Elang Pemburu Jilid 07 : Golok Iblis

Jilid 07 : Golok Iblis

Lenghou Put heng punya perawakan badan setinggi delapan depa tiga inci, berat badan duaratus tiga kati. Seluruh tubuhnya terdiri dari otot kawat tulang baja, sama sekali tak nampak lemak sedikit pun, apalagi dadanya kelihatan begitu bidang dan berotot, lebih tebal daripada tembok dinding halaman rumah itu.

Dari data yang berhasil dikumpulkan mengenai jago jago tangguh dari sungai telaga, terbaca perincian data pribadinya sebagai berikut:

Nama : Lenghou Wan.

Julukan : Lenghou Put heng (Lenghou yang tak mampu).

Ciri ciri badan : Bercambang, berambut ikal, mata hijau, panjang lengan kanan tiga depa empat inci, lebih panjang satu depa lebih dibandingkan lengan orang kebanyakan, juga lebih panjang sepuluh inci dibandingkan lengan kirinya.

Ilmu silat : Mahir bermain golok, mampu menggunakan enam belas macam senjata golok, menguasai delapanpuluh dua jenis i1mu golok yang bisa membunuh musuhnya dalam lima jurus saja. Senjata kesayangannya adalah sebuah golok lengkung. Besar kemungkinan golok tersebut adalah golok pusaka milik ketua Mokau di masa silam yang disebut "Siau lo It ya Tia cun yu" (semalaman mendengar hujan musim semi dari atas loteng). Konon mampu berjumpalitan dan menari di udara, dapat memenggal kepala musuh dari jarak seratus langkah.

Jejak : Jejaknya tak jelas semenjak tigapuluh tahun berselang, konon pemah ada yang berjumpanya di daerah sekitar Kanglam, setelah bermabok-mabokan dengan sahabatnya seorang pendekar kenamaan Kou Siok selama tiga hari tiga malam, kabar beritanya tak pernah terdengar lagi. Tapi kejadian tersebut sudah terjadi dua puluhan tahun berselang.Lenghou Put heng bertelanjang dada, dengan memakai rantai baja yang sangat besar dan kuat dia ikat lengan kanan sendiri dan menggantung badannya di atas tiang penglari. Dengan kelima jari tangannya yang kuat dia melakukan gerak olah raga dengan mengerek badannya naik turun.

Suara gemerutukan keras bergema dari ruas ruas tulangnya mengikuti irama badannya yang naik turun, keras seperti suara mercon renteng yang berbunyi susul menyusul.

Tidak diketahui sudah berapa lama dia menggantungkan diri, otot otot hijaunya sudah pada menonjol keluar bagaikan ular ular hijau kecil yang sedang merayap disekujur tubuhnya. Ia nanipak begitu menyeramkan dan menggidikkan hati.

Wan wan masuk dengan amat santai, ia seperti sudah terbiasa dengan pemandangan semacam mi, berjalan masuk dengan membawa sebuah handuk kecil. Dengan handuk itu dia bantu mengusap peluh yang membasahi jidat serta badan lelaki itu.

"Nona mau pesta lagi," katanya, "ia suruh kau siapkan segala sesuatunya malam nanti. Entah apa dia tidak kuatir ada orang yang bakal kehilangan nyawa lagi gara gara ulahnya itu?"Lenghou Put heng tidak bicara, tapi paras mukanya berubah makin serius, suara gemerutuk yang terpancar dari ruas ruas tulangnya pun makin lama semakin bertambah cepat.

Wan wan masih saja menggerutu, Cuma suaranya makin lama semakin perlahan, semakin lirih.

"Hingga hari ini sudah lima orang menemui ajalnya, apakah tuan Thia. . . " "Blummm!" tiba tiba rantai besi itu patah menjadi berapa bagian, Lenghou Put heng segera berjumpalitan di udara dan beruntun bersalto beberapa kali. "Blaaammm ... !" diiringi suara gaduh, tahu tahu atap ruangan itu sudah jebol dan muncul sebuah lubang besar. Atap rumah dan bebatuan sudah berguguran ke lantai.

Dengan sebuah gerakan yang sangat ringan tapi cepat, Lenghou Put heng telah menerobos keluar lewat lubang besar itu dan berdiri di atas wuwungan rumah bagaikan seorang jenderal langit. Di tangannya telah bertambah dengan sesosok tubuh manusia, seperti seorang bocah yang sedang menenteng boneka kain. Celana yang dikenakan orang itu sudah basah kuyup karena terkencing kencing. Entah sejak kapan temyata Wan wan juga telah muncul di atas wuwungan rumah, tapi setelah tahu siapa yang tertangkap, dia gelengkan kepalanya berulangkali sambil menghela napas."Hei kura kura kecil, suruh kau jangan kasak kusuk dan kelayapan seenaknya, kau tak menurut. Sekarang sudah kau rasakan kelihaiannya bukan? Asal Paman Put heng lepaskan cengkeraman itu, badanmu pasti bakal remuk karena terbanting hancur!"

Usia si kura kura kecil itu seharusnya sudah tak muda lagi, pakaian yang dikenakan termasuk rajin dan perlente. Tapi sekarang dia kelihatan seperti kura kura kecil sungguhan.

Kembali Wan wan berkata, "Besok nona mau mengadakan pesta lagi, lebih baik undanglah tiga orang sebagai teman, sebelum jam tujuh malam suruh mereka sudah berkumpul di sini.”

Kura kura kecil itu mengangguk berulang kali. "Pergi sana!" hardik Lenghou Put heng keras.

Begitu tangannya diayunkan ke depan, tubuh si kura kura kecil segera terlempar jauh ke depan.

Untung enam kaki dari situ tumbuh sebuah pohon besar, kura-kura kecil

segera menyambar batang pohon untuk berpegangan."Kraaak!" tiba tiba batang pohon itu patah jadi dua. Tapi dengan adanya penahan tadi, kekuatan lemparan pun sedikit berkurang. Menggunakan kesempatan itu si kura kura kecil segera melejit ke samping dan meluncur turun ke balik semak belukar dengan gerakan ringan. Tak nyana temyata orang itu adalah seorang jagoan dalam ilmu meringankan tubuh.

Dalam pada itu Lenghou Putheng sudah balik kembali ke dalam ruangan, ia sudah berbaring sambil minum arak dari dalam sebuah cupu cupu besar. Sorot mata yang semula penuh pancaran amarah, kini sudah berubah jadi begitu lembut bagai pandangan genit seorang nona dari wilayah Kanglam.Tak seorang pun pernah melihat goloknya, golok kenamaan "Siau Io It ya Tia cun yu" yang pemah malang melintang dan menggemparkan seluruh sungai telaga itu.