Eng Djiauw Ong Jilid 02

 
Jilid 02

NB : diberi artinya gak kebaca, krn djvunya kabur banget, harap maklum bukunya sudah tua banget 

Teetok ini baharu berhenti bicara atau datang laporan hal sampainya Goan Siong.

“Bawa dia masuk!” Tiat Hu ciang menitah.

Goan Siong dibawa masuk dengan ia tidak berani angkat kepala, baharu dua tindak, ia sudah tekuk lutut, tetapi Tiat Hu ciang, yang awas, sudah lantas lihat roman orang yang tak mengasih.

“Apakah kau yang bernama Goan Siong? "

Dengan suara tidak tegas, pemberi warta itu membenarkan.

“Bagus!” kata hu ciang itu. “Kau berjasa sudah mendapati rahasianya Yo Bun Hoan berkongkol dengan pemberontak, kau harus diberi ganjaran, sekarang kau turut ke Tiang an, satu kali Keng liak Tayjin sukai kau, pasti kau akan peroleh pangkat!”

Goan Siong tidak berani menjawab, ia melainkan manggut2.

“Nah, mundurlah!” kata Tiat Hu ciang sambil tertawa, sesudah mana, ia berkata pada Gouw Teetok “Keng liak Tayjin menitah cepat, aku tidak berani abaikan itu, kalau kereta sudah siap, aku ingin berangkat sekarang juga.”

“Kenapa demikian kesusu, lauw hia?” kata Gouw Teetok. “Diwaktu malam begini, bagaimana orang2 jahat bisa diberangkatkan? Jalanan ada terlalu berbahaya. Baik lauw hia menunda sampai besok pagi.”

“Menyesal tidak bisa, Kun bun,” menjawab Tiat Hu ciang, yang tahu teetok ini cerdik dan ia kuatir orang majukan banyak alasan lain lagi. “Tabiatnya Keng liak Tayjin keras, aku lebih suka menempuh bahaya ditengah jalan daripada ayal2an, aku akan dapat susah apabila aku lewat lewatkan batas tempo yang diberikan.”

Melihat demikian, Gouw Teetok perintah siapkan kereta untuk orang2 tahanan, setelah itu Tiat Hu ciang berbangkit memberi hormat untuk pamitan.

Gouw Teetok membalas hormat, ia hendak mengantar. “Baiklah Yo Bun Hoan dan kedua anaknya dimuatkan

dalam sebuah kereta, mereka adalah terdakwa2 yang utama,” Teetok ini berikan nasihat. “Mereka itu telah sekongkol dengan pemberontak!”

“Terima kasih, kun bun,” kata Tiat Hu ciang. “Barisanku adalah barisan pilihan, aku percaya aku sanggup melindungi mereka.” Melihat orang ada cerdik dan keras sikapnya, Gouw Teetok tidak ber kata2 lebih jauh, ketika ia mengantar sampai didepan pintu, Tiat Hu ciang minta dengan hormat untuk dia tidak mengantar lebih jauh lagi. Tadinya teetok ini mau mengantar pula tetapi Cio Tongtay tarik ujung bajunya, hingga ia hentikan tindakannya Tiat Hu ciang tidak lihat kejadian itu, tetapi Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu diatas mereka, melihat dengan tegas.

Cio Tongtay lantas berbisik pada Gouw Teetok, siapa terus unjuk roman gusar, kemudian dengan kerutkan alis, ia kata dengan pelahan “Sebentar kita bicara didalam….”

Sampai disitu, teetok ini perintah semua opsir balik ketempatnya masing2, sekarang markas hanya terjaga oleh delapan serdadu pengawal.

Eng Jiauw Ong kutik Cu In, buat diajak turun kebelakang tangsi, disini mereka berdamai sebentar, lantas mereka berpencar kekiri dan kanan, untuk maju kedepan.

Selagi Eng Jiauw Ong lewat ditangsi ketiga, dari samping kirinya ada angin menyamber. Ia terkejut, segera loncat kekanan, memutar diri untuk bersiap. Ia segera lihat sepasang Jit goat lun, yang bersinar hijau, menyamber kearahnya. Dengan “Pa Ong gie kah” atau “Couw Pa Ong membuka juba perang,” ia berkelit, berbareng sambil mutar, dua jari tangan kanannya menyamber iga kanan sipenyerang, menotok jalan darah “ Thian kie hiat.”

Penyerang gelap itu berkelit kekiri, sepasang senjatanya di pakai mengiringi, kemudian sambil angkat kaki kanan, tangan kanannya, dengan “Pek ho liang cie” atau “Burung ho putih membuka sayap,” hajar bahu kanan dari lawan.

Melihat serangan senjata, Eng Jiauw Ong tarik tangannya seraya tubuhnya berkisar kekiri, sambil mengegos, tangan kirinya, dengan jari “Kim kong cie,” mencari orang punya jalan darah “Lo ji hiat,” yang berada di bawah pundak kanan.

Dengan “Koay bong hoan sin,” atau “Ular naga jumpalitan,” nyerang itu bebaskan diri, lalu dengan “Tok coa sim hiat” atau “Ular berbisa mencari lobang,” ia putar diri, tangan kirinya terus menyamber kebawah. tubuhnya membarengi berdongko sedikit.

Melihat musuh liehay, Eng Jiauw Ong melesat jauh hampir dua tumbak. Baharu ia menaruh kaki, atau dari arah belakangnya terdengar samberan panah tangan. Ia lekas egosi dirinya. Berbareng dengan itu, ia dengar seruan “Jangan main kampak didepan kawan!” yang disusul oleh menyambernya suatu sinar putih, hingga kedua senjata bentrok, menerbitkan suari dan jatuh berbareng ketanah.

Menyusul itu, Cu In Am cu lompat kedepannya Eng Jiauw Ong, akan tetapi, belum sempat mereka bicara, dari tempat dua tiga tumbak jauhnya mereka dengar tertawa mengejek disusul kata2 “Baharu aku belajar kenal dengan kepandaiannya Eng Jiauw Ong si tua bangka, tidak di sangka2, nikow tua dari See Gak juga datang membantu meramaikan! Baiklah! Dengan panahku Diang cie Coa tauw Pek ie cian sebagai ganti surut undangan, aku undang kau berdua datang ke Cap jie Lam hoan ouw dimana dengan hormat aku menantikan! Sekarang maaf, tak dapat aku menemani lama2!...”

“Eh, bu beng siauw cut juga berani bertingkah!” Eng Jinuw Ong berseru. “Kasi tahulah namamu!”

Jawaban tidak ada, musuh entah telah pergi kemana, tapi suara itu menyebabkan muncul nya serdadu jaga serta kawan nya.

“Siapa?” mereka menegor. “Jangan layani segala serdadu!” kata Cu In. “Suheng, mari!”

Pendeta itu loncat kekiri, Eng Jiauw Ong turut dia setelah ia jemput dua potong senjata rahasia yang terletak ditanah, Mereka pergi ketangsi depan, baharu melewati dua tangsi, mereka sudah lihat api terang2, maka Cu In ajak sahabatnya menyingkir ketempat gelap. Dari sini mereka pasang mata, mereka lihat Tiat Hu ciang tilik orang tahanan dikasi naik kedalam enam buah kereta, yang dua ada kereta keledai tertutup. Yo Bun Hoan naik dikereta ketiga, baharu saja ia diantar naik oleh serdadunya Gouw Teetok, dengan cepat satu serdadu merabah tenda biru dibagian belakang, atas mana tenda itu memperlihatkan warna putih kapur, sekalipun dari jauh, nyata kelihatannya. Tidak ada orang lain yang perhatikan itu.

“Suheng, kau lihat, bukan?” Cu In berbisik. “Terang Gouw Teetok menyerahkan orang tahanan dengan terpaksa, dia tidak puas. Mestinya dia ada berniat jahat, kita mesti waspada!”

Eng Jiauw Ong manggut.

“Am cu benar. Karena dia tidak puas, kita mesti menguntit rombongan ini, untuk mencegah onar!”

Sebentar kemudian enam buah kereta sudah berjalan, barisannya Tiat Hu ciang mengiringi disekitarnya Tiat Hu ciang sendiri jalan disebelah belakang. Dua puluh batang obor menerangi sang malam.

Dibelakang sebuah kereta, Goan Siong berjalan dengan menunggang kuda. ia dijaga keras, Ia rupanya tidak bisa naik kuda baharu beberapa tindak, ia suda rubuh, hingga ia mesti ditolong dan akhirnya dikasi naik atas kereta terakhir, hingga ia jadi berkumpul dengan orang2 tawanan. Dengan satu tanda, Cu In dan Ong Too Liong keluar dari kalangan tangsi. Ketika itu ada kurang lebih jam empat. Melihat dari tangsi itu sehingga di Tong kwan thia ada penjagaan tentera rapat, Eng Jiauw Ong berdua tidak kuatir penjahat turun tangan disitu dari itu dengan jalan mutar, mereka melewati, terus sampai di Sin hoa ek dimana ada sebuah rimba.

“Mari kita beristirahat disini,” berkata Eng Jiauw Ong pada kawannya. “Umpama orang jahat hendak turun tangan, itu mesti dilakukan selewatnya kota Hoa im. Di Selatan sungai Wie Hoo, di Utara Siauw kee tay, ada gili2 Lok hun tee. Itu ada jalanan penting untuk Tiang an, itu tempat berbahaya. Rupanya Tiat Hu ciang bisa duga Gouw Tee tok tidak puas, sehingga dia tidak mau bertambat sampai besok pagi. Kelihatannya, asal rombongan ini bisa sampai di Lim tong, bahaya akan sudah lewat.”

“Akupun percaya, Gouw Teetok tidak akan berani turun tangan secara terang2an dan yang bakal bekerja juga mesti ada oran2nya yang berani mati,” sahut Cu In. “Aku harap suheng jangan alpa, keretanya Yo sie cu telah ditandai, rupanya dia arahi orang she Yo ini. Baik kita menantikan di Lok hun tee saja.”

“Sabar, am cu,” kata Eng Jiauw Ong. “Terpisahnya kita dari sini dengan Siauw kee tay ada tiga atau empat puluh lie, Tiat Hu ciang sendiri jalan di jalan umum dimana ada penjagaan, sebaliknya, dengan kita ambil jalan dari Sin hoo ek, walaupun jalanannya sukar, kita bisa hematkan beberapa belas lie. Umpama orangnya Gouw Teetok menyusul, mereka akan mengambil jalanan kita juga kita tak usah kuatir mereka nanti lolos dari pengawasan kita. Aku hanya pikirkan musuh kita tadi didalam tangsi. Dengan senjata Jit goat lun, dia nampaknya liehay, ketika dia gunai senjata rahasia, syukur am cu talangi aku dengan am cu punya Seebun Cit po cu hingga serangannya itu jadi gagal. Aku telah pungut dua senjata itu. Aku tidak mengerti adalah ucapannya dengan dua batang panah tangannya ia undang kita, katanya ia menantikan dientah apa Cio kee ouw… Tempat apa itu?”

“Suheng keliru dengar,” Cu In bilang. “Dia bukan sebut Cio kee ouw hanya Cap jie Lian hoan ouw. Apa suheng kenal nama itu di Kanglam? Buat di lamsay, aku tahu pasti, tidak ada. Dan tidak ada juga dilima Piopinsi Utara…”

“Oh, dia sebut Cap jie Lian hoan ouw?” mengulangi Eng Jiauw Ong. “Terang sekali kawanan itu memusuhi kita. Lian hoan ouw berada di Kanglam. Sejak aku mengasingkan diri di Hoay siang, aku gelap mengenai Hong Bwee Pang, rupanya dari Eng Yu San di Kang souw, pusat itu telah dipindahkan ketempat tersebut. Menurut apa yang aku dengar, Hong Bwee Pang telali dibangunkan pula oleh ketua dari Lwee sam tong atau ketua Liong Tauw To cu turunan yang ke empat, yang gabungkan juga rombongan Cui Auw Pang dari hulu Tiang Kang. Untuk kepalai Thian Hong Tong, Ceng Loan Tong dan Kim Tiauw Tong, yalah Lwee sam tong, mereka pilih anggauta yang paling liehay ilmu silatnya, sedang mereka yang tergolong tua, yang tidak usah bertugas sesuatu lagi, dihormati didalam Hok Siu Tong dimana mereka hidup merdeka seperti terpuja, malah musuh besarku kabarnya sudah masuk dalam Hok Siu Tong itu.”

(Hok Siu Tong berarti gedung dari rejeki besar dan usia panjang, bahagia, Thian Hong Tong gedung dari burung Hong, Ceng Loan Tong gedung dari burung Loan Hijau, dan Kim Tiauw Tong gedung Garuda Emas )

-odwo- XI

“Dimana kiranya letaknya Cap jie Lian hoan houw itu?” Cu In tanya.

“Tempat itu ada sangat rahasia, mungkin ada didaerah

        Tong San di Ciat kang ” sahut Eng Jiauw Ong “Setelah mendirikan tentera sukarela di Hoay siang, aku tak punya kesempatan untuk merantau lagi.

Aku percaya, lawan kita tadi ada salah satu orang kosen dari Hong Hwee Pang.”

Sembari kata begitu, Eng Jiauw Ong mengeluarkan dua senjata rahasia, See bun Cit poocu, ia serahkan itu pada Cu In, sedangkan panah tangan ia periksa sendiri.

“Am cu, panah ini aneh macamnya,” kata ia kemudian, “Aku percaya ini adalah panah Coa Tauw Pek ie cian dari rombongannya Soat San Jie Siu itu.”

Coa Tauw Pek ie cian berarti panah berbulu putih berkepala Ular.

Cu In juga keluarkan sebatang panah dari sakunya, yang panjangnya empat dim, bedanya daripada panah biasa, ialah kepala nya lebih lebar sedikit dan ekornya ditambahkan bulu putih, tapi panah yang dipungut Eng Jiauw Ong, ujung panahnya bercagak, cagaknya tiga dim dan tajam bagaikan jarum.

“Am cu,” kata Eng Jiauw Ong akhirnya, “tidak perduli orang yang punya panah ini benci kita secara macam apa, karena senjata ini, dia ada sangat jahat. Aku sumpah, aku mesti singkirkan dia untuk kebahagiaannya dunya kang ouw, dan aku belum mau sudah sebelum dia dapat kusingkirkan dari dunya.” Panah tangan itu, panah istimewa dari Soat San Jie Siu. Dua si jelek dari gunung Soat San, ada lebih besar sedikit dari panah biasa, perlengkapannya adalah dua cagak sebagai jarum, yang dikeram didalam lobangnya, bisa digerakkan dengan semacam pesawat, diwaktu digunai, dua cagak itu lantas melesat ke luar, apabila mengenai tubuh, panah itu tak dapat dicabut, daging si korban mesti dipotong atau dibelek, maka siapa terkena itu, dia mesti terbinasa atau bercacat, jadi jahatnya mirip dengan panah beracun. Inilah yang membuat Eng Jiauw Ong sangat usar.

Oleh karena mereka dapat menciptakan panah liehay itu, dua saudara dari Soat San itu dibuat iri oleh sesama orang kang ouw, tetapi mereka biasa bekerja di perbatasan Su coan saja, mereka tidak pergi kepedalaman, dan bila bukan terancam bahaya, atau tidak ketemu musuh, mereka tidak gunakan senjatanya itu. Ada dibilang, kepandaian itu tidak diwariskan pada murid atau sesama kaumnya, tetapi sekarang terbukti, di Tong kwan ada orang menggunakan itu.

“Jangan gusar, suheng!” kata Cu Ih sambil tertawa. “Di dunya kang ouw ini masih ada orang2 yang terlebih jahat daripada Soat San Jie Siu. Mana kita sanggup mengurus mereka semua? Untuk memusuhi orang2 sebangsa mereka, kitapun harus waspada. Mungkin dia adalah Thian kong chiu Bin Tie seperti katanya Toan Bie Cio Loo yauw. Kalau benar, dia memang liehay, dia melebihi Cio Tongtay dan sedereknya. Apabila kita ketemu pula padanya, tak boleh kita gampang2 biarkan dia lolos. Nah. simpanlah panah ini, kita anggap ini sebagai surat undangan saja!”

Eng Jiauw Ong simpan panah itu.

“Kita sudah sia2kan tempo di sini, mari kita berangkat,” kata ia. “Tak dapat orang jahat mendahului kita.” Cu In manggut. “Benar,” kata ia.

Keduanya lantas berangkat, menuju ke Siauw kee tay.

Cu In jalan didepan, karena ia lebih kenal keadaan disini. Sesudah melaui tujuh atau delapan lie, diarah Barat daya terdengar anjing menyalak.

“Itulah Siauw kee tay, suheng,” kata sipendeta wanita. “Diwaktu malam gelap gelita dan sunyi senyap. kecuali peronda, tidak ada orang lain lalu lintas disana, sekarang ada suara anjing rupanya Tiat Hu cian sudah sampai disana. Selewatnya Siau kee tay, orang mulai memasuki daerah berbahaya, selanyutnya di sepanjang jalan, dalam dua tiga lie, rumah penduduk terpencil jauh satu dengan lain. Maka kita lekasan pergi kesana.”

Eng Jiauw Ony, menurut turut bertindak lebih pesat.

Lagi setengah lie, mereka lihat suatu dusun dimana tampak cahaya api, dan ketika mendekati lebih jauh, mereka mendengar tindakan kaki kuda dan terputarnya roda2 kererta yang berisik. Jadi benar rombongan nya Tiat Hu ciang sudah sampai didusun itu. Itupun menyatakan keberaniannya si opsir, yang sekalipun dijalan raya, toh jalan nya cepat sekali.

Cu In Am cu sudah langsung memasuki dusun dari depan, ia hanya mengajak Engg Jiauw Ong jalan memutar ke selatan, dengan begitu, kawannya ini jadi mengetahui, bahwa dusun itu besar, sebab sesudah jaiui satu lie, baharu mereka sampai dimulut Selatan itu.

Lewatnya tentera negeri menyebabkan anjing menyalak memecah kesunyian sang malam yang gelap juga jadi terang dengan banyak obor. Selewatnya barisan itu kesunyian datang pula. Sekarang, dimulut dusun ada muncul belasan chungteng, suatu tanda disitu ada barisan sukarela. Jadi Eng Jiauw Ong percaya penjahat tidak nanti berani turun tangan disitu.

dari sini Cu In berdua menguntit barisan Tiat Hu ciang. Mereka berkumpul diantara semak belukar yang sunyi,

          gak kebaca dewi kz  

sampai kesana. Tempat ini pada seratus tahun yang lalu melupakan lembah cabang sungai Wie Sui, karena musim kering hebat, aliran digeser ke Selatan, maka itu, tempat ini jadi kering, penuh pasir, tanahnya kurus. Maka selanjutnya, ini adalah tempat selulup timbulnya orang2 jahat. “Mari kita lombai pasukan tentera, supaya kita bisa lihat disebelah depan.”

Cu In melesat, kawannya mengikuti.

“Nah, itulah dia Lok hun tee, suheng!” kata sipendeta, sesudah mereka lari sekian lama seraya ia menunjuk kedepan.

Eng Jiauw Ong mengawasi Kedepan, benar2 ia melihat suatu tempat yang seram. Rumput tingginya empat lima kaki. Waktu itu musim kering, kalau dimusim hujan, pasti rumput jadi lebih tebal, tanah berlumpur dalam, dan kuda kereta akan sukar lewat disitu.

“Tempat yang surup dengan namanya,” kata Eng Jiauw Ong. Lok hun berarti ‘roh runtuh’. “Pantas ini jadi tempat ngeramnya kawanan penjahat. Berapa jauh akan sampai dijalan besar? Apa disebelah depan ada rawa atau empang dimana orang bisa umpatkan diri?”

“Tanpa kau tanya, aku memang hendak menerangkan, suheng,” sahut nikow itu. “Gili2 Lok hun tee ini panjangnya seratus lie lebih, terus sampai di tepi yang baharu dari sungai Wie Hoo. Diujung, sepanahan lebar nya, terdapat tempat berlumpur dalam, siapa kejeblos disitu, dia tak akan bisa meloloskan diri, kecuali ada yang menol.onginya Maka harap suheng awas, itu ada jebakan alam yang berbahaya sekali…”

“Terima kasih, am cu,” kata Eng Jiauw Ong. “Mari kita maju…”

“St!” Cu In memotong, selagi kawannya belum bicara habis.

Disebelah depan kelihatan rumput ber goyang2, lalu dua atau tiga bayangan tertampak melesat kearah Barat laut.

“Ong Suheng, nyata tidak sia2 perjalanan kita ini,” Cu In berbisik. “Benar2 orang telah menguntit. Mari kita lindungi kereta.”

Eng Jiauw Ong manggut, lantas ia ikuti pendeta itu, yang sudah mulai lari.

Dalam tempo pendek mereka lihat tegas rombongannya Tiat Hu ciang yang berjalan dengan pelahan2. Mereka ini tidak berani jalan cepat2, walaupun mereka menggunai obor, maklum diwaktu malam.

Eng Jiauw Ong mengasih tanda pada Cu In Am cu, lalu ia mendahului pergi kesemak sebelah Timur untuk melihat tempat. Ia pun periksa gili2 sebelah Barat, yang tempatnya lebih berbahaya lagi, ada pohon2 merambat yang bisa bikin kaki terserimpat.

Disini keadaan ada tenang, itulah tanda bahwa disitu tidak ada orang jahat. Tapi selagi Eng Jiauw Ong memasang kuping, tiba2 ia mendengar suara sedikit nyaring diatasan kepalanya, lalu dua buah uang tang chie hijau jatuh didekatnya. Ia kenali itu adalah “Chee hu toan sin,” yalan isyarat dari See Gak Pay. Cara melepas tangchie itu memakai ilmu melepas Wan yho piauw, hingga ditengah udara kedua tangchie benterok satu pada lain dan menerbitkan suara dan diyatuh. Itulah berarti, bahwa si nikow telah menyusul dan melihat sipenjahat itu.

Cepat sekali Eng Jiauw Ong berdongko. Dibelakang ia, dua tiga tumbak jauhnya, ia lihat berkelebatnya dua bayangan, gerakannya sangat gesit, sekejab saja mereka sudah pergi belasan tumbak jauh nya.

Dengan gerakan seekor burung hoo menyerbu langit, Eng Jiauw Ong coba menyusul, tetapi Cu In disebelah Barat memanggil ia, maka ia menggabungkan diri dengan nikow itu.

“Dua penjahat datang kemari, aku kuatir kita bentrok diluar keinginan kita, maka itu aku beri tanda padamu, suheng,” kata pendeta itu. “Kita mesti jaga agar mereka tidak lihat kita dan nanti menyingkir karenanya. Kelihatannya jumlah mereka ada lima atau enam orang, dari itu, kita jangan alpa. Kitapun mesti jaga supaya mereka tak sampai berhasil. Lihat, Tiat Hu ciang sedang mendatangi, mari kita sembunyi!”

Eng Jiauw Ong manggut, ia terus ikuti nikow itu buat mengumpat.

Rombongannya Tiat Hu ciang mendatangi bagaikan naga api, tindakan kaki kuda, bunyinya roda2 kereta, kedengaran nyata. Dari tempat sedikit jauh, serdadu pengiring tidak kelihatan nyata, karena mengepulnya debu. Dari tempat sembunyinya, Cu In dan Eng Jiauw Ong bisa mengawasi dengan merdeka.

Enam buah kereta diiringi dua pasukan depan dan belakang, dan Tiat Hu ciang, diatas kudanya, jalan disebelah belakang. Setelah rombongan lewat, Eng Jiauw Ong berdua lantas menguntit.

Orang berjalan dengan tenang, ketika separuhnya Lok hun tee telah dilewati, tiba2 terdengar suitan disebelah depan. Dua bayangan lompat melesat kearah gili2, disusul dua kali suitan lain, yang kembali diikuti oleh melayangnya lagi dua bayangan dari arah Timur.

“Am cu, saatnya sudah tiba.” Eng Jiauw Ong menyerukan Cu In, sambil ia sendiri segera keluar dari tempat sernbunyinya dengan satu loncataan tinggi dan jauh, maka dilain saat, ia sudah berada diatasnya kereta yang pertama.

Cu In, yang tidak kurang sebatnya, sudah loncat naik ke kereta ke empat, disaat dua penjahat sedang mendekati kereta tersebut.

Disebelah Timur, dua penjahat telah perdengarkan suara tekebur, katanya “Kamu tahulah diri dan menyingkir dari sini! Kita cuma mencari Keluarga Yo untuk membikin perhitungan! Jikalau kau sayang jiwa, lekas pergi!”

Sesaat itu bukan main kaget nya, serdadu pengiring.

Dua penjahat, masing2 dengan sebatang golok tebal dan tumbak tiga belas buku, maju dari kiri dan kanan, menghampiri kereta ke empat.

Diatas setiap kereta ada dua serdadu. Dua serdadu dari kereta ke empat itu melihat orang datang, mereka segera menghunus golok. Ketika tumbak menikam, satu serdadu berkelit, seraya membarengi membacok. Penyerang itu berkelit kekanan, dengan tangan kiri ia balas membarengi menyamber lengan orang untuk terus dibetot keras sambil ia berseru “Pergilah kau! Lengan serdadu itu kena ditarik, tanpa berdaya tubuhnya terjatuh kebawah.

Disebelah kanan kereta, penjahat yang satunya juga mulai menyerang. Goloknya dapat ditangkis, sampai lelatu apinya meletik, kemudian batang lehernya kesamber, sampai ia kaget bukan main, hampir ia rubuh sebagai korban. Ia tidak sangka yang ia sudah berhadapan dengan Cu In Am cu.

Penjahat yang sebelah kiri, yang sudah maju pula, segera serang nikow itu dengan tumbak nya, ia menikam perut.

Cu In bersenyum ewa, dengan pedangnya, dari bawah Ia menyamber pula keatas, akan babat kutung gegaman musuh. Penjahat itu liehay, ia cepat tarik tumbaknya, yang ia tidak mau adu dengan pedang, sebaliknya, ia hendak menikam pula.

“Binatang!” berseru nikow tua itu Berbareng dengan itu, keledai terdengar meringkik keras, lalu kereta mengusruk kedepan, semua rodanya berhenti memutar dengan tiba2.

Cu In menoleh kedepan, ke situ ia segera berlompat.

Nyata penjahat yang bersenjatakan golok, yang tadi ditangkis si nikow, sudah maju untuk membacok keledai, hingga keledai roboh dan keretanya mengusruk. Saking gusar. Cu In serang penjahat ini.

Nyata penjahat ini licik. Ia lihat ujung pedang mengancam iga kirinya, ia loncat berkelit kekanan, untuk terus lari. Selagi serangannya gagal, kaki kiri Cu In sudah menginjak tanah, karena itu, sambil berseru “Kau hendak lari kemana?” ia loncat pula sambil menyamber dengan pedangnya.

Penjahat itu kaget, ia menjerit, tubuhnya rubuh disemak, percuma saja ia berkelit, kopiahnya kena dipapas, mengenai rambut nya dan sedikit kulit kepalanya. yang terus mengucurkan darah.

Ketika itu, penjahat yang bertumbak sudah lompat maju, akan membarengi menusuk si orang suci. Ia menyerang sambil menolongi kawannya.

Sambil lompat kesamping kereta, Cu In egosi tubuhnya dari tikaman, tetapi dari samping ia membabat lengan kanan musuh.

Penjahat itu gesit, ia tarik lengannya sambil loncat menyingkir. Tapi si pendeta desak ia dengan satu tikaman pada pinggangnya. Ia repot, ia kempeskan perutnya, tubuhnya sedikit melengkung, terus ia berlompat mundur, tetapi tidak urung ujung pedang telah merobek bajunya, hingga saking kaget, ia jatuh terlentang.

Ketika Cu In Am cu tarik pedangnya, ujung senjata itu berlepotan darah.

Waktu itu, semua kereta telah berhenti berjalan, para serdadu menjadi kaget dan menerbitkan suara berisik.

Tiat Hu ciang berada dibelakang, karena jalanan sempit, ia sukar maju, dari itu, ber ulang2 ia serukan “Minggir! Minggir!” Dengan putar goloknya, ia maju.

Cu In Am cu sudah loncat naik pula keatas kereta, ia menoleh kearah Eng Jiauw Ong, hingga ia dapati kawan itu, dengan sebelah kanan mengempit satu tubuh orang, sedang berlompat naik keatas sebuah kereta untuk menghampirkan.

Tadinya Cu In hendak tanya kawan itu, tetapi Eng Jiauw Ong mendahului berseru “Tiat Tayjin, awas belakangmu.” Kemudian, setelah sampai dikereta ke tiga, ia lempar tubuh yang ia kempit kekereta ke empat sambil ia serukan kawannya “Am cu, lindungi kereta, aku nanti singkirkan jahanam itu!” Dan segera ia loncat kebelakang.

Cu In berpaling dengan cepat, dari itu ia melihat satu tubuh mencelat dari tempat gelap itulah tubuh yang membuat Eng Jiauw Ong berseru.

Rombongan serdadu menduga pada orang jahat, beruntun mereka melepaskan panah.

Gerakannya penjahat itu terlambat, karena ia mesti menyingkir dari panah, karena ini, Tiat Hu ciang keburu geser kudanya. Karena ini juga, Eng Jiauw Ong keburu mendekati melihat orang itu berusia tigapuluh lebih, tubuhnya kecil dan jangkung, senjatanya sebatang toya Hong liong lang, romannya bengis.

   maju, ia           dengan totokan pada hu ciang itu.

Melihat gerakan orang itu Eng Jiauw Ong tahu, musuh ini ada liehay, dari itu, jadi kuatir buat Tiat Hu ciang. Ia lompat kearah kiri orang itu, sembari membentak. “Awas!” Tangan kirinya menyamber lengan kanannya orang itu.

Penjahat itu berkelit kekiri tubuhnya sedikit berdongko, lalu dengan toyanya ia menyerung kaki kiri musuhnya. Ia benar2 ada gesit sekali.

Eng Jiauw Ong berkelit sampai mengasih toya lewat, setelah itu merangsek. Tangan kananya di majukan dengan dua jari ia mengancam sepasang mata musuh, tapi sambil lompat jumpalitan, musuh itu mundur dengan cepat, untuk kemudian, dengan menyerang kebawah, bagaikan angin musim rontok     daun kering, ia menyapu kakinya Eng Jiauw Ong.

Eng Jiauw Ong enjot tubuh nya akan lompat nyamping selagi lawan itu membarengi juga, maju kedepan. untuk memutar tubuhnya, guna terus menghajar punggungnya Eng Jiauw Ong.

Itu ada gerakan gesit dan berbahaya, Eng Jiauw Ong bisa duga itu, maka ia lekas berbalik seraya egosi sedikit tubuhnya. Ia menggunai gerakan soan cauw” atau “Burung memutari sarang.” membabat demikian, iapun

            Tiat Hu ciang “ Disini ada Cu In Am cu membantui kau melindungi kereta, pergi kau lihat lain bagian!” Kemudian, bergerak terus, ia majukan sebelah kaki, tangannya menyamber dada. Ia menggunai tipu serangan “Kim pa louw jiauw” atau “Macan tutul emas memperlihatkan kuku.”

Penjahat itu mencoba berkelit kekanan, akan tetapi serangan angin dari tangan itu sudah mendahului sampai. Memang biasa nya, angin dari serangannya satu ahli, sudah terasa dimuka lima dim sebelum sampainya tangan pada sasaran. Karena ini, cepat2 dia mengangkat toyanya akan menghajar lengan kanan orang.

Eng Jiauw Ong tarik pulang tangan kanannya, sebagai ganti nya ia majukan tangan kiri, dengan dua jari telunjuk dan tengah, ia mencari jalan darah “Kwan goan hiat”

Dalam kalangan Siauw Lim Pay, ilmu pukulan ini dinamakan “Sut pay chiu” atau “Membuang tugu,” sedang dalam Hoay Yang Pay disebut “Tok coa sim hiat chiu” atau “Ular berbisa mencari lobang.”

Penjahat itu tidak berani menangkis, ia berkelit sambil lompat mundur. Dengan demikian, mereka berdua jadi bertempur seru.

Tiat Hu ciang sudah lantas hampiri Cu In Am cu untuk memberi hormat, buat minta keterangan perihal nikow ini dan kawannya yang sedang melawan penjahat. Kapan ia diberitahukan siapa adanya mereka, ia jadi girang berbareng bersukur sekali. Setelah itu ia bertanya apa yang harus dilakukan.

Menuruti Cu In, kereta yang rubuh lantas diangkat dengan keledainya yang terluka ditukar. Penjahat yang rubuh ditangan nya Eng Jiauw Ong, yang kena ditotok, diangkat naik kedalam kereta. Kemudian, dengan Cu In yang melindungi, mereka terus melanjutkan perjaianan ke Wie Hoo.

Eng Jiauw Ong lihat bagaimana rombongan sudah berangkat, ia berhati lega, maka itu dengan pikiran terpusat ia terus melayani musuhnya, siapa sebaliknya jadi malu sendirinya, karena usahanya sudah gagal. Ia rupanya malu pulang untuk menemui ketuanya dengan tangan kosong, dari itu, dalam murka ia berkelahi dengan sengit. Ia merangsek dengan tipu tipu pukulan “Pek Wan Chio” atau “Tumbak Lutung Putih,” yang terdiri dari tiga puluh enam jurus, hingga samberan angin toyanya jadi men deru2.

Untuk melayani rangsekan itu, Eng Jiauw Ong menggunai “Co Kut Hun Kin Chiu” atau ilmu pukulan “Memecah tulang membagi urat,” yang terdiri dari tujuh puluh dua jalan dan antaranya, tiga puluh enam untuk menotok jalan darah, hingga, tak perduli Hong liong pang bagaimana berbahaya, musuh tidak bisa berbuat banyak, malah di jurus dua puluh lebih dia mulai kewalahan, permainan toyanya makin lambat.

Ketika Eng Jiauw Ong menyerang dengan “Kim hong hie lui” atau “Tawon ceking permainkan pusuh bunga,” tangan kanannya mencari jalan darah dipundak, penjahat itu dengan bengis membarengi menghajar kepala musuh, bagian pilingan sebelah kanan.

Melihat serangan pembalasan itu, Eng Jiauw Ong berkelit seraya tarik pulang tangan kanannya, dilain pihak tangan kirinya membarengi maju, akan menabas pundak kiri musuh itu. Dia ini tidak menangkis, sebaliknya, dengan tarik pulang toyanya ia terus menyodok perut. Atas ini, jago Hoay siang lompat tinggi, mencelat mundur satu tumbak lebih.

Menampak demikian, musuhpun luncat mundur, jauhnya dua tiga tumbak, setelah mana, ia putar tubuh untuk terus lari ke arah Selatan. Rupanya ini adalah ketika baik untuk mundur teratur.

“Tikus, kau hendak lari?” Eng Jiauw Ong berseru seraya ia enjot tubuhnya lompat maju, untuk mengejar.

Sekejap saja Eng Jiauw Ong telah dekati, musuh tinggal lagi setumbak lebih, diwaktu mana, dengan se konyong2 musuh itu balik tubuhnya dan sebelah tangannya terayun, disusul dengan menyambernya sebuah benda yang berkeredepan.

“Ha, kau berani menggunai kepandaianmu semacam ini?” berseru pula Eng Jiauw Ong, yang sambil miringkan kepalanya, sodorkan tangannya yang kiri, hingga senjata rahasia musuh, sebatang piauw, kena ia sambuti.

“Nah, kau rasakan ini!” tertawa simusuh secara menghina, membarengi mana, lima biji sinar terang menyamber dari tangannya, dalam bentuk lukisan bunga Kwee.

Eng Jiauw Ong segera kenali, itu adalah lima batang jarum beracun “Bwee hoa Toat beng ciam,” dari itu, menggunakan kegesitan tubuhnya, ia pentang ke dua tangannya dan lompat nyamping lima tumbak. Ia menggunai tipu “Kauw yan hoan in” atau “Walet cerdik membaliki awan.” Tapi begitu kedua kakinya menginjak tanah, ia teruskan mencelat ke arah musuh itu. Ia gusar sekali, sebab musuhnya menggunai senjata beracun, yang panjangnya tiga dim dan bercagak. Semua lima batang jarum tadi jatuh ketanah. Jarum ini lebih berbahaya daripada panah “Coa tauw Pek ie cian” dari Soat San Jie Siu, disimpannya dalam bumbung yang berlobang lima, menyamber nya ketiga jurusan atas, tengah dan bawah dua kesamping, kiri dan kanan, hingga sulit untuk dielakkan. Senjata rahasia biasa bisa dielakkan dengan “Tiat poan kio,” gerakan rebah melintang bagaikan jembatan besi, tapi jarum ini meminta kepesatan dan lompatan jauh. Pemiliknya jarum ini mestinya sebat, tetapi guna mencegah dia keburu mengisi bumbungnya, Eng Jiauw Ong segera merangsek dengan loncatan “Pat pouw kan siam” atau “Delapan tindak mengejar tonggeret.”

Penjahat itu kaget benar2 apabila menyaksikan musuh tak dapat dirubuhkan dengan jarumnya, karena ia tidak sempat mengisinya pula, ia segera putar tubuhnya dan berlari.

“Sisa Hian Touw Koan!” Eng Jiauw Ong menyerukan. “Kau masih mengganas, kau hendak lari kemana?”

Dengan loncatannya, yang pesat dan jauh. Eng Jiauw Ong dapat menyandak, setelah datang dekat, ia ulur sebelah tangannya dalam gerakan “Kim liong tam jiauw” atau “Naga emas mengulur cengkeramannya.” menyengkeram bebokong. Cepat sekali ujung jarinya telah menyentu baju. Pukulan dari Hoay Yang Pay mirip dengan kata2 “Tidak penuh, tidak luber, sekali luber, tentu meluap,” jadi seperti pukulan “Siauw thian chee” atau “Bintang kecil” dari Siauw Lim Pay.

Dalam saat yang genting itu, mendadak ada senjata rahasia menyamber dari samping.

“Bagus!” berseru jago dari Hoay siang sambil berkelit seraya tangan kanannya diulurkan untuk dengan dua jarinya menjepit senjata rahasia itu sebatang panah sedang tangan kirinya melanjutkan serangannya pada bebokong musuh.

Musuh ini coba membuang diri nya, tapi tidak urung ia seloyongan kasamping kiri sampai beberapa tindak.

Menyusul itu, dari arah Barat, terdengar dua kali suara suitan, atas mana, penjahat ini segera berlari kejurusan itu.

Eng Jiauw Ong sangat mendongkol. Serangan gelap itu mengganggu ia, karena gerakan nya sedikit lambat, musuh luput dari bahaya. Dalam murkanya, ia loncat lebih jauh, untuk mengejar. Justeru itu dari dalam semak2 ia mendengar tertawa menghina dibarangi dengan kata2 “Ong Too Liong, jangan jumawa. Malam ini aku ada urusan, aku tak dapat melayani terus pada mu! Tapi Cap jie Lian hoan ouw ada tempat kuburanmu, kau ingatlah ini, tua bangka! Inilah perjanjian dari kematian, apabila itu tak ditepati, tak hapus!”

Menyusul itu terdengar berisik nya suara pepohonan rumput terlanggar, lalu sunyi senyap.

Eng Jiauw Ong tertawa menghina seraya terus berkata “Kawanan tikus! Belum pernah Eng Jiauw Ong melanggar janji! Percuma aku menjadi ketua Hoay Yang Pang jikalau tak mampu aku membasmi sarangmu! Kawanan jahanam, baiklah, kau boleh hidup lagi lebih lama beberapa hari!”

Sehabis berkata demikian, jago Hoay Yang ini lalu ambil jalannya untuk menyusul rombongan Tiat Hu ciang, akan tetapi belum ia sempat bertindak, dengan satu loncatan, Cu In Am cu telah sampai didepannya, hingga ia terkejut.

“Bagaimana, am cu?” tanya ia. “Apakah ada terjadi sesuatu? “ Ia heran karena pendeta ini kembali cepat sekali.

-odwo- XII

“Tak kurang suatu apa, suheng,” jawabannya nikow itu. “Rombongannya Tiat Hu ciang sudah menyeberangi sungai Wie Hoo dimana mereka disambut oleh dua cham ciang serta dua ratus serdadu berkuda, yang dikirim oleh To Ciangkun untuk menjemput sedang dengan titahnya jenderal itu, tertera disepanjang jalan diwajibkan bantu melindungi. Siupie dari Jie lim ek juga sudah menyambut bersama barisannya dan ajak Tiat Hu ciang singgah diposnya, hingga disana rombongan itu dapat beristirahat. Aku anggap mereka sudah selamat, dari itu, aku lekas kembali akan tengok suheng. Apa disini sudah beres?”

“Terima kasih, am cu. Aku tak punya guna, aku bikin kawanan kurcaci itu lolos,” Eng Jiauw Ong akui. “Am cu, kita sedang menghadapi musuh2 tanggu, entah berapa jumlahnya. Di luar sangkaanku, Hong Bwee Pang telah bangkit dengan kekuatan baru. Kecuali murid2nya Soat San Jie Siu, diantara merekapun ada sisa2 muridnya Sin heng Ie su Sian Siu, itu ok too, imam busuk, dari kuil Hian Touw Koan digunung Houw Gee San.”

“Suheng, bukankah Sian Siu itu telah terbinasa diujung pedang Sam cay kiam dari Thian Lam Kiam kek?” Cu In tanya. “Murid2nya sudah buyar, kawanan Hian Touw Koan sudah tak disebut2 lagi dalam dunya kang ouw, cara bagaimana suheng bisa sebut2 pula dia itu?” 

“Aku tidak kenal kawanan itu, aku hanya dapatkan barang buktinya saja,” sahut Eng Jiauw Ong. “Mari, am cu, coba lihat, ini ada buktinya atau bukan?”

Eng Jiauw Ong bertindak ke arah Utara, tempat pertempuran tadi, disitu ia membungkukkan tubuhnya akan memungut sebatang jarum Bwee hoa Toat beng ciam. “Lihat ini, am cu. Apakah senjata ini ada dua di Selatan dan Utara sungai besar?”

Cu In menyambuti dan periksa jarum itu dibawah sinar puteri malam.

“Benar2 suheng berpandangan luas,” memuji ia. “Memang senjata ini kepunyaan kawanan dari Hian Touw Koan. Tetapi suheng barangkali lupa kepada penjahat besar yang malang melintang di Utara, yalah Ya eng cu Touw Eng si burung malam. Dia pernah menggunai jarum ini, hingga dia dibekuk oleh To Cie Taysu, supehku dari See Gak Pay. Ketika itu dia dipaksa keluarkan senjata rahasianya, dia dipaksa bersumpah tidak akan menggunai pula senjatanya yang liehay itu, sesudah mana dia diampunkan dan dibebaskan. Saking malu, Touw Eng menyingkir dari dunya kang ouw, dia pergi ke Liauw tong sampai sekarang sudah lebih sepuluh tahun, dia belum pernah pulang, maka itu, aku sangsi apa bukannya dia yang telah kembali. Hanya diantara jarum kedua kaum itu ada sedikit perbedaannya. Ini bukan jarumnya Touw Eng. Jarumnya si Burung Malam lebih indah buatannya. Karena kawanan dari Hian Touw Koan muncul pula, mungkin Touw Eng pun turut serta dengan mereka itu.”

“Am cu luas pengetahuan nya, aku malu karenanya,” berkata Eng Jiauw Ong.

“Suheng cuma puji aku,” Cu In bilang. “Sekarang mari kita bicara tentang murid2 kita, entah bagaimana nasibnya. Aku tidak percaya mereka ditakdirkan usia pendek, tapi beda dengan In Hong, yang ada seorang anak lelaki, aku kuatirkan Hong Bwee, seorang gadis remaja dan dari keluarga terhormat. Aku malu bertemu dengan keluarga Yo apabila terjadi suatu apa atas diri nya. Aku ingin tolong muridku itu, bagaimana pikiran suheng sekarang?” “Nampaknya urusan ini sulit,” Eng Jiauw Ong akui. “Disini tidak lagi ada urusan perseorangan hanya mengenai permusuhan Hong Bwee Pang dengan Hoay Yang Pang. Teranglah sudah, dengan mengguna! murid2 kita, orang hendak pancing aku memasuki Cap jie Lian hoan ouw, sarang nya itu. Aku percaya, In Hong dan Hong Bwee sudah diculik dan dibawa lari ke Kanglam, hingga kita perlu menyusul ke sana. Sekarang mari kita pergi ke Jie lim ek, sebelum Tiat Hu ciang berangkat, kita mesti bisa korek keterangan dari mulutnya penjahat yang terbekuk, untuk mengetahui dimana adanya murid kita sekarang. Aku percaya, dengan mengingat budi kita, Tiat Hu ciang akan mengijinkan kita periksa penjahat itu.”

Cu In Am cu setujui pikiran ini, ia lalu ikuti Eng Jiauw Ong berangkat ke Jie lim ek. Mereka sampai dengan lekas. Lantas mereka menyeberang. Baharu mereka turun kejembatan, tiba2 Cu In Am cu merandek, “Dengar, suheng,” ia berbisik. “Apa mungkin perahu berlayar dimalam seperti ini?”

Eng Jiauw Ong hentikan tindakannya dan pasang kuping. Ia dengar suara air tergayu, jauhnya dari mereka beberap tumbak disebelah Barat jembatan. Ketika ia mengawasi, samar ia tampak dua buah perahu kecil sedang memutari tikungan dan dikepala perahu, yang madap ke Utara, ada beberapa titik api mirip dengan bintang kecil. Tanpa merasa, ia keluarkan seman tertahan.

“Suheng, mereka pasti bukan orang2 baik.” Cu In berkata.

“Malah mereka adalah satru kita!” Eng Jiauw Ong tambah kan. “Jikalau mataku tidak lamur, itulah kendaraan airnya Hong Bwee Pang. Lihat, dikepala perahunya ada api hio yang dinamai Hio tin. Entah siapa yang jadi pemimpinnya. Am cu, mari kita kuntit mereka!” “Tunggu, suheng,” Cu In mencegah. “Lihat arah Jie lim ek! Kenapa ada asap mengepul disana dan suara riuh juga?”

Ong Too Liong memandang ke Utara, ia lihat asap yang disebutkan.

“Itulah asap,” ia bilang. “Kalau itu asap kebakaran, apinya mesti terlihat. Kenapa melainkan asaypnya saja yang terlihat?”

“Aku berkuatir buat Jie lim ek,” Cu In menyatakan. “Perahunya Hong Bwee Pang ada dimana saja, jangan kita sia2kan tempo, mari kita lihat keperhentian disana!”

Eng Jiauw Ong menyatakan akur, maka itu, urunglah mereka menguntit perahu tadi, keduanya ber lari2 kearah perhentian Jie lim ek. Baharu saja mereka sampai dimulut dusun, dari tempat gelap muncul sebarisan serdadu, yang menegor “Siapa?”

Eng Jiauw Ong dan Cu In berhenti berlari, mereka perkenalkan diri.

Barisan itu dikepalai oleh satu siauw khoa atau letnan sebawahannya Tiat Hu ciang.

“Oh, jiewie tayhiap,” kata letnan itu. “Tayjin kita memang sedang mengharap jiewie. Kalau jiewie ada disini, penjahat niscaya tidak akan peroleh hasil! Silahkan jiewie itu kami.”

“Apakah penjahat telah menyerbu pula?” tanya Cu In. “Benar,” sahut letnan itu. “Mereka menolongi kawannya

yang telah terbekuk. Mereka menggunai tipu bersuara di

Timur dan menyerang di Barat. Mulanya mereka melepas api dibelakang, ketika kami pergi untuk memadamkan, mereka menyerang tempat tahanan, setelah melukai dua serdadu jaga, mereka melarikan konconya. Tiat Tayjin sangat gusar hingga dia mestikan semua barisan menanggung jawab….”

Eng Jiauw Ong mendongkol dan menyesal bukan main, jadi sia2 jeri payahnya untuk mengorek keterangannya kedua penjahat itu.

“Aku tidak sangka penjahat mendahului kita,” kata ia pada Cu In. “Terang sekali mereka menguntit kita dan turun tangan selagi kita tidak bersiap sedia. Am cu, musuh tangguh, tak dapat tidak kita mesti segera menuju ke Cap jie Lian hoan ouw akan mencari ketua mereka!”

“Sabar, suheng.” Cu In berkata. “Looya ini bilang, Tiat Tayjin ingin menemui kita, mari kita menghadap dahulu padanya. Kita boleh sekalian melihat keadaan disana.”

Eng Jiauw Ong tidak ingin tentangi pendeta ini, maka letnan itu lantas pimpin mereka masuk kedalam dusun Jie lim ek besar, dijalan besar ada banyak tokonya, tetapi ketika itu orang sudah pada tidur, cuma orang2nya Tiat Hu ciang yang jalan meronda. Pesanggerahan sendiri terang benderang dengan banyak lentera dan obor.

Sesampainya dipintu gedung, letnan itu permisi akan masuk lebih dahulu, untuk memberi kabar, kemudian ia kembali dengan cepat seraya bilang Tiat Hu ciang mengundang kedua tetamu ini.

Didalam, Tiat Hu ciang sambut tetamunya dengan hormat dan mengundang duduk, iapun terus tanya alamat mereka, katanya sesampainya di Tiang an, ia hendak melaporkan pada To Ciangkun, agar mereka ini diberi tanda jasa.

“Terima kasih tayjin, itulah kami tidak harap,” Eng Jiauw Ong bilang. Ia kata ia ada seorang merdeka dan Cu In seorang suci. “Kami tidak punya rejeki untuk menerima jasa dari negara. Apa yang kita harap adalah agar Tayjin tolong bikin terang penasarannya Yo Bun Koan sekeluarga agar nama baiknya dapat dipulihkan, dengan begitu mereka akan bersyukur.”

Tiat Hu ciang lalu menanyakan, penjahat ada dari golongan mana, dan kenapa mereka memusuhi Yo Bun Hoan.

“Diantara penjahat dan Yo Bun Hoan tidak ada permusuhan. Disini hanya menyelip tangan busuk dari manusia rendah,” menerangkan Eng Jiauw Ong. “Ini adalah apa yang dinamakan balas membalas. Tentang sebabnya, sulit untuk Tayjin mengetahui jelas, tapi terangnya, murid kami masing2 sudah terjatuh kedalam tanga kawanan itu, kami hendak menolonginya. Entah bagaimana kesudahannya nanti. Kami datang kemari dengan niat mengorek keterangan dari mulut penjahat yang terbekuk, aku tidak sangka, penjahat itu telah dapat ditolong konconya. Tayjin, untuk pergi ke Tiang an, apa tayjin masih membutuhkan kami?”

“Kalau murid jiewie berada ditangan penjahat, paling benar adalah jiewie tolongi dahulu mereka,” kata Tiat Hu ciang. “Untuk tugasku, aku akan menjaga dengan hati2. Aku malu karena lolosnya orang2 tawanan itu. Mengenai Gouw Ko pie, aku percaya dia tidak akan bisa berbuat suatu apa andai kata dia tak puas.”

Mendengar jawaban itu, Eng Jiauw Ong lantas berpamitan. Tapi Cu In Am cu minta ijin akan ketemui keluarga Yo. Tiat Hu ciang tidak berkeberatan, malah ia sendiri yang antar dua orang itu pergi ketempat tahanan di kamar samping. Dengan kebaikannya hu ciang itu, semua orang tawanan dapat rawatan baik. Eng Jiauw Ong hiburi saudara angkat itu. Ia pesan, umpama di Tiang an saudara ini peroleh kemerdekaannya, jangan dia terus pulang ke Hoa im, hanya baik menantikan di Tiang an, sampai ia datang menyambut, untuk ber sama2 pergi ke Hoay siang.

Bun Hoan mengucap terima kasih kepada jago Hoay siang ini, Cu In Am cu sendiri menemui Nyonya Yo dengan merasa malu, ia menghibur dan bersumpah akan menolongi Hong Bwee.

Mereka berdua tidak banyak bicara pula, hanya mereka lantas pamitan. Kepada Tiat Hu ciang diminta bantuan akan merawat dan memperlakukan dengan baik keluarga Yo itu, atas mana, panglima itu memberikan kesanggupan nya. Kemudian mereka berpisahan.

Tempo Eng Jiauw Ong dan Cu In keluar dari gedung perhentian, hari sudah mulai terang, dari itu lekas2 mereka berlalu dari Jie lim ek, untuk menyeberangi pula sungai Wie Sui.

“Bagaimana, suheng?” tanya Cu In ditengah jalan.

“Tak dapat kita bertambat pula,” sahut Ong Too Liong. “Sekarang aku hendak kembali ke Tek Seng Gay, buat ambil buntalanku, lalu aku hendak pergi ke Bun hiang, Hoolam, dan Han Kok kwan, untuk cari suteeku dan satu muridku, agar mereka memberitahukan para anggauta Hoay Yang Pay, untuk mereka semua berkumpul di Lek Tiok Tong, Ceng hong po, Hoay siang. Maksudku adalah akan dalam satu rombongan menuju ke Cap jie Lian hoan ouw, untuk melakukan pertempuran yang memutuskan dengan orang2 Hong Bwee Pang. Am cu, walaupun murid2 kita tidak tewas jiwanya, asal mereka terluka sedikit saja, tidak nanti aku mau mengerti. Apakah Am cu bersedia untuk berangkat ber sama2 aku?” “Dalam keadaan seperti sekarang, sudah pasti aku akan membantu kau, suheng,” sahut nikow itu “Jangankan mengenai murid See Gak Pay, walaupun tidak, aku pasti akan membantu juga. Malah aku pikir akan menolong mereka sebelum mereka keburu dibawa masuk kedalam sarang mereka. Kita memang mesti penuhi undangan mereka. Hanya sekarang, kupun perlu pulang dahulu ke Pek Tiok Am. Suheng, apakah suteemu itu Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong dari Kwie in pe dikaki bukit Kian San di Han ok kwan?”

“Benar, am cu,” Eng Jiauw Ong manggut. “ Apakah am cu kenal dia?”

“Tidak saja aku kenal, malah kami bersanak,” sahut pendeta perempuan itu. “Muridku Yang ke enam adalah anak angkatnya Ban Liu Tong. Mengenai ini, nanti saja aku terangkan padamu, atau kalau nanti kau ketemu suteemu, dia akan menjelaskannya. Sekarang begini Suheng hendak pergi ke Han kok kwan, pergilah. Aku hendak pulang ke Pek Tiok Am, dari sana aku akan menyusul langsung ketempat suteemu itu. Umpama aku terlambat, suheng boleh berangkat duluan, aku akan usul kau di Ceng hong po.”

“Kau sudi bantu aku, am cu, terima kasih!” menyatakan Eng Jiauw Ong. “Baik am cu berangkat hari ini juga, aku mengharap sangat bantuanmu.”

“Jangan kuatir, suheng, aku tak akan bikin gagal.” Keduanya lalu berlari, menuju kekaki gunung Hoa San

See Gak.

“Kita sudah ber lari2 seantero malam, apa tidak baik am cu singgah sebentar di Tek Seng Gay?” “Aku tidak letih, melainkan hatiku tidak tenteram, aku kuatir dikuilku ada terjadi apa,” sahut Cu In. “Mari kita ambil jalan puncak Tiat Pit Hong, yang terlebih dekat.”

“Tak pernah am cu beristirahat , memang mungkin hatimu tidak tenteram,” Ong Too Liong menghibur. “Baik am cu jangan curiga, mustahil ada orang berani main gila di Pek Tiok Am…”

“Siapa tahu? Kadang2 bisa terjadi segala apa…”

Mereka ber lari2 ber sama2, memotong jalan. Diwaktu pagi demikian, dengan angin halus, pemandangan alam ada menarik hati. Dengan melewati Eng Ciu Nia, keduanya menuju ke Tek Seng Gay. Begitu lekas memasuki rumah guhanya, tampangnya si Kuku Garuda menjadi berubah.

“Lihat, am cu, kemanapun si penjahat telah datang juga”

Memang, diatas meja ada selembar kertas, yang bisa diduga dari siapa datangnya.

Eng Jiauw Ong membaca ber sama2 “Cu In Am cu.

Surat itu berbunyi :

“Orang tua dari Hoay siang, Pendeta perempuan dari See Gak!

Lekas kau berdua berangkat, untuk pertemuan kita, untuk kau membereskan perhitungan, supaya tak usah aku menjemput lagi!”

Surat itu tidak dibubuhi tanda tangan, cuma ditandai dengan tanda merah (kamkie) serta lukisan seekor garuda bundar.

“Lihat, mereka begini mendesak dan memandang hina kepadaku!” kata Eng Jiauw Ong dalam mendongkolnya. “Walau Cap jie Lian hoan ouw itu gunung golok dan rimba2 pedang, akupun akan satroni juga! Am cu, silahkan kembali kekuilmu, aku hendak berangkat sekarang juga!”

“Baik, suheng, silahkan kau pergi!” sahut Cu In Am cu, yang sendirinya berkuatir untuk kuilnya. Ia percaya, semua muridnya akan taati pesanannya, tidak terkecuali adik seperguruan nya, Leng Hong Hiap lie Liok Tiauw Cin yang tabeatnya keras, walaupun dia sudah mensucikan diri dua belas tahun lamanya, dia tetap paling benci akan kejahatan. Begitu ia pamitan dari Ong Too Liong yang antar ia sampai dibawah Tek Seng Gay, lalu dengan ambil jalan Tiat Pit Hong, ia menuju pulang. Eng Jiauw Ong sendiri lekas kembali kerumah guhanya, akan merapihkan buntalannya, sesudah itu, ia berangkat meninggalkan Tek Seng Gay.

Tujuan dari Eng Jiauw Ong ialah distrik Bun hiang dipropinsi Hoolam dimana ada sebuah dusun Tiat gu chung. Namanya saja desa, tetapi disana hidup dua ribu lebih keluarga, yang semua mengutamakan pertenunan, hingga tidak ada bebuah rumahpun dimana tidak ada pesawat pemintal. Karena itu, sering datang saudagar dari lain tempat, yang memborong kain tenun buatan Tiat gu chung ini.

Penduduk terutama dari Tiat gu chung adalah dua keluarga Su touw dan To mereka datang mengungsi dari Kanglam karena gangguan huru hara, seterusnya turun temurun mereka bertinggal didesa ini, bertani sambil menenun. Daerah belukar luasnya lima ratus bauw, mereka buka menjadi perkebunan murbei. Disitu ada kedapatan orang dari beberapa she lain, tetapi semua mereka ini ada sanak saudara dari dua keluarga tersebut.

Sampai pada masa terakhir ini, chungcu atau ketua dusun itu ialah Su touw Kun, dan hu chungcu, ketua muda, ialah To Bouw Cian, ke dua2nya sudah berusia lanjut. Dimasa mudanya, Su touw Kun pernah belajar silat, dari bahagian keras, Ngekang. Ilmu itu bisa merusak tubuh apabila keliru diyakinkannya, maka itu, Su touw Kun tidak wariskan itu, tidak pada anaknya, juga tidak pada lain orang. Ia mempunyai dua anak lelaki, Kiong dan Kiam. Kiong rajin belajar surat dan bercocok tanam, ia membantui kedua chungcu Kiam dikirim kepada Eng Jiauw Ong, untuk belajar silat bahagian dalam, Lwee kang. Ia sangat rajin, selama dua belas tahun, ia telah peroleh kemajuan, hingga gurunya sangat sayang padanya dan didik ia sungguh2. Saudarasnya seperguruan pun menghormati ia. Setelah pulang kedusunnya, dengan tentu2 setiap tahun ia kunjungi gurunya beberapa kali.

Su touw Kun tahu Eng Jiauw Ong liehay dan budiman, ia mengerti, yang anaknya di sayang guru itu, saking menghargai, ia juga pernah kunjungi jago Hoay siang itu kepada siapa ia menjanjikan bantuan uang tak berbatas, asalkan itu untuk kebaikan umum. Karena ini, Eng Jiauw Ong jadi suka bersahabat kepada petani hartawan dan mulia itu, hingga asal ia pergi ke Utara, sudah tentu ia mampir di Tiat gu chung. Demikian juga kali ini, untuk mati hidupnya Hoay Yang Pay, ia datang untuk tengok muridnya, Su touw Kiam, agar murid ini suka membantu ia.

Begitu memasuki dusun, kupingnya Eng Jiauw Ong lantas mendengar suara ramai dari pesawat tenun, karena penduduk yang rajin dan damai itu, seperti biasanya, bekerja dengan giat dan tenang, walaupun negara sedang hadapi pemberontakan.

Su touw Chungcu berada didalam rumah, ketika ia diwartakan kedatangannya Eng Jiauw Ong. Segera ia keluar menyambut dan mengundang tetamunya berduduk diruang tetamu, setelah perintah orang menyuguhkan air teh, iapun perintah bujang panggil puteranya.

“Loo suhu sedang pimpin pasukan sukarela di Hoay siang, bagaimana loo suhu sekarang punya kesempatan berkunjung kemari?” tanya tuan rumah. “Apa mungkin ada urusan penting lain?”

“Sejak keamanan terganggu, memang aku tidak punya kesempatan lagi untuk pesiar,” sahut Eng Jiauw Ong, “tetapi sekarang ada satu urusan yang memaksa aku meninggalkan kampung halamanku.” Ia tuturkan peristiwa keluarga Yo.

“Kami kenal Yo Jie looya itu,” kata Su touw Kun. “Dia memang jujur dan mulia hatinya, malah beberapa tahun yang lampau dia pernah menolong kami dengan uangnya, selagi kami diserang musim kemarau. Kenapa dermawan sebagai ia bisa alami kecelakaan itu?”

“Itulah sebab dia terfitnah,” menerangkan Eng D yiauw Ong “Loo chungcu jangan kuatir, aku percaya dia akan dapat pulang kemerdekaannya.”

Eng Jiauw Ong tuturkan ikhtiarnya bersama Cu In Am cu, untuk tolong hartawan yang dermawan itu.

“Gouw Ko pie ada jahatnya, kekuasaannyapun semakian besarnya, apa loo suhu tidak pikir untuk singkirkan dia ?” tanya tuan rumah.

Eng Jiauw Ong tidak sampai hati mendengar pertanyaan itu, ia mengerti inilah disebabkan chungcu itu sangat membenci kejahatan.

“Untuk sementara ini tak dapat kita bersikap keras kepada nya,” ia menerangkan perkaranya saudara Yo masih apabila ia terbinasa. Masalahpun akan bertambah. Sekarang pun negara membutuhkan tenaga orang peperangan yang pandai, tenaganya teetok itu masih perlu untuk meng      pemberontak. Terpaksa   sikap lemah, harap chungcu tidak mentertawai aku.”

“Tetapi loo suhu benar,” kata Su touw Kun. “Dalam keadaan sulit seperti sekarang, kita harus sabar. Harap loo suhu tidak berkecil hati atas katakku tadi.”

Eng Jiauw Ong bersenyum.

Justeru itu Su touw Kiam datang untuk segera kasih hormat pada gurunya.

“Oh, suhu datang!” katanya Eng Jiauw Ong girang melihat murid itu sehat walafiat.

“Jangan pakai banyak adat peradatan,” kata guru ini. “Kau bikin apa saja sekarang?”

“Apakah ayah belum omong pada suhu?”

“Ayahmu bicarakan saja urusanku, sehingga ia belum sempat bicarakan tentang kau.”

“Sebenarnya, dengan pengunjukannya To Pe hu, aku sedang melatih barisan penduduk,” Su touw Kiam menerangkan. “Sukur, sampai sebegitu jauh kami tak kurang suatu apa. Dan suhu, ada urusan apa suhu datang ke Utara ini untuk mengunjungi sahabat atau ada urusan lain?”

“Ada urusan, muridku,” sahut Eng Jiauw Ong, yang kembali tuturkan halnya keluarga Yo. “Sampai sekarang, toa suheng mu masih berada dalam tangan musuh.”

Su touw Kiam kaget berbareng gusar.

“Kita kaum Hoay Yang Pay berlaku jujur, tetapi Hong Bwee Pang memusuhi kita secara begini, jikalau kita tidak lakukan pertempuran yang memutuskan, dia pasti akan terus menghinakan kita!” kata ia. “Suhu, aku bersedia akan ikut suhu untuk menolongi toa suheng.”

“Aku memang sudah mengambil putusan akan menempur Hong Bwee Pang sampai diakhirnya!” Eng Jiauw Ong beritahukan murid nya. “Setelah kejadian ini, tak dapat kedua golongan hidup ber sama2, Hong Bwee Pang tangguh, banyak cabang dari Rimba Hijau masuk dalam rombongannya, dari itu, kita mesti mengumpul tenaga, aku ingin kaum kita semua berkumpul di Ceng hong po. Kita akan dibantu oleh See Gak Pay. Kaum kita terpencar luas, ada sukar untuk lekas mengumpulkan mereka, dari itu, apa kau bersedia akan iringi aku pergi kepada Susiok mu, Ban Liu Tong di Kwie in po? Aku ingin ber sama2 susiokmu itu menghadapi musuh. Biarlah susiokmu membantu mengirim surat kepada sekalian kaum kita.”

Sebelum Su touw Kiam menyahuti, ayahnya sudah mendahului.

“Aku harap loo suhu jangan berlaku sungkan!” kata ketua Tiat gu chung. “Anakku adalah muridmu, ia telah menerima budi besar, sudah selayaknya ia membantu loo suhu, tidak perduli badan nya mesti hancur lebur. Pergi lu suhu ajak si Kiam! Umpama Ban Loosu kekurangan orang, untuk dikirim keberbagai tempat, disini aku punya banyak anak2 yang bisa membantu.”

“Kau baik sekali, chungcu, terima kasih,” kata Eng Jiauw Ong yang bersukur sekali. “Biar lain kali saja aku terima bantuanmu terlebih jauh. Sekarang adalah cukup asal Kiam turut aku…”

Selagi mereka bicara sampai disitu, datang laporan bahwa To Siauw chungcu datang untuk suatu urusan penting. -odwo-

XIII

“Nanti aku ketemui padanya,” kata Su touw Kiam sambil berbangkit. “Tentu ada urusan penting mengenai dusun kita.”

“To Yong bukan orang lain, baik silahkan dia masuk saja,” sang ayah berkata.

Anak itu menurut, ia lantas keluar, akan sebentar kemudian balik bersama satu pemuda umur kurang lebih dua puluh tahun, romannya cakap dan gagah, siapa lantas memberi hormat pada tuan rumah, baharu pada tetamunya.

Eng Jiauw Ong membalas hormat seraya mengundang “To Lauwtee, silahkan duduk!”

“Duduk, hiantit, Ong Loosu ada orang sendiri,” Su touw Kun berkata. “Ada urusan apa sampai hiantit perlukan datang kemari?”

“Barusan saja kami terima laporan dari saudara kami yang menjaga disungai sebelah utara dusun kita ini,” sahut To Yong, putera dari To Bouw Cian. “Saudari itu bilang, tadi pagi kira2 jam lima, dari arah Hong leng louw ada datang dua buah perahu nelayan dari Kanglam, yang minta berlabuh dipelabuhan pedalaman, tetapi karena tidak ada orang yang ladeni mereka, kesudahannya mereka singgah diselat Teng ji wan, tempat belukar dan sunyi, setengah lie dari sungai kita. Disana, jangankan kendaraan air berlabuh, orang yang lalu lintas juga tidak ada. Peronda kita heran, ia mendekati untuk melihat, akan tetapi anak2 kedua perahu itu sudah tolak perahunya kepinggir seraya antara nya ada yang memberitahukan, katanya diperahu mereka ada orang sakit, karena pelabuhan ramai, mereka terpaksa berhenti disitu, ditempat sunyi. Mereka pun menjauhkan perahu mereka agar tidak kebentur lain perahu, kuatir sisakit kaget. Saudaraku Tiong, walaupun adanya keterangan ini, masih ingin tahu, ia terus mendekati sampai empat atau lima tumbak. Atas itu, kedua perahu itu tidak berdiam lebih lama lagi, setelah memasang empat atau lima batang hio, mereka angkat jangkar. Anak buah mereka ada lebih daripada sepuluh orang. Mereka tidak menggayu cepat, mereka hanya berlayar pelahan2. Perahu kita terus mengikuti. Toako pikir, asal kedua perahu itu sudah keluar dari daerah kita, ia tak mau memperdulikannya lagi. Toako tidak kuatir mereka itu lakukan apa2 yang melanggar undang2, kalau perlu bantuan, dia bisa segera bunyikan gembreng dan lepas panah nyaring. Disekitar kita ada orang2 ronda, yang bisa segera datang atas tanda bahaya. Luas sungai kita cuma dua tiga lie, akan tetapi jalannya berbelit2, hingga jauhnya ada tujuh atau delapan lie, maka itu, sampai terang tanah, baharu kedua perahu itu sampai diselat Toh lim wan. Sesampainya disitu, dari hulu kelihatan tiga buah perahu kecil mendatangi, lalu kedua perahu itu dengan pesat menghampirinya, hingga mereka bertemu ditengah2 kali. Kelihatannya kedua pihak bicara satu dengan lain, setelah mana, api hio di kedua perahu disingkirkan, dibuang kedalam kali. Sesudah itu, dua buah perahu kecil ikuti kedua perahu nelayan, jalannya pelahan, tetapi perahu kecil yang ketiga, yang empat orang penggapunya, digayu pesat sekali kearah perahu kita. Setelah datang dekat, nampaknya perahu itu berniat kurang baik, rupanya dia hendak terjang perahu kita, maka Toako lantas suruh anak buahnya siapkan gala. Benar benar perahu kecil itu datang menerjang, dan terjangan tak dapat dielakkan. Perahu kita terbalik, Toako dan dua kawannya kecebur keair. Mereka bisa berenang, mereka lantas berenang ke gili2. Perahu kecil itu juga terbalik, anak buahnya lenyap, entah mati kelelap atau mereka lari sambil berenang selulup Dua perahu nelayan berlabuh ditempat setengah lie jauhnya, disana ada sebuah kereta kuda, rupanya untuk menyambut. karena dari kedua perahu digotong naik dua rupa barang berat dinaikkan kekereta, sesudah mana kereta itu di jalankan, ada lima atau enam penunggang kuda yang mengiringi menuju kearah Sam Siauw San. Toako perintah orang jagai perahu yang kelebu itu, ia sendiri pulang kerumah perkumpulan kita untuk salin pakaian. Ayah tidak ada dirumah, ia belum kembali dari Teng kee chung sebab aku tidak berani bertindak sendiri, dari itu aku mohon pertimbangan loope. Apa perlu kita kejar dua perahu nelayan itu untuk tahan mereka, guna dengar keterangannya kenapa mereka terjang perahu kita?”

Su touw Kun hendak jawab keponakan itu, tetapi Eng Jiauw Ong mendului memotong ia dengan menanya, “kali di Utara Tiat gu chung itu, yang mengalir dari Hong leng touw, apa bukan aliran dari sungai Hong Hoo?”

“Benar,” sahut tuan rumah. “Aliran itu menuju langsung ke Shoatang.”

“Jadinya, dan Bun hiang untuk menuju ke An hui, dengan jalan air, apa bukan orang mesti ikuti sungai Hong Hoo?” Eng Jiauw Ong tanya pula.

“Itu benar, hanya terlalu memutar dan jauh,” terangkan tian, orang akan menghemat dua ambil jalan air dan darat bergantian, orang akan hematkan dua atau tiga ratus lie. Apa Ong Loosu ketahui kendaraan air siapa itu?”

“Menurut dugaanku, itu mesti ada siorang jahat. Baiklah chungcu tidak sia2kan tenaga dan tempo akan kejar mereka. Umpama dapat disusul, kedua perahu itu mesti ada perahu2 kosong, tidak ada buktinya untuk menahan mereka. Umpama tadi nya mereka tidak didekati, tidak nanti mereka bentur perahu di sini…”

“Menurut sangkaan Loosu itu. mereka jadinya ada orang2 Hong Bwee Pang dari Gan Tong San?” Su touw Kun bertanya pula.

“Aku menduga demikian. Dikepala perahu ada dipasangi hio, adalah isyarat kawanan itu. Itulah hio tin, yang mesti dipasang setiap dilakukan perjalanan malam, dengan begitu mereka saling mengenali dan ketahui juga perahu berada dibawahan tong atau to yang mana. Orang luar melainkan mengetahui nya, tapi tak dapat membedakannya. Aku percaya betul, dalam perjalanan ini, disetiap tempat, mereka mesti dan pasti dapat sambutan sesama kawan, dan benda yang mereka angkut mestinya ada kedua murid kita untuk dibawa ke Ciatkang Selatan. Didarat mereka ambil jalan perbatasan kedua gunung Lam Siauw San dan Kian San Eng leng hu mereka akan seberangi sungai Lok Sui, akan lintasi kaki gunung Barat dari Hong San, untuk mengikuti aliran sungai Bun Hoo dan

Hoay memasuki daerah An hui. Sekarang silahkan

chungcu pesan untuk jaga saja keselamatan desa, jangan usil urusan lain. Kawanan itu punya orang orang disegala tempat, mereka berpengaruh, maka itu paling benar orang menyingkirkan perselisihan terhadap mereka.”

Mendengar demikian, Su touw Kun   lantas   minta   To

Yong pulang akan menitahkan To Tiong se pulang

perahu mereka yang karam, dan perahu penyerbupun di simpan, supaya kemudian penjagan diperkeras.

“Kalau nanti ayahmu pulang, beritahukan hal datangnya Ong lusu dan minta ayahmu suka datang kemari,” ketua Tiat gu Chung menambahkan. To Yong menurut, ia memberi hormat untuk mengundurkan diri.

Setelah itu, Su touw Kun menjamu tetamunya. “Sebentar siapkan pauwhok,” Eng Jiauw Ong pesan

muridnya, “supaya besok fajar kita bisa lantas berangkat ke

Kwie in po kepada susiokmu, untuk segera berangkat ke Kanglam. Aku percaya penjahat ambil jalan air, disepanjang jalan mesti ada kawan2 nya untuk ber jaga2, kalau2 kita melakukan perampasan ditengah jalan. Cu In Am cu pun akan menyamper ke Kwie in po untuk bekerja sama dengan kita.”

Su touw Kiam memberitahukan gurunya, bahwa ia bisa berangkat sembarang waktu, ia harap guru itu tak usah kuatir.

“Adalah niatku akan minta loosu berdiam disini sedikit nya buat beberapa hari,” kata Su touw Kun kemudian.

“Tetapi urusan demikian mendesaknya, biarlah lain kali saja, apabila loosu datang pula ke Tiongciu, kita nanti berkumpul lebih lama…”

“Chungcu manis budi, lain kali pasti aku akan mampir pula,” Eng Jiauw Ong memberikan kepastian.

Perjamuan dilanjutkan dalam kegembiraan, dan Eng Jiauw Ong tenggak arak hingga ia agak sinting. Su touw Kiam heran melihat sikap gurunya itu, yang biasanya paling keras perbataskan diri. Didalam Hoay Yang Pay, arak tidak dilarang, tetapi siguru menasihatkan murid nya akan ingat diri. Pernah satu kali di Ceng hong po, murid ini melihat gurunya sinting, tapi belum pernah melihat kedua kalinya, sampai malam ini. Ia insyaf keruwetan pikiran sang guru, hingga sekali ini, arak hendak dipakai untuk menghiburkan diri. Ia jadi sangsi. Ia niat cegah gurunya, agar besok tidak sampai gagal, tetapi ia kuatir guru itu balik tegur ia. Ia berdiam karena kesangsiannya.

Untuk kesekian kalinya, Eng Jiauw Ong mengangkat cawannya, tetapi segera ia tercengang, karena diluar dengan tiba2, ia mendengar suara seperti uang tangchie jatuh ditanah.

“Apakah chungcu dengar?” tanya ia sambil berbangkit. “Itulah chee hu toan sin. Pasti Cu In Taysu dari Pek Tiok Am sudah sampai. Nanti siauwtee sambut dia.”

Su touw Kun dan puteranya juga mendengar suara itu, maka itu, sambil manggut mereka berbangkit, terus mereka ikuti jago Hoay siang itu bertindak keluar. Tuan rumah yang tua lalu mendahului tetamunya.

“Tayhiap dari See Gak suka hinakan diri dengan datang ke gubukku ini, tak pantas untuk aku tak menyambutnya, maka, Ong Loosu, pelahan sedikit, kasilah aku sendiri yang sambut padanya, agar aku tidak berlaku kurang hormat,” kata ia.

Sesampainya dimuka pintu, cuma dengan pentang sedikit daun pintu, Su touw Kun sudah lantas mencelat keluar.

Eng Jiauw Ong lihat itu, ia terperanjat, ia kuatir orang diluar nanti salah mengerti, maka ia segera menyusul. Diluar, dibawah payon, tuan rumah hendak loncat kegenteng, tapi ia segera mencegah.

“Sesama orang sendiri, tak usah chungcu pakai banyak adat peradatan,” kata ia. “Pasti sekali Cu In Taysu tidak berani terima kehormatanmu ini.”

Mendengar cegahan itu, Su touw Kun merandek, atas mana, dari atas genteng, mereka dengar perkataan “Tee cu adalah Siu Hui, yang bersama guruku malam2 berkunjung kemari, ke satu akan tengok Ong Loosu dari Hoay siang, ke dua untuk menghormat Su touw Chung cu. Guruku sekarang ada di pintu luar, aku sendiri diperintah untuk mengabarkan lebih dahulu.”

Begitu suara berhenti, lalu disusul dengan berkelebatan turun satu bayangan manusia.

Tuan rumah tertawa. “Benar2 See Gak Taysu kenal adat sopan santun!” kata ia. “ Mari kita menyambut!”

Eng Jiauw Ong manggut, ia mengikuti dengan hati lega. Tadinya ia kuatir tuan rumah ini hendak coba2 Cu In Am cu, yang dianggap berlaku kurang hormat sudah memasuki rumah orang secara diam2. Iapun kagumi tuan rumah, yang sudah lanjut usianya, tetapi semangatnya masih ber kobar2. Sebegitu jauh tuan rumah berlaku sa ngat manis budi kepadanya, itu menandakan bagaimana besar orang hargai ia.

Su touw Kiam pun perintah empat bujang lantas nnenyalakan tanglung (tengloleng) untuk mengiringi mereka, yang menuju pintu pekarangan, dan ketika pintu dipentang, ialah yang mendahului keluar.

Tepat dimuka pintu ada berdiri satu pendeta perempuan, yang sudah berusia lanjut, dengan jubanya yang gerombongan, di lehernya ada bergantung kalung dari seratus delapan biji tasbe “pou tee liam cu” dan dibebokongnya menggemblok sebang pedang yang runcenya warna kuning, heng uy atau nye turun ke pundaknya, romannya alim dan tenang, dikiri dan kanannya berdiri empat muridnya, jubanya serupa, seseorangnya masing2 ada menggentol sebuah pauwhok. Satu dari dua yang berdiri didepan, usianya kira2 lima atau enam belas tahun, ia membawa permadani rumput untuk duduk bersamedhi, dan yang satunya, umur kurang lebih duapuluh tahun, memegang sebatang hong pian san, senjatanya sang guru. Dua yang dibelakang, umurnya lebih kurang tiga puluh tahun, juga masing2 ada membekal pedang.

Dengan cepat Su touw Kiam maju memberi hormat sambil memperkenalkan diri sebagai wakil ayah dan gurunya, kemudian ia bertindak kepinggir.

“Jangan pakai banyak adat peradatan, siauw chungcu,” kata Cu In yang balas hormat itu.

Eng Jiauw Ong dan Su touw Kun sudah lantas sampai, yang pertama mendahului maju didepan, sembari memberi hormat ia kata “Am cu datang luar biasa lekas. Aku tadinya sangka kita akan bertemu di Kwie in po. Ini dan Su touw Chungcu pangeni am cu, ia merasa beruntung dengan pertemuan ini.” Ia menunjuk Su touw Kun.

Tuan rumah maju, akan hunjuk hormatnya.

“am cu. bukan kepalang girangku atas kunjungan am cu ini,” kata tuan rumah itu. “Am cu ada pendeta suci, tertua dari Rimba Persilatan, dan pedang Tin hay Hok po kiam telah menggetarkan See Gak, itulah sebab yang bikin aku ingin lebih siang menemuinya, beruntung sekali malam ini am cu telah berkunjung kemari!”

Cu In Taysu membalas hormat.

“Harap loo chungcu tidak terlalu memuji pin nie,” kata ia. “Namaku terangkat karena kebaikan budinya para tertua Rimba Persilatan, sebaliknya kegagahan loo chungcu sendiri sudah termasyhur tetapi loo chungcu bisa kendalikan diri, menjauhi segala kerewelan, sebaliknya pin nie walaupun jadi pengikut sang Buddha, pin nie tidak bisa menyamainya, pin nie malu sendiri. Pin nie pun mohon maaf yang pin nie telah datang mengganggu malam ini.” “Am cu terlalu sungkan,” kata tuan rumah. “Tak dapat kita bicara sambil berdiri saja, silahkan am cu masuk kedalam gubukku.”

“Sama2 orang Rimba Persilatan, tidak usah kita terlalu sungkan,” kata Eng Jiauw Ong “Am cu, silahkan Semua murid mudapun kusilahkan masuk.”

Keduanya tuan rumuh, ayah dan anak, serta Eng Jiauw Ong minggir, untuk persalahkan kelima tetamu masuk, empat bujang membawa tengloleng jalan dikiri dan kanan. Mereka pergi ke thia (ruangan) dimana sisa makanan telah dibersihkan. Dua batang lilin yang besar menerangi ruangan itu.

Atas undangan tuan rumah, Cu In Am cu lalu berduduk dan empat muridnya berdiri disampingnya, karena mereka ini tidak berani berduduk, walaupun tuan rumah telah mengundangnya.

Kapan Su touw Kun sebagai tuan rumah sudah duduk, Cu In perintah empat muridnya hunjuk hormat mereka, juga terhadap Eng Jiauw Ong. Murid yang termuda adalah Siu Seng, murid nomor tujuh.

Segera juga orang telah mulai pasang omong, sesudah mana, tuan rumah baharulah kagumi nikow tua itu, yang manis budi. Eng Jiauw Ong pun tanya, kenapa nikow itu bisa menyusul demikian cepatnya

“Inilah karena kawanan kurcaci itu sangat menjemukan,” sahut Cu In dengan sengit “Selagi aku tidak ada dikuil, orang2 mereka sudah datang dengan diam2 dan melepas api, terang mereka ingin bakar musna tempat bernaungku itu. Syukur suteeku Ham Cin Taysu, yang menjaga ruangan Koan Im Tong, siang2 telah mengetahui itu, sembari ia perintah murid2ku padamkan api, ia sendiri kejar orang orang jahat itu. dua antaranya kena dilukai. Api berhasil dipadamkan setelah ruangan kitab dibelakang jadi kurban. Demikianpun lima kamar makan. Beruntung api belum sempat memusnakan ruangan suci Sian tong. Ham Cin Sutee sangat gusar hingga ia sumpah hendak membasmi kawanan itu. Aku pulang terlambat, dari itu aku sendiri tidak dapat susul lagi orang2 jahat itu. Belum pernah ada orang berani ganggu Pek Tiok Am, karena itu, aku sumpah akan membalas sakit hati. Dengan menyerahkan pembetulan kuil kepada Ham Cin Sutee, aku bisa lantas ajak murid ku menyusul kemari, karena aku percaya, kau masih berada disini. Ditengah jalan tadi, pin nie telah bertemu dengan Kim too Thong Cin Wie, piauwsu kenamaan dari Utara. Menurut Thong Piauwsu ini, ketika ia sampai di perhentian Hoa louw ek, disebelah Barat penyeberangan Hong leng touw, ia telah lihat serombongan orang yang mencurigai, ia perintah orangnya pasang mata, kemudian ternyata mereka itu bukan membuntuti Thong Piauwsu, hanya mereka bawa dua ‘daging hidup.’ Katanya, dimana saja mereka sampai, mereka itu disambut oleh konco2 mereka. Mereka itu menuju Eng leng hu. Thong Piauwsu tidak hendak mencari permusuhan, ia biarkan mereka itu. Aku duga rombongan itu adalah musuh2 kita yang melarikan murid2 kita. Aku pikir mereka mesti dicegat sebelum mereka keburu sampai kesarangnya, dari itu, umpama suheng sudah tidak punya urusan apa2 lagi, mari kita lekas pergi ke Kwie in po, untuk mengatur orang2 kita.”

Dengan ‘daging hidup’ diartikan orang2 culikan.

Eng Jiauw Ong jadi sangat gusar, hingga ia  mencelat bangun.

“Sabar,”   tuan rumah mencegah. “Biar bagaimana, baiklah besok pagi baharu loosu beramai berangkat.” Tuan rumah perintah lekas sajikan barang makanan ciacay, untuk kelima tetamunya yang baru, dan Eng Jiauw Ong diminta turut menemani bersantap, ia bersama anaknya pun turut dahar juga.

Karena ini, orang bersantap sampai fajar menyingsing. Setelah itu, Eng Jiauw Ong bersama Cu In dan murid2nya duduk bersemedhi, akan tunggui sang waktu, dan tuan rumah serta orang2nya pada rebahkan diri. Selang dua jam, sesudah semua cuci muka dan dandan, minum teh dan makan kue2, kedua pihak lantas ambil selamat berpisah. Su touw Kiam pun pamitan dari ayahnya.

Demikian tujuh orang itu melakukan perjalanan dengan cepat, apa lagi matahari mulai doyong ke barat, mereka sudah sampai di kaki gunung Kian San, yang bagus pemandangan alamnya, dan sepepanjang jalan tertampak pohon2 murbei, jie, liu dan cemara. Untuk naik, ada sebuah jalanan untuk orang atau orang berkuda, tapi kereta tak dapat naik sama sekali. Diatas itu ada tanah datar luas kira2 setengah lie. Itulah mulut jalanan untuk memasuki sie in po, dimana ada tembok yang tingginya setumbak setengah atau lebih.

Semua rumah dibuat dari batu, wuwungannya hijau dengan rumput halus, hingga dari kejauhan kelihatannya tak mirip dengan rumah, sedang diwaktu lohor, awan atau kabutpun seperti menutupi desa itu. Hati orang gembira apabila sudah melihat tempat yang indah itu.

“Apakah Am cu pernah datang ke Kwie in po?” tanya Eng Jiauw Ong selagi mereka mendaki kaki gunung.

“Inilah untuk pertama kalinya,” sahut Cu In. “Tapi sudah sejak lama pin nie dengar Kwie in po ada sebuah tempat indah dari Kian San dan sejak Siok beng Sin Ie bertempat disini, kabarnya segala apa telah diperbaiki hingga mirip dengan See gwa Toh Wan, itu dunya bertaman bunga toh menurut dongengan. Kwie in po seperti juga Tiat gu chung ada tempat2 yang sudah sekian lama pin nie niat kunjungi, sayang sampai sebegitu jauh belum ada ketikanya.”

“Am cu,” Eng Jiauw Ong menerangkan, “Kwie in po ini memang terjadi, separuh wajar dan separuh buatan manusia. Suteeku Ban Liu Tong lah yang dapat pikiran, untuk memperbaikinya. Kecuali ilmu silat, Liu Tong juga mempelajari ilmu obat2an dan nujum, dan karena otaknya yang cerdik, ia mengerti segala macam senjata rahasia. Kwie in po ini, siang orang bisa lihat tegas, tetapi kapan sang malam sampai, bagi orang, asing, sulit untuk memasukinya, atau orang akan tersesat didalam dusun atau dilembah atau selat, sukar untuk mencari rumahnya suteeku itu. Inilah sebabnya, kenapa selama berdiam disini, Ban Sutee belum pernah mengalami gangguan.”

Selagi bicara, mereka sampai dimuka jalanan, untuk hampirkan pintu dusun, jalanan naik ada dari batu dan lebar. Dari sini, memandang keatas, kearah pintu, tidak kelihatan orang atau orang yang menjaga pintu itu.

“Lihat, am cu, pintu yang dipentang lebar2 itu,” kata Eng Jiauw Ong pada kawan sejalannya. “Tidakkah ini mirip dengan pintu masuk dari kebanyakan dusun? Selama kita berdiri disini, mengawasi saja keatas, penduduk desa tidak akan perdulikan kita, akan tetapi begitu lekas kita mendakinya, segera kita akan hadapi penjaga yang bersenjatakan panah peluru.”

“Apakah mereka bisa lihat tegas atau bedakan umpama yang datang ada orang sendiri?” Cu In tanya. “Jaraknya ada cukup jauh. Apakah itu tidak membahayakan kawan sendiri?” “Am cu tanyakan hal yang sewajarnya,” sahut Eng Jiauw Ong. “Untuk itu Ban Sutee sudah siap. Dia mempunyai pesawat Bong wan tong, keker buatan orang Biauw, yang ia telah perbaiki, hingga dengan itu ia bisa lihat tegas orang ditempat yang jauh nya satu lie. Dengan pesawat itu, ia tak pernah keliru melihat orang. Harap am cu tunggu sebentar, aku hendak memanggil orang.”

Eng Jiauw Ong bertindak di tangga. Ia baharu naik lima tindak, segera dari atas terdengar mengaungnya panah nyaring, disusul oleh munculnya lima penjaga dimuka pintu sekali, antara siapa lantas ada yang menegur. “Siapa itu dibawah? Untuk naik keatas, harus kau perkenalkan diri, atau kami nanti melepas anak panah!”

“Tolong kau beritahukan Ban Po cu, Ong Too Liong dari Lek Tiok Tong, Ceng hong po, datang berkunjung,” Eng Jiauw Ong menjawab dengan cepat.

“Silahkan tuan menantikan, kami akan segera menyampaikan kabar!” demikian suara diatas, yang berubah sikapnya, kemudian satu diantara mereka segera mengundurkan diri. Setelah itu, seekor burung dara putih kelihatan terbang naik, menuju kepedalaman dusun itu.

“Lihat, am cu,” kata Eng Jiauw Ong. “Penjagaan ada demikian rupa, orang luar tak dapat sembarang masuk kemari. Burung dara itu adalah pembawa berita. Rumahnya ketua dusun ini masih ada setengah lie dari pintu ini. Dengan perantaraan burung, warta bisa dikirim dan diterima dengan cepat.”

Perkataannya Eng Jiauw Ong ternyata benar, karena cepat sekali seekor burung dara abu2 telah terbang datang, akan turun dimuka pintu, menyusul itu penjaga2 pintu itu lantas bertindak turun. Sesampainya didepan Eng Jiauw Ong, mereka memberi hormat sambil mengatakan “Maafkan kami, orang2 yang mempunyai mata tetapi tidak kenali tetamu yang mulia. Po cu kami mengundang loosu masuk, po cu akan segera keluar sendiri untuk menyambut.”

“Kita ada diantara orang sendiri, jangan seejie,” kata Eng Jiauw Ong sambil manggut, setelah mana, ia mengundang Cu In Am cu mengikuti ia.

Chungteng itu segera jalan didepan, untuk memimpin.

Begitu lekas sudah sampai di atas, Cu In segera melihat suatu tanah datar yang lebar serta rumah penduduknya yang bikin ia kagum, karena barisan rumah itu merupakan sebagai Pat tin touw, barisan atau tin nya Cu kat Liang. Semua rumah dibuat dari batu, tinggi dan besar, teratur rapi, itulah Pat kwa, atau Pat mui, yang bisa berubah menjadi enam puluh empat kwa atau mui (pintu).

Mereka berjalan belum lama, lalu dari sebelah depan, dari tikungan jalanan, muncul serombongan orang, melihat siapa Eng Jiauw Ong segera menunjuk seraya berkata pada sipendeta perempuan tua “Lihat, amcu, orang dengan baju kuning itu adalah Ban Sutee.”

Cu In segera kenali orang yang ditunjuk itu, yang tubuhnya berimbang dengan tubuhnya Eng Jiauw Ong, melainkan sedikit kurus, sepasang alisnya yang gomplok menaungi sepasang mata yang tajam seperti mata burung hong, dahinya lebar, kumis nya hitam, kepalanya rada gundul, thungshanya yang kuning ada memakai kancing tembaga, kaos kakinya putih, sepatunya biru. Dia menyekal sebatang kipas bambu, nampaknya agung. Dia diiringi oleh dua chungteng serta dua pemuda, yang masing2 berusia kurang lebih sembilanbelas dan empat belas tahun.

Sebentar saja Ban Liu Tong sudah datang dekat, segera ia memberi hormat pada Eng Jiauw Ong seraya berkata “Suheng, harap maaf kan aku, yang lambat menyambut. Dengan sebenarnya aku tidak ketahui kedatangan suheng ini.”

“Jangan seejie, sutee,” Eng Jiauw Ong membalas hormat. “Mari aku perkenalkan kau kepada See Gak Lie hiap Cu In Am cu dari Pek Tiok Ain di bukit Chong Liong Nia dari pegunungan See Gak Hoa San. Dan ini adalah ke empat muridnya.

Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong, si Tabib Malaikat, pun sudah lantas memberi hormat pada nikow tua itu seraya berkata dengan merendah “See Gak Tay hiap, selamat datang! Kunjunganmu ini membuat gunungku Kian San menjadi bercahaya! Silahkan am cu memasuki gubukku, disana aku nanti memberi hormat pula kepadamu.”

Dengan merangkapkan kedua tangannya, Cu In membalas hormat.

“Ban Po cu, justeru pin nie adalah yang kagumi kau untuk bugeemu yang liehay dan kepandaian ketabibanmu yang luhur hingga kau sangat ternama, terutama untuk kebaikan budimu terhadap umum. Sudah lama pin nie niat mengunjungi, maka sekarang pin nie girang sekali Ong Tay hiap telah pimpin aku datang kemari. Memang pin nie ingin sekali saksikan dusunmu ini. Nah, silahkan, po cu!”

Selagi tuan rumah merendahkan diri, Su touw Kiam dan empat muridnya Cu In maju untuk memberi hormat pada mereka.

“Sutee,” kemudian Eng Jiauw Ong kata pada adiknya seperguruan, “walaupun am cu seorang suci tetapi ia gagah dan mulia, tentang ini, sutee pasti sudah ketahui, karena itu tak usah sutee pakai terlalu banyak adat peradatan. Mari kita berlaku seperti biasa saja.” Ban Liu Tong bersenyum. Setelah pesan orangnya akan tutup pintu dan jangan ijinkan orang luar sembarang masuk, ia terus undang tetamu2nya berjalan menuju kerumahnya.

Ketika itu, Kwie in po telah terbenam dalam cuaca magrib Tidak jauh dari situ, mereka menghadapi empat buah jalan besar, yang rupanya mirip satu dengan lain. Disini Ban Liu Tong mengambil jalan yang paling kiri. Dari tikungan lantas muncul dua chungteng dengan masing2 membawa sebuah lentera besar dengan tiga huruf “Kwie In Po.” Mereka berdiri dengan tegak bagaikan patung2.

Cu In Am cu melihat jalanan tidak lempang, karena ia sedang bertindak kearah Barat laut, atau garis Kian kwa dari Pat kwa. Ia berjalan terus tanpa ber kata2.

Selagi jagat remeng2, rombongan ini sampai dimuka sederetan rumah batu yang besar dengan pintu pekarangan dari kayu hitam. Jalanan disinipun terbagi empat. Rumah2 semua serupa, tapi semua pintunya tertutup, hingga suasana sunyi senyap.

Ban Liu Tong menuju ke arah yang Cu In Am cu kenali sebagai arah “kham kiong” atau “khay mui,” pintu buka.” Baharu mereka memasuki pintu, entah dari sebelah mana datang nya, tahu2 muncul dua chungteng lain, yang masing2 membawa lentera juga. Lewat tidak jauh dari situ, kembali ada jalan perapatan. Dari sini mereka berjalan sebentar ke Timur sebentar ke Barat. Eng Jiauw Ong pernah datang kemari, ia tidak kagum dan Cu In, yang mengerti Pat kwa, pun sewajarnya saja. Sembari jalan mereka bicara sambil ter tawa”

Sebentar lagi sampailah mereka kepusat Kwie in po, sekeluarnya dari sebuah jalan atau gang, mereka segera melihat suatu pekarangan yang luas, didelapan penjuru mana masing2 ada dua chungteng serta masing2 juga lenteranya.

Diantara cahaya lentera, kelihatan nyata rumahnya Ban Liu Tong, yang letaknya ditanah lebarnya beberapa bauw, yang terkurung dengan tembok besar, berpintu diempat penjurunya, disetiap pintu dipasangi lentera khie su hong dan terjaga oleh empat chungteng. Bentuknya rumah itu luar biasa, apapula dipandang di waktu malam.

Tuan rumah segera mengundang para tetamunya berduduk diruangan tamu, yang perabotannya sangat sederhana tetapi bersih. Satu chungteng sudah lantas muncul dengan membawa air teh.

Segera juga murid ke enam dari Cu In Am cu yalah Siu Yan hampirkan tuan rumah untuk memberi hormat sambil berlutut, seraya berkata “Sudah lama anak tidak datang menjenguk, sekarang anak lihat gie hu sehat walafiat, hatiku girang sekali.”

Eng Jiauw Ong heran melihat muridnya nikow tua dari See Gak itu memanggil suteenya dengan sebutan “gie hu,” ayah angkat. Benar Cu In pernah me nyebut2 hal itu, akan tetapi duduk nya hal yang benar ia belum ketahui.

-o0dw0o-

XIV

“Cie In, bangun,” berkata Ban Liu Tong. “Kau telah mengikut am cu, yang memimpin kau kepada Pou sat dan sang Buddha, dengan am cu yang berilmu tinggi dan menjadi pemimpin dari See Gak Pay, kau harus bisa membawa diri, agar dibelakang hari kau memperoleh kemajuan, supaya setelah insaf, kau bisa bebaskan dirimu, hidup merdeka dan tenteram. Dengan kau bisa berdiri sendiri, aku siorang tua pasti akan merasa lega hati. Jangan kau lihat saja tubuhku yang kurus, aku sebenarnya masih akan hidup untuk sekian tahun pula. Oleh karena itu, tak usah kau pikirkan aku. Sekarang kau tengah mengikut su pe dan su humu, ini adalah diluar garis, maka dilain kali, cukup setahun sekali kau menyambangi aku disini. Setiap waktu aku kangan kepadamu, aku sendiri bisa tengok kau di Pek Tiok Am. Aku melarang kau mengabaikan pelajaranmu melulu karena kau ingin menyambangi aku. Kau ingat ini?”

Liap Cie In berbangkit, kedua matanya merah kemudian ia tunduk ketika ia berkata “Anak akan turut pesan gie hu, tidak nanti anak melanggar ajaran suhu. Malah anak bersukur kepada suhu, yang sudah merawat dan mendidik padaku. Melainkan anak tetap tak bisa melupai gie hu, lari itu, apabila ada ketikanya, anak harap sudilah gie hu melihat aku….”

Mendengar itu, Ban Liu Tom menunjukkan roman masgul, suatu tanda ia sangat terharu.

Eng Jiauw Ong pun turut terharu melihat kecintaan diantara ayah dan anak itu, sedang mereka adalah ayah dan anak angkat saja.

“Oh mie to hud! Siancay siancay!” Cu In memuji. “Amcu,” kata Liu Tong kemudian, “aku bersukur yang Am cu sudah sudi menerima anak ini dan merawat serta mendidiknya. Kasihan Cie In, ia ini seorang anak yatim piatu. Aku nanti ingat baik2 budi am cu ini.”

“Po cu, kenapa kau berlaku begini seejie?” berkata pendeta itu. “Persahabatan kita bukannya persahabatan orang biasa saja Siu Yan mempunyai bakat baik ilmu silatnya juga sudah mempunyai dasar, dengan sedikit menunjukan dia telah berhasil. Aku harapkan dia kelak dapat memajukan See Gak Pay, supaya dia menjadi akhliwaris dari Pek Tiok Am.”

“Semua itu mengandal kepada belas kasihan am cu saja, Liu Tong bilang. Kemudian ia menoleh pada saudara nya seperguruan, ia berniat menanyakan suheng itu datang ber sama2 Cu In Am cu, mungkin ada suatu urusan, tapi justeru itu datang satu orangnya yang memberitahukan barang santapan sudah disajikan dikamar Timur, maka ia batallah menanyakan, ia terus mengundang tetamunya untuk bersantap.

“Marilah!” kata ia, yang terus pimpin Cu In dan Eng Jiauw Ong, yang lalu berbangkit mengikuti dengan diturut oleh murid2 mereka.

Kamar Timur, kamar tetamu, besar, tetapi perabotannya sederhana. Disitu telah diatur empat buah meja, dua antaranya menghadapi pintu. Satu meja untuk barang santapan biasa, satu meja pula untuk makanan cia cay. Cu In Taysu pantang tetapi Eng Jiauw Ong tidak. Tapi pemisahan ini tidak mengurangkan kegembiraan mereka.

“Sutee,” tanya Eng Jiauw Ong tengah berminum, “waktu kapan kau ambil anak angkat ini, kenapa aku tidak tahu?”

Eng Jiauw Ong tanya tentang Siu Yan atau Cie In. “Sudah lama suheng asingkan diri di Ceng hong po,

sudah pasti suheng tak tahu apa yang terjadi denganku

disini,” sahut sang adik seperguruan. “Enam atau tujuh tahun sejak aku tinggal di Kwie in po ini, aku berhasil membikin tempatku ini jadi seperti adanya sekarang. Adalah niatku akan tinggal dengan tenteram sambil mendidik murid, untuk tidak campur lagi urusan umum yang memusingkan kepala, sayang ada muridku, yang bocorkan hal aku mengerti ilmu ketabiban, hingga tempatku ini jadi tidak tenteram pula, selalu ada orang orang sakit yang datang minta pertolongan. Selain tolong periksa penyakit, apabila orang itu miskin, aku suka mengamal obat juga, aku suka menderma, hanya dari hartawan2 kikir dan kejam, aku suka minta jumlah yang besar. Kalau orang jahat, aku tidak suka tolongi sama sekali. Pada tiga tahun yang lalu aku telah menolong seorang hartawan she Kan didustai Cio khauw ek, enam puluh lie dari sini. Dia bernama Kan Hong, berharta sejak tiga turunan. Dalam usia kira lima puluh tahun, ia baharu dapati satu anak lelaki yang berpenyakitan sampai umur lima belas tahun, boca itu tak dapat berdiri, karena kakinya sangat lemah. Kan Hong sudah pakai banyak tabib dan obat, semua itu tidak menolong. Ia jadi sangat berduka, karena itu bisa memutuskan turunannya, sehingga ia lepas kata ia suka serahkan semua hartanya asal anaknya itu sembuh. Baharulah kemudian ada orang pujikan aku kepadanya dan ia lantas mengundang aku. Aku telah obati anak hartawan itu, setelah aku selidiki si hartawan adalah seorang berhati murah. Anak itu jadi lemah tubuhnya sejak dalam kandungan, karena bibit tua dan kurang penjagaan diri dari ibu nya dan kemudian, setelah terlahir, dapat pertolongan tabib2 tak tepat. Untuk menolong anak itu, aku mesti menggunakan tempo dan apa yang aku bisa. Justeru karena aku menolong keluarga ini, aku jadi bertemu dengan anakku Cie Im.

Untuk setengah bulan, aku berdiam di Cio khauw ek, di hari ke enam belas, malamnya, aku mesti mengobati dengan tusukan jarum. Untuk itu aku minta sebuah kamar tersendiri, lengkap dengan persediaannya, dan beberapa bujang mesti menanti diluar kamar, siap sedia bagi segala titahku. Terutama aku larang orang terbitkan suara berisik, untuk tidak mengganggu pemusatan perhatianku orang mesti tunggu aku panggil atau ijinkam baharu orang boleh bicara denganku. Juga tak seorangpun boleh masuk kedalam kamar kecuali dengan perkenanku.”

Kan Hong demikian ceritanya Ban Liu Tong terlebih jauh, taati segala permintaan dan larangan itu. Cuma dua bujang membantui Liu Tong, akan memegangi kedua lengan dan kakinya sisakit, untuk bikin sisakit tak mampu bergerak, andaikata dia berontak sebab kesakitan.

Cara pengobatan istimewa itu telah, berhasil dilakukan, boleh dibilang si sakit bisa lantas mengaraki kedua kaki dan tangannya, tetapi selagi Ban Liu Tong pesan kedua bujang, bagaimana mereka harus menjaga dan merawat selanjutnya pada majikan muda itu, tiba2 terdengarlah suara berisik disebelah Barat dan suara genteng pecah terdengar nyata.

Liu Tong kerutkan alisnya. Disaat itu, ia masih belum boleh segera tinggal pergi si sakit itu. Ia sekarang mendengar dampratan dan bentakan, seperti orang saling maki dibarengi dengan suara pertempuran. Ia ingin melihat tetapi tidak bisa.

“Suara apa itu?” ia tanya kedua pembantunya. “Rupanya kejadian dekat sekali. Apa itu perampokan atau polisi sedang mengepung penjahat?”

Bujang Kan Hok hendak menjawab, atau majikan nya segera bertindak masuk kedalam kamar. Kan Hong semenjak tadi berdiri menantikan diluar jendela, ia hendak masuk, ia kuatir mengganggu si tabib, hatinya sendiri tegang bukan main, ia berlega hati kapan ia lihat anaknya bisa geeraki kaki tangannya.

“Ayah, kakiku telah bisa digeraki!” kata sang anak, yang mendahului ayahnya. “Cuma aku merasakan sangat sakit….” “Tahan saja, anak,” ayah itu menghibur. “Ban Loosu adalah penolongmu, dia pasti akan menolong terus padamu. Sabarlah.”

“Jangan kuatir, puteramu akan sembuh,” Ban Liu Tong berkata. “Biar dia tahan sakit sedikit, sebentar darahnya akan jalan dengan rapi. Suara berisik apa itu di Barat? Hampir pikiranku terganggu oleh karenanya, itulah pasti pertempuran hebat. Apa tak ada orang yang mencampur tahu?”

Kan Hong menggelengkan kepala, ia batuk batuk. “Harap jangan   tanyakan   itu, loosu,” ia   menjawab.

“Itulah lelakon balas membalas dikalangan kang ouw,

sangat kejam dan hebat, bulu roma bisa berdiri oleh karenanya…”

Selagi Ban Liu Tong hendak bertanya pula, ia lihat cahaya api dari jendela, hingga ia jadi kaget sekali.

“Itulah api!” kata ia. “Kebakaran!”

Kan Hong pun kaget, hingga ia banting kaki.

“Celaka!” ia berseru. “Inilah yang aku kualirkan dan sekarang benar2 kejadian! Rumahnya Liap Piauwsu kebakaran…”

Tapi tiba2 ia berhenti, karena segera ia ingat anaknya. yang tak boleh kaget. Lekas2 ia tambahkan “Tapi tidak apa dengan rumah kita, api itu terpisahnya sebuah gang, api tak akan merembet kemari….” Kemudian ia teruskan pada si tabib “Loosu, berapa lama lagi kau baharu boleh keluar? Nanti aku temani kau me lihat2 kesebelah….”

Walaupun ia bicara dengan sabar, Kan Hong sebenarnya bingung. “Sekarang sudah boleh,” Liu Tong jawab. “Mari kita lihat.”

Ia pesan pula Kan Hok berdua, lantas ia ajak tuan rumah pergi kepekarangan dari mana tertampak api sudah berkobar besar, asapnya mengepul naik, suara senjata beradu masih terdengar ber ulang2.

“Kalau api tidak segera padam, rumahku bisa kerembet,” kata Kan Hong. “Nampaknya nama besar dari Liap Piauwsu akan runtuh….”

“Jangan kuatir, tuan,” kata Liu Tong, sesudah ia perhatikan api. “Angin meniup dari arah Barat daya, tidak mudah api menyamber kemari. Kau sebut Liap Piauwsu, apakah dia Seng chiu Pek Wan Liap Kun, piauwsu tua kenamaan disungai Tiang Kang Selatan dan Utara, dijalan darat dan air, yang benderanya berlukiskan lutung putih?”

“Benar, Liap Kun Loopiauw su si Lutung Putih,” Kan Hong menjawab. “Apakah loosu kenal padanya?”

“Aku cuma pernah ketemu satu kali,” Liu Tong menjawab, “tetapi dengan salah seorang saudara seperguruanku, dia ada bersahabat rapat. Aku ingin ketahui duduknya hal, tak dapat dia dibiarkan dicelakai orang.”

Kan Hong terperanjat.

“Itulah berbahaya, loosu,” kata ia, dengan maksud mencegah. “Aku ada tetangganya Liap Piauwsu, mengenai halnya ini aku tahu juga. Sudah sekian lama Liap Piauwsu mengundurkan diri, ia hidup dengan damai di rumahnya, tapi katanya dahulu ia pernah bermusuhan dengan Heng San Ngo ok. Karena permusuhan itu, ia mengundurkan diri. Sebenarnya ia senantiasa ber jaga2, ia kuatirkan pembalasan sakit hati, tapi sekarang, selang tiga tahun, kekuatirannya itu terbukti. Inilah pasti Heng San Ngo ok yang datang. Buat apa loosu campur urusan mereka? Permusuhan dikalangan kang ouw memang tak habis2nya. Bagaimana dengan anakku? Biar rumahku terbakar habis, asalkan anakku ketolongan…”

Ketika itu api berkobar semakin besar dan luas.

“Tuan, jangan kuatirkan anakmu,” Liu Tong menghibur. “Sekarang pergi kau titahkan semua orangmu berkumpul, akan menyiapkan gala dan air guna menjaga api, jangan kau campur tahu urusan disebelah itu, aku percaya penjahatpun tidak nanti mengganggu kau. Kau sendiri baiklah kawani anakmu.”

Setelah mengucap demikian, dengan tidak membuka lagi bajunya yang panjang, tabib ini loncat keatas genteng sebelah Barat, dari situ ia melihat nyata rumahnya Liap Piauwsu, yang sedang dimakan api didua penjuru, sama sekali tidak ada orang yang menolongi, hingga ayam jago merah bisa bekerja dengan leluasa. Cuma dibagian lengah, yang masih utuh, tetapi toh sedang terancam bahaya.

Untuk menyaksikan terlebih jauh, Ban Liu Tong loncat ke tembok pekarangan. Disini, amarahnya naik. Karena ia lihat, dikiri dan kanan, orang mulai membakar pula. Dengan begitu jadi yelaslah, diempat penjuru ada orang2 jahat, antara siapa pun ada yang siap sambil menyembunyikan diri.

Dengan lompatan “It hoo ciong thian” - “Burung ho menyerbu langit,” Ban Liu Tong melompat ke sebelah Timur, menyusul mana, tiga atau empat batang panah menyamber ia, tetapi sambil tertawa ia bisa elakkan itu. Ia sampai disebagian wuwungan dimana ia segera menyaksikan pemandangan yang hebat.

Diluar pintu angin ada dua tubuh rebah, yang satu sudah jadi mayat, yang satu lagi sedang mencoba merayap bangun. Disitu darah berlumuran. Disebelah dalam, lagi satu tubuh rebah tak berkutik. Dan dipekarangan dalam, yang lebar, empat orang dengan pakaian malam tengah mengurung seorang perempuan muda, siapa nampaknya sudah lelah, permainan goloknya kendor, sudah terdesak.

“Sahabat2, dengar!” ia berseru, dengan hati tak puas. “Orang2 kang ouw yang kosen mengepung satu wanita, sungguh bukan perbuatan terhormat! Sahabat2, tunggu dulu, aku si orang she Ban yang bodoh ingin mendamaikan kamu kedua fihak. Maukah kamu mengabulkan permintaanku?”

Salah satu pengurung meloncat keluar seraya mendongak untuk melihat dan berkata “Siapa berhutang, dia mesti membayar, inilah urusan kami, orang luar tak dapat mencampurinya! Sahabat, silahkan minggir! Atau kapan kau ingin mendapat bagian, silahkan turun!” 

“Sahabat2, aku Ban Liu Tong dari Kwie in po, dari gunung Kian San!” tabib itu perkenalkan diri. “Walaupun di antara kau ada permusuhan hebat, tetapi keluarga Liap Piauw su telah banyak terbinasa, aku harap kau tidak membasmi sampai di akar2nya! Lagipun bukan perbuatan gagah akan main ke royok2an terhadap satu nona! Dengar sahabat2, berhentilah bertempur. Umpama kata kau tak sudi mengindahkan padaku, harap kau jangan menganggap aku tidak memakai aturan lagi!”

Selagi mereka berbicara, sinona telah kehabisan tenaga, goloknya satu penjahat, yang mendesak ber ulang2, sudah mampir dipundaknya, akan tetapi sukur, sambil menjerit, ia sempat juga berlompat, hingga ia terluka tak parah.

Menampak demikian, Ban Liu Tong enjot tubuhnya, akan meloncat turun. Ia jatuh didepan si nona, siapa sudah membalik tubuh, karena penyerangnya susul ia untuk diserang terlebih jauh. Maka itu, sambil putar tubuh, tabib ini sampok lengannya orang itu, berbareng mana, tangan kiri nya, dengan dua jari, menotok kearah pundak kanan. Ia menggunai tipu pukulan “Sian jin cie louw” atau “Dewa menunjukkan jalan,” dan sasarannya adalah jalan darah Coan sim hiat.

Penjahat itu mencoba mengegosi diri, tidak urung ia kena tertotok juga, berbareng merasa gatal, goloknya terlepas dari cekalan, tubuhnya sempoyongan, kearah satu kawannya, yang lantas menyanggapinya.

“Ie Seng, Ngo tee, tahan!” berseru penjahat yang pertama kapan ia saksikan kejadian itu. Lalu ia bersiap dengan sepasang tumbak Kee jiauw piauw, ia hadapi orang asing itu kepada siapa ia terus menegur “Orang she Ban, apakah kau sanak atau sahabatnya siorang she Liap? Kau malang ditengah, apakah kau tahu duduknya permusuhan kita? Orang she Ban, kau orang kang ouw, kau pasti mengerti aturan. Permusuhan kami tak dapat dihabiskan dengan cara lain kecuali ini, dari itu, baiklah kau mundur! Kecewa kalau kau tetap mau mencampurinya!”

Ban Liu Tong bersenyum ewa mendengar nasihat itu.

-o0dw0o-

XV

“Perhatikan, jangan berkisar jauh dari aku!” kata tabib dari Kwie in po pada sinona, sesudah mana, ia mengawasi penjahat itu, yang bicara dengan lidah Kang lam. Ia kata “Kau benar, sahabat, aku memang belum tahu duduknya persengketaan kau kedua pihak. Apakah kau sudi perkenalkan diri terlebih dahulu?” “Aku adalah Co tee Giam Ong Siang Cun Yang dari Heng San,” sahut penjahat itu, yang mau perkenalkan diri. “Kami terdiri dari lima saudara, aku yang bodoh menjadi yang tertua. Sahabat, kau toh punyakan pendengaran, bukan?”

“Kiranya kau Siang To cu dari Keng San Ngo gie, maafkan aku!” berkata Ban Liu Tong. “Sebagai murid Hoay Yang Pay, selama berdiam di Ceng hong po, Hoay siang, sudah lama aku mendengar nama besar dari Heng San Ngo gie, yang kenal persahabatan, hanya sejak keluar dari perguruan dan tinggal di Tiong ciu belasan tahun, aku tak pernah mendengar pula tentang kamu berlima. Siang To cu, bagaimana duduknya hal? Kau sekarang bersikap membasmi, itu bukan biasanya perbuatanmu dulu2. Sudikah kau memberikan keterangan padaku? Tentang nona ini,” ia tambahkan, seraya menunjuk nona itu, “dia bukan sanak, bukan sahabatku, malah she dan namanya pun aku tidak tahu, baharu tadi saja satu sahabatku memberitahukannya. Jangan kuatir sahabat, aku yang berani campur tahu, berani juga menanggung jawab nya. Tidak nanti nona ini kabur dan menghilang, atau aku nanti memikul tanggungan!”

Penjahat itu tertawa dingin.

“Pantas kau berani campur tahu urusannya siorang she Liap, kiranya kau Tay hiap Ban Liu Tong dari Hoay Yang Pay!” berkata ia yang menyebut orang dengan tay hiap atau pendekar. “Benar kita belum pernah ketemu satu dengan lain, tetapi aku sudah mendengar akan namamu. Aku berlima saudara biasa disebut Ngo ok, akan tetapi Ban Tay hiap sebut kami Ngo gie, kami tak berani terima itu. Benar kita dipanggil Ngo ok, akan tetapi apabila perbuatan kami tak kenal peri kemanusiaan, sudah pasti kami tak mampu tancap kaki di Kanglam, oleh karena itu, kami tidak perdulikan tentang sebutan kaum kang ouw itu terhadap kami. Mengenai piauwsu she Liap ini, aku bisa terangkan, tidak biasanya ia ambil jalan Kang lam, tetapi satu kali ia mencobanya, ia sudah melanggar kebiasaan kami. Dia lewat tanpa lebih dahulu berkunjung kepada kami, juga tanpa mengirim karcis nama. Tak berduli orang kenamaan bagaimana besar nya, caranya itu tak dapat kami terima. Ban Tay hiap, kita kaum kang ouw tak boleh jatuh merek, biarpun orang berkepala tiga dan bertangan enam, kita tak jerih padanya. Maka jikalau kami takut melanggar iring2an piauwnya, sudah pasti dari siang2 kami sudah mesti mengundurkan diri. Demikian kami sudah turun tangan. Ketika itu, si orang she Liap sendiri tidak mengantar piauw, ia hanya tugaskan kepada tiga orangnya. Pada kedua pihak ada orang2 yang terluka. Sebab bukan siorang she Liap sendiri yang mengantar piauw, kami sudah pikir untuk memberikan muka, asalkan dia datang sendiri memintanya, kami suka kembalikan piauw rampasan itu, untuk lindungi namanya kejadiannya justeru diluar dugaan kami. Dihari ketiga, orang she Liap itu datang ke Heng San, bukan meminta pulang piauw secara aturan, sebaliknya dia hendak pengaruhi kami. Dia bilang dia tidak mengantar piauw sendiri itu hari, kebetulan dia sakit, sebba piauw mesti sampai pada hari yang dijanjikan, dia membiarkan tiga wakilnya berangkat terus, ia sendiri singgah ditengah jalan, tetapi dia sudah merencanakan, dia nanti menyusul akan berkunjung ke Heng San untuk meminjam jalanan. Dia persalahkan kami turun tangan melulu untuk rubuhkan dia. Dia nyatakan, apabila kami ingin perbaiki kesalahan kami, kami berlima mesti mengantar sendiri piauw itu ke tempat tujuan, supaya nama baik nya dipulihkan, agar selanjutnya kedua pihak menjadi sahabat2, tetapi dia mengancam, kalau tidak, peraduan kepandaian saja lah yang mesti memberi putusan. Coba pikir Ban Tay hiap, mana kami bisa terima baik syarat itu? Nama kami di Heng San bukan namanya boca cilik, yang boleh tidak usah diperdulikan. Begitulah kami berbentrok. Orang she Liap itu benar liehay, aku punya Jie tee Cin Thong dan Sha tee Touw Liong binasa dibawah senjata rahasianya, piauw beruntun. Adikku ke empat, Siauw Cee Coan, rubuh dengan bercacat. Karena kami kalah, kami tak membutuhkan lagi sarang kami, kami melepas api dan mengangkat kaki. Bersama adik yang kelima, Hwee kap cu Kim Kay Tay, serta lain2 saudara, dengan membawa adikku ke empat yang kakinya bercacat, kami lari bersembunyi di rumah sahabat dikaki gunung. Disana adikku sekalian berobat. Kami telah bersumpah untuk membalas sakit hati. Kemudian kami mendengar kabar, karena piauwnya musnah terbakar, orang she Liap itu mesti mengganti delapan ribu tail lebih, hingga ia rudin dan perusahaannya ditutup, ia menyingkir ke Utara. Tetapi kami berhasil mencari dia, maka malam ini kami datang untuk melaksanakan pembalasan. Didepan rohnya saudara2ku aku sudah sumpah, sebelum keluarga Liap terbasmi habis, kami tidak mau sudah, dari itu, Ban Tay hiap niscaya bisa menganggap kami bukan nya terlalu kejam!”

Ban Liu Tong manggut untuk keterangan itu. Ia mengerti yang orang pun tidak sudi disebut “Ngo gie,”-lima orang gagah yang berbudi, sebab julukan mereka “Ngo ok” berarti “Lima orang jahat,” dan julukan ini, mereka terima dengan baik.

“Siang To cu, tindakanmu menuntut balas ini adalah tindakannya orang kang ouw sejati,” kata ia, “tetapi sekarang keluarga Liap telah terbinasa dan musna, itu artinya maksudmu sudah tercapai, sudah cukup pokok dan bunganya, dari Itu, buat apa to cu masih maui jiwanya nona lemah ini? Aku anggap kau keterlaluan. Aku minta, sukalah kiranya kau mengampuni nona ini, dengan begitu, aku jadi terima budimu…”

Siang Cun Yang belum menjawab, atau saudaranya yang kelima, Hwee kap cu Kim Kay Tay si Burung Dara Api, sudah maju kedepannya, akan membentak tabib itu “Siapa membunuh, dia mesti membayar dengan jiwa! Siapa berhutang uang, dia mesti melunaskannya! Maka itu, orang she Ban, kenapa kau usilan! Aku nasihatkan padamu, lekas kau ambil jalanmu sendiri, jikalau kau tidak sudi meladeni, janganlah kau sesalkan aku bahwa aku tidak kenal sahabat!” Kemudian, tanpa tunggu jawaban, adik ini berkata pada saudaranya yang tuaan “Toako, api telah di lepas sempurna, kita jangan ayal2an pula disini!”

Ban Liu Tong memandang orang yang berbicara secara jumawa itu yang tubuhnya kate dan kecil, mukanya kuning, hidungnya bengkok bagaikan paruh burung elang, matanya bagaikan mata alap2 romannya sangat licik, pakaian malamnya biru, tangan kirinya menyekal golok berujung lancip. Yang paling menarik perhatian adalah bebokongnya dimana ada tergendol sebuah bumbung hitam sebesar mangkok dan panjangnya dua kaki lebih. Tapi Liu Tong kenali, itu adalah “Ouw yan Pun hwee tong” atau bumbung api, semacam senjata rahasia yang liehay. Jika orang mengegosi tubuh dan tangan dipakai menarik tali pesawatnya bumbugan itu akan menyemprotkan api dan asap sejauh dua tumbak lebih, hingga sulit akan orang menyelamatkan diri, karena pakaiannya pasti akan kesamber dan terbakar, hingga tubuhnya bisa ke tambus. Maka itu, pastilah dia ini yang sudah membakar rumahnya Liap Kun itu. Meskipun orang memiliki senjata yang liehay itu, tetapi Liu Tong toh tidak jerih. “Kim To cu, jangan kau terlalu galak!” kata tabib ini sambil tertawa dingin. “Baik kau ketahui, selama hidup, aku Ban Liu Tong paling gemar mencampuri urusan se wenang2, karena urusan dikolong langit wajiblah manusia yang mengurusnya! Kini To cu, oleh karena aku sudah muncul disini, aku minta sukalah kau dan para saudaramu memberi sedikit muka kepadaku, setelah itu, dengan segera akan ku undurkan dirimu dari sini Liap Piauwtauw telah menyalakan api dengan apa ia membakar dirinya, ia mencari bencana sendiri, sekarang ia terima bagiannya. Dari kau berlima saudara, telah terbinasa dan terluka tiga orang, sekarang kau telah bakar rumah nya Liap Piauwsu, kau telah bunuh piauwsu itu dan sekeluarga nya, kecuali ini satu nona yang lemah, bagaimana kau tega akan binasakan juga padanya? Aku anggap, itu adalah perbuatan keterlaluan! Kim To cu, jangan menganggap, dengan membinasakan nona ini, tak nanti ada orang lagi yang menuntut balas kepadamu, itulah neliru! Dia masih mempunyai keluarga, sanak saudaranya! Kim cu, aku sudah bicara cukup, sekarang tinggal terserah kepadamu, apabila kau tetap tidak sudi melepas budi, nah, aku terpaksa hendak berlalu saja….”

Kim Kay Tay jadi sangat rusar, ia berlompat maju sambil berdongko sedikit, lalu ia menarik tali pesawat bumbung rahasia dengan tangan kirinya, atas mana, dengan satu suara “ser! ser!” api dan asap melesat keluar dari dalam bumbungnya, menyamber kepada si tabib dari Kwie in po.

Ban Liu Tong memang waspada, begitu ia melihat orang mengayakkan tubuh, ia tolak tubuhnya sinona, yang berada disamping, sambil berbuat demikian, ia sendiri dengan pesat berlompat ke samping si Burung Dara Api. Begitu kaki kanannya menginjak tanah dan kaki kirinya menyusul, ke dua tangannya dibuka dalam gerakan “Kim tiauw thian cie” atau “Garuda emas pentang sayap.” Tangan kanannya, dengan terbuka, menyerang iga kanan manusia ganas itu.

Kim Kay Tay kaget melihat serangan apinya tak berhasil, ia insaf musuh benar liehay, selagi ia bersiap untuk menyerang buat ke dua kalinya, Ban Liu Tong sudah mendesak ia, terpaksa ia berkelit dan dengan goloknya menabas tangan musuh. Ia telah menggunakan ilmu “Tauw ta kim ciong” atau “Merubuhkan lonceng emas”

Ban Liu Tong kelit tangannya hingga lolos dari tabasan, akan tetapi ia tidak menarik pulang, dengan sebat ia membaliki, hingga tak ampun lagi dua jarinya lantas menotok kena nadi musuh, dijalan darah “kiok tie hiat hingga berbareng tangannya beku, goloknya Kim Kay Tay terlepas sendiri dari cekalannya. Saking kagetnya, si Burung Darah Api berlompat untuk menyingkir.

“Kau hendak lari kemana? ” Ban Liu Tong membentak sambil lompat mengejar, tangan kirinya turut menyamber. Kim Kay Tay terlambat, atau ia kalah gesit, tangannya Ban Liu Tong mengenai punggungnya tepat pada bumbung, yang ternyata bukan terbuat dari bambu, hanya dari besi, dengan begitu bumbung api itu tidak menjadi rusak, tetapi Kim Kay Tay sendiri rubuh mengusruk empat lima tindak, mukanya ‘menciurn’ tanah, hingga muka itu berlumuran darah.

Cu tee Giam Ong Siang Cun Yang, si Raja Akherat Setempat, berlompat maju, akan menolong adik angkatnya itu, disebelah ia, kawan dan orang nya hendak serbu Ban Liu Tong. Ia lihat ini, lekas ia, serukan “Kawan kawan, tahan! Aku hendak bersahabat dengan sahabat she Ban ini!” Ia insaf bahwa musuh tak dapat dilawan lagi, walaupun dia bersendirian dan bertangan kosong. Kemudian, sambil manggut pada musuh itu, ia berkata “Orang she Ban, aku Siang Cun Yang ingin berbuat kebaikan, supaya kau puas. Nah, pergilah kau bawa orang itu!

Dalam tempo tiga tahun, aku dan saudaraku ini akan kembali ke Heng San, untuk tancap kaki pula disana, dengan begitu, apa bila turunan ini hendak menuntut balas, segala waktu kami bersedia untuk menantikan! Nah, persilakanlah!”

Siok beng Sin Ie tertawa terbahak .

“Bagus!” kata ia. “Kau sudi mengalah, aku berterima kasih. Baiklah Siang To cu ketahui, setelah nona Liap ini lolos dari malapetaka, tak tentu dalam tempo tiga atau lima tahun, pasti dia akan menuntut balas untuk seluruh keluarganya ini! Ini ada janji kita, jangan kita buat menyesal! Aku telah mencampuri urusan ini, aku tahu bahwa aku telah membakar diri, tetapi sebagai laki2, aku berani bertanggung jawab, maka jikalau kau niat mencari aku di Ceng hong po, kau akan kecewa, sebab sekarang aku bertempat di Kwie in po dikaki gunung Kian San. Disana, To cu aku menantikan dengan hormat atas kedatanganmu sekalian…”

Setelah berkata begitu, Ban Liu Tong lompat kesamping si nona, pundak siapa berlumuran darah, walaupun nona itu mengkerutkan alis, tangan kirinya tetap memegang goloknya, kedua baris giginya dirapatkan keras satu dengan lain, rupanya dia menahan sakit berbareng menahan juga amarahnya.

“Nona, mari ikut aku!” kata tabib she Ban ini.

“In jin, pundakku terluka, tak dapat aku ikut kau,” nona itu menyahut, dengan suara sedih. “Aku berterima kasih kepadamu, yang sudah mencegah orang jahat membinasakan aku. Sudah cukup pertolongan in jin, maka selanjutnya, baik in jin biarkan aku..” Dengan sebutan “in jin.”-tuan penolong-nyata si nona ingat budi orang.

Ban Liu Tong menduga nona ini hendak berbuat nekat, akan terjun kedalam api yang masih ber kobar2. Pasti ia tak mengijinkan itu. Maka dengan sikap sungguh ia mengawasi nona itu, akan dengan sungguh2 juga ia berkata “Anak, kau ada turunan se mengga2nya dari keluarga Liap, jangan kau lupa akan sakit hatimu ini, yang mesti dibalas! Aku telah berusia lanjut, apakah kau likat? Mari, aku gendong kau, untuk berlalu dari lautan api ini! Untuk mati atau hidupmu, nanti kita damaikan pula!”

Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban, Ban Liu Tong samber tubuhnya si nona untuk digendong, kemudian Liu Tong berpaling pada Siang Cun Yang.

“Sahabat2, maafkan aku, tak dapat aku menemani lama!” kata ia, yang terus saja putar tubuhnya, untuk meloncat naik ke atas rumah. Di Timur, api berkobar sangat hebatnya, dari itu, ia menuju ke Timur laut, menjauhkan diri dari api. Untuk sampai ditempat selamat, ia mesti menunjukkan kegesitan dan kecelian matanya, karena beberapa kali orang2 jahat menyerang ia dengan anak panah secara menggelap, tapi sebaliknya, ia tak sudi meladeni mereka itu.

Sesampainya keluar daerah berbahaya, Ban Liu Tong tidak langsung menuju kerumah keluarga Kan, hanya dengan sengaja ia berlari jauh dengan jalan memutar. Ia mengerti, apabila ia pulang langsung dan penjahat menguntitnya, itu bisa mendatangkan ancaman bencana bagi keluarga itu. Hanya ia bikin orang kaget ketika tahu2 ia loncat turun dari atas genteng diantara orang nya keluarga itu, yang sedang bersiap2 akan mencegah menjalarnya api. “Jangan kaget, jangan berisik!” ia kata pada semua orang itu. “Mustahil kau tidak kenali aku tabib yang menolongi majikan mudamu? ”

Segera semua orang kenali tabib ini, baharu mereka hendak menanyakan atau tabib itu sudah mendahului, lari kedalam rumah, hingga ia mengejutkan berbareng menggirangkan pada Kan Hong, yang tengah meng harap2 kembalinya. Ia sebetulnya hendak minta keterangan, akan tetapi Liu Tong menegah ia dengan berkata “Jangan berisik, mari kita bicara didalam!”

Ban Liu Tong lalu masuk ke kamar, dimana ia turunkan si nona diatas sebuah kursi. Segera ia periksa lukanya sinona. Si nona sendiri tak ingat akan dirinya, matanya rapat, mulutnya terkancing, wajahnya biru pucat. Karena ia terluka dan harus lompat turun naik dan ber lari2an, tidak heran apabila ia pingsan.

“Loosu, siapa nona ini? ” akhirnya Kan Hong menanya. “Apa dia yang dapat ditolong dari tangan orang jahat? ”

“Sebentar kita bicara,” sahut Liu Tong sambil goyang kepala. “Tolong kau perintah orang lekas mengambil air panas!”

Kan Hong lantas suruh bujangnya mengambil air yang diminta. Liu Tong sendiri terus meloloskan golok dari cekalannya si nona., dan dari sakunya ia keluarkan sebotol obat, yalan pil Cit po hoan hun tan, ia ambil tiga butir obat itu.

“Kau bantui aku,” ia kata pada tuan rumah, sedang tubuhnya si nona ia benarkan supaya bisa berduduk dengan betul. “Sebagai orang tua, kita jangan pantang lagi. Anak ini harus dikasihani, dia mesti ditolong. Kau pegangi kedua tangannya, aku hendak menusuk ia,” Kan Hong menurut, tak lagi ia perdulikan “lam lie siu siu put cin” yalah larangan perempuan dan lelaki berpegangan tangan. Begitulah ia cekal kedua tangan sinona menurut ajarannya tabib itu.

Ban Liu Tong letakkan obatnya diatas meja, ia ambil dua batang jarum dari tempat obatnya, dengan itu ia tusuk bergantian jari telunjuk dan tengah dari si nona. Ia bekerja secara sehat dan gapah. Dengan siap tiga butir obat ditangannya, ia awasi muka nona itu, ketika dengan tiba si nona menjerit “Aduh!” ia membarengi menyuapi pil itu kedalam mulut orang.

“Nona, telan obat ini!” ia berkata. Lantas ia bawa cangkir air kemulutnya nona itu.

Dengan jeritannya itu, si nona telah sedar, ketika ia geraki ke dua tangannya, ia tidak bisa angkat itu apabila ia melihat, ia dapat kedua tangan nya sedang dipegangi.

“Nona, telan obat itu!” Liu Tong kata pula.

Tanpa kata apa si nona cegluk air, dengan apa ia telan tiga butir pil itu dengan sekaligus.

“Bagus, tuan,” kata Liu Tong pada tuan rumah. “Aku percaya obatku akan berhasil!”

Selagi tabib ini berkata, si nona menggeraki tubuhnya, ia enak, kemudian ia memuntahkan lendir, sesudah mana, kembali ia mengeluh “Aduh!” Ketika ia mengangkat kepala dan membuka mata nya. Tiba2 ia menangis.

“Jangan bersusah hati nona.” San Liu Tong menghibur. “Apa benar kau tinggal seorang diri? Kau harus ingat sakit hatimu, inilah tanggung jawabmu yang berat. Jangan bersikap sebagai nona yang lemah Keraskanlah hatimu!”

Nona itu seka air matanya lalu ia berbangkit. “Terima kasih,” kata ia setelah ia memberi hormat pada penolongnya dan tuan rumah, she dan nama siapa ia terus tanyakan.

“Jangan pakai adat peradatan, nona,” sahut Ban Liu Tong, yang perkenalkan dirinya. “Aku datang kemari untuk mengobati puteranya Kan Loosianseng ini, kebetulan aku melihat kau terancam bahaya, aku lantas menolongi. Semua penjahat itu adalah orang Rimba Hijau dari Kang lam, maka itu, tak dapat kau berdiam lama disini, kau mesti menyingkir kerumah sanak atau sahabatmu, agar dikemudian hari bisa berdaya untuk menuntut balas.”

Nona itu menangis.

“Aku tidak tahu kemana aku mesti menyingkir,” kata ia. “Ayah dan ibuku, encie dan adikku lelaki, juga tiga murid ayah, telah terbinasa di tangan musuh. Satu paman angkatku telah terluka hebat, ia rupanya bisa juga meloloskan diri, tapi entah sesampainya dia diluar, mungkin ia mati karena lukanya itu. Kami bukan penduduk asal tempat ini, di Cio khaw ek ini kami tinggal menumpang. Kampung halaman kami ada di Chongciu, Titlee. Kami semua sudah dua puluh tahun lebih belum pernah pulang ke kampung asal kami, dari itu sukar untuk aku ketahui sanak disana masih ada atau tidak. Maka itu, loope, aku sangat berterima kasih karena pertolonganmu ini. Ayah dan ibu semua, yang sudah menutup mata, pasti akan bersyukur juga pada loope. Aku bisa mencuri hidup untuk menuntut balas, tetapi dengan kepandaianku ini, apa aku bisa bikin? Hal pembalasan ini baik di bicarakan belakangan saja, sekarang aku hendak mohon loope tolong urus tulang2 ayah ku semua, sesudah penguburan, aku ingin mencari sebuah kuil, dimana aku bisa cukuri rambutku untuk menjadi nikow. Asal Thian menaruh belas kasihan padaku, mesti ada satu hari dimana akan mampu menuntut balas!”

Setelah berkata begitu, nona Liap ini menangis tersedu. Dua2 tuan rumah dan tetamu nya jadi sangat terharu. “Nona, kau jangan terlalu bersedih,” kata  Kan Hong.

“Mendengar katamu, kau jadinya batang kara dan tak

punya tempat untuk berlindung, oleh sebab itu, apabila kau tidak buat celaan, aku si orang tani baik kau tinggal disini saja, meski aku tidak berharta besar, namun untuk penambahan satu mulut, bagiku tidak ada artinya. Sudikah kau tinggal disini? ”

Nona Ce In hendak jawab tuan rumah itu, tetapi Ban Liu Tong mendului ia.

“Kau baik hati, tuan, tetapi kau tidak dapat menolong nona ini menurut kehendakmu itu,” kata ia “Kau tidak tahu siapa musuh2 nya keluarga Liap! Mereka itu adalah Heng San Ngo ok. Benar sekarang mereka dari lima tinggal berdua, akan tetapi mereka punya banyak kawan sesama kaum kang ouw, yang ke banyakkan adalah penjahat besar. Mereka itupun telah bertekad akan membabat rumput sambil menyabut akarnya, apamau mereka telah ketemu aku, maka bisalah dimengerti, yang mereka tidak puas. Jikalau si nona tinggal disini, tidak saja dia tak dapat dilindungi, bahkan kau sendiri akan turut juga ke rembet2!”

Kan Hong ternganga.

“Ban Loope benar,” kata Cie In seraya kerutkan dahi. “Aku sebatang kara, terbinasapun tidak apa, tapi aku tidak ingin loope sampai celaka karena aku. Baiklah aku bertindak seperti apa yang telah kupikir.”

“Sabar nona,” Liu Tong berkata “Tidak biasanya aku bekerja ada kepala tanpa ekor! Mustahil aku bisa membiarkan kau terjatuh pula kedalam tangannya orang2 jahat itu? Kalau itu sampai terjadi, kecewa aku hidup didunya ini! Sekarang mari kuobati dahulu lukamu, baharu nanti kita bermupakatan pula.”

Kan Hong mupakat, si nona pun manggut, maka Liu Tong segera mengambil obat bubuk untuk obati lukanya si nona, sesudah mana, luka itupun dibalutlah dengan rapi.

“Kau lihat, nona, aku bukan seorang muda lagi, dari itu, kau harus percaya aku,” kata si tabib kemudian. “Kau masih terancam bahaya, kau perlu lekas menyingkir dari sini, malah perihal tulangnya ayah dan ibumu semua, baik kau minta pertolongan Kan Loope ini. Mari kau turut aku pergi ke Kwie in po. Aku tidak punya anak lelaki atau perempuan, apabila kau setuju, aku suka ambil kau sebagai anakku. Umpama kawanan penjahat tidak puas, aku nanti lindungi kau, aku hendak lihat, apa mereka bisa bikin!”

Cie In ada seorang cerdik, segera ia berlutut didepan tabib itu.

“Aku telah ditolong dari mulut harimau, sekarang aku hendak dipungut sebagai anak, oh, aku tidak mampu membalas budimu ini. Mudah2an dilain penitisan aku dapat melakukan itu!” kata ia seraya menjurah terus.

“Bagus, anak!” kata Ban Liu Tong dengan gembira. “Aku nanti lakukan segala apa, untuk meladeni orang2 jahat guna melindungi dikau! Sekarang bangunlah, kita perlu bicara terlebih jauh.”

Cie In bcrbangkit, ia berdiri dipinggiran.

“Cie In, kau puterinya satu piauwsu, aku juga dari kalangan persilatan, karena itu, tak seharusnya kita memakai terlalu banyak adat peradatan,” kata Liu Tong. “Nah, kau duduklah.” Nona itu menurut, ia memberi hormat dan lantas duduk.

“Sekarang coba kau tuturkan tentang permusuhan ayahmu dengan Heng San Ngo ok,” kemudian si tabib meminta.

Cie in tuturkan duduknya hal, menurut seperti keterangannya Siang Cun Yang.

“Kalau demikian, bisa dimengerti yang ayahmu tak puas,” kata Liu Tong. “Sekarang aku sudah menolong kau, Siang Cun Yang pasti mendendam sakit hati, malah tentulah, sebelum kau sempat mencari padanya, dia akan mendahului mencari aku dan kau. Kau jangan takut, aku nanti lindungi padamu. Ancaman musuh itu yang membuat aku tidak setuju kau berdiam sama Kan Loope disini. Tidak apa apabila Kan Loope cuma urus tulang2 nya ayah ibumu sekalian. Dengan turut aku ke Kwie in po, kau akan terjaga baik. Disana, semua orangku tidak punya anggauta keluarga. Tapi kau tidak bisa tinggal selamanya denganku, aku akan kirim kau pada Cu In Am cu dikuil Pek Tiok Am dibukit Chong Liong Nia di See Gak, dipuncak Siang thian tee. Aku nanti dayakan supaya kau diterima sebagai murid. Cu In Am cu ada ketua dari See Gak Pay, dia liehay asal kau belajar rajin, kau pasti akan berhasil menuntut balas. Selama kau belajar silat, andai kata penjahat tahu alamatmu, tidak nanti dia berani datangi Pek Tiok Am untuk main gila. Tidakkah ini sempurna? ”

Cie In bisa berpikir, ia setujui saran itu. Ia baharu belajar enam atau tujuh tahun dari ayahnya, apabila ia bisa mengikuti Cu In, ia tentu akan peroleh kemajuan. Demikian ia berikan persetujuannya.

“Baik, anak,” kata Ban Liu Tong, yang terus meminta Kan Hong pesan agar semua orang suka simpan rahasia, kalau hal bocor, keluarga Kan akan terancam bahaya. Setelah itu, Liu Tong pergi melihat puteranya tuan rumah.

“Bagus, jangan kuatir,” kata ia. “Lagi tiga hari dia akan bisa jalan. Selanjutnya, ia cuma mesti rawat diri.”

Siok beng Sin Ie lalu memberikan obat pula, untuk dimakan dihari2 berikutnya.

Paling akhir, Liu Tong melongok ke Barat dimana api sudah mulai kurangan berkobarnya, sedang di Timur, sang fajar mulai menyingsing.

“Tolong berikan si nona satu kamar dimana ia bisa beristirahat,” Liu Tong minta pada tuan rumah. “Besok sore aku nanti mengajak dia perg!”

Kan Hong menurut, ia sediakan kamar untuk Nona Liap itu.

Baharu keesoknya pagi banyak orang berani datang dekat rumahnya Liap Piauwsu, akan melihat bekas kebakaran dan padamkan sisa api, dan Kan Hong segera menghadap pada pembesar negeri, buat nyatakan ia suka urus semua kurban. Pembesar negeri cuma bikin pemeriksaan dan dengar beberapa tetangga, lantas perkara ditinggal diam. Pendakwa pun tidak ada. Pengakuan tetangga bahwa itu adalah perbuatan musuh mencari balas.

Kan Hong suka berbuat amal dengan alasan ia berkaul, karena anaknya sembuh dari sakitnya yang lama dan hebat.

Setelah sang sore datang, Siok beng Sin Ie, si Tabib Penyambung Jiwa, pamitan dari keluarga Kan, dengan ajak Cie In ia pulang ke Kwie in po.

Adalah dugaan dari Ban Liu Tong, musuh bakal datang mencari balas, apa yang ia tidak sangka adalah musuh datangnya secara luar biasa cepat, adalah baharu dimalam ketiga sejak ia pulang!

-o0dw0o-

XVI

Musuh yang datang terdiri dari tiga orang kepalanya adalah Siang Cun Yang. Dua yang lain ada Moa tauw kwie Sie Cin Kepala Hantu, dan Tok pa Sam Siang Khouw Goat Beng, jago Tunggal, bajak dari Lam ciong. Mereka semua pandai lompat tinggi dan lari keras, tetapi setelah memasuki Kwie in po, mereka kelabakan. Kalau wuwungan rumah ditanami rumput dan pohon bunga, dibawah ada lubang2 jebakan dan pesawat2 rahasia, panah dan gaetan. Beruntung Khouw Goat Beng itu seorang ulung, pengalamannya menyebabkan ia mengerti sedikit tentang Pat kwa, ketika mereka memasuki pintu ‘Mati’ ia yang mencoba mengajak keluar dua kawannya itu. Setelah dua putaran, dia dapat mencari pintu ‘Hidup’ tetapi Sie Cin ketinggalan, dengan terpaksa, ia ajak Cun Yang menyingkir.

Tanpa pertempuran. Ban Liu Tong dapat bekuk Sie Cin, kapan ia ketahui musuh liehay, ia perintah coba mengejar, tetapi Goat Beng dan Cun Yang dapat lolos juga setelah beberapa kali mereka diserang orang tersembunyi, hingga mereka kabur terus dengan terpaksa tinggalkan kawan.

Ban Liu Tong tidak kompes Sie Cin, dia ini cuma dihina, lalu dilepaskan.

Hatinya Cie In tenteram ketika ia dapat tahu musuh tak dapat serbu Kwie in po, ia bersyukur kepada ayah angkatnya itu. Kemudian, setelah lukanya sembuh, ia belajar silat dibawah pimpinan ayah pungut itu. Ini terjadi terutama karena keinginan dari Liu Tong, agar nanti Cu In Am cu tidak terlalu memandang enteng.

Selang sebulan lebih. Ban Liu Tong pergi ke Cio khauw ek pada Kan Hong, dari siapa ia peroleh keterangan, jenazah Liap Piauwsu semua sudah dirawat dan dikubur dengan baik, hingga hatinya menjadi lega, sepulangnya ia lantas memberi keterangan pada Cie In agar hatinya si anak tenteram. Selang beberapa hari, ia antar anak pungut itu ke Pek Tiok Am.

Apabila Cu In sudah ketahui jelas siapa si nona, ia nyatakan suka terima ketitipan si nona, yang ia ambil sebagai muridnya, hanya ia mencegah keinginannya Cie In akan mencukuri rambut untuk jadi pendeta perempuan.

“Biarlah kau tetap jadi muridku orang biasa,” kata ia, yang terus berikan ia nama Siu Yan.

Cie In mempunyai bakat baik, ia belajar dengan rajin, hingga ia disayang gurunya dan diberikan pimpinan sungguh2.

Cu In sering memberi nasihat pada muridnya ini tentang karma, Cie In insaf itu, akan tetapi ia tak dapat cegah kalau diam2 ia suka menangis sendirian, kapan ia teringat malapetaka keluarganya, sedang budinya Ban Liu Tong, si ayah angkat, ia tidak bisa melupai, hingga sering terjadi setiap tiga atau lima bulan, ia mohon perkenan pergi kunjungi ayah angkat itu di Kwie in po.

Kapan Ban Liu Tong ketahui sifat anak pungut itu, untuk cegah Cie In datang pula padanya, dia melarang anak itu datang lagi, sebaliknya dia sendiri yang setiap tiga atau lima bulan datang berkunjung ke Pek Tiok Am. Dengan ini ia ingin cegah anak itu pecah perhatiannya dan menjadi abaikan ilmu silatnya, sedang ia berkehendak agar anak ini lekas pandai. Dengan Cie In liehay, tidak saja ia tak dapat dibokong musuhnya, bahkan sembarang waktu ia bisa menuntut balas.

Kalau tadinya Ban Liu Tong bebas sepenuh penuhnya, setelah mempunyai anak angkat, pikirannya sering tertarik kepada anak itu.

“Demikianlah halnya Siu Yan,” begitu ia akhirkan ceriteranya kepada suhengnya mengenai Siu Yan menjadi anak angkatnya. “Aku memang tidak bisa lepaskan dia, tetapi untuk menuntut balasnya ia mesti mengandal pada dirinya sendiri. Aku percaya, am cu juga tidak akan biarkan ia bertindak sendiri sebelumnya ia sempurnakan ilmu silatnya.”

Eng Jiauw Ong kagum, tetapi karena itu waktu mereka sudah dahar cukup, perjamuan ditutup, mereka kembali keruang tetamu dimana mereka duduk sambil hadapi teh.

“Kau datang ke Tiong ciu bersama am cu, suheng, apakah ada urusan penting? ” Liu Tong tanya saudaranya.

“Ya,” suheng itu membenarkan.

“Urusan sering istimewa dan bencana tak dapat di duga2, begitulah aku telah bikin runtuh pamornya Hoay Yang Pay!...”

Ban Liu Tong terperanjat, ia heran. Ia mengawasi suheng itu.

Tidak tunggu sampai sutee itu mengajukan pertanyaan, Eng Jiauw Ong lantas tuturkan duduknya hal serta utarakan maksud kedatangannya bersama Cu In Am cu itu. Ia mulai dari ia niat tolong Yo Bun Hoan, sampai muridnya bikin hilang surat, hingga mereka itu ditangkap, sampai akhirnya mereka bentrok kepada Hong Bwee Pang, sebab In Hong dan Hong Bwee diculik. “Suheng, am cu, itulah terlalu,” kata Siok beng Sin Ie dengan gusar. “Hong Bwee Pang demikian menantang, tak per duli Cap jie Lian hoan ouw ada gunung golok dan rimba pedang, kita mesti datangi untuk mencobanya! Cuma kita harus waspada. Aku dengar, sejak di bangunkannya pula, rombongan itu sudah menjadi kuat sekali, sarangnya berbahaya, anggautanya banyak penjahat lihay dari hulu dan hilir Sugai Besar. Kita mesti jaga agar nama kedua kaum kita tidak sampai runtuh. Sekarang bagaimana am cu niat bertindak? ” 

“Pin nie pun sudah ambil ketetapan akan tempur rombongan itu,” sahut Cu In Am cu. “Sebenarnya, dalam usiaku yang lanjut ini, aku ingin utamakan kitab suci dan lewatkan saat2 senggang dengan murid2ku, tetapi kenyataan menentang cita2 ku itu. Adalah satu hinaan untuk See Gak Pay, yang muridku kena diculik, namun untuk sementara ini, aku belum pikir suatu apa. Barangkali suheng dapat menolong aku untuk memikirkannya.”

“Adalah kenyataan, panglima perang mesti cerdik, bukan sela manya harus gagah, dan tentera mesti terdidik, bukan mesti jumlahnya saja yang besar,” berkata Ban Liu Tong. “Bicara hal tenaga, tenaga kita sudah cukup. Pedang am cu Tin hay Hok po kiam dan senjata rahasia See bun Cit poo cu tidak ada tandingannya dan Ong Suheng punya Cit cap jie sie Co kut Hun kin ciang serta Eng jiauwlat sukar dapat lawannya, tetapi semua itu tak dapat digunakan secara sembrono disarang musuh di Hun cui kwan, pegunungan Gan Tong San, Ciatkang Selatan. Maka untuk sementara ini, harus kita kumpulkan semua anggauta kaum kita. Am cu ada punya beberapa cian pwee yang liehay, kenapa am cu tidak hendak undang mereka untuk minta bantuannya? ” Cu In tidak puas mendengar hal kekuatannya Hong Bwee Pang, tetapi ia hargai kejujurannya tabib ini.

“Ban Loosu benar juga,” kata ia. “Siapa jumawa, dia mesti rubuh. Apa Ban Loosu ketahui siapakah pemimpin utama dari Hong Bwee Pang dan sebenarnya ada berapa pemimpin besarnya? ”

“Buat di Kang lam, Hong Bwee Pang telah tancap pengaruh untuk banyak tahun,” Ban Liu Tong menerangkan. “Asal mulanya, gerakan mereka di Hokkian, baharu pe lahan2 meluas ke Tiang Kang, atas dan bawah. Pusat pertama berada di Tay wan, lalu diadakan pula di Eng Yu San, Kang souw. Ketuanya, Liong tauw Loo tauwcu, adalah Siauw Hio cu yang sekarang mengepalai Gwa Sam Tong, tiga rombongan luar. Dia adalah Sui siang Gin Liong Siauw Cun si Naga Perak. Dulu, rombongan di Kanglam itu telah diubrak abrik oleh Liang Kang Congtok yang pakai tenaga tergabung dari tentera darat dan air serta sebelas piauwsu dari Kanglam, hingga mereka buyar. Kemudian salah satu ketua dari Hokkian, yalah Thian Lam It souw Bu Wie Yang, si Orang Tua dari Selatan, telah datang ke Kanglam dimana ia bangunkan pula rombongannnya itu, ia hidupkan Lwee Sam Tong, tiga rombongan dalam, dengan Siauw Cun diangkat jadi hio cu dari Gwa Sam Tong. Bu Wie Yang itu, asal Rimba hijau, cabang atas kenamaan dari Selatan, tubuhnya sangat enteng dan gesit bagaikan burung walet, katanya ia bisa berloncatan diantara tihang2 layar diatas puluhan perahu, sedang senjatanya ada sebatang tumbak Kiu hap Bu sie So cu chio yang katanya dia dapatkan dari seorang berilmu tetapi ia jadikan sebagai ilmu kepandaiannya sendiri yang istimewa. Di sebelahnya gagah, ia sangat yerdik. dari itu, ia bisa mempengaruhi banyak orang. Dibawah asuhannya Bu Wie Yang ini, Hong Bwee Pang menjadi maju, sampai anggauta2nya meluas ke Utara, terutama diair, mesti ada konconya. Semua orang Rimba Hijau, yang tidak mampu berdiri sendiri, masuk partai ini. Pusatnya sendiri, Cap jie Lian hoan ouw, ada satu tempat luar biasa. Mulanya itu ada satu muara dikaki gunung Gan Tong San, setelah diduduki, Bu Wie Yang perbaiki itu, hingga sekarang merupakan sarang yang terahasia dan berbahaya. Hal ini aku ketahui dari satu sahabat piauwsu dari Ciatkang Selatan, yang sekarang ini sudah mengundurkan diri, dendengarnyapun secara kebetulan. Maka itu, amcu, perlu kita mengundang beberapa sahabat untuk bantu kita.

“Oh mie to hud! Siancay, siancay!” Cu In memuji. “Jadinya Thian Lam it souw Bu Wie Yang yang menjadi kepala, pantaslah Hong Bwee Pang sangat kurang ajar! Ban Loosu, kita tak harus terlalu berkuatir. Namanya tua bangka itu sudah lama pin nie dengar, tumbaknya memang liehay, dengan itu ia menjagoi di Selatan. Sebenarnnya dia tidak punya hubungan dengan daerah kita, aku tidak sangka dia sekarang pimpin Hong Bwee Pang. Ban Loosu benar juga, kita tidak boleh terlalu berbesar hati, dari itu aku pikir, baiklah kita undang Keng Tim Su thay dari kuil Ceng Lian Am di Kong Seng San serta To Cie Taysu dari gereja Tiat Hud Sie di Hong tek kwan diperbatasan Hoolam dan Shoasay. Umpama kedua su heng itu tidak sanggup datang sendiri, biar mereka utus beberapa muridnya. Untuk ini melainkan aku ingin minta Ban Loosu kirim orang untuk menyampaikan surat kita.”

“Itulah perkara gampang, am cu boleh serahkan padaku,” sahut Ban Liu Tong yang nyatakan setuju.

Ketika itu kere disingkap, lalu muncul tiga anak muda. yang pertama umur kurang lebih dua puluh tahun, tubuhnya langsing, parasnya cakap dan keren, gerakannya gesit, yang ke dua kurus, kecil dan kate, umurnya kira dua puluh juga, dan yang ke tiga, yang jalan paling belakang, tubuhnya kate dampak, mukanya hitam, alisnya gomplok dan matanya besar, pundaknya lebar, pinggangnya kekar, dadanya berotot, benar ia gemuk tetapi dagingnya pasak, air mukanya nampak mesem saja, Yang jangkung terus mengasi hormat pada tuan rumah seraya berkata “Suhu, kita sudah bereskan urusan di Louw kee kauw, Su gan kauw Gu Cit sudah angkat kaki, ia telah berjanji tak akan kembali ke Louw kee kauw. Kami tidak bersikap keterlaluan padanya, melainkan sebelah kupingnya dipapas setengah, untuk tanda mata bagi penduduk Louw kee kauw. Penduduk telah berjanji, asal dia datang pula, mereka akan memberi kabar pada kita.”

Ban Liu Tong manggut.

“Baik,” kata ia. “Sekarang uiyak dua saudaramu mengasi hormat kepada supemu ini dan su thay!”

Eng Jiauw Ong kenali murid pada suteenya, Ciok Bin Ciam, dan murid kedua, Kee Pin, tetapi ia tidak kenal pemuda muka hitmu itu, yang ia belum pernah lihat.

Dengan dikepalai oleh Bin Ciam, tiga murid itu maju untuk jalankan kehormatan seraya si murid kepala kata “Supe, sudah berapa tahun supe tak pernah datang kemari. Supe tentu kenal Kee Sutee itu, tetapi tidak demikian sutee Coh Heng ini, yang belajar belum cukup tiga tahun.” Kemudian ia teruskan pada sutee gemuk itu “Sutee, inilah untuk pertama kali kau bertemu dengan supe, hayo kau berlutut!”

Dengan matanya yang besar dan bundar, Coh Heng mengawasi Eng Jiauw Ong, kemudian ia berpaling pada gurunya sambil berkata “Suhu, apa benar aku mesti berlutut? Aku kuatir su heng permainkan aku…”

Ban Liu Tong tertawa. “Mustahil supemu ini supe yang palsu? ” menyahut guru ini.

“Lekas beri hormatmu, nanti su pemu gusar…”

Mendengar mana Coh Heng segera jatuhkan diri, ketika ia manggut2, kepalanya sampai bentur batu dengan keras hinggaia rabah dengan tangannya terus ia bangun pula.

Menampak demikian, semua orang tertawa.

Coh Heng sendiri nampak jengah, tetapi suhenguya berkata, “mengapa kau tidak jalankan adat peradatan kepada su thay…”

“Sudah, tak usah!” Cu In Am cu mencegah.

Bin Ciam dan Kee Pin memberi hormat kepada nikow tua itu, mereka memberi hormat juga kepada muridnya Eng Jiauw Ong dan murid2 nya pendeta perempuan itu.

“Suheng, am cu, harap tidak pandang dia sebagai murid biasa saja,” kata Ban Liu Tong kemudian sambil menunjuk si sembrono itu. “Dia adalah murid yang disayang dari Hui Sian Siansu dari Siauw Lim Sie. Siansu telah mendapat tugas dikirim ke Hokkian, akan kepalai ruangan Lo Han Tong dari Siauw Lim Sie disana, karena itu, ia tidak bisa bawa muridnya ini, maka ia antar kemari dititipkan padaku, hingga dia menjadi murid angkatku. Dia tidak mencukur rambutnya, sedang aturan Siauw Lim Sie ada keras, dengan diantap tinggal di Siauw Lim Sie, dia menjadi tidak ada yang mengurus. Maka itu, aku mesti merawat dia. Ia sembrono tetapi ia jujur dan tenaga nya besar sekali. Siansu ingin berikan ia pelajaran, tetapi badannya terlalu berat, terpaksa ia diberikan saja pelajaran melatih tubuh Ie Kin Keng dan Pat Toan Kim. Ia tak bisa melompat tinggi dan jauh. Aku sendiri melanjutkan berikan ia pelajaran kekuatan saja.” Cu In awasi anak muda itu, lalu sambil tertawa ia kata pada Ban Liu Tong “Ban Loosu, kau mesti didik anak ini baik2. Jangan menganggap dia kurang kecerdikan, dia sebenarnya berbakat baik dan rejekinya besar, dalam hal mana, lain2 muridmu tak dapat menyamainya.”

“Memang juga, siapa jujur dan tolol, ia besar rejekinya,” kata Eng Jiauw Ong, yang terus menanya Liu Tong, dimana berdiamnya berbagai murid dari Hoay Yang Pay, ia minta daftarnya dan supaya sutee itu lekas kirimkan surat pada mereka, agar mereka segera berkumpul di Ceng hong po.

Ban Liu Tong mengambil kertas, akan mencatat namaanya, ketika ia serahkan itu pada Eng Jiauw Ong, alamat ada sebelas. Suheng ini lalu tambahkan empat nama lagi. Dari semua alamat itu, kecuali tiga orang, yang lainnya adalah murid2 dari angkatan kedua dan ketiga.

“Sutee,” sang suheng kata kemudian, “Yan tiauw Siang Hiap serta Thiat So Toojin, ketiga suheng itu, ada bagaikan burung2 hoo liar, dan usianyapun sudah lanjut, aku rasa mereka tidak nanti suka munculkan diri lagi. Tidakkah kaupun menganggap demikian? ”

“Memang aku percaya mereka belum tentu suka muncul pula,” sahut Ban Liu Tong, “akan tetapi urusan ada begini besar, mereka harus diberitahukan juga, karena merekapun berusia lebih tinggi, kalau tidak, kita nanti bisa dipersalahkan dan ditegur. Tak usah kita mengharap mereka membantu kita, cukup asal mereka ketahui saja.”

Eng Jiauw Ong anggap itu benar.

“Baiklah, pergi sutee tulis suratnya,” ia kata.

Ban Liu Tong sendiri menulis untuk ketiga suheng itu, buat yang lainnya ia perintah Bin Ciam dan saudara2nya saja. Semua surat itu dibubuhi tanda tangannya Eng Jiauw Ong, sebagai ciang bun jin, ahliwaris Hoay Yang Pay, yang memegang pimpinan. Cap pun terbuat dari emas dan merupakan seekor garuda yang pentang sayap. Siapa menerima surat itu, tak perduli mereka berada ditempat bagaimana jauh, mereka mesti datang, atau mereka akan melanggar aturan dan akan dipersalahkan sudah tidak hormati ketuanya.

Demikian lima belas pucuk surat telah disiapkan, lalu bersama dua suratnya Cu In Am cu untuk Keng Tim Su thay di Ceng Lian Am dan To Cie Taysu di Tiat Hud Sie, semua itu dikumpul oleh Ban Liu Tong, siapa sebaliknya segera kirim dua muridnya, yalan Ciok Bin Ciam dan Kee Pin, untuk disampaikan kepada alamatnya masing2. Mereka ini mesti berangkat dengan menunggang kuda, dan Bin Ciam diwajibkan membawa dua belas diantaranya. Paling dulu surat di antar ke Hoolam, dari sana akan diminta pertolongan lain2 saudara. Kee Pin terutama untuk mengirim surat2nya Cu In An cu. Untuk Yan tiauw Siang Hiap, sepasang jago dari Yan Tiauw, dan Tiat Toojin, surat mesti disampaikan sendiri oleh Ciok Bin Ciam. Setelah selesaikan tugasnya, kedua murid itu mesti menuju langsung ke Ceng hong po.

Demikian dua murid itu, yang berangkat dengan lantas.

Seberangkatnya dua murid itu, Ban Liu Tong hendak perintah menyiapkan kamar untuk sekalian tamu, agar besok fajar mereka ini bisa berangkat juga, justeru itu, kere disingkap dan seorang umur kurang lebih tiga puluh tahun bertindak masuk. Dia ini dandan dengan ringkas, dibelakangnya masih tergendol satu buntalan kuning, dan muka nya masih kotor dengan debu.

Eng Jiauw Ong dan Cu In lantas kenali orang ini, ialah Thio Hie, murid ketiga dari Ban Liu Tong. Dia berumur lebih tua satu dua tahun daripada Ciok Bin Ciam, tetapi dia menjadi sutee, itulah disebabkan dia datang belajar belakangan, sesudah dia belajar pada lain guru. Dikalangan persilatan, runtunan murid ada menurut siapa datang terlebih dahulu. Ber sama2 Ciok Bin Ciam, Thio Hie ini adalah tangan kanan dari guru mereka, Namanya Ban Liu Tong sudah mengundurkan diri, namun diam2 ia suka melepas murid2nya merantau untuk berbuat kebaikan. Dan Thio Hie ini, dimatanya Eng Jiauw Ong dan Cu In, pasti baharu saja melakukan suatu tugas, hanya mengenal hal ini, mereka tutup mulut.

Thio Hie memberi hormat pada nya, lalu ia kata “Tee cu telah berhasil menemui Siang ciang Tin Kwan see Sin Loo piauwsu di Hoo kee ouw, Ceng liong tin, setelah membaca surat suhu, tanpa sangsi lagi ia berjanji akan bertindak menuruti suhu. Katanya, sedang tiga hari pasti ia akan memberi kabar balasan.”

Ban Liu Tong manggut.

“Bagus,” kata ia. “Aku percaya, Sien Loo piauwsu pasti akan membantu kita. Ia mengawasi muridnya itu, terus ia tanya “Melihat romanmu, kau agaknya ada hadapi sesuatu diluar dugaan, benarkah? ”

“Suhu,” kata sang murid, yang balas tanya, “See Gak Pay didaerah Hoolam dan Siamsay, apa benar berada dibawah pimpinan Am cu dari Pek Tiok Am di Hoa San? ”

“Apa? ” kata sang guru, dengan air muka muram. “Aku menanya kau menghadapi sesuatu apa, kenapa kau tanya halnya pimpinan Am cu? Kau berbuat tidak hormat!”

“Bukan begitu, suhu,” terangkan sang murid. “Apa yang aku alami ada aneh sekali. Apakah murid Am cu ada yang pakai nama Hong? ” “Benar,” Eng Jiauw Ong dului suteenya menjawab. “Dia bernama Hong Bwee, tetapi ini ada namanya sendiri, nama dikuil adalah Siu Beng. Apakah kau ketemu dia? ”

“Oh, kiranya murid ke lima Am cu, Siu Beng Suheng bernama Hong Bwee!” berkata Thio Hie. “Kalau begitu, pasti suheng sedang terancam bahaya. Teecu ada punya serupa barang, silahkan suhu dan Am cu periksa.”

Thio Hie rogo sakunya, akan keluarkan sepotong kertas, yang sudah lecak tak keruan, panjang dan lebarnya enam atau tujuh dim pesegi, itu bukannya kertas tulis yang biasa.

Ban Liu Tong menyambuti kertas itu, ia dapati tidak ada huruf nya, karena itu ada kertas bungkus, tetapi ia ada seorang berpengalaman, ia membawa kertas itu ke depan api, segera ia mengawasi dengan tajam. Maka sekarang ia dapatkan, kertas itu penuh dengan tusukan jarum, apabila sudah di perdatai, kelihatan petaan huruf. Ia terus pahamkan berbagai peta itu hingga akhirnya ia dapat baca, sebagai berikut “Untuk suhu di See Gak. Kawanan penculik menuju ke Kanglam, mereka ambil jalan darat dan air bergantian, penjagaannya sangat keras. Kadang2 mereka gunai obat tidur. Murid dan saudara In tak dapat meloloskan diri. Harap suhu lekas menolong. Hong Bwee.”

Setelah membaca habis, Liu Tong keluarkan seruan tertahan.

“Am cu, suheng, inilah surat rahasia dari Hong Bwee, surat yang terjatuh kedalam tangan muridku,” kata ia kepada tetamu dan suhengnya. “Coba lihat ini.”

Cu In biasanya tenang, tetapi kali ini air mukanya berubah, ber sama2 Eng Jiauw Ong ia menghampiri meja akan membaca surat rahasia itu, yang ia beber dihadapan api. “Cara bagaimana kau men dapatkannya surat ini? ” kemudian nikow tua itu tanya Thio Hie. “Apa kau dapat itu dari Hong Bwee sendiri? Apakah kau dapat melihat Suhengmu In Hong? Omong terus terang, jangan ada yang kau sembunyikan!”

Thio Hie insaf pentingnya urusan, ia tidak berani sembunyikan suatu apa. Ia lantas memberikan keterangannya.

Untuk satu urusan kepada Sien Wie Pang, piauwsu terkenal di Kwan see, yang mendapat gelaran Siang ciang Tin Kwan see, yang tinggal di Ho kee ouw, Ceng liong tin. Ban Liu Tong titahkan muridnya membawa sepucuk surat. Dulunya, piauwsu itu ada tersohor tetapi belakangan, ia telah mengundurkan diri. Ketika urusan selesai, waktu itu sudah jam dua lewat Sien Piauwsu meminta Thio Hie menginap satu malam dirumahnya, agar perjalanan pulang bisa dilakukan besok pagi, tetapi Thio Hie tidak berani abaikan tugasnya, ia pamitan dan berangkat pulang malam juga.

Malam itu sunyi, bulanpun sudah doyong ke Barat, bintang bintang banyak, tetapi Thio Hie justeru gembira dengan suasana itu, ia melakukan perjalanan dengan gunai ya heng sut. Dari Ceng liong tin, ditempat terbuka, ia menuju ke Yo kee chung, Walaupun ia lari keras, tindakannya tidak menerbitkan suara. Ketiga ia sampai dimuka tikungan dari gunung Siauw San, tiba2 ia dengar berisiknya tindakan kaki disebelah depan. Ia heran. Ia menduga, kalau bukannya rombongan piauwsu, itu mesti ada orang kang ouw juga. Ia berhenti berlari, ia sembunyi disebuah pohon, matanya mengawasi.

Sebentar saja antara suara tindakan ramai, kelihatan serombongan dari tujuh orang, yang mengiringi sebuah kereta. Dijalanan sukar seperti itu, kereta jalan pelahan sekali. Enam orang berpakaian ringkas serta membawa golok dipinggang mansing2. Orang ke tujuh, yang berkumis berewokan dan bajunya thungsha jalan paling belakang. Dua orang, yang berjalan didepan, bicara satu sama lain, tetapi suara nya rupanya tidak terdengar oleh pemimpinnya dibelakang itu.

“Hio cu terlalu berhati2, dia jadi bikin kita susah,” demikian yang satu, dengan suara menggerutu. “Dengan terus jalan diair, jalanan ada lebih ringan. Mustahil dengan adanya kita beramai, si bibit bisa lolos? Justeru dengan berjalan cara ini, aku kuatir, sebelum sampai dipusat, bisa terbit onar…”

“Jangan kau menggerutu,” kata yang ke dua. “Aku percaya, bukannya tanpa alasan yang Hio cu berlaku demikian hati2. Selama sebelum keluar dari Hoolam, tiga kali kita telah menerima pemberitaan dari pusat Barat, katanya sejak kita mulai berangkat, orang telah mulai susul kita, bahwa jumlahnya mereka tidak sedikit. Liong Tauw Pang cu sendiri, dengan surat cepat telah titahkan setiap to cu di tempat2 yang dilalui untuk bantu melindungi. Bila tidak penting, tidak nanti dikirim segala pemberitaan dan pesan itu. Biar bagaimana, dua bibit ini tak dapat dibikin lolos. Asal kita sudah lewati gunung Siauw San ini, Hong To cu akan menyambut kita dengan perahunya…..”

Karena orang lewat didekatnya, Thio Hie dengar pembicaraan itu, tetapi ia antap orang lewati ia. Ia hanya heran dengan kata itu. Kata ‘bibit’ membuat ia menduga pada orang culikan. Maka, untuk mencari tahu, ia lalu menguntit.

-o0dw0o-

XVII Rombongan itu menuju kesebuah dusun kecil, mereka berhenti didepan satu rumah penginapan. Thio Hie terus mengikuti, ia melihat orang ribut mulut kepada jongos, sampai si pemimpin datang sama tengah, katanya “Kami bukan mau merampas, buat apa banyak mulut? Kami dahar, kami sewa kamar, kami membayar! Jangan main gila terhadap kami!”

Lalu muncul tuan rumah, yang memberi tahu bahwa sebenarnya kamar habis, tinggal dua, disebelah depan, tentu tak cukup untuk mereka beramai.

“Kalau kamar penuh, bilang penuh!” kata si pemimpin. “Biar kami pakai dua kamar itu, seadanya saja!”

Tuan rumah perintah pentang pintu pekarangan, akan memberi kereta masuk.

Begitu pintu ditutup, Thio Hie memutar kebelakang dimana ia naik keatas genteng. Ia masih sempat melihat orang kerumuni kereta dari mana mereka keluarkan dua bungkusan panjang, yang mereka gotong masuk. Jongos nampaknya heran tetapi ia ditegur “Kau jangan heran, kami sedang jalankan tugas! Jangan banyak omong, jangan usil!”

Jongos itu berdiam, ia melayani seperti biasa, tetapi ia sudah menduga mereka ini mestinya orang jahat atau saudagar busuk.

Thio Hie melihat kamar cuma sepuluh, enam di Timur. Dua yang dipakai rombongan itu berada di Utara, dua2 kamarnya kecil dan kate, belakangnya tidak ada jendelanya. Ia merasa sulit. Diam2 ia meringkaskan pakaiannya. Ia menunggu sampai orang duduk bersantap, ia meloncat turun. Ia menghampiri jendela, ia mengintai antara lobang jendela, hingga ia bisa melihat nyata. Lima orang duduk memutari meja, si pemimpin duduk madap kedepan, dia cuma mengicipi arak, tetapi yang lainnya menenggak dengan rakus. Dipembaringan ada dua orang, yang rebah nyender separuh duduk. Mereka terbelenggu kaki tangan, terang mereka ada satu lelaki dan satu perempuan, tetapi mukanya tidak tertampak nyata, rambut mereka awut2an. Dua orang dengan golok ditangan menjaga mereka itu. Thio Hie segera dengar, satu orang berkata “Sahabat, kapan kau ingin dahar atau minum, bilang saja, kami tak dapat layani terus padamu. Kau berdua juga mesti tahu diri, supaya kau tidak sampai tersiksa!”

Salah seorang tawanan mengangkat kepalanya, ia kata dengan berani “Jikalau kau hendak bunuh Hoa Jie thayya, segera lakukan itu, tetapi jangan menghinakan kami, itu ada perbuatan satu pithu! Atau kita nanti damprat padamu!”

“Kau sudah terjatuh kedalam tangannya tuan2 besar, jangan kau banyak tingkah!” kata orang ke dua, yang lebih muda. “Ingat, mati atau hidup, kau ada ditangan kita! Apa kau ingin tahu rasa? ”

“Jangan berisik,” kata si orang yang terlebih tua yang muncul sambil singkap muilie, kemudian ia teruskan pada dua orang tawanannya “Kau ada murid2nya ahli2 silat, pasti kau mengerti bahwa siapa berhutang, dia mesti membayar, maka itu, jangan sesalkan kami, karena sebagai orang2 titahan, kami mesti berlaku begini rupa kepada kau berdua. Asal kau jangan memikir yang tidak tidak, tidak nanti kami ganggu kau berdua. Umpama kau berniat juga, tidak nanti kau mampu loloskan diri, maka janganlah mencari!” Kemudian, ia menoleh pada dua kawannya “Bawa barang makanan kemari!”

Salah satu dari dua penjaga itu, yang tubuhnya tinggi, lantas pergi keluar, akan sebentar kemudian dia kembali membawa barang makanan dan air minum, sedang kawannya diperintah kendorkan belengguannya kedua orang tawanan itu.

“Kau daharlah,” kata sipemimpin dengan manis budi “Mengapa kau tidak hendak lekas habiskan saja jiwa kami? ” tanya siorang tawanan lelaki, dengan sengit. “Apa ini bukan berarti kau akan tinggalkan bibit bencana? Satu kali kami lolos, kita tidak akan kenal kasihan2 lagi!”

Thio Hie percaya, omongan itu ada untuk bikin orang gusar, tetapi pemimpin itu tetap tenang, ia hanya kata pada dua penjaga itu “Sekarang pergi kau dahar, dan mewakili kau menjaga mereka ini. Jangan kau minum banyak2.”

“Cee To cu, baik kau dahar dahulu, biar kami yang terus jagai mereka,” kata dua orang itu.

Tetapi orang yang dipanggil Cee cu itu menggeleng gelengkan kepala.

“Kita berada ditengah jalan, aturan kita perlu tetap diperhatikan,” kata dia. “Pergi kau dahar! Sebentar kau boleh bergiliran.”

Dua orang itu tidak berkata apa2 pula, mereka berlalu.

Thio Hie telah menantikan sekian lama, ia ibuk sendirinya. Ia pun belum lihat tegas romannya dua orang tawanan itu. Ia bisa bongkar jendela, tetapi orang berjumlah besar, ia tidak mau berlaku sembrono. Tiba tiba ia dengar tindakan kaki, lantas ia bersembunyi ditempat gelap. Ia lantas lihat satu jongos datang bawa air matang, untuk kamar Timur. Ketika jongos itu keluar pula, selagi ia tundak hampiri jendela pula, mendadak ada suara diatas genteng, lalu satu bayangan berkelebat. Ia sembunyi terus, ia pasang mata. Bayangan itu, diatas kamar Barat, celingukan kebawah, lalu dia meloncat turun akan menghampiri pintu kamar si orang2 jahat, kemana dia lantas masuk. Lekas2 Thio Hie mengikuti, untuk mengintai di celah2 pintu.

Orang yang baharu datang itu berumur kurang lebih tiga puluh tahun, romannya sangat licin dan kejam, pakaiannya ya heng ie biru, di bebokongnya tergendol golok, dipinggangnya ada tergantung sebuah kantong. Dia bicara kepada orang2 jahat itu, yang rupanya tidak kenal baik padanya, karena semua siap sedia dengan senjatanya.

“Saudara2, aku datang atas titah Hong To cu,” kata ia itu.

“Dari See louw Cong to, Pusat Barat, kami terima warta bahwa Cee To cu sedang antar dua biji bibit, maka itu….”

Dia belum bicara habis, atau tiba2 si pemimpin muncul. “Oh, Cio Sutee!” kata dia.

“Sudah berapa tahun kita tak bertemu. Aku percaya kau banyak senang mengikuti Hong To cu. Silahkan duduk.”

“To cu, kita bukannya sahabat2 baharu, jangan seejie” kata orang baru itu. “Aku datang untuk menyambut. Hong To cu telah menerima kabar dari pusat bahwa musuh sudah mengumpulkan kawan untuk tempur kita, bahwa mereka sedang menyusul, maka kita diperintah menyambut. Aku adalah juruwarta. Hong To cu sudah atur dua puluh orang untuk menyambut diperbatasan.”

Thio Hie cerdik, dengan datangnya Cee To cu ini, ia tahu bahwa kamar tahanan kosong, maka lekas2 ia menuju kesana. Dari jendela ia melihat si anak muda sedang minum dan si nona sedang tunduk. Ia angkat daun jendela atas untuk melongok kedalam tetapi orang didalam dengar suara, walaupun pelahan, kedua nya angkat kepala dan mengawasi. Ia seperti mengenali pemuda itu, tetapi ia melihat kurang tegas, maka ia lekas gerak geraki tangan kanannya akan menanya, mereka itu bisa lolos atau tidak. Ia belum dapat d yawaban, atau ia dengar suaranya si penjahat “Jangan alpa, pergi tengok!”

Thio Hie niat undurkan diri atau ia tampak, si nona menimpuk kearah dia, dengan sebuah bola putih kecil, ketika ia kelit, benda itu jatuh keluar jendela. Lekas ia turunkan daun jendela, ia jemput bola itu, terus ia menyingkir, karena ia dengar tindakan kaki. Untuk periksa bola kertas itu, ia keluar dari pondokan, ia pergi ketempat sepi dimana ia nyalakan api cian lie hwee. Ia tidak lihat huruf2 kapan ia beber gulungan kertas itu, adalah setelah ia membulak balik didepan api, ia terperanjat akan melihat titik2 lobang yang merupakan surat, terutama alamatnya, untuk See Gak Pay. Segera ia membaca, sampai ia mengerti bunyinya surat rahasia itu.

“Aku tak dapat menolong mereka, tetapi baik aku coba mencari keterangan lebih jauh,” pikir ia kemudian. Karena ini, ia kembali kepondokan. Ia hampirkan tembok Timur, ia berloncat naik keatas genteng, benar waktu ia hendak berloncat turun kedalam pekarangan, ia mendengar samberan angin dari samping kiri, golok dan orang datang dengan berbareng. Dalam kaget ia berkelit, ia terus totok orang punya jalan darah sam lie hiat dari tangan kanan yang menyekal golok.

Penyerang itu berkelit, atas mana Thio Hie segera hunus pedangnya, tetapi, belum sampai pedang tercabut semua, dari belakang kembali datang serangan, dengan ruyung lemas cit ciatpian. Sambil kelit kekanan, Thio Hie teruskan mencabut pedangnya, dengan apa ia balas menikam iga kiri musuh. Ia bisa bergerak gesit sekali. Penyerang dari belakang itu menggeser kaki kiri, disusul geseran kaki kanan, dengan begitu ia bisa tangkis tusukan pedang. Tetapi Thio Hie, yang loncat kekanan, terus mengangkat kaki kirinya menjejak lutut kiri orang itu. Ia mendapat hasil, hanya jejakan nya tidak mengenai jitu, karena sambil jatuhkan diri kebawah genteng, penjahat itu mengenai tanah seraya berdiri dengan kedua kakinya, cuma sebab sebelah kakinya sakit, ia toh rubuh celentang, hingga ruyungnya mengenai tanah dan menerbitkan suara, membuat kaget orang2 didalam.

“Siapa? ” begitu menanya tiga atau empat suara.

“Ada orang jahat!” ada jawaban penjahat diatas genteng.

Thio Hie ibuk juga, karena segera ia dikurung tiga musuh. Iapun dituduh sebagai penjahat. Ia tidak mau bertempur lama, ia menggertak dengan serangan, lalu ia lompat nyeplos, lari keluar pekarangan. Ia dikejar, tetapi ia ada sangat gesit, ia dapat melenyapkan diri, sesudah mana, lekas2 dan terus ia lari pulang ke Kwie in po. Ketika ia akhir nya sampai, penjaga pintu beritahukan ia hal kedatangannya Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu serta rombongan, maka ia cepat masuk untuk menemui. Demikian ia serahkan surat rahasia dan tuturkan pengalaman nya.

Dua2 parasnya Eng Jiauw Ong dan Cu In Am cu jadi berubah.

“Penderitaannya In Hong dan Hong Bwee adalah karena salahku seorang,” nyatakan jago Hoay Siang itu. “Kawanan itu baharu melewati gunung Siauw San, jaraknya dari sini belum ada seratus lie, tak dapat mereka itu dikasi pergi lebih jauh! Biar bagaimana In Hong berdua mesti ditolong! Sutee, baik kau berangkat belakangan ber sama2 Am cu, aku hendak berangkat sekarang!” Eng Jiauw Ong segera berbangkit akan menjemput buntalan nya.

"Sabar, suheng!” Ban Liu Tong mencegah. “Kita telah mendapat tahu dimana adanya orang2 jahat itu. memang tak dapat kita berayal pula, tetapi kalau kita hendak berangkat, marilah ber sama2! Aku lihat, kita bisa menangguhkan keberangkatan sebentar lagi. Umpama suheng dapat candak mereka, diwaktu siang hari, tak bisa suheng serta turun tangan. Aku percaya, In Hong berdua tak dalam bahaya langsung. Terang sudah penjahat culik In Hong dan Hong Bwee untuk pancing atau paksa kita datangi sarang mereka. Aturan dari Hong Bwee Pang ada bengis, dimana telah ada pesan akan lindungi In Hong berdua, fidak nanti mereka diperlakukan kasar atau kejam. Atau pasti In Hong dan Hong Bwee akan bela dirinya. Maka biarlah aku mengatur dulu sebentar disini, sebentar fajar baharu kita berangkat.”

Eng Jiauw Ong bisa dibikin sabar, begitu juga Cu In Am cu.

Ban Liu Tong lantas pergi ke thia besar dimana ia menghimpunkan orang2nya, disatu pihak orang pasang api terang2, dilain pihak, kentongan hong kong in poan telah dipalu hingga suaranya mengaung beberapa lie. Siapa dengar tanda ini, biar bagaimana repot, orang mesti datang berkumpul.

Dalam tempo yang lekas, kumpullah orang penting dari Kwie in po, Ban Liu Tong lantas tuturkan kepada mereka itu adanya persengketaan dengan Hong Bwee Pang, hingga sebagai orang Hoay Yang Pay, ia mesti ikut suhengnya, dari itu ia memesan, selama kepergiannya ia minta semua orang menjaga dengan waspada, semua mesti taat pada wakilnya yaitu Thio Hie, murid nya yang kedua. Ia berjanji akan kembali dalam tempo satu atau setengah bulan. “Dengan adanya Thio Jie ya sebagai wakil, pocu boleh pergi dengan hati Yega!” demikian orang banyak memberikan janji nya.

Cukup dengan tindakannya itu. Ban Liu Tong bubarkan himpunan. Selama itu sudah jam lima. Guru ini pesan pula Thio Hie, setelah itu, ia kembali keruangan Barat. Iapun perintah lekas sediakan barang makanan dan teh, untuk mengisi perut bersama kedua tetamunya.

“Mari kita berangkat,” kata Siok beng Sin Ie kemudian, sesudah mereka dahar cukup.

Justeru itu, Coh Heng menghalang didepan gurunya, ia nyatakan ingin ikut. Ia tidak mau disuruh terdiam dirumah dibawah kendalian jie suhengnya. Ia kata ia mau turut kemana guru nya pergi. Sia2 saja Liu Tong memberi keterangan dan nasihat. Biasanya ia dengar kata tetapi kali ini, ia membandal. Selagi sang guru kewalahan, Cu In Am cu nyatakan baik murid itu diajak, benar dia tak mengerti ilmu entengi tubuh tetapi dia bertenaga besar, sedikitnya murid ini boleh diperintah bawa buntalan dan disuruh suruh.

“Siapa tahu bila ia ada guna nya? ” nyatakan si nikow tua terlebih jauh. Dengan begitu, mereka juga tak usah membuang tempo dengan membujuki si ‘tolo!’ itu.

Diakhirnya Ban Liu Tong mengajak muridnya meninggalkan Kwie in po, akan turun dari gunung Kian San. Maka itu, rombongan mereka jadi berjumlah sembilan orang. Mereka memotong jalan menuju ke Siauw San. Mereka jalan selagi cuaca fajar remang2, pada jam Sin sie, kira2 jam tujuh atau jam delapan, mereka sudah sampai di Tan kee tun, mendekati jalan besar umum. Mereka sudah lalui empat puluh lie lebih. “Jumlah kita besar juga, untuk singkirkan kecurigaan, baik kita jalan berpencar,” Eng Jiauw Ong mengusulkan pada su teenya.

“Suheng benar,” setujui Siok beng Sin Ie, “cuma kita tak dapat berpisah terlalu jauh. Kapan sebentar kita sampai diluar batas Siauw San, hari tentu masih siang, Thio Hie bilang, disana ada dua rumah penginapan, kita baik mengambil satu pondokan saja, asal datangnya saling susul.”

Cu In pun setuju, maka antas mereka berpecah dua, yalah si nikow bersama murid2 nya, dan Eng Jiauw Ong bersama Ban Liu Tong serta murid nya mereka ini. Cu In jalan lebih dahulu.

Pada jam Sien sie, tiga atau empat lohor, mereka sudah mulai melihat dusun diluar batas gunung Siauw San.

Menurut Thio Hie disebelah Timur ada penginapan Kit Seng dan di Selatan Hok Goan. Cu In dapat mencari dengan gampang hotel yang pertama itu kemana ia menuju langsung. Sebelum ia mengambil tempat, ia sengaja tanya dahulu pelayan, disitu ada kamar yang bersih atau tidak, ia minta melihat semua kamar, hingga ia dapat kenyataan, kawanan Hong Bwee Pang masih belum berangkat, keretanya pun masih ada. Diam2 ia bersyukur, tetapi juga ia kagum untuk nyali besar penjahat itu, yang tidak lekas2 berangkat walaupun tadi malam ada terjadi peristiwa.

Diam2 Cu In titahkan Siu Hui pergi papaki Eng Jiauw Ong, untuk suruh kawan itu menginap saja dihotel Hok Goan, supaya mereka itu tak usah ketemu dengan pihak penjahat, agar mereka tak sampai dapat dikenali.

Selagi pelayan datang dengan air teh, Cu In Am cu menanya pelayan itu tentang kereta diluar kepunyaan hotel atau tetamu. Ia kata ia berniat menyewa kereta untuk lanjutkan perjalanannya.

Pelayan itu berikan keterangan bahwa kereta itu adalah kepuyaan tetamu2nya dari kamar Timur.

“Mereka berjumlah enam atau tujuh orang, sebuah kereta mana cukup? ”

“Jumlah mereka memang besar,” sahut si pelayan. “Rupanya mereka ada dari pihak kepolisian, kereta itu ada untuk dua orang diantaranya…”

“Apa dua orang itu ada orang2 sakit? Berapa umur mereka? ” tanya Cu In.

Pelayan itu menggeleng kepala.

“Mereka itu datang tadi malam,” sahut ia. “Mereka sudah berdiam disini satu malam dan satu hari, tetapi sampai sekarang ini, belum pernah aku mendapat lihat dua orang itu. Kami dilarang masuk kedalam kamarnya dua orang itu….”

Pelayan ini tidak dapat berbicara lobih jauh, karena pihak sana terdengar memanggil padanya. Tetapi apa yang dia katakan sudah cukup akan menguatkan dugaannya Cu In Am cu bahwa rombongan itu adalah kawanan penjahat yang dimaksudkan.

Tidak lama, Siu Hui telah kembali, akan bawa balasan kabar dari Eng Jiauw Ong dan Kan Liu Tong dengan siapa ia bertemu sendiri. Mereka itu menjanji akan datang selewat nya jam dua dan Cu In diminta pasang mata, dikuati musuh yang licin itu nanti bisa gunai daya untuk meloloskan diri.

Cu In pun pesan murid2nya berlaku waspada pula. Sorenya, sehabis waktunya dahar, sesudah tak terlalu banyak orang keluar masuk, Siu Yan bertindak keluar kamar. Dijalanan kedapur ia melihat pelayan membawa tehkoan. Dikamar Timur ia melihat bayangan dari banyak orang. Di dua kamar penjahat, yang apinya lemah, keadaan ada sunyi sekali. Ia heran. Selagi ia memandang kepayon, ia melihat selembar kertas ter tiup2 angin. Ia jadi semakin heran. Ia tidak melihat orang disitu, ia segera maju akan menghampirkan, lalu sambil mengenjot tubuh ia jambret kertas itu. Selagi turun, ia sekalian melongok kedalam kamar. Untuk kagetnya, ia mendapati kamar kosong! Tak ayal lagi ia lekas kembali kekamarnya sendiri.

Cu In sedang duduk bersamedhi kapan ia tampak roman aneh dari muridnya yang keenam itu.

“Ada apa, Siu Yan? ” ia mendahului menanya. “Rupanya orang2 jahat sudah lolos!” sahut Siu Yan

dengan romannya tegang.

“Apa? ” tanya sang guru. “Bagaimana kau ketahui itu? ” “Kamar mereka kosong! Tee cu dapati surat ini dipayon

kamarnya, entah apa bunyinya, karena tee cu belum baca,” jawab murid itu sambil segera angsurkan sepotong kertas itu.

Cu In menyambuti dengan cepat, hingga ia bisa lantas membaca “Kepada Nikow tua dari See Gak Pay! Sudah lama kami menantikan, tetapi tak juga kau datang, maka, selamat tinggal!

Nanti disebelah depan saja kita bertemu pula!”

Bukan main murkanya pendeta wanita ini, hingga ia lempar surat itu. “Didepan kita, penjahat gunai kelicinannya, aku malu bertemu dengan Ong dan Ban Supemu!” kata ia pada murid2nya. “Lekas siap, mari kita susul mereka itu!” Lalu ia tambahkan pada Siu Seng, muridnya yang kedua “Lekas kau pergi kehotel Hok Goan akan beritahukan kedua supemu untuk mereka segera berangkat! Bilang kita akan bertemu di Liong hoa!”

Siu Seng menurut, ia lantas berangkat.

Cu In panggil pelayan, dengan alasan ada urusan penting ia lakukan pembayaran, lalu ia ajak murid2nya berangkat. Dijalan besar, dimana memang tak banyak toko atau warung, semua pintu sudah ditutup, dan yang berlalu lintas tinggal satu atau dua orang. Maka itu, empat orang ini lantas gunai ya heng sut. Sang guru masih gusar, ia sampai melupai muridnya, ia lari demikian pesat hingga tiga muridnya ketinggalan. Setelah enam lie, Siu Yan dan Siu Hui berada setengah lie dibelakang dan Siu Sian, murid ketiga, dengan susah payah, dapat juga menyandak gurunya.

Nikow ini menduga, penjahat itu tentu menyangka ia akan lantas menyusul. Ia percaya, mereka pasti akan mengambil jalan air di Timur Daya kota Eng leng, bahwa jalan pertama yang diambil ada jalan perhentian Ang touw ek. Maka iapun mengambil jurusan ini. Disini jalanan ada belukar atau ladang kaoliang, di ladang, jalanan banyak cabang nya, keadaannya sangat sepi. Maka selagi perhatikan jurusan, pendeta ini tak berlari lagi.

“Mana mereka? ” ia tanya Siu Sian, selagi murid ini dekati ia. Ia maksudkan dua murid2nya yang lain.

“Kedua sutee ketinggalan,” sahut Siu Sian.

Cu In hendak menanya pula ketika dengan tiba2 ia mengebut tangannya sambil loncat kedalam ladang, perbuatan mana diturut oleh muridnya, kemudaan mereka melihat, setengah panahan diauhnya disebelah kiri mereka, ada dua bayangan lari melesat. Baharu keduanya hendak munculkan diri, atau Siu Yan berseru dengan tertahan “Masih ada, suhu! "

Benar saja, lagi dua bayangan melesat lewat.

“Mari kita kejar!” Cu In kata pada muridnya. sambil ia mendahului meloncat keliri, kejalan yang diambil empat bayangan itu.

Siu Sian susul gurunya. Ia menduga empat orang itu tentu orang2 dari Rimba Hijau.

Cu In Am cu niat mencegat, dari jalanan kecil itu ia menuju ke Timur.

Empat bayangan itu rupa2nya ada orang2 Rimba Hijau yang liehay, mereka baharu saja menikung dan lari terus kearah Timur itu.

-o0dw0o-

XVIII

Orang seperti main kejar2an. Selagi pendeta dari See Gak Pay mengejar terus, empat bayangan didepan itu, muncul dan lenyap saling bergantian, lalu lenyap dan muncul pula. Dibelakang pendeta ini menyusul beruntun ketiga muridnya, Siu Seng dan Siu Yan ketinggalan dibelakang Siu Sian.

Mereka tetap berada ditanah ladang, dimana kadang2 ada gubuk untuk petani meneduh. Selagi Cu In dan Siu Sian lewati sebuah gubuk, mendadak dari atas itu melesat turun satu bayangan, turun disebelah depan mereka. Gesit luar biasa, Cu In lompat kesamping kiri, dan Siu Sian, tanpa pengunjukan lagi, melesat kekanan. Inilah kebiasaan orang yang berjalan malam, untuk tidak berada berkumpul. Cu In sudah lantas rogo tiga batang See bun Cit poo cu, muridnya pun bersiap seperti Cu In juga.

“Apakah am cu disana?” tiba terdengar pertanyaan, selagi kedua pendeta itu hendak geraki tangan mereka masing2.

“Oh, Ban Loo su!” berseru Cu In, yang batal dengan penyerangannya. Ia kenali suara itu, yang berat.

“Su siok!” memanggil Siu Sian, yang pun sudah lantas simpan senjata rahasianya.

“Siauw suhu!” berkata Liu Tong kepada murid pendeta itu.

“Am cu!” ia teruskan pada Cun. “Eh, mana lagi dua murid Am cu?”

Cu In kerutkan dahi, agak nya dia likat. Dia bukan jawab tabib itu, ia hanya kata “Sudah ia puluh tahun pin nie andalkan pedangku, belum pernah aku gagal, siapa sangka malam ini aku kena dipermainkan oleh segala tikus! Sebenarnya malu aku akan menemui Ban Loo su…”

Selagi Ban Liu Tong merasa heran, pendeta ini tuturkan hal lolosnya kawanan penjahat, hingga ia mesti menyusul dengan segera, hingga dua muridnya ketinggalan jauh dibelakang.

“Pin nie sangka kawanan itu menuju ke Ang touw po, maka pin nie menyusul kemari, tetapi mereka telah mendahului lewat,” Cu In tambahkan. “Baharu saja mereka itu lenyap didepan kita…. Pin nie tidak sangka Ban Loosu telah dapat menyusul kemari. Apakah loosu ada menemui suatu apa ditengah jalan?” “Dalam hal ini, kekeliruan kita adalah karena kita pandang enteng kepada musuh,” sahut Siok beng Sin Ie, si Tabib Malaikat Penyambung Jiwa. “Diluar sangkaan, didalam rombongan mereka ada orang yang liehay. Ketika kita terima kabar dari Siu Seng, kita berangkat dengan segera. Baharu kita meninggalkan tempat mondok, atau kita lantas melihat musuh. Dengan cerdik, mereka mencoba memisah kita berdua, hingga kita masing2 mengejar sendiri2. Kita sudah pesan Siu Seng untuk ajak Su touw Kiam dan Coh Heng menuju langsung ke Ang touw po, kita larang mereka melayani musuh. Musuh itu menyingkir kedalam ladang yang lebat. Inilah sebabnya kita jadi bertemu disini. Menurut penglihatanku, am cu, orang hendak bikin kita menyasar jalan, orang sengaja hendak perlambat kita. Disini cuma ada jalanan kearah Timur, tidak kearah Selatan. Maju lebih jauh, kita akan sampai di Gie yang, kotanya. Penjahat membawa dua mangsanya, tidak nanti mereka mengambil jalan raya dimana mereka bisa tarik perhatian umum. Konconya Hong Bwee Pang tersebar dipelbagai tempat tetapi umumnya lebih banyak dipihak air. Juga diair ada lebih gampang buat mereka memapak atau menyambut. Sekarang mari kita menuju ke Ang touw po akan gabungkan diri dengan Ong Suheng, dari sana kita pergi ke Liong hoa. Aku pikir kita baik berpecah dua akan ambil jalan darat dan air dengan berbareng. Bagaimana pikiran am cu?”

“Ban Loo su benar,” sahut Cu In. “Barusan kita kena di permainkan, aku tidak puas sekali, maka mari kita maju dahulu akan melihat daerah ladang ini, yang luas. Kalau disini ada jalanan cabang, penjahat mestinya telah ambil itu. Kita mesti ketahui kemana mereka menuju, atau disini mereka mempunyai tempat persinggahan. Aku percaya mereka menyingkir terus ke Timur. Silahkan Ban Loo su berangkat lebih dahulu, disana tolong tunggui pin nie. Atau barangkali loo su ingin ikut bersama dulu….”

Melihat sikap orang itu, Ban Liu Tong jadi kagum, ia tidak berani mencegah.

“Baiklah, am cu,” kata ia. “Mari kita berangkat!”

Tanpa sungkan lagi Cu In enjot tubuhnya, akan berloncat, perbuatan mana ditelad oleh Ban Liu Tong. Maka itu, Siu Sian pun turut ber lari2 akan menyusul, mengikuti.

Sampai kira2 satu lie, mereka tidak melihat jalanan cagak. Dua lie kemudian, mereka dapati ladang kacang serta dua tiga bidang tanaman sayur, yang hidup dari air sumur. Disini Cu In kendorkan larinya, untuk bisa melihat kesegala penjuru. Ladang ada sangat luas, melainkan diarak Timur tertampak gundukan tanah tinggi.

“Lihat loosu, tanah ladang yang luas ini,” kata Cu In. “Gundukan tanah di Timur itu rupanya ada gunung Liang Seng San. Selewatnya batas gunung itu ada dusun Han seng tin. Apa bisa jadi mereka sudah pergi kegunung itu? Mari kita pergi ke sana, barangkali di Han seng tin kita tak akan kecele…”

“Mari, am cu!” Ban Liu Tong menyatakan setuju. “Mungkin penjahat singgah disana.”

“Tempat ini rada terbuka, kita harus lekasan,” pendeta itu bilang.

Ban Liu Tong manggut, lantas ia mengikuti nikow itu membuka tindakan pesat.

Siu Sian mengikuti terus tanpa ia berani campur bicara.

Mereka menuju ke Timur, selewatnya tiga empat lie mereka sampai disebuah bukit yang tinggi. Itu adalah gunung Liang Seng San, dijurusan Barat laut. Mereka hampirkan kaki bukit. Disini ada rumah2 penduduk tetapi tidak merupakan kampung. Berdampingan dengan lamping gunung ada belasan rumah, yang terbenam dalam kesunyiannya ang malam. Rumah itu nampaknya tak pantas untuk jadi sarang penjahat. Maju lebih jauh, Cu In menghampiri sebuah pekarangan luas yang dilingkungi tembok yang tingginya setumbak lebih, buatannya kekar, yang kelihatannya tidak surup, sebab letaknya ditempat sedemikian sunyinya.

Untuk mendekati, Liu Tong mengajak Cu In dan muridnya berpencaran.

Tiba2 disudut Barat daya ada satu bayangan berkelebat kearah Selatan. Dijurusan itu ada tanah tinggi, yang sampai pada ladang rata. Liu Tong ingin memberi tanda pada Cu In, akan tetapi pendeta itu sudah mendahului mengumpat didalam semak. Ia pikir akan terbicara dengan Siu Sian, yang sedang menghampiri padanya, tetapi murid nikow ini pun sudah lantas berbisik “Guru minta supe kejar penjahat itu.”

Mengerti yang Cu In pun telah melihat bayangan itu, Liu Tong lak ayal lagi loncat menyusul. Dibelakang ia Siu Sian membuntuti.

Orang tadi berlari kearah Barat daya, jauhnya tiga panahan, ia masuk kedalam ladang lebat, sedetik ia menerbitkan berisiknya suara dedaunan, lalu sunyi senyap.

“Sudahlah, supe, kita jangan menuysul terus!” terdengar suara nya Siu Sian. “Didaerah ini ada beberapa orang kang ouw, mereka nanti mungkin ketemu musuh kita, maka kita jangan mem buang2 tempo disini. Mari kita kembali ke Liong hoa ek supaya orang disaana tak usah ibuk mengharap kita!” Suaranya murid Cu in ini ada keras, lantas ia putar tubuh untuk berlalu, ber sama2 saudaranya Eng Jiauw Ong. Ketika sudah jalan sedikit jauh dan mendekati sebuah pohon besar, tiba2 satu orang kelihatan loncat turun sambil melayang, kakinya menginjak tanah dengan tanpa bersuara.

“Siapa?” menegur Liu Tong, yang ber sama2 Siu Sian berloncat menyamping.

“Aku, loosu,” sahut suaranya Cu In. “Kita telah terlihat oleh musuh!”

“Apakah am cu tahu dimana sembunyinya musuh?” Liu Tong bertanya.

“Ya,” sahut nikow itu. “Penjahat tadi cuma memancing loosu dan muridku, untuk menyimpangkan sasaran kamu berdua. Dia sembunyi ditempat belukar, lalu dengan diam2 dia jalan memutar, akan kembali ketembok besar itu. Aku naik ketempat tinggi, dengan begitu aku jadi bisa melihat gerak geriknya. Tembok itu pasti ada sarang mereka. Aku percaya mereka duga kita telah pergi ke Ang touw ek. Bagaimana bila kita selidiki gedungnya itu?”

“Kitapun telah duga permainan gila dari penjahat ini, maka tadi kita berpura pura balik,” menerangkan Liu Tong. “Kita harus waspada, mereka cerdik sekali. Aku percaya, ini bukanlah pusat mereka, ini sekedar cabang saja”

Cu In manggut, ia menoleh pada muridnya yang ke tiga. “Kita hendak selidiki sarang penjahat itu, hati2, didepan

su pe jangan kau banyak tingkah,” ia memesan.

“Jangan kuatir, suhu, didepan supe aku tak berani main gila,” sahut Siu Sian.

Kembali guru itu manggut. “Nah, loosu, mari kita selidiki dahulu sekengnya tembok itu, lalu kita berkumpul dibelakang ia mengajak.

Liu Tong setuju, ia menganggukkan kepala.

“Kalau begitu, perkenankanlah aku jalan duluan,” kata Cu In.

Nikow ini berpengalaman tapi ia beradat keras, maka itu ia mau berjalan lebih dahulu, karena mana, Liu Tong jadi mengambil jalan sebelah Barat.

Tembok itu letaknya dikaki atau lembah Selatan dari Liang Seng San. Waktu itu rombongannya Cu In berada disebelah atas, maka untuk menghampiri, mereka mesti jalan mudun. Ketiganya telah menunjukkan keentengan dan kegesitan tubuh mereka. Mereka tak menghiraukan jalanan banyak batu dan pepohonan yang sukar.

“Bagaimana?” tanya Cu In, yang sampat lebih dulu dibelakang. “Loosu melihat apa2?”

Mereka telah berkumpul pula dalam tempo yang pendek. “Tidak apa2, am cu. Bagaimana dengan am cu sendiri?”

Liu Tong baliki.

“Aku melihat tiga jebakan, yang tak dapat dipakai mengabui kita,” sahut Cu In. “Tapi itupun membuktikan kelicinan mereka.”

“Ya, mereka liehay sekali,” kata Liu Tong. “Lihat saja carauya mereka mendirikan tempat ini serta diaturnya berbagai pohon. Dibelakang sana ada pekarangan untuk berlatih silat. Lihat itu lima rumah disebelah Utara dengan pohon2 siong dan pek serta jalannya yang rapi. Dari kamar kecil di Selatan itu tampak cahaya api tapi kamamya sunyi…”

Cu In Am cu menganggukkan kepala. “Mari kita coba lihat,” kata ia. “Silahkan, Am cu.”

Cu In loncat naik ke tembok akan lompat turun kedalam,

akan menghampiri rumah yang mereka persoalkan. Didalam tembok itu terdapat pekarangan luas serta beberapa rumah, jadi bukan melainkan sebuah gedung besar saja. Dari luarnya tembok pekarangan itu kelihatan seperti temboknya sebuah gedung.

Liu Tong dan Siu Sian mengikuti nikow tua itu. Mereka pisahkan diri satu dengan lain jauhnya setumbak lebih. Mereka melihat nyata satu pekarangan yang luas, tempat yang banyak pepohonan nya dan lapangan latihan silat. Diujung Barat daya lapangan itu ada sebuah rumah dari mana keluar cahaya api.

Liu Tong menyambit dengan sebuah batu kedalam kebun, ia tak mendengar sambutan apa2, maka ia terus loncat turun akan menghampiri rumah itu, sebuah rumah batu kecil tetapi kekar. Jendela kayu, yang kecil, teraling dengan kertas minyak.

Mendekati jendela itu, Liu Tong mendengar suara napas menggerus. Ketika ia tolak pintu angin, yang melainkan dirapatkan, dari dalam semerbak baunya arak. Ia mengawasi ruangan dalam yang kotor, lantainya pun teralas rumput.

Didepan pintu terdapat dua buah gelang dengan rantainya masing2, dan didekat gelang ada tergantung sebuah cambuk kulit. Meja kecil terletak dekat jendela, ditatas meja terdapat sebuah lampu yang apinya menyala. Disitu pun terdapat sisa makanan berikut piring dan mengkoknya serta dua poci arak, yang sudah terguling. Seorang yang rupanya mabuk arak, terlihat berbaring terlentang dengan sebelah kaki tertekuk. Liu Tong pentang daun pintu, ia menoleh pada Cu In sambil memanggut.

Nikow itu menghampiri, baharu melongok atau ia sudah mundur pula. Ia rupanya tak tahan akan baunya arak.

Liu Tong pun merapatkan pintu akan mengikuti nikow itu. Mereka menyingkir jauh dari kamar tersebut.

“Rupanya itulah tempat tahanan orang,” Liu Tong mengutarakan sangkaannya. “Sayang setan pemabokan itu tak dibereskan….”

“Baik kita lihat kedepan,” Cu In bilang. “Kita mesti belajar kenal dengan orang2 Rimba Hijau disini…”

Liu Tong menyahuti “Ya” lantas ia mengikuti lebih jauh.

Segera mereka mendekati sebuah rumah dengan lima ruangan, mereka berkumpul didepan pintu pojok. Disini Liu Tong mencoba berkelebat, ia tidak mendapati akibat apa2. Lalu ia menolak daun pintu, akan bertindak masuk. Tapi segera satu bayangan besar, lompat menubruk padanya. Itulah seekor anjing galak, yang biasa menyerang tanpa menyalak lagi.

Siok beng Sin Ie tidak kaget atau takut, sambil berkelit ke kanan, ia ulur sebelah tangannya akan menyamber satu kaki dari anjing itu, sedang tangan yang lain nya menimpa kepalanya anjing itu. Hampir tak bersuara kepala binatang itu hancur, tubuh anjing itu rubuh tanpa bernyawa lagi.

Justeru itu, diantara suara menyalak yang keras, seekor anjing lain, yang terlebih besar, menubruk dari belakangnya Liu Tong. Tabib ini berlompat kesamping, ia berniat balas menyerang, tetapi Cu In mendahului membabat dengan pedangnya, hingga tubuh binatang itu kutung dua dalam tempo sekejapan mata! Setelah itu, mereka loncat akan mengumpatkan diri, karena kuatir ada penjahat yang keluar dan melihat mereka. Kemudian ternyata, mereka bersembunyi dengan sia2, berhubung disitu rupanya tidak ada orang kecuali dua ekor anjing itu. Maka itu, mereka lantas loncat naik kepayon rumah.

Ketika itu, sinar api kelihatan disebelah depan, dibagian Selatan. Mereka menuju kesana. Sambil bersembunyi, mereka melongok kedalam sebuah pekarangan yang, luas, dimana, antara cahaya api yang terang, mereka melihat sebuah rumah dengan lima ruangan atau kamar, yang dibuat dari tembok, yang wuwungannya dibuat dari pada batu, buatannya kekar, bentuknya luar biasa. Ruangan tengah ada tinggi sekali, untuk menghampiri itu orang mesti jalan ditangga batu. Di muka rumah pun ada jalanan istimewa yang disebarkan batu disitu setiap lima kaki, ada sebatang tiang dengan lenteranya dari kertas. Jalanan itu belasan tumbak panjangnya, batasnya ada sebuah pintu model bulan.

Waktu itu, dua orang kelihatan berjalan dijalanan istimewa itu.

Di tangga rumah besar ada berdiri empat orang lelaki, semua bertubuh tinggi besar, masing2 menyekal sebatang golok, yang mestinya dicekal dengan dua tangan.

Ditangga rumah besar tampak bersatu kate dan satu jangkung, mengenakan pakaian malam dengan golok dibebokong masing2. Pada bebokong mereka juga ada satu bungkusan besar. Ketika mereka berbicara dengan empat orang itu rupanya pengawal keempat orang itu lantas berpencar kedua samping, untuk mengasih mereka lewat, akan bertindak naik dan masuk kedalam. Ban Liu Tong dan Cu In Am cu dengan berani menghampiri rumah besar itu, untuk bisa menyaksikan lebih jauh. Mereka mengintai.

Dimuka thia tergantung sebuah sero, yang sudah digulung naik, maka disitu kelihatan sebuah meja pat sian toh serta kursi thay su ie. Perabotan lainnya tidak ada. Api datangnya dari lilin atas ciaktay bersusun tiga.

Dikursi sebelah kiri berduduk seorang perempuan umur kurang lebih tiga puluh tahun. Kulit mukanya kehitam hitaman, tetapi romannya manis dan menarik hati. Ia berpakaian serba hijau dan ringkas, kepalanyapun di bungkus dengan ikat kepala hijau juga. Melihat rupanya, ia seperti baharu pulang dari suatu perjalanan. Beberapa orang lelaki datang pada nyonya ini akan memberi laporan, suara mereka tidak terdengar nyata, hanya kemudian, yang terakhir membuka sebuah bungkusan didepan nyonya itu. Isinya bungkusan adalah rupa2 barang perhiasan permata dan uang, separuh dari itu dipisahkan, dibiarkan didepan si nyonya, yang lainnya dibungkus pula dan dibawa pergi keluar.

Cu In dan Liu Tong segera mengerti, nyonya muda itu ada kepala penjahat, dan dia sedang terima bagian. Mestinya nyonya itu liehay, kalau tidak, tidak nanti dia sanggup kendalikan kawanan penjahat lelaki itu. Mereka hanya belum pernah dengar hal penjahat perempuan ini di daerah Hoolam.

Kawanan penjahat itu sama sekali ada belasan. Setelah selesai ‘upacara’ pembagian harta itu dan ia sudah pesan salah satu kawannya, si nyonya menguap, ia bangun berdiri, atas mana, semua kawan itu pada mengundurkan diri, ada yang ke depan, ada yang keruang Timur dan Barat. Sesudah berada sendirian, nyonya itu jalan mundar mandir, kemudian ia mengangkat tangan kepada empat orang yang menjaga dimuka pintu seraya berkata “Bawa buah Nirwana itu kekamar Timur dan jaga baik2 dan titik anak itu giring kekamar belakang, aku hendak periksa padanya!”

Empat orang itu masuk kedalam, akan sebentar kemudian keluar lagi sambil menggiring dua orang, yang diantara terangnya api nyata adalah Siu Seng, murid kedua dari Cu In Am cu, dan Su touw Kiam, muridnya su heng dari Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong. Jadi adalah mereka ini yang dalam kata rahasia kang ouw disebut ‘buah Nirwana’ dan ‘titik anak’. Keadaannya mereka mirip dengan orang sedang mabok atau layap2, seperti tak sadar akan dirinya. Dengan separuh dipayang mereka dibawa turan keundakan tangga batu.

Cu In Am cu jadi begitu murka, hingga ia sudah lantas merabah pedangnya.

“Sabar,” berbisik Liu Tong, yang melihat kegusaran kawannya itu. “Kita ada disini, kita kuatirkan apa lagi? Baik kita lihat dulu, apa yang penjahat perempuan itu hendak berbuat…”

Cu In dapat dibikin sabar, maka bersama ketua dari Kwie in po ia terus pasang mata.

Nyonya muda itu mengikuti keempat orangnya itu. “Baiknya mereka mengambil jalan pintu Timur,” Liu

Tong berbisik “jikalau mereka mengambil jalan Barat, pasti

mereka akan melihat bangkainya dua ekor anjing itu…”

Setelah berkata begitu. Liu Tong gerakkan tubuhnya akan mulai menguntit. “Tentulah Ciu kwie Laliw Sam si Setan Pemabokan sudah mabok pula!” tiba2 si nyonya muda berkata pada keempat orangnya. “Lihat, kenapa sudah begini malam, dia tidak melepaskan Toa Hek dan Jie Hek? Setan itu mau mencari mampus, dia coba membikin aku gusar, nanti dia tak dapat kuampuni lagi!”

Liu Tong dan Cu In menduga Lauw Sam tentulah orang yang tadi rebah mabok arak, dan Toa Hek serta Jie Hek adalah namanya kedua anjing besar itu.

Siu Seng telah dimasukkan kedalam sebuah kamar kecil di pojokan, dua penjahat mengikuti padanya, dan dua penjahat yang lain, membawa terus Su touw Kiam kekamar atas, yang sekarang sudah terang dengan cahaya lampu. Dari sini dua penjahat itu keluar pula, dan si nyonya muda terus masuk kedalam.

Dengan mengentengi tubuh, Ban Liu Tong meloncat turun kedalam pekarangan, ia hampiri jendela. Segera ia mendengar suara air dituang, hingga ia merandek. Ia ada satu laki2, malah ia ada jago Hoay Yang Pay, cara bagaimana ia bisa mengintip orang perempuan? Maka ia lekas menggapaikan Cu In, yang bantu memasang mata.

Cu In yang melihat isyarat itu, lalu meloncat turun.

Liu Tong menunjuk ke kamar, nikow itu mengarti, ia maju ke jendela.

Selagi Siok beng Sin Ie hendak loncat naik kegenteng, akan menggantikan si pendeta wanita, ia melihat satu bayangan berkelebat diatas kamar Barat, maka itu, ia mencelat kesebelah Timur, hingga ia melihat bayangan itu sedang mendekam dipinggiran wuwungan. Ia menduga bahwa bayangan itu bukannya musuh, akan tetapi ia ingin dapat kepastian. Ia berlompatan akan mengambil jalan memutar, sampai ia datang dekat dibelakang bayangan itu. Disaat ia hendak menerjang, tiba2 bayangan itu berdiri, sambil memutar ia berkata “Su …”

“St!” Liu Tong memberi tanda sebelum orang itu sempat mengeluarkan kata2 “ pe.”

Bayangan itu adalah Siu Sian, yang bertindak dengan hati2 sekali menurut pesan gurunya, dari itu, sampai waktu itu dia baharu sampai disitu.

Liu Tong pesan nona ini memasang mata, ia sendiri terus meloncat turun akan menghampiri Cu In, siapa sudah mengintai kedalam. Ia menunjuk kekamar. Nikow tua itu goyang kepala terhadapnya, tapi setelah itu, ia melambaikan tangan dan menunjuk kejendela. Liu Tong mengarti isyarat itu, ia lalu mendekati jendela itu akan mengintai. Cu In sudah pecahkan kertas jendela dari mana tadi ia melihat kedalam. Baharu. Liu Tong melihat, atau ia jadi sangat gusar, hingga ia menoleh pada si nikow, untuk memberi tanda akan turun tangan. Tapi mendahului ia, Cu In sudah loncat kesebelan Timur dimana ada jalanan gang.

Diam2 Liu Tong kagumi nikow tua itu.

“Terang dia tak hendak membikin malu aku maka dia menyerahkan tugas ini kepadaku,” pikir tabib ini. “Memang, akulah yang mesti mengurus keponakan muridku…. Apakah yang membuat jago Kwie in po ini menjadi demikian gusar itu?”

Didalam kamar, perempuan muda tadi telah bersanggul dengan rapi, mukanya dipupuri, alisnya disipat, bibirnya dimerahi. Dia telah mengenakan baju pendek yang sepan, potongannya ramping, citanya halus. Sepasang kakinya ditutup dengan kasut yang melengkung. Dengan tubuhnya yang langsing, perempuan itu sesungguh nya dapat menggiurkan hati orang. Su touw Kiam berduduk dikursi dengan tetap layap2. Maka dengan air teh dingin yang dimasukkan kedalam mulutnya, perempuan itu menyembur mukanya, sesudah mana, selang sekian lama, dengan saputangannya dia menyekai muka orang yang basah itu.

Tidak heran, menampak demikian, meluaplah amarahnya Siok beng Sin Ie.

-o0dw0o-

XIX

Disaat si Tabib Malaikat Penyambune Jiwa hendak menggunakan pedangnya, tiba2 ia teringat, pemuda itu adalah murid kesayangan dari suhengnya, maka ia pikir, baik ia bersabar, akan melihat sikap mereka itu. Maka ia lantas mengintai terus.

Semburan air tadi membuat Su touw Kiam sadar, kapan ia melekkan matanya, ia memandang ke sekitarnya, suatu tempat atau kamar yang asing baginya, hingga ia segera kerutkan dahinya. Ia pun lantas mengawasi si juwita.

“Oh, kawanan iblis!” se konyong2 ia membentak. “Dengan jalan curang kau tawan aku, pasti aku tidak puas! Kau sesumbar tak mau hidup sama2 Hoay Yang Pay, apabila itu benar, dan kau punya nyali, hayo habiskan jiwaku! Jikalau kau berani menghina aku, terpaksa aku nanti mengucapkan kata2 kasar!”

Nyonya itu tidak gusar, ia malah cenderungkan tubuhnya, dengan sebelah tangan menunjang meja, dengan tangan kanan ia memegang pundak si anak muda.

Kelihatan sekali bagaimana kecentilannya perempuan itu. Ia hendak berbicara tatkala tahu dengan menggerakkan pundaknya, si anak muda membikin tangannya terpeleset, tak menekan pundaknya lagi…

“Ah!” dia berseru. “Kau begini muda, kenapa kau tak sabaran? Jangan tidak tahu diri, nanti aku gusar. Aku justeru sayangi kau yang masih muda tetapi sudah punya bugee liehay. Malam ini hampir kau sia2kan jiwamu, syukur aku keburu sampai… Kau niscaya tidak tahu siapa itu orang yang paling belakang menempur padamu! Dia adalah Twie hun souw Hong Lun Hong Cit ya yang namanya telah menggetarkan setengah negara Barat dan Utara. Kau telah memasuki dunya Rimba Persilatan, kau mestinya ketahui namanya si oranng tua Pengejar Roh itu. Ada berapa lawannya Twie Hun houw, yang pernah luput dari tangannya? Rupanya keluargamu itu bijaksana maka aku keburu sampai dan berhasil merampas kau dari mulut harimau! Aku telah tolongi orang, mustahil aku tak lupat pembalasan baik daripada nya? Kau toh orang baik2, bukan? Jangan kuatir, anak, aku tidak berniat mencelakai dikau, aku cuma ingin menanyakan kau dan kau menjawab secara baik, pastilah nanti akan kumerdekakan kau berdua…”

“Sudah, jangan banyak bacot!” Su touw Kiam memotong.

“Jikalau kau benar berniat menolong aku sejak kau ambil aku dari tangannya si bangsat tua, kau sudah mesti melepaskan belengguanku ini, dengan berbuat demikian, kau melepas budi kepadaku, tetapi buktinya sekarang kau tidak membunuh aku, kau juga tidak memerdekakan aku! Apakah maksudmu itu? Kau bawa aku kemari, tempat apakah ini? Sekarang sudah tengah malam, apa perlunya kau menemui aku? Apakah kau tidak tahu adat istiadat, yang melarang lelaki dan perempuan lancang berpegangan tangan? Seharusnya kau tahu akan harga diri sendiri! Kaupun pisahkan aku dengan sucieku, kau kandung maksud apa?”

Nona itu tertawa cekikikan.

“Kau jujur sekali!” berkata ia. “Makin kau jujur, makin aku suka padamu! Kau mengerti, kita tidak kenal satu pada lain tetapi aku kasihan kepadamu, itulah sebabnya aku menolongi kau dari tangannya Hong Cit ya. Bugee mu liehay, tak dapat aku berlaku sembrono, sebelumnya aku merdekakan kamu berdua, lebih dahulu aku mesti ketahui tentang dirimu. Kau she dan nama apa? Apakah gurumu itu bukan Eng Jiauw Ong, ciangbunjin dari Hoay Yang Pay?”

Su touw Kiam bersenyum ewa. Tapi ia sudah pikir, akan ber hati2. Ia sangsikan perempuan ini berhati baik.

“Apabila kau benar bermaksud baik, aku telah sia2kan kebaikanmu itu,” ia kata. “Sebagai laki2 aku tak pernah mengubah nama. Aku Su touw Kiam. Aku bukan muridnya Eng Jiauw Ong, aku adalah muridnya Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong dari Kwie in po. Dan Siu Seng adalah sucie ku, muridnya Cu In Am cu dari See Gak Pay. Kau rupanya orangnya Hong Bwee Pang. bukan?”

Mendengar keterangan pemuda itu, air mukanya si nona jadi berubah, tapi lekas juga ia mendapat pulang ketabahan hatinya. Ia meng angguk2 kan kepalanya.

“Tidak kecewa kau jadi muridnya guru silat ternama, anak,” kata ia. “Aku sudah duga kau hukan orang sembarangan, sekarang terbukti benar dugaanku itu. Kau berani omong terus terang, aku tak ingin mendustakan dikau. Benar aku anggauta dari Hong Bwee Pang. Aku adalah pengurus rangsum dari Cap jie cie Cong to bahagian Barat. Kita bermusuhan satu dengan lain, karena Hoay Yang Pay dan See Gak Pay adalah satru mati hidup daii Hong Bwee Pang. Akupun sudah terima pemberitahuan rahasia dari ketua, Cong to Liong Tauw Hio cu, bahwa asal kami hadapi musuh, kami mesti binasakan, tak satu boleh ditinggal hidup. Demikian kau, sesudah kau terjatuh kedalam tanganku, jangan harap kau bisa hidup lebih lama pula. Akan tetapi aku Lie touw hu Liok Cit Nio paling suka pemuda2 jujur dan gagah. Rupanya kau berjodo dengan aku. Selama ini, bukan sedikit musuh musuhnya Hong Bwee Pang telah kubinasakan, kalau tidak sebagai seorang perempuan, mana aku bisa peroleh gelaranku? Tapi malam ini aku hendak menyimpang dari tugasku, aku ingin melindungi jiwa kamu berdua. Sayang bila kau mati kecewa! Kau tentu ada punya orang tua dirumahmu yang dengan susah payah pernah rawat kau sampai menjadi besar. Bagaimana luka hatinya mereka itu? Baik kau renungkan, apa perlunya aku melanggar bahaya dengan menolongi dikau? Selama merantau, aku tetap bersendirian saja, tanpa senderan, maka sekarang pertemuan kita ada sebagai pertemuan yang ditakdirkan sejak penitisan terdahulu. Asal kau suka hidup ber sama2 aku, badai bagaimana besarpun aku berani hadapinya, kau akan bebas benar2. Asal kau tak ubah hatimu, aku nanti cuci tangan untuk mengikuti dikau! Bagaimana? Sepatah kata dari kau, sudah cukup!”

“Cis!” Su touw Kiam berludah. “Kau seorang perempuan, kenapa kau begitu tak tahu malu? Aku satu laki2, bagaimana aku bisa berlaku demikian hina dina? Baik kau lantas habiskan jiwaku, kalau aku mengeluh, aku bukannya muridnya satu pendekar!”

Liok Cit Nio si Jagal Wanita, sebagaimana itu ada arti nama julukannya Lie touw hu, tidak gusar, malah dia tertawa haha hihi.

“Kalau kau muridnya satu pendekar, jangan kau berlaku kasar,” kata ia. “Satu laki2 mesti bersifat laki2, menjadi seorang terhormat. Kita tidak kenal satu pada lain, aku telah menolong dikau dari mulut harimau, seharusnya kau ingat budi, mesti kau balas itu, maka kenapa sekarang kau begini bo ceng? Jangan kau bikin hatiku tawar, jangan kau bangkitkan hati srigalaku, itu artinya kau sia2kan jiwamu, sayang sekali! Baik kau dengar nasihatku, mari kita bersatu padu, pada saat ini juga aku akan cuci tangan akan kembali kejalan benar, tidak nanti aku tersesat pula. Didepan Tayhiap Siok beng Sin Ie Ban Liu Tong aku nanti bersumpah, aku akan bakar piauw pouku, sebagai tanda aku keluar dari Hong Bwee Pang dan selanjutnya menyerahkan jiwa kepada kau dan gurumu! Kau mengerti sekarang, anak? Tindakanku ini berarti berkhianat kepada perkumpulan, aku jadinya telah bersalah besar, salah tak berampun, hingga sesuatu anggauta Hong Bwee Pang adalah musuhku. Lihat, dengan begini, apa bisa berlaku curang kepadamu? Tapi janganlah kau pandang terlalu hina kepadaku, Liok Cit Nio, aku melainkan tersesat satu kali, karena aku tak ketemu orang baik2, apa lacur aku berkawan kepada manusia2 rendah, hingga namaku busuk, tapi sekarang aku hendak mengubah cara hidupku, aku akan menyerahkan diri kepadamu, umpama karena ini aku mesti binasa, akupun akan mati dengan mata meram!...”

Su touv Kiam mengkerutkan dahinya.

“Kau boleh mengoce sesukamu, hatiku tak akan berubah,” ia bilang dengan sengit. “Baiklah kau mengambil lain pikiran. Hong Bwee Pang dengan aku tak dapat hidup bersama, satu kali aku dapat pulang kemerdekaanku, aku tak akan punya rasa kasihan lagi! Kau nampaknya ber sungguh2 kau harus dikasihani, tetapi baiklah kau berlaku cerdik. Bagiku dimerdekakan atau tidak, adalah urusan kecil. Sekarang guruku belum ketahui kejadian atas diriku ini, satu kali ia dapat kabar, pasti ia akan datang menolong, walaupun kau berjumlah banyak, namun dalam segebrakan saja kau akan habis dibasmi! Perbuatan buruk seperti kau ingin aku lakukan, sayang aku tak dapat dan tak berani lakukan. Kaum Hoay Yang Pay ada punya aturan yang keras, hukuman kaumku untuk kecabulan adalah kematian, tak sudi aku melanggar aturan yang dijunjung tinggi itu. Maka, ubahlah maksud hatimu! Batang leherku bisa dikutungi, semangatku tak dapat ditindas, dari itu, terserahlah kepada dikau!”

Diam2 Liu Tong manggut2 dengan rasa kagum. Tidak kecewa Hoay Yang Pay punya murid demikian bersemangat. Iapun kagumi orang punya kecerdikan sudah menyangkal sebagai muridnya Eng Jiauw Ong. Ia mengerti, keponakan murid itu berniat mengelakkan kemurkaannya si manis itu.

“Jangan kau terlalu menghina aku,” terdengar si cantik berkata pula. “Memang aku bukan lagi gadis umur belasan tahun, yang suci murni, tetapi aku bukannya tak tahu malu, aku mau berlaku terus terang kepada kau. Aku menyesal atas kesesatanku, sekarang aku ingin perbaiki diri, untuk itu aku butuhkan seorang yang bisa jadi senderan atau pelindungku. Kau harus mengerti, satu kali aku cuci tangan, bukannya tak ada orang yang maui jiwaku. Aku toh sebatang kara. Dari itu, ingin aku hidup bersama dikau, supaya kau bisa melindungi aku. Apakah kau niat bikin aku putus asa? Aku telah janji akan merdekakan dikau, pasti aku akan lakukan itu, tapi kau sendiri jangan permainkan aku, sotelah aku bukakan belengguanmu, lantas kau tinggal kabur padaku…   Dengan   tinggalkan    aku,    kau bukannya murid dari satu pendekar.”

Su touw Kiam pandang perempuan itu.

“Aku bukannya seorang yang tidak sayang diri,” kata ia, “jikalau kau demikian baik budi, tak bisa aku tak terima itu. Tapi satu hal harus dijanjikan dahulu. Apabila benar2 kau hendak ubah penghidupanmu, kau mesti turut aku pergi ke Kwie in po akan menemui guruku, kepadanya kau mesti menyerahkan piauw pou Kong Bwee Pang sambil tuturkan cita2 mu, apabila guruku ketahui kesungguhan hatimu, tidak nanti dia tidak bantu kau meluputkan diri dari tangan iblis. Kata nya satu laki2 ada seumpama kaburnya empat ekor kuda yang tak dapat dikekang, demikianpun aku. Apabila kau tidak percaya aku, jangan melepaskan aku, sebaliknya kalau kau percaya, tidak nanti aku mencemarkan nama guruku.”

Sehabis berkata. Souw tonw Kiam tundukkan kepalanya Liok Cit Nio mengawasi pemuda itu, ia rapatkan kedua bibirnya, hingga ia perlihatkan senyuman iblis. Ia bertindak kebelakang orang, untuk bukakan belengguan.

Su touw Kiam berbangkit untuk menggerak gerikkan kaki dan tangannya, agar darahnya dapat mengalir pula seperti biasa, kemudian ia berduduk pula.

Ban Liu Tong bingung juga menyaksikan sikapnya keponakan murid itu, ia sekarang mengatakan orang tolol, karena mustahil keponakan murid ini tidak insaf akan kelicinannya perempuan itu. Siapa bisa percaya perempuan rendah itu benar2 sudah berbalik pikiran? 

“Satu kali kau rubuh, kau akun menyeinarkan namauya Hoay Yang Pang….” pikir ia pula. “Pasti kita akan dipandang rendah oleh Cu In Am cu….”

Mengintip lebih jauh, Ban Liu Tong melihat Liok Cit Nio menuang air teh panas dimeja didepan jendela, yang mana ia suguhkan pada si pemuda.

“Pemuda gagah, marilah minum dulu,” kata dia dengan manis. “Sudah setengah malaman kau terbelenggu, hayo kau segarkan diri, nanti kita bicara pula.” Dengan roman sungguh2, dengan mata tajam. Su touw Kiam awasi perempuan itu.

“Cukup, tidak usah kau layani aku,” kata ia seraya menolak cawan teh diatas meja.

Liok Cit Nio tertawa, ia tolak pula cawan itu didekatkan kepada Su touw Kiam.

“Nampaknya kau belum percaya aku,” kata ia. “Apa kau kuatir teh ini dicampurkan obat tidur? Kau keliru menduga! Untuk membunuh dikau, apa aku mesti tunggu sampai sekarang ini? Baiklah aku minum lebih dahulu, untuk tetapkan hatimu.”

Ia benar2 angkat cawan itu dan cegluk isinya, sesudah mana, cawan itu ia letakkan kembali diatas meja. Ia berbuat demikian sambil tertawa geli.

Su touw Kiam merasa sangat dahaga, terpaksa ia jemput cawan itu dan minum kering isinya.

Liok Cit Nio bersenyum, lalu dari lemari ia keluarkan buah2an serta arak dan sayur yang sudah dingin.

“Apa artinya ini?” tanya Su louw Kiam sambil berbangkit, romannya sungguh2. “Bukankah kita sudah berjanji? Sudah selengah malaman aku keluar, masih aku belum pulang, pasti guruku bakal mencari aku, maka apabila kau benar hendak mengubah kelakuan, jangan kau tunggu sampai guruku itu atau kawan2nya dapat menyusul kemari, aku bisa celaka, kau juga. Mereka tak puas akan melihat laga lagu kita ini yang tak selayaknya! Mari kita berangkat! Sekarang sebelum fajar ada saatnya untuk kita kita berlalu. Jikalau kau ragu2, maafkan aku, tak dapat aku temani kau lebih lama!”

Cit Nio seperti tidak perdulikan omongan orang, ia terus mensajikan makanan dan atur cawan arak, ia sediakan dua pasang sumpit, kemudian ia duduk berhadapan dengan anak muda itu.

“Su touw Siauwhiap, kenapa kau tidak sabaran?” kata ia sambil bersenyum. “Hayolah duduk! Umpama kelakuanku tak selayaknya, kau harus minta keterangan dahulu, kenapa kau seperti hendak menutup jalan? Kau dengar dahulu aku, sesudah itu, umpama kata kau hendak pergi juga, aku tak akan mencegahnya. Jangan kau menghinakan kepadaku. Jangan kau kuatir, aku niat menolong dikau, mustahil aku hendak mencelakai padamu?”

Su touw Kiam yang didesak, terpaksa ia duduk pula, tapi sambil berpikir. Ia telah mengambil putusan, jikalau orang menggunai kekerasan, ia akan membalas keras. Dari itu, iapun. pikirkan jalan mana ia mesti ambil untuk menyingkir dari rumah itu.

Liok Cit Nio menuang arak dalam dua cawan.

“Aku harap kau jangan curigai aku,” kata ia kemudian, “Jikalau kau sudah dengar aku, kau pasti bisa memberi maaf atau maklum. Kau harus bersabar. Disini, dirumahku, aku tidak takut apa juga. Kampungku ini disebut Liok kee po. Jangan kau pandang rendah padaku, walaupun aku hidup sebatang kara. Didaerah Liang Seng San ini. semua anggauta Hong Bwee Pang tidak berani main gila terhadap diriku, tidak sekalipun si tua bangka musuhmu itu, Twie hun souw Hong Lun, ketua bahagian Barat, walaupun kedudukannya terlebih tinggi daripada kedudukanku. Hanya aku mesti jaga mereka yang masih menyintai Hong Bwee Pang, apabila mereka tahu aku hendak menyuci tangan, mereka bisa bocorkan rahasiaku atau membokong aku. Dari itu, perlu aku siap sedia, akan mengatur dahulu. Mengenai pihakmu, tidak aku pandang enteng kepada mereka. Aku percaya, walaupun aku pernah tersesat, Ban Loosu, umpamanya, pasti sudi memaafkan padaku. Orang2 gagah biasa menolong siapa yang lemah dan kesasar. Coba ada yang tolong angkat, niscaya dari siang aku sudah mencuci tangan. Sekarang ada ketikanya buat aku mengangkat diri dari laut pahit getir, aku sangat girang dan bersyukur kepada diriku sendiri! Siauw hiap, jangan kau tertawai aku! Selewatnya malam ini, aku akan berubah menjadi seorang yang lain! Seharusnya aku cukuri rambutku akan masuk dalam kelenteng, tetapi aku ingin iringi orang2 gagah buat menolong si lemah dan tindas si jahat, dengan begitu, barangkali aku dapat menebus segala dosaku. Kau mirip dengan Koan Im Taysu, yang menolong mengangkat aku dari pecomberan, dari itu kau harus kasih selamat padaku!”

Biar bagaimana, mulai kuranganlah kebenciannya Su touw Kiam terhadap si nona.

“Cit Nio, jangan kau mendesak aku,” ia bilang. “Seharusnya aku minum untuk kehormatanmu, tetapi aku mesti junjung pantangan rumah perguruanku yang melarang minum arak diluaran, maka itu aku cuma bisa berbuat begini saja….”

Ia angkat cawan untuk hanya ditempelkan dimulutnya saja, kemudian dengan cepat ia letakkan pula cawannya diatas meja.

Cit Nio melirik dengan mata nya yang tajam.

“Kau terlalu!” kata ia, dengan aleman. “Bagaimana, satu cawan saja kau tidak sudi keringi! Kau bikin lenyap kegembiraanku! Apabila kau tidak sanggup minum arak ini, nanti aku tukar dengan yang enteng…”

Liok Cit Nio menyuguhi arak In tin louw, yang warnanya hijau, sekarang ia tukar itu dengan yang warnanya merah, dar satu botol yang isinya tinggal setengah. “Inilah anggur yang manis!” kata ia. “Ini adalah anggur yang disediakan untuk orang yang tak biasa minum arak, baunya wangi, sarinya manis, tenaga mabuk nya tak ada. Jikalau kau menolak lagi, teranglah kau mendustakan aku, apabila itu benar, baik sekarang siang2 kau bunuh aku, tak usah sampai aku pergi ke Kwie in po untuk mengantarkan jiwa secara sia sia!”

Cit Nio kerutkan alis, nampaknya ia masgul, tetapi ia jemput cawan didepannya Su touw Kiam dan keringkan isinya, untuk ia tuangkan anggur kedalam cawan kosong itu.

“Siauw hiap, inilah arak tanda nya aku cuci tangan dari Rimba Hijau.” kata ia, seraya menyodor kan itu. “Terserah kepadamu, kau hendak minum atau tidak, aku tidak hendak memaksa. Kita tak dapat mensia2kan tempo lagi, mari kita minum satu dua cawan, supaya kita bisa segera angkat kaki dari tempat buruk ini….” Iapun segera mengangkat cawannya.

Su touw Kiam anggap, jikalau ia ayalan, perempuan itu bakal gerecoki ia lebih lama pula, maka ia angkat cawannya sambil tertawa dan kata “Baiklah, Cit Nio. Aku pujikan sejak saat ini kau akan dihormati oleh kaum Rimba Persilatan!” Lalu ia tenggak habis anggurnya itu.

Liok Cit Nio tertawa, kelihatan ia girang sekali. Tapi ia isikan pula cawannya Su touw Kiam.

“Cit Nio, jam berapa kau hendak berangkat?” Su touw Kiam tanya “Kita tak dapat ber ayal2an, lak lama lagi segera akan terang tanah!”

“Jangan kesusu, anak muda,” tawa si nona. “Kita akan berangkat sebelumnya terang tanah! Mari minum dulu!” Su touw Kiam cegluk cawan yang ke dua itu, karena ia rasakan, cawan yang pertama benar2 tidak punya rasa arak.

Kembali Cit Nio isikan cawan yang ke tiga, setelah minum ini, baharu Su touw Kiam merasakan hawa panas, hingga ia jadi curiga. Ia lihat mukanya Cit Nio mulai bersemu merah pada dua belah pipinya, sedang kedua matanya yang celi, mengawasi ia. Tiba2, diluar keinginanya, datanglah rasa kasihan terhadap perempuan ini. Kupingnya ia rasakan seperti berbunyi, hatinya ber debar2.

Menampak orang mengawasi ia, dengan sumpit ditangannya, Cit Nio ketok tangan orang. “Akhirnya kau toh minum juga!” kata ia.

-o0dw0o-

XX

Mukanya Su touw Kiam menjadi bersemu merah juga, kedua matanya seperti hendak meram saja. Ia hendak pedayakan nona didepannya, siapa tahu si nona itu terlebih licin, dia telah memberikan sipemuda itu minum anggur yang mengandung obat. Dia ia berbangkit, tetapi segera ia duduk pula…

Cit Nio letakkan sumpitnya, ia mendekati kesamping si anak muda, sambil me rabah2 pundak orang.

“Kau keras hati anak, tetapi sekarang kau mesti mendengar apa kataku….” kata ia dengan manis.

Su touw Kiam hendak menggerakkan tubuhnya buat menyingkirkan tangan dipundaknya, tetapi ternyata ia sudah tidak punya kekuatan lagi, ia duduk tegak, bagaikah orang lupa ingatan. Cit Nio menoleh kekamar, lalu ia selusupkan kepalanya keketiak kirinya Su touw Kiam seraya sebelah tangannya dikasi turun, diturunkan, agaknya ia hendak pondong tubuh orang.

Disaat yang genting itu, Ban Liu Tong yang sedari tadi terus memasang mata, tidak berayal lagi, dengan sebelah tangannya ia mendobrak jendela hingga terpentang dengan menerbitkan suara gedubrakan.

“Perempuan cabul!” ia membentak. “Kau berani permainkan murid Hoay Yang Pay!”

Menyusul serangan pada jendela itu, kamar jadi gelap dengan tiba2, dan secara enteng kedengaran tindakan kaki yang pesat.

Ban Liu Tong tahu, jalan keluar melainkan jendela belakang, dimana diatas ada Siu Sian yang menjaga, ia tak kuatir orang bisa meloloskan diri, tapi selagi ia hendak bergerak lebih jauh, tiba tiba berkelebat bayangan diatas kepalanya.

“Siapa?” ia menegur, ia menyangka pada musuh. “Ban Loosu, inilah aku,” itulah ada jawaban dari atas.

Segera Cu In Am cu loncat turun, diikuti oleh Siu Seng.

“Bagus, am cu, kau bisa sekalian membantu aku,” kata Liu Tong.

“Aku baharu saja menolongi muridku,” kata pendeta itu. “Loosu belum bekerja?” Ia tidak tunggu jawaban, ia terus titahkan muridnya “Pergi kau gantikan sumoaymu!”

Tanpa berkata apa2 Siu Seng meloncat keatas untuk memanggil Siu Sian, tempat siapa ia gantikan, sedang adik seperguruan itu loncat turun kepada gurunya. “Keluarkan liu hong tan (peluru bahan peledak!)” Cu In perintah muridnya ini.

Siu Sian turut titah itu, ia keluarkan serupa barang bundar sebesar biji toh, yang ia serahkan pada gurunya.

“Ban Loosu. kita jangan kasih orang main gila lagi!” kata nikow tua ini, yang terus menghampiri jendela, yang tadi didobrak Liu Tong, kedalam mana ia menimpuk. Ketika terdengar suara membeletok, segera terlihat api menyala, ruangan jadi terang. Tapi Cit Nio dan Su touw Kiam telah lenyap dua2nya.

“Ban Loosu, benar2 kau kena dipermainkan!” kata ketua See Gak Pay itu. “Jangan kau percaya muilie itu, perempuan cabul itu tentunya sudah menghilang dari situ.”

Kata2 ini disusul dengan terhunusnya pedang Tin hay Hok po kiam, dengan pedang mana Cu In Am cu berlompat masuk melalui jendela.

Ban Liu Tong, yang sangat gusar, turut berlompat masuk juga.

Karena liu hong tan mengenai sasarannya, maka apinya menyala terus.

Cu In Am cu yang biasa memperlihatkan wajah welas asih, sekarang nampaknya keren sekali.

“Waspada, loosu!” kata ia yang terus maju kemuilie, tetapi ia berlompat kesamping kiri.

Ban Liu Tong mengerti, iapun bertindak kesamping.

Cepat sekali Cu In telah menahas muilie, hingga kain penutup pintu itu lantas sapat dan jatuh, hingga disitu kelihatan sebuah pintu yang kecil, dimana ada cahaya terang, dari dalam mana pun menyamber keluar bau wangi semerbak dari pupur dan yancie. Dengan berani, dengan pedang nya didepan, Cu In melongok kedalam kamar, yang sudah kosong, disitu melainkan ketinggalan bau harum itu. Teranglah sudah, itu adalah kamarnya Lie touw hu Liok Cit Nio.

“Lihat, loosu, benar2 dia sudah kabur!” kata pendeta wanita itu. Ia bertindak masuk dengan diikuti kawannya.

Berbeda dengan diluar, kamar itu diperaboti lengkap dan indah, tepat untuk jadi kamarnya satu nona remaja, hanya yang aneh, tidak ketahuan dari mana si penghuni rumah mengambil jalan untuk menyingkir dari situ. Maka itu, Liu Tong berdua coba melakukan pemeriksaan. Luasnya kamarpun cuma setumbak lebih persegi.

“Mungkin ada rahasianya dikaca itu,” kata Liu Tong kemudian seraya menunjuk cermin yang tergantung ditembok, dikiri kanan mana terapit sepasang ciak tay yang dibuat dari kayu yang terukir burungan ho dan menjangan. Sebatang lilin menyala terang sekali Dibawahan cermin itu terdapat meja kecil, atas mana penuh dengan pupur dan lain alat bersolek.

“Mungkin.” sahut Cu In sesudah ia mengawasi dengan teliti.

Ban Liu Tong menghampiri cermin itu, ia tarik meja untuk digeser kesamping, kemudian ia tekan ciaktays kiri, ia menarik, tapi ciaktay itu tidak bergeming, maka ia tarik yang kanan, yang juga melekat keras, maka ia terus tarik pula yang kiri. Menyusul satu suara menjeblak yang keras, cermin itu, yang besar, lantas berkisar, memperlihatkan dibelakangnya suatu pintu rahasia!

Karena pintu itu gelap, Cu In Am cu mengambil lilin, untuk dipakai menyuluhi. Dalam kamar itu terdapat beberapa buah koper dan sebuah pintu tembusan, yang dipalang dengan besi berat.

“Tidak salah, siluman itu tentunya mabur dari sini,” kata Cu In.

Siok beng Sin Ie cekal palangan besi itu, ia mesti menggunakan tenaga untuk menarik itu, sampai pintunya terpentang. Dibawah terangnya lilin, kelihatan ditembok dilukiskan gambar. Tapi, belum mereka sempat masuk, tiba2 mereka mendengar suara suitan berturut2 dan dibelakang mereka. Siu Sian pun muncul.

“Ban Susiok, orang jahat sedang bergerak, mereka rupanya hendak !” Berkata si nona.

“Itulah terlebih baik lagi,” sahut Ban Liu Tong “Kita jadi tak usah bercapai lelah akan mencari mereka!”

Siu Sian mengarti, perlawanan mesti diberikan, maka ia kembali keluar.

Liu Tong bertindak keluar ber sama2 Cu In, ia ambil pintu rahasia itu yang menembus ke belakang, kekebun, yang mestinya telah diambil oleh Liok Cit Nio. Sesampainya diluar, mereka tidak lihat suatu apa, hanya mereka dengar suara berisik didepan.

Dengan loncat naik ketembok, Ban Liu Tong lihat Siu Sian asyik pasang mata diatas wuwungan.

Cu In pun segera loncat naik kepayon, berbareng dengan mana ia tampak berkelebatnya tiga atau empat bayangan, semua dengan pakaian malam, dan gerakannya gesit. Diatas genteng, mereka itu saling bersuit akan beri tanda satu pada lain, menyusul mana, dibawah kelihatan kira2 dua puluh kawanan penjahat. “Am cu, baik kita jangan tunggu waktu lagi!” Liu Tong serukan kawannya.

“Mereka terlalu busuk, pin nie pun tidak bisa berbuat lain,” sahut Cu In Am cu. Ia terus loncat kesebelah Barat.

Liu Tong segera loncat kesebelah Timur. Karena musuh2 pun datang dari kedua jurusan itu.

-ooo0dw0ooo-