Eng Djiauw Ong Jilid 13

 
Jilid 13

“Sudah, soetee,” kata pemuda yang memegang khongbengteng.

“Lihat tua bangka itu, mana tulangnya tahan jatuhnya? Baik antap dia pergi, supaya ketua kita jangan nanti persalahkan kita ”

Pemuda galak itu adalah Kiang Thian Yoe yang melukai Jie Leng, ia masih merasakan sangat sakit pada tulang iganya yang Lerpukul suling, tadinya ia diam saja menahan sakit, sekarang dengan paksakan diri, dengan sengit, ia kata “Baiklah, biar dia dapat kemerdekaannya! Ji kalau tidak ada ketua kita disini, tentu aku bikin beres padanya!”

Setelah mana, ia lantas undurkan diri bersama soehengnya, Cie Tiong. “Eh, apa kau masih tidak mau bangun untuk menggelinding pergi?” tanya bandit yang menjaga disitu. “Beruntung malam ini kau ketemu aku! Lekas kau angkat kaki, apabila kau ayakan nanti jiwamu tak ketolongan!”

Si buta itu merayap bangun, dan berduduk. Kembali kedua matanya mencilak putih.

“Memang aku telah duga bakal ada kwiejin membantu aku,” kata ia. ‘Kwiejin adalah penolong’. “Rupanya kau adalah kwiejin itu! Orang yang baik, kau tolonglah aku sampai diakhirnya. Maukah kau antar aku sampai diluar batas?”

“Makhluk buta, kau memikir enak sendiri!” kata si bandit. “Kau telah dibebaskan, itu saja seharusnya kau sudah bersyukur, cara bagaimana sekarang kau masih mengharap untuk diantarkan?

Lekas pergi, ayal2an berarti kau cari mampus sendiri! Dari sini kau menuju ke timur selatan, disana ada jalan besar, dengan turuti jalan besar itu menuju ke timur, kau nanti sampai di Hookan!”

Si buta itu bangun berdiri, tapi ia berdiri diam saja.

“Oh, Thian....” ia mengeluh sendirinya, “rupanya penjelmaan ku terdahulu aku sudah, tidak berbuat baik, maka dizaman ini aku peroleh pembalasan seperti ini Mana aku ketahui jurusan timur selatan barat utara?

Kearah mana aku mesti menuju? Aku toh mesti membabi buta! Lebih gampang untuk aku kecemplung disungai saja! Aku telah jalan begini jauh, mana aku bisa pulang kembali?”

Baharu sekarang si bandit ingat bahwa orang Itu buta, maka dengan menahan sabar, ia dorong tubuh orang kearah timur selatan. “Pergi kesana, tembusi itu ladang kaoliang!” ia membentak.

“Jangan kau membelok, nanti kau mampus!”

Kena dijoroki, tubuhnya si buta terjerunuk walaupun demikian, masih ia kata “Orang sesama kampung halaman, sampai ketemu pula!”

Dan ia nerobos diantara ladang kaoliang, hingga terdengar suara daun yang berisik, disana tubuh nya lenyap”

Waktu itu, Kim Cit Loo sudah hadapi pula Coei Pheng. Si piauwsoe pun merasa aneh terhadap si buta itu. Jangankan orang buta, orang melekpun sulit memasuki Koh lioe toen ini!

Mustahil orang2 terlatih dari Kim Lob Sioe bikin lolos si buta itu? Apa mungkin mereka alpa? Tapi Kim Cit Loo telah hadapi ia, lekas2 ia memberi hormat.

“Kim Loosoe, dalam keadaan sebagai sekarang, tak dapat tidak aku mesti iringi kehendakmu,” katanya. “Silahkan kau keluarkan senjatamu!” Kim Loo Sioe tertawa gelak2. “Jangan seejie, Coei Piauw tauw,” kata ia. “Selama beberapa tahun ini, aku cuma andalkan kedua tanganku serta sekantong pasir beracun Ngo tok Sin see, maka senjata apa yang kau inginkan aku keluarkan? Silahkan kau mulai menyerang!”

Tak puas Coei Pheng mendengar kata2 itu, dalam hatinya ia kata “Bangsat tua, kau terlalu! Mungkin aku bukan tandinganmu tetapi aku nanti kasi rasa senjataku hong cie tong!”

Maka kemudian ia menjawab. “Baik”, loosoe, Coei Pheng akan mengiringi!” Ia gerakkan kedua tangannya untuk bersiap, lalu sembari maju ia berseru Cit Loo, mulailah!”

Kembali penyamun itu tertawa dingin.

“Belum pernah Kim Loo Sioe menyerang terlebih dahulu,” kata ia.

“Adalah aturanku, diwaktu bertempur, apabila orang tidak menyerang, aku tidak menyerang terlebih dahulu. Piauwcoe, silahkan kau yang mulai, untuk kau buka pandangan mataku!”

Coei Pheng jadi sangat gusar, tak dapat ia atasi pula dirinya, sambil berlompat maju, ia berseru “Cit Loo, Coei Pheng berlaku tak hormati” Segera ia menyerang dengan “Lioe seng kan goat,” atau “Bintang mengejar rembulan.

“Bagus!” berseru Kim Cit Loo kapan ia lihat datangnya serangan.

Ia angkat kedua tangannya, dan dengan dua jarinya ia hendak tahan turunnya serangan.

Inilah hebat sekali! D yangankan tangan kosong, sekalipun dengan senjata, siapa yang kepandaiannya kepalang tanggung, tak nanti bisa tangkis hong cie tong, yang bersegi tiga dan setiap seginya lancip tajam, sedang piauwsoe ini telah berhasil mewariskan ilmu silat gurunya, Seng soe ciang See Coan Gie si Tangan Hidup dan Mati.

Kim Cit Loo, yang nama asal nya Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, tidak melainkan tubuhnya enteng, diapun telah wariskan ilmu silat kenamaan dari golongan Lam Pak Pay (Selatan dan Utara), ialah “Lo Kong Pat it sie” yang disebut juga “Siong Yang Tay kioe chioe,” yang punyakan delapan puluh satu jalan (“Pat it”), yang dihimpun dari sarinya ilmu silat pelbagai kaum. Dalam hatinya, Coei Pheng berseru, “Celaka aku!” kapan ia telah kenali orang mempergunakan ilmu silat “Siong Yang Tay kioe chioe” itu. Ia insyaf, sekalipun gurunya, tentu masih sulit akan layani bandit ini, yang ternyata liehay luar biasa. Tapi sudah terlanjur, ia tidak mau mundur, ia berkeputusan akan berlaku nekat apabila ia hadapi saat buntu. Maka ia kendorkan serangannya, untuk tarik pulang senjatanya, akan menukar dengan lain serangan.

Kim Cit Loo liehay, ia lantas mendesak, ia bikin lawannya repot, hingga tak dapat Coei Pheng menyerang dengan nekat, bahkan sebaliknya mesti membela diri saja.

Sebentar kemudian, disaat Coei Piauwtauw terancam bahaya karena lawannya desak ia secara hebat, mendadak dari kejauhan ada dengar suara suitan berulang2, saling susul.

Kim Cit Loo agaknya terperanjat, kemudian ia kata pada murid2 yang mendampingi ia “Kenapa kamu bengong saja? Kita telah dikelabui! Si buta rudin itu pergi ke timur selatan, kenapa sekarang dia berada di barat selatan? Itulah suara suling yang aneh, bukannya suling bambu! Lekas kejar si buta itu! Tetapi kamu bukan tandingan nya, katakan saja bahwa Cit Loo menantikan dia disini! Dia tidak buta, yang buta adalah matanya Cit Loo! Pergi, lekas pergi!

Meskipun mulutnya mengatakan demikian, namun penyamun ini tidak perkurang desakannya terhadap Coei Pheng.

Dua muridnya sudah lantas lari kearah barat selatan.

Dimuka pintu kuil ada berja ga empat orang, sekarang tinggal dua, dan mereka ini mendengar suitan dan kata2 pemimpinnya itu, sudah pergi kesudut barat selatan dari kuil untuk memeriksa. Selama itu, Coei Pheng pun heran. Ia mau menduga bahwa si buta itu bukannya orang sembarangan. Dugaannya ini jadi lebih tetap apabila ia tampak roman dan sikap berkuatir dari lawannya.

Karena ini, untuk sesaat ia tunda kenekatannya untuk korbankan jiwanya, sebaliknya ia jadi bersemangat, hingga ia jadi mantap mainkan senjata nya, ia keluarkan antero kepandaiannya akan layani musuh tangguh itu.

Keduanya bertempur dengan seru, mereka maju dan mundur silih ganti. Satu kali, Coei Pheng loncat mundur, jauh kesudut timur utara kuil, disini dengan menyampingkan tubuh ia tangkis serangannya Kim Cit Loo. Justeru itu dibelakang ia, datangnya seperti dari atasan. kepalanya, ia dengar seruan “Orang she Coei, keluarkan antero kepandaianmu, jangan kecil hati, bersemangatlah! Hayo lawan boca ini!”

Suara ada demikian tegas, agaknya dekat sekali, dari itu, meskipun ia sedang layani musuh, Coei Pheng toh menoleh sedikit. Akan tetapi ia tidak lihat siapa juga.

Kim Cit Loo juga dengar suara itu. Ia heran sebab ia tahu disitu ada orangnya yang berjaga2. Selagi bercuriga, ia perlihatkan keentengan tubuhnya Dengan satu loncatan ia lewati kepalanya Coei Pheng, akan naik ketembok kuil.

Kaget Coei Pheng akan saksikan kegesitan itu, berbareng ia pun curiga lawan ini hendak bokong padanya, segera ia mencelat ke barat, dari mana ia memutar tubuhnya, hingga ia tampak lawannya sudah taruh kaki diatas tembok.

“Siapa yang bicara ditempat gelap?” terdengar tegorannya Kim Loo Sioe. “Didepannya Cit Loo jangan kau main gila, main hantu tiup angin! Ketahuilah, Cit Loo tak sudi beli barang daganganmu!” Tegoran itu tidak peroleh jawaban, matanya Cit Loo tidak lihat orang atau bayangannya sekalipun. Tiba2 ia ingat orangnya didalam kuil, lantas saja ia menegor pula “Ouw A Hin, kau pergi kemana?”

Pertanyaan itupun tidak dapat jawaban, hingga penyamun ini jadi sangat gusar. Baharu ia hendak teriaki dua orangnya yang jaga pintu kuil, tiba2 ia lihat berkelebatnya satu bayangan diatas wuwungan. “Siapa disana?” ia berseru. “Mari kesini, lihat sendiri!” ada jawaban yang diterima.

Menduga bayangan itu ada si buta palsu, Cit Loo mendongkol tak terkira.

“Pengemis tua, bagus kau mengemis kepada Cit Loo!” ia membentak. “Aku memang hendak cari kau, kebetulan kau datang sendiri! Hayo menggelinding kemari untuk kita adu kepandaian! Tidak salah lagi, kau tentu diundang Coei Pheng si pit hoe!”

Diatas wuwungan itu terdengar suara tertawa hahaha secara menghina.

“Hantu tua, kau siapa? Kau bakal jadi hantu kematian, apa kau masih ada muka untuk hidup?” demikian jawabannya. “Kau. temahai piauw orang, aku tak puas, aku mesti campur tahu urusan ini! Hantu tua, apabila kau tidak senang, mari kita main!”

Sejak dia berkelana dan malang melintang, belum pernah Kim Cit Loo terhina secara demikian, tidak heran apabila dia jadi sangat gusar, dengan menjejak kedua kakinya ia enjot tubuhnya akan loncat naik ke wuwungan. Inilah gerakannya yang jarang sekali ia gunai, tubuhnya melesat bagaikan burung menyamber. Si penantang juga bukannya seorang lemah, baharu lawan itu sampai atau ia sudah loncat turun kebawah kuil itu, kuil Touw Kok Soe namanya, saking cepatnya, kelihatan melainkan bebokongnya yang berkelebat.

Kim Cit Loo heran bukan main. Sekarang ia dapat kenyataan, lawan itu ada terlebih kate daripada si buta dan pakaiannya pun berlainan. Ia menduga lawan ini bukanlah si buta tadi, yang tentunya ada seorang lain pula. Dalam murkanya Cit Loo lompat menyusul. Iapun kesohor untuk ilmunya mengentengi tubuh. Sedetik saja ia sudah dapat mendekati orang itu tinggal tiga kaki “Kau ingin lolos dari tangan Cit Loo coe?” ia membentak. “Rasailah!”

Cit Lo maju menyerang dengan kedua tangannya, kearah bebokong. Inilah pukulan hebat yang biasanya sanggup menggempur ilmu kedot “Tiat pou san,” atau “Baju besi.” Ia tidak sangsi untuk gunai serangan liehay ini saking ia benci orang itu, yang mencampur tahu urusannya dengan Coei Pheng.

Orang kate yang diserang itu kelihatan gerakkan pundaknya yang kiri, lalu tubuhnya bergerak sebagai juga ia terserimpat jatuh, tubuh itu rubuh kekiri, tapi justeru begitu, ia perlihatkan sikap “Go kan kiauw in” (Sembari tidur melihat awan indah) atau “Tie goe bong goat” (Badak memandang rembulan). Secara demikian, ia lolos dari ancaman bahaya, kecuali pundak kanannya kena kesamber sedikit anginnya kedua tangan lawan. Segera setelah itu, ia angkat tubuhnya sambil berbalik, kedua tangannya balas menyerang menyamber kedua tangan si penyerang itu, sambil ia serukan “Hantu tua, kau rasai ini!”

Itulah serangan hebat, maka untuk menolong diri, Cit Loo mencelat kekanan. Tapi justeru karena gerakannya ini, sekarang ia dapat lihat wajahnya musuh. Benar cuaca ada gelap akan tetapi ia toh tampak orang punya jenggot bagaikan jenggot kambing gunung dan tubuh yang kecil dan kurus. Ia ingat satu orang, hingga ia jadi kaget berbareng gusar.

“Eh, lauw hia, bukankah kau ada pit hoe Twie in chioe Na Pek dari Hoay Yang Pay?” tanya ia dengan tegorannya.

Si kate kurus kecil itu tertawa hihi.

“Hantu tua, kau toh tidak buta?” sahutnya. “Kau toh bisa kenali sendiri!”

Dikatakan buta, Cit Loo jadi mendongkol dan malu.

“Na Loo Toa, jangan bertingkah!” ia membentak. “Teranglah kau ber sama2 si pengemis bangkotan itu telah dibeli oleh Ban Seng Piauwcoe Coei Pheng untuk mengacau aku Cit Lo coe! Ketahui, Na Loo Toa, Kim Cit Loo belum pernah kasi dirinya di perhina orang!”

Memang orang yang baharu muncul ini adalah Na Pek, yang tak bisa lihat Coei Pheng di ganggu. Ia mengarti Kim Cit Loo ada liehay tapi ia bersedia akan tanggung jawab karena tak dapat ia abaikan tugasnya sendiri untuk terus berbuat kebaikan bagi umum. Cit Loo pun keliru sudah bekerja diluar batas daerah pengaruhnya. Untuk menolong pemimpin dari Ban Seng Piauw Kiok, terpaksa Ia mesti perlihatkan diri. Lebih dahulu daripada itu, ia sudah selidiki jelas duduknya perkara, hingga ia kagumi keberanian dan kesetiaannya Ie Jie Leng serta kedua piauwsoe. Iapun ketahui baik bagaimana Cit Loo pengaruhi penduduk Koh lioentoen hingga mereka jadi jinak dan menurut saja. Ia sengaja kirim surat pada Coei Pheng supaya piauw tidak keburu diangkut Cit Loo. Hanya, ketika ia menguntit sampai di Koh libe toen, ia dapat tahu di antara mereka ada nyelu sup seorang yang tidak dikenal, yang mestinya liehay sekali, hingga ia sangsi apa bisa la berhasil menolongi Cioe Pheng, karena ia insyaf, Cit Loo adalah satu lawan tangguh. Dua kali pernah ia dilewati orang gelap itu, yang gerakannya sangat gesit, hingga pernah ia kata dalam hatinya “Awas, Na Pek, inilah saat dari runtuh atau abadinya nama baik mu!....” Adalah kemudian, selama di Koh lioe toen, hatinya jadi lega. Disini, dari sepak terjangnya orang itu, ia dapat kenyataan, orang itu justera ada lawannya Kim Cit Loo. Malah ia seperti telah dipancing datang ketempat dimana tukang2 kereta ditahan, mereka ini dikumpulkan jadi satu, dijaga dua penjahat, yang larang mereka bicara satu pada lain, siapa bicara, dia lantas dicambuk. Ia pancing kedua penjahat melintas keluar pagar, lalu ia totok rubuh mereka itu.

Setelah ini, ia dapat pergoki orang gelap itu, ialah si buta, hingga ia heran, sebab ia tak kenal orang ini, roman siapa tidak luar biasa. Selagi ia hendak selidiki orang ini, yang menghilang dalam ladang kaoliang, ia dengar suara dibelakangnya “Na Loo Toa, apa maksudmu datang kemari? Jangan kau nonton saja disini! Ingat, Coei Pheng bukan tandingannya si orang tua musuhnya itu! Aku sendiri tak hendak berhenti sebelum aku layani tua bangka itu! Pergi kau pancing keluar itu dua begal yang menjaga dipintu kuil, bawa dia ke gili2 ladang, aku membutuhkan mereka, setelah itu, lekas tolongi Coei Pheng sebelum dia dapat celaka ditangan musuhnya. Lekas bekerja, jangan sampai tua bangka itu sadar, apabila kau membuat gagal, aku nanti bikin perhitungan denganmu!”

CXXIX

“Kau siapa, sahabat? Sebelum kau beri keterangan, tak sudi aku . bekerja untukmu!” kata Na Pek, yang penasaran. “Tak sudi aku jadi kulimu! ”

Si buta itu tertawa. “Paling jemu aku untuk menyebutkan she dan nama sendiri!” sahutnya. “Akupun ada seperti kau, biasa bekerja sendiri, tapi malam ini kebetulan sekali kita bertemu disini, maka anggaplah kita bekerja secara luar biasa! Dengan aku si buta dan melarat ini, kau nanti bakal bertemu pula, maka Na Loo Toa, apabila kau tetap ingin ketahui aku, aku nanti presen senjata rahasia kepadamu!”

Na Pek tertawa.

“Sahabat, benar2 kau main gila!” ia kata.

“Eh, jangan kau gerembengi aku!” peringatkan si buta. “Tua     bangka    itu     liehay,     Coei     Pheng     bukan

tandingannya, jikalau sampai Coei Pheng rubuh, kau mesti

tanggung jawab!

Coei Pheng itu satu laki2 sejati, kalau kau berlambat, nanti kau dapat malu untuk hidup lebih lama!”

Sehabis mengucap demikian, si buta itu terus loncat menghilang ditempat gelap.

Sekejab saja, suara suitan terdengar diladang barat selatan.

Adalah sekarang, mendadak Na Pek ingat, si buta itu mesti adalah Kay Hiap Coei Peng si Pengemis Pendekar, yang kenamaan di Selatan, sebab lain orang tak segesit dia. Karena ini, ia lantas bertindak menuruti pe. san si buta itu, sehabis mana, ia muncul didepan Kim Cit Loo, siapa masih sangka keras Coei Pheng sengaja bawa bala bantuan tersembunyi.

“Iblis tua, jangan pintar sendiri!” Na Pek jengeki penyamun itu. “Kenapa kau sangka aku jadi kawannya si orang she Coei? Dia ada satu laki2 sejati! Dia toh merdeka untuk cari kawan, apa halangannya bagimu? Kau tahu bahwa aku si orang she Na biasa cari makan sendiri, aku gemar campur tahu urusan lain orang. Aku ingin belajar kenal dengan kepandaianmu, tua bangka, jangan kau rembet aku dengan lain orang! Setan tua, anggaplah malam ini kau ketemu bintang penaklukmu, maka setelah malang melintang sekian lama, sekarang kau harus menyerah kalah sudah runtuh!”

Bertambah2 kemurkaannya Yauw beng Kim Cit Loo karena kata2 Twie in chioe ini, ia merasa sangat terhina.

“Kim Cit Loo coe justeru paling tak puas dengan sikapmu yang mengandalkan jumlah banyak!” ia berseru. “Jikalau aku tak sanggup membereskannya, kecewa aku hidup dalam dunia kang ouw!”

Kata terakhir itu disusul dengan lompatan tubuhnya untuk menyerang.

Na Pek tidak mau menyambutinya, ia justeru geser tubuhnya kesamping, dengan begitu Kim Cit Loo jadi tubruk tempat kosong, hingga amarahnya menjadi meluap2.

“Tua bangka, kau memikir untuk menyingkir dari Cit Loo coe?” ia menjerit. “Itulah terlebih sukar daripada mendaki langit! Jikalau kau tidak diajar adat, kau tentunya belum insyaf liehaynya Kim Cit Loo! Kau benar masih niat menyingkir?”

Sambil kumpul tenaga tangan nya, Kim Loo Sioe lompat pula untuk mengulangi serangannya. Kedua tangannya maju sa Iing susul sebelum kakinya injak tanah, tangan kanannya adalah yang maju paling dulu.

Na Pek dapat menyingkirka n diri apabila ia kehendaki itu. Tapi ia ingat pesannya si orang buta, ketikanya belum sampai, maka ia bertindak lain. Dengan pundak kanannya dikasi turun, ia ulur tangan kirinya dengan dua jari tangan telunjuk dan tengah dipakai menotok nadi lawan. Itulah sambutan sambil menyerang yang berbahaya.

“Bagus!” Kim Cit Loo berseru, seraya tangan kanannya ditarik pulang, tapi tangan kirinya menyerang kepada iga kiri lawan!

Na Pek rasakan samberan angin sebelum tangan musuh mengenai iganya, maka lekas2 ia berkelit dengan jumpalitan ke kanan, dengan gerakan “Kee coe to hoan sin,” atau “Ayam membalik tubuh.” Tapi sambil berkelit, tangan kanannya membarengi menyerang pundak lawan disebelah bawah sambungan, dijalan darah seng hong hiat. Serangan ini adalah yang dinamakan “Soet pay chioe” atau “Melemparkan tugu.”

Melihat dua kali serangannya gagal bahkan musuh membalas nya, Kim Cit Loo tidak bersangsi untuk menyingkir dari serangan itu.

Ia egos tubuhnya ke kiri. Tapipun sambil mengelak ia balas menyerang pula kepada tangan kanannya musuh itu, ia menabas dengan tipunya “Heng kee tiat boen so” atau “Palangan pintu.”

Na Pek tahu tangan kanannya hendak digempur, akan tetapi sudah terlambat untuk ia singkirkan itu, maka segera kedua tangan saling beradu, sesudah mana, ia merasai tenaga besar dari Kim Loo Sioe, karena lengannya kesemutan dan ba al. Tapi ia kumpulkan tenaganya akan lawan serangan, sambil berbuat begitu, ia loncat empat lima tindak.

Kim Cit Loo telah jadi nekat, ia tidak mau kasi ketika orang menyingkir, ia hendak mengejar, walaupun sendirinya lengannya dirasakan panas karena benturan tadi dengan lengan musuh. “Aku tak percaya kau mampu menyingkir!” ia berseru selagi ia hendak menerjang.

Disaat jago tua ini hendak loncat, mendadak ada orang serukan ia dari samping “Iblis bangkotan, kau sambut ini!”

Seruan itu disusul dengan menyambernya senjata rahasia satu samberan enteng hingga tidak terdengar suara, tetapi cepatnya ada luar biasa, walaupun Kim Cit Loo ada sangat gesit, dia masih tak keburu berkelit, punduknya kena terserang, hingga ia merasakan panas. Ia lantas geraki tangannya akan rabah senjata rahasia itu. Sebagai kesudahan dari ini, ia rasakan dadanya panas bahna mendongkolnya! Sebab senjata rahasia itu adalah kotoran kuda yang masih basah!

Telah lebih dari tiga puluh tahun sejak Kim Loo Sioe malang melintang dalam pengem baraan, baharu kali ini ia terima hinaan demikian macam. Maka itu menuruti kemurkaannya, sambil berseru keras ia mencelat ke samping kuil, kearah dari mana serangan tadi datang.

Loncatan itu ada sangat pesat, turut biasanya, si penyerang gelap itu mestinya tak dapat menyingkir pula, akan tetapi mem barengi melesatnya Kim Cit Loo, satu bayangan juga mencelat, malah mencelat lebih tinggi enam atau tujuh kaki!

Kim Cit Loo tahu ia sudah tubruk tempat kosong, maka begitu lekas sebelah kakinya mengenai tanah, segera ia menjejak pula untuk loncat kembali, akan susul bayangan yang hendak menyingkir itu.

Didepan kuil ada lentera yang apinya suram tetapi cahaya itu sudah cukup untuk Kim Loo Sioe kenali bayangannya si orang tua kurus kering yang matanya buta itu, ia menuding sambil berkata “Makhluk busuk, Cit Loo coe tidak kenal kau, kita belum per nah ketemu, cara bagaimana sekarang kau berani ganggu aku? Kenapa kau sengaja hendak menggagalkan usahaku? Oh, dua makhluk busuk, jangan harap kau bisa lolos dari tanganku!”

Sehabis mengucap demikian, kapan Kim Cit Loo menoleh pada Twie in chioe, ia dapatkan Na Pek telah menghilang hingga tak tertampak lagi bayangannya, maka, justeru ia benci si buta, ia kembali tuding pengganggu ini. “Orang buta rudin, kau telah berani musuhkan Cit Loo coe, apakah kau berani juga perkenalkan dirimu?” katanya dengan nyaring, “Tidak biasanya Cit Loo coe bikin mampus segala boe beng siauw coet!”

Biji matanya si buta mencilak, hingga kelihatan lebih banyak putihnya daripada hitamnya, walaupun demikian, ia tertawa geli haha hihi. Ia tidak jadi gusar dikatakan “boe beng siauw coet” sebagai manusia tak punya guna.

“Kim Loo Sioe, jangan kau banyak lagak!” kata ia dengan godaannya. “Tak perlu untuk aku sebutkan she dan namaku, karena aku si tua bangka, keujung langit aku pergi, tetap aku adalah aku. Kau billang kau tak sudi mampusi satu boe beng siauw coet, akan tetapi malam ini, kau justeru akan binasa di tangannya seorang yang tidak punya nama! Kenapa kau masih, banyak tingkah? Baiklah kau pergi mampus siang2!”

Kim Cit Loo gusar tak kepalang.

“Kau rasailah liehaynya Cit Loo coe.” ia berteriak seraya loncat menyerang dengan tipu pukulan “Beng houw coet tong,” atau “Harimau galak keluar dari guha.” Ia loncat kedepan si buta, kedua tangannya keluar dengan berbareng menghajar muka lawannya.

Pat pou Kan siam Kim Loo Coe ada demikian gusar hingga ia jadi nekat. Ia bersedia untuk korbankan nama besarnya yang ia telah angkat selama tiga puluh tahun lebih ia telah turunkan tangan jahat.

Atas serangan berbahaya itu, si pengemis buta cuma geraki sedikit tubuhnya, atau tahu2 ia sudah berkelit hingga kebelakang lawan.

Kim Loo Sioe ada sangat liehay, begitu lekas mengetahui ia menyerang tempat kosong, segera ia balik badan, ia memutar dengan kedua tangan berbareng naik kedepan dadanya, dengan pukulan Cit seng ciang, “Tujuh bintang,” ia bisa segera serang pula lawannya itu.

Diserang secara demikian hebat, si buta enjot tubuhnya, ia mencelat tinggi kedepan melewati atasan kepalanya Kim Loo Sioe!

Bukan kepalang penasarannya Kim Cit Loo karena dua kali musuh lolos dari serangannya, kembali ia, putar tubuhnya akan lompat menyusul guna menerjang terus selagi orang baharu taruh kakinya ditanah! Ia telah hunjukkan kegesitannya. Dengan kedua tangannya ia serang kedua buah pinggang musuh dengan tipu gencetan “kim kauw cian sie,” atau “Gunting emas.”

Kelihatannya, serangan agak nya mengenai sasarannya.

Si buta insyaf akan serangan yang berbahaya itu, yang anginnya mendahului menyamber, maka untuk bebaskan diri, segera ia melenggak kebelakang, dengan tipu “Kim lie to coan po,” atau “Tambra emas tembusi gelombang,” hingga kepalanya, berikut tubuhnya, terlentang hampir mengenai tanah. Untuk ini, ia telah pinjam kekuatan kedua kakinya, yang tertekuk bagaikan jongkok. Tapi, begitu rebah, dengan bantuan kedua tangannya, yang dipakai menekan tanah, tubuhnya melesat jauhnya dua tumbak, hingga ia lolos dari ancaman bencana. Maka kembali ia berdiri tegak seperti biasa. Kim Cit Loo melengak untuk orang punya kegesitan itu, lebih2 Kim tong Coei Pheng, yang insyaf bagaimana jauh beda ke pandaiannya apabila dibanding dengan kedua orang tua itu. Ia insyaf, melayani Kim Loo Sioe ia benar2 menghadapi bahaya maut.

Setelah berulang serangannya tak mengenai sasarannya, Kini Loo Sioe mendadak ingat siapa adanya musuhnya ini. Maka itu, ketika ia lompat maju pula untuk mendekati, ia berseru “Pengemis buta rudin, jangan kau coba umpatkan kepala dan menonjolkan ekor! Sekarang Cit Loo coe ingat! Kau pasti ada Kay Hiap Coei Peng! Baiklah, Kim Loo Sioe nanti adu jiwanya denganmu!”

Si orang buta yang berpura2 buta itu tertawa dingin. “Kim Loo Sioe,” katanya, “turut penglihatanku, ada

sukar untukmu akan hidup terlebih lama pula! Apakah kau sangka aku si pengemis melarat jerih terhadapmu?”

Kim Cit Loo sementara itu sudah datang dekat, segera ia kirim pula pukulannya dengan tipunya “Hek houw sin yauw,” atau “Harimau hitam lempangkan pinggang.” Ia telah menyerang dengan kedua tangannya berbareng.

Sekarang si buta berkelahi tanpa main kelit2 lagi, setelah egos tubuhnya, iapun balas menyerang dengan hebat, disebelah enteng nya tubuh, ia gunai tipu silat Kim na chioe.

Mengetahui dengan siapa ia berhadapan, maka Kim Cit Loo telah gunai kepandaiannya, walaupun demikian, namun ia sibuk juga. Musuh ada terlalu gesit dan licin, semua serangannya dihalau dengan buang diri atau tangkisan hebat, hingga beberapa kali ia mesti batalkan serangannya. Si pengemis rudin seperti main petak dengannya, karena tubuhnya senantiasa berada didepan atau dibelakangnya, dikiri atau dikanannya. Sampai belasan jurus sudah lewat, begal ini masih belum bisa sekalipun mencolek saja tubuhnya musuh.

Tengah bertempur, tiba2 Kim Loo Sioe ingat kepada orangsnya yang sampai waktu itu tidak satu yang muncul, maka diam2 ia mencuri lihat kesekitarnya. Malah dua orangnya, yang tadi menjaga dimuka bio, sekarang lenyap juga!

Justeru itu, dengan sekonyong2 tubuhnya si pengemis mencelat memisahkan diri sampai dua tumbak lebih, setelah mana, dia tanya “Kim Loo Sioe, apa kau tetap tidak hendak terima nasib? Lihat kuil itu, api telah berkobar didalamnya! Lihat murid dan cucu muridmu, mereka semua sudah terjatuh kedalam tangan orang lain! Urusan malam ini, apabila kau peserahkan nasib dan berhenti sendiri, kau masih punya harapan akan pulang ke Ouwpak dengan masih hidup! Satu laki2 dalam sepak terjangnya mesti bisa menghitung, demikian kau! Kim Loo Sioe, apabila kau turuti tabeatmu yang keras dan kau tetap hendak adu jiwa dengan aku si pengemis tua, itu artinya kau hendak cari sengsara sendiri. Semua murid dan cucu muridmu itu, lagi sedikit lama, semua bakal hilang jiwanya, hingga kau mesti beli banyak peti mati untuk urus mereka, buat angkut mereka pulang ke Ouwpak! Baiklah aku jelaskan lagi, kejadian malam ini adalah disebabkan tindakanmu sebagai si kuat menindas si lemah, karena mana aku si pengemis tua bersama2 Na Loo Toa terpaksa mencabut golok untuk bantu si lemah itu! Baik kau mengerti, aku muncul bukannya karena diundang oleh Coei Piauwtauw yang pada lima ratus tahun yang lalu adalah orang sekeluargaku…. Kim Loo Sioe, apabila kau tidak puas, mari kita bertemu pula di Kanglam, aku si pengemis tua senantiasa bersiap untuk menyambutnya. Jikalau kau lakukan perbuatan bukan sebagai orang kangouw, jikalau kau jerih terhadapku dan lalu kau cari piauwsoe she Coei itu, kecewa kau sebut dirimu satu laki2! Kau lihat!”

Segera si pengemis buta tetiron itu menunjuk ke timur selatan.

“Bukankah kau tahu tempat dimana api itu berkobar?” kata ia, menyambungi kepada Iawannya. Diarah timur selatan itu memang ada api yang menyala2. “Jikalau kau tidak lekas tolong! kawan2mu itu, kegagalan berarti disebabkan olehmu, kaulah yang mesti tanggung jawab, jangan sekali kau katai aku si pengemis kejam!”

Lalu, tanpa tunggu jawaban lawan itu, ia menoleh pada Coei Pheng “Coei Piauwtauw, kau hendak tunggu apa lagi?” ia menegor.

“Disini sudah tidak ada urusanmu pula!”

Kim Loo Sioe menoleh kearah timur selatan, iapun telah memandang kearah kuil, ia insyaf bahwa ia sudah gagal.

Seumur hidupnya belum pernah ia terima penghinaan sebagai ini.

Mendadak ia jadi sengit, tubuhnya segera mencelat dalam gerakannya “Hoei yan touw lini,” atau “Burung walet terbang masuk kedalam rimba.” Ia lompat kepada Coei Peng yang ia lantas serang.

Coei Peng tidak hendak layani lagi begal yang liehay itu, begitu lihat orang lompat kepadanya, ia segera lompat dengan tipu “Ceng teng sam ciauw soei” atau “Capung tiga kali samber air,” lalu diteruskan dengan “Yan coe hoei in ciong,” atau “Burung walet terbang kedalam mega,” ia terus ber loncat2 hingga ia menghilang didalam ladang kaoliang yang lebat…. Kim Loo Sioe putus asa apabila ia tampak orang sudah sembunyikan diri, sedang begitu, si piauwsoe Coei Pheng teriaki padanya “Kim, loo Sioe, jikalau kita berdua ada jodo, nanti kita bertemu pula didalam dunia kangouw!”

Dan terus piausoe ini melompat kejurusan belakang kuil untuk menghilang juga.

Kim Cit Loo lari kekuil. Begitu lekas ia bertindak dipintu, ia tampak nyalanya api. Terang kebakaran itu ada perbuatan yang disengaja. Kapan ia melihat ke kamar samping, disitu ia tampak dua orangnya sedang rebah dilantai. Ia lompat pada mereka, untuk lihat dari dekat, maka ia dapat kenyataan mereka itu adalah korban2 totokan jalan darah. Lekas2 ia totok mereka untuk bikin mereka sedar pula, cuma saking lemas, tak bisa mereka itu lantas geraki kaki tangan seperti sediakala.

Tak dapat Kim Cit Loo tunggui mereka, maka itu ia lari pula keluar, terus keladang kaoliang, kearah kampung. Ditengah jalan, dua kali ia bunyikan suitan. Tapi ia tidak peroleh sambutan. Maka benar2 ia insyaf bahwa orang telah rubuhkan padanya.

Kapan akhirnya jago tua ini sampai dikampung, ia dapatkan orang2nya tidak kurang suatu apa, melainkan mereka itu rebah malang melintang disana sini, ada yang ditotok hingga seperti gagu, ada yang ditotok jadi lemas tak berdaya, tidak ada satu yang mampu geraki tubuhnya. Menampak demikian, sakit hatinya jago ini. Ia pun dengan terpaksa mesti totok sedar mereka itu.

Menurut keterangan sekalian murid dan cucu murid itu, benar2 mereka telah jadi korban nya Kay Hiap Coei Peng yang bekerja sama2 Twi in chioe Na Pek, Tritu saja mereka tak berdaya menghadapi dua jago itu. Lantas Kim Cit Loo periksa tukang2 kereta, yang ia tahan tapi ia dapatkan mereka itu sudah tidak ada, terang sudah bahwa mereka telah ditolongi.

“Jikalau aku tak balas sakit hati ini, tak ada muka aku hidup dalam dunia!” ia berseru dengan hati dirasakan sakit sekali.

Sampai disitu Kim Cit Loo ingat, harta rampasannya masih ada didalam kuil, maka ia lantas ajak kawan2nya kembali kekuil itu. Akan tetapi, sesampainya mereka didalam kuil, nyata bahwa harta itu juga sudah lenyap, terang sudah dibawa pergi oleh musuh. Itu artinya, dia roboh sempurna sekali

Mendongkol dan putus asa, Kim Cit Loo titahkan orang2nya kum pulkan kuda mereka, untuk berkumpul dimuka kuil. Selagi ia menantikan orangnya kembali, ia lihat cahaya api pelbagai lentera diarah barat utara, cahaya yang keluar dari antara pohon kaoliang. Pun sayup2 terdengar suara tindakan kaki kuda atau roda kereta yang berjalan dijalan besar….

Sebentar kemudian, siaplah semua kuda. Cit Loo segera loncat naik atas kudanya. Justeru itu dari antara ladang kaoliang disebelah kiri, ia dengar suara nyaring.

“Kim Cit Loo, urusan malam ini sudah selesai! Tapi Na Toa Hiap ada satu laki2 sejati, dia pun ingat akan kata2nya, maka jikalau kau tidak melupakan sakit hati, kau boleh menuntut balas sesukamu! Na Toa Hiap ada punya rumahnya sendiri di Na chung, Coe cioe, meskipun demikian, tak dapat aku terus menerus menyekap diri didalam rumah, maka perlulah kau ini dapat penjelasan. Sekarang aku hendak pulang ke Coe cioe, disana aku nanti tunggui kau sampai seratus hari, selama itu aku bersiap untuk layani kau, akan tetapi kalau tempo seratus hari sudah lewat, maafkan aku, aku tidak bisa menantikan terlebih lama pula! Syukur andai kata kita berdua bisa saling bertemu dalam dunia kang ouw. Sahabat baik, aku telah berani tanam bibit permusuhan, aku bertanggung jawab atas itu, jikalau kau pindahkan amarahmu kepada keluargaku, kau bukannya satu laki2, kau mirip dengan tikus tukang curi dan anjing tukang colong! Aku percaya kau, Kim Loo Sioe, tidak nanti kau sampai berbuat demikian hina dina!”

Kim Loo Sioe tertawa dingin.

“Na Toa Hiap, baiklah kita atur begini!” berkata ia “Biarlah lain kali saja kita bertemu pula. Aku harap hari itu adalah hari terakhirmu. Nah, silahkan kau pergi!”

Kata2 ini disusul dengan gerakannya dua tubuh didalam ladang, lantas Na Pek lenyap terus.

Kim Cit Loo insyaf ia telah kalah, maka tak ayal lagi ia pulang langsung ke Ouwpak, ia bubarkan orang2nya, untuk ia yakinkan pula ilmu silatnya.

Kemudian untuk mencapai maksudnya, ia pergi mengembara mencari guru. Ia larang orang2 nya melanjutkan pekerjaan mereka kecuali sesudah ia kembali, ia ancam mereka dengan hukuman mati. Ia pergi ke Soe coan, akan cari satu guru yang liehay, maksudnya ini tidak kesampaian, hingga ia mesti berkelana dipropinsi itu, juga di Inlam dan Kwie cioe. Dilain pihak, banyak orang tidak berani bergaul kepadanya karena ia kesohor kegalakannya. Untuk beberapa tahun ia berkelana sampai akhirnya ia sekap diri digunung Lo Houw San dimana ia yakin ilmu silat Kim kong chioe. Ia sudah banyak umur, ada sulit untuk ia belajar sendiri. Tiga tahun ia melatih diri, walaupun belum sempurna tapi ia merasakan bahwa ia telah maju jauh. Maka dengan diam2 ia kembali ke Kanglam, akan cari musuh nya.

Hasil penyelidikannya Kim Cit Loo membuat ia kecil hati. Ia dapat kenyataan, Kay Hiap Coei Peng ada dimalui oleh siapa juga. Dan bersama si Pengemis Pendekar itu, ada lagi Tiat pit Pian Thian Sioe si Pit Besi yang liehay, yang bekerja sama.

Sudah banyak orang gagah yang salah perbuatannya rubuh ditangannya dua orang itu. Maka kemudian, ketika ia dengar Boe Wie Yang dari Hong Bwee Pang sedang kumpulkan orang2 gagah, ia pergi pada orang she Boe itu, yang terima ia dengan baik. Ia bisa berbuat banyak untuk Hong Bwee Pang itu. Ia ada punya cita2 lain, tentu saja ia tak puas berada dibawah perintah lain orang, walaupun orang itu ada Thian lam It Souw yang kenamaan. Untuk apa ia telah siksa diri bertahun2? Ia hanya harap, didalam Hong Bwee Pang ia nanti ketemui orang2 liehay dengan siapa ia bisa bersahabat, untuk saling tukar kepandaian.

Boe Wie Yang seorang yang bermata tajam, dengan pelahan2 ia bisa lihat cita2nya. Kim Cit Loo, maka tak ayallagi ia masukkan jago Rimba Hijau ini kedalam Hok Sioe Torg bersama2 Tiat cie Kim wan Wic Thian Yoe, untuk mereka hidup nganggur tetapi dengan bahagia. Justeru dengan berdiam didalam Hok Sioe Tong, Kim Cit Loo telah berhasil memperoleh kemajuan, karena penghuni dari Gedung itu semua adalah orang liehay ilmu silatnya.

Didalam Hok Sioe Tong ada delapan penghuninya, setelah Yauw Beng Long tiong Pauw Coe Wie dan Sam im Ciat hoe ciang Lo Gie berontak dan kabur, lowongan itu Boe Wie Yang tutup dengan resmi dengan masuknya Tiat cie Kim Wan Wie Thian Yoe dan Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe. Maka itu, dalam pertemuan persilatan di Ceng Giap San chung itu, Kim Cit Loo turut muncul. Kebetulan untuk Cit Loo, dia telah bertemu dengan Na Pek, maka ketika yang baik ini ia tidak mau sia2kan.

Na Pek pun tidak sangka yang ia bisa bertemu musuh lama itu didalam sarang Hong Bwee Pang ini, tetapi ia tidak takut, dari itu, ia sambut tantangannya Kim Cit Loo. Ia melainkan mengerti, inilah saat mati atau hidupnya.

Naik diatas pelatok, Na Pek lantas tempatkan diri saling membelakangi dengan Na Hoo, adiknya, sedang diempat penjuru mereka, delapan hiocoe Hok Sioe Tong ambil sikap mengurung.

Na Hoo sendiri ingin uji kepandaiannya Kim Cit Loo, tentang siapa ia melainkan dengar dia adalah musuh engkonya, yang sekian lama telah umpatkan diri.

Begitu lekas semua sudah siap dan tanda diberikan, kedua pihak lantas mulai bergerak. Dua saudara Na menggeser masing2 ke timur dan barat, untuk berputaran, sesudah mana Jie Hiap hampirkan Tee Hin Pang, yang raenjaga diujung timur, atas mana Siang Kang Hie in Tee Hin Pang, Nelayan dari Siang Kang, menyambut dengan serangannya “Heng sin Pa houw ciang”. (“Menghajar Harimau”), menyerang lengan lawannya.

Na Hoo berkelit, kaki kanannya menukar pelatok, setelah itu tangan kanannya, dengan “Twie chong bong goat,” atau “Menolak jendela memandang bulan,” ia menyamber muka lawan, sedang tangan kirinya, dengan “Tiat so heng cioe,” atau “Dengan rantai gelang lintangkan perahu,” ia serang pundak lawan dibagian sambungan. Apabila ia berhasil, ia dapat bikin terlepas lengan lawannya itu.

Lekas Tee Hin Pang berkelit kekiri, akan kembali kepelatok asalnya. Selagi begitu Na Hoo lihat kandanya sudah bergebrak dengan Siang ciang Hoan thian Coei Hong, setelah itu, kanda ini memutar tubuh, hingga ia bisa duga sang kanda niat serang Yauw beng Kim Cit Loo. Menampak ini, ia lantas mendahului. Ia memang berada lebih dekat dengan bekas jago Rimba Hijau itu, kedudukan siapa adanya di Say pak Kian wie yaitu, pelatok “Kian,” di barat utara. Untuk ini, ia telah loncati lima pelatok.

Kim Cit Loo sedang nantikan Toa Hiap, kapan ia lihat datangnya Jie Hiap, dalam hatinya ia kata “Baiklah! Lebih dahulu aku bereskan kau, baharu musuhku itu!” Ia lantas geraki kakinya untuk maju, akan papaki lawan ini, ia geraki kedua tangannya dalam gerakan penyerangan “Siang liong chio coe,” atau “Sepasang naga berebut mutiara.” Sasarannya adalah jalan darah “Tay tie hiat” dikedua bawah buah dada.

Na Hoo cuma pernah dengar Toa Hiap bilang bahwa lawan ini liehay, belum pernah ia membuktikan sendiri, maka sekarang, melihat serangan lawan itu, ia tidak mau menyingkir, bahkan dengan “Ya ma hoen cong,” atau “kuda liar memecah suri,” ia hendak gempur kedua tangan jago itu.

Dengan percobaannya ini, tanpa merasa Jie Hiap sedang hadapi ancaman, karena umumnya sedikitnya ia mesti terguling jatuh dari pelatok.

Toa Hiap lihat sikap adiknya itu, ia insyaf akan bahaya bagi sang adik. Kebetulan ia sedang lompat kepada musuh, jaraknya tinggal dua tindak lagi, dari itu dengan satu enjotan pula ia maju untuk gempur pundak kiri Cit Loo dibahagian yang kosong. Ia menyerang dengan kedua tangannya sambil menyerukan “Loo Jie mundur!” Dalam keadaan seperti itu, berbahaya adalah kedudukannya Yauw beng Kim Cit Loo, karena tak dapat ia menangkis serangan itu. Ia tidak terkena secara hebat akan tetapi ia merasakan tekanan sangat berat kepada pundaknya, hingga kedua kakinya seperti tak dapat pertahankan dirinya. maka terpaksa ia miring kekanan, terus ia loncat empat tindak, sesudah mana baharulah ia bisa berdiri pula dengan tegak.

Kini Na Hoo baharu insyaf liehaynya Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, karena walaupun serangannya belum sampai, toh anginnya sudah mendahului menyamber, mengenai dada hingga ia rasakan jantungnya berdebaran. Kalau tiada Toa Hiap yang membantu, ia pasti rubuh karena serangan itu. Disebelah itu, Na Pek dengan roman bengis awasi adik itu, rupanya dia memberi tegoran dengan sinar mata. Karena ini, tanpa ayal lagi ia lekas perbaiki diri, untuk kembali hampiri Tee Hin Pang.

Bukan main mendongkolnya Kim Cit Loo terhadap Toa Hiap, yang sudah rintangi padanya. Ia perdengarkan suara “Hm!” dan lantas membentak musuhnya itu “Tua bangka, kau berani bokong Cit Loo coe?”

“Setan tua, kaupun lupa!” Toa Hiap balas membentak. “Bukankah berkelahi adalah saudara kandung dan berperang adalah ayah dan anak? Jangan kau jadi seperti si anjing gila yang main serobot samber! Na Loo Jie tak dapat gantikan aku membayar hutang, maka marilah kita berdua saja yang membereskannya!”

Meluap amarahnya Kirn Cit Loo mendengar kata2nya Na Pek yang paling pandai mengejek.

“Na Pek!” ia berseru, “kematianmu ada didepan mata, kau masih berani kurang ajar terhadapku! Aku hendak lihat, apakah hari ini kau masih sanggup lolos dari tangannya Cit Loo coe!”

Kata2 ini ditutup dengan loncatan pesat hingga Kim Loo Sioe segera sampai didepan Twie in chioe, siapa ia terus serang mukanya.

Na Pek berkelit sambil balas menyerang, dengan “Poat in kian jit,” atau “Membalik awan akan melihat matahari.” Ia hajar tangan musuh yang menyamber mukanya Kim Cit Loo lekas tarik pulang tangan kanannya, tubuhnya turut menggeser, membarengi mana, tangan kirinya menyerang dengan “Heng sin Pa houw ciang.” Sasarannya adalah jalan darah “Hoa kay hiat,” karena ia ada gusar tak kepalang.

Na Pek mengelakkan diri, tangan kirinya dikasi turun dengan “Pek hoo liang cie” atau “Burung hoo pentang sayap,” untuk balas serang dibagian “Kiok tie hiat” dari musuh, untuk bikin terlepas lawan empunya lengan kiri sebatas pundak.

Nyatalah Kim Loo Sioe, walau dia menyerang dengan bengis, dia pun berbareng menggunai tipu. Dengan serangannya itu dia sengaja memancing. Dia tunggu sampai tangannya Na Pek keluar, segera dia menyerang dengan ilmu pukulan “Siong Yang Tay kioe chioe” (“Sembilan tangan kaum Siong Yang Pay”).

Permula dengan “Keng kong hoan ciauw,” atau “Sinar membalik,” ia keluarkan tangan kanannya dari antara bawah lengan kiri, lantas tangan itu diteruskan menyerang dengan “Ouw liong kian bwee” atau “Naga hitam melingkarkan ekor.” Dia mengarah pundaknya Toa Hiap.

Serangan ini ada sangat gesit dan berat, Na Pek insyaf itu, ia tidak berani menangkisnya, maka itu sambil mendek sedikit ia pindahkan kakinya. Ia berkelit dengan cepat sekali. Kim Cit Loo lihat orang dapat berkelit, ia menyusul terus, ia menyerang berbareng punggung orang pada kedua bahagian ang gotanya yang berbahaya, dua jalan darah Leng tay hiat dan Hoen boen hiat.

Inilah hebat untuk Na Pek, ada sulit untuk ia menangkis atau berkelit, karena keduanya mesti rusak atau ia bercelaka sendiri.

Tapi jalan lain sudah tidak ada, apa boleh buat ia mesti bela diri.

Maka ia bergerak dengan cepat sekali. Kaki kirinya maju kedepan, kaki kanannya dibelakang, lalu dengan tancap terus kaki kirinya itu, ia memutar tubuh, kaki kanannya diangkat. Menyusul ini, ia gunai tangan kanannya menghajar kedua tangan musuh yang menyerang ia.

Kim Cit Loo tidak sangka musuh menjadi nekat, ia tak sudi melayaninya dengan nekat juga, dari itu terpaksa ia lekas2 tarik pulang tangannya. Untuk ini ia mesti menahan tubuhnya, karena mana, kedua kakinya memakai tenaga besar. Tanpa ia merasa, ia membuat pelatoknya bergerak sedikit, melesak terlebih dalam kedalam tanah. Tapi ia penasaran, dari kiri ia berputar kekanan, untuk menyerang pula dengan “Coan Sim ciang,” atau “Tangan menembusi hati.” Dengan ini sedikitnya ia harap lawan turun dari pelatok.

Ketika tadi Na Pek menyerang, ia gunai tipu pukulan “Hian niauw hwa see” atau Burung hitam menggaris pasir,” berbareng dengan itu, ia duga lawannya akan mengadakan perubahan, maka itu tanpa ayal ia bersiap, begitu diserang, ia mencelat jauh. Ia ada satu akhli ilmu enteng tubuh, tapi karena gerakan yang kesusu itu, mau atau tidak, iapun membuat pelatoknya tergerak, cuma karena pelatok melesak dalam, pelatok itu tidak sampai rubuh karenanya. Kim Cit Loo telah jadi nekat, dia terpengaruh sangat dengan niatnya membikin rubuh lawan ini, untuk ini dia tak pikir lagi dirinya, yang bisa runtuh bersama, maka juga selagi sang lawan menyingkir, dia berlompat untuk mengejar. Dia pun ada akhli ilmu enteng tubuh, tubuhnya sangat gesit dan pesat gerakannya. Dia menyerang selagi mereka sama2 berlompat. Sasarannya adalah bebokongnya Twie in chioe.

Na Pek terancam bahaya maut, atau kalalu ia rubuh, tulang2nya mesti ada yang patah, atau entengnya ia salah urat. Tapi juga Cit Loo sendiri ada harapan yang kakinya bakal tak dapat cari pelatok dengan tepat, hingga dia mesti keluar juga dari pelatok itu…. 

Dalam saat yang sangat berbahaya itu mendadak ada terdengar seruan nyaring dan panjang, yang dibarengi oleh mencelatnya satu tubuh manusia dari para2 bunga, tubuh mana loncat naik keatas panggung pelatok, tepat diantara Na Pek dan Kim Cit Loo, sedang tangannya orang ini ada menyekal sebatang senjata. yang dipakai menghalangi serangan, sebagai juga senjata ini merupakan gantinya tubuhnya jago dari Na chung itu.

Datangnya orang tak dikenal ini telah merubah suasana.

Kim Cit Loo sudah terlanjur, berbareng terperanjat dan heran, ia teruskan samber senjata penghalang itu. Karena ini, iapun mesti tunda loncatnya, untuk menaruh kaki diatas pelatok.

Orang tak dikenal itu, yang juga telah taruh kakinya dipelatok, ada punya tenaga yang sangat besar. Gegamannya sudah dipegang Cit Loo, malah dengan keras sekali, akan tetapi kesudahannya bukannya dia yang tergetar atau terpelanting dari pelatok, adalah Cit Loo sendiri yang merasai kedua lengannya tergerak, hingga ia jadi sangat heran.

Selagi Cit Loo terhalang, Na Pek sudah taruh kakinya dipelatok Lie kiong yang keempat, ketika ia menoleh, ia tampak Cit Loo dan orang tak dikenal itu berada dalam jarak tiga tindak satu dengan lain. Diam2 ia menghela napas lega, karena ia insyaf bahwa ia telah luput dari ancaman malapetaka.

Pada waktu itu, dilain sebelah, Na Hoo sudah berhasil mengalahkan Tee Hin Pang. Setelah beberapa gebrak, nelayan dari Siang Kang itu nyata bukan tandingannya Jie Hiap, dengan satu pukulan “Co koet hoen kin chioe”, ia kena dihajar lengan kirinya.

Adalah disaat Tee Hin Pang mencoba menyingkirkan diri, Kim Cit Loo sedang kejar Na Pek. Na Hoo hendak tolong saudara itu, ia terlambat, hingga ia jadi ibuk berbareng gusar sekali. Maka syukur, selagi kedua pihak bakal bercelaka, datanglah orang ketiga itu. Ay Kim Kong heran, sedang hiocoe2 lainnya dari Hok Sioe Tong turut tercengang juga. Hingga untuk sesaat itu, semua berdiri diam saja, tidak lagi ada yang bersiap siap untuk bertempur.

Segera juga. Kim Cit Loo mengenali orang didepannya itu, si penghalang, hingga ia rasakan dadanya hendak meledak bahna mendongkol dan gusarnya. Orang itu adalah Kay Hiap Coei Peng, musuh besarnya juga, orang yang ia anggap dahulu menyebabkan namanya runtuh sampai ia tak sanggup taruh kaki lebih lama dalam dunia kang ouw!

Belasan tahun telah berselang sejak pertemuan mereka di Koh lioe toen, Cit Loo masih ingat baik kejadian itu, sekarang justeru ia hendak lampiaskan dendamannya terhadap Na Pek, musuh besar inipun muncul pula, dan untuk kedua kalinya usahanya digagalkan!

Kim Loo Sioe telah pikir, begitu lekas ia berhasil menuntut balas, ia hendak kembali kedalam dunia kang ouw, untuk angkat pula namanya.

“Coei Peng, pengemis bangkotan!” ia berseru, setelah ia kertek gigi. “Sakit hatiku dulu di Hookan masih belum terbalas, siapa tahu sekarang kau muncul pula disini! Terang kau sengaja hendak satrukan aku! Pengemis bangkotan, hari ini kita mesti memutuskan, siapa kuat dia hidup, siapa lemah dia mampus! Jikalau aku tidak robek dadamu untuk diudal2 isi perutmu, kecewa aku menjadi Yauw beng Kim Cit Loo!”

Coei Peng menuding dengan serulingnya, itu senjata yang tadi ia pakai memisahkan, dengan tangan kirinya ia usap2 jenggotnya yang jarang, lalu ia tertawa bergelak.

“Hantu bangkotan, kau sabarkan dirimu!” berkata ia. “Memang seharusnya kita berdua membuat perhitungan! Malah setelah lewat banyak tahun, perhitungan itu mesti dibayar berikut bunganya! Isi perutku tidak di tinggalkan di Hookan untuk pelihara anjing, aku sengaja tinggalkan itu guna dipakai membayar hutang! Hantu bangkotan, juga tulang2ku yang melarat ini aku siapkan untuk bayar bunganya! Aku tadinya menyangka, karena dadamu sesak, kau sudah tinggalkan dunia fana ini, siapa tahu, kau sebenarnya kabur kedalam Cap jie Lian hoan ouw ini untuk membantu keramaian! Hantu bangkotan, hari ini ada saat terakhir dari aku si malaikat rudin, maka kau sebutkanlah apa kehendakmu, aku siap untuk melayaninya!”

Sementara itu Siang ciang Hoan thian Coei Hong dan Tiat cie Kim wan Wie Thian Yoe dua orang kenamaan masih saja merasa heran sekali. Mereka tak mengarti kenapa mereka tidak insyaf bahwa dipara2 bunga itu ada sembunyi satu orang, seorang kang ouw yang luar biasa itu. Kalau mereka tidak saksikan liehaynya ilmu enteng tubuh dari orang itu, masih mereka tak akan percaya dia adalah Kay Hiap Coei Peng yang namanya menggetarkan dunia kang ouw, karena dandanannya yang butut sebagai pengemis paling melarat. Adalah Tee Hin Pang, begitu lekas ia kenali si pengemis, ia pelengoskan muka, tak berani ia adu sinar matanya dengan pendekar pengemis itu.

Coei Hong sebagai ketua dari Hok Sioe Tong, tak dapat ia diam saja, maka itu, segera ia lompat maju untuk menegor.

“Gie soe, kiranya kau adalah Kay Hiap Coei Peng yang kenamaan,” berkata ia seraya rangkap kedua tangannya memberi hormat. “Kami kaum Hong Bwee Pang sudah lama dengar namamu umpama guntur dimusim semi! Sungguh beruntung kami yang kau telah mengunjungi tempat kami ini! Giesoe, apakah ada minatmu untuk main2 diatas Pat kwa chung ini?”

Coei Peng melirik kepada ketua dari Hok Sioe Tong itu. “Entah     bagaimana     ada     untungku     si     malaikat

kemelaratan, di mana saja aku sampai, aku dapat bertemu sesama kaum, sesama she!” berkata ia. “Bukankah kau ada

Coei Hiocoe dari Kok Sioe Tong? Oh, majikanku, panggung pelatok ini masih terbuat kurang sempurna! Teranglah sudah, karena kamu berdiam didalam Hok Sioe Tong, kamu ada sangat berbahagia dan nganggur, bisanya gegares saja, kerjaan lainnya tidak ada, saking nganggurnya kamu jadi main2 membuat pelatok2 ini, sesudah mana, kamu dirikan panggung disini untuk pertontonkan kepandaianmu yang luar biasa! Dimataku, kau buat pelatok ini kurang tangguh, tak dapat dicegah apabila pelatok2 ini nanti kena diinjak gempur dan hancur! Majikanku, jangan kau anggap tubuhku sangat kurus kering tetapi bisalah aku memberi buktinya dari tak kuatnya pelatok2 ini! Sekarang aku hendak buktikan untuk hunjuk bahwa aku tidak menjusta!”

Coei Peng cabut serulingnya, yang tadi ia telah tancap pula dibebokongnya antara leher bajunya yang butut.

“Kau lihat!” kata ia, yang terus dengan alat musik tiup itu ia ketok pelatok batu yang merupakan panggung pelatok adu silat itu, setiap kali ia mengetok, setiap pelatok pecah dan hancur.

Dan ia ulangi itu terus menerus, hingga banyak pelatok batu jadi gempur karenanya.

“Setan alas!” membentak Coei Hong dalam hatinya. “Dengan pertontonkan kepandaianmu merusak pelatok2 ini, teranglah kau tidak sudi adu silat diatas panggung Pat kwa chung ini! Karena kau tidak sudi adu silat diatas pelatok, kau jual laga dengan caramu yang licin ini! Sungguh menjemuhkan!”

Coei Peng yang telah berhenti mengetok ngetok terlebih jauh, lalu tertawa gelak2.

“Buat apa pelatok2 ini?” berkata ia dengan nyaring. “Sudahlah!” Terus ia menoleh pada Toa Hiap dan Jie Hiap dan berkata “Na Toa Hiap, Na Jie Hiap, mari turun! Buat apa kita berlagak tolol diatas panggung ini?”

Benar2 Kay Hiap loncat turun dari pelatok.

Na Pek dan Na Hoo tahu orang tidak ingin adu silat diatas pelatok itu, dengan beruntun merekapun loncat turun. Matanya Yauw beng Kim Cit Loo menjadi merah, tapi ia tak bisa bikin suatu apa, maka iapun turut loncat turun. Kemudian, semua hiocoe lainnyapun undurkan diri.

“Pengemis bangkotan!” Kim Loo Sioe tegur musuhnya itu. “Apa bisa kau pergi dengan begini saja setelah kau ngoce tidak keruan? Apakah kau sangka Cit Loo coe mau sudah saja terhadapmu?”

Coei Peng menoleh.

“Iblis tua, jangan kau banyak tingkah!” jawabnya. “Aku si malaikat kemelaratan juga tidak memikir untuk segera angkat kaki dari sini! Jikalau aku tidak suruh kau pergi, itulah namanya aku bukannya satu sahabat! Untuk ini aku melainkan hendak bicara dahulu dengan jelas.” Ia lantas hadapi Coei Hong, akan tambahkan “Aku Coei Peng dengan Yauw beng Kim Cit Loo ini ada punya perjanjian lama, karena itu, tak sukalah aku dalam urusan ini ada lain orang yang turut campur. Umpama ada orang yang ingin main2 dengan aku, baiklah dia bersabar menunggu sampai aku sudah selesai bikin perhitungan kepada si setan tua ini! Tentu saja aku suka jelaskan pula, jikalau kamu suka berdiam untuk menonton keramaian, untuk bantu meramaikan saja, itulah boleh, tapi karena aku dengan setan tua ini tak bisa hidup bersama dalam dunia, umpama kamu niat mengeroyok, itupun boleh juga, terserah kepada kamu semua!”

Coei Hong bisa kendalikan diri.

“Jikalau kau ada punya urusan lama, tak dapat kami mencampurinya,” berkata ia dengan sabar. “Biarlah kami berdiam saja disini, untuk menonton kepandaian yang utama, untuk menambah luasnya pengetahuan kami!” Lalu ia tambahkan pada Wie Thian Yoe semua “Jikalau ada diantara saudara2 yang ingin main2 bersama Kay Hiap yang namanya telah menggetarkan dunia kang ouw, aku harap tunggulah saja sampai mereka ber dua sudah selesaikan perhitungan mereka! Sekarang mari kita undurkan diri untuk menonton, guna puaskan mata kita!”

Semua hiocoe itu berdiam, tapi mereka mundur, terutama Siang Kang Hie in Tee Hin Pang telah mundur paling jauh dibelakang kawan2nya, tetap ia tak berani bentrok sinar mata dengan si pendekar pengemis itu.

Yauw beng Kim Cit Loo hendak adu jiwa dengan Coei Peng tapi sampai sebegitu jauh ia masih belum ketahui akan kepandaian orang, ia tak tahu bahwa seruling lawan itu bisa dipakai sebagai gantinya pedang Thian leng kiam yang ada punya tiga puluh enam jalan serta bisa dipakai juga sebagai poan koan pit, untuk menotok jalan darah banyaknya seratus delapan lobang. Adalah biasanya, kalau Kay Hiap hadapi musuh dengan ia gunai serulingnya, jarang ada musuh yang bisa lolos dari bahaya.

“Pengemis bangkotan!” kata Kim Loo Sioe yang masih sengit, “apakah kau sangka aku tidak tahu kau telah gunai kelicinanmu waktu kau rusaki pelatok Pat kwa chung barusan? Sekarang bilang, kau hendak adu kepandaian dengan cara apa?”

Kay Hiap Coei Peng berse nyum.

“Hantu bangkotan, jangan kau terlalu andalkan Pat kwa chung ini,” kata ia. “Rupanya kau anggap jumlah banyak mesti menang, maka kau andalkan jumlahmu yang banyak itu untuk rebut kemenangan! Dimataku, panggung pelatokmu ini tidak ada harganya, jikalau kau hendak tukar, tukarlah dengan yang baru. Setan tua, mari kita omong lebih dahulu. Pertemuan di Ceng Giap San chung ini ada pertemuan persahabatan, aku si malaikat kemelaratan bersedia untuk layani kau. Baiklah kita membuat perjanjian. Umpama kau dapat memenangi aku, lantas dihadapan orang banyak ini aku nanti matur maaf padamu, kemudian aku akan cuci tangan dari dunia kang ouw, aku janji tidak akan menuntut balas terhadapmu. Cuma, andaikan sebaliknya kau yang kalah, bagaimana dengan kau?”

Kim Cit Loo menjawab dengan cepat, katanya “Dalam hal kita ini, juga perhitungan dengan Na Loo Toa, aku suka bikin habis. Umpama aku yang kalah, aku nanti cukur rambutku untuk aku menjadi pendeta, aku akan putuskan segala perhubunganku dengan kaum kang ouw!”

“Setan tua, aku terima baik janjimu ini,” kata Coei Peng. “Ingat, apabila kau menyangkal, kau tidak bakal luput dari keadilan umum! Sekarang, hayo kau sebutkan, cara apa kau kehendaki halus, keras atau enteng, aku si malaikat kemelaratan bersedia untuk melayani!”

“Kau desak aku, sahabat!” Cit Loo kata seraya keluarkan suara dihidung. “Kau hendak bikin aku, ada rumah tak bisa pulang, ada negara tak bisa mendiaminya. Sekarang kau sambutlah!”

Berkata demikian, matanya Kim Cit Loo bercahaya, memandang kearah selatan utara dimana ada dua baris pohon siong dan pek, yang menjurus kebelakang Ceng Giap San chung itu. Ia memang liehay dalam ilmu enteng tubuh, kegesitan badan, gelarannya toh “Pat pou kan siam,” atau “Delapan tindak mengejar tonggeret,” sedang selama menyingkir dari Hookan, ia telah melatih diri dengan keras. Disebelah itu, tenaga tangannyapun telah bertambah luar biasa, berkat peryakinannya ilmu Tay lek Kim kong chioe, walaupun ilmu ini ia belum dapatkan kesempurnaannya. Sedangkan dengan matanya yang liehay, ia telah dapat lihat kuku dari jari2 tangannya si pendekar pengemis, kuku yang tak ketentuan panjang pendeknya, ada yang satu dim, ada yang beberapa hoen. Dalam hatinya ia berkata “Dengan Eng jiauw lat dari Tay lek Kim kong chioe, apa tanganmu bisa berbuat?” Maka ia lantas menambahkan.

“Mari kita adu tenaga tangan!” Ia tidak tunggu jawaban, ia lantas bertindak kearah selatan barat itu, dibawah pohon, untuk kata pula sambil menunjuk “Cit Loo coe hendak gunai pohon siong ini untuk mencoba tenaga tangannya, Cit Loo coe hendak bikin kau menambah pengetahuan!”

Tanpa tunggu orang nyatakan akur atau tidak, Kim Cit Loo lantas berdiri menghadapi sebuah pohon siong, ia pasang kuda, untuk segera empos semangatnya buat dipusatkan dikedua lengan, terus ketelapakan tangannya, setelah mana, ia geraki kedua tangannya itu untuk dipakai me nyamber batang pohon itu hingga tergetar, kulitnya copot dan jatuh terserakan sebagai ampas.

“Pengemis bangkotan, kau lihat!” berkata Kim Cit Loo lagi, setelah ia tarik pulang kedua tangannya untuk dibuka genggamannya, kepada Coei Peng ia perlihatkan tangannya yang kanan. Nyata ampas kulit pohon itu telah hancur bagaikan tepung, apabila ditiup, semuanya terus terbang berhamburan.

“Pengemis tua bangka, apakah kau berani mencoba sebagai Cit Loo coe ini?” ia terus menantang. Dari suaranya menunjukkan akan kesengitannya.

Dengan tertawa dingin, Coei Peng awasi aksinya lawannya itu.

Didalam hatinya ia kata “Setan tua, kau mainkan kampak didepan kawan! Cara bagaimana kau berani pertunjukkan tenaga tangan ini didepan Eng Jiauw Ong, akhliwaris Eng jiauw lat dari Hoay Yang Pay? Jikalau aku tidak kasi lihat contoh ke padamu, tentu kau belum mau sudah ” “Setan tua, aku benci kepada rombonganmu justeru karena bagian ini dari sifatmu!” berkata ia seraya kembali perdengarkan suara dihidung. “Aku paling benci manusia yang kejam kepada benda alam! Pohon siong ini ada begini indah tetapi kau rusaki dengan percobaan tanganmu, sampai kulitnya rusak, hingga pohonnya mati tidak, hiduppun tidak! Setan tua, dosamu besar sekali, maka aneh kenapa didalam Ceng Giap San chung Ini kau tidak mendapat kutukan! Tapi Coei Peng suka berbuat baik, apabila aku menyontoh kau, aku kuatir kau mati mendadak saking malu! Biarlah aku beri ketika sebentar untuk kau hidup terlebih lama, supaya kalau nanti kau mampus, tak usahlah matamu tak sampai melek saja!”

Habis berkata, si pengemis ini hampirkan pohon siong itu.

“Kamu semua mundur!” ia berkata. “Ka lau ketimpa, tak ada orang yang mengganti jiwa!”

Kata2 ini dibarengi dengan gerakan tangannya menyamber kepada batang pohon yang besar, sampai terdengar suara nyaring, menyusul mana, pohon itu lantas rebah doyong, tanah dibetulan akarnya terbongkar, kemudian dengan satu gerakan susulan, pohon itu rebah anteronya, patah dibagian tadi dijambak Kim Cit Loo.

Inilah ada hasil dari pukulan “Pay san ciang lat,” atau “Tenaga tangan mendorong gunung.”

Menampak itu, orang2 Hong Bwee Pang pada meleletkan lidah.

Kim Cit Loo kaget berbareng gusar, ia tidak sangka si pengemis ada demikian liehay dan licin. Selagi ia masih berdiam, sejumlah orang Hong Bwee Pang muncul untuk gotong pergi pohon siong itu. Ketika itu, Kay Hiap Coei Peng kata sambil tertawa pada lawannya “Setan tua, aku toh bisa layani kau bukan? Sekarang kepandaian apa lagi kau ada punya? Silahkan kau keluarkan! Tak sudi aku membuat orang penasaran seumur hidup!”

“Pengemis bangkotan, siapa adu mulut denganmu?” Kim Cit Loo berseru. “Pengemis bangkotan, mari sini!”

“Kemana kita pergi?” tanya Coei Peng dengan dingin. “Toh tak bisa menjadi kau nanti ajak aku si malaikat kemelaratan pergi keakherat? ”

Kim Cit Loo tak gubris jengekan itu, ia menuju langsung ke timur para2 bunga, di situ ia menunjuk kepada pelatok2 bambu hijau seraya berkata “Pengemis bangkotan, kau lihat itu! Kau bilang pelatok batu tak dapat dipakai, tetapi keatas ini kau bisa naik untuk jalan, bukan? Baik aku jelaskan lebih dulu kepadamu! Sebenarnya kau tidak punya kepandaian untuk naik atas pelatok2 batu dari Pat kwa chung, untuk mengadu kepandaian, maka kau telah rusakkan dengan pesawat untuk mengemismu, maka itu sekarang, kau jual apa, aku beli apa! Bangsat ketemu bangsat kan tak dapat membuka rahasia? Tak usah rahasia dibuka, kau toh ketahui sendiri, bukan? Sekarang bilanglah terus terang, kau berani atau tidak menaiki pelatok bambu ini?”

Coei Peng tertawa gelak2.

“Setan tua, jangan kau bertingkah!” ia jawab. “Bukannya aku omong besar, pelatok Chee tiok Kioe kioe chung ini adalah satu permainan kecil yang tidak ada artinya. Sesuatu sahabat kang ouw, asalkan yang pernah belajar tiga atau lima tahun ilmu enteng tubuh, pasti tak ada yang tak mampu menaikinya! Malah dikampung halamanku sendiri, sesuatu boca bisa berlarikan diatas ini Kau hendak adu kepandaian dengan cara apa, kau sebutkan saja, jikalau aku sampai mengucapkan satu patah kata tidak, pastilah aku telah sia2kan maksud baikmu! ”

Bukan alang kepalang Ge ngit nya Kim Cit Loo karena kata2 yang tajam itu.

“Pengemis bangkotan, tak usah kau goyang lidahmu!” ia membentak. “Cit Loo coe telah siap untuk adu kepandaian denganmu! Mari, marilah sambut aku!”

Kim Loo Sioe lantas bertindak ke timurnya pelatok, atas mana, Coei Peng pergi ke baratnya. Mereka sudah lantas berdiri saling berhadapan.

Chee tiok Kioe kioe chung ada semacam pelatok. Bwee hoa chung dari Siauw Lim Pay terbuat dari kayu, adalah Kioe lrioechung ini terbuat dari bambu, yang ujungnya tajam bagaikan golok, bongkotnya dipendam masuk kedalam tanah enam dim, tajamnya nonjol keatas tinggi nya tiga kaki enam dim, semua ada delapan puluh satu pelatok seperti namanya menunjukkan. Kioe kioe adalah sembilan kali sembilan menjadi delapan puluh satu (pelatok). Maka mudah dimengerti bencananya siapa bersilat diatas itu dan rubuh, dia tentu bakal tertusuk pelbagai pelatok2 tajam itu yang merupakan bambu runcing.

“Pengemis tua bangka, hayo naik! Cit Loo coe akan kirim kau kenenek moyangmu!”

Kim Cit Loo terus ada sangat mendongkol dan sengit, hingga ia lupa pada aturan2 dari kaum kang ouw. Sehabis berseru, la enjot tubuhnya akan mendahului loncat naik keatas sebuah pelatok.

Akan tetapi didepan dia, Coei Peng tidak tunggu sampai orang sudah loncat naik, ia membarengi, hanya begitu lekas ia mulai taruh kakinya diatas pelatok, mendadakan dia menjerit “ Ayo! Setan tua, kau benar2 jahat! Aku terjebak olehmu! Jikalau aku terpeleset jatuh, tentulah tubuhku bakal bolong2 ketublas ujung bambu! ”

Selama ini, tubuhnya pendekar pengemis ini kelihatan bergoyang2, mirip dengan daun teratai yang tertiup angin, adalah setelah ia menukar tindakan, baharu ia bisa bikin tetap tubuhnya itu, walaupun demikian, masih saja mulutnya keluarkan ocean ….

Jauh dibawah panggung, tujuh hiocoe lainnya dari Hok Sioe Tong mengawasi dua orang itu. Memandang kepada Kim Cit Loo, Tiat cie Kim wan Wie Thian Yoe, yang menjadi kam tong dari Hok Sioe Tong, kerutkan dahi.

Dilain pihak, Twie in chioe Na Pek pandang Ay Kim Kong Na Hoo dan bersenyum, kemudian dengan suara pelahan ia kata kepada adiknya “Loo Jie, kau lihat, Kim Loo Sioe akan mendapat bahagiannya       Cuma si pengemis tua agaknya sedikit keterlaluan ”

Na Hoo pun insyaf, Kay Hiap Coei Peng hendak membalas untuk mereka, tetapi yang pembalasan ditujukan kepada Kim Loo Sioe seorang, itulah kurang tepat ….

Ketika itu Kim Cit Loo diatas pelatok sudah mulai bergerak, dari timur ia menuju keselatan, Coei Peng pun turut bertindak dari barat ke utara, hingga mereka tetap berhadap2an. Selama itu, terus Kim Cit Loo awasi lawannya.

“He, pengemis bangkotan!” berseru Kim Loo Sioe kemudian, “apakah benar2 kau main tolol2an terhadap Cit Loo coe? Inilah aku tidak percaya! Maka kau sambutlah ini!”

Menjejak pelatok dengan sebelah kakinya, Kim Cit Loo loncat maju akan mendekati si pengemis. Ia telah gunai tipu pukulan dari   “Siong Yang Tay kioe chioe,” sebelah tangannya menyamber kearah muka.

CXXX.

Coei Peng berkelit untuk serangan itu, ia tertawa haha hihi.

“Eh, setan tua, kau benar2?” kata ia dengan pertanyaannya main2.

“Bukankah kita berdua tidak bermusuhan besar?”

Ia loncat kekiri sampai empat pelatok jauhnya, gerakannya sangat pesat.

Melihat orang tidak menangkis dan malah menyingkir, Kim Cit Loo mendongkol sekali, hingga ia kertek gigi dengan keras. Ia loncat pula untuk maju menyerang, kali ini dengan “Hay tee lo goat,” atau “Didasar laut meraup rembulan.” Dengan tangan kanan mengancam, tangan kirinya nyelusup keiga kanan dari lawan yang jail itu.

Sekali ini, Coei Peng tidak berkelit sambil lompat seperti tadi, ia cuma elakkan sedikit tubuhnya, yang ia coba tekuk melengkung.

“Setan tua, kurang sedikit!” ia berseru selagi tangan lawan mengenai sasaran yang kosong.

Dengan sesungguhnya, serangan itu kacek setengah dim saja!

“Pengemis bangkotan, kau hendak menyingkir kemana?” menjerit Kim Cit Loo, yang kegusarannya meluap2. Dengan sebat ia tarik pulang tangan kirinya, akan ganti serangan dengan tangan kanan, sedang tubuhnya mengikuti maju. Dengan “Tan pek ciang,” atau “Pukulan tunggal,” iapun kerahkan tenaganya. Sasarannya ada lah jalan darah hoa kay hiat.

Melihat serangan itu, ketu juh hiocoe lainnya dari Hok Sioe Tong percaya, kali ini Kay Hiap Coei Peng tidak akan lolos lagi, pasti dia akan rubuh. Akan tetapi dugaan mereka semua meleset.

Coei Peng perdengarkan seruan kaget, tetapi berbareng dengan itu, tubuhnya melenggak, karena dengan “Kim lie to coan po,” atau “Tambra emas celentang menembusi ombak,” dia terus berlompat, sampai tingginya enam tujuh kaki, lalu ia jumpalitan, kapan kemudian tubuhnya turun pula, sebelah kakinya injak pelatok bambu yang ke tujuh, selagi ia tancap kaki, kembali mulutnya bersuara “Setan tua, aku lolos!”

Juga Kim Loo Sioe percaya serangannya itu tidak akan gagal pula, atau sedikitnya ia akan bikin lawan terpeleset jatuh dari antara pelatok2 bambu runcing itu, maka kapan ia saksikan orang luput dari bahaya, ia menjadi kaget. Ia telah lakukan serangan susulan yang liehay, karena mana tubuhnya sendiri maju sangat pesat, sebab tidak mengenai sasaran, syukur ia liehay, ia dapat pertahankan diri setelah melalui tiga pelatok, walaupun demikian, ia mesti keluarkan keringat dingin karena kagetnya. Lekas2 ia pusatkan perhatiannya, ia kertek gigi, setelah mana, ia maju akan serang pula lawan yang jail itu.

Kembali Coei Peng berkelit, sambil berkelit mulutnya ngoce terus.

“Masih jauh, setan tua!” demikian katanya. “Sudah, sudah sajalah! ”

Semakin diejek semakin Cit Loo mendongkol, dan makin hebat juga serangannya. Semua akhli silat dari Hong” Bwee Pang, juga dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, bisa kenali, si pengemis tua sudah bersilat dengan ilmu enteng tubuh “Yan Ceng Sippat sian hoan,” atau “Yan Ceng berjumpalitan delapan belas kali Itulah kepandaian yang jarang dipunyai orang, karena dilakukannya diatas pelatok2 bambu runcing. Maka semua orang menjadi sangat kagum.

Terus Coei Peng perlihatkan kegesitannya, kapan Kim Cit Loo desak ia, ia main menyingkir saja dengan berkelit kekanan kiri, atau dengan loncat mundur. Tujuh kali ia diserang saling susul, tujuh2 kalinya ia buang diri. Maka sia2lah semua serangannya Kim Cit Loo, yang sudah jadi nekat dan bersedia akan runtuh bersama2 lawannya ini.

Pada mulanya, Coei Peng telah ambil putusan akan singkirkan bandit besar dari Ouwpak ini, akan tetapi setelah bertempur sekian lama dan menyaksikan kepandaian lawannya, diam2 ia berbalik jadi merasa bersimpati terhadapnya. Ia anggap sayang kepandaian itu, sedang usianya Kim Loo Sioe sudah sedemikian lanjut. Itu adalah kepandaian yang jarang dipunyai lain orang, bukan main sukarnya akan peroleh kepandaian semacam itu.

Maka sekarang, tidak lagi ia memikir untuk menyingkirkan nya, ia hanya berdaya untuk dapat menakluki…. Ia anggap, apabila ia berhasil, ia jadi sudah berbuat suatu kebaikan. Sebaliknya apabila ia gagal, lain kali saja ia singkirkan jago Ouwpak itu. Demikian ia melayani terus dengan ilmu silat “Yan Ceng Sip pat sian hoan” itu.

Kim Cit Loo tidak ingin rubuh di Ceng Giap San chung ini, dalam penasarannya ia terus berkelahi dengan sengit. Selama itu, cuaca telah berubah, dari terang berderang, udara menjadi mendung, kilat berkelebat, guntur mendengung.

Menyusul guntur itu, Coei Peng tertawa.

“Setan tua, kau dengar!” ber kata ia dengan jenaka. “Tambur langit telah berbunyi, Itu tandanya bahwa hari dan tempomu yang baik sudah sampai! Maka jikalau kau ada punya kepandaian, lekaslah keluarkan itu, nanti kau bikin lewat saatmu berpulang ”

Jarak diantara mereka berdua ada empat pelatok ketika si pengemis tetiron perdengarkan ejekannya itu.

“Pengemis bangkotan, jikalau kita mesti berpulang, aku mesti ajak kau bersama!” menjerit Kim Cit Loo dalam murkanya. Dan ia menjejak pelatok untuk loncat maju menyerang. Dalam nekatnya, jago Ouwpak ini kerahkan tenaga, “In liong sam hian jiauw” atau “Naga dalam mega keluarkan kukunya tiga kali.” Ia berlaku begini walaupun ia insyaf bahwa sembarang waktu ia bisa nampak bencana. Semua tenaganya kumpul pada kedua lengannya. Serangannya pertama adalah “Siang ciang heng twie,” atau “Sepasang tangan melintang menolak,” dari kiri menyampok kekanan.

Coei Peng sedang menukar pelatok ketika ia diserang secara demikian nekat, ia insyaf bencana yang mengancam dirinya.

“Ah, setan tua, kau benar2 sudah bosan hidup!” mencaci ia dalam hatinya. Ia lantas berseru. “Bagus!” menyusul mana ia berkelit, akan teruskan geser kaki kearah kiri si penyerang. Dari sini dengan cepat luar biasa ia keluarkan tangan kanannya menyerang tempilingan kiri musuh. Yang digunai adalah dua buah jari tangan. Serangan dan kegesitannya lawan itu ada diluar sangkaannya Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe, tapi ia masih sempat mengegoskan kepalanya kekanan dengan pundak kirinya dikasi turun, tangan kirinya sendiri, dengan jari tangan diangkat keatas, membalas mencari nadi lawan itu.

Tidak ada niat bagi Coei Peng akan celakai lawannya itu, ia melulu mengancam dengan gertakan, maka kapan ia dibalas diserang, cepat2 ia tarik pulang tangannya, ia loncat mundur. Bukan kepalang gusarnya Kim Cit Loo, ia lompat maju, akan ulangi serangannya yang dahsyat. Ia lompat dalam gerakannya “Go eng pok touw,” atau “elang lapar lompat menubruk kelinci.” Ia susul lompatan lawannya, kedua tangannya mengarah bebokong.

Kim Cit Loo merasa bahwa ia dapat menyandak, bahwa ia akan berhasil menghajar lawan, siapa tahu kembali ia mengharap yang tidak2.

Disaat serangan mendatangi, mendadak Kay Hiap berseru “Setan tua, kau sudah tak ingin hidup pula!” Seruan ini dibarengi dengan loncatan tubuh yang menyingkir dari serangan. Ia mencelat kearah timur barat. Ketika kakinya injak pelatok, tubuhnya bergoyang, atas mana terdengar seruannya “Tak suka aku turun!” Segera ia berdiri tegak pula, sambil memutar tubuh ia berseru “Setan tua, masih kau tak mau menyerah kalah? Sambut ini!”

Itulah gertakan, karena si pengemis tetiron tidak balas menyerang. Adalah sebaliknya dengan Kim Cit Loo, yang sudah nekat. Setelah kegagalannya ini, ia lompat pula, untuk mengejar.

Coei Peng berlompat dengan “Yan Ceng Sip pat sian hoan, kali ini ia loncat jauh kira2 dua tumbak. Kim Cit Loo taruh kaki didepan bekas Coei Peng berdiam, sambil menaruh kaki, ia menyerang, tapi orang telah dului ia menyingkir, ia jadi serang tempat kosong. Sementara itu tubuhnya sudah maju, maka untuk pertahankan diri, ia majukan sebelah kakinya untuk injak pelatok. Ia justeru injak pelatok bekas injakannya lawan. Ia menginjak dengan kaki kanan.

Tiba2 tubuhnya limbung kekiri sampai ia kaget sehingga ia keluarkan keringat dingin, maka lekas2 ia majukan kaki kiri, untuk imbangi tubuhnya itu. Dengan kaki kanan limbung, tak dapat ia loncat. Begitu lekas kakinya kiri ditaruh, kaki kanannya diangkat. Apa celaka, dengan angkat kaki kanan, ia kena jejak pelatoknya, yang mendadak rebah kedepan!

Berbareng sama keadaannya Cit Loo demikian rupa, Wie Thian Yoe perdengarkan helaan napas, sebab ia telah saksikan, rekannya itu sudah terancam bahaya keruntuhan.

Coei Peng yang telah putar tubuh dan menancap kaki, telah perdengarkan seruannya “Setan tua, kaupun rasai tangannya si malaikat kemelaratan!”

Mengikuti seruan itu, tubuhnya si pengemis tetiron menceiat pesat sekali kebelakangnya lawan. Gerakannya itu ada gerakan paling sulit dari ilmu enteng tubuh, ialah “Hay yan liang po,” atau, “Walet laut serbu gelombang.” Kedua tangannya diulur ke arah kedua pundak lawan, dalam gerakan “In liong hian jiauw,” atau “Naga dalam mega keluarkan kuku.”

Tubuhnya Kim Cit Loo sedang doyong, iapun sukar memutar tubuh, jikalau ia kena diserang, ia mesti terluka, atau sedikitnya ia bakal rubuh dari pelatok, maka itu, menampak ancaman si pengemis, semua orang liehay dari Hong Bwee Pang jadi gusar, karena anggap musuh ini ada telengas. Kim Cit Loo sendiri berpikir lain sulit atau tidak, ia mesti lindungi kehormatannya, maka itu, dengan paksakan diri ia putar tubuh juga, sebelah tangannya menyamber kearah kaki lawannya itu!

Coei Peng lihat perlawanan lawannya itu, ia turunkan tangan kirinya kebawah, untuk menyabet lengan lawan, sambil berbuat demikian, ia berseru “Setan tolol, sudahlah!” Ia telah gunai tenaganya, tapi iapun terus loncat mundur jauhnya enam pelatok.

Kim Cit Loo kena tertolak keras, sia2 ia mencoba pertahankan diri, iapun mundur empat pelatok, jatuh kebawah. Dengan sangat susah ia dapat tolong dirinya hingga ia tak usah rubuh terpelanting.

Mendadakan Coei Peng tertawa geli, ia kata “Setan tua, benar kepandaianmu luar biasa. Tapi kita tak punya dendaman, aku tidak rampas isterimu atau bunuh puteramu, maka kenapa kau tidak hendak berhenti saja? Sudahlah!”

Sehabis mengucap demikian, tanpa tunggu jawaban dari lawannya, Coei Peng loncat turun dari pelatok bambu runcing itu.

Kim Cit Loo melengak, tapi dalam sedetik saja ia sadar, ia insyaf bahwa orang telah berbuat baik, orang sudah lindungi kehormatannya, kalau tidak, tidak nanti ia dapat luputkan diri dari serangan berbahaya. Tapi walau bagaimana, hatinya tetap panas, maka ia loncat naik pula keatas pelatok, sambil ulur tangannya ia kata dengan sengit “Pengemis bangkotan, walaupun Cit Loo coe tempatkan diri dalam dunia Rimba Hijau, dia yakin artinya budi dan dendaman! Na si kate adalah yang berhutang kepadaku, bagaimana kau si pengemis bangkotan yang menalangi membayarkannya? Tapi biarlah aku dengan dia, dendaman baharu dan lama, aku bikin habis! Pengemis bangkotan, sekarang juga aku akan meninggalkan Ceng Giap San chung, jikalau nanti kita berdua bertemu pula dalam dunia kang ouw, aku akan ingat baik2 budi dan dendam ini! Pengemis tua, kau mengarti sendiri, maka sampai kita bertemu pula!”

Sehabis mengucap demikian, Kim Cit Lo loncat turun dari pelatok, akan menceiat lebih jauh kearah Boe Wie Yang, sambil berdiri ia memberi hormat dan kata “Boe Pangcoe, sejak aku datang kemari, aku telah di berikan penghargaan besar sekali, ikan tetapi hari ini aku tidak mampu berbuat suatu apa untuk liong Bwee Pang, tak ada muka akan aku berdiam lebih lama pula disini. Tentu saja bukannya kehendakku untuk berbuat ada permulaan tak ada akhirnya. Sekarang aku ingin berpamitan, terserah kepadamu, kau ijinkan aku pergi atau tidak, kekuasaan ada ditanganmu, tetapi aku hendak pergi juga. Biarlah lain kali kita bertemu pula! ”

Selagi Kim Cit Loo ber kata2 demikian, tujuh hiocoe rekannya, ialah Coei Hong beramai, sudah kembali ketempatnya masing2. Dilain pihak, Yan tiauw Siang Hiap telah haturkan terima kasih mereka kepada Coei Peng, atas mana, dengan cara tawar, Kay Hiap berkata “Na Toa Hiap, mari kita kurangkan obrolan kita! Lihatlah cuaca begini mendung, dengarlah guntur mengguruh, maka percayalah aku, hujan dan angin hebat tak dapat diluputkan…. Udara ada begini gelap, inilah suasana yang aku si malaikat kemelaratan tak biasa nya memandang…. Adalah biasa bagiku, kemana aku pergi, tentu terlebih dahulu aku lihat jalanan pulang, tapi kali ini aku kuatir aku bakal terkubur disini. Lihat itu si iblis bangkotan, tak mungkin gampang2 dia bisa keluar dari Cap jie Lian hoan ouw ini!” Sambil mengucap demikian, Coei Peng menoleh, memandang kearah Kim Cit Loo dan Boe Wie Yang.

Benarlah, selagi Pat pou Kan siam Kim Loo Sioe hendak balik tubuhnya, Boe Wie Yang kata padanya dengan roman dan suara keren “Kim Hiocoe, sejak kau memasuki Hong Bwee Pang, selama beberapa tahun aku perlakukan kau sebagai tetamu y ang terhormat, malah aku telah undang kau menempati Hok Sioe Tong, untuk dipuja kaum kita. Bukankah selama itu tak pernah aku perlakukan kau tak selayaknya? Tapi tindakanmu hari ini, yang berkenaan dengan soal budi dan dendaman, itu adalah menyalani undang2 kita! Aku mengerti bagaimana tadi kau telah peroleh pengunjukan dari Kay Hiap Coei Peng. Bagaimana bisa kau tidak menghargai kehormatan Hong Bwee Pang? Bukankah itu berarti kau menghina Hong Bwee Pang tak punya orang yang berarti lagi? Apakah kau sangka aku tak lihat sepak ter jangmu tadi dgn. Coei Peng? Kami hormati kau, sebaliknya kau justeru pandang kami sebagai boca saja! Nyatalah kau terlalu menghina aku! Sahabat, begini saja kata2ku, satu sahabat mesti ada permulaannya, mesti ada akhirnya, tak ingin aku memaksa.”

Meskipun mengucap demikian, Boe Wie Yang toh menambahkan “Kim Hiocoe, kau ada sangat kenamaan di Ouwpak, dan setelah memasuki Hong Bwee Pang, kaupun telah terima budi kebaikannya Couwsoe, kau telah dapati piauw pou kita. Bukankah kau masih ingat, ketika kau masuk disini, aku telah mengadakan upacara untuk berikan muka terang kepadamu? Tidakkah itu berarti Couwsoe telah menerima baik kepadamu? Maka sekarang, jikalau kau hendak lindungkan kehormatanmu, kehormatan kita, silahkan kau kembali ke Hok Sioe Tong. Umpama kau berniat pergi, kau mesti tunggu dulu surat titah, dengan itu kau ada merdeka untuk terbang diatas lautan yang lebar dan udara yang luas. Ketahuilah, Boe Wie Yang adalah ketua Hong Bwee Pang, maka itu, baik kau terima nasihatku ini. Apabila urusan disini sudah selesai, aku nanti adakan perjamuan perpisahan untukmu. Kim Hiocoe, silahkan kau kembali ke Hok Sioe Tong, untuk tunggu kabar!”

Semua hiocoe dan tocoe menjadi terperanjat, semua mata ditujukan kepada Kim Cit Loo, yang masih berdiri dilorak tangga, tampang rupa telah berubah rubah karena kata2 ketua itu. Kemudian, setelah sang ketua tutup perkataannya, ia tertawa gelak2.

“Boe Pangcoe, berat kata2mu ini!” ia menjawab. “Memang benar, aku ada orang Hong Bwee Pang, aku telah terima budinya Couwsoe, hingga sudah selayaknya aku berikan jiwa ragaku untuk Couwsoe kita, tak boleh aku memikir lainnya pula. Tapi, Pang coe, aku telah rabah tulang igaku, nyata tak bisa aku membantu Pang coe terlebih jauh. Pun tak bisa aku menarik pulang muka terangku! Mana ada muka akan aku menemui lagi semua saudara kita? Aku malu! Maka meninggalkan Cap jie Lian hoan ouw untuk sementara waktu adalah niatku. Boe Pang coe, aku tidak langgar aturan kita, aku tidak mendurhaka, maka itu tak dapat Pang coe larang aku keluar masuk disini. Mana bisa aku berdiam di dalam Hok Sioe Tong seperti orang yang menunggui dosanya?

Aku tidak bersalah, tak dapat aku berbuat demikian . Kini Loo Sioe ada bangsa tulang keras, sudah lebih daripada tiga puluh tahun aku berkelana dalam dunia kang ouw, belum pernah aku berbuat sehina demikian. Boe Pang coe, kau melihat keliru dalam diriku! Adalah biasanya aku bersifat kepala batu, biasanya aku berbuat sesukaku sendiri, apa yang aku kehendaki aku segera lakukan, tidak pernah aku berbalik pikir. Umpama aku keliru, hingga dagingku berubah menjadi darah dan tulang2ku musnah menjadi abu, tak pernah aku menyesal. Boe Pang coe, aku telah mengucap kata, sekarang juga aku hendak keluar dari Cap jie Lian hoan ouw! Tabeatku yang aneh ini aku tak dapat ubah, apa mungkin Pang coe ingin mempersulit aku? Apakah Pangcoe tidak takut nanti para tetamu kita mentertawai nya?”

Kegusarannya Boe Wie Yang telah meluap2.

“Kim Hiocoe!” kata ia dengan dingin. “Kau berkeras ingin aku tidak mempersulit padamu! Aku kuatir tak nanti kau dapat wujudkan kehendakmu! ”

“Hm!” Kim Loo Sioe perdengarkan ejekannya. “Tak perduli kehendakku sekarang dapat diwujudkan atau tidak, tetapi aku akan pergi juga!”

Sekonyong konyong air mukanya Thian lam It Souw berubah.

“Kim Hiocoe, jangan kau keliru mengarti,” berkata ia. “Dihadapan demikian banyak sahabat luar, bagaimana aku dapat tak berlaku baik kepada saudara sendiri dan sebaliknya hendak mempersulit? Kalau benar demikian, betul itu akan membuat orang mentertawai kita. Sebenarnya aku hendak jamu padamu untuk memberi selamat jalan, siapa tahu, kau tak dapat menunggu, kau benar2 bikin aku berlaku kurang hormat kepadamu. Nah, Kim Hiocoe, silahkan, maafkan Boe Wie Yang, yang ia tak dapat antar kau sampai jauh! Aku doakan, semoga kau berbahagia dalam perjalananmu!”

Ketika itu semua hiocoe dari Lwee Sam Tong telah pada berbangkit, untuk turun tangan begitu lekas ketua mereka berikan titah.

Kim Cit Loo sendiri perdengarkan suaranya “Baiklah,” sesudah mana, ia berpaling kearah rombongan See Gak Pay dan Hoay Yang Pay, untuk memberi hormat. Ia berkata “Jikalau aku, Kim Loo Sioe, tak dapat keluar dari Cap jie Lian hoan ouw, pada lain jaman sa ja kita orang bertemu pula! ”

Belum jago Ouwpak ini tutup mulutnya atau tubuhnya sudah loncat mencelat, hingga sekejab saja ia telah sampai di gunung2an. Karena ia telah menggunakan ilmu mengenteng kan tubuh, Pat pou Kan siam. Ia belompat beberapa kali, akan akhirnya ia menghilang dari mata semua hadirin.

Semua orang Hong Bwee Pang tercengang, tak mengarti sikap ketua mereka, hingga mereka mengawasi Liong Tauw Pangcoe itu.

Tiba2 Boe Wie Yang berbangkit, dengan memutar tubuh, tangannya menyambar kebelakang dimana bertempel pada tembok, terdapat tek hoe dan lengkie. Ia sambar dua potong tek hoe, yang ia terus lempar kelorak, hingga dua2 tek hoe itu terbanting pecah.

“Atas namanya Couwsoe, Boe Wie Yang mengundang Hiocoe Wie Thian Yoe dan Hiocoe Coei Hong dari Hok Sioe Tong untuk mendengar perintah!” begitu ia berseru kemudian.

Dengan cepat sekali kedua hiocoe yang disebutkan itu maju kedepan, untuk memberi hormat sambil menyatakan bahwa mereka bersedia terima perintah, kemudian mereka jemput tek hoe yang pecah itu setelah keduanya memberi hormat pula pada ketua mereka, mereka terus memutar tubuh untuk berlompat dengan gerakan “Giok bong hoan sin,” atau “Ular naga kumala jumpalitan.” Kapan mereka telah sampai dilorak, mereka menyingkir dari situ dengan gerakan lebih jauh dengan “Ceng teng sam ciauw soei” (Capung tiga kali menyamber air) dan “Yan coe hoei in ciong” (Burung walet terbang di udara). Tubuh mereka bergerak cepat bagaikan terbang.

Suasana menjadi sangat tegang dalam sekejab mata, orang Kong Bwee Pang masih banyak yang melengak.

Coei Peng saksikan semua itu dengan tenang, kepada Yan tiauw Siang Hiap ia berbisik “Si setan tua bangka mendapat pembalasannya, tetapi aku tidak ingin dia terjatuh dalam tangannya rombongan kunyuk ini. Orang she Wie itu ada sangat telengas! Tak dapat aku urus pula segala apa disini, aku hendak pergi! ”

Pembicaraannya pengemis tetiron ini sangat pelahan, pun gerakannya yang gesit dilakukan secara diam2, maka sekejab mata saja ia sudah menghilang dari para2 bunga, tanpa ada seorang Hong Bwee Pang dapat melihatnya, sedang Boe Wie Yang sendiri, seberlalunya Wie Thian Yoe dan Coei Hong, sudah berikan titah lain kepada hiocoe dari Kim Tiauw Tong. Ia panggil Pat pou Leng po Ouw Giok Seng, setelah hiocoe ini menghadap sambil memberi hormat, ia perintahkan “Tolong umumkan titahku supaya semua pusat penjagaan air dan darat menahan Kim Loo Sioe, supaya biar bagaimanapun, dia tak dapat keluar dari Cap jie Lian hoan ouw! Pesan semua congto dari Hoen coei kwan supaya mereka jangan pandang2 lagi persahabatan, siapa melanggar titah ini akan dipandang sudah mendurhaka!”

Ouw Hiocoe terima perintah, ia memberi hormat pula, lantas ia berlalu.

Boe Wie Yang perdengarkan tertawanya yang dingin, setelah mana ia menoleh kepada semua tetamunya untuk memberi hormat. Ia berkata “Tadi aku telah saksikan Yan tiauw Siang Hiap memberikan pengajaran, tetapi aku percaya bahwa belum semua kepandaiannya telah  dikeluarkan, hingga aku ingin menyaksikannya terlebih jauh. Hanya sayang sekali pertemuan hari ini telah terganggu yang membikin aku sangat menyesal. Akan tetapi, walaupun apa yang telah terjadi, aku hendak berpegang tetap kepada aturan2 kaum kang ouw maka sedapat2nya aku hendak kendalikan semua orang Hong Bwee Pang, supaya mereka tidak menyalahi peraturan. Bukankah kita harus berlaku terus terang datangnya terang, perginya terang juga? Aku ingin dapat penjelasan dari ciongwie, masih ada berapa sahabat lagi yang datang berkunjung kemari? Sebagai tuan rumah aku ingin menyambutnya dengan hormat. Kejadian dengan Coei Soehoe tadi ada hal yang membuat kami mendapat pelajaran dia datang secara mendadak, perginyapun diam juga. Orang gagah semacam dia sungguh membuat aku Boe Wie Yang putus asa!”

Siangkoan In Tong yang nama nya tersohor di Liauwtong berhubung dengan senjatanya Lie hoen Coe bo kian, menjadi tidak senang atas sikap mengejek dari ketua Hong Bwee Pang itu. Memang sejak tadi ia sudah bersenyum tawar dan melihati saja keangkuhannya tuan rumah. Maka itu ia lantas turut bicara.

“Boe Pangcoe, kau telah berlaku keliru terhadap kedua ciangboenjin dari Hoay Yang dan See Gak Pay!” ia berkata, “Sepak terjangnya si pengemis tua tadi adalah sama dengan tabeatku Siangkoan In Tong. Biasanya kami melakukan apa yang kami suka. Bagi kami tidak berlaku karcis nama atau surat undangan! Kami anggap seluruh langit bumi adalah gubuk2 kami, empat lautan adalah rumah kami! Kalau kami menghadapi urusan yang kami suka, lantas kami campur tangan. Kamipun tak memperdulikan orang besar siapapun juga. Boe Pangcoe, aku tidak mau berlagak tolol2an, akupun tak mengharap undangan perjamuanmu. Lihatlah kini cuaca yang sudah berubah demikian rupa, aku kuatir akan turun hujan lebat yang akan menggagalkan pertemuan kita ini. Boe Pangcoe, masing2 orang ada punyai masing2 cita2nya sendiri seperti Kim Cit Loo tadi, bukankah dia tak ada orang yang dapat mencegah nya?”

Hatinya Boe Wie Yang menjadi panas mendengar perkataan tetamunya, tetapi ia tidak dapat menuruti panasnya hatinya itu. Maka sedapatnya ia menahan sabar. Ia berkata “Benar kita harus jalan sendiri masing2. Memang, dalam urusan kita ini, keputusan mesti dicari dalam pertempuran yang menentukan, siapa kuat siapa lemah.”

Dari pihak Lwee Sam Tong, Thian kong chioe Bin Tie, terbangkit kemurkaannya. “Siangkoan Loosoe,” berkata dia, “karena kau menganggap kami yang tidak sempurna, maka baik tak usah kita bicarakan itu terlebih jauh. Sekarang aku ingin bertanya, siapa dari pihakmu yang ingin main2 denganku? Dua jurus saja, untuk memberi pelajaran kepadaku.”

Bin Tie gusar, tapi juga dipihak tetamu rata2 orang murka. Beberapa orang segera berbangkit, semuanya ingin men coba2 dengan hiocoe ini. Diantaranya, Kim too souw Khoe Beng tak terkecuali. Tapi akhirnya Siang koan In Tong adalah yang menyambutnya.

“Jikalau Bin Hiocoe mau memberi pengajaran, hal itulah yang aku kehendaki, minta pun sukar terjadi,” katanya. “Aku tidak tahu diri, ingin aku terima pengajaran dari padamu.”

Belum sempat In Tong maju atau Sioe Seng yang berdiri dibelakang gurunya mendahuluinya “Soesiok, silahkan duduk dulu,” kata murid pendeta wanita ini. “Tee coe beramai ingin mendapat pengajaran dari pelbagai soehoe dari Hong Bwee Pang, karenanya kami mengharap agar soesiok suka memaafkan nya.”

“Siauw soehoe, silahkan,” sahut Eng Jiauw Ong, yang tahu tak dapat ia menolak atau mencegahnya. Ia melainkan mengawasi Coe In Am coe.

Sioe Seng sendiri sudah lantas berkata pada gurunya “Tee coe beramai terima pelajaran dari soehoe, ingin teecoe berbuat apa untuk kaum kita, karenanya teecoe berlima hendak mohon pengajaran dari Bin Hio coe. Harap soehoe memperkenankannya.”

Semua orang Hoay Yang Pay mengawasi Sioe Seng dan gurunya, mereka ingin mendengar suaranya Coe In Am coe. Mereka menganggap sungguh Sioe Seng bernyali besar berani menyambut Bin Tie, satu hiocoe, seorang yang tersohor dengan senjatanya sepasang Jit goat loen yang berupa roda.

Tanpa berayal ayalan, Coe In Am coe lantas menjawab muridnya “Bin Hiocoe ada eng hiong kenamaan dari Hong Bwee Pang kita tidak seimbang untuk menjadi tandingannya, apa pula kamu, anak2 muda, bagaimana besar nyalimu! Apakah kamu tak jerih untuk kemashurannya Bin Hiocoe? Kamu begini tak tahu salatan, sungguh kamu terlalu percaya diri sendiri.”

Jawaban ini mengherankan pihak Hoay Yang Pay. Guru ini menegor muridnya, tetapi dia tidak mencegahnya. Apa mungkin Sioe Seng beramai mempunyai kepandaian yang istimewa?

Sioe Seng, dengan merangkap kedua tangannya, sudah berkata pula kepada gurunya “Kata2 soehoe benar adanya. Kalau teecoe berhadapan dengan lain loo soehoe dari Hong Bwee Pang, pasti tee coe tidak berani lancang, tetapi terhadap Bin Hiocoe, adalah lain. Dengan menerima pengajaran dari Bin Hiocoe, kami tidak kecewa yang kami telah datang di Cap jie Lian hoan ouw ini. Kuil Pek Tiok Am telah dibakar, itu adalah suatu penghinaan besar untuk pihak kita. Pembakarnya adalah orang dari See lou Hoen to dari Hong Bwee Pang, dari cabang Barat yang berada dibawah pimpinan Bin Hiocoe, maka setelah Bin Hiocoe begitu menghargai kami, apabila sekarang pihak kami tidak hendak terima pengajaran nya, pasti Bin Hiocoe akan memandang kita tak ada orangnya! Maka, kami harap soehoe memberikan ijin kepada teecoe. Dalam hal ini, walaupun darah teecoe nanti muncrat didalam Ceng Giap San chung ini, teecoe akan merasa puas sekali!”

Menyusul kata2 Sioe Seng, Sioe Yan, Sioe Beng, Sioe Sian dan Sioe Hoei lantas mendekati soe cie mereka kedua ini, akan berdiri dikedua samping, kemudian menghadapi gurunya, mereka memberi hormat.

Sioe Beng, seperti diketahui, adalah Nona Hong Bwee gadis nya Yo Boen Hoan. Ia sekarang ini ikut bersama saudara2 seperguruannya dengan dandan sebagai pendeta, sedang Sioe Hoei, tukang bawa pedang Tin hay Hok po kiam dari gurunya, lantas angsurkan pedang itu kepada gurunya. Hong Bwee sendiri telah mempunyai pedang, yang ia dapat pinjam dari salah satu murid Hoay Yang Pay.

Setelah memberi hormat, murid2 ini menyatakan bersedia akan mengikuti Sioe Seng untuk minta pengajaran dari Bin Tie.

Coe In Am coe tidak gusar Karena sikap murid2nya itu, iapun tidak ter gesa2, sebaliknya dengan sabar ia berkata “Kamu hendak melindungi nama baik See Gak Pay, bagus, hanya apabila datang bahaya apa2, jangan kamu menyesal!” Eng Jiauw Ong bingung mendengar jawaban ketua See Gak Pay kepada murid2nya itu. Ia menganggap, bahwa guru ini ada sembrono. Sanggupkah murid2 itu menjadi lawannya Thian kong chioe Bin Tie, hiocoe dari Lwee Sam Tong? Ia tidak percaya bahwa pendeta ini mau mengorbankan murid2nya itu.

Maka ia juga berniat mencegahnya. Tapi belum sempat ia membuka mulut, Siangkoan In Tong telah mendahuluinya.

“Adalah harus dihargai, dihormati sekali yang siauwsoehoe beramai hendak membelai nama baik See Gak Pay,” berkata Lie hoen Coe bo kian, “maka kenapa nampaknya Am coe hendak mencegah kegembiraan mereka? Bukankah ini ada saat yang baik yang sukar didapat untuk kedua kalinya? Untuk datang saja pada Cap jie Ldan hoan ouw sudah satu kehormatan besar, apalagi akan dapat menerima pengajaran dari pelbagai soehoe kaum kang ouw yang kenamaan. Ini adalah ketika untuk menambah pengetahuan yang berharga. Bukankah Bin Loosoe ada hiocoe yang berkepandaian tinggi dari Ceng Loan Tong, yang kenamaan di Selatan dan Utara sungai Besar? Ketika sebaik ini tak seharusnya dilewatkan! Maka, Am coe, baiklah biarkan siauwsoehoe beramai mencapai cita2 nya, supaya sekalian orang dapat menyaksikan ilmu silat dari See Gak Pay! Nah, siauw soehoe beramai hayolah maju, akulah yang mewakilkan gurumu, memperkenankan kamu!”

Eng Jiauw Ong dan lain2nya tak sangka Siangkoan In Tong berani bicara demikian. Pasti sekali Coe In pun mengarti, kata2 itu bersifat memuji berbareng “membakar besi.” Tapi si pendeta wanita adalah seorang yang sangat berpengalaman, ia tetap tenang, tak kentara kegirangan atau kemurkaannya. “Jangan memuji, Siangkoan Loosoe,” katan ya sambil bersenyum. “Walaupun sudah menjadi ketua dari Pek Tiok Am, akan tetapi pinnie masih belum menerima warisan guruku, sedang anak2 ini baharu permulaan dalam pelajaran saja. Tapi loosoe telah sangat memuji, maka biarlah mereka pertunjukkan keburukannya dihadapan sekalian soehoe dari Hong Bwee Pang!” Lalu ia tambahkan pada murid nya, yang masih menanti ijin nya yang terakhir “Kamu tak tahu diri, berani mohon pengajaran dari loosoehoe kenamaan dari Cap jie Lian hoan houw, pergilah!”

“Terima kasih, soehoe,” berkata Sioe Seng, yang bersama empat saudaranya lantas menjura kepada gurunya. Mereka senantiasa hormat terhadap guru mereka. Baharulah setelah itu mereka bertindak dengan tenang ketengah lapangan kemudian mereka berdiri dengan rapi.

Lima murid pendeta wanita ini mengenakan juba suci abu, kepala mereka dibungkus pelangi hijau, yang ujungnya dibikin turun dan menutupi pundak mereka, mirip dengan mantel. Leher baju mereka dikelim dengan cita hijau, sedang ikat pinggangnya berwarna kuning oranye. Dibawah kaos kaki putih yang panjang terlihat sepatu kependetaan mereka yang berwarna hijau dengan dasar lemas, sementara dibebokong mereka ter gendol masing pedangnya. Dandanannya mereka ini menarik sangat perhatian umum, terutama dari pihak Hong Bwee Pang. Diantara mereka, Sioe Beng dan Sioe Yan belum mencukur rambut sebagai pendeta.

Sekalipun Bin Tie, ia heran yang ia ditantang oleh murid2 See Gak Pay. Inilah ia tidak pernah sangka. Bukankah ia ada satu hiocoe dan namanya tersohor? Bukankah senjatanya Jit goat loen dan panahnya Coa tauw Boe ie cian yang berkepala ular2an sangat ditakuti oleh kaum kang ouw? Kenapa lima boca berani menghadapi padanya? Inilah satu penghinaan yang belum pernah ia alami. Justeru ia bersangsi dan mendongkol, Sioe Seng berlima sudah memberi hormat kepadanya seraya berkata “Bin Hiocoe, kami yang masih cetek pelajaran mohon pengajaran darimu, harap dengan memandang muka Buddha yang mulia, sukalah Bin Hiocoe tidak membikin kami hilang pengharapan!”

Itulah ucapan merendah tapi yang mengandung tantangan.

Diam2 Bin Tie kertek gigi karena gusar, tapi pun ia bersangsi.

Kalau ia menang, ia tidak akan dapat nama, sebaliknya kalau kalah, namanya akan runtuh. Akan tetapi ia sudah ditantang, ia tak dapat mundur lagi. Dalam saat kesangsiannya itu syukur ia dapat pertolongan.

Co siang hoei Ie Tiong, sebawahannya Hiocoe Ouw Giok Seng. maju mendekati hiocoe ini, sambil memberi hormat ia menyatakan akan suka melayani murid2 dari See Gak Pay itu.

Bin Tie lantas manggut.

“Ie Tocoe hendak belajar kenal dengan siauwsoehoe2 itu, silahkan, tapi harap kau bertujuan bersahabat dan batasnyapuh cuma saling towel saja. Semua siauwsoehoe ada orang2 suci. Ie Tocoe harus berlaku sopan terhadap mereka ”

Ie Tiong menyahuti secara sembarangan saja, lantas ia hunjuk hormatnya kearah Boe Pang coe kemudian tanpa mengucapkan apa2 lagi ia segera loncat ketengah lapangan, dan berdiri jauhnya enam atau tujuh kaki dari Sioe Seng berlima. Ia terus memberi hormat seraya berkata “Siauwsoehoe2, maafkan kelancanganku. Maukah siauwsoehoe memberi pengajaran kepadaku?”

“Ie Tocoe hendak memberi pelajaran kepada kami, kami girang sekali,” sahut Sioe Seng, yang sikapnya tetap tenang dan alim.

“Melainkan harap tocoe ketahui, caranya kami bersilat ada berlima berbareng, mirip dengan Pat kwa chung dari delapan loosoehoe dari Hok Sioe Tong.”

“Aku mengerti,” jawab Ie Tiong.

“Terima kasih, Ie Toocoe. Maafkan kami!”

Sehabis mengucap demikian, Sioe Seng lantas hunus pedangnya yang segera diturut oleh empat saudaranya, malah mereka ini segera terus bergerak untuk ambil tempatnya masing2, hingga Ie Tiong segera terkurung ditengah.

“Dipandang dari mulutnya mereka bersikap manis, mungkin dalam perbuatan mereka telengas,” pikir Ie Tiong. “Mereka telah kurung aku! Jikalau tidak dikasih rasa, tentu mereka pandang sangat hina kepada orang Hong Bwee Pang. Sekarang tak dapat aku berlaku sungkan lagi ”

Ia lantas hunus goloknya, yang ia cabut dari belakang pundak nya.

“Siauwsoehoe, silahkan!” ta menantang seraya lantas rangsek Sioe Seng. Ia membuka jalan dengan tipu bacokan “Ngo hong tiauw yang too” atau “Lima burung hong menghadapi matahari.”

Sikap lima penjuru dari Sioe Seng berlima merupakan “Bwee hoa sie,” yaitu bunga bwee, tetapi setelah diserang, murid yang ke dua ini berkelit sambil lompat ketengah, atas mana, empat saudaranya turut bergerak pula ke empat penjuru.

Ilmu silatnya Sioe Seng ini adalah yang dinamakan “Lian hoan See boen Hoei kiam” atau “Ngo hen Lian hoan kiam,” ia yang pegang peranan, maka setelah diserang, ia mulai membalas.

“Ie Toocoe, silahkan sambut!” berkata ia, dan ujung pedangnya lantas menyambar kearah dada lawan.

Ie Tiong menangkis dengan keras sekali. Ia mempunyai pengalaman dua puluh tahun dengan goloknya, yang dinamakan Kauw kong Pek coei too, maka ia percaya, bagaimana juga liehaynya pendeta ini, pedangnya mesti tersampok terpental, terlepas dari cekalan. Akan tetapi ketika kedua senjata hendak beradu, Sioe Seng menggeser kekiri, dengan demikian, pedang itu lolos dari benturan, gerakannya mirip dengan “mega berjalan,” atau “air mengalir.”

Co siang hoei terperanjat karena bacokannya gagal. Ia lantas insyaf liehaynya nona suci ini. Lekas ia geser kaki kiri kekiri untuk menyusul untuk segera menikam pula. Ia menggunakan tipu “Chong liong kwie liay,” atau “Naga pulang kelaut,” dengan sasaran iga kanan lawan sebelah belakang. Sebab waktu itu Sioe Seng masih belum sempat memutar tubuh.

“Sambut pedang!” tiba Ie Tiong dengar seruan dibelakang nya, selagi goloknya belum mengenai sasaran. Ia terkejut, ia urungkan serangannya, lekas ia putar tubuh untuk berkelit.

Kiranya Sioe Hoei, murid ke tujuh, mulai maju menyerang. Ia tidak mendesak terus, karena segera ia digantikan oleh Sioe Sian, murid ke tiga, yang berlompat maju. Juga Sioe Sian tidak memperoleh hasil, karena mana Sioe Yan alias Liap Cie In, dan Sioe Beng alias Yo Hong Bwee, bergantian maju menyerang. Maka dengan demikian, mulailah Ie Tiong dikepung berlima. Ia main kan Ngo hong Tiauw yang too dengan sempurna akan tetapi ia tak dapat meloloskan diri dari kurungan.

Syukur baginya, ia mempunyai kepandaian mengentengkan tubuh yang sempurna.

Sioe Seng berlima menyerang saling berganti dan teratur serangannya makin lama makin cepat. Mula2 Ie Tiong bisa melayani dengan baik, tetapi lama kelamaan, ia repot juga dari balas menyerang, akhirnya ia jadi kewalahan menangkis. Baharu sekarang ia insyaf liehaynya lawan, sia2 ia mencoba pecahkan kurungan.

Lambat laun Co siang hoei mulai bermandikan keringat, tak perduli udara waktu itu ada mendung.

Tiba2 terlihat serombongan burung dara terbang dari bagian belakang gedung. Ie Tiong tidak memperdulikannya, sebab ia tak mempunyai kesempatan untuk memperhatikannya. Ia sedang repot.

Belum begitu lama, kembali kelihatan beberapa burung dara terbang datang. Mula2 tiga ekor, lalu dua ekor, lalu lagi lima ekor. Justeru waktu itu Sioe Yan sedang maju merangsek, akan tetapi sekelebatan, Ie Tiong masih dapat mengenali lima burung dara yang terakhir adalah lepasan dari pusat ke enam dari Soen kang Cap jie to dari Hoen coei kwan bagian luar. Mau atau tidak hatinya bergoncang juga. Maka ia terperanjat ketika pedangnya Sioe Yan menyambar dalam gerakan “Peh coa touw sin,” atau “Ular putih muntahkan bisa.” Dengan susah ia berkelit ke kiri, goloknya dipakai menangkis. Selagi ditangkis, Sioe Yan tarik pulang pedangnya, karena ia tak mau pedangnya terbentur golok musuh dalam menarik pedangnya itu ia teruskan menikam paha kanan musuhnya.

Kembali Ie Tiong terkejut. Iapun sedang terdesak. Ia berkelit sambil berlompat. Ia cukup gesit tetapi ia kesusu, maka sebagai ganti dagingnya, ujung bajunya kena terobek.

Ketika ia, Sioe Hoei lompat maju untuk gantikan saudaranya merangsak.

Ie Tiong insaf akan bahaya maka sambil meloncat, untuk simpan goloknya, ia berseru “Aku telah belajar kenal dengan ilmu pedang dari siauw soehoe beramai, aku menyerah kalah!”

Lalu, dengan muka dan kuping kemerah2an, ia ngeloyor kedalam kalangannnya sendiri.

CXXXI

Melihat musuh mundur sendiri nya, Sioe Seng berlima kembali pada kedudukan mereka masing2. Kemudian, menghadapi pihak lawan, murid See Gak Pay yang kedua ini menanya “Ada loo soehoe yang mana lagi yang sudi memberi pengajaran kepada kami?”

Pihak Hong Bwee Pang sangat mendongkol, panas hati mereka karena lima pendeta wanita muda berani banyak tingkah didalam Ceng Giap San chung, akan tetapi mereka dari kalangan tertua, mesti mengendalikan diri, karena mereka malu akan melayani anak2 muda. Dipihak lain, orang bingung dengan kedatangannya burung2 dara itu, yang rupanya membawa berita penting saling menyusul. Boe Wie Yang tidak kecuali menjadi ibuk juga. Malah Ouw Giok Seng, tanpa tunggu titah dari ketuanya, sudah lantas meninggalkan tempat duduknya, untuk lari kebelakang.

Sioe Seng ulangkan tantangannya sampai tiga kali, masih tidak ada yang menyambutnya. Boe Wie Yang pandang rombongan nya diantara kalangan muda. Ia berniat menunjuk pada angkatan muda ketika dari belakangnya muncul dua orang, yang segera ternyata ada dua boca yang ia paling sayang, yang menjadi pelayannya tukang urus dupa dan lilin, ialah Sim A Eng dan Sim A Hiong.

Sejak membangun pula Cap jie Lian hoan ouw, Boe Wie Yang sangat perhatikan dua boca ini. Boca yang ketiga adalah Bin Him Jie, keponakannya Hiocoe Bin Tie, serta Kang Kiat, itu boca dari kampung diluar Hoen coei kwan. Ia bisa lihat bakat yang baik dari keempat boca itu, apabila terlatih baik, mereka bakal jadi jago kang ouw. Hanya sayang, tak dapat ia mendidik sendiri pada Him Jie, dan Kang Kiat terlalu ibuk kepada ibunya. Mengenai bakat, Kang Kiat dan Him Jie menang dari kedua saudara Sim itu.

A Eng baharu berumur lima belas tahun dan A Hiong empat belas, walaupun demikian, mereka sudah terdidik lima enam tahun oleh Boe Wie Yang, hanya, melihat mereka hendak hadapi Sioe Seng berlima, Wie Yang kuatir juga. Tapi orang telah majukan diri, terpaksa kedua anak ini tak dapat ia tarik kembali.

Sambil menjura kepada ketuanya, A Eng berdua minta perkenan akan melayani lawan.

“Kamu ingin maju, itulah baik,” kata Boe Wie Yang. “Tapi apa kamu tidak lihat Ie Tocoe tadi, yang telah dikalahkan? Apa kamu tak kuatir nanti antarkan jiwamu didalam Ceng Giap San chung ini?”

“Kami telah dilimpahkan budi dan kemurahan hati Pang coe, untuk balas budi itu, kami tak sayang akan berkorban,” menyatakan A Eng. “Pula kami dan berlima soehoe itu tidak bermusuhan, hanya untuk mencoba ilmu silat, dari itu, menang kita tak usah berjumawa, kalah tak usah merasa terhina. Semua soehoe itu ada orang2 beragama, kami percaya tak nanti mereka sembarang turunkan tangan jahat. Umpama kami terbinasa di ujung pedang mereka, itu pasti bukannya suatu kehormatan bagi mereka. Maka itu jangan Pangcoe menjadi kuatir, harap Pangcoe perkenankan kami.”

“Baiklah!” berkata ketua itu, yang tak bersangsi pula. Maka kedua saudara itu lantas bertindak kelapangan.

Coe In Am coe dengar pembicaraan mereka itu, diam2 ia puji kedua boca yang cerdik itu, tetapi, dilain pihak, ia jemu terhadap kelicikannya ketua Hong Bwee Pang Apabila kedua anak itu bercelaka, orang bisa kutuk pihak See Gak Pay, yang layani segala boca…. Akan tetapi disampingnya itu, ketua See Gak Pay ini ingin saksikan kepandaiannya kedua anak itu.

Dua anak ini mempunyai roman yang bisa membikin orang sayangi mereka. Mereka bersamaan tingginya, kulitnya sedikit hitam, air mukanya terang, menandakan kecerdikan mereka. Mereka dandan sebagai budak pelayan, kecuali kepalanya tidak terbungkus. Mereka bertangan kosong akan tetapi Eng Jiauw Ong duga di pinggang mereka mesti terlibat rantai lian coe chio atau lain senjata. Melihat tindakan kakinya, terang mereka mempunyai kepandaian.

Tepat dihadapan Sioe Seng berlima, A Eng dan A Hiong berhenti bertindak, untuk terus memberi hormat sambil menjura, kemudian dengan masih rangkap kedua tangannya, sang kanda berkata “Siauw soehoe beramai mempunyai ilmu silat pedang yang liehay, itu adalah  pembuka mata kami yang baharu mulai belajar silat, sayang sekali apabila ketika sebaik ini dilewatkan, dari itu kami telah mohon ijin Pangcoe akan mohon pengajaran dari siauwsoehoe beramai. Kami tidak mempunyai kepandaian, andai kata kami tak sanggup melayani, diharap siauw soehoe menaruh belas kasihan janganlah menurunkan tangan jahat terhadap kami. Sudikah siauwsoehoe memberi pengajaran kepada kami?”

Sioe Seng berlima ketarik mendengar cara bicaranya yang rapi dari anak itu, mereka pun lihat, dari sinar matanya, anak2 ini bukannya anak jahat, dari itu, pandangan mereka menjadi lain. Tapi, taat kepada pesan guru mereka, mereka tetap hendak waspada. Merekapun berada disarang Hong Bwee Pang, tempat mengerarnnya orang2 jahat.

“Benar, jiewie soehoe, kita pun sedang dalam pertemuan persahabatan,” kata Sioe Seng. “Kami juga masih muda, tak dapat kami bicara tentang ilmu kepandaian. Kami justeru hendak mohon pelajaran dari orang tua. Jiewie hendak beri pelajaran kepada kami, kami suka menerimanya untuk saling meyakini, maka itu, batasnya baik sampai saling towel saja. Satu hal jadi kebiasaan kami, yaitu kami tak pernah bicara hal ilmu silat kecuali kepada orang yang diketahu she dan namanya serta asal usul pelajaran silatnya, oleh karena itu, maukah jiewie memperkenalkan diri dulu?”

A Eng melirik kepada A Hiong, nampaknya mereka terkejut. Memangnya mereka tak niat menyebutkan diri dan nama gurunya. Tapi mereka cukup cerdik, maka sang kanda menjawab “Sebenarnya tak ingin kami memberitahukan nama dan nama guru kami, pelajaran kami rendah dan kami kuatir nanti membuat malu guru kami, tetapi karena siauwsoehoe menanyakannya, terpaksa kami memberitahukannya. Kami berdua saudara Sim A Eng dan Sim A Hiong, pekerjaan kami melayani Pang coe, dengan kemurahan hatinya Pang coe, kami dipelajarkan ilmu silat permulaan. Maka itu kami mohon siauwsoehoe tak mentertawai kami.”

Sioe Seng dan empat saudara nya girang sendirinya. Mereka percaya kedua boca ini bukan boca sembarangan dan sekarang ternyata dugaan itu tidak meleset. Syukur mereka taat kepada pesan gurunya, mereka tidak memandang enteng kedua boca itu. Siapa sangka, dua anak Ini adalah muridnya Boe Wie Yang.

“Kiranya jiewie ada murid2 terpandai dari Liong Tauw Pangcoe dari Hong Bwee Pang!” berkata Sioe Seng. “Ini adalah suatu kehormatan besar bagi kami berlima saudara. Berbahagialah kami dengan pertemuan ini! Untuk tidak men sia2kan ketika yang baik, dan supaya tidak menggagalkan sekalian cianpwee, silahkan jiewie mulai berikan pengunjukan kepada kami.”

Lantas Sioe Seng mundur untuk bersiap, begitupun empat saudaranya. Mereka tetap menyekal pedang, akan tetapi mereka sudah memikir, apabila orang bertangan kosong, mereka tidak hendak bertindak sambarangan.

“Silahkan, jiewie!” Sioe Seng mengundang pula.

A Eng dan A Hiong sudah lantas ambil tempat dengan saling membelakangi, keduanya memberi hormat kepada lima lawan.

“Siauwsoehoe sekalian silahkan mulai, kami bersedia untuk menerima pengajaran,” kata mereka, yang pun pandai bicara. Lalu keduanya, dengan gerakan serupa, maju dua tindak, hingga mereka berpisah jarak lima enam kaki, setelah mana mereka masing2 menggeser kaki kanan kekanan dan kaki kiri dimajukan. keduanya jadi terpisah lebih jauh, satu keutara, satu keselatan, secara begini, A Eng jadi menghadapi Sioe Seng sedang A Hiong menghadap kearah gunung2an.

Kedua boca ini bergerak cepat dan berbareng keduanya merabah kepinggang mereka, akan dilain saat, secara mendadak masing2 mengeluarkan senjatanya, yang serupa, yalah Kioe ban Kong hoan, gelang berantai sembilan, yang dapat dilibatkan dipinggang. Untuk keluarkan senjata itu, mereka berjumpalitan. Pada waktu dikeluarkannya, kedua senjata memperdengarkan suara nyaring berkontrangan. Sekejab mata saja mereka sudah berdiri bersiap ditempatnya masing2 dengan sikap “Teng jie pou”, beroman paku, tangan kiri diatasan gelangnya.

“Siauwsoehoe beramai, silahkan!” mereka itu mengundang.

Waktu senjata itu dikeluarkan Sioe Seng berlima terkejut, tak terkecuali semua orang pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay lainnya. Siapa sangka kedua boca itu bersenjatakan senjata yang asing itu. Jie Hiap Ay Kim Kong sampai melirik kepada Siang koan In Tong, siapa sebaliknya mengawasi Yan tiauw Siang Hiap sambil bersenyum2.

“Tak usah mengawasi aku, Na Jie Hiap,” katanya, “aku mengerti akan kekuatiranmu. Bukankah kau maksudkan bahwa aku tak usah menjagoi lagi karena gelangku? Aku suka dua boca cilik itu, akupun gemar terhadap lima buah pedang itu! Apabila tidak dalam suasana begini, ingin aku tanya kedua boca, pikiran siapa menyuruh mereka menggunakan macam gegaman ini, yang mirip dengan senjataku, karena aku berkehendak mencoba2 dengannya, untuk mendapatkan kepastian siapa yang kunyuk tulen dan kera palsu, siapa jantan siapa betina! Tidakkah benar demikian, Na Jie Hiap?” Boe Wie Yang dengar nyata kata2nya Siang Koan In Tong, ia menjadi mendeluh, hingga ia memperdengarkan jengekannya “Hm!” Bukankah dengan kata2 itu ia telah ditantang secara menghina?

Tapi sementara itu kedua saudara Sim sudah mulai bersilat dengan gelangnya masing2 yang bergerak2 bagaikan naga perak berjoget.

“Boe Pang coe, sungguh aku sayang dua bocamu ini!” kata Siang koan In Tong pada ketua Hong Bwee Pang itu. “Demikian muda usianya, tetapi liehay boe geenya! Ada guru yang pandai, ada muridnya yang pandai juga! Hebat si guru, yang bisa mendidiknya! Boe Pang coe, kedua boca ini menghamba kepadamu, pasti kau ketahui siapa guru silat ahli dari kedua murid ini?”

Baharu ia mengucap demikian, atau tanpa tunggu jawabannya ketua Hong Bwee Pang itu, Siangkoan In Tong sudah berseru “Ah! Lihat Boe Pang coe! Segera akan terdapat keputusan yang kuat hidup, yang lemah binasa. Yang tulen utuh, yang palsu musnah!”

Dengan caranya ini, Siangkoan In Tong tak berikan kesempatan Boe Wie Yang membuka mulut, dilain pihak, semua hadirin tak ada yang memperhatikan kepadanya, karena semua mata asyik ditujukan ketengah lapangan dimana kedua pihak sudah mulai saling menyerang. 

Boe Wie Yang tak ingin melayani Lie hoen Coe bo kian ia hanya memperhatikan pertempuran.

Siangkoan In Tong juga lantas perhatikan pertempuran itu, terutama kepada kedua boca.

Murid2 dari See Gak Pay mainkan Ngo heng Lian hoan kiam dan dua saudara Sim bersilat dengan sepasang Kioe lian Kong hoan. Sifatnya kedua boca ini adalah lebih banyak menyerang, hingga mereka mendatangkan kekaguman khalayak ramai. Umum tidak menyangka, bahwa boca ini yang masih muda sekali merupakan lawan2 yang tangguh bagi kelima murid wanita dari See Gak Pay.

Sioe Seng lantas insaf cara bertempur lawan ini, yang membuat ia dan kawan2nya terdesak sebagai pihak yang membela diri saja. Ia mengarti, walaupun ia bukan murid kepala dari See Gak Pay, ia toh tak boleh membikin malu kaumnya. Sesudah bersabar sekian lama dan ia masih menjadi pihak yang terdesak, akhirnya ia serukan empat saudaranya “Kita terdesak begini, mari kita lindungi nama baik See Gak Pay!”

Sioe Sian, Sioe Beng, Sioe Yan dan Sioe Hoei menjawab kakak seperguruannya itu, mereka menyambut seruan dengan segera ubah gerakan mereka, malah Sioe Yan alias Cie In segera serang A Hiong. Dilain pihak, pada waktu itu A Eng sedang serang Sioe Seng dengan gerakannya saling menyusul “Ouw liong hie soei” (“Naga hitam memain air”) dan “Kim so kim kau” atau “Dengan kunci emas menawan ular yaga”. Mula2 gelang menyambar kearah kepala tapi tiba ditarik pulang, untuk diteruskan kearah pinggang, sangat cepatnya.

Sioe Seng batal menangkis ke atas mengikuti serangan lawan, ia berkelit kekiri. Ia tidak melainkan meloloskan dirinya tapi sambil berbuat demikian, ia teruskan menabas kearah gelang lawannya.

Justeru waktu itu, dua kali Cie In telah serang A Hiong. A Hiong berkelit kekiri dan kanan, gelangnya melindungi tubuhnya sesudah itu, dari kanan ia menyambar kebawah, atas mana Cie In berlompat seraya pedangnya membacok kearah gelang. Pada kedua pihak gerakan masing2 berbareng saatnya. A Eng mencoba melibat pedang Sioe Seng demikian A Hiong terhadap pedangnya Cie In atau Sioe Yan. Dua saudara ini hendak rampas atau bikin terlepas pedang lawannya untuk memperoleh kemenangan, kecuali jika lawan mereka segera menyatakan suka menyerah.

Dalam saat2 yang sangat mengancam itu, mendadak A Eng dan A Hiong rasakan samberan dari lain jurusan terhadap mereka.

Itulah benar. Yo Hong Bwee alias Sioe Beng serta soe moay nya yang ketujuh, Sioe Hoei berbareng maju menyerang. Pedang mereka ini tidak mengarah tubuhnya akan tetapi mengarah senjata masing2. Kedua saudara itu kaget, karena mereka insyaf bahaya ancaman untuk membikin putus rantai gelang mereka.

Sekonyong2 dua orang lompat kedalam kalangan sambil berseru “Tahan!” Kedua orang itu datangnya dari dua jurusan dari pihak Hong Bwee Pang dan Hoay Yang Pay. Mereka adalah Hiocoe Bin Tie dan Tiongcioe Kiam kek Ciong Gam. Bin Tie lompat lebih dahulu setelah ia beri tanda kepada Boe Wie Yang dan Ciong Gam menyusul.

Tiongcioe Kiam kek sayang dua boca itu ia kuatir mereka dapat celaka ditangan Sioe Beng dan Sioe Hoei, tetapi dilain pihak, iapun hendak melindungi nama baik See Gak Pay, sebab Coe In Am coe pasti akan merasa kecewa apabila pedangnya Sioe Seng dan Sioe Yan kena terlibat dan terbetot terlepas oleh A Eng dan A Hiong. Bin Tie dilain pihak ingin melindungi dua saudara Sim itu. Maka keduanya bersatu maksud.

Karena datangnya kedua orang itu, pertandingan berakhir dengan sendirinya.

“Siauwsoehoe2 silahkan mundur dulu,” kata Ciong Gam kepada Sioe Seng berlima. “Biarlah aku mencoba memohon pengajaran dari Bin Hiocoe.” Ciong Gam adalah soetee dari Eng Jiauw Ong Sioe Seng menghormatinya, maka itu, bersama empat saudaranya, ia berhenti menggerakkan pedangnya.

“Ijinkan teecoe undurkan diri,” kata dia dengan hormat, sedang kepada Bin Tie dia teruskan “Bin Hiocoe, kami sudah menerima pengajaran!” Setelah mana, sambil manggut mereka undurkan diri.

Bin Tie pun lantas titahkan A Eng dan A Hiong undurkan diri dengan bentakannya, setelah itu, ia hadapi Ciong Gam. Ia masih mendongkol karena tantangannya Sioe Seng tadi.

“Ciong Loosoe,” katanya, “kau adalah orang yang Bin Tie paling kagumi, maka itu dengan kesempatan yang baik ini aku bisa terima pengajaranmu.”

Bukan maksudnya Ciong Gam akan melayani Bin Tie yang ia tahu liehay sekali, ia maju karena terpaksa. Maka sedang Bin Tie berwajah suram, ia bersenyum tawar.

“Bin Loosoe,” katanya, “kau terlalu sungkan. Aku tak mempunyai kepandaian sebagai yang kau pujikan itu tetapi aku suka menambah pengalaman dibawah senjatamu, sepasang Jit goan loen yang kesohor.”

“Ciong Loosoe sudi memberi pengajaran, aku senang menerimanya,” kata Bin Tie, yang terus memberi tanda kearah rombongannya, atas mana datang seorang dengan sepasang senjatanya yang mirip roda. “Jit goat loen” berarti “roda matahari dan bulan”.

Siok beng Sin Ie Ban Lioe Tong ibuk melihat majunya saudara seperguruannya itu. Ia tahu saudaranya itu liehay tapi ia tahu juga lebih liehaynya Bin Tie, maka itu ia jadi berkuatir sekali. Ketika itu sudah ada murid Hoay Yang Pay yang serahkan pedang kepada Ciong Gam.

Setelah saling merendah pula, kedua pihak saling mundur untuk bersiap. Ciong Gam ambil kedudukan di Utara, “Silahkan, Ciong Loosoe!” Bin Tie menantang setelah ia ambil tempatnya, kedua senjatanya dibentangkan kekiri dan kanan.

Kedua pihak lantas bergerak berputaran, akan kemudian berhenti dengan berdiri berhadapan, setelah mana, mendadak Ciong Gam menyerang dada lawan.

Bin Tie geraki tangan kanannya menyampok pedang lawan. Kalau kedua senjata bentrok, pasti pedang terpental atau terlepas.

Ciong Gam ketahui ini, ia tidak mau memandang enteng. Ia tarik pulang pedangnya secara sebat, lalu tubuhnya memutar, hingga pada lain saat, ujung pedang sudah menyambar pula, sekarang kearah tenggorokan!

Kembali Bin Tie menangkis dengan tangan kirinya, lantas ia lompat kesamping, untuk menyerang bebokong lawan dengan tangan kanan.

Ciong Gam majukan tubuh sambil mendek dengan cepat ia berbalik, lantas sambil maju pula ia menusuk lengan kanan lawannya. Ia bergerak sangat gesit, akan tetapi Bin Tie pun tak kalah gesitnya. Thian kong chioe berhasil menarik pulang tangannya, hingga ia luput dari serangan pedang.

Secara demikian, keduanya bertarung sampai delapan jurus dengan sangat serunya, sesudah mana, Ciong Gam jadi sangat penasaran, hingga ia niat berlaku nekat, karena segera ternyata, tak dapat ia serang lawan itu, juga gesit luar biasa. Setelah ini, ia coba mendesak secara hebat, senantiasa ia cari lowongan musuh.

Bin Tie tetap dengan serangannya, sebelah rodanya terus didada, yang lain selalu dibawah demikian ketika ia menyerang untuk kesekian lamanya, ia menyerang berbareng, dada dan perut lawan.

Dengan gerakan “Oey liong hoan sin,” atau “Naga kuning membalik tubuh”, Ciong Gam menyingkir kesamping dari serangan berbahaya itu, dari sini sambil mendek, ia menyerang bawah musuh.

Bin Tie tidak menyingkir dari tusukan itu, iapun tidak berkelit, sebaliknya dari atas, senjatanya turun kebawah menghajar pedang penyerangnya. Ini adalah gerakan “Kim tiauw pok touw”, atau “Garuda emas terkam kelinci”.

Ciong Gam tarik pedangnya kekanan, untuk membebaskan senjata itu dari kemplangan, lalu ia kasih naik, untuk dari atas membabat kebawah, kepada jit goat loen. Ia berlaku sebat, tenaganya pun dipusatkan. Sekali ini, tak ampun lagi pedang Liong boen kiam membentur senjatanya Thian kong chioe Bin Tie, hingga diantara suara nyaring, lelatu api meletik muncrat. Tapi kedua gegaman sama2 terbuat dari baja tulen, tak ada satu antaranya yang kalah.

Tiongcioe Kiam kek hendak menggunai siasat sesudahnya senjatanya beradu, ia mendek untuk memutar tubuh, senjatanya itu ditarik pulang, untuk dipakai menyerang lebih jauh. Ia mundur.

Bin Hiocoe juga tak hendak berhenti sampai disitu, ia menyusul.

“Ciong Loosoe, jangan pergi, aku hendak minta pengajaran pedangmu!” ia berseru. Ciong Gam menduga ia bakal disusul, sangkaannya itu berbukti.

Mendadak ia berhenti berlari, lalu dengan tiba2 juga ia memutar tubuh. Berbareng dengan ini pedangnya, dengan kedua tangan, dipakai menusuk.

Bin Tie menyusul tanpa tak waspada, ia juga kuatir lawan akan menggunai akal. Ia kuatir musuh menggunai senjata rahasia, tetapi kapan ia ingat Tiongcioe Kiam kek ada seorang kenamaan, ia buang kekuatirannya itu. Untuk tidak berikan ketika pada lawan, ia merangsek terus.

Dengan sekonyong2 Tiongcioe Kiam kek memutar tubuh, pedangnyapun mendadak ditikamkan.

Bin Tie terperanjat untuk serangan sebat itu, ia lekas2 miringkan tubuh, hingga ujung pedang lewat didepan dadanya.

Juga Ciong Gam terkejut karena gagalnya tipu serangannya ia insyaf bahwa ia sedang menghadapi ancaman, maka dengan lekas ia lompat memutar kekanan.

Bin Tie tidak memberi kesempatan lawan ini dapat menyingkir, ia loncat memburu sambil jit goat loen kiri menyambar. Sambil menyerang secara demikian, iapun berseru “Terima kasih yang kau mengalah! Akan tetapi senjatanya terus mengancam pundaknya lawan.

Tidak ada jalan lagi untuk Ciong Gam berkelit tapi ia tak sudi menyerah mentah2, ia ada seorang dengan ilmu kepandaian berdasar, maka ia paksa memutar pula tubuhnya sambil menangkis dengan pedangnya. Apa lacur, ia masih kalah sebat, jit goat loen mendahului mengenai belakang iga kanannya, tidak ampun lagi ia rubuh pingsan, pedangnya terlepas dari cekalannya, darahnya muncrat, sebab senjata musuh berujung tajam. Bin Tie hendak saksikan apakah orang telah binasa atau tidak, ia maju kedepan, akan tetapi berbareng dengan itu dua orang lompat kearahnya, yang satu segera hampirkan Ciong Gam, yang lain menghalau sambil berseru “Bin Tie, hebat benar sepasang rodamu! Disini Khoe Beng hendak mohon pengajaran dari kau!”

Bin Tie insyaf, setelah melukai satu orang, pihak Hoay Yang Pay pasti tak akan mau sudah saja, dari itu, ia ambil ketetapan akan melayani terus, maka juga, ia tertawa dingin terhadap penantangnya ini.

“Khoe Loosoe, untuk apa bergusar? katanya. “Adu silat toh ada pekerjaan berbahaya, siapa tak sanggup menangkis, dia mesti terluka! Adu silat toh lain daripada berlatih! Dengan maju kemari, loosoehoe telah memberi muka terang kepadaku. Bicara dalam hal ilmu silat, aku terhitung lebih muda daripada kau, perbedaannya masih sangat jauh, akan tetapi karena kau menghendakinya, aku bersedia akan korbankan jiwaku untuk menemani kau!”

Selagi Thian kong chioe bicara, orang yang menghampirkan Ciong Gam, ialah Ban Lioe Tong, sudah lantas tolongi Tiongcioe Kiam kek, untuk diperiksa lukanya dan diobati, setelah mana, datang dua murid Hoay Yang Pay, yang diperintahkan oleh Eng Jiauw Ong untuk melongok, maka Lioe Tong perintah kedua murid ini untuk temani saudara seperguruan itu, yang telah sedar dari pingsannya.

“Boe Pang coe,” kemudian Siok beng Sin Ie berkata kepada Boe Wie Yang kepada siapa ia menoleh, “Ciong Loosoe telah terluka, dia perlu segera dibawa keperahu kami untuk berobat, maka itu mohon kau beri perintah saudara sebawahanmu untuk mengantarkannya.” “Bin Hiocoe telah kesalahan tangan, hal ini membuat aku menyesal,” menyahut Thian lam It Souw. “Baik, Ban Loosoe, silahkan Ciong Loosoe pergi beristirahat keperahunya. Apakah luka nya tak berbahaya?”

“Tidak terlalu membahayakan, Boe Pang coe,” jawab Lioe Tong.

Boe Wie Yang lantas titahkan satu cittong soe ajak beberapa orangnya pergi antar Ciong Gam pergi kebarisan perahu Garuda Terbang, untuk mana telah disiapkan gotongan.

Dimedan pertempuran Bin Tie dan Khoe Beng telah berdiri berhadapan, yang belakangan tidak puas, yang pertama tidak senang. Khoe Beng pun lantas cekal goloknya, Kim pwee Kam san too, yang diantarkan oleh salah satu murid Hoay Yang Pay.

“Bin Hiocoe,” berkata Kim loo souw, “Khoe Beng yang tidak tahu diri ingin minta pengajaran jit goat loen darimu, maka silahkan kau maju!”

Bin Tie tidak mau omong lebih banyak lagi.

“Baik!” ia menyambut seraya memberi hormat. “Silahkan Khoe loosoe!”

Lantas keduanya mulai bergerak, akan ambil tempatnya masing2.

“Silahkan, Bin Hiocoe!” berkata Khoe Beng yang begitu lekas maju dengan satu gerakan dari ilmu silat golok Ngo houw Toan hoen too atau Lima Harimau Mencegat Pintu.

Selagi Bin Tie bersiap untuk sambut serangan, semua hadirin di kedua pihak merasa tegang sedirinya, karena mereka masing2 tahu bahwa pertempuran dahsyat segera akan berlangsung. Benar2 Khoe Beng tidak main2 sungkan lagi, ia menyerang dengan seru, karena mana, Bin Tie mesti melayani dengan sungguh2.

Semua hadirin jadi semakin tegang.

Golok berkeredepan berkilau2. Disebelah itu, sepasang jit goat loen digeraki secara sebat sekali, diimbangi kepesatan tubuh dari yang memegangnya. Beberapa kali ketiga senjata beradu, menerbitkan suara, memuncratkan lelatu api hingga mata jadi kesilauan…. 

Pertempuran dilakukan cepat sekali, dua puluh jurus telah lewat. Sampai sebegitu jauh, Khoe Beng tak berhasil merebut kemenangan. Dan Bin Tie juga tidak bisa berbuat banyak dengan sepasang rodanya yang istimewa itu, ia cuma bisa melayani seimbang.

Dikalangan Hoay Yang Pay, Eng Jiauw Ong berkuatir untuk Kim too souw, yang maju tanpa perkenannya lagi. Tetapi inilah soal kecil. Yang hebat adalah cara berkelahinya. Khoe Beng sudah tua, ia menjadi gusar karena Ciong Gam terluka, hingga ia jadi tak dapat mengatasi dirinya lagi, yang amarahnya meluap2. Diapun memang ingin sekali mencoba2 hiocoe yang kenamaan itu.

Setelah berjalan demikian jauh, menuruti penasarannya, Khoe Beng ubah gerakan goloknya. Ia lantas mainkan tipu serangan dari “Pek sian tan too” atau “Sambaran kilat.”

Bin Tie sudah lantas merasakan hebatnya serangan itu, karena beberapa kali ia telah mesti luputkan diri dari serangan2 yang membahayakan, maka ia jadi waspada sekali. Untuk bisa melayani dengan baik, ia menggunakan antero kebisaannya mengentengi tubuh untuk mempergesit gerak geriknya. Kali ini ia berhasil sesudah jurus dikasi lewat lebih jauh. Ia menang gesit. Khoe Beng tampak liehaynya lawan ini, walaupun demikian, ia tak bisa berbuat suatu apa untuk mengatasinya, ia sudah keluarkan antero kepandaiannya, namun ia masih belum dapat rebut kemenangan. Ia sudah berusia lanjut lambat laun keringat mulai membasahi kepalanya.

Adalah setelah berlangsung demikian jauh, Bin Tie memperhebat desakannya.

Sebagai orang yang berpengalaman, Khoe Beng insyaf ia bakal rubuh ditangan lawannya ini. Maka ia memikir untuk melakukan serangan yang terakhir, dari ilmu pukulan “Kim too Jie sie sie,” atau “Dua puluh empat bacokan.” Akan tetapi selagi ia memikir demikian, gerakannya telah menjadi sedikit lambat.

Bin Tie bermata sangat celi, dengan cepat ia mainkan jit goat loen dalam gerakannya Cap jie sie Tin hay Kim loen, atau “Pukulan Roda Emas Dua belas kali.”

Baru saja Khoe Beng mulai penyerangannya setelah merubah siasatnya, dengan ilmu “Kim liong poan giok coe,” atau “Naga emas melilit tihang kumala”, justeru BinTie menyambut dengan “To coan kim loen” atau “Membalik roda emas.” Dengan tangan kiri ia menangkis, hingga goloknya Khoe Beng tersampok, dengan tangan kanan ia menyerang kebawah!

Oleh karena goloknya telah terpental, tak sempat Khoe Beng menarik pulang, maka itu, untuk tolong diri, ia berlompat mundur sambil memutar tubuh, supaya la bisa melihat kedepan dan gampang untuk memutar diri pula.

Tapi Bin Tie tidak mau mengasi ketika, ia menjejakkan kaki kirinya, kaki kanannya diangkat, untuk menyusul sambil berseru “Khoe Loo enghiong, jangan pergi!” Selagi menyebut “pergi,” tangan kirinya membarengi menyamber. Khoe Beng bergerak dengan sebat, akan tetapi lawannya terlebih cepat, pula dengan menggunai senjata, maka itu, belum sampai Khoe Beng menginjak tanah, belakang betisnya yang kanan telah kena terserang, hingga ia merasakan sangat sakit. Walaupun demikian, ia masih bisa berseru “Bagus!” Ia tidak melainkan berteriak, pun setelah kaki kirinya dapat injak tanah, dengan memutar tubuh goloknya dikasi melayang secara cepat luar biasa. Ia kerahkan tenaganya yang terakhir untuk membuat pembalasan.

Bin Tie tak sangka sama sekali gerakan lawan ini, tahu2, ujung golok sudah menyamber dadanya, dalam kagetnya ia mencoba membuang diri, tetapi ujung golok tetapi mencapai sasarannya, menggurat dada terus kebahu kiri, hingga bajunya robek, kulit dagingnya terluka, iapun bermandikan darah juga.

Dilain pihak goloknya Khoe Beng terlepas dari cekalan, jatuh ketanah, Khoe Beng sendiri telah rubuh pingsan.

Dari pihak Hoay Yang Pay, Yan tiauw Siang Hiap dan Ban Lioe Tong lompat maju ketengah kalangan, dan dipihak Hong Bwee Pang berlompat Pat pou Leng po Ouw Giok Seng hiocoe lari Kim Tiauw Tong dan Hay niauw Gouw Ceng, Heng tong hiocoe. Kedua pihak segera tolongi pihaknya masing2.

CXXXII

Eng Jiauw Ong sangat gusar dengan kesudahannya pertandingan antara Khoe Beng dan Bin Tie, Ia sangat menyesal atas terluka nya soehengnya, jika Bin Tie tidak terluka, pasti ia sudah tantang Thian kong chioe. Karena ini, dengan keras ia berkata kepada Boe Wie Yang. “Boe Pang coe, kita ada orang2 kang ouw, segala apa tak akan lolos dari mata kita. Aku tetap hormati tata tertib kaum kang ouw, karena mana aku telah pesan semua orang dan sahabatku untuk jangan bertindak dengan menuruti napsu hati saja, supaya mereka bisa mengalah, terutama supaya mereka jangan berlaku kejam. Akan tetapi sekarang buktinya, makin lama suasana menjadi makin hebat, orang seperti mengambil jalan buntu. Hal ini, membuat Ong Too Liong sangat menyesal, maka selanjutnya, aku tak bisa bilang apa2 lagi, biarlah masing2 menggunakan apa yang dia bisa untuk mencari keputusan siapa benar siapa salah!”

Boe Wie Yang bersenyum dingin karena tegoran itu. “Ong Loosoe, harap kau tidak menegor dengan kata2mu

ini,” berkata ia. “D isebelahnya tata tertib kaum kang ouw,

persilatan tak bebas dari keinginan untuk merebut kemenangan, dan dalam pertandingan, sukar orang bebas dari kesalahan tangan melukai lawan. Loosoe adalah satu cian pwee, mustahil Loosoe dapat menentukan akan tak melukai orang? Bin Shatee dengan jit goat loennya telah melukai Khoe Loo enghiong, itu memang harusnya tak terjadi, akan tetapi gegaman ada benda yang tak mempunyai mata. Siapa dapat mencegahnya? Loosoe, kita tak usah rundingkan soal ini, baiklah kedua pihak lekas majukan orang2nya untuk melanjutkan pertempuran, untuk dapatkan keputusan terakhir. Siapa yang menang siapa yang kalah!”

Ong Too Liong pun bersenyum tawar setelah mendengar ucapan yang tak memakai alasan itu.

“Baiklah!” ia menyambut dengan sikapnya menantang. “Kini aku telah ketahui isi hatimu sekarang aku peroleh tambahan pengetahuan! Nyatalah sekarang, kalau orang bertanding silat, orang mesti andalkan saja masing2 kepandaiannya! ” Eng Jiauw Ong masih hendak bicara terus, akan tetapi waktu itu ada orang yang mencegat padanya.

“Ong Loosoe, maafkan aku memotong pembicaraanmu berdua!” demikian suaranya Siangkoan In Tong sambil tertawa dingin.

“Meskipun kita sedang mengadakan persilatan persahabatan, kita toh tetap sedang berhitungan, maka persengketaan boleh diselesaikan sebagaimana layaknya saja. Saudara Khoe Beng sudah berusia lanjut tetapi dia hendak andalkan ketuaannya, sekarang dia telah terluka ditangan loo soehoe dari Lwee Sam Tong dari Hong Bwee Pang itu artinya dia cari matinya sendiri. Memang, siapa yang tak mengetahui bahwa para loosoehoe dari Lwee Sam Tong ada ahli2 silat kenamaan dari kalangan Rimba Persilatan dan orang2 luar biasa dari dunia Sungai Telaga? Bin Hiocoe juga terluka, itu harus disayangi. Bin Hiocoe sangat dimalui, orang yang berani membuat dia lecet kelihatannya hanyalah orang Hoay Yang Pay saja. Aku dengar orang mengatakan bahwa Bin Hiocoe pernah memasuki Lek Tiok Tong di Ceng hong po waktu itu Khoe Loo enghiong telah hadiahkan sebatang piauw kepadanya, maka sekarang adalah saatnya mereka berdua membuat perhitungan hutang lama. Maka selanjutnya kita tak perlu bicarakan pula hal mereka itu, agar kita kedua pihak tak dikatakan berpandangan cupet! Tidakkah demikian, Boe Pangcoe?”

Ketika itu Bin Tie dengan ditemani Gouw Ceng telah balik kerombongan mereka, walapun berlumuran darah, ia telah bawa sikap gagah dan jumawa, tak ingin ia dipepayang. Ia dapat dengar perkataannya Siangkoan In Tong, mukanya menjadi merah padam karena jengah. Ia menghampiri ketuanya, untuk menjura dan berkata “Poen co telah membuat malu untuk Hong Bwee Pang, harap Pangcoe memakluminya.”

“Bin Hiocoe telah terluka, apakah itu tak ada halangannya?” sahut Boe Wie Yang dengan menyimpang. “Pergi lekas kau obati lukamu!”

“Terima kasih atas kebaikan Pang coe,” kata pula Bin Tie sambil ia menjura pula. Kemudian ia menghadapi Siangkoan In Tong, katanya “Siangkoan Loosoe, kita sekarang hendak selesaikan urusan kita dengan jalan persilatan, maka itu, kata2 tajam tak akan menangkan senjata. Bukankah pribahasa mengatakan, bahwa siapa yang seumur hidupnya diatas perahu, sukar luput dari bahaya terpeleset? Aku Bin Tie ingin dandan, setelah itu aku ingin terima pengajaran dari loosoe, maka sekarang aku hendak pergi dulu, sebentar aku akan kembali!”

Tanpa tunggu jawaban lagi hiocoe ini lantas jalan terus. Siangkoan In Tong tertawa bergelak2.

“Bin Hiocoe, silahkan dandan dengan lekas, aku tunggui kau disini untuk terima pemberian penajaranmu!” katanya.

Bin Tie sudah jalan terus, tetapi Boe Wie Yang yang dengar ketawa dan kata2 yang tak sedap itu merasa tak enak bukan kepalang.

Sementara itu, Khoe Beng telah ditolong oleh Ban Lioe Tong, lukanya diobati dan dibalut, sedang Coe In Am coe titahkan Sioe Beng bagikan tiga butir Coan tan see, untuk ditelan.

Sehabis itu Lioe Tong menanya Ouw Giok Seng, yang telah siapkan gotongan, apakah Khoe Beng boleh diangkut segera ke Perahu Garuda atau mesti minta ijin dahulu dari ketua Hong Bwee Pang. “Harap jangan mengucap demikian, Ban Po coe,” jawab Giok Seng sambil bersenyum. “Khoe Loosoe terluka parah, dia mesti beristirahat, tak usah menanti lagi ijin Pang coe dia boleh segera diantar keperahu Garuda”.

“Terima kasih, Ouw Hiocoe,” mengucap Ban Lioe Tong.

Ouw Giok Seng lantas titahkan orang2 dari Heng tong untuk gotong orang yang terluka itu, sedang Eng Jiauw Ong titahkan beberapa muridnya pergi mengantarkan.

Melihat Ban Lioe Tong tak mengikuti, Ouw Giok Seng berkata kepadanya “Ban Loosoe, kita sudah mengadakan beberapa pertempuran kedua pihak telah ada yang kalah dan menang karena hawa udara ada demikian buruk, apabila hujan turun, pasti pertandingan tak dapat dilangsungkan hingga penyelesaian tetap tertangguh, bagaimana pikiran loosoe apabila kita berhenti disini saja, supaya pertikaian tak terulur2 lebih jauh?”

“Aku mengerti kau, Ouw Hiocoe,” jawab Lioe Tong. “Memang lebih baik apabila kita menggunai golok membacok putus benang kusut, supaya tak usah bercape lelah membereskannya, melainkan aku belum tahu, bagaimana caranya pemberesan itu?”

Pat pou Leng po segera angkat tangannya dan menunjuk.

“Lihat disana, Ban Po coe!” berkata ia. “Dipara2 bunga itu telah diadakan persiapan untuk permainan ilmu mengentengkan tubuh. Cara itu, walaupun ada kesalahan tangan, tidak akan menerbitkan luka2, tetapi cukup untuk menetapkan si kuat dan si lemah, guna memutuskan menang atau kalah. Soehoe mana saja yang mempunyai kepandaian, silahkan dia maju!” “Permainan liehay dari kaum Rimba Hijau itu disebut oleh Hiocoe sebagai hanya permainan mengentengkan tubuh itu sudah menyatakan keliehayanhya hiocoe”, berkata Lioe Tong sambil bersenyum dingin. “Permainan semacam itu hiocoe pandang sebagai permainan yang umum hiocoe benar2 ada satu ahli. Hiocoe, tak berani aku agulkan diri, tak berani aku menaikinya, akan tetapi meskipun demikian, aku suka menerima pengajaran dari hiocoe untuk menambah pengetahuan untuk tak membikin sia2 kunjungan kami ke Cap jie Lian hoan ouw ini!”

Diam2 Ouw Giok Seng terkejut dan kagum untuk Siok beng Sin Ie, yang pandai sekali merendahkan diri tapi pengetahuannya tentang ilmu mengentengkan tubuh ada luas.

“Harap tidak mengucap demikian, Ban Loosoe,” ia berkata. “Tak lain maksudku adalah, untuk mohon loosoe tolong lihat, cocok atau tidak apa yang aku atur itu….”

Lioe Tong menganggukkan kepala, ia tidak menjawab, tetapi didalam hatinya ia ingin menindih kejumawaan lawannya.

Ouw Giok Seng sudah lantas bertindak ketempat yang ia tunjuk tadi, Siok beng Sin Ie mengikuti untuk melihat dari dekat apa yang dinamakan “Hoei too hoan ciang” atau “Golok terbang penukar tangan” dan persiapan “Kioe bong Hoen goan kioe” atau “Bola berduri sembilan.” Melihat golok itu, Lioe Tong bercekat dalam hatinya.

Sama sekali telah dipasang empat buah golok diantara delapan tihang, alat penghubungnya adalah dadung, yang diikat hingga jadi malang melintang. Setiap golok beratnya kira lima belas kati, pada gagangnya ada dua buah gelang untuk mengalungkan golok itu kepada dadung. Maka apabila didorong atau ditarik golok itu bisa bergerak pergi datang, merosot diantara dadung.

Pada dua potong dadung lain digandulkan lebih dari seratus kelenengan, yang bisa menerbitkan suara berisik hingga suaranya bisa mengacaukan orang2 yang sedang mengadu silat.

Dibawah para2 sekali ada empat buah bola Kioe bong Hoen goan kioe, yang masing2 sebesar semangka, dimukanya ada dipasangkan “hidung” besi serta satu lobang memakai tutup.

Itulah lobang untuk mengisi beratnya bola, karena dalamnya dibikin kosong. Diseputar bola ada dipasangkan secara istimewa sembilan buah golok tajam panjang tiga dim, bagian tajamnya panjang tiga dim juga. Celakalah barang siapa yang kebentur bola2 ini, tak perduli orang mempunyai ilmu kedot Tiat pou san atau “Baju besi.” Pun bola ini dipasangnya bergelantungan dan dengan cepat terpasang rapi.

“Ban Loosoe,” kata Ouw Giok Seng kemudian, “dengan bergantian kita nanti main2 dengan dua rupa permainan ini. Sudikah loosoe memberi pelajaran kepadaku?”

“Tentu saja boleh, Ouw Hiocoe,” sahut Ban Lioe Tong dengan bersenyum tawar. Ia mengarti orang desak ia, “Malah untuk minta pengajaran daripadamu adalah diluar keberanianku. Baik, sekarang kita main2 dahulu diatas yang mana satu?”

Sebelum Ouw Giok Seng menyahut, dari peseban bagian Hoay Yang Pay loncat datang satu orang, ialah Ciok Liong Jiang cucu muridnya Yan tiauw Siang Hiap, yang lantas berkata kepada Ban Lioe Tong “Soe ya, ijinkan touw soen sendiri yang main2 dengan Hoei too hoan ciang ini, apabila touwsoen tak berhasil, baharu Soeya yang gantikan.” Lioe Tong tidak sangka, ditempai bersahaya demikian, ada angkatan muda yang majukan diri. Ia belum tahu sampai dimana kepandaiannya pemuda ini, tetapi orang berani maju, maka ia percaya pemuda ini mempunyai kepandaian. Iapun lihat, Yan tiauw Siang Hiap sendiri tidak mencegahnya.

“Baik, Liong Jiang,” kata ia kemudian. “Kau harus waspada, karena ini ada puncaknya ilmu mengentengkan tubuh barang siapa alpa jiwanya terancam bahaya. Kau harus ketahui juga, Ouw Hiocoe ada satu ketua kenamaan, kau bukan tandingannya kau mesti insyaf sendiri.”

“Harap jangan kuatir, Soeya, touwsoen mengerti,” Liong Jiang berikan kepastian.

Mendengar itu, Lioe Tong lantas berkata kepada Ouw Giok Seng “Ouw Hiocoe, Ciok Liong Jiang mohon pengajaran dari kau. Dia tak tahu diri, maka tolong kau pimpin dia. Aku sendiri hendak menonton saja untuk menambah pengetahuan.”

Ouw Giok Seng tak senang hati karena munculnya satu boca.

“Ciok Siauwhiap berani majukan diri, dia tentu telah mem punyai latihan sempurna mengenai Hoei too Hoan ciang ini,” katanya, “dari itu tak usah Ban Loosoe berkuatir.”

Lantas ia menoleh kepada Liong Jiang maksudnya untuk bicara, tapi belum lagi ia buka mulut, dari pihaknya datang satu orang yang telah mendahului berkata “Hiocoe, tunggu sebentar! Atas perkenan Pang coe, biarlah aku yang main2 dengan Ciok Siauwhiap ini!”

Kapan Giok Seng menoleh, ia kenali Leetong soe Sie Yong, ketua Ruang Upacara, yang bergelar Sian thian chioe si Tangan Kilat. Ia lantas minggir dan kata pada pengetua upacara ini “Baik, pergilah kau temani Ciok Siauwhiap main2.”

Sie Yong menjura kepada hiocoe itu, lalu ia hadapi Liong Jiang, sambil memberi hormat dia berkata “Ciok Siauwhiap, kepandaianku tidak berarti, aku melainkan gemar akan ilmu mengentengkan tubuh, dari itu mari kita main2 untuk melemaskan uratku yang sudah tua, yang telah kurang gesit. Harap kau pun suka mengalah ”

“Ah, Sie Loosoe, jangan kau bersungkan terhadapku!” sahut Liong Jiang sambil tertawa. “Aku telah datang ke Cap jie Lian hoan ouw ini, dan tak dapat aku pulang dengan tangan kosong, sedikitnya aku mesti minta belajar darimu, supaya kau berikan aku pelbagai penunjukan yang berharga. Harus aku jelaskan, bahwa dalam rombonganku aku adalah yang terendah, paling muda, beda dengan loosoe sendiri yang telah jadi orang kang ouw kenamaan, hingga untuk loosoe, tak dapat loosoe bertindak keliru sedikit juga, sedang untuk aku yang muda, segala kesalahan tak ada artinya. Ban Soeya, tidakkah benar kata2ku ini?”

Lioe Tong mendelik kepada murid keponakan itu. “Liong Jiang, sekarang bukan saatnya untuk kau ngoce!”

Ia membentak. “Hayu baik kau layani Sie Loosoe dan

kemudian lekas2 undurkan diri!”

Walaupun ia ditegur. Liong Jiang toh hampirkan tempat pertempuran sambil bersenyum ber seri2.

Sie Yong sangat mendongkol, tetapi ia hargai dirinya sebagal Cit tong soe ia tidak mau layani boca jail itu. Hanya, sembari beri hormat kepada Lioe Tong, dia kata, “Ban loosoe, aku terima titahnya Pang coe tak dapat aku tidak layani Ciok Siauwhiap, maka itu, tolong kau berikan pengunjukan berharga kepadaku”. Siok beng Sin Ie balas bormat itu.

“Harap kau sudi mengalah, Sie Loosoe”, katanya. “Liong Jiang ada satu boca nakal, aku minta kau tak bersepandangan sebagai dia ”

“Ban loosoe terlalu merendah”, kata Sie Yong, yang lantas bertindak kepara2.

Liong Jiang telah menantikan, disebelah bawah, untuk berikan tempat atas kepada tuan rumah yang ambil tempat arah selatan.

Mereka sama membelakangi sebatang golok. “Siauw hiap, silahkan!” Sie Yong mempersilahkan. “Sie Loosoe, silahkan!” sahut si anak muda.

Setelah itu keduanya sambar golok didepannya masing2 dan tolak itu dengan keras kearah satu dan lainnya, hingga golok2 itu terpental cepat sekali.

Liong Jiang berlompat, kelit kebarat, sedang Sie Yong lompat ketimur.

Kedua golok, yang saling sambar, saling bentur ditengah kalangan, hingga menerbitkan suara nyaring dan berisik.

Sie Yong loncat ketengah, untuk tarik pulang goloknya barusan, tapi justeru itu, dari barat Liong Jiang dorong golok barat, untuk serang padanya, sambil berbuat demikian, anak muda ini lompat maju juga, akan serang iga kanan lawan sambil ia serukan “Awas, Sie Loosoe!” Ia menggunakan tangan kiri.

Dengan egos tubuh, Sie Yong bikin goloknya lewat keatasan pundaknya, menangkis serangan kepada iganya, ia tidak berkelit, ia menangkis dengan tangan kanan sambil tangan kirinya dibarengi menyerang lengan lawan itu. Liong Jiang kelit seraya egos pundaknya kebawah, kalau tidak, diapun bakal terbacok golok yang melesat balik. Ia gesit dan matanya awas, inilah yang membuat ia berani adu silat secara demikian, yang sebenamya asing bagi nya.

Beda daripada lawannya, Sie Yong pernah yakinkan Hoei too Hoan ciang sampai beberapa tahun ilmu mengentengkan tubuh yang liehay yang membikin dia dapat julukannya Sian thian chioe si Tangan Kilat. Ia pun melayani lawan dengan waspada tapi sebat.

Kedua pihak bergerak terus keduanya berlaku sangat sebat, sebab disebelah sambar menyambarnya empat buah golok, mereka mesti perdatakan serangan tangan masing2, yang dilakukan setiap ada kesempatan. Hebat serangan golok, yang kecuali datang dari depan, juga yang menyambar dari belakang atau samping.

Dalam hal ilmu kepandaian, Liong Jiang bukan tandingannya Sie Yong, tetapi ia menang tubuh lebih kate, asal dia mendek, golok bisa lewat diatasan kepalanya.

Mulanya dalam pikirannya Sie Yong akan mendesak lawan hingga dia insaf dan mundur sendiri. Ia tahu ia tak dapat kehormatan apabila ia menangkan lawannya ini, yang masih muda sekali, sedang dalam derajat, ia ada terlebih tinggi. Iapun sukai anak muda yang berkepandaian dan tak ingin mencelakainya.

Maka sampai sebegitu jauh, ia menjaga agar ia sendiri tak keliru bergerak. Tapi lama kelamaan, pikirannya ini berubah. Liong Jiang terlalu gesit dan licin terhadapnya, beberapa kali ia hampir kena dipermainkan, hingga ia jadi mendongkol.

“Dia mesti diajar adat!” demikian pikirnya, atas mana, ia mulai mendesak. Segera satu serangan hebat dilontarkan terhadap Liong Jiang, hampir ia kena dihajar, sukur ia sempat berkelit, tapi meskipun begitu, ia mesti mundur tiga tindak, kearah barat, hingga Sie Yong jadi berada diarah timur. Ia jadi gusar, ingin ia membalas. Maka ia sambar golok dibagiannya, ia pegang itu keras2 dengan kedua tangannya, lantas ia tolak keras kearah lawan, tubuhnya sendiri turut maju sambil separuh tergantung atau bergelantungan. Ini ada serangan yang berbahaya, yang pun memperbahayakan diri sendiri.

Sie Yong baharu berlompat, belum sempat dia putar tubuh ketika dia dengar sambaran angin apabila dia menoleh, dia lihat haya sedang mengancam dirinya. Dalam ibuknya dia berkelit walaupun demikian, baju dipundaknya kena tersambar pecah! Bukan main mendongkolnya tidak tempo lagi, dia sambar goloknya dan balas menyerang. Kali ini gerakannya cepat luar biasa.

Dalam saat yang berbahaya bagi kedua pihak itu, mendadakan Ban Lioe Tong lompat menyambar dengan kedua kakinya ia jejak dadung hingga putus, hingga dengan cara demikian, semua golok jatuh sendirinya, lenyap ancaman bahayanya.

Berbareng dengan itu, Liong Jiang dan Sie Yong berdua loncat mundur. Cittong soe itu bermuka merah padam, tandanya ia masih sangat mendongkol.

“Liong Jiang!” Siok beng Sin Ie membentak. “Kau sedang minta pengajaran dari Sie Loosoe, mengapa kau main gila? Lekas mundur!”

Anak muda itu tertawa gembira, ia kasih hormat pada lawannya.

“Sie Loosoe, terima kasih!” katanya. Baharu setelah itu, sambil tunduk, tapi sambil bersenyum juga, ia bertindak kedalam rombongannya, “Hm!” Sie Yong perdengarkan suara sebal. Ia ingat derajatnya, maka ia bisa kendalikan diri untuk tidak layani pemuda itu. Terhadap Lioe Tong pun ia tidak ber kecil hati, malah ia tahu, orang Hoay Yang Pay ini bermaksud baik terhadapnya.

“Ban Loosoe, aku berterima kasih untuk perlindunganmu terhadap sahabat,” Ouw Giok Seng mengucap kepada ketua dari Kwie In Po. Ia lihat kejadian itu.

“Jangan sungkan, Ouw Hiocoe,” Lioe Tong merendah. “Liong Jiang muda dan belum tahu suatu apa, dia main gila, harap Hiocoe dan Sie Loosoe maafkan padanya.”

Selagi Lioe Tong bicara, dari pihak Hong Bwee Pang muncul satu orang, dia ini terus hampir kan Ouw Giok Seng dan kata “Pie co hendak mohon perkenan dari Hiocoe untuk main diatas Kioe bong Hoen goan kioe, untuk minta pengajaran dari para loo soehoe dari Hoay Yang Pay ”

Dengan “pie co”, orang ini bahasakan diri sebagai tocoe.

Orang ini ialah Kioe in liong Siauw Gee si Naga Sembilan, yang menjadi tocoe dari Hoe tan Cap jie to, rombongan penjaga dan pengatur meja suci Hong Bwee Pang untuk sembahyang. Dia baharu habis jalankan tugas di luar, ketika dia kembali dia saksikan kehebatan pertempuran barusan, lantas saja dia majukan diri. Dia pun minta Giok Seng undurkan diri, buat layani saja para tetamu katanya.

Ouw Giok Seng manggut, lalu ia kata pada Ban Lioe Tong “Ban Loosoe, Siauw Tocoe ini ingin minta pengajaran dari See Gak Pay dan Hoay Yang Pay, entah loosoe hendak undang siapa untuk melayani dia?” Dimulut Giok Seng mengucap demikian, dalam hatinya ia ingin sekali Lioe Tong sendiri yang terima tantangan. Maksudnya hiocoe ini kesampaian, memang Lioe Tong sendiri ingin coba2 Kioe bong kioe.

“Permainan bola ini memang ganjil, juga yang pernah melihatnya,” demikian kata Siok beng Sin Ie. “Mungkin tak ada orang dari pihak kami yang berani men coba2, akan tetapi untuk tak mensiasiakan kehendak Siauw Tocoe, baiklah, aku sendiri yang akan menemaninya.”

Baharu Lioe Tong tutup mulutnya atau satu orang lompat ke arahnya sambil berseru “Soehoe, teecoe ingin gantikan soehoe temani Siauw Loesoe!”

Itulah muridnya kedua, Kee Pin, yang enteng tubuhnya dan cerdas otaknya, namun murid ini belum mengerti tentang Kioe bong kioe.

Tapi murid ini sudah biasa me nyambuti senjata rahasia, kupingnya terang sekali, hingga ia anggap, boleh juga murid ini turun tangan.

“Jika kau hendak minta pengajaran dari loosoe dari Hong Bwee Pang, kau mesti berhati2” pesannya. “Lihat Liong Jiang, yang terima pelajaran dari Siang Hiap, apabila tidak Sie Loosoe mengalah, hampir dia terbinasa diujung golok. Kau tak boleh memandang enteng, mengerti?”

“Teecoe mengerti, soehoe,” sahut sang murid.

Ketika itu Sie Yong sudah undurkan diri. Ouw Giok Seng tidak turut mundur, sebab Ban Lioe Tong tetap berdiri ditempatnya.

Siauw Gee sudah lantas menggape kepada Kee Pin seraya berkata “Siauw soehoe, kau hendak beri pengajaran kepadaku diatas Kioe bong kioe?” “Justeru aku yang mohon pengajaran dari kau, tocoe,” sahut Kee Pin.

“Jangan sungkan, mari kita mencoba2!” Siauw Gee kata pula.

“Akupun belum   pernah   berlatih   dengan   bola   ini.

Silahkan, Kee Soehoe!”

“Silahkan, Siauw Soehoe!” Kee Pin menyambut.

Waktu itu diudara yang mendung terlihat tiga ekor burung dara terbang kebelakang paseban. Ouw Giok Seng dongak, ia lihat burung itu, tapi juga ia tampak cuaca yang buruk, rupanya sang hujan akan segera turun.

Justeru itu, Hiocoe Bin Tie duri Ceng Loan Tong keluar dari paseban, dari belakangnya muncul dua orang, yang terus bicara kepadanya sambil berbisik, entah apa yang dibicarakan. Dengan air muka muram. Bin Tie lantas memandang ketengah kalangan, akan akhirnya menggapekan Ouw hok Seng.

Hiocoe dari Kim Tiauw Tong juga rupanya lihat suasana tegang untuk kaumnya, ia menoleh kepada Ban Lioe Tong, akan berkata “Ban Loosoe, maafkan aku, tak dapat aku temani kau.”

“Ouw Loosoe, persilahkan!” menyahut Lioe Tong. Hiocoe itu manggut, terus ia bertindak kepada Bin Tie.

Waktu itu, Siauw Gee dan Kee Pin sudah mulai bertempur dengan menolak bolanya masing2. Kee Pin berlaku sangat hati2, karena ia belum kenal permainan ini. Ia tak ingin nama gurunya terjatuh karenanya. Begitu mulai menolak bola, baharu ia insyaf bola itu tak gampang dikendalikan. Maka ia lantas berlaku semakin hati2. Kalau tadi dengan golok para2 tak menggetar, sekarang adalah lain, saking beratnya bola yang terayun. Menakuti adalah bagian2 yang tajam dari keempat bola itu.

Kee Pin hunjuk kegesitannya dan kecelian matanya, tetapi Siauw Gee pertunjukkan kemantapannya, suatu tanda dalam permainan ini, ia telah punya latihan sempurna. Disebelah menggunai bola, mereka pun sering menyerang satu dengan lain.

Ban Lioe Tong menonton dengan perhatian tidak lama ia lantas menduga, bahwa Kioe bong Hoen goan kioe mesti ada ciptaannya Siauw Gee sendiri, maka itu ia dapat merasa, apabila muridnya tahu diri dan mundur teratur dia bakal lolos dari bahaya yang mengancam, kalau tidak, dia bakal rubuh.

Baharu Siok beng Sin Ie menduga demikian atau kejadian hebat sudah lantas mengambil tempat.

Kedua bola timur dan barat saling bentur, lalu keduanya mental balik. Justeru itu, dua2 Kee Pin dan Siauw Gee ada ditengah kalangan, mereka asyik beradu tangan. Dilain pihak, kedua bola selatan dan utara telah saling sambar. Untuk menyelamatkan diri, kedua orang yang bertempur berkelit dengan berbareng. Karena berkelit, maka mereka saling membelakangi satu dengan yang lain.

Siauw Gee kandung maksud tidak baik, mendadak ia berlompat sambil putar tubuhnya dengan gerakan “Kim lie coan po” atau “Ikan tambra emas nerobos ombak”. Dengan gerakannya ini, ia kejar bola utara yang menyambar keselatan, dia sambar bola itu pada dadanya, segera ia menarik dengan keras, digentakkan, maka bola itu lantas mental balik.

Kee Pin kalah licin, dia tidak memikir curang, ketika bola menyambar, tidak sempat dia berkelit, waktu ia mencoba akan egos tubuh, bola sudah mengenai iga kanannya serta punduk kanan di belakang pundak, tidak tempo lagi, ia keluarkan jeritan dari kesakitan yang hebat, tubuhnya rubuh terpelanting sampai diluar para2, darahnya muncrat!

Ban Lioe Tong terkejut, segera dia berlompat untuk meng hampirkan, hingga dia dapat kenyataan bahwa kecuali mandi darah, napas muridnya itu sudah berhenti jalan.

Siauw Gee lari menghampirkan, ia berpura2 tak menginsyafi kecurangannya.

“Kenapa? Kau terluka, Kee Soehoe?” katanya. “Aneh!”

Ban Lioe Tong tertawa dingin, ia tak berikan jawaban, ia hanya lebih pentingkan memeriksa luka, yang hebat. Kapan ia rabah dada muridnya, ia rasakan jantungnya sang murid masih memukul.

Lantas saja ia menggeleng kepala, karena ia tahu, murid ini sukar untuk ketolongan.

Dari pihak Hoay Yang Pay, tiga orang memburu kearah Kee Pin itu, sedang Boe Wie Yang perintah Hengtong soe pergi melihat.

Bin Tie tidak hadir, begitu juga Ouw Giok Seng, yang telah dipanggil oleh Bin Hiocoe, berdua mereka telah pergi kebelakang paseban.

Pari pihak Hoay Yang Pay, yang muncul itu adalah Ciok Beng Ciam, murid kepala dari Ban Lioe Tong, serta Sioe Beng, muridnya Coe In Am coe, dan Tiat kie lee Kee Giok Tong. Di pihak Hoay Yang Pay pun sudah lantas ada cegahan orang turut ceburkan diri dalam pertandingan. Semua empat bola Kioe bong kioe pun sudah berhenti ter ayun2. Hengtong soe datang bersama kawannya yang biasa obati luka2, dia beritahukan Lioe Tong bahwa mereka datang untuk memeriksa dan mengobati, atau kalau luka2nya si anak muda parah, dia itu hendak digotong keruang Heng tong untuk diobati terlebih jauh.

Lioe Tong juga diminta jangan kuatir.

Kedua tangannya Siok beng Sin Ie telah berlepotan darah, ia telah obati lukanya Kee Pin dengan satu botol obat, masih ada sedikit darah keluar dari tempat yang luka. Ia dengar perkataannya Hengtong soe dan menjawab “Tolong soehoe sampaikan terima kasihku kepada Boe Pangcoe untuk perhatiannya. Kami tidak kuatir suatu apa, sebab sejak kami masuk dalam Cap jie Lian hoan ouw, kami tak pikirkan pula soal hidup atau mati. Luka ini masih dapat aku mengobatinya, dari itu tolong sediakan saja gotongan, supaya kami bisa bawa dia keperahu Garuda. Bukankah dimata kita, kaum persilatan, terluka atau terbinasa di medan pertempuran, tidak ada artinya?”

“Ban Loosoe mengarti ilmu obat2an, itulah bagus!” berkata Heng tong soe. “Boe Pang coe telah lakukan kewajibannya sebagai tuan rumah, tetapi segala apa terserah kepada pihak tetamu”. Lantas ia berikan titahnya “Lekas siapkan gotongan! Lekas layani Ban Loosoe mencuci tangan!”

Titah itu sudah lantas dijalankan.

“Bagaimana, soehoe?” tanya Beng Ciam. “Disini ada obat dari soepe

Lioe Tong perdengarkan suara dihidung.

“Jiwa soeteemu masih dapat ditolong tetapi lengannya bakal bercacat,” jawab ia yang ada mingat mendongkol. “Bagus!” kata sang murid dengan suara menyatakan kesengitan. Lalu ia serahkan botol obat yang ia sebutkan. Kemudian ia menoleh kepada Kioe in liong Niauw Gee, yang masih berdiri diam dengan berpura2 pilon, dengan menghadapi Heng tong soe, dia ngoce sendirian “Sungguh tidak dinyana, karena kesalahan, lukanya ada demikian parah …. Sungguh tidak dinyana ”

Tidak puas Beng Ciam terhadap lawan ini. Ia mau percaya orang sudah curangi soeteenya itu, ini pun ada kasak kusuknya beberapa orang lain. Iapun tahu tadi Liong Jiang telah ditegur Yan tiauw Siang Hiap karena kenakalannya dan Siang Hiap niat hukum padanya sepulangnya mereka dari Cap jie Lian hoan ouw. Karena ini, dengan tertawa dingin, ia kata pada Kioe in hong “Siauw Soehoe, kau liehay sekali! Tentang soeteeku, dia hidup atau mati, tak usah soehoe buat pikiran…. Aku Ciok Beng Ciam, ingin aku terima pengajaran darimu!”

Belum Siauw Gee menyahuti, Kee Giok Tong menyelak.

“Ciangboenjin telah keluarkan titah, kecuali dengan perkenan, orang2 kedua rombongan Hoay Yang Pay dan See Gak Pay tak boleh lancang lakukan pertempuran”, kata dia.

Lioe Tong sambil menoleh pun tegur muridnya “Ciok Beng Ciam, jangan kurang ajar terhadap Siauw Loosoe! Kita sudah masuk dalam Cap jie Lian hoan ouw, mati atau hidup, jangan kau pikirkan… Kau masih mesti urus Kwie In Po!”

Siauw Gee dengan sikap anteng pun berkata “Siauw hiap, jangan kuatir. Aku tahu aku telah berbuat keliru terhadap pihakmu, maka aku tidak akan angkat kaki, disini dengan cara hormat aku menantikan kamu”. “Kau tidak hendak pergi, Siauw Loosoe, itulah bagus,” kata Lioe Tong kepada lawan muridnya itu. “Sebentar aku, Ban Lioe Tong, ingin sekali terima pengajaran darimu. Harap Siauw Loosoe suka menantikan sebentar.”

Sembari bicara, Lioe Tong kerja terus, maka dilain saat, ia sudah membalut rapi luka muridnya.

Sioe Beng lantas serahkan satu botol obat seraya berkata “Ban Soesiok, ini adalah obat Kioe coan Tansee yang soehoe minta sekarang juga diberikan enam butir kepada soeheng, kemudian, sesampainya diperahu, berselang satu jam, boleh dikasikan tiga butir lagi. Dengan makan obat ini, walaupun lukanya hebat, jiwanya soeheng akan tertolong. Soehoepun pesan untuk Soesiok sendiri antarkan Kee Soeheng keperahu, urusan disini, katanya Soesiok tak usah perhatikan lagi”.

Lioe Tong bersyukur kepada Coe In Am coe, ketua See Gak Pay itu. Ia tahu kemustajabannya tablet Kioe coan Tansee, yang tak sembarangan diberikan kepada lain orang. Selagi sambuti obat itu, didalam hatinya ia berkata “Aku ketahui kenapa Am coe minta aku antar muridku keperahu dia kuatir aku menuntut balas untuk muridku itu, untuk cegah lain kejadian yang tak diingin. Menyesal, permintaan ini tak dapat aku terima, tak perduli bagaimana besar aku berterima kasih kepadanya….”

Ia buka tutup botol, ia keluarkan sembilan butir obat tiga antaranya ia berikan kepada Beng Ciam untuk disimpan setelah ditutup rapi, botol obat diserahkan pada Sioe Beng untuk dikembalikan kepada gurunya kemudian yang enam butir, ia lantas masukkan kedalam mulut muridnya.

Napasnya Kee Pin mulai berjalan pula akan tetapi ia tetap belum siuman. Lioe Tong rabah dada muridnya ia tahu jiwanya murid itu akan ketolongan, tetapi ia tidak harap murid ini lekas siuman dari pingsannya. Kalau si murid sedar sebelum obat bekerja betul dan dia merasakan sangat sakit, pasti dia akan geraki tubuhnya dan ini kurang baik bagi lukanya itu.

Sementara itu diantara orang2 Hong Bwee Pang ada yang tidak puas terhadap Ban Lioe Tong yang tak sudi terima bantuan untuk Kee Pin. Mereka anggap Lioe Tong tidak percaya mereka dan mereka rasai itu sebagai penghinaan, hingga sendirinya mereka tak puas.

Boe Wie Yang asik kasak kusuk dengan Bin Tie, yang telah muncul diantara ketuanya, entah apa yang mereka bicarakan. Ketua ini seperti tidak ketahui perasaan dari sejumlah orang nya itu.

Lioe Tong tetap sibuk dengan muridnya. Ketika gotongan datang, ia sendiri yang pondong tubuh muridnya akan diletakkan diatas gotongan itu. Ia berlaku hati2 dan pelahan, tidak urung Kee Pin menjerit “Aduh!” atas mana dia mendusin karena merasa sakit.

Ia belum bisa lantas buka kedua matanya, ia hanya merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.

Lioe Tong ada satu jago, tetapi sekarang, melihat keadaan muridnya itu, yang ia sayang seperti putera sendiri, ia terharu bukan main.

“Kee Pin, Kee Pin,” ia memanggil dengan pelahan sekali, “kau tahan sakit, sebentar kau sembuh!” Kemudian ia pesan Beng Ciam “Kau jaga hati, jangan kasih dia geraki tubuhnya, supaya lukanya tak ketindian.”

Beng Ciam terima pesan itu, la mendekati gotongan, untuk membantu memegangi. Setelah itu, Kee Pin buka kedua matanya. Masih ia merintih bahna sakitnya. Ia lihat gurunya, air matanya lantas melele.

“Soehoe, aku toh terluka senjata rahasia?” tanyanya. “Kelihatannya aku tak bakal hidup lebih lama Soehoe,

kecewa aku terima pelajaranmu, aku telah mendatangkan malu kepada rumah perguruan kita ”

Saking terharu, Lioe Tong tidak menjawab.

“Kau bukan terluka senjata rahasia, soetee, kau terluka bola Kioe bong Hoen goan kioe”, Ciok Beng Ciam beritahukan. “Lukamu itu tidak membahayakan jiwamu. Jangan kau omong banyak, kau nanti membuat soehoe berduka ”

“Lukamu parah, Kee Pin, jangan omong banyak,” Lioe Tong kata juga. “Aku bisa tolong jiwa orang lain orang, pasti aku sanggup tolong jiwamu. Cuma kau akan menderita lebih lama sedikit. Jangan putus asa, Am coe telah berikan kau obat yang bakal mengurangi penderitaanmu. Sekarang pergi kau keperahu, untuk beristiharat. Disini orang bikin persilatan persahabatan, tidak ada bicara soal sakit hati. Akupun bakal menemui Siauw Soe maka pergilah kau!”

Guru ini memberi tanda kepada tukang2 gotong, lalu ia tambahkan pada Ciok Beng Ciam “Kau jaga soetee, jangan tinggalkan dia!”

Mendengar titah itu, Beng Ciam tahu ia seperti diusir, tapi gurunya telah berikan titah, tak berani ia membantahnya.

“Baik, soehoe,” sahutnya. Lioe Tong lantas menoleh pada Kee Giok Tong dan kata “Sebenarnya tidak selayaknya aku membuat cape hati kepada loo soehoe, tetapi tolonglah kau dan murid ku ini antar Kee Pin keperahu. Kuharap loosoe tak usah kembali kemari, hanya beristirahat saja disana. Kami pun tidak bakal berdiam lama disini, semua bakal lekas kembali.”

Kee Giok Tong muncul bukan cuma untuk tengok Kee Pin dia ingin menuntut balas, tetapi Lioe Tong telah mohon bantuannya tak bisa ia tampik itu.

“Baik, Ban Loosoe, kau jangan kuatir,” jawabnya.

Hengtong soe pun lihat, bahwa orang tak boleh berayal lagi, iapun turut mengantar, sampai di luar para2 bunga.

Beberapa orang Hong Bwee Pang lantas bersihkan darah, sedang seorang lain bawakan Lioe Tong serpet, untuk bersihkan tangannya.

Kemudian, sambil berpaling kepada Siauw Gee, Siok beng Sin Ie memberi hormat.

“Siauw Tocoe, ingin aku terima pengajaran dari kau,” katanya.

“Sudikah tocoe beri pengajaran kepadaku?”

Jago dari Kwie In Po ini ada sangat gusar tetapi sanggup ia mengatasi dirinya, hingga ia bisa bicara dengan pelahan dan sabar, melainkan sikapnya saja ada sangat bersungguh2.

Kioe in liong Siauw Gee tertawa dingin.

“Aku sudah duga Ban Loosoe pasti bakal tak mau sudah saja,” jawab dia. “Muridnya di hajar, gurunya mesti muncul. Karena aku tidak berlalu dari sini, tidak ada soal apa2. Ban Loosoe, apapun yang kau kehendaki, aku bersedia untuk menerimanya. Persilahkan!” “Ah, Siauw Tocoe, apakah yang kau bilang?” tanya Siok beng Sin Ie. “Dalam satu pertempuran, sukar dipertanggung jawabkan bahwa orang tak akan keliru turun tangan. Muridku terluka, jangan kata dia tidak putus jiwa, walaupun dia terbinasa, masih tidak ada arti nya. Aku hendak mohon pengajaran kau, loosoe, hal ini tidak ada sangkutannya dengan muridku. Aku ingin kita berdua berlatih! Tentu sekali bukan maksudku akan membuat sukar kepadamu, maka jika umpama Siauw Loosoe tidak bersedia meluluskannya, baik, aku tidak memaksa. Hanya, soal aku ada soal perseorangan, semua orang Hoay Yang Pay lainnya tidak bakal turun pula kemari untuk bertanding. Sebab satu kali dia turun, bisa diduga diapun hendak menuntut balas. Siauw Loosoe, silahkan kau kembali, tentang urusan kita kedua pihak, tinggal terserah saja kepada putusannya Boe Pang coe!”

CXXXIII

Siauw Gee kena didesak, maka akhirnya ia kata “Jikalau Ban Loosoe tidak berniat membalas sakit hati dan cuma ingin berlatih saja, maafkan aku, aku terlalu bercuriga. Nah, mari kita berlatih!”

“Bagus, Siauw Loosoe!” sahut Lioe Tong, yang sambut undangan itu.

Siok beng Sin Ie segera buka baju panjangnya, yang mana sudah lantas disambut oleh orang dari pihaknya. Adalah biasanya bagi Lioe Tong, bagi ketua Hoay Yang Pay juga, dimana saja mereka melakukan pertempuran, tidak mereka membuka baju luar, akan tetapi hari ini ada kecualian, dia telah buka baju nya yang gerombongan itu.

Siauw Gee insaf, pertempuran kali ini dengan jalan Kioe bong Hoen goan kioe ada saat mati hidupnya, karena itu tanpa banyak pernik lagi, ia menuju kepara2 dimana ia ambil arah utara, sedang Lioe Tong lantas menuju keselatan.

“Siauw Loosoe, silahkan mulai aku menantikan,” Lioe Ton mengundang sambil ia rangkap kedua tangannya.

“Silahkan, Ban Loosoe!” Siauw Gee menyambuti.

Lalu keduanya mulai bergerak, hingga bola2 berduri pun mulai saling sambar, dibelakangnya mengikuti orang2 yang menolak nya, setelah mana, mereka ini mesti saling berkelit, akan menyingkir dari bola2 lawan masing2. Mereka mesti egoskan tubuhny kekiri dan kanan, menuruti kedudukan mereka. Dengan begitu tertampaklah kegesitan mereka masing2.

Lioe Tong lakukan satu serangan dengan Siang yang ta chioe, “pukulan dengan kedua tangan di balik nadi kebawah” Siauw Gee punahkan itu dengan “Kim kau cian,” tabasan “Gunting emas maka lekas2 dia tarik pulang kedua tangannya itu. Berbareng dengan itu, kedua bola telah menyambar balik dia segera kelit kekiri, hingga bola jadi ada di kanannya. Demikianpun Siauw Gee ia kelit kekiri juga.

Cepat sekali, Lioe Tong geraki bola didepannya akan menyerang, menyusul mana, ia loncat kebola yang kedua, buat dipakai menyerang lebih jauh. Dipihak lain, Siauw Gee telad perbuatannya. Maka sekarang empat bola salin sambar, hingga terbitlah suar nyaring, disusul sama berisiknya seratus lebih kelenengan kuningan.

Habis itu, kembali kedua pihak saling serang. Tak ada ketika yang dilewatkan, maka keduanya msti bergerak dengan cepat sekali, atau kalau tidak, siapa ayal dan kurang celih, dia bisa celaka. Pertempuran yang seru membuat semua orang dari kedua pilhak menonton dengan perhatian penuh, semua pun kagum. Akan tetapi Boe Wie Yang, disebelah kekagumannya, berkuatir juga untuk tocoenya, terutama untuk keadaan diluar pusatnya itu karena burung2 dara tak hentinya datang dan pergi. Ia belum tahu, apa sudah terjadi diluar tetapi itu mestinya sangat penting. Ouw Giok Seng telah pergi tapi belum kembali. Ketegangan ini tak luput dari matanya kaum kang ouw yang ulung.

Kembali terbang serombongan burung dara dari belakang paseban, tiap burung membawa surat, surat yang bertanda “surat pusat” dari situ saja sudah bisa diduga, urusan bukannya urusan remeh saja.

Orang2 Hong Bwee Pang, yang menonton pertempuran, melirik kearah ketuanya. Mereka merasa tegang sendiri seperti siketua.

Tidak lama, Giok Seng datang dengan cepat dan lantas bicara pelahan kepada Boe Pang coe. Nampaknya ketua ini bersenyum tawar, pada wajahnya berbayang nyata hawa kemurkaan meluap2. Menurut keadaan biasa, itu ada tanda yang ia ingin bertempur mati atau hidup dengan pihak lawan….

Habis bicara, Giok Seng mundur, maka itu, Wie Yang tetap didampingi Auwyang Siang Gee. Berdua mereka sering kerutkan alis apabila mereka tampak jalannya pertempuran, yang jadi makin seru. Beberapa kali mereka bicara satu sama lain.

Di pihak Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, tak terkecuali Coe In Am coe sendiri, orang pun berhati tak tenang melihat cara berkelahinya Siok beng Sin Ie. Mereka insaf, Lioe Tong sangat sayangi muridnya dan karenanya ingin keras menuntut balas untuk muridnya itu. Cuma Siangkoan In Tong seorang satu2nya, yang nampaknya berhati terbuka.

“Boe Pang coe, lihat mereka berdua!” katanya sembari bergurau.

“Mereka baharulah enghiong berhadapan dengan enghiong, mereka ada setengah kati sama dengan delapan tail! Mereka sama tenaganya, setimpal kepandaian nya, sama juga terlatihnya. Lihatlah, setiap gerakannya menunjukkan latihan sempurna! Auwyang Loosoe, bukankah mereka ini baharu pantas disebut eng hiong?”

Boe Wie Yang dan Auwyang Siang Gee kebetulan sedang berdamai mereka dengar perkataan itu, mereka tidak sembarangan menyahuti. Mereka sebal terhadap gangguannya tetamu ini yang jail. Auwyang Siang Gee menyahuti dengan “Ya, ya,” saja.

Siangkoan In Tong pun tidak ambil perhatian atas jawaban yang ringkas itu, kemudian ia memandang kepada Coe Hoei Sian soe, pendeta Siauw Lim Pay yang berada didalam rombongan Hong Bwee Pang. Ia menegur “Toa soehoe, kau ada dari golongan mana, aku masih belum jelas, tetapi biasanya, asal orang suci, kebanyakan dia ada dari Siauw Lim Sie. Demikianpun dugaanku terhadapmu. Lihat, Toa soehoe, kau lihat, pukulannya si orang she Ban mirip benar dengan ilmu pukulannya kamu kaum pendeta. Oh, bukan, bukanlah kaum pendeta hanya Siauw Lim Pay mempunyai ilmu pukulan istimewa, yalah jurus Pay san Oen ciang dari Sip pat Lo Han Chioe! Lihat itu jago Hong Bwee Pang, dia bukan orang sembarangan seperti tidak terjadi suatu apa2, dengan gampang ia kelit diri! Oh, sungguh berbahaya, Toa soehoe! Lihat, lihat, itu si orang she Ban penjual obat2an, dia liehay sekali, dia mengarti segala apa! Dengan tusukan jarum emasnya, dia bisa tolong jiwa orang, tetapi dengan gerakan tangannya, dia bisa meminta jiwa manusia! Lihat pukulannya, tiauw thian tap tee”! Ya, itulah ilmu silat Siauw Lim Pay! Ah, jangan2 dia ada dari lain golongan denganmu, toa soe hoe! Eh, Boe Pang coe, Auw yang Hiocoe, baik kamu lekas ambil tindakan! Inilah bakal hebat, bakal celaka! ”

“Ya, ya, loosoe,” sahut Boe Wie Yang, tanpa perhatian, karena perhatiannya sendiri sedang tertarik sangat oleh kejadian diluaran, sebab burung2 pembawa berita terbang mundar mandir secara luar biasa. Satu kali Boe Wie Yang menoleh kepada Coe Hoei Siansoe, ia mengetahui bahwa pendeta ini sedang gusar, mukanya merah padam. Pendeta itu memandang Siangkoan In Tong, terus dia buka mulutnya “Siangkoan Siecoe, janganlah kau berpura2!” kata pendeta ini.

“Aku harap kau tak usah perlihatkan kasihan2 palsu! Untuk aku, siapa berani maju bertanding, jiwanya sudah tidak diperdulikan pula! Siangkoan Siecoe, kita adalah orang2 luar, akan tetapi kita telah datang kemari, tak dapat tidak, kita mesti campur urusan mereka ini, yang sulit untuk disudahinya. Marilah, jangan kita ngoceh saja, mari kita mencobanya!”

Siangkoan In Tong tertawa ha ha hi hi.

“Toasoehoe, kau lihat, saat telah sampai pada saat mati atau hidup!” kata pula Siang koan In Tong. “Bukankah hati pun tumbuh karena daging? Lihat dua orang kenamaan itu. keduanya bakal kalah atau celaka, dua2nya ingin mati bersama! Toa soehoe, kau ada murid Sang Buddha, apakah kau tegah? Kenapa kau tidak lekas pikirkan daya untuk memisahkan mereka? Inipun ada suatu jasa baik! ”

Sengaja Siang koan In Tong ini bawa lagaknya seperti orang otak tidak beres, supaya perhatiannya orang2 Hong Bwee Pang ditumplek atas dirinya dengan berbuat demikian, dengan diam2 ia telah berikan ketika untuk satu orang nyeplos masuk dalam Ceng Giap San chung. Itulah seorang luar biasa, yang datangnya bisa menyulitkan Boe Wie Yang.

Bukan saja Boe Wie Yang sendiri, sekalipun Eng Jiauw Ong, dia ini tak ketahui nyeplosnya orang itu. Ketua Hoay Yang Pay ini pun sedang pusatkan perhatiannya kepada pertempuran hebat itu, yang akan memberi putusan kalah atau menang. Kioe bong Hoen goan kioe ada suatu alat persilatan yang penuh dengan bahaya. Ban Lioe Tong ada seorang penting dari Hoay Yang Pay, sungguh hebat apabila dia sampai gagal. Kegagalan itu tidak melulu bakal bikin ludas nama baik nya juga akan mengubah jalannya pertempuran di Ceng Giap San chung ini.

Disebelah Boe Wie Yang dan Eng Jiauw Ong, juga Yan tiauw Siang Hiap yang liehay masih tak dapat bade siasatnya Lie hoen Coe bo kian Siangkoan In Tong, yang disangka sudah ngoceh saking jail atau gemar bergurau….

Coe In Am coe perhatikan pertempuran itu akan tetapi ia tetap tak lepas pikirannya dari pokoknya urusan, maka itu dengan diam2 iapun berbareng memasang mata kekedua pihak, pihak Hong Bwee Pang dan pihak sendiri. Sudah empat puluh tahun ia biasa bersamedhi, ia jadi insaf dan sadar. Ia bisa lihat, bahwa diluar tak ada tanda apa2, akan tetapi dibalik itu, awan mendung sedang mengancam Ceng Giap San chung. Dimedan pertempuran, kedua pihak ada yang kalah dan menang, tapi masih menunggu lain kejadian. Ia telah lihat, dibelakang gunung2an, diantara pepohonan, ada satu bayangan manusia saking pesatnya gerakannya itu, hingga tak ada orang lihat padanya kecuali Siangkoan In Tong dan pendeta dari See Gak Pay ini. Ia merasa pasti, bayangan itu mesti bukan orang sembarangan. Pertempuran berjalan terus, makin hebat saja. Siauw Gee ada satu ahli Kioe bong Hoen goan kioe, inilah bisa dilihat dari gerak geriknya. Ia ada sangat gesit dan tepat gerakannya, ia leluasa sekali bertindak kemana saja.

Keempat bola mundar mandir selalu, atau benterok satu dengan lain, setiap gerakannya disusul dengan bunyinya banyak kelenengan, yang bisa membuat pikiran orang jadi kacau.

Ban Lioe Tong tahu pasti, Siauw Gee ada seorang liehay, maka ia melayani dengan mantap.

Selama sepuluh tahun yang belakangan ini, ia telah melatih diri dalam khie kang, untuk bikin sempurna semangat dan tubuhnya, maka juga, walaupun ia asing dengan Kioe bong Hoen goan kioe, ia toh bisa layani Siauw Gee de ngan tak kalah gesit dan mantap nya. Maka nampaknya, kedua musuh ini ada bagaikan “naga lagi memain”, atau “angin berseliwiran.” Tentu saja, ancaman bencana bagi mereka ada ancaman diujung rambut…

Tanpa merasa, belasan jurus telah dilewatkan.

Lioe Tong dapat kenyataan, bahwa Siauw Gee juga telah yakinkan “Pat Sian Koen,” ilmu silat “Delapan Dewa”, dengan sempurna tidak heran jikalau Kee Pin rubuh ditangannya hiocoe ini.

“Jikalau aku bikin dia lolos, apakah aku mempunyai muka akan ketemui orang lagi?” memikir Siok beng Sin Ie selagi ia kagumi musuh yang tangguh itu. Karena ini, ia mulai bersilat dengan “Sha caplak Lou Kim na hoat”, ia mendesak, sejurus dengan sejurus, untuk tidak mengasi hati.

Segera datang saatnya yang kedua pihak berada pula ditengah kalangan. Mereka bertemu ditengah sebab Siauw Gee dari selatan hendak ambil tempat diutara dan Lioe Tong dari timur menuju kebarat, untuk mencegat. Sambil geser kaki kiri kebarat, Siauw Gee menyerang ketimur kepada lawannya, dengan serangan “Heng sin pa houw sie” “Sambil nyamping menerjang harimau”.

Dengan egos tubuh, Lioe Teng kasi bola tajam lewati tubuhnya karena ini, ia jadi hadapi serangan lawan, yang pun berkelahi dengan sungguh2, sebagaimana pukulannya ini sangat hebat.

Ia berdiri membelakangi timur dan menghadap barat, atas serangan mana, ia geser kaki kanan keutara dengan begitu, serangannya Siauw Gee adalah sasaran kosong.

Dengan geser tubuh keutara, sekarang Lioe Tong jadi membelakangi utara madap keselatan. Ia tidak berhenti bergerak karenanya. Lagi ia geser kaki kebarat, tubuhnya miring.

Secara begini, ia kasi lewat dua bola, yang ampir mengenai pundaknya Justeru itu, Siauw Gee kembali menyerang. Ia andalkan sangat bolanya ini, sebab sekarang ia merasa, kalau mereka berdua bertanding secara biasa, ia bukannya tandingan jago dari Kwie In Po itu. Maka ia keluarkan antero kepandaiannya, terutama kelicinannya, untuk rampas kemenangan.

Se konyong2 tangan kanannya Siauw Hiocoe serang perutnya Ban Lioe Tong, lalu dengan tiba, tangan kirinya menyambar keatas dalam gerakan “Thay peng tian cie,” “Burung garuda pentang sayap.” Ia sambar bola, untuk digentak berbalik. Ia berbuat begini untuk menyerang berbareng, dengan tangan dan bola. Benar dibelakangnya jadi ada bola menyambar2 tetapi ia lantas mendek, kelitkan pundaknya, yang kiri, hingga bola melewati terus pundak kanannya, terus menyambar kearah lawan, pada muka. Dalam sekejab mata, Lioe Tong terancam ditiga jurusan. Dengan sebat ia berkelit kekanan secara begini, ia bisa kasi lewat kedua bola, lalu dengan tangan kiri, ia “bacok” lengan lawannya, siapa luputkan diri dengan cepat.

“Bagus,” berseru Lioe Tong, yang tarik pulang tangannya, karena segera datang pula serangan bola. Dengan dua jari kanan, ia papaki bola itu, untuk ditolak balik. Ia gunakan ketika ini, untuk menyerang berbareng dengan “Kim liong tam jiauw” kepada jidat lawan.

Siauw Gee awas dan gesit, akan tetapi sekali ini, ia kecolongan.

Ia gugup karena baharu mendek dari bola atau serangan tangan sampai. Masih ia mencoba untuk menangkis, tapi ia toh kena terdorong juga, hingga tidak ampun lagi, tubuhnya terpental mundur empat lima tindak lalu jatuh numprah ditanah.

Untung bagi hiocoe ini, pada saat yang sangat berbahaya itu, Lioe Tong masih ingat kasihan jago dari Kwie In Po tidak meneruskan menyerang lebih jauh hanya ia loncat kesamping lawannya itu, yang sedang terancam bola lain ia sambar bola itu untuk dicegah sambarannya, sesudah mana, iapun tahan bergerak nya tiga bola lainnya.

Beberapa orang Hong Bwee Pang lari kepara2, untuk tolongi pihaknya yang rubuh itu, akan tetapi ketika mereka sampai, Siauw Gee sudah loncat berdiri.

Segera muncul satu Hengtong soe, yang menyampaikan pesan Boe Pang coe supaya orang she Siauw ini lantas balik kebelakang Ceng Giap San chung, untuk beristirahat.

Melihat orang pada datang kepadanya, Siauw Gee manggut pada Ban Lioe Tong. “Ban Loosoe, aku terima budimu ini, yang tak hendak mencelakai aku,” kata dia. “Harap lain kali kita nanti bertemu pula.”

Habis mengucap demikian, ia turut Hengtong soe undurkan diri.

Lioe Tong tidak lantas undurkan diri, hanya berpaling kearah rombongan tuan rumah, ia rangkap kedua tangannya, ia berkata “Ingin aku siorang she Ban menerima pelajaran lebih jauh di bawah bola2 Kioe bong Hoen goan kioe ini ”

Dipihak Hong Bwee Pang, Coe Hoei Siansoe hendak sambut tantangan Siangkoan In Tong yang membuat ia sebal, akan tetapi belum ia buka mulut atau Auw yang Siang Gee telah mendului ia.

“Siansoe, dengan adanya ketika baik ini, ingin tee coe terima pelajaran dari Kwie In Po coe Ban Loosoe,” kata ketua dari Thian Hong Tong itu. “Harap Siansoe tunggu sebentar lagi.”

Pendeta itu suka mengalah. “Baiklah, Auwyang Hiocoe, persilahkan!” kata dia.

Auwyang Siang Gee segera bertindak kedepan, untuk hadapi Boe Wie Yang.

“Poen co mohon pelajaran dari Ban Po coe, harap Pang coe memberi perkenan,” memohon ia kepada ketuanya. Thian lam It Souw manggut. “Silahkan, Auwyang Hiocoe,” sahut sang ketua.

“Karena ini ada persilatan persahabatan, harap batasnya ada saling towel saja. Hiocoe ada ketua dari Lwee Sam Tong, adalah tugasmu untuk melindungi nama baik kita.” “Poen co mengarti,” jawab hiocoe dari Thian Hong Tong itu, setelah mana ia menghadap kepada ketua dari Hoay Yang Pay, untuk memberi hormat juga sambil berkata “Ong Loosoe, ingin aku yang rendah meminta pelajaran dari Ban Po coe.”

Dengan cepat Eng Jiauw Ong balas hormat itu.

“Jikalau Auwyang Hiocoe sudi memberi pelajaran, silahkan!” sahut ia.

Sampai disitu baharulah Auwyang Siang Gee bertindak meninggalkan pasebannya, akan pergi kemedan persilatan, tetapi selagi ia jalan, kupingnya dengar ocehannya Siang koan In Tong, yang ngoceh sendirian, katanya “jikalau seorang kenamaan muncul, suasana menjadi lain sekali. Dalam segala tindak, adat sopan tak ditinggalkan. Inilah baharulah satu Hiocoe! Kami ada orang2 kang ouw liar, sudah seharusnya kami menelad contoh orang… Tidakkah demikian, Ong Loosoe?”

Itu adalah kata2 pujian tercampur ejekan Auwyang Siang Gee tidak hendak melayaninya, ia jalan langsung kepara2 bunga.

Eng Jiauw Ong tidak sahuti Lie hoen Coe bo kian pikirannya ditumplekkan terhadap Ban Lioe Tong, sang soetee, yang baharu habis melayani musuh tangguh, sekarang dia akan hadapi hiocoe dari Thian Hong Tong, orang lie hay dari Hong Bwee Pang, tangan kanan dari Boe Wie Yang ia kuatir soetee itu masih lelah. Kalau Lioe Tong kalah, itu adalah satu pukulan hebat untuk Hoay Yang Pay. Ia berniat menukar orang tetapi siapa bisa menggantikan Siok beng Sin Ie?   Kalau mesti ditukar, kelihatannya cuma ia yang mesti maju sendiri…. Sementara itu, Lioe Tong sudah maju akan papaki Auwyang Siang Gee, maka hiocoe ini segera mempercepat jalannya dua tindak, untuk mendahului mendekati.

“Ban Po coe,” berkata dia, dengan sikapnya yang sangat menghormat, “kepandaianmu mengatasi Rimba Persilatan aku Auwyang Siang Gee sangat kagumi kau, apapula barusan, di antara bola2 Kioe bong Hoen goan kioe, kau telah perlihatkan keahlianmu. Ban Po coe, pelajaranku sangat cetek, tapi melihat kepandaian kau, aku menjadi rada gatal. Aku tahu diri, aku bukanlah tandinganmu, maka itu, melulu karena keinginan dapat belajar, ingin aku mohon terima beberapa pelajaran dari kau. Ban Po coe, sudikah kau mengabulkannya?”

“Auwyang Hiocoe, kau terlalu memuji kepadaku,” jawab Ban Lioe Tong dengan tak kurang merendahnya. “Tak sanggup aku akan terima pujianmu itu. Hiocoe suka memberi pelajaran kepadaku, inilah ada hal yang aku tak berani minta, ini adalah satu kehormatan sangat besar untukku! Auwyang Hiocoe, kita ada orang2 kang ouw, tak usah kita terlalu saling merendah. Dalam Hong Bwee Pang, orang yang mempunyai kepandaian sebagai Boe Pang coe hanya Hiocoe sendiri saja. Maka juga kaumku sejak lama ada hargai Hiocoe. Sekarang Hiocoe sudi memberi pelajaran kepadaku Ban Lioe Tong merasa sangat bersukur. Baiklah kita tak usah mensiasiakan tempo lagi! Apakah Hiocoe hendak gunakan Kioe bong Hoen goan kioe ini? Silahkan!”

“Ban Pocoe, buat apa kita main2 pula dengan benda yang berbahaya ini?” berkata Auwyang Siang Gee, yang sikapnya tetap ramah tamah. “Masih ada lain cara untuk kita berlatih. Bukankah terlebih baik kita mencoba saja dengan ilmu silat biasa?” “Terserah kepadamu, Hiocoe, aku selalu bersedia untuk mengiringinya,” sahut Lioe Tong.

“Ya, kita jangan gunakan alat ini yang berbahaya,” kata Siang Gee. “Bagaimana jikalau kita menggurat tanah sebagai batas?”

“Bagus, Hiocoe, inilah menandakan pandanganmu yang luas,” kata Lioe Tong. “Silahkan Hiocoe buat batasnya.”

Siok beng Sin Ie lantas mundur kesamping, untuk memberi tempat. Ia juga ingin lihat, bagaimana roman batasnya, berapa luasnya. Makin kecil kalangan, makin terbukti kepandaiannya orang yang hendak bersilat dalam batas itu. Jadi ini sebenarnya bukanlah ilmu kepandaian yang umum. Inilah kepandaian sederhana akan tetapi sangat sulit. Biasanya orang bikin kalangan dua tumbak persegi atau satu tumbak enam kaki persegi, lebih sempit dari itu, sukarlah sudah untuk orang bergerak dengan leluasa. Maka Lioe Tong ingin sekali lihat, bagaimana kalangan akan dibikin oleh tangan kanannya Boe Wie Yang ini.

Auwyang Siang Gee menggape kepada pihak orang2nya, lantas satu orang datang bersama sebatang tumbak. Ia sambuti tumbak ini, yang ia lantas pakai sebagai alat untuk menggaris tanah didepannya.

Melihat kalangan yang dibuat itu, segeralah Lioe Tong dapat, tahu keliehayannya hiocoe dari Thian Hong Tong itu. Sebab batas yang dibikin adalah delapan kaki lurus, delapan kaki lebar, jadinya, delapan kaki persegi!

Walaupun demikian, ketua dari Kwie In Po suka melayani jago Hong Bwee Pang itu.

Dengan lekas Auwyang Siang Gee telah selesaikan batas kalangannya, ia berpaling pada Lioe Tong untuk memberi hormat “Ban Po coe, apakah boleh kalangan ini?” tanya dia dengan hormat. “Umpama kata Po coe anggap luasnya masih besar, tak ada halangannya untuk perkecil lagi.”

Siok beng Sin Ie bersenyum.

“Seperti aku sudah katakan, Hiocoe, aku bersedia akan turut titahmu,” menyahut ia.

Kembali Siang Gee memberi hormat.

“Terima kasih, po coe,” katanya, sesudah mana, dia berlompat akan memasuki kalangan tadi.

Ban Lioe Teng juga hendak turut teladan hiocoe itu ketika mendadak dua orang ber lari2 datang dari luar Ceng Giap San chung sejak dari jauh2, yang satu sudah ber teriak2 “Ban Loosoe, tunggu dulu, jangan bertanding dulu! Ada urusan penting!”

Lioe Tong terkejut, ia tunda gerakan tubuhnya. Ia mengawasi kearah kedua orang itu, ialah Kee Giok Tong, yang diantar oleh satu pengunjuk jalan Hong Bwee Pang.

“Ada apakah?” tanya dia, seraya maju memapaki.

Kee Giok Tong datang sampai dekat Siok beng Sin Ie, lalu dengan pelahan dia kata “Selama kami bawa Kee Pin keperahu, disepanjang jalan dia merintih terus, masih dia bisa pertahankan diri, tetapi sesampainya di perahu, setelah dibaringkan, entah kenapa, mungkin lukanya tergerak, ia menjerit dan lantas pingsan, sekian lama kami panggil dia, tak juga dia sadar akan dirinya. Kami rabah dadanya, jantungnya masih memukul. Oleh karena keadaannya berbahaya, terpaksa aku kembali kemari, untuk memberitahukan, untuk minta Loosoe pergi tengok sendiri, supaya ia dapat ditolong.” Mendengar demikian, tak dapat Lioe Tong lanjutkan pertandingannya dengan Auwyang Siang Gee. Karena pertandingannya ini batal, hampir saja kejadian nama baiknya See Gak Pay hancur iuluh.

Siok beng Sin Ie kerutkan alis nya, karena ia dihadapi dengan suatu kesulitan. Selagi ia berdiam, hengtong soe yang menjadi pengunjuk jalan Hong Bwee Pang itu pun telah bicara pada Auwyang Siang Gee, rupanya untuk memberi keterangan setelah mana, ia lantas memberi laporan langsung kepada Liong Tauw Pang coe.

“Kee Loosoe jadi banyak cape,” kata Lioe Tong kemudian, setelah mana, ia berpaling pada Auwyang Siang Gee, untuk memberi hormat.

“Auwyang Hiocoe, menyesal aku mesti sia2kan kebaikan hatimu,” berkata ia. “Lukanya muridku ada hebat, perlu aku segera melihatnya. Umpama Hiocoe tidak buat keberatan, biarlah lain kawanku saja yang menemani kau berlatih. Aku pergi untuk segera kembali”.

“Jikalau muridmu dalam keadaan berbahaya, Ban Loosoe, silahkan,” sahut hiocoe dari Thian Hong Tong itu. “Memang harus Loosoe menengoknya.”

“Terima kasih, Hiocoe,” mengucap Lioe Tong. Meski begitu, ia tidak lantas bertindak pergi, karena ia tahu aturan keras dari Hong Bwee Pang, tanpa perkenan, tak dapat orang keluar masuk secara lancang. Karena ini, berniat ia kembali dulu kedalam rombongannya.

Justeru itu, Soe Soei Hie kee Kan In Tong telah keluar dari rombongan ia bertindak kepara2 hingga ia hadapi ketua dari Kwie In Po.

Melihat tampangnya, Lioe Tong duga jago Soe Soei ini berniat melayani Auwyang Siang Gee. Ia berduka tapi tak dapat ia mencegah. In Tong ada orang See Gak Pay dan muridnya To Cie Tay soe, dengan Coe In Am coe, ia termasuk saudara seperguruan, tak dapat ia sembarangan mencegah.

“Ban Loosoe, pergi kau lekas obati muridmu,” berkata Siangkoan In Tong sembari ia memberi hormat selagi ia berhadapan dengan ketua Kwie In Po itu. “Biarlah aku yang temani Auwyang Hiocoe berlatih.”

“Baik, loosoe,” sahut Lioe Tong, yang tak bisa berbuat lain, sesudah mana, ia jalan terus kearah rombongannya.

Boe Wie Yang tahu maksudnya Siok beng Sin Ie ia kecewa sendirinya. Sebenarnya tak ingin ia mengijinkan Ban Lioe Tong keluar dari Ceng Giap San chung, tetapi tak dapat ia mencegah, karena dengan mencegah, orang akan anggap jelek kepadanya. Ia pun mesti hargai diri sendiri. Maka itu, akhirnya, ia memndahului kata pada tetamunya itu “Ban Loosoe, lukanya muridmu kumat, karena kau pandai mengobati, silahkan kau pergi mengobatinya.”

“Kau ada sangat baik, Pang coe,” jawab Lioe Tong. “Kalau nanti muridku ketolongan, itu adalah jiwa pemberianmu. Tolong Pang coe berikan perkenanmu untuk lalulintas.”

“Persilahkan, Ban Loosoe,” Wie Yang berikan ijinnya “Terima kasih,” kata Lioe Tong yang lalu teruskan pada

ketuanya “Kee Pin ada dalam bahaya, aku hendak pergi

sebentar untuk lekas kembali.”

Eng Jiauw Ong manggut pada soetee itu, sedang Coe In Am coe kata padanya “Ia telah makan obat tan see, kecuali dalam hal luar biasa, aku percaya ia tak akan kurang suatu apa. Baiklah loosoe memeriksanya dengan teliti.” Lioe Tong membilang terima kasih ia mengerti pesannya pendeta wanita ini. Kemudian, ber sama2 hengtong soe tadi, ia lantas bertindak keluar dari Ceng Giap San chung, akan pergi ke pelabuhan.

Auwyang Siang Gee awasi Lioe Tong berlalu, habis itu ia hadapi Kan In Tong. Ia ketahui dengan baik, bahwa nelayan dari Soe Soei ini ada murid dari To Cie Taysoe, karena mana, ia tak berani memandang enteng.

“Kan Loosoe sudi memberi pelajaran kepadaku?” tanya

ia.

“Benar,” In Tong manggut. “Ban Loosoe ada urusan, ia

jadi membikin kecewa pada Hiocoe, maka itu dengan lancang aku yang muda ingin sekali menerima pelajaran dari Hiocoe. Apakah Hiocoe sudi memberi pelajaran kepadaku?”

“Justeru adalah aku yang hendak mohon pelajaran dari Loosoe,” Siang Gee bilang. “Apakah loosoe setujui batas garisan ini? Umpama ini kurang tepat, tidak ada halangannya untuk diperbesar sedikit.”

“Kalangan ini bukannya tak terlalu tak cocok,” sahut In Tong.

“Harap Hiocoe jangan sungkan. Silahkan Hiocoe mulai!”

Nelayan dari Soe Soei ini beradat aneh. Ia anggap bahwa, dengan sikapnya yang sangat merendah itu, Auwyang Siang Gee memandang enteng terhadapnya, karenanya, ia jadi mendongkol.

“Kan Loosoe, silahkan!” jawab Siang Gee sambil bersenyum. Sampai disitu, kedua pihak lantas bertindak kedalam kalangan.

Auwyang Siang Gee sebagai tuan rumah ambil tempat disebelah bawah, yalah diarah Utara, menghadapi Selatan sedang Kan In Tong berdiri di Selatan, menghadapi Utara. Mereka lantas saling memberi hormat pula, dengan masing2 caranya sendiri.

Sebagai muridnya To Cie Taysoe, Kan In Tong segera berkelahi dengan menggunakan tipu tipu pukulan dari Cit cap jie sie Toan ta, “Tujuh puluh dua serangan pendek.” Dipihak lain, Auwyang Siang Gee mainkan “Tong Pek Koen,” ilmu pukulan “Seluruh lengan.”

Melihat orang menggunakan Tong pek koen, Kan In Tong tidak, pandang terlalu tinggi kepada lawannya ini, ia lantas saja mulai mendesak. Memang adalah kehendaknya untuk bertempur ditempat sempit, cocok dengan pelajarannya. Tapi, setelah sekian lama, baharu ia tahu, lawannya bukannya lemah seperti dugaan nya semula. Semua pelbagai serangannya dapat ditangkis atau dikelit, tak perduli kalangan sempit. Baharu sekarang ia insyaf, bahwa ditangan satu akhli, Tong pek koen pun mempunyai perubahan2 yang istimewa, gerakannya sangat pesat tapi tetap, cuma tertampaknya saja tak mencocoki hati.

Auwyang Siang Gee bertempur dengan mantap, gesit lawan gesit, sampai sebegitu jauh, tak dapat ia didesak hingga melintasi garis kalangan.

In Tong ibuk setelah gagalnya pelbagai percobaannya benar ia lebih banyak mendesak, tetapi lawan pun kadang2 balas serang ia dengan tak kurang dahsyatnya. Kemudian ia lihat ia diserang dengan Kim liong tauw kah, atau “Naga emas ulur kuku.” Ia kaget, hingga ia merasa bahwa ia akan rubuh. Ketika itu, Siang Gee mendesak dari Timur ke Barat. Tapi ia tak mau menyerah kalah secara gampang saja, ia masih hendak menggunakan ketikanya yang baik. Demikian ketika hiocoe dari Thian Hong Tong mundur sampai tinggal setengah kaki lagi dari garis, ia lompat dengan desakannya beruntun “Ngo heng Lian hoan sie,” atau “Lima logam berantai.” Inilah desakan terakhir untuk lawan mundur hingga melewati batas garisan.

Auwyang Siang Gee dalam gerakan berkelit ketika ia didesak lebih jauh, membelakangi lawan kaki kanannya telah menginjak tanah ketika ia merasai desiran angin, ia tahu ia sedang diserang pula. Dalam ancaman seperti itu, dengan cepat ia geser kaki kanan sedikit kekanan, segera ia putar tubuh, tangan kanan dibawa ke iga, untuk dipakai menangkis atau menangkap tangan musuh, tangan kirinya pun disiapkan, guna bantu menyekal atau menyerang.

Berbareng sama kakinya yang sampai menginjak tanah, serangannya Kan In Tong pun sampai, tapi lawan telah berkelit maka serangan ini tak mengenai sasarannya dan lewat. Dilain pihak, kedua tangannya Auwyang Siang Gee telah menyambar ke arah lengan itu.

Serangan membalas dari hiocoe dari Thian Hong Tong ini adalah “Loo wan hoen kie,” atau “Kera tua membagi cabang.” Kakinya kiri jadi berada didepan, kaki kanannya dibelakang, dengan kuda2 tangguh. Karena dia menyambar, kaki kanannya In Tong pindah kedepan, kuda2 nya belum sempat terpasang benar, tempo tangannya kesambar dan dibetot keluar, tubuhnya turut maju, sia ia mencoba pertahankan diri, tak ada bedanya, sebab lawan pun segera lepaskan cekalan kedua tangannya. Maka tak ampun lagi, ia terjerunuk kedepan, walaupun ia mencoba incncegah, kakinya toh lewati batas dua tindak!

Dengan muka dan kuping merah, Soe Soei Hie kee hadapi lawannya. “Pelajaranku tak sempurna,” kata dia, “Kau baik sekali, Auwyang Hiocoe. Lain kali saja kita orang bertemu pula!”

Lantas sambil tunduk, ia bertindak kearah rombongannya.

Auwyang Siang Gee antap orang pergi, ia lalu berpaling kearah rombongan tetamu, maksudnya akan bicara kepada ketua See Gak Pay, akan tetapi Coe In Am coe sudah mendahului berbangkit dari kursinya.

Niekouw dari Pek Tiok Am ini merasa tersinggung karena muridnya To Cie Taysoe rubuh di tangan lawan, ia merasa malu sendirinya terhadap soepenya, ialah To Cie Taysoe, maka itu, ia berniat membelai, untuk perbaiki pamor See Gak Pay. Tapi belum keburu dia buka suara, sudah ada orang yang tegur padanya.

“Tunggu dulu, Am coe!” demkian suara itu. “Aku ingin belajar silat dibawah pimpinan dari pemimpin Lwee Sam Tong dari Hong Bwee Pang. Baik Am Coe mengalah dulu terhadapku.”

Coe In menoleh kebelakang, ia kenali Loo piauwsoe Hauw Tay, piauwsoe yang telah berusia lanjut. Ia tak dapat melarang piauwsoe ini, ia manggut seraya kata “Hauw Piauwsoe hendak mohon palajaran dari Auwyang Hiocoe, baik sekali, tidak ada halangannya untuk pinnie menanti sebentar.”

Hauw Tay lantas utarakan kehendaknya kepada Eng Jiauw Ong, lantas ia bertindak keluar dari rombongannya.

Melihat siapa yang muncul, Auwyang Siang Gee cepat memapaki, untuk memberi hormat. Ia tahu piauwsoe tua ini, yang telah ulung dalam pekerjaannya, yang namanya sangat terkenal, karena sebagai piauwsoe, Hauw Tay ada manis budi dan luas sekali pergaulannya, hanya sekarang ia sudah undurkan diri.

“Hauw Loosoe hendak bicara tentang ilmu silat denganku, mana aku berani menyambutnya,” berkata hiocoe dari Thian Hong Tong itu. “Aku sangat hargakan losoe, aku kagumi kepandaianmu, akan tetapi apabila aku menampik, kau tentu curiga dan akan katakan kami memandang enteng kepadamu, dari itu baiklah kita batasi pertandingan kita sampai saling towel saja. Aku harap losoe menaruh belas kasihan kepadaku.”

Hauw Tay bersenyum.

“Baik, aku terima peraturanmu ini, Auwyang Hiocoe,” ia menjawab. “Ini ada satu kesempatan yang baik, aku jadi tak tahu diri berani main dengan Hiocoe, hanya apabila sebentar aku gagal, aku bakal mundur sendiri, tidak nanti aku membikin Hiocoe menjadi berabe.”

Piauwsoe ini bicara dengan merendah tetapi lagu suaranya mengandung ejekan untuk Auwyang Siang Gee yang demikian merendahkan diri. Siang Gee merasakan sindiran itu, maka dalam hatinya ia kata, “Orang tua, kau terlalu berkepala besar. Aku sayangi sifatmu tapi jangan kau anggap aku tak dapat layani kau secara sungguh2 ”

Lantas keduanya bertindak masuk kedalam kalangan.

Hauw Tay kesohor buat ilmu silatnya Pek kwa ciang sekarang ia hendak menggunakan kepandaiannya ini untuk hadapi Auwyang Siang Gee dilain pihak, hiocoe dari Thian Hong Tong itu tetap menggunakan Tong pek koen, yang tadi dipakai mengalahkan Kan In Tong.

Hauw Tay telah berusia lanjut akan tetapi ternyata ia masih kuat dan sebat Auwyang Siang Gee merasakan itu, hingga ia kagumi jago tua ini karenanya, ia jadi melayani dengan hati2. Tadinya hiocoe ini tidak memikir untuk tanam bibit permusuhan, akan tetapi makin lama, desakannya piauwsoe tua itu makin hebat, mau atau tidak, tak dapat lagi ia main sabar saja. Maka kemudian ia juga hunjuk ketangkasannya. Ia ingin mencari kesudahan yang cepat, tak ingin ia nampak kegagalan. Terutama ia hendak hunjuk harga dirinya sebagai hiocoe dari Lwee Sam Tong.

Dengan sesungguhnya, dalam Hong Bwee Pang, kedudukannya Auwyang Siang Gee berimbang dengan ketuanya sendiri. Bin Tie dan Ouw Giok Seng ada orang2 tangguh, tetapi dengan kesabaran, dengan kegagahannya, Siang Gee bisa takluki mereka itu. Adalah hadapan hiocoe ini akan mencoba2 kepandaiannya ketua2 dari Hoay Yang Pay atau See Gak Pay, atau satu saja diantaranya siapa tahu, dia sekarang mesti layani Kan In Tong dan piauwsoe tua ini, yang semangatnya masih tetap muda, hingga kemudian, ia tidak bisa berlaku sabar lebih lama pula.

Selang dua puluh jurus lebih, Hauw Tay lantas mandi keringat ia tahu ia bakal kalah tapi ia malu untuk segera mundur, maka ia berkelahi terus.

Selagi orang sudah terdesak, Auwyang Siang Gee menyerang dengan pukulannya “Hek houw sin yauw” atau “Harimau hitam mengulet.” Tangannya maju dengan cepat sekali. Hauw Tay lihat itu, tak dapat ia menangkis, maka ia berkelit. Apa lacur bagi jago tua ini, ia sudah terlalu lelah, kegesitannya berkurang, sia2 ia egos tubuhnya, ia toh kena terserang suara pukulan itu terdengar nyaring.

Puas Auwyang Siang Gee karena kemenangannya ini, akan tetapi segera juga ia tampak seorang lain diantara mereka, sedang waktu itu, ia berniat titahkan orang tolong Hauw Tay untuk segera digotong pergi keperahu Garuda. Ia segera kenali orang itu, ialah Coe In Am coe, pendeta wanita dari Pek Tiok Am, ketua dari See Gak Pay…. CXXXIV

“Dengan kedatangan ini apakah Am coe sudi memberi pelajaran kepadaku?” tanya Auwyang Hiocoe kepada niekouw itu sambil memberi hormatnya.

Coe In Am coe manggut.

“Pin nie telah saksikan kepandaian sempurna dari Hiocoe, kepandaian yang jarang orang punyai, maka itu pinnie ingin terima pelajaran dari Hiocoe,” sahutnya. “Dengan begini pinnie mengharap akan mendapat tambahan pengetahuan.”

Hiocoe dari Thian Hong Tong itu tertawa besar.

“Jikalau demikian pembilangan Am coe, tak berani aku menampiknya,” jawab dia. “Aku ada orang angkatan bawah dari Rimba Persilatan, angkatan muda dari dunia kang ouw, Am coe sendiri ada ahliwaris dari See Gak Pay yang kenamaan, dengan dapat menerima pelajaran dari Am coe, aku akan merasa sangat beruntung, dari itu harap Am Coe jangan merendah, jikalau tidak, tak berani aku terima pelajaranmu ”

“Jikalau demikian Hio coe menghargai pin nie, baik, mari kita jangan sungkan2 lagi,” Coe In bilang. “Ingin pin nie berlatih dengan Hiocoe, karena kalangannya telah tersedia, harap Hiocoe setuju akan kita berlatih dalam kalangan itu saja.”

Auwyang Hiocoe tidak segera berikan pernyataan setuju. Dia kata “Turut apa yang aku yang rendah ketahui, boegee dari Am coe lelah mencapai batas kesempurnaan, terutama aku sangat kagumi pedang Tin hay Hok poo kiam dan mutiara See boen Cit poe coe dari Am coe, maka setelah sekarang di Cap jie Lian hoan ouw ini Am coe sudi memberi pelajaran, hal mana membuat aku sangat berbahagia ingin sekali aku terima pelajaran dalam dua rupa ilmu kepandaian itu, supaya aku dapat memandangnya. Maukah Am coe memberikan pengajaran kepadaku?”

“Auwyang Hiocoe, harap kau tidak dengari segala kabar tak keruan ujung pangkalnya,” sahut Coe In Am coe. “Mana pin nie mempunyai kepandaian seperti apa yang disiarkan itu? Pertempuran dalam kalangan ini belum memperlihatkan semua kepandaian Hiocoe, maka cukuplah jikalau pin nie terima pelajaran disini saja. Dalam halnya lain macam kebisaan, tak berani pinnie sembarang mencobanya.”

Mendengar itu, Auwyang Siang Gee bersenyum. “Baiklah, aku akan terima pelajaran Am coe,” kata dia.

“Silahkan!”

Coe In Am coe telah berdiri dibatas luar garis, maka dengan angkat kaki satu tindak saja, ia sudah masuk dalam kalangan.

Auwyang Siang Gee segera loncat, untuk ambil tempat didepan pendeta ini. Ia terus memberi hormat.

“Harap Am coe suka berlaku murah hati. Silahkan!” ia mengundang. Ia lantas angkat kedua tangannya kekiri dan kanan, ia maju tiga tindak, lalu ia mundur pula setengah tindak. Secara demikian, ia telah siap.

Coe In Am coe rangkap kedua tangannya didepan dada, lalu ia geser kaki kanannya kekanan. Menampak ini, Auwyang Siang Gee tak bisa bade, sikap apa adanya itu. Sebaliknya. niekouw dari See Gak Pay itu telah lantas ketahui Siang Gee adalah dari Ngo Bie Pay keturunan Siauw Lim Sie. Sebagai ketua, Coe In Am coe telah wariskan ilmu silat istimewa kaumnya, yang diciptakan oleh To Cie Taysoe ketika pendeta ini bangunkan kuil Pek Tiok Am. Itu adalah ilmu pukulan See boen Sam Liok Sie, yang digabung dari kesempurnaannya kedua ilmu silat Siauw Lim Pay dan Boe Tong Pay. Setiap gerakan dari ilmu ini ada membawa totokan2 jalan darah, untuk menutup dan menghidupkan. “Sam Liok Sie” itu adalah ringkasan dari “Sha cap lak sie”, tiga puluh enam jurus. Kaum Rimba Persilatan hanya tahu bahwa Coe In Am coe liehay karena mempunyai ilmu pedang Sha cap lak lou Thian kong kiam serta Cepe Jie sip pat Bieciong koen, akan tetapi See boen Sam Liok Sie nya belum pernah ada yang menyaksikan dipergunakan, maka itu tak heran jikalau Auwyang Siang Gee, satu akhli, pun tidak mengenalnya.

Dengan rangkap kedua tangannya, Coe In Am coe perlihatkan sikap See boen Pay Koed Sie, penghormatan kaumnya terhadap Sang Buddha, habis itu baharu ia menyamping kekanan dari mana segera ia awasi Hiocoe dari Thian Hong Tong.

Sudah seharusnya, kapan ia mulai maju, Auwyang Siang Gee mesti menginjak “tiong kiong”, jalan tengah, akan bertindak ke pintu Hong boen, untuk maju lempang langsung, akan tetapi sekarang ia tak kenal sikap lawannya itu, tak berani ia berlaku sembrono. Maka iapun segera bertindak kesamping. Hingga kedua nya tak jadi berhadap hadapan, keduanya jadi saling mengalah. Tapi kalangan sangat berbatas, perseginya tak lebih dari dua puluh empat kaki, dari itu, tak dapat mereka pisahkan diri masing2 terlalu jauh. Pun, sebentar saja, mereka sudah memutari habis kalangan yang sempit itu, hingga kembali mereka berdiri berhadapan seperti semula. Masih Coe In Am coe tidak hendak bertindak terlebih dahulu waktu menampak ini, Auwyang Siang Gee anggap tak boleh ia siasiakan tempo lagi.

“Am coe, silahkan maju!” ia mengundang, berbareng dengan mana, ia lantas mulai ajukan kedua tangannya kearah tengah tubuh si pendeta wanita. Itulah serangan pukulan “Pat san oen ciang” dari Sip pat Lo Han Chioe dari Siauw Lim Pay.

Melihat pukulan ini, yang ia kenali, sekarang Coe In Am coe tidak heran lagi kenapa di Cap jie Lian hoan ouw ada orang suci yang sudi membantu Hong Bwee Pang, atau lebih benar mungkin membantu Siang Gee sendiri.

Atas kedatangan serangan kedua tangan itu, kedua tangan Coe In Am coe yang tadi dirangkap lantas dikasi turun berbareng kebawah, untuk tenggal kedua lengan lawan.

Dengan sebat Auwyang Siang Gee tarik pulang serangannya itu, untuk terus bersiap pula.

Coe In juga tarik kedua tangannya, untuk dirangkap pula, hingga kali ini ia perlihatkan sikap “Lian tay pay Hoed” atau “Dipanggung teratai menghormat Buddha”. Habis ini ia balas menyerang, dengan dua2 tangan juga. Serangan ini telah mendesirkan angin.

Auwyang Siang Gee telah menjadi akhli Sip pat Lo Han Chioe, dengan leluasa ia bisa menyingkir dari serangan itu. Akan tetapi Coe In tidak mundur setelah percobaannya itu gagal, ia malah melanjutkan dengan serangan susulan. Melihat demikian, Siang Gee mencelat kesamping kiri, akan segera balas menyerang.

Dengan putar sedikit tubuh, Toe In tangkis serangan ini. Tapi juga Siang Gee berlaku gesit, iapun mendesak, tahu2 tangannya yang lain sudah menyambar ke atas pundak dibahagian yang kosong.

Pendeta wanita itu mendek sambil terus berkelit, sesudah mana ia meneruskan dengan menggunakan tangan kirinya, akan serang alisnya sang lawan yang liehay itu, tangannya dari bawah nyelosor naik keatas.

Siang Gee tarik tubuhnya begitu rupa, hingga tahu2 tubuh itu sudah terputar, berputar terus hingga ia jadi berada dibelakang nya lawan. Cepat luar biasa gerakannya ini, dari belakang lawan segera ia kirim serangannya yang berupa dua2 tangannya kearah punggung.

Coe In Am coe telah menduga, setelah serangannya tak menemui sasaran, lawannya tidak bakal hendak sudah saja. Ia lihat orang berputar tubuh gesit sekali, ia menduga maksud lawan itu, ia tidak turut putar tubuh untuk siap sedia, ia hanya membungkuk seraya kedua tangannya dari ujung jubanya yang gerombong itu, disampokkan kebelakang. Secara begini, serangannya Siang Gee dapat dirintangi. Akan tetapi, niekouw ini tak berhenti sampai disitu. Selagi tangan jubanya, bantu menangkis, jari tangannya sendiri menyambar, mencari jalan darah sipenyerang. Inilah gerakan yang dinamakan “Cian liong chioe”, atau “Tangan pembunuh naga.”

Hiocoe dari Thian Hong Tong tidak sangka gerakannya niekouw ini, tidak heran kalau ia jadi terperanjat. Kalau bukannya ia, lain orang tak akan sanggup luputkan diri dari serangan membalas Cian liong chioe itu. Ia tarik pulang kedua tangannya yang kena disampok, ia buka itu kekiri dan kekanan, dalam gerakannya “Kim tiauw tian cie.” atau “Garuda emas pentang sayap”, lalu ia membalas, dengan “Keng sin pa houw ciang” “Putar tubuh menyerang harimau”, dengan sasarannya iga kanan dari lawannya itu. Ini ada semacam serangan buntu, karena Siang Gee merasakan ia sudah terdesak.

Coe In Am coe telah gagal dengan pukulannya “Tangan pembunuh naga”, iganya memang kosong, sedang serangan musuh ada berbahaya, ia kaget, dalam hati nya ia berseru “Setan, jikalau aku antap kau menang, runtuhlah See Gak Pay ditanganmu!”

Mengerti berbahayanya serangan itu, Coe In coba egos tubuh kekiri, sambil berbuat demikian, tangan kanannya menyabat kebawah terhadap tangan lawan. Ia telah kerahkan tenaga Tiat pie pee ditangannya. Selagi menyabat itu, tangan kirinyapun menyusul dengan satu sambaran “Tay leng pay chioe” atau “Tangan tugu”, kearah muka. Karena sebatnya, kedua tangan turun seperti berbareng.

Thian lam It Souw Boe Wie Yang, yang hatinya tabah, yang sejak tadi duduknya tenang2 saja, terperanjat juga apabila ia tampak gerakannya hiocoe dan lawannya itu, ketua See Gak Pay. Dua orang itu telah berlaku nekat. Ia sampai berbangkit dari kursinya, dengan niat mencegah.

Juga Eng Jiauw Ong terkejut, karena ia kuatir benar Coe In Am coe sukar luput dari serangan membalas musuhnya itu, hingga ia berbangkit sambil menghela napas.

Adalah disaat genting itu, men dadakan ada terdengar seruan yang datang dari arah para2 bunga “Hadiah tak berarti! Persembahan kehormatan! Sambutlah!” Lalu menyusul suara kera tak keretek dipara2 itu, suara nyaring dari meletaknya bambu2 utuh, hingga para2 bergerak hampir ambruk!

Auwyang Siang Gee tengah hadapi ancaman malapetaka, memang hatinya kurang tenteram karena datangnya warta2 yang dibawa burung2 dara Hong. Bwee Pang, maka ia terkejut mendengar suara berisik itu serta seruan tak disangka tidak tempo lagi, ia menjejak kedua kakinya, mengenjot dan berlompat keluar kalangan.

Juga ketua dari See Gak Pay terperanjat karena seruan dan suara nyaring itu, tanpa merasa, serangannya jadi sedikit terlambat. Tetapi walaupun demiki an, karena satu tangan digentak dan tangan yang lain ayal, dengan sendirinya kedua tangan jadi benterok Coe In tangan kanan nya, Siang Gee tangan kirinya, kedua2nya merasakan tangan masing2 seperti mati, tak dapat di geraki ….

Juga pendeta wanita dari Pek Tiok Am turut loncat keluar kalangan.

Menyusul seruan dan suara nya ring itu, yang membuat pertarungan jadi berhenti sendirinya, segera terdengar juga suara yang dingin dan bersifat mengejek yang datang dari arah para2. “Ketua dari Lwee Sam Tong janganlah terlalu bertingkah dahulu hingga kau hendak menjagoi! Baik kau bersihkan dahulu orang busuk dalam kalanganmu sendiri baharu setelah itu kau coba angkat dirimu!”

Kata2 yang belakangan ini cuma dapat terdengar oleh Auw yang Siang Gee dan Coe In Am coe, atau mungkin orang yang berada paling dekat dengan para2 bunga.

Sementara itu, karena suara berisik dipara2 itu, semua orang Hong Bwee Pang telah menjadi kaget semua yang duduk telah berlompat bangun sebagai pangcoe mereka, karena merekapun menyangka mesti ada terjadi sesuatu yang hebat. Malah dua orang sudah loncat melesat dengan sangat gesit sekali!

-ooo0dw0ooo-