Gento Guyon Eps 09 : Maut Merah

 
Eps 09 : Maut Merah


Satu sosok berkelebat dalam kegelapan malam melewati bukit gundul di sebelah selatan gunung Mahameru. Sampai di satu pedataran yang dikelilingi oleh sebuah lembah sosok ini hen- tikan langkah. Dalam gelapnya malam kepala di- julurkan sedangkan kedua mata dipentang lebar mencoba mengenali keadaan tempat dia berada.

"Gelap begini aku bisa kesasar ke mana- mana. Jelas aku bukan sedang menuju ke Kuil Setan, tapi memasuki lembah." Sosok itu mengge- rutu sendiri. Dia lalu mengambil sebuah benda berwarna putih sebesar telur dari balik kantong celananya. "Batu Bulan... he... he... he. Batu ke- sayanganku. Banyak nyawa terenggut karena hendak merebut benda ini dari tanganku. Dasar berjodoh denganku, benda ini sampai sekarang tetap berada di tanganku." Sosok itu kemudian acungkan tangannya ke atas kepala. Tenaga da- lam dikerahkan ke arah batu di tangan. Hawa panas mengalir deras ke arah batu, serta merta batu memancarkan cahaya putih kekuningan yang sangat terang menyilaukan mata. Begitu ca- haya yang memancar dari batu menerangi, maka terlihatlah wajah orang batu itu. Dia adalah seo- rang laki-laki bertelanjang dada bercelana putih komprang. Tubuhnya berkulit hitam legam, di- tumbuhi bulu halus lebat. Perut buncit, pusar bodong. Sedangkan kepala sosok berumur tiga puluhan ini botak sulah, hidung mancung, dagu lonjong dan mulut lancip. Yang anehnya, di seke- liling pinggang orang ini tergantung bermacam- macam makanan, juga beberapa jenis tengkorak kepala binatang. Sedangkan dari lubang hidung- nya selalu mengeluarkan asap biru pada setiap tarikan nafasnya.

"Aku sudah sampai di lembah. Kuil Setan pasti tak jauh dari sini. Sekarang dengan suluh Batu Bulan aku tidak mungkin kesasar lagi." ka- tanya. Dia tersenyum lalu mengambil makanan dari dalam kantong yang tergantung di pinggang.

Krauuk!

"Ha... ha... ha, enak. Semua makanan yang kutemukan rasanya pasti enak!" katanya sambil tertawa-tawa.

Kraaauk!

Kembali terdengar suara berkerotakan se- perti binatang buas memakan tulang. Sambil ter- senyum sendiri orang yang ujudnya mirip monyet besar ini lalu berlari menuruni lembah. Begitu so- sok ini menginjakkan kaki di dasar lembah berba- tu dan dipenuhi timbunan tulang belulang manu- sia mendadak terdengar suara ledakan beruntun. Sosok hitam ini menjerit panik dan terus berlari puntang-panting menyeberangi lembah.

Di satu tempat dalam kegelapan di bawah pohon besar, satu sosok lain yang mendekam di tempat itu sejak tadi tersentak kaget begitu men- dengar suara ledakan. Matanya yang terbuka le- bar langsung memandang ke arah mana suara le- dakan terdengar.

"Sial sekali bocah itu, mungkin makanan melulu yang diurusnya sehingga tidak dapat ber- sikap hati-hati. Dia rupanya tidak sadar sekarang ini tengah berada di mana?!" rutuk orang di ba- wah pohon dengan perasaan geram. Dia kembali memandang ke jurusan lembah, sementara pera- saannya mulai diliputi kegelisahan. Satu titik ca- haya kuning kemudian terlihat di kejauhan. Ca- haya itu terus bergerak ke arahnya. Sekali lagi sosok di bawah pohon tercengang, mata melotot, mulut memaki. "Bocah keparat! Otaknya benar- benar tidak berguna. Di tempat berbahaya seperti ini beraninya dia mempergunakan suluh segala. Bocah goblok, dia rupanya ingin mampus lebih cepat!"

Perasaan cemas meliputi diri sosok yang mendekam itu. Dia lalu julurkan kepala, mata menyapu sekitar kawasan di mana saat itu di- rinya berada. Kuil Setan, satu tempat yang sela- ma ini diselimuti kabut tebal dan menyimpan berbagai macam keanehan terlihat di kejauhan sana. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan atau bahaya yang konon muncul secara tidak terduga. Merasa aman sosok yang mendekam di bawah pohon kembali menoleh, memandang ke arah se- belah kirinya di mana cahaya kuning berkilau bu- lat seperti bola semakin bertambah dekat.

Kraauuuk!

Suara orang seperti memakan sesuatu yang sangat keras terdengar. "Keparat! Benar dugaanku, bocah setan itu selalu disibukkan dengan makanannya!" rutuk sosok hitam yang masih mendekam di tempatnya. Begitu orangnya muncul, maka satu tam-

paran keras menghantam wajah orang yang membawa suluh Batu Bulan. Orang itu terjajar, sosok yang mendekam bangkit berdiri. Ternyata dia adalah seorang kakek berumur sekitar sembi- lan puluh tahun berbadan tinggi semampai seper- ti galah. Wajah kakek itu dipenuhi keriput, mata belok berhidung seperti burung kakak tua. Selain pakaiannya yang berwarna hitam seperti daster, bagian atas kepala tertutup kerudung berwarna hitam. Beberapa saat lamanya kakek setinggi ga- lah ini pandangi pemuda yang memegang Batu Bulan. Setelah itu mulutnya yang tertutup kumis lebat menghitam terbuka, satu bentakan mengu- mandang memecahkan kesunyian.

"Kau hendak membunuh diri, Memedi San- tap Segala?" hardik kakek itu berang.

"Datuk Labalang, aku tak tahu apa mak- sudmu." kata pemuda bermuka seperti monyet bingung.

Satu tamparan keras mendarat di kepala pemuda yang bernama Memedi Santap Segala la- gi. Dia yang perawakannya seperti monyet besar tergontai-gontai. Batu Bulan yang berada di tan- gan kanannya nyaris terlepas.

"Datuk Labalang?!" seru Memedi Santap Segala sambil mengusap-usap kepalanya yang terkena tamparan. "Sekali lagi kau menamparku, mungkin kepalaku ini bisa meledak!" keluh si pemuda meringis menahan sakit. Dia memandan- gi Datuk setinggi galah, rasa takut ada, rasa kesal juga ada. Selama ini sejak pembantu sang Datuk, rasanya kakek tua ini sangat jarang sekali mema- rahinya. Entah mengapa malam ini si Datuk gampang sekali naik darah. "Tak mungkin dia marah tak berkejuntrungan jika persoalan yang dihadapinya kali ini tidak penting benar." batin Memedi Santap Segala yang dikenal dengan julu- kan Mahluk Tangan Rembulan menghibur diri.

"Kau masih belum mengetahui kesalahan- mu, Memedi sialan?" suara Datuk Labalang kem- bali memecahkan kesunyian.

"Aku... aku belum mengerti Datuk. Mung- kin kau marah karena aku datang terlambat, mungkin juga karena aku lebih banyak makan. Maafkan Datuk. Malam ini udara terasa dingin sekali, dalam dingin perutku mudah lapar." beru- cap Memedi Santap Segala dengan perasaan ta- kut.

"Mahluk tukang makan keparat! Perduli se- tan dengan dinginnya malam. Tarik tenaga da- lammu dari Batu Bulan sialan itu. Aku tak ingin ada cahaya, aku tak ingin ada mahluk apapun yang melihat kehadiran kita di sini. Mengerti?!" geram sang Datuk.

"Maaf Datuk aku baru mengerti. Aku baru ingat kita sudah berada begitu dekat di sarang se- tan." sahut pemuda itu dengan suara perlahan sekali. Memedi Santap Segata hentikan pengera- han tenaga dalam ke Batu Bulan. Dengan begitu batu aneh yang memancarkan cahaya putih kemi- lau kekuningan ini berubah redup dan kemudian padam. Batu dimasukkan ke dalam saku celana.

Sesosok berdaster hitam berkerudung hi- tam kembali duduk di tempatnya. Dia menarik nafas, masih agak jengkel melihat ketololan pem- bantunya. Lama dia terdiam, sementara sepasang matanya yang belok memandang lurus ke arah satu bukit di mana di bagian puncak bukit yang diselimuti kabut terdapat sebuah kuil angker yang dikenal dengan nama Kuil Setan.

"Datuk, sejak berangkat dari tanah sebe- rang kau mengatakan hendak menyambangi Kuil Setan. Mengapa sekarang kita malah duduk di si- ni? Kita berada di bawah pohon, bukan di dalam sebuah gedung atau bangunan tempat ibadah yang banyak bertebaran di daerah kita. Datuk... di sini banyak nyamuk, aku mulai mengantuk. Kalau diizinkan apakah boleh aku tidur barang sekejap?" tanya Memedi Santap Segala. Pemuda berkulit hitam legam yang sekujur tubuhnya di- tumbuhi bulu halus berperut besar berpuser bo- dong menelan ludah ketika melihat sang Datuk memandangnya dengan mata mendelik. Meskipun saat itu dalam keadaan gelap gulita, tapi dalam gelapnya malam mata sang Datuk memancarkan cahaya merah, sehingga di saat kakek renta ini delikkan matanya. Sepasang mata yang belok itu bagai hendak melompat keluar.

"Sekali lagi kau bicara yang tidak berguna lidahmu pasti kubetot lepas!" maki Datuk Laba- lang sengit.

Si pemuda berubah ciut nyalinya. Dia lalu terdiam dan ikut memandang ke arah di mana sang Datuk tengah memusatkan perhatiannya.

Kesunyian mencekam, di langit terlihat bintang-bintang bertaburan memancarkan kerlip cahaya bagaikan mutiara bertaburan di atas per- madani biru. Sang Datuk menarik nafas pendek, kini kepalanya yang tertutup kerudung hitam memandang ke langit sebelah timur. Di sana ca- haya kuning keemasan mulai terlihat, perlahan bulan sabit lima hari munculkan diri. Sang Datuk memperlihatkan satu seringai aneh. Melihat maji- kannya menyeringai, Memedi Santap Segala ikut pula memandang ke atas. Tiba-tiba pemuda itu berjingkrak, wajahnya memperlihatkan rasa gem- bira yang tiada tara.

"Bulan yang ku rindu... bulan pelita ku su- dah menampakkan diri. Malam ini aku bersuka ria, aku akan menari sambil menyanyi. Hi... hi... hi." berkata begitu sekonyong-konyong Memedi Santap Segala alias Mahluk Tangan Rembulan hendak bangkit. Tapi dengan cepat satu tangan yang kokoh, besar dan panjang mencekal bela- kang lehernya. Begitu kena dicekal tubuh si pe- muda dibanting, hingga membuat Memedi Santap Segala jatuh terhenyak.

"Datuk...! Aku...." Si pemuda tidak jadi me- neruskan ucapannya begitu melihat Datuk Laba- lang menekankan jari telunjuknya ke bagian leh- er.

"Di sini bukan tanah seberang. Kita berada

di tempat asing, suatu daerah yang konon paling rawan dengan segala macam bahaya. Jika kau ti- dak mau diam atau coba membantah perintahku. Kuberi kau satu kebebasan, pergi menjauh dariku dan jangan pernah mencariku lagi. Jika kau ma- sih mau ikut denganku dan mau menjadi pem- bantu yang setia sampai aku mati. Sekarang su- dah waktunya bagi kita untuk mempersiapkan di- ri memasuki Kuil Setan!" tegas si Datuk.

Memedi Santap Segala mendadak merasa- kan tenggorokannya menjadi kering, nafas ter- sendat seperti tercekik.

"Datuk, jika kau mengusirku tak tahu aku pergi ke mana. Dulu aku pernah berjanji menjadi pembantumu yang paling setia sampai aku mati!" sahut pemuda itu.

"Kalau begitu ikut perintahku. Jangan bi- cara apapun jika tidak kutanya!" kata si kakek. Memedi Santap Segala anggukkan kepala. Kemu- dian diam dengan kepala tertunduk.

2

Di sampingnya kakek setinggi galah terus memandang ke depan di mana sebuah bukit yang diselimuti kabut berdiri tegak di tengah kesu- nyian mencekam. Sementara bulan sabit di atas sana nampak semakin bertambah jelas, pada saat itu pula terdengar suara lolong serigala. Suara lo- long yang datang sayup-sayup di kejauhan sea- kan mengingatkan seseorang akan datangnya sang maut.

"Kuil Setan, siapapun yang menghuni di dalamnya aku tidak perduli. Begitu jauh aku mengarungi lautan bukan untuk satu kesia- siaan. Senjata pamungkas Bintang Penebar Ben- cana sejak puluhan tahun yang silam merupakan senjata yang menjadi idaman bagi setiap tokoh di rimba persilatan untuk memilikinya. Aku seorang Datuk, penguasa di daerah timur tanah seberang. Sudah kudengar kehebatan Mandau dari tanah hijau, sudah kudengar pula kehebatan rencong dari tanah Aceh, tapi senjata yang satu ini konon memiliki seribu satu kesaktian, mampu mengha- bisi sepuluh tokoh sakti sekaligus juga mengan- dung racun hebat mematikan!" batin Datuk Laba- lang.

Di langit bulan sudah berada di tengah titik edarnya. Si kakek menyeringai, dia menoleh ke samping di mana Memedi Santap Segala sambil tundukkan kepala tampak sibuk menyantap ma- kanan.

"Pembantu kurang ajar, perut saja yang kau urusi!" dengus Datuk Labalang.

"Datuk, di hadapanmu apa saja yang kula- kukan jadi salah. Saat aku sangat gugup sekali Datuk. Dalam keadaan seperti itu aku tidak tahu hendak berbuat apa selain makan." kata pemuda itu. "Sekarang sudah waktunya bergerak lebih mendekat ke kuil itu Mahluk Tangan Rembulan!" kata Datuk setinggi galah sambil bangkit berdiri.

"Sekarang Datuk?" Mata Memedi Santap Segala membulat besar, wajahnya jelas menun- jukkan rasa kejut.

"Ya, sekaranglah waktunya." tegas Datuk Labalang.

"Tidak memakai suluh Datuk? Aku suka ketakutan bila berjalan dalam kegelapan!"

"Keparat, jangan lakukan apapun tanpa perintah dariku!" Kakek setinggi galah mengge- ram. Orang tua ini kemudian melangkah lebar melewati pucuk semak belukar yang menghampar di depannya. Tidak jauh di belakang, Memedi Santap Segala terus mengikuti.

Tak lama kemudian setelah sampai di sebe- lah utara kaki bukit si kakek hentikan langkah- nya. Di sini tercium olehnya bau harum yang sangat menyengat.

"Datuk aku mencium bau sesuatu!" gu- mam pemuda yang berada di belakang si kakek.

"Diaam!" hardik Datuk Labalang.

"Sialan Datuk ini apapun yang kulakukan dilarang!" maki Memedi Santap Segala lama- kelamaan jadi jengkel dan bosan. Dia pun akhir- nya memilih berdiam diri, bibir dikatupkan se- dangkan kedua tangan dilipat ke depan dada. Bersikap seperti seorang raja dia berdiri tegak, sementara sepasang matanya mengawasi ke ba- gian puncak bukit yang diselimuti kabut tebal. Tak berapa lama mereka berada di situ, mendadak saja terdengar suara bergemuruh he- bat di sekitar bukit. Suara bergemuruh disertai dengan memancarnya satu cahaya merah di pun- cak bukit.

"Mereka rupanya sudah mulai terjaga. Se- bentar lagi tempat ini sudah menjadi sebuah tem- pat yang tidak aman lagi!" Datuk Labalang meng- gumam sendiri. Di belakangnya Memedi Santap Segala diam tak menanggapi. Sementara itu suara bergemuruh di puncak bukit di mana Kuil Setan berada terus berlangsung. Cahaya merah yang semula hanya terlihat samar kini tampak semakin bertambah terang. Satu teriakan keras disertai seperti terbukanya pintu batu terdengar, seiring dengan itu pula kabut yang menyelimuti puncak bukit mendadak hilang raib, tersedot ke satu arah di sebelah selatan puncak bukit itu.

Datuk Labalang terus memperhatikan se- tiap kejadian yang berlangsung sampai kemudian di balik kabut tebal yang lenyap terlihat satu pe- mandangan menakjubkan. Di puncak bukit itu kini terlihat satu bangunan yang tidak sebegitu besar yang sepenuhnya terbuat dari batu yang di- beri pewarna merah darah. Bangunan berupa kuil inilah yang kiranya sejak tadi memancarkan ca- haya kemerahan.

"Kuil Setan! Sungguh indah menakjubkan!" desis Datuk Labalang. Sepasang matanya yang belok berbinar gembira. Dia kemudian menoleh ke arah pembantunya. "Sekarang sudah wak- tunya bagi kita untuk mendaki ke puncak sana. Kau ikuti aku!" kata sang Datuk.

Memedi Santap Segala hanya anggukkan kepala, sedangkan matanya terus memandang ke puncak bukit di mana bangunan batu yang ber- nama Kuil Setan berada. Ketika pemuda yang memiliki daya fikir rendah sedang memperhatikan kuil itulah dia melihat dari bagian pintu depan kuil melesat keluar tiga sosok berpakaian biru, kuning dan merah. Tiga sosok besar dengan ujud mengerikan itu kemudian raib begitu saja. Wa- laupun Memedi Santap Segala sempat dibuat ka- get dan jadi ketakutan setengah mati tapi dia sa- ma sekali tidak mengatakan apa yang dilihatnya ini pada Datuk Labalang.

Selagi keduanya mulai mendaki lereng bu- kit, saat itu si kakek setinggi galah berkata. "Aku mendengar degup jantungmu berubah menjadi cepat, darahmu berdesir, kau seperti menahan kencing. Apa yang kau lihat?"

"Aku tak melihat apapun Datuk." sahut pemuda itu berbohong. Sementara itu Memedi Santap Segala kali ini melihat ada satu bayangan serba merah di bahunya memanggul satu sosok berpakaian putih tampak pula memasuki Kuil Se- tan itu.

"Aku tak melihat apa-apa Datuk!" kata pe- muda itu. Lagi-lagi dia membohongi Datuk Laba- lang.

Tak lama kemudian kakek berdaster hitam ini dan pembantunya telah sampai di puncak bu- kit di sebelah kiri samping kuil merah. "Tujuan hampir tercapai?!" gumam Datuk Labalang. Dia lalu melangkah mendekati Kuil, sementara Me- medi Santap Segala masih tertegak di tempatnya berdiri. Ketika jarak antara sang Datuk dengan kuil hanya tinggal satu tombak lagi. Maka pada saat itu pula dari empat lubang yang terdapat di dinding kuil melesat empat leret cahaya merah berhawa dingin luar biasa. Keempat cahaya itu langsung menyambar ke arah si kakek setinggi galah.

Jika si pemuda pembantunya cepat jatuh- kan diri, menelungkup hingga sama rata dengan tanah, sebaliknya sambil memaki sang Datuk angkat kedua tangannya.

Empat larik sinar merah dingin yang seha- rusnya menghantam empat bagian tubuhnya kini seolah tersedot oleh satu kekuatan yang tak terli- hat di bagian telapak tangan kanan kirinya.

Deep! Blleep!

Empat sinar merah amblas tersedot ke da- lam telapak tangan, lenyap meninggalkan kepulan asap. Belum sempat sang Datuk menarik nafas pada saat itu pula dari belasan lubang yang ter- dapat di sepanjang dinding kuil melesat belasan mata tombak merah membara. Seluruh mata tombak yang keluar tak terduga itu menyerbu ke arah si kakek setinggi galah. Orang tua ini kelua- rkan suara menggereng marah. "Mahluk-mahluk keparat penghuni Kuil Setan. Pertunjukan apa- pun yang kalian perlihatkan padaku, aku Datuk Labalang, tidak mungkin mundur barang setapak pun!" rutuk si kakek. Laksana kilat dia memutar tubuh dan kebutkan daster hitamnya. Angin me- nyambar dahsyat dari jubah yang dikebutkan. Be- lasan mata tombak berapi dibuat runtuh bermen- talan ke berbagai penjuru arah, jatuh di tanah berbatu disertai suara berkerontangan.

"Datuk memang hebat!" Memedi Santap Segala berseru memuji sambil memasukkan se- suatu ke dalam mulutnya.

Kraauk!

"Keparat jahanam tukang makan, jangan tiduran di situ. Cepat ikuti aku selagi pintu kuil masih terbuka!" teriak Datuk Labalang dengan suara keras melengking.

Laksana kilat si pemuda berkulit hitam berpusar bodong bangkit berdiri. Dia kemudian mengikuti majikannya yang sudah melangkah le- bar mendekati pintu kuil. Jika Datuk itu melang- kah dalam beberapa tindakan, jangkauan yang lebar membuat sang Datuk cepat sampai ke tem- pat yang dia tuju. Sebaliknya Memedi Santap Se- gala terpaksa berlari untuk mengimbangi langkah kakek itu.

Begitu sampai di depan pintu rendah, Da- tuk Labalang rundukkan kepala dan hendak me- langkah masuk. Tapi pada waktu yang bersamaan dari dalam kuil yang memancarkan cahaya merah berkilauan menderu segulung angin panas luar biasa menerpa sang Datuk dan pembantunya.

"Hembusan Angin Neraka, cepat menying- kir?!" teriak si kakek. Sambil melompat mundur dia hantamkan kedua tangannya ke arah pintu. Benturan keras antara angin panas dengan puku- lan kakek tinggi ini terjadi.

Buuum!

Ledakan keras menggelegar mengguncang puncak bukit. Datuk Labalang terhuyung, tubuh- nya sempat tergontai. Sambil mengibaskan salah satu tangannya yang terasa sakit Datuk Labalang mengusap dadanya dengan satu kali sapuan. Ra- sa menyesak di dalam dada lenyap seketika ber- ganti dengan hawa dingin menyejukkan. Sepa- sang mata belok si kakek tinggi memandang me- lotot ke arah pintu. Tidak ada sesuatu pun yang bergerak dari dalam sana setelah serangan hawa panas tadi menerpanya. Dia mendadak teringat sesuatu, dengan cepat Datuk Labalang menoleh ke belakangnya.

"Pembantuku Mahluk Tangan Rembulan di mana kau?" tanya orang tua lanjut usia ini agak cemas.

"Eekh... aku... aku di sini Datuk. Di bawah kakimu. Leherku kurasa mau putus, kaki kirimu berat sekali." sahut Memedi Santap Segala.

Si kakek setinggi galah terkejut besar sam- bil cepat angkat kaki kirinya dari leher si pemuda berpusar bodong. Pemuda itu segera duduk sam- bil mengusap-usap lehernya yang serasa putus.

Melihat keadaan pembantunya, jika semula sang Datuk sempat dibuat kesal dengan ulah si pemuda, kini Datuk Labalang terpaksa menahan senyum.

"Cepat berdiri. Nampaknya kita harus mencari jalan lain untuk masuk ke kuil ini." kata si kakek.

"Di belakang tidak ada pintu, Datuk. Mungkin juga tak ada jalan rahasia. Jauh sebe- lum Datuk datang saya sudah menyelidik. Di be- lakang sana banyak tulang dan tengkorak manu- sia. Dan saya juga yakin Datuk di sana banyak jebakan. Menurutku kita masuk dari depan saja. Kebiasaan para tetamu masuk selalu dari pintu depan, begitulah katamu dulu. Bukankah begitu Datuk?" ujar Memedi Santap Segala seolah men- gingatkan.

"Tidak... tidak begitu Mahluk Tangan Rem- bulan. Kita bukan tamu, kita tamu yang tidak di- undang." sergah Datuk Labalang.

"Kalau begitu kita maling, Datuk?" tanya si pemuda tolol berbadan mirip manusia dan mirip monyet besar.

"Sesuatu yang tidak jauh dari yang kau se- butkan!" kata kakek itu sambil kembali meman- dang ke arah pintu. Dalam hati setelah berpikir keras dia berkata. "Entah gerangan apa yang ber- sembunyi di balik pintu itu, tapi hantaman hawa panas tadi walaupun dapat ku tangkis terasa sangat panas sekali. Jika Memedi Santap Segala yang kusuruh masuk tadi, pasti tubuhnya jadi le- leh terkena sambaran hawa panas yang melesat dari balik pintu batu." batin si kakek.

Sekejap dia benahi kerudungnya yang me- nutupi sebagian kening. Setelah itu sang Datuk memberi isyarat pada Memedi Santap Segala un- tuk mengikutinya. Tak mengerti maksud maji- kannya, pemuda itu hanya mengikuti Datuk La- balang yang melangkah menuju ke belakang Kuil Setan. Pada saat itu jika Datuk Labalang mengin- jak permukaan batu pipih yang bertonjolan di atas tanah secara teratur. Sebaliknya Memedi Santap Segala berjalan seenaknya sendiri. Pada satu kesempatan kakinya tergelincir dan terpero- sok ke dalam legukan lubang kecil. Begitu ka- kinya terperosok, maka tanah dan batu yang dipi- jaknya selebar dua tombak dengan panjang tiga tombak amblas ke bawah dengan disertai suara bergemuruh hebat.

"Datuk, saya... aakh...!" Si pemuda menjerit keras. Tubuhnya terperosok masuk ke dalam pe- rut bukit. Datuk Labalang yang sempat dibuat kaget namun sempat selamatkan diri mencoba menggapai tubuh Memedi Santap Segala dengan sepasang tangannya yang panjang. Sangat dis- ayangkan tindakan penyelamatan yang dilaku- kannya kalah cepat dengan daya luncur tubuh si pemuda yang seakan tersedot ke bawah.

"Mahluk Tangan Rembulan, kau...!" seru si kakek tinggi. Sebenarnya dia hendak ikut mener- junkan diri ke dalam lubang mengingat rasa sayangnya pada pembantu bodoh yang sangat se- tia itu. Tapi niatnya terpaksa diurungkan begitu dia mendengar suara aneh yang berasal dari ba- wah sana. Ternyata tanah yang amblas ke bawah kini bergerak naik ke permukaan menutup bagian dalam lubang, hingga lubang yang menganga tadi kini menjadi rata kembali.

"Benar seperti katanya. Tempat ini men- gandung banyak jebakan!" batin Datuk Labalang yang mulai gelisah memikirkan keselamatan Me- medi Santap Segala.

"Bocah muda itu harus kuselamatkan, tapi senjata juga harus kudapatkan. Aku tak mungkin kembali ke tanah Andalas dengan berhampa tan- gan!" pikir si kakek tinggi.

Menyadari banyaknya bahaya yang muncul secara tak terduga, kakek jangkung setinggi galah segera tingkatkan kewaspadaannya. Dia sadar tak mungkin masuk dari bagian depan kuil, walau- pun saat itu pintunya masih tetap terbuka. Sete- lah diam, berpikir sejenak si kakek akhirnya me- neruskan niatnya semula untuk memasuki kuil dari bagian belakang.

"Pintu rahasia... jalan rahasia. Aku punya dugaan kuat pintu rahasia itu pasti ada. Tersem- bunyi di satu tempat, sudah pasti." pikir si orang tua. Dia baru saja hendak melanjutkan langkah- nya ketika mendadak terdengar suara tawa menggeledek tak jauh di sampingnya. Dalam ke- jutnya dia cepat menoleh. Sepasang mata mende- lik tak percaya. Yang membuat dia tidak habis mengerti bagaimana satu sosok berpakaian serba merah itu tiba-tiba hadir di depannya. Padahal sebelum itu dia tidak mendengar tanda-tanda ke- datangannya. "Hik... hik... hik. Selamat datang di Kuil Se- tan, manusia setinggi galah. Kau adalah korban pertama yang berani menyabung nyawa dengan menginjakkan kaki di tempat ini!" kata sosok ber- pakaian serba merah bertangan empat yang me- miliki empat leher dan empat kepala pula. Dua kepala sosok angker mengerikan itu menghadap ke depan dan dua kepala lagi menghadap ke be- lakang. Dan masing-masing dari keempat kepala itu dapat diputar setengah lingkaran.

Sejenak lamanya Datuk Labalang yang di daerah asalnya memiliki gelar Datuk Penguasa Tujuh Telaga pandangi mahluk aneh di depannya. Wajah empat kepala dari mahluk itu nam-

pak memerah seperti darah, beralis tebal, masing- masing dari matanya yang satu berwarna seperti darah, sedangkan hidung sama rata dengan bibir, gigi-giginya runcing tajam mencuat seperti taring. Di setiap kepalanya yang cuma sebesar kepalan tangan tumbuh rambut panjang berwarna merah pula. "Mahluk jahanam terkutuk. Bagaimana mahluk penjaga Kuil ini bisa luput dari perha- tianku. Mestinya dia berada di dalam sana. Mah- luk ini konon sangat ganas sekali. Aku tak meli- hat dua kembarannya yang lain. Apakah sudah munculkan diri, keluar dari pintu kuil, atau ma- sih mendekam di dalam sana." batin sang Datuk dalam hati.

"Kau sudah siap menjalani penyiksaan, orang asing dari seberang?!" suara sosok merah berkepala empat berleher panjang bergaung di udara. Setiap satu mulut berucap, maka ketiga mulut lainnya juga ikut berucap, hingga menim- bulkan suara tak berkeputusan.

"Siapa dirimu?" tanya Datuk Labalang. Di- am-diam dia mempersiapkan satu pukulan sakti yang siap dilepaskan kapan saja kakek ini mau.

"Ha... ha... ha. Hik... hik... hik." terdengar empat suara serentak. Empat kepala berleher panjang sebesar kepalan tangan bergoyang keras. Berbeda dengan tubuhnya yang besar, tubuh mahluk merah itu diam tak bergeming. "Aku ada- lah Maut Merah! Mahluk penjaga Kuil Setan. Te- lah dititahkan padaku oleh Yang Agung untuk membunuh siapa saja yang hadir di sini. Terke- cuali orang-orang yang memang diinginkan keda- tangannya!" kata mahluk merah tegas. Karena se- tiap bicara diikuti oleh mulut-mulutnya yang lain, maka Datuk Labalang merasakan suasana yang sangat berisik luar biasa.

"Aku Datuk Labalang, datang ke sini bukan dengan maksud mengusik ketenangan penguasa Kuil Setan." jelas si kakek.

Mata tunggal beralis tebal mengedip. "Apa keinginanmu?" tanyanya kemudian.

"Aku inginkan senjata ampuh Bintang Pe- nebar Petaka!" jawab Datuk Labalang.

"Permintaanmu tak dapat kupertimbang- kan, hanya Yang Agung saja yang paling pantas memberikan jawaban. Sekarang aku akan mem- bawamu menghadap Yang Agung," sahut Maut Merah. Selesai berkata sosok berkepala empat yang sekujur tubuhnya berwarna merah gerakkan keempat tangannya ke arah si kakek.

Angin menyambar deras menerpa ke arah si Datuk. Empat larik sinar berupa benang meli- bat tubuh orang tua itu.

Jika semula dia mempunyai prasangka baik atas ucapan Maut Merah, kini setelah meli- hat empat lembar benang meluncur melibat tu- buhnya berubah pikiran Datuk Labalang. Maut Merah pasti hendak membuat dirinya celaka. Pi- kir si kakek. Untuk itu dia melompat menghindar selamatkan diri dari libatan benang sambil meng- hantam benang itu dengan satu pukulan sakti.

Wuuus!

Empat benang dipukul mental, ujungnya meliuk berbalik hendak menghantam pemiliknya sendiri. Maut Merah terkejut besar, sambil me- lompat menghindari patukan ujung benang mautnya. Maut Merah membentak. "Katanya kau datang ingin meminta pusaka. Begitu aku ber- maksud membawamu untuk menghadap Yang Agung kau malah memukulku!"

"Ha... ha... ha. Kau hendak meringkusku dengan benang celaka itu, bagaimana aku bisa berdiam diri?" kata si kakek disertai senyum mengejek.

"Hanya dengan cara itu kau baru bisa me- lewati Pintu Neraka di depan sana." tegas Maut Merah sambil menunjuk ke arah pintu yang ter- buka dengan salah satu tangannya. Selagi Datuk Labalang menoleh memandang ke arah yang di- maksud. Maka kesempatan itu dipergunakan oleh Maut Merah. Empat tangan kembali digerakkan. Lima benang merah menderu melibat tubuh si kakek. Orang tua ini tidak sempat lagi menghin- dar, karena hanya dalam waktu tidak sampai sa- tu detik tubuhnya mulai dari bagian leher, tangan dan kepala sudah terikat benang,

"Jahanam terkutuk apa yang kau lakukan padaku!" teriak Datuk Labalang sambil meronta mencoba memutuskan benang. Maut Merah ter- tawa terbahak-bahak. Tanpa bicara apapun tan- gannya disentakkan, empat benang yang berada di ujung jemari tangan Maut Merah ikut tersen- tak. Tubuh Datuk Labalang ikut terbetot, me- layang ke arah Maut Merah. Empat tangan dige- rakkan ke depan menyambuti. Pada kesempatan lain tubuh kakek berbadan tinggi ini sudah bera- da dalam panggulan Maut Merah. Sosok mahluk aneh itu lalu berkelebat masuk ke dalam pintu berwarna merah.

Begitu Maut Merah lenyap di balik pintu, maka pintu batu di bagian depan mengeluarkan suara bergemuruh dan terus bergeser menutup. Kemudian suasana berubah sunyi, di langit bulan sabit sudah tak terlihat. Kabut kembali menyeli- muti kuil, hingga keberadaan Kuil Setan tak terli- hat lagi dalam pandangan mata. 3

Di dalam salah satu ruangan yang terdapat di dalam Kuil Setan, seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun berpakaian serba pu- tih di atas sebuah pembaringan terbuat dari batu merah. Selesai membaringkan gadis itu laki-laki yang kedua belah tangannya berwarna hitam sampai sebatas pangkal lengan segera mengambil gelang besi yang biasa dipergunakan untuk mem- belenggu tangan dan kaki. Gadis yang dalam kea- daan tertotok itu hanya dapat memperhatikan semua apa yang dilakukan terhadapnya tanpa mampu berbuat apapun,

"Tangan Sial! Aku tahu seseorang telah membuatmu kehilangan kewarasan. Tapi ingat- lah, renungkan baik-baik, kau seorang manusia yang mempunyai perasaan. Pergunakan pera- saanmu untuk mengalahkan satu kekuatan yang berada dalam dirimu!" Gadis berpakaian putih ti- ba-tiba berkata. Dia memperhatikan laki-laki itu. Nampak jelas kening si baju merah yang dikenal dengan julukan Si Tangan Sial mengerut dalam. Sesaat wajahnya nampak menegang. Apa yang diucapkan oleh si gadis mengiang di telinganya. Otak dan kesadarannya dipacu untuk mengingat segala sesuatunya. Di saat ingatan SI Tangan Sial hampir muncul kembali. Pada saat itu pula dia menjerit keras. Satu sengatan mendera punggung kanan kiri juga di bagian belakang leher laki-laki ini.

"Apa yang terjadi padanya? Kekuatan apa

sebenarnya yang telah mempengaruhi jalan piki- ran paman Tangan Sial?" pikir si gadis yang bu- kan lain adalah Ambini.

"Aku tak bisa mengingat apapun. Aku tak bisa mengingat masa lalu. Yang ada dalam piki- ranku hanya berupa perintah seseorang." kata Si Tangan Sial kemudian sambil gelengkan kepala. Bibir laki-laki itu meringis menahan sengatan hawa dingin luar biasa di bagian punggung dan leher.

"Tangan Sial, aku Ambini. Sahabatmu juga sahabat Gento Guyon!" teriak si gadis. Dia sadar dalam keadaan seperti itu bahaya sewaktu-waktu bisa datang dari arah yang tidak pernah disangka. Apalagi mengingat kini dirinya terkurung di dalam ruangan yang segalanya serba merah. Ruangan asing yang selalu dipenuhi kepulan asap. Satu tempat aneh yang dia tidak pernah mengenal se- belumnya.

"Maafkan aku, perintah telah kuterima jauh sebelum aku membawamu ke Kuil Setan ini. Aku harus membunuh Gento Guyon, aku harus mendapatkan senjata itu. Kau kujadikan jaminan, jika Gento tidak muncul di tempat ini kau harus kubunuh!" kata Si Tangan Sial.

"Tangan Sial, kau telah diperalat oleh orang lain. Kau bukan orang jahat, seharusnya kau in- gat akan hal itu!" Sekali lagi Ambini mengin- gatkan. Nampaknya apa yang dilakukan Ambini hanya sia-sia, karena Si Tangan Sial sudah tidak perduli lagi. Gelang rantai yang dipergunakan un- tuk memasung sudah dibuka oleh laki-laki itu. Kemudian gelang itu dipasang masing-masing di bagian tangan dan kaki.

Krak! Kraak!

Empat gelang besi belenggu kini sudah ter- pasang di tangan dan kedua kaki Ambini. Setelah itu Si Tangan Sial melepaskan totokan di pung- gung si gadis. Begitu dirinya terbebas dari totokan Ambini segera berusaha membebaskan diri dari gelang belenggu yang bagian ujungnya terbenam di dalam dipan batu merah. Terdengar suara ge- merincing berisik, tapi sampai tubuh Ambini ba- sah kuyup bersimbah keringat gelang besi yang membelenggu kedua tangan dan kaki tidak dapat diputuskan.

Megap-megap Ambini mencoba menarik nafas. Sepasang matanya yang bening indah me- natap ke langit-langit ruangan sempit itu. Ruan- gan serba merah yang menebarkan bau aneh me- nusuk penciuman. "Tidak ada jalan selamat," Ambini membatin dalam hati. Dia melirik ke arah Si Tangan Sial. Dia jadi kaget karena Si Tangan Sial ternyata sudah tidak berada lagi di situ. Si gadis kemudian gelengkan kepalanya ke kiri. Di sana ternyata masih ada sebuah ranjang batu seukuran orang tidur. Sama seperti ranjang batu yang dijadikan tempat memasung Ambini. Ran- jang yang satu ini juga dilengkapi dengan empat rantai yang ujungnya dipasangi gelang belenggu. "Siapa lagi korban berikutnya!" membatin

gadis ini dalam hati. Dalam keadaan sedemikian rupa dan membayangkan nasib apa yang bakal terjadi pada dirinya si gadis merasakan mendadak sekujur tubuhnya telah berubah menjadi gundu- kan es. Tapi bagaimanapun bentuk kematian yang nantinya datang kepadanya, Ambini tak mau bersikap pasrah menerima nasib begitu saja. Dia harus melakukan sesuatu. Sekarang yang paling baik adalah mengerahkan segenap daya pikiran untuk mencari jalan keluar. Sementara dalam keadaan berbaring seperti itu dia juga punya kesempatan untuk memulihkan tenaga da- lamnya yang sempat melemah begitu Si Tangan Sial membawanya melewati pintu Kuil Setan tadi.

***

Di satu tempat, di sebelah selatan jauh di luar kawasan Kuil Setan, di tepi sebuah rimba be- lantara terdapat satu pohon besar yang mulai dari daun, batang, dan akarnya berwarna hijau. Pohon ini menjulang tinggi menggapai angkasa berdaun lebar berbuah lebat seperti semangka namun buah itu mengandung racun hijau yang memati- kan. Sedangkan di bawah pohon itu sendiri ter- dapat sebuah telaga kecil selebar sumur. Air tela- ga berwarna hijau. Hampir setiap saat air telaga selalu bergoyang tak mau diam.

Bila diperhatikan lebih dekat. Ternyata di dalam telaga itu mendekam satu sosok serba hi- jau. Bukan hanya kulitnya saja yang hijau, tapi mulai dari rambut, mata, muka dan juga giginya berwarna hijau. Sosok ini dalam keadaan duduk dengan punggung disandarkan pada dinding tela- ga. Air telaga tergenang sampai sebatas dadanya. Sambil berendam sesekali matanya yang hijau memandang ke atas pohon, ketika sepasang ma- tanya dikedipkan maka buah pohon hijau melun- cur jatuh ke arahnya. Salah satu tangan yang terbenam dalam air berkelebat. Buah bulat sebe- sar kelapa jatuh menempel di ujung jarinya.

"Di antara sekian banyak makananku tak satupun yang sempat masak. Tak ada yang ma- sak, yang mudapun sudah dapat ku nikmati!" gumam orang tua berbadan serba hijau yang tu- buhnya selalu basah seperti kodok. Sambil me- nyeringai dan tersenyum-senyum sendiri buah di ujung jarinya diambil lalu dihantamkan ke bagian kepala.

Proook!

Sungguh menakjubkan buah hijau yang kerasnya melebihi batu kali itu hancur terbelah menjadi empat bagian. Dari bagian dalam buah mengucur cairan hijau. Sosok serba hijau mem- buka mulut lebar. Cairan buah yang mengucur seluruhnya masuk ke dalam mulut membasahi tenggorokan. Lidah mahluk serba hijau ini terju- lur menjilati bibir, setelah itu pecahan kulit buah hijau dilemparkannya ke arah kawanan kodok di tepi telaga. Begitu kodok-kodok tersentuh terkena percikan air buah, tubuh binatang langsung han- gus, mengepulkan asap tebal disertai terciumnya bau daging terbakar.

Tanpa menghiraukan binatang yang berka- paran terkena buah beracun yang dilemparkan- nya, dia kembali bangkit berdiri. Ternyata air te- laga yang berwarna hijau itu dalamnya hanya se- batas lutut. Orang tua ini kemudian gerakkan kakinya. Di lain kejap dia telah berdiri di tepi te- laga. Belum lagi sempat sosok serba hijau berge- rak meninggalkan telaga, pada saat bersamaan mendadak terdengar suara bentakan menggeledek disertai dengan berkelebatnya satu sosok serba merah ke arahnya.

"Iblis Racun Hijau. Aku datang menagih janji!" teriak satu suara. Ketika sosok serba hijau ini memandang ke depannya. Di depan sana da- lam jarak dua tombak berdiri tegak seorang pe- muda berwajah tampan. Rambutnya yang pan- jang menjulai diikat kain berwarna merah. Di ba- gian depan ikat kepala itu terlihat satu gambar seperti lintasan kilat dan bumi terbelah. Selain ikat kepala, pakaian pemuda berhidung mancung berdagu runcing ini juga berwarna merah. Di ba- gian punggung pakaian terdapat sulaman gambar berbentuk bumi; sedangkan di tengah gambar bumi yang terbelah terdapat sebuah garis berke- lok-kelok seperti kilat yang menyambar di tengah hujan.

Memperhatikan kehadiran pemuda ini se- jenak sosok hijau bergelar Iblis Racun Hijau ini hanya mendengus. Dia palingkan muka dan alih- kan perhatiannya ke arah lain. Tak lama kemu- dian mulutnya yang hijau berucap. "Lira Watu Sasangka... kau datang padaku hanya untuk urusan itukah? Atau mungkin kau punya kepen- tingan dan tujuan lain?"

"Ha... ha... ha! Guruku Begawan Panji Kwalat pernah mengatakan padaku, jika kelak aku telah selesai mempelajari segala ilmu yang dia wariskan padaku, aku boleh menemuimu un- tuk mendapatkan beberapa petunjuk penting yang konon ada hubungannya dengan pusaka Bintang Penebar Petaka. Dua puluh tahun silam dari waktu yang dijanjikan sampai sudah. Sesuai pesan guru, kini aku datang menagih janji!" kata Lira Watu Sasangka dengan sikap angkuh dan sambil bertolak pinggang.

4

Iblis Racun Hijau tersenyum mendengar ucapan si pemuda. Perlahan pandangan matanya dialihkan ke arah si pemuda. Beberapa jenak la- manya orang tua itu dan si pemuda saling ber- pandangan. Meskipun pemuda itu sempat menja- di kaget melihat tatapan mata si kakek yang ber- warna hijau itu, namun jauh di lubuk hatinya ti- dak ada rasa takut barang sedikitpun.

"Katamu kau datang menagih janji. Kapan- kah aku pernah berjanji pada gurumu? Dua pu- luh tahun yang lalu ketika kau masih merupakan bayi batu yang membawa sengsara bahkan kema- tian bagi ibumu sendiri. Aku hanya mengatakan, kelak mungkin terbuka jalan bagimu untuk men- cari senjata Bintang Penebar Bencana!" ujar si kakek tenang.

"Kau mengatakan! Apakah itu bukan jan- ji?!" tanya si pemuda disertai senyum dingin.

"Gurumu mungkin salah mendengar. Perlu kau ketahui, senjata itu tidak ada padaku. Dia bersembunyi di satu tempat rahasia di dalam Kuil Setan!" menerangkan Iblis Racun Hijau. Dalam hati dia berkata. "Meskipun kau memiliki ilmu tinggi, kau tidak bakal selamat bila pergi ke sa- na."

"Kuil Setan. Tempat itu penuh maraba- haya. Konon banyak terdapat jebakan pula. Sia- papun yang mencoba memasuki daerah itu tidak pernah selamat. Aku yakin kau mengetahui seluk beluk daerah itu. Mungkin pula kau bersedia mengantarku ke sana!" kata Lira Watu Sasangka.

Permintaan yang bersifat memaksa pemu- da itu tentu sangat mengejutkan bagi si orang tua. Tapi siapa takutkan pemuda itu. Jika pada gurunya Begawan Panji Kwalat saja dia tidak per- nah merasa takut, apalagi pada Iblis Racun Hi- jau?

Dengan perasaan jengkel Iblis Racun Hijau berucap. "Jika kau mau pergi ke Kuil Setan, den- gan bekal ilmu hebat yang kau miliki mengapa harus mengajak aku yang sudah tua ini. Kau per- gilah sendiri. Tunggu bulan sabit muncul, karena pada saat itu pintu Kuil Setan akan terbuka. Kau bisa menemui seseorang...!"

"Seseorang siapa?" tanya si pemuda. "Seseorang siapa saja yang mau menun-

jukkan di mana senjata Bintang Penebar Bencana tersimpan." kata Iblis Racun Hijau.

"Orang tua, sejauh apakah persahabatan antara dirimu dengan guruku?" tanya Lira Watu Sasangka yang oleh gurunya diberi julukan Panji Anom Penggetar Jagad.

Orang tua itu tidak langsung menjawab, dia memandang pemuda di depannya dengan so- rot mata tajam menusuk. "Pemuda ini mungkin kelak hanya akan membuat kekacauan di dunia persilatan. Jika tak ada orang yang dapat meng- hentikannya, bukan mustahil pada waktu menda- tang dia menjadi raja diraja segala kejahatan!" ba- tin si orang tua yang sekujur tubuhnya mengan- dung racun maha ganas mematikan. Setelah ber- pikir Iblis Racun Hijau kemudian berkata: "Persa- habatanku dengan Begawan Panji Kwalat boleh dibilang sudah cukup lama. Tapi satu hal yang patut kiranya kau ketahui, persahabatan kami ti- dak ubahnya seperti air dengan minyak. Gurumu memiliki ilmu sangat tinggi, bahkan setiap uca- pannya mempunyai keampuhan aneh. Tapi ba- gaimanapun diriku mempunyai jalan hidup yang berbeda dengan gurumu. Biarpun orang menge- nalku sebagai iblis!" kata orang tua berbadan hi- jau tegas. "Begitu?" Lira Watu Sasangka tersenyum sinis. "Jika memang demikian keadaan yang se- benarnya, berarti kita tidak pernah sejalan." kata si pemuda.

Sekarang sebaiknya katakan padaku siapa yang harus kutemui di Kuil Setan?"

Kakek yang mulai ujung rambutnya sam- pai ke bagian kaki berwarna hijau gelengkan ke- pala. Dia semakin sebal melihat tingkah si pemu- da, sebagaimana rasa sebalnya terhadap Begawan Panji Kwalat yang hidup dalam kesesatan.

"Kau dengar, Lira Watu Sasangka. Di Kuil Setan orang yang harus kau temui ada dua, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. Setelah me- lewati kedua orang ini kau harus minta izin dulu pada sesepuh yang tinggal di sana. Jika perun- tunganmu baik, mungkin orang tua itu berkenan memberikan senjata itu padamu. Tapi andai na- sibmu jelek mungkin tubuhmu akan dijadikan kayu bakar untuk membuat senjata pusaka yang baru. Aku sendiri tak tahu sesepuh yang kumak- sudkan itu berada di dalam ruangan yang mana. Kau bisa mencarinya sendiri." kata Iblis Racun Hijau.

Penjelasan si orang tua ini bagi Lira Watu Sasangka jelas bukan merupakan jawaban seba- gaimana yang dia inginkan. Bahkan dia cende- rung menilai Iblis Racun Hijau bermaksud hen- dak mengelabuinya. Sehingga pemuda inipun ter- tawa terbahak-bahak.

"Tua bangka berkulit hijau, guruku menga- takan agar aku memanggilmu paman, kuanggap itu adalah sebutan penghormatan. Tapi aku tak mau memanggil begitu karena kau tidak layak kupanggil paman. Kurasa kau lebih pantas ku- panggil monyet hijau. Ha... ha... ha!" kata Lira Watu Sasangka disertai tawa tergelak-gelak.

Mendengar ucapan pemuda itu wajah hijau si kakek bertambah hijau. Dia lalu melangkah maju. "Apa maksud ucapanmu itu pemuda ku- rang ajar?" teriak iblis Racun Hijau marah.

"Maksudku, melihat ujudmu kau tak pan- tas disebut manusia. Kau lebih bagus disebut monyet bermuka hijau."

"Kau sengaja mencari masalah, pemuda keparat yang terlahir dalam bentuk batu?" hardik Iblis Racun Hijau.

"Setelah mendengar keteranganmu tentang guruku, apakah kau mengira aku percaya dengan segala ucapanmu? Malah aku punya dugaan kau sengaja hendak menjerumuskan aku!"

"Pemuda keparat, mulutmu busuk sekali!" maki si kakek.

"Ha... ha... ha. Jika benar kau mau apa, orang tua?" tantang Lira Watu Sasangka.

"Murid Begawan Panji Kwalat ini jika tak kuberi pelajaran, sikapnya bisa lebih kurang ajar dari gurunya!" pikir Iblis Racun Hijau. Dengan suara keras dia berkata. "Pemuda congkak, jika gurumu manusia segala bisa jangan kau kira aku takut padanya. Aku sudah berikan keterangan yang kau minta. Kini kau malah berbalik menu- duhku yang bukan-bukan! Majulah, tunjukkan segala kehebatan yang diwariskan oleh gurumu!"

"Ha... ha... ha. Kau meminta aku akan memberi," sahut Lira Watu Sasangka sambil ter- tawa lebar, Dia kemudian membungkukkan ba- dan. Semula Iblis Racun Hijau menyangka pemu- da itu hendak menjura hormat, tapi apa yang ke- mudian terjadi sungguh sangat mengejutkan. Da- ri bagian ubun-ubun si pemuda mengepul asap tipis yang bergulung-gulung menjulang ke langit. Bersamaan dengan itu pula, Lira Watu Sasangka alias Panji Anom Penggetar Jagad hentakkan kaki kirinya. Bersamaan dengan hentakan kakinya, mulut si pemuda berucap. "Melayanglah kau ke langit, berputar seperti titiran!"

"Ilmu Sabda Alam? Hemm...!" gumam Iblis Racun Hijau. Saat itu dia merasakan sekujur tu- buhnya mendadak berubah ringan, kakinya ber- goyang hendak melambung ke atas. Sedangkan tangan dan kepala mendadak bergetar keras dan mulai terasa oleng. "Dewa Braga... apa yang tidak terjadi tidak akan pernah terjadi. Ilmu rongsokan seperti itu tidak layak kau tunjukkan padaku, heaah!" Iblis Racun Hijau hentakkan kaki kanan- nya. Di depannya sana Lira Watu Sasangka terke- jut besar, tubuhnya terhuyung seakan ada satu kekuatan hebat yang mendorong tubuhnya den- gan kerasnya. Bagaimana mungkin ilmunya yang sangat hebat dan mampu menjatuhkan orang se- suai dengan kehendak ucapannya ini di depan si kakek seakan kehilangan fungsinya sama sekali. Tak percaya dengan kenyataan yang diha- dapinya si pemuda kembali merapal mantra- mantra yang didapat dari gurunya. Setelah itu dia berteriak. "Jatuh...!"

Sebagaimana yang biasanya terjadi, teria- kan itu tentu membuat lawan terjatuh. Tapi kini dilihatnya Iblis Racun Hijau hanya termiring- miring. Sedangkan mulut si kakek berucap. "Eeh... minum tuak aku tidak pernah, bagaimana tubuhku kini seperti orang mabuk. Ha... ha... ha! Kuras semua mantra aji yang kau miliki, bocah. Aku telah membentengi diriku dengan ajian Dewa Braga. Ha... ha... ha. Sampai berbusa mulutmu, sampai dower bibirmu ucapanmu itu hanya kesia- siaan belaka!"

Bangsat terkutuk!" teriak Lira Watu Sa- sangka kalap dan juga merasa malu karena pene- rapan ajian yang dimilikinya ternyata tidak mem- punyai pengaruh sama sekali bagi kakek berba- dan hijau ini. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda berpakaian serba merah ini lalu melesat ke depan sambil melepaskan salah satu pukulan mautnya. Begitu si pemuda hantamkan tangannya ke arah si kakek, sinar merah biru membersit, melesat de- ras ke arah lawan disertai menderunya hawa pa- nas luar biasa.

"Tiga Petaka Bumi!" teriak si kakek menye- but nama pukulan yang dilepaskan si pemuda. Dia menyambuti sambil melanjutkan ucapannya. "Belasan tahun yang lalu pukulan itu memang sempat membuat geger rimba persilatan. Tapi siapa yang takut?" desis Iblis Racun Hijau disertai senyum mengejek. Dia lalu gerakkan tangannya disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Seketi- ka itu juga dari telapak tangan si kakek mencuat sinar putih berhawa dingin luar biasa. Tak dapat dihindari dua pukulan saling bertemu di udara.

Buuum!

Terjadi ledakan berdentum, Lira Watu Sa- sangka menjerit keras sedangkan tubuhnya sem- pat terdorong dua langkah. Si kakek di depannya sana nampak terhuyung, namun masih sempat tersenyum meskipun mukanya yang hijau sempat berubah menjadi hijau muda.

5

Kini orang tua itu berdiri tegak di hadapan Lira Watu Sasangka. Mulutnya menyeringai se- dangkan matanya yang hijau memandang nyalang sambil berpikir apa kiranya yang hendak dilaku- kan oleh orang itu selanjutnya. Tapi sebelum si pemuda melakukan tindakan apapun, Iblis Racun Hijau berucap: "Dua kali kau menyerangku, seka- rang giliranku melakukan serangan...!" kata si kakek. "Aku ingin menjajal apakah tubuhmu yang kabarnya sangat atos seperti batu sebagaimana saat kau terlahir ke dunia ini tidak mempan den- gan racunku atau malah sebaliknya!" Selesai ber- kata si kakek serba hijau ini segera menarik nafas dalam-dalam. Setelah itu mulutnya meniup, dari mulut yang sengaja dihembuskan dengan keras menyembur cairan hijau pekat berbau harum se- merbak. Begitu melesat di udara cairan itu lang- sung menebar menyerang lawannya. Pemuda itu sadar betapa racun ganas yang disemburkan si kakek tidak ada duanya. Sehingga begitu menda- pat serangan dia langsung melompat ke udara. Selagi tubuhnya mengapung di udara dia han- tamkan tangan kiri kanan melepas pukulan Ku- tukan Mendera Bumi. Angin dahsyat menyambar membuat semburan cairan racun berbalik meng- hantam si kakek sendiri.

"Ha... ha... ha! Tidak kusangka aku harus mandi air ludahku sendiri!" kata si kakek. Karena si kakek memang tidak berusaha mengelak, maka tak ayal seluruh cairan racun membasahi tubuh- nya. Setelah tubuhnya terkena racunnya sendiri, dengan gerakan laksana kilat si kakek menghan- tam ke depan menangkis pukulan yang dile- paskan lawan.

Desss!

Dua pasang tangan saling membentur den- gan sangat keras sekali. Lira Watu Sasangka me- raung keras. Selagi di udara tubuhnya nampak limbung namun masih sempat jatuh dengan ke- dua kaki tertekuk. Wajah pemuda ini berubah, tangannya yang membentur telapak tangan lawan laksana dicucuki ribuan batang jarum, menim- bulkan rasa sakit yang sangat laur biasa. Pemuda ini bangkit berdiri.

"Jahanam hijau itu ternyata tidak dapat dianggap enteng. Dia mengetahui kelemahan dari ajianku. Jika kuteruskan, mungkin aku bisa ce- laka. Kalau aku membunuhnya, guru pasti marah besar. Untuk sementara sebaiknya ku tunda dulu urusanku dengannya. Biar umurnya panjang se- dikit tidak mengapa, nanti jika senjata itu telah kutemukan, di lain hari dan kesempatan aku pas- ti membunuhnya!" batin si pemuda. Sejenak dia pandang ke depan. Iblis Racun Hijau ternyata saat itu sudah berdiri tegak. Orang tua ini se- sungguhnya sempat mengalami guncangan hebat di bagian dalam saat bentrok tangan dengan pe- muda itu. Dia bahkan merasakan tangannya se- perti menghantam batu karang yang sangat keras sekali. Sungguh pun begitu kini dia siap mengha- jar lagi Lira Watu Sasangka dengan pukulan dah- syat dan juga dengan semburan racun dari mu- lutnya.

"Murid Begawan Panji Kwalat, apakah kau ingin melanjutkan perkelahian ini sampai salah seorang di antara kita ada yang menemui ajal?" sindir Iblis Racun Hijau.

Lira Watu Sasangka tersenyum sinis. "Ma- sih banyak waktu bagi kita untuk menentukan siapa yang paling hebat di antara kita, monyet hi- jau. Saat ini aku belum kalah, mungkin juga kau merasa begitu bagiku tak jadi soal. Tapi suatu saat kau akan tahu, aku Panji Anom Penggetar Jagad pantas menjadi raja diraja dunia persilatan! Ha... ha... ha!" Selesai bicara sambil tertawa pe- muda congkak itu balikkan tubuh lalu berkelebat pergi tinggalkan si kakek yang termangu seorang diri.

"Kalau tidak mengingat kau murid saha- batku, aku pasti akan menghabisimu. Tapi aku yakin kelak kau akan kesandung batunya. Kau tidak sadar di atas langit masih ada langit yang lain!" ujar si kakek sambil pandangi ke arah le- nyapnya Lira Watu Sasangka.

Hanya beberapa saat saja seperginya murid Begawan Panji Kwalat Iblis Racun Hijau menden- gar suara tawa di kejauhan. Menilik suara itu nampaknya orang yang tertawa bukan satu orang, tapi dua. Satu suaranya serak dan besar dan yang satunya lagi melengking nyaring.

"Manusia edan mana lagi yang datang ke mari? Padahal tubuhku sudah terasa panas dan aku ingin kembali berendam di dalam telaga keti- duranku!" gerutu si kakek sambil memandang ke satu jurusan. Di jurusan mana suara tawa ter- dengar si kakek tidak melihat ada siapapun.

"Orangnya belum terlihat tapi suaranya terdengar. Siapapun mereka pasti memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi." si kakek membatin da- lam hati.

Kini semakin dekat suara orang yang ter- tawa, maka suara itu makin keras terdengar sampai si kakek jadi pengang sendiri. Dia tekap telinganya, sementara matanya yang hijau dengan bola hitam di bagian tengah memandang mende- lik ke arah depan sana di mana dua sosok tubuh berkelebat mendekat ke arahnya. Tak lama kemudian dua sosok yang datang disertai suara tawa itu telah berdiri tegak di de- pan Iblis Racun Hijau. Ternyata dia bukan lain adalah seorang kakek berwajah bulat berkening lebar, berbadan besar luar biasa berpakaian hi- tam sedangkan baju tidak terkancing. Sedangkan di samping kakek yang murah senyum dan gam- pang tertawa ini berdiri tegak seorang pemuda tampan berwajah polos bertelanjang dada. Bebe- rapa jenak lamanya ketiga orang ini saling pan- dang satu dengan yang lainnya.

Si kakek serba hijau membatin. "Berbadan tinggi besar dengan berat lebih dari dua ratus ka- ti. Orang ini mengingatkan aku pada salah seo- rang tokoh kocak dari gunung Merbabu. Kalau tak salah, namanya Gentong Ketawa. Apakah orang tua yang berdiri di hadapanku ini orang- nya? Lalu siapa pemuda yang ikut serta dengan- nya ini?"

Sebaliknya si kakek gendut besar yang berdiri sambil berkipas-kipas dengan jari tangan- nya itu juga berpikir. "Mahluk hijau seperti daun. Tubuhnya mengandung racun jahat mematikan, tapi dia sendiri bukan orang jahat. Mungkin di- alah orangnya yang bergelar Iblis Racun Hijau?"

"Gendut, siapa kakek aneh ini? Sekujur tubuhnya sampai ke rambut berwarna hijau. Mungkinkah dia masih anak turun sapi yang su- ka memakan rumput?" tanya si pemuda yang bu- kan lain adalah Gento Guyon sambil menahan senyum. "Mungkin dia masih merupakan bapak moyangnya sapi. Tapi ketika masih dalam kan- dungan ibunya selalu bermimpi ingin jadi manu- sia, sehingga terlahirlah manusia aneh sebagai- mana yang kau lihat." berkata seperti itu si kakek yang bukan lain adalah guru pemuda itu sudah tak dapat lagi menahan tawanya. Murid dan guru akhirnya sama-sama tertawa.

"Manusia sinting salah kaprah apa yang kalian tertawakan?" bentak Iblis Racun Hijau me- rasa tersinggung melihat tingkah murid dan guru ini. Gentong Ketawa buru-buru mendekap mulut, walau mulut sudah ditutup namun perutnya ma- sih tetap bergoyang-goyang pertanda tawanya be- lum lenyap sama sekali. Lain halnya dengan Gen- to, begitu melihat mata kakek bermata hijau ini mendelik dia langsung katupkan bibirnya.

"Gawat ndut, orang tua itu nampaknya ti- dak terima kita tertawa-tawa di depannya. Ndut... lihatlah, bukan hanya tubuh kakek ini saja yang hijau, bahkan mata sampai ke giginya juga ber- warna hijau!" berbisik si pemuda yang sering memanggil gurunya dengan sebutan gendut itu.

"Sudah kuduga, dia memang mahluk lang- ka. Yang sering kulihat gigi orang berwarna kun- ing, tapi yang ini memang lain." sahut si kakek. Dia membuka mulut hendak tertawa lagi, tapi Gento cepat menekap mulut gurunya dengan tan- gan kirinya.

"Eeh, apa-apaan kau murid edan? Orang hendak tertawa kok dilarang!" kata si kakek gen- dut sambil menepiskan tangan Gento.

"Hemm, rupanya kau dan tua bangka gen- dut itu adalah murid dan guru?" kata Iblis Racun Hijau sinis.

"Kau benar sekali orang tua hijau?" sahut

Gento.

"Pantas, keduanya sama-sama edan." Gentong Ketawa bukannya tersinggung,

sebaliknya malah tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa si kakek menunjuk ke arah si kakek ser- ba hijau. "Kau orang yang tubuhnya seperti koto- ran kerbau, kalau tak salah aku melihat bukan- kah kau manusianya yang bergelar Iblis Racun Hijau?" tanya si kakek gendut. Pertanyaan ini membuat si kakek serba hijau melengak.

"Bertemu denganmu rasanya baru kali ini, bagaimana kau bisa mengenali diriku?" tanya si kakek terheran-heran.

"Aku ini manusia kabur kanginan, delapan penjuru angin menjadi tempat pengembaraanku. Aku mendengar kabar apa saja, termasuk juga di- rimu. Ha... ha... ha!" kata kakek Gentong Ketawa.

"Terima kasih kalau kau mengenali si bu- ruk rupa ini. Dan kalau tidak salah pula pengli- hatanku bukankah engkau orangnya yang keso- hor dan sering dipanggil orang Gentong Ketawa?" tanya si kakek hijau sambil pandangi orang tua gendut di depannya. Si kakek tertawa mengekeh.

"Sebuah nama yang jelek kurasa. Mungkin karena mereka melihat badanku yang begitu be- sar mirip gentong, sedangkan aku kebiasaan se- jak dari kecil suka tertawa bila melihat hal yang aneh dan lucu. Jadi enak saja mereka menamai- ku Gentong Ketawa. Ha... ha... ha!"

"Eeh, apakah kau punya nama lain?" tanya Iblis Racun Hijau.

Si kakek gelengkan kepala, sedangkan wa- jahnya berubah murung. Dia kemudian berucap. "Namaku sendiri aku sudah lupa, mau bertanya pada ibuku siapa namaku yang sebenarnya aku tak tahu apakah Ibuku sudah mati atau masih hidup. Huk... huk... huk!" si kakek tiba-tiba me- nangis sesunggukan.

Muridnya jadi ikut prihatin. Dengan muka serius dia mengusap kening si kakek yang lebar sambil berkata. "Yang sudah berlalu biarlah ber- lalu. Aku yakin cepat atau lambat kau juga mati sendiri menyusul ibumu, guru!" kata Gento menghibur.

6

Gentong Ketawa menepis tangan muridnya. Mulut kakek itu komat-kamit menggerendeng seakan tak senang mendengar ucapan Gento. Si pemuda hanya menyengir sambil kedipkan ma- tanya.

Iblis Racun Hijau tersenyum melihat ting- kah antara murid dan guru itu. Kemudian dia bertanya, "Siapa nama muridmu ini?"

"Namaku Gento Guyon kakek hijau. Julu- kanmu sendiri mengapa seram begitu? Apakah tubuhmu benar-benar mengandung racun ga- nas?" tanya si pemuda pula.

"Begitu kenyataan yang sebenarnya. Tu- buhku sangat beracun sekali, jangankan cairan di tubuhku, kulitku sendiri mengandung racun me- matikan. Tapi walaupun aku dijuluki iblis, tapi aku bukan manusia jahat!" kata si kakek serba hijau. Gento sempat tercengang mendengar uca- pan Iblis Racun Hijau. Dia merasa betapa berba- hayanya berdekatan dengan orang tua ini.

"Kek, sebaiknya kita cepat pergi dari sini," ujar Gento dengan suara perlahan.

"Mengapa harus pergi, justru kita menemui orang tua ini karena kita punya satu keperluan yang sangat penting menyangkut keselamatan Ambini." sahut si kakek gendut.

Iblis Racun Hijau yang sempat mendengar pembicaraan antara Gento dan gurunya segera ajukan pertanyaan. "Sebenarnya kalian berdua hendak ke mana?" tanya si kakek.

Gentong Ketawa dan muridnya saling ber- pandangan. Gento melangkah maju mewakili gu- runya. "Kami sebenarnya hendak pergi ke Kuil Se- tan."

"Kuil Setan?" desis Iblis Racun Hijau men- gulang ucapan Gento. "Buat apa kalian pergi ke tempat laknat itu? Ingin mencari senjata Bintang Penebar Bencana, atau punya maksud lain?"

"Kami ingin mencari seorang gadis yang di- culik oleh seseorang. Gadis itu bernama Ambini, hanya kami tidak tahu siapa yang menculik dan membawa gadis sahabat kami itu ke sana!" men- jelaskan si kakek gendut. Dia kemudian menceri- takan segala sesuatu secara panjang lebar. Untuk lebih jelasnya (baca episode Topeng Ke Dua). Mendengar penjelasan murid dan guru ini Iblis Racun Hijau menggerendeng.

"Tidak mudah untuk dapat memasuki kuil itu. Tempat itu dijaga ketat oleh tiga mahluk aneh yang bernama Maut Biru, Maut Kuning dan Maut Merah. Masing-masing dari ketiga mahluk yang kusebutkan ini mempunyai kelebihan. Baik men- genai ilmu atau kesaktiannya. Selain itu di sana juga terdapat banyak jebakan dan perangkap- perangkap maut." menerangkan Iblis Racun Hijau dengan perasaan khawatir.

"Ha... ha... ha. Berarti kami punya hara- pan, bukankah begitu guru?!" ujar Gento sambil mengedipkan matanya ke arah si kakek gendut.

"Bertemu dengannya bukan suatu perjala- nan yang sia-sia. Ha... ha... ha!" sahut si kakek pula disertai tawa tergelak-gelak,

Iblis Racun Hijau kerutkan keningnya. "Apa maksud kalian?" tanya si kakek tidak men- gerti.

"Sobat, kau telah menceritakan keadaan serta suasana di Kuil Setan. Walaupun apa yang kau tuturkan kepada kami hanya merupakan ba- gian terkecil, tapi kami merasa yakin kau tahu banyak hal tentang kuil itu?" ujar Gento. Lagi-lagi si pemuda sungggingkan seringai. Iblis Racun Hijau tercengang, tak mengira dia terjebak oleh ucapannya sendiri. Mendadak wajah orang tua itu berubah muram, dia meman- dang ke langit.

"Gusti... gusti... agaknya segala sesuatu yang telah menjadi takdir Mu tak seorang manu- siapun yang kuasa merubahnya." ujar si kakek hijau dengan mata berkaca-kaca.

"Eh, lihat kakek itu. Apakah tampang kita begini menyedihkan hingga membuat kakek itu menangis." bisik si pemuda.

Si kakek gendut tersenyum. "Tampangku selalu menyenangkan, kurasa wajahmu yang membuat Iblis Racun Hijau jadi prihatin. Hi... hi... hi."

"Gendut, kau kelewat percaya diri." dengus si pemuda. Dia kemudian terdiam ketika dilihat- nya Iblis Racun Hijau memandang kepadanya dengan penuh rasa iba.

"Sahabat gendut dan kau anak muda. Te- rus terang aku memang mengetahui daerah itu. Kuil Setan bukan merupakan tempat asing bagi- ku, karena antara aku dengan seorang penghu- ninya masih ada hubungan kerabat. Tapi kalian harus tahu. Walaupun aku mengenali tempat itu, aku juga tidak dapat keluar masuk sesuai dengan keinginanku. Di sana banyak tata cara serta atu- ran yang selalu berubah-ubah, di samping itu Kuil Setan mengandung banyak tipuan." jelas Ib- lis Racun Hijau. Dia kemudian melanjutkan. "Jika memang benar sahabat kalian itu dibawa ke Kuil Setan, seandainya dia dijadikan jaminan oleh penculiknya. Mungkin saat ini sudah tidak keto- longan lagi!"

"Apa?" seru Gento dan gurunya hampir se- rentak. Kedua orang ini sama-sama tak dapat menutupi rasa kagetnya. Dengan perasaan cemas Gento berkata tegas. "Jika sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Ambini, penculiknya akan mendapat hukuman yang sangat setimpal dariku. Sedangkan Kuil Setan akan kubuat sama rata dengan tanah!"

"Para setan di kuil itu akan kuusir dan ku- suruh kembali ke neraka!" timpal si kakek gendut pula dengan mata mendelik dan geraham berge- meletukan.

"Jangan bertindak gegabah perturutkan hawa nafsu. Segala sesuatunya kurasa masih bi- sa diatur asal kalian berdua tidak bertindak me- nuruti kemarahan dan hawa nafsu sendiri." tegas Iblis Racun Hijau.

Mulut Gento berubah cemberut. "Siapa yang tidak marah, sahabatku hendak digantung orang masakan aku hanya tinggal diam sambil uncang-uncang kaki?" gerutu si pemuda.

Gentong Ketawa yang lebih dapat mengua- sai diri dan merasa percaya Iblis Racun Hijau ber- sedia membantunya berkata. "Hubungan antara muridku dengan gadis cantik itu bukan hanya sekedar sahabat, tapi di antara mereka mung- kin... ini mungkin, sudah terjalin benang kasih yang sulit diputuskan. Sobatku hijau, kalau kau melihat matanya kau segera tahu, mata muridku itu jadi merah karena tidak tidur beberapa hari ini memikirkan gadis itu." kata si kakek gendut, dalam hati dia tertawa sendiri.

Ucapan yang sesungguhnya hanya bercan- da ini ditanggapi dengan serius oleh Iblis Racun Hijau. Dengan nada prihatin dia berkata. "Aku ikut sedih mendengarnya. Aku percaya cinta mu- ridmu pada gadis itu adalah sebuah cinta sejati. Cinta sejati terkadang membuat orang rela mela- kukan apa saja, termasuk juga tidak tidur selama bermalam-malam. Anak muda, aku sampaikan rasa takjubku padamu. Aku berjanji untuk mem- bantu kalian dalam membebaskan gadis itu. Tapi untuk kalian ketahui, kurasa apa yang hendak ki- ta lakukan tidak akan menjadi mudah. Malah aku khawatir usaha kita akan mengalami banyak rin- tangan yang besar lagi sulit!"

Gento yang semula bersemangat, karena merasa ucapan gurunya yang ngaco telah menge- na pada sasaran yang diinginkan kini tubuhnya terasa lemas kembali.

Kakek Gentong Ketawa sadar betul apa yang ada dalam pikiran muridnya sehingga dia bertanya pada si kakek serba hijau. "Sobatku, manusia sejuta keindahan. Apakah maksud dari ucapanmu itu?"

"Terus terang saat ini kurasa telah ber- kumpul orang-orang yang menginginkan senjata Bintang Penebar Petaka di Kuil Setan. Boleh jadi tokoh dari semua golongan mengincar senjata itu. Satu di antaranya adalah Lira Watu Sasangka, bergelar Panji Anom Penggetar Jagad alias Bega- wan Muda. Orang yang kusebutkan ini usianya hampir sama dengan muridmu, aku kenal den- gannya karena dia masih merupakan murid sa- habat jauhku Begawan Panji Kwalat "

"Begawan Panji Kwalat?" seru kakek Gen- tong Ketawa. "Manusia jahat itu mempunyai seo- rang murid?" tanya si gendut dengan mata men- delik. Iblis Racun Hijau mengangguk.

"Kiamat... kiamat. Aku yakin muridnya pasti tidak lebih baik dari gurunya." kata si ka- kek.

"Malah jauh lebih buruk dari yang kau sangkakan sahabatku. Tadi sebelum kalian mun- cul dia bahkan sudah datang ke mari dan memin- taku untuk mengantarkannya ke Kuil Setan. Tapi dengan tegas kutolak." ujar si kakek hijau. Secara singkat si kakek kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi kepada si kakek gendut.

Sebaliknya Gento Guyon memang tidak ta- hu siapa Begawan Panji Kwalat tidak memperli- hatkan reaksi apapun, tetap tenang tapi juga geli- sah.

"Jika benar katamu murid Begawan Panji Kwalat gentayangan di Kuil Setan, kurasa pengu- asa kuil itu perhatiannya akan terpecah belah. Ki- ta punya kesempatan untuk menemukan Ambini secepatnya!" kata Gentong Ketawa.

"Jadi engkau mau membantu kami, kakek hijau?" tanya Gento. "Mengingat kisah asmaramu, aku tentu sa- ja mau membantu. Aku senang jika kalian dapat berkumpul kembali. Syukur kalian berjodoh, jika kalian menikah tentu selain dapat makanan enak aku juga dapat pahala besar. Ha... ha... ha!" kata iblis Racun Hijau sambil tertawa.

Melihat si kakek tertawa untuk pertama kalinya, Gento sempat surut satu langkah. Den- gan mulut ternganga heran dalam hati dia berka- ta.

"Ternyata bukan tubuh kakek ini saja yang hijau, lidah dan giginya juga hijau. Tapi dia juga manusia tolol, mau saja dikibuli guruku!"

"Iblis Racun Hijau, jika sudah mencapai kata sepakat, bukankah sebaiknya kita sekarang berangkat!" suara si kakek gendut memecah ke- heningan.

"Tidak, kalian yang berangkat duluan. Aku bisa menyusul nanti setelah berendam dulu di te- laga hijau!" jawab si kakek.

"Hah... mengapa begitu?" tanya Gento Ka-

get.

"Untuk diriku sendiri, segala peraturannya

aku yang membuat, bukan kau dan gurumu." Gento dan gurunya tak mungkin memaksa

Iblis Racun Hijau untuk ikut serta dengan mere- ka. Apalagi saat itu si kakek sudah memutar langkah, lalu berjalan ke arah telaga. Tak lama Iblis Racun Hijau sudah berendam di dalam tela- ga kecil yang dangkal.

"Orang tua itu seperti kerbau saja. Berku- bang di dalam telaga seolah tubuhnya selalu ke- gerahan." gerutu si pemuda sambil tinggalkan tempat itu.

7

Di dalam salah satu ruangan yang terdapat di dalam Kuil Setan, Si Tangan Sial duduk mene- kuri lantai di depannya di atas dua buah kursi berwarna merah dengan sandaran tinggi. Pada masing-masing kursi yang saling berdampingan duduk seorang laki-laki berwajah buruk mengeri- kan. Berpakaian hijau. Bagian kening orang ini seperti terkelupas, di atas kening yang terkelupas terdapat satu lubang menghitam sebesar jari ke- lingking. Di dalam lubang mengerikan inilah ter- dapat seekor ular berwarna merah, kepala ular selalu keluar masuk hingga membuat merinding siapapun yang melihatnya. Selain itu kulit pipi pemuda itu juga nampak mengelupas meninggal- kan bercak-bercak merah seperti sisik ular.

Jauh bertolak belakang dengan gadis yang duduk di kursi sebelah. Gadis ini memiliki wajah cantik jelita seperti bidadari. Kulitnya putih, ram- but terurai panjang. Dia memakai pakaian serba hijau yang sangat tipis, sehingga keindahan dada dan pinggulnya terlihat jelas mengundang perha- tian laki-laki manapun yang melihatnya.

Jauh bertolak belakang dengan pemuda di sampingnya, tubuh gadis secantik bidadari ini menebarkan bau harum semerbak laksana bunga yang mekar di pagi hari.

Beberapa saat lamanya pemuda dan gadis ini memandang ke arah Si Tangan Sial. Lalu pe- muda berwajah buruk yang di keningnya terdapat sebuah lubang hitam menganga menarik nafas pendek. "Paman Tangan Sial," katanya kemudian. "Aku Maut Tanpa Suara dan saudaraku seguru Dwi Kemala Hijau memang sudah menganggap dirimu bukan lagi seperti orang lain, aku sudah menganggapmu sebagai kerabat dekat. Sehingga kau punya kebebasan keluar masuk di kuil ini. Selama itu kau tidak pernah mengutarakan kein- ginan apapun pada kami. Lalu bagaimana secara tiba-tiba saja kau datang ke sini, membawa seo- rang gadis kemudian ingin meminta senjata Bin- tang Penebar Petaka. Buat apa senjata itu bagi- mu?"

"Aku membutuhkannya untuk satu keper- luan besar." sahut Si Tangan Sial agak gugup.

"Paman Tangan Sial, kurasa untuk mela- kukan semua hajat, kau cukup menggunakan kedua tanganmu. Mengapa senjata itu yang kau minta? Padahal dengan kedua tangan saktimu itu kau bisa melakukan apa saja." kata Dwi Kemala Hijau ikut menimpali.

"Tidak. Kedua tanganku ini menjadi tidak berguna di hadapan orang itu." sergah Si Tangan Sial.

"Siapakah orang yang kau maksudkan?" tanya si gadis secantik bidadari ingin tahu. "Dewa Penyanggah Langit!" jawab orang tua itu berbohong.

Bukan hanya Dwi Kemala Hijau saja yang terkejut, tapi Maut Tanpa Suara jadi terkesiap kaget.

"Bagaimana kau bisa punya silang sengke- ta dengan manusia dari Puncak Halilintar itu, paman?"

"Panjang ceritanya dan aku tak mau men- gatakannya pada kalian berdua. Karena ini me- nyangkut urusan yang sangat pribadi." ujar Si Tangan Sial, lagi-lagi apa yang diucapkan si orang tua adalah merupakan kedustaan belaka.

"Kebiasaan di Kuil Setan, setiap persoalan yang menyangkut urusan pribadi seseorang tidak boleh orang lain ikut mencampurinya. Sungguh- pun aku pribadi sangat ingin mengetahui geran- gan apa yang menjadi persoalanmu sehingga kau sampai berurusan dengan manusia yang satu ini. Tapi walaupun kami berdua adalah sahabatmu, kami tidak berani menyerahkan senjata itu pa- damu begitu saja. Masih ada yang lebih berhak menentukan dalam persoalanmu itu. Dia adalah Yang Agung, dia penentu segalanya di sini." tegas Maut Tanpa Suara.

Meskipun Si Tangan Sial kecewa menden- gar penjelasan pemuda berwajah buruk itu, da- lam persoalan ini tentu saja dia tak dapat me- maksa. Sehingga dia hanya dapat mengangguk- kan kepala.

"Sekarang, coba katakan pada kami, men- gapa kau membawa gadis itu ke sini, paman Tan- gan Sial?" tanya Dwi Kemala Hijau.

Untuk beberapa saat lamanya Si Tangan Sial menjadi bingung, Begawan Panji Kwalat me- merintahkan padanya untuk membunuh Gento Guyon. Apa alasan Begawan sesat itu memberi perintah demikian dia sendiri tidak tahu. Karena Ambini masih merupakan sahabat pemuda yang harus dibunuhnya, untuk memudahkan segala perintah yang dibebankan kepadanya dia lalu menculik Ambini. Setelah berpikir sejenak Si Tan- gan Sial kemudian berucap. "Gadis itu masih punya hubungan darah dengan Dewa Penyanggah Langit. Aku membawanya untuk kujadikan jami- nan, karena saat ini ada dua orang yang menge- jarku. Mereka juga masih kerabat Ambini, na- manya Gentong Ketawa dan Gento Guyon. Dua orang ini sangat berbahaya, sengaja diutus oleh Dewa Penyanggah Langit untuk menangkapku hi- dup atau mati!" jelas Si Tangan Sial dengan wajah membayangkan rasa takut luar biasa.

"Mereka tidak mungkin datang ke mari. Terkecuali jika mereka ingin mencari kematian- nya sendiri. Ha... ha... ha!" kata Maut Tanpa Sua- ra disertai tawa tergelak-gelak.

"Jangan menganggap remeh mereka. Ke- dua orang itu bisa melakukan apa saja!" ujar Si Tangan Sial sengaja memperlihatkan kesan bah- wa Gentong Ketawa dan Gento Guyon yang diakui sebagai orang yang menginginkan dirinya tidak memandang sebelah mata pada mereka. Maut Tanpa Suara mendengus geram. Tan- gan kirinya yang menyambar sebuah cangkir dari tanah liat. Cangkir itu lalu diremasnya hingga hancur menjadi debu. "Apakah tubuh mereka seatos besi?" tanya Maut Tanpa Suara.

"Aku tak tahu." sahut Si Tangan Sial.

Sebaliknya gadis secantik bidadari yang masih merupakan saudara seperguruan Maut Tanpa Suara tidak mudah terpancing, diam-diam dia mulai berpikir menyiasati. Dalam pandangan- nya dia melihat satu keanehan dalam diri Si Tan- gan Sial. Beberapa kali orang tua itu datang ke Kuil Setan pada waktu sebelumnya. Si Tangan Si- al yang dulu sering dia lihat adalah sosok orang tua yang selalu bicara tenang, tapi selalu menye- sali nasib juga kemalangan dirinya. Tapi kali ini dia melihat orang tua itu setiap bicara selalu gu- gup dan tundukkan kepala.

"Ada yang tidak beres! Ada sesuatu yang terjadi dengannya. Terkadang kulihat dia seperti kesakitan." batin Dwi Kemala Hijau.

"Paman Tangan Sial, besok kita harus mengeluarkan gadis itu dari sini. Kita bisa mele- takkannya di satu tempat, tubuhnya akan ku ikat di tiang pancang biar terlihat oleh orang-orang yang mengejarmu. Jika orang itu datang baru kita meringkusnya!" kata Maut Tanpa Suara tegas.

"Aku sangat gembira sekali mendengarnya. Di saat diriku sedang berada dalam ancaman ba- haya besar, seorang sahabat bersedia membantu- ku." kata si orang tua dengan mata berbinar gem- bira. "Tapi bagaimana dengan senjata itu?" tanya Si Tangan Sial kemudian.

"Mengenai senjata, bukan persoalan yang gampang untuk menyerahkannya padamu begitu saja. Semuanya tergantung kemurahan hati Yang Agung. Jika dia tidak berkenan memberikannya padamu, nantinya kau jangan kecewa. Lagi pula kami tidak tahu senjata itu disimpan di mana!" Dwi Kemala Hijau akhirnya berkata dengan pe- nuh ketegasan.

"Apa yang dikatakan oleh saudara sepergu- ruanku itu memang benar adanya paman. Mung- kin segalanya akan menjadi mudah bila kau mau bergabung dengan kami dan bersedia tinggal di dalam Kuil Setan ini selamanya." kata Maut Tan- pa Suara pula.

"Maksudmu aku berada di sini sampai tua dan mati, kemudian setelah menjadi roh gen- tayangan aku menjadi pengikut Yang Agung?" tanya Si Tangan Sial penuh rasa kaget. Walaupun saat itu dirinya dikuasai oleh satu kekuatan yang mampu membuat dirinya menjadi patuh dengan segala perintah Begawan Panji Kwalat, tapi jauh di lubuk hati dia tahu apa arti dari semua ucapan Maut Tanpa Suara. Dengan menerima tinggal ser- ta bergabung dengan kerabat Kuil Setan, berarti dirinya kelak sepanjang hidup harus mengabdi- kan diri pada Yang Agung. Satu mahluk jahat berkekuatan besar yang belum pernah memperli- hatkan diri di depan para pengikutnya.

"Apa yang kau katakan itu tidak keliru pa- man." jawab Maut Suara beberapa saat kemu- dian.

"Aku tidak mau. Aku lebih suka hidup di alam bebas!" tegas Si Tangan Sial.

"Jika keberatan untuk sementara me- nyingkirlah dari ruangan ini. Jika nasibmu baik, mungkin apa yang kau inginkan segera kau da- patkan. Jika takdirmu buruk permintaanmu itu hanya mempercepat kematianmu sendiri!" ujar Dwi Kemala Hijau.

"Aku tahu, segala akibatnya akan ku tang- gungkan!" Selesai berkata begitu Si Tangan Sial bangkit berdiri. Tak lama kemudian sosoknya te- lah menghilang dari pandangan mata.

Maut Tanpa Suara begitu Si Tangan Sial meninggalkan ruangan di mana mereka berada langsung menoleh kepada Dwi Kemala Hijau.

"Bagaimana pendapatmu tentang sahabat kita yang satu itu?" tanya si pemuda berwajah buruk mengerikan.

"Selama ini dia adalah orang berhati jujur dan polos. Tapi kali ini aku tidak melihat kejuju- ran itu. Ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada dirinya." gumam Dwi Kemala Hijau.

"Mungkin... mungkin apa yang kau ucapkan itu ada benarnya, Aku akan membicara- kan semua ini pada Yang Agung." ujar Maut Tan- pa Suara. Dwi Kemala Hijau diam. Sama sekali dia tidak memberi tanggapan atas ucapan sauda- ra seperguruannya itu. 8

Di sebelah timur puncak bukit tak jauh da- ri Kuil Setan yang saat itu tidak terlihat karena tertutup kabut tebal Gento Guyon dan gurunya mendekam di balik rumpun semak belukar. Si pemuda kemudian memandang ke arah gurunya begitu selesai memperhatikan gumpalan kabut yang bergulung-gulung menyelimuti kuil di pun- cak bukit.

"Aku belum pernah melihat pemandangan yang seperti ini." berkata pemuda itu penuh rasa takjub juga heran. "Kabut yang menyelimuti kuil itu tidak ubahnya seperti mendung yang bergu- lung ditiup angin kencang. Begitu tebal sampai keberadaan kuil itu sendiri tidak terlihat. Bagai- mana kita bisa memasuki kuil itu? Jika kita ma- suk ke dalam lingkaran kabut aku khawatir akan banyak bahaya yang muncul secara tidak terdu- ga." ujar pemuda itu seakan ditujukan pada di- rinya sendiri.

Si kakek gendut tidak segera menjawab, sepasang matanya terus mengawasi bukit yang diselimuti kabut. Saat itu panasnya terik mataha- ri sudah tidak dihiraukannya lagi. Sampai akhir- nya si kakek gelengkan kepala.

"Tempat itu memang aneh. Aku bahkan merasakan adanya pengaruh kekuatan gaib ber- cokol di tempat ini. Ku ingatkan padamu jangan sampai lengah. Salah kita melangkah, mungkin nyawamu tidak ketolongan!" ujar si kakek. Dia la- lu mengusap wajahnya yang keringatan. Matanya yang kecil sipit berkedap-kedip. Si kakek terus memutar otak mencari jalan. Saat itu suasana di sekitarnya memang sangat sunyi sekali, terkesan tidak ada kehidupan di tempat itu. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tulang belulang memutih berserakan, sebagai saksi atas kehadi- ran mereka di tempat paling celaka itu.

"Guru, sebaiknya kita berpisah di sini, aku akan menyelidik ke sebelah timur kuil. Aku meli- hat tadi ada satu bayangan biru berkelebat me- ninggalkan kuil. Siapa tahu peruntunganku baik, aku dapatkan seorang gadis cantik di sebelah sa- na." ujar si pemuda disertai senyum.

"Bocah goblok, bagaimana jika sampai ter- jadi sesuatu denganmu. Aku pasti tidak tahu," jawab si kakek gendut.

"Tidak perlu khawatir. Aku ke sana tidak lama hanya ingin memastikan barangkali ada ja- lan masuk dari tempat itu. Jika bayangan biru tadi bisa muncul dari arah kuil. Berarti memang ada jalan di tempat itu. Jika ternyata dugaanku meleset aku segera kembali menemuimu," jelas Gento.

"Cepatlah, tapi jangan terlalu lama!" kata kakek Gentong Ketawa. Gento anggukkan kepala. Setelah itu tanpa membuang waktu lagi dia lang- sung berkelebat pergi ke sebelah timur kuil di mana bayangan biru tadi sempat terlihat olehnya. Sementara itu di balik satu pohon kering satu sosok berpakaian biru berdiri di sana. Empat kepala sosok aneh yang mengenakan pakaian bi- ru sama menoleh, empat mata yang terletak di bagian kening dari empat kepala itu terus mem- perhatikan ke arah si pemuda. Empat pasang bi- bir sama tersenyum. Lalu dia berucap. "Sebelum pemuda ini ku ringkus, kurasa ada baiknya jika aku mempermainkannya" katanya. Empat tangan, dua menghadap ke depan dan dua menghadap ke belakang sama bergerak ke atas. Empat kepala sebesar kepalan tangan orang dewasa diusap,

Wuees!

Hanya dalam waktu sekedipan mata ke empat kepala aneh bermata tunggal lenyap. Mah- luk berkepala empat berbadan seperti manusia lenyap menjadi kepulan asap. Di lain saat di balik pohon itu berdiri tegak seorang gadis cantik ber- wajah cantik rupawan, menggantikan sosok menggidikkan berkepala empat tadi. Gadis ini ter- senyum, lalu keluar dari tempat persembuyian- nya.

"Kau mencariku?" kata gadis itu ditujukan pada Gento yang saat itu memang tengah sibuk mencari sosok bayangan yang dilihatnya tadi. Pemuda itu tentu saja kaget bukan main, dalam kagetnya dia cepat menoleh ke belakang. Rasa kaget pemuda ini semakin menjadi-jadi begitu melihat satu sosok berambut panjang berwajah cantik jelita berdiri tegak di belakangnya. Gento memutar badan sehingga kini dia dan gadis itu saling berhadapan. "Jika aku berjalan sendiri peruntunganku selalu baik. Gadis cantik ini bagaimana tahu-tahu muncul di sini? Apakah dia salah satu penghuni Kuil Setan?" membatin Gento dalam hati.

"Pemuda tampan apa yang kau pikirkan? Melihat pada matamu kurasa kau sedang mencari seseorang." ujar si gadis sambil kedipkan mata sementara lidah sengaja dijulurkan membasahi bibirnya yang merah menawan.

Gento terkesiap, tidak menyangka orang dapat membaca jalan pikirannya. Di luar semua itu Gento memang harus mengakui gadis ini me- miliki kecantikan luar biasa. Mungkin lebih can- tik dari Ambini. Hanya kelebihan Ambini dia me- miliki sepasang mata yang indah.

"Kau diam, berarti apa yang kukatakan be- nar adanya." kata si gadis berpakaian biru tipis itu lagi.

"Ee... aku... aku memang sedang mencari seseorang." sahut Gento ragu-ragu. Sekejap dia melirik ke arah si gadis. Hatinya sempat berdebar aneh ketika pandangan mereka secara tak senga- ja saling berbenturan.

"Seseorang yang kau cari itu laki-laki atau seorang gadis?" tanya si gadis lagi. Melihat ke- tampanan si pemuda kali ini dia memandang pe- nuh kemesraan.

"Kecantikannya sungguh memikat. Tapi aku tidak boleh terpedaya dengan kemolekan tu- buh dan kecantikan wajah. Bisa jadi di balik pe- nampilan yang terlihat menggoda, sesungguhnya dia adalah pembunuh keji." pikir si pemuda.

"Kau diam, mungkin kau takut aku ini ga- dis jahat."

"Hen, bagaimana dia bisa mengatakan apa yang sedang ku pikirkan?" Lagi-lagi Gento dibuat tak habis mengerti.

Kemudian dengan sikap acuh gadis itu pa- lingkan wajahnya ke arah lain. Dia lalu berkata. "Aku memang gadis yang malang, orang seburuk diriku mana ada yang mau percaya. Hu... hu...hu. Ibu, kalaulah aku tahu begini sengsaranya hidup di dunia ini, lebih baik aku menyusulmu!" kata si gadis sambil menangis terisak-isak.

Melihat sikap yang ditunjukkan gadis itu, Gento pun akhirnya jadi tidak sampai hati untuk membiarkannya begitu saja. Dia kemudian me- langkah menghampiri. Memperhatikan gadis yang sedang menangis itu, entah mengapa Gento men- dadak saja jadi merasa iba. Tanpa sadar dia membelai rambut hitam panjang si gadis. Sikap- nya tidak ubahnya seorang kakak yang melin- dungi adiknya.

"Maafkan aku, sama sekali aku tak ber- maksud membuatmu bersedih. Lagipula aku be- lum bicara apa-apa." ujar Gento pelan membujuk. "Mulutmu bicara begitu, tapi hatimu berka-

ta lain!" kata si gadis, sambil berusaha menghen- tikan tangisnya. Dia kemudian memeluk pemuda itu. Gento jadi terperangah dan merasa serba sa- lah. Apalagi mengingat dada si gadis menempel ketat di dadanya. Dia pejamkan matanya, menco- ba mengosongkan pikiran agar tidak terpengaruh oleh tindakan sepontan yang dilakukan gadis itu.

"Aduh biung, aku jadi serba salah. Jika aku menjauhkan diriku pasti dia menduga aku benci kepadanya. Tapi jika kubiarkan dia meme- luk ku begitu rupa, bagaimana jika ketahuan gu- ruku. Nanti dikiranya aku suka berbuat mesum." Gento Guyon kemudian menepuk bahu si gadis, menarik kedua tangan gadis itu menjauh dari di- rinya sambil berkata. "Tabahkan hatimu, sadar- lah...!" Kata-kata perlahan yang diucapkan oleh si pemuda menyadarkan gadis itu. Dia pun jauhkan wajahnya, kedua tangan ditarik lepas sedang mu- kanya berubah merah padam.

"Oh, maafkan aku. Sama sekali aku tidak bermaksud membuatmu malu. Apa yang terjadi semua karena aku merasa bingung tak tahu ha- rus mengadu ke mana?" kata gadis itu.

"Siapa namamu?" tanya Gento begitu terin- gat akan tujuannya.

"Namaku Puspita." jawab si gadis. "Kakang sendiri siapa?"

"Namaku Gento Guyon." sahut si pemuda. "Bagaimana kau bisa berada di tempat ini."

Mendapat pertanyaan itu wajah si gadis kembali berubah murung. "Entahlah sejak orang tuaku meninggal, aku jadi tidak punya tujuan. Aku pergi ke mana saja mengikuti langkah."

Mendengar jawaban si gadis mendadak Gento merasakan ada sesuatu yang sangat ganjil. Dia kemudian berpikir. "Sosok yang kulihat per- tama tadi adalah sosok berpakaian serba biru. Gadis ini juga memakai pakaian biru. Jangan- jangan dia adalah...!" Murid kakek Gentong Keta- wa ini tidak sempat lagi melanjutkan ucapannya karena di depan sana si gadis cantik yang menga- ku bernama Puspita itu mendadak mengeluh se- perti kesakitan sambil memegangi dadanya. "Akh, penyakitku...!" rintih Puspita. "Apa yang terjadi dengan dirimu?" seru si pemuda. Tanpa merasa curiga lagi dia melompat ke depan sambil me- nyambar bahu Puspita yang sudah terhuyung nyaris terjengkang. Beruntung Gento cepat ber- tindak. Kalau tidak tentu kepala si gadis cantik itu menghantam batu yang terdapat di belakang- nya.

"Dadaku... akh... dadaku seperti mau me- ledak...!" rintih si gadis. Karena yang dikeluhkan di bagian dada, tentu saja Gento jadi bingung sendiri. Mustahil dia menyentuh atau memeriksa di bagian itu.

"Lakukanlah sesuatu, jangan diam begi- tu?!" kata Puspita dengan nafas tersengal semen- tara tangan kirinya yang bersimbah keringat nampak sibuk meremas-remas dadanya sendiri. Tidak sampai di situ saja kedua bahu si gadis ju- ga bergetar keras kepala menyentak-nyentak tak mau diam. Gento yang berusaha mendukung ba- dan Puspita dengan kedua tangannya jadi kerepo- tan. 9

Dia mencoba membaringkan Puspita di atas tanah. Tanpa pernah terduga pada saat itu pula tangan kanan gadis itu menyambar ke ba- gian bahu juga dada Gento. Gento yang merasa- kan adanya sambaran angin dingin menghantam dua bagian tubuhnya langsung melompat men- jauh sambil lepaskan pegangannya pada bagian punggung belakang si gadis. Sinar biru membersit dari telapak tangan gadis itu. Luput mengenai sa- saran yang diharapkan sinar maut menghantam gundukan batu besar di ujung puncak bukit. Ter- jadi ledakan keras menggelegar begitu sinar biru menghantam hancur batu tersebut. Kepulan debu dan pecahan batu bermentalan di udara. Setiap kepingan yang terpental mengepulkan asap tebal dikobari api berwarna biru.

Gento Guyon jelas tak kuasa menutupi ra- sa kagetnya. Dia sama sekali tidak menyangka gadis cantik yang terlihat lemah itu ternyata hampir saja membuatnya celaka. Kini pemuda itu yang sempat tercengang melihat kedahsyatan se- rangan yang dilakukan si gadis langsung berpal- ing memandang ke arah Puspita. Di depannya sa- na gadis itu tertawa tergelak-gelak sambil don- gakkan kepalanya.

"Sungguh kau manusia paling tolol yang pernah kutemui. Begitu mudahnya kau tertipu hanya dengan melihat kecantikan tubuh seorang wanita. Hik,.. hik... hik!" kata Puspita sambil ter- tawa tergelak-gelak.

"Huh, dari semula aku sudah curiga. Tapi entah mengapa melihat kau menangis tiba-tiba aku menjadi iba. Setan kuntilanak siapa engkau yang sebenarnya? Suaramu jelek dan sepertinya selain dirimu masih ada orang lain yang ikutan tertawa!" dengus Gento disertai senyum mengejek. "Hik... hik... hik. Sebentar lagi kau akan melihat sesuatu yang tidak pernah kau bayang- kan. Aku adalah pengawal Kuil Setan, aku Maut Biru!" berkata begitu gadis cantik itu mengusap

wajahnya sebanyak tiga kali usapan.

Wuess!

Mendadak sontak dari sekujur tubuh si gadis mengepulkan asap tebal kebiru-biruan. Be- berapa saat lamanya asap tebal menyelimuti diri tubuh Puspita. Ketika asap yang menyelimuti ga- dis ini lenyap, maka kini di depan murid kakek Gentong Ketawa tampak satu sosok besar ber- warna biru, dengan empat tangan dua di bagian depan dua di belakang. Selain itu kepala sosok bi- ru tersebut memiliki empat kepala, empat leher yang terjulur panjang. Masing-masing kepala se- besar kepalan tangan ini memiliki satu buah mata di tengah kening, hidung mancung dengan gigi- gigi yang sangat panjang lagi runcing.

Walau Gento sempat terkesiap melihat pe- rubahan aneh yang terjadi pada gadis itu. Tapi kini dia berlaku tenang. Sambil tertawa dia berka- ta. "Mahluk salah kaprah, tidak kusangka di balik kecantikan yang kau tunjukkan ternyata kau adalah mahluk paling jelek terkutuk yang pernah kulihat. Beruntung kau tadi tidak sempat menci- umku, kalau tidak malah hari ini aku menderita satu kerugian yang sangat besar. Ha... ha,., ha!"

"Manusia tolol, selagi dirimu bebas bisa sa- ja kau bicara apa saja. Sekejap lagi kau akan me- rasakan satu siksaan yang tak pernah terbayang- kan olehmu di sepanjang Lorong Kematian."

"Mahluk terkutuk, kini aku tahu kau pasti budak dari penghuni Kuil Laknat itu?" teriak si pemuda.

Empat mulut dari empat kepala sama ke- luarkan suara mendengus. Empat tangan seren- tak berkelebat menyambar ke arah gento. Angin keras menderu menerjang ke arah Gento. Pemuda ini tak tinggal diam, dia menghantam ke depan menyambuti serangan empat tangan yang datang susul-menyusul disertai sambaran kuku-kukunya yang hijau panjang mengerikan. Hawa dingin me- nyengat yang melesat dari dua puluh kuku jari tangan ke bagian tubuh pemuda ini membuatnya terpaksa menarik kedua tangannya kembali. Dia lalu jatuhkan diri, sambil bertumpu pada kedua tangan begitu terjatuh kakinya melesat menghan- tam perut mahluk aneh Maut Biru.

Buuk!

Tendangan yang keras tepat mendarat di bagian perut Maut Biru. Tapi tendangan itu hanya membuat mahluk berkepala empat berleh- er panjang hanya terhuyung. Gento sendiri me- ringis kesakitan, terguling-guling dia pegangi ka- kinya yang dipergunakan untuk menendang.

"Trondolo, bagaimana tubuh mahluk sialan ini bisa keras melebihi batu?" desis si pemuda tercengang. Tanpa menghiraukan kakinya yang terasa sakit bukan main, Gento Guyon begitu bangkit sambil terhuyung-huyung segera mele- paskan salah satu pukulan yang sangat diandal- kannya. Laksana kilat tangan kiri kanan dihan- tamkannya ke arah Maut Biru. Sinar putih laksa- na kilauan perak bergulung-gulung menghantam ke arah Maut Biru. Empat mulut membuka kelu- arkan suara menggerung. Dua tangan berkelebat ke depan menyambuti.

Bumm! Buuum!

Benturan yang sangat keras menimbulkan ledakan berdentum mengguncang puncak bukit. Di depan sana Maut Biru nampak terhuyung. Da- danya yang berwarna biru mengepulkan asap, bagian dada hangus gosong. Tapi begitu tangan Maut Biru yang menghadap ke bagian belakang mengusap dada itu, luka hangus lenyap tidak meninggalkan bekas. Melihat ini Gento yang sem- pat jatuh berlutut akibat bentrokan pukulan den- gan lawan nampak belalakkan mata sedangkan mulut ternganga lebar. Seakan tidak percaya den- gan penglihatan sendiri dia mengusap matanya sampai dua kali.

Di depannya sana Maut Biru menggeram, empat kepala digelengkan. Sambil keluarkan sua- ra teriakan melengking tinggi laksana merobek langit, Maut Biru melesat ke arah Gento. Empat tangan berkelebat menyambar ke arah si pemuda dengan jemari terpentang. Kuku-kuku yang ber- warna kebiruan dan berkeluk itu siap mencabik- cabik. Di saat itu Gento langsung menggulingkan diri ke samping, sementara tangannya meraih Penggada Bumi yang terselip di sebelah kiri ping- gangnya. Senjata maut yang sangat kecil dan cu- ma sepanjang dua jengkal langsung dipukulkan ke tanah hingga mengeluarkan suara ledakan berdentum. Begitu senjata menyentuh tanah ma- ka, gada berwarna kuning kemilau itu langsung berubah panjang dan semakin membesar.

Tanpa menunggu kuku-kuku lawan men- cabik tubuhnya gada itu diayunkan kemudian ba- ru digerakkan ke depan ke arah empat tangan Maut Biru. Terdengar suara bergemuruh hebat, hawa panas menghampar seakan tempat itu kini telah berubah menjadi lautan api. Maut Biru ke- luarkan suara raungan keras, meskipun tubuh- nya laksana terpanggang akibat pengaruh senjata lawannya. Tapi dia teruskan serangannya. Sebe- lum kedua puluh kuku beracun mencapai sasa- ran, dua tangannya yang berada begitu dekat dengan Gento terhantam senjata pemuda itu.

Tung! Tang! Tung!

Terdengar suara berkerontangan. Gento menjerit keras, gada yang dipergunakan untuk memukul lawan nyaris terpental lepas dari tan- gannya. Kejut di hati pemuda ini bukan kepalang, betapa tidak? Senjata di tangannya seakan meng- hantam potongan besi baja, walaupun sempat tersurut mundur, namun Maut Biru tidak menga- lami cidera sedikitpun. Malah mahluk mengerikan itu sunggingkan seringai aneh. Dua kakinya me- langkah mendekati Gento.

"Kampret betul. Kuhajar dengan pukulan dia tidak cidera, kuhantam dengan senjata dia ti- dak mati. Mahluk terkutuk ini ternyata memiliki kekebalan yang sangat luar biasa. Apa dayaku ki- ni!" batin Gento dalam hati. Dia kemudian simpan senjata ke tempat semula. Begitu melihat empat kepala mahluk mengerikan ini dia punya dugaan mungkin kelemahan Maut Biru terletak di bagian kepala. Sehingga dia pun kemudian melompat tinggi, begitu tubuhnya meluncur dalam posisi berdiri, dua kaki langsung ditendangkan ke depan tepat di bagian kepala Maut Biru. Tepat seperti dugaannya, begitu melihat kaki lawan melesat ke bagian kepala disertai sambaran angin deras Maut Biru melompat ke samping sambil lindungi empat kepalanya.

"Rupanya hanya tangan dan tubuhmu saja yang atos, sedangkan kepalamu empuk. Akan kuhancurkan empat kepalamu!" teriak si pemuda sambil terus memutar arah tubuhnya ke arah di mana lawan berada. Selagi dua tangan sibuk me- lindungi ke empat kepala itu, maka dua tangan yang lainnya secara tak terduga menyambuti ten- dangan kaki lawan. Sepuluh jari dijentikkan. Se- puluh larik sinar biru menderu bergulung melibat kaki Gento. Dalam keadaan mengambang di uda- ra mendapat serangan ini tentu saja Gento tak dapat berbuat banyak. Satu-satunya yang dapat dilakukan pemuda ini adalah menggunakan tena- ga luncuran kakinya sendiri dengan mengayun- kan kaki yang tadinya menendang berbalik ke atas. Sangat disayangkan secepat apapun gera- kan penyelamatan itu dilakukannya, sepuluh la- rik sinar biru yang sebenarnya merupakan lem- pengan tipis bergerigi menyerupai plat baja telah menggulung tubuhnya mulai ujung kaki hingga ke bagian bahunya.

Tak ayal pemuda ini pun jatuh bergedebu- kan. Pemuda ini meraung hebat, bukan karena li- litan lempengan tipis bergerigi itu, melainkan aki- bat hawa dingin yang menjalar dari lempengan seperti spiral yang mengikat tubuh Gento me- nyengat tubuhnya. Pemuda ini tentu tidak mau mati konyol dengan tubuh membeku, diam-diam dia kerahkan tenaga luar dalam untuk memu- tuskan pilinan yang membelit tubuhnya. Tapi la- gi-lagi dia0 dibuat tercengang karena lempengan tali yang mengikat tubuhnya ternyata tidak dapat diputuskan.

"Hik... hik... hik! Sekarang kau bisa ber- buat apa? Kau akan kuseret dan kujebloskan ke dalam ruangan khusus sebelum Yang Agung menjatuhkan hukuman atasmu!" kata Maut Biru sambil tersenyum mengejek.

"Maut Biru... sebelum kau membawaku ke Kuil Setan, aku punya satu pertanyaan untuk- mu!" kata Gento. "Sebenarnya aku tidak pernah menjawab pertanyaan siapapun. Apalagi seorang tawanan sepertimu." kata Maut Biru. "Tapi untukmu tidak mengapa, apa yang hendak kau tanyakan lekas katakan?!" ujar Maut Biru tidak sabar.

"Pertanyaanku mudah saja. Di dalam Kuil Setan apakah kau pernah melihat seorang gadis berpakaian putih, namanya Ambini, cantik mem- pesona." ujar Gento menerangkan ciri-ciri gadis itu.

"Hik... hik... hik. Begitu banyak gadis mati penasaran di Kuil Setan. Di antaranya ada yang dijadikan korban persembahan di malam Sabtu Kliwon. Korban akan terus diberikan untuk Yang Agung, mungkin gadis yang kau sebutkan akan dijadikan korban berikutnya!" kata Maut Biru.

"Jahanam terkutuk. Aku tidak bertanya padamu tentang segala macam persembahan, yang kau harus jawab apakah sahabatku Ambini ada di dalam sana?" teriak Gento sambil meronta- ronta,

"Mengenai temanmu itu, hik... hik... hik. Aku melihatnya berada di salah satu ruangan pe- nyiksaan. Kulihat dia dibawa oleh seorang laki- laki berpakaian merah bertangan hitam legam." menerangkan Maut Biru.

Terkejutlah pemuda ini mendengarnya, se- kujur tubuh Gento mendadak berubah menegang, dadanya bergemuruh. Wajah pemuda itu merah padam menahan marah, sedangkan rahangnya bergemeletukan. "Berpakaian merah bertangan hitam! Hemm... siapa lagi orang dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan oleh mahluk terkutuk ini kalau bukan Si Tangan Sial!" geram si pemuda. Dia mencoba berpikir, mereka-reka apa kiranya gerangan yang terjadi pada sahabatnya Si Tangan Sial sehingga dia begitu tega menculik dan mela- rikan Ambini ke tempat laknat ini. "Dalam kea- daan waras pikiran tak mungkin paman Tangan Sial melakukan tindakan sekeji itu. Melalui pesan yang ditinggalkan dia bahkan mengatakan men- ginginkan diriku. Keparat mana lagi ini yang punya ulah?" gerutu si pemuda.

"Aku telah menjawab pertanyaanmu, seka- rang kau harus ikut denganku!" kata Maut Biru. Selesai berkata tanpa memberi kesempatan pada Gento untuk bicara dia langsung menyambar tu- buh si pemuda. Gento kemudian merasakan tu- buhnya laksana dibawa terbang melewati gumpa- lan kabut yang menyelimuti Kuil Setan.

10

Datuk Labalang dibaringkan di atas se- buah meja batu panjang berwarna hitam. Tubuh- nya selain dalam keadaan terikat benang merah juga dalam keadaan tertotok. Sehingga sedikit pun Datuk yang memiliki badan tinggi luar biasa tak dapat digerakkan sama sekali.

Kini dalam keadaan tidak berdaya kakek setinggi galah hanya dapat memandang dengan mata mendelik ke arah sosok merah berleher dan berkepala empat yang terus mengawasinya. "Mah- luk jahanam terkutuk. Cepat lepaskan aku!" seru Datuk Labalang dengan suara keras menggeledek. Mahluk yang memiliki tubuh serba merah dan di- kenal dengan julukan Maut Merah hanya sung- gingkan seringai mengejek.

"Aku Maut Merah hanya patuh pada perin- tah Yang Agung. Perintahmu tidak berlaku bagi diriku!" sahut sosok berkepala empat bermata tunggal pada masing-masing wajahnya.

Melihat sikap dan jawaban Maut Merah ke- geraman si kakek tinggi semakin menjadi-jadi. Tubuh si kakek kemudian menggeliat mencoba melepaskan totokan yang bersarang di bagian punggung dan juga kakinya. Usaha yang dilaku- kannya ini tidak mendatangkan hasil, malah em- pat benang merah yang melibat tubuhnya akibat adanya pergerakan membuat si kakek merasa semakin sulit bergerak.

"Mahluk terkutuk ini menggunakan benang apa? Semakin aku menggerakkan tubuhku be- nang semakin menyusut. Libatan benang ini bisa memotong daging dan tulangku." Membatin Da- tuk Labalang. Dia terdiam sejenak, mencoba ber- pikir mencari jalan keluar. "Mungkin segalanya baru bisa ku atasi jika aku dapat membebaskan totokan laknat di punggungku. Sambil tetap memperhatikan gerak-gerik mahluk merah yang berdiri tak jauh di sampingnya, diam-diam si ka- kek tinggi kerahkan tenaga dalamnya. Hawa pa- nas mengalir deras dari bagian pusarnya. Di sini- lah pusat pengendalian tenaga dalam bersumber. Tak lama kemudian tenaga dalam yang mulai mengalir deras ke sekujur tubuhnya langsung di- arahkan ke bagian punggung serta kaki yang dito- tok lawannya.

Bess! Bees!

Terdengar suara letupan dua kali berturut- turut, totokan berhasil dipunahkan di luar sepen- getahuan mahluk merah. Datuk Labalang, salah satu pentolan tokoh sakti dari tanah Andalas me- rasa lega. Begitu merasa tubuhnya bebas berge- rak dan aliran darah di sekujur tubuhnya menja- di normal kembali, maka Datuk Labalang segera menghimpun tenaga saktinya untuk memutuskan empat benang merah yang melibat dan mengikat ketat tubuhnya. Si kakek menarik nafas. menghi- tung sampai pada bilangan ketiga. Otaknya ber- pikir begitu benang dapat diputuskannya, maka kaki kirinya yang berada dekat dengan Maut Me- rah segera dihantamkan. Satu hantaman dengan pengerahan tenaga dalam tinggi masakan tidak mampu membuat tubuh Maut Merah hancur. Pal- ing tidak membuat mahluk menjijikkan itu terlu- ka parah. Apalagi di bagian kakinya yang dialiri tenaga dalam itu sengaja dipersiapkan satu ten- dangan maut yang mengandung racun ganas mematikan.

Datuk Labalang yang memiliki gelaran Da- tuk Penguasa Tujuh Telaga menahan nafas, dia menghitung sampai pada bilangan ketiga. Setelah itu seluruh kesaktian dan kemampuan dikerah- kan, dipusatkan pada empat titik di mana empat benang merah melibat tangan kaki juga perutnya.

Des! Des! Des! Dees!

Empat sentakan keras menghantam ke empat benang dari bagian dalam. Asap tebal mengepul dari empat bagian benang yang dihan- tam kekuatan tenaga dalam. Semua ini luput dari perhatian Maut Merah karena perhatian mahluk berkepala empat itu sedang tertuju ke salah satu pintu merah yang terdapat di seberang ruangan.

Akan tetapi kenyataan yang dihadapi Da- tuk Labalang sungguh membuatnya terkejut be- sar.

Hantaman tanpa gerak tapi mengandalkan tenaga sakti sama sekali tidak menghasilkan apa- apa. Ke empat benang merah itu jangankan pu- tus, bergeserpun tidak.

"Keparat terkutuk! Belum pernah aku me- lihat benang sekecil ini mengandung kesaktian hebat. Padahal aku telah mengerahkan seluruh tenaga sakti yang kumiliki. Dengan tenaga sebe- sar itu, aku sanggup membongkar gunung. Tapi benang celaka ini sungguh tak bisa dianggap mainan." rutuk Datuk Labalang. Kakek berusia sembilan puluh tahun ini tidak sadar, bahwa aki- bat libatan benang merah yang mengandung mantra-mantra gaib itu, dia tidak dapat menggu- nakan seluruh kesaktian yang dimilikinya. Empat benang yang melibat tubuhnya melumpuhkan se- dikitnya setengah dari seluruh kekuatan yang ada.

"Celaka... ini merupakan kecelakaan besar

bagi seorang Datuk sepertiku. Jika seteruku di tanah Andalas tahu aku kena dikerjai oleh mah- luk pengawal keparat itu, aku bisa mendapat ma- lu besar. Mereka pasti akan mentertawai Datuk Penguasa Tujuh Telaga! Sial betul rupanya hidup ini." gerutu si kakek. Dengan mata nyalang Datuk Labalang melirik ke arah Maut Merah. Dilihatnya mahluk merah itu keluarkan suara racauan aneh. Entah apa maksudnya ke empat mulut itu komat- kamit seperti orang gila, si kakek tinggi tidak per- duli. Di saat dirinya mengalami jalan buntu se- perti itu, mendadak dia ingat seseorang.

Seorang pemuda yang di pinggangnya di- penuhi kantong tempat makanan, berbadan hi- tam legam dipenuhi bulu, bermuka seperti mo- nyet besar, berperut buncit, berpusar bodong. Sang Datuk gelengkan kepala keras. "Mengapa mahluk keparat tukang makan itu yang muncul dalam pikiranku. Pembantu tolol seperti dia mampus sekalipun tidak ku pikirkan!" rutuk sang Datuk. Tapi setelah ingat dengan segala pengab- dian yang diberikan oleh Memedi Santap Segala alias Mahluk Tangan Rembulan, kemarahan sang Datuk agak mereda. Kini dia berkata lain. "Kasi- han juga dia. Dia terperosok dalam jebakan cela- ka itu semua semata-mata karena demi memban- tu diriku. Dia begitu jujur, polos dan bersikap apa adanya. Aku juga sering bersikap kasar padanya. Akh... Memedi Santap Segala, maafkan diri si tua bangka ini. Mungkin aku telah banyak melaku- kan kesalahan padamu, sehingga nasibku jadi seperti ini." kata si kakek setengah meratap. Se- pasang matanya yang merah membara bila bera- da dalam kegelapan kini berubah kuyu. Walau- pun begitu hatinya tetap tegar. Apalagi dia punya prinsip, selalu terbuka kesempatan dalam kea- daan sesempit apapun.

"Kesempatan...! Kesempatan itu memang sangat kutunggu!" kata sang Datuk.

Segala apa yang dipikirkan kakek setinggi galah mendadak lenyap begitu terdengar satu su- ara mengguntur di dalam ruangan itu.

"Maut Merah! Aku berkenan menjumpai mu, bila aku telah unjukkan diri maka katakan segala apa yang ingin kau sampaikan!"

"Yang Agung! Yang Agung sudah datang!" kata empat mulut dari mahluk aneh itu secara serentak. Datuk Labalang segera menoleh dan memandang ke arah suara menggeledek tadi Dia masih belum melihat apa-apa. Tapi pintu merah di seberang ruangan sana mengeluarkan suara bergemeletakan seperti benda berat yang bergeser dan melindas tulang-belulang. Kenyataannya pin- tu merah memang bergeser membuka, Semakin lama semakin bertambah lebar. Sehingga di balik pintu yang terbuka itu terlihatlah satu cahaya merah menyilaukan memancar dari balik pintu. Selain cahaya merah itu terlihat pula asap tebal bergulung-gulung keluar memenuhi bagian depan pintu batu tersebut. Di samping Datuk Labalang, mahluk aneh yang berdiri tegak di situ langsung jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah pintu yang terbuka. Karena dia membungkukkan badan, maka dua wajahnya yang lain yang menghadap ke belakang kini nampak menghadap ke arah si kakek. Orang tua ini menggeram begitu melihat dua mata dari dua kepala yang nampak berkedip-kedip. Dengan cepat dia meludahi wajah Maut Merah.

"Jahanam keparat! Kau meludahi dua wa- jahku yang lain. Kelak kematianmu akan kubuat sesulit mungkin!" geram Maut Merah. Dalam kea- daan menyembah memberi hormat dia melompat menjauh dari meja batu di mana Datuk Labalang tergeletak di situ. Rupanya dia takut si kakek se- tinggi galah meludahinya lagi. Datuk Labalang tertawa tergelak-gelak, sementara tatap matanya tetap tertuju ke arah pintu di seberang ruangan yang terbuka.

"Maut Merah," kembali satu suara berku- mandang. "Aku mencium bau mahluk lain, tidak satu tapi ada beberapa orang,"

"Benar Yang Agung. Sekarang aku me- nunggu keputusanmu!" sahut mahluk merah ber- kepala empat. Dia kemudian angkat dua kepa- lanya yang menghadap ke depan. Sementara itu dari dalam pintu yang terbuka muncul satu sosok samar di antara siraman cahaya serta kepulan asap tebal. Semakin lama sosok itu semakin mendekati mulut pintu. Sampai di depan pintu dia berdiri tegak. Datuk Labalang kini dapat meli- hat satu sosok berjubah merah mirip mantel yang bagian atasnya menutupi kepala sosok itu. Jubah sosok itu panjang menjela sehingga bagian ka- kinya tidak kelihatan tertutup jubah. Dua lengan jubahnya terkembang, bagaikan burung rajawali yang merentangkan sayapnya. Lengan jubah itu sangat lebar dan longgar sekali. Sungguh pun be- gitu Datuk Labalang dapat melihat bagian tan- gannya. Kedua tangan tidak dapat dikatakan tan- gan. Karena tangan itu sama sekali tidak terbalut kulit maupun daging. Tangan itu hanya berupa tulang memutih dengan tulang-tulang jari seperti hendak bertanggalan. Bagian badan sosok itu sama sekali tidak terlihat karena tertutup lapisan pakaian dalam yang juga berwarna merah. Se- dangkan wajah yang ditutupi topi jubah hanya berupa tengkorak putih dengan dua buah rongga mata yang menganga lebar dengan bagian hidung gerumpung tak berdaging. Selain itu bagian gi- ginya juga terlihat jelas, karena baik pelipis mau- pun bagian bibirnya tidak ada sama sekali.

"Sosok berjubah merah itu, tidak salahkan penglihatanku? Tubuhnya hanya terdiri dari tu- lang-belulang, tanpa kulit tanpa daging. Tapi ba- gaimana dia bisa berjalan dan bisa bicara?" mem- batin sang Datuk dalam hati. "Semuanya sung- guh sulit untuk dapat kupercaya. Terlalu banyak kejadian aneh di Kuil Setan ini?"

Untuk beberapa saat lamanya si kakek tinggi tak berani bergerak apalagi keluarkan sua- ra. Tengkuknya laksana es, sedangkan tubuh orang tua itu berubah dingin. Perasaan tegang dan cemas menjalari hati sang Datuk. Seumur hidup baru kali ini dia merasakan takut yang de- mikian hebat. Kini dia hanya memandang, me- nunggu apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Di seberang ruangan sana, sosok berjubah merah ternyata hentikan langkahnya setelah sampai di ambang pintu. Dua rongga matanya yang lebar menghitam memandang tak berkesip ke arah Datuk Labalang. Seperti rongga yang ko- song melompong itu memiliki mata saja sosok itu berkata. "Apa yang dikehendaki oleh manusia tinggi ini, Maut Merah sehingga dia begitu berani mempertaruhkan nyawanya dengan datang ke si- ni?"

"Yang Agung. Dia punya satu keinginan yaitu meminta pusaka Bintang Penebar Petaka!" sahut Maut Merah tanpa berani menatap pada sosok tengkorak berjubah yang berdiri di ambang pintu yang diselimuti asap tebal di seberang ruangan sana.

"Ha... ha... ha! Jika itu keinginannya, sen- jata laknat itu boleh kau serahkan padanya!" kata Yang Agung. Mendengar ucapan sosok berjubah merah perasaan Datuk Labalang menjadi lega,

"Tapi Yang Agung...!" Maut Merah nampak berusaha membantah. Suaranya mendadak le- nyap karena yang Agung cepat memotong.

"Aku belum selesai bicara, Maut Merah. Kau dengar Bintang Penebar Petaka boleh kau se- rahkan padanya, tapi nanti setelah nyawanya kau kirim ke neraka. Tua bangka itu tubuhnya sangat panjang sekali. Jika dijadikan kayu bakar untuk membuat sebuah senjata tentu sangat baik sekali! Ha... ha... ha." kata Yang Agung.

Di tempatnya tergeletak di mana sang Da- tuk merasa dirinya tidak berdaya merutuk. "Mah- luk jahanam celaka. Sekarang kau boleh bicara sesuka hatimu. Tapi begitu aku dapat kesempa- tan melepaskan diri, Kuil Setan ini akan ku rata- kan dengan tanah dan tubuhmu yang terdiri dari rongsokan tulang akan ku lebur jadi debu!"

"Lalu apa yang akan Yang Agung lakukan?" tanya Maut Merah yang sama sekali tidak pernah menoleh ke arah Datuk Labalang.

"Hak... hak... hak! Tahun ini aku akan membuat satu pesta yang lain dari yang sudah- sudah. Aku ingin membuat satu acara persemba- han buat diriku sendiri di tempat terbuka di de- pan kuil. Kau perintahkan pada penjaga lainnya untuk membuat api unggun besar. Bawa semua orang tangkapan ke depan kuil. Terkecuali gadis cantik berbaju putih yang dibawa sahabat murid- ku. Hukuman baginya belum ku putuskan. Pada malam sabtu Kliwon ini aku ingin membasuh pu- saka Bintang Penebar Petaka dengan darah para tetamu yang tidak diundang! Tunggu apalagi Maut Merah. Seret dia keluar!" perintah Yang Agung.

"Perintah yang mulia dilaksanakan!" jawab mahluk merah berkepala empat. Dengan dua tan- gannya yang menghadap ke bagian punggung Maut Merah menyeret Datuk Labalang keluar dari dalam ruangan.

"Mahluk jahanam. Aku diperlakukannya seperti binatang. Kapan aku dapat meloloskan di- ri akan kupesiangi tubuhnya!" rutuk Datuk Laba- lang sengit. Tubuh si orang tua yang panjang dan besar terus diseret melewati lorong panjang dan gelap. Sementara mahluk merah yang menyeret- nya terus keluarkan suara racauan yang tidak je- las.

Belum lagi sosok merah itu beranjak dari depan pintu, di dalam ruangan itu muncul seo- rang pemuda berwajah buruk berpakaian merah serta seorang gadis berpakaian tipis berwajah cantik laksana bidadari. Kedua orang ini begitu memasuki ruangan langsung membungkukkan badan, rangkapkan dua tangan lalu menjura hormat. Setelah itu baru keduanya duduk berlu- tut.

"Dalam hidupnya manusia punya tiga kali kesempatan untuk meraih apa yang diinginkan- nya. Kalian berdua adalah calon penguasa. Pen- guasa besar di dunia kegelapan. Aku tidak me- manggil kalian untuk menghadap. Mengapa ka- lian datang ke ruangan ini?" tanya Yang Agung.

Si wajah buruk Maut Tanpa Suara dan si cantik Dwi Kemala Hijau saling berpandangan untuk beberapa jenak lamanya. Maut Tanpa Sua- ra beringsut lebih ke depan. Sekali lagi dia laku- kan sikap seperti orang menyembah seorang raja. 11

Sekejap kemudian Maut Tanpa Suara su- dah mengangkat wajahnya kembali. Mulut pemu- da buruk rupa ini berucap. "Yang Agung, junjun- gan dari segala kehormatan. Terus terang kami datang menghadap karena memang merasa punya satu kepentingan yang harus dibicarakan. Kepentingan itu menyangkut urusan sahabat ka- mi Si Tangan Sial." ujar si pemuda berpakaian serba merah yang di bagian keningnya terdapat satu buah lubang menganga hitam dan di dalam lubang di kening mendekam satu kepala mahluk berupa ular berwarna hitam.

Sosok berjubah merah menjela yang ujud- nya hanya terdiri dari tulang-belulang mengerikan dongakkan kepala, begitu kepala memandang ke langit-langit terdengar suara tulang bergemereta- kan.

"Apa yang diinginkan oleh sahabatmu itu anak manusia calon penguasa? Apakah dia ingin kawin dengan mahluk alam roh, ataukah dia menghendaki arwah seorang gadis yang mati pe- nasaran?" tanya sosok berjubah merah Yang Agung.

"Bukan itu yang dia maui, Yang Agung." kata Dwi Kemala Hijau ikut menimpali. "Sahabat kami itu menghendaki senjata Bintang Penebar Petaka! Hanya engkau yang punya kuasa di tem- pat ini, aku sama sekali tidak bisa memutuskan!" "Hak... hak... hak!" Sosok mengerikan itu tertawa tergelak-gelak, rongga matanya yang bo- long melompong memperhatikan dua muridnya silih berganti.

"Si Tangan Sial!" berkata Yang Agung. "Sa- tu nama yang sepanjang hidupnya dirundung kemalangan. Aku tahu dia masih sahabat kalian. Tapi terus terang senjata yang dimintanya tak da- pat kuberikan." kata sosok merah bertopi mantel merah sambil gelengkan kepala.

Mendengar jawaban guru mereka, sekali- gus sesepuh yang paling dihormati di Kuil Setan tentu saja Maut Tanpa Suara jadi terkejut. Dia yang sangat memperhatikan permintaan Si Tan- gan Sial tentu menjadi heran mengapa Yang Agung tak dapat meluluskan permintaannya. Se- baliknya Dwi Kemala Hijau hanya bersikap te- nang saja.

"Yang Agung, engkau adalah guruku. Jun- jungan dari para setan gentayangan, panutan dari para roh sesat. Mengapa tidak dapat meluluskan permintaan sahabatku itu?" tanya Maut Tanpa Suara seakan merasa tidak puas dengan jawaban gurunya.

"Apakah yang dimintanya?" tanya Yang Agung lagi.

"Seperti yang sudah kukatakan, dia me- minta senjata Bintang Penebar Petaka!" sahut Maut Tanpa Suara.

Sosok berjubah merah yang masih tetap berdiri di depan pintu yang terus-menerus diseli- muti asap tebal bergulung-gulung terdiam seje- nak. Dari mulutnya yang cuma berupa gigi-gigi memutih terdengar suara bergumam. Suara itu terus terdengar sampai kemudian terhenti sendiri. Setelah itu Yang Agung kembali ajukan perta- nyaan. "Sahabatmu itu kulihat begitu dekat den- gan dirimu. Aku ingin tahu senjata itu diperguna- kan oleh siapa dan untuk tujuan apa?"

Mendapat pertanyaan seperti itu Maut Tanpa Suara menjawab seperti apa yang dikata- kan oleh Si Tangan Sial. "Senjata itu akan diper- gunakan oleh Si Tangan Sial untuk membunuh musuhnya yang bernama Dewa Penyanggah Lan- git." ujar pemuda buruk rupa ini.

"Mengapa dia hendak membunuh mahluk yang satu itu?" Yang Agung kembali ajukan per- tanyaan.

"Aku tidak tahu. Tapi menurutnya dia punya persoalan pribadi dengan orang itu. Mung- kin sahabatku Si Tangan Sial tak sanggup meng- hadapi manusia sakti itu hingga dia minta bantu- anku!"

"Ha... ha... ha! Aku Yang Agung, aku ada- lah penguasa. Muridku Maut Tanpa Suara, aku punya firasat sahabatmu itu kali ini telah berani menipu. Semua alasan yang dikatakannya tidak benar. Senjata itu bukan untuk dipergunakannya untuk menghadapi Dewa Penyanggah Langit. Dia tak punya silang sengketa dengan tokoh dari ti- mur itu. Ya... aku kini melihat, Si Tangan Sial sa- habatmu itu sebenarnya sedang berada di bawah tekanan seseorang. Seseorang yang menghendaki senjata pembawa petaka. Si Tangan Sial menjum- pai mu itu adalah manusia yang sedang sakit. Kau harus menangkapnya, kau harus temukan penyakitnya. Jika penyakit yang mendekam di tubuhnya tak dapat kau temukan, sebaiknya ba- wa dia ke altar persembahan!" tegas Yang Agung.

Mendengar ucapan sosok berjubah merah, bukan hanya Maut Tanpa Suara saja yang men- jadi kaget, tapi Dwi Kemala Hijau juga terkesiap. Dia tahu apa arti ucapan gurunya. Setiap orang yang dibawa ke altar, berarti kematian orang itu telah ditentukan. Karena itu si gadis berucap. "Guru titah mu di atas segala. Tapi tidakkah guru punya pertimbangan lain. Jika sahabat kami se- dang sakit apakah tidak sebaiknya kita sembuh- kan saja!" ujar si gadis.

Yang Agung mendengus. "Segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kalian jangan di- kaitkan dengan diriku. Di Kuil Setan yang berlaku adalah peraturanku!" tegas sosok berjubah me- rah.

"Baiklah, lalu bagaimana dengan pemuda yang diringkus oleh Maut Biru. Menurut penga- kuan Si Tangan Sial dia adalah salah seorang musuhnya yang harus dibunuh!" tanya Maut Tanpa Suara.

"Ha... ha... ha. Ketika bicara sahabatmu itu sedang sakit, keadaannya antara sadar dan tiada. Padahal yang sesungguhnya mereka adalah ber- sahabat. Hanya temanmu itu telah terpengaruh oleh satu kekuatan, kekuatan yang mendekam dalam dirinya sehingga dia tidak dapat memper- gunakan kewarasan otaknya untuk berpikir. Pe- muda itu sebaiknya kau pendam di dalam ruan- gan penyiksaan. Kumpulkan dia bersama gadis itu. Jika Tangan Sial telah kau tangkap, bawa la- ki-laki itu ke luar kuil ikat di satu tiang, setelah itu baru acara persembahan terhadap diriku di- mulai."

"Pemuda itu bagaimana guru?" tanya Dwi Kemala Hijau.

"Pemuda itu datang mencari sahabatnya yang dilarikan Si Tangan Sial. Sama seperti yang lainnya, mereka juga harus dikorbankan. Mereka harus dibunuh. Jika kelak mereka mati, satukan jasad mereka dalam satu kubur. Kesetiaan mere- ka satu sama lain sebagai seorang sahabat patut menjadi contoh bagi kalian semua yang berada di dalam kuil ini."

Maut Tanpa Suara terdiam sejenak. Sete- lah itu dia lalu kembali berkata. "Guru Yang Agung, jika saja aku boleh meminta?" ujar si pe- muda.

"Katakan apa permintaanmu? Cepatlah, waktuku tidak lama aku ingin beristirahat di tempat keabadian." sergah Yang Agung.

"Begini, aku ingin sahabatku Si Tangan Si- al dibebaskan dari kematian?" ujar Maut Tanpa Suara sangat berhati-hati sekali.

"Ha... ha... ha. Anak-anak manusia yang tolol. Kau tidak tahu apa yang aku ketahui. Sa- habatmu itu bisa saja terlepas dari apa yang telah menjadi keputusanku, asalkan kau mau meng- gantikannya!" tegas Yang Agung.

Terkejutlah Maut Tanpa Suara mendengar semua ini. Dia akhirnya diam membisu. Sementa- ra Dwi Kemala Hijau sendiri diam-diam di hatinya timbul keinginan untuk melihat pemuda yang oleh gurunya disebut-sebut sebagai sahabat seo- rang gadis bernama Ambini.

"Murid-muridku, apa yang kalian tanyakan telah pun kalian ketahui jawabannya. Pesanku, bersihkan bagian dalam maupun di bagian luar Kuil Setan dari orang-orang yang menginginkan senjata Bintang Penebar Petaka. Jika mereka se- mua telah kalian tangkap, kumpulkan di depan pintu kuil. Nantinya mereka semua harus dibu- nuh!" tegas Yang Agung.

"Perintah Yang Agung akan kami jalankan!" jawab Dwi Kemala Hijau dan Maut Tanpa Suara serentak.

Sosok tengkorak yang memakai jubah me- rah ini tertawa tergelak-gelak. Dia kemudian ba- likkan badan. Setelah itu sosok Yang Agung me- langkah menjauhi pintu. Sosok berjubah merah ini kemudian lenyap di balik gemerlap sinar me- rah bertaburan juga gumpalan asap tebal. Pintu batu serba merah perlahan bergeser menutup disertai dengan getaran dahsyat menggemuruh. Maut Tanpa Suara beberapa saat lamanya tengge- lam dalam kebisuan. Dwi Kemala Hijau menarik nafas pendek, dia lalu bangkit berdiri. "Engkau hendak berada di sini selamanya, saudaraku?" satu pertanyaan meluncur keluar dari bibir mungil si gadis.

Perlahan pemuda berwajah buruk itu ang- kat kepala, sepasang matanya memandang ke arah si gadis. Penampilan serta pakaian tipis yang dikenakan gadis cantik itu sejenak lamanya sem- pat mempengaruhi jalan pikiran dan juga pera- saannya hingga membuat tubuh pemuda itu ber- getar dilanda luapan gairah.

"Saudara seperguruan apakah kau tidak mengerti?!" Kali ini suara si gadis cukup keras hingga membuat Maut Tanpa Suara tersentak ka- get.

"Aku... aku... mestinya sahabat Tangan Sial tak perlu mati. Aku tak ingin melihat kematian- nya. Saat ini aku ingin menyendiri di tempat ini!" kata pemuda itu. Dwi Kemala Hijau gelengkan kepala.

"Tidak! Kau tidak boleh berada di sini. Kau harus mencari dan menangkapi orang-orang yang berkeliaran di tempat kita ini! Sekarang juga kau harus pergi. Sementara aku sendiri nanti akan membuat persiapan untuk pesta acara persemba- han yang nantinya akan dihadiri oleh para mah- luk gentayangan untuk menghormati Yang Agung!" ujar si gadis tegas.

"Baiklah, atur segalanya. Jika jalan piki- ranku tak pernah berubah aku pasti ikut mem- bantu!" jawab Maut Tanpa Suara. Dia kemudian memandang ke arah si gadis. Tapi ternyata gadis itu sudah lenyap dari hadapannya. Maut Tanpa Suara akhirnya hanya menarik nafas pendek sambil tinggalkan ruangan itu.

12

Diam menunggu di balik gerumbulan se- mak belukar si kakek gendut Gentong Ketawa jadi gelisah sendiri. Untuk yang kesekian kalinya dia memandang ke arah kuil yang terletak di tengah pedataran puncak bukit. Kuil Setan tetap tak ke- lihatan, tertutup dalam saputan kabut tebal yang terus bergulung-gulung tak mau diam bagaikan pusaran air.

"Bocah keblinger tadi mengapa tak kun- jung muncul. Apa yang dilakukannya di sebelah timur kuil itu? Mungkin benar dia melibat bayan- gan biru keluar dari kegelapan kabut yang menye- limuti kuil. Lalu dia menemukan sesuatu, boleh jadi dia bertemu dengan seseorang. Tapi siapa yang dijumpainya, gadis cantik atau setan gen- tayangan penunggu kuil itu?!" Si kakek gendut membatin dalam hati. Dia kemudian memandang ke arah timur puncak bukit, bayangan muridnya ternyata masih belum terlihat sama sekali. Si ka- kek gelengkan kepala. "Bocah edan, entah apa yang dilakukannya di sana. Mungkin dia bertemu dengan seorang gadis cantik. Aku tahu pemuda seusia dia pasti suka iseng, apalagi bila bertemu dengan gadis jelita. Jikapun benar aku tidak am- bil perduli. Yang aku khawatirkan bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya? Di tempat seperti ini apapun bisa saja terjadi secepat orang membalik- kan telapak tangan." kata si gendut seorang diri. Beberapa saat menunggu, si kakek jadi tidak sa- bar. Dia kemudian bangkit berdiri.

"Iblis Racun Hijau juga manusia sialan. Janjinya hendak menyusul ke sini. Tidak tahu sampai sekarang dia tidak muncul juga! Dia in- gkar janji, awas jika nanti dia muncul di sini akan kubuat tubuhnya yang hijau menjadi hitam!" Dengan bersungut-sungut si kakek tinggalkan tempat persembunyiannya. Orang tua ini lalu berkelebat ke arah sebelah selatan Kuil Setan. Tak berapa lama kemudian dia di satu tempat di mana dia melihat satu pemandangan yang sempat membuatnya jadi terkejut.

"Sepertinya telah terjadi pertempuran sen- git di sini. Aneh mengapa aku sampai tidak men- dengar, padahal jarak tempat ini dengan tem- patku bersembunyi tadi tidak begitu jauh." batin si kakek. Merasa yakin muridnya telah terlibat sa- tu perkelahian sengit di tempat itu. Lama Gentong Ketawa berdiri tegak, sedangkan matanya me- mandang berkeliling, liar mencari-cari. Sosok sang murid tidak juga terlihat hingga menimbul- kan satu kekhawatiran yang sangat luar biasa. Bagaimana pun si kakek merasa sangat sayang pada Gento, walaupun rasa sayang itu terkadang tidak pernah diperlihatkan secara terang- terangan. Sejak Gento masih kecil, mereka sudah akrab karena antara murid dan guru ini banyak memiliki persamaan dalam hal prilaku. Cemas dengan kemungkinan buruk yang terjadi dengan Gento Guyon maka si kakek gendut mulai berte- riak memanggil-manggil muridnya.

"Gege... di manakah kau? Gege, kau den- garkah suaraku ini?" seru si kakek sambil mem- perhatikan setiap penjuru sudut. Gema suara te- riakan si kakek lenyap begitu saja, suara angin menderu tiada henti bagaikan suara siulan mah- luk-mahluk gentayangan penghuni bukit. Sejenak si gendut terdiam, sepasang matanya terus men- gawasi. Karena dia tak kunjung mendapat jawa- ban, si gendut Gentong Ketawa dengan perasaan jengkel kembali berteriak. "Gege, bocah edan. Ku- harap kau tidak mempermainkan tua bangka ini. Aku sudah sangat lelah menunggu. Kalau kau mendengar suaraku, sebaiknya cepat kau ke ma- ri!"

Kembali suara teriakan lenyap tidak berbe- kas. Kini dia mulai merasa yakin ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi pada diri sang mu- rid. Membayangkan segala kemungkinan yang dapat membahayakan keselamatan muridnya, ki- ni si kakek gendut nampaknya harus masuk ke dalam kuil menembus kepekatan kabut yang me- nyelimuti kuil itu. Tapi si kakek mendadak men- jadi bimbang. Dia berpikir bagaimana andai di ba- lik kabut itu ada jebakan atau bahaya lain yang sudah menunggu. Jika dia sampai terjebak, bu- kan saja dia tidak dapat menyelamatkan Gento, tapi bisa jadi dirinya juga bisa ikut celaka.

"Setan. begini sulitkah keadaannya?" geru- tu si kakek seorang diri. Dia lalu bicara lagi. "Ke- raguan tidak akan pernah menyelesaikan satu masalah. Jikapun nantinya aku harus menya- bung nyawa di Kuil Setan bagiku tidak menjadi masalah, asalkan Gento dapat kutolong. Paling ti- dak aku bisa melihat bocah konyol keblinger itu sebelum aku menutup mata, lagi pula aku sudah tua ini. Buat apa aku takutkan segala kematian?! Ha... ha... ha." Si kakek gendut berkata dan ter- tawa sendiri.

Selagi orang tua ini terkikik-kikik sambil memegangi perut gendutnya yang bergoyang- goyang, pada detik itu pula dari balik kabut yang menyelimuti Kuil Setan terdengar suara teriakan seseorang.

"Monyet gendut tidak berguna, apa yang kau cari di situ? Mencari muridmu si monyet gondrong yang tolol itu? Ha... ha... ha. Kini dia ti- dak ubahnya seperti seorang pesakitan yang hanya tinggal menunggu diadili." Suara teriakan lenyap. Di balik kabut terdengar suara deru angin keras. Kabut yang menyelimuti Kuil Setan tersi- bak, sehingga sebagian bangunan kuil terlihat je- las. Bersamaan dengan tersibaknya kabut itu dua sosok bayangan tampak berkelebatan keluar, ber- gerak cepat ke arah si kakek gendut kemudian je- jakkan kakinya sejarak satu tombak di depan orang tua itu. Sementara itu kabut yang sempat terbuka tadi kini menutup kembali. Beralih dari segala keanehan yang terjadi pada kabut tadi, kini si kakek Gentong Ketawa melihat di depannya telah berdiri seorang laki-laki berpakaian merah bertangan hitam macam arang, sedangkan di sebelah laki-laki itu berdiri satu so- sok bertelanjang dada dengan sekujur tubuh ber- warna kuning. Yang aneh juga mengerikan pada sosok ini, baik tangan maupun kakinya ditumbu- hi sisik kasar, selain itu dia juga mempunyai em- pat leher panjang, pada masing-masing leher ter- dapat satu kepala sebesar kepalan tangan orang dewasa. Empat kepala itu hanya memiliki satu buah mata, terletak di tengah-tengah kening. Ba- gian hidung nyaris rata dan hanya memiliki satu lubang. Sedangkan mulutnya sangat kecil sekali, dengan gigi-gigi yang runcing tajam seperti taring. Sungguhpun si kakek gendut sempat ter-

kejut melihat kemunculan mahluk serba kuning ini. Tapi karena kedatangan mahluk aneh ini ber- sama seseorang yang cukup dikenalnya. Sedikit banyaknya rasa takut yang mendera dirinya sedi- kit berkurang.

Kini perhatian si kakek gendut tertuju ke arah laki-laki berpakaian serba merah. Lama dia pandangi orang tua itu, melihat mata serta wajah orang ini timbul satu tanda tanya besar di hati si kakek gendut. "Tangan Sial yang kulihat hari ini mengapa sangat lain dari yang sudah-sudah. Mu- kanya pucat seperti orang kurang makan, mata cekung kelelahan. Tapi mata itu menerawang ko- song! Aku menduga mungkin telah terjadi sesua- tu yang sangat hebat pada dirinya." kata si gen- dut dalam hati.

"Tangan Sial? Bagaimana kau tiba-tiba bisa muncul di sini? Kau rupanya telah berkomplot dengan sekumpulan setan penghuni kuil?" tanya si kakek gendut sambil menatap si baju merah Tangan Sial dan sosok serba kuning berkepala empat silih berganti.

"Ha... ha... ha, seperti yang sudah kukata- kan kau monyet gendut tidak berguna. Kau ber- putar di sekitar sini mencari muridmu, padahal saat ini si Gento Guyon mungkin tubuhnya telah menjadi sate dicabik-cabik oleh penguasa Kuil Se- tan! Ha-ha... ha!" kata Si Tangan Sial.

Melihat sikap serta tutur kata Si Tangan Sial yang sudah tidak lagi menggunakan tata krama dan aturan, si kakek gendut sadar kalau telah terjadi sesuatu yang tidak beres pada saha- batnya itu. Bukannya tersinggung, Gentong Ke- tawa malah tertawa tergelak-gelak.

"Tangan Sial, kalau kuperturutkan kata hatiku, ingin rasanya kurobek kau punya mulut. Jika ku turuti amarah, ingin pula kupecahkan batok kepalamu. Tapi... ha... ha.., ha... kita ada- lah sahabat. Seorang sahabat harus tetap sabar mendengar kata-kata kasar yang diucapkan oleh sahabatnya. Apalagi si sahabat saat ini sedang menderita sakit ingatan." kata Gentong Ketawa. Mulutnya memang tetap tertawa, namun saat itu otaknya bekerja keras. "Dia mengatakan Gege su- dah terperangkap di dalam Kuil Setan. Tapi aku harus tahu tentang Ambini, barangkali Si Tangan Sial yang benar-benar manusia sialan ini menge- tahui keberadaan gadis itu. Si gendut usap wa- jahnya, sambil tersenyum dia lalu ajukan perta- nyaan. "Tangan Sial, mengenai muridku kurasa sekarang sudah menjadi dendeng. Kulihat kau mengenai kuil ini. Jika kau mengetahui seluk- beluk Kuil Setan kurasa kau punya hubungan tertentu dengan pemiliknya. Hem... ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu, apakah kau tahu di mana Ambini?" tanya si kakek gendut.

Si Tangan Sial sempat berubah parasnya begitu mendengar pertanyaan Gentong Ketawa, dia sempat melirik ke arah sosok serba kuning berkepala empat yang dikenal dengan nama Maut Kuning. Mahluk mengerikan bertangan empat dengan ujud yang tidak sempurna ini mengelua- rkan suara gerengan dari empat mulutnya, kare- na gerengan itu terdengar serentak maka sua- ranya laksana merobek langit menggetarkan pun- cak bukit.

Jika orang lain mungkin langsung lari ter- birit-birit melihat dan mendengar erangan mahluk itu, sebaliknya Gentong Ketawa malah tertawa terbahak-bahak.

Beberapa saat setelah dia hentikan ta- wanya si gendut berkata. "Tangan Sial, kau tidak tuli, kau juga tidak gagu. Jawab pertanyaanku atau kau ingin mahluk salah kaprah ini yang memberikan jawaban atas semua yang kutanya- kan?" ujar si kakek, walaupun dia masih bisa ter- tawa, namun yang sebenarnya dia sudah tidak dapat menahan kejengkelannya.

Di depan sana Si Tangan Sial menyeringai. Dia melangkah maju. Setelah itu bibirnya mem- buka berucap. "Melihat pada tampangmu aku lu- pa-lupa ingat. Tapi setelah mendengar perta- nyaanmu, baiknya sebelum kau juga menjadi tumbal dan mendapat perlakuan keji dari mahluk sahabatku ini ada baiknya kujawab pertanyaan- mu itu." kata Si Tangan Sial telah berada dalam pengaruh kekuatan Jarum Penggendam Roh milik Begawan Panji Kwalat. Tak lama kemudian dia melanjutkan. "Gadis cantik yang bernama Ambini itu saat ini sedang berada di dalam ruangan pe- nyiksaan. Jika nasibnya baik, dia dan muridmu akan dikorbankan pada tujuh malam mendatang tepat bulan sabit sembilan hari. Yang Agung akan memimpin upacara itu. Aku menjadi saksi atas kematian seorang anak manusia celaka yang ber- nama Gento Guyon. Jika kau ingin menjadi saksi atas kematian muridmu itu akan lebih baik. Na- mun jika kau menolak." Si Tangan Sial melirik ke arah Maut Kuning. "Sahabatku Maut Kuning akan meringkusmu. Murid dan guru akan dijadi- kan korban persembahan untuk memuji kebesa- ran Yang Agung. Sungguh tragis tapi juga meru- pakan tontonan yang menarik! Ha... ha... ha "

Gentong Ketawa menyeringai mendengar ucapan Si Tangan Sial yang sudah dianggapnya di luar kesadaran, tapi di bawah pengaruh jahat orang lain. Walaupun saat ini amarahnya sudah sampai di ubun-ubun namun dengan sikap te- nang dia berkata. "Kematian yang direncanakan oleh penguasa Kuil Setan memang sungguh me- nyedihkan bagi kami antara murid dan guru. Jika itu sudah menjadi suratan nasib, agaknya kami antara murid dan guru perlu memuaskan diri dengan tertawa. Ha... ha... ha." Untuk beberapa saat lamanya tawa si kakek gendut memenuhi seantero penjuru puncak bukit. Mendadak tawa si kakek gendut lenyap, dia kemudian menuding ke arah mulut Si Tangan Sial. Saat itu jarak di anta- ra keduanya terpaut lebih kurang dua tombak. Tapi Si Tangan Sial menjadi kaget ketika dia me- rasakan jemari tangan Gentong Ketawa seolah menyodok gigi depannya hingga membuat orang tua ini jadi terhuyung ke belakang. Belum lagi hi- lang rasa kaget di hati Si Tangan Sial, kakek gen- dut di depannya kembali berucap. "Tangan Sial, sahabatku salah kaprah. Menurutku Ambini tak pernah mengenal tempat ini. Kalau dia sampai kesasar ke tempat ini tentu bukan karena otak- nya ikutan jadi tidak waras sebagaimana dirimu. Aku yang sudah pikun ini jadi ingin tahu, apakah kau yang telah membawanya ke tempat ini?" tanya si kakek gendut.

Si Tangan Sial tertawa tergelak-gelak men- dengar pertanyaan Gentong Ketawa. Dia lalu menjawab. "Memang aku yang membawanya ke mari. Aku pula yang bermaksud membunuh mu- ridmu Gento Guyon."

"Bagus. Jika otakmu benar hal itu kukira tidak pernah terjadi. Kurasa yang membuatmu hendak melakukan tindakan sekeji itu pasti atas perintah seseorang. Sebelum aku terlanjur jadi arwah gentayangan dapatkah kau katakan siapa adanya orang itu?" pancing Gentong Ketawa.

"Nantinya kau pasti akan tahu setelah rohmu pindah ke akherat!" sahut Si Tangan Sial.

"Pembicaraan di antara kalian kuanggap cukup." Satu suara dengan nada tidak senang be- rucap. Ketika si gendut menoleh ternyata yang baru saja bicara adalah Maut Kuning. Kepala mahluk mengerikan itu keempatnya menoleh dan memandang ke arah Si Tangan Sial. Kepada orang tua berpakaian serba merah ini dia berkata. "Aku hendak meringkus orang gendut ini apakah kau punya usul lain wahai tetamu Kuil Setan?" tanya Maut Kuning.

"Untuk menangkap gendut gila ini kurasa aku sendiri sanggup melakukannya. Terkecuali bila aku tak sanggup menghadapinya dalam se- puluh jurus, tugas selanjutnya kuserahkan pa- damu, sobat Maut Kuning." jawab Si Tangan Sial.

Pada kesempatan itu mendadak Si Tangan Sial merasakan bagian leher dan bahunya kanan kiri mendadak diserang rasa sakit yang sangat hebat. Dari bagian yang ditanami jarum maut Penggendam Roh terasa dingin bukan kepalang. Seiring dengan rasa sakit yang mendera tubuh- nya. Lapat-lapat seakan datang dari sebuah tem- pat yang sangat jauh beribu mil dari mendengar suara orang mengisiki. "Tangan Sial, tugasmu menjadi semakin ringan. Kau hanya tinggal men- curi senjata Bintang Penebar Petaka. Saat ini mu- ridku Lira Watu Sasangka bergelar Panji Anom Penggetar Jagad sudah berada di sekitarmu. Jika kau bertemu dengannya kau pasti dapat menge- nali, orangnya masih muda dan memakai pakaian serba merah." Suara kisikan lenyap. Si kakek gendut Gentong Ketawa yang sempat terheran- heran tiba-tiba berteriak.

"Tangan Sial, baru saja kau mendapat pe- tunjuk dari junjunganmu bukan? Kau kini men- jadi seorang budak. Kasihan sekali nasib dirimu. Andai saja aku tahu dan dapat mencari tahu di mana letak benda laknat itu ditanam di bagian tubuhmu, aku pasti bisa membuat otakmu jadi terang, aku bisa membuatmu dapat mengingat. Tapi aku tak mungkin dapat melakukan semua itu. Muridku kini tak kuketahui bagaimana na- sibnya, begitu juga sobat kami Ambini. Daripada membuang waktu, sebaiknya kau dan mahluk berbadan kuning tadi itu maju bersama-sama!" teriak Gentong Ketawa.

"Tangan Sial, dia sudah berkata begitu mengapa kita tak maju sama-sama sekalian!" Empat mulut Maut Kuning berteriak. Jika satu mulut saja yang bicara sudah menimbulkan sua- ra hingar bingar hingga membuat sakit telinga yang mendengarnya. Apalagi kini ke empat mulut terbuka serentak. Puncak bukit gersang itu ter- guncang keras laksana mau meledak. Gentong Ketawa dan Tangan Sial sendiri terpaksa menu- tup indera pendengaran melalui pengerahan te- naga dalam.

"Maut Kuning, sudah kukatakan aku yang akan menangkap gendut keparat ini. Jika kau ti- dak patuh pada perintahku aku terpaksa mela- porkanmu pada Yang Agung!"' teriak Si Tangan Sial marah, karena Maut Kuning masih tetap membuat pengang kedua telinganya. Mendapat ancaman begitu rupa mahluk berkepala empat jadi surut ke belakang dua langkah. Wajahnya yang tegar langsung berubah mengerut dan men- jadi kisut. Mata tunggalnya berkedap-kedip, per- tanda dia benar-benar dilanda ketakutan.

"Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Jangan kau laporkan aku pada Yang Agung!" rin- tih Maut Kuning dengan suara memelas.

"Bagus kalau kau tahu gelagat!" dengus Tangan Sial. Dia kemudian membalikkan tubuh hingga kini berhadapan dengan si kakek gendut Gentong Ketawa. Dengan sikap angkuh Si Tangan Sial berucap. "Kuberi kesempatan padamu untuk menyerangku. Jika kau tak sanggup membuatku cidera apalagi tewas. Jiwamu hanya tinggal me- nunggu keputusan Yang Agung!"

Gentong Ketawa cibirkan mulutnya, lalu tertawa hehahehe. Orang tua ini kemudian alir- kan tenaga dalam ke bagian tangan. Kedua tan- gan digerakkan ke atas seperti orang yang sedang melakukan gerak badan 13

Si Tangan Sial yang biasanya sangat pe- nyabar, namun karena kali ini jiwa dan pikiran- nya berada dalam pengaruh dan dibawah perin- tah Begawan Panji Kwalat melihat tingkah konyol yang diperlihatkan si kakek gendut kini nampak tak dapat membendung kemarahannya. Dengan cepat sekali sambil berteriak keras laki-laki ber- pakaian serba merah ini langsung melompat ke depan. Tangan kanannya mencoba lancarkan se- rangan berupa cekikan ke bagian leher, sedang- kan tangan kiri lakukan serangkaian totokan di beberapa bagian tubuh si kakek gendut. Sung- guhpun tubuh orang tua ini memiliki bobot lebih dari dua ratus kati namun mendapat serangan gencar seperti itu dia melakukan gerakan meng- hindar yang sangat cepat luar biasa. Dengan me- narik kepala ke belakang cekikan Si Tangan Sial luput, sebaliknya dengan gerakan kilat tangannya menepis tangan lawan yang bermaksud menotok- nya.

Plak! Plak!

Benturan keras terjadi, si kakek menyerin- gai kesakitan. Tubuh besarnya sempat terhuyung, sedangkan tangan yang sempat beradu dengan tangan lawan nampak memar merah. "Tak pernah kusangka, tangan si kampret merah ini benar se- keras besi." gerutu si gendut sambil menggigit bi- bir bawahnya. Di depan sana Si Tangan Sial sunggingkan seringai mengejek. "Bagian tubuhku yang mana hendak kau pilih gendut?"

"Tanganmu boleh sekeras baja. Tapi apa- kah kepala dan perabotanmu ikutan jadi seatos batu? Ha... ha... ha." sahut si gendut Gentong Ke- tawa. Sambil tertawa terbahak-bahak, si orang tua tekuk kedua sikunya. Jari dari kedua tan- gannya saling dirapatkan hingga membentuk pa- ruh burung. Setelah itu tubuh besar luar biasa ini menghuyung ke depan, langkah kakinya tak bera- turan seperti orang mabuk hendak jatuh. Begitu tubuh oleng tak berketentuan dan terus bergerak ke depan. Maka masing-masing tangan yang je- marinya merapat satu sama lain meluncur demi- kian sebatnya mencari sasaran di bagian mata, kepala, perut dan juga di bagian selangkangan lawan.

Setiap serangan yang dilancarkan si kakek gendut selalu menimbulkan deru angin berkesi- uran. Mendapat serangan gencar luar biasa di mana arah serangan yang terkesan sembarangan itu tidak dapat ditebak sama sekali tentu saja membuat Si Tangan Sial jadi tercengang juga menjadi repot kalau tidak boleh dikata panik. Akan tetapi Si Tangan Sial dengan cepat melaku- kan tindakan dengan memutar kedua tangan sak- tinya membentuk perisai diri.

"Tangan Sial, manusia keparat penuh ke- sialan. Dengan jurus Concorang Mabuk ini aku inginkan biji matamu. Jika kedua biji matamu dapat kuambil, nantinya baru kupertimbangkan untuk membetot putus biji-bijian yang lain. Ha... ha... ha...!" teriak si kakek gendut dengan suara keras menggeledek. Bersamaan dengan itu pula si kakek gendut lipat gandakan tenaga dalamnya yang kemudian langsung disalurkannya ke bagian tangan. Kini dengan gerakan sempoyongan si gendut semakin memperhebat serangannya.

Melihat serangan yang semakin membadai. Si Tangan Sial dengan mengandalkan kecepatan gerak berulangkali menangkis mencoba mema- tahkan serangan lawannya. Tak dapat dihindari lagi perkelahian sengit pun berlangsung seru, ce- pat dan sangat menegangkan. Debu dan pasir be- terbangan menutupi pemandangan, sedangkan gemuruh angin bersiutan, berputar, menampar atau saling berbenturan. Ledakan-ledakan keras menggema di udara diselingi dengan bentakan dari masing-masing lawannya.

Dua sosok tubuh kini hanya berupa bayangan merah dan bayangan hitam yang berke- lebatan di udara sambil melepaskan tendangan maupun pukulan silih berganti. Puluhan jurus tanpa terasa sudah terlewati. Si Tangan Sial nampaknya mulai terdesak. Beberapa kali kedua matanya nyaris menjadi sasaran jemari tangan si kakek. Si Tangan Sial lama-kelamaan menjadi ke- repotan. Apalagi di samping serangan tangan, se- sekali kaki si gendut lancarkan tendangan berun- tun yang mengarah di bagian perut maupun kaki dan selangkangan laki-laki itu. Sampai pada satu kesempatan kaki si kakek gendut meluncur deras membabat dari arah samping ke arah pinggang Si Tangan Sial. Angin bersiut, dari sambaran angin yang amat dingin itu saja Si Tangan Sial dapat mengetahui betapa berbahayanya serangan itu. Laksana kilat dia menepis dengan tangannya, tapi secara aneh serangan itu kemudian berbelok menghantam bagian di bawah perut Si Tangan Sial.

Jross!

"Arkh...! Keparat jahanam!", maki orang tua itu sambil mendekap bagian bawah perutnya yang terkena tendangan. Si Tangan Sial menjerit- jerit, mukanya pucat bersimbah keringat. Tubuh- nya memelintir tak mau diam. Dia menggerung sambil bergulingan.

"Ha... ha... ha! Ternyata tidak semua ba- gian tubuhmu keras seperti batu. Ada yang lem- bek, dan ini bagian yang paling empuk untuk ku- jadikan sasaran." kata si kakek. Sekarang tanpa membuang waktu lagi si gendut Gentong Ketawa langsung melompat ke depan sambil lancarkan satu totokan di tubuh lawannya. Pada saat itu terdengar satu suara mengguntur. "Itu salahnya jika punya biji. Tidak seperti diriku yang polos." celetuk Maut Kuning.

Dalam keadaan melakukan serangan begi- tu rupa, Gentong Ketawa terpaksa menelan rasa gelinya mendengar celetukan Maut Kuning, sosok angker itu ternyata masih dapat bergurau juga.

Wuuut! Satu totokan yang dilancarkan Gentong Ke- tawa hanya mengenai bahu Si Tangan Sial. Aki- batnya begitu si orang tua bangkit, tubuhnya yang kaku sebagian membuat langkah dan tu- buhnya jadi termiring-miring. Sebaliknya satu hantaman yang keras mendarat di dada si kakek gendut. Orang tua ini terpelanting jatuh berde- bum. Tanpa menghiraukan sakit yang dideritanya si kakek tertawa-tawa. "Pukulanmu membuat da- daku serasa amblas berantakan. Tapi kau lihat dirimu. Jalan termiring-miring seperti orang ter- kena sakit ayan. Ha... ha... ha."

"Aku tidak ingin membuang waktu percu- ma. Segala sesuatunya harus diselesaikan secara cepat. Tangan Sial, maafkan aku karena aku ha- rus ikut campur tangan!" seru Maut Kuning. Dari arah belakang serangkum hawa panas menderu. Si kakek gendut yang baru saja bangkit berdiri sempat terkesiap begitu merasakan sambaran an- gin panas mendera punggungnya. Dia cepat ber- balik, lalu menghantam kedua tangan lawan yang terjulur mencabik bagian punggung si kakek. Ti- dak kepalang tanggung orang tua ini bertindak.

Sekali tangan bergerak dia melepaskan pu- kulan Iblis Tertawa Dewa Menangis dan juga pu- kulan Selaksa Duka. Dua pukulan ganas, satu memancarkan cahaya putih laksana perak diser- tai hawa panas luar biasa. Sedangkan dari tangan kiri si kakek menderu sinar merah berhawa din- gin bukan main.

Si Tangan Sial sempat tercekat. Dia yang kini hanya dapat menggunakan tangan kiri ter- paksa tarik balik serangannya dan melompat mundur. Sebaliknya Maut Kuning sambil kelua- rkan suara gerungan aneh melengking tinggi me- neruskan sambaran kuku-kukunya yang runcing ke arah wajah lawannya.

Benturan keras menggelegar di udara, Gen- tong Ketawa bantingkan diri ke belakang sela- matkan wajahnya dari cakaran Maut Kuning. Se- baliknya Maut Kepala Empat jatuh terpelanting. Sosoknya yang serba kuning nampak tercabik di beberapa bagian. Dua wajah di bagian depan me- lesak hangus, sedangkan dua kepala yang meng- hadap ke belakang nampak gepeng. Dalam kea- daan tubuh berubah tak karuan rupa seperti dis- ayat-sayat senjata tajam, tertatih-tatih Maut Kun- ing bangkit berdiri. Melihat keadaan Maut Kuning Gentong Ketawa tak mampu menahan tawanya. Maut Kuning menggerung, dia mengusap seluruh badan yang terluka sampai pada bagian kepa- lanya. Seketika itu juga satu perubahan sulit di- percaya terjadi. Tubuh yang dipenuhi goresan lu- ka, wajah yang melesak ke dalam serta dua kepa- la yang gepeng mendadak pulih sebagaimana se- mula.

Melihat kejadian aneh ini tawa si kakek gendut lenyap seketika. Matanya mendelik besar, mulut ternganga dan wajah mendadak berubah pucat.

"Sungguh tak dapat kupercaya, tidak ma- suk akal. Mahluk keparat ini sesungguhnya iblis jejadian atau arwah gentayangan!" desis si kakek kecut. Belum juga rasa kaget si kakek lenyap dari arah samping menderu hawa dingin menghantam bahunya. Masih dalam keadaan diliputi rasa tidak percaya. Si kakek cepat balikkan badan. "Pembo- kong tengik sialan!" damprat si kakek begitu me- lihat Si Tangan Sial telah hantamkan tangan ka- nan kiri ke bagian bahu dan punggungnya. Kare- na serangan itu berlangsung sangat cepat dan menggunakan kesempatan di saat si kakek gen- dut lengan. Tak ayal lagi Gentong Ketawa hanya dapat menepis pukulan yang mengarah di bagian bahu, sedangkan totokan di bagian punggung tak sempat dielakkannya

Tak ayal lagi si gendut begitu kena totokan langsung tergelimpang. Si Tangan Sial tertawa terkekeh-kekeh. "Sudah menjadi takdirmu harus mati jadi roh gentayangan." kata Si Tangan Sial. Dia kemudian menoleh ke arah Maut Kuning yang kini ujudnya telah kembali utuh seperti sedia ka- la. Kepada sosok berkepala empat ini dia berkata. "Maut Kuning kau seret dia, satukan bersama ca- lon korban yang lain. Sampai tiba waktunya bagi mereka menghadap malaikat maut!" perintah si orang tua.

Maut Kuning mendengus. "Jika pertu- rutkan kata hati, ingin rasanya kupesiangi tubuh gendut ini sekarang juga. Tapi aku hanyalah seo- rang pengawal. Aku tak mungkin menentang Yang Agung!" desis Maut Kuning nampak berusa- ha mengendalikan amarahnya. Si Tangan Sial menimpali. "Segala keputu- san ada di tangan Yang Agung. Sedangkan aku tak mungkin menyeret gendut sialan ini karena sebagian tubuhku tertotok dan jadi miring begini rupa." ujar Si Tangan Sial yang sejak tadi berusa- ha membebaskan totokan si gendut namun tak pernah berhasil.

Di depan sana Maut Kuning tanpa bicara apa-apa lagi langsung melangkah mendekati Gen- tong Ketawa. Orang tua ini tidak tinggal diam. Dia mencoba melepaskan pukulan ke arah mahluk kuning. Tapi dia jadi terkesiap karena dalam kea- daan seperti itu tangannya terasa berat tak dapat digerakkan sama sekali.

Maut Kuning berhenti di depan Gentong Ketawa yang dalam keadaan rebah menelentang. Keempat tangannya muka belakang digerakkan. Keempat tangan itu kemudian menyambar kaki dan tangan si kakek gendut. Akan tetapi belum lagi tangan Maut Kuning sempat mencekal kaki serta tangan Maut Kuning, satu teriakan keras mengguntur di udara disertai dengan berkelebat- nya bayangan yang berkelebat laksana kilat me- nembus udara.

"Berani menyentuhnya satu kematian ku- janjikan untuknya!" teriak suara itu. Bersamaan dengan melesatnya sosok serba putih itu pula terdengar suara angin menggemuruh bagaikan bendungan yang jebol. Lima larik sinar, merah, kuning, biru, hitam dan putih laksana mata pe- dang menyambar ke arah Maut Kuning. Baru ter- labrak sambaran anginnya saja sudah membuat Maut Kuning menjerit. Lima sinar maut meng- hantam lima bagian tubuh sosok serba kuning itu.

"Akkkh...!"

Jeritan Maut Kuning laksana merobek lan- git. Lima bagian tubuhnya terbabat putus terkena hantaman sinar warna-warni itu. Dua kepala di depan menggelinding, dua kepala yang mengha- dap belakang nyaris putus. Tangan depan terpo- tong menjadi dua, perut juga terbabat putus, be- gitu halnya dengan kedua kakinya. Melihat gela- gat yang tidak baik Si Tangan Sial langsung men- ciut nyalinya. Dia cepat selamatkan diri berlari ke arah kegelapan kabut yang menyelimuti Kuil Se- tan. Sementara itu sosok serba putih langsung menyambar tubuh Gentong Ketawa. Selagi kakek gendut dibawa pergi dengan kecepatan laksana terbang oleh sosok kerdil, pendek katai ini. Si ka- kek gendut Gentong Ketawa sempat mengenali siapa yang telah menyelamatkannya. Dia pun berseru. "Dewa Kincir Samudera?!"

Suara si gendut seakan tercekik, karena sosok pendek bukan main yang membawanya langsung menotok tenggorokan kakek ini.

"Jangan bicara, gendut keblinger! Kau se- dang menghadapi persoalan besar. Otakmu harus dibuat waras dulu." dengus sosok berpakaian serba putih itu. Melihat pada besarnya tubuh Gentong Ketawa, sesungguhnya sosok kerdil pen- dek kurus ceking itu mustahil dapat membawa si gendut apalagi dengan kecepatan begitu rupa. Tapi bagi sosok kerdil ini nampaknya seperti tidak memiliki bobot sama sekali bagi orang yang telah menyelamatkannya. Malah dalam waktu sekejap Dewa Kincir Samudera lenyap dari tempat itu.

Kembali ke puncak bukit di sebelah timur Kuil Setan, sosok Maut Kuning yang tercerai-berai potongan bagian tubuhnya begitu menyentuh ta- nah nampak bergerak-gerak. Dari setiap potongan tubuh mengepulkan asap tipis berbau busuk. Se- telah itu terdengar suara letupan lima kali bertu- rut-turut.

Des! Des! Des!

Seiring dengan letupan itu, maka setiap po- tongan tubuh, baik tangan, kaki maupun kepala berlesat di udara, melayang dan kembali ke tem- pat asalnya masing-masing. Satu keanehan lagi terjadi, potongan tubuh akibat hantaman sinar maut kini kembali menyatu. Sosok Maut Kuning bangkit berdiri. Masing-masing mata yang terda- pat di bagian kening memandang liar ke seluruh penjuru arah.

"Jahanam itu berhasil lolos dari tanganku. Siapa dia, mengapa tubuhku yang atos ini dapat dibuatnya tercerai-berai!" dengus Maut Kuning geram. Dia lalu kitarkan pandang. Si Tangan Sial sudah tidak berada lagi di tempatnya. "Kurang ajar, bangsanya manusia memang selalu bersikap pengecut!" rutuk Maut Kuning. Dengan perasaan penasaran mahluk berkepala empat itu kemudian kembali menembus kabut. Angin menderu-deru, suasana di sekitar Kuil Setan kembali berubah sunyi mencekam.

TAMAT