Gento Guyon Eps 07 : Topeng

 
Eps 07 : Topeng


Di sebelah utara Solotigo tepatnya di dae- rah Banyubiru terdapat sebuah bukit kapur yang dikelilingi hutan lebat. Biarpun di daerah ini ba- nyak berkeliaran binatang buruan, tapi tak seo- rangpun penduduk yang tinggal di sekitar hutan itu berani mencari buruan di sana. Konon kabar- nya di tengah hutan di bagian bukit berdiam satu mahluk angker yang selalu mengeluarkan suara lolongan aneh sepanjang malam. Yang mena- kutkan lagi, bila suara lolong itu terdengar bi- asanya selalu disertai dengan guncangan keras laksana gempa. Guncangan yang merayap hingga jauh memasuki dusun-dusun terdekat. Jadi tidak mengherankan bila penduduk di daerah itu dice- kam rasa takut sepanjang masa.

Walau hutan Banyubiru tak pernah dijarah manusia dan ditakuti oleh kalangan dunia persi- latan, namun di pagi itu di kala kegelapan dan kabut masih menyelimuti kawasan hutan dan se- kitarnya, terlihat satu bayangan berkelebat me- masuki kawasan hutan di sebelah timur. Melihat caranya berlari yang demikian cepat, jelas bukan manusia sembarangan. Paling tidak dia memiliki ilmu lari cepat dan juga ilmu meringankan tubuh yang sangat luar biasa. Di samping itu sosok ser- ba putih ini kelihatannya memang tidak menghi- raukan suasana di sekelilingnya yang terasa sunyi mencekam. Beberapa saat lamanya dia me- nyusup di antara pepohonan besar, semak belu- kar lalu mendaki tebing batu yang curam. Tak berselang lama sosok berpakaian serba putih ini sampai di kaki sebuah bukit kapur yang memutih bagaikan gundukan es.

Sosok ini hentikan langkah dan ternyata dia adalah seorang kakek tua berambut bersor- ban warna putih berjenggot panjang menjulai berpipi menonjol dan bermata cekung. Sepasang matanya yang menjorok ke dalam mencorong ta- jam. Di punggung kakek berbadan tinggi semam- pai terselip sebuah senjata melengkung berupa celurit besar dengan rangka terbuat dari kulit ha- rimau.

Beberapa kejap lamanya si kakek berdiri tegak di situ, sepasang mata memandang kea- daan di sekelilingnya. Kemudian dia memandang ke atas bukit. Puncak bukit kapur dicekam kesu- nyian. Si kakek jadi tidak enak hati gelisah sendi- ri. Sudah puluhan tahun dia tak pernah me- nyambangi orang yang hendak dijumpainya hari ini. Apakah orang itu masih hidup hingga saat ini mengingat usianya yang sudah lanjut sekali. Ka- laupun masih hidup, bagaimana dia harus me- mulai segala pembicaraan?

"Tidak ada alasan bagiku untuk mengu- capkan kata-kata dusta. Dia pasti tahu segala se- suatunya!" gumam si kakek seorang diri. Sekali lagi dia kitarkan pandangan matanya ke segenap penjuru sudut. Setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengikutinya tidak lama kemu- dian dia segera mendaki bukit kapur itu.

Dengan mengerahkan segala kekuatan dan ilmu meringankan tubuh yang dia miliki, orang tua inipun sudah hampir mencapai puncak bukit, tapi pada saat itu dari bagian puncak bukit ada cahaya putih seperti kilat menyambar ke arah si kakek. Terkejut kakek baju putih coba sela- matkan diri dengan merundukkan tubuhnya hingga sama rata dengan tonjolan batu yang ter- dapat di sebelah atasnya.

Geleger!

Sambaran kilat yang datang secara tak ter- duga itu menghantam batu, menimbulkan suara ledakan menggelegar. Batu hancur bertaburan menjadi serpihan puing yang berhamburan ke se- luruh penjuru arah. Guncangan keras yang di- timbulkan oleh suara ledakan membuat si kakek nyaris terpental dan jatuh kembali ke kaki bukit. Masih beruntung ketika tubuhnya terguling- guling dia sempat menyambar akar tetumbuhan merambat yang tumbuh di lereng itu, hingga dia selamat dari bencana yang tak terduga.

Dengan hati kecut dan perasaan tegang si kakek coba menghindari batu-batu yang mengge- lundung ke arahnya. Sekali waktu dia meman- dang ke atas bukit, tenaga dalam dikerahkan ke bagian kaki, tangan melakukan gerakan men- gayun. Setelah itu kaki kiri dijejakkan ke salah satu batu yang mencuat di bagian lereng bukit.

Dessss!

Hentakan yang keras membuat tubuh si kakek melesat ke atas bukit, berjumpalitan tiga kali baru kemudian jejakkan kakinya di bagian pedataran puncak bukit kapur tersebut. Si kakek sejenak lamanya kitarkan pandangan ke setiap penjuru arah. Tidak ada yang terlihat, juga ter- masuk orang yang hendak dia temui. Tiga kali si kakek memperhatikan dia pun akhirnya berkata.

"Mungkinkah dia sudah berpulang? Dua puluh tahun yang lalu ketika aku menyamban- ginya usianya memang sudah sangat lanjut." Si kakek terdiam sejenak, berpikir. Dia menoleh ke belakang, hancuran batu-batu masih berserakan. "Sinar putih yang membelah dan menghancurkan batu tadi mustahil datang dari langit. Jelas sinar berasal dari salah satu pukulan sakti seseorang. Kakek itu atau...?!" Si kakek berpakaian serba putih geleng-gelengkan kepala. "Mungkin dia me- mang sudah tiada, mungkin memang ada orang lain yang tinggal di tempat ini. Tapi aku tahu Be- gawan Panji Kwalat tak punya murid," kata si ka- kek dalam hati.

Melihat suasana yang sepi, timbul keingi- nan di hati orang tua ini untuk menyelidik. Akan tetapi baru saja niatnya hendak dilakukan, pada detik itu juga mendadak terdengar suara desah nafas seseorang, suara desah nafas disertai den- gan bergeraknya satu gundukan kapur yang be- rada tak jauh di depannya. Gundukan kapur ter- sibak. Si kakek yang belum juga hilang rasa he- rannya kini malah jadi kaget, karena di balik gundukan itu ternyata muncul satu sosok beram- but riap-riapan, berwajah dan bertubuh kurus kering macam jerangkong. Sekujur tubuh orang yang baru muncul dari timbunan kapur itu tam- pak memutih. Hanya matanya saja yang cekung berkeriapan tiada henti.

Jika semula kakek berpakaian serba hitam unjukkan wajah kaget, maka kini wajahnya beru- bah gembira. "Begawan Panji Kwalat, aku Guru Lanang Pamekasan datang menyambangimu!" berkata begitu si kakek rangkapkan jemari tangan di depan dada, lalu membungkuk dengan sikap penuh rasa hormat. Anehnya sosok kurus kering macam jerangkong terkesan acuh, bersikap seo- lah di tempat itu seperti tak ada orang lain. Dia malah gerakkan kedua tangan, kaki dijulurkan sedangkan tubuhnya yang kurus kering mengge- liat dengan sikap seperti orang baru bangun ti- dur. Yang mengejutkan sekonyong-konyong si ka- kek keluarkan suara raungan keras melengking, sejalan dengan terdengarnya raungan itu, maka bagian puncak bukit kapur bergetar, getaran se- makin lama berubah menjadi guncangan hebat yang membuat Guru Lanang Pamekasan jatuh terbanting. Bukan hanya itu saja, begitu terhem- pas tubuhnya melesat di udara, lalu terbanting lagi. Hal seperti ini terjadi berulang-ulang.

Wajah kakek ini berubah pucat, nyawanya laksana terbang, perut mulas, dada sakit dan ke- pala laksana mau pecah. "Celaka... dia rupanya tak berkenan menerima kehadiranku." batin Guru Lanang Pamekasan dalam hati. Otaknya bekerja dengan cepat, mencari cara bagaimana agar di- rinya dapat bertahan dari guncangan. Selagi dia mencoba menghunjamkan kedua kaki serta tan- gannya ke dalam tanah, pada saat itu pula lolon- gan sosok jerangkong yang dipanggil 'Begawan Panji Kwalat' terhenti. Masih dengan sikap seperti itu dia lalu berucap dengan alunan suara seperti orang bersair.

Hidup ratusan tahun membawa sesal tak berkesudahan

Air mata bertukar dengan cucuran darah Siang dan malam datang silih berganti Manusia saling bunuh perturutkan nafsu Hidup, akh aku sudah bosan hidup.

Aku letih menghitung hari

Tuhan ya Tuhan, akan ke mana aku mem- bawa langkah diri

Aku tidak ingin berkata, tak ingin bicara Lidahku keji penuh petaka

Aku tak salah bicara!

Sosok berbadan kurus macam jerangkong hentikan ucapannya, diam sejenak sambil meng- hitung jemari tangannya sendiri. Setelah itu ter- dengar suara keluhanya yang perlahan. "Sudah semakin dekat, bertambah dekat aku jadi muak melihatnya!"

"Begawan Panji Kwalat, apa maksudmu?" tanya Guru Lanang Pamekasan yang merasa kes- al karena dirinya diacuhkan. Mendengar suara kakek baju putih si ka- kek bertubuh jerangkong unjukkan sikap seperti orang terkejut. Dia menoleh ke arah Guru Lanang Pamekasan. Sejenak lamanya mereka saling ber- tatap pandang. Sampai kemudian sepasang mata Begawan Panji Kwalat meredup, kehilangan ca- haya.

"Aku masih ingat dirimu. Saat ini buat apa kau jauh-jauh datang ke mari Guru Lanang Pa- mekasan?" tanya Manusia Kutuk Sumpah.

Guru Lanang Pemekasan terdiam sejenak, dia hendak mengatakan tujuan yang sebenarnya tapi jadi ragu.

"Keraguan tak pernah menyelesaikan satu masalah. Aku tahu apa tujuanmu datang dari Madura. Kau ingin menjodohkan muridmu den- gan anak seorang sahabat lamamu. Bukankah begitu?" ujar si kakek jerangkong.

Guru Lanang Pamekasan yang maklum akan kesaktian yang dimiliki oleh orang tua itu anggukkan kepala.

"Engkau benar orang tua. Satu hal yang ingin aku ketahui apakah sahabatku itu tidak mengingkari janjinya yang dulu?" tanya Guru La- nang Pamekasan.

Mendapat pertanyaan seperti itu si kakek jerangkong diam sejenak. Mata dipejamkan, se- dangkan telapak tangan kanan diletakkan di de- pan matanya yang tertutup, mulut berkomat- kamit lalu tangan tadi ditiup.

Dengan mata terpejam pula dia memperha- tikan tangan yang baru ditiup. Guru Lanang Pa- mekasan coba ikut memperhatikan bagian tela- pak tangan itu. Dia jadi kaget ketika melihat di bagian telapak tangan si badan jerangkong nam- pak memerah seperti bersimbah darah.

"Peruntungan muridmu cukup baik, tapi takdirnya sangat buruk. Sahabatmu tak pernah mengingkari janji. Tapi aku melihat satu rintan- gan besar yang berakhir dengan sebuah kesedi- han bagi semua pihak." kata Manusia Kutuk Sumpah.

Dia lalu turunkan tangannya, mata kemba- li terbuka sedangkan kepala bergoyang.

"Sahabatku Begawan Panji Kwalat. Da- patkah kau jelaskan lebih terinci makna dari se- mua ucapanmu tadi. Aku datang dari jauh ingin minta satu kejelasan, bukan sesuatu yang tersa- mar." ujar Guru Lanang Pamekasan.

"Aku si Kutuk Sumpah. Aku tak boleh bi- cara mendahului takdir. Apapun kejadiannya yang akan berlaku nanti sebaiknya jalani saja. Urusanmu adalah persoalan yang menyangkut kesedihan, persoalanmu adalah menyangkut ma- salah nyawa. Kau tahu setiap sumpah dan uca- panku yang tidak ku suka akan berakibat menge- rikan bagi seseorang. Aku tidak boleh bicara sem- barangan. Harap kau mau mengerti!"

Guru Lanang Pamekasan nampak kecewa sekali mendengar penjelasan Begawan Panji Kwa- lat. Walau begitu tentu dia tidak berani memban- tah apa yang dikatakan oleh si tubuh jerangkong. Oleh karena itu dia cuma diam saja.

"Guru Lanang Pamekasan, apa yang aku katakan itu bisa saja berubah. Karena diriku bu- kan Tuhan. Tapi terus terang mengenai dirimu kau harus berhati-hati. Karena maut bisa men- gincarmu dan datang dari arah yang tidak dis- angka-sangka." kata Begawan Panji Kwalat me- nambahkan.

Semakin bertambah tegang saja perasaan kakek tua bersenjata celurit ini mendengar uca- pan kakek jerangkong di depannya. Kini dengan perasaan bingung dia pandangi Begawan Panji Kwalat, mulutnya yang tertutup membuka hen- dak mengatakan sesuatu. Tapi ketika sosok yang duduk bersimbah di atas tanah kapur gerakkan telunjuknya di bagian leher Guru Lanang Pame- kasan, maka tidak sepatah katapun dapat teru- capkan. Malah kakek itu merasakan lehernya se- perti dicekik.

"Apa yang hendak kau tanyakan padaku telah kuanggap cukup. Sekarang kau pergilah da- ri hadapanku. Lakukan apa yang hendak kau la- kukan!" ujar Begawan Panji Kwalat.

"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputu- sanmu aku tentu tak berani membantah, tapi sa- habatku apakah kau tetap memendam diri sela- manya di tempat ini? Kau tidak hendak mening- galkan bukit ini sekedar untuk mencari kesenan- gan menghibur hati?" tanya Guru Lanang Pame- kasan.

"Kesenangan dan kepalsuan dunia ini telah aku dapatkan puluhan tahun yang lalu." Begawan Panji Kwalat menyahuti. Setelah terdiam sejenak dia kemudian melanjutkan. "Sedangkan mengenai diriku saat ini aku hendak menjumpai seseorang yang sudah lama kutunggu. Orang itu masih ter- hitung saudaraku sendiri. Tapi jika dia tak datang ke mari dalam waktu satu pekan mendatang, bisa jadi aku yang akan mencarinya." jelas si kakek je- rangkong.

"Siapakah saudaramu itu?" tanya Guru Lanang Pamekasan.

"Namanya Wirya Sena. Sejak kecil sampai sekarang hidupnya penuh kemalangan. Dia me- miliki sepasang tangan, tapi kedua tangannya tak pernah membawa keberuntungan." jelas si kakek dengan wajah muram membayangkan kesedihan.

"Aku turut merasa prihatin mendengar-

nya!"

"Aku tahu ucapanmu hanya basa-basi."

berkata Begawan Panji Kwalat disertai seringai aneh.

Guru Lanang Pamekasan jadi tersipu malu sendiri. Dia lalu berkata. "Sahabatku, terima ka- sih atas petunjuk yang kau berikan. Sekarang aku mohon diri!"

"Guru Lanang Pamekasan, tidak tahu aku mau berkata apa. Sekali lagi aku cuma dapat berpesan agar kau pandai-pandai menjaga diri!" Begawan Panji Kwalat mengingatkan.

Si kakek anggukkan kepala. Setelah men- jura pada kakek jerangkong, dia berkelebat me- ninggalkan puncak bukit kapur. Sepanjang jalan Guru Lanang Pamekasan terus saja berpikir men- gapa Begawan Panji Kwalat bicara seperti itu? Ra- sanya selama dalam perjalanan dia merasa di- rinya tidak pernah diikuti oleh siapapun.

2

Disaksikan oleh belasan pasang mata, pe- muda berpakaian serba putih itu terus memain- kan jurus-jurus pedangnya yang paling diandal- kan. Pedang berkelebat memancarkan cahaya pu- tih berkilauan, menderu keempat penjuru arah disertai suara angin berkesiuran. Semua orang yang melihat pertunjukan jurus-jurus pedang yang dimainkan si pemuda jadi berdecak penuh rasa kagum.

Setelah berlangsung belasan jurus si pe- muda hentikan gerakan pedangnya. Senjata di- masukkan ke dalam rangka dengan gerakan di- buat cepat sedemikian rupa hingga kembali men- gundang decak rasa kagum bagi orang-orang yang menyaksikan pertunjukkan silat yang dilakukan si pemuda.

"Kalian sudah sama menyaksikan keheba- tan jurus pedang yang kumiliki. Jika mau me- nyaksikan yang lebih hebat lagi, silahkan datang ke tempat ini kira-kira tiga purnama mendatang!" ujar si pemuda penuh rasa percaya diri dan ke- sombongan. Dia lalu menurunkan topeng yang bertengger di atas kepalanya. Begitu topeng kayu berwarna putih dipasang di bagian wajah, maka terlihatlah bentuk wajah topeng dengan hidung mancung, pipi tembem dan bibir tersenyum. Se- lanjutnya pemuda ini melangkah mendekati kuda berbulu putih yang berada tak jauh dari keru- muman orang ramai. Sekali pemuda ini melaku- kan gerakan di lain kejap dia telah duduk di atas punggung kudanya. Sebelum pergi tinggalkan tempat itu, sekali lagi dia menoleh ke arah para pengagumnya.

"Pertunjukkan pedang sudah usai. Kalian sudah tahu perkembangan jurus-jurus pedangku maju pesat. Aku orang paling hebat di daerah ini. Kelak aku akan merajai dunia persilatan, nan- tinya aku akan menjadi seorang jago pedang tan- pa tanding!" kata si pemuda sambil menepuk da- danya.

"Kami percaya kau pemuda hebat Bayu Gendala. Bukankah ibumu Selasih Jingga berge- lar Jari Perontok Nyawa adalah manusia yang sangat disegani sejak dulu? Nama besarnya per- nah menggegerkan dunia persilatan, tidak meng- herankan jika anaknya juga mewarisi ilmu hebat dari orangtuanya." kata salah seorang dari yang hadir.

"Aku percaya kau pasti menjadi seorang ja- go pedang yang tak tertandingi." menimpali yang lainnya.

Bayu Gendala manggut-manggut, bibir di balik topeng tersenyum puas dan penuh kebang- gaan diri. Setelah itu dia memacu kudanya mene- lusuri jalan besar berbatu. Tak lama setelah dia sampai di tikungan jalan mendadak Bayu Genda- la hentikan kudanya begitu melihat seorang gadis cantik tengah memetik bunga sambil bersenan- dung.

Dia kenal betul gadis ini adalah puteri seo- rang ketua perguruan besar yang mempunyai pengaruh luas sampai ke kerajaan, murid dan pengikutnya cukup banyak tersebar hampir di se- luruh tanah Jawa. Konon menurut yang pernah didengarnya gadis jelita berpakaian merah yang bernama Lara Murti ini telah mempunyai kekasih pujaan hati. Nama pemuda yang berhasil melu- ruhkan hati Lara Murti kalau dia tak salah ingat adalah Lambang Pambudi. Seorang pemuda tam- pan, tapi lemah tidak memiliki ilmu apa-apa. Pe- muda seperti itu tidak ada artinya bagi Bayu Gendala.

Dia sendiri beberapa kali bertemu dengan gadis ini dan terus terang sudah jatuh hati sejak pandangan pertama, namun agaknya terlalu sulit baginya untuk mendekati gadis ini mengingat si- kap yang ditunjukkan si gadis terhadapnya selalu sinis jauh dari yang diharapkan.

"Aku tidak boleh mudah putus asa untuk mengambil hati dan mendapatkannya. Boleh jadi hari ini dia tidak suka, siapa tahu nanti, jika aku bersabar mungkin saja aku bisa menyuntingnya!" pikir Bayu Gendala.

Dia lalu pura-pura terbatuk. Gadis yang sedang memetik bunga tersentak kaget. Kranjang rotan yang berada di tangan kirinya nyaris terja- tuh. Agaknya dia terlalu larut dalam senandung nyanyiannya sendiri sehingga dia tak mendengar derap kuda dan kehadiran orang di tepi kebun bunga itu.

Sejenak lamanya dia pandangi pemuda bertopeng putih yang duduk di atas punggung kuda. Senyum sinisnya terkembang membuat Bayu Gendala jadi salah tingkah.

"Hei, apakah aku boleh menemanimu? Aku bisa membantumu memetik bunga yang kau su- kai." kata Bayu Gendala menawarkan diri. Se- nyum sinis Lara Murti semakin melebar.

"Aku tidak membutuhkan uluran tangan- mu. Aku bisa memetik bunga di kebun ayahku ini sendiri. Kau pemuda yang suka pamer ilmu ke- pandaian sebaiknya pergi dari hadapanku. Lebih baik kau mempertunjukkan kehebatan jurus- jurus pedangmu di tempat lain!" dengus si gadis.

Bayu Gendala sesungguhnya kaget, tak menyangka Lara Murti pernah melihat dirinya memperagakan jurus-jurus pedangnya di tempat keramaian. Tapi karena pada dasarnya dia adalah orang yang penuh rasa percaya diri dan bermuka tebal, maka dia menanggapinya dengan terse- nyum.

"Aku merasa beruntung jika kau pernah melihat permainan pedangku. Tapi kedatanganku ke sini walau cuma kebetulan namun membekal sebuah maksud baik. Aku sudah sering melihat- mu, aku merasa kagum melihat kecantikanmu. Dan yang pasti aku telah jatuh cinta pada saat pertama kali melihatmu!" kata Bayu Gendala ber- terus terang.

Ucapan si pemuda membuat wajah si gadis bersemu merah. Dia merasa tersinggung menden- gar kata-kata Bayu Gendala yang dianggapnya sangat keterlaluan itu. Dengan mata melotot Lara Murti membentak. "Pemuda bertopeng, aku tahu siapa dirimu. Aku tahu juga siapa ibumu. Jika itu keinginanmu apakah kau tak malu dengan dirimu sendiri?" sembur si gadis.

Sejenak Bayu Gendala terkesan bingung, namun entah mengapa mendadak dia tertawa ter- gelak-gelak. Belum lagi tawanya lenyap, dia ber- kata. "Diriku tak ada yang harus dipermalukan. Malah aku bangga dengan segala apa yang aku miliki. Menurutku rasanya aku pantas menjadi pendampingmu. Kau seorang putri ketua pergu- ruan besar, sedangkan ilmu kepandaianku kura- sa tidak berada di bawahmu!"

"Pemuda sinting. Tidak tahu betapa ting- ginya langit. Siapa sudi menerima cintamu? Bah- kan gadis lain sekalipun pasti tidak sudi menjadi kekasih pemuda congkak sepertimu!" hardik Lara Murti sengit.

Bayu Gendala, pemuda yang selalu menge- nakan topeng bila bepergian ke mana-mana ini tertawa lebar. Walau jauh di dalam hati dia mulai merasa tersinggung mendengar kata-kata pedas yang diucapkan Lara Murti. Sampai sejauh itu dia masih sanggup me- nekan amarahnya sendiri. Malah kini dengan le- mah lembut dia berkata. "Lara Murti hari ini kau bisa mengatakan begitu, tapi siapa tahu lain kali kau berubah pikiran. Aku pasti senang meneri- mamu! Ha... ha... ha."

Lara Murti semakin naik darah mendengar ucapan pemuda yang dianggapnya tidak tahu so- pan santun ini. Keranjang rotan yang berisi kem- bang diletakkan di atas rerumpunan bunga, den- gan tangan terkepal penuh kegeraman dia me- langkah lebar dekati Bayu Gendala yang duduk enakan di atas punggung kudanya. Begitu jarak- nya hanya tinggal satu setengah tombak dia hen- tikan langkah, mulut mendamprat.

"Jangan kau berpikir yang tidak-tidak. Jika sekarang aku mengatakan tak sudi kepadamu, selamanya juga tetap tidak sudi! Sekarang pergi- lah, jangan kau paksa aku turunkan tangan keji kepadamu." hardik Lara Murti.

Bukannya cepat pergi sebagaimana yang diharapkan oleh si gadis, sebaliknya Bayu Genda- la yang senang memakai topeng untuk menutupi wajahnya itu malah tertawa tergelak-gelak. Lara Murti jadi tidak sabar, rasa kesal dan kemara- hannya semakin memuncak. Dia berpikir apakah harus turunkan tangan keras agar membuat Bayu Gendala mengerti atau tidak. Tapi kemu- dian ternyata dia memilih untuk menahan kema- rahannya. Belum lagi sempat Lara Murti berucap, di depan sana Bayu Gendala yang baru saja hen- tikan tawa langsung berkata.

"Aku tahu kau sudah punya kekasih, La- ra...! Tapi pemuda lemah seperti Lambang Pam- budi buat apa bagimu. Jangankan melindungimu, menolong dirinya sendiri saat terancam bahaya aku yakin dia tidak sanggup. Seperti yang kuka- takan tadi, aku mencintaimu. Aku tak enak ma- kan, tak enak tidur jika belum melihat wajahmu!" kata Bayu Gendala tetap bersemangat.

"Bangsat tak tahu malu, kau makan puku- lanku ini!" geram Lara Murti. Laksana kilat dia melompat ke depan, bergerak ke atas sedangkan tangannya lakukan gerakan menampar ke bagian telinga Bayu Gendala yang tidak tertutup topeng. Demikian cepatnya gerakan si gadis hingga mem- buat Bayu Gendala jadi tersentak kaget. Tapi dia cepat selamatkan telinga dari tamparan dengan merundukkan kepala hingga sama rata dengan punggung kuda. Tamparan Lara Murti mengenai tempat kosong, dia hantamkan kakinya ke ping- gul Bayu Gendala. Si pemuda berseru keras begi- tu merasakan sambaran angin dingin terasa men- cucuk pinggulnya. Sekali lagi dia terpaksa angkat bagian kakinya ke samping. Tendangan keras menghantam punggung kuda. Binatang itu me- ringkik, lalu lari menghambur menjauh dari Lara Murti.

"Kampret!" rutuk Bayu Gendala yang ham- pir saja terpelanting jatuh dari atas punggung kuda. Sementara binatang itu sudah berlari men- jauh. Dari kejauhan Lara Murti mendengar suara Bayu Gendala yang ditujukan kepadanya. "Gadis cantik dambaan hatiku. Sampai kapanpun aku tetap akan menunggumu. Jika kau tak dapat ku- perlakukan dengan baik, mungkin suatu saat akan kutempuh cara lain. Ha... ha... ha!" Suara tawa si pemuda semakin menjauh dan lenyap. Di tempatnya berdiri Lara Murti yang jengkel hanya dapat kepal-kepalkan kedua tangannya sambil membanting kaki.

Tak jauh dari si gadis berdiri, entah dari- mana datangnya berdiri tegak seorang pemuda tampan berpakaian putih berwajah polos seperti pemuda dusun biasa. Pemuda itu memegangi ke- ranjang bunga milik Lara Murti, sementara tatap matanya memandang lurus ke arah perginya Bayu Gendala dengan tatapan tak berkesip.

"Pemuda tengik kurang ajar. Bertemu seka- li lagi dengannya pasti kuhajar habis dia!" rutuk Lara Murti.

"Tak perlu gusar, tak usah dihajar. Suatu saat dia akan mati dengan sendirinya." menyahuti pemuda berbaju putih berpakaian sederhana itu. Lara Murti tentu saja jadi kaget mendengar uca- pan orang, sehingga diapun cepat menoleh, lebih terkejut lagi begitu mengenali siapa pemuda yang berdiri di kebun bunga itu.

"Kakang Lambang Pambudi? Bagaimana kau tahu-tahu muncul di sini?" tanya si gadis. Dia lalu melangkah bergegas menghampiri. Sete- lah berhadapan Lara Murti hentikan langkah, se- dangkan tatap matanya memandang tajam pada si pemuda dengan segenap kerinduan yang ada. Pemuda itu tersenyum. "Hanya kebetulan saja aku lewat di taman bunga ini. Semula aku datang ke perguruan Gunung Kramat. Ayahmu mengata- kan kau ada di sini, lalu aku pun menyusulmu." ujar si pemuda, suaranya lembut penuh sikap santun.

"Maafkan aku kakang. Aku sampai tak ta- hu kedatanganmu gara-gara pemuda tengik sia- lan tadi!" dengus si gadis, rupanya masih kesal bi- la mengingat apa yang dikatakan Bayu Gendala.

"Dia mengganggumu? Atau bermaksud ku- rang ajar padamu?" tanya Lambang Pambudi. Ada rasa cemburu dalam nada ucapannya.

"Kakang tak usah risau, jika dia berani ber- tindak macam-macam pasti kubuntungi tangan kakinya." tegas Lara Murti.

"Aku percaya kau pandai menjaga diri. Kau memiliki ilmu kepandaian hebat. Apalagi kau memiliki jurus Cahaya Fajar, ilmu andalan yang belum ada tandingannya hingga sampai saat ini. Nama besar perguruan Gunung Kramat disegani oleh banyak pihak, bahkan tokoh-tokoh ternama dunia persilatan pun mengakuinya. Siapa berani bertindak gegabah terhadapmu." puji Lambang Pambudi. Si gadis merasa tersanjung, sementara si pemuda melanjutkan ucapannya. "Aku sendiri hanya pemuda biasa, tidak punya kepandaian atau ilmu yang bisa diandalkan. Aku lemah, se- mua ini terkadang membuat aku merasa malu dan jadi tak berarti di hadapanmu!" Hati Lara Murti jadi terenyuh mendengar kata-kata polos yang diucapkan oleh Lambang Pambudi. Pemuda satu ini selain tutur katanya yang lemah lembut tapi juga rendah hati. Mung- kin semua ini yang membuat ayah dan ibunya menyukai si pemuda. Dia sendiri memang sudah merasa tertarik pada Lambang Pambudi sejak si pemuda diterima bekerja sebagai penghubung an- tara perguruan dan utusan keluarga. Konon Lambang Pambudi tidak pernah belajar segala bentuk ilmu silat. Pernah ayah si gadis mengajar- kan barang sejurus dua jurus ilmu silat, tapi sete- lah diajari Lambang Pambudi jadi lupa.

Satu hal yang mengagumkan bagi Lara Murti adalah mengenai kejujuran Lambang Pam- budi, kejujuran inilah yang membuat rasa cinta di hati Lara Murti semakin bertambah besar.

"Akh... sudahlah kakang. Walaupun kau tidak punya kepandaian apa-apa, tapi aku sangat mencintaimu," ujar Lara Murti dengan perasaan terharu.

"Lalu bagaimana dengan pemuda itu tadi?" tanya si pemuda sambil melirik ke arah Lara Mur- ti.

Si gadis tersenyum, dia menggenggam ke- dua tangan Lambang Pambudi lebih erat lagi, ha- tinya bergetar perasaannya melayang dalam ca- krawala bertaburan segala keindahan.

Dengan segenap perasaan Lara Murti ber- kata tegas. "Tak usah kau hiraukan dia kakang. Aku tak pernah berpikir tentang pemuda lain. Ha- ti dan diriku hanya untukmu seorang."

Lambang Pambudi balas meremas jemari tangan gadis yang amat dicintainya. "Aku berte- rima kasih atas segala perhatian yang telah kau berikan. Semoga Tuhan merestui cinta kita. Tapi Lara... ada hal lain yang terasa mengganjal pera- saanku," berucap si pemuda dengan perasaan re- sah.

Sepasang alis mata si gadis terangkat naik. Ditatapnya Lambang Pambudi dengan segenap perasaan yang ada. "Apa yang hendak kau kata- kan sebaiknya katakan saja. Tak usah malu!" ujar si gadis.

"Nantinya aku akan berterus terang pada-

mu."

"Mengapa kau tidak mengatakannya seka-

rang?" tanya Lara Murti.

"Kelak kau akan tahu sendiri. Sudahlah jangan kita persoalkan masalah itu, sebaiknya ki- ta pulang sekarang!" berkata Lambang Pambudi sambil menarik tangan Lara Murti. Si gadis segera mengikuti apa yang diinginkan oleh pemuda itu.

3

Kilat menyambar, petir menggelegar. Di langit sana mendung tebal kian menghitam. Tidak lama kemudian hujan turun begitu derasnya. Pa- da saat itu di tengah-tengah derasnya curahan hujan satu sosok berpakaian serba hitam mema- kai ikat kepala warna hitam berlari cepat meng- hampiri sebuah rumah besar yang sudah tidak terpakai.

Dalam keadaan pakaian dan tubuh basah kuyup pemuda ini berteduh di bagian pendopo depan rumah tua di mana banyak bagian atapnya yang terbuat dari atap nipah bocor berlubang be- sar.

"Sial, seharusnya aku menunggu Guru La- nang Pamekasan. Mestinya aku ikuti dia ke Ba- nyubiru. Dengan begitu aku bisa ikut tahu apa kira-kira isi ramalan Manusia Kutuk Sumpah." kata si pemuda seakan menyesali dirinya sendiri. "Coba kalau aku mau menunggunya di luar hutan Banyubiru tadi, kurasa nasibku lebih beruntung. Aku tidak salah jalan atau tersesat sampai tiga kali." Pemuda berpakaian hitam beralis tebal me- mandang ke langit melalui atap rumah yang bo- long. Dia berpikir sejenak sambil membuka ba- junya yang basah. Baju itu kemudian diletakkan- nya di atas sandaran kursi butut berwarna hitam. Dia kemudian mengeringkan badannya yang ke- kar dengan telapak tangan. Setelah itu mengambil baju kering dengan warna yang sama dari kan- tong perbekalan.

Rapi berpakaian si pemuda yang membekal dua buah celurit di sisi pinggang kiri kanan du- duk di atas balai-balai bambu yang kotor berde- bu. Tatap matanya memandang ke depan, ke ba- gian halaman yang mulai ditumbuhi rerumputan liar. "Aku tidak tahu apakah perguruan Gunung Keramat masih jauh dari sini atau malah sebalik- nya. Tapi jika aku datang mendahului guru, aku khawatir paman Dewa Angin Guntur dan bibi Mawar Selatan tak kenal padaku. Sejak kecil dan setelah terpisah selama belasan tahun aku tak pernah lagi bertemu dengan mereka. Seandainya kakekku Guru Lanang Pamekasan tak membawa- ku ke Madura, kurasa sejak dulu aku bisa selalu bersama dengan adik Lara. Entah seperti apa dia sekarang. Dulu ketika aku dan dia masih sama- sama kecil, adik Lara selain lincah juga lucu. Wa- jahnya menggemaskan. Mungkin sekarang dia te- lah tumbuh dewasa, menjadi seorang gadis cantik berkulit putih sesuai dengan keadaan tubuhnya di masa kecil." kata si pemuda. Dia jadi senyum- senyum sendiri membayangkan betapa perte- muan dan perjodohan antara dirinya dan Lara Murti menjadi sesuatu yang sangat menyenang- kan. Tapi mungkinkah hati dan perasaan Lara Murti tidak pernah berubah, mengingat di antara mereka telah terpisah selama belasan tahun. Lagi pula perjanjian perjodohan itu telah berlangsung lama. Semua atas kesepakatan antara kakeknya dengan paman Dewa Angin Guntur serta bibi Mawar Selatan. Sedangkan waktu itu baik dirinya maupun Lara Murti tak tahu apa-apa?

"Hem, mudah-mudahan setelah terpisah jarak dan waktu sekian lama segala sesuatunya tidak berubah!" gumam si pemuda dalam hati.

Si pemuda yang bernama Patira dan meru- pakan cucu tunggal Guru Lanang Pamekasan mengusap wajahnya yang dingin. Hujan masih tercurah dengan derasnya. Sementara senja telah berganti malam, kegelapan mulai menyelimuti alam sekitarnya. Di saat Patira Seta mulai berpi- kir untuk melanjutkan perjalanan, maka di saat itu dari arah belakang si pemuda terdengar suara gemeretak seperti suara ranting kering patah ka- rena terinjak beban yang sangat berat. Walaupun suara itu terdengar begitu pelan, namun telinga Patira yang sudah sangat terlatih menangkap adanya gelagat yang tidak beres, sehingga dengan cepat dia memutar tubuh dan palingkan wajah ke belakang.

Tidak ada sesuatupun yang terlihat, tak ada mahluk yang bergerak. Walau suasana telah menjadi gelap, namun mata pemuda ini cukup awas untuk menangkap sekaligus melihat benda apapun yang bergerak.

"Aneh," Patira Seta bergumam dalam hati. "Ada suara tapi tak terlihat orangnya. Setan atau hantukah yang coba mengintaiku dari kegelapan? Aku yakin pasti hantunya perempuan. Jika pe- rempuan sangat kebetulan sekali. Malam begini dingin, berdua-dua bicara dengan perempuan tentu keadaannya menjadi lain!" Patira Seta ter- senyum, menertawakan ucapannya sendiri.

Di saat si pemuda sedang dalam keadaan seperti itulah mendadak sontak terdengar suara siulan yang datang dari arah sampingnya. Dalam keadaan terkejut besar Patira Seta cepat berpaling ke arah datangnya siulan. Di saat itu dia melihat satu bayangan dalam kegelapan berkelebat cepat dengan gerakan laksana kilat ke arah si pemuda. Di bagian depan sosok yang melesat ke arahnya terlihat satu kilatan cahaya putih memanjang. Ki- latan cahaya putih itu jelas terpancar dari sebuah senjata akibat pengerahan tenaga dalam penuh, tapi Patira Seta tak sempat berpikir apakah senja- ta yang bergerak mendahului penyerangnya beru- pa golok atau pedang.

Dalam keadaan gugup karena belum hilang rasa kejutnya Patira Seta berusaha berkelit menghindari tebasan senjata sedapat yang dia mampu lakukan. Tapi sayangnya secepat dan se- hebat apapun gerakan menghindar yang dilaku- kannya ternyata sambaran sinar putih itu da- tangnya lebih cepat dari yang dia perhitungkan. Tak ampun lagi sinar itupun menyambar putus batang leher Patira Seta. Kepalanya jatuh berge- debukan, menggelinding dan berhenti di legukan tanah yang tergenang air. Darah menyebur dari batang leher yang telah kehilangan kepala itu. Tubuh tanpa kepala oleng, limbung lalu tersung- kur. Darah menggenang, tubuh tanpa kepala ber- kelojotan kemudian diam untuk selamanya.

Sosok penyerang dalam kegelapan itu pan- dangi mayat korbannya sejenak. Bibirnya sung- gingkan senyum puas, senjata yang baru diper- gunakan menebas kepala korbannya dibersihkan di atas baju Patira Seta. Tanpa bicara apa-apa lagi setelah menyarungkan senjatanya orang itu pergi. Malam terus bergulir, sementara hujan sudah mereda. Di sana-sini mulai terdengar suara kodok saling bersahut-sahutan.

Kilat menyambar, petir menggemuruh di kejauhan. Di saat kegelapan tersibak cahaya pu- tih kemilau akibat sambaran kilat tadi terlihat lagi satu sosok lain berpakaian serba putih mengena- kan sorban putih yang menutupi rambut pan- jangnya yang juga telah memutih. Kakek berjeng- got panjang menjulai terus melangkah lebar me- masuki pendopo, tapi dia jadi tertegun ketika me- lihat sesuatu berbentuk bulat seperti kelapa ter- golek di bawah cucuran atap.

Setengah tertegun bercampur keraguan si kakek pandangi sosok bulat itu. Sekali lagi kilat menyambar, si kakek berwajah cekung dengan mata mencorong ke dalam rongga terkesiap. Begi- tu melihat dan mengenali sosok yang tergeletak dalam genangan air itu dia merasa jantungnya seolah berhenti berdenyut, sekujur tubuh beru- bah kaku, mata membeliak, mulut ternganga na- mun tak satu katapun yang terucap.

Setelah berlangsung sekian lama, dalam kejutnya si orang tua segera menarik nafas. Satu teriakan menyayat pilu meluncur keluar dari mu- lutnya yang tertutup kumis lebat.

"Patira Seta cucuku...!"

Seiring dengan suara teriakan si kakek yang bukan lain adalah Guru Lanang Pamekasan jatuhkan diri berlutut di samping benda bulat yang bukan lain adalah penggalan kepala cu- cunya sendiri.

Menyaksikan keadaan cucunya yang demi- kian mengenaskan, seandainya saja dia bukan orang tua yang sudah tergembleng luar dalam tentu si kakek sudah jatuh pingsan.

Tapi dia mencoba bersikap lebih tabah menghadapi musibah besar ini. Dengan jemari tangan bergetar dan mata bersimbah air mata dia mengambil potongan kepala Patira Seta. Darah bercampur air hujan masih menetes dari luka po- tongan leher. Dalam gelap si kakek coba pandangi potongan kepala cucunya. Wajah Patira Seta nampak memucat, putih seperti kafan, sedangkan matanya membelalak lebar, lidah terjulur pan- jang, mulut terbuka memperlihatkan gigi yang berlumuran darah membeku. Jika bukan Guru Lanang Pamekasan orangnya, melihat pemandan- gan mengerikan seperti ini pasti sudah jatuh pingsan, sungguhpun potongan kepala itu adalah cucunya sendiri.

Si kakek menangis terguguk, tubuhnya terguncang, tengkuk terasa dingin seperti beru- bah menjadi es. Sejenak lamanya dia tenggelam dalam kesedihan perasaan sedih yang secara per- lahan berubah jadi amarah. Amarah serta den- dam yang ditujukan pada pembunuh muridnya.

"Mengapa harus berakhir begini? Aku membawamu jauh ke mari, menyeberangi selat Meduro adalah untuk dijodohkan dengan putri sahabatku. Sungguh tak kunyana, sungguh tak pernah kuduga, sebelum niat itu kesampaian kau dibunuh orang. Patira Seta... jika kau ikuti aku punya mau dan turut pergi ke puncak bukit ka- pur, mungkin tak akan berakhir seperti ini!" kata si kakek seakan menyesalkan. Sekali lagi dia pandangi wajah Patira Seta, melihat keadaan sang cucu yang mengenaskan perasannya seperti tersayat-sayat.

Beberapa saat Guru Lanang Pamekasan terdiam, sekujur tubuhnya menggeletar hebat, bukan karena sengatan dinginnya udara malam, melainkan karena gejolak dendam amarah yang terasa menggelegak menyesakkan dada.

"Aku tak terima kejadian seperti ini! Ba- gaimana pun harus kucari pembunuh muridku. Bila bertemu kucincang tubuhnya, kujadikan po- tongan kecil baru kubakar hingga tidak bersisa." pekik si kakek. Dalam keadaan kalut dan dilanda kesedihan yang demikian hebat Guru Lanang Pamekasan sudah tidak lagi mampu berpikir jer- nih. Otaknya terasa sulit diajak berpikir. Beru- langkali dia coba memaksa memacu otaknya, ha- silnya malah pusing, pandangannya jadi gelap. Tapi dalam keadaan seperti itu dia masih sanggup mengingat, bahwa kedatangannya ke tanah Jawa hanya Dewa Angin Guntur saja yang tahu. Sela- manya dia tidak punya musuh, lalu mungkinkah semua ini telah direncanakan oleh sahabatnya itu? Rasanya sangat mustahil tidak ada alasan yang kuat bagi Dewa Angin Guntur untuk mela- kukan kekejian itu. Jadi siapa yang punya peker- jaan terkutuk itu? Guru Lanang Pamekasan menggeleng, pikiran buntu, semuanya terasa ser- ba gelap.

"Akan kubalas! Siapapun yang membunuh muridku, ke lubang neraka sekalipun pasti akan kukejar!" geram Guru Lanang Pamekasan.

Dalam suasana hati sedemikian rupa dia tak mampu berpikir panjang, dia bahkan tak sempat lagi memikirkan jasad muridnya yang ter- golek di depan mata. Selanjutnya dia bangkit ber- diri, sambil menenteng kepala cucunya dia meng- hambur, berlari cepat menuju perguruan Gunung Keramat.

4

Empat sosok yang baru datang sama terte- gak diam, kaki mereka jadi kaku, tengkuk menja- di dingin sedangkan mata terbeliak lebar seolah tidak percaya dengan penglihatan sendiri. Bebe- rapa saat berlalu tak satupun dari ke empat orang yang datang berani membuka mulut, ka- laupun keberanian itu ada tapi tak tahu apa yang harus mereka ucapkan. Masing-masing mata memandang lurus ke arah sosok setengah mem- busuk yang tergeletak di lantai pendopo depan rumah tua. Yang mengerikan selain tubuh tanpa kepala itu sudah demikian rusaknya. Bagian pe- rutnya yang pecah dipenuhi belatung. Lalat be- terbangan, sedangkan ceceran daging, potongan tulang lengan dan juga bagian kaki berserakan di sekitar si mayat.

"Sulit kupercaya jika tidak melihatnya sen- diri. Aku yakin mayat ini habis dijarah binatang buas. Akh kematian... dia memang pasti akan menghampiri setiap orang, tapi jika dengan cara seperti ini sulit untuk bisa kuterima!" Orang yang bicara seperti itu adalah seorang kakek berpa- kaian hitam dengan baju tak berkancing, berwa- jah bulat, berkening lebar, mata sipit, pipi tem- bem sedangkan bukit hidungnya sama rata den- gan pipi. Si gendut besar dengan bobot lebih dari dua ratus kati ini bukan lain adalah Gentong Ke- tawa.

"Aku sendiri jadi heran, jika bagian tubuh- nya ada, lalu kepalanya amblas ke mana? Apa mungkin kepala orang ini dilarikan oleh pembu- nuhnya? Aneh...!" menimpali pemuda bertelan- jang dada, berambut gondrong berwajah tampan yang berdiri tegak di samping si kakek. Dia bukan lain adalah Gento Guyon.

Tak jauh dari samping Gento gadis cantik berpakaian putih berambut panjang gelengkan kepala. Melihat keadaan si mayat dia jadi tak ta- hu mau bicara apa.

"Kita sama tak tahu siapa yang terbunuh ini, kita juga tidak tahu siapa yang membunuh- nya. Menurutku sebaiknya kita melakukan penye- lidikan. Kalau aku tak salah mengingat di sebelah selatan dekat Solotigo terdapat perguruan Gu- nung Keramat. Mungkin kita atau sebagian dari kita bisa mencari tahu tentang kejadian ini." kata laki-laki setengah baya yang berada di belakang gadis berpakaian putih. Orang ini berpakaian warna merah, wajahnya selalu murung. Yang te- rasa aneh dalam diri laki-laki berumur empat pu- luhan ini kedua tangannya sampai sebatas pang- kal lengan berwarna hitam pekat. Karena keane- han serta kesaktian dahsyat yang terkandung di kedua tangan ini dia dijuluki Si Tangan Sial. Se- dangkan gadis berpakaian putih itu bernama Am- bini puteri almarhum Raden Ponco Sugiri, untuk lebih jelas mengenai riwayat Ambini (baca Gento Guyon episode Bayar Nyawa). Beberapa saat ber- lalu, ke empatnya saling berpandangan.

"Tangan Sial." Gento Guyon membuka mu- lut sambil memandang ke arah orang tua berpa- kaian merah. "Maksudmu kau dan guruku si gendut ini yang pergi ke perguruan Gunung Ke- ramat. Sedangkan aku dan Ambini pergi ke lain tempat. Kurasa yang muda berpasangan dengan yang muda sedangkan yang tuaan dan sudah sa- ma peot keriput berpasangan sesamanya. Semua ini kuanggap cukup adil bukan?! Ha... ha... ha!"

Wajah si kakek gendut berubah jadi merah jengah, bibir cemberut, tapi kemudian sambil ter- tawa-tawa dia berucap. "Kami yang sudah tua memang harus tahu diri. Cuma harus kau ingat Gege, jangan merasa diri kecakepan. Tampang seperti orang edan begitu jangan merasa Ambini suka padamu! Bukan hanya Ambini saja, kurasa nenek pikun pun tak sudi padamu. Ha... ha... ha!" "Aku tahu sebenarnya guru iri melihat aku dan Ambini selalu jalan bersama. Sedangkan kau berjalan berduaan dengan Tangan Sial apa enak- nya? Aku jadi curiga di antara kalian jangan- jangan memang ada kelainan." celetuk Gento me- nimpali.

"Pendekar edan, bicara jangan seenaknya sendiri. Kalau aku tidak senang kutampar nanti mulutmu." dengus Si Tangan Sial.

"Aku tahu tanganmu yang selalu membawa kesialan itu suka kegatalan tak mau diam. Tapi kurasa lebih bagus sebelum kau menampar diri- ku kau hantam dulu kepalamu dengan kedua tangan celaka itu." kata Gento menimpali.

"Sudahlah! Mengapa kita justru ribut membicarakan segala sesuatu yang tidak bergu- na." sergah Ambini yang sejak tadi lebih banyak berdiam diri mendengarkan pembicaraan orang. "Saat ini sebaiknya kita pergi menyelidik siapa sebenarnya orang yang terbunuh ini!"

"Aku setuju, tapi aku harus pergi dengan sahabat Gento. Sedangkan si gendut boleh pergi dengan Ambini." berkata begitu Tangan Sial meli- rik ke arah Gento dan Ambini. Wajah si gadis wa- lau sekilas tapi jelas membayangkan rasa kecewa. Sedangkan Gento Guyon menyeringai. "Tangan Sial. Aku sih mau saja, biarpun perasaanku jadi gerah bila ikut denganmu. Demi guruku juga me- nyangkut kebahagiannya tidak jadi apa." kata Gento sambil tersenyum-senyum.

Mata si kakek mendelik. "Eeh, bocah edan apa maksudmu?" tanya Gentong Ketawa jadi sa- lah tingkah.

"Mungkin muridmu hendak mengatakan kau yang sudah tua bangka tak tahu diri dan ti- dak punya perasaan dengan muda. Ha... ha... ha!" kata Tangan Sial disertai tawa tergelak-gelak.

"Bangsat pembawa sial, jangan sembaran- gan kau bicara. Nanti kupecahkan Batok Kepala- mu!" teriak Gentong Ketawa berang. Tidak perduli dengan kemarahan orang Si Tangan Sial terus sa- ja tertawa.

Dalam kesempatan itu Gento melompat ke belakang, tangan berkelebat mencekal lengan Si Tangan Sial. Setelah itu dia berkata ditujukan pada gurunya. "Gendut, jangan kau ambil perduli dengan segala ucapannya, hatiku tak seburuk yang dia sangkakan. Aku mohon pamit, pergi dengan membawa tua bangka rongsokan sial ini jauh darimu. Tapi ingat, jangan kau berani berla- ku jahil pada gadisku Ambini. Kau colek saja dia, apalagi jika sampai gugur rambutnya barang se- helai, kupuntir telingamu kiri kanan sampai co- pot!" ujar si pemuda. Dia kemudian beralih pan- dang pada Ambini. Sebelum bicara dia kedipkan matanya dua kali. Ambini delikkan mata, tapi di- am-diam jantungnya berdesir. "Ambini kakangmu ini pergi dulu. Jaga diri baik-baik. Kalau kerbau bunting itu bertingkah yang bukan-bukan bisa jadi penyakit ayannya lagi angot. Tak usah segan, tidak usah ragu. Kau jitak saja kepalanya tiga kali kujamin otaknya bisa benar kembali. Ha... ha... ha!" berkata begitu Gento menarik Si Tangan Sial dan pergi dari tempat itu.

"Pemuda sinting, siapa sudi jadi kekasih- mu!" dengus Ambini dengan yang perasaan jen- gah.

"Murid geblek. Kelak aku pasti akan meng- hukummu!" kakek gendut besar Gentong Ketawa ikut mendamprat. Dengan perasaan jengkel dia pandangi Ambini. Tapi si kakek jadi kaget begitu melihat si gadis memperhatikan dirinya dengan tatapan ganjil.

"Ada apa rupanya? Apa kau melihat ada yang aneh dalam diriku?" tanya si kakek.

"Apakah benar yang dikatakan Gento tadi, kau mempunyai penyakit ayan?" bertanya si gadis tanpa menghiraukan pertanyaan Gentong Ketawa. Mendengar si kakek jadi tercengang dan tepuk keningnya sendiri. "Aduh biung. Muridku itu bo- cah edan, mengapa harus kau dengar segala oce- hannya? Aku sendiri selamanya tetap dalam ke- warasan." jawab si kakek. Setelah terdiam sejenak dia lalu menambahkan. "Jika pun ada yang tidak beres pasti terjadi pada diri Gege. Sedangkan aku dalam keadaan sehat selalu lahir batin, luar da- lam. Ha... ha... ha!"

Ambini jadi melongo, heran melihat sikap si kakek gendut yang tidak gampang ditebak. 5

Rumah besar berpagar bambu tempat ting- gal keluarga ketua perguruan Gunung Keramat dan keluarganya masih kelihatan sunyi. Lima pondok panjang yang ditempati oleh ratusan mu- rid perguruan Gunung Keramat yang letaknya ti- dak begitu berjauhan dengan bangunan keluarga juga masih sepi sekali. Di bagian belakang gedung keluarga, di luar pagar bambu di mana keluarga Dewa Angin Guntur berada, Lambang Pambudi si pemuda tampan yang dikenal sangat jujur dan berbudi tinggi nampak sibuk merawat kuda milik calon mertuanya.

Memang sejak pemuda ini bekerja sebagai utusan di perguruan itu dalam waktu hanya be- berapa bulan saja Dewa Angin Guntur maupun istrinya Galuh Pitaloka yang dikenal dengan julu- kan Mawar Selatan langsung menaruh simpati pada pemuda lugu yang mengaku tidak mempu- nyai kepandaian silat ini. Apalagi Lambang Pam- budi adalah pemuda yang rajin, ringan tangan dan mau melakukan pekerjaan apa saja. Di samping tutur katanya yang lembut dan juga ke- jujurannya pemuda ini sangat pandai mengambil hati orang lain.

Mungkin inilah yang membuat Dewa Angin Guntur jadi menaruh perhatian besar terhadap- nya, sehingga timbul keinginan di hati ketua per- guruan Gunung Keramat untuk menjodohkan Lambang Pambudi dengan putri tunggalnya Lara Murti. Apalagi mengingat Lara Murti sendiri sebe- narnya menaruh hati pada si pemuda. Gayung bersambut, segala sesuatunya berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Sementara itu matahari mulai menampak- kan diri di ufuk timur. Si pemuda baru saja hen- dak membersihkan kandang kuda ketika dia me- lihat berkelebatnya satu bayangan putih yang langsung melewati pintu pagar depan. Sampai di halaman depan sosok yang datang hentikan lang- kah. Ternyata dia adalah seorang kakek tua ber- sorban putih, berpakaian serba putih berjenggot panjang menjulai. Di punggungnya membekal se- buah celurit besar dengan rangka terbuat dari ku- lit harimau. Sejenak lamanya dari bagian luar pa- gar belakang Lambang Pambudi pandangi kakek itu. Ternyata memang tidak mengenal siapa adanya si kakek. Satu hal yang luput dari perha- tiannya, di tangan kanan si kakek menenteng se- suatu yang menebarkan bau busuk luar biasa. Belum lagi hilang rasa heran di hati si pemuda melihat kehadiran kakek asing ini, mendadak sontak terdengar suara teriakan menggelegar.

"Sahabatku Dewa Angin Petir! Aku saha- batmu Guru Lanang Pamekasan datang menyam- bangi. Harap kau sudi menerima kehadiranku untuk membicarakan satu urusan penting!"

"Celaka! Siapa dia? Suara teriakannya saja sudah membuat telingaku mau copot," desis Lambang Pambudi sambil tutupi kedua telin- ganya. Terpikir oleh pemuda ini untuk mengham- piri si kakek baju putih, namun niatnya menda- dak jadi urung begitu dia melihat ada satu sosok serba biru berkelebat melewati pintu depan. Orang ini bukan lain adalah Dewa Angin Guntur sendiri.

"Kakang Guru Lanang Pamekasan?!" seru sosok berpakaian biru berambut putih panjang menjela dan putih mengkilat ini. Dia memburu, kembangkan kedua tangannya siap merangkul Guru Lanang Pamekasan. Tapi langkahnya men- dadak jadi terhenti, gerakan tubuh tertahan se- dangkan matanya mendelik ketika secara tak sengaja dia melihat potongan kepala di tangan kakek itu.

"Sahabatku apa yang telah terjadi? Poton- gan kepala itu milik siapa?" tanya Dewa Angin Guntur jelas tak mampu menutupi rasa kejutnya. Orang tua ini raba tengkuknya yang mendadak berubah seperti gundukan es. Tubuhnya sempat tergetar, tapi matanya tetap tak pernah beralih dari potongan kepala di tangan si Guru Lanang Pamekasan.

Sejenak lamanya yang ditanya terdiam da- lam kebisuan, hanya tatap matanya yang menco- rong tajam merayapi wajah Dewa Angin Guntur dengan tatapan aneh tapi mengandung kecuri- gaan.

"Kakang, bukankah... bukankah yang kau bawa itu adalah potongan kepala Patira Seta, cu- cumu yang kau bawa ke tanah Madura belasan tahun yang lalu?" tanya Dewa Angin Guntur sete- lah berpikir keras dan coba mengenali bagian wa- jah kepala orang.

Guru Lanang Pamekasan menyeringai din- gin, pertanyaan sahabatnya hanya membuat hati si kakek menjadi semakin pedih, sementara ama- rah dan dendam yang membakar menyesakkan dadanya tak tahu harus dia lampiaskan pada sia- pa.

"Kakang Guru Lanang Pamekasan. Apapun yang telah terjadi, aku tahu bagaimana pera- saanmu saat ini. Akan tetapi kurasa sebaiknya ki- ta bicarakan segala persoalan di dalam." ujar De- wa Angin Guntur dengan perasaan tidak enak. Dia tahu sejak tadi Guru Lanang Pamekasan te- rus memperhatikan dirinya dengan tatapan curi- ga. Seakan mata itu menuduh dialah yang telah membunuh cucunya.

"Baiklah, aku jadi tidak sabar untuk me- numpahkan semua uneg-uneg yang mengganjal di hatiku ini!" dengus Guru Lanang Pamekasan. Potongan kepala Patira Seta yang mulai membu- suk diletakkannya di atas bangku kayu yang bi- asa dipergunakan duduk di malam hari. Dewa Angin Guntur dengan segenap hati dipenuhi tan- da tanya segera memutar tubuh, lalu melangkah memasuki rumahnya dengan diikuti oleh Guru Lanang Pamekasan.

Sampai di dalam ruangan tamu yang luas dengan lantai berlapiskan tembikar hijau Dewa Angin Guntur mempersilahkan tamunya duduk. Dia sendiri-sendiri masuk ke dalam sekejap den- gan diikuti tatap mata Guru Lanang Pamekasan. Dalam hati dia berkata. "Aku tahu, aku jadi curi- ga, bisa jadi dia yang menghadang cucuku karena pikirannya berubah mengenai masalah perjodo- han itu. Mengapa harus batalkan niat dengan membunuh, mengapa tidak secara baik-baik saja kalau benar mau menolak?"

Pikiran si kakek menerawang, mencoba membaca setiap kemungkinan yang ada. Pada akhirnya dia hanya dapat gelengkan kepala, tak percaya dengan segala kemungkinan yang sempat terpikirkan.

Selagi hati dan pikiran si kakek dibuncah kebimbangan, di ruangan itu Dewa Angin Guntur muncul lagi dengan diiringi oleh seorang perem- puan berumur sekitar empat puluhan. Walau usianya terbilang tidak muda lagi tapi wajahnya yang bulat lonjong masih terlihat cantik, dengan rambut disanggul dan pakaian biru membuat dia nampak anggun.

Hanya dengan sekali melihat Guru Lanang Pamekasan segera tahu bahwa perempuan itu pastilah Galuh Pitaloka, bergelar Mawar Selatan dan merupakan istri Dewa Angin Guntur.

"Istriku, kau tentu masih mengenal kakang Guru Lanang Pamekasan. Kedatangannya sudah sama kita ketahui, tapi aku turut merasa berduka karena telah terjadi sesuatu yang tidak pernah ki- ta sangkakan!" berkata ketua perguruan Gunung Keramat sambil memandang pada istri dan ta- munya silih berganti.

Dia sendiri kemudian duduk di depan Guru Lanang Pamekasan, sementara Galuh Pita- loka setelah menjura hormat, lalu duduk di samp- ing suaminya.

"Kakang Guru, menurut suamiku kakang datang membawa kabar duka. Saya jadi kaget ju- ga tidak percaya ketika kakang Guru sampai ke mari konon menurut suami saya malah menen- teng kepala cucu sendiri. Bagaimanakah keja- diannya?" tanya perempuan itu sambil menelan ludah membasahi tenggorokannya yang menda- dak terasa kering. Dia sendiri sebenarnya sempat kaget ketika menerima kabar dari tanah Madura tentang maksud kedatangan orang tua itu. Dulu mereka memang secara bergurau pernah me- nyinggung bahkan bermaksud menjodohkan pu- trinya dengan cucu Guru Lanang Pamekasan. Pe- ristiwanya telah berlangsung belasan tahun, keti- ka baik Lara Murti maupun Patira Seta sama ma- sih kecil. Tapi karena pengucapan itu dilakukan dalam suasana bergurau, maka baik Galuh Pita- loka maupun Dewa Angin Guntur sudah sama- sama lupa.

Beberapa malam sebelum kedatangan Guru Lanang Pamekasan, kedua suami istri yang memiliki nama besar dan pengaruh sangat luas ini tidak dapat tidur nyenyak. Mereka tak tahu apa alasan mereka nanti jika harus menolak dan membatalkan perjodohan. Karena sebenarnya La- ra Murti dalam waktu tidak lama lagi segera akan menikah dengan Lambang Pambudi, pemuda yang sangat dipercaya yang kelak diharapkan da- pat memberikan cucu pada mereka. Tapi apa yang kemudian terjadi di hari ini sungguh amat mengejutkan pasangan suami istri ini.

Cukup lama Guru Lanang Pamekasan ter- diam mendengar pertanyaan Galuh Pitaloka. Hanya sepasang matanya saja yang mencorong tajam memandang suami istri itu silih berganti. Sampai akhirnya setelah gemuruh di dadanya be- rangsur mereda dan amarahnya berhasil ditekan. Dengan suara pelan serak dia membuka mulut berucap. "Seperti yang sudah sama kita ketahui, kedatanganku ke mari adalah untuk lebih mem- perjelas duduk soal tentang perjodohan dulu. Aku sengaja membawa cucuku, Patira Seta agar anta- ra dia dan Lara Murti dapat lebih mengenal seca- ra lebih dekat lagi. Karena aku maklum, walau dulu mereka akrab, tapi perjalanan waktu yang sekian lamanya tentu membuat banyak perkem- bangan baru yang terjadi dalam hati mereka." je- las Guru Lanang Pamekasan secara tegas. Dia kemudian menceritakan kepergiannya ke bukit kapur juga tentang pertemuannya dengan Manu- sia Kutuk Sumpah. Tak lupa dia juga mencerita- kan tentang cucunya yang dia suruh menunggu di luar hutan Banyubiru. Sang murid ternyata ti- dak menunggu, melainkan mencoba menempuh perjalanan seorang diri menuju perguruan Gu- nung Keramat. Selesai si kakek berbaju putih menceritakan segala sesuatunya dia menyeka air mata yang bergulir menuruni kedua pipinya yang cekung. Agaknya dia perasaan duka itu masih menyelimuti hati dan jiwanya mengenang nasib cucu sang cucu yang malang. Baik Dewa Angin Guntur maupun Galuh Pitaloka istrinya tentu da- pat merasakan segala penderitaan serta pukulan batin yang sangat berat yang dialami oleh sahabat mereka. Sehingga cukup lama juga suasana di dalam ruangan itu dicekam kebisuan. Dalam di- amnya Dewa Angin Guntur mencoba memikirkan siapa adanya gerangan orang yang telah membu- nuh Patira Seta, cucu tunggal Guru Lanang Pa- mekasan. Rasanya selama ini dia tidak punya musuh. Bahkan seluruh penduduk Solotigo men- genalnya dengan baik, mereka menaruh hormat pada dirinya. Bukan hanya mereka, tokoh-tokoh baik golongan putih maupun aliran hitam merasa segan apalagi bila hendak membuat urusan den- gannya.

Siapapun yang membunuh Patira Seta pas- ti memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, musta- hil manusia biasa. Karena bagaimana pun Patira Seka sejak kecil mendapat gemblengan dari ka- keknya. Sedangkan Guru Lanang Pamekasan se- lain berilmu tinggi juga mempunyai jurus hebat belum lagi ditambah dengan kelihayannya dalam menggunakan celurit. Tapi siapa dia? Dalam di- amnya pula Dewa Angin Guntur jadi ingat dengan pemuda bertopeng, putera Selasih Jingga yang dikenal dengan julukan Jari Perontok Nyawa. Me- nurut Lara Murti pemuda yang suka membang- gakan jurus-jurus pedangnya itu sering menggoda putrinya. Secara tidak bermalu dia juga bahkan pernah mengutarakan rasa cintanya pada Lara Murti. tur. "Mungkinkah dia?" pikir Dewa Angin Gun-

"Kejadian ini sulit ditebak. Di samping ikut bersedih saya juga berjanji akan mencari pembu- nuh keji itu kakang Guru." ujar Galuh Pitaloka.

"Aku merasa senang sekaligus berterima kasih mendengarnya. Tapi aku ingin tahu, apa- kah kedatanganku ke mari selain kalian adalah orang luar yang mendengarnya?" tanya Guru La- nang Pamekasan.

Baik Dewa Angin Guntur maupun Galuh Pitaloka sama terheran begitu mendengar perta- nyaan sahabatnya. Karena tak mengerti arah per- tanyaan orang polos saja Galuh Pitaloka menya- huti. "Saya rasa tidak ada yang tahu, tapi entah jika orang lain ikut mencuri dengar."

"Aku curiga pelakunya orang dekat." cetus Guru Lanang Pamekasan sambil mengusap jang- gutnya.

"Apa?" sergah suami istri itu hampir ber- samaan.

"Jadi kakang menuduh kami?" kata Dewa Angin Guntur dengan mata terbelalak kaget. "Ka- kang sudah tahu hitam putihnya hati kami, tidak mungkin kami bertindak seculas itu!" kata ketua perguruan Gunung Keramat.

Guru Lanang Pamekasan tersenyum, se- nyum terpaksa yang menimbulkan kesan kepedi- han yang mendalam.

"Kita lihat saja nanti. Aku tak mau meru- sak hubungan baik kita selama ini dengan tudu- han membabi buta." ujar si kakek.

Walaupun pasangan suami istri itu sempat tersinggung dan merasa tidak enak mendengar ucapan Guru Lanang Pamekasan, tapi mereka maklum dengan suasana hati sahabatnya saat itu. Dalam keadaan dilanda kesedihan hebat, di- tambah dendam dan amarah orang biasanya mu- dah lupa dan dapat melakukan apa saja di luar kontrol. Tapi Galuh Pitaloka kemudian punya pendapat lain.

"Kakang Guru, Begawan panji Kwalat itu apamukah?" Perempuan itu ajukan pertanyaan.

Guru Lanang Pamekasan diam sesaat sambil kerutkan alisnya mendengar pertanyaan itu. Kemudian dia menjawab.

"Begawan Panji Kwalat adalah sahabatku.

Mengapa?"

"Kudengar puluhan tahun dia berdiam di hutan Banyubiru, ilmunya tinggi, setiap katanya selalu menjadi kenyataan. Lalu apa saja yang di- lakukannya di tempat sesunyi itu?" tanya Dewa Angin Guntur pula.

"Apa yang dilakukannya aku tak tahu. Tapi kurasa tidak layak mencurigai manusia seperti dia. Dalam hidup dia paling takut melakukan ke- salahan, apalagi berbuat dosa?" jawab si kakek seakan tidak senang mendengar pertanyaan itu. Dewa Angin Guntur manggut-manggut. Se- telah itu dia berkata. "Kakang sebelum melaku- kan penyelidikan, sebaiknya setelah selesai men- guburkan kepala Patira Seta kakang istirahat saja dulu di rumah kami."

"Betul, kakang Guru pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh." Galuh Pitaloka me- nimpali ucapan suaminya.

Di luar dugaan si kakek menggelengkan kepala. "Aku tidak bisa membuang waktu. Bagai- mana aku bisa berdiam diri jika kebahagiaan yang kuharap malah malapetaka yang datang. Arwah cucuku pasti tidak tenang di alam saja jika pembunuh jahanam itu tidak dapat kutemukan secepatnya!" dengus si kakek. Dia lalu bangkit berdiri, sebelum pergi dia pandangi suami istri itu sekali lagi. Baru kemudian berucap. "Kepala cu- cuku tak pernah berkubur sebelum aku berhasil mencacah tubuh bangsat pembunuh itu!" Selesai bicara Guru Lanang Pamekasan segera tinggalkan ruangan, di halaman dia memungut kepala cu- cunya dari atas bangku, lalu berkelebat mening- galkan halaman rumah sahabatnya.

Dewa Angin Guntur menarik nafas pendek. Sedangkan istrinya hanya dapat mengangkat ba- hu sambil memijit kepalanya yang mendadak te- rasa pusing. 6

Cukup lama perempuan berpakaian ungu berambut putih itu memanjatkan doa, memohon ampun pada Gusti Allah. Setelah itu dia menutup doanya dengan menyapukan kedua telapak tan- gan ke seluruh wajah. Kemudian dia melipat kain lusuh yang dijadikan alas duduk. Si nenek bang- kit berdiri, kemudian meluruskan punggungnya yang agak bongkok. Tak lama setelah itu si nenek meninggalkan balai-balai bambu yang terletak di ruang tengah rumahnya yang sederhana. Ketika si nenek kembali ke ruangan depan, dilihatnya sang anak masih duduk di atas bangku terbuat dari jalinan kulit rotan butut. Sebuah topeng berwarna putih tergeletak di sampingnya. Se- dangkan tangan kirinya tak mau diam dan terus menggerakkan pedang putih mengkilap kesayan- gannya. Gerakkan pedang batu terhenti begitu si nenek sampai di depannya. Perempuan tua seten- gah bungkuk berpipi kempot yang selalu nampak murung itu lalu duduk tidak berjauhan dari anak yang sangat dia kasihi. Sebentar dia memperhati- kan topeng kayu pula yang selalu dipakai anak- nya ke manapun dia pergi. Orang tua itu menarik nafas, menghembuskannya kembali sampai tun- tas, seakan dia mencoba mengusir segenap beban penderitaan batin yang selama ini menghimpit ji- wa dan perasaannya.

"Bayu Gendala." berucap si nenek setelah perhatikan wajah anaknya barang beberapa je- nak, pemuda itu menoleh dan memandang tajam pada sang ibu.

"Ada lagi yang hendak ibu tanyakan?" tanya si pemuda.

"Begitulah," suara si nenek bernama Sela- sih Jingga bergelar Jari Perontok Nyawa terdengar perlahan, lembut namun tertekan. "Untuk ketiga kalinya ibu harus mengingatkan padamu agar kau mau membatalkan niatmu untuk menda- patkan Lara Murti, ibu sangat tidak setuju apalagi jika kau harus menempuh cara keji dan kotor."

Bayu Gendala berjingkat kaget, dia pan- dangi ibunya dengan tatap mata seakan tidak percaya. Dari tatap matanya jelas si pemuda me- rasa tidak senang mendengar penegasan sang ibu.

"Aneh!" Bayu Gendala berucap. "Ibu tak seperti orang tua yang lain. Orang tua yang seha- rusnya merasa senang bila melihat anaknya jatuh cinta pada seorang gadis. Semula aku yakin ibu akan merestui niatku untuk mempersunting Lara Murti, puteri ketua perguruan Gunung Keramat. Tapi kenyataannya ibu sangat mengecewakan aku...!" ujar si pemuda dengan perasaan marah.

Selasih Jingga si nenek tua angkat tangan- nya. "Kau dengar anakku, kau harus tahu bahwa Lara Murti itu puteri orang terpandang, punya kedudukan, harta, juga merupakan orang keper- cayaan kerajaan. Sedangkan dirimu siapa? Apa yang dapat kau banggakan untuk merebut perha- tian seorang gadis?" tanya ibunya mencoba mem- beri pengertian dan berusaha membuka jalan pi- kiran anaknya agar bisa memahami kenyataan yang ada.

Di luar dugaan Bayu Gendala malah terta- wa tergelak-gelak. Suara tawanya terhenti dan di- apun berkata. "Bagiku tidak malu untuk menga- kui kemelaratan kita. Tapi ibu... aku memiliki il- mu kepandaian, aku memiliki jurus-jurus pedang yang handal. Dibandingkan dengan kekasihnya, pemuda tolol itu dia tidak mempunyai kebecusan apapun. Kelak, jika dia merintangi niatku, aku pasti menyingkirkannya!" dengus Bayu Gendala sinis.

Si nenek gelengkan kepala. Dia semakin prihatin mendengar ucapan sang anak. Apa yang dikatakan Bayu Gendala terasa benar menusuk perasannya. Tapi walaupun hatinya begitu sedih dan perasaan laksana ditusuk sembilu dia masih bisa bicara dengan sabar.

"Anakku, belahan jantung tumpuan hara- panku. Terus terang segala ilmu yang telah kutu- runkan padamu, bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh Dewa Angin Petir, apalagi to- koh-tokoh serta dedengkot nomor satu dunia per- silatan tidak ada apa-apanya. Perbedaannya se- perti jari tangan yang dicelupkan ke dalam lau- tan. Ilmu kepandaianmu baru seujung kuku. Jadi sebelum terlambat ibu ingatkan lagi kau tidak usah membanggakan ilmu atau pamer jurus di depan orang lain. Semua itu bisa mencelakakan dirimu sendiri."

Semakin tidak suka saja Bayu Gendala mendengar nasehat ibunya. Dia berpikir, ibunya mengatakan jurus silat yang dia miliki masih ren- dah. Padahal menurut yang dia dengar ibunya memiliki ilmu simpanan yang sangat hebat. Bah- kan dulu nama besarnya pernah menggegerkan dunia persilatan. "Ibuku terlalu pelit memberikan ilmunya. Ini tidak boleh terjadi. Jika saja aku berhasil mewarisi ilmu Jari Perontok Nyawa, bu- kan saja bisa mendapatkan Lara Murti dengan cara yang mudah. Tapi juga jika Dewa Angin Guntur membangkang, aku bisa menghancurkan perguruan Gunung Keramat hingga sama rata dengan tanah." batin Bayu Gendala.

Sejurus dia terdiam, setelah itu dia beru- cap. "Ibu, jika ibu mengatakan ilmuku cetek, ti- dak sebanding dengan kepandaian yang dimiliki oleh orang lain, apakah ibu tidak malu punya anak berkepandaian rendah, apakah ibu juga ti- dak merasa terhina bila aku ditertawakan orang?" pancing si pemuda penasaran.

"Ibu tidak akan malu walau menjadi orang biasa sekalipun. Yang terpenting kau selalu hidup di jalan yang di ridhoi Gusti Allah." jawab ibunya.

Bayu Gendala malah merasa tidak puas. "Begini bu, aku ingin ibu menurunkan ilmu Jari Perontok Nyawa. Konon kehebatan ilmu itu tak perlu diragukan lagi. Bukankah begitu bu?"

Rasa takut akan permintaan sang anak yang selama ini sangat dirisaukannya meledak sudah. Si nenek tidak tahu bagaimana anaknya bisa mengetahui dia mempunyai ilmu simpanan hebat. Padahal selama ini hal itu selalu diraha- siakan nya, bahkan masa lalu menyangkut kehi- dupan pribadinya sendiri selalu dipendam jauh di lubuk hati.

"Anakku, mengenai ilmu yang kau tanya- kan itu ibu sudah lama membuangnya. Ilmu Jari Perontok Nyawa sangat berbahaya dan ganas. Ibu tak ingin jatuh lagi korban yang tidak berdosa." kilah si nenek. Dan apa yang diucapkannya ini sebenarnya adalah sebuah kebohongan belaka.

"Benarkah begitu ibu? Benarkah suatu il- mu bisa lenyap begitu saja, padahal dia telah me- nyatu dalam darah dan daging ibu selama pulu- han tahun." tanya Bayu Gendala seakan tak per- caya.

"Bisa saja jika orang yang memilikinya me- rasa tidak membutuhkan ilmu itu lagi." jawab Se- lasih Jingga dengan mimik bersungguh-sungguh.

"Akh, kalau begitu aku sangat kecewa se- kali." desah si pemuda dengan muka murung. Sang ibu menyentuh bahu kanan Bayu Gendala.

"Segala macam ilmu menjadi tidak berguna malah bisa menjadi biang racun yang mencelaka- kan orang lain jika diri kita dikuasai nafsu angka- ra murka, anakku. Kau harus mengerti orang yang tidak berilmu atau memiliki kesaktian apa- pun, hidupnya malah lebih bersih terhindar dari segala macam perbuatan maksiat serta dosa!"

"Cukup ibu!" sergah Bayu Gendala, dia menepiskan tangan ibunya dari bahu. Setelah itu dia bangkit berdiri. Topeng kayu putih diambil- nya, topeng dikenakan. "Aku muak dengan segala macam nasehat. Yang kubutuhkan saat ini ada- lah ilmu serta kesaktian hebat! Aku ingin menda- patkan Lara Murti, aka ingin menjadikannya se- bagai istriku. Mengenai caranya? Ha... ha... ha!" si pemuda tertawa, lalu melangkah lebar mengham- piri kudanya yang tertambat di pohon waru di ba- gian halaman depan.

"Anakku, kembalilah. Bagaimanapun me- reka bukan tandinganmu!" sergah si nenek. Dia mencoba bangkit mengejar anaknya. Tapi menda- dak nafasnya jadi sesak dan dadanya mendenyut sakit. Akhirnya dia hanya berdiri tertegun sambil memandangi anaknya.

Di atas punggung kuda Bayu Gendala me- lanjutkan ucapannya tadi yang sempat terputus. "Aku akan dapatkan gadis itu dengan caraku sendiri. Terserah ibu mau berkata apa?!" Selesai bicara Bayu Gendala menggebrak kudanya. Hanya sekelebatan saja kuda telah raib dari pan- dangan si nenek.

Di depan rumah Selasih Jingga pegangi dadanya dengan tangan kiri. Dengan tangan ka- nan dia mengambil tabung bambu kecil yang ter- selip di balik pakaiannya. Penutup tabung dibu- ka, dua butir isinya yang berwarna merah lang- sung ditelan. Setelah itu dia masukkan tabung bambu hitam ke tempat semula.

Dia menunggu beberapa saat, reaksi obat yang ditelannya mulai bekerja. Tidak berapa lama setelah itu wajahnya yang putih, memucat laksa- na kafan berubah memerah kembali. Keringat dingin bercucuran, si nenek menarik nafas pan- jang. Rasa sesak dan sakit di dadanya hilang su- dah. Dengan langkah terhuyung si nenek kembali duduk ke tempatnya semula, di atas kursi yang terbuat dari anyaman rotan yang sudah butut.

"Kalau saja dulu aku tidak menjalani hidup seperti itu, mungkin setua ini tidak akan begini. Aku yakin racun akibat pukulan ganas Manusia Kutuk Sumpah masih bersarang di dadaku. Sa- lahku sendiri, saat itu aku terlalu memaksa." ke- luh si nenek meratapi nasibnya sendiri.

Membayangkan semua yang pernah dila- kukan di masa lalu membuat si nenek kucurkan air mata.

"Gusti Allah, aku mohon maafmu. Segala kesalahan itu adalah kesalahanku sendiri. Ya Tu- han... tapi kini aku takut terjadi sesuatu yang ti- dak diinginkan pada buah hatiku. Tuhan jika pun aku harus memikul semua dosa. Janganlah kau limpahkan sebagian dosa yang pernah kuperbuat pada anakku. Dalam hal ini dia tidak tahu apa- pun." rintih si nenek membuat tangisnya makin terguguk. 7

Lambang Pambudi menggebah kudanya memasuki kawasan kebun bunga yang luas. Ke- datangannya kali ini tidak disertai siapapun, ter- masuk juga Lara Murti kekasihnya. Sejak kehadi- ran Guru Lanang Pamekasan di perguruan Gu- nung Keramat, tugas-tugas kekasihnya memang semakin bertambah berat. Baik tugas yang me- nyangkut masalah perguruan maupun yang ada hubungannya dengan rumah tangga. Ayah dan ibunya sendiri sangat jarang berada di rumah, mereka sibuk mencari pembunuh Patira Seta cu- cu Guru Lanang Pamekasan yang terbunuh bebe- rapa waktu lalu secara keji oleh seseorang yang tidak dikenal.

Karena itu kini urusan memetik bunga yang dibutuhkan sebagai campuran ramuan obat sepenuhnya menjadi tanggung jawab Lambang Pambudi. Beberapa saat kemudian setelah mema- suki kebun bunga yang sunyi pemuda itu segera melompat turun dari punggung kudanya.

Setelah turun dari atas punggung kuda, Lambang Pambudi mengambil keranjang rotan yang biasa dipergunakan untuk menyimpan bun- ga yang sudah dipetik. Seperti biasa si pemuda tanpa merasa curiga langsung memulai peker- jaannya. Baru saja beberapa kuntum bunga segar yang dipetiknya, pada saat itu terdengar suara te- riakan menggelegar yang disertai dengan terden- garnya derap langkah kuda. Terkejut Lambang Pambudi, hingga keranjang rotan di tangannya nyaris terlepas. Seketika dia pun memandang ke arah terdengarnya suara bentakan. Si pemuda ja- di bertambah kaget begitu melihat tak jauh di de- pannya di atas punggung kuda putih berdiri tegak seorang pemuda berpakaian putih memakai to- peng kayu.

"Jahanam ini?" menggeram si pemuda da- lam hati. Akan tetapi dia tetap berdiri tegak di tempatnya.

Di depannya dengan gerakan sedemikian rupa si pemuda bertopeng yang bukan lain adalah Bayu Gendala melompat turun dari atas kudanya. "Pemuda tolol, aku tahu kau kekasih Lara Murti, sekaligus calon suami gadis itu. Tapi terus terang jika kau sayangkan nyawamu, sebaiknya kau batalkan niatmu untuk menjadikan dia seba-

gai istrimu!" hardik Bayu Gendala.

"Mengapa?" tanya Lambang Pambudi, se- mentara tatap matanya memandang tajam pada si pemuda bertopeng dengan sinar mata sulit ditaf- sirkan. Bayu Gendala tertawa tergelak-gelak. Lak- sana kilat tangannya bergerak ke arah pinggang, di lain kesempatan dia telah menghunus pedang. Tawa si pemuda lenyap, sementara ujung pedang yang putih mengkilat telah menempel ketat di ba- gian leher Lambang Pambudi. "Perlu kau tahu manusia geblek, kau tak layak menjadi pendamp- ing Lara Murti karena kau manusia lemah tak memiliki kebecusan apa-apa." jelas Bayu Gendala sinis. Dia pun semakin menekankan pedang itu lebih keras hingga ujungnya menembus kulit leh- er Lambang Pambudi. Ada darah yang menetes, luka kecil akibat tusukan pedang perih bukan main. Wajah pemuda itu tampak pucat, kening- nya mengernyit menahan sakit. Melihat hal ini Bayu Gendala menjadi sangat senang sekali. Ka- lau perlu dia harus membuat Lambang Pambudi ketakutan setengah mati.

"Ku mohon... ku mohon kau tarik pedang- mu, jauhkan dari leherku. Kita masih dapat bica- ra baik-baik." kata Lambang Pambudi dengan su- ara bergetar terbata-bata.

"Ha... ha... ha. Bagus jika kau masih ingin hidup." kata Bayu Gendala, walaupun dia bicara begitu namun pedang tidak juga dijauhkan dari leher pemuda yang sangat dibencinya. Dia kemu- dian meneruskan ucapannya. "Terus terang aku inginkan Lara Murti, aku ingin menjadikan dia sebagai istriku. Kurasa hanya aku yang pantas menjadi pendampingnya."

Untuk pertama kalinya Lambang Pambudi sunggingkan seringai sinis. Setelah itu baru aju- kan pertanyaan. "Apakah Lara mencintaimu? Jika dia memang cinta padamu, aku yang bodoh ini bersedia mengalah."

"Hem, cinta bisa menyusul di kemudian hari. Yang paling penting dia harus menjadi istri- ku dulu." dengus Bayu Gendala.

"Apa yang kau katakan itu hanya akan membuatnya sangat menderita. Lagipula belum tentu kedua orang tuanya mau meluluskan kein- ginanmu!" ujar Lambang Pambudi. Walaupun ka- ta-kata itu diucapkan dengan sangat perlahan sa- ja, tapi bagi Bayu Gendala tidak jauh bedanya ba- gai sebuah tamparan keras dan juga sebuah per- nyataan yang menusuk menyakitkan telinga. Pe- dang ditarik ke belakang, tangan kiri bergerak ce- pat.

Plaak!

Satu tamparan yang keras mendarat di pi- pi, bagian pipi kanan Lambang Pambudi jadi me- merah, tubuhnya sempat terhuyung bahkan hampir terbanting akibat kerasnya tamparan itu. dengan penuh kegeraman tapi seakan tak kuasa membalas perbuatan si pemuda bertopeng, Lam- bang Pambudi usap-usap pipinya.

"Berani mati kau bicara seperti itu!" geram Bayu Gendala. "Jika aku tidak membunuhmu ha- ri ini semua itu karena aku masih memiliki rasa kemanusiaan, tapi jika kau menghalangi renca- naku. Aku pasti tidak segan-segan memenggal kepalamu!" tegas si pemuda.

"Aku tak takut mati, aku tak butuh rasa belas kasihmu. Kalau kau mau bunuh-bunuh sa- ja. Aku merasa lebih baik mati daripada hidup dan melihat Lara Murti berdampingan dengan orang lain!" teriak Lambang Pambudi. Rupanya setelah mendapat perlakuan begitu rupa, kini ke- beraniannya jadi timbul. Sebagaimana halnya dengan manusia lain, walau dia terlihat lemah dan takut menghadapi sesuatu, tapi dalam kea- daan terpaksa bisa berubah menjadi nekad. Inilah yang terjadi pada Lambang Pambudi.

Keberanian yang muncul seketika menim- bulkan amarah dan kebencian di hati Bayu Gen- dala. Tanpa pikir panjang pemuda itu ayunkan pedang ke arah kepala Lambang Pambudi. Dalam kejutnya dengan mata terbelalak sedapat yang dia lakukan pemuda ini mengelak, jatuhkan diri lalu bergulingan. Walaupun begitu bagian rambutnya masih sempat diterabas mata pedang.

"Masih bisa menghindar. Ha... ha... ha. In- gin kulihat, ingin kulihat!" seru si pemuda. Dia kemudian memutar pedang di tangannya, setelah itu tubuhnya melesat ke depan, pedang berkele- bat menderu menghantam dada Lambang Pam- budi.

Tidak ada lagi kesempatan bagi pemuda ini buat menghindar karena sinar pedang mengu- rung jalan geraknya. Dalam keadaan nyawanya terancam bahaya besar, dia hendak lakukan se- suatu. Tapi sekonyong-konyong terdengar suara teriakan disertai berkelebatnya dua sosok bayan- gan. Di depan bayangan tadi mendahului berkele- bat dua larik sinar, satu berwarna putih menebar hawa panas luar biasa, satunya lagi berupa sinar hitam menebarkan hawa dingin laksana es.

"Asmara celaka, sudah merebut kekasih orang hendak membunuh secara membabi buta! Bangsat!" mendumel salah satu dari dua orang yang datang.

Suara bentakan lenyap, dua sinar menderu sebat, satu menghantam kepala Bayu Gendala sedangkan satunya menghantam bagian perut. Pemuda ini tentu jadi kaget besar. Tanpa pikir panjang dia batalkan serangan, lalu berjumpali- tan ke belakang. Tapi tak urung dua sinar tadi menyambar bagian bajunya hingga hangus go- song. Bukan hanya itu saja, Bayu Gendala juga merasakan sebagian wajahnya menjadi dingin, sedangkan bagian perut terasa panas laksana terbakar.

Tak mau mendapat masalah besar, tanpa pikir panjang begitu ledakan berdentum mengge- muruh di udara dua kali berturut-turut, sambil menyeringai kesakitan dia melompat ke atas punggung kuda dan melarikan diri selagi masih ada kesempatan.

"Hei kampret bertopeng jangan lari!" teriak satu suara. Dia bermaksud hendak mengejar. Ta- pi pada saat itu terdengar seruan lain.

"Jangan dikejar!"

Orang yang hendak melakukan pengejaran terpaksa hentikan langkah sambil mengomel tak berketentuan. Dia ternyata adalah seorang pemu- da berambut gondrong, bertelanjang dada. Ketika dia menoleh ternyata yang bicara tadi adalah Lambang Pambudi.

"Mengapa kau melarangku?" tanya si gon- drong yang bukan lain adalah Gento Guyon sam- bil bersungut-sungut.

"Orang berbudi, aku berterima kasih kepa- damu dan pada orang tua itu. Tapi kuharap jan- gan dikejar, pemuda tadi pikiran sedang sakit. Sebaiknya jangan sakiti dia!"

"Tangan Sial. Kau dengar betapa baiknya orang ini. Sudah tahu kepalanya hampir mengge- linding diterabas pedang. Masih juga dia bisa memaafkan orang yang hendak membunuhnya!" kata Gento cemberut.

"Ha... ha... ha! Sobatku, kemuliaan seseo- rang ditentukan oleh tindakannya. Jika dia bisa memaafkan musuh, apalagi bisa menjadikannya sebagai sahabatnya. Ini termasuk perbuatan yang sangat dianjurkan oleh Yang Maha Kuasa." sahut Si Tangan Sial.

"Hebat. Sejak kapan kau pintar berkhut- bah, menasehati orang. Kau sendiri sejak dulu se- lalu mengutuk kemalangan yang menimpa hi- dupmu. Bahkan kau mengutuk sepasang tan- ganmu sendiri. Padahal tangan itu pemberian Gusti Allah. Bagaimana ini? Apakah semua itu bukan berarti kau tidak punya rasa terima kasih pada Tuhan! Ha... ha... ha." dengus Gento disertai senyum mencibir.

Sejenak lamanya si orang tua berpakaian serba merah jadi kelabakan tak tahu harus ber- kata apa. Hal ini membuat tawa Gento semakin bertambah keras. 8

Hanya beberapa saat setelah itu secara aneh Si Tangan Sial ikutan tertawa. Gento Guyon jadi terdiam, mulut melongo heran. Sedangkan Lambang Pambudi sejak tadi jadi tercengang me- lihat tingkah kedua penolongnya yang dianggap mempunyai perilaku aneh ini.

"Tangan Sial, apa yang kau tertawakan?" tanya Gento penasaran.

Orang tua itu terus saja tertawa tak hirau- kan pertanyaan orang sampai akhirnya dia jadi capai sendiri. Sejenak dia memperhatikan Gento, lalu tatap matanya beralih pada Lambang Pam- budi. Setelah itu dia baru berkata ditujukan pada Gento. "Dulu aku memang begitu, tapi sekarang setelah bertemu denganmu tidak lagi. Mungkin karena berkawan denganmu otakku jadi ikutan miring, sehingga aku jadi lupa dengan persoalan- ku sendiri! Ha... ha... ha!"

"Kakek sial. Bergurau sih boleh saja, tapi jangan kelewatan. Nanti orang-orang beranggapan aku tidak waras benaran. Aku bisa malu." dengus si pemuda.

"Sekarang kau baru tahu rasa siapa aku. Eeh... tapi sobatku, kita punya teman baru men- gapa kau tak bertegur sapa?" mengingatkan si orang tua.

Gento menepuk keningnya. "Aku sampai lupa, semua ini gara-gara kau." Lalu Gento me- mutar badan dan menghadap langsung ke arah Lambang Pambudi. Sebentar dia memperhatikan pemuda itu, lalu berucap. "Maafkan kami, bu- kannya aku tak menghiraukanmu. Semua karena kawanku sedang angot penyakit gilanya, sehingga aku terpaksa melayani ucapannya yang melantur. Oh ya siapa namamu?" tanya Gento unjukkan tampang serius.

Lambang Pambudi tersenyum sambil bungkukkan badan menjura hormat, setelah te- gak dia menjawab. "Namaku Lambang Pambudi. Aku merasa berhutang nyawa padamu dan juga pada orang tua itu. Aku hanya dapat berterima kasih tak dapat membalas kebaikan kalian."

"Eeh, masalah nyawa jangan kau bilang berhutang padaku apalagi pada pemuda edan itu. Nyawa urusan Gusti Allah, sedangkan kami hanya membantumu dari perbuatan jahat ku- nyuk bertopeng tadi." sergah Tangan Sial.

"Tangan Sial, sekali lagi kuingatkan kau jangan bicara seenakmu sendiri. Salah-salah ku- getok kepalamu!" rutuk Gento sambil delikkan mata. Si Tangan Sial malah tertawa lebar.

"Ah, kalian orang berbudi tinggi. Harap jangan bertengkar. Aku takut kalian berbaku hantam di sini!" kata Lambang Pambudi benar- benar unjukkan wajah ketakutan.

"Oh tentu saja tidak. Kami ini tadi sebe- narnya hanya bergurau. Oh ya sebenarnya siapa pemuda bertopeng tadi?" tanya Gento.

Lambang Pambudi   sebenarnya   merasa enggan untuk menceritakan siapa adanya Bayu Gendala. Akan tetapi demi mengingat pertolongan yang telah dilakukan Gento dan Si Tangan Sial juga setelah melihat kenyataan agaknya mereka adalah orang baik-baik, maka Lambang Pambudi pun berkata. "Pemuda bertopeng tadi adalah pu- tra Selasih Jingga. Dia datang padaku sengaja mencari perkara. Karena aku disuruhnya men- jauhi kekasihku sendiri." ujar Lambang Pambudi, pemuda ini lalu menceritakan segala sesuatunya pada Gento dan Si tangan Sial.

Ketika Lambang Pambudi selesai menutur- kan segala sesuatunya dengan wajah menunjuk- kan wajah tidak senang Si Tangan Sial berucap. "Manusia tak tahu diri. Enak saja dia hendak me- rebut kekasih orang. Kau sendiri mengapa tak mengambil sikap tegas?"

Lambang Pambudi gelengkan kepala. Wa- jahnya kuyu menunjukkan ketidak berdaya.

"Dia memiliki jurus pedang hebat, sedang aku tidak punya kepandaian apa-apa. Mana mungkin aku sanggup menghadapinya." jawab si pemuda perlahan.

"Ah, kasihan sekali." celetuk Gento tanpa sadar. Dia lalu memandang pada Tangan Sial. "Sahabatku, menurutmu apakah pemuda tadi mempunyai jurus-jurus pedang yang luar biasa?" tanya Gento.

Si Tangan Sial tersenyum. "Rasanya sih bi- asa saja. Mungkin hanya suara teriakan dan ken- tutnya saja yang hebat. Ha... ha... ha." menyahut Si Tangan Sial disertai tawa tergelak-gelak.

Lambang Pambudi gelengkan, kepala meli- hat tingkah laku orang tua dan pemuda itu.

Setelah berpikir sejenak, pemuda berpa- kaian serba putih ini kemudian ajukan perta- nyaan. "Aku tak tahu bagaimana, tapi bolehkah aku tahu siapa nama kalian?"

"Ah, betul, kami sampai lupa. Aku sendiri bernama Gento Guyon. Sedangkan temanku na- manya entah siapa. Orang memanggilnya Si Tan- gan Sial, karena kedua tangannya selalu memba- wa kesialan." kata Gento.

Lambang Pambudi manggut-manggut. "Ka- lian sebenarnya hendak ke mana?" tanya si pe- muda.

Tanpa ragu-ragu Gento menceritakan sega- la sesuatunya termasuk juga tentang penemuan mayat tanpa kepala di sebuah rumah tua bebera- pa hari yang lalu.

"Oh mengerikan sekali. Tapi kurasa aku bi- sa sedikit menceritakan tentang mayat tanpa ke- pala yang engkau temukan itu. Aku yakin itu ada- lah mayat Patira Seta murid sekaligus cucu saha- bat calon mertuaku. Beberapa hari yang lalu dia pernah datang ke perguruan Gunung Keramat. Beberapa hari yang lalu dia pernah datang ke perguruan Gunung Keramat. Tapi kemudian kuli- hat dia pergi lagi dengan membawa kepala cu- cunya untuk mencari si pembunuh keji. Kini bahkan Dewa Angin Guntur dan istrinya ikut membantu menemukan jejak sang pembunuh." "Siapa Dewa Angin Guntur?" tanya Si Tan- gan Sial.

"Dewa Angin Guntur ketua perguruan Gu- nung Keramat." menerangkan Lambang Pambudi. "Calon mertuamu?" ujar Gento menyambu-

ti.

Dengan malu-malu Lambang Pambudi

anggukan kepala.

Gento berpaling pada sahabatnya. "Tangan Sial, berarti guruku dan Ambini telah sampai ke sana. Kebetulan sekali, pemuda ini, siapa nama- mu?"

"Lambang Pambudi." jawab si pemuda. "Kebetulan sekali Lambang Pambudi ting-

gal di perguruan itu. Bagaimana jika kita ikut bersamanya?" tanya Gento.

Si Tangan Sial cibirkan mulutnya. "Aku ta- hu kau pasti sudah rindu pada Ambini, atau mungkin juga kau cemburu karena gadis itu ber- sama gurumu, si gendut sinting. Mengaku saja, mengapa harus malu-malu? Ha... ha... ha."

"Mungkin... mungkin juga aku rindu. Tapi terus terang aku punya firasat yang tidak menge- nakkan."

"Mengenakkan bagi gurumu, tak menge- nakkan bagi dirimu sendiri. Bukankah itu lawa- tannya?" ejek Si Tangan Sial ketus.

"Ha... ha... ha, bagus kalau kau sudah ta- hu. Berdua denganmu kurasakan memang tidak enak, tampangmu membosankan untuk dipan- dang apalagi bila melihat kedua tanganmu. Go- song hitam seperti kayu terbakar, masih bagus lagi memandang kebun bunga ini!" kata si pemu- da sambil tertawa tergelak-gelak.

Selagi pemuda ini tertawa dan Si Tangan Sial unjukkan tampang cemberut pada waktu bersamaan mendadak terdengar suara raungan keras. Gento Guyon jadi tercekat, sedangkan Lambang Pambudi sempat bersurut langkah, wa- jah pucat dan tubuh menggigil ketakutan. Di de- pannya sana Si Tangan Sial memandang tajam ke arah datangnya suara raungan. Sekian lama me- nunggu tidak terlihat ada orang yang muncul. Sementara raungan aneh tadi telah lenyap keti- ganya menunggu dengan berbagai ganjalan di ha- tinya.

Tak lama kemudian terdengar suara orang bicara seperti orang yang menyenandungkan bait- bait syair.

Sekian sama menunggu, menantikan sau- dara yang hilang.

Menanti kedatangan saudara yang malang Usia si tua banyak terbuang

Kini si anak malang telah datang

Bersama sahabat yang gilanya bukan kepa- lang Oh dunia...

Kau janjikan seribu keindahan dan mimpi. Hingga membuat manusia lupa segala, hi- lang pula jati diri

Dalam penantian aku sendiri Dalam kemalangan dia juga sendiri Aku datang padamu wahai saudara

Lepaskan rindu dendam yang sekian lama tidak bersua!

Suara orang bersair kemudian lenyap, mu- rid Gentong Ketawa dan Tangan Sial saling pan- dang. Gento mencoba memahami arti ucapan su- ara orang tadi. Dia kemudian tersenyum. "Aku tahu manusia paling sial di dunia ini adalah diri- mu, Tangan Sial. Aneh... ternyata kau punya saudara! Mengapa kau tak pernah bilang pada- ku?"

"Mana aku tahu aku punya saudara. Kura- sa dia orang gila yang kesasar." sahut Si Tangan Sial. Dia hendak tertawa, tapi urung. Kini orang tua itu malah menoleh ke arah Lambang Pambu- di, dia jadi heran karena dia tidak melihat pemu- da lugu yang tidak mengerti ilmu silat itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.

"Gento... pemuda itu...?!" desis si orang tua. Serentak Gento pun menoleh, memandang ke arah mana Lambang Pambudi berdiri. Dia jadi kaget karena pemuda itu raib.

"Ke mana dia? Jangan-jangan dimakan se- tan!" kata Gento. Si Tangan Sial dan Gento kitar- kan pandangannya ke segenap penjuru tempat. Lambang Pambudi tetap tak terlihat seolah pe- muda itu lenyap amblas ke dalam bumi. Justru pada saat itu dan arah suara tadi datang berkele- bat satu sosok bayangan hitam ke arah mereka. Lalu....

Pluuk!

Sosok itu jatuh di atas tanah di antara Gento dan Si Tangan Sial berdiri. Dua pasang ma- ta sama melotot, memandang ke arah yang sama dengan mulut ternganga.

Di depan mereka kini duduk seorang laki- laki tua berpakaian hitam, berambut putih wa- jahnya yang cekung kelihatan memutih tertutup kapur. Begitu juga dengan rambut, tangan serta kakinya semua tampak memutih. Hanya saja se- pasang kaki si kakek tampak mengecil dan tidak berkembang secara wajar, mungkin cacat kaki ini sudah dialaminya sejak kecil.

Melihat keadaan fisik orang tua ini, pera- saan si pemuda iba ada geli juga ada. Malah da- lam hati dia berkata.

"Orang tua butut rongsokan ini mungkin bukan orang waras. Air ada di mana-mana dia malah memilih mandi kapur!"

"Bocah geblek, sekali lagi kau mengatai aku orang yang tidak waras kupendam dirimu ke dalam bumi!" hardik si badan jerangkong. Murid kakek gendut Gentong Ketawa tentu saja jadi me- lengak. Dia bahkan sampai melangkah mundur. Bagaimana sosok jerangkong itu bisa menebak isi hatinya? Sebaliknya Si Tangan Sial terus mem- perhatikan orang itu.

"Orang tua, siapa dirimu? Aku Si Tangan Sial bukannya bermaksud mau usil. Tapi kurasa mengajukan pertanyaan bukanlah dosa!" berkata orang tua itu dengan suara dibuat sesopan mungkin.

Si kakek jerangkong yang semula sempat memperhatikan Gento, kini memutar kepala. Dia memandangi Si Tangan Sial dengan tatap ma- tanya yang aneh, hingga yang dipandang terpaksa pejamkan matanya. Tak terduga si kakek jerang- kong tiba-tiba menangis menggerung, suaranya sedih berhiba-hiba. Tapi sungguh aneh begitu tangis si kakek tambah memilukan Gento ikutan pula menangis, begitu juga halnya dengan Si Tan- gan Sial. Malah orang tua berpakaian merah itu duduk menjelepok, kakinya berkelesetan sedang- kan dua tangan dibanting dan dipukulkan ke ta- nah. Setiap pukulan yang dilakukan tanpa sadar ini mengeluarkan suara bergemuruh disertai den- gan ledakan berdentum. Malah pukulan Si Tan- gan Sial menimbulkan lubang besar, hangus menghitam.

Di depannya sana antara Si Tangan Sial dan kakek jerangkong, tangis Gento juga semakin mengguguk. Tapi dalam keadaan terhanyut oleh tangisan orang, otaknya masih dapat bekerja. Dia mengerahkan segala daya dan pikiran agar jangan sampai terpengaruh tangisan orang. Berulang- ulang hal itu dilakukannya, sayang usahanya ini hanya sia-sia.

"Kampret gundul, bagaimana si jerangkong ini bisa mempengaruhi kesadaran orang. Jangan- jangan dia hantu, atau setan yang gemar menan- gis dan bersair. Akh... aku tak mau larut dalam kegilaan seperti ini." batin si pemuda sambil terus memutar otak mencari jalan agar tidak terus ter- hanyut dalam tangis dan kepedihan orang. Seje- nak dia memandang ke arah Si Tangan Sial. Meskipun air matanya masih bercucuran, meski- pun kesedihan masih menyelimuti perasaannya tapi Gento sempat tersenyum melihat sahabatnya. "Kampret sial itu tangisnya malah lebih hebat, mana pakai mengamuk segala lagi. Tanah di sana sini dibuatnya berlubang, aku jadi ingat Si Pema- cul Iblis. Hampir setiap tanah dilubanginya." ru- tuk si pemuda. (Mengenai riwayat Pemacul iblis baca Episode Tanah Kutukan).

Akan halnya Si Tangan Sial, orang tua itu sendiri sebenarnya sudah berusaha melepaskan diri dari pengaruh tangis kakek jerangkong. Akan tetapi untuk diketahui, Si Tangan Sial tidak me- miliki tingkat tenaga dalam tinggi. Sedangkan ke- saktian dahsyat yang terkandung pada kedua be- lah tangannya memang sudah merupakan ba- waan sejak lahir. Sehingga walaupun saat itu dia kerahkan tenaga dalam bahkan kucurkan kerin- gat, tetap saja dia terus ikut menangis.

Kembali pada murid Gentong Ketawa yang sudah sampai pada puncak kejengkelannya. Di saat dirinya merasa putus asa karena tak mampu melenyapkan pengaruh suara tangis orang, men- dadak dia ingat sesuatu. Dia berpikir karena mendengar maka dia terpengaruh, karena itu Gentopun segera menutup indera pendengaran- nya dengan pengerahan tenaga dalam. Seperti yang telah dia duga, pengaruh suara si kakek je- rangkong yang membuatnya ikutan menangis mendadak lenyap. Sambil bersungut-sungut dia seka air matanya. Kejap kemudian dia bangkit berdiri sambil mengumbar tawa.

"Tangan Sial, rupanya kau sudah ikut jadi gila, menangis tidak karuan kejuntrungannya. Daripada menangis lebih baik tertawa sambil me- nari. Kau boleh ikutan, teruskan tangismu sambil memukul tanah. Suara ledakan itu bagaikan sua- ra gendang bertalu-talu." berkata begitu sambil tertawa-tawa Gento lakukan gerakan menari. Pinggulnya melenggang lenggok, kedua tangan di- gerakkan dengan lemah gemulai.

9

Begitu melihat Gento Guyon kini mulai menari sambil tertawa, maka si kakek jerangkong hentikan tangisnya. Tangis terhenti, Si Tangan Sial langsung hentikan tangis pula. Si kakek je- rangkong kini pandangi Gento.

"Pemuda ini selain konyol ternyata sangat cerdik." batin si kakek. Lalu dia berseru. "Henti- kan tawa hentikan tari! Sekarang kau duduk!"

Sekonyong-konyong gerakan Gento terhen- ti, tawanya lenyap meskipun mulutnya masih ter- buka. Diam-diam pemuda ini jadi terperanjat saat merasakan ada satu kekuatan yang tidak terlihat menekan bahunya kiri kanan. Ketika dia coba bertahan, maka lututnya jadi goyah. Sekujur tu- buhnya bergetar.

"Celaka, kakek jerangkong ini ternyata bu- kan manusia sembarangan. hanya dengan beru- cap saja dia mampu memaksa orang lain berbuat sesuai dengan kehendaknya!" keluh si pemuda.

"Duduk!" sekali lagi si kakek berseru.

Laksana dibanting Gento jatuh terhenyak dengan punggung lebih dulu jatuh ke tanah. Sa- kit yang dia rasakan tidak seberapa dibanding dengan rasa kaget juga malu yang harus dia tanggungkan.

"Orang tua, dari tadi kau belum menjawab pertanyaan sahabatku itu. Siapa dirimu ini yang sebenarnya?" tanya Gento setelah mengusap wa- jahnya yang sempat berubah merah.

"Heh," terdengar suara mendengus dari hi- dung si kakek. Dia kemudian palingkan wajah ke arah Si Tangan Sial. Beberapa saat dua pasang mata bertemu pandang. Melihat tatapan mata si kakek jerangkong yang dingin namun berwibawa, entah mengapa membuat perasaan orang tua ini jadi tidak enak. "Aku Begawan Panji Kwalat. Aku saudaramu. Sekarang aku ingin membawamu ke hutan Banyu Biru. Ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu. Karena itu kau harus ikut!" tegas si kakek jerangkong.

Mendengar Ucapan Begawan Panji Kwalat, Si Tangan Sial tentu saja jadi terheran-heran. Seumur hidup dia merasa tidak punya saudara. Bagaimana mungkin kakek jerangkong itu men- gaku dia saudaranya?

"Kakek, aku Tangan Sial merasa tak punya saudara. Mungkin kau salah alamat, mungkin ju- ga kau salah berucap?" ujar Si Tangan Sial sambil melirik ke arah Gento seakan minta pendapat.

Mengetahui makna lirikan itu Gento enak saja menyeletuk. "Sahabat Tangan Sial, walau ki- ta berkawan aku sendiri tak tahu asal usulmu. Boleh jadi kau malu untuk mengakui kakek pengkor lumpuh itu saudaramu. Untuk urusan kakek itu denganmu aku sih tak mau ikut cam- pur tangan, bukan karena apa. Aku takut jadi orang kwalat. Lagipula apa kau tidak mendengar gelarannya Begawan Panji Kwalat. Jika dia sam- pai kubuat marah lalu mengutukku jadi batu. Apa iya kau bisa menolongku!" kata si pemuda la- lu palingkan muka ke arah lain.

"Bocah geblek, kau harus percaya aku ti- dak punya saudara. Boleh jadi dia hendak meni- puku. Aku... aku...!"

"Urusan kita tidak ada hubungannya den- gan pemuda konyol itu, Tangan Sial. Jika kau ikut denganku, di bukit Waton Kapur nanti sega- lanya baru bisa kujelaskan. Nasehat dan keteran- gan yang ku berikan menyangkut urusan yang sangat besar, yang pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian besar beberapa tahun menda- tang!" kata Begawan Panji Kwalat, suaranya ma- sih tetap tenang dan sabar.

"Kejadian apa?" tanya Gento. Si kakek je- rangkong tidak langsung menjawab, tapi perhati- kan Gento beberapa jenak lamanya. Sepasang mata si kakek mendelik besar. Dia gelengkan ke- pala. "Aku telah melihat rentang waktu tersamar dalam tabir gaib. Kau juga salah satu orang yang ikut terlibat dalam kejadian besar itu." kata Be- gawan Panji Kwalat.

"Aku? Ah, engkau bisa saja kek." kata Gen- to sambil tersenyum.

"Aku bicara sebuah kenyataan yang terjadi di masa yang akan datang. Terserah apapun tanggapanmu!" Si kakek jerangkong kemudian bergerak mendekat ke arah Si Tangan Sial. Satu gerakan yang sulit dipercaya. Bagaimana tidak? Si kakek lumpuh ini bergerak bukan dengan se- pasang tangannya atau melompat-lompat. Tapi tubuhnya mengambang di udara dengan kedua kaki dalam keadaan bersila.

"Penjelasan kau dapatkan nanti. Sekarang kau ikut denganku dulu!" berkata begitu Begawan Panji Kwalat sambar krah baju belakang Si Tan- gan Sial. Karena masih belum percaya si kakek lumpuh itu adalah saudaranya. Si Tangan Sial tentu tak mau dirinya dibawa orang begitu saja. Sehingga tanpa pikir panjang dia pun hantamkan salah satu tangannya yang sangat berbahaya itu. Tapi begitu tangan kiri bergerak, Begawan Panji Kwalat segera pula berseru. "Tangan Bencana, jangan kau turuti perintahnya. Diam... diam..!"

Seketika tangan yang siap memukul itu terhenti di udara. Di lain kejap Si Tangan Sial me- rasa tubuhnya terbetot, ikut melayang mengikuti si kakek lumpuh. Dalam takutnya orang tua itu berteriak.

"Gento... tolong... Gento bantu aku...!"

Melihat sahabatnya dilarikan orang murid kakek Gentong Ketawa tentu saja tidak tinggal di- am. Dia mencoba mengejar. Tapi dia jadi tersen- tak kaget begitu merasakan sekujur tubuhnya tak dapat digerakkan. "Apa yang telah dilakukan ka- kek jerangkong tadi kepadaku?" keluh si pemuda. Belum lagi rasa kagetnya lenyap, di kejauhan sa- na Begawan Panji Kwalat berucap.

"Anak muda, uruslah dirimu sendiri. Satu hal yang tidak boleh kau lupakan, yang terlihat lemah belum tentu bodoh. Apapun yang kau la- kukan nanti semuanya ada di depan mata."

Gento tak tahu apa maksud ucapan Manu- sia Kutuk Sumpah. Saat itu rasa kesal dan marah menyelimuti perasaannya. Dia kemudian menge- rahkan tenaga dalamnya, mula-mula disalurkan ke bagian kaki. Kedua kaki lalu digerakkan. Ter- nyata kedua kaki dapat digerakkan. Merasa ter- bebas dari pengaruh suara aneh orang dia segera bangkit berdiri.

Saat berdiri berpikir olehnya untuk menge- jar Manusia Kutuk Sumpah. Rupanya dia takut terjadi sesuatu pada Si Tangan Sial. Tapi kemu- dian dia urungkan niat. Kini yang terpikir olehnya adalah tentang Lambang Pambudi. Pemuda lugu yang konon tak pandai ilmu silat.

"Ke mana perginya pemuda itu? Mengapa dia menghilang secepat itu. Padahal dia tidak memiliki ilmu dan kesaktian apapun." batin Gen- to. Sejenak dia terdiam, berpikir dan teringat olehnya tentang ucapan Begawan Panji Kwalat.

"Urus diri sendiri. Yang terlihat belum ten- tu bodoh, semuanya ada di depan mata." Gento mengulang ucapan Begawan Panji Kwalat. "Teka teki gila apalagi ini?" gerutu si pemuda sambil memijit keningnya.

Karena tak kunjung temukan jawaban, si pemuda sambil mendumel segera tinggalkan ke- bun bunga.

Di balik pagar yang mengelilingi lima pon- dok panjang si kakek gendut Gentong Ketawa mengintai. Dia melihat puluhan murid-murid per- guruan Gunung Keramat sedang berlatih ilmu si- lat di bawah pengawasan seorang gadis cantik berpakaian serba merah. Di belakang si kakek, Ambini nampak gelisah. Sebaliknya si kakek gen- dut malah bersikap tenang-tenang saja.

"Kalau kita hendak bertamu mengapa se- perti maling begini? Bukankah lebih baik kita da- tang langsung ke rumah besar itu?" kata Ambini dengan suara perlahan.

"Kau betul, tapi aku sendiri tidak kenal dengan pemilik perguruan ini. Lebih baik kita menunggu barang beberapa jenak lamanya." ja- wab si kakek sambil menarik nafas dan jauhkan wajahnya dari pagar bambu. Baru saja si orang tua hendak memutar badan menghadap langsung ke arah Ambini dari arah samping melesat dua sosok bayangan biru ke arah si kakek dan juga Ambini.

"Dua tamu tidak diundang, berani melaku- kan tindakan tidak terpuji dengan mengintip orang yang sedang latihan, kupecahkan kepala kalian!" hardik salah satu dari orang yang baru datang. Bersamaan dengan itu pula si kakek gen- dut merasakan ada sambaran angin deras meng- hantam kepalanya.

"Walah bisa mati aku...!" gerutu si kakek. Dengan gerakan cepat dia gulingkan diri di atas tanah. Sementara di belakangnya Ambini sudah melompat menjauh hindari pukulan yang dilan- carkan orang itu. Baik Ambini maupun Gentong Ketawa sama-sama dapat menyelamatkan diri. Bi- la dia memandang ke depannya, di depan sana te- lah berdiri tegak seorang laki-laki berambut putih panjang menjela, sepasang alis orang ini berwar- na putih perak. Sedangkan di sampingnya tam- pak pula seorang perempuan berumur empat pu- luhan berwajah bulat yang walaupun usianya su- dah tidak muda lagi, tapi sisa kecantikan di kala muda masih terbayang jelas di wajahnya. Sama seperti laki-laki itu, dia juga memakai pakaian serba biru, hanya di bagian rambutnya yang pan- jang digelung dihiasi dengan bunga mawar putih.

Gentong Ketawa yang baru saja bangkit berdiri sambil membersihkan pakaiannya yang kotor memperhatikan orang yang baru saja me- nyerang mereka. Melihat penampilan serta dan- danan perempuan itu, walau belum pernah ber- temu tapi segera kenali ciri-ciri orang. Si kakek lalu tersenyum unjukkan sikap bersahabat. "Kalau tak salah penglihatanku bu- kankah nisanak orangnya yang bergelar Mawar Selatan, tokoh di daerah utara ini yang dulu na- ma besarnya sempat menggemparkan dunia per- silatan? Dan Kisanak ini pastilah Dewa Angin Guntur, suami dari Galuh Pitaloka." ucap Gen- tong Ketawa. Laki-laki dan perempuan yang ber- diri tegak di depan si kakek sama melengak kaget dan tak pernah menyangka orang tua bertampang jenaka berbadan besar bukan main mengenali diri mereka. Sejenak lamanya suami istri ini saling berpandangan. Orang tua berambut putih yang memang Dewa Angin Guntur adanya melangkah dua tindak ke depan.

"Orang tua siapa dirimu ini adanya? Siapa pula gadis yang bersamamu. Kalian datang tidak sebagaimana lazimnya orang yang bertamu ke rumah orang ada kepentingan apakah?" tanya Dewa Angin Guntur bertubi-tubi. Mendapat per- tanyaan seperti itu Gentong Ketawa sempat me- longo. Tapi karena kedatangannya bukan mem- bawa maksud jahat, maka diapun akhirnya men- jawab.

"Sahabat mudaku itu bernama Ambini, pu- tri seorang Raden dari Wonogiri." menerangkan si kakek sambil melirik pada Ambini. Gadis itu ang- gukkan kepala. "Sedangkan aku sendiri Gentong Ketawa!" kata si kakek gendut lagi.

Begitu si kakek menyebutkan namanya, Dewa Angin Guntur maupun Galuh Pitaloka alias Mawar Selatan sempat keluarkan seruan kaget. Suami istri itu sama memandang ke arah si gen- dut dengan tatapan tak percaya.

"Aku tidak pernah menyangka saat ini ten- gah berhadapan dengan tokoh dunia persilatan dari Merbabu. Gentong Ketawa... satu nama besar yang sudah tersohor di delapan penjuru angin. Kami ketua perguruan Gunung Keramat hari ini merasa sangat beruntung sekali." ujar Dewa An- gin Guntur.

"Ah... engkau terlalu berlebihan Dewa An- gin Guntur. Padahal kalian sendiri adalah dua dari tokoh yang memiliki nama besar, pengaruh luas. Bahkan kudengar murid-murid perguruan Gunung Keramat ini tersebar hampir di seluruh pelosok tanah Jawa." puji si kakek.

Orang tua berambut putih tersenyum. "Apa yang paman dengar itu terlalu dilebih-lebihkan. Kami hanya manusia biasa," kata Dewa Angin Guntur.

"Tidak seperti yang paman katakan, kami ini sesungguhnya adalah orang biasa." Galuh Pi- taloka menimpali pula.

"Sudah menjadi kebiasaan orang berbudi berilmu tinggi. Mereka begitu pintar menyembu- nyikan kehebatan segala apa yang mereka miliki dengan bersikap santun, bukankah begitu kakek gendut?!" kata Ambini membuat kakek Gentong Ketawa terkekeh-kekeh dan pasangan suami istri itu jadi salah tingkah.

"Kau benar Ambini. Sebenarnya hari ini ki- talah yang merasa beruntung karena bertemu dengan mereka." kata si kakek gendut berbobot lebih dari dua ratus kati ini sambil menekap mu- lutnya yang kembali hendak tertawa.

Beberapa saat kemudian suasana dicekam kebisuan. Teringat oleh si kakek tentang maksud dan tujuan mereka datang ke perguruan ini.

Sehingga dia berkata. "Dewa Angin Guntur dan Galuh Pitaloka, sebelumnya aku mohon maaf karena kedatangan kami ke sini pasti sangat ti- dak kalian duga "

"Paman Gentong Ketawa, lupakan segala peradatan dan sikap basa-basi. Jika memang ada sesuatu yang amat penting yang ingin paman sampaikan kami siap mendengarkannya."

Gentong Ketawa melirik ke arah Ambini. "Sebaiknya kau saja yang bicara Ambini!" pinta orang tua itu.

Si gadis yang tidak menyangka kakek gen- dut mengerjainya merasa serba salah. Dia terdiam sejenak, bingung tak tahu harus memulai dari mana. Dia sadar bagaimanapun saat ini dia se- dang berhadapan dengan dua tokoh utara yang sangat disegani, sehingga dia harus hati-hati mengatakan segala sesuatunya agar jangan sam- pai keliru. Barulah setelah gadis cantik jelita ini dapat menenangkan perasaannya dia membuka mulut. "Paman Dewa Angin Guntur dan bibi Ga- luh Pitaloka. Beberapa hari yang lalu ketika kami melakukan perjalanan di malam buta, di sebuah rumah tua yang sudah tidak terpakai kami men- jumpai sosok mayat yang sudah membusuk tanpa kepala. Orang itu diperkirakan terbunuh sekitar tiga hari sebelumnya. Yang membuat kami heran kepala mayat hilang." kata Ambini, dia kemudian menerangkan ciri-ciri si mayat.

Dewa Angin Guntur dan istrinya saling pandang, wajah mereka menampakkan rasa pri- hatin yang mendalam.

Galuh Pitaloka kemudian bicara mewakili sang suami. "Mendengar ciri-ciri yang dikatakan Ambini, kami punya jawaban yang pasti bahwa mayat yang kalian temukan itu pastilah mayat Patira Seta, cucu sahabat kami yang dibunuh se- cara misterius oleh seseorang. Adapun potongan kepala yang kalian tanyakan dibawa oleh Guru Lanang Pamekasan, kakek pemuda malang itu sendiri. Saat ini kami pun sedang berusaha men- cari pembunuh keparat itu. Sayang kami belum menemukan titik terang."

"Kami tak mengira dia cucu sahabatmu." ucap si kakek gendut. "Aku punya dugaan ba- rangkali sahabatmu itu punya musuh yang me- mendam dendam berkarat, sehingga cucunya di- bunuh orang dengan cara yang amat keji." Gen- tong Ketawa memberi tanggapan.

Wajah Dewa Angin Guntur sempat berubah menampakkan rasa tidak suka, sedang paras Ga- luh Pitaloka bersemu merah.

"Paman Gentong kurasa mengatakan suatu pendapat yang keliru. Untuk kalian ketahui, sa- habatku itu baru saja datang dari Madura. Keda- tangannya ke sini adalah untuk menjodohkan cu- cunya pada putri tunggalku. Di tanah Jawa ini dulu dia pernah menetap lama, tapi aku yakin sekali dia tidak punya musuh."

"Tidak punya musuh tapi cucunya dibunuh orang. Berarti pembunuhnya pasti punya mak- sud-maksud tertentu...!" sahut si kakek.

Ambini menimpali. "Yang dibunuh cu- cunya, bukan kakeknya. Aku punya dugaan sang pembunuh pasti tak menghendaki perjodohan itu jadi terlaksana," ujar si gadis.

Dewa Angin Guntur dan Galuh Pitaloka saling pandang. Gadis yang datang bersama ka- kek Gentong Ketawa itu selain cantik agaknya memiliki otak yang sangat cerdik. Selama bebera- pa hari setelah kejadian belum pernah terpikirkan oleh mereka sampai sejauh itu. Kemungkinan yang dikatakan Ambini mungkin ada kebenaran- nya. Tapi siapa yang melakukannya? Mengingat Patira Seta memiliki ilmu serta kepandaian silat tinggi, mustahil pembunuhan itu dilakukan oleh manusia biasa. Paling tidak dia harus memiliki kecepatan dalam menggunakan senjata, atau bo- leh jadi kepandaiannya beberapa tingkat di atas Patira Seta.

Sampai saat ini Dewa Angin Guntur tak bi- sa menduga lain. Mustahil cucu Guru Lanang Pamekasan dibunuh murid perguruan Gunung Keramat, apalagi Lambang Pamudi. Pemuda lugu itu tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Dewa Angin Guntur lalu ingat pada Lara Murti. Ingat pada putrinya yang sedang melatih murid pergu- ruan orang tua ini jadi ingat pada Bayu Gendala.

"Lara berulang kali mengatakan pemuda itu sering mengganggunya. Dia bahkan berani mengutarakan perasaannya padahal dia tahu anakku hendak kunikahkan dengan Lambang Pambudi. Pemuda keparat putra Selasih Jingga ini kudengar bahkan hampir membunuh Lam- bang Pambudi dua hari lalu di perkebunan bun- ga. Mestinya sudah kutangkap atau kuhajar dia, tapi aku tak mau melakukan tindakan gegabah sebelum kudapatkan bukti yang kuat untuk menghukumnya." geram orang tua itu.

"Dewa Angin Guntur," suara Gentong Ke- tawa memecah kebisuan yang kaku. "Mengingat masalah ini pelik dan rumit. Aku yang sudah tua bangka ini jadi ikut lancang dan ingin pula me- nemukan biang racun yang membuat sahabatmu jadi ikut berduka. Jika kau tak merasa risih, aku dan Ambini akan mencari pembunuh cucu saha- batmu dengan cara kami sendiri."

Mendengar penjelasan si kakek tentu sua- mi istri ketua perguruan Gunung Keramat jadi gembira.

"Niat baikmu kami hargai paman. Kami se- nang mendengarnya!" kata Galuh Pitaloka.

"Begitu juga aku. Atas nama perguruan se- belumnya aku mengucapkan terima kasih." ujar Dewa Angin Guntur. Dia melirik ke arah istrinya. Seakan mengerti makna lirikan itu Galuh Pitaloka tersenyum. "Paman dan Ambini menurutku sebelum pergi ada baiknya kalian masuk dulu ke rumah kami. Aku membuatkan minuman untuk kalian!" ujar perempuan itu menawarkan.

Ambini gelengkan kepala kakek. Gentong Ketawa ragu-ragu, tapi kemudian dia tertawa. "Kopi dan gula batu, atau teh tubruk memang enak. Tapi kalah enak dengan tuak keras. Hanya di rumah orang sebersih kalian kurasa apa yang aku sebutkan belakangan tidak ada. Jadi kami mohon pamit saja! Ha... ha... ha!" berkata begitu si gendut besar sambar tangan Ambini. Di lain ke- jap kedua orang itu telah lenyap dari hadapan Dewa Angin Guntur.

"Luar biasa. Badannya begitu besar, tapi gerakannya begitu cepat dan ringan sekali. Jika tidak melihatnya sendiri rasanya sangat sulit un- tuk bisa kupercaya!" gumam Galuh Pitaloka me- rasa takjub.

"Orang tua seberat dan sebesar itu, mem- punyai gerakan yang sangat ringan. Sungguh di atas langit masih ada langit!" timpal Dewa Angin Guntur. "Aku berharap tugas kita semakin ber- tambah ringan, jika paman Gentong Ketawa dan temannya mau membantu kita." 

Galuh Pitaloka anggukkan kepala. Dua pemimpin perguruan Gunung Keramat lalu ting- galkan tempat itu. Sementara di balik serumpun semak belukar sepasang mata yang ikut menden- gar semua pembicaraan dan mengawasi mereka sejak tadi sambil tersenyum sinis menyelinap tinggalkan perguruan Gunung Keramat.

10

Malam itu Selasih Jingga nenek tua berba- dan setengah bungkuk benar-benar tak dapat memejamkan mata sedikitpun. Padahal malam te- lah larut, sementara udara dingin terasa mencu- cuk sampai ke tulang. Karena perasaannya terus menerus diwarnai kegelisahan orang tua itu lalu bangkit dan duduk di bibir balai bambu. Selasih Jingga diam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu. Mendadak dia tersentak kaget begitu mendengar suara benda jatuh. Dengan hati ber- debar si nenek bangkit lalu mendatangi ke arah mana suara tadi berasal. Ternyata yang jatuh adalah sebuah kendi air. Si nenek belalakkan ma- ta, perasaannya semakin tak karuan. Dipandan- ginya kendi tanah itu yang telah hancur berkep- ing-keping. Sementara air di dalam kendi itu tam- pak menggenang memenuhi lantai.

"Alamat buruk, firasat tidak baik." gumam si nenek. Dia berjongkok memunguti pecahan kendi, kemudian meletakkan puing kendi di atas meja bundar.

Selagi nenek Selasih Jingga bangkit berdiri pada saat hampir bersamaan mendadak terden- gar pekikan suara burung gagak. Suara burung itu terdengar persis di atas rumahnya. Si nenek tercekat, dia meraba tengkuknya yang mendadak berubah sangat dingin sekali. "Alamat celaka! Ti- dak mungkin ada gagak berkeliaran pada malam- malam begini. Ini adalah satu pertanda buruk yang tidak dapat dibantah!" desis si nenek dengan suara tercekat.

Suara burung yang didengarnya kemudian lenyap. Si orang tua entah mengapa teringat pada anaknya, sehingga dia segera menuju ke ruangan depan di mana Bayu Gendala tidur di situ. Nenek Selasih Jingga jadi kaget ketika melihat tempat ti- dur pemuda itu dalam keadaan kosong. Cemas dan bingung si nenek segera menuju ke pintu de- pan. Pintu dalam keadaan setengah terbuka. Orang tua ini julurkan kepala keluar, perasaan- nya berubah menjadi lega ketika dia mendengar suara orang bersenandung. Senandung kesedihan dari orang yang merindukan kekasih.

"Dalam keadaan seperti itu tak mungkin aku mendekati, atau membujuknya. Kasihan dia, nasib hidupnya begitu buruk. Akupun tak mung- kin melamarkan Bayu pada Lara Murti. Perbe- daan antara kami tidak bedanya seperti langit dengan bumi, semoga Gusti Allah memberi petun- juk padanya. Semoga dia mau mengerti!" kata si nenek dengan mata berkaca-kaca. Pintu kemu- dian ditutupkan, setelah itu dia kembali mere- bahkan diri di tempat tidurnya. Mungkin si nenek merasa yakin kalau orang yang bersenandung ta- di adalah anaknya, Bayu Gendala.

Sementara itu pada waktu yang hampir bersamaan di perguruan Gunung Keramat suasa- na terasa lebih mencekam lagi. Seluruh murid perguruan yang tinggal di lima pondok panjang sudah terlelap dibuai mimpi, sedangkan di rumah induk yang ditempati oleh keluarga ketua pergu- ruan Gunung Keramat juga dalam suasana sunyi.

Sementara di bagian samping rumah besar itu satu sosok tubuh nampak mendekam di balik gerumul tanaman bunga matahari. Cukup lama juga sosok serba putih itu memperhatikan kea- daan di sekelilingya. Sampai kemudian sosok itu bangkit berdiri. Begitu bangkit dia berjalan men- gendap-endap mendekati daun jendela kamar yang ditempati oleh Lara Murti. Pintu jendela ter- nyata dalam keadaan terkunci. Sosok berpakaian serba putih dan memakai topeng kayu putih menggumamkan sesuatu seperti tengah membaca mantra. Setelah itu kedua tangan diangkat, ba- gian telapak tangan ditiup sebanyak tiga kali, lalu tangan digosokkan satu sama lain. Begitu tangan beradu, terlihat asap tebal berbau aneh mengepul di udara. Bergulung-gulung, sebagian masuk ke alam kamar melalui celah jendela disertai bau ha- rum aneh sedangkan sebagian lagi membubung tinggi di udara sampai akhirnya lenyap ditiup an- gin.

Sosok berpakaian serba putih itu menye- ringai, dua tangan lalu ditempelkan ke daun jen- dela yang tepat diperkirakan di bagian kuncinya.

Wuuus!

Jendela hangus menghitam meninggalkan sepuluh jari tangan. Dengan cepat sekali jendela dibuka. Asap berbau harum yang ternyata men- gandung sirep jahat yang membuat orang dapat tertidur pulas telah membuat penghuni kamar ti- dak menyadari ada bahaya besar yang sedang mengancamnya.

Begitu melihat Lara Murti dalam keadaan pulas seperti itu, maka sosok berpakaian putih memakai topeng itu langsung melompat masuk. Dia mendekati ranjang. Satu totokan dilakukan di bagian perut serta dada gadis itu. Baru kemudian Lara Murti dipanggulnya. Semua yang terjadi ber- langsung dengan sangat cepat sekali. Di lain ke- jap orang ini telah meninggalkan kamar sambil memanggul Lara Murti di bahu kanannya. Dia kemudian berlari menjauh dari perguruan itu, hingga sampai di satu tempat yang cukup aman orang ini hentikan larinya. Lara Murti segera ditu- runkan dari bahunya dan direbahkan dengan po- sisi menelentang. Beberapa saat lamanya orang bertopeng pandangi gadis yang masih belum sa- darkan diri itu. Sesungging senyum menghias bi- birnya.

"Malam ini segala malapetaka itu bermula. Dendamku tak akan impas walaupun aku bisa melenyapkan seribu nyawa. Gadis ini terpaksa kujadikan korban, perantara dari segala kemara- hanku yang tidak pernah padam. Dia harus me- rasakan penderitaan hebat yang pernah kurasa- kan dulu. Ha... ha... ha!" kata sosok berpakaian putih dengan nafas memburu bercampur amarah dan nafsu. Dia kemudian jatuhkan diri berlutut di samping si gadis. Tangan kanannya berkelebat.

Bret!

Pakaian Lara Murti robek di bagian dada. Seperti dirasuki setan orang ini mencabik-cabik pakaian si gadis, hingga keadaan Lara Murti nya- ris telanjang. Perlakuan yang kasar ini tentu membuat si gadis terjaga dan jadi terkejut besar begitu menyadari dirinya telah berada di lain tempat. Lebih terkejut lagi ketika melihat pa- kaiannya dalam keadaan tak karuan. Lara Murti memekik keras, dia mencoba menggerakkan ka- kinya sambil menghantamkan tangan kanan ke bagian dada sosok bertopeng. Tapi dia jadi terke- jut sendiri begitu menyadari kaki dan tangannya sulit digerakkan.

"Siapa kau! Lepaskan jahanam terkutuk! Lepaskan aku!" pekik si gadis. Akan tetapi suara makiannya hanya sampai sebatas tenggorokan saja. Sementara orang bertopeng putih telah ber- hasil melakukan perbuatan paling terkutuk pada dirinya.

Lara Murti hanya dapat menangis tanpa suara. Air mata bercucuran tiada henti, tubuhnya didera rasa sakit yang sangat hebat. Dalam kea- daan seperti itu Lara Murti berusaha mengum- pulkan tenaga dalam untuk membebaskan toto- kan. Usahanya itu ternyata berhasil, dia berusaha melompat bangkit berdiri. Sosok bertopeng meng- halangi dengan menekan kepalanya.

"Manusia durjana, kubunuh kau!" pekik si gadis. Dengan perasaan hancur gadis ini meraih topeng yang dipakai orang yang telah meno- dainya, sedangkan tangan kanan dihantamkan ke bagian dada orang itu. Angin menderu disertai berkiblatnya sinar biru ke arah sosok yang telah menghancurkan dirinya. Tapi sosok berpakaian serba putih itu cepat ambil tindakan penyelama- tan dengan jatuhkan diri di samping si gadis hingga pukulan ganas itu hanya menghantam re- ranting dan daun pepohonan. Ranting dan daun hangus gosong. Sosok bertopeng mencabut pe- dang, pedang diayunkan tepat searah jantung. Bersamaan dengan itu pula topeng terenggut le- pas.

"Kau...!" desis si gadis dengan mata terbela- lak dan mulut ternganga lebar. Kelengahan yang hanya sekejap ini langsung dipergunakan oleh orang itu, ujung pedang berkelebat menghunjam dada si gadis. Dia menjerit. Darah menyembur, sejenak lamanya dengan mata yang semakin mengabur dia pandangi sosok itu. Bibirnya berge- rak lemah, mengucapkan kata-kata yang tidak je- las. Sosok berpakaian serba putih nampak berge- rak menjauh, terus melangkah mundur seperti ketakutan sampai akhirnya dia membalikkan badan dan berkelebat meninggalkan tempat itu.

Pagi keesokan harinya perguruan Gunung Keramat menjadi gempar dengan ditemukannya jenazah Lara Murti oleh salah seorang murid per- guruan yang saat itu sedang mengambil air di tepi telaga di mana bencana itu menimpa diri putri ke- tua perguruan mereka. Semua murid-murid per- guruan ini menjadi sangat sedih melihat kematian Lara Murti yang mengenaskan, Lara Murti yang sangat baik selama ini sudah mereka anggap se- bagai saudara tua mereka sendiri. Kini tiba-tiba gadis itu dinodai secara keji dan dibunuh pula, siapa yang tidak berduka. Dalam kedukaan itu terbersit pula rasa dendam amarah pada sang pembunuh. Apalagi mereka di samping pedang yang dipergunakan untuk membunuh juga me- nemukan sebuah topeng kayu. Topeng itu sudah sangat mereka kenal, siapa pemiliknya rasanya mereka juga sudah tahu. Sebab beberapa kali me- reka melihat pemuda pemilik topeng tersebut menggoda Lara Murti. Selain itu si pemuda berto- peng yang bukan lain adalah Bayu Gendala ini juga pernah mengancam Lara Murti akan mela- kukan cara apapun untuk mendapatkannya.

"Jahanam itu kalau diijinkan oleh guru, ra- sanya aku ingin memenggal kepalanya saat ini ju- ga!" kata salah seorang pemuda yang berkumpul dengan saudara seperguruan yang lain di bagian halaman rumah duka.

Di dalam ruangan Lambang Pambudi begi- tu melihat kematian kekasihnya yang sangat mengenaskan nampak mengalami guncangan he- bat. Berulangkali dia tak sadarkan diri. Beberapa murid perguruan yang juga larut dalam kesedi- han nampak tengah berusaha menghiburnya.

Sedangkan Galuh Pitaloka nampak me- rangkul mayat Lara Murti erat-erat. Dia tidak perduli darah dari luka si gadis mengalir memba- sahi sebagian pakaiannya. Melihat keadaan anaknya yang mengenaskan tokoh utara yang ga- gah ini nampak cucurkan air mata. Sekujur tu- buhnya mengkirik, jantungnya serasa mau mele- dak, tubuh lemas lunglai. Galuh Pitaloka mera- tap, tak sanggup menyaksikan keadaan anak ga- disnya tewas begitu rupa.

Di belakangnya Dewa Angin Guntur nam- pak pejamkan matanya. Walaupun orang tua ini nampak lebih tabah, tak urung hatinya sempat terguncang juga menyaksikan kematian putri sa- tu-satunya yang sangat dia kasihi. Walaupun ke- pedihan itu mendera batin Si orang tua, dia ma- sih dapat bersikap lebih tegar. Beberapa saat se- telah Dewa Angin Guntur dapat menenangkan pi- kiran dan mengumpulkan segenap kekuatan ba- tin yang sempat tercerai berai akibat musibah be- sar itu dia segera melangkah ke tengah ruangan di mana pedang dan topeng putih itu tergeletak. Pedang yang berlumuran darah di selipkannya di pinggang sebelah kiri. Setelah itu dia memungut topeng kayu berwarna putih. Dengan mata merah berkilat penuh rasa benci ditatapnya topeng itu beberapa kejap lamanya. Tubuh si orang tua ber- getar hebat. Wajah merah kelam, bibir bergeleme- letukan sedangkan larang keluarkan suara berge- lemetukan. Mendidih darah Dewa Angin Guntur terbakar amarah. Dia lalu berkata dengan suara menggeledek.

"Pemilik topeng keparat ini aku sudah mengenalnya. Aku tidak bisa menerima kenya- taan ini. Aku harus menentukan satu kematian yang paling menyakitkan bagi dirinya. Dia tidak akan kubunuh begitu saja, terlalu enak baginya. Dia harus merasakan penderitaan hebat sebelum kematian menjemputnya!" Sejenak lamanya dia pandangi Lambang Pambudi dan juga Galuh Pita- loka yang sedang membaringkan jenazah Lara Murti "Pambudi, kau bantu mengurus jenazah anakku. Kuburkan dia secara layak. Perintahkan beberapa muridku untuk membuatkan kubur di halaman depan." tegas Dewa Angin Guntur.

"Apapun perintah ayah akan saya kerja- kan. Tapi ayah... saya mohon ayah bisa menghu- kum pemuda itu dengan seberat-beratnya." pinta Lambang Pambudi. Orang tua itu anggukkan ke- pala.

Dia lalu memandang ke arah istrinya. "Is- triku, jika upacara penguburan putri kita selesai, engkau boleh menyusul. Kau akan melihat ba- gaimana aku menghabisi pemuda bangsat itu!" berkata begitu dengan menanggung guncangan batin yang sangat berat Dewa Angin Guntur sege- ra tinggalkan ruangan itu.

Di bagian halaman depan ratusan murid- nya telah menunggu. Dengan bersenjata lengkap. Sebagian di antara mereka bahkan ada pula yang menunggang kuda.

Dewa Angin Guntur segera melompat ke atas punggung kuda berbulu hitam. Tak lama kemudian ratusan murid Gunung Keramat segera menuju ke arah timur Solotigo. Melewati beberapa dusun jumlah rombon- gan semakin bertambah besar. Rupanya kematian Lara Murti cepat sekali tersebar dari mulut ke mulut. Dan ini mengundang rasa simpati di hati mereka sehingga tanpa diminta mereka segera menggabungkan diri dengan murid-murid Gu- nung Keramat.

11

Di dalam rumahnya Selasih Jingga alias Jari Perontok Nyawa nampaknya mondar-mandir dalam kegelisahan. Sesekali dia memandang ke arah Bayu Gendala, di lain waktu si nenek don- gakkan kepalanya ke atas. Dia menarik nafas, la- lu memandang keluar lewat jendela samping.

"Ibu ada apa? Ibu kulihat seperti orang bingung?" tanya Bayu Gendala yang merasa serba salah melihat sikap ibunya.

Orang tua itu diam tertegun, setelah itu dia menoleh dan memandang pada pemuda di de- pannya dengan tatapan penuh selidik.

"Kau ke mana saja malam tadi?" tanya si nenek curiga.

Mendapat pertanyaan itu Bayu Gendala ke- rutkan keningnya seperti heran. Tapi kemudian dia tersenyum sinis. "Aku tidak pergi ke mana- pun. Aku berada di sebelah timur pekarangan rumah kita. Memang ada apa bu?" tanya Bayu Gendala sambil memandangi ibunya. "Ibu merasakan ada sesuatu yang aneh, ibu juga mendapat firasat buruk tentang dirimu." jawab ibunya sambil mencoba menutupi galau di hatinya.

"Ha... ha... ha, ibu ada-ada saja. Segala macam firasat ibu percaya. Mengenai Lara Murti ibu tenang saja. Jika aku tidak bisa mendapatkan cintanya, siapapun tidak akan memilikinya, mungkin juga termasuk orang tuanya sendiri."

Mendengar ucapan pemuda itu nenek Sela- sih Jingga belalakkan matanya. "Apa maksudmu anakku? Jangan sekalipun kau berani berbuat nekad? Kau harus ingat, kau harus eling anakku siapa dirimu itu?!"

Bayu Gendala gelengkan kepala. "Diriku adalah anak dari seorang ibu yang malang. Ibu yang tidak pernah punya keberanian menghadapi kenyataan hidup." dengus si pemuda. "Aku tahu ada sesuatu yang ibu sembunyikan dariku. Sesu- atu yang mungkin menyangkut kejadian buruk yang pernah ibu lakukan di masa lalu." kata Bayu Gendala.

"Bayu Gendala anakku. Tega sekali kau berkata seperti itu pada ibumu?!" jerit nenek Se- lasih Jingga. Perempuan itu lalu tekad wajahnya dengan kedua tangan. Air mata si nenek bergulir melewati celah-celah jemari tangannya. Bayu Gendala sama sekali tidak perduli, sedikitpun ti- dak ada rasa iba di hatinya melihat ibunya me- nangis. Malah dia kemudian berkata menyesali.

"Aku muak hidup dalam keadaan seperti sekarang ini. Di depanku ibu selalu berpura-pura. Katakan terus terang ibu, jika ibu adalah orang baik orang jujur sebagaimana yang kulihat saat ini mengapa ibu takut menghadapi mereka, men- gapa sedari kecil hingga ku menjadi besar ibu se- lalu mengurung diri di dalam rumah ini. Menga- pa?!" tanya pemuda itu.

Nenek tua itu turunkan kedua tangannya, dia pandangi kedua Bayu Gendala dengan sorot mata seakan tak percaya. Hatinya diam-diam me- rintih, mungkin semua itu terjadi akibat kejaha- tan yang pernah dilakukannya di masa yang lalu.

"Mengapa ibu diam?" suara si pemuda kembali memecah keheningan. Belum lagi nenek Selasih Jingga sempat menjawab. Pada saat itu pula terdengar suara teriakan menggeledek yang datang dari arah bagian depan rumah tinggal me- reka.

"Selasih Jingga! Mana anakmu! Suruh dia keluar mempertanggungjawabkan segala dosa terkutuknya!" kata satu suara.

Di dalam rumah nenek Selasih Jingga jadi kaget, begitu juga halnya dengan Bayu Gendala. Ibu dan anak saling pandang, tapi mereka seperti disentakkan langsung melompat mendekati dind- ing bambu. Dari balik dinding mereka mengintai keluar. Kejut di hati si nenek bukan olah-olah be- gitu dia melihat rumahnya telah dikepung oleh ra- tusan murid perguruan Gunung Keramat. Bukan hanya itu saja, di samping murid-murid pergu- ruan ikut tergabung pula puluhan penduduk dari beberapa dusun. Mereka semua memegang senja- ta berbagai jenis. Wajah membayangkan keberin- gasan dan dendam, di antara para pendatang ini bahkan ada yang memegang obor yang siap di- nyalakan bila dibutuhkan. Si nenek tahu arti se- mua itu.

"Apa yang telah kau lakukan, Bayu? Men- gapa mereka datang ke mari?" tanya perempuan itu dengan suara pelan bergetar. Bayu Gendala yang dibuat bingung melihat kemunculan ketua perguruan Gunung Keramat dan juga muridnya jadi gugup.

"Aku... aku tidak tahu. Aku merasa belum pernah melakukan apapun!" sergah si pemuda mencoba meyakinkan ibunya. Dalam keadaan te- gang begitu rupa Selasih Jingga alias Jari Peron- tok Nyawa dapat melihat satu kejujuran terpancar di mata anaknya.

"Selasih Jingga! Serahkan anakmu untuk menerima hukuman setimpal dariku. Bayu Gen- dala telah menodai dan membunuh anakku seca- ra keji. Sekarang dia harus menerima hukuman dariku!" kata satu suara. Bila nenek Selasih Jing- ga maupun Bayu Gendala mengintip ke arah da- tangnya suara, ternyata yang berteriak itu adalah Dewa Angin Guntur, ketua perguruan Gunung Keramat.

"Anakku, aku tahu kau berkata jujur. Tapi orang-orang di luar sana mustahil percaya den- gan keteranganmu. Kau larilah dari pintu bela- kang, selamatkan dirimu. Jangan sekalipun fiki- ran diriku."

"Tapi ibu...!" Bayu Gendala nampak ragu- ragu, mungkin juga tidak tega melihat nasib bu- ruk yang menimpa ibunya.

"Kuingatkan lagi, jangan kau pikirkan ibumu!" tegas si nenek masih dengan suara per- lahan. Merasa tidak punya jalan lain, Bayu Gen- dala anggukkan kepala. Dia melangkah mendeka- ti pintu belakang. Sementara itu dari luar sana kembali terdengar suara teriakan.

"Selasih Jingga tua bangka keparat! Aku tahu kau berada di dalam sana, aku tahu kau mendengar. Cepat keluar! Serahkan anak itu! Ini kesempatan terakhir yang kuberikan padamu. Ji- ka kau tak mau keluar rumah ini akan kubakar. Kau dan anakmu bisa terbakar hidup-hidup!"

Dalam keadaan seperti itu di mana suara teriakan tidak sabar mulai terdengar di sana-sini, Jari Perontok Nyawa sudah tidak dapat lagi menggunakan akal sehatnya. Dengan cepat dia melesat melewati pintu depan. Hanya beberapa saat saja dia sudah berdiri tegak di depan Dewa Angin Guntur. Laki-laki berambut putih itu mem- perhatikan si nenek sekejap, dia lalu mengambil pedang berlumur darah dari pinggangnya, kemu- dian dari balik pakaian dia juga mengeluarkan sebuah benda yang ternyata adalah sebuah to- peng kayu berwarna putih. Melihat kedua benda ini nyawa si nenek laksana terbang. Tubuhnya bergetar kehilangan tenaga sedangkan wajah yang keriput berubah seputih kertas. "Kau tentu mengenali kedua benda ini, Se- lasih?" berkata Dewa Angin Guntur dengan suara keras menyentak. "Pedang anakmu ini kutemu- kan tertancap di bagian jantung, sedangkan to- peng ini tergeletak di samping mayat Lara Murti putriku. Untuk kau ketahui, sebelum membunuh anakmu telah berlaku keji terhadap anakku. Se- karang mana anakmu, cepat kau serahkan pada- ku!" teriak laki-laki berambut putih ini sudah ti- dak sabar.

Walaupun si nenek merasa tidak berdaya melihat bukti-bukti yang ditunjukkan Dewa Angin Guntur namun dia masih juga berusaha memberi penjelasan. "Aku akui topeng dan pedang itu ada- lah milik anakku Bayu Gendala. Tapi aku tak percaya anakku yang telah berbuat keji bahkan membunuh anakmu. Demi Tuhan aku berani menjaminnya!" kata si nenek bersungguh- sungguh.

"Dia berdusta!" teriak murid-murid Dewa Angin Guntur.

"Dia juga harus dibakar hidup-hidup!" te- riak puluhan penduduk yang ikut bergabung dengan mereka.

Laki-laki itu memberi isyarat agar murid- nya diam. Setelah itu dia baru berkata, "Jari Pe- rontok Nyawa, aku tahu sekarang kau sudah ber- taubat. Aku tahu kau tidak melakukan kejahatan lagi. Akan tetapi harus kau ingat segala kekejian dan keganasanmu di masa lalu tidak mudah kau hapuskan dari ingatan orang. Aku tidak akan mengusikmu, karena tidak kubunuh pun kau pasti akan mati dengan sendirinya. Tapi kuperin- gatkan sekali lagi Bayu Gendala harus kau serah- kan padaku. Jika kau punya tujuan baik dan be- nar-benar telah insyaf, kau harus tunjukkan iti- kad baik dengan tidak membelanya. Dengan begi- tu aku baru bisa percaya!" hardik Dewa Angin Guntur.

"Mengenai anak itu silahkan cari sendiri. Dia sudah besar dan bisa menentukan jalan hi- dupnya! Hanya sekali lagi kutegaskan, sebagai ibu aku tahu dia tidak melakukan perbuatan se- bagaimana yang kau tuduhkan."

"Tua bangka gila, apakah bukti yang ku- bawa tidak cukup jelas bagimu?!" teriak si orang tua kalap.

"Mungkin... mungkin... topeng dan pedang itu sengaja dipergunakan seseorang untuk menu- tupi perbuatannya." kata si nenek.

Percuma saja dia memberi penjelasan. De- wa Angin Guntur dengan cepat segera memberi isyarat. Belasan orang menyalakan obor, begitu obor menyala langsung dilemparkan ke atap ru- mah si nenek. Orang tua ini menjerit kaget. Da- lam pada itu dari pintu belakang berkelebat satu sosok tubuh melewati kobaran api yang mulai membakar di sana-sini.

"Jahanam itu lari ke mari!" teriak belasan murid Dewa Angin Guntur yang berjaga-jaga di belakang.

"Jangan biarkan dia meloloskan diri!" te- riak ketua perguruan Gunung Keramat. Di bela- kang saja Bayu Gendala yang gagal melarikan diri dari kepungan lawan segera melolos senjatanya. Dia telah bertekad untuk membuka jalan darah demi untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Sekejap saja dentring beradunya senjata tajam memenuhi udara. Teriakan geram terdengar pula di sana-sini. Nenek Selasih Jingga tentu saja ter- kejut bukan main melihat anaknya dikeroyok be- gitu rupa. Dia ingin membantu, tapi jadi ragu- ragu. Pada saat dirinya lengah, Dewa Angin Gun- tur tiba-tiba berkelebat melompatinya. Satu toto- kan menghantam punggungnya hingga nenek Se- lasih Jingga jadi kaku tertotok seperti patung.

12

Mengapa kau perlakukan aku seperti ini, Dewa Angin Guntur!" teriak si nenek kaget.

"Urusanku dengan anakmu harus kube- reskan dulu. Setelah itu mengenai dirimu terse- rah keputusanku nanti!" dengus Dewa Angin Guntur. Orang tua ini lalu berkelebat menuju ke arah Bayu Gendala yang sedang dikeroyok oleh murid-muridnya juga penduduk yang ikut serta dengan mereka. Melihat kemunculan Dewa Angin Guntur, Bayu Gendala yang langsung menghan- tamnya dengan pukulan tangan kosong bertubi- tubi membuat pemuda ini semakin terdesak he- bat. Tadi saja sebelum tokoh sakti itu turun tan- gan dia hanya dapat mematahkan serangan ganas yang datang bertubi-tubi dari seluruh penjuru arah. Bayu Gendala yang sebenarnya memiliki tingkat kepandaian hampir sama dengan murid perguruan Gunung Keramat kini terpaksa harus mengerahkan segenap kekuatan yang dia miliki. Pedang diputar mengeluarkan suara menderu, benturan yang terjadi membuat murid-murid De- wa Angin Guntur terdorong mundur, pedang di tangan mereka bahkan ada yang terpental. Tapi laksana badai mereka kembali menyerang. Kini Bayu Gendala mulai terdesak. Beberapa pedang lawan bahkan berhasil melukai tubuhnya. Darah mengucur membasahi pakaian si pemuda. Sema- kin lama pertahanan Bayu semakin melemah, kembali puluhan pedang menghantam tubuhnya. Bahkan telinga, hidung serta bibir Bayu tanggal diterabas pedang yang datang tiada kunjung hen- ti.

"Kini giliranku...!" satu suara berteriak. La- lu satu bayangan berkelebat. Para pengeroyok berlompatan mundur, satu tangan menghantam kepala dan satunya lagi menjebol ke bagian perut.

Braak! Breet!

"Akh... ibuuu... akh...!" Bayu Gendala men- jerit keras begitu kepalanya rengkah dihantam Dewa Angin Guntur. Bukan hanya itu saja, isi pe- rut si pemuda terburai berhamburan keluar. Se- mua ini disaksikan oleh Selasih Jingga. Si nenek menjerit, meraung histeris melihat nasib buruk yang terjadi pada putranya.

Tidak sampai di situ saja rupanya, begitu melihat Bayu Gendala jatuh tergelimpang murid- murid perguruan Gunung Keramat dengan berin- gas langsung mencincang tubuhnya.

"Tidak! Jangan... ku mohon jangan laku- kan itu padanya! Dia tidak bersalah!" teriak si ne- nek dengan perasa pilu seperti tersayat-sayat. Siapapun pasti tidak tega melihat kematian anaknya, apalagi dalam keadaan se mengerikan itu, terlebih-lebih dia sendiri merasa tidak punya kekuatan apa-apa untuk menolong.

"Guru, sebaiknya kita habisi saja tua bangka jahat ini sekalian. Agar kelak tidak men- jadi biang bencana!" kata salah seorang murid Dewa Angin Guntur. Kemudian tanpa menunggu jawaban gurunya mereka yang baru saja menyin- cang Bayu Gendala hingga keadaan mayatnya se- perti daging dicacah, mereka serentak berbalik, kemudian berlari menghambur ke arah si nenek dengan senjata terhunus.

"Selasih Jingga, apapun yang terjadi pada anakmu dan dirimu pada hari ini anggap saja semua ini merupakan balasan berikut bunganya dari segala kejahatan yang pernah kau lakukan di masa lalu!" kata Dewa Angin Guntur tanpa mau atau berusaha mencegah niat para muridnya juga para penduduk yang ikut serta untuk menghabisi si nenek.

Dalam keadaan hati diliputi kegundahan yang mendalam, si nenek yang semula bersikap pasrah saja melihat tindakan brutal yang dilaku- kan Dewa Angin Guntur dan para muridnya kini bertekad untuk membalaskan kematian sang anak.

"Dewa Angin Guntur, ternyata kekejaman- mu dan kekejaman para muridmu melebihi iblis! Aku tidak terima!" teriak si nenek. Dia lalu kerah- kan tenaga dalam untuk membebaskan pengaruh totokan lawan. Tadi dia jadi terkejut sendiri begitu menyadari pengaruh totokan tidak dapat dipu- nahkan. Malah tenaga dalam yang dipergunakan untuk melenyapkan totokan kini berbalik menye- rang dadanya. Si nenek menyeringai kesakitan, sedangkan Dewa Angin Guntur tertawa terbahak- bahak.

"Sampai mati pun kau tak mungkin bisa membebaskan totokanku!" seru si laki-laki.

Sementara itu jarak antara si nenek den- gan puluhan murid Dewa Angin Guntur yang hendak mencincangnya semakin bertambah de- kat. Nampaknya jiwa si nenek tidak mungkin da- pat diselamatkan lagi. Karena sudah merasa tidak melakukan tindakan apapun untuk menyela- matkan diri, si nenek jadi putus asa. Mata dipe- jamkan siap menerima kematian. Tapi pada saat itu pula mendadak sontak terdengar suara meng- gemuruh seperti air bah yang menjebolkan ben- dungan. Angin deras menyambar menghantam para murid perguruan Gunung Keramat. Belasan pemuda berpelantingan jatuh tumpang tindih tak berketentuan. Walaupun mereka tidak sampai tewas, tapi banyak di antaranya yang menderita luka dalam. Dewa Angin Guntur terkejut besar. Dia secepatnya memandang ke arah datangnya hembusan angin keras tadi di mana membuat di- rinya sempat terhuyung.

"Manusia keparat, siapapun yang berani mencampuri urusanku harap mau menunjukkan diri!" teriak si orang tua.

Sebagai jawaban terdengar suara siulan tak berkejuntrungannya. Setelah itu terdengar pula suara tawa bekakan. Suara tawa itu seakan datang dari empat penjuru arah, seolah orang yang tertawa ada empat orang.

Dewa Angin Guntur maklum siapapun orangnya yang telah menggagalkan niat murid- muridnya pasti memiliki kesaktian yang tinggi. Tapi dia tak perduli, siapapun adanya yang berani mencampuri urusannya berarti dia merupakan musuh yang harus dibunuh. Apalagi bila mengin- gat orang itu nampaknya membela bekas tokoh sesat yang dulu sering melakukan berbagai ma- cam kejahatan.

"Kuingatkan sekali lagi, walau kau punya ilmu memindahkan suara harap tunjukkan diri!" Dewa Angin Guntur kembali berseru.

"Ha... ha... ha! Sungguh tidak sedap pe- mandangan hari ini. Aku melihat orang yang mengaku dirinya sebagai orang gagah tidak ta- hunya telah berlaku tolol pengecut bahkan tega hendak membunuh orang yang sudah tidak ber- daya. Sungguh tanpa akal sehat manusia itu su- ka melakukan tindakan yang lebih keji bahkan lebih jahat dari binatang!" kata satu suara. Seir- ing dengan terdengarnya suara yang sempat membuat wajah dan telinga Dewa Angin Guntur jadi panas memerah dari balik pohon besar berke- lebat satu bayangan ke arah mereka.

Beberapa saat kemudian di depan si nenek Selasih Jingga telah berdiri dengan sikap melin- dungi seorang pemuda tampan berambut gon- drong sebahu. Pemuda itu bertelanjang dada, sambil bertolak pinggang dia harus saja tertawa berhehahehe.

Dengan mata mendelik Dewa Angin Guntur memandangi pemuda itu. Semula dia menyangka orang yang menggagalkan niat murid-muridnya adalah seorang tokoh sakti sebagaimana dirinya. Tapi tidak dikira ternyata hanyalah seorang pe- muda yang tidak dikenal yang agaknya miring otaknya. Karena itu diapun membentak.

"Pemuda kurang ajar, siapa dirimu. Berani mati kau mencampuri urusanku?" hardik Dewa Angin Guntur. Sementara itu murid-muridnya ju- ga penduduk yang tergabung dengannya sudah mengepung si pemuda. Merasa dikepung begitu rupa, pemuda ini malah tersenyum. Dia lalu men- jawab pertanyaan orang tua itu.

"Namaku Gento Guyon. Aku sama sekali bukan bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi sebagai manusia yang dihormati hendaknya eng- kau berpikir apakah tindakan yang paman laku- kan tidak keliru dengan membiarkan murid- muridmu hendak membunuh nenek itu!"

"Dulu dia adalah seorang iblis yang memi- liki kejahatan selangit tembus." sahut Dewa Angin Guntur sengit.

"Yang paman katakan adalah dulu. Dan sekarang dia tidak melakukan kejahatan lagi, mengapa paman hendak membunuhnya?!" tanya Gento heran.

"Penyesalan yang dilakukannya boleh jadi hanya topeng belaka. Karena itu aku tidak per- caya padanya bahkan ingin sekali menghabisi pe- rempuan ini sekarang juga!" tegas Dewa Angin Guntur.

"Apakah dia pernah bersalah padamu?" tanya murid Gentong Ketawa sambil mengusap wajahnya.

Ditanya seperti itu ketua perguruan Gu- nung Keramat terdiam. Tapi kemudian dia men- jawab. "Secara langsung memang tidak, tapi anaknya telah menodai putriku. Bukan hanya itu saja. Dia bahkan telah membunuhnya!" dengus si laki-laki tua.

"Anak muda, apa yang dikatakannya bisa jadi tidak benar. Anakku memiliki ilmu kepan- daian yang tidak seberapa tinggi. Bagaimana mungkin bisa berlaku jahat pada Lara Murti?!" kata nenek Selasih Jingga.

"Perempuan keparat! Dua bukti masih be- lum kau anggap cukup bagimu! Kau hendak membelanya hah?!" hardik Dewa Angin Guntur menjadi marah. "Aku tidak membelanya. Aku hanya tidak percaya anakku telah membunuh putrimu!" sahut Selasih Jingga.

"Sebaiknya habisi saja nenek keparat dan pemuda sinting itu guru!" kata salah seorang di antara muridnya sudah tidak sabar.

"Pemuda tolol, kau sudah mendengar ka- rena kesalahan anaknya. Muridku juga jadi in- ginkan nyawanya. Jika kau tidak mau cari pe- nyakit, sebaiknya menyingkirlah sejauh mung- kin!" perintah Dewa Angin Guntur tegas. Menden- gar ucapan Dewa Angin Guntur, murid kakek Gentong Ketawa tertawa tergelak-gelak. Begitu tawanya lenyap, pemuda ini berkata.

"Orang tua, kutugaskan padamu, mengenai kematian anakmu aku punya pendapat lain. Bisa jadi anaknya nenek ini memang pelakunya, tapi boleh jadi bukan dia orangnya. Pemuda itu kini telah kalian jadikan perkedel. Melihat hal itu aku sendiri tidak tega. Lalu mengapa nenek ini harus menanggung dosa anaknya. Padahal aku merasa- kan seperti ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi!" kata Gento.

"Eeh, apa maksudmu?" tanya Dewa Angin Guntur dengan kening berkerut juga penasaran.

Gento Guyon berpikir sejenak, lalu berkata. "Aku berjanji akan menyelidiki semua kejadian yang menimpa anakmu. Beri aku sedikit waktu untuk mengungkapkannya. Jika nantinya terbuk- ti memang anaknya yang melakukan semua per- buatan itu, maka terserah apa yang hendak kau lakukan kepadanya!" kata si pemuda.

"Bocah kampret sialan. Kau pikir dirimu siapa? Bagaimana kau bisa berpendapat lain, pa- dahal bukti-bukti sudah jelas. Lagipula mengapa kau membelanya?" hardik Dewa Angin Guntur sengit.

"Bukti tidak selamanya mengungkapkan kejadian yang benar. Aku tidak membelanya. Aku hanya minta sedikit waktu untuk mengung- kapkan sesuatu dengan sebenar-benarnya."

"Tidak bisa. Aku tidak mau membiarkan perempuan itu lolos dari tanganku!" kata si orang tua tegas.

"Orang tua... hendaknya kau mau bersabar diri. Jika kau menyerangku akan banyak nan- tinya korban yang tidak berdosa yang berjatuhan. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku minta waktu dua pekan, kelak aku akan datang ke tempatmu!" ujar si pemuda.

"Guru jangan dengar apa katanya. Kita bu- nuh saja dia!" teriak murid-muridnya sudah tidak sabar.

"Aku sependapat, cepat lakukan!!" teriak Dewa Angin Guntur. Dia kemudian memberi aba- aba dengan anggukan kepala. Detik itu juga dari seluruh penjuru arah murid-murid perguruan Gunung Keramat menyerbu ke depan menyerang si nenek juga Gento.

"Kampret! Aku harus menyingkir!" rutuk si pemuda. Dia lalu hantamkan kedua tangannya delapan kali berturut-turut ke delapan penjuru arah. Begitu hawa panas berkiblat disertai deru angin bergulung-gulung yang langsung menyam- bar para penyerangnya, maka Gento pergunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Dia menyambar tubuh si nenek, lalu berkelebat tinggalkan tempat itu.

Puluhan orang menjerit dan berpentalan roboh. Dewa Angin Guntur melihat pemuda itu melarikan Si nenek berteriak keras sambil meng- hantam dengan satu pukulan mematikan.

"Kau tidak akan kubiarkan lolos!" hardik Dewa Angin Guntur.

Di depan sana tanpa menoleh Gento terge- lak-gelak sambil menghantam ke belakang me- nyaributi pukulan ketua perguruan Gunung Ke- ramat.

Buuum!

Satu ledakan menggelegar di udara. Tanah terguncang keras, debu mengepul menutupi pe- mandangan, sedangkan Dewa Angin Guntur tam- pak terhuyung. Begitu pemandangan jadi biasa kembali, maka Gento dan si nenek telah lenyap dari tempat itu.

"Keparat sial! Bocah itu kelak akan mene- rima hukuman berat dariku!" geram si orang tua sambil kepalkan tinjunya. Dengan perasaan ke- cewa dia memerintahkan muridnya untuk kemba- li ke perguruan. Mereka yang sempat roboh dan terluka bangkit terus berdiri. Sambil mengikuti gurunya mereka terus menggerendeng sepanjang jalan. Dewa Angin Guntur diam tidak menangga- pi. Dia malah memacu kudanya hingga berlari le- bih cepat, jauh meninggalkan murid-muridnya.

TAMAT