Eng Djiauw Ong Jilid 06

 
Jilid 06

Diam2 Eng Jiauw Ong berpikir “Benar2 Hong Bwee Pang mempunyai tak sedikit orang orang kang ouw aneh. Dua orang ini saja sudah luar biasa sekali, tak gampang untuk dilayani, roman mereka sulit untuk dipandang, mata mereka juga bersinar menakuti, terang mereka punya lweekang yang sempurna sekali…”

Tapi jago Hoay siang ini tidak jadi keder.

“Sahabat, kau pancing aku datang kemari, apakah maksudmu?” ia menanya dengan sabar.

Si orang aneh yang disebelah kanan, dengan sikap dingin lantas menjawab “Po coe telah memberikan pengajaran kepadaku tentang ilmu silat tangan kosong, maka itu, setelah bertemu dengan po coe yang begini liehay, mana bisa aku menghilangkan waktu untuk tidak mengikat persahabatan? Kami telah dengar perihal ilmu entengi tubuh dari Hoay Yang Pay yang dinamakan Tiok Too Hoan Ciang yang kesohor dalam Rimba Persilatan, ilmu mana tidak sembarangan diwariskan, maka itu, dengan kepandaianku yang cetek sekali, aku telah pertunjukkan kejelekanku dihadapan po coe, tidak nanti aku berani men coba2 pula kepada po coe. Jangankan aku memang tak pandai ilmu mengentengi tubuh, sekalipun aku mengerti, tidak nanti aku berani pertunjukkan lebih jauh kejelekanku. Hanya adalah soehengku ini, dia sangat gemar ilmu mengentengkan tubuh, walaupun pengetahuannya belum sempurna, mendengar po coe sudah datang mengunjungi Gan Tong San, tak dapat tidak ia ingin sekali terima pengajaran dari po coe. Inilah sebabnya maka sekarang aku undang po coe datang kemari, untuk memberi kan kami pengajaran dalam ilmu Tiok too Hoan ciang itu, agar kami dapat memperluas pengetahuan kami. Aku percaya po coe tak akan menampik untuk memberikan pengajaran kepada saudaraku ini.”

Eng Jiauw Ong tidak puas terhadap orang aneh ini. “Saudara, kau kandung niat mengadu kepandaian, aku

bersedia untuk melayaninya!” kata ia dengan tawar. “Akan

tetapi, satu laki2, tindak tanduknya harus secara terus terang! Kau hendak tindih aku dengan kekerasan, baik, aku bersedia, untuk itu umpama kata aku terbinasa, mukaku akan tetap terang. Tetapi kau tidak sudi memperkenalkan diri, itulah sikap menghina!”

Baharu sekarang orang yang disebelah kiri, yang mirip bangkai hidup yang mati menggantung diri itu membuka suaranya, dengan lagu suara yang menyatakan tak senang hati.

“Ong Po coe, kau teilalu menghargai kami,” demikian katanya. “Kami adalah boe beng siauw coet dari kalangan kang ouw kami ingat bahwa ilmu silat kami tidak ada artinya, dari itu, apabila kami menyebutkan nama kami, hanya memalukan perguruan kami saja. Tentang kami berdua saudara, sebenarnya tak usah kami perkenalkan nama kami. Dipihak po coe ada Yantiauw Siang Hiap mereka itu belum pernah menyebut nyebut namanya, tetapi karena roman wajah mereka, orang bisa lantas ketahui, siapa adanya mereka itu. Bukankah kamipun ada sama saja?” Mendengar demikian, Eng Jiauw Ong terperanjat juga.

“Oh, kalau begitu bukankah jiewie ada See coan Siang Sat yalah Song boen sin Khoe Leng si Malaikat Rumah kematian dan Kwie lian coe Lie Hian Thong si Muka Hantu?” begitu ia menegasi.

Si orang aneh, dengan tetap wajahnya bagaikan bangkai hidup, perdengarkan suara “Hm!” lalu ia tambahkan “Tak perduli benar atau tidak, kau lihat saja. Kami ada orang orang terang, kami tidak mau melakukan sesuatu dengan bergelap! Kami sudah undang kedua muridmu datang kemari, maka begitu lekas po coe sudi memberi pengajaran, pasti kami akan lantas antarkan kau guru dan murid masuk kedalam Cap jie Lian hoan ouw.”

Mendengar jawaban orang itu, Eng Jiauw Ong merasa pasti, bahwa dua orang ini benar ada See coan Siang Sat Sepasang Hantu Seecoan, ia jadi girang berbareng ibuk juga. Ia girang karena ia segera kenali dua jago Seecoan itu, tapi yang bikin ia ibuk adalah karena ia tahu untuk di Barat, dua saudara ini benar2 punyakan kepandaian yang tinggi. Memang mereka masing2 punyakan roman muka yang jelek sekali, seperti buktinya sekarang, keduanya mirip bangkai2 hidup. Si muka putih pucat adalah Song boen sin Khoe Leng, dan yang satunya lagi yalah Kwie lian coe Lie Hian Thong. Mereka hidup bagaikan saudara kandung, mereka tugaskan diri sebagai hiap too, yalah penjahat2 yang bijaksana. Mereka suka menolong, hatinya pemurah, tetapi ada kalanya mereka berlaku kejam, untuk menindas kejahatan mereka tak kenal kasihan, sebab itu disebelah orang hargai mereka, ada pula orang2 yang mendendam sakit hati dan benci pada mereka. Adalah karena liehaynya, sampai sebegitu jauh belum pernah orang bisa berbuat suatu apa terhadap mereka, hingga untuk di Barat, di See coan dan daerahnya, mereka sudah malang melintang belasan tahun lamanya. Tetapi diluar sangkaannya jago Hoay siang, sekarang jago2 Seecoan itu sudah menjadi orang2 Hong Bwee Pang.

“Tadi dia me nyebut2 Ceng Loan Tong, pasti mereka ini berkedudukan tinggi,” Eng Jiauw Ong pikir lebih jauh. “Mereka bersikap jumawa, jikalau sekarang aku tak bisa lawan mereka, teranglah sudah, aku tak punya muka untuk memasuki Cap jie Lian hoan ouw ”

Lantas jago Hoay siang itu tertawa pula.

“Aku malu untuk dua muridku yang tidak tahu diri itu, yang membangkitkan tertawaan orang,” kata ia dengan tertawa dingin. “Sahabat, kau niscaya ada Giesoe Song boen sin Khoe Leng! Nah, giesoe, kau undang aku untuk main2 diatas panggung patok bambu Ceng tiok Bwee hoa ciang ini, walaupun aku tidak punya kepandaian, aku suka sekali menemaninya. Tetapi, aku mohon, sukalah kau berlaku murah hati terhadap aku ”

Lie Hian Thong mengawasi, ia hendak memberikan jawaban untuk mewakilkan Khoe Leng, tetapi Eng Jiauw Ong segera memotong pembicaraan orang sambil berkata “Lie Giesoe, cukup, tak usah kita bicara lebih banyak pula! Khoe Giesoe, silakan!”

Sehabis berkata, jago Hoay siang merangkapkan kedua tangan nya.

Song boen sin Khoe Leng segera merangkapkan juga kedua tangannya untuk membalas hormat, seraya ia berkata “Silakan po coe yang mulai “

“Baik giesoe saja yang mulai !” Eng Jiauw Ong merendah tetapi mendesak.

“Mungkin po coe hendak bikin aku jadi tidak kenal aturan?” Khoe Leng kata pula. “Silakan, po coe!” “Kalau begitu, maafkan, giesoe,” berkata ketua Hoay siang. “Biarlah aku pertontonkan kejelekanku ”

Kata2nya ketua Hoay Yang Pay ditutup dengan gerakan tubuh nya, mencelat naik kesebatang patok di Baratutara, yang termasuk dalam rombongan Kian kiong. Ia menginjak dengan sebelah kakinya yang kiri, tetapi dengan cara beginipun sudah cukup untukia mencoba keteguhannya patok itu.

Dimatanya ciangboenjin dari Hoay Yang Pay ini, patok2 Tiok too Hoan ciang itu terlebih berbahaya. karena semua patok berujung runcing, ujung itu diraut tajam seperti ujung golok lioe yap too, semuanya terdiri dari enam puluh enam patok dan diaturnya menurut runtunan Patkwa. Untuk naik ke atas panggung patok itu, lebih dahulu orang mesti paham ilmu mengentengi tubuh yang dinamakan Teng peng Louw soei atau Sie biauw Hoei heng. Tetapi tidak demikian dengan Ceng tiok Bwee hoa ciang ini, yang semua ujung nya rata tidak tajam.

Sambil berdiri dengan sebelah kaki dalam sikap “Kim kee tok lip,” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki,” dengan tangan kiri dimajukan kedepan dan tangan kanan didadanya, di betulan jenggotnya ialah dengan sikap “Hong hong tian cie,” atau “Burung hong pentang sayap,” Eng Jiauw Ong lantas mengawasi lawan, untuk melihat sikap lawannya itu.

Baharu Eng Jiauw Ong berdiri tetap atau ia lihat tubuhnya Song boen sin Khoe Leng loncat menaik keatas sebuah patok di bagian Kam kiong, gerakannya cepat, berdirinya tetap, suatu tanda tidaklah percuma dia itu menjadi jago Seecoan.

Menampak demikian, Eng Jiauw Ong segera bergerak ke arah kanan, kakinya saling susul. Ia berjalan dengan cepat dan tetap, matanya dilain pihak awasi terus lawan itu, sekarang untuk perhatikan tindakannya lawannya untuk ia dapat kepastian, kepandaian lawan itu sudah terlatih sempurna atau belum.

Khoe Leng juga telah lantas turut bergerak dan gerakannya gesit sekali, maka itu, sesudah dua putaran, Eng Jiauw Ong meloncat kedepan lawannya, serangannya dimulai, dengan tipu nya “In liong sam hian” atau “Naga dalam mega tiga kali perlihatkan diri.”

Diserang secara demikian Khoe Leng menangkis dengan “Hong in to goat,” atau “Mega menahan rembulan.” Setelah bukaan ini, ia sebenarnya bisa mendesak untuk balas menyelang, tetapi ia tidak berbuat demikian ia hanya undurkan diri, seperti orang yang jeri.

Eng Jiauw Ong merasa heran. Dilihat dari sikapnya, tuan rumah itu bukannya mengalah terhadap tetamunya. Maka dengan hati2 ia maju akan mendesak, atas mana, kembali Song boen sin Khoe Leng mundur pula. Tatkala kemudian Eng Jiauw Ong mendesak lebih jauh dan tuan rumah itu mundur lagi, ia segera dapati satu pengalaman.

Ketika itu ketua Hoay Yang Pay maju satu tindak, ia mendek untuk berloncat, justeru itu dari arah Timur ke Barat, pula menyamber angin, dari senjata rahasia. Segera ia mundur, hingga senjata rahasia itu jatuh didepannya. Itu adalah sepotong batu. Ia heran. Kapan ia melihat Khoe Leng, dia ini sudah berada dipinggiran. Ia hendak maju pula, waktu ia mau geraki kakinya, lagi satu batu samber ia, karena ia sedikit terlambat, ia terkena batu itu. Ia tambah heran, karena ia tidak tahu dari arah mana datangnya batu. Dilain pihak, Khoe Leng sudah putar haluan. Sekali ini ia maju dengan cepat. Dan sekali ini, tidak ada lagi penghalang batu. Kedua pihak sudah datang dekat satu dengan lain, Eng Jiauw Ong maju dengan serangannya.

Song boen sin, si Malaikat Rumah kematian, mencelat ke samping. Dia bukannya menangkis, atau bikin perlawanan, dia hanya menyingkir cepat sekali.

“Dia sedang permainkan aku!” pikir Eng Jiauw Ong, yang hati nya jadi panas. Ia jadi berkeinginan keras akan hajar lawan ini rubuh dari panggung pelatok itu. Ia lantas mengejar terus dengan sungguh sungguh.

Lagi sekali mereka datang dekat satu sama lain, lagi lagi Khoe Leng jauhkan diri. Kapan ini diulangi beberapa kali, Eng Jiauw Ong insyaf kelicikan musuh.

“Terang dia kandung maksud tidak baik,” pikir ketua dari Ceng hong po, yang berbareng pun insaf. Penyerang gelap dengan senjata rahasia batu sebenarnya ada bermaksud baik. Timpukan batu itu adalah daya untuk mencegah ia. Ia hanya belum tahu, siapa si penyerang itu dan apa maksudnya.

Kembali mereka saling kejar. Sesudah mereka berhadapan lima enam kali, dan saban2 Eng Jiauw Ong kebogehan, ia insaf, orang rupanya ada main gila dengan panggung pelatok itu. Karena ini, ia berlaku semakin hati2. Pada Khoe Leng sendiri tidak terlihat apa2 yang mencurigai.

Mereka kembali memutari pelatok, sekarang Eng Jiauw Ong dapat lihat beberapa kali Song boen sin menyingkir dari sesuatu pelatok, maka itu, ia waspada.

Lalu datang saat untuk mereka bergebrak, sekali ini Khoe Leng melayani. Dijurus ke empat Eng Jiauw Ong mendesak keras. Khoe Leng hendak menyingkir, ia melompat. Tiba2 menyamber dua potong batu. Song boen sin terhalang, hingga terpaksa ia berloncat kesamping. Di sini ia kena terpijak patok yang ia segani, yang tadi ia loncati, begitu kakinya menginjak, tubuhnya miring, sebab pelatok itu mendahului miring. Sia sia saja Khoe Leng pertahankan diri, walaupun ia bertubuh enteng dan gesit, tidak urung ia terpeleset, jatuh kebawah panggung! Maka mukanya menjadi merah dengan seketika bahna malu. Segera ia loncat kepinggir kanan, ia rangkap kedua tangannya terhadap Eng Jiauw Ong seraya berkata “Aku yang rendah tak sanggup melayani po coe yang gagah sekali, kami berdua saudara menyerah kalah. Po coe, di Ceng Loan Tong saja kami nantikan kau, sekarang tak dapat kami menemani lebih lama! ”

Sehabisnya berkata begitu, ia lari kearah rumah, saudaranya mengikuti.

LII

Melihat orang kabur kearah rumah, Eng Jiauw Ong bercuriga.

Benar saja, dari dalam rumah itu segera muncul empat ekor burung darah putih, yang terus terbang naik keudara dimana mereka lenyap dalam sekejab. Jago Hoay siang ini tercengang. Ia mengerti, Seecoan Siang Sat bukannya lari untuk kabur, mereka hanya menyingkir guna lepaskan burung2 itu, yang pasti ada membawa kabar penting untuk pusat Hong Bwee Pang.

“Aku telah sampai disini, mereka tak dapat dibikin lolos,” pikir ketua Hoay Yang Pay ini. “Sayang mereka keburu lepaskan burung mereka. Aku perlu lekas tolongi Kam Tiong dan Kam Hauw.” Karena ini, Eng Jiauw Ong loncat turun dari pelatok, terus ia lari kerumah gubuk. Ia cuma melihat terbangnya burung2, ia tidak tampak keluarnya orang, ia per caya kedua orang luar biasa dari Seecoan masih sembunyi didalam rumah itu. Karena ini, ia maju dengan hati”

Tiba2 terdengar satu suara dari dalam rumah, lalu api padam.

“Benar dugaanku,” pikir Eng Jiauw Ong.

Tiba terdengar tertawa dingin dari dalam rumah, disusul dengan kata2 “Ini sepasang manusia ada bagaikan iblis, kita tidak hendak habisi padanya, apa kita hendak tunggu?”

Lalu menyusul satu suara tajam “Memang, dibelakang hari mereka bisa jadi bahaya! Kita kasihani mereka, mereka sendiri belum tentu akan mengingat budi….”

Se konyong2 terlihat sinar api, lalu jendela rumah terbakar menyala, menyusul mana diempat penjuru puncak terdengar suara suitan, yang mana menjadi tanda bahwa disekitar tanah pegunungan itu ada orang2 jahat yang ber jaga2.

“Orang tak dapat melawan aku secara berterang, mereka lalu gunai akal muslihat,” pikir pula Eng Jiauw Ong. Karena ini, sambil tertawa mengejek, ia kata seraya berdongak “Kawanan pit hoe, apakah dengan sandiwara iblis ini kau hendak permainkan aku Ong Too Liong? Itulah sia sia! Aku si orang she Ong tidak pintar tetapi pernah aku saksikan pertunjukan seperti ini! Silahkan lanjutkan!”

Belum jago Hoay siang tutup mulutnya, atau ia dengar ken tongan dari empat penjuru puncak, disusul oleh cahaya api, masing2 dua batang obor diempat penjuru itu, kemudian dari setiap penjuru terdengar perkataan nyaring “Ong Loo eng hiong, pemimpin dari Hoay Yang Pay! Hio coe kami dari Ceng Loan Tong dengan ini menyampaikan kata2 bahwa tempat ini bernama Koen eng ouw, yang berarti tempat pengurang garuda, dari itu walaupun po coe ada punya kepandaian untuk serbu langit, kau lihatlah thian lo tee bong ini” maka pastilah po coe tak akan dapat dibiarkan terbang lolos dari jaring ini! Karena po coe datang untuk Pang coe kami, baiklah po coe kenal salatan, mari antapkan kami sambut po coe, agar tidak sampai kejadian kau nanti kena terjaring bagaikan seekor garuda! Jikalau po coe tidak suka mendengar peringatan ini, satu kali titah kami telah dikeluarkan, nama baik po coe bakal segera ludas!”

“Pit hoe, kau terlalu menghina!” adalah jawabannya Eng Jiauw Ong terhadap bujukan atau ancaman itu. “Aku justeru hendak saksikan apa adanya kepandaianmu! Apa benar2 kau berani menahan padaku?”

Tidak beraya! lagi, suara ken tongan segera terdengar nyaring, suara mana disusul dengan mengaungnya anak panah yang melesat diudara, lewat disampingnya ketua dari Ceng hong po ini.

Eng Jiau Ong mendongkol bukan kepalang, segera ia mengawasi dengan tajam keempat penjuru, hingga ia tampak disebelah Timur selatan, pada sebuah tanjakan, ada orang sedang memanah sambil menjuju ia. Ia segera berkelit sambil berlompat, akan loncat terlebih jauh ke tempat musuh itu, gerakannya gesit bagaikan monyet, hingga orang diatas itu, yang sedang siapkan sebatang panah lain, jadi sangat terkejut tahu2 menampak bayangan berkelebat didepannya, dalam gugupnya dia hendak teruskan memanah. Di lain pihak, Eng Jiauw Ong pun berloncat akan menubruk, untuk cegah orang panah padanya. Dalam saat sangat berbahaya itu, untuk si tukang panah atau untuk Eng Jiauw Ong sendiri, mendadak si tukang panah men jerit, lantas tubuhnya ngusruk kedepan, kearah ketua Ceng hong po.

Eng Jiauw Ong heran, akan tetapi ia ada cukup tabah untuk samber pundaknya tukang panah itu, akan ditarik dan dilemparkan, berbareng dengan mana, sambil pinjam tenaga musuh, ia berlompat naik lagi beberapa tindak.

Berbareng dengan itu, Eng Jiauw Ong dengar suara jeritan yang disusul dengan suara rubuhnya tubuh manusia, bergantian disekitar ia. Tentu saja ia menjadi heran, maka ia berdiri diam seraya pasang mata.

Se konyong2 ada satu bayangan berkelebat disebelah depan, di tempat yang gelap, bayangan mana buka suara, katanya “Bagus kau telah datang! Aku serahkan padamu sisa tugas disini, aku tak perlu campur lagi!”

Dengan matanya yang tajam, Eng Jiauw Ong lihat orang itu berdiri antara pepohonan yang lebat, sayang ia tak dapat lihat tegas mukanya orang itu. Pun sehabis mengucap demikian, bayangan itu mencelat turun, yang dalamnya lebih daripada sepuluh tumbak. Ia segera melongok ke bawah dimana, sebaliknya, ia dapati empat atau lima orang sedang bertempur, senjata tajam mereka berkeredepan sinarnya.

Ketua Cenghong po ini heran, karena ia tahu, semua orang dari pihaknya toh berkumpul di Tong peng pa. Mustahil ada diantaranya yang datang kemari dengari secara kebetulan bertemu dengan ia? Tapi bayangan tadi anjurkan dia membereskan sisa, tanpa ayal lagi iapun berloncat turun, untuk membantu. Karena ia merasa pasti orang2 yang sedang bertempur itu mesti ada orang2 dari pihaknya. Begitu ia sudah datang dekat, Eng Jiauw Ong melihat nyata, pertempuran dilakukan oleh lebih banyak orang, dipihak penjahat ada enam, dipihaknya, mereka adalah dua soeteenya, yaitu Hoei too Louw Kian Tong dari tanjakan Hong Hong Kong digunung Heng San dan Tiat kie lee Kee Giok Tong, serta Thay kek Lioe Hong Coen dari bukit Sip pat poan Nia, boesoe Ke Siauw Coan dari Chong cioe, Siang too Kim Hoo piauwtauw dan Liong Gie Piauwtiam dari Yan cioe, Shoatang, dan Piauw soe Teng Kiam, jumlahnya enam juga, hingga kedua pihak itu merupakan satu tandingan yang seimbang. Terang mereka bertempur belum lama, sebab kedua pihak kelihatan bertarung sedang sengitnya.

Eng Jiauw Ong heran atas munculnya ke empat piauwsoe, boesoe atau soeteenya itu, walaupun ia menduga tentunya mereka sudah datang menyusul. Adalah Lioe Hong Coen berdua Ke Siauw Coan, yang sudah bertemu ia di Lek Tiok Tong. Ia tidak mengerti, kenapa mereka itu sudah berada ditempat musuh ini, bukannya berkumpul di Tong peng pa. Tetapi sekarang ia tak berkesempatan untuk menanyakan keterangan, maka begitu datang dekat, ia meloncat maju sambil serukan “Lioe Loosoe, Ke Loosoe, silahkan mundur, biarlah siauwtee yang bereskan semua manusia jahat ini!”

Ketika itu, Hoei too Louw Kian Tong dan Thay kek Lioe Hong Coen justeru berhasil menendang rubuh lawan mereka, maka itu. Eng Jiauw Ong berloncat lebih jauh kesamping Teng Kiam siapa melayani satu musuh bermuka hitam beralis gomplok yang bersenjatakan golok kwie tauw too yang berat, sedang ia sendiri bergegaman rantai, cit ciat pian. Itulah saatnya musuh membacok pundak dan piauwsoe itu baharu saja menyabet tanpa hasil. Tidak tempo lagi Eng Jiauw Ong sampok golok musuh, sampai senjata itu kabur dari sasarannya, kemudian dengan dua jari tangan kanan ia menotok jalan darah in tay hiat.

Musuh itu insaf, apabila ia kena tertotok, ia bakal celaka. maka lekas2 ia egos tubuhnya, tetapi selagi begitu, Eng Jiauw Ong teruskan menendang, tidak ampun lagi kempolannya kena di dupak, tubuhnya terguling kejurang.

Menyusul rubuhnya musuh yang ke dua, lagi dua musuh perdengarkan jeritan dari kesakitan, atas mana, sisanya yang dua lagi, dengan tandanya masing2, lantas saja angkat kaki untuk singkirkan diri.

Eng Jiauw Ong semua tidak menguber.

“Soetee, berapakah jumlah mu?” ia tanya. “Apakah ada lain rombongan disini?”

“Kami cuma berenam,” sahut Thay kek Lioe Hong Coen, “Tetapi disana masih ada lagi lima yalah Piauwsoe Chio In Po dari Utara, dua muridnya Tio Liong In dari Lim shia yaitu Soen Giok Siauw dan Soen Giok Kong, cucu murid dari Yan tiauw Siang Hiap, Ciok Liong Jiang, serta dua guru silat dari Kang lam, Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang. Nah, itulah mereka disana!”

Benar2 rombongannya Cio in Po sudah lantas muncul, maka semua orang lantas saling memberi hormat satu pada lain. Kemudian dua anak muda berlutut di depannya Eng Jiauw Ong akan mengaku bahwa karena kepandaiannya sangat rendah, mereka sudah bikin malu pada Hoay Yang Pay.

Mereka itu adalah Kam Tiong dan Kam Hauw, yang dapat di tolong.

“Sudah!” sang guru bilang “Sekarang mari kita bekerja!” Lantas Eng Jiauw Ong mengajak rombongan itu menggeledah bukit, terutama rumah gubuk itu, hasilnya nihil, sebab semua orang jahat sudah kabur dari satu jalanan kecil, yang menjurus kesebuah kali.

“Ong Loosoe, tempat ini bagus sekali,” kata Ke Siauw Coan. “Mungkin ini ada salah satu jalanan untuk Cap jie Lian hoan ouw…. Sayang kita tak punya perahu. Sekarang baik kita mencari tempat beristirahat, akan tunggui datangnya sang pagi.”

Eng Jiauw Ong setuju, ia usulkan akan kembali ke Tiat Hoed Sie.

“Jangan kesana,” mencegah Teng Kiam tanpa ia memberi alasan.

“Kita pergi ke Cio hoed tong saja,” Ciok Liong Jiang usulkan. “Aku pernah ketemu Soe couw Twie in chioe Na Pek, dia pesan untuk berhati2 terhadap rombongan dari Tiat Hoed Sie yang katanya tak boleh dipandang enteng, dua pemimpinnya ada dua hiaptoo dari Seecoan yalah Song boen sin Khoe Leng dan Kwie lian coe Lie Hian Thong, masing2 ketua dari Ceng Loan Tong dan Kim Tiauw Tong dari Lwee Sam Tong dari Hong Bwee Pang. Kita bukannya jeri tetapi kita harus waspada”

Eng Jiauw Ong tidak berkukuh.

“Tapi mari kita periksa saja kuil itu,” kata ia.

Semua orang menurut, dari itu mereka lantas menuju kekuil tersebut.

Tiat Hoed Sie kosong melongpong, kecuali lentera hoed teng, yang apinya suram. Walaupun sudah tua sekali, kuil toh nampaknya angker, pendiriannya teguh, dulunya mesti ada sebuah rumah, berhala yang indah dan agung. Kuil gelap seluruhnya, dari itu beberapa obor telah dinyalakan. Kuil itu ternyata kosong, tetapi jauh disekitar mereka, kadang2 terdengar tanda suitan. Hal ini menguatkan kepercayaannya Eng Jiauw Ong terhadap keterangannya Yan tiauw Siang Hiap yang disampaikan oleh Ciok Liong Jiang, yalah musuh tak dapat dipandang ringan.

Setelah pemeriksaan sekian lama, disaat Eng Jiauw Ong hendak ajak rombongannya mening galkan kuil, Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang, kedua guru silat dari Kanglam, yang muncul paling belakang, karena mereka memeriksa sampai diluar pendopo, telah minta jago Hoay siang ini bersabar.

“Tunggu sebentar, po coe,” kata Ngo Cong Gie. “Kami telah melihat suatu yang mencurigakan. Mari po coe lihat dulu.”

Eng Jiauw Ong dan beberapa kawannya tanya, apa adanya hal itu.

“Marilah kita melihat saja” jawab Ngo Cong Gie. “Mari!”

Mereka pergi keluar pendopo, melewati tembok gempur, mereka sampai dipekarangan luar, akan menuju kesemak alang2, jauhnya kira2 setengah panahan, mereka tampak sebuah puncak yang penuh dengan pohon siong, kapan mereka maju lagi sedikit jauh, dari celah2 puncak mereka tampak cahaya api.

Selagi rombongannya merasa heran, Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang bertindak terus menembusi semak, sampai dimu ka puncak, disebuah rimba, mereka dapatkan satu rumah batu disamping mana ada sebuah sarang burung dara. Didepan rumah ada berdiri satu tihang kayu, yang atasnya digantungkan tujuh batang obor teratur bagaikan bintang tujuh. Semua obor itu masih menyala apinya, hingga rumah kelihatan tegas, melainkan suasananya sunyi sekali. Semua kotak burung kosong kecuali di kotak tingkat paling bawah masih ada satu ekor.

“Secara kebetulan saja kami dapati ini,” terangkan Ngo Cong Gie, selagi semua kawannya heran sekali. “Ketika tadi kami keluar dari kuil, kami tampak seekor burung dara terbang berputaran diatas ini. Burung dara adalah burung piaraan, dari itu, disini mesti ada sarangnya ke mana dia hendak terbang turun, karena ini, kami lantas mencari tahu. Begitulah kita dapatkan tempat ini. Melihat obor masih menyala, mestinya penjahat belum lama berlalu dari sini. Sebenarnya, obor yang nyala tinggal dua, mungkin penjahat tak keburu memadamkannya, karena mana, burung dara itu terbang berputaran, sangsi buat turun. Tadi kamilah yang nyalakan yang lima buah lagi, setelah mana barulah burung itu terbang turun, masuk kedalam sarangnya. Teranglah burung dara itu ada pembawa berita, maka itu kami menghampirkannya, kami lihat dikakinya terikat selembar kertas, kami ambil dan buka kertas itu, yang ada surat dengan bunyi ringkas ‘Gan Tong Ketua Ang Kie Tee ngo louw! Segera kembali ke Hoen coei kwan, jangan ayal, jangan gagal!’ Karena pentingnya urusan, sebelum memeriksa lebih jauh disini, kami lantas balik kekuil untuk menemui po coe, supaya po coe bisa memeriksa sendiri. Kami percaya, ditemuinya rumah ini mungkin ada pentingnya bagi kita.”

“Inilah mungkin,” kata Eng Oyiauw Ong sambil manggut. “Hanya masih jadi soal, ketua disini ada Seecoan Siang Sat atau lain orang lagi. Sekarang mari kita lihat.”

Lantas orang periksa dahulu sekitar rumah batu itu. Mereka dapati dua jalanan kecil, yang mukanya tertutup, satu menjurus ke Tiat Hoed Sie, satunya pula kelembah. Setelah ini dengan membawa obor orang masuk kedalam rumah. Kalau tadinya rombongan ini menyangka rumah itu ada untuk berlindung saja dari hujan angin dan binatang liar, sekarang sesampainya didalam, mereka tampak pemandangan yang menyolok mata.

Menghadapi jendela panjan yang banyak daunnya, ada sebuah meja panjang, dibawah saban2 daun jendela ada sebuah kursi, didepan kursi ada rak untuk sebuah lentera dan bendera2 kecil. Semua jendela ada dua belas buah, pada setiap buahnya, len tera dan bendera warnanya Berupa.

Eng Jiauw Ong tanya Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang kalau2 mereka ketahui maksudnya lentera dan bendera itu.

“Mungkin kita harus menduga2 dari adanya jumlah jendela,” sahut kedua guru silat itu.

“Apa mungkin ini ada tanda dari Cap jie Lian hoan ouw?” tanya Eng Jiauw Ong.

Artinya Cap jie Lian hoan ouw adalah “dua belas buah benteng berantai.”

“Benar, po coe.” sahut Soe ma Sioe Ciang. “Ini adalah pusat pertandaan mereka. Terbangnya burung pun ada terlebih cepat dan tepat daripada anak panah. Diluar tadi, kotak burung pun ada dua belas. Pasti sekali, mereka telah punyakan burung2 yang terlatih sempurna, yang kenal baik kotak masing2. Rupanya mereka merasa terdesak, mereka terpaksa meninggalkan pusat ini.”

“Soe ma Loosoe” tanya Chio In Po, piauwsoe dari Utara, “keteranganmu ini ada penting sekali. Apakah loosoe mengetahui lainnya hal lagi mengenai Hong Bwee Pang?” “Aku sendiri tak tahu suatu apa,” sahut Soe ma Sioe Ciang, guru silat dari Kanglam itu. “Apa yang aku dengar adalah sedikit keterangan dari salah satu soeteeku, yang dahulu pernah menjadi anggauta Houg Bwee Pang di Siang hoay, ketika Hong Bwee Pang disana bubar dan Thian lam It souw BoeWie Yang bangunkan pula disini berikut dia punya Lwee Sam Tong” saudaraku itu undurkan diri dengan diams, ia memasuki perguruan kita untuk melanjutkan pelajaran silat nya. Ia bisa terlolos dari tangan pembesar negeri sebab kebetulan buku daftar keanggautaan Hong Bwee Pang disana musnah terbakar selama pembasmian. Tentang keadaan dalam, terutama mengenai Hong Bwee Pang sekarang, saudaraku itu ada gelap. Apakah loosoe percaya aku”

“Oh, tentu, Soe ma Loosoe,” jawab Chio In Po. “Menurut keterangan soe couw,” Ciok Liong Jiang turut

bicara, “memang keadaan dalam dari Hong Bwee Pang ada sangat terrahasia, malah orang sendiri tidak mengetahui tentang golongan satu dan lain. Itu adalah siasat liehay dari Boe Wie Yang untuk bisa pengaruhi orang2 sebawahannya, supaya tidak ada yang berani berkhianat. Disini kita sudah mendekati pusat musuh, soe couw pesan untuk kita waspada. Soe couw berdua bertindak sendiri, katanya apabila perlu, mereka akan memberi kabar Soe cou anggap lebih baik kita singgah dirumah pemburu di dekat Cio hoed tong.”

“Baiklah kalau begitu,” kata Eng Jiauw Ong. “Kaum pemburu itu sedang diganggu penjahat, mereka penasaran, jikalau mereka tahu kita bekerja untuk basmi orang jahat, mereka pasti akan tunjang kita.”

Sampai disitu mereka keluar dari rumah batu itu, akan kembali ke Cio hoed tong. Ketika itu sudah kira2 jam lima lewat tetapi langit masih belum terang, maka itu, selagi mendekati rumah2 pemburu, mereka lihat cahaya api terang2, hingga mereka tampak juga samar2 sejumlah orang diahtara pepohonan.

Eng Jiauw Ong heran, maka ia menanyakan Lioe Hong Coen dan Ke Siauw Coan kalau2 mereka pun melihat bayangan sejumlah orang itu. Ia tanya apa mereka itu bukan sedang bayhok atau sembunyikan diri.

“Ya, aku lihat,” jawab Thay kek Lioe Hong Coen. “Salah satu, kawanan penjahat datang mengganggu atau kaum pemburu siap sedia untuk keluar melakukan pemburuan”

Eng Jiauw Ong manggut, lantas ia cepatkan tindakannya. Benar selagi ia mendekati atau dari belakang pohon loncat keluar dua orang, ia terkejut, begitu pun kawan2nya yang ikut ia. Tapi, segera menyusul teguran “Apakah po coe disana?”

“Siapa?” Eng Jiauw Ong segera tegaskan.

“Tee coe Wie Sioe Bin dan Kim Jiang,” sahut salah satu dari kedua orang itu. “Atas titahnya Khoe Loosoe, kami dalang menyambut po coe”

Lantas dua orang itu maju lebih jauh, keduanya menjalankan kehormatan.

Eng Jiauw Ong tidak menyangka, rombongan Kim too Khoe Beng pun telah sampai di situ, ia sambut warta itu dengan girang.

“Po coe,” Wie Sioe Bin tambahkan, “ketika rombongan kami sampai di Ngo liong peng, kami terima pemberitahuan dari Yan tiauw Siang Hiap yangmenyuruh kami datang ke Hok Say Nia untuk menyambut po coe. Kami mau menuju ke Tiat Hoed Sie, tetapi sesampainya disini kami melihat kaum pemburu berkumpul disini, siap akan sambut serangan musuh, dari itu kami lantas ketemui mereka akan persatukan diri, untuk minta mereka bikin penyelidikan. Kami semua bertempat didalam tembok besar itu”

Selagi mereka bicara, muncul pula enam orang dengan obor ditangan masing2.

“Jiewie soehoe, adakah rombongan soehoe ini yang niat singkirkan orang jahat?” yang satu tanya Wie Sioe Bin dan Kini Jiang.

“Benar,” jawab Sioe Bin, yang terus tunjuk Eng Jiauw Ong.

“Ini adalah Loosoehoe Hoay siang Tay Hiap Eng Jiauw Ong. Dan ini ada kaum Hoay Yang Pay lainnya serta sahabat2 nya. Mereka semua ingin pergi kepada Hee Loosoe untuk menumpang tinggal dan menggerecok ”

“Apakah loosoe ada Hee Loosoe sendiri?” Eng Jiauw Ong segera tanya. “Maafkan kami yang sudah ganggu loosoe. Nanti, setelah beres urusan kami, pasti kami akan haturkan terima kasih kepada loosoe”

Ketua pemburu itu ada punya tubuh tinggi dan besar, mukanya bersemu merah, sepasang alisnya gomplok, sepasang matanya tajam, hingga romannya jadi gagah sekali, sama sekali ia tak kelihatan bengis, mendengar perkataannya Eng Jiauw Ong, lekas lekas ia memberi hormat.

“Jangan sungkan, Ong Loosoe,” kata ia. “Kami ada orang2 hutan, kami dapat kunjungan mu sekalian, sungguh kami beruntung sekali. Disini bukan tempat bicara, silaukan loosoe sekalian turut kami.” Dan ia perintah dua orangnya yang membawa obor, buka jalan.

Ketika mereka mendekati rumah batu, seorang yang berdiri disitu lantas maju menghampirkan, seraya terus berkata “Oh, soetee, aku tidak sangka kau telah bekerja cepat sekali, kau sudah usir bersih pada musuh. Tindakanmu ini adalah satu gempuran kepada semangatnya musuh, hingga mereka dapat ketahui, didalam dunya kang ouw ada orang2 berarti, bahwa anak2 dari Hoay siang tak dapat di pandang enteng! Aku hendak bantu kau, soetee, siapa tahu aku ketinggalan, kau telah mendahului peroleh hasil”

LIII

Itulah Kim too souw Khoe Beng, maka Eng Jiauw Ong lekas2 memberi hormat.

“Jangan puji aku, soeheng,” kata ia, “Malam ini hampir aku terhina oleh orang2 jahat, syukur aku peroleh bantuannya semua saudara ini, hingga aku dapat pertahankan nama Hoay Yang Pay. Sebenarnya aku malu ”

“Soetee, kau benar sungkan,” bersenyum Khoe Beng. “Hee Loo soe ini adalah satu sahabat sejati, sudah kita ganggu dia tengah malam buta rata, diapun kurbankan arak simpanannya bertahun2. Mari soetee, kau banyak cape, mari aku akan memberi selamat padamu dengan tiga cawan!”

“Silaukan masuk, silahkan masuk!” kata siketua pemburu dengan manis. “Aku ada punya dua guci arak untuk hormati tetamu2ku!” Demikian orang masuk kedalam, sebuah ruangan besar, sedang pekarangan ada lebar. Segala apa ada sederhana dan bersih.

Tuan rumah mengundang semua tetamunya duduk, ia suguhkan teh pada mereka, sesudah mana, ia meminta berkenalan pada sesuatu dari mereka itu. Ia sendiripun perkenalkan dirinya. Ia adalah Hee Hong Coen, sudah empat atau lima tahun tinggal di Gan Tong San beserta empat puluh kawannya, hidup sebagai pemburu, hidup aman, sampai tiba2 muncul Seecoan Siang Sat, yang kangkangi Tiat Hoed Sie dan paksa mereka sediakan binatang liar, akan kemudian merekapun diperintah meninggalkan tempat kediaman mereka, hingga pengusiran itu membuat mereka sangat mendongkol. Maka kebetulan sekali malam itu datang rombongannya Eng Jiauw Ong, yang tolong mereka usir Seecoan Siang Sat dari itu, mereka jadi sangat girang, mereka sambut tuan2 penolong itu dengan sangat bersyukur.

Kemudian, setelah menyilahkan semua tetamunya cuci muka, Hee Hong Coen lantas menjamu mereka, untuk mana, selain arak simpanannya, iapun sediakan banyak rupa masakan daging dan sayur.

Sementara itu, cuaca pagipun sudah mulai terang.

Selagi bersantap, diam diam Eng Jiauw Ong menanya Ciok Liong Jiang kenapa kedua piauwsoe dari Kanglam yang tidak diundang itu, sudah turut dalam rombongannya dan suka membantu mereka.

“Sebab2nya adalah hal kebetulan saja,” sahut Ciok Liong Jiang, yang lantas berikan penuturannya sebagai berikut .

Baharu dua hari sejak keberangkatan dari rombongannya Eng Jiauw Ong, ke Lek Tiok Tong telah datang satu rombongan yang terdiri dari Siang too Kim Hoo, piauwtauw dari Liong Gie, Piauw kiok dari Yan c ioe, Shoatang, piauwsoe Teng Kiam dari Say lou, Barat, piauwsoe Chio In Po dari Pak lou, Utara, serta Thay kek Lioe Hong Coen dan Boe soe Ke Siauw Coan, guru silat dari Chong cioe. Mereka ini disambut dengan baik oleh Cie Too HoO, yang tidak adakan perbedaan diantara kaum sendiri atau bukan. Liong Jiang sendiri belum berangkat, karena ia ditugaskan oleh Eng Jiauw Ong untuk menyambut Yan tiauw Siang Hiap andai kata kedua jago itu datang nanti. Karena Eng Jiauw Ong sudah berangkat, rombongannya Siang too Kim Hoo ini tak dapat dicegah lagi, hari itu juga mereka berangkat menyusul. Lantaran ini terpaksa Liong Jiang turut bersama. Anggauta rombongan ditambah dengan Hoei too Louw Kian Tong dan Thie kie lee Kee Giong Tong dari bukit Hong Hong Kong di. Heng San serta Soen Giok Koen dan Soen Giok Kong, keduanya murid2nya Tio In Liong dari Lim shia, hingga jumlah mereka jadi sepuluh orang. Merekapun dibekalkan bulu angsa.

Rombongan ini berangkat selang tiga hari atau suasana sudah berubah, karena kaum pemberontak sudah bergerak diempat penjuru, hingga penduduk pun menutup toko dan pintu, banyak yang mengungsi, sedang daerah ditangan pemerintah, pemeriksaan tentara keras sekali sesudah masuk wilayah Ciatkang, baharulah suasana redaan. Tetapi ketika pada suatuhari mereka sampai di Sek coe kwan, mereka sangsi juga melihat pintu kota terjaga kuat, pemeriksaan keras. Thay kek Lioe Hong Coen usulkan akan ambil jalan mutar. Mereka kuatir dicurigai dan ditahan tentara.

“Sabar,” kata Chio In” Po. “Lihat disana, ada rombongan piauwsoe, rupanya mereka ada It tauw pang Ngo Cong Gie dan Sam cay kiam Soe ma Sioe Ciang dari Kanglam, baik kita persatukan diri dengan mereka”

Louw Kian Tong dan Kee Giok Tong kenal kedua piauwsoe itu, merkea setuju. Maka itu, mereka segera menantikan.

Rombongan piauwsoe itu terdiri dari empat ekor keledai, dua pegawai, dua saudagar, empat tukang keledainya dan dua piauwsoe, mereka rupanya tahu dipintu kota ada penjagaan, mereka antri dibelakang banyak penduduk, yang pun hendak melalui kota. Dari itu, Chio In Po lantas ajak Louw Kian Tong dan Kee Giok Tong pergi menemui, mereka menegor lebih dulu.

“Oh, samwie!” sahut Ngo Cong Gie, dan Soe ma Sioe Ciang juga, kedua piauwsoa itu. “Apa samwie juga hendak melewati kota?”

“Benar,” In Po manggut. “Jikalau tidak ada pemeriksaan, kami tentu sudah lewat belasan lie dari sini. Jiewie hendak menuju kemana?”

“Kami antar piauw gelap untuk Hang cioe,” jawab Soe ma Sioe Tiyang. “Girang kami bertemu dengan samwie. Aku kuatir sulit untuk kita lewat ”

“Walaupun jiewie antar piauw gelap, jiewie toh ada dari piauwkiok terang, yang punyakan surat yang syah, aku percaya kau tak akan terganggu,” kata Louw Kian Tong. “Yang sulit adalah kami yang berjumlah sepuluh orang, aku kuatir nanti kena ditahan. Apakah jiewie bisa pikir akal untuk kami?”

Soe ma Sioe Ciang berpikir, lantas ia menyahut.

“Baik kita persatukan diri saja,” ia bilang. “Jumlahnya rombongan piauwsoe tidak ada batasnya.” “Aku setuju,” Ngo Cong Gie turut bicara. “Dengan jalan ber sama2, kita juga menjadi tidak kesepian, kitapun boleh ambil satu hotel nanti.

Chio In Po setuju, ia girang. Lantas ia menggapekan kawan2nya untuk diajar kenal dengan kedua piauwsoe itu.

Sebentar kemudian, datang giliran mereka ini diperiksa. Ngo Cong Gie bicara sendiri atas nama Cin Wan Piauw Kiok, yang ada punya cabang disejumlah kota di Kanglam. Mereka berhasil, penjaga kota mempercayai mereka, mereka diberi lewat.

Jalan lebih jauh, mereka singgah didusun Pek hok ek, mereka mampir dihotel Eng An di Timur jalanan.

Ciok Liong Jiang masuk paling belakang, selagi bertindak dimuka pintu, ia melirik kekiri dan kanan, justeru itu ia dengar tindakan kaki kuda lari dijalan an sebelah Utara, kapan ia menoleh, ia tampak satu penunggang kuda sedang mendatangi, orang itu berpakaian ringkas, tudungnya lebar, dibebokongnya ada tergendol sebatang golok, tangannya sebelah menyekal toya. Jalanan ada ramai tetapi dia terus melarikan kudanya, nyata dia pandai pegang les, dia sampai dimuka hotel tanpa menubruk orang. Dimuka hotel dia berpu taran dengan kudanya, dia mengawasi kepintu dengan mata ta jam, lantas dia berlalu pula dengan cepat. Menampak demikian, Liong Jiang menjadi curiga. Melihat dari roman, ia percaya orang itu ada cecolok penjahat. Ia baharu teriaki “Chio” pada Chio In Po, atau tiba2 ia urungkan maksudnya.

“Kau panggil aku?” In Po tanya. “Tidak,” ia jawab. Ia masih sangsi.

“Didalam saja kita bicara Tuan rumah berikan lima

kamar untuk rombongan piauwsoe ini, tiga kamar untuk si piauwsoe sendiri, dua untuk orang2nya. Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang memandori sendiri orang nya angkut barang2 kedalam kamar. Barang2 itu terdiri dari delapan teromol atau peti kayu merah, semuanya ditaruh dipojok pembaringan, ditempat yang gelap. Semua teromol beda ukur annya satu dengan lain, ada yang panjang tiga empat kaki dan tinggi dua tiga dim, ada pula yang kurang dan lebih, malah ada yang perlu digotong dengan susah payah oleh dua kuli. Maka itu, Lioe Hong Coen beramai duga tentu itu ada barang berharga besar luar biasa.

Sementara itu rombongan Lek tiok tong itu tidak puas terhadap kedua saudagar pemilik barang2 itu, agaknya dua orang ini cu rigai mereka, sering kasak kusuk dan celingukan, selalu bicara dalam suku bahasanya sendiri. Tapi Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang tidak perdulikan dua saudagar itu, mereka tetap berlaku ramah tamah terhadap orang2 Hoay Yang Pay itu, hanya kemudian, untuk mencegah kejadian tidak diingin, piauwsoe she Soe ma itu mengajak dua saudagar orang Kwietang itu masuk kedalam kamar, akan di kisiki siapa adanya rombongan itu.

“Mereka ada orang kang ouw sejati, apabila kau baik terhadap mereka, jikalau ada terjadi sesuatu, tanpa dimintapun mereka pasti akan membantu kita,” Soe ma Sioe Ciang peringatkan lebih jauh, “Sebaliknya, apabila kau bikin mereka tidak senang, selain pasti mereka tak sudi membantu, bisa juga mereka mengganggu, kalau ini sampai terjadi, itu berarti kerugian bagimu berdua. Kami pun, apabila kami tidak percaya mereka, tidak nanti kami suka mengajak mereka berjalan sama2”

Atas nasihat ini, kedua saudagar itu tidak membilang suatu apa. Selagi Soe ma Sioe Ciang na sihatkan si saudagar, Ngo Cong Gie layani rombongan Hoay Yang Pay, kemudian diam2 ia ambil ketika akan ketemui kawannya kepada siapa ia kata. “Jietee, selama dua hari ini, kita myesti waspada. Kemarin, empat penunggang kuda itu, yang kita ketemui di Ca kee yip ada mencurigakan, terang mereka ada orang Rimba Hijau. Ketika kita singgah dihotel, satu diantara mereka, yang alisnya kecil dan jidatnya bertapak, telah susul kita, dia ber pura2 cari orang, tadinya aku hendak menegur dia tetapi dia mendahului pergi lagi. Syukur kita bertemu dengan rombongan Hoay Yang Pay ini. Aku harap kawanan itu bisa lihat gelagat dan akan mundur sendiri nya.”

Soe ma Sioe Ciang setujui toako itu.

“Harap saja mereka tidak punya hubungan dengan kita.” ia kata.

Kemudian keduanya temani pula rombongan Lek tiok tong itu.

Sementara itu Chio In Po sudah tegasi Ciok Liong Jiang tentang panggilannya tadi yang diurungkan, dan Liong Jiang hunjuk apa yang ia melihat dan curigai perihal si penunggang kuda. Mendengar ini In Po, dan yang lain2 juga, percaya kecurigaan si anak muda ada beralasan. Maka itu, mereka anggap baiklah mereka waspada. Sebab apabila ada terjadi sesuatu, tidak saja si piauwsoe, mereka sendiri akan turut kerembet dan mendapat malu.

Soe ma Sioe Ciang, yang dengar pembicaraan, turut berbicara.

“Turut pengunjukanmu, Ciok Soetee, tidak salah lagi dia memang mencurigai,” kata ia. “Jikalau dia benar ganggu kita, biarlah dia tahu rasa!” “Sabar, soetee,” Cong Gie bilang. “Hal masih belum pasti, kita jangan sembrono. Dikalangan kang ouw memang ada banyak hal2 yang mencurigai. Yang penting bagi kita adalah waspada. Umpama orang benar tak menghargai kita, apa boleh buat.”

“Benar, Ngo Jietee, berlaku waspada ada paling utama,” berkata Chio In Po. “Umpama orang berniat jahat, maka di sepanjang jalan antara Pek hok ek dan Tok liong kwan kita mesti awas, disana ada tempat2 yang letaknya berbahaya. Tetapi umpama mereka ada musuh2 kami jangan kuatir kami tahu bagaimana harus melayani mereka. Aku harap kami bisa berbuat sesuatu untukmu.”

“Tak perduli mereka siapa, asal mereka berani mengganggu, mereka harus diberikan bagian.” Siang too Kim Hoo turut berbicara. “Atau lebih baik pula, bila besok kita pergoki mereka, kita hajar terlebih dahulu padanya!”

“Jikalau orang tidak mengganggu kita, kita jangan sembrono,” berkata boesoe Teng Kiam. “Kita jangan mencari gara2 dengan orang yang tidak ada sangkutannya dengan kita. Baik kita selidiki dahulu orang itu.”

Selagi mereka ini belum mendapat kecocokan, tiba2 terdengar suara berisik dari luar, suara orang bertengkar dengan jongos, satu diantaranya berlidah Kang pak yang kasar. Dari pendengaran ternyata, bahwa satu tetamu memilih kamar tanpa perdulikan alasan jongos.

Soen Giok Koen dan Soen Giok Kong bertabiat aseran, segera mereka melongok keluar, hingga mereka segera lihat seorang yang tubuhnya besar, pakaiannya biru, kaos kaki dan sepatunya putih, rambutnya baharu dicukur, kuncirnya yang gede dilibat dileher nya, ujung kuncir turun dipunduknya, tangan kirinya memegang topi lebar, tangan kanannya menyekal toya Menampak orang dandan seperti orang yang tadi dipetakan Ciok Liong Jiang, Soen Giok Koen segera mengidapkan kawannya itu. Kapan Liong Jiang melongok, lantas ia mengeluarkan suara dari hidungnya.

“Hm, benar2 dia!” kata ia. “Dia benar bernyali besar!” Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang pun melongok,

mereka turut kagumi akan keberaniannya orang itu.

Waktu itu, pertengkaran telah dapat dibikin reda oleh beberapa tetamu lain yang datang sama tengah, lalu tetamu itu diantar kekamar yang kosong. Menurut ia, ia datang berlima, tetapi empat kawannya akan menyusul belakangan.

Selagi orang itu pergi kekamarnya, Liong Jiang beramai pun berkumpul pula didalam.

“Dia telah datang, baik kita lihat saja, dia berani berbuat apa,” kata ia pada semua kawannya.

“Walaupun dia mondok disini, aku sangsi dia berani sembarangan turun tangan,” kata Thay kek Lioe Hong Coen. “Ngo Jietee, maafkan aku, rupanya kau membawa barang berharga dan dia sengaja menguntitnya. Atau dia curiga, karena rombonganku mempersatukan diri dengan rombonganmu, rombonganku nanti bawa pergi barang yang jadi sasarannya itu.”

“Lioe Loosoe, benar apa yang kau katakan,” jawab Ngo Cong Gie. “Diantara kita tidak ada rahasia. Barang yang kita lindungi ini ada kepunyaannya dua saudagar Kwietang itu, yang biasa berhubungan dagang dengan luar negeri, sobenarnya kami tidak ketahui tentang harganya, melainkan aku tahu, adalah peti yang keempat yang paling berharga. Bentuk dan rupanya barangpun kami belum pernah lihat. Menurut loosoe, sekarang bagaimana kita harus bertindak?”

“Menurut aku, baik kita tenang tenang saja,” Lioe Hong Coen utarakan pikirannya. “Tidak perduli apa yang mereka lakukan, kita atur penjagaan saja, kalau mereka turun tangan, baharu terpaksa kita sambut mereka. Dipihak kita, yang melayani tetap melayani, yang lindungi piauw tetap lindungi piauw, cukup asal kita bisa antar piauw sampai di Hangcioe dengan selamat.”

Boesoe Hoei too Louw Kian Tong setuju, tetapi ia ingin mereka coba menyelidiki pihak sana, supaya mereka tidak sampai terlalu terdesak.

Sampai disitu, Soe ma Sioe Ciang pesan orang2nya, untuk mereka waspada terhadap tetamu yang baharu dikamar Barat itu, supaya mereka jangan ibuk bila ada terjadi sesuatu, kemudian ia pergi keluar akan ber pura2 jalan2 disekitar pekarangan tapi sebenarnya untuk pasang mata.

Chio In Po pun keluar, kapan ia lihat sikapnya Soe ma Sioe Ciang, ia kagumi akan keterlitiannya piauwsoe muda itu. Kemudian ia manggut dan bersenyum pada piauwsoe itu.

“Chio Lauwsoe mau kemana?” Soe ma Sioe Ciang tanya, “Aku hendak pergi kejalan besar untuk belanja sedikit,” piauwsoe itu jawab.

Soe ma Sioe Ciang bertindak masuk, tetapi ia berpapasan dengan orang yang dicurigai siapa awasi ia dengan tajam, maka selagi lewati kantor pemilik hotel, ia sengaja ngoce “Hati2 kau, binatang! Awas kalau kau jatuh ditanganku!”

Orang itu baharu lewat dua tindak, ketika ia menoleh dan kaoki jongos. “Tolong kunci kamarku, ada barang berharga disitu, kalau sampai hilang, kau mesti ganti harganya!”

Jongos itu melengak!”

“Baik, baik,” ia jawab. Soe ma Sioe Ciang masuk ke kamarnya, Ngo Cong Gie lantas kata padanya “Soetee, buat apa kau omong keras2? Kita layani dia dengan hati, bukannya dengan mulut. Kalau mereka curiga dan kabur, makin sulit untuk kita berjaga2nya.”

LIV

“Bukannya begitu, aku hanya ingin kasi mengerti pada mereka agar mereka jangan terlalu pandang enteng kepada kita,” Soe ma Sioe Ciang jawab.

Ketika itu piauwsoe Chio In Po bertindak masuk, Soe ma Sioe Ciang awasi padanya dengan sinar mata menanya.

“Bukankah Soe ma Lauwhia tidak mengerti aku pergi untuk apa?” piauwsoe itu kata sambil bersenyum. “Aku sambangi satu sahabat di Pek hok ie, aku berhasil menemui padanya. Dia ada orang kang ouw, dia lebih banyak merantau daripada diam didalam rumah, sungguh beruntung, baharu dua hari yang lalu dia pulang. Dia bukan orang kenamaan tetapi semua orang kang ouw tahu padanya. Diapun pernah jadi piauwsoe tetapi sudah se jak lama dia undurkan diri. Menurut katanya, tidak nanti ada orang sini yang berani ganggu Cin Wie Piauw Kiok, maka sekarang, lauwhia, kita tentunya sedang berurusan dengan orang baru karena ini, kitapun jadi ragu ragu lagi akan hadapi orang2 jahat itu.”

“Belum tentu dia ada orang baru,” nyatakan Lioe Hong Coen. “Melihat gerak geriknya, dia bisa jadi orang lama.” “Aku lebih percaya orang baru,” Soe ma Sioe Ciang tegaskan.

“Siapa itu sahabatmu, Chio Loosoe?” tanya Ngo Cong Gie.

“Dia ada orang she Hauw, dia tak ternama,” Chio In Po jawab setelah bersangsi sesaat.

Lioe Hong Coen percaya sahabat ini berkeberatan akan sebut nama orang, ia menduga orang itu ada orang kang ouw ulung, maka itu, ia cegat Ngo Cong Gie dengan kata “Ngo Piauwtauw, syukur Chio Loosoe membawa kabar ini, maka bila perlu, kita boleh bertindak tanpa sangsi sangsi lagi.”

Tapi lebih baik lagi bila kita lebih dahulu dapat tahu tentang kepala rombongannya,” Soe ma Sioe Ciang nyatakan. “Kita harus turun tangan lebih dahulu.”

Piauwsoe Teng Kiam setujui Soe ma Sioe Ciang. Ia tak ingin kena didului. Ia pikir akan bekuk mata2 gelap itu untuk korek keterangan dari mulutnya.

Maka kemudian mereka ambil putusan akan sebentar malam pancing mata2 musuh itu Chio In Po kemudian serahkan pada sesuatu orang selembar bulu angsa, yang tadi ia cari di luaran. Itulah pertandaan untuk orang sendiri supaya diwaktu malam mereka tak bentrok satu pada lain. Diwaktu siang, mereka ada punya cara hormat sendiri. Bulu angsa itu mesti ditancap disamping kuping kiri.

Pada sore itu, rumah penginapan ada berisik dari banyak nya tetamu, tandanya hotel itu ada maju sekali. Adalah selewatnya waktu dahar, baharu keadaan jadi agak reda. Ngo Cong Gie lantas minta Chio In io kepalai mereka untuk atur siasat. In Po menampik, dengan kata ia tidak sanggup. Selagi piauwsoe ini dibujuk oleh yang lain2, satu jongos membuka pintu dan masuk kedalam.

“Eh, kau mau apa?” tanya Ciok Liong yang duduk disamping pintu.

Jongos itu tidak menyahuti, ia jalan terus sambil tunduk dengan lantas ia singkap moeilie akan masuk kekamar terusan di mana ada si dua saudagar orang Kwietang.

“Aduh!” demikian satu suara jeritan. “Kau gila!”

Nyata jongos itu telah bertabrakan dengan satu saudagar, yang berada dibelakang moeilie. Maka Liong Jiang duga kedua saudagar itu sedang curi dengar pembicaraan mereka. Ia lantas kedipkan mata pada kawan nya. Tetapi Soe ma Sioe Ciang memberi tanda dengan tangan, untuk ia periksa kamarnya si dua saudagar. Ia mengerti ia terus singkap moeilie akan melongok kedalam. Si saudagar she Kim bersenyum, tetapi kawannya, si orang she Kan, kerutkan dahi, matanya memandang dengan mendongkol pada jongos itu.

“Tuan2, teh ini belum diminum habis,” kata jongos itu tanpa perdulikan sikap orang. “Sebentar dapur hendak dimatikan”

Selagi berkata demikian, matanya “menyapu” seluruh kamar.

Liong Jiang curiga, ia gapekan Ngo Cong Gie, ia menunjuk kedalam kamar. Cong Gie segera berloncat kemoeilie, niat nya untuk mengintai, tetapi tahu Liong Jiang menyingkapnya dengan tiba2 Ngo Cong Gie terpaksa bertindak masuk kedalam kamarnya kedua saudagar itu.

Kebetulan itu waktu, si jongos mengulet dan menguap, ke dua tangannya dipentang. “Eh, kau dapat pelajaran dari mana didepan tetamu berani ngulet?” Ngo Cong Gie menegur.

“Aku bekerja capai seharian, tuan, mustahil aku berani berlaku kurang ajar didepan tetamu,” sahut jongos itu. Ia terus jalan disampingnya Chio Piauwsoe, akan pergi keluar.

Ngo Cong Gie bercuriga, tetapi ia belum bisa menduga apa2. Ia pun belum sempat berpikir atau satu saudagar berkata, kapan ketahuan penjahat arah mereka, dia minta agar mereka tidak dibelakangi.

“Tidak, tidak apa ,” sahut Cong Gie. “Kami cuma waspada saja.”

“Syukur kalau begitu,” kata kedua saudagar itu.

Cong Gie lantas ajak kawannya duduk pula. Baharu mereka duduk atau satu jongos datang menanyakan air teh.

“Kami tidak perlu lagi. Apa tadi kawanmu tidak beritahu?” Cong Gie tanya.

Jongos itu melengak.

“Jumlah kami berempat” kata ia. “Aku berdua gantikan dua kawan kami yang giliran bersantap, satu kawanku sedang disuruh belanja, aku sendiri melayani tetamu. Siapa datang kemari?”

“Ah, kau keliru dengar,” kata Chio In Po, yang cegah Cong Gie bicara pula. “Piauwsoe ini omong dari hal Sebelum waktu nya dahar. Kami tidak membutuhkan air lagi, kau boleh undurkan diri.”

Jongos itu menurut, ia berlalu.

Chio In Po gapaikan Cong Gie dikuping siapa ia terus berbisik “Ngo Jie tee, tidak perlu kau jelaskan jongos tadi. Jongos yang tadi ada mata2 musuh, yang menyamar menjadi jongos disini.” “Ya, akupun telah bercuriga,” Cong Gie jawab. “Apa dia bikin dalam kamar?”

“Dia memandang kelilingan kamar, lantas dia

mengulet.”

In Po dan Teng Kiam terkejut.

“Ah, disini dia berani mainkan peranannya?” kata mereka. “Mereka betul bukan orang sembarangan. Kita harus bersiap dan waspada, atau kita nanti kena dirubuhkan. Ngo Jie tee, silahkan kau mengatur!”

“Sebenarnya tanda apakah jongos tetiron itu tinggalkan?” Cong Gie tanya. “Kau pasti tidak sangka, Jie tee,” sahut In Po. “Jongos palsu itu bukan anggauta sembarangan, dia adalah yang dibilang uang hitam atau hoei cat, penjahat terbang. Dia tadi menggunai ilmu ukur liang thian cio. Jarang orang kang ouw yang mengerti ilmu ini, akan ukur keletakan barang yang diarah. Dia pun bernyali sangat besar, dia berani bertingkah demikian didepan kita. Rupanya dia menganggap diantara kita tidak ada yang mengerti kepandaian itu. Sudah pasti mereka bakal turun tangan, kalau tidak sebentar, tentu besok malam. Aku ingin sekali saksikan mereka itu!”

“Tetapi thian liang cio bukannya keanehan,” kata Hoei too Louw Kian Tong. “Kepandaian itu membutuhkan ketepatan tangan, yang dilonjorkan sambil ber pura2 mengulet memainkan pinggang, dengan begitu, jaraknya seluruh kamar dapat diketahui, hingga asal kita membuka genteng, kita bisa tahu letaknya barang yang hendak dicuri, yang bisa dibawa pergi tanpa tuan rumah ketahui ”

Dua saudara Soen, Giok Kong dan Giok Koen, kagum.

Selagi Louw Kian Tong bicara, In Po, Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang sudah mulai mengatur, yalah mereka dipecah dalam dua rombongan yang satu menjaga, rombongan lainnya melayani musuh. Jongos pun segera dipesan untuk jangan mengganggu, katanya mereka hendak tidur siang2.

Pada jam dua lewat, tidak saja sekalian penumpang, pintu hotel juga sudah ditutup, tapi tidak lama. pintu digedor. Nyata yang datang ada dua orang dari antara rombongan tetamu yang dicurigakan itu. Ketika kawanan piauwsoe mengintai, mereka dapati seorang umur kurang lebih tiga puluh tahun, mukanya merah, jidatnya codet, dan yang satu lagi umurnya dua puluh lebih, tubuhnya kurus kering. Diantara cahaya api, mata mereka bersinar tajam. Mereka masuk kekamar mereka, kemudian jongos mengundurkan diri.

Ngo Cong Gie kisiki kedua saudagar untuk mereka tetap tenang, jangan perdulikan kejadian apa juga. Mereka ini terpaksa menurut, walaupun hati mereka goncang.

Api diluar kamar dibikin menjadi suram.

Orang tak usah menunggu lama akan segera dengar suara berkelisik pelahan sekali dipeka rangan dalam, dari orang yang melesat melewati pintu, naik ke atas kamar. Dia pakai baju hijau ringkas, menggendol golok sebatang, bekal kantong piauw. Dia tepuk tangan dengan pelahan tiga kali, tetapi tanpa tunggu kawannya muncul, dia mendahului loncat turun, akan tolak pintu kamar dan masuk kedalamnya.

Chio In Po duga jumlah musuh ada empat, lantas ia memberi tanda, atas mana, kawan2nya segera maju, begitupun ia sendiri.

Louw Kian Tong dan Ke Siauw Coan menuju kejendela belakang, In Po dan Ngo Cong Gie kejendela depan dan pintu. Teng Kiam diminta pasang mata diatas genteng. Didalam amar, yang apinya remeng2, kelihatan berkumpul empat orang, yang asyik bicara dengan pelahan, tetapi diwaktu sunyi seperti itu dan dari jarak cu kup dekat, suara mereka toh terdengar nyata juga.

Orang yang tadi menyamar sebagai jongos, yang pandai ilmu ukur liang thian cio, berkata pada tiga kawannya “Ketua bilang malam ini dia akan sampai di Pek hok ek, akan tetapi sampai sekarang dia belum juga datang, sebab kita tidak boleh sia siakan tempo, mari kita turun tangan”

“Aku kira lebih baik kita tunggu dulu, soeheng,” kata orang dengan golok dibebokong. “Kalau kita kecele, sungguh hebat. Kau tahu sendiri, pada mereka ada turut orang2 Hoay Yang Pay. Kalau ketua datang, kita bisa berdamai dulu. Umpama kita lantas bekerja, berhasil kita cuma dapat pujian tapi kalau gagal, nama ketua bisa runtuh”

“Ah, Yap Soeheng!” kata si kurus kering sambil tertawa dingin, “kenapa kau mengangkat lain orang dan berbareng tindih pihak sendiri? Bisa jadi mereka gagah tetapi mustahil kita tak sanggup tapi mustahil kita tak sanggup lawan mereka? Aku tidak kuatirkan orang2 Hoay Yang Pay itu, sebab ketuanya sudah berangkat ke Cap jie Lian hoan ouw, yang berangkat belakangan tak ada yang liehay. Mari kita bekerja, umpama kita gagal, kita masih bisa menguntit terus sampai ketua datang”

“Ya, kita sudah datang, mari kita mencobanya!” kata si jongos tetiron. “Kita jangan pikirkan kemenangan atau kekalahan, kita coba dulu, andai kata kita terdesak, kita boleh mundur teratur akan. tunggui ketua kita”

Mereka berunding terus, sampai akhirnya diambil keputusan, mereka akan bekerja juga sebentar selewatnya jam tiga. Sama sekali mereka tidak sangka, orang telah mencuri dengar pembicaraannya itu.

Chio In Po dan Ngo Cong Gie lantas kasi tanda untuk kawan2nya undurkan diri, untuk berdamai dan mengatur diri.!”

LV

Pada jam tiga hotel telah menjadi sunyi sekali, rupanya semua tetamu sudahi tidur nyenyak, kecuali kawanan penjahat itu serta rombongannya piauwsoe dan boesoe. Yang belakangan ini pa ia bersembunyi diluar kamar.

Sebentar kemudian kelihatan pintu terbuka, lalu muncul tiga bayangan dengan gerakannya gesit semua. Ngo Cong Gie dan Chio In Po dapatkan orang dengan jidat bercacat tidak ada diantara tiga orang itu. Dan Piauwsoe Teng Kiam, yang sembunyi diatas genteng, terkejut ketika tahu2 bayangan itu memecah diri ketiga jurusan, satu diantaranya naik kearah ia. Syukur ia mendekam ditempat yang gelap, hingga orang tak dapat melihat padanya. Orang itu ada si kurus kering, ialah Coan thian Auw coe Lioe Seng si Alap alap. Dia rupanya tidak menyangka jelek, walaupun liehay, dia tak melihat piauwsoe itu.

Tiga penjahat itu kemudian berkumpul pula, sebab mereka naik keatas untuk periksa suasana. Yang dua lagi adalah Biauw chioe Sian wan Cio Cin si Kunyuk Sakti dan Hek sim long Ouw Tong si Srigala Hitam, yang tidak turut keluar adalah Giok bin Sin hiauw Yap Thian Lay si Kokok beluk Sakti. Ketua mereka, yang disebut2, yang belum datang, adalah Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei si Garuda Besi. Dia ini tak pernah di sangka2 oleh rombongan piauwsoe itu.

Hauw Thian Hoei ada satu penjahat besar dari perbatasan See coan dan Siamsay, namanya kesohor, saking gesitnya, dia di sohorkan bisa mencuri diseribu rumah dalam satu malam. Dia punyakan dua soetee, adik seperguruan, yalah Yap Thian Lay dan Lioe Seng. Mereka bertiga adalah yang digelarkan Cin tiong Sam Niauw, atau Tiga Burung Siamsay. Selama belasan tahun belum pernah mereka nampak kegagalan. Thian Hoei sendiri tidak pernah keluar untuk beker ja bila bukan “pekerjaan besar.” Cio Cin dan Ouw Tong adalah kawan kekalnya mereka, mereka inilah yang ketahui, kawanan piauwsoe itu mengantar harta besar, seharga belasan laksa tail, hingga Thian Hoei ke tarik untuk turun tangan. Malah Thian Hoei pikir, apabila ia berhasil, selanjutnya ia hendak tinggal bertani saja, tak sudi muncul pula dalam dunya kang ouw.

Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang ada piauwsoe2 berpengalaman, sukar untuk diganggu mereka, maka itu mereka telah dikuntit terus sampai di Sek coe kwan. Thian Lay dan Lioe Seng menghadapi kesulitan karena rombongan piauwsoe itu gabungkan diri dengan rombongan Hoay Yang Pay. Karena ini, mereka tidak mau ayal lagi, mereka paksa hendak turun tangan tanpa tunggui lagi Thian Hoei. Begitulah hotel Eng An mau di jadikan tempat bekerja mereka.

Cio Cin minta Lioe Seng dan ouw Tong pasang mata, ia yang hendak turun tangan. Untuk tidak berlaku sembrono, ia pergi kejendela belakang, lebih dulu ia pasang kuping, baharu ia mengintai kedalam kamar yang diterangi api hingga ia bisa melihat lima piauwsoe yang sedang tidur nyenyak, dua diatas pembaringan asing2, tiga dikaki tembok sebelah Barat. Ia tidak perdulikan bahwa orang tidur tanpa salin pakaian.

Kemudian, dikamar sebelah dalam, Cio Cin lihat dua saudagar Kwietang sedang tidur nyenyak juga, hingga hatinya menjadi tambah lega. Sesudah anggap saatnya telah tiba untuk bekerja, Cio Cin naik pula kegenteng. Ia memberi tanda pada Lioe Seng, lantas ia mencari jurusan dimana barang berharga diletaki didalam kamar. Cari kantong wasiatnya, pek poo long, ia keluarkan gergaji. Ia pun lantas bongkar dua lembar genteng, ia kutungkan kaso. Ia tak terbitkan suara apa juga, debupun tidak meluruk jatuh. Sampai disitu ia beri tanda pada dua kawannya, lalu ia melompat turun kedalam kamar dengan ceploskan diri diliang genteng itu. Ia sampai dibawah tanpa kedua saudagar Kwietang itu mendusin tidurnya. Maka itu, setelah bangkit, ia ulur tangannya kepada peti berharga.

Tiba2 ada terdengar suara di atas pembaringan, suara dari tubuh yang berbalik, disusul dengan kata2 “Barang yang bagus!”

Biar bagaimana, Cio Cin toh terkejut juga, lekas lekas ia jongkok, sebelah tangannya merabah pada golok dibebokongnya. Tapi segera ia kaget tak terkira, sebab tangannya merabah tempat kosong, senjatanya telah tidak ada, sehingga ia keluarkan keringat dingin. Ia tahu betul ia membawa goloknya itu, tadipun masih ada.

“Apakah aku sedang hadapi musuh liehay?” ia men duga2. Ia tabahkan hati, ia angkat sedikit tubuhnya akan melihat kedua saudagar Kwietang itu, yang tetap masih rebah tidur, rupanya tadi satu diantaranya berbalik badan dan ngigo saja. Hatinya jadi tenang pula, sambil berdiri ia awasi peti berharga, yang ketindihan peti yang ketiga, hingga untuk mengambil itu ia mesti singkirkan dulu tiga peti diatasnya.

“Biarlah!” pikir ia, yang terus tidak gubris goloknya lenyap tak keruan paran. Ia menjadi nekat. Barang dulu, golok belakangan, ia berkeputusan. Ia lantas bekerja. Peti pertama segera dikasi turun. Ketika ia rabah peti yang kedua, angin meniup dari belakangnya. Ia segera menoleh, ia tampak moeilie tergoyang sedikit, apipun hampir padam. Ia loncat kepintu, ia melihat kearah luar. Diluar segala apa ada gelap. Maka ia putar tubuh pula untuk kembali kepeti. Atau tiba2 ia dengar “Hm, sahabat baik, kau benar bernyali besar! Tapi sekali ini kau mesti mengaku kalah!”

Bukan kepalang kagetnya Cio Cin. Itulah suara dari atas pembaringan, dari dua saudagar Kwietang. Ia insaf bahwa ia telah kena dipermainkan. Disaat ia hendak angkat kaki, tahu2 ia sudah kena ditubruk, dipeluk keras. Ia rapatkan kedua tangan nya, ia ciutkan tubuhnya, lantas ia berontak dengan tipu “Pa ong gie kah,” atau “Couw Pa Ong meloloskan juba perang.” Inilah tipu meloloskan rangkulan yang tangkas dan licin.

Nyatalah dua saudagar itu ada saudagar2 titiron, mereka sebenarnya ada dua saudara Soen, Giok Koen dan Giok Kong, yang menyamar, untuk menjaga orang jahat. Ketika moeilie tertiup angin, mereka dapat melihat, malah mereka lihat satu bayangan berkelebat, melainkan mereka tidak tahu, bayangan itu bagaimana datang dan perginya, hingga mereka jadi kuatir. Karena ini, mereka tidak berani ayal ayalan, disaat Cio Cin terkejut, mereka berbangkit dan menubruk. Tapi mereka tidak nyana, penjahat ini sangat licin. dengan gerakannya yang istimewa itu, dia bisa loloskan diri dan loncat keatas, ke arah lobang genteng.

Disaat kepalanya Cio Cin baharu muncul dimuka genteng. tiba2 ia dengar bentakan “Turun!” Bentakan itu bengis dan seram. Kembali Cio Cin kaget, apapula kapan ia lihat serupa benda menyamber kepadanya. Ia jadi bingung, ia tak bisa berbuat lain daripada terpaksa turun pula. Sembari turun ia serukan “Pundak rata, cucu benang angker, nyalakan, panggil!” Dua saudara Soen lihat orang turun pula sambil buka suara, mereka tidak berani berlaku sembrono, bukannya menerjang, mereka sebaliknya mundur kesamping. Karena ini, penjahat itu jadi luput dari bahaya. hingga ia bisa enjot pula tubuhnya akan kembali mencelat naik keliang genteng, cuma sekali ini ia tidak terus molos keluar, ia hanya samber kaso untuk berpegangan. Lagi ia berseru dengan pertandaannya kepada kawannya.

Diatas genteng, dimulut liang, ada Ouw Tong yang menjaga. Dia ini pun telah dapat pengalaman luar biasa. Dia lihat kawannya sudah turun kedalam kamar, dia hampirkan liang genteng itu, dia bisa lihat kawan nya geser peti yang pertama. Selagi dia mengawasi, dia merasa seperti ada orang betot padanya lantas dia berpaling kebelakang. Dia melihat suatu bayangan d yumpalitan kebawah payon, dia menguber, sesampainya dipayon, bayangan itu lenyap, sebagai gantinya dia dapati Lioe Seng sedang pasang mata. Dia tidak berani tanya kawan ini apa tadi ada orang turun, sebab dengan saudara itu diam saja, dia percaya disitu tidak ada orang lain. Maka dia putar tubuh untuk kembali kemulut genteng. Justeru itu dia tampak satu bayangan berkelebat, loncat keliang genteng. Dia terperanjat, hingga dia berseru dalam hatinya “Siapa dia? Kalau dia ada orang kang ouw, dia sangat liehay Selagi berpikir, dia dengar suaranya Cio Cin, maka lekas dia menghampirkan pula kemulut liang genteng itu. Dia lantas kata “Pundak rata, angin keras, lekas keluar dari dapur!”

Cio Cin keluar dengan ctepat, segera ia memberi tanda kepada kawannya ini, maka berdua mereka hampirkan Lioe Seng, untuk diberitahukan ada gangguan dari pihak tak dikenal. Oleh karena mereka penasaran, mereka lantas berpencar pula, akan mencari si pengganggu itu, yang tadi merupakan hanya satu bayangan hitam. Louw Kian Tong dan Ke Siauw Coan ditempat sembunyinya juga tampak satu bayangan berkelebat tak jauh dari mereka, namun mereka tak bisa melihat tegas, kemudian mereka lihat penjahat yang masuk kedalam kamar telah keluar pula, maka Kian Tong lantas muncul akan melihat, apa mau, sesampainya dibelakang, kedua pihak bersomplokan, hingga ia tidak bisa menyingkir lagi.

Biauw chioe Sian wan Cio Cin gagal dalam usahanya, ia ada sangat mendongkol, kapan ia melihat ada orang, ia sudah lantas siapkan dua batang piauw, ia menyerang dengan beruntun.

Kian Tong kaget karena serangan mendadak itu, ketika ia berkelit piauw yang mengarah kedadanya, pundaknya kena keserempet sedikit, akan tetapi piauw yang menyamber kebawah, ia tidak dapat luputkan, paha kirinya kena kesamber, masih untung ia keburu berkelit, walaupun demikian, ia mundur, tubuhnya limbung.

Siauw Coan samber tangan kanan kawannya, dengan demikian ia dapat cegah kawannya itu rubuh dari atas genteng.

“Penjahat nyali besar, awas!” berteriak Siauw Coan, yang segera menyerang dengan bandringnya Cap sha ciat Lian coe chio, hingga gelang2nya perdengarkan suara nyaring.

Cio Cin ibuk juga, dengan lenyapnya goloknya ia jadi bertangan kosong. Dalam keadaan terdesak, sulit untuk ia gunai senjata rahasia. Ia berkelit ke kiri, dari mana ia ulur tangan kanannya coba samber bandringan musuhnya.

Ke Siauw Coan tidak punyakan tipu2 istimewa dengan senjatanya lian coe chio itu, tetapi karena senjata itu ia sudah pakai lebih kurang dua puluh tahun, ia bisa memainkannya dengan gesit. Maka melihat serangannya tak berhasil dan orang berniat merampasnya, segera ia menarik pulang untuk terus dipakai melilit lengan musuhnya. Ia gunai tipu “Ouw liong poan coe” atau “Naga hitam melilit tihang.”

Cio Cin mencelat mundur untuk tolong diri. Tapi Siauw Coan tidak mau mengasi hati, ia mendesak, sekali ini dengan “Ouw liong coan tah” atau “Naga hitam menembusi pagoda.” Ujung bandringnya yang tajam, memang bisa dipakai sebagai tumbak.

Dalam ancaman malapetaka itu, terpaksa Cio Cin buang dirinya kebawah rumah, kalau tidak, dia pasti akan kena tertikam. Dia kuatir nanti terbitkan suara berisik, maka untuk singkirkan diri, dia mencelat ketem bok kate disebelah Barat.

Pada waktu itu Lioe Seng sedang sibuk sekali dikepung Ngo Cong Gie dan Chio In Po.

Yap Thian Lay tidak setujui sikap dua kawannya, ia antap mereka yang bekerja, akan tetapi setelah lihat kawan2 itu terancam, ia tidak bisa menonton saja, maka ia muncul akan terus bacok bebokongnya Chio In Po. Sedari tadi ia memang sudah mengintai dari jendela.

Chio In Po ketahui ada orang bokong padanya, ia berkelit dengan maju kedepan, seraya membalik tubuh dengan lompatan “Giok bong hoan sin” atau “Ular naga putar tubuh.” Setelah bacokan musuh lewat, dengan “Kim tiauw hian jiauw” atau “Garuda emas sodorkan kuku,” ia tabas bahu kanan musuh nya dengan tangannya yang kiri.

Yap Thian Lay tarik pulang tangannya sambil loncat seraya memutar tubuh, dengan gerakan “Kian nyauw soan oh” atau “Burung memutari sarang.” Karena ini, ia jadi mendekati Ngo Cong Gie, yang ia lantas serang. Ngo Cong Gie lihat serangan ada hebat, ia tidak berani keras lawan keras, ia berkelit.

Tetapi juga Yap Thian Lay tidak menyerang terus, ia hanya menggunai ipu. Ia berlompat mundur untuk terus menyingkir. Ia ingin pancing lawan ini men jauhkan diri dari hotel, untuk tidak bikin pihak hotel kaget karena pertempuran mereka. Selagi ia mendekati tembok untuk loncat naik keatasnya, dari lain jurusan ada satu bayangan menyamber melewati atasan kepalanya, ia rasakan kepalanya itu seperti kesamber angin, hingga ia heran. Karena ini, gerakannya menjadi bertambat sedikit, hingga ia kesusul oleh Lioe Seng, dan kemudian pun, oleh Ouw Tong dan Cio Cin. Yang belakangan ini kecuali senjatanya lenyap pun ada terluka sedikit.

Sementara itu didalam kamar, rombongannya Sam cay kiam Soe ma Sioe Ciang, yang bertugas menjagai barang2 berharga telah dapat ganguan juga, malah gangguan yang hebat kesudahannya.

Bersama2 Thay kek kiam Lioe Hong Coen, Soe ma Sioe Ciang atur penjagaan. Ciok Liong Jiang bersama Kee Giok Tong dan Kim Hoo diminta menjaga dijendela, depan dan belakang. Walaupun penjagaan ada sempurna, malah satu penjahat kena disergap, akhirnya toh penjahat itu lolos.

“Penjahat itu licin,” kata Soe ma Sioe Ciang, yang gapekan Ciok Liong Jiang. “Sayang dia bisa lolos. Barangkali diluar orang sudah mulai bertempur, aku ada sedikit berkuatir ”

“Mustahil kita mesti rubuh ditangan mereka?” kata Lioe Hong Coen dengan mendongkol. “Umpama kita tidak dapat bereskan mereka, sedikitnya mereka harus dikasi rasa!” Baharu orang she Lioe ini tutup mulutnya, ia dengar ada suara dibelakangnya, tetapi waktu ia menoleh, ia tidak lihat apa juga, hanya menyusul itu, dari lobang diatas genteng ada meluruk debu. Lobang tadi memang belum ditutup.

“Lihat, musuh benar liehay,” Kata Hong Coen. “Baiknya kita sudah siap sedia.” Ia bicara pada Liong Jiang.

“Aku ingin melihat bagaimana orang bikin lobangnya,” Soe ma Sioe Ciang berbisik.

Diwaktu mereka bicara itu tiba tiba terdengar suara nyaring dipayon rumah, disusul dengan berkelebat nyalanya api.

“Celaka!” berseru Giok Koen dan Giok Kong, yang paling dulu lihat api. Malah api sudah lantas membakar kertas tempelan. “Orang ganggu kita, jangan kasi dia lolos!”

Dua saudara ini melonyat kejendela akan gempur api, tapi karena jendela kena dihajar, leatu apinya meletik dan pindah menyala dilain bagian, hingga mereka jadi sibuk.

Kim Hoo dan Kee Giok Tong meloncat kepintu, Giok Tong tendang daun pintu hingga menjeblak, ia loncat keluar dengan disusul kawannya. Soe ma Sioe Ciang turut loncat keluar juga, ia gempur api dijendela kiri.

Mereka telah terbitkan suara berisik, ada tetamu2 lainnya yang terbangun dari tidurnya, mereka kaget dan heran, tetapi Giok Tong segera bentak mereka untuk jangan keluar akan mencampur tahu urusan lain orang.

Bertujuh mereka padamkan api dan mencari si orang jahat yang melepas api itu, yang nampaknya liehay sekali. “Jangan semuanya keluar!” Lioe Hong Coen peringatkan. Ia kata ia kuatir itu adalah tipu daya musuh memancing harimau turun dari gunung.

Mendengar pemberian ingat ini, Soe ma Sioe Ciang terkejut. Memang mereka sudah alpakan tugas mereka melindungi barang berharga. Maka ia lantas lari kekamar dari dalam mana segera terdengar panggilannya “Lioe Loosoe, mari!”

Lioe Hong Coen lompat kedalam, akan melihat muka sahabat nya pucat, sahabat itu sedang berdiri menjublek, matanya diarahkan pada peti2 barang mereka, yang sudah kurang satu.

“Celaka!” ia berseru. “Kita kena dirubuhkan! ”

LVI

Benar2 penjahat sudah gunakan akal “Memancing harimau meninggalkan gunung.” Dari susunan peti, yang ke empat, yang paling kecil, tapi pun paling berharga, sudah lenyap. Pencurian itu menyatakan liehaynya si penjahat.

“Habis sudah! Mana kita masih punyakan muka akan hidup lebih lama?” Mengeluh Thay kek kiam Lioe Hong Coen sambil mem banting2 kaki.

Liong Jiang muncul atas seruan Soe ma Sioe Ciang, ia pun menghela napas menampak lenyapnya peti permata itu.

“Aku tidak menyangka bahwa kita semua pergi keluar,” kata ia. “Tentunya penjahat belum pergi jauh, mari kita kejar mereka!”

Tanpa menjawab, Soe ma Sioe Ciang loncat naik keatas genteng, ketika ia menongol dimulut lobang, ia lihat malam ada sunyi. Ia naik terus keatas genteng, akan memandang kesekitarnya. Ia heran akan tak dapati salah satu piauwsoe.

“Lioe Loosoe, lekas kejar penjahat!” ia teriaki. “Mungkin ia sudah pergi jauh ”

Lioe Hong Coen sudah lantas keluar, walaupun ia ada sangat mendongkol, malu dan putus asa. Ia datang untuk bantu Hoay Yang Pay, ia tidak sangka disini ia kena orang rubuhkan. Ia ajak Liong Jiang untuk pergi bersama, sedang yang lain2 ia minta suka jaga lainnya peti.

Liong Jiang ikut meloncat naik keatas genteng. Setelah mencari kelilingan, mereka melihat dua bayangan berbaris diujung Barat utara, maka kesana berdua mereka menyusul. Baharu mereka lewati tembok hotel, disitu kelihatan dua bayangan berkelebat didepannya, hingga mereka berseru dengan tegurannya.

Dua bayangan itu adalah dua saudara Soen, Giok Koen dan Giok Kong.

“Kami berdua turut Kee Loosoe dan Kim Loosoe mengejar ke Barat utara sana, tapi tadi Kee Loosoe minta kami kembali untuk menjaga kamar,” kata Giok Koen.

“Baiklah,” kata Soe ma Sioe Ciang sambil manggut. Setelah dua saudara itu pergi, Soe ma Sioe Ciang dan

Lioe Hong Coen maju terus. Rumah2 ada gelap dan sunyi,

menandakan penghuni2nya sudah pada tidur. Mereka maju terus. Mereka tidak pernah pikir bahwa mereka sebenarnya sudah terpencar dengan yang lain2nya.

Lewat lagi dua rumah, tiba2 mereka dirintangi oleh satu bayangan yang muncul dari satu pojokan. Bayangan itu bersen jatakan golok yang tajam di dua muka, dia serang Soe ma Sioe Ciang yang berada disebelah kanan sahabatnya. “Awas!” berseru Lioe Hong Coen.

Soe ma Sioe Ciang pun ketahui serangan itu, ia berkelit kekiri, dari mana ia balas menyerang dengan tabasan kepada lengan penyerangnya.

Bayangan itu liehay, gerakan nya sangat gesit. Ia tarik pulang tangannya, ia lompat kekanan akan menikam iga kiri lawannya.

Adalah maksudnya Soe ma Sioe Ciang akan mendesak, tetapi Lioe Hong Coen telah serukan padanya “Jietee, mundur, kasi aku yang membereskannya!” Dan seruan ini dibarengi dengan loncatan tubuh dan serangan pedang. Cahayanya senjata itu berkelebat menyamber tenggorokan.

Bayangan itu adalah Coan thian Auw coe Lioe Seng. Tadi ia dapat loloskan diri dari kepungan rombongan piauwsoe, lantas ia kembali kehotel. Ia percaya ia sudah berhasil pancing keluar sekalian piauwsoe, hingga kamar jadi kosong. Ia harap nanti bisa curi barang yang ia arah. Tapi nyata ia bersomplokan kepada Soe ma Sioe Ciang dan Lioe Hong Coen, hingga ia mesti layani dua lawan itu, dengan bergantian.

Lioe Hong Coen mainkan pedangnya dengan cepat, tetapi juga Lioe Seng tidak mau kalah gesit. Lioe Hong Coen jadi penasran, ia mendesak, satu kali senjata mereka beradu hingga menerbitkan suara keras dan lelatu apinya meletik.

Soe ma Sioe Ciang menyaksikan sekian lama, ia kuatir penjahat itu lolos, ia maju pula sambil membentak.

Lioe Seng yang dikepung dengan berani tangkis serangan itu, selagi begitu, Lioe Hong Coen membarengi serang padanya, maka dilain saat, ia jadi kewalahan juga, tidak perduli ia ada sangat gesit. Lioe Hong Coen mendesak terus, ia nampaknya tak mau sia2 tempo akan kasi ketika pada penjahat itu, gerakan siapa makin lama jadi makin lambat. Disamping ia Soe ma Sioe Ciang juga tidak diam saja.

Satu kali Lioe Seng terancam oleh senjatanya Lioe Hong Coen, tetapi tiba2 dari belakang rumah, dari tempat gelap, terdengar suara tertawa menghina disusuli dengan jengekan “Dua lawan satu, itulah tidak benar! Awas!”

Mendengar itu Lioe Hong Coen segera berkelit kekanan, hingga senjata rahasia, yang dipakai membokong ia, jatuh keatas genteng dengan menerbitkan suara, hingga ketahuan, itu adalah batu hoei hong cio.

Menggunai ketika orang berlompat, Lioe Seng juga loncat keluar kalangan jauhnya kurang lebih dua tumbak.

“Manusia rendah, kau membokong, kau ada satu pit hoe!” Soe ma Sioe Ciang tegur musuh yang tidak kelihatan itu.

Suara tertawa menyadi adalah jawaban untuk teguran itu, selagi orangnya tidak juga muncul, suaranya terdengar pula “Mulutnya jahat, aku nanti kasi presen juga padamu!” Dan sebuah batu lainnya lantas menyamber.

Soe ma Sioe Ciang meloncat kesamping, untuk kasi lewat serangan itu.

Lioe Seng jadi senggang karena datangnya gangguan orang yang tidak nampakkan diri itu yang ia duga ada kawan. sendiri. Iapun tahu datangnya batu ada dari sebelah Timur utara, dari atas rumah dimana ada satu papan merek. Maka lantas berloncat dan berlari sana. Selagi ia mendekati lagi enam atau tujuh kaki, tiba2 ia dengar bentakan “Pergi menggelinding turun, makhluk tak tahu malu!” Itulah bukannya suara kawan karenanya, Coan thian Auw coe jadi heran sekali.

“Awas!” demikian bentakan susulan.

Lioe Seng segera berkelit, tapi hampir saja ia tak dapat lolos. Ia bingung betul. Kalau orang itu bukan kawan, kenapa tadi ia ditolong? Kalau tadi ia ditolong kenapa sekarang ia diserang?

Dengan pikiran ragu2, Lioe Seng lari kearah Timur. Ia ingin mutar kebelakang akan lihat siapa sebenarnya orang itu.

“Kau semua mencari mampus! Awas!”

Demikian bentakan pula, ketika Coan thian Auw coe baharu sampai dibelakang, selagi jarak diantara mereka masih jauh. Karena sebuah batu telah menyamber, terpaksa ia mendek. Tetapi ia kalah sebat, ikat kepalanya kena kesamber, benar ia tidak terluka, tetapi ia toh kaget juga. Ia insaf liehaynya orang tak dikenal itu. Sebenarnya ia keluarkan keringat dingin tetapi toh ia segera lompat untuk jauhkan diri, ia berlari2 dengan kupingnya dengar samberan angin dari beberapa batu lainnya, yang jatuh kegenteng. Ketika satu kali ia berpaling, ia melihat satu bayangan loncat keluar dari arah Timur utara.

“Aku mesti tahu diri,” pikir penjahat ini, yang jeri untuk cari tahu siapa adanya bayangan itu. Maka ia kembali kehotel, dengan niatan pulang kekamar nya. Ia baharu lewati dua rumah ketika dari belakangnya, dari samping, melesat lewat satu bayangan dengan suaranya “Pergilah tidur biar nyenyak! Kau mesti tinggalkan muka terang untuk gurumu!”

“Sahabat, kau siapa?” ia tanya. Ia melompat akan berdiri diam ditempat jauhnya beberapa tumbak. “Makhluk harus dihajar! Apakah kau masih hendak dihajar?”

Kata2 itu belum habis dikeluarkan, atau sebutir hoei hong cio sudah menyamber pula, hingga Lioe Seng menjadi kaget, lantas ia berkelit. Karena insaf orang itu ada sangat liehay, dengan terbirit2 ia lari kehotelnya.

Selama itu, Soe ma Sioe Ciang dan Lioe Hong Coen, tidak tinggal diam karena ada orang ganggu mereka, dengan memecah diri kekiri dan kanan, mereka hendak cari orang tidak dikenal itu. Merekapun sudah siap dengan senjata rahasia masing2.

Kedua pihak sudah lantas berdiri berhadapan sesudahnya orang itu usir Lioe Seng, berdiri di jarak tiga tumbak lebih, orang itu menggape2.

Soe ma Sioe Ciang dengan gusar, ia membentak “Pit hoe, kau permainkan Jie thay ya! Kau harus diberi ajaran!” Ia lompat mendekati.

Lioe Hong Coen juga maju.

Orang itu berlompat mundur, dua kali, mereka tetap terpisah tiga tumbak lebih, setelah ini, baru ia perdengarkan pula suaranya “Sahabat2, jikalau kau tidak puas, mari turut aku! Aku akan ajak kau kekedua tempat supaya kau dapat tambah pengalaman!”

Lioe Hong Coen mendongkol, dengan gusar ia kata “Aku Lioe Hong Coen pernah ketemui orang2 kosen yang kesohor tapi belum pernah lihat pithoe semacam kau, yang main sembunyi2. Kemanapun kau lari, aku akan menyusulnya!”

Hong Coen mengejar dengan diturut oleh kawannya. Orang didepan itu bisa lari pesat sekali, akan tetapi beberapa kali ia berlaku ayal seperti hendak menunggui, hingga, karena merasa dirinya dipermainkan, dua boesoe itu jadi bertambah2 mendongkol dan gusar.

Sebentar saja mereka sudah melewati belasan rumah.

Soe ma Sioe Ciang dan Lioe Hong Coen kenal itu adalah jalan besar yang panjang di Pek hok ek. Kapan mereka mengejar sampai dimulut pasar, bayangan itu lenyap dengan tiba2.

“Sudah, tak usah kita mengejar lebih jauh!” kata Lioe Hong Coen yang mendongkol tak terkira besarnya. “Aku tidak nyana, setelah merantau belasan tahun hari ini kita rubuh. Tetapi, saudara, kau jangan kuatir, meskipun aku batalkan niatku membantu Hoay Yang Pay tetapi piauw ini harus didapatkan pulang! Setelah ini aku akan undurkan diri, aku tidak mau keluar pula ”

Soe ma Sioe Ciang hendak jawab kawan itu untuk menghiburkan, tiba2 ada orang yang telah dului ia. Dari satu ujung, yang gelap, terdengar kata2 “Ah, kau pandang terlalu tinggi pada kawanan bangsat itu, kau bikin aku si tua bangka jadi mendeluh… Daripada bikin aku mati jengkel, baiklah kau lekas pulang kehotel dan tidur!”

Lioe Hong Coen terperanjat. Itulah seperti nasihatnya orang yang terlebih tua kepada yang terlebih muda.

“Loo enghiong, mohon kau nasihati kami dengan berdepan,” ia meminta. Tapi ia bicara seperti pada diri sendiri, tidak ada datang jawaban untuknya.

Soe ma Sioe Ciang penasaran, ia ajak kawannya mencari, tetapi hasilnya sia2 saja.

“Kejadian malam ini aneh sekali,” nyatakan Lioe Hong Coen “Orang itupun ada gesit sekali. Marilah kita turut kata2nya untuk pulang kehotel, untuk melihat disana. Kita telah menemui orang kang ouw yang liehay sekali.”

Soe ma Syoe Ciang setuju, ia manggut.

“Marilah!” katanya. Selagi mereka mendekati hotel, mereka lihat dua bayangan berkelebat dikiri dan kanan. Segera mereka sembunyi akan pasang mata, untuk mengetahui bayangan itu kawan atau lawan.

Kedua bayangan seperti baharu keluar dari hotel, keduanya perdengarkan suara pelahan sekali.

Yang dikiri bertubuh kecil dan kurus, mirip dengan satu boca.

Yang dikanan lebih kate daripada orang kebanyakan, tubuhnya kurus kering.....

“Diam, jie tee,” Lioe Hong Coen bisiki kawannya, baju siapa ia tarik. “Mungkin satu diantaranya ada orang yang tadi ”

Orang yang dikiri berdiam di atas genteng, dan yang dikanan tempelkan diri pada tembok hotel. Segera terdengar suaranya orang yang dikiri itu “Eh, sahabat, aku telah lihat padamu, jangan kau main iblis2an lagi! Kau membelai, maka keluarlah! Kau mimpi jikalau kau memikir hendak lolos dari tanganku si orang tua!”

Orang yang dikanan tertawa mengejek, ia jawab “Kunyuk, tak nanti kehendakmu kesampaian! Kau tidak merdeka lagi, jangan kau pikir untuk mabur!”

Sioe Ciang dan Hong Coen duga, orang itu bakal hampirkan orang dikiri itu, tapi diluar dugaan mereka, dengan bikin mereka terkejut, dia justeru mencelat kearah mereka, sampai mereka tak sempat menyingkir akan sembunyi lebih jauh. Nyata sekali orang ada sangat gesit. Segera mereka dengar bentakan “Kenapa kau tidak dengar perkataanku si orang tua? Bangsat itu tak dapat dipandang enteng! Apakah kau ingin kena dihajar? ”

Selagi orang itu mengucap demikian, orang yang dikiri sudah lompat mendekati. Maka si orang tua segera menyambut “Kunyuk ini mencari mampus sendiri! Biar aku kirim dia pulang! ”

Kedua pihak sudah lantas datang dekat satu pada lain, pertempuran segera terjadi.

Thay kek kiam Lioe Hong Coen terperanjat apabila ia saksikan caranya orang berkelahi, yang mirip dengan anak sedang memain. Nyatalah dua orang itu ada ahli2 yang sedang adu kepandaian mengentengi tubuh.

Setelah menonton sampai tujuh atau delapan jurus, Lioe Hong Coen lantas dapat lihat perbedaan diantara meryeka. Orang yang tadi berada disebelah kanan, si orang yang kurus dan usianya lanjut, mulai berada diatas angin. Pada si tubuh kecil dan kurus kering, sembari tertawa haha hihi, sembari menyerang terus, ia kata “Kunyuk, aku tahu kau biasa malang melintang di Barat utara, sebenarnya, aku niat cari kau untuk minta pengajaran darimu, untuk ketahui kau mempunyai kepandaian apa yang luar biasa, yang melebihi lain orang, aku tidak sangka sekarang kau datang kemari, ke Kanglam. Aku nanti bikin kau selain tak dapat beras pun akan mengganti karungnya! Kunyuk, apabila kau benar ada punya kepandaian, kau keluarkan lah itu!”

Pihak lawan itu rupanya gusar sekali, ia telah perdengarkan suara, tetapi dengan pelahan, hingga. Lioe Hong Coen dan Soe ma Sioe Ciang tidak dapat dengar, yang nyata tertampak adalah serangannya diperhebat. Namun walaupun bagaimana, terang ia ada kalah gesit dan tangkas. Selagi bertempur seru itu, dengan tidak merasa mereka mendekati tempat sembunyinya Hong Coen berdua, hingga kedua orang ini dengar nyata angin yang disebabkan gerakan mereka. Mendengar suara angin itu, Soe ma Sioe Ciang ulur lidahnya bahna kagum dan lega hatinya. Tanpa si orang tua kurus itu, benar2 mereka terancam bahaya. Si kurus kering itu sangat liehay, sekalipun mereka beramai, tentu ada sukar untuk melawan dia.

Pertempuran berjalan terus, jurus demi jurus, sampai dua puluh gebrak lebih. Terang sudah yang si kurus kering ada sangat mendongkol.

“Nah, kau rasailah ini!” tiba2 dia berteriak.

Soe ma Sioe Ciang melihat sebelah tangan orang itu terayun dan tiga benda berkeredepan sudah lantas menyamber ketiga jurusan pada si orang tua kurus. Ketika itu, kedua pihak terpisah satu dari lain kira2 dua tumbak.

“Bagus!” berseru si orang tua, tubuh siapa segera dilenggakkan kebelakang, hingga tubuh itu jadi berdiri rata. Itu ada ilmu “Tiat poan kio” atau “Jembatan papan besi.”

Menampak ini, Lioe Hong Coen kaget.

“Telaka!” ia berseru dalam hatinya. Ia lihat, sehabisnya menimpuk, si kurus kering merogo pula kantong piauwnya dan menyerang pula, lagi tiga kali, sedang selagi begitu, si orang tua sedangnya berkelit. Itulah berbahaya untuk si orang tua.

Dalam keadaannya yang terancam itu, mendadak si orang tua kurus mencelat naik, terus ia berdiri. Ia telah gunai ilmu meloncat “Kim lie to coan po” atau “Tambra emas tembusi ombak,” akan kelit serangan senjata rahasia, sekalian ia berbangkit untuk berdiri, sesudah mana, ia berseru “Kunyuk, aku telah lihat kepandaianmu yang istimewa ini! Apakah kau masih punyai yang lainnya lagi? Lekas kau keluarkan itu! Atau aku si orang tua nanti hajar padamu!”

Orang tua kurus ini bicara secara merdeka sekali, akan tetapi disebelah itu ia tidak diam saja, ia berlompat maju untuk menyerang, gerakannya sangat gesit.

Pihak terserang itu rupanya tidak niat menangkis, ia berkelit kekiri, lantas ia lari. Tetapi ia tidak kabur, ia hanya berlari di muka atau kiri kanan hotel. Ia berputaran. Ia keteter tetapi ia masih belum mau menyerah kalah.

Si orang tua kurus ber lari2 mengejar, ia tidak mau berhenti dengan begitu saja ini adalah kehendaknya si kurus kering. Tadi ia telah kurbankan enam batang paku song boen teng, ia penasaran, sekarang ia siapkan dua belas peluru tiat tan wan. Untuk ini, ia pakai kedua tangannya. Ia loncat naik kegenteng didepan hotel, dari situ ia loncat turun pula. Ia tunggu sampai pengejarnya loncat turun juga, lantas ia barengi menyerang.

“Sahabat baik, kau rasakan pula ini!” demikian ia serukan. Ia menimpuk sambil miringkan tubuh, pelurunya segera melesat saling susul, satu demi satu.

Inilah ancaman yang lebih hebat pula. Si orang tua kuruspun sedang berlompat. Akan tetapi dia benar2 liehay, sambil tangannya menyampok, dia jumpalitan dalam gerakan “In lie hoan,” atau “Jumpalitan didalam awan.” Dan enam buah peluru semuanya menghajar pintu hotel.

Berbareng dengan ancaman bahaya bagi si tua kurus, Lioe Hong Coen kaget tak terkira. Si orang tua toh datang untuk membantu pihaknya, sekarang orang tengah menghadapi bahaya maut, cara bagaimana dia bisa, tinggal peluk tangan? Maka itu, tidak berayal lagi ia kirim sebatang piauw kepada si kurus kering itu. Si kurus kering kaget bukan main kapan tahu2 ada piauw menyamber kepalanya, tapi ia ada berkuping celi, matanya awas, walaupun sangat terdesak, ia bisa kelit kepalanya, hingga piauw melainkan mengenai sedikit jidatnya sebelah kanan, kulitnya lecet. Tentu saja ia jadi sangat gusar, sebab ia segera melihat dari jurusan mana datangnya bokongan itu, hingga ia menduga kepada pihak piauwsoe.

Si orang tua kuruspun telah berdiri dijalan besar. “Tikus!” ia mendamprat. “Kau berani bokong aku! Aku

nanti kasi rasa padamu!”

Seruan itu disusul dengan lompatan jauh, untuk serang si kurus kering, kedua tangannya dibuka untuk menjambak.

Dilain pihak, si kurus kering telah berlompat kearah Lioe Hong Coen, untuk serang orang yang curangi ia.

Lioe Hong Coen sendiri sementara itu sudah siap, karena Ia mengerti orang tentu gusar terhadapnya. Maka, sambil mundur ia kata pada Soe ma Sioe Ciang “Siap untuk si orang jahat!”

LVII

Soe ma Sioe Ciang mengerti, ia segera berlompat.

Benar saja si kurus kering, yang gesit luar biasa telah lantas sampai, malah dia segera serang orang she Soe ma ini.

Sioe Ciang tidak menyingkir lebih jauh, ia menangkis dengan tangan kiri, lalu dengan tangan kanan ia barengi menyerang kebawah, dengan tipunya pukulan “Yap tee touw toh” atau “Dibawah daun mencuri buah toh.”

Orang itu tertawa menghina, ia tidak menangkis pun tidak berkelit, hanya sambil berseru, “Pit hoe, kau sambutlah!” ia mendahului menggempur tangan kiri lawannya yang dipakai menangkis serangannya, lantas ujung tangannya diteruskan kearah dada, ini adalah pukulan “Siauw thian chee” atau “Bintang kecil,” yang berbahaya.

Soe ma Sioe Ciang kenali pukulan yang liehay itu, maka ia jadi kaget bukan main. Celaka nya, tidak ada ketika lagi untuk ia berkelit. Untuk menangkispun tidak ada jalannya. Selagi ia terima nasib, mendadak ia dengar orang berseru “Tikus, kau bokong aku!”

Menyusul itu, orang pun loncat mundur setumbak lebih, serangannya batal sendirinya tetapi sebagai gantinya, dengan senjata rahasia dia menimpuk ke ujung samping dari hotel, dari mana ada mencelat satu bayangan, senjata rahasia itu sendiri jatuh diatas genteng.

Lioe Hong Coen, seperti juga Soe ma Sioe Ciang, mengerti bahwa pertolongan telah datang petolongannya seorang yang tidak dikenal, yang mestinya liehay, karena ini, dengan satu tanda mereka undurkan diri, untuk mengawasi dari kejauhan. Segera terdengar suaranya si kurus kering itu.

“Aku kasi ampun pada kau dua kepala anjing!”

Cacian ini ditujukan pada Hong Coen berdua, kearah siapa dia berpaling. Lalu dengan tubuhnya yang kurus kering dan kecil, dengan gesit dia loncat ketempat gelap kemana tadi bayangan lawannya mencelat.

Disamping pintu hotel, muncul bayangan tadi. Dia adalah si orang tua kurus. Dia berlari ketika si kurus kering hampirkan padanya, hingga mereka jadi seperti saling kejar, ditanah, diatas genteng juga. Orang tua itu lari berputaran, sampai tiga balik, baharu ia berhenti diatas genteng. “Eh, sahabat, kau mesti tahu diri!” dia membentak. “Dengan tidak kenal batas, kau seperti tidak tahu salatan! Apakah kau kira karena kau bisa malang melintang di Barat utara jadi tidak ada orang berani hajar padamu? Kau harus ketahui, aku si orang tua tahu kau ada makhluk macam apa! Cin tiong Sam Niauw telah bertumpuk perkara kejahatannya yang tergantung, hingga dipihak pembesar negeri, dipihak rakyat, ada orang2 yang inginkan kau. Kalau kau sembunyi saja di Barat utara dan kita masing2 tidak saling mengganggu, kita jalan sendiri2, apa itu tidak bagus? Aku tidak sangka, sahabat baik, kau merantau ke Selatan ini. Memang sudah sejak lama aku dengar tiga macam kepandaian liehay dari Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Leng enghiong si Garuda Pengejar Angin, yang ada sangat dikagumi kaum Rimba Hijau, memang sudah lama aku ingin menemui kau, syukur malam ini kita bertemu disini, sungguh aku merasa sangat beruntung! Kita jangan bicarakan lainnya lagi, loo enghiong, tadi aku telah belajar kenal dengan ilmu tangan kosongmu, sekarang aku ingin belajar kenal lebih jauh dengan senjata cambukmu Kim sie Siauw kam pian. Senjatamu ini, didalam kalangan kang ouw tidak ada keduanya, maka aku percaya, loo enghiong, kau pasti sudi memberikan pengajaran kepadaku!”

Si kurus kering itu terkejut mendengar orang sebut she dan gelarannya, tetapi cuma sebentar saja, ia lantas dapat pulang ketenangannya.

“Sahabat, kau baik sekali!” ia segera menjawab. “Memang benar aku ada Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei. Aku telah datang kemari, aku insaf kesalahanku, hanya baiklah di jelaskan, perdagangan ini aku jau, memang sudah lama aku telah kuntit dari lain tempat, dan kebetulan sekali disini ada turut serta sahabat dari Cin Wie Piauw Kiok, hingga aku jadi tanam lebih banyak pohon permusuhan yang tak ada perlu nya. Sahabat, aku ingin sekali kau perkenalkan dirimu, sesudah itu pasti sekali aku nanti iringi segala kehendakmu.”

Setelah mengucap demikian, ia awasi orang tua itu, sekarang tidak lagi ia berani memandang enteng seperti tadi.

Si orang tua rangkap kedua tangannya memberi hormat.

Houw Loo enghiong, aku ada satu Boe beng siauw coet dari kalangan kang ouw, tidak ada ilmunya untuk aku sebut2 nama ku,” katanya. “Hauw Looeng hiong, baiklah kau dengar nasihatku, segeralah kau lepas tangan untuk kebaikan kedua pihak. Aku si tua bangka tidak punya hubungan apa2 dengan Cin Wie Piauw Kiok, dengan kaupun aku tidak punya ganjelan, apabila kau masih hargai persahabatan kaum kang ouw, harap kau lepas tangan, kau lalu bersahabat dengan beberapa sahabat kang ouw ini. Aku juga tidak akan berlaku keterlaluan, pasti aku akan tanggung keutuhannya nama baikmu, sedang piauwsoe dari Cin Wie Piauw Kiok akan haturkan menyesalnya kepadamu. Hauw Loo enghiong, kau kasilah muka kepadaku, tetapi jikalau kau pikir sebaliknya, apa boleh buat kita mesti ambil jalan masing masing, kita boleh andalkan kepandaian kita untuk mencari keputusan. Aku tidak tahut sang manjangan bakal terbinasa di tangan siapa…. Yang aku kuatirkan adalah celaka dua2nya, hingga kumala dan batu terbakar musnah semuanya! Aku percaya, tindakan ini pasti tidak akan di ambil oleh seorang yang cerdik. Hauw Loo enghiong, apabila kau sudi dengar pandanganku yang bodo ini, ubah permusuhan jadi persahabatan, tidak melainkan aku seorang yang bersyukur tetapi juga semua piauwsoe dari Cin Wie Piauw Kiok.”

Hauw Thian Hoei awasi orang tua itu. “Sahabat, kau tidak sudi perkenalkan diri, aku tidak hendak memaksa,” kata ia, “akan tetapi aku walaupun telah lakukan banyak perbuatan tidak bejik, perbuatan itu aku lakukan terhadap orang2 buruk saja. Lagipun adalah kebiasaan dari aku, satu kali aku ulur tangan, aku mesti dapati barang yang aku kehendaki, tak perduli ada rintangan apa juga, maka itu, jikalau kau minta aku mundur, itulah tak dapat. Sahabat, kau kenal aku punya Kim sie Siauw kauw pian, kau sendiri ada punya senjata apa, hayo kau berikan pengajaran padaku! Jikalau kau dapat menangkan aku, aku suka cuci tangan dari kalangan kang ouw, aku nanti angkat kaki, tapi bila kau tak bisa kalahkan aku, tidak ada bicara lain, silahkan kau ambil jalanmu sendiri! Sahabat, apabila kau cuma andalkan lidahmu untuk bikin aku undurkan diri, jangan sesalkan aku yang tidak bisa perdulikan lagi persahabatan kaum kang ouw….”

Mendengar pengutaraan itu, si orang tua kurus tertawa gelak gelak.

“Karena kau tidak mau dengar kebaikanku, aku tak dapat berbuat suatu apa,” ia bilang, “terpaksa aku mesti layani padamu. Huw Loo enghiong, silahkan kau berikan pengajaran kepadaku Hauw Thian Hoei menyahuti dengan seman “Baiklah!” lalu tubuhnya loncat maju, berbareng dengan mana, tangannya sudah menyekal cambuknya atau ruyung lemas, yang diantara sinar rembulan memperlihatkan cahaya kuning emas. Tetapi, menghadapi dia, si orang tua tetap bertangan kosong.

“Sahabat, apakah kau sengaja memandang rendah padaku?” Thian Hoei tanya seraya ia mundur pula dua tindak, matanya mengawasi dengan tajam. “Aku telah siapkan senjataku, kau sendiri masih bertangan kosong! Jikalau kau tidak mau gunai senjata, baik aku nanti temani kau dengan tangan kosong juga.”

Setelah berkata begitu, ia hendak simpan pula cambuknya.

“Hauw Loo enghiong, kau benar benar satu sahabat baik!” berkata si orang tua sambil tertawa. “Karena kau begini mengalah, baiklah, aku suka mengiringi kau.”

Ia lantas merabah pinggangnya, lalu dengan menerbitkan suara, ia keluarkan ruyung lemasnya yang bisa dipakai melibat pinggang, yang dinamakan Siang tauw Gin sie Hong liong pang, panjangnya lima kaki enam dim, kedua kepalanya, yang berukiran naga2an, ada berujung tajam, ada gaetannya juga. Senjata ini bisa dipakai dua2nya sebagai cambuk atau ruyung.

Si kurus kering terperanjat kapan ia saksikan gegamannya lawan itu.

“Apakah dia bukannya Yan tiauw....” ia kata dalam hatinya.

Tapi ia tidak sempat menduga2, karena si orang tua sudah lantas kata padanya “Baiklah, sekarang kita jangan sungkan2 lagi, sebab urusan tak dapat didamaikan, kita putuskan dengan kekuatan senjata saja! Hauw Loo enghiong, kau tentunya ketahui tentang diriku si tua bangka, adalah biasanya bagiku, kecuali sangat terpaksa, aku tidak pernah hunus senjata, maka sekarang, setelah gegaman ku dikeluarkan, sulit untuk simpan itu pula. Nah, sambutlah senjataku ini!”

Sejak permulaan menyaksikan kegesitan orang, Hauw Thian Hoei sudah curiga dan menduga pada salah satu dari Yan tiauw Siang Hiap, dua saudara dari Titlee, adalah setelah melihat senjata itu, baharu ia dapat kepastian, karena mana ia jadi terkejut. Benar2 si tua kurus ini ada Jie ya Ay kim kong Na Hoo, yalah Yan tiauw Siang Hiap yang kedua. Iapun kaget sebab ia tahu, diantara orang2 seperguruan dengan ia, ada yang punyakan perhubungan kepada jago dari Titlee ini. Ia insaf bahwa ia hadapi satu musuh sangat tanggu. Masih syukur baginya selagi ia hendak sebut gelaran musuhnya, Na Hoo cegat padanya, karena itu, ia jadi teruskan ber pura2 tidak kenal orang tua ini. Ia malah menyahuti “Baik, sahabat! Aku tanya kau dengan maksud baik, kau tidak sudi beritahukan namamu, nyata lah kau pandang tak mata padaku. Mari, aku ingin lihat, berapa liehaynya ruyungmu!”

“Silahkan kau maju!” Na Hoo mempersilahkan pula dengan tantangannya.

Dengan hampir berbareng, ke duanya loncat kejalan besar yang sunyi, sama sekali tanpa perdengarkan suara apa juga, mereka lantas bersiap, mereka mendekati satu pada lain. Akan tetapi si orang tua tidak lantas menyerang, dia hanya berjalan berputaran, apabila dia didekati, dia jauhkan diri dengan gerakan kaki yang dipercepat. Sampai tiga kali dia jauhkan diri secara demikian.

Hauw Thian Hoei mengerti bahwa orang hendak mengalah, dari itu, sambil terus ikut berputar ia menegor “Sahabat, jangan kau sungkan, silahkan mulai!”

“Berlaku hormat tak ada terlebih baik daripada turut perintah, maafkan aku bersikap kurang ajar,” sahut si orang tua, yang lantas saja putar tubuh dan maju, sambil ruyungnya dibikin lempang, dalam gerakan “Peh coa touw sin” atau “Ular putih muntahkan bisa”

Twie hong Tiat cie tiauw lihat gegaman musuh mengarah dada nya, lantas dia ketok  ruyung itu dengan cambuknya, dia gunai tenaga penuh, dengan harapan bisa bikin terlepas dan terlempar senjata musuh.

Na Hoo tidak kasi ruyungnya diketok, ia menarik pulang dengan cepat, lalu dari bawah ia balas mengetok dengan gerakan “Kim liong pa bwee” atau “Naga emas menggoyang ekor” Ia berhasil dengan gerakannya ini, hingga Thian Hoei jadi terperanjat, karena cambuknya terpukul mental, hampir terlepas dari cekalan. Karena ini, dia jadi semakin insaf liehaynya musuh. Sambil menarik pulang cambuknya, dia terus menyerang pula, dengan pukulan “Thay peng tian cie” atau “Burung garuda pentang sayap”

Dari berada disebelah kiri, si orang tua berkelit mundur, tetapi tanpa sangsi lagi, selagi cambuk lawan mengenai tempat kosong, ia loncat maju menyerang dengan “Ouw liong pa bwee” atau “Naga hitam menggoyang ekor”

Kembali kedua senjata beradu dengan keras, sampai menerbitkan suara nyaring. Memang kedua senjata, walaupun lemas, bisa dipakai keras. Apa yang beda adalah gerak tipunya, dan senjatanya si orang tua bisa dipakai sekalian sebagai tumbak.

Oleh karena gerakan mereka sama2 gesit, dengan lekas mereka sudah bertempur lebih daripada sepuluh jurus. Hauw Thian Hoei berkelahi dengan sungguh2 untuk lindungi kehormatannya, karena sudah tiga puluh tahun lebih ia menjagoi dalam kalangan kang ouw. Ia telah gunai tipu2 cambuknya yang terdiri dari seratus dua puluh delapan jurus, Disebelah dia, si orang tua juga tidak mau mengerti, siapa telah gunai ilmu silatnya Cit cap jie Heng Cia Koen dalam mana ada berikut ilmu tumbak Pek Wan Chio dan ilmu toya Ceng thian koen yang terdiri dari tiga puluh enam jalan (sha caplak louw). Lagi sepuluh jurus telah dilewatkan, masih mereka sama tandingan, tetapi setelah itu, mendadak si orang tua tinggalkan lawannya dengan lompat kesamping, terus ia loncat lebih jauh keatas rumah, dengan gerakannya “Hoei niauw coan lim” atau “Burung terbang menembusi rimba” Dari atas genteng, sambil memutar tubuh, ia kata pada lawannya “Loo enghiong, Kim sie Siauw kauw pianmu benar2 liehay, aku yang rendah kagum sekali. Tapi jalan besar ini ada sempit, disini kau tidak leluasa keluarkan semua kepandaianmu, maka mari kita pergi kesana, itu tegalan kosong yang lebar, disana bisalah kau berikan pengajaran padaku…. Mari aku pimpin kau kesana”

Tanpa tunggu jawaban, orang tua itu putar tubuhnya, untuk berlari lari.

Hauw Thian Hoei loncat naik kegenteng, ia mengejar sambil berseru “Pertempuran belum berakhir, siapa menang dan siapa kalah masih belum ketahuan, kau hendak menyingkir kemana?”

Perbuatannya si orang tua membuat heran semua piauwsoe dan kawan2nya. Dia belum kalah, dia tidak keteter, kenapa dia angkat kaki?

Thay kek Lioe Hong Coen tepuk tangan terhadap Soe ma Sioe Ciang, kawan itu segera datang padanya seraya tanya ada apa.

“Diam!” Hong Coen berseru dengan suara tertahan, seraya tangannya dipakai kutik kawannya itu. Ia batal untuk menjawab kawan itu.

Soe ma Sioe Ciang mengerti, tentu ada sebabnya untuk kelakuannya sahabat ini, maka ia tutup mulut, malah ia turut mendek seperti si sahabat. Baharu mereka mendekam, dari rumah depan berkelebat dua bayangan, yang turun didepan pintu hotel, terus masuk kedalam, kelihatannya dua bayangan itu kenal baik hotel itu. Baharu mereka hendak berbangkit, atau kembali mereka lihat datangnya tiga bayangan lain. Bayangan2 ini juga sudah lantas masuk kedalam hotel.

“Mari kita masuk” Hong Coen bisiki Soe ma Sioe Ciang. “Kelihatannya mereka ada kawan kita, samar2 nampaknya barusan mereka mencabut bulu angsa pertandaan. Tidak perduli siapa mereka, kita baik dului mereka itu”

Soe ma Sioe Ciang setuju, ia manggut.

Keduanya lantas melihat kelilingan, lantas mereka hampirkan pintu hotel. Mereka singkirkan bulu angsa mereka, supaya tak ada orang hotel yang dapat lihat. Didalam, suasana ada sunyi dan gelap, tetapi ternyata tetamu2 hotel sudah terbangun dari tidur nya, semuanya berdiam didalam, tentu dengan hati tidak tenteram. Selagi mereka mendekati kamar mereka, pintu kamar sudah lantas dibuka dan satu suara menegur “Lioe Loosoe sudah balik? Mari masuk!”

Hong Coen berdua bertindak masuk. Giok Kong telah nyalakan api. Semua orang sudah balik. Ngo Cong Gie dari Cin Wie Piauw Kiok, duduk dengan dahi dikerutkan, tanda dari kedukaan. Mereka itu sedang bicarakan pengalaman, masing2. Terang mereka telah kena dipancing penjahat, tetapi ada yang bertempur dengan si orang tua, yang bikin mereka tidak menyingkir jauh dari hotel mereka. Katanya, si orang tua yang tidak bergegaman, agaknya mengalah, malah dia kata “Jikalau kau ingin lindungi kehormatan Cin Wie Piauw Kiok, pergilah ke Tok siong kwan, tunggui aku disana, aku tanggung piauw itu tidak kurang sedikit juga, jikalau tidak, namamu sekalian bakal runtuh tanpa obatnya. Sekarang lekas balik kekamarmu untuk lindungi sisa barangmu!”

Rombongan piauwsoe dari Kanglam itu bersangsi, pikiran merekapun pepat, karena nama wangi mereka dari belasan tahun, dalam sekejab saja kena dipermainkan. Mereka sangsi nanti dipermainkan pula si orang tua tak terkenal itu.

Ngo Cong Gie pernah tanya she dan namanya si orang tua tapi dia itu, dengan mendongkol menjawab “Aku hidup dalam perantauan, tak perlu kau ketahui namaku. Aku toh bukannya saudaramu? Ada biasa bagiku akan campur urusan lain orang. Kalau kau hendak ketahui juga tentang aku, pergi tanyakan pada boca she Ciok itu, aku sendiri tiada kebanyakan tempo akan mengobrol denganmu!”

Ingat ini, Cong Gie lantas tanya Liong Jiang siapa si orang tua itu.

Liong Jiang awasi piauwsoe itu, ia berdiam.

“Dia mirip dengan soe couw ku Ay Kim Kong Na Hoo,” jawab ia kemudian. “Tentang ini aku tidak berani pastikan. Kedua soecouw ku adalah Yan tiauw Siang Hiap, mereka mirip dengan Beng Liang dan Ciauw Can yang tidak pernah berpisahan, atau kalau toh mereka memecah diri, tak pernah dalam jarak terlalu jauh. Kalau dia benar jie soecouw, kenapa toa soe couw tak ada bersama?”

Adalah setelah dapat keterangannya Liong Jiang, hatinya Cong Gie jadi lebih tenteram. Ia percaya, apabila benar Na Hoo yang menolong, ia tidak bakal rubuh terus2an, kehormatannya akan dapat dikembalikan.

Kemudian mereka dapat kenyataan, ketiga penjahat tidak balik pula kekamarnya. Itu ada tanda bahwa mereka sudah terus angkat kaki. Diakhirnya, Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang meminta semua orang pergi tidur.

Keesoknya pagi, kedua suadagar Kwietang bicara kepada Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang. Mereka dapat kenyataan, barang tidak dapat dirampas pulang, mereka tidak dapat bersabar lagi untuk tidak utarakan rasa tak puasnya. Mereka tanya, bagaimana bila barang tetap lenyap.

“Jangan kuatir, ada orang yang kuntit penjahat itu,” Cong Gie terangkan. “Mungkin sebelum sampai di Tok siong kwan, mereka akan sudah tersusul dan tercanjak ”

Piauwsoe ini tidak perdulikan saudagar itu, itu pagi sehabis bersantap dan membayar sewaan hotel, ia ajak rombongannya berangkat. Pemandangan alam di sepanjang jalan ada indah, tetapi tidak ada yang sempat perhatikan itu.

Selagi mereka jalan dijalanan gili2, yang panjang mereka dengar suara kelenengan dikejauhan, lantas kelihatan seekor keledai hitam lari mendatangi dengan keras, dari jauh nampaknya seperti binatang itu tidak ada penunggangannya, sesudah datang dekat baharu terlihat, di bebokongnya sambil mendekam ada bercokol satu orang yang tubuhnya kecil dan kurus, sedang kepalanya ditutupi tudung lebar. Yang luar biasa adalah lari keras dari sang keledai.

Semua piausoe mengawasi dengan tercengang. Justeru itu, sang keledai lari semakin dekat kepada mereka. Berbahaya adalah jalanan yang sempit.

Setelah datang dekat, kelihatan nyata penunggang keledai itu ada seorang tua, keledainya dikaburkan terus, tidak perduli jalanan sempit. Didalam rombongan, Ciok Liong Jiang berada sebagai orang yang ke empat, ia menunggang kuda seperti yang lainnya, kuda mereka semua seperti bersambung kepala dengan ekor. Ia memang sudah curiga, sekarang ia lihat penunggang kuda itu semakin mirip dengan soe couwnya, cuma sebab tudung lebar menutupi muka, ia tidak bisa dapat kepastian. Selagi ia berpikir, keledai si orang tua sudah sampai didekatnya, mendadak orang tua itu ayun cambuknya seraya berseru “Tolol, kau harus dihajar!”

Sekejap saja, cambuk telah mengenai kudanya anak muda itu, pada punggungnya, hingga kuda itu perdengarkan suaranya karena kesakitan, keempat kakinya digeraki, diangkat dan lari!

Sebab binalnya kuda ini, kendali tak dapat dikuasai lagi, maka tiga kuda yang disebelah depan kena ketabrak, hingga tiga2 nya turut kaget dan lari juga. Dengan susah payah baharulah mereka bisa tahan kuda mereka.

Liong Jiang mendongkol sekali.

“Apakah kau tak punya mata?” ia menegur tanpa perdatai romannya orang tua itu, yang kealingan tudung. “Kenapa di tempat begini sempit kau sembrono gunai cambukmu?”

Dia hendak larikan kudanya untuk mengejar, ketika mendadakan dari belakang pelananya, ia dengar suara barang diyatuh, tempo ia menoleh, ia lihat satu bungkusan pesegi empat. Ia menjadi heran dan curiga, tidak tempo lagi ia meloncat turun dari kudanya, akan jemput bungkusan itu dan segera dibukanya, dalam mana ada tulisannya, ia terperanjat berbareng malu sendirinya, air mukanya berubah.

Apa yang terjadi atas dirinya Ciok Liong Jiang, seluruh rombongan lantas mendapat tahu, maka semuanya lantas berhentikan larinya kuda mereka, dan mereka yang berkewajiban melindungi piauw, sudah lantas bersiap sedia. Tetapi jalanan ada sempit, maka ada lambat untuk sekalian piauwsoe menghampirkan Liong Jiang. Kemudian, sesudah semua orang berkumpul, mereka turut baca surat itu, yang berbunyi “Liong Jie, Rombongan dari Cin Wie Piauw Kiok ada orang baik, pantas mereka dibantu, tetapi Cin tiong Sam Niauw bukan nya orang sembarangan, tak dapat mereka dipandang enteng. Aku sendiri telah coba adu kepandaian dengan mereka bertiga. Hal barang yang lenyap di Tok siong kwan aku akan kembalikan, bilang pada rombongan piauwsoe agar mereka jangan kuatir. Kau ada orang baru dalam kalangan kang ouw , kau harus berhati2, supaya kau tidak mendatangkan malu pada kaum kita, pada gurumu.”

Tanda tangan dari surat itu adalah melainkan satu huruf “Hoo.”

“Aku telah menduga pada soe couw, benar2 dia ada Jie soe couw Ay Kim Kong!” kata Liong Jiang kemudian. “Ngo Piauwtauw, harap kau legakan hati. Soe couw kenamaan di San co dan San yoe, di Selatan dan Utara sungai Besar, dia gemar membantu kawan segolongan, bagus sekali dia telah datang kemari. Rupanya soe couw ada dalam perjalanan menyusul soe pe ke Cap jie Lian hoan ouw, disini dia ketemu dengan kita, lantas dia berikan bantuannya. Hanya aku tidak tahu, siapa itu Cin tiong Sam Niauw apa antara ciongwie loosoe ada yang mengetahuinya?”

“Cin tiong Sam Niauw yang datang bekerja ke Selatan ini? Itulah aneh!” kata Thay kek Lioe Hong Coen. “Mereka adalah tiga penjahat kenamaan dari Cin tiong atau Siamsay dimana segala perbuatannya telah bertumpuk bagaikan gunung. Yang jadi kepala ada Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei, dua soeteenya adalah Giok bin Sin Siauw Yap Thian Lay dan Coan thian Auw coe Lioe Seng. Karena pandainya mereka mencuri, mereka telah dapatkan gelaran itu yang berarti tiga ekor burung dari Siam say. Yang terliehay adalah Hauw Thian Hoei, yang tubuhnya sangat enteng, bersenjatakan Kim sie Siauw kauw pian, jarang ada tandingannya. Mereka terkenal sebagai maling2 berguna, sebab biasanya mereka satrukan pembesar2 jahat dan saudagar2 besar. Ada beberapa jago Rimba Hijau, yang bekerja dibawah perintah mereka. Selama belasan tahun belum pernah Hauw Thian Hoei terjatuh kedalam tangan pembesar negeri. Selama yang belakangan ini, mereka bekerja di Utara, maka heran sekarang mereka berada di Selatan ini. Kalau Yan tiauw Siang Hiap hadapi mereka, mereka adalah tandingan setimpal. Sekarang kita boleh melegakan hati, mari kita pergi ke Tok siong kwan akan menemui jago tua itu untuk terima barang yang ia hendak pulangkan kepada kita.”

Benar2 hatinya sekalian piauwsoe itu jadi lega, maka Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang lantas kasi perintah akan lanjutkan perjalanan mereka, tetapi supaya mereka tak terlalu menyolok mata, mereka pecah rombongan jadi dua. Jalan dimuka ada Soe ma Sioe Ciang, Ngo Cong Gie, Cio In Po, Louw Kian Tong, Ke Siauw Coan dan Teng Kiam, dan yang belakangan. Lioe Hong Coen, Kee Giok Tong. Kim Hoo, Soen Giok Koen dan Soen Giok Kong serta Ciok Liong Jiang.

Diwaktu tengah hari rombongan ini sampai didusun Tiong yang. Disini mereka hendak singgah. Menurut tukang kereta, lagi kira enam puluh lie, mereka akan sampai di Ceng liong ek, satu tempat perhentian besar dimana antaranya ada sebuah hotel Jin Hoo yang paling kesohor, bukan karena besarnya hotel, hanya di sebabkan kejujuran si pemiliknya. Karena orang ingin ketahui, tukang kereta itu lantas menceriterakannya.

Pada beberapa belas tahun yang berselang, hotel Jin Hoo hampir ditutup. Pemiliknya, Khoe Jin Hoo tidak sanggup meneruskan nya karena rugi. Pada satu hari dia kedatangan satu tetamu, yang menunggang kuda dan bawa buntalan. Dia sambut sendiri tetamu itu. Dia memang telah perhentikan semua jongosnya, kecuali satu jongos tua yang sudah kerja lama, yang tak bisa pulang kekampungnya yang jauh. Dihari ke dua, tetamu itu pergi akan lanjutkan perjalanannya. kebetulan jongosnya pergi kepasar, Jin Hoo sendiri yang bereskan buntalan tetamunya itu. Disaat berangkat, tetamu itu bikin jatuh satu bungkusan kecil diluar tahunya. Jin Hoo lihat itu, ia berniat panggil si tetamu, tetapi tetamu itu sudah pergi jauh bersama kudanya yang dilarikan keras. Tidak ada jalan lain, Jin Hoo pungut bungkusan itu dibawa kedalam untuk disimpan Tetapi ia ingin tahu isinya bungkusan. Maka didalam kamar ia buka itu.

Bungkusan kecil tetapi rapi, lapis empat. Menampak isinya, Jin Hoo kaget dan girang dengan berbareng. Itu adalah sepasang cincin permata dan sepasang gelang mutiara. Ia tidak tahu harga tapi ia duga harga nya ada delapan sampai sepuluh ribu tail perak. Ia sedang runtuh, permata ini dapat menolong ia. Umpama si tetamu datang, ia boleh menyangkal. Toh tidak ada saksi, tidak ada bukti?

Selagi Jin Hoo kegirangan, ia lihat bujangnya pulang dengan sedikit sayur. Ia terkejut. Sekarang ia. melarat, besok ia hartawan Tetapi” . Bagaimana dengan si tetamu? Ia lihat, orang rupanya ada kuasa atau bujang yang terpercaya. Apa dia itu tidak bakal celaka? Permata itu berharga besar sekali. Jin Hoo lantas jalan mundar mandir, ia terbenam dalam kesangsian. Diatas meja ia lihat nasi dingin, yang ketutupan kertas pembungkus obat, diatas kertas itu ada tercetak huruf yang berbunyi “Berbuat baik tak ada yang lihat, memikir baik ada Thian yang mengetahui.” Tiba2 ia terkejut sendirinya. Bathinnya dapat pukulan. Ia insyaf, ia berbuat jahat kalau ia temahai permata itu. Ia senang tetapi si pemiliknya bercelaka. Memang nya belum pernah ia lakukan kejahatan. Maka itu, hatinya berkutat sendirinya.

“Sekarang aku apes. tetapi belum tentu aku bakal mati kelaparan,” pikir ia. “Aku boleh tutup hotelku, jual rumah ini untuk berusaha lainnya, untuk pelihara anak isteriku. Kenapa aku mesti celakai lain orang?”

Melainkan ia sangsi caranya ia harus kembalikan barang permata itu. Ia tidak tahu rumahnya si tetamu.

Ketika itu, kedua anaknya ribut menangis minta makanan yang lezad, sebab katanya sayur masakan bujangnya tadi tidak enak. Mereka itu minta daging!

“Ah....” ia mengeluh. “Untuk kebahagiaan anak ku, apa halangannya aku kangkangi permata ini?”

Pikirannya tiba2 berbalik pula.

Justeru itu, diluar terdengar tindakan kaki kuda berisik bersama suara memanggil “Khoe Ciang koei!” Suara itu keras tetapi tidak tedas, disusul oleh suara napas memburu. Ketika ia keluar, ia lihat tetamu nya yang kehilangan barang itu. muka siapa pucat pias, keringat nya membasahkan muka, kelihatannya dia ketakutan sangat.

Melihat demikian, ia ingat kedua anaknya. Lagi sekali ia mengeluh, “Ah ” “Ada apa kau kembali, tuan?” ia segera sambut tetamunya itu. Ia paksa tertawa. “Silahkan masuk! Kau boleh ambil kamarmu, yang masih kosong ”

“Aku bukannya hendak bermalam disini, aku ada orang bakal mati ” kata tetamu itu sambil meringis. “Ciangkoei,

tidak seharusnya aku bicara tetapi aku toh mesti omong juga kepada mu, aku hendak mohon pertolonganmu

Tadi aku kehi langan satu bungkusan kecil, itulah bungkusan yang merupakan jiwaku, jiwa serumah tanggaku, bilamana aku tak dapatkan itu pula ”

Jin Hoo hampir tidak berani awasi tampang orang. “Apakah kau kehilangan bungkusan persegi empat?” ia

tanya.

“Ya, benar, benar!” sahut tetamu itu, Thio Tat namanya. “Apakah kau lihat itu?” Ia jadi sangat bernapsu.

“Benar, aku lihat itu. Tuan jangan ibuk, mari duduk dulu.”

Thio Tat nampaknya jadi sabar, ia masuk dan duduk.

Jin Hoo sudah lantas ambil putusan, ia keluarkan bungkusan permata itu yang terus ia serahkan pada tetamunya.

Menampak bungkusannya, yang isinya tak kurang suatu apa, Thio Tat menangis, ia jatuhkan diri didepan pemilik hotel itu, akan manggut2.

“Ciangkoei, kau adalah penolong jiwa serumah tanggaku,” kata ia. “Biar bagaimana, tidak nanti aku lupai budimu ini.”

Jin Hoo mengasi bangun. “Jangan berbuat begini,” ia mencegah. “Sebenarnya itu barang siapa dan hendak dibawa kemana?” Thio Tat suka berikan keterangannya. Ia menutur bahwa ia adalah hambanya Seng Tayjin, tokpan bengkel sulam di Hang cioe, bahwa ia diperintah pergi ke Pakkhia akan antarkan permata itu pada puteri ke dua dari Seng Tayjin, yang menikah kepada keluarga Kim Tayjin. Nona itu ada sangat disayang ayah nya, sebab dia jarang pulang, sang ayah sering2 kirimkan barang berharga kepadanya.

“Aku tidak nyana permata itu lenyap tak keruan paran,” ia lanjutkan. “Aku tidak bisa buron kalau aku buron, tentu ayah bundaku, anak isteriku, semua saudaraku, bakal celaka. Maka sebisa2 aku kembali, akan mencari permata itu. Aku bersyukur, ciangkoei, kau ada seorang jujur, kau seperti hidupkan pula padaku. Aku ada punya simpanan lima ratus tail, tolong kau terima ini, untuk besarkan usahamu. Biarlah kita jadi sahabat hidup dan mati.”

Jin Hoo tidak sangka orang ada demikian berbudi, tetapi ia tidak suka terima uang itu, ia menampik.

“Jikalau aku inginkan uangmu ini, apa bukan lebih baik aku kangkangi permata ini?” kata ia. “Dengan permata ini, meskipun tidak untuk setengah hidupku, namun buat empat lima tahun aku akan hidup senang. Maka marilah kita menjadi sahabat saja. Dibelakang hari, apabila kau niat membantu aku, itu waktu tidak nanti aku menampiknya.”

Putusannya Jin Hoo sudah pasti, Thio Tat tidak sanggup ubah lagi. Pemilik ini tetap menolak walaupun Thio Tat nyatakan ia tahu dia berada dalam kesukaran karena mundurnya perusahaan hotel itu. Maka diakhirnya, ia jadi sangat terharu, dengan air mata berlinang ia am bil selamat berpisah dari pemilik hotel itu, yang dalam sekejab jadi seperti saudara angkatnya.

Dalam perjalanan lebih jauh, Thio Tat sampai di Pakkhia dengan tidak kurang suatu apa, setelah selesaikan tugasnya, kepada nonanya ia tuturkan pengalaman nya ditengah jalan. Nona Seng kagumi kejujurannya Khoe Jin Hoo, ia serahkan seribu tail perak untuk dihadiahkan pada pemilik hotel itu. Thio Tat tidak mampir dulu di Ceng liong ek, ia pulang langsung ke Hangcioe, untuk serahkan tugasnya kepada Seng Tayjin kepada siapapun ia ceritakan pengalamannya tentang kejujurannya Jin Hoo. Tokpan ini sependapat dengan puterinya, untuk hargai Jin Hoo, iapun memberi hadiah seribu tail. Maka diakhirnya, setelah minta cuti, Thio Tat baharulah pergi ke Ceng liong ek dimana ia sampai dengan terkejut bukan main. Pintu hotel telah dikunci. Ia lantas mencari keterangan, ia dapat ketahui bahwa hotel sudah ditutup, Jin Hoo tinggal dibelakang, jarang keluar. Ia lantas ketok pintu. Sampai lama, baharu Jin Hoo muncul. Ia heran lihat pemilik itu seperti jadi tua dua tiga tahun sedang mereka berdua berpisah baharu tiga bulan.

“Kau baik, saudara?” kata Thio Tat sesudah mereka saling memberi hormat. “Sebetulnya aku ingin segera tengok kau tapi kewajibanku belum selesai, maka baharu hari ini aku kembali pula. Kenapa perusahaanmu ditutup?”

Jin Hoo menghela napas.

“Mari bicara didalam,” kata ia. Dan ia perkenalkan tetamunya pada isterinya. Kemudian ia tuturkan, kesukarannya tidak dapat diatasi, ia hendak jual hotelnya itu. Ia kata, kalau saudara itu datang lagi dua hari, mereka tentu tidak akan dapat bertemu. Ia tinggal terima uang saja.

Thio Tat terharu tetapi ia bersyukur datangnya belum terlambat.

“Inilah kebetulan,” kata ia, yang terus sampaikan hadiah dari Seng Siocia dan Seng Tokpan, yang hargai pemilik hotel ini. “Malah Seng Tayjin ingin saudara datang padanya di Hangcioe begitu lekas perusahaanmu sudah dibangunkan pula.”

Tadinya Jin Hoo tampik hadiah itu tetapi Thio Tat memaksa, sampai ia dapat dikasi mengerti, maka ia haturkan terima kasih nya.

Karena ini, Jin Hoo batal jual hotelnya, ia bayar semua hutangnya, ia bangunkan pula perusahaannya seraya tambah banyak kamar. Thio Tat bantu mencari jongos yang cerdik dan pandai bekerja, ia bantu mengurus juga, hingga kemudian hotel itu jadi maju. Ia telah gunakan tempo beberapa bulan, baru ia pulang ke Hangcioe, akan sampaikan laporan pada Seng Tokpan.

Demikian lelakonnya Khoe Jin Hoo, hingga semua piauwsoe turut mengaguminya.

Di Tiong yang, rombongan ini tetap menjadi dua. Rombongan pertama singgah dirumah makan Ip Coei Lauw yang kesohor, rombongan kedua di Cip Hok. Dirumah makan Cip Hok ini, pelayanan ada sempurna sekali.

Sehabis dahar, Liong Jiang berdiri dipintu luar, lantas Siang too Kim Hoo hampirkan dia, yang ditanya kenapa nampaknya kurang gembira.

“Rupanya Kim Loosoe pun demikian, kalau tidak, kenapa loosoe sudah dahar begini cepat !” Liong Jiang baliki.

Kim Hoo tertawa, lantas ia bicarakan lain urusan.

Ketika itu, disitu ada satu tetamu lain yang mirip orang dagang, pakaiannya sederhana, dia rupanya mau keluar, dari itu, Liong Jiang dan Kim Hoo mesti membagi jalan. Justeru itu didepan rumah makan lewat dua penunggang kuda, yang kudanya dikasi lari keras. Melihat mereka itu, Kim Hoo dan Liong Jiang terkejut, keduanya saling mengawasi.

“Mereka toh orangnya Hauw Thian Hoei?” mereka saling tanya, dengan pelahan. “Mereka bernyali besar sekali berani menguntit terus pada kita ”

Kim Hoo penasaran, dia ingin mengejar, tetapi Liong Jiang cegah padanya. Maka dengan mendongkol ia putar tubuhnya. Tiba2 Liong Jiang berseru. “Eh, Kim Loosoe, dari mana datangnya surat ini?”

Nyelip ditangan baju ada selembar kertas. Maka menampak itu. Kim Hoo jadi gusar sekali.

“Dia terlalu menghina!” ia berseru, air mukanya muram.

LIX

Surat itu ringkas bunyinya , “Huauw Thian Hoei dari Siam say yang pelajarannya belum sempurna dengan ini mengundang untuk lakukan pertempuran yang memutuskan di Tok siong kwan!”

Alamat surat ada “Dihaturkan kepada Yan tiauw Siang Hiap”

Tangannya Kim Hoo bergemetar. Surat itu bukan diserahkan pada Ciok Liong Jiang, si cucu murid, hanya kepada dia, benar2 itu ada satu penghinaan. Didalam hatinya ia janji, satu kali ia mesti tempur “burung dari Siamsay” itu.

Liong Jiang lantas pimpin tangannya boesoe ini, untuk diajak masuk dimana orang baharu habis bersantap dan sedang cuci mulut.

“Kenapa, Kim Loosoe?” tanya Tiat kie lee Kee Giok Tong, yang lihat tampang orang yang muram itu. “Orang telah rubuhkan aku,” sahut Kim Hoo dengan masih mendongkol.

Semua orang jadi heran, mereka saling mengawasi. “Ciok Soehoe, bagaimana sebenarnya?” orang tanya

Liong Jiang.

Liong Jiang tuturkan caranya surat didapatkan, kemudian ia tunjuk surat itu.

Semua orang lantas baca su atnya Hauw Thian Hoei, akhirnya semua utarakan kegusaran mereka.

Thay kek Lioe Hong Coen, yang lebih sabar, lantah hunjuk baiklah mereka lekas berangkat ke Tok siong kwan, akan tengok keadaan, mungkin disana mereka bisa ketemui kepala Cin tiong Sam Niauw itu, gusar saja tidak ada faedahnya.

Pikiran ini dapat kesetujuan, lantas orang melakukan pembayaran, terus mereka berangkat, dengan larikan kuda mereka. Jalan besar ada ramai tetapi mereka pandai pegang kendali. Selagi mereka mendekati sebuah rumah makan besar, tiba2 dari sebuah gang muncul seorang tua dan kurus yang pakaiannya rombeng, begitu kudanya Lioe Hong Coen lewat, dia rubuh terguling.

Ciok Liong Jiang larikan kudanya dibelakang Lioe Hong Coen, ia lihat orang rubuh, ia kaget hingga ia keluarkan suara tertahan, ia coba simpangkan kudanya supaya tidak kena injak orang tua itu, yang menjerit “Aduh!” Karena orang tua itu bergulingan, debu mengebul naik.

Empat boesoe lainnya pun coba egos kuda mereka, ke kiri atau kekanan. Apa lacur, kuda nya Giok Koen kena dupak satu pedagang arak gelar hingga meja terbalik dan araknya berhamburan. “Celaka!” berteriak si tukang arak, yang loncat kedepan kudanya si anak muda, untuk ditahan.

“He, kau mau apa?” membentak Giok Koen, yang kedut les nya, hingga kudanya berlompat maju, sesudah mana, ia loncat turun dari kudanya itu akan hampirkan si tukang arak, yang ia jambak sambil ia kata “Kalau perlu aku nanti ganti kerugianmu, tetapi jangan kau main gila!”

Karena kejadian itu, lantas banyak orang berkerumun, tetapi si orang tua telah lenyap entah kemana, sampai Liong Jiang yang awaspun tak melihat caranya orang tua itu angkat kaki.

Semua boesoe juga turun dari kuda mereka, akan hampirkan si tukang arak. Dia ini masih saja ribut minta ganti kerugian, laganya menjemuhkan.

“Kurang ajar!” Liong Jiang membentak seraya jambak dada orang. “Hayo diam!”

Tukang arak itu kesakitan.

“Jangan kurang ajar,” Giok Koen kata. “Aku nanti hajar kau, aku tidak takut perkara!”

Ia keluarkan uang perak hancur seharga tiga tail, ia lempar itu ketanah.

“Ini aku ganti!” ia kata. “Jikalau kau masih ngoce, aku nanti labrak padamu!” Kemudian ia menoleh pada Liong Jiang dan berkata “Aku lihat orang tua itu bukan orang baik. Mari kita susul buat dengar keterangannya.”

“Benar, Soen Loosoe, mari kita kejar dia!” Liong Jiang jawab.

Pikiran ini dapat kesetujuan umum, maka semua lantas loncat naik keatas kuda mereka. Tetapi berbareng dengan itu, dari antara orang banyak ada terdengar sindiran “Makhluk2 harus dihajar! Hm, murid2 orang gagah, kiranya begini sewenang2 perbuatannya, pandang jiwa manusia seperti rumput saja! Jikalau berani main gila pula, kau semua harus dihukum ”

Liong Jiang semua dengar itu, tetapi Liong Jiang sendiri yang berpaling dan mengawasi, ia tidak lihat tampang yang dikenal diantara orang banyak dari mana suara tadi itu datang.

“Sudahlah,” kata ia kemudian. “Rupanya ini kembali ada soe couwku. Agar orang tidak tertawakan kita, marilah!”

Belum Liong Jiang berangkat, atau ia lihat dari arah Ip Coei Lauw mendatangi Ngo Cong Gie dan rombongannya, mereka tidak bicara satu dengan lain, mereka cuma saling mengasi tanda rahasia, lantas kedua pihak berangkat, rombongannya Ngo Cong Gie jalan terlebih dahulu dan menantikan diluar dusun. Kedua pihak bertemu ditempat yang sunyi, akan tuturkan pengalaman masing2.

“Sudah,” Cong Gie bilang.

“Kita tak usah berlaku sungkan lagi. Entah siapa yang bayarkan uang makan kita ”

Lioe Hong Coen bengong.

“Siapa yang bayarkan pihakmu?” ia tanya.

“Aku kira Ciok Soehoe,” Cong Gie jawab sambil ia awasi Liong Jiang. “Jongos bilang, pembayarnya ada satu anak muda. Kalau bukan kau, Ciok Soehoe, habis siapa?”

Kedua pihak tercengang. Tetapi Liong Jiang sendiri tidak terlalu heran, karena ia tahu baik kejenakaannya kedua soecouw nya atau kake guru. “Sekarang kita waspada saja akan lihat siapa yang sedang main2 kepada kita itu,” kata Cong Gie kemudian. Ia melihat ada orang yang lagi mendatangi.

Kedua pihak lantas saja berangkat pula, dengan tetap ber pisahan. Sampai lohor baharu mereka tiba di Ceng liong ek, yang letaknya ditepi gunung, dekat dengan air, disekitarnya banyak pohon siong dan pek, jalan besarnya dua, depan dan belakang. Rombongannya Liong Jiang menuju kejalan belakang.

Hari sudah magrib, dusun ada ramai, banyak orang dan kereta yang singgah.

Ngo Cong Gie mencari hotel Jin Hoo, untuk sekalian tengok hotel kenamaan itu. Ia dapatkan sebuah hotel besar, segala2nya bersih, kecuali papan mereknya, yang huruf nya mulai guram. Ia disambut dengan manis oleh dua jongos, yang rupanya segera kenali ia ada rombongan piauwsoe yang mengantar “am piauw,” piauw gelap.

Juga pekarangan dalam ada lebar dimana antaranya ada meja dan kursi2 untuk tetamu2 berangin.

Cong Gie pilih ruangan kecil sebelah Timur, yang suasananya sunyi, disitu ada lima buah kamar, sedang Louw Kian Tong dan Teng Kiam segera periksa sekitarnya ruangan dengan ber pura2 me lihat2.

Semua peti piauw ditaruh di dua kamar Barat dan Timur, masing2 terjaga separuh piauwsoe. Tukang kereta dan pegawai ambil dua kamar sebelah Timur. Kedua saudagar ambil satu kamar sendiri.

Sehabisnya bersantap, Ke Siauw Coan tanya jongos apa ia boleh menemui pemilik hotel yang kesohor jujur. Jongos bilang boleh tetapi rada sulit, sebab sudah sekian lama majikannya itu bertempat sendirian diruang belakang dimana dia tuntut penghidupan sebagai orang suci, hingga sekalipun orang dalam jarang menemui padanya. Maka jongos itu menghaturkan terima kasih saja. Siauw Coan pun tidak memaksa.

Malam itu selewatnya jam dua, Soe ma Sioe Ciang peryi keluar untuk meronda. Iapun naik ke genteng. Kemudian kembali kekamar, akan beritahukan Ngo Cong Gie bahwa tidak tampak apa2 yang mencurigai.

Cong Gie berlega hati, tetapi kemudian ia utarakan bagaimana ia telah persulit rombongan Hoay Yang Pay itu disebahkan gangguannya Cin tiong Sam Niauw.

“Jangan bilang begitu, Ngo Jieko,” kata Chio In Po. “Kit. ada dari satu kalangan, sudah sepantasnya saja kita saling bantu. Aku harap kau tidak sungkan. Pun mengenai sikap luar biasa dari kedua ketua Na, aku harap kau tidak sangsi ”

“Kau baik sekali, Chio Lo soe,” kata Cong Gie.

Piauwsoe ini belum sempat bicara lebih jauh, atau dari luar kamar ia dengar orang tertawa dingin dan kata “Orang sho Ngo, kau benar. Si orang kati she Na tidak ada artinya! Aku hendak pinjam suatu apa dari mu, mari kau keluar!”

Cong Gie semua terkejut. Tidak disangka, penjahat berani datang pula.

“Jaga piauw, jangan bergerak!” ia pesan setelah ia segera, padamkan api.

Cepat sekali, tanpa berisik, orang telah men jaga2. Kemudian dengan jalan dari jendela belakang, Cong Gie pergi keluar, ia bekal sebatang toya. Ke Siauw Coan, dengan bersenjatakan lian coe chio, turut keluar juga. Tetapi mereka keluar dengan sia2, tidak ada musuh yang diketemukan. Maka akhirnya, mereka kembali kedalam. “Nyalakan api!” kata Cong Gie ketika ia baharu sampai dijendeia.

Ke Siauw Coan tarik daun pintu angin.

Waktu itu, Teng Kiam dan Louw Kian Tong muncul dari kamar Timur dan Barat, mereka bekal gegaman masing2. Kedua pihak menuju kepertengahan dengan berbareng. Dengan tiba2 ketiganya terperanjat. Kian Tong dan Teng Kiam pun berseru “Siapa kau?”

LX

Duduk dikursi pertama dari meja patsianto ada satu orang tua yang tubuhnya kurus, yang romannya dapat dikatakan aneh. Tapi kapan ia sudah melihat tegas, Ke Siauw Coan cegah dua kawannya “Jangan turun tangan! Orang sendiri!” Dan ia sendiri segera hampirkan orang tua itu didepan siapa ia memberi hormat sambil berlutut seraya mengucap “Tee coe tidak tahu soe siok datang, harap maafkan.”

Louw Kian Tong dan Teng Kiam berdiri diam, mereka heran.

Itu waktu yang lain2 pun sudah lantas muncul, hingga mereka bisa lihat orang tua itu masih duduk bercokol, tetapi dia sudah lantas goyang2 tangannya seraya kata “Bangun, jangan banyak peradatan!”

Siauw Coan berbangkit, ia lalu perkenalkan Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang.

“Loo cian pwee, maafkan kami,” kata kedua piauwsoe, yang lantas memberi hormat sambil berlutut juga.

“Jangan banyak peradatan, jiewie,” kata si orang tua, yalah Ay kim kong Na Hoo. “Aku si orang tua memang paling gemar bersenda gurau, maka itu harap kau maafkan aku bahwa tadi aku sudah main2 ”

Kedua piauwsoe itu lekas berbangkit.

“Sebaliknya, loocianpwee,” kata Cong Gie. “Sebaliknya, kami yang mesti menghaturkan terima kasih pada loocianpwee, yang sudah sudi membantu kami. Kanyi tidak tahu apa salah kami terhadap Hauw Thian Hoei maka ia sudah datang untuk mengganggunya. Selanjutnya kami membutuhkan bantuan lebih jauh dari loocianpwee!”

Na Hoo bersikap tawar.

“Masih saja kau berlaku sungkan,” kata dia dengan tajam. “Kita ada orang2 kang ouw, apabila kau pandang aku sebagai sesama, jangan kau sungkan2!”

Cong Gie bungkam.

“Ngo Piauwtauw, harap kau mengerti,” Siauw Coan turut bicara.

“Beginilah tabiatnya soe siokku yang gemar main2. Memang kita tidak perlu pakai terlalu banyak adat peradatan.”

Na Hoo tertawa.

“Eh, boca, kau buka rahasiaku!” ia tegor keponakan murid itu. “Hayo, kau beberlah semua rahasiaku!”

Orang semua berdiam, walaupun orang tua ini ngoce saja.

Soe ma Sioe Ciang sudah lantas menuangkan secangkir teh, ia bawa itu kedepan Na Hoo, baharu saja cangkir ia hendak letaki, tiba ia lihat satu bayangan berkelebat turun didepan pintu angin, selagi yang lainnya terperanjat, ia sudah lantas menyambit dengan cawan teh nya. Sedetik kemudian, cawan jatuh kelantai dan pecah disusuli dengan ucapan dari luar “Sahabat, kau baik sekali, aku menghaturkan terima kasih!”

Semua piauwsoe lainnya berlompat keluar, tapi Na Hoo mencegah.

“Jangan berisik,” kata jago tua ini. “Si kunyuk tahu aku si tua bangka ada disini, tidak nanti dia berani main gila ”

Lalu ia menggape keluar, ia kata “Liongjie, kau masih belum mau masuk, kau tunggu apa lagi?”

“Aku niat masuk tetapi aku kuatir....” demikian jawaban dari luar.

Semua piauwsoe dan boesoe batal bergerak, mereka mengawasi keluar dari mana segera muncul satu orang, yalah Siauw hiap Ciok Liong Jiang, dibebokong siapa ada tergendol satu bungkusan persegi panjang.

Melihat bungkusan itu, hatinya Soe ma Sioe Ciang bercekat. Itulah bungkusan mirip dengan yang telah tercuri penjahat. Tapi ia diam saja.

Liong Jiang lantas kasi hormat pada semua orang. “Ciongwie loosoe, maafkan aku,” ia kata.

Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang sebenarnya tidak puas, tetapi mereka bersikap hormat dan manis. Mereka lihat Liong Jiang letaki bungkusan nya diatas meja. karena ini, mereka memikir untuk tanya dan tegasi itu.

“Ah, aku lupa!” tiba kata si orang tua seraya ia berbangkit. “Eh, anak, mari aku kasi tahu supaya tidak gagal....” Ia lirik ke enam piauwsoe dan boesoe, lalu ia tambahkan “Inilah rahasia, mari ikut aku!”

Liong Di ang menyahuti “Ya,” lantas ia ikut soe couw itu kedalam. “Kau tinggalkan barang disitu, apa hatimu tenteram?” tiba kata si orang tua, yang mengawasi bungkusan diatas meja.

Cucu murid itu tidak menjawab, ia hanya jemput bungkusan itu. Mereka pergi ke dalam kamar ujung Timur.

Cong Gie berenam berdiri diam, mereka tidak berani ikut masuk, merekapun bungkam. Dari dalam kamar, mereka dengar kata yang tidak jelas. Tidak lama, Na Hoo keluar pula bersama Liong Jiang, dia ini masih pegangi bungkusannya.

Thay kek Lioe Hong Coen tak dapat tahan sabar lagi. “Soesiok,” kata ia, “soesiok bilang kami harus tunggu di

Tok siong kwan untuk dapatkan kembali barang yang hilang, apakah barang itu telah soesiok dapatkan?”

“Benar,” sahut Jie hiap Na Hoo. “Barang itu aku telah rampas pulang tetapi Hauw Thian Hoei tentu tidak mau mengerti, dari itu aku ubah sikapku untuk suruh Liong jie kembalikan itu padamu. Begitulah aku datang sendiri. Dugaanku benar, si kunyuk tidak mau mengerti, dia kuntit aku selama dua puluh lie. Sebetulnya Liong jie jalan duluan, apamau, aku telah dulu ia sampai disini, ini anak makin lama makin malas ”

Liong Jiang tidak puas tapi dia diam saja.

“Ngo Piauwsoe,” kata Na Hoo pada Cong Gie, “sekarang aku telah ambil putusan untuk layani si kunyuk Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei, aku ingin pastikan dia sebetulnya kunyuk tulen atau kunyuk palsu, karena ini, barang ini aku antarkan separuh sebagai umpan, untuk pancing dia. Liong jie, sekarang kau buka bungkusan itu, kasi Ngo Piauwsoe dan Soe ma Piauwsoe periksa, isinya cocok dengan daftar atau tidak. Barang berharga sangat besar, kita sendiri ada si telur gundul, kita tidak sanggup mengganti. Bicara terus terang, sanak tinggal sanak, uang tinggal uang, sahabat tinggal sahabat, tetapi urusan mesti dibereskan secara umum. Kita merantau dengan andalkan pundak kosong, meski demikian, nama kita ada lebih berharga daripada emas, aku takut untuk orang punya mulut merah dan lidah putih, lidah bisa tindih orang sampai mampus! Benar tidak, Liong jie?”

Liong Jiang tahu maksud soe couwnya yang ngoce tak keruan itu, ia ingin tahu, Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang dapat menerka atau tidak. Benar kedua piauwsoe itu ingin lihat isinya bungkusan, bukan karena mereka sangsikan si orang tua, itu melulu ada keinginan belaka untuk memperoleh kepastian. Inipun ada perasaan umum diantara orang yang menghadapi pengalaman sebagaimana mereka. Melainkan mereka tidak berani minta, mereka kuatir si orang tua gusar dan pergi. Kalau itu sampai terjadi, mereka malu sekali. Bukankah mereka telah dibantu dan sekarang mereka tertolong dari kesukaran? Liong Jiang sudah lantas buka bungkusan itu. Mereka lihat, bungkusan ada rapi seperti asal nya.

“Ah, loocianpwee. mustahil kami tak percaya kau   ”

kata Cong Gie sambil paksakan tertawa. “Kita ada orang kang ouw, kita mesti jujur satu dengan lain.”

Ia jemput peti barang berharga itu, untuk dibawa masuk kedalam kamarnya, selagi memegang, ia mencoba men timang2, beratnya sama atau tidak, kemudian hatinya jadi lega betul. Ketika ia balik keluar, ia hendak tanya si orang tua, bagaimana caranya dia rampas pulang peti itu dari tangannya Cin tiong Sam Niauw, tetapi Na Hoo dului ia kata pada Liong Jiang “Liong jie, lekas kembali, kehotel, suruh mereka segera siap, untuk pergi ke Tok siong kwan, akan berkumpul disana! Cin tiong Sam Niauw sudah tantang aku, disana kau boleh menonton keramaian, apabila kau terlambat, tak dapat aku menanti kan ”

“Kalau begitu, ijinkan tee coe berangkat lebih dahulu,” kata Liong Jiang sambil manggut. Kemudian ia kasi hormat pada semua piauwsoe seraya bilang “Maafkan, ciong wie, tak dapat aku temani kau sekalian.” Terus ia bertindak.

Soe ma Sioe Ciang menyusul untuk mengantarkan, tapi ia bilang “Kau lelah, Ciok Soehoe! Belum lagi kau minum, bagaimana kau sudah mau berangkat pula?”

“Urusan ada penting, biar lain kali saja kita berkumpul dan minum2,” sahut Liong Jiang. “Silahkan kembali, Soe ma Loosoe.”

Ia kasi hormat pada piauwsoe ini, ia menindak keluar pintu, akan lantas mencelat keatas genteng dimana ia lenyap dalam sekejab.

Soe ma Sioe Ciang terpaksa balik, bersama Ngo Cong Gie ia tetap bingung memikirkan kelakuan aneh dari Ay Kim Kong.

“Silahkan duduk,” kemudian Na Hoo undang semua piauwsoe. “Ngo Piauwtauw, Cin tiong Sam Niauw coba ganggu kau, apakah kau bisa terangkan padaku sebab2nya? Apa memang ada ganjelan diantara kau kedua pihak atau mereka cuma temahai piauw yang berharga, hingga mereka lupai kehormatan kaum kang ouw?”

“Sebenarnya diantara kedua pihak tidak ada ganjelan suatu apa,” jawab Ngo Cong Gie “Kami bekerja di Selatan, daerahnya Cin tiong Sam Niauw di Soe coan dan Siamsay. Aku percaya mereka hanya mengarah piauw belaka. Syukur loocianpwee telah tolong kami, tetapi walaupun demikian, kami sudah rubuh, maka itu, sehabis nya serahkan tugas ini, kami hendak melepas undangan antara rekan2 untuk bikin perhitungan dengan mereka itu!”

“Jikalau asalnya tidak ada permusuhan, teranglah mereka itu sangat menghina,” berkata Na Hoo “Aku bisa mengerti kau bersakit hati, sahabat Ngo. Mereka telah tantang aku, biarlah aku wakilkan kau sekalian. Aku tidak akan kasi hati pada mereka itu. Umpama mereka tahu diri, mereka tidak datang ke Tok siong kwan, itu ada baiknya untuk mereka. Tetapi mereka pun angkat nama bukan dengan gampang, aku masih pikirkan itu dari itu, aku harap aku tak di paksa nanti berbuat keterlaluan.”

“Loocianpwee benar,” bilang Cong Gie. “Kami tahu diri tidak berkepandaian tinggi, kami tidak berani ganggu siapa juga, tapi Cin tiong Sam Niauw keterlaluan, apabila kami diam saja mereka pasti akan pandang kami secara terlebih hina pula. Turut aku, silahkan loocianpwee layani mereka, kami yang bertanggung jawab, kami ikhlas umpama kami mesti rubuh habis2an!”

“Kau benar, lauwhia,” kata Ay Kim Kong sambil tertawa. “Kita sebenarnya tidak niat ganggu orang tetapi orang ada berhati buruk, ini ada sama dengan halnya manusia tidak niat celakai harimau, harimau ingin celakai manusia. Tentu saja, apabila terpaksa, kita mesti layani mereka ”--28

Teng Kiam niat sambut! kata nya orang tua itu ketika dengan mendadak Na Hoo menjura ke pintu angin dan manggut sambil berkata “Sahabat, kau datang terlambat!” Menyusul mana, sebelah tangannya pun terayun, lalu tertampak sebuah sinar perak melesat kejendela, menembusi jendela itu sambil menerbitkan suara nyaring, menerbitkan suara pelahan diluar, segera sirap. Setelah itu, segera jago tua ini goyangi tangan pada orang banyak untuk mencegah mereka bergerak. Kemudian, meneruskan gerakannya, dengan kibasan tangan, ia padamkan pelita.

Teng Kiam dan Louw Kian Tong tidak diam saja, mereka bergerak untuk malindungi barang mereka.

Na Hoo telah berlompat kepintu, pintu baharu terbuka sedikit atau ia sudah loncat keluar, mencelat ketembok diujung Selatan, gerak gerakannya adalah “Hoei yan coan lim” atau “Burung walet menembusi rimba.”

Beberapa boesoe itu lompat menyusul, tetapi sesampainya diluar mereka telah kehilangan jago tua itu, maka diam2 mereka puji Ay Kim Kong, yang pantas berani malang melintang dan nyalinya luar biasa besar.

Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang lantas saja melakukan penjagaan, mereka naik keatas genteng, akan memandang keempat penjuru dan men duga2 kemana perginya si jago tua. Tiba2 mereka lihat satu bayangan berkelebat diarah Timur, gerakannya gesit sekali, kakinya tidak menerbitkan suara apa juga. Tidak tempo lagi Cong Gie loncat maju, akan dilain saat ia sudah berhadapan dengan bayangan itu, yang segera serang ia dengan sebatang golok yang berkilauan. Ia berkelit kekiri, dengan sebelah kaki terangkat, dengan sikap “Kim kee tok lip” atau “Ayam emas berdiri sebelah kaki” Berbareng dengan itu, selagi dengan dua jari kiri ia tekan senjata musuh, dengan ruyung lemasnya ia hajar senjata itu.

Si penyerang tak dikenal tarik pulang goloknya dengan diputar turun, untuk diteruskan membacok perut, atas mana Cong Gie berlompat pula” kembali kekiri, lalu sambil berseru ia merabu pinggang musuh itu. Atas serangan pembalasan ini, penyerang itu loncat tinggi sampai setum bak lebih, lantas ia turun disam ping. “Bangsat, kau hendak lari kemana?” Cong Gie membentak sambil merangsek.

Berbareng itu waktu, dari kaki tembok sebelah Barat, ada se ruan “Pundak rata, cucu benang ini bukan yang menggantung beras, mari kita didepan kuda menyambut saudara disana, untuk lihat dari mana barang lolos ” Atas

ini, si penjahat mendiawab “Kalau begitu, biarlah dia ini merdeka!”

Ngo Cong Gie tahu artinya kata rahasia itu. Penjahat itu ajak kawannya undurkan diri, karena piauwsoe ini bukanlah sasaran mereka, bahwa mereka baik susul lain kawannya. Karena ini, Cong Gie antap orang menyingkir. Ia tahu orang ada punya kawan, ia tidak mau sembrono. Itu waktu pun ia lihat satu bayangan loncat keluar dari hotel menuju kepadanya, sambil ber kata dengan pelahan “Ngo Piauwtauw!” Ia lantas bersiap, karena ia belum tahu bayangan itu kawan atau lawan.

“Oh, Chio Piauwtauw?” ia menegor, setelah ia dapat melihat nyata. “Apa kabar?” Bayangan itu benar Chio In Po.

“Jangan kuatir, Ngo Jie tee,” sahut piauwsoe itu. “Na Jie hiap sudah balik, ia suruh aku minta kau kembali, piauw telah dapat dirampas pulang, kau jangan kasi dirimu diakali musuh. Tadi penjahat gunai tipu daya memancing harimau turun gunung, syukur kita tak kena terjebak. Koe Soehoe pun tengah mencari Soe ma Soe tee.”

Mendengar itu, hatinya Cong Gie jadi lega, maka tempo In Po tarik ia, ia lantas ikut. Ketika mereka mendekati pintu, yang separuh tertutup, mereka .dengar Na Hoo sedang bicara sambil tertawa2, seperti juga ia bukan baharu saja melayani musuh liehay. “Jiewie sudah kembali? Bagus!” jago tua itu menyambut dengan suaranya diantara pintu angin. “Kita jangan layani sebala kunyuk, segala maling ayam, biar mereka bikin onar sendiri! Aku si tua bangka memang pa ling bisa tahan sabar. Kita toh tidak rugi seberapa. Mereka pu tar otak, mereka repot, sia2 mereka menjadi panca longok, mereka tak peroleh hasil! Sekarang kau bisa saksikan wajahnya itu kawanan Rimba Hijau yang tak tahu malu! Sekaran kita harus lekas berangkat dari sini, supaya kita tidak ganggu pemilik hotel dan sekalian tetamunya yang sedang enak tidur, agar kita tidak dicaci orang! Kita berangkat jam lima, segala urusan kita boleh bicarakan pula ditengah jalan.”

Ngo Cong Gie dan Soe ma Sioe Ciang, begitupun yang lain nya, bungkam atas kata2 yang nyerocos itu. Baharu kemudian Sioe Ciang tegasi, apa benar mereka harus berangkat jam lima.

“Musuh sembunyi disekitar kita, apa mereka ijinkan kita berangkat?” ia tanya pula Sepasang alisnya jago tua itu bangun.

“Jangan kuatirkan itu,” kata ia. “Aku sudah lihat, tidak nanti mereka akan berani main gila pula!”

Tetapi sembari mengucap demikian, ia kedipi matanya.

Soe ma Sioe Ciang tidak banyak omong lagi, ia lantas minta semua orang bersiap.

Ketika kentongan berbunyi lima kali, Na Hoo perintah jongos sediakan air cuci muka dan air teh, sesudah mana, me reka bayar sewaan hotel. Mereka berangkat jam lima lewat tetapi cuaca masih remeng2, tetamu lainnya masih tidur nyenyak. Untuk persiapan, orang membutuhkan lentera. Dalam rombongan ini, Jie hiap Na Hoo jalan dipaling be lakang, hingga dengan sendirinya ia jadi seperti piauwsoe pengan tar. Ia ada tenang. Tetapi kekuatirannya Cong Gie berbukti bahwa penjahat tidak mau sudah dengan begitu saja.

LXI

Jalan besar ada sunyi, penduduk masih belum bangun dari tidurnya. Selagi Keluar dari pekarangan hotel, Cong Gie dan beberapa kawannya tampak satu bayangan berkelebat diatas genteng dirumah depan, tetapi memenuhi pesan Ay Kim Kong mereka diam saja, mereka cuma bersiap2 sendirinya. Dengan sabar orang jalan bererot, cuma tindakan kaki kuda dan keledai yang terdengar nyata.

Ngo Cong Gie lihat Jie hiap tidak punya binatang tunggangan, sedang semua orang tak jalan kaki seperti dia, ia mau mengalah dengan serahkan kudanya, tetapi Jie hian bersenyum, terus ia bersuit, menyusul mana dari pepohonan lebat di tepi jalan lantas muncul seekor keledai hitam, yang sesampainya didepan orang tua itu, lantas berhenti. Menampak ini, Cong Gie semua jadi kagum dan tertegun.

Demikian orang berjalan, sampai cuaca pagi menjadi terang, hingga satu lie kemudian, didepan mereka tampak gunung Thian Bak San.

Tinggi dan panjang adalah pegunungan Thian Bak San itu, agung pemandangannya. Dikaki gunung ada sawah dan air. Hawa disitu membuat segar rombongan piauwsoe itu, yang tadi telah tidak tidur satu malaman. Di depan mereka ada sebuah sungai kecil dengan jembatan nya yang kecil juga. Dikali itu ada beberapa buah perahu, yang orang nya tengah asyik menangkap ikan.

Ke Siauw Coan jalankan kudanya dekat Jie hiap, siapa bercokol diatas keledainya sebagai juga sedang tidur sambil berduduk. Tiba2 ia mendengar tindakan kaki kuda disebelah kanannya, maka ia lantas menoleh, maka ia tampak, dijurusan Timur selatan jauhnya setengah panahan dimana ada sebuah jalanan kecil, ada dua penunggang kuda, sesampai ditempat yang berlumpur, kuda mereka dikasi jalan pelahan. Seharusnya dua orang itu menyeberang dijembatan kecil itu, tapi ini mereka tidak lakukan, mereka seberangi kali disebelah depan, dibagian yang cetek airnya.

“Lihat, loocianpwee, mereka rupanya ada mata penjahat,” Siauw Coan kata pada Jie hiap.

“Buat apa perdulikan dia?” jawab si orang tua yang bertalakkan matanya.

Sampai dilain tepi, dua penunggang kuda itu kabur pula dengan kuda mereka itu.

Rombongan piauwsoe sudah lantas lewat jembatan. tiba2 Jie hiap larikan keledainya kedepan, kearah dua penunggang kuda tadi, sedang baharu saja ia yang bilang, tak usah perdulikan mereka itu.

Kedua penunggang kuda masih muda, usianya belum tiga puluh tahun, roman mereka gagah, di pelana mereka ada tergantung senjatanya masing2 . Mendekati mereka, Na Hoo kendorkan keledainya, sambil tunduk diam2 ia perhatikan wajah kedua orang itu. Ia dapat kenyataan, walaupun mereka kelihatannya mengawasi dengan bengis kepadanya, mereka tidak kenali ia, maka ia merasa girang. Diam2 ia gencet perut keledainya, ia kedut les, atas mana kedua kuping binatang itu lantas dikasi berdiri, menyusul bergeraknya empat kakinya dengan pesat, lari kabur kedepan!

Jalanan ada jalanan gili2 kali, lebarnya cuma enam atau tujuh kaki, dua pemuda didepan jalan sambil rendengkan kuda mereka sambil asyik pasang omong, dengan begitu, jalanan jadi sempit sekali. Keledainya si jago tua lari keras, seperti hendak menubruk dua orang itu.

Tindakan kaki keledai terdengar nyata, dari itu kedua penunggang kuda itu sudah lantas menoleh. Orang yang dikanan keprak kudanya untuk dikasi loncat melewati kawan nya, guna mengasi jalan. Nyata sekali ia pandai pegang kendali. Dengan demikian, jalanan jadi terbuka. Tetapi Jie Hiap memang endak main2. Selagi keledainya yang bulunya hitam, datang dekat, sekonyong2 ia menjerit “Eh! eh!” dan tangan kirinya dengan ujung baju gerombongan, dikibaskan, hingga ujung baju mengenai mata dari kuda sebelah kiri. Binatang ini kaget dan kesakitan, dia berbenger. Kedua kakinya diangkat tinggi. Syukur si anak muda pandai dan tabah, ia tidak meluncur jatuh dari kudanya itu, hanya celaka si kuda sendiri, sebab kakinya diangkat, terus saja dia nyelonong kebawah gili2 kesawah yang berair dimana dia berontak2 diantara lumpur.

“Pundak rata!” berteriak si pemuda, kepada kawannya. “Binatang itu sengaja membuat aku jatuh, kejar dia, hajar padanya!”

Keledai hitam sementara itu sudah melewati lima atau enam tumbak, Jie hiap sendiri, sambil menoleh, kata sambil tertawa dingin “Binatang, kau berani banyak tingkah? Kalau kau bikin rontok saja selembar bulu keledaiku, meskipun kau ganti dengan selembar rambutmu, aku masih tak sudi!” Tetapi penunggang kuda yang dikanan tadipun gusar.

“Oh, binatang tua bangka!” dia berseru. “Kau berani permainkan Jie thayya! Jangan lari!”

Ay Kim Kong tertawa dingin dan menyahuti “Kau tidak merdeka lagi, boca! Jikalau kau tidak puas, mari ikut aku!” Dalam murkanya, pemuda itu larikan kudanya, untuk mengejar.

Jie hiap larikan keledainya di sepanjang gili2 itu dimana belum ada banyak orang berlalu lintas, disebelah depan cuma ada dua orang desa. Kira sepanahan jauhnya, ia kendorkan larinya keledainya. Selagi pengejarnya mendekati, ia lihat, kawannya pengejar itu, yang jatuh kesawah, sudah naik pula ke gili2 dan turut mengejar, kedua nya terus mencuci maki. Ia tunggu orang datang lebih dekat, ia bukan tegur orang itu, ia hanya kata pada keledainya “Hek jie, sekarang aku hendak lihat kau! Orang ada terlebih besar daripada kau, dia tidak lihat mata padamu! Jangan kau main gila, nanti aku keset kulitmu!”

Keledai itu, Hek jie si Hitam, rupanya mengerti benar katas majikannya, ia memutar diri, ia lari, kearah penunggang kuda yang sedang mendatangi itu untuk ditabrak!

Orang muda itu terperanjat, tetapi ia heran dan mendongkol. “Belum pernah aku saksikan keledai berani lawan kuda....” pikir ia. Lantas ia berteriak “Binatang, kau berani cari mampus!” Ia terus ayun cambuknya, untuk hajar kepala keledai itu.

Hek jie berseru dengan bengerannya secara aneh, dia berlompat kekiri, sambil berlompat, ekornya tak diantap diam saja, ekor ini mengebut, tepat, mengenai kepala kudanya si anak muda, kebutan itu keras, sang kuda kaget dan kesakitan, dia berbenger keras, dia berjingkrak, loncat kekanan, hingga kakinya turun disamping giri2. Maka tidak tempo lagi, bersama penunggangnya dia terjerunuk kebawah, kesungai dimana keduanya kecebur hingga terbitlah suara nyaring dan air muncrat! Syukur anak muda itu jepitkan keras kedua kakinya kepada perut kuda, kalau tidak, tentulah ia terlepas dan kelelap, sekarang ia cuma terpaksa tenggak air kali. Pun syukur, kali tidak dalam.

Diatas gili2, penunggang kuda yang ke dua telah menyusul sampai, dia nampaknya tak keruan macam, karena pakaiannya basah, kotor berlepotan lumpur. Ia saksikan bagaimana kawannya terjun keair, hingga ia kaget. Segera ia tahan kudanya, ia berniat berikan pertolongan kepada kawannya itu. Ia mengepal sebatang piauw. Ia gusar terhadap si orang tua, kepada siapa ia hendak lampiaskan hawa amarah nya.

Na Hoo lihat kawan orang itu sampai, ia putar keledainya, sambil berpaling, ia kata pada orang itu “Boca, kau kenalkanlah aku si orang tua, yang tak dapat dibuat permainan! Kaupun pergilah turun mandi!”

Perkataan itu belum habis diucapkan, atau sebelah tangannya, dengan ujung tangan baju yang gerombongan, sudah diayunkan, menyusul mana ada terdengar dua suara mengaung, dua potong uang tang chie terus menyamber kearah pemuda itu. Dia ini kaget sekali, dia tidak bisa berkelit, sebab justeru dia hendak turun dari kudanya, sedang kedua senjata itu menyerang berbareng kepada perut kudanya, di satu tempat, mengenai jitu. Bahna kesakitan, binatang itu berjingkrak, loncat keluar dari gili2, hingga bersama penunggangnya kuda itu kecemplung dan kecebur kekali.

Na Hoo tonton orang berkecimpungan didalam air, ia tertawa gelak2, kemudian sambil menuding ia teriaki mereka, katanya “Aku si orang tua hendak berangkat terlebih dahulu! Nanti saja kita bertemu pula!”

Benar2 ia kasi keledainya lari keras.

Dua anak muda itu mengawasi dengan melongo, hati mereka panas. Tak dapat mereka mengejar, karena untuk bawa kuda mereka naik dari kali saja, ada sukar. Mereka juga tidak mampu pentang bacot untuk mendamprat, karena mereka telah tenggak banyak air kali, sampai perut mereka kembung. Maka mereka cuma bisa mengawasi saja….

Ay Kim Kong, telah susul rombongan piauwsoe, yang semua pada tertawa geli, karena puas sekali hati mereka menampak kedua orang jahat itu dipermainkan si jago tua. Mereka melihat jago tua itu mendatangi, mereka hendak memapaki, tapi Na Hoo kaburkan terus keledainya melewati mereka, maka terpaksa mereka lantas menyusul. Mereka percaya, sikapnya orang tua ini mesti ada sebabnya.

Mereka sudah jalan lagi kira lima lie, kedua penjahat tadi tidak susul mereka. Masih saja si orang tua berdiam, Cong Gie heran atas kelakuan itu.

“Kenapa loocianpwee diam saja?” akhirnya ia tegur. “Tidak apa, aku kebetulan ingat janjiku,” sahut Jie hiap

seraya ia menoleh. “Aku ada janjikan satu orang, temponya

hari ini dan saat ini juga, apa mau aku telah mesti layani dua penjahat tadi, hingga aku lupa kepada janji itu. Sekarang aku mesti tepati janji, aku mesti berangkat lebih dulu. Baiklah di depan saja, di Thio kauw hoo, tidak dua puluh lie dari sini, kita nanti berkumpul pula.” Ia memandang kebelakang, ia tambahkan “Penjahat itu kena dihajar, umpama mereka menyusul, mereka akan ketinggalan satu perhentian, kawan2mu bakal mendahului sampai. Maka biarlah aku jalan lebih dulu  ” Tanpa tunggu jawaban, jago tua ini larikan keledainya.

Ngo Cong Gie heran tetapi ia diam saja. Orang tua itu benar2 aneh.

“Marilah!” ia ajak kawan2 nya.

Jie hiap kabur dengan keledainya kearah Timur selatan, kemudian dengan ambil sebuah jalan kecil, ia menuju ke Timur, ia lewati dua kampung, hingga ia tak terlihat lagi oleh rombongan piauwsoe. Disini ia putar haluan, akan kembali dan menuju ke Thian Bak San, akan mendaki bukit Ciat Hiang Nia. Karena liehaynya keledai hitam nya itu, ia telah lalui dua puluh lie lebih dan sampai dimulut jalan dari bukit Ciat Hiang Nia. Disini ia loncat turun dari atas keledainya, ia tepuk2 punggung keledainya sambil berkata “Hek jie, inilah tanah datar dimana kau bisa memain dan makan dengan merdeka, tetapi ingat, aku larang kau naik keatas, disana ada banyak srigala dan harimau, kalau kau naik, pasti kau bakal digegares mereka!”

Keledai itu bernapas sengal2, tetapi empat kakinya berdiam, ia seperti dengar dan mengerti pesan itu.

“Nah pergilah!” kata Jie hiap kemudian seraya tangannya dikibaskan.

Cepat sekali binatang itu lari kedalam tempat yang lebat dengan pepohonan, setelah mana, majikannya sendiri mulai mendaki bukit Ciat Hiang Nia itu. Jalanan disini penuh dengan pohon cemara. Diataspun banyak pepohanannya. Dari situ, memandang kebawah, orang tampak pemandangan alam bagaikan gambar lukisan saja.

Na Hoo naik kepuncak paling tinggi, akan memandang kesekitarnya, kepuncak gunung juga, kemudian ia ngoce sendirinya “Boca cilik, cara bagimana kau berani berlaku sembrono? Apa bila kau berbuat kesalahan, apa kau kira jiwamu masih ada?.... Dasar aku yang cari penyakit sendiri… Boca ini bernyali terlalu besar… Kita berdua terlalu gemar campur urusan lain orang, kebetulan kita berkumpul bersama ”

Ia memandang pula kebawah, dimana kelihatan banyak rumah penduduk, yang merupakan gubuk dan guha. Teranglah sudah, penduduk situ hidup dari berburu atau bertani. Digunting itu ada banyak beburonannya. Kemudian, ia mulai bertindak turun. Tanpa merasa, lama sudah ia lewatkan sang tempo, hingga sekarang ada waktunya orang masak nasi untuk santapan malam. Dikaki bukit ia berpapasan serombongan pemburu yang habis berburu, dengan beberapa rupa binatang sebagai hasilnya. Anak isteri mereka menyambut dengan gembira, mereka sambuti hasil perburuan itu dan simpan alat senjata berburu, pemburu2nya sendiri lantas duduk beristirahat akan bercakapan, akan minum untuk melenyapkan dahaga. Dilain pihak, orang2 tanipun sudah mulai pulang dari sawah dan ladang mereka, akan berkumpul pasang omong dengan si pemburu.

Selama mendekati mereka, Na Hoo lihat orang berkumpul diluar, lelaki dan perempuan, tua dan muda, untuk duduk bersantap. Nampak nyata sekali mereka hidup senang dan gembira walaupun hidup mereka serba kekurangan. Mereka cuma bisa pakai lumayan, dahar cukup, tubuh sehat, mereka tak punya kesenangan seperti orang kota. Toh mereka hidup puas. Maka itu, jago tua ini jadi kagum.

Setelah datang dekat, Na Hoo memberi hormat, lalu. ia tanya tempat itu apa namanya, apa disitu ada kuil atau tempat pondokan lainnya.

Satu pemburu umur empat puluh lebih, mukanya merah, alis nya gomplok, menyahuti dengan balik tanya, tetamu ini pesiar di gunung atau sedang lakukan per jalanan. Dia kata, disitu tidak ada kuil, ada juga di Barat utara, dipuncak Lok Gan Hong, kuil Ciat Ho Sie, pendetanya empat atau lima, kuilnya kaya dengan hasil perkebunan teh, maka siapa mondok disana, boleh tak usah bayar apa2. Diapun mengundang untuk minum teh dan dahar, sikapnya ramah tamah sekali.

Memang Ay Kim Kong merasa lapar dan haus, ia terima undangan itu. Ia kata, pada lima tahun dulu, ia pernah datang ke Thian Bak San ini, cuma ia tidak datengi bagian ini hanya kesebelah Barat utara dimana katanya ada orang yang berjualan. Ia mengucap terima kasih, ia menimbrung diantara orang gunung itu dan dahar. Ia pun disuguhi arak.

“Kau beruntung sekali hidup cukup digunung ini!” ia puji mereka. “Arak ini begini wangi, apa ini boleh beli dikota?”

“Kau keliru menerka, sahabat,” kata si pemburu. “Kami dapat uang dengan menukar dengan jiwa, masakan kami sudi menghamburkan uang? Arak ini ada buatan kami sendiri. Kalau kau gemar minum, hayo minum lagi!”

“Ah, aku berlaku kurang hormat!” kata Na Hoo, yang lalu tanya she dan nama orang.

Seorang yang romannya sebagai ketua, perkenalkan diri sebagai Ca Gie, dan kawannya itu, yang mengajaki minum bersama, katanya ada si setan arak Lioe Thong.

“Tanpa minum arak, dia tak. mau pergi berburu, sesudah minum, dia paling berani hadapi beburonan!” kata ketua itu.

“Ah, ketua, kenapa kau buka rahasiaku?” kata si setan arak itu. Kemudian iapun tanya she dan nama tetamunya. “Aku she Na, anak ke dua,” sahut Na Hoo. “Aku tidak punya lain nama, orang biasa panggil aku Loo Jie. Maka kau pun baik panggil aku Loo Jie.”

Mereka lantas minum. Ay Kim Kong suka bergaul kepada Lioe Thong yang ramah tamah dan polos, usianya dua puluh lebih. Ia tidak sangka, dibelakang hari mereka berdua berjodo untuk bertemu pula satu dengan lain.

Habis dahar, Na Hoo pamitan. Tuan rumah tawarkan ia menginap pada mereka tapi ia menampik dengan alasan ia hendak susul kawan. Iapun kasi selamat berpisah pada Lioe Thong.

Melanjutkan perjalanunnya ini, Na Hoo mesti jalan dibawah sinarnya bintang2 dan rembulan, ia menuju kearah yang si pemburu tunjukkan. Jalanan yang sukar, tidak jadi rintangan baginya. Maka diakhirnya, ia mulai tampak bayangan kuil. Ia tahu, itulah puncak Lok Gan Hong. Ia bertindak terus. Selagi ia jalan, tiba2 dari sebelah kanannya ia dengar helaan napas dan kata “Ah, sayang, satu jago kenamaan, pandainya cuma akali nasi dan arak orang! Dia harus ditabok! ”

Mendengar itu, jago tua ini terperanjat, tetapi tanpa bersangsi ia loncat kekiri, akan situ baharu loncat pula kekanan, akan lihat orang yang buka suara itu. Ia bergerak sangat gesit, akan tetapi ia tidak lihat siapa juga. Baharu sekarang ia heran, sebab ia tahu, ilmu entengi tubuh ada istimewa kali, sukar tandingannya.

“Kenapa disini aku ketemu orang liehay?” pikir ia. Ia tidak mau mencari lebih jauh, ia jalan terus, dengan masgul. Baharu ia sampai dikaki puncak, disebelah kirinya ia dengar pula suara orang, suara yang dalam, katanya “Orang kate she Na, jangan kau tidak puas! Segera kau akan lihat! ” Na Hoo jejak tanah untuk loncat naik keatas pohon didepannya, ia injak cabang dari mana lantas ia mengawasi ke arah kiri, tetapi walaupun ia sudah bergerak gesit luar biasa, ia masih tidak dapat lihat orang yang buka suara itu. Ia insaf akan liehaynya orang itu, tetapi iapun menduga bahwa orang niscaya tidak berniat jahat terhadapnya. Hanya, kalau dia ada orang dari pihak Cin tiong Sam Niauw, itulah sulit….

Lantas jago tua ini turun dari pohon, ia lanjutkan perjalanan nya tanpa perdulikan lagi orang tidak dikenal itu, ia menuju langsung ke Ciat Ho Sie, yang segera juga mulai tertampak tegas. Dengan bertindak lebih cepat lagi ia sudah lantas sampai dikuil itu, disebelah Timur. Dari sini ia menuju kedepan, untuk perhatikan kuil itu. Selagi bertindak, ia dengar suara cabang pohon disampingnya, disusul oleh ucapan “Orang kate, kenapa kau masih begini agungan? Kalau kau ayal lagi sedikit, jiwanya satu boca akan lenyap! Bagaimana kau nanti ada muka untuk ketemu orang?”

Mau atau tidak, Na Hoo kaget. Segera ia lompat nyamping.

“Siapa kau !” ia menegur. Tetapi ia tak peroleh jawaban.

Iapun tidak lihat orang.

Cahaya rembulan melainkan menyinari pepohonan.

LXII

Mau atau tidak jago tua ini menjadi ibuk juga. Ia, satu jago yang dimalui, sekarang menghadapi satu orang yang terang ada terlebih liehay daripada nya. Ia terutama bingung karena tak tahu orang ada kawan atau lawan. Tetapi ia tidak puas, hingga ia mau anggap orang itu adalah musuh, musuh dengan siapa ia niat adu kepandaian! Maka diam ia siapkan dua batang Kim kong Yan bwee piauw dalam genggamannya.

“Apabila ia perdengarkan pula suaranya. aku nanti hajar pada nya,” dia pikir. “Tak perduli ia terluka atau tidak, asal dia tak dapat sembunyi lebih jauh ”

Lantas ia mulai perhatikan keletakannya Ciat Ho Sie, yang berkedudukan dipuncak paling tinggi dan ambil tempat luas, banyak pepohonannya, siong, pek dan bunga2. Pintu depan nampaknya angker.

Loncat naik keatas pintu, Na Hoo memandang ke Barat dan Selatan. Ia bukan hendak menikmati keindahan sang malam, ia terus pergi kependopo. Disini ia mendekam akan awasi pendopo dalam, yang besar tetapi sunyi sekali, gelap seluruhnya, Iapun periksa pendopo kedua, yang gelap dan sepi seperti yang pertama. Adalah dibelakang toa thian, pendopo utama, ia tampak sinar api yang terang sekali. Itu bukannya hoed thian, ruangan pemujaan Buddha, hanya kamar hongthio, pendeta kepala. Ruangan itu tidak sebesar pendopo depan.

Duduk ditengah ruangan, atas sebuah kursi bundar, ada satu hweeshio umur lima puluh lebih, tubuhnya besar dan gemuk, wajahnya keren, sebab alisnya gomplok, matanya gede. Pada kepalanya yang gundul ada enam tanda suci. Ditengah sepasang alisnya ada tai lalat hitam. Jubanya abu2 memakai leher biru, dilehernya ada kalung dari seratus delapan pou tee coe. Dikedua sampingnya ada sepasang siauw see bie atau kacung paderi usia empat dan lima belas tahun. Diapun didampingi lima hweeshio muda yang semuanya menyekal golok kaytoo atau toya sian thung. Rupanya pendeta beroman bengis itu baharu saja bercokol atas kursinya itu. Na Hoo sembunyikan diri digenteng Timur, akan pasang mata “Bawa binatang cilik itu kemari, aku mesti ketahui asal usulnya!” demikian suara bengis dari pendeta itu.

Salah satu hweeshio lantas pergi kesamping, terus kebelakang.

“Teranglah salah satu murid kaumku tertawan disini,” pikir Na Hoo. “Aku janjikan Liong jie bertemu di Ciat Hiang Nia, ia tidak muncul, aku kuatirkan dia. Mungkinkah dia yang terjatuh ditangannya pendeta ini?”

Ia tidak sempat menduga , kelihatan hweeshio tadi kembali bersama dua hweeshia lain, yang mengiringi satu pemuda dengan rambut kusut dan muka kotor, kedua tangannya ditelikung. Dia ini didorong kedepannya hweeshio bengis itu.

Benarlah dugaan Ay Kim Kong, pemuda itu adalah Ciok Liong Jiang. Ia jadi sangat mendongkol. Ia sedang tempur Cin tiong Sam Niauw, siapa tahu sekarang cucu muridnya kena orang tawan. Tapi ia menahan sabar, ia pasang mata dan kuping. Ia ingin saksikan tingkah polanya si pendeta, ia ingin tahu sifatnya cucu murid itu.

Liong Jiang berdiri dengan tegak, tak sedikit pun menunjukkan takutnya hati.

“Binatang!” si pendeta membentak. “Didepan Sang Buddha kau tidak tekuk lutut, kurang ajar! Berapa kau punya batok kepala?”

“Kau murid Buddha kiparat!” Liong Jiang membalas. “Kau langgar aturan suci, kau menawan orang baik2, kau merampas harta dan jiwa! Kau tidak takuti Thian, apakah juga kau tidak jerikan orang gagah?”

“Binatang, kau bernyali besar, kau berani ngaco belo didepan Sang Buddha!” pendeta itu membentak pula. “Buddhamu justeru sedang mewakilkan melakukan keadilan, untuk singkirkan orang jahat! Kau masih begini muda tetapi kau membawa harta besar, pasti kau peroleh itu dengan cara tidak halal! Lekas beritahukan she dan namamu dan asalnya kau dapati harta besar itu, nanti aku kasi ampun padamu! Jikalau kau tetap membandal, aku nanti bikin tubuhmu menjadi abu!”

“Lekas bicara!, bicara!” kata beberapa hweeshio dipinggiran.

“Kawanan makhluk tak tahu malu!” kata Liong Jiang yang tetap tidak takut. “Pendekar cilikmu masih muda tetapi dia sudah kenyang merantau, dia tak jerikan sungai besar dan gelombang dahsyat, maka bagaimana kau bisa gertak aku? Hm!”

“Binatang, kau berani menghina Sang Buddha?” berseru si pendeta bengis. “Apakah kau sangka Sang Buddha tak bisa bunuh padamu? Aku nanti beri penjelasan dulu, baharu aku akan suruh kau mampus! Sebenarnya aku sayang kau sebab kau muda, boegeemu sudah liehay, aku ingin tolong kau, supaya kau menjadi murid Buddha, aku tanggung dibelakang hari kau bakal menjadi kesohor. Tetapi apabila kau ngoce tak keruan, gampang untuk aku ambil jiwamu!”

Tetapi Liong Jiang tertawa menghina.

“Pendeta jahat, kaulah yang tak tahu diri!” dia membaliki. “Pendekar cilikmu ada murid orang kenamaan, aku pandang kematian seperti rumput! Aku berani merantau, itu artinya aku sudah tak pandang lagi jiwaku! Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, terserah padamu untuk kau bunuh atau tidak! Baik kau segera bunuh aku, jikalau tidak, aku nanti caci maki padamu!”

“Binatang, kau benar tidak tahu diri!” pendeta itu murka besar. “Hajar dia seratus rotan!” Perintah itu diturut. Liong Jiang digusur ketihang untuk diikat disitu. Satu hweeshio lain keluarkan sebuah cambuk rotan.

“Lekas kau minta ampun, atau aku nanti hajar kau!” kata si hweeshio algojo.

“Aku tak sempat ngobrol!” jawab Liong Jiang. “Kalau kau masih ngoce, aku nanti damprat juga padamu!”

“Kau benar cari mampusmu!” menjerit hweeshio itu. “Percuma jikalau aku tidak robek kulit dagingmu!”

Tidak ampun lagi, hweeshio itu ayun cambuknya, dia gunai tenaga sekuatnya.

Liong Jiang tutup matanya, ia tak pikirkan pula jiwanya.

Selagi cambuk terayun naik, pendeta itu berkaok “Aduh!” cambuknya terlepas dan jatuh, tubuhnyapun menyusul rubuh bergulingan, dari mulutnya terus keluar jeritan ter aduh2!

Semua pendeta itu kaget. Tapi pendeta yang tua segera berseru “Ada musuh! Bekuk dia!”

Dua hweeshio segera loncat keluar, buat terus lompat naik keatas genteng, tetapi yang didepan disambut selembar genteng, dia tidak keburu berkelit, mukanya kena disamber, sambil menjerit ia jatuh dari genteng. Selembar genteng lain menyambut hweeshio yang ke dua, berbareng dengan itu terdengar bentakan “Turunlah kau!” Benar2 hweeshio yang ke dua rubuh terguling, sebab genteng mampir didadanya. Ia jatuh dengan menimpali menindihi tubuh kawannya yang jatuh terlebih dulu, muka siapa mandi darah, ia sendiri patah tulang dadanya.

“Tangkap, tangkap!” pendeta pendeta lainnya berteriak2. “Bangsat besar, kau berani ganggu tempat suci!” berseru si pendeta bengis. Dia samber sebuah golok besar dari tangan satu kacung, dengan bawa itu ia loncat pada Liong Jiang. “Sang Buddha mesti antar kau lebih dulu kenirwana!” ia serukan.

Golok besar segera diayun, Liong Jiang sudah tidak berdaya, darahnya tinggal muncrat saja, tatkala terdengar bentakan “Hei, kunyuk, keledai botak, anjing buta melek, awas!”

Dan selembar genteng menyamber hweeshio itu.

Dengan goloknya, si hweeshio tangkis timpukan itu, hingga genteng tersampok pecah dan terbang berhamburan, suaranya nyaring.

“Manusia rendah!” hweeshio itu berseru seraya ia memandang ke payon. “Kau berani datangi kuilku! Lekas kau turun untuk terima binasa!”

Menyusul suaranya pendeta ini, kelihatanlah satu bayangan, hingga dilain saat, didepan dia lalu muncul satu orang seorang tua kate dan kurus melihat siapa, hatinya si pendeta tidak menjadi gentar, karena dia tidak kenal Yan tiauw Siang Hiap.

Sebaliknya adalah Ciok Liong Jiang, yang hatinya jadi lega, sebab dengan datangnya kake guru ini, keselamatannya bakal terjamin. Malah ia segera keluarkan antero tenaganya, untuk berontak. Untung untuk ia, orang pun tidak ikat terlalu keras padanya dengan kerahkan tenaga nya, sekejab saja ia bisai loloskan diri hanya ketika ia terus berlompat akan dekati Na Hoo, tubuhnya jadi limbung. Inilah sebab setelah terbelenggu terlalu lama, darahnya tidak jalan dengan benar. Pendeta itu melihat kurbannya kabur, ia berteriak “Binatang, kau hendak kabur kemana?” terus loncat mengejar.

Jie hiap pun berseru “Liong jie, jaga dirimu! Lihat aku binasakan keledai kepala gundul ini!” Lantas ia melompat kedepan.

Menghadapi si orang tua, pendeta itu batal mengejar Liong Jiang.

“Tua bangka, kau berani ganggu urusan Sang Buddha, aku terpaksa mesti langgar pantangan membunuh!” dia berteriak.

Jie hiap tertawa mengejok.

“Oh, keledai gundul!” ia jawab “Kau ada satu murid Budha tapi kau berani bunuh orang dan merampas harta, kau justeru telah langgar pantangan dengan sengaja, dosamu tambah satu tingkat! Bukankah kau tahu cara bagaimana kau harus mam pus? Aku si tua gemar usilan, walaupun demikian, tanganku tidak berbau amis darah, apa pula kau adalah murid Buddha, yang biasa cia cay, yang berjuba suci, maka terhadap kau, aku suka berlaku murah hati! Aku inginkan kau mati sempurna, dan itu, pergilah kau gantung diri sendiri!”

Pendeta itu gusar bukan kepalang, sampai ia menyebut “Omio tohoed! Binatang kau kurang ajar sekali terhadap Sang Buddha, mustahil aku tidak mampu bikin mampus padamu?”

Ia lantas lompat menyerang dengan goloknya. Na Hoo berkelit kesamping. “Keledai botak, kau berari mengganas!” ia berteriak. Lantas dengan tangan kanan dipinggang, tangan kirinya dipakai menabas pundak kanan pendeta itu.

Melihat serangannya gagal, pendeta itu miringkan tubuhnya kekiri, hingga ia lolos dari tabasan tangan lawan, setelah itu, ia berbalik badan dan membacok terlebih jauh, mengarah bebokong si orang tua. Ia bisa berbuat begini sebab kakinya telah digeser kedepan.

Jie hiap berlompat akan singkirkan diri dari bacokan, ketika ia injak pula tanah, jarak diantara mereka ada setumbak lebih.

Si pendeta ada sangat tangkas, begitu bacokannya lolos, ia lompat maju untuk menyusul dengan tikaman, kepada belakang iga kanan lawannya.

Cuma dengan putar tubuhnya, Na Hoo terluput dari ujung golok. Dengan demikian ia jadi berada disamping pendeta itu. Karena ini, ia leluasa mengulur kedua tangannya akan menyerang dengan berbareng kepada jalan darah hoa kay hiat dan pundak kirinya si hweeshio.

Si pendeta insaf bahaya mengancam begitu lekas ia dapati serangannya tidak memberi hasil, iapun mencelat kekanan, jauhnya setumbak lebih.

“Keledai gundul!” Jie hiap membentak. “Jikalau kau ada punya kepandaian, keluarkan itu semua! Aku si orang tua ingin saksikan, kepandaianmu ini sebenarnya guru mana yang ajarkan kepadamu! ”

Sembari mengejek demikian, Na Hoo lompat menyusul, tangannya diulur kepada bebokong orang, gerakannya adalah “Kim liong tam jiauw” atau “naga emas menyengkeram” Dengan gunai gerakan “Auw tioe hoan sin” atau “Alap alap jumpalitan” pendeta itu berkelit seraya putar tubuh, sembari berkelit goloknya menyamber dalam gerakan “Hankoepay Hoed” atau “Ayam kedinginan memuja Buddha” akan babat muka musuh. Sebenarnya ini ada babatan yang berbahaya, tetapi Na Hoo tidak menghiraukannya, sambil egos tubuh, ia mengejek “Oh, sebegini saja!”

Pertempuran berlanjut dengan si orang tua terus memain dengan lidahnya yang lemas, hal mana ia membuat si pendeta berkaok2 bahna mendongkolnya, hingga karena kemurkaannya yang meluap2, dia jadi sengit dan berkelahi secara hebat. Inilah keinginannya si orang tua untuk paksa orang keluarkan antero kepandaiannya yang ia ingin menyaksikannya. Ia terus berkelahi dengan tangan kosong menghadapi musuh yang bersenjatakan golok besar.

Permainan goloknya pendeta itu tidak lemah, dia rupanya telah terlatih cukup, akan tetapi menghadapi si orang tua kate dan kurus, dia tidak mampu berbuat banyak, dia kewalahan dilayani dengan kegesitan, dia repot melihat orang seperti kitari padanya, saban2 datang pukulan atau totokan. Si empe ini mirip dengan seekor kera.

Dua puluh jurus sudah lewat, pendeta itu tetap berada dibawah angin, saking mendeluh, dia keluarkan ilmu goloknya Ngo houw Toan boen too, yang jarang orang bisa gunai.

Menampak orang telah menjadi nekat, Jie hiap segera keluarkan Jie sip sie Kiauwta Sin na, ilmu menangkap atau menyekal yang ada dua puluh empat jalannya, untuk melayani, hingga ia bergerak2 dengan terlebih sebat dan tangkas pula. Dalam sengitnya, si pendeta menyerang muka Jie hiap dengan bacokan “Tan hong tiauw yang” atau “Burung hong hadapi matahari kemudian selagi lawan berkelit mundur, ia teruskan membabat dengan “Tiat so heng cioe” atau “Dengan rantai besi melintangi perahu,” mengarah pinggang musuh.

“Bangsat gundul, kau lihat!” kata Na Hoo dalam hatinya melihat ia didesak. Pertama dibacok ia mundur, begitu dibabat, ia lompat jumpalitan melewati kepalanya si gundul, hingga ia turun dibelakang lawan itu, begitu memutar tubuh, dua jari tangannya yang kanan, telunjuk dan tengah, mencari jalan darah leng tay hiat.

“Ayo!” menjerit si pendeta, dengan jeritannya yang separuh tertahan, menyusul mana goloknya yang berat terlepas dan jatuh ketanah, disusul terlebih jauh oleh tubuhnya yang besar, yang rubuh bagaikan tembok ambruk!

Jie hiap tidak berhenti sampai disitu, ia loncat kepada pendeta itu untuk ditotok terlebih jauh urat gagunya.

Kesudahan pertempuran itu membuat semua hweeshio lainnya kaget dan takut, tidak tempo lagi mereka angkat kaki mereka untuk lari.

Melihat orang hendak sipat kuping, Jie hiap berlompat dengan gerakannya “Yan coe coan in” atau “Burung walet tembusi awan,” sekejab saja ia sudah sampai dibelakangnya satu hwee shio, yang tubuhnya besar sekali, bebokong siapa ia jambak, untuk diangkat atau dilemparkan, hingga tubuh yang besar itu terangkat dan terlempar jatuh ketanah. Walaupun ia ada kate dan kurus, tetapi diwaktu digunukan tenaganya telah jadi besar sekali.

“Siapa berani kabur?” ia segera membentak yang lain. “Aku nanti banting kau semua!” Empat hweeshio lainnya berdiri diam, mereka jeri akan melihat contoh kawannya itu, yang meringkuk sebagai ketua mereka.

Menampak orang sudah kena dipengaruhi, Na Hoo hampirkan si pendeta. Dia ini tidak pingsan, dia cuma tidak mampu bergerak, tetapi pikirannya sedar seperti biasa. Maka itu dia mengawasi lawannya dengan roman gusar sekali.

Jie hiap berbangkit, akan menghampiri hweeshio itu, siapa ia totok pula untuk bikin darahnya jalan seperti biasa, maka begitu dia menjerit, hweeshio itu bisa bicara pula. Dia ada sangat mendongkol karena orang paksa dia berlutut, dia malu berbareng tawar hati saking tidak berdaya.

“Omie toohoed, siancay, siancay....” ia memuji. “Aku tidak sangka bahwa aku bisa rubuh di tanganmu Tetapi apabila kau menghina terlebih jauh, terpaksa aku nanti upat caci padamu “

Ay Kim Kong tertawa gelak.

“Apa kau bilang? Kau ingin jiwamu segera habis?” ia tegaskan. “Tak usah kau minta itu! Kau sebenarnya mesti sesalkan diri karena tadi kau tidak mendengar nasihatku Sekarang kau jawab beberapa pertanyaan ku, apabila kau berlaku terus terang, tidak nanti aku bikin susah padamu, aku akan antap kau mati lengkap sempurna, supaya kau bisa bunuh diri sendiri. Jikalau kau tidak tahu diri, aku tidak perdulikan apa juga, aku nanti hukum picis padamu, hingga neraka pun tak akan sudi terima kau!”

Pendeta itu bersangsi untuk melompat kabur, ia bisa lakukan itu, tetapi ia sangsikan hasilnya. Ia insaf liehaynya si kate kurus itu, sedang Liong Jiang dengan goloknya ditangan, siap sedia disampingnya. Memang, sambil mengawasi dengan mata tajam, Liong Jiang telah pikir “Asal kau mencoba kabur, paling dulu aku akan tabas satu lenganmu!”

“Hayo, hweeshio, kau bicara lah!” Na Hoo kata pula. “Kau memikir yang bukan2 apabila kau hendak main gila terhadap aku si orang tua.”

“Aku rubuh ditanganmu, inilah rupanya sudah takdirnya!” berkata si pendeta dalam murkanya. “Baik kau perkenalkan dirimu, supaya aku tahu siapa yang sudah sempurnakan diriku. Kau ada satu orang kang ouw, pasti kau bukannya seorang tak ternama, apabila kau tetap tidak mau sebut namamu, sampai matipun aku nanti cuci maki padamu! Sayang sekali aku, Kim too Lo han Gouw Seng telah mesti terbinasa ditangannya satu anak haram, sungguh sangat tidak berharga! … Ah!”

Pendeta itu belum sempat tutup mulutnya atau ia telah per dengarkan seruannya “Ah!” itu. Ucapannya “anak haram” menyebabkan Liong Jiang gusar hingga segera punduknya dikemplang dengan belakang goloknya sendiri. Sekarang dia merasai sakit bukan main, sampai kesumsumnya Maka dia jadi sangat benci pada si anak muda, yang dia hendak damprat.

“Keledai gundul!” membentak Na Hoo, yang mendahului pendeta itu. “Kau berani keluarkan perkataan kotor, aku nanti bunuh padamu!”

Bentakan ini membuat Gouw Seng, demikian nama suci si pendeta, jadi bungkam, karena ia kena terpengaruh. Dengan keluarkan kutukan tak nyata, ia lantas duduk diam saja.

Tetapi Na Hoo tidak buktikan ancamannya. “Angkat dia bangun, kita tak dapat bunuh padanya!” kata Jie hiap kemudian.

Liong Jiang tercengang, hingga ia termangu mengawasi kake guru itu. Dengan sendirinya iapun menjadi ragu2.

Jie hiap pandang cucu murid ini.

“Apakah kau belum puas?” dia tegur. “Kenapa kau tidak mau lantas letaki golokmu itu? Coba dia sebutkan siang2 bahwa dia adalah Kim too Lo han Gouw Seng, sekalipun cuma satu kemplangan belakang golok, tak dapat kau lakukan!”

Mendengar ini baharulah pemuda itu sadar. Ia insaf, rupanya gurunya ada punya suatu hubungan dengan pendeta ini. Maka segera ia lemparkan golok yang dipegangnya. Tetapi ia tetap mendongkol.

“Soe couw, aku mohon keterangan,” kata ia pada kake guru itu. “Apa mungkin kita dari Hoay Yang Pay yang putih bersih ada punyakan suatu orang Rimba Hijau sebusuk dia ini?”

Ay Kim Kong tertawa gelak2.

“Boca cilik, pandai sekali kau menanya! Janganlah kau tempel catat pada muka kita!” kata ia. “Murid2 dari Lek Tiok Tong, Ceng hong po, tidak nanti ada yang merantau sebagai pendeta merangkap jadi begal berandal, aku larang kau ngoce tak keruan! Ingat, jangan kau menambahkan kegusaranku!”

Liong Jiang tahu benar adat nya soecouw ini, yang gusar dan girang tak dapat dibedakan, maka itu, lantas ia berdiri diam sambil turunkan kedua tangan nya.

Sekonyong2 pendeta itu angkat kepalanya. “Omie toohoed!” ia memuji. “Loosoe, adakah kau dari Hoay Yang Pay? Apakah kau bukannya hiapkek Yan tiauw Siang Hiap?”

Na Hoo tertawa berkakakan.

“Maaf, aku bukannya satu hiapkek!” jawab ia. “Aku si tua bangka ada orang she Na nama Hoo. Malam ini aku telah berdosa terhadap Lohan ya, tak dapat tidak aku bakal masuk ke dalam roda penitisan! Oh, Lohan ya, aku mohon pertolonganmu, harap kau mintakan keampunau kepada Jie Lay Hoed, jika lau tidak, tak dapat aku hidup lebih lama pula ”

LXIII

Baharu sekarang Kim too Lo han Gouw Seng, Lo han atau Arhat si Golok Emas, ketahui orang tua kate kurus itu ada Ay Kim Kong Na Hoo, Yan tiauw Siang Hiap yang ke dua, tidak ayal lagi ia tekuk kedua kakinya, ia merayap maju satu tindak, dengan kedua tangan dirangkap untuk memberi hormat, dia manggut .

“Loo hiapkek, harap maafkan tee coe untuk kelancangan teo coe ini,” ia memohon. “Aku harus mampus, aku ada punya mata tetapi tidak ada bijinya, hingga aku tidak kenali kau. Loo hiapkek, terimalah hormat dan maafnya teecoe.”

Lagi2 ia manggut.

Na Hoo tidak gusar, ia hanya tertawa geli.

“Jangan kau tidak pakai aturan tata sopan,” berkata ia. “Kau adalah Lohan, dan aku Kimkong. Kimkong ada satu pangkat yang rendah sekali, sebagai kimkong aku kena pukul lohan yang sakti suci, apakah dengan begitu tidak harusnya aku disamber geledek?” Masih si pendeta berlutut, tak berani dia berbangkit berdiri.

“Jangan godai aku, loocianpwee,” memohon dia. “Jikalau loocianpwee tidak mengasihani aku, pastilah aku bakal terbinasa dengan tak ada tempat untuk kuburanku!”

“Baiklah, Gouw Seng Soehoe.” kata Ay Kim Hong kemudian. “Bangunlah! Mari kita bicara. Sebenarnya aku bingung benar melihat kau. Kau ada murid Buddha, kau letaki kitabmu, kau tak membaca doa, sebaiiknya, kau menjadi begal! Apakah artinya ini? Mustahil gurumu sudah ubah cara hidupnya?”

“Loocianpwee, harap kau tidak godai aku pula,” Gouw Seng masih memohon. “Sebenarnya aku malu sekali dengan pertemuan ini. Dalam halku ini, guruku tidak tahu menahu. Pada lima tahun yang lampau, karena nampak bencana, guruku mendongkol, ia tinggalkan kuil Kim Hoed Sie dibukit Oey Liong Kong, ia pergi sembunyikan diri dicuram Cian Tiang Gay, puncak paling tinggi dari gunung Heng San, untuk meyakinkan lebih jauh ilmu silatnya. Ia sekarang sedang yakinkan suatu ilmu untuk mana ia membutuhkan tempo latihan sedikitnya sepuluh tahun. Sebelum peryakinan itu sempurna, soehoe tidak nanti turun gunung. Loocianpwee ketahui sendiri tabiatnya soehoe, perkataannya, niatnya selamanya mesti bisa diwujudkan. Karena soehoe pergi, Kim Hoed Sie jadi tidak ada yang urus, aku dan dua saudaraku tidak dapat berdiam lebih lama disana, maka kami meninggalkannya pergi, kami berpisahan. Aku telah sampai di Ciat Ho Sie ini. Menyesal disini aku tidak punya penghasilan, diakhirnya, dengan terpaksa aku tuntut penghidupan tersesat ini. Aku tahu kesalahanku tetapi aku terpaksa. Tadi pemuda ini datang kemari, aku dapat tahu dia bawa barang berharga, lantas kami tawan padanya. Kalau dia sebut2 nama loocianpwee, tidak nanti aku berani ganggu padanya, dan pula kalau loocianpwee tidak bermurah hati, pasti siang aku telah terbinasa. Mengingat persahabatan loocianpwee dengan guruku, aku mohon loocianpwee ampuni aku, terutama terhadap guruku nanti, tolong loocianpwee menutupnya akan hal ini. Mulai saat ini aku bersumpah akan bersihkan diri aku nanti ingat agamaku, aku akan yakin sendiri ilmu silat, supaya dibelakang hari aku bisa bantu guruku mencari balas. Sudah tentu aku tidak akan lupakan budinya loocianpwee ini.”

Ay Kim Kong bersenyum dia anggguk kan kepala. “Hweeshio bangsat, tak usah kau goyang pula lidahmu,”

kata dia dengan tidak sungkan. “Kita adalah bangsat ketemu bangsat, siapa mainkan kunyuk, dia jangan menabu gembreng saja! Kau jual apa, aku lakukan apa! Biasanya aku berlaku terus terang, kau telah terjatuh kedalam tanganku, kau mesti sesalkan dirimu sendiri. Bukankah kau pernah dengar bahwa aku biasa makan maling? Tidak pernah aku melepaskan pula maling yang rubuh ditanganku, maka kau juga tidak menjadi kecuali! Jikalau kau ingin aku tidak beber rahasiamu, kau mesti dengar aku, umpama kata aku perlu uang, kau mesti menyediakannya - uang atau peraknya! Untuk makan dan minum, kau juga mesti menyediakannya, apabila ada sedikit tak mempuaskan aku, kau mesti tahu sendiri! Kau selalu mesti hunjuk muka manis kepadaku, jangan kau sesali aku. Kalau aku sedang senang, bisa jadi aku nanti wakilkan gurumu membersihkan rumah tangganya! Kau mengerti, bukan?”

Liong Jiang melengos, ia hendak tertawa geli tetapi ia mesti tahan. Soecouwnya itu ada terlalu jenaka dan jail, perkataannya tak keruan tetapipun tajam.

“Loocianpwee, biar bagaimana aku mohon kau kasihani aku,” Kim too Lohan Gouw Seng lagi memohon. “Memang sudah seharusnya aku rawati kau, dibelakang hari tidak nanti aku lupakan budimu ini ”

“Hweeshio bangsat, kau jangan takut!” Ay Kim Kong potong. “Apakah kau kira aku si tua bangka mau diberi makan seumur hidupku olehmu? Walau pun kau bersedia akan piara aku, aku sendiri tidak berkesempatan akan lari datang kemari! Aku ada seorang paling adil. Jikalau kau tidak celakai aku, aku tidak nanti celakai kau! Kita mesti berlaku jujur, siapapun jangan berhati jahat. Kau ber pura2 tolol kepadaku, akupun berpura2 tolol kepadamu! Kau dengar terang, bukan?”

Mendengar demikian, bukannya Gouw Seng mendongkol atau gusar, ia justeru insaf kekeliruan atau kealpaannya. Ia memohon2 maaf tetapi satu hal ia lupai, yaitu peti berharga ia tidak pulangkan, ia tidak sebut2! Tidak heran kalau Ay Kim Kong masih saja ngoce tak keruan! Maka lekas ia berbangkit.

“Loocianpwee, tolong perintah siauwhiap ikut aku akan ambil peti berharga itu,” ia kata.

“Asal kau mengerti, sudah cukup!” Jie hiap tertawa “Buat aku, kau serahkan itu kembali atau tidak, bergantung kepadamu sendiri. Aku adalah seorang yang tak takut untuk orang curangi, karena aku tahu, akhirnya orang toh tak dapat mencurigai aku. Kan jangan sungkan diri, jikalau kau punyakan pikiran demikian, pergi kau ambil sendiri, tak usah kau di ikuti! Umpama kau memikinya buat lari, aku si tua bangka berani bertaruh denganmu. Aku biarkan kau lari lebih dahulu sepuluh lie jauhnya, lantas aku kejar kau, jikalau sebelum jam lima aku tak dapat candak padamu, kecewa aku disebut Yan tiauw Siang Hiap!” “Oh loocianpwee, jangan kau curigai aku,” kata Gouw Seng dengan cepat. “Walaupun tee coe bernyali sangat besar, tidak nanti teecoe berani berbuat demikian, sebab itulah berarti tee coe cari mampus sendiri ”

Lantas Kim too Lohan lari ke kamarnya, akan ambil peti berharga, yang mana dengan kedua tangannya, dengan hormat sekail, ia serahkan pada si jago tua. Peti ada terbungkus dan terkunci, tetapi ia telah bikin rusak hingga tak dapat dibetulkan lagi. Dengan muka merah, bahna malu ia kata “Loocianpwee, tolong terima ini. Kalau ada yang kurang, teecoe bersedia untuk menggantinya.”

Jie hiap Ay Kim Kong tertawa gelak gelak.

“Orang yang baik, kau salah mata!” berkata dia. “Buat apa aku periksa lagi? Kau jangan kuatir! Aku malah anggap kau telah tolong simpan dan jaga barang berharga ini. Barang ini bukan kepunyaanmu, bukan juga kepunyaanku, tetapi mulai saat ini, apa yang kurang, kau yang mesti ganti!”

Gouw Seng menyahuti “Ya, ya,” ber ulang2, karena ia insaf, walaupun ia diejek, Ay Kim Kong omong dari hal yang benar. Memang dialah yang mesti bertang gung jawab untuk keutuhannya peti berharga itu.

Ay Kim Kong perintah Liong Jiang terima peti itu, untuk di bungkus pula dengan rapi.

“Gouw Soehoe,” kemudian kata Na Hoo, dengan suara sabar, “Kita ada orang2 kang ouw, dalam segala hal tak dapat kita saling salah menyalani atau mendendam, maka sekarang kau benar2 hendak ubah kelakuan atau cuma bicara dimulut, semua itu bergantung kepadamu sendiri, aku si tua bangka tidak ingin terlalu memaksanya, melainkan kau harus mengerti, apabila kau tetap masih main gila, didalam dunya kang ouw ada banyak orang2 pandai, gunung Thian Bak San ini pasti tidak akan menjadi tempat kediamanmu yang kekal!”

“Nasihatmu ini, loocianpwee, tidak nanti teecoe abaikan,” kata Gouw Seng dengan cepat.

“Baiklah kalau kau bisa bertobat,” Na Hoo kata. “Dibelakang hari aku rasa aku bisa dayakan agar kau bisa menetap di Ciat Ho Sie ini. Sekarang aku ada punya urusan penting dari kaumku sendiri, aku mesti pergi ke Gan Tong San di Ciat kang Selatan, tunggulah sampai urus anku sudah selesai, aku nanti carikan kau keluarga hartawan untuk jadikan dia sebagai penunjangmu, hingga selanjutnya tak usah kau lakukan lagi pekerjaan tanpa modal ini. Aku dengan gurumu ada dari lain kaum tetapi aku sangat hargai kejujurannya, dia ada orang suci yang polos, yang cocok dengan tabiatku, walaupun aku cuma pernah bertemu dua kali, persahabatan itu lantas jadi kekal, hingga aku merasa, aku berhak mewakilkan gurumu membersihkan nama baiknya dari perbuatanmu yang sesat ini. Aku telah bicara, terserah padamu, kau suka dengar atau tidak. Biarlah, dibelakang hari kita nanti bertemu pula.”

“Kami guru dan murid telah terima kebaikan locianpwee, sudah tentu teecoe tidak berani main gila,” kata Gouw Seng. “Mulai saat ini, teecoe nanti tutup diri, untuk yakin saja agama dan ilmu silatku, tidak nanti teecoe bikin tercemar nama baiknya soehoe dengan perbuatan teecoe yang sesat.”

Itu waktu, semua muridnya Gouw Seng, dengan tidak diperintah lagi oleh gurunya, sudah lantas hunjuk hormat pada jago tua itu.

Na Hoo tidak bilang apa2, ia hanya lantas loncat keluar, diturut oleh cucu muridnya. Gouw Seng dan murid nya mau mengantarkan, mereka turut pada berlompat juga. Tetapi, baharu mereka dekat pada tembok kuil, mendadak Ay Kim Kong jumpalitan mundur seraya tangannya digoyang dan mulutnya menitah “Mundur!” Ketika itu, orang tua ini baharu injak tembok atas.

Liong Jiang turut gurunya, iapun jumpalitan. Gouw Seng yumpalitan juga, tetapi dia bertubuh besar, tubuhnya limbung, dia jatuh mendeprok! Jie hiap sendiri tidak berloncat turun, ia samber tembok pada mana ia berpegangan, hingga ia bisa umpatkan diri ditembok itu.

Tak berani Gouw Seng buka mulut, ia berbangkit sambil menahan sakit, ia memikir untuk loncat naik pula kegenteng, akan tanya Ay Kim Kong apa yang dapat dilihatnya, tetapi sekarang, Jie hiap mendahului ia loncat turun.

“Gouw Soehoe, aku hendak tanya kau,” kata jago tua itu. “Apakah kau ada punya perhubungan dengan Cin tiong Sam Niauw?”

“Jago tua ini hebat,” pikir Gouw Seng atas pertanyaan itu, mukanya bersemu merah sendiri nya. Tetapi ia lekas menyahuti, katanya “Loocianpwee, biar bagaimana, teecoe ada murid Sang Buddha, sekalipun sudah tersesat, tidak nanti teecoe bersahabat dengan orang2 Rimba Hijau semacam Cin tiong Sam Niauw. Aku tahu, namanya Cin tiong Sam Niauw ada tersohor sekali, terutama ketuanya, Twie hong Tiat cie tiauw Hauw Thian Hoei, ada sangat liehay. Tetapi aku tidak kenal mereka.”

“Kau tidak punya hubungan dengan mereka itu bagus,” Na Hoo bilang. “Aku sedang berurusan dengan mereka itu, secara diam2 aku kedua fihak sedang adu kepandaian, entah bagaimana kesudahannya nanti. Tadi dia datang kemari, dia lewat terus kearah Timur. Aku tidak tahu, sikapnya ini disebabkan dia malui Ciat Ho Sie atau ia abaikan kuil ini. Gouw Soehoe tidak bersahabat dengan mereka, aku jadi bisa layani ia dengan merdeka. Nah, Liong jie, mari kita pergi!”

Liong Jiang menyahuti, belum sempat ia bergerak, atau kake guru itu sudah mencelat naik tanpa injak tembok lagi, terus saja lewat kelain sebelah. Bersama Gouw Seng ia menyusul, segera ternyata mereka sudah ketinggalan lima enam tumbak jauhnya.

Gouw Seng tahu orang ada punya urusan penting, maka ia cuma bisa kata pada Liong Jiang “Maaf, siauwhiap, tak dapat aku mengantar lebih jauh!”

“Lain hari aku nanti berkunjung pula!” membalas pemuda itu sambil memberi hormat.

Gouw Seng awasi dua orang itu hingga lenyap diantara pepohonan, baharu ia kembali kekuilnya untuk menetapkan janji akan sekap diri, untuk yakin saja ilmu silat dan perdalam keagamaannya.

Ay Kim Kong berjalan dengan cepat, sia2 Liong Jian menyusul, ia tetap ketinggalan jauh, kemudian, setelah lewati jalanan curam yang berbahaya, baharu jago tua itu perlahankan tindakannya. Si anak muda menjadi heran.

“Sekarang, ditempat tak berbahaya, kenapa dia jalan pelahan?” ia menduga duga seraya menyusul terus, untuk mengikuti.

Lagi sekian lama, Na Hoo menoleh kebelakang, ia lihat cucu muridnya, terus ia berhentikan tindakannya.

“Liong Jie, kau terus ikuti aku,” ia pesan. “Jangan kuatir, tetapi jangan alpa. Jalan malam bahayanya ada banyak. Kita pergi kepuncak depan sana, aku nanti kasi kau lihat suatu apa hingga kau akan mengerti kenapa aku ajak kau berlari terus2an.”

Liong Jiang tidak dapat terka maksud kake itu, ia hanya mengikuti terus.

Mulai mendaki, Na Hoo bertindak cepat, tetapi setelah hampir sampai, ia perlahankan tindakannya, ia jalan sembunyi2 antara pepohonan. Selama itu. Liong Jiang mengintil dengan turuti pesan. Tiba2 orang tua itu berhenti disuatu semak lebat, tangannya menggape. Maka sang cucu murid segera loncat menghampirkan.

Na Hoo segera menunjuk kebawah, dijalan kecil, disitu terlihat dua orang ber lari2 bagaikan bayangan.

“Liong jie, tahukah kau siapa mereka itu?” Jie hiap tanya.

“Kita terpisah sangat jauh, tak dapat aku kenali mereka.” Jawab Liong Jiang. “Melihat romannya mereka mirip dengan kita berdua, yalah yang didepan sangat gesit, yang dibelakang lebih ayal. Sebenarnya, siapa mereka itu?”

“Yang didepan ada Hauw Thian Hoei, yang dibelakang yalah konconya,” Ay Kim Kong kasi tahu. “Aku hendak susul mereka. Hauw Thian Hoei tahu kita satrukan mereka, dan aku telah rampas pulang permata curian nya, dia tidak puas, dia tak mau mengerti. Aku sengaja perintah kau berangkat lebih dulu melulu untuk bikin dia bingung, supaya dia tahu rasa! Dia jalan didepan, kita dibelakang, tidak nanti dia ketahui yang barang berharganya kita sudah bawa ke Thian Bak San, dia menyangka piauw tetap berada ditangan rombongan piauwsoe itu, karena mana, dia menyusul malam2. Sekarang aku hendak permainkan dia, kau sendiri pergi turun dari sana, di arah Barat selatan itu adalah puncak Ngo Cie Hong, selewat nya itu, tak usah kau kuatir apa2, kecuali jalanannya sukar. Kesana nanti aku susul padamu.”

Liong Jiang turut titah itu. Ia memang tahu, kalau ia berhadapan kepada Hauw Thian Hoei, pasti ia akan celaka. Twie hong Tiat cie tiauw ada terlalu tangguh untuk ia.

“Baiklah,” ia jawab. “Ngo Piauw tauw tentu sudah memasuki Thian Bak San ”

“Memang! Kalau tidak, mustahil Hauw Thian Hoei kesusu menyusul. Sekarang jangan banyak omong lagi, lekas kau berangkat!”

Liong Jiang manggut, lantas ia memandang kearah yang ditunjukkan untuk mulai perjalanannya.

Jie hiap pun lantas berlari turun dilain jurusan. Ia telah melalui kira2 lima lie lantas ia dapat candak Hauw Thian Hoei. Ia menguntit secara diam2. Selang lagi satu lie, tindakannya si Garuda Besi mulai jadi kendoran, diapun mulai main sembunyi2. Kemudian ternyata, dia sebenarnya sudah dapat susul rombongan piauwsoe, yang sekarang berada dijalanan rata didalam sebuah lembah.

“Mungkin dia hendak turun tangan disini,” Jie hiap menduga duga. Karena ini, ia cepatkan tindakannya untuk datang lebih dekat kepada begal liehay itu.

Sementara itu, rombongan piauwsoe yang ke duapun sudah lagi mendatangi, maka untuk cegah mereka ini dapat melihat padanya, Ay Kim Kong berlaku hati hati, ia jauhkan diri.

Kedudukan mereka itu jadi : Rombongan piauwsoe pertama didepan, Hauw Thian Hoei dibelakangnya, Jie hiap dibelakang Burung dari Siamsay ini, dan di belakang Jie hiap adalah rombongan piauwsoe ke dua. Untuk memperoleh kepastian, dengan jalan samping Ay Kim piauwsoe yang belakangan, hingga ia kenali Lioe Hong Coen berenam. Segera ia ambil putusan untuk bertindak.

“Aku terpaksa,” kata ia dalam hatinya. Ia lewati rombongan piauwsoe itu, ia angkat sebuah batu besar berat tiga atau empat ratus kati, ia lemparkan batu itu kebawah, ketengah jalanan tepat disebelah depannya rombongan piauwsoe, terpisahnya cuma setumbak lebih.

Dengan menerbitkan suara keras, batu besar itu jatuh ketanah, lelatunya menyamber ke segala penjuru, hingga orang dan binatang kena tersamber, tetapi kawanan piauwsoe itu, yang lebih dahulu telah dengar suara telah bisa lindungi diri, adalah kuda mereka yang kaget dan berjingkrak, sampai hampir Kim Hoo meluncur jatuh, baik nya Giok Kong dapat jambret padanya. Semua piauwsoe kaget dan berseru, kuda mereka pada berbenger keras dan menjadi binal. “Jahanam, kau berani ganggu kami!” berseru Thay kek Lioy Hong Coen, yang ada sangat gusar. Ia loncat turun dari kudanya untuk manjat keatas.

Na Hoo puji orang she Lioe ini, yang bisa menduga orang jahat diatas puncak. Ia lantas menjemput tiga potong batu kecil, tidak tunggu sampai orang dekati padanya, ia lantas menimpuk.

Lioe Hong Coen dengar suara angin, ia segera berkelit, tetapi berbareng dengan kelitannya itu, satu bayangan berkelebat, setelah dua tempat lebat dengan pepohonan. Ia penasaran, ia mau menyusul akan mencarinya. Ketika ia hendak lompat maju, tiba2 ia dengar suara bergerak disemak beberapa tumbak disampingnya, lalu satu bayangan berkelebat, lari turun kebawah dari tempat mana tadi ia memanjat. “Tikus, kau hendak lari ke mana? Aku akan kejar kau!” berteriak piauwsoe ini. Ia lantas loncat, mengejar, sembari lari ia teriaki kawan2nya untuk turun tangan.

Maka Kee Giok Tong beramal lantas bergerak.

Bayangan itu adalah Jie hiap Na Hoo, ia lari turun tanpa dapat dirintangi, ia naik kepuncak sebelah kiri, naik tinggi, dengan gerakannya yang gesit sekali, ia tinggalkan semua pengejarnya jauh dibelakang tanpa bikin orang dapat ketika akan kenali padanya. Karena arahnya ia lari itu, ia bikin kawanan piauwsoe itu tanpa merasa jalan balik. Kemudian ia awasi mereka sambil tertawa. Kemudian lagi, baharu ia susul pula Hauw Thian Hoei dan satu kawannya, siapa sudah mulai mendekati rombongan piauwsoe yang pertama.

“Mereka tidak boleh dipandang enteng,” pikir Jie hiap sambil memasang mata. Ia dapat kenyataan, kawannya Thian Hoei pun ada gesit sekali. Sebab kawan itu adalah Coan thian Auw coe Lioe Seng si Alap2. Dia ini telah merogo kedalam kantong kulit manjangan yang terkempit di bawahan ketiaknya.

Tiba2 Hauw Thian Hoei gapekan kawannya berdua mereka jadi berkumpul.

Waktu itu Soe ma Sioe Ciang bersama Ngo Cong Gie dan piauwsoe lainnya lagi bicara satu sama lain.

Hauw Thian Hoei serukan Lioe Seng “Sekarang adalah waktu nya, siapkan senjata rahasiamu!”

Na Hoo sembunyi didekat kedua penjahat itu, mendengar seruan mana, ia kata dalam hatinya “Kunyuk, buatlah apa yang kau suka! Mari kita main2 senjata rahasia!” Iapun lantas siap dengan pelurunya. LXIV

Hauw Thian Hoei ada liehay akan tetapi sekali ini ia tidak engah ada orang bayangi padanya hingga ia mirip dengan sang cangcorang yang hendak tangkap tonggeret tak tahu dibelakang ada burung gereja. Inilah sebab ia ada sedang sangat mendongkol hingga ia terpengaruh hawa amarahnya.

Sambil menantikan rombongan yang hendak dicegatnya, Thian Hoei dan Lioe Seng sembunyikan diri ditepi jalanan, dan Na Hoo pasang mata dari sebuah guha batu.

Tidak antara lama sampailah saat yang ditunggu Twie hong Tiat cie tiauw. Mula2nya terdengar suitan nyaring, yang berkumandang diterigah lembah, lalu menyusul suara samberan angin beruntun2. Tiga batang paku shong boen teng dari Thian Hoei menyerang terutama boesoe Louw Kian Tong, dan tiga butir batu hoei hong cio dari Lioe Seng menyerang Ngo Cong Gie, Soe ma Sioe Ciang dan Ke Siauw Coan. Menyusul enam buah senjata rahasia itu, terdengarlah suara lainnya saling susul, dari peluru2nya Na Hoo, yang diarahkan tepat pada enam senjata rahasia si begal, hingga lalu terdengar suara dari beradu nya masing2 enam senjata rahasia tersebut. Hingga dengan demikian, dua2 Thian Hoei dan Lioe Seng tak berhasil mencapai maksud hatinya.

Akan tetapi Hauw Thian Hoei, setelah menimpuk, sudah lantas lompat keluar dari tempatnya sembunyi, ia lompat lebih jauh keatas kereta yang diduduki dua saudagar Kwietang. Ia menyangka barang2 berharga ada ditangannya si saudagar sendiri, yang keretanya ia telah kenali.

Semua boesoe terperanjat mendengar suitan, mereka sudah lantas bersiap dengan senjatanya masing2, dari kaget mereka menjadi heran, sebab mereka dengar beradunya pelbagai senjata rahasia, tetapi segera mereka insaf bahwa diam2 sudah ada orang yang tolongi mereka.

Ngo Cong ie melihat ada orang loncat kekcreta pemilik piauw, tidak tempo lagi ia pun lompat maju untuk rintangi orang jahat itu. Pcrbtiatann yi ini di telad oleh Soe ma Sioo Ciang, Louw Kian Tong, Ke Siauw Coan dan Teng Kiam, yang meluruk kekereta untuk mengepung.

Thian Hoei gesit luar biasa, ketika Cong Gie sampai dan ia diserang dengan segera, dengan leluasa ia kelit diri, hingga bacokan jatuh ditempat kosong.

Cong Gie penasaran, ia hendak ulangi bacokannya, tetapi dibelakang ia, Lioe Seng telah lompat mendekati akan terus membacok bebokongnya. Inilah hebat, sebab gerakannya yang tanggung itu ia tak dapat menangkis atau berkelit. Dalam waktu berbahaya itu tiba2 terdengar seruan “Menggelindinglah kau!” lantas tiga buah peluru mengaling diudara.

Lioe Seng dengar suara itu, ia luputkan diri dengan loncat ke samping, tetapi walaupun demikian, peluru yang ketiga mengenai juga paha kanannya, cuma sebab lukanya tidak hebat, ia tidak rubuh, melainkan kaki kanannya jadi kurang merdeka. Karena pertolongan ini, Ngo Cong Gie jadi luput dari bahaya.

Hauw Thian Hoei tidak diam saja meskipun ada rintangan, ia maju pula untuk samber peti berharga, yang ia kena jambret tambang pengikatnya hingga tambang itu terputus dengan segera.

“Celaka!” berseru Soe ma Sioe Ciang, yang lihat orang ada demikian berani dan liehay, tak ayal lagi ia loncat untuk merintangi. “Bangsat, awas!” ia membentak, pedangnya lantas mencari sasaran dengan tikaman “Ciauw hoe boen louw” atau “Tukang kayu menanya jalan” Menyusul itu pun ada lain seruan “Awas!” hingga Sioe Ciang mesti buru2 egos diri kekiri. Karena sepotong batu menyamber ia, terus jatuh ketanah.

Waktu itu Hauw Thian Hoei telah berhasil menyamber peti barang, sambil kempit itu, ia lompat mundur, ketika ia sudah pisahkan diri beberapa tumbak, pelbagai senjata rahasia kawanan piauwsoe menyerang padanya, tetapi dengan kegesitannya ia bisa selamatkan diri, sebentar saja ia mulai mendaki lamping jurang sebelah kiri.

-ooo0dw0ooo-