Dara Pendekar Bijaksana Jilid 09

 
Jilid 09

Tatkala menampak di Siang Ke Cun sedang berkobar api, Tong Cin Wie selagi hendak menghampiri dan menarik mundur orang- orangnya tiba-tiba dari jauh telah kelihatan beberapa bayangan orang yang lari mendatangi. Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hong yang dalam keadaan luka membawa kawan-kawannya pulang kembali. Sebetulnya bagi mereka juga tidak mudah dapat meloloskan diri, tapi saat itu Kang Sian Cian sedan repot menolong api hing-ga tidak sempat mengejar mereka.

Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping, tatkala menampak kawan- an penjahat menerjang masuk, dalam hati juga sangat cemas, maka lantas putar senjatanya dan menyerang secara hebat, hingga beberapa kawanan penjahat telah terluka atau binasa ditangan mereka.

Begitulah. keadaan Yan-san Ji Kui, Kim-ling Siang-khoay serta Pek-hoa Nio-cu sudah tidak mendapat kesempatan untuk masuk kegedungnya Chie Ciat-su. Terutama Pek-hoa Nio-cu yang sudah tertarik oleh diri Ong Bun Ping, tatkala ia menampak kawanan penjahat mengurung Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping, yang sudah kena dihatinya maka ia segera mengangkat senjatanya lalu memburu kepiliak Ong Bun Ping. Nampaknya ia hendak menyerang Ong Bun Ping tapi sebenarnya memberi bantuan tenaga sebab bacokannya diarahkan ke-temannya sendiri.

Siang-ling dan Yan-san Ji-kui yang melihat perbuatannya Peek- hoa Nio-cu tersebut, meski tahu yang Pek-hoa Nio-cu berbuat hianat terhadap pihaknya tapi tidak berani membuka mulut.

Demikianlah, kalau orang-orang yang dipimpin oleh Oey Ceng Tan hampir habis seluruhnya, maka orang-orang yang berada dibawah pimpinan Hoan Kong Hong juga sudah tinggal sedikit. Setelah kawanan penjahat itu menyingkir dari Siang Ke Cun, Cin Tiong Liong dan Ow Bun Ping lantas menampak kedatangan Kang It Peng, Sun Tay Beng, Koo Hong dan seorang Tosu yang mereka tidak kenal maka mereka memburu menemui mereka dan memberi hormat. Kang It Peng sambil menunjuk sang Imam (Ci Yang To-tiang) lalu berkata kepada mereka:

“Kalian lekas memberi hormat, dia adalah Ci Yang To-tiang, Ciang bun-jin dari Bu-tong-pay yang namanya terkenal diseluruh jagat."

Ong Bun Ping dan Cin Tiong Liong lantas pada memberi hor- mat, kemudian bersama mereka kembali kegedung keluarga Chie. Pada saat itu api yang menyala sudah dipadamkan oleh Kang Sian Cian dan Koo Jie Lan. Tatkala Si Cian menampak kedatangan Yayanya, buru-buru ia memberi hormat, begitu juga Koo Jie Lan, kemudian Kang It Peng memimpin bangun dua anak dara itu lalu perkenalkan kepada Ci Yang To-tiang.

Kang Sian Cian ajak mereka memasuki ruangan tetamu, kemudian mengundang Chie Ciat-su untuk menemui Yayanya. Sambil menyoja berkatalah Kang It Peng kepada Chie Ciat-su:

“Apakah Tay-jin masih ingat bahwa pada tigapuluh tahun berselang pernah menolong seorang yang bernama Kang It Peng?"

Chie Ciat-su berpikir lama, tapi tidak bisa ingat lagi. Kemudian Kang It Peng tertawa bergelak-gelak.

“Itu ada kejadian pada tigapuluh tahun berselang ”

katanya Kang It Peng.

– ooOoo –

Ternyata pada tigapuluh tahun berselang, Chie Kong Hiap baru saja menjabat pangkat sebagai bupati dikota Hong-thay, pada suatu hari dikota terstbut telah terjadi perkara pembunuhan, polisi telah menangkap seorang tua yang sedang sakit keras, mereka menyatakan bahwa orang itu ada pembunuhnya Chie Kong Hiap. Karena usia orang tua itu kira-kira limapuluh tahun, jenggotnya putih, wajahnya simpathik, tidak mirip dengan seorang yang melakukan pembunuhan. Orang itu adalah Kang It Peng. Cuma saja saat itu ia sedang sakit keras, segala pertanyaan ia tidak dapat menjawab, hingga timbul rasa kasihan didalam hati si bupati itu lantas berpesan kepada orang-orang bawahannya agar mengobati penyakitnya baru diperiksa.

Chie Kong Hiap ini tegas menjalankan undang-undangnya, sesuatu perbuatan yang dianggapnya kurang jelas tentu ia selidiki sendiri sampai keakar-akarnya.

Kang It Peng yang berada didalam tahanan kota Hong-thay, oleh Chie Kong Hiap telah dicarikan tabib yang pandai untuk meng- obati penyakitnya, berkat kepandaian ilmu silat yang dipunyai oleh Kang It Peng, maka tidak lama setelah ia berobat iapun sembuh-lah.

Setengah bulan Chie Kong Hiap menanti saja dan setelah melihat Kang It Peng sembuh sama sekali baru dilakukan pemerik- saan atas dirinya.

Dalam pemeriksaan itu Chie Kong Hiap telah mendapat kenyataan bahwa Kang It Peng bukan pembunuhnya. Menurut laporan yang telah diterima, ada mengatakan bahwa Kang It Peng tiap malam tiada berada dikamarnya, pelayan rumahnya mengatakan ada berapa malam pulang diwaktu malam mengambil jalan dari atas rumah. Pada saat itu Kang It Peng sedang berada di Hong-thay untuk mencari musuhnya, tidak nyana ia telah difitnah oleh musuh-nya yaitu selagi ia tidak berada dikamar musuhnya itu telah mengasihkan racun dicangkirnya. Kang It Peng yang tidak menduga samasekali lantas minum saja teh dalam cangkir yang ditaruh-kan racun itu, untung ia berkepandaian sangat tinggi, maka tatkala mengetahui dirinya terkena racun, lantas duduk bersemadi untuk menghilangkan racun. Ia pikir hendak menggunakan tenaga dalamnya supaya dapat memaksa racun keluar. Oleh karena cepat mengetahui lagi pula ilmu tenaga dalam Kang It Peng sudah sangat sempurna, maka setelah bersemadi tidak lama racun itu dapat dipaksa keluar.

Siapa nyana baru saja selesai usahanya, sang musuh itu datang dengan mendadak. dengan kecepatan seperti kilat musuh itu telah menyerang Kang It Peng lalu kemudian melarikan diri.

Kang It Peng kala itu habit menyelesaikan semadinya, sehingga tidak berdaya menghadapi musuhnya. Serangan itu telah mengenai dengan telak, sehingga seketika itu juga si orang she Kong menyemburkan darah segar karena lukanya tapi kemudian ia ditangkap oleh polisi yang mengira ia sebagai penjahat yang melakukkan perampokan dan pembunuhan.

Untung Chie Kong Hiap bertindak bijaksana, setelah melihat ia berada dalam keadaan sakit lantas diobati sehingga sembuh dan kemudian setelah mengetahui duduknya perkara yang sebenarnya lantas ia dibebaskan.

Semua kejadian tersebut diatas Chie Kong Hiap sudah lupa, tapi Kang It Peng selalu mengingat budi itu, sick karena sebagai orang rimba persilatan yang selalu mengutamakan kebajikan apa lagi Kang It Peng yang berkepandaian sangat tinggi dan jarang menemui tandingan juga belum pernah menemui bantuan orang lain. Ia ingat betul budi Chie Ciat-su itu, tetapi selalu tidak mendapat kesempatan untuk membalas. Kali ini Chie Ciat-su telah terfitnah hingga hampir saja hilang jiwanya dan tatkala ia mengetahui Chie Ciat-su dilepaskan dari jabatannya dan dipulangkan kekampungnya maka ia lantas menyurnh cucunya mengikuti Chie Ciat-su dan melindunginya dari ancaman musuh- musuhnya. Setelah Chie Kong Hiap mendengar penjelasan Kang It Peng lalu menjura dengan dalam dan berkata samba menarik napas: “Tigapuluh tahun yang lampau, apa yang aku lakukan hanya sekedar untuk memenuhi kebajikan sehagai manusia, aku tidak nyana bahwa Lo-eng-hiong masih tetap ingat didalam hati, hingga hari ini tigapuluh tahun kemudian setelah terjadi hal tersebut, Lo- enghiong telah korbankan waktu dan tenaga serta tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri telah menolong diri kami sekeruaraga, hal ini membuat aku Chie Kong Hiap sekeluarga mengucapkan banyak-banyak terima kasih."

“Kalau bukan karena pertolongan Tay-jin pada tigapulun tahun berselang," sahut Kang It Peng, “Mungkin Kang It Peng sudah menjadi setan gentajangan yang mengandung penasaran dan aku bisa hidup selama tigapuluh tahun itu adalah pemberean Tay-jin, maka untuk sekedar memberi bantuan ini ada suatu hal yang seharusnya, tapi kini ternyata karena kedatanganku sedikit terlambat membikin gedungmu telah terbakar sebagian. Hal ini telah membikin hatiku merasa tidak enak."

Kedua orang itu lalu saling merendah. Chie Keng Hiap lalu memerintahkan orangnya untuk menyediakan kamar-kamar untuk tamu-tamunya.

– ooOoo –

Kita tinggalkan dulu tentang Kang It Peng dan Ci Tang To- tiang yang menginap di rumah keluarga Chie dan kita balik pula kepada Tong Cin Wie serta Thay-si Sian-su yang menampak Oey Ceng Tan dan kawan-kawannya telah kembali dalam keadaan luka- luka. Tatkala kedua orang itu memeriksa orang-orang bawahannya dan kedapatan separuh lebih yang luka dan binasa hingga terpaksa kembali ke Ie Ciu Wan dengan hati murung. Dalam pertempuran itu bukan saja membuat hati kawanan penjahat pada kuncup, Tong Cin Wie sendiri juga merasa kehilangan kepercayaannya pada dirinya dan musnah harapannya untuk menjagoi didaerah Kanlam. Ia tidak menyangka bahwa kedatangannya dengan sepenuh tenaga yang ada dari lima povrinsi Utara dalam segebrakan saja, telah mengalami kekalahan begitu hebat. Nampaknya kedatangannya ke Selatan untuk menuntut balas itu barangkali akan menemui kegagalan.

Kang It Peng dan Ci Yang To-tiang, setelah menginap satn malam dirumah keluarga Chie, esok paginya pagi-pagi sekali, Kang It Peng sudah panggil Sian Jie datang kekamarnya, untuk menanyakan bagaimana pikirannya terhadap Chie Sie Kiat.

Meski Kang Sian Cian seorang gadis yang gagah luar biasa, tapi tatkala ditanyai tentang urusan dirinya, tidak urang merasa jengah dan malu, tapi karena ditanya berulang-ulang oleh Yayanya, terpaksa ia menjawab dengan tundukan kepala:

“Ia orangnya baik         ” Cuma begitu saja jawabannya, ia tak

dapat melanjutkan pula.

Kang It Peng elus-elus rambut kepalanya lalu berkata sambil tertawa, “Kalau benar ia adalah seorang baik, tentunya kau terima baik perjodoan ini."

Si nona cuma menjawab dengan menganggukkan kepalanya saja.

Kang It Peng herkata pula:

“Tiga hari kemudian, kita akan mengadakan pertempuran mati- matian dengan Tong Cin Wie dan kawan-kawannya, pertempuran itu akan dilakukan di Ho-lo-wan, aku akan suruh Suhumu dan Koo Supemu untuk membicarakan secara resmi dengan keluarga Chie, aku sendiri akan menantikan setelah kalian telah selesai melangsungkan perkawinan barulah meninggalkan tempat ini."

Kang Sian Cian menanya, seraya angkat kepalanya: “Yaya, mengapa kau tidak tinggal disini saja?"

Si Yaya menjawab sambil tertawa: “Apa kau kira Yayainu dapat mengikuti kau seumur hidupmu? Kalau kau nanti sudah berumah tangga hatiku nanti tidak ada apa-apanya lagi yang dibuat pikiran. Maka aku hendak mencari suatu tempat yang sunyi dan indah permai pemandangannya, untuk melewatkan hari tuaku dengan tenang."

“Kalau begitu," kata si nona, “Yaya selanjutnya akan tidak perdulikan cucunya lagi?"

“Urus sih sudah tentu mau urus," sahut si kakek, “Cuma saja bagaimana aku bisa mengurus banyak hal? Kau yang selamanya belajar ilmu silat dan ilmu pedang, sehingga adatmu sudah mirip seperti kuda liar, dikemudian hari setelah kau menjadi menantu orang, kau harus baik-baik menghormati mertuamu. Untuk selaajutnya, setiap tahun sekali aku akan menyambangi kalian."

Mendengar ucapan Yayanya itu, Sian Cian bersenyum. Kalau dipihak Kang It Peng sudah memanggil Sian Cian kekamarnya untuk membicarakan perjodoannya make dikamar lain Chio-bin- giam-lo juga sudah panggil Ong Bun Ping agar bicarakan akan soalnya.

Begitu menampak si pemuda, lantas pertama-tama Sun Tay Beng mengajukan pertanyaannya demikian:

“Aku beri pelajaran silat kepada murid seperti kau ini, tidak nyana telah membawa kekesalan dan kerewelan yang tidak sedikit. Sekarang aku hendak tanya kau, bagaimana anggapanmu tentang diri nona Koo?"

“Koo Sumoy," jawab Bun Ping, “Orangnya baik dan ilmu silatnyapun tinggi, Tee-cu sangat hargai sekali dirinya."

“Kalau orangnya baik dan ilmu silatnya tinggi,” kata Sang Suhu, “Apakah kau suka padanya?"

Si pemuda berpikir sambil tundukkan kepala dan kemudian ia menjawab: “Tee-cu hanya hargai dan junjung tinggi sifat dan ilinu silatnya Koo Sumoy, hal yang lain belumlah dipikirkan."

“Jawaban yang enak sekali didengarnya," kata sang Suhu seraja anggukkan kepalanya, “Kau telah elakan persoalan yang berat dan menjawab yang ringan. Sebetulnya aku tidak seharusnya mencampuri segala urusan semacam ini, tapi sekarang nampaknya tidak boleh tidak aku harus turut campur tangan. Sekali lagi aku tanya padamu, apakah dalam hatimu menyukai Kang Sumoymu?"

Ong Bun Ping bungkam dan tundukkan kepalanya. Sun Tay Beng berubah wajahnya lalu bertanya pula dengan suara keren:

“Katakanlah! Kau tidak boleh menipu aku."

Si pemuda itu ketika nampak sikap dan wajah Suhunya telah herubah demikian bengis, terpaksa anggulekan kepala dan berkata: “Tee-cu yang agak lain; bergaul dengan Kang Sumoy, maka terhadapnya agaknya lebih rapat."

“Kau tahu apa tidak," kata Sun Tay Beng, “Kang Sunioymu sudah dijodokan dengan Chie Kong-cu dan Yayanya!"

Ong Bun Ping gelengkan kepala seraja berkata: “Tee-cu tidak mengetahui urusan ini." “Tahu atau tidak," kata pula Sun Tay Beng, “Bukan merupakan soal, sekarang aku cuma mau tahu, maukah engkau menikah dengan nona Koo?”

“Tee-cu seumur hidup ini tidak akan berpikiran lagi untuk berumah tangga," sahut Ong Bun Ping dengan suara getir.

“Kalau begitu," kata Sun Tay Beng, “Aku akan perintahkan kau menikah dengan nona Koo, hendaknya engkau setuju karena ini untuk kebaikan kita bersama."

“Perintah Suhu, sudah tentu Tee-cu tidak lierani membangkang!" jawab Ong Bun Ping sambil tundukkan kepala dan cucurkan air mata.

Chio-bin-giam-lo menghela napas. “Dalam urusan ini," kemudian katanya, “Sebetulnya aku tidak sudi ikut campur, kalian orang-orang dari golongan muda ada mempunyai pikiran sendiri dan pilihan sendiri, cuma saja karena Kang Sumoymu sudah mendapat jodoh, dan Koo Jie Lan orangnya juga tidak dibawah Sian Cian, apalagi ia ada begitu menyintai dalam sekali terhadap kau. Kalau kau sudah terima baik perjodoan ini, hatimu tidak boleh bercabang lagi !”

Bicara sampai disini, kebetulan Kang It Peng juga masuk kekamar. Ong Bun Ping pesut air matanya, lantas berlutut dihadapannya si jago tua itu tapi ia dikasih bangun seraja berkata:

“Adatnya Sian-jie ada sangat binal, nona Koo ada banyak lebih baik daripadanya. Baiklah aku ingin menjadi perantara untuk merangkapkan perjodoan kalian berdua."

Kang It Peng berkata demikian dengan mengnghela napas, kemudian menceritakan bagaimana Koo Jie Lan telah memikiri si anak muda serta sudah bertekad bulat tidak akan menikah dengan orang lain. Didesak demikian rupa hingga Ong Bun Ping tidak berdaya lagi, sehingga terpaksa berkata seraya tersenyum:

“Budi kecintaan dari Loo-cian-pwee Boan-pwee merasa berteritria kasih, urusan Boan-pwee biarlah Boan-pwee serahkan kepada Loo-cian-pwee bersama Suhu yang mengambil keputusan, Boan-pwee akan menurut saja."

Berbareng ia menyura pada Kang It Peng dan Sun Tay Beng lalu segera mengundurkan diri.

Setelah Ong Bun Ping berlalu. Kang It Peng pun berkata pada Sun Tay Beng dengan geleng-geleng kepalanya:

“Aku benar-benar tidak habis mengerti, mengapa Bun Ping bisa jatuh cinta kepada Sian-jie yang sifatnya berandalan? Dengan terus terang saja baik adatnya maupun romannya sebetulnya Koo Jie Lan masih lebih baik daripada Sian-jie."

“Karena. urusan ini," sahut Sun Tay Beng sambil tersenyum, “Koo Hong telah timbul salah mengerti dengan aku sampai empat atau lima tahun lamanya, dalam urusan ini sebenarnya kita tidak bisa memaksa, tadi Bun Ping meski terima baik pernikahan ini, tapi agaknya ia tidak begitu senang. Kalau kita paksa mereka menikah, akibatnya susah diduga."

Sehabis berkata Sun Tay Beng menghela napas panjang. “Menurut pemandanganku," kata Kang It Peng, “Soal ini

agaknya tidak begitu hebat seperti apa yang kau pikirkan. Ong Bun Ping dengan Koo Jie Lan ada merupakan perjodoan yang setimpal, anak-anak muda yang agak sedikit lama bergaul dengan sendirinya pasti timbul rasa sukanya."

“Kita tidak usah bicarakan ini lagi," sahut Sun Tay Beng seraja gelengkan kepalanya. “Kita harus mempelajari soal perjanjian kita dengan Tong Cin Wie yang dalam tempo tiga hari lagi akan mengadakan pertempuran di Ho-lo-wan. Benar-benar aku tidak mengerti, mengapa kau harus ulur tempo sampai tiga hari, apa maksud kau yang sebenarnya?"

“Tahukah kau?" tanya Kang It Peng, “bahwa Cian-pi-sin-mo Thio Pak Tao ada mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Goei Liong dan julukannya, Sam-ciu-kim-kong atau 'malaikat tiga tangan', orang ini kalau mau dibandingkan dengan Cian-pi-sin-mo masih jauh sekali lebih lihay, Ci Yang To-tiang dengan kedudukannya yang tinggi sebagai satu pemimpin partay besar, telah sudi meninggalkan Bu-tong-san untuk beri bantuan tenaga pada kita dengan maksud ialah It Hok To-tiang pada empatpuluh tahun berselang pernah bertanding dengan Goei Liong, yang akhirnya It Hok To-tiang telah kalah karena serangan Goei Liong yang dinamai 'Ngo-tok-sin-koan' dan belum sampai tiga bulan It Hok kembali diatas gunung ia telah binasa.

Sebelum ia mangkat ia telah menurunkan kepandaian ilmu silat dari partai Bu-tong-pay yang paling tinggi yang dinamakan Bu-kek,khi- kang kepada Ci Yang To-tiang, serta meninggalkan pesan, bahwa Ci Yang To-bang harus melaksanakan dua persoalan besar.

Kesatu ialah mencari dan membinasakan murid yang murtad dari partay Bu-tong yaitu Teng Tay Kouw, kedua jalah membunuh Sam-ciu-kim-kong Goei Liong. Tatkala Goei Liong bertempur dengan It Hok To-tiang, meski ia bisa melukai It Hok To-bang dengan 'Ngo-tok-sin-koan'nya, tapi ia sendiri, juga terkena serangannya sang lawan yang bernama „Bian-ciang‟.

Serangan itu meski tidak membahayakan jiwanya tapi sebenarnya hebat, tunggu setelah lukanya sembuh sudah tentu ia akan menggunakan 'Ngo-tok-sin-koan'nya untuk membasmi habis murid' Bu-tong-pay. It Hok To-tiang setelah meninggalkan pesannya telah menarik napasnya yang penghabisan.

Ci Yang To-bang setelah memanaku jabatan sebagai Ciang-bun-jin (pemimpin) dari golongan Bu-tong-pay, lantas mulai melatih dirinya dengan rajin dalam ilmu silat Bu-kek-khi-kang. Goei Liong sendiri pada saat itu juga lenyap dari kalangan Kang-ouw, ia telah bersemadi untuk merawat lukanya dan melatih lagi ilmu 'Ngo-tok- sin-koan'nya, duapuluh tahun lamanya ia berbuat demikian akhirnya lukanya sembuh. Benar saja ia lantas mencari It Hok To-tiang ke Bu-tong-san, dengan ilmunya ia telah melukai Suheng Ci Yang To- tiang dan empat murid Bu-tong-pay. Pada kala itu, Ci Yang To- tiang masih belum selesai melatih ilmunya Bu-kek-Ichi-kang, karena menganggap tidak ada gunanya untuk melawan dengan ilmu silat yang baru dilatih itu, maka terpaksa bersama-sama empat murid Bu-tong-pay dari golongan tua untuk menghadapi Goei Liong.

Selagi kedua pihak bertempur dengan hebat, kebetulan itu waktu aku sedang berkunjung ke Bu-tong-san, dan kemudian aku memberi hantuan sedikit tenaga kepada pihaknya Ci Yang To-tiang, hingga Goei Liong terluka lagi dan lantas kabur.

Selanjutnya Ci Yang To-tiang lebih rajin melatih ilmu silat Bu-kek- khi-kangnya tiga puluh tahun lamanya belum pernah alpa-kan barang satu hari, hingga ilmu itu akhirnya dapat dikuasai olehnya sampai mahir benar.

Selama itu telah terjadi rupa-rupa hal, cuma saja tidak menerbitkan bencana apa-apa. Aku memang sengaja menyanjikan waktu tiga hari dengan mereka, karena aku menduga tentu akan menggunakan waktu tiga hari itu untuk pergi mengundang Goei Liong, supaya segala permusuhan selama berpuluh-puluh tahun itu dapat dibereskan sekaligus dalam pertempuran di Ho-lo-wan itu. Kalau tidak, sekalipun kita bisa menyingkirkan Cian-pi-sin-mo dan Tong Cin Wie serta kambrat-kambratnya, tapi dengan meninggalkan Goei Liong, juga merupakan bencana dikemudian hari."

Sun Tay Beng mengangguk-anggukkan kepala, kemudian berkata:

“Tentang diri Sam-ciu-kim-kong itu, aku juga pernah mendengar orang katakan bahwa ia agaknya jarang muncul didunia Kang-ouw."

“Si Iblis tua itu," kata Kang It Peng, “Terlalu pandang tinggi dirinya sendiri, ia jarang sekali bergerak dikalangan Kang-ouw, sudah tentu tidak banyak orang yang mengetahui tentang dirinya. Selama beberapa puluh tahun itu untuk merawat lukanya tambah jarang ia keluar pintu. sebetulnya tempat tinggalnya diatas gunung Pak-sia-san yang tidak jauh letaknya dari sini."

“Kalau begitu," sahut Sun Tay Beng, “Pertempuran di Ho-lo- wan itu nanti akan merupakan pertempuran yang ramai."

“Itu adalah satu pertempuran yang maha hebat," menetapkan Kang It Peng, yang mungkin akan diakhiri dengan keadaan yang mengerikan, Ngo-tok-sin-koan Goei Liong, boleh dikata ada merupakan satu kepandaian istimewa dalam rimha persilatan dan Bu-kek-khi-kang Ci Jung To-tiang juga ada satu kepandaian ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi, tapi ia akan mampu atau tidak untuk menahan serangan Ngo-tok-sin-koan hal itu masih sukar untuk diramalkan."

“Pek-po-sian-koan dan Pek-kong-ciang," kata Sun Tay Beng, “Dua rupa ilmu serangan itu sama-sama merupakan ilmu silat tenaga dalam, ini aku mengerti, tapi mengapa diatas istilah dengan tangan harus ditambah dengan lima racun (ngotok), apakah Goei Liong itu telah mengumpulkan hewan lima jenis racun itu kedalam dirinia sendiri?"

Kang It Peng berkata: “Apa yang dinamakan Ngo-tok-sin-koan itu bila kita tinjau dari namanya saja sudah bisa mengerti bahwa serangannya itu diharengi dengan lima jenis racun yang sangat berbahaya untuk jiwa sang lawan. Tapi bagaimana caranya melatih dan lima jenis racun itu terdiri dari racun apa, aku sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas !”

Bicara sampai disini, dari luar kamar telah terdengar suara Ci Yang To-tiang tertawa, kemudian berkata:

“Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong, kalau kena diri orang sudah tidak ada obatnya lagi, obat pil Kang-heng yang dinamai Siau-hoan-tan meski-pun dapat memusnahkan segala racun, tapi barangkali tidak berdaya untuk memusnahkan lima jenis racun Goei Liong itu. Jie-wie kalau ada kegembiraan mari kita bicarakan Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong itu."

Meski Sun Tay Beng biasanya suka bersenda-gurau dengan orang-orang didunia Kang-ouw, tapi terhadap pemimpin besar dari partai Bu-tong yang namanya sudah terkenal itu ia hormati sekali, beda dari biasanya maka setelah menampak Ci Yang To-tiang masuk dikamar-nya, ia lantas bangkit untuk menyilahkan Ci Yang To-tiang duduk, kemudian berkata sambil menyura,

“Kalau To-heng sudi, Sun Tay Beng akan mendengar dengan hormat."

Ci Yang To-tiang membalas hormat dan setelah ambil tempat duduk iapun herkata:

“Kang-heng adalah satu Kiam-hiap yang kenamaan di jaman ini, hingga orang-orang digolongan rimba persilatan pada menjunjung tinggi, maka menurut pendengaran yang sangat luas terhadap segala ilmu silat dan racun atau senjata rahasia beserta caranya untuk memusnahkan tentunya sangat paham, ilmu pedang Tui-hong-kiam yang diciptakan oleh Kang-heng, lebih-lebih telah merupakan satu ilmu pedang yang istimewa ”

Kang It Peng goyang-goyang tangannya sambil tersenyum ia memotong pembicaraan Ci Yang To-bang:

“Sudah …….., sudah …….. kalian orang dari golongan Bu- tong-pay siapa yang tidak kenal kalau bukan orang yang mahir ilmu pedang, ilmu ciptaanku yang tidak berarti ini, bagaimana bisa dibandingkan dengan ilmu pedang kalian? Apalagi tentang Ngo- tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong aku sendiripun tidak mengetahui dengan jelas."

“Suhu telah terluka dibawah serangan Ngo-tok-sin-koan," kata Ci Yang To-bang itu, “Aku telah menggunakan rupa-rupa daya untuk mencari keterangan, dan ternyata usahaku itu tidak tersia, akhirnya aku telah dapat dengar bagaimana caranya ia telah melatih ilmu silatnya."

Sun Tay Beng lantas bertanya: “Apa bedanya Ngo-tok-sin-koan dan Pek-po-sin-koan?"

“Pek-po-sin-koan," menerangkan Ci Yang To-tiang. “Telah menggunakan ilmu tenaga dalam, dengan kekuatan angin untuk merubuhkan musuhnya, dengan Pek-kong-ciang sama-sama merupakan ilmu silat tenaga dalam yang sangat tinggi, Ngo-tok-sin- koan mirip dengan lawannya, bedanya jalah Pek-po-sin-koan dapat melukai lawannya dengan mengandal kekuatan tenaga dalam yang asli, tapi Ngo-tok-sin-koan disamping tenaga dalam pun ditambah dengan hawa racun."

“Kalau begitu." kata Sun Tay Beng, “No-tok-sin-koannya Goei Liong juga termasuk ilmu silat  tenaga dalam. Tapi dengan cara bagaimana lima jenis jarum itu bisa dilatih dan dimasukkan kedalam tenaga?"

“Ia cuma menggunakan sebelah tangan kanan," menerangkan Ci Yang To-tiang, “Setelah direndam dalam air yang dicampuri lima jenis racun dan kemudian dilatih dengan caranya yang tertentu, hawa racun itu bisa keluar menurut anginnya serangan."

“Ngo-tok-sin-koannya Goei Liong," menyelak Kang It Peng, yang sedari tadi tinggal diam saja, “Sebenarnya terdiri dari lima jenis racun binatang apa?"

“Lima racun itu," kata Ci Yang To-tiang, jalah: solar, kelabang, kawa-kawa (laba-laba) kalajengking dan kadal, cuma saja solar harus solar yang sangat beracun, dan keempat binatang lainnya harus kudu dicari yang sudah berumur  tahun lebih. Lima racun itu dikumpulkan dan dimasukkan kedalam guci, lalu ditanam dibawah tanah dan biarkan mereka saling bunuh sendiri. Setelah kira-kira satu tahun kemudian, guci itu lantas diangkat dan dimasukkan air di-ngin, lalu dimasak supaya air racun itu mendidih. Orang yang melatih harus merendam tangan kanan atau tangan kiri kedalam air racun itu setiap hari, supaya hawa racun itu masuk kedalam tangan, lalu menggunakan tenaga dalam untuk menyampurkan racun itu hingga terciptalah itu ilmu silat yang dinamai 'Ngo-tok-sin-koan'. Cuma saja diwaktu melatih ilmu ini, ilmu tenaga dalamnya orang itu sendiri harus sudah sempurna betul- betul supaya racun itu tidak dapat menyerang dirinya, karena kalau tidak racun itu akan merupakan bencana bagi dirinya sendiri."

Sun Tay Beng goyang-goyang kepala dan menghela napas. “Melatih silat dengan cara demikian," katanya, “tidak perduli bagaimana kesudahannya, walau bagaimana merupakan satu siksaan bagi dirinya sendiri." “Ilmu silat semacam itu," kata Kang It Peng, “Kecuali orang- orang yang sifatnya ganas dan sangat kejam tapi bagi orang yang mempunyai sedikit perikemanusiaan saja, sudah tentu tidak sudi melatih itu. Dalam pertempuran kita di Ho-lo-wan nanti, kita harus perhatikan betul-betul ilmu Ngo-tok-sin-koan ini."

“Ngo-tok-sin-koan kepunyaan Goei Liong," kata Ci Yang To- tiang bersenyum, meskipun sangat ganas, tapi asal kita bisa menjaga dan terus waspada jangan sampai terkena serangan anginnya, tidak akan menjadikan bahaya apa-apa. Dalam pertempuran di Ho-lo-wan nanti, sebaiknya kita bertempur satu lawan satu, aku sendiri yang nanti akan menghadapi Cian-pi-sin- mo, kalau kita bisa menyingkirkan kedua iblis tua itu maka yang lainnya kita tidak perlu takuti lagi. Apa yang kita harus takuti jalah Goei Liong nanti kalau sudah marah benar-benar mungkin menjadi kalap dan melukai orang sebanyak-banyaknya, angin dari serangan tangannya bisa mencapai jarak seratus langkah, siapa yang terkena tidak ada obat-nya. Dalam hal ini harap Jie-wie berpesan kepada semua kawan kita. Paling baik kita harus menyingkir sejarak seratus langkah lebih daripadanya."

Tiga orang itu setelah memperbincangkan soal Goei Liong lantas pada bubaran.

– ooOoo –