Elang Pemburu Jilid 06 : Wanita Pemilik Gedung yang Misterius

Jilid 06 : Wanita Pemilik Gedung yang Misterius

Leng Giok hong memang tak malu disebut jagoan nomor satu dari pengadilan. Bukan hanya kemampuan penyelidikannya yang hebat, kemampuannya mengambil kesimpulan juga luar biasa, bahkan seperti mempunyai insting atau naluri yang sangat tajam bagai seekor hewan pemburu.

Kali ini pun tidak terkecuali.

Biarpun ia sama sekali tak tahu menahu tentang pemilik gedung itu, tapi nalurinya mengatakan dalam berapa waktu belakangan pasti pernah berganti pemilik.Hasil penyelidikan Komandan Sin dengan cepat diantar ke tangannya. Dugaan Leng Giok hong tidak meleset, lagi lagi dugaannya sangat tepat.Dulu, pemilik bangunan besar itu adalah seorang sastrawan kenamaan dari marga Wong. Orang itu sangat mahir dalam ilmu sastra, main khim, main catur, menulis maupun melukis. Tapi belakangan kondisi keuangannya sangat

mundur hingga terpaksa bangunan gedungnya dijual kepada orang lain, sedang ia sendiri dengan memboyong keluarganya pergi entah ke mana.Oleh karena itu tidak mungkin bila penyelidikan dimulai dari pemilik lama, apalagi untuk mengetahui asal usul si pemilik baru.Menurut dokumen jual beli, gedung besar itu dibeli atas nama seseorang yang bemama Lenghou Put heng. Konon dia adalah seorang lelaki berewokan yang bermata cekung, jelas bukan dari etnik Han. Kata orang dia adalah seorang lelaki keturtman etnik Tartar. Selain bertenaga luar biasa, katanya dia pemah menahan lajunya seekor kuda.Tapi orang itu bukan pemilik gedung yang sebenamya.

Membetulkan atap rumah, mengapur dinding pekarangan, menata kebon maupun menyapu bersih lantai, semua dilakukan orang itu. Tapi pada hari kepindahan, bukan dia yang masuk ke gedung itu, melainkan seorang nyonya muda berbaju hijau yang datang dengan diusung tandu.Tak seorang pun yang sempat melihat manusia macam apakah dia itu. Bagaimana rupanya? Dan berapa usianya? Tapi ada satu hal yang jelas dan diketahui setiap orang, sikap Lenghou Put heng terhadap perempuan itu sangat hormat.Di samping tandu mengikuti seorang dayang berwajah bulat bermata bulat. Dia adalah dayang kepercayaan perempuan itu, dan dayang tersebut bukan lain adalah si nona kecil yang membeli ketan manis tadi. Nona kecil itu bemama Wan wan.

Lalu siapakah wanita pemilik gedung itu? Dari marga apa? Siapa namanya? Berasal dari mana? Uang dari mana untuk membeli gedung sebesar itu? Setelah pindah ke situ, apa usaha pekerjaannya untuk melanjutkan hidup?

Tak ada yang tahu.

Kini semua orang hanya tahu, perempuan pemilik rumah itu suka makan yang manis manis, suka makan ketan manis, dan lagi tidak suka makan ketan buatan sendiri. Membeli dari penjual eceran memang selalu memberikan kenikmatan tersendiri.

Kebiasaan semacam ini jarang ditemukan pada kebanyakan orang. Mungkinkah perempuan pemilik gedung yang misterius itu berasal dari sebuah keluarga kecil yang hidup di dusun atau kota kecil?Berita yang menyangkut pemuda kidal itu baru diperoleh tengah hari keesokannya. Waktu itu Leng Giok hong sedang menikmati makan siangnya yang paling komplit dan lezat. Di antara menu makanannya ada burung dara, ayam, ikan, tiete, iga sapi muda, sayuran segar dan buah buahan.

Berada dalam kondisi dan situasi apa pun, ia selalu akan berusaha untuk menikmati hidangan seperti ini. Setiap hari ia butuh makanan dalam jumlah banyak untuk mengganti kalori serta energi yang banyak terbuang, Ketika sedang bersantap ia pun sangat teliti dan bersungguh-sungguh. Tampaknya ciri semacam ini memang merupakan ciri khas dari seseorang yang hidupnya

penuh tantangan, menyerempet bahaya dan tiap hari mesti berpontang panting dalam sungai telaga.Seekor serigala pun mempunyai sifat semacam ini.

Setiap kali sedang bersantap, cara makan mereka selalu begitu menikmati, seakan akan itulah hidangan terakhir buat mereka dalam kehidupannya.

Pemuda kidal itu pemah tinggal di sebuah rumah penginapan di dalam kota. Sewaktu mendaftar, ia memakai nama Thia Siau cing, dan malam kemarin dia masih menginap di rumah penginapan itu.Secara ringkas Komandan Sin memberikan laporannya, "Menurut tauke Ong pemilik rumah penginapan itu, dia sudah duapuluh hari menginap di situ. Ini berarti dia pertama kali masuk ke losmen pada tanggal tujuh belas bulan berselang.""Kapan kalian pertama kali menemukan asap ungu itu?"

"Tanggal sembilan belas bulan berselang."

Leng Giok hong tertawa dingin, "Hmmm, besar amat nyali orang yang mengaku bemama Thia Siau-cing itu. Bukan saja berani memakai nama asli, berani juga menginap di losmen yang sama selama berhari-hari.""Kongcu, kau punya keyakinan kalau dialah pembunuhnya?" tak tahan Komandan Sin bertanya. "Yakin!"

"Siapa pula yang menyewanya untuk membunuh kali ini?"

"Tidak ada, kali ini adalah atas kehendak dia sendiri untuk datang kemari!” "Konon pembunuh bayaran macam mereka punya kebiasaan yang sama, yaitu tak akan membunuh orang secara gratis. Apa benar?"

"Tiap orang pasti punya saat untuk bertindak di luar kebiasaan."

"Berarti kali ini dia membunuh secara gratis? Tapi untuk siapa dia membunuh?" "Untuk diri sendiri!"

"Maksud tuan, kali ini dialah yang beniat membunuh Chee Gwat sian berlima itu?"

"Benar!"

"Dia punya alasan untuk membunuh mereka?" "Ada!"

"Apa alasannya?"

"Sebuah alasan yang amat bagus," Leng Giok hong menerangkan dengan suara tawar. "Dalam situasi dan kondisi apa pun, alasan ini adalah sebuah alasan yang sangat bagus dan tepat. Mungkin tak akan ditemukan alasan lain di dunia ini yang lebih tepat daripada alasannya itu!"Kematian Chee Gwat sian sekalian berlima bukan lantaran harta, ini berarti tinggal satu alasan saja yang tersisa. "Apakah alasan ini lantaran perempuan?"

"Tepat sekali!" Leng Giok hong tersenyum, "alasannya membunuh kali ini lantaran seorang wanita yang bemama Ang ang (si merah)!"

***

Ang ang dengan mengenakan baju serba putih sedang duduk tenang di sebuah ruangan dengan wama putih dominan di seluruh tempat.

Putih, putihnya salju. Selain wama putih tak nampak warna lain ditempat itu, bahkan asap wangi yang keluar dari tempat dupa pun berwama putih saIju. la duduk tenang di samping jendela. Sudah setengah harian ia, duduk di situ tanpa melakukan apa pun.

Tiba tiba ia berpaling, kepada gadis kecil yang selama ini berdiri menanti di sisinya dan berkata, "Beritahu paman Lenghou, suruh dia siapkan meja perjamuman esok malam, siapkan juga sekeranjang bunga teratai putih." Walaupun ia telah berusaha untuk mengendalikan diri, nada suaranya masih kedengaran gemetar lantaran menahan gejolak emosi dalam hatinya.

Nona berwajah bulat yang berdiri di sisinya segera cemberut, omelnya, "Lagi lagi bunga teratai putih, lagi lagi menjamu tamu... lagi lagi minum arak, apa apaan itu?"

Ang ang pura pura tidak mendengar omelan tersebut, matanya dialihkan ke tempat kejauhan. Lamunan masa lalu sudah mulai luntur, kelihatan bagaikan selapis asap kabut...

Selapis kabut berwama ungu yang membawa percikan darah...

***

Leng Giok hong telah selesai bersantap. la sedang berjalan mondar mandir di ruang depan. Orang ini seakan akan memiliki tenaga yang tak ada habisnya, jarang nampak ia menghentikan aktivitasnya.

Sekarang, dia sedang memberi perintah kepada Komandan Sin. Perintah itu amat singkat tapi harus dilaksanakan tepat waktu.

"Aku tahu, dalam sepuluh tahun terakhir kau berhasil melatih lima orang jago buru sergap yang tangguh. Bukankah mereka terpilih dari tigaratus enampuluh orang jagoan tangguh yang ada?"

Komandan Sin amat terkejut, selain kaget dia pun terperangah. Kejadian ini merupakan "tugas rahasia" nya. Dia tak habis mengerti masalah yang begitu rahasia kenapa bisa bocor keluar, lebih tak paham lagi kenapa Leng Giok hong bisa tahu?

Terdengar Leng Giok hong bertanya lagi, "Berapa orang di antara kelima jago buru sergap itu berada di kota sekarang?" "Semuanya ada di sini."

"Bisa kumpulkan mereka semua di losmen dalam satu jam?" "Bisa!"

"Bagus, kita bersua lagi di situ satu jam mendatang."