Elang Pemburu Jilid 08 : Pasukan Buru Sergap

Jilid 08 : Pasukan Buru Sergap

Waktu itu, Leng Giok hong telah tiba di rumah penginapan. Thia Siau cing tidak berada di dalam kamamya di bagian belakang losmen itu. Saat itu dia sedang bersantap malam, di hadapannya tersedia aneka ragam hidangan yang nyaris memenuhi seluruh meja.

Sang pelayan Siau bu sit berkata, "Dia telah memesan satu hidangan lengkap seharga delapan tahil perak, empat jenis masakan dalam porsi besar, empat jenis sayuran dan hidangan kecil ditambah berapa macam pencuci mulut."

"Luar biasa takaran makan tamu ini. Tiap hari dia selalu memesan hidangan yang cukup untuk menjamu enam orang, tapi seorang diri dia dapat menghabiskan semua hidangan itu."Leng Giok hong tidak komentar, dia cuma tersenyum. Waktu itu si pelayan Siau bu sit sudah akan pergi dari situ, tapi secara tiba tiba ia berkata lagi, "Tapi hari ini, kami kedatangan seorang tamu lagi yang takaran makannya tidak berada di bawah orang itu. Dia sudah menghabiskan empat mangkuk besar Ang sio Jin Som ditambah seekor bebek panggang dan seekor bebek goreng. Sampai sekarang dia masih makan terus, benar benar mengerikan cara makannya!""Apakah tamu ini adalah seorang lelaki yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang?" tanya Leng Giok hong dengan sorot mata berkilat.

"Betul!"

Leng Giok hong tertawa dingin. "Bagus sekali, yang seharusnya datang ternyata sudah berdatangan."Di luar ruangan untuk bersantap merupakan sebuah halaman yang sederhana lagi jelek. Leng Giok hong segera mengebaskan bajunya, tidak nampak gerakan apapun yang dilakukan, tahu tahu dia sudah melejit ke depan dan melayang ke atas pohon besar.Dia telah menurunkan perintahnya kepada Komandan Sin. "Panggil pasukanmu dan segera habisi nyawa Thia Siau cing! Lebih bagus lagi jika bisa menghabisi nyawanya dalam sekali sergapan!"

"Kapan kita mesti turun tangan?" "Sekarang!"

Kembali Leng Giok hong berpesan, "Sewaktu turun tangan nanti, kalian mesti ingat baik baik, jangan sekali kali kalian usik lelaki penyakitan yang kurus kering itu! Lebih baik lagi bila melirik ke arahnya pun tidak. Anggap saja seolah olah di sini tak pernah hadir seorang manusia macam dia."

Pesan ini memang sangat penting. Bukan saja orang itu tak boleh disentuh, tak boleh diganggu, tak boleh didekati, dilihat pun lebih baik jangan.

Kwan Say, Kwan ji adalah manusia semacam itu. "Manusia cerdas Kwan Kiem hwat, Manusia berotot Kwan Giok bun." Satu satunya pengharapan dari Leng Giok hong saat ini adalah Kwan Giok bun sendiri pun bersikap seolah olah tidak melihat kehadiran mereka.Di dalam ruang bersantap penginapan itu, biasanya saban hari paling tidak ada enam tujuh meja yang dipenuhi tetamu. Namun hari ini hanya dua meja yang terisi. Semenjak kehadiran lelaki penyakitan yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang itu, semua tamu sudah merasakan gelagat yang kurang beres. Tentu saja mereka tak berkeinginan untuk melanjutkan santapannya dalam situasi serta suasana semacam ini. Lelaki berpenyakitan itu sejak masuk hingga saat itu sama sekali tidak mengganggu orang lain, dia hanya asyik bersantap dan berpesta sendiri. Kecuali cara bersantapnya yang tak sedap dilihat karena kelewat rakus, ia tak pemah mengucapkan sepatah kata kasar pun, apalagi perbuatan atau tindakan yang kasar.

Tapi bagi pandangan orang lain, tindak tanduknya justru mendatangkan suatu firasat yang tak beres, seakan akan hembusan angin dalam ruangan pun ikut berubah jadi lebih dingin, begitu dingin menggidikkan hati, bikin bulu roma setiap orang pada berdiri. Siapa yang betah tetap tinggal di situ?Hampir semua tamu sudah menyingkir jauh jauh, hanya satu orang yang tidak bergeming. Dia tak lain adalah Thia Siau cing.

Sikapnya masih amat tenang, dia seakan akan tidak melihat kehadiran Kwan Ji. Sebaliknya Kwan Ji pun seolah olah tidak melihat kehadirannya. Mereka berdua bersikap begitu acuh, seperti di dalam dunia saat ini hanya ada diri masing masing saja, dan tak tahu kalau ada orang lain macam lawannya.

Ditinjau dari sikap mereka berdua, rasanya mustahil kalau kedua orang itu pemah kenal satu dengan lainnya. Kwan Ji sedang mengambil sepotong Ang sio jin som dengan sumpitnya. Sekali jepit dia sudah angkat potongan jinsom itu ke atas, lalu bagai seekor ikan emas yang mencaplok serangga, Kwan ji pentang mulutnya lebar lebar dan, ... "Haaapp!" ia sudah caplok habis potongan jinsom tersebut. Caranya bersantap bukan saja begitu nikmat, bahkan orang yang melihat pun ikut merasa tertarik. Pada saat itulah... ada orang sudah mulai dengan aksinya. Semua gerakan dan aksi dilakukan hampir pada saat yang bersamaan, lima orang dengan lima macam senjata serentak melancarkan serangan kilat mengancam lima bagian tubuh yang berbeda, sedang sasarannya hanya satu... nyawa Thia Siau cing.

Betul betul luar biasa kerja sama serangan dari kelima orang itu, lapisan cahaya yang menyambar ke tubuh lawan bagaikan deburan ombak raksasa di tengah samudra luas, tepat, dahsyat dan mengerikan hati.

Mereka sangat berbeda bila dibandingkan para pembunuh lainnya. Mereka berlima adalah petugas kerajaan, pasukan buru sergap yang khusus disiapkan untuk membekuk para pencoleng ulung, gembong perampok atau pembunuh bayaran. Karena itu, meskipun membantai lawannya, mereka tak perlu mempertanggung-jawabkan perbuatannya.Tak heran kalau serangan yang dilancarkan begitu dahsyat dan kejam, apalagi sebelum dilakukan sergapan tadi, Leng Giok hong telah berpesan, wanti wantinya, "Bunuh dalam sekali sergapan, kemudian segera mundur dari arena peristiwa!"

Menghadapi datangnya serangan maut yang begitu dahsyat bagaikan terjangan badai angin ini, Thia Siau cing masih bersikap tenang. Dia seakan akan sedang melanum, sedang mengkhayalkan sesuatu.

Bila seseorang sedang berada dalam situasi macam ini, jangan lagi di bawah ancaman serangan dari pembunuh pembunuh ulung, semisalnya sedang berjalan di jalan raya pun gampang ditabrak kereta kuda.Mata golok sudah berada tak sampai satu depa dari ulu hatinya, sementara beberapa utas tali nyaris mulai menjerat tenggorokannya...

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak terdengar suara bentakan gusar menggelegar memecahkan kesunyian...

"Tak tahu malu! Masa lima orang mengerubuti satu orang!"Di tengah suara bentakan, Kwan Ji si lelaki penyakitan itu sudah melejit ke tengah udara, tulang belulangnya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang seolah olah sedang saling berbenturan nyaring menimbulkan suara gemerutukan yang sangat aneh.

Hampir bersamaan waktu dengan terjangan tersebut, tahu-tahu empat dari kelima orang jagoan yang sedang menyerang itu sudah dibetot hingga mundur ke belakang, lalu terlempar keluar dari arena pertarungan. Sementara sisa yang satu lagi masih dicengkeram tangannya erat erat, seakan akan setiap saat lengan itu akan dirobek menjadi dua bagian."Harimau ganas merobek-robek

mangsanya Kwan Giok-bun!"Anggota buru sergap ini sudah cukup lama dilatih menjadi seorang pembunuh profesional. Meskipun bukan terhitung orang yang takut mati, tapi sekarang, dalam kondisi dan situasi seperti ini, ia benar-benar sudah pecah nyalinya. Tanpa bisa dibendung air matanya jatuh bercucuran, ingusnya meleleh tak tertahan, air liur, air keringat malahan air kencing pun pada meleleh keluar tak tertahankan lagi.Kwan ji tertawa dingin.

"Boleh boleh saja bila ingin membunuh orang, tapi jangan mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak! Selama aku Kwan Say, Kwan ji hadir di sini, jangan harap keinginan kalian dapat terpenuhi."

Lalu sambil melepaskan cengkeraman atas anggota buru sergap yang satu itu, kembali ia berujar, "Kalian ingin membunuh orang, pergilah sendiri. Pergi sendirian. Asal kau berani satu lawan satu, bukan saja aku tak akan mencampuri urusanmu, malahan aku bersedia untuk menjaga di pinggir arena!"

Bersama dengan selesainya perkataan itu, dia benar benar lepaskan tawanannya lalu ngeloyor pergi dari situ, kembali ke tempat duduknya dan mulai bersantap lagi dengan lahap.

Sampai detik ini dia belum memandang ke arah Thia Siau cing barang sekejap pun, sepertinya apa yang dia lakukan barusan, tak ada sangkut pautnya dengan orang itu.

Thia Siau cing pun tidak pemah memandang ke arahnya walau hanya sekejap. Tapi hawa amarah telah menyelimuti wajahnya, garis-garis merah darah telah muncul di balik matanya. Mendadak ia menggebrak meja keras keras, menyusul kemudian kakinya menendang meja itu hingga mencelat ke tengah udara.Tak jelas apa yang dia lakukan, ketika pandangan semua orang dialihkan ke arahnya, tahu tahu Thia Siau cing telah pergi meninggalkan ruang makan dan berlalu tanpa berpaling lagi.

Semua peristiwa seakan akan berlangsung dan berakhir pada saat yang bersamaan. Hampir setiap aksi, setiap rincian peristiwa dapat diikuti Leng Giok hong dengan sangat jelas, Komandan Sin juga mengikutinya dengan jelas.

Peluh dingin sebesar kacang kedelai sudah mulai bercucuran, membasahi jidat Komandan Sin.

"Diakah Kwan Say, Kwan Giok-bun?"Bukan satu pekerjaan yang gampang

untuk bisa berjumpa dengan jago tangguh dari Kwan say ini, tapi Komandan Sin berharap perjumpaannya kali ini adalah perjumpaan pertama juga perjumpaan terakhirnya dengan orang itu.

"Kau masih belum bergerak?" tiba tiba Leng Giok hong menegur. "Bergerak? Kemana?"

"Tentu saja menangkap Kwan Giok bun, manusia yang telah menghalangi petugas kerajaan melaksanakan tugasnya," perkataan Leng Giok hong sangat tenang. "Menghalangi petugas kerajaan bekerja adalah pelanggaran hukum yang sangat berat. Menurut anggapanmu, itu pelanggaran yang ringan atau berat?"Komandan Sin tak dapat menjawab, ia terbungkam. Sekarang ia baru menyadari kelihayan Leng Giok hong. Sudah menjadi kewajibannya untuk menangkap Kwan Giok bun sebagai orang yang merintangi petugas negara

bekerja, tapi... apa yang harus ia lakukan? Bertindak sama artinya menggadaikan nyawa sendiri. Mungkin saja badannya akan dirobek jadi dua. Tidak bertindak berarti mengabaikan perintah atasan dan lari dari tugas..."Kau tidak bertindak?" "Aku. . ."

"Baik, jika kau tidak bertindak, aku yang akan lakukan!"

Seringan daun kering yang rontok dari ranting Leng Giok hong melayang turun dari atas pohon, kemudian dengan sebuah kebasan baju dia buka pintu ruangan lalu menerobos masuk ke dalam.Kwan ji baru mendongakkan kepalanya setelah Leng Giok hong tiba di hadapannya. Dia awasi sekejap pemuda tersebut dari atas hingga bawah, lalu tegurnya dingin, "Kau kemari untuk menangkapku?"

Bukan baru sekarang ia mengetahui jejak Leng Giok hong. Semua gerak gerik serta tanya jawab mereka di luar ruangan tadi tak satu pun yang lolos dari ketajaman mata serta pendengarannya.Menghadapi jagoan tangguh macam Kwan Ji, Leng Giok hong tidak banyak bicara. Dia mengeluarkan borgol dari saku dan pelan pelan diletakkan di atas meja, persis di depan orang itu. "Silahkan," katanya kepada Kwan ji, "ini tugas resmi. Tugas resmi harus dilaksanakan secara resmi, tidak terkecuali terhadap Kwan ji sianseng."

Kwan ji tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.

Kembali Leng Giok hong berkata, "Dengan lima melawan satu, dengan jumlah banyak mengungguli yang sedikit, semuanya memang tindakan. keliru. Tapi untuk menjalankan tugas resmi, tugas dari kerajaan, menangkap tersangka pembunuhan berantai, rasanya kita tak usah berbicara soal itu lagi.""Tak usah bicara soal yang mana?" Kwan ji masih tertawa dingin. "Kelima orang itu hampir semuanya terdiri dari jagoan tangguh, serangan yang dilancarkan merupakan jurus jurus mematikan. Begitukah cara kalian melaksanakan tugas resmi?""Betul, untuk menghadapi tersangka yang sangat berbahaya, kami bebas menggunakan cara apa pun, daripada tersangka menggunakan kesempatan ini untuk

berusaha melarikan diri.""Tersangka? Apa yang telah dilakukan Siau cing?" Pancaran hawa amarah menyorot keluar dari balik mata Kwan Ji. Ditatapnya wajah Leng Giok hong tanpa berkedip, sementara tulang belulangnya yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang itu mulai berbunyi lagi, mengeluarkan suara yang sangat aneh seakan akan ada siluman yang sedang marah bersembunyi di balik kegelapan sambil menabuh genderang perang.

Suara genderang perang tak lain adalah sumber dari munculnya kekuatan maha sakti.

"Brakkkk! " entah sejak kapan ia bertindak, tahu tahu borgol yang terletak di atas meja telah dihancurkan menjadi segumpal besi rongsokan yang kemudian dibuangnya keluar dari jendela. Kini hancuran besi itu menancap di atas pohon hingga tak nampak dari .permukaan. Leng Giok hong tidak menunjukkan perubahan mimik wajah. la cuma berjalan keluar dengan langkah lambat, menggerakkan tangannya dengan lambat, lalu menepuk pelan di atas dahan pohon itu.Gumpalan besi itu segera mencelat keluar dari batang pohon dan jatuh ke dalam genggamannya.

Leng Giok hong menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, tidak jelas gerak tangan apa yang dilakukan, borgol besi yang telah berubah jadi gumpalan besi itu tiba tiba telah berubah bentuk, kian lama bentuknya kian mirip dengan sebuah borgol.

Sekalipun belum kembali ke bentuk semula, paling tidak modetnya sudah sangat mirip, satu demonstrasi kekuatan tenaga dalam yang amat luar biasa. Kwan Say Kwan Ji terkesiap, berubah hebat paras mukanya.

Leng Giok hong masih tetap bersikap santai, dengan langkah perlahan dia berjalan balik ke tempat semula, kemudian pelan-pelan meletakkan "borgol" itu ke hadapan Kwan Ji.Dia seperti tidak merasa pemah terjadi sesuatu kejadian di sana, dia pun seakan akan tidak merasa telah melakukan satu demonstrasi kekuatan yang menggidikkan hati lawannya. Malah dia pun seperti tidak melihat perubahan wajah yang diperlihatkan Kwan ji.

Dengan suara lembut tapi cepat katanya, "Belakangan ini, wilayah Cilam telah digemparkan oleh munculnya lima pembunuhan berantai. semua korban adalah orang kenamaan, dan bukan saja kami tak tahu siapa pembunuhnya, juga tak tahu apa maksud serta tujuan dari pembunuhan itu."Dia bicara sangat cepat, tanpa disertai titik maupun koma.

"Dari tubuh para korban kami hanya menemukan satu persamaan.""Persamaan apa?" tak tahan Kwan Ji bertanya.

" Mereka semua terbunuh setelah munculnya asap berwama ungu, mereka pun pernah menjalin satu hubungan yang luar biasa dengan seseorang yang sama." "Seseorang yang sama? Siau-cing maksudmu?""Bukan Siau cing," kata Leng Giok hong, "mereka sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan Thia Siau cing."

"Tapi Siau cing yang sedang kau cari?"

"Ya! Ini disebabkan karena Thia Siau cing punya hubungan erat dengan orang yang satu itu, dan orang ini punya sangkut paut yang erat sekali dengan mereka semua."

"Siapa?"

"Ang ang!"

Ang Ang! Tatkala mendengar nama perempuan ini, tiba tiba saja wajah Kwan Ji mengejang keras, seakan akan ada orang yang menghajar tubuhnya dengan cambuk tajam.

Leng Giok hong sangat gembira ketika melihat mimik wajah yang diperlihatkan Kwan Ji, tapi perasaan girang itu disembunyikan rapi di dalam hatinya.Dengan suara yang sangat datar dan tenang, kembali terusnya, "Entah siapa pun orang itu, asal mereka sudah mempunyai hubungan istimewa dengan Ang ang, maka. Thia Siau cing akan mencabut nyawanya. Analisis seperti ini sangat masuk di akal dan kemungkinan besar bisa terjadi."

Setelah tarik napas, lagi lagi terusnya, "Ditinjau dari kehebatan ilmu silat yang dikuasai Thia Siaucing saat ini, rasanya tak banyak orang di sungai telaga yang mampu lolos dari tiga jurus serangan pencabut nyawanya."Lama sekali suasana diliputi keheningan. Entah berapa saat kemudian Kwan ji baru

menghembuskan napas panjang, seakan akan sedang berusaha untuk membuang semua kesesakan yang memenuhi dadanya."Kau punya bukti?' dia bertanya.

"Tidak, tapi dalam dua hari aku bisa menemukan seluruh bukti yang dibutuhkan."

"Bagaimana cara mencarinya?"

"Aku mempunyai caraku sendiri, tapi aku pun punya syarat!" "Katakan!"

"Selama dua hari ini, kau tak boleh meninggalkan losmen ini biar satu langkah pun!"

Senja telah menjelang tiba Waktu Itu Thia Siau cing sudah mabuk hebat. la roboh bersandar di bawah dinding pekarangan tinggi. Tidak diketahui dinding pekarangan milik siapakah itu, tidak diketahui juga keluarga macam apa yang tinggal di balik dinding pekarangan tersebut. Dia hanya mengetahui satu hal. Di seluruh dunia, di mana pun tempat itu, asal rumah dikelilingi pagar tinggi maka akan terjadi pemisahan antara orang yang satu dengan lainnya. Mereka tak pemah rela membiarkan orang lain saling berkunjung, saling berkumpul.

Begitu juga manusia, ada sementara orang yang tak pemah mau bergaul, tak mengijinkan orang lain mendekat, persis seperti pagar tinggi yang memisahkan dua dunia.

Dari balik pagar tinggi lamat-lamat terdengar suara musik yang merdu, tampaknya ada seseorang sedang menyanyikan sebuah lagu yang ada hubungannya dengan percintaan. Lagu yang amat menyedihkan hati.. . .

Mengapa lagu yang menyangkut masalah percintaan selalu adalah lagu lagu sedih?

Thia Siau cing sudah tak sadarkan diri karena mabuk. Ketika tak sadarkan diri itu, air matanya diam diam telah menetes keluar, membasahi bajunya.