Gento Guyon Eps 08 : Topeng Kedua

 
Eps 08 : Topeng Kedua


Kegelapan baru saja menyelimuti daerah di sekitar puncak bukit itu. Tak berselang lama se- cara perlahan purnama menampakkan diri dian- tara ranting dan daunan. Di sebelah utara pun- cak bukit terlihat satu-satu pemandangan aneh dimana satu sosok berpakaian merah terpendam tubuhnya sampai sebatas dada. Pakaian sosok ini hancur seperti dicabik-cabik binatang buas, ram- but acak-acakan sedangkan di bagian dada, punggung, serta kepala nampak mengucurkan darah.

Dalam keadaan tubuh terpendam seperti itu nampaknya dia sama sekali tak dapat berge- rak apalagi saat itu kedua tangannya yang ber- warna hitam terikat dua lembar benang yang sulit diputuskan. Dia hanya dapat mengerang ketika merasakan tubuhnya yang terpendam mulai dari bagian dada ke bawah terasa panas laksana ter- bakar. Celakanya sejak dirinya terpendam begitu rupa, dia sama sekali tak mampu menggerakkan tubuh juga memutus benang yang mengikat ke- dua tangannya.

Padahal dua tangannya yang sakti selama ini dapat dipergunakan untuk menghancurkan benda apa saja. Kini dua tangan sakti yang dia sendiri selalu menyebutnya dengan Tangan Sial seakan kehilangan keampuhannya. Dua utas be- nang-benang yang dipergunakan untuk mengikat tangan seakan memiliki satu kekuatan yang san- gat hebat. Bukan hanya itu saja, benang yang me- lilit bagian tangan itu kini malah terbenam me- nembus kulit dan daging. Sedangkan dari bagian luka nampak mengucurkan darah. Ini satu ke- nyataan yang cukup mengejutkan bagi laki-laki yang menyandang julukan Si Tangan Sial itu. Be- tapa tidak? Selama ini tangan itu tidak pernah mengalami cidera walau dia berusaha memotong- nya dengan pedang atau menghancurkan sepa- sang tangan itu dengan batu.

Melihat kenyataan yang terjadi pada di- rinya si orang tua paling tidak merasa putus asa atau menjadi ketakutan membayangkan kemung- kinan buruk yang terjadi pada dirinya. Ternyata hal seperti itu tidak terjadi. Malah wajah Si Tan- gan Sial tampak tegar luar biasa.

Untuk pertama kali setelah dirinya merasa gagal memutus benang yang melibat tangannya Si Tangan Sial kitarkan pandangan mata. Dia tidak melihat siapapun disitu terkecuali dirinya sendiri

"Makhluk keparat itu, sama sekali aku tak tahu apa yang diinginkannya. Dia mengaku seba- gai saudaraku, padahal aku ingat betul sejak ter- lahir aku merasa tidak punya saudara. Sekarang setelah membawaku ke tempat keparat ini tubuh- ku malah  dipendamnya!" Si orang tua sahabat Gento Guyon merutuk dalam hati. Sejenak dia terdiam, kepala tertunduk, rasa panas di bagian tubuh yang terpendam makin menghebat, sakit- nya tiada tara namun dia tidak lagi mengeluh apalagi merintih. Perlahan wajah yang tertunduk berlumuran darah mendongak ke langit. Langit terang kuning kemilau. Tiga beruang tadi menye- rangku, pakaian dan tubuhku habis dicakarnya. Aku yakin makhluk lumpuh itu yang punya pe- rintah, aku mengetahui kehebatan ucapannya. Jika dia berasal dari golongan sesat kehadirannya di rimba persilatan bisa membuat celaka banyak orang. Fikir Si Tangan Sial.

Sekali lagi dia kitarkan pandangan ke selu- ruh puncak bukit kapur. Hingga saat itu dimana udara dingin menyerang dan angin berhembus kencang orang yang memendamnya di dalam ta- nah masih belum memperlihatkan tanda-tanda akan muncul.

Sadar kesempatan untuk membebaskan diri masih terbuka luas, diam-diam Si Tangan Sial kerahkan tenaga dalam kebagian kedua belah tangannya. Tenaga sakti yang bersumber dari ba- gian pusernya mengalir deras melalui dada, terus menjalar ke bagian tangan. Tak berselang lama kemudian kedua tangan disentakkan.

Breet!

Si Tangan Sial menjerit kesakitan. Benang yang melilit tangannya bukan putus tapi malah terbenam ke dalam daging, menimbulkan rasa nyeri dan sakit yang amat sangat. Darah mengu- cur. Si Tangan Sial mengumpat panjang pendek. "Benang celaka! Aku tak bisa membetotnya

hingga putus. Malah kini luka dipergelangan tan- ganku tambah menghebat." Sekali lagi dia perha- tikan tangannya yang terluka. Melihat banyaknya darah yang mengalir keluar, mendadak timbul ra- sa takut di hati Si Tangan Sial. Dia takut kehilan- gan tangannya. Padahal selama ini bertahun- tahun dia selalu berusaha membuat celaka tan- gannya sendiri. Sepasang tangan yang dia anggap sebagai pembawa malapetaka bagi dirinya. Sepa- sang tangannya memang menyimpan kesaktian hebat secara alami, bahkan bila dia marah benda apa saja yang disentuhnya pasti hancur, layu atau terbakar termasuk juga yang pernah terjadi pada diri istrinya. Yang mengherankan mengapa kini sepasang tangan itu seakan tidak berdaya di- bawa libatan selembar benang yang begitu tipis bahkan terkesan rapuh.

Kenyataan yang terjadi padanya ini adalah merupakan suatu kenyataan yang sangat sulit untuk dipercaya, hingga pada akhirnya Si Tangan Sial merasa letih sendiri

"Sampai kapan aku berada dalam keadaan seperti ini? Jika dulu aku ingin agar kedua tan- ganku terlepas dari badanku, mengapa sekarang aku seperti merasa takut kehilangan. Tanpa tan- gan aku kini baru bisa membayangkan betapa hi- dup ini jadi semakin sulit." gumam si orang tua. Berkata begitu dia hendak menggaruk hidungnya. Tapi begitu sadar kedua tangannya dalam kea- daan terikat niatnya urung malah Si Tangan Sial menyeringai kesakitan.

Di langit kini cahaya bulan terhalang seke- lompok awan, suasana di puncak bukit berubah jadi temaram. Pada saat itulah satu sosok tubuh tampak melayang dan jatuh di depan Si Tangan Sial.

Bluk!

Si orang tua yang tadinya tertunduk kini mengangkat wajah, dengan matanya yang beng- kak menggembung karena terluka dia memperha- tikan. Melihat siapa yang datang Si Tangan Sial merutuk dalam hati. "Manusia jahanam satu ini kedua kakinya lumpuh tapi dia dapat pergi ke- mana-mana. Apa yang hendak dilakukannya pa- daku? Aku mesti berhati-hati. Bukan mustahil dia berniat mencelakai aku."

"Ha ha ha, Tangan Sial. Sesuai dengan ju- lukanmu ternyata sepanjang hidupmu nasib sial selalu membuntuti dirimu." berkata si kakek ber- badan jerangkong berambut acak-acakan dipenu- hi kapur disertai tawa terbahak-bahak.

"Jerangkong lumpuh apa maksudmu? Mengapa aku kau bawa kemari? Kau mengatakan aku ini saudaramu, terus-terang aku tak per- caya."

Kakek jerangkong tatap Si Tangan Sial. Ada kilatan aneh dalam mata si kakek lumpuh. Satu seringai menghias bibirnya. Seringai lenyap, wa- jahnya yang putih berselemot kapur berubah angker. Di tempatnya terkubur Si Tangan Sial sama sekali tak bergeming, dia balas menatap si jerangkong dengan perasaan penuh marah.

"Kalau kau tak percaya aku ini saudaramu, keyakinanmu itu memang betul. Aku Begawan Panji Kwalat juga tak pernah merasa punya sau- dara sepertimu. Walaupun begitu terus-terang kedatanganmu memang kutunggu. Belasan tahun aku mendekam disini, sekian lama aku mem- buang waktu. Aku senang karena ternyata penan- tian ku tidak sia-sia. Walau lumpuh kaki nasibku tidak pula seburuk dirimu. Ha ha ha!"

Walaupun Si Tangan Sial sudah menduga hal ini, namun tetap saja pengakuan si jerang- kong membuatnya kaget. Si badan jerangkong bukan saudaranya. Kini dia mencoba mereka- reka siapa adanya Begawan Panji Kwalat

Melihat caranya bergerak yang bukan den- gan mempergunakan kaki maupun tangan me- lainkan melayang, ilmu si jerangkong ini pastilah sangat tinggi. Mungkin juga beberapa kali lipat di atasnya. Ini dibuktikan dengan hanya memper- gunakan benang saja kedua tangannya yang me- miliki kekuatan sakti sudah dibuat tidak berdaya. Malah kedua tangan itu kini terluka.

"Begawan Panji Kwalat. Siapa dirimu aku tak tahu, sebagaimana yang pernah kukatakan aku bahkan tak mengenalmu. Diantara kita tak ada silang sengketa, mengapa kau memperlaku- kan aku seperti ini, seolah aku ini adalah seorang musuh yang sangat kau benci?" tanya Si Tangan Sial "Kaus memang bukan musuhku, bahkan diantara kita tidak ada saling sengketa. Agar kau tidak penasaran, kukatakan padamu kalau aku saat ini mempunyai urusan besar. Urusan ini hanya bisa terlaksana bila kau mau membantu- ku." kata Begawan Panji Kwalat. Si Tangan Sial Semakin tidak mengerti saja kemana arah ucapan si jerangkong. Pada akhirnya sambil tersenyum sinis dia berkata. "Setelah aku kau perlakukan seperti ini kau beranggapan aku mau memban- tumu, begitu? Ha ha ha. Kau jangan mimpi. Kau sudah menipuku dan kesalahan ini saja merupa- kan kenyataan yang tak dapat ku maafkan. Jadi kuharap kau tak banyak menaruh harap pada- ku."

Ucapan tegas Si Tangan Sial membuat Be- gawan Panji Kwalat tertawa terkekeh-kekeh. Saat itu cahaya bulan sudah tidak terhalang awan lagi sehingga puncak bukit telah kembali berubah menjadi terang-benderang. Sekejab tawa si kakek terhenti, dari mulutnya terdengar suara mengge- rung aneh. Dengan tenang dia dongakkan wajah- nya memandang ke arah bulan. Mulut si jerang- kong berucap layaknya orang melantunkan syair.

Sepanjang waktu aku menunggu kehadi- rannya.

Sekarang dia berada dalam genggamanku. Akan kujadikan dia seorang utusan.

Dia akan menjadi budak yang patuh setia Peruntungan ku menyangkut kepentingan besar

Jika yang aku mau telah kudapatkan.

Akan ku tempatkan muridku di sebuah kur-

si kekuasaan

Akan kubunuh para penentang

Bersama kekuasaan akan ku peluk rembu- lan Ha ha ha....

Muridku,

Kekuasaan dan kedudukan semakin jelas bagimu

Kau akan robah dunia persilatan dengan warna darah

Batu, Muridku

Batu adalah muridku!

Suara si kakek jerangkong terhenti hingga disitu, kini dia kembali pandangi Si Tangan Sial.

Di tempatnya terpendam Si Tangan Sial sunggingkan senyum mengejek. "Jerangkong lumpuh, syair mu sungguh pilu menyedihkan. Tapi di telingaku kedengarannya seperti suara kere di pasar. Sayang aku tidak punya emas atau uang kepengan. Jadi syair mu hanya bisa ku- bayar dengan kentut ku, apakah kau mau? Ha ha ha." kata Si Tangan Sial diiringi tawa bergelak. Kakek jerangkong mendengar ucapan Si Tangan Sial jadi sangat tersinggung. Baru saja dia mem- buka mulut hendak mendamprat, Si Tangan Sial meneruskan ucapannya. "Saat itu aku telah kau buat tidak berdaya. Jika kau punya rencana ka- takan apa keinginanmu. Semuanya akan kuden- gar, setelah itu apapun rencanamu kelak semua- nya kuanggap sebagai angin, sebagai kentut. Ha ha ha."

Sepasang mata si jerangkong yang seolah tenggelam ke dalam rongga bergerak-gerak, ada benci dan geram terlihat disana. Sejauh itu dia te- tap berlaku tenang.

"Apa yang kau katakan aku tak perduli. Satu tugas yang harus kau kerjakan kau mesti pergi ke kuil Setan!" tegas si jerangkong.

Si Tangan Sial jadi melengak kaget. "Jerangkong keparat itu apa maunya aku

disuruh pergi ke Kuil Setan?" Rutuk Si Tangan Sial. Wajahnya nampak berubah pucat, namun dia tetap berlaku tenang.

"Aku tahu kau mengenal seluk-beluk dae- rah itu Tangan Sial. Kulihat wajahmu menunjuk- kan rasa kaget, mulutmu boleh terkunci tapi ma- tamu tak bisa menipuku." Begawan Panji Kwalat berkata disertai senyum. "Mungkin juga kau mengenal nama sebuah senjata hebat Bintang Penebar Petaka. Senjata dahsyat itu konon berada di tangan salah seorang penghuni kuil, disembu- nyikan di suatu tempat yang hanya diketahui oleh para penghuni kuil." jelas si jerangkong.

Dalam kagetnya Si Tangan Sial tak mampu keluarkan suara, apalagi bicara. Baginya Kuil Se- tan bukan sebuah tempat asing. Dulu dia pernah menetap di daerah ini, punya  seorang sahabat penghuni kuil, namun tak pernah mampu mene- robos bagian dalam kuil itu. Selain kuil ini diseli- muti kabut aneh, setiap dia hendak masuk ke da- lam kuil tubuhnya seperti dilemparkan, seakan ada satu kekuatan yang tak terlihat yang men- campakkannya. Apa yang terjadi padanya waktu itu masih belum seberapa. Malah beberapa tahun yang lalu banyak tokoh golongan hitam maupun putih tewas di tempat itu. Sekarang bagaimana mungkin dia menuruti perintah Begawan Panji Kwalat, apalagi jika disuruh mengambil Bintang Penebar Petaka.

"Begawan Panji Kwalat, seperti yang telah kukatakan, kau jangan bermimpi aku mau men- gerjakan perintahmu. Bagiku lebih baik mati da- ripada harus pergi ke Kuil Setan." Si Tangan Sial menjawab disertai senyum mencibir.

Sepasang mata angker si jerangkong yang memerah si bagian lingkaran tepinya membelalak lebar. Dia lalu berteriak. "Kematian yang kau min- ta tak akan kuberikan, malah kau akan ku siksa yang nantinya akan membuatmu menderita seu- mur hidup. Pertama sekali aku akan mengambil kedua telingamu. Bukan melalui ucapanku yang manjur karena itu kuanggap terlalu enak bagimu. Telingamu akan ku potong, ku sayat kecil-kecil." Si jerangkong kemudian julurkan tangan sambil buntalan yang tergeletak di dalam lubang tidur- nya. Dari buntalan itu dia mengeluarkan sebilah golok buntung tumpul karatan, mirip golok yang terendam di air asin. Melihat karatnya mata golok Si Tangan Sial jadi miris sendiri. Setelah memper- lihatkan golok si kakek melanjutkan. "Jika daun telingamu sudah ku cacah, baru kemudian ku po- tong pula bukit hidungmu. Selesai hidung baru kucungkil kedua mata setelah itu bibir dan kulit tubuhmu baru ku kelupas, lalu kedua tangan. Puas aku mendengar suara jeritan mu baru ku potong lidahmu. Ha ha ha."

Mendengar ucapan Begawan Panji Kwalat, Si Tangan Sial merasakan dadanya laksana mau meledak dibuncah amarah. Kedua pelipis berge- rak-gerak sedangkan mata mencorong tajam.

"Begawan terkutuk! Daripada kau perlaku- kan aku seperti itu lebih baik kau bunuh saja aku." kata Si Tangan Sial lantang.

Begawan Panji Kwalat gelengkan kepala disertai senyum.

"Aku tidak punya niat membunuh, nilai ji- wamu terlalu mahal bagiku. Terkecuali nanti sete- lah kau dapat menyelesaikan tugas-tugasmu. Ha ha ha."

"Kau jangan banyak berharap. Kau siksa sekalipun sampai mati aku tak sudi menjalankan perintahmu!" tegas Si Tangan Sial. Dalam kea- daan seperti itu dia berharap ada yang datang menolong, dia bahkan tak lupa berdoa meminta pada Tuhan. Beberapa saat berlalu, tak ada per- tolongan tak ada pula keajaiban. Dia coba meng- gerakkan lengannya yang terikat. Sakitnya luar biasa. Malah rasa sakit makin menghebat tembus hingga kesumsum tulang. Si Tangan Sial meringis kesakitan. Sebaliknya Begawan Panji Kwalat ma- lah tertawa tergelak-gelak.

"Sekarang kau boleh bicara apa saja. Ingin kulihat sampai dimana ketabahan mu." kata si je- rangkong Begawan Panji Kwalat sambil mengu- lum senyum. Kemudian golok buntung karatan ditimangnya, lalu hulunya digenggam erat. Selan- jutnya kakek itu meniup senjatanya sebanyak tiga kali. Pulang balik dari bagian ujung golok sampai ke hulu. Begitu ditiup golok yang tadinya berwar- na kecoklatan kini berubah merah laksana baru habis dibakar.

"Wahai golok, senjata boleh mencuri di tempat tukang terasi. Kau sudah mendengar apa yang kukatakan tadi. Sekarang kau kerjakan pe- rintahku. Potong bagian anggota tubuh manusia penuh kesialan itu. Lakukan perintahku, jangan berhenti sebelum mendapat aba-aba dariku!" Si jerangkong berkata ditujukan pada golok.

Sesuatu yang mengejutkanpun terjadi. Seakan memiliki nyawa golok yang telah berubah merah membara itu melesat meninggalkan tangan si jerangkong. Di udara golok berputar tiga kali dengan gerakan menggunting disertai suara ber- dengung menyakitkan telinga. Setelah itu ujung golok menukik tajam ke bawah, bergerak mengi- tari kepala Si Tangan Sial. Setelah itu mata golok yang tumpul dan panas luar biasa menempel di daun telinga kanan Si Tangan Sial. Mata golok bergerak maju mundur seperti gergaji. Si Tangan Sial menjerit kesakitan. Bukan karena akibat ma- ta golok telah mengiris daun telinga. Jeritan si orang tua akibat begitu panasnya badan golok itu, hingga membuat daun telinga Si Tangan Sial me- lepuh hangus menghitam. Si orang tua meronta, tapi gerakannya tertahan akibat sakit yang men- dera lengannya. 

"Begawan bangsat. Jauhkan benda celaka itu dari telingaku. Aku... aku...!" suara Si Tangan Sial terputus-putus.

"Tahan...!" Begawan Panji Kwalat berseru. Bersamaan dengan itu pula gerakan golok jadi terhenti. Si jerangkong sunggingkan senyum pe- nuh kemenangan. Dia lalu membuka mulut. "Kau menyerah?! Sekarang katakan kesanggupan mu untuk lakukan perintahku" katanya.

"Aku... hanya ingin mengatakan golok tumpul jahanam itu lebih pantas untuk menggo- rok lehermu sendiri. Ha ha ha!" dengus Si Tangan Sial disertai tawa tergelak-gelak.

Jawaban ini tentu saja membuat Begawan Panji Kwalat jadi marah besar. Sekujur tubuhnya bergetar, dua tangan dikepalkan sedangkan gi- ginya yang hitam mengeluarkan suara bergemele- tukan.

"Golok karatan!" seru Begawan Panji Kwa- lat kalap. "Tangguhkan perintahku pertama. Se- karang kau pukul dia, pukul tangannya yang ke- ras!" Suara si jerangkong belum lagi lenyap, na- mun pada saat itu golok telah melesat di udara la- lu berputar menghantam kepala, wajah juga ke- dua tangan si orang tua. Dalam keadaan terluka akibat terlilit benang Si Tangan Sial benar-benar mengalami penderitaan yang sangat hebat. Pelipis mengucurkan darah, dada serta bagian punggung bengkak menggembung. Sedangkan bagian kepala laksana mau meledak. Darah menetes dari sudut bibir dan hidungnya. Si Tangan Sial merintih, na- fas megap-megap dan orang tua ini akhirnya tak sadarkan diri.

Entah berapa lama orang tua ini dalam keadaan seperti itu, ketika dia siuman dia men- dapati dirinya tidak lagi dalam keadaan terpen- dam. Saat itu dia terbaring di depan si kakek je- rangkong. Sedangkan ikatan benang sudah dile- pas. Walau sakit sudah agak berkurang namun kedua tangannya masih terasa nyeri

Tangan Sial kerjabkan matanya. Di langit saat itu bulan telah bergeser ke sebelah barat. Si Tangan Sial mengeluh. Dia melirik ke samping dimana si jerangkong lumpuh duduk di atas tum- pukan kapur. Ingat dengan penipuan serta perla- kuan yang terjadi atas dirinya mendadak sekujur tubuh Si Tangan Sial jadi menegang.

"Kupret jahanam ini harus kubunuh!" menggeram si orang tua dalam hati. Tanpa fikir panjang dia hantamkan tangan kanannya yang sakti ke dada Begawan Panji Kwalat. Apa yang terjadi kemudian membuat Si Tangan Sial jadi terkejut sendiri. Dia ternyata tak mampu mengge- rakkan tangannya. Jangankan untuk memukul remuk dada lawannya, sedangkan untuk men- gangkat sekalipun sulit bukan main. Seolah tan- gan itu telah berubah berat menjadi ratusan kati. Begawan Panji Kwalat yang memiliki ber-

bagai macam kesaktian aneh itu kembali tertawa lebar. Senyum mengejek yang mentertawai keti- dak berdayaannya. Rasanya seumur hidup baru kali ini Si Tangan Sial merasa dipermainkan orang. Diapun merutuk habis-habisan.

"Apa yang bisa kau perbuat Tangan Sial? Kau mau membunuhku? Selama kau berada da- lam kekuasaanku tak satupun yang dapat kau lakukan untuk menyelamatkan dirimu sendiri." berkata begitu si jerangkong keluarkan tiga ba- tang jarum berpentol besar pada salah satu ujungnya. Jarum berwarna hitam itu kemudian diletakkan di bagian telapak tangan.

"Makhluk celaka ini hendak berbuat apa lagi padaku?" gumam Si Tangan Sial dalam hati. Di bawah sinar bulan yang mulai meredup dia te- rus perhatikan gerak-gerik orang itu.

"Tiga benda ini akan memaksamu berbuat apa saja sesuai dengan kehendakku. Kau harus mengambil senjata itu di Kuil Setan. Bunuh siapa saja yang kau temui disana." tegas Begawan Panji Kwalat. Dia lalu melanjutkan ucapannya lagi. "Sa- tu tugas lagi yang harus kau kerjakan, kau mesti membunuh kawanmu yang bernama Gento Guyon. Ingat, Gento harus kau bunuh dengan tangan saktimu!" tegas Begawan Panji Kwalat.

Kejut Si Tangan Sial bukan alang kepalang mendengar ucapan si jerangkong. Anehnya dia kemudian malah tertawa terbahak-bahak. Kening sang Begawan berkernyit, belum lagi rasa heran si jerangkong lenyap dengan tegas Si Tangan Sial berkata. "Rencanamu edan amat jerangkong sint- ing. Dari pada aku membunuh Gento, lebih baik membunuhmu. Daripada aku melenyapkan nya- wa pemuda konyol temanku itu lebih baik aku melenyapkanmu seribu kali. Kau sudah tua, otakmu jahat, kakimu lumpuh. Daripada menjadi penyakit bagi orang lain, bukankah lebih baik membunuh diri saja? Ha ha ha."

Begawan Panji Kwalat merasa geram bukan main. Sambil menahan geram pula dia berteriak. "Berani membangkang perintahku berarti kau mencari penyakit. Sudah menjadi suratan nasib- mu, sepanjang hidup kau selalu ditimpa kesialan. Kau berada dalam genggamanku, kau berada di bawah perintahku. Jawabanmu kutolak, niatku tetap harus terlaksana!" Begitu usai bicara Bega- wan ini melapalkan mantra-mantra, mulutnya komat-kamit perdengarkan suara racau tak jelas. Setelah itu dia baru meniup tiga buah jarum di telapak tangannya. Jarum lenyap dari tangan sang Begawan. Si Tangan Sial belalakkan mata begitu dia mendengar suara desing halus di de- katnya. Bersamaan dengan itu pula si jerangkong keluarkan ucapan.

"Berdiri!"

Seketika Si Tangan Sial bangkit berdiri. Tapi kemudian dia menjerit ketika merasakan tiga buah benda halus menembus bagian belakang leher dan kedua bahunya kiri kanan. Beberapa saat kemudian hawa dingin langsung menyerang si orang tua jadi kelabakan. Hawa dingin terus menjalar kebagian otak, merasuk ke dalam sel-sel otak hingga membuat keadaan Si Tangan Sial jadi setengah sadar.

"Sekarang kau pergilah! Laksanakan tu- gasmu. Jangan pernah kembali sebelum kau ber- hasil menyelesaikan semua tugas yang kuberikan padamu!" tegas Begawan Panji Kwalat.

Tancapan tiga buah jarum yang diberi na- ma Jarum Penggendam Roh membuat Si Tangan Sial tak mampu lagi menggunakan otak dan fiki- rannya. Tanpa bicara apa-apa dia langsung balik- kan badan. Setelah itu berjalan meninggalkan puncak bukit kapur

Begawan Panji Kwalat pandangi kepergian Si Tangan Sial sambil tersenyum penuh arti.

2

Si gondrong bertelanjang dada Gento Guyon murid si gendut besar Gentong Ketawa sambil berlari memanggul sosok nenek tua bebe- rapa kali menyempatkan diri untuk melihat ke be- lakang. Dewa Angin Guntur dan murid-muridnya ternyata tidak mengejar sebagaimana yang dia sangkakan. Di satu tempat setelah melewati ti- kungan jalan di bawah sebatang pohon berdaun rindang dia hentikan larinya. Gento lalu kitarkan pandang mencari tempat yang aman. Ketika dia melihat sebuah gua kecil yang terletak tak jauh di sebelah kiri pohon diapun melangkah mengham- piri.

Sampai di mulut gua yang ternyata tidak seberapa lebar Gento turunkan si nenek dari ba- hunya. Setelah itu dia melangkah lagi ke depan, julurkan kepala ke dalam mulut gua sambil men- gendus-endus.

"Gua ini baunya sungguh tidak nyaman. Mungkin ini tempat tinggal kampret. Tidak men- gapa. Nenek itu walaupun manusia seperti aku tubuhnya sejak tadi juga menebar bau kampret." Gento mengomel dalam hati. Dia berpaling, me- mandang ke arah, Gento melihat betapa wajah si nenek nampak lebih tua dari usia yang sebenar- nya. Bahkan tatap matanya yang letih banyak menyimpan beban penderitaan hidup.

"Nek...!" Gento menegur. Si nenek diam tak menjawab, matanya menerawang kosong seolah telah kehilangan semangat hidup. Gento heran, tapi juga tersenyum. Setelah itu baru mengusap wajahnya tiga kali. Dia mendekati si nenek, jari tangan digoyang pulang balik di depan mata si nenek. Perempuan tua yang bernama Selasih Jingga inipun tetap diam tak bergeming. "Nek di dalam gua gelap sekali. Baunya pesing lagi, jika kau tidak keberatan daripada bengong begitu ma- sih bagus tiduran di dalam sana." celetuk Gento lagi.

Seakan baru terjaga dari tidurnya nenek Selasih Jingga kedip-kedipkan kedua matanya. Beberapa saat dia diam terhenyak seperti orang bingung. Kemudian air matanya berderai, tangis- nya terguguk seperti anak kecil. Melihat ini Gento jadi melongo, bingung lalu usap-usap batang hi- dungnya.

"Aneh nenek ini. Rasanya tak ada yang ke- liru dalam ucapanku, mengapa dia jadi menangis begini?" kata Gento. Dia terdiam, otaknya berfikir barangkali si nenek menangis karena memikirkan rumahnya yang ludes terbakar. Merasa iba Gento. berkata menghibur. "Nek, saat ini jangan lagi kau tangisi rumahmu yang menjadi abu. Seribu ru- mah apalagi pondok buruk seperti itu dapat kau buat bahkan aku kalau diperlukan bersedia membantu. Kau harus bersyukur pada Gusti Al- lah karena telah memanjangkan umurmu. Jika nafas panjang, umur panjang segala sesuatunya bisa dipikirkan kemudian nek, seribu rencana bahkan dapat dibuat. Sudahlah jangan menangis. Atau kau lapar nek? Aku bisa mengambilkan jambu untukmu"

Bukannya terhenti, tangis si nenek malah semakin menjadi. Gento jadi serba salah. Karena tidak tahu harus berbuat apa, maka Gento ikutan menangis. "Entah mengapa aku jadi ikut sedih. Hu hu hu hu, sebenarnya apa yang menyusahkan hatimu. Kalau kau mau berbagi kesusahan aku mau menerima biar aku jadi ikut susah." kata Gento

Entah mengapa si nenek mendadak jadi hentikan tangisnya. Kini Gento jadi asyik menan- gis sendiri.

"Pemuda gondrong apa yang kau lakukan?" Sambil menyeka air matanya untuk pertama kali si nenek membuka mulut ajukan pertanyaan.

Gento jadi kaget, serentak dia memandang ke arah si nenek sambil kedip-kedipkan matanya.

"Kau telah berjasa besar selamatkan se- lembar nyawa tua bangka tidak berguna ini. Aku berterima kasih atas budi pertolonganmu. Tapi rasa terima kasihku pasti bertambah besar jika kau membiarkan aku mati dicincang oleh murid- murid Dewa Angin Guntur." kata si nenek seakan menyesali tindakan pertolongan yang dilakukan oleh Gento.

Murid Gentong Ketawa tentu saja jadi kaget dan tidak menyangka si nenek akan bicara seperti itu. Banyak orang berdosa di dunia ini yang ma- sih inginkan umur panjang saat dirinya berada dalam ancaman bahaya besar. Tapi sebaliknya nenek berpakaian hitam ini malah memilih mati. Sungguh Gento jadi geleng-geleng kepala sendiri.

"Nek... mengapa kau bicara seperti itu? Apa yang membuatmu merasa putus asa?" tanya Gen- to.

Si nenek tarik nafas panjang. "Percuma aku hidup jika buah hatiku sudah dibunuh orang. Sebagai seorang ibu yang melahirkannya hatiku sangat menderita perasaanku jadi tergun- cang." berkata si nenek dengan suara tersendat pilu. Ucapan nenek Selasih Jingga membuat Gento jadi terdiam. Dia jadi ingat sebelum meno- long nenek itu dia melihat Dewa Angin Guntur dan murid-muridnya dengan dibantu puluhan penduduk dusun mengeroyok seorang pemuda berpakaian putih. Waktu itu dia hendak meno- long, tapi dia menganggap pertolongannya tidak akan berguna mengingat pemuda itu dihujani berbagai senjata secara bertubi-tubi. Gento baru mengambil tindakan ketika si nenek yang sudah dalam keadaan tertotok ini hendak dicincang oleh murid-murid Dewa Angin Guntur.

Sekarang Gento baru mengerti kiranya pe- muda itu adalah putra si nenek. Tentu sekarang dia jadi maklum jika perempuan tua ini merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. Tapi Gento berfikir semua itu tidak akan terjadi jika tidak ada silang sengketa sebelumnya.

"Nek, ketua perguruan gunung Keramat dan muridnya tidak mungkin berlaku keji pada puteramu, jika tidak ada persoalan yang amat be- sar. Konon turut yang aku dengar Dewa Angin Guntur adalah manusia yang bijaksana. Barang- kali putra mu pernah melakukan sesuatu hingga membuat orang itu jadi sangat membencinya?"

"Kau benar," ujar si nenek. Kali ini dia su- dah tidak lagi menangis. Setelah diam sejenak dia lalu melanjutkan. "Belum lama ini putri tunggal Dewa Angin Guntur dibunuh orang. Sebelum di- bunuh dia diperlakukan secara keji. Putraku Bayu Gendala dituduh sebagai pelakunya karena disamping mayat ditemukan dua bukti. Sebilah pedang menancap di dada Lara Murti, selain itu tak jauh dari korban ditemukan sebuah topeng kayu." Menerangkan si nenek dengan mata mene- rawang entah kemana.

"Apa hubungan pedang serta topeng den- gan anakmu nek?"

"Justru karena pedang dan topeng itu ada- lah milik anakku, aku tak tahu bagaimana kedua benda itu bisa berada di tangan si pembunuh." ujar si nenek bingung.

"Kau yakin bukan anakmu yang membu- nuh gadis itu?"

"Aku sangat yakin sekali. Aku tahu Bayu jatuh cinta pada Lara Murti. Dia memang pernah mengatakan akan menempuh segala macam cara untuk mendapatkan gadis itu. Tapi aku percaya dia tak akan sanggup melakukan hal itu karena aku tahu kesaktian serta ilmu silat jauh lebih rendah dibandingkan kesaktian yang dimiliki oleh Lara Murti. Gadis itu mempunyai tingkat kesak- tian tiga tingkat di atas Bayu Gendala. Tak mungkin dia bisa menculik Lara Murti apalagi membuatnya celaka sampai dua kali." ujar si ne- nek dengan mata berkaca-kaca.

Gento berfikir jika benar apa yang dikata- kan oleh si nenek, jelas yang membunuh Lara Murti bukan Bayu Gendala. Tapi mungkin seseo- rang yang menyimpan dendam kesumat pada Bayu Gendala atau boleh jadi pada gadis itu pula. Gento jadi ingat pada kejadian di kebun bunga beberapa hari yang lalu. Ketika itu seorang pe- muda bertopeng menunggang kuda putih menye- rang Lambang Pambudi. Serangan pemuda berto- peng tidak begitu ganas, jurus-jurus pedangnya juga terkesan kaku. Mendapat serangan seperti itu saja Lambang Pambudi terkesan seperti tidak berdaya. Dia yang konon tidak pandai ilmu silat nyaris tewas ditembus pedang jika Gento dan Si Tangan Sial tidak cepat menolong.

Ingat akan semua kejadian itu Gento pun ajukan pertanyaan. "Nek, apakah anakmu sering memakai topeng dan menunggang kuda putih?"

Pertanyaan ini membuat si nenek ber- jingkrak kaget dan surut dua langkah. Namun ge- rakannya jadi tertahan karena pengaruh totokan kiranya masih menguasai dirinya. Lama si nenek menatap Gento dengan tatapan curiga juga ber- campur heran. Akhirnya diapun anggukkan kepa- la.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Aku pernah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu." Selanjutnya Gento menceritakan segala sesuatunya yang terjadi di kebun bunga. Wajah si nenek mendadak berubah muram. "Jadi kau percaya anakku telah membunuh Lara Mur- ti?" tanya si nenek putus asa.

Gento menarik nafas, dongakkan kepala ke langit lalu tertawa tergelak-gelak. "Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan nek. Di dunia ini segala kemungkinan bisa saja terjadi. Anakmu mungkin termakan fitnah orang, bisa jadi anak- mu memang seorang pembunuh. Jika benar se- perti katamu gadis itu memiliki kesaktian tinggi. Setelah aku melihat jurus pedang anakmu aku ti- dak bisa percaya anakmu yang melakukan pem- bunuhan itu. Atau mungkin kau punya musuh lain nek. Coba ingat. Aku percaya sekarang kau adalah orang baik. Tapi siapa tahu dulu-dulu?!" kata Gento mendapat pertanyaan seperti itu si nenek nampak sedih, wajahnya semakin muram membayangkan rasa putus asa. Ingin rasanya dia mati saat itu juga, beruntung tubuhnya dalam keadaan tertotok, jika tidak mungkin dia telah menghantam remuk batok kepalanya sendiri sak- ing tak sanggup menahan beban batin yang mengguncang perasaannya.

"Nek, jika kau tak berkenan mengatakan- nya lebih baik tak usah jawab pertanyaan tololku. Aku tidak hendak memaksa, namun jika kau mau rasanya berterus terang akan lebih baik karena itu dapat mengurangi beban penderitaanmu. Se- lain itu dengan berterus-terang mungkin aku da- pat membantumu dalam menyelesaikan persoalan ini." kata Gento bernada membujuk. Si nenek manggut-manggut, namun pada akhirnya dia mengakui. "Terus-terang dulunya aku memang bukan orang baik. Di waktu muda aku membuat kekacauan dimana-mana. dengan Ilmu Jari Pe- rontok Nyawa aku malang melintang menebar ke- jahatan. Aku bahkan tak segan menjatuhkan tan- gan jahat pada siapa saja yang berani menentang kehendakku. Kejahatan yang pernah kulakukan sedalam lautan selangit tembus. Setelah anakku terlahir dan suamiku tewas di tangan seseorang barulah aku menyadari semua perbuatanku itu. Aku sadar, insyaf dan timbul keinginan untuk membesarkan anak. Aku mengasingkan diri. Se- jak kecil Bayu Gendala ku didik menjadi manusia baik-baik yang kelak kuharapkan dia dapat men- jadi seorang pendekar penegak keadilan, meno- long kaum yang lemah lagi tertindas dari tangan penguasa yang sewenang-wenang. Karenanya aku tak pernah menurunkan ilmuku yang sangat ber- bahaya kepada Bayu terkecuali hanya jurus-jurus pedang sekedar untuk menjaga diri. Kenyataan yang terjadi dan apa yang kulihat dari anakku sungguh membuat aku merasa segan untuk hi- dup lebih lama." sesal si nenek dengan mata ber- kaca-kaca.

Pengakuan tulus dari seorang ibu yang sangat menderita tekanan batin hebat ini sung- guh membuat hati Gento jadi tergugah dan jadi merasa iba. Sekarang dia bisa mengerti mengapa Dewa Angin Guntur seolah tak bisa menerima pengakuannya yang jujur. Kiranya dulunya dia seorang perempuan berhati jahat.

"Nek, setiap manusia pasti, pernah mela- kukan kesalahan. Hidup ini bukan. untuk disesali atau sekedar untuk mengenang masa lalu yang suram. Aku yakin jika kau sudah bertobat Tuhan pasti memaafkan dosa-dosamu. Dosa apa saja terkecuali syirik. Yang terpenting kau tidak men- gulang lagi melakukan dosa yang sama. Jika itu kau lakukan berarti sama halnya dengan menge- jek Tuhan! Ha ha ha." kata Gento diiringi tawa.

Si nenek manggut lagi, dalam hati merasa kagum mendengar ucapan Gento.

"Tak kusangka dibalik tampangmu yang sinting ternyata kau mempunyai pandangan yang luas. Tapi tolong kau bebaskan totokan ini dulu." Mendengar ucapan si nenek murid si gendut be- sar Gentong Ketawa jadi melongo.

Gento menepuk keningnya. "Astaga, Nek! Aku sungguh tak mengira kau masih dalam kea- daan tertotok." desis Gento. Dia lalu melangkah lebih mendekat lagi. "Di bagian tubuhmu yang mana kena ditotok Dewa Angin Guntur?"

"Punggung kiri dan leher sebelah kanan." menerangkan si nenek.

Gento mengitari nenek itu, lalu berhenti se- telah berada di bagian punggung si orang tua. Se- telah dapat menemukan bagian yang kena toto- kan, maka tanpa pikir panjang dia gerakkan ja- rinya.

Desss!

Dua jari berkelebat menghantam bagian punggung dan leher sebelah kanan. Sesaat sete- lah itu si nenek sudah dapat menggerakkan ke- dua tangan bahkan seluruh tubuhnya. Si nenek saking gembira berjingkrak-jingkrak seperti orang menari. Gento jadi tertawa melihat kegembiraan si nenek. Sadar dirinya ditertawakan orang dan sadar pemuda itu telah menolongnya, si nenek ja- tuhkan diri berlutut di depan Gento. "Nek, rupanya dulu kau seorang penari he- bat. Sekujur tubuhmu tadi kulihat terus bergerak tak mau diam. Tapi... eeh... nek apa yang kau la- kukan ini? Mengapa kau berlutut di hadapanku?" sergah Gento sempat surut mundur ke belakang dengan mata terbelalak mulut ternganga.

"Aku merasa terharu, aku merasa berteri- ma kasih kau mau menolong tua bangka rongso- kan ini. Aku merasa bersyukur karena kau mau mempercayai ucapanku, selain itu kau yang begi- ni muda telah banyak memberi ku pandangan yang baik. Hingga aku tak mengambil jalan pin- tas, mencari mati secara menyesatkan." ujar si nenek dengan suara serak terharu dan nafas kembang kempis.

Gento geleng kepala lalu tertawa pelan. "Nek... nek. Jadi orang jangan berlebih-

lebihan. Kalau mau bersyukurlah pada Gusti Al- lah. Aku ini bukan manusia yang selalu berjalan di atas garis yang lurus. Kebetulan saja aku ber- temu denganmu dalam keadaan otak lagi lem- pang. Coba kalau otakku lagi angot, ucapanku bi- sa ngawur dan bisa membuatmu kalang kabut bahkan mungkin mati lebih cepat. Ha ha ha." ka- ta pemuda itu seenaknya sambil tergelak-gelak. Mendengar ucapan Gento, si nenek yang sedang mengalami guncangan batin itu mau tak mau jadi ikut tertawa.

"Aku suka melihat gaya mu bicara. Sejak semula aku memang sudah menduga otakmu ti- dak beres dan ada sedikit kelainan. Hik hik Hik." kata si nenek menimpali.

"Terkadang malah lebih parah nek." celetuk Gento lagi-lagi dia mengumbar tawanya.

Si nenek manggut-manggut. "Kau sekarang hendak kemana?" tanya orang tua itu sambil me- natap lawan bicaranya.

Tanpa fikir panjang Gento menjawab. "Aku akan menyelidik, siapa sebenarnya yang telah membunuh putri Dewa Angin Guntur. Jika pem- bunuh itu tak kutemukan, maaf ada kemungki- nan anakmu adalah pembunuhnya."

Nenek Selasih Jingga tarik nafas pendek. "Baiklah apapun yang terjadi nanti akan kuteri- ma. Yang penting persoalan ini harus dijernihkan dulu." kata si nenek.

"Kau sendiri hendak kemana nek? Apakah ingin menyatroni perguruan Gunung Keramat?" sindir Gento.

Si nenek tersenyum tipis. "Aku sudah tua, biarlah semuanya berlalu menjadi kenangan pahit sekaligus pelajaran bagi orang yang mau mere- nungkan kejadian ini. Sekarang aku mohon diri." berkata begitu si nenek langsung berkelebat pergi tinggalkan Gento seorang diri.

Sebelum orang tua itu lenyap Gento masih sempat berkata. "Nek, moga kau panjang umur. Moga kau menemukan jodoh pengganti suamimu yang hilang. Kelak jika kau jadi pengantin jangan lupa kau undang diriku. Aku yakin bila dirias wa- jahmu jadi cantik kembali. Menjadi pengantin ko- non merupakan sesuatu yang sangat berarti. Wa- lau kau nantinya jadi pengantin kesiangan! Ha ha ha."

"Bocah sialan!" satu suara menyahuti la- pat-lapat di kejauhan. Gento tersenyum.

"Dia sudah sangat tua, namun gerakannya masih cepat. Wajah keriput kulit tangan dan kaki putih dan masih mulus. Moga nenek itu cepat dapat jodoh, agar di akhir hayatnya dia tak kese- pian. Kasihan kalau malam dia cuma berselimut angin. Ha ha ha." kata Gento sambil tertawa se- perti orang linglung.

3

Dewa Angin Guntur memimpin murid- muridnya kembali ke perguruan. Perasaan puas menghias di wajahnya. Dia berfikir walaupun Se- lasih Jingga telah diselamatkan oleh seorang pe- muda tidak dikenal. Paling tidak dia telah berhasil membunuh Bayu Gendala yang dia anggap telah melakukan kekejian sekaligus membunuh Lara Murti.

Sambil terus membedal kuda Dewa Angin Guntur kepalkan tinjunya. Dia merasa kesal dan memendam marah pada si gondrong.

"Pemuda itu ilmunya sangat tinggi. Sayang dia telah berlaku tolol dengan memberikan perto- longan pada perempuan jahat. Kalau saja dia ta- hu siapa adanya Jari Perontok Nyawa, pasti ne- nek keparat itu akan dibunuhnya seribu kali." ge- ram si orang tua. Dia diam sejenak, sementara ra- tusan muridnya mengikuti tak jauh di belakang. Orang tua berambut putih berpakaian biru ini se- lanjutnya berfikir, siapapun adanya pemuda itu dia tidak perduli. Nanti setelah masa berkabung berlalu dia bertekad untuk mencari Selasih Jing- ga. Jika pemuda itu bersamanya dan tetap berada dipihaknya, Dewa Angin Guntur telah bertekad untuk membunuhnya pula.

Orang tua itu tersenyum, sementara mere- ka sudah hampir memasuki Solotiga ketika tiba- tiba saja kuda Dewa Angin Guntur meringkik ke- ras. Kuda berhenti mendadak, sambil mengang- kat kedua kaki depannya.

"Gendolo Putih ada apa?" seru Dewa Angin Guntur menyebut nama kuda yang menjadi tung- gangannya. Bicara begitu dia raih leher kuda hingga tidak membuatnya terbanting.

Melihat kejadian itu muridnya segera menghambur berlarian ke depan menghampiri.

"Guru ada apa?" tanya salah satu dianta-

ranya.

Ketua perguruan Gunung Keramat tidak

menjawab, dia memandang ke satu jurusan di- mana dia melihat satu sosok berkelebat diantara puncak pepohonan.

Merasa curiga tak menunggu lebih lama Dewa Angin Guntur berkelebat mengejar. Sampai di salah satu cabang pohon dia berhenti, matanya jelalatan memandang ke setiap sudut. Senyum tersungging di bibir kala dia melihat satu sosok tubuh mendekam tak jauh darinya dalam posisi memunggungi. Rupanya perhatian orang itu ter- tuju pada murid-murid Dewa Angin Guntur.

"Orang yang mengintai perjalananku, siapa dirimu ini adanya? Gerak-gerikmu mencurigakan. Sebaliknya menghadaplah kehadapanku!" dengus Dewa Angin Guntur tegas.

Orang itu terkejut dan cepat memutar ba- dan dan memandang langsung ke arah ketua per- guruan Gunung Keramat. Dewa Angin Guntur tercekat ketika melihat sosok yang mendekam itu ternyata memakai topeng berpakaian putih pan- jang menjela.

"Tak mungkin. Sungguh tak dapat kuper- caya!" desis Dewa Angin Guntur. Selagi perasaan orang tua ini diliputi rasa kaget, sosok berpakaian putih bertopeng kayu itu hantamkan tangannya ke arah Dewa Angin Guntur sambil berkelebat pergi.

Wuuus!

Dua pukulan menderu menebarkan hawa panas luar biasa. Seakan baru tersadar apa yang terjadi si orang tua langsung melompat menghin- dari pukulan. Di belakangnya terdengar suara le- dakan berdentum, pohon rambas hangus terkena pukulan. Dewa Angin Guntur berhasil selamatkan diri. Tanpa fikir panjang dia langsung mengejar ke arah lenyapnya orang bertopeng tadi.

"Bangsat jangan lari!" teriak Dewa Angin Guntur Kejar mengejar terjadi, namun ternyata orang yang dikejar lenyap. Dewa Angin Guntur hentikan langkah sambil kepalkan kedua tin- junya. Seakan tak percaya dia pandangi ke juru- san lenyapnya orang tadi. Mulutnya mendesis. "Rasanya tidak mungkin. Murid-muridku telah membunuhnya. Tak mungkin dia bisa hidup lagi, lalu siapa orang bertopeng tadi? Kulihat-topeng yang dipakainya sama persis dengan topeng yang sering dipakai Bayu Gendala. Mungkinkah...!" Dewa Angin Guntur tak lanjutkan ucapan. Dia raba pakaian di bagian perut, sepasang matanya terbelalak. Topeng itu tak ada, dia mencoba men- gingat-ingat. Sekarang dia baru sadar kalau to- peng itu tertinggal di halaman rumah Selasih Jingga, jatuh ketika dia berusaha menotok nenek itu.

"Aku tak percaya orang yang mati bisa hi- dup lagi. Terlebih-lebih tubuhnya telah hancur seperti dicacah." Dewa Angin Guntur menggu- mam sendiri. Masih merasa penasaran Dewa An- gin Guntur lalu berbalik bergabung lagi dengan muridnya. Akan tetapi belum jauh dia melangkah pada waktu bersamaan berkelebat dua sosok bayangan, angin menyambar di depan si orang tua. Dewa Angin Guntur siap menghantam.

"Hei, tahan...!" satu suara berseru. Hanya sekejap di depan Dewa Angin Guntur berdiri te- gak seorang gadis cantik berpakaian putih dan seorang kakek berbadan tinggi tambun berperut gendut berpakaian hitam tak terkancing. "Paman gendut dan kau... bagaimana bisa muncul di tempat ini?" tanya Dewa Angin Guntur curiga.

Si gendut besar Gentong Ketawa serta ga- dis berbaju putih yang bernama Ambini terse- nyum.

Gentong Ketawa tertawa mengekeh. "Dewa Angin, aku sendiri menjadi heran mengapa kau membawa murid begini banyak, seolah kalian hendak menghadapi perang besar."

"Saya baru saja menyelesaikan urusan penting." jawab Dewa Angin Guntur singkat.

"Urusan penting... urusan penting hemm...!" Gentong Ketawa mengulang ucapannya. "Urusan penting apa?"

"Jawab dulu pertanyaanku tadi!" kata De- wa Angin Guntur.

Ambini melirik ke arah si kakek gendut. Gentong Ketawa kedipkan matanya. Dia maju se- langkah ke depan Dewa Angin Guntur. Lalu dia menjawab. "Terus-terang kami sedang mengikuti seseorang, sayang kami kehilangan jejak. Dia memakai sebuah topeng, gerak-geriknya mencuri- gakan. Tak dinyana kami bertemu denganmu dis- ini." kata si gendut.

Mendengar penjelasan Gentong Ketawa, Dewa Angin Guntur langsung teringat pada orang tadi, "Apakah orang itu memakai pakaian serba putih?" tanya Dewa Angin Guntur dengan tatapan menyelidik.

Ambini dan si gendut jadi tercengang. "Ba- gaimana kau bisa tahu, Dewa Angin? Apa kau ju- ga bertemu dengan orang itu? Melihat tindak- tanduknya aku jadi curiga bukan mustahil dia orangnya yang telah membunuh cucu sahabatmu itu." kata si gendut lagi.

Dewa Angin Guntur diam membisu. "Aneh apakah aku telah keliru membunuh orang. Kura- sa aku telah melakukan suatu tindakan tepat. Bayu Gendala jelas merupakan pembunuh putri ku. Tapi mengapa kini muncul orang bertopeng lainnya? Apakah dia orang yang telah merenca- nakan pembunuhan atas diri putri ku." gumam Dewa Angin Guntur jadi bingung

"Apa maksud paman? Siapa, yang telah paman bunuh?" tanya Ambini.

Wajah Dewa Angin Guntur berubah mu- rung. Dia kemudian menarik napas panjang baru berkata. "Beberapa hari yang lalu seseorang telah membunuh putri ku. Bukan hanya itu saja, sebe- lum dibunuh dia memperlakukan Lara Murti se- cara biadab. Rasanya sulit bagiku melupakan ke- jadian mengenaskan itu. Hingga tanpa fikir pan- jang aku bersama murid-muridku pergi menjum- pai Bayu Gendala. Kemudian dia kubunuh. Ini pun bukan tanpa alasan. Pertama dia sering menggoda putri ku, beberapa hari sebelumnya pemuda itu bahkan bermaksud membunuh Lam- bang Pambudi. Hal yang kedua membuat aku sangat yakin dia bertanggung jawab dalam keja- dian ini karena muridku menemukan sebuah pe- dang berikut topeng miliknya. Alasan-alasan ini yang membuat aku yakin memang dia orangnya yang bertanggung jawab atas segala kekejian itu." jelas Dewa Angin Guntur

"Dewa Angin, ada beberapa hal yang ku ra- sakan janggal. Kau sebagai orang berilmu tinggi, punya pandangan luas dan sangat terpandang apakah tidak merasa terburu-buru dalam men- gambil tindakan?" tanya si gendut disertai se- nyum

Mendengar pertanyaan itu Dewa Angin Guntur melengak kaget. Apa maksud pertanyaan itu?

"Aku tak mengerti dengan pertanyaanmu itu?" tanya Dewa Angin Guntur heran.

"Maksudku bukan apa-apa. Setelah meli- hat kemunculan orang bertopeng tadi aku jadi cu- riga tidak tertutup kemungkinan telah terjadi ke- salahan dalam menjatuhkan tangan." kata si ka- kek

Di depannya Dewa Angin Guntur terdiam seolah sedang memikirkan apa yang baru saja di- katakan oleh si gendut. Gentong Ketawa kemu- dian melanjutkan.

"Ketua perguruan Gunung Keramat menu- rut penglihatanmu antara Bayu Gendala yang kau bunuh dan anakmu Lara Murti apakah ilmu ke- pandaian pemuda itu jauh lebih tinggi dibanding- kan ilmu yang dimiliki anakmu?"

"Tentu saja anakku yang lebih tinggi. Bayu Gendala hanya pemuda yang suka pamer dan menyombongkan jurus-jurus pedangnya, padahal ilmu kesaktian yang dia miliki jauh berada di ba- wah anakku." jawab Dewa Angin Guntur tegas.

Si gendut Gentong Ketawa mendadak ter- tawa lebar mendengar jawaban orang tua di de- pannya.

"Paman gendut adakah ucapanku yang membuatmu merasa lucu?" tanya Dewa Angin Guntur merasa tersinggung.

Si gendut hentikan tawanya sambil menye- ka air mata yang bergulir di pipinya yang tembem. "Ucapanmu tidak ada yang lucu, Dewa Angin. Ta- pi ada satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh- mu, mungkin semua itu karena kau terlalu marah dan gelap mata melihat kematian putri tunggal- mu. Hanya untuk menjadi bahan pertimbangan- mu apakah mungkin anakmu yang mempunyai tingkat kepandaian tinggi dari Bayu Gendala da- pat dicelakainya? Ha ha ha."

Bukan main kagetnya Dewa Angin Guntur mendengar uraian yang disampaikan oleh Gen- tong Ketawa. Bagaimana mungkin apa, yang dika- takan si gendut. Tak pernah terfikirkan olehnya? Menyadari ketololannya sendiri wajah Dewa Angin Guntur berubah merah padam.

4

"Apa pun yang kau katakan, mungkin me- mang ada benarnya paman. Saat itu aku tidak bi- sa berfikir lain, karena di samping mayat anakku ditemukan topeng kayu yang sering dipakai oleh Bayu Gendala. Dari semua bukti yang ditemukan ditambah beberapa kejadian sebelumnya apakah aku tidak boleh mengambil keputusan sendiri?" bertanya Dewa Angin Guntur setelah beberapa saat lamanya berdiam diri.

Si kakek gendut manggut-manggut, dia kembangkan jemari tangan, setelah itu si kakek menggoyangkan tangannya pulang balik dengan gerakan seperti orang mengipas. "Terlalu banyak kemungkinan yang tidak dapat diduga. Misalnya seperti orang bertopeng kayu berpakaian putih yang kami kejar itu." kata si kakek. Dia lalu bica- ra ditujukan pada Dewa Angin Guntur. "Dewa Angin seperti apakah topeng yang dipakai oleh pemuda yang kau bunuh?"

Mendapat pertanyaan seperti itu ketua perguruan Gunung Keramat jadi bingung. Dia sendiri sudah melihat orang yang dimaksudkan kakek Gentong Ketawa. Walau tak sempat melihat wajahnya, tapi topeng yang dipakai orang yang mendekam diatas pohon baik buatannya, warna kayu maupun rupanya sama persis dengan to- peng yang selalu dipakai oleh putra Selasih Jing- ga alias Jari Perontok Sukma.

Setelah berfikir, dengan mengesampingkan perasaannya sendiri, dia menjawab. "Topeng yang dipakai Bayu Gendala terbuat dari kayu, ringan berwarna putih. Bentuknya lucu, bagian alis mencuat ke atas, ada dua buah lubang di bagian mata, bagian mulut membentuk senyum dan di bagian hidung terdapat sebuah lubang."

"Yang paman terangkan adalah topeng yang sama seperti yang dipakai orang berpakaian putih itu," tukas Ambini.

"Dan orang yang kalian maksudkan baru saja berlalu dari tempat ini!" ujar Dewa Angin Guntur akhirnya berterus-terang.

Ambini dan kakek gendut Gentong Ketawa terperanjat dan sempat bersurut mundur.

"Tidak pernah saya sangka!" berkata Ambi- ni setelah dapat menenangkan perasaannya sen- diri.

"Semuanya kini berubah menjadi teka-teki yang membingungkan." celetuk si kakek gendut. Sementara itu beberapa murid Dewa Angin Gun- tur telah bermunculan mengelilingi gurunya. Ru- panya mereka khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan mengingat Dewa Angin Guntur yang tadi mengejar sesuatu tidak kunjung muncul me- nemui mereka.

"Apa maksudmu paman gendut. Jika kau terus-menerus membuatku bingung bisa jadi aku jadi menaruh curiga kepadamu." kata orang tua itu jadi tidak sabar.

Mendengar ucapan orang, Gentong Ketawa hanya tersenyum saja. "Dewa Angin curiga pada orang lain saja, tapi jika kau berani menuduh jangan kira aku takut padamu." sahut si kakek pula membuat perasaan Ambini jadi tidak enak.

"Sekarang kau dengar baik-baik. Saat ini setelah melihat orang bertopeng tadi, aku mena- ruh duga mungkin ada orang yang mendendam padamu."

"Tidak mungkin, aku tidak punya musuh!" bantah Dewa Angin Guntur cepat.

Masih dengan tersenyum si kakek kembali berucap. "Musuh mungkin kau tidak punya Dewa Angin. Tapi dalam hidup tidak tertutup kemung- kinan orang memiliki rasa benci. Jika penjelasan- ku ini tidak dapat kau terima. Mungkin ada se- seorang yang memendam dendam pada Bayu Gendala. Jika orang sudah kelewat benci pada se- seorang, dia bisa melakukan apa saja untuk men- celakakan orang yang sangat dibencinya terma- suk juga mencuri topeng dan pedang milik Bayu Gendala topeng itu kemudian dipergunakan oleh orang itu, aku berani menjamin akibat dari semua kejahatannya pasti akan ditanggung oleh orang yang dibencinya."

Apa yang diterangkan oleh kakek gendut ini cukup mengena di hati Dewa Angin Guntur. Kalau memang bukan Bayu Gendala yang mem- bunuh anaknya, lalu siapa? Bukan hanya itu sa- ja, kematian murid Guru Lanang Pakekasan hingga sampai saat ini juga belum diketahui siapa yang membunuhnya.

"Paman gendut, keteranganmu mungkin bisa kuterima. Tapi terlalu rumit untuk ku cerna. Seandainya Selasih Jingga waktu itu dapat ku- tangkap dan tidak dilarikan oleh pemuda gon- drong itu. Mungkin dari mulutnya bisa kukorek keterangan ada berapa topeng yang dimiliki oleh Bayu Gendala. Sayang pemuda urakan itu telah membawanya pergi," geram si orang tua seakan menyesali

"Eh, Dewa Angin. Dapatkah kau terangkan bagaimana ciri-ciri pemuda itu?" tanya si kakek gendut. Ambini sendiri walau diam, tapi dia dapat menduga siapa adanya pemuda itu. "Pasti Gento!" Ambini membatin. Ingat akan Gento Guyon, hati dan perasaan Ambini tiba-tiba perasaan aneh. Di matanya Gento walaupun terkesan urakan tapi mempunyai daya tarik tersendiri bagi gadis ma- napun. Bagi Ambini setelah bergaul sekian lama dengan Gento telah menumbuhkan satu kesan mendalam yang tidak mungkin dapat terlupakan. Kini setelah mendengar penjelasan Dewa Angin Guntur yang terkesan tidak suka, Ambini jadi khawatir takut terjadi kesalahpahaman. Tapi, dia tidak mungkin mencegah kakek gendut yang su- dah terlanjur ajukan pertanyaan.

"Pemuda itu berbadan tinggi semampai, badannya tegap, rambut, gondrong sebahu berte- lanjang dada!" menerangkan Dewa Angin Guntur.

"Apakah dia memakai celana? Eeh, mak- sudku apakah dia bercelana hitam?"

"Ya, dia bercelana hitam kumuh dekil?" sembur ketua perguruan Gunung keramat den- gan perasaan jengkel.

"Kalau celananya bulukan, bukan murid- ku, mungkin pemuda itu pengemis dipasar Turi. Sedangkan muridku...!" "Kek...!" Ambini bermaksud mencegah uca- pan si kakek gendut begitu melihat wajah Dewa Angin Guntur berubah merah kelam. Si kakek menoleh dan memandang pada Ambini dengan perasaan heran. Justru pada saat itulah Dewa Angin Guntur keluarkan satu bentakan mengge- ledek.

"Semua keteranganmu dapat kuterima, kau telah membuka jalan fikiranku yang buntu, gendut! Satu hal yang tidak bisa ku maafkan, jika bocah edan itu muridmu, berarti kau harus me- nanggung dosa dari kesalahan yang telah dilaku- kannya!"

Mendengar ucapan ketua perguruan Gu- nung Keramat yang membuat pengang telinganya itu Gentong Ketawa sempat berjingkrak kaget

"Eeh, bagaimana tutur katamu yang san- tun kini berubah seperti itu Dewa Angin. Apa kau tidak takut pamanmu ini memasukkanmu ke da- lam botol atau ke dalam perut. Ha ha ha! Dasar orang tua songong gendeng!" kata si kakek den- gan mulut berubah cemberut. Wajah Dewa Angin Guntur berubah menegang, matanya merah ber- kilat sedangkan sekujur tubuhnya berubah me- negang. Melihat ini Ambini jadi khawatir, lalu dia berbisik pada si kakek gendut. "Kek, sebaiknya kita menyingkir. Jangan cari penyakit dengan me- layani orang gila ini."

Bukannya turuti saran Ambini, sebaliknya kakek gendut dengan bobot lebih dari dua ratus kati ini malah tertawa tergelak-gelak. "Kau hen- dak berbuat apa Dewa Angin Guntur? Ingat Mer- babu tidak jauh dari sini, kau berbuat kurang ajar padaku, apalagi berani menyentuh perut gendutku. Guruku Dewa Kincir Samudera pasti akan memencetmu sampai mejret. Jika kau ma- sih punya kewarasan dan bisa mempergunakan fikiranmu sebaiknya kau pertimbangkan ucapan- ku dengan baik!" ujar si kakek sambil terus um- bar tawanya

Mendengar disebutnya Dewa Kincir Samu- dera, tokoh sakti setengah manusia setengah de- wa itu, maka kemarahan Dewa Angin Guntur to- koh paling disegani di daerah utara jadi surut. Dia sadar tokoh aneh yang lebih suka tinggal di atas gelombang lautan itu memiliki ilmu yang ti- dak tertandingi. Konon tokoh misterius ini bisa berada dimana saja hanya dalam waktu sekedi- pan mata. Jika benar Dewa Kincir Samudera ada- lah gurunya Gentong Ketawa, berurusan dengan manusia satu ini walau pun belum tentu kalah tapi sama saja dengan mencari bencana.

"Paman gendut sialan!" dengus laki-laki itu sambil menahan kekesalannya. "Mengingat dan demi memandang nama besar Dewa Kincir Sa- mudera, aku bisa memaafkan dirimu. Tapi den- gan satu syarat, kau harus memerintahkan mu- ridmu untuk menyerahkan Selasih Jingga pada- ku. Kalau dia tidak mau kau dan muridku harus bisa menangkap orang bertopeng itu atau paling tidak mencari siapa yang telah membunuh anak- ku dan juga cucu sahabatku!" tegas Dewa Angin Guntur.

"Walah, tugas si tua ini terasa semakin ber- tambah berat saja. Tapi tidak mengapa karena kau mau memaafkan muridku. Dan aku sebagai gurunya tidak ikutan terbawa sengsara! Apa yang kau minta akan ku penuhi, kau boleh menunggu di rumah sambil uncang-uncang kaki. Ha ha ha!" kata Gentong Ketawa. Dia kemudian berpaling ke samping, lalu berkata ditujukan pada Ambini. "Kekasihmu si bocah kampret itu punya masalah karena ketololannya. Kalau kau sudah kau boleh ikut denganku. Urusan gila ini harus aku, sele- saikan secepatnya. Tapi kalau kau mau memilih jalan sendiri aku tidak bisa melarang."

Gadis cantik berpakaian serba putih itu terdiam dan berfikir. Dia lalu menjatuhkan pili- hannya sendiri. "Kek sebaiknya aku pergi sendiri. Mungkin dengan begitu kita dapat menemukan pembunuh Lara Murti secepatnya." ujar Ambini.

"Ha ha ha. Semakin tua kiranya diriku se- makin dijauhi oleh gadis-gadis cantik," si gendut mengendus badannya sendiri. "Pantas tubuhku bau asam. Ha ha ha." kata si kakek. Sambil ter- tawa dia memutar tubuh. Sebelum kakek ini pergi dia berkata ditujukan pada Ambini. "Kuharap kau bisa menjaga diri. Eeh, jika aku bertemu dengan bocah edan itu apa yang harus kukatakan pa- danya."

"Katakan saja apa yang kakek mau!" sahut Ambini lalu berkelebat pergi.

"Kalau begitu akan kukatakan padanya bahwa kau rindu dan ingin bertemu." kata si ka- kek. Sambil tertawa-tawa orang tua ini berkelebat lenyap dari hadapan Dewa Angin Guntur.

Ketua perguruan Gunung Keramat geleng- kan kepala. "Orang tua sinting, tapi mempunyai ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan." gumamnya. Dia lalu memberi isyarat pada murid- muridnya untuk melanjutkan perjalanan.

5

Di satu tempat di bawah kerindangan po- hon sosok berpakaian putih memakai topeng kayu ini rebahkan tubuhnya. Dia letakkan bunta- lan putih berbau busuk yang selalu dibawanya kemana saja dia pergi. Sejenak dia memandang lurus ke pucuk pohon. Berbagai beban fikiran berkecamuk di dalam benaknya. Dia menarik na- fas, lalu menghembuskannya dalam-dalam.

"Pembunuh biadab itu jejaknya saja sulit kutemukan. Aku telah mencari." keluh si orang bertopeng. Sejenak dia memandang ke arah bun- talan, sepasang mata dibalik topeng itu menda- dak berkaca-kaca. Tanpa terasa air mata bergulir lalu terdengar suara isak tangis tertahan.

"Cucuku maafkan kakekmu ini. Pembunuh itu masih belum kutemukan. Aku sadar arwahmu pasti tidak tenang di alam sana." kata si orang bertopeng yang bukan lain adalah Guru Lanang Pamekasan seorang diri.

Dia lalu mengambil sikap duduk, buntalan berisi potongan kepala cucunya yang telah mem- busuk dipeluknya. Bau busuk menyengat sudah tak dia hiraukan. Puas memeluki potongan kepala sang cucu yang bernama Pattira Seta dia meman- dang lurus ke depan. Di saat matanya menera- wang kosong sedangkan fikiran dibalut duka dan dendam. Pada saat itu sayup-sayup terdengar su- ara orang seperti sedang bersenandung.

Si kakek tercengang. Dalam hati dia mem- batin. "Aneh. Di tempat sesunyi ini bagaimana ada penyair gila kesasar dan lantunkan senan- dung di malam gelap? Matahari baru saja tengge- lam, mungkin yang kudengar adalah suara setan penghuni lembah." katanya lagi. Dia tetap duduk diam di tempatnya, bersikap acuh namun telinga tetap dipasang baik-baik.

Suara orang bersenandung semakin ber- tambah jelas.

Malam,

Ku rindukan selalu kedatanganmu Saat hati terbalut dendam

Luka dendam di hatiku diatas segala. Kesunyian

Ku sambut kehadiranmu dengan segala amarah

Karena luka di hatiku ini adalah luka yang tak kunjung tersembuhkan.

Satu korban jatuh lah Semua itu bukan batas penentuan.

Akan kubunuh semua orang yang ikut tersa- Hingga segala dendam menjadi impas!

Di tempat duduknya Guru Lanang Pame- kasan jadi tercekat. Tengkuknya bukan rasa tengkuk lagi, tapi telah berubah dingin laksana gundukan es. Siapapun orangnya yang mengu- capkan kata-kata seperti itu jelas dia menyimpan dendam kesumat pada seseorang. Begitu terlintas sesuatu dalam benaknya si kakek bangkit berdiri. "Kurasa lebih baik aku menyelidik. Men- dengar suaranya aku yakin dia berada di sekitar sini." Dengan cepat orang tua memakai topeng penutup wajah ini bangkit berdiri. Sambil menen- teng bungkusan berisi kepala cucunya orang tua

ini berkelebat tinggalkan tempat itu.

Tak berselang lama dia sampai di satu lembah. Dalam gelapnya malam dia mendekam di balik gundukan lembah di sudut selatan lembah. Mata dipentang, pendengaran dipasang baik-baik. Sunyi! Padahal tadi sumber suara jelas berasal dari situ.

"Aneh, aku yakin yang bersenandung tadi manusia, bukan setan atau roh gentayangan penghuni lembah."

Selagi matanya sibuk mencari-cari, mem- perhatikan ke setiap pepohonan yang tumbuh subur di sekitar lembah, pada saat itu Guru La- nang Pamekasan dikejutkan oleh terdengarnya suara tawa bergelak. Bukan hanya itu saja seba- tang pohon dimana suara tawa terdengar tergun- cang keras.

"Manusia gila. Benar-benar tidak waras!" si kakek merutuk sambil memandang ke atas ke- tinggian pohon dengan tatapan tak berkesip.

"Datangnya maut tak mengenal tempat dan waktu, juga tak dapat ditunda atau dimajukan. Malam ini akan ada jiwa melayang terbang ke ne- raka. Dia datang padaku tanpa kuundang!" seru sosok di atas pohon. Dalam gelapnya malam di tengah kesunyian suara orang diatas pohon ba- gaikan suara geledek yang menyambar telinga si kakek

Sosok hitam itu lakukan gerakan berputar sebanyak tiga kali.

Wuuuttt!

Sekejab tubuhnya lenyap dari pandangan mata. Guru Lanang Pamekasan jadi tercekat me- lihat sosok diatas pohon mendadak raib.

"Kuya, kemana perginya bangsat gila ta- di?!" membatin si kakek. Sekali lagi dia meman- dang ke pohon. Sosok yang berada di sana tetap tak terlihat. Orang tua itu berfikir sejenak, dia langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres bakal terjadi. Tanpa sadar si kakek meraba hulu celurit besar yang tergantung di bagian pung- gungnya.

Perlahan si kakek bangkit berdiri, matanya memandang ke setiap sudut kegelapan. Dalam hati dia membatin. "Dia pergi, aku takut dia pasti mengetahui kehadiranku."

Belum lagi Guru Lanang Pamekasan sem- pat beranjak dari tempatnya. Dari balik batu be- sar mendadak ada suara menegur.

"Kau mencariku orang tua?!"

"Heh...!" Dalam kejutnya si kakek cepat memutar tubuh balikkan badan. Tangan kanan bergerak mencabut senjata. Ketika balikkan ba- dan si kakek jadi terperangah melihat sosok ber- pakaian hitam dan berbaju putih dibagian dalam telah berdiri tegak disitu dengan bibir sungging- kan senyum dingin menyeramkan. Yang lebih mengejutkan lagi orang ini juga memakai topeng sebagaimana dirinya sehingga diapun tak dapat mengenali orang itu.

Guru Lanang Pamekasan adalah seorang tokoh silat berkepandaian tinggi, memiliki ilmu meringankan tubuh sangat sempurna dan ahli pula dalam menggunakan celurit. Jika kehadiran sosok yang wajahnya tertutup topeng sampai ti- dak dia ketahui, semua itu merupakan suatu per- tanda sosok yang berdiri di depannya itu memiliki kesaktian tinggi.

"Siapa kau?!" tanya Guru Lanang Pameka- san dengan sikap waspada.

"Jawabannya tanyakan pada cucumu itu!" Guru Lanang Pamekasan kembali tercekat,

mulut ternganga sedangkan dada bergemuruh hebat.

"Cucuku? Jadi kau bangsatnya yang telah membunuh cucuku?" tanya si kakek dengan sua- ra keras bergetar.

Di depannya sosok hitam bertopeng me- nyeringai dingin. "Aku tak menghendaki antara manusia dengan manusia melakukan perjodohan. Jodoh hanya Tuhan yang boleh menentukan!" ka- ta sosok bertopeng kayu sinis.

"Apa urusannya denganmu?" hardik si ka- kek sengit.

"Pertanyaanmu baru terjawab setelah kau berada di alam roh. Sekarang ini sudah tiba wak- tunya bagimu untuk menyusul arwah cucumu" kata sosok berpakaian hitam bertopeng. Sekejab dengan kecepatan laksana kilat. Sosok itu berge- rak menyambar ke arah guru Lanang Pamekasan, dua tangan meluncur ke bagian wajah sedangkan kaki menghantam ke bagian perut serta dada. Dua serangan dahsyat yang dilakukan secara bersamaan, bukan serangan sembarangan, apala- gi disertai menebarnya angin dingin. Si kakek wa- lau sempat terkesiap namun dengan cepat me- nyambut serangan itu dengan babatan celurit dari arah atas meluncur ke bawah.

Sinar putih berkiblat, hawa dingin luar bi- asa memancar dari celurit. Mendapat sambutan yang tak kalah hebatnya orang itu kembali berge- rak dan tarik serangannya.

Wueeees!

Tangkisan yang dilakukan kakek itu hanya mengenai angin. Lawan raib bagaikan setan. Da- lam kaget, tak menyangka lawan lolos dari serga- pan senjatanya, kakek itu memutar tubuh sekali- gus gerakkan senjata di tangannya. Yang celaka dia tak melihat dimana posisi lawan. Sehingga se- rangannya dilakukan secara serampangan. Di saat dilanda rasa bingung seperti itu dia merasa ada orang mencolek bahunya. Si kakek langsung melompat ke samping sambil babatkan senjata ke belakang.

Wuuut!

"Ha ha ha. Seranganmu ngawur seperti orang mabuk. Kurasa kau mabuk karena bau bu- suknya bangkai. Yang sangat disayangkan siapa aku kau tak akan pernah mengetahuinya. Aku tahu ilmumu sangat tinggi, disayangkan semua itu tak banyak artinya di hadapanku. Sekarang kau lihat kemari orang tua!" kata lawannya. Guru Lanang Pamekasan cepat palingkan wajahnya, memandang ke arah mana suara tadi terdengar.

Saat itu si kakek melihat satu kilatan ca- haya pedang, cahaya angker yang kemudian ber- kiblat ke arahnya dengan kecepatan laksana kilat. Sadar dirinya dalam ancaman bahaya besar, tak menunggu lagi Guru Lanang Pamekasan segera melepaskan pukulan Gerhana Langit-langit ke arah pedang, setelah itu dia melanjutkan seran- gan dengan membabatkan celurit di tangannya.

Sinar hitam berkiblat disertai suara berge- muruh keras, lalu terjadi suara ledakan berden- tum. Orang yang diserang lenyap. Bukan hanya pukulan si kakek saja yang tidak mengenai sasa- ran, sebaliknya serangan senjatanya juga cuma membabat angin, "Aku di sini orang tua!" kembali terdengar suara di belakang si kakek. Dengan penuh kema- rahan karena merasa dipermainkan orang, si ka- kek membalikkan badan. Saat itulah satu kilatan cahaya putih menyambar lehernya. Si kakek ter- kesiap, namun tak sempat selamatkan diri

Craas!

Darah tersembur dari kepala si kakek yang nyaris tanggal. Tubuhnya terhuyung, lalu ambruk jatuh bergedebukan tak berkutik lagi. Sosok serba hitam, tersenyum dingin dan dengan cepat ting- galkan tempat itu.

6

Sejak berpisah dengan kakek gendut Gen- tong Ketawa, hati Ambini selalu diliputi kegelisa- han. Kini setelah melakukan perjalanan seorang diri fikiran gadis itu selalu teringat pada Gento. Entah dimana pemuda itu sekarang berada. Dia ingin mencari atau menemui pemuda itu, menga- takan segala sesuatu yang didengarnya dari Dewa Angin Guntur. Tapi dia sendiri jadi bingung hen- dak mencari kemana. Tak lama setelah memikir- kan segala sesuatunya sambil berjalan, Ambini berteduh di bawah pohon di pinggir sungai. Panas matahari yang terik membakar membuatnya ingin membasuh muka. Ambini lalu julurkan kedua kakinya ke dalam air. Terasa sejuk. Dia lalu menggerakkan tangannya, mengambil air dengan menggunakan telapak tangan sambil membasahi bagian wajah.

"Nyaman sekali," gumam si gadis sambil memercikkan air ke sekujur badan hingga pa- kaiannya menjadi basah. Puas bermain air, gadis itu kembali duduk di bawah pohon. Kini terfikir olehnya untuk mencari orang bertopeng yang pernah lolos dari kejaran mereka. 

"Gadis itu sungguh tragis sekali suratan nasibnya. Entah siapa yang begitu tega melaku- kan perbuatan terkutuk itu. Jika benar Bayu Gendala yang telah membunuhnya, lalu siapa orang bertopeng itu? Topeng yang dipakainya sa- ma persis dengan topeng milik Bayu Gendala. Bo- leh jadi topeng pemuda itu sengaja dicuri oleh si pembunuh." kata Ambini.

Selagi si gadis tengah memikirkan segala sesuatunya, pada saat itu dia mendengar suara sesuatu yang bergemeretak dibelakangnya. Secara cepat si gadis menoleh memandang ke arah ter- dengarnya suara. Ambini belalakkan mata begitu melihat siapa yang datang. Sekonyong-konyong dia melompat berdiri. Matanya berbinar, wajah- nya berubah cerah. Dia hendak berlari menyong- song kedatangan sosok berpakaian merah itu. Tapi gerakannya mendadak surut, dia tertegak di tempatnya. Wajah yang tadinya tegang kini beru- bah heran. Penglihatannya memang tidak salah, benar yang berdiri tegak di depannya adalah Si Tangan Sial sahabatnya, juga merupakan sahabat Gento Guyon sekaligus gurunya. Tapi sosok yang dilihatnya kali ini jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.

"Paman Tangan Sial apa yang terjadi pa- damu?" tanya Ambini suaranya bergetar pertanda dia tak dapat menutupi rasa kagetnya. Di depan- nya sana Si Tangan Sial memandang pada si ga- dis dengan tatapan matanya yang menerawang kosong. Ditatap dengan cara seperti itu si gadis cepat alihkan perhatiannya ke jurusan lain. Da- lam hati, dia berkata, "Entah apa yang telah ter- jadi padanya? Kulihat wajah paman ini seperti pernah terluka disiksa orang pelupuk matanya membiru, pipinya ada parut bekas goresan, pa- kaian hancur compang-camping. Pasti telah terja- di sesuatu yang sangat hebat pada dirinya. Mungkinkah orang bertopeng itu yang punya pe- kerjaan?"

"Ambini... aku rasa kenal, aku rasa pernah berjumpa denganmu. Bukankah kau sahabatnya. Gento Guyon, murid si kakek tambun Gentong Ketawa?" kata Si Tangan Sial. Suaranya satu- satunya, seakan tertahan di tenggorokan. Ambini jadi tercekat dan mundur satu tindak ke bela- kang.

"Paman Tangan Sial, bagaimana kau bisa lupa dengan sahabatmu sendiri?"

"Sahabatku, siapa sahabatku?" tanya Tan- gan Sial seperti orang bingung. Mendengar perta- nyaan orang tua itu Ambini semakin bertambah kaget. "Bukankah Gento sahabatmu juga?"

Si Tangan Sial tercengang, dia hendak mengatakan sesuatu. Tapi pada waktu bersamaan tengkuk dan kedua bahunya mendadak menjadi sakit. Rasa sakit yang disertai dengan menjalar- nya hawa dingin luar biasa. Tubuh orang tua itu bergetar hebat. Dalam keadaan seperti itu lapat- lapat seperti suara ngiangan nyamuk dia men- dengar suara orang membisik dari sebuah jarak yang sangat jauh. "Kau tangkap gadis itu, tinggal- kan pesan. Aku jamin urusan melenyapkan nya- wa Gento Guyon menjadi satu persoalan yang mudah." suara lenyap Si Tangan Sial mengang- guk.

"Mungkin orang itu sahabatku, bahkan siapa diriku sendiri aku hampir tak dapat men- gingat!" kata Si Tangan Sial

"Siapa yang membuat dirimu berubah se- perti ini?" tanya Ambini.

Si Tangan Sial gelengkan kepala.

"Aku tidak tahu, aku sudah lupa." jawab si orang tua. Dia lalu melanjutkan ucapannya. "Aku ingin menangkapmu, aku ingin membawamu ke satu tempat ke Kuil Neraka!"

Kagetlah Ambini mendengar ucapan Si Tangan Sial. Dengan tegas gadis cantik jelita ini berkata. "Tangan Sial, siapapun yang telah mem- peralatmu. Siapapun yang berdiri di belakangmu hingga membuatmu lupa ingatan begini rupa aku tak perduli. Tapi satu hal yang harus paman ke- tahui, Kuil Neraka adalah tempat paling terlaknat di dunia persilatan ini. Aku tak mau ikut ke tem- pat terkutuk itu!" teriak Ambini. Si Tangan Sial sunggingkan seringai din- gin. Matanya yang menerawang kosong meman- dang ke arah si gadis beberapa saat lamanya. Me- lihat pada wajah si gadis seakan timbul kesada- ran si orang tua, tapi ada sesuatu yang membe- rontak di tiga bagian tubuhnya, satu kekuatan yang membuatnya selalu menderita rasa sakit he- bat bahkan melenyapkan kesadaran orang tua itu sendiri.

"Aku akan membawamu, aku bisa memak- samu!" Berkata begitu Si Tangan Sial langsung menyergap ke depan dengan gerakan seperti orang yang hendak menangkap. Menyadari Si Tangan Sial tidak bisa dibuat sadar, maka Ambini segera berkelit dari sergapan lalu sambil merun- duk dia berlari ke belakang ke arah mana si orang tua tadi menyerang. Si Tangan Sial begitu menya- dari lawan dapat meloloskan diri segera berbalik. Laksana kilat tubuhnya berkelebat, dua tangan terjulur, satu mencengkeram leher dan satunya lagi mencekal tangan Ambini.

Gadis ini tidak tinggal diam, dia langsung menghantamkan kedua tangan lepaskan dua pu- kulan beruntun. Di udara Si Tangan Sial sempat terdorong mundur, dengan tangan kiri yang me- miliki kesaktian aneh sejak dirinya masih kecil orang tua ini menyambut pukulan Ambini.

Wut! Wuut!

Laksana tersedot serangan yang dilancar- kan si gadis seolah amblas lenyap begitu saja. Si gadis jadi tercekat, dia bantingkan tubuhnya, lalu bergulingan ke samping. Sambil berguling-guling dia meraup sesuatu dari dalam kantong perbeka- lannya.

"Kupu-kupu biru, lumpuhkan orang itu!" Ambini keluarkan seruan keras bernada meme- rintah, sedangkan tangan kanannya yang meraup sesuatu dari dalam kantong yang dihiasi sulaman kupu-kupu langsung dilontarkan ke udara. Ketika tangan terkembang di udara bertaburan puluhan kupu-kupu berwarna biru. Kupu-kupu langka yang memiliki belalai dapat menyengat dan men- gandung racun mematikan ini begitu mendapat perintah seakan mengerti langsung menyerang Si Tangan Setan. Seperti diketahui orang tua itu memiliki kesaktian hebat hanya pada bagian ke- dua tangannya saja, sedangkan bagian tubuhnya yang lain tidak memiliki kekebalan.

Ketika Si Tangan Sial melihat serangan pu- luhan kupu-kupu biru tanpa fikir panjang orang tua ini langsung memutar kedua tangannya un- tuk melindungi diri. Begitu kedua tangan diputar membentuk perisai diri, maka angin pun mende- ru. Belasan kupu-kupu bermentalan terhantam tangan Si Tangan Sial. Sebagian diantaranya yang berhasil hinggap dan menusukkan belalainya di lengan orang tua itu sama sekali tidak menimbul- kan akibat apa-apa. Binatang beracun ini lang- sung diremas oleh Si Tangan Sial hingga hancur.

Ambini jadi tercengang melihat kehebatan tangan laki-laki itu. Dia lalu melepaskan dua sen- jata anehnya berupa dua lingkaran pipih yang sangat tajam pada setiap sisinya. Senjata ini seca- ra berturut-turut disambitkan ke arah Si Tangan Sial. Terdengar suara berdesing disertai melesat- nya kedua senjata itu membelah udara.

Si Tangan Sial tertawa terkekeh, dua tan- gan langsung digerakkan menyambuti senjata la- wannya.

Ziiing! Tap! Tep!

Senjata kena ditangkap oleh Si Tangan Si- al. Tanpa terduga dua senjata disatukan, setelah itu tangannya bergerak.

Kraak!

Senjata itupun hancur berkeping-keping. Sambil membuang senjata Si Tangan Sial melom- pat ke depan. Ambini yang masih belum hilang rasa kagetnya melihat senjata dihancurkan lawan langsung lakukan gerakan berjumpalitan ke bela- kang. Tapi walaupun gerakannya sangat cepat luar biasa, kedua kakinya masih kena disambar dan dicekal lawan. Begitu tercekal dia langsung lancarkan totokan

"Tangan Sial! Apa yang hendak kau laku- kan padaku?!" hardik Ambini yang sekujur tu- buhnya telah berubah kaku dalam keadaan terto- tok. Si Tangan Sial menyeringai dingin. Dia men- gangkat si gadis dan meletakkannya di bahu kiri. "Seperti yang sudah kukatakan, aku akan mem- bawamu ke Kuil Setan!" sahut Si Tangan Sial ak- hirnya. Dia menyentakkan kantong perbekalan milik Ambini, diatas kantong perbekalan itu, dia guratkan sesuatu. Sebelum pergi dia gantungkan kantong perbekalan itu di salah satu cabang po- hon yang gampang terlihat.

"Tangan Sial, otakmu pasti sudah tergang- gu, lepaskan aku!" teriak si gadis. Si Tangan Sial tertawa dingin sambil tinggalkan tempat itu.

7

Beberapa hari ini Lambang Pambudi me- mang kurang tidur. Hal ini terlihat dari wajahnya yang pucat, mata kemerahan membayangkan ke- letihan luar biasa. Pagi itu adalah hari ke empat setelah kematian kekasihnya. Dan sejak ditinggal kekasihnya Lambang Pambudi memang sudah ti- dak dapat lagi hidup tenteram. Fikirannya kacau, hati dirundung duka dan kegelisahan. Dia me- mang merasa amat kehilangan Lara Murti bahkan mungkin akan terus berduka atas kematiannya. Disayangkan diluar semua itu ada hal lain yang amat menekan perasaannya.

Kini setelah jauh meninggalkan perguruan Gunung Keramat, pemuda ini terus memacu ku- danya ke arah selatan. Tak berselang lama dia sampai di pinggir sebuah sungai. Kuda terus di- pacu menyeberangi sungai. Namun setelah bera- da di seberang Lambang Pambudi hentikan kuda tunggangannya. Sepasang mata memandang ke depan dengan penuh rasa heran. Saat itu di atas ranting pohon rindang tergantung sebuah kan- tong perbekalan yang tidak jelas entah milik sia- pa. Kantong berwarna putih yang pada salah satu sisinya terdapat sulaman bergambar kupu-kupu berwarna biru dan putih. Si pemuda putar kepala edarkan pandang. Tak terlihat tanda-tanda keha- diran orang lain di tempat itu terkecuali dirinya sendiri. Dalam herannya Lambang Pambudi ber- gerak mendekati. Kantong perbekalan itu kemu- dian diambilnya. Selanjutnya kantong dibolak- balik, Lambang Pambudi meneliti. Tiba-tiba sepa- sang mata pemuda itu terbelalak karena kantong perbekalan itu berisi pesan.

"Kantong ini berisi pesan. Siapa pemilik kantong ini dan siapa pula yang telah meninggal- kan pesan?" si pemuda jadi heran sendiri. Lam- bang Pambudi lalu membaca dua baris kalimat yang tertera pada kantong tersebut.

Kepada Gento Guyon, murid kakek edan Gentong Ketawa. Kehadiranmu kutunggu di Kuil Setan. Jika pada waktu yang telah ditentukan kau tidak muncul gadis yang bernama Ambini akan mati sia-sia.

Setelah membaca pesan Lambang Pambudi tersenyum. Inilah pertama kalinya Lambang Pambudi tersenyum setelah ditinggal Lara

"Setan gila mana yang telah meninggalkan pesan ini untuk sahabatku Gento. Akan ku apa- kan kantong ini? Kemana aku harus mencari pe- muda itu. Untuk mencari dimana beradanya pen- dekar seperti dia tentu tidak mudah." kata Lam- bang Pambudi. Lama pemuda itu tertegun diatas kudanya. Dia jadi ingat dengan pertolongan yang diberikan Gento di kebun bunga beberapa hari yang lalu. Lambang Pambudi gelengkan kepala. Selagi dia memutuskan untuk meletakkan kan- tong perbekalan di tempat semula, pada waktu bersamaan dia mendengar suara siulan yang dis- ertai dengan berkelebatnya satu sosok tubuh ke arah pemuda

"Ha ha ha. Sudah lama kita tak bertemu. Apa yang kau lakukan disini?" tanya satu suara. Lambang Pambudi dengan cepat menoleh, me- mandang ke arah datangnya suara. Dia jadi me- lengak kaget ketika melihat seorang pemuda gon- drong bertelanjang dada telah berdiri tegak diha- dapannya sambil ulurkan tangan menyalami.

"Senang aku bertemu denganmu, Gento." sahut Lambang Pambudi sambil menyambut ulu- ran tangan Gento.

Sejenak mereka saling berpandangan. Gen- to kernyitkan alisnya ketika melihat wajah saha- batnya nampak pucat seperti tidak berdarah. Se- mentara Lambang Pambudi alihkan perhatiannya ke arah kantong perbekalan yang dipegangnya. Gento sendiri akhirnya ikutan memandang ke arah kantong perbekalan itu. Begitu mengenali kantong dalam dekapan Lambang Pambudi dia jadi kaget. Seakan mengerti pemuda di depannya berkata. "Aku menemukan benda ini di ranting pohon. Ada pesan untukmu yang agaknya ditulis dengan tergesa-gesa." menerangkan si pemuda. Dia lalu menyerahkan kantong perbekalan itu pa- da Gento. Dengan hati diliputi tanda tanya Gento menerimanya.

"Ini milik sahabatku Ambini. Bagaimana barang gadis itu bisa ketinggalan disini?" ujar Gento setengah bertanya.

"Aku tidak tahu bagaimana barang teman- mu bisa ketinggalan. Seperti yang kukatakan ba- rang tersangkut diatas pohon." jawab Lambang Pambudi menirukan cara pemuda itu bicara. Gen- to tentu saja tak dapat menahan senyum. Tapi kemudian perhatiannya tertuju pada kantong bekal. Dia memeriksa salah satu sisinya. Setelah membaca isi pesan ini wajah pemuda itu jadi be- rubah pucat.

"Celaka, Ambini berada dalam bahaya be- sar. Tapi siapa orangnya yang berani melakukan tindakan sepengecut itu. Dia mengundangku un- tuk datang ke Kuil Setan. Sedangkan tempatnya saja aku tak tahu." gumam Gento. Sejenak dia memandang ke arah Lambang Pambudi dengan tatapan menyelidik. Dia lalu ajukan pertanyaan. "Sahabatku, ketika kau sampai disini apakah ti- dak melihat seseorang."

Pemuda yang duduk di atas kuda geleng- kan kepala. "Tak ada siapapun disini." jawab Lambang Pambudi tegas.

Jawaban itu membuat Gento mengusap wajahnya. Dia merasa kini urusan semakin rumit berbelit. Siapa yang menculik Ambini dia tidak tahu. Padahal saat ini dia sedang mencari pem- bunuh murid Guru Lanang Pamekasan dan juga pembunuh Lara Murti.

"Apa yang kau pikirkan sahabatku." tanya Lambang Pambudi begitu melihat Gento terdiam cukup lama.

"Aku sedang memikirkan pembunuh keka- sihmu." jawab Gento.

Lambang Pambudi melengak kaget. "Ba- gaimana kau bisa mengetahui kekasihku Lara Murti terbunuh?" tanya si pemuda heran.

"Rasanya hal itu tak perlu ku jelaskan. Ta- pi terus-terang saat ini aku merasa seperti berada di dalam lingkaran setan. Bukan setan benaran tapi setan berupa manusia keji pengecut. Sean- dainya saja aku mampu menemukan pembunuh pengecut itu, kelak akan kuhadiahkan kepalanya padamu."

"Aku merasa berterima kasih kau mau membantu, Gento. Terus-terang seandainya saja aku memiliki ilmu serta kepandaian silat sehebat dirimu aku pasti akan melakukan pembalasan sampai seribu kali. Sayang aku hanya pemuda lemah, tolol dan tak punya kebisaan apa-apa. Saat kekasihku dibunuh orang, diperlakukan se- cara keji aku juga tidak bisa melindungi dan membalas kematiannya." ujar Lambang Pambudi dengan suara tersendat. Sejenak pemuda itu seka air matanya. Kemudian dia melanjutkan. "Menu- rut Dewa Angin Guntur beliau baru saja membu- nuh Bayu Gendala. Pemuda tengik yang hampir membuatku celaka waktu itu. Aku sendiri merasa yakin pasti dia orangnya yang telah berlaku keji kepada Lara Murti. Mungkin hanya dia yang da- pat menghancurkan Lara Murti. Jahanam itu in- gin sekali aku mencabik-cabik mayatnya yang busuk sampai lumat!" kata pemuda ini sambil ke- palkan kedua tinjunya. 

"Kau percaya dia pembunuhnya?" Gento Guyon ajukan pertanyaan.

"Mengapa tidak? Semua bukti sudah tak kuragukan lagi." jawab Lambang Pambudi sengit. Gento gelengkan kepala.

"Kau sendiri bagaimana?" Pemuda itu balik bertanya.

"Aku... aku tak dapat mengambil kesimpu- lan secepat dirimu. Karena terkadang dalam hi- dup ini aku melihat orang begitu pandai berpura- pura. Bisa jadi seseorang yang terlihat baik se- sungguhnya dia menyimpan kekejian dibalik ke- baikannya itu. Tidak tertutup kemungkinan pula seseorang yang terlihat jahat, sebenarnya dia memiliki hati dan sifat mulia sebagai manusia. Hidup ini sangat membingungkan, mereka yang waras banyak bertingkah seperti orang gila. Cuma kurasa kita tak usah merepotkan diri dengan iku- tan menjadi gila. Bukankah begitu? Ha ha ha." sahut murid si kakek gendut Gentong Ketawa di- iringi derai tawa.

"Ah, tak kusangka wawasan mu begini luas, sobat. Sayang hari sudah siang. Pertemuan ini menimbulkan kesan tersendiri di hatiku. Tapi aku tak bisa bicara lebih lama denganmu. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku mohon pamit, pergi dulu." Selesai bicara Lambang Pambudi menarik tali kekang kuda. Namun be- lum lagi kudanya bergerak Gento berseru.

"Tunggu...!"

Lambang Pambudi urungkan niat dan langsung menoleh. "Masih ada yang hendak kau tanyakan?"

"Kau hendak kemana?" Lambang Pambudi tersenyum.

"Aku ini tidak jauh bedanya dengan seo- rang budak. Bila majikan menyuruhku melaku- kan sesuatu, biarpun tengah malam buta tugas harus kulakukan. Saat ini aku hendak ke selatan menghubungi kerabat Dewa Angin Guntur. Mere- ka belum tahu tentang kabar duka ini."

Gento manggut-manggut, namun jauh di dalam lubuk hatinya dia merasakan suatu pera- saan yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Se- mentara itu tanpa menoleh lagi Lambang Pambu- di langsung memacu kuda tunggangannya

Gento menarik nafas setelah meletakkan kantong perbekalan milik Ambini dibelakang punggungnya. Kini pikirannya terbagi dua. Ha- ruskah dia menyusul Ambini ke Kuil Setan atau meneruskan usahanya mencari pembunuh Lara Murti? Bagi Gento keselamatan Ambini sangat penting. Tapi mencari pembunuh Lara Murti yang sebenarnya adalah suatu hal yang tak dapat di- abaikan. Apalagi mengingat dia telah berjanji pa- da nenek Selasih Jingga untuk membantu men- jernihkan kemelut yang tengah melanda dirinya. "Lambang Pambudi...!" Gento tepuk ke-

ningnya. "Dia mengaku tak pandai ilmu silat. Tapi kulihat dia sangat pintar menunggang kuda. Dia mengatakan hendak ke selatan. Kurasa alangkah baik jika aku menyusulnya. Bukan mustahil pembunuh itu menjadikannya sebagai korban be- rikutnya!" fikir Gento. Tanpa menunggu lebih la- ma lagi pemuda ini segera menyusul ke arah per- ginya Lambang Pambudi.

8

Malam itu suasana gelap pekat. Tidak ter- lihat cahaya bintang maupun rembulan. Langit tertutup mendung tebal, walaupun tidak ada tan- da-tanda hujan akan segera turun. Namun udara saat itu terasa dingin menusuk. Seakan tidak menghiraukan dinginnya udara, sosok nenek tua berpakaian hitam itu duduk bersimpuh di depan sebuah pelita yang nyaris padam.

Agaknya ada suatu beban batin yang amat berat menjadi ganjalan dihati si nenek. Terbukti sejak tadi dia terus meratap tiada henti. Sambil meratap si nenek menyeka pipinya yang kempot. Kedua matanya nampak memerah, bagian pelu- puk mata membengkak dan nenek tua ini nam- pak sangat kelelahan sekali. Tak lama suara isak tangis si nenek berubah perlahan hingga kemu- dian terhenti sama sekali. Wajah yang keriput ba- sah oleh air mata mendongak ke langit, dua tan- gan yang hanya tinggal berupa kulit pembalut tu- lang diangkat, lalu bibirnya berucap.

"Gusti Allah, begini berat beban batin yang harus ku tanggungkan. Aku tahu diriku manusia berlumur dosa. Tapi Tuhan disepanjang sisa usiaku, keampunan selalu kupohonkan kepada- mu. Sekarang sudahkah semua dosaku telah kau ampuni? Atau kau tidak pernah dapat memaaf- kan aku? Aku percaya rahmat Mu selalu kau lim- pahkan padaku. Tuhan... aku memohon kepada- mu, jika kelanjutan hidupku ini hanya akan membawa keburukan bagi diriku, aku minta kau mencabut nyawaku sekarang juga. Tapi jika akhir dari perjalanan hidup ini membawa kebaikan bagi diriku juga orang lain ku mohon berilah aku pe- tunjuk. Sebaik-baiknya petunjuk yang pernah kau berikan pada umat mu yang terdahulu juga yang terkemudian. Tuhan, berilah aku jalan, serta limpahkanlah ketenangan jiwa dan kedamaian hati. Ya Tuhan tunjukkanlah jalan itu, satu jalan yang membuat aku ridho atas segala cobaan yang kau berikan kepadaku!" kata si nenek dengan su- ara tersendat-sendat.

Selagi diri si nenek dalam keadaan penuh kepasrahan diri, tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak. Suara itu seakan datang dari jarak ra- tusan mil. Belum lagi hilang rasa kaget si nenek, dibelakang orang tua itu muncul seorang pemuda berpakaian serba hitam memakai topeng kayu menunggang seekor kuda. Dalam kagetnya si ne- nek bangkit berdiri, memutar langkah. Hingga ki- ni dia berhadap-hadapan dengan sosok penung- gang kuda. "Topeng itu? Bukankah topeng yang dipakai orang ini sama persis dengan topeng milik anakku?" batin si nenek semakin bertambah ka- get. Belum lagi sempat nenek itu ajukan perta- nyaan, orang yang memakai topeng kayu datang dengan menunggang kuda langsung bersenan- dung.

Terlalu lama memendam dendam, dalam ji- waku bersemi rasa kebencian.

Sekarang aku berada di hadapanmu untuk tunjukkan satu jalan

Jalan hitam dari kematian yang engkau

minta.

Nenek tua....

Hari ini segalanya harus dibayar impas. Agar semua dendam berkarat dapat terobat. Engkau tidak punya pilihan lain

Di saat masa lalu telah kau jalani. Semuanya mengingatkan pada nista dan

darah orang yang kau korbankan.

Korban telah banyak berjatuhan.

Genangan darah orang tak berdosa mem- buahkan laknat bagimu.

Dulu begitu banyak Roh kau berangkatkan sebelum masanya

Padahal sepasang tanganmu tidak punya kuasa atas jiwa mereka.

Selasih Jingga!

Jari Perontok Nyawa adalah gelarmu Aku tahu hidup tidak pernah mundur ke be- lakang

Tapi apa yang terjadi saat ini adalah bagian dari masa lalu mu

Sekarang....

Kepadamu akan ku lampiaskan dendam Seandainya kau punya seribu nyawa,

Kau tidak akan pernah kubiarkan lolos dari tanganku!

Tengkuk si nenek mendadak berubah jadi dingin mendengar senandung yang diucapkan oleh orang yang duduk diatas kuda itu. Wajah orang tua itu nampak pucat. Segala apa yang di- katakan si pemuda mengingatkannya pada semua yang telah dia lakukan di masa lalu. Walaupun begitu si nenek tetap berlaku tenang. Dia ajukan pertanyaan. "Orang yang datang di malam gelap. Sembunyikan wajah di balik topeng curian. Siapa dirimu ini yang sebenarnya?" tanya si nenek tegas namun suaranya bergetar.

Orang yang wajahnya tertutup topeng kayu tidak menjawab, sebaliknya malah tertawa dingin. Tawanya kemudian terhenti. Sepasang mata diba- lik topeng memandang ke arah nenek Selasih Jingga penuh kebencian.

"Tua bangka? Jika ku jelaskan kepadamu, kurasa otakmu sudah sulit mengingat. Tapi tidak mengapa, sekarang kau dengarlah baik-baik. Aku datang ke hadapanmu ini adalah untuk menuntut balas atas kematian orang tuaku!" tegas orang di- atas kuda.

Mendengar ucapan orang itu nenek Selasih Jingga dengan tenang menjawab. "Memang kua- kui di masa muda aku banyak melakukan kejaha- tan. Korban yang jatuh di tanganku tak dapat lagi ku hitung. Sedang diantara mereka yang tewas, mungkin hanya sekedar mempertahankan diri. Jadi harap kau mau menjelaskan siapa orang tu- amu?"

"Tua bangka keparat, kau pasti masih ingat dengan suami istri yang bergelar Sepasang Hari- mau Terbang?"

Nenek Selasih Jingga berjingkrak mundur mendengar nama yang disebutkan oleh pemuda bertopeng. Sepasang Harimau Terbang, julukan itu tentu tidak akan pernah lekang dari ingatan- nya. Dua pendekar sakti yang telah membunuh suaminya hingga anaknya kehilangan ayah untuk selamanya. Nenek Selasih terdiam, wajahnya be- rubah murung. Terbayang olehnya tentang segala kejadian yang berlangsung lebih kurang dua pu- luh tahun yang silam.

***

Pagi itu Selasih jingga datang ke sebuah bangunan sederhana di puncak bukit Karang Haur. Ketika dia sampai di tempat itu suasana rumah yang dijambanginya dalam keadaan sunyi

Tidak menunggu lebih lama dan dengan si- kap tak sabar perempuan berusia empat puluh tahun itu langsung berteriak. "Sepasang Harimau Terbang. Aku Jari Perontok Nyawa datang untuk menagih hutang nyawa suamiku. Cepat kau ke- luar, atau kau ingin aku membakar rumahmu ini?"

Sunyi tak ada jawaban

"Sepasang Harimau Terbang, aku tidak punya waktu untuk menunggu lebih lama. Jika kau tidak mau keluar, aku yang masuk ke da- lam!" teriak perempuan berpakaian serba hitam itu dengan suara lantang. Dia menunggu sejenak lamanya, sedangkan sepasang matanya yang memancarkan amarah memandang tajam keba- gian pintu depan yang tertutup. Kemudian pintu terbuka, dua sosok tubuh berkelebat keluar, di- lain kejab di depan Selasih Jingga berdiri tegak seorang laki-laki gagah, usia kurang lebih tiga pu- luh lima tahun, wajah tampan berpakaian loreng terbuat dari kulit harimau. Sedangkan disamping laki-laki itu berdiri seorang perempuan cantik, berpakaian sama dengan rambut digelung ke atas. Baik laki-laki itu maupun perempuan yang bersama dikenal oleh Selasih Jingga sebagai Se- pasang Harimau Terbang.

"Bagus, kau mau datang menemuiku. Hemm... tidak kulihat anak kalian? Di manakah dia?" tanya Selasih Jingga disertai seringai dingin. "Bocah itu tidak tahu apa-apa. Jangan kau berani mengusiknya. Urusanmu adalah dengan

kami, bukan dengan bocah itu!"

"Hem, begitu? Sonapati, mungkin ucapan- mu ada benarnya. Tapi aku lebih suka membabat rumput sampai ke akar-akarnya!" dengus Selasih Jingga geram.

"Kau pasti datang untuk menuntut balas atas kematian suamimu, Pragola. Bukankah begi- tu?" kata perempuan disebelah Sonapati. Perem- puan itu adalah istri Sonapati sendiri bernama Seroja.

"Kau tidak salah. Aku memang sengaja da- tang untuk menuntut balas atas kematian Pragola suamiku!" sahut Selasih Jingga dingin.

"Pragola mati karena ulahnya sendiri. Dia kami ketahui telah menghancurkan perguruan Kipas Merak. Padahal ketua perguruan Kipas Me- rak masih terhitung adik kandungku!" ujar Sona- pati.

"Manusia keparat. Apapun alasanmu, kau tidak layak menghukum Pragola. Segala kejaha- tannya menjadi tanggungan ku karena dia adalah suamiku. Aku yang pantas menentukan apakah dia bersalah atau tidak!" teriak Selasih Jingga.

"Kau manusia biang racun, bagaimana bisa menilai suamimu bersalah atau tidak!! Hidupmu sendiri bergelimang dosa dan kami tidak yakin kau tega menghukum Pragola!" sahut Seroja sen- git.

"Perempuan tengik. Berani kau menghina- ku? Kubunuh kau!" teriak Selasih Jingga kalap. Baru saja perempuan ini selesai berucap, tubuh- nya berkelebat ke arah Seroja. Dua tangan meng- hantam ke tubuh lawan hingga menimbulkan de- ru angin disertai menebarnya hawa panas yang langsung menyambar ke arah Seroja. Perempuan yang diserang maklum betapa berbahayanya se- rangan yang dilancarkan oleh lawan. Sehingga ke- tika merasakan adanya sambaran angin ke arah- nya dia berkelebat, melompat ke atas dan menye- rang kepala Selasih Jingga dengan sepuluh jari terpentang siap menghantam bagian ubun-ubun.

Pukulan yang dilancarkan Selasih Jingga menghantam tanah dibagian halaman disertai dengan suara ledakan berdentum. Sebaliknya pe- rempuan berpakaian serba hitam itu cepat me- lompat mundur ke belakang selamatkan kepa- lanya dari cakaran lawan.

Masing-masing serangan tidak mengenai sasaran. Selasih Jingga kertakkan rahang. Dua tangan dalam keadaan terkembang kemudian di- putar sebat, hawa dingin menyebar, sinar hitam dan biru berpijar. Sedangkan telapak tangan Se- lasih Jingga saat itu telah berubah menghitam sampai sebatas pangkal lengan. Melihat peruba- han yang terjadi pada kedua tangan lawannya, Sonapati berteriak ditujukan pada Seroja. "Istri- ku, hati-hatilah. Perempuan keparat itu hendak menggunakan ilmu Jari Perontok Nyawa!"

"Aku sudah tahu, kakang. Sudah lama aku mendengar keganasan ilmunya. Sekarang aku in- gin menjajal sampai dimana kehebatannya!" sa- hut Seroja.

"Pergunakan jurus Harimau Mengguncang Bumi!" teriak Sonapati. Tiba-tiba tubuh laki-laki itu berkelebat me- lewati Selasih Jingga. Begitu dia jejakkan kaki, posisinya kini telah berdampingan dengan is- trinya. Pasangan suami istri ini kemudian secara bersama-sama pentangkan kedua tangannya ke depan. Dua kaki ditekuk. Tangan kiri diangkat begitu rupa, sedangkan tangan kanan ditarik ke belakang seperti gerakan seekor harimau yang siap mencakar lawannya.

Setelah itu segalanya berlangsung dengan sangat cepat. Sepasang Harimau Terbang kini berputar. Sonapati melompat ke atas, sedangkan istrinya berkelebat ke depan menyerang lawan- nya. Selasih Jingga terkejut ketika melihat kenya- taan kedua lawannya melakukan serangan gencar dari atas dan bawah. Serangan dari atas dilaku- kan Sonapati, mengincar bagian dada dan kepala perempuan itu. Sedangkan serangan dari bawah dilancarkan oleh Seroja. Dua serangan hebat di- lakukan dalam waktu bersamaan membuat Sela- sih Jingga hanya dapat mengelak dan menangkis kedua serangan itu tanpa sempat melepas puku- lannya sendiri.

Wuuut! Breeet! Breeet! "Ukkh!"

Selasih Jingga menjerit kesakitan bercam- pur kaget ketika melihat bagaimana pakaian di- bagian perut robek besar, tembus sampai keba- gian kulit sampai ke daging, darah mengucur. Se- lasih Jingga memaki panjang pendek. Dia melom- pat mundur. Tapi belum lagi perempuan ini sem- pat memperbaiki posisinya, kedua lawan telah mencecarnya lagi dengan cakaran-cakaran ganas yang sangat berbahaya.

"Hmm, bagus majulah lebih mendekat!" te- riak Selasih Jingga geram. Empat tangan me- nyambar ganas ke seluruh bagian tubuhnya siap mencabik perempuan itu menjadi serpihan dag- ing. Selasih Jingga mendengus, tubuh ditarik ke belakang, sepuluh jari tangan laksana kilat dijen- tikkan kedua arah berturut-turut.

Zstttt!

"Awas!" teriak Seroja memberi aba-aba Sonapati melompat ke samping selamatkan

diri begitu melihat lima larik sinar merah meng- hantam tubuhnya. Dia selamat, tapi justru is- trinya hanya tidak sempat selamatkan diri dari serangan Selasih Jingga, sungguhpun dia menco- ba menangkis lima sinar maut yang melesat dari jari lawannya. Seroja menjerit keras ketika tiga sinar merah menghantam tubuhnya. Perempuan itu terjengkang dengan dada dan perut berlumu- ran darah.

"Istriku!" teriak Sonapati begitu, melihat is- trinya menjadi korban serangan lawan. Dia me- lompat mendekati istrinya. Ketika laki-laki ini me- lihat Seroja tidak berkutik lagi sadarlah dia bah- wa jiwa Seroja tak dapat diselamatkan lagi

"Hraaaak... manusia jahanam! Kau harus menebus kematian istriku!" teriak Sonapati seper- ti orang kesurupan. Selasih Jingga tersenyum mengejek. "Simpanlah mimpimu, kurasa lebih baik

kau menyusul istrimu!" sahut perempuan itu si- nis.

"Keparat kurang ajar!" maki Sonapati.

Laksana kilat lalu tubuhnya melesat ke udara, berkelebat cepat mendekati lawan tangan dan kaki menyambar melepaskan serangan be- runtun.

Sejenak lamanya Selasih Jingga dibuat ter- cekat. Dia sempat terdesak mundur. Tapi begitu perempuan ini merubah jurus-jurus silatnya, kini keadaan menjadi berbalik. Sonapati terpaksa me- lompat menjauh dari lawannya. Justru kesempa- tan ini dimanfaatkan oleh Selasih Jingga untuk melepaskan pukulan Jari Perontok Nyawa. Meli- hat sinar merah membersit lalu berkelebat me- nyerang ke arahnya, Sonapati dalam kagetnya se- gera melepaskan pukulan menangkis serangan lawan. Tapi betapa terkejutnya laki-laki itu ketika melihat pukulan yang dilepaskannya sama sekali tak dapat menahan serangan lawan. Malah lima sinar yang memancar dari ujung jemari lawannya menembus benteng pertahanannya. Masih tak percaya dengan kenyataan yang terjadi Sonapati kembali menghantam ke arah sinar-sinar itu. Ha- silnya sama saja.

Tak dapat dihindari lagi kelima sinar itu menembus tubuh Sonapati. Jeritan keras laksana merobek langit. Sonapati jatuh terpelanting sam- bil mendekap tubuhnya yang terluka parah. Se- rangan yang dilancarkan Selasih Jingga ternyata tembus sampai kebagian punggung

"Hik hik hik! Ternyata jurus Harimau Ter- bangmu sudah sangat usang. Kau boleh mencip- takan jurus lainnya setelah berada di neraka!" dengus Selasih Jingga sinis.

Sonapati mengerang lirih, mulutnya berge- rak-gerak, tapi tak sepatah katapun yang terucap. Tak lama kepala Sonapati pun terkulai, mata me- lotot dan tewas penasaran.

"Ayah... ibu...!" satu suara terdengar. Sela- sih Jingga tersentak, dengan cepat dia meman- dang ke rumah dimana suara bocah tadi terden- gar.

"Suara tadi, pasti anak Sepasang Harimau Terbang. Tak usah tanggung bertindak. Akan ku- bereskan dia agar kelak tidak menjadi malapetaka bagi diriku sendiri!" selesai berkata begitu Selasih Jingga segera berkelebat menuju pintu depan. Dengan tergesa-gesa dia memeriksa setiap kamar yang ada. Tapi bocah yang dicarinya tidak terli- hat, lenyap entah kemana.

"Tidak mungkin! Dia pasti masih berada di rumah ini?" desis perempuan itu heran. Selagi matanya nyalang mencari kian kemari. Maka pa- da saat itu dia mendengar suara pintu belakang dibuka paksa. Selasih Jingga mengejar ke bela- kang. Saat itu dia melihat satu sosok berkelebat keluar sambil mendukung seorang bocah berusia sekitar lima tahun.

"Bangsat penculik jangan lari!" teriak pe- rempuan itu sambil mengejar. Orang yang dikejar ternyata lenyap. Selasih Jingga menjadi sangat geram sekali.

"Bocah itu... siapa yang telah menyela- matkannya?" batin Selasih Jingga dalam hati. "Kemana aku harus mencari. Bagaimana pun dia harus kubunuh. Tapi kurasa orang yang memba- wanya memiliki ilmu kepandaian tidak rendah. Sayang sekali!"

Karena masih penasaran Selasih Jingga kemu- dian mengejar orang yang telah melarikan putra Sepasang Harimau Terbang.

9

Dalam kegelapan malam yang hanya dite- rangi cahaya pelita perlahan si nenek dongakkan wajahnya ke langit. Wajah itu nampak muram, sedih penuh penyesalan. Dia kemudian meman- dang ke arah pemuda yang duduk diatas pung- gung kuda dengan tatapan kosong.

"Jadi kau merupakan keturunan dari Se- pasang Harimau Terbang?" tanya si nenek.

"Bagus kalau kau dapat mengingat siapa aku. Sekarang apakah kau siap menyerahkan nyawamu?" tanya pemuda berpakaian hitam ber- topeng kayu sinis. Nenek Selasih Jingga terse- nyum tipis. "Hidup dan mati bagiku sama saja, anak muda. Tapi sebelum hal itu terjadi padaku apakah aku boleh mengajukan beberapa perta- nyaan kepadamu?"

Si pemuda bertopeng tertawa tergelak- gelak. Suara tawanya yang dingin kemudian le- nyap berganti dengan bentakan. "Kau hendak bertanya apa? Aku pasti mengabulkan permin- taan orang yang akan mati." kata si pemuda sinis. Selasih Jingga menarik nafas, mencoba menenangkan debaran jantungnya baru kemu- dian, berkata. "Kulihat kau memakai topeng, sen- gaja sembunyikan  wajah agar tidak  dikenali orang. Tapi aku tahu pasti topeng itu adalah milik anakku Bayu Gendala. Lalu kau mencurinya ke- mudian kau menggunakan topeng saat berlaku keji pada putri Dewa Angin Guntur setelah itu kau membunuhnya dan meninggalkan topeng be- rikut pedang. Hingga akhirnya Dewa Angin Gun- tur menyangka anakku Bayu Gendala yang mem-

bunuh putrinya!"

"Ha ha ha! Ternyata walau sudah tua otakmu, cukup cerdik Jari Perontok Nyawa. Aku memang sudah mengatur kematian anakmu se- demikian rupa. Agar kau dapat merasakan begi- tulah pedihnya hatiku saat melihat kematian ke- dua orang tuaku!"

"Hmm, aku tak akan heran. Aku dapat memakluminya." kata si nenek dengan suara ber- getar menahan sedih dan geram. Perempuan itu kemudian melanjutkan ucapannya. "Sebelum di- antara kita ada yang terbunuh di tempat ini mau- kah kau mengatakan siapa namamu?"  "Kelak kau akan mengetahuinya setelah rohmu meninggalkan ragamu, Ha ha ha." sahut pemuda itu sinis.

"Kau tak mau mengenalkan nama, apakah aku boleh melihat wajahmu?!" geram si nenek

"Konon kau punya kepandaian selangit, mengapa kau tidak berusaha melihatnya sendiri?" kata pemuda bertopeng penuh tantangan.

Wajah nenek Selasih Jingga berubah kelam membesi. Sepasang matanya berkilat memancar- kan amarah. Dalam hati si nenek berkata. "Gusti Allah. Kurasa inilah batas penantian akhir hi- dupku. Kau sudah memperlihatkan kebenaran dan kuasa Mu. Kau sudah memperlihatkan segala kesalahanku di masa lalu. Tapi aku juga tak mau mati percuma di tangan pemuda itu. Aku tak in- gin memasrahkan nyawa kepadanya. Karena hi- dup dan mati ini sesungguhnya hanyalah kepu- nyaan Mu!" ujar si nenek dengan perasaan terte- kan. Sekilas dia menatap pemuda yang duduk di atas kuda. Lalu dia berkata dengan suara keras. "Kau sudah tahu aku adalah pembunuh orang tuamu. Mengapa sekarang kau tidak segera men- gambil tindakan?" berkata begitu si nenek diam- diam salurkan tenaga dalamnya ke arah kedua belah tangan. Di depan sana wajah di balik to- peng menyeringai.

"Kecepatan seranganku tidak dapat kau duga. Di selatan orang memberi ku julukan Setan Penyambar Nyawa. Jika kau menghadapi aku dengan ilmu rongsokan Jari Perontok Nyawa. Be- rarti kematianmu datangnya lebih cepat dari per- hitunganmu. Nenek keparat lihat serangan...!" Se- lesai berkata pemuda itu melesat dari atas pung- gung kudanya. Dengan kecepatan sulit diikuti ka- sat mata dia berkelebat ke arah si nenek. Selasih Jingga terkesiap tak menyangka gerak serangan lawan ternyata sangat cepat sekali. Si nenek cepat berkelit sambil liukkan tubuhnya. Serangan lu- put, tapi sempat menyambar robek pakaian di ba- gian perut orang tua itu. Robeknya pakaian itu saja sudah membuat si nenek terkejut setengah mati.

Sementara itu gagalnya serangan membuat pemuda bertopeng itu cepat balikkan tubuh, lalu kembali lakukan serangan gencar yang mengarah pada bagian kepala dan leher lawannya. Si nenek huyungkan badannya ke kanan, lima jari tangan- nya yang telah berubah menghitam cepat ditekuk lalu dijentikkan ke arah lawannya.

Tees!

Terdengar lima suara letupan berturut- turut. Lima larik sinar menderu di udara. Mele- satnya lima larik sinar itu membuat udara diseki- tarnya berubah dingin bukan main.

"Jari Perontok Nyawa!" seru si pemuda ber- topeng. Menyadari dahsyat ilmu yang pernah mencelakakan kedua orang tuanya itu, pemuda bertopeng langsung batalkan serangan. Tubuhnya melesat ke udara, berjumpalitan sebanyak dua kali, kemudian meluncur deras di belakang la- wannya. Lima sinar merah menghantam batu, ba- tu besar yang menjadi sasaran meledak, amblas lenyap tidak meninggalkan bekas. Si pemuda ber- gidik ngeri. Tidak dapat dia bayangkan bagaimana jika tubuhnya tadi yang menjadi sasaran seran- gan.

Si pemuda bertopeng tak sempat lagi me- mikirkan semua itu. Setelah jejakkan kakinya di belakang Selasih Jingga dengan cepat sekali tan- gannya dihantamkan kebagian punggung si ne- nek.

Buuuk!

Hantaman yang keras membuat si nenek jatuh tersungkur. Melihat lawannya roboh dia lanjutkan serangan dengan melepaskan tendan- gan. Tapi disaat seperti itu si nenek yang jatuh menelungkup, mendadak berbalik menelentang. Tanpa menghiraukan wajahnya yang berlumuran darah dia menghantam.

Wuuuut.

Sinar merah laksana bara melesat dari tangan si nenek, menebar hawa panas luar biasa dan langsung menyambar kaki lawannya. Si pe- muda walaupun sempat melompat selamatkan di- ri tapi tidak sempat menarik kaki kanan yang di- pergunakan untuk menendang. Ledakan dahsyat menggelegar saat kaki pemuda bertopeng berben- turan dengan pukulan lawannya.

Pemuda itu meraung hebat, tubuhnya mencelat sejauh dua tombak tapi tidak mem- buatnya terjatuh. Dia berdiri dengan kaki kiri, tu- buhnya tergontai. Bagian kaki celana sampai se- batas lutut hangus mengepulkan asap hitam. Ka- ki yang terkena hantaman bengkak menggem- bung, hitam kemerahan.

Tanpa banyak fikir dia ludahi telapak tan- gannya. Telapak tangan yang berlumur ludah dis- apukan ke bagian kaki yang terluka. Hanya dalam waktu singkat kaki yang bengkak telah kembali seperti semula. Mulus tanpa meninggalkan cacat sedikitpun. Si nenek yang terluka dibagian dalam tercengang, dia mengusap matanya seakan tak percaya dengan pandangan matanya sendiri.

"Sulit kupercaya. Pukulanku tak sanggup membuat hancur kakinya? Padahal belum pernah ada seorangpun yang sanggup menahan pukulan Halilintar ku!" batin si nenek.

Sementara di depan sana pemuda berto- peng yang sangat mendendam pada si nenek telah memutar kedua tangannya dengan serangkaian gerakan aneh yang sulit ditebak arahnya. Setelah itu dengan cepat tangan kiri menyambar sesuatu dibalik pinggangnya. Ketika tangan kiri digerak- kan ke depan, maka berguling sinar putih menyi- laukan mata yang ternyata bersumber dari pe- dang di tangannya. Sekejap cahaya putih berta- bur di udara disertai suara berdengung, seperti sekumpulan lebah yang pindah sarang.

"Tua bangka pembunuh orang tuaku. Mampuslah kau...!" teriak si pemuda. Dia berke- lebat, pedang menyambar. Dalam waktu sekejap tubuh si nenek sudah terkurung sinar putih me- nyilaukan. Si nenek kerahkan seluruh kemam- puan yang dia miliki. Dia menghindar sambil le- paskan serangan dengan menggunakan sepuluh jari tangannya. Beberapa kali serangan si nenek nyaris menghantam lawannya.

Si pemuda bertopeng rupanya sadar betul serangan jemari lawannya sangat berbahaya, hingga dia lipat gandakan tenaga dalam sambil memperhebat serangan.

Tusukan dan babatan bertubi-tubi dilan- carkannya, tak lupa dia juga melepaskan tendan- gan mautnya. Akibatnya si nenek jadi terdesak, satu saat dia harus menghindari tendangan yang mengarah ke pinggang. Tendangan ini sebenarnya hanya tipuan saja, karena begitu si nenek meng- hindar. Dengan cepat lawan menggunakan ke- sempatan itu untuk menebaskan pedangnya ke bagian lengan si nenek.

Mendapat serangan selicik itu si orang tua terkesiap, dia coba selamatkan tangannya dari te- basan pedang, namun terlambat. Tak pelak lagi tangan si nenek putus terbabat pedang. Si nenek menjerit keras, potongan tangan jatuh ke tanah, menggelepar sebentar lalu diam. Darah meman- car dari luka itu. Sambil menjerit kesakitan si ne- nek menotok jalan darah di bagian pangkal len- gannya.

Ternyata lawan tidak memberinya kesem- patan lagi, dia segera tusukkan pedangnya ke da- da si nenek.

Jresss!

"Haakh...!" Nenek Selasih Jingga menjerit tertahan, sambil mendekap pedangnya si nenek melangkah mundur. Tapi satu tendangan mem- buat dia jatuh terjengkang. Perempuan itu terka- par tidak bergerak lagi. Pemuda bertopeng menye- ringai dingin. Menyangka lawannya telah tewas dia segera meninggalkan lawannya. Tak lama pe- muda ini telah melompat ke atas punggung ku- danya. "Ha ha ha. Masih ada satu manusia lagi yang harus kubereskan. Dewa Angin Guntur tunggulah kedatanganku!" gumam si pemuda ber- topeng perlahan. Dia lalu menggebrak kudanya, kuda meringkik keras lalu mengambur lenyap da- lam kegelapan.

10

Tidak berselang lama setelah lenyapnya pemuda bertopeng yang datang dengan menung- gang kuda itu. Di tempat itu muncul si gondrong Gento Guyon. Dia yang mendengar suara teriakan serta bentakan seperti orang berkelahi ketika be- rada di kejauhan tadi kini menjadi heran.

"Aneh, tadi aku jelas mendengar seperti ada orang yang berteriak kesakitan. Bagaimana mungkin setelah berada di sini aku hanya men- dapatkan sebuah pelita. Setahuku tidak ada peli- ta yang dapat bicara. Tapi....eh aku mendengar ada suara orang mengerang?" gumam Gento. Dia kemudian mencoba memastikan dari mana da- tangnya suara erangan itu. Ternyata suara rintih datang dari arah sebelah kirinya. Tanpa pikir panjang pemuda ini melompat ke arah darimana suara yang didengarnya itu berasal.

Walaupun suasana diliputi kegelapan ak- hirnya Gento melihat sesosok tubuh dengan dada ditembus pedang tergeletak tak berdaya di de- pannya. Dalam gelap yang hanya diterangi cahaya pelita juga bintang di langit Gento dapat melihat wajah sosok itu. Wajah seorang nenek tua yang sangat dikenalnya. Gento jatuhkan diri berlutut disamping si nenek. Melihat keadaan si nenek dengan wajah tegang dan mulut bergetar Gento berseru. "Nenek Selasih Jingga. Apa yang telah terjadi denganmu, nek. Maafkan aku karena telah datang terlambat. Aku, aku pasti menolongmu. Katakan siapa yang telah berbuat begini keji ter- hadapmu nek?!"

Mata yang terpejam dan penuh penderitaan itu membuka. Dalam pandangan si nenek sosok Gento hanya merupakan bayangan samar yang tidak begitu jelas. Sepasang mata itu mengerjab, bibir yang sepucat kafan menggerimit sedangkan kepala digelengkan.

"Tak mungkin kau bisa menolongku Gento. Sudah menjadi takdirku harus mati seperti ini." kata si nenek dengan suara tersendat. Dalam se- tiap tarikan nafasnya ada darah yang menyembur dari hidungnya. "Aku sudah melihat malaikat da- tang menjemputku. Tapi aku merasa bahagia ka- rena sudah tahu yang membunuh Lara Murti bu- kan anakku. Bayu Gendala memang anak yang tidak berarti, tapi dia masih darah dagingku sen- diri...!"

Mendengar pengakuan si nenek, Gento edarkan pandangannya. Tapi ternyata di tempat itu memang tidak ada siapapun terkecuali mereka sendiri. Penasaran Gento bertanya. "Jadi siapa yang telah melakukan semua ini nek?"

"Seorang pemuda menunggang kuda coke- lat. Aku tak dapat melihat wajah aku juga tak ta- hu namanya. Karena dia memakai topeng kayu. Topeng curian milik anakku."

"Kuda cokelat. Setahuku kuda itu milik Lambang Pambudi. Mungkinkah dia orangnya? Padahal selama ini aku tahu dia tak pandai ilmu silat." Fikir Gento. Masih penasaran dia ajukan pertanyaan. "Kau tak dapat melihat wajahnya, apakah kau dapat mengatakan bagaimana pa- kaiannya?"

Dengan bersusah payah nenek Selasih Jingga menjawab. "Dia berpakaian hitam. Aku... aku juga mendengar dia akan menjumpai Dewa Angin Guntur."

Gento tersentak kaget. Semula dia mendu- ga yang melukai si nenek adalah Lambang Pam- budi. Tapi Lambang Pambudi tak pernah berpa- kaian hitam. Pakaian pemuda itu berwarna putih. Gento kemudian berfikir, masalah pakaian siapa- pun bisa saja bertukar seribu kali. Dia tetap yakin pasti Lambang Pambudi yang telah melakukan kekejian itu pada si nenek. Kuda yang disebutkan si nenek sama persis dengan kuda pemuda itu. Lagi pula nenek itu mengatakan pemuda berto- peng itu hendak menjumpai Dewa Angin Guntur. Mungkin ada sesuatu yang hendak dilakukannya. Tidak ada jalan lain Gento harus mengejar pemu- da itu ke Perguruan Gunung Kramat.

Kini Gento memandang ke arah si nenek. Perempuan itu nampaknya tidak akan dapat ber- tahan lebih lama. Sambil memegang bahu nenek Selasih Jingga dia berkata menghibur. "Nek ber- tahanlah, kau jangan mati. Aku akan mengobati lukamu."

Si nenek tersenyum, saat itu nafasnya ma- kin melemah. "Kau... pemuda konyol yang pandai menghibur. Aku tak mungkin hidup. Tapi kau menjadi saksi atas kebenaran, bukan anakku yang membunuh Lara Murti. Tolong jelaskan ini pada Dewa Angin Guntur, aku... akh...!" Si nenek tak dapat meneruskan ucapannya. Nafas terpu- tus, kepalanya terkulai.

"Nenek, oh... Gusti Allah, dia pergi tidak bi- lang padaku!" seru Gento dengan mata terbelalak. Tangan yang menempel dibahu si nenek di- goyangkan tapi orang tua itu diam tak bergerak. "Huk... huk.... Semoga Tuhan mengampunimu nek." kata si pemuda sambil tundukkan kepala.

Selagi Gento dalam keadaan seperti itu. Ti- ba-tiba saja terdengar suara orang bicara di bela- kangnya. "Perempuan tua itu paling tidak telah memberikan satu petunjuk penting. Sekarang se- telah dia mati mengapa kau duduk di situ bukan malah pergi ke perguruan Gunung Kramat?" Karena merasa mengenali suara orang, maka Gento cepat menoleh. Orang yang baru bi- cara tadi tersenyum lebar. Gento pun mendam- prat. "Gendut, kemana saja engkau selama ini? Setelah puas bermesraan dengan Ambini, kau tinggalkan anak orang begitu saja. Kini aku yang jadi repot karena gadis itu diculik oleh seseorang." Si tinggi besar berbadan gendut luar biasa unjukkan wajah kaget. Si kakek terdiam cukup lama, sedangkan matanya memandang mendelik

seakan tak percaya dengan ucapan muridnya. "Gege, apakah kau sungguh-sungguh den-

gan ucapanmu itu?" tanya si gendut Gentong Ke- tawa.

"Apakah kau lihat tampangku seperti orang bergurau?" sahut Gento serius.

"Tampangmu tak bisa kujadikan ukuran. Tapi benarkah apa yang kau ucapkan itu? Astaga! Aku sama sekali tidak meninggalkan Ambini, tapi dia yang meninggalkan aku. Mungkin karena aku sudah tua, tak pantas lagi berpasangan dengan- nya, sehingga dia berbuat begitu!" kata si kakek bersungut-sungut.

"Tentu saja. Cuma karena kau orang tua yang tidak tahu malu. Selalu saja memaksakan kehendak sendiri!"

Bukannya marah si gendut malah tergelak-

gelak.

"Berhentilah menghina orang tua ini. Seka-

rang kau katakan padaku gadis itu berada dima- na?" "Mana aku tahu ndut. Aku hanya dititipi pesan. Orang yang menulis pesan itu mengatakan dia membawa Ambini ke Kuil Setan."

Si kakek gendut berjingkrak kaget. "Kuil Setan? Itu tempat Jin membuang anak dan tem- patnya roh jahat. Gege kurasa ini bukan urusan remeh. Kau harus waspada. Siapapun yang telah menculik Ambini, dia pasti punya niat tidak baik terhadapmu. Tapi... mengapa dia harus menculik Ambini?" tanya si gendut heran.

Gento tersenyum, lalu berkata. "Mungkin saja Ambini mengatakan pada penculik itu kalau dia sudah punya kekasih. Si penculik merasa terkesan, hingga dia mengundangku untuk dini- kahkan di Kuil Setan!"

"Bocah edan. Persoalan itu tidak bisa dis- epelekan. Ambini sekarang dalam bahaya besar. Kita harus menolongnya!" kata si gendut tegas.

"Kau benar guru, tapi sebelum itu kita ha- rus pergi ke perguruan gunung Keramat. Sesuai keterangan nenek itu, aku yakin pemuda berto- peng itu pasti Lambang Pambudi adanya." kata Gento kemudian. Kali ini dia nampak serius seka- li.

"Aku sendiri tak berani menduga semudah itu. Seperti katamu, sebaiknya kita memang pergi ke perguruan Gunung Keramat. Jika kita berang- kat sekarang besok pagi kita sudah sampai ke sa- na." jawab Gentong Ketawa. Lalu dengan satu ge- rakan enteng si kakek berkelebat, tubuhnya seke- jap saja sudah lenyap dalam kegelapan. Pendekar Sakti Gento Guyon pun segera mengikuti tak jauh di belakangnya.

***

Suasana duka masih menyelimuti pergu- ruan Gunung Keramat. Bahkan pasangan suami istri Dewa Angin Guntur dan Galuh Pitaloka lebih banyak berdiam diri di depan rumahnya. Sedang- kan para murid, sudah kembali pada tugas dan kesibukan masing-masing.

Pagi itu Galuh Pitaloka sedang duduk di depan rumahnya, ketika dia mendengar suara langkah kuda yang dipacu cepat ke arahnya. Dengan perasaan kaget perempuan setengah baya namun masih tetap cantik ini memandang ke arah datangnya suara kuda. Galuh Pitaloka ter- cengang, kedua alis matanya terangkat naik keti- ka melihat seorang pemuda berpakaian hitam memakai topeng penutup wajah mengarahkan kudanya ke arah perempuan itu. Melihat cara orang menunggang kuda, sadarlah perempuan ini orang yang berada diatas punggung kuda sengaja hendak menabrakkan binatang tunggangannya ke arah dirinya. Masih dalam keadaan heran juga kaget Galuh Pitaloka melompat dari tempat du- duknya, kemudian bergulingan hindari terjangan kuda. Setelah bergulingan laksana kilat Galuh Pi- taloka bangkit berdiri. Dia membalikkan tubuh- nya, hingga kini Galuh Pitaloka dapat melihat ku- da yang hampir menabraknya tadi. Marah bercampur heran si perempuan membentak. "Kurang ajar mencari mati. Siapa kau? Bukankah kuda yang kau tunggangi itu adalah milik Lambang Pambudi?"

Orang yang duduk di atas kuda tertawa dingin. "Kau tidak salah. Kuda ini memang milik- nya." sahut pemuda penunggang kuda. Menden- gar nada suara pemuda itu Galuh Pitaloka ber- jingkrak kaget.

"Kau... suaramu aku kenali. Mengapa kau memakai topeng? Bukankah topeng itu adalah milik Bayu Gendala?" tanya perempuan penuh rasa heran.

"Bibi Galuh Pitaloka, bagus jika kau men- genali suaraku. Segala yang terjadi hari ini tentu diluar dugaanmu." kata si pemuda. Dia kemudian tarik topengnya ke atas, hingga topeng itu seka- rang bertengger di atas keningnya. Begitu topeng dibuka maka terlihatlah seraut wajah yang tak asing lagi bagi Galuh Pitaloka. Hanya seraut wa- jah tampan itu sekarang tidak lagi memperli- hatkan keluguannya, wajah yang sangat dia kenal itu sekarang berubah dingin bengis dan seperti menyimpan dendam kesumat.

"Lambang Pambudi, sungguh bibi tak men- gerti dengan semua yang kau lakukan ini?"

"Ha ha ha! Dasar perempuan tolol. Apakah kau tidak ingat dengan seorang perempuan tua yang telah kau buat cacat tangan dan kakinya. Perempuan malang itu berjuluk Setan Sumpit!"

Mendengar penjelasan Lambang Pambudi, Galuh Pitaloka jadi melengak. Dia terdiam, otak- nya dipacu untuk mengingat. Perlahan terbayang olehnya wajah angker seorang nenek tua. Wajah keji yang selalu menebar kejahatan di delapan penjuru angin. Nenek itu pernah datang ke pergu- ruan Gunung Keramat sekitar delapan betas ta- hun lalu. Dia mencoba membakar perguruan, mencuri beberapa kitab penting berisi pelajaran ilmu silat. Belasan murid perguruan Gunung Ke- ramat dibunuhnya. Tapi kemudian dia dan sua- minya dengan dibantu oleh beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabatnya, mampu menja- tuhkan Setan Sumpit. Dewa Angin Guntur, ke- mudian membuntungi masing-masing sebelah tangan dan kaki Setan Sumpit di tempat tinggal- nya di daerah Kali Anget.

"Jadi apa hubunganmu dengan nenek ke- parat itu, Pambudi?" tanya Galuh Pitaloka,

"Setan Sumpit adalah guruku. Aku adalah Setan Penyambar Nyawa, muridnya!" dengus Lambang Pambudi.

Bagai melihat setan perempuan itu delik- kan matanya. Dia sungguh tidak menyangka ka- lau selama ini telah tertipu. Sejak pertama pemu- da itu terkenal begitu santun, lugu dan mengaku tidak pandai ilmu silat. Kenyataannya? Galuh Pi- taloka gelengkan kepala. Apapun, tujuan pemuda itu dia sudah dapat memperkirakan apa yang hendak dilakukannya.

"Lambang Pambudi, kau pasti diutus oleh gurumu untuk menuntut balas atas cacat badan yang dia alami bukan?"

"Ternyata otakmu cukup cerdik bibi. Du- gaanmu tidak keliru. Demi baktiku pada orang yang telah mencurahkan segalanya kepadaku, aku bahkan rela mengesampingkan perasaanku sendiri!"

"Jadi kau yang telah menodai putri ku?" tanya Galuh Pitaloka.

Lambang Pambudi tertawa bergelak. Ta- wanya lenyap mulut berucap. "Aku tidak me- nyangkal tuduhan itu. Walaupun aku mencintai Lara Murti. Tapi aku harus rela mengorbankan nyawa dan kehormatannya. Terus-terang aku ju- ga telah membunuh murid Guru Lanang Pameka- san, bahkan orang tua itu juga kubunuh. Bukan hanya itu saja, aku yang mengatur bagaimana hingga pada akhirnya Bayu Gendala terbunuh di tangan paman Dewa Angin Guntur."

"Manusia keji. Mengapa kau lakukan se- mua itu?" hardik Galuh Pitaloka jadi sangat ma- rah sekali.

"Ha ha ha. Bayu Gendala memang harus mati, karena ibunya Selasih Jingga adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuaku." sahut Lambang Pambudi dingin.

"Lalu mengapa kau tega menodai anakku?" tanya perempuan itu dengan suara bergetar. Dia memang hampir tidak dapat mengendalikan ke- marahannya. Namun rasa keingintahuan yang begitu besar membuatnya harus menahan diri.

Di depannya Lambang Pambudi dongakkan wajahnya ke langit. Terlihat ada kesedihan mem- bersit di matanya. Hanya semua itu berlangsung sesaat saja, karena detik kemudian wajah si pe- muda berubah dingin.

Sejenak lamanya dia pandangi Galuh Pita- loka, lalu berucap. "Aku tahu dia mencintai ku, aku juga begitu. Tapi ku rasakan tugas yang di- bebankan guru kepadaku jauh lebih penting dari urusan pribadiku sendiri. Aku diperintahkan un- tuk melakukan pembalasan, kalau perlu sekeji- kejinya. Jadi kau tak perlu menyesal karena se- mua itu adalah kesalahanmu dan ketololan sua- mimu sendiri!"

"Bocah keparat! Begitu caramu membalas kebaikan orang? Aku telah mendengar semuanya. Jika tidak kubunuh kau saat ini. Seumur hidup aku tidak bisa tenteram!" satu suara berteriak disertai berkelebatnya satu sosok tubuh dan me- lesatnya sinar putih ke arah Lambang Pambudi. Si pemuda cepat menoleh, tapi tetap berlaku te- nang ketika melihat kilatan pedang menerabas lehernya. Sambil tertawa panjang dia gerakkan tubuhnya. Tak terduga pemuda itu melesat ke udara, berjumpalitan ke belakang sambil meng- hantam punggung lawan yang baru keluar dari rumah.

Dessss! Buuuk!

Hantaman keras membuat sosok yang me- nyerang dengan pedang jatuh tersungkur. Sambil menggerung dia bangkit berdiri. Ternyata orang yang baru menyerang pemuda itu dengan pedang bukan lain adalah Dewa Angin Guntur. Laki-laki tua itu cepat balikkan badan. Di depan sana si pemuda berdiri tegak dengan tangan disilangkan ke depan dada.

Melihat kehebatan serta tenaga dalam yang dimiliki lawan Dewa Angin Guntur tercengang. Pemuda itu bukan saja mampu menghindari se- rangan pedangnya, tapi mampu pula menyarang- kan pukulan ke bagian punggung selagi dirinya sendiri berusaha menyelamatkan diri dari seran- gan senjata Dewa Angin Guntur. Kenyataan ini dianggap oleh orang tua itu sebagai sebuah ke- nyataan yang sulit untuk dipercaya.

"Kau mengaku bodoh, tidak punya kepinta- ran apapun. Tapi ternyata kau memiliki ilmu ser- ta kesaktian tinggi. Pemuda keparat, kau sung- guh manusia yang pandai berpura-pura." teriak Dewa Angin Guntur kalap.

"Ketua perguruan Gunung Keramat. Guru- ku Setan Sumpit telah mengerahkan seluruh ke- mampuan yang dia miliki untuk menggembleng diriku. Masa aku mau mempermalukan dirinya, kalau cuma menghadapi dua manusia tolol seper- ti kalian?" sahut Lambang Pambudi disertai se- ringai mengejek.

"Tak pernah kusangka selama ini kami te- lah membesarkan anak macan? Kau telah menipu kami dengan segala keluguan mu yang palsu!"

"Ha ha ha. Itulah sebabnya aku mengata- kan kalian adalah manusia tolol yang tidak tahu membaca gelagat!"

"Kakang... mengapa banyak bicara. Mari ki- ta ringkus pemuda penipu ini! Rasanya tidak te- nang hatiku jika aku belum dapat mencincang tubuhnya!" teriak Galuh Pitaloka yang sangat berduka bila mengenang nasib buruk yang me- nimpa anaknya.

"Kau benar! Menghadapi manusia seperti dia tidak perlu banyak mulut! Kau menyingkirlah, biar aku yang akan membunuhnya!" teriak Dewa Angin Guntur. Habis berteriak laki-laki itu berke- lebat ke arah lawan. Pedang di tangan kanan ber- kelebat menyambar. Sedangkan tangan kiri mele- paskan satu pukulan hebat.

Wuuut! Wuuus!

Sinar putih berkiblat, hawa dingin pukulan menyambar. Serangan itu masing-masing me- nyambar dada dan mata si pemuda, Lambang Pambudi makfum betapa ganasnya kedua seran- gan itu. Sambil melompat mundur dia pukulkan kedua tangannya ke depan. Satu gelombang an- gin melabrak pedang dan pukulan Dewa Angin Guntur, membuat orang tua itu terdorong mun- dur, sedangkan tangan yang dipukulkan dan pe- dang di tangannya bergetar hebat.

11

Dewa Angin Guntur terkejut bukan main. Tapi dia adalah seorang tokoh yang sudah banyak pengalaman dirimba persilatan. Karena itu begitu hilang rasa kagetnya dia lipat gandakan tenaga dalamnya ke bagian hulu pedang dan kaki. Sam- bil merundukkan kepala Dewa Angin Guntur me- lompat ke depan. Pedang di tangan laksana kilat ditusukkan ke bagian leher lawannya. Serangan yang dilakukannya ini hanya tipuan saja, karena begitu lawan menghindar dengan menarik kepa- lanya ke belakang, maka lawannya segera han- tamkan tangan kirinya melepaskan pukulan Hali- lintar. Cahaya putih menyambar melesat ke arah Lambang Pambudi disertai memancarnya hawa panas bukan kepalang. Pemuda itu dibuat terce- kat, namun dia dengan cepat jatuhkan diri meng- hindar dari pukulan lawannya. Begitu dia bergu- lingan ke bawah, Dewa Angin Guntur sekali lagi hantamkan pukulan mautnya.

"Keparat!" rutuk Lambang Pambudi. Pemu- da ini walaupun masih berusaha menghindar tapi tidak dapat selamatkan dirinya. Tidak pelak lagi pukulan susulan yang dilepaskan lawannya menghantam tubuh pemuda itu.

Lambang Pambudi jatuh terjengkang. Pa- kaian di depan dada dan perut hangus. Dia men- jerit, sedangkan tangannya sibuk memadamkan api yang berkobar membakar pakaiannya.

Di beberapa bagian tubuh pemuda itu me- lepuh hitam, sakitnya bukan main. Sedangkan di belakang pemuda itu terdengar suara ledakan ke- ras menggelegar akibat pukulan Dewa Angin Gun- tur sebagian menghantam pagar bambu di hala- man rumah itu.

"Bocah gila, kau tidak bakal lolos dari tan- gan kami!" teriak orang tua itu. Seperti tadi den- gan kecepatan laksana kilat Dewa Angin Guntur kembali lancarkan serangan gencar ke arah si pemuda. Pedang di tangan diputar sebat hingga kini yang terlihat hanya kilatan sinar putih me- nyilaukan mata yang mengurung lawan dari sega- la penjuru arah. Masih dengan mengandalkan ke- cepatan geraknya Lambang Pambudi dengan mu- dah dapat menyelamatkan diri dari tusukan maupun babatan pedang lawan. Tiba-tiba dia me- lompat mundur. Dewa Angin Guntur terus men- gejarnya, pedang di tangan dihantamkan keba- gian kepala lawannya. Tapi justru pada saat itu si pemuda mencabut pedang yang terselip di ping- gangnya.

Selarik sinar putih berkiblat, bergerak ce- pat ke atas menangkis tebasan pedang lawannya.

Traaang!

Tangkisan yang dilakukan Lambang Pam- budi membuat lawannya terdorong mundur. Tan- gan yang memegang pedang terasa nyeri bukan main. Dewa Angin Guntur diam-diam terkejut tak menyangka lawan memiliki tenaga dalam sehebat itu juga sangat cepat dalam menggerakkan pe- dangnya. Selagi orang tua ini dibuat tercengang oleh kecepatan gerak pedang lawannya, Lambang Pambudi memutar tubuhnya, sedangkan pedang kini berkelebat menghantam tubuh Dewa Angin Guntur. Laki-laki itu terkesiap, dari arah samping menderu sinar putih yang memotong gerak senja- ta si pemuda.

Traang! Breeet!

Terdengar suara jeritan orang tua itu keti- ka ujung pedang lawan merobek pakaiannya juga menggores di bagian dada. Lambang Pambudi menoleh, ternyata orang yang membuat seran- gannya meleset tadi bukan lain adalah Galuh Pi- taloka.

"Perempuan kurang ajar. Mengaku sebagai golongan lurus tidak tahunya main keroyok!" ma- ki si pemuda.

"Menghadapi manusia sepertimu tak perlu memakai segala peradatan!" sahut Galuh Pitalo- ka. Dia lalu berkata ditujukan pada suaminya. "Kakang mari kita pesiangi pemuda keparat ini bersama-sama!"

"Kau benar, aku juga sudah tidak sabar membalaskan kematian anak kita!" Sahut Dewa Angin Guntur. Kedua suami istri ini kemudian terlihat seolah berebut saling mendahului. Dua sinar pedang bertabur di udara, bergerak cepat ke arah Lambang Pambudi dengan serangan gencar, hebat dan mematikan.

Beberapa saat lamanya pemuda itu nam- pak terdesak hebat. Dia sama sekali tidak mampu membalas serangan kedua lawannya terkecuali menangkis serangan mereka. Nampaknya Lam- bang Pambudi tak mungkin dapat meloloskan diri dari kepungan sinar pedang lawan. Malah kini beberapa bagian tubuhnya kena dilukai lawan. Tapi secara aneh, Lambang Pambudi memutar tubuhnya. Pedang bergerak menangkis.

Trang! Traang!

Tiga pedang saling berbenturan membuat Dewa Angin Guntur dan istrinya terdorong mun- dur. Kesempatan ini dipergunakan Lambang Pambudi untuk melesat ke atas. Begitu dia bera- da di udara, laksana seekor elang yang menyam- bar pedang di tangan diputar, dengan tubuh me- nukik pedang dibabatkan ke dua arah sekaligus

Craas! Craas!

Suami istri ketua perguruan Gunung Ke- ramat sama-sama menjerit dan sama pula men- dekap perutnya. Mereka jatuh berlutut dengan mata mendelik mulut ternganga seolah tak per- caya dengan kenyataan yang mereka hadapi. De- wa Angin Guntur mengerang, dia memeriksa pe- rutnya yang mengucurkan darah. Ternyata luka itu tidak seberapa dalam. Selagi laki-laki itu di- buat tercengang. Dia mendengar jeritan istrinya.

Dewa Angin Guntur cepat berpaling ke arah Galuh Pitaloka. Ternyata perempuan itu ja- tuh menelungkup, diam tidak berkutik.

"Galuh istriku!" pekik Dewa Angin Guntur. Terhuyung-huyung dia hendak menghampiri is- trinya. Tapi gerakannya tertahan karena Lambang Pambudi telah menghalangi langkahnya.

"Kau lebih beruntung karena lukamu tidak begitu parah. Namun kau tak perlu risau orang tua, sekejap lagi aku akan mengantarkanmu pada istri tercinta! Ha ha ha!" kata Lambang Pambudi sinis.

Mendidihlah darah orang tua ini. Dengan mulut terkatup rapat dan pipi menggembung dia mencoba menggerakkan pedangnya. Tapi tena- ganya seakan lenyap. Dewa Angin Guntur terce- kat. Di depan sana Lambang Pambudi tertawa bergelak.

"Pedangku mengandung racun ganas. Tapi aku masih berbaik hati dengan mempercepat proses kematianmu!" Selesai berucap Lambang Pambudi gerakkan pedang di tangan ke depan. Dewa Angin Guntur sedapat mungkin berusaha menghindar. Tapi celakanya dia sama sekali tak dapat menggerakkan tubuhnya. Jiwa ketua per- guruan Gunung Keramat benar-benar dalam an- caman bahaya besar saat itu. Akan tetapi pada detik yang sangat kritis ini dua bayangan berke- lebat. Satu dari dua sosok yang datang bergerak menyambar Dewa Angin Guntur. Sedangkan sa- tunya lagi menangkis serangan pedang Lambang Pambudi.

Traang!

Cahaya kuning dan pedang di tangan Lam- bang Pambudi bentrok keras di udara, menim- bulkan pijaran bunga api. Lambang Pambudi sendiri menjerit keras pedang di tangan terpental lepas, sedangkan tangan pemuda itu serasa lum- puh.

Dalam kagetnya Lambang Pambudi me- mandang ke depan. Di depannya sana telah ber- diri tegak seorang pemuda gondrong bertelanjang dada. Di tangan pemuda itu tergenggam sebuah senjata berbentuk seperti gada berwarna kuning mengkilat. Pemuda itu tersenyum sambil mengga- ruk kepala. Tak jauh di sebelah kanan pemuda itu seorang kakek berbadan gendut luar biasa nampak sibuk menolong Dewa Angin Guntur yang baru diselamatkannya dari luka di bagian perut.

"Kau...?!" desis Lambang Pambudi.

Suaranya tercekat, karena pemuda itu sangat dikenalnya.

"Ha ha ha. Ya... aku, Gento. Masa kau lu- pa? Sedangkan yang disana itu Gentong Ketawa!" menerangkan pemuda itu sambil tertawa.

"Tidak pernah ku menyangka kau mau mencampuri urusanku!" kata pemuda itu sengit.

Gento tentu saja lebih jengkel lagi. "Kau sahabat penipu sialan. Berpura-pura menjadi orang tolol. Tidak tahunya kau manusia licik. Kau fitnah orang lain untuk kepentinganmu sendiri!" teriak Gento marah.

"Ha ha ha! Ternyata kau juga seorang pen- dekar tolol yang dapat ku kelabuhi! Menyingkir- lah!" hardik Lambang Pambudi bengis.

"Gento... mengapa banyak mulut. Kau urus pemuda sialan itu, biar aku mengurus orang tua ini!" kata Gentong Ketawa.

"Kalian orang bodoh yang mencari mati!" kata Lambang Pambudi. Laksana kilat pemuda itu melompat meraih pedangnya yang rompal di- bagian ujungnya akibat membentur senjata di tangan Gento.

"Bagus! Ternyata kau hendak melawan tuan penolongmu!" ujar si pemuda sambil terse- nyum sinis.

Tanpa bicara Lambang Pambudi menyerbu ke arah Gento. Sadar Gento Guyon bukan manu- sia yang dapat dianggap enteng. Lambang Pam- budi pun mengerahkan jurus-jurus pedangnya yang paling hebat. Gento memang sempat dibuat tercekat melihat kehebatan serangan lawannya. Siapapun tak menyangka Lambang Pambudi yang terlihat lemah itu ternyata memiliki jurus-jurus simpanan sehebat itu. Tapi Gento sama sekali ti- dak dibuat keder. Dia yang merasa selama ini di- tipu oleh pemuda itu mengerahkan tenaga dalam penuh ke bagian hulu gada dalam genggamannya. Senjata itu kini nampak semakin membesar dan bertambah panjang pula. Di saat pedang di tan- gan lawan menusuk dan membabat kaki dan pe- rutnya, Gento gerakkan gada di tangannya.

Sinar kuning seperti kilauan emas berkib- lat disertai suara bergelaksana bendungan yang jebol. Kemudian dua senjata beradu keras hingga menimbulkan suara ledakan menggelegar. Pedang di tangan Lambang Pambudi hancur berkeping- keping begitu membentur gada sakti, Penggada Bumi. Akibatnya tidak hanya sampai disitu saja, Lambang Pambudi jatuh terjengkang. Gento me- lompat sambil lakukan beberapa gerakan. Dilain kejab gada itu menderu menghantam kepala la- wan. Lambang Pambudi tentu saja tidak mau ke- palanya hancur dihantam gada. Dengan cepat masih dalam keadaan menelentang pemuda ini hantamkan kedua tangannya ke arah gada.

Segulung angin menderu, lalu menghan- tam senjata di tangan pemuda itu. Gada hanya bergetar, malah kini semakin bertambah panjang dan makin bertambah besar pula. Kalang kabut Lambang Pambudi mencoba bergulingan ke samping. Sayang gerakannya kalah cepat dengan gerakan lawannya.

Tak ayal lagi gada itu menghantam dada si pemuda. Terdengar suara tulang rusuk berderak disertai jeritan Lambang Pambudi. Darah me- nyembur dari mulut pemuda itu sedangkan ma- tanya melotot, mulut ternganga lidah terjulur. Lambang Pambudi berkelojotan sebentar, lalu di- am tak berkutik. Gento menarik nafas pendek, tenaga yang disalurkan ke senjatanya ditarik kembali, sehingga gada sakti yang dapat membe- sar dan mengecil itu kembali ke bentuk asalnya. Sambil memasukkan senjata dibalik pinggang ce- lananya, Gento pandangi mayat Lambang Pam- budi sejenak.

"Pemuda ini lebih cerdik dari kancil," gu- mamnya dengan wajah cemberut. Dia lalu meno- leh ke arah gurunya. Gento melihat gendut Gen- tong ketawa sedang membalut luka di perut Dewa Angin Guntur.

"Guru... mari kita pergi!" kata pemuda itu setelah datang menghampiri.

"Gento dan paman Gentong Ketawa, aku merasa berhutang nyawa pada kalian. Maafkan kekeliruan ku selama ini karena salah menduga." kata Dewa Angin Guntur dengan suara perlahan.

Gento yang teringat pada nenek Selasih Jingga berucap. "Paman sudah mendapatkan satu pelajaran. Orang yang baik belum tentu baik ha- tinya. Harap pernah melakukan kejahatan tidak selamanya tenggelam dalam kesesatan."

Dewa Angin Guntur segera duduk. "Kau benar, Gento. Selama ini aku terlalu picik. Aku berdosa pada Selasih Jingga terlebih-lebih pada anaknya." sesal Dewa Angin Guntur.

"Bagus jika kau mau menyadarinya." Gen- tong Ketawa menimpali. "Sekarang kami harus pergi dari sini. Kau uruslah jenazah istrimu." ujar si kakek.

"Aku bersama murid-muridku akan men- gurusnya." sahut Dewa Angin Guntur sambil memandang ke arah sosok yang terbujur kaku di depan sana dengan mata berkaca-kaca.

"Uruslah dengan baik paman, setelah em- pat puluh hari kematiannya nanti kau harus ce- pat cari pengganti agar tidak menjadi orang lin- glung." celetuk Gento.

"Terlebih-lebih lagi supaya tidak kedingi- nan! Ha ha ha!" timpal si gendut lalu tertawa ter- gelak-gelak.

"Gendut edan, sudah tua otak masih saja ngaco!" dengus Gento, tapi dia sendiri sambil ber- kelebat malah tertawa terbahak-bahak.

TAMAT