-->

Eng Djiauw Ong Jilid 04

 
Jilid 04

“Maaf, silahkan to cu pergi sendiri jawab Co Sam. “Aku masih bertugas untuk pergi ke sungai di Liu sie tun untuk menitahkan penjaga2 disanapun berangkat pulang. Ouw To cu pun larang aku pergi kekuil, dari itu aku tidak. berani langgar titah… Nah, aku berangkat, to cu!”

Dan anggota ini segera menghilang ditempat gelap. Dengan terpaksa, Liong Jiang pergi kekuil, yang telah jadi kosong, disana tinggal sisa dua batang lilin, karena yang lainnya sudah padam semua. Yang ada inipun berkelak kelik antara siuran angin, nampaknya segera akan padam juga. Suasana sungguh menyeramkan walaupun Liong Jiang ada seorang kang ouw ulung. Didepan matanya segera berbayang kejadian hebat tadi. Ia sungkan masuk kedalam kuil, tetapi ia telah dapat tugas, atau ia akan langgar perintah, maka mau atau tidak, dengan kertek gigi ia bertindak masuk. Apabila ia takut masuk, ia juga akan ditertawai kawannya.

Diatas meja terletak alat sembahyang, berikut kertas merah penutup sin cie. Suasana sungguh menyeramkan, hatinya. Liong Jiang menjadi gentar, hingga ia jadi ingat kepada saitan. Hatinya tengah berkebat kebit, tiba datang siuran angin yang memadamkan lilin sebelah kiri hingga ia terperanjat.

“Apakah Ouw To cu mestikan aku singkirkan segala bekas2 ini, yang tak dapat dilihat oleh orang luar?” Laong Jiang beragu sendiri. “Lilin tinggal sebatang, baiklah aku besarkan yang satu lagi…”

Dan ia mengolah sumbuh lilin itu. Kemudian ia berdongak memandang keatas. Langit2 kuil itu ada rendah. Ia bebenah dengan cepat, ia tumpuk semua puntung lilin, juga kertas lainnya, yang tak diperlukan lagi, setelah mana, ia sulut itu semua, hingga api lantas berkobar besar, membikin ruangan itu jadi sangat terang. Sesudah itu, ia gendol bungkusannya, ia bertindak keluar dengan cepat. Ketika ia sampai diluar pekarangan dimana ia menoleh, ia melihat api masih menyala besar. Api masih tertampak ketika ia sudah mendekati tepi sungai, asap kelihatan nyata mengepul keluar. Ia lantas jalan terus sampai ditepi sungai dimana ia melihat sebuah perahu kecil, yang memakai tengloleng kaumnya sendiri, tetapi setelah ia memberi tanda bukan orangnya sendiri yang sahuti ia. Dua anak buah yang layani ia bicara, rupa nya mereka ada dari Soan hoo. Nyata itu adalah perahu yang diperintah menantikannya.

“Sungguh semua to cu itu, licin sekali,” pikir Liong Jiang “Anehnya, kenapa Gui Susiok terus bungkam, tak sedikitpun dia mau perhatikan aku?”

Ia mengikut perahu kecil ini untuk pergi ke Kian hoo tian, ketika ia lewat di See hoo, ia mampir untuk salin pakaian, karena ini, tempo ia sampai di Kian hoo tian, ia terlambat. Ia ingin melihat, ia tidak langsung pergi kekedua perahu dengan tempel perahu kecilnya itu. Ia mendarat, ia suruh perahu itu kembali, kemudian ia hampirkan kedua perahu. Ia berlaku hati2. Pertama ia naik keperahu yang dibelakang, disini tidak ada orang, tidak juga bungkusan mayatnya Kiang Kian Houw, ia lalu pergi keperahu yang ke dua. Ia tidak dapat pergoki Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong, karena mereka ini telah dahului melihat dia dan lantas umpatkan diri, kemudian mereka mengintai pula sesudah dia masuk kedalam perahu akan menghadap Ouw Can, hingga dua jago Hoay siang itu kenali, dia adalah pecundang mereka.

“Aku terlambat. Apakah ciong wie loosu sudah berhasil?” demikian ia tanya. Ia anggap, karena ia ditinggal, orang tentu sengaja dahului ia untuk tawan musuh2 dihotel, supaya mereka bisa agulkan diri didepannya.

Ouw Can awasi ketua cabang ini. Ia tidak menjawab. Adalah loci Cin Pang, yang kuatir Hong tong Tocu itu gusar, terus kala pada keponakan muridnya. “Kami masih belum bekerja kamipun sampai disini belum lama, karena tadi, ditengah jalan, mendapat sedikit kelambatan. Kau lihat, bukankah Ouw To cu sedang dengar laporannya Song Jie? Kita perlu keterangan, obat pules sudah digunai atau belum, atau apakah rahasia kita tidak bocor. Bagus kau telah kembali. Sekarang marilah kita berangkat sama2 ”

Cin Pang menganggap, dengan campur bicara, ia sudah redakan suasana. Akan tetapi, justeru ia baharu tutup mulutnya, atau Ouw Can telah menegur Liong Jiang.

“Kau seharusnya sudah kembali siang2!” demikian teguran itu.

Liong Jiang terkejut sampai mukanya menjadi bersemu merah dengan tiba2. Ia menyangka bahwa ia telah dipergoki ketika tadi ia mengintai dahulu keperahu yang dibelakang. Tapi ia mengerti, ia sebenarnya tidak membuang tempo lama, maka ia tenangkan diri.

“Aku kembali langsung dari Cit seng tong,” ia jawab. “Hm,” Ouw Can perdengarkan pula suaranya, sesudah

mana, ia berbisik terhadap Gui Cin Pang, yang duduk disampingnya, di meja dekat pembaringan. Iapun mengangkat cawan teh untuk cegluk airnya. Ia duduk disebelah kiri, tubuhnya miring, mukanya hadapi jendela kanan diluar mana justeru Ban Liu Tong sedang mengintai.

Liu Tong anggap biasa saja yang Ouw Can berbisik kepada Cin Pang, akan tetapi ia tampak perubahan air muka orang, ia curiga. Iapun lihat, diam2 orang she Ouw itu tunjuk dua jari tangannya terhadap kawannya itu.

“Celaka, rupanya tua bangka ini telah dapat pergoki aku ”

Liu Tong menduga.

Segera lebih jauh ia tampak Ouw Can kedipi Cin Pang, tangan kirinya yang memegang cawan teh digeser, untuk alingi tangan kanannya, yang bergerak ke pinggangnya dimana ada tergantung sebuah kantong kulit. “Celaka, dia mau gunai. senjata rahasia!” pikir Liu Tong.

“Entah suheng sudah engah atau belum, aku mesti beri tanda padanya ”

XXX

Selagi jago Kwie in po ini berpikir, dalam sedetik saja Ouw Can sudah bergerak.

“Awas!” dia berseru seraya tangannya terayun.

Heng tong To cu dari Hong Bwee Pang ini menyerang dengan peluru besi, tiat tan wan, serangannya disusul dengan menyambernya panah tangan dari Gui Cin Pang, yang bergerak tak kalah sebatnya. Ke dua2 senjata rahasia itu mengarah kelobang jendela jendela kiri dan kanan.

Siok beng Sin Ie luput dari serangan karena ia sudah siap. Ia tidak mencelat kedarat, iapun tidak naik ketihang layar, disebelah itu, sebelum mengasi tanda pada suhengnya, ia tidak mau tempur dahulu musuh2nya itu. Maka itu, ia mengundurkan diri kebelakang perahu, kebuntut perahu, akan menyembunyikan dirinya dipenggayu kemudi. Sambil bersembunyi ia pikirkan suhengnya. Ia merasa pasti suheng itupun luput dari bencana seperti ia, karena ia dengar nyata, dua2 senjata rahasia jatuh keair.

Segeralah perahu bergerak itulah tanda musuh sudah beraksi. Beberapa orang keluar saling susul, sesuatunya ada membawa senjata masing2. Mereka mulai mencari musuh2 mereka, antaranya ada yang memeriksa wuwungan gubuk perahu. Ouw Can dan Gui Cin Pang pergi keperahu kedua setelah mereka selesai geledah perahu pertama. Disini pun mereka tidak peroleh hasil.

“Bagaimana, Gui To cu?” ketua pengadilan itu tanya. “Aku percaya kita tak kena dirubuhkan, karena aku telah melihat nyata orang intai kita. Memang anu sudah menduga tentang kedatangan musuh kita ini. Bukankah tadi, ketika Ma To cu baharu sampai, aku sudah lantas tegur dia bahwa dia seharusnya sudah sampai siang2? Tapi Ma To cu bilang bahwa dia baharu saja sampai. Sebelumnya Ma To cu datang, aku rasakan perahu miring sedikit, kalau aku sudah berdiam saja, aku kuatir aku menduga keliru. Sekarang ternyata benar ada musuh telah datang kemari. Musuh itu liehay, jikalau tidak, tidak nanti dia, atau mereka, luput dari senjata kita. Mereka selamat, inilah aneh! Sungguh aku sangsi ada orang demikian gesit. Jangan malam, ini kita bakal rubuh di Kian hoo tian ”

Selagi berkata demikian, Ouw Can sudah kembali kedalam perahunya dan duduk sambil jatuhkan diri, ia ada uring2an.

Semua orang sudah berkumpul pula didalam, karena penggeledahan mereka berhasil nihil.

Sekarang Ma Liong Jiang lihat tegas, diantara mereka tidak ada Gak yang Sam Niauw. tidak ada juga bungkusan besar dari mayatnya Kiang Kian Houw, dari itu ia percaya tiga orang itu mestinya ada punya tugas lain atau mereka telah ditempatkan disuatu tempat terpisah. Kembali ia insaf kelicinannya Ouw Can. Ia anggap lebih baik ia bungkam terus, karena ada sangat berbahaya akan berurusan kepada ketua pengadilan yang licik itu.

Setelah itu, Ouw Can lanjut kan pertanyaannya kepada Song Jie. Ia tanya ada berapa jumlah musuh dihotel. “Sama sekali empat, dua tua dua muda,” sahut Song Jie.

“Dari yang tua, yang satu adalah Eng Jiauw Ong, ketua dari Hoay Yang Pay, dan yang satu lagi lagi she Ban, entah apa namanya. Kedua pemuda adalah murid nya mereka ini.

“Pergilah, disini sudah tidak ada urusan bagimu,” kata Ouw Can sambil menggoyangkan tangannya. “Sekembalinya kau ke hotel, jangan kau hunjukkan roman bingung atau kuatir, berlaku secara biasa saja, kau tetap awasi gerak geriknya dua orang tua itu.”

Song Jie undurkan diri dengan cepat, benar hatinya lega, tetapi ia masgul. Ia takut berdiri didepannya ketua pengadilan itu, yang wajahnya menyeramkan. Ia kembali kehotelnya dengan ambil jalan kecil yang tadi.

“Ouw Loosu, baik kita tak usah perdulikan tadi kita berhadapan dengan musuh atau bukan,” berkata Gui Cin Pang. “ Kita sudah ambil ketetapan akan menemui pemimpin dari Hoy Yang Pay, marilah kita lekas pergi ke Hauw Kee Tiam untuk dapatkan kepastian.”

Ouw Can ada tidak puas, hatinyapun tidak tenteram. Tidak salah lagi bahwa tadi ada orang mengintai mereka tetapi ia heran, serangannya tidak berhasil dan orang bisa menghilang demikian cepat, bekas2nya pun tidak ada. Menurut kalangan Rimba Persilatan, teranglah sudah bahwa dia bukannya tandingan orang tak terlihat itu, dan sudah selayaknya dia mesti tahu diri dan mundur sendirinya. Akan tetapi sekarang dia ada didepannya Gui Cin Pang dan Ma Liong Jiang, ia malu untuk mundur teratur.

“Baiklah!” akhirnya ia jawab. “Sebenarnya urusan kita ada sangat penting, apabila kita ayal2an, bukti kepercayaan kita nanti jadi rusak. Sehabisnya menemu tua bangka Eng Jiauw Ong itu di Hauw Kee Tiam, kita mesti segera berangkat pulang. Satu kali barang bukti kita rusak, tak bisa kita memberi bukti lainnya lagi!”

Jawaban itu ada bagaikan titah, maka semua orang lantas rapikan dandanan mereka. Orang pakai bungkusan kepala kain minyak, juga pakaian dalam, pakaian luar adalah cita biasa.

Begitu lekas orang selesai dandan, Ouw Can menitahkan Ma Liong Jiang pergi memanggil empat anak buahnya untuk ia berikan titahnya. Dia sebenarnya telah dapat pinjam sebuah perahu lain, yang memuat Lauw Cong yang terluka, dan Tong Hoo Couw dan Liok Hong Ciu, yang membawa mayatnya Kiang Kian Houw. Gak yang Sam Niauw itu diperintah berangkat lebih dahulu, mereka dipesan, siang singgah, malam berlayar, nanti ia sendiri sehabis nya hadapi Eng Jianw Ong, akan menyusul terus, ia percaya ia akan dapat menyandak, untuk nanti mereka berangkat sama2 pulang ke Gan Tong San. Maka itu, disitu ditinggal cuma empat anak buah.

Adalah aturan dari Hong Bwee Pang, jikalau si pemimpin sedang bicara, anak buahnya mesti mengundurkan diri, mereka dilarang mengintai atau mencuri dengar, atau kalau satu anggota diperintah menjaga, kecuali dengan pesanan, dia tak boleh tinggalkan tempat penjagaannya. Demikian kali ini, empat anak buah itu diperintah mengaso diperahu kedua, dibelakang perahu.

Ouw Can senantiasa berlaku waspada, apapula ia sedang hadapi musuh2 istimewa.

Liong Jiang terima perintah nya Ouw Can, dari luar perahu ia memanggil anak buah, untuk mereka bawa air teh, akan tetapi, dua kali ia memanggil, ia tidak dapat jawaban, hingga ia jadi mendongkol. “Kurang ajar anak buah ini!” kata dia, “Pasti mereka sudah pada tidur!”

Ia pergi kebelakang perahu. Penerangan masih menyala, akan tetapi perahu itu kosong.

“Ah, tentu mereka pergi keperahu belakang,” pikir ia, yang terus pergi keperahu yang kedua, sembari memasuki perahu itu ia kembali memanggil2. Tetap ia tidak peroleh penyahutan, hingga ia sampai dibelakang perahu dimana ia dapatkan empat anak buahnya sedang rebah teringkus dengan mulut tersumbat, hingga bukan kepalang kaget dan heran nya.

“Ouw Loosu, lekas kemari!” ia berteriak.

Teriakan itu dapat, didengar nyata, Ouw Can beramai segera lari mendatangi. Merekapun terperanjat ketika melihat konco mereka itu mati kutunya.

“Siapa ringkus kau?” tanya Ouw Can setelah ia menyingkirkan sumbatan pada mulutnya masing2.

Tiga anak buah tidak tahu apa2, katanya tiba2 mereka merasa ada yang totok, lantas mereka rubuh pingsan, tapi yang ksempat masih bisa lihat bahwa penyerang mereka ada satu imam tua.

“Aneh,” pikir Ouw Can. Demikian juga anggapan yang lain. Disini mereka bukan berhadapan dengan Eng Jiauw Ong. Jadi ada satu musuh lain, yang liehay. Mereka pada berdiri bengong dengan pikiran kusut.

Ban Liu Tong umpatkan diri dikemudi sehabisnya dia diserang dengan senjata rahasia, selagi sembunyi, ia terus pikirkan Eng Jiauw Ong, karena terus ia tidak lihat suheng itu. Ketika Ouw Can semua kembali kedalam perahu, ia pergi kedepan. Di sinipun suheng itu tidak ada. Maka ia terus loncat kedarat akan mencari disitu. Ia memandang kesekitarnya, terutama ke arah Barat utara. Ia lari kearah ini kapan ia tampak satu bayangan berkelebat keluar dari balik pohon yangliu. Ia pun perdengarkan suara suitan jari tangan yang dimasukkan kedalam mulut. Ia dapat jawaban yang serupa. Segera ia lari lebih cepat untuk menghampirkan. Bertemulah ia kepada suhengnya. Lantas mereka berkumpul disemak yang lebat, untuk pasang omong.

Eng Jiauw Ong sedang mengintai dijendela kiri apabila ia saksikan sikap mencurigai dari ouw Can, selagi ia niat memberi kisikan pada Ban Liu Tong, ia merasa ada kebutan enteng pada pundaknya. Ditempat sempit seperti itu, ia tidak bisa berkelit sambil jauhkan diri, terpaksa ia gunai “Koay bong hoan in” atau “ Ular naga jumpalitan” dan “Kim liong tam jiauw” atau “Naga emas ulur cengkeraman,” untuk melindungi diri. Atas ini, ia tampak satu bayangan mirip dengan hembusan gulungan asap hitam, melesat ke tepi, jauhnya empat tumbak lebih.

Ia heran tetapi dengan “It hoo ciong thian,” bagaikan burung hoo serbu langit, iapun lompat menyusul akan kejar orang itu, yang lari terus. Dia ada punya peryakinan empat puluh tahun lebih, ia tidak dapat susul bayangan itu. Dilain pihak, sehabisnya dia lompat, panah tangan dari dalam perahu telah samber ia, ia dengar jatuhnya senjata itu, tentu saja ia lolos dari ancaman bencana itu. Mengertilah ia bahwa bayangan itu sudah lindungi ia secara istimewa. Tak sempat ia kembali ke perahu akan tengok saudaranya, segera ia susul bayangan itu. Ia masuk ketempat lebat walaupun ia ingat pribahasa kaum kang ouw, pantangan untuk mengejar masuk kedalam rimba. Ia jadi lebih berani, karena ia tak sangsi lagi bahwa bayangan itu bukanlah musuh. Tapi sia2 saja ia mengejar, ia mencari, bayangan itu lenyap terus. “Pasti dia ada seorang dari angkatan tertua, bu lim cian pwse,” ia menduga2. “Sayang Cu In Am cu tidak ada disini, kalau dia ada, dia pasti dapat mengenalinya….”

Ia menoleh kebelakang, ia dapatkan bahwa ia sudah terpisah jauh dari perahu, maka tidak bersangsi2 lagi ia perdengarkan suaranya yang nyaring “Tay hiap tidak dikenal, aku Ong Too Liong sangat bersyukur untuk bantuan mu, maka tolong kau perlihatkan diri!”

Tidak ada jawaban. untuk pertanyaan itu, sang malam tetap sunyi.

Percaya bahwa orang tak ingin menemui ia, Ong Too Liong putar tubuhnya buat kembali keperahu, untuk cari suteenya. Baharu ia keluar dari tempat lebat, atau dari sampingnya ia dengar suara nyaring dari seorang tua “Ketua dari Hoay Yang Pay, Hong Bwee dan In Hong masih berada ditangan penjahat, jangan kau pandang musuh terlalu enteng, jangan kau memperdalam permusuhan! Ketahuilah, urusan di Cap jie Lian hoan ouw ada sangat sulit, dari itu kau mesti berhati2! Nah, sampai di Ceng hong po!”

Selagi orang bicara, Eng Jiauw Ong segera menoleh, rasanya suara itu tak jauh dari ia, tapi setelah menoleh, suara itu terpisah jauh, seperti naik di atas pohon, lantas lenyap. Ia sudah lantas loncat menyusul sambil berseru “Loo cianpwse, tunggu dahulu, aku hendak bicara!” Sia2 saja, ia tak dapat menyandak, tidak perduli ia ada sangat gesit dan ia telah gunai antero kepandaiannya mengentengi tubuh. Ia lihat orang lari ketepi kali dan lompat keair, untuk menghilang diseberang.

Jago Hoay siang ini mengerti bahwa orang sudah gunai “Teng peng touw sui” atau ilmu berlari2 diatas air, ilmu mana, dalam golongan Lam Pay dan Pak Pay, Selatan dan Utara, sudah jarang sekali ada yang mengerti. Karena ini, ia lantas menduga, orang liehay itu mesti salah satu Keng Tim Suthay dari See Gak Pay serta To Cie Taysu dari Hong tek kwan atau Yan tiauw Siang Hiap dan Tiat So Toojin dari pihaknya. Hal ini membikin ia girang karena nanti diwaktu memasuki Cap jie Lian hoan ouw, dia bakal dapat bantuannya orang pandai. Karena ini, segera ia keluar dari rimba akan kembali keperahu. Justeru itu, ia dengar suitan dari Ban Liu Tong, ia lantas hampirkan sutee itu, hingga mereka jadi berkumpul, dengan keduanya bisa saling menuturkan pengalamannya masing2. Liu Tong pun girang mengetahui hal munculnya orang pandai tak dikenal itu.

Setelah mana, keduanya kembali keperahu musuh, untuk berikan pengajaran, agar musuh tidak berani pandang enteng pada mereka. Dalam suasana sunyi mereka naik keperahu yang kedua. Mereka lihat, cahaya api, dengan begitu, mereka lihat juga empat anak buah yang teringkus dan mulut tersumbat. Mereka bisa duga, itu adalah hasil kerjaan nya si orang pandai tadi, yang rupanya datang kesitu selagi mereka berdua pasang omong didalam rimba.

Liu Tong ingin dengar keterangannya anak2 buah itu, ia minta suhengnya pergi keluar, untuk ber jaga2, tetapi belum sempat ia menanya, ia sudah dengar suara panggilan ber ulang2. Itulah panggilan Ma Liong Jiang. Lekas2 keduanya mengumpatkan diri seraya memasang mata. Mereka kenali Liong Jiang. Dan, sesudah to cu she Ma ini teriaki Ouw Can, mereka lihat munculnya Heng tong To cu itu bersama rombongannya.

Begitulah Ouw Can, yang merasakan dirinya paling malu, karena dihadapannya Ma Liong Jiang ia nampak kejadian aneh dan hebat itu. “Kau jaga disini,” akhirnya ketua pengadilan ini pesan anak buahnya itu. “Apabila ada terjadi suatu apa, segera kau berikan tanda!”

Ia percaya, karena letaknya Hauw Kee Tiam tak terlalu jauh dari perahunya ini, dari sana mereka bisa dengar apabila datang pertandaan dari sini.

Setelah itu, dengan bererot, mereka keluar dari perahu kedua ini. Begitu lekas mereka memandang kearah perahu mereka, perahu yang pertama, mereka tercengang dan kaget, akan akhirnya Ouw Can membanting2 kaki.

Dari jendela perahu kelihatan asap mengepul dan api berkobar2.

“Oh, pit hu celaka, dia berani bakar perahuku!” dia menjerit.

Ia mengenjot diri akan loncat kedepan, hingga ia tampak nyata, api memakan jendela kiri dan kanan dan minyak terbakar memberi bau nyata.

Siauw Thio Liang Siauw Cun, yang lompat menyusul, sudah lantas mencari ember untuk siram api yang sedang menyala2 itu. Dengan empat atau lima kali seblok, jendela kiri dapat dipadamkan, sedang dikanan, empat anak buah adalah yang bekerja, karena mereka ada anak2 perahu, mereka bisa bekerja dengan sebat.

Setelah Ouw Can semua masuk kedalam perahu, mereka dapatkan pembaringan berikut kasur dan sepreinya pada hangus terbakar dan sisanya, basah, dan lantai perahu penuh minyak dan air. Ia mengarti, diwaktu hujan begitu, musuh tentu tahu api sukar berkobar, dari itu, telah digunakan minyak dan lilin sebagai umpan.

Ketua pengadilan Hong Bwee Pang ini melotot dan kertek gigi. Kebakaran itu ada hasil buah pikiran dan kerjaannya Ban Liu Tong, sedang Eng Jiauw Ong tadinya kurang setuju, suheng ini hendak taati pesan penolong nya untuk tidak perdalam permusuhan, tetapi Liu Tong sangat jemu karena orang telah gunai bong han yoh, hingga hampir2 dia ruhuh ditangan rombongan manusia keji itu.

Selagi orang repot padamkan api, Ban Liu Tong sembunyikan diri diatas tihang layar dan Eng Jiauw Ong umpatkan diri disamping perahu.

Bahna gusar dan ibuknya, rombongan Ouw Can sampai lupakan kebiasaan yang mesti dilakukan disaat serupa itu, yalan memecah kawan, sebagian buat padamkna api sebagian pula untuk cari musuh. Mereka justeru repot dan akhirnya kumpul didalam, maka dua musuh mereka jadi bisa bekerja dengan leluasa.

Dengan tangannya, Eng Jiauw Ong menunjuk pada Ban Liu Tong, lalu ia menunjuk lebih jauh keperahu ke dua, kemudian ia sendiri melompat keperahu yang ke dua itu. Perbuatan ini diturut segera oleh sang sutee.

Siok beng Sin Ie telah berkeputusan akan musnahkan kendaraan air musuh ini. Ia masuk ke dalam, ia tidak dapati bahan api, maka ia kata pada saudaranya “Suheng, tunggu sebentar, aku hendak cari serupa barang!” Dan terus ia pergi keluar, kebelakang perahu. Disini ia dapatkan setahang minyak moa yu, beberapa batang lilin dan lainnya, yang mudah terbakar, ia bawa itu kembali kedalam perahu, minyaknya lantas ia tuang, diatasnya ia tumpuk! ker tas, sesudah mana, ia nyalakan Ulin. Secara demikian, api ber kobar dengan cepat, mereka sendiri lantas lari keluar, loncat ke darat dimana mereka cari tempat sembunyi masing2 untuk menonton…. Sekali ini, api benar besar, sekejab saja jendela kiri dan kanan kena dirembet terbakar.

Ouw Can mendongkol dan gusar bukan kepalang karena perahunya dibakar.

“Ouw Loosu,” berkata Ma Liong Jiang, “melihat kejadian ini, terang Eng Jiauw Ong sedang tantang kita! Aku percaya, bong han yoh kita sudah tidak mempan terhadap musuh, sekarang mereka tentu berada dekat kita. Biarlah anak2 yang mengurus perahu ini, mari kita mendarat untuk cari mereka, apabila mereka tidak ada disini, kita terus pergi ke Hauw Kee Tiam! Pasti sekali malam ini tak dapat kita berdiri ber sama2 musuh kita itu! ”

Baharu Liong Jiang berkata sampai disitu atau satu anak buah, yang pergi keluar untuk timba air, berseru “Loosu semua, lekas keluar! Lihat, perahu keduapun terbakar!”

Ouw Can merasakan diri seperti disamber petir, kupingnya seperti ketulian, sampai hampir saja kedua kakinya tak dapat menahan tubuhnya, karena ia hampir pingsan. Ia senderkan diri akan pusatkan pikirannya. Tapi segera, juga ia banting2 kaki.

“Ah, aku Ouw Can harus mampus!” kata ia kemudian. “Kenapa aku jadi begini tolol? Mengapa aku tidak mencari musuh sebaliknya membiarkan dia ber ulang2 membakar perahu? Oh, Gui Loo su, kita telah rubuh, sayang kita pernah hidup banyak tahun dalam dunya kang ouw ”

Selagi mengucap demikian, Ouw Can lihat Ma Liong Jiang yang mau bertindak keluar, ia lantas menegur “Ma To cu, kau hendak bikin apa? Mengapa kau masih diam saja disini, apa yang mesti ditunggui?” Liong Jiang mendongkol mendengar teguran itu, teguran yang ia anggap tak tahu malu. Ia insaf benar2 ketua pengadilan Hong Bwee Pang ini cuma licik tetapi kepandaiannya tidak seberapa. Buktinya sekarang pihak Hoay Yang Pay telah perhina padanya tetapi dia tak berjaya. Karena ini, ia pikir tak berguna ia ladeni padanya. Maka ia terus bertindak keluar, hingga ia lihat perahu yang sedang diamuk api, gemuruh suara merotok dari bambu yang terbakar, dari papan yang meletak, asappun bergulung2, tetapi sukar, lantas mumbul naik, karena hujan gerimis.

Mengikuti Ouw Can, Gui Cin Pang, Kui Liong Tek dan Siauw Cun sudah berdiri diluar perahu. Kui Liong Tek berniat memutari perahu untuk cari musuh, tapi Siauw Cun mencegah.

“Percuma, loosu,” kata Siauw Thio Liang. “Ouw Loosu, benar atau tidak dugaanku, sekarang ini, kalau musuh tidak sedang sembunyi didarat, pasti mereka sudah kembali kehotel mereka? Maka menurut aku tidak perlu kita perdulikan lagi perahu kita ini, akan mengikuti pepatah biarlah, dia datang dari sungai, kesungai dia pergi! Sekarang marilah kita mendarat, akan tempur orang2 Hoay Yang Pay itu! Akur, loosu?”

“Bagus, kau benar!” Ouw Can jawab. “Tak dapat aku berdiri ber sama2 lagi dengan Eng Jiauw Ong si tua bangka itu!” Lantas ia teriaki anak buahnya “Biarkan perahu yang ke dua itu terbakar musnah, sekarang kau jaga saja perahu ini!”

Setelah mengucap demikian, segera ketua pengadilan ini loncat kedarat, perbuatan mana diturut oleh kawan2nya. Perahu yang terbakar telah terbakar terus, walaupun demikian, cahaya apinya tak dapat menerangi seluruh tepi kali.

Liong Jiang berada dibelakang tapi segera ia melompat ke depan.

“Susiok,” kata ia pada paman gurunya, “untuk pergi ke Hauw Kee Tiam, mari aku yang tunjukkan jalan!”

“Kau kenal baik tempat ini, kau boleh jalan didepan,” kata Cin Pang. “Sesampainya didekat hotel sebentar, jangan kau sembrono. Disini adalah Ouw Loosu yang pegang pimpinan, kau mesti dengar perintah! Kau ngerti?”

Cin Pang ucapkan kata2 itu lebih banyak ditujukan kepada Ouw Can. Ia tidak puas terhadap kawannya ini, karena sampai begitu jauh, dia dapat kenyataan orang tidak hargai dan tak perdulikan pada Liong Jiang Heng tong tocu itu terlalu berkepala besar dan bawa karap sendiri, hingga Cin Pang sebagai pamannya Liong Jiang, tidak dilihat mata sama sekali.

“Ya, susiok!” jawab Liong Jiang atas nasihat paman guru itu, kata2 mana ia mengerti dimaksudkan kepada siapa.

Ouw Can sedang berpikir keras, meskipun ia dengar ucapan nya Gui Cin Pang itu tetapi perhatian itu tidak mendapat perhatiannya. Ia jalan terus, menuju kehotel Hauw Kee Tiam.

Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong tunggu sampai orang sudah jalan belasan tumbak, dengan lilin satu tanda, berdua mereka lantas menguntit. Begitu lekas sudah mendekati hotel, mereka berpencar pula, dengan bantuannya rumah2 penduduk tetangganya hotel, mereka coba mendahului diluar tahu rombongan musuh itu. “Tak akan gampang2 kau sekalian memasuki hotel….” kata Liu Tong dalam hatinya, sesudah ia mendekati jendela hotel nya kira2 enam atau tujuh tumbak. Ia lihat dikiri dan kanannya ada rumah2 penduduk yang tak rata tinggi rendahnya, didekat kali ada sawah ladang. Rumah2 penduduk itu tak teratur berbaris.

Dari atas rumah penduduk, dimana ia sembunyikan diri, Liu Tong melihat Ma Liong Jiang jalan dimuka, lalu Siauw Cun, yang ke tiga Ouw Cun, dibelakang ia, Kui Liong Tek, baharu Gui Cin Pang. Jarak mereka satu dengan lain ada dua tindak kira2, kecuali Cin Pang yang terpisahnya sedikit jauh.

“Loosu semua, lihat disana, itulah hotel Hauw Kee Tiam!” kata Ma Liong Jiang selagi ia mendekati hotel tersebut, tangan nya menunjuk kedepan.

Liong Jiang bicara selagi mereka jalan terus, mendadak Siauw Cun merandek dan mundur satu tindak.

Gerakan ini tidak disangka2 Ouw Cun, diapun merandek dengan tiba, jikalau tidak, pasti dia kena dilanggar.

“He, apa ini?” ia menegor dengan mendongkol. Kata2 itu disusul satu samberan angin dari samping.

Karena kaget, Ouw Can keluarkan seruan tertahan sambil ia berkelit mundur, senjata rahasia lewat dipipinya. Selagi ia berkelit, dari kanan menyamber angin yang lain. Ini kali dia sempat menangkis dengan goloknya, hingga serangan dapat dirintangi, senjata penyerang jatuh ketanah. Nyata itu bukannya senjata rahasia.

Bukan kepalang mendongkolnya Ouw Can. “Eh. sahabat!” ia menegur. “Cara bagaimana kau berani permainkan Ouw Jie thayya? Apakah begini caranya satu sahabat? ”

Teguran tidak dapat jawaban, hanya dari belakang ada datang dua samberan angin. Ouw Can berkelit, walaupun tanah ada licin. Ia sebenarnya gesit, akan tetapi serangan ada hebat, pundak kanannya menjadi sasaran, diantara suara nyaring, ia merasakan sangat sakit. Tapi itu bukannya senjata rahasia, hanya batu bata atau genteng. Dalam murkanya, dan kuatir kawan2nya tertawai ia, ia loncat kearah rumah dari mana ia duga serangan datang.

Karena musuh membokong, empat kawannya Ouw Can lantas pencarkan diri.

Selagi Ouw Can sampai didepan sebuah rumah, Cin Pang lihat satu bayangan, dari samping melesat kebelakangnya ketua pengadilan itu, ia tadinya hendak memberi peringatan, akan tetapi kapan ia mengingat kejumawaannya kawan itu, ia lantas berdiam saja. Tapi bayangan itu tidak menyerang, dia hanya loncat naik kesebuah rumah.

Menampak demikian, Cin Pang susul kawan itu.

“Ouw Loosu, apakah kau lihat barusan satu bayangan lewat disini?” ia tanya.

“Ya, satu bayangan tetapi dia sangat gesit,” sahut Ouw Can, dengan suara tak sewajarnya.

Cin Pang tahu pasti, orang tak lihat bayangan itu, bahwa orang mendustakan ia.

“Mari kita pergi ke Hauw Kee Tiam!” ia mengajak. Ouw Can hendak menjawab, atau “Bangsat, awas!” demikian satu suara, yang datang dari kanan jauhnya belasan tindak, dari mana menyamber suatu benda hitam, entah benda apa.

Ouw Can lompat minggir, tangannya kiri ambil golok dari tangan kanan, ia siapkan peluru besinya, justeru benda itu jatuh didekat ia, ia loncat untuk mengejar. Begitulah ia lihat satu bayangan, yang loncat ke belakang rumah, maka ia lantas menyusul.

“Kemana kau hendak pergi?” ia membentak seraya tangannya diayun, hingga dua buah peluru melesat saling susul.

Tapi serangan itu dapat jawaban tertawa terbahak2. “Aha, mainkan kampak didepan ahli?” demikian suara

mengejek. “Kau berani adu kepandaian senjata rahasia dengan loosu? Nah, ini aku bayar pulang!”

Ouw Can tidak lihat musuh, tahu2 dua pelurunya telah menyamber ia, kemuka dan perut, menyambernya berbareng. Melihat samberan senjata rahasia itu, terang sipenyerang ada lebih lie hay.

Dengan goloknya, golok Thian kong Pek cui too, Ouw Can sampok jatuh kedua pelurunya itu. Ia jadi sangat jengah, tapi karena gusar, ia serukan Siauw Cun “Malam ini aku mesti dapatkan keputusan dengan tua bangka dari Hoay siang, siapa mampus siapa hidup, kalau tidak, tak mau aku berhenti! Siapa takut mampus dan sayang jiwanya, lekas dia kembali keperahu, jangan dia rubuh dengan kecewa disini! ”

Siauw Cun, juga Liong Jiang dan Kui Liong Tek, tahu ketua pengadilan itu telah menjadi kulap, tanpa kata apa mereka bergerak maju, akan kurung rumah diatas mana musuh berada.

Gui Cin Pang pun mengerti komarahanriya Ouw Can, yang dua kali kena dipermainkan,ia pun turut maju, tetapi sambil ia berkata “Memang, loosu, jikalau kita tidak mundur, kita mesti maju! Hayolah loosu kita cari musuh kita ini !”

Kata2 itu tajam. tetapi Ouw Can tidak dengar, dia hanya meloncat terus, naik keatas rumah, sedang Cin Pang maju dari sebelah Barat. Siauw Cun pun terlihat, dari Timur menuju ke Utara.

Ouw Can menuju kewuwungan Barat, dari situ ia turun kepayon, untuk mencari musuh, baharu ia sampai atau satu bayangan loncat ketembok disampingnya dimana bayangan itu berdiri dengan “Kim kse tok lip” atau “Ayam emas berdiri dengan sebelah kaki.”

“Eh, penjahat yang tak tahu malu, kau masih tidak mau datang untuk terima binasa?” demikian orang itu mengejek. “Jikalau kau masih mendesak, ingatlah, jangan katakan kami keterlaluan!”

Ouw Can ada sangat murka, ia mendongkol sekali karena musuh bermain kucing2an, tetapi sekarang ia lihat orang perlihatkan diri, ia puas.

“Kau main sembunyi saja, kau adalah bangsa pit hu!” ia berseru. “Malam ini jikalau aku tak kasi rasa dengan golokku, kau niscaya belum kenal kepada Ouw Jiethayya!”

Menyusul kata2nya itu, Ouw Can loncat turun ketanah. Ia ada cerdik untuk tidak bertempur diatas genteng yang licin dengan air hujan, dari situ baharulah ia hendak hampirkan musuh. Baharu ia hendak loncat pula, atau dengan tiba jendelanya dari rumah itu menjeblak terbuka sambil terbitkan suara keras, disusul dengan bentakan “Bangsat busuk, kau hendak kabur kemana?” Lalu serupa benda melayang menyamber kearah ia.

Dengan gesit Ouw Can egoskan diri. Ia terluput dari serangan, tetapi benda itu jatuh di tanah didekat ia sambil perdengarkan suara nyaring, menyusul mana, air muncrat dan pecahan nya terbang berhamburan.

Ternyatalah itu ada sebuah paso air kencing, maka juga air kotoran itu muncrat mengenai orang Hong Bwee Pang itu muka, kepala dan pakaiannya, hingga segera ia mencium bau ‘harum semerbak’…

“Sial!” berteriak Heng tong tocu ini. Kemudian ia mendamprat “Pit hu, kau cari mampus! Jie thayyamu toh tidak cari kau? Awas, sebentar aku nanti bikin perhitungan denganmu!”

Orang yang berdiri ditembok tertawa ter bahak2.

Orang didalam, satu petani, juga tidak takut. Dia sangka Ouw Can ada penjahat. Dia kata dengan nyaring “Bangsat, kau berani banyak laga? Jikalau tidak dihajar adat, mana kau tahu keliehayanku! Eh, Loo Ho, Siauw Sam cu, hayo siapkan senjatamu, mari kita bekuk bangsat bau ini!”

Petani itu perdengarkan suara nyaring, dia telah menyebabkan terbangunnya beberapa tetangga, mereka itu lantas pada berikan pehyahutan mereka.

Ouw Can mendongkol bukan kepalang.

“Ah, binatang ini mesti dimampusi terlebih dahulu!” pikir ia bahna gemasnya.

Orang ditembok itu rupanya bisa menduga kemarahannya ketua Hong Bwee Pang ini, ia lantas berseru “Eh, to cu dari Hong Bwee Pang, kenapa kau layani segala petani yang tak tahu hitam atau putih? Bukankah kau yang mencari susah sendiri? Mari, mari! Disini bukan tempat bertempur, mari keluar!”

Ucapan itu disusul oleh gerakannya orang itu, yang bertindak ke Barat selatan.

Ouw Can telah ditantang, dengan terpaksa ia tinggalkan si petani, ia menyusul.

Siauw Cun dan Liong Jiang masih sadar bahwa melayani petani tak ada gunanya, cuma2 kemerdekaan mereka jadi terbatas, dari itu mereka puas melihat orang, berlalu dari tembok, lalu mereka pun menyusul.

“Susul, jangan kasi dia lolos!” Siauw Cun menganjurkan. Juga Cin Pang dan Liong Tek turut mengejar.

Tidak jauh dari situ ada satu tempat tanpa rumah, sebuah kuburan besar menghalangi didepan mereka, diseputarnya ada pohon2 siong, cui dan pek.

Tembok kuburan ada luas, tinggi empat kaki lebih. Si penantang itu lompat masuk kedalam tembok itu.

Ouw Can anggap tempat pekuburan itu cocok sekali untuk pertempuran.

“Gui To cu, mari kita masuk dari pintu depan,” ia kata pada Gui Cin Pang. “Biar yang lain2 panjat tembok disekitarnya. Kita mesti cegah musuh keburu bersiap sedia!”

Ouw Can lantas mutar akan pergi kedepan, hingga ia lihat sebuah pintu yang tinggi dan besar dengan papan merek putih dengan huruf2 hitam, dalam gelap hurufnya tak dapat dibaca. Ke duanya segera loncat naik keatas pintu, akan memandang kedalam. Jalanan ada diapit dengan kuda2an batu, dilihat diwaktu malam, keadaannya sangat seram. Bukan melainkan Ouw Can, juga Cin Pang turut ragu2. Jikalau musuh umpatkan diri, ada sulit dan berbahaya untuk mereka.

Selagi mereka sangsi, dari belakang sebuah anak2an batu terdengar suara tertawa mengejek, lantas satu bayangan berkelebat keluar, bayangan mana pergi ke jalanan terapit pohon, disitu ia tertawa pula, sambil terus berkata “Kenapa jiewie sungkan sekali? Apakah kau kuatir tuan rumah hantu disini tak akan sambut kau sekalian? Mari, aku telah wakilkan kau memberi kabar pada tuan rumah hantu, yang ijinkan kau dan kawan2mu masuk. Hayolah! Mustahil kau hendak tunggu datangnya wakil yang resmi? Jikalau jiewie ayal2an. maaf, aku mesti pergi ”

Bukan main mendelunya Ouw Can dipermainkan secara demikian, sampai dia bungkam.

“Pit hu, jangan bertingka! Mari aku antar kau masuk ke liang kubur!” berseru Gui Cin Pang sambil lompat turun, akan hampirkan musuh itu.

Ouw Can sudah lantas perdengarkan suitan, lantas iapun loncat turun akan susul kawan nya.

Liong Jiang, Liong Tek dan Siauw Cun dengar, pertandaan itu, mereka lantas muncul.

Jalanan dipekarangan dalam itu tidak becek atau berlumpur, karena diampar batu halus, malah sehabis kehujanan, makin leluasa orang berjalan disitu. Jalanan itu buntu tercegat kuburannya, yang besar dan lebar, didepan mana, didepan bongpay, ada meja abunya. Adalah sesampainya didepan bongpay, musuh itu loncat naik kemeja untuk terus duduk numprah, bagaikan patung saja. Heng tong To cu Ouw Can dan Piauw pou To cu Gui Cin Pang adalah orang2 kang ouw atau loklim ulung, menampak sikap musuh itu mereka merandek, tapi mereka mengawasi dengan siap sedia.

“Eh, apakah kau Eng Jiauw Ong dari Hoay siang?” Ouw Can tanya dengan bengis. “Jikalau kau benar ada ketua Hoay Yang Pay, sudah selayaknya kau bertindak secara laki2, tidak seperti sekarang main sembunyi, main senjata rahasia, untuk menghina orang! Aku tidak puas dipermainkan olehmu!”

Orang diatas meja kuburan itu tertawa ter bahak2.

“Oh, rombongan mahluk tak kenal aturan!” ia kata dengan nyaring. “Kau semua cuma lihat lain orang hitam, tidak melihat diri sendiri hitam juga! Kenapa kau tidak mau akui diri sendiri tak punya guna hingga kau membikin malu Hong Bwee Pang sendiri? Mengapa kau katai orang lain main secara gelap? Terang sudah, kau semua ada punya mata tanpa bijinya hingga mirip dengan si buta! Mustahil Hoay siang Tay hiap kesudian berpandangan cupat seperti kau kawanan maling tikus pencuri anjing, yang sangat rendah hina dina? Jikalau kau sekalian benar hendak bikin beres perhitunganmu dengan Hoay Yang Pay, seharushya sejak meninggalkan surat di See Gak Hoa San, kau nantikan saja pihak Hoay Yang Pay datang untuk memenuhi janji, kenapa juga sebaliknya kau culik murid2 kami? Itulah perbuatan sangat buruk! Kenapa kau gunai bong han yoh untuk sapu bersih pada kami? Tapi perbuatan hina itu tak dapat lolos dari matanya ketua Hoay Yang Pay! Sepantasnya, sesudah gagal, kau mesti lekas angkat kaki, tapi sekarang kau berani datang kemari! Sekali lagi aku peringatkan, lekas kau berlalu, kau bukanlah tandingan kami! Biar urusan kita diurus oleh ketua dengan ketua! Kau sendiri, bangsa tak tahu malu, cuma2 saja akan bikin turun derajatnya Hong Bwee Pang! Nah, siapa tak tahu mampus, marilah maju. mari!”

Dihina secara demikian, dua2 Ouw Can dan Gui Cin Pang murka sekali.

“Kau ngaco belo!” Ouw Tocde membentak. “Tocumu cuma mau ketemu! si tua bangka Eng Jiauw Ong, ketua dari Hoay Yang Pay, aku tak sudi layani orang tak punya nama! Jikalau kau benar orang Hoay Yang Pay, beritahukan namamu!”

“Oh, jadinya kau tidak kenal aku si orang tua?” orang itu tertawa besar pula. “Aku adalah Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong dari Kwie in po digunung Kian San! Kau tentu ketahui, aku dapat menolong orang tapi juga dapat mencelakai orangl Aku biasa sambung jiwa orang, tetapi sekarang aku inginkan jiwamu sekalian! Sekarang aku telah berikan keterangan, biar sebentar kau jadi setan yang insaf keburukan diri sendiri!”

Mengetahui orang itu ada Ban Liu Tong, Gui Cin Pang insaf bahwa mereka sedang hadapi kesulitan, akan tetapi melihat orang bertangan kosong, ia anggap ia toh menang diatas angin.

Ouw Can sendiri percaya, dengan goloknya ia akan sanggup melayaninya.

Gui Cin Pang anggap ia mesti tak sia2kan tempo. Ia menduga bahwa, Eng Jiauw Ong mesti ada bersama suteenya itu, maka kalau sampai ia tunggu munculnya jago Hoay siang ketua Hoay Yang Pay, sulit kedudukan mereka. Dari itu, mendahului Ouw Can, ia lompat maju.

“Ban Liu Tong, jangan banyak tingkah!” ia membentak. “Lihat Gui Loosu nanti kirim kau pulang!” Ucapan ini belum habis dikeluarkan atau golok sudah menyamber, karena pemimpin Hong Bwee Pang ini telah taruh kakinya ditempat sejauh empat kaki dari lawan. Bacokannya adalah apa yang dinamai “Tan hong tiauw yang” atau “Burung hong menghadapi matahari.”

Ketika bacokan sampai, Liu Tong berkelit kepinggir, dari mana tangan kanannya, dengan gerakan “Sian jin cie louw” atau “Dewa menunjukkan jalan,” sudah barengi menyerang batok kepala musuh.

Cin Pang lihat bacokannya tidak memberi hasil, lekas2 ia pun egos tubuhnya, sambil berbuat demikian, goloknya ditarik pulang, terus dipakai membabat iga kiri, karena iapun berkelit kekanan.

Cepat sekali, Liu Tong loncat jauhnya enam tujuh kaki. Sambil lompat maju karena mana, Ma Liong Jiang pun loncat dan Kui Liong Tek terpaksa memburu. Sambil mendekati, Siauw Cun berseru “Jiewie Loosu, serahkan si tua bangka she Ban itu kepadaku untuk dibikin beres!”

Siauw Cun cuma beraksi saja dengan kata2nya itu, karena di lain saat, bertiga mereka kepung Ban Liu Tong.

Biar bagaimana, repot juga Siok beng Sin Ie melayani lima musuh yang tanggu dan nekat itu, tetapi ia tidak keder, Ia belum keteter, namun sebagai seorang yang sehat pikirannya, ia insaf ia ada terancam bahaya. Lima golok itu ada liehay dan ketika itu ada diwaktu malam yang gelap. Terpaksa, disemailah kegesitan istimewa, ia berlaku sangat awas dan waspada.

Untung bagi Liu Tong, walaupun lima musuh kepung ia dengan sengit, mereka sendiripun berlaku sangat waspada, mereka kuatir kesalahan kena serang kawan sendiri. Pertempuran berjalan terus dengan seru sampai tiba2, ditempat jauhnya lima tumbak, dari pohon siong, ada terdengar itu suara nyaring dan panjang, yang disusul dengan teguran. “Kawanan rase, gerombolanan anjing, ada berapa besar jumlahmu hingga kau andalkan jumlahmu yang banyak itu? Tapi aku tidak takut, aku nanti bikin beres kau semua!”

Kata2 itu lantas disusul dengan melayang turunnya satu tubuh, yang sesampainya ditanah tidak menerbitkan suara apa juga. Itu ada suatu bukti dari entengnya tubuh atau liehay nya ilmu Keng sin sut dari orang ini.

Menampak demikian, orang2 Hong Bwee Pang itu terkejut sendirinya, malah Kui Liong Tek menjadi alpa, ayal gerakannya, hingga nadinya kena disamber Liu Tong, hingga goloknya terlepas dan terlempar jauh setumbak lebih, mengenai satu boneka batu disamping mereka. Tidak tempo lagi, ia loncat kesamping, untuk singkirkan diri.

“Tikus, kau hendak lari kemana?” demikian satu bentakan, yang mendengung dikupingnya orang she Kui ini. Selagi kaki nya baharu saja menginjak tanah, selagi ia kaget, sebelah kakinya telah kena dibentur, hingga segera ia rubuh, sesudah mana, ia rasakan orang mengangkat tubuhnya laksana entengnya ssekor anak ayam. Iapun lantas dengar orang itu berteriak “Sambutlah!” Ia rasakan tubuhnya melayang, ia rubuh, tetapi segera ia berdiri pula, hanya sebelum ia tahu apa2, ada orang gencet pinggangnya kiri dan kanan, seraya ia dibentak “Boca, kau rebahlah, supaya ibumu tak usah hajar padamu!”

Suara itu ada nyaring sekali. Lantas ia rubuh pula, rebah, kedua tangannya telah ditelikung. Selama itu, tak pernah ia memperoleh kesempatan akan lihat roman nya orang yang bikin ia tidak berdaya. Ia pun merasa sangat malu. Baiknya disitu tidak ada anak buahnya, yang saksikan rubuhnya itu. Ia tidak terluka, tetapi ia mati kutu.

Hal 222 259 hilang

Setelah itu, orang yang baharu loncat turun dan atas pohon itu, terdengar pula suaranya. “Kawanan penjahat yang tidak sayang jiwa, berhentilah dahulu sebentar! Ban Sutee, berlakulah murah hati terhadap mereka! Aku niat bicara dahulu dengan mereka ini !”

“Baik,” sahut Liu Tong tanpa bersangsi, sambil melompat mundur, keluar dari kepungan musuh2nya. Ia mencelat dengan lewati kepalanya empat musuh itu, terus ia berdiri disamping su hengnya.

Ouw Can berempat sudah lantas berkumpul menjadi satu. Nampaknya wajah mereka ada tegang. Mereka memasang mata kepada orang yang suaranya keren itu.

Itu waktu hujan sudah berhenti, mega mendung telah mulai buyar, hingga samar2 kelihatan bulan sisir, yang masih memain antara sang awan. Dengan begini, mereka yang bermata awas, bisa melihat dengan cukup tegas.

Satu tumbak lebih jauhnya dari mereka, Ouw Can berempat lihat satu orang tua yang tubuh nya kurus tetapi sikapnya gagah dan bengis, tangan kirinya dibelakang, tangan kanannya mengurut kumis.

“Cuwie loosu, ini dia Eng Jiauw Ong ketua dari Hoay Yang Pay!” Ma Liong Jiang paling dahulu keluarkan suaranya, apabila ia telah melihat tegas.

Ouw Can bertiga mengawasi terus, hati mereka keder. Bukankah melawan satu Ban Liu Tong saja. yang menjadi sutee mereka sudah kewalahan? Tak lagi mereka bersikap garang sebagai semula. “Siapa yang menjadi kepala diantara kau?” Ong Too Liong tanya.

“Itulah aku, Ouw Can,” sahut Heng tong tocu Hong Bwee Pang dengan terpaksa. “Ong Too Liong, kau melainkan satu guru silat di Lek Tiok Tong, di Ceng hong po, Hoay siang, cara bagaimana kau berani musuhkan kita kaum Hong Bwee Pang? Tahukah kau, siapa di dunya kang ouw yang berani main gila terhadap kami? Ada berapa yang telah mati karena memusuhi Hong Bwee Pang? Kau dengar nasihatku si orang she Ouw, mari kau turut aku kepusatku, untuk menemui ketua kami guna selesaikan perselisihan, supaya selanjutnya kedua pihak hidup akur, tidak lagi saling menyusahkan. Jikalau kau tetap berkepala besar, Hoay Yang Pay jangan harap, bisa tancap kaki pula didalam dunya kang ouw!”

Eng Jiauw Ong tertawa dingin.

“Ouw Can, kau pandai bicara!” kata ia. “Teranglah kau keliru mengenal aku si orang she Ong! Sejak aku pimpin Hoay Yang Pay, aku melainkan tahu urus kaumku sendiri. Dengan menuruti azas kaumku, kami masuk dalam dunya kang ouw untuk singkirkan sikuat dan jahat, guna tolong silemah bercelaka. Perselisihanku dengan Hong Bwee Pang ada mengenai diriku sendiri, itu ada urusan perseorangan, maka jikalau Hong Bwee Pang ada satu laki dia mesti bikin perhitungan denganku seorang, jangan dia berlaku hina dina dengan culik murid2 kami! Kau semua berlaku demikian busuk, mana aku mau mengerti? Baharu aku ambil putusan akan pergi ke Cap jie Lian hoan ouw untuk menegurnya, pihakmu sendiri telah ganggu kami disepanjang jalan, kau berlaku curang sekali! Maka itu aku hendak beri ajaran kepada kau sekalian! Kau ada kaum Kang ouw, seharusnya kau insaf dan mundur sendiri, tetapi kau tidak berbuat demikian bahkan dengan tak tahu malu kau membabi buta mempersulit dan memperbahaya kami. Rupanya karena kami tak sudi melayaninya, kau menjadi olokan dan anggap kami dapat dipermainkan. Dihotel hauw Kee Tiam kau sudah pertunjukkan sesuatu yang meruntuhkan nama Hong Bwee Pang, sungguh sayang …. Ouw Can, jangan kau berlaga gila lebih jauh, dengan kepandaian yang kau punyai, kau bukannya tandinganku! Aku tidak mau basmi kau, aku sudah loloskan jiwamu berlima, pergilah kau pulang untuk memberi laporan kepada Liong Tauw Pang cu, supaya pemimpinmu itu siap sedia dengan gunung golok dan kwali mendidih! Bilang Ong Too Liong nanti pergi kesana, guna lakukan pertempuran yang memutuskan, mati atau hidup! Bilang juga apabila kedua murid kami terganggu selembar saja rambu nya, kami nanti injak Hong Bwee Pang menjadi tanah rata! Demikian pesanku. Andai kata kau masih penasaran dan ingin mencoba2 aku, persilahkan, mari, mari! kau boleh rasakan daging nya sepasang tangan kosongku ini!”

Gui Cin Pang jadi sangat gusar mendengar perkataan menghina itu.

“Eng Jiauw Ong, apa kepandaianmu maka kau berani demikian terkebur?” ia menegur. “Aku Gui Cin Pang tidak puas! Mari kita coba2!”

To cu ini sudah lantas bertindak maju.

Kembali Eng Jiauw Ong tertawa, secara menghina. “Kau berani menantang aku untuk bertempur?” kata ia.

“Kau ada punya kepandaian apa? Tunggu sebentar!”

Jago Hoay siang ini memutar tubuh akan hampirkan patung batu besar disampingnya. Ia berdiri dibelakang patung itu, dengan tangan kanan ia cekal lehernya, dengan tangan kiri ia angkat bagian bawahnya. “Bangun!” ia berseru. Dan patung itu, yang beratnya lima atau enam ratus kati, ia bawa jalan dengan cepat beberapa tindak sebelum ia kembali ditempat asalnya, sesudah mana, ia berseru “Sambutilah!” Menyusul itu, ia melemparkan patung itu, sampai jauhnya satu tumbak lebih. Ketika patung itu sampai ditanah, dengan perdengarkan suara keras, dia jatuh nancap, berdiri seperti asalnya.

Cin Pang bertiga melongo, mereka kagum dan kaget. Tidak dinyana orang tua kurus itu ada punya tenaga bagaikan raksasa.

“Ong Too Liong, malam ini kami rubuh ditanganmu,” akhir nya Ouw Can akui. “Baik, kami nanti tunggu kau di Cap jie Lian hoan ouw!”

Heng tong tocu ini terus putar tubuhnya, dengan niat angkat kaki.

“Jangan kesusu!” kata Eng Jiauw Ong sambil tertawa terbahak2. “Cukup asal kau semua tahu keliehayanku! Disini masih ada dua koncomu, mustahil kau inginkan kita yang antar mereka ke Cap jie Lian hoan ouw? Justeru akulah yang ingin berangkat lebih dahulu. Sampaikan kepada ketuamu bahwa aku si orang she Ong bakal sampai di pusatmu, lamanya setengah bulan, sedikitnya sepuluh hari, disana aku nanti terima pengajaran.”

Setelah berkata demikian, jago Hoay siang ini putar tubuh, akan gapekan Liu Tong “Sutee, kita bakal segera bertemu dengan Thian lam It Souw Bu Wie Yang, ketua dari Hong Bwee Pang, maka mari kita jangan layani segala mereka ini!”

Eng Jiauw Ong bertindak ketempat gelap antara pepohonan, saudaranya ikuti dia, disana mereka menghilang. XXXII

Dengan air muka merah padam bahna malunya, Ouw Can saling mengawasi dengan kawan2nya, tetapi segera ia hampirkan Kui Liong Tek, yang rebah ditanah dengan kedua tangannya tertelikung kebelakang.

Siauw Cun dan Ma Liong Jiang lantas kasi bangun kawan itu, yang belengguannya terus diloloskan.

Kui Liong Tek menghela napas, lalu ia pandang Ouw Can semua dengan muka merah.

“Kita telah dirubuhkan secara begini, mana kita ada muka akan berdiri terus didalam Hong Bwee Pang?” kata ia dengan sangat mendongkol. “Sakit hati ini mesti dibalas! Sekarang ini aku hendak merantau, untuk sembunyikan diri, she dan nama, guna cari pelajaran lebih sempurna! Jikalau aku tidak mampu rubuhkan Eng Jiauw Ong, tak mau aku menemui pula kawan2 sesama kaum kang ouw!”

“Sabar, Kui To cu,” berkata Gui Cin Pang. “Bukannya kita tidak bersemangat dan tak tahu malu, tetapi kekalahan kita ini bukan disebabkan kita tidak tahu diri. Hoay Yang Pay itu sudah menjagoi dikalangan Rimba Persilatan di Selatan dan Utara sungai Besar, lebih2 selama yang belakangan ini. Eng Jiauw Ong itu telah punyakan latihan kepandaian empatpuluh tahun lebih, tidak heran apabila ia tak dapat sembarangan dilawan. Kita kalah, tak usah kita malu. Kitapun telah dapat pesan dari Pusat Umum, apabila kita bukannya tandingan, kita diharuskan memancing dia datang ke Cap jie Lian hoan ouw. Tugas ini kita sudah jalankan. Bukankah Eng Jiauw Ong bersedia akan datang kepusat kita? Sekarang kita mesti lekas pulang untuk memberi laporan supaya Pang cu bisa bersiap sedia. Biarlah disana kita cari ketika untuk lampiaskan dendaman ini, untuk mencuci malu. Sekarang kita ada diantara rekan sendiri, tidak ada anak buah kita, aku percaya kejadian ini tidak akan teruwar keluar. Tidakkah demikian, Kui To cu?”

Liong Tek manggut.

“Baiklah, Gui To cu, aku suka turut kata2mu,” to cu ini jawab. “Sekarang perlu kita lekas pulang, supaya kita tidak ketinggalan oleh Eng Jiauw Ong.”

“Jangan kuatir, Kui Loo su,” Siauw Cun menghibur. “Pusat kita bukannya pusat umum, umpama kata mereka mendahului sampai, tak nanti gampang2 mereka mampu lantas mencari ketemu ”

Selagi Siauw Cun mengucap demikian, mendadak mereka dengar suara “ah ah uh uh” dari atas pohon terpisah lima tindak dari mereka, hingga mereka semua menjadi heran.

“Siapa?” Cin Pang tanya dengan bentakannya. Pertanyaan itu sia2, tidak ada yang sahuti.

Cin Pang ber sama2 Siauw Cun dan Liong Jiang segera maju menghampirkan, Ouw Can susul mereka. Liong Tek menjemput goloknya, untuk menghampirkan juga.

“Siapa?” kembali mereka menanya. Dua kali mereka mengulangi, tetapi tidak ada jawaban.

Setelah datang lebih dekat dan mengawasi, mereka lihat satu orang tergantung dengan tertelikung dan mulutnya tersumbat.

“Ouw Loosu,” berkata Siauw Cun, “tadi Eng Jiauw Ong sebut dua orang kita, yang satu tentu dimaksudkan Kui Loosu, maka yang lainnya mesti dia ini, hanya entah dia siapa. Nanti aku lihat “Tapi hati2,” pesan Ouw Can yang mengangguk menyatakan setuju. Iapun hargai kepandaian mengentengi tubuh dari Siauw Thio Liang.

Siauw Cun tancap goloknya dibebokong, ia bertindak kebawa pohon, apabila ia sudah mengawasi sekian lama, ia enjot tubuhnya akan loncat naik akan hampirkan orang tergantung itu siapa benar tertelikung kedua kaki dan tangannya, tetapi tubuhnya tidak digantung, dia hanya diletaki melintang diatas sebuah cabang, umpama dia geraki badannya, dia bisa terpeleset dan jatuh!

“Hebat,” kata Siauw Cun dalam hatinya. Tapi ia masih belum bisa lihat tegas mukanya orang itu. Ia coba menginjak cabang yang kuat, ia lantas mendekati kesamping orang itu.

“Jangan bergerak, aku Siauw Cun hendak tolong kau,” kata ia seraya ia tepuk bebokongnya orang itu. Tapi ia lebih dahulu cabut sumbatan mulut, hingga orang itu bisa mengeluarkan napas lega, lalu ia menjerit.

“Oh, Siauw To cu!” kemudian kata ia “lekas tolongi aku, aku tak kuat, pinggangku bisa patah! ”

Rupanya dia sudah cukup lama ‘terpanggang’ diatas cabang itu dimana ia tidak berani bergerak.

“Oh, kau Song Jie!” kata Siauw Cun, yang kenali suara nya orang itu.

Dilain saat, jongos tetiron itu sudah dikasi turun. Melihat dia, Ouw Can merasa malu.

“Apa sudah terjadi dengan kau?” to cu ini tanya.

“Ketika aku pulang, aku masuk kedalam pekarangan dengan panjat tembok seperti waktu keluarnya,” Song Jie terangkan. “Belum sampai aku loncat sampai ditanah atau ada orang yang sanggapi aku, aku tertawan tanpa bisa melawan, kemudian aku dibawa kedalam kamar dimana si hitam ringkus aku, mulutku disumbat. Eng Jiauw Ong lantas suruh murid2nya bebenah, aku dibawa kekantor kuasa. Entah apa yang dia lakukan disitu, aku cuma dengar suara semburan air dari mulut. Rupanya dia tolongi orang yang kena dibikin pules obat tidur. Dengan lekas Eng Jiauw Ong keluar pula, aku dikempit, samar2 aku dengar aku diancam ketika aku dibawa naik keatas pohon, katanya sebentar akan ada orang tolongi aku. Aku dilarang bergerak, atau aku akan jatuh mampus. Dari separuh pingsan, aku sadar. Bukan main sakitnya dadaku karena mesti melintang diatas cabang, itulah siksaan hebat, sukur loosu keburu datang, jikalau tidak, akhirnya aku bakal jatuh sendiri ”

“Inilah bukti Couwsu kita lindungi kau,” kata Ouw Can. “Lain kali kau mesti bekerja lebih keras untuk Ma To cu mu!”

Liong Jiang menderu sekali, ingin ia tabas tubuhnya sebawahan itu, supaya orang tidak perhina padanya, karena Ouw Can berkata dengan maksud menyindir. Ia sendiri tidak berani berbentrok dengan tocu itu.

“Minggir kau!” ia bentak Song Jie. “Kaulah yang bikin kita gagal!”

Song Jie ketakutan, ia pergi kebelakang mereka.

Liong Tek lihat suasana jelek. “Hal sudah terjadi, siapapun tak dapat disesalkan,” ia maju sama tengah. “Sekarang sudah mulai terang tanah, mari kita kembali keperahu kita!”

Ouw Can menurut, mereka lantas berangkat, tetapi Ma Liong Jiang bawa Song Jie kepusatnya sendiri, karena Ouw Can beramai terus berangkat pulang ke Cap jie Lian hoan ouw, agar Eng Jiauw Ong tidak dului mereka.

Benar seperti katanya Song Jie, Eng Jiauw Ong sudah bebenah, karena dia tidak berniat kembali kehotelnya, sehabis bersama Liu Tong gertak rombongannya Ouw Can, ia ajak Su touw Kiam dan Coh Heng meninggalkan Kian hoo tian, ketika terang tanah, mereka sudah lakukan perjalanan dua puluh lie lebih, mereka telah sampai di Liok lie po di Co hoo wan. Cuaca itu waktu ada terang. Mereka sudah pikir akan singgah untuk sarapan pagi, selagi jalan untuk cari hotel, tiba Liu Tong senggol suhengnya seraya berbisik “Lihat, suheng, bukankah am cu ada disini?”

Too Liong ikuti tujuan mata nya sang sutee. Dijalan besar sebelah Timur, ditembok satu hotel dia lihat tulisan huruf ‘in’ awan.

“Benar, itu ada tanda dari am cu,” Eng Jiauw Ong manggut.

“Mungkin dia sudah berangkat, ke Barat selatan   ”

Liu Tong mengawasi, sekarang ia melihat, guratan terakhir ada menuju kearah yang disebutkan suheng Itu. Tanpa perhatian, orang tak akan dapat artikan guratan itu.

“Suheng awas sekali, aku kalah,” sutee ini mengakui. “Sekarang perlu kita tanya, kapan berangkatnya dia.”

Eng Jiauw Ong setuju, ia anggukkan kepala. Maka berempat mereka hampirkan hotel itu, yang pakai merek Hok Bouw. Satu jongos menyambut mereka, mereka diantarkan kesebuah kamar yang besar dimana paling dahulu mereka disuguhi teh kemudian nasi.

“Apa disini ada menumpang ruang beribadat?” tanya Too Liong selagi jongos atur barang hidangan. Pelayan itu tercengang.

“Oh, oh, apa jiewie ada Ong Loosu dan Ban Loosu?” ia balik tanya.

“Cara bagaimana kau ketahui she kita?” Too Liong menegasi.

“Oh, benar2 orang sendiri!” yongos ini berkata pula, seperti pada dirinya sendiri. “Loosuhu aku masih belum berangkat, nanti ku undang ia datang kemari.”

Tanpa tunggu jawaban, jongos itu berlari kedalam.

Jiauw Ong dan Ban Liu Tong menjadi heran, hingga timbul kecurigaan mereka. Tanda diluar bukankah menyatakan pendeta wanita itu sudah berangkat? Kenapa dia masih belum pergi? Tetapi toh dengan hati bimbang mereka menantikan juga.

Jongos itu kembali dengan cepat, tetapi romannya tak bergembira sebagai tadi, ia nampak nya menyesal dan heran. Segera ia kata “Tooya tadi ada aneh sekali! Dia bilang dia hendak nantikan loosu berdua, tetapi baharu saja dia telah berangkat pergi! Bagaimana jiewie loosu kenal padanya? ”

“Apa?” Liu Tong memotong. “Kau sebut too ya? Yang aku maksudkan adalah satu su thay yang telah berusia lanjut. Kenapa kau sebut2 too ya?”

“Tetapi, sutee,” Eng Jiauw Ong turut bicara, “too ya itu tentunya kenal kita. Jikalau tidak, cara bagaimana dia ketahui she kita?” Lalu ia mengawasi jongos itu akan tanya “Ada satu su thay bersama empat muridnya perempuan, adakah mereka itu singgah disini?”

Jongos itu mengangguk. “Benar mereka pun singgah disini, tetapi mereka berangkat kemarin,” ia kasi tahu. “Anehnya, jiewie loosu tanyakan su thay itu, dia sendiri tak menanyakan tentang jiewie, jiewie tidak cari si too ya, dia justeru bilang terang2 bahwa dia telah berjanji kepada jiewie untuk satu pertemuan! Tidakkah ini aneh sekali?”

“Kau tak usah menjadi heran,” Too Liong berkata pada si pelayan “Kami datang untuk pasang hio guna membayar kaul, ketemu gunung kami menghormat, ketemui kuil kami bersujud, tidak aneh apabila kami kenal banyak orang beribadat. Apa bisa jadi tooya yang kau sebutkan tadi ada Tan Tooya dari Pek In Koan di Go Gu San?”

“Bukan, loosu,” sahut jongos itu sambil menggeleng kepala. “Jangan loosu katakan aku banyak mulut, tooya itu bilang dia sedang mengembara, tetapi dimataku dia adalah satu imam melarat sekali, yang hidupnya dari turunan tak seberapa. Dari kepala sampai dikakinya, dia tak punya barang berharga satu atau dua tail, kecuali pedangnya, yang barangkali laku buat tiga sampai lima tail perak. Kalau dia tidak punya pedangnya itu, barangkali kami tidak berani ijinkan dia singgah, karena dikewatirkan dia dahar tidak kuat membayar. Dia datang tadi baharu saja terang tanah, lantas dia minta air dan barang makanan, untuk bersantap dan minum. Baru saja aku tanya majikan tentang uang pembayarannya imam itu, atau jiewie datang, maka aku lantas sambut diyewie. Dia baharu saja pergi dengan meninggalkan uang dua tail lebih. Coba pikir, apa tooya itu tidak aneh?”

“Kalau begitu, benarlah dia!” Eng Jiauw Ong kata pada Liu Tong. Kemudian dia tanya jongos “Berapa usianya tooya itu?”

“Barangkali enam puluh tahun kurang lebih. Dia kurus sekali tetapi jangkung, tubuhnya kekar dan romannya bersemangat, malah makannya pun kuat, sebab dia dahar habis makanan untuk tiga orang muda!” “Dia tidak hutang, bagus,” Eng Jiauw Ong bilang. “Kami yang alpa, kami lupa kepada janjinya itu. Pergi kau layani lain tetamu.”

Jongos itu undurkan diri, setelah mana, Liu Tong kata pada suteenya “Dugaanku imam itu mestinya Cianpwse Tiat So Tu jin dari Liu Sian Koan, Tay San.”

“Memang, memang dia,” Too Liong benarkan. “Disepanjang jalan dia kuntit kita, tak perduli hujan gerimis, senantiasa dia kisiki kita, sampai dia suruh kita bersabar.”

“Sampai sekarang ini dia masih saja jenaka dan aneh kelakuannya, tak pernah berobah,” Liu Tong kata. “Sekarang, suheng, tak dapat kita ayal2an, kita mesti lekas sampai di Ceng hong po. Bukankah dia bilang dia hendak nantikan kita dirumahmu? Tak boleh kita bikin dia menunggu terlalu lama!”

Eng Jiauw Ong manggut. Karena itu waktu Cu In Am cu juga sudah berangkat.

Sehabis dahar, mereka beristirahat sebentar, lantas mereka melanjutkan perjalanan. Ditengah jalan mereka masgul. Selama itu tak pernah mereka dapat dengar tentang In Hong dan Hong Bwee. Ketika mereka memasuki propinsi An hui, masih mereka tidak peroleh hasil, kecuali dengar kabar bahwa kedua murid itu tak kurang suatu apa. Kawanan penculik ada sangat cerdik, saban2 mereka sesatkan jalan.

Pada suatu hari di Bong shia koan, disebuah hotel, ada kedapatan tanda rahasia dari Cu In Am cu. Itu ada bukti bahwa pendeta wanita itu pasti sudah sampai di Ceng hong po. Dida lam hotel dimana mereka singgah, mereka juga dapati surat peninggalan dari Tiat So Toojin, yang menulis “Hoay siang Siang hiap, lekas pulang ke Lek Tiok Tong kumpulkan tenaga buat pergi ke Tap jie Lian hoan ouw, untuk tolong Hong Bwee dan In Hong. Terkabar rombongan yang kau pecundangi di Hoo lam sudah kembali kesarang mereka untuk atur tipu daya guna mencari balas, maka itu harus kau waspada.”

Too Liong dan Liu Tong kagum dan berterima kasih. Terang sekali imam tua itu senantiasa dampingi mereka. Karena ini, lekas2 mereka meninggalkan kota Hong shia koan, seberangi sungai Siauw Hoo, untuk dari Utara Keng san koan menembusi Hoay wan, lintasi Pang pou, menuju langsung ke Hoay siang. Perjalanan ini ada sukar. Disepanjang jalan, kalau tidak ada tentera pemberontak, tentu ada pasukan pemerintah Boan. Tapi dengan tak suatu halangan, mereka sampai juga di Lek Tiok Tong, di rumah mereka. Sejak didepan, sudah lantas ada hiang yong, yalah serdadu desa sukarela, yang mengabarkan sampainya mereka ke kong so, kantor pusat dari Lek Tiok Tong.

Kapan Eng Jiauw Ong dan rombongannya sudah lewati kali pelindung desa, mereka disambut sambil berdiri rapi oleh barisan hiang yong yang menjaga disitu.

Ban Liu Tong lihat desa telah terjaga lebih sempurna daripada waktu ia datang paling belakang. Lek Tiok Tong dan Ceng hong po sebenarnya ada dua desa yang dipersatukan. Di Lek Tiok Tong ada kebun bambu yang luas nya beberapa ratus bauw, yang menghasilkan bambu, maka itu, seputar desa ditutup dengan pagar bambu. Pintu ada dua, ada diberdirikan empat tiauw tauw. ranggon besar pengintai, serta dua belas keng lauw, ranggon peronda. Kali pelindung ada mengitari desa, airnya dialirkan dari sungai Hoay, airnyapun dipakai buat bercucuk tanam, maka sebelas kampung yang tergabung dalamnya, ada subur tanah ladangnya. Maka, selagi negara ada kalut, Ceng hong po sendiri ada aman dan makmur. Kagum Liu Tong terhadap suhengnya, yang pandai mengatur desanya.

Untuk sampai ke kongso, ada satu jalan yang panjang dan lebar, dikedua tepinya ada ditanami pohon bambu, dan disepanjang jalan, saban2 ada serdadu desa yang menjaga. Sesudah jalan setengah lie, empat hiang yong menyambut untuk talangi Su touw Kiam dan Coh Heng menggendol pauwhok mereka. Dari sini, jalan jadi banyak pengkolannya, kekiri dan kanan, hingga bisa menyebabkan orang kebelingar atau kesasar. Selewatnya jalan rahasia ini, baharu orang sampai disatu tempat terbuka, yang lebar. Disitu berdiri kongso dimana pekarangan ada ditanami pelbagai pohon bunga, rumputnya rata dan terawat. Kongso inipun terkurung pagar bambu. Pintu pekarangan dijaga dua chung teng.

Selagi bertindak masuk kedalam pekarangan, belasan orang keluar menyambut. Eng Jiauw Ong melihat, kecuali orang sendiri, pun ada tujuh tetamu, yang termasuk undangan, yang telah tiba terlebih dahulu.

“Semua orang sendiri, didalam saja kita jalankan kehormatan,” kata Eng Jiauw Ong.

Demikian orang memasuki kongso.

Wakil ketua, po cu dari Ceng hong po, Cie Too Hoo, sudah lantas berkata “Suheng, seharusnya paling lambat kau sampai kemarin malam, tapi baharu hari ini kau tiba, dari itu, tadi malam sia sia saja kami menanti dalam kekuatiran. Kalau hari ini kau tidak sampai juga, pasti kami akan pimpin satu pasukan akan menyusulnya diperjalanan. Apakah kau terhalang ditengah jalan?”

“Menyesal aku bikin kau berkuatir, sutee” sahut Eng Jiauw Ong. “Sebenarnya juga, disepanjang jalan orang2 Hong Bwee Pang telah ganggu kami. Sebentar aku nanti tuturkan semua.”

Eng Jiauw Ong ingin ketemui dahulu satu per satu tetamu2nya, yang telah memenuhi undangannya, yalan Tiong ciu Kiamkek Ciong Gam, guru silat Wie Siu Bin dan Kim Jiang dari Ek pak, Utara, piauwsu Hauw Tay dari Shoatang Se latan, dua dari Cse Sui Sam kiat Phang Yok Buri dan Phang Yok Siu, dan Kim too souw Khu Beng dari Siong San. Mereka inipun inginkan keterangan perihal diculiknya In Hong dan Hong Bwee.

Sehabisnya suguhan teh, Cie Too Hoo tanya, “mana dia Cu In Am cu dari See Gak Pay, yang katanya datang bersama.”

“Turut rencana dia mesti sampai terlebih dahulu satu hari,” sahut Eng Jiauw Ong. “Entah kenapa, dia terbelakang. Apa tak bisa jadi, sutee, mereka terhalang?” ia tanya Ban Liu Tong.

“Aku percaya am cu bukan terhalang, dia mesti ada punya kan urusan lain.” sahut Liu Tong. “Ada berbahaya kalau penjahat berani rintangi am cu.”

Ketika itu, dengan saling susul ada datang orang2 tua sebelas desa, untuk menemui ketua mereka, yang katanya telah kembali, dari itu repot Ong Too Liong menyambutnya, iapun sekalian tanya keadaannya masing2.

Seberlalunya semua tetua itu, Cie Too Hoo jamu Too Liong dan Liu Tong. Selagi bersantap, Eng Jiauw Ong gunai kesempatan akan tuturkan sebab musabab dari bentrokan dengan pihak Hong Bwee Pang.

XXXIII “Mereka keterlaluan,” kata Kim too souw Khu Beng yang menjadi gusar. “Aku tahu benar, kita pihak Hoay Yang Pay bisa bawa diri. Kalau toh kita bentrok dengan orang jahat, ada biasa saja, tapi tindakan mereka sangat hina. Aku lihat, mak sud sebenarnya dari Hong Bwee Pang adalah untuk menjagoi sendiri di Kanglam ”

Baharu Khu Beng bicara sampai disitu, datang satu chung teng yang mengabarkan tiba nya Sin Piauwsu, hingga Too Liong dan Liu Tong jadi tercengang.

“Aiya!” seru mereka. “Sin Loo enghiong sudah berusia lanjut, dia tak hiraukan usianya dan jalan yang jauh, dia memerlukan datang, sedang dia bukannya kaum kita, sungguh ia mulia. Mari kita sambut padanya!”

Keduanya bangkit, diturut oleh yang lain lain, yang kebanyakan kenal piauwsu she Sin itu, yalah Siang ciang Tin Kwan see Sin wie Pang, sahabat kekal dari Mau Liu Tong, yang sebagai piawsu, namanya kesohor di Liauw tong.

“Ya, dia harus dihargai,” nyatakan Ciong Gam dan Hauw Tay.

Semua lantas bertindak keluar, baharu sampai ditikungan, mereka sudah berpapasan dengan piauwsu tua itu, yang diiring dua thung teng, sedang dibelakangnya ada ikut satu anak muda yang bawa pauwhoknya.

“Sin Loo enghiong, sungguh tak berani kami menerima kunyungan ini!” berseru Too Liong dan Liu Tong yang maju dimuka untuk beri hormat mereka. Sedang Liu Tong menambahkan “Lauwko, sungguh kau baik sekali, aku sangat berterima kasih !”

“Kita ada sahabat2, jangan ssejie!” sahut jago tua itu, yang membalas hormat. “Jikalau aku tidak pergi berkunjung ke Kwie in po, pasti aku tak tahu yang Ban Lauwtee telah berangkat kemari. Dari Thio Hie pun aku ketahui halnya persengketaan Hong Bwee Pang. Kenapa lauwtee tidak beritahukan aku tentang perselisihan itu? Ah lauwtee, kau harus didenda!...”

Dan ia bersenyum.

Sebelum Liu Tong menyahuti, Eng Jiauw Ong mendahulukan ajar kenal tetamunya ini dengan Ciong Gam bertujuh, setelah mana, Sin Wie Pang pun suruh anak muda pengikutnya, yang ada muridnya, Hui thian Giok niauw Hang Lim, hunjuk hormat pada semua orang.

Eng Jiauw Ong lantas undang semua orang masuk akan ambil tempat duduk.

Diam2 Tiong ciu Kiamkek Ciong Gam pandang piauwsu tua ini, yang umurnya sudah lebih daripada enam puluh tahun, rambut dan kumis jenggotnya sudah putih semua, akan tetapi roman nya masih gagah, tubuhnya tinggi dan kekar, kulit mukanya masih bersemu merah, sepasang matanya tajam.

Selagi minum teh, piauwsu tua ini lihat meja perjamuan. “Ciongwie jinheng, nyatalah aku datang bukan pada

saatnya,” berkata ia. “Ciongwie sedang bersantap, aku telah

mengganggunya, aku menyesal sekali. Jikalau ciongwie memandang kepadaku, silahkan duduk dan dahar terus, jangan sungkan2”

Ia bicara sambil berbangkit.

“Sin Jieko, apabila jieko tidak mencela, silahkan kau duduk bersama,” Liu Tong mengundang. “Kita ada sama2 orang Rimba Persilatan, jangan see jie. Biarlah inipun menjadi perjamuan untuk jieko, supaya kita leluasa bercakap2.”

Cie Too Hoo sudah lantas perintah chungteng siapkan dua meja hidangan yang baharu.

“Sebenarnya kita berdua sudah dahar,” Wie Pang kata. “Jangan ssejie, loo enghiong, mari kita dahar bersama,”

Too Liong memohon.

Wie Pang mengucap terima kasih, ia lantas ambil tempat duduknya.

Too Liong segera suguhkan arak, sedang barang makanan sudah mulai disajikan pula.

“Kedatanganku ini, ke satu untuk kerukunan kaum kita, kedua ada suatu hal yang aku ingin sampaikan pada Ong Suheng,” Wie Pang kata kemudian. “Tentang diriku, Ban Loosu ketahui baik sekali. Aku mengerti silat sedikit sekali, kalau toh aku bisa hidup dalam perusahaan piauw, semua itu karena bantuannya sahabat2. Dengan segala kumpulan rahasia aku tidak punya perhubungan sama sekali, adalah setelah dengar keterangan muridnya Ban Loosu perihal Hong Bwee Pang, aku baharu ingat bahwa aku sebenarnya ada sangkut pautnya.”

Mendengar demikian, semua orang tercengang. “Ciongwie, perlu aku bicara, untuk tidak menerbitkan

salah mengerti,” Sin Wie Pang melanjutkan. “Sudah sekian lama aku undurkan diri, adalah maksudku untuk beristirahat guna bebaskan diri dari segala kesulitan. Tapi tetap aku masih punyakan sahabat2. Pada tahun yang sudah, satu sahabatku di Kanglam ada omong tentang munculnya satu orang kang ouw luar biasa, yang dipanggil Thian lam It Souw Bu Wie Yang, yang sudah bangunkan pula Hong Bwee Pang dengan berkedudukan di Cap jie Lian hoan ouw. Nama itu mengingatkan aku kepada muridnya susiokku. Tempo aku selidiki lebih jauh, nyata dia benar adalah suhengku. Selama belajar silat, kami jarang bertemu satu dengan lain, dalam satu tahun, ketika bertemunya cuma satu atau dua kali. Setelah sama2 keluar dari perguruan, kami jadi seperti putus hubungan, suheng itu berdiam di Selatan, aku di Utara dimana aku ikuti dua sahabat. Untuk belasan tahun aku berdiam didaerah Shoatang dan Shoasay serta Hong Hoo Selatan, baharu setelah berumur tiga pululi enam tahun, aku buka Hin Seng Piauw Kiok di Kauw pak. Selama tiga puluh tahun, tidak pernah aku bertemu suhengku itu. Seperti aku sudah terangkan, baharu sejak tahun yang lalu aku dengar Bu Suheng telah kepalai Hong Bwee Pang. Aku tidak bisa berbuat suatu apa tetapi aku sayangi sepak terjang nya suheng itu. Aku mengerti, semakin besar gerakannya, semakin besar juga bencana yang mengancam padanya. Aku berdiam saja karena aku tahu suheng itu berkepala besar dan jumawa, dia sangat cerdik, kepandaiannya jauh melebihi aku, umpama aku nasihati padanya, pasti dia bakal perhina aku, mungkin dia tak sudi aku sutee kepadaku. Aku anggap tak perlu aku ambil tindakan yang toh tak akan ada faedahnya. Tapi sekarang ada lain. Dia bentrok kepada Hoay Yang Pay, sedang Ban suheng adalah sahabatku. Tak dapat aku berdiam saja. Tapi aku berkedudukan serba salah, tak dapat aku bantu salah satu pihak. Maka diakhirnya aku henti, ku ambil satu jalan, ingin aku mengakurkan kedua pihak. Pertempuran berarti kerugian untuk kedua pihak. Dalam hal ini, tidak ada salah satu pihak yang dapat pengaruhi aku, sebagaimana aku datang kemari atas suka sendiri. Dengan bertindak begini juga aku tidak dapat duga bagamana akan hasilnya dan bagaimana akibatnya nanti.” Too Liong dan Liu Tong berbangkit, mereka menjura pada piauwsu tua itu.

“Sungguh loo piauwsu baik sekali.” kata Eng Jiauw Ong. “Apa juga akibatnya tindakan loo piauwsu ini, kami tetap anggap itu sebagai budi besar, yang tak akan kami lupakan. Umpama loo piauwsu berhasil, kami nanti akur saja, kami tak akan mempersulit pada loo piauwsu.”

“Lauwko boleh percaya, kami pasti akan turut lauwko,” Liu Tong pun berikan kepastian. “Memang, seperti kata lauwko barusan, Hong Bwee Pang ada galak sekali. Lauwko, tidak nanti aku lupakan budi kau ini.”

Mendengar demikian, Sin Wie Pang yadi puas sekali. “Harap jiewie loosu tidak bicara tentang budi,” kata ia.

“Bagiku   cukup   asal   jangan   ada   ucapan   bahwa   aku

melindung suheng seperguruanku. Maksudku yang utama adalah agar persennketaan hebat dapat disingkirkan.

Ciong Gam puji piauwsu tua ini.

“Loo piauwsu,” kemudian ia tambahkan, “Apa kau suka beritahukan dimana letaknya Cap jie Lian hoan ouw itu. Pernah aku tanya kedua suteeku, mereka pun tidak tahu. Daerah Gan Tong San di Ciatkang Selatan ada luas sekali, tak ada orang dapat sampaikan pusat umum dari Hong Bwee Pang itu.”

Ditanya demikian, mukanya Sin Piauwsu menjadi merah.

“Ciong Loosu, pertanyaan kau ini mirip dimajukan kepada seorang buta,” ia menyahut. “Dengan sebenarnya, aku sendiri tidak tahu keletakannya Cap jie Lian hoan ouw, cuma orang bilang, itu berada didekat Hun cui kwan. Nanti saja, sesudah aku dapat mencari, aku kirim muridku ini untuk menyampaikan kabar pada loosu semua.” “Loo piauwsu, tak dapat kau berbuat demikian,” Ciong Gam mencegah. “Itulah berbahaya bagimu.”

“Ya, lauwko, tak dapat kau berbuat demikian,” Liu Tong sambungkan. “Aku percaya, sepak terjangmu ini akan mencurigai Bu Wie Yang. Sebelum nya, kau tidak pernah cari dia, mendadakan ada urusan kami, kau datang kepadanya, jikalau itu ditambah dengan datangnya muridmu kepada kami, pasti kau akan dicurigai sebagai pengkhianat, hingga bisa terjadi kau akan bentrok padanya. Biarkanlah kami sendiri yang cari sarangnya itu. Kami akan tunggu saja hasilnya ikhtiar lauwko, setelah itu, kami nanti timbang tindakan apa kami akan ambil lebih jauh.”

Sin Wie Pang anggap Liu Tong benar, ia tidak memaksa.

Mereka lalu bersantap sampai perjamuan ditutup, selagi mereka duduk berkumpul lebih jauh, Too Liong minta perkenan untuk undurkan dirikatanya untuk meronda. Liu Tong diminta wakilkan ia kawani semua tetamu. Itu waktu sudah dipermulaan jam Yu sie, jam lima atau enam magerib.

Tapi Sin Wie Pang beranggapan lain, ia justeru minta perkenan akan boleh turut meronda, katanya untuk dapat melihat Lek Tiok Tong yang tersohor, yang sudah lama ia dengar. Ini ada ketikanya yang baik.

“Ah, loo piauwsu memuji saja,” Too Liong merendah. “Tempatku ini ada satu desa yang sepi, melihat desa ini pasti loo piauwsu akan tertawa. Melulu untuk menjaga keselamatan diri, aku telah coba mengatur penjagaan. Jikalau ada kekurangannya, harap loo piauwsu suka berikan pengunjukan kepadaku.”

LiuTong tertawa. “Sebenarnya kau berdua saling bersungkan,” kata dia. “Sekarang begini saja, aku undang semua untuk sama2 melihat, agar apabila ada sesuatu kekurangan, biarlah semua tetamu kita yang terhormat suka mengubahnya.”

Too Liong manggut.

“Begitu paling baik,” kata ia, yang terus undang semua tetamunya.

Maka semua orang lantas ber yangkit, semua pergi keluar mengikuti tuan rumah, yang membuka jalan.

Segera orang lihat tegas rimba pohon bambu yang teratur rapi, hingga nama dusun itu cocok dengan keadaannya. ‘Lek tiok’ pun berarti ‘bambu’. Ada tempat2, jangan kata waktu malam, waktu siang pun tak dapat diinjak orang asing, karena di situ ditancapi pelatok2 bambu runcing mirip dengan “Bwee hoa chung” atau “pelatok bunga bwee”-pelatok untuk adu silat. Orang asing pun gampang tersasar disitu.

Lapangan luas itu adalah untuk belajar silat atau belajar baris, lebarnya dua puluh bauw lebih, dimana sedia segala macam alat senjata, setiap habis latihan, tentu lantas dibersihkan, seperti itu waktu, ada empat chungteng sedang bebenah. Disini segala apa teratur rapi demikianpun dalam hal keangkatan ciang bun jin, ahli waris atau ketua kaum.

Menurut tingkatan, derajatnya Tiongciu Kiamkek Ciong Gam ada seimbang dengan Ong Too Liong, dia ada pernah suheng, tetapi toh Too Liong yang mengetuai Hoay Yang Pay. Inilah sebab Hoay Yang Pay mengadakan aturan, ahliwaris diangkat bukan karena dia ada murid pertama atau tertua, hanya menurut pilihan umum, asal dia berkepandaian liehay dan disukai. Tiongciu Kiamkek ada lebih liehay, tapi ia tawar dengan penghidupan, walaupun benar ia gemar sekali merantau dimana banyak yang ia telah lakukan. Sudah lama dia tidak pernah pulang ke Hoay siang, tapi sekarang ia kagum menampak pengaturannya Eng Jiauw Ong, diam2 ia puji sutee ini.

Dari lapangan latihan itu, orang pergi kegudang umum dari Lek Tiok Tong. Gudang ini ambil tempat lebih luas, terjaga lebih sempurna, jauh dari segala pendirian, guna cegah bahaya api. Gudang terdiri dari dua puluh empat ruang besar dan kekar buatannya. Kecuali beras dan padi, disitupun disimpan ikan dan daging, sayuran dan lainnya bahan makanan teman nasi, untuk keperluan sebelas kampung, persediaannya cukup untuk tiga tahun, umpama kata ada bahaya kering, air bah dan perang. Di sekitar gudang ada lagi gudang pelbagai alat senjata, antaranya bengkel persenjataan, hingga orang tak usah beli senjata dari luar.

Sesudah orang meninjau, Eng Jiauw Ong minta dengan sangat agar semua itu tidak diuwarkan kepada orang luar, kesatu untuk jaga pihak musuh berdengki, kedua agar pemerintah tidak curiya dan menduga Lek Tiok Tong bersiap untuk pemberontakan.

‘Akupun ada kekuatiran bagi Kwie in po,” Ban Liu Tong tambahkan. “Maka disana aku selalu berlaku waspada. Kami bekerja untuk keselamatan tempat sendiri lain tidak.”

“Kau benar, sutee, kau harus bisa jaga diri,” kata Siong San Kim too souw Khu Beng yang menjadi toa suheng.

Kemudian Too Liong mengantar akan melihat2 rumah tinggal dari delapan hiangthio, tetua delapan kampung, yang berada dibelakang gudang, jauhnya sepanahan lebih. Tempat ini ada tenang, sekitarnya ada pohon murbei, yang diusahakan. Lainnya adalah sawah2, kebun buah2an dan sayuran, untuk memenuhi kebutuhan prenduduk. Sebelum sampai dikali pelindung desa, ada lagi selapis pagar bambu dengan pelatoknya yang tajam, dengan kawat bajanya yang kasar. Semua pelatok itu dipasang menurut usul dan Tiat So Toojin. Benar pagar kuat tetapi sesuatu orang yang mengerti ilmu entengi tubuh bisa loncati itu, maka dipasangi pelatok untuk menjaga. Sebagai penambah, banyak kelenengan di bandulkan disitu, hingga siapa nyelusup masuk, dia akan langgar kelenengan , yang suaranya menjadi pertandaan ada bahaya. Diluar pagar bambu juga ada dipasangkan pelbagai gaetan untuk penjagaan, dipasangnya secara rahasia sehingga sukar orang melihatnya, siapa sembrono, tahu2 dia akan sudah tergaet.

Demikian Eng Jiauw Ong antar tetamunya, sambil saban2 memberikan keterangan, sesudah mana, karena berbareng iapun sudah selesai meronda, ia ajak rombongannya kembali ke kongso.

Demikian kuat penjagaan Eng Jiauw Ong toh masih ada orang liehay, yang bisa nyelusup masuk…

XXXIV

Sesampainya di kongso, penerangan telah dinyalakan. Semua lantas duduk berkumpul pula akan menghadapi air teh sambil pasang omong. Kemudian Hu po cu Cie Too Hoo undang sekalian tetamu duduk bersantap.

Eng Jiauw Ong utarakan pada Siong San Kim too souw Khu Beng dan Tiongciu Kiam kek Ciong Gam tentang nyatannya lekas pergi ke Cap jie Lian hoan ouw.

“Baiklah kita tunggu lagi satu hari,” Ciong Gam nyatakan. “Dihari ketiga, ada datang lagi lain orang atau tidak, kita boleh lantas berangkat.” Eng Jiauw Ong setujui saran ini.

Habis bersantap, orang duduk pula, pasang omong sampai jam dua, sesudah mana, semua undurkan diri untuk beristirahat. Cie Too Hoo telah sediakan tempat untuk semua tetamunya itu.

Malam itu Cie Too Hoo yang menilik perondaan, meskipun suhengnya sudah pulang, karena ia anggap suheng itu perlu beristirahat. Tadinya Eng Jiauw Ong hendak pegang pula tugas nya, tetapi sang sutee desak ia, hingga ia suka mengalah.

Eng Jiauw Ong ambil tempat ber sama2 Khu Beng dan Sin Wie Pang, diruangan kecil dibelakang. Itulah sebuah rumah dengan tiga buah kamar, pekarangannya ditanami banyak pohon bunga, kamarnya terperabot sederhana tetapi bersih dan terawat baik. Kursi meja semua terbuat dari bambu. Ketiga kamar berhubungan satu dengan lain. Di ujung Timur ada ruangan kitab, yang menembus pada sebuah pintu kecil. Itulah pintu kamarnya tuan rumah.

Sin Wie Pang puji rumah ini, tapi Eng Jiauw Ong merendahkan diri.

Untuk kedua tetamu telah disediakan dua pembaringan lain, satu ditaruh dibawah jendela Barat, satu lagi dibawah jendela Utara. Dimeja telah disediakan air teh.

Itu waktu sudah jam dua lewat, Eng Jiauw Ong minta Sin Wie Pang tidur dipembaringan nya didalam kamar, ia sendiri bersama Khu Beng, sang toa suheng, tidur dipembaringan Barat dan Utara itu. Mulanya Wie Pang menampik tapi tuan rumah desak ia, hingga ia bersyukur sekali untuk manis budinya tuan rumah ini, ketua dari Hoay Yang Pay, hingga ia pikir ia mesti kerja sungguh akan mengakuri kedua pihak. Oleh karena ia letih bekas perjalanan jauh, tak lama kemudian Wie Pang sudah tidur nyenyak. Eng Jiauw Ong dan Khu Beng tidur belakangan, sesudah mereka bersamedhi sekian lama menuruti aturan kaumnya.

Ketika itu ada kira2 jam tiga lewat sedikit.

Eng Jiauw sedang layap2 ketika ia dengar suara berkelisik pelahan sekali. Ia terperanjat. Segera ia pasang kuping. Tapi ia tidak dengar apa juga. Dalam keraguannya, dengan hati2 ia berbangkit, dengan jari tangan yang dibasahkan ludahnya, ia tusuk kertas jendela untuk mengintai keluar.

Diluar, bulan sisir yang sudah mulai doyong, ada bersinar terang. Malam ada sunyi. Melainkan angin halus mendesir pelahan. Suara lainnya tidak ada. Eng Jiauw Ong tertawa sendiri dalam hatinya. Ia anggap ia terlalu berhati2. Ia lantas rebah pula.

Tanpa merasa, karena letihnya Eng Jiauw Ong tertidur. Ia tidak tahu berapa lama ia sudah tidur, ia hanya tersedar dengan terkejut. Kembali ia dengar suara, seperti dari pembaringan didepannya. Ia berdiam tetapi ia buka matanya.

“Siapa?” segera ia dengar suhengnya menegur. Menyusul suara itu, terdengar satu suara dipintu,

menyamberlah suatu benda, yang mengenai tembok.

“Jahanam, kau berani mengintai?” demikian terdengar Khu Heng menegur. Ia sudah lantas mengenakan sepatunya dan samber goloknya, Kim pwse too, yang ia letaki dikepala pembaringan, dengan ujung goloknya ia padamkan sumbu pelita, sesudah mana, ia lompat kepintu.

Berbareng dengan itu, Eng Jiauw Ong pun telah mencelat ke jendela, akan singkap kain penutupnya bahagian atas, hingga diluar kamar ia lihat berkelebatannya satu bayangan tubuh menuju kearah Timur. Ia lantas menyusul, dengan ceploskan diri dilobang jendela. Ketika ia sampai diluar, lantas ia menegur “Penjahat, kau telah datang untuk memberi pengajaran kepadaku, mari sini, jangan kau main sembunyi2. Disini aku Eng Jiauw Ong akan lakukan keharusanku sebagai tuan rumah.”

Bayangan itu tidak menyahuti, malah terus berlompat ketembok.

Khu Beng, yang telah muncul dipintu, lihat suteenya, ia dengar teguran sutee itu, tapi iapun tampak orang menyingkir kearah Timur utara, diatas genteng, ia segera menyusul.

Rupanya Siang ciang Tin kwansee Sin Wie Pang juga dengar suara berisik, dia sudah lantas muncul dengan senjatanya ditangan. Ia keluar dari jendela.

“Ong Loosu, mari kita kejar dia!” dia kata dengan nyaring pada Eng Jiauw Ong. “Tikus itu bernyali terlalu besar, tidak enak rasanya apabila kita biarkan dia pergi pula dari Lek Tiok Tong ini!”

Setelah mengucap demikian, piauwsu tua ini segera loncat menyusul.

Eng Jiauw Ong dan Khu Beng pun tidak berayal lagi.

Diantara tiga jago itu, Eng Jiauw Ong adalah orang yang ilmunya entengi tubuh paling lie hay, maka itu ia telah lombai toasuheng dan tetamunya. Ia lihat orang didepan lari pesat sekali, sebentar saja dia sudah lewati pekarangan kongso, akan ikuti jalanan kecil dirimba bambu.

Sin Wie Pang loncat naik ditembok Timur, selagi ia hendak loncat turun, ia tampak satu bayangan lewat disebelah depannya, menuju ke Timur. Bayangan itu sudah lantas menegur “Siapa?”

“Oh, kau, Cie Po cu!” Wie Pang sahuti. “Aku Sin Wie Pang!”

“Loo piauwsu dapat lihat penjahat itu?” tanya Cie Too Hoo, yalah bayangan itu, ketua muda dari Ceng hong po.

“Kami sedang mengejarnya,” sahut Wie Pang. “Ong Po cu sudah berada didepan sana. Penjahat ada sangat gesit. Apakah po cu pun sudah ketahui tentang masuknya penjahat itu?”

“Ya, baharu saja. Silahkan loo piauwsu pergi mengejar, aku akan bunyikan tanda ada bahaya.”

Lantas Cie Too Hoo berlalu.

Sin Wie Pang maju, untuk susul dua kawannya. Segera ia lihat lentera pada padam atau rusak terbakar. Ia mengerti, itu ada perbuatannya orang jahat. Ia maju terus, ia tak lihat Eng Jiauw Ong dan Khu Beng. Di jalan cagak, untuk kegudang pusat dan lapangan latihan, ada satu bayangan berkelebat ke arah gudang pusat, lantas ia lari menyusul. Bayangan itu ada sangat gesit. Ia menyusul sampai disatu tempat dimana ada lentera tergantung, ia lihat orang itu ayun tangannya, lantas lentera itu padam.

“Dia benar liehay,” pikir piauwsu tua ini, yang jadi berlaku waspada. Ia cekal keras golok Kauw kong Houw tauw too. Selagi mendekati gudang pusat, hatinya kebat kebit, ia kuatir bayangan itu nyelusup kedalam rimba dan lenyap

Justeru itu, mulailah terdengar suara kentongan pertandaan, yang terus disambut diempat penjuru, disambut juga oleh pihak penjaga gudang, antara siapa ada yang terus muncul bersama obor dan lenteranya, untuk terus jaga mulut jalanan, Sin Piauwsu tidak mau ketemui sekalian penjaga itu, ia lihat orang tadi menuju ke ujung Barat utara, ia menyusul terus. Jarak antara ia dan orang itu ada kira2 empat tumbak. Ia menguntit seraya umpatkan diri.

“Kemana juga kau pergi, aku nanti membuntutinya,” kata ia dalam hatinya. Ia harap2 kumpul nya semua orang Hoay Yang Pay, untuk kepung penjahat itu.

Sinar bulan membikin Sin Piauwsu bisa juga lihat bayangan itu, seorang tua umur lima puluh kurang lebih, rupanya berkumis pendek. Dibebokongnya ada tergendol senjata, entah senjata apa. Dia itu merandek, untuk melihat kesekitarnya, kemudian tiba2 dia tertawa nyaring dan kata “Ada tetamu agung, bukannya dia disambut dengan manis, malah dia diuber2, apa itu tak akan bikin orang nanti tertawai kau sekalian?”

Mendengar demikian, Sin Wie Peng segera muncul, untuk menghampirkan.

“Sahabat, kau telah datang ke Ceng hong po, sudah seharusnya kau perkenalkan diri!” ia jawab. “Kenapa kau main sembunyi2? Apakah itu tidak menurunkan derajatnya Hong Bwee Pang? Sebutkanlah namamu, sahabat!”

“Sahabat, tak usah kau tanya namaku!” sahut orang itu dengan sabar. “Karena kau sudah ketahui aku ada sahabat dari Hong Bwee Pang, itulah terlebih baik pula! Aku telah memasuki Lek Tiok Tong, sudah selayaknya aku beritahukan she dan namaku, supaya pihak Hoay Yang Pay tidak katakan aku tidak tahu aturan, akan tetapi aku datang untuk mengundang, bukannya untuk membikin kunjungan. Sebab karcis namaku sudah diserahkan, tidak berani aku terlalu menggelecok disini. Apabila kau, sahabat, ingin mencari keputusan siapa lebih kuat dan lebih lemah, silahkan kau sekalian datang ke pusat kami, disana Liong Tauw pang cu sedang menantikan kau. Pasti sekali, dengan cara yang hormat sekali kami akan nantikan kunjunganmu sekalian. Sahabat, aku telah bicara, maaf kan aku yang sudah mengganggu Lek Tiok Tong. Sampai kita bertemu pula!”

Sehabis mengucap demikian, yang secara merdeka sekali, orang itu hendak putar tubuhnya untuk berlalu.

“Sahabat, kau terkebur sekali!” Sin Wie Pang membentak. “Jikalau kami di Lek Tiok Tong bisa antap satu sahabat datang dan pergi dengan secara sesukanya sendiri, tak usah lagi kami ini menaruh kaki dikalangan kang ouw! Kau telah datang kemari, kau seharusnya pertunjuki sesuatu kepada kami! Tak dapat kau pergi seperti sekehendakmu sendiri. Sahabat, kau berikanlah ajaran padaku!”

Orang tidak dikenal itu tertawa tawar.

“Aku benar2 tidak percaya, ke tua dari Lek Tiok Tong bisa perintahkan tetamunya secara demikian” kata ia dengan mengejek. “Sahabat, maafkan mataku yang kurang awas, aku belum ketahui she dan namamu.”

Sin Wie Pang kena dipengaruhi oleh kejumawaannya orang asing itu, hingga ia jadi mendongkol.

“Kau tanya she dan namaku?” tegasi ia. “Aku ada Siang ciang Tin kwan see Sin Wie Pang! Bu beng siauw cut, kau telah datang ke Lek Tiok Tong, kau mesti tinggalkan tanda mata!”

“Oh, kiranya Sin Loo piauw tauw!” kata orang itu, dengan suara mengejek. “Didalam kalangan kang ouw, sudah lama nama loo piauwsu ada sangat tersohor, tetapi katanya loo piauwsu sudah undurkan diri, kenapa sekarang loo piauwsu berada didalam air keruh ini? Loo piauwsu, karena aku hargai kau, sukalah aku menerangkan padamu bahwa kedatanganku kesini adalah atas titahnya Liong Tauw Hio cu, untuk undang akhliwaris dari Hoay Yang Pay mengunjungi pusat kami. Aku pun pernah dengar kabar, tidak sembarang orang diizinkan memasuki Lek Tiok Tong, siapa yang memasukinya, dia jangan harap bisa keluar pula, karena itu, aku jadi bersangsi. Cap jie Lian hoan ouw terjaga bukannya tidak sempurna, walaupun demikian masih saja ada sahabat2 yang sudah datang mengunjunginya, tapi cerita tentang Lek Tiok Tong ada demikian hebat, bisa membikin orang menjadi jeri, dari itu aku sengaja datang kemari untuk membuka mata. Lagipun memang ada tabeatku sejak aku masuk dalam dunya kang ouw, aku paling suka bertemu batunya, buat aku, jatuh merek ada sebagai orang dahar nasi, maka itu aku merasa beruntung yang aku telah bisa masuk kemari, untuk menyampaikan surat undangan. Tidak apa yang tuan rumah tidak sambut aku sebagaimana mesti nya, aku toh telah dapat kesempatan akan me lihat2 disekitar sini, maka sayang aku telah bikin kaget padamu. Loo piauwsu, kau ada satu enghiong tua, kau tentunya mengarti, apabila aku jeri, tak nanti aku datang kemari, tetapi pertemuan antara Hong Bwee Pang dan Hoay Yang Pay sudah ada didepan mata, karena itu, tak perlu kita bertempur disini, melulu untuk merusak persahabatan. Jikalau loo piauwsu tidak buat celaan, silahkan kau juga jalan2 ke Cap jie Lian hoan ouw, disana kami pasti siap akan sambut kau secara hormat. Bagaimana loo piauwsu pikir?”

Selagi tetamu tak diundang ini bicara, suara kentongan seperti bergemuruh disekitar Lek Tiok Tong, dekat dan jauh, suaranya saling susul. Walaupun demikian, sama sekali tidak tertampak kekalutan. Sang tetamu pun terus bersikap tenang. Sin Wie Pang menjadi sulit sendirinya. Ia percaya pasti, orang ini ada salah satu pemimpin dari Hong Bwee Pang. Ia adalah suteenya Liong Tauw Hio cu dari Hong Bwee Pang, ia datang untuk mendatangkan keakuran bagi kedua pihak, siapa tahu, ia sekarang hadapi utusan Liong Tauw Hio cu. Bagaimana dia bisa turun tangan? Pun untuk ia, menang atau kalah akan ada ruginya, tidak ada untungnya. Kalau ia kalah, runtuhlah nama besar nya dan kalau ia menang, ia jadi perbesar permusuhan, ia sendiri turut kelibat, hingga akan gagallah cita2 nya. Maka akhirnya ia kata “Sahabat, aku bisa mengarti kau, tapi baiklah kaupun dapat mengarti maksudku. Aku berada disini untuk persahabatan, dari itu, pasti aku nanti pergi ke Cap jie Lian hoan ouw. Kau punya Pang cu Bu Wie Yang dengan aku ada kenanya. Inilah hal aku. Apabila aku tidak layani kau, orang bisa curiga bahwa aku datang kemari untuk ber pura2. Aku telah bicara, sahabat, sekarang mari kita mulai!”

Itu waktu, dari rimba sebelah kiri sudah mulai terdengar suara orang, tetapi orangnya tidak muncul.

Tidak tempo lagi, Sin Wie Pang sudah lantas mulai menyelang dengan tipu pukulan “Ciauw hu bun lou” atau “Tukang kayu tanya jalan.”

Orang Hong Bwee Pang itu bicara dengan bertangan kosong, ketika diserang, ia lompat mundur jauhnya setumbak lebih, ia tertawa tawar, setelah itu, baharu ia hunus sepasang senjata nya yang berkilauan, sambil pentang itu dalam sikap “Thay peng tian cie” atau “Burung garuda pentang sayap,” ia kata “Kau ada baik sekali, baiklah, aku nanti melayani!”

Senjatanya itu nyata ada sepasang Jit goat lun, mirip roda bagaikan matahari atau rembulan. Itu ada senjata yang langka, tidak sembarang orang pandai menggunainya. Kapan ia telah rangkap pula kedua tangannya, ia lantas lompat maju untuk mulai dengan penyerangannya, dengan tusukan “Hek houw sin yauw” atau “Harimau hitam mengulet.”

Sin Wie Pang berkelit kekiri, angan kirinya dipakai menyampok, menyusul mana, goloknya di tangan kanan membacok. Itu ada bacokan “Uy liong kian bwee” atau “Naga kuning melingkarkan ekor.”

Orang Hong Bwee Pang itu menangkis dengan tangan kanan, yang telah ditarik pulang dengan sebat sekali, berbareng dengan itu, tangan kirinya menyamber kemuka.

Menampak orang punya kesempatan, Sin Piauwsu terkeyut. Ia berdongko, goloknya dari bawah dipakai membarengi menyerang nadi. Ini ada gerakan “Pek wan tek ko” atau “Orang hitam putih memetik buah.”

Lawan itu segera tarik tangan nya karena mana, tusukan golok jadi mengenai Jit goat lun, hingga kedua senjata beradu dengan menerbitkan suara, sampai lelatu apinya meletik.

Sampai disitu Sin Wie Pang lantas gunai ilmu silat goloknya Ngo houw Toan bun too. Ia telah punyakan latihan golok dua puluh tahun lebih, tidak heran, demikian lanjut usianya, namun ia masih tetap gagah. Tapi disebelah itu, orang Hong Bwee Pang itu pun hehay dengan senjatanya yang istimewa, geraknya sangat gesit, dan senjatanya saban2 mencoba akan bikin terlepas golok lawannya. Maka itu, sesudah jurus2 dikasi lewat, Wie Pang merasakan bahwa ia kalah gesit.

Selagi pertempuran itu berlangsung sampai disitu, tiba2 dari arah gudang pusat ada terdengar seruan “Po cu, lekas kemari! Disini ada orang jahat!” Seruan ini disusul dengan suara gembreng yang dipukul dengan nyaring dan seru. Orang Hong Bwee Pang itu agaknya terperanjat.

“Maaf, aku tak dapat melayani lebih lama di Cap jie Lian hoan ouw saja nanti kita berjumpa pula!”

Setelah mengucap demikian, tetamu tak diundang ini loncat mundur tiga tumbak, sesudah mana, ia putar tubuhnya untul terus lari kedalam pepohonan yang lebat.

XXXV

Sin Wie Pang tidak mau mengerti yang ia ditinggal pergi secara demikian, ia segera loncat untuk mengejar.

“Apa Sin Loo piauwsu disana? Harap tunggu!” tiba2 terdengar pertanyaan dari arah belakang.

Piauwsu tua ini hentikan tindakannya, ia menoleh. Ia lihat dua anak muda yang ia tidak kenal, tapi ia duga mereka adalah orang Hoay Yang Pay.

“Maaf, jiewie, aku tak kenali kau,” kata ia. “Aku hendak kejar orang jahat, ada urusan apa jiewie cegah aku?”

“Loo piauwsu, kami adalah Kam Tiong dan Kam Hauw yang ditugaskan menjaga gudang pusat ini,” sahut salah satu anak muda itu. “Loo piauwsu sudah berusia lanjut, pun loo piauwsu asing dengan tempat ini, maka baik penjahat itu dibiarkan saja, dia toh tidak akan mampu loloskan diri ”

Baharu Wie Pang dengar sampai disitu, ia lihat lagi dua orang mendatangi, hingga ia jadi curiga. Ia heran, kenapa tadi, setelah berseru sekian lama, baharu dua pemuda itu muncul. Syukur ia segera kenali, dari dua orang yang belakangan ini, yang jalan dimuka adalah Hu pocu Cie Too Hoo. “Penjahat itu bernyali besar,” kata ketua muda dari Ceng hong po, “dia berani tempur loo piauwsu disini. Biarlah dia nanti rasakan liehaynya Ceng hong po. Aku yang perintah mereka ini berdua mencegah loo piauwsu, karena tempat ini ada asing dan disini ada tempat2 dimana orang gampang umpatkan diri, aku kuatir penjahat nanti membokong. Bukankah loo piauwsu kenal penjahat itu?”

Wie Pang tercengang atas pertanyaan itu.

“Bagaimana po cu ketahui aku kenal dia?” ia balik tanya.

“Aku hanya dengar keterangan mereka ini bahwa loo piauwsu kenal orang jahat itu,” sahut Cie Too Hoo. “Harap loo piauwsu jangan curiga, kita justeru mengharap sangat akan ketahui hal ikhwal si orang jahat, agar gampang kita melayani mereka. Loo piauwsu tentu letih, silahkan kembali kekongso untuk beristirahat. Ong Suheng sudah ajak orang pergi mencari, umpama kata penjahat tidak kena ditangkap, namun sedikitnya tidak nanti dia dapat berlaku jumawa pula.”

Sin Wie Pang tidak puas, tetapi ketua muda ini bicara dengan manis, tak dapat ia menunjukkan ketidak senangnya.

“Sudah biasanya aku berlaku merdeka, hingga tak bisa aku perbataskan diri,” berkata dia. “Jikalau bukannya orang yang kenal baik padaku, memang gampang sekali orang curigai aku. Aku yang dapat candak penjahat itu, apabila aku biarkan dia lolos, tentu orang sangsikan aku.”

“Harap jangan mengucap demikian, loo piauwsu,” kata Cie Too Hoo dengan sabar sekali. “Loo piauwsu demikian jiatsim hendak bantu kami, kami malah sangat bersukur karenanya. Mustahil kami akan bikin satu sahabat jadi tawar hatinya? Nah, mari, silahkan loo piauwsu beristirahat.” Wie Pang terpaksa bersenyum, terus ia ikut ketua muda itu bertindak kearah gudang pusat. Penjagaan disini, ia lihat ada luar biasa. Tengloleng dari obor ditambah banyak, tapi semuanya digantung diatas galah atau di cabang2 pohon. Disitu sama sekali tidak ada chungteng yang menjaga. Hanya begitu lekas Cie Pocu sampai, dari tempat gelap lantas muncul satu barisan chungteng bersenjatakan panah, satu diantaranya segera melaporkan bahwa di gudang itu tak ada penjahat.

“Kau semua tetap menjaga dan jangan alpa,” kata ketua muda itu, yang pesannya ditaati, sesudah mana, barisan itu undurkan diri pula.

Gudang itu memang tidak di jaga terang2an hanya dilindungi barian sembunyi, penjagaannya dilakukan luar biasa keras. Umpama ada musuh, dengan hujan panah, musuh akan dicegah dapat menghampirkan gudang itu.

Setelah itu, Cie Too Hoo jalan terus menuju kekongso.

Selama itu, Sin Wie Pang lihat bagaimana penjagaan telah diatur rapi. Ia jalan dengan tidak kata apa2. Ia diam saja walaupun ia dapat kenyataan sikapnya Cie cu ada dingin. Sampai kekongso, dia masih tidak banyak omong.

Sampai itu waktu Ong Too Liong dan Khu Beng masih belum kembali. Ketika tadi mereka kejar musuh, saking gesitnya penjahat, mereka sedikit terlambat. Pun mereka- tidak perduli mereka ada jago2 tua- sudah bisa dilagui dengan tipu daya.

“Bersuara di Timur, menyerang di Barat” Penjahat gunai batu hui hongsek untuk padamkan lentera yang tergantung, selagi api padam, ia umpatkan diri, ia tunggu suheng dan sutee itu lewat, ia ambil lain jurusan. Karena ini, ia terlihat oleh Sin Wie Pang yang datang belakangan. Eng Jiauw Ong dan Khu Beng menyusul sampai dilapangan latihan ketika ia merandek dengan tiba2.

“Suheng, kita terperdaya!” kata ia. “Tidak mungkin penjahat menyingkir kemari. Ini ada jalanan buntu. Mesti dia lari mengarah gudang pusat. Dia benar cerdik, tapi kalau dia sampai lolos, sungguh kita malu!”

Khu Beng pun insyaf, ia jadi sangat gusar, hingga dalam hati nya ia kata, kalau ia bertemu penjahat itu, ia akan kasi rasa pada penjahat itu.

Eng Jiauw Ong sudah lantas balik akan menuju kegudang pusat. Disebuah tikungan ia lihat satu orang berlari2 dari arah Utara.

“Siapa?” ia lantas menegur. Orang itu berhenti dengan tiba2.

“Oh, po cu?” orang itu menegasi. “Aku adalah Cian Giok yang menjaga dibelakang sini. Dibelakang sana ada bekas orang jahat, silahkan po cu periksa.”

Dengan berikan penyahutan “Baik!” Eng Jiauw Ong dan Khu Beng lantas lari kearah yang ditunjuk, Cian Giok turut bersama, ketika sampai, dia mendahului ambil sebuah lentera Khong beng teng, buat dipakai menyuluhi ketempat dimana ada disembunyikan kelenengan pertandaan, tapi kelenengannya sudah putus.

“Orang itu benar liehay,” kata Khu Beng. “Penjagaan yang demikian rupa tapi dia masih bisa nyelusup masuk dan bekerja.”

“Dia memang bukan orang sembarangan,” membenarkan Eng Jiauw Ong, yang menunjuk, ketanah diluar pagar. Itu ada tempat sempit dimana orang yang tak mempunyai kepandaian tidak akan bisa bergerak dengan leluasa. “Kalau dia ada orang Hong Bwee Pang, dia mesti ada salah satu pemimpin,” Khu Beng kata pula. “Cian Giok, coba kau suluhi, aku ingin melihat.”

Dan ia loncat keatas, akan periksa kawat kelenengan, darimana ia dapat tahu, senjata musuh pun ada tajam luar biasa. Pantas kelenengan ini disitu jadi lenyap kegunaannya.

Sesudah melihat kesekitarnya Khu Beng loncat turun. Caranya meloncat dan kegesitannya ada menerbitkan kekaguman bagi End Jiauw Ong dan semua orang Ceng hong po yang berada di situ. Ia sudah tua tapi tenaganya masih besar, tubuhnya gesit.

“Penjagaan kita kuat tapi penjahat toh bisa masuk kemari” kata Khu Beng kemudian. “Aku anggap perlu penjagaan disini ditambah. Sekarang mari kita periksa lebih jauh, akan cari tahu bagaimana caranya dia molos keluar”

Eng Jiauw Ong setuju, ia lantas titahkan Cian Giok tambah orang kemudian bersama toasuhengnya ia menuju ke Barat utara. Segera mereka dengar pertandaan dari gudang pusat, yang disambut diempat penjuru. Mereka lantas menuju kearah gudang. Belum jauh, mereka lihat satu orang lari ke pagar Barat utara. Buat sedetik, mereka berhenti lari, setelah dapat kenyataan orang itu mesti bukan orang dalam, keduanya lantas mengejar.

Lagi beberapa jauh, mereka akan sampai dipagar terakhir. Orang itu menuju ke Barat.

Mereka lantas perkeras larinya, akan akhirnya Eng Jiauw Ong berseru . “Sahabat, tahan! Disini Ong Too Liong, tuan rumah.”

Tak perdulikan teriakan, orang itu lari terus, sampai, ia berada dikaki tembok pagar. Khu Beng mendongkol melihat sikap orang yang demikian itu.

“Sahabat, kau tidak kenal aturan!” dia berseru. “Jikalau kau tetap tidak mau berhenti dulu, jangan sesalkan aku!”

Sambil mengucap demikian, Kim too souw berlompat lari dengan gunai ilmunya “ceng teng ciong sui” atau “Capung loncati air” Ilmu loncat ini terdiri dari tiga loncatan beruntun selama setarikan napas. Maka itu, ia segera dapat mendekati orang itu.

Orang itu, dengan “Kauw yan coan lim,” atau “Burung walet tembusi rimba,” sudah loncat naik keatas tembok pagar, berdiri diatas itu ia menoleh. Baharu sekarang ia buka mulutnya.

“Po cu, aku si orang she Bin telah menyaksikan Ceng hong po, nah, sampai lain kali kita bertemu pula!” demikian ia berkata.

“Sahabat, kembalilah!” memanggil Khu Beng seraya sebelah tangannya terayun, satu benda berkeredepan menyamber.

“Bagus!” berseru orang she Bin itu, yang telah patahkan sebatang pagar, untuk dipakai menangkis, hingga piauw jatuh ketanah.

Khu Beng penasaran, ia menimpuk pula, dengan beruntun.

Sambil berkelit berdongko, tetamu tidak diundang itu luputkan bahunya sebagai saran, tetapi menyusul itu, sebatang piauw menyamber kebawah sebelah kanan. Piauw ini ditangkis, tapi serangan ada hebat luar biasa, bambu yang dipakai menangkis itu terkena jitu dan tembus, maka tak ampun lagi ujung piauw menyamber kebetis. Tidak perduli dia liehay, orang itu toh keluarkan seruan tertahan, tetapi dia masih kuat berdiri dan menahan sakit. Dengan bantuan tangan kiri pada pagar, ia angkat kaki kanannya akan cabut piauw itu, yang syukur tak dalam menancapnya. Tadinya ia niat balas menyerang dengan piauw itu, tiba2 ia ubah pikiran, maka ia berseru pula.

“Po Cu, aku si orang she Bin sudah terima hadiahmu ini, biar nanti saja di Cap jie Lian hoa ouw kita tukar piauw dengan panah! Sampai ketemu pula !”

Sehabis mengucap demikian, ia terus loncat keluar pagar.

Eng Jiauw Ong loncat naik keatas pagar, hingga ia bisa saksikan bagaimana orang itu telah seberangi kali pelindung dusun, hingga ia merasa tak ada guna nya untuk mengejar terlebih jauh. Iapun heran cara bagaimana orang itu bisa dengan gampang mematahkan pagar bambu. Maka ia lantas hampirkan bagian pagar dimana orang tadi berdiri untuk memeriksa. Segera ia mendapatkan buktinya, hingga lenyap keheranannya. Sebab bambu disini pun ada bekas babatan, seperti babatannya kawat kelenengan.

Segera juga hidung yang tajam dari ketua Ceng hong po ini cium bau amis. Ia mengawasi. Ia lihat barang cair, ia usap itu untuk dicium. Itulah darah. Sekarang ia tidak lagi terlalu mendongkol.

“Sutee, dia sudah kabur, tak usah dia disusul,” Khu Beng kata pada saudaranya. “Dia tidak mau layani kita, itu artinya dia tahu bahaya dan mundur teratur.”

Ong Too Liong tidak menyahuti, tetapi ia loncat turun.

Ketika itu ada rombongan ronda yang lari menghampirkan, obor dan lentera mereka mendatangkan cahaya terang.

“Dia mundur bukan karena dia insyaf bahaya tetapi dia telah terluka,” kemudian kata Eng Jiauw Ong pada suhengnya. “dia telah terkena piauw toa suheng dan karena itu, dia jadi tak enak hatinya”

Sutee ini lantas tunjukkan jari tangannya, yang berlepotan darah.

Menampak itu, Kim to souw bersenyum. Tanpa bilang apa2 ia pungut dua piauwnya yang jatuh ditanah.

Eng Jiauw Ong tinggalkan pesanan kepada orang2nya, setelah mana ia ajak suhengnya kembali kekongso dengan disepanjang jalan ia sekalian lakukan penilikan. Kongso berada dalam kegelapan. Selagi mendekati, mereka lihat satu orang loncat turun dari atas genteng.

“Bagaimana, suheng?” tanya orang itu.

Eng Jiauw Ong kenali sutee nya, Cie Too Hoo.

“Dia telah undurkan diri. Bagaimana disini?” kemudian Too Liong balik tanya.

“Kita telah bersiap, mana penjahat berani datang pula kemari?” jawab Too Hoo.

Sembari bicara mereka bertindak masuk. Cie Too Hoo tepuk tangan, atas mana Su touw Kiam dan Kiang Cie Wan keluar dari tempatnya sembunyi. Mereka diminta titahkan orang nyalakan api.

Itu waktu Sin Wie Pang dan Ciong Gam sudah kembali terlebih dahulu, melihat baliknya kedua suheng dan sutee itu, Ciong Gam lantas beritahukan bahwa penjahat telah tinggalkan undangan.

Mendengar perkataannya Tiong ciu Kiam kek, Siang ciang Tin Kwan see kata pada Ong Too Liong “Ong Loosu, aku dan Ban Po cu adalah sahabat kekal, dengan kau adalah sahabat2 dalam kenangan, maka itu perlu aku memberi keterangan, dengan datang kemari, aku berlaku lancang, aku bersikap tak tahu diri. Bagi siapa yang belum kenal aku, sikapku gampang membangkitkan kecurigaan. Tapi aku percaya, dengan pengalamanku tiga puluh tahun lebih dalam dunya kang ouw, namaku akan mengunjuki bahwa aku bukannya seorang licin. Maki itu loosu, apabila kau tampak apa2 yang tak tepat padaku tolong kau unjukkan, jikalau diam saja dan tak menerangkannya, itu tandanya kau tidak sudi bersahabat dengan aku!”

Eng Jiauw Ong bingung begitupun Khu Beng, hingga tak dapat mereka menjawab. Tapi air mukanya Cie Too Hoo berubah menjadi merah, segera ia berpaling, akan lihat seantero ruangan.

Saking tak mengerti, Eng Jiauw Ong pun melihat kesekitarnya. Memang benar, dengan Sin Wie Pang ia tidak punya persahabatan, mereka cuma pernah saling dengar nama masing2, tetapi karena piauwsu itu ada sahabatnya Liu Tong, ia percaya habis piauwsu tua ini yang datangnya pun justeru untuk berikan jasa baiknya. Ia lihat, dari air mukanya, Wie Pang ada tidak senang.

“Ah, loo piauwsu,” kata ia kemudian sambil tertawa, “walaupun kita baharu bertemu akan tetapi sebenarnya semangat kita telah lama bersahabat! Sudah lama aku Ong Too Liong kagumi kau, maka bagaimana beruntung aku dengan kunjunganmu ini, yang hendak membantu kami. Loo piauwsu, aku ada sangat bersukur, dari itu, mana bisa aku curigai kau? Malah aku harus malu sekali, sebagai ketua Hoay Yang Pay aku berlaku tak kepantasan terhadap sahabat2. Loo piauwsu datang bersama Ban Sutee, dari itu, justeru adalah aku yang harus minta kau maafkan apabila pelayananku tidak semestinya”

Lantas Eng Jiauw Ong undang tetamunya duduk. Ketua Hoay Yang Pay ini tidak bercuriga, tidak demikian dengan Cie Too Hoo dan beberapa orang lain. Ketua muda itu sudah ceritakan tentang pembicaraan dan pertempurannya Sin Wie Pang dengan si orang jahat tak dikenal, sampai penjahat itu singkirkan diri. Menurut ia piauwsu tua ini pantas dicurigai. Ia dasarkan kecurigaan aya itu terutama atas keterangannya Kam Tiong dan Kam Mauw, yang telah pasang kuping selagi Wie Pang bicara kepada tetamu tidak diundang itu.

Tapi Eng Jiauw Ong tetap tidak mau percaya, ia percaya kejujurannya Wie Pang. Ia unjuk, tak perlu penjahat kirim mata2 untuk bekerja didalam Ceng hong po, buktinya, asal dia mau, penjahatpun bisa kirim orangnya yang pandai akan memasuki Lek Tiok Tong. Sebalik nya pula mereka toh bakal satroni Cap jie Lian hoan ouw juga.

“Maka pesanlah Kam Tiong dan Kam Hauw untuk tidak wawarkan pula kesangsian mereka,” kata ketua ini kemudian,

Kita tak perduli orang mencurigai atau tidak, kita ada tuan rumah, kita mesti jadi tuan rumah, tak boleh kita perlakukan        pada tetamu kita. Sutee, kita harus sabar, kita mesti berhati hati”

XXXVI

Cie Too Hoo tidak puas mendengar perkataannya suhengnya itu.

“Suheng, bukannya aku tidak hargai sahabat yang datang dari tempat jauh,” ia nyatakan, “tetapi kejadian ada demikian mencurigai. Aku ada      walaupun dalam urusan

         sikapku   adalah   satu, tapi kali ini ada   mengenai

keselamatannya Ceng hong po dengan sebelas desanya, aku tidak bisa ambil sikap lain. Kita tidak bisa korbankan jiwa semua saudara kita melulu ka ]rena satu persahabatan saja. Suheng tahu tabeatku, maka jikalau aku keliru, tolong kau berikan pengajaran padaku”

“Kau ada jujur, Cie Sutee, begitulah memang sifatnya seorang kang ouw” Khu Beng turut bicara. “Tetapi orang bisa beda anggapan, orang tak selalu kenal baik sifat masing2, inilah yang suka menerbitkan keliru mengerti. Kita disini berada diantara orang sendiri, apa yang kita bicarakan ada mengenai Ban Sutee, dari itu harus kita memandang padanya. Bukankah Ban Sutee jujur dan ber hati2 serta cerdik? Bukankah ia ada dihargai sekali oleh para tetua kita? Maka selagi ia sendiri tidak bilang suatu apa, kita harus bersikap seperti dia. Sin Loo piauwsu ada sahabat kekalnya Ban Sutee, aku percaya ia tidak akan salah faham. Adalah tidak baik bila kita bentrok pandangan diantara orang sendiri. Tidakkah demikian, Sin Loo piauwsu? Bukankah benar begitu, Cie Sutee?”

Perkataannya toasuheng itu membikin Cie Too Hoo berpikir, ia merasa bahwa ia telah bicara terlalu tajam.

“Aku kurang pengalaman, aku bicara seadanya saja,” kata ia. “Dengan inipun aku utarakan apa yang aku pikir, lain tidak”

Eng Jiauw Ong manggut.

Ketika itu Ban Liu Tong bertindak masuk, Cie Too Hoo hendak undurkan diri, tapi Siok beng Sin Ie segera kata padanya “Suheng, tunggu dulu. Disini ada terjadi salah faham. Sin Loopiauwsu berkeinginan demikian keras untuk bantu kita, sampai ia bertindak tanpa di pikir2 lagi, hingga kau jadi curigai pada nya. Bukankah suheng dan loo piauwsu tidak punya persahabatan dan dari itu jadi tidak ada ganjelan? Maka itu, dalam hal ini kau mesti lihat aku. Loo piauwsu adalah sahabatku yang aku percaya habis. Benar2 telah terbit salah mengarti, baharu saja aku telah cari keterangan dan peroleh duduknya hal. Sin Loo piauwsu dan Bu Wie Yang adalah suheng dan sutee satu dengan lain, sejak beberapa puluh tahun mereka tidak pernah ketemu satu sama lain. Loo piauwsu hidup di Selatan dan Utara sungai besar, di Liauwtong dan Liauwsse, belum pernah dia pergi ke Kanglam. Hal ini diketahui orang banyak. Loo piauwsu berani serahkan harta bendanya apabila ada yang bisa buktikan, sebelum dia datang kemari, dia sudah bertemu lebih dahulu dengan suhengnya itu. Jadi terang, Sin Loo piauwsu tidak pikir untuk bantu atau lindungi suhengnya itu. Aku percaya pada Sin Loo piauwsu, karena itu aku harap, tidak kau curiga padanya lebih jauh.”

Nyata Siok beng Sin Ie ketahui kesulitan itu dengan cepat.

“Aku suka dengar kau, sutee, sekarang aku tidak hendak bilang apa2 lagi,” jawab Cie Too Hoo. “Harap sutee suka memaafkan padaku”

Eng Jiauw Ong tidak ingin urusan diperpanjang, ia menyelak.

“Cie Sutee, dengan ucapan mu ini, nyata kau mengarti baik keterangannya Ban Sutee,” kata ia. “Kita ada diantara saudara sendiri, harap urusan berhenti sampai disini. Kita sekarang harus biytarakan kepergian kita ke Cap jie Lian hoan ouw”

Itu waktu orang lantas berempuk, sambil meminum teh yang disuguhkan. Sampai fajar, orang tidak tidur pula. Cie Too Hoo undurkan diri akan tarik pulang semua penjagaan. Semua orang pada cuci muka. Setelah beristirahat, Cie Too Hoo perintah orangnya perbaiki kerusakan kelenengan dan lentera.

Kemudian, ketika orang mulai berkumpul pula, satu chungteng. melaporkan kedatangannya seorang dari Kwie in po, untuk bertemu kepada tuan rumah dan Ban Liu Tong.

“Pergi sambut dia,” menitah Eng Jiauw Ong pada Su touw Kiam, yang berada didampingnya.

Su touw Kiam menurut, ia keluar, kapan kemudian ia kembali, ia ada bersama enam orang. Eng Jiauw. Ong mengawasi. Ia kenali, yang satu adalah Ciok Bin Ciam si pembawa surat undangan, dua ada persaudaraan-Sun Giok Kun dan Giok Kong-, muridanya Tio Liong In dari Lim shia, dua lagi ada sahabat sahabatnya dari Rimba Persilatan yalah Ke Siauw Coan, guru silat dari Chong ciu dan Thay kek chiu Liu Hong Cun dari bukit Sippat Poan Nia, dan yang satu lagi adalah satu anak muda yang romannya gagah, yang ia tidak kenal. Diam2 ia sesalkan cungtengnya, yang sudah memberi laporan tidak jelas, hingga kedatangannya sahabat2 itu ia telah tidak sambut secara seharusnya. Segera ia berbangkit untuk menyambut dengan tergesa gesa, akan kasi hormat kepada dua sahabatnya itu.

“Oh, Liu Toako, Ke Ngo tee, harap maafkan aku!” ia minta.

“Kami telah terlambat menyambut! Kau telah datang dari tempat jauh dengan tak perdulikan capai lelah, sungguh hatiku tidak tenteram.”

Kedua tetamu itu lekas membalas hormat.

“Malah bukannya soal” kata mereka dengan merendah.

Lantas yang lainnya juga memberi hormat kepada dua tetamu itu. “Siapa ini?” kemudian Eng Jiauw Ong tanya Ciok Bin

       sambil ia tunjuk si anak muda.

Tidak tunggu sampai Bin    menyahuti, pemuda itu sudah maju akan memberi hormat berlutut dan manggut pada tuan rumah seraya berkata “Tee cu adalah cucu muridnya Yan Tiauw Siang hiap, namaku Ciok Liong Jiang, sebab senantiasa teecu mesti dampingi guruku dan su couw, tak dipat tee cu datang siang2 untuk yumpai supe. Harap su pe pimpin teecu menemui semua Cianpwee”’

“Ah, benar2 aku tak kenali kau!” kata Eng Jiauw Ong. Liu Tong juga baharu tahu, inilah murid kesohor dari

Lie Hee Leng atau cucu murid dari Yan Tiauw Siang hiap.

Mereka tahu, Yan Tiauw Siang hiap cuma terima satu murid, yalah Ciok Liong Jiang ini, karena sang guru larang muridnya terima lain murid lagi. Liong Jiang ada sangat disayang oleh kedua sucouwnya, hingga selain dari gurunya, iapun terima pelajaran langsung dari dua jago tua dari Hoay Yang Pay itu. Kalau Siang hiap pesiar, Hee Leng diperintah tunggu rumah, Liong Jiang adalah yang biasa diajak, dari itu muda usianya, cucu murid ini sudah berpengalaman, hingga dalam tempo tiga empat tahun nama nya sudah turut terkenal, hingga dia disebut Siauw Hiap Ciok Liong Jiang si Jago Muda. Memang ia jarang bertemu anggauta2 lainnya dari Hoay Yang Pay. Liu Tong pun lihat, dari romannya, pemuda itu telah terlatih baik.

Kemudian Eng Jiauw Ong tanya kesehatan guru dan sucouwnya.

“Terima kasih, suhu dan su couw berdua ada baik” sahut Liong Jiang. “Suhupun titahkan teecu sampaikan hormat nya kepada supe. Sekarang ini su couw belum balik dari Kauw pak, karena ada urusan mengenai kehormatannya Hoay Yang Pay kita, suhu kirim aku untuk supe perintah. Suhu sendiri telah berangkat ke Kauw pak untuk menyampaikan kabar pada su couw, maka teecu percaya, sucouw pun bakal lekas datang menyusul”

Eng Jiauw Ong angguk2kan kepala, ia menyatakan bagus.

Setelah itu, Liong Jiang di perkenalkan kepada semua hadirin kepada siapa ia memberi hormat satu persatu.

Kemudian lagi, Eng Jiauw Ong undang kedua tetamunya berduduk dan Cie Too Ho segera perintah orangnya menyuguhi air teh.

Ke Siauw Coan dan Liu Hong Cun meminta keterangan tentang duduknya persengketaan dengan Hong Bwee Pang, dan Eng Jiauw Ong telah memberikan keterangannya dengan jelas, tak lupa ia menyebut tersangkutnya See Gak Pay.

“Ong Loosu, tahukah kau dimana letaknya pusat Hong Bwee Pang itu?” kemudian Ke Siauw Coan tanya.

“Sampai sebegitu jauh kami belum mengetahuinya” jawab Ong Too Liong. “Kau, Ngo tee, apakah kau pernah pergi ke Cap jie Lian hoan ouw?”

Ke Siauw Coan hendak jawab pertanyaan itu tetapi chungteng kebetulan datang dengan barang hidangan, pembicaraan jadi tertunda.

Itu waktu pun Sin Wie Pang belum muncul, Eng Jiauw Ong lirik Liu Tong, lantas ia gapekan Cie Too Hoo, ia ucapkan beberapa perkataan dengari pelahan. Too Hoo mengawasi Liu Tong, ia manggut, kemudian ia kata “Ban Suheng, apa Sin Loo enghiong sudah bangun? Nanti aku undang ia bersantap sama.” “Kau baik sekail, sutee,” sahut Liu Tong. “Sin Loo piauwsu ada terlalu polos hingga ia tak bisa bicara dengan ramah tarnah. Kalau sutee mau undang dia, pergilah.”

“Tetapi ini ada kewajibannya tuan rumah, suheng,” kata Too Hoo sambil bersenyum. sesudah mana, ia mengundurkan diri dengan lekas, yang tidak lama kemudian ia telah kembali bersama Siang ciang Tin kwansee.

Ke Siauw Coan ada bersahabat kekal dengan piauwsu tua itu, melihat orang she Sin ini, ia segera berbangkit untuk menyambut.

“Benar, manusia hidup dimana pun bisa bertemu!” kata ia. “Aku tidak tahu lauwko sudah sampai terlebih dahulu disini!”

Sin Wie Pang girang sekali, ia cekal keras tangannya sahabat itu.

“Girang lihat kau disini, lauwtee!” kata ia.

Siauw Coan perkenalkan sahabat ini pada Liu Hong Cun.

Kemudian Eng Jiauw Ong mengundang semua tetamunya duduk bersantap.

Sehabis meminum tiga edaran. Ke Siauw Coan menjawab pertanyaan nya Eng Jiauw Ong. Ia kata perkenalannya dengan orang Kang lam ada sangat berbatas, kecuali satu saudara angkat yang jadi tongtay barisan pembasmi penyelundup garam di Ciatkang Selatan. Dia itu pernah beberapa kali berbentrok dengan pihak Hong Bwee Pang, tetapi pusatnya perkumpulan rahasia itu masih belum diketahui, melainkan diduga terletak didekat Hun sui kwan. Ia percaya, nama Cap jie Lian hoan ouw adalah nama baru, buatan Hong Bwee Pang sendiri, hingga orang luar tak mengetahui jelas. Maka itu aku pikir, untuk kita minta bantuannya saudara angkatku itu,” kata Siauw Coan akhirnya. “Dia ada punya mata2 yang bisa dipakai tenaga nya.”

Ban Liu Tong tidak berkeberatan atas pikiran ini, tetapi beberapa orang tidak mupakat, sebagai orang kang ouw mereka malu minta bantuan hamba negeri.

Eng Jiauw Ong tidak lantas mengambil putusan, ia tanyakan pendapatnya Khu Beng dan Ciong Gam. “Sutee, kau ada ketua Hoay Yang Pay, segala hal kau boleh putuskan sendiri,” jawab Khu Beng. “Aku dan Ciong Sutee sudah lama meninggalkan Lek Tiok Tong, kami menjadi asing. Kami turut segala pengaturan mu.”

“Suheng terlalu merendahkan diri,” kata Eng Jiauw Ong, yang lantas menanya pikiran Hauw Tay, piauwsu dari Shoatang Selatan dan Sin Wie Pang.

Tetapi juga dua tetamu itu bersedia akan turut segala pengaturan nya tuan rumah itu.

“Dengan datangnya si orang she Bin, yang kirim undangannya, aku percaya muridku In Hong dan murid See Gak Pay, Siu Beng, sudah diculik sampai di Cap jie Lian hoan ouw,” nyatakan Eng Jiauw Ong, “karena itu, aku lihat tidak ada lain jalan daripada bersikap keras terhadap Hong Bwee Pang. Cu In Am cu serta empat muridnya janji akan bertemu disini, untuk kita berangkat sama2, akan tetapi sampai sekarang ia masih belum sampai, aku percaya ia sudah mendahului pergi langsung kesarang musuh. Maka itu, lebih perlu pula kita perlekas keberangkatan kita. Bagaimana tiu wie pikir apabila kita berangkat sehabisnya dahar?”

Kim too souw Khu Beng dan yang lain2 nyatakan akur. “Sampai sekarang ini, masih ada orang2 undangan yang belum tiba,” Eng Jiauw Ong kata pula, “diantaranya, Kee Pin, murid ketiga dari Ban Sutee, masih belum balik. Maka aku pikir akan minta Ban Sutee ber sama2 Ke Ngotee dan Liong Jiang menantikan untuk sementara disini, buat tunggui mereka yang terbelakang. Tidak perduli berapa jumlahnya yang datang belakangan, mereka boleh diminta segera menyusul ke jalanan Auw hay too di Ciat kang Selatan, untuk berkumpul di hotel terbesar di Tong peng pa diluar kota Lok ceng sebelah Timur. Dihotel mana kita singgah, disitu tentu kita akan memberi tanda daun bambu dengan kapur. Dan kau, Cie Sutee, setiap kali ada datang tetamu, aku meminta kau suka sambut dan layani mereka dengan baik, terutama, tidak perduli mereka punyal bekal cukup atau tidak, kau mesti berikan setiap orangnya seekor kuda pilihan dan uang tiga puluh tail. Kau pesan untuk mereka lekas menyusul ke Lok ceng.”

“Jangan kuatir, suheng, serahkan itu padaku,” Cie Too Hoo menjawab.

“Bagus, sutee. Sekarane tolong kausiapkan belasan kuda, tentang pelananya, tak usah yang mewah, asal yang kuat. Kaupun harus bekalkan aku uang lima ratus tail perak, lebih baik semua perak hancur, kau pecah itu dalam empat bungkus, supaya gampang di bawanya. Dan jangan lupakan bulu angsa.”

Too Hoo memberikan penyahutan nya, lantas ia mengundurkan diri.

Eng Jiauw Ong menghadapi orang banyak untuk kasi tahu, perjalanan akan dilakukan didarat, karena jalanan air, walaupun lebih aman tetapi ada sangat lambat. Ia minta maaf, selagi orang baharu sampai dan perlu beristirahat, ia mesti minta orang berangkat dengan segera, dengan tunggang kuda. Ia hunjuk, tujuan pertama adalah kota Hongtay. Karena bisa jadi mereka akan berpapasan dengan tentera negeri atau pemberontak, ia usulkan untuk mereka menyamar sebagai rombongan piauwsu saja. Untuk itu mereka bisa pakal bendera Gie Seng Piauw Kiok dari Hongyang hu. Ia tanya, orang akur atau tidak dengan usul penyamaran itu.

“Jangan loosu pikirkan kami,” kata beberapa orang. “Kami memang datang untuk membantu.”

Hauw Tay pun nyatakan, jangankan orang yang diundang, walau yang tidak diundang pun, bersedia akan memberikan tenaganya. Ia hanya tanya apa bukan lebih bak memakai saja benderanya sendiri. Ia memang ada bawa benderanya bendera dari Hoay Yang Piauw Kiok. Ia telah tutup piauwkioknya, ia ingin undurkan diriy benderanya itu, sedianya ia hendak simpan di Lek Tiok Tong.

“Begitupun baik” Eng Jiauw Ong nyatakan setuju. “Sekarang segala apa sudah selesai, hari ini kita berangkat”

Tidak lama, Too Hoo balik bersama dua chungteng yang bawa nenampan arak pocie dan cangkirnya. Too Hoo nyatakan, karena ia tidak bisa ikut, ia hendak kasi selamat jalan saja sambil mendoakan hasil mereka. Kemudian, paling dulu ia haturkan secawan pada Sin Wie Pang.

Melihat sikap orang yang ramah tamah itu, piauwsu tua ini keringkan cawan itu sambil menghaturkan terima kasih. Diam2 ia telah janji akan gunakan sisa umurnya untuk kebaikannya Hoay Yang Pay, supaya orang she Cie ini saksikan akan kesungguhannya. Tak pernah ia menyangka, ia sebenarnya sedang menghadapi ancaman bencana hebat….

Kemudian Cie Too Hoo haturkan selamatnya pada yang lain2, sedang mereka yang lebih muda usia dan tingkatannya, menyambutnya sambil mendahulukan berdiri siang2.

Dengan begitu, beberapa waktu telah dilewati, sampai kira2 jam sembilan atau sepuluh siang baharu orang selesai dan siap untuk berangkat. Eng Jiauw Ong masih tinggalkan pesan pada orang tua dari sebelas desa, yang datang untuk mengasi selamat jalan padanya.

Sama sekali telah disiapkan tujuh belas ekor kuda, kecuali buntalan sendiri, setiap kuda di bekalkan bungkusan rangsum kering dan air dan seikat rumput, untuk perbekalan ditengah jalan. Melihat itu, Liu Hong Cun keterlitiannya Cie Too Hoo, ia puji pengaturan sempurna dari Eng Jiauw Ong.

Kepada suhengnya, Cie Too Hoo menyerahkan segumpal bulu angsa, sedang kepada sesuatu orang, ia kasikan dua batang, keperluannya yalah sebatang untuk dipakai diwaktu malam, guna kenali kawan sendiri, dan yang sebatang lagi untuk disimpan kuatir ada yang hilang.

Eng Jiauw Ong telah ajak Kam Tiong dan Kam Hauw serta Tee lie touw Hee houw Eng, Congtauwbak dari barisan rondaan Lek Tiok Tong. Dia ini, walaupun belum berumur tiga puluh tahun tetapi sejak usia sembilan belas sudah masuk kedalam dunya kang ouw, dalam perusahaan piauw, hingga ia mendapat banyak pengalamannya. Ia masuk dalam rombongan Lek Tiok Tong ia tidak puas terhadap sikap kawan2nya, yang tak mau pandang ia. Di

Lek Tiok Tong ia unjuk kepandaiannya hingga dari

chungteng biasa Too Hoo angkat dia jadi Lauwbak kepala. Sebagai bekas orang piauwkiok, ia kenal banyak tempat. Ini sebabnya kenapa ia dapat gelarannya Tee lie   si Peta bumi. Diakhirnya, setelah berikan pesan terakhir pada Too Hoo, yang antar ia sampai di jembatan gantung, Eng Jiauw Ong dan rombongannya semuanya tujuh belas orang, berangkat meninggalkan Ceng hong po.

XXXVII

Baharu melalui tiga puluh lie dari Ceng hong po, jalanan sudah tak ‘licin’ lagi. Dimana mana ada kedapatan tentera pemberontak. Hanyalah karena ada bendera piauw dari Hauw Tay, tidak pernah mereka dapat rintangan. Adalah setelah sampai didaerah perhentian Ang sim ek, mereka mulai pusing kepala. Disini ada daerah tentera negeri, saban2 menemui pos tentera mereka ditanya ini dan itu, ada kalanya mereka menemui tentera yang melit. Eng Jiauw Ong menjadi tidak puas, karena perjalanannya jadi terlambat satu jam lebih.

“Kenapa gusar, suheng?” Ciong Gam memperingatkan. “Biar bagaimana, mereka ada tentera negeri. Jangan kita melayani mereka. Bukankah urusan kita ada sangat penting? Memang kita dalam rombongan belasan dan semua bekal senjata, bisa mendatangkan kecurigaan orang. Bagaimana bila kita memecah diri jadi dua atau tiga rombongan?”

“Didepan ada Teng wan ek, mulai dari sana saja kita pecah diri,” Eng Jiauw Ong nyatakan akur.

Mereka melarikan kuda mereka, lewat lagi enam atau tujuh lie, mereka sampai diperhentian Teng wan ek, suatu tempat yang ramai, banyak penduduknya, ada banyak juga kendaraan dan kuda. Disini Hee houw Eng jalan didepan, ia lewati beberapa hotel, untuk cari rumah penginapan dengan merek An Seng, yang ia kenal baik. “Ah, tuan Hee houw!” menyambut satu jongos sambil tertawa.

“Kemana saja tuan pergi? Hampir satu tahun tuan tak pernah datang kemari! Tuan bersendirian atau berkawan?”

Dia lantas sambuti kudanya Hee houw Eng.

“Aku berombongan” sahut Tee lie touw. “Apa masih sedia banyak kamar?” Jumlah kami semuanya tujuh belas”

“Ada, ada, tuan! Diruangan Timur ada lima kamar kosong,” jawab jongos itu, yang terus teriaki dua kawannya, Thio Sam dan Thio A Sie, untuk menyambut tamu.

Ketika itu, Eng Jiauw Ong beramaipun telah sampai.

Melihat tetamu ada demikian banyak, jongos minta empat kacung yang suka membantunya untuk bantui mereka menyambuti kuda.

“Jaga baik kuda kami” Hee houw Eng pesan, “kalau ada yang hilang, kau tidak akan mampu menggantinya!” .

“Jangan kuatir, tuan, anak2 ini dapat dipercaya”

Meski demikian, Hee houw Eng masih mengancam juga empat boca itu, sesudah mana, mereka masuk kedalam diantar oleh A Sie, hingga mereka memenuhi ruangan Timur.

Waktu itu sudah magerib, sebentar lagi orang akan nyalakan api. Selagi bertindak masuk, Eng Jiauw Ong sengaja jalan ayal2an, untuk perhatikan hotel itu. Ia percaya, hotel ini benar hotel tua. Ruangan ada besar dan terawat baik.

“Jongos, kunci pintu!” begitu Liu Tong dengar selagi ia lewat. Ia lantas menoleh, hingga dari kamar nomor tiga disebelah Barat ia lihat satu toosu atau imam muncul dimuka pintu.Dia bertubuh tinggi dan besar, rambutnya dikonde dan ditusuk dengan sebatang tusuk konde pualam, mukanya merah, sepasang alisnya gomplok, dua biji matanya bersinar tajam, hidungnya besar seperti hidung singa, mulutnya lebar, romannya bengis. Dia pakai juba biru dengan leher hijau, ikat ping gangnya kuning oranye. Diatas sepatunya ada kaos kaki putih. Dan tangannya memegang kebutan.

Sekelebatan saja Liu Tong melihat, ia percaya imam itu bukan imam suci. Tentu saja, tak dapat ia perdulikan imam itu. Ia hanya lihat imam itupun perhatikan padanya. Ia diam saja.

Sesampainya diruangan Timur, rombongan ini memecah diri, kaum tua dengan kaum tua, dan kaum muda seturunya didua kamar, yang belakangan ini adalah Su touw Kiam, Coh Heng, Hang Lim, dua saudara Phang-Yok Bun dan Yok Siu- dua saudara Kam-Tiong dan Hauw- dan Hee houw Eng.

Jongos sudah lantas menyuguhkan teh, kemudian merek memasang api. Kam Tiong dan Kai Hauw bersama Hee houw Eng pergi memeriksa kuda mereka, ketika mereka kembali kekamar sudah waktunya bersantap malam, bersantap sama2 dikamar utara. Sehabisnya dahar, Eng Jiauw Ong timbulkan soal memecah rombongan menjadi dua saja yang kemudian dapat kelompokan, rombongan pertama sendiri Eng Jiauw Ong bersama Hauw Tay dan Sin Wie Pang serta Su touw Kiam, Hang Lim, Hee houw Eng dan Coh Heng, dan rombongan ke dua Ban Liu Tong bersama Khu Beng, Ciong Gam, Wie Siu Bin dan Kam Jiang serta Phang Yok Siu, Kam Tiong, Kam Tiong, Kam Hauw dan Ciok Bin .

Pada permulaan jam pertama, jongos datang untuk tambah pembaringan darurat, maka ada kemudian orang bisa merebahkan diri untuk beristirahat. Kemudian , lewat jam dua hotel ini sepi kebanyakan tetamu ini sudah tidur.

Ban Liu Tong merasa hatinya sudah tenteram, ia teringat kepada si imam roman bengis. Seorang diri ia keluar dari kamar nya akan periksa ruangan luar, akan lihat kamarnya anak2 muda.    semua sudah tidur kecuali dua saudara Phang dan Su touw Kiam asyik pasang omong. LiuTong pesan mereka akan awas terhadap api dan supaya tidur siang2, karena besok mereka akan berangkat pagi2.

Ketiga anak muda itu menyawab akan perhatikan pesan itu, setelah mana, Siok beng Sin Ie keluar pula. Ia pergi kelain ruangan dimana ia tidak tertampak orang pekaranganpun gelap. Ia jalan terus sampai kesebelah depan dimana masih ada beberapa tetamu asyik bicara sambil hadapi teh. Kemudian ia pergi keruangan Barat dimana sengaja ia melewati jendela hingga ia tampak, dalam kamar nomor tiga, masih ada cahaya api suram, hingga tak dapat diketahui, si imam sudah balik atau belum. Ia hentikan tindakannya, ia pasang kuping. Ia dengar suara gerakan orang yang meniup api.

“Dia tentu mau keluar,” ia pikir, terus ia mengenjotkan tubuhnya keatas payon genteng Utara di wuwungan mana ia mendekam, akan sembunyikan diri sambil pasang mata. Ia tidak berani sembrono, karena ia duga si imam tentunya liehay.

Segera ia lihat berlompatnya satu bayangan, sangat cepat, ke Timur, keatas rumah, akan menuju kesudut Utara.

“Disini tentu ada kecampuran orang jahat,” Liu Tong men duga2. “Mungkin mereka sedang menguntit rombonganku. Baik aku lihat imam ini, apa dia mau…”

Ia lalu bergerak, untuk menguntit. “Dia bernyali besar,” kata ia dalam hatinya, apabila ia tampak bayangan itu -bayangan si imam- yang turun kebawah.

“Orang masih belum tidur semua, dia berani mengintai, baik aku kasi rasa padanya…”

Liu Tong pergi ke Utara, kesudut Timur dari kamar, akan menguntit terus.

Imam itu sedang mengintai di jendela kamar Timur, lalu di jendela kamar Utara, diapun rabah pedangnya, akan tetapi dia tidak mencabut itu.

“Asal kau turun tangan   ” pikir Siok beng Sin Ie.

Imam itu tidak berbuat apa2, ia loncat naik keluar hotel.

Liu Tong heran, tadinya ia niat kisiki suhengnya, tapi segera ia ubah pikiran. Ia anggap, baik ia coba menguntit. Maka itu la lantas menyusul. Ia lihat si imam naik kegenteng rumah penduduk, jalan diatas itu ke Timur, sampai dimulut desa. Disini, dia belok ke Timur utara. Lompatan nya, jalannya, ada gesit dan cepat sekali.

Terus Liu Tong mengikuti sampai diluar Teng wan ek. Disitu ada daerah rawa. Mengikuti jalan kecil imam itu menuju terus ke Timur utara, sampai ditegalan sawah, yang terseling pepohonan teh dan murbei. Disini tidak ada tempat sembunyi, terpaksa Liu Tong mengikuti dari kejauhan.

Jalan jauhnya tiga lie lebih, mereka sampai disebuah dusun. Terang si imam kenal baik jalanan, tidak ia hampirkan mulut desa, ia hanya loncat naik atas sebuah rumah diarah Barat. “Jikalau dia bukan hendak kerja disini dia mesti ada punya kawan,” Liu Tong duga. Tanpa ada maksud, orang mesti jalan kitari dusun itu.

Menunggu sampai si imam sudah lewati belasan rumah, Liu Tong baharu loncat naik kegenteng untuk terus menjadi bayangannya si imam. Dilihat dari genteng rumah, ia percaya dusun ini ada dusun berbahagia. Justeru ia awasi genteng, ia berlaku sedikit alpa, si imam lenyap dari pengawasannya. Ia penasaran, ia maju dengan cepat. Menghadapi jalan besar, hatinya lega. Disitu ia tampak pula si imam yang sedang bertindak terus. Teranglah imam itu ada kandung sesuatu maksud.

Berjalan dijalan besar, imam itu menuju ke Timur, kemulut desa. Sekarang dia berjalan pelahan, matanya senantiasa mengawasi kerumah2 sebelah utara. Rupanya ia perdatai tembok. Tiba2 ia berhenti didepan sebuah rumah besar, ia awasi tembok samping, setelah itu, ia loncat naik keatas tembok itu.

Liu Tong mengerti, imam itu pasti cari tanda rahasia. Ketika iapun loncat naik kegenteng untuk menguntit, ia lihat si imam pergi kebelakang rumah itu, yang terdiri dari beberapa undakan. Ia heran melihat orang seperti kenal baik gedung itu.

Setelah lewat dua pekarangan dalam, si imam memasuki yang ke tiga dimana ada tiga buah kamar, gang terpecah empat, disaban gang ada pot kembang dan tanah berumput. Untuk desa, jarang ada rumah dengan bahagian dalam seperti itu.

Si imam hampirkan sebuah kamar, ia dekati jendela Timur, untuk melobangi kertas jendela dan mengintai kedalam. Melihat duduknya kamar, Liu Tong percaya jendela itu mesti ada jendela belakang, maka lekas2 ia memutar kekiri akan mencari jendela belakang itu. Ia tidak perdulikan lainnya, ia terus cari jendela itu. Selagi ia mengintai, ia bercekat sendirinya. Itu mesti ada kamarnya satu nona.

“Aku ada pemimpin Hoay Yang Pay, cara bagaimana aku bisa intai orang punya gadis remaja….” pikir ia dalam kesangsian. “Baik aku pancing saja si imam keluar dari sini, untuk tanya maksudnya sebenar nya…”

Ia baharu memikir sampai disitu, atau ia lihat satu nona umur delapan atau sembilan belas tahun diiring satu bujang perempuan usia lima atau enam belas tahun. Nona itu cantik tapi lesu, romannya seperti sedang sakit, rupanya dia habis menangis. Sang bujangpun lesu dan berduka.

Nona itu masuk kedalam kamar untuk terus duduk atas pembaringan, agaknya ia letih, hadapi tiga batang lilin diatas meja didepan jendela, hingga kelihatan nyata wajahnya, wajah dari satu nona toapan. Tiba2 si nona merabah perutnya, alis dirapati pula, air matanya lantas meleleh turun.

Satu budak sedang gunting sumbu lilin ketika ia menoleh dan lihat nonanya menangis, ia perdengarkan suara tertahan. Segera ia melepaskan guntingnya dan lari pada nona itu.

“Nona, kenapa kau tidak dapat legakan hati?” kata ia. “Itulah berbahaya. Kenapa nona tidak sudi dengar aku? Buat apa pergi kekamar nyonya besar? Baik diam saja dalam kamar sambil sendiri, jangan perdulikan apa yang dia bilang. Dasar nona malang, nona peroleh penyakit semacam ini…. Apa daya? Tapi nona tidak bersalah, tak usah nona takut. Dibelakang hari rahasia tentu akan terbuka. Aku ada satu budak, tetapi nona tak pandang hina padaku, maka aku nanti berdaya akan cuci malu nona ini! Oh, imam jahat itu, dialah si celaka! Dia rupanya ada musuh nona dari penitisan yang lalu! Tentu dia telah bilang suatu apa pada tuan dan nyonya besar. Sekarang sabar, jangan nona keluar, kalau nanti tuan besar datang, aku nanti membantui nona. Kita mesti minta tuan undang tabib untuk periksa penyakit nona. Ia sebagai ayah, mustahil ia tak sayangi nona? Nona, aku bersedia korbankan jiwa untuk menolong bersihkan namamu. Belum pernah aku tinggalkan nona, aku tahu nona ada putih bersih!”

Nona itu menyeka air matanya.

“Adik Kiok, kau baik sekali” ia bilang. “Bukannya aku tidak suka mendengar kau. Tapi nyonya besar ada seperti musuhku, dia sangat benci kepadaku, sekarang dia dapat alasan, bagaimana dia tidak gunai itu? Tak dapat aku tak menemui dia, dia pasti akan mengarang cerita yang bukan2. Benarlah pembilangan ada punya ibu tiri seperti punyakan ayah tiri. Aku bingung. Duluan telah diundangi tabib, karena dia tidak sanggup mengobati, nyonya besar semakin keras tuduh aku. Aku tak beruntung, biar dimuka Raja Akherat saja aku minta keadilan. Aku ada satu nona terhormat tetapi nasibku tak dapat membandingi si gemuk gadisnya Heng Ah si bujang sawah, dia anak petani melarat tapi dia bergembira dan hidup manis dengan orang tuanya ”

Mendengar kataanya itu, Liu Tong bisa duga si nona ada korbannya ibu tiri. Ia hanya heran melihat perut si nona yang besar. Melihat wajahnya, mustahil nona itu main gila. Kalau dia main gila, mustahil dia jadi demikian berduka. Tapi mukanya si nona ada kuning pucat.

“Dia mesti dapat penyakit luar biasa dan orang sangka dia hamil....” pikir ia. “D isini ada mengenai jiwa, perlu aku campur tahu ” Ia dengar si budak menghibur pula, katanya “Sudah, nona, kau bersabar saja. Sekarang ini kita tak dapat berbuat suatu apa, cukup asal kita tahu diri kita putih bersih. Aku ingat pepatah yang membilang, orang suruh orang mati, Thian tidak memperkenankannya, Thian suruh orang mati, apakah susah nya? Demikian dengan nona, kita baik peserah kepada Thian saja. Halnya si imam, apabila dia datang pula, tidak perduli nyonya besar sangat percaya dia, nona sendiri jangan perdulikan padanya, umapama nyonya besar paksa ajak dia datang, nona boleh kuncikan pintu, jangan kasi dia masuk, pada nyonya besar bilang saja nona takut, apabila dia memaksanya, nona pun tetap menolak! Apa dia bisa bikin?”

Budak itu sekai air mata nonanya.

Si nona hendak sahuti budak nya, atau tahu2 imam diluar telah berdiri dimuka pintu kamar.

“Bu liang hud!” imam itu memuji. “Pousat perempuan, jangan takut, couwsuyamu datang untuk tolongi kau, untuk membebaskan dirimu. Mustahil kau masih belum menginsafi maksudku?”

Dua2 perempuan itu kaget, tapi si budak membesarkan hati.

“Kau… kau… kau!” ia membentak. “Kau seorang suci, kenapa tengah malam buta rata kau memasuki kamar satu gadis remaja? Lekas pergi, atau aku nanti berteriak!”

Imam itu tidak berlalu, dia malah tertawa besar. “Budak!” kata ia. “Kau cuma satu budak, mengapa kau

banyak omong? Couwsuya murah hati, tak mau aku bunuh

orang, tapi jikalau kau tetap banyak bacot, jangan kau nanti sesalkan aku ” Liu Tong mengawasi, ia gusar melihat sikapnya imam itu.

Justeru itu, si nona berbangkit, dia tolak budaknya, dia awasi imam itu, sepasang alisnya berdiri, kedua biji matanya terbuka lebar.

“Tooya!” kata ia, suaranya menyalakan kemarahannya. Teranglah bahwa ia tak takut lagi. “Kemarin ibuku paksa ajak kau kemari, untuk periksa penyakitku, tetapi entah kau ngoce apa kepada ibu, dia lantas tuduh aku! Ibu sangat benci aku, dia seperti ingin aku segera binasa! Sekarang malam kau datang kekamarku, nyata kau menghina sangat padaku! Aku tidak perdulikan maksud kedatanganmu, tetapi aku hendak tanya, apakah kamarku ada tempat yang kau bisa masuki sesuka hatimu? Lekas kau keluar! Kau ketahui rumah tanggaku, jikalau aku berteriak, apa kau bisa keluar dengan baik dari sini?”

“Ah lie pousat,” kata si imam dengan wajahnya yang keren. “Apakah kau hendak balas budi dengan kejahatan? Bu liang hud, siancay, siancay! Lie pousat, di depanku jangan kau gunai lidahmu yang tajam, couwsumu sudah ketahui baik wujudnya penyakitmu ini. Aku ketahui itu waktu pertama kali aku melihat nya! Aku berkasihan kepadamu, aku tidak hendak membuka rahasia untuk menolong dirimu, guna lindungi kehormatan keluargamu. Aku ada seorang suci, aku hendak menolong kau. Jikalau aku tidak menolong kau, kau selamanya terancam bahaya ternoda, apabila sampai selang sepuluh bulan, rahasia akan terbongkar dengan sendirinya. Apa yang kau bisa sembunyikan lagi? Kau akan menyesal sesudah kasep! Disini aku ada punya sebutir pil mustajab, asal kau makan ini, cuma setengah jam kau bakal keguguran, nanti aku bawa pergi daging dalam perutmu itu. Couwsuyamu ini membutuhkan itu, kau tahu? Kau ini tertolong, juga nama baik keluargamu!”

Tapi si nona gusar hingga tubuhnya gemetaran. “Sayang, sebagai murid Sam Ceng, kau salah mata!” ia

menegur.   “Kenapa   kau   ngaco   belo?   Aku   ada   satu

perempuan terhormat cara bagaimana kau anggap aku sebagai binatang? Aku sudah cukup menderita, jangan ganggu aku, atau kau bunuh saja aku dengan pedangmu!”

Ia berbangkit, agaknya ia hendak tubruk imam itu.

“Kau duduk!” imam itu mem bentak, agaknya iapun gusar.

“Aku hendak tolong kau, kenapa kau tidak mau mengarti? Baik aku terangkan padamu aku pandai membuat obat pules, untuk itu aku membutuhkan cie hoo cia. Selama banyak tahun ini, aku telah dapatkan dua puluh lebih, tak pernah aku salah lihat. Aku hendak tolong kau, dengan obat aku hendak keluarkan kandunganmu yang sudah tiga bulan ini. Kenapa kau tolak maksud baik dari couwsuyamu?” Ia rabah pedang dibebokongnya. “Lihat, jikalau aku hendak bunuh kau, itu ada terlebih gampang daripada ambil kandunganmu ini! Tapi aku ada murah hati, maka jangan kau sia sia kebaikan ku ”

Imam itu kelihatan bengis luar biasa, tetapi si nona tetap tidak takut.

“Kau ngaco belo!” ia membentak. “Aku ada putih bersih, dari mana datangnya kandungan? Aku mengarti surat, aku ada dari keluarga terhormat, bagaimana kau berani cemarkan kehormatanku? Sebenarnya aku sedang sakit! Kau seorang yang beribadat, jangan kau melupakan karma! ” “Tooya” budak Siauw Kiok campur bicara, “jangan harap kau bisa ganggu nona! Kami berdua lemah tetapi kami tak takut mati! Nona sedang sakit, orang cuma fitnah dia, jangan kau turut menodainya! Baik kau jangan mengganggunya, kami suka memberikan uang dan barang perhiasan untuk kau….” Kemudian ia tambahkan pada nonanya “Nona, mari anak kuncimu!”

Matanya si imam bercahaya ketika ia lihat dua teromol di ujung pembaringan, ia menyengir, kemudian ia hunus pedangnya, yang bersinar berkeredupan.

Melihat senjata tajam itu, Liu Tong terkejut. Diluar dugaannya, satu imam cabul, tukang ambil kandungan muda cie hoo cia, ada punya pedang mustika. Pedang ini nampaknya bisa menangi pedang Lui im kiam dari Tiat So Toojin dan pedang Tin hay hok po kiam dari Cu In Am cu.

“Tak dapat aku bikin dia lolos,” pikir jago Hoay Yang Pay ini, yang terus memasang mata, pikirannya sudah tetap.

“Aku tak membutuhkan uang dan barang permata,” kata si imam. “Asal aku mau, dengan gampang aku bisa ambil itu, tak perduli kau simpan rapi. Lihat!”

Ia gunai pedangnya akan bacok kunci kuningan dari teromol itu, kunci itu lantas putus dan rusak!

Si nona dan budaknya kaget.

“Kau lihat, bukan?” kata si imam. “Sekarang, kau hendak minum obatku atau kau hendak tunggu aku turun tangan sendiri? Jangan kau ayala2n, nanti aku habis sabar!”

Alisnya nona itu berdiri pula.

“Kau benar kejam!” kata ia. “Kita rupanya ada musuh turunan! Nah, mari obatmu itu!” Imam itu tertawa, tertawa iblis, bahna puas hatinya. Ia masukkan pedangnya kedalam sarung, ia tertawa pula, kemudian dari dalam cupu cupunya, yang tutupnya ia buka, ia jemput sebutir pil merah. Ia sodorkan itu pada si nona, tetapi Siauw Kiok yang sambuti. 

“Nona, aku nanti ambil air” kata budak yang setia ini. Ia lantas bertindak kemeja dimana ada thekoan teh.

Si nona, dengan air mata bercucuran, duduk atas pembaringannya.

“Ibu, aku tak berdaya akan lindungi lebih jauh kehormatan mu....” ia mengeluh. Ia menangis sangat sedih. Sebelah tangannya merabah kebawah kasur, dari mana ia keluarkan satu gunting.

“He, kau hendak bikin apa?” menegur si imam, ia kaget. Tapi cepat sekali, si nona sudah tikam tenggorokannya,

menyusul   jeritannya    yang    tertahan,   darah    muncrat,

tubuhnya rubuh atas pembaringannya itu.

XXXVIII

Walaupun ia kaget, imam itu berlompat untuk samber tubuhnya si nona, akan tetapi berbareng dengan itu, si budak sudah jemput ciaktay dengan tiga batang tancapan lilin nya, dengan itu, budak ini dengan berani, dengan sekuat tenaganya, sudah menimpuk sambil membentak “Jahanam, aku adu jiwaku denganmu!”

Siauw Kiok kaget melihat kenekatan nonanya, tetapi ia lebih kaget menampak si imam bergerak, maka itu, untuk tolong nonanya, ia samber ciaktay dan menimpuk. Ternyata ia ada punya keberanyan dan ketabahan hati. Mereka berada terlalu dekat satu dengan lain, si imam juga tidak menyangka jelek pada budak ini, jitu sekali ciaktay mengenai mukanya tanpa ia keburu menangkis atau berkelit. Ia menoleh ketika Siauw Kiok damprat ia, justeru ia menoleh, ciaktay samber matanya yang kanan.

“Aduh!” ia menjerit seraya bekap matanya.

Siauw Kiok tidak berhenti sampai disitu, ia samber tehkoan dengan apa ia hajar alisnya si imam, tapi sekarang, meskipun terluka, imam itu insaf, de ngan menahan sakit ia mencaci “Oh, budak celaka!” Segera ia hunus pedangnya akan tabas budak itu.

Siauw Kiok tahu bahaya, ia meramkan matanya.

Dalam detik yang berbahaya itu, Liu Tong sudah loncat turun dari genteng dan lari menghampirkan. Ia sampai tepat selagi pedang terhunus, dengan cepat ia cekal lengannya imam itu.

Imam itu terkejut, apapula cekalan itu mendatangkan rasa sakit yang hebat, ia lantas putar tubuh untuk membela diri, akan tetapi ia kalah sebat, pundak kanannya kena ditotok, atas mana, sakit dan kesemutan lengan kanannya dia, pedangnya terlepas sendirinya. Menyusul itu, satu totokan lagi pada jalan darahnya Khie jie hoat menyebabkan dia rubuh, rubuh duduk ditanah tanpa bisa kutik lagi.

Siauw Kiok kaget ketika la melihat kejadian itu, ia dapati orang yang datang masuk secara tiba2 itu ada seorang tua, ia sampai menjerit “Ai!”

“Lekas!” kata Liu Tong pada budak itu. “Lihat nonamu, Ia masih bisa ditolong atau tidak!” Karena ia mengetahui orang bermaksud baik, Siauw Kiok tidak takut. Ia lari kepembaringan, air matanyaber cucuran.

“Siocia, siocia!” ia berseru, kapan ia lihat darah berhamburan. “Ah ”

“Ambil api,” Liu Tong menyuruh si budak, yang putus asa itu. Kemudian ia suluhi si nona. “Jangan kau menangis” ia kata.

“Kau rabah dada nonamu, kalau napasnya masih ada, aku bisa tolong padanya ”

Siauw Kiok rabah dada nonanya itu. “Jantungnya masih memukul!” ia berseru. Air mukanya Liu Tong menjadi terang.

“Pergi panggil majikanmu. aku hendak menolongi nonamu,” kata ia pada budak itu. “Imam inipun perlu diurus”

“Tuan dan nyonya ada, tetapi sulit   ” sahut Siauw Kiok

yang bersangsi. “Kecelakaannya nona pun bukan melulu disebabkan imam jahat ini, umpama kata dia tidak datang, jiwa nona memang sukar untuk ditolongi….”

“Aku tak tahu urusan rumah tanggamu, tetapi aku bisa mengira ngira,” kata Liu Tong. “Sekarang lekas kaupanggil tuan dan nyonyamu itu, aku kuatir nonamu tidak keburu ditolong!”

Siauw Kiok rupanya mengarti, maka ia lantas berlari keluar.

Liu Tong loloskan pedangnya si imam, untuk diselipkan dibebokongnya, kemudian ia duduk dijendela untuk menantikan. Ia tidak usah menunggu lama akan dengar suara berlari lari. Siauw Kiok yang muncul paling dulu. “Loosuhu, tuan datang,” ia kasi tahu.

Dan tuan rumah segera muncul. Dia berumur kurang lebih lima puluh tahun, mukanya merah, romannya agung, pakaian nya pun rapi. Dibelakang dia ada satu nyonya muda yang dandanan nya perlente dan romannya genit. Dibelakang mereka ada beberapa bujang perempuan dan lelaki, semuanya berdiam.

“Tayhiap, aku telah dengar keterangannya Siauw Kiok,” berkata tuan rumah sambil terus kasi hormat pada Liu Tong, nampaknya ia kaget dan heran. “Imam ini telah mengganas, terima kasih untuk pertolonganmu. Apakah tayhiap suka perkenalkan dirimu kepadaku?”

“Aku Ban Liu Tong dari Kwie in po di Kian San,” Liu Tong jawab. “Kebetulan aku lewat disini, aku pergoki imam ini, aku lantas menawan padanya.”

Tuan rumah itu manggut.

“Aku sendiri ada Tan Hong Kie,” ia perkenalkan dirinya. “Dulu pernah aku menjabat pangkat, tetapi sekarang aku hidup bertani dikampung halamanku ini. Aku menyesal atas buruknya nasib keluarga kami, aku telah dapatkan anak put hauw ini yang menodai nama baikku. Sebenarnya lebih baik anak ini mati saja ”

Liu Tong tidak senang mendengar kata2 tuan rumah itu. “Harimau   jahat   tidak   makan   anaknya!”   kata   ia.

“Lauwhia, kau seorang terpelajar, kau pernah pangku

pangkat, kenapa pemandanganmu cupat seperti satu pit hu? Jikalau begini sikapmu, baik, aku tidak sudi campur pula urusanmu, dan imam ini, kau mau bebaskan atau serahkan pada pembesar negeri, masa bodo kau! Aku hendak pergi sekarang!”

Liu Tong terus putar tubuhnya. Tan Hong Kie kaget.

“Tunggu, tayhiap!” ia mencegah. “Maafkan aku, karena aku pusing, bicaraku tidak. keruan. Kejadian ada terlalu hebat bagiku, hingga aku tak bisa berpikir. Harap tayhiap tolong kami….”

Melihat orang insyaf, Liu Tong urung berlalu.

“Jikalau kau masih menyayangi puterimu, aku suka berbuat apa yang aku bisa untuk tolong puterimu itu,” ia bilang. Dari sakunya ia ambil obat, bubuk, ia serahkan itu pada Siauw Kiok seraya berkata “Kau pakaikan obat ini pada luka nonamu, lantas luka itu dibungkus biar rapi. Kemudian kau sediakan gula pasir serta air matang.”

Selagi Siauw Kiok sambuti obat, Tan Hong Kie perintah lain budak ambil gula dan air yang diminta.

“Sebenarnya, aku mengarti sedikit tentang ilmu tabib,” Liu Tong berkata pada tuan rumah. “Kalau lauwhia tidak hadir, aku sangsi tolongi si nona, tapi didepanmu aku nanti mencobanya”

Lantas Liu Tong ajarkan Siauw Kiok bagaimana mesti obati lukanya si nona.

Budak itu bekerja menuruti ujarannya tabib ini.

Selagi si nona mulai sedar dari pingsannya, Liu Tong periksa nadinya si nona.

“Tidak apa,” nyatakan ia. “Lukanya enteng sekali. Dia pingsan itu karena pepat pikiran disebabkan hawa amarah yang meluap.”

Gula pasir dan air telah disiapkan, maka Liu Tong lantas aduk itu dalam satu cawan. yang mana ia minumkan pada si nona. Kemudian, seraya keluarkan jarum emasnya, tabib ini berkata pada tuan rumah “Tolong lauwhia jelaskan padaku tentang sakit nya puterimu ini.”

Mukanya Tan Hong Kie menjadi merah, ia tergugu. “Ban Tayhiap, sebagai seorang lelaki, tak dapat aku

tuturkan tentang penyakitnya anak ini,” ia jawab

dengan susah. “Biar isteriku saja yang menceritakan nya.” Ia lantas menoleh pada si nyonya muda disampingnya dan kata. “Terangkanlah pada Ban tayhiap tentang penyakit Siang Houw.”

Nyonya cantik itu awasi Ban Liu Tong, lantas ia kata “Sebenarnya aku malu akan tuturkan keburukan rumah tangga kami, tetapi karena terpaksa, biarlah aku menerangkannya. Seyak bulan pertama, aku sudah merasakan aneh tentang anak ini tapi sebagai ibu tiri aku tidak berani banyak omong. Kemudian, ketika aku usulkan mengundang tabib dia menampik. Seorang perempuan, apapula satu nona, mesti putih bersih, akan tetapi dia punyakan penyakit ini, apa aku tak ikut malu?”

“Penyakitnya si nona memang ada memalui keluarga,” kata Liu Tong. “Memang benar tentang penyakit ini tidak dapat diuwarkan. Tapi disebelah itu, orang perlu bukti. Si nona nampaknya sebagai sedang mengandung, tetapi sebagai orang luar, aku tidak berani memastikannya. Bukti harus ditunggu sampai saatnya hamil cukup bulannya. Ada hal yang menerbitkan penasaran, si nona bilang sekarang ia disangka telah main gila. Dalam hal ini, aku ingin lauwhia berdua suami isteri suka berlaku hati2.”

Muka Hong Kie bersemu merah, saking jengah.

“Ban Giesu, sekarang aku cuma bisa sesalkan diri,” ia akui. “Sebenarnya anakku ini sejak masih kecil aku pandang sebagai anak laki2 mulai umur sembilan tahun aku suruh ia ikuti tukang uangku belajar surat, karena ia berotak ‘terang’ kemudian aku undang satu guru sendiri untuk didik ia lebih jauh, selagi belajar, aku panggil dua anaknya dua keluarga hartawan akan belajar sama2. Diantara dua anak itu adalah anaknya tetanggaku, Liok Kian Tek yang paling akur dengan anakku ini, hingga aku menyangka diantara mereka ada janji suatu apa. Ada bujang2 perempuan yang lihat, mereka berdua kadang2 suka bersikap tidak sewajarnya, dan kemudian lagi, setelah berhenti sekolah, mereka suka juga tempo bikin pertemuan. Semua bujang tidak ada yang berani omong apa padaku. Aku tidak sangka kejadiannya seperti ini, hingga cerita telah teruwar. Pasti sekali aku jadi sangat malu. Ban Giesu, kau sekarang telah menangkap si imam jahat, kau pun hendak coba obati anakku, oh, Giesu tidak nanti aku melupai budimu ini. Tentang anakku ini, Giesu, terserah pada dia sendiri!” Liu Tong manggut2 .

“Tan lauwhia, aku mengarti harapanmu dari anakmu, maka aku mengarti juga bila sekarang hatimu jadi tawar,” kata ia, “tetapi mengenai puterimu ini, aku harap kau pikir pula. Melihat tampangnya, tak mestinya ia ber batin buruk. Aku sudah berpengalaman, aku telah lihat banyak orang. Aku harap, puterimu benar2 ada punya penyakit.”

Hong Kie ada sangat masgul, ia diam saja.

“ Ban Giesu, jikalau kau bisa mencuci kehormatan kami, kami akan sangat bersyukur padamu,” kata nyonya Tan yang dandannya perlente itu.

“Aku harap saja, nyonya,” Liu Tong kata sambil manggut.

Lantas, dengan mengajak bujangya, nyonya Tan undurkan diri.

Liu Tong lihat gerak geriknya si nyonya, dari situ ia bisa mengarti keadaannya rumah tangga keluarga Tan ini. Tapi ia diam saja. Ia hanya dekati pembaringan akan awasi Siang Kouw. Ia percaya nona itu akan dapat ditolong.

“Sekarang aku hendak mengurus dulu imam ini, segera aku kembali,” kata ia pada tuan rumah.

“Dia belum sadar, apa Giesu bisa bawa dia pergi?” tanya Hong Kie.

“Gampang!” sahut Liu Tong sambil tertawa, terus ia dekati si imam, yang lantas ia angkat dan kempit, buat dibawa keluar dari kamar.

Diluar ada beberapa bujang lelaki, melihat tenaga besar dari si tuan penolong, mereka kaget.

Liu Tong tidak perdulikan mereka, ia loncat naik keatas genteng, untuk keluar dari pekarangan rumah, akan pergi sampai diluar dusun itu, yang ada dusun Tiong hoo tin. Ia baharu berhenti sesampainya ditempat banyak pepohonan yang sunyi. Disitu ia turunkan si imam, yang ia segera totok, hingga dia itu menjerit dan lantas sedar akan dirinya.

Segera imam ini insaf akan duduknya hal. Tetapi ia ada kepala besar, ia diam saja tidak niat ia untuk mohon ampun.

“Kau ada murid dari Sam Ceng, kenapa kau begini jahat?” Liu Tong segera menegur. “Apakah kau tidak insaf bahwa perbuatanmu ada merusak peri kemanusiaan? Kau telah ketemu aku, kau harus merasa beruntung. Menghadapi lain orang, jiwamu pasti lenyap sekejab. Apakah kau insaf sekarang? Maukah kau bertobat? Kau harus ketahui, dengan mengganas terus, kalau kau tidak terkutuk, mesti ada orang yang hukum padamu!”

Imam itu berdiam, ia menunduk, karena mana, Liu Tong tepuk pundaknya, hingga dengan cepat ia angkat kepalanya. Segera matanya dapat lihat pedangnya sendiri dibebokong musuh itu. Tiba2 jadi gusar, hingga ia bersenyun ewah.

“ Sahabat, jangan berjuma!” kata ia dengan nyaring. Aku tahu, siapa menang dia raya, siapa kalah dia pemberontak! Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, terserah padamu, maka itu, tak usah kau nasihat kan aku, jangan kau ber pura2 murah hati! Jikalau kau merdekakan aku, kau tunggulah hari nya yang kita nanti bertemu pula, jikalau kau takut, kau bunuhlah aku sekarang! Aku me kan ingin ketahui namamu!”

Sambil mengucap demikian, imam itu mengawsi, seperti henda k kenali orang.

“Aku bermaksud baik, kau tak sudi terima,” Liu Tong bilang. “Kau pun memikir untuk mencari balas. Kalau begitu, baik kau bawa dirimu sendiri, kematianmu. Umpama kau niat car I aku, seumur hidupku aku bersedia menantikan kau di Kwie in po di gunung Kian San. Aku adalah Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong dari Hoay Yang Pay.”

Imam itu tertawa dingin.

“Ban Liu Tong, kau telah menanam bibit permusuhan, pasti aku nanti menuntut balas!” kata dia dengan berani. “Aku Hui In Too Hang Lie Pwee Kie dari kelenteng Hian Touw Koan dari Hian Touw Pay, kau kenali aku! Tapi, jikalau kau suka kembalikan pedangku, aku suka bikin habis permusuhan ini! Kau pilihlah!”

“Jahanam, kau jadinya ada   nya Hian Touw Pay!” kata Liu Tong. “Tapi aku telah lepas kata, aku tetap akan merdekakan kau. Kau baiklah bertobat, atau kalau tidak, tiga bulan kemudian, aku bersedia akan nantikan kedatanganmu. Pedangmu ini aku hendak pinjam, karena inilah alat kejahatanmu. Untuk dapat pulang senjatamu ini, itu bisa terjadi diharian kau mencari balas!”

Setelah mengucap demikian, Liu Tong tinggalkan Imam ini, akan kembali kerumahnya Tan Hong Kie, selagi ia baharu bertindak, ia dengar tertawa mengejek dan ancamannya imam itu “Jikalau couwsuya tidak bakar ludas pada Kwie in po, aku sumpah kecewa aku jadi kaum Hian Touw Pay!”

XXXIX

Walaupun Liu Tong dengar ancaman itu, namun ia tidak perdulikan. Ia telah totok jalan darah orang, untuk sembuh dari itu, ada butuhkan tempo seratus hari, dari itu, sebelumnya tempo itu tidak nanti si imam dapat datangi Kwie in po, ia pasti akan keburu pulang dari Cap jie Lian hoan ouw. Ia berjalan terus, ia ber lari2, ketika ia sampai didalam rumah, ia dapati Hong Kie sedang menanya Siauw Kiok tentang kejadian yang sebenarnya, dan budak itu telah menuturkan semua dengan jelas. Karena ini, tidak lagi Hong Kie benci puteri nya itu, apalagi Liu Tong pun hendak mengobatinya.

Melainkan nyonya Tan yang tidak puas dengan perbuatannya Siok beng Sin Ie, tetapi tentang perasaannya ini, ia sembunyikan.

Hong Kie sambut tuan penolong itu, ia minta supaya anaknya ditolong.

“Jangan kuatir lauwhia,” Liu Tong beri kepastian. “Aku melainkan minta, selagi aku mengobati, supaya isterimu suka turut menyaksikan. Nama puterimu telah tercemar, itu harus dipulihkan. Disini, kecuali Siauw Kiok, tidak ada yang percaya puterimu sebenarnya sakit. Setelah aku mengobati, aku meminta semua anggota keluargamu nanti bersihkan nama puterimu itu.”

Mukanya Hong Kie merah tapi ia manggut.

“Kalau nanti aku telah mengobati puterimu, dia harus dapat rawatan teliti, sedikitnya satu bulan,” Liu Tong kata pula. “Dia ada sangat lemah, dia perlu terus memakan obat dan makanan yang menguatkan tubuh. Selama dirawat, dia mesti dapat perlakuan baik, dan kau, sebagai ayah, kau bertanggung jawab untuk keselamatannya. Aku hendak kembalikan kebersihan diri si nona, tapi aku kuatir, selagi aku telah sembuhkan dia, nanti ada orang jahat yang diam2 mencelakai pula padanya, kalau itu sampai terjadi, sia2 pertolonganku, pasti aku tak mau sudah, tentu aku akan bunuh orang yang berbuat jahat itu!”

Selagi mengucap demikian, Liu Tong memperlihatkan sikap yang keren sekali.

Tan Hong Kie berjanji akan juga baik dan melindungi puteri nya, untuk itu, ia segera kasi mengarti pada semua orangnya, yang pun berbareng ia mengancam.

“Sekarang, lauwhia, mari antar aku kekamar puterimu, dia perlu lekas ditolong,” berkata Liu Tong.

“Silahkan, Giesu,” kata tuan rumah. “Aku ada bekas orang militer yang kasar, dalam segala hal sukalah Giesu maafkan aku.”

“Aku tahu,” sahut Liu Tong sambil manggut.

Lalu, dengan ia sendiri yang tengteng tengloleng, Hong Kie jalan dimuka, akan pimpin penolong itu masuk kekamarnya Siang Kouw.

Siauw Kiok sambut majikan nya itu seraya sambuti juga tenglolengnya. “Bagaimana dengan nonamu?” Liu Tong menanya si budak.

“Ia ada baik, cuma ia letih,” Siauw Kiok jawab.

Liu Tong ambil lilin, ia hampirkan pembaringan untuk menyuluhi dan awasi muka si nona, setelah mana, ia manggut2, hati nya lega karena ia menampak pipi si nona mulai bersemu merah.

“Kita tunggu sebentar,” ia bilang pada Hong Kie, siapa lalu mengangguk.

Keduanya duduk menantikan. Tidak lama, nyonya Tan muncul.

Dengan tak banyak omong lagi, Liu Tong suruh Siauw Kiok kasi bangun nonanya, untuk ia periksa nadinya, sesudah mana ia beritahukan Hong Kie, sakitnya si nona asal mulanya disebabkan hati jengkel, lalu datang bulan nya tak cocok, hingga darah mengumpul dan menjadi besar.

“Darah itu bisa dibikin hancur, tetapi dengan mengandalkan obat makan saja, dia membutuhkan puluhan bungkus, maka sekarang aku hendak coba dengan lain daya,” berkata tabib dari Kwie in po. “Kita lihat saja nanti peruntungannya si nona ”

Hong Kie tidak bisa berkata apa2, ia turut saja tabib itu.

Liu Tong suruh Siauw Kiok minta nonanya rebah celentang, agar pakaiannya dirapikan. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perdulikan lagi pantangan “lam      siu put cin” lelaki dan perempuan tak dapat berpegang tangan. Ia lantas menyiapkan jarum emasnya. Pertama ia tusuk yalan darah kwan goan hiat, lalu menyusul thay it hiat, dan

       hay hiat. Kemudian dengan      batang jarum yang lebih besar ia tusuk jalan darah         tay hiat, im kauw hiat, ciong hiat dan hee wan hiat.

“Sekarang aku minta nyonya sudi mengawasi,” kata tabib ini pada nyonya Tan atau ibu tiri yang dengki itu. “Kau juga, jagalah baik2,” ia pesan Siauw Kiok. “Dalam tempo setengah jam asal perutnya perdengarkan suara, itu artinya tusukan   sudah bekerja. Kalau nona ke   kan darah, jangan kasi ia tubuhnya. Kau, nyonya,

harap jaga jarumnya, supaya tidak copot!”

Lantas tabib ini mengajak Hong keluar, untuk duduk menantikan dikamar tulis. Disini mereka pasang omong.

Didalam kamar, Siauw Kiok dan nyonya Tan menantikan dengan diam saja, keduanya terus awasi Siang Kouw.

Lama rasanya sang tempo berjalan. tetapi tak sampai setengah jam perutnya si nona bergeriyukan dua kali, lalu sepasang alisnya bergerak.

“Bagaimana, nona?” Siauw Kiok mendekati. “Kau rasai apa2 dalam perutmu?”

Sambil diam terus, si nona manggut sedikit. Tetapi ia segera lihat ibu tirinya.

“Rupanya aku ingin buang air, minta nyonya keluar dulu,” ia kata pada budaknya itu.

Siauw Kiok percaya, nyonya itu memang tak betah berdiam didalam kamar itu, tetapi pesannya Liu Tong menahan padanya. Ia jawab nonanya itu “Diam, nona jangan bergerak, ini pesan Ban Giesu. Jarum di tubuhmu masih belum dicabut. Biarnya nona buang air, tetap diam saja. Untuk kesembuhan dirimu, nona mesti tahan segala apa! Nyonya sedang taati pesannya Ban Giesu, dia tidak boleh berlalu dari sini ” Selagi sang budak bicara Siang Kouw merasakan perutnya mulas, sakit sekali, hingga ia mengeluh, kemudian ia menjerit karena hampir ia tak dapat bertahan, waktu ia hendak pukai dua tangannya akan tekan perut, Siauw Kiok mencegah, adalah bujang ini bersama si nyonya yang tolongi merabah. Pucat mukanya si nona saking menahan sakit. Keempat batang jarum telah ber gerak2 sendirinya.

“Kiok, lihat, lihat itu dibawah, apa…. kenapa    ”

Cuma sebegitu suaranya Siang Kouw, ia terus pingsan.

Siauw Kiok memegangi terus nonanya, sampai tubuhnya diam. Ketika ia melihat kebawah, ia terperanjat. Disitu bertumpuk gumpalan darah, yang merah dan hitam warnanya. Ia jadi melongo.

Nyonya Tan pun terkejut, tapi mukanya jadi merah sendirinya bahna jengah, hatinya lantas berkedutan. Ia tuduh si nona hamil, sekarang buktinya bukan. Maka ia pun terbengong.

Siauw Kiok sedar paling dulu.

“Thaythay, jangan diam saja,” ia tegur nyonyanya. “Aku ada seorang perempuan muda, aku tidak tahu apa2. Bagaimana kita mestinya bertindak?”

Nyonya itu sedar, lalu dengan terpaksa ia tolongi Siang Kouw. Sekarang, tak malu2 lagi ia minta Siauw Kiok nanti bicara baik tentang dirinya.

Siauw Kiok terharu, hingga air matanya berlinang. “Thaythay, aku ada satu budak, bagaimana aku berani

banyak omong mengenai rumah tangga thaythay,” sahut ia. “Tapi aku berkasihan terhadap nona, yang nama baiknya dicemarkan, yang jiwanya terancam. Sekarang syukur ia telah tertolong, kehormatannya telah dipulihkan. Thaythay jangan kuatir. Siocia sendiri, meskipun ia telah dipersakiti, tidak nanti ia mendendam dihatinya.”

Nyonya Tan tak enak hati, sebab walaupun budak itu berjanji, tetapi kata2nya ada mengandung sindiran.

Sementara itu Siang Kouw sudah sedar akan dirinya. Ia merasa sangat lemah sekujur tubuhnya. Ia merasa perutnya dirasakan kosong.

Siouw Kiok keluar akan memberi laporan pada majikannya, terutama pada Liu Tong didepan siapa ia berlutut “Giesu, kau adalah penolong nona. Ia sekarang sudah baik, cuma ia masih lemah. Coba giesu longok padanya,” ia kata.

Budak ini paykui sampai tiga kali.

“Sudah, jangan pakai peradatan!” kata Liu Tong sambil tertawa. “Untuk kau sudah cukup asal kemudian kau rawat baik2 nonamu”

Hong Kie, yang girang sekali, haturkan terima kasih pada tabib itu.

“Mari kita lihat,” ia lalu mengajak.

Bukan kepalang malunya Nyonya Tan apabila ia melihat suami nya bertindak masuk bersama sama Liu Tong, ia menunduk terus.

Liu Tong bisa mengarti malunya si nyonya, sebagai orang terhormat, ia membiarkan saja. Ia terus hampirkan Siang Kouw untuk periksa nadinya, sesudah mana, ia cabut semua jarum.

“Aku tidak sangka aku dapat menolong begini cepat,” kata ia pada Hong Kie dan isterinya. “Sekarang sudah mendekati fajar, aku masih punya urusan, aku mesti lekas kembali. Si nona tinggal membutuhkan perawatan, disini aku tinggalkan surat obat, untuk ia makan sampai sepuluh bungkus. Untuk selanjutnya, asal makannya dijaga dan jangan bikin ia berduka atau gusar, ia akan lantas pulih kesehatan nya seperti sediakala”

Liu Tong terus minta kertas, pit dan bak, lalu ia tulis resep nya.

Selagi Orang menulis resep, diam2 Hong Kie siapkan

seratus tail perak, kemudian dengan ke tangannya ia

haturkan itu, seraya ia kata “Sekarang ada tengah malam, walaupun aku berniat menghadiahkan sesuatu kepada giesu, tak dapat aku cari barangnya, dari itu tolong giesu simpan ini saja. Sebenarnya aku berlaku kurang hormat, maka harap giesu maafkan aku”

“Lauwhia,   kau berlebihan”   kata Liu Tong sambil

bersenyum. “Aku jadi tabib tidak untuk na dan uang.

Biarlah kita jadi sahabat saja, harap dibelakang hari kita nanti bertemu pula. Harapanku yang utama adalah kau serumah tangga hidup rukun dan berutung, supaya ada ibu yang mencinta dan puteri yang berbakti, dengan begitu tak sia2 pertolonganku ini”

Mukanya Hong Kie dan isteri jadi merah pula, mereka jengh sekali, tetapi mereka mengucap terima kasih.

Siang Kouw dengar orang mau pergi, dengan lemah ia paksakan berkata “Inkong, budimu ini ada sangat besar, aku tak dapat balas, biar dilain penitisan saja aku balas itu ”

“Jangan kau pikirkan itu, nona. Kau ada seorang sadar, aku percaya kau mengarti dengan baik. Sayang ibumu telah meninggal dunya, tetapi sekarang ada ibu tirimu, asal kau berbakti terhadapnya, dia ada seperti ibu kandung. Semoga kau semua akan hidup rukun dan manis.” Siang Kouw menangis,

“Aku nanti ingat baik2 pesanmu ini inkong,” kata ia.

Liu Tong memandang kejendela, ia lihat mendatangnya sang fajar, maka ia tidak berayal pula.

“Sampai ketemu pula!” kata ia, yang lantas bertindak keluar.

Hong Kie bertindak akan mengantar. Baharu sampai didepan pintu “Cukup, lauwhia, aku pergi!”

Itulah suara Liu Tong, yang tubuhnya mencelat keatas genteng dan lenyap.

Hong Kie kagum, ia tercengang.

Liu Tong berjalan pulang dengan hati lega dan girang, pertama2 ia sudah tolong satu jiwa, kedua ia telah peroleh pedang, yang barangkali ada gunanya nanti di Cap jie Lian hoan ouw. Tidakkah itu ada sebuah pedang istimewa? Itu waktu belum ada orang berlalu lintas, ia lantas gunai ilmunya lari cepat, maka ketika matahari mulai muncul, ia telah sampai dihotelnya. Pintu hotel sudah dibuka, jongos sedang nyapu. Selagi ia bertindak kearah kamar, Ciong Gam bersama Wie Siu Bin dan Kim Jiang justeru bertindak keluar.

“Kemana kau pergi, suheng?” ia memapaki.

“Ah, sutee!” kata Tiongciu Kiam kek. “Kenapa kau pergi tanpa bilang2 lagi? Satu malam kau tidak kembali, kau bikin, kami memikiri kau...”

“Maaf, suheng,” kata Liu Tong. “Aku telah peroleh pengalaman, hingga aku jadi seperti si nelayan yang peroleh untung… Mari kita bicara didalam”

Ia ajak tiga kawan itu kembali, akan masuk kedalam kamar dimana yang lain2 pun asyik harap2 padanya, hingga hati mereka itu jadi lega. Mereka ini heran lihat kawan itu punyakan sebatang pedang lain serta air mukanya terang sekali.

“Aku percaya kau, sutee,” kata Eng Jiauw Ong. “Tapi, di sebelah itu kita pun insyaf, pihak Hong Bwee Pang ada sangat licin dan licik, mereka berbahaya sekali. Bukankah panah gelap sukar dilawan? Apakah pengalamanmu, coba tuturkan?”

Liu Tong duduk dulu, baharu ia loloskan pedangnya. “Lihat, suheng, bukankah perjalananku tak sia2 belaka?”

kata ia sambil sodorkan pedang itu. “Aku telah dapatkan senjata ini. Bisakah ini dipandang mustika?”

Lalu ia pun tuturkan pengalamannya itu.

Ong Too Liong cabut pedang itu, diantara suara nyereset, iapun lihat sinar berkilau, hingga ia kagum, kemudian ia pandang adik seperguruannya, sesudah mana, ia awasi lama pedang itu. Ia lihat guratan2 naga terbang dengan dari mulutnya nyembur hawa bagaikan asap, yang merupakan dua huruf “Tee Sat”

“Sutee, sungguh tidak surup Hui In Tootiang Lie Pwee Kie memiliki pedang ini!” kata Su heng ini kemudian. “Dia adalah sisa Hian Touw Pay, dia suka ambil cie ho cia untuk membuat obat pules, tetapi dia punyakan pedang ini, aku rasa dia ada punya asal usul yang beriwayat. Aku anggap, dengan mengasi ampun padanya, sekali Ini kau bertindak keliru. Orang sebangsa dia mesti disingkirkan dari dunya. Sekarang kau tanam tibit permusuhan, dibelakang hari dia bisa jadi bencana besar”

Mendengar perkataan suheng ini, Liu Tong insyaf. Ia memang tahu, imam itu akan menuntut balas dan bisa jadi ancaman di belakang hari. Tetapi ia tidak takut. “Kau benar, suheng, aku menyesal,” ia akui.

“Sekarang tak lain, kau harus berhati hati, sutee,” Eng Jiauw Ong kata pula. “Biar bagaimana, dia tak boleh dipandang ringan. Mengenai pedang ini, aku tidak tahu pasti ini benar Tee sat kiam atau bukan! Apa sutee ketahui riwayatnya?”

“Akupun asing mengenai pedang ini,” sahut Liu Tong.

Pedang itu lantas pindah tangan silih berganti, untuk sesuatu kawan melihatnya.

“Aku ketahui sedikit tentang pedang ini, hanya ini ada Tee sat kiam atau bukan, aku tak berani memastikannya,” kemudian kata Kim too souw Khu Beng sesudah ia periksa pedang itu. “Nama yang lengkap adalah Tee sat Cian liong kiam, yang berarti pedang Naga Tersembunyi. Pemiliknya ada Kim Sie Tootiang Thio Ham Ceng dari berhala Thian Hong Koan di Bu Tong San. Ini ada pedang pelindung berhalanya itu. Kim Sie Tootiang ada berilmu tinggi dan jujur, ada aneh senjatanya bisa jatuh kedalam tangan orang jahat. Syukur pedang ini didapat oleh Ban Sutee. Apa bisa jadi didalam Thian Hong Koan ada murid yang murtad? Apa yang aku tahu, orang disana semuanya sujut, aturannya pun keras, didalam kalangan kang ouw sukar untuk menemui imam itu atau murid2nya. Ya, mesti ada sebabnya maka pedang ini tak berada dikuilnya”

“Mungkin sekali Lie Pwee Kie bukan murid Thian Hong Koan,” nyatakan Eng Jiauw Ong.

“Baiklah pelahan saja kita selidiki halnya pedang ini” Khu Beng serahkan pedang itu pada Liu Tong.

Karena didapatnya pedang ini berarti keuntungan besar bagi pihak Hoay Yang Pay, Khu Beng lantas meminta jongos lekas menyajikan meja perjamuan, untuk memberi selamat pada Ban Liu Tong. Orang telah bersantap dengan gembira sekali. Habis dahar, sesudah lakukan pembayaran rombongan ini lanjutkan perjalanan mereka, tetap terbagi dua.

XL

Perjalanan kali ini dilakukan berhari hari, tanpa sesuatu rintangan, maka pada suatu hari kedua rombongan sampai di Tong peng pa, diluar kota Lok sebelah Timur, di Ciat Selatan. itu ada satu dusun besar, jalan besarnya dua panjangnya dan ramai. Memang Tong peng pa jadi jalan

       diantara belasan distrik disekitarnya, baik didarat mau pun diair. Distrik Lok ceng sanggup mencukupi kesuburan nya ibu kota propinsi.

Rombongannya Ban Liu Tong yang sampai lebih dahulu, setelah berdamai dengan Khu Beng,mereka pilih hotel Eng Hoo, untuk singgah. Satu orang disuruh menantikan dimulut desa, akan tunggui rombongannya Eng Jiauw Ong, maka rombongan inipun ambil sebuah hotel bersama. Mereka ambil lima kamar tengah dan dua kamar samping. Hotel itu besar dan pekarangan nya luas, bisa muat banyak kereta dan kuda.

Selagi duduk beristirahat, Eng Jiauw Ong tanya jongos yang melayani mereka kalau jongos ini tahu dimana letaknya Cap jie Lian hoan ouw.

Jongos itu agaknya heran.

“Nama tempat itu pernah aku dengar” sahut ia dengan ayal ayalan, “aku hanya tidak tahu dimana letaknya. Barangkali adanya disekitar Gan Tong San…. Gunung ini hias daerahnya” Karena orang tidak tahu, Eng Jiauw Ong tidak menanya melit, sekeluarnya jongos itu, ia berunding kepada kawan2nya. Ia anggap mereka harus bikin penyelidikan sendiri, main tanya saja tidak akan ada hasilnya. Ditetapkan, besok mereka akan mulai kerja, dari itu, sebentar kemudian, sehabis bersantap, mereka masuk tidur siang2.

Keesoknya pagi, begitu lekas terang tanah, Eng Jiauw Ong bangun paling dulu. Segera ia dapat lihat selembar kertas merah diatas meja. Itulah sepotong karcis nama dengan bunyi nya “Hormatnya Bu Wie Yang” Ia lantas periksa pintu dan jendela, ia tidak dapati bekas apa2. Diam2 ia ada sangat gusar.

Liu Tong bangun sebagai orang ke dua, pada2 sutee ini Eng Jiauw Ong serahkan karcis nama itu.

Yang lain2 pun bangun saling susul, sama2 mereka lalu melihat karcis nama itu.

“Kita tidak alpa, suheng, karcis nama ini aneh,” Liu Tong nyatakan. “Apa mungkin ada orang Hong Bwee Pang yang bisa datang tanpa bayangan dan pergi tanpa bekas2nya bagaikan orang sakti? Aku anggap perlu kita pasang mata terhadap orang hotel sendiri. Jangan lupa kita sudah berada dalam daerah kaum itu, yang pasti kaki tangannya tersebar luas”

“Kau benar, sutee,” Eng Jiauw Ong manggut. “Kemarin sikapnya jongos yang layani kita ada mencurigai. Apa ini bukan permainan sunglapnya?”

Ciong Gam dan Khu Beng pun menduga si jongos yang berbuatnya. “Memang kita harus waspada,” nyatakan Loopiauwsu Hauw Tay. “Tidak cuma orang hotel, semua kereta dan perahu juga mesti dicurigai”

Eng Jiauw Ong anggap itu benar. Untuk mencari keterangan, ia lalu pecah kawannya jadi empat rombongan.

“Biarlah bersama muridku aku berangkat lebih dulu,” Sin Wie Pang kata pada ketua Hoay Yang Pay. “Umpama kata kami berhasil memasuki Cap jie Lian hoan ouw, sudah pasti aku akan mengirim kabar padamu, Ong Suheng. Aku telah berjanji untuk membantu, dari itu tak lagi aku pikirkan akan keselamatan diriku”

“Kau baik sekali, lauwko, terima kasih,” kata Eng Jiauw Ong, begitupun Ban Liu Tong. “Biar bagaimana, aku minta lauwko jangan sembrono. Tiga kali Hong Bwee Pang kirim undangannya, dia toh berlaku sangat licin, sampai kita sudah datang sekarang, dia masih belum hendak tunjukkan alamat nya, dia sengaja persulit kita dengan mengantap kita yang mencari sendiri. Aku percaya, apabila kemudian terbukti kita tidak mampu mencari Cap jie Lian hoan ouw baharu Bu Wie Yang akan kirim wakilnya untuk papak kita. Aku pikir baik lauwko tidak sembarangan utarakan cita2mu, dengan demikian bisa dicegah Bu Wie Yang gusar terhadapmu. Dengan Bu Wie Yang tidak ketahui hati lauwko apabila nanti kita masuk ke Cap jie Lian hoan ouw, lauwko bisa bantu kami secara diam2. Jagalah agar rahasia lauwko tidak terbuka”

“Jangan kuatir, loosu, aku bisa bekerja dengan hati2,” Wie Pang berikan kepastian.

Sampai disitu, Sin Wie Pang bersama muridnya, Hui thian Giok niauw Hang Lim, lantas pamitan, untuk berangkat terlebih dahulu. Eng Jiauw Ong tugaskan Su touw Kiam dan Coh Heng buat menunggu dihotel, kemudian, dengan berpecahan merekapun berangkat saling susul - pergi dengan berpencaran. Eng Jiauw Ong pergi ber sama2 dua saudara Kam, Tiong dan Hauw, dan Tee he touw Hee houw Eng. Paling dulu mereka berpesiar dijalan besar umum, untuk lihat keadaan atau kebiasaan penduduk. ‘Kota’ Tong peng pa ini ada ramai sekali. Kemudian mereka masuk dalam rumah teh dengan merek Kun Cu Kie. Disini ruangan ada lebar, segala apa ada bersih dan terawat baik. Eng Jiauw Ong mengharap bisa melihat dan mendengar apa2 yang penting ditempat umum ini.

Baharu Eng Jiauw Ong pilih meja, dari luar kelihatan ada masuk satu tetamu umum kurang lebih tiga puluh tahun, muka nya merah, alisnya gomplok, kuncirnya yang besar yang berbenang wol hijau, dilibatkan dileher nya. Dia pakai thungsha abu2, di bebokongnya tergendol pauwhok kuning. Diatas sepatunya yang putih, pada libatan kaos kaki, ada diselipkan masing2 sebatang cagak tajam, hingga dapat diduga dia ada orang kaum kang ouw. Dia telah pilih tempat dimeja kedua disampingnya Eng Jiauw Ong.

Jongos lantas sediakan tehkoan teh dan cawannya. “Tolong ambilkan aku satu cangkir lagi,” kata orang itu

pada jongos, “aku hendak cepat2 lanjutkan perjalananku, perlu aku dinginkan air teh.”

“Baik, tuan,” sahut jongos sambil bersenyum. “Disini ada rumah teh tetapi disinipun tuan bisa dapat barang santapan dan singgah juga.”

Tetamu itu bicara dengan lagu suara orang San co, Shoa tang. Untuk Ciatkang, ia kelihatannya tolol, akan tetapi jongos melayani ia dengan ramah tamah. Diam2 Eng Jiauw Ong perhatikan orang ini, maka itu ia dapat lihat bagaimana dia geser cangkir yang jongos letaki depannya sekali. Tehkoanpun di ditolak kepojok. Kedua cangkir digeser demikian rupa, hingga bersama tehkoan, merupakan bintang tiga, Didepan jendela, ada duduk satu tetamu lain, umur kira2 empat puluh tahun, dandannya rapi, romannya sebagai satu sasterawan, gerak2annya halus. Setelah si orang Shoatang geser tehkoan dan cangkirnya, ia lantas berbangkit dan menghampirkan, ketika ia memberi hormat, kelihatan tangan kanannya diangkat sedikit.

“Apakah lauwhia hendak sewa perahu?” dia tanya. “Sahabat, aku datang dari sungai, kesungai aku hendak

pergi,” jawab si orang Shoatang itu. “Tapi apa disini ada

perahu yang bisa turuti angin dan air?”

“Turuti angin dan air? Ada, tuan! Satu kali kau naik perahuku, kau tidak akan ingin naik lagi perahu lain orang! Berapa banyak kawan tuan dan barang tuan juga?”

“Hanya tiga orang serta barang dua belas potong.” “Perjalanan tiga hari lamanya berarti kira2 sertus dua

puluh lie, bukan?”

“Benar, sahabat,” manggut si orang Shoatang. “Silahkan duduk!”

Dan ia menolak satu cangkirnya, cangkir yang pertama.

Dua saudara Kam dan Hee houw Eng dengar pembicaraan kedua orang itu, yang tidak ketahuan junterungannya, mereka menduga dua orang itu ada orang2 kang ouw. Karena tidak mengarti, mereka nampaknya heran. Eng Jiauw Ong lihat sikap nya tiga anak muda itu yang bisa mendatangkan kecurigaan orang, segera ia ketok meja dengan pe lahan, atas mana tiga pemuda itu tunduk atau menengok kelain arah, sambil bicara. Tapi diam2 mereka terus perhatikan si orang Shoatang dan sasterawan itu, yang sekarang sudah duduk berhadapan.

“Coba kau perkenalkan dirimu!” terdengar si sasterawan, walaupun suaranyaada pelahan sekali.

Si orang Shoatang menyahuti nya dengan terlebih pelahan iagi, hingga tak terdengar tegas apa yang ia bilang. Hanya dikuping nya Eng Jiauw Ong, samar2 orang itu menyebut bahwa ia baharu untuk pertama kali datang kepusat umum, untuk mengunjungi suatu Hio cu. Keduanya pun sebut2 Gan Tong San Utara dan Selatan.

“Selagi bicara, si orang mirip sasterawan, yang ada penduduk setempat, memasang mata kesekelilingnya, kemudian mereka memesan barang santapan pada jongos.

Sehabisnya minum, Eng Jiauw Ong juga memesan beberapa rupa barang makanan, ia dahar bersama tiga kawannya. Habis dahar, ia lantas membayar, ia lalu ajak tiga kawannya keluar. Dua saudara Kam agaknya ogah ogahan, mereka masih ingin pasang mata.

Tanpa sangsi Eng Jiauw Ong pergi keluar.

“Po cu, dua orang itu mencurigai,” kata Hee houw Eng. “Apa tidak baik kita kuntit mereka?”

Eng Jiauw Ong berpaling, apabila ia metidak, lihat orang, yang sikapnya mencurigai, ia jawab pemuda she Hee houw itu “Mereka berdua adalah orang Hong Bwee Pang. Mereka itu, siang menggunai tanda gerakan tangan, dan malam mereka nyalakan hio, yaitu hio tin. Orang Shoatang itu ada orang baru, dia tak tahu dimana adanya pusat umum, dari itu, dia tanya si orang mirip sasterawan itu, yang ada penduduk sini. Tadi mereka berkenalan dengan gerakan cangkir teh. Kita justeru belum tahu dimana adanya sarang mereka, inilah kebetulan, kita jadi boleh kuntit mereka. Hanya kau bertiga lain kali jangan suka unjuk perhatian yang mencolok mata, itu bisa membikin bocor rahasia kita tanpa diinginkan. Hati2lah, disini ada tersebar orang2nya musuh!”

Mereka berbicara sambil berjalan, mereka sudah lantas melalui separuh dari jalan umum yang panjang itu. Ketika mereka menoleh, mereka lihat si orang Shoatang dan kawannya masih belum muncul.

Eng Jiauw Ong hampirkan seorang tua umur enam atau tujuh puluh tahun, yang jual buah2an ditepi jalan, orang mana berkumis putih dan nampaknya jujur, ia terus memberi hormat seraya tanya “Sahabat, kami adalah orang pelancongan, numpang tanya, untuk pergi ke Gan Tong San apakah mesti pakai perahu? Dimana letaknya pelabuhan disini? Berapa kira nya uang sewa perahunya?”

Orang tua itu lekas berbangkit.

“Tuan mau pergi ke Gan Tong san Selatan atau Utara?” ia tegasi. “Gan Tong San Selatan ada jauh sekali, enam atau tuyuh ratus lie dari sini. Gan Tong San Utara tidak jauh, tetapi ada hampir seratus lie. Leluasa apabila menggunakan perahu. Jikalau kita menyewa perahu dari sini kita bisa pergikan dua2 Gan Tong San itu”

“Apa benar Hun cui kwan itu letaknya di Gan Tong San Utara? Sebenarnya kami mau pergi ke Hun cui kwan”

Agaknya tukang buah itu terheran, tetapi lekas ia menyahuti, katanya “Dari sini tuan menuyu ke Timur, kira kira setengah lie akan sampai dipelabuhan, disana ada banyak perahu sewaan, yang memuat barang dan rang. Itu adalah pelabuhan Tong peng pa. Mengenai tukang2 perahu asal tuan bisa mengira ngira tidak nanti tuan dapat gangguan ” “Apakah mereka kurang ajar ?” “ Eng Jiauw Ong tanya.

“Tidak semuaya. Tetapi mereka    satu dengan lain, kalau per mereka bisa mengeroyok. Tuan sudah ada umur, tak usah tuan layani mereka. Disana, perahu2 nelayan pun suka menambat. Baik tuan sewa perahu sendiri jadi merdeka. Sewaan perahu cuma dua renceng chie satu harinya”

Eng Jiauw Ong mengucap terima kasi, ia mengajak tiga kawannya berlalu Mereka dapat kenyataan, makin dekat kepelabuhan, keadaan diyadi tambah ramai, ada lebih banyak orang dagang. Sepanahan jauhnya dari pasar sudah lantas tertampak banyak layar serta tihangnya. Disini mereka bertindak pelahan, merekapun tidak langsung menuju kesungai hanya berjalan dulu. Dengan demikian mereka justeru dapat tunggui dua orang tadi dirumah teh ketika kedua orang itu mendatangi, mereka sembunyi, kemudian mereka menguntit orang menuju kepelabuhan.

Sesampainya ditepi sungai, dua orang itu naik sebuah perahu, agaknya mereka tidak bicara harga lagi, karena itu Eng Jiauw Ong lekas menyusul. Ia melihat dua tukang perahu sudah siap untuk berangkat, perahunya ada cukup besar untuk muat lima atau enam penumpang.

“Apakah ini ada perahu sewaan?” tanya ia, dengan sebelah kakinya segera injak papan yang menjadi jembatan perahu. “ Kami ingin turut!”

“Awas!” kata tukang perahu, yang berlidah Keng pak dan tubuhnya besar, romannya bengis. “Jangan sembarang injak papan, nanti terbalik! Orang sudah tua tetapi masih belum tahu urusan! Untuk sewa perahu, pergi cari perahu lain, perahu kami sudah diborong!”

Eng Jiauw Ong tidak perdulikan tegoran itu, ia justeru raenginjak dengan kedua kakinya. “Omong manis sedikit, sahabat!” kata ia. “Kalau aku kecemplung, aku nanti sesalkan umurku yang pendek, tak usah kau kuatirkan aku! Jikalau muatan kau sedikit, kami hendak turut untuk serintasan saja, kebetulan kau hendak berangkat! Apakah kita tak dapat berempuk?”

“Ah, kau jangan menggerecoki aku!” kata tukang perahu, yang kasar sikapnya itu. “Aku sudah kasi tahu, perahuku ini diborong! Jikalau kau menengil, nanti aku ceburkan kau kesungai!”

Eng Jiauw Ong tidak senang.

“Tukang perahu, kenapa kau begini galak?” ia tegur. “Kau memangnya punya kekuasaan apa disini?”

Tukang perahu itu masih hendak melawan tetapi salah seorang penumpangnya muncul.

“Sabar,” kata ia. “Tuan, apa kau tak dapat cari lain perahu?”

“Apakah kau pemilik perahu ini?” Eng Jiauw Ong tanya. “Pegawairnu ini tidak pandai bicara, aku hendak ajar adat padanya!”

“Tuan, seorang besar tak melayani orang kecil,” kata orang ini. “Dengan sebenarnya perahu ini sudah diborong. Tuan lihat, disana ada banyak perahu lang lainnya, baik tuan sewa lain perahu saja”

“Hm Baik, aku mengampuni padanya!” kata Eng Jiauw Ong, yang lantas loncat kedarat.

Hee houw Eng bertiga mendongkol, mereka ingin hajar tukang perahu itu, tapi karena ada Eng Jiauw Ong, mereka terpaksa sabarkan diri, cuma mereka mendelik mengawas si tukang perahu itu. “Po cu, binatang itu kurang ajar, apakah tak boleh kita ajar adat padanya?” tanya Kam Tiong selagi mereka bertindak pergi.

Eng Jiauw Ong tidak menyahuti, ia hanya berjalan terus. Tidak jauh dari situ, didarat ada beberapa tukang perahu,

dua tiga orang diantaranya lantas menghampiri.

“Apa tuan hendak sewa perahu?” tanya yang satu. “Pakailah perahu kami, perahunya bersih, kamipun bisa segera berangkat”

“Aku tidak mau sewa perahu, aku sedang mencari orang” sahut Eng Jiauw Ong sambil goyangkan tangan, ia jalan terus seraya ajak tiga kawannya.

Mereka jalan terus ditepi, sampai digubuknya satu tukang arak, disini mereka mutar kebelakang gubuk, hingga mereka dapat mengintai perahu tadi sedang mulai berangkat.

Disebelah Utara ada belasan perahu nelayan, yang kecil dan enteng, yang lajunya mesti pesat. Eng Jiauw Ong pikir akan sewa sebuah perahu untuk kuntit perahu tadi, yang ia percaya akan menuju kesarang Hong Bwee Pang. Ketika ia nampak perahu tadi sudah mulai keluar dari mulut pelabuhan, ia hampirkan sebuah perahu nelayan. Ia tanya, apa perahu itu disewakan.

“Ya, tuan,” sahut tukang perahu. “Apa tuan cuma berempat?”

“Benar.”

“Tapi perahu kami adalah perahu nelayan, kami tak dapat pergi jauh.”

“Kami pun hendak pakai cuma seharian saja,” jawab Eng Jiauw Ong. “Kami memang mencari perahu yang laju. Asal kau menggayu lebih cepat dari biasanya, kami akan membayar padamu dua kali lipat. Kami mau ke Gan Tong San Utara. Umpama kau kemalaman ditengah jalan, terpaksa kami mesti menginap diperahumu ini. Perkara persenan, kau jangan takut.”

Nelayan itu akur, maka bersama seorang kawannya ia lantas siap.

“Kita perlu lekas, po cu, nanti bisa ketinggalan,” Kam Tiong membisiki Eng Jiauw Ong. Ia lihat perahu didepan sudah meninggalkan pelabuhan.

“Jangan kuatir,” sahut ketua Hoay Yang Pay. “Perahu mereka besar dan berat, kita akan dapat candak padanya. Mari kita naik.”

Ketika itu tukang perahu tanya apa boleh lantas berangkat.

Eng Jiauw Ong membenarkan

“Aliran air disini begini rupa, apa kau bisa pakai layar?” “Tuan tentu kurang mengerti tentang perlayaran.

Jangan takut walaupun angin tak lurus dijurusannya, kami dapat ja menyamping. Kita berduapun masih kuat menggayuh, tidak kalah cepatnya dengan layar….”

“Baiklah kau boleh mulai berangkat !”

Berdua tukang perahu lantas angkat jangkar, mereka segera menggayu akan keluar dari mulut pelabuhan. Disini sungai lebih lebar, maka layar segera dipasang. Angin meniup ke Tenggara, dan tujuan perahu adalah Barat daya. Sebenarnya angin tidak lurus tetapi kedua tukang perahu itu benar pandai. Eng Jiauw Ong puas melihat anak buah itu, yang saban2 bikin perahunya melombai yang lain2 atau mengelak dari tabrakan.

Jarak perahunya dan perahu didepan ada kira2 dua panahan, karena masih terdapat beberapa tikungan, Eng Jiauw Ong pasang mata. Ia percaya, asal orang menuju ke Gan Tong San, ia akan berhasil menguntit. Perahu didepan itupun tidak laju pesat.

Kam Tiong dan Kauw Hauw hendak pergi kekepala perahu, tetapi Eng Jiauw Ong melarang mereka. Ia kuatir orang curigai mereka. Karena itu, dua saudara ini hanya mengintai dari muka perahu.

Eng Jiauw Ong merasa senang dengan pemandangan alam disepanjang sungai.

Sesudah melalui kira2 empat puluh lie, hari sudah kira jam lima lewat lohor. Disebelah depan ada pelabuhan, disana banyak perahu berlabuh. Karena anggap boleh tak usah jalan malam, kedua tukang perahu hendak singgah, mereka menurunkan layar.

“Eh, siapa suruh kau berhenti?” tanya Eng Jiauw Ong. “Lihat itu perahu besar didepan yang jalan terus, mari kita ikuti dia. Kami ada urusan dengan perahu itu, yang perlu dibereskan. Kalau kau tidak bisa menyandak, uang sewanya nanti aku kurangi!”

“Oh, kau salah mengarti, tuan,” sahut tukang perahu sambil tertawa. “Kami tidak tahu urusan tuan. Kami pikir akan berlabuh, agar kita tak kemalaman ditengah jalan. Memang sulit untuk berlabuh bukan dipelabuhan. Bagi kami berdua, ber hari2 boleh diam terus diatas perahu, tapi bagaimana dengan tuan2? -Apakah tuan hendak kejar perahu didepan itu?” “Ah, sebenarnya bukan urusan terlalu penting,” Eng Jiauw Ong membaliki. “Sebenarnya tadi kami hendak sewa perahu itu, rupanya sebab kami ada seorang asing, kami hendak ‘diketok’. Kami biasa pelesir di Cin Hoay Hoo, tapi sewaannya tak semahal yang dimintanya. Aku tidak puas, dari itu, aku pilih perahumu ini untuk melumbai padanya!”

Tukang perahu itu agak ragu2.

“Kami pasti dapat menyusul perahu itu, tuan,” kata ia. “Tapi aku harap tuan sabar. Masih syukur tuan ketemu mereka yang minta sewaan tinggi, kalau tuan naik perahu yang anak buahnya nakal, tuan bisa diganggu ditengah jalan. Harap tuan jangan ladeni segala tukang perahu.”

“Aku perhatikan apa katamu, tapi tolonglah kau susul dia!” jawab Eng Jiauw Ong.

Tukang perahu itu menyahuti “Ya,” ia jalankan terus perahu nya, tapi sekarang ia mau percaya, penumpangnya ini ada dari kalangan polisi.

Lagi tujuh lie sudah dilalui. Selewatnya pelabuhan tadi, kendaraan air sudah jarang sekali.

Perahu didepan jalan terus, selagi mendekati satu tikungan, dari situ muncul sebuah perahu cepat, yang cuma bisa muat satu orang, kecuali anak buahnya. Perahu kecil ini menyusul perahu didepan, sesudah itu, dia kembali ketikungan tadi, terus lenyap.

Matahari sudah turun, tapi sinarnya yang merah masih ber bayang dan memain dipermukaan air. Kecuali suara angin, yang keras juga, suasana sungai sangat sunyi.

Selang lagi satu lie, lantas cuaca menjadi gelap. Disitu tinggal dua perahu, yang besar didepan, yang kecil dibelakang, keduanya laju cepat. Jarak mereka ada sepanahan jauhnya. Diperahu kecil, Hee houw Eng dan kawan2nya muncul dimuka perahu.

“Po cu,” kata Hee houw Eng kemudian, “disini tidak ada kendaraan air lain, aku percaya mereka itu curigai kita. Karena mereka mestinya licin, kita mesti waspada untuk kecurangannya.”

Eng Jiauw Ong bersenyum tawar.

“Jikalau aku takut, tak nanti aku kuntit padanya!” dia menjawab.

Sementara itu, permukaan sungai kelihatan jadi lebih besar. Untuk jalan malam, tanda ancaman bahaya ada lebih banyak.

Eng Jiauw Ong sedang mengawasi kesekitarnya, ketika tahu2 dari ilir mendatangi sebuah perahu layar besar, sama seperti yang didepan. Kendaraan itu muncul dengan se konyong2 dijarak dua puluh tumbak lebih. Nyatalah, walaupun menempuh air, perahu itu laju pesat.

“Sudah malam begini masih ada perahu lain, inilah aneh, po cu,” kata Hee houw Eng, yang terlebih berpengalaman daripada dua saudara Kam.

Sementara itu perahu didepan memperdengarkan beberapa kali suara suitan.

Selagi Eng Jiauw Ong mengawasi perahu dibelakang yang mendatangi semakin dekat, ia terperanjat. Nyatalah perahu itu diarahkan keperahunya.

Dilain pihak, perahu didepan pula ke susul semakin dekat.

“Hei, awas!” teriak tukang perahu, yang melihat

ancaman bahaya. “Apakah kau buta, tidak melihat

perahuku?”   Tukang perahu ini kuatir sebab perahunya ditabrak, ia jadi gusar.

“Jagan kau perdulikan dia!” Eng Jiauw Ong kata pada tukang perahunya.

“Tetapi, tuan,” sahut tukang perahu itu, dengan mata melotot, “Keluarga kami beberapa jiwa hanya mengandal pada perahuku ini. Kalau perahuku ditubruk, berarti hancurlah mangkuk nasi kami!

“Tapi kitapun tidak boleh pertaruhkan jiwa kita!” Eng Jiauw menjawab.

Mendengar demikian, hatinya tukang perahu itu - dua2nya- lega juga. Akan tetapi, meskipun demikian, mereka masih tegasi k endaran air dibelakang itu supaya mengubah haluan untuk mencegah tubrukan.

Kam Tiong, Kam Hauw dan Hee houw Eng pun bingung, mereka tahu ketua Hoay Yang Pay pandai berenang, akan tetapi apabila tabrakan terjadi ditengah sungai yang lebar itu, makan ikanlah yang bakal berpesta pora….

Eng Jiauw Ong sendiri, dengan tenang mengawasi datang nya perahu dibelakang itu, yang tak gubris segala teriakan untuk mengubah haluan. Tiba2 ia singkap thungshanya, sebelah tangannya merabah kedalam saku, kemudian ia maju setindak ke kepala perahu, sesudah mana, tangan kanannya terayun beberapa kali, disusul oleh suara angin yang halus.

Baharu dua kali ketua Ceng hong po geraki tangannya, diperahu sana sudah lantas terdengar jeritan dari kesakitan, disusul dengan tergulingnya satu tubuh, yang tercebur dalam air. Selagi begitu, perahu besar itu sudah datang demikian dekatnya, hingga tubrukan tinggal tunggu detik2 terakhir saja.

Dalam keadaan sebagai itu, Eng Jiauw Ong samber sebatang galah kejen (?) dari tangannya tukang perahu, sambil berbuat demikian, ia teriaki pengemudi perahu “Belokkanlan perahu kekiri! Jangan takut, tenang saja!” Kemudian, cepat luar biasa ia menggunahkan galahnya, akan menolak perahu dibelakang itu tolakan itu menyebabkan perahu berubah haluannya kekanan, hingga tabrakan dapat dihindarkan.

Dengan matanya yang celi, Eng Jiauw Ong melihat dua orang diatas perahu itu. Mereka berdua nampaknya gugup atau tercengang.

“Mereka jahat sekali, po cu, baik kita bereskan mereka !” kata Kam Tiong, yang gusar sekali.

“Cukup mereka dikasih rasa kim chie piauw!” sahutnya Eng Jiauw Ong. “Bukannya kebiasaan kita untuk membasmi sebangsa mereka ini”

Benar saja, setelah minggir perahu itu tak mutar balik, akan mencoba menabrak pula.

Hee houw Eng bertiga kagum menyaksikan ketangkasannya ketua mereka, tapi mereka tak setuju dengan kemurahan hatinya ketua ini. Mereka kuatir, musuh nanti tak mau berhenti. Maka diam2 mereka pasang mata.

Kedua tukang perahu, yang hatinya lega bukan main, pun sangat kagum. Maka dengan tenang mereka jalankan terus perahunya.

Lagi tiga empat lie, sang puteri malam muncul dilangit yang luas. Bintang2pun mulai berkelak kelik, bulan sisir cahayanya masih suram. Perahu didepan terlihat menuju kesuatu tikungan.

“Kejar!” Eng Jiauw Ong menitah. “Jangan kasih dia lolos!”

“Jangan kuatir, tuan, dia tak akan lolos!” sahut tukang perahu, yang sekarang nampak nya siap akan mendengar sesuatu perintah, rupanya ia percaya betul penumpangnya ini adalah orang2 yang sedang bertugas.

Perahu didepan itu kelihatan jalan lebih pelahan.

Selagi Eng Jiauw Ong semua pasang mata, tiba tiba muncul sebuah perahu lain, yang tahu dengan cepat melalui perahu mereka sendiri. Dalam perahu itu tak dapat dilihat penu pangnya, melainkan selagi lewat, ada terdengar suara tertawa dingin yang pelahan. Ketua Hoay Yang Pay menjadi curiga, tapi ia tidak beraksi.

Perahu didepan sekarang kelihatan menurunkan layar, agaknya mau berlabuh.

“Mungkin si penjahat hendak mendarat dan lari,” Kam Tiong membisiki Eng Jiauw Ong.

“Tidak mungkin,” sahut Engi Jiauw Ong sambil goyang kepala. “Disini kemana mereka hendak lari? Lagipun kita bukan hendak tempur mereka, buat apa mereka menyingkir? Bisa jadi mereka sudah lolos duluan ”

Kam Tiong bertiga tidak percaya yang orang sudah mendahului menyingkir.

“Pelahan saja tapi jangan berhenti.” Eng Jiauw Ong perintahkan tukang perahu. “Kita cuma hendak lewat disamping nya.”

Waktu itu perahu didepan sudah menempel ditepi, hamipr berbareng penerangan menyala di kepala perahu, ditengah dan belalakang, menyusul mana terdengar suaranya satu orang “Eh, Lauw Sam, kau lihat tidak, malam ini kita diikuti segala setan mati kelaparan dan setan mati kelelap! Biar bagaimana, mereka tak dapat diusir pergi! Baik kita beristirahat disini saja untuk kita membeli kertas dan gincu serta membakarnya sekali, supaya semua iblis itu suka mabur….”

Eng Jiauw Ong tahu pembicaraan itu ditujukan kepadanya ia tidak ambil pusing, hanya yang menarik perhatiannya, di dalam perahu itu sudah tak ada kedua penumpangnya!

“Oh, tikus2 itu!” kata dia dengan sengit. “Benar2 mereka kabur dengan menggunakan tipu     emas meloloskan kulit. Tapi tak nanti mereka dapat lolos terus menerus!

XLI

“Lihat, benar atau tidaknya dugaanku !” jago Hoay Yang Pay itu kemudian kata pada dua saudara Kam dan Hee houw Eng. “Mereka telah mengancam kita, mereka mengganggu, lantas mereka angkat kaki. Tapi aku sangsi lihat mereka! Sekarang kita putar perahu, kita susul perahu kecil tadi!”

Yalah yang dimaksudkan perahu yang tadi muncul dengan tiba2, yang telah mendekati perahu besar di depan kemudian sudah lantas berlalu pula.

Tukang perahu bingung akan perintah itu.

“Bagaimana tuan?” tanya   ia. “Bisa   bolak balik tak ke Juga - harap tuan tidak gusar- kelakuan kita ini malah tak selayaknya. Disini memang ada merdeka, dari itu, tak dapat mereka diperlakukan sembarangan. Kami hanyalah nelayan kecil, kami tak berani mengganggu tambangan, mereka tak dapat dibuat permainan, sedang kami masih ingin hidup dimuka mereka….”

‘Budak, jangan kau banyak omong  !” Eng  Jiauw Ong memotong. “Kau turuti perkataanku. Apabila ada teryadi sesuatu, selain uang sewanya aku tambah, segala kerugianmu akan kuganti! Sekarang kau tidak berkuasa lagi, jangan menggagalkan tugas kami, atau kau nanti tahu sendiri “

Tukang perahu itu  bungkam, lantas saja mereka putar kemudi, akan menyusul perahu cepat tadi.

“Bisa jadi penjahat sudah kenali po cu dan mereka sengaja lari balik,” Kam Hau menyatakan dugaannya.

“Kau barangkali benar,” Eng Jiauw Ong jawab. “Aku percaya mereka tidak sudi menyerah kalah, mungkin mereka atur lain daya. Karena kita hendak cari sarang mereka, biar kita layani terus mereka itu.”

Bertiga mereka masuk akan beristirahat, Hee houw Eng duduk dimuka perahu. Tapi tidak lama Tee lie touw telah memanggil .

“Lihat disana!” kata ia, setelah mereka berada diluar dan mengawasi ke ilir, dari mana terlihat tiga buah perahu maju menempuh air, dan angin membantu padanya.

“Waspada,” Eng Jiauw Ong memesan, seraya ia mengawasi terus.

Selagi mendekati, tiga buah perahu itu kelihatan maju berbaris tiga satu ditengah, dua dikiri dan kanan. Yang ditengah terbelakang kira2 dua tumbak, jarak mereka bertiga pun terpisah kira2 sama jauhnya.

“Mereka kejam sekali!” tiba2 Eng Jiauw Ong kata dengan sengit. “Jikalau aku biarkan kawanan tikus itu berhasil percuma aku dijuluki Hoay siang Tay Hiap!” - “Jago dari sungai Hoay.”

-ooo0dw0ooo-