Elang Pemburu Jilid 11 : Jago Tangguh yang Tersembunyi

Jilid 11 : Jago Tangguh yang Tersembunyi

Di belakang warung bakmi di mana Thia Siau cing pemah bersantap terdapat sebuah loteng tiga tingkat. Dulu tempat itu digunakan seorang hartawan untuk menemani istrinya menikmati bulan pumama, tapi sekarang tempat itu telah dipakai oleh Phoa tayjin, Phoa Ki seng, pejabat eselon empat dari kota Chi lam. Di atas loteng itu terdapat empat buah jendela besar yang luas sekali pemandangannya. Saat itu suasana hening telah menyelimuti malam yang semakin kelam, Phoa tayjin seorang diri duduk di tepi jendela, mengawasi rumah rumah penduduk yang penghuninya mulai terlelap tidur.

Membayangkan suka duka yang dialami setiap keluarga dalam kota itu, ia tak tahu bagaimana harus mengungkap perasaan tersebut.

Paling tidak saat ini dia tidak akan merasakan sesuatu, karena seluruh pikiran dan perhatiannya sedang tertuju ke tubuh seseorang; Leng Giok hong yang telah memasuki gedung besar di seberang sana seorang diri.

Esok pagi apakah Leng Giok hong juga akan keluar dari gedung itu lewat pintu belakang yang sempit lagi jelek itu, seperti juga halnya dengan apa yang dialami Chee Gwat sian? Apakah pembunuh itu juga akan menanti kedatangannya seperti apa yang telah diduganya semula?Ketika Phoa tayjin, pembesar negara yang mempunyai jabatan tinggi ini sedang menghela napas seorang diri, tiba tiba dari luar jendela terdengar ada seseorang melayang turun dari atap rumah, lalu sambil mendekap di lantai dia ikut menghela napas juga, meski suaranya lebih kecil.

"Hamba Ni Siau cong menghadap Phoa tayjin," katanya.

Phoa Ki seng tidak menjadi terkejut atau terkesiap lantaran kehadirannya yang tiba tiba itu. Tak bisa disangkal, kehadiran Ni Siau cong memang sudah diatur sebelumnya.

Kemudian dengan sikap dan suara yang lembut dia ajukan banyak pertanyaan, sedang Ni Siau-cong dengan seksama menjawab setiap pertanyaan yang diajukan."Siapa nama asli Ang ang?"

"Dia bemama Lie Lam ang, berasal dari kota Tay goan propinsi Shansi. Keluarga Lie dari Tay goan maupun keluarga Thia dari Kwan-say, semuanya adalah

suku-suku kenamaan di daerah setempat."Jadi dia memang kenal dengan Thia Siau cing?"

"Mereka sudah kenal semenjak masih kecil, boleh dibilang mereka tumbuh dewasa bersama. Kalau bukan lantaran Lie Lam ang sudah dijodohkan sejak lama, mungkin mereka sudah menjadi suami istri yang bahagia sekarang." "Maksudmu sebenamya secara diam diam mereka berdua sudah saling mericinta?"

"Benar."

"Kemudian Lie Lam ang kawin dengan siapa?"

"Dia kawin dengan Pek Sian kui, keturunan dari Kou siok sam yu (tiga kawanan dari Kou siok). Tapi kemudian keluarga Pek dibantai orang hingga semua keluarganya ludas terbunuh. yang tersisa tinggal Lie Lam ang seorang yang berhasil meloloskan diri dari pembantaian. Sejak itu dia kabur balik ke rumah keluarganya di kota Tay goan."

"Siapa musuh besar mereka? Mengapa mereka turun tangan sekejam itu?" "Tidak jelas," jawab Ni Siau cong, "kematian tragis keluarga Pek hingga kini masih menjadi teka teki yang sukar dijawab."

Phoa tayjin berkerut kening, diteguknya air teh satu tegukan. Ia tak teringat siapa yang menjadi wali kota Kou siok waktu itu.

Terdengar Ni Siau cong kembali berkata, "Setelah pulang ke rumah, nona Lie baru tahu kalau Thia Siau cing temyata masih mencintinya, bahkan rasa cintanya terhadap nona itu tak pemah luntur. Nona Lie sangat iba melihat kejadian itu, tanpa disadari rasa haru membangkitkan kembali rasa cintanya kepada pemuda itu."

Orang kangauw kalau sedang bicara selalu ceplas ceplos tanpa tedeng aling aling, biasanya mereka hanya bicara secara garis besar dan tak suka mendetil. "Nona Lie masih muda sudah menjanda, sedang Thia kongcu masih membujang, sebetulnya jodoh di antara mereka berdua masih punya harapan dan bisa dilangsungkan. Sayang sekali Kwan sam kou nay nay, ibu kandung Thia Siau cing bersikukuh menentang perkawinan ini, bahkan berhasil membujuk kakak keduanya, Kwan Giok bun, untuk memisahkan sepasang kekasih ini secara paksa."Tampaknya Ni Siau cong merupakan seorang dunia persilatan yang sensitif emosinya. Ketika bercerita tentang kisah percintaan kedua orang itu, ia bisa melukiskan bagaikan seorang pencerita ulung.

Phoa tayjin tidak tertawa, dengan wajah serius katanya, "Tak heran kalau Thia Siau cing begitu acuh sikapnya sewaktu bertemu engkit nya, seolah olah tidak saling mengenal saja. Tak heran juga kenapa Lie Lam ang bisa nekad menjalani profesi seperti ini, kadangkala kehidupan seorang pelacur tak ada bedanya dengan kehidupan seorang padri."

"Betul juga perkataan tayjin."

"Sayang sekali Thia Siau cing masih tak bisa menahan emosinya. Lantaran dia tak mampu mencegah Lie Lam ang menjalani profesi sebagai pelacur tingkat tinggi, terpaksa ia lampiaskan rasa dendam dan sakit hatinya kepada tamu tamu yang pemah menginap bersama nona itu."

Setelah menghela napas panjang, tambahnya, "Kadangkala kata "cinta" memang sangat menakutkan!"

Ni Siau cong tidak menjawab, namun dari kerutan alisnya tiba-tiba terbesit perasaan sedih yang tak terlukiskan dengan kata.Mungkinkah dia pun mempunyai kisah masa lalu yang sama sedih dan pedihnya seperti kisah cinta Lie Lam ang? Mungkinkah kisah sedih itu tak pemah diceritakan kepada orang lain?

Tapi, sesungguhnya siapakah orang di dunia ini yang benar benar dapat lolos dari perangkap "cinta?"

Lewat berapa saat kemudian Phoa Ki seng baru buka mulut. Dengan menggunakan sikap yang serius dan sungguh sungguh dia berkata kepada Ni Siau cong. "Biarpun aku bekerja sebagai pejabat tinggi kerajaan, sedikit banyak masalah dunia persilatan cukup kupahami," katanya. "Aku pernah mendengar cerita orang, katanya walaupun kau hidup di kalangan ok pa namun tak pemah melakukan kejahatan serius. Bila kau bersedia, aku bisa angkat kau sebagai komandan polisi menggantikan posisi Komandan Sin yang sedang kosong." "Lapor tayjin, hamba Cuma pingin melakukan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Asal ada keuntungan yang bisa kuperoleh, apapun pekerjaan itu pasti akan kulaksanakan. Hanya satu pekerjaan yang tak akan kulakukan."

Pekerjaan apa yang dimaksudkan? Tentu saja bekerja sebagai hamba negara. Hanya saja perkataan itu. tak sampai diucapkan, dan dia memang tak perlu mengucapkannya keluar.

Kembali Phoa Ki seng menghela napas. "Orang yang terbiasa hidup di sungai telaga memang tak suka melakukan pekerjaan yang mengikat, aku paham dengan perasaanmu. "

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, "Padahal walaupun bekerja sebagai hamba negara, kita masih bisa bebas pergi ke mana pun kita mau. . . "

Kedua orang itu saling berpandangan dan tidak bicara lagi. Keheningan segera mencekam sekeliling tempat itu.Dalam pada itu malam hari telah mencapai ujungnya, setitik cahaya merah mulai nampak di ufuk timur.

Baru saja Ni Siau cong akan pergi dari situ, tiba tiba dari balik langit yang berwama kelabu muncul asap yang tebal, asap berwama ungu.

Dari mana asap ungu itu?

Baik, Phoa tayjin maupun Ni Siau-cong dapat melihat dengan jelas sekali. Tempat di mana muncuInya asap ungu itu tak lain adalah di tengah gedung berpekarangan tinggi yang berada persis di hadapan mereka.Ni Siau cong terkesiap. Ia terkejut bukan lantaran munculnya asap ungu itu. Dia terperanjat karena sama sekali tak menyangka Phoa Ki seng, Phoa tayjin yang selama ini dianggap sebagai seorang pejabat negara yang lemah, temyata adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi, seorang jago tangguh yang selama ini selalu menyembunyikan identitas sendiri.

Bersamaan dengan munculnya asap ungu itu, Phoa tayjin segera mengebaskan ujung bajunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya dengan jurus mendorong jendela melihat rembulan, langsung meleset keluar lewat daun jendela, Ujung kakinya segera menutul di atas pagar loteng kemudian menutul ranting pohon di luar pagar. Dengan gerakan Yancu sam Cau Sui (burung walet menyambar air) ia sudah menerobos tembok pekarangan rumah seberang yang tinggi itu. Dalam waktu sekejap bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.Ni Siau Cong tertegun, Untuk berapa saat lamanya ia cuma berdiri termangu, tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Bagaimana pun juga dia adalah manusia, punya rasa ingin tahu. Sebetulnya dia pun ingin menyusul ke situ untuk ikut melihat keramaian, tapi kasus pembunuhan ini terlalu besar dan menyangkut banyak orang kenamaan. Dapat dipastikan situasinya sangat berbahaya. la kuatir bila terlibat kelewat dalam maka setiap saat mungkin akan mengundang datangnya kematian bagi diri sendiri.Yang lebih menakutkan lagi adalah semua tokoh yang terlibat datam kasus pembunuhan ini bukan orang orang biasa. Phoa Kiseng, Leng Giok hong, hampir setiap orang seperti menyembunyikan banyak rahasia, bahkan rahasia itu adlah rahasia yang menakutkan. Terbukti jagoan ampuh macam Komandan Sin pun tak luput dari kematiannya gara-gara kasus tersebut.Pertimbangan itulah yang membuat Ni Siau cong jadi sangsi, ragu ragu untuk melanjutkan niatnya.

Belum sempat dia mengambil keputusan, tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati bergema memecahkan keheningan. Jeritan itu mirip ringkikan seekor keledai yang terbunuh, ringkikan yang mengandung rasa takut menghadapi maut, terkandung juga perasaan kecewa serta putus asanya menghadapi kehidupan.Jerit kematian itu berasal dari balik gedung di seberang sana.

Ketika Phoa Ki-seng mendengar suara jeritan ngeri itu, dia pun melihat Leng Giok-hong.

Waktu itu Leng Giok-hong sedang berdiri di tempat asal munculnya asap berwarna ungu itu.