Guyon tak dapat tinggal di- am. Sambil berteriak keras dia menghantamkan kedua tangannya secara berturut-turut.

"Katanya cinta, mengapa sekarang berubah jadi benci? Konon sayang, mengapa sekarang ma- lah hendak dibunuh?" Suara si pemuda yang menggeledek tenggelam dalam gemuruh suara pukulan yang dilepaskannya sendiri. Melihat se- rangan datang dari arah sampingnya, Maut Tanpa Suara terpaksa batalkan serangan, kini dia berba- lik sambil memapaki serangan ganas yang dilan- carkan Gento Guyon.

Ketika tangan kanan Maut Tanpa Suara dihantamkan ke depan selarik sinar merah men- deru di udara. Hawa panas dan hawa dingin da- tang silih berganti. Satu benturan keras tak dapat dihindari lagi.

Terdengar suara ledakan berdentum. Kuil Setan laksana di guncang gempa. Dua sosok tu- buh sama terpental ke belakang. Di sebelah kiri dekat obor besar Gento terkapar, nafas megap- megap dada terasa sesak bukan main sedangkan dari mulut dan hidungnya darah nampak me- netes. Di depan sana tak jauh dari Kuil Setan, Maut Tanpa Suara jatuh terhenyak sambil dekap dadanya. "Pemuda gondrong itu ternyata tak da- pat dianggap enteng. Entah ilmu pukulan apa yang dia miliki, yang jelas aku merasakan sekujur tulang-tulang tubuhku laksana bertanggalan!" ru- tuk Maut Tanpa Suara. Tapi tanpa menghiraukan sakit dibagian dadanya pemuda itu bangkit lagi. Rasa dendamnya pada Gento demikian besar ka- rena dia menganggap pemuda itu telah menarik perhatian Dwi Kemala Hijau. Kini selagi Gento da- lam keadaan terlentang dia ingin menghabisinya.

Melihat gelagat yang tidak baik ini Ambini tidak tinggal diam. Dia langsung melompat ke arah Gento dengan sikap melindungi. Akan tetapi pada saat itu ternyata Maut Tanpa Suara, sesuai dengan julukannya tanpa mengucapkan sepatah katapun sudah berkelebat ke arahnya. Satu ten- dangan diarahkan pada Gento, satu hantaman keras menderu ke bagian bahu Ambini. Serangan yang dilakukan Maut Tanpa Suara ini bukan se- rangan biasa karena lawan telah mengerahkan seluruh kesaktian sekaligus tenaga dalam yang dia miliki. Melihat ganasnya serangan sambil ber- gulingan Gento berteriak.

"Ambini menyingkir!"

Entah mendengar atau tidak, yang jelas Ambini tidak bergeser dari tempatnya. Sementara Gento telah bergulingan ke samping hingga luput dari hantaman kaki lawan. Sebaliknya Ambini ke- rahkan seluruh tenaga dalamnya ke bagian tan- gan. Kedua tangan lalu didorongkan ke depan menyambut hantaman lawannya.

Buuuk! Deees! Hantaman yang luar biasa kerasnya itu ternyata tak dapat dibendung oleh Ambini. Tinju lawan menerobos pertahanannya hingga meng- hantam bagian ulu hati.

Ambini memekik kesakitan, tubuhnya ter- pelanting lalu jatuh terbanting dengan wajah pu- cat laksana mayat.

"Ambini....!" jerit Gento yang menyangka gadis itu tewas seketika. Laksana kilat dia berlari mendapatkan Ambini. Dia melihat dari mulut ga- dis itu mengucurkan banyak darah. Gento segera memeriksa denyut nadi gadis yang telah meno- longnya itu. Gento segera mengetahui Ambini menderita luka hebat di bagian dalam. Dia cepat tempelkan tangannya ke perut gadis itu, tenaga dalam disalurkan ke dada si gadis. Hingga Ambini kemudian merintih dan terbatuk-batuk. Ketika batuk darah lebih banyak keluar.

"Gento...!" rintih si gadis. Murid Gentong Ketawa memberi isyarat agar Ambini jangan bica- ra. Dari balik kantung celananya pemuda ini mengambil sebuah pil berwarna hitam pemberian Tabib Setan. Pil itu kemudian dimasukkanya ke dalam mulut Ambini. Ketika obat mujarab itu memasuki tenggorokannya, Ambini merasakan dadanya yang panas laksana terbakar kini beru- bah sejuk.

"Tetaplah kau berada disini. Kau belum bo- leh bergerak!" kata Gento. Setelah itu dia bangkit, kemudian membalikkan badan, hingga mengha- dap ke arah lawan. Namun pada saat itu lawan sedang menghadapi gempuran hebat dari Iblis Racun Hijau dan juga Dwi Kemala Hijau. Ternyata ketika melihat Gento dan Ambini terpukul roboh, Iblis Racun Hijau sudah tak dapat tinggal diam lagi. Kini mendapat serangan bertubi-tubi dari dua lawan sekaligus Maut Tanpa Suara nampak terdesak hebat. Beberapa kali pukulan yang di- lancarkannya tidak mengenai sasaran. Semua ini membuat Maut Tanpa Suara menjadi sangat ma- rah

"Bangsat-bangsat pengecut beraninya main keroyok!" teriak pemuda berpakaian serba merah itu sengit. Dia kemudian salurkan tenaga dalam- nya ke bagian tangan. Tak berselang lama kedua tangan itu telah berubah biru berkilauan.

"Hati-hati dia hendak menggunakan ajian Telapak Setan!" seru Dwi Kemala Hijau lantang. Gento yang saat itu hendak mengambil tindakan urungkan niat karena bagaimanapun dia tak mau bertindak pengecut dengan melakukan keroyo- kan, sungguhpun demikian dia tetap bersikap waspada menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini.

Pada waktu itu begitu mendengar peringa- tan Dwi Kemala Hijau. Iblis Racun Hijau hanya tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku tahu inilah ilmu yang paling hebat yang dimiliki oleh penguasa Kuil Setan. Malam ini aku ingin merasakan kehebatannya!" teriak Iblis Racun Hijau lantang. Sambil berucap begitu Iblis Racun Hijau tunggingkan pantatnya menghadap ke langit. Dua tangan ditempelkan ke permukaan tanah. Tenaga dalam dikerahkan, lalu disalurkan ke bagian kedua belah tangannya. Tak berapa la- ma kemudian dengan tubuh membungkuk dan tangan diacungkan ke arah lawan tubuhnya ber- kelebat.

"Heaaa. ..!"

Satu teriakan keras bergema di udara. Dari sebelah kirinya Dwi Kemala Hijau juga lepaskan satu pukulan menggeledek. Angin panas seperti puting beliung bergemuruh di udara. Maut Tanpa Suara yang yakin akan kehebatannya sendiri sambil berteriak lantang langsung menghantam ke dua arah sekaligus.

Wuut! Wuuut!

Untuk yang kesekian kalinya Kuil Setan laksana di guncang gempa.

Tiga sosok tubuh yang saling lancarkan se- rangan hebat dengan mengerahkan segenap ke- saktian yang mereka miliki nampak tenggelam da- lam kepulan pasir dan debu yang berterbangan di udara.

Di salah satu sudut diluar tempat terjadi pertempuran hebat, Gento yang sempat ter- huyung jadi gelengkan kepala, "Mereka rupanya sudah menjadi gila untuk membunuh hingga mengeluarkan seluruh kekuatan yang mereka mi- liki!" gumam Gento.

Bummm! Buuum!

Tak urung pemuda ini terpaksa jatuhkan diri sama rata dengan tanah ketika ledakan ber- dentum menggema di tempat itu. Satu jeritan ter- dengar, namun suara jeritan seolah lenyap di tin- dih suara gemuruh hebat akibat ledakan.

11

Beberapa saat kemudian ketika suara ge- muruh lenyap, dan debu, batu yang bertaburan di udara juga sirna. Maka Gento dapat melihat satu lubang hitam menganga di samping halaman Kuil Setan.

Tak jauh di depannya terlihat Iblis Racun Hijau tergeletak dalam keadaan terlentang. Seku- jur tubuhnya yang hijau pucat kotor berselimut debu, tangan bengkak menggembung sedangkan kening benjol besar. Perut orang tua ini berkedut- kedut, sedangkan nafas kembang kempis. Jauh di depan sana, di sebelah kiri Gento, Dwi Kemala Hi- jau nampak terduduk. Sebagian pakaian di ba- gian perut robek besar. Hingga terlihat kulit pe- rutnya yang mulus kehijauan. Melihat darah yang mengalir dari mulut gadis ini, nampak jelas saat itu dia menderita luka dalam cukup parah.

Sedangkan tak jauh dari lubang besar aki- bat ledakan terlihat satu sosok hitam hangus yang masih mengepulkan asap berbau busuk, menyengat. Itulah mayat Maut Tanpa Suara yang tewas akibat tak sanggup membendung pukulan yang dilancarkan kedua lawannya. Sekali lagi Gento gelengkan kepala. Kini perhatiannya kembali tertuju ke arah Iblis Racun Hijau. Melihat keadaan orang tua itu kini dia tertawa tergelak-gelak.

"Sungguh saat ini keadaan tubuhmu seper- ti seorang bocah yang baru tercebur ke dalam air comberan. Paman Racun Hijau, kau mau terus rebahan disitu, apa perlu kutolong?!" tanya Gento disertai senyum mengejek.

"Bocah edan sial!" damprat Iblis Racun Hi- jau. Dengan tertatih-tatih dan nafas megap- megap orang tua yang sekujur tubuhnya berwar- na hijau ini bangkit berdiri. "Keadaanku jadi tak karuan begini rupa, gara-gara menolongmu. Jika kau dan gadis itu kubiarkan sejak tadi kau sudah merat dari dunia ini. Aku... aku sendiri merasa tubuhku menjadi gerah. Aku harus kembali ke tempat asalku. Aku harus berendam di Telaga Hi- jau," kata Iblis Racun Hijau. Dia lalu menoleh ke arah Ambini. "Gadis yang terluka itu harus ku- bawa. Mungkin dia akan kuberi racun karena ob- at mu kurang mujarab!"

Mendengar ucapan orang tua itu Gento tentu saja jadi kaget. Dia memandang pada Am- bini dan Iblis Racun Hijau silih berganti "Paman Racun Hijau. Kau hendak membawa Ambini mau kau apakan rupanya dia?" tanya si pemuda. "La- gipula urusan disini belum selesai. Ambini me- mang sudah dapat kita selamatkan, tapi guruku entah dimana saat ini. Selain itu senjata Bintang Penebar Petaka juga masih belum ketahuan bera- da di mana." ujar pemuda itu lagi. Iblis Racun Hijau gelengkan kepala "Uru- san senjata dan juga mengenai dirimu itu menjadi tanggung jawabmu sendiri. Aku terus terang saja tidak dapat berada di luar telaga Hijau lebih lama. Karena tubuhku bisa kering, jika kering aku jadi sulit bernafas. Bahkan tubuhku bisa meledak. Sekarang aku harus pergi, sampaikan salamku pada gurumu jika dia panjang umur. Tapi jika dia meninggal nanti pasti akan kukirim karangan bunga dan panggang ayam ke pusarannya! Nah bocah edan, selamat berjuang. Ha ha ha!" berkata begitu dengan kecepatan laksana kilat dia berke- lebat menyambar Ambini.

"Hei, kodok.... apa-apaan ini....!" teriak Gento. Dia tidak tinggal diam. Dengan cepat pula pemuda ini menghalangi. Sayang kakinya terge- lincir hingga membuatnya terjatuh. Ketika dia bangkit kembali dilihatnya Iblis Racun Hijau telah raib. Jauh di bagian lereng bukit sayup-sayup terdengar suara tawa Iblis Racun Hijau yang dis- elingi oleh jerit Ambini yang memanggil-manggil nama Gento.

Dalam kebingungan pemuda ini hendak la- kukan pengejaran. Tapi ketika dia hendak laksa- nakan niatnya satu suara menegur.

"Biarkan saja gadis itu. Dia tak akan dis- akiti oleh Iblis Racun Hijau!" kata satu suara. Ka- get, Gento langsung menoleh. Kejutnya bukan ke- palang ketika menyadari orang yang baru bicara tadi ternyata adalah Dwi Kemala Hijau.

"A... apa maksudmu? Apakah kau mau mengajakku pelesiran? Aku pasti mau jika uru- sanku telah selesai. Apalagi walaupun tubuhmu hijau tapi wajahmu secantik ini! Ha ha ha." kata Gento sambil tertawa terbahak-bahak

"Gento, jaga kau punya mulut. Saat ini ada sesuatu yang amat penting ingin kubicarakan denganmu!" kata Dwi Kemala Hijau tegas.

Baru saja murid kakek Gentong Ketawa hendak membuka mulut keluarkan ucapan. Pada saat itu secara tiba-tiba terdengar suara bergemu- ruh hebat yang berasal dari bagian bawah perut bukit juga dari bagian dalam Kuil Setan. Bersa- maan itu pula terdengar suara raungan aneh yang begitu keras menggeledek.

Kemudian terdengar suara ratap bercam- pur amarah. "Jahanam terkutuk! Bintang Penebar Bencana raib, salah seorang murid jadi penghia- nat dan satunya lagi tewas. Darahnya tertumpah membasahi puncak bukit. Kuil Setan tak dapat ku pertahankan keutuhannya. Aku akan gen- tayangan. Semua orang yang mengusik ketenan- ganku pasti kubunuh!" teriak suara itu.

Suara gemuruh makin bertambah menghe- bat. Guncangan yang terjadi di puncak bukit ma- kin menggila. Kuil Setan retak disana sini.

"Gento    cepat kita menyingkir dari tempat

ini. Tadi yang bicara itu adalah Iblis Berjubah Me- rah.... dia adalah Yang Agung....!" teriak Dwi Ke- mala Hijau. Wajahnya yang cantik itu jadi beru- bah hijau pucat, mata mendelik memandang ke arah Kuil. Jelas sekali pada saat itu dia dilanda ketegangan luar biasa

"Lari... hendak lari kemana? Apakah ini yang namanya Kiamat?!" sahut Gento yang masih tercengang seolah tidak percaya.

"Sesuatu telah kita lakukan, darah pene- rusnya telah tertumpah. Tempat ini segera mele- dak!" teriak Dwi Kemala Hijau. Gadis ini kemu- dian berlari ke arah Gento, menyambar tangan pemuda itu lalu bermaksud segera meninggalkan tempat itu. Akan tetapi di saat yang sama menda- dak terjadi ledakan menggelegar laksana gunung meletus. Bukit meledak melontarkan apa saja yang ada di sekitarnya.

"Akhh...!" Gento dan Dwi Kemala Hijau sa- ma-sama berteriak ketika merasakan seakan ada satu tangan raksasa melontarkan mereka ke lan- git kelam. Dalam gelap tubuh mereka entah ter- campak ke mana. Sementara itu puncak bukit meledak, maka Kuil Setan juga ikut meledak dis- ertai semburan api yang berasal dari bagian ruangan dalam kuil. Ledakan-ledakan keras terus terdengar mengiriskan hati yang mendengarnya. Bersamaan dengan meledaknya Kuil Setan, diba- gian sebelah timur kuil dua sosok tubuh terpental di udara. Satu diantara dua sosok yang terlempar keluar dari dalam kuil itu yang satu berbadan gemuk besar luar biasa, sedangkan satunya lagi sangat pendek, kecil bukan main. Dua sosok ini kemudian melayang ke arah kegelapan dan le- nyap bersama lenyapnya suara jeritan mereka. Sementara pada saat yang sama pula dekat pintu kuil yang hancur menjadi puing-puing satu ca- haya merah laksana api nampak melesat mening- galkan Kuil yang hancur serta puncak bukit yang kini sudah sama rata dengan tanah. Cahaya me- rah itu kemudian lenyap di sebelah timur bukit yang hancur.

Ledakan-ledakan keras masih terus ter- dengar sesekali diselingi dengan suara lolong aneh serta pekik mengerikan seperti suara arwah gentayangan yang sedang menjalani penyiksaan yang hebat.

Malam terus berlalu, bulan sabit lenyap tenggelam di ufuk barat. Kuil Setan sudah tidak terlihat lagi. Hanya asap hitam mengepul, mem- bubung tinggi ke angkasa menyambut datangnya sang fajar.

TAMAT