Gento Guyon Eps 03 : Sang Cobra

 
Eps 03 : Sang Cobra


Mentari sudah mulai condong di ufuk sebelah barat. Sebentar lagi malam segera tiba. Di salah satu tempat ketinggian bukit, Gunung Bromo tampak berdiri tegak dengan gagahnya. Dari bukit ini gadis cantik berpakaian kuning bersenjata pedang berambut panjang riap-riapan memandang ke bagian selatan lereng gunung beberapa kejapan lamanya. Tiba-tiba bola matanya yang bulat indah terbelalak lebar, wajahnya tegang sedangkan perasaannya mulai gelisah. Di bagian selatan lereng Bromo gadis yang menunggang kuda coklat ini melihat kepulan asap serta rona merah membubung tinggi ke angkasa.

"Apa yang terjadi di perguruan. Tidak mungkin ia datang secepat itu?" desis si gadis kecut. "Tapi api itu datangnya seperti dari perguruan Teratai Merah. Aku harus kembali secepatnya!" Gadis cantik berambut panjang riap-riapan ini menggerakkan tali kekang kuda. Terdengar suara ringkikan keras. Kuda menghambur berlari cepat menuruni punggung bukit menuju bagian selatan lereng Gunung Bromo.

Hanya dalam selang waktu yang tidak berapa lama gadis ini telah sampai di halaman perguruan Teratai Merah. Sesaat lamanya dia nampak tercengang, mata terbelalak, tubuh tegak kaku bagaikan orang yang baru saja terjaga dari sebuah mimpi buruk. Betapa tidak? Di depannya sana dia melihat mayat-mayat bergelimpangan roboh dengan luka-luka mengerikan dan sekujur tubuh hitam membiru. Selain mayat murid-murid perguruan, bangunan yang dijadikan tempat tinggal juga musnah terbakar. Begitu sadar akan kenyataan yang terjadi laksana kilat gadis itu langsung melompat dari atas punggung kudanya. Dia memeriksa mayat gadis-gadis yang bertebaran di halaman itu. Tak ada yang selamat. Semuanya tewas dengan luka menganga di bagian perut seperti bekas dijebol kuku yang tajam. Sedangkan di bagian kening terdapat dua titik menghitam seperti luka bekas patukan mahluk melata.

Si gadis menarik nafas pendek sambil gelengkan kepala. Kejap kemu- dian begitu ingat sesuatu kepalanya berputar, mata memandang ke segenap sudut penjuru. Bibirnya yang mungil terbuka....

"Ni Estu Lampiri. Apa yang telah terjadi di tempat ini? Di mana kau?" teriak si gadis. Suara si gadis kemudian lenyap, dia menunggu untuk sesaat lamanya. Tak ada jawaban, yang terdengar justru suara gemeretak kayu yang terbakar. "Ketua perguruan Teratai Merah, tidak kau dengarkan suaraku ini?" teriak gadis itu lagi penasaran. Dalam hati dia merasa yakin Ni Estu Lampiri pasti dalam keadaan selamat, karena setelah memeriksa tadi dia tak menemukan mayat orang tua itu di antara mayat murid-muridnya.

Tapi sia-sia saja dia berteriak, karena kali ini suaranya tetap tak terjawab. Baru saja si gadis berniat mencari ke setiap sudut perguruan pada saat itu pula mendadak sontak ter- dengar suara tawa mengikik disertai batuk-batuk kecil. Si gadis melengak kaget. Namun dia cepat menoleh memandang ke arah datangnya suara itu. "Kurang ajar. Dia lagi!!" desis

gadis itu.

"Hi... hi... hi, Huk... huk... huk. Kau terlambat lagi Purbasari... sudah kukatakan secepat apapun kau memacu kudamu. Kau tidak mungkin bisa menyelamatkan dunia persilatan dari kehancurannya. Hi... hi... uhuk... uhuk!"

Beberapa saat lamanya gadis ini terdiam. Dia sama sekali tidak mengenal bocah laki-laki yang bertelanjang dada dan cuma memakai cawat kulit kayu yang menutupi bagian auratnya itu. Tapi aneh bocah berumur sepuluh tahun berambut gondrong dekil ini mengenal namanya. Bahkan dia sudah mengikuti sejak Purbasari sampai di perguruan Merak Emas dan juga perguruan Sangra Buana.

Kini si gadis pandangi bocah yang duduk seenaknya di atas pohon mengkudu. Yang dipandang menyengir, kemudian mengguncang pohon besar itu sambil bernyanyi tidak karuan jun- trungannya. Pohon itu bergoyang keras laksana ditiup topan. "Anggut-anggutan seperti di awan. Malapetaka datang mana mengenal kawan. Kalau lelah memberi ingat mengapa tak datang ke gunung Butak sobat, Tralili... tralulu... kalau lupa kepala dipalu. Hi... hi... hi!"

"Bocah siapakah dirimu? Apa yang kau ketahui tentang perjalananku?" hardik Purbasari curiga.

Bocah berbadan dekil tertawa mengikik disertai batuk-batuk kecil. "Sudah kukatakan namaku Iwir Iwir. Sedangkan mengenai dirimu? Hik... hik... hik." bocah yang mengaku bernama Iwir Iwir tekab mulutnya agar tidak keterusan tertawa. Dia kemudian melanjutkan. "Tentang dirimu aku tahu banyak. Kau adalah murid tunggal Ki Rangan dari Puncak Terang. Gurumu berjuluk Dewa Ngelindur Bertangan Arwah. Kau ditugaskan olehnya untuk memberi ingat pada seluruh perguruan silat di daerah timur Jawa ini agar mereka bersikap waspada dari segala mara bahaya. Karena saat ini di rimba persilatan muncul seorang tokoh sesat yang menamakan dirinya Sang Cobra. Tidak jelas apa yang menjadi awal persoalan? Yang pasti dia datang ke setiap perguruan membunuhi murid dan guru perguruan itu dengan ciri-ciri luka sebagaimana yang kau lihat. Setelah itu dia pergi menebar maut di perguruan yang lain...!" jelas si bocah.

Purbasari tersentak kaget men- dengar ucapan bocah ini. Bagaimana Iwir Iwir bisa mengatakan segala sesuatunya dengan jelas, padahal perjalanannya untuk menjalankan amanat sang guru sangat dirahasiakan? Belum lagi hilang rasa kaget di hati Purbasari, bocah yang cuma mengenakan cawat itu melanjutkan. "Bukan hanya itu saja, Purbasari. Kau juga ditugaskan untuk mencari Pedang Raja. Hanya pedang itu yang dapat diper- gunakan untuk menghentikan segala sepak terjang Sang Cobra. Namun kurasa bukan melalui tanganmu. Melainkan melalui tangan pemilik pedang itu. Hanya Anom Ka Ratan yang becus menggunakan pedangnya sendiri. Hik... hik... huk... huk."

Semakin bertambah kaget saja Purbasari mendengar ucapan Iwir Iwir. Bagaimana bocah itu bisa mengetahui segalanya? Ini merupakan sesuatu yang sangat membingungkan bagi Purbasari. Tapi benarkah dia tidak dapat meng- gunakan pedang Raja untuk menghentikan sepak terjang Sang Cobra? Purbasari gelengkan kepala

"Bocah... bicaramu sombong seperti seorang dewa yang tahu sega- lanya. Kau mengatakan aku tak sanggup menggunakan pedang itu, padahal kau tak pernah tahu sejauh mana kesaktian yang ku miliki" dengus Purbasari merasa tersinggung.

Iwir Iwir tertawa dan batuk- batuk lagi. Dia lalu membuka mulut berucap. "Aku tahu konon kesaktian Dewa Ngelindur Tangan Arwah sangat tinggi. Konon pula dia pernah mempecundangi beberapa tokoh golongan hitam. Membunuh Cula Berkala dedengkot tokoh sesat paling ditakuti di daerah selatan. Bahkan dia mengobrak-abrik Kadipaten Pacitan. Dan aku percaya sepenuhnya sebagai murid kau mewarisi semua ilmu kesaktian orang tua itu. Tapi kali ini sangat lain. Pedang Raja benar-benar rajanya dari segala pedang. Seperti yang kukatakan hanya Anom Ka Ratan yang bisa memper- gunakannya."

Merasa diri diremehkan oleh bocah itu. Maka Purbasari berucap ketus. "Baik, kalau begitu kita temui orang tua itu dan minta bantuannya?" dengus si gadis.

Bocah di atas pohon mengkudu dongakkan kepala dan batuk-batuk beberapa kali. "Untuk mencarinya saja sudah sulit, apalagi minta bantuannya? Dia orang tua yang mempunyai watak angin-anginan, mau menolong jika tidak diminta. Sebaliknya sulit mengharap bantuannya jika dia tidak berkenan." sahut Iwir Iwir.

"Bocah sinting! Apakah kau sengaja hendak mempermainkan diriku? Kau kira dirimu siapa?" hardik Purbasari marah,

"Hi... hi... hi. Namaku Iwir Iwir apakah kau lupa. Hanya itu saja yang patut kau ketahui." tegas si bocah aneh disertai senyum namun unjukkan mimik bersungguh-sungguh.

"Baiklah. Kau tadi mengatakan minta bantuan Anom Ka Ratan sangat sulit. Sementara Sang Cobra terus menebar maut tanpa pandang bulu. Kalau begitu kita ambil saja pedang itu."

"Aku percaya jiwa mudamu tidak mengenal rasa takut. Seperti yang sudah kukatakan tak seorang pun di dunia ini yang sanggup mempergunakan Pedang Raja. Kalau kau tak percaya, coba tangkap daun ini!" berkata begitu Iwir Iwir memetik selembar daun mengkudu. Enak saja daun itu dilemparkannya ke arah Purbasari. Daun meluncur, meskipun si gadis tak mengetahui maksud Iwir Iwir. Namun daun itu ditangkapnya juga. Wuut!

"Uup... eehh...!" Dalam hati Purbasari terkejut luar biasa ketika mendapat kenyataan selembar daun yang dilontarkan Iwir Iwir kepadanya ternyata sangat berat bukan main. Si gadis pergunakan tenaga luar dalam untuk menahan daun itu agar jangan sampai jatuh. Keringat mengucur membasahi tubuhnya. Tapi pada akhirnya dia jatuh terduduk tak sanggup menahan berat daun yang sangat luar biasa.

"Aneh, punya ilmu apa bocah ini? Hanya selembar daun aku tak sanggup mengangkatnya. Aku merasa tidak ubahnya seperti mengangkat sepuluh ekor kerbau??" batin Purbasari dalam hati. Dia pun dengan wajah pucat bersimbah keringat bangkit berdiri. Di atas pohon si bocah tertawa mengikik disertai batuk-batuk kecil.

"Apa sebenarnya yang kau mau?" tanya Purbasari.

"Aku hanya sekedar menunjukkan padamu suatu contoh yang mungkin bisa menjadi pelajaran bagimu. Kelak kau akan mengetahuinya sendiri mengapa aku mengatakan kau tak sanggup menggunakan pedang itu!" jawab si bocah tetap disertai senyum.

"Bicaramu bertele-tele. Saat ini tugasku masih banyak. Kalau kau mengikuti aku dengan maksud tujuan yang baik. Sekarang apa yang harus kulakukan?" sambil menahan kekesa- lannya Purbasari ajukan pertanyaannya. "Bertanya pada anak kecil apakah

itu bukan tindakan keliru? Padahal aku sendiri bisanya cuma main. Namun jika kau inginkan satu pandangan. Aku hanya bisa mengatakan saat ini sebaiknya tak usah lagi kau pergi menemui ketua perguruan yang ada di timur Jawa ini. Karena kuanggap hanya merupakan pekerjaan sia-sia. Dia selalu mendahu- luimu. Untuk itu kusarankan sebaiknya kita pergi menemui Anom Ka Ratan. Jika kau tak berkenan juga carilah kakek gendut besar luar biasa bernama Gentong Ketawa. Orang tua itu punya pandangan luas, di samping juga memiliki kepandaian sangat tinggi. Apalagi turut yang kudengar saat ini dia mempunyai seorang murid bernama Gento Guyon."

Mendengar Iwir Iwir menyebut nama Gentong Ketawa, Purbasari kembali dilanda rasa kaget. Gurunya sendiri Dewa Ngelindur Bertangan Arwah sebelum si gadis pergi sempat berpesan agar membicarakan persoalan pelik yang mereka hadapi saat itu.

"Gentong Ketawa kakek sakti yang punya tabiat aneh. Di mana harus mencari orang tua itu?" tanya Purbasari.

"Eeh... kau juga mengenalnya?" sergah Iwir Iwir sempat terlonjak kaget.

"Guruku ada sedikit memberi penjelasan tentang kakek itu." sahut Purbasari.

"Bagus. Kalau begitu kau memilih hendak menyambangi siapa?" tanya si bocah.

"Aku belum menentukan pilihan. Saat ini aku sedang memikirkan Ni Estu Lampiri." ujar si gadis.

"Dia tak berada di sini. Mungkin juga di suatu tempat. Untuk sementara sebaiknya jangan dirisaukan dulu masalah ketua perguruan Teratai Putih ini. Mudah-mudahan dia dalam keadaan selamat. Hi... hi... hi."

"Aku pun berharap begitu. Tapi ingat, jika kau ternyata menipu, kau tak bakal lolos dari tanganku!" ancam Purbasari,

Si bocah tertawa panjang diselingi batuk. Ketika si gadis memandang ke pohon sambil delikkan mata ternyata Iwir Iwir sudah tak berada lagi di tempatnya. Purbasari pun tanpa menunggu lebih lama segera berkelebat ke arah lenyapnya bocah aneh yang mengetahui banyak hal itu. 2

Laki-laki bercelana hitam ber- telanjang dada yang di sekujur tubuhnya dipenuhi hiasan mahluk berujud sosok ular kobra itu mendadak memperlambat larinya. Di satu tempat laki-laki yang kepalanya terbungkus kain hitam itu hentikan langkah. Sosok yang tersampir di atas bahunya dilemparkan, jatuh berguling-guling, diam dan tak bergerak.

"Laki-laki keparat siapa kau yang sebenarnya? Kau bunuhi murid- muridku. Kau totok diriku lalu kau bawa ke mari. Apa maksudmu?" hardik perempuan setengah baya berpakaian putih berhiaskan sulaman bunga Teratai berwarna merah.

Sejenak lamanya laki-laki ini memperhatikan si perempuan melalui celah lubang kain hitam yang menye- lubungi seluruh kepalanya. Kemudian dia dongakkan kepalanya ke langit. Terdengar tawa disertai desis aneh seperti desisan ular kobra yang marah. "Ketua perguruan Teratai Merah! Kau dengar! Aku akan menghancurkan semua perguruan silat yang ada di tanah Jawa ini. Akan kubunuh semua tokoh sakti baik dari golongan putih dan golongan hitam. Mereka semua tidak pantas diberi hidup. Karena orang yang menganggap dirinya dari golongan baik- baik sesungguhnya tidak punya perasaan sedikit pun." kata laki-laki itu sinis.

"Ucapanmu sama sekali tidak memberikan jawaban apapun atas pertanyaan yang kuajukan!" dengus perempuan itu yang bukan lain adalah Ni Estu Lampiri.

"Ha... ha... ha. Aku akan jawab pertanyaanmu. Tapi sebelum itu aku ingin kau menjawab beberapa perta- nyaanku dulu." sahut laki-laki itu. Dia terdiam sejenak. Dari balik penutup yang menyelubungi kepalanya terdengar suara aneh berupa desisan panjang. "Pertanyaanku yang pertama. Di mana dedengkot golongan putih bernama Anom Ka Ratan saat ini berada?"

Ni Estu Lampiri terkejut besar mendengar pertanyaan laki-laki bertelanjang dada yang sekujur tubuhnya dihias dengan gambar sosok ular kobra ini. Anom Ka Ratan adalah tokoh dunia persilatan yang namanya sangat disegani di daerah timur tanah Jawa. Orang tua itu sendiri sudah lama tak terdengar kabar beritanya. Kabar terakhir yang didengar Ni Estu Lampiri tokoh sakti itu menetap tinggal di daerah Probolinggo, menempati sebuah lembah yang diapit dua bukit. Konon di tempat itu pula dia menciptakan senjata aneh yang diberi nama Pedang Raja. Tapi kalau pun dia tahu di mana Anom Ka Ratan tidak mungkin dia memberitahukannya pada laki-laki yang telah membantai seluruh muridnya.

"Cepat jawab pertanyaanku!" hardik laki-laki ini tak sabar.

"Aku tak tahu!" jawab Ni Estu Lampiri.

Orang itu menggeram pendek. Walaupun mulai kesal, tapi dia terus melanjutkan pertanyaannya juga. "Kau tak tahu tak mengapa. Sekarang katakan padaku di mana beradanya Ki Banjar Jati berjuluk Mahluk Tanpa Tanda?"

Mendengar pertanyaan itu Ni Estu Lampiri tertawa pelan.

"Buat apa kau tanyakan orang aneh yang satu itu? Dia bisa berada di mana saja. Dia bisa muncul di hadapanmu tanpa kau sadari. Hi... hi... hi."

"Jadi kau tak tahu di mana gerangan Mahluk Tanpa Tanda berada?" desis laki-laki itu sinis.

"Aku tidak takut ancaman apapun darimu. Bahkan saat ini ingin rasanya aku membunuhmu. Tapi terus terang kukatakan aku tak tahu di mana adanya orang yang kau tanyakan ini!" sahut ketua perguruan Teratai Putih. Saat itu diam-diam dia kerahkan tenaga dalam untuk membebaskan totokan di tubuhnya. Nampaknya usaha yang dilakukan itu mendatangkan hasil. Totokan di bagian punggung dapat dimusnahkan. Tetapi dia tetap diam menunggu kesempatan terbaik untuk melepaskan satu pukulan mautnya.

"Kau tak takut ancaman. Sungguh dirimu adalah seorang perempuan yang sangat berani. Dua pertanyaan telah kuajukan. Di kejauhan sana ada sebuah pondok. Pondok kecil di tepi kali Merayu. Tempat itu masih seperti dulu- dulu juga. Tapi apa yang terjadi sekarang sudah sangat lain." gumamnya. Kemudian dia melanjutkan. "Waktu untuk membalas semua penghinaan itu sudah tiba. Sebentar lagi aku sudah tidak membutuhkan penunjuk jalan lagi. Karena itu aku akan jawab pertanyaanmu tadi. Kau ingat baik-baik, aku adalah Sang Kobra. Sengaja dikembalikan ke dunia ini untuk memberikan pelajaran yang berharga pada semua orang yang dulu pernah menghinaku."

"Sang Kobra. Kau sembunyikan wajahmu di balik selubung kain. Kau iblis pengecut. Kejahatanmu telah tersebar, ditiupkan angin ke delapan penjuru arah. Kau lampiaskan amarah pada orang-orang yang sama sekali tidak tahu musabab pangkal persoalan. Sungguh kau manusia picik yang buta hati dan pikiran!" teriak Ni Estu Lampiri.

Wajah di balik selubung kain hitam nampak gelap. Sepasang matanya berkilat pancarkan amarah. Ingat akan segala yang pernah terjadi di masa lalunya, maka sambil berteriak dia langsung menghantam. "Ucapanmu itu hanya mempercepat ajalmu sendiri!" bersamaan dengan itu pula Sang Cobra jentikkan lima jemari tangannya yang berkuku panjang dan runcing ke arah Ni Estu Lampiri. Dengan serangan jarak jauh ini Sang Cobra merasa yakin perempuan setengah baya itu pasti menemui ajal seketika karena pada saat itu dia melepaskan pukulan Sengatan Sang Cobra. Lima sinar hitam berbentuk seperti ekor ular membersit, melesat dengan sangat cepat sekali menghantam bagian perut Ni Estu Lampiri.

Merasakan adanya sambaran hawa dingin menerjang ke arahnya. Maka perempuan itu langsung melompat ke udara, sambil berjumpalitan dia raup sesuatu dari balik pakaiannya. Setelah itu tangannya dihantamkan ke arah lima larik sinar maut yang menderu sebat sejengkal di bawah kakinya. Lima buah benda merah berupa senjata rahasia melesat memapas pukulan Sengatan Sang Cobra.

Tuttt!

Dar! Dar! Daar!

Terdengar lima kali letupan berturut-turut. Ni Estu Lampiri akibat ledakan itu jatuh terguling-guling. Lima buah benda berupa kuntum bunga teratai merah yang disambitkannya hangus berkeping-keping begitu bentrok dengan pukulan lawan.

Tercium bau amis yang sangat menyengat. Ni Estu Lampiri tanpa menghiraukan rasa sakit yang menyesakkan dadanya dengan cepat bangkit berdiri. Wajahnya pucat pasi, sedangkan nafas perempuan itu agak tersengal. Di hadapannya Sang Cobra yang tidak mengalami cidera sedikit pun diam-diam jadi kaget. Dia sama sekali tak menyangka lawan yang sudah ditotoknya sejak dari perguruan Teratai Merah dapat membebaskan diri dari pengaruh totokan.

Walaupun begitu dia tetap tersenyum. "Tenaga dalammu ternyata cukup tinggi juga. Tapi setinggi apapun kesaktian yang kau miliki, di hadapanku kau tidak memiliki arti apa- apa." kata Sang Cobra sengit.

"Manusia sombong! Terimalah teratai beracunku!" Selesai berucap dengan sangat cepat sekali perempuan itu sambitkan tiga kuntum kuncup bunga teratai yang langsung mengembang bermekaran begitu menyentuh udara. Ketiga kuntum teratai biru ini laksana kilat melabrak Sang Cobra. Serangan yang dilakukan dari jarak dekat ini bukan serangan biasa. Karena mahluk apapun yang menjadi sasaran tubuhnya pasti langsung layu. Apalagi saat itu Ni Estu Lampiri mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki.

Dari mulut yang terselubung kain hitam terdengar suara menggereng marah. Dengan tangan kiri laki-laki yang sekujur tubuhnya dihiasi gambar ular Cobra ini memukul ke depan.

Tes! Tes! Tes!

Hantaman yang dilakukan Sang Cobra membuat tiga kuntum bunga teratai beracun itu berhamburan di udara. Justru hancurnya teratai membuat serbuk beracun yang terkandung dalam kelopak bunga itu bertebaran memenuhi udara. Sungguhpun Sang Cobra kebal terhadap semua jenis racun, tapi jika serbuk bunga beracun itu sampai tersedot dalam pernafasannya tentu akibatnya bisa jadi sangat fatal sekali. Sambil mengibaskan tangannya menghalau serbuk bunga beracun tersebut Sang Cobra melompat mundur.

"Kurang ajar. Jika tidak cepat kuhabisi dia lama-lama aku sendiri bisa kena dicelakainya," batin laki- laki itu.

Baru saja Sang Cobra berniat menyerang lawannya dengan satu pukulan yang mematikan. Pada saat yang bersamaan pula Ni Estu Lampiri sudah melancarkan serangan ganasnya dengan jurus Teratai Bermekaran Di Pagi Hari, Teratai Berguguran dan Teratai Mengambang Di Atas Air. Serangan yang sangat dahsyat yang tiada berkeputusan membuat lawan terdesak hebat untuk beberapa saat lamanya. Namun ketika Sang Cobra rubah jurus-jurus silatnya. Maka di lain kejap secara cepat perempuan itu tampak terdesak. Apalagi ketiga tangan Sang Cobra yang berkuku panjang, berwarna hitam mengandung racun ganas itu menyambar bagian wajah, dada dan perutnya.

Tak punya pilihan lain sambil melompat mundur Ni Estu Lampiri melepaskan satu pukulan ganas ke arah lawannya. Kembali hawa dingin menderu menghantam lawannya. Tanpa berusaha menghindar Sang Cobra menepis pukulan sakti lawannya. Benturan yang terjadi membuat Ni Estu Lampiri terjajar. Sebaliknya Sang Cobra melompat laksana kilat, tangan kiri menyambar.

Breet!

Pakaian di bagian perut perem- puan itu robek besar. Belum lagi Ni Estu Lampiri hilang kagetnya melihat pakaian robek besar tangan kanan lawan kembali menyambar, menghunjam dalam perutnya.

Kraak! "Akhh...! "

Ni Estu Lampiri menjerit keras. Perutnya robek besar, isi perut berburaian keluar. Perempuan itu terhuyung dan dekap perutnya. Pada saat itulah dari balik kepala depan yang terselubung kain hitam melesat satu benda sepanjang satu jengkal. Benda yang ternyata sosok ular kobra berwarna hitam langsung menghunjam di bagian kening Ni Estu. Ada dua titik luka seperti bekas pagutan. Ular tadi jatuh di atas tanah, lalu lenyap setelah menyentuh ujung ibu jari kaki Sang Cobra. Sedangkan Ni Estu Lampiri sendiri terguling roboh. Sekujur tubuhnya menghitam keracunan sedangkan jiwanya tidak terselamatkan lagi.

Sang Cobra mendengus sinis. Tanpa menoleh lagi dia tinggalkan mayat ketua perguruan Teratai Merah begitu saja.

3

"Kaki kiri melangkah ke depan tiga langkah. Kemudian kaki kanan bergeser ke samping satu langkah. Tangan ditekuk, jemari yang saling dirapatkan menghadap ke depan, lengan ditarik ke belakang. Dengan cepat digerakkan ke depan!" berkata kakek gendut besar berbadan tinggi berpipi tembam dan berhidung pesek. Sambil berkata begitu tangan membuat gerakan seperti gerakan kaki depan Congcorang. Tidak jauh dari  si kakek, seorang  pemuda tampan  berambut gondrong bertelanjang dada berwajah polos lugu meniru apa yang dikatakan oleh si kakek gendut besar berkening lebar. Dia sama sekali tidak memperdulikan sengatan terik matahari yang panas membakar. Sesekali pemuda tampan yang bukan lain adalah Gento Guyon murid si kakek gendut besar Gentong Ketawa memperhatikan jemari tangannya sendiri. Di bolak-balik, dirapatkan digerakkan ke depan. Sekejap dia melompat-lompat seperti congcorang, lalu jemarinya yang saling merapat sedemikian rupa bagaikan moncong ular yang mematuk, melesat menghantam batu besar yang terdapat di depannya.

Crok! Crok! Pyur!

Hebat mengagumkan. Batu yang sangat keras itu berlubang. Si pemuda memperhatikannya untuk beberapa saat. Dia tersenyum, matanya dipentang seakan tak percaya dengan kenyataan yang dialaminya.

"Guru. Kau lihat hasilnya. Jurus apa tadi namanya...?" tanya si pemuda seakan lupa mengingat.

Kakek berbadan besar gendut luar biasa yang mencangkung di atas batu yang baru saja menjadi sasaran si pemuda cibirkan mulutnya.

"Mengingat nama jurus saja tak becus. Kalau mau tahu itulah yang namanya jurus Congcorang Mabuk. Hanya gerakan kaki dan tubuhmu kurang luwes. Kau juga harus mengerahkan tenaga dalam lebih banyak lagi ke bagian ujung jari agar kehebatan jurus Congcorang Mabuk dapat hasil yang lebih maksimal!" menyahuti si kakek dengan sikap acuh tak acuh.

"Kurasa untuk memantapkan jurus itu kita harus mabuk dulu guru." celetuk Gento dengan muka serius namun bibir sunggingkan senyum.

"Boleh juga, memainkan jurus belalang mabuk sambil mabok sungguhan memang asyiik. Sayang tak ada warung tidak ada tuak. Bagaimana kalau kau minum air sungai sampai mabuk?! Ha., ha... ha." kata si kakek Gentong Ketawa sambil tertawa mengekeh.

"Air sungai masih kurang asyik. Kurasa maboknya makin sedap kalau kita minum air kencing bersama-sama." sahut Gento Guyon disertai tawa pula.

Si kakek unjukkan muka cemberut. "Sudah, kau kalau diajak bicara kata- katamu makin melantur saja. Sekarang sebaiknya kita tinggalkan tempat ini!" kata Gentong Ketawa. Orang tua itu kemudian bangkit berdiri, lalu tubuhnya digerakkan ke kanan dan ke kiri sampai terdengar suara berkero- takan seperti tulang berderak.

Selagi si kakek menggerak- gerakkan badan itulah matanya memben- tur sesuatu. Dia memperhatikan pohon yang terdapat tak jauh di sebelah kirinya.

Kedua alisnya berkerut, matanya yang agak sipit dikedip-kedipkan. Melihat tingkah gurunya. Gento jadi ikutan melirik ke arah yang sama.

"Apa yang dilihat oleh kakek bunting ini." membatin Gento dalam hati. Dia kemudian jadi melengak kaget ketika melihat ada beberapa baris coretan yang terdapat di batang pohon itu. Belum lagi pemuda ini sempat ajukan pertanyaan gurunya sudah melangkah mendekati pohon.

Cukup lama dia berdiri di situ, memperhatikan, meneliti dan mengama- tinya dengan seksama, sampai kemudian mukanya yang kemerahan nampak berubah pucat.

"Pesan ini rasanya sudah tidak asing lagi bagiku. Tulisannya jelek namun masih dapat dibaca. Aneh... aku tidak melihat dia hadir di sini. Tadi ketika aku dan Gege sampai aku tidak melihat adanya coretan di batang pohon ini. Ah, perasaanku jadi tidak enak. Jelas guru telah datang, namun aku tak melihat kehadirannya. Orang tua aneh! Kedatangannya seperti setan dan pergi secepat angin berhembus. Aku tahu betul dia tak suka banyak bicara. Tapi adalah sangat keterlaluan jika cuma meninggalkan pesan!" gerutu si kakek.

"Guru bicara pada siapa?" tanya Gento yang sudah berdiri di samping gurunya. Yang ditanya sempat kaget, mulutnya membuka hendak mendamprat tapi tidak jadi. "Tulisan jelek siapa ini? Dibandingkan cakar ayam, rasanya masih kalah bagus!" kata si pemuda lagi.

Kakek berbadan besar luar biasa ini delikkan matanya. Merasa dipelototi Gento pura-pura melihat ke arah lain sambil bersiul-siul.

"Jangan sembarangan kau bicara. Orang yang membuat pesan ini adalah guruku, jadi masih terhitung kakek gurumu! Dia datang tanpa kita melihatnya. Meninggalkan pesan, ber- arti ada sesuatu yang sangat penting, menyangkut urusan besar yang harus kita kerjakan." berkata si kakek.

Gento Guyon terdiam, mata tak pernah beralih dari batang pohon, mulutnya melongo tanda heran. "Guru. Apakah kakek guru sebangsanya hantu, memedi, kolong wewe atau setan kampret?" tanya si pemuda bersungguh- sungguh.

"Bocah edan, bicara melantur apalagi kau. Tentu saja guruku adalah manusia seperti kita. Bukan salah satu dari yang kau sebutkan!" bentak kakek Gentong Ketawa bersungut-sungut.

Melihat gurunya cemberut begitu rupa Gento Guyon tak dapat menahan senyum. Kalau sedang cemberut mulut gurunya memang tidak ubahnya seperti mulut ikan lele yang sedang bermain di atas air, apalagi kumis si kakek hanya tumbuh beberapa helai saja,

Satu tepukan mendarat di bahu Gento membuat senyumnya lenyap dan dia jadi meringis kesakitan.

"Guru ada apa ini? Kau memukulku tanpa sebab?" rutuk pemuda itu sambil mengusap-usap bahunya yang serasa remuk. Gento menyadari tepukan si kakek hanyalah tepukan biasa tapi karena tangan gurunya besar dan berat bukan main jadinya pemuda itu merasa bahunya seperti dikemplang palu batu.

"Aku tahu, setiap kau tersenyum bila melihatku, pasti ada bagian tubuhku yang kau caci. Jangan mungkir, aku selalu dapat menebak apa yang ada di balik batok kepalamu itu!"

"Tidak malu aku berterus terang, apa yang guru katakan memang betul semuanya. Ha., ha... ha!" ujar pemuda itu disertai tawa lebar.

"Dasar bocah kurang ajar. Sekarang kita mendapat pesan dari guruku. Ini bukan merupakan tugas yang dapat dianggap main-main. Karena itu kuminta kau bersikap serius. Jika kita gagal kakek gurumu bisa marah besar dan menghukum kita." berucap kakek Gentong Ketawa.

Gento Guyon keluakan siulan pendek. Sambil bertolak pinggang dia berkata. "Aku sendiri belum pernah bertemu dengan kakek guru. Tapi kulihat kau begitu ketakutan. Apakah kakek guru itu tampangnya angker menyeramkan? Atau barangkali kejam seperti iblis?" tanya si pemuda heran

"Suatu saat kau pasti bertemu dengannya. Kakek gurumu tidak seperti yang kau sebutkan itu. Tapi terus terang selain Gusti Allah di dunia ini dialah yang paling kutakuti. Aku merasa lebih baik bertemu dengan sepuluh musuh berkepandaian tinggi daripada harus bertemu dengannya." kata si kakek merasa jerih.

Gento Guyon menyeringai men- dengar pengakuan gurunya. Dalam hati dia menduga pasti kakek gurunya adalah sosok laki-laki tua berbadan lebih besar dan lebih tinggi dari gurunya, berwajah angker hampir tanpa senyum. Sehingga wajar saja jika gurunya yang berbadan tambun itu jadi takut kepadanya.

"Sekarang kalau guru merasa takut padanya, lebih baik kita baca saja pesan ini bersama-sama," berucap si pemuda.

Gentong Ketawa anggukkan kepala. Mereka lalu membaca pesan itu bersama- sama.

Pada muridku si gendut Gentong Ketawa!

Dimohon perhatiannya. Saat ini dunia persilatan sedang dilanda kericuhan. Beberapa perguruan dibakar, murid dan gurunya dibantai. Nampaknya korban akan terus berjatuhan, karena si pembunuh yang menamakan dirinya sebagai Sang Cobra itu tidak memandang bulu dan membantai orang yang diinginkannya. Cari tahu mengapa Sang Cobra sampai melakukan perbuatan keji dan tindakan biadab itu. Kuminta padamu dan juga pada muridmu untuk menghentikannya. Mengingat ilmu kesaktiannya sangat tinggi sebaiknya kau berhati-hati jika tak ingin mati konyol!

Tertanda Gurumu.

Selesai membaca murid dan guru saling pandang. Si kakek menarik nafas, terdiam sejenak sambil ber- pikir. Sedangkan muridnya golang- geleng kepala seperti orang linglung.

"Bocah, apalagi yang ada dalam kepalamu? Jika kau punya sesuatu yang hendak kau sampaikan katakan saja terus terang mengapa harus malu-malu?" Mendengar ucapan gurunya Gento Guyon tertawa tergelak-gelak. "Apa guru mengira aku bicara dengan seorang gadis ingusan yang baru mengenal cinta hingga aku harus merasa malu segala?" menyahuti si pemuda. "Guru harus ingat saat ini orang yang hendak kita cari itu tidak kita ketahui di mana? Paling tidak kita harus menyerap kabar tentang keberadaan Sang Cobra. Saat ini kita berada di sekitar daerah kali Merayu. Apa salahnya jika mulai melakukan penyelidikan dari sekarang?" ujar si pemuda.

"Kau benar. Aku setuju saja. Kebetulan sekali tidak jauh dari kali Merayu aku punya seorang sahabat lama. Namanya Ki Bantaran berjuluk Iblis Berhati Suci." menerangkan si kakek.

Mendengar ucapan gurunya Gento Guyon tersenyum dengan mulut ter- pencong.

"Aneh? Masa iya di dunia ini ada iblis yang hatinya suci? Manusia sendiri kebanyakan hatinya bengkok. tidak jujur. Ha... ha... ha."

"Bocah edan. Bisa mu cuma mencaci melulu. Sudahlah ayo kita pergi!"

Selesai berkata kakek Gentong Ketawa menyambar tangan muridnya. Kejap kemudian pemuda itu merasa tubuhnya seperti dibawa lari secepat terbang. 4

Yang pertama kali dilakukan oleh Iwir Iwir dan Purbasari murid Ki Rangan alias Dewa Ngelindur Bertangan Arwah itu adalah mengumpulkan sedikit- nya delapan orang laki-laki tegap. Purbasari sendiri sebenarnya tak mengerti mengapa bocah aneh bernama Iwir Iwir itu mengumpulkan delapan pemuda berbadan besar dan tegap. Namun untuk mengajukan pertanyaan tentu dia merasa malu, karena dia manganggap walau Iwir Iwir memiliki ilmu aneh dan luas pengalaman. Dia tetap merupakan seorang bocah yang tidak jauh berbeda dengan bocah lain pada umumnya.

Saat itu matahari baru saja tenggelam di balik gunung Bromo. Kegelapan mulai menyelimuti lereng gunung sebelah barat yang sejuk. Di balik kelebatan pohon yang tumbuh di sepanjang lereng gunung baik si bocah maupun Purbasari sendiri nampaknya tidak menghiraukan sengatan hawa dingin yang menusuk. Tak jauh di belakang mereka delapan laki-laki tegap bertelanjang dada tampak terus mengikuti mereka.

"Sekarang sudah gelap. Aku tak ingin melanjutkan perjalanan di malam hari." berkata Purbasari sambil menghentikan langkah. Karena gadis berambut riap-riapan ini berhenti maka bocah berumur sembilan tahun itu ikut berhenti. Dia menggaruk rambutnya. Memandang ke depan sana nampaknya jalan akan mereka lalui semakin bertambah sulit.

"Aku sendiri sebenarnya juga tidak mau. Tapi jika kita tunda perjalanan ini, berarti kita membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sampai di bukit Waton Hijau. Padahal jika kita berniat mengambil Pedang Raja di malam hari besar kemungkinan Anom Ka Ratan tidak akan mengetahui kehadiran kita." jelas Iwir Iwir.

"Jadi kita berniat mencuri pedang itu?" tanya Purbasari. Semen- tara di belakang mereka delapan orang laki-laki yang mereka bawa dari desa terdekat sudah ikut berhenti pula. Mengingat perjalanan untuk mencapai Bukit Waton Hijau begitu sulit, tidak heran jika ke delapan pemuda desa itu nampak kelelahan.

"Kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita meminta Pedang Raja pada pemiliknya. Anom Ka Ratan jelas tidak mau memberikannya. Jika kita meminta orang tua itu untuk turut membantu, ini akan lebih sulit lagi. Seperti yang pernah kukatakan dia orang tua aneh yang mempunyai tabiat sulit ditebak. Bisa jadi karena kita datang meminta tolong dia malah membunuh kita."

"Manusia aneh. Tak pernah kusangka begitu aku turun gunung aku akan banyak bertemu dengan orang edan." gumam Purbasari. Dia melirik ke arah delapan laki-laki muda yang berada di sampingnya. Setelah itu pandangannya kembali pada Iwir Iwir. "Buat apa kau membawa serta mereka dalam perjalanan kita?" si gadis ajukan pertanyaan.

Si bocah aneh ini hendak tertawa, namun cepat tekap mulutnya. Dia hanya batuk-batuk kecil, baru kemudian menjawab dengan berbisik. "Nantinya kau akan tahu bila sudah sampai di sana."

"Bagaimana orang-orang ini bisa menuruti perintahmu?" tanya Purbasari heran.

Iwir Iwir tersenyum, lalu dongakkan kepala. Matanya berkedip- kedip memandang ke langit yang gelap dan hanya ditaburi cahaya gemintang.

"Ada satu rahasia besar yang tidak bisa kuceritakan padamu saat ini. Tapi jika kau mau berjanji mau menjadi sahabatku, kelak aku pasti akan menceritakan tentang rahasiaku itu. Asal kau mau bersumpah tidak akan menceritakan rahasia perihal diriku pada siapapun sampai kau mati." kata Iwir Iwir.

"Bocah aneh, siapa sebenarnya dia? Masih sekecil ini mempunyai kesaktian tinggi. Tingkah lakunya selalu berubah-ubah, terkadang dia malah memberi nasehat seperti orang tua." Batin Purbasari. Sejenak lamanya gadis itu pandangi si bocah. "Baiklah, aku berjanji. Sekarang apakah kita hendak meneruskan perjalanan seperti keinginanmu atau istirahat seperti yang kukatakan tadi?"

"Turut kata hatiku kita memang harus melanjutkan perjalanan. Tapi... aku merasa sejak tadi ada orang yang mengikuti kita!" berkata bocah itu dengan suara hampir tak terdengar.

Purbasari berjingkrak kaget. "Apa...? Aku sendiri tidak merasa ada orang yang mengikuti kita. Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya si gadis. Dia semakin tambah heran saja melihat kemampuan dan kelebihan yang dimiliki oleh Iwir Iwir.

"Bocah ini, jika benar apa yang dikatakannya. Berarti dia mempunyai pendengaran yang lebih tajam dariku." Purbasari gelengkan kepala seakan merasa tak percaya.

Seolah dapat membaca pikiran si gadis, Iwir Iwir menegaskan. "Aku bicara yang sebenarnya. Kita harus mencari tempat untuk melewatkan malam sampai orang yang mengikuti kita pergi. Besok pagi sekali baru kita lanjutkan perjalanan ini."

Purbasari menganggukkan kepala. Dalam Kegelapan malam itu matanya memandang ke segenap penjuru sudut. Dia kemudian melihat sebuah legukan batu yang cukup luas lagi dalam di lamping tebing sebelah kirinya.

"Iwir Iwir, sebaiknya kita bawa orang-orang ini ke sana!" kata Purbasari.

"Aku mengikut saja. Kau dan mereka bisa tidur di legukan batu itu. Sementara aku sendiri biar berjaga- jaga di luar!"

"Apa, kau menyuruhku tidur bersama mereka? Apa kau tidak ingat kalau aku seorang perempuan?" dengus Purbasari.

"Ingat, tentu saja aku ingat. Tapi cuma tempat itu satu-satunya yang dapat dijadikan tempat berlindung dari dinginnya malam." menerangkan si bocah mencoba memberi pengertian.

"Aku ingin tidur di luar legukan batu, kalau perlu kau yang tidur di luar bersama mereka!" ujar si gadis cemberut.

"Baik. Tidurlah kau sesuka hati di mana saja yang engkau mau. Aku akan menyuruh mereka tidur di balik legukan batu. Kulihat langit mendung. Sebentar lagi hujan pasti segera turun. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik padamu jika kau memang mengakui aku adalah sahabatmu!"

"Terima kasih atas kebaikanmu!" kata Purbasari. Dia sendiri kemudian mencari tempat tak jauh dari legukan batu. Berlindung di bawah sebatang pohon rindang, di mana karena di tempat itu suasananya lebih gelap tentu dia dapat mengawasi suasana di sekitarnya setiap saat.

Si bocah segera memerintahkan delapan pemuda yang ikut serta dalam perjalanan mereka menuju ke legukan di lamping batu tebing. Setelah para pemuda itu merebahkan diri di bagian dalam legukan batu yang mirip gua dangkal. Purbasari melihat Iwir Iwir keluar dari legukan batu. Dia duduk menyandarkan punggungnya di kaki tebing yang masih merupakan bagian lereng Gunung Bromo.

Di bawah kegelapan pohon Purbasari mencoba merenungi perjalanan yang dilakukannya sejak meninggalkan Puncak Terang yang merupakan tempat pertapaan Ki Rangan alias Dewa Ngelindur Bertangan Arwah. Beberapa perguruan telah didatanginya guna memberi ingat agar para ketua perguruan bisa bersikap waspada selalu mengingat munculnya Sang Cobra yang tidak terduga yang sering melakukan pembunuhan keji. Apapun alasan di balik pembantaian itu, baik Purbasari maupun gurunya tidak tahu secara pasti.

Tapi sayang kedatangan Purbasari selalu terlambat. Ketika dia sampai di perguruan yang disambanginya. Mereka yang seharusnya diberi peringatan sudah tewas terbantai.

Semua ini baginya cukup mengejutkan. Yang membuatnya heran, sejak pertama kali menginjakkan kaki di salah satu perguruan, muncul bocah aneh yang kini turut serta bersamanya.

Bocah yang bila dilihat dari segi usia masih terlalu sangat muda bahkan boleh dibilang anak-anak, tapi memiliki kesaktian tinggi dan aneh, di samping itu si bocah juga tampaknya mempunyai pengalaman yang sangat luas. Dia mengaku bernama Iwir Iwir, namun siapa bocah itu yang sesungguhnya Purbasari tak tahu.

Satu hal lagi yang membuat Purbasari menjadi bertanya-tanya dalam hati. Entah buat apa bocah itu kini membawa serta delapan pemuda desa yang sesungguhnya tidak tahu tentang ilmu silat dan tidak pula berkepandaian apa-apa. Dan yang terasa aneh lagi, sejak ikut dengannya ke delapan pemuda itu sama sekali tak pernah bicara. Mereka mengikut saja ke mana Purbasari dan Iwir Iwir melangkah. Anehnya kepada bocah itu mereka sangat menurut. Entah ilmu apa yang dipergunakan si bocah?

Kini di bawah pohon hanya dengan berbantal kedua tangannya sendiri si gadis mencoba memejamkan matanya. Entah mengapa dia jadi gelisah. Matanya sulit sekali dipejamkan. Sementara hujan mulai turun rintik- rintik, angin dingin bertiup pula dengan kencang. Bersamaan dengan itu pula suasana di lereng Bromo sebelah barat itu semakin bertambah gelap saja. Purbasari terkejut, tapi aneh dia juga saat itu diserang rasa kantuk yang berat. Sungguhpun si gadis sudah mencoba bertahan agar jangan sampai terlelap, namun pada akhirnya dia pulas juga.

Justru pada saat itu pula satu sosok tubuh yang sejak tadi mendekam di balik kegelapan kini bangkit berdiri disertai seringai dingin mengerikan. Dalam gelap itu wajahnya sama sekali tidak terlihat. Hanya kedua matanya saja yang merah berkilat-kilat memandang ke arah legukan batu di mana delapan pemuda dusun itu melewatkan malam.

"Bocah itu ilmunya sungguh tinggi. Kuharap mantra sirepku dapat bekerja dengan baik sebagaimana yang kuharapkan. Aku sekarang sudah tahu mengapa bocah itu membawa serta delapan orang pemuda dusun. Sebaiknya biar kuhabisi saja kedelapan pemuda itu sekarang. Sedangkan bocah dan gadis itu gilirannya akan tiba begitu mereka sampai di tempat tujuan. Jadi aku tidak perlu bersusah payah mencari di mana beradanya Pedang Raja, karena mereka pasti akan membawaku ke sana!" kata sosok serba hitam berbadan bungkuk itu di dalam hati. Dia lalu mengendap-endap mendekati legukan lamping tebing.

Sementara itu Iwir Iwir si bocah aneh juga rupanya juga tak mampu menahan rasa kantuknya. Bocah ini malah lebih cepat pulas dibandingkan Purbasari. Walau sebelumnya dia sendiri sempat memberi tahu si gadis kalau saat itu ada orang mengikuti mereka. Tapi dasar seorang bocah, tetap saja dia berlaku ceroboh.

Dengan leluasa sosok berpakaian serba hitam itu memasuki legukan batu. Sejenak lamanya dia pandangi ke delapan pemuda yang pulas tertidur dibuai mimpi. Mulutnya membuka, dengan cepat pula dia meniup. Dari mulutnya menyembur cairan putih yang langsung mengepul menjadi kabut. Kabut putih itu menebar memenuhi ruangan dan tersedot masuk ke dalam pernafasan ke delapan pemuda dusun. Begitu masuk ke dalam pernafasan, maka ke delapan pemuda itu tersentak. Mereka memegangi leher masing-masing yang terasa tercekik, tubuh menggelepar sedangkan kaki menggelinjang. Hanya beberapa saat kemudian ke delapan pemuda itu tampak terdiam tidak berkutik lagi.

"Uap racun Raja Cobra tidak ada duanya di dunia ini. Kalau aku mau bahkan bocah yang tidur di depan sana pasti menemui ajal saat ini, juga." geram sosok bungkuk itu. Kemudian tanpa menunggu lebih lama sosok berpakaian serba hitam ini langsung berkelebat meninggalkan korbannya.

Pada pagi keesokan harinya, Purbasari jadi kaget begitu melihat delapan pemuda itu sudah tergeletak kaku tanpa nyawa. Anehnya begitu dia melihat ke arah Iwir Iwir yang baru saja terjaga bocah itu terlihat tenang-tenang saja.

"Siapa yang membunuh mereka?" bertanya gadis itu sambil memeriksa keadaan salah satu mayat tanpa luka namun tubuhnya hitam membiru.

"Mana aku tahu? Aku sendiri tidur," jawab si bocah. Iwir Iwir datang menghampiri, ikut memeriksa seluruh mayat pemuda dusun kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Racun yang sangat keji. Ditiupkan ke udara lalu terhirup pernafasan. Untung... untung akalku lebih panjang."

"Eeh... apa maksudmu?" tanya Purbasari. Si bocah tersenyum. Tanpa menghiraukan pertanyaan si gadis, Iwir Iwir menggerakkan tangannya ke arah mayat-mayat itu.

Wuuut!

Angin menderu menyapu ke delapan mayat si pemuda. Purbasari terbelalak kaget, mulut ternganga seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Bagaimana tidak? Ke delapan pemuda itu kini telah berubah menjadi potongan kayu. Purbasari memandang pada si bocah dengan tatapan penuh tanya.

Iwir Iwir tersenyum. "Aku punya firasat hal ini pasti akan terjadi. Dengan sedikit kekuatan yang ku miliki kusarukan kayu-kayu itu menggantikan delapan pemuda yang bersama kita. Aku tidak tahu apa maksud tujuan orang itu mengikuti kita. Tapi kurasa jika dia telah berani melakukan pembunuhan. Berarti ada sesuatu yang diinginkannya." jelas si bocah.

Purbasari terdiam, dia semakin kagum terhadap si bocah di samping juga tetap curiga.

"Sekarang di mana mereka?'" tanya si gadis.

"Tak usah khawatir. Para pemuda itu bersembunyi di satu tempat aman tak jauh dari sini. Kalau kau ingin melihatnya juga boleh. Mari kita ke sana." ujar Iwir Iwir.

Keduanya lalu menelusuri tanah bebatuan di sebelah kanan tebing. Tak lama mereka sampai di sebuah gua kecil. Si bocah batuk beberapa kali. Dari balik mulut gua yang sempit bermunculan kedelapan pemuda dusun itu.

"Aneh...!" desis si gadis merasa kagum.

Si bocah tertawa disertai batuk. "Tidak ada yang aneh. Sedikit melakukan tipuan kecil terhadap orang yang berniat jahat, kurasa aku bisa mendapat ganjaran pahala dari Tuhan. Sekarang, walau tidak aman kurasa kita sudah bisa melanjutkan perjalanan." ujar Iwir Iwir. Purbasari anggukkan kepala. Selanjutnya mereka berjalan melewati lembah di mana bukit Waton Hijau nampak biru kehijauan di bawah siraman cahaya matahari pagi.

5

Kakek tua berbadan kurus, berpipi cekung bermata tajam penuh kearifan itu duduk diam di dalam kamarnya yang sempit. Sebentar dia melirik ke arah pedang hitam berte- lanjang yang tergeletak di atas pendupaan menyala. Sesekali mulutnya berkomat-kamit, anehnya tak sepatah katapun yang terdengar dari mulutnya. Sambil berkomat-kamit si kakek berpakaian serba ungu ini menaburkan serbuk dalam genggaman tangannya. Terdengar suara gemeretak begitu serbuk berwarna kuning itu menyentuh api disertai dengan mengepulnya asap hitam kekuningan menebar bau harum damar.

Di atas pendupaan pedang yang diletakkan melintang bergetar disertai dengan terdengarnya suara dentring aneh. Si kakek kemudian berucap ditujukan pada pedang di atas pendupaan. "Gagak Mencle, aku sudah mendengar kejahatan Sang Cobra. Saat ini sudah sangat banyak kerabatku pendiri perguruan yang tewas di tangannya. Aku ingin kau membunuhnya agar tidak ada lagi darah orang yang tidak berdosa tercecer membasahi bumi. Lakukan tugasmu sekarang juga!" berkata begitu kakek tua bernama Ki Bantaran dan dikenal dengan julukan Iblis Berhati Suci itu jentikkan ujung jemarinya ke hulu pedang hitam.

Zzzzt!

Begitu angin dingin menyentuh permukaan pendupaan. Maka pedang Mencle Sapu Angin menderu, melesat di langit-langit pondok dan menerobos atap ilalang dan lenyap dari pandangan mata. Beberapa saat lamanya si kakek tetap duduk di depan pendupaan, dengan tangan dirangkapkan ke depan dada sedangkan mata dalam keadaan terpejam. Tapi tubuh si kakek tiba-tiba saja bergetar hebat. Punggungnya yang berada di atas tempat tidur terangkat ke atas, lalu meluncur ke bawah laksana dibanting.

"Oh celaka, ada apa gerangan?" desis si kakek sambil membuka matanya. Belum lagi lenyap rasa kaget di hati Ki Bantaran di atas pondok terdengar suara letusan keras yang disusul dengan hancurnya atap pondok. Satu benda hitam melayang jatuh, menancap tepat di depan kaki Ki Bantaran. Ketika melihat benda itu maka kagetlah si kakek dibuatnya.

"Pedang Gagak Mencle Sapu Angin, mengapa yang kau bunuh hanya seekor ular cobra yang tidak berguna?" hardik orang tua itu sambil memperhatikan bagian kepala ular yang menancap di ujung mata pedang. Si kakek lalu mencabut pedang yang menancap di atas balai tempat tidur. Ekor ular dipegang dan ditarik, sehingga kepala ular itu terlepas dari ujung pedang. "Seumur hidup aku menggunakan senjata bertuah ini belum pernah meleset dari sasaran. Tapi hari ini mengapa bisa terjadi kekeliruan? Apakah pedang ini salah mengerti maksud dari ucapanku?" pikir si kakek.

Selagi hati orang tua ini diliputi rasa bingung. Pada saat itu pula di depan rumahnya terdengar suara tawa terbahak-bahak. Merasa terkejut Ki Bantaran melompat bangkit. Tawa aneh yang didengarnya tadi lenyap, satu suara berkata. "Ki Bantaran, apapun yang kau lakukan untuk membunuhku hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Sekarang kau keluarlah! Aku menunggumu di sini."

"Siapa dia? Suaranya sama sekali tidak kukenal." membatin Ki Bantaran. Karena curiga kakek itu menyelipkan pedang yang dipungutnya tadi di balik pakaian ungunya.

"Ki Bantaran Iblis Berhati Suci, tapi aku lebih suka menyebutmu iblis keparat! Cepat keluar, waktuku tidak banyak karena masih dua nyawa lagi yang menunggu untuk kukirim ke neraka!" bentak orang di halaman. Ki Bantaran yang sempat heran karena orang mengenali julukannya berkelebat ke bagian pintu depan. Sampai di depan pintu di hentikan langkah. Sepasang matanya memandang tajam ke arah sosok laki-laki yang berdiri tegak di halaman. Orang tua ini kembali dilanda keterkejutan besar ketika melihat sosok laki-laki bertelanjang dada bercelana hitam. Sedangkan di sekujur tubuhnya dihiasi lukisan berupa sosok ular cobra. Wajah maupun kepala laki- laki itu sama sekali tak terlihat karena diselubungi kain hitam. Hanya sepasang matanya saja yang mengintai dari balik selubung kain yang diberi dua buah lubang. Setelah saling beradu pandang sekian lamanya, laki-laki bertelanjang dada itu akhirnya tertawa terbahak- bahak. "Kau ingat dengan diriku iblis berhati suci?! Ha... ha... ha." hardik laki-laki itu yang bukan lain adalah Sang Cobra.

"Melihat pada keadaan badanmu, kau pasti adalah Sang Cobra," menyahut Ki Bantaran. Sang Cobra gelengkan kepala. "Bukan, bukan itu. Kau tentu ingat kejadian sekitar dua puluh tahun yang lalu. Ketika itu hujan deras melanda, seluruh tanah Jawa. Dalam gelapnya malam di tengah hujan, ada seorang pemuda datang ke rumahmu yang buruk. Di sini, di pondok ini!" jelas laki-laki itu.

Mendengar ucapan Sang Cobra di samping terperanjat, kakek itu nampak terdiam. Kening si orang tua berkerut tajam. "Dua puluh tahun yang lalu" membatin si kakek dalam hati. Begitu otak si orang tua dapat mengingat maka wajahnya menjadi murung.

***

Sejenak mari kita ikuti kejadian yang terjadi sekitar dua puluh tahun yang silam. Saat itu hari sudah hampir malam. Di bagian pendopo depan Ki Bantaran sedang berbincang-bincang dengan salah seorang sahabatnya yang bernama Ki Banjar Jati alias Mahluk Tanpa Tanda.

"Jadi sahabat kita Anom Ka Ratan berhasil membunuh Sepasang Iblis Pengemis Harpa?" tanya Ki Bantaran saat itu pada sahabatnya Ki Banjar Jati.

"Bukan dia sendiri, tapi aku juga termasuk ikut ambil bagian dalam mengeroyok dua tokoh sesat sakti itu. Belasan ketua perguruan silat yang berada di tanah timur ini juga turut ambil bagian. Kami tak ingin ada pembalasan di kemudian hari. Itu sebabnya aku dan para ketua perguruan yang ikut tergabung dalam penyerbuan ke Puncak Tumapel terpaksa mengero- yoknya. Tapi ternyata Sepasang Iblis Pengemis Harpa itu ilmunya sangat tinggi sekali. Kami hampir saja kalah. Beruntung muncul Anom Ka Ratan. Orang tua itu membantu kami. Ketika mereka terluka, aku membunuh mereka dengan pedang Gagak Mencle Sapu Angin yang kupinjam darimu. Pedang sakti ini sangat bagus." berkata begitu orang tua berpakaian serba putih keluarkan pedang berikut sarungnya dari balik pinggang. "Sekarang pedang kukem- balikan padamu. Aku sangat berterima kasih!" kata Ki Banjar Jati sambil mengelus-elus jenggot panjangnya.

Ki Bantaran menerima pedang miliknya, kemudian meletakkan pedang Gagak Mencle Sapu Angin di atas pangkuannya. Setelah memandang tamunya beberapa jenak lamanya, Ki Bantaran berucap. "Menurutku Sepasang Iblis Pengemis Harpa memang sudah selayaknya disingkirkan. Karena sejak dulu mereka selalu berusaha menyingkirkan para pendekar dari golongan kita. Keinginan mereka untuk merajai dunia persilatan dan menjadi raja dan ratu untuk semua golongan adalah sebuah cita-cita gila yang tidak boleh terjadi. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana sean- dainya orang-orang seperti mereka berkuasa di seluruh tanah Jawa ini. Kurasa bukan hanya rakyat saja yang sengsara, tapi kita sendiri juga bisa dijadikan budaknya!"

"Kau betul aku sependapat denganmu." sahut Ki Banjar Jati disertai anggukan kepala.

"Namun ada satu hal yang aku sesalkan. Tindakanmu dan tindakan kawan-kawan yang ikut mengeroyoknya bukan tindakan seorang satria."

Ki Banjar Jati tertawa terkekeh. "Untuk menghadapi mereka buat apa memakai segala aturan. Lagipula Sepasang Iblis Pengemis Harpa sangat tinggi ilmunya. Aku tak mau salah seorang di antara kami yang ikut melakukan penyerbuan ke bukit Tumapel menjadi korban!" tegas orang tua itu.

"Lalu bagaimana dengan putra kedua dedengkot tokoh sesat itu. Apakah dia juga ikut terbunuh?" tanya Ki Bantaran alihkan pembicaraan. Ki Banjar gelengkan kepala.

"Kami tak tega membunuhnya. Pemuda itu sangat baik, mempunyai watak yang sangat jauh berbeda dengan kedua orang tuanya. Lagipula saat itu dia tak berada di bukit Tumapel. Menurut kabar yang kudengar dia mengembara mendatangi setiap perguruan silat dan mengemis agar diangkat menjadi murid. Tapi ketua perguruan mana yang sudi menerimanya mengingat dia jelas-jelas keturunan dua manusia sesat." dengus Ki Banjar Jati.

"Kurasa aku sendiri juga harus berpikir dua kali jika ingin mengang- kat pemuda itu menjadi muridku!" berucap Ki Bantaran perlahan. "Tapi aku sendiri orang yang paling tidak dapat berlaku tega pada sesama manusia. Apalagi mengingat Lodra Bergola hanya menjadi korban cacat buruk sepak terjang ke dua orang tuanya,"

"Terserah padamu. Jika kelak dia datang kepadamu, harap kau ingat jangan terlalu gegabah mengambil keputusan untuk membesarkan anak Singa." Setelah berkata Ki Banjar Jati bangkit berdiri.

"Eeh, kau hendak ke mana sahabatku?" tanya Ki Bantaran. "Saat ini hujan sudah hampir turun, Aku tidak mau basah kuyup pulang ke rumah. Aku pulang dulu sahabatku!" jawab Ki Banjar Jati,

Ki Bantaran tidak berniat mencegah kepergian sahabatnya. Dia mengantarkan tamunya sampai di halaman depan. Beberapa saat setelah orang nomor satu dari daerah Sidoarjo itu berlalu hujan turun bagai tercurah dari langit.

Sementara Ki Bantaran masuk mengunci pintu rumahnya. Maka di balik rumpun bambu di samping rumah sosok tubuh yang mendekam di situ dan turut mendengarkan pembicaraan kedua tokoh tadi keluar dari tempat persembu- nyiannya. Dalam keadaan pakaian basah kuyup pemuda berpakaian serba hitam ini mengetuk pintu rumah Ki Bantaran.

"Siapa?" tanya Ki Bantaran yang rupanya merasa terganggu.

"Saya ingin bertemu dengan pemi- lik rumah. Sangat penting sekali!" sahut si pemuda.

Dengan perasaan heran Ki Bantaran membuka pintu. Orangtua ini sempat tercekat begitu melihat kehadiran seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya. Wajah pemuda itu hancur mengerikan seperti bekas dihantam benda keras. Bagian dadanya terluka, kedua bahu tampak memar. Sedangkan kedua mata nyaris tak terlihat karena bengkak membiru. "Siapa kau? Mengapa keadaanmu

seperti ini?" tanya Ki Bantaran. "Paman... kumohon kiranya kau

bersedia mengangkat diriku yang hina ini jadi muridmu. Aku telah datang ke beberapa perguruan silat. Tapi hasilnya seperti yang kau lihat. Mereka menganiaya diriku. Sebagian di antaranya bahkan ada yang bermaksud membunuhku. Dalam hidup aku sudah tak punya siapa pun paman. Kuharapkan rasa belas kasihmu!" kata si pemuda memelas.

Mendengar ucapan pemuda itu ber- getar hati Ki Bantaran. Keadaan tubuh pemuda itu memang mengundang rasa iba bagi yang melihatnya.

"Hem, kau belum mengatakan siapa namamu!" kata Ki Bantaran mengingat- kan.

"Namaku Lodra Bergola, putra Sepasang Iblis Pengemis Harpa. Kedua orangtuaku telah terbunuh. Tapi aku tidak akan mendendam kepada pembunuh orangtuaku asal paman bersedia mengangkatku menjadi seorang murid. Aku ingin paman mau memberiku petunjuk menuju jalan yang lurus. Agar kelak aku dapat menebus semua kesalahan dan dosa orangtuaku!" kata Lodra Bergola dengan setengah meratap.

Ki Bantaran sendiri sebenarnya sangat terkejut sekali ketika men- dengar si pemuda menyebutkan namanya. Sama sekali dia tak menyangka bahwa pemuda yang berdiri tegak di hadapannya itu adalah putra Sepasang Iblis Pengemis Harpa. Apapun yang menjadi alasan Lodra Bergola, Ki Bantaran sendiri sejak dulu tak pernah bercita-cita mempunyai murid atau mengambil murid dari golongan manapun. Apalagi jika harus mengangkat murid anak dari sepasang dedengkot datuk sesat yang kejahatannya saja sudah melampaui batas. Apa nanti kata para sahabat sesama golongan yang lain. Tentu saja mereka akan memusuhi dirinya.

"Lodra Bergola, maafkan aku karena tak dapat memenuhi permintaan- mu. Carilah guru di tempat lain, mungkin mereka dapat membantu dalam memenuhi keinginanmu itu!" kata Ki Bantaran. Si orang tua sudah hendak menutupkan pintu, tapi Lodra Bergola mencegahnya. 

"Paman, seperti yang kukatakan aku telah mendatangi berbagai pergu- ruan. Tapi semua pintu tertutup untukku. Dalam hidup aku tidak punya rasa dendam. Apa yang terjadi pada kedua orangtuaku kuanggap sebagai balasan dari semua yang dilakukannya di masa lalu. Aku sendiri tak mau disamakan dengan mereka. Aku hanya ingin menjadi seorang pendekar yang kelak kuharapkan mampu menolong kaum yang tertindas. Hanya itu saja, tak lebih tak kurang!" kata Lodra Bergola dengan mata berkaca-kaca.

"Cita-citamu sangat luhur dan mulia. Tapi seperti yang telah kukatakan, aku tak mampu memenuhi keinginanmu. Ilmu yang kumiliki baru seujung kuku bagaimana aku bisa mempunyai murid?"

"Bagiku walau tingkat kepan- daianmu baru setitik debu tidak menjadi persoalan. Aku tidak tahu harus ke mana."

"Pergilah! Aku tak punya waktu untuk melayanimu!" hardik Ki Bantaran hilang sudah kesabarannya. Dia lalu balikkan badan dan melangkah masuk. Namun gerakannya jadi tertahan, karena Lodra Bergola memegangi kakinya sambil berlutut.

"Tolonglah aku, paman. Aku takut menjadi manusia sesat. Aku takut Tuhan menyesatkan aku dalam kegelapan." rintih si pemuda merasa putus asa.

"Ha... ha... ha! Siapapun dirimu, apapun pendirianmu. Pada dasarnya kau memang anak turun manusia sesat. Jika kau harus mengikuti langkah orangtuamu, itupun bukan suatu tindakan yang keliru! Pergilah! Jangan pernah datang ke mari." seiring dengan ucapannya itu Ki Bantaran gerakkan kakinya yang dipeluk oleh Lodra Bergola. Tak ampun lagi pemuda itu terpelanting ke halaman. Dalam hujan yang kian bertambah deras dia merang- kak bangkit mendatangi Ki Bantaran sambil berharap orang tua itu berubah pikiran sehingga bersedia mengangkat- nya menjadi seorang murid. Tapi begitu sampai di depan si orang tua dia malah diludahi.

"Pemuda tolol, jangan bertindak nekad. Salah-salah aku pasti membunuh- mu!" hardik Ki Bantaran. Apa yang dikatakannya itu nampaknya tidak main- main karena laksana kilat dia angkat tangannya yang telah dialiri tenaga dalam dan telah berubah memerah hingga sebatas siku.

Melihat kenyataan ini Lodra Bergola menjadi ciut. Dia tak menyang- ka orang tua yang dikenal dengan julukan Iblis Berhati Suci yang selama ini tersohor karena sikapnya yang sangat bijaksana tega hendak berlaku keji terhadapnya. Dengan rasa kecewa dan membawa keputus asaan yang amat sangat Lodra Bergola melangkah mundur. Dia pandangi orang tua itu beberapa saat lamanya.

"Orang tua! Di manakah batas antara mulia dan hinanya seorang manusia? Julukanmu Iblis Berhati Suci, tapi di mataku kau tetap iblis keji dan jahat. Aku sadar siapa diriku adanya. Jika aku menyadari langkah kedua orangtuaku sesat dan keliru. Sebagai anaknya apakah aku tak boleh memilih jalan hidupku sendiri sejauh kupandang benar? Kau memandangku seperti seekor hewan menjijikkan. Padahal apa yang baru saja kau lakukan padaku juga merupakan kejahatan besar karena kau membedakan diriku dengan manusia lain." kata Lodra Bergola dengan suara tersendat dan nafas memburu.

"Bocah turunan iblis. Jangan coba-coba mengguruiku. Seperti yang kukatakan aku tidak bisa berubah pikiran. Pergilah selagi aku masih dapat menghargai selembar nyawamu!" hardik Ki Bantaran.

"Huh, sejak tadi kau mau membunuhku. Mengapa tidak segera kau lakukan?" tantang Lodra Bergola.

Merah padam wajah Ki Bantaran mendengarnya. Bibirnya terkatup rapat, gerahamnya bergerak-gerak sedangkan kedua pipinya menggembung. Karena orang tua itu tak kunjung bicara, maka Lodra Bergola melanjutkan.

"Orang tua, kejadian hari ini akan kuingat selamanya. Penolakanmu ini kelak pasti akan membuatmu menyesal. Begitu juga orang-orang yang telah membunuh ayah ibuku. Hari ini kau telah menabur angin orang tua. Kelak kau dan orang yang segolongan denganmu pasti akan menuai badai!" selesai berucap Lodra Bergola balikkan badan. Dalam hujan dan gelapnya malam dia melangkah pergi dengan membawa sejuta luka dan kecewa di dada.

Sejak saat itu Ki Bantaran tak lagi mendengar kabar tentang putra Sepasang Iblis Pengemis Harpa ini. Ada yang mengatakan Lodra Bergola telah lama mati membunuh diri. Ada pula yang mengatakan pemuda itu nekad memasuki Lembah Cobra di selatan Pacitan. Tempat yang disebutkan terakhir meru- pakan daerah paling angker dan sangat ditakuti oleh orang-orang dari dunia persilatan.

6

"Kurasa semuanya masih ada dalam kepalamu, Ki Bantaran? Betapa hinanya hidup di saat itu. Ternyata tidak semua niat baik itu buahnya selalu manis. Ha... ha... ha!" di hadapan si kakek tua berambut putih Lodra Bergola dongakkan kepala disertai tawa dingin menyeramkan. Suara tawa itu menyadarkan si kakek dari lamunannya.

Dia memandang ke depan. Seingat- nya dulu dia tidak dihiasi tatto begitu rupa dan dulu kepala Lodra Bergola tidak pula diselubungi kain hitam. Apakah dia sengaja menyembunyi- kan cacat wajahnya? Walaupun begitu Ki Bantaran tetap unjukkan sikap tenang. "Tidak kusangka Sang Cobra itu

adalah dirimu, Lodra Bergola? Mengapa kau memilih langkah sesat seperti ini?" tanpa sadar si kakek telah melontarkan sebuah pertanyaan tolol yang pada akhirnya berbalik menghantam dirinya sendiri. Dengan tatapan dingin disertai desis aneh Lodra Bergola menjawab. "Manusia palsu. Berkedok dengan topeng kebaikan, tidak tahunya hatimu sejahat iblis. Pertanyaanmu itu mengingatkan kedatanganku ke sini dua puluh tahun yang lalu. Puah...!" Sang Cobra semburkan ludah. Air ludah bercampur darah berbau busuk menyembur ke luar. Karena kini jarak di antara mereka hanya terpaut sejauh satu setengah tombak. Maka semburan air ludah itu sebagian membasahi Ki Bantaran.

Mendapat penghinaan seperti itu Ki Bantaran alias Iblis Berhati Suci menjadi hilang kesabarannya.

"Manusia keparat menyesal aku tak membunuhmu waktu itu!" maki si kakek.

Sang Cobra tertawa tergelak- gelak.

"Penyesalan datangnya memang selalu terlambat, orang tua. Sebagai- mana ketua perguruan yang dulu pernah menghinaku, maka nasibmu pun akan sama seperti mereka." dengus laki-laki itu, Dia lalu melanjutkan ucapannya. "Kenal dengan Ni Estu Lampiri, orang tua?"

Mendapat pertanyaan itu wajah si kakek berubah, dia terkejut. Bagaimana pun dia tentu saja sangat mengenai Ni Lampiri karena masih terhitung saudara sepupu si kakek dan merupakan ketua perguruan Teratai Merah.

Dengan suara tertahan si kakek berkata. "Kau berurusan denganku. Jika kau ganggu dia atau kau usik saja selembar rambutnya, kubunuh kau!" ancam Ki Bantaran.

"Ha... ha... ha! Aku bukan saja telah mengusiknya, tapi aku malah telah mengirim roh perempuan itu dan muridnya ke akherat. Jika kau inginkan jasadnya dia kubuang tak jauh dari tempat tinggalmu ini!" dengus Sang Cobra.

Mendengar ucapan lawannya darah si kakek laksana mendidih. Tanpa bicara lagi dia mencabut pedang Gagak Mencle Sapu Angin dari balik punggung- nya. Dengan pedang terhunus disertai teriakan melengking, Ki Bantaran menyerbu ke arah lawan dengan gerakan cepat laksana kilat. Saat tubuhnya berada dekat dengan lawan, maka pedang dibabatkan ke arah dada dan perut Sang Cobra. Lawan yang sudah menduga serangan dan mengetahui kehebatan pedang yang dipergunakan untuk mem- bunuh orangtuanya melompat ke belakang.

Wuus!

Serangan pedang luput. Si kakek tak mau bersikap ayal. Dia hantamkan tangannya ke bagian kepala yang diselubungi kain hitam itu. Sinar putih membersit dari telapak tangan si kakek, hawa panas menyengat. Sang Cobra keluarkan seruan kaget, namun dia cepat rundukkan kepala. Serangan sinar maut yang bersumber dari pukulan Inti Bumi lewat sejengkal di atas kepala laki-laki itu. Di belakangnya terdengar ledakan berdentum. Sang Cobra tak menghiraukan semua itu. Jemari tangannya yang terentang berke- lebat menyambar, hawa dingin menebar. Si kakek berseru kaget, namun masih sempat melakukan langkah penyelamatan dengan berjumpalitan ke belakang.

Begitu kakinya menjejak tanah pada lompatan terakhir dia menghantam lawannya dengan pukulan Iblis Menebar Kebajikan, Iblis Mengusung Mayat dan Iblis Menangis Dalam Dosa. Pukulan ini dilepaskan silih berganti dan tiada berkeputusan. Sinar hitam, putih, biru, merah bertubi-tubi menghujani tubuh Sang Cobra. Tapi sungguh aneh meskipun sebagian pukulan tak dapat dielakkan oleh lawan dan menghantam tubuhnya dengan telak. Namun hiasan ular cobra yang memenuhi sekujur tubuh Lodra Bergola seakan bergerak hidup berkelebatan di sekujur tubuh lawan dan menelan habis sinar maut yang dilepaskan oleh Ki Bantaran.

Akibatnya kakek tua ini lambat laun terkuras juga tenaga saktinya. Sadar hanya akan sia-sia bila mengumbar pukulan. Sambil berteriak keras Ki Bantaran melompat di udara. Pedang di tangannya diputar sebat seraya mengeluarkan suara menderu disertai berkelebatnya sinar hitam yang mempersempit jalan gerak lawan.

"Ha... ha... ha! Dua puluh tahun yang lalu temanmu menggunakan pedang ini untuk membunuh kedua orangtuaku. Sekarang kau akan rasakan sendiri ketajaman senjata bututmu itu!" berkata begitu dengan satu gerakan aneh Sang Cobra julurkan salah satu tangannya. Tak ayal lagi tangan yang terjulur dan bermaksud merampas hulu pedang terbabat mata pedang di tangan si kakek.

Traang! Traang!

Dua kali babatan mengeluarkan suara berdentrang disertai berpijarnya bunga api. Si kakek melompat mundur, tangannya bergetar sakit. Pedang yang membabat lengan lawannya laksana menghantam tembok baja. Di depan sana Sang Cobra tidak mengalami cidera sedikit pun. Malah kini dengan satu lompatan kilat tangan kirinya terjulur. Tubuh berputar ke samping, sedangkan kepala dimiringkan ke kiri kanan hindari tebasan senjata lawan. Lalu...

Sreet!

Pedang dalam waktu sekejap telah berpindah tangan. Rasa kaget di hati si kakek tak terperikan. Matanya mendelik besar, belum lagi hilang rasa kagetnya. Maka detik itu pula pedang yang telah dirampas lawannya berke- lebat menyambar deras ke arah si kakek. Tidak ada kesempatan lagi bagi Ki Bantaran untuk menyelamatkan diri pada saat pedang itu menembus perut- nya. Dia menjerit keras, kedua matanya melotot bagai tak percaya dengan kenyataan bahwa dia harus menemui ajal ditembus senjatanya sendiri.

Ketika Sang Cobra menyentakkan pedang itu dari perut lawan. Tak ampun si kakek ambruk seketika. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, Sang Cobra bermaksud menggorok putus leher Ki Bantaran. Namun pada saat yang bersamaan mendadak dia mendengar suara orang berteriak sambil berlari cepat.

"Sahabatku, aku Gentong Ketawa datang menyambangi. Ha... ha... ha!"

"Aku juga, muridnya kakek gendut ikutan nimbrung. Harap kau sambut tamu yang datang dari jauh!" kata suara yang satunya lagi disertai tawa pula.

"Huh, siapa mereka aku tak tahu. Sebaiknya kutinggalkan tempat ini! Aku harus mencari Mahluk Tanpa Tanda dan Anom Ka Ratan! Dua manusia keparat itu yang paling bertanggung jawab atas kematian ayah ibuku!" selesai berkata dengan tergesa-gesa setelah membuang Pedang Gagak Mencle Sapu Angin ke samping Ki Bantaran, Sang Cobra berkelebat pergi. Dia sama sekali tak menduga kalau lawan sebenarnya masih hidup.

Ketika orang yang bicara sambil tertawa-tawa tadi jejakkan kakinya di bagian halaman. Mereka hanya melihat berkelebatnya sosok tubuh bercelana hitam. Salah seorang diantaranya yang bukan lain adalah Gento Guyon bermaksud mengejar. Tapi niatnya dicegah oleh kakek gendut besar.

"Biarkan saja. Mungkin dia tetamu tuan rumah yang baru habis dijamu makanan sedap!" berkata si kakek yang tak lain adalah Gentong Ketawa. Selanjutnya dia berkelebat dan jejakkan kaki di depan pintu yang terbuka. Si kakek panjangkan leher julurkan kepala. Matanya memandang ke segenap ruangan depan, tak ada siapapun.

"Ke mana perginya wong edan sahabatku itu?" kata si kakek seorang diri. Sementara Gento Guyon tetap berdiri tegak di tempatnya.

"Iblis Berhati Suci di manakah gerangan dikau?" teriak Gentong Ketawa dengan suara keras.

Di belakang Gento terdengar suara erangan lirih. Si pemuda memutar tubuhnya. Dia melihat satu sosok tubuh terkapar di tanah sambil mengerang lirih.

"Guru... ternyata tuan rumah ketiduran di halaman ini!" seru si pemuda yang tidak melihat kalau Ki Bantaran sesungguhnya tengah mengha- dapi sakaratul maut.

Si kakek memutar tubuhnya yang besar luar biasa. Senyumnya mengem- bang, mulutnya berucap. "Ah, sobat, Kau tidur di situ. Rupanya rumahmu yang lapuk sudah berubah panas sekarang. Eeh... kau diam saja di situ, apakah hendak mengajak para tetamu tidur juga. Jangan ngawur, yang kami butuhkan saat ini hanya segelas air putih atau kalau ada sekendi tuak berikut makanannya. Ha... ha... ha!"

"Guru dia terluka parah!" teriak si pemuda begitu mendekati Ki Bantaran. Dengan cepat si dia pemuda berlutut di samping Ki Bantaran.

Sedangkan si kakek gendut langsung berlari mendatangi.

"Apa kau bilang? Dia berduka? Ah siapa yang mati?!" tanya si gendut heran. Seingatnya Ki Bantaran sama seperti dirinya tetap hidup membujang sampai tua. Tapi begitu sampai di samping Ki Bantaran segala tanya yang mengganjal di hati kakek Gentong Ketawa pupus sudah. Kini dia melihat sebuah kenyataan bahwa sahabat yang disambanginya ternyata terkapar di atas tanah dengan perut bersimbah darah, sementara sebuah pedang ber- warna hitam tergeletak di sisi Ki Bantaran berlumur darah.

"Sahabatku, apa yang telah terjadi? Apakah kau melakukan bunuh diri dengan senjatamu sendiri?" tanya si kakek sambil memperhatikan luka di perut Ki Bantaran. Melihat pada luka dan banyaknya darah yang mengucur keluar, tampaknya Ki Bantaran tidak punya harapan hidup lebih lama.

"Sobat Gentong Ketawa," desis Ki Bantaran mencoba memaksakan senyumnya. Tapi senyum itu di mata Gentong Ketawa tak ubahnya seperti seringai sakit dari seorang yang mendekati ambang ajal. "Senang sekali kau datang menyambangi diriku yang sudah jadi rongsokan ini. Ak... aku bukan membunuh diri. Tapi... seseorang telah mencelakaiku...!" berkata Ki Bantaran dengan suara tersendat-sendat.

"Apa, siapa yang melakukan kekejian ini padamu kek!" desis Gento Guyon. Pemuda itu meraba nadi di pergelangan Ki Bantaran. Denyut nadinya terasa sangat lemah sekali. Dalam hati Gento membatin. "Tidak ada lagi harapan baginya. Sebentar nyawanya disambar malaikat maut."

Ki Bantaran pandangi orang yang bertanya. Mulutnya mencoba tersenyum. Lalu dengan gerakan lemah dia memandang Gentong Ketawa.

"Muridmu?"

"Betul. Bocah gila ini memang muridku!" sahut Gentong Ketawa unjuk- kan muka serius.

"Ketahuilah, orang yang telah mencelakai diriku adalah Lodra Bergola berjuluk Sang Cobra."

"Hah...!" Kakek Gentong Ketawa tersentak kaget.

"Setan itu? Bukankah dia yang kita cari selama ini sesuai dengan perintah kakek guru?!" ujar Gento Guyon sambil melirik gurunya.

"Kau benar, tapi jangan bicara dulu. Aku mau bertanya pada sobatku ini." berkata begitu dia kembali memandang ke arah Ki Bantaran. Saat itu mata Iblis Berhati Suci tampak mulai meredup, wajah menciut dan tampak memutih laksana kafan.

"Sobatku, akan kubalaskan dendam sakit hatimu. Coba terangkan pada kami bagaimana ciri-ciri orang yang telah mencelakaimu itu!" pinta si kakek gendut.

Dengan bersusah payah dan malas seperti orang bengek Ki Bantaran berucap. "Kepala memakai selubung hitam, badan... badan dihiasi gambar ular kobra...!"

"Apakah dia... membawa...!" "Pentungan!" melanjutkan Gento.

Si kakek delikkan matanya. Ketika dia memandang ke arah sahabatnya, Gentong Ketawa melihat kepala Ki Bantaran rebah miring ke kiri.

"Sobatku.... Huk... huk... huk. Mengapa kau pergi tidak memberi tanda padaku!" seru si kakek besar gendut itu sambil memeluki tubuh Ki Bantaran yang sudah tidak bergerak lagi.

Gento Guyon jadi salah tingkah. "Guruku menangis, kasihan! Agaknya dia merasa terpukul atas kematian sahabatnya. Aku sendiri apakah harus menangis juga membantu guru?!" kata si pemuda dalam hati.

"Gege... bagaimana pun kita harus mencari Sang Cobra untuk meminta pertanggung jawabannya!" desis kakek Gentong Ketawa.

"Betul. Ditambah dengan tugas yang dibebankan kakek guru pada kita. Berarti kita harus membunuhnya dua kali!" jawab si pemuda bersemangat.

Gentong Ketawa melengak kaget. "Eeh, apa maksudmu?" tanya si kakek heran. Gento memperhatikan sang guru yang sudah melepaskan pelukannya pada si mayat. Dia tampak pura-pura bersedih, tapi mulutnya menyunggingkan senyum tipis.

"Katakan cepat! Aku tidak senang bergurau." bentak si kakek.

"Begini. Bukankah kita mencari orang yang sama. Bagaimana pun dia harus mati di tangan kita. Kalau guru ingin membalaskan kematian kakek ini, berarti guru harus membunuh Sang Cobra sekali lagi. Ha... ha... ha."

"Bocah edan. Jangan kau tertawa- tawa selagi aku bersedih. Kubeset nanti mulutmu!" hardik si kakek. Buru- buru Gento katupkan bibirnya. "Sekarang ambil pacul atau alat apa saja yang kau temui di dalam pondok. Kita harus menguburkan mayat Ki Bantaran secepatnya. Kurasa Sang Cobra belum jauh dari sini!" perintah si kakek.

Tanpa banyak bicara Gento Guyon mengerjakan perintah gurunya. Dia berkelebat ke arah pintu pondok. Hanya sekejap kemudian pemuda itu telah keluar lagi sambil menjinjing sebakul peralatan yang ditemukannya di dalam pondok. Melihat ini Gentong Ketawa geleng-gelengkan kepala disertai gerutuan tak jelas.

"Apa saja yang kau bawa ini, banyak amat?!"

"Katanya tadi aku disuruh membawa peralatan apa saja. Jadi kukumpulkan semua yang ada di dalam sana. Lihat saja sendiri. Ada pisau, kuali tanah, pacul, sabut kelapa untuk gosok gigi dan masih banyak yang lainnya!"

"Dasar sinting. Mengapa kau tolol amat? Bagusnya dulu kau terlahir sebagai anak keledai!" si kakek mengomel. "Ambil pacul itu, gali lubang yang dalam!" perintah si kakek

"Di mana guru?" Gento ajukan pertanyaan begitu pacul sudah ada dalam genggaman tangannya.

"Tentu saja di halaman ini." Sambil bersungut-sungut Gento

Guyon mulai menggali sebuah lubang. Tapi tidak sebagaimana lazimnya. Kubur yang dibuatnya kali ini bentuknya bulat dan hanya pas untuk ukuran badan. Si kakek yang terus mengawasi tentu saja jadi terheran-heran.

"Mengapa seperti itu?"

Si pemuda sambil mengayunkan paculnya tersenyum. "Di suatu saat kelak entah kapan jika bumi ini telah penuh sesak dihuni manusia. Pasti orang akan menguburkan mayat dengan cara berdiri seperti ini. Supaya hemat tempat guru! Apa salahnya dari sekarang kita mencobanya. Ha... ha... ha!"

"Dasar murid sinting. Jalan pikiranmu ngelantur terus tak karuan juntrungannya!" Lagi-lagi si kakek mengomel. Dia menjadi sangat kesal sekali melihat kelakuan muridnya. Si kakek kemudian membentak tegas. "Buat sebagaimana biasanya. Sahabatku ini hendak kembali ke asalnya. Itulah sebabnya dikatakan tempat peristi- rahatan yang terakhir. Kalau kau mau, kelak aku akan membuat kubur untukmu seperti yang telah kau buat tadi!"

"Bagaimanapun itu sangat tidak mungkin. Karena guru yang lahir duluan dan lebih tua dariku, sudah sewajarnya guru mati duluan!"

Melihat muridnya selalu menim- pali setiap apa yang diucapkannya. Maka si kakek dengan perasaan kesal akhirnya cuma terdiam membisu. Tidak berapa lama kubur telah siap digali. Gentong Ketawa dengan dibantu muridnya memasukkan jenazah Ki Bantaran ke dalam liang lahat. Setelah itu makam ditimbun dan diuruk dengan tanah merah. Si kakek Gentong Ketawa letakkan sebuah batu besar di atas kepala makam. Gento Guyon tidak mau ketinggalan. Dia tancapkan Pedang Gagak Mencle Sapu Angin di kaki makam. Dalam hati dia berkata. "Dengan pedang ini kakek arwah... eh, arwah kakek mudah-mudahan bisa tenteram di alam sana. Aku Gento Guyon hanya bisa mendoakan semoga arwahmu diterima di sisiNya!"

Pemuda itu kemudian memandang ke arah gurunya. Ternyata si kakek sedang berdoa dengan mata terpejam. Doanya cepat selesai. Begitu membuka mata Gentong Ketawa berkata. "Segala kesalahanku di masa lalu harap dapat kau maafkan. Sekarang aku harus mencari Sang Cobra, aku mohon pamit!" selesai berkata si kakek memberi isyarat pada muridnya.

"Aku juga mohon pamit, kakek arwah!" kata si pemuda, lalu menyusul gurunya yang sudah berada jauh di depan.

7

Menjelang tengah hari Purbasari, Iwir Iwir dan delapan pemuda dusun yang ikut serta dengan mereka telah sampai di lereng bukit Waton Hijau yang letaknya di seberang lembah, bagian barat Gunung Bromo. Saat itu cuaca sangat buruk, langit mendung dan matahari tak terlihat sama sekali.

Ketika mereka mulai mendaki ke puncak bukit, hijau gerimis turun rintik-rintik. Iwir Iwir si bocah yang mempunyai badan lebih kecil dengan gesit berjalan di bagian depan, sedangkan kedelapan pemuda dusun berada di belakang bocah sakti itu. Di belakang kedelapan pemuda tampak mengikuti Purbasari. Gadis ini sejak berhasil menyeberangi lembah tadi tampak selalu menoleh ke belakang. Dia merasa seperti ada orang yang mengikuti tidak jauh di belakang. Tapi bila gadis ini berpaling ke bela- kangnya maka dengan cepat sekali si penguntit menyelinap ke balik pohon- pohon yang bertebaran di tempat itu.

"Sialan. Siapa sebenarnya penguntit dibelakang sana? Apakah dia orangnya yang berusaha membunuh para pemuda di dusun itu?" Batin si gadis dalam hati.

Purbasari kemudian memandang lurus ke depan. Di bagian paling depan si bocah sakti melangkah tertatih- tatih sambil sesekali tangannya berpegangan pada salah satu akar pohon agar tubuhnya tidak meluncur ke bawah. Si gadis tersenyum melihat Iwir-lwir, bocah aneh yang tahu tentang banyak hal itu. Tapi kemudian pandangannya dialihkan ke puncak bukit. Seketika gadis itu jadi terkesima. Dia mengusap matanya sampai tiga kali seakan tidak percaya dengan pandangannya sendiri

Adapun yang sempat dilihatnya saat itu adalah satu cahaya putih berkilauan tepat berasal dari puncak bukit sana. Tak percaya dengan pemandangannya sendiri Purbasari berkata melalui ilmu mengirimkan suara.

"Iwir Iwir sahabatku, apakah kau melihat sesuatu di puncak Bukit Waton Hijau ini?"

Untuk pertama kalinya setelah setengah hari penuh mereka berjalan Si bocah sakti tertawa cekikikan disertai batuk-batuk kecil. Tawa dan batuk lenyap. Iwir Iwir melalui ilmu yang sama menjawab. "Terima kasih kau sekarang mau mengakui aku sebagai sabahat. Apa yang kau katakan itu, semua yang kau lihat memang tidak salah. Ada seberkas cahaya yang datang dari puncak sana. Kalau tak keliru penglihatanku cahaya yang kau lihat tentu cahaya yang bersumber dari Pedang Raja" Kata si bocah. Sambil melanjutkan perjalanannya dia memberi ingat. "Sobatku, setan yang bermaksud membunuh kawan-kawan kita tadi malam sekarang berada dibelakangmu. Kurasa dia tidak akan melakukan tindakan apapun sebelum sampai di atas bukit sana. Tapi aku merasa pasti, dia sangat kaget melihat para pemuda yang dibunuhnya ternyata masih hidup sampai sekarang."

"Dia pasti menyangka kau telah membangkitkan para pemuda yang telah dibunuhnya!" menimpali Purbasari tanpa melupakan kewaspadaannya.

"Hust, hati-hati kau bicara sobatku. Aku ini bukan Tuhan, kalau ucapanmu didengar malaikat kita semua bisa konyol di tempat ini," mengingatkan si bocah sakti.

Purbasari terdiam mendengar kata-kata si bocah. Mereka terus mendaki dengan penuh semangat. Sesungguhnya lereng bukit Waton Hijau tidak begitu tajam. Kalau si gadis dan si bocah mau tentu dengan menggunakan ilmu lari cepat disertai pengerahan ilmu meringankan tubuh dalam waktu sekejap mereka pasti sampai di puncak bukit. Namun hal itu tak mereka lakukan mengingat mereka harus mengiringi ke delapan pemuda dusun yang tidak mengerti ilmu silat maupun ilmu berlari cepat. Apalagi seseorang yang terus menguntit perjalanan mereka tampaknya memang menghendaki kematian para pemuda itu.

Tidak berselang lama dengan pakaian basah kuyup karena keringat. Mereka akhirnya sampai juga di puncak Bukit Waton Hijau. Terkecuali Iwir Iwir yang memiliki kelebihan ilmu berupa dapat melihat sesuatu yang jauh melalui pengerahan kekuatan batin. Baik Purbasari maupun delapan pemuda dusun itu sama-sama terkejut besar begitu melihat sebuah pedang berwarna putih tanpa sarung yang tergeletak di atas batu pipih yang sangat panjang.

"Seumur hidup baru kali ini aku melihat senjata sepanjang dan selebar ini!" desis Purbasari dengan suara bergetar.

"Pedang itu mungkin milik manusia raksasa!" untuk pertama kalinya salah seorang dari kedelapan pemuda dusun ini buka suara.

"Pedang ini pasti miliknya Jin!" menimpali yang satunya lagi.

"Bukan! Aku sependapat dengan Jendul. Pedang ini milik manusia raksasa!" berkata pemuda lainnya yang dibagian kening terdapat codet besar.

Iwir Iwir tertawa lepas. Sedangkan Purbasari yang belum hilang rasa kagetnya terus memperhatikan pedang yang tergeletak di atas batu yang memiliki hulu kecil, sebesar genggaman orang dewasa. Menurut tafsirannya pedang aneh itu panjangnya hampir mencapai sepuluh tombak, dengan lebar tak kurang dari tiga tombak. Manusia biasa pasti tidak sanggup menggunakan atau mengangkat pedang itu, apalagi menggunakannya dalam suatu pertempuran. Jadi menurutnya Anom Ka Ratan yang disebut-sebut oleh si bocah sakti sebagai pemilik pedang pastilah seorang laki-laki yang memiliki badan yang luar biasa besar dengan tinggi seperti pohon kelapa. Mengherankan juga mengagumkan. Tapi apakah mungkin ada manusia sebesar dan setinggi yang dibayangkannya?

"Sekarang kau tahu mengapa aku membawa serta delapan pemuda itu, sobatku?" Pertanyaan ini cukup mengejutkan Purbasari. Tapi si gadis cantik berambut awut-awutan itu kemudian tersenyum.

"Aku sudah mengerti. Pedang itu tidak bisa dibawa oleh kekuatan tenaga satu orang saja walau pun dia menggunakan tenaga luar dalam."

"Tepat! Apa yang kau katakan itu memang tidak salah. Sekarang coba kau angkat dibagian hulu pedang, apakah Pedang Raja ini dapat kau geser dari tempatnya?" ujar si bocah.

Tanpa bicara Purbasari mengerjakan apa yang diperintahkan si bocah kepadanya. Dengan sekali lompat dia sudah berada di dekat hulu pedang. Hulu pedang digenggamnya dengan erat, setelah si gadis mencoba mengang- katnya. Mula-mula hanya dengan tenaga kasar saja. Karena dengan tenaga kasar pedang tidak juga bergeming. Maka Purbasari mengerahkan tenaga dalam. Dengan menggunakan tenaga luar dalam Purbasari mulai menggerakkan hulu pedang ke atas. Pedang hanya bergeser sedikit saja. Dengan nafas memburu si gadis meletakkan hulu pedang.

"Berat luar biasa." keluh Purbasari.

Iwir Iwir si bocah sakti tersenyum. "Namanya juga Pedang Raja. Tentu berat dan besarnya sangat berbeda dengan pedang biasa. Kurasa kita dapat membawa turun pedang ini sekarang. Firasatku mengatakan Anom Ka Ratan tak berada di tempat ini." ujar si bocah.

"Siapa yang akan membawanya?" tanya Purbasari bingung. "Hi hi hi, uhuk uhuk uhuk. Sudah besar masih bodoh. Yang membawa pedang istimewa ini tentu para pemuda itu, dengan di gotong atau di pikul beramai-ramai." Tegas si bocah.

Purbasari terdiam. Tapi dia lalu ajukan pertanyaan kembali. "Jika kita berhasil membawa turun Pedang Raja, kemudian siapa yang akan mengguna- kannya untuk menghadapi sang Cobra?"

Si bocah sakti mengusap wajahnya tiga kali. Apa yang dikatakan oleh Purbasari memang benar, "selain yang menciptakan pedang besar itu rasanya hanya tokoh aneh bernama Gentong Ketawa saja yang dapat mengguna- kannya."

"Tapi kemana kita harus mencari orang tua itu?" tanya si gadis.

Iwir Iwir gelengkan kepala.

"Aku sendiri tak tahu. Tapi bisa kita fikirkan nanti. Sekarang yang terpenting kita bawa saja pedang ini turun dari puncak bukit." Tegas si bocah. Dia lalu berpaling pada para pemuda dusun itu. Baru saja si bocah hendak mengatakan sesuatu mendadak terdengar suara desis panjang yang kemudian disusul dengan suara tawa aneh seperti suara ayam jantan berkokok.

"Gila! Tak kusangka di tempat sesunyi ini ada ayam jantan berkokok. Apa tidak terlalu kesiangan!" celetuk Iwir Iwir. Sebaliknya Purbasari melengak kaget, bersikap waspada sambil memperhatikan ke setiap penjuru sudut puncak bukit.

"Kalian yang berada di puncak bukit ini tidak satu pun yang kubiarkan lolos dari kematian!" kata si suara begitu suara tawa lenyap. "Pedang Raja tidak akan pernah pergi kemana pun dan kalian telah melakukan perjalanan yang sangat sia-sia." Terdengarnya suara itu disertai dengan berkelebatnya satu sosok tubuh berpakaian hitam.

Hanya sekejaban saja di depan mereka berdiri tegak seorang kakek renta bertubuh bungkuk. Sekujur tubuhnya di tumbuhi sisik kasar berwarna hitam, sedangkan wajahnya lancip rambut memutih berdiri tegak, mulut juga lancip sedangkan giginya runcing seperti gigi ular. Jika Purbasari merasa kaget melihat kehadiran orang tua ini, sebaliknya si bocah sakti merasa yakin orang tua inilah yang malam tadi hampir membunuh ke delapan pemuda itu.

"Kakek jelek amat wajahmu? Mulutmu seperti moncong ular, tubuhmu bungkuk seperti punggung unta. Memangnya kau bekerja jadi kuli dimana?" Tanpa terduga Iwir Iwir berkata mengejek. Masih dengan tersenyum-senyum dia melanjutkan. "Tadi kau mengatakan kami tak akan lolos dari kematian. Rupanya kau ini utusan malaikat maut? Hi hi hi huk huk!"

"Tertawalah sepuasmu selagi sempat. Pertama yang harus kulakukan adalah membunuh para pemuda ini, setelah itu baru kuhancurkan pedang raja. Baru kemudian giiiranmu, sedangkan gadis itu? Ha ha ha... untuknya paling tidak ada perlakuan sedikit istimewa. Pertama aku akan mengajaknya bersenang-senang, bercinta sampai aku bosan. Barulah setelah itu mamberikannya pada mahluk pelihara- anku!" kata kakek bungkuk angker itu disertai seringai penuh arti.

"Tua bangka tak tahu diri. Mulutmu kotor amat! Siapa dirimu?" hardik Purbasari dengan muka bersemu merah dan suara ketus.

"Aku tak punya waktu bicara banyak. Terus terang saat ini aku sedang membantu seseorang untuk melenyapkan musuh-musuhnya. Namaku Karmaraga, di selatan orang mengenalku dengan julukan Lidah Penebar Bencana." jelas kakek bungkuk itu.

Si bocah sakti yang memiliki pengetahuan dan pengalaman luas sempat berjingkrak kaget. Sedangkan Purbasari maupun ke delapan pemuda yang memang tidak mengetahui siapa orang tua ini adanya bersikap biasa saja. Sambil mengedip-ngedipkan matanya memandangi kakek di depannya dia berucap.

"Aku tahu siapa dirimu, manusia jahat. Kau pasti setan gentayangan yang tinggal di gua Cobra sebelah selatan Pacitan. Kebiasaanmu membunuh korban yang sedang bercinta, kemudian kau larikan perempuannya, bersenang- senang dengannya sampai kau bosan. Tepat seperti katamu selanjutnya kau berikan perempuan yang kau nodai pada mahluk piaraanmu. Mahluk piaraan...!"

Iwir Iwir mengulang ucapannya sendiri sambil mencoba mengingat. Sampai akhirnya bocah ini tertawa lebar, jari telunjuknya menuding tepat ke bagian punuk Karmaraga alias Lidah Penebar Bencana. "Aku ingat sekarang. Mahluk piaraan yang kau katakan itu pastilah binatang melata berbisa. Ular Cobra... itu pasti yang kau maksud- kan!" seru si bocah kembali berjingkrak dan melangkah mundur dua tindak.

"Jadi apa hubungan bangsa ini dengan Sang Cobra, sobatku Iwir Iwir?" tanya Purbasari.

"Hmmm... hubungannya bisa jadi dia kakeknya. Tapi kurasa yang paling tepat dia ini adalah gurunya. Iyaa betul pasti gurunya. Bukankah begitu kakek muka lancip?" setengah mengejek si bocah polos saja ajukan pertanyaan. 8

Karmaraga tidak menanggapi ucapan si bocah. Hanya matanya mendelik membesar sesaat memandang si bocah, seakan ingin tahu siapa adanya bocah aneh yang tahu banyak hal ini. Diam-diam si kakek kerahkan tenaga saktinya ke bagian lidah, lidah bergetar mulut terbuka. Tak disangka lidah si kakek yang bercabang dan berwarna biru itu terjulur memanjang, semakin bertambah panjang seakan menggapai, menjangkau lawannya.

"Awas....!" Purbasari keluarkan seruan kaget melihat bagaimana lidah biru bercabang itu hendak melibas menggulung tubuh si bocah. Tidak usah diberi ingat sekalipun sebenarnya Iwir Iwir sudah melihat adanya bahaya yang mengancam. Melihat lidah lawan melesat memanjang ke arahnya si bocah sakti melompat ke samping sambil tertawa terkikik-kikik dia membuka mulut keluarkan ucapan.

"Walah kau baik amat kek. Badanku yang bau dan tak pernah mandi bertahun-tahun hendak kau bersihkan dengan lidahmu. Terima kasih banyak kek. Tapi aku takut lidahmu jadi kotor, lagipula tubuhku ini banyak kuman penyakitnya. Jika sampai tertelan olehmu, mana aku berani menjamin kesehatanmu. Jadi tak usah repot-repot, sebaliknya biar kuelus lidahmu yang bagus ini!" berkata begitu dari samping si bocah julurkan kedua tangannya dengan gerakan seperti mengelus. Tapi apa yang terjadi kemudian membuat Karmaraga jadi terkejut besar. Dari telapak tangan Iwir Iwir yang diusapkan satu sama lain melesat lidah api yang akhirnya menyambar lidah panjang bercabang si kakek. Orang tua itu gerakkan tenggorokannya. Lidah yang terjulur memanjang ini dengan cepat melesat masuk ke dalam mulut, mengkerut dan kembali seperti semula.

"Keparat! Bocah jahanam!" maki si kakek dengan muka merah padam merasa tertipu. Maksud di lubuk hati Karmaraga sebenarnya adalah ingin mengetahui siapa bocah ini. Benarkah dia seorang bocah atau seseorang yang menyerukan diri dengan ujud seorang bocah. Hal itu hanya dapat diketahui dengan menyentuhkan lidahnya di tubuh si bocah. Tapi tampaknya bocah sakti ini berlaku cerdik. Dia seperti mampu membaca apa yang ada dalam fikiran si kakek.

Melihat Karmaraga kalang kabut, Purbasari tak kuasa menahan geli. Sedangkan delapan pemuda dusun diam membisu. Mereka saling berdiri merapat satu sama lain di balik batu dimana Pedang Raja berada. Si Bocah sakti sebaliknya hanya tersenyum saja sambil menggigit jari telunjuknya.

"Manusia aneh, kebaikan orang malah dibalas dengan makian. Hi hi uhuk uhuk...!"

"Untuk segala tindakan yang telah mempermainkan aku. Sekarang aku harus mempercepat kematianmu!" dengus Karmaraga.

"Purbasari, celaka! Tua bangka penerima karma ini hendak membunuhku. Apakah pantas!" kata si bocah sakti seperti bingung. Purbasari berkelebat ke arah Iwir Iwir, dia berdiri tegak di depan si bocah bersikap melindungi. Si bocah sembunyikan wajahnya di bagian punggung si gadis.

"Pengecut tengik, hendak mem- bunuh bocah yang tidak punya kebecusan apa-apa. Akulah lawanmu!" seru Purbasari. Di belakangnya Iwir Iwir sunggingkan senyum sambil menyeka wajah dengan punggung tangannya.

"Iya betul sobatku, dia penge- cut. Cepat tangkap dia biar aku bisa duduk di atas punggungnya," menimpali bocah sakti itu.

Di depan sana Karmaraga dengan tangan terpentang sudah berkelebat cepat ke arah Purbasari. Begitu dekat dengan sasaran, tangan yang terpentang dan telah berubah menghitam membabat dengan gerakan menggunting ke arah leher. Purbasari berkelit ke samping, berputar satu kali kemudian menghantam ke bagian tangan lawannya.

Wuuus! Hawa panas luar biasa menyambar, Karmaraga keluarkan seruan keras dan terpaksa mundur lalu robah gerakan tangan dari menggunting berbalik memukul.

Hawa dingin berkesiuran menyer- tai gerakan tangan si kakek bungkuk berkepala lancip. Benturan keras tak dapat dihindari.

Buum!

Purbasari terjajar, mukanya pucat dada berdenyut dan tangan seperti beku. Karmaraga menyeringai. Si bocah sakti sejak Purbasari lakukan gerakan berputar tadi otomatis kehilangan perlindungan. Dia pontang panting selamatkan diri. Tapi celaka ledakan akibat beradunya dua tenaga sakti terjadi di atas kepalanya.

Iwir Iwir jatuh punggung ke tanah dan terkapar. Kepalanya sakit mendenyut seperti kejatuhan bintang dari langit. Atau seperti melihat kunang-kunang yang bertaburan di gelapnya malam. Anehnya si bocah sakti malah tersenyum.

"Amboi... bagus sekali aku melihat pemandangan indah di matahari. Hi hi hi!"

Purbasari      yang      semula menghawatirkan keselamatan si bocah akhirnya menarik nafas lega, Dia lalu berseru. "Iwir Iwir, menyingkir. Cari tempat perlindungan seperti yang dilakukan oleh para pemuda itu!"

"Kau sendiri apakah hendak mencari tempat berlindung juga?" tanya si bocah polos.

"Tolol, kalau semua berlindung siapa yang menyerang?" hardik si gadis. Ucapan Purbasari disambut dengan pukulan ganas yang dilepaskan oleh Karmaraga alias Lidah Penebar Bencana! Si gadis menggerung, dia berkelebat ke udara. Pukulan ganas menghantam tempat kosong.

Wuees! Pohon-pohon yang berada di belakang Purbasari rambas hangus mengepulkan asap hitam. Sementara Purbasari berjumpalitan mendekat ke arah lawan. Namun pada saat itu Karmaraga buka mulutnya. Lidahnya yang dapat berubah panjang hampir tanpa batas terjulur.

"Sobatku, jangan sampai terkena sambaran lidahnya. Lidah itu mengandung racun jahat!" teriak si bocah sakti. Dalam keadaan tubuh mengapung di udara, Purbasari tak mau berlaku ayal. Dia langsung melolos pedang yang tergantung di bagian pinggangnya. Pedang lalu diayun, berkelebat memancarkan cahaya putih disertai sambaran angin berhawa panas. Mata pedang memapas lidah bercabang yang hendak melilit tubuhnya.

Dheeel!

"Hah....!" si gadis berseru kaget. Tebasan pedangnya sama sekali tidak mampu membabat putus lidah Karmaraga. "Dia mempunyai ilmu kebal!" rutuk si gadis. Dia lalu memutar tubuhnya yang terus meluncur ke udara guna menyelamatkan diri dari sambaran lidah. Tapi celakanya kemana pun Purbasari menghindar lidah bercabang berwarna kebiruan itu terus mengejar.

Satu jengkal lagi lidah Karma- raga menggulung lengan si gadis yang memegang pedang. Pada saat itu pula satu sosok berkelebat, satu tangan memegang ranting kecil bercabang bergerak menggebuk ke bagian perte- ngahan lidah. Karmaraga alias Lidah Penebar Bencana terkejut besar melihat serangan ini. Dia menarik kembali lidahnya ke dalam mulut. Tapi gerakannya masih terlambat, lidah tetap kena di gebuk,

Ctaaar!

"Wuaaaah...!" Karmaraga menjerit kesakitan, lidahnya yang kena dihantam ranting keluar masuk kembali ke mulutnya, bagaikan seekor anjing yang baru saja berlari jauh. Si bocah sakti tertawa mengikik.

"Iblis edan. Punya lidah dibiarkan celamitan. Kalau tidak disabet mana pernah kapok!" kata si bocah. Rupanya meskipun tak mempan pedang, lidah itu punya kelemahan tak kuat menahan hantaman tetumbuhan berdaun. Terbukti bagian permukaan lidah mengucurkan darah. Sambil menggerung kesakitan si kakek bungkuk menyerbu ke arah Iwir Iwir. Bocah itu langsung pasang kuda-kuda. Mulut mungilnya keluarkan ucapan.

"Eh.... rupanya belum kapok juga dia. Mau minta tambahan, cucumu ini tentu saja bersedia menambahi!"

Wuuut!

Ranting dihantamkan ke wajah Lidah Pembawa Bencana. Mendapat serangan yang terlihat asal-asalan namun mengandung tenaga dalam tinggi ini si kakek tak berusaha mengelak sama sekali.

Dia tetap menggerakkan tangan- nya. Lima jari mencengkeram bagian ubun-ubun sedangkan tangan kiri menghantam dada. Si bocah sakti miringkan kepala, cengkeraman pada bagian kepala luput, tapi tinju lawan menghantam telak dada Iwir Iwir. Bagaikan dilabrak angin topan si bocah mencelat dan jatuh tergeletak dibagian badan pedang tak jauh-jauh dari delapan pemuda yang direncanakan akan menggotong Pedang raksasa itu.

"Gusti kecil kau...!" seru para pemuda itu hampir bersamaan. Mereka rupanya sangat khawatir melihat nasib bocah itu. Karena kalau si bocah sakti sampai celaka, mereka juga ikut celaka.

Iwir Iwir menoleh ke arah mereka, batuk-batuk kecil kedipkan mata sambil duduk terlolong sedangkan tangan menyeka darah yang meleleh di sudut bibirnya. Si bocah pandangi tangannya yang berselemotan darah. Dia lalu menyengir. "Tidak apa-apa, hanya ingus yang keluar setelah sembilan tahun tertahan di dalam mulut!" celetuk si bocah seenaknya.

Mengetahui lawan dalam keadaan terluka, Karmaraga bermaksud mengha- bisi bocah itu sekaligus menghancurkan pedang Raja yang diduduki Iwir Iwir.

Karenanya sambil mengatupkan bibirnya si kakek yang bukan lain adalah guru Sang Cobra himpun tenaga sakti ke bagian tangan siap melepaskan pukulan Sang Cobra Mematuk Mangsa. Ini salah satu pukulan yang sangat ganas mematikan. Siapapun yang menjadi sasaran tubuhnya hancur membusuk seketika. Dan tampaknya Karmaraga memang menghendaki hal itu terjadi.

Sekejap kemudian Karmaraga mendorongkan kedua tangannya yang telah berubah berwarna hitam ke arah Iwir Iwir. Selarik sinar hitam berhawa dingin bukan main menderu, membelah sejuknya udara bukit dan menghantam dua sasaran sekaligus.

"Walsh matilah aku sekali ini!" Si bocah mengeluh tapi cepat gulingkan diri ke bawah berlindung di balik lebarnya badan Pedang Raja.

Menyangka si bocah Sakti tak dapat selamatkan diri, maka Purbasari tidak tinggal diam. Sambil berteriak keras dia melompat di udara. Tangan kanan babatkan pedangnya ke arah bahu Karmaraga sedangkan tangan kiri lepaskan pukulan salah satu pukulan andalannya.

Siiing! Wuuut!

Sinar putih yang memancar dari pedang berkelebat, sedangkan dari telapak tangan kiri menderu sinar biru yang memapas pukulan lawan dari arah samping.

Craak! Buuuum!

Purbasari keluarkan seruan kaget. Pedangnya yang membacok bahu lawannya bukan saja patah, tapi juga berwarna hitam. Jika dia tidak mem- buang sisa pedang dalam genggamannya. Tentu Purbasari keracunan. Bukan itu saja, pukulan yang dilepaskannya seakan membalik. Si gadis jatuh terpelanting dengan dada mendenyut sakit dan semburkan darah. Di depan sana pukulan yang dilepaskan oleh Karmaraga menghantam bagian badan pedang. Terdengar suara berkeron- tangan, karena pedang itu sempat terlontar ke udara lalu jatuh kembali menghantam lempengan batu yang dijadikan tatakan. Sebagian badan pedang tampak menghitam. Walau Pedang Raja tidak mengalami kerusakan apapun, tapi bekas pukulan telah meninggalkan racun yang amat ganas.

Delapan pemuda yang berkaparan terkena sambaran pukulan tidak berkutik lagi. Mereka semuanya tewas seketika dengan muka hangus dan tubuh telinga mengucurkan darah. Melihat ini si bocah sakti menggerung marah. Delapan pemuda yang diharapkan untuk memikul Pedang Raja, dibawanya dari tempat yang amat jauh kini telah berkaparan menjadi jasad yang tidak berguna. Sungguh dia telah melakukan satu pekerjaan yang sia-sia. Apalagi kini dia melihat Purbasari sahabatnya juga tergeletak dalam keadaan terluka. Lengkap sudah kemarahan di hati Iwir Iwir.

Dengan sekali lompat dia telah berada di hadapan si kakek. Matanya mendelik ketika mulutnya berucap membentak. "Lidah Penebar Bala! Kau kira aku tak tahu kau adalah gurunya Sang Cobra. Kau hendak menghancurkan senjata itu karena takut aku menggu- nakannya untuk membunuh muridmu yang terkutuk itu. Kau sangka biar aku masih kecil takut padamu? Biar kau tuaan aku tak pernah sungkan menampar pipimu pulang balik!" berkata begitu si bocah sakti berkelebat ke depan. Hanya sekejap, tak sampai sekedipan mata tahu-tahu bocah itu sudah berada di depan hidung Karmaraga. Sedangkan tangan si bocah terjulur lakukan tamparan.

Si kakek tidak sempat lagi menghindar.

Plak! Plaak! Bruk!

Tamparan si bocah tampaknya seperti tamparan biasa. Tapi akibatnya membuat si kakek jatuh terbanting. Dua giginya tanggal. Ketika dia menyemburkan ludah, maka air ludah bercampur dengan darah. Selain itu ada dua benda putih kekuningan ikut melesat keluar. Tanpa menghiraukan rasa sakit si kakek memungutnya, mendekatkan ke mata dan mengamat- amati. Kagetlah Karmaraga di buatnya.

"Gigiku... gigiku...! Kau hancurkan gigiku!" teriak si kakek gusar.

"Kau ingin kutampar lagi, atau mau kurontokkan gigimu semuanya? Maju

.... Majulah...!" tantang si bocah sakti. Sambil berkata dia balikkan tangan lalu menggerak-gerakkan jari telunjuknya memberi isyarat agar Lidah Penebar Bencana mendekat. Merasa sangat diremehkan si kakek melompat bangkit. Dia lalu membuka mulut, nafas ditarik sedangkan pipi menyedot. Terdengar suara menderu. Iwir Iwir merasa tubuhnya tersedot ke arah si kakek. Si bocah hantamkan kaki kanannya hingga amblas. Tangan kanan dikepalkan dan diangkat ke atas kepala. Sedangkan tangan kiri ditarik ke belakang, lalu dihantamkan ke depan.

"Kau makan nih apiku!" desis si bocah.

Wuuus!

Dari telapak tangan si bocah menderu kobaran api sebesar buah kelapa, meluncur deras mengikuti tenaga sedotan yang berasal dari mulut Karmaraga. Melihat hal ini dan tak menyangka lawan akan melepaskan pukulan yang mengobarkan api si kakek tentu saja jadi kaget. Dia menyadari jika bola api sampai tertelan maka hanguslah bagian dalam tubuhnya. Sungguhpun begitu si kakek tidak menjadi gugup. Jika tadi mulutnya menyedot. Maka kini dia rubah serangan. Selanjutnya dia meniup ke depan.

Akibatnya  tentu  sangat mengerikan, karena tiba-tiba saja bola api berbalik menyerang si bocah sakti. "Hah, orang tua  edan ini ternyata panjang akalnya!" desis si bocah. Laksana kilat dia jatuhkan diri, namun tak urung rambutnya yang gondrong sebagian hangus terbakar. Selagi si bocah sibuk memadamkan api yang membakar rambutnya. Maka kesempatan itu tak disia-siakan oleh Karmaraga.

9

Secepat kilat kakek bungkuk ini menyemburkan cairan putih dari mulutnya. Cairan putih menderu bertebaran di udara dan mengurung si bocah sakti dari seluruh penjuru arah. Cairan ini tentu sangat berbahaya bila sampai mengenai tubuh si bocah karena dalam cairan terkandung racun raja cobra yang sangat ganas. Menyadari betapa berbahayanya serangan lawan, maka tanpa banyak cakap lagi Iwir Iwir lesatkan tubuhnya di udara. Begitu tubuhnya melesat setinggi tiga tombak, serta merta dia menghantam ke bawah.

Wuut!

Dari telapak tangan si bocah sakti kanan kiri menderu dahsyat hawa panas yang berputar seperti lingkaran. Semakin merangsak jauh ke depan maka lingkaran angin semakin melebar. Semburan cairan beracun dengan angin badai kemudian saling beradu di udara. Terjadi ledakan beruntun yang memporak porandakan tanah di atas bukti. Bukan hanya tanah dan bebatuan saja yang berpelantingan di udara. Tapi Purbasari yang tengah berusaha menyembuhkan luka dalam yang dialami- nya juga sempat terlempar ke udara.

Di depan sana Karmaraga. terdorong mundur. Benturan keras yang terjadi sempat membuat mulutnya seperti ditampar pulang balik. Sehing- ga kini mulutnya jadi terpencong. Sedangkan si bocah sakti sendiri jatuh terduduk dengan kepala menyentuh tanah, kaki terlipat. Nafas bocah itu megap-megap.

"Sobatku.., sobatku...!" seru si bocah seperti orang yang sedang sesambat.

Tanpa menunggu, Purbasari yang merasa dipanggil dengan terhuyung- huyung segera mendatangi. Dia menarik tangan Iwir Iwir.

"Kau cidera?" tanya si gadis setengah mendesis.

"Hi... hi... hi. Aku cuma ingin muntah. Hoeeek... hueek...! Uh keluar sudah isi perutku!" kata si bocah sambil mengikuti tarikan Purbasari sehingga dia jadi berdiri tegak.

Purbasari terkejut besar melihat banyaknya darah yang keluar dari dalam mulut si bocah sakti. Dia memijiti tengkuk si bocah untuk memperlancar aliran darah yang sempat tersendat di bagian nadi besar. "Aduh enaknya... aku senang punya sahabat pandai memijit. Tapi kurasakan akan lebih nikmat lagi bila digendong di bagian depan! Hi... hi... hi."

Paras si gadis bersemu merah. "Iwir Iwir jaga mulutmu!" desis Purbasari yang diam-diam merasa tak tega melihat wajah bocah sakti itu tampak pucat seperti mayat.

Di depan sana Lidah Penebar Bencana yang tak pernah menyangka si bocah memiliki kesaktian tinggi belalakkan mata tak percaya. Dia kurang yakin bocah sekecil itu sanggup membendung cairan beracun yang tersembur dari mulutnya sendiri. Padahal seorang tokoh angkatan tua berkepandaian tinggi sekalipun belum tentu sanggup menyelamatkan diri dari semburan cairan beracun itu.

Menyadari bocah itu tak dapat dipandang sebelah mata. Maka selagi si bocah lengah. Tanpa membuang kesem- patan lagi Karmaraga alias Lidah Penebar Bencana kepalkan kedua tinjunya. Begitu tinju terkepal dan teraliri tenaga dalam, maka si kakek pun langsung menghantam ke depan. Dua sasaran di arahkannya sekaligus. Satu adalah Iwir Iwir sedangkan yang satunya lagi Purbasari.

Sinar hitam kebiruan berkiblat, hawa dingin bukan kepalang menderu sebat, menghantam lurus ke bagian punggung Purbasari dan juga bagian dada si bocah sakti.

"Menyingkir!" satu suara berseru. Kemudian dari sebelah samping kanan si bocah dan si gadis terlihat sinar putih menyilaukan mata memotong gerak pukulan lawan di tengah jalan.

Glarrr!

Ledakan maha dahsyat yang terjadi bukan saja hanya membuat Karmaraga terpelanting dan jauh ke lereng tebing. Tapi puncak bukit itu juga laksana diguncang gempa hebat. Purbasari dan Iwir Iwir jatuh terduduk. Sementara dari tempat sinar putih tadi berasal, terdengar suara tawa mengekeh menyakitkan telinga tak ubahnya seperti tawa mahluk raksasa.

"Terima kasih kalian mau melindungi pedang ciptaanku. Aku merasa bersyukur masih ada orang yang mau menyambangi bukit batu ini. Ha... ha... ha!" kata satu suara keras menggelegar.

Karena orang yang bicara ada menyebut pedang yang diciptakannya. Maka baik si bocah maupun Purbasari langsung dapat menduga yang bicara barusan tadi pastilah Anom Ka Ratan.

Si bocah bangkit berdiri dan langsung mengusap bagian badannya yang kotor diselimuti debu. Dia lalu menghadap ke arah datangnya suara. "Terima kasih juga kuucapkan padamu. Kau telah menyelamatkan kami dari serangan kakek berpunuk unta itu. Setelah mengucapkan terima kasih dan merasa berhutang nyawa sekarang aku ingin tahu apakah kau orangnya yang bernama Anom Ka Ratan?"

Terdengar suara tawa bergelak. Tawa lenyap berganti dengan ucapan. "Kau tak salah. Aku sendiri sudah tahu tentang maksud kedatanganmu juga maksud teman gadismu itu. Kau tentu hendak menggunakan Pedang Raja untuk membunuh Sang Cobra. Mengenai Sang Cobra aku sudah menyelidik siapa adanya gerangan. Semula aku memang bermaksud menutup mata menulikan telinga begitu mengetahui sepak terjangnya. Tapi kini aku juga bermaksud turun bukit. Aku bersedia membantu kalian. Kurasa dengan tanganku sendiri aku akan membunuhnya!" kata suara itu.

"Jadi pedang ini?" tanya Purbasari membuka mulut.

"Ha... ha... ha. Pedang Raja memang rajanya segala pedang, panjang juga termasuk besarnya. Aku yakin jika ke delapan pemuda itu masih hidup pasti juga tak sanggup memikul atau menggotongnya. Karena aku pemiliknya, maka biarkan aku sendiri yang membawanya!" sahut suara yang mengaku sebagai Anom Ka Ratan. "Jadi kami sendiri bagaimana?" tanya Iwir Iwir

"Kau boleh turun dengan melenggang bersama gadis itu. Boleh juga kalian saling berangkulan. Yang terpenting kau dan gadis itu cepat tinggalkan tempat ini!"

"Eeh, mengapa secepat itu?" si bocah sakti melengak kaget. "Apakah kau tak mau unjukkan diri? Ingat gadis cantik ini sangat ingin bertemu denganmu. Ingin pula memastikan dirimu sebesar dan setinggi apa?"

"Ha., ha... ha. Kurasa itu tak perlu. Nantinya juga kita pasti bisa bertemu di Tosari. Jadi kuharap kau jangan kecewa!" kata Anom Ka Ratan.

Si bocah sakti memandang tajam pada Purbasari.

"Bagaimana, tuan yang punya tempat tak berkenan menemuimu. Mungkin dia takut jatuh cinta padamu!" ujar si bocah bercanda.

"Tidak jadi apa. Kurasa lebih cepat kita tinggalkan tempat ini rasanya akan lebih baik!" kata Purbasari.

Kini setelah anggukkan kepala Iwir Iwir kembali memandang ke arah datangnya suara. "Orang yang mendekam malu tunjukkan diri. Kami mohon pamit, mohon maaf pula kalau ada kata-kataku yang salah, maklum aku ini bocah kecil yang belum tahu banyak tentang segala macam peradatan."

"Aku maklum, pergilah cepat!" bentak Anom Ka Ratan.

"Eeh, galak amat!" celetuk si bocah sakti. Sambil bersungut-sungut mereka meninggalkan puncak Bukit Waton Hijau. Ketika melewati tempat jatuhnya Lidah Penebar Bencana, baik Iwir Iwir maupun Purbasari sama-sama terkejut karena ternyata kakek bungkuk itu tak mereka temukan di situ. Mereka hanya melihat bercak-bercak darah yang berceceran di atas rerumputan di sepanjang lereng bukit. Ceceran darah baru tak terlihat lagi setelah sampai di batas antara lereng bukit dan lembah.

"Setan tua itu ternyata nyawanya cukup alot juga!" gerutu murid Dewa Ngelindur Bertangan Arwah.

"Malaikat maut ternyata masih segan mencabut nyawanya! Hi... hi... hi!" sahut si bocah sakti disertai tawa cekikikan.

10

Terdorong oleh mimpi buruk yang dialaminya, kakek tua berpakaian dalam warna hitam dan memakai mantel berwarna putih di bagian luarnya ini akhirnya terpaksa memperturutkan kata hati untuk menyambangi sahabatnya. Selain itu dia sendiri memang sudah lama tidak pernah bertemu dengan Ki Bantaran. Kurang lebih dua puluh tahun sejak kunjungan terakhir beberapa bulan setelah peristiwa pengeroyokan Sepasang Iblis Pengemis Harpa di puncak Tumapel. Kini dia ingin cepat sampai di tempat tujuan. Kali Merayu jaraknya memang hanya tinggal setengah hari lagi perjalanan. Jarak yang tidak begitu jauh bila ditempuh dengan perjalanan berkuda.

Setelah melewati dusun, sawah dan perladangan juga hutan rimba. Pagi itu si kakek yang bukan lain adalah Ki Banjar Jati yang dikenal dengan julukan Mahluk Tanpa Tanda sampai di tepi telaga kecil. Air di telaga itu sangat jernih. Kebetulan sekali perbekalan airnya untuk minum kuda sudah habis. Sehingga tanpa pikir panjang si kakek turun dari atas kudanya. Dia mengambil botol kendi dari tanah liat yang terdapat di dalam kantong perbekalan kuda.

"Kau di sini dulu putih. Kita istirahat tidak lama. Setelah itu perjalanan kita teruskan. Entah mengapa saat ini aku ingin sekali cepat bertemu dengan Ki Bantaran." berkata Ki Banjar Jati, seraya mengelus bulu leher kuda. Setelah itu berjalan menuju tepi telaga. Empat botol kendi besar diisinya sampai penuh. Ketika si kakek hendak mengisi botol kendi terakhir mendadak laksana kilat satu benda besar melesat ke dalam telaga kecil berair dangkal.

Byuuur!

Air dalam telaga muncrat bertebaran membasahi sekujur pakaian si kakek luar dalam Ki Banjar Jati terkejut besar, dia kaget ketika melihat telaga yang kecil serta dangkal itu menjadi keruh. Si kakek bangkit berdiri, memandang ke arah telaga ternyata yang tergeletak mengapung di atas air telaga bukan lain adalah sebuah kelapa.

Ki Banjar Jati kitarkan pandang, melihat ke sekeliling daerah itu ternyata tak satupun pohon kelapa yang terlihat. Jelas semua itu merupakan perbuatan iseng seseorang.

"Tak ada pohon kelapa bagaimana ada buahnya?" pikir si kakek heran. Selagi kakek itu belum hilang rasa kagetnya, tiba-tiba dari balik semak belukar yang terdapat di depannya sana muncul seorang kakek berbadan gemuk besar luar biasa berpakaian hitam besar tak terkancing, berwajah bulat berkening lebar. Sedangkan satunya lagi adalah seorang pemuda tampan berambut gondrong berwajah polos. Mereka sambil berlari tampak sibuk membolang-baling kelapa. Sedangkan masing-masing tangan memegang satu buah kelapa. Hanya si pemuda yang memegang satu kelapa di tangan kirinya.

"Dasar bocah bodoh, melemparkan kelapa saja tidak becus. Hayo cari kelapamu yang kabur tadi!" kata si kakek bersungut-sungut.

"Aku malas mencarinya. Melem- parkan satu kelapa di udara kurasa lebih mudah daripada melempar dua kelapa sekaligus." Walau mulutnya bicara begitu namun mata si pemuda yang tiada lain adalah Gento Guyon tetap mencari kian ke mari.

"Ha... ha... ha. Akhirnya kutemukan juga biji kelapaku yang hilang!" seru si pemuda kegirangan.

"Mana... mana...?" Si kakek pentang mata dan memandang jelalatan.

"Lihat di dalam telaga itu!" sahut Gento. Bersikap seakan tak ada orang lain di tempat itu si pemuda berkelebat ke arah telaga. Tangannya bergerak mencoba meraih kelapanya.

Wuuut!

Mendadak laksana disentakkan kelapa yang mengapung di atas air melesat ke udara. Gento Guyon terkesiap. Ketika dia berdiri tegak dan memandang ke depannya, maka kagetlah pemuda ini dibuatnya. Buah kelapa itu ternyata sudah berada di tangan seorang kakek. Hanya dengan sekali pukul kelapa milik Gento terbelah menjadi delapan bagian, masing-masing bagian sama rata sama besar seolah ketika membelah menggunakan benda tajam.

"Hei, tikus tua, mengapa kau belah buah kelapaku?!" hardik si pemuda tampak gusar sekali.

"Sikapmu yang kurang ajar bisa saja memaksaku membelah kepalamu sendiri!" dengus si kakek.

"Apa? Kenal dan melihat rupamu saja baru kali ini bagaimana kau bisa mengatakan aku berlaku kurang ajar!"

"Coba kau lihat ke telaga. Aku jadi batal mengisi botol kendi yang terakhir gara-gara kelapamu itu. Pakaianku juga basah luar dalam, kau sudah mengerti kesalahan yang kau perbuat?" hardik si kakek.

Gento Guyon jadi melengak kaget. "Ah, kau sungguh pandai sekali

mencari perkara. Baru persoalan kecil saja kau besar-besarkan?!" kata si pemuda bersungut-sungut.

"Bukan perkara yang kucari, tapi kurasa gurumu memang tak becus mendidikmu!" dengus Ki Banjar Jati alias Mahluk Tanpa Tanda.

Merasa gurunya dibawa-bawa, Gento jadi tidak senang. Dia hendak mendamprat. Tapi di belakangnya Gentong Ketawa sudah lebih dulu keluarkan omelan.

"Eeh, siapa berani bicara lancang begitu. Aku gurunya bocah edan itu. Sudah kudidik dan kuajar dia luar dalam, otaknya yang tidak benar sudah pula kucuci dengan air tujuh sumur. Kurang ajar betul!" sambil keluarkan suara omelan si kakek berkelebat, tahu-tahu dia sudah berdiri tegak di depan Ki Banjar Jati. Kedua orang tua ini saling pandang sejenak lamanya. Kemudian sama pula bersurut langkah.

"Kau... orang tua kurus, hidung kecil mulut seperti tikus cecurut. Rasa-rasa aku seperti mengenalmu!" desis Gentong Ketawa dengan alis berkerut sambil usap-usap wajahnya.

"Ah, bukankah kau Gentong Ketawa? Sudah lama sekali kita tak bertemu, lebih dari tiga puluh tahun!" menimpali Ki Banjar Jati.

"Eeh, kau siapa ya. Aku memang merasa seperti punya seorang sahabat jelek sepertimu. Ah...!" Gentong Ketawa tersenyum lebar. "Aku ingat sekarang. Bukankah kau, tikus buduk yang bernama Ki Banjar Jati bergelar Mahluk Tanpa Tanda. Bagaimana kabarmu?" tanya Gentong Ketawa sambil tertawa tergelak-gelak. Dua orang tua ini sama bungkukkan badan menjura hormat. Sedangkan Gento Guyon semakin cemberut.

"Sialan. Baru hendak kugebuk, tak tahunya mereka berteman." rutuk si pemuda dalam hati.

"Kau betul... kau betul...!" menanggapi si kakek berjubah putih. "Bagaimana kau bisa berada di

sini sahabat Gentong Ketawa?" tanya Ki Banjar Jati.

"Sebelum kujelaskan sebaiknya kuperkenalkan pemuda itu adalah muridku. Namanya Gento Guyon." jelas si kakek gendut. Dia lalu berpaling pada muridnya. "Gege menghormatlah pada kakek ini!" perintah si kakek.

Tanpa bicara apa-apa Gento Guyon langsung jatuhkan diri sambil bungkukkan badan.

"Terimalah hormatku, kakek!" "Berdirilah anak muda. Kau

memang pantas menjadi murid Gentong Ketawa karena tingkah lakumu memang sangat mirip dengannya." kata Ki Banjar Jati.

"Terima kasih. Aku memang berjodoh dengannya!" sahut si pemuda seenaknya.

Si kakek manggut-manggut, lalu kembali menghadap ke arah Gentong Ketawa. "Sekarang coba ceritakan bagaimana kau bisa sampai di sini?" Ki Banjar Jati mengulang pertanyaannya.

"Aku dan muridku baru saja mengejar Sang Cobra. Rupanya kau tidak tahu manusia biadab berselubung itu baru saja membunuh sahabat kita Ki Bantaran?" ujar si kakek dengan wajah murung.

"Apa? Dia membunuh Ki Bantaran? Bagaimana hal itu bisa terjadi?" desis Ki Banjar Jati tak kuasa menahan rasa kaget juga kesedihan hatinya.

Gentong Ketawa kemudian menu- turkan kedatangannya di tempat kediaman Ki Bantaran di tepi kali Merayu. Tak lupa dia juga menceritakan siapa adanya Sang Cobra.

Mendengar penuturan Gentong Ketawa, wajah si kakek berubah menegang, ke dua bibir terkatup rapat geraham bergemeletukan. Sedangkan mata Ki Banjar Jati tampak berkaca-kaca. Kedua tinjunya dipukulkan satu sama lain.

"Keparat betul manusia itu. Aku sudah menduga putra Sepasang Iblis Pengemis Harpa kelak memang akan menjadi pangkal bencana. Tapi waktu itu Ki Bantaran sahabat kita itu tak percaya dengan penjelasanku. Kini segalanya terbukti." desis si kakek.

Dengan suara bergetar dia lalu melanjutkan. "Selama ini aku memang sering mendengar tentang sepak terjang Sang Cobra. Kejahatannya dalam menghancurkan setiap perguruan yang ada serta tindakannya yang kejam dalam membunuh beberapa tokoh penting golongan putih kuanggap sebagai tindakan iblis. Adapun maksud kehadi- ranku di sini selain ingin melihat sahabat Ki Bantaran juga ingin menyerap kabar tentang kebenaran berita yang kudengar. Sama sekali tidak pernah kusangka kalau Sang Cobra manusia keji yang akhir-akhir ini menjadi momok bagi dunia persilatan itu dialah orangnya." ujar Ki Banjar Jati.

Lalu apa rencanamu?" tanya Gentong Ketawa.

"Apa rencanaku?" sahut Ki Banjar Jati setengah berseru. "Aku tak punya rencana lain terkecuali memburu jahanam yang satu ini!" tegas si kakek sengit.

"Kalau begitu kata sepakat sudah sama didapat, mengapa sekarang kita tidak berangkat saja?" celetuk Gento Guyon yang sejak tadi hanya ikut mendengar.

"Kita memang harus berangkat. Kurasa lebih cepat lebih baik lagi!" ujar Ki Banjar Jati.

"Kek bagaimana dengan kudamu? Kalau aku yang menunggang apakah boleh?" tanya si pemuda usil.

Mendengar permintaan Gento gurunya delikkan mata. Si pemuda menyeringai. Sedangkan Ki Banjar Jati langsung anggukkan kepala. "Boleh. Tentu saja boleh!" Mendapat persetujuan dari pemilik kuda enak saja Gento melompat dan kemudian duduk uncang-uncang kaki di atas punggung kuda. Sementara kedua orang tua itu segera berkelebat meninggalkan tepi telaga. Gento Guyon tak mau kalah. Sekali gebrak kuda berlari kencang mengikuti kedua orang tua tadi.

11

Dua sosok tubuh berkelebat laksana dikejar-kejar setan. Satu di antaranya yang berpakaian serba kuning berada di bagian depan. Sedangkan satunya lagi yang bertelanjang dada dan cuma memakai cawat dan berbadan pendek berada di bagian depan. Di satu tempat setelah melewati bukit kapur si gadis cantik berambut panjang riap- riapan perlambat larinya begitu sampai di tepi sebuah jalan sunyi.

"Ke arah mana yang harus kita lalui Iwir Iwir. Ke kanan atau ke kiri?" tanya si gadis sambil memperhatikan kedua sisi jalan yang ada di kanan kirinya.

Di belakang si gadis bocah bertelanjang dada berumur sepuluh tahun juga ikut hentikan langkah. Dia memandang ke jalan di sebelah kiri, setelah itu beralih ke arah jalan di sebelah kanan. Si bocah diam sejenak, matanya terpejam sedangkan ibu jari dimasukkan ke dalam mulut, di sedot dan dihisap-hisap pertanda si bocah memang sedang berpikir keras.

"Kalau ke kiri berarti kita menuju ke Sidoarjo, sedangkan kalau ke kanan pasti ke Tosari. Menurutku sebaiknya kita memilih jalan yang ke kanan. Nanti kita segera sampai ke tempat tujuan." ujar si bocah sakti.

"Aku menurut saja apa yang kau katakan, namun jika kita sampai di tempat tujuan yang salah kau tanggung sendiri akibatnya!" berkata Purbasari. Iwir Iwir anggukkan kepala.

"Baiklah, semua akibat dari kekeliruanku biar aku yang menang- gungkannya." sahut si bocah sakti.

Karena sudah sama sepakat maka Purbasari dan Iwir  Iwir  kembali meneruskan perjalanan mereka. Belum lama kedua orang ini berlari. Mendadak sontak   keduanya  hentikan langkah. Mereka saling pandang ketika melihat satu sosok tubuh berdiri tegak di tengah jalan sambil berkacak pinggang. Siapapun adanya laki-laki itu, pasti sengaja membawa niat yang buruk. Namun yang membuat  mereka  heran mengapa kepalanya diselubungi kain hitam. Tapi setelah melihat sekujur tubuh  telanjangnya yang dihiasai lukisan ular cobra sadarlah mereka siapa adanya laki-laki yang menghadang

di tengah jalan.

"Sobatku Iwir Iwir, bagaimana kita harus bersikap?" tanya Purbasari berbisik.

Si   bocah   sakti   tersenyum. "Tosari masih jauh, namun kurasa tak sampai sepemakan sirih lagi kita sudah sampai di tempat itu. Kita hanya berdua, walaupun begitu aku yakin Anom Ka Ratan pasti juga melewati jalan ini. Sekarang nampaknya kita menghadapi kesulitan besar. Melihat pada keadaan tubuhnya yang dihiasi lukisan ular cobra, kurasa dia adalah orang yang kita cari," menjawab si bocah dengan berbisik pula, "Kita sudah letih mengejarnya. Tapi setelah letih ternyata dia datang sendiri. Sekarang tunggu apa lagi? Teruskan rencana semula."

"Maksudmu?"

"Kita pura-pura melewatinya tolol." sahut Iwir Iwir.

Sesuai dengan perintah si bocah sakti, maka Purbasari lanjutkan langkahnya. Akan tetapi belum lagi dia melewati laki-laki itu, tiba-tiba terdengar suara bentakan.

"Dua manusia tidak tahu gelagat berhenti!" hardik laki-laki berselubung yang tiada lain adalah Sang Cobra.

"Kau menghentikan kami, sekarang kami berhenti. Apa maumu?" tanya Iwir Iwir.

Sang Cobra tidak langsung men- jawab, dia dongakkan kepala memandang ke langit. Kemudian terdengar suara tawanya yang dingin angker. "Siapapun yang bertemu denganku keselamatannya tidak ada yang dapat menjamin. Tapi terhadap kalian berdua, kuanggap sebagai suatu pengecualian. Itupun jika kau mampu menjawab pertanyaanku." dengus laki-laki itu sinis.

"Jika tidak?" Iwir Iwir menim-

pali.

"Seandainya tidak mampu menjawab

kalian berdua secepatnya akan kukirim ke neraka. Ha...ha... ha...!"

"Mengerikan sekali. Apakah kau salah satu penjaga di neraka sana yang ditugaskan menjemput roh manusia di dunia?" tanya si bocah disertai senyum mengejek.

"Hust, jangan bicara yang bukan- bukan. Tanyakan saja apa yang hendak diketahuinya!" Purbasari memberi bisikan. Bocah itu anggukkan kepala

"Eeh, maaf apa pertanyaanmu tadi?"

"Pertanyaanku ada dua. Pertama tahukah kalian di mana saat ini Ki Banjar Jati alias Mahluk Tanpa Tanda berada?"

Si bocah sakti memandang ke arah Purbasari. Dia sendiri tidak kenal dengan orang yang dimaksudkan oleh Sang Cobra. Sebaliknya Purbasari memang sering mendengar nama Ki Banjar Jati. Namun berjumpa dengan orangnya atau mengenal tempat tinggal salah satu tokoh golongan putih itu tentu dia tak tahu. Purbasari akhirnya geleng kepala. Melihat si gadis gelengkan kepala maka si bocah sakti juga ikut melakukan hal yang sama.

"Kami tak tahu." sahut Purbasari.

"Satu pertanyaan tak terjawab, berarti salah satu di antara kalian harus menyerahkan kepalanya kepadaku. Ha... ha... ha!"

"Boleh  saja,   lalu   apa pertanyaanmu yang kedua?" tanya Iwir Iwir ringan saja. Seakan menganggap ancaman Sang Cobra sebagai angin lalu. "Pertanyaanku yang kedua, di manakah tinggalnya  manusia yang

bernama Anom Ka Ratan?"

Mendengar pertanyaan itu baik Purbasari maupun Iwir iwir diam-diam menjadi kaget. Dan Sang Cobra melihat semua ini walau cuma sekilas saja.

"Bagaimana? Kau saja yang menjawab!" ujar Purbasari. Perasaannya mulai diselimuti kegelisahan.

"Kau ingin aku berkata jujur atau bohong?"

"Bocah kurang ajar! Katakan dengan sejujurnya, cepat!" bentak Sang Cobra sengit.

"Kalau kau ingin jawaban yang jujur. Anom Ka Ratan tinggal di puncak bukit Waton Hijau. Kalau tak percaya silakan lihat sendiri. Tapi kurasa kau tak perlu bersusah payah ke sana, karena sekejap lagi kurasa dia segera datang ke sini." berkata si bocah sakti polos.

"Bagus. Sekarang sambil menunggu kedatangan bangsat tua yang telah membunuh kedua orang tuaku itu, kurasa ada baiknya jika aku membereskan kalian!"

Ucapan Sang Cobra tentu saja sangat mengagetkan kedua orang ini. Iwir Iwir menjadi kesal. Sambil melompat ke depan dia membentak.

"Aku ingin ajukan pertanyaan padamu. Engkau ini setan atau manusia? Kalau setan kurasa memang pantas sesuai dengan keadaanmu, kalau manusia mana aku percaya. Karena tak satupun dari ucapanmu yang dapat kupegang! Hi... hi... hi. Huk... huk... huk!" selesai berkata si bocah sakti tertawa cekikikan.

Melihat si bocah terkesan mere- mehkan dirinya, maka sambil menggerung marah Sang Cobra menggerakkan kedua tangannya ke arah si bocah sakti. Hawa panas menderu disertai berkelebatnya tiga sosok benda hitam sebesar ibu jari ke arah si bocah sakti. Ketika meluncur di udara ketiga benda hitam itu lalu berpencar, satu menghantam kepala, satunya lagi melesat ke bagian perut dan yang lainnya menghantam bagian di bawah perut Iwir Iwir. Walaupun berkelebatnya tiga buah benda sepanjang tiga jengkal sangat cepat bukan main. Tapi sebagai gadis yang memiliki ilmu sangat tinggi tentu dia dapat melihat benda apa yang melesat di udara itu. Tanpa pikir panjang Purbasari berteriak memberi peringatan.

"Iwir Iwir awas!"

Si bocah yang juga sudah melihat benda apa gerangan yang meluncur deras ke arahnya langsung hantamkan kedua tangannya tiga kali berturut-turut.

Tesss! Tess! Tess!

Pukulan yang dilontarkan oleh si pemuda walau terkesan asal-asalan ternyata menghantam tiga benda panjang itu secara tepat. Tercium adanya bau amis terbakar. Tiga buah benda yang kena dipukul ternyata adalah tiga sosok ular cobra. Begitu jatuh ketiga ular tadi dalam keadaan hangus gosong. Melihat kenyataan ini kagetlah

Sang Cobra dibuatnya. Sama sekali dia tak menyangka bocah sekecil itu di samping memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi juga mampu melepaskan pukulan sehingga tepat mengenai sasaran kalau tak melihatnya sendiri mana dia bisa percaya.

Tapi kematian tiga ular itu baginya sudah mengundang satu kema- rahan besar. Itulah sebabnya tanpa bicara lagi Sang Cobra segera mengerahkan jurus aneh yang merupakan serangkaian dan jurus-jurus mahluk yang sangat berbisa tersebut.

Sambil melakukan satu lompatan ke depan, kedua tangannya dengan jemari saling merapat membentuk kepala ular berkelebat menghantam leher dan juga tubuh si bocah tepat di bagian yang paling mematikan. Mendapat serangan yang ganas bertubi-tubi, si bocah sakti tampak terdesak. Dengan lincah dia berkelit menghindar, atau terkadang membalas serangan lawan dengan kekuatan berlipat ganda. Satu saat dia terpaksa memiringkan badan dan rundukkan kepala saat Sang Cobra menghantam ke bagian matanya. Melihat serangannya luput, kaki kanan Sang Cobra laksana kilat menyambar menghantam bagian perut bocah ini.

"Aih...!" sambil memekik kaget si bocah sakti berusaha berkelit. Tapi gerakan kaki lawannya ternyata memang jauh lebih cepat daripada gerakan menghindar yang dilakukan Iwir Iwir.

Buuk!

Tak urung satu tendangan keras mendarat di perut si bocah sakti membuatnya terlontar sejauh tiga tombak. Iwir Iwir jatuh berkelukuran dengan wajah pucat, perut laksana pecah sedangkan mulut meneteskan darah. Purbasari terkesiap. Sejenak lamanya dia hanya mampu berdiri tegak dengan mata melotot dan mulut ternganga.

12

Beberapa saat kemudian seakan baru saja tersadar dari mimpi buruk Purbasari tersentak kaget saat mendengar suara teriakan keras Sang Cobra. "Ajalmu sampai pada detik ini!"

Seiring dengan teriakannya itu laki-laki yang bagian kepalanya diselubungi kain hitam laksana kilat melompat. Satu tangan menghantam bagian kepala sedangkan tangan yang lainnya menderu menghantam perut. Si bocah sakti memang sempat merasakan adanya sambaran angin dingin menerpa kepala dan perutnya. Walau saat itu dia sedang merasakan sakit yang amat luar biasa di bagian perut akibat tendangan lawan. Namun dengan cepat dia gulingkan dirinya ke samping mencari selamat.

Sebaliknya Purbasari yang melihat si bocah sakti berada dalam ancaman bahaya besar tidak tinggal diam. Dengan nekad dia melesat menghadang lawan guna menyelamatkan si bocah dari malapetaka.

"Hiaa...!"

Dua tangan menghantam dari arah samping menepis tangan Sang Cobra. Tapi laki-laki itu ternyata cukup cerdik juga, begitu melihat tangannya hendak dipukul remuk oleh gadis itu. Maka dia menarik balik serangan. Dengan gerakan begitu rupa, tiba-tiba saja tangan lawan kini sudah meluncur ke bagian dada serta wajah si gadis dengan jari terkembang.

Purbasari tersentak kaget melihat serangannya luput, sebaliknya tangan lawan kini malah mengancam dua bagian tubuhnya. Dengan cepat dia sentakkan kepala ke belakang. Kepala selamat dari hantaman lima jari lawan. Tapi dia tidak sanggup menghindari serangan Sang Cobra yang menghantam di bagian dada.

Desss! Kraak!

Hantaman yang sangat keras bukan saja membuat Purbasari terpental, tapi juga membuat tulang dadanya remuk. Pakaian di bagian dada hangus, sedangkan kulit di balik pakaian yang hangus nampak membiru. Gadis itu menjerit, jatuh terkapar diam tak bergerak. Melihat sahabatnya terluka parah bahkan menderita keracunan pula. Si Bocah sakti tentu saja menjadi sangat marah, apalagi mengingat Purbasari terluka karena menolong dirinya. Tanpa menghiraukan luka yang dideritanya sendiri Iwir Iwir segera bangkit. Dia kemudian memutar kedua tangan di atas kepala. Angin menderu menyertai berkelebatnya ke dua tangan itu. Sambil berteriak nyaring si bocah sakti kemudian melesat ke depan, dua tangan yang diputar selanjutnya dihantamkan ke arah lawan.

Sang Cobra sempat dibuat kaget ketika bagaimana dari telapak tangan bocah itu menderu angin yang berpilin melingkar berbentuk kerucut memanjang. Semakin mendekati Sang Cobra maka bagian depan pusaran angin aneh ini semakin membesar tak ubahnya seperti mulut jalan yang ditebarkan.

"Pusaran angin aneh?" desis lawannya. Dan memang pada saat itu si bocah sakti sedang mengerahkan salah satu ilmunya yang paling hebat yaitu ilmu Menjaring Iblis Di Balik Rembulan. Akibatnya tentu saja sangat fatal bagi lawan. Tapi Sang Cobra adalah iblis keji yang mempunyai banyak akal dan berbagai kelicikan. Melihat gelombang angin pusaran yang tidak ubahnya seperti terowongan yang hendak menyungkup dan menggilas dirinya. Maka detik itu pula dia segera memutar tubuhnya, dalam keadaan berjongkok dia menghantam ke depan dengan pukulan beruntun.

Wuss! Wuus!

Terdengar suara menderu dahsyat disertai melesatnya cahaya hitam laksana iring-iringan mendung tebal di angkasa. Sinar hitam itu kemudian menerobos pusaran angin yang berputar seperti lingkaran. Begitu sinar maut ini berada di tengah lingkaran pusaran angin, maka dia tampak melebar. Membesar sampai akhirnya terdengar suara ledakan berdentum.

Dua sosok tubuh sama terdorong mundur akibat benturan dua tenaga sakti itu. Tapi Sang Cobra hanya tergetar saja, sedangkan si bocah kemudian jatuh terjengkang. Nafasnya kembang kempis, sedangkan dari hidungnya mengucur darah. Melihat keadaan lawannya, Sang Cobra menyeringai sinis.

"Kau tak bakal lolos kali ini! Aku akan tunjukkan padamu bagaimana caranya mati yang paling menyakitkan!" selesai berkata Sang Cobra gerakkan kepalanya. Tiga kali kepala digelengkan, maka pada detik itu pula dari bagian atas kepalanya mengepul kabut hitam yang semakin lama semakin bertambah tebal. Kabut itu akhirnya membubung tinggi di udara. Seiring dengan mengepulnya kabut, terdengar pula suara desis aneh. Sekali lagi Sang Cobra gelengkan kepalanya yang diselubungi kain hitam. Sekonyong- konyong dari bagian kepala Sang Cobra secara aneh melesat belasan ekor ular cobra. Ular-ular yang sangat berbisa ini berputar-putar di udara untuk beberapa jenak lamanya. Tapi ketika Sang Cobra memberi aba-aba. "Bunuh bocah gondrong itu!" Belasan ekor ular cobra ini tanpa dapat dicegah langsung berserabutan melesat deras ke arah Iwir Iwir yang sudah terluka parah. Melihat semua ini si bocah sakti cepat gerakkan kedua tangannya. Celaka! Kedua tangan mendadak terasa lumpuh dan tak dapat digerakkan sama sekali. Lebih aneh lagi ketika bocah itu hendak menggerakkan bagian badan, sekujur tubuhnya ternyata juga tak dapat digerakkan. Dalam kagetnya si bocah sakti hanya dapat delikkan matanya, wajahnya pucat terpana sedangkan tengkuknya mendadak berubah menjadi dingin, nampaknya ajal si bocah sakti sampai pada detik itu juga jika saja pada saat yang menegangkan itu tidak terdengar suara bentakan disertai berkelebatnya dua sosok tubuh yang satu gemuk besar luar biasa sedangkan yang satunya lagi kurus kerempeng.

"Manusia iblis! Seorang bocah yang sudah tak berdaya pun dibu- nuhnya!" dengus satu suara.

"Hati dan matanya jadi gelap tertutup dendam kesumat. Kita cincang dia bersama-sama!" menimpali satu suara yang lain. Dua pasang tangan gemuk dan kurus seakan berlomba melepaskan pukulan. Di udara terdengar suara bergemuruh laksana bendungan air bah yang jebol. Hawa panas dan dingin saling tindih menindih melabrak habis belasan ular yang menyerbu ganas ke arah si bocah sakti. Sesaat gerakan ular-ular itu seolah tertahan, pada kesempatan berikutnya bagaikan ilalang belasan ular cobra tersapu mental, jatuh berkaparan tak bergerak lagi. Sang Cobra sendiri juga tidak kerahkan tenaga dalam ke bagian kakinya pasti akan terpelanting.

Kini dengan muka pucat pasi laki-laki itu memandang ke depan. Di sana tepat di depan si gadis berdiri tegak seorang kakek berbadan besar luar biasa, berwajah bulat berkening lebar berpipi tembem dengan bukit hidung sama rata dengan pipi. Kakek gendut besar yang satu ini sama sekali tak dikenal oleh Sang Cobra. Tapi kakek satunya lagi yang berbadan kurus berpakaian dalam hitam berjubah putih tentu tak pernah dilupakan oleh laki- laki itu. Dialah kakek yang dilihatnya dua puluh tahun yang lalu di rumah Ki Bantaran, kakek ini dulu menggunakan pedang Gagak Mencle Sapu Angin milik Ki Bantaran untuk membunuh kedua orang tuanya. Mengenang segala pembicaraan si kakek dua puluh tahun yang lalu membuat darah Sang Cobra laksana mendidih. Tapi belum lagi dia sempat melakukan tindakan atau bicara apapun, tiba-tiba saja terdengar derap suara langkah kuda disertai dengan suara siulan panjang.  Siulan  mendadak terhenti. Bagaikan terkejut orang yang datang dengan menunggang kuda berseru. "Walah rupanya pesta sudah dimulai.  Ada yang  tergeletak, eh ternyata seorang gadis. Sedangkan yang duduk itu, aha tak kukira kiranya seorang bocah tolol yang sedang sakit perut. Guru... siapa laki-laki yang bagian kepalanya diselubungi kain itu? Apakah ini manusianya yang berjuluk Sang Cobra? Ha. . ha...ha!" bersamaan dengan terdengar suara tawa itu, maka di samping si kakek terlihat seorang pemuda tampan bertelanjang dada duduk di atas punggung seekor kuda. Sikap pemuda gondrong itu terkesan acuh tak acuh. Tapi setelah melihat ke arah Iwir Iwir dan Purbasari yang terkapar dan sedang ditolong oleh bocah itu, perhatian   pemuda    ini   tertuju

sepenuhnya pada Sang Cobra.

"Aku inginkan kakek kerempeng itu!" dengus Sang  Cobra tanpa memandang sebelah matapun  atas kehadiran Gentong Ketawa dan muridnya. "Eeh... kau tolol amat. Mengapa

kau tidak inginkan kakek gemuk besar ini saja. Kalau kau seorang penjagal tentu kau dapat untung besar. Kakek gemuk ini dagingnya banyak. Jadi buat apa kau menghendaki kakek kurus peot itu. Dagingnya sedikit, paling juga yang banyak tulang sama kentutnya.... Atau mungkin kau orang yang suka makan tulang dan menghirup segarnya bau kentut? Ha... ha... ha!"

Gentong Ketawa mendelik men- dengar gurauan muridnya. Sedangkan Ki Banjar Jati hendak mendamprat. Tapi urung karena dia melihat di depan sana Sang Cobra sudah mendahuluinya berkata. "Orang tua gemuk besar dan pemuda sinting. Aku tak punya silang sengketa dengan dirimu. Jika sayangkan nyawa maka sebaiknya cepat menyingkir. Urusanku adalah dengan Mahluk Tanpa Tanda!" tegas Sang Cobra yang rupanya sudah dapat membaca gelagat kalau kakek Gentong Ketawa dan muridnya pasti merupakan orang-orang yang memiliki tingkat kepandaian sangat tinggi.

Murid dan guru saling pandang. Gento Guyon menyeletuk. "Rupanya dia takut pada kita, guru. Kalau dia mengusir kita apa yang harus kita lakukan?" tanya si pemuda.

Si kakek gendut besar tersenyum- senyum saja. "Memang jalan ini milik bapak moyangnya. Dia mengusir, kita diam saja di sini. Kita baru pergi setelah sahabatku menyelesaikan urusannya dengan orang yang malu memperlihatkan wajahnya itu," sahut Gentong Ketawa.

"Kau sudah mendengarkan, kakek Banjar Jati. Kau selesaikanlah urusanmu dengan bangsat itu. Sementara aku sendiri hendak berkenalan dengan bocah aneh di sana. Siapa tahu aku juga bisa kenalan dengan gadis yang ditolongnya." kata si pemuda. Enak saja Gento Guyon melompat dari kuda dan berjalan melenggang menghampiri si bocah sakti.

13

Di tempatnya berdiri Gentong Ketawa dengan tangan dilipat di depan dada terus menatap lurus ke arah Sang Cobra. Sementara Ki Banjar Jati telah melompat dua tombak ke depan. Sejenak si kakek memperhatikan sepasang mata yang mencorong di balik dua lubang selubung kain yang menutupi kepalanya.

Dia lalu membentak. "Melihat pada penampilanmu, kau pasti Sang Cobra manusia tengik yang telah membunuh sahabatku Ki Bantaran, membantai beberapa tokoh dan menyikat habis beberapa perguruan silat.!" kata kakek tua itu dingin.

Sang Cobra dongakkan kepala, lalu tertawa terbahak-banyak. Tawanya yang dingin mendadak lenyap. Mulut dibalik selubung berucap. "Bagus kalau kau mau menghitungnya. Ha ha ha!"

"Mengapa kau bunuh mereka semua?" tanya Ki Banjar Jati.

"Mereka   memang   pantas   mati karena dulu mereka menghinakan diriku. Seperti halnya Ki Bantaran, kau juga layak mampus!" dengus Sang Cobra sinis. Ki Banjar Jati tersenyum. "Kau begitu membenci banyak orang bahkan ingin membunuh diriku. Tentu kau punya sebab dan alasan tertentu. Coba kau jelaskan, aku ingin mendengar!" pinta si kakek. Nada suaranya tetap pelan lembut, walau di dalam hati sesungguhnya dia ingin menghancurkan batok kepala Sang Cobra detik itu juga.

"Ha ha ha! Kau hanya berlagak tak mengerti atau otakmu benar-benar telah pikun? Kau dengar! Dua puluh tahun yang lalu kau bersama beberapa ketua perguruan dengan dibantu oleh Anom Ka Ratan telah membunuh kedua orang tuaku di Puncak Tumapel. Kau ingat?!"

Mendengar ucapan Sang Cobra sebenarnya si kakek tidak begitu kaget karena dia sendiri sudah mendengar penjelasan dari sahabatnya Gentong Ketawa. Sehingga si kakek pun tersenyum.

"Jadi kau putranya Sepasang Iblis Pengemis Harpa?"

"Kalau sudah tahu mengapa bertanya?" hardik Sang Cobra. Dengan sengit laki-laki itu melanjutkan.

"Saat ini hanya tinggal kau dan Anom Ka Ratan yang harus bertanggung jawab atas kematian orang tuaku!"

Si kakek yang telah menyadari keganasan Sang Cobra mencoba berkata. "Kau hendak membalas dendam padaku. Padahal kau tahu kedua orang tuamu jelas berada di jalan yang salah!"

"Aku telah berusaha menebus kesalahan mereka. Tapi kalian pihak yang mengaku dari golongan lurus menganggap diri sesuci malaikat, sehingga golonganmu sama sekali tak memandang muka padaku!" teriak Sang cobra kalap. Begitu bencinya Sang Cobra pada Ki Banjar Jati sehingga tanpa pikir panjang lagi dia melesat mengelilingi si kakek. Beberapa saat orang tua itu dibuat bingung dengan apa yang dilakukan oleh lawan. Karena Sang Cobra ternyata hanya berputar- putar tanpa menyerang. Tapi setelah lawan sampai pada putaran ketiga sadarlah si kakek bahwa saat itu dari dalam terjadi getaran keras yang disertai merekahnya tanah di sekeliling Ki Banjar Jati dalam bentuk lingkaran. Dari lingkaran tanah yang menganga lebar bermunculan ratusan ular Cobra api berwarna merah menyala yang langsung berserabutan menyerbu ke arah Ki Banjar Jati.

"Cobra Api! Selamatkan dirimu!" seru si kakek gendut. Orang tua ini sendiri lalu melompat mencoba menarik sahabatnya dari lingkaran tanah yang terbelah.   Tapi    begitu  mendekati lingkaran dimana tanah terbelah secara aneh,  tubuh  gendutnya   seperti dilontarkan.  Seakan dia  membentur tembok baja yang tak terlihat. Si kakek sambil  menggeram   mencoba mendobrak  tabir   tembok  gaib yang diciptakan  oleh   sang  Cobra. Tapi walaupun dia mengerahkan tenaga dalam penuh tetap saja tubuhnya seperti dicampakkan. Malah semakin berusaha mendobrak tabir lingkaran itu, maka jatuh si kakek semakin bertambah jauh. "Kurang ajar!   Ilmu   apa   yang telah dipergunakan oleh iblis ini?"

maki Gentong Ketawa dalam hati.

Sementara itu begitu melihat cobra api menyerang si kakek dari segala penjuru arah. Maka orang tua ini berkelebat melompat berusaha keluar dari lingkaran. Tapi hal yang sama juga terjadi pada dirinya. Ketika dia melesat, tepat di bagian lingkaran tanah yang ternganga tubuhnya terpental masuk ke dalam lagi tidak ubahnya seperti menabrak tembok baja.

Dalam kejutnya menghadapi kenyataan yang ada serta serbuan ratusan ular cobra yang menyala itu. Si kakek akhirnya kerahkan tenaga dalam ke bagian tangan. Laksana kilat tangan kemudian dipukulkan ke arah ular-ular berapi yang menyerangnya.

Hawa dingin luar biasa berkiblat disertai suara angin menderu meng- hantam ratusan ular-ular yang menyerangnya. Ledakan dahsyat ber- dentum menggetarkan tanah yang dipijaknya. Beberapa ular cobra api yang terkena pukulan berpentalan di udara tapi tenyata ular-ular itu tidak mati. Begitu jatuh dalam lingkaran dengan ganas mereka menyerang Ki Banjar Jati. Orang tua ini terus menghindar dengan cara melompat-lompat hindari serangan binatang itu. Sambil menghindar dia mencoba mencoba men- dobrak tembok gaib yang mengurungnya.

Tapi usahanya ini sia-sia, dia kehabisan tenaga apalagi saat itu udara di sekeliling lingkaran gaib yang diciptakan oleh sang Cobra telah dipenuhi dengan kabut beracun yang disemburkan ratusan mahluk yang menyerangnya.

Si kakek akhirnya menjerit ketika belasan ular cobra itu mematuk kakinya. Begitu tergelimpang ratusan ular yang sangat berbisa ini langsung mengerubutinya. Gentong Ketawa yang melihat nasib tragis sahabatnya menggerung marah. Dia lalu melepaskan pukulan Raja Dewa Ketawa ke arah tembok lingkaran gaib didepanya. Selarik sinar putih laksana perak berkiblat hawa panas melebar. Kemudian terjadi ledakan berdentum. Pukulan dahsyat yang dilepaskan si kakek membalik begitu membentur tembok lingkaran yang tidak terlihat. Si kakek banting diri ke samping. Pukulan lewat diatas tubuhnya. Kemudian menghantam pohon di seberang jalan.

Sementara itu tubuh Ki Banjar Jati yang terkurung dalam lingkaran tembok gaib hanya tinggal tulang belulang saja, Ular cobra api yang mengerubutinya begitu melihat lawan hanya tinggal belulang saja segera merayap pergi meninggalkan korbannya dan lenyap di balik retakan tanah yang menganga.

Di sebelah kiri Gentong Ketawa terdengar suara tawa bergelak. Kiranya yang tertawa adalah Sang Cobra. Gento Guyon yang melihat semua kejadian ini sambil meninggalkan si bocah sakti segera mendekati Sang Cobra. Dia sudah melihat sejak tadi bahwa Sang Cobra terus menerus melapatkan sesuatu. Sedangkan kedua tangannya diacungkan ke arah lingkaran dimana Ki Banjar Jati terkurung. Jelas Sang Cobra telah menggunakan kekuatan hitam untuk menghabisi lawannya. Itu pula sebabnya si kakek gendut tak kuasa menghancurkan tabir tembok lingkaran gaib yang diciptakan oleh lawan.

Menyadari lawan menggunakan puncak dari segala kekuatan. Maka Gento Guyon juga tak mau bersikap ayal. Kini sambil melesat ke arah lawannya dia melepaskan dua pukulan maut sekaligus. Begitu dia menghantam ke depan, maka dari tangan kirinya memancarkan sinar putih berkilauan yang bersumber dari pukulan Iblis Ketawa Dewa Menangis. Sedangkan dari telapak tangan kanannya menderu sinar biru pekat yang bersumber dari pukulan Selaksa Duka. Dua pukulan maut itu tak dihindari oleh lawannya.

Sehingga tak ayal lagi masing- masing pukulan menghantam tubuh Sang Cobra.

Dentuman keras menggelegar, debu dan pasir mengepul di udara. Pemandangan jadi gelap. Ketika suasana jadi terang kembali Gento terkejut besar. Dua pukulan sakti tak dapat merobohkan lawannya, tubuh Sang Cobra hanya bergetar saja. Padahal andai seorang tokoh sakti sekalipun pasti tak sanggup menahan dua pukulan yang dilepaskan oleh pemuda itu. Gento golang golengkan kepala. Diam-diam menjadi jerih. Saat itu si kakek gendut besar sudah bangkit dan mendekati si pemuda sambil berbisik.

"Agaknya aku harus menggunakan senjataku untuk membunuhnya!"

Gento terdiam, dia juga sedang berfikir untuk menggunakan Gada bumi. Yaitu senjata mustika pemberian Tabib Sesat Timur. Konon senjata sebesar ibu jari kaki namun dapat membesar bila telah dihantamkan ke bumi itu sangat ampuh. Sekarang saatnya jika sang Cobra kebal pukulan dan kebal juga senjata. Berpikir sampai kesitu si pemuda siap hendak mengeluarkan senjata di balik pinggangnya. Tapi pada saat itu pula terdengar suara tawa mengekeh disertai dengan terdengarnya suara bergemuruh serta kilatan cahaya menyilaukan mata. Satu sosok berkelebat, satu cahaya panjang besar menyilaukan menyambar ke arah Sang Cobra. Laki-laki yang baru saja hendak melancarkan serangan kedua dengan ilmu lingkaran Sang Cobra ke arah Gento dan gurunya itu jadi tersentak kaget. Dia yang saat itu berdiri tegak menghadap ke arah Gentong Ketawa laksana kilat berusaha melompat selamatkan diri. Tapi gerakannya kalah cepat. Kilatan cahaya putih besar dan panjang luar biasa menerabas putus pinggangnya. Sang Cobra tak sempat lagi menjerit. Tubuhnya terpotong menjadi dua. Baik Gento sendiri maupun gurunya jadi tercengang dengan mata terbelalak.

Mereka bukan terkejut melihat kematian Sang Cobra yang menggenaskan itu. Mereka kaget bahkan nyaris terkencing-kencing begitu melihat sesungguhnya cahaya putih besar dan panjang luar biasa yang membabat putus pinggang lawan tadi sebenarnya adalah kilatan cahaya sebuah pedang yang panjangnya lebih dari sepuluh tombak dengan lebar tak kurang dari tiga tombak.

Pedang sebesar dan sepanjang itu tidaklah mengherankan bila yang menggunakannya adalah sosok mahluk tinggi besar seperti raksasa. Justru yang baru saja membabat pinggang Sang Cobra ternyata adalah seorang kakek tua renta berambut putih berjenggot putih berbadan pendek setinggi pinggang Gento Guyon. Anehnya kakek itu tampaknya tidak merasa berat dan lelah ketika membawa dan mengguna- kannya tadi. Padahal berat pedang mungkin sama dengan berat kakek Gentong Ketawa. Berarti lebih dari dua ratus kati.

"Senjata besar mengerikan. Sungguh aku tak percaya bila tidak melihatnya sendiri. Kakek kecil, apakah engkau orangnya yang bernama Anom Ka Ratan?" tanya Gento yang sudah mendengar sedikit riwayat orang tua kerdil ini.

"Ho ho ho! Sudah tau buat apa bertanya? Apa kau mau membantu memikul Pedang Raja ini untuk dikembalikan Ke Bukit Waton Hijau!" tanya si kakek berbadan kecil pendek sambil acung- acungkan pedangnya dengan sebelah tangan. Sikapnya itu terkesan enak saja, seakan berat pedang yang dua ratus kati tak memiliki arti apa-apa baginya.

"Kakek sakti, aku berterima kasih kau telah datang membantu. Tapi kumohon jangan kau suruh aku atau muridku untuk membawakan pedangmu. Kami berdua bisa mencret." kata Gentong Ketawa sambil keluarkan keringat dingin. Dia sadar hanya dengan melihat cara si kakek dalam memegang pedang raksasa Gentong Ketawa tahu kakek Anom Ka Ratan pasti memiliki tenaga dalam serta ilmu berada di atasnya. Sehingga dia harus berlaku hati-hati. Anom Ka Ratan meludah.

"Kalau kalian tak mau membantu tak mengapa. Biang bencana telah kusingkirkan. Aku akan kembali ke Bukit Waton Hijau. Jika tadi pedang ini kuseret, maka sekarang Pedang Raja harus kupanggul. Ho ho ho!", berkata si kakek sambil tertawa tergelak- gelak. Enak saja di meletakkan hulu pedang di bahunya. Kemudian melangkah pergi. Dilihatnya sekilas dari belakang tubuh si kakek tak terlihat karena terlindung lebarnya badan pedang.

Gentong Ketawa yang melihat semua ini sebenarnya hampir tak kuasa menahan tawa disamping terselip juga rasa takut. Tapi tawa si kakek yang keras menggelegar bagaikan dentuman gunung meletus membuat murid dan guru terpaksa menyumbat liang telinga dengan jati tangan. Meskipun begitu tubuh mereka berguncang keras karena terpengaruh getaran Anom Ka Ratan.

"Sinting edan. Punya ilmu apa dia. Ilmunya tinggi tak terjajaki. Besar pedangnya lima puluh kali lipat dengan besar orangnya. Gila betul!" gumam Gento Guyon. Dia cepat berpaling ke arah Iwir Iwir. Tapi si bocah sakti bersama gadis yang tengah dirawatnya lenyap dari tempat itu.

"Kemana mereka?"

"Siapa?" tanya gurunya tanpa pernah mengalihkan perhatiannya dari kakek cebol yang mulai tampak berlari sambil memikul pedangnya.

"Bocah dan gadis itu." sahut si pemuda.

"Hari ini kau banyak melihat keanehan. Sehingga telingamu jadi tidak mendengar ketika bocah dan gadis itu pergi." celetuk si kakek.

"Apakah dia pamitan denganmu?" "Ya.... tapi dia segan pamitan

padamu. Katanya takut sahabatnya jatuh cinta padamu. Namun suatu saat dia berjanji akan mencarimu. Biarkan saja terkecuali bila kau sudah terlanjur cinta pada gadis tadi, baru boleh mengejar mereka."

Gento terdiam, gadis berpakaian kuning yang belum sempat dia ketahui namanya tadi memang cantik. Hanya sayangnya sepasang matanya berkedip melulu. Bagaimana dia bisa jatuh cinta pada gadis yang cacingan? Sambil tersenyum-senyum dia lalu mengikuti gurunya yang sudah melangkah mendahuluinya.

TAMAT