Eng Djiauw Ong Jilid 03

 
Jilid 03

Cu In melihat dua orang yang tak tertampak jelas wajahnya, mereka itu masing2 bersenjatakan sebuah golok dan ruyung berbuku tiga belas, ia segera serang orang yang menyekal golok itu, dengan menggunakan tipu “Peh coa touw sin” atau “Ular putih memuntahkan bisa.”

Musuh itu melindungi diri dengan menangkis keatas, akan tetapi niekouw tua itu menggunakan akal, selagi pedangnya ditangkis, pedang itu ia teruskan membabat iga kanan musuhnya yang memegang ruyung. Sekali ini, ia menggunakan tipu “Pek ho liang cie” atau “Burung ho putih pentang sayap.”

Orang yang diserang itu loncat kekiri, sambil meloncat, ruyungnya dipakai menghajar pedang dari atas kebawah, mengenai dengan jitu hingga menerbitkan suara nyaring. Menyusul mana, kawannya yang bersenjata golokpun turut menyerang. Serangan golok datang dari samping kanan.

Justeru Cu In memang bermaksud supaya pedangnya. kena dihajar musuh, hingga ia bisa, sambil berloncat bagaikan ular naga jumpalitan, Koay bong hoan sin, pedangnya yang terpental diteruskan diputar, kemudian dengan gerakan “Uy liong coan sin” atau “Naga kuning memutar tubuh” disusul dengan “Hek houw kian bwee” atau “Harimau hitam melingkari ekor,” cepat bagaikan kilat, pedangnya membacok musuh yang bergegaman golok itu.

Penjahat itu kaget, ia berkelit, tapi tidak urung ikat kepalanya kena juga terbabat, berikut segumpal rambutnya, hingga saking gentar hatinya, ia lantas loncat jauh untuk terus lari menyingkir.

Cu In sedang tarik pulang pedangnya, untuk menghadapi musuh yang ke dua, tatkala tahu2 dua musuh datang menerjang ia dari belakang, anginnya serangan orang yang pertama, sepasang gaetan, mendahului ujung senjatanya. Gerakannya itu sangal gesit. Tidak tunggu sampai melihat tegas kepada musuh, ia berkelit dengan gerakannya tonggeret melepaskan kulit, Kim sian toat kok, pedangnya dipakai menyampok. Kedua senjata segera beradu keras, mengeluarkan lelatu api. Si penyerang jadi kaget, hingga senjatanya, sepasang gaetan cagak, kutung dua2nya!

Musuh yang ke dua, yalah yang memegang golok, sudah lantas membacok bebokongnya si pendeta perempuan.

Kembali Cu In Am cu berkelit, sambil menggerakkan tangannya untuk membabat pula musuh ini, akan tetapi sebelum ia dapat kesempatan, mendadak dibelakang si penjahat berkelebat satu bayangan yang berseru “Turunlah kau!” yang disusul dengan suara keras mengenai bebokong, atas mana si penjahat mengeluarkan jeritan tertahan, tubuhnya terpelanting jatuh kebawah.

Apa celaka, goloknya penjahat ini justeru mengenai kawannya yang bersenjata gaetan cagak, hingga dia inipun rubuh, keduanya terus tergelincir jatuh ketanah.

Segera Cu In dapat kenyataan, bahwa penyerang yang dari belakang itu adalah Siu Sian. Dibawah rumah, kawanan penjahat sudah lantas kabur dengan bawa pergi pemimpin2nya yang terluka, karena mereka tidak punya semangat lagi untuk membikin perlawanan lebih jauh.

Dipihak lain, Ban Liu Tong yang meloncat kesebelah Timur, sudah lantas berhadapan dengan seorang yang bergegaman cit ciat pian, ruyung berbuku tujuh, siapa segera menerjang karena melihat si tabib bertangan kosong.

“Hei tikus, kau, kau berani turun tangan? ” Liu Tong membentak. Tapi sambil membentak ia melejit kesamping, tangan kiri nya diulur, untuk menangkap ruyung musuh itu, tangan kanannya menyusul menyerang pada jalan darah hoa kay hiat, maka tidak ampun lagi penjahat itu terpelanting rubuh, dari belakang wuwungan, tubuhnya tergelincir jatuh ketanah.

Disebelah belakang musuh yang rubuh ini, ada dua kawannya, mereka itu merandek apabila mereka menyaksikan dalam tempo sekejab kawannya kena dirubuhkan. Satu diantara mereka ini, yang menyekal golok, sudah lantas merabah kedalam sebuah kantong, kulit manjangan dipinggangnya.

Liu Tong tidak perdulikan musuh ini, ia terus menerjang kepada musuh yang satunya, yang memegang siang kauw- sepasang gaetan. Dia ini loncat maju juga, sedikit kesamping, dari mana dengan sepasang gaetannya itu ia menggaet kebawah. Ia bergerak dalam tipu sapuan “Tiat gu keng tee” atau “Kerbau besi meluku tanah.”

Dengui gerakan “Coan in     goat” atau “Menembus awan untuk mengambil rembulan,” Ban Liu Tong berlompat, ia mengenjot dengan ujung kaki kanannya sambil kaki kirinya terangkat, hingga ia dapat melewati kepalanya penyerang itu. Dan dengan begini, segera ia sampai didepan musuhnya yang bersenjatakan golok, yang telah merogo piauw untuk membokong. Dia ini terperanjat, lantaran dia tidak menyangka, bahwa diatas genteng, musuhnya berani berloncat demikian tinggi dan jauhnya.

Demikianlah, selagi orang hendak mengayun tangannya, Liu Tong telah sampai, tangannya diulurkan, telunjuknya segera mengenai lengan kanan musuh itu, hingga tangannya kesemutan, piauwnya terlepas dan jatuh kegenteng dengan menerbitkan suara. Bahna takut, penjahat itu niat berlari, tapi sudah kasip. Kaki kiri jago Kwie in po sudah mendahului terangkat, membentur kempolan nya, maka tidak ampun lagi dia jatuh mengusruk, terus berguling jatuh ketanah.

Penjahat yang menggunai siang kauw maju menyerang, ia berani dan menganggap ia dapat mendesak musuh.

Ban Liu Tong tahu satu musuh ini tidak menyingkir, ia hendak menghampirinya, tetapi orang telah mendului menyerang ia, ia lantas tarik pulang tangannya membarengi menyerang dengan tipu pukulan “In liong san hian” atau “naga mega memperlihatkan diri tiga kali.” Justeru itu, ada orang yang mendahului ia. Dibelakang penjahat itu satu bayangan berkelebat menyamber, gerakannya sangat gesit, baharu si penjahat hendak memutar tubuh, tangannya orang itu sudah mengenai jalan darah “kinceng hiat” si penjahat, hingga kontan kedua lengannya bergemetar, kesemutan, kedua gaetannya terlepas sendirinya dan jatuh. Sesudah itu, dengan gesit bayangan itu samber leher baju bagian belakang si penjahat, tangan kirinya menyamber tubuh, hingga dilain saat, tubuhnya si penjahat sudah terangkat naik?

“Ini satu pula!” bayangan itu berseru, kedua tangannya bergerak, maka tubuh musuh yang besar itu lantas terlempar empat tumbak jauhnya, jatuh kebawah sekali, dimana terdapat kawansnya yang sedang mengangkat konconya yang rubuh untuk dibawa kabur, hingga mereka kena tertimpa!

Ban Liu Tong, begitu juga Cu In Am cu segera dapat kenyataan, bayangan yang baharu datang ini, yang tenaganya demikian besar, ada Eng Jiauw Ong sendiri, siapa dari Ang touw po telah menyusul terus sampai di Liok kee po ini, hingga mereka bertiga jadi berkumpul menjadi satu.

Tentu saja disaat demikian mereka tak sempat untuk berbicara banyak.

“Bagus kau datang, suheng!” berseru Ban Liu Tong. “Kita memang hendak basmi kawanan kurcaci ini untuk mencegah mereka jadi ancaman bencana dikemudian hari ”

“Sutee, baharu saja aku bicara pada Siu Seng,” sahut Eng Jiauw Ong. “Apa si Kiam masih ditangan musuh? ”

“Dia dibawa lari si perempuan cabul, kita sedang mencarinya,” Liu Tong menjawab.

Selagi suheng dan sutee itu berbicara, Cu In Am cu sudah loncat turun, akan menghampiri sebuah pintu model bulan. Ia tidak mau mendekati suhung dan sutee yang sedang gusar itu. Ia percaya, dalam keadaan seperti itu, dua saudara itu tak akan berlaku kasihan2 lagi, sedang ia sendiri tak lupa akan cita2 yang berpokok welas asih.

Justeru itu, satu penjahat, dari samping, lari kearah pintu rembulan itu.

“Binatang, kau hendak lari ke mana? ” Cu In membentak seraya lompat maju untuk mengejar. Penjahat itu kaget, ia menoleh, tetapi si niekouw sudah sampai dibelakangnya. Ia lantas balikkan badan untuk mendahului membacok.

Cu In melihat serangan itu, lalu ia pergunakan pedangnya untuk mengetok golok musuh, hingga golok itu terlepas dari cekalan, jatuh ke tanah. Sesudah itu, ujung pedang terus menyamber kekepala.

Dalam kagetnya, penjahat itu berdongko, terus ia kabur. Ia tidak duga, bahwa penyerangnya hanya menggunakan tipu, serangan untuk gertakan belaka. Menyusul gertakan itu, tubuhnya niekouw itu melesat kedepan, sebelah tangannya diulur, lalu satu totokan “In liong tam jiauw” (Naga awan mengulur kuku) mengenai jalan darah “yang kwan hiat” musuh itu, pada tiga belas bukuh tulang bebokong nya, maka tak ampun lagi, dia ini menjerit tertahan, tubuhnya terkulai dan dengan sendirinya rubuh ketanah, jatuh duduk.

Menyusul itu, Cu In serukan Ban Liu Tong “Ban Loosu, jangan habiskan jiwanya! Dia perlu ditanya keterangannya, untuk ketahui halnya si penjahat perempuan!”

Ketika itu, Siok beng Sin Ie telah berlompat mendatangi.

Ketika Cu In menoleh, ia dapati Eng Jiauw Ong sedang menyerbu musuh, cepat sekali dia telah rubuhkan tiga atau empat penjahat. Tidak tempo lagi ia loncat kepada jago Hoay siang itu.

“Suheng, sudilah pandang muka pin nie,” ia berseru untuk mencegah. “Harap mereka dikasih tinggal hidup….!”

Eng Jiauw Ong menghentikan serangannya dengan lantas.

“Baiklah, am cu,” ia menyahuti. Atas itu, niekouw dari See Gak Pay berseru pada kawanan penjahat “Kau ada sangat jahat, sebenarnya sukar untuk mengampuni kau sekalian, tetapi karena mengingat kepada kemurahan hati Sang Buddha, sekarang aku bukakan suatu jalan hidup untuk kau semua! Aku harap selanjut nya kau mengubah cara hidupmu, jikalau tidak, walaupun sekarang kau terluput dari tangan kami, tetapi nanti ada kutukannya Thian! Nah, pergilah bawa kawan2mu yang telah terluka!”

Kawanan itu sedang bingung. kata2nya Cu In merupakan satu keampunan umum bagi mereka, tidak ayal lagi mereka kabur sambil bawa kawan2 mereka yang rubuh sebagai kurban.

Eng Jiauw Ong sudah geledah tetapi ia tak berhasil mendapati Liok Cit Nio atau muridnya, begitu juga Siu Seng dan Siu Sian mencarinya dengan sia2. Liok kee po telah jadi kosong dari manusia. Disitu tidak ada lain penjahat kecuali kurban totokannya Cu In Am cu sendiri.

Ban Liu Tong berdiri diam bersama niekouw dari See Gak Pay itu.

“Sutee, tidak disangka kita kena dipermainkan orang2 jahat,” kata Eng Jiauw Ong pada adiknya seperguruan. “Dengan bikin lolos penjahat perempuan itu, bagaimana kita punya muka untuk muncul pula didalam kalangan kang ouw? ” Lalu ia lanjutkan pada Cu In Amcu “Am cu, kita orang orang Rimba Persilatan tak layaknya berlaku telengas, akan tetapi malam ini kita telah kena didesak, kita tak dapat bersabar lagi. Penjahat itu mesti dikompes!”

“Sabar, Ong Suheng,” jawab Cu In selagi Liu Tong belum bilang apa2. “Pin nie juga tak akan gampang lepaskan penjahat ini.” Cu In menoleh pada dua muridnya, yang menjaga diatas genteng Timur dan Barat, ia gapekan mereka turun, sesudah mana, ia kata “Gubuk kejahatan ini tak dapat ditinggal tetap utuh, pergi cari bahan api untuk membakarnya.”

Siu Seng dan Siu Yan lantas pergi kebelakang untuk cari rumput kering, kemudian dengan tak cari api lagi, mereka nyalakan liu hong tan, maka di lain saat, dengan menyalanya peluru api itu, mereka mulai membakar jendela, juga pintu rembulan yang terbuat dari kayu. Tak terlalu lama, jalanan keluar telah tertutup api melulahan dari Timur dan Barat. Ketika api merembet kethia besar, suara ledakan sering terdengar, suaranya ramai dan keras.

“Bagaimana dengan penjahat itu, amcu? ” Liu Tong tanya.

“Pin nie punya daya, sahut pendeta itu, yang terus kata pada orang tawanannya “Pin nie adalah murid Sang Buddha, dengan kemurahan hatiNya, ingin pin nie kasi ampun padamu. Lihat api, yang sudah berkobar di empat penjuru itu, itu artinya jiwamu berada ditanganku! Sekarang bilang padaku, dimana sembunyinya Liok Cit Nio?   Jikalau kau omong dengan jujur, pin nie nanti ajak kau menyingkir dari ancaman api ini, jikalau kau mendusta, jangan sesalkan pin nie kejam, kau akan terpendam didalam tempat kebakaran ini! Ketahui olehmu, murid2nya Sang Buddha tidak pernah bicara main2, maka sekarang, diantara hidup dan mati, kau pilihlah! Jangan kau ayapan, kelak kau menyesal sudah kasip. Penjahat ketahui niekouw ini liehay, disitu pun ada Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong, yang romannya keren, serta murid2nya si niekouw, yang ber jaga2, ia mengerti tak nanti ia bisa loloskan diri.

“Kenapa aku tidak mau omong terus terang? ” pikirnya. “Perbuatannya Cit Nio pun bertentangan dengan aturan kaum kang ouw, dia menyalani aturan kaum sendiri, cuma karena ia peroleh bantuan dari dalam, dia dapat abui matanya Liong Tauw Hio cu di Gan Ton San, tidak ada orang yang berani ganggu dia atau bocorkan rahasianya, hingga dia jadi sangat merdeka. Lambat laun dia akan dapat kutukannya. Maka aku tidak berkhianat jikalau aku membuka rahasianya ini…”

Setelah memikir demikian, ia kata pada Cu In Am cu “Am cu, aku Louw Bouw Thian bukan bangsa takut mati, kalau sekarang aku bicara, bukannya aku tentangi aturan kaumku. Sebenarnya Lie To cu Lie touw hoo Liok Cit Nio ini, to cu dari Barat, adalah perempuan cabul, kelakuannya yang buruk itu menodai juga kaum Hong Bweo Pang. Sebetulnya aturan kita keras, setahun sekali, Cong to coo, ketua Pusat, bikin pemeriksaan kelakuannya hio cu dari cabang, secara diam diam atau berterang, dan yang ditugaskan adalah hio cu dari Lwie Sam Tong atau Gwa Sam Tong, yang berkuasa untuk segera memberi hukuman ditempat. Liok Cit Nio licin menjaga diri, kecuali rumahnya ini, dia punya tempat rahasia dipuncak Sin Lie Hong digunung Lyang Seng San, maka itu, dia sekarang pasti sudah kabur kesarangnya itu. Ada sukar untuk sampaikan puncak itu, baik siang terutama malam. Tidak ada jalanan untuk sampai disana. Jauhnya dari sini tiga atau empat lie. Melainkan dengan ambil jalan dari belakang gedung ini, ada satu jalanan kecil yang memotong. Itu adalah suatu jalanan rahasia, untuk itu, orang harus ikuti pepohonan yang liu yang baharu ditanam. Ada beberapa solokan atau jurang yang mesti dilalui, tapi disitu dipasangkan jembatan papan. Siapa keliru ambil jalan, dia tentu akan terjerumus kedalam jurang. Sesudah sampai dipuncak, segera akan tertampak sebuah kuil kecil….” “Hm!” tiba2 Cu In memotong, sampai si penjahat kaget dan berhenti dengan tiba.

“Bicara terus!” pendeta itu kata. “Asal kau mendusta, lihat api yang sudah berkobar besar itu! Kalau kau ayal2an, kau nanti menyesal!”

Bouw Thian pun lihat api, yang sudah berkobar2. Ia insaf, tak dapat ia main gila.

“Kuil itu dinamakan Liok sie Ceng Siu Am,” ia lalu melanjutkan. “itu berarti kuil perseorangan, kemana tak dapat orang datang bersujut dan orangpun ditamparnya. Penjaga kuil ada satu nyonya tua, yang matanya tinggal sebelah, dan dua budak perempuan. Jikalau ada orang lelaki disana, apabila orang itu bukannya pemuda cakap yang menjadi kurban penculikan, tentu ada orang2 kaum sendiri yang biasa main gila dengannya. Demikianlah apa yang aku tahu.”

“Orang durhaka!” kata Cu In dengan sengit. “Satu tempat suci dia jadikan tempat kotor, dia harus disingkirkan!”

Lantas niekouw ini tanya pikirannya kedua kawannya, ”Dia pasti tak berani dustakan kita,” kata Eng Jiauw Ong yang bersama2 Ban Liu Tong telah perhatikan orang she Louw ini. Mereka percaya orang bicara dari hal yang benar. “Sekarang, sudah jauh malam, mari kita berangkat.”

Pendeta itu manggut. “Ban Loosu, tolong kau bawa binatang ini,” ia minta pada Liu Tong. Ia lihat api sudah mengurung mereka.

Siok beng Sin Ie belum menyahuti atau Ong Too Liong sudah mendahului. Ia totok orang pada dua jalan darah hwee yang hiat dan jalan darah khie hay hiat. Totokan yang belakangan ini untuk merdekakan Bouw Thian dari totokannya Cu In Am cu tadi, hingga darahnya jadi bisa mengalir pula seperti biasa.

“Mari kita berangkat!” kata ia seraya menyambar orang punya lengan kiri, untuk angkat tubuhnya. sedang tangan kirinya dipakai menyingkap ujung bajunya sendiri, sesudah mana, ia berloncat naik. Kelihatannya Bouw Thian terangkat secara enteng sekali.

Ban Liu Tong susul suheng itu, ia sendiri diikuti oleh Cu In, yang kembali diiring kedua muridnya.

Mereka menuju keujung Barat daya kemana api belum merembet, mereka turun diluar tembok pekarangan. Disitu kedapatan beberapa rumah lain.

“Semua ini tak ada gunanya, habiskan saja,” kata Cu In kepada dua muridnya.

Siu Seng dan Siu Sian menurut, dengan cepat mereka bakar rumah2 itu, kemudian mereka susul guru mereka.

Ditempat sedikit jauh mereka singgah, dari situ mereka tampak api merajalela.

Disini Eng Jiauw Ong lepaskan Bouw Thian.

“Kau kelihatannya sudah menyesal, disini kami buktikan janji kami,” ia kata pada penjahat itu. “Sekarang kau boleh pergi.”

Bukan main lega hatinya Louw Bouw Thian, hingga liangsimnya terbangun.

“Hiapkek sekalian ada welas asih, biar aku satu penjahat, aku toh punya hati,” kata ia, “maka apabila ada ketikanya, pasti aku nanti balas budi kebaikan ini.”

Ia lantas paykui, setelah itu, ia lari menghilang ditempat gelap. Eng Jiauw Ong beramai memutari rumahnya Liok Cit Nio, mereka baru berjalan tak seberapa jauh dibelakang kebun, tiba2 mereka mendengar jeritan ditempat tak jauh dimana tadi Bouw Thian menghilang. Mereka seperti kenali suaranya penjahat tadi.

Eng Jiauw Ong segera loncat kearah jeritan itu, lekas sekali ia sampai diujung pepohonan lebat. Segera, pada sebuah pohon, ia tampak Bouw Thian gedang senderkan diri, tubuhnya gemetaran, tangan kirinya memegangi sebatang piauw, tangan kanannya mengusap2 paha kirinya. Diapun terdengar mengeluh “To cu, biarpun tee cu bernyali besar, tak nanti tee cu berani berkhianat…. Sebenarnya aku tidak tahu kemana perginya Liok Cit Nio. Tadi aku sebut2 puncak Sin Lie Hong, itu ada ocean belaka, aku mengucap demikian karena terpaksa…. Benar2 aku tak tahu Cit Nio pergi kesana atau tidak… Harap to cu ampuni aku….”

Louw Bouw Thian bicara terhadap satu orang yang berdiri setumbak lebih jauhnya dari dia. Orang itu berumur kurang lebih enam puluh tahun, kumis jenggotnya berewokan, hingga mukanya tak terlihat nyata, tapi tangannya yang kiri menyekal sebatang golok besar.

“Binatang!” dia berseru, tangan kanannya menuding. “Kau berani berkhianat! Kau takut mampus! Bagaimana kau berani jual Hong Bwee Pang? Kau ada punya berapa batok kepala? ”

“To cu, jikalau aku dusta, aku akan terima pembalasan hebat….” Bouw Thian kata pula, “Bouw Thian, jangan kau ngoce.” membentak pula orang tua itu. “Cit Loo cu tak percaya sumpah! Apakah kau ingin tunggu sampai aku turun tangan? ”

Didesak demikian, Louw Bouw Thian jadi nekat, sambil angkat piauw ditangan kirinya, ia kata dengan nyaring “Kematian atau kehidupan ada jalannya, dasar aku tak mesti binasa didalam api berkobar2, aku mesti mampus diujung piauw, beginilah nasibku! Hong Lun, kau jadi to cu tetapi kau tidak adil, maka dengan binasa ditanganmu, aku tak puas! Hong Lun, didepan mu ada satu perempuan centil dan cabul, yang merusak, nama Hong Bwee Pang, kau lepaskan dia, kau tak berani menghukum nya, kau cuma bisa tindas kami yang lemah! Hong Lun, baiklah, aku nantikan kau di Kota lblis!...”

Setelah mengucap demikian, Bouw Thian angkat lebih tinggi piauw ditangannya, rupanya dia hendak tikam kepalanya sendiri.

Melihat demikian, Eng Jiauw Ong menoleh pada dua kawannya, ynng sudah hampirkan dia.

“Pergi lekas ke Sin Lie Hong, urusan disini serahkan padaku!” kata ia sambil tangannya diulaskan, sesudah mana, ia berlompat kearah orang2 jahat itu sambil ia berseru kepada si orang tua “Bandit, apakah kau seorang sahabat kang ouw? Dalam usia tuamu ini, bagaimana kau bisa antap perempuan hina dina mengganas? Kenapa kau justeru hinakan orang yang lemah? ”

Terkejut Hong Lun, si orang tua, tahu ada datang orang tak dikenal yang mencampuri urusannya. Dilain pihak, Bouw Thian kenali orang yang bebaskan ia dari kematian, hingga legalah hatinya akan dapat pertolongan pula.

XXI

Twie hun souw Hong Lun si orang tua Pengejar Roh adalah to cu atau ketua dari See Louw Cong to, pusat bagian Barat, dari Hong Bwee Pang. Dia ke sohor buat keganasannya, tabeatnya keras dan jumawa. Dia baharu saja terima tugas dari pusat umum untuk menyambut Ie bun To cu Tie Cin Hay dan Shong Ceng yang sedang antar kedua kurban penculikan mereka, yalah murid murid dari Hoay Yang Pay dan See Gak pay. Berhubung dengan tugasnya ini, ia sudah lantas bekerja. Pertama2 ia kumpulkan semua orang2 sebawahannya, yang terdiri dari cap sha to atau tiga belas cabang to, untuk wajibkan mereka siap sedia, akan sembarang waktu sambut dan bantu Tie Cin Hay dan Shong Ceng. Karena ada kekuatiran pihak musuh nanti mengejar atau merampas, semua to cu mendapat pesan supaya berlaku waspada.

Demikian sudah terjadi, tatkala kedua kurban sudah diantar sampai didusun dimulut gunung Siauw San, pihak Hong Bwee Pang mendapat tahu ada musuh yang susul mereka, atas mana Hong Lun sudah lantas bersiap. Ia sendiri pun ingin mencoba menemui jago2 dari Hoay Yang Pay. Begitulah ketika Thio Hie bisa lolos, Hong Lun lantas atur persiapannya. Ia telah tinggalkan suratnya dihotel Kit Seng itu. Ia atur tujuh rombongan orangnya, yang dipencar di Ang touw po dan jalanan ke Liang Seng San, ke Han seng tin. Ia hendak bikin musuhrnya tersesat jalan.

Dalam ikhtiarnya ini, Hong Lun peroleh hasil. Hal ini sudah terjadi disebabkan terutama pihak pengejar berjumlah sedikit dan tidak kenal baik letak dari pegunungan itu, hingga Eng Jiauw Ong sendiri kena disasarkan.

Hong Lun girang mengetahui pengejar terbagi empat rombongan. Ketika ia terima laporan hal tiga murid musuh sedang menuju kejalanan Liang Seng San, ia sendiri pimpin sejumlah orangnya akan bekuk lebih dahulu tiga musuh itu, untuk bikin malu pada Hoay Yang Pay dan See Gak Pay.

Rombongan murid Hoay Yang Pay dan See Gak Pay yang dimaksudkan itu adalah Su touw Kiam dan Coh Heng bersama Siu Seng, murid nomor dua dari Cu In Tay su. Diantara mereka ini, Su touw Kiam ada yang paling liehay, tetapi dia telah dipesan oleh gurunya untuk “tidak usilan” ditengah perjalanan, supaya mereka bisa lekas sampai di Ang touw po untuk berkumpul. Mereka ini berjaian tanpa mengetahui, bahwa pihak musuh maui mereka. Mereka tidak mau usilan tapi musuh justeru usilan terhadap mereka. Musuh anggap mereka hendak mensatrukan pihak Hong Bwee Pang.

Dengan cerdik Hong Lun perintah orangnya sasarkan Su touw Kiam bertiga kejalan cabang arah Han seng tin itu ada bagian belakang dari Liang Seng San yang sunyi, disitu ada sawah2 yang berdamping dengan rimba2, jalanan cuma ada jalanan kecil untuk petani.

Su touw Kiam sudah lantas lihat beberapa bayangan berkelebat disebelah depan dan lenyap, ia jadi tidak senang, ia penasaran. Ia memang bernyali besar dan percaya benar bugeenya, ia tak sudi mundur. Ia tidak puas ketika Siu Seng bilang, biarkan saja musuh, yang harus diserahkan kepada guru mereka.

“Tapi mereka berada didepan mata, mustahil dia dibiarkan saja? ” kata muridnya Eng Jiauw Ong itu. “Siapa tahu, karena ini, kita akan dapat tahu dimana soa heng kita disembunyikannya. Ah percaya penjahat punya sarang di sini…”

Siu Seng tidak berani menentangi terus, sedang Coh Heng siap sedia akan iringi suheng itu Begitulah, karena mereka mencoba mencari beberapa bayangan itu, dengan sendirinya merekalah yang lantas kena dikurung musuh.

Orang2nya Hong Lun itu berjumlah tiga belas dan semuanya punya kegesitan, merekapun pandang ringan pada tiga musuh itu, setelah mengurung, mereka segera mulai dengan penyerangan mereka. Baharu satu gebrakan dua diantaranya segera menjadi korban pedangnya Su touw Kiam dan Siu Seng. Melihat demikian, Hong Lun jadi gusar, maka ia hunus golok Kimpwee too dan terjang Su touw Kiam. Dengan goloknya itu, ia telah melatih diri untuk dua puluh tahun lebih, tetapi, berhadapan dengan Su touw Kiam, ia sukar berbuat apa apa, karena keduanya berimbang.

Coh Heng kena dikurung tujuh atau delapan musuh, benar ia bertenaga besar tapi gerakan kaki tangannya lambat, belum lama, goloknya kena disampok hingga terlepas.

Su touw Kiam berkelahi sambil saban2 perhatikan kawan itu, maka itu, ia lantas dapat lihat golok orang kena dibikin terlepas, ia jadi kaget, dengan gertakan serangan terhadap Hong Lun, terus ia loncat mundur, akan hampirkan kawannya, guna bantu kawan ini. 

Coh Heng sendiri tidak gentar walaupun goloknya sudah kena dibikin terlepas dari cekalannya, sebaliknya musuh jadi pandang dia ter lebih2 tak mata. Begitulah satu musuh loncat membacok mengarah pundaknya. Ia tidak berkelit, ia malah maju akan mendahului, dengan tangan kiri ia tahan turunnya golok, dengan tangan kanan ia gempur tubuh musuh, atas mana penyerang itu terdampar mundur empat lima tindak dan rubuh dengan pingsan. Apa lacur iapun kena injak tanah ceglok, tubuhnya sendiri turut ngusruk, terus jatuh.

Adalah disaat itu, Su touw Kiam loncat untuk bantu kawannya. Ia sudah gertak Hong Lun, tetapi ia tidak tahu, jago Hong Bwee Pang itu liehay sekali, selagi ia balik tubuh dan loncat, orang telah berlompat akan susul ia, dengan satu dupakan, ia kena dibikin jatuh ngusruk, sebelum ia sempat berdaya, beberapa penjahat tubruk ia, hingga sebentar saja ia kena ringkus. Sekarang adalah Siu Seng, yang kena dikepung. Ia berkepandaian tidak lemah, tapi ia dirangsak hebat, Hong Lun sendiri turut turun tangan, maka selang tidak lama, setelah tenaga nya berkurang, ia kena dirubuhkan, hingga iapun teringkus sebagai Su touw Kiam.

Disaat itu, Lie touwhu Liok Cit Nio, si Jagal Wanita, datang untuk berikan bantuannya, dia lantas minta dua orang tawanan itu diserahkan padanya, untuk diperiksa di Liok kee po, guna mengetahui rencana pertolongannya Eng Jiauw Ong, Hong Lun tanpa ayal lagi luluskan permintaan itu. Demikian, Su touw Kiam dan Siu Seng telah dibawa ke Liok kee po.

Cit Nio ada penggemar pelesiran, begitu melihat kegantengannya Su touw Kiam, ia jadi ketarik, tidak sia2kan tempo lagi ia mencoba curi hatinya si anak muda, dengan akal ia loloh pemuda itu dengan anggur yang di campuri obat untuk membangunkan napsu birahi. Dalam sepak terjangnya ini, ia leluasa, karena semua sebawahannya tunduk padanya dan tak ada yang berani membuka rahasia.

Sebenarnya Hong Lun tahu siapa adanya Liok Cit Nio, ia melainkan tidak menyangka, dalam tempo pendek nona itu bisa main gila. Ia sedang menghadapi Eng Jiauw Ong, ia jadi perlu pusatkan perhatian kepada musuhnya yang tangguh itu.

Coh Heng telah terlepas dari tangannya orang jahat. Ketika ia rubuh, sehabisnya Su touw Kiam dan Siu Seng ditawan, ia pun dicari, tetapi ia tak dapat diketemukan. Ia telah terjatuh kedalam tempat yang berair, dan berlumpur, yang penuh dengan rumput tinggi, syukur lumpurnya tidak dalam, rupanya air ngembeng disitu bekas turun hujan. Penjahat mundur sendirinya ketika mereka injak lumpur dan dalam gelap gulita, tidak lihat musuh itu. Maka itu si sembrono ini jadi terluput dari bahaya.

Hong Lun masih mencari Eng Jiauw Ong dengan sia2, maka ia terus menuju ke Liok kee po. Ia pisahkan diri belum ada satu jam, ia tidak sangka cape lelahnya telah disia2kan Cit Nio. Ketika ia sampai dirumahnya Cit Nio, ia tampak api sedang berkobar hebat, hingga ia jadi kaget. Ia tidak bisa berbuat suatu apa, karena ia tidak bisa serbu api. Selagi ia mengawasi, antara cahaya api, ia lihat satu orang, yalah Louw Bouw Thian, sedang diajak bicara oleh musuh. Ia menduga apa yang dibicarakan, tentulah orang itu sedang dikompes, sebelum ia sempat pikir bagaimana ia mesti hadapi musuh, ia lihat Bouw Thian dimerdekakan, maka ia tetapkan dugaan nya. Segera ia menyusul, ia bisa lari pesat, cepat sekali ia sudah datang dekat.

“Hei, tahan! Apakah kau ialah saudara Louw? ” ia tanya sambil diam2 ia siapkan sebatang piauw.

Bouw Thian dengar teguran dari pihaknya, ia merandek dan menoleh. Inilah ada apa yang Hong Lun inginkan, tangannya terayun, piauwnya melesat. Bouw Thian kaget, ia mencoba berkelit, tetapi piauw mengenai paha kirinya, sambil menjerit, tubuhnya sempoyongan, kemudian sambil menahan sakit ia cabut senjata rahasia itu, hingga darah nya muncrat keluar. Ia menyender dipohoh, ia tak dapat lari lagi. Ia jerih bukan main, karena ia kenali Hong Lun. Tapi ia menyangkal, untuk coba bebaskan diri, kemudian ia kata “To cu, hak apa kau punya untuk binasakan aku? Biar kau ada hio cu dari pusat umum, tak dapat kau sembarang bunuh kawan sendiri!”

Bouw Thian omong dari hal yang benar. Untuk kesalahan yang ia perbuat, Hong Lun tak berhak untuk lantas menghukumnya untuk itu to cu ini mesti adakan himpunan dulu. Hukuman juga mesti dijalankan oleh to cu yang bersangkutan sendiri.

“Kau sudah berkhianat, Bouw Thian, kau masih banyak omong? ” kata ia sambil tertawa menyindir. “Kau telah jual Hong Bwee Pang, kau mesti dihukum picis, sekarang aku hendak bikin kau mati utuh, apakah itu bukan karena kemurahan hatiku? Hayo, kau bunuh diri atau aku yang turun tangan! Jangan mainkan tempo, atau aku terpaksa akan belek perut mu!”

Bouw Thian sengit, dari jerih ia jadi nekat.

“Aku telah terjatuh kedalam tanganmu, mana bisa aku mengharapkan pula jiwaku!” kata ia. Ia kertek gigi. “Hong Lun, di neraka saja kita bertemu pula! Sebagai setan aku tak akan berikan ampun padamu!”

Demikian ada kata2 yang terakhir. Tapi ia belum harusnya terbinasa, disaat genting itu, Eng Jiauw Ong datang. Ketua dari Hoay Yang Pay ini segera serukan “Louw Bouw Thian, apabila kau benar hendak ubah diri, lekas pergi ke Lek Tiok Tong di Ceng hong po, Hoay siang!”

Bouw Thian cerdik, maka dengan menahan sakit ia lantas kabur.

Sebelum Hong Lun sempat berbuat apa2 karena ia tercengang atas datangnya musuh, Eng Jiauw Ong telah hadapi ia dan kata “Sayang dalam usiamu ini, kau tidak bisa menimbang, kau tak dapat bedakan antara kejahatan dan kebaikan! Mana kau berhak menjadi enghiong dalam kalangan kang ouw? . Lekas kau serahkan perempuan cabul itu padaku! Aku adalah Ong Too Liong, aku sungkan tanam bibit permusuhan, tetapi jikalau kau tidak dengar nasihat, kematian sudah ada dihadapanmu sekarang!” “Eng Jiauw Ong, tua bangka!” Hong Lun balas membentak sambil menuding. “Kau terlalu andalkan bugeemu, kau terlalu jumawa, hingga kau tak lihat mata lagi pada dunya! Justeru saat kematianmulah yang telah berada didepan mata! Aku, Twie hun souw Hong Lun, sudah lama nantikan kau! Hayolah kau terima kebinasaanmu!”

“Sahabat, jangan kau adu lidah!” kata Eng Jiauw Ong sambil bersenyum ewah. “Mari, dibawah tangan kita, kita memberikan keputusan!”

Setelah mengucap, Ong Too Liong maju mendekati.

Jikalau Hong Lun hormati aturan kaum kang ouw, dia mesti segera letaki goloknya, atau sedikitnya dia mesti tanya, apa pihak lawan bersedia tangan kosong lawan senjata tajam, dengan majukan pertanyaan, dia tak akan hilang muka dan dapat keuntungan menang diatas angin. Tapi ia kandung maksud jelek, keras keinginannya akan rubuhkan musuh ini, guna angkat namanya sendiri, dari itu, tanpa kata apa2 ia pun maju, dengan goloknya ia membacok dada!

Eng Jiauw Ong nyamping ke kiri, dengan lantas ia totok jalan darah “kiok tie hiat” dari tangan kanannya lawan.

Bacokannya Hong Lun ada bacokan gertakan tapi bisa diteruskan apabila musuh kena digertak, ia memang licin sekali, sekarang dia lihat dia diserang, segera ia menyabet balik dengan babatan “Chong liong kwie hay” atau “Naga pulang kelaut.” Karena ia menyamber sambil mendek, ia mengarah kedua kaki musuh.

Dengan loncatan enjotan “Cin pou lian hoan” atau “Maju beruntun2,” Eng Jiauw Ong mencelat tinggi dan jauh kebelakang penyerangnya itu, disini ia putar tubuh seraya sebelah tangannya menyamber bahu kanan musuh. Hong Lun insaf ancaman bahaya begitu lekas ia membabat tempat kosong, segera ia terus mendekam lebih rendah seraya putar tubuhnya, kaki kirinya di majukan, lalu sambil memutar, ujung goloknya ditikamkan ke perut lawan, serangan siapa pun tak mengenai sasarannya.

Eng Jiauw Ong elakkan diri sambil berlompat kekiri dalam gerakan ular naga jumpalitan Koay bong hoan sin, dengan begitu, ia pernahkan diri dibelakang disebelah kanan lawan, hingga leluasa ia untuk hajar bebokong bagian kanan musuhnya itu.

“Tua Bangka, pergilah!” ia berseru selagi lima jarinya mengenai sasarannya.

Hong Lun pandai ilmu “lemas” dan “keras,” meskipun ia tidak melatih ilmu weduk “Tiat pou san”-Baju cita besi tidak sembarang tenaga kepalan mampu lukai padanya, akan tetapi sekali ini ia menghadapi ketua dari Hoay Yang Pay, ia mendapat lawan yang tangguh. Pun, orang punya kegesitan ia tak dapat lawan, jikalau tidak, pasti ia keburu berkelit atau menangkis. Begitulah, menyusul sampainya tangan musuh, ia keluarkan jeritan tertahan, tubuhnya sempoyongan, hampir saja ia jatuh ngusruk. Ia pun rasai kepala dan hatinya berhawa panas.

“Hm tua bangka!” Eng Jiauw Ong kata sambil tertawa. “Dengan kepandaian macam ini kau berani malang melintang didunya kang ouw, memandang enteng kepada siapa juga? Pergilah, aku ampunkan jiwamu!”

Keringat dijidatnya Hong Lun menetes turun, ia mendongkol bukan kepalang.

“Presenanmu ini, sampai mati pun aku tak akan lupakan!” kata dia sambil menyengir. “Dibelakang hari kita nanti bertemu pula!...” Tanpa tunggu jawaban lagi pemimpin Hong Bwee Pang itu putar tubuhnya, untuk berlalu dengan cepat diantara tanah ladang.

Eng Jiauw Ong antap orang pergi, ia lebih pikirkan muridnya, maka segera ia kembali ke Liok kee po akan tengok Liu Tong dan Cu In Am cu.

Ia lihat bagaimana api masih berkobar2, ia tidak dapatkan kawan nya, maka, percaya kawan nya itu sudah pergi ke Sin Lie Hong, ia lantas menyusul. Ia berlari dengan cepat dengan gunai ilmu lari keras Keng kang Tee ciong sut, tapi sambil lari ia berbareng memasang mata dan telinga. Ia perhatikan tanda rahasia jalanan, dari itu, ia tidak tersesat jalan. Dalam tempo yang cepat ia sampai dipuncak Sin Lie Hong, puncak Malaikat Perempuan. Ia dapatkan banyak pohon kayu besar, yang daun dan cabang nya menerbitkan suara berisik karena tiupannya sang angin.

Dari tempat dimana ia berhenti, Eng Jiauw Oiig lihat jauh sepanahan didepannya ada puncak belasan tumbak lebih tinggi, kebetulan disana ada tertampak beberapa bayangan, ia segera menghampirkan. Ia belum tahu bayangan itu ada pihaknya atau bukan, ia berlaku hati2. Disaat ia hendak perhatikan orang punya wajah muka, tiba2 datang pertanyaan dari pinggiran “Ong Supe disitu? ”

“Siapa? ” Eng Jiauw Ong balik menegur sambil menoleh. Pertanyaan itu datang dari pepohonan lebat “Supe, aku Siu Sian datang memapak,” sahut suara yang di tegor, yang sudah lantas muncul, yalah muridnya Cu In Am cu.

“Bagaimana, apa belum dapat ketemui kuil itu? ” tanya Eng Jiauw Ong.

“Sudah, supe, itulah disana, diseberang,” sahut Siu Sian. “Supe lihat itu solokan yang lebar, guruku dan Ban Loosu bisa lewat disitu dengan leluasa, aku tidak. Untuk seberangi itu, disini ada jembatannya tetapi tadi, waktu Liok Cit Nio sampai disini, dia telah angkat keseberang, maka Ban Loosu mesti pasang dahulu, untuk aku lewat. Tadi Ban Loosu lihat samar2 pada supe, untuk menegasi dan memapakinya dia perintah aku. Rupanya supe berhasil singkirkan penjahat tua tadi? ”

“Aku telah lukai dan antap dia kabur,” jawab Eng Jiauw Ong. “Dia adalah Twie hun souw Hong Lun.”

Setelah kata begitu, Eng Jiauw Ong ajak murid pendeta itu pergi nyeberang. Jembatan, yang dipanggil ‘jembatan terbang’ terbuat dari potongan2 papan, yang disambung dan dipasang kepada dua helai rantai besi. Diseberang, mereka lantas disambut Cu In dan Liu Tong.

“Apa suheng sudah singkirkan kepala penjahat itu? ” Cu In Am cu tanya.

“Dia telah dilukai dan dilepas pergi,” sahut Eng Jiauw Ong seraya ia berikan keterangannya perihal Hong Lun.

“Lihat licinnya Lie touw hu Liok Cit Nio, suheng,” kata Cu In kemudian. “Melihat pengaturannya disini terang dia telah melakukan kebusukan bukan baru saja. Coba tidak ada itu penjahat she Louw, tidak dapat kita cari sarangnya perempuan cabul ini.”

Eng Jiauw Ong manggut untuk membenarkan niekouw itu.

“Sekarang mari kita pergi ke kuilnya perempuan busuk itu,”

Liu Tong mengajak “Tempat ini ini ada asing bagi kita, kita menanti jaga supaya dia tak terlolos lagi.”

Cu In manggut. “Marilah!” ia menjawab.

Berlima mereka maju. Kepentingan membikin mereka tak perhatikan pula empat murid mereka, yang ketinggalan dibelakang. Mereka bertindak dengan cepat. Cepat mereka mendekati sebuah tembok pekarangan merah yang dikurung pepohonan yangliu. Luas pekarangan ada kira2 satu bauw.

“Baik kita masuk dengan berpencar,” Liu Tong usulkan kepada suhengnya.

“Baik kita pecah tiga saja,” Cu In nyatakan. “Biar Siu Seng dan Siu Sian ber jaga2 diluar. Kita sendiri akan berkumpul di ruangan siantong.”

Eng Jiauw Ong mupakat, maka mereka lantas berpisahan Cu In ke belakang, Too Liong ke Timur, dan Liu Tong ke Barat. Dengan pedang ditangan masing2 Siu Seng dan Siu Sian memasang mata diluar bio.

Dengan pedang ditangannya Cu In Am cu loncat naik ke tembok. Dari sini ia memandang kedalam Kuil itu punya taman bunga. Pekarangan dalam sangat sunyi. Dengan potongan puing ia menimpuk ke tanah. baharulah ia loncat turun. Ia jalan di antara pohon2 bunga, sampai di ujung taman dimana ada sebuah pintu berdaun dua. Disini pun keadaan sunyi sekali. Dengan pelahan daun pintu ditolak terbuka, memperlihatkan sebuah kuil yang terdiri dari beberapa kamar atau ruangan kecil.

Pertama ia hadapi sebuah kamar seperti dapur. Di ujung kamar ini, dari sebuah kamar kecil, menyorot sinar terang , kamar lainnya gelap petang.

Dengan mengentengi tindakannya, Cu In hampirkan kamar im, untuk pasang kuping. Ia dengar suara yang pelahan sekali. Segera ia mengintai di jendela. Kamar itu diperlengkapi satu pembaringan kayu, sebuah kursi, sebuah meja atas mana ada satu pelita. Pembaringan dan kursi sudah bobrok. Diatas pembaringan duduk numprah seorang perempuan tua yang berumur kira2 tujuh puluh tahun, rambutnya sudah putih semua, kulitnya keriputan. Ia pakai pakaian biru. Ia duduk sambil tunduk tapi mulutnya kemak kemik, karena tangannya buat main rantai biji tasbe, terang ia sedang liamkeng.

Ketua dari See Gak Pay terhibur melihat orang sujut kepada agama, terutama orang berada ditempat buruk itu. Ia merasa beruntung tidak sembrono turun tangan. Ia percaya, dia itu adalah bujang tuanya Liok Cit Nio yang matanya picak sebelah.

Selagi Cu In hendak putar tubuhnya untuk lihat lain kamar, ia dengar tindakan kaki diujung pintu pojok. Segera ia loncat naik keatas rumah. Lantas ia lihat satu anak perempuan umur empat atau Iima belas tahun, yang rambutnya terkepang dua, memakai celana dan baju pendek yang sepan, tangannya menadah nenampan.

Baharu sampai dimuka jendela nona itu sudah perdengarkan suaranya “Eh, picak, kenapa kau padamkan api didapur? Apakah kau hendak cari mampus lagi? ”

Si nyonya tua, dari dalam kamar, sudah lantas menyahuti “Apa? Api padam? Aku tidak tiup itu! Barangkali minyaknya kering…. Nona Eng, jangan berisik, berbuatlah baik pada si picak …. Nanti aku nyalakan pula api itu.”

“Jangan kau ngaco!” menegur si nona, yang agaknya mendongkol. “Memangnya siapa yang kurang berbuat baik terhadapmu? Jika tidak saban2 aku yang lindungi dirimu, tentu Cit Nio sudah peliahrakan kau kepada anjing! Jangan kau berpura alim dan sujut, setiap hari liamkeng saja, entah siapa yang kau sebenarnya caci maki! Kau bersujut, sebelah matamu picak, nanti dua2 matamu lenyap penerangannya!”

Ketungkulan ngoce, nona itu meleng, hampir saja nenampan nya terbalik, lekas2 ia jalan terus.

Si nyonya tua sudah lantas muncul dengan pelita di tangannya, ia jalan dengan pelahan, mulutnya terus memain “Ohmie too hud! Entah dulunya aku berbuat jahat apa, di ini penjelmaan aku bersengsara begini macam… Eh, Nona Eng, tunggu, aku toh hendak ambilkan api untuk kau… Disana tidak ada bahan api, sia2 kau mencari dengan rapa repe….”

Justeru itu, si nona keluar pula dari dapur kemana tadi ia sudah lantas masuk.

“Tua bangka harus mampus…” ia mendumel. “Nyata, hatimu pun picak! Bahan api tidak ada tapi di perapian, baranya masih ada…”

Dia keluar dengan sebuah teh koan kecil yang terisi air mendidih, dia dekati si nene. Dia ternyata berhati kejam, tahu2 ia kucurkan air panas di tangannya nene itu.

“Aduh!” si nene menjerit, kaget dan sakitnya bukan main, hingga pelitanya lantas terlepas dan jatuh. “Oh, nona Eng, kau keterlaluan…” kata ia kemudian, seraya usut2 tangannya. “Kau tahu, Sang Buddha ada maha suci, kau nanti dapat kutukannya…” Suaranya ada lemah sekali, tandanya ia sangat bersedih.

Tapi si nona bersenyum dingin.

“Apa, kutukan? Aku tak percaya!” kata ia. “Sang Buddha tak punya kesempatan untuk dengarkan oceanmu, akan perhatikan urusan tak keruan…”

Dan ia ngeloyor pergi sambil tertawa puas. Cu In memuji.

“Kau terlalu, nona kecil,” kata ia dalam hatinya. “Kau sangat menghina pada orang2 yang beragama…”

Lantas ia loncat turun pula.

Nene itu, sambil menangis pelahan, bertindak dengan sukar, karena pelitanya padam.

“Orang bersengsara, tahan,” kata Cu In, yang muncul dengan tiba2 didepan orang.

Nene itu kaget, hingga ia keluarkan seruan tertahan. Ia ada sangat bersusah hati, hingga timbul pikiran pendeknya untuk bunuh diri saja. Ia mundur tapi kakinya lemas, ia lantas rubuh, syukur si niekouw tua itu buru pegang tubuhnya.

“Kau jangan takut,” Cu In menghibur. “Aku berkasihan terhadapmu yang tersiksa, aku akan wakilkan Thian menjalankan hukuman bagi yang berdosa. Lie touwhu ada sangat jahat, dia bakal segera terima pembalasannya. Disini dua butir obat, yang satu kau minum, yang satu pula untuk kau pakai mengobati lukamu bekas kebakar, kau akan lekas sembuh.”

Niekouw ini merogo sakunya, benar2 ia membagi dua butir pil.

“Entah kau dewi apa sudah mengasihani aku…” kata nyonya tua itu dengan sangat bersyukur.

“Sudah, jangan omong saja, pergi kau obati lukamu,” kata Cu In, yang terus berlalu dari situ. Ia naik keatas genteng, ia pergi ketengah, baharu ia sampai, dari arah Timur loncat naik satu orang, yang ia kenali adalah Ban Liu Tong. “Kenapa am cu baharu sampai?   Kenapa kau terlambat? ” Siok beng Sin Ie dului menanya, dengan suara pelahan.

“Aku terhalang oleh si nene picak,” sahut Cu In, yang ceritakan pengalamannya dikamar dapur.

“Aku telah masuk bersama Ong Suheng,” kata Liu Tong. “Syukur kita tidak percaya sepenuhnya pada penjahat she Louw itu. Lie touwhu lari kemari tak bersendirian, ia bawa empat konco nya. Hal ini diketahui oleh Ong Suheng, semua mereka itu telah dibereskan. Boca itu kejam sekali, dia harus diajar adat. Suheng titahkan aku pasang mata disini, aku mesti dengar pertandaan dari suheng.”

“Jadinya Su touw hiantit tidak dalam bahaya? ” Cu In tanya.

Liu Tong manggut.

“Kalau begitu, silahkan loosu tetap menjaga disini,” kata pula Cu In, yang terus maju ke depan, hingga ia melihat tiga kamar disebelah Utara, ada jalanan di Timur dan Barat. Disamping tembok pekarangan ada satu kamar kecil. Cahaya api terlihat terang dikamar Utara itu. Ia pergi kearah utara itu, hingga ia tampak Eng Jiauw Ong sedang mengintai dijendela. Ia loncat menghampiri.

Eng Jiauw Ong dengar suara, biar bagaimana pelahan sekalipun. Ia menoleh. Melihat niekouw itu, ia menggape. Ketika Cu In sudah datang dekat, ia menunjuk kejendela. Cu In hampirkan jendela, ia membuat satu lobang, lalu ia mengintai kedalam. Bukan mayn gusarnya, apabila ia lihat pemandangan didalam kamar itu.

Itulah kamarnya Liok Cit Nio. Namanya saja tempat itu kuil, tapi kuil melainkan apa yang kelihatan dari luar, untuk pelabi saja. Didalam, kamar ini ada indah luar biasa, begitupun pembaringannya kelambunya, sprei dan bantalnya.

Diatas pembaringan yang indah itu, Su touw Kiam rebah dengan hanya pakaian dalam. Dua budak pegangi padanya, dia seperti kehabisan tenaga melawannya. Si nona, yang si nene panggil nona Eng sebenarnya bernama Hong Eng sedang siapkan dua bantal kepala sulam, Liok Cit Nio sendiri sedang bersolek dimuka kaca dimeja rias. Cahaya api datangnya dari lilin merah.

Selagi Cit Nio tidak melihat, Hong Eng main mata kepada satu pelayan lain, ia tunjuk Cit Nio, ia tunjuk Su touw Kiam, kemudian ia tunjuk jidatnya sendiri, tingkahnya sangat centil. Kawannya itu layani ia beraksi.

Tiba2 Cit Nio menoleh, sepasang alisnya berdiri dengan segera. Ia pun jemput sebilah pisau belati dari dalam laci meja.

“Budak mau mampus, kau berani main gila? ” ia membentak. “Apakah kau juga ingin rasai daging gangsa kayangan? Baik, baik, besok aku nanti presen kau masing2 dua bacokan, berikut si tua picak, aku nanti lemparkan kesolokan gunung!”

Kedua budak itu kaget, kedua nya lantas banting diri, untuk tekuk lutut.

“Tidak, kami tidak berani main gila kata mereka, yang ketakutan bukan kepalang. “Hari ini ada Nio punya hari kegirangan, mustahil kami berani kurang ajar? Harap Nio ampuni kami.” Jikalau kami dibunuh, siapa nanti rawati Nio? Hari ini ada hari baik, tak berani kami menangis. Ampunilah, Nio. Sekarang sudah hampir jam lima, silahkan Nio beristirahat. Harap Nio tidak marahi kami lebih jauh….” “Baik, sekali ini aku kasi ampun pada kau sekalian,” kata ia. “Jikalau kau berani kurang ajar lagi, paling dulu aku nanti korek kedua biji matamu berdua supaya kau jadi seperti si picak!” Ia menguap, ia lempangkan pinggangnya. “He, apalagi kau hendak tunggu? Lekas pergi.”

“Terima kasih, Nio,” kata kedua budak itu, yang berlalu dengan cepat sesudah mereka memberi hormat.

Cit Nio bertindak kepembaringan, akan awasi Su touw Kiam, muka siapa tidak kelihatan tedas, karena sinar api kealingan kelambu, dari itu, dia singkap kelambu itu. Sesudah ini, ia awasi orang punya muka, lalu ia membungkuk, kepalanya dikasi turun. Terang ia sangat tergiur dan ingin mencium pipi orang

Eng Jiauw Ong telah menyaksikan sekian lama, ia kaget menampak sikapnya Cit Nio. Sejak tadi memang hatinya sudah panas. Ia tahu, Su touw Kiam berada dibawah pengaruh semacam obat pules, tidak heran muridnya itu jadi tidak berdaya. Ia mengerti, nama Hoay Yang Pay akan ternoda jikalau perempuan cabul ini berhasil mengganggu muridnya itu. Cu In sendiri sudah hunus pedangnya bahna jemu dan mendongkolnya. Maka itu, ia lantas membentak “Perempuan busuk, keluar kau untuk terima binasa!”

Bentakan itu disusul oleh gerakan tangan yang kuat pada daun jendela, hingga diantara suara nyaring, daun jendela itu rusak dan terbuka.

Puas rupanya nona itu mendengar orang punya ratapan, ia lemparkan pisaunya keatas meja, dari hidungnya keluar suara menghina.

“Perempuan celaka, kau tak akan lolos pula!” Cu In pun membentak.

XXII Kagetnya Liok Cit Nio bukan alang kepalang karena tegoran yang hebat itu. Ia telah mengharap sangat akan memiliki Su touw Kiam yang cakap dan gagah. Di Liok kee po ia sudah gagal, ia rela meninggalkan rumahnya hangus terbakar. Ia merasa pasti dibelakang hari ia akan sanggup berdirikan pula gedungnya itu, karena ia punya simpanan uang dan barang permata, yang ia sembunyikan ditempat yang selamat. Ia kabur dengan gendol Su touw Kiam, bersama ia ada turut empat konconya. Ia menyingkir ke Sin Lie Hong, puncak dimana ia ada punya gedung yang terahasia. Ia tidak nyana bahwa musuh, ketahui sarangnya ini. Ia kaget tetapi ia tidak jerih, ia malah sangat gusar karena gangguan itu, sambil kertak gigi ia meloncat kemeja akan menyamber pisaunya tadi, dengan itu ia kembali kepembaringan. Ia jadi nekat, hingga ia berniat membinasakan saja Su touw Kiam supaya kalau ia toh tak bisa lolos, ia nanti binasa bersama si kekasih itu…”

Disaat Cit Nio ayun pisaunya, tiba2 dikolong pembaringan terdengar suara gedebukan, dari pembaringan yang terbentur keras, lalu dari ujung situ muncul seorang serba hitam, yang pakaiannya penuh lumpur, hingga dia mirip dengan satu hantu. Dia ini pun segera membentak “Perempuan celaka!”

Cit Nio kaget dan tercengang. Ini adalah hal yang ia tidak sangka sangka.

Orang tak dikenal itu menyamber tehkoan teh diatas meja, dengan mana ia menyambit si perempuan cabul.

Dalam kagetnya, Cit Nio masih bisa menggunai pisaunya untuk menangkis, hingga tehkoan pecah dan airnya berhamburan, mengenai ia sendiri, juga mengenai mukanya Su touw Kiam. Tapi ia mengerti bahaya, ia tak tahu dalam kamar itu ada berapa musuh, maka tidak bersangsi lagi, ia loncat kepintu. Karena kesusu, ia sampai tak sempat memadamkan api.

Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu sudah lantas kenali orang yang muncul dari kolong pembaringan, ialah Coh Heng si sembrono, siapa itu waktu sudah lantas hampirkan Su touw Kiam, untuk diangkat tubuhnya dan di gendong, untuk ia bawa lari.

Eng Jiauw Ong melihat orang itu tak bersenjata, sedangkan tangannya memegangi Su touw Kiam Apabila kesomplok dengan Cit Nio, si sembrono ini bisa celaka, dari itu, sambil mendobrak jendela ia berseru “Coh Heng, mari sini!”

Coh Heng mendengar panggilan itu, ia putar tubuhnya akan lari kejendela, kemana ia meloncat untuk mabur keluar, tetapi ia sudah tidak ingat jendela rendah, ia menjerit “Aduh!” ketika kepalanya membentur balok jendela sebelah atas, hingga ia mundur pula dengan kesakitan.

“Tunduk!” berseru Eng Jiauw Ong, yang lihat sepak terjangnya si sembrono itu, sesudah mana, ia ulur tangannya akan cekal lengan kanan orang, untuk ditarik keluar.

Sesampainya diluar, Coh Heng letaki tubuh suhengnya itu, kemudian ia meng usut2 kepalanya.

“Hampir aku mampus…” kata ia.

Waktu itu, sambil berseru “Kemana kau hendak lari? ” Cu In Am cu telah kejar Liok Cit Nio.

Tidak ada niatan bagi si Jagal Wanita untuk melayani bertempur, tetapi orang punya lompatan ada gesit luar biasa, ia sudah lantas kecandak, maka, mau atau tidak, ia putar tubuh nya, terus ia serang niekouw tua itu secara sengit sekali.

Cu In menangkis sambil teruskan menikam dada musuh begitu lekas ia dapat elakkan tikaman lawan, pedangnya berkelebat berkeredepan bagaikan halilintar.

Dalam ibuknya Liok Cit Nio menangkis, lalu dengan nekat, ia bikin perlawanan. Tapi ia seperti kena “dilibat” pendeta perempuan itu, yang gunai ilmu pedang Sha cap lak ciu Thian kong kiam, yang terdiri dari tiga puluh enam jurus.

Ketika itu, Ban Liu Tong diatas genteng dan Eng Jiauw Ong dibawah, sama bersiap. Siok beng Sin Ie tahu pasti, suhengnya tak akan sudi layani bertempur dengan seorang perempuan, ia pun percaya perempuan cabul itu tak akan dapat meloloskan dirinya. Ia sendiripun sama sungkannya untuk melayaninya.

Pada jurus ke tujuh, Liok Cit Nio serang Cu In Am cu dengan tipu pukulan “Ciauw hu bun louw” atau “Tukang kayu menanyakan jalan,” atas mana, niekouw tua itu tarik pedangnya kebawah, untuk diputar keluar, untuk segera dipakai membabat lengan lawan itu.

Gerakan ini ada cepat luar biasa, sampai sia2 saja Liok Cit Nio segera tarik pulang senjatanya, tidak urung pisaunya itu kena tersampok keras hingga terlepas dari cekalan dan jatuh ketanah sambil menerbitkan suara berisik. Berbareng dengan terlepasnya pisaunya itu, Cit Nio lompat jauhnya satu tumbak lebih, akan jauhkan diri dari musuh yang liehay itu.

Dengan lompatan jumpalitan “Auw cu hoan sin” atau ”burung elang membalik badan,” Cit Nio ayun tangannya, atas mana, jarum rahasia Cit seng Touw kut ciam jarum tujuh bintang yang menembuskan tulang sudah lantas menyamber kearah musuhnya.

Walaupun Cu In Am cu sedang mengejar, ia masih bisa lihat bergeraknya pundak musuh, menyangka pada senjata rahasia, ia mendahului doyongkan tubuh kesamping untuk berkelit.

Senjata rahasia dari si Jagal Wanita merupakan bumbung yang muat tujuh batang jarum, yang ada pesawat rahasianya, apabila ditarik, jarum itu bisa melesat keluar menyamber, saling susul menurut kehendak hati. Karena halusnya jarum, suara menyambernyapun tidak ada.

Demikianlah serangan itu, karena Cu In mendahului berkelit, jarum yang ke satu telah dapat dikasi lewat dengan begitu saja, dan yang ke dua, yang diarahkan kedada, dipukul jatuh dengan sampokan pedang.

Tatkala Cit Nio hendak gunai jarum yang ke tiga, hal itu telah membuat Ban Liu Tong jadi gusar sekali, hingga ia sudah lantas menyerang dengan peluru nya, Kauw kang Liong gan cu, sambil ia berseru “Orang cabul, awas!”

Jarang sekali Siok beng Sin Ie gunai senjata rahasianya ini. Ia baharu gunai apabila keadaan sangat mendesak atau berbahaya. Pun kali ini ia bukan serang langsung si perempuan centil, hanya ia hajar bumbung jarumnya perempuan itu.

Liok Cit Nio hampir menjerit karena peluru itu, yang mengenai jitu, telah mengenai juga ujung jarinya, hingga ia merasakan sangat sakit. Ia mengerti bahaya, ia hendak lantas melarikan diri. Sementara itu Cu In, yang telah dapat ketika, sudah mencelat kesamping musuh.

“Binatang, kau masih berniat lari? ” menegor pendeta ini dengan bentakannya. Lie touw hu Liok Cit Nio insaf, tak dapat lagi ia menyingkirkan diri, maka segera ia buang kebelakang kedua tangannya, seraya hadapi lawannya ia kata “Niekouw tua, lekaslah kau habiskan jiwanya nyonya mu!”

Cu In Am cu mengharapkan keterangan, tak ingin dia segera habiskan jiwa orang. Tapi untuk bikin orang tidak berdaya, sebaliknya daripada membabat atau menikam, ia menendang dengan tiba2.

Cit Nio rubuh bergulingan, setelah mana, ia ditubruk, terus di belenggu dengan angkinnya sendiri yang niekouw tua itu loloskan dari pinggangnya. Ia diam saja, ia manda.

Ban Liu Tong loncat turun dari genteng, bersama Eng Jiauw Ong ia hampirkan ketua dari See Gak Pay itu.

“Didalam masih ada dua budak buruk,” berkata Cu In. “Mari kita masuk untuk sekalian dengar keterangan mereka.”

Ban Liu Tong sudah lantas masuk kedalam kamar, yang sekarang telah jadi gelap, karena tak tahu kapan padamnya api. Karena itu, Eng Jiauw Ong ambil ciaktay yang ada lilinnya, buat disulut dan dibawa masuk kedalam.

Cu In Amcu bertindak kedalam seraya menenteng tubuhnya Cit Nio.

Coh Heng, dengan Su touw Kiam dipundaknya, ikuti gurunya. Ia tidak mau lantas turunkan suhengnya, yang ia kuatir nanti di bokong orang jahat. Su touw Kiam telah sedar karena tersiram air teh, cuma kepalanya masih dirasakan berat, matanya pun seperti lamur. Adalah setelah ia diturunkan ke kursi, baharu ia dapat beristirahat.

“Dua budak itu lenyap, tentu mereka kabur,” kata Cu In pada Eng Jiauw Ong. “Mereka ada bangsa budak, biar mereka kabur,” jawab Ong Too Liong.

“Tapi Hong Eng kelewat kejam, aku niat hajar adat pada nya,” bilang si niekouw tua.

Eng Jiauw Ong tidak bilang apa , ia hanya pergi uruti Su touw Kiam dengan ilmu mengurut jalan darah “Twie hiat Kwee kiong hoat,” guna perbaiki jalannya darah diseluruh tubuh.

“Perempuan busuk,” Ban Liu Tong tegur Cit Nio, “kenapa musnah perasaan perikemanusianmu, hingga lupa kau pada malu? Kau telah tertawan sekarang, apabila kau masih memikir hidup, lekas kau beritahukan dimana sembunyinya kedua murid kami yang konco2mu telah culik. Asal kau omong terus terang, kami nanti merdekakan kau, tetapi jikalau kau berlaku licik, kau tak akan dapat ampun lagi. Silahkan kau pilih, hidup atau mati!”

Cit Nio berniat menjawab, akan tetapi sebelum ia buka mulutnya, terdengarlah jeritan “Tolong!” dari arah belakang kuil itu, atas mana Eng Jiauw Ong sudah lantas mencelat keluar rumah, untuk melihat kesekitar nya, hingga ia tampak cahaya api yang ber kobar2.

“Am cu!” kata ia seraya melongok kedalam, “disini masih ada sisa penjahat, mereka telah lepas api dibelakang. Nanti aku lihat!”

“Suheng, lihat juga si nyonya tua yang picak,” Cu In pesan. “Jagalah supaya dia tak jadi korban api!”

Eng Jiauw Ong menyahuti, sesudah mana, ia loncat naik keatas genteng.

“Ban Loosu,” kata Cu In kemudian pada Ban Liu Tiong, “aku ingat pada empat penjahat yang tertawan Ong Suheng, jangan2 mereka bisa kabur….” “Benar, Am cu, nanti aku lihat!” sahut Siok beng Sin Ie, yang pun segera berlalu dari kamar itu, untuk pergi kedepan.

Ketika itu Su touw Kiam, yang sudah mulai terang ingatannya, merasa malu akan dirinya sendiri. Didekatnya, ia lihat suteenya, Coh Heng, yang macamnya tidak karuan, karena saudara ini masih berlepotan lumpur.

“Sutee,” kata ia, “leherku kering sekali, tolong kau cari air dibelakang, sekalian kau bersihkan mukamu…”

Coh Heng menoleh kemuka kaca, ia lantas tertawa sendirinya. Maka lekas ia lari keluar akan cari sebuah tehkoan teh, sehabis kasi Su touw Kiam minum, iapun terus cuci mukanya.

Hampir berbareng dengan itu, Cu In dengar tindakan kaki yang berat diatas genteng. Ia, percaya itu bukannya tindakan dari Ong Too Liong atau Ban Liu Tong, maka dengan diam2 ia geser tubuh kesamping pintu, sambil bergerak, dengan ujung pedang ia padamkan lilin. Ia pasang mata.

Dari dua penjuru genteng, Timur dan Barat, muncul masing2 seorang dengan pakaian malam hitam, mereka loncat turun ketanah, selagi menghampirkan kamar, satu diantaranya segera berseru “He, Cu In, kepala gundul, lekas keluar untuk terima binasa!”

“Kawanan kurcaci!” berseru ketua See Gak Pay sambil ia loncat keluar.

Dua penjahat itu, yang bersenjatakan golok, sudah lantas maju, menyerang dengan berbareng, akan tetapi, setelah si pendeta bikin perlawanan, mereka berlaku licik, mereka tidak mau berhadapan akan bentur senjata dengan senjata, terang sudah bahwa mereka hendak mengganggu saja. Cu In Am cu telah pikir untuk tidak ingin menaruh belas kasihan lagi, akan tetapi kapan ia telah saksikan caranya orang berkelahi, ia segera insaf bahwa musuh sedang pancing dirinya, dalam mendongkolnya, ia teriaki Coh Heng “Coh Heng, jagalah itu penjahat perempuan!”

Teriakan ini disusul dengan munculnya satu orang dari tembok Barat, cepat sekali ia ini lari kejendela, begitu ia sampai, tangannya diayun kearah kamar, menembusi jendela, menyusul mana, terdengarlah seruannya Coh Heng si sembrono “Kurang ajar!”

Satu suara nyaring adalah susulannya tangan diayun itu, dengan menerbitkan suara berisik, tehkoan dan cawan diatas meja pecah berhamburan.

Menyusul lebih jauh, sebuah bangku melesat keluar jendela.

Orang diluar itu, satu penjahat, egos tubuhnya, hingga bangku jatuh ketanah dan ambruk.

Pada itu waktu, Cu In Am cu sudah berhasil melukai lengan kiri dari salah satu lawan nya.

Dari luar tembok Timur, dengan tiba tiba terdengar dua kali suara suitan, pelahan tetapi nyata, atas mana, penyerangnya, Coh Heng melesat ketembok Barat, untuk angkat kaki.

Si penjahat yuga satunya, lawannya Cu In, yang tubuhnya jangkung, juga loncat naik kegenteng Timur sambil ia berseru sendiri nya “Nirwana ikat tangan, para pundak rata tuntun hidup!”

Itulah kata2 rahasia yang berarti si niekouw liehay, baik mereka kabur. Cu In mendongkol bukan main, segera ia geser pedangnya ketangan kiri dan tangan kanannya merogo kantong rahasia nya, akan keluarkan tiga butir peluru Su bun Cit poo cu, sambil menyerang ia berseru “Kawanan kurcaci, jagalah!”

Orang2 jahat itu tahu mereka hendak dibokong dengan senjata rahasia, dari itu, lekas2 mereka siap akan tolong diri dengan tangkisan, tapi pelurunya si niekouw sudah samber musuhnya, peluru pertama lewat diselang kangan kanan, tapi yang kedua dan ketiga, masing2 mengenai iga kanan dan pundak, maka sambil menjerit, musuh itu rubuh, goloknya terlepas, ia jatuh terbanting terus pingsan.

Berbareng dengan itu, didalam kamar, Coh Heng berteriak “Celaka! Si bangsat perempuan kabur! Dia lari dari jendela.”

Cu In dengar itu, kemurkaannya jadi bertambah2, selagi ia hendak bertindak, Eng Jiauw Ong datang padanya seraya terus berkata “Benar2 penjahat sudah membakar dibelakang, aku terlambat karena hendak tolongi si perempuan tua dan picak, tetapi rumah disini terdiri dari tembok semua, api tak akan merembet luas. Bagaimana disini? ”

“Kawanan kurcaci berlaku sangat licik, si penjahat perempuan pun lolos,” Cu In kasi tahu. “Mereka tentu belum kabur jauh, mari kita cari mereka!” Ia lalu teruskan pada Coh Heng “Coh Heng, jaga baik suhengmu! Kalau sebentar gurumu kembali, minta dia jangan berlalu dari sini, kami akan segera kembali! Suheng, mari!” akhirnya ia ajak kawannya.

Tanpa bersangsi, Eng Jiauw Ong loncat akan ikuti pendeta itu, yang sudah lantas loncat naik ketembok Timur. Dengan cepat mereka sudah sampai diluar kuil dimana mereka lantas memandang kesekitarnya. Di saat mereka hendak maju lebih jauh, tiba dari sebelah kiri muncul satu orang. Tapi mereka tidak terkejut, karena segera mereka kenali Siok beng Sin Ie.

“Kau dari mana, sutee? ” tanya Eng Jiauw Ong.

“Kita berlaku murah hati, siapa tahu itu jadi bibit bencana,” sahut Ban Liu Tong. “Empat tawanan kita dapat ditolong oleh kawan mereka, ketika aku mencari keluar, aku lihat satu bayangan lari ke Barat, aku mengejar sampai satu lie lebih, dia lenyap entah kemana. Jalanan disitu buntu dengan jurang yang dalam. Bagaimana disini? ”

“Si perempuan cabul pun lolos,” sahut Eng Jiauw Ong. “Pergi sutee”   tanya   Coh   Heng, kau   akan   ketahui

bagaimana duduknya. Harap sutee jangan berlalu lagi dari

kamar.”

“Tolong loosu tengok satu penjahat, yang telah terluka,” Cu In pesan. “Kami pergi untuk lekas kembali.”

Lalu, cepat sekali, pendeta ini lari kearah Timur, maka itu, Ong Too Liong lari menyusul. Ban Liu Tong pun lantas masuk kedalam.

Cu In berdua Eng Jiauw Ong lari ke Timur jauhnya dua tiga panahan, mereka mendaki sebuah puncak yang lebat dengan pepohonan, rumput dan akar2, karena itu, sukar mereka melihat ketempat jauh. Angin demikian keras, suaranya terdengar nyata antara pepohonan. Setelah maju lebih jauh, mereka tampak dua bayangan, tidak tempo lagi, mereka mengejar. Selagi mendekati, mereka lihat dua bayangan itu terjun kebawah dan lenyap!

“Suheng, lekas!” berseru Cu In kepada kawannya, ia sendiri segera loncat dengan sangat pesat, untuk menyusul. Tanpa menyahuti lagi, Eng Jiauw Ong pun melesat bagaikan anak panah.

Tatkala mereka sampai ditempat dimana dua bayangan lenyap, mereka dapatkan itu adalah sebuah jurang dimana ada air mengalir, tempat jalannya air dari beberapa sumber diatas gunung. Mereka tak lihat tempat untuk loncat turun, mereka heran, dari itu mereka memasang mata dengan tajam. Akhirnya mereka dapati sebuah batu besar pada mana ada tertambat sepotong tali yang panjang, yang masih bergoyang2. Karena disitu masih bergelayutan turun satu orang.

Dibawah jurang, diatas solokan yang merupakan kali kecil itu, ada sebuah perahu kecil.

“Perempuan busuk, kau masih ingin lari? ” membentak Cu In Am cu, yang loncat kebatu besar itu seraya masukkan pedangnya kedalam sarung, karena ia berniat menyusul turun.

Orang didadung itu rupanya menduga pasti ada orang kejar dia, tidak tunggu sampai di ujung tambang, ia sudah mendahului lepas cekalannya, hingga tubuhnya jatuh kedalam perahu. Ia jatuh dengan berdiri tegak, karena ia sengaja loncat turun. Segera setelah injak perahu, dia dongak dan berkata dengan nyaring “Niekouw tua Cu In dan tua bangka Ong Too Liong, kau punya Liok Cit Naynay nantikan kau di Cap jie Lian hoan ouw. Selama aku masih bernapas, pasti aku akan mencari balas! ”

Menyusul penutupnya kata2 itu, kendaraan air mulai bergerak, air muncrat karena bergerak2nya penggayu.

“Perempuan durhaka, kau masih berjumawa? ” berseru Eng Jiauw Ong yang dalam murka nya sudah loncat kebatu besar dan mendahului Cu In untuk mengangkatnya, akan lemparkan itu kedalam jurang, guna timpuk Liok Cit Nio atau perahunya.

XXIII

Suara menjebur hebat sekali segera terdengar, air kali kecil pun muncrat dan bergelombang, akan tetapi perahu melesat luar biasa cepat, dia lolos dari timpukan, melainkan tubuhnya saja yang bergoncangan keras disebarkan air kali jadi bergelombang hebat, air masuk dan hampir perahu karam. Karena ini, tak banyak omong lagi, Cit Nio kabur terus akan meninggalkan Sin Lie Hong.

Samar2 Eng Jiauw Ong lihat Cit Nio ada bersama dua budaknya serta satu konconya lelaki. Ia segera awasi sekitarnya untuk cari jalan, guna mengejar lebih jauh.

“Sudah, suheng,” Cu In mencegah. “Dia cerdik, dia lolos dari tangan kita, tapi dia sangat jahat, akhirnya dia bakal terima bagiannya! Diapun undang kita ke Cap jie Lian hoan ouw, biar disana saja kita nanti bertemu dengannya.”

Eng Jiauw Ong dapat dibikin sabar, ia manggut. “Mari!” mengajak Cu In.

Mereka undurkan diri. Selagi mendekati kuil, mereka lihat Ban Liu Tong sedang menantikan diatas genteng depan. Menampak mereka, sutee itu segera loncat turun untuk menemui.

“Perempuan busuk itu tak dapat disusul? ” tanya ia.

“Ya, dia terlolos,” sahut Eng Jiauw Ong, yang beri keterangan pada suteenya itu.

Pintu kuil   telah dibuka,   bertiga mereka bertindak kedalam.

“Liok Cit Nio sangat cerdik dan bugeenya pun baik, sayang dia tersesat,” kata Liu Tong pada Cu In. “Kalau dia berada di jalan benar, pasti dia bisa berbuat kebaikan untuk umum. Lain kali kita mesti waspada untuk tak kasi ketika untuk dirinya lolos pula.”

“Itu benar,” nyata kan Eng Jiauw Ong.

Sesampainya didalam. mereka lihat penjahat y ang tertawan, yang lukanya hebat dikaki, walaupun tidak dijaga, tak nanti dia bisa kabur, tapi. Coh Heng, dengan goloknya si penjahat ditangannya, menjaga keras, matanya beringas, bahna bencinya. Su touw Kiam, yang sudah dapat pulang kesegarannya, temani su tee itu.

“Cukup, Coh Heng!” kata Eng Jiauw Ong, yang kuatir si sembrono menyerang.

“Kita ini bangsa laki laki, walaupun tugas kita adalah menyingkirkan manusia jahat tapi dia ini sudah tak berdaya, jangan kita perhina dia,” Liu Tong kata pada muridnya. “Kau dengar aku atau aku nanti kembalikan kau ke Kwie in po!”

Coh Heng diam, lantas ia berlalu.

Mukanya Su touw Kiam merah sendirinya, bahna likat dan malu, begitu lekas lihat gurunya bertiga sudah berduduk, ia maju untuk berlutut, terus ia berkata “Suhu, aku tak berguna, aku telah membuat malu kepada suhu, sekarang didepan susiok dan Am cu, harap suhu hukum padaku.”

Eng Jiauw Ong tidak gusari muridnya itu, yang tak tergoda paras elok dan mulut bermadu, tapi ia kata “Kau bisa jaga diri, itulah bagus, aku hanya tidak mengerti, kau bukannya tak berpengalaman, kenapa kau kasi dirimu dijebak? Kesalahan mu adalah kau sudah turuti darah panasmu. Aku toh sudah pesan untuk kau menuju ke Ang touw po, guna berkumpul disana, kenapa kau layani Twie hun souw Hong Lun, ketua bagian Barat dari Hong Bwee Pang? Kenapa kau tidak dengar cegahan nya su ciemu Siu Seng? Hong Lun gagah, dia pun licin dan kejam, mana kau bisa layani dia? Kau gagal, kau cari bahaya sendiri, apabila sampai Siu Seng dan Coh Heng turut dapat susah, apa kau tak malu menemui Am cu dan susiokmu? ”

“Benar, suhu, itulah kekeliruanku,” Su touw Kiam akui. “Baiklah dengan menurut aturan kaum kita, suhu beri hukuman padaku.”

“Sudah suheng,” berkata Cu In sebelum Ong Too Liong sahuti muridnya. “Si Kiam ini ada satu laki2, dia harus dihargai. Bahwa dia kena dipermainkan Liok Cit Nio, itu disebabkan dia masih terlalu muda dan perempuan itu sangat licin. Aku percaya selanjutnya dia akan menjaga dirinya sebaik2nya.”

“Kau baik, Am cu, aku suka maafkan dia,” kata Ong Too Liong. “Kiam, lekas kau haturkan terima kasih pada Am cu.”

Su touw Kiam menurut, ia kasi hormat pada Cu In, lalu pada Liu Tong juga. Paman ini juga berikan ia nasihat. Kemudian, ia undurkan diri.

Setelah itu, Cu In menoleh pada Coh Heng, ia lantas tersenyum.

Si sembrono itu sudah cuci muka akan tetapi pakaiannya, walaupun sudah kering, masih kotor dengan lumpur, hingga dia kelihatannya lucu.

“Ban Loosu bagaimana caranya Co Hiantit bisa sampai di tempat rahasia ini? ” Ia tanya. “Benar2 aneh! Sudahkah loosu tanyakan keterangannya? ”

“Aku belum keburu tanya dia, Am cu,” sahut Liu Tong sambil ia lirik muridnya. Kemudian, dengan roman keren, ia tanya muridnya itu “Kenapa kau jadi begini seperti hantu? Siapa ajak kau datang kemari? ”

“Inilah karena kebetulan, suhu,” sahut murid itu, yang lalu tuturkan hal ikhwalnya.

Dia kaget karena terbebes didalam lumpur. Senjatanya pun hilang. Ia telah lantas sampaikan tempat setumbak lebih, dari itu, penjahat tak dapat cari dia. Ia pun tidak berani hadapi musuhnya. Ia jalan sejalan jalannya saja, sampai ia berada dibelakang Liok kee po. Ia sampai menyusul kembalinya Liok Cit Nio kekuilnya itu, karena Cit Nio sedang kumpulkan empat orangnya, yang dipasang disekitar rumah, tak ada orang yang pergoki ia. Malah ia bisa dengar titahnya Cit Nio pada dua orangnya untuk bawa pergi Su touw Kiam, serta yang dua lagi dititahkan entah ambil barang apa didalam rumah. Dua yang belakangan ini dititah menyusul ke Sin Lie Hong.

Dengan berani tetapi hati2 Coh Heng ikuti perempuan cabul itu. Syukur buat dia, walaupun tindakan kakinya berat tetapi hembusan keras dari sang angin sarukan itu. Ia saksikan orang nyeberang dijembatan tali. Diwaktu nyeberang, Cit Nio sendiri yang gendong Su touw Kiam, karena dua konconya ngeri. Tadinya Cit Nio hendak perintah angkat jembatan itu tetapi dua konconya mencegah dengan bilang, taruh kata musuh dapat menyusul, tak nanti musuh berani mendaki puncak, atau musuh bakal kecemplung didalam jurang sebelum mereka dapat cari jembatan istimewa itu. Karena ini, sesudah orang lewat, Coh Heng lintasi jembatan itu. Hampir ia kejeblos dan terjatuh. Sesampainya dikuil, dengan berhati2 ia masuk sampai disebuah kamar dimana ada dua budak perempuan. Ia mengintai di jendela. Ia mengilar bukan main ketika ia lihat air teh, karena ia sedang berdahaga sangat. Selagi ia mengintai, ia dengar suara panggilan “Hong Eng, lekas ambil lampu!”

Itulah Lie touwhu yang datang bersama dua konconya, yang gendong Su touw Kiam.

“Cit Nio datang!” demikian sahut salah satu budak, tetapi dua nya segera lari keluar untuk berlomba menyambut.

Justru dua budak itu keluar, Coh Heng dengan berani masuk kedalam kamar itu. Lebih dahulu ia samber dua cawan teh, tapi dua cawan tidak cukup, ia gelogoki tehkoan yang airnya masih panas, hingga ia kelabakan sendirinya. Ia tak sempat menyingkir tempo Lie touwhu mendatangi, disitu tidak ada tempat sembunyi, terpaksa ia menyelusup masuk kekolong pembaringan, hingga kepalanya kena kebentur. Disitu pun ia mesti mendekam dengan menahan napas. Karena begini, ia sekalian dapat beristirahat. Begitulah ia lihat Su touw Kiam dibawa masuk, diletaki diatas pembaringan, dan dua penjahat tadi diperintah angkuti barang.

Kedua budak perempuan hendak sediakan air teh untuk Cit Nio. Mereka heran mendapati air teh habis semua. Mereka diam saja, mereka tidak berani saling tanya. Kemudian yang satu nya pergi ambil air panas, untuk seduh teh pula.

Selama itu, Cit Nio telah bersolek, Su touw Kiam dijaga keras, selagi sang tempo lewat. Coh Heng terus mendekam, sampai saatnya sampainya Eng Jiauw Ong beramai dan si Kuku Garuda sudah tembrak jendela, maka disaat itu, muncullah Coh Heng. Kalau tidak ada dia, Su touw Kiam akan terbinasa atau sedikitnya pun terluka.

Demikian penuturannya Coh Heng, mendengar mana, Ban Liu Tong anggap muridnya ini berjasa. Su touw Kiam menghaturkan terima kasih pada ini sutee penolong.

“Mari kita berangkat!” Cu In mengajak. “Tempat ini tak ada pentingnya, baik dibumihanguskan saja!”

“Bagaimana dengan si nene picak dan si penjahat? ” Liu Tong tanya.

“Si penjahat ada sisa mampus, kita antap dia diluar kuil mati atau hidup terserah padanya,” bilang Eng Jiauw Ong. “Si nyonya tua bersih hatinya, walaupun dia berdiam disarang penjahat, dia mesti ditolong. Bagaimana pikiran amcu? ”

“Suheng benar,” Cu In niatakan setuju. “Liok Cit Nio ada ketua cabang, disini mesti banyak simpanannya, baik kita menggeledah dahulu, supaya apabila kita berhasil, kita bisa gunai hartanya untuk umum.”

“Memang, hartanya itu tak harusnya termusnah disini,” nyatakan Liu Tong.

“Tak usah mencari susah2, su peh,” Coh Heng turut bicara.

“Tadi aku lihat penjahat bawa masuk satu koper berat, barangkali itulah ada harta benda nya.”

“Mungkin kau benar,” Liu Tong kata.

Cu In percaya, Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong sungkan geledah kamar orang perempuan, maka ia sendiri yang masuki kamarnya Cit Nio. Ia berhasil mendapati koper yang disebutkan di pojokan, tingginya dua kaki, panjangnya enam kaki, terkunci rapat, agaknya berat. Ia babat kunci itu, kapan ia telah buka tutupnya, ia dapatkan uang emas dan perak sejumlah empat atau lima ribu tail. Ketika ia geledah seluruh kamar, ia dapati emas seribu tail, hingga ia menggeleng kepala, ia kerutkan alis.

“Tak dapat kita bawa harta ini. Bagaimana suheng pikir? ” ia tanya Ong Too Liong.

“Baiklah kita bawa dahulu ke Ang touw po, disana kita pikir pula,” Eng Jiauw Ong jawab.

Cu In dan Liu Tong setuju, maka harta itu dibungkus, disuruh Coh Heng yang bertenaga kuat yang memikul, Su touw Kiam bantui bawa uang emas yang seribu tail.

Diwaktu bertindak keluar, Liu Tong angkat tubuhnya si penjahat terluka, untuk diturunkan di pinggiran pepohonan lebat. Ia kata terhadapnya “Turut sepantasnya, kau mesti dilempar kedalam jurang, tetapi aku murah hati, maka aku tinggal kau disini. Bila sebentar api berkobar, koncomu tentu bakal datang kemari, kau akan ketolongan, apabila kau bisa ubah hatimu, dibelakang hari mungkin kau selamat, jikalau tidak, umpama kau bertemu kami pula, pasti kau tak dapat ampun lagi! Aku adalah Ban Liu Tong.”

“Kau ada Sin Ie Ban Tay hiap dari Kian San, aku kenal kau,” kata si penjahat sambil merintih. “Tayhiap, aku minta kau berbuat baik, ialah dengan segera habiskan jiwaku, agar aku tak menderita terlebih jauh. Lihat kaki kananku ini, umpama kata dapat disembuhkan, tetap aku akan bercacat. Aku adalah Teng Liong, dengan habiskan jiwaku, aku nanti ingat kebaikanmu.”

Ketika itu Cu In Amcu telah muncul bersama si nene picak dan Ong Too Liong yang sudah lepaskan api, mulai dari ruangan tengah. Antara cahaya terang. Ban Liu Tong lihat orang punya luka2 yang parah, pakaian berlepotan darah dan keadaannya menyedihkan, timbullah hati kasih nya. “Kau bilang kau kenal aku, kalau begitu, kau niscaya ketahui kemurahan hatiku,” ia bilang. “Kau tentu juga ketahui bagaimana aku benci akan kejahatan! Biasanya, orang semacam kau tak nanti dapat ampun dari aku, tetapi ucapanmu ada menggeraki hatiku. Sekarang sumpahlah kau bahwa dibelakang hari kau akan ubah hatimu untuk jadi orang baik2, nanti aku obati lukamu, supaya kau tidak bercacat.”

“Tetapi, Ban Tay hiap,” sahut Teng Liong itu. “Sebagai orang kang ouw, tayhiap niscaya ketahui aturan dari Hong Bwee Pang, yang melarang pengkhianatan atau orang yang akan cari bencana sendirinya. Walaupun demikian, aku ingin ubah cara hidupku, mungkin aku dapat kebebasan. Jikalau tayhiap benar sudi obati aku, aku tak nanti lupa akan budimu, apabila aku berbuat jahat pula, biar aku binasa dengan tiada tempat untuk kubur mayatku!”

“Baiklah,” sahut Liu Tong, yang terus menoleh pada Cu In, yang berdiri dibelakangnya sambil bersenyum dan manggut2, kemudian niekouw ini memuji “Omie toohud! Siancay, sian cay, Ban Loosu juga hendak menyeberangi umat.”

“Kebetulan, am cu,” kata Liu Tong. “Tolong kau dermakan dua butir pil Kiu coan Tan see, aku nanti sambung tulang2 nya, supaya dia sembuh dan tuntut penghidupan lurus.”

“Kau pemurah, loosu, aku bersedia akan bantu kau,” sahut niekouw itu, yang lantas rogo sakunya akan keluarkan dua biji obat pulungnya.

Ban Liu Tong sambuti obat itu sambil mengucap terima kasih, kemudian ia dekati si penjahat.

“Inilah obat tan see dari Cu In Am cu dari Pek Tiok Am dari See Gak,” kata ia. “Kau mamah dan telan ini, untuk obati lukamu, untuk ringankan penderitaanmu. Sayang aku tak bekal obatku.”

Sambil rebah. Teng Liong sambuti obat itu.

“Aku melainkan bisa bersyukur,” kata ia, yang terus masukan obat kedalam mulutnya.

Liu Tong buka orang punya celana dibagian kaki akan periksa tulangnya, yang telah patah.

“Kau tahanlah sakit,” kata ia. “Obatnya am cu bisa bantu ringankan sakitmu.”

“Aku dapat menahan sakit, tayhiap,” sahut Teng Liong.

Liu Tong segera bekerja, lebih dahulu ia totok dua jalan darah hoan tiauw hia dan hok touw hiat, guna tunda jalannya darah, lalu ia mulai mengurut, akan sambung tulang yang patah. Benar2 Teng Liong tidak terlalu tersiksa, ia menahan sakit. Sesudah itu, tabib ini bungkus luka itu, akan diakhirnya menotok pula, mengalirkan darah didua jalan yang tadi ditutup. Setelah ini, baharu penjahat itu merasakan sakit, tetapi dia tak menghiraukannya.

Siok beng Sin Ie dongak kelangit, akan perhatikan sang waktu, lantas ia rogo sakunya mengeluarkan kira2 dua puluh tail perak, yang ia letaki dipinggiran.

“Lukamu akan sembuh, asal kau rawat baik2,” ia bilang. “Kau membutuhkan tempo lebih lama dari biasanya. Selama empat puluh sembilan hari, jangan buka libatan ini. Umpama dihari ke tiga puluh kau merasa gatal, antap saja, jangan kau garuk, jangan juga buka, kau cuma boleh tumbuki pe lahan2. Ingat ini, jangan kau langgar pesan ku, atau kau bakal bercacat, itu waktu jangan kau sesalkan aku! Ini uang kau boleh pakai untuk belanja. Selewatnya empat puluh sembilan hari, kau akan sembuh betul, tapi ingat, jangan dipakai bertenaga kuat2, selewatnya seratus hari, baharu tidak ada halangannya lagi. Asal selanjutnya kau hidup halal, tak sia2lah yang aku telah tolongi dirimu!”

Selama itu, ayam jago merah telah mengamuk hebat rumahnya si Jagal Wanita, api berkobar, asap ber gulung2 naik, angin membantu banyak.

“Sarangnya Liok Cit Nio telah musnah, Ban Loosu pun telah berbuat baik, maka sekarang marilah kita berangkat,” berkata Cu In Am cu, yang awasi api.

“Kau memuji, am cu,” kata Liu Tong sambil bersenyum. “Marilah!”

Eng Jiauw Ong pun setuju.

Rombongan ini segera berjalan dengan Cu In jalan didepan dengan Su touw Kiam dan Coh Heng mengiringi sambil mereka ini bawa hartanya Liok Cit Nio.

Siu Seng dan Siu Sian telah ber jaga2 dijembatan tali, lama mereka menantikan, belum juga mereka lihat guru mereka kembali, sebaliknya mereka tampak api me nyala2, hingga mereka berkuatir. Disitu pun mereka telah jagai satu penjahat yang dapat dibekuk, yang mereka tak berani lancang berikan hukuman. Syukur akhirnya mereka lihat rombongan gurunya, maka mereka lantas menyambut.

“Tempat ini penting, maka bersama sumoay aku menjaga di sini,” Siu Seng berikan laporan nya. “Kami anggap tidak ada perlunya akan bantu suhu beramai disana. Kami menjaga sambil bersembunyi. Tadi, sebelum api berkobar, dua penjahat datang kemari, tidak ayal lagi kami serang mereka. Dua2 mereka ada sangat gesit, terpaksa kami presen mereka dengan panah wan yho cian. Dia ini terluka paha kirinya,” ia tunjuk si penjahat yang rebah didekatnya, “tetapi kawannya bisa lolos. Terserah kepada suhu untuk memberikan putusan.” “Nanti aku lihat dulu, dia ini penjahat yang lolos atau yang baru,” kata Cu In.

Siu Seng dan Siu Sian segera gusur orang tangkapannya kedepan guru mereka. Dia terbelenggu dan mulutnya tersumbat, hingga napasnya hanya keluar dari hidungnya.

“Benar dia adalah penjahat yang lolos dari puncak,” kata Cu In sesudah ia mengawasi. “Coba buka sumbatan mulutnya!”

Siu Sian lakukan titah guru nya itu.

Penjahat itu lepas napasnya, lalu ia awasi dengan bengis pada Siu Seng berdua.

“Kami berbuat baik dan ampunkan jiwa anjingmu,” kata Too Liong dengan bengis, “tapi kau tak kenal kapok, untuk kedua kalinya, kau satrukan kami. Sekarang kau telah tertawan pula apa kau hendak bilang? Jikalau kau ingin hidup, bilanglah dimana adanya Hong Loan serta dua murid kami yang kau culik.”

“Harap kau tak usah capekan lidah ” kata penjahat itu kapan ia telah awasi Eng Jiauw Ong.

“Aku adalah anggota Hong Bwee Pang, dibagian Barat ini aku bekerja bukan baharu setengah atau satu tahun, tak dapat aku bicara. Terserah padamu, kau hendak habiskan jiwaku atau tidak.”

“Tidak dinyana, dia besar nyali nya,” kata Too Liong pada Cu In. “Apa baik kita beri ampun padanya? ”

“Aku akur,” sahut Cu In, “Kita memang tak perlu ayal2an. Lalu ia kata pada si penjahat “Orang durhaka, pin nie suka ampuni kau, tapi sejak hari ini, jangan kau duduki pula daerah Liang Seng San ini, jikalau kau bandel, sepulangnya dari Kang lam nanti, kau tak akan dapat ampun pula.”

Kemudian, dengan tak tunggu jawaban lagi, mereka berangkat. Sekarang ini Eng Jiauw Ong gantikan Coh Heng membawa bungkusan uang, dan Cu In gendong si nene picak. Untuk manjat tinggi. Ban Liu Tong saban2 bantui muridnya yang tak mengerti ilmu entengi tubuh. Mereka mesti ambil jalan balik ke Liok kee po, mereka sampai disana sesudah fajar menyingsing. Sarangnya Cit Nio telah musnah jadi abu. Karena rombongan mereka bisa datangkan kecurigaan orang, Eng Jiauw Ong menuju ke Ang touw po dengan ambil jalan kecil. Mereka sampai pada jam Sin sie,-jam tujuh atau delapan pagi, dengan lantas mereka disambut Siu Yan, yang sedari tadi sudah langak longok diluar kampung meng harap2 guru nya.

“Ah, suhu, kenapa sampai begini waktu baharu sampai? ” tanya murid ini. “Ber sama2 su moay Siu Hui aku menantikan dengan pikiran tak tenang. Aku berdua jalan berpisahan, terus sampai disini. Suhu menyebut hotel Hok Lay tapi penginapan itu penuh, kami ambil saja Hok An, kami menantikan sampai terang tanah tadi, suhu belum kembali, untuk mencegah suhu menuju langsung ke Hok Lay, maka aku telah berdamai dengan Siu Hui untuk menantikan di sini.”

Cu In manggut. “Mari!” kata ia.

Ketika itu, Cu In jalan didepan, Ong Too Liong dan Ban Liu Tong menyusul, dibelakang sekali Su touw Kiam dan Coh Heng bersama Siu Seng dan Siu Sian yang iringi si nene picak.

Hotel Hok An berada disebelah Selatan Ang touw po, disuatu jalanan yang panjang, disana Siu Hui murid ketujuh, sudah menantikan. Maka akhirnya ber sama2 mereka masuk kedalam dimana Siu Yan telah sewa tiga buah kamar.

Segera paling dahulu mereka bersihkan muka, untuk bersantap dan minum, terutama paling dulu si picak diberikan suguhan, kemudian dia ditanya she dan nama nya dan asal tempatnya, apa dia masih punyakan sanak.

“Kami ada dalam perjalanan, tak bisa kami selalu bawa2 kau,” Cu In kasi tahu.

“Jikalau aku tak bersendirian, tak nanti aku bersengsara sedemikian ini,” sahut si nene yang menghela napas. “Anakku, Co Tin, kena dipedayakan penjahat, dia jadi anggota dari Tee cit to, to ke tujuh dibagian Barat ini. Pernah aku nasihatkan padanya untuk ubah haluan, tapi dia tersesat, maka kemudian, dia kena ditangkap pembesar negeri dan dijatuhi hukuman mati, kepalanya dikutungi. Hilanglah tunjanganku, aku jadi sangat berduka, aku menangis setiap hari, sampai mataku sakit dan tak bisa melihat. Selama itu, ada kata2 tak sedap yang aku ucapkan, maka orang lantas kurung aku secara diam2. Hong Lun si tua bangka itu sangat busuk, dia serahkan aku pada Lie touwhu Liok Cit Nio, siapa perlakukan aku dengan bengis dan kejam. Beberapa kali aku coba habiskan nyawa sendiri, saban2 gagal. Rupanya belum habis waktunya siksaan bagi diriku. Seterusnya aku memuja Sang Buddha, untuk mohon dibebaskan, baharu sekarang aku bisa lolos. Aku punya satu keponakan, Lim namanya, hidupnya sebagai tukang perahu, tapi sejak sepuluh tahun yang lalu ia pergi ke Su coan, sampai sekarang ia belum kembali, ada yang kata dia mati kelelap, ada yang bilang dia tinggal berumah tangga di Kanglam, maka   tak bisa   aku cari dia. Kalau   kalian pula baik titipkan saja aku disalah satu kuil untuk disana aku lewatkan hari2ku yang terakhir.” “Kalau begitu, gampang,” kata Liu Tong. “Kita titipkan sejumlah uang, agar dia dapat diterima dengan baik.”

“Dan bila nanti kita kembali, aku berniat ajak dia ke Pek Tiok Am,” Cu In nyatakan.

Jongos yang kebetulan datang kepada mereka, lantas ditanya apa di Ang touw po ada kuil.

“Ada, ialah Pek In Am di Timur, dua lie jauhnya dari ini,” sahut jongos itu.

Cu In lantas bertindak. Ia panggil tuan rumah, buat minta tolong carikan kereta sewaan, untuk antar si nene ke Pek In Am. Ia bawa uang dua ratus tail, untuk menderma kepada kuil itu. Niekouw dari Pek In Am suka ke tumpangan si nene, malah dia ini boleh tak usah kerja apa2 ke cuali liamkeng saja.

Sepulangnya dari kuil, Cu In berdamai untuk berdiam seharian di Ang touw po, buat di hari ke dua baharu berangkat. Karena ini, disebelah empat muridnya, ia ambil sebuah kamar sendiri dimana ia bisa duduk bersemedhi dengan merdeka.

Ong Too Liong dan Ban Liu Tong dapat sebuah kamar tapi misah pembaringan, sedang Su touw Kiam tidur bersama Coh Heng.

Selagi beristirahat, Too Liong beritahukan Liu Tong, tak leluasa untuk mereka bawa harta besar, dari itu ia usulkan, harta itu dikirim atau ditukar jadi emas lempengan.

“Lebih baik kita bawa ke Ceng hong po,” Liu Tong sarankan. “Urusan kita dengan Hong Bwee Pang entah bagaimana akhirnya. Di Gie yang tentu ada bank besar, disana kita tukarkan harta ini.”

Too Liong setujui pikiran ini. Selagi suheng dan sutee ini bicara, Cu In datang pada mereka. Baharu Eng Jiauw Ong hendak mengundang si niekouw duduk, tiba2 ia dengar suara orang bicara dipekarangan, suaranya berlidah Hoolam. Ia heran, ia lantas hampirkan pintu untuk melihat. Ia memang selalu bercuriga. Ia mengintai dicela pintu.

XXIV

Orang berlidah Hoolam itu memakai celana dan baju biru, bajunya pendek, kancingnya putih, baju dalamnya biru juga, diatasan sepatunya ada kaos kaki putih. Dipundaknya ada sepotong ukuran dengan tiga huruf hitam “Sam Hoay Tong.” Ia memegang saputangan putih dengan apa tak hentinya ia sekah keringat dikepalanya. Dilihat dari romannya, dia mirip satu petani.

Cu In dan Liu Tong lihat kawannya mengintai dengan asyik, merekapun menghampirkan akan turut melihat.

Orang itu bicara kepada satu jongos, dia tanya tentang kawannya ambil kamar yang mana, jongos bilang dihotelnya tak ada orang tani, tetapi orang ini tidak percaya.

“Mereka ada saudagar2 beras, mereka datang ke Ang touw po ini untuk menjual beras. Aku habis menagih, aku datang belakangan. Mereka itu katanya ambil kamar tengah.”

“Benar2 disini tidak ada saudagar beras,” kata si jongos. “Ada juga, tetamu kamar tengah, delapan atau sembilan orang, diantaranya ada orany suci.”

Agaknya orang itu mau memaksa masuk kedalam, tapi mendengar keterangan hal adanya pendeta, ia merandek.

“Aku keliru, kalau begitu,” kata ia. “Pantas tadi aku lihat satu nie…” “Sudah, sahabat!” memotong si jongos. “Aku tukang layani tetamu, aku sedang tak sempat, pergi kau cari dilain penginapan saja.”

Iapun tolak tubuh orang.

Petani itu menahan diri, matanya terbuka lebar.

“Eh, kau usir aku? ” tanya ia. “Apa kesini orang cuma boleh datang untuk menginap saja, tetapi tidak boleh mencari orang? Kau sedang repot tapi aku toh tidak seret2 kakimu? Kau toh boleh jalan sendiri? Kau mencurigai, aku sukar percaya kau. Biar aku masuk, untuk periksa sendiri. Toh aku tidak langgar undang2!”

Petani ini mau bertindak masuk, tapi satu pelayah lain hampirkan Ia.

“Sahabat, jangan kau jail,” katanya “Kami sudah kasi keterangan, habis kau mau apa? Aku harap kau jangan bikin kami pusing, nanti….”

“Apa? Kau berani hajar aku? ” petani itu tanya, matanya terbelalak. “Aku tak percaya!”

“Kau tidak percaya? ” kata satu jongos lain, yang usianya muda, berbareng dengan mana, kepalannya mampir dipundak orang.

“Ah!” berseru si petani, ukurannya tersempar jatuh. “Kau benar2 berani pukul orang? Kurang ajar!”

Dia lantas gulung kuncirnya.

Karena Ini, beberapa tetamu lain datang berkerumun.

Kuasa hotel kuatir terjadi onar, ia segera datang sama tengah.

“Lauw Sam, jangan kurang ajar!” ia menegur. “Kami ini orang berusaha, jangan kamu berlaku galak.” “Kurang ajar!” petani itu berseru pula, sikapnya perongosan.

Ong Too Liong, dalam kamar nya, tertawa sendirinya. “Binatang itu datang untuk kita,” kata ia. “Kalau kita tak

perlihat diri, dia tentu tak akan puas!”

Ia terus tolak pintu.

“Dia sedang panggil harimau keluar dari guhanya,” Liu Tong bilang. “Baik kita sengaja tak berikan dia kepuasan, Jangan keluar, suheng.”

“Tapi kita justeru kuatirkan ikan tidak makan umpan!” Cu In tertawa. “Ong Suheng, pergi keluar, supaya tuan rumah penginapan tidak ketimpa bencana!”

Too Liong bersenyum, terus ia tolak daun pintu dan bertindak keluar.

Petani itu mundur karena cegahannya kuasa hotel, ia jemput ukurannya, tapi kapan ia lihat Too Liong, ia mengawasi, lalu la kata pada si jongos “Jangan bertingkah, boca! Kau berani menghina orang tani, kau tak punya mata! Tunggu saja, nanti datang saat kegirangan kau.”

Setelah mengucap demikian, petani itu berlalu, hingga sekalian tetamu lainnya pada tertawa geli, malah ada yang mengatakan dia besar gertak kecil nyali.

Lauw Sam lihat Ong Too Liong, sambil tertawa ia kata “Tuan lihat lagaknya dia itu, apabila aku tidak mencegah, tentu dia bakal masuk kekamar tuan untuk mengadu biru! Setelah digebuk pundaknya, dia lantas pergi, apa itu bukan lagak saja? ”

“Oh, dia datang untuk kami? ” Too Liong tegaskan. “Sayang dia sudah lantas pergi! Nah, pergilah, jangan kau repoti diri. Dia datang entah dengan maksud apa…” Jago Hoay siang lantas kembali kekamarnya.

“Lihat, am cu, mataku toh tidak lamur? ” kata ia pada Cu In.

“Tetapi, suhu, aku tidak lihat dia mencurigai…..” kata Su touw Kiam.

“Memang tidak, kecuali setelah kau meneliti,” jawab sang guru. “Dengan sendirinya, dia telah buka rahasia. Penyamarannya ada sempurna, tapi caranya dia berdiri, menyatakan dia bukan petani. Itu ada cara berdiri diatas perahu. Didarat, diatas tanah, dia tak dapat ubah itu. Dia mengaku orang tani tapi mukanya bersih, tak ada debunya sedikit juga.”

Baharu sekarang Su touw Kiam kagumi gurunya.

“Dia berayali besar, dia menyebalkan,” kata Liu Tong. “Aku lihat, dasar kita yang terlalu murah hati, hingga mereka jadi menengil. Perlu kita ajar adat pada mereka supaya mereka jerih!”

“Aku lihat, kalau bukan konconya Liok Cit Nio, dia mesti ada orangnya Hong Lun,” kemudian Eng Jiauw Ong utarakan sangkaannya. “Hong Lun telah terluka, tidak nanti dia datang sendiri. Baik sebentar malam kita lihat, orang macam apa yang hendak datang kemari untuk men coba2 perlihatkan kepandaiannya.”

Pada waktu magerib, dengan diikuti oleh suteenya, Eng Jiauw Ong keluar dari hotel, akan lihat keletakan penginapan itu. Di Selatan ada jalan umum, ditiga penjuru lainnya ada banyak tetangga. Mereka pun menduga2, dari arah mana orang jahat akan datang. Mereka perhatikan pekarangan hotel dan seluruhnya hotel, bagian luar dan dalamnya, sampai jendela2 pelbagai kamar. Mereka tahu, hotel ada punya empat peronda tapi karena keadaan aman, mereka itu kerjanya alpa, dan si kuasapun mengantapinya.

Itu waktu, dari empat jongos, dua berdiam diluar akan sambut tetamu, dua didalam melayani sekalian penumpang. Tuan rumah tidak perhatikan jago2 Hoay Yang Pay akan penyelidikannya itu.

Ketika kedua saudara kembali kekamar, api sudah dipasang. Su touw Kiam dan Coh Heng sudah tidur nyenyak, malah si sembrono menggeros keras. Cu In Am cu sudah kembali kekamarnya sendiri. Adalah Siu Yan, atau Liap Cie In, baharu saja peras kering pakaiannya Coh Heng yang dia tolong cucikan. Dia likat melihat supe dan ayah angkat itu, sendirinya kedua pipi nya bersemu merah, sambil tunduk ia mau bertindak keluar.

“Siu Yan,” kata Ong Too Liong sambil duduk, “aku senang melihat kelakuanmu ini. Begini caranya kita kaum kang ouw, yang jujur dan putih bersih. Kita memang mesti saling tolong. Coh Heng polos, aku sayang padanya, dia pun yatim piatu seperti kau, pantas kau berkasihan terhadapnya. Dia tolol, dia memang membutuhkan bantuan, tidak demikian dengan Su touw Kiam, yang sudah lulus dari perguruan dan bisa bawa dirinya. Kau tak usah malu2, kita ada diantara orang sendiri, asal kita berlaku jujur dan terhormat, tidak ada halangannya. Aturan dari am cu ada keras tetapi diapun tidak akan persalahkan kau. Tidakkah demikian, sutee? ”

“Kau benar, suheng,” sahut Liu Tong. “Aku memang benci siapa yang berbuat salah. Kita kaum Rimba Persilatan mesti jujur. Siu Yan pergi kau lihat gurumu, apabila dia sedang senggang, minta dia datang ke mari, kita hendak bicara.” Siu Yan kemudian sambil menyahuti “Ya” lalu undurkan diri, akan undang gurunya. Didalam hatinya ia janji “Aku mesti lebih hati2 lain kali.” Ia berkasihan terhadap Coh Heng, yang tingkah polanya membuat orang gemar bergaul dengannya. Ia me nyesal perbuatannya itu “kepergok” oleh supe dan ayah angkat nya. Ia insaf, walaupun belum cukuri rambut, ia ada muridnya Sang Buddha, dari itu, ia harus sujut pada agamanya. Ia harap bisa lekas kembali ke Pek Tiok Am, untuk bersujut terus, agar ia tak usah bertemu pula dengan si sembrono itu, yang terhitung suteenya. Ia masih terlalu hijau, hingga ia belum insaf tentang karma, perihal jodoh.

Ketika Siu Yan sampai dikamarnya, gurunya sedang bersamedi tapi guru itu sudah lantas buka mata dan mendahului tanya, apa supenya sudah kembali.

“Ya, suhu, malah supe mengundang, barangkali ada urusan penting,” ia jawab.

Cu In manggut, ia berbangkit, terus ia pergi kekamarnya Eng Jiauw Ong dimana Too Liong tuturkan ia perihal keletakannya hotel itu.

“Bagaimana sikap kita kalau sebentar mereka benar2 muncul? ” kemudian jago Hoay siang itu tanya. “Apa baik kita habiskan mereka atau bekuk saja untuk diperiksa dan kemudian baharu hukum mereka? ”

“Mengingat kejahatan mereka yang tak kenal kapok, membinasakan mereka berarti kita tolongi rakyat menyingkirkan satu bibit bencana,” sahut Cu In, “akan tetapi selama ini pin nie makin insaf, pembunuhan berarti kedosaan, itu ada bertentangan dengan Thian, maka pin nie anggap, beri peringatan saja ada terlebih baik. Dengan begini kitapun luputkan hotel ini dari bergelatakannya pelbagi mayat. Kita baik kuntit mereka, untuk cari kedua murid kita. Umpama kata malam ini mereka tidak datang, besok pagi2 kita mesti segera berangkat. Tidakkah begini lebih baik? ”

“Am cu benar,” sahut Liu Tong, “hanya sayang, kawanan ini rasanya tak dapat diperbaiki lagi, kekejaman mereka sudah jadi suatu kebiasaan. Karena sukar untuk kita korek keterangan dari mulutnya, mereka mesti dikasi tahu rasa, supaya mereka ketahui keliehayan kita.”

“Kita boleh ajar adat pada mereka, asal kita harus jaga agar tuan rumah tak terembet2,” Eng Jiauw Ong peringatkan.

Sampai disitu, datang waktu nya bersantap. Cu In undurkan diri untuk dahar bersama empat muridnya, karena mereka cia cay, sehabisnya bersantap, ia suruh murid2nya itu beristirahat dan pesan jangan campur urusan melayani orang jahat, kemudian ia sendiri kembali pada Eng Jiauw Ong dan Siok beng Sin Ie, Dengan lewatnya sang waktu, hotelpun pelahan2 menjadi semakin sunyi.

Pada jam satu, Eng. Jiauw Ong pergi melihat5 hingga ia dapat kenyataan kebanyakan penumpang sudah tidur dan hotel ada gelap. Sekembali kekamarnya, ia tanya bagaimana mereka harus bersikap, sebab musuh belum datang, pun tak tahu berapa jumlahnya, dan musuhpun lebih waspada.

“Baik kita kecilkan penerangan dan ber pura2 tidur,” Liu Tong usulkan. “Kita pun harus jaga agar mereka tak kabur siang siang.”

Cu In setuju, juga Liu Tong. Cu In lantas balik kekamar nya, akan suruh murid2nya siapkan senjata mereka dibawah bantal, tetapi dipesan, tanpa titah mereka tak boleh campur tangan, kemudian ia kecilkan api hingga kamarnya jadi remang2. “Nah, mengaso kau sekalian,” kata ia akhirnya. Selama itu sudah jam dua tiga perempat.

Dikamarnya Eng Jiauw Ong, jago Hoay siang ini dan

suteenya pun sudah siap. Su touw Kiam dan Coh Heng diperintah rebah dengan siap sedia, api telah dikecilkan, mereka sendiri turut rebahkan diri, tapi Liu Tong awasi kedua jendela dan Too Liong kejurusan pintu.

Itu waktu, hotel telah terbenam dalam kesunyian seantero nya.

Pada kira2 jam tiga, Liu Tong dengar suara berkelisik diluar, dari itu, bersama suhengnya ia siap benar2.

Cepat sekali terdengar suara orang loncat turun, disusul oleh suara pelahan dijendela, tandar nya kertas jendela dipecahkan dan orang berdaya akan korek daun jendela.

Dengan tubuh tak berkutik, Liu Tong pasang mata, hingga ia bisa lihat satu tubuh mencelat masuk dari jendela, gerakannya gesit bagai burung walet. Itu ada gerakan “Kauw yan coan lim” atau “Burung walet terbang menembusi rimba.” Rupanya penjahat itu liehay, sesampainya didalam, dia terus mendekam.

Pasti dia punya dua tiga kawan lagi diluar.

Eng Jiauw Ong telah dapat lihat penjahat itu, walaupun Liu Tong kutik ia. Karena api suram, sukar akan lihat nyata wajah mukanya orang itu, cuma dengan samar2 dia itu tertampak menghunus senjata.

Masih saja suheng dan sutee itu berdiam.

Penjahat itu hampirkan pintu, untuk singkirkan palangannya dan mementang daunnya, atas mana masuklah satu penjahat lain, yang tubuhnya sedikit lebih besar, senjatanya entah senjata apa. Penjahat yang ke tiga menyusul masuk tapi ia dicegah oleh penjahat yang masuk dari jendela. Kemudian, berdua mereka bertindak kepembaringan. Sekarang ternyata, penjahat yang ke dua bergegaman poan koan pit. Rupanya mereka tidak mengarah jiwa, ketika mereka menyerang, senjata mereka menuju ke bawah.

Segeralah terdengar suara nyaring, dari senjata mengenai pembaringan, hingga kedua penyerang itu jadi terperanjat. Mereka sudah serang tempat tidur yang kosong. Suara nyaring itu disusul oleh tertawa geli di atasan kepala mereka serta satu seruan disebelah belakang “Awas!”

Penjahat yang menyekal poan koan pit kaget sampai ia berseru dalam hatinya, segera ia meloncat kejurusan jendela dimana ia lalu memutar tubuh untuk bersiap menyerang musuh apabila musuh kejar ia, tapi orang telah dahului menekan pundaknya tanpa ia dapat lihat orang itu.

“Pundak rata, musuh berabe, tuntun hidup!” berseru penjahat yang satunya. Ia beri tanda musuh liehay, menyingkir saja. Tapi suaranya disusul dengan bentakan “Kemana kau hendak kabur? ” serta samberan angin, hingga ia lantas berlompat kedepan. Ketika ia sampai dimuka pintu, dari kirinya menyamber serangan poan koan pit, hingga ia jadi lebih kaget tapi segera ia berseru, “Pundak rata, aku!” Ia segera terus lari keluar, disusul oleh kawannya itu, yang hampir serang orang sendiri.

Ketika penjahat yang bergegaman golok ini sampai diluar, baharu kakinya injak lantai, satu bayangan serang mukanya. Saking terkejut, ia mundur pula. Serangan hebat tetapi diapun gesit. Tapi dia mundur secara mendadak, dan dibelakangnya, kawannya sedang susul ia, tidak tempo lagi mereka saling tabrak, hampir dua2nya rubuh celentang. Segera mereka memecah diri kekiri dan kanan, tapi mereka tercengang, karena penyerangnya lenyap entah kemana. Berbareng dengan itu, dari kamarnya si pendeta wanita, menyusul terpentangnya daun pintu, satu tubuh loncat keluar. Dia memakai ‘ya heng ie’, pakaian malam warna hijau, sama seperti dua yang memasuki kamarnya Eng Jiauw Ong. Dia ini pegang tumbak pendek di tangan kiri, rupanya tangan kanannya telah terluka. Bertiga mereka loncat naik keatas genteng.

“Kim To cu, bagaimana? ” tanya orang dengan poan koan pit.

“Aku rubuh,” sahut orang dengan tumbak pendek itu.

Tiba2, dari arah depan, datang satu bayangan lain, yang terus berkata “Para pundak rata, baca pendek saja, diluar dapur ada mendatangi cucu kuku garuda!”

Itulah tanda supaya mereka jangan omong terlalu banyak, katanya ada orang polisi.

Benar saja, suara kentongan segera terdengar, disusul dengan ramainya banyak tindakan kaki. Sebab itu adalah barisan suka rela dari dusun To tong ek, yang sedang meronda dan lewat disitu.

Kawanan itu jerih terhadap hamba negeri, mereka pun insaf musuh ada liehay, tidak ayal lagi, mereka saling memberi tanda untuk angkat kaki, sesudah mana, mereka berpencar kedua jurusan.

Yang bersenjatakah poan koan pit bersama kawan peng awasnya, ber sama2 loncat kebelakang. Tiba2 diwuwungan muncul satu orang seraya tangannya diayun dan mulutnya serukan.

“Turunlah!” Menyusul itu, satu benda hitam menyamber yang pertama. Mereka berada dekat satu dengan lain, penjahat itu segera berkelit, tapi serangan cepat luar biasa, pipinya yang kiri kena juga terserang, sambil menerbitkan suara nyaring, benda itu terus jatuh. Sekarang baharu ketahuan, itu adalah selembar genteng. Biar itu bukannya piauw, toh akibatnya ada memberikan rasa sakit yang hebat, maka walaupun si penjahat mencoba perbaiki dirinya, tidak urung dia menjadi limbung, dia jatuh kepayon, terus kebawah.

Penjahat satunya, yang memegang golok, loncat kewuwungan, untuk serang si penyerang gelap.

Diantara suara tertawa mengejek, orang yang diserang itu lompat nyamping, hingga golok musuh membacok tempat kosong, setelah itu, dengan tangan kiri ia tabas tangan kanan musuh. Dia adalah Ban Liu Tong.

Penjahat itu tarik pulang tangannya, tapi ia dirangsek, tangannya Siok beng Sin Ie me nyamber2, ia pun gesit, ia berkelit, tapi toh ujung jari penyerang nya tak dapat dihalau, maka tak dapat tidak ia rubuh juga, terus jatuh ketanah. Beruntung baginya, tidak sampai tubuhnya terbanting, kawannya yang jatuh duluan, sanggapi dirinya.

Dua penjahat yang lain juga dapat serangan sedang, mereka dapat loloskan diri, mereka kabur kearah Barat.

Penjahat dengan poan koan pit itu menjadi sangat mendongkol, sebab pipinya mendatangkan rasa ngentak sekali, untuk menyingkir, iapun loncat ke Barat, tapi apa lacur ia bersomplokan dengan satu kawannya, keduanya saling berbentur keras, keduanya lantas jatuh bergelindingan, hingga, suaranya jadi berisik sekali, hal mana membikin tetamu2 pada tersedar dari tidurnya.

“Hei, Lauw Sam!” demikian suara memanggil. “Coba lihat, apa itu? Rupanya ada orang di atas genteng!...” Orang2 ronda sudah lewat jauh, kawanan penjahat jadi tak takut lagi. Begitulah penjahat dengan poan koan pit, yang gusar, telah berseru “Hei, diam, jangan usilan! Ini bukan urusanmu! Siapa tidak sayang jiwanya, hayo keluar!”

Ancaman itu membikin semua tetamu bungkam. Penjahat itu, serta kawannya, loncat keujung Barat daya,

ketika mereka sampai didepan, dengan niatan loncat turun

kejalan besar, mendadak datang serangan dari kiri dan kanan serangan dua potong genteng. Keduanya berkelit sambil mendek, membikin serangan mengenai genteng dilain sebelah.

Selagi penjahat dengan poan koan pit itu hendak bangun berdiri, lagi2 serangan datang, alat penyerang itu berkeredepan. Ia kaget, ia berkelit pula, tapi terlambat, bungkusan kepalanya terbabat berikut rambutnya. Ia kaget bukan main. Justeru itu, ia dengar bentakan “Kau turunlah!” Seperti orang dengar kata, ia rubuh karena dupakan, tubuhnya jatuh ketanah.

Sementara itu penjahat yang kedua, tak sempat perhatikan musuh, ia sudah loncat ke Barat, untuk angkat kaki. Ia sampai di rumah tetangga, yalah rumah bertembok tanah. Dari pekarangan dalam rumah itu ada menyorot cahaya api. Ia heran, ia lantas memperhatikannya. Ketika ia dengar suara mesin menggiling, ia lantas mendapat tahu, itulah tukang tauwhu, yang biasa bekerja sebelum fajar, maka hatinya jadi lega. Disitu tak ada orang yang dibuat takut. Begitu ia lari lebih jauh, sampai disebuah tembok tinggi dan besar. Selagi ia berloncat, ia dengar angin menyamber dari belakangnya, disusul sama bentakan “Orang busuk, kau hendak lari kemana? ” Lalu cahaya pedang berkelebat berkilauan! Untuk tolong diri, penjahat ini mendek, kemudian dengan goloknya ia balas menyerang dengan babatan kebawah. Ia gunai tipu “Poat co sim coa” atau “menggeprak rumput untuk cari ular.”

Pihak lawan Itu adalah Cu In Am cu. Dengan pedangnya niekouw ini menyerang kebawah, dengan tipunya “Hian niauw wah see” atau “Burung hitam menggurat pasir.” Dan pedang Tin hay HoK po kiam berhasil memapas golok musuh itu, sesudah mana, dia teruskan menyerang terlebih jauh, pada pinggangnya penjahat itu.

Serangan pedang datang dari arah Barat kearah Timur, dari itu, arah menyingkir dari si penjahat melainkan Timur sejurus, karena serangan itu sangat cepat, dia bingung, ketika dia paksa lompat berkelit, kakinya tak dapat menginjak benar, tidak ampun lagi dia terpeleset, terus jatuh kebawah. Lacur baginya, dia jatuh kedalam kandang babi, tapi untungnya dia kena timpa sangat riuh.

Bahna kaget dan kesakitan, babi itu berguwik keras, lalu kawan2nya, tiga empat ekor, turut berbunyi, hingga suaranya jadi sangat berisik.

Meskipun ia tidak terluka karena jatuhnya itu, penjahat ini toh mendongkol, ia terguling diantara kotoran babi, yang bau nya ‘sedap’ luar biasa, membikin ia hendak muntah ugar, dan babi itu pun serobot ia, hingga ia repot membela diri, sebab ia sudah tidak mempunyai senjata.

Besok ialah hari pasar di Ang touw po, itulah sebabnya kenapa situkang tauwhu kerja malam. Dia ada seorang tua, hidup berdua isterinya yang sudah agak tua. Mereka kaget mendengar suara babi. Tukang tauwhu itu kuatir babinya kabur, ia lantas keluar sambil bawa pelita dan sepotong gala. Ia baharu sampai dipekarangan, atau pintu kandangnya rubuh dan satu bayangan loncat melesat.

“Celaka!” dia menjerit, “Babi jadi siluman! Babiku habis kabur!”

Saking kaget, pelitanya terlepas dan jatuh.

Sang isteri kaget, dia memburu keluar. Api dinyalakan pula. Ketika mereka lihat babi mereka tidak hilang, hati mereka lega. Tapi mereka tetap tidak mengerti, siapa yang kabur dari dalam kandang itu.

Si penjahat sendiri sudah kabur pula keatas genteng.

Cu In sudah bikin orang keder, ia tidak mengejar, ia hanya kembali kehotel. Ia dapati penginapan ini sunyi, walaupun tuan rumah dan semua tetamu lainnya mengetahui mereka telah didatangi orang jahat. Ia pun percaya, kawannya sudah pancing musuh berlalu dari hotel itu. Ia pergi lihat Su touw Kiam dan Coh Heng serta empat muridnya mereka diam dikamarnya masing dengan siap sedia, tidak ada yang lancang berkisar.

“Kau semua tetap diam,” ia pesan semua murid itu. Kemudian ia keluar pula, setelah pasang kuping, ia menuju kearah Timur, keluar hotel, hingga ia tampak, digenteng tetangga, beberapa bayangan sedang melesat pergi datang. Tidak tempo lagi ia pergi kesana.

Itulah Siok beng Sin Ie dan Eng Jiauw Ong yang sedang layani tiga penjahat diatas genteng sebuah paberik celup atau tenun, dan ketika Cu In sampai, penjahat yang ke empat, yang rupanya sudah terluka, sedang merayap ditembok kate di sebelah Tenggara, untuk singkirkan diri. Ia lihat penjahat itu, ia antap orang kabur. Ban Liu Tong lihat datangnya si niekouw, ia lompat untuk menghampirkan dengan tinggalkan tiga musuhnya. Ia tanya apa lawan2nya pendeta ini sudah pergi.

“Aku telah beri ajaran sedikit pada mereka,” Cu In jawab.

“Kalau begitu, mari bantu aku bereskan tiga tikus itu,” Liu Tong kata. “Hati2 sedikit, mereka biasa gunai senjata rahasia.”

Cu In tertawa dingin.

“Mereka sudah seperti dalam kurungan, mereka masih hendak banyak tingkah? ” katanya. “Biarlah mereka tahu rasa!”

XXV

“Lihat!” kata pula Cu In. “Dua penjahat itu hendak kabur kearah Baratdaya!”

Liu Tong segera menoleh, hingga ia lihat penjahat yang dimuka, yang bersenjatakan pedang song bun kiam, sedang berlompat ke Selatan, maka ia segera loncat mengejar untuk merintangi. Ia sampai justeru di belakangnya orang itu.

“Awas!” ia berseru seraya tangan kirinya dipakai menyerang.

Penjahat itu tahu ada orang mengejar, ia melesat kekiri, lalu sambil putar tubuh, ia babat tangan yang menyerang bebokongnya. Ia sangat ebat.

Liu Tong bergerak dengan serangan ancaman, yang bisa diteruskan menjadi benar2. Melihat orang siap, lekas2 ia tarik pulang tangannya, untuk diganti dengan tangan kanan, dengan dua jari nya, menuju kepada kedua biji mata musuh. Ia gunai tipu “Kim Liong tam jiauw” atau “Naga emas mengulur cengkeraman.” Penjahat itu berkelit, pedangnya ditarik, untuk dipakai membabat pula dengan gerakan “Hoo lip kee kun” atau “Burung hoo di antara kumpulan ayam.” Tapi Liu Tong pun mengegoskan tubuhnya untuk selamatkan diri, ia begitu gesit, hingga lawannya heran dan kaget, tak ayal lagi dia memutar tubuh untuk lari pula. Disaat orang memutar tubuh, Liu Tong lompat seraya pentang kedua tangannya dalam gerakan “Kim peng tian cie” atau “Garuda emas pentang sayap,” lalu tangan kanannya mendahului menyamber kaki kanan. Masih penjahat itu coba angkat kakinya, dari itu, dia kena diserang tidak telak, meski demikian, dia jatuh terguling di tanah ia masih mencoba untuk berdiri, apa lacur, ia merasakan sangat sakit, hingga terpaksa ia rubuh pula.

Itu waktu Cu In telah desak penjahat yang lainnya, sia2 penjahat ini bikin perlawanan, terpaksa dia lari, memutar antara para2, tetapi untuk lari juga dia kalah pesat, dalam ibuknya dia masih tidak sudi menyerah.

“Apakah tetap kau berniat kabur? ” Cu In membentak. “Lekas letaki senjatamu, baharu aku sudi kasi kau lolos!”

“Niekouw tua, apakah kau buta? ” penjahat itu mendamprat, terang ia sangat gusar. “Apakah kau sangka To cu Ciong In dari Han shia seorang yang takut mampus? ”

Selagi mendamprat, penjahat itu loncat ke para2, sambil jumpalitan tangannya diayun, lalu dua batang piauw menyamber pada kedua pilingannya Cu In.

“Ha, mainkan kampak didepan akhli!” mengejek si pendeta sambil tertawa dingin. “Kau berani gunai senjata rahasia? ”

Diantara suara nyaring, ketua See Gag Pay menyampok jatuh yang pertama dan sambuti piauw yang kedua, piauw mana dengan satu gerakan tangan, ia pakai balas menimpuk. Inilah gerakan yang sangat sebat, hingga si penjahat menjadi kaget dan ibuk, apapula ia baharu saja habis menyerang. Melulu dengan membungkukkan tubuhnya, ia dapat luputkan dirinya.

Akan tetapi niekouw dari Pek Tiok Am tidak berhenti sampai disitu, baharu ia menimpuk, atau tangannya sudah rogo sebutir pelurunya, sambil berseru ia susul serangannya. Sekarang tidak ampun lagi, to cu dari Han shia itu kena terserang bahunya yang kanan, senjatanya terlepas, terlepas juga cekalannya pada para2, hingga tubuhnya jatuh dengan kepala terlebih dahulu . Asal kepalanya itu sampai dibawah, pasti pecahlah dia….

Rubuhnya penjahat ini dapat dilihat oleh penjahat yang dijatuhkan Ban Liu Tong. Dia juga bukan penjahat sembarang an, dia adalah to cu dari Soan hoo, bernama Liu Som. Namanya saja dia ada sebawahannya Hong Lun, sebenarnya dengan Ciong In dan sep itu ada saudara2 angkat. Dia tersohor dengan pedangnya song bun kiam. Dia kaget melihat saudaranya terancam bahaya maut, tidak ada jalan lain, walaupun sendirinya terluka, ia paksakan berloncat kearah saudara itu, selagi tubuh saudara itu sampai, ia menyanggapi sambil mendorong. Secara begini, selagi ia tidak ketindihan, jatuhnya saudara itupun tidak parah, hanya kebetulan sekali, dia jatuh masuk kedalam sebuah jambangan yang terisi air celupan warna merah tua, hingga menerbitkan suara berkeceburan keras, dia nyungsap dalam air, hingga dia gelagapan. Menampak demikian, lagi sekali Liu Som maju, akan balikkan jambangan itu, hingga airnya mengalir keluar. Secara demikian Ciong In tidak sampai mati engap, dia hanya pingsan. Tak ayal lagi Liu Som samber tubuh kawannya buat dipanggul, untuk dibawa kabur. Benar disaat Soan ho to cu putar tubuhnya, disebelah belakang ia terdengar suara jatuh, yang tercebur keras, hingga ia ter peranjat .

Itulah lain kawannya yang layani Eng Jiauw Ong, yang kena dirubuhkan, ketua Hoay Yang Pay itu sampai dia kecemplung ke dalam jambangan celupan hijau! Beruntung penjahat ini jatuh berdiri, hingga dia tak usah minum air celupan seperti kawannya, dia melainkan mandi.

“Pundak, rata, apa anak angin anak selaksa? ” Liu Som cepat tanya. Itulah kata2 rahasia, yang tanya, kawan itu apa she Ma. Itulah sebab ia tidak segera kenali sikawan, yang telah jadi ‘hariman hijau’, karena dia berlepotan sampai pada seluruh mukanya.

“Liu Jieko, akulah Ma Liong Jiang,” dia menjawab. “Aku rubuh! Bagaimana dengan Ciong To cu? ”

“Tidak apa2, ia cuma pingsan,” sahut Liu Som, yang terus dongak, akan hadapi musuhsnya seraya kata “Pemimpin2 dari Hoay Yang Pay dan See Gak Pay, kami telah rubuh di tanganmu, tetapi lain waktu kita akan bertemu pula!”

Ong Too Liong tertawa dingin ketika ia menjawab “Aku kasi keringanan padamu dari angkatan rendah! Lekas kau semua menggelinding pergi!”

Liu Som diam, sambil menggendong Ciong In, dia bertindak kepintu, sebelah tangannya pegangi pedangnya. Ia dupak daun pintu. Keadaan ada gelap, ia nyalakan api, sambil serahkan itu pada Ma Liong Jiang, ia kata “Ma To cu, tolong kau jalan didepan!”

Ma Liong Jiang jalan di muka, terus sampai diluar pekarangan, sampai disitu, mereka menyingkir dengan cepat. Selama itu Ban Liu Ton mengawasi, untuk cegah orang jahat itu mengadakan gangguan.

Ong Too Liong pun loncat turun dari genteng, ia hampirkan tuan rumah yang sedang ketakutan dan sembunyi dikamar kerja nya.

“Mari, jangan takut,” ia menghibur. “Semua penjahat sudah pergi. Kau nyalakan api, aku hendak bicara. Kami ini orang polisi…”

Dengan hati belum tenteram benar, tuan rumah muncul.

Ia sudah lantas nyalakan api.

Eng Jiauw Ong beri tanda akan Liu Tong undurkan diri, seorang diri ia ketemui tuan rumah itu, ia terus kata “Jangan takut, kau tidak dalam bahaya. Disini ada lima tail perak, untuk ganti dua jambanganmu. Kami orang orang polisi dari Shoatang, yang sedang kuntit penjahat. Semua penjahat telah terluka, sengaja aku lepas mereka, agar kami bisa kuntit mereka sampai disarangnya, untuk bekuk mereka semua. Aku ingin kau jangan bocorkan rahasia ini, umpama pembesar disini ketahui kejadian ini, kau bisa dapat susah.”

Tuan rumah itu tak mau terima uang penggantian tapi Too Liong lemparkan uangnya dan terus berlalu, akan susul suteenya dan Cu In, yang sudah kembali kekamar mereka, malah berdua mereka sedang bicara.

Tatkala itu kira2 sudah jam lima.

“Malam ini kita dapat getarkan nyali penjahat,” kata ia semasuknya kedalam kamar. “Dan dua yang kecebur dalam jambangan akan tarik perhatiannya Hong Bwee Pang,” Liu Tong tambahkan.

Mereka bersenyum untuk hasilnya mereka itu. Su touw Kiam dan Coh Heng muncul, juga Siu Seng, akan tanyakan keterangan, kemudaan mereka pun tertawa.

“Jangan anggap lucu cara kita ini,” kata Cu In Am cu. “Semua penjahat yang tadi datang bukan orang2 sembarangan, dua antaranya liehay sekali, jikalau kau memandang enteng, kau bisa rugi sendiri.”

“Tapi, am cu,” Too Liong memotong, “Kita telah tarik perhatian semua orang disini, baik kita berangkat selekasnya, kita bersihkan tubuh nanti saja tengah hari ditempat perhentian.”

“Itu benar. Baik rombonganku jalan lebih dahulu,” nyatakan Cu In. “Untuk singkirkan kecurigaan, kita harus jalan berpencaran.”

“Baiklah, asal disepanjang jalan kita jangan putus hubungan,” kata Eng Jiauw Ong.

“Lebih baik lagi, dimana kita sampai, kita tinggalkan tanda ditembok.” Ban Liu Tong usulkan. “Dengan begitu, gampang untuk kita saling mencari.”

Cu In manggut lantas ia titahkan Siu Seng siap, sedang Eng Jiauw Ong perintah Su touw Kiam rapikan buntalan, mereka berdua pun rapikan dandanannya masing2.

Sebentar kemudian, sekalian tetamu lainnya telah pada keluar dari kamar masing2. Tuan rumah sudah lantas datangi tetamunya yang berombongan itu, dengan niat minta keterangan, akan tetapi kapan mereka saksikan Eng Jiauw Ong semua berdandan dengan rapi, seperti tidak ada kejadian suatu apa, ia urung menanya. Eng Jiauw Ong pun minta perhitungan, untuk ia segera bayar.

“Kita niat berangkat sekarang,” kata jago Hoay siang itu. “Kenapa begitu kesusu? ” tanya tuan rumah. “Kami gedang masak air….”

“Kami ada urusan penting, kami perlu berangkat dengan segera!” kata Liu Tong dengan keren.

Melihat demikian, tuan rumah itu segera undurkan diri. “Biar pin nie berangkat lebih dahulu,” kata Cu In

seberlalu nya tuan rumah.

“Silahkan, am cu,” sahut Too Liong.

Maka pendeta itu, diiring oleh empat muridnya, sudah lantas keluar dari hotel Hok An itu, akan menuju ke Liong hoa tin, untuk dari sana menuju lebih jauh ke Gie yang.

Sebentar kemudian, sehabis melakukan pembayaran, Eng Jiauw Ong dan rombongannya pun mulai berangkat.

Diwaktu pagi demikian, jalanan masih sepi, yang tertampak adalah beberapa petani.

Eng Jiauw Ong keluar dari Ang touw po dengan ambil jalan besar ditepi kiri dan kanan mereka melihat pemandangan yang menyegarkan mata dari sawah ladang dan pepohonan lainnya. Ketika mereka sampai di Han seng tin, sudah jam sembilan atau sepuluh. Sejak pagi sekali, mereka belum mengisi perut, maka disini mereka singgah untuk bersantap, kemudian mereka mencari sebuah bank untuk tukarkan uang mereka. Setelah meninggalkan Han eng tin, Coh Heng merasa sangat gembira, karena ia tak usah lagi menggendol2 barang berat.

Mendekati magerib mereka sampai di Gie yang, untuk lewatkan sang malam. Su touw Kiam diperintah cari Cu In diberbagai hotel dan kuil, tetapi pendeta itu tidak kedapatan. Besoknya pagi2 perjalanan dilanjutkan. Selama dalam perjalanan, tidak pernah Eng Jiauw Ong mendapat dengar tentang orang2 jahat. Tak pernah mereka berani ayal2 an. Sesudah melewati sungai Ie Sui, mereka mampir disebuah desa, dari situ mereka menuju ke Siong koan arah Utara, atau selatannya Ie yang koan, yalah jalanan perbatasan kedua gunung Hok Gu San dan Gwa Hong San, untuk potong jalan ke Selatan Lu ciu. Disini pun orang bisa mengambil jalan air di sungai Lu Hoo, untuk masuk ke propinsi An hui.

Ketika Eng Jiauw Ong sampai di Kay san kauw, yalah perbatasan kedua gunung itu, yang merupakan mulut jalanan, waktu mana sudah jam tujuh atau delapan malam. Tadi mereka sudah mengaso, dari itu, merekn berjalan malam2. Eng Jiauw On pun ingin sekali ketahui halnya rombongan Cu In Am cu.

Baharu mereka memasuki jalan gunung satu lie lebih, bersiurlah angin gunung yang keras. Benar mereka bisa lihat jalanan tetapi Ban Liu Tong usulkan untuk cari tempat mondok. Tabib ini kuatirkan turun hujan, mereka tak bekal pakaian untuk melindungi diri.

“Apakah tak baik kita kembali saja? ” kata Su touw Kiam.

“Satu anak muda begini kecil hati!” kata Eng Jiauw Ong. “Siapa memasuki dunya kang ouw, dia mesti berani kehujanan, berani tahan lapar dan dahaga, siapa tak sanggup menderita, dia baik diam dirumah menjadi kongcu yasia saja!”

Su touw Kiam bungkam, dia sebenarnya bukan takut kepada hujan, dia hanya menyarankan.

Coh Heng jerih pada supe itu, yang ia kuatir nanti jadi gusar, maka ia tarik suhengnya. “Kenapa jadi tolol, suheng? ” kata ia, setelah mereka pisahkan diri setumbak lebih. “Apakah kau tidak lihat wajah supe? Supe sedang ibuki Hoa Suheng. Kau baik jangan banyak omong. Kalau hujan, kita cari saja pepohonan lebat atau guha. Untuk dahar, jangan takut!” dan ia segera tepuk2 buntalannya “Disini aku punya bekalan dua kati mo mo! Buat aku, aku tak takuti apa juga, kecuali sang lapar, maka aku senantiasa siap makanan!”

“Kau benar, sutee,” Su touw Kiam manggut. “Memang suhu sedang pikirkan toasuheng. Tapi, kenapa aku tak tahu kau bekal mo mo? ”

Coh Heng tertawa geli.

“Aku berlaku hati2! Apabila supe ketahui ini, dia bisa katakan aku si gentong nasi!”

Mereka berhenti berbicara sampai disitu, karena mereka dengar suara tindakan kaki guru dan paman mereka, yang sudah dapat menyusul mereka.

“Jalan lekasan,” kata Ban Liu Tong pada Su touw Kiam. “Gurumu sedang ibuki toasu hengmu. Kita mesti keluar

dari mulut jalanan ini sebelum hujan turun!”

Baharu Liu Tong tutup mulutnya atau Eng Jiauw Ong sudah dului mereka, tindakannya terbuka lebar, maka sang sutee sudah lantas susul dia. Su touw Kiam dan Coh Heng pun menyusul.

Angin meniup makin keras, langit lantas menjadi gelap sekali, diantara kilat2 berkelebatan, guntur pun men dengung2. Sukar untuk melihat jalanan, maka sang kilat membantu juga kepada rombongan ini.

Bagi Too Liong dan Liu Tong, tak sukar akan lewati jalanan gunung ini, tetapi mereka mesti rem sedikit tindakannya, karena dibelakang mereka ada Coh Heng. Si sembrono ini sudah lantas ter sengal2, ia kewalahan mengikuti dengan ber lari2 keras.

Selagi mendekati mulut jalanan, sudah mulai gerimis.

Too Liong didepan sudah lantas keluar dari mulut jalanan, selagi ia jalan terus, samar2 ia dengar suara orang bicara dipepohonan ditepi jalan. Ia heran, ia lantas loncat untuk melihat, kebetulan kilat berkeredep, tapi disitu tidak ada orang.

Liu Tong lihat tingkahnya sang suheng, ia segera menghampirkan, tapi suheng itu dului dekati ia.

“Ada apa, suheng? ” ia tanya.

“Tidak apa2,” sahut sang su heng. “Sebentar saja kita bicara…”

Jalan lebih jauh, Eng Jiauw Ong berlaku waspada. Hujan tidak lantas membesar, walaupun demikian,

ketika mereka sampai di Kian hoo tian, tak jauh dari mulut jalan, pakaian mereka sudah kuyup. Disini tidak ada pondokan, terpaksa mereka mesti jalan lebih jauh, sampai di Sam koan ek dimana ada sebuah hotel, Hauw Kee Tiam im manya. Diwaktu begitu, pintu hotel sudah ditutup sebelah. Selagi mereka sampai dimuka pintu, kebetulan satu jongos muncul.

“Oh, tuan2 kehujanan! Berapa jumlahnya tuan2? ” dia tanya.

“Kami berempat. Lekas tunjukkan kamar, pakaian kami basah semua,” kata Eng Jiauw Ong.

“Sayang, kamar besar tidak ada. Ada juga kamar kecil di sebelah Timur. Inipun kebetulan itu ada kamarnya majikanku, dia pulang kerumahnya, kamar nya jadi kosong, kamar lainnya tidak ada lagi…”

“Sudah, jangan omong saja,” Liu Tong memotong. “Lekas ajak kami kedalam. Lihat, kami telah kuyup semua.”

“Baik, tuan…” sahut jongos, yang lihat orang tak senang. Ia segera cari lentera, kemudian ia mengundang. “Silahkan tuan2 turut aku.” Iapun segera berjalan didepan, sambil berkata pula “Bukannya aku banyak omong, tuan, tetapi aku ingin kau lihat dahulu kamarnya, cocok atau tidak. Hujan besar, kalau tidak cocok dan tuan kebasahan, habis bagaimana? Bukankah lebih baik bicara dahulu biar jelas, tuan2? ”

Too Liong dan Liu Tong diam, tak sudi mereka layani jongos yang licik itu. Su touw Kiam pun mendongkol tapi ia tahan sabar, kalau ia bertindak, ia kuatir nanti ditegur gurunya. Maka ia hendak tunggu ketikanya. Tapi Coh Heng si sembrono ternyata cerdik. Dalam mendongkolnya, dia mendapat akal. Tiba2 ia ngusruk, seperti orang terpeleset, mulutnya pun berteriak “Ayoh!” Karena ngusruk, dengan pundak kanan ia bentur si jongos. Dia ini menjerit, tubuhnya rubuh tengkurap. Tapi Coh Heng pun terus rubuh, ia tindihi badannya si jongos, kedua lengannya dipakai menekan ke dua iganya jongos itu.

Jongos itu mengeluh kesakitan, benar mukanya tidak besot, tapi mulutnya toh mencium tanah.

“Aduh, aduh, lututku sakit…” Coh Heng ber pura2. “Suheng, tolong banguni aku…. Aku terpeleset jatuh sampai aku kena tubruk orang…”

“Aduh, tuan, kau tindih aku…” si jongos pun mengeluh. Su touw Kiam lekas angkat bangun suteenya itu. Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong bisa menduga kenakalannya si sembrono, tetapi mereka diam saja.

“Mengapa kau tak ber hati2? ” demikian Liu Tong menegur, dengan ber pura2.

Jongos itu tidak bisa berbuat apa apa.

“Eh, Tan Jie, kau kenapa? ” tanya satu jongos lain, yang datang dengan lentera ditangannya.

“Aku lacur, baiknya aku tidak ketindihan sampai mampus!” sahut kawan.ini.

“Ah, kau jenaka,” kata sang sahabat, yang datang dekat dan menyuluhi. “Masa kau memakai yancie? ... Lekas kau cuci….”

“Kasihan kau, sahabat,” Too Liong kata sambil tertawa.

Tan Jie diam saja, ia ngeloyor pergi, maka kawannya yang gantikan ia antar semua tetamunya kekamar yang disebutkan, kamar Selatan, yang berada di sudut Tenggara, kamarnya benar kecil, pembaringannya cuma satu tapi sprenya cukup bersih. Kamar itu ada lampunya, yang apinya kelak kelik, tapi jongos besarkan api itu.

Berempat mereka lantas buka baju untuk salin, dan jongos pergi buat ambil air teh panas.

“Coh Heng, lain kali jangan kau terburu napsu,” Liu Tong tegur muridnya. “Jongos itu menyebalkan, dia harus diajar adat, tetapi kau mesti sabar…”

Liu Tong tidak teruskan perkataannya karena jongos sudah lantas kembali.

Coh Heng diam saja, ia melainkan tertawa didalam hati.

Su touw Kiam pun geli seperti sutee itu. “Suheng, jikalau aku tidak hajar lantas padanya, aku tidak puas,” kata Coh Heng dengan pelahan, selagi ia dekati Su touw Kiam, “hatiku bisa meledak….”

“Kau cerdik, sutee,” kata sang suheng, dengan pelahan juga. “Aku memang sedang memikirkan dengan cara bagaimana aku bisa ajar adat padanya. Sekarang dia tahu rasa!”

Itu waktu, angin dingin menghembus kedalam.

“Hawa disini dingin sekali,” kata Liu Tong sambil kerutkan dahi. “Kalau orang biasa, dia bisa jatuh sakit karenanya. Kita perlu minum sedikit arak untuk lawan hawa dingin ini.”

Eng Jiauw Ong setuju, dia manggut. “Benar,” katanya.

Jongos berlalu sehabis bawa teh, tapi ia lekas kembali.

“Hawa disini dingin sekali, apa tuan tuan ingin minum arak? ” dia tanya.

“Apa kau punya arak Hoa tiauw? ” Too Liong balik tanya.

“Hotel kami kecil, tuan, mana kami bisa sediakan banyak macam arak? ” kata jdngos itu sambil tertawa. “Kami tak punya arak dari Kanglam. Tapi arak kaoliang kami buatan sendiri di Utara. Tuan2 coba saja dahulu, umpama tidak cocok, biar tak usah tuan2 bayar. Aku nanti, sediakan beberapa rupa makanannya…”

“Kau bawalah,” kata Liu Tong. “Kami bukannya orang2 hartawan, kami bisa dahar sembarangan. Bagaimana dengan kawanmu yang jatuh itu? Bilang padanya aku nanti kasi presen padanya.” “Tidak apa, tuan,” sahut jongos itu sambil tertawa. “Dia tak hati2, dia tidak boleh sesalkan orang. Sembari bersenyum, dia undurkan diri.

“Lihat, sutee,” kata Eng Jiauw Ong. “Lihat dua jongos itu, yang satu terlalu licik, yang lain terlalu ramah tamah….”

“Aku lihat dua2nya tak pantas jadi jongos,” utarakan Liu Tong. “Yang pertama terlalu licin, dan dia ini manisnya seperti gula, ada tersimpan golok dalam tertawanya…”

“Tidak apa, kita toh tidak akan singgah lama disini,” nyata kan Eng Jiauw Ong. “Bagaimana sutee lihat hotel ini? ”

“Aku percaya ini bukannya hotel yang benar,” jawab Siok beng Sin Ie.

Mereka tidak bicara terus, karena jongos telah datang bersama barang makanan, malah Tan Jie membantui. Dia ini tidak bilang suatu apa, dia pandang Coh Heng sebentar, lantas dia berlalu pula.

Eng Jiauw Ong lihat empat rupa santapan yang nampaknya bersih. Ia geser lampu kemeja makan sambil ia kata pada Su touw Kiam “Bukankah kau hendak kebelakang? Pergi kau minta pelayan ini antarkan kau!”

“Nanti aku antarkan.” kata si jongos.

Su touw Kiam heran mendengar kata2 gurunya itu, tapi ia segera ikut keluar, karena ia duga sikap gurunya itu mesti ada sebabnya.

Sehabis buang air kecil, Su touw Kiam lekas kembali kekamar, si jongos terus kedapur. Ia dapati gurunya dan pamannya sedang mulai dahar, Coh Heng menemani mereka. Untuk ia pun telah disediakan tempat, mang kok dan sumpitnya.

“Suheng, kali ini suhu mengadakan kecualian,” kata Coh Heng. “Kita diijinkan minum satu cawan tetapi tak boleh yang ke dua. “Jangan kuatir, supe sudah cobai, makanan dan arak tak ada penyakitnya….” Mendengar itu, Ban Liu Tong deliki muridnya.

“Banyak mulut!” guru ini menegur.

Su touw Kiam mengerti sebabnya kenapa tadi gurunya suruh ia keluar, nyata gurunya itu cari ketika akan periksa semua makanan, ada racunnya atau tidak. Memang, ditempat demikian orang mesti waspada. Ia diam saja atas kata2nya sang sutee.

Coh Heng dan Su touw Kiam duduk berhadapan, didepannya yang belakangan ini ada jendela belakang, tingginya kira2 sependirian orang, jerujinya tidak ada, kertas jendelanya banyak yang berlobang. Selagi Su touw Kiam angkat kepalanya, dengan tak di sengaja ia lihat sinar mata di satu lobang, hingga ia jadi curiga. Dengan tiba2 ia tekan meja, ia enjot tubuhnya, hingga ia mencelat kejendela itu. Menyusul lebih jauh, ia tolak daun jendela, ia ulur sebelah tangannya, untuk segera melongok keluar.

XXVI

Jendela itu, yang pernahnya pun dibelakang hotel, menghadapi jalan umum, menghadapi juga kali. Keadaan diluar jendela ada gelap, melainkan ditepi kali, atas beberapa kendaraan air, ada cahaya api. Kecuali suara hujan, suasana ada sunyi. Tak seorangpun kedapatan didekat jendela itu.

“Ada apa? ” Eng Jiauw Ong tanya melihat sikap muridnya. Selagi Su touw Kiam rapatkan daun jendela, jongos masuk dengan sepiring mo mo yang masih panas, ia lantas saja sahuti gurunya “Jendela ini tidak dikunci, angin keras sekali.” Lalu ia kembali kekursinya.

Jongos itu letaki piring seperti tak terjadi suatu apa, hanya kemudian, ia kata “Harap tuan2 waspada terhadap jendela ini, yang hadapi jalan umum. Disini kami tak berani alpa, malah majikanpun berhati2 dengan pakaiannnya dan lainanya barang…”

“Kami tidak punya barang apa2, tidak apa,” kata Liu Tong, yang perhatikan wajah orang. “Mo mo ini cukup, kalau ada, tambah bubur saja.”

“Menyesal, tuan, bubur sudah habis. Kami berniat membikin sup, tapi kecap dan minyaknya kebetulan habis juga, disini tidak ada tempat untuk membelinya. Nanti aku tambah air teh saja…”

Ia berlalu, setelah mengucap demikian.

“Apakah ada orang mengintai? ” tanya Liu Tong pada Su touw Kam seberlalunya si jongos.

“Aku tidak berani pastikan tapi aku seperti lihat mata yang mengintai,” sahut sang murid keponakan. “Aku berlaku cepat tetapi diluar tak ada orang. Di luar sana ada tepi kali. Boleh jadi ada orang yang kebetulan lewat saja….”

Mendengar itu, Eng Jiauw Ong lalu tuturkan hal suara orang ditengah jalan tadi.

“Mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian di Ang touw po,” utarakan Liu Tong. “Karena mereka tak puas dan datang kemari untuk menuntut balas. Cukup asal kita waspada.” Tidak lama mereka habis dahar, Eng Jiauw Ong dan Ban Liu Tong melongok dijendela.

Ketika jongos masuk untuk bebenah, dia tidak bawa air teh. Lain orang bisa tahan sabar, tidak si sembrono.

“Eh, mana air? Apa kau hendak bikin kami mati kehausan? ” ia menegor.

“Sabar, tuan, air akan segera matang,” sahut jongos itu.

Adalah kapan sebentar lagi ia muncul pula, jongos itu baharu bawa air teh, yang masih sangat panas, hingga untuk minum itu Coh Heng mesti sekali tiup sekali irup. Sekali tuang, air teh itu dituang sampai empat lima cangkir.

Kemudian lagi kedua jongos muncul untuk pasang papan didepan jendela, buat dijadikan pembaringan darurat, dipasangi kasur dan spreinya.

Selagi Su touw Kiam suguhkan teh untuk guru dan pamannya, Coh Heng telah mengirup habis satu cawan, selagi ia mulai dengan cawan yang ke dua, ia baharu angkat cawan kemulutnya, tiba ia letaki pula cawan itu, ia rasakan kepalanya pusing dan matanya kekunangan.

“Suhu, kepalaku sakit aku hendak tidur lebih dahulu,” kata ia. Dengan tindakan limbung ia pergi kepembaringan darurat itu, untuk segera rebahkan diri.

“Lihat, suheng,” kata Liu Tong pada Too Liong. “Lihat boca itu, satu kali dia tenggak arak, lantas dia tak kenal aturan lagi! Kewalahan aku mendidik padanya…”

“Dia polos, itulah bagus,” Eng Jiauw Ong bilang. “Aku suka anak sebagai dia. Baik kau tak pusingkan diri dengan urusan kecil ini.”

Eng Jiauw Ong baru mengangkat cawannya, buat dibawa kemulutnya. Segera ia dapat cium bau semerbak. “Tidak dinyana, sutee, disini ada teh sewangi ini,” kata ia. Ia terus antar cawan kemulutnya. Baharu ia hendak minum, tiba ia dengar suara “prang” dan “bruk” dan “ayoh” saling susul, datangnya dari arah pintu. Ia dan saudaranya terperanjat. Segera ia letaki cawannya dan loncat kepintu, yang daunnya ia terus pentang, sambil ia tanya “Siapa? ”

Didepan pintu kamat , si jongos rebah terguling, sebuah tehkoan teh pecah hancur, airnya melulahan, airnya masih panas.

“Sial betul, entah barang apa nyangkut dikakiku,” kata jongos itu seraya merayap bangun, akan terus usut2 kakinya. “Hari ini toh bukan hari jelek    Tuan2,    aku datang untuk tambahkan air teh, sekarang tehkoannya pecah, aku tak dapat tambah lagi…”

“Tidak apa, kau boleh pergi, air sudah cukup,” kata Liu Tong, yang pandang jongos itu.

Tanpa kata apa2 jongos itu angkati beling dan pergi. Sampai itu waktu hujan masih turun terus.

Setelah tutup pintu, Liu Tong kata pada suhengnya “Jongos itu kesandung, itulah aneh! Tanah toh rata dan tidak licin walaupun hujan dan kakinya jongos basah. Bukankah ia jalan pelahan2? ”

Ong Too Liong kerutkan dahi, sebelum ia menyahuti, ia tengok muridnya.

“Lihat suheng sutee itu!” kata dia. “Kenapa hari ini mereka letih sekali dan bisa tidur demikian nyenyak secara gampang? Tidakkah ada apa2 yang mencurigai disini? Mari kita minum, habis kita padamkan api dan beristirahat. Kita pasang kuping, sebentar jam tiga salah satu keluar untuk cari tahu…” Liu Tong pun bercuriga, tetapi ia tidak utarakan itu.

Eng Jiauw Ong angkat cawannya, tapi air sudah dingin, ia tambahkan separuh dengan air dari tehkoan, yang separuhnya ia angsurkan pada suteenya. Ketika ia hendak mengirup, tiba2 ia dengar suara dari luar jendela “Ah… Sayang, sayang… Satu enghiong mesti rubuh ditangannya satu manusia rendah … Nah, minumlah!”

Liu Tong dengar itu, sembari dengan cepat letaki cawan teh, dengan tangan yang lain, dengan samberan angin, ia padamkan api, lantas tubuhnya mencelat kejendela. Ia tidak perdengarkan suara apa juga, ia terus mengintai keluar.

Malam tetap gelap, suasana tetap tenang.

Selagi sang sutee loncat ke jendela, Too Liong mencelat kepintu yang ia segera tarik, untuk dibuka dengan pelahan2, setelah itu, ia loncat keluar dimana ia tak lihat suatu apa, maka terus ia loncat naik ke genteng. Dari sini ia mengawasi kesekitarnya. Empat penjuru gelap petang dan sunyi senyap, cuma sang hujan masih mengericik. Melainkan dari tepi kali, dari dua tiga perahu nelayan, kelihatan sinar api kelak kelik.

“Sutee!” jago Hoay siang memanggil dengan pelahan, apabila ia tak melihat adik seperguruannya keluar.

“Ya, suheng,” sahut Liu Tong, yang terus menghampirkan. “Ada apa? ”

“Aku tak lihat suatu apa.”

Lantas keduanya kembali, Liu Tong segera nyalakan api. “Sutee,” tanya Too Liong sambil seka air hujan, “Musuh

atau sahabat kita orang yang tadi sindirkan kita itu? ” “Dugaanku dia bukan musuh, karena dua kali dia telah peringatkan kita,” jawab Liu Tong. “Dia pun gesit sekali. Aku loncat sebelum ia tutup mulutnya tapi ia bisa menghilang dengan cepat luar biasa. Mungkin pihak tuan rumah hendak celakai kita! Bukankah kita sudah cukup ber hati2? Arak dan makanan bersih semua. Segala racun tak nanti, luput dari kita. Ada bubuk Cu ngo Kie hun san yang liehay tapi sekarang tidak ada yang mampu bikin itu, ada juga orangnya tetapi dia tidak berada disini hanya ditanah daerah bangsa Biauw. Pembuat bubuk racun itu ialah Kie In Giam dibukit Cit Seng Nia, karena sangat jahatnya, dia mati celaka. Semua warisan obatnya jatuh ditangan muridnya, Ciu Yong namanya. Dia ini bermusuh dengan banyak orang kang ouw, dia kabur ketanah Biauw. Disini ia dihargai orang Biauw karena obat2annya itu. Ia tidak gunai Cu ngo Kie hun san buat celakai orang, hanya ia pakai meracuni binatang alas, kalau racun dicampuri sedikit pada barang makanan, umpan, ada binatang liar yang tak mati dan gampang ditangkap. Katanya Ciu Yong hidup senang ditempat perantauan itu. Apakah benar sekarang ada semacam obat itu disini? Apa kita tidak keliru dengar? ”

“Aku kira tidak,” sahut Eng Jiauw Ong, yang kembali mengawasi kekedua anak muda, hingga timbul kecurigaanna. Su touw Kiam ada rapi dan resik, dia tidur dengan tak buka pakaian, juga dia tidak lolosi sepatunya yang ada lumpurnya, itulah aneh.

“Ah, sutee, mungkin ada penyakitnya pada air teh!” kata ia tiba2.

Liu Tong tidak menyahuti. hanya ia melompat pada Su touw Kiam, tubuh siapa ia tolak, sampai dua kali, tapi pemuda itu tidak jua terbangun, tidurnya sangat nyenyak rupanya. “Mungkin kau benar, suheng,” baharu ia sahuti saudaranya, ke mudian.

Eng Jiauw Ong hampirkan muridnya, ia angkat tubuh muridnya, buat mukanya dihadapkan kepada api.

Masih Su touw Kiam tidak mendusi, kedua matanya tertutup rapat, mukanya sedikit panas, bibirnya kering. Ia di goyang2, ia di panggil2, dia tetap tidur.

Dari kerutkan dahi, Eng Jiauw Ong jadi gusar.

Liu Tong ambil cawan tehnya yang ia belum minum, ia irup sedikit buat dikemu, lalu ia sembur mukanya Su touw Kiam, tubuh siapa terus direbahkan pula, mukanya yang basah lantas disekai, kemudian, dengan teh dingin, yang dibasahi pada saputangan, ia dinginkan dada orang, yang kancing bajunya dibuka.

Secara begini, selang sedikit lama, baharulah Su touw Kiam tersedar, setelah berbangkis, ia buka kedua matanya. Ia heran melihat guru dan paman gurunya berdiri didepannya. Ketika ia hendak buka mulut, gurunya dahului “Pelahan!” Ia terkejut, ia berbangkit untuk duduk, hingga saputangan basah didadanya, jatuh.

Liu Tong lantas tolong! Coh Heng yang mukanya pun disembur dan dadanya dikompres, selama mana, Eng Jiauw Ong tuturkan muridnya perihal musuh gelap yang sudah bikin suheng dan sutee itu tak sadar akan dirinya.

“Hampir kita celaka,” tambahkan sang guru. “Jikalau bukan konconya Hong Bwee Pang, hotel ini mesti ada hotel gelap.”

Su touw Kiam jadi sangat gusar, ia loncat bangun. “Mereka gagal ber ulang2, namun mereka tak kenal kapok, satu kali lagi tak dapat kita bikin mereka lolos!” kata ia.

Ketika itu, Coh Heng pun tersedar, karena dia s embrono, siang” Liu Tong cegah dia buka mulut, tapi ketika ia ketahui duduknya hal, bahna gusar, dia berjingkrak, terus ia ajak guru nya cari tuan rumah atau jongosnya. Dia kata ingin membakar hotel itu.

“Sabar,” Su touw Kiam membujuk seraya ia tarik adik itu kesamping.

Coh Heng suka dengar suheng ini, ia lalu duduk menjublek.

“Bagaimana, suheng,” Liu Tong tanya saudaranya. “Kita cari mereka atau kita tunggu saja? ”

Eng Jiauw Ong ada mendongkol. “Tak usah kita tunggu, kita cari saja,” ada jawabannya.

“Aku ingin belajar kenal dengan rombongan ini!”

“Baik, mari kita siap, kita bereskan mereka siang2, agar tak berabe!” menyatakan Siok beng Sui Ie.

Kedua saudara ini lantas rapikan pakaian mereka.

“Kau perlu diam disini jaga bungkusan kita,” Eng Ji auw Ong pesan muridnya. “Kau kecilkan api itu.”

Lalu berdua saudara ini bertindak keluar dengan hati2.

Hujan rintik, angin bersiur malam ada gelap, suasana pun sunyi. Dua saudara ini loncat naik kegenteng, untuk pergi ke depan. itu waktu ada kira2 jam tiga, semua tetamu lainnya sudah pada beristirahat. Dari sebuah jendela ada molos cahaya api. Disebelah situ ada kantorannya pemilik hotel. Ban Liu Tong loncat turun, akan hampirkan jendela dan Too Liong hampirkan pintu. Ketika Liu Tong hendak pecahkan kertas jendela untuk mengintai, ia dengar helaan napas disebelah atas kepalanya. Ia terkejut. Dengan tiba2, dengan gerakan “Pat pou kan siam” atau “Delapan tindak menguber tonggeret,” ia mencelat keatas genteng sebelah Barat, akan tengok orang yang keluarkan suara napas itu.

XXVII

Begitu lekas ia sampai diatas genteng dimana ia pasang matanya, Siok beng Sin Ie menjadi jengah sendirinya. Dia telah bergerak dengan luar biasa gesitnya. Dia pun ada murid terpandai dari Hoay Yang Pay, dengan suhengnya kepandaiannya ada berimbang, didunya kang ouw, sukar ada tandingannya, akan tetapi satu kali ini, sejak turun gunung, berulang2 dia menghadapi lawan2 yang liehay. Demikian malam ini, ia telah berhadapan dengan seorang yang tak dikenal, yang liehay sekali. Bukankah ia dengar helaan napas? Kenapa orang itu bisa lenyap demikian cepat? Ia Insyaf tak ada gunanya untuk cari orang itu, maka ia segera melompat turun pula akan hampir kan saudaranya. Suhengnya pun justeru gapekan dia seraya tangannya menunjuk kearah Timur, dipojok tembok. Maka berdua mereka menuju kesana, untuk berkumpul dipojok itu.

“Aneh disini, sutee,” kata suheng itu. “Kita jangan kasi diri kita dipermainkan.” Dia berhenti dengan tiba2. Liu Tong hendak tanya saudaranya itu untuk minta penegasan, atau segera lengan kanannya di kutik oleh suhengnya, maka ia urungkan niatnya. Menyusul itu, ia melihat daun pintu dibuka, lalu ditutup pula. Daun pintu itu tak memberikan suara sama sekali. Lalu tertampak, dalam gelap gulita, seorang bertindak secara enteng menuju kebelakang.

Dua saudara ini, dengan ber indap2, lantas menguntit. Orang itu ada satu jongos, dia menuju kekamar tetamunya ini, dia hampirkan jendela, akan mengintai dari celah2 kertas jendela yang dia pecahkan. Agaknya dia kaget, dengan ter gesa2 dia lari kepojok Timur selatan. Rupanya dia bersangsi kapan dia telah berdongak keatas, mengawasi tembok. Terang sudah, dia tak punya kepandaian loncat tinggi yang sempurna. Tapi dia toh mencoba. Ketika dia berlompat, cuma kedua tangannya bisa jambret ujung tembok. Selagi hujan, tembok itu licin, kedua tangannya terlepas, tidak ampun lagi ia jatuh numprah ditanah yang becek, tak dapat ia tahan tubuhnya ia terus celentang.

Hampir saja Too Liong berdua tak tahan untuk tidak tertawa geli.

Apa yang si jongos lihat didalam kamar ada hal menggirangkan hatinya. Api didalam kamar ada remeng, karena Su touw Kiam telah bikin kecil sekali. Pemuda ini bersama suteenya. turunkan kelambu, keduanya rebahkan diri, ber pura2 sudah tidur. Jongos itu tidak berani memasuki kamar, tapi ia percaya betul semua tetamunya sudah ‘rubuh’, maka, rupanya, untuk bisa lekas mengasi kabar pada majikannya, ia undurkan diri secara tersipu2. Lacur baginya, dia ambil jalan ditembok pojok itu, hingga dia mesti jatuh dari tembok.

Su touw Kiam telah loncat kesamping jendela ketika ia lihat orang tidak intai ia terlebih jauh, Coh Heng pun susul ia, maka keduanya dapat tahu jongos itu rubuh celentang. Kiam bisa tahan hati untuk tidak tertawa, tidak demikian dengan Heng, dia ini cekikikan, suhengnya segera bekap mulutnya, hingga tertawanya jadi terhahan.

Jongos itu jatuh kesakitan, ia tak dengar suara tertawa tertahan didalam kamar itu. Ia sendiri tidak berani menjerit kesakitan. Setelah berdiam sekian lama akan menahan sakit, ia merayap bangun. Urung dia naik di tembok, dia bertindak balik dengan pelahan.

Liu Tong heran. Jongos itu ada orang hotel, kenapa dia tidak ambil pintu hanya tembok tinggi? Ia niat tanyakan kesangsiannya ini pada suhengnya, tetapi Too Liong sudah lantas meloncat naik kegenteng akan menguntit si jongos.

Jongos itu pergi kekaki tembok dimana ada bertumpuk barang2 rosokan perahu antaranya selembar papan lantai, dia bawa ini ketembok Baratdaya, senderkan berdiri dipojok tembok dimana ada genteng rumah yang kate, dengan cara ini dia manjat, dari sini dia merayap ke depan, terus kesebelan Timur, mutar ketembok. Disini, cuma bersangsi sesaat, dia loncat turun keluar pekarangan, akan terus lari dijalanan menuju ke tepi kali.

Dua saudara itu menyusul, akan mengikuti dari kejauhan.

Liu Tong gunai ketika ini akan minta keterangan dari suhengnya. apa yang si suheng lihat di kantomya pemilik hotel.

“Kamar ada remeng2 tetapi bisa jugalah aku melihat,” Too Liong terangkan pada suteenya. “Meja ada rapi, tandanya orang telah beres memasuki buku. Dua orang rebah dipembaringan, yang satunya, kakinya turun kebawah. Satu jongos, yalah jongos ini, tuang air teh dicangkir kedalam tempolong, kemudian ia angkat tubuhnya pemilik hotel untuk dibenarkan. Dia periksa buku dan laci uang. Aku tadinya sangka dia hendak mencuri, tapi kesudahannya, dia tidak ambil apa juga. Dia buat main sebatang anak kunci, alisnya mengkerut, kemudian dia letaki pula anak kunci itu. Dia pun geledah sakunya dua orang, yang tidur nyenyak, dia tak peroleh apa2. Sehabisnya kecilkan lampu, dia keluar dari kamar, akan terus mengintai kamar kita. Herannya adalah dia tidak mau keluar dengan ambil jalan pintu. Terang dia bukannya jongos tulen, dia mesti ada orang Hong Bwee Pang. Tidak cuma kita, juga tuan rumah dan jongosnya dia racuni dengan obat tidur. Rupanya dia tak dapat cari kuncinya pintu depan. Dia cerdik, sayang dia tak mampu loncat tinggi, dan kebetulan hujan dan tembok licin.”

Liu Tong manggut2. Ia girang yang ia tidak sampai turun tangan terhadap orang hotel.

Selama itu mereka sudah menguntit sampai ditepi kali, terus sampai belasan lie jauhnya dari pelabuhan. itu ada tikungan kali dimana ada dua buah perahu kecil untuk melayari sungai besar, dua2 perahu terang apinya, dikepalanya perahu ada dipancar tengloleng kertas minyak yang ada tutupnya untuk lawan hujan. Tengloleng itu dipancar disebelah kiri.

Pasti mencurigai yang kedua perahu berlabuh bukan di pelabuhan, hanya ditempat yang pinggiran kalinya mudun dan licin. Kearah dua perahu itu si jongos menuju.

Didekat situ ada tanah munjul, Too Liong dan Liu Tong sembunyikan diri ditanah munjul itu untuk mengintai terus. Walaupun malam ada gelap, tapi dengan bantuan cahaya api, mereka ini bisa melihat cukup nyata.

Berdiri ditepi kali, jongos tetiron itu rogo sakunya, atau sebentar saja, ia telah nyalakan api dari coa lian, atau sumbu kertasnya. Lalu dari kedua perahu, muncul masing2 satu orang.

“Apa tuan hendak sewa perahu? ” tanya orang dari perahu pertama.

“Ya, aku hendak sewa perahu yang bisa ikuti angin dan air,” sahut si jongos. “Berapa jumlah penumpang dan barangnya? ” orang diperahu tanya pula.

“Orangnya tiga, barangnya dua belas macam,” jawab si jongos.

“Untuk perjalanan berapa jauh? ” tukang perahu tanya lagi.

“Untuk dua belas hari.”

Setelah mana, si jongos lalu simpan apinya, dan suasana jadi sunyi pula. Didarat dan diperahu, dua pihak bungkam. Cuma diperahu, orang pasang papan dan menunjang galah kejen, untuk si jongos turun keperahu yang kesatu. Kedua perahu lantas ber goyang2, seperti orang bergerak kekepala perahu ke satu itu.

Pembicaraan itu mesti ada pembicaraan rahasia, maka, untuk mendapat kepastian, Too Liong ajak Liu Tong turun keperahu. Untuk ini, keduanya lari ketepi dengan ilmu entengi tubuh. Mereka janji akan naik seorang satu perahu, agar musuh tah ketahui mereka. Musuh ada bangsa kang ouw, berkelisik sedikit, mereka bisa engah atau curiga.

Ketika Eng Jiauw Ong melompat keperahu, ia cuma terbitkan goncangan sangat pelahan, terus ia sembunyi kebelakang perahu. Ia naiki perahu yang ke dua.

Liu Tong, dengan loncatan “Yan cu Hui in ciong” atau “Burung walet terbang keudara,” naiki perahu ke satu, akan terus sembunyi dibawah jendela” Beruntung buat ia, disinipun semua penghuni sudah berada didalam. Malah ia dengar suara orang bicara keras, seperti sedang berselisih. Orang ini berlidah Hang ciu, tapi sebentar saja, amarahnya agak reda, dengan sabar ia kata, rupanya pada seorang lain, katanya “Gui Loo suhu, bukannya aku pastikan tetapi kelihatan urusan bisa gagal juga. Apa tak baik kita sabar sedikit? Dia toh tak bakal lolos! Urusan dihotel Hauw Kee Tiam ini, mesti kita yang turun tangan sendiri, aku kuatir gagal. Coba tegasi padanya, apa benar2 dua orang itu rubuh oleh obat pules? ”

Liu Tong basahkan telunjuk nya, untuk pecahkan kertas jendela.

Ketika itu, Too liong datang pada suteenya ini, karena diperahu ke dua dia cuma lihat beberapa anak buah sedang tidur bergeletakan. Ia masih sempat dengar suaranya si orang Hang ciu itu. Ia mengintai dari jendela kanan.

Perahu itu muat tujuh atau delapan orang, yang duduk atau berdiri, keadaannya bersih. Ketika itu seorang umur kurang lebih lima puluh tahun, awasi seorang dengan alis halus dan mata seperti tikus, tubuhnya kurus, seraya kata “Ouw To cu, kau benar, aku lihat, kerjanya Song Loo jie ini rada cerobo.” Ia lantas awasi si jongos dan kata dengan bengis “Song Loojie, hayo bicara biar terang! Dua orang tua itu rubuh atau tidak? Kau tahu aturan kita, kau tidak boleh main gila. Kau tahu siapa adanya dua tua bangka itu, kita tak boleh gagal!”

Song Jie, si jongos, menyahuti dengan ragu2 “Semua mereka telah minum obat pules, cuma si orang tua belakangan dan lebih sedikit rupanya. Tadi aku intai mereka, mereka sudah pada rebah. Aku hanya tidak berani masuk kekamar mereka untuk memeriksa dengan pasti. Atas kealpaanku ini, harap to cu maafkan aku…”

“Dengar, apakah aku tak menduga benar? ” kata si Ouw Tocu sambil tertawa dingin. Lalu ia teruskan pada satu anak muda “Sayang, kita gagal, ketika baik ini telah dibikin lolos. Kita sudah keprak rumput untuk usir ular, maka sukarlah untuk cari lain ketika!” “Dasar urusan kita sangat mendesak, sampaipun kita tak sempat mengatur orang,” kata si anak muda. “To cu, kita harus sampai dilobang dapur untuk menghadap dengan dia, boleh jadi, turut dugaan tee cu, mereka sudah tidak terkena….”

Itu adalah kata2 rahasia bahwa baik mereka pergi kehotel untuk menyaksikan.

“Ah, Siauw Cun, kecewa kau dapat julukan Siauw Thio Liang-si Thio Liang Kecil!” sahut Ouw To cu itu. “Obat ti dur itu tak bisa gagal, karena itu ada obat paling manjur kepunyaan istimewa dari Kok Hio cu dari Ceng Loa Tong! Asal obat itu mengenai tenggorokan, tak perduli orang bagaimana kosen belum dia berjalan lima tindak, dia mesti sudah kacau ingatannya dan tak sadar akan dirinya.

Song Loo jie bilang, dia sudah intai, api separuh padam, terang orang tak sempat apa2, kepalanya pusing, mereka lantas tidur…”

Si anak muda itu nampaknya jengah.

“Ya, inilah tee cu tak pikir,” ia akui. “Dan bagaimana sekarang? ”

Ouw To cu itu pandang semua kawannya.

“Sekarang, tak perduli bagaimana, kita mesti pergi kehotel untuk hadapi mereka!” kata ia dengan bersemangat.

Kawanan itu lantas jadi bernapsu semuanya, mereka mengepal2 tangan.

Justeru itu Ouw To cu idapkan tangannya, kemudian ia tanya “Siapa diluar? ”

“Aku! Aku terlambat….” sahut suara diluar. “Apakah ciongwie loosu sudah berhasil? ”

Pintu disingkap dan seorang bertindak masuk. Eng Jiauw Ong dan suteenya segera kenali See hoo to cu Ma Liong Jiang yang kecebur di celupan hijau dibengkel tenun di Ang touw po. Dia rupanya baharu dapat susul kawannya ini.

Ketika dia kabur dari Ang touw po, Liong Jiang kembali pada Hong Lun untuk tuturkan kegagalan mereka. Bukan kepalang gusarnya ketua bagian Barat dari Hong Bwee Pang ini. Itu waktu dia sedang sakit, napasnya sesak bekas hajarannya Eng Jiauw Ong, dia sedang berlenggak dan rubuh diatas pembaringannya.

Liong Jiang malu sendirinya, begitu juga Soan hu to cu Liu Som dan Han shia to cu Ciong In, yang pulang dengan membawa luka. Repot mereka untuk angkat bangun tubuhnya ketua itu, untuk disadarkan.

Selang sekian lama, Twie hun souw si Orang tua Pengejar Roh ingat akan dirinya.

“Hong To cu, sabar,” Liong Jiang menghibur. “Sekarang perlu to cu rawat diri dahulu.”

“Aku malu,” kata Hong Lun. “Hoay Yang Pay dan See Gak Pay telah perhina kita rombongan See louw Cap jie louw Cong to tidak ada satu diantara kita yang dapat cuci itu, untuk melampiaskan penasaran, dari itu mana aku ada punya muka untuk menemui Liong Tauw Pang cu? Pikirku baik sekarang kita pulangkan piauw pou kita untuk minta Pang cu tugaskan lain orang mengepalai Cap jie louw Congto ini… Kita mesti jaga agar Hong Bwee Pang tak mendapat malu!”

Wajahnya Ma liong Jiang berubah, dari jengah dia jadi gusar.

“Hong To cu!” dia berseru, “Kita ada pemimpin2 dari Hong Bwee Pang, terhadap musuh2 kita, kita mesti bikin perlawanan mati2an, dari hal kalah atau menang itu ada urusan lain! Sukar kita memastikan itu! Karena sesuatu orang ada punya kepandaiannya masing2, yang ada batas2 nya. Tidak ada aturan perkumpulan kita yang menentukan, menang atau kalah kita mesti kembalikan piauw pou! Hong To cu jikalau kau malu untuk taruh kaki lebih lama diantara kita, terserah padamu, kami tak dapat mencegahnya! Tapi Ma Liong Jiang ada lain, aku bukan bangsa tak tahu malu, yang puas menerima penghinaan, aku nanti keluarkan antero tenagaku akan layani Eng Jiauw Ong dan ni kouw tua dari See Gak Pay! Apabila mereka belum keluar dai daearh Hoolam, aku nanti susul mereka untuk pertempuran yang memutuskan! Asal jiwaku masih belum putus, aku akan berdaya terus! Nah, Hong To cu, sampai ketemu pula!”

Tanpa tunggu jawaban, Ma Liong Jiang putar tubuhnya dan berlalu.

Hong Lun ternganga melihat sikapnya kawan itu.

Dalam rombongannya Ini, Hong Lun bukan hanya lebih tua usia nya, iapun ada anggota lama dan lebih tinggi juga kedudukannya, dari itu, ia mendongkol bukan main atas sikapnya See hoo tocu itu. Tapi ia sedang sakit, ia tidak bisa berbuat lain daripada antap orang pergi. Syukur disitu ada Liu Som dan Ciong In, yang coba sabarkan dan hiburkan padanya.

Ma Liong Jiang telah tinggalkan Liang Seng San. Memangnya ia tidak puas terhadap Hong Lun, sekarang ada ketikanya untuk ia tinggal pergi pada ketua itu. Dia anggap bathinnya Twie hun souw tidak bersih, dia sangka to cu itu main gila dengan Liok Cit Nio, tapi karena orang ada berkedudukan lebih tinggi dan bugeenya liehay, dia diam saja, Hong Lun gagal di Sin Lie Hong, dia panggil kumpul bala bantuan, sebagai kemestian Liong Jiang taati panggilan itu. Diluar sangkaan mereka, di Ang touw po pun mereka gagal. Iapun tidak sangka, dalam mendongkolnya Hong Lun keluarkan kata yang menyakiti hati itu. Seberlalunya dari depan Hong Lun, dia kembali keperahunya sendiri. Kebetulan sekali rombongannya habis menjual garam gelap, yang mereka namakan see see cu atau “anak pasir.” Kemudian ia mengundang Liu Som dan Ciong In. Mereka bersihkan diri, dan Ciong In pun diobati. Justru itu mereka menerima kabar bahwa dari Cong to, pusat umum di Hun cui kwan, Gan Tong San, ada dikirim dua rombongan petugas ke Hoo lam Selatan, untuk melakukan penyelidikan suatu urusan penting.

“Inilah kebetulan,” pikir Liong Jiang. “Bila ada ketikanya, aku nanti tempelkan kouwyoh pada Hong Lun si tua bangka! Walau dia tidak rubuh, asal dia kurang kepercayaan, sudah lumayan!”

Nyata to cu ini benci sangat pada Twie hun souw.

Dihari itu juga, sampailah rombongan petugas yang kedua, yang mampir dipusat See hoo congto, anggota nya ada dari Gwa Sam Tong dari Pusat Umum, antaranya selain Guw To cu pun ada paman gurunya, Gui Cin Pang. Kalau Ouw To cu ada ketua kehakiman, adalah Gui To cu ketua urusan piauw pou, tanda bukti keanggotaan. Melihat mereka ini, Liong Jiang tahu bahwa mesti ada anggota yang melanggar aturan, yang kesalahannya tak berampun. Diam2 ia terperanjat. Walaupun ia tahu bahwa ia tidak mempunyai dosa, namun ia kuatir ada salah satu orangnya yang main gila, jikalau itu benar, ia sedikitnya mesti ke rembet2.

Liong Jiang telah ketemui berbagai ketua itu, untuk haturkan hormat kepada mereka, kemudian ketika datang saatnya Gui Cin Pang berada seorang diri didalam perahunya, diam2 ia tanya paman gurunya, untuk urusan apa mereka itu keluar ber sama2.

“Ada satu anggota kita yang sudah lakukan pelanggaran hebat, yang buron ke Kanglam,” paman guru itu terangkan. “Pendakwa ada seorang anggota kita juga, untuk mana dia bisa ajukan bukti. Yang paling menyebalkan, anggota itu sudah lancang pakai namanya Hio cu, untuk dirikan rombongan sendiri dan membuat piauw pou palsu dengan apa ia terima murid2, untuk memperdayakan uangnya murid2 itu. Pendakwa atau penuduhnya ini adalah musuh besarnya, sebab ia telah bunuh isteri dan anaknya pendakwa itu. Musuh ini dengan mati2an berani masuk kedalam Lwee Sam Tong untuk menghadap Liong Tauw Hio cu, guna ajukan pengaduan atau dakwaannya. Musuhnya sudah pikir, hampir tak ada harapan, yang ia akan bisa keluar pula dari Cap ji Lian hoan ouw. Dia telah nyatakan pada Hio cu, dari tujuh rupa dakwaannya, asal ada satu fitnahan, dia bersedia akan tubuhnya dicingcang hancur. Tapi dia pun hunjuk, dia sudah pesan ibunya yang telah berusia delapan puluh tahun, ibu yang sudah janji, asal dalam tempo tiga bulan, ibu ini tak dengar kabar hal kebinasaannya, itu, dia minta si ibu menghadap pada congtok dari Liang Kang, guna beber semua rahasianya Hong Bwee Pang, untuk minta pasukan tentera negeri pergi basmi perkumpulan rahasia ini, katanya dia bersedia akan terbinasa ber sama2 kumpulannya itu.

“Hio cu gusar bukan main apabila ia telah dengar pengaduan itu, disatu pihak dia perintah tahan pendakwa ini, dilain pihak dia segera perintah mencari anggauta yang didakwa itu sambil menyelidiki segala perbuatannya. Hasilnya penyelidikan membuktikan, benar tertuduh bersalah besar dan mesti dapat bagian hukuman mati. Hanya entah bagaimana jalannya, rahasia bocor, terdakwa itu ketahui penyelidikannya Hio cu, dia lantas mendahului buron. Tentu saja buronnya itu membuat Hio cu menjadi semakin gusar, hingga Hio cu ambil tindakannya yang terakhir, yalah dia telah menghimpunkan satu rapat besar istimewa, sampaipun semua hio cu. yang telah undurkan diri dalam Hok Siu Tong, Ruang Kebahagiaan, turut hadir juga. Setelah pasang hio, bersembahyang, Liong Tauw Hio cu lantas umumkan dosanya anggauta yang murtad itu, kemudian dia angkat sumpah, jikalau anggauta itu tak terhukum menurut aturan perkumpulan, dia hendak bubarkan Hong Bwee Pang. Diapun sumpah, apabila tak jalankan aturan dan sumpah ini, dia bersedia akan dikutuk Thian. Karena ini, semua orang, sahabatnya anggota yang berdosa itu, tidak berani buka mulut untuk melindungi atau mohonkan keringanan. Demikianlah kami bertujuh telah ditugaskan untuk cari dan tangkap anggauta berdosa itu dengan diberikan hak, dimana saja bila kami dapat tangkap dia itu, disitu juga mesti diadakan pemeriksaan dan umumkan kedosaannya, setelah itu segera jalankan hukumannya tanpa ampun lagi. Hukumannya adalah hukuman memecah tubuh, lalu sesuatu dari kami mesti bawa sepotong dari tubuhnya, yang harus dipakaikan obat, supaya tidak jadi rusak. Tubuh itu mesti diperlihatkan sebagai bukti pada Hio cu, sesudah mana, semua tubuh akan disembahyangi dan dibakar menjadi abu.”

Gui Cin Pang berikan keterangan jelas pada keponakan murid itu, akan tetapi dia tidak mau sebutkan she dan namanya anggauta yang berdosa itu.

Ma Liong Jiang tidak berani menanyakan lebih jauh, karena ia insyaf, dalam perkara besar itu kalau, ia turut dicurigai, ia sendiri bisa dapat susah. “Bila kiranya anggauta itu akan dapat dibekuk!” ia tanya. “Jikalau dia buron kepedalaman, apakah itu tidak akan menerbitkan kesulitan? ”

Gui Cin Pang tertawa dingin.

“Sekarang ini dia jangan harap bisa buron pula!” katanya dengan pasti. “Tadinya dia sedang diselidiki, maka dia bisa angkat kaki, sekarang kedosaannya sudah terbukti maka dia dicari dengan sungguh. Titah2 disampaikan kecuali dengan jalan atau perantaraan burung2 darah juga dengan perahu2 cepat, titah2 itu di sampaikan ketujuh puluh empat lo dilima propinsi Utara, kepada cabang2 besar dan kecil. Semua anggauta Hong Bwee Pang, dalam tempo seratus hari dilarang meninggalkan pusatnya masing2, malah dilarang juga melangkah keluar sedikitpun dari Ban Lie Tiang Shia. Paling belakang ini, Pusat Umum juga telah mengirim berita cepat Tiat coan pay dengan mana dititahkan, untuk sejumlah anggauta Hong Bwee Pang pergi berkumpul di Kang lam, siapa membandal, dia diancam hukuman mati. Maka dalam satu bulan ini, berbagai tempat penting didaerah Tembok Besar sudah terjaga kuat, hingga tak gampang lagi akan si ang gauta yang berdosa itu bisa loloskan diri.”

Setelah memberikan keterangannya itu, Gui Cin Pang balik menanya keadaan dalam See iouw Cap jie to, pusat bagian Barat, atas mana Ma Liong Jiang berikan laporannya dengan diantaranya dia beber lelakonnya Hong Lun serta Lie touwhu Liok Cit Nio.

“Eng Jiauw Ong itu, tua bangka dari Hoay Yang Pay, memang Hehay,” kata Gui Cin Pang. “Liong Tauw Hio cu pun sudah ambil putusan akan laku kan pertempuran yang memutuskan. Maka titah pesan telah disampaikan kepada semua ang gota, siapa saja bisa mencemarkan namanya tua bangka Ong Too Liong itu, dia akan diberikan hadiah besar, dan siapa yang tidak sanggup melawan, dia mesti bisa pancing si tua bangka datang ke Cap jie Lian hoan ouw, untuk Hio cu sendiri yang tempur padanya. Siapa tidak sanggup melawan, dia mesti mundur teratur. Mengenai Liok Cit Nio, dia memang ada memalui. Dan mengenai Hong Lun si tua bangka, baik kau sabar, dia sekarang ada orang andalan Pusat Umum, kita belum dapat berbuat sesuatu apa terhadapnya, tunggu saja sampai datang saat yang baik nanti…”

“Sebenarnya tee cu datang kemari dengan pengharapan su siok membantu padaku,” kata Ma Liong Jiang. “Adalah ha rapanku, selagi Eng Jiauw Ong belum keluar dari Hoolam ini, susiok nanti melayani dia, untuk sinarkan pula muka terangku, agar tua bangka she Hong itu tidak pandang rendah pula kepadaku, maka sayang sekali, su siok juteru sedang menjalankan tugas berat. Tentu saja tee cu tidak berani minta suatu apa kepada susiok. Malu tee cu akan taruh kaki lebih lama di See hoo ini….”

“Kau sabarlah,” Cin Pang bilang. “ Sebenarnya akupun ingin menemui ketua dari Hoay Yang Pay itu. Jikalau nanti sudah selesai tugasku, kau kirim orangmu kepadaku, kau jelaskan dimana adanya Eng Jiauw Ong, nanti kita cari dia untuk turun tangan.”

Liong Jiang girang, ia meng ucap terima kasih. Ia segera mengundurkan diri akaa pencar orang2 nya keempat penjuru, akan cari tahu dimana beradanya Eng Jiauw Ong. Dan ketua Hoay Yang Pay itu telah dapat diketemukan dijalanan Kay san kauw, terus dia dikuntit sampai di Kian hoo tian, sampai dihotel Hauw Kee Tiam. Si penguntit girang, karena didalam rumah penginapan itu dia ada punya kawan sesama anggota Hong Bwee Pang, yang menyamar jadi jongos. Sejak Tiam lam It Souw Bu Wie Yang bangunkan pula Hong Bwee Pang, dengan mengadakan Lwee Sam Tong atau Tiga, Gedung Dalam, dia telah tambah segala kekurangan, dia memperluas sepak terjangnya, demikian kalau dulu dia cuma main diair, sekarang juga didarat, dengan pentang sayap sampai di rumah penginapan.

Song Jie adalah jongos yang menjadi anggota Hong Bwee Pang itu, dia lalu dipesan, akan pasang mata terhadap Eng Jiauw Ong dan rombongannya, si penguntit sendiri segera pulang untuk memberi laporan kepada Ma Liong Jiang. Ketua ini girang berbareng masgul. Girang karena ia ketahui dimana adanya musuh, masgul sebab ia tak dapat turun tangan sendiri, paman gurunya sedang repot. Diwaktu mahgerib itu, selagi ia dalam ke ibukan, ia lihat pamannya pulang dengan air muka terang, tidak tempo lagi ia berikan kisikannya perihal laporannya mata2nya.

“Barangkali malam ini kita bisa turun tangan,” berkata Cin Pang kemudian, sesudah ia berdiam sekian lamanya.

Pertemuan ini dilakukan diatas perahunya Cin Pang, siapa terua berbangkit seraya berkata pula “Mari kita ketemui yang lain2 untuk berdamai, barangkali mereka dapat setujui kita dan suka bekerja sama.”

Paman ini ajak keponakarnya itu pergi keperahu besar dimana ada tiga to cu kepada siapa, menuruti aturan, Liong Jiang memberi hormat, setelah pamannya duduk, ia berdiri dipinggiran.

“Ouw Loosu,” kata Gui Cin Pang, “kedatangan kita ke Kang lam ini ada kebetulan sekali. Di luar dugaan, disini pihak kita sudah kebenterok dengan Hoay Yang Pay. Ie bun to cu Tie dan Shong Loosu sudah culik muridnya Eng Jiauw Ong, untuk dibawa kepusat kita. Karena ini, semua orang kita disini telah mesti turun tangan. Bukankah Hio cu pun telah keluarkan titah akan lawan musuh atau, kalau tidak bisa, pancing musuh datang kepusat kita? Dalam hal ini, See Gak Pay ada tersangkut paut, karena mana, kita jadi tambah satu musuh tangguh, Tie Cin Hay dan Shong Ceng sangat cerdik, aku tidak mengerti kenapa dia menambah permusuhan….”

Orang yang dipanggil Ouw Tocu itu kerutkan dahi, ia lirik Liong Jiang.

“Semasa baharu sampai dipe batasan Hoolam-Anhui, aku telah dengar hal itu,” sahut ia kemudian. “Sekarang ini urusan kita masih belum selesai, kita tidak mempunyai kelebihan tempo untuk urus juga itu. Tapi Gui Loosu, apa yang sudah terjadi diantara Hoay Yang Pay dengan orang2 kita dari bahagian Barat ini? ”

Gui Cin Pang tuturkan bentrokan yang sudah terjadi sebegitu jauh.

“Jikalau tugasku di Barat ini, tak bisa aku antapkan Liok Cit Nio dengan sepakterjangnya itu,” nyatakan Ouw To cu ke mudian. “Sekarang Cit Nio sudah kabur, tapi kita seperti telah pinjam tenaganya pihak Hoay Yang Pay, sebenarnya aku kurang setuju. Hong Lun ada terpercaya, iapun cukup tangguh, sayang dia biarkan saja Cit Nio beraksi. Asal dia mau, dia sebenarnya dapat mencegahnya. Kalau nanti aku sudah pulang ke Cap jie Lian hoan ouw, aku akan bertindak untuk beri peringatan pada Hong Lun, supaya dia rem sedikit gerak geriknya terlebih jauh.”

XXVIII

“Loosu benar,” Cin Pang kata pada rekannya itu. “Liong Tauw Pang cu telah adakan aturan keras, untuk kita jaga kehormatan, agar musuh tak dapat cela kita. Aku tidak sangka, masih saja ada anggauta2 kita yang main gila. Mengenai Eng Jiauw Ong, aku anggap, sedikitnya dia mesti dikasi rasa. Menurut Liong Jiang, sekarang dia masih belum berlalu dari daerah ini, aku pikir untuk tidak kasi lewat ketika yang baik ini. Tentang halnya Liok Cit Nio dan Hong Lun, biar kita serahkan mereka pada undang2 kita. Bagaimana Ouw Loosu pikir apabila kita mencoba bikin agar Hoay Yang Pay tidak pandang hina lebih jauh pada pihak kita? ”

“Sebenarnya aku pun ingin menemui Eng Jiauw Ong,” kata orang she Ouw ini, sesudah dia berdiam sekian lama. “Tapi urusan kita masih belum selesai, orang kita juga tidak cukup, mana kita punyakan kelebihan tempo untuk layani dia? ”

“Aku rasa tenaga kita cukup juga,” Cin Pang bilang. “Turut penyelidikan, pihak See Gak Pay belum menyertai pihak Hoay Yang Pay ini, itu artinya kita kurangan satu lawan yang tanggu. Sekarang Eng Jiauw Ong singgah di penginapan Hauw Kee Tiam di Kian hoo tian, yang tak terpisah jauh dari sini, disana ada satu orang kita, apabila kita bisa turun tangan, kita jadi mendapat keringanan banyak. Aku pikir, apabila tugas kita selesai sebelum jam dua, kita bisa terus berangkat kehotel itu, kita bisa kerja disana kira2 jam tiga. Bagaimana to cu pikir? ”

Orang she Ouw itu bukannya tak sudi mengangkat namanya dibagian Barat ini, tetapi dia sangsi. Dia tahu benar Eng Jiauw Ong sangat kesohor untuk kepandaiannya Sha cap lak louw Sin ciang, tidak mudah untuk dilayaninya. Akan tetapi sekarang Cin Pang desak ia, ia malu untuk menolak terus menerus, dia tak Ingin sahabat ini memandang rendah padanya. Selagi ia belum sempat jawab Cin Pang, Tocu Nio Hong, yang berada di antaranya, campur bicara.

“Ouw Loo su,” kata rekan Ini, “jikalau Eng Jiauw Ong ada di Kian hoo tian, ini ada saatnya yang baik untuk kita turun tangan. Bukankah didalam dapur api itu ada orang kita? Bukankah loosu sendiri ada bekal obat tidur dari Kok Hio cu dari Ceng Loan Tong? Inilah satu keringanan! Kenapa kita tidak mau gunakan obat itu untuk rubuhkan Eng Jiauw Ong? Jikalau kita pakai obatnya, Kok Hio cu tidak akan tegur kita. Disini pun ada mengenai urusan kaum kita.”

Heng tong To cu Ouw Can lantas saja tertawa.

“Jikalau kau tidak timbulkan, sahabatku, hampir aku lewatkan ketika yang baik ini!” berkata ia. “Memang obat ini diperuntukkan kaum Hoay Yang Pay. Beruntung adalah si niekouw tua dari See Gak Pay, dia bisa lolos!” Lalu ia tambahkan pada Ma Liong Jiang “Sebentar sebelum jam tiga, bila kita sudah selesaikan tugas kita, bukannya tidak cukup, malah kita kelebihan orang untuk dipakai. Sebenarnya beruntung bagimu. Kalau orang yang kami cari tidak berada didalam daerahmu, datang saja kesini pun kami tak sudi. Karena kami kekurangan orang, sebentar kau harus membantunya. Ini ada urusan penting sekali, yang tak dapat dicampuri sembarang orang. Aku harap, pada kurang lebih jam tiga, tugas kami akan sudah selesai, lantas kita bekerja di Kian hoo tian. Orangmu itu, si orang she Song, mesti cerdik dan pandai bekerja.”

“Jangan kuatir, Ouw Loosu,” jawab Liong Jiang. “Orangku itu tak punya kepandaian akan tetapi dia pandai bicara dan cerdik.”

“Baiklah,” Ouw Can manggut Terus ia merogo sakunya akan keluarkan satu lopa2 Pie yan nu, yang tingginya hanya satu dim lebih, sebesar jari tangan, sambil menyerahkahnya pada See hoo to cu, dia berkata. “Simpan ini baik2, inilah obat pemberiannya Kok Hio cu dari Lwee Sam Tong. Untuk kesempurnaannya tugas kita, kita mengandal pada obat ini. Kau tahu sepuluh aturan suci dari perkumpulan kita. Siapa juga bisa masuk menjadi anggauta, asal ada orang perantaraannya, tetapi dipantang keras kita memasukkan bangsa kemaruk paras elok. Dan ada dilarang keras untuk kita sembarang gunai obat pules semacam ini. Kok Hio cu sendiri dapatkan obat ini dari tangannya seorang kang ouw murtad, sudah lama dia simpan saja, belum pernah dia pakai, tetapi sekarang perkara ada besar sekali, sampai Liong Tauw Pang cu bersumpah akan singkirkan orang yang tersangkut, dan Kok Hio cu sendiri kuatirkan orang kembali lolos, terpaksa dia gunai obatnya ini. Diapun memberikan sangat sedikit kepadaku, yang dipesan untuk menyimpan nya dengan baik2, malah aku dipesan juga, bila masih bisa dengan jalan lain, tak boleh aku gunai ini. Tapi sekarang biarlah kita pakai. Pesanlah orangmu, jang air dia mencampuri ini didalam arak, sayur, mie atau nasi, karena orang kang ouw pandai tak dapat diabui, dia mesti campur didalam air teh. Orangmu itu sudah berjasa asal dia dapat rubuhkan musuh kita itu, setelah itu dia boleh berlepas tangan, karena kita akan pergi kehotelnya untuk rampungkan pekerjaan selanjutnya. Umpama kita terlambat, atau dia bekerja lebih cepat, dia mesti segera mengasi kabar pada kita. Diwaktu malam, pasti aku akan kirim perahu untuk menantikan dia. Nah, pergi kau gunai perahu cepat buat berikan titahmu, setelah itu, kau lekas kembali padaku.”

Liong Jiang sambuti obat, dia terima pesan itu, lantas dia undurkan diri. Dengan perahu cepat ia kembali ke Kian hoo tian. Ia tidak berani datang sendiri kehotel, ia utus orang untuk memanggil Song Jie, kepada siapa obat mana diberikan sambil menerangkan cara pakainya, seraya anggota ini dipesan wanti2 mesti bekerja hati2.

Song Jie terima obat itu, ia berikan janjinya. Setelah mana, Ma Liong Jiang lantas kembali kepusatnya, pada rombonganhya Ouw Can. Ia sampai diwaktu mahgerib, selagi orang baharu habis bersantap.

“Lekas kau siapkan dua buah perahu cepat,” Heng tong To cu kasi perintah. “Kau sediakan hio, lilin dan ciaktay lengkap. Dua perahuku sendiri, seberangkatnya kami, mesti menantikan didekat pelabuhan Kian hoo tian. Pesan supaya jangan pasang hio tin, agar orang tak mengenali perahu kaum kita. Kau mesti pilih anak buah yang pandai, kita hendak bekerja malam, kita tak boleh gagal.”

Liong Jiang berikan janjinya tanpa ia berani tanya perahu hendak dipakai pergi kemana. Dia pun perintah dua perahunya ketua itu mesti pergi kearah yang dipesan.

Ketika sudah berangkat, rombongannya Ouw Can terdiri dari enam orang. Sebenarnya dia berombongan bertujuh, akan tetapi dua kawannya belum sampai. Diantara perbekalan lilin dan lain2, Nio To cu pun bawa satu bungkusan yang nampaknya berat. Bungkusan itu sangat menarik perhatiannya Liong Jiang, tetapi siapa diam saja. Ia merasa seram sendirinya melihat wajah orang yang muram semua. Dengan membungkam dia jalan disisi paman gurunya.

Kapan perahu sampai ditikungan yang bercabang, anak perahu tanya, mereka harus menuju kemana.

“Ke kaki Hok Gu San, berlabuh di Cit seng tong!” ada jawaban atau titahnya Ouw Can, si ketua pengadilan.

Dengan gesit, anak buah perahu gayu kendaraannya kearah Barat Selatan.

Malam itu hujan rincik2, langit ada gelap, bintang2 tak bercahaya. Disitupun tidak ada perahu lainnya, tidak ada sekalipun yang sedang berlabuh. Tetapi anak buah perahu rombongan ini pandai sekali, suara gayuan mereka adalah se mengga2 suara yang memecah kesunyian sang malam gelap petang itu.

See hoo tocu Ma Liong Jiang memasang mata kearah depan tetapi ia tak lihat apa juga. Adalah setelah mendekati Cit seng tong, segera ia ingat bahwa per nah dahulu dia mendatangi tempat itu, suatu dusun mencil dan kecil, penduduknya, selain belasan nelayan, adalah kuli2 parit dari gunung Hok Gu San. Disitu ada enam atau tujuh rumah hina serta satu sarang judi yang laku sekali, karena tengkulak2 ikan dan kuli2 parit, pemimpinnya juga, yang tak tahu bagaimana harus gunai uangnya, suka lewatkan tempo dengan pelesiran adu peruntungan, hingga disitu pun ada hidup golongan buaya darat, yang tuntut penghidupan secara mengacau, hingga sering terjadi kegaduhan dirumah judi itu.

Dengan merasa terkejut, Liong Jiang duga, tentulah anggota murtad dari Hong Bwee Pang yang hendak ditawan itu, sedang sembunyikan diri di dusun mencil ini.

Segera Ouw To cu perintah perahu dihentikan ditepi lagi sepanahan dari Cit seng tong tempat yang sangat sunyi, disitu perahu mesti menantikan, diantara hujan rintik2 mereka mendarat dan berjalan dijalanan yang sukar. Mereka gendol semua bekalan Ouw Can berjalan dimuka. Hawapun dingin sekali.

Jalan jauhnya setengah lie, mereka sampai disebuah kuil tua yang tidak terlihat dari jauh, sesudah dekat, baharulah tertampak tegas. Disitu segera muncul satu orang.

Dari dalam rombongan lantas muncul dua orang, ialah dua dari Gak yang Sam Niauw atau “Tiga burung dari Gak yang,” Mereka adalah Tong Hoo Couw dan Liok Hong Ctu. Mereka hampirkan orang dari kuil itu, untuk memberi tanda rahasia.

Nyata orang kuil itu adalah Coan In Yan cu Lauw Cong, termuda dari Gak yang Sam Niauw, yang bertugas secara rahasia di Cit seng tong.

“Kau telah kembali, Lauw Loo sam, apa kabar? ” tanya Ouw Can setelah iapun menghampirkan.

“Urusan berjalan lancar,” sahut Lauw Cong. “Siauw chee coa Ciauw Soat Go, si Ular Hijau, dan ibunya, terima baik usul kita dan mereka berjanji akan bekerja dengan sempurna. Mereka cuma minta kita siapkan banyak orang, yang mesti segera turun tangan apabila mereka sudah memberi tanda. Mereka cuma minta supaya mereka sendiri bebas dari marah bahaya. Mereka kuatir, kalau dia keburu sadar dari pengaruh arak, dia nanti mengganas.”

Kemudian Lauw Cong mengundang masuk.

Sekarang Liong Jiang bisa lihat, itu adalah kuil melaikat gunung, sebuah kuil yang tak terurus, sampaipun patungnya tak dapat dikenali, melainkan sebuah mejanya, yang masih utuh. Di pojok Timur, tembok pun sudah gempur. Penerangan adalah sebatang lilin yang ditancap diatas meja, pelelehan lilinnya sudah bertumpuk. Itupun menyatakan Lauw Tong berdiam disitu sudah cukup lama.

Gui Cin Pang perintah Liong Jiang lantas atur lilin dan lain2 untuk bersembahyang, dan Ouw Can titahkan Liok Hong Ciu keluarkan Sin cie dari Kay San Couw su, pendiri kumpulan, diatas meja sembahyang itu, ia sendiri yang menaruhnya dengan hati2. Karena sin cie dibungkus kertas merah, Liong Jiang tidak tahu sin cie siapa adanya itu.

Setelah meletaki sin cie, Ouw Can berbisik kepada Gui Cin Pang, sesudah itu, ia kata pada Liong Jiang “Kau berdiam disini jagai ruangan suci ini. Kau harus insaf, malam ini adalah malam yang Hong Bwee Pang kita hendak jalankan aturan rumah tangganya, untuk menjaga nama baik kita. Kau sendiri harus hormati undang2 kita, maka janganlah kau berani sembarangan berkisar dari sini!”

Lalu, tanpa tunggu jawaban, Ouw Can ajak rombongannya keluar dari kuil itu akan pergi ke Cit seng tong.

Liong Jiang menjublek menunggui San Sin Bio, kuil malaikat gunung, yang penuh debu itu. Sejak ia memasuki Hong Bwee Pang, cuma satu kali ia pernah saksikan upacara, ketika ia disumpah sebagai anggauta. Dan selama menjadi anggauta, ia tak tahu couwsu apa yang mereka puja. Sekarang ada ketikanya buat ia mendapat tahu, asal dia mau bentet sin cie diatas meja abu itu. Tapi ia tidak berani berbuat demikian. Dia takut terhadap Heng tong tocu Ouw Can, ketua pengadilan itu, yang licin dan telengas.

“Dia tugaskan aku menjaga disini, siapa tahu apabila diapun pasang orang untuk intai aku? ” demikian ia pikir. Karena ini, ia buang pikiran untuk lihat sin cie itu, ia siapkan goloknya dan menjaga dengan sungguh disebelah dalam pintu, setindakpun ia tak berani berkisar.

Kira2 satu jam telah berselang. Sang hujan masih terus turun rintik2 dan angin dingin menghembus kedalam berulang2, membuat api berkelak kelik, saban2 hampir padam. Satu kali, ketika api jadi demikian kecil, Liong Jiang lompat mengham pirkan seraya ia ulur tangannya, maksudnya untuk alingi api itu, guna cegah jangan sampai padam. Tapi baharu ia ulur tangannya, atau satu bayangan melesat masuk dari luar, gerakannya gesit luar biasa, sekejab saja bayangan itu telah sampai dibelakanguya. Ia kaget dan curiga, segera ia loncat kesamping kiri, menyusul mana, sebelah tangannya dipakai menyerang.

Bayangan itu segera berkelit kekanan. “Ma Loosu, aku!” ia perdengarkan suara.

“Siapa? ” tanya Liong Jiang, yang urungkan serangannya. Sambil berbuat demikian ia pun awasi bayangan itu, hingga ia kenali Siauw Thio Liang Siauw Cun. Ia jadi tidak puas, di dalam hatinya ia kata “Kau keterlaluan, sahabat. Benar aku ada to cu cabang tetapi dengan kau, kedudukanku ada berimbang, disini aku ada sebagai ketua, kenapa kau begini tak memandang mata kepadaku? ” Karena mendongkol, ia terus kata “Sungguh kau liehay, Siauw Loosu! Tapi kau berada ditempat gelap, aku ditempat terang, maka kau pasti telah lihat jelas sekali, aku bukannya tak berani tak taati pesan dari Ouw Loo cian pwee! Kenapa kau muncul secara demikian mendadak dibelakangku? Bagaimana bila aku keliru menyerang kau, karena salah anggap kau sebagai lawan? Bagaimana kalau aku salah tangan dan kena lukai kau? Pastilah walaupun aku ada punya seratus mulut, tak bisa aku bela diri! Tidakkah demikian, loosu? ”

Siauw Cun merah, muka dan kupingnya karena teguran tajam itu. Memang ia ditugaskan Ouw Cari untuk tilik Ma Liong Jiang tetapi ia sudah terburu napsu. Tetapi lekas2 ia mencoba perbaiki diri.

“Jangan curigai aku” Ma Loosu,” kata ia dengan sabar. “Memang akuv datang masuk secara sangat kesusu, hingga kau jadi sangsikan aku. Harap loosu ketahui bahwa kita ada sesama orang Hong Bwee Pang, yang hidup atau mati. mesti bersama, tak dapat kita saling mencurigai, biar bagaimana sedikit juga. Aku datang untuk bersiap sedia, semua loosuhu sudah berhasil dengan usahanya, segera mereka akan kembali!”

Ma Liong Jiang kasi dengar suara dihidung, ia tidak menjawab.

Siauw Cun insaf atas kekeliruannya.

“Ma Loosu, tahukah kau, siapa yang malam ini telah lakukan pelanggaran demikian besar hingga dia mesti dihukum mati? ” tanya ia, dengan suara manis. “Aku ada satu tauwbak kecil bahagian luar, mana aku berani lancang mencampur tahu urusan termasuk rahasia dari Pusat Umum? ” Liong Jiang baliki, sikapnya acuh tak acuh.

“Sekarang si orang jahat sudah kena ditawan, tak usah lagi kita takut akan bocorkan rahasia,” kata Siauw Cun sambil bersenyum. “Jikalau aku sebutkan namanya dia itu, mungkin Ma Loosu pun ketahui dia. Anggauta yang lakukan pelanggaran hebat ini, yang menyebabkan dia terancam bahaya kematian, adalah Siang tauw niauw Kiang Kian Houw….”

“Ah….” Liong Jiang berseru tanpa sengaja. “Bagaimana Siang tauw niauw Kiang Kian Houw bisa lakukan semacam pelanggaran? Loo suhu ini semasa di Kanglam sudah pernah lakukan usaha2 besar untuk kaum kita, ketika dia mengetuai kaum Rimba Hijau dipermukaan air, namanya sangat kesohor, dibawah kendalinya sendiri dia ada punya empat puluh lebih perahu cepat yang memakai bendera Burung Terbang. Ketika dia baharu masuk dalam Hong Bwee Pang, karena dia ada punya demikian banyak perahu, dia dianggap berjasa dan Liong Tauw Pang cu kita ada sangat hargai padanya, hingga dia telah di hadiahkan sebuah Tiat coan pay istimewa. Dengan tunjukkan tanda rahasia itu, dimana saja dia sampai, Kiang Kian Houw berhak menitahkan sesuatu anggauta setempat, hingga didalam kaum kita, dia adalah salah seorang dengan kedudukan luar biasa. Memang, ketika aku mulai membuat anjuran di Barat sini, aku dengar orang cerita, Kiang Kian Houw ada melakukan suatu apa hingga Liong Tauw Pang cu tarik pulang Tiat coan pay nya itu, atas mana katanya dia mulai kendalikan dirinya sendiri, maka aneh, kenapa sekarang dia berdosa besar… Inilah aneh ”

“Tidak ada yang aneh, Ma Loosu,” berkata Siauw Cun. “Jikalau Kiang Kian Houw tahu diri, tidak nanti terjadi seperti hari ini. Dia memang bertabeat aneh, dia terlalu mengagulkan diri sendiri, sesudah Liong Tauw Pang cu berikan dia nasihat, dia justeru semakin jadi binal, dia justeru melakukan segala apa yang dilarang kaum kita. Terang dia mencoba merusaki aturan2 kita, untuk melihat apa kita bisa bikin terhadapnya. Sayang kepandaian dan kecerdikannya Kiang Kian Houw, dia tak kenal baik sifatnya Liong Tauw Pang cu. Pang cu kita ada tegas, dia tak tahu takut, dia berani lakukan segala apa, kata2nya mesti diwujudkan, maka itu, mana Pang cu bisa membiarkan anggotanya yang melanggar undang2 yang berbuat dengan merusak nama baik Hong Bwee Pang? Begitulah, dalam murka nya, Liong Tauw Pang cu sudah ambil putusan akan hukum anggota yang murtad dan berkhianat itu. Lihat, Ma Loosu, apa Kian Houw bukan cari matinya sendiri? ”

Liong Jiang mangut. “Itulah beralasan,” kata dia.

“Jikalau Kiang Loosu tahu diri, tidak nanti menjadi begini rupa. Tapi dia gagah, dia bukan orang sembarangan, untuk tawan dia pasti sulit sekali…”

“Dia sudah masuk perangkap, tak nanti dia bisa lolos pula, tidak ada halangannya bila aku bercerita sekarang.” Siauw Cun menjawab pula. “Kiang Kian Houw penggemar paras elok. Dia tahu yang kaum kita tak akan mengantap padanya, dia kabur dari Kanglam, dan umpatkan diri disekitar Cit seng tong ini. Kalau dia terus bersembunyi, tidak gampang untuk cari dia, mungkin dia dapat menyingkir kelain tempat pula. Apamau dia tidak bisa buang kegemarannya itu. Disini dia telah kangkangi Siauw chee coa Ciauw Soat Go, satu bunga latar yang kesohor, keduanya katanya ada sangat menyinta satu dengan lain, hinga tak dapat mereka tak menikah, adalah karena berdiamnya dia dirumah hina, dia dapat diendus oleh salah satu saudara kita, hingga kesudahan nya Ouw Loosu datang kemari. Kebetulan Kiang Kian Houw sedang gila perempuan, Ouw Loosu tidak sia2kan ketika yang baik ini. Ibunya Ciauw Soat Go telah dipanggil datang, dia ini dibujuk berbareng diancam, untuk bekerja bersama.

“Kami ada orang2 polisi rahasia dari Kang leng hu, Kanglam, begitu Ouw Loosu gertak perempuan tua itu, kami sedang cari satu penjahat besar yang sudah lakukan dua puluh lebih perkara jiwa, yang telah bisa bongkar perijara dan buron kemari, malah kami tahu, dia sembunyi dirumahmu. Kau tahu, dengan begini, kau bisa terbawa2, tetapi kamipun insaf, dengan pekerjaanmu ini, kau cuma tahu layani siapa yang banyak uangnya, dari itu, kami pikir untuk tolong padamu, hanya untuk ini kau sebaliknya harus berbuat suatu apa juga untuk kamu ketahui olehmu, kau mesti bisa simpan rahasia, apabila, penjahat. itu kabur sebelum dia ditawan, kaulah bertanggung jawab, kau bakal didakwa berkonco dan sembunyikan orang jahat, bahwa kau telah makan sogokan, hingga kau bakal ditangkap juga! Jikalau kau dibekuk, perhatikanlah kepalamu!”

Kaget bahtauw itu mendengar ancaman itu, maka dia sudah lantas berjanji akan berikan bantuannya. Maka itu Ouw Loosu lantas mengajarkan dia bagaimana mesti bertindak, supaya penjahat besar itu bisa ditangkap.

“Siauw chee coa Ciauw Soat Go, si Ular Hijau, sudah sumpah akan menikah dengan Kiang Kian Houw, sebenarnya dia mengharapi kekayaannya orang she Kiang itu, sekarang dia dapat tahu bahwa dia bakal terbawa2, dia bisa mendapat susah, dengan lantas dia ubah pikiran. Dia bersedia akan bantu Ouw Loosu, yang dikiranya benar ada dari pihak polisi. Begitulah, dengan berlaga, dia semakin hunjuk cintanya pada Kian Houw, dia kasi tahu bahwa dia sudah dapat perkenan dari ibunya untuk nikah orang she Kiang ini, untuk kemudian tuntut penghidupan putih bersih. Untuk ini, ia kata ia hendak adakan perjamuan, ia ingin berkaul, sebab tadinya ia menyangka, ia bakal tidak mampu, angkat diri dari dalam pecomberan. Kiang Kian Houw percaya kekasihnya ini, ia setujui perjamuan itu, ia yang perintahkan siapkan meja perjamuan, yang istimewa. Selama makan minum, Ciauw Soat Go keluarkan semua kepandaiannya, akan bikin Kian Houw lupa daratan. Dalam keadaan seperti itu, Ouw Loosu tidak berani memakai obat tidur dari Kok Hio cu, dia kuatir Soat Go sembrono atau Kian Houw yang cerdik curiga, apabila sampai Kian Houw bisa lolos, selanjut nya akan sangat sukar untuk cari pula padanya. Dasar takaran kejahatannya sudah luber, Kian Houw kena dilagui oleh Soat Go, ia kena diloloh hingga lupa daratan, hingga dengan gampang sekali ia kena diringkus. Tadi masih siang, Ouw Loosu tidak berani sembarang angkut orang tawanan itu, dia kuatir dicurigai orang luar, maka itu dia menunggu sampai sekarang. Ouw Loosu mengambil jalan mutar untuk sampai kemari.”

Mendengar sampai disitu, redalah kemendongkolannya Ma Liong Jiang. Ia jadi mau percaya, orang bukan ditugaskan istimewa untuk intai dia, bahwa orang benar telah datang secara tergesa2 sekali, untuk sampai terlebih dahulu.

Benar saja, tidak berselang lama, diluar terdengar tindakan kaki.

“Sudah datang!” Siauw Cun kata seperti berseru, segera ia bertindak keluar dengan terburu, sedang Liong Jiang pun mengikuti Sesampainya diluar, mereka melihat serombongan orang sedang mendatangi. Keduanya lantas berdiri menantikan dikiri dan kanan pintu.

Dari rombongan yang sedang mendatangi itu, sekonyong satu orang mencelat keluar, cepat sekali dia telah sampai didepannya Siauw Cun dan Liong Jiang berdua, hingga dia dikenali sebagai Coan in Yan cu Lauw Cong, salah satu dari Gak yang Sam Niauw.

“Sudah siap? ” dia tanya Siauw Cun. Akan tetapi tanpa tunggu jawaban lagi, ia lari terus kedalam. Cepat luar biasa ia sudah lantas lari keluar pula, terus kepada rombongannya tanpa dia menoleh kekanan kiri.

“Sungguh Ouw To cu yang licin!” kata Liong Jiang didalam hatinya. “Dia tugaskan aku, untuk menjaga disini, tapi dia tak percaya padaku. Terhadap orang demikian licin, aku mesti waspada”

Selagi to cu she Ma ini berpikir, rombongan itu sudah sampai didepannya. Yang bertindak terdepan adalah Gak yang Sam Niauw dengan goloknya ditangan masing2, lalu Kui Liong Tek yang tubuhnya jangkung dan tenaganya besar, dibebokongnya, menggendol Siang tauw niauw Kiang Kian Houw. Dibelakang dia ini ada si ketua she Ouw. Gui Cin Pang jalan paling belakang dengan dikiri kanannya mengiringi dua anggota. Rombongan ini langsung masuk ke dalam kuil. Ma Liong Jiang dan Siauw Cun mengikuti dipaling belakang, ketika mereka sampai didalam, Siang tauw niauw Kiang Kian Houw, si Burung Kepala Dua, sudah diletaki didepan meja sembahyang. Dia dikeredongi kain putih dibagian atas, terang sekali dia terbelenggu sebagaimana kedua kakinya dilibat dengan tambang yang kuat.

Agaknya Kian Houw sudah sadar akan tetapi dia tak dapat bergerak.

XXIX

Tidak lama, menyusul suara tindakan kaki yang ramai, muncul empat anggota, yang menghadap pada Heng tong To cu Ouw Can, untuk menanya hendak diberikan tugas apa lagi.

“Selagi kau tancap .bendera di Cit seng tong, ada apa2 yang mencurigai atau tidak? ” Ouw Can tanya.

“Jangan kuatir, to cu,” sahut salah satu anggota. “Kami bekerja secara luar biasa bersih nya. Kecuali apa yang terjadi dirumahnya Siauw Chee Coa, diseluruh Cit seng tong ini kami tak meninggalkan bekas2 apapun juga.”

Nampaknya to cu itu puas, air mukanya pun terang sekali. Dengan matanya yang tajam ia pandang seluruh ruangan, kemudian ia awasi empat anggota itu dan berkata “Kau sekalian masih harus berikan tenagamu!”

Kemudian ia kata pada dua pengiringnya “Disini tak ada lagi tugasmu, pergi lekas kembali keperahu untuk menjaga disana!”

Dua orang itu memberi hormat dan terus undurkan diri.

Ouw Can awasi pula empat anggotanya dan kata “Untuk pergi ke Go Gu San masih ada sebuah jalan terang dan dua jalan gelap. Jalan terang itu ialah arah Selatan tempat perhentian perahu kita. Disana ada sebuah jalan yang nembus kepusat Kian hoo tian. Pergi kau kesana dan memecah diri untuk pasang mata. Apabila kau lihat ada orang Rimba Hijau, pancinglah mereka ke Cit seng tong, jangan ijinkan mereka menuju kesekitar kuil San Sin Bio ini. Apabila ada orang datang dekat, mereka bisa lihat cahaya api disini dan bisa mendatangkan kecurigaan mereka. Jagalah agar tak seorangpun juga dapat melihatnya, apabila kau alpa, ingat aturan kita yang keras!”

Empat anggota itu terima tugas ini, mereka lantas mengundurkan diri.

Diam2 Liong Jiang merasa puas, karena ia tak dapat tugas. Ia ketahui, semua enam anggota tadi adalah mereka yang dari rombongan permukaan air. Dengan demikian ia jadi dapat ketika untuk saksikan pemeriksaan dan akan lihat hukuman entah hukuman apa bakal di jalankan. Ia baharu kegirangan sendiri atau Ouw To cu menoleh padanya.

“Ma To cu,” berkata ketua pengadilan itu, “Kita hendak lakukan pemeriksaan, disini tidak ada tugas untukmu, karena Liong Tauw Pang cu cuma tugaskan kami bertujuh saudara. Disana ada satu tempat lagi, yang belum terjaga ialah tanjakan Too Kho Nia di Selatan kuil ini, jauh nya sepanahan. Dari atas tanjakan itu, orang bisa mengawasi keseluruh Go Gu San, bila ada musuh disana, pasti dia akan menuju kemari. Kita sedang jalankan aturan kita, tak dapat kita mengijinkan orang luar menyaksikannya, dari itu, silahkan to cu pergi menjaga disana.”

Liong Jiang mendongkol mendengar kata2 itu, karena terang dia tetap dicurigai walaupun dia ada satu to cu, tetapi sebelum ia sempat menjawab, Gui Cin Pang sudah kedipi mata padanya, lantaran mana, ia bersabar. “Baik, to cu,” ia menyahut dengan terpaksa. Dengan menahan sabar sebisa2 ia segera undurkan diri, akan pergi ketempat yang ditunjuk, yang ia dapati benar ada satu tempat penting, karena ketika ia mendaki tanjakan, ia bisa lihat seluruh Go Gu San.

Malam itu ada gelap, hujan gerimis.

Selagi Liong Jiang menoleh kearah San Sin Bio, disudut Timur selatan kuil itu, ditembok yang gempur, ia tampak cahaya api. Kecuali sinar itu, ia tak lihat suatu apa, akan tetapi, hatinya berpikir.

“Disana ada tembok gempur, kenapa aku tidak mau pergi ke sana untuk mengintai? ” demikian ia tanya dirinya sendiri.

“Aku ingin saksikan jalannya pemeriksaan dan hukuman…”

To cu ini ambil putusan dengan cepat, akan tetapi sebelum menuju ke San Sin Bio, lebih dahulu ia jalan memutari daerah penjagaannya itu, apabila ia tidak dapatkan apa2 yang mencurigai, terus ia menuju kekuil. Ia mengambil jalanan yang sukar, rumputnya lebat, batunya banyak yang berantakan. Dia tidak menghampiri tembok yang gempur, ia hanya pergi kelain sebelah dari mana ia bisa memandang kesebelah dalam. Untuk kepuasannya, ia bisa melihat keruangan sin cie dimana orang berkumpul.

Ruangan malaikat gunung itu ada terang sekali, karena dipasangnya beberapa batang lilin besar. Ouw Can berdiri didepan, Gak yang Sam Niauw dikanan, dan Gui Cin Pang bersama Kui Liong Tek dan Siauw Cun di sebelah bawah, berbaris. Dimuka meja, Kiang Kian Houw bertekuk lutut, kedua tangannya ditelikung, matanya madap kedalam. Dia tidak memakai baju. Kecuali angin, kuil ada sangat sunyi. Karena Ini, walaupun kurang tedas, suara dari ruangan suci itu dapat terdengar juga.

Liong Jiang memasang mata dan kupingnya.

“Segala apa yang kau telah perbuat baik kau akui, supaya kau tidak usah membikin kita berabe,” demikian antaranya terdengar suaranya Ouw Can, yang rupanya sudah lantas mulai dengan pemeriksaannya.

“ Ouw Can, janganlah kau jadi si rase dengan gertakan macannya,” jawab Kiang Kian Houw, yang sudah tidak berdaya. Teranglah sudah, bahwa sekarang orang tawanan ini telah sedar benar. “Satu laki2 mesti berani tanggung jawab atas semua perbuatannya. Aku tidak perlu bilang apa2 lagi, kau boleh hukum aku menurut bunyinya aturan Hong Bwee Bang!”

“Kiang Kian Houw!” Ouw Can membentak. “Didalam Hong Bwee Pang kau ada satu laki2, maka itu, jangan kau bikin aku banyak pusing! Kau bukannya anggota baru, kau tahu sendiri, dari sepuluh aturan besar kita, lima adalah tak berampun, tiga adalah pantangan. Kau sedang diperiksa, maka kau harus berikan segala pengakuan, jangan kau tunggu sampai kami terpaksa korek keterangan dengan jalan kompesan, itu artinya, sebelumnya binasa, kau mesti menderita siksaan itu bukan caranya satu laki!”

Salah satu dari Gak yang Sam Niauw balingkan goloknya.

“Kiang Lauwtee, kau lihat ini!” kata dia. “Jikalau kau berani main gila, lebih dahulu aku nanti kasi rasa dengan ini!”

Salah satu Burung dari Gak yang ini ada Coan in Yan cu Lauw Cong, si Walet Tembusi Mega, terhadap dia, Kiang Kian Houw tertawa dingin, tertawa mengejek. “Orang she Lauw, jangan kau banyak laga dihadapannya Kiang Jie thayya!” ia berkata. “Ketika dahulu aku masuk menjadi anggota Hong Bwee Pang, kau masih belum mendapat nomor! Apa yang aku lakukan, kau tahu, ada berharga untuk beberapa bacokan, dari itu, sampai sekarang ini, aku sudah hidup cukup! Dengan apa yang aku lakukan, walaupun aku tidak sebutkan, terang tak dapat aku hidup lebih lama, demikian juga apabila aku tuturkan semua, karena jiwaku tetap satu! Maka Lauw Cong, terhadap aku, jangan kau bertingkah!”

Kata2 itu tajam sekali, karenanya, kupingnya Lauw Cong menjadi merah, hingga ia sodorkan ujungnya goloknya.

“Fui!” Kian Houw meludahi si Walet itu. “Kau berani langgar aturan untuk menjalankan hukuman sesukamu sendiri? Terangkah kau kurang terdidik! Jikalau tanpa titahnya Ouw Loosu kau berani ganggu satu saja jari tanganku, dan Kiang Jie thayya terima siksaan hebat, tak sepatah pengkuanku kau akan terima! Kau harus mengarti, pada semua perbuatanku itu, kaupun ada turut terhitung didalamnya!”

Lauw Cong menjadi bertambah malu, dengan terpaksa ia masukkan goloknya kedalam serangkanya. Ia insaf bahwa ia sudah bersikap keliru, karena turut aturan, selama pemeriksaan, orang tak diperbolehkan mendahului hakim. Pun dengan perbuatannya itu, ia sudah berlaku lewat batas, sebab biar bagaimana, terdakwa adalah bekas rekan nya, tak pantas dia keterlaluan, apalagi dia ada anggota lebih muda. Lacurnya bagi Kian Houw, dia sudah langgar aturan.

Gui Cin Pang tidak puas dengan perbuatannya Lauw Cong, tetapi ia lebih tak senang kepada sikapnya Ouw Can si ketua pengadilan itu. Memang hakim ini ada sangat licik dan licin. Kenapa dia diam saja selagi Lauw Cong tak bisa turun dari panggung? Semestinya, siang2 dia sudah cegah sikapnya Lauw Cong itu. Tapi dia menonton saja! Apakah yang dia pikirkan dalam hatinya? Ia pun tampak wajah orang yang suram, tanda dari kelicinan. Maka diakhirnya tak dapat ia menahan sabar.

“Lauw To cu, mengapa kau terburu2 tak keruan? ” ia lalu kata pada satu Gak yang Sam Niauw itu. “Apakah kau kuatir terdakwa akan dapat loloskan dirinya? Sekarang ini Ouw To cu sedang wakili Liong Tauw Pang cu melakukan pemeriksaan, jangan kita berpandangan cupat terhadap terdakwa yang sudah insaf dirinya bakal binasa. Silahkan tocu undurkan diri.”

Dengan muka masih merah dan mendongkol sangat, Lauw Cong mundur ketempat asalnya. Kata2 nya rekan itu memberi alasan untuk ia undurkan diri.

Baharulah sekarang, Ouw Can perdengarkan suaranya. “Kiang Kian Houw!” ia membentak. “Kau langgar

aturan, kau berdosa besar, masih berani kau berlaku jumawa? Apakah kau pandang hina pada golokku? Apakah kau anggap golokku tidak tajam? Tahukah bahwa kau sudah melanggar tujuh rupa pantangan? ”

“Ouw To cu, baik kau kurangkan kata2mu!” Kiang Kian Houw jawab. “Aku merasa bahwa aku telah langgar belasan undang2 kita, tetapi kau mengatakan cuma tujuh, aku tak akui itu!”

Ouw Can tertawa dingin.

“Baiklah,” sahut ia. “Sekarang aku hendak tanya kau. Kenapa kau lepaskan tugasmu sebagai kepala latihan di Lian hoan ouw? Kenapa kau meninggalkan Pusat Umum? Kenapa kau justeru pergi kecabang Sam hun kong dan disana kau persulit perahu2 dari Pusat Umum? ”

“Itulah sebab aku anggap kau semua kawanan boca yang tak punya kepandaian berarti!” sahut Kian Houw. “Kau sekalian tak punya derajat untuk memegang kekuasaan besar! Sejak itu aku telah mengambil putusan akan menunjukkan kepadamu, siapa yang ada punya kepandaian dan siapa yang tak mampu!”

“Kau ada jadi to cu, kau langgar aturan, inilah kesalahan mu yang pertama!” kata Ouw Can, yang tak perdulikan ejekan. “Catatlah ini!” ia menitah sambil menoleh pada Kui Liong Tek, yang mendapat tugas tukang catat pengakuan.

Kui Liong Tek memang sudah siap, ia lantas jalankan pitnya.

“Jadi kaulah itu orang yang dahulu bocorkan rahasia kepada Eng Jiauw Ong hingga empat puluh lebih saudara2kita terima kebinasaannya bersama dua belas perahu kita yang muat pasir putih? ”

“Tidak salah! Malah kau masih beruntung, tentara negeri masih belum keburu geledah gunung, sedang sebenarnya aku berniat   memasuki   sarangmu   untuk bunuh mampus pada kau semua rombongan rase dan anjing, untuk bangunkan Hong Bwee Pang!”

“Hm, satu laki2! Jadinya kau juga yang lakukan kejabatan dan kekejaman di Sam hoan kong dimana ada terjadi tiga perkara perkosaan diberikuti pembunuhan, yang sangat memalukan Hong Bwee Pang! Benar kah? ”

“Benar!”

“Nah, kau kurangilah penasarannya saudara2 yang kau jual hingga mereka hilang jiwanya! Kau telah binasakan satu keluarga tua dan muda, kau telah kangkangi orang punya anak gadis remaja, benarkah? ”

“Ah, kau terlalu rewel!” bentak Kiang Kian Houw. “Lekas kau keluarkan putusanmu!”

“Kau tak dapat tancap kaki di Sam hun kong, kau buron ke sekitarnya Souwciu dan Yang ciu, lalu disana dengan berani kau dirikan Hong Bwee Pang palsu, kau bikin piauw pou tiruan, kau siarkan ajaran sesat untuk pedayakan uang orang, kau pun obral rahasianya Hong Bwee Pang. Bukankah semua itu ada perbuatanmu? ”

“Tidak salah! Tapi itu belum semuanya!” sahut Kiang Kian Houw dengan berani. “Kalau kau tidak tanyakan itu semua akupun tak sudi menyebutkannya!”

“Kau catat semua ini,” kata Ouw Can pada Kui Liong Tek. “Orang she Kiang ini benar ada laki2 sejati! Bawalah perbal itu kehadapannya, untuk dia bubuhi tanda tangannya!”

Kui Liong Tek menurut, ia bawa catatannya berikut bakhie somplak kedepannya Kian Houw untuk dibubuhi, bukan dengan alat tulis, hanya dicap dengan cap tangan dan kaki.

Ouw Can periksa cap itu, yang telah dibawa kedepannya.

“Kiang Kian Houw,” tanya dia, “kau sudah langgar tujuh aturan, tahukah kau hukuman apa kau bakal dapat? ”

“Tak lebih tak kurang hukuman mati dengan memecah tubuh menjadi tujuh!” sahut Kian Houw dengan sewajarnya saja. “Loo Ouw, aku tahu, akan sia2 aku mohon suatu apa kepadamu, aku satu laki2 sejati, aku berani berbuat, aku berani bertanggung jawab akibatnya, ada kepala mesti ada ekornya, sampai pada waktunya aku tak mundur setindak juga! Sekarang kau jangan pusing lagi, serahkan golok padaku, nanti aku habiskan jiwaku sendiri!”

Ouw Can tertawa dingin.

“Aturan perkumpulan bukannya permainan belaka!” kata ia. “Jikalau kau diijinkan bunuh diri, kita semua seperti juga mengabui ketua kita, kita bisa dituduh tidak adil menjalankan pemeriksaan. Kau harus mengarti, aku si orang she Ouw adalah orang paling jujur! Kau sudah langgar tujuh macam aturan, kau mesti jalankan tujuh macam hukuman, supaya kau bisa dibuat contoh oleh sekalian saudara2 kita. Jikalau aku turuti kau, maka nanti boleh terjadi, boleh kita puas lakukan pelbagai kejahatan, hukuman nya toh melainkan satu kali mati. Dalam perkumpulan kita, tak ijinkan adanya semacam kejahatan, yang ada sesuka hati sendiri. Kau lakukan semacam kejahaatan, kau mesti terima semacam hukuman, perhitungan mesti di lakukan dengan jelas, satu per satu, jadi tidak ada sisanya, tak ada kehutangan. Nah, Kiang Kian Houw, kau terimalah hukuman mu didepan Couwsu!”

Lantas hakim ini berpaling pada Siauw Cun dan memerintah “Loloskan kedua tangannya!”

Dengan lantas, dengan goloknya Siauw Cun tabas tambang pengikatnya Kian Kouw, hingga kedua tangannya dia ini bisa di pentang, digeraki.

Segera juga, dengan nyaring, Ouw Can kata pada terdakwa itu “Kiang Kian Houw, kau mengertilah! Kalau sekarang kau masih memikir untuk hidup, itu artinya kau cari mati sendiri. Tengok aku bertujuh saudara, apa yang kami cekal dan apa yang ada ditubuh masing2! Kau lihat!”

Lantas ketua ini menunjuk pada saudara2nya. Kiang Kian Houw coba memandang tujuh to cu itu, ia nampak kecuali senjata tajam ditangan sebelah, ditangannya yang lain, mereka masing2 siap sedia juga berbagai senjata rahasia. Jadi umpama kata dia mencoba menyerang atau lari, tak dapat ia lolos dari berbagai senjata itu.

“Dengan tunduk, kau cuma terima hukuman tujuh kali!” Ouw Can menyambungkan, “tetapi apabila kau coba bikin perlawanan kau akan merasai bacokan seratus golok atau sedikitnya sembilan puluh sembilan kali! Atau pertama2 saja aku menjadi ketua pengadilan!”

Kiang Kian Houw tidak lagi kelihatan kepala besar seperti tadi2nya.

“Ouw To cu, Kiang Kian Houw bukannya bangsa yang tak tahu malu,” kata ia sambil manggut.

“Aku tadinya percaya, biarlah aku terima budimu untuk dilain penitisan, siapa tahu kau sebenarnya ada demikian busuk dan kejam, baharulah sekarang terbukti tepatnya julukanmu Tiat sim Ouw Can si Hati Besi! Inilah rupanya disebabkan pembalasan untukku sudah tiba saatnya …. Sekarang kau boleh lakukan apa yang kau suka!”

Kian Houw turunkan kedua lengannya, tak mau dia gerak2i itu, akan perbaiki jalan darahnya.

Ketika itu, kecuali Ouw Can, semua enam pasang mata dari to cu lainnya tak ada satu yang berkesip. Mereka semua tahu, walaupun Siang Tauw Niauw telah terbelenggu kakinya, namun Ilmu silatnya sesungguhnya ada sangat liehay, jikalau mereka bertarung satu sama satu, sekalipun Ouw Can sendiri, dia tak akan menang diatas angin. Ouw Can sudah lantas jemput segabung hio, yang ia terus sulut diapi lilin, mulutnya kemak kemik, entah apa yang diucapkan, kemudian segabung hio itu tigakali ia angkat dan kibaskan kemuka sin cie, sesudah mana, dengan tiba2 ia banting ke lantai, hingga apinya muncrat meletik keempat penjuru dan asapnya mengepul. Gerakannya ini disusul dengan bentakannya yang nyaring “Pengkhianat Kiang Kian Houw, terimalah hukuman yang ke lima…. ditabas sebelah lenganmu!”

Belum sampai Ouw Can tutup mulutnya, Coan in Yan cu Lauw Cong sudah loncat kebelakang nya Kiang Kian Houw dan tabas sebelah tangannya orang itu. Kiang Kian Houw menjerit, tapi ia ada sangat kuat. Ia loncat kearah Lauw Cong dan ulur sebelah tangannya yang masih utuh. Lauw Cong berkelit, tapi ia kalah sebet, sehingga jari2 tangannya Siang tauw niauw mampir dan nancap pada punduknya.

Melihat adik angkatnya dalam bahaya, ketua Gak yang Sam Niauw, Tong Hoo Couw, jadi sangat kaget dan loncat maju sembari membabat kutung lengannya Kiang Kian Houw, yang sesudah keluarkan jeritan, lantas rubuh pingsan. Dilain pihak, Lauw Cong juga rubuh dengan pundak berlumuran darah dan ditolong oleh kawannya.

Setelah Kiang Kian Houw sedar lagi, Heng tong Tocu perintah diyalankan terus hukuman, yaitu membacok tubuhnya Kiang Kian Houw jadi tujuh potong. Sesudah beres, Ouw Can lantas pasang hio lagi.

Kita tengok kepada Ma Liong Jiang yang menonton dari tempat persembunyiannya.

Ma Liong Jiang ceburkan diri dalam dunya kang ouw sejak umur sembilan belas tahun, baharu pada lima tahun yang lalu, ia masuk jadi anggota Hong Bwee Pang, pengalamannya sudah banyak, hebat dan tidak hebat, tetapi pemandangan malam ini adalah pengalamannya yang pertama yang terhebat. Maka, mau atau tidak, ia jadi jemu sendirinya terhadap Hong Bwee Pang.

Liong Jiang sedang terbengong ketika angin dingin samber ia, hingga ia sadar dengan tiba2, ia bergidik. Ia sedang jalankan tugas, tapi ia ketungkulan ‘nonton’, sekarang orang lain sudah selesaikan kewajibannya, ia masih berdiri menjublek disitu! Bagaimana apabila ia dipergoki Ouw Can, to cu yang telengas itu? Maka tidak tempo lagi ia putar tubuhnya, ia berlari2 dijalan yang sukar itu, untuk balik ketempat penjagaannya. Beruntung ia sampai dengan tak kurang suatu apa, hatinya lega bukan main.

Berdiri ditempat tinggi, Liong Jiang mengawasi kearah kuil. Ia tak dapat lihat bentuknya kuil, yang terlihat hanyalah sinar api yang molos dari tembok yang gempur. Api masih ada terang penghuni kuilpun masih ada. Ia tidak mengerti mengapa, sesudah tugas selesai, rombongannya Ouw Can masih belum angkat kaki. Bukankah urusan, di Kian hoo tian ada penting dan tak dapat diabaikan? Bagaimana apabila urusan itu sampai gagal? Ia ibuk sendirinya, ia ada seorang sebawahan, ia tak bisa banyak bicara. Ia pun tidak berani tinggalkan tempat penjagaannya itu kecuali dengan perkenannya Ouw Can. Terus ia mengawasi kekuil, sampai sinar api mulai suram.

Tiba2.

“Ma To cu!” demikian satu suara.

Suara itu tidak terlalu keras, akan tetapi Liong Jiang sedang menjublek, ia kaget sampai ia mengeluarkan keringat dingin, akan tetapi ia masih ingat untuk loncat setumbak lebih sesudah mana ia berpaling. “Siapa? ” ia menegur. “Aku Co Sam, to cu,” sahut suara orang yang baharu datang itu.

“Untuk apa kau datang kemari? ” Liong Jiang tanya pula, hatinya tetap kembali.

“Aku diperintah Ouw To cu untuk beritahukan pada to cu bahwa semua loosu sudah berangkat lebih dahulu, a dari itu to cu dititahkan kau pergi kekuil San Sin Bio guna benahi semua barang sembahyang, sesudah mana to cu dipesan untuk menyusul lekas ke Kian hoo tian,” Co Sam menerangkan.

Liong Jiang mendongkol mendengar keterangan atau titah itu.

“Kenapa semua sudah lantas berangkat? ” kata ia pada anggota itu. “Kenapa orang tak bisa menantikan aku untuk sesaat saja? Kalau kau tidak datang kemari, tentulah aku akan menunggu disini seantero malam!”

“Tentang itu aku tidak tahu suatu apa,” sahut Co Sam. Baiklah sekarang to cu lekas pergi kekuil, untuk kemudian menyusul mereka.”

“Baik, mari kita pergi!” kata Liong Jiang yang masih mendeluh.

-oo0dw0oo-