Elang Pemburu Jilid 15 : Tangan Suci Pencabut Nyawa (Tamat)

Jilid 15 : Tangan Suci Pencabut Nyawa (Tamat)

Seorang nona cilik berbaju putih bersih, dengan membawa sebuah nampan bulat berisi sayur dan arak berfalan masuk ke tengah halaman. Dia mempunyai wajah bulat, mata bulat dan sepasang lesung pipi yang bulat juga.

Akhirnya Wan wan (si bulat) muncul juga. Tapi senyuman belum muncul di wajahnya. Maklum, nona besar keluarga mereka baru saja mati dibunuh orang. Bukan saja dia adalah orang terdekatnya, dia juga merupakan satu satunya sanak baginya."Ketika tengah malam menjelang tiba, aku sudah tahu ada gelagat yang tidak beres, sebab Leng Giok hong tidak lain adalah pembunuh yang telah melakukan pembantaian terhadap keluarga. Pek!" cerita Wan wan. "Oleh

karena itu aku gunakan kesempatan itu untuk melarikan diri. Maksudku aku ingin mencari bala bantuan.""Ketika melarikan diri, apakah niat ini muncul atas keinginanmu sendiri?"

"Benar!"

"Kenapa nonamu tak setuju untuk ikut melarikan diri?"

"Sebab dia ingin balas dendam dengan tangannya sendiri," tiba-tiba Wan wan kelihatan agak sangsi. Dia seperti ragu untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian lanjutnya, "Dia tak ingin kisah memalukan yang menimpa dirinya tersebar keluar.""Balas dendam adalah satu tindakan yang heroik, kenapa kau katakan sebagai hal yang memalukan?"Wan wan segera tutup. mulutnya rapat rapat, jelas dia tak ingin mengungkit masalah itu. Karenanya Po Ing segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain."Mana Ni Siau cong?"

"Dia sudah pergi, kelihatannya dalam keluarganya telah terjadi satu masalah yang cukup gawat. Lagipula dia tak ingin bertemu dengan Leng Giok hong, terlebih lagi dia tak ingin berjumpa dengan si baju hijau."

"Kenapa?" tanya Po Ing keheranan. "Apakah di antara mereka berdua juga mempunvai hubungan khusus?"

"Soal itu aku kurang jelas," Wan wan menggeleng. "Urusan yang menyangkut keluarga Ni, bahkan kau sendiri pun tak jelas, apalagi aku?"

"Berarti Ni Siau cong juga beranggapan bahwa pembunuhnya adalah Leng Giok hong?""Dia memang berkata begitu!"

"Atas dasar apa kalian berani memastikan kalau Leng Giok-hong lah pembunuhnya?""Berdasarkan sebuah bekas bacokan golok!"

"Bekas bacokan? Bekas bacokan macam apa?" tukas Po Ing.

"Sebuah bekas bacokan yang bentuknya mirip seekor kelabang, panjang sekali dan jelek sekali. Sebab setelah terkena bacokan golok dulu, dia segera menjahit mulut luka itu dengan sebuah benang yang terbuat dari kulit kerbau. Ketika mulut luka itu sembuh maka ujung benang di kedua sisi bekas lukanya yang mencuat keluar berubah jadi kaki-kaki kelabang Yang sangat panjang."Setelah berhenti sejenak, kembali Wan wan melanjutkan, "Tapi seekor kelabang yang sebenamya tak akan sepanjang itu.""Berapa panjangnya?"

"Paling tidak ada satu depa Iebih tiga empat inci," sahut Wan-wan. "Bacokan golok itu sangat kuat dan dalam. Sayangnya Leng Giok hong mengenakan baju tebal waktu itu. Kalau tidak, mungkin bacokan itu sudah menewaskan dia! " "Kalau begitu, orang yang ingin membunuhnya waktu itu adalah seorang jagoan tangguh yang sangat mahir menggunakan golok?""Bukan cuma orang yang membawa golok adalah jagoan tangguh, orang yang menjahitkan mulut lukanya juga pasti seorang jago hebat!"

Kalau betul di tubuhnya terdapat sebuah bekas bacokan yang begitu panjang, kenapa selama ini aku tak pemah melihatnya?"Sekali lagi Wan wan menutup mulutnya rapat rapat.

Dengan menggunakan sepasang matanya yang tajam bagai mata elang, Po Ing mengawasi gadis itu lekat lekat, kemudian baru katanya, "Aku tidak melihatnya, apakah dikarenakan bekas Iuka itu berada di suatu tempat yang tak mungkin dilihat orang lain? Apakah bekas luka itu tidak bisa terlihat bila dia tidak melepaskan semua pakaian yang dikenakan?"Wan wan masih juga tidak menjawab, tapi wajahnya telah menunjukkan mimik muka yang sangat aneh, selain amat gusar juga amat sedih.

Sebenarnya gadis ini merupakan seorang gadis lincah yang sangat pandai berbicara. Tapi setiap kali mengungkit persoalan itu, air mukanya segera berubah hebat, seakan akan dia ingin sekali melayangkan satu tonjokan untuk menghajar mulut Po Ing, merontokkan giginya agar dia tak bisa mengungkit lagi persoalan itu untuk selamanya.Padahal tak perlu gadis itu memberikan penjelasan pun, Po Ing sudah paham seluruhnya.

... Tak diragukan lagi, Leng Giok hong adalah pembunuh yang telah melakukan pembantaian atas keluarga Pek.... Banyak perempuan dari keluarga Pek yang mengalami kekerasan seks. Ang ang adalah salah satu di antaranya.

... Di salah satu bagian yang paling rahasia dari Leng Giok-hong terdapat sebuah bekas luka bacokan yang panjangnya lebih dari satu depa dan berbentuk kelabang. Bekas luka itu baru terlihat jika dia dalam keadaan telanjang bulat....

Ang ang sengaja bekerja sebagai pelacur karena dia ingin menciptakan kesempatan seperti ini, karena hanya seorang pelacur yang bisa melihat seorang lelaki asing dalam keadaan telanjang bulat.

... Tentu saja dia tak sanggup menemukan pembunuh itu. Tapi dia percaya bila si pembunuh mendengar ada seorang pelacur macam dia, cepat atau lambat dia pasti akan datang sendiri untuk mencarinya.

Atas dasar beberapa sebab dan alasan itulah bisa ditarik kesimpulan, apa alasan sang pembunuh untuk menghabisi nyawa Ang ang.

Jelas peristiwa ini adalah suatu peristiwa yang memalukan. Wan-wan enggan menyinggungnya, tentu saja Po Ing segan untuk mengungkitnya kembali.

Katanya kemudian, "Sekarang, tampaknya tinggal satu persoalan yang belum kita kerjakan.""Membunuh Leng Giok hong?"

"Sekalipun tidak dibunuh, paling tidak juga harus ditangkap dan diadili!" Manusia berbaju abu abu yang selama ini membungkam, tiba-tiba berkata juga, "Sekarang kasus asap berwama ungu sudah terungkap. Walaupun Thia Siau cing masih mencintai Ang ang, bahkan rela menemaninya mati, tapi sekarang rasanya dia tak perlu pergi mati."

"Sekalipun dia ingin mati, mungkin keinginannya tak akan kesampaian." "Oleh sebab itulah pertaruhanmu dengan kakek Li berjubah merah telah kau menangkan. Buat apa kau mesti mencampuri urusan ini lagi?"

"Selama dia belum mati, rasanya aku belum puas!"

"Semenjak berusia dua belas tahun, Leng Giok hong telah berhasil membongkar satu kasus perampokan yang rumit. Satu persatu rampok rampok licik dan buas itu berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Aku rasa orang seperti dia pasti sangat ahli juga dalam hal melarikan diri. Aku rasa tak gampang jika kau ingin menangkapnya."

"Aku mengerti, untungnya aku tak perlu melakukannya!" "Tak perlu mengejarnya?"

"Betul!"

"Kenapa?"

"Karena aku percaya pasti ada orang yang mewakiliku untuk melaksanakan tugas ini," kata Po Ing. "Kecuali aku, pasti masih ada orang lain yang tak ingin membiarkan dia hidup terus."

Lagi lagi apa yang dikatakan tepat sekali.

Tiba tiba dari luar dinding pekarangan muncul sebuah tangan. Tangan itu seakan akan muncul dari dalam air, tenang dan sangat lembut, bukan saja tidak menimbulkan suara, juga tak tampak ada dinding yang retak atau rusak.

Setitik debu pun tak nampak gugur dari atas dinding pekarangan itu. Tangan itu sangat indah, jari jemarinya ramping lagi panjang. Satu satunya cacad yang patut disesali hanyalah ruas jari tangan itu kelihatan agak besar dan kasar. Oleh sebab itulah semua jari tangannya dihiasi dengan enam buah cincin berbatu mutu manikam yang terdiri dari mustika berwama wami.Tak bisa disangkal

tangan itu adalah tangan seorang wanita. Dia sedang menggapai ke arah Po Ing. Tanpa ragu atau sangsi Po Ing segera menghampiri. Dengan langkah lebar dia berjalan melewati tembok itu, seakan akan di hadapannya sama sekah tak ada dinding pembatas.

Ketika ia sudah berjalan lewat, di atas dinding pekarangan itu baru muncul sebuah lubang besar, sementara Po Ing telah keluar dari dinding pemisah itu. Di luar pagar adalah sebuah gunung gunungan dengan pancuran air yang mengalir deras.

Di antara bayangan yang terpantul dari permukaan air, lamat-lamat tampak sesosok bayangan hijau berkelebat lewat.Ketika Po Ing menyusul sampai di luar pagar, bayangan itu sudah berada di atas gunung-gunungan di seberang sana. Orang itu mengenakan baju berwama hijau muda, sekalipun seseorang yang tak tahu kualitas kain pun dalam sekilas pandangan sudah dapat melihat kalau pakaian yang dikenakan orang itu sangat mewah dan mahal harganya.Perawakan tubuhnya termasuk sangat indah, ramping, kecil mungil dan sangat menggiurkan. Hanya sayang ia berdiri membelakangi Po Ing sehingga tak nampak raut muka sebenamya.Po Ing tidak berusaha untuk mengejar. Karena dia sudah bergerak duluan, maka jaraknya dengan Po Ing sekarang sudah terpaut tujuh delapan kaki, sekalipun mau dikejar juga sulit untuk menyusulnya.

Apalagi di luar sana masih terdapat sebuah benda yang jauh lebih menarik perhatian Po Ing... ditepi kolam air di bawah gunung-gunungan itu ternyata terbujur sebuah peti mati.Po Ing tidak mengejar, orang berbaju hijau itu juga tidak pergi. Sampai Po Ing mulai membuka peti mati itu pun dia sama sekali tidak berpaling.

Sudah barang tentu dia tahu apa isi peti mati itu.

Biasanya isi dari sebuah peti mati adalah mayat seseorang. Tidak terkecuali isi peti mati ini. Leng Giok hong yang masih kelihatan begitu gagah dan segar setengah hari berselang, kini sudah membujur kaku di dalam peti mati itu.

Benarkah mayat itu adalah mayat dari Leng Giok hong asli? Tiba tiba terdengar orang berbaju hijau yang berada di atas gunung gunungan itu tertawa terkekeh kekeh. Suara tertawanya sangat aneh, tajam melengking dan sangat menusuk pendengaran, katanya, "Lebih baik jangan kau sentuh dia. Juga tak perlu memeriksa bekas bacokan golok di tubuhnya, karena kemungkinan besar sekujur badannya saat ini sudah mengandung racun ganas. Bila kau sentuh kakinya maka kakinya akan membusuk, bila tanganmu menyentuh tangannya maka tangan itu akan membusuk. Akhimya seluruh badannya akan muIai membusuk dan hancur lebur!"Sembari berkata, selangkah demi selangkah dia mundur ke belakang. la mundur dengan langkah biasa. Walaupun menguasai ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, dia sama sekali tidak menggunakannya.Ketika ia mundur beberapa langkah lagi maka terlihatlah manusia berbaju abu abu itu muncul dari sisi gunung-gunungan yang lain.

Setiap langkah ia mundur ke atas gunung-gunungan, manusia berbaju abu- abu itu maju selangkah lebih ke depan.Tentu saja ia tak mampu mengetuarkan ilmu meringankan tubuhnya untuk melarikan diri, karena saat ini semua jalan darah kematian disekujur tubuhnya sudah berada dibawah ancaman pukulan orang berbaju abu abu itu. Satu serangan yang bisa mencabut nyawanya setiap saat.

Demikian hebatnya tenaga ancaman itu sampai Wan wan yang berdiri di tempat kejauhan pun dapat merasakan kekuatan itu. Sedemikian tegangnya nona kecil ini sampai telapak tangannya ikut mengeluarkan peluh dingin.

Tentu saja tenaga tekanan yang dirasakan orang berbaju hijau itu jauh lebih dahsyat lagi. Asal dia beniat kabur maka jiwanya pasti akan terancam. Entah ke mana pun kau hendak lari dan memakai cara apa pun untuk menghindar, sulit rasanya untuk meloloskan diri dari ancaman manusia berbaju abu abu itu.

Pada saat itulah tiba tiba manusia berbaju abu abu itu menghentikan langkahnya.

Si baju hijau tidak menyianyiakan kesempatan baik itu, ia segera bersalto di tengah udara. Dengan jurus "dada ramping menembus awan," satu gerak jurus yang amat sederhana, ia melesat mundur jauh ke belakang.Tampaknya dia sudah menduga kalau Po Ing tak bakal melepaskan dirinya, maka sebelum diserang orang, dia berusaha melancarkan serangan duluan. Ketika badannya meluncur ke bawah, tiga buah serangan kilat segera dilancarkan dalam waktu sekejap. Tiba tiba paras muka Po Ing berubah hebat. Mimik muka yang sangat aneh terlintas di wajahnya. Dia seolah olah baru saja menyaksikan suatu peristiwa yang sebenamya mustahil bisa terjadi di situ. Si baju hijau tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Secepat kilat dia mundur ke belakang dan melarikan diri dari situ.Wan wan menyaksikan perubahan wajah Po Ing dengan sangat jelas, tak tahan segera serunya, “Paman Po, kau seperti baru saja melihat setan. Sebenamya apa yang kau lihat?"

Sampai lama sekali Po Ing berdiri tertegun, akhimya setelah menghela napas panjang katanya, "Aku telah melihat wajah seseorang. Tidak seharusnya wajah orang itu muncul di wajah si baju hijau."

"Siapakah orang itu?" "Ni Siau cong!"

"Maksudmu wajah si baju hijau tadi adalah wajah Ni Siau-cong?""Benar!" Wan wan ikut tertegun, gumamnya, "Masa Ni Siau cong adalah si baju hijau? Masa si baju hijau adalah Ni Sijau cong?"

"Tapi Ni Siau cong sudah pergi, bahkan pasti pergi bersama Oh Kim siu!" "Darimana kau bisa tahu?"

"Karena orang yang menghadang perjalananku di tengah jalan bersama Phoa Ki seng tadi, kemudian memancing keluar Oh Kim siu dari dalam kereta, adalah Ni Siau cong."

"Benar!"

"Konon keluarga Ni Siau cong sedang dilanda masalah serius dan dia harus buru buru pulang ke rumah. Oh Kim siu pasti pergi bersamanya," kata Po Ing. Setelah tertawa getir lanjutnya, "Belakangan ini nona besar Oh tampak seperti amat tertarik dengan urusan yang menyangkut keluarga Ni.""Maka kau tak pernah menanyakan kabar beritanya?"

"Kalau kau pun tidak bertanya, tentu saja aku merasa sangat lega," sahut Po Ing. "Apalagi ada baiknya juga bila kami berdua berpisah berapa saat, daripada tiap hari hidung menyenggol hidung, mata menyenggol mata, lama kelaman jadi bosan juga!"

Tiba tiba manusia berbaju abu abu itu menyela, "Masuk diakal juga perkataanmu itu. Suami istri memang harus diingat dalam hati saja, ketimbang tiap hari ketemu dan beradu mulut!"

Walaupun dia sedang tersenyum tapi wajahnya kelihatan sangat lelah, paras mukanya kelihatan jauh lebih hitam ketimbang barusan. Matanya juga mulai nampak kekuning-kuningan."Walaupun si baju hijau telah pergi, tapi dia toh

tak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Padahal kasus pembunuhan ini telah terbongkar dan selesai sampai di sini," kata manusia berbaju abu-abu

itu. Kemudian setelah melihat Po Ing sekejap, tambahnya, "Aku lihat wajahmu mulai pucat dan kurang sehat. Konon ilmu memasak dari nona besar Oh sangat hebat dan sangat berguna untuk menambah kekuatan lelaki. Kenapa kau tidak mencarinya untuk makan barang satu dua mangkuk?"

Po Ing tersenyum. Dia pun sedang memandang wajah orang herbaju abu abu itu; pandangan penuh rasa kuatir dan perhatian.

"Kau juga mesti baik baik jaga diri," pesannya. "Obat paling manjur untuk mengobati penyakit ginjalmu adalah "istirahat dengan tenang." Lebih baik jangan banyak marah dan mengumbar emosi. “tidak baik untuk kesehatan badanmu."

Manusia berbaju abu abu itu tersenyum. "Aku tahu, asal kau tidak selalu mencari gara gara di luaran, mungkin aku pun tak perlu marah marah lagi," katannya.

Selesai berkata, ia segera bertepuk tangan dua kali, dari balik tembok pekarangan tiba-tiba melayang masuk sebuah tandu. Tandu bersama penandunya melayang masuk dengan kecepatan tniggi. Bukan hanya cepat, gerakan badannya juga amat ringan, sedemikian ringannya seolah olah tandu dan penandunya hanya terbuat dari kertas biasa.Manusia berbaju abu abu itu segera naik ke dalam tandu. Orang bersama tandunya kembali melayang di udara dan meluncur keluar dari pagar pekarangan.Dari kejauhan sana, terdengar ia berseru lagi, "Jangan lupa, orang yang memakai cincin besi berwama hitam itu besar kemungkinan adalah satu komplotan dengan si baju hijau. Biarpun kali ini dia tidak turun tangan, jika ia sampai turun tangan, mungkin kau akan semakin kerepotan!"Organisasi rahasia apakah yang dimaksud? Untuk sementara waktu Po Ing tak ingin memikirkannya.

Bagaimana pun juga persoalan itu adalah persoalan dalam kisah cerita yang lain.

*****TAMAT*****