Gento Guyon Eps 05 : Hutang Dosa

 
Eps 05 : Hutang Dosa


Malam hari Wonogiri diselimuti kegelapan. Walau daerah itu termasuk berpenduduk padat, tapi suasana terasa sunyi mencekam.

Sedangkan udara dingin terasa sangat menusuk. Dalam suasana seperti itu, kerlip cahaya bintang pun tak terlihat di langit sana sehingga membuat orang enggan keluar meninggalkan rumahnya.

Sementara di dalam salah satu kamar rumah yang besar Danang Pattira sama sekali tak mampu memejamkan matanya. Entah mengapa sejak sore tadi perasaan pemuda itu jadi gelisah. Pemuda itu kini malah bangkit dari tempat tidur lalu melangkah ke arah jendela. Begitu jendela kamar terbuka lebar hawa dingin terasa menampar wajahnya. Di langit kilat menyambar. Si pemuda yang sangat menyukai ilmu sastra julurkan kepala melewati jeruji kayu jendela. Wajahnya mendongak ke langit. Saat itu langit gelap, gulita tertutup mendung, tapi aneh tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Ingat akan sesuatu membuat wajah si pemuda berubah pucat pasi. "Kilat itu, kuharap ini bukan merupakan tanda dari kehadirannya." pikir si pemuda. Karena perasaannya semakin tidak tenang Danang Pattira pun menarik jendela dan hendak menutupkannya kembali. Tapi pada saat itulah hidungnya mencium bau sesuatu yang khas. Bau yang sama sebagaimana yang sering tercium beberapa bulan belakangan. Mendadak tengkuk si pemuda terasa dingin. Dia mendengar suara dengus nafas aneh. Danang Pattira memandang keluar melalui jendela yang agak terbuka. Dia melengak kaget saat melihat ada satu sosok bayangan samar berdiri tegak tak jauh dari jendela itu. Si pemuda mencoba memperhatikan lebih seksama. Sekali lagi dia dilanda rasa kejut yang amat sangat. Sosok yang muncul secara samar tadi mendadak hilang raib dari penglihatannya. Dengan raibnya sosok tinggi besar tersebut pada waktu bersamaan pula terdengar satu suara perlahan namun cukup jelas. "Danang Pattira... kau adalah seorang anak manusia yang harus menghambakan diri padaku. Seorang hamba harus patuh pada siapa dia bertuan. Akulah junjunganmu, karena itu pikiranmu dan pikiranku harus sejalan agar tercapai semua yang menjadi keinginan. Kau tak akan bisa menolak, kau tak akan bisa membantah karena seluruh jiwa dan ragamu berada dalam genggaman tanganku! Datanglah ke mari, datanglah ke suatu tempat di mana pertama kali aku membimbingmu!"

"Tidak! Aku tidak mau, aku tak bisa menuruti keinginanmu. Pergilah...!" teriak si pemuda dengan suara bergetar dan wajah pucat dijalari rasa takut teramat sangat.

"Ha... ha... ha! Setelah kebang- kitanku, tidak ada satu kekuatan pun yang boleh menentang. Kau harus turuti apa yang menjadi kehendakku, kau juga harus menjalankan apa yang menjadi perintah- ku!!" hardik suara itu lantang dan mengandung getaran aneh yang membuat Danang Pattira merasa tak punya kekuatan apa-apa untuk menolaknya. "Celaka! Apa yang sesungguhnya terjadi pada diriku ini? Otakku tak dapat berpikir sebagaimana yang kuinginkan. Pengaruh suara itu demikian kuat hingga membuat diriku seperti patung mainan. Aku... akh...!" Si pemuda mengeluh tertahan. Dia merasa bagian belakang kepala seperti dihantam palu besar hingga membuat kesadaran si pemuda jadi timbul teng- gelam.

Dalam keadaan seperti itu pula di dalam lubuk hati si pemuda timbul satu keinginan kuat untuk meninggalkan rumahnya. Keinginan itu semakin bertambah kuat ketika tadi suara berkata. "Lupakan semua beban yang memenuhi hati dan pikiranmu. Lekas keluar tinggalkan rumah itu, datanglah padaku agar dirimu mendapat petunjuk! Ini adalah perintah yang setan sekalipun tak berani membantahnya!"

Sebagaimana yang dikatakan oleh suara aneh yang mengandung getaran gaib itu, maka Danang Pattira dengan langkah kaku mendekat ke pintu. Pintu terbuka, hawa dingin dan hembusan angin menampar wajahnya. Dia tak memperdulikan semua itu. Selanjutnya si pemuda berjalan menembus kepekatan malam ke arah mana suara aneh tadi sangat mempengaruhi jiwa dan pikirannya. Selagi si pemuda berada dalam keadaan seperti itu satu keanehan lain terjadi pada dirinya. Tiba-tiba tubuhnya melesat di udara, berkelebat laksana kilat dan berlari cepat melewati pucuk semak belukar yang membentang luas di depannya. Apa yang dilakukannya ini adalah sesuatu yang sangat sulit dipercaya. Karena mengingat Danang Pattira sendiri sesungguhnya bukan pemuda yang memiliki ilmu meringankan tubuh maupun ilmu lari cepat sehebat itu. Apa yang dipelajarinya selama ini melalui kitab peninggalan keluarga baru saja sampai pada tingkat dasar jurus-jurus silat dan cara menghimpun tenaga dalam. Tapi kenyataan yang terlihat saat itu apa yang dilakukan si pemuda tidak bedanya dengan cara berlari dari seorang dedengkot persilatan yang memiliki tenaga dalam sangat kuat dan ilmu meringankan tubuh yang berada di atas sempurna.

Tidak berselang lama Danang Pattira telah sampai di satu tempat yang sepi. Pemuda itu hentikan langkah, sepasang matanya memandang ke depan di mana terdapat sebuah lubang empat persegi panjang. Lubang dalam keadaan gelap gulita, karena di atas lubang dinaungi sebatang pohon kamboja.

"Aku... mengapa aku sampai ke tempat ini?" batin Danang Pattira merasa bingung sendiri. "Kalau tak salah aku berada di depan sebuah kubur. Dan kubur ini...?!" Wajah si pemuda mendadak berubah pucat, sekujur tubuhnya nampak bergetar. Ingat akan sesuatu yang terjadi di masa lalu, maka tanpa pikir panjang Danang Pattira segera memutar langkah hendak tinggalkan tempat itu secepatnya. Tapi mendadak ada hembusan angin dingin menghantam tubuhnya dari arah depan sana hingga membuat pemuda itu jatuh terpelanting dan nyaris terperosok jatuh ke dalam lubang tersebut.

Belum lagi hilang rasa kaget di hati Danang Pattira, sepasang tangan yang sangat dingin terjulur dari balik kegelapan lubang kubur. Kedua tangan itu kemudian mencengkeram kedua pelipis si pemuda. Danang Pattira menjerit keta- kutan. Perutnya terasa mual, kepala mendadak menjadi pusing karena sepasang tangan yang teramat dingin itu menebar bau busuk yang bukan kepalang. Begitu sepasang tangan menekan kedua sisi kepala Danang Pattira tak berapa lama kemudian dari jemari tangan itu mencuat dua larik cahaya disertai mengepulnya kabut tipis putih. Cahaya merah secara aneh menembus bagian pelipis si pemuda. Kepala Danang Pattira bergetar, dia merasakan ada hawa dingin membekukan menembus batok kepala, mengguncang sel-sel otaknya hingga membuat si pemuda meronta dan menjerit kesakitan. Dalam keadaan setengah ling- lung Danang merasakan hawa dingin kini bergerak turun melalui batang leher terus menebar ke sekujur tubuhnya. Sekali lagi dia menjerit. Menjerit terus tak berkeputusan hingga akhirnya dia tak sadarkan diri.

"Ha... ha... ha! Sampai sudah janji yang telah ditetapkan. Dalam kebang- kitanku yang kedua, semua rasa dendam dan sakit hati akan kubalas impas! Bocah ini sudah kutetapkan untuk mencari saudara- nya. Dia harus membunuh tiga saudaranya yang lain. Aku hidup kembali berkat kesaktian yang kumiliki. Kelak untuk mempertahankan hidup aku akan memper- gunakan raganya untuk melindungi diriku!" kata satu suara dari arah lubang kubur. Kemudian sepasang tangan yang menekan pelipis Danang Pattira lenyap. Dari balik kubur satu sosok melesat keluar dan berdiri tegak di samping si pemuda yang tergeletak dan belum sadarkan diri.

Dalam gelapnya malam ujud sosok yang hanya mengenakan robekan kain kafan sebagai penutup aurat tidak terlihat dengan jelas. Hanya sekujur tubuhnya yang hitam itu menebar bau busuknya bangkai. Sekejap lamanya dia memperhatikan si pemuda dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Mulutnya yang hanya berupa rempelan daging busuk menyeringai. "Kutahu kau adalah pemuda tolol yang tidak punya kepandaian apa-apa. Tapi aku akan membuatmu menjadi manusia sakti tak tertandingi. Aku Raden Ronggo Anom, mayat yang bangkit kembali berkat kesaktian Pembeda Asal yang kumiliki. Ha... ha... ha!" kata sosok setengah bangkai itu disertai tawa tergelak-gelak. Dia kemudian berjongkok di samping Danang Pattira. Kedua tangan ditempelkan di atas dada pemuda itu. Sambil mengerahkan tenaga sakti berbau kesesatan ke sekujur tubuh si pemuda mulutnya kembali berkata. "Raden Ponco Sugiri telah kubunuh. Kupu- kupu Perak sudah kutebar di empat penjuru angin. Kau kini menjadi wakilku untuk membunuh saudaramu yang lain. Aku tahu dalam hatimu kau merasa senang dan jatuh cinta pada adik kandungmu sendiri. Kau boleh memilikinya, kuizinkan kau bercinta dengannya sampai kau muak, namun setelah itu dia harus kau bunuh. Tapi kau juga jangan lupa untuk membunuh seorang pemuda sinting bernama Gento Guyon, kau bawa kepalanya kepadaku. Kau mendengar, kau mengerti walaupun saat ini kau tak sadarkan diri!" kata si Mayat Hidup.

Suara sosok mengerikan itu lenyap, kedua tangan yang menempel di dada si pemuda nampak bergetar hebat. Kemudian secara berturut-turut cahaya merah, kuning, putih dan biru membersit dari kedua telapak tangan Mayat Hidup dan amblas lenyap ke dalam dada si pemuda. Dengan lenyapnya cahaya tadi ke dalam dada si pemuda maka Danang Pattira menggeliat sambil mengerang lirih.

Kejap kemudian pemuda itu duduk, dia memandang ke samping dengan tatap matanya yang kosong dan berwarna kemerahan. Tidak seperti pertama tadi, kini dia tidak lagi merasa takut ketika melihat sosok angker berbau busuk yang berada di sampingnya.

"Kau tahu siapa dirimu?" Mayat Hidup dengan suara patah ajukan pertanyaan. Danang Pattira anggukkan kepala.

"Aku tahu, aku ingat. Ayahku Raden Ponco Sugiri, aku anak yang paling sulung dari empat bersaudara. Ayahku belum lama meninggal," jawab si pemuda lancar tapi suaranya terdengar kaku.

"Ha... ha... ha! Bagus. Kau tahu siapa diriku?" tanya Mayat Hidup lagi.

Danang Pattira terdiam sejenak, baru kemudian berucap. "Aku seperti baru saja di bawa mengintai ke balik tabir gaib. Seseorang yang berada di alam roh baru saja mengatakan kau adalah pamanku. Namamu Raden Ronggo Anom. Manusia yang semasa hidupnya memiliki sifat dengki, tamak, serakah, sombong dan tega pada saudaranya sendiri. Kau terbunuh sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Yang membunuhmu adalah Jin Babat Nyawa atas perintah seorang wanita bergelar Arwah Darah Senggini. Arwah Darah Senggini mengerjakan perintah seseorang, yaitu Raden Ponco Sugiri ayahku. Beliau belum lama berselang dikabarkan tewas oleh Barep Pandara. Arwahmu yang telah membunuhnya!" jelas Danang Pattira tanpa perasaan apapun. Kiranya jiwa dan pikiran si pemuda telah berada dalam pengaruh kekuatan aneh yang disalurkan Mayat Hidup ke dalam tubuhnya. Hingga ketika menyebut kematian orangtuanya sendiri wajah si pemuda tidak memperlihatkan perubahan apapun. Seakan Raden Ponco Sugiri yang ayah kandungnya itu adalah orang lain yang tidak dikenalnya sama sekali.

"Bagus, kau sudah tahu semua. Kebangkitanku adalah karena ilmuku. Aku tak akan tenang jika belum mencari dan membunuh Arwah Darah Senggini. Karena itu sebagai seorang budak yang telah kubekali dengan kesaktian hebat, sudah menjadi tugasmu untuk membunuh tiga saudaramu yang lain!" tegas Mayat Hidup.

"Dua adikku, Aripraba dan Siwarana memang harus mati, tapi Ambini apakah harus kubunuh juga? Aku... aku...!"

"Hak... hak... hak! Aku tahu isi hatimu. Kau boleh bersenang-senang dengannya. Tapi kemudian kau harus membunuhnya. Kau kutunggu di gunung Liman. Kau mengerti?" tanya si Mayat Hidup.

"Aku mengerti." sahut si pemuda. "Kalau sudah mengerti sekarang

pergilah. Lakukan tugasmu dan cari orang- orang yang harus kau bunuh!" Sekali lagi si Mayat Hidup menegaskan. Danang Pattira anggukkan kepala. Dengan gerakan kaku dia memutar tubuhnya dan terus melangkah pergi meninggalkan sosok busuk berwajah angker mengerikan itu.

2

Untuk menghindari kejaran Raden Ronggo Anom yang kini telah berubah menjadi sosok Mayat Hidup, gadis jelita berpakaian putih berambut panjang tergerai itu terus-menerus mengerahkan ilmu lari cepat yang dimilikinya. Sampai di satu tempat Ambini merasakan tiba-tiba saja pemuda yang dia panggul di bahu kanannya terasa semakin berat.

"Aneh, bagaimana dia sekarang berubah menjadi seberat ini? Apakah karena aku sudah merasa lelah?" membatin gadis cantik yang bernama Ambini itu heran.

Perlahan Ambini mengurangi kece- patan larinya, sampai kemudian langkahnya terhenti sama sekali. Pada saat itu pula si gadis mendengar suara menyiplak yang keras seperti   orang  yang mengunyah makanan. Si gadis kerutkan keningnya. Mendadak dia turunkan si gondrong dari bahunya.  Dia  pandangi  pemuda  tampan bertelanjang dada itu sekejap lamanya. Mata si gondrong dalam keadaan terpejam, wajah pucat sedangkan di sudut bibirnya masih terlihat sisa darah yang mengering. "Aku mendengar suara orang memakan sesuatu," pikir si gadis. Dia lalu mengitarkan  pandangan     matanya   ke sekeliling  tempat itu.    Tak  terlihat siapapun  terkecuali  pepohonan  besar, semak ilalang, bukit-bukit gundul serta birunya gunung Liman. "Aku tak salah mendengar, ada orang memakan sesuatu dengan lahap." membatin Ambini. Sekali lagi  diperhatikannya    pemuda   yang dipanggulnya tadi. Rasanya tak mungkin pemuda itu yang makan. Dia terluka dalam, mungkin juga saat itu tidak sadarkan diri. Ambini menggoyang bahunya yang terasa pegal. Di saat itulah dia merasakan adanya kelainan pada kantong perbekalan yang tergantung di pung- gungnya. Kantong perbekalan itu kini terasa sangat ringan sekali. Sekali lagi Ambini pandangi pemuda itu. Sampai kemudian dia melihat sesuatu tergenggam di tangannya. Mendadak wajah si gadis berubah, dia merasa dipermainkan. Kantong perbekalan ditariknya ke depan, dibuka dan diperiksa isinya. "Benar... dia telah mencuri bekal makananku. Kurang ajar, jadi dia telah menipuku dengan berpura- pura terluka parah. Lalu dengan tololnya kudukung dia ke tempat yang aman dari jangkuan Mayat Hidup. Di atas bahu dia pergunakan kesempatan menggerayangi kantong perbekalan. Dia makan enak dalam panggulanku, apakah dia mengira aku ini kuda tolol? Aku bukan binatang tunggangan, tapi yang jelas aku memang telah berlaku tolol!" dengus Ambini merutuki dirinya sendiri. Wajah cantik itu bersemu merah. Tapi kemudian bibirnya yang merah merekah itu sunggingkan satu seringai. "Dia harus tahu akibat dari muslihatnya sendiri." berkata begitu Ambini ayunkan kaki ke bagian punggung si pemuda.

Dess! Desss!

Dua hantaman keras disertai pengerahan tenaga dalam menghantam punggung si gondrong dua kali berturut- turut. Pemuda itu terlempar sejauh satu tombak, ikan bakar di tangannya tercampak entah ke mana sedangkan bagian bahu sempat membentur batu besar. Si pemuda mengeluh panjang sambil menggeliat kesakitan.

"Kau hendak berpura-pura lagi. Aku telah berletih diri membawamu ke mari. Kusangka lukamu sangat parah, tetapi ternyata kau hanya mempermainkan diriku. Sungguh manusia tak pandai membalas budi!" dengus Ambini.

Si pemuda kedip-kedipkan matanya, dia meringis kesakitan. Dengan cepat dia bangkit, setelah duduk badannya digerakkan ke kiri kanan.

"Ah apa yang terjadi? Rasanya aku baru saja mimpi makan ikan bakar yang sedap, kemudian aku dibawa lari oleh bidadari cantik. Setelah kenyang aku merasa bagai ditendang kuda. Tapi tak apa-apa, kudanya kuda cantik. Ingin sekali aku ditendang untuk yang kedua kalinya!" celetuk pemuda itu sambil memijit bagian punggungnya yang kena tendangan Ambini.

Semakin bertambah jengkel Ambini mendengar ucapan pemuda itu. Dia yang merasa telah dikerjai si gondrong melompat ke depan sambil tendangkan kaki kirinya.

Wuuut!

Tendangan luput karena si gondrong telah berkelit dan tahu-tahu berada di belakang Ambini. Tangannya yang jahil mengelus telapak tangan gadis itu.

"Amboi halusnya. Sayang kelewat galak. Ha... ha... ha!"

Ambini cepat memutar badan dan jadi kaget begitu melihat si gondrong telah duduk di belakangnya. Jika pemuda itu punya maksud yang tidak baik tentu sejak tadi dia sudah kena ditotok atau dicelakai.

"Setan... kau benar-benar pemuda edan!" maki Ambini. Dia lalu julurkan tangan siap hendak menampar. Si gondrong tertawa sambil angsurkan pipinya.

"Kurasa aku lebih senang menerima tamparanmu daripada harus menghadapi bangkai berjalan tadi!" sahut si pemuda. Dia menunggu untuk beberapa saat lamanya. Tapi Ambini kemudian turunkan tangannya kembali. Dengan perasaan masih memendam kekesalan si gadis palingkan wajahnya ke arah lain, tepatnya di atas sebuah pohon. Justru di atas pohon itu ada sekawanan monyet yang sedang tunggingkan pantat ke arahnya. Tingkah kawanan monyet itu seolah-olah mengejek si gadis hingga membuat wajah Ambini bersemu merah. Dia jadi salah tingkah. "Sialan monyet-monyet itu! Barangkali pemuda ini masih punya hubungan kerabat dengan mereka. Aku tidak akan heran jika mereka berpihak padanya, huh!" gerutu Ambini dalam hati. Kekesalan yang menyelimuti perasaan si gadis membuatnya tanpa sadar memandang kembali ke arah si gondrong.

Pemuda itu menyeringai. "Kurasa memandangku lebih menyenangkan daripada memandang pantat monyet-monyet itu. Ha... ha... ha!"

"Pemuda kurang ajar, siapakah namamu?" tanya Ambini dengan mata mendelik. Si gondrong tersenyum. Wajahnya berubah cerah ketika dia bangkit berdiri. "Kau sudah banyak menolong, bahkan menggendongku sampai sejauh itu. Adalah tidak tahu diri jika aku tak menyebutkan nama." kata si pemuda sambil mengulum senyum. Gento melanjutkan. "Dengar! Namaku Gento Guyon. Gento... Guyon... cukup gampang bagimu untuk mengingatku! Ha... ha... ha!"

"Gento Guyon? Huh, nama geblek apa itu?" pikir si gadis sambil cibirkan mulutnya. "He! Gento, namamu memang sangat sesuai dengan orangnya. Gento mungkin sama dengan Genta, sedangkan Guyon kurasa karena kau sering tersenyum atau tertawa sendiri seperti orang sinting. Nama yang bagus, eeh siapa yang telah memberimu nama?" tanya si gadis dalam hati dia mencibir.

Merasa Ambini senang dengan nama yang baru disebutkannya tadi, maka dengan bangga sambil berkacak pinggang si pemuda menjawab. "Yang memberiku nama tentu saja guruku Gentong Ketawa."

"Hi... hi... hi. Bagus sekali, tidak salah dugaanku. Kau dan gurumu kurasa sama-sama pasangan manusia edan. Sekarang aku tak merasa heran jika melihat dirimu seperti ini. Gurunya berotak miring, muridnya edan. Kau dan gurumu pasti memiliki kecocokan satu sama lain!" kata Ambini disertai tawa tergelak-gelak.

Bukannya tersinggung Gento malah ikutan tertawa. Tingkah pemuda itu tentu mengundang rasa heran di hati Ambini sehingga dia hentikan tawanya seketika dan memandang ke arah Gento Guyon dengan alis berkerut. Pemuda gondrong ini sungguh aneh, pikir Ambini. Dia dan gurunya diejek orang bukannya malah tersinggung atau marah, sebaliknya ikut tertawa. Aneh!

Melihat si gadis hentikan tawa dan terdiam, Gento katubkan bibirnya berhenti tertawa. Sejenak dia pandangi Ambini. Dalam hati dia berkata. "Gadis ini memiliki kecantikan sungguh sangat luar biasa. Jika aku tidak keliru mendengar dia pasti putri Raden Ponco Sudiri, orang tua cacat yang mayatnya kutemui di puncak gunung Wilis." Gento kemudian teringat pada sosok mayat hidup. Manusia separoh bangkai yang hendak menculik Ambini dan sempat menciderai dirinya beberapa saat sebelum Ambini yang menyangka dirinya terluka membawanya pergi. Mayat Hidup mengaku dirinya adalah Raden Ronggo Anom. Saudara tiri Raden Ponco Sugiri yang disebut-sebut telah meninggal tiga puluh tahun yang silam. Mati dengan cara yang aneh! Sangat mendadak dengan luka membiru di bagian dalam jantung. Gento jadi heran mengapa Mayat Hidup sangat menginginkan Ambini? Bahkan nekad menurunkan tangan jahat pada dirinya. Sejenak lamanya murid kakek Gentong Ketawa pandangi gadis di depannya dengan mata berkedip-kedip.

Diperhatikan seperti itu tentu membuat si gadis salah tingkah. Paling tidak muncul dugaan pemuda gondrong itu hendak menjahili dirinya lagi. Sehingga Ambini langsung mendamprat. "Berani kau berbuat kurang ajar padaku nyawamu tak akan kuampuni!"

Gento gelengkan kepala. "Sekali ini aku tidak sedang bergurau, Ambini." kata si pemuda menyebut nama si gadis. Caranya bicara seakan Gento sudah mengenal Ambini cukup lama. Ini adalah salah satu sikap yang sangat disukai oleh si gadis.

"Jadi kau mau bicara apa?" bentak Ambini pura-pura tegas dan pasang wajah sinis.

"Mengenai Mayat Hidup tadi." sahut si pemuda. Dia nampak berpikir sejenak baru kemudian melanjutkan. "Aku yakin ada sesuatu yang diincar Mayat Hidup dari dirimu. Dia tidak mungkin bersikeras ingin membawamu pergi jika tidak ada sesuatu yang diinginkannya. Mungkin ada sesuatu yang sangat penting yang kau rahasiakan."

"Sesuatu apa?" tanya si gadis. Dia tidak lagi melotot ketika memandang Gento, tatap matanya berubah lembut bersahabat.

"Maaf jika aku harus bertanya. Bukankah engkau adalah putri Raden Ponco Sugiri yang kutemui di puncak Gunung Wilis?"

"Kau benar. Dan ayah yang kau sebutkan telah meninggal tanpa kuketahui siapa yang telah membunuhnya?" kata Ambini pelan. Nada suaranya bercampur kesal dan sedih.

"Aku turut prihatin. Ayahmu meninggal begitu rupa, sulit aku mence- ritakan keadaannya. Tapi apakah di hatimu tidak ada keinginan untuk menyelidik awal dari segala bencana yang menimpa keluargamu?" ujar si pemuda dengan hati- hati. Ambini memperhatikan si pemuda beberapa jenak lamanya. Tatap matanya yang tajam seolah ingin menembus batok kepala Gento, membuatnya jadi tidak enak hati.

"Kau bicara seakan tahu benar bencana pahit yang menimpa keluargaku. Padahal bertemu denganku rasanya baru pertama kali." kata Ambini akhirnya, seraya kemudian palingkan wajah memandang ke jurusan lain.

Gento hendak tersenyum, tapi urung. Dia takut Ambini tersinggung. Tidak jadi tersenyum dia lanjutkan ucapan. "Mengenal dirimu memang baru kali pertama ini kita bertemu. Sedangkan mengenai keluargamu aku telah mendengarnya dari beberapa orang yang kutemui di Wonogiri. Kau adalah salah satu dari empat putra Raden Ponco Sugiri almarhum. Saudaramu yang pertama, paling sulung bernama Danang Pattira, saudara yang nomor dua bernama Aripraba. Orang yang kusebutkan ini pernah kutemui di puncak gunung Wilis dalam keadaan menangis mengguguk meratapi jenazah ayahnya...!"

"Tunggu!" seru Ambini begitu mendengar Gento mengatakan pernah bertemu dengan Aripraba. "Kau mengatakan bertemu dengan saudaraku yang nomor dua?" tanya Ambini yang dijawab Gento dengan anggukkan kepala. "Aku sendiri sudah belasan tahun tak bertemu dengan kakang Aripraba. Bagaimana rupa dan keadaannya aku juga tak tahu. Baru saja kau tadi mengatakan telah bertemu dengan kakang Aripraba. Seperti apa dia sekarang?" tanya Ambini penuh rasa ingin tahu.

"Dia dalam keadaan sehat saja. Perawakan maupun keadaan tubuhnya gembul tidak kekurangan sandang tak kekurangan pangan. Ilmu kesaktiannya tinggi. Tapi jalan pikirannya kurasa tak mudah ditebak. Seperti yang sudah kukatakan aku sempat bentrok dengannya. Tapi dia kemudian pergi begitu saja." jelas si pemuda.

Mendengar semua itu Ambini terdiam. Dia berpikir bukan mustahil Airpraba yang membunuh ayah mereka sendiri. Siapa tahu saudaranya yang kedua itu tahu banyak hal tentang harta karun milik leluhur mereka yang tidak ternilai banyaknya itu. Boleh jadi Aripraba yang dikenal dekat dengan sang ayah meminta peta rahasia penyimpanan harta untuk dikangkanginya sendiri. Karena ayahnya tidak memberikan peta itu Aripraba lalu membunuhnya. Sejenak Ambini berpikir keras. Mencoba menghubung-hubungkan satu peristiwa dengan kejadian lain. Dia kemudian ingat pada Barep Pandara. Di akhir hayatnya ketika kupu-kupu perak beracun itu membunuhnya dia ada menyebut kata 'Raden'. Apakah mungkin Raden Aripraba yang dimaksudkannya atau raden yang lain? Dia sendiri telah menyambangi Danang Pattira di Wonogiri. Saudara sulungnya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda atau punya tampang sebagai orang yang tega membunuh orangtua sendiri. Apalagi mengingat Danang Pattira sejak dulu tidak menyukai pelajaran silat terkecuali ilmu sastra. Jika pun saat itu dia melihat sang kakak tengah berlatih ilmu silat, tingkatannya masih sangat rendah dan boleh dibilang masih berada di tingkat paling dasar. Orang seperti dia tak mungkin sanggup membunuh ayah kandungnya sendiri. Apalagi mengerahkan kupu-kupu perak mematikan yang dia ketahui kiriman dari alam gaib. Mendadak Ambini menepuk keningnya sendiri hingga membuat Gento berjingkrak dan melongo.

"Mayat Hidup! Mayat Hidup itu ada mengatakan 'Siapa berani membunuh kupu- kupu perakku!' pikir Ambini. Seakan bicara pada dirinya sendiri Ambini lagi- lagi bergumam. "Yang membunuh ayahku aku tak tahu. Tapi kupu-kupu perak itu jelas milik Mayat Hidup. Mungkin dia memang Raden Ronggo Anom. Paman tiriku yang terbunuh sekitar tiga puluh tahun lalu dengan cara yang aneh. Lalu siapa yang membunuhnya dan bagaimana dia bisa bangkit, hidup kembali dalam keadaan begitu rupa?"

"Ambini apakah kau sedang tidur sambil mengigau? Apa yang kau ucapkan?" tanya Gento begitu melihat si gadis seperti meracau sedangkan mulutnya berkemak-kemik tak mau diam. Ditegur seperti itu Ambini terkejut. Dalam keraguannya antara menerangkan semua apa yang dipikirkannya atau tidak pada pemuda yang baru dikenalnya itu dia gelengkan kepala sambil berkata. "Aku tidak apa- apa, teruskan apa yang kau katakan tadi!" pinta si gadis.

Gento sebenarnya merasa tidak enak hati, dia merasa yakin ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Entah apa dan mengapa Ambini tak bersedia mengata- kannya. Tapi Gento kemudian memilih untuk tidak menyinggung perasaan orang. "Adapun yang ketiga adalah engkau sendiri, lalu yang keempat adalah Siwarana Sala Anuna. Pemuda yang mempunyai banyak cacat menyedihkan telah bertemu denganku pula di muara Kali Lanang!" jelas Gento.

Mendengar pengakuan Gento Guyon, Ambini sempat tersentak kaget, wajahnya berubah, mata dipentang sedangkan mulut dengan bibir bagus itu terbuka lebar. 3

Beberapa saat lamanya Ambini tak mampu berucap walau barang sepatah katapun. Semula dia menyangka Gento hanya sekedar bercanda ketika mengaku telah bertemu dengan adiknya Siwarana. Tapi agaknya Ambini merasa perlu membuktikan kebenaran dari ucapan pemuda itu. Hingga setelah berpikir sejenak si gadis ajukan pertanyaan. "Gento, jika benar kau telah bertemu dengan Siwarana adikku, apakah kau dapat menerangkan bagaimana ciri- cirinya?"

Gento tersenyum mendengar perta- nyaan Ambini. "Kau ingin mendengarnya? Baiklah... ciri adikmu itu wajahnya bertotol hitam, hidung pesek, mulut seperti tikus, lebih persisnya seperti moncong musang. Kemudian badannya berjongkok, berpunuk seperti unta. Pokok- nya ibarat pemandangan adikmu adalah pemandangan yang paling tidak menye- nangkan untuk dipandang. Apakah penjelasanku ini sudah cukup jelas bagimu?" jawab si pemuda.

Ambini manggut-manggut, wajahnya sempat bersemu merah karena mendengar ucapan Gento yang terlalu polos. Akan tetapi dia tidak merasa tersinggung karena apa yang dikatakan Gento memang apa adanya. "Lalu sekarang di mana adikku itu?" tanya Ambini. Dalam hati dia berkata. "Aku pernah mendengar ayah mengatakan dalam diri Siwarana tersimpan satu rahasia besar. Jika rahasia itu dapat diselamatkan berarti kejayaan keluarganya akan terbangkitkan kembali. Tapi jika sampai diketahui orang, kecelakaan besarlah bagi Siwarana sendiri!"

"Adikmu saat ini bersama seseorang. Kurasa mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Kalau tak salah aku mengingat mereka menuju ke gunung Liman, sebelah timur Ponorogo!"

Mendengar penjelasan si pemuda Ambini sempat tercengang. "Gunung Liman, Selatan Ponorogo?!" desisnya menirukan ucapan si pemuda. "Di sanalah tempat rahasia penyimpanan harta warisan keluarga. Apa maksud Siwarana pergi ke tempat itu. Mungkinkah dia mau mengangkangi seluruh harta peninggalan leluhurnya?"

"Ambini, setiap aku bicara kau selalu terkejut. Dua kali kau seperti itu. Mungkin yang ketiga bisa jatuh pingsan! Ha... ha... ha." kata si pemuda disertai tawa tergelak-gelak.

"Aku tidak apa-apa, yang membuatku heran mengapa dia pergi ke sana? Aku takut Mayat Hidup muncul di sana. Jika urusannya sudah menyangkut masalah harta siapa saja bisa terbunuh di tempat itu. Aku berpikir mungkin ada baiknya jika aku juga pergi ke tempat itu." kata Ambini.

"Kurasa kau punya keinginan untuk mendapatkan harta itu juga?" sindir Gento sambil memandangi wajah cantik Ambini. Gadis itu tundukkan kepalanya. "Kau salah, kalau pun aku tak menginginkan harta itu. Bisa jadi saudaraku yang lain akan memperebutkannya. Selain itu jika Mayat Hidup sudah ikut campur tangan, keadaan bisa menjadi kacau!" menerangkan Ambini.

"Baiklah, aku juga harus ikut." "Ikut?" desis Ambini. Bola matanya

membesar memandang pada pemuda di depannya. Gento tersenyum.

"Aku tahu, mungkin kau risih jalan bersamaku. Kalau tak mau kuikuti aku bisa berangkat lebih dulu. Bagaimanapun aku harus menemui guruku. Sayang jika orang gendut itu ikut jadi korban gara-gara harta orang. Akan sulit bagiku nanti mencari pengganti seperti dia." kata pemuda itu disertai tawa tergelak-gelak.

Ambini hanya tersenyum, sifat si pemuda yang begitu polos membuat Ambini merasa cepat akrab dengan Gento Guyon. Dia kemudian mengikuti pemuda itu yang telah berjalan mendahuluinya.

*** Di satu tempat di sebelah selatan kaki gunung Liman sosok berpakaian hitam rombeng melemparkan orang yang dipanggulnya sejak tadi. Orang yang dilempar mengeluh keras akibat rasa sakit yang luar biasa. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Tapi celaka, sekujur tubuhnya tak dapat digerakkan sama sekali, kaku akibat terkena totokan.

Di depannya sosok hitam berambut panjang awut-awutan berwajah cantik dengan dandanan mencolok, berbibir basah di bagian bawah tegak mengawasi. Di kejab kemudian terdengar suaranya yang keras melengking. "Tidak salah penglihatanku, kau orangnya yang kucari. Belasan tahun yang lalu seharusnya kau sudah diserahkan padaku. Tapi ayahmu si keparat Raden Ponco Sugiri ternyata manusia ingkar janji. Dia bukan saja tidak mau menyerahkan dirimu, tapi malah menyembunyikan kau di muara Kali Lanang. Sekarang agaknya janji yang pernah diucapkan oleh ayahmu hanya tinggal berupa kisah buruk di masa silam. Kau sudah berada dalam genggamanku, bukan hanya kau saja, tapi seluruh saudaramu juga harus menjadi korban, mereka akan kubunuh. Hik... hik... hik!"

Si pemuda berpakaian hitam berbadan bongkok, berhidung pesek bermulut runcing dengan wajah bertotol hitam itu beberapa saat lamanya nampak terperangah kaget. Sama sekali dia tak tahu apa yang dimaksudkan oleh perempuan cantik berambut panjang awut-awutan yang berdiri tegak di hadapannya.

Dia bahkan tak mengerti mengapa perempuan itu menculiknya dan membawa dirinya ke Gunung Liman. Padahal jauh sebelum itu dia bersama si kakek gendut luar biasa masih berada di luar kawasan gunung. Saat dirinya diculik, si gendut Gentong Ketawa sedang istirahat tak jauh dari tempat pemuda ini menunggu.

Kemudian entah dari mana datangnya tahu-tahu di belakang si pemuda muncul si cantik ini. Tanpa banyak bicara dia langsung menotok bagian punggungnya, lalu membawa pemuda itu pergi. Si pemuda juga masih sempat mendengar suara Gentong Ketawa memanggil dirinya. Tapi ketika kakek itu mengejar si cantik melepaskan satu pukulan yang menimbulkan kobaran api. Agar lebih jelas ikuti episode "Bayar Nyawa". Kini dia memandang ke arah perempuan itu karena jalan suaranya tidak ditotok sebagaimana bagian tubuh lain, maka dengan bebas dia ajukan pertanyaan. "Ni sanak, apa dosa dan salahku? Mengapa kau menginginkan diriku?"

"Sesuai perjanjian aku menginginkan dirimu sejak kau belum lagi menjadi calon bayi. Perjanjian yang terikat antara aku dan ayahmu dengan disaksikan oleh langit dan bumi, jin, setan dan makhluk halus. Perjanjian itu menyangkut dirimu yang aku korbankan untuk Babad Nyawa, setan yang jadi piaraanku." Jelas si cantik yang bukan lain adalah Wowor Baji Marani alias Arwah Darah Senggini.

Seakan tak percaya beberapa saat lamanya si pemuda nampak tercengang. Sama sekali dia tak menyangka dirinya sejak terlahir memang dijadikan alat untuk memenuhi sebuah perjanjian. Dia yang terlahir dalam keadaan cacat begitu rupa bagaimana ayahnya masih begitu tega melakukan tindakan sekeji itu? Sudah hidup tak putus dirundung malang, haruskah dia terkubur di perut setan. Perlahan mata si pemuda memandang ke arah perempuan itu. Dia lalu kembali ajukan pertanyaan. "Perempuan cantik jika benar kau telah membuat satu perjanjian dengan orang tuaku, sebelum aku mati. Dapatkah kau jelaskan apa saja isi perjanjian itu."

Arwah Darah Senggini dongakkan wajahnya, kemudian terdengar suara tawanya yang panjang melengking.

"Jahanam gila ini aku sama sekali tak ingin mati konyol di tangannya. Apapun yang terjadi aku harus bisa melakukan sesuatu." batin si pemuda yang bukan lain adalah Siwarana Sala Anuna. Pada saat itu tawa dingin si cantik sudah terhenti. Dia nampak berpikir beberapa jenak lamanya. Baru kemudian dia berkata. "Permintaanmu  kukabulkan.   Kau dengar baik-baik. Sekitar puluhan tahun yang silam ayahmu dan gurunya datang padaku.   Mereka  meminta  aku  untuk melakukan sesuatu agar dapat mengambil alih seluruh peninggalan harta kakekmu yang telah dikuasai oleh adik tiri ayahmu. Permintaan itu kukabulkan dengan syarat kelak ayahmu harus menyerahkan tangan dan kaki bahkan nyawanya ditambah lagi  nyawa anaknya yang  terlahir kemudian. Dia menyanggupi, dan Raden Ronggo Anom pun kemudian mati ditangan utusanku yang dapat kupercaya. Satu hal dari permintaan   ayahmu yang  tidak kupenuhi adalah mengenai harta karun yang terpendam di tempat ini. Harta karun itu ada di sekitar gunung ini. Harta itu

harus menjadi milikku." tegas si cantik. "Baiklah, jika memang sudah begitu

kenyataan yang harus kuterima, aku juga tidak berani membantah atau melanggar perjanjian antara engkau dan ayahku. Orang tua itu sekarang akupun tak tahu bagaimana nasibnya. Jika kau ingin membunuhku, bunuhlah! Siapa yang takut mati?" teriak si pemuda bongkok dengan mata mendelik.

"Hik... hik... hik. Mengenai ayahmu sekarang dia sudah menjadi raja cacing tanah. Sedangkan mengenai niatmu yang telah memasrahkan diri padaku sepenuhnya kuterima dengan baik. Tapi aku tak bisa membunuhmu secepat yang kau inginkan, karena di dalam kulit tubuhmu ada sesuatu yang harus kuketahui. Sesuatu yang menyangkut peta rahasia dan berhubungan erat dengan tempat penyimpanan harta warisan berada!" jelas Arwah Darah Senggini.

"Kau bicara apa perempuan? Boleh saja kau geledah seluruh tubuhku. Tapi kau tak akan mendapatkan peta apapun. Bahkan aku sendiri tak tahu apa yang kau bicarakan!" kata si pemuda. Sambil ber- kata begitu Siwarana kerahkan tenaga dalam ke bagian punggung untuk memus- nahkan totokan si cantik. Akan tetapi alangkah kagetnya pemuda ini karena ternyata tenaga dalam yang dikerahkannya tak mampu memusnahkan totokan itu. "Celaka! Jika begini kenyataannya, tidak mungkin aku dapat menyelamatkan diri dari tangannya?"

"Hi... hi... hi. Bocah calon bangkai. Kau boleh bicara apa saja sebelum maut menjemputmu. Tapi aku yang telah merencanakan segala sesuatunya bahkan jauh sebelum kau terlahir ke dunia ini tentu tahu satu rahasia besar yang tidak diketahui oleh orang lain!" ujar Arwah Darah Senggini disertai tawa aneh. Kemudian dari balik pakaiannya yang dekil dan berbau busuk dia mengeluarkan lima buah limau besar. Beberapa saat lamanya limau ditimang-timang, sementara dua matanya yang bening tajam dan nampak berbinar aneh terus menatap tajam ke arah Siwarana.

Sebaliknya si bongkok berwajah dipenuhi totol-totol hitam dalam hati tak mampu menutupi rasa kagetnya. "Celaka, aku tahu apa gunanya limau itu bagi dirinya. Jika air limau ditumpahkannya ke sukujur tubuhku, maka tanda-tanda aneh seperti peta yang kubawa sejak lahir akan terlihat dengan jelas. Semua ini tidak boleh terjadi. Aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah keinginannya, tapi apa?" rutuk si pemuda bingung.

Selagi Siwarana tengah berpikir keras mencari jalan keluar, pada saat itu si angker telah datang menghampiri.

"Kau tahu arti semua ini bukan?" "Aku sama sekali tidak tahu apa

maksudmu!" sahut Siwarana.

Arwah Darah Senggini perlihatkan seringai. "Sesungguhnya jauh di dalam hati kau tahu banyak hal. Tapi di hadapanku kau berpura-pura tolol. Kau dengarlah mengapa aku tak ingin membunuhmu begitu saja. Pertama aku akan menguliti tubuhmu dalam keadaan hidup. Setelah seluruh kulitmu kukelupas baru kemudian kulit itu kubentang. Kemudian jika sudah kurentang seperti beduk, di atas permukaan kulit itu kutuangi cairan limau. Andai seluruh kulitmu telah basah oleh cairan, pasti peta penyimpanan harta itu akan muncul ke permukaan tidak ubahnya seperti tato. Dari tanda-tanda yang muncul ke permukaan kulit itu kuharapkan dapat menemukan tempat yang pasti di mana semua harta itu tersimpan! Hi... hi... hi."

Mendengar ucapan si cantik mendidihlah darah Siwarana. Baginya dia tak takut akan kematian. Tapi jika proses kematian itu sendiri harus terjadi dengan cara begitu rupa, tentu saja ini sangat menyakitkan sekali.

"Orang tua cantik, siapa dirimu ini yang sebenarnya?" dengus Siwarana dengan suara keras. "Mendengar semua apa yang kau ucapkan, rasanya kau bukan hanya sekedar ingin membunuhku, sebaliknya kau sengaja hendak menyiksa aku!"

"Kau benar. Semua ini harus terjadi akibat kelalaian orangtuamu sendiri. Lebih dari itu agar kau tidak merasa penasaran, namaku Wowor Baji Marani. Kau juga boleh memanggilku Arwah Darah Senggini. Sekarang segalanya sudah sangat jelas bagimu. Kau bersiap-siaplah!"

Selesai   berkata   Arwah   Darah Senggini gerakkan tangannya ke telinga kiri. Telinga kiri si cantik memang memiliki kelainan yaitu daun telinga selain panjang juga nampak sangat lebar seperti telinga gajah, hanya jika telinga gajah terkesan lembek dan lemah, sedangkan telinga si cantik kaku tegak. Pada saat si cantik gerakkan tangan kanannya ke arah telinga dari mulutnya terdengar ucapan. "Berikan sebuah golok yang paling tajam padaku. Babad Nyawa setelah tubuh pemuda ini ku kuliti, kau bebas menjilati daging dan darahnya sampai bersih, kalau kau suka tulang belulangnya pun boleh kau makan!" kata Arwah Darah Senggini sambil tersenyum- senyum.

Dari bagian lubang telinga si cantik terdengar suara menggeram lirih. Entah dari mana datangnya kini secara tak terduga di tangan si cantik ini telah tergenggam sebilah golok tipis berbadan lebar dan memiliki ketajaman luar biasa. Melihat golok di tangan lawannya Siwarana mau tak mau jadi ketakutan juga. Apalagi saat itu Arwah Darah Senggini telah berjalan ke arahnya, tubuh si cantik membungkuk. Golok di tangan berkelebat. Siwarana yang menyangka si cantik hendak membelah punggungnya jelas tak mempunyai kesempatan lain terkecuali memejamkan mata karena dia menyadari sejak tadi telah gagal membebaskan diri dari pengaruh totokan lawannya.

Breet! Breet!

Terdengar suara robeknya pakaian beberapa kali. Di lain saat baju hitam yang dipakai oleh Siwarana jatuh di antara dua lengannya. Siwarana merasa tengkuknya menjadi dingin, pemuda itu menggigil didera rasa takut yang amat sangat. Seumur hidup baru kali ini dia merasa ketakutan seperti itu. Sebaliknya Arwah Darah Senggini tertawa tergelak- gelak.

Begitu tawa angker si cantik lenyap. Dari satu arah tepat di bagian lereng gunung mendadak sontak terdengar ada satu suara berkata. "Manusia terkutuk yang mengaku bernama Wowor Baji Marani bergelar Arwah Darah Senggini. Buat apa kau bersusah payah menguliti bocah bungkuk itu? Kau ingin mendapatkan peta yang tersembunyi di bawah permukaan kulit pemuda itu? Ha... ha... ha. Kau ini memang manusia paling tolol sedunia. Aku yang tak memakai peta saja telah menemukan di mana harta keluarga Raden Ponco Sugiri disimpan. Hem, ternyata hartanya sangat banyak, terdiri dari emas, intan dan permata. Harta ini tak mungkin kukangkangi sendiri!"

Arwah Darah Senggini melengak kaget dan langsung berpaling ke arah datangnya suara. Namun dia tak melihat siapapun di sana. Di lereng gunung kembali diwarnai kesunyian. Si cantik kitarkan pandangan matanya ke arah pohon-pohon besar, lamping batu dan juga semak belukar yang menghalangi pandangan mata. "Suara mahluk celaka apa lagi yang baru kudengar sekejap tadi. Suara itu datang dari arah lereng gunung itu. Mengapa mendadak lenyap." Pikir si cantik.

"Wajahmu pucat, tubuh bergetar apakah kau takut?" dengus Siwarana.

"Pemuda bungkuk keparat tutup mulutmu!" teriak si cantik berang. Dia kemudian kembali memusatkan perhatiannya ke arah mana suara tadi berasal. "Manusia pengecut, berani bicara tapi tak berani unjukkan diri. Jika kau benar-benar telah menemukan harta itu sebaiknya cepat temui aku di sini! Harta itu bukan milikmu, sesuai perjanjianku dengan Raden Ponco Sugiri harta itu adalah milikku." seru si cantik dalam hati dia berkata. "Jika bangsat itu mau diajak bicara dan terbukti harta itu ada padanya dia pasti kubunuh. Kemudian pemuda ini kuserahkan pada Babat Nyawa. Apapun yang akan dilakukan mahluk piaraanku terhadap pemuda ini terserah padanya."

"Ha... ha... ha! Harta ini bukan milik siapa-siapa. Aku menemukannya dalam satu ruangan terkubur di balik lubang gua di sebelah barat gunung ini. Sekarang harta itu baru saja kuambil sebagian, separahnya lagi tentu untukmu. Jika kau mau, ambillah sendiri sisanya. Sekali lagi kujelaskan. Harta itu ada dalam sebuah lubang di sebelah barat gunung Liman. Letaknya dalam gua, jangan lupa, banyak jebakan di sana. Salah saja kau melangkah nyawamu tidak akan ketolongan!" "Jahanam keparat!" maki si cantik bingung. Dia merasakan suara itu datang dari empat penjuru arah. "Bagaimana bisa terjadi begini? Aku yakin siapapun adanya bangsat yang bicara tadi pasti memiliki ilmu mengacaukan suara. Dia pasti bukan

orang sembarangan!" pikirnya lagi.

"Arwah Darah Senggini, dari kejauhan ini aku melihat keraguanmu. Kau tak punya nyali untuk datang ke sebelah timur gunung, masuk ke dalam gua dan mengambil harta di dalam lubang penyimpanan di dalam perut gua. Atau kau ingin agar aku mengambil semuanya. Aku pasti mau saja. Aku bisa jadi kaya raya, aku bisa mendirikan sebuah kerajaan. Jika aku menjadi raja, kau pasti akan kuangkat menjadi orang kepercayaanku yang bertugas sebagai tukang mengurus kotoran kuda. Dengan begitu martabat hidupmu sedikit lebih terhormat daripada yang sekarang. Ha... ha... ha!"

Mendengar ucapan orang yang terasa sangat meremehkan dirinya, mendidihlah darah si cantik. Apalagi bila menyadari sejak tadi Siwarana yang dalam keadaan tertelungkup di tanah terus tersenyum mengejek.

"Pemuda keparat! Tunggu di sini, bagianmu pasti kuberikan. Aku akan menuju ke sebelah barat bukit. Jika ternyata harta itu tak ada, kau dan bangsat yang tidak berani unjukkan diri itu akan mendapat ganjaran yang sangat berat dariku!" teriak Arwah Darah Senggini.

"Orang tua cantik. Orang yang menghinamu mengapa aku yang harus menanggung akibatnya?" dengus Siwarana. Dalam hati pemuda ini berkata. "Siapa orang itu? Suaranya seperti aku kenali. Tapi mengapa datang dari empat arah begitu? Apakah mungkin yang bicara tadi empat orang?"

Dalam pada itu selagi Arwah Darah Senggini siap menuju ke sebelah barat lereng gunung kembali suara tadi terdengar lagi. "Tunggu apa lagi perempuan palsu. Perlu kutegaskan sekali lagi. Tadi sebelum kutinggalkan gua rahasia tempat penyimpanan harta aku melihat ada dua orang mendekam tak jauh dari gua yang kutinggalkan. Kurasa mereka sebangsanya rampok hutan dan begal kecil. Sebaiknya kau jangan membuang waktu lebih lama. Cepat kau datang ke sana, siapa tahu mereka belum jauh dari tempat itu! Ha... ha... ha."

Arwah Darah Senggini tercengang, kedua pipinya menggembung besar, kedua mata berkilat tajam menyimpan amarah dan rasa penasaran. Tanpa berpikir lebih lama dia tinggalkan Siwarana Sala Anuna. Sambil berkelebat pergi si cantik masih sempat berucap ditujukan pada suara tadi. "Harta itu sangat kuinginkan. Tapi jika kau menipu, walau aku cuma mendengar suaramu, kau pasti akan kucari biar bersembunyi di liang neraka sekalipun!"

Tak ada jawaban terkecuali suara tawa panjang yang seakan datang dari empat penjuru arah.

4

Hanya beberapa saat setelah Arwah Darah Senggini berlalu dari tempat itu dari rerimbunan pohon besar di lereng gunung Liman berkelebat satu sosok berbadan tinggi luar biasa ke arah Siwarana. Sosok gendut besar dengan bobot lebih dari dua ratus kati jejakkan kakinya di samping si pemuda tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Melihat siapa yang datang maka legalah hati Siwarana Sala Anuna. "Kakek... beruntung sekali kau cepat muncul. Apakah kau benar-benar telah menemukan harta itu?" tanya si pemuda.

Si gendut yang bukan lain adalah Gentong Ketawa geleng kepala. Sambil bersungut-sungut dia keluarkan sebuah benda bulat berwarna hitam. Benda itu tanpa bicara lagi langsung disumpalkan ke mulut si pemuda. "Telan!" perintah si kakek.

Tak tahu apa maksud orang tua itu sambil gelagapan dia mencoba mengajukan pertanyaan. Tapi Gentong Ketawa langsung menekan dan mengurut tenggorokan Siwarana. "Hegkh...!"

Benda itu amblas memasuki tenggorokan si pemuda. Tak urung matanya sempat mendelik karena besarnya benda hampir tak dapat melewati tenggorokannya. "Auuu... aku, kau beri apa barusan tadi?" tanya si pemuda dengan bersusah

payah.

"Manusia tolol, keselamatan dirimu saja tak ada yang berani menjamin. Masih sempat-sempatnya kau bertanya tentang segala macam harta sialan itu!" kata Gentong Ketawa setengah mengomel. Selesai bicara dia hantam punggung Siwarana tepat di bagian yang terkena totokan.

Hantaman yang sangat keras memang mampu memusnahkan totokan di bagian punggung pemuda itu. Tapi akibatnya Siwarana menggeliat kesakitan, bagian punggungnya seperti dihantam palu godam.

"Orang tua sinting, kau... kau hendak membunuhku!" pekik Siwarana. Badannya menggeliat, melintir bagaikan orang yang meregang nyawa.

"Setan, kalau aku mau membuatmu mampus bukan begini caranya. Lebih baik kupecahkan batok kepalamu sejak tadi." gerutu si kakek. Dia lalu menarik tangan Siwarana hingga membuat pemuda itu bangkit berdiri. "Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar. Sebaiknya kau ikut denganku kembali bersembunyi di lereng sebelah sana."

"Kek... aku tidak dapat pergi begitu saja. Aku ingin mengejar perempuan tadi!" sergah Siwarana sambil menepiskan tangan Gentong Ketawa. Diam-diam si pemuda jadi kaget ketika menyadari bukan saja cekalan si kakek sulit dilepaskan, tapi juga akibat gerakan meronta yang dilakukannya membuat tangannya yang dicekal Gentong Ketawa laksana dijepit baja.

"Sekali lagi kau hendak berlaku tolol. Kepandaianmu baru seupil sudah berani membusungkan dada hendak menentang perempuan iblis itu. Ayo ikut!" dengus si kakek gendut. Sekali sentak Siwarana merasa tangannya dibetot dan tubuhnya melayang laksana dibawa terbang. Hanya sekejap saja mereka telah berada di antara gerumbul semak belukar.

“Kek... mengapa kau melarangku. Kau tahu ayahku jadi sengsara akibat ulahnya. Bukan hanya ayah, tapi keluarga kami juga tercerai-berai karena perbuatannya." Ada rasa tidak senang dalam nada ucapan Siwarana. Kesal rasanya Gentong Ketawa melihat sikap si pemuda yang terlalu keras kepala.

"Belum tentu perempuan tadi berada di pihak yang kau katakan. Bisa jadi ayahmu yang membuat satu kekeliruan. Bagaimana kau bisa tahu kejadian yang sebenarnya, sedangkan ketika itu kau masih menjadi air. Sekarang jika kau tak mau mendengar saranku silahkan kau susul setan tadi. Apapun yang akan terjadi nanti aku tidak mau menolong, tidak pula mau membantu. Dengan ilmu kepandaian yang kau miliki sekarang ini di hadapannya kau tidak mempunyai arti apa-apa."

Sebenarnya Siwarana merasa kesal karena dirinya diremehkan terus-menerus. Tapi dia pada akhirnya menyadari apa yang dikatakan oleh Gentong Ketawa memang ada benarnya.

Beberapa jenak lamanya si pemuda terdiam, dia lalu ingat sebelum kakek gendut itu membebaskan totokannya dengan pukulan yang mampu membuat orang biasa pingsan dia ada memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Sesuatu berwarna hitam yang terasa panas membakar ketika melewati tenggorokannya.

"Kek...!"

Si orang tua diam saja, malah kini dia menoleh ke jurusan di mana tadi Siwarana berada sambil mementang mata.

"Kakek gendut. Tadi benda bulat hitam yang kau berikan padaku itu apa namanya?" tanya si pemuda khawatir. Dia takut Gentong Ketawa meracuninya.

Si kakek menoleh, tapi hanya sekejap. Setelah itu dia kembali memandang ke lapangan gundul di kaki gunung. Dengan sikap acuh dia menjawab. "Aku kurang tahu pasti. Bisa jadi kotoran hewan, mungkin juga kotoran kampret. Yang jelas benda itu pasti ada artinya bagimu. Setelah menelan benda itu kujamin Arwah Darah Senggini tidak berminat lagi pada kulitmu. Bisa jadi begitu bertemu kembali denganmu dia langsung membunuhmu! Ha... ha... ha!" kata si kakek disertai tawa berderai. Tapi ketika sadar bahwa sebenarnya mereka sengaja sembunyi di tempat itu dengan cepat si kakek menekap mulutnya.

"Kek... kakek gendut mengapa tiba- tiba saja kulitku jadi begini?!" seru Siwarana. Si kakek cepat menoleh, dia jadi melengak kaget begitu melihat sekujur tubuh si bongkok telah berubah menghitam seluruhnya. Dimulai dari bagian wajah, leher, badan, tangan dan kaki semuanya berubah hitam macam arang.

"Kau apakan diriku, kau beri apa aku tadi? Mengapa aku jadi begini?" pekik Siwarana sambil memperhatikan telapak tangannya yang juga ikut menghitam.

Dari rasa kaget, kini setelah menyadari segala sesuatunya Gentong Ketawa tak mampu lagi menahan geli. Dia tertawa terkekeh-kekeh. "Bagus, kulitmu sudah gosong macam pantat kuali. Dengan begitu walaupun nenek setan tadi mengguyur kulitmu dengan cairan jeruk pulang balik peta yang ingin dilihatnya pasti tak akan pernah muncul. Ha... ha... ha." kata si kakek sambil memengangi perutnya. Dia kemudian melanjutkan. "Kau tak perlu merasa gusar. Serbuk arang yang kau makan tadi tidak berbahaya. Malah keadaanmu yang seperti ini akan menguntungkan dirimu sendiri. Bagus sekali. Kurasa inilah cara satu-satunya untuk menolong dirimu."

Siwarana tak mampu bicara. Apa yang terjadi pada dirinya jelas merupakan sebuah kenyataan yang sulit untuk dipercaya. Tapi bila ingat akan peta harta yang konon menyatu dengan kulitnya. Mungkin tindakan gila yang dilakukan Gentong Ketawa memang ada benarnya. Menurut ayah Siwarana, bila tubuhnya tersiram cairan limau, maka di permukaan kulit akan muncul tanda-tanda tertentu yang menjadi petunjuk satu-satunya di mana harta peninggalan leluhurnya itu berada. Sedangkan mengenai bagaimana peta rahasia itu bisa berada di kulit punggungnya. Sebagaimana yang pernah diuraikan dalam episode 'Bayar Nyawa', Arwah Darah Senggini memerintahkan Babat Nyawa mahluk gaib piaraannya memindahkan peta yang asli ke tubuh Siwarana semasa pemuda cacat itu berada dalam kandungan ibunya. Kini setelah tubuhnya menghitam tentu tak mungkin lagi bagi Arwah Darah Senggini bisa menemukan tanda-tanda rahasia penting yang ingin dilihatnya di tubuh Siwarana. Diam-diam pemuda itu merasa kagum melihat jalan pikiran orang tua itu.

"Kek... walaupun tubuhku telah berubah seperti arang gosong seperti ini, aku merasa berterima kasih setelah menyadari maksud dan tujuanmu. Sekali lagi aku yang bodoh ini mengucapkan terima kasih!" kata si pemuda sambil membungkukkan badan.

Gentong Ketawa menanggapinya dengan tersenyum. "Tak perlu berterima kasih tak usah memakai segala peradatan. Segala sesuatunya masih belum berakhir. Perempuan itu bagaimanapun pasti akan mencarimu lagi. Bukan hanya kau, dia juga pasti mencariku."

Mendengar ucapan si kakek Siwarana jadi kaget. "Kek, apakah kau telah menipunya?" tanya si pemuda.

Gentong Ketawa sekali lagi mengumbar senyumnya. "Aku tidak pernah menipu orang. Kebanyakan manusia itu tertipu karena kebodohan dirinya sendiri. Ha... ha... ha!" menjawab si kakek gendut disertai tawa mengekeh.

Siwarana terdiam dan gelengkan kepala. Dia kini semakin menyadari bahwa sesungguhnya jalan pikiran si gendut selain rumit juga tak gampang ditebak.

***

Kita tinggalkan Gentong Ketawa dan pemuda cacat itu. Kini kita ikuti si Arwah Darah Senggini yang sedang dalam perjalanan menuju ke sebelah barat gunung Liman. Sejak mendengar ucapan suara orang yang datang dari lereng gunung, sebenarnya perempuan cantik ini ingin sekali merampas harta yang menurut pengakuan pemilik suara itu telah berada di tangannya. Tapi Arwah Darah Senggini kemudian berubah pikiran. Jika benar harta itu tersimpan di dalam sebuah gua di sebelah barat lereng gunung sebagaimana yang dikatakan oleh suara. Bukan mustahil masih banyak harta lain termasuk juga beberapa jenis senjata sakti yang konon sengaja disimpan oleh leluhur Raden Ponco Sugiri di tempat itu. Tadi orang yang bicara namun tak mau unjukkan diri tidak ada menyebut tentang segala macam senjata terkecuali harta yang telah diambilnya. Ini berarti senjata pusaka yang disimpan bersama harta warisan masih belum ditemukan. Ingat akan semua ini membuat Arwah Darah Senggini sambil berlari menelusuri lereng gunung tersenyum sendiri. "Dasar manusia tolol. Dia boleh saja memiliki kesaktian tinggi dan juga penglihatan yang jeli. Tapi apa gunanya jika pedang Pembantai Iblis yang konon ikut disembunyikan bersama harta kekayaan itu tidak ditemukannya. Padahal Pedang itu sangat penting. Konon siapapun yang memiliki senjata sakti mandraguna ini bisa dipastikan dapat menguasai hampir seluruh bagian dunia. Hik... hik... hik! Tak ada orang lain yang pantas memiliki senjata maut itu terkecuali diriku!" kata si cantik. Beberapa saat kemudian Arwah Darah Senggini hentikan langkah. Dia menarik nafas pendek, sedangkan kedua matanya yang nyaris tenggelam ke dalam rongganya berputar liar merayapi bagian lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan berdaun lebat. "Siapapun pendahulu Raden Ponco Sugiri yang kaya itu, dia pasti seorang manusia yang amat cerdik. Tempat ini terlindung dari penglihatan orang. Sekarang aku berada di sebelah barat lereng gunung, hanya tinggal mencari di mana letak gua itu!" pikir si cantik. Setelah itu dia menelusuri lereng gunung yang dipenuhi pepohonan besar dan semak belukar.

"Aku tidak menemukan gua itu. Hem, mungkinkah dia membohongi akui" pikir Arwah Darah Senggini mulai diliputi rasa gelisah dan hati bimbang. Karena penasaran si cantik kemudian mulai mengobrak-abrik seluruh tempat itu. Di lain kejap si cantik menyeringai. "Aku telah menemukannya. Ternyata dia tidak berdusta!" serunya begitu melihat sebuah gua kecil yang terlindung ranting dan daun-daun lebat berada tepat di depannya. Sekali berkelebat si cantik telah sampai di depan mulut gua. Bagian dalam gua ternyata dalam keadaan gelap gulita. Arwah Darah Senggini gosok-gosokkan kedua tangannya. Setelah itu dia mengalirkan tenaga dalam ke bagian tangan itu.

Sret! Pyaar!

Dari telapak tangan si cantik sampai ke bagian siku tiba-tiba saja memancar cahaya putih berkilauan. Sehingga suasana ruangan dalam gua yang gelap gulita jadi terang benderang. Tapi seiring dengan cahaya yang menerangi si cantik mendadak jadi kaget, wajahnya berubah pucat begitu melihat kenyataan yang ada ternyata tidak sesuai dengan apa yang diangankannya! Di bagian lantai gua yang luar bukan terdapat emas atau permata sebagaimana yang dikatakan oleh suara tadi, melainkan tumpukan tulang belulang manusia.

"Jahanam celaka! Aku telah ditipunya! Suara keparat itu!" teriak Arwah Darah Senggini. Mata si cantik berkilat tajam, kedua tangan terkepal, geraham bergemeletukan menahan amarah. Dengan langkah gemetar dan nafas terasa menyesak dia segera melakukan pemeriksaan di bagian dalam gua. Karena bagian dalam gua semakin bertambah gelap, maka Arwah Darah Senggini terpaksa lipat gandakan tenaga dalamnya. Sampai di salah satu sudut gua langkahnya terhenti. Dia melihat ada sebuah pintu batu di sudut gua ini. Setelah memperhatikan pintu tersebut agak lama, perlahan kemarahan di hatinya berangsur surut. Timbul sedikit harapan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Sehingga tanpa pikir panjang lagi dia pun langsung mendorong pintu batu itu.

Dengan kedua tangan yang meman- carkan cahaya pintu didorongnya. Tapi sedikitpun pintu batu tidak bergeming apalagi terbuka. Melihat kenyataan ini semakin bertambah besarlah harapan Arwah Darah Senggini. "Aku hampir merasa pasti dibalik pintu ini pasti tersimpan harta itu. Hanya kurasa orang yang tidak berani unjukkan diri tadi telah menutupnya kembali atau sengaja mengunci alat yang ditemukannya." kata orang tua itu. Dia lalu mencari batu tombol pembuka pintu batu di sekitar dinding. Karena tidak ditemukan alat itu, si cantik lalu memeriksa bagian lantai gua. Di bagian ini dia menemukan satu lubang berbentuk empat persegi seukuran telapak tangan. Di bagian lubang dia melihat sebuah rantai baja yang di bagian ujungnya terdapat bandul batu panjang. Batu itu agaknya sebagai alat untuk menggerakkan rantai yang berhubungan langsung dengan pintu batu. Akan tetapi sekali lagi si cantik harus menelan rasa kecewanya karena batu penggerak rantai ternyata sengaja dihancurkan oleh seseorang.

"Jahanam! Sungguh licik dia! Dia hancurkan batu ini agar orang lain tidak bisa mengambil harta ataupun pedang Pembantai Iblis. Awas! Kematian telah kutetapkan bagimu. Kau tak akan lolos dari tanganku!" geram Arwah Darah Senggini dengan wajah merah padam. Sekali lagi dia pandangi pintu batu. Setelah itu dia bangkit berdiri, mulutnya yang selalu berkomat-kamit seperti seorang dukun menggereng. "Tak ada jalan lain. Akan kuhancurkan saja pintu ini!" Selesai berkata Arwah Darah Senggini rentangkan kedua kaki sambil melangkah mundur mengambil jarak. Tidak terpikirkan lagi olehnya bagaimana seandainya langit- langit gua mendadak runtuh begitu dia melepaskan pukulan. Dia bisa terkubur hidup-hidup di tempat itu.

Dua tangan lalu dikibaskan, sinar putih yang memancar dari kedua tangannya mendadak padam hingga membuat gua menjadi gelap pekat kembali. Beberapa saat kemudian kedua tangan segera dialiri tenaga dalam, mulut berkemak-kemik sedangkan tubuh si cantik nampak menggeletar pertanda dia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki.

Dalam waktu sekejap dari telapak tangan Arwah Darah Senggini memancar cahaya biru terang. Ini merupakan salah satu pukulan andalan yang dimiliki si cantik. Jangankan manusia atau batu, besi sekalipun akan hancur leleh bila terkena pukulan maut itu. Beberapa saat berlalu, detik berikutnya si cantik hantamkan kedua tangannya ke arah pintu batu.

Wuuus!

Angin menderu, hawa panas membakar menyertai berkelebatnya sinar biru menyilaukan mata. Suasana di dalam gua mendadak sontak berubah panas mengerikan laksana berada di neraka. Bummmm! Terjadi ledakan dua kali berturut-turut. Dinding dan langit-langit gua terguncang hebat, pintu batu jebol, hancur berkeping-keping dikobar api. Si cantik kembali kibaskan tangannya. Mendadak kedua tangan kembali berkilauan memancarkan cahaya putih menyilaukan mata. Setelah tangan yang bercahaya menerangi ruangan itu si cantik julurkan kepala melihat ke balik pintu yang hancur berkeping-keping. Di balik pintu dia tak melihat apa-apa terkecuali kegelapan semata karena pancaran cahaya dari tangannya tak sanggup menembus kepekatan di balik pintu batu. Tapi sebelum si cantik mengambil keputusan untuk meneliti ke dalam, pada saat itu pula terdengar suara berdengung disertai suara bergemuruh aneh.

Dengan mata melotot si cantik memandang ke arah kegelapan di balik pintu. Dalam hati dia berkata. "Aku, aku mendengar suara seperti lebah pindah sarang. Jangan-jangan...!" Arwah Darah Senggini mendadak diliputi kebimbangan. Kebimbangan si cantik belum lagi lenyap ketika suara dengung yang tadinya cukup jauh kini terasa lebih dekat. Hanya sekejap kemudian dari balik kegelapan bermunculan ratusan lebah penyengat sebesar ibu jari tangan menyerang Arwah Darah Senggini.

"Akh... jahanam keparat! Bangsat itu telah menipuku! Akh... lebah celaka." Aku harus menyingkir dari gua celaka ini secepatnya!" teriak si cantik kaget juga panik. Tapi dalam kagetnya ini si cantik tidak kehilangan kewaspadaannya. Sebelum dia berlari menghambur keluar di mulut gua dia memutar kedua tangannya. Angin menderu membentuk perisai diri. Ratusan lebah yang menyerang si cantik jatuh terpelanting. Sebagian di antaranya ber- kaparan tewas, sedangkan sisanya yang selamat kembali menyerang dengan kecepatan berlipat ganda.

"Binatang keparat!" maki si cantik. Dia nampak kalang kabut dan kerepotan sekali. Tanpa pikir panjang dia lepaskan pukulan berturut-turut ke delapan penjuru arah. Sambil melepaskan pukulan si cantik itu berkelebat keluar, lari terbirit- birit selamatkan diri.

Di belakang si cantik terdengar suara ledakan keras menggelegar disertai suara bergemuruh runtuhnya gua itu. Debu, batu dan pasir beterbangan di udara. Sebagian besar lebah itu terpanggang di dalam gua yang runtuh sedangkan sisanya berputar-putar di atas reruntuhan gua.

Setelah berada di tempat yang aman Arwah Darah Senggini hentikan larinya. Nafas si cantik mendengus-dengus seperti seekor kuda kurus yang baru saja berlari menempuh jarak yang jauh. Wajah angkernya pucat pasi, sekujur tubuh basah bersimbah keringat.

"Suara itu sungguh tak kuduga berani menipuku. Aku Arwah Darah Senggini masih kena dikadalinya. Hemm... dia harus merasakan pembalasanku!" geram si cantik. Di tengah rasa kecewa dan amarah yang amat sangat dia teringat pada Siwarana. "Pemuda itu sebaiknya kubunuh saja, baru setelah itu kuambil kulitnya!" gumam Arwah Darah Senggini sambil menyeka dagunya yang meneteskan keringat. Kemudian tanpa menunggu lebih lama dia segera tinggalkan tempat itu, kembali ke sebelah selatan bukit.

5

Setelah tidak menemukan saudara tua di tempat kediaman yang terletak di daerah Wonogiri, Aripraba yaitu putera kedua Raden Ponco Sugiri almarhum tanpa tujuan menuju ke arah selatan. Di satu dusun sepi bernama Munjul Dadane dia singgah sejenak untuk melepas lelah sekalian menyerap kabar tentang sanak keluarganya yang tercerai-berai tak karuan rimbanya. Walaupun kejayaan keluarga Raden Ponco Sugiri sudah redup kehilangan pamornya. Namun cukup banyak juga orang tua atau sesepuh dusun itu yang masih mengenal Aripraba. Apalagi mengingat semasa kecil dulu pemuda berpakaian serba hitam ini memang sering bermain ke dusun itu.

Di antara sekian banyak orang yang menyambut kehadiran Aripraba adalah salah seorang laki-laki tua yang biasa dipanggil dengan Akik Sarawana. Orang tua berwajah tirus berambut putih dan memelihara jenggot panjang ini kelihatan masih seperti dulu. Walau sudah sangat tua namun tubuhnya masih kekar dan sehat, sedangkan tatap mata si kakek mencorong tajam berwibawa. Ketika melihat kemunculan Aripraba, si kakek langsung menghampiri sambil berucap. "Gusti Allah Maha Besar. Baru saja tadi malam saya bermimpi Raden menemui saya. Tidak disangka hari ini mimpi itu menjadi kenyataan." ujar Akik sambil merangkul Aripraba yang semasa kecil dulu sudah menganggap Akik Sarawana sebagai kakek sendiri.

Aripraba balas memeluk laki-laki itu. Beberapa saat kemudian dia melepaskan pelukannya sambil berkata. "Akik, jangan lagi engkau memanggilku Raden. Rasanya aku sudah tidak pantas lagi menyandang gelar bangsawan seperti itu. Aku sekarang adalah seorang pengembara. Di sini aku hanya singgah sebentar saja, aku butuh beberapa keterangan. Siapa tahu Akik dapat membantuku!"

Akik Sawarana tersenyum memper- lihatkan giginya yang ompong di sana- sini. Dia pandangi pemuda gondrong sejenak lamanya. Walaupun Aripraba tidak mengatakannya. Namun si Akik agaknya tahu bahwa ketika itu sangat banyak beban persoalan yang menghimpit pikiran Aripraba. Masih dengan suara lembut seperti dulu sang Akik berkata. "Den, sebaiknya mampirlah dulu ke rumah saya sebentar saja. Di sana Raden bisa melepas lelah, saya akan menyuruh nini Sukoweni istri saya membuat kopi gula batu kesukaan Raden!" ajak Akik Sarawana agak memaksa. Dia bahkan menarik tangan kiri Aripraba sehingga membuat pemuda itu tak berani menolak keinginan si kakek yang sudah dianggapnya keluarga sendiri.

Sepanjang jalan menuju ke rumah Akik Sarawana yang cukup jauh itu si orang tua banyak cerita tentang per- kembangan dusunnya.

"Keadaan tidak seperti dulu lagi, den. Daerah ini adalah dusun tandus. Musim hujan sulit diharapkan kedatangan- nya. Bencana kelaparan sudah sering terjadi. Dulu segalanya masih lebih gampang ketika Raden tinggal di Wonogiri. Raden dan keluarga Raden sering membantu kami para warga dusun. Tapi sekarang semua itu hanya tinggal kenangan yang indah. Oh iya, mengenai saudara tua Raden, ee... siapa namanya?" tanya Akik Sarawana yang lupa mengingat nama orang.

"Danang Pattira?!" ujar Aripraba.

Akik Sarawana manggut-manggut, tapi wajahnya terlihat murung.

"Akik, jika kau memang melihat saudara tuaku itu harap, Akik mau memberitahu di mana dia berada! Terus terang saat ini aku memang sedang mencarinya!" ujar Aripraba sambil memper- hatikan wajah si Akik tua yang entah mengapa mendadak saja berubah murung.

Di sampingnya Akik Sarawana menarik nafas pendek, dia gelengkan kepala sebelum pada akhirnya membuka mulut berucap. "Baru saja tadi pagi saya melihat Raden Danang Pattira muncul di dusun ini Raden. Saya yang saat itu baru hendak pergi ke sawah menegurnya, tapi aneh dia bersikap seakan tidak mengenali diri saya. Saya melihat ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi dalam diri Raden Danang...." kata Akik Sarawana agak hati-hati.

Mendadak langkah Aripraba terhenti, tangan kanannya bergerak ke samping menahan dada si Akik hingga langkah orang tua ini jadi tertahan. "Kau mengatakan telah terjadi ketidakberesan dalam diri kakakku? Tidak beres bagaimana, Akik?" desis si pemuda.

"Sulit saya menjelaskannya Raden. Saya melihat tatap matanya yang dingin menerawang kosong. Mungkin.. mungkin...!" Tak sanggup kakek itu menjelaskan segala yang dilihatnya. Dia mengusap tengkuknya yang mendadak berubah dingin.

"Akik, aku percaya padamu. Harap kau jangan membuat pusing kepalaku!" tegas Aripraba.

Yang ditegur menoleh ke kanan dan kiri jalan. Seakan dia ingin memastikan kalau di tempat itu tak ada orang lain terkecuali mereka berdua. Setelah merasa dalam keadaan aman dia berkata dengan suara perlahan sekali. "Mungkin, mungkin... Raden Danang telah dimasuki kekuatan iblis. Karena setelah berpapasan dengan saya dia membantai beberapa laki- laki yang dijumpainya."

"Hah?!" Aripraba jadi tercekat. "Bagaimana mungkin saudaraku yang berhati lembut dan suka akan syair bisa berubah sekejam itu?" pikir si pemuda.

"Raden, sebaiknya cepat ikuti saya. Segala sesuatunya akan menjadi enak bila kita bicarakan di rumah saya," ujar si Akik. Aripraba anggukkan kepala. Dia kemudian segera mengikuti orang tua itu yang sudah melangkah mendahuluinya. Tak berselang lama mereka telah sampai di depan sebuah rumah berpagar bambu beratap ilalang. Bagian pintu depan rumah dalam keadaan tertutup. Saat itu suasana  terasa demikian sepi hingga mengundang rasa curiga bagi si kakek tua. "Aneh, ke   mana  perginya   nini Sukoweni.   Jika dia  pergi  ke  rumah tetangga tentu pintu tidak dibiarkan terbuka begini rupa. Sungguh teledor sekali dia. Bagaimana kalau ada pencuri masuk ke dalam sana?" Akik Sarawana mengomel   sendiri.  Kakek  ini   lalu memanggil istrinya. Sekali sampai dua kali tetap tak ada jawaban. Si Akik geleng kepala. "Dasar perempuan, kalau sudah tua gampang lupa dan semakin

pikun."

"Sebaiknya kita lihat saja ke dalam, Akik." usul Aripraba yang entah mengapa mendadak perasaannya jadi tidak enak.

"Baiklah." Akik Sarawana menye- tujui. Baru saja si Akik hendak melang- kahkan kaki dengan diikuti Aripraba. Tanpa terduga dari dalam ruangan tamu melesat satu sosok tubuh ke arah mereka. Menyangka sosok yang melesat dari bagian pintu itu adalah orang yang hendak menyerang mereka, maka Aripraba pun siap melepaskan pukulan untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini. Gerakan tangan yang hendak menghantam ke depan mendadak batal begitu melihat sosok yang melesat tadi menukik ke bawah dan jatuh bergedebukan sejarak setengah tombak di depan Akik Sarawana.

Dalam kagetnya si Akik melompat mundur sejauh satu langkah. Matanya dipentang memandang dengan teliti ke arah orang yang baru saja terbanting di depannya. Begitu mengenali siapa adanya orang yang terkapar di tanah dengan leher putus dan dada berlubang itu maka menje- ritlah laki-laki tua ini.

"Nini... Nini Sukoweni istriku ben- cana apa yang telah terjadi pada dirimu?" pekik Akik Sarawana. Dengan tubuh gemetar dan muka pucat orang tua ini menghambur dan jatuh akan diri di samping sosok istrinya yang telah berubah menjadi mayat dengan luka mengerikan. Dia menangis sesunggukan sambil memeluki jasad nenek tua yang berlumur darah.

Aripraba sendiri tidak tega menyak- sikan kesedihan si Akik. Dia cepat palingkan wajahnya memandang tajam ke arah pintu di mana jasad Nini Sukoweni berasal.

"Siapa orangnya yang begitu tega membunuh nini secara keji begini?" membatin pemuda itu dalam hati. Pemuda ini lalu berteriak. "Siapapun orangnya yang bersembunyi di dalam sana sebaiknya cepat keluar!" seru Aripraba dengan suara lantang. Beberapa saat si pemuda menunggu. Ternyata tidak ada jawaban dan tidak ada pula orang yang keluar. Sekali lagi dia berseru. "Dajal keparat yang berada di dalam rumah, kau tak berani unjukkan diri. Apakah perlu kau kuseret dari dalam situ?!"

Mendadak terdengar suara mendengus panjang disertai suara racau tak jelas seperti suara orang sinting yang sedang angot kambuh penyakitnya. Setelah itu suara racau hilang berganti dengan suara tawa. Bersamaan dengan terdengarnya suara tawa itu satu bayangan serba putih berkelebat, keluar melewati pintu yang terkuak lebar. Hanya sekejapan saja di depan Aripraba dan Akik Sarawana yang sedang menangis sambil memangku jenazah istrinya berdiri tegap seorang pemuda tampan berambut gondrong. Melihat siapa adanya pemuda ini Aripraba jadi melengak kaget. Akik Sarawana bahkan hentikan tangisnya, lalu melompat menjauhi mayat nini Sukoweni. Dengan mata merah bersimbah air mata dan bibir gemetar dia berseru. "Raden inikah orangnya yang telah membunuh istri saya?"

"Kau benar Akik. Seperti katamu mata kakang Danang Pattira menerawang kosong. Ada yang tidak beres telah terjadi pada dirinya." sahut si pemuda dengan suara lirih. Sekejap dia pandangi pemuda itu, sementara di depannya sana Danang Pattira juga memandang tajam ke arahnya disertai seringai aneh, dingin menggidikkan. "Kau... bukankah kau kakang Danang Pattira?" tanya si pemuda.

Di depannya sana Danang Pattira. tidak menyahut. Hanya tatap matanya saja yang memandang kosong silih berganti ke arah Aripraba dan Akik Sarawana.

6

"Kakang... kakang Danang Pattira. Mengapa kau bunuh orang tua yang tidak punya salah dan dosa ini?!" teriak Aripraba mengulang ucapannya tadi.

Untuk pertama kalinya si pemuda berpakaian putih membuka mulut. "Kau siapakah, rupa dan suaramu seperti aku kenal?"

Mendengar ucapan Danang Pattira, Aripraba melengak kaget. Walaupun mereka terpisah cukup lama setelah badai topan melanda Wonogiri dan memporak-porandakan daerah mereka. Namun sejak kecil dulu mereka pernah bersama-sama. Bagaimana Danang Pattira bisa melupakan saudaranya sendiri?

"Kakang aku adalah adikmu, kau lupa? Apa sebenarnya yang telah terjadi pada dirimu?" tanya Aripraba.

Danang Pattira seakan berusaha mengingat, tapi kemudian dia gelengkan kepala berulang kali seakan ada sesuatu yang mempengaruhi jiwa dan jalan pikirannya. "Tidak. Tidaaaaak...!"

Danang Pattira menjerit histeris. Bersamaan dengan jeritannya itu rambut panjang di kepalanya berjingkrak tegak. Wajah si pemuda berubah tegang, sedangkan tatap matanya yang semula hanya memandang kosong kini berputar liar memandang ke arah Aripraba. Bersamaan dengan itu pula Danang Pattira dongakkan wajah, lalu tertawa dingin menyeramkan. Si Akik terkesiap, Aripraba masih dapat bersikap tenang walau saat itu dia merasakan adanya bau bangkai yang begitu tajam menusuk.

"Kau Aripraba, ha... ha... ha! Kau pasti adikku. Susah payah aku mencarimu setelah lelah mencari ternyata kau datang sendiri!" kata si pemuda dingin.

"Akik, larilah. Selamatkan dirimu! Kurasa dia telah kehilangan kewarasan!" ujar Aripraba berbisik.

"Raden, saya tidak mungkin meninggalkan Raden di sini. Dia telah membunuh istri saya. Saya merasa kehilangan, tapi hidup saya menjadi lebih tidak berarti jika saya harus kehilangan Raden!" ujar si kakek. Aripraba sadar betul orang tua ini memang memiliki ilmu silat juga beberapa jenis pukulan sakti. Tapi rasanya percuma saja si Akik membantunya karena di balik semua ini Danang Pattira mungkin telah diperalat oleh seseorang.

"Kakang, apakah kau tahu, apa kau ingat siapa yang berdiri di hadapanmu ini?" tanya Aripraba sekedar ingin meyakinkan apakah pemuda di depannya masih kenal dengan dirinya atau tidak.

Danang Pattira tersenyum sinis. "Aku belum gila untuk tidak mengenal dirimu. Kau Aripraba, putra manusia culas Raden Ponco Sugiri. Kau salah satu dari tiga manusia yang harus kusingkirkan." tegas si pemuda.

Kejut hati Aripraba bukan kepalang. Dia tak menyangka telah berubah seperti itu. Siapa yang telah merubah jalan pikirannya? Bahkan pada ayahnya sendiri dia bersikap seolah tak mengenal?

"Kakang, aku adikmu?" seru si pemuda.

"Adik, ha... ha... ha. Adik...!" "Raden, Raden Danang nampaknya

memang telah terganggu pikirannya. Seperti yang dia katakan, Raden hendak disingkirkannya. Sebaiknya Raden cepat tinggalkan tempat ini. Biarkan saya yang akan menghadapinya," ujar Akik Sarawana mencoba mengingatkan. Tapi dengan tegas pemuda itu gelengkan kepala.

"Jika dia sudah lupa pada dirinya sendiri. Jika dia telah dijadikan budak oleh seseorang, berarti orang itu telah membekalinya dengan kesaktian hebat. Dia bukan lawanmu...!"

"Tapi, Raden...!" ucapan Akik Sarawana terputus karena pada detik itu juga Danang Pattira dengan gerakan kaku seperti mayat hidup telah menggerakkan lima jarinya tertuju lurus ke arah Akik Sarawana. Lima larik sinar hitam kebiruan membersit disertai dengan bertaburnya hawa dingin memenuhi udara di sekitarnya. "Awas!" teriak Aripraba  sambil mendorong tubuh si orang tua. AKik Sarawana jatuh terbanting akibat dorongan yang sangat keras. Tapi dia selamat dari serangan ganas lawannya. Lima sinar maut menghantam pohon mangga yang tumbuh di halaman rumah si kakek. Terdengar suara desis aneh bagaikan senjata panas membara yang ditancapkan ke batang pisang. Pohon mengeluarkan suara berderak, lalu roboh

disertai dengan suara menggemuruh.

"Raden terima kasih. Biar dia aku yang membereskannya!" berkata begitu si kakek yang sudah berdiri dan alirkan tenaga dalam penuh ke tangan kanan langsung melompat. Sambil melompat dia hantamkan tangan kanannya ke bagian wajah Danang Pattira, sedangkan tangan kiri mencari sasaran di bagian dada. Hantaman yang mengandung tenaga dalam penuh itu menimbulkan sambaran angin dahsyat yang langsung menerpa wajah si pemuda. Anehnya meskipun dirinya mendapat serangan seperti itu, lawan malah menyeringai. Sambil menyeringai dia miringkan wajahnya ke kiri.

Wuuut!

Serangan si kakek luput, tapi hantaman tangan kirinya tepat mengenai sasaran. Terdengar suara bergedebukan disertai jeritan keras. Satu sosok tubuh terpental ke belakang. Ternyata yang menjerit dan jatuh bukan lawannya, melainkan Akik Sarawana sendiri.

Kembali si orang tua dilanda rasa kaget luar biasa. Betapa tidak, dia merasa tidak ubahnya seperti memukul tembok baja. Bahkan tangan kirinya yang menghantam dada lawan terasa panas, bengkak membiru menimbulkan rasa sakit yang sangat luar biasa di bagian dalam.

"Kurang ajar, dia ternyata memiliki kekebalan!" desis Aripraba yang juga dibuat kaget melihat kenyataan yang terjadi.

"Aku harus membunuhnya... harus..!" teriak Akik Sarawana penasaran. Kini ketika dia bangkit kembali di tangannya telah tergenggam sebilah badik berwarna hitam. Senjata ini dikenal sangat berbahaya di samping mengandung racun ganas.

"Badik Perontok Jiwa?! Ha... ha... ha. Seribu jenis senjata hebat telah kuhapal namanya di luar kepala. Konon menurut orang yang memberi perintah hanya Pedang Pembantai Iblis saja yang wajib kutakuti. Sekarang kau hanya tinggal memilih bagian mana yang hendak kau tusuk!" dengus Danang Pattira. Tangan kiri pemuda itu bergerak ke arah dada.

Bret! Breet!

Terdengar suara pakaian robek, ternyata lawan merobek pakaiannya sendiri. Sehingga bagian dadanya ter- singkap lebar. Apa yang dilakukan Danang Pattira itu terkesan seperti menyerahkan dada maupun perutnya untuk ditusuk. Diam- diam Akik Sarawana kerahkan tenaga dalamnya ke bagian hulu Badik Perontok Jiwa. Sinar hitam bergemerlapan memancar dari badan badik di tangan si Akik.

Tak jauh di belakang orang tua itu, Aripraba meraba tengkuknya mendadak jadi dingin. Dia sadar senjata di tangan Akik Sarawana bukan senjata sembarangan. Bagaimana mungkin lawannya bersikap seolah senjata di tangan lawan tidak memiliki arti apa-apa, namun Akik Sarawana sendiri tidak menghiraukan semua itu. Dendamnya terhadap Danang Pattira yang telah membunuh istrinya membuat si Akik jadi gelap mata dan begitu mendendam pada lawannya. Hingga kini tanpa membuang waktu lagi si kakek segera melesat ke depan. Senjata di tangan menderu disertai berkelebatnya sinar hitam menggidikkan. Melihat serangan senjata yang membabat ke bagian dada yang dilanjutkan dengan satu tusukan di bagian leher, lawan sama sekali tidak berusaha menghindar. Tak ampun lagi dengan tepat serangan senjata mengenai sasarannya.

Craak! Dheel!

Tusukan dan babatan badik di bagian dada Danang Pattira sama sekali tidak menimbulkan akibat apapun. Malah si Akik terdorong mundur, tangannya yang memegang hulu badik panas melepuh laksana terbakar. Hawa panas langsung menjalar di bagian dada. Akik Sarawana meringis kesakitan. Wajahnya pucat, sedangkan langkahnya nampak limbung.

Aripraba sendiri demi melihat kenyataan itu jadi tercengang. Belum lagi hilang rasa kejut di hatinya. Danang Pattira lakukan satu lompatan ke depan. Si pemuda yang belum sempat hilang rasa kejutnya tak sempat berseru apalagi berteriak memberi peringatan. Akik Sarawana yang saat itu tengah memandangi ujung badiknya yang bengkok memang masih berusaha menghindar dengan membantingkan tubuhnya ke kiri. Sayang apa yang dilakukannya itu masih kalah cepat dengan gerakan. Tahu-tahu rambutnya kena dijambak oleh lawan. Begitu tangan kanan menjambak, maka tangan kiri menghantam bagian belakang kepala. Sadar dirinya terancam bahaya besar, Akik Sarawana babatkan senjata ke samping tepat di bagian kaki lawan. Sekali lagi gerakan senjatanya kalah cepat dengan gerakan tangan lawan.

Praaak!

Tak ampun lagi kepala si kakek pun berderak hancur begitu terhantam pukulan lawannya. Darah dan otak bermuncratan membasahi halaman rumah.

"Akik...!" satu suara berseru, satu bayangan berkelebat "Jahanam keji. Aku tak akan mengampuni jiwamu!" bersamaan dengan itu pula Aripraba yang sudah melesat di udara langsung menghantam dengan pukulan Kilatan Cahaya. Sinar putih laksana kilat yang membelah kegelapan malam melesat laksana dua bilah mata pedang disertai hawa panas membakar. Melihat dua sinar pipih menderu ke arahnya,  seperti  tadi  sikap  Danang Pattira terkesan meremehkan. Tapi begitu sinar maut itu melabrak tubuhnya disertai suara ledakan berdentum. Maka tak ampun lagi pemuda itu pun terpental hingga sejauh dua tombak. Ledakan yang terjadi menimbulkan kobaran api yang langsung membakar sekujur tubuh lawannya. Tapi sungguh aneh, sedikit pun lawan tidak mengeluh apalagi menjerit. Bahkan dengan kedua tangannya dia memadamkan api yang mengobari pakaiannya. Begitu api padam kulit tubuh si pemuda nampak hangus gosong, pakaian hancur sehingga tubuhnya nyaris telanjang.

"Jahanam keparat! Dia bukan saja tak mempan senjata, tapi juga tak mempan pukulan sakti. Kulit tubuhnya hangus gosong, bagaimana dia masih dapat bertahan hidup!" rutuk Aripraba.

"Masih adakah pukulanmu yang lain manusia calon bangkai?" tanya lawan sambil berkacak pinggang.

Aripraba pandangi sosok gosong di depannya dengan mata menyorot tajam diwarnai rasa tidak percaya. Tapi dia sudah tidak sempat lagi berpikir lebih lama mencari jalan keluar. Menghadapi lawan seperti itu jika dia tidak mengambil tindakan secepatnya bukan mustahil dia akan terbunuh!

Karena itu dengan cepat dia mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya. Pedang lalu diputar sebat dengan menggunakan jurus-jurus yang paling hebat. Menghadapi serangan pedang yang bertubi-tubi yang diselingi dengan pukulan menggeledek ini, dengan gerakan kaku Danang Pattira mencoba menghindarinya. Tapi tak urung beberapa kali mata pedang menghantam kepala maupun bagian tubuh lainnya. Seperti tadi hantaman pedang dan pukulan yang dilakukan Aripraba sama sekali tak mampu menciderai lawannya. Malah pedang itu rompal di beberapa bagian. Tidak ada jalan lain lagi bagi pemuda ini. Laksana kilat dia memutar tubuhnya, begitu berputar tubuhnya terangkat naik, membubung tinggi ke udara. Setelah sampai pada ketinggian tertentu dia menggerakkan kepala dan sebagian badannya. Jika tadi posisi kepalanya berada di atas, kini berbalik menghadap ke bawah. Setelah itu dengan tinju terkepal dia menghantam kepala Danang Pattira. Pemuda yang mendapat serangan ganas ini malah tertawa ganda. Dengan tangan kiri dia lindungi kepalanya. Sedangkan tangan kanan langsung dipukulkan ke atas.

Wuut!

Angin dingin membersit menyambut serangan tinju Aripraba. Melihat ada hawa aneh menyambar wajahnya, si pemuda sambil memaki terpaksa batalkan serangan dan kini berjumpalitan menjauhi pukulan. Serangan Danang Pattira luput mengenai udara kosong. Akan tetapi dengan tidak terduga mendadak lawan hentakkan kakinya. Tubuh pemuda itu melesat ke udara, kembali tangan dipukulkan. Wuuus! Buuuk!

Dalam keadaan seperti itu tentu sangat sulit bagi Aripraba untuk menghindari serangan kakaknya. Tak ampun hantaman keras yang dilakukan Danang Pattira menghantam dadanya. Aripraba menjerit keras, dia jatuh terbanting dengan kepala lebih dulu menghantam tanah. Walau kepala tidak pecah dan leher tidak sampai patah, namun Aripraba merasa pandangannya jadi gelap. Di saat dirinya dalam keadaan seperti itu lawan yang baru saja jejakkan kaki langsung menghantam kepalanya dengan tangan kanan.

Praak!

Aripraba menjerit keras begitu kepalanya berderak. Dia terhempas dengan mata melotot. Dari hidung, mata dan mulut pemuda ini menyemburkan darah. Melihat lawannya terkapar dan tidak bergerak- gerak lagi Danang Pattira seakan baru tersadar dengan apa yang telah dilakukannya sendiri.

"Pembunuh... aku telah membunuh saudaraku sendiri...?!" pekik si pemuda sambil pandangi kedua tangannya yang berlumuran darah lawan. "Bagaimana aku bisa melakukannya? Oh, tidak-tidak...!" desis pemuda itu sambil menekap wajahnya dengan kedua tangan. Seperti orang kehilangan kewarasan dia menangis sambil menjambak rambutnya sendiri. Di saat dirinya dalam keadaan begitu rupa, mendadak di telinganya kiri kanan terdengar suara halus, sayup-sayup seperti suara ngiang nyamuk.

"Danang Pattira. Dia bukan adikmu, dia adalah lawan yang harus kau singkirkan. Dia sainganmu, dia musuhmu. Jika kau masih inginkan harta itu, andai kau masih menginginkan Ambini. Gadis cantik yang kau cintai secara diam-diam. Lakukanlah apa yang aku perintahkan!" kata suara itu sayup-sayup namun sangat berpengaruh bagi pemuda ini. Mendadak seakan ada satu kekuatan yang muncul dalam dirinya si pemuda dongakkan wajah sedangkan sepasang mata memandang berkeliling.

Mulutnya membuka, satu pertanyaan terlontar. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Ha... ha... ha. Cepat kau pergi ke gunung Liman, di sana segala sesuatunya menunggu! Ingat harta dan gadis itu!!"

Suara ngiang di telinga Danang Pattira lenyap. Kemudian tanpa menghi- raukan mayat adiknya dan juga Akik Sawarana dia tinggalkan tempat itu. 7

Di samping bangunan rumah yang hangus terbakar, laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun itu menangis terguguk. Dengan mata memerah bersimbah air mata dia pandangi kobaran api yang nyaris padam. Sebentar dia teliti kedua tangannya yang berwarna hitam seperti arang dengan tatap penuh rasa benci. Mulut si orang tua berkomat-kamit, hidung kembang kempis menahan kepedihan yang menghimpit dadanya. Ternyata dia tak kuasa menahan air mata yang bercucuran tiada henti.

"Huk... huk... huk. Sial... kedua tangan ini memang selalu membawa kesialan sejak dulu. Tangan pembawa malapetaka!" rutuk laki-laki berpakaian merah ini sambil bantingkan kedua tangannya ke atas batu besar. Bantingan yang sangat keras bukan membuat kedua tangan si baju merah hancur, terluka atau remuk di bagian dalam, sebaliknya batu besar yang dijadikan tatakan malah hancur berkeping- keping.

"Sial! Tangan sial!" kembali si orang tua memaki. Sambil terus menangis dia bangkit berdiri, matanya jelalatan memandang ke setiap sudut. Akhirnya dia menyeringai begitu pandangannya membentur sebuah martil besar yang tergeletak di atas tanah. Dengan langkah lebar dia menghampiri benda itu, lalu memungutnya. Martil ditimang. Martil besi yang dipegang oleh si orang tua beratnya lebih dari sepuluh kati. Tapi di tangannya martil ini seakan cuma seberat satu kati. Sambil bersungut-sungut dia hampiri gundukan batu yang terletak tak jauh di depannya.

"Baiknya kuhancurkan saja tangan yang membawa kesialan ini!" geramnya. Dia meletakkan tangan kirinya di atas gundukan batu tadi, sedangkan martil besar digenggam di tangan kanan. Sambil melotot memandang dengan penuh rasa benci pada kedua tangannya sendiri si orang tua gerakkan tangan kanannya. Martil melesat menghantam tangan kiri.

Dweng! Tang! Dwieeng!

Terdengar suara berkerontangan. Tangan yang dipukul malah memijarkan bunga api. Tangan tidak hancur, tidak pula cidera berat sebagaimana yang diinginkannya. Malah dia tak merasakan sakit sedikit pun juga. Sebaliknya batu yang dijadikan tatakan melesak amblas ke dalam tanah. Orang tua ini pandangi tangannya dengan penuh rasa tak percaya.

"Keparat sial! Dasar tangan celaka!" Kembali dia memaki tangannya sendiri. Sejenak dia ter diam, berpikir sebentar. Setelah itu dia pindahkan martil besi ke tangan kiri. Kini tangan kanan diletakkan di atas gundukan batu. Setelah itu tenaga luar dalam dikerahkan, disalurkan ke tangan kiri yang memegang martil. Sekejap kemudian martil besi diangkat tinggi lalu diayunkan ke bawah.

Wuuut!

Martil berat melesat menghantam lima jari tangan, lengan hingga ke pangkal lengan.

Tang! Breng! Tang! Breng!

Bunga api kembali berpijar ketika martil menghantam tangan. Suara pukulan bertalu-talu. Karena disertai pengerahan tenaga dalam penuh maka terdengar suara berisik menyakitkan gendang telinga. Untuk kedua kalinya orang tua ini kembali dibuat kecewa berat. Mulutnya komat-kamit sebentar, lalu terdengar makian. "Sial. Sungguh sial!"

Dengan penuh kegusaran dia bantingkan martil raksasa itu ke atas tanah. Martil amblas, lenyap terpendam ke dalam tanah. Si orang tua gelengkan kepala. Ingat akan nasibnya dia kembali menangis terguguk-guguk.

"Hiiiiiiii... hidup gila tangan celaka. Tuhan... oh Tuhan di mana Kau? Mengapa Kau beri aku tangan seperti ini? Aku tak mau, aku tak bisa menerima. Dulu istriku mati gara-gara tersentuh tanganku. Bukan hanya itu saja. Bahkan hewan piaraan, pepohonan juga ikut mati akibat kupegang dengan tanganku yang penuh kesialan ini! Huk... huk... huk." kata si orang tua di sela-sela isak tangisnya yang memilukan.

Tak jauh dari tempat si orang tua yang selalu memaki tangannya dengan kata- kata 'sial' itu dua pasang mata yang mengintai sejak tadi mulai kasak-kusuk

"Siapa dia? Kedua tangannya sangat hebat. Dibanting ke atas batu tidak cidera. Dipukul dengan martil raksasa tidak pula hancur. Dengan ilmu kesaktian sehebat itu dia bisa berbuat apa saja!" kata salah seorang di antaranya yang berambut panjang berbaju putih dan berwajah cantik jelita. Kawannya yang berambut gondrong berwajah lugu namun tampan tersenyum sambil mengusap wajahnya.

"Kedua tangan itu hendak dihancur- kannya. Dia tak menyukai sepasang tangannya sendiri. Tangan sial, begitu dia menyebut tangannya berulangkali. Orang tua aneh, punya tangan hebat malah dikatai melulu. Tapi apa yang dikatakan- nya kurasa memang sangat cocok. Tangan hitam jelek begitu pantasnya dibuntungi saja setelah itu buang ke comberan. Ha... ha... ha!" Tak sadar kalau dirinya sedang mengintai si pemuda bertelanjang dada yang bukan lain Gento Guyon adanya tertawa tergelak-gelak.

"Hei, mulutmu!" sergah si gadis baju putih sambil menekap mulut si pemuda, tapi terlambat.  Orang  tua bertangan  hitam  dengan cepat sekali menoleh ke jurusan di mana mereka berada. "Siapa yang baru saja tertawa itu?

Setan...?!" seru si baju merah.

"Celaka! Gara-gara kau punya mulut tidak bisa kau jaga, akhirnya kita ketahuan juga!" rutuk si gadis yang tiada lain adalah Ambini.

"Tenang saja. Tawaku buka tawa yang kusengaja. Semua keluar begitu saja." sahut Gento. Setelah itu dia memandang ke arah si baju merah dari balik pohon di mana mereka bersembunyi. "Jangan memukul, jangan pula gusar. Kami memang setan laki-laki dan setan perempuan berambut hitam!"

"Sial! Setan rupanya." damprat si orang tua.

"Kau juga setan sialan. Memaki seenak sendiri!" dengus si pemuda.

Mendengar ucapan orang si baju merah jadi melengak tidak menyangka orang berani balas mendamprat.

"Setan apapun kalian sebaiknya cepat unjukkan diri. Aku tidak suka melihat orang yang bersikap pengecut!" seru orang tua itu.

"Kau yang meminta akupun unjukkan diri." berkata begitu Gento berkelebat keluar dari balik pohon. Hanya dalam waktu sekedipan mata dia telah berdiri tegak di hadapan si baju merah. Si orang tua terkesiap, tak menyangka orang dapat bergerak secepat itu. Beberapa saat lamanya baik Gento maupun laki-laki itu sama berpandangan dan sama pula meneliti. Jika di depannya sana orang memandang Gento dengan kepala termiring-miring sebaliknya Gento memandang orang itu dengan mata berkedip-kedip.

Di balik pohon Ambini tak mampu menahan geli. "Dasar pemuda sinting, bertemu dengan orang yang miring otaknya. Jadi begitu bertemu mereka sudah merasa cocok satu sama lain." gerutu si gadis.

Bosan memandangi si gondorng, orang tua itu membentak. "Siapa kau? Berani datang ke mari apakah sudah siap menjalankan perintahku?"

Di balik pohon Ambini bicara sendiri. "Benar dugaanku tadi. Orang tua itu memang telah kehilangan kewarasannya. Dasar pemuda geblek, penyakit dicari!"

Sementara itu Gento menyeringai begitu mendengar ucapan si orang tua. "Saudara bukan anak bukan enak saja kau main suruh orang. Memangnya kau ini siapa?" tanya Gento pula tanpa hiraukan pertanyaan orang tua itu. Si baju merah acungkan kedua tangannya yang hitam legam hingga ke bagian pangkal lengan. Melihat itu Gento jadi tak mampu menahan tawanya. "Ha... ha... ha! Tangan jelek begitu saja kau tunjukkan padaku. Kawanku yang tangannya mulus aja tak pernah

dipamerkan." kata si pemuda mengejek. "Kau tak tahu maksudku pemuda edan.

maksudku ini adalah kedua tanganku yang penuh kesialan. Aku tidak menyukai tangan ini, kau harus membuntunginya!" tegas si orang tua, lalu ulurkan tangannya ke arah Gento Guyon. Murid kakek Gentong Ketawa jadi melengak kaget, tapi hanya sekejap. Karena di lain saat dia sudah berkata. "Kampret sial. Kau hendak menyuruhku melakukan perbuatan dosa."

Dimaki seperti itu si orang tua belalakkan matanya. "Dosa katamu? Tangan yang aku menyuruhmu untuk membuntunginya adalah tanganku sendiri. Aku telah mencoba melakukannya sendiri tapi tidak sanggup." katanya putus asa.

Gento tersenyum mendengar ucapan si orang tua, namun wajahnya nampak serius sekali. "Kau hendak memotong kedua tanganmu. Memang kuakui yang hendak kau buntungi milikmu sendiri. Tapi apakah kau lupa bahwa apapun yang ada dalam diri setiap manusia adalah titipan Gusti Allah yang kelak pasti kita akan diminta pertanggungjawabannya. Kau buntungi tangan titipan Tuhan berarti kau telah berbuat dosa besar. Aku sendiri tak mau ikut menanggung dosanya." jelas Gento.

Mendengar ucapan si pemuda, orang tua itu terdiam putus asa. Keningnya berkerut tajam seolah sedang berpikir keras. Karena orang tua itu tak kunjung bicara maka Gento pun kembali berkata. "Orang tua siapa dirimu? Kulihat pepo- honan hangus, ternak mati dan rumah terbakar. Apa sebenarnya yang telah terjadi?" Ditanya begitu rupa orang tua itu kembali menangis terguguk. Gento jadi bingung dan merasa serba salah. "Eeh, apakah ada pertanyaanku yang menyakiti hatinya?" pikir Gento. Dia kemudian bersiul pendek. Satu bayangan putih ber- kelebat dari balik pohon. Di lain saat si cantik Ambini telah berdiri tegak di samping si pemuda. Melihat kehadiran gadis jelita itu agaknya si orang tua menjadi malu hati sehingga dia hentikan tangisnya dan cepat menyeka air mata yang bergulir membasahi pipinya.

"Apakah gadis ini temanmu? Cantik, mempesona, tidak membosankan untuk dipandang!" puji si orang tua.

"Dasar mata keranjang. Tadi yang kita bicarakan lain, sekarang lain lagi. Padahal kau belum mengatakan namamu dan apa yang menjadi masalahmu hingga membuat kau ingin membuntungi tangan sendiri?!" dengus si pemuda. Diingatkan begitu rupa membuatnya jadi tersipu malu.

"Aku... ah, aku lupa namaku. Sebaiknya kau panggil saja Tangan Sial karena kedua tanganku ini sejak dulu bahkan sejak aku masih kecil terlalu menanggung banyak kesialan." keluh si orang tua.

"Ha... ha... ha. Gelar itu kurasa cocok dengan keadaan dirimu. Tapi apa yang membuat dirimu begini berputus asa?" tanya si pemuda disertai tawa tergelak- gelak.

"Letih aku untuk mengatakannya." sahut Tangan Sial seakan bosan.

"Kalau begitu ya sudah." Gento lalu melirik ke arah Ambini. "Baiknya kita tinggalkan saja dia!"

"Eeh, tunggu. Baiklah aku akan mengatakannya pada kalian!" Tangan Sial terdiam sejenak, setelah itu baru kemudian berkata. "Kau tak tahu kedua tangan ini selalu menimbulkan malapetaka bila kupergunakan untuk memegang sesuatu. Istriku tewas gara-gara kupegang, harta benda hancur, tanaman juga layu, pohon atau apa saja pasti rusak bila tersentuh olehku. Padahal rumah itu terbakar ketika kupegang salah satu tiangnya!"

"Hah... mengerikan sekali!" pekik Ambini. Tanpa sadar si gadis bersurut langkah.

"Rasanya sungguh sulit kupercaya!" desis murid kakek Gentong Ketawa dengan mulut ternganga dan mata terpentang lebar.

"Memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi pada diriku. Aku tak bisa menyentuh apapun yang kuinginkan, ter- lebih-lebih di saat diriku sedang kesal apalagi marah." ujar Tangan Sial sedih.

Mendengar penjelasan Tangan Sial, Gento Guyon jadi ikut merasa prihatin.

"Sejak kapan kau mengalami musibah seperti ini, orang tua?" tanya si pemuda beberapa saat kemudian. Tangan Sial gelengkan kepala.

"Persisnya aku tak tahu, mungkin sejak aku masih kecil. Aku merasa hidupku tersiksa dalam kesengsaraan. Kau tentu dapat merasakan bagaimana tersiksanya hidup dalam keadaan seperti itu." jawab si orang tua dengan suara lirih. Baik Gento maupun Ambini sama terdiam mendengar ucapan Tangan Sial.

8

Hanya beberapa saat saja Gento bersikap seperti itu. Tidak lama setelah itu Gento membuka mulut berucap. "Orang tua Tangan Sial. Kurasa di balik musibah yang kau alami karena memiliki keanehan seperti itu, mungkin masih ada sisi baiknya. Kusarankan padamu jangan kau sakiti dirimu sendiri. Sebab jika kedua tangan telah kau buntungi. Katakanlah hal itu dapat kau lakukan. Lalu bagaimana kau harus hidup tanpa tangan? Kau tidak bisa makan, kau tidak bisa cebok. Kalau keadaanmu sudah begitu buat apa artinya hidup bagimu. Masih bagus sekarang ini, walaupun sial kau masih punya tangan. Mengapa kau tidak mensyukuri pemberian Gusti Allah? Menurutku lebih baik kau dalam keadaan seperti sekarang. Punya tangan biarpun tangan itu membawa kerugian bagimu. Daripada tanganmu dibuntungi, nanti orang menjulukimu Si Tangan Buntung. Apa kau tidak malu. Orang bisa saja mengejekmu. Buntung lewat... buntung lewat.... Ha... ha... ha!"

"Apa yang dikatakan kawanku ini benar, orang tua. Biarkan tanganmu tetap seperti itu," untuk pertama kalinya Ambini menimpali. Tangan Sial memandang ke arah gadis itu dengan tatapan tidak berkesip. Dia manggut-manggut, mungkin merasa apa yang dikatakan Ambini memang ada benarnya.

"Gadis baik. Kuterima saranmu. Mudah-mudahan setelah bertemu denganmu aku tidak menjadi manusia yang putus asa lagi," ujar si kakek.

"Bagus. Kepada Ambini kau berterima kasih, padaku yang memberi saran tidak. Tidak apa, yang penting kau mau menyadarinya." kata Gento sambil bersungut-sungut.

"Ha... ha... ha. Rupanya kau pemuda yang besar ambeknya. Kepadamu juga kuucapkan terima kasih. Oh ya... kalau aku boleh tahu kalian hendak ke mana?" tanya Tangan Sial. Kini wajah laki-laki itu telah berubah cerah seakan lupa pada persoalan berat yang beberapa waktu tadi sempat membuatnya merasa putus asa.

"Terus terang kami memang sedang dalam satu perjalanan." Ambini menyahuti. "Aku ingin mencari tahu siapa yang telah membunuh ayahku Raden Ponco Sugiri."

"Raden Ponco Sugiri!" Tangan Sial mengulang ucapan Ambini. Dia terdiam sejenak, berpikir. Sampai kemudian Tangan Sial melengak kaget. "Bukankah orang yang kau sebutkan itu dulunya adalah orang yang paling kaya di Wonogiri? Hartawan murah hati yang beberapa tahun belakangan mengasingkan diri di satu tempat rahasia?"

"Paman benar. Tapi ayahku sudah meninggal dibunuh orang."

"Hah, jadi Raden Ponco Sugiri itu ayahmu. Akh, tak pernah ku menyangka dia memiliki putri secantik dirimu. Lalu sekarang kau dan pemuda gondrong itu hendak pergi ke mana?" tanya Tangan Sial. Sebentar dia melirik ke arah Gento. Yang dilirik kedipkan matanya. Ambini terdiam, nampaknya dia ragu untuk mengatakan yang tujuan mereka. Dia lalu memandang pada pemuda di sampingnya seakan minta pendapat.

"Katakan saja tak usah ragu." ujar Gento seakan menyetujui. Setelah itu dia melanjutkan. "Dia tak mungkin berbuat macam-macam pada kita. Tangannya yang sial itu boleh tidak mempan senjata, tapi apa iya bagian tubuh yang lain tak bisa kita buat jadi cincang halus. Ha... ha... ha."

"Betul kata bocah itu, aku tak mungkin mematai apalagi sampai membunuh kalian."

"Terus terang kami akan pergi ke Gunung Liman. Mungkin dengan pergi ke sana kami bisa mendapat kejelasan." kata Ambini tanpa ragu-ragu.

"Hem begitu." gumam Tangan Sial sambil usap-usap jenggotnya. "Sebelum ke sana aku ingin menjelaskan sesuatu pada kalian berdua, mungkin ada gunanya." ujar laki-laki itu. Dia lalu pandangi Gento dan Ambini silih berganti.

"Apa yang hendak kau katakan, paman?" tanya Ambini gelisah.

"Kalau ada yang hendak kau sampaikan kami sudah siap mendengarnya paman Tangan Sial!" kata Gento pula.

Setelah terdiam untuk beberapa jenak lamanya Tangan Sial berkata. "Beberapa hari yang lalu aku melihat dalam kegelapan malam di sebuah kubur tua dan jika tak salah aku mengingat kubur itu tentu adalah kubur Raden Ronggo Anom. "

"Hah Raden Ronggo Anom. Orang itu sudah lama meninggal, sekitar beberapa puluh tahun yang silam. Raden Ronggo Anom masih terhitung saudara tiri yang jahat. Sekarang apakah engkau hendak mengatakan orang itu bangkit kembali dari kuburnya?" tanya Ambini. Wajah gadis itu mendadak berubah tegang. Dia ingat beberapa hari yang lalu ketika dia dan Gento berkelahi dengan Mayat Hidup. Sosok yang tubuhnya sudah tidak utuh lagi itu mengaku dirinya adalah Raden Ronggo Anom. Apakah hal ini yang hendak disampaikan oleh Tangan Sial? Rasa kejut di hati Ambini berangsur mereda karena tak lama kemudian Tangan Sial melanjutkan ucapannya yang sempat dipotong Ambini.

"Mengenai bangkit tidaknya Raden Ronggo Anom itu bukan urusanku, bisa jadi urusan setan atau mungkin juga dia memiliki ilmu Seribu Hari. Siapapun yang mengamalkan ilmu ini setelah seribu hari kematiannya dia bangkit kembali. Bangkit untuk menyelesaikan semua persoalan yang belum terselesaikan semasa hidup di dunia ini."

"Termasuk juga menyangkut hutang nyawa, darah dan kehormatan. Bukankah begitu Tangan Sial?!" celetuk Gento.

Tangan Sial anggukkan kepala. "Kau benar. Tapi yang ingin kukatakan ini adalah menyangkut seorang pemuda yang telah diperalat oleh satu kekuatan aneh. Aku tak dapat menjelaskan siapa dan bagaimana ciri-ciri pemuda itu, karena malam kebetulan sangat gelap sekali. Yang aku ingat, dia berpakaian putih, berambut klimis seperti sastrawan."

Untuk pertama kalinya Gento dibuat bingung mendengar penjelasan Tangan Sial. "Apa hubungannya penjelasanmu dengan tujuan kami?" tanya si pemuda.

"Mungkin ada, mungkin juga tidak." jawab orang tua itu.

"Tunggu...!" sergah Ambini. "Paman mengatakan pemuda itu berpakaian putih berambut klimis. Bisa jadi dia adalah kakang Danang Pattira. Beberapa waktu yang lalu aku datang menyambanginya di Wonogiri. Kulihat tindak tanduknya aneh tidak sebagaimana biasanya. Tatap matanya kosong bahkan terkesan seperti orang bingung."

"Paman Tangan Sial apakah mendengar apa yang dikatakan pemuda itu saat dia berada di kubur tua. Atau mungkin paman mendengar suara orang yang diajaknya bicara?" tanya Gento.

Tanpa ragu Tangan Sial menjawab. "Aku tak mendengar suara orang lain. Pemuda itu bicara seperti orang mengigau. Tapi aku sempat mendengar pemuda itu mengatakan. 'Perintah kuturuti. Akan kubunuh tiga saudaraku yang lain. Aku inginkan Ambini'!"

"Apa? Dia bicara seperti itu?" desis si gadis terperangah dan seakan tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Ambini, berarti saudaramu itu memang manusia gila. Otak sinting dan pikirannya miring. Mana mungkin ada manusia yang jatuh cinta pada saudara kandungnya sendiri. Apa dia mengira dirinya itu sapi? Ha... ha... ha" kata si pemuda disertai tawa terbahak-bahak.

"Kurasa memang ada yang tidak beres. Sekarang lebih baik kita ke gunung Liman secepatnya. Jika dia menghendaki harta warisan keluarga itu, bagaimanapun cepat atau lambat dia pasti akan ke sana. Karena dia juga pasti tahu tentang harta peninggalan keluarga yang tersimpan di daerah itu." ujar Ambini.

"Apakah tidak sebaiknya kita cari saja mayat hidup itu? Aku sangat yakin dialah yang telah membunuh ayahmu di puncak Wilis. Bukankah Mayat Hidup pernah bicara begini 'siapa yang berani membunuh kupu-kupu ku'. Ini berarti bila kakangmu memang pernah pergi ke kubur Raden Ronggo Anom tidak tertutup kemungkinan Mayat Hidup alias Raden Ronggo Anom adalah biang racun yang membuat keluargamu jadi tercerai-berai seperti sekarang ini!" kata si pemuda menerangkan secara panjang lebar.

"Usulmu boleh juga sobat. Tapi mencari Mayat Hidup kurasa akan lebih sulit bila dibandingkan dengan pergi ke gunung Liman. Tempat itu tak seberapa jauh dari Ponorogo." ujar Tangan Sial.

"Aku pasti turut serta, aku juga percaya dengan ucapanmu. Akan tetapi jika sesampainya di sana kita tak menemukan apa yang kita cari, aku tak mau ikutan terkena sialnya." dengus murid kakek Gentong Ketawa sambil bersungut-sungut.

"Sudahlah, buat apa kita bertengkar. Kurasa lebih baik kita pergi sekarang. Lebih cepat rasanya akan lebih baik lagi." Ambini menengahi.

"Boleh saja. Tangan Sial jalan di belakang dan kita berada di depan. Dengan begitu semoga bila aku kentut akan mengurangi beban penderitaannya. Sebab menurut kata orang kentutku ini adalah kentut yang sangat disukai oleh para bidadari cantik. Ha... ha... ha!"

"Bocah kampret sial! Semoga dewa murka padamu!" teriak Si Tangan Sial. Orang tua itu melompat ke depan hendak memukul dengan tangan kirinya. Tapi dia merutuk habis-habisan begitu Gento berkelit ke depan Ambini dan menggunakan gadis itu sebagai pelindung.

"Niatmu memukulku tidak kesampaian. Dasar Tangan Sial!" celetuk si pemuda menirukan ucapan si orang tua. Tangan Sial merasa kesal sekali. Tapi dia tak bisa berbuat apapun terkecuali kepalkan kedua tinjunya sambil mengikuti Ambini dan Gento yang sudah meninggalkannya jauh di depan.

***

Di lereng gunung Liman, di balik pepohonan berdaun lebat di mana kakek gendut besar Gentong Ketawa berada, suasananya masih kelihatan sepi. Di sampingnya si bungkuk berwajah aneh yang sekujur tubuhnya kini telah berubah menghitam macam arang sudah mulai kelihatan gelisah.

"Kek... kurasa Arwah Darah Senggini si cantik berbibir tebal di bawah itu tak mungkin lagi datang ke sini. Dia pasti sudah menemukan harta Itu, harta warisan peninggalan keluarga leluhur kami!" ujar Siwarana.

Si kakek gendut elus-elus dagunya yang tidak ditumbuhi jenggot barang satu helai pun. Sejenak matanya yang sipit menatap tajam ke arah Siwarana. Dia merasa geli melihat kulit wajah Siwarana yang telah berubah seperti arang akibat ulah si kakek sendiri.

"Kek, bagaimana jika kita tinggal- kan tempat ini? Perasaanku tidak enak, perutku mulas. Mungkin aku ingin berak, mungkin juga mau kentut." kata pemuda itu lagi sambil menyeringai dia pegangi perutnya yang sakit.

Senyum si kakek makin melebar. Apa yang dirasakan oleh Siwarana itu adalah akibat sampingan dari obat semacam pewarna kulit yang diberikan oleh Gentong Ketawa.

"Kek, kakek gendut. Apakah bisa mu cuma tersenyum, kau telah berubah jadi bisu, gagu atau apa?" tegur Siwarana mulai kesal.

"Ha... ha... ha! Kentut. Jika kau mau buang hajat, sebaiknya menyingkir yang jauh agar wanginya jangan tercium olehku. Tapi terus terang kita tidak usah keluar dari tempat ini!" Gentong Ketawa menyahuti.

"Mengapa kek? Perempuan cantik bertelinga kiri lebar itu tak mungkin ke mari. Seperti yang sudah kukatakan dia pasti menemukan harta itu."

"Manusia muka dodol!" gerutu Gentong Ketawa. "Aku telah menipunya untuk mengalihkan perhatian perempuan itu. Jika tidak kutipu mana mungkin aku bisa menolongmu? Di matamu bisa jadi dia perempuan cantik. Tapi aku yakin yang kita lihat itu palsu. Dia bukan perempuan sembarangan. Aku bisa merasakan semua itu!" ujar Gentong Ketawa. Untuk yang kedua kalinya Siwarana kembali dibuat kaget mendengar ucapan si kakek.

"Apa maksudmu orang tua. Apakah kau hendak mengatakan sesungguhnya perempuan cantik itu adalah seorang nenek tua renta? Atau kau punya anggapan dia memakai semacam kedok?" tanya Siwarana sambil memandang ke arah si kakek gendut dengan tatapan ingin tahu.

"Ha... ha... ha! Sebelum kau terlahir ke dunia ini, kurasa aku sudah kenyang makan asam garam dunia per- silatan. Segala tingkah dan watak manusia semuanya sudah pula banyak yang kuketahui. Setahuku perempuan yang ber- nama Wowor Baji Marani bergelar Arwah Darah Senggini itu adalah seorang perempuan yang sudah lanjut usianya. Akan tetapi memang harus kuakui dia di samping memiliki kesaktian yang sulit dijajaki juga mempunyai mahluk piaraan yang akan mengerjakan apa saja yang diperintahkan olehnya. Jika benar dia Arwah Darah Senggini, kurasa dia dengan ilmu kesaktian yang ada padanya hal seperti itu tidak sulit bagi perempuan itu untuk melakukannya."

"Jadi kita telah tertipu?" desis Siwarana dengan mulut melongo.

"Ha... ha... ha. Engkau yang tertipu tapi aku sendiri tidak." Menya- huti si kakek sambil tertawa tergelak- gelak.

Tawa si kakek mendadak saja terhenti begitu melihat Siwarana angkat tangan kiri memberi isyarat. Sedangkan pandangan pemuda itu tertuju lurus ke depan persis di lapangan kecil berbatu di mana Arwah Darah Senggini tadi menyiksa nya.

Tanpa bicara apapun si gendut ikut- ikutan memandang ke arah yang sama. Kening si kakek berkerut, bola matanya berputar lucu tak mau diam.

"Hem, ternyata dia kembali dengan berhampa tangan. Tapi mengapa masih bisa bernafas? Masih hidup? Ke mana perginya lebah-lebah beracun itu? Harusnya binatang yang bersarang di dalam gua menyengatnya sampai mampus." gumam si kakek gendut.

"Eh, engkau bicara apa? Mengapa tak kulihat perempuan cantik itu membawa harta?" tanya Siwarana jadi terheran- heran.

"Harta jidatmu monyong. Bukankah sudah kukatakan sejak tadi aku hanya mengecohnya. Mengalihkan perhatian nenek cantik itu agar aku dapat dengan leluasa membantumu?!" Siwarana tepuk keningnya sendiri.

"Ah, maafkanlah aku lupa!" ucap si pemuda tersenyum sendiri.

"Kau lihat! Dia mulai mencarimu. Dia memaki, mendamprat. Dasar edan orangnya sudah tak ada pun masih dicarinya." rutuk si kakek. Siwarana diam mendekam di tempatnya. Hatinya mulai gelisah, takut bila si cantik mengetahui tempat persembuyiannya. Lain lagi halnya dengan si kakek gendut. Dia mulai berpikir untuk menghampiri Arwah Darah Senggini yang berjalan mundar-mandir di seputar lapangan berbatu. Tapi sebelum niatnya terlaksana mendadak sontak terdengar suara hembusan angin yang sangat keras sekali. Hembusan angin kencang menerbangkan apa saja yang di laluinya. Selain itu pada waktu bersamaan tercium pula bau busuk yang sangat menyengat. Bau busuknya bangkai.

9

Di tengah lapangan kecil berbatu Arwah Darah Senggini yang sedang dilanda kemarahan hebat tentu saja sempat terkejut melihat keanehan yang terjadi dengan sangat tiba-tiba ini. Bagaimanapun penipuan yang telah dilakukan oleh suara seseorang yang datang dari arah lereng gunung tadi telah menumbuhkan dendam tersendiri yang sulit dipadamkan, meskipun dia telah mencincang tubuh orang itu. Dan kemarahan semakin meluap-luap begitu dia kembali si perempuan cantik tidak menemui Siwarana berada di tempat itu.

"Dia, pasti dia orangnya!" geram si cantik sambil banting kakinya. Hentakan yang keras membuat kaki si cantik amblas hingga sebatas mata kaki. Selagi diri Arwah Darah Senggini dilamun kemarahan yang demikian hebat, maka hembusan angin semakin bertambah keras. Bau busuknya bangkai semakin tajam menusuk.

"Jahanam, bangsat mana lagi yang berani mati dengan membuat ulah seperti ini?!" geram si nenek. Dengan perasaan kesal dia berpaling ke arah angin membadai yang datang secara bertubi-tubi. Dia jadi heran karena tidak melihat apapun di depan saja terkecuali kabut hitam pekat yang bergulung-gulung menyertai hembusan angin yang tak kunjung henti.

"Kunyuk tengik, siapapun dirimu adanya jika memang punya kepentingan denganku harap mau tunjukkan diri!" teriak si cantik. Suaranya keras melengking menindih suara gemuruh angin yang memporak-porandakan daerah di sekitar lapangan berbatu. Sepi sejenak, hanya deru suara angin saja yang terdengar. Tapi tak berapa lama kemudian terdengar suara gelak tawa yang begitu keras mengelegar. Tanah, lamping batu di sebelah kanan si cantik bergetar hebat, bahkan lereng gunung ikut pula bergetar. Di tempat persembunyiannya Siwarana terpaksa tekap kedua telinga untuk menghindari pengaruh getaran suara tawa. Sedangkan di sebelahnya kakek gendut besar Gentong Ketawa tampak duduk bersila dengan tubuh terguncang hebat.

"Kadal buntung! Setan mana yang suaranya seperti itu?" maki si kakek sambil menutup indera pendengarannya.

Kembali ke tengah lapangan berbatu Arwah Darah Senggini berdiri tegak dengan tubuh tergontai-gontai. Tapi anehnya perempuan itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

Telinga tidak ditutup dengan tangan, bahkan dia tidak pula kerahkan tenaga dalam untuk menutup indera pendengarannya. Sungguh apa yang di per- lihatkan oleh si cantik merupakan satu tindakan nekad yang dapat mengancam keselamatan dirinya sendiri. Beberapa saat berlalu, perlahan suara tawa yang terdengar di tengah hembusan angin kencang mereda. Perempuan itu menye- ringai. Lalu dia keluarkan seruan keras. "Sudah bosan kau tertawa? Sungguh demi para iblis, andai suara tawamu dapat meruntuhkan dinding langit, tapi aku Arwah Darah Senggini tidak akan terpengaruh walau barang sedikitpun. Hik... hik... hik!" kata perempuan cantik itu disertai tawa dingin menyeramkan.

"Arwah Darah Senggini. Kau mempunyai hutang nyawa yang harus kau lunasi hari ini!" terdengar satu seruan dalam getaran mengandung dendam kesumat.

Mendengar ucapan orang Arwah Darah Senggini tentu saja melengak kaget. Sedangkan si cantik yang terlihat seperti perempuan setengah baya ini cepat memandang ke arah datangnya suara, sementara itu hembusan angin kencang mulai mereda, sedangkan bau busuknya bangkai terasa semakin keras menyengat.

"Setan kuburan, siapa dirimu? Sepanjang hidup aku merasa tidak pernah berhutang nyawa dengan siapapun, apalagi berhutang pada bangkai kuburan!" dengusnya kesal.

"Ha... ha... ha! Mungkin kau lupa, mungkin kau sudah tidak mengingat peristiwa yang terjadi sekitar dua puluh delapan tahun yang lalu. Tapi aku tidak. Aku tetap mengenangnya, aku tidak akan lupa sampai dunia kiamat!" dengus suara itu.

Beberapa saat lamanya Arwah Darah Senggini diam tertegak di tempatnya berdiri. Dia mencoba memutar otak, mengingat segala kejadian yang berlang- sung sekitar tiga puluh tahun yang silam. Mula-mula terbayang olehnya wajah seorang kakek tua berbadan sedikit bongkok. Dan itu adalah sosok wajah Rowe Rontek Panjane. Si kakek tua yang masih terhitung sahabatnya sendiri. Rowe Rontek Panjane telah dibunuhnya karena dianggap tidak mampu memenuhi segala apa yang dijanjikan oleh muridnya. Setelah itu muncul pula seraut wajah lain. Wajah seorang laki-laki muda dengan tampang memelas semasa hidupnya berada dalam kemelataran yang amat sangat. Si perempuan cantik ingat betul, yang satu ini adalah Raden Ponco Sugiri murid Rowe Rontek Panjane. Manusia yang dianggapnya telah mengingkari segala janjinya yang pernah dia ucapkan. Konon Raden Ponco Sudiri terbunuh di tempat pengasingannya di puncak gunung Wilis.

Si cantik gelengkan kepala. Semua yang pernah terjadi di masa lalu terbayang dengan jelas. Termasuk juga mengenai keinginan Raden Ponco Sugiri yang ingin merebut kembali harta warisan orang tuanya yang telah dikangkangi oleh saudara tirinya Raden Ronggo Anom. Semua rentetan peristiwa itu seakan bergulir begitu saja, berjalan sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Kini Arwah Darah Senggini jadi ingat pada Babat Nyawa, mahluk gaib yang dipiara nya selama berpuluh-puluh tahun. Pada malam kejadian di sekitar dua puluh delapan tahun yang silam, mahluk sakti inilah yang diperintah si cantik untuk membunuh Raden Ronggo Anom. Manusia paling culas adik tiri Raden Ponco Sugiri.

"Manusia tengik itu pun telah mampus puluhan tahun yang silam. Jika memang dia adanya yang munculkan diri di tempat ini, berarti yang muncul adalah jasad busuknya. Dia memiliki ilmu aneh, ilmu apapun namanya yang jelas dengan ilmu itu dia bangkit dari kuburnya!" batin perempuan itu.

Walau Arwah Darah Senggini seumur hidup tidak pernah merasa gentar menghadapi musuh yang manapun, tapi kini membayangkan bagaimana mayat orang yang telah mati dapat bangkit kembali, mau tak mau tengkuk si cantik berubah dingin seperti es.

"Bagaimana Wowor Baji Marani, kau sudah tahu nyawa siapa yang harus kau bayar?" hardik suara itu.

"Hik... hik... hik! Aku tak akan pernah lupa atau sengaja melupakan kesenangan yang pernah terjadi puluhan tahun yang silam. Walau aku tak pernah melihat bagaimana tampangmu dulu dan sekarang, tapi aku tahu kau pasti adalah si keparat Raden Ronggo Anom!" dengus Arwah Darah Senggini sinis.

"Hak... hak... hak! Bagus kalau kau sudah tahu. Dengan begitu aku tak perlu merasa bersusah payah menerangkan siapa diriku! Sekarang apakah kau siap menyerahkan nyawamu!" tanya suara itu.

"Aku sudah siap sejak tadi Raden bangkai. Mendekatlah ke mari, bagian mana dari tubuhku ini yang hendak kau jebol?" teriak si cantik lantang.

"Pertama aku menginginkan jantungmu. Setelah itu aku menghendaki bagian tubuhmu yang lain!" sahut suara yang belum memperlihatkan ujudnya ini dingin. Belum lagi gema suara yang terdengar lenyap, mendadak sontak terdengar desiran halus menyambar telinga si cantik. Arwah Darah Senggini surut satu langkah ke belakang begitu merasakan bagian telinga kirinya seakan seperti diterabas senjata tajam.

Wajah mendadak pucat, agaknya dia menyadari lawan mungkin mengetahui titik kelemahannya. Di depan sana terdengar suara tawa melengking panjang disertai berkelebatnya satu sosok tubuh nyaris telanjang yang bergerak cepat ke arah si cantik.

Begitu   sosok   setengah   manusia setengah bangkai ini melesat di udara dua tangan dipentang, sepuluh jari terkembang. Ketika sepuluh jari berkuku hitam dijentikkah ke depan. Sepuluh sinar hitam menggidikkan setipis benang menderu sebat menghujani sekujur tubuh Arwah Darah Senggini. Perempuan itu terkesiap ketika menyadari bagaimana ke sepuluh sinar maut itu tiba-tiba berubah melengkung berusaha melingkup dan meringkus dirinya.

Si cantik berteriak keras, kaki dihentakkan lalu laksana kilat tubuhnya melesat di udara. Lingkupan sinar maut berhawa dingin membekukan ini mengenai tempat kosong, dua di antaranya menghantam pohon besar di luar lapangan. Terdengar suara letupan kecil. Pohon mengeluarkan suara berkeretekan, tidak roboh tidak pula tumbang. Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh membuat semua orang yang melihatnya jadi terkesiap kaget. Seluruh daun pohon mendadak rontok layu, ranting dan batangnya menyusut kemudian hancur menjadi abu.

"Pukulan Mayat Memisah Roh!" seru si cantik. Dengan cepat selagi tubuhnya masih mengambang di udara dia lakukan serangan balasan. Dua tangan dipukulkan lurus ke arah Mayat Hidup.

Wuut! Wuut!

Sinar   biru   berkelebat,   angin menderu bergulung menerjang Mayat Hidup. Yang diserang mendengus, lalu gerakkan kedua tangannya ke atas mirip dengan gerakan orang yang melambaikan tangannya. Sekali lagi sinar hitam berkiblat hawa dingin menghampar menindih serangan berhawa panas yang dilepaskan oleh si cantik.

Tess!

Arwah Darah Senggini terkesiap kaget begitu merasakan pukulan saktinya seakan amblas, lenyap ditelan serangan lawan. Dengan muka pucat dan tubuh bersimbah keringat dingin dia melakukan gerakan yang sulit demi menyelamatkan selembar nyawanya. Tapi tak urung ujung kaki kirinya masih  sempat tersambar pukulan lawan. Bagian kaki yang terkena pukulan terasa sakit mendenyut laksana ditusuki ribuan batang jarum. Bahkan di bagian  ujung  jari   berubah  seperti membeku. Sungguh pun begitu si cantik masih sanggup jejakkan kedua kaki ke tanah meskipun tubuhnya nampak terhuyung.

Belum lagi Arwah Darah Senggini siap pada posisinya dia kembali merasakan sambaran angin mendera punggungnya. Dia cepat berbalik sambil mencoba memapaki serangan lawan. Baru saja tubuhnya berbalik menghadap ke arah Mayat Hidup, saat itu satu tangan hitam menebar bau busuk menyengat melabrak dadanya. Desks!

"Hugh...!" Arwah Darah Senggini mengeluh tertahan, tubuhnya terpelanting, jatuh berdebu kan dengan mulut menyemburkan darah. Di depan sana Mayat Hidup sunggingkan seringai dingin. Si cantik coba berdiri secepat yang dapat dia lakukan. Dia jadi kaget ketika merasakan dadanya mendadak jadi sesak. Megap-megap sambil bertumpu pada kedua tangan dia perhatikan dadanya. Kejut di hati si nenek bukan olah-olah begitu melihat satu kenyataan bahwa pakaian di bagian dadanya berlubang besar, hangus menghitam meninggalkan bekas lima jari telapak tangan.

Karena lawan nampak terus memburunya, sambil bergulingan ke kiri selamatkan diri si cantik kerahkan tenaga yang segera dipusatkan ke bagian dada untuk menyembuhkan luka dalam yang dia derita. Perlahan hawa dingin lenyap, rasa sakit yang mendera dadanya juga ikut lenyap. Arwah Darah Senggini tanpa membuang waktu segera melompat. Begitu tubuhnya melesat ke atas kedua tangan si cantik langsung didorong ke depan siap melepaskan pukulan Penghancur Jasad Pengusir Roh. Inilah salah satu pukulan yang paling berbahaya dan agaknya si cantik tidak mau berlaku ayal, sehingga ketika dia dorongkan kedua tangannya tadi si cantik tak lupa menyertakan seluruh tenaga sakti yang dia miliki.

Akibatnya sungguh sangat luar biasa, serangan maut yang dilakukan oleh Mayat Hidup berantakan di tengah jalan. Bukan hanya sampai di situ saja. Sebagian besar pukulan Arwah Darah Senggini langsung melabrak sosok setengah manusia setengah bangkai yang pada saat itu meluncur deras ke arahnya. Tak ampun lagi pukulan si cantik menghantam telak sosok Mayat Hidup. Begitu kena dihantam detik itu juga terdengar suara jeritan melengking laksana suara orang mengeruk. Sosok Mayat Hidup tercerai-berai, potongan tubuhnya yang membusuk itu bertaburan ke segenap penjuru arah dan jatuh berserakan di atas tanah.

Si cantik jatuh terduduk, nafasnya tersengal-sengal. Walau luka dalam akibat pukulan lawan tadi sempat disembuhkan, tapi karena barusan tadi dia menguras tenaga dalam guna melepas pukulan saktinya, tak urung luka yang baru tersembuhkan tadi kini kambuh lagi. Sejenak lamanya Arwah Darah Senggini duduk bersila, mata terpejam sambil menghimpun tenaga saktinya. Si cantik terbatuk beberapa kali, dari sudut bibirnya meleleh darah kental berwarna hitam. 10

Sementara itu kakek Gentong Ketawa dan Siwarana yang masih mendekam di tempatnya di balik ke rindangan pohon di lereng bukit tampak saling pandang. Si kakek gendut usap wajahnya. Pertempuran sengit yang berlangsung tadi membuatnya geleng kepala.

"Si nenek cantik itu sungguh luar biasa. Pamanmu yang baru datang dari kubur saja dibuatnya tercerai-berai. Boleh juga dia punya kesaktian!" kata si gendut memuji.

"Kek, sekarang saatnya bagi kita untuk menghabisi perempuan itu. Jika tidak cepat atau lambat dia yang akan menghabisi kita!" ujar Siwarana tanpa menghiraukan ucapan Gentong Ketawa.

"Aku bukan manusia pengecut, mempergunakan kesempatan selagi lawan terluka. Tapi memang kurasa dalam menghadapi iblis seperti dia rasanya kita memang tidak memerlukan segala macam peradatan!" kata Gentong Ketawa menang- gapi. Si kakek bangkit berdiri dengan diikuti oleh Siwarana, si bongkok muka cacat yang kini sekujur tubuhnya telah menghitam macam arang. Sekali lagi sebelum bangkit berdiri si kakek memandang ke depan, ke arah lapangan berbatu di mana Arwah Darah Senggini masih tetap duduk seperti semula.

Mendadak gerakan kaki si kakek yang siap terayun jadi terhenti begitu dia melihat satu bayangan putih berkelebat cepat laksana kilat dari arah belakang si cantik.

"Satu lagi tamu datang mencari mati!" dengus Gentong Ketawa sambil usap- usap perutnya yang gendut besar.

Siwarana tercekat, dia ikut pula memandang ke arah lapangan. Pada saat itu dia melihat bayangan putih tadi sudah menghantam Arwah Darah Senggini yang sedang bersemedi dari arah belakang. Sinar hitam, merah dan biru menderu di udara, bergulung-gulung siap melabrak hancur tubuh si cantik. Tapi pada saat itu pula tanpa terduga dari bagian telinga kiri Arwah Darah Senggini mengepul asap tebal bergulung-gulung. Ketika asap menyentuh udara dengan cepat sekali kepulan asap kelabu itu membentuk satu sosok berwajah angker berulir hitam kemerahan, bercambang lebat sedangkan di setiap sudut bibirnya mencuat sepasang taring yang panjang dan tajam. Begitu sosok dari asap tadi telah membentuk satu ujud yang utuh dan jejakkan kedua kakinya di atas tanah. Maka sosok setinggi enam tombak ini gerakkan tangannya yang besar panjang berbulu menangkis pukulan ganas orang yang baru datang. Bessss!

Terdengar suara seperti besi panas yang dicelupkan ke dalam air. Pukulan yang seharusnya menghantam bahu belakang si nenek mendadak amblas tak berbekas ke dalam telapak tangan sosok tinggi besar ini. Belum lagi hilang rasa kejut di hati penyerangnya, tiba-tiba sambil menyeringai tangan mahluk yang menjelma dari asap terjulur memanjang mencengkeram batang leher orang itu. Si penyerang yang bukan lain adalah Danang Pattira terkejut besar dan coba selamatkan diri dengan mencoba berkelit ke samping. Tapi gerakan tangan yang terjulur memanjang itu sungguh cepat luar biasa bahkan sulit diikuti kasat mata. Di lain kejap tahu- tahu leher si pemuda sudah kena dicekal. Danang meronta, lehernya terjepit keras. Sekuat apapun dia kerahkan tenaga untuk membebaskan diri, namun usahanya itu hanya sia-sia saja. Semakin keras Danang meronta, maka jepitan terasa semakin mencekik hingga membuat pemandangannya jadi gelap dan kepala serasa mau meledak.

Kreeek!

Terdengar suara tulang leher berderak patah. Danang Pattira berke- lojotan sesaat lamanya. Tidak lama gerakan kaki maupun tangannya makin melemah hingga tidak bergerak sama sekali. Mahluk aneh yang keluar dari telinga si nenek sunggingkan seringai aneh. Sosok Danang yang telah kehilangan nyawa langsung dibantingkannya. Kembali terdengar suara berderak. Sosok setinggi galah berbalik menghadap ke arah si nenek cantik, begitu tubuhnya membungkuk maka sosoknya langsung memudar, lenyap berubah menjadi gumpalan asap. Dengan cepat gulungan asap bergerak seperti tersedot memasuki telinga si cantik. Di saat seperti itulah dari balik kelebatan pohon di lereng gunung berkelebat dua bayangan. Sosok besar yang berada di depan langsung hantamkan tangan kanannya ke arah telinga kiri si cantik di mana

mahluk aneh tadi melenyapkan diri.

Tak mau ketinggalan bayangan yang berkelebat di sebelah si gendut besar juga ikut melepaskan pukulan ke arah Arwah Darah Senggini. Dua larik sinar putih dan kuning menderu, melesat laksana kilat menghantam telinga dan bagian rusuk si cantik, hawa panas menghampar. Detik berikutnya pukulan ganas itu melabrak ke arah Arwah Darah Senggini. Seakan sadar terjaga dari tidurnya perempuan cantik yang wajah aslinya adalah seorang perempuan tua renta ini masih dalam keadaan bersila langsung menghindar ke samping sambil keluarkan seruan keras.

Buum! Buum!

Dua    kali    ledakan    berdentum terdengar, gunung Liman laksana diguncang gempa dahsyat. Lubang besar nampak menganga, mengepulkan asap Hitam pekat luar biasa. Arwah Darah Senggini yang baru selamatkan diri dari pukulan lawannya sempat tercekat. Dia memandang ke arah datangnya pukulan. Gelap! Bebe- rapa saat Arwah Darah Senggini terpaksa menunggu. Tak lama setelah kegelapan sirna si cantik melihat di depannya berdiri tegak seorang kakek tua berbadan tinggi besar berperut gendut berbaju hitam tidak terkancing. Kakek yang satu ini dia masih mengenali. Beberapa waktu yang lalu dia sudah melihatnya, ketika si cantik melarikan Siwarana. Tapi pemuda di samping si kakek Bungkuk seperti Siwarana. Akan tetapi mengapa kulitnya berubah hitam begitu rupa?

"Jahanam tengik! Gendut sialan, kau orangnya yang telah menipuku." hardik si cantik. Gentong Ketawa tertawa terbahak- bahak.

"Sudah kau dapatkan harta itu?" tanya si gendut.

"Bangsat! Kubunuh kau!" teriak perempuan itu. Ingat dengan semua apa yang dilakukan si kakek dia jadi lupa dengan tujuan semula yang ingin menguliti Siwarana dalam keadaan hidup.

"Kau hendak membunuhku? Bagaimana jika sebelum mati aku minta telinga kirimu untuk kubuat bekal menuju ke alam baka?! Ha... ha... ha!" kata si kakek.

"Boleh! Kau bisa mengambilnya setelah menghadap setan di neraka!" menyahuti Arwah Darah Senggini. Selesai berucap dia melompat ke depan, dua tangan berkelebat. Satu menyambar dada dan satunya lagi menyambar bagian mulut Gentong Ketawa.

"Habis mulutku!" seru si kakek. Dia lalu bergulingan ke belakang, sambil bergulingan kedua tangan dipukulkan menyambut serangan Arwah Darah Senggini.

Dess! Dess!

Dua pasang tangan saling bertemu di udara membuat si gendut terdorong mundur, jatuh dengan dua kaki tertekuk. Di depannya sana Arwah Darah Senggini nampak terhuyung. Dua tangan yang saling bentrok dengan tangan lawan terasa ngilu sakit di bagian dalam. Merasakan betapa besar tenaga dalam yang dimiliki lawannya, kini dia tak mau berlaku ayal. Kedua tangan kemudian disilangkan, jemari terkembang, tenaga dalam diarahkan langsung ke bagian tangan kiri kanan. Di lain kejap sepasang tangan yang bersilangan itu telah berubah laksana besi merah membara.

"Nenek cantik, mengapa wajahmu tidak kau buat merah membara sekalian hingga terlihat ujud mu yang sebenarnya? Ha... ha... ha!" ejek si kakek. Walau dalam hati Arwah Darah Senggini terkejut mendengar lawan mengetahui siapa dia yang sesungguhnya, tapi si nenek tak menanggapi. Malah kini dia melakukan gerakan lebih cepat dengan melompat ke depan. Begitu tubuhnya melesat dalam gerakan secepat kilat, dua tangan bergerak ke depan dengan gerakan menggunting. Sepuluh sinar merah berkelebat menderu ke arah si kakek secara bersilangan. Kejut si orang tua bukan kepalang. Mustahil dia bergerak mundur, satu-satunya jalan adalah dengan menjatuhkan diri sama rata dengan tanah. Tapi sebelum niat terlaksana kaki kanan si cantik melesat pula membabat pinggang Gentong Ketawa. Tak mau dirinya terkutung menjadi dua akibat guntingan sinar merah itu, si kakek gendut nekat jatuhkan diri, sedangkan dua tangan dipergunakan untuk menangkis serangan lawan.

Wuuut! Plak!

Dua sinar merah yang menyerang secara bersilangan menghantam tempat kosong, meluncur deras ke belakang si kakek, membabat putus pepohonan besar. Pohon roboh bergemuruh. Siwarana bergidik ngeri melihat bagaimana sinar yang melesat tadi laksana gunting raksasa memapras pohon. Sementara di depannya sana Gentong Ketawa jatuh menelentang akibat begitu besarnya tendangan lawan yang harus ditangkisnya.

"Kadal! Perempuan tengik!" teriak si kakek sambil mengibaskan kedua tangannya yang nampak bengkak membiru.

"Mampus kau sekali ini!" geram Arwah Darah Senggini. Sambil berteriak tanpa menyia-nyiakan kesempatan lagi dia kembali menghantam lawannya dengan pukulan yang mematikan.

"Setan kampret!" maki Gentong Ketawa. Dengan gerakan cepat dia menggulingkan dirinya ke tempat yang aman. Sambil bergulingan Gentong Ketawa lepaskan pukulan 'Selaksa Duka'. Sinar merah membersit dari telapak tangan si kakek, lalu menderu deras memapak pukulan lawannya.

Blaam!

Terjadi ledakan berdentum. Perempuan itu terdorong dua tombak ke belakang. Tanah dan bebatuan di tengah lapangan kecil terbongkar membentuk satu lubang yang sangat besar di bagian dalam. Dari bagian dalam lubang yang menganga akibat pukulan memancar cahaya warna- warni menyilaukan mata. Melihat semua ini Siwarana berseru.

"Harta... harta milik leluhurku!" Tertarik akan apa yang dilihatnya dia jadi lupa pada bahaya yang mungkin datang secara tidak terduga. Tanpa pikir panjang lagi dia segera menghambur dan bermaksud masuk ke dalam lubang.

"Dodol, kau cari mampus?!" teriak Gentong Ketawa berusaha mencegah.

"Kakek tua, aku ingin kaya, aku ingin membangun dunia. Hadapilah perem- puan sinting itu!" sahut Siwarana tanpa menghiraukan peringatan si kakek.

"Setan hitam, kulitmu boleh berubah seribu kali. Tapi aku tetap bisa mengenali dirimu. Tubuhmu bungkuk, kau tak bisa menipuku. Boleh aku gagal mengulitimu hidup-hidup. Sekarang terimalah ajalmu!" teriak Arwah Darah Senggini. Belum lagi hilang suara teriakannya perempuan ini langsung hantamkan tangannya ke arah Siwarana.

Sinar hitam berkiblat. Tak ampun lagi langsung melabrak tubuh pemuda itu yang sudah hampir mendekati lubang. Siwarana menjerit keras, tubuhnya melayang jauh dihantam pukulan si cantik. Gentong Ketawa yang tak sempat menolong pemuda itu mengingat jaraknya yang terlalu jauh jadi terlolong.

"Pedang Pembantai Iblis dan seluruh harta itu?! Semuanya harus menjadi milikku." berkata begitu Arwah Darah Senggini berlari cepat dekati lubang. Si kakek gendut tak tinggal diam.

"Harta dan pedang hebat itu boleh berada di tanganmu. Tapi nanti setelah nyawamu dibawa setan terbang ke langit!" Selesai berucap Gentong Ketawa menghantam lawan dengan pukulan Iblis Ketawa Dewa Menangis. Tujuh larik sinar pelangi menderu sebat di udara, bergulung-gulung disertai menghamparnya hawa panas luar biasa. Si cantik tentu tak mau menjadi korban pukulan maut itu. Sehingga dia berbalik, lalu pukulkan kedua tangannya menyambuti serangan lawan. Karena saat melepaskan pukulan perempuan ini diwarnai rasa benci dan amarah, tak dapat disangkal lagi kekuatan yang dilepas- kannya jadi berlipat ganda. Si kakek merasa tangkisan lawan membuat tenaga pukulannya membalik dan seperti hendak menghantam dirinya sendiri. Sekuat tenaga secara berturut-turut dia kembali hantamkan tangannya ke depan. Tetap saja pukulan susulan yang dilepaskannya seakan tak memiliki arti sama sekali.

Si kakek gendut jadi keluarkan keringat dingin. "Celaka, nenek tengik ini ternyata memiliki ilmu aneh." rutuk Gentong Ketawa. Dengan tangan kiri masih didorongkan ke depan, tangan kanan bermaksud mengambil senjata berupa trisula berbentuk gagang ketapel tapi memiliki ketajaman di kedua sisi yang terselip di bagian pinggang, tapi pada saat yang bersamaan dari arah samping kanan berkelebatan tiga sosok tubuh yang langsung melepaskan pukulan ke arah Arwah Darah Senggini.

Tiga sinar mau berkiblat, hawa panas dan dingin datang silih berganti. Melihat kenyataan ini, si cantik berubah kaget. Apalagi ketika merasakan hempasan angin keras yang terasa memanggang dan mengguncangkan tubuhnya. Dia mencoba menangkis ketiga serangan yang datang sekaligus, tapi tiga serangan yang datang begitu dahsyat tak terbendung. Tak ampun lagi bagaikan selembar daun ilalang tubuh si nenek laksana terbang disapu pukulan ketiga pendatang ini.

Di tengah-tengah deru suara angin yang menggemuruh, di antara hawa panas yang datang silih berganti terdengar suara jerit si cantik. Dia jatuh terhempas seperti dicampakkan. Dari bibir, hidung dan mulutnya mengucurkan darah kental kehitaman. Hebatnya lagi walau orang tua itu menderita luka dalam yang sangat parah, tapi dia masih tetap bertahan hidup. Tapi satu keanehan terjadi pada wajah Arwah Darah Senggini ini. Jika semula wajahnya cantik mempesona seperti perempuan berumur dua puluh delapan tahun. Kini setelah tiga pukulan hebat melanda dirinya sontak wajah si cantik kembali berubah ke ujud aslinya. Berubah kembali ke aslinya yaitu berupa sosok nenek renta berambut putih bermata cekung menjorok ke dalam rongganya yang besar. Bibir si cantik yang kemerahan juga nampak mengeriput besar di bagian bawah.

Jika kakek gendut Gentong Ketawa terbahak-bahak melihat perubahan itu sebaliknya tiga pendatang yang terdiri dari Gento Guyon, Ambini dan Tangan Sial sempat dibuat heran.

"Hebat. Bagus betul kau punya rupa yang asli Arwah Darah Senggini. Perempuan tua rongsokan sepertimu kurasa setan pun bisa lari bila bertemu denganmu! Ha... ha... ha!" kata si gendut tanpa hiraukan kehadiran orang.

11

Si cantik yang telah kembali kepada ujud aslinya akibat terhantam tiga pukulan hebat itu hanya diam saja. Dia merasa sekujur tubuhnya seperti lumpuh kehilangan tenaga, bukan hanya tenaga saja yang seakan lenyap, tapi juga tulang-tulangnya laksana hancur, gading seperti dibetot. Sejuta rasa dendam dan penasaran memenuhi benak dan hatinya. Dia menggeram, mulutnya berkemak-kemik mem- baca mantra untuk menghadirkan mahluk piaraan yang bersemayam di dalam liang telinga sebelah kiri.

"Heh, apa yang hendak di laku- kannya?!" seru Gento yang pada saat itu sudah berada di samping gurunya.

"Dia hendak menggunakan iblis piaraannya untuk membunuh kita!" satu suara berseru, ternyata yang baru memberi peringatan tadi adalah Si Tangan Sial.

"Gege murid geblek, cegah nenek itu. Hancurkan asap yang keluar dari telinganya!" teriak Gentong Ketawa.

Tangan Sial yang hendak bergerak jadi urungkan niatnya. Gento cepat mengambil tindakan.

Tiga kali dia berjumpalitan di atas tanah. Begitu dia sampai ke dekat Arwah Darah Senggini. Dengan cepat dia menghantam asap yang keluar dari telinga kiri orang tua itu. Si nenek menjerit keras, serta-merta asap yang sudah mengepul keluar dengan cepat kini melesat masuk ke dalam, lenyap di balik liang telinga. Arwah Darah Senggini dengan sisa tenaga yang ada miringkan bahunya, tangan diangkat lindungi telinga kiri sedangkan tangan kanan dipergunakan untuk menangkis serangan lawannya.

Desss!

"Akh...!" Bentrokan keras membuat si nenek yang menderita cidera berat jadi menjerit. Dia kembali terpelanting dan terjatuh ke dalam lubang.

"Kejar!" teriak Si Tangan Sial. Dia sendiri segera berkelebat dan melompat masuk ke dalam lubang yang menganga lebar. Tidak menunggu lebih lama Gento segera menyusul diikuti oleh Ambini. Sedang Gentong Ketawa yang tadinya hendak mencegah muridnya kini malah duduk melongo.

Di dalam lubang ternyata suasananya cukup terang. Begitu sampai ketiganya jadi terkesima begitu melihat timbunan harta yang sangat besar jumlahnya. Ambini sebagai pewaris harta yang sah sempat tercengang dan tak percaya melihat kenyataan ini. Tapi dia tidak melakukan apapun pada harta benda yang tak ternilai harganya ini. Sebaliknya dia segera membantu Gento dan Tangan Sial mencari Arwah Darah Senggini, sepanjang lorong di bawah tanah tempat penyimpanan harta itu sudah diperiksa oleh mereka. Tapi ketiga orang ini tak menemukan orang yang mereka cari. Arwah Darah Senggini seakan lenyap ditelan bumi. Di salah satu sudut ruangan Ambini melihat sesuatu tergolek dalam keadaan menelentang.

"Gento... di sini...!" seru si gadis tak berani mendekati sosok yang tergeletak itu.

Si Tangan Sial dan murid kakek Gentong Ketawa segera berlari mendekati. Sejenak setelah melihat sosok dengan sekujur tubuh serba hitam itu dia jadi terheran-heran. Jelas sosok itu bukan mayat Arwah Darah Senggini. Penasaran si pemuda menghampiri, melangkah lebih mendekat dan segera meneliti. Walaupun sekujur tubuh sosok itu dalam keadaan gosong seperti arang, namun Gento yang pernah bertemu masih mengenali.

"Siwarana Salah Anuna! Dia adalah adikmu sendiri Ambini. Tapi bagaimana tubuhnya bisa berubah gosong begini? Siapa yang punya pekerjaan?" gumam Gento. "Aku yang membuatnya begitu. Semula

dia selamat, tapi keserakahan bercokol dalam hatinya begitu dia melihat harta. Dia nekad masuk, peringatanku tidak berguna. Nenek jelek tadi memukulnya, aku tak sempat menolong. Sekarang jadinya seperti yang kalian lihat, nama depannya terpaksa ditambah almarhum!" kata satu suara. Begitu mereka memandang ke arah mulut lubang, ternyata yang baru saja bicara si kakek gendut Gentong Ketawa.

"Adikku... tidak kusangka nasibnya begini buruk. Bukan hanya dia saja yang tewas, tapi kakang Danang Pattira kulihat juga tidak dapat kuselamatkan," desah si gadis diliputi perasaan duka yang begitu mendalam. Beberapa waktu berlalu, suasana dicekam kebisuan. Tapi tak lama kemudian terdengar Si Tangan Sial berkata.

"Hidup dan matinya seseorang sudah ada yang mengatur. Siapa yang ingin kaya silahkan ambil harta itu, kemudian kita tinggalkan tempat ini!" ucapnya. "Gege, siapa manusia tangan gosong itu?" tanya si kakek yang baru menyadari muridnya datang bersama seorang laki-laki dan juga gadis cantik.

Gento Guyon tersenyum. "Orang ini gelarnya Si Tangan Sial, namanya dia sendiri tidak tahu." si pemuda menyahuti. "Ha... ha... hal Gelar itu memang sesuai dengan tampangnya. Kurasa bukan hanya tangannya saja yang sial, seluruh hidupnya pasti penuh kesialan! Dan gadis cantik itu apamu kah? kekasih, atau

sahabat?"

"Inginnya dia jadi kekasihku, tapi kalau dia tak mau mana berani aku memaksanya. Ha... ha... ha!" sahut si pemuda. Dia lalu melanjutkan. "Nama gadis ini Ambini, puteri almarhum Raden Ponco Sugiri!"

Gentong Ketawa manggut-mangut. Si Tangan Sial keluar dari dalam lubang sedangkan Gento ikut menyusul. Ambini menarik nafas pendek. Dia meraup segenggam emas dan permata, memasukkannya ke dalam kantong perbekalan setelah itu menyusul keluar pula.

"Bagaimana? Kalian tak menemukan nenek karondang tadi?" tanya Gentong Ketawa begitu ketiganya telah berada di atas lubang.

Tiga kepala sama menggeleng. "Bangsat itu tak mungkin jadi setan benaran. Sebaiknya kita ratakan saja lubang ini. Jika nenek itu ternyata masih hidup, umurnya pasti tak akan bertahan lama!" ucap si kakek.

"Guru, jangan bertindak gegabah. Tanya dulu pada Ambini apakah dia mengijinkan tindakan guru?" sergah si pemuda. Gento Guyon, gurunya dan Si Tangan Sial melirik ke arah si gadis.

Tanpa ragu Ambini menjawab. "Sebaiknya lubang ini disamaratakan dengan tanah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan!"

"Terima kasih gadis baik!" kata si kakek. Ambini anggukkan kepala, tapi matanya mencuri pandang pada Gento Guyon. Si pemuda kedipkan matanya. Si kakek gendut angkat tangan kanan, selagi tangan kanan bergetar dan mulai berubah menjadi putih laksana perak. Mendadak terdengar ledakan berdentum. Tanah terguncang hebat, lubang lenyap tertimbun tanah lainnya. Begitu si kakek menoleh ke samping Si Tangan Sial menyeringai. Kiranya dia yang telah meratakan lubang dengan kedua tangannya sendiri.

"Sial, kau membuat aku terkejut." gerutu si kakek.

"Tak perlu kau maki sekalipun dia memang sudah sial sejak dulu guru. Ha... ha... ha!" celetuk Gento disertai tawa bergelak. "Kau juga manusia sialan Gendut! Ha... ha... ha!" Si Tangan Sial tak mau kalah membalas makian si kakek gendut.

Ambini tersenyum melihat tingkah laku mereka yang seperti anak-anak. Sedangkan Gento Guyon sendiri hanya dapat gelengkan kepala sambil mengusap wajahnya.

TAMAT