Gento Guyon Eps 06 : Tumbal Ratan Sagara

 
Eps 06 : Tumbal Ratan Sagara


Suara bunyi gamelan mengalun diiringi dengan suara gendang yang ditabuh oleh tiga la- ki-laki berkumis melintang berblangkon butut. Empat gadis cantik berpakaian sutera kuning berkain kebaya terus menari sambil melenggang lenggokkan pinggulnya yang besar. Di sekeliling lapangan para penonton yang terdiri dari laki-laki dan perempuan memperhatikan hiburan selama- tan ini dengan perasaan takjub. Sesekali terden- gar tepuk tangan serta sorak sorai yang gempita. Di antara para penonton laki-laki ada yang ikut menari atau sekedar menggoyangkan tubuhnya di pinggir arena pertunjukan. Setiap laki-laki yang melihat bagaimana ke empat gadis itu menari hampir tak pernah berkedip. Terkadang terdengar suara hela nafas di sana-sini. Tarian yang diper- tunjukkan ke empat gadis itu terasa begitu meng- goda, membuat hati berdebar dan mengguncang- kan iman. Tapi tak seorang pun dari para penon- ton yang berani memasuki arena pertunjukan ka- rena di sudut lapangan berdiri mengawasi seo- rang laki-laki berpakaian hitam gelap berwajah angker. Laki-laki itu merupakan sesepuh dusun Kedung Ombo. Dia sangat disegani karena ilmu silatnya sangat tinggi. Di samping juga merupa- kan ketua adat daerah itu.

Sejak pertunjukan tarian dimulai perhatian laki-laki yang bernama Ki Busrut Rancak Bana yang mempunyai lima orang istri dan sebelas istri piaraan itu sebenarnya terus tertuju pada gadis berdada dan berpinggul besar yang menari di su- dut kiri lapangan. Gadis satu ini adalah yang pal- ing cantik dibandingkan tiga gadis lainnya. Hing- ga tidaklah mengherankan banyak para penonton laki-laki yang memusatkan perhatiannya pada gadis itu.

Dari tempatnya berdiri, Ki Busrut Rancak Bana nampak sering mengulum senyum. Tenggo- rokannya naik turun, lidah dijulurkan dan bibir dibasahi. Jika kepala manggut-manggut mengiku- ti suara gendang, maka hatinya ndut-endutan tak tahan melihat cara si gadis menari. Dalam otak- nya yang selalu dipenuhi pikiran kotor terencana maksud jahat dan mesum.

"Aku ingat nama gadis itu Arum Sedap. En- tah bagian mana yang sedap. Tapi kurasa semua bagian tubuhnya sedap dipandang. Pinggul besar, dada juga besar. Kuharap semuanya serba besar. Caranya menari dan menggoyangkan pinggulnya saja sudah membuat dadaku laksana mau mele- dak. Apalagi jika aku dapat mengajaknya bercinta seusai acara persembahan sesajen malam ini!" pi- kir Ki Busrut Rancak Bana dalam hati. Orang tua berusia hampir lima puluh tahun ini palingkan wajah memandang ke belakangnya. Di sana ber- diri tegak dua laki-laki berpakaian sama bersenja- ta pedang. Kedua laki-laki bertampang seram ini langsung bergerak mendekati begitu mendapat isyarat dari Ki Busrut Rancak Bana. Dia membi- sikkan sesuatu kepada kedua pembantunya ini. Yang dibisiki menganggukkan kepala disertai se- ringai aneh.

Mereka lalu melangkah pergi dan menghi- lang di tengah kerumunan penonton yang berju- bel. Sementara itu suara gamelan dan gendang terus bertalu-talu mengiringi ke empat gadis pe- nari. Semakin bertambah malam, suasana yang dingin makin menghangat. Keempat gadis terus menari bagai kesurupan. Di tengah-tengah sua- sana yang makin bertambah memanas, tiba-tiba saja terdengar suitan. Sebagian penonton merasa heran mendengar suitan yang cukup keras itu. Tapi tak jarang yang bersikap acuh dan terus me- nari dan harus puas walau hanya sekedar di luar lapangan pertunjukan.

"Malam begini dingin. Tubuhku menggigil, mata mengantuk. Sampai di sini ada hiburan gra- tis. Empat gadis menari. Aduh aku suka tarian. Kalau boleh tua bangka ini ikut menari aku san- gat berterima kasih pada yang punya hajat." kata satu suara.

Kemudian terdengar satu suara lain me- nimpali. "Mau menari sampai tua atau sampai pagi sih boleh-boleh saja. Tapi apa enaknya me- nari hanya di luar lapangan. Mereka yang menari saja kebanyakan sudah pada tegang. Apa jadinya kalau kau yang sudah tua jadi ikut-ikutan te- gang? Yang membuat aku bingung nantinya eng- kau hendak lari ke mana?"

Suit! Suiit! "Mana tahan?! Tidak tua tidak muda, kalau yang itu kurasa semuanya sama. Kalau aku sam- pai tegang terpaksa ku pindahkan ke perut, biar jadi kentut! Ha... ha... ha!" menyahuti suara per- tama disertai tawa pendek.

"Aku tidak menganjurkan, aku juga tidak melarang. Kalau mau menari silakan menari. Syukur-syukur kau dapat yang serba besar itu, siapa tahu dia tertarik padamu. Kalau kau dapat dia jangan lupakan aku!"

"Jadi aku boleh menari?" tanya suara per-

tama.

"Seperti yang kukatakan aku tidak men-

ganjurkan juga tidak melarang. Tapi kalau mau, lebih baik menarilah dengan para gadis itu. Kura- sa menari berhadapan dengan para gadis me- nambah suasana semakin bertambah sedap. Ha... ha... ha!" menyahuti suara kedua.

Sekali lagi terdengar suara suitan panjang. Satu sosok tinggi besar luar biasa berkelebat rin- gan dari kegelapan melewati kepala para penon- ton. Di lain kejab si gendut besar dengan bobot lebih dari dua ratus kati ini sudah berada di ten- gah para gadis penari. Kehadiran kakek berbaju hitam tak dikancing ini tentu mengundang heran para penonton sekaligus juga mengundang tawa. Karena cara menari si kakek yang terkesan aneh dan lucu. Caranya menari tidak mengikuti irama gamelan atau suara gendang, melainkan terkesan seenaknya sendiri. Kepala digoyangkan ke kiri atau ke kanan, mata berputar dikedip-kedipkan. Tangan melejang-lejang seperti orang terserang ayan. Bahu naik turun, perut dikedut-kedutkan, sedangkan dada dibusungkan atau ditarik ke be- lakang, tak lupa pantat diogel-ogelkan.

"Wah asyik juga. Menari bersama empat gadis ternyata enak. Hayo tabuh gendang agak kerasan dikit!" Si kakek gendut besar terus beru- saha mengikuti gerak tarian gadis yang bernama Arum Sedap. Tapi karena memang tidak pandai maka gerakan tubuhnya selalu ketinggalan atau salah melulu. Semua ini tentu saja membuat para penonton semakin tak dapat menahan tawanya. Lain halnya dengan Ki Busrut Rancak Bana. Begi- tu melihat kehadiran kakek yang tak dikenal itu, mula-mula dia tampak heran. Tapi darahnya ke- mudian laksana mendidih begitu melihat si gen- dut aneh menari berpasangan dengan Arum Se- dap. Gadis cantik yang menjadi incarannya sejak tadi. Melihat cara si kakek menari dan jaraknya yang begitu dekat dengan Arum Sedap menim- bulkan rasa cemburu di hati laki-laki itu. Ma- tanya mendelik mencorong marah, kedua rahang bergemeletukan, pipi menggembung dan wajah tampak tegang luar biasa.

"Gendut Keparat itu, manusia edan yang baru terlepas dari penjara gila mana?" maki Ki Busrut Rancak Bana geram. "Jika dia menari dengan tiga penari lainnya tidak mengapa, aku tak mengambil pusing. Tapi beraninya dia menari dengan orang yang memenuhi seleraku? Kelak ji- ka acara persembahan sesajen ini selesai aku akan menyuruh Ukir Koro dan Rono Gandul un- tuk mengusirnya!" dengus orang ini.

"Asyik... ha... ha... ha. Asyiik... bocah itu betul-betul tolol tidak ikut menari padahal tiga gadis belum punya pasangan. Ha... ha... ha!" kata si gendut besar yang bukan lain adalah kakek Gentong Ketawa.

Selagi enak si kakek menari, mendadak Ki Busrut Rancak Bana angkat tangan kanannya memberi isyarat pada para penabuh gendang dan gamelan. Begitu diberi isyarat suara tetabuhan langsung terhenti. Si kakek untuk beberapa saat terus menari, sementara para penari bergerak mundur mengakhiri acara tarian. Para penonton kini mentertawakan si kakek gendut. Sadar irama gamelan terhenti si kakek jadi kaget. Dia hentikan gerakannya dalam posisi tangan memeluk, pantat menyonggeng dan tubuh meliuk seperti orang yang menderita sakit pinggang.

"Ah, lagi tanggung mengapa harus dihenti- kan?" gerutu si kakek. Dia melirik ke arah si ku- mis besar Ki Busrut Rancak Bana. Dia tahu orang itulah yang tadi memberi isyarat pada para pena- buh dan pemain gamelan. Kepada orang ini dia hanya memandang sekilas. Beralih pada Arum Sedap si gendut kedipkan mata kirinya. Kebetu- lan Arum Sedap sedang memandang kepadanya hingga kedipan mata si kakek membuat Arum Sedap tersipu-sipu.

"Jahanam. Berani betul dia mengedipkan mata pada Arum Sedap. Dia memang sengaja cari perkara hendak membuat urusan besar dengan- ku. Huh... saat ini aku harus menahan diri. Sebe- lum acara persembahan sesajen berlangsung aku tak mau ada masalah atau keributan apapun." Ki Busrut Rancak Bana melirik sekilas pada si gen- dut. "Aku tahu, dia bukan orang gila. Dia pasti memiliki ilmu kesaktian tinggi. Aku sempat meli- hat bagaimana tadi dia melompat melewati para penonton. Gerakannya ringan luar biasa, padahal tubuhnya sangat besar sekali!" batin laki-laki itu.

"Sayang... sayang sekali. Padahal sedang tanggung. Melakukan pekerjaan apapun kalau tanggung mana enak? Ha ha ha!" kata Gentong Ketawa. Di balik kegelapan temannya menyengir sambil nyeletuk.

"Dasar gendut sinting. Bicaramu selalu ngaco, mulut besar asal ngablak saja! Tapi buat apa aku urusi dia? Aku sendiri juga mau mengu- rus persoalanku sendiri!" kata orang itu. Kemu- dian tanpa bicara lagi orang itu mendekati meja besar tak jauh dari lapangan pertunjukan tarian.

Kembali pada si gendut yang masih tetap menyonggeng, tangan dalam posisi memeluk, pinggang miring dan mulut cemberut. "Bapak pe- nabuh gendang dan bapak gamelan. Tega dikau membuat tubuhku jadi begini. Gusti... gusti...!" keluh si kakek. "Hayo gendang ditabuh, gamelan dipukul. Aku masih ingin menari!"

Para penabuh gendang dan gamelan diam membisu. Wajah mereka diwarnai ketegangan. Dalam pada itu dua laki-laki anak buah Ki Busrut Rancak Bana sudah menggiring ke empat penari tadi meninggalkan lapangan pertunjukan. Semen- tara Ki Busrut sendiri melangkah mendekati si gendut diiringi tatap cemas para penonton. Mere- ka sadar betul Ki Busrut Rancak Bana adalah orang yang sangat ditakuti di daerah itu. Dia yang membuat pesta tarian dan acara sesajen. Siapa yang berani mengganggu itu berarti kematian ba- ginya. Tapi agaknya sikap laki-laki itu kini agak lain. Dia tidak langsung menurunkan tangan ke- ras. Sebaliknya unjukkan sikap agak bersahabat.

"Sobat gendut, acara tarian untuk semen- tara dihentikan dulu. Aku harus memimpin upa- cara sesajian. Kalau kau suka, berkenan di hati boleh saja ikut menghadiri upacara kami!" berka- ta Ki Busrut Rancak Bana. Mulutnya sungging- kan senyum ramah dan tampang bersahabat, tapi hatinya memaki habis-habisan.

Gentong Ketawa usap keningnya yang lebar berkeringat. Dia sempat melongo. Habis melongo baru sunggingkan senyum khasnya. "Jadi... jadi kapan acara tarian digelar lagi?" tanya si kakek.

"Nanti setelah setahun dari malam ini." sa- hut Ki Busrut Rancak Bana sambil menyeringai.

"Orang tuamu ini kecewa. Orang tuamu ini kecewa, tapi tak mengapa. Aku bisa maklum. Se- karang aku tak mau usil. Silakan anak memimpin upacara biarkan aku ikut menyaksikan dari sini saja. Ha... ha... ha!"

"Terima kasih kau mau mengerti." ujar si laki-laki. Jauh di lubuk hatinya dia berkata. "Gendut edan tak tahu diri. Siapa sudi berorang tua denganmu? Keledai sekalipun tak mau mem- punyai orang tua sepertimu!" Tak lama setelah memperhatikan Gentong Ketawa, Ki Busrut pa- lingkan wajahnya ke arah para penonton sambil memberi isyarat agar mereka mendekat ke arah meja besar berlapis kain merah. Di atas meja itu ada berbagai hidangan lezat. Ada panggang ayam, gulai kambing, bubur hitam putih. Berbagai jenis bunga, buah dan berbagai bentuk sesajen lain yang semuanya diletakkan dalam wadah terbuat dari mangkuk tanah liat hitam.

Semua penonton kini duduk berbaris membentuk deretan memanjang ke belakang. Ki Busrut Rancak Bana berjalan ke depan meja Se- sajen. Dia mendekati sebuah pendupaan besar yang baru saja digotong oleh dua orang pemuda ke depan meja. Pendupaan itu berisi bara menya- la.

"Kalian dengar wahai semua penduduk du- sun Kedung Ombo. Malam ini kita kembali men- gadakan upacara sesajen agar para roh, para ar- wah leluhur nenek moyang kita memberi restu atas semua usaha kita. Dan yang lebih penting semoga penguasa alam kegelapan tidak murka dan menurunkan laknat pada kita semua! Nan- tinya setelah upacara Suguh Sesajen ini usai, ku- harapkan semuanya kembali ke rumah masing- masing dengan tertib. Jangan ada perbincangan atau perdebatan apapun. Besok pagi-pagi sekali perintahkan setiap anak gadis mandi kembang di kali agar terhindar dari petaka dan bala. Seka- rang harap semua kepala ditundukkan, baca doa sebagaimana biasanya!" kata Ki Busrut Rancak Bana.

Semua orang yang hadir sama tundukkan kepala dan membaca apa saja dalam hati masing- masing. Mulut mereka ada yang komat-kamit, ada pula yang dicibirkan, ada yang menggerutu ada yang tersenyum. Melihat semua ini Gentong Ke- tawa yang bersandar pada tiang teratak lapangan tarian hanya tersenyum mencibir sambil berkata. "Kurasa inilah langkahnya orang sesat. Jangan- jangan semua yang hadir itu bukannya mendoa, tapi mengutuki yang memimpin jalannya sesa- jian."

Sementara di dekat pendupaan Ki Busrut Rancak Bana sudah menaburkan serbuk hitam ke dalam bara api. Mulut yang tertutup kumis le- bat berkemak-kemik, terdengar pula suara racau. Bau harum semerbak kayu Cendana menebar. Setelah suara racau si orang tua lenyap maka dia jatuhkan diri, dua tangan disatukan. Sepuluh jari disusun dan diangkat ke atas kepala. Ki Busrut Rancak Bana bungkukkan badan bersikap seperti orang yang menyembah.

"Aku telah persembahkan apa yang menja- di kesukaanmu wahai penguasa alam gelap. Sila- kan menikmati dengan lahap. Tapi setelah per- sembahan diterima dan dinikmati harap jangan ganggu kami!" kata laki-laki itu sambil tegakkan kepala kembali memandang ke alas meja Suguh Sesajen.

Saat itulah dia melihat berkelebatnya satu tangan menyambar panggang ayam dan beberapa jenis makanan lainnya. Tangan lenyap bersama panggang ayam di balik meja yang tertutup kain hingga ke bagian kaki meja itu. Ki Busrut Rancak Bana tersentak kaget dan belalakkan matanya. Dalam hati dia merasa heran bagaimana mungkin panggang ayam dan buah bisa lenyap. Padahal hal aneh seperti ini belum pernah terjadi pada ta- hun-tahun sebelumnya?

"Ada seseorang yang hendak mengacau!" membatin orang ini geram. Dia jadi teringat pada si kakek gendut hingga membuatnya menoleh ke belakang. Ternyata si gendut masih berada di si- tu, duduk di bawah teratak bersandar pada tiang kayu. Duduk diam dengan mata setengah men- gantuk. Jelas si gendut besar tidak melakukan apa-apa, lalu siapa yang berani mengganggu ja- lannya upacara Suguh Sesajen.

Orang tua ini kemudian memutuskan un- tuk melakukan pemeriksaan. Tapi pada saat itu- lah terdengar suara orang mengeluarkan kentut besar. Lalu tercium bau busuk. Bau busuk lenyap berganti dengan hembusan angin kencang luar biasa yang datang dari arah meja. Semua orang sama tersentak kaget. Tak terkecuali Ki Busrut maupun Gentong Ketawa.

Di tempat duduknya si gendut menyeletuk. "Wah hebat, setannya sudah datang. Rupanya bangsa setan juga tahu makanan enak dan bisa kentut!" Dia lalu julurkan lidah basahi bibir. Tenggorokannya bergerak-gerak membayangkan betapa lezatnya makanan yang dijadikan sesajen itu.

Suara gemuruh terus terdengar. Dalam pa- da itu terdengar suara keras, besar sember yang seakan datang dari empat penjuru arah. "Ki Bu- srut Rancak Bana. Aku tahu kau hendak meme- riksa meja. Aku telah mendengar kau menyuruh- ku menikmati hidangan ini. Hidanganmu kuteri- ma dan kuambil. Mengapa kau seperti tidak ik- hlas memberi? Aku adalah kegelapan, aku pengu- asa. Apa perlu dusun Kedung Ombo ini kurata- kan dengan tanah, apa perlu semua orang kubu- nuh? Aku bisa saja membunuh kalian semua hanya dengan satu tiupan. Tapi aku yang mem- bunuh, dosanya kau yang menanggung! Krauk...!" kata suara aneh itu disusul dengan suara orang menggerogoti tulang.

Semua yang ikut menjalani upacara sesa- jen jadi ketakutan. Di antara mereka bahkan ada yang gemetar, ada pula yang terkencing di celana. Ki Busrut Rancak Bana tak kalah kaget-

nya. Dengan suara bergetar dan wajah pucat dia berkata. "Maafkan aku yang bodoh ini wahai Pen- guasa Kegelapan. Kau... kau boleh menikmati se- sajen sesukamu. Tapi jangan timpakan bala dan amarah pada kami. Aku mengaku salah, mohon dimaafkan!"

"Ho... ho... ho! Bagus jika kau tahu gelagat. Suguh sesajenmu aku terima. Semua yang ada di atas meja sudah kuhisap sarinya. Sedangkan ampasnya kalau kau suka silakan kau habiskan. Terkecuali panggang ayam ini, aku menyukainya dan akan kujadikan pajangan di dalam singgasa- na kebesaranku! Aku pamit cepat kalian tunduk- kan kepala menghormat padaku!" kata suara itu sember namun berwibawa.

"Tundukkan kepala semua. Semuanya ti- dak terkecuali!" perintah orang tua itu. Serentak begitu mendengar aba-aba mereka yang hadir sama tundukkan kepala. Terkecuali kakek Gen- tong Ketawa. Orang tua ini sebaliknya malah ju- lurkan kepala, buka matanya lebar-lebar meman- dang ke arah meja. Saat itu dia melihat satu bayangan berkelebat meninggalkan bagian bela- kang meja yang tertutup kain. Walau sekilas dan berlangsung sangat cepat namun dia tahu siapa adanya sosok yang mengaku sebagai penguasa kegelapan itu.

"Bocah edan. Mengaku sebagai penguasa kegelapan. Dasar geblek, senangnya mengerjai orang melulu!" kata si kakek sambil cibirkan mu- lut.

Sementara itu begitu menyadari suara tadi lenyap dan hembusan angin kencang sirna, maka Ki Busrut Rancak Bana cepat memandang ke arah meja. Di meja itu beberapa makanan lain le- nyap. Terkecuali kembang tujuh rupa dan bubur hitam. Dengan cepat Ki Busrut bangkit berdiri. Dia rupanya penasaran juga curiga dan merasa kurang yakin kalau yang bicara tadi benar-benar penguasa kegelapan. Jika Ki Busrut bergegas menghampiri meja, maka sebaliknya seluruh orang yang hadir mengikuti jalannya upacara Su- guh Sesajen langsung membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan ketaku- tan.

Seorang diri laki-laki itu meneliti bagian atas meja. Kening orang tua ini berkerut tajam. Terlebih-lebih ketika melihat sepotong tulang ayam tergeletak di atas piring tanah. Mendadak dia merasa tertipu, rasa curiga makin bertambah besar.

"Jahanam keparat, siapa yang berani mempermainkan aku!" maki orang tua itu geram. Lalu dia menyingkapkan kain yang menutupi ba- gian bawah meja. Sebuah obor yang terletak di salah satu sudut meja Sesajen direnggutkannya. Dengan bantuan cahaya obor dia melihat begitu banyak tulang ayam dan sisa makanan bersera- kan di situ. Bergetar sekujur tubuh si orang tua, pipinya menggembung besar sedangkan mulut terkatub rapat.

"Setan keparat! Aku telah ditipu mentah- mentah. Semua ini adalah sebuah penghinaan yang harus kubalas!" Ki Busrut Rancak Bana menggeram. Dalam kemarahannya itu terlintas sesuatu dalam benaknya. "Kepada siapa aku ha- rus membalas?" pikirnya. Dia pun cepat menoleh ke arah tiang penyanggah teratak. Orang tua ini melengak kaget. Si gendut besar luar biasa ter- nyata sudah tak ada lagi di situ, lenyap entah ke mana.

"Mungkin memang gendut gila itu yang me-

lakukannya. Mungkin juga orang lain. Tapi keha- dirannya di sini jelas membuat aku curiga!" den- gusnya lagi. Tiba-tiba dia menjungkir balikkan meja tempat Suguh Sesajen sehingga semua yang berada di atas meja bertaburan memenuhi lapan- gan rumput. Selanjutnya tanpa menghiraukan semua apa yang telah dilakukannya dengan lang- kah lebar dia mendatangi para penabuh gendang dan gamelan.

"Kalian semua tahu ke mana perginya si gendut gila tadi?" hardik Ki Busrut Rancak Bana sambil bertolak pinggang, sedangkan kumisnya bergerak-gerak pula.

Mendengar pertanyaan itu dengan wajah pucat dan hati diliputi ketakutan mereka sama gelengkan kepala. Mereka memang tak tahu ke mana perginya kakek gendut yang ikut menari tadi.

"Tidak tahu. Kurang ajar betul. Orang tua sebesar gajah, dia pergi dan kalian tak bisa meli- hatnya?!" desis Ki Busrut sengit.

Salah seorang penabuh gendang membera- nikan diri mewakili kawan-kawannya untuk bica- ra. "Kami memang tak melihatnya. Sungguh!"

Jawaban ini hanya membuat laki-laki itu tambah kesal. Dia angkat tangan hendak meng- hantam tukang tabuh gendang yang baru bicara. Tapi niatnya urung ketika teringat pada gadis berpinggul besar yang bernama Arum Sedap tadi. Kepada gadis itulah segala-galanya hendak di- lampiaskan. Dengan langkah lebar tanpa menoleh lagi Ki Busrut Rancak Bana tinggalkan tempat itu.

2

Di satu tempat yang agak jauh dari lapan- gan, sosok yang berkelebat meninggalkan meja persembahan hentikan larinya. Dia memandang ke belakang sekejap untuk memastikan tidak ada yang mengikuti. Dalam gelapnya malam yang hanya diterangi cahaya bulan setengah lingkaran sosok yang ternyata adalah seorang pemuda tam- pan bertelanjang dada begitu merasa aman lang- sung duduk sambil julurkan kedua kaki di atas batu.

Pertama yang dilakukannya adalah mene- puk pipinya kiri kanan yang terasa tebal dan ke- bas. Sampai saat itu dia merasa pipinya kiri ka- nan masih menggembung. Tidaklah mengheran- kan karena ketika berada di bawah meja tadi dia terus menerus meniup hingga menimbulkan ge- muruh angin hebat, membuat semua orang yang mengikuti jalannya upacara Suguh Sesajen jadi ketakutan.

Setelah mengusap kedua pipi pulang balik, si gondrong tersenyum. Tak lupa dia juga usap perutnya.

"Ha... ha... ha. Aku beruntung punya mu- lut dan perut bagus. Kalau tidak mana bisa aku meniup sekian lama dan mengeluarkan kentut begitu besar. Orang-orang tolol itu kena juga ku- kadali. Mereka percaya saja ucapanku. Lagipula apa ya ada setan yang doyan ayam panggang." ka- ta si pemuda. Dia lalu mengeluarkan buntalan yang diikatkannya ke pinggang. Buntalan dibuka, isinya campur aduk menjadi satu. Si pemuda mengambil sisa panggang ayam tadi lalu mema- kannya dengan lahap. Sambil mengunyah dia menyeletuk. "Malam ini aku pesta besar. Si gen- dut nasibnya benar-benar apes. Coba kalau dia mau bersamaku mencuri makanan di meja tentu dia tak kelaparan. Salahnya sendiri dia malah menari. Dia mungkin mengira bisa memikat si pinggul besar itu? Huh... Sudah tua begitu mana ada gadis yang mau. Sekali tindih saja orang bunting bisa mejret!" kata si pemuda. Dia kemu- dian meneruskan menggerogoti paha ayam pang- gang itu. Sampai kemudian terdengar suara ber- keresekan di belakangnya. Si gondrong bersikap acuh tak acuh.

"Biar saja, paling juga yang muncul si gen- dut!" pikirnya.

Sebagaimana dugaan si gondrong yang muncul di belakangnya ternyata memang seorang kakek berbadan besar luar biasa yang duduk di bawah teratak lapangan tarian tadi. Begitu mun- cul cuping hidungnya kembang kempis mengen- dus-endus.

"Bau makanan sedap, bau harum ayam panggang. Bocah edan kalau punya makanan enak ingat dengan gurumu ini?!" kata si kakek.

Si pemuda tertawa terkekeh. "Makanan masih banyak, kalau panggang ayam tinggal tu- langnya. Kau mau ndut?" sahut si pemuda.

Si gendut Gentong Ketawa unjukkan muka cemberut. Dia sambar buntalan yang terletak di atas pangkuan si gondrong. Dengan jelalatan dia memeriksa.

"Apa ini? Mengapa campur aduk begini?!" tanya si kakek sambil memilah-milah dan men- gambil apa yang dia sukai.

Enak saja si gondrong menjawab. "Na- manya juga makanan boleh mencuri dan dalam keadaan tergesa-gesa pula. Jadi apa saja yang sempat kusikat ya kubawa. Tapi eh... ini kusisa- kan separah ayam untukmu." Berkata begitu si pemuda yang bukan lain adalah Gento Guyon mengambil sesuatu dari punggung celana bela- kang dan memberikan ayam tersebut pada si ka- kek. Orang tua itu agak ragu-ragu untuk mene- rimanya.

Lagi-lagi si pemuda nyeletuk. "Kujamin makanan itu tak kuberi racun. Cuma memang harus kuakui, itulah ayam yang kuambil dari me- ja pertama kalinya. Baru setelah itu aku kentut besar. Jadi maaf saja jika ayam lezat ini ada sedi- kit aroma bau kentut. Ha... ha... ha!"

"Bocah geblek. Kau pura-pura jadi setan penguasa kegelapan untuk menyikat semua ma- kanan ini. Kau perlakukan mereka seperti orang tolol, tapi apa kau mengira si kumis besar itu ke- na kau tipu? Tadi dia marah-marah. Pasti dia akan mencarimu!" kata si kakek bersungut- sungut. Tapi tak urung dia mengambil ayam yang diberikan muridnya, mengendus sebentar. Karena tidak tercium bau sebagaimana yang dikatakan Gento Guyon, maka dia pun langsung memakan- nya dengan lahap.

Si pemuda terdiam sejenak mendengar ucapan gurunya, kening berkerut mata berkedap- kedip pertanda Gento sedang berpikir. Di saat lain pemuda itu tersenyum sambil berucap. "Si kumis tebal tak melihatku. Tapi dia jelas melihatmu. Ka- lau pun dia mencariku, pasti kau adalah orang pertama yang dicarinya."

"Mengapa harus aku?" tanya si gendut he-

ran.

"Jelas, karena kaulah yang dilihatnya. Wa-

lau pun kau tak mengambil sesajen, dia pasti menyangka aku ini temanmu. Ha... ha., ha!" Gen- to Guyon kembali tertawa mengekeh. "Dasar na- sibmu selalu sial ndut. Aku yang berbuat kau ha- rus menanggung akibat. Aku yang makan daging, kau yang kebagian tulangnya. Eeeh... gendut waktu engkau menari tadi kulihat si kumis tebal seperti menyimpan kemarahan padamu. Lalu apakah si pinggul besar berhasil kau sikat?"

"Gundulmu disikat." dengus si kakek. Be- berapa saat kemudian dia tersenyum-senyum sendiri.

"Ee, aku tersenyum apakah ini berarti yang kau katakan benar? Jika betul tak usah malu- malu mengatakannya padaku. Aku mau saja me- nemanimu untuk melamar si pinggul besar. Jika kau sampai didahului si kumis tebal wah bisa gawat. Kulihat dia juga punya keinginan yang be- sar untuk mendapatkan gadis itu. Ha... ha... ha!"

Mendengar gurauan muridnya Gentong Ke- tawa hanya bisa tersenyum dan palingkan wajah- nya ke arah lain. Sekejap kemudian si kakek ber- kata.

"Gege, menurutmu apakah tidak melihat orang sedusun melakukan acara Suguh Sesajen seperti yang kau lihat tadi?"

"Apa yang harus diherankan. Orang mem- berikan sesuatu yang dianggapnya ada bukan su- atu yang mengherankan. Orang yang menyembah setan juga banyak, menyembah batu, menyembah junjungannya bahkan menyembah diri sendiri ju- ga tak terhitung." sahut Gento.

"Aku tahu, aku percaya. Tapi apakah kau ingat si kumis tebal bukankah ada menyebut 'Penguasa Kegelapan'. Meminta agar yang dis- ebutkannya tidak mengganggu mereka. Siapakah orang yang dimaksudkannya itu?" tanya si kakek. Mendengar pertanyaan gurunya Gento Guyon jadi terdiam. Dia sendiri juga ikut men- dengar seperti apa yang dikatakan oleh gurunya. Tapi dia sendiri juga tidak tahu siapa yang di-

maksudkan oleh orang tua tadi.

"Gendut... eh, guru. Nampaknya kita harus mencari tahu gerangan apa sebenarnya yang se- dang terjadi. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di Kedung Ombo ini."

"Kita harus menyelidik. Tapi siapa yang dapat kita jadikan tempat bertanya. Si kumis teb- al tadi mengatakan besok para penduduk tidak diperkenankan meninggalkan rumah masing- masing. Terkecuali para gadis perawannya yang harus mandi kembang di kali di pagi buta!" ujar si kakek heran.

"Mengapa harus begitu?"

Gentong Ketawa hanya menjawab dengan gelengkan kepala.

"Guru ingat tidak. Seusai tarian, ke empat gadis penari itu digiring oleh dua laki-laki yang agaknya anak buah si kumis tebal. Mereka hen- dak di bawa ke mana? Lagipula menurutku kita harus mengawasi orang tua itu. Apa sebenarnya yang hendak dia lakukan pada ke empat gadis cantik tadi?" ujar si pemuda.

"Kau betul. Kurasa kita memang harus se- gera menyelidik. Orang tua itulah yang menjadi kuncinya!" ujar si kakek.

"Jika sudah begitu sebaiknya kita pergi ke rumah si muka badak secepatnya!" tegas si pe- muda.

"Dan jangan lupa si pinggul besar bagian- ku." berkata si kakek disertai senyum aneh.

"Betul dugaanku kau memang sedang ma- buk kepayang. Dasar tua bangka tak tahu diri. Sudah bau tanah masih juga belingsatan melihat jidat licin." gerutu Gento Guyon yang disambut tawa oleh kakek Gentong Ketawa.

3

Deburan ombak di Teluk Rembang terus menderu tak ada henti. Di ujung teluk sosok tu- buh berdiri tegak memandang ke laut lepas. Rambut serta jenggotnya yang putih panjang menjela berkibaran ditiup angin. Beberapa saat lamanya dia tegak di situ tak ubahnya seperti pa- tung. Tak lama kemudian si kakek tua berpa- kaian serba putih dan memakai topi tinggi ber- bentuk kerucut terbuat dari daun ini dongakkan wajahnya ke langit. Suasana pagi masih gelap disaput mendung, matahari bahkan masih belum menampakkan diri di ufuk timur.

Sejenak wajah si kakek yang dingin beru- bah tegang. Dia memandang ke belakang, ternya- ta orang yang ditunggunya belum juga muncul- kan diri.

"Mestinya dia sudah sampai di sini, sejak pagi buta tadi bukan sekarang. Jahanam, dia da- tang terlambat! Aku tak bisa menunggu lebih la- ma. Ini merupakan kesalahan kedua yang pernah dilakukannya." kakek tua itu mendengus.

Wajahnya semakin menegang, sedang tatap matanya dingin angker tak bersahabat.

Merasa lelah menunggu, si kakek kemu- dian duduk di ujung tanah tebing yang menjorok ke laut. Gemuruh suara ombak yang menghan- tam tebing karang di mana dia berada sama seka- li tak dihiraukannya. Beberapa saat dia meme- jamkan mata sambil menghimpun tenaga sakti yang kemudian dialirkan langsung ke bagian tan- gannya. Di saat si kakek dalam keadaan seperti itu dari arah dataran luar teluk tiba-tiba saja ter- dengar suara gemuruh. Suara gemuruh makin lama semakin bertambah jelas. Satu gerumbul semak belukar rambas, ranting dan daun berta- buran. Dari balik semak belukar yang berpenta- lan seperti dibabat pedang muncul satu sosok tu- buh berpakaian serba hitam. Kedua kaki sosok yang kepalanya dilapisi semacam topi besi itu buntung hingga sebatas paha. Bagian yang bun- tung disambung dengan besi pipih sepanjang satu meter. Sambungan kaki kiri kanan berbentuk pi- pih ke dua sisinya laksana mata pedang. Sedang- kan ujungnya bulat, bergerigi seperti gergaji. Ter- nyata bukan hanya kedua kakinya saja yang ca- cat. Tapi kedua tangan sosok bermata sebelah ini juga dalam keadaan cacat sampai di pangkal len- gan. Kedua lengan yang buntung disambung den- gan besi baja hitam berbentuk melengkung seper- ti arit. Melihat sosok berambut panjang bertopi baja seperti prajurit perang kerajaan ini memang sangat mengenaskan. Tapi di balik penampilan- nya yang menyedihkan, baik tangan maupun ke- dua kakinya yang disambung dengan baja itu me- rupakan dua bagian dari senjata maut yang san- gat berbahaya bagi lawannya. "Kakang Sobo Serngenge... aku ingin me- nyampaikan beberapa pesan penting yang diti- tipkan padaku." kata sosok bermata picak sebelah kiri sambil berdiri tegak tak jauh dari ujung teb- ing di mana kakek tua berambut putih perak du- duk bersila dengan segala keangkerannya.

Sejenak lamanya suasana diliputi kesu- nyian. Sesekali deburan ombak menyelingi. Laki- laki yang sebagian tubuhnya disambung dengan pedang dan arit melengkung jadi tidak sabaran.

"Kakang Sobo, tidak hendak aku mengusik dirimu. Tapi terus-terang pesan ini sangat penting untuk kau ketahui!" ujar laki-laki cacat itu men- gulangi ucapannya.

Perlahan kakek berambut perak berjenggot panjang buka matanya. Sama sekali dia tidak menoleh atau memandang ke arah orang yang ba- ru datang ketika dari mulutnya terdengar ucapan. "Buat apa kau datang ke sini, Picak Kiri?

Saat ini aku tengah menunggu kehadiran seseo- rang!" dengus Sobo Serngenge, ada rasa tidak su- ka dalam nada ucapannya.

"Apapun urusanmu aku tak mau ikut campur lagi. Aku hanya ingin menyampaikan pe- san guru, setelah itu secepatnya aku akan ting- galkan tempat ini!" kata si cacat yang dipanggil Picak Kiri.

Untuk pertama kali si kakek memutar tu- buhnya. Sepasang mata menatap tajam ke arah Picak Kiri. Lalu dia dongakkan kepala, kemudian tawanya bergema meningkahi gemuruh suara ombak. Suara tawa lenyap, dengan mata menco- rong merah dia membentak. "Picak Kiri, sejak ku- putuskan meninggalkan Menara Gila. Sejak aku tidak mengakui Manusia Selaksa Guntur sebagai guruku lagi, maka sejak saat itu berarti aku bu- kan lagi muridnya. Aku telah memutuskan untuk menunggu munculnya Dewi Segoro Lor. Aku ya- kin mimpiku itu akan menjadi kenyataan. Dalam mimpi aku melihat bahkan mendengar Dewi Se- goro Lor menaruh rasa cinta kepadaku. Dalam mimpi dia mengatakan agar aku menjadikan te- luk Rembang ini menjadi daratan untuk kemu- dian di atas daratan yang kuciptakan dengan ke- saktianku kuciptakan sebuah singgasana yang kuberi nama Istana Surga. Nah untuk mewujud- kan semua ini dalam waktu purnama aku mem- butuhkan banyak kepala untuk kujadikan tum- bal. Sekarang ini aku tak punya waktu banyak untukmu, jika kau merasa mendapat pesan dari si tua Selaksa Guntur, hendaknya cepat katakan apa pesan itu?!"

"Kakang Sobo Serngenge, langkahmu su- dah tersesat jauh. Kau membunuh orang dengan semena-mena, apakah kau tak takut dengan murka Gusti Allah?" tegur Picak Kiri.

Kepala si kakek rambut perak tersentak, bukan karena kaget melainkan karena dilanda kemarahan yang amat sangat.

"Kunyuk betul. Kau rupanya tak menden- gar apa yang aku ucapkan. Atau kau lupa dengan kata-katamu sendiri? Jangan campuri urusanku!" hardik Sobo Serngenge lantang.

"Baiklah. Terserah apa yang kau lakukan, itu adalah urusanmu." sahut Picak Kiri mengalah. Dia menarik nafas sejenak, dalam hati dia merasa jengkel atas sikap keras kepala saudara sepergu- ruannya itu. Tapi pada akhirnya dia berkata. "Ka- kang, guru berpesan jika kakang mau kembali ke Menara Gila guru akan mengampuni kesalahan- mu. Sedangkan yang kedua kakang harus mem- batalkan niat mengawini Dewi Segoro Lor. Se- dangkan yang ketiga kakang juga harus mengem- balikan kitab Gentar Gaib yang kakang curi sebe- lum melarikan diri dari Menara Gila." jelas laki- laki itu.

Mendengar ucapan Picak Kiri rambut putih si kakek serta daun telinganya berjingkrak tegak. Perlahan si kakek berdiri tegak, wajahnya diliputi ketegangan, sedangkan sepasang matanya yang dingin angker berubah merah laksana bara. Meli- hat perubahan mata Sobo Serngenge terkejut Pi- cak Kiri dibuatnya. Dia ingat dengan pesan gu- runya, andai kedua mata Sobo Serngenge telah berubah merah laksana api dan rambutnya tegak berdiri seperti duri landak itu merupakan suatu pertanda saudara seperguruannya telah mengua- sai seluruh isi kitab Gentar Gaib. Ini berarti ka- kek yang berdiri tegak di depannya itu dapat me- nembus tabir alam kedua. Jika sudah begitu dia bisa mengambil pengikut alam kegelapan yang terdiri dari para arwah yang mati dalam kesesa- tan. Yang lebih celaka lagi, dengan bantuan dari alam lelembut dia dapat saja memerintah dan minta bantuan segala mahluk yang berasal dari alam kedua itu. Sekarang Picak Kiri tak tahu ha- rus berbuat apalagi.

"Picak Kiri, kau dengar! Jangankan kau yang datang kepadaku. Jika Manusia Selaksa Guntur sekalipun yang datang ke mari. Aku pasti tidak akan patuh pada perintahnya, apalagi sam- pai harus mengembalikan kitab Gentar Gaib. Se- mua isi kitab itu telah kukuasai, tapi aku tak berkehendak untuk mengembalikannya. Sedang- kan mengenai niatku untuk mempersunting Dewi Segoro Lor tetap berjalan sesuai rencana. Nah... sebelum aku berubah pikiran sebaiknya kembali- lah ke Menara Gila, laporkan semua yang kuka- takan ini pada gurumu!" seru Sobo Serngenge.

Mendengar penegasan kakek tua itu berge- tarlah sekujur tubuh Picak Kiri. Dengan suara parau dia berkata. "Kakang, tak kusangka kau menjadi murid pembangkang lagi keras kepala. Apakah kau tak ingat bahwa guruku adalah gu- rumu juga. Kau pernah berada dalam perawatan- nya, kau makan hasil cucuran keringatnya. Tapi inikah balas budimu pada orang yang menyayang dan memberikan segala ilmunya padamu?" ujar Picak Kiri.

Dia masih ingat betul sebelum Sobo Sern- genge sering diganggu dengan mimpi aneh dan kemudian tergila-gila pada gadis yang ditemuinya dalam mimpi itu gurunya sangat menyayangi sang kakek. Rasa sayang itu kemudian berubah menjadi rasa benci setelah diketahui Sobo Sern- genge mencuri kitab Gentar Gaib yaitu kitab La- rangan yang guru mereka sendiri berpantang mempelajari seluruh isinya. Sejak pencurian ki- tab, Sobo Serngenge menghilang. Tapi karena Manusia Selaksa Guntur memang memiliki ilmu yang hebat serta kesaktian tinggi, maka kebera- daan muridnya yang murtad dapat diketahuinya juga. Tanpa pikir panjang dirinya pun diutus.

Kini bekas saudara seperguruan itu saling pandang satu sama lain. Picak Kiri merasa serba salah. Dia sudah mendapat pesan agar jangan menempuh jalan kekerasan. Kenyataannya hal seperti ini nampaknya tak bisa dihindarkan lagi.

"Tunggu apalagi? Cepat menyingkir dari hadapanku!" hardik Sobo Serngenge makin tak sabar.

Picak Kiri gelengkan kepala. "Tak mungkin aku kembali ke Menara Gila dengan berhampa tangan. Untuk menjalankan amanah yang diper- cayakan guru kepadaku, kurasa aku lebih baik menyabung nyawa daripada mendapat malu be- sar!" ujar Picak Kiri dengan suara sedih dan wa- jah tertunduk.

Mendengar penegasan Picak Kiri kedua pipi Sobo Serngenge menggembung besar, darahnya laksana menggelegak. Dia dongakkan wajahnya, lalu tertawa tergelak-gelak. "Masih banyak jalan untuk mencari keselamatan. Tapi terkadang ma- nusia bertindak tolol dan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Kau lihat ke depan sana, hamparan pasir putih di tengah teluk itu adalah hasil ciptaanku melalui kesaktian yang kumiliki. Untuk menimbulkan daratan itu aku membutuh- kan banyak tumbal kepala. Sedikitnya aku mem- butuhkan sembilan puluh sembilan kepala untuk membuat teluk menjadi daratan. Lima puluh te- lah kupenuhi, empat puluh sembilan lagi harus kucari. Karena sikapmu itu, aku menganggap pa- gi ini kau telah menyerahkan kepalamu secara suka rela. Tumbal ke lima puluh satu tak ku- sangka adalah penggalan kepala bekas saudara seperguruanku sendiri. Ha... ha... ha! Sungguh menyedihkan tapi aku bangga dengan semua ini!" kata si kakek.

Picak Kiri pejamkan mata tunggalnya. Se- kujur tubuhnya bergetar karena berusaha mene- kan berbagai gejolak yang melanda jiwanya. Un- tuk yang terakhir kalinya dia berucap. "Terserah apa yang kau katakan, kitab Gentar Gaib tetap kuminta. Suka atau tidak suka kau harus menye- rahkannya padaku!"

"Kau meminta aku memberi!" sahut Sobo Serngenge. Bersamaan dengan ucapannya itu dia pura-pura mengambil sesuatu dari balik pakaian putihnya. Ketika si kakek tarik balik tangannya dari balik pakaian dia langsung menghantamkan tangan kanan yang telah berubah hitam laksana arang ke arah Picak Kiri. Serangkum hawa dingin menderu, dari sambaran anginnya saja Picak Kiri dapat merasakan Sobo Serngenge benar-benar menghendaki nyawanya. Laki-laki cacat kaki dan cacat tangan ini tidak tinggal diam. Dia salurkan tenaga dalamnya ke bagian tangan yang disam- bung dengan arit. Kedua arit berwarna hitam itu memancarkan cahaya aneh. Ketika dua senjata diadu satu sama lain. Maka melesatlah cahaya berwarna hitam pekat berhawa dingin laksana es.

"Kidung Kematian!" seru Sobo Serngenge yang tak menyangka bekas adik seperguruannya itu telah menguasai ilmu pukulan yang dapat menghancurkan benda apa saja yang menjadi sa- sarannya.

Untuk mengatasi serangan lawan si kakek kembali dorongkan kedua tangannya ke depan. Dua pukulan sakti sama-sama menderu di udara, bentrokan keras tak dapat dihindari.

Buuum!

Terdengar suara ledakan berdentum. Picak Kiri terdorong mundur beberapa tindak ke bela- kang. Sedangkan Sobo Serngenge sempat terlem- par dan jatuh bergulingan sambil memaki pan- jang pendek. 4

Tidak menyia-nyiakan kesempatan ini Pi- cak Kiri segera melesat ke depan memburu ke arah lawan. Kaki kanannya yang disambung den- gan besi baja berbentuk pipih dan tajam pada ke- dua sisinya menderu membabat pinggang. Se- dangkan kedua tangannya yang buntung disam- bung dengan tangan pengganti berbentuk arit masing-masing membabat leher dan dada. Semua serangan dahsyat yang sangat berbahaya itu mengandung pengerahan tenaga dalam tinggi. Sehingga berlangsung demikian cepat dan mus- tahil dihindari oleh lawannya.

Mendapat serangan demikian rupa Sobo Serngenge sempat tercekat, wajah pucat mulut berkemak-kemik membaca sesuatu. Pada detik berikutnya kira-kira setengah jengkal lagi empat serangan ganas yang dilakukan Picak Kiri menge- nai sasarannya. Mendadak Sobo Serngenge le- nyap.

Crak! Cring!

Empat serangan yang dilakukan laki-laki cacat bertopi baja itu hanya mengenai tempat ko- song. Picak Kiri terkesiap, namun dia segera me- nyadari saat itu Sobo Serngenge telah menguasai kitab Gentar Gaib. Apapun dapat saja terjadi bila seseorang telah berhasil mengamalkan isi kitab maut itu. Oleh karena itu dengan cepat dia mem- balikkan badan ke belakang. Baru saja dia berba- lik di depannya menderu angin dingin, satu tan- gan berkelebat menyambar bagian dada Picak Ki- ri. Karena jaraknya yang sangat dekat sekali di samping serangan Sobo Serngenge datang dengan tidak disangka-sangka, maka Picak Kiri tidak sempat lagi menghindar.

Buuuk!

Hantaman berisi tenaga dalam penuh mendera dada Picak Kiri, membuat orang ini ter- lempar sejauh dua tombak dengan mulut sem- burkan darah. Walaupun Picak Kiri menderita lu- ka dalam cukup parah, tapi laki-laki itu sama se- kali tidak mengeluh. Di depannya sana Sobo Serngenge tertawa terkekeh sambil berkacak pinggang.

"Kau telah melihat bagaimana aku dapat melenyapkan diri dari seranganmu yang seharus- nya telah mengantarku ke gerbang maut. Kau tak perlu merasa heran karena aku telah berhasil menguasai semua ilmu yang terdapat dalam kitab Gentar Gaib. Kini kau sudah terluka, kini terima- lah ajalmu!" teriak Sobo Serngenge.

Bersamaan dengan suara teriakannya itu si kakek melompat ke arah Picak Kiri. Dua tangan dihantamkan ke depan secara bersamaan. Sinar hitam membersit dari telapak tangan si kakek, angin dingin menderu.

"Pukulan Kidung Kematian...!!" seru Picak Kiri. Dengan gerakan yang aneh tahu-tahu tu- buhnya yang tadi menelentang kini nampak mele- sat ke atas. Di udara dalam keadaan tegak dia berputaran begitu rupa, bergerak sebat mendekati lawan. Sementara itu pukulan Sobo Serngenge yang mengenai tempat kosong menimbulkan le- dakan keras menggelegar. Orang tua ini melengak kaget. Tapi tanpa membuang waktu dia kembali melepaskan pukulan yang sama dan diarahkan- nya langsung ke atas.

Wuuut!

Kaki Picak Kiri yang berupa pedang itu berkelebat menggunting ke bagian kepala Sobo Serngenge. Serangan ganasnya kembali luput dan kini sambil merutuk habis-habisan si kakek ter- paksa tundukkan kepala hindari guntingan kaki yang bisa membuat kepalanya terbelah dua. Tapi tak urung bagian bahu si kakek sempat terkena sambaran pedang lawannya.

Riiit! Breeet!

"Akh, keparaat!" maki Sobo Serngenge begi- tu merasakan sakit yang luar biasa mendera ba- gian luka yang terkena sambaran pedang. Sambil meringis kesakitan sebenarnya jauh di lubuk hati dia merasa heran. Dua pukulan Kidung Kematian yang dilepaskannya bukan pukulan sembaran- gan. Bahkan merupakan pukulan sakti yang san- gat mematikan. Selama ini tak ada seorang lawan pun yang dapat meloloskan diri dari pukulan ter- sebut. Tapi bagaimana Picak Kiri dapat menghin- dar dari dua pukulan yang dilepaskannya secara berturut-turut?

"Kitab, itu cepat serahkan padaku Sobo Serngenge!!" seru Picak Kiri tanpa menggunakan tata krama lagi.

Sobo Serngenge sosok manusia yang memi- liki kesombongan dan sempat dilukai bekas adik seperguruannya memandang Picak Kiri dengan tatapan sinis. Geraham mengatup, kedua pipi menggembung. Dengan suara serak tertekan dia membuka mulut berucap. "Pecak Kiri, kau ingin- kan kitab itu! Boleh saja. Tapi langkahi dulu mayatku!" Ketika berkata begitu Sobo Serngenge berpikir keras. Berulang kali dia melirik ke tangan serta kaki yang disambung arit di bagian tangan serta pedang di bagian kaki. Sesungging seringai bermain di bibir si kakek. "Percuma kugunakan pukulan Kidung Kematian. Untuk menghadapi manusia rongsokan besi begini kurasa aku harus menggunakan cara lain!" batin Sobo Serngenge. Tanpa menunggu lebih lama lagi kakek itu segera salurkan tenaga dalam berhawa panas ke bagian tangan. Sekejab saja kedua tangan si kakek telah berubah membiru dan menebarkan hawa panas luar biasa.

Sing!! Wuut!

Melihat si kakek hendak mencoba lepaskan pukulan Gejolak Gunung Meletus, maka Picak Ki- ri tanpa membuang waktu lagi segera babatkan aritnya dengan gerak menyilang. Sedangkan tu- buhnya melesat di udara, kaki yang berupa pe- dang dengan kedua sisi tajam membabat ke arah pinggang. Sobo Srengenge tetap sunggingkan se- ringai aneh. Tapi kemudian dia angsurkan tangan kanan bersikap seolah menyambut tebasan arit lawan, sedangkan pinggang sengaja diliukkan ke depan hingga mengesankan bahwa bagian ping- gang itu juga siap menerima babatan pedang Pi- cak Kiri.

Apa yang kemudian terjadi membuat Picak Kiri terkesiap, karena tanpa pernah disangka- sangka Sobo Serngenge jatuhkan diri, lalu dengan gerakan kilat dia menghantam tangan dan kaki lawan secara berturut-turut.

Wuuuus!

Serangkum sinar biru menebar hawa pa- nas luar biasa menderu ke arah Picak Kiri. Laki- laki cacat ini dalam kejutnya terpaksa memutar kedua aritnya dari gerakan menyerang berubah menjadi gerak membuat perlindungan diri. Justru ini merupakan suatu kesalahan fatal yang tidak disadari oleh Picak Kiri. Karena begitu sinar biru menghantam tangan dan kakinya. Dua senjata yang juga menggantikan fungsi kaki dan tangan itu langsung berubah membiru, panas luar biasa dan meleleh. Karena masing-masing senjata ini tersambung langsung dengan pangkal lengan dan juga bagian paha. Akibatnya tentu saja sangat mengerikan. Hawa panas langsung menjalar ke bagian lengan dan kaki yang buntung. Picak Kiri jatuhkan diri, bergulingan dengan maksud terjun ke teluk. Dia juga berusaha melepaskan arit yang meleleh dan juga pedang biru merah dari sam- bungan bagian tubuhnya. Tapi apa yang dilaku- kannya ini nampaknya tidak mudah. Sehingga dia hanya dapat menjerit kesakitan sambil terus ber- gulingan.

"Ha... ha... ha! Ternyata bukan suatu hal yang sulit untuk membunuhmu!" teriak Sobo Serngenge. Laki-laki itu kemudian memutar- mutar tangannya di atas kepala dengan gerakan sedemikian rupa. Angin panas bergulung-gulung. Kemudian laksana kilat dia melesat ke arah Picak Kiri, dua tangannya yang memancarkan sinar bi- ru terang dihantam dengan telak ke dada dan ke- pala lawannya.

Tak ada kesempatan untuk menangkis dan menghindar bagi Picak Kiri. Tak ampun lagi pu- kulan Gejolak Gunung Meletus menghantam di- rinya. Jeritan Picak Kiri seolah lenyap tertindih oleh gemuruh suara angin pukulan yang dile- paskan Sobo Serngenge. Picak Kiri terpelanting, dadanya hangus gosong. Topi baja di kepalanya berubah merah berpijar. Sekejap sosok Picak Kiri berkelojotan dengan keadaan tubuh tak karuan rupa. Sampai akhirnya dia diam tak berkutik lagi. "Ha... ha... ha!" Sobo Serngenge keluarkan

tawa bergelak. Dengan pandangan sinis dan se- nyum mencibir dia hampiri mayat bekas adik se- perguruannya itu.

"Jika besi dapat kubuat menyala, apalagi cuma raga rongsokanmu!" desis si kakek. Dia lalu bungkukkan badan, mulutnya meniup ke bagian topi sang mayat. Topi besi yang merah menyala sirap dan berubah menjadi dingin. Lalu topi di- tanggalkan. Kepala yang telah hangus itu diceng- keramnya dengan erat. Kepala diputar ke kiri dan ke kanan.

Kreek! Kreek!

Terdengar suara tulang leher berderak pa- tah. Begitu disentakkan maka leher Picak Kiri terpisah dari badannya. Sejenak tanpa perasaan dan wajah dingin Sobo Serngenge menenteng ke- pala Picak Kiri. Mulutnya berkomat-kamit disertai suara mendesis panjang.

"Kau adalah kepala yang ke lima puluh sa- tu. Kau menjadi bagian dari semua rencana, kau menjadi tumbal. Tumbal untuk membangkitkan tanah di teluk ini. Tanah di mana aku akan diri- kan sebuah singgasana megah untuk calon istri- ku Dewi Segoro Lor ! Ha... ha... ha!" Disertai tawa Sobo Serngenge campakkan potongan kepala ke dalam teluk Rembang. Sekejap kepala lenyap dite- lan ganasnya ombak. Kemudian dari kedalaman teluk terlihat air bergolak hebat disertai muncul- nya gelembung putih bercampur cairan darah. Dalam kesempatan itu pula terdengar suara tawa mengikik. Suara perempuan. Sobo Serngenge ter- sentak kaget. Sementara dari kedalaman air teluk tanah perlahan muncul ke permukaan air.

"Dewiku... kasihku, jantung hati tumpuan hidupku...!" desis kakek berambut putih bergetar. Dia kembali duduk di tempatnya semula, bersila dengan mata terpejam menunggu kedatangan seorang utusan yang sangat dipercaya. 5

Ki Busrut Rancak Bana memasuki gedung kediamannya dengan langkah lebar. Di bagian pintu dua orang laki-laki tegap berpakaian hitam yang tadi menggiring empat gadis penari begitu melihat kehadiran orang tua itu serentak menjura hormat. Ki Busrut Rancak Bana hentikan lang- kah, memandang pada kedua pembantu ini den- gan tatap mata curiga.

"Ke mana keempat penari tadi?" bertanya si orang tua. Suaranya pelan namun berwibawa.

"Sebagaimana yang junjunganku katakan tadi tiga di antara penari itu sekarang berada di kamar belakang, sedangkan gadis cantik yang bernama Arum Sedap kami kurung di kamar pri- badi junjungan!" menjawab sang pembantu yang bernama Rono Gandul. Laki-laki ini matanya sela- lu berkeriapan tak mau diam dan bila dibanding- kan temannya yang bernama Ukir Koro dia paling dipercaya oleh Ki Busrut Rancak Bana.

"Bagus. Setiap tugas yang kalian jalankan dengan baik, sudah selayaknya kalian mendapat hadiah salah seorang istri piaraanku yang sudah tua dan tidak kusukai lagi!" kata laki-laki itu sambil tersenyum.

"Kami sangat berterima kasih sekali, jun- jungan. Kelak aku akan mengunjunginya di siang hari, sedangkan malamnya biar sahabatku Ukir Koro ini yang meneruskan acara. Ha... ha... ha!" Laki-laki di sebelah Rono Gandul terse- nyum, julurkan lidah dan basahi bibir. Dalam ha- ti dia berkata. "Tak mengapa biarpun perempuan bekas. Yang penting perempuan itu masih punya semangat dan ada nafasnya!"

"Boleh, boleh saja. Tapi kalian harus mem- bawa bekas istriku itu jauh dari sini. Kalau perlu di pinggir hutan atau kuburan sunyi biar aku tak mendengar suara berisik!" Ki Busrut lalu tertawa tergelak-gelak dengan diikuti oleh kedua laki-laki pembantunya. Mendadak dia hentikan tawa saat teringat sesuatu.

"Akan tetapi kau dan Ukir Koro tak boleh membawa bekas istriku itu sekarang. Masih ada tugas penting yang harus kalian kerjakan malam ini. Besok pagi sekali kita harus berangkat ke Te- luk Rembang!"

Rono Gandul dan Ukir Koro saling pandang dengan tatapan tak mengerti.

"Tugas... tugas apa junjungan?" tanya Ukir

Koro.

"Seperti biasa setiap tugas akan kami sele-

saikan dengan baik. Termasuk menyingkirkan siapa saja yang junjungan tidak sukai!" menimpa- li Rono Gandul dengan penuh semangat.

Wajah Ki Busrut Rancak Bana yang semula nampak kusut kini berubah cerah, kepala mang- gut-manggut ketika dia kembali berkata.

"Aku percaya dengan segala pengabdian kalian berdua. Nah sekarang mendekatlah ke ma- ri, sesuatu yang hendak kukatakan ini menyang- kut urusan penting, tak boleh ada yang tahu."

Maka baik Ukir Koro maupun Rono Gandul sama mendekat dan sama angsurkan telinganya dekat mulut Ki Busrut. Orang tua itu kemudian membisikkan sesuatu. Begitu mendengar apa yang dikatakan oleh junjungan mereka, berubah- lah paras kedua laki-laki itu. Mata mereka mem- beliak tak percaya. Berulangkali mereka ini mene- lan ludah, namun tak sepatah katapun ucapan yang keluar dari bibir mereka.

"Karung besar telah kusediakan di bela- kang rumah. Jumlah empat puluh sembilan itu harus kalian dapatkan malam ini. Tiga jam dari sekarang. Sebelum fajar menyingsing kutunggu kalian di selatan jalan di ujung dusun lengkap dengan tiga ekor kuda!"

"Tiga jam, mengapa waktunya sesingkat itu junjungan!" desis Rono Gandul seakan tak per- caya.

"Jumlah sebanyak itu tentu tak mudah un- tuk mendapatkannya!" menimpali Ukir Koro den- gan suara tertekan dan perasaan tegang.

Mendengar jawaban kedua anak buahnya wajah Ki Busrut sempat berubah. "Segala bentuk alasan tak berlaku di hadapanku. Kalian lakukan apa yang kuperintahkan. Dobrak setiap rumah, lakukan pekerjaan. Jika dalam waktu yang kuka- takan itu kalian belum mendapatkannya dalam jumlah seperti yang kukatakan, maka sebagai tambahan kau berdua harus menyerahkan kepala masing-masing. Mengerti?" hardik Ki Busrut Ran- cak Bana tegas.

Mendengar ancaman orang tua di depan- nya pucatlah paras kedua pembantu setia itu. Mereka sadar betul tentu Ki Busrut tidak hanya sekedar mengancam. Setiap apapun yang telah dikatakan pasti akan dilakukannya juga. Rono Gandul berpikir. Daripada mereka yang celaka alangkah lebih baik orang lain yang binasa.

"Ba... baiklah junjungan. Perintahmu sege- ra kami kerjakan. Kami mohon diri!" kata Rono Gandul pada akhirnya.

Karena sang teman sudah berkata begitu, maka Ukir Koro pun tak berani mengutarakan pendapatnya. Dengan terbungkuk-bungkuk dia mengikuti Rono Gandul yang telah melangkah menuju halaman belakang gedung untuk men- gambil karung.

Ki Busrut Rancak Bana pandangi kedua anak buahnya hingga mereka menghilang dalam kegelapan malam. Kini laki-laki itu menyeringai, teringat pada Arum Sedap membuatnya tak sabar untuk segera masuk ke kamar. Dengan langkah lebar dia menuju kamarnya sendiri. Begitu mem- buka pintu kunci diputar dan pintu dibuka, se- nyum Ki Busrut melebar. Anak buahnya benar. Mereka memang mengurung si cantik berpinggul besar ini di dalam kamar pribadi si orang tua. Pintu lalu dikunci dari dalam. Gadis penari si Arum Sedap tampak ketakutan begitu melihat kehadiran laki-laki itu. Dia beringsut menjauhi ranjang, lalu melangkah mundur ke belakang. Tapi langkahnya kemudian terhenti begitu sampai di sudut ruangan.

"He... he... he. Jangan takut, aku pasti ti- dak akan menyakitimu." kata Ki Busrut Rancak Bana. Suaranya pelan mengandung rayuan. Na- mun si gadis tetap merasa curiga. Walaupun dia belum berpengalaman dalam hal-hal yang me- nyangkut urusan cinta, tapi nalurinya mengata- kan akan terjadi malapetaka besar pada dirinya. Sebuah bencana yang lebih menakutkan daripada kematian bagi diri seorang wanita.

"Bapak tua, harap lepaskan aku dan ka- wan-kawanku. Ayah ibuku bisa marah besar jika sampai pagi aku belum juga kembali!" kata si ga- dis dengan suara bergetar dan tubuh basah ber- simbah keringat saking takutnya.

"Ha... ha... ha! Ibumu atau mungkin ayah- mu pasti mengerti untuk persoalan yang satu ini. Kelak aku akan melamarmu, kau akan kujadikan istri simpananku yang ke tiga belas. Sekarang mendekatlah ke mari, jangan takut karena tidak ada yang perlu ditakutkan!" desah si orang tua.

Karena Arum Sedap yang ditunggu tak kunjung mendekat, maka Ki Busrut kini yang me- langkah mendekati si gadis.

Melihat laki-laki tua itu bergerak ke arah- nya, rasa takut Arum Sedap semakin menjadi- jadi. Dia tekap wajahnya dengan kedua tangan tapi tidak juga menghindar karena bingung ke mana hendak mencari selamat.

"Jangan... jangan sakiti aku...!" rintih Arum Sedap setengah memohon. Dalam takutnya tubuh si gadis nampak menggigil.

Ki Busrut berdiri tegak di hadapan si gadis. Dia elus janggutnya. Tenggorokan turun naik, mata memandang tak berkedip ke dada dan ping- gul si gadis yang serba besar.

"He... he... he. Aku tak ingin menyakitimu. Malah aku akan memberikan satu kesenangan yang tidak akan kau lupakan seumur hidup. Aku sudah tertarik padamu ketika kau menari di la- pangan pertunjukan. Goyanganmu, liukan ping- gulmu membuat dadaku bergetar, darahku meng- gelegak. Malam ini aku ingin memiliki dirimu. Ha... ha... ha!" berkata begitu Ki Busrut Rancak Bana kembangkan tangannya dan langsung me- meluk Arum Sedap. Tapi si gadis lekas runduk- kan kepala, berkelit dan lari menghindar dari ser- gapan si orang tua. Lepas dari pelukan Ki Busrut, Arum Sedap hendak mencoba membuka pintu. Tapi hanya dengan satu lompatan saja laki-laki tua itu berhasil meringkus si gadis.

"Perempuan tolol! Diajak menikmati sorga indah malah memilih mampus! Keinginanmu akan kukabulkan, tapi nanti setelah aku bosan! Ha... ha... ha!" kata laki-laki itu diiringi tawa. Ke- mudian tanpa menghiraukan si gadis yang mulai menjerit-jerit ketakutan, Ki Busrut menyeret Arum Sedap dan menelentangkannya di atas ran- jang. Dengan beringas dan dipenuhi nafsu tangan Ki Busrut berkelebat ke bagian dada.

Breet! Terdengar suara robeknya pakaian di ba- gian dada. Arum Sedap menjerit ketakutan sambil berusaha menutupi bagian dadanya yang besar putih dan tersingkap lebar. Melihat semua itu Ki Busrut belalakkan matanya.

"Hmm, luar biasa sekali!" katanya sambil memeluk dan menciumi si gadis.

Arum Sedap meronta dan berteriak sejadi- jadinya. "Jangan, lepaskan aku. Tua bangka bu- suk, lepaskan!" pekik Arum Sedap.

Bukannya melepaskan, tapi Ki Busrut Rancak Bana malah memeluk Arum Sedap den- gan erat. Di saat tangan si orang tua mulai cela- mitan merabai tubuh si gadis. Pada waktu itu pu- la dua pasang mata yang mengintai semua per- buatan Ki Busrut dari atas genteng segera bertin- dak cepat. Mula-mula genteng dan langit-langit rumah berderak hancur, hingga menimbulkan lu- bang besar. Satu sosok tubuh bertelanjang dada berambut gondrong melayang turun dari genteng dan langit-langit rumah yang bolong. Sosok itu bergerak ke arah si orang tua, kakinya melabrak bagian bawah perut si tua bangka dari arah bela- kang.

Cproot!

Ki Busrut Rancak Bana sebenarnya sempat merasakan sambaran angin yang cukup deras menghantam bagian selangkangannya. Tapi dia yang tengah dilamun kobaran nafsu dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun tak sempat lagi meng- hindar. Apalagi tendangan yang dilakukan oleh sosok yang datang berlangsung sangat cepat luar biasa. Tak ampun lagi Ki Busrut yang kena diten- dang orang jatuh jungkir balik melewati bagian atas ranjang dan jatuh dengan kepala menyentuh lantai di seberang ranjang. Orang tua itu tanpa menghiraukan salah satu kakinya yang menyang- kut di atas ranjang ketiduran sambil mengerang kesakitan mengusap-usap bagian bawah perut- nya. Sumpah serapah menghambur dari mulut- nya.

Sementara itu Arum Sedap yang merasa terbebas dari kebejatan si orang tua dan merasa ada yang datang menolong segera rampikan pa- kaian di bagian dada yang sempat acak-acakan. Ketika dia bangkit, Arum Sedap sempat terpesona melihat seorang pemuda tampan berambut gon- drong berdiri tegak di depannya sambil berkacak pinggang dan tersenyum-senyum.

"Cepat kau cari perlindungan, keluar dari kamar ini atau sembunyi di bawah ketiakku. Eeh, baiknya keluar saja. Jangan di ketiakku, bau aku belum sempat mandi!" kata si gondrong sambil tertawa.

Sesuai dengan perintah si pemuda, dengan cepat dan tanpa pikir panjang Arum Sedap berlari ke arah pintu. Memutar kunci pintu kemudian menghambur entah ke mana.

Di seberang ranjang Ki Busrut Rancak Ba- na kini sudah bangkit berdiri. Wajahnya pucat bersimbah keringat akibat menahan sakit luar bi- asa yang mendera bagian bawah perutnya. Perut orang tua itu sendiri terasa mulas laksana mau pecah.

"Kkk... kau pemuda jahanam! Siapa kau berani mencampuri urusanku?!" hardik Ki Bu- srut. Tangan kanan mendekap bagian bawah sambil mengusap dan mengelus, sedangkan tan- gan kiri menunjuk-nunjuk ke arah si pemuda. Ekspresi wajahnya sendiri sulit dilukiskan dengan kata-kata. Karena wajah itu demikian buruk aki- bat menahan sakit. Sedangkan matanya terka- dang terpejam kadang membuka.

Memperhatikan wajah Ki Busrut Rancak Bana membuat si gondrong yang tidak lain adalah Gento Guyon jadi tertawa terkekeh-kekeh. "Orang tua, kau ini sedang buang hajat atau apa. Kalau buang hajat tanganmu mengapa sibuk mengusap di bawah. Keningmu berkerut, mata berkedip se- perti orang yang didera kenikmatan. Atau kau se- dang melakukan keduanya sekaligus! Ha... ha... ha." kata Gento Guyon lalu tertawa lebar.

"Pemuda keparat. Berani mati kau masuk ke kamar ini. Katakan siapa namamu agar aku ti- dak segan-segan jatuhkan hukuman keras terha- dapmu!" hardik si kakek. Dia sadar betul pasti pemuda inilah yang tadi telah menendangnya be- gitu rupa hingga membuat salah satu buah jam- bunya pecah atau terselip entah ke mana. Semua ini mengundang kemarahan besar pada diri si orang tua. Tapi Gento dengan tenang dan tanpa menghiraukan pertanyaan orang berkata.

"Aku tahu orang tua, kalau sudah me- nyangkut urusan yang di bawah apalagi jika tidak kesampaian bisa membuat orang jadi uring- uringan. Mau bercocok tanam boleh-boleh saja, tapi bertanamlah di ladang sendiri, jangan ladang milik orang kau garap seenaknya. Lagipula ma- nusia akan menjadi lebih rendah derajatnya dari binatang jika main embat seenak perut sendiri. Eling orang tua. Nyebut... kau sudah sangat tua, nafas Senin Kemis, bagaimana jika malaikat maut mencabut nyawamu di saat kau asyik main kuda- kudaan. Ha... ha... ha!"

Dari atas genteng tiba-tiba terdengar suara orang menyahuti. "Dasar tolol kalau darah telah menggelegak di dalam dada dan nafsu nangkring di atas kepala. Jangankan mati, darat dan lautan pun orang sudah tak bisa membedakannya. Ha... ha... ha!"

Gento tersenyum, memandang ke atas le- wat lubang genteng yang jebol dia berkata. "Eeh... gendut apakah kau tidak mau turun, melihat ba- gaimana tampang si kodok buduk?" Dari atas atap terdengar jawaban.

"Aku lagi malas. Buat apa aku melihatnya? Apa kau mengira aku suka kaum sejenis. Lebih baik kau urus saja dia, aku sendiri harus menye- lesaikan urusanku!" kata suara itu sambil berke- lebat pergi.

Gento Guyon gelengkan kepala. Dia kemba- li memandang ke depan. Sebaliknya Ki Busrut Rancak Bana diam-diam melengak kaget. Ketika dia mendengar suara orang di atas atap sana, ra- sanya dia mengenali suara orang itu. Dia menco- ba mengingat-ingat. Tapi pikirannya yang kacau akibat niat tak kesampaian ditambah dengan ke- hadiran pemuda itu membuat pikirannya jadi ge- lap. Dengan penuh kegeraman dia berteriak. "Se- kali lagi aku bertanya siapa dirimu yang sebenar- nya kunyuk gondrong?"

Dirinya disebut kunyuk gondrong Gento hanya tersenyum sekejap. Beberapa saat kemu- dian wajahnya berubah menjadi serius.

"Kau ingin tahu namaku, sapi tua. Boleh saja, kau dengar sekarang. Aku ini adalah jun- junganmu! Junjungan yang harus kau hormati!" jawab si pemuda.

Ki Busrut yang merasa dipermainkan be- rubah menjadi beringas. Dia keluarkan suara menggereng, kedua rahang bergemeletukan, se- dangkan mulutnya berucap pedas. "Pemuda se- tan, junjungan bangsat. Kau belum tahu sedang berhadapan dengan siapa rupanya?"

"Ha... ha... ha! Suguh sesajenmu telah ku- terima. Ayam panggang pun sudah amblas dalam perutku. Masih juga kau hendak membanggakan diri di hadapanku?!" hardik si pemuda.

Mendengar ucapan si pemuda Ki Busrut Rancak Bana berjingkrak kaget dan sempat tersu- rut mundur satu langkah, mulut ternganga, mu- ka pucat mata mendelik besar bagai tak percaya. 6

Seberapa kejap suasana dicekam kebisuan. Sekali lagi Ki Busrut pandangi Gento Guyon sea- kan tak bisa mengerti dengan kenyataan yang di- hadapinya. Semula meskipun sempat ragu dia be- ranggapan bahwa sosok yang datang dengan dis- ertai tiupan angin kencang itu benar-benar Pen- guasa Kegelapan. Tak disangka ternyata dia telah dikerjai oleh seorang pemuda berwajah polos na- mun menyebalkan. Sadar dirinya telah ditipu mentah-mentah, tanpa banyak bicara dia lang- sung berkelebat melompati ranjang, tangan kiri melepaskan satu jotosan sedangkan tangan ka- nan menampar ke bagian mulut Gento. Sebelum tamparan mendarat pada sasaran Gento pen- congkan mulut bersikap seolah sudah kena tam- paran. Tapi begitu tangan yang menampar hampir menyentuh mulutnya dia cepat jatuhkan diri me- nelentang, sedangkan kakinya menyambar ke atas tepat di bagian selangkangan. Serangan si orang tua luput. Untuk kedua kalinya dia menje- rit kesakitan. Terhuyung ke belakang kakek itu dekap anunya.

"Ha... ha... ha! Maaf orang tua, sungguh aku tak bermaksud membuat konyol itumu. Se- muanya secara kebetulan, aku hendak menghan- tam perut tapi si kaki ini malah melenceng ke si- tu. Ha... ha... ha!"

"Jahanam keparat! Rasakan pukulanku!" teriak si kakek. Serta merta dia sapukan telapak tangannya satu sama lain. Tangan yang bersen- tuhan itu dikobari api. Melihat ini tawa si pemuda kembali terdengar. Sambil menunjuk-nunjuk ke langit-langit rumah dia berkata. "Kurasa otakmu memang sinting orang tua. Kau ciptakan api? Apakah hendak kau bakar rumah gedungmu yang bagus ini. Kalau sudah kau bakar kau hendak ti- dur di mana? Di kandang kuda?! Kurasa kau memang pantas jadi kuda pejantan! Ha... ha... ha."

Ki Busrut Rancak Bana terkejut sendiri. Si pemuda benar, jika gedungnya sampai terbakar dia akan berteduh di mana? Sadar akan ketolo- lannya sendiri ditambah dengan kemarahan serta dendam yang begitu besar pada lawan membuat Ki Busrut banting kakinya. Kaki amblas ke dalam lantai. Kemudian mulutnya meniup, api yang berkobar di tangannya padam. Sebagai gantinya laki-laki itu kerahkan hawa dingin ke bagian tan- gannya. Begitu kedua tangan telah berubah me- mutih laksana gumpalan es dia melompat ke de- pan. Serangkaian serangan beruntun dilakukan- nya. Beberapa saat lamanya Gento memang sang- gup menghadapi gempuran yang dahsyat dan ber- tubi-tubi itu. Ruangan pribadi Ki Busrut Rancak Bana yang dijadikan tempat perkelahian sudah acak-acakkan. Mereka sama sekali tidak menghi- raukan semua ini. Tapi beberapa kejapan kemu- dian setelah lawan merubah jurus Belalang Ter- bang. Tapi karena ruangan kamar terlalu sempit, si pemuda jadi tidak leluasa dalam mengerahkan jurus belalangnya itu. Satu kesempatan Ki Busrut menyerang dada Gento dengan tangan terkem- bang dialiri tenaga dalam tinggi. Angin dingin berkesiuran. Sadar lawan bermaksud merobek dadanya, maka Gento segera melangkah mundur sambil liukkan kepalanya. Tapi serangan yang mengarah ke bagian dada itu ternyata hanya ti- puan saja, karena begitu Gento mengelak tangan kiri lawannya menghantam bagian keningnya.

Pletak!

"Waduh...!" pekik Gento begitu jidatnya ke- na dihantam lawan. Dia terbanting ke belakang, punggung menabrak dinding. Dinding hancur, kepala si gondrong jadi pusing dan pandangan mata berkunang-kunang.

Dengan cepat dia melompat berdiri. Belum sempat pemuda ini berdiri tegak kembali pukulan lawan mendarat di dadanya. Sekali lagi Gento ter- dorong mundur. Dadanya yang kena dihantam Ki Busrut tampak memar merah di bagian dalam.

"Kutu kampret, ternyata sudah tua begini masih galak juga!" rutuk si pemuda. Bersamaan dengan ucapannya itu Gento tekuk kaki kiri, kaki kanan diangkat. Sedangkan tangan kanan dile- takkan di atas alis seperti orang yang kesilauan memandang matahari. Sedangkan tangan kiri menunjuk ke lantai.

"Puah jurus rongsokan apa itu!" Dalam kemarahannya lawan masih sempatkan diri aju- kan pertanyaan. Gento menjawab dengan mulut terpencong. "Ini namanya jurus Dewa Memandang Dari Lan- git. Tapi karena yang dipandang tua bangka yang hendak berbuat mesum. Dewanya jadi marah- marah dan terpaksa alihkan pandangannya pada matahari! Huuup!" Gento dengan gerakan aneh namun cepat lakukan satu lompatan ke depan. Ki Busrut yang sempat tercengang melihat jurus aneh lawannya tak sempat lagi mengelak, meski- pun saat itu dia sudah menarik tubuhnya ke be- lakang. Tidak dapat dihindari lagi kedua tangan Gento menghantam dadanya dengan keras sekali.

Laki-laki tua itu jatuh terpelanting, tubuh- nya menyerangsang pada bagian kepala ranjang berbentuk kepala ular. Nafasnya kembang kem- pis, dada laki-laki itu terasa panas laksana terba- kar. Menyadari lawan ternyata memiliki tenaga dalam, jurus aneh serta kesaktian tinggi. Tanpa membuang waktu lagi dia mencabut pedangnya.

Tapi diam-diam Ki Busrut jadi kaget. Pe- dang yang ditariknya ternyata alot bukan main, sehingga orang tua ini seolah merasa sedang mencabut pohon besar.

Di depannya sana sambil bertolak pinggang dan mengusap hidungnya murid kakek gendut Gentong Ketawa tertawa lagi. Pedang itu tentu su- lit dikeluarkan dari rangkanya, karena ketika me- nendang selangkangan lawan pertama kali Gento munculkan diri di kamar itu dia menggerakkan hulu pedang ke bawah hingga pedang pun dalam posisi mengunci. Untuk membukanya kembali tentu dengan menggerakkan hulu pedang ke atas. "Baru malam ini aku bertemu dengan ma-

nusia pikun. Mencabut pedang saja tidak becus. Tapi kulihat kalau mencabut sesuatu yang ada hubungannya dengan nafsu, wah cepat bukan main. Ha... ha... ha!"

"Gondrong sialan, kau telah mengerjaiku? Kubunuh kau...!" pekik si orang tua yang baru sa- ja berhasil melolos senjatanya. Begitu usai bicara tubuh berkelebat, pedang dibabatkan. Sinar putih berkilauan berkiblat secara aneh membabat da- lam posisi menyilang dua kali berturut-turut.

Untuk pertama kalinya Gento terkesiap. Sambaran senjata lawan ini bukan serangan bi- asa. Karena bagaimanapun Gento menghindar, pasti salah satu babatan menghantam bagian tu- buhnya juga. Tapi dengan nekad pemuda ini me- lakukan gerak berjumpalitan. Tak urung ujung pedang masih sempat menggores bagian atas ba- hunya juga.

Cres! "Ugkh...!"

Sambil berguling-guling si pemuda kelua- rkan keluhan tertahan. Ki Busrut melakukan sa- tu lompatan, pedang dihantamkan dengan mak- sud mengakhiri serangan lawan. Tapi dia kemu- dian terpaksa melompat mundur bergulingan se- lamatkan diri begitu melihat sinar putih berkiblat dari telapak tangan si pemuda. Sinar putih men- deru menghantam dinding di sebelah kiri pintu kamar. Terdengar suara ledakan keras berdentum ketika pukulan Iblis Ketawa Dewa Menangis me- labrak dinding. Batu-batu berhamburan, pasir dan debu beterbangan menghalangi pemandan- gan. Sejenak ruangan itu menjadi gelap. Gento bangkit berdiri, namun ketika kegelapan sirna dan ruangan jadi terang kembali Gento Guyon tak melihat Ki Busrut Rancak Bana ada di ruangan itu lagi. Di sudut ranjang, di bawah salah satu kaki meja Gento menemukan sebuah kantong ke- cil berwarna hitam. Kantong diambil, diperhati- kan sambil mereka-reka apa gerangan isi kantong tersebut. Karena penasaran Gento membukanya sekaligus, mengeluarkan isi kantong. Dia menda- pati tiga lempengan keras sebesar telunjuk ber- warna hitam. Lempengan itu berbau anyir seperti darah.

"Apa ini? Obat kuat atau sejenis perang- sang?!" gumam si pemuda disertai senyum dan gelengan kepala. "Tua bangka aneh!" Si pemuda kemudian masukkan lempengan hitam ke tem- patnya kembali. Kantong kecil itu lalu dimasuk- kan di balik kantong celananya.

"Gendut...!" seru si pemuda begitu ingat pada gurunya. "Kujamin dia sudah pergi. Akh... gila betul. Dia menyuruhku menghadapi kodok buduk, sementara dia sendiri bermesra-mesra dengan gadis berpinggul besar itu." kata si pemu- da sambil melangkah pergi.

Pada saat Gento berhadapan dengan Ki Busrut Rancak Bana dan Arum Sedap berlari ke luar meninggalkan kamar. Sampai di halaman si gadis cantik itu jadi bingung tak tahu hendak ke mana. Dalam gelapnya malam gadis penari itu tentu saja tak mengetahui arah. Di saat si gadis dilanda rasa takut dan kecemasan luar biasa se- perti itu. Dari atas genteng rumah nampak me- layang satu sosok tubuh berbadan tinggi dan be- sar bukan main. Berpakaian serba hitam dengan baju tak terkancing. Meskipun tubuhnya besar luar biasa dengan bobot lebih dari dua ratus kati. Namun ketika jejakkan kedua kaki ke tanah tidak menimbulkan suara sedikitpun, pertanda orang tua berkening lebar berwajah bulat ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat luar biasa. Kemunculan si gendut besar yang tidak disangka- sangka ini tentu mengejutkan Arum Sedap. Dia berjingkrak mundur, tubuhnya gemetar, mata di- buka lebar coba mengenali. Hatinya berubah lega begitu mengenali siapa adanya kakek itu.

Orang tua inilah yang tadi ikut menari ber- samanya ketika berada di lapangan pertunjukan. Orang tua lucu ini pula yang mengedipkan mata kepadanya. Terus-terang Arum Sedap merasa su- ka dengan gaya dan cara si kakek gendut menari.

"Kek, kau. Bagaimana kau bisa sampai ke mari?" tanya si gadis heran.

Gentong Ketawa tersenyum. "Aku sengaja mencarimu, karena takut terjadi apa-apa den- ganmu. Kulihat dua laki-laki anak buah si kumis tebal membawa kau dan tiga temanmu." jawab Gentong Ketawa. Ucapannya ini tentu hanya gu- rauan saja. Karena sesungguhnya dia dan murid- nya memang sedang mengawasi Ki Busrut Ran- cak Bana.

Akan tetapi ucapan si kakek memberi arti tersendiri bagi si gadis. Kakek itu mengkhawatir- kannya, berarti dia ada perhatian pada dirinya. Pikir Arum Sedap. Hal ini sudah menimbulkan kesan sangat mendalam bagi si gadis.

"Terima kasih atas perhatianmu, kek. Aku Arum Sedap pasti tak akan melupakan pertolon- ganmu dan kawanmu itu!" ucap si gadis dengan hati berbunga-bunga.

Si kakek tidak menjawab, wajahnya men- dongak, cuping hidung mengendus udara. Diapun lalu tersenyum. "Ternyata tubuhmu benar-benar harum. Namamu Arum Sedap. Arum dan Sedap... sangat cocok sekali. Harumnya sudah kucium tinggal sedapnya saja yang belum kurasakan." ce- letuk si kakek setengah bergumam.

"Eh, apa maksudmu kek?" tanya Arum Se- dap dengan alis berkerut heran.

Gentong Ketawa gelengkan kepala. "Tidak. Tidak apa-apa. Aku cuma ingin tahu ke mana tiga temanmu yang lain?" tanya si gendut alihkan pembicaraan.

"Ketiga temanku disekap di ruangan bela- kang. Tolong mereka kek!" pinta si gadis penuh harap.

"Baiklah akan menolong semua temanmu. Mari tunjukkan tempatnya!" kata si kakek gen- dut. Sambil berpegangan pada lengan Gentong Ketawa, Arum Sedap menunjukkan kamar tempat penyekapan ketiga temannya. Si kakek yang me- rasa dipegang hanya senyum-senyum saja. Gem- bira ada, rasa suka ada.

Tanpa menghiraukan Gento yang sedang terlibat perkelahian sengit dengan Ki Busrut Ran- cak Bana mereka mendobrak pintu belakang. Be- gitu masuk si kakek langsung menghancurkan pintu kamar tempat di mana ketiga gadis disekap. Ketiga penari itu langsung merangkul Arum Se- dap begitu mereka terbebas dari kamar penyeka- pan.

"Oh Arum... kami kira tidak bisa lagi ber- temu denganmu. Puji syukur pada Gusti Allah. Dan kakek ini bukankah...?!" kata salah seorang di antara teman Arum Sedap.

"Ya, aku yang ikutan menari bersama ka- lian." sahut Gentong Ketawa semakin mekar saja hidung si kakek berada di tengah para gadis.

"Berterima kasihlah padanya. Dia yang menolong kalian dan aku!" kata Arum Sedap.

"Terima kasih kek." kata gadis yang berba- dan agak kurus langsing.

"Aku juga kek. Kau lucu...!" kata gadis ke-

dua.

"Aku begitu juga kek. Berterima kasih pa-

damu lahir batin." menimpali gadis ketiga.

"Sudah jangan banyak peradatan. Mari tinggalkan tempat ini!" kata si kakek. Arum Sedap dan kawan-kawannya mengangguk. Mereka me- langkah pergi. Tapi baru saja mereka sampai di depan pintu belakang mendadak terdengar suara ledakan berdentum. Keempat gadis sama-sama kaget dan memandang pada Gentong Ketawa. Si kakek tersenyum saja. Tanpa beban dan seenak- nya sendiri Gentong Ketawa menjawab. "Biarkan saja, temanku pemuda gondrong itu memang agak gila. Otaknya miring, dulu bahkan dia per- nah membunuh sepuluh laki-laki yang sedang mengerjai seorang gadis." kata si kakek. Tentu ucapan Gentong Ketawa merupakan suatu kedus- taan belaka.

"Mengapa dia bertindak begitu, kek?" tanya Arum Sedap.

"Karena kekasihnya, eh, maksudku istrinya dibunuh orang dengan cara keji dan dinodai."

"Ah, kasihan sekali." kata gadis yang lain. "Ya, itu sebabnya dia mengamuk melihat

tua bangka itu hendak berbuat kurang ajar kepa- damu."

"Masih semuda itu sudah beristri?" tanya Arum Sedap seakan tak percaya.

"Betul. Terkecuali aku. Ha... ha... ha!" kata si kakek sambil tertawa tergelak-gelak.

Keempat gadis gelengkan kepala melihat tingkah si gendut ini. Mereka terus melangkah meninggalkan bagian belakang dapur.

Di satu tempat di bawah kerindangan po- hon si kakek hentikan langkah. Keempat gadis yang mengikuti memandangnya dengan heran. "Mengapa harus berhenti kek?" tanya Arum Se- dap.

"Terus terang maunya aku mengantar ka- lian sampai ke rumah masing-masing. Tapi aku masih banyak urusan. Keadaan sudah aman, ka- lian bisa pulang secara aman tanpa gangguan apa-apa." ujar Gentong Ketawa.

Arum Sedap meskipun tak bicara namun tatap matanya memperlihatkan rasa keberatan.

"Kami masih takut kek. Tolong antar kami sampai ke rumah." kata gadis yang bertubuh jangkung bernama Sumini. "Nanti sebagai imba- lannya aku akan menjodohkan kakek dengan ne- nekku!"

Tiga gadis tertawa berderai.

Gentong Ketawa tak kuasa menahan ta- wanya. "Terima kasih atas perhatianmu. Tapi aku tak ingin berjodoh dengan nenekmu. Sekarang kalian harus pergi dan aku harus pula mengerja- kan semua urusan yang belum terselesaikan!" te- gas si gendut.

Tiga gadis jadi terdiam tak berani memak- sa. Sedangkan Arum Sedap akhirnya berkata. "Baiklah kek. Terima kasih atas pertolonganmu. Suatu saat jika aku sudah mempunyai kesaktian sepertimu, engkau pasti kucari." Selesai bicara Arum Sedap memeluk si kakek. Dia membisikkan sesuatu di telinga si gendut. Setelah itu mencium pipi Gentong Ketawa kiri kanan. Tindakan nekad dan sangat singkat itu tentu di luar sepengeta- huan kawan-kawan Arum Sedap. Sebaliknya si kakek merasa kaget tak menyangka Arum Sedap berlaku nekad. Dia usap pipi dan dadanya.

"Kek, kami pergi. Seperti kataku, aku kelak akan mencarimu!" ujar Arum Sedap sambil mem- balikkan badan, melangkah pergi dengan diikuti kawan-kawannya.

Si kakek tersenyum, wajahnya masih membayangkan rasa tak percaya. Dalam kesem- patan itu dia melihat satu bayangan berkelebat melewati pintu belakang. Si kakek terkejut.

"Eeh, bandot tua itu hendak lari ke mana?" desis si kakek. Dia pun lalu mengejar ke arah di mana sosok berpakaian hitam tadi menghilang. Sambil berlari mengejar dia masih sempat mem- batin. "Benar dugaanku, ternyata Arum Sedap memang benar." Sekali lagi si kakek usap da- danya.

7

Sebelum fajar menyingsing Ukir Koro dan Rono Gandul benar-benar muncul di sebelah sela- tan ujung dusun Kedung Ombo. Masing-masing di bahu mereka membawa sebuah karung besar berlumuran darah. Bukan hanya karung itu saja yang diwarnai darah, tapi pakaian, wajah serta tangan kedua pembantu Ki Busrut Rancak Bana juga berlumuran darah. Ketika mereka sampai di jalan dusun tiga ekor kuda yang mereka tam- batkan di situ masih berada di tempatnya, terikat pada sebuah pohon agak tersembunyi di sebelah kanan tepi jalan. Rono Gandul dan Ukir Koro hentikan lang- kah. Karung besar diturunkan. Sejenak mereka menarik nafas, menghirup udara segar menjelang pagi dalam-dalam.

Keletihan yang mendera diri mereka saat itu memang sungguh luar biasa. Tapi mereka me- rasa senang karena sanggup menyelesaikan pe- kerjaan gila yang dibebankan oleh Ki Busrut Ran- cak Bana. "Kita tunggu orang tua itu sebentar. Ji- ka dia telah muncul, berarti kita akan mendapat hadiah." berkata Ukir Koro tiba-tiba. Suaranya yang serak memecah keheningan.

"Bukan hanya hadiah saja, kita juga telah dijanjikan untuk memiliki bekas istri piaraannya. Semua ini merupakan satu keberuntungan yang tiada tara." sahut Rono Gandul. Membayangkan apa yang akan dilakukan nanti membuat Rono Gandul julurkan lidah membasahi bibir. Kawan- nya hanya tersenyum.

Rono Gandul kemudian bermaksud me- naikkan karung besar itu ke atas punggung kuda. Belum lagi niatnya terlaksana mendadak sontak dia dikejutkan oleh gelak tawa seseorang. Rono Gandul dan Ukir Koro terperangah dan saling berpandangan satu sama lain.

"Celaka?! Suara siapa itu? Apakah junjun- gan kita telah datang?" kata Ukir Koro berbisik.

"Suara tawa itu datang dari empat penjuru arah. Ki Busrut Rancak Bana tak mempunyai il- mu memecah suara seperti itu." jawab Rono Gan- dul. Sebagai mana temannya Rono Gandul yang tadinya membungkuk hendak mengangkat ka- rung berat sekarang ikutan berdiri tegak, tubuh- nya berputar, mata memandang ke seluruh pen- juru arah. Tidak terlihat apapun terkecuali kege- lapan semata.

Suara tawa kemudian lenyap, kesunyian mencekam. Ukir Koro dan Rono Gandul bersikap waspada, tangan masing-masing menempel pada bagian hulu pedang.

Kesunyian tidak berlangsung lama, karena di lain kejap terdengar suara teriakan menggele- dek. "Dua manusia tukang jagal calon celaka. Ka- rena dosa apa mereka kalian bunuh? Kalian pa- tuh pada perintah menyesatkan, namun tidak ta- kut dosa akibat perbuatan kalian sendiri!"

"Kami hanya menjalankan perintah, men- genai dosa itu urusan nanti. Siapa kau yang se- benarnya?!" tanya Ukir Koro memberanikan diri.

"Kau tidak layak mengetahui siapa diriku!" dengus suara itu. "Yang terpenting saat ini kalian harus menyerahkan kepala kalian. Akan kutam- bah jumlah yang empat puluh sembilan dengan dua kepala lagi sehingga menjadi lima puluh satu! Hi... hi... hi!"

Mendengar ucapan suara itu wajah Ukir Koro dan Rono Gandul berubah pucat pasi. Se- rentak mereka mencabut pedang yang telah ber- lumuran darah. Masing-masing pedang dilintang- kan ke depan dada. "Orang yang bicara harap tunjukkan diri. Kami tidak suka pada orang yang bersikap pengecut sepertimu!" hardik Rono Gan- dul.

"Benarkah kalian adalah orang-orang pem-

berani berjiwa besar? kalian menentangku di saat maut datang mengintai. Sungguh kau dan te- manmu itu akan membawa penyesalan sampai ke liang kubur!" dengus suara tersebut. Begitu suara lenyap dari arah depan mereka melesat dua ben- da berbentuk bulat berwarna kuning member- sitkan cahaya dingin. Kedua benda itu langsung menghantam Rono Gandul dan Ukir Koro. Kedua laki-laki ini rundukkan kepala, sedangkan pedang dibabatkan ke depan, menangkis. Cahaya putih menderu ketika pedang di tangan mereka berke- lebat menyambar ke arah benda bulat yang mele- sat dari balik kegelapan itu.

Wuuuut!

Babatan pedang mengenai tempat kosong karena secara aneh dan seakan memiliki nyawa benda-benda itu melenting ke atas, berputar- putar di udara disertai desing aneh, kemudian menukik lagi ke bawah menyambar kepala Ukir Koro dan Rono Gandul. Seperti tadi kedua laki- laki itu kembali babatkan senjatanya ke atas. Ta- pi mereka kembali dibuat kaget. Dua benda yang menghantam dari atas sekarang bergerak ke samping dan membabat leher Rono Gandul dan temannya dengan gerakan cepat laksana kilat. Tangkisan ketiga yang dilakukan mereka juga me- rupakan satu tangkisan yang tidak berguna sama sekali karena tetap tidak mengenai sasaran. Ma- lah benda aneh berwarna kuning itu akhirnya memapas putus batang leher keduanya.

Bluk!

Dua kepala jatuh berg├ędebukan di depan kaki, darah menyembur sedangkan tubuh tanpa kepala nampak terhuyung-huyung, menggeletar hingga pada akhirnya jatuh terjengkang berlumu- ran darah. Sedangkan kedua benda yang mema- pas putus kepala Ukir Koro dan Rono Gandul kembali melesat ke tempat saat pertama kali da- tang dan lenyap dalam gelap. Kemudian sedetik setelah itu dari balik kegelapan pula satu sosok berpakaian serba putih memakai selendang yang dililitkan pada bagian leher ke arah kepala kedua pembantu Ki Busrut Rancak Bana. Begitu jejak- kan kaki, kedua kepala tadi dimasukkan ke da- lam karung. Dua potongan tubuh tanpa kepala ditendang hingga bergulingan di tepi jalan. Selan- jutnya karung yang sudah diikat kembali dinaik- kan ke atas kuda.

"Segala bentuk kekejian ini harus kuhenti- kan. Sobo Serngenge, kesaktianmu boleh saja tinggi, tapi kau harus percaya pada ucapan gu- rumu. Selama ini kau hanya menggapai keinginan yang menjijikkan. Kau belum tahu siapa Dewi Se- goro Lor!" kata sosok serba putih itu sambil me- mandangi karung besar berlumuran darah.

"Ki Busrut Rancak Bana, bawalah oleh-oleh dalam karung itu ke hadapan Sobo Serngenge!" ucapnya.

"Para pembantuku, aku datang." Satu sua- ra terdengar dari arah belakang orang itu. Ketika dia berpaling ke belakang. Dia melihat satu sosok serba hitam berlari cepat ke arahnya. Orang ini nampaknya memang tak ingin dilihat orang, se- hingga diapun lalu memutar tubuhnya tiga kali.

Wuues!

Mendadak ujudnya raib dari pandangan tepat di saat orang yang berlari dalam keadaan tergesa-gesa sampai di tempat itu.

"Ukir Koro... Rono Gandul.... di mana ka- lian....!" seru si baju hitam yang tiada lain adalah Ki Busrut Rancak Bana. Dia memandang berkelil- ing dengan perasaan cemas dan tegang. Kedua pembantunya ternyata tak terlihat. Di jalan dia melihat genangan darah yang mulai membeku, jantungnya berdebar. Tanpa sadar dia meman- dang ke arah kuda yang kini telah berada di ten- gah jalan. Perasaannya menjadi lega begitu meli- hat dua karung besar berada di atas punggung kuda. Dia beranggapan pastilah genangan darah di tengah jalan adalah darah yang berasal dari kedua karung itu.

"Anak-anak itu rupanya sengaja hendak membuat kejutan. Mereka menyelesaikan tugas- nya dengan baik. Kemudian mempersiapkan apa yang kuinginkan sebaik mungkin. Tak mengapa, aku bisa berangkat ke Teluk Rembang seorang di- ri. Mereka mungkin sudah terlalu lelah, biarlah mereka berdua bersenang-senang dengan bekas istriku!" kata Ki Busrut disertai seringai aneh.

Kemudian orang tua ini melepaskan gulun- gan tali. Dengan tali itu kuda yang membawa be- ban karung digandeng sedemikian rupa. Sedang- kan bagian ujung tali dipegangnya. Dengan begitu bila dia memacu kuda tunggangannya maka dua kuda yang membawa karung segera mengiku- tinya.

"Pekerjaan mudah, sungguh sangat mudah sekali. Semoga guru Sobo Serngenge tidak kece- wa!" batin Ki Busrut. Tanpa menunggu lagi dia segera melompat ke atas punggung kudanya. Tali kekang kuda disentakkan, binatang itu meringkik dan berlari ke depan dengan diikuti dua kuda lainnya.

***

Matahari baru saja munculkan diri di ufuk timur, embun masih membasahi pucuk-pucuk dedaunan. Di tempat di mana Ki Busrut baru saja tinggalkan tempat itu beberapa jam yang lalu muncul si kakek gendut Gentong Ketawa. Ketika orang tua ini memandang ke tengah jalan, Gen- tong Ketawa melengak kaget.

"Ada banyak darah?! Seperti baru saja ter- jadi penjagalan di sini. Eh... siapa yang dijagal, siapa pula yang menjagal?" kata si kakek seorang diri. Dia memandang ke depan, ada jejak kaki ku- da di situ. Ketika si kakek memandang ke samp- ing jalan orang tua ini bersurut langkah sambil keluarkan seruan keras.

"Sungguh tak kusangka." desisnya. "Dua orang ini tergeletak tanpa kepala" Cukup lama ju- ga Gentong Ketawa berdiri tegak di tempatnya. Tapi kemudian dia segera mendekati kedua mayat tanpa kepala itu. Dia segera lakukan pemerik- saan, meneliti mengamat-amati. Walaupun mayat itu tanpa kepala tapi dia yakin keduanya pasti merupakan anak buah Ki Busrut Rancak Bana. "Melihat lehernya yang putus ini, pasti senjata yang digunakan lebih tajam dari pedang. Siapa yang membunuhnya? Apakah si kumis tebal itu sendiri yang telah melakukannya?" pikir Gentong Ketawa. Dia jadi teringat pada sosok yang melari- kan diri lewat pintu belakang rumah kediaman Ki Busrut Rancak Bana. Sekarang dia benar-benar merasa yakin laki-laki itu pasti berhasil melo- loskan diri dari tangan muridnya. "Bocah edan! Meringkus seekor bandot yang sudah jompo pun tidak becus!" gerutu si kakek bersungut-sungut.

"Aha, pada akhirnya kutemukan juga kau di sini!" tiba-tiba satu suara berkumandang di tengah suasana pagi yang sunyi. Sesosok tubuh berkelebat di belakang si kakek. Gentong Ketawa bersikap acuh tak hiraukan kehadiran orang. Ma- lah kini dia unjukkan wajah cemberut.

"Guru... tak kusangka kau telah sampai di tempat ini. Eeh... ada mayat? Siapa mereka?" tanya orang yang baru datang yang bukan lain adalah murid orang tua itu sendiri.

"Ke mana saja kau rupanya, Gege. Kau pasti tak bisa meringkus orang tua itu?" tegur gu- runya dengan mimik bersungguh-sungguh.

"Memang betul, ndut. Dia kabur, minggat entah ke mana. Tapi... eh...!" Gento Guyon yang sempat memandang gurunya tidak teruskan uca- pan, melainkan tertawa terbahak-bahak.

"Bocah edan. Setelah gagal membekuk si kumis tebal bukannya sedih, tapi malah tertawa seperti orang sinting. Apakah kau merasa ada ka- ta-kataku ada yang lucu?" hardik si kakek.

Gento hentikan tawa sambil memegangi pe- rut. Dia menunjuk-nunjuk ke bagian wajah gu- runya sambil berkata. "Kau memang guru yang li- cik. Kau suruh aku melawan Ki Busrut, sedang- kan kau sendiri bermesraan, berdua melawan Arum Sedap. Guru macam apa kau?" dengus si pemuda.

Mendengar ucapan muridnya tentu saja Gentong Ketawa jadi kaget. Dia heran bagaimana Gento bisa mengetahui dia bertemu dengan Arum Sedap. Dengan muka sedikit memerah merasa rahasianya diketahui sang murid si kakek berka- ta. "Aku bertanya mengapa malah jawabanmu malah ngaco?"

"Ha... ha... ha. Dasar orang tua gendeng. Aku tahu kau pasti habis dipeluk dan dicium oleh Arum Sedap. Bagaimana, ciumannya sedap ti- dak?"

"Heh, bicaramu ngawur, kupecahkan kepa- lamu!" berkata begitu si kakek gerakkan tangan. Laksana kilat tangan menyambar kepala Gento. Dengan gerakan cepat pemuda ini berhasil meng- hindar.

"Kau tidak mau mengaku? Coba kau lihat di kedua pipimu terdapat bekas merah. Siapa yang menciummu, sapi? Ha... ha... ha!"

Si kakek berjingkrak kaget.

"Kau tidak bicara dusta?" seru Gentong Ke- tawa, mukanya berubah pucat. Dia mengusap pi- pinya pulang balik, digosok-gosok tapi warna me- rah tetap tak mau hilang.

"Aku tidak dusta, malah kau yang sering membohongiku. Kau kuwalat. Ha... ha... ha. Usap terus sampai tua!" ejek si pemuda.

Si kakek jadi kelabakan dan malu hati. Dia terus menggosok pipi kiri kanan sampai kedua pipi itu jadi memerah.

"Bekas bibir itu memakai sejenis pewarna yang susah dihilangkan. Terkecuali kau kelupas kulit pipimu, baru tanda merah hilang. Kalau ti- dak kurasa sampai setahun di muka tanda itu masih terus membekas. Huh, dasar tua bangka hidung belang!" cibir Gento.

Merasa serba salah orang tua ini akhirnya tutupi kedua pipinya yang tembem. Tak lama ke- mudian dia berkata. "Jangan hiraukan bekas ci- uman gila ini. Aku tidak meminta, tapi dia yang nekat memelukku."

"Bagaimana rasanya dipeluk Arum Sedap?" "Rasanya aku pingin pipis dan buang ha-

jat." sahut si kakek sekenanya. "Gege kau den- gar... aku telah melihat beberapa penduduk tewas dalam keadaan sebagaimana kedua mayat itu. Aku yakin Ki Buyut Rancak Bana membawa po- tongan kepala mereka ke suatu tempat. Kita ha- rus menyusulnya!" ujar si kakek. "Caranya bagaimana?" tanya Gento.

Gentong Ketawa terdiam, berpikir beberapa jenak lamanya hingga kemudian dia berkata. "Ki- ta ikuti ceceran darah dan bekas kaki kuda ini." ujar si kakek.

"Boleh, aku di belakang guru di depan. Dengan begitu aku bisa melihat setiap gerak- gerikmu yang mencurigakan. Tapi sebelum pergi boleh aku bertanya?"

"Bertanya apa?" dengus Gentong Ketawa sambil melangkah pergi.

"Ke mana perginya Arum Sedap?"

"Ha... ha... ha. Tentu saja pulang ke rumah orang tuanya." sahut Gentong Ketawa sambil mempercepat langkahnya. Gento bersungut- sungut. Sambil menggerutu dia mengikuti gu- runya.

8

Puncak Menara Gila yang terdiri dari batu- batuan cadas berlumut hitam nampak menjulang tinggi seakan hendak menggapai langit. Menara cadas yang terletak di daerah Puncak Wangi ini merupakan daerah gersang di mana hampir se- tiap saat angin kencang berhembus tiada henti. Selain itu bukit cadas yang menjulang tinggi dan berbentuk kerucut itu selalu bergoyang tak mau diam. Seakan bukit itu hanya menempel di atas permukaan tanah.

Siang itu panas terik terasa membakar di bagian kaki bukit cadas Menara Gila satu sosok tubuh berpakaian serba putih berwajah cantik berselendang putih yang dilingkarkan pada ba- gian lehernya berdiri tegak di tempat itu sambil dongakkan kepala memandang ke puncak Menara Gila.

"Cukup sulit untuk bisa mencapai Menara Gila ini. Tapi aku harus menemui Manusia Selak- sa Guntur. Tidak ada cara lain untuk bisa sampai ke atas sana. Aku harus menggunakan ajian Munggah Langit!" batin si gadis cantik dalam hati. Beberapa saat kemudian bibir si gadis tampak berkemak-kemik membaca sesuatu. Setelah itu selendang yang melilit leher dilepaskan. Salah sa- tu ujung selendang digenggam dengan erat. Se- lanjutnya selendang itupun dilecutkan ke udara.

Tar! Tar!

Begitu selendang putih melecut di udara selendang berubah memanjang sekaligus mem- buka lebar. Secara aneh ujung selendang itu me- luncur deras ke udara, bergerak dengan kecepa- tan laksana kilat disertai suara angin menderu. Di saat lain ujung selendang yang digenggamnya. Kembali satu keanehan terjadi. Selendang yang tadinya menjulur panjang kini bergerak menyu- sut. Dengan begitu tubuh si gadis ikut terbetot ke atas mengikuti tarikan selendang. Hanya dalam waktu sekian saat lamanya gadis berpakaian ser- ba putih memakai ikat kepala warna putih itu te- lah berada di Menara Gila.

Si gadis sentakkan ujung selendang yang menempel pada salah satu batu. Kemudian kem- bali melilitkan selendang itu ke lehernya. Sejenak dia menarik nafas, menghirup udara dalam- dalam. Setelah itu dia kitarkan pandang tanpa perduli betapa hembusan angin yang sangat ke- ras terasa menampar-nampar wajahnya.

"Tidak kulihat di mana adanya orang tua itu. Aku juga tak melihat pondoknya?" pikir si ga- dis. "Sita Berhala... aku Peri Bulan datang me- nyambangimu. Aku berharap engkau mau unjuk- kan diri. Ada beberapa hal yang ingin kubicara- kan menyangkut muridmu dan juga Dewi Segoro Lor!" berkata si gadis menyebut nama asli orang yang dikunjungi.

"Aku ada di sampingmu, Peri Bulan." ter- dengar satu suara menjawab. Peri Bulan cepat menoleh ke sampingnya. Kejut gadis ini bukan alang-alang begitu melihat di samping kirinya du- duk sosok tubuh berwajah maupun rambut se- perti beruang berwarna putih. Hanya badan tan- gan dan kakinya saja yang sama seperti manusia. Yang mengherankan bagaimana si orang tua ta- hu-tahu bisa berada di sampingnya, padahal tadi Peri Bulan sama sekali tak melihat ada orang di sekitar puncak Menara Gila?

"Orang tua, aku merasa senang kau pada akhirnya mau menjumpaiku. Adapun mengenai kedatanganku ini seperti yang sudah kukatakan adalah untuk membicarakan tentang muridmu juga saudaraku Dewi Segoro Lor." kata si gadis setelah menjura hormat dan duduk tak jauh di depan kakek yang wajah maupun rambutnya sangat mirip dengan beruang.

Manusia Selaksa Guntur pandangi gadis di depannya sejenak dengan tatapan matanya yang mencorong tajam. Dia lalu palingkan wajahnya ke arah lain. Beberapa jenak lamanya suasana di puncak Menara Gila dicekam kebisuan. Sampai akhirnya si kakek berkata. "Apa yang terjadi di antara kita selama ini tentu bukan hanya engkau saja yang tahu Peri Bulan? Selama ini antara ke- luargamu dan diriku tak mempunyai silang seng- keta. Tapi di antara kita terikat suatu larangan di mana tak satupun dari anggota keluargamu yang boleh menjalin hubungan cinta dengan muridku maupun diriku sendiri. Karena kau tahu, jika hal itu sampai terjadi maka akan terjadi malapetaka besar bagi diriku. Kau keturunan bangsa lelem- but, sedangkan aku turunan setengah manusia setengah gaib. Dalam kenyataannya aku berada dalam ujud sebagaimana yang kau lihat. Hidupku tersiksa selama bertahun-tahun. Karena itu aku tak pernah melanggar pantangan. Sampai saat ini diriku tidak ubahnya seperti orang yang sakit. Hi- dup selama beratus tahun aku tak mau membuat kesalahan." menerangkan si kakek panjang lebar. Setelah diam sejenak dia melanjutkan. "Tapi ke- mudian aku tak menyangka dihianati oleh murid- ku sendiri. Bukan hanya itu saja, dia telah berani mencuri kitab Gentar Gaib. Kitab larangan yang harus kujaga kerahasiaannya sampai aku mati. Semua ini juga merupakan alamat celaka bagi di- riku. Aku tahu saudaramu yang bernama Dewi Segoro Lor datang menggoda muridku melalui mimpinya. Menyatakan perasaan cinta lewat mimpi pula. Ketika Sobo Serngenge mulai tergila- gila pada saudara tuamu itu, dia mengajukan syarat agar muridku mendirikan sebuah singga- sana bernama Rumah Sorga di teluk Rembang. Aku tak tahu muslihat apa yang ada dalam benak saudaramu itu. Yang jelas walau Sobo Serngenge memiliki kesaktian tinggi, tanpa menguasai isi ki- tab Gentar Gaib dia tidak akan dapat mewujud- kan semua impiannya itu. Tapi semua itu hanya membuat aku semakin menderita. Murid terkutuk itu harus kuhentikan!" ujar si kakek bermuka be- ruang dengan suara perlahan.

"Untuk persamaan itu pula aku datang menyambangimu kemari kek. Aku tahu saudara- ku Dewi Segoro Lor terkadang suka bertindak ne- kad menuruti kemauan hati sendiri. Aku akan memberi teguran keras kepadanya. Semula aku beranggapan kakek tak mengetahui tentang se- mua yang dilakukan oleh Sobo Serngenge. Se- hingga aku memerlukan diri untuk datang ke ma- ri. Tapi syukurlah ternyata kakek mengetahui semua kejadian di luaran sana menyangkut ten- tang muridmu dan juga kakakku!" kata Peri Bu- lan.

"Jadi apa rencanamu selanjutnya?" tanya Manusia Selaksa Guntur ingin tahu. "Rencanaku tentu mencegah agar kakakku tidak sampai melanggar pantangan menikah den- gan muridmu. Tapi semua itu tak mungkin ber- hasil, sebab terus-terang saudaraku itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kesaktiannya jauh bera- da di atasku. Menghadapi Dewi Segoro Lor saja belum tentu aku sanggup mengalahkannya. Apa- lagi jika muridmu sampai ikut turun tangan."

Si kakek Sita Berhala, manusia berujud se- tengah manusia setengah beruang terdiam. Dia berpikir sampai saat ini Picak Kiri yang diutus untuk meminta kitab Gentar Gaib yang dicuri So- bo Serngenge masih belum juga kembali. Padahal dia berjanji dalam waktu dua hari Picak Kiri akan menemui gurunya seandainya berhasil mengambil kembali kitab Gentar Gaib. Aneh, sampai saat ini Picak Kiri masih juga belum munculkan diri. Di- am-diam perasaan kakek berujud manusia dan setengah binatang ini jadi gelisah. "Aku sebenar- nya tak ingin meninggalkan Menara Gila ini. Tapi firasatku mengatakan telah terjadi sesuatu pada Picak Kiri. Seandainya aku tidak ikut campur tangan dalam urusan ini, dunia persilatan kelak bisa ditimpa satu malapetaka yang sangat besar!" pikir Manusia Selaksa Guntur. Dia selanjutnya berucap. "Sebenarnya aku sejak dulu telah me- mutuskan untuk tidak meninggalkan Menara Gila ini. Tapi keinginan itu nampaknya tidak dapat kupertahankan lebih lama. Aku berjanji akan pergi ke Teluk Rembang. Tapi harap dimaafkan karena aku tidak dapat pergi bersama dengan- mu." tegas si kakek.

Mendengar keputusan Manusia Selaksa Guntur, Peri Bulan terkejut. Dia sama sekali tak menyangka orang tua setengah manusia setengah binatang itu tidak mau pergi bersamanya. "Orang tua, mengapa kau tak mau pergi bersamaku? Pa- dahal saat ini sudah banyak korban yang jatuh karena ulah Sobo Serngenge. Banyak mayat kehi- langan kepalanya. Apakah hatimu tidak tersentuh melihat kematian mereka?" tanya Peri Bulan.

"Tentu saja perasaan dan naluriku sama dengan manusia lain. Seperti yang telah kukata- kan, berdekatan denganmu, berjalan seiring seja- lan membuat tubuhku terasa panas. Karena itu sebaiknya berangkatlah kau duluan. Aku pasti menyusulmu. Karena kitab Gentar Gaib itu bagi- ku merupakan nyawa yang kedua." ujar si kakek.

Peri Bulan anggukkan kepala.

"Baiklah orang tua. Kalau sudah begitu ka- tamu aku tentu tak dapat memaksa. Aku pergi dulu orang tua." berkata begitu Peri Bulan bang- kit berdiri. Setelah menjura hormat gadis cantik itu membalikkan langkah. Selendang yang melilit leher dilepas. Kembali mulutnya berkemak-kemik hingga terdengar suara racau dengan irama tak menentu. Setelah itu selendang itu dikebutkan di udara tiga kali berturut-turut. Dari ujung selen- dang menderu asap tebal yang langsung menye- limuti sekujur tubuh Peri Bulan. Melihat hal ini Manusia Selaksa Guntur berdecak kagum. Se- mentara di depannya sana sosok Peri Bulan yang dilingkupi asap putih tebal mendadak raib dari hadapan si kakek

"Ilmunya tinggi, bahkan sulit dijajaki. Tapi kepadaku dia masih tetap berendah hati dengan meminta bantuanku. Sebaiknya sejak sekarang aku harus bersiap diri. Sobo Serngenge murid murtad itu harus kubawa ke mari untuk meneri- ma hukuman dariku." ujar si kakek. Sambil tetap duduk bersila dia tundukkan kepala.

Wuees!

Sama seperti gadis tadi, mendadak kakek Sita Berhala lenyap dari pandangan mata.

9

Di ujung dataran teluk yang menjorok ke tengah lautan kakek berambut putih laksana pe- rak masih duduk bersila di tempatnya. Saat itu matahari susah hampir tenggelam di ufuk sebelah barat, angin laut berhembus sepoi-sepoi basah. Di tempat duduk si kakek tiba-tiba julurkan kepala dan memasang pendengarannya saat mendengar suara sayup-sayup derap langkah kuda yang ber- gerak cepat menuju ke arahnya. Semakin lama derap langkah kuda semakin bertambah dekat, lalu semak bakau yang berada di depan si kakek tersibak. Seekor kuda berbulu putih muncul di tempat itu yang kemudian disusul oleh dua kuda lainnya berbulu sama. Si kakek memandang lu- rus ke depan. Dia melihat di atas punggung kuda yang berada di depan duduk seorang laki-laki berpakaian hitam berwajah bengis. Keangkeran wajah penunggang kuda itu tidak menimbulkan perubahan apapun pada diri si kakek. Dia melirik ke arah karung yang berada di atas punggung kuda kedua dan ketiga. Masing-masing karung besar itu terikat pada bagian mulutnya dan sama bersimbah darah.

"Busrut Rancak Bana, telah kau dapatkan apa yang dipesan oleh gurumu ini?" kata si kakek sambil memandang muridnya dengan tatapan dingin menusuk.

Orang tua di atas kuda melompat turun, lalu menjura hormat pada kakek berambut putih yang bukan lain adalah Sobo Serngenge. Setelah duduk bersila di depan sang guru dia menjawab. "Sesuai pesan guru Sobo Serngenge, saya murid- mu tak pernah membuat kecewa. Saya telah pe- nuhi apa yang guru minta. Karena itu sesuai janji guru, saya berharap kitab Gentar Gaib nantinya sudi guru mewariskannya padaku!"

Mendengar ucapan muridnya Sobo Sern- genge memandang ke arah laki-laki yang berada di hadapannya sekilas. Setelah itu dia tertawa le- bar.

"Apa yang ada dalam benak orang tua ini? Jalan pikiran dan isi hatinya sulit kutebak. Aku khawatir jangan-jangan dia malah membunuhku begitu semua keinginannya tercapai!" batin Ki Busrut Rancak Bana. Dalam pada itu tawa si kakek sudah mulai mereda. Sebelum memberi jawaban atas keingi- nan Ki Busrut si kakek ajukan pertanyaan. "Wak- tuku sudah banyak yang terbuang, Busrut. Seha- rusnya kemarin malam kau sudah sampai. Men- gapa baru sore ini baru tiba di sini?"

Mendengar pertanyaan Sobo Serngenge, Ki Busrut Rancak Bana sempat bingung juga. Tidak mungkin dia mengatakan duduk persoalan yang sebenarnya. Sehingga diapun menjawab.

"Maafkan saya atas keterlambatan itu. Se- benarnya tadi malam saya sudah sampai ke sini jika aku tak dihadang oleh seorang pemuda be- rambut gondrong dan kakek tinggi gemuk besar luar biasa. Saya sama sekali tak mengenal mere- ka. Tapi dari bentrok tenaga dalam, saya menge- tahui kedua orang itu memiliki tenaga dalam ser- ta kesaktian yang sangat tinggi!"

Mendengar jawaban muridnya Sobo Sern- genge terdiam, kedua alisnya berkerut tajam. Se- telah berpikir sejenak dia bertanya. "Bagaimana ciri-ciri mereka, mengapa kau sampai berkelahi dengan mereka?"

Ki Busrut menjawab. "Ciri-ciri mereka, yang pertama adalah seorang kakek berumur lima puluh tahun lebih badannya gemuk tinggi dengan bobot sekitar dua ratus kati. Wajahnya bulat, kening lebar pipi tembam berbaju hitam tidak terkancing!" ucap Ki Busrut. Kening Sobo Sern- genge berkerut tajam. Dia rasa-rasa kenal dengan orang tua dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan muridnya.

"Kakek keparat itu pastilah Gentong Keta- wa. Manusia aneh yang akhir-akhir ini banyak menarik perhatian kalangan rimba persilatan ka- rena sepak terjang dan kekonyolannya. Sedang- kan pemuda yang dimaksudkan muridku tentu Gento Guyon, murid Gentong Ketawa. Dua manu- sia berkepandaian tinggi. Bagaimana Busrut bisa meloloskan diri dari tangan mereka." membatin si kakek berambut putih perak di hati. Tapi untuk meyakinkan diri, Sobo Serngenge kembali ber- tanya. "Kemudian bagaimana ciri-ciri pemuda yang bersama kakek itu?"

"Badannya tegap, rambut gondrong berte- lanjang dada. Sama seperti si kakek dia juga se- perti orang kurang waras."

"Kurang waras tapi berilmu tinggi, lalu ba- gaimana kau bisa sampai selamat sampai ke ma- ri?" tanya Sobo Serngenge.

Sekali lagi Ki Busrut dibuat bingung. Tapi sekali lagi dengan ketenangan luar biasa dia men- jawab. "Kusuruh muridku menghadapi mereka. Mengingat tugas yang guru berikan sangat pent- ing. Aku terpaksa meninggalkan mereka untuk membawa kepala yang hendak dijadikan tumbal."

Sobo Serngenge tertawa mengekeh men- dengar penuturan Ki Busrut Rancak Bana. Masih dengan tertawa dia lalu berkata. "Bagus, untuk kesetiaan dan itikad baik yang kau tunjukkan se- bentar lagi kitab Gentar Gaib akan kuberikan pa- damu. Sedangkan mengenai kedua orang itu nan- ti pasti akan mendapat hukuman dariku," tegas si kakek. "Sekarang ini sebaiknya kau turunkan ke- dua karung itu. Aku ingin melihatnya. Jumlah kepala yang hendak dijadikan tumbal sebenarnya hanya kurang empat puluh delapan lagi. Akan te- tapi jika ada kelebihan hal itu malah lebih bagus. Sekejap lagi teluk ini akan kujadikan daratan, se- telah itu aku akan memerintahkan para siluman yang dibantu oleh para arwah penasaran untuk mendirikan singgasana sorga yang diinginkan Dewi Segoro Lor!" kata Sobo Serngenge.

Tanpa bicara lagi Ki Busrut lakukan apa yang diminta gurunya. Dua karung besar berisi potongan kepala diturunkan, lalu dibawa ke ha- dapan gurunya.

Sobo Serngenge bangkit berdiri, pengikat mulut karung dibukanya. Dia merasa heran sen- diri. Menurut sang murid kedua pembantunya sedang menghadapi Gentong Ketawa dan Gento Guyon. Tapi mengapa tiba-tiba saja sekarang po- tongan kepala Ukir Koro dan Rono Gandul men- gapa berada di dalam karung itu?

"Dia telah berani membohongiku, bagai- mana nanti jika dia telah berhasil menguasai se- luruh isi kitab Gentar Gaib? Bukan mustahil aku dibunuhnya!" geram Sobo Serngenge. Orang tua berambut perak itu kemudian membuat isyarat pada Ki Busrut Rancak Bana. Setelah orang tua itu mendekat dia berkata. "Menurutmu kedua anak buahmu sedang bertarung menghadapi mu- rid dan guru sinting itu, betul?" ragu. "Betul sekali guru." sahut Ki Busrut tanpa

"Orang yang sudah mampus dan tidak memiliki kepala bisa bertempur. Ilmu setan apa rupanya yang dimiliki oleh kedua anak buahmu itu? Sekarang coba kau lihat ini." Selesai bicara dua potongan kepala dilempar langsung ke arah orang tua itu. Potongan kepala menggelinding dan berhenti di ujung kaki Ki Busrut Rancak Bana. Dia terkesiap, wajahnya berubah pucat, mulut terngaga dan mata membeliak lebar. Walau ba- gian wajah potongan kepala itu diselimuti cairan darah yang sudah mengering. Tapi dia tentu saja dapat mengenali dua wajah itu. Wajah kedua pembantunya, Ukir Koro dan Rono Gandul. Diha- dapkan pada kenyataan seperti itu tentu saja Ki Busrut Rancak Bana jadi bingung sendiri.

"Guru... sungguh aku tidak berbohong dengan semua apa yang kukatakan tadi." kata si orang tua heran dan diliputi perasaan tidak men- gerti.

Sobo Serngenge menyeringai. "Kuakui se- mua kejujuranmu selama ini. Tapi terus terang hari ini aku sangat kecewa, walaupun kau berha- sil membawa apa yang aku inginkan. Oleh karena itu wahai muridku, kini aku berubah pikiran." ka- ta Sobo Serngenge dengan suara dingin menusuk. "Guru apa maksudmu?" tanya si orang tua.

Sobo Serngenge sunggingkan seringai sinis. Ke- dua tangannya yang sejak tadi berada di dalam kantung mendadak dicabutnya. Kemudian sambil berteriak keras dia menghantam Ki Busrut Ran- cak Bana. Sinar kuning kebiruan berkiblat ke arah Ki Busrut. Tidak mengira mendapat seran- gan seperti itu dari gurunya sendiri, si orang tua tidak sempat menghindar. Pukulan ganas yang melanda dirinya membuat tubuh si kakek terlem- par disertai jeritan panjang menyayat. Orang tua itu tewas seketika dengan tubuh hangus gosong.

"Ha... ha... ha! Siapapun yang mencoba membohongi aku, maka jiwanya tak akan pernah kuampuni!" teriak Sobo Serngenge sinis. Kemu- dian tanpa pikir panjang lagi Sobo Serngenge mencampakkan seluruh kepala yang berada da- lam karung ke dalam teluk. Begitu seluruh kepala tercebur ke dalam teluk yang dalam itu, maka terdengarlah suara bergemuruh hebat. Tanah di ujung Teluk Rembang di mana Sobo Serngenge berada bergetar hebat. Dalam gelapnya malam si kakek jatuhkan diri dan segera duduk. Sementara di bagian teluk suara gemuruh terus terdengar. Satu keanehan yang sulit dipercaya terjadi. Tanah di bagian dasar teluk naik ke permukaan. Bersa- maan dengan itu pula di depan Sobo Serngenge muncul satu sosok tubuh berpakaian serba hitam ketat berwajah bulat lonjong dengan rambut pan- jang tergerai.

Melihat kemunculan sosok gadis cantik ini Sobo Serngenge jadi berjingkrak kaget, matanya terbelalak seakan tak percaya dengan pengliha- tannya sendiri. Dalam suasana gelap, di mana matahari telah digantikan dengan rembulan Sobo Serngenge mengusap matanya sampai dua kali. Tapi perempuan cantik berumur sekitar dua pu- luh tahun itu ternyata tidak hilang juga dari pan- dangan matanya. Malah sosok itu sunggingkan senyum memikat pada kakek itu.

"Dewi Segoro Lor benarkah engkau ini adanya?" tanya si kakek, suaranya bergetar anta- ra haru dan bahagia.

"Hik... hik... hik! Kau tak salah melihat, aku memang Dewi Segoro Lor!" jawab si gadis. Dia melirik ke dalam Teluk Rembang. Kini di tempat itu terlihat sebuah daratan berpasir luar. Daratan yang tercipta berkat kesaktian yang dimiliki oleh Sobo Serngenge dan juga tumbal yang telah di- persembahkan untuk menciptakan daratan itu sendiri.

Sobo Serngenge tersenyum. "Kau telah me- lihatnya. Aku telah dibantu oleh para arwah le- lembut untuk menciptakan semua ini. Malam ini setelah melewati tengah malam akan kubuatkan singgasana Sorga sebagaimana yang kau minta." kata kakek tua itu dengan penuh rasa percaya di- ri.

"Oh kakang Sobo, hatimu sungguh mulia. Cintamu sebening embun menyejukkan hatiku. Dalam sebuah alam yang jauh telah begitu lama aku melihatmu. Penglihatan gaib yang kemudian menumbuhkan rasa cinta di hatiku yang demi- kian mendalam. Karena itu aku berani menam- pakkan diri dalam tidurmu, bicara bebas tentang perasaan kita masing-masing. Tapi kakang Sobo Serngenge mungkin cinta kita tidak akan berjalan mulus karena aku merasakan ada beberapa pihak yang mencoba menghalangi niat kita. Padahal da- ri negeri yang jauh itu aku punya rencana besar untuk mendirikan sebuah kerajaan besar yang nantinya dengan kekuatan yang kita miliki serta bala bantuan dari prajurit dari alam lelembut kita taklukkan seluruh kekuasaan yang ada di dunia persilatan ini."

"Aku setuju, aku sependapat. Demi cintaku kepadamu apapun yang kau rencanakan aku pas- ti mendukungnya. Malam ini aku akan perintah- kan para setan, roh dan hantu gentayangan un- tuk membangun singgasana Sorga sebagaimana yang kau minta. Kita pasti berhasil mewujudkan semua itu hanya dalam waktu semalam!" kata Sobo Serngenge.

Wajah si gadis di bawah keremangan ca- haya bulan nampak berseri-seri.

"Aku senang mendengarnya. Nanti setelah singgasana itu telah ditegakkan kita dapat meni- kah secepat mungkin!" berucap si gadis dengan senyum bermain di bibirnya.

"Aku setuju, aku senang, aku sangat baha- gia sekali!" menyahuti Sobo Serngenge dengan wajah berseri.

Kakek dan gadis itu saling mendekat, ke- dua tangan dikembangkan. Nampaknya kedua in- san berlainan jenis yang usianya terpaut jauh itu siap saling peluk satu sama lain untuk mele- paskan kerinduan di hati masing-masing. Namun pada saat itulah berkelebat satu bayangan putih disertai dengan menderunya angin dingin yang melabrak mereka, hingga membuat keduanya terhuyung. Belum lagi hilang rasa kejut di hati mereka terdengar satu bentakan keras melengk- ing.

"Rencana gila itu harus dibatalkan, aku ti- dak setuju jika kalian sampai menyatu dalam ke- luarga!" kata satu suara.

Baik Dewi Segoro Lor maupun Sobo Sern- genge cepat palingkan wajah ke arah datangnya suara itu. Sobo Serngenge melengak kaget ketika melihat tak jauh di depannya telah berdiri tegak seorang gadis cantik, berpakaian serba putih be- rambut panjang. Di leher gadis itu dilingkari se- buah selendang yang juga berwarna putih. Seba- liknya Dewi Segoro Lor meskipun sempat kaget, namun begitu mengenali siapa yang datang nam- pak sunggingkan senyum sinis.

"Tak usah takut. Dia adikku...!" kata gadis berbaju hitam membisiki. Penjelasan Dewi Segoro Lor sedikitnya membuat perasaan Sobo Serngenge menjadi lega. Dia hendak mengatakan sesuatu, namun urung begitu gadis yang di cintainya memberi tanda. Kini Dewi Segoro Lor melangkah maju. Dia lalu membentak. "Peri Bulan buat apa jauh-jauh menyusulku ke mari?"

Peri Bulan tersenyum tipis, sikapnya be- nar-benar penuh ketenangan. Dengan tegas dia kemudian menjawab. "Dewi Segoro Lor, aku me- mang sengaja membuntutimu, mengamat-amati setiap gerak-gerikmu. Akhirnya aku tahu kau memendam hasrat pada kakek itu. Kau kemudian meninggalkan alam para peri, mendobrak tabir gaib dan nekad datang ke sini. Kau jangan ber- mimpi bisa mewujudkan rencana sintingmu. Kau harus tahu tidak ada bangsanya peri menikah dengan manusia. Selain itu antara Manusia Se- laksa Guntur dan Dewi Kuasa Peri junjungan dari seluruh peri dan mahluk lelembut telah membuat satu perjanjian, agar di antara kita dan mereka tidak melanggar larangan keramat itu. Jika itu sampai kau langgar berarti malapetaka bagi kita bangsanya peri dan juga celaka besar bagi Sita Berhala Manusia Selaksa Guntur."

"Hi... hi... hi. Apapun isi larangan itu aku tak perduli. Mereka yang membuat, mengapa ha- rus aku yang mematuhinya? Aku sudah bosan hidup di dunia kita yang tak pernah mengenal ar- ti kehadiran seorang laki-laki!" dengus Dewi Sego- ro Lor sinis. Dia kemudian menambahkan. "Kau gadis kecil tahu apa. Lebih baik kau kembali ke duniamu. Aku tak punya waktu untuk melayani- mu!"

Peri Bulan gelengkan kepala.

"Dewi Kuasa Peri telah menegaskan pada- ku agar menyeretmu kembali ke negeri kita. Jika kau membangkang, aku terpaksa turun tangan kejam kepadamu!" tegas Peri Bulan.

Dewi Segoro Lor tertawa panjang melengk- ing. Sebaliknya Sobo Serngenge, bekas murid Manusia Selaksa Guntur yang telah berhasil menguasai ilmu gaib dari kitab curian malah me- langkah maju. Dia pandangi Peri Bulan sejenak lamanya. Dia harus mengakui, gadis yang satu ini ternyata memang lebih bila dibandingkan dengan Dewi Segoro Lor, walaupun mereka sama-sama dari golongan peri. Selain itu Peri Bulan setiap bertutur kata ucapannya lemah lembut. Tatapan matanya juga sangat bersahabat. Jauh berbeda dengan kakaknya Dewi Segoro Lor yang terkesan angkuh dan genit. Tapi walau bagaimana pun dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Dewi Segoro Lor sejak gadis itu menjumpainya dalam mimpi untuk pertama kali. Sehingga walau bagaimanapun dia tetap berpihak pada Dewi Segoro Lor.

"Peri Bulan, sebaiknya kau mau memper- timbangkan apa yang dikatakan oleh kakakmu. Karena untuk mewujudkan impian serta cita-cita kami. Terus-terang aku tak akan segan membu- nuh siapa saja yang mencoba menghalangi, tidak terkecuali dirimu. Nah, daripada kau kembali ke tempat asalmu dalam keadaan tanpa nyawa. Se- lagi ada kesempatan lebih baik kau tinggalkan tempat ini secepatnya!" perintah Sobo Serngenge tegas.

Tapi jawaban peri Bulan ternyata di luar dugaan kakek itu. "Kakek tua, manusia tak ber- budi pencuri tengik. Penghianat pada guru sendi- ri. Tahu apa kau tentang peraturan di daerah asal kami! Aku tahu kau telah menguasai isi kitab Gentar Gaib. Apakah dengan begitu kau mengira aku jadi takut menghadapimu?!" dengus si gadis. Mendidih darah si kakek mendengar uca- pan Peri Bulan. Selama ini belum pernah ada pe- rempuan yang berani bicara seketus dan sekasar itu. Tapi malam ini tampaknya dia harus menun- jukkan kewibawaannya.

10

Sekejab dia menoleh dan memandang ke arah Dewi Segoro Lor. Dengan tegas dia lalu aju- kan pertanyaan. "Dewi, kekasihku. Jika kubunuh dia apakah kelak kau akan menyesalkan tinda- kanku?"

"Hi... hi... hi. Kakang, kau bunuh dia sepu- luh kali bagiku dia tak mempunyai arti apa-apa. Tapi kurasa aku yang lebih pantas menghadapi orang keras kepala seperti dia. Serahkan dia pa- daku!" kata Dewi Segoro Lor.

Mendadak dia goyangkan kakinya. Di lain saat gadis berpakaian hitam ini sudah berkelebat ke arah Peri Bulan. Dengan cepat tangan kanan- nya dihantamkan ke dada adiknya, sedangkan tangan kiri menyambar ke bagian leher dengan posisi mencengkeram.

"Kurang ajar. Kau pergunakan pukulan Pa- ra Peri Di Tengah Pusara!" seru Peri Bulan. Gadis ini langsung menghindar dengan miringkan tu- buhnya ke kiri. Dia sadar betul pukulan yang di- lancarkan kakaknya itu selain mematikan juga membuat kekuatan saktinya lenyap dalam seke- jap. Dan pukulan ini di negeri mereka memang sangat jarang dipergunakan mengingat teramat ganas sekali.

Begitu miringkan tubuhnya dari arah ba- wah dia menggerakkan tangannya ke atas sejajar dengan dada lawannya. Dewi Segoro Lor yang menyadari kedua serangannya tak mengenai sa- saran menghindar ketika merasakan ada samba- ran angin dingin mendera dadanya. Tapi tidak urung ujung tangan Peri Bulan menyentuh da- danya. Meskipun hanya berupa sentuhan, tapi menimbulkan rasa sakit yang sangat hebat bagi lawannya. Dewi Segoro Lor bahkan sempat ter- huyung. Wajahnya agak pucat, sedangkan dari mulutnya terdengar suara erangan aneh.

"Perempuan sepertimu nampaknya me- mang tidak perlu diberi hati!" teriak Dewi Segoro Lor. Tanpa berpikir panjang lagi dia segera mene- kuk kaki kanan, sedangkan kaki kiri ditarik ke belakang. Sekejap kemudian kedua tangannya berkelebat berputar aneh di bagian kepala dan dadanya.

"Peri Mengadu Jiwa Di Atas Awan!" gumam Peri Bulan dingin. "Dia hendak mengadu jiwa denganku hanya demi cintanya pada tua bangka itu!" Peri Bulan katupkan kedua bibirnya. Begitu melihat Dewi Segoro Lor melesat ke arahnya sam- bil melepaskan pukulan bertubi-tubi, maka gadis berpakaian putih ini pun tidak tinggal diam. Lak- sana kilat dia melolos selendang putih yang dili- litkan di bagian lehernya. Tenaga dalam dikerah- kan ke bagian selendang, setelah itu senjata yang dapat memanjang bahkan bisa berubah kaku lak- sana baja itu dikebutkannya ke depan menyam- but pukulan lawan.

Wuus!

Segulung angin laksana topan prahara menderu sebat menerjang ke arah awan, mempo- rak porandakan pukulan yang dilepaskannya dan lebih dari itu tubuh Dewi Segoro Lor kini seakan terpental ke udara membubung tinggi di angkasa. Bagaikan seekor burung Peri Bulan juga melesat ke udara. Selagi tubuh mereka berada di udara terjadilah pertempuran sengit yang berlangsung sangat cepat dan sulit diikuti kasat mata.

Sobo Serngenge mendongak ke langit ikuti jalannya perkelahian. Dalam hati dia berkata.

"Kedua gadis itu sungguh luar biasa. Mere- ka bertarung di udara bagaikan dua ekor elang ganas. Tapi senjata di tangan Peri Bulan itu san- gat berbahaya. Jika tidak kubantu, Dewi bisa ce- laka!" kata si kakek seorang diri.

Sementara itu di udara, Peri Bulan kembali mengebutkan selendang putihnya. Selendang itu meluncur ke depan. Secara aneh selendang ber- tambah memanjang dan melebar disertai deru aneh. Selendang itu kemudian meliuk bagai lidah ular yang siap melilit mangsanya. Mendapat se- rangan ganas seperti ini lawan menggunakan il- mu Kecepatan Bergerak. Tubuhnya berkelebat menghindari sambaran selendang, sementara ge- rakannya terus mendekati Peri Bulan, maka tan- gan kanannya segera dihantamkan ke dada lawan sedangkan tangan kiri berusaha merampas ujung selendang dalam genggaman Peri Bulan. Gadis berpakaian serba putih ini terkejut besar tak me- nyangka lawan berbuat secerdik itu. Namun dia tentu saja tak sudi selendangnya berpindah tan- gan. Sehingga dengan tangan kiri dia mencoba menangkis laju gerak tangan lawan yang berusa- ha merebut selendangnya.

Plak! Dessss!

Selendang yang hendak direbut memang berhasil diselamatkan. Tapi tangan kanan Dewi Segoro Lor menghantam telak tepat di bagian da- danya. Peri Bulan menjerit keras. Tubuhnya me- layang di udara dan terus meluncur ke bawah. Darah menetes dari bibirnya. Ketika dia jatuh terhempas di atas tanah, Peri Bulan yang mende- rita luka dalam di bagian dada merasa sulit ber- nafas. Dari atas sana lawan yang mengetahui Peri Bulan dalam keadaan terluka tidak memberi ke- sempatan lagi pada adiknya. Selagi tubuhnya me- luncur ke bawah dia kembali hantamkan tangan kanan kiri ke arah gadis itu. Sinar putih kebiruan mencuat dari telapak tangan Dewi Segoro Lor.

Sinar itu menderu ganas disertai menebar- nya hawa dingin laksana es dan langsung mela- brak tubuh Peri Bulan. Walau terluka parah, na- mun Peri Bulan pantang menyerah begitu saja. Dengan tangan kiri dia menyambut pukulan maut lawannya sedangkan dalam waktu yang sama se- lendang putih pemberian Dewi Kuasa Peri pe- mimpin tertinggi dari semua peri langsung dike- butkannya ke atas.

Cahaya putih melesat dari ujung selen- dang, dari tangan kiri Peri Bulan menderu pula serangkum angin berhawa panas luar biasa. Dua tenaga sakti saling menyongsong di udara, hingga benturan keras pun tak dapat dihindari lagi.

Buuum!

Terjadi ledakan berdentum yang merun- tuhkan tanah di tebing Teluk Rembang. Sobo Serngenge sendiri tubuhnya sempat terguncang akibat pengaruh getaran yang ditimbulkan oleh suara ledakan tadi. Di sudut sana dekat semak belukar Peri Bulan rebah miring sambil menge- rang lemah. Sebagian selendangnya robek, se- dangkan luka yang dideritanya makin bertambah parah.

Tak jauh dari Peri Bulan, lawannya nam- pak jatuh dengan kaki ditekuk. Sedangkan tan- gannya mendekap dada. Dari kenyataan ini terli- hat walaupun Dewi Segoro Lor memang memiliki kesaktian satu tingkat di atas adiknya, tak urung dia menderita luka di bagian dada juga.

"Kekasihku, kau terluka...?" Sobo Sern- genge cemas sekali.

Si gadis menyeringai. "Kakang, dia bukan apa-apa bagiku jika selendang itu tak berada di tangannya. Cepat rebut! Rampas selendang itu!" seru Dewi Segoro Lor.

"Hemm, daripada repot, lebih baik kuram- pas selendang dan nyawanya sekaligus!" dengus si kakek dingin. Kedua tangan yang terkembang kemudian diputar beberapa kali, hingga dalam waktu singkat tangan yang diputar menimbulkan angin bersiuran itu telah berubah merah, memba- ra. Sambil berteriak keras dengan gerakan laksa- na kilat kakek berambut putih segera menghan- tamkan kedua tangannya ke arah Peri Bulan. Da- lam keadaan terluka parah mustahil bagi si gadis dapat menyelamatkan diri. Tak ampun lagi sinar merah menyambar ke arahnya. Tapi belum lagi sinar maut itu mengenai sasarannya, detik itu pula dari arah semak belukar terlihat sinar yang sama menderu memapas habis sinar yang dile- paskan Sobo Serngenge. Terjadi letupan keras, satu sosok tubuh berkelebat ke arah kakek itu disertai bentakan.

"Murid murtad. Aku tak rela kau menggu- nakan pukulan itu, apalagi berniat membunuh seorang gadis yang sudah tidak berdaya."

Sejenak lamanya Sobo Serngenge yang sempat terjengkang akibat bentrok tenaga dalam tadi nampak memandang lurus ke depan. Dia terkesiap begitu melihat satu sosok berujud se- tengah manusia setengah beruang berdiri tegak di depannya sambil berkacak pinggang.

"Guru...!" seru Sobo Serngenge, dia jatuh- kan diri berlutut di depan kakek bermuka dan be- rambut beruang.

Orang tua itu mendengus. "Tak usah kau berpura-pura dengan menghormat pada tua bangka ini, Sobo Serngenge?" kata si kakek sam- bil diam-diam melirik ke arah Dewi Segoro Lor yang kini tengah duduk bersila memulihkan tena- ga dalamnya. Jauh di dalam hati si kakek berka- ta. "Gadis ini rupanya yang telah menjadi biang racun hingga muridku berani melanggar larangan bahkan mencuri kitab Gentar Gaib."

"Guru aku mengaku salah. Aku mohon maafmu dan siap menjalani hukuman." berucap kakek itu sambil menangis mengguguk. Si kakek bermuka beruang tahu ucapan muridnya itu ada- lah palsu belaka. Sehingga sedikitpun dia tak mengurangi kewaspadaannya. Sebaliknya Dewi Segoro Lor tersentak kaget mengira Sobo Sern- genge telah melakukan tindakan yang sangat pengecut.

"Aku kecewa mendengar ucapanmu itu ka- kang Sobo." kata gadis. Tapi dia tidak juga beran- jak pergi dari tempatnya. Sobo Serngenge terke- san seperti tak menghiraukan. Setengah meratap dia berkata. "Guru aku bersalah. Silakan kau hu- kum jika itu kau anggap perlu. Tapi sebelum aku mati kitab akan kukembalikan padamu" ujar ka- kek berambut putih itu. Dia kemudian berpura- pura mengambil kitab Gentar Gaib dari balik baju putihnya. Si kakek berwajah beruang tegak men- gawasi. 11

Hanya beberapa saat saja Sobo Serngenge pura-pura sibuk mengambil kitab dari balik pa- kaiannya. Tapi pada kesempatan lain sambil ber- teriak keras dia menghantamkan kedua tangan ke arah gurunya sendiri.

"Pukulan Penakluk Iblis! Murid keparat!" seru si kakek. Dia yang memang merasa curiga sejak tadi langsung melemparkan diri ke samping sambil balas melepaskan pukulan ke arah murid- nya.

Hawa panas menderu sebat ke arah Sobo Serngenge, sinar ungu berkiblat. Dua pukulan sakti saling bertemu di udara hingga terjadilah le- dakan menggelegar. Sobo Serngenge terdorong mundur dua tindak sambil mendekap dadanya yang mendenyut sakit. Sebaliknya si kakek ber- wajah beruang tanpa menghiraukan rasa sakit yang dideritanya segera melompat berdiri, lalu berkelebat ke depan sambil menghantam ke ba- gian wajah muridnya. Sobo Serngenge cepat se- lamatkan mukanya dengan menarik kepala ke be- lakang.

Tapi tangan kakek muka beruang seolah berubah memanjang hingga membuat lawan jadi terkesiap. Dalam keadaan terkejut dia kembali melepaskan pukulan Penakluk Iblis menyambut serangan ganas lawannya. Sementara angin me- nyambar tangan Sita Berhala yang menghantam kepala bekas muridnya, maka dari arah samping Dewi Segoro Lor yang sudah mulai dapat memak- lumi jalan pikiran orang yang dicintainya segera turun membantu. Begitu menerjang ke depan dia melepaskan dua pukulan beruntun ke arah si muka beruang. Dua larik sinar putih berkiblat menghantam tubuh si kakek. Semua ini tentu sempat dilihat oleh Peri Bulan. Namun dia yang terluka parah tidak dapat menolong Manusia Se- laksa Guntur dari ancaman maut yang datang da- ri dua arah sekaligus.

"Orang tua awas dari samping kananmu!" seru Peri Bulan yang masih rebah di tempatnya. Manusia Selaksa Guntur tentu tak ingin mati ko- nyol. Sambil melompat mundur tangan kiri dihan- tamkan ke arah samping menangkis pukulan De- wi Segoro Lor sedangkan tangan kanan tetap di- hantamkan ke depan menyambut pukulan Sobo Serngenge.

Dess! Deees!

Tiga pukulan saling bertemu membuat Sita Berhala alias Manusia Selaksa Guntur jatuh ter- jengkang. Kedua tangannya terasa sakit dan ngilu di bagian dalam, sedangkan dadanya terguncang. Wajah si kakek nampak pucat. Di depannya sana Sobo Serngenge jatuh dengan punggung menyen- tuh tanah terlebih dulu. Dari sudut bibir si kakek rambut putih menetes darah segar. Tak jauh di sampingnya Dewi Segoro Lor begitu bentrok tena- ga dalam dengan lawannya tampak terpelanting dan terkapar dengan nafas menguik dan dada kembang kempis.

Tanpa menghiraukan luka yang mereka de- rita, baik Sobo Serngenge maupun kakek muka beruang bangkit lagi. Sadar bekas gurunya me- mang bukan manusia sembarangan, maka Sobo Serngenge kini mulai melancarkan serangan den- gan pukulan-pukulan yang didapatnya dari kitab Gentar Gaib. Akibatnya tentu sangat memba- hayakan si kakek. Sehingga jika tadi dia masih mampu menghadapi dua serangan sekaligus, ma- ka kini menghadapi serangan gencar bertubi-tubi yang dilakukan bekas muridnya dia jadi terdesak hebat. Sementara itu dua pasang mata yang terus mengawasi jalannya pertarungan sejak tadi kini nampak saling berbisik.

"Kita harus melakukan sesuatu Gege, ka- lau tidak kakek muka beruang itu bisa jadi tape. Murid durhaka itu nampaknya mulai berada di atas angin. Bahkan serangannya ganas berba- haya. Lihat... apa saja yang kena dihantamnya ja- di hangus gosong, untung kakek itu memiliki ke- cepatan gerak yang sangat luar biasa!" ujar si ka- kek gendut yang mendekam tak jauh dari si gon- drong.

"Aku sudah melihatnya ndut. Kau dengar tadi, dia telah menguasai ilmu siluman yang be- rasal dari kitab Gentar Gaib. Jika perkelahian ini kita biarkan sampai lewat tengah malam nanti, berarti dia bisa memanggil para siluman atau mahluk gaib apa saja dengan ilmunya itu!" me- nimpali si gondrong yang bukan lain adalah Gen- to Guyon.

"Kau betul. Sekarang kita sudah menemu- kan biang bencana yang telah membuat banyak orang terpaksa kehilangan kepala. Mengapa kita tidak segera turun tangan membantu kakek mu- ka beruang dan menolong gadis baju putih yang terluka itu?" kata si kakek Gentong Ketawa.

"Cepat kau bantu mereka duluan ndut. Un- tuk menghadapi manusia seperti Sobo Serngenge harus ada sesuatu yang kulakukan. Konon ku- dengar orang yang memiliki ilmu itu harus bersih selalu. Aku akan lakukan kebalikannya. Sekarang aku membutuhkan daun talas!" ujar Gento.

"Eeh, apa yang hendak kau lakukan Gege?" tanya gurunya terheran-heran.

"Ah, kau orang tua cerewet amat seperti perempuan saja. Sudah sana bantu kakek itu!" tegas si pemuda.

Meskipun masih penasaran dan merasa tak mengerti dengan apa yang hendak dilakukan muridnya, namun si kakek segera berkelebat me- ninggalkan tempat persembunyiannya. Sedang- kan Gento sendiri setelah mencari kian ke mari akhirnya menemukan daun talas hutan yang di- inginkannya. Sambil menyeringai setelah memetik dua lembar daun talas, Gento menyelinap di balik pohon.

Sementara itu Sita Berhala kini semakin terdesak hebat. Beberapa kali pukulan yang dile- paskannya berhasil ditepis atau dibuat mentah oleh lawannya dengan mudah. Padahal pukulan yang dilepaskan oleh kakek muka beruang ini bukan serangan biasa, melainkan serangan dah- syat yang mengandung tenaga dalam sangat ting- gi.

"Sita Berhala! Mana pukulan Selaksa Gun- turmu yang menggegerkan itu! Aku Sobo Sern- genge ingin merasakannya!" tantang si kakek rambut putih. Si kakek muka beruang menjadi geram mendengar ucapan bekas muridnya itu. Tulang pelipisnya bergerak-gerak, pipi menggem- bung dan mulut terkatup rapat. Dia sadar Sobo Serngenge kini telah mengerahkan jurus maupun pukulan yang dipelajarinya dari kitab larangan. Jika tidak pasti sejak tadi dia sudah dapat diro- bohkan oleh kakek muka beruang ini.

"Kau inginkan pukulan itu. Tidak menga- pa, aku tua bangka yang tidak berguna ini akan meluluskan permintaanmu!" teriak Manusia Se- laksa Guntur. Dengan cepat sekali orang ini sa- lurkan tenaga dalamnya ke bagian kedua tangan. Setelah itu sambil melompat ke depan dua tan- gannya diadu satu sama lain. Dari telapak tangan si kakek kilat menyambar disertai dengan terden- garnya suara menggeledek keras menyakitkan te- linga. Detik itu pula cahaya merah biru dan putih secara berturut-turut menyambar ke arah Sobo Serngenge. Kakek berambut putih yang berdiri te- gak di depan sana tidak tinggal diam. Walaupun dia tidak menghindar, tapi kedua tangannya dipu- tar ke depan, hingga membentuk satu perisai per- tahanan yang sangat hebat. Sekejap kemudian ketika pukulan Manusia Selaksa Guntur meng- hantam lawannya, maka terjadi ledakan beruntun yang menimbulkan guncangan hebat di tempat itu.

Tapi kenyataan yang terlihat kemudian sungguh membuat kakek Sita Berhala jadi geleng- gelengkan kepala. Lawan di depan sana yang ter- kena pukulannya jangankan tewas, terluka pun tidak. Hanya pakaiannya saja yang robek di sana- sini akibat terkena sambaran yang dahsyat itu.

"Keparat, semestinya tubuh bangsat itu hancur berkeping-keping terkena pukulanku. Ta- pi dia sama sekali tidak bergeming!" rutuk Sita Berhala di tengah-tengah rasa kejutnya.

Belum lagi rasa kaget di hati si kakek le- nyap. Sobo Serngenge mendadak saja sudah me- lesat sebat ke arahnya. Sambil hantamkan dua tangannya sekaligus ke dada si kakek muka be- ruang dia berteriak. "Bencana Dari Alam Gaib!" seru Sobo Serngenge menyebut nama pukulan- nya.

Sita Berhala alias Manusia Selaksa Guntur merasakan adanya hawa aneh menyambar seku- jur tubuhnya. Sekejap si kakek sempat tercen- gang, namun sesaat kemudian dia sudah jatuh- kan diri menghindari dua pukulan itu. Akan teta- pi orang tua ini benar-benar dibuat kaget, karena sedikitpun dia tak mampu menggerakkan tubuh- nya. Kedua kaki laksana dipantek ke bumi. Tak terelakkan lagi pukulan Sobo Serngenge mendarat telak di bagian dadanya.

Manusia Selaksa Guntur menjerit keras, terpental dan semburkan darah. Di saat seperti itu pula dari arah belakang melesat satu sosok serba hitam yang sangat cepat dan langsung menghantam Sobo Serngenge dengan tendangan kaki.

"Kakang Sobo, di belakangmu!" teriak Dewi Segoro Lor memberi peringatan. Habis mele- paskan pukulan ke arah lawan si kakek rambut putih memang merasakan adanya sambaran an- gin berhawa panas mendera punggungnya. Se- hingga dengan cepat dia menghindar. Tapi gera- kannya kalah cepat dengan tendangan yang dile- paskan oleh orang yang baru datang dari arah be- lakangnya.

Dess! "Akh...!"

Sobo Serngenge jatuh tersungkur sambil menjerit keras. Posisi jatuhnya persis di atas pangkuan Dewi Segoro Lor, sehingga mengundang tawa bagi si kakek gendut yang menyerangnya.

"Ha... ha... ha. Terlena dia dalam pelukan sang kekasih. Asyiik sekali?!" kata Gentong Keta- wa sambil menuding ke arah Sobo Serngenge. Se- dangkan Manusia Selaksa Guntur sendiri akibat pukulan ganas yang dilakukan si murid murtad membuatnya menderita luka di bagian dalam.

Sobo Serngenge menggeliat bangkit, Dewi Segoro Lor begitu melihat orang yang dicintainya dalam keadaan terluka juga tak mau tinggal di- am.

"Gendut bangsat. Kau kunyuknya yang

bernama Gentong Ketawa!" geram si kakek be- rambut putih.

Melihat orang mengenali dirinya, si kakek gendut diam-diam jadi kaget. Tapi hanya sekejap, karena dia kemudian tertawa terbahak-bahak. "Hebat. Penglihatanmu ternyata cukup awas juga. Bagus... sekarang menghormat lah pada kakekmu ini!" kata Gentong Ketawa masih terus tertawa.

"Kakang, manusia gila ini telah mencampu- ri urusan kita, mengapa tidak kita bunuh saja dia sekarang juga?" teriak Dewi Segoro Lor berang.

12

Mendengar ucapan gadis berpakaian hitam Gentong Ketawa unjukkan sikap tidak perduli. Sebaliknya Manusia Selaksa Guntur merasa ter- kejut melihat kemunculan si gendut ini. Begitu juga halnya dengan Peri Bulan. Tapi mereka tidak dapat berbuat atau ajukan pertanyaan apapun karena saat itu baik Sobo Serngenge maupun Dewi Segoro Lor sudah menyerang si gendut be- sar dari dua arah sekaligus. Mendapat serangan ganas dari dua lawan yang menghendaki jiwanya, Gentong Ketawa mengerahkan seluruh ilmu me- ringankan tubuh yang dia miliki. Tubuhnya yang besar bukan main itu bergerak lincah menghinda- ri pukulan maupun tendangan yang dilakukan dua lawannya. Terkadang tubuhnya meng- huyung, oleng dan bergerak gerubak gerubuk se- perti orang mabuk. Tapi di lain saat balas mele- paskan pukulan ke arah lawannya. Suara angin berkesiuran ketika kakek ini menghantam ke arah Sobo Serngenge maupun Dewi Segoro Lor. Dua orang yang mendapat serangan dengan cepat membalas serangan dengan melepaskan pukulan pula.

Wuut! Wuuut! Buuum!

Kembali ledakan keras mengguncang Teluk Rembang. Dewi Segoro Lor terlempar sejauh tiga tombak. Sedangkan Sobo Serngenge tersurut sampai satu langkah. Di depannya sana Gentong Ketawa tergontai-gontai, wajahnya pucat pasi, dada berguncang keras. Walau di bibirnya mene- teskan darah, tapi kakek ini masih mampu terta- wa tergelak-gelak.

"Ha... ha... ha. Hanya usapan kecil yang di- lakukan oleh dua bocah nakal. Keluar kecap se- dikit tidak mengapa!" celetuk si kakek.

"Yang tadi usapan kecil dan yang sekarang ini adalah usapan yang akan merenggut jiwamu!" teriak Sobo Serngenge kalap.

Kakek berambut putih ini mendadak han- tamkan tangannya hingga menyentuh tanah. Be- gitu tangan yang dihantamkan ke tanah ditarik- nya ke atas laksana kilat dia mendorongkan ke- dua tangannya ke arah si kakek gendut.

"Awas. Pukulan Mahluk Alam Gaib Keluar Dari Dalam Bumi!" seru Manusia Selaksa Guntur yang mengenali pukulan bekas muridnya.

Begitu melihat segulung angin dingin mele- sat dari kedua tangan kakek rambut putih, maka Gentong Ketawa maklum lawan mengerahkan ajian pukulan hebat yang dimilikinya. Tanpa pikir panjang Gentong Ketawa menghantam ke depan pula melepaskan pukulan 'Selaksa Duka' dan pu- kulan Iblis Ketawa Dewa Menangis. Akibatnya sungguh sangat luar biasa sekali. Kedua orang ini sama jatuh terpelanting. Si gendut merasakan tu- buhnya seperti remuk, nafasnya sesak menguik- nguik. Sobo Serngenge lebih sengsara lagi. Berun- tung dia memiliki ilmu aneh yang dapat melin- dungi diri dari pengaruh dua pukulan sakti yang dilancarkan Gentong Ketawa, jika tidak mungkin nyawanya sudah amblas sejak tadi.

Dengan semangat berkobar-kobar tanpa menghiraukan rasa panas yang seperti membakar sekujur tubuhnya Sobo Serngenge kembali berdi- ri. Dia menyeringai sinis ketika dilihatnya lawan masih terkapar dan terbatuk-batuk.

"Sekali ini tamatlah riwayatmu gendut gi- la!" rutuk si rambut putih. Dua tangan kemudian bergetar dan mulai berubah hitam. Sobo Sern- genge dengan kecepatan laksana kilat lalu me- lompat sambil menghantamkan tangannya ke arah si kakek.

Selagi sinar hitam membersit dan melesat di udara dan menukik ke arah si gendut besar. Pada saat itu pula terdengar suara bentakan. "Siapa berani mencelakai guruku. Maka sudah saatnya bagiku mengucapkan terima kasih dan memberi bingkisan!"

Bersamaan dengan itu pula melesat dua buah benda bulat berwarna hijau. Benda-benda itu satu menderu ke arah Dewi Segoro Lor dan sa- tunya lagi menghantam Sobo Serngenge yang me- lepaskan pukulan. Selagi dua buntalan menderu di udara ke arah sasaran masing-masing. Maka orang yang melemparkan bungkusan tadi berke- lebat ke arah si gendut bersikap melindungi. Begi- tu jejakkan kaki dia berbalik menghadap ke de- pan sambil dorongkan kedua tangan dengan dis- ertai pengerahan tenaga dalam penuh.

Brees!

Benturan yang sangat keras membuat si gondrong jatuh rebah di atas tubuh gurunya. Se- mentara itu Dewi Segoro Lor maupun Sobo Sern- genge yang tidak menyangka mendapat serangan benda berwarna hijau segera menghantam benda tersebut.

Wuus! Pyar!

Begitu kena dipukul, bungkusan bulat tadi pecah, isinya yang berbau pesing tumpah meng- guyur si gadis dan Sobo Serngenge. Kedua orang ini menjerit keras. Guyuran air berbau pesing itu telah membuat hangus tubuh si kakek maupun Dewi Segoro Lor. Sobo Serngenge terkapar tewas seketika itu juga. Sebaliknya Dewi Segoro Lor yang juga mengalami luka mengerikan itu begitu ambruk ke tanah langsung raib tak meninggalkan bekas.

"Gege... gege... kau di mana? Bagaimana kau bisa mengetahui kelemahan ilmu mereka?" tanya si kakek yang masih rebah di tanah.

"Aku di sini, gendut. Rebahan di atas ba- danmu sendiri!" sahut Gento Guyon. "Sedangkan mengenai kelemahan ilmu mereka aku pernah di- beri tahu oleh Tabib Setan. Ha... ha... ha!" jawab si pemuda disertai tawa panjang.

"Bocah edan, minggat kau dari perutku." berkata begitu Gentong Ketawa mendorong tubuh Gento hingga si pemuda jatuh terguling-guling. Sambil cengar-cengir pemuda itu bangkit berdiri. Baru saja dia hendak berbalik menghadap ke arah gurunya. Dua tangan mendadak menyentuh bahunya. Satu di kanan satu di kiri. Karena kaget pemuda ini memandang ke kiri dan ke kanan.

"Ehh, kalian. Kakek muka beruang dan ga- dis cantik?!" desis si pemuda tercengang. Yang memegang bahu kanannya ternyata memang Peri Bulan, sedangkan yang menyentuh bahu kiri ada- lah Manusia Selaksa Guntur.

"Kau... kau bocah sinting tapi hebat. Ba- gaimana kau bisa mengetahui kelemahan mere- ka?" tanya si kakek.

"Seperti yang sudah kukatakan, aku men- dapat petunjuk dari Tabib Setan."

"Tabib Setan. Siapapun dia, aku Manusia Selaksa Guntur mengucapkan rasa terima kasih padamu." kata si kakek muka beruang. "Aku Peri Bulan. Atas nama Dewi Kuasa Peri, penguasa dari segala Peri juga mengucapkan terima kasih padamu dan gurumu itu!" ujar Peri Bulan sambil memandang Gento Guyon dengan satu kerlingan aneh namun menyimpan seribu arti.

"Ah tidak mengapa. Tak usah dipikirkan. Aku Gento Guyon dan guruku Gentong Ketawa hanya sekedar membantu. Jadi tak usah terlalu dipikirkan tentang segala macam budi. Bukankah begitu guru?" ujar si pemuda pula sambil melirik ke arah gurunya.

"Ya... ya memang begitu." sahut si kakek yang kini telah berdiri di samping muridnya. Be- berapa saat lamanya si gendut pandangi gadis cantik berpakaian putih yang bernama Peri Bulan dan juga Sita Berhala. Sambil menyeka cairan da- rah di sudut bibirnya dia membisiki muridnya. "Yang ini baru sangat cocok buatmu, wajahnya cantik, dagu lonjong alis bagus, hidung bangir, lehernya juga bagus!" kata si kakek sambil terse- nyum-senyum. Senyumnya lenyap begitu Gento menyodok perutnya dengan siku.

"Kakek muka beruang, maafkan si gendut ini. Tingkahnya memang terkadang seperti orang kurang waras. Maklumlah setelah tua dia jarang mendapat pengajaran!" ujar Gento dengan muka bersungguh-sungguh.

Mendengar ucapan muridnya wajah Gen- tong Ketawa berubah merah. "Maaf kakek dan ga- dis cantik. Apa yang dikatakan oleh muridku sa- ma sekali tidak benar. Apa yang dikatakannya itu sebenarnya adalah menceritakan dirinya sendiri!" sergah si kakek.

"Kalian manusia hebat. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Aku ingin mohon di- ri!" kata si gadis. Gento menatap gadis itu seje- nak. Begitu Peri Bulan memandangnya dengan kerlingan matanya yang indah. Maka Gento men- gedipkan matanya. Gadis itu tersipu dan cepat palingkan perhatiannya ke arah lain. "Kakek Sita Berhala dan kalian semua aku mohon pamit!"

"Berhati-hatilah Peri Bulan." ujar Manusia Selaksa Guntur. Orang tua ini kemudian meme- riksa pakaian Sobo Serngenge. Setelah itu dia mengambil sesuatu dari balik pakaian si murid murtad. Ternyata benda itu bukan lain adalah se- buah kitab berwarna hitam. 

"Kalian telah menyelamatkan benda ini dan juga nyawaku. Aku banyak berhutang pada ma- lam ini. Jika kalian ada waktu datanglah ke Me- nara Gila. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Selamat tinggal para pendekar gagah!"

Selesai dengan ucapannya si kakek berke- lebat pergi. Gento gelengkan kepala.

"Kakek aneh dan gadis cantik itu. Mengapa pergi dengan tergesa-gesa?" gumam si pemuda menyayangkan.

"Ada apa rupanya, kau suka pada Peri Bu- lan?" tanya si kakek gendut.

"Mungkin juga. Tapi kalau kuguyur dia dengan air kencingku. Apakah gadis secantik dia mati juga seperti Dewi Segoro Lor tadi? Ha... ha... ha!" kata Gento diiringi tawa.

"Bisa jadi begitu. Kencingmu ternyata lebih ganas dari racun cobra. Ha... ha... ha!"

"Mungkin juga, kalau begitu aku tak boleh jatuh cinta pada Peri Bulan. Sebab akhir dari cin- ta harus menikah. Kalau sudah begitu kan ha- rus.... ha... ha... ha...! Bisa mati dia." celetuk si pemuda.

Menyadari arti ucapan muridnya Gentong Ketawa tak kuasa lagi membendung tawanya. "Bocah edan, murid geblek. Ha.. ha... ha!"

TAMAT