Elang Pemburu Jilid 01 : Asap Ungu yang Membunuh

Jilid 01 : Asap Ungu yang Membunuh

Menjelang fajar. Suasana masih hening, sepi, kegelapan masih menguasai seluruh jagad.

Angkasa masih diliputi wama keabu-aban, awan juga berwama abu-abu, kota besar yang masih tenggelam dalam lelap tidumya belum lagi mendusin. Beriburibu buah rumah masih nampak seperti selapis tinta yang sangat tawar, 

membuat seluruh wama yang ada terlebur dalam selapis wama kelabu yang amat luas.

Dari kejauhan sana terdengar suara anjing yang menggonggong, di bawah lapisan kelabu yang semakin mengental tiba tiba terlihat asap tebal muncul di kejauhan sana.

Asap berwama ungu.

Ruang kamar itu terletak di atas sebuah loteng kecil. Sebuah loteng letaknya selalu lebih tinggi bila dibandingkan bangunan di sekelilingnya, orang harus menaiki belasan anak tangga untuk bisa sampai dalam ruangan.

Pintu ruangan amat sempit, tangga, loteng juga sempit, tapi tata ruangan sangat bersih dan rapi, daun jendela pun sangat lebar sehingga bila melongok dari balik jendela kita bisa menyaksikan pemandangan seluruh kota.

Saat itu ada tiga orang sedang duduk di tepi jendela sambil mengawasi pemandangan seluruh kota.

Orang pertama adalah seorang lelaki setengah umur berperawakan gemuk, matanya panjang, wajahnya kotak, pakaiannya sangat rapi hingga nampak sangat berwibawa. Jari tanganriya lembut dan halus dengan kuku yang panjang tapi terawat rapi. Jelas orang ini jarang sekali melakukan pekeraan kasar di waktu biasa.

Orang kedua adalah seorang kakek kurus kecil, berhidung bengkok seperti

elang, mata segitiga tapi bersinar tajam dan lengan penuh berotot, satu tampang orang yang sudah terbiasa hidup berbanting tulang bahkan jelas menguasai ilmu sebangsa Eng-jiau-kang (ilmu cakar elang).

Orang ke-tiga masih muda sekali, wajahnya putih bersih, alisnya tajam dengan mata yang lebar, dia adalah seorang pemuda tampan. Selain sebuah kemala yang menghiasi konde rambutnya, tak nampak perhiasan lain di seluruh tubuhnya.

Biarpun tingkah lakunya sangat halus dan lembut, namun dua orang rekannya meski berusia lebih tua, sikap mereka terhadapnya temyata sangat menaruh hormat.Mereka bertiga telah melihat munculnya asap ungu itu, paras muka mereka nampak berubah hebat...

"Komandan Sin, kau tahu asap itu berasal dari daerah mana?" tibatiba lelaki setengah umur itu bertanya.Dengan sorot mata yang tajam bagai mata kail, kakek kurus kecil itu mengawasi sekejap daerah asal asap itu, kemudian setelah berpikir sejenak, sahutnya, "Kalau dilihat arahnya, kemungkinan besar asap itu berasal dari daerah sekitar Mayu mo, distrik Oh khee Kiau. Kalau meleset pun paling banter selisih satu dua gang."Dia sudah tigapuluh dua tahun lamanya bertugas di tempat ini, dimulai sebagai penjaga berpangkat rendah hingga sekarang berpangkat komandan polisi. Tentu saja dia sangat menguasai daerah sekitar tempat itu, jauh melebihi siapa pun.Walaupun pemuda tampan itu baru malam itu muncul di sana, tampaknya dia sangat percaya dengan lelaki setengah umur itu. Tanpa bertanya lagi ia segera bangkit berdiri seraya berseru, "Ayo kita berangkat!"

Tenyata dugaan Komandan Sin memang tepat sekali.

Asap ungu itu memang benar benar berasal dari daerah Ma yumo, distrik Oh Khee Kiau, tepatnya berasal dari sebuah rumah di dalam sebuah lengkong kecil.Rumah itu sangat sederhana dan merupakan sebuah rumah kuno dengan lima buah bilik. Bangunannya cukup kokoh, ruang dapumya juga istimewa luasnya, cerobong asap dibuat sangat tinggi, itulah sebabnya asap ungu yang memancar keluar dari cerobong itu bisa menyebar sampai ke daerah yang luas. Namun ketika Komandan Sin bertiga tiba di tempat itu, asap, sudah mulai muncul dari setiap rumah di sekitar sana, sementara asap ungu tadi justru hampir padam. Kini tinggal asap yang tipis muncul di udara membentuk satu lapis kabut yang tipis sekali. "Adakah seseorang di sini?"

Rumah itu kosong, tak ada penghuninya.

Tungku masih terasa hangat, di atas tungku itu sedang ditanak satu baskom bubur kentang yang masih mengepulkan uap panas. Di atas sebuah meja bulat yang terbuat dari kayu putih tersedia empat macam sayur, sepiring ayam kecap, sepiring rebung cah, sepiring cah sayur ditambah sepiring tahu kecap yang merupakan menu istimewa daerah Ma yu mo.

Selain itu tampak juga sepasang sumpit dan sebuah mangkuk yang masih tersisa sedikit bubur di dalamnya.

Kemana perginya penghuni rumah itu? Mungkinkah dia sudah pergi dari situ setelah memasak dan sarapan pagi?

"Santai betul kerja orang ini," seru lelaki setengah umur itu sambil tertawa dingin.

"Kalau seseorang sudah kelewat banyak membunuh orang, maka dalam mengerjakan pekerjaan yang lain pun dia tak akan terburu buru," sambung pemuda tampan itu tawar.Mendadak lelaki setengah umur itu merasa seperti kedinginan, dia berjalan mendekati bangku api kemudian baru bertanya kepada Komandan Sin, "Kau menemukan sesuatu?"Kakek itu sedang mengorek sesuatu dari dalam tungku api dan saat itu sedang memeriksanya dengan teliti. "Apa yang terjadi kali ini, persis sama seperti apa yang kita temukan beberapa kali sebelumnya. Asap ungu itu berasal dari sesuatu bahan yang istimewa, ketika dibakar bercampur kayu bakar maka akan menimbulkan asap yang khas cirinya."

"Bahan apa itu?" tanya si pemuda.

"Mirip bahan yang sering dipakai orang untuk membuat mercon kembang api," sahut Komandan Sin, "hanya saja, bahan yang dia gunakan rasanya merupakan bahan yang khusus dibuat oleh Perusahaan Po yu tong di ibu kota, karena itu wama yang timbul sangat pekat dan lagi bisa membakar cukup lama."lbu

kota ... ? Perusahaan Po Yutong ... ? Mungkinkah orang yang memasang asap ungu itu datang dari ibu kota?Pemuda itu berkerut kening, tapi hanya sejenak kemudian ia sudah bersikap tenang kembali, tanyanya lagi, "Komandan Sin, sudah kali ke berapa kemunculan asap ungu itu?"

"Ke enam kalinya!"

"Enam kali selalu muncul di tempat yang berbeda?"

"Benar!" Komandan Sin membenarkan, "pertama kali muncul di dalam sebuah kuil yang berada di pelosok, kali kedua muncul di dalam sebuah gedung perusahaan yang sudah lama menghentikan kegiatan usahanya, kali ke tiga sampai kali ini selalu terjadi di dalam sebuah rumah kosong.""Enam kali asap ungu muncul di udara, lima lembar nyawa manusia melayang!"

"Betul!"

Nada suara Komandan Sin makin berat dan dalam, wajahnya pun semakin serius, lanjutnya, "Tiga hari setelah munculnya asap ungu, selalu ada seorang temama yang mati dibunuh, bahkan dalam setiap kejadian si pembunuh tak pemah meninggalkan jejak apa pun yang bisa dipakai sebagai titik pelacakan." "Bagaimana dengan korbannya?" tanya pemuda itu, "apakah antara kelima korban pembunuhan itu ada ikatan hubungan tertentu atau mungkin punya hubungan istimewa lainnya?"" Tidak ada, sama sekali tak ada," Komandan Sin menggeleng.

Setelah berpikir sejenak, lanjutnya, "Biarpun kelima orang korban pembunuhan itu rata rata merupakan orang kenamaan, namun asal usul serta latar belakang mereka berbeda, boleh dikata di antara mereka tidak saling mengenal apalagi punya hubungan."

"Leng kongcu," tiba tiba lelaki setengah baya itu menyela, "Komandan Sin sudah tigapuluh dua tahun makan gaji sebagai petugas polisi, analisa serta penyelidikannya tak bakal keliru."

"Aku mengerti."

Tiba tiba sekilas cahaya terang memancar keluar dari balik mata pemuda she Leng itu, katanya lagi perlahan, "Secara lamat lamat aku hanya merasa bahwa di antara kelima orang itu pasti mempunyai suatu hubungan atau keterkaitan yang istimewa, seolah olah nyawa kelima orang itu telah terikat oleh seutas tali yang tak terlihat, hanya sayang hingga kini kita belum berhasil menemukan tali yang mengikat mereka berlima itu."

Pelan pelan dia berjalan mendekati tempat duduk di mana di depannya terletak mangkuk bubur serta sepasang sumpit itu, lama sekali dia awasi sisa bubur dan sisa sayur di meja, tiba tiba dia menggerakkan tangannya untuk mengambil sumpit itu tapi dengan cepat tangannya ditarik kembali, sekilas cahaya terang memancar dari balik matanya.

Sepasang mata Komandan Sin ikut berkilat.

"Pembunuh adalah orang kidal, ia selalu memakai tangan kiri!" "Betul!"

"Tampaknya dia agak suka makan tahu kecap.”

Sumpit terletak di sebelah kiri mangkuk, sayur lain sama sekali tak tersentuh, hanya tahu kecap yang berkurang dan sisanya sekarang pun tinggal tak banyak. Diam diam Komandan Sin marah dengan diri sendiri, dia tak mengira dengan pengalaman kerjanya hampir tigapuluhan tahun, temyata ketelitian serta kejelian matanya kalah dibandingkan dengan seorang pemuda kemarin

sore.Tak tahan dia pun menghela napas panjang.

“Leng kongcu," katanya, "tak heran semua orang mengatakan bahwa Leng Giok hong adalah seorang tokoh Lak san bun yang sangat hebat, hari ini hamba betul-betul percaya dan dibuat sangat kagum! "Leng Giok hong berkelit dari sikap hormat orang itu, tiba tiba ia teringat akan satu pertanyaan yang sangat aneh.

Tak tahan segera tanyanya, "Komandan Sin, dewa apa yang disembah dalam kelenteng kecil di mana pertama kali asap ungu itu muncul?"

"Dewa uang!"