Gajah Mada I

I

PERCOBAAN BRAHMA

Bohongnya orang bercerita — gampangnya orang berkabar, demikianlah diceritakan dalam Lontar Suradharma yang tersimpan baik-baik di Ubud1 — bahwasanya pada abad ke-empat belas ada sebuah hutan yang akan menarik perhatian manusia dari jaman ke jaman. Hutan itu terletak di daerah kerajaan Majapahit. Penuh pohon, semak dan belukar. Penuh binatang-binatang galak dan yang lemah-lembut. Bunga-bunga liar pasti ada pula. Bertebaran di seberang menyeberang barisan pohon. Menyebarkan wanginya dengan diam-diam. Dan kupu-kupu datang dan pergi mengagumi.

Maka tersebutlah seorang pendeta yang bermukim di antara kekayaan alamnya. Suradharma namanya. Isterinya seorang perempuan cantik bernama: Diatri Nari Ratih. Dahulu mereka hidup wajar. Melalui cerita cinta-kasih sampai mengidam- idamkan keturunan. Lambat-laun oleh ketekunan mereka pada kepercayaan yang dipeluknya, berubahlah tujuan hidupnya. Mereka berdua bersepakat tidak lagi akan hidup selaku suami-isteri,

tetapi merupakan sepasang teman hidup belaka yang saling menolong dan mengerti. Laku Brahmacari namanya. Dan sumpah ini dinyatakanlah di depan rakyat yang hidup sekitar pertapaan.

Keputusan mereka menakjubkan yang mendengar. Maka seringlah rakyat bertanya apa sebab memilih laku demikian, sedangkan usia masih demikian remaja. Dan Suradharma mempertahankan diri dengan bait-bait syah dan gancaran bunyi Wedha, Aranyaka, Upanisyad, Brihadaraniyaka- Upanisyad, Wedanta, Samkhiya, Niyaya, Purwa Mimamsa, Uttaraa Mimamsa dan buku-buku pedoman lainnya untuk meyakinkan, bahwa perbuatan demikian adalah laku sebaik-baiknya untuk membebaskan diri dari rasa takut mati tersebut. Bahwasanya laku demikian adalah laku mempersatukan diri dengan Brahman atau yang Gaib.

Tetapi apabila ada yang bertanya: bukankah manusia wajib berkembang biak? Maka mereka berdua berdiam diri. Sulit terdengarlah tangkisan Suradharma:

Itulah hanya laku belaka. Kami berhak dan bebas memilih laku. Dan laku inilah yang sebaik-baiknya‖.

Bukankah berkembang biak berarti

mempertahan-kan adanya keabadian?‖ Dan oleh pertanyaan ini, mereka berdua benar- benar berdiam diri.

Sesungguhnya—

seringkali mereka ragu-ragu. Menurut bunyi angannya, laku Brahmacari adalah laku yang sebaik- baiknya. Tetapi andaikata sekalian manusia memilih laku demikian, pastilah dunia ini akan kosong. Pralaya dengan diam-diam. Maka pemilihannya terasa mengingkari adanya keabadian. Langsung berlawanan dengan kehendak Yang Mengadakan Keabadian, malah.

Meskipun demikian — mereka berkeras hati. Pemilihan lakunya hendak dipertahankan selama- lamanya. Benar dan tidaknya adalah soal kemudian. Apabila kelemahan mulai menusuk, maka mereka menghibur diri: manusia adalah gabungan pelaku- pelaku yang sama tak mengerti. Bukankah demikian? Bukankah demikian ?

*** II

Kemudian alam mulai berbicara. Pada suatu hari Hyang Brahma mengadakan percobaan. Ia mengubah diri menjadi pendeta Suradharma. Hati-hati ia mengintip dan menyelidiki mereka. Menunggu suatu kesempatan sebagus-bagusnya untuk melancarkan suatu serangan menentukan.

Waktu itu mereka lagi makan. Tiba-tiba Diatri Nari Ratih menyentuh air pencuci tangan hingga tertumpah habis. Oleh karena air itu untuk persediaan minum pula, maka terkejutlah dia. Ia memohon belas kasih, agar suaminya mencarikan air pengganti. Hal itu menyenangkan Hyang Brahma. Bukankah kecelakaan itu berarti, bahwa Diatri Nari Ratih harus menjalani suatu denda dengan tak diperkenankan membantah.

Ia melihat pendeta Suradharma mengambil sebuah kendhi dan dengan sabar meninggalkan kediamannya hendak mengambil air di pancuran yang tiada jauh letaknya. Melihat kepergiannya.

. Hyang Brahma segera mendekati pertapaan, dengan membawa kendhi penuh air.

Aku telah mendapat air! Lihat!‖ serunya riang. Diatri Nari Ratih memandangnya heran.

Begitu cepat!‖

Apa salahnya?‖

Benar-benar air pancuran?‖

Kau boleh memeriksanya‖.

Diatri Nari Ratih menerima kendhi pemberiannya dan dirabanya. Dingin. Berkata minta keyakinan lagi:

Begitu cepat!‖

Aku lari tadi, Diatri! Aku lari, agar hatimu tenteram kembali. Alangkah sedih melihat kemuramanmu tadi, manis. Ah—denda! Terkutuklah denda macam begini. Tetapi barangkali dewata yang menghendaki.‖

Dan Diatri Nari Ratih diraba dagu dan keningnya. Kemudian sebuah cubit kecil yang tiada menyakiti dikenakan. Diatri Nari Ratih terkejut. Matanya

bertanya-tanya. Cubit Dewa Brahma terasa lagi. Berulang kali. Kini meraih dan merayunya penuh birahi, sedangkan laku demikian membingungkan hatinya benar.

Beginilah denda yang harus kita lakukan?‖ ia

menebak-nebak.

Ya.   —   inilah   yang   menyedihkan.   Tetapi   kita harus ikhlas.‖

Gemetaran Diatri Nari Ratih mencoba mencari keyakinan.

Bertanya: Yakinkan aku, benarkah engkau

junjunganku?‖

Dewa Brahma tertawa pelahan. Menjawab:

Mengapa engkau manis? Mengapa engkau manis? Apakah yang membuat penglihatanmu beragu? Periksalah aku! Apakah yang lain?‖

Dan ia memutar badannya agar Diatri Nari Ratih memeriksanya. Kemudian rayuan cepat dilanjutkan lagi.

Diatri Nari Ratih undur sampai ke pintu bilik sambil memperingatkannya, bahwa laku itu akan dikutuk Dewata Agung. Rakyat sekitar pertapaan akan menghina dan mengusirnya. Dunia akan menertawakan sepanjang jaman. Kembalilah engkau junjunganku! Ke pancuran

lagi!‖ seru Diatri Nari Ratih minta dikasihani.

Barangkali iblis memasuki tubuhmu‖

Tidak, manis! Bukankah ini suatu denda terkutuk yang harus kita jalani? Kita harus ikhlas. Seikhlas- ikhlasnya!‖

Segera ia memeluk dan membawanya masuk ke bilik. Membujuk begitu meyakinkan:

Pernahkah engkau manis, melihat aku diganggu iblis? Iblis manakah yang begitu memperoleh karunia dewata sehingga dapat mendekati daku?‖

Diatri Nari Ratih tak mempunyai kesempatan untuk berdebat lagi yang mendekapnya terlalu cepat membangunkan nafsu nalurinya. Ia mendengar bisik ajaib lagi yang melemahkan sendi hatinya:

Lihatlah sekali lagi, manis! Secermat-cermatmu! Bukankah aku suamimu? Apakah alasan Dewa Agung hendak menghukum kita? Ingat-ingatlah, bahwa perkawinan kita telah disyahkan. Kita berdua sudah cukup lama menjauhi laku demikian. Sekarang dewata memberi jalan kepada pertemuan kita. Lahiriah nampaknya menanggung denda. Sesungguhnya adalah suatu anuggerah, manisku‖.

Tapi laku Brahmacari kita! Bukankah laku begini, dilarangnya? Marilah kita mencari macam denda yang lain!‖ Diatri mencoba menyanggah. Dengarkan! Seumpama laku itu telah kita jalani jauh amat. Pada suatu hari, tenaga kita begitu berkurang. Tiada lagi kemampuan hendak melangkah. Apakah yang harus kita lakukan manis? Beristirahat barang sebentar. Apakah buruknya? Apakah celanya? Nah — hari ini manis, kita beristirahat.‖

Diatri Nari Ratih kehilangan kesadaran laku yang benar. Sebelum kejernihan benaknya dapat berbicara, hal itu telah terjadi.

*** III

Dalam pada itu — pendeta Suradharma telah mengisi kendhinya. Air pancuran yang memerciki ujung lengannya dingin meresap perasaannya. Tiba- tiba saja timbullah gairahnya hendak membasahi kepalanya. Gairah itu diperturutkan untuk mengendapkan hatinya yang berkecamuk.

Diatri! Mengapa engkau begitu? Kau gugatlah aku akhirnya, karena lama aku tak memenuhi kewajiban? Bukankah engkau telah bersepakat pula hendak menempuh jalan brahmacari?‖

Kepalanya diturunkan. Air pancuran segera mengucuri rambut, kuduk dan akhirnya seluruh mukanya.

Perempuan memang aneh! Pendiriannya selalu

berubah‖.

Ia menggeleng. Dibiarkan kepalanya terkucuri basah-basah, sehingga ruang benaknya serasa hampir membeku oleh dingin air. Lambat-laun ia memperoleh kegirangan kanak-kanak. Tapak tangannya menepuk-nepuk kuduk dan ubun- ubunnya seolah-olah begitu caranya hendak meresapkan dingin air ke dalam sungsumnya. Hatinya mulai tenteram kembali. Peristiwa Diatri dienyahkan habis dari benaknya. Itulah sebabnya, kenikmatan segera diperolehnya. Kenikmatan hidup jasmaniah yang datang pergi tiada tentu. Tetapi tak lama kemudian ia teringat janjinya. Kendhi harus cepat- cepat dibawanya pulang. Bukankah airnya buat pencuci tangan dan minum?

Ia menegakkan kepala dan dengan menjinjing kendhi bergegas pulang. Tatkala duapuluh langkah hendak memasuki pintu pagar, ia melihat bayangan melintas dengan cepat. Heran ia mengikuti dengan pandang matanya. Menyeru:

Siapakah yang berkenan menjenguk pertapaan kami?‖

Ia melihat bayangan itu mempercepat langkahnya. Maka ia mencoba menyerunya berulang. Apabila tak memperoleh jawaban, timbullah niatnya hendak memburu. Dan perburuan segera terjadi.

Isterimu akan melahirkan seorang anak laki-laki. Peliharalah baik-baik!‖ itulah suara pertama yang didengarnya dari mulut bayangan itu. Oleh rasa terkejut, heran dan sesal — ia meloncat hendak minta keterangan lebih lanjut. Tetapi bayangan musnah tak meninggalkan jejak.

Sekarang tahulah dia apa yang bakal terjadi. Ketenteramannya selama ini akan disusul oleh azab derita seperti keyakinan pendeta-pendeta Buddha —

bahwasanya semua berubah dan berlaku.

Diatri!‖ keluhnya dalam. Nanar ia membalikkan badan. Dan terbata-bata ia kembali ke pertapaan. Kendhi air tak diingatnya lagi. Gelombang sesal berderun-derun. Pandangnya dendam kepada segala. Ia mendesak ranting pohon yang melintang di depannya. Menindih batu-batu yang mencongakkan diri dari bumi.

Tidakkah ada suatu keabadian dalam kehidupan ini?‖  makinya  dalam.  Mengapa  terusik?  Diatri!  Aku! Keparat!‖

Nafasnya naik sampai ke leher. Dadanya serasa jadi menyesak. Dan kakinya melangkah kian panjang dan panjang. Alangkah jadi jauh letak kediamannya.

Tatkala sampai di ambang pintu pagar, ia berbimbang-bimbang. Apakah yang hendak dilakukan? Andaikata ia hendak langsung mencari keterangan, kalimat apakah yang akan dilepaskan dahulu?

Diatri!‖ ia setengah memekik. Tiada jawaban.

Diatri!‖ Sunyi.

Dan kini ia jadi gelisah. Rasa iba meraba hatinya. Diatri tiada salah. Itulah pasti. Betapa seorang perempuan dapat mempertahankan diri? Pastilah perkosaan itu berlangsung dengan cepatnya. Penuh tenaga, sehingga sebentar saja sanggup mendekap Diatri. Tetapi bagaimana dapat terjadi, itulah yang ingin diketahuinya.

Pelahan-lahan ia mendekati padepokan. Jantungnya berdegup; suatu hal yang belum pernah dialami. Ia seperti tersiksa. Dan terdengar lantas gugatan naluriahnya — di manakah nilai amalnya selama ini?

Diatri!‖ ia berbisik.

Ia melihat Diatri Nari Ratih duduk berjuntai di tepi tempat tidurnya. Hidangan yang ditekuninya tadi ditinggalkan utuh di tempatnya. Agaknya dia terenggut tadi. Maka ia merenungi Diatri. Pandangnya penuh dendam dan jijik kepadanya. Paras mukanya seolah menanggung derita mengerikan.

Nah — telah kau peroleh kesenangan, bukan? Air pembersihmu, telah menyegarkanmu kembali dan kau biarkan aku begini. Mau kau mengapakan lagi aku?‖ tegornya garang. Matanya menyala, sehingga mengherankanya.

Diatri! Ratih !‖ serunya. Benar-benar engkau .....

ah manis!‖ mengeluh.

Tetapi Diatri Nari Ratih mengumpat dan mengutuki. Katanya: Engkau berpura-pura suci lagi? Begitulah laku laki-laki? Seolah-olah dewa akan kena kau bohongi. Dan semua akibat ini hendak kau bebankan kepadaku. Mengapa begitu?‖

Pandang nyalanya berubah sejalan dengan kelambatan nalurinya. Isaknya mulai diperdengarkan dan tak lama kemudian tangisnya mengguruh. Suradharma tertegun. Tahulah dia akan arti tangis Diatri. Tangis ketakutan mendalam pada bencana yang telah memeluknya dengan tiba-tiba.

Diatri!‖ ia mencoba.

Tinggalkan aku!‖

Dengarkan, Diatri! Aku suamimu! Aku teman hidupmu! Selama ini akulah yang memimpinmu. Selama ini perkataanku selalu kau dengarkan. Apabila engkau enggan mendengarkan suaraku, siapa lagi yang hendak kau dengarkan‖.

Engkau hendak membujuk laku apa lagi?‖

Laku apa yang telah kuperbuat? Coba terang- kan?‖

Diatri Nari Ratih mendongakkan kepala. Pandangnya menyala bukan kepalang. Dengan menggigit bibir ia meledak :

Tadi! Tadi! Kau ingkari perbuatanmu tadi?‖ Suradharma tersenyum maklumi. Tegak ia mencoba mencari keseimbangan. Berkata:

Dengarkan! Nah — dengarkan! Yang berlaku tadi, bukanlah aku! Dengarkan dahulu, manisku! Aku percaya kepadamu! Pastilah engkau menyerah, karena seolah-olah akulah tadi yang minta. Tetapi demi Dewa Agung, aku tak berbuat demikian. Selama ini aku berada di pancuran memenuhi permintaanmu. Mengisi kendhi penuh-penuh. Tenanglah! Dan jangan kau tentang pandangku. Kuulangi lagi: aku percaya kepadamu. Pastilah engkau tiada mengada-ada. Keletihanmu telah bercerita lebih banyak. Tapi Ratih, barangkali dewaia yang menghendaki terjadi peristiwa demikian. Aku tadi berjumpa dengan dia yang meminta kepadamu. Aku kejar dia. Dan ia hilang musnah. Karena itu aku yakin, bahwa lakumu bukanlah suatu kesalahan. Seumpama engkau sebuah wadah, kemudian itu telah diturunkan. Katanya, engkau hendak melahirkan anakmu. Anak kita!‖'

Mendengar keterangan pendeta Suradharma. Diatri Nari Ratih menegakkan kepala. Gundu matanya surut nyalanya. Benaknya mulai berbimbang- bimbang. Dan keseimbangan hati mulai bercerita, apabila ia melihat suara dan sikap suaminya yang bersungguh-sungguh.

Lantas?‖ ia menggeliat. Tiba-tiba ia menggigil.

Menyerit: Setan! Jin?‖ Cepat pendeta Suradharma mendekapnya. Dengan sepenuh hati, ia mencoba membujuk dan membesarkan hati.

Bukan — bukan, manis.‖ Bisiknya.‖ Dia bukan setan atau jin. Tapi Dewa Brahma!‖

Betapa mungkin? Betapa mungkin?‖ Pendeta Suradharma tidak segera menyahut. Diapun tak dapat menjalankan apa sebab Diatri membantah keterangannya. Maka berkatalah dia:

Dia tadi memperkenalkan diri. Tetapi semuanya ada padamu. Aku tak dapat memberi keterangan yang lain lagi. Karena bukankah engkau sendiri yang mengalami peristiwanya?‖

Diatri merenggutkan diri. Pandangnya menentang Suradharma seolah hendak memperoleh keyakinan. Apabila benar-benar ia yakin, bahwa suaminya tidak berlaku hina tadi, maka menangislah dia. Berderun dan mengguruh. Tiba-tiba ia bangkit hendak menyakiti dirinya oleh gejolak sesal. Suradharma segera mendekapnya kembali.

Usahakanlah hatimu, agar engkau bersyukur‖, ia membujuk.   Percayalah!   Seluruh   hatiku   rela   dan ikhlas. Seikhlas-ikhlasnya! Karena engkau tak tersentuh oleh kulit manusia wajar. Pastilah anakmu akan menjadi seorang anak yang kelak mempunyai sejarah‖. Diatri Nari Ratih menaikkan tangisnya. Tiada lagi sikap yang baik bagi pendeta Suradharma selain menunggu sampai tangis itu berhenti oleh kecapaiannya sendiri. Tapi alangkah lama tangis itu. Tangis perempuan kehilangan kehormatan diri dengan tak dikehendakinya sendiri.

Kala itu matahari mulai menghilang dari penglihatan. Seluruh pertapaan mulai sunyi senyap. Aum binatang galak dan kicau burung di atas dahan mulai terdengar. Angin telah pulang dari perjalanan. Membawa dingin hawa menusuk tubuh.

Pendeta Suradharma merenggang. Ia berdiri hendak menyalakan pelita. Diatri Nari Ratih masih berisak juga. Tatkala pelita telah dinyalakan, ia mendengar suara Diatri Nari Ratih di antara sedannya:

Andaikata aku mengandung, apakah kata orang terhadapmu? Namamu yang suci akan tercemar oleh peristiwa terkutuk ini. Biarkanlah aku melenyapkan diri dari percaturan mereka‖.

Tidak Ratih! — tidak! Andaikata engkau bermaksud hendak membunuh diri atau menyiksa jasmanimu dengan laku yang bukan-bukan, maka engkau akan berdosa dalam empat perkara. Berdosa kepada hidupmu yang telah menurunkan suatu kemuliaan. Berdosa terhadap Dewata Agung yang telah menitipkan anaknya kepadamu. Berdosa terhadap dirimu sendiri. Dan keempat, berdosa terhadap makhluk yang hendak kau lahirkan. Tidak Ratih.

Tidak Ratih, engkau harus tabah! Percayalah, aku akan selalu menyertaimu. Seumpama engkau menghendaki akan berlalu dari pertapaan, aku akan ikut serta pula. Rela aku mencari penyelesaian ini bersamamu betapa akan terjadi. Agaknya demikianlah kehendak Dewa Agung, bahwasanya aku harus menyelamatkan dan menyertai anak yang akan kau lahirkan‖.

Ucapan pendeta Suradharma dapat meyakinkan hatinya, tetapi terlalu agung baginya. Maka kembali ia menangis mengguruh, seolah-olah hendak mencapai lapis udara.

*** IV

PERTOLONGAN SEORANG PENDETA.

Malam itu tangis kecil masih saja berlangsung. Di luar gelap alam berjalan dengan amannya. Dingin hawa menebarkan diri. Menusuk kulit batang pohon, binatang dan manusia. Angin menggeridikkan bulu roma pula. Kadangkala sanggup menjinakkan kesibukan binatang-binatang galak yang lagi mencari mangsa.

Malam ini sunyi benar, Ratih. Bukankah begitu?‖ dengus pendeta Suradharma. Diatri Nari Ratih tak menyahut.

Sunyi   menyayat,   malah.   Barangkali   tangismu yang menjebabkan‖. Pendeta Suradharma berkata lagi. Ia duduk di dekat perdiangan, membuka-buka kitab Brihadaraniyiyaka-Upanisyad. Ia mencoba menge-nyahkan kesan-kesannya tertentu. Dibacanya syair-syair sutra pembebasan diri pelahan-lahan. Ditenggelamkan seluruh angannya. Mencoba mereguk dan meneguknya. Tetapi oleh bunyi syair itu, tangis Diatri Nari Ratih mendaki lagi. Berhentilah‖  —  pinta  Nari  Ratih.  Tak  dapatkah engkau berkisah tentang pertemuan kita dahulu!‖, Diatri minta dikasihani.

Pendeta Suradharma menutup kitab. Ia merenungi isterinya. Segera ia menyimpan kitab suci itu. Agaknya tahulah dia, bahwa bunyi kitab suci yang dibacanya menyiksa yang merasa salah.

Tiba-tiba ia mendengar gemeretak ranting- ranting patah. Terdengar seru orang dikejauhan. Langkah-langkah beruntun terdengar menjinak. Kemudian suara nafas menekan; saling bertumbukan demikian garang. Pendeta Suradharma menegakkan kepala. Diatri Nari Ratih menyekat tangisnya pula.

Padamkan lampu!‖ perintah Suradharma.

Perdianganmu juga!‖ Diatri mengingatkan.

Keduanya bangkit memadamkan pelita dan perdiangan. Asap mengepul ke atap menyesakkan nafas. Mereka undur, memepet ke dinding. Kemudian mengintip.

Mereka berkelahi! Bertempur! Lihat!‖ bisik

pendeta Suradharma terkejut.

Siapa?‖ Diatri Nari Ratih gemetaran.

Berjongkoklah! Barangkali nafasnya terdengar

oleh mereka‖. Mereka yang bertempur di luar adalah pasukan- pasukan gabungan dari Madura dan Singorari melawan pasukan Jendral Che-Pi, Ji-K'o-mi-su dan Kau Hsing utusan raja Khubilai-Kan untuk membalas dendam pada raja Kartanagara almarhum atas penghinaannya terhadap utusan raja Meng-Ki. Menantu raja—Raden Wijaya dengan Adipati Wirareja dari Madura setelah berhasil menggulingkan raja Jayakatwang—melawan pembalasan dendam itu dengan akal cerdik. Dikatakan, bahwa raja Kartanagara telah menyatakan takluk. Kini hendak menyerahkan puteri-puteri istana, dengan perjanjian bahwa penjemputan mereka harus dilakukan dengan tak bersenjata. Jendral-jendral Khubilai-Khan kena tipu. Apabila mereka berbaris dengan seluruh pasukan dengan tak bersenjata, tiba-tiba saja pasukan Singosari dan Madura menyerbunya. Penjerbuan itu terjadi dengan cepat dan tiba-tiba, sehingga mereka tewas bergelimpangan tak berdaya. Ketiga jenderal itupun menemui ajalnya. Yang berhasil menyelamatkan diri, cepat-cepat menuju ke pantai. Tetapi di mana-mana mereka dihadang oleh pasukan-pasukan Majapahit. Maka mereka bercerai- berai tak tentu arahnya. Mereka berjalan dalam kelompok-kelompok kecil. Pada siang hari mereka menyembunyikan diri. Dan melanjutkan perjalanan dalam malam hari agar luput dari pengejaran.

Tetapi perjalanan mereka tidaklah mudah. Pertama-tama, mereka kehilangan kiblat arah. Kedua, hutan belantara yang harus diseberanginya menyesatkan penglihatan. Ketiga, sampan-sampan dan tongkang-tongkan mereka telah dimusnahkan. Tinggal kapal induknya di tengah lautan yang susah hendak dicapainya.

Pada bulan-bulan pertama, mereka telah hilang dari percaturan. Kebanyakan dari mereka telah dapat menyelamatkan diri ke perahu-induknya. Lainnya ditewaskan atau tertangkap hidup-hidup. Kemudian

— apabila Raden Wijaja telah naik tahta — pengampunan umum terhadap mereka dikeluarkan. Mereka yang masih berada di hutan-hutan diperintahkan untuk menyerahkan diri. Tetapi pengumuman raja, tak dapat menusuk hutan. Mereka tetap mengasingkan diri. Hidup dari tetanaman hutan. Kadangkala masuk pedusunan atau mengadakan penyamunan. Suatu hal yang dapat dimaklumi, karena mereka benar-benar asing terhadap segala.

Keadaan mereka segera memperoleh perhatian dari para penguasa negara. Maka perintah penangkapan dipermaklumkan. Tak diperkenankan dianiaya atau ditewaskan; kecuali apabila melawan. Karena pasukan-pasukan Tionghoa pandai bermain silat — agar jiwanya tetap selamat — maka terjadilah suatu sayembara. Barangsiapa yang dapat menangkap mereka hidup-hidup, akan dijadikan pegawai negeri. Oleh pengumuman itu, jago-jago wilayah kerajaan mulai bangun. Mereka melatih diri dalam hal perkelahian perseorangan. Kemudian dengan sukarela menjelajah hutan, menyeberangi semak- belukar untuk menangkap mangsanya.

Pasukan Tionghoa yang mereka jumpai, sesungguhnya pandai berkelahi. Mereka dapat mempergunakan, batang-batang pohon dan batu sebagai senjata ampuh. Mereka gesit, cerdik, cekatan dan kuat. Karena itu — sampai tahun kedua — mereka belum dapat dibersihkan. Bahkan banyak di antara jago-jago Majapahit yang dapat dikalahkan dan ditewaskan.

Hal itu membuat persoalan sungguh-sungguh. Pasukan kerajaan terpaksa melakukan tindakan. Dengan berkendaraan kuda dan bersenjata lengkap, mereka mulai melakukan kewajiban. Pertempuran segera terjadi dengan sengitnya. Pasukan Tionghoa menebarkan diri. Mengubah diri menjadi kelompok- kelompok dua-tiga orang. Maka pengejaran dan pertempuran perseorangan terjadi dengan sengitnya.

Kelompok pasukan Tionghoa yang bertempur di depan pertapaan pendeta Suradharma nampaknya kokoh juga. Mereka melawan dengan tenang. Cekatan, gesit dan berani. Suaranya bergemuruh. Nafasnya menekan-nekan. Menghempaskan tiap lawannya yang berani mendekati. Mereka menggunakan barisan pohon sebagai perisainya. Mengendap ke samping. Merenggut belukar, membongkar batu dan menggunakannya sebagai senjata.

Lambat-laun pertempuran kian seru. Barisan kuda mulai terdengar dari kejauhan. Teriak aba-aba melengking. Mengepung pertapaan. Dan pertarungan yang menentukan terjadi dengan cepat. Sekarang mereka memasuki halaman. Nafas mereka terdengar tersengal-sengal. 

Kepung! Dan terkam dari samping !‖ teriak

pasukan Majapahit.

Yang mendapat perintah berlari-lari membuat lingkaran. Mereka mencoba mendekat. Tetapi setiap kali mendekat, mereka yang hendak ditangkapnya meloncat gesit sambil menyerang.

Masakan kalian tak dapat menangkap hanya tujuh orang?‖ teriak yang memberi aba-aba.

Ketujuh prAyurit Jendral Che-Pi masih tetap utuh. Mereka mempertahankan diri sambil berbicara. Agaknya mereka lagi berunding. Tatkala mendengar derap kaki kuda kian mendekat salah seorangnya berteriak keras. Dan tiba-tiba mereka telah berada di atas atap padepokan. Digempurnya tiang agung yang melintang. Jari-jari atau diretakkan dengan gampang. Kemudian mereka melompat ke dalam. Diatri Nari Ratih berdiri tegak. Pendeta Suradharma meraba pelita hendak dinyalakan. Tiba- tiba tangan kuat menekam pergelangannya. Ia dilarang menyalakan penerangan. Kemudian terjadilah suatu percakapan cepat. Seorang laki-laki berperawakan tegap mendekati pendeta Suradharma dan berbicara dengan bahasa daerah patah-patah.

Nyalakan! Tapi kami di belakang‖.

Pergelangan tangan yang tertekam dilepaskan oleh yang menekam. Dan pendeta Suradharma menyalakan pelita. Apabila penerangan menebarkan diri, mereka terkejut undur. Dan memberi hormat dengan khidmat. Agaknya tahulah mereka, bahwa Suradharma adalah seorang pendeta. Tetapi mereka tak dapat berbicara yang lain. Diatri Nari Ratih disuruhnya berdiri berjajar dengan pendeta Suradharma. Yang berperawakan tegap menghunus belati. Berkata:

Ampun!‖

Kemudian ia menatap dinding. Di luar, kesibukan perAyurlt kerajaan terdengar ribut. Pasukan kuda telah mengepung padepokan. Gerincing pedang dan tombak berantakan.

Masuk!‖ terdengar suara dengki.

Kepung rapat-rapat! yang lain memanjat pohon,

agar memperoleh penglihatan‖. Kemudian terdengar pintu diketuk. Pendeta Suradharma merenungi pintu. Matanya menyiratkan pandang minta pertimbangan. Perajurit-perajurit Tionghoa yang terkepung hanya berdiri tegak. Nafasnya masih menyekat-nyekat lehernya.

Adakah di antara kamu yang dapat berbicara bahasa Sanskrit?‖ pendeta Suradharma mencoba.

Yang mengancam punggungnya mengangguk.

Kesan mukanya jadi berseri. Menyahut:

Ya  —  aku  dapat.  Dahulu  aku  pernah  hidup

dalam biara Buddha‖.

Nah—mereka mengetuk. Apabila aku tidak membuka pintu, maka perbuatanku akan bertentangan dengan darmaku‖.

Yang dapat berbicara Sanskrit minta pertimbangan cepat dari kawan-kawannya. Dalam pada itu suara ketukan kian jadi garang.

Tolonglah tanyakan kepada mereka, apakah mereka hendak membunuh kami? Kami tidak bersenjata. Tujuan kami hendak pulang ke tanah-air. Apakah kesalahan kami?‖ kata yang dapat berbicara Sanskrit.

Pendeta Suradharma segera menyampaikan kalimat-kalimatnya kepada yang mengetuk. Ujarnya: Kami adalah suami-isteri yang bermukim dalam pertapaan. Mereka yang berada di dalam ingin memperoleh keterangan, apakah kalian akan menangkap dan membunuhnya‖.

Bukalah pintu! Nanti kami terangkan!‖,

terdengar jawaban menggelegar.

Pendeta Suradharma menyampaikan jawaban kepada perajurit-perajurit Tionghoa. Mereka menentang dengan serentak. Katanya:

Jika demikian, kami bersedia mati berbareng dengan tuan pendeta‖.

Mendengar pendirian mereka, Diatri Nari Ratih menggigil. Ia adalah seorang perempuan lembut-hati. Perasaannya lekas tergetar oleh kesan-kesan kasar, karena selama hidupnya belum sekali juga dapat membayangkan kisah pergaulan.

Baiklah!‖ jawaban dari luar. Kami datang atas nama raja. Kami hendak membawa tuan-tuan sekalian ke negeri. Tuan-tuan harus diselamatkan oleh kemungkinan balas dendam rakyat‖.

Apa sebab?‖ pendeta Suradharma minta keterangan.

Karena ada di antara mereka yang melakukan pengacauan. Menyamun dan merusak kesejahteraan dusun-dusun. Pendeta Suradharma segera meneruskan keterangan itu. Pandang mereka jadi bertanya-tanya. Mereka berbicara dengan cepat. Kemudian yang berperawakan tegap berkata :

Benarkah itu? Kami tak pernah melakukan perbuatan demikian. Kami mengenal undang-undang negeri juga. Negeri kami bukan pula negeri biadab yang tak mengenal perbuatan buruk dan baik. Keterangan itu adalah suatu fitnah. Kami tak percaya‖.

Apa sebab engkau tak mempercayai keterangan itu?‖ pendeta Suradharma minta keterangan.

Mereka pandai menipu. Kami ditipu. Kami diserang dari belakang tanpa bersenjata. Itu perbuatan-perempuan. Kami tak pernah mengalami peristiwa demikian. Bagaimana aku akan dapat mempercayai keterangan mereka?‖

Pendeta Suradharma menerangkan kepada yang di luar. Maka terdengar jawaban:

Bukalah dahulu pintu ini! Lihatlah, kami tak hendak mendobrak pintu: Karena kami ingin berbicara dengan baik-baik. Kami bersungguh- sungguh.‖

Pendeta Suradharma membenarkan permintaan itu. Dan perajurit-prAyurit Tionghoa akhirnya menyetujui. Maka pintu dibuka dan masuklah seorang panglima berkuda. Ia berdiri sopan berjarak lima langkah dari para perajurit Tionghoa yang berdiri berjajar.

Sampaikan permintaan maaf kami kepada mereka‖, kata panglima itu kepada pendeta Suradharma. Mereka sesungguhnya perajurit- perajurit yang patut kami hargai. Mereka laki-laki sejati. Tetapi dalam peperangan seringlah tipu- muslihat terjadi. Karena akallah yang menentukan menang dan kalahnya suatu pertempuran di samping keberanian. Kami dalam keadaan lemah, karena baru saja menyelesaikan suatu peperangan. Karena itu pula, kami harus menjauhkan pertumpahan darah‖.

Pendeta Suradharma mengalihbahasakan keterangan itu. Dan perajurit Tionghoa yang dapat berbicara Sanskrit menjawab :

Peperangan     itu,     kami     juga     yang     ikut menjelesaikan. Tanpa bantuan kami, pastilah raja tuan takkan dapat memenangkan Raja Jajakatwang‖.

Ya‖, panglima berkuda mengakui. Karena itu pula, tidak semua perajurit Jendral Che-pi kami tumpas. Mereka kami kirimkan ke kapalnya. Hanya yang membangkang terpaksa kami selesaikan, demi kesejahteraan dan keselamatan kami. Bukankah itu suatu kelaziman? Nah — oleh jasa teman-teman tuan, maka raja kami hendak mengirimkan tuan-tuan sekalian pulang ke negeri tuan‖. Perajurit-perajurit Tionghoa menimbang- nimbang. Mereka tak segera menaruh kepercayaan. Hal itu dapat dimaklumi, karena mereka baru saja terlepas dari suatu malapetaka. Tipu-muslihat Raden Wijaya, benar-benar berkesan dalam benaknya. Akhirnya mereka mencapai suatu persetujuan. Kata penterjemahnya:

Apakah jaminan tuan, bahwa kami dapat

mempercayai tuan-tuan sekalian?‖

Kami bermaksud baik. Janganlah tuan-tuan beragu. Agar tuan-tuan yakin, kami serahkan senjata kami kepada tuan-tuan. Peganglah! Dan kami akan mengiringkan tuan-tuan sekalian sampai ke ibu- kota‖.

Seluruh senjata perajurit berkuda diletakkan dan diserahkan kepada mereka. Juga para perajurit darat. Dan yang mengancam senjata kepada pendeta Suradharma menyarungkan belatinya. Kemudian berkata:

Baiklah, kami percaya akan maksud baik tuan- tuan sekalian. Maafkan, karena kami terpaksa melukai atau menyakiti perajurit-perajurit tuan demi suatu pembelaan diri'.

Maka selesailah sudah persoalan mereka. Menjelang fajar hari mereka berangkat bersama dengan damainya. Pendeta Suradharma membiarkan pintunya tetap terbuka. Ia menoleh kepada Diatri Nari Ratih. Paras mukanya nampak pucat. Tubuhnya lesu. Ia duduk di tepi ambin. Pandangnya menjangkau entah ke mana.

Inilah pengalaman dahsyat bagimu, Diatri. Pertapaan menjadi medan pergumulan. Syukurlah berakhir dengan suatu Kebijaksanaan yang mengagumkan‖, kata pendeta Suradharma membesarkan hatinya. la mencari kendhi air. Setelah lama menjenguki tempat-tempat tertentu, barulah dia teringat akan kendhi air yang ditinggaikan demkian saja di sekitar pertapaan.

Tunggulah! Aku ambilkan kendhimu‖.

Aku ikut!‖ tiba-tiba Diatri Nari Ratih menegak- kan kepala.

Pendeta Suradharma merenungi. Kemudian meraih isterinya dan diajaknya berjalan. Menghibur dan membesarkan hati:

Kalau     engkau     benar-benar     mengandung, barangkali anakmu kelak akan menjadi seorang perajurit. Perajurit bijaksana pembawa perdamaian.

Lihatlah, kedua belah pihak berwatak maha- perajurit. Berani, tangkas, tegas, cekatan, gesit, cerdas dan bijaksana‖.

Dalam fajar hari yang masih meremang, pendeta Suradharma tak dapat memperoleh kesan tertentu. Paras muka Diatri Nari Ratih terlindung oleh remang alam. Apakah dia tersenyum lega atau terhindar oleh perkataannya hanya Diatri sendiri yang tahu.

*** V

MALAM KELAHIRAN

Apabila matahari telah sepenggalah tingginya, kesan-kesan pertempuran semalam mulai nyata. Mereka yang semalam terluka meninggalkan bekasnya. Darah banyak tercecer di sekitar pertapaan. Semak-belukar dan tetanaman yang hidup di depan pintu-pagar, patah terpangkas atau rebah meraba tanah. Kemudian—sejalan dengan datangnya siang hari, penduduk sekitar pertapaan datang berbondong-bondong. Mereka membicarakan, memperbincangkan dan jadi corong berita yang pandai. Dan kesan-kesan demikian bagi Diatri Nari Ratih yang lembut-hati adalah suatu siksa. Maklumlah selama itu, ia hidup jauh dari keramaian. Hidup sunyi dalam ketenangan yang menyayat. Dan kini tiba-tiba jadi sibuk menggelisahkan.

Pasukan berkuda dan perajurit darat dari kerajaan, sering pula lewat di depan pertapaan pada hari-hari mendatang. Mereka menjenguk padepokan. Mengamat-amati dan memeriksa dengan pandang curiga seolah-olah padepokannya akan merupakan sarang dan pelindung sebaik-baiknya bagi sisa-sisa tentara Tionghoa. Juga kepala kampung yang memerintah wilayah pertapaan, bersikap hati-hati pula kepadanya.

Kesan-kesan demikian kadangkala dibawa terbang ke dalam mimpinya. Tentu saja jadi berlebih- lebihan. Pasukan-pasukan yang dahulu bertempur timbul dalam benaknya sebagai dua pasukan Gajah yang sedang mengadu tenaga dengan gigihnya. Sekarang menggunakan alat pembakar juga. Menyulut sekalian keindahan yang dahulu memagari pertapaan. Pasukan Jendral Chen-Pi yang mengungsi dalam padepokan, membuat dia tersiksa. Rakyat bersikap mencurigai. Pernah pula dalam mimpinya yang lain, ia dikejar-kejar. Kemudian datanglah pendeta Suradharma—Dewa Brahma yang dahulu mendekap-nya. Ia memeluknya, memapah dan menghibur. Tak lama kemudian, bahkan mencumbu dan menjanjikan seorang anak laki-laki sekuat Gajah yang akan mengenyahkan segala yang merintang dan melintang di depannya. Dan mimpi tentang Dewa Brahma bertubuh pendeta Suradharma kian sering dialami. Dan perutnya yang selama itu rata, kini jadi besar dan besar.

Maka pada suatu hari ia berkata kepada pendeta Suradharma:

Kesengsaraan dan siksa hati akan lekas tiba. Lihatlah! Perutku kian membesar. Apakah kata orang nanti? Apakah kata penduduk sekitar pertapaan yang kini bersikap lain daripada dahulu.‖ Pendeta Suradharma membesarkan hati: Apakah peduliku? Yang benar akan benar dan dibenarkan. Percayalah! Karena itu tenteramkan hatimu! Jangan kau pedulikan semuanya itu‖.

Tetapi kehormatanmu?‖

Jangan pedulikan! Kehormatan diri adalah suatu kegilaan belaka, Diatri. Karena kehormatan diri lahir oleh 'pekerti angan-angan. Dan bukankah angan- angan adalah menyesatkan?‖

Tidak!‖ Diatri menyahut cepat. Kemudian memutuskan:   Aku   rindu   pada   ketenangan   dan ketenteraman yang dahulu. Apakah pendapatmu, apabila kita berpindah tempat? Bumi pasti masih mau menerima kedatangan kita‖.

Pendeta Suradharma merenunginya. Sesungguh- nya telah lama ia berniat hendak berpindah tempat. Tetapi tak sampai hati ia menyatakan. Kini, ia menghadapi pemilihan kata yang sulit juga. Tak sampai hati pula ia hendak lekas menyetujui atau membantahnya.

Apakah pendapatmu?‖ Diatri mendesak.

Dan sulit pendeta Suradharma menjebut:

Telah kukatakan dahulu, bahwa aku akan mendampingimu barang ke mana engkau pergi. Aku rela mencari penyelesaian ini dengan sebaik-baiknya bersamamu‖. Engkau setuju?‖ Diatri berseri.

Pendeta Suradharma berbimbang-bimbang. Akhirnya mengangguk. Dan Diatri meloncat kecil oleh senang hati. Kemudian cepat-cepat berkemas. Dikumpulkan pakaian dan alat-alat dapurnya. Dikumpulkan kekayaannya yang lain.

Mengapa tidak berkemas-kemas pula?‖ Ia

menegur pada pendeta Suradharma.

Aku khawatir — bahwa beban pengungsian ini akan menekan punggung kita benar-benar. Lihatlah, kitab-kitabku!‖ pendeta Suradharma menyahut enteng. Dan, untuk menyenangkan hatinya, ia menghampiri kitab-kitab dan kekayaannya dan dikumpulkan.

*** VI

Demikianlah — Mereka mulai merantau. Mula- mula mereka menuju ke arah barat laut dari pusat kota Majapahit. Kemudian menyusur sungai Brantas. Sepanjang jalan ia menyaksikan pembangunan kota kerajaan. Kerusuhan-kerusuhan kecil dijumpainya pula. Sisa-sisa tentara raja Jajakatwang dan pasukan Jendral Chen-Pi masih saja perlu diawasi. Kadangkala mereka melihat suatu pertempuran kecil yang terjadi di bukit-bukit, di pinggir hutan, di dekat danau, di tepi pantai atau di ladang terbuka.

Oleh pengalaman-pengalaman ini, lambat-laun hati Diatri Nari Ratih yang perasa jadi agak kukuh. Sekarang ia mulai dapat berbicara, bahwa peperangan di mana-mana terasa pahit. Rakyat menderita. Keresahan dan kegelisahan senantiasa memburu-buru. Sawah-ladang terbengkalai oleh pekerti pembesar-pembesar negeri yang besar angannya hendak mengangkat dirinya sebagai penguasa dalam segala hal. Keadaan begini harus dihabisi — bunyi derun hatinya — tetapi betapa hendaknya itulah soalnya.

Brahman! Apakah itu?‖ tanyanya pada suatu hari kepada suaminya. Dan pendeta Suradharma heran mendengar pertanyaannya. Ia merenunginya dengan pandang ingin mengerti. Menjawab:

Bukankah telah lama engkau ketahui?‖

Terangkan — O, terangkan — sekali saja!‖ Diatri minta dikasihani. Dan sikap begini benar-benar membuat benak pendeta Suradharma menebak- nebak. Maka ia menjawab pula dengan suara menebak-nebak:

Brahman adalah yang Abadi. Kepadanyalah kita hendak manunggal‖.

Dan Dewa Brahma apakah kekuasaannya?‖

Lewat padanyalah kita harus minta manunggal. Karena dialah yang berkuasa atas segala. Dia pulalah yang menentukan segala‖.

Diatri Nari Ratih menundukkan mukanya. Berkata pelahan kepada dirinya sendiri.

Sekiranya Dia benar-benar yang berkuasa atas segala, maka anak yang kukandung oleh pekertinya, pastilah akan berkuasa pula seperti dia. Bukankah begitu? Dan dia kelak akan menjadi orang yang menentukan segalanya pula. Benarkah itu?‖

Pendeta Suradharma mengamat-amati. Ia menjenak nafas. Dan ia berdiam diri. Maka bulan-bulan yang lain telah dilampaui dengan selamat. Mereka kini menghindarkan pembicaraan orang. Perjalanannya dilanjutkan pada malam hari atau menyimpang dari perkampungan. Apabila kandungan Diatri Nan Ratih kian kentara, pendeta Suradharma melepaskan pakaian pendeta agar memperoleh kebebasan hati. Mereka berlaku sebagai sepasang suami-isteri yang hidup sengsara. Apabila dihujani pertanyaan dari manakah dan apa sebab merantau, mereka menjawab: bahwa ketandusan tanahnya mengusirnya dari kampung halaman.

Pada suatu malam, mereka tiba di desa Mada yang terletak di tepi sungai Brantas. Diatri Nan Ratih nampak kecapaian. Perutnya mulai menggoda. Karena dia belum memperoleh pengalaman, maka dengan berbimbang-bimbang ia minta pembenaran dari suaminya. Katanya: 

Apakah ini tanda kelahiran? Punggung terasa pegal‖.

Pendeta Suradharma berkeringat. Kampung telah sunyi-sepi. Lagi pula tak ada niatnya hendak minta pertolongan kepada penduduk atau mengabarkan tentang kelahiran itu. Maka dengan sejadi-jadinya ia menyahut:

Demikianlah menurut tutur kata orang. Beristirahatlah! Aturlah nafasmu. Aku akan menolongmu. Bukankah aku berjanji hendak selalu

mendampingi dalam segala hal?‖

Ia turun ke sungai, mengisi kendhi penuh-penuh. Sepanjang jalan ia berdoa, moga-moga dewata menggampangkan kelahiran itu. Apabila kecemasan mulai ikut berbicara, ia mencoba mengenyahkan dengan suatu keyakinan:

Bukankah Dewa Brahma sendiri yang menghendaki? Pastilah kelahiran itu akan jadi gampang‖.

Ia kembali mencari tempat Diatri Nari Ratih berada. Tetapi Diatri tak nampak. Maka ia memerlukan waktu lagi untuk mencarinya dan diketemukan berbaring di atas lantai balai kampung. Segera ia menyalakan perdiangan kecil. Meletakkan kendhi air di dekat silang kaki. Kemudian mengembangkan lipatan kain berganda.

Ia memapah Diatri dan dibaringkan di atasnya.

Bujuknya:

Tenang-tenangkan hatimu! Semuanya berjalan dengan lancar!‖ Ia merenungi paras Diatri yang pucat kuyu. Bibirnya bergemetaran. Pandangnya takut dan sengsara. Tetapi ia berdiam diri.

Hatimu tenang saja, bukan?‖ pendeta

Suradharma bertanya. Diatri mengangguk. Oleh anggukan itu, pendeta Suradharma tersenyum lega hati. Katanya:

Diatri!    Tabahkan    hatimu!    Engkau    berjanji, bukan? Bagus! Jika anak ini telah kau lahirkan, selesailah sudah azab derita kita selama itu. Kita akan bebas! Kita akan dapat hidup seperti dahulu. Hidup setenteram dan setenang dahulu, lantas dapat mencari jalan lama yang telah agak lama kita tinggalkan‖.

Diatri mengangguk.

Adakah engkau mempunyai rencana yang lain?‖'

pendeta Suradharma seolah-olah minta ketegasan.

Diatri menggelengkan kepala. Menjawab di antara giginya:

Aku akan mengikuti semua petunjukmu. Aku

adalah kepunyaanmu‖.

Dan anak ini?‖

Diatri mengerang lemah. Menjawab juga:

Aku telah membuatmu sengsara. Hampir satu tahun penuh. Aku berjanji, aku bersumpah kepadamu akan mengikutimu barang di mana engkau pergi. Bukankah anak ini lahir, tidak oleh kehendak kita sendiri? Bukankah begitu?‖ Ia mengerang lagi dan hendak meneruskan berkata dengan suara patah-patah. Pendeta Suradharma cepat-cepat memotong.

Diamlah! Tak usah engkau banyak berkata-kata! Simpanlah tenagamu dahulu. Tahulah aku kiblat tujuanmu. Dan aku percaya kepadamu. Seyakin- yakinnya‖.

Setengah berbisik Diatri berkata minta belas- kasih :

Terima-kasih. Padamkan api perdiangan itu.

Agaknya anak ini tak sabar lagi. Ia begini perkasa‖.

Akan kau lahirkan dia di tengah malam gulita begini? Biarlah aku menyekat penerangan dengan selembar kain. Apa salahnya?‖

Tidak — o tidak!‖ Diatri mengeluh.

Dan meloncat, pendeta Suradharma menggebuki api perdiangan, sehingga padam seketika itu juga. Asapnya bermurung mendaki udara.

Tabahkan hatimu, Diatri! Aku selalu di sampingmu! Kuatkan! Engkau seorang pemberani tiada tara‖. Pendeta Suradharma berkata. Ia memeluk leher Diatri dan meletakkan kepalanya di dekat dadanya. Ia bersimpuh rendah-rendah. Berkata membesarkan hati: Dengarkan! Aku mempunyai cerita baru. Pastilah engkau tak tahu, bahwa sepanjang perjalanan, aku memperoleh banyak keterangan dan penerangan dari orang-orang yang menaruh belas kasih, betapa menolong orang melahirkan anak. Aku memperoleh petunjuk-petunjuknya pula. Aku memperoleh pengetahuan jenis-jenis akar yang bagus untuk bebak obat untukmu. Aku telah menumbuknya halus- halus, Diatri!! Nanti aku akan merebus air sampai mendidih. Aku aduk bebak akar-akar itu! Engkau harus meminumnya sampai tandas. Pastilah engkau akan segar bugar. Rasa nyeri atau kesan-kesan tertentu, akan dienyahkan cepat-cepat. Kurang percayakah engkau? Nanti kau buktikan! Aku pernah berjumpa dengan dia yang menarik perhatianku. Satu jam ia melahirkan anak, ia nampak sehat kembali. Sesehat seorang gadis dalam masa tegar hati‖.

Ia berhenti, tatkala mendengar Diatri mengerang untuk kesekian kalinya. Kepalanya didesakkan ke dadanya. Dan tahulah dia, Diatri berjuang melawan kesakitan. Nafasnya mulai melonjak. Dan terasa, ia menggigil. Erangnya ditekannya kuat-kuat.

Tabahkan hatimu! Aku akan memanjatkan doa kepada dewata mulia! Semuanya akan berjalan dengan lancar!‖ bisik pendeta Suradharma. Dan ia mulai melepaskan doa-doa tertentu.

Tak lama kemudian, perjuangan Diatri mencapai puncaknya. Maka lahirlah sang bayi. Laki-laki, dia. Kedua tapak tangannya menggenggam seperti tinju. Dan ia menangis keras. Suaranya bening menyayat hati.

Pendeta Suradharma meletakkan kepala Diatri pelahan-lahan. Ia mengganjalnya dengan tumpukan kain dan bajunya. Kemudian melompat menyambut sang bayi. Dengan kecekatan yang lumayan, ia membersihkan tubuh sang bayi setelah memangkas pertalian ari-ari dengan pusat. Darah dan air kawah dibersihkannya pula. Kemudian memapah Diatri menepi. Diletakkannya di atas lipatan kain berganda. Lantas si anak diletakkan di sampingnya, setelah diselimutinya dengan baik-baik.

Nah apa kataku? Semuanya berjalan dengan baik dan lancar!‖ katanya bersyukur. Dan ia berbangga hati kepada dirinya sendiri oleh kecekatan dan kesanggupannya. Kemudian ia merogoh kantong tumbukan akar-akar yang dijanjikan. Ia merebusnya, sambil berkata kepada Diatri:

Sekarang beristirahatlah! Aku akan ke sungai.

Mencuci kain-kain ini dan mengarungkan ari-ari.‖

Diatri mengangguk. Dan ia segera menuju ke sungai. Malam gelap-gulita. Angin meniup kencang membawa dingin hawa. Tapi ia tak mempedulikan semuanya itu. Hatinya begitu tenteram dan tegar rasanya. Dadanya lapang. Dunia yang menyelimuti seolah bernyanyi pada dirinya. Dan tahulah dia, semuanya bergirang dan bernyanyi tergantung pada keadaan hati.

Di tepi sungai mencuci kain-kain dan mengarungkan bungkus ari-ari di tengah arusnya. Kemudian hati dan benaknya yang jernih mulai menciptakan kisah mendatang.

Ah, sang Kala! Akhirnya selesai juga. Tetapi sekarang harus cepat! Tak boleh seorang pun melihat peristiwa ini. Aku harus hilang tanpa jejak, agar Diatri tidak tersiksa untuk seumur hidupnya. Mudah- mudahan tabahlah hatinya! Mudah-mudahan ia tiada kehilangan keyakinan‖.

Di kejauhan ia mendengar anjing menggonggong. Lantas terdengar pula suara kentung peronda. Maka cepat-cepat ia menyelesaikan cuciannya untuk mengejar waktu. Lantas ia mendaki tepi dan terbata-bata mencari balai-kampung. Dan kembali ia mengarungi gelap alam dan dingin hawa. Dan mulai lagi hatinya menyanyi sejadi-jadinya. Kepada angin lewat ia menyampaikan perasaan girangnya, seolah-olah demikianlah caranya yang baik untuk menyatakan kebebasannya.

Tatkala sampai di balai kampung, ia melihat Diatri tidur njenyak. Tenaganya seolah-olah terlolos

— oleh keletihan luar biasa. Tetapi ia tak memperkenankan   Diatri   tertidur   demikian   pulas. Menurut tutur orang, ia akan terbawa oleh suatu ketenteraman. Maka ia mencoba menyentuhnya. Gelombang perdiangan menjilat-jilat paras muka Diatri yang pucat lesi. Dan ibalah hatinya. Maka diurungkan niatnya dan kini mengalihkan perhatiannya kepada sang bayi.

Alangkah jelek paras mukanya. Dahinya lebar. Hidungnya terlalu kokoh. Mulutnya rapat amat seakan-akan membawa dendam kesumat dan berkemauan hendak menuntut balas pada segala yang dimusuhinya.

Ia menyentuh pipinya. Hati-hati. Kemudian mengalihkan penglihatannya kepada Diatri. Tatkala mendengar asap air, ia meloncat dan segera teringat kepada bebak obat. Maka ia menuangkan hati-hati ke dalam tempurung dan dibawanya menghampiri.

Diatri!‖ ia berbisik memberanikan diri.

Bangunlah! Engkau harus minum ini dahulu!‖

Kuyu Diatri menjenakkan matanya. Gundu matanya bergetar; mengembalikan ingatannya. Berkata lemah:

Engkau telah datang?‖

Ya. Semuanya telah bersih. Tinggal ini. Engkau harus meneguknya habis!‖ pendeta Suradharma menyodorkan jamu godoknya. Bukankah masih panas?‖ Diatri minta pertimbangan. Kemudian ia mengalihkan matanya kepada anaknya.

Ia cantik. Kecil mungil! Perkasa! Sehat!‖ Pendeta Suradharma membesarkan hati. Ia menurunkan tangannya. Tempurung jamu-godok diletakkan di lantai. Dan ia menolong menghadapkan Diatri kepada anaknya.

Perdiangan itu, tak dapatkah menyala lebih

terang lagi?‖ Diatri setengah mengeluh.

Lebih baik begitu, Diatri!‖ potong pendeta Suradharma. Jangan sekali-kali engkau melihatnya terang-terang. Anakmu lahir oleh kekuasaan dan kemauan dewata‖.

Diatri menunduk. Ia mencoba menajamkan mata. Remang alam diterobosnya. Dijenguknya anaknya. Diamat-amati. Kemudian meletakkan kepalanya kembali di atas bantal lipatan kain berganda. Nafasnya disenakkan panjang. Menyerahkan diri kepada keyakinannya.

Apakah rencanamu lantas?‖ tanyanya.

Pendeta Suradharma tak lekas menjawab. Kembali ia menyodorkan tempurung jamu-godoknya. Berkata mengalihkan perhatian:

Minumlah ini dahulu hangat-hangat! Nanti kita berbicara. apabila kesehatan dan tenagamu telah pulih kembali. Maukah engkau mendengarkan

pintaku ini?‖

Diatri menegakkan kuduknya. Dilemparkan pandang kepada pendeta Suradharma. Menyahut:

Telah kujanjikan tadi; aku akan senantiasa

mengikuti petunjukmu.‖

Ia menggapai tempurung jamu-godok, tetapi pendeta Suradharma melarangnya. Dan matanya menebak-nebak. Terdengar pendeta Suradharma menerangkan:

Biarlah kutegukkan! Masih begini panas!‖

Ia mengusir panas asap dan ditegukkannya. Diatri Nari Ratih memejamkan mata. Pahit, katanya. Tetapi ia meneguk dan meneguk. Dengan kesabaran dan kesungguhan, akhirnya tandaslah jamu-godok itu. Kemudian ia merebahkan diri. Berkata merenung atau:

Sebentar lagi aku kuat berjalan‖.

Benarkah itu?‖

Nah — dalam hal ini aku lebih tahu dari- padamu‖. Diatri tersenyum. Ibuku tatkala melahirkan adikku yang bungsu sanggup seketika itu juga berdiri, berjalan dan bekerja. Aku pun akan mempunyai kesanggupan demikian‖. Pendeta Suradharma menimbang-nimbang.

Menyahut:

Tetapi tak kubiarkan, engkau berjalan jauh-jauh. Kita berdua akan naik sampan menyusur sungai Brantas. Nasib akan menentukan kita di manakah kita berdua sebaiknya berada.‖

Diatri menoleh kepada anaknya. Terdengar nafas pendek menyenak lehernya. Agaknya ia menyembunyikan kesan tertentu. Mukanya didongakkan kembali ke atas. Dilayarkan seluruh perasaannya jauh-jauh. Mendaki udara menyeberang mega. Terdengar pendeta Suradharma menyekat perjalanan angannya:

Aku tahu perasaanmu, karena itu kularang engkau merenungi wayah anakmu. Maklumlah Diatri; inilah kesempatan yang kita tunggu. Kita akan bebas menanggung cela orang. Kita akan hidup sebagai sediakala, bukankah itu tujuan kita berdua? Seperti yang dulu-dulu, Ratih. Hidup laku Brahmacari! Sebaliknya apabila anak kita bawa apa perlu aku dikenal sebagai seorang Brahmacari?‖

Aku tidak membantah, bukan?‖

Pendeta Suradharma meraba keningnya. Digelengkan kepalanya dalam gelap malam dan menyahut cepat:

Tidak! Sama sekali, tidak. Aku yakin!‖ Dan telah kukatakan tadi, bahwa aku telah cukup lama menyiksamu. Bahwasanya engkau tetap setia mendampingiku, adalah suatu karunia yang maha-besar bagiku. Tetapi sekarang, izinkanlah sekali lagi aku melihat anakku. Sekali saja. Dapatkah engkau meluluskan pintaku ini? Aku ingin melihatnya, biar sebentar. Bawalah sebatang perdiangan ke mari!‖

Pendeta Suradharma diam merasa. Ia berdiri mengambil sebatang kayu perdiangan. Dan dibuatnya penerangan penglihatan. Angin yang keras menghembus-hembus nyalanya. Segera ia membentengi dengan tapak tangannya. Diatri menegakkan punggungnya. Ia menjenguk bentuk wujud anaknya puas-puas. Kemudian berkata lagi minta belas-kasih:

Biarlah kuteteki dahulu, dia. Barangkali sampai pagi, belum diketemukan orang. Lantas kita bebas!‖

Pendeta Suradharma tidak membantahnya. Ia membiarkan Diatri Nari Ratih meneteki anaknya. Apakah celanya — pikirnya. Ia melihat, anaknya menetek demikian lahap seperti habis bepergian jauh. Diatri bangga padanya. Terdengar ia berbisik penuh perasaan.

Lihat! Begini rakus! Anak serakah dia?‖

Pendeta Suradharma mengamat-amati. Meng- amini: Itulah laki-laki sebenarnya. Kemauannya hendak mereguk segala‖.

Tiada berapa lama lagi, Diatri Nari Ratih melepas teteknya. Ujung kainnya disobeknya dan diselimutkannya ke seluruh tubuh anaknya. Kemudian ia melemparkan pandang kepada pendeta Suradharma memberi isyarat, bahwa tugasnya telah diselesaikan. Apabila dilihatnya pendeta Suradharma tegak berdiam diri, ia berkata menegaskan bunyi hatinya:

Telah kuselesaikan kewajibanku. Ia telah menetek puas-puas. Darahku ada padanya. Sekarang kita bisa berangkat. Apakah yang kau pikirkan?‖

Pendeta Suradharma menyahut gugup :

Aku akan mengumpulkan pakaianmu dan milikku. Tunggulah barang sebentar‖. Ia melintasi gelap malam tak menunggu jawaban. Kain-kain Diatri yang dicucinya tadi ke sungai dan ditebarkan di atas pagar, dipungutnya. Sabar ia melipati dan ditumpuknya menjadi satu onggok. Lantas digantungkan di atas pundaknya. Setelah itu, ia kembali ke balai-kampung dan melihat Diatri Nari Ratih menimang-nimbang anaknya dengan suara hati-hati. Ia berdiri tegak. Heran dia, karena Diatri Nari Ratih tiba-tiba bisa bersenandung dengan hati dan perasaannya. Beginilah bunyinya: ”Anakku! Betapapun juga yang terjadi atas dirimu. Betapapun juga kisah kelahiranmu. Ibu tetap berdoa dari jauh nun di sana. Di atas gunung, di pedalaman belantara. Di dalam jurang, di dalam bumi. Di permukaan samudera. Dalam selimut cahaya matahari. Jadilah engkau hai anakku — manusia yang berguna. Lantas apa perlu engkau dilahirkan, apabila engkau tidaklah menjadi manusia demikian. Dengarkan ibu bersenandung: Anakku, engkau lahir tidak oleh kehendakku. Tidak oleh kehendak Dewa Brahma atau menjalankan siapa saja.

Tetapi engkau lahir oleh kehendak hidup. Tahukah engkau hai anakku! yang berwujud padamu bernama Suksma. yang berada di dalammu adalah Suksmana. Kembalilah hai Suksma kepada Suksmana. Jadilah satu! Manunggallah! Dan engkau akan bersatu dengan hidup sendiri! Dan ibu ini, anakku! Jangan kau persalahkan pula! Ibu masih hidup berselimut Suksma. Kini hendak merantau mencari kehidupan Suksmana. Doakan, anakku! Doakan! Kelak kita pasti bertemu. Bertemu! Selamat tinggal, anakku! Jadilah engkau besar atas kehendakmu sendiri. Ibu berdoa dan berdoa!”

Diatri Nari Ratih lantas berdiam diri. Ia merenungi anaknya. Dan pada saat itu, ia masuk. Dengan berdiam diri pula, ia mengumpulkan miliknya. Beberapa lembar pakaian dan kantong kitab- kitabnya. Terdengar Diatri berkata padanya: Tolonglah aku berdiri! Tenagaku telah pulih kembali!‖

Ia meletakkan kantong kitabnya. Juga tumpukan kain dan pakaiannya. Dengan berdiam diri pula, ia menolong Diatri bangkit dari tempat berbaring. Dilipatnya kain-kain pembaring. Dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam kantong. Kemudian melemparkan pandang pada Diatri. Bisiknya:

Bukankah kita akan meneruskan perjalanan?‖

Diatri mengangguk pasti. Menguatkan: Marilah! Moga-moga kali ini dewata membiarkan kita menyelesaikan hidup yang harus kita jalani.‖

Pasti! Pasti!‖ pendeta Suradharma yakin. Ia mencari pandang pada malam yang masih gelap. Kantong tempat seluruh harta kekayaannya disangkutkan ke pundaknya. Mengajak:

Kita mulai!‖

Diatri Nari Ratih merangkulkan lengannya ke lehernya. Ia berjalan pelahan-pelahan. Kira-kira duapuluh langkah, ia melepaskan rangkulannya. Agaknya ia telah sanggup berjalan sendiri. Bertanya tajam:

Dapatkah engkau menerangkan, sudah berapa

lama kita hidup ini?‖

Pendeta Suradharma terkejut. Menjawab gugup. Usia? Apa perlu engkau minta keterangan?‖

Diatri tersenyum. Berkata:

Sekiranya aku tahu. Akan dapat juga aku menebak-nebak berapa tahun lagi kita harus berjalan‖.

Pendeta Suradharma diam tak menyahut. Ia membimbingnya pelahan-lahan. Tetapi Diatri menolak. Maka ia berjalan mendampingi, memasuki tirai malam gulita. Angin menderum tajam. Menusuk telinga dan membunuh perdiangan. Tiba-tiba timbullah niatnya hendak berpamit pada si anak. Katanya minta pertimbangan kepada Diatri:

Izinkan aku menengok anakmu, Diatri!‖

Diatri mengangguk. Segera ia undur dan menghampiri si anak. Ia merenungi. Tak tahu ia kata- kata apakah yang hendak dilepaskan kepadanya. Tetapi tiba-tiba ia berkata dengan tak setahunya sendiri:

Selamat tinggal, anakku. Engkau dilahirkan atas kehendak dewata. Pastilah engkau selamat. Dan aku

— tak pernah aku menyesal! Karena aku terpilih menjadi pengantarmu! Menjadi pengawal kelahiranmu!‖

Berjingkat-jingkat ia mengundurkan diri dan memburu Diatri yang telah berjalan kian jauh. Apabila telah berada di sampingnya, ia menyarankan agar menjauhi jalan besar. Maka menikunglah perjalanan mereka. Melintasi pengempangan sawah-ladang, menyusur tanggul-tanggul sungai Brantas. Tiada seorang pun yang bersua padanya pada malam itu. Itulah yang diharapkan. Itulah sebabnya, tiada seorang pun di kemudian hari yang dapat menerangkan ke mana mereka pergi. Sejarah menelannya dengan diam-diam.

*** VII

BUAH – IMPIAN

Sekira jam empat pagi, Kepala Kampung Mada terbangun dari tidurnya. Nafasnya tersengal-sengal. Pandangnya liar mencari penglihatan seluas-luasnya pada lebar ruang rumah. Kemudian ia duduk berjuntai di tepi tempat tidur, menenangkan hati.

Mengapa engkau?‖ isterinya menegur.

Kau lihat aku ini?‖ nafasnya masih menyenak- nyenak.

Engkau meloncat seperti kemasukan iblis!‖

Ya.‖ Ia menelan ludah. Kemudian ia menarik lengan isterinya dan diajaknya ke ruang tengah. Ia menyalakan pelita besar-besar dan berkata sembil duduk:

Dengar! Kukira ada Gajah ke mari. Gajah muda yang .... ya .... aku kira lagi gandrung. Lagi birahi! Gajah itu demikian gagah perkasa! O — bukan main!‖

Ah — mimpi tak keruan!‖ potong isterinya

Gajah  siapa  yang  tersesat  di  sini.  Lagi  pula  Gajah kalau sedang birahi, bukanlah masuk kampung. Ia akan bersembunyi jauh-jauh. Bersembunyi di tengah hutan, memencilkan diri dari segala‖.

Itulah  yang  mengherankan‖.  Tungkasnya.  Ah, begitu perkasa! Begitu kuat! Gadingnya sepanjang lengan. Putih kekuningan. Belalainya ditengadahkan ke udara, kemudian menjerit seolah-olah hendak menantang segala yang berani melawannya‖.

Itu Gajah sinting!‖ sahut isterinya. Ia berbalik kembali ke kamar tidurnya.

Gajah     itu     dapat     berbicara;     itulah     yang mengherankan. Minta perlindungan! Kuberi dia seonggok rumput dan sekolam air. Menurut perasaanku, aku seolah-olah memiliki ladang rumput dan kolam air tiada habisnya‖.

Isterinya tak mendengarkan. Ia menggerutu. Hatinya mendongkol, karena tak memperoleh perhatian. Dan dilepaskan seluruh ingatannya kepada pelita yang menyala berkedip-kedip.

Angin di luar deras menumbuki dinding rumahnya. Ia mengamat-amati. Keadaan demikian dihubungkan dengan mimpinya yang dahsyat. Khayalnya bermain lagi dalam benaknya. Ia meloncat mendekati pintu. Membuka palangnya dan mengentakkan daunnya lebar-lebar. Terdengar isterinya mengejek:

Percayalah! Di luar tiada seekor Gajahpun!‖ Ia menarik nafas. Pandangnya turun. Khayalnya menyerah. Dan pelahan-lahan ia menutup pintu kembali tak dipalang dan duduk termenung di bawah nyala pelita.

Tak dapatlah engkau bangun sebentar? Duduk- lah di sini! Jangan biarkan aku tersiksa!‖

Menggerutu isterinya bangun dari tempat tidurnya. Malas, ia muncul dari ambang pintu dan duduk mendampingi.

Aku bersungguh-sungguh! Ini bukan main- main! Aku mimpi ajaib! Bukankah itu mimpi ajaib? Kukira hari hampir mendekati saput-lemah. Pasti mimpi ini bukan mimpi kanak-kanak!‖

Isterinya tak menyahut.

Pastilah engkau menolak keteranganku ini tanpa alasan‖. Ia menuduh. Dan oleh tuduhannya, isterinya memotong:

Kau kira aku tak mengenal jenis mimpi? Aku mengenal tutur-kata orang-orang kuno. Bahwasanya mimpi dibagi empat waktu dan jenisnya lima macam. Mimpi pada siang hari, petang hari, malam hari dan mendekati fajar hari. Jenisnya lima macam. yang pertama mimpi oleh kesan penglihatan. Kedua oleh: kenangan. Ketiga: oleh angan. Keempat oleh: kata

 hati. Kelima oleh: kesan perbuatan salah yang selalu

membuntuti‖.

"Nah—engkau telah menjawab! Katakan— bukankah mimpiku kali ini berada di luar aturan- aturan itu?‖

Isterinya menimbang-nimbang. Menjawab:

Ya — selama ini engkau alim. Tinggal di rumah. Tapi barangkali masa kanak-kanakmu pernah berangan-angan ingin mempunyai seekor Gajah atau pernah berkeliaran di hutan belantara‖.

Mengapa engkau berkata begitu?‖

Angan adalah guru manusia‖, sahut isterinya menggurui. Ia bermahakuasa. Ia dapat membentuk wujud-wujud khayal pada hal-hal yang telah jauh lampau. Pengalaman yang ada yang tiada. Begitulah kata orang tua-tua. Benar tidaknya, terserah kepada pengalaman orang.‖

Kepala Kampung menyiratkan pandang padanya.

Berkata:

Dahulu aku pernah bermimpi menunggang seekor harimau. Dan aku dipilih menjadi Kepala Kampung. Nah apa katamu?‖

Jika nyata buktinya, itulah mimpi benar. Macam mimpi demikian, wajib kita ingat-ingat. Merupakan ciri nyata. Sebaliknya, aku pernah mimpi melahirkan seorang anak. Kemudian yang kedua, ketiga, keempat sampai tujuh orang anak. Nyatanya, sampai kini aku tak sanggup melahirkan anak seorang pun juga. Nah apa katamu?‖

Kepala Kampung menundukkan mukanya. Tangannya menggarit-garit alas meja. Mendongak- kan pandang sambil berkata:

Tak tahulah, aku. Barangkali itulah anganmu. Memang telah terlalu lama kita tak mempunyai anak seorang pun. Aku tahu kesedihanmu. Tapi janganlah pula engkau menuduh, bahwa aku tak bersedih. Karena setiap kali engkau mengingatkan perkara itu, sesaklah dadaku‖.

Ia berdiri. Membuka pintu. Menjenguk sudut rumah. Mengambil alat penggarap sawah dan berkata:

Tapi bertapa pun juga, mimpiku semalam bukanlah mimpi lumrah. Pasti ada maksudnya. Engkau mau membantu mengingat-ingat, bukan? Mudah-mudahan dewa lekas saja menyelesaikan persoalan ini, agar tak tersiksa hatiku‖, berhenti mengesankan. Kemudian mengalihkan pembicaraan:

Aku menjenguk sawah. Pengempangan sebelah barat kemarin bobol. Apa pikirmu, kalau petak sebelah timur kutebari bibit ketan?‖ Suruhlah orang-orangmu bekerja. Engkau telah begitu tua. Agaknya engkau sudah harus menikmati hasil kerjamu di rumah,‖ isterinya berusaha menyenangkan hatinya.

Betapa mungkin!‖ ia membantah. Hidup adalah bekerja!‖

Ia menyeberang ambang pintu. Fajar hari menyongsongnya lembut. Di jauh, burung-burung telah bangun. Angin sekeras tadi masih tajam membawa dingin hawa. Udara bersih bebas tak berkabut. Oleh kesan ini, dadanya menjadi lapang kembali. Kesan percakapan tentang angan ingin memperoleh anak menipis. Kejadian demikian, bukanlah terjadi sekali dua kali. Apabila usia yang kian menanyak mulai ikut berbicara, hatinya seperti tergugat. Maka mulailah ia mengutuk nasibnya, apa sebab hidup tak memberinya seorang anakpun dalam perkawinannya. Ia beriri hati kepada mereka yang mempunyai anak. Ada penghibur naluriah yang tak dapat dinilai dengan harta-benda.

Tetapi semuanya terserah Dewa Agung. Bukankah aku hanya pelaku-pelakunya belaka?‖ ia menghibur diri.

Dilepaskan pandangnya kepada rumah-rumah kampung. Kampungnya mulai hidup. Tangis kanak- kanak yang bangun kelaparan, terdengar membangun kesibukan. Orang-orang tuanya terdengar terbangun tertatih-tatih. Setengah menggerutu setengah menghiburnya. Dan kesan- kesan demikian alangkah lucu baginya.

Nah — orang tak tahu terima kasih‖. katanya pada   diri   sendiri.   Rasakan   betapa   akan   malang dirimu andaikata engkau tak pernah mempunyai anak seperti aku‖.

Sinar cahaya di timur mulai menggelimang. Kampung Mada yang terletak di tepi sungai Brantas remang-remang muncul dari lapisan tirai fajar hari. Atap-atap rumah mencongakkan diri. Mahkota pohon-pohon bergemerisik. Daun bambu bergeser. Batangnya membungkuk-bungkuk.

Kepala Kampung menyekat perjalanan. Ia tidak melalui jalan besar seperti biasanya. Ia menyusur sungai. Kemudian mendaki tanggul, melintasi jalan pertiga. Di sanalah berdiri balai kampung menghadap sungai. Dindingnya sudah tipis oleh tuanya. Kererayap menggerumiti dari bawah, sehingga jadi keropos. Hal itu sudah dinyatakan berulang-ulang oleh polisi desa kepadanya. Tetapi ia belum menaruh perhatian. Pikirnya, apa perlu segera diganti, masa panen masih jauh. Balai kampung itupun jarang dipergunakan. Hanya sekali setahun, apabila kampung menanggap wayang beber atau perayaan- perayaan masa panen. Tetapi kali ini timbullah perhatiannya. Ada niatnya hendak memeriksa dinding balai-kampung. Jika laporan polisi desa benar-benar perlu diganti, pastilah dinding telah rusak benar. Maka ia menghampiri balai kampung. Tatkala hendak melintasi jalan pertiga, ia bersua dengan orang-orang kampung yang hendak berangkat ke sawah. ladangnya pula, ke kota menjual hasil bumi atau ke sungai.

Begini pagi sudah ke sawah, pak! Tumben!‖ mereka menyambut.

Ia tertawa melalui hidung. Berkata mengalihkan perhatian:

Darma! Suta! Teruna! Benarkah dinding balai-

kampung itu perlu segera diganti?‖ Mereka saling memandang. yang satu menjawab memberanikan diri :

Dindingnya mulai keropos. Musim hujan,

barangkali‖.

Ia mengangguk. Meninggalkan mereka — melintasi jalan pertigaan — menghampiri balai kampung. Apabila ia hendak meraba lantai, terkejutlah hatinya. Dilepaskan pandangnya, menyelidiki sekitarnya. Kemudian menoleh kepada orang-orang yang berjalan belum begitu jauh daripadanya. Menyeru gugup:

Darma! Suta! Teruna! Cakra! Kemari! Anak siapakah ini?‖

Yang diseru menoleh seperti kena cubit. Mereka segera berlarian menghampiri balai-kampung. Juga orang-orang yang hendak berangkat ke kota menaruh perhatian. Mereka ikut mendekat. Segera merubung. Dan dari mulut ke mulut meletuslah perkataan:

Anak siapa dia?‖

Terdengar suara   Kepala   Kampung   menegas:

Siapa yang melahirkan bayi pada hari-hari ini?‖

Ia tak memperoleh jawaban. Maka diputuskan hendak dibawanya kembali ke rumah. Bayi digendongnya. Dan alat penggarap sawahnya disuruhnya membawanya salah seorang. Anak siapa ini? Anak siapa ini?‖ ia berkomat- kamit sepanjang jalan.

*** VIII

Serambi depan Kepala Kampung dengan cepat dikerumuni orang-orang kampung. Mereka menerima kabar dari mulut ke mulut. Kentungan dibunyikan pula agar dusun-dusun sekitar kampung Mada dapat pula mendengar berita itu. Polisi desa mengadakan pengumuman-pengumuman tertentu. Dalam pada itu, sang bayi diletakkan di atas tempat tidur berselimut rapat-rapat. Ia masih tidur nglintek. Tak bergerak, tiada berkutik. Nafasnya kecil-kecil naik turun. Pusatnya masih belum terpangkas. Ujungnya menuding angkasa jauh di sana. 

Ah—anak siapa ini?‖ isteri Kepala Kampung setengah mengeluh. Ia iba hati, sehingga setiap kali merenungi sang bayi selalu saja terlepas ucapan demikian.

Lantas  meneruskan:  Siapa  yang  mengandung tua? Lantas melahirkan di balai kampung. Lantas ditinggalkan begitu saja. Alangkah kejam!‖

Apakah tidak mungkin anak ini sengaja dibuang, setelah dilahirkan seminggu dua minggu‖, tungkas pak lurah tiba-tiba. Anak ini belum berumur genap satu hari satu

malam!‖ sahut isterinya.

Seorang perempuan tua mendekati. Mengamat- amati sang bayi. Berkata:

Rupanya alangkah jelek. Hidungnya besar. Kepalanya gede. Mulutnya mengandung dendam kesumat. Tapak kakinya rata. Jari-jarinya pada melengket. Orang tuanya tak begitu menaruh perhatian. Lihatlah! Kulitnya masih kotor!‖

Oleh perkataan itu, tiba-tiba isteri Kepala Kampung seperti membela. Sahutnya tajam:

Biar bagaimana pun juga, ia anak orang. Bukan anak babi hutan! Kita tunggu nanti, siapakah ibunya!‖

Kemudian kepada suaminya:

Sudah  engkau  suruh  datang  mereka  yang  lagi mengandung? Aku ingin melihat siapakah ibunya! Akan kumaki-maki dia. Dan ia patut dihukum. Bukankah begitu?‖

Kepala Kampung mendeham. Menyahut :

Sabarlah barang sebentar! Polisi desa telah kuperintahkan menyebarkan pengumuman! Mereka yang mengandung kuperintahkan datang. Mereka yang sakit kuperintahkan memeriksa dan menyelidiki. Tentunya tidaklah cukup sehari dua‖. Tapi anak ini? Kalau nanti terbangun dan minta

tetek, siapakah yang meneteki?‖

Orang-orang mulai memperbincangkan. Kejanggalan bentuk bayi mulai diperhatikan pula, Dan timbullah tafsiran yang bukan-bukan. Terdengar bisik di antara mereka:

Barangkali anak setan. Iblis atau jin! Atau anak gandarwa! Bukankah gandarwa sanggup mempunyai anak tak ubah manusia? Nah, dia takkan menetek!‖

Tapi pendapat demikian tidaklah benar. Si anak mulai merengek. Dan orang-orang undur berdesakan. Isteri Kepala Kampung meraihnya. Hatinya tergerak. Melepaskan kata hati:

Siapakah   di   antaramu   yang   masih   meneteki

anak? Tetekilah anak ini!‖

Tiada seorang pun yang menyahut. Mereka bahkan meninggalkan serambi Kepala Kampung seorang demi seorang. Pekerti demikian menyakitkan hati isteri Kepala Kampung. Mengarah kepada suaminya ia berkata:

Sekaranglah  saat  yang  meresahkan.  Anak  ini mulai mencari tetek ibunya. Apakah yang hendak kau lakukan?‖

Engkaulah mestinya yang harus memberi saran

kepadaku!‖ Kepala Kampung tak mau disalahkan. Engkau yang menjebabkan. Bukankah begitu?‖

Aku yang menjebabkan? Ini aneh! Bukankah aku akan ke sawah? Lantas melihat bayi menggeletak di atas lantai balai kampung. Maka kupungutlah dia. Apakah harus kubiarkan tersiksa oleh angin dan dingin tanah?‖

O, bukan itu maksudku!‖ potong isterinya. Tapi karena engkau mimpi bertemu seekor Gajah muda. Inilah barangkali Gajah muda itu!‖

Seperti kena cubit, Kepala Kampung memutar pandangnya kepada mereka yang masih hadir. Berkata nyaring:

Ya   benar!!   Aku   mimpi   tadi.   Mimpi   melihat seekor Gajah birahi memasuki kampung dan pekarangan rumah‖.

Dan ia mulai berbicara. Suaranya tegar.

Bergemuruh oleh wujud khayalnya yang dahsyat.

Kemudian berdiri tegak mengamat-amati bayi yang mulai melepaskan tangisnya. Memutuskan:

Dengarkan sekarang! Apakah dia anak setan, iblis, jin atau gandarwa, apa peduliku; seumpama anak ini datang untukku. Kutunggu berita dalam satu minggu. Pabila tiada orang tuanya, maka anak ini akan kupungut sebagai anak angkat. Bagaimanakah pendapat kalian?‖ Mereka saling memandang. Mencoba menimbang-nimbang. Tetapi suara bulat tiada pada mereka. Maka Kepala Kampung kembali berdiam diri. Tatkala tangis sianak naik, ia resah. Menoleh kepada isterinya :

Tak dapatkah engkau memberi saran yang lain?

Anak ini ingin menetek.‖

Isterinya menunggu pertimbangan orang-orang kampung. Pabila tiada ketegasannya, ia berkata seperti mengumpat diri.

Biarlah     kuteteki     sendiri.     Semoga     dewata meneteskan susu. Sekiranya tiada menetes air susuku, dewata pasti akan meluluskan hidupnya. Bukankah Wiyasa hidup tanpa menetek air susu ibunya? Dan sekiranya dewata membiarkan dia mati kering, biarlah dia mati sebagai manusia. Terkutuklah ibunya!‖

Anak itu digendongnya cekatan dan dibawanya masuk ke dalam bilik. Orang-orang perempuan mengiringkan masuk. Melepaskan pertimbangan- pertimbangan tertentu. Mereka takjub mendengar keputusan yang berani itu, sehingga redalah dugaan yang bukan-bukan.

Kepala Kampung bangga hati kepadanya. Kepada mereka yang berada di luar ia berkata mengesankan:

Nah — kalian melihat dan mendengar sendiri, bahwasanya dia bukan anak setan atau iblis, jin atau gandarwa. Tetapi dia adalah manusia wajar seperti kalian.

Mereka menundukkan pandang merasa. Dan yang menimbulkan dugaan yang bukan-bukan undur tersipu-sipu.

Pada petang hari belum juga ada tanda-tanda

— bahwa si anak dilahirkan oleh salah seorang penduduk kampung Mada. Maka pada malam harinya orang-orang kampung mulai membicarakan dengan sungguh-sungguh. Sekarang mereka berusaha mencari akal bagaimana dapat mempertahankan jiwa si anak. Tak lama kemudian mereka yang masih meneteki anak, mengirimkan air susunya. Dan yang mempunyai kambing dan sapi perahan berusaha pula membuat jasa. Dengan demikian jiwa si anak dapat dipertahankan.

Anak ini benar-benar rakus! Semuanya diteguknya habis!‖ kata isteri Kepala Kampung. Lihat! Pernahkah kalian menyaksikan anak begini?‖ Kepala Kampung yang mendengar ujar isterinya menyahut di antara gelak orang:

Apa kataku dahulu? Bukankah Gajah itu menghabiskan air sekolam? Nah itulah buktinya‖.

Mereka yang mendengar keterangan Kepala Kampung menaikkan tertawanya. Dengan pandang berseri mereka mengagumi. Dan yang merasa berjasa, ikut berbesar hati.

Belum juga kabar berita orang tua si anak?‖

terdengar salah seorang bertanya.

Kepala Kampung menggelengkan kepala. Kemudian ia melintasi ambang pintu. Di serambi depan ia duduk termenung. Ia melihat seorang pendeta memasuki pekarangan. Langkahnya panjang-panjang. Tatkala tiba di lantai teritisan, ia menyatakan ingin bertemu padanya. Gugup ia menyilahkan duduk di depannya. Pendeta itu bernama Suranggapati. Seorang pendeta yang bermukim tak jauh dari wilayahnya.

Aku mendengar kabar, bahwa engkau memperoleh seorang anak. Benarkah itu?‖ ia mulai.

Bagaimana tuan mengerti?‖ Kepala Kampung

heran.

Kubaca       bunyi       kentung.       Kudengarkan pembicaraan orang. Dan segera aku ke mari hendak ikut menjenguk‖. Ia diantarkan masuk ke bilik tidur. Hati-hati ia merenungi dan meneliti. Kemudian mengucapkan sasanti jaya-jaya. Berkata memanggut-manggut:

Anak ini seorang laki-laki. Maksudku laki-laki sebenarnya. Jari kakinya melengket. Suatu tanda kecekatan yang luar biasa. Aku yakin, dia adalah untukmu. Peliharalah! Asuhlah dengan baik-baik! Kelak engkau akan mengerti siapakah dia sebenarnya, apabila usianya telah melampaui dewasa. Aku yakin! Aku yakin!‖

Anakkulah dia?‖ Kepala Kampung berbimbang- bimbang.

Pendeta itu mengangguk. Pandangnya meyakinkan. Dan kesan itu, menggirangkan hati. Kemudian ia menceritakan mimpinya. Bertanya minta penerangan:

Dialah Gajah itu?‖

Pendeta itu mengangguk. Tetapi ia tak bersedia memberi penerangan. Dengan berdiam diri ia kembali ke serambi depan. Bermenung-menung seakan-akan ada yang dipikirkan. Orang-orang kampung datang merubungnya. Mengharapkan tutur katanya.

Sekiranya, anak itu adalah untukmu — akan kau

beri nama apa dia?‖ ia tiba-tiba bertanya. Kepala Kampung terkejut. Hal itu belum pernah dipikirkan, karena ia masih mengharap kabar berita tentang orang tua si anak. Sekarang pendeta itu meyakinkan hatinya, bahwa si anak adalah untuknya. Kesannya meyakinkan hati benar. Tiba-tiba isterinya muncul di ambang pintu. Dengan berjalan menunduk-nunduk ia mencoba menjawab:

Apakah nama yang akan kami berikan harus sebaik-baiknya? Jika demikian, kami akan mengundang ahli sastera. Barangkali dia sanggup menciptakah suatu nama‖.

Pendeta itu menggelengkan kepala Menggurui:

Nama adalah suatu angan. Nama si anak adalah angan orang tua. Karena dia tak berorang-tua dan kini kalian berdua yang menjadi orangtuanya, maka kalian berdua berhak meletakkan seluruh angan kalian kepadanya. Oleh doa, maka angan kalian akan terwujud di kemudian hari. Dialah kelak yang akan mewujudkan angan kalian‖.

Isteri Kepala Kampung melemparkan pandang kepada suaminya. Dan Kepala Kampung berdiam diri seolah habis dihempaskan. Alangkah berdebar hatinya. Belum pernah ia mengalami kesan demikian. Kesan mengharukan yang menyesakkan leher.

Pilihlah nama sebagus-bagusnya!‖ isterinya mendesak. Dan orang-orang kampung ikut pula menguatkan. Oleh desakan-desakan itu, ia bahkan merasa terdorong ke pojok. Pandangnya gugup. Kepalanya kosong.

Nama apakah yang harus kuberikan?‖ Ia berkomat-kamit.

Orang-orang kampung tertawa gelak. Salah seorang berseru nyaring:

Kalau bisa pak, nama kampung kita diabadikan!

Bukankah kampung kita ikut berjasa pula?‖

Kepala Kampung diam mempertimbangkan. Ya

— pantas juga. Mada! Mada! Tetapi apa sebab kedengarannya kurang lengkap? Agaknya harus dilengkapi dengan nama depan atau akhir.

Apa pikirmu, kalau dia kita beri nama Tapak Mada?‖ tiba-tiba isterinya berkata. Lihatlah tapak kakinya! Jari-jarinya melengket. Itulah cirinya.‖

Tidak!‖  ia  menjawab  pasti.  Bunyi  nama  harus sebagus-bagusnya! Tidak boleh menyentuh ciri dan cacat jasmaniah. Harus perkasa! Harus kuat!‖ ia berhenti mengesankan. Tatkala itu ada sesuatu ingatan menusuk benaknya.

Ia menegakkan badannya. Matanya menyala.

Bibirnya bergemetaran. Meletus:

Ini! Ya ini! Inilah yang sebaik-baiknya. Bukankah aku mimpi bertemu dengan seekor Gajah? Gajah itu perkasa dan kuat. Cerdik, lembut-hati dan banyak pertimbangan. Gajah! Kunamakan anakku ini Gajah

Mada‖.

Orang-orang berdiam diri. Dan ia terdiam pula, mengagum ciptaannya. Dalam pada itu, isterinya mengulangi nama itu pelahan-lahan:

Gajah  Mada!  Gajah  Mada!  Sebuah  nama  yang dahsyat!‖

Mahadahsyat!‖ ia menguatkan.

Ya — Mahadahsyat!‖

Orang-orang kampung ikut pula menghafal. Mereka mempertimbangkan dan bersepakat tentang kesan nama itu. Tatkala mereka mengarahkan perhatiannya kepada pendeta yang duduk berhadapan dengan Kepala Kampung, alangkah lega hati. Karena pendeta itupun memanggut-manggut menyetujui. Katanya kemudian:

Kudengar sekarang, bahwa si anak telah mempunyai nama. Gajah Mada! Itulah sebuah nama setepat-tepatnya! Aku ikut berbahagia! Perkenankan pula, aku menyerukan sasanti jaya-jaya; berbahagialah!‖

Tetapi apakah arti Gajah Mada sebenarnya? Pastilah tuan dapat menerangkan!‖ potong Kepala Kampung. Tentu saja nama itu adalah suatu angan! Gajah Mada! Menurut anganmu, dia adalah seekor Gajah dari kampung Mada. Harapanmu sudah cukup terang. Timbullah doamu: semoga anak itu kelak menjadi manusia perkasa. Seperkasa Gajah muda menurut mimpimu. Bagiku, Gajah Mada mempunyai arti dan kesan yang lain. Dia adalah angan hidup. Wadah hidup. Wadah suatu kekuasaan mahabesar! Wadah suatu kewibawaan tiada tara‖, jawab pendeta Suranggapati.

Wadah suatu kekuasaan mahabesar? Wadah suatu kewibawaan tiada tara?‖ Kepala Kampung mengulang takjub. Ia manatap isterinya mencari keyakinan. Apabila isterinya kagum pula mendengar keterangan pendeta Suranggapati, ia jadi terbungkam.

Bersyukurlah! Berbahagialah!‖ seru pendeta

Suranggapati.

Ya — kami berbahagia!‖ bisiknya. Tetapi kami masih harus menunggu barang seminggu dua minggu. Pabila orang tuanya diketemukan maka merekalah yang berhak menerima ucapan bahagia. Bukankah begitu?‖

Yang mendengar ujarnya memindahkan pandang.

TETAPI: Seminggu telah lampau. Tanda-tanda diketemukan orang tua si anak tiada. Maka pada minggu kedua, Kepala Kampung memanggil orang- orang tua. Juga pendeta Suranggapati diundangnya. Ia mengumum-kan kini, bahwa orang tua si anak belum diketemukan. Kabar beritanya tiada pula. Maka dia minta pertimbangan apakah yang hendak dilakukan.

Menurut keputusan para pangreh desa dan orang-orang tua di kampung, maka si anak adalah haknya. Selain dia menginginkan anak itu, dia pulalah yang menemukan. Pendeta Suranggapati menyetujui keputusan demikian.

Ia girang bukan main. Ia mengucapkan terima kasih. Tetapi ia minta kepada mereka yang hadir, agar merahasiakan keputusan ini.

Gajah   Mada   harus   menganggap   dan   yakin, bahwa dia adalah anak kandung kami. Dengan demikian, dia takkan tersiksa hatinya‖.

Mereka yang hadir berjanji dengan sungguh- sungguh. Maka selesailah sudah babak pertama. Kini memasuki babak kedua. Upacara mengambil anak itu, diadakan beramai-ramai.

Kampung Mada dihias dengan sebagus- bagusnya. Kepala Kampung menyelenggarakan pesta raya. Hampir seluruh harta kekayaannya ditaburkan. Inilah hajatku! Hampir saja aku berputus asa, karena sampai kini aku tak mempunyai anak. Tapi dewata adalah Mahamurah. Akhirnya aku memperoleh seorang anak yang merasuk dalam hatiku. Dia tak ubah anak kandungku sendiri!‖ kata Kepala Kampung.

Seminggu kemudian ia menanggap wayang beber. Ceritanya Sri Wisnu menjelma ke dunia untuk menciptakan kebahagiaan, kewibawaan dan ketenteraman. Tontonan itu dikunjungi orang dari berbagai wilayah. Mereka datang berjejalan. Tidak memperdulikan luas halaman yang tiada kuasa menampungnya.

*** IX

DENDAM TAK BERUJUNG

Kerajaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1292-1293 mulai menemukan bentuk dan coraknya. Raden Wijaya adalah raja pertama bergelar Kertarajasa Jayawardana. Dia adalah seorang raja yang halus-budi. Pandai bergaul dengan rakyatnya. Terhadap para panglima dan para pemimpin negara, ia bersikap menghormati. Terlebih-lebih pada Adipati Madura bernama Wirareja yang dilantik sebagai penasihatnya, dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri. Maklumlah; ia sadar bahwa letak kekuatannya ialah pada cara dia bergaul, pernyataan nilai penghargaannya dan mematuhi.

Tatkala dia terusir dari kerajaan Singasari oleh raja Jajakatwang, ia menyerahkan diri kepada Adipati Wirareja dengan duabelas pengawalnya. Oleh nasihatnya, ia menyerahkan diri pula kepada raja Jajakatwang untuk mengambil hati. Karena ia mempunyai pribadi yang menarik, sebentar saja ia berhasil merebut hati lawannya. Maka dia minta sepetak daerah di desa Terik. Daerah itu tidaklah subur, itulah siasat raja Jajakatwang, agar Wijaya tak dapat berbuat sesuatu kecuali mengabdikan diri kepadanya. Tetapi Wijaja seorang yang cerdik. Ia memilih daerah tersebut agar dapat bergaul rapat dengan Adipati Madura, karena letaknya dekat pantai.

Persiapan pemberontakan segera diadakan. Ia dibantu oleh para panglima yang perkasa. Adipati Ranggalawe dari Tuban. Sora dan Nambi, anak Adipati Wirareja. Adipati Wirareja tak dapat membantu dengan terang-terangan. Tetapi ia menyerahkan anaknya — Nambi — sebagai jaminan, bahwa dia berada di belakangnya.

Tiba-tiba datanglah tentara Tionghoa menyerbukan diri. Tentara Tionghoa itu adalah tentara Kubhilai Khan di bawah pimpinan Jendral Che-Pi, Ji-k'o-mi-su untuk menuntut balas kepada almarhum raja Kertanegara atas penghinaannya terhadap utusannya bernama Meng-K'i. Maklumlah; Meng-K'i dilukai mukanya demikian sengsara.

Oleh nasihat Adipati Wirareja, Wijaya segera menyambut kedatangan tentara Tionghoa. Ia menerangkan, bahwa dia dan kawan-kawannya sedang mengadakan pemberontakan terhadap raja Kertanegara yang kejam. Ia berjanji akan ikut membalaskan dendam. Dan oleh keterangan itu, kedua jendral tentara Tionghoa itu kena tangkap. Mereka diperalat untuk dibuatnya menggulingkan kerajaan raja Jayakatwang. Mereka adalah pasukan pilihan dari negeri Tiongkok. Pandai menggunakan senjata tajam dan senjata lontar. Pandai berkelahi berkelompok dan perseorangan, karena memiliki kepandaian bermain silat. Rata-rata kaki mereka dibebani alat besi seberat setengah pikul.

Menurut keterangan, apabila dilepas mereka dapat meloncat beterbangan menyerbu lawan.

Demikianlah dengan nasihat-nasihat dari jauh, kerajaan Singasari dapat digulingkan oleh Wijaya dan kawan-kawannya. Kini mereka memasuki babak baru. Oleh nasihat Adipati Wirareja pula, ia merencanakan tipu-muslihatnya yang kedua. Dengan berpura-pura bersyukur, ia dan para panglimanya membuat pesta besar untuk menyambut kemenangan gilang- gemilang. Kemudian dia berkata:

Esok pagi, kalian boleh menjemput puteri-puteri tawanan dan harta benda kerajaan. Itulah hak kalian. Angkutilah semua! Tentang harta-benda, tidaklah usah kalian pedulikan. yang utama ialah cara tuan membawa puteri-puteri kerajaan. Mereka adalah wanita-wanita rupawan. Rajamu pasti akan memujimu setinggi langit! Sayang — mereka begitu lembut-hati. Tiada tahan melihat tajam senjata. Maklumlah, mereka adalah puteri pingitan. Karena itu, agar kalian berhasil membawa tawanan yang tak ternilai harganya itu, sambutlah mereka dengan tanpa senjata. Seluruh pasukan harus berdiri jajar. Mereka akan senang. Karena mereka gila hormat pula. Dan kamilah nanti yang akan membujuk dan mengaturnya‖.

Jendral Che-Pi dan Ji-k'o-mi-su kena muslihat. Keesokan harinya, mereka membariskan seluruh pasukan di depan gedung kerajaan, tanpa bersenjata. Kemudian mereka menuju serambi depan istana dengan tertawa girang. Maklumlah; mereka melihat Wijaya dan kawan-kawannya berdiri hormat di samping puteri-puteri cantik.

Tetapi pada saat itu juga, panglima Ranggalawe, Sora dan Nambi menghunus senjata dan menikam mereka berdua sampai mati. Juga pasukan Majapahit tiba-tiba menyerbu seluruh pasukan Tionghoa yang tak bersenjata. Mereka hancur berderai. Tewas berserakan. Sisa-sisanya melarikan dri. Memasuki hutan belantara atau menyeberangi laut untuk mencapai kapal induknya.

Habislah sudah pancaroba itu. Kerajaan Majapahit segera berdiri dengan teguhnya. Pelabuhan dibangun dengan angkatan lautnya, Pelabuhannya bernama Canggu. Ranggalawe dilantik menjadi Adipati Tuban. Sora menjabat patih Daha. Dan Nambi, anak Adipati Wirareja diangkat menjadi Mahapatih kerajaan. Dia adalah seorang ahli pikir tak beda dengan ayahnya. Dan sudah selayaknya dia menjabat jabatan setinggi itu. Tetapi hal itu

menimbulkan   perasaan   tak   adil bagi panglima Ranggalawe.

Wijaya tahu perasaan Ranggalawe. Pada suatu hari ia dipanggilnya menghadap, dan dijanjikan akan dilantik sebagai mahapatih juga apabila keadaan tata negara mengizinkan.

Aku tahu, Ranggalawe; bahwa engkau seorang panglima mahadahsyat. Engkau setia, berani, tangkas, cerdik dan tegas. Dalam masa kesulitan yang menentukan, engkaulah yang selalu bertindak lebih dahulu untuk memecahkan persoalan. Engkaulah yang selalu kujadikan pedoman. Keputusanmu kujadikan arah kiblat pertimbangan. Tetapi keadaan negara belum mengizinkan untuk melantik dua orang mahapatih. Mahapatih luar dan dalam. Maklumlah, daerah kerajaan kita belum seluas cita-cita kita. Pembangunan lagi dimulai. Maukah engkau mengorbankan cita-citamu barang sebentar? Aku yakin — pastilah akan datang saatnya engkau naik ke jenjang martabat itu. Aku yakin! Akan kupesankan hal itu pada raja-raja mendatang‖.

Ranggalawe puas akan janji itu dan kembali dengan girang hati ke Tuban. Tetapi janji-janji demikian tidaklah hanya dinyatakan kepada Ranggalawe semata. Demi menjaga keutuhan kerajaan yang lagi berdiri, Wijaya banyak membuat janji untuk melenyapkan rasa tak puas. Maklumlah, dia tahu benar, bahwa tiap orang merasa diri berjasa dalam perjuangan. Maka ia berjanji pula terhadap Sora, Tipar, Kebo Anabrang dan lain-lainnya. Hal ini kelak akan mempersulit kedudukan raja mendatang.

Kemudian muncullah seorang terkenal, yang kelak akan dikenal sejarah oleh kelicinan dan kecerdikannya. Orang itu bernama Sang Mahapati — anak Panji Patipati. Dalam perang Singasari, Wijaya terjepit di Kulawan, Kembang Sari, Kepulungan dan Kudada. Tatkala ia benar-benar hampir berputus asa, ia ditolong oleh Panji Patipati dan dilindungi dengan duabelas orang temannya. Karena jasa itu— Ranggalawe pulang ke Tuban. Dan Sora menang dalam perdebatan itu. Tetapi hal itu, justru adalah alat pemukul yang ampuh bagi Mahapati. Di kemudian hari, Sora dituduhnya berontak pula. Mengadakan persekongkolan tertentu dengan Ranggalawe.

Dalam sidang kerajaan, ia tetap menuduh bahwa Ranggalawe hendak berontak. Pulangnya ke Tuban semata-mata karena mendengar janji-janji sahabat- nya dan hendak memperlengkapi perajuritnya, katanya. Alasannya hendak berpesta-pora! Karena itu Ranggalawe harus dilenyapkan dahulu sebelum menjadi kuat. Dan raja mendengarkan nasihatnya.

Demikianlah—maka atas perintah raja— Ranggalawe dikerubut oleh pasukan-pasukan rekan- rekannya dahulu. Nambi, Tipar, Sora dan Kebo Anabrang bekas panglima almarhum raja Kertanegara yang hendak merebut hati raja Jayanegara. Sora, sebenarnya menolak tugas itu, tetapi sebagai seorang hamba negeri ia terpaksa harus ikut serta melakukan perintah dan kewajiban.

Tentara Majapahit menyusur pantai utara menuju Tuban. Tentara penjaga tapal batas daerah kekuasaan Tuban melawan dengan sengitnya. Ranggalawe terkejut mendengar peristiwa itu. Segera ia membawa tentaranya untuk mencari buktinya. Apabila dia diserang, maka meletuslah pertempuran dahsyat, di sepanjang kali Tambak Osi dan Tambak Beras. Kebo Anabrang yang berangan-angan menjadi panglima besar tentara kerajaan oleh janji Mahapati, menyerangnya dengan seluruh bulu-bulu apabila Wijaya naik tahta — anaknya diangkat menjadi Kepala pendeta Syiwa. Tetapi sama sekali ia tak menduga, bahwa Sang Mahapati kelak akan menjadi iblis kerajaan yang susah dilawan. Hal ini terjadi dan dimulai, apabila ia wafat pada tahun 1309.

Mula-mula telah timbul suatu perebutan dalam upacara pemakaman. Jenasahnya dibawa ke Antapura oleh kaum Buddha. Tetapi segera Sang Mahapati merebutnya. Dan dibawa ke Simping sebelah selatan Blitar untuk disempurnakan dengan upacara Syiwa. Hal itu mencetuskan dendam tiada habis-habisnya. Pertempuran di jalan mulai terjadi antara Kaum Buddha dan Syiwa. Tentu saja, pertempuran ini terjadi oleh penasaran yang muda- muda. Kaum Syiwa hampir terdesak. Sang Mahapati segera mencari perlindungan di bawah naungan kerajaan. Maka tertolonglah kehormatannya. Dalam hati ia hendak menumpas habis kalangan kaum Buddha. Dan hal itu terjadi dan dilaksanakan di kemudian hari.

Kala itu yang menjadi raja bernama Jayanegara. Didampingi oleh kakaknya Raden Kahuripan dan adiknya puteri Daha. Sang Mahapati cepat-cepat mendekati raja Jayanegara untuk mengambil hati. Ia tahu, bahwa pusat kerajaan tetap dikendalikan oleh raja Majapahit. Oleh pintarnya mengambil hati, ia diangkat menjadi penasihat raja. Raja dikepungnya dengan puteri-puteri cantik. Dibujuknya pula agar mengawini kakak dan adiknya. Dengan demikian, seluruh daerah kerajaannya akan menjadi miliknya belaka. Dan raja yang lemah hati, kena pengaruhnya.

Ia melihat, bahwa saka guru kerajaan ialah Ranggalawe, Nambi dan Sora. Ia berkeinginan hendak melenyapkan mereka seorang demi seorang, agar perhatian dan kepatuhan raja akan berada padanya. Jika ketiga orang itu hilang dari percaturan kerajaan, pastilah dia menjadi seorang tokoh utama. Pasti pula dia akan dilantik menjadi Mangkubumi penuh merangkap penasihat dan Panglima besar. Jika hal itu terjadi, maka mudahlah kerajaan digulingkan. Bukankah dia yang sebenarnya menggenggam kekuasaan, sedangkan raja telah diketahui

kelemahannya? Dengan dibujuknya untuk main perkosa dengan isteri-isteri pembesar, maka tindakan untuk menggulingkan kekuasaannya akan dibenarkan oleh para pembesar dan segenap masyarakat.

Ranggalawe merupakan duri terkuat dan yang berbahaja baginya. Orang itu adalah seorang adipati yang terkenal cakap, tegas, gesit, cekatan dan setia kepada almarhum Raja Wijaya. Tahulah dia, bahwa ia dijanjikan oleh almarhum raja akan dilantik menjadi Mangkubumi apabila ketatanegaraan telah memungkinkan. Hal itu dijadikan sumbu penghancurannya.

Ia mulai mengobarkan permusuhan antara Ranggalawe dan Nambi. Fitnah-fitnah dibuatnya dengan rapi, sehingga akhirnya kedua sahabat itu jadi bermusuhan benar-benar. Pada suatu hari Ranggalawe menantang perang kepada Nambi, tatkala sidang agung, lagi berlangsung. Ia menunggu di luar batas ibukota, karena maksudnya bukan bermusuhan dengan kerajaan atau melawan raja. Tetapi Nambi dinasihati oleh Mahapati agar mencari perlindungan kepada raja. Bukankah dahulu demikianlah pengalamannya, tatkala ia lagi bermusuhan dengan kaum Buddha. Nambi mendengarkan nasihatnya. Dalam pada itu Mahapati berkata kepada raja, bahwa Ranggalawe hendak memusuhi kerajaan. Sora—sahabat Ranggalawe—mempertahankan tuduhan itu. Katanya garang:

Pertengkaran       itu       adalah       permusuhan perseorangan! Pisahkan permusuhan itu antara kepentingan-kepentingan kerajaan‖.

Nah —   itulah   soalnya,‖   bantah   Mahapati.

Mereka berdua adalah pembesar-pembesar negara. Permusuhannya akan membawa akibat. Lihatlah! Nambi adalah Mangkubumi kerajaan. Dialah yang memegang kunci kerajaan. Ranggalawe berani melawannya. Karena itu pula, pastilah dia berani melawan kekuasaan raja. Itu pasti‖.

Aku menolak tuduhan itu! Kita belum memperoleh bukti!‖ teriak Sora.

Beranikah tuan membuktikan, bahwa Ranggalawe tidak melawan kerajaan?‖

Aku akan membuktikan‖.

Dengarkan! Ranggalawe telah siap dengan seluruh tentaranya di luar perbatasan. Kita terkurung dalam ibukota. Raja terjepit, karena raja tidak mempunyai rencana hendak melawannya. Sebaliknya, karena Ranggalawe merencanakan hendak melawannya. Sebaliknya, karena Ranggalawe merencanakan permusuhan itu. pastilah dia telah mempersiapkan diri terlebih dahulu.‖ Itu kubantah dan kusangkal lagi‖, potong Sora.

Aku kenal dia. Lebih kenal dari dia! Dia seorang yang jujur dan berani. Dia tak pernah membawa-bawa orang lain dalam memecahkan persoalannya sendiri.‖

Kami ingin minta buktinya!‖ teriak Mahapati

pula. Dan raja menyetujui pendapatnya.

Sora segera diutus untuk menyabarkan Ranggalawe. Maka berangkatlah dia pada petang hari, kala matahari sedang tenggelam di barat. Dia menolak disertai seorang perajurit pun. Karena ia yakin,  bahwa  Ranggalawe  tidak  berniat  berontak melawan kerajaan.

Kala itu Ranggalawe mondar-mandir di perbatasan. Kudanya diikat pada batang pohon. Mukanya menyala. Gundu matanya meriuh. Bergolak menyeberangi penglihatan. Tiba-tiba ia melihat Sora datang. Heran dan kecewalah dia. Segera ia menegur:

Sahabatku! Mengapa engkau yang datang? Mengapa bukan Nambi si penjilat raja? Alangkah licik dan pengecutnya. Aku kira dia laki-laki sejati. Aku ingin minta buktinya, bahwa dia sanggup berjuang dan mengorbankan segala demi pemeliharaan keutuhan raja. Nah, terbuktilah sekarang — dia adalah perempuan! Perjuangan untuk menegakkan kerajaan, hanyalah berpura-pura belaka! Tidak bergenderang bersama darah dan hatinya. Bukankah begitu?‖ Ya—kata-katamu      memang      benar.‖      Sora mengamini.      Tetapi      masalah      ketatanegaraan bukanlah diputuskan dengan pergumulan perseorangan. Andaikata salah seorang meninggal, siapakah yang rugi? Kedua-duanya merupakan tiang agung kerajaan sebenarnya. Engkau dan Nambi! Harus bahu-membahu seperti dahulu. Terbukti, bahwa almarhum raja dapat merebut dan membangun kerajaan baru oleh persatuanmu. Oleh kesadaran dan keinsyafan itu, Nambi tidak mau melayani dan berniat bermusuhan dengan engkau‖.

Kemudian ia membujuk dan membujuk. Akhirnya Ranggalawe sadar akan dirinya. Berkatalah dia minta maaf:

Baiklah, katakan kepada Nambi — perkenankan aku minta maaf kepadanya. Pastilah dia tahu, bahwa aku berhati panas. Cepat menyala oleh hal-hal yang kurang pertimbangan. Engkau mengerti juga, bukan?‖

Sora mengangguk.

Aku akan pulang, sahabat. Sampaikan undangan kepadanya, bahwa aku akan menyelenggarakan pesta persahabatan untuk melenyapkan api permusuhan ini. Pasti dia mau datang, bukan?‖

Ya. Aku menjamin.‖ sahut Sora meyakinkan. Karena engkau yang berkata demikian, maka aku percaya kepadamu. Selamat tinggal, sahabat. O, ya, sampaikan pula sembah-baktiku kepada raja. Alangkah bodohku! Alangkah khilafku. Meninggalkan sidang demikian saja oleh derun hati yang menyala- nyala‖.

Ranggalawe pulang ke Tuban. Dan Sora menang dalam perdebatan itu. Tetapi hal itu justru adalah alat pemukul yang ampuh bagi Mahapati. Di kemudian hari, Sora dituduhnya berontak pula. Mengadakan persekongkolan tertentu dengan Ranggalawe.

Dalam sidang kerajaan, ia tetap menuduh bahwa Ranggalawe hendak berontak. Pulangnya ke Tuban semata-mata karena mendengar janji-janji sahabat- nya dan hendak memperlengkapi prajuritnya, katanya. Alasannya hendak berpesta-pora! Karena itu Ranggalawe harus dilenyapkan dahulu sebelum menjadi kuat. Dan Raja mendengarkan nasihatnya.

Demikianlah—maka atas perintah raja— Ranggalawe dikerubut oleh pasukan rekan-rekannya dahulu. Nambi, Tipar Sora dan Kebo Anabrang, bekas panglima almarhum Raja Kertanegara, yang hendak merebut hati Raja Jayanegara. Sora sebenarnya menolak tugas itu, tetapi sebagai seorang hamba negeri ia terpaksa harus ikut serta melakukan perintah dan kewajiban.

Tentara Majapahit menyusur pantai utara menuju Tuban. Tentara penjaga tapal batas daerah kekuasaan Tuban melawan dengan sengitnya. Ranggalawe terkejut mendengar peristiwa itu. Segera ia membawa tertaranya untuk mencari buktinya. Apabila dia diserang, maka meletuslah pertempuran dahsyat di sepanjang kali Tambak Osi dan Tambak Beras. Kebo Anabrang yang berangan-angan menjadi panglima besar tentara kerajaan oleh janji Mahapati, menyerangnya dengan seluruh bulu-bulunya. Ranggalawe kena ditewaskan. Sora — sahabat Ranggalawe — meloncat menghampiri dan menikam Kebo Anabrang sekali tewas. Dan ia mengumumkan, bahwa mereka berdua mati sampyuh.

Tatkala tentara Majapahit memasuki kadipaten, terbuktilah kebenaran pendapat Sora, bahwa Ranggalawe tidak berniat memusuhi kerajaan. Persiapan perang tidak pernah diadakan. Ranggalawe hanya bersikap mempertahankan diri. Seluruh keluarganya membunuh diri. Dan peristiwa demikian berkesan benar dalam hati rakyat jelata.

Tetapi Mahapati justru nemutar-balikkan kenyataan. Ia menuduh, bahwa permainan ini dikendalikan oleh Sora. Katanya menuduh:

Semua orang kenal watak Ranggalawe. Jika mempunyai niat, takkan mungkin diluluskan. Apa sebab Sora berhasil memadamkan api kemarahannya? Tatkala Kebo Anabrang menewaskan Ranggalawe, Sora membunuh Kebo Anabrang. Apa

sebab terjadi demikian? Jangan tuan kira, bahwa kami tidak mengetahui peristiwa demikian, sekalipun diumumkan bahwa mereka berdua mati berbareng. Coba, jawablah kami!‖

Sora tak sampai hati berdebat di hadapan raja. Sekalipun ia gemetaran tatkala mendengar tuduhan itu, mulutnya mengunci. Ia bukan Ranggalawe yang berani menentang segalanya, apabila hatinya tak berkenan. Ia bahkan minta izin mengundurkan diri dari persidangan. Dan nal itu kian menyalahkan tuduhan Mahapati.

Pada tahun 1311, ia ditetapkan hendak memberontak. Kini, Mahapati minta bukti kesetiaan Nambi. Ia dikirimkan untuk menindas pemberontakan Sora. Dan ia melaksanakan hal itu. Sora ditewaskannya. Gugur tak melawan dalam tangannya. Kemudian ia pulang ke kampung halaman, oleh kesan-kesan yang menyayat hati.

Ah sahabatku! Mengapa akhirnya berantakan demikian? Dahulu kalian dan aku merupakan tiga serangkai pengawal raja. Tetapi apa sebab kini jadi begini?‖

Ia mulai benci kepada dirinya sendiri. Ia merasa, dirinya yang menyebabkan oleh kehendak akan mempertahankan martabat jabatan dan pangkat kerajaan belaka. Karena itu, ia berniat hendak mengasingkan diri untuk sementara waktu. Tapi Mahapati segera menuduh, bahwa Nambi akan berontak juga. Maka raja mengirimkan tentara untuk menghancurkan. Nambi gugur berantakan di medan laga. Malumlah; dia tak berniat mengadakan pemberontakan. Tiada ia mempersiapkan pasukan- nya. Tiada pula ia melawan serangan dengan sungguh-sungguh. Ia mengharap akan mempertahankan diri di depan sidang raja. Tetapi Mahapati tidak membiarkan terjadi demikian.

Oleh peristiwa demikian yang terjadi berturut- turut, mempunyai akibat juga. Rakyat jadi gelisah dan bingung. Pendukung-pendukung ketiga panglima yang setia pada kerajaan — dan yang luput dari pembasmian — mengadakan kerusuhan-kerusuhan. Mereka menolak kesetiaan atau warah kesetiaan kepada raja. Mereka mengadakan pencegatan dan penyamunan terhadap hamba-hamba kerajaan.

Mulailah para sAryana menebarkan warah-warah dan wejangan-wejangan tentang kesetiaan, kepercayaan dan cinta pada negara. Dan pada tahun- tahun itulah Gajah Mada dibesarkan.

Ia digembleng menjadi seorang petani yang pandai. Menjadi ahli berkelahi demi menjaga keselamatan diri semata. Menjadi seorang yang menaruh perhatian kepada ketatanegaraan dan wejangan-wejangan kesetiaan dari segi-segi agama dan filsafat. Semenyak berumur 7 tahun, ia dititipkan kepada pendeta Suranggapati dahulu. Menurut cerita orang, dialah itu Dewa Brahma yang mengubah diri menjadi seorang pendeta. Mengajar dan mendidik Gajah Mada mengatasi semua kemampuan manusia lumrah.

Gajah Mada dikabarkan seorang yang sakti, kebal, tangkas, cerdas, cerdik dan pandai berkelahi. Dikabarkan pula, bahwa dia menguasai ilmu silat oleh asuhan seorang panglima Tionghoa yang dapat menyingkirkan diri dari perburuan. Panglima Tionghoa itu, dahulu adalah panglima tentara Jendral Che-Pi. Karena itu—selain ia pandai bersilat—pandai pula melihat pertempuran lapangan dengan perbandingan-perbandingan siasat pertempuran antara ketiga panglima perang kerajaan. Ranggalawe, Sora dan Nambi.

Kira-kira sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kampung halaman sebagai seorang pemuda yang tak terlawan. Ia membentuk pasukan penjaga kampung seperti yang dianjurkan oleh pemerintah kerajaan. Ia melatihnya berkelahi perseorangan. Melatihnya pula bertempur bersama dengan pengetahuan hasil pengajaran guru-gurunya. Ia mengubah nama-nama kawan-kawan sekampung dengan gelar binatang seperti gelar tentara kerajaan. Seperti nama: Kebo Anabrang, Kebo Pawagal. Kebo Ampal, Sapi Gumarang, Gagak Sarkara, Kelabang Kuring, Kidang Galatik, Sawung Galing, Sawung Indra, Ula Demung, Jaran Wahan dan banyak lagi.

Pasukannya sering bergerak melampaui batas dusunnya. Menyeberangi hutan untuk ikut serta membersihkan penyamun-penyamun. Pertempuran- pertempuran sering dialaminya. Dan ia selalu menang. Dan samenjak itu, ia disegani orang. Hal itu mendorong khayalnya yang bukan-bukan.

Ia sering membayangkan diri sebagai seorang panglima yang tak terlawan. Jika ia mendengar sejarah Raden Wijaya, dia seolah-olah membayangkan diri sebagai pahlawan Ranggalawe. Jika mendengar pertempuran antara Jendral Che-Pi melawan Jajakatwang, dialah itu Jendral Che-Pi. Suatu khayal lumrah bagi angan kanak-kanak. Dan sama sekali orang tak pernah menduga, bahwa khayal itu akan terbukti dikemudian hari. 
X

PANGGILAN HATI

Di sebuah hutan termasuk wilayah daerah kekuasaan Daha — adalah sekumpulan penyamun yang tak terkalahkan. Kepala penyamun bernama Galing dan Bandar. Dua saudara kembar anak buah pemberontak Yuyu Pangsaya, Banyak dan Semi yang meletus berturut-turut dalam masa pemerintahan Jayanegara. Sudah seringkali pasukan kerajaan mencoba memasuki hutan itu. Tetapi setiap kali, mereka hancur berantakan.

Galing mempunyai sebilah keris bernama Berawa. Dan Bandar mempunyai sepucuk tombak bernama Kyai Sampani. Kedua senjata itu dahulu berasal dari kerajaan. Sakti dan keramat. Barangsiapa tersentuh oleh kedua senjata itu, lumpuh tiada daya. Biasanya dihabiskan jiwanya seketika itu juga.

Pada suatu hari Gajah Mada bermaksud hendak meninjau gurunya. Menyeberangi sungai dan belantara. Dan akhirnya sampai pada hutan tersebut. Waktu itu, matahari hampir tenggelam. Burung mulai kembali ke sarangnya. Dan rasa lapar mulai menggerumiti perut. Ia duduk berjuntai di tepi jurang, menghadap gunung Arjuna. Pikirannya melambung memburu mega hitam yang datang berarak-arak. Tiba-tiba ia mendengar gemerisik orang. Cepat ia menyelinapkan diri. Karena percakapan yang didengarnya mencurigakan hatinya.

Galing: Kau dengar kabar?‖ seru seorang. Itulah Bandar yang datang memburu dan berjalan berbareng dekat-mendekati. Oleh seruan itu, Galing menoleh. Menjawab:

Tentang?‖

Tanca sebentar lagi pulang dari Daha! Ia dikawal dengan sepasukan tentara berkuda. Suatu hal yang menggembirakan. Bukankah kita mencegat pasukan itu? Kita rampas kuda dan senjatanya.‖

Hati-hatilah! Tanca adalah tabib kerajaan Majapahit! Raja akan mengirimkan seluruh pasukannya ke mari, jika mengetahui bahwa kita yang menyamunnya.‖

Kau kira aku tak mempunyai perhitungan demikian?‖ potong Bandar cepat. Ia mengajak duduk di dekat belukar. Meneruskan:

Jangan  kita  membawa  seorang  pun  lagi.  Kita berdua sanggup merampungkan semuanya. Kau bawa senjatamu?‖

Tentu! Mengapa tidak?‖ Bagus! Dan kita berangkat!‖ Bandar bergirang hati.  Nanti  malam,  kita  ikuti  mereka.  Lantas  kita cegat. Lantas dia ! Isterinya cantik bukan main!‖

Galing tertawa melalui hidungnya. Ia menggeliat.

Berdiri tegak dan berkata minta keputusan.

Yakinkan engkau, mereka akan lewat ke mari?‖

Menurut laporan!‖

Bagus! Lantas — sekiranya isteri Tanca telah dapat engkau rampas, apakah yang akan kau lakukan?‖

Ini pertanyaan lucu! Bukankah seperti biasanya? Engkau dan aku. Adil rasanya, pabila kita berdua bekerja sama‖.

Galing tertawa mendongakkan mulutnya ke udara. Kemudian mengajak berjalan. Mengarah ke utara, menyeberang semak belukar. Agaknya mereka memotong jalan. Dan Gajah Mada membuntuti mereka dari jarak agak jauh.

Dalam pada itu, malam mulai berbicara mengganti kisah alam yang mulai capai. Galing dan Bandar mulai nampak pula sebagai bayangan. Mereka berjalan cepat. Gesit dan cekatan. Tiba-tiba mereka berhenti tegak. Saling memandang dan menuding.

Merekalah itu?‖ Gajah Mada melemparkan pandang di bawah jauh sana. Ia mendengar derap kuda memasuki lembah ngarai. Bukit-bukit gunung menjepitnya, sehingga pantulan suaranya terdengar berdengung- dengung.

Galing dan Bandar meloncat di ketinggian. Ia menunggu mangsanya sampai berada di tengah lorong dinding bukit. Kemudian dengan isyarat yang telah dipahami benar, mereka berdua meng- gelindingkan dua bongkah batu sehingga menyekat perjalanan seberang-menyeberang. Seperti burung sikatan, mereka meloncat. Dan menyerang pasukan berkuda yang terjepit dengan tangkasnya.

Gajah Mada takjub akan kegesitan dan kesanggupannya. Dengan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan betapa mereka menumpas pasukan kerajaan dengan mudahnya. Agaknya mereka telah sepaham, hendak melenyapkan jejak dengan menewaskan semuanya termasuk Tanca. Sedang isterinya dan harta benda kerajaan adalah mangsanya yang sedang diincarnya.

Ia melihat Tanca memapah isterinya. Sulit ia mencoba merangkaki bukit. Galing berseru kepada Bandar agar cepat mengejarnya. Katanya nyaring:

Tangkaplah mereka! Lainnya, biar aku yang menyelesaikan!‖ Bandar meloncat ke samping dan memburu Tanca dengan cepat. Dan pada saat itu. Tanca terantuk batu. Ia terjungkal. Isterinya terlepas dari lengannya dan jatuh bergulingan ke bawah. Bandar menyergapnya. Dan terjadilah suatu pergumulan seru.

Gajah Mada menghampiri. Pikirnya, itulah saat yang sebaik-baiknya untuk mengulurkan tangan. Dengan segi pasti, ia mengejangkan kaki dan menendang Bandar jumpalitan.

Monyet! Siapakah ini?‖ teriak Bandar terkejut. Ia menentang Gajah Mada seakan-akan hendak menelannya.

Dewa dari kahyangan!‖ sahut Gajah Mada.

Bandar menubruknya. Ia mengendapkan diri dan memasukkan kepala dalam lingkaran dada. Bandar undur terdorong dan memuntahkan ruap ludah. Ia memaki dan menyerang lagi dengan kegesitannya. Gajah Mada meloncat melalui kepalanya sambil menyambit kuduknya dengan sisi tapak tangannya. Bandar jatuh bergulingan dan berdiri sambil mencabut Kyai Sampani.

Jahanam! Aku habisi nyawamu!‖

Gajah Mada tegak beragu. Kala itu ia mendengar suara Tanca nyaring:

‖Awas! Senjata berbahaya!‖ Gajah Mada lari berputaran sambil membongkar batu. Ia membenturkan ke dada Bandar, kemudian menyerang dengan bertubi-tubi. Kyai Sampani yang tergenggam direbutnya dengan tangkas. Dan menikamkan sekali jadi. Bandar jatuh terbalik terhuyung. Dengan pandang heran ia menyenakkan nafas penghabisan.

Tanca menghampiri. Ia mengamat-amati raut muka Bandar. Berkata:

Nah—apa kataku? Dia Bandar! Itulah Kyai Sampani. Simpanlah! Pastilah yang lain tadi penyamun Galing. Hati-hati!‖

Belum lagi habis bicaranya, Galing telah berada di punggungnya. Ia menyerang dahsyat. Gajah Mada menyongsongnya sambil berkata kepada Tanca:

Tuan! Isteri tuan!‖

Tanca undur cepat dan mencari isterinya yang masih menggeletak di bawah silang batu. Gugup ia meraihnya. Dengan pengetahuan ketabibannya, ia cepat menolongnya. Apabila telah sadar kembali, ia melihat Gajah Mada telah berada di dekatnya.

Anak muda! Engkau telah menghabisi jiwanya?‖ Gajah Mada memperlihatkan sebilah keris

bernama Barawa. Dan Tanca heran bukan kepalang. Hampir tak percaya dia berkata: Begitu cepat dan mudah! Betapa mungkin?

Siapakah namamu?‖

Gajah Mada.‖

Anak mana?‖

Gajah Mada tidak segera menyahut. Ia berjongkok hendak ikut menolong isterinya Tanca. Tapi Tanca melarangnya dengan cepat. Katanya agak mencurigai:

Jangan kau sentuh dia! Dia isteriku! Dalam hal

ini, aku lebih pandai daripadamu. Aku tabib istana!‖

Gajah Mada undur gugup. Ia duduk agak menjauh. Berdiam diri mengatur nafasnya yang masih bersengal. Dalam pada itu, Tanca berkata:

Anak muda! Adalah suatu aib, apabila isteriku sampai tersentuh tangan orang. Biar siapa saja, takkan kuizinkan. Aku akan membunuhnya dengan caraku sendiri. Kau lihat tadi, aku berani bergumul melawan Bandar sedapat-dapatku. Untunglah engkau datang‖. Ia berhenti menimbang-nimbang. Meneruskan: Nampaknya engkau habis berguru di tinggi gunung. Kini turun ke lembah hendak mencoba kekuatanmu‖.

Gajah Mada menunduk. Kemudian ia mengisahkan tentang terjadinya pertemuan itu. Tanca mempunyai kesan baik. Ia mulai percaya akan maksud baik Gajah Mada. Kecurigaannya hilang. Kala isterinya mulai sanggup menegakkan badan, ia memperkenalkan.

Apa sebab mereka memusuhi aku, pastilah

ingin kau ketahui bukan?‖ ujar Tanca kemudian.

Mereka adalah musuh kerajaan. Aku adalah tabib kerajaan. Seorang demi seorang, mereka hendak melenyapkan sendi-sendi kerajaan. Karena itu raja kini hendak membentuk barisan pengawal kerajaan. Aku dengar disebut: Bhayangkara. Hai! Apa sebab engkau tidak menjadi pengawal raja? Engkau pasti akan mAyu. Aku melihat dan menyaksikan betapa perkasa engkau‖.

Gajah Mada mengusap rambutnya. Ia merenungi tanah. Tidak berani melepaskan pandang kepada Tanca, karena melihat isterinya; suatu hal yang agaknya tabu bagi Tanca.

Seorang Bhayangkara, memang harus anak priyayi‖, ujar Tanca lagi. Menegakkan kepala dan berkata sungguh-sungguh. Tetapi aku dapat menolongmu, jika engkau suka. Apa pendapatmu?‖

Aku belum pernah memikirkan soal itu,‖ jawab Gajah Mada.

Tanca merenunginya. Berkata memutuskan: Baiklah! Terangkan di manakah kampungmu. Anak siapa pula engkau! Suatu kali apabila timbullah hasratmu hendak jadi bhayangkara, carilah aku! Aku akan menolongmu. Dapatlah engkau membaca dan menulis?‖

Gajah Mada mengangguk. Dan Tanca merobek kainnya. Kulitnya yang tergores oleh pergumulannya tadi, masih ada titik darahnya. Diguritkan darah itu dengan ujung batu dan diberikan kepada Gajah Mada.

Gajah Mada kagum akan perbuatan itu. Pastilah orang itu mempunyai keberanian nekat yang tersembunyi, pikirnya. Bicaranya pendek-pendek dan meloncat-loncat.

Ia berdiri tegak hendak berpamit. Ia mengerling kepada isteri Tanca. Ingin ia mencocokkan dengan percakapan Galing dan Bandar tentang kecantikannya. Tetapi gelap malam tidak megizinkannya memperoleh penglihatan agak terang.

Engkau akan secepat ini meninggalkan kita?‖

Tanca gugup.

Agaknya tuan tidak lagi membutuhkan pertolongan,‖ sahut Gajah Mada.

Bukan begitu! Lihat! Adakah engkau lihat salah

seorang pengawalku selamat dari bencana ini?‖ Gajah Mada berdiam diri. Dengan demikian, maka mau tak mau ia harus mengantarkannya dahulu sampai melintasi perbatasan Daha. Kemudian ia meneruskan perjalanannya hendak meninjau gurunya.

Betapa pertemuan dengan gurunya dan apa pula yang dibicarakan tiada seorang pun yang dapat menceritakan. Maka seperti yang sudah-sudah, ia kembali ke kampung halaman dengan berdiam diri. Dia telah jadi dewasa benar-benar, kini. Pandangnya sungguh-sungguh. Agak berenung-renung seperti ada yang dipikirkan. Dan sesungguhnya, kesan percakapannya dengan Tanca menyelinap benar dalam dirinya. Kesan memandang rendah padanya, karena dia senang dusun.

Pada suatu malam ia menghampiri ayah angkatnya dan bertanya: Apakah raja itu?‖

Ayah angkatnya heran mendengar bunyi pertanyaannya. Menjawab hati-hati:

Raja adalah lambang negara‖.

Apakah beda dengan kita?‖

Raja mewakili jutaan orang, sedangkan engkau hanyalah mewakili kepentingan diri sendiri. Hendaklah kau yakinkan dalam hatimu, bahwa raja adalah lambang negara  dan bangsa. Apabila  pada suatu kali timbullah kebimbanganmu. katakan pada

dirimu sendiri bahwa sikap demikian adalah salah‖.

Jawaban itu berkesan benar. Ingatlah dia kepada tawaran Tanca, apakah dia mau menjadi bhayangkara raja. Tetapi ia masih beragu, apakah dia akan dapat diterima. Ia mendengar pula keterangan dari mulut ke mulut, bahwa tak mudahlah orang menjadi bhayangkara. Karena selain harus mempunyai keistimewaan mencolok, harus pula keturunan seorang priyayi. Oleh pertimbangan itu, membuat dia berusaha memerangi hasratnya. Tetapi dia kalah. Maka ia bertanya kepada ayah angkatnya:

Pak! Apa sebab orang menjadi seorang kepala kampung dan yang lain memilih pekerjaan sebagai petani, guru, pendeta atau perajurit?‖

Ayah angkatnya menjawab menebak-nebak.

Karena tiap orang mempunyai panggilan!‖

Siapakah yang memanggil? Raja atau penguasa lain?‖

Hatimulah yang memanggil. Di sini. Apabila hatimu tergetar oleh suatu kebajikan atau suatu cita, itulah panggilan sebenarnya, jawab ayah angkatnya. Dan teringatlah dia kepada perkelahian Tanca dan Bandar, tatkala tiba-tiba ia memasuki gelanggang dan menolongnya. Kisah itu diceritakan kini kepada ayah-angkatnya. Bertanya: Begitulah panggilan hati?‖

Ayah angkatnya menimbang-nimbang.

Menggurui:

Ya  —  semacam  itu.  Tetapi  panggilan  demikian, sebenarnya adalah panggilan kebajikan yang meruap oleh nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi pangggilan yang kuterangkan ini adalah panggilan hidup. Kadang- kadang, seorang anak sepi dari panggilan hidupnya. Ia tak tahu bentuk kemauan hatinya. Karena itu pula, kerapkali harus dibentuk semenjak kanak-kanak. Kami orang-orang tua akan segera mengetahui bentuk bakat si anak.‖

Bakat?‖   seru   Gajah   Mada   girang.   Apakah bakatku menurut penglihatan bapak?‖

Bakatmu?‖ ulang ayah angkatnya sulit. Ia berdiam diri menimbang-nimbang. Menjawab:

Kulihat engkau banyak pengikutmu. Engkau berbakat pemimpin. Itulah cocok! Kuharapkan engkau menjadi penggantiku di kemudian hari. Menjadi Kepala Kampung Mada. Apakah celanya?‖

Gajah Mada menunduk.

Mengapa?‖ ayah angkatnya bertanya. Tak sukakah engkau menjadi kepala kampung? Engkau akan mempunyai sebuah rumah mentereng dengan halaman luas. Sawahmu berpetak-petak jumlahnya. Engkau dihormati dan disegani segenap penduduk.

Bukankah itu suatu karunia hidup?‖

Tidak, pak. Besar hasratku ingin menjadi seorang perajurit. Seorang pengawal raja‖, potong Gajah Mada berani.

Pengawal raja? Betapa mungkin! Engkau hanya- lah anak seorang kepala kampung. Anak seorang desa!‖

Sudahkah hal itu merupakan benteng

penghalang yang tak teruntuhkan?‖

Sejurus ayah angkatnya berpikir. Menjawab sulit'.

Begitulah yang segera kita ketahui. Kecuali apabila engkau seperti almarhum panglima Kebo Anabrang. Karena dia pernah menyeberang ke negeri Cina. Panglima almarhum beginda Kertanegara itu dapat diterima sebagai panglima terdekat baginda Kartarajasa. Ia memiliki jasa. Jasa itulah yang meniadakan penghalang.‖

Keterangan ayah-angkatnya, tidak menggugur- kan angannya. Seperti memperoleh kekuatan dewata, Gajah Mada berkata cepat beruntun:

Pak! Jika demikian, aku akan dapat meniru panglima Kebo Anabrang. Berilah kami pengertian agar aku dapat mencapai cita-citaku, Pak! Apakah salahnya orang mempunyai cita-cita. Bukankah ayah berkata, bahwa itulah panggilan hidupku sebenarnya. Kata ayah, hati yang tergetar itulah tanda-tandanya. Dan tergetarlah hatiku bila aku mendengar peristiwa demikian. Lihat! Hatiku tergetar!‖

Dan ayah angkatnya heran mendengar ucapan Gajah Mada. Untuk membesarkan hatinya, ia tak berkata lagi. Tetapi Gajah Mada terlalu bersemangat. Perkataannya bergemuruh, sehingga ibu angkatnya mendengar. Apabila mendengar bahwa ia hendak menjadi perajurit, didekap dan diciumi dia. Kemudian ditangisi seolah-olah seseorang kematian buah hati.

Engkau tidak boleh menjadi perajurit! Tidak

boleh!‖ ia melarang.

Suaminya menengahi. Berkata:

Heh! Mengapa engkau sekarang pandai menangis?‖

Dengan pandang menyala isterinya menjawab:

Kau biarkan dia pergi? Kau biarkan anak yang tidur di balai agung dahulu tertelan-telan habis oleh jaman yang begini bergolak?‖

Suaminya membungkam mulut. Dan isterinya meneruskan:

Orang yang jujur kini, bahkan celaka. yang baik dikatakan buruk. yang buruk bahkan mendapat sanjung puji. Yang kuat kini yang berkuasa. Kalau kau berkhayal seekor ular pandai berjalan tegak, inilah jamannya. Kalau kau berkhayal sebangsa burung ingin memiliki belalai, inilah jamannya. Banyak Gajah ingin berbulu. Bukankah begitu?‖

Gajah   mana   yang   ingin   berbulu?‖   suaminya menyekat ujarnya.

Hah — kau pura-pura buta. Apakah laku Sang Mahapati anak Panji Patipati itu? Dipunahkan sekalian tiang negara. Adipati Ranggalawe, Mangkubumi Sora dan Mahapatih Nambi. Agaknya dia kini mengarahkan perhatiannya kepada kaum Buddha. Bukankah begitu menurut kabar orang? Lihatlah, pajak dinaikkan demikian tinggi!‖

Kembali suaminya terbungkam. Pandangnya menjangkau kejauhan. Dan ia tetap membisu sampai Gajah Mada mengundurkan diri. Kemudian barulah dia berkata kepada isterinya:

Mengapa hal itu kau katakan di depan pendengarannya? Pastilah menimbulkan kesangsian- kesangsian tertentu dalam hatinya. Jangan lagi kau ulangi keadaan dirinya semasa bayi! Lagi pula engkau mengambil perumpaan yang menusuk hatinya‖.

Apakah yang telah kukatakan?‖

Banyak Gajah ingin berbulu!‖ sahut Kepala Kampung. Bukankah dia bernama Gajah? Kukhawatirkan, bahwasanya dia kurang pertimbangan. Lantas apa yang terjadi? Gajah Mada bukanlah termasuk seorang laki-laki yang lekas menarik. Mukanya lebar seperti cacatnya dahulu. Kulitnya kasar. Banyak pula bulu romanya‖.

Tapi bukan itu maksudku. Bukan itu!‖ isterinya setengah  berteriak.  Ya,  aku  tahu.  Kami  tahu.  Itulah suatu bukti, betapa engkau kasih padanya. Engkau ingin membuktikan, betapa nyaris rusak jaman sekarang. Betapa kaum tinggi bermain api! Tetapi keburukan itu, janganlah kau kesankan ke dalam dada anak-anak sebaya dia. Semangatnya yang sedang menyala akan menemui keragu-raguan tertentu. Biarlah dia menemukan bentuknya sendiri di kemudian hari. Sebaliknya janganlah oleh kita‖.

Isterinya tiada dapat menjawab. Ia menangis sedih. Dan hal itu meresahkan hati Kepala Kampung. Katanya:

Engkau pandai menangis kini‖.

Betapa tidak?‖

Hatimu akan tersiksa nanti‖.

Betapa tidak?‖

Nah—lepaskan dia menuruti kata hatinya seperti dahulu tatkala engkau melepaskan dia pergi berguru untuk menuntut pelajaran-pelajaran tertentu. Apakah salahnya? Bukankah dahulu aku mimpi tentang Gajah perkasa? Barangkali saat inilah dia seekor Gajah sebenarnya, yang ada dalam dirinya hendak

membuktikan‖.

Itu lain! Itu lain! Soalnya, dahulu dia kulepas karena hendak menuntut pelajaran dan pengetahuan. Tapi sekarang betapa aku ikhlas melihat dia menjadi perajurit. Kerja seorang perajurit membunuh atau dibunuh, tergantung pada persoalannya. Relakah engkau melihat bayi yang tak berdosa akhirnya jadi seorang pembunuh setelah dewasa?‖ bantah isterinya. Dan tangisnya dinaikkan untuk menguarkan pendapatnya.

Kepala Kampung terdiam. Tidak mudah agaknya hendak membawa seseorang menjangkau terang tanah, apabila hatinya sedang bermuram. Tetapi ia mencoba:

Dia   Gajah!   Ingatlah   mimpi   itu!   Dia   memiliki kelembutan hati. Itu pasti! Membunuh dan membunuh ada dua. Membunuh karena nafsu naluriah untuk kepentingan diri sendiri dan membunuh oleh darma hidupnya‖.

Siapakah yang jadi saksi?‖

Hidupnya sendiri tentu.‖

Isterinya berhenti menangis. Pelahan-lahan penuh perasaan ia berbisik:

Dengarkan! Aku adalah seorang perempuan.‖ Ya semenyak dahulu aku tahu. Apa maksudmu?‖

..Dengarkan dahulu! Jangan kau sekat perkataanku. Aku bersakit hati.‖ Isterinya tertusuk. Dan ia mulai menangis lagi. Dan percakapannya itu akhirnya berhenti tiada sambungnya. Ia masuk ke dalam biliknya untuk melanjutkan tangisnya mengarungi udara.

Tetapi dua hari kemudian teranglah sudah apa maksud isteri Kepala Kampung sebenarnya. Ia tidak rela melihat Gajah Mada akan bersakit hati, oleh kemungkinan yang terjadi dalam pergaulan di kemudian hari. Maklumlah katanya, Gajah Mada bukanlah seorang laki-laki yang tampan. Sebagai seorang perempuan dia dapat merasakan dan mempertimbangkan.

Di desa—pastilah dia akan cepat memperoleh jodoh‖, katanya menegaskan. Tapi dalam pergaulan di kota. apabila berada di ibu negara, betapa dia takkan bersakit hati?‖

Kepala Kampung mencoba mempertahankan diri dengan kepercayaannya terhadap mimpinya. Menerangkan:

Dia Gajah! Pastilah keperibadiannya akan menempatkan diri dan menunjukkan diri yang benar! Itu pasti! Itu pasti! Percayalah! Aku melihat suatu kesanggupan yang besar dalam dirinya. Hal itu dapat kurasakan, karena aku seorang laki-laki seperti dia‖. Dan oleh pertimbangan-pertimbangan demikian, akhirnya isteri Kepala Kampung meluluskan kehendak Gajah Mada. Mendengar keputusan itu, Gajah Mada girang bukan kepalang. Selama persoalan itu terjadi, dia seringkali bermurung-murung. Untuk menghibur diri, ia berada di tepi sungai Brantas menceburkan angannya dalam kekayaan alam yang memeluknya.

Gajah   Mada!‖   kata   ayahnya.   Aku   telah   tua. Barangkali masih suatu teka-teki apakah aku akan dapat melihatmu kembali. Karena itu perkenankan aku menitipkan suatu pesan dalam hatimu. Maukah engkau mendengarkan?‖

Pak! Mengapa bapak berkata demikian, seolah- olah aku seorang Mahamenteri tunggal yang bebas dari luput? Berbicaralah! Aku akan mendengarkan dan mengindahkan.‖

Aku tahu hal itu. Orang muda biasanya tidak mudah menerima pesan-pesan tertentu dari orang- orang tua, karena selera lakunya tidak sesuai. Maklumlah, orang tua hanya dapat menyumbangkan tutur kata dan doa selamat! Tetapi dengarkan kata mutiara pujangga Panuluh. Harta, aku tak punya. Karena tercapainya cita-cita bukanlah tergantung kepada jumlah harta, katanya. Kemudian Empu Sedah mengesankan, bahwasanya sekalian bentuk cita tergantung belaka pada mulanya. Jika engkau

bermula dengan harta, maka hanya hartalah yang engkau capai. Jika bermula dengan cidera, akhirnya bercidera jugalah di kemudian hari. Karena itu, berangkatlah engkau beserta nafas anganmu. Angan kadang kala menjadi guru manusia. Berjuanglah untuk menemukan sesuatu yang baik! Kedua empu itu berkata: Setiap usaha harus dicapai dengan nafas perjuangan, maka berjuanglah engkau! Bekalkan dalam hatimu suatu keteguhan, ketabahan, keuletan, kesucian dan keyakinan. Dengan keteguhan, ketabahan, keuletan, kesucian dan keyakinan itulah engkau akan mencapai cita-citamu yang benar.‖

Gadah Mada mengangguk. Mengangguk dalam- dalam. Berjanji:

Aku minta doa restu. Mudah-mudahan aku berada pada jalan yang benar, setiap kali aku menghadapi persoalan yang menentukan.‖

Itu pasti! Hidupmu akan memimpinmu! Lenyapkan suatu keraguan. Karena ragu adalah perintang utama bagi laku ksatria. Bukankah engkau bercita-cita menjadi seorang perajurit? Dalam tiap laga, seorang perajurit harus sanggup memilih keputusan cepat. Menumpas lawan atau ditumpas! Kau dengar hal ini?‖

Ya, pak. Karena itu aku minta doa restu‖. Aku restui engkau! Engkau akan menjadi besar dan menemui bentukmu sendiri berkat pimpinan hidupmu sendiri pula.‖

Gajah Mada mencium tapak kaki ayah angkatnya. Kemudian menyembah kepada ibu angkatnya. Kedua orang tua itu merangkul dan menangisinya. Mereka tak dapat berkata yang lain.

Tiba-tiba masuklah orang-orang kampung. Mereka adalah teman-teman Gajah Mada semasa kanak-kanak dan orang-orang tua yang menaruh perhatian kepadanya. Mereka merasa kehilangan atas kepergiannya. Tetapi mereka tak dapat menghalang- halangi karena tiap orang mempunyai darma masing- masing. Maka mereka hanya dapat mengucapkan selamat jalan dan sekedar bekal dalam perjalanan.

Waspadalah di tengah jalan!‖ pesan salah seorang temannya. Perusuh-perusuh kata orang mulai merayap ke dalam kota!‖

Gajah  Mada  tak  perlu  nasihat  itu!‖  seru  yang lain. Dia dapat menjaga diri. Kecuali kalau ada gadis ayu turun dari gunung. Siapa tahu!‖

Yang mendengar tertawa berkakakan.

***