Elang Pemburu Jilid 09 : Ni Siau cong (Si Ulat Kecil Ni)

Jilid 09 : Ni Siau cong (Si Ulat Kecil Ni)

Malam semakin larut, hanya angin malam di musim gugur masih berhembus menggoyang ranting dan dedaunan. Tiada Suara lain, suasana bahkan terasa lebih sepi daripada tak ada suara.

Leng Giok hong duduk seorang diri di bawah cahaya lentera. Orang lain tidak mendengar suara apapun, tapi ia seperti telah menangkap satu suara aneh.Tiba tiba dia mendongakkan kepalanya lalu. memberi tanda ke luar jendela. Sesosok bayangan manusia yang kecil kurus segera melayang turun dari atas pohon dengan gerakan yang sangat enteng, lebih enteng dari daun kering yang rontok ke tanah.

la berjongkok di depan jendela, di bawah sinar bintang yang redup, secara lamat lamat dapat terlihat paras mukanya yang putih memucat.

Walaupun tampangnya seperti seorang pencuri malam, bermata tikus berkepala kecil, kalau diamati lebih cermat sesungguhnya dia punya wajah yang tak terlampau jelek.

Ternyata orang itu tak lain adalah orang yang pemah ditangkap dan dilempar Lenghou Put heng dari atas wuwungan rumah. Dia bemama Ni Siau cong (si ulat kecil Ni).

"Bagaimana dengan tugas yang kuberikan? Sudah kau laksanakan?" tanya Leng Giok hong.

Ni Siau cong mengangguk.

"Kapan?" kembali Leng Giok-hong bertanya."Besok, sebelum jam tujuh malam" "Berapa banyak tamunya?"

"Tiga orang!"

"Siapa saja orang orang itu?"

"Yang satu adalah seorang pedagang besar jinsom asal propinsi Kwan Tang yang bemama Hong Po kak, kebetulan saja orang Itu sedang lewat kota ini. Sedang yang satunya lagi adalah si hwesio gadungan Im taysu."

"Bagus, bagus sekali" Leng Giok hong segera mengayunkan tangannya, sekeping daun emas segera muncul dari sakunya dan dilempar ke arah orang itu.

Ni Siau cong mundur ke belakang sambil putar badan. Baru saja dia hendak menerima lemparan daun emas itu sembari melejit ke udara, mendadak dari balik kegelapan malam terdengar orang membentak keras.

"Pundak rata, serang!"

Diiringi suara hardikan, belasan cahaya tajam yang menyi1aukan mata segera menyambar ke tengah udara. Belasan jenis senjata rahasia datang dari empat penjuru. yang berbeda serentak meluncur tiba dan mengancam tubuhnya.

Buru buru Ni Siau cong menggerakkan tangannya menangkap daun emas itu dan cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku, lalu dengan gerakan burung walet menukik di angkasa ia bersalto beberapa kali di tengah udara sementara tangannya bergerak cepat menyambar ke sana menyambar ke mari. Tak jelas gerakan apa yang digunakan, tahu-tahu belasan macam amgi yang mengancam tubuhnya Itu sudah ditangkap semua olehnya.Kemudian dengan satu gerakan yang enteng dia meluncur balik ke posismya semula. Semua gerakannya sejak berkelit, menerima ancaman senjata rahasia hingga balik ke tempat asal dilakukan dalam sekejap mata, benar benar satu kepandaian kelas wahid yang sangat luar biasa.Bayangan manusia berkelebat lewat, kembali muncul seseorang menerjang ke depan Ni Siau cong, lalu dengan ilmu Eng jiau kang (ilmu cakar elang) dia ancam persendian penting di tubuh lawan. Ni Siau cong mendengus dingin, dengan gesit ia berkelit ke samping lalu balas melancarkan satu tonjokan.

Diiringi suara keluhan tertahan, tahu tahu orang itu sudah roboh terjungkal ke tanah.

Siapa pun tak mengira, bahwa bukan saja serangan yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil, sebaliknya malah mereka yang berhasil dirobohkan Ni Siau cong. Ilmu mengait, mencakar, mencengkeram dan mengunci yang dikuasai Ni Siau cong benar benar luar biasa! Tampaknya dia amat menguasai ilmu 72 jurus Kinna jiu yang amat tersohor itu.Sambil bergendong tangan Leng Giok hong berjalan keluar dari ruangan dengan wajah penuh senyuman. la hanya berdiri tenang di bawah pohon, semua kejadian yang berlangsung di hadapannya hanya ditonton sebagai suatu atraksi menarik.

Dalam pada itu Ni Siau cong sudah lenyap di balik kegelapan, sementara jagoan yang dirobohkan tadi juga sudah tak nampak batang hidungnya. Suasana di dalam halaman kembali pulih dalam keheningan yang mencekam.

Tiba tiba Leng Giok hong menghampiri sebuah pohon di tengah halaman, lalu serunya sambil tertawa, "Komandan Sin, udara di atas pohon kelewat dingin, kenapa kau tidak segera turun untuk minum arak?"

Arak Cu yap cing, arak Bi kuiliok, ikan asap, daging sapi masak kecap, cah terong plus tauge, tiga macam sayur ditambah dua jenis arak. Satu hidangan yang cukup lengkap dan mewah.Sudah tiga cawan arak masuk ke dalam perut, biar araknya dingin tapi manusianya tetap hangat.

"Sungguh tak disangka. . . sunggguh di luar dugaan!" gumam Komandan Sin sambil menghembuskan napas panjang. "Tadinya aku sudah siap sedia melindungi dia dari ancaman musuh dan berusaha melindunginya, tak disangka ternyata si ulat kecil Ni Siau cong sesungguhnya adalah seorang jagoan yang berilmu tinggi! "

"Buat apa kau menahannya di sini? Mengundangnya minum arak?" kata Leng Giok hong. Biarpun wajahnya sedang tertawa namun sorot matanya sama sekali tidak terbesit mata untuk tertawa. Tertawa semacam ini jauh lebih menakutkan daripada tertawa biasa.Tapi Komandan Sin tidak memperhatikan hal itu, kembali ujarnya, "Mana ada arak wangi di Lak san bun kita? Kalau toh harus mengundangnya minum, paling tidak dia pun harus muntahkan sesuatu untuk kita."

"Muntahkan apa? Kejadian sebenarnya? Pengakuan sejujumya? Rekan rekannya? Barang jarahannya?" perkataan Leng Giok-hong sangat hambar. "Kau ingin Ni Siau cong muntahkan apa lagi? Apa yang dia muntahkan, memangnya bisa kau telan semua dengan begitu saja?"Komandan Sin masih tertawa tapi nada tertawanya sudah sedikit dipaksakan, akhimya ia sadar bahwa persoalan ini sedikit kurang beres. Yang lebih aneh lagi, temyata sikap Leng Giok hong justru berubah makin santai dan lebih melihat kenyataan.

"Sekarang, tentunya kau sudah tahu bukan bahwa pemilik baru gedung besar itu tak lebih hanya seorang pelacur kelas tinggi yang melakukan perdagangan gelap. Saban berapa hari satu kali dia selalu akan mengadakan perjamuan,

yang diundang selalu calon calon korban yang kayaraya. Setelah diperas duitnya, dicabut nyawanya. Orang yang mencarikan langganan baginya adalah Ni Siau cong. Di antara para korban yang telah mati diujung goloknya adalah

Chee Gwat sian berlima!"Setelah berhenti sejenak, ia lanjutkan, "Besok, aku akan menjadi korban ke enam!"

Paras mukanya berubah semakin riang, terusnya dengan wajah berseri, "Tapi kali ini akan terjadi sebuah kejutan kecil, satu kejutan yang lain daripada yang lain. Ketika nanti si pembunuh datang untuk menghabisi nyawaku, maka aksinya akan menjadi aksinya yang terakhir!"

"Ah, aku sudah mengerti maksud kongcu. Benar benar satu siasat yang amat brilian!" puji Komandan Sin.

"Sekarang kau pasti sudah mengerti bukan, bila kita tangkap si Ulat Kecil Ni Siau cong maka orang yang bertugas mencarikan langganan jadi tak ada. Calon tetamu pun tak bisa tiba di tempat pertemuan."

Setelah berpaling dan tertawa, katanya lagi, "Bukan begitu Komandan Sin?" "Seharusnya memang begitu." Bila sang tetamu tak bisa hadir di pertemuan maka sang pembunuh pun tidak mempunyai sasaran korban, otomatis dia pun tak akan tampilkan diri. Bila sampai terjadi keadaan seperti ini maka akan semakin sulit untuk menangkap basah sang pembunuh itu.

"Komandan Sin, bukankah begitu?" kembali Leng Giok hong bertanya. Komandan Sin mulai sibuk menyeka keringat, keringat dingin.

Tiba tiba Leng Giok hong berganti topik pembicaraan, katanya, "Sebenarnya tak mungkin bagi Kwan ji untuk tampil bersama dengan keponakannya di satu tempat yang sama. Tapi kali ini dia sudah melanggar tradisi dan jauh-jauh dari Chi lam datang kemari. Mungkinkah ada orang yang telah memberi kabar kepadanya kalau di tempat ini ada orang hendak mencelakai Thia Siau cing?""Besar kemungkinannya begitu."

"Tapi siapakah orang itu?" kata Leng Giok hong sambil tertawa. Tiba tiba ia menoleh ke arah Komandan Sin dan melanjutkan, "Jangan jangan kau orangnya!?"

"Aku? Mana mungkin aku?" seru Komandan Sin terperanjat.

“Untuk melatih sepasukan pembunuh kepercayaan, orang butuh dana dalam jumlah yang amat besar. Belum tentu dana sebesar ini sanggup dipikul seorang komandan polisi. Seandainya muncul donatur yang bersedia mendanai latihan pasukan khusus itu, tentu saja hal ini akan disambut dengan gembira oleh siapa pun!"

Setelah berhenti sejenak, kembali Leng Giok hong melanjutkan, "Bila suatu ketika terjadi satu kejadian yang ada sangkut pautnya dengan donatur itu, tentu saja si komandan polisi ini harus secepat mungkin menyampaikan berita ini kepada pelindungnya ... Oleh sebab itu, seorang donatur selalu dianggap orang persilatan sebagai salah satu grup yang paling cepat dan paling tepat beritanya. .

."Otot otot hijau di sepasang tangan Komandan Sin telah menonjol keluar semua, bentuknya seperti kawat baja yang amat tebal, bahkan kulit tangannya pun kini telah berubah warna jadi merah kehitam hitaman seperti kulit bersisik seekor ular; memuakkan siapa pun yang melihatnya.

Agaknya Leng Giok hong amat senang melihat wama semacam itu, dia awasi terus sepasang tangannya tanpa berkedip, tiba tiba tanyanya lagi, "Komandan Sin, menurut kau benar tidak kejadiannya?"

"Ya, tepat sekah!" kali ini Komandan Sin menjawab, tapi suaranya kedengaran sangat parau, memang begitulah kejadian yang sebenamya!"

Bersamaan dengan menggemanya suara jawaban itu, ia sudah melancarkan serangan. Dengan jurus yang paling mematikan dari ilmu Eng jiaukang (cakar garuda) dia berusaha mencongkel mata Leng Giok hong dengan tangan kirinya, sementara. ibu jari dan jari telunjuk tangan kanannya dengan gerakan "mata harimau" mengancam nadi besar di tenggorokan lawan sementara jari tengah, jari manis dan kelingkingnya menotok tiga buah jalan darah kematian di wajah pemuda itu.Bukannya berkelit, Leng Giok-hong malah merangsek maju ke depan. Agaknya dia menyambut, datangnya serangan lawan dengan menggunakan ilmu dan jurus yang mirip, hanya kepandaian yang digunakan satu tingkat lebih tinggi, dari ilmu Eng jiau kang, sejenis ilmu Kin na jiu kelas atas yang khusus digunakan untuk membetot otot dan merenggangkan ruas; tulang musuh.Dia selalu mengajar orang untuk melancarkan serangan yang paling mematikan pada serangan pertama, tentu saja kali ini pun dia tidak memberi peluang untuk musuhnya. Dia tak ingin memberi kesempatan kedua untuk lawannya melancarkan serangan susulan.

Ketika melancarkan serangannya kali ini, semua jurus yang digunakan adalah jurus jurus mematikan yang tidak ada belas kasihan. Seperti juga yang dilakukan kawanan iblis di masa lalu, iblis kenamaan Mayat hidup Sam yang coat jiu, asal dia turun tangan maka dalam sekejap mata mati hidup sudah diputuskan.Hal ini bukan disebabkan aliran ilmu silat yang dipelajarinya adalah aliran macam begitu, tapi lebih dikarenakan wataknya memang begitu.

Orang yang tidak berperasaan selalu akan turun tangan tanpa perasaan. Bisa menjadi penentu mati hidupnya orang lain merupakan pekerjaan yang paling menggembirakan dalam hidupnya.Tiba tiba tampak seseorang berlarian masuk dengan langkah lebar, sambil lari teriaknya berulang kali, "Leng kongcu, tahan serangan! Tahan serangan!"

Sayang teriakan itu sudah tertambat sekali, tidak keburu menahan tibanya serangan yang mematikan. Seandainya tidak terlambat pun sama saja keadaannya, tak mungkin bisa mengubah situasi yang sebenamya. Karena di saat Leng Giok hong turun tangan tadi, nasib Komandan Sin telah diputuskan. Tak seorang manusia pun dapat merubah keputusan yang telah diambil itu.

Orang yang muncul di saat kritis itu tak lain adalah lelaki setengah umur yang sejak awal munculnya asap berwama ungu telah melakukan penyelidikan bersama. Tampaknya dia pun termasuk seseorang berpangkat tinggi yang sudah terbiasa menentukan matihidupnya orang lain, perkataan orang semacam ini biasanya adalah perintah, perintah yang tak boleh dibangkang.Sayang sekali ketika ia mulai berteriak tadi, komandan Sin sudah mulai menjerit kesakitan. Di tengah jeritan ngeri itu tersisip suara tulang betulang yang remuk dihajar sesuatu.

Suara tulang belulang yang remuk tentu saja jauh lebih kecil ketimbang suara. teriakan maupun jeritan kesakitan, tapi justru terdengar lebih nyata dan jelas. Suara remukan setiap ruas tulang-belulang kedengaran sangat jelas sekali, demikian jelasnya hingga membangkitkan rasa bergidik yang mendirikan bulu roma.Paras muka lelaki setengah umur itu berubah hebat. Leng Giok hong masih berdiri tenang, katanya dengan suara hambar, "Phoa tayjin, jangan salahkan aku, sedari tadi aku sudah mengampuni dia! Luka itu terjadi karena tenaga pantulan yang dia gunakan sendiri. Kau toh mengerti ilmu Eng jiau kang yang dilatih Komandan Sin sangat hebat dan luar biasa."

"Dia sudah mati?"

"Belum, belum mati. Jika dia mau mengobati lukanya dan beristirahat dengan tenang, masih ada kemungkinan baginya untuk hidup lebih lama ketimbang kebanyakan orang!"

Apa mungkin seorang jagoan macam Komandan Sin dapat beristirahat dengan tenang selama bertahun tahun di atas pembaringan? Daripada tersiksa hidup memang lebih baik mati saja. Phoa tayjin menghela napas panjang, kini nada bicaranya mulai menjadi tenang kembali, katanya, "Leng kongcu, kau memang tak bisa disalahkan. Aku rasa seandainya dia jadi kamu pun dia akan melakukan tindakan yang sama. . ."Setelah tarik napas, ia ganti topik pembicaraan, terusnya, "Aku hanya merasa heran dengan sesuatu..." "Soal apa?"

"Apa benar Thia Siau cing adalah keponakan Kwan ji sianseng?" "Benar."

"Tapi sewaktu bertemu tadi, mereka berdua seolah olah tidak saling kenal?" "Ya, hal ini disebabkan urusan perempuan." sahut Leng Giokhong. "Bukan karena satu perempuan, tapi dua orang perempuan sekaligus!"Tampaknya semua kesulitan, kemurungan dan pertikaian yang dialami seorang lelaki di dunia ini tak terlepas dari masalah wanita. Seorang wanita saja sudah cukup bikin kepala pusing, apalagi sekarang dua orang wanita sekaligus.

Sebaliknya bagaimana untuk kaum wanita? "Salah satu dari dua orang Wanita itu adalah ibu Thia Siau cing. Dia adalah adik perempuan Kwan Giok bun.

Untuk wilayah Kwan say dan sekitamya, orang menyebutnya sebagai Sam Kou- nay nay (nyonya muda ke tiga) Kwan Sam nio""Lalu siapa perempuan kedua? Apakah Ang ang?

"Benar!"

Ang ang duduk di tengah sebuah ruangan.dengan warna putih dominan dimana mana. Kecuali rambutnya yang hitam dan sepasang matanya yang bening, hanya wama putih yang nampak.

Bunga kamelia dengan tiga belas lembar kelopak bunganya yang berwama putih menghiasi sebuah vas bunga berwama putih. Embun yang berubah jadi butiran air masih kelihatan membasahi kuntum kuntum bunga itu.

Satu perangkat alat makan yang berwama sama putihnya dengan vas bunga itu sudah disiapkan di atas meja. Daftar menu hidangan yang disiapkan pada malam ini terdiri dari: 1 piring paha babi kukus, 1 piring paohi masak bebek, 1 piring daging ikan tim, 1 piring lidah sapi masak saus, 1 piring angsio ati babi, 1 piring ayam cah mete.

Selain itu juga disiapkan: 1 piring kepiting goreng, 1 piring udang goreng, 1 piring kerang masak taoco serta 1 piring telur bebek dadar. Untuk kuahnya disediakan: 1 mangkuk besar bebek masak Yan oh, 1 mangkuk ayam masak rebung, 1 mangkuk ginjal babi masak haisom, serta 1 mangkuk kalkun masak sayur asin.

Di samping i tu disediakan juga: Ikan mas goreng taoco, sayap ayam masak kecap, irisan daging bebek cah jamur dan ayam goreng wortel. Untuk pengiring hidangan adalah: 1 tenong mantao kecil 1 piring jerohan babi masak daun kol, satu piring kue kukus, 1 bakul nasi kukus, 1 mangkuk besar bubur teratai, 1 keranjang aneka macam buah buahan.

Untuk minuman disiapkan sepoci teh Wu long tea yang khusus didatangkan dari Hokkian.

Tampaknya Ang ang merasa puas sekah dengan daftar menu hidangan itu. Sambil menoleh ke arah Wan wan, tanyanya, "Bagaimana dengan araknya?" "Arak Cuang goan ciu yang diminum di luar dan arak teratai putih yang diminum di dalam sudah disiapkan semuanya."

"Bagaimana dengan tamunya? Kapan mau datang?"

"Tamu akan hadir sebelum jam 7 malam. Meski cara kerja si kura-kura kecil Ni Siau cong tampaknya lamban, dia belum pemah datang terlambat.""Bagaimana dengan paman Put heng?"

"Masih sama seperti dulu dulu, sekarang sedang bersembunyi seorang diri di dalam kamar sambil mengasah goloknya."

Cahaya golok berwarna merah kehitam hitaman, persis seperti warna darah yang akan membeku. Konon warna darah yang mengucur keluar di saat terbacok oleh golok iblis adalah warna merah kehitam hitaman macam begitu. Mata golok memang selalu tipis, setipis nasib perempuan cantik.

Lenghou Put heng tidak sedang mengasah golok. Sudah tak ada batu asahan di dunia ini yang bisa digunakan untuk mengasah goloknya lagi. Golok tersebut tak bisa diasah dengan batu asahan tapi harus diasah dengan batok kepala musuh bebuyutannya. Bentuk golok melengkung persis seperti lengkungan rembulan, memancarkan sinar yang begitu dingin dan menggidikkan hati. Oleh karena itu, di saat dia mengayunkan goloknya, tak ada orang yang bisa menduga sabetan senjatanya yang melengkung tersebut bisa berubah ke sudut yang mana dan mengancam arah yang mana."Sudah berapa lama golok itu tak pemah menghirup darah segar musuhnya?"

"Masih hidupkah musuh-musuh besamya?"Dengan ujung jarinya Lenghou Put heng menyentuh mata golok, lalu dengan perlahan membelai ketujuh huruf kecil yang tertera ditubuh golok,

"Siau lo it ya tia cun yu."

Tak sedikit orang orang dalam dunia persilatan yang tahu kalau ketua Mokau di masa lalu punya julukan sebagai "Siau lo" (loteng kecil), juga pernah mendengar kisah percintaannya dengan seorang nona yang bemama "Cunyu" (hujan di musim semi). Syair "Siau lo it ya tia cun yu " (semalaman menikmati hujan di musim semi dari atas loteng) memang khusus ditulis untuk memperingati kisah percintaan itu.Tapi mungkinkah di balik kesemuanya itu masih terkandung maksud lain? Mungkinkah ketua Mokau masa itu sengaja menciptakan syair tersebut sebagai sebuah teka teki dan menyimpan satu rahasia yang maha besar di balik teka teki itu? yang paling membuat orang tertarik dan kesemsem adalah...Mungkinkah teka teki besar yang tersembunyi di balik syair itu ada sangkut pautnya dengan sejumlah harta karun yang dimiliki Mokau di masa

lalu?

Mungkinkah teka teki itu menyangkut juga rahasia ilmu silat maha sakti yang pemah dimiliki ketua Mokau?

Harta karun yang berjumlah luar biasa, ilmu silat yang maha sakti, memang selalu akan menjadi daya tarik orang orang persilatan. Sejak dulu hingga sekarang, entah sudah berapa banyak jagoan yang mati gara gara masalah itu. Bagi Lenghou Put heng pribadi, sudah banyak tahun ia tak pemah memikirkan masalah itu. Yang dipikirkan olehnya saat ini hanya tiga orang.

Leng Giok hong, Im hweesio, Hong Poo kak.

Kini daftar menu sudah muncul. yang akan menjadi hidangan Siapakah di antara ke tiga orang itu ternikmat?