Dara Pendekar Bijaksana Jilid 07

 
Jilid 07

Kita balik lagi kepada Pek-hoa Nio-cu. setelah ia kembali kekamarnya dipikirinya semua perbuatannya dan apa yang dialaminya selama berada di Ie Ciu Wan ini dan dari diri Kim Ling Siang-khoay, lalu kepada Jan San Ji-kui dan kemudian kepada Teng Hong dan Oey Ceng Tan.

Yang paling dikasihaninya adalah Teng Hong, ia curna berdekat-dekatan, sedikitpun belum pernah menerima apa-apa dari dirinya tapi sudah mati secara mengenaskan ditangan Tong Cin Wie. Tentang ilmu silat Coa-heng-ciang-hoat dan Pian-hoat yang diajarkan kepadanya, sebetulnya terbit dari hati yang sejujurnya, mengingat sampai disini, tanpa terasa ia telah menghela napas.

Ia telah mengerti maksud Tong Cin Wie membunuh Teng Hong itu. Bila dilihat dari luar ialah disebabkan karena sikap Teng Hong yang jumawa dan tidak mendengar perintah, tapi sebab-sebab yang sebenarnya ialah karena dirinya.

Pek Hoa Nio-cu sebagai seorang yang banyak pengalaman dalam asmara, berhati kejam dan cerdik, kekejaman dan kecerdikan-nya tidak kalah dari Tong Cin Wie. Terhadap Teng Hong bukan saja ia tidak cinta, malahan merasa jemu. Tong Cin Wie membinasakan Teng Hong sudah tentu tidak menimbulkan rasa kasihannya.

a hanya merasa bergidik terhadap perbuatan Tong Cin Wie yang kejam. Twako dari golongan rimba hijau di Utara itu, benar- benar lain daripada yang lain jadi dikemudian apabila ia membuat perhubungan dengan Toako itu sudah tentu akan merupakan seekor burung yang terkurung di-dalam sangkar yang hanya manda dijadikan barang permainan si orang she Tong itu. Mengingat sampai disini maka rupa-rupa pikiran telah timbul didalam hatinya, hingga ia memandang bayangannya didalam kaca itu dengan perasaan mendelu

Orang didalam kaca itu memang cantik, akan tetapi wajahnya muram dan hatinya risau. Ia meraba-raba parasnya sendiri, hingga didalam kaca itu tambah satu bayangan tangan yang putih meletak.

Satu perasaan yang belum pernah ada telah timbul didalam hatinya Pek Hoa Nio-cu secara mendadak pada waktu itu dan karena ia tak dapat menguasai dirinya sandiri maka air matanya keluar dari kelopak matanya.

Berkatalah ia seorang diri, “Ah. Pek Hiang Lui …… Pek Hang Lui …... perhuatanmu yaitu mempermainkan orang selama beberapa tahun entah berapa banyak orang-orang gagah yang kau buat mainan dan jatuh dihawah kakimu, tapi yang kau cintai benar- benar ada berapa? Dan siapa itu yang benar-benar yang menyintai kau? Apakah paras yang elok yang diberikan kepadarnu oleh Tuhan kau jadikan mainan demikian mudah?"

Tiba-tiba ia insjaf dari segala perbuatannya. Perbuatan- perbuatan yang tidak pastas dirnasa yang lampau, pada saat itu segala perbuatannya yang telah lalu terbayang lagi didalam ingatannya, mengingat akan semua ini tanpa dapat menguasai dirinya lagi terus iapun menangis tersedu-sedu.

Tiba-tiba terdengar dari belakang suara orang yang taruh penuh perhatian kepada dirinya, katanya: “Nona Pek apa yang kau lagi tangisi? Apakah karena Toako membinasakan diri Teng Hong hingga melukai hatimu?"

Pek Hoa Nio-cu menoleh dengan perlahan sambil mengangkat kepalanya dan dilihatnya orang itu adalah Oey Ceng Tan. Dalam hatinya lantas timbul suatu perasaan benci yang tidak terhingga, maka dijawabnya dengan suara hambar:

“Hatiku tidak enak, sebab itu lekaslah kau keluar, jangan mengganggu aku lagi disini!"

Oey Ceng Tan terkejut, lama ia membungkam. Melihat sikap Pek-hoa Nio-cu yang sangat berlainan dengan biasanya itu, hatinya merasa bercekat maka ia pun keluar dengan segera dari kamar itu.

Setelah Oey Ceng Tan berlalu kembali lagi ia merasakan kekosongan didalam hatinya, ia berdiri melongo sejenak dan tiba- tiba terbayang diotaknya bayangannya seorang pemuda yang tegap, gagah dan tampan.

Sejak ia bertemu dengan Ong Bun Ping maka selalu terbayang wajah anak muda itu diotaknya dan setelah ia menginsjafi segala perbuatannya yang keliru dimasa yang silam maka sifat baik yang tersembunyi didalam sanubarinya mulai memainkan peranan diatas dirinya.

Ia merasa segala perlmatannya yang sudah lain, tidak ada sate yang paint dipuji. Sejak perasaan itu telah timbul maka hati cabulnya seketika itu juga telah tersapu bersih dan bayangan Ong Bun Ping yang tegap tampan telah bersarang didalam hatinya hingga menimbulkan rasa cintanya yang sebenarnya beim pernah ia- rasakan dimasa yang lampau.

Tiba-tiba ia memutar tubuhnya lalu dengan tergesa-gesa ia membereskan pakaiannya, sudah itu mengambil pedangnya dan dengan diam-diam berlaln dari Ie Ciu Wan terus kabur ke Siang Ke Cun.

Karena jarak antara Siang Ke Cun dan Ie Ciu Wan cuma beberapa puluh lie, maka tidak sampai setengah jam ia sudah tiba di Siang Ke Cun karena ia kabur dengan ihnu lari pesatnya yang sudah sempurna.

Tiba disana ia langsung kekamar Chie-clat-su. Tiba didepan pintu, berdirilah, ia disana agak lama. Ia tidak berani mengetok pintu. Entah berapa lama ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba pintu hitam itu terbuka dan seorang tua yang agaknya seperti pelayan rumah tangga menegur padanya:

“Nona cari siapa?"

Pek-hoa Nio-cu sebenarnya ingin mencari Ong Bun Ping, untuk Memberitahukan padanya tentang keputusan Tong Cin Wie yang hendak melakukan serangan besar-besaran ke Siang Ke Cun pada malam itu supaya dipihak Ong Bun Ping bisa siap sedia.

Kini setelah ditegur oleh si pelayan tua itu ia telah menjadi kemekmek,. lama sekali baru bisa menjawab:

“Aku hendak ketemu dengan Chie Tayjin."

Pelayan tua itu mengawasi diri Pek-hoa Nio-cu, lantas berkata sambil meng-anggulekan kepalanya:

“Silahkan Nona tunggu dikamar tetamu, nanti aka beritahukan kepada tuan rurnah." Pelayan tua ini merasakan keadaan yang berlainan sejak ma- jikannya pulang. Usianya yang sudah tua kadang-kadang diwaktu malam tidak bisa tidur nyenyak sebab melihat Nona Sian yang setiap malam meronda disekitar rumah dan diatas genteng. Sudah beberapa kali ia pernah melihat dan meskipun merasa heran didalam hati, tapi ia tidak berani bertanya.

Tadi pagi keluarga Chie ini didatangi lagi beberapa orang tetamu yang pada membawa golok dan pedang, sikap sang majikan demikian menghormati dan ramah tamah kepada tetamu itu dan rupanya tamu-tamu itu bukan orang sembarangan sebab itu tatkala Pek-hoa Nio-cu datang, dilihatnya saja dengan sorot mata yang mengandung heran tapi dalam hatinya tidak timbul perasaan terkejut.

Tidak beberapa lama pelayan tua itu kembali lagi hersama seorang pemuda tegap. Tatkala Pek-hoa Nio-cu melihat pemuda itu hatinya seolah-olah melompat keluar, pemuda itu ternyata adalah Ong Bun Ping.

Ketika Ong Bun Ping melihat Pek-hoa Nio-cu agak terkejut lalu dengan perasaan heran ia bertanya:

“Perlu apa saudari datang kemari? Apakah ingin melakukan seragan secara terang-terangan?"

Pek-hoa Nio-cu menjawab sambil gelengkan kepalanya: “Aku hendak beritahukan hal yang penting kepada kalian. Kiranya engkau jangan perlakukan aku begitu galak, bolehkah?"

Ong Bun Ping ketika menampak sikap dan pembicaraan Pek- hoa Nio-cu yang sungguh-sungguh tidak seperti keadaannya waktu pertama kali ia bertemu, yaitu matanya mengerling, maka separuh dari rasa mendongkolnya lenyap lalu kembali ia bertanya:

“Ada urusan apa? Katakanlah, aku akan mendengarkan." Pek-hoa Nio-cu ketika melihat sikap Ong Bun Ping yang dingin maka hatinya merasa pilu hingga mengeluarkan air mata. Sambil sesenggukkan iapun menjawab:

“Untuk memberitahukan urusan ini kepadamu, aku telah menempuh bahaya dan tidak memperhitungkan jiwaku sendiri, aku telah keluar secara sembunyi dari Ie Ciu Wan tapi mengapa kau perlakukan aku begini sampai secawan teh pun tidak kau suguhkan, apalagi perkataan yang agak merendah."

Ong Bun Ping seketika itu juga lantas kemekmek, lama barulah ia bisa menjawab:

“Kau katakan dulu, sebetulnya urusan apa itu dan kalau benar- benar penting, dan ada hubungannya dengan kami, sudah tentu aku si orang she Ong akan sambut kedatanganmu ini secara hormat. Kedudukanku dengan nona berlawanan, sudah tentu sedikit banyak terpengaruli oleh rasa permusuhan, paling baik, hendaknya nona jelaskan maksud kedatangan nona ini supaya aku tidak keterlepasan omong ……”

Pek-hoa Nio-cu lantas memotong. “Ucapanmu memang benar tapi kami tidak akan bermusuhan pula dengan engkau tapi sebaliknya yaitu mau membantu pihakmu, dan kau ini akan pandang ,aku sebagai lawan atau kawan?"

Ong Bun Ping berpikir sejenak lalu menjawab:

“Kalau benar-benar kau membantu pihak kami, sudah tentu aku akan perlakukan nona sebagai kawan."

Pek-hoa Nio-cu berkata lagi sambil tersenyum:

“Jangan memakai segala istilah “kami" karena aku hanya bertanya kepada engkau."

Ong Bun Ping berkata dengan sungguh-sungguh: “Didalam dunia rimba persilatan sebetulnya tidak terlalu pandang tinggi tentang segala adat istiadat duniawi, tentang pergaulan lelaki dan perempuan juga tidak dibatasi oleh segala peraturan-peraturan yang keras, apa yang kita utamakan ialah kepercayaan dan kejahatan, kalau nona benar-benar membantu pihak kami sudah tentu aku Ong Bun Ping akan perlakukan nona seperti kawan."

Ia berkata demikian sambil menatap wajah Pek-hoa Nio-cu dengan tajam.

Pek-hoa Nio-cu merasakan pandangan pemuda she Ong itu amat tajam, entah apa sebabnya ia tidak berani balas memandang wajah Ong Bun Ping. Baru-buru ia pejamkan kedua matanya.

Mung-kin karena ia memikirkan segala perbuatannya yang cabul dirnasa yang lampau, hingga dirinya yang sudah kotor itu tidak ada harga untuk menjadi kawan pemuda yang cakap itu.

Pek-hoa Nio-cu membuka mata sambil menghela napas perlahan sudah itu ia berkata:

“Tong Cin Wie sudah mengambil keputusan agar malam ini menyapu bersih Siang Ke Cun dengan orang-orangnya yang banyak itu.”

Ong Bun Ping terkejut lain bertanya: “Benarkah omonganmu

ini?"

Pek-hoa Nio-cu menjawab sambil tertawa getir:

“Dengan menempuh bahaya secara sembunyi aku telah lari kemari untuk menyampaikan kabar ini, perlu apa harus kubohongi engkau?"

Ketika Ong Bun Ping menampak sikap dan kata-katanya, telah menduga bahwa berita yang dibawa oleh nona ini adalah benar adanya maka dengan sorot mata yang penuh rasa terima kasih si pemuda memandang Pek-hoa Nio-cu sekilas, lalu menyahut:

“Atas berita mengejutkan yang nona sampaikan aku Ong Ban Ping merasa sangat berterima kasih, silahkan nona masuk sebentar untuk minum teh ……!”

Belum habis kata-katanya Ong Bun Ping itu Pek-hoa Nio-cu sudah tersenyum, suatu senyuman yang mengandung entah rasa getir atau rasa manis, ia tersenyum sambari memotong ucapan Ong Bun Ping, katanya:

“Terima kasih, aku masih perlu segera kembali untuk keadaan, mungkin mereka telah menduga aku datang kemari, karena ketiadaanku disana. Dan bila mereka ketahui aku disini otomatis rencana mereka itu akan berubah ……”

Sampai saat itu didalam hati wanita itu telah timbul dua rupa perasaan yang saling bertentangan, satu adalah rasa cinta yang wajar sebagai manusia dan satu lagi adalah rasa benci yang terjadi oleh karena keadaan, ia cinta kepada pemuda yang berdiri didepan itu adalah satu perasaan yang dulu belum pernah dialaminya.

Waktu itu ia benci segala perbuatannya sendiri yang sudah lain itu hingga ia merasa dirinya tidak ada itu harga untuk berdampingan dengan pemuda yang dikasihinya itu.

Dua perasaan yang sating bertentangan itu, membuat ia merasa. duka dan rendah diri, meski sepatah kata saja yang merendah dari Ong Bun Ping namun ditelinganya seolah-olah sangat tajam seperti menusuk keulu hati, maka ia tidak mau berdiam lebih lama, berbareng dengau itu ia juga bersedia hendak korbankan segala tenaganya untuk membuat Ong Bun Ping. Pek-hoa Nio-cu ketika nampak Ong Bun Ping sangat pemaluan, hingga ia tidak banyak mengucapkan kata-kata yang manis ia hanya bisa mengelah napas dan berkata:

“Kalian juga harus bersiap sedia, sekarang aku hendak pergi."

Meskipun mulutnya berkata hendak pergi. namun sepasang kakinya masih belum mau bergerak, matanya masih tetap memandang wajah si pemuda agaknya ia hendak membuka mulut lagi tapi selalu tidak bisa dikeluarkan perkataan yang diinginkan karena itu ia hanya memandang, sehingga air matanya bercucuran. Sambil kertak gigi ia lantas menuitar tubuh untuk berlalu.

Waktu Pek-hoa Nio-cu berlalu berdirilah Ong Bun Ping ditempat itu beberapa lamanya. Sebetulnya pada waktu pertarna kali ia bertemu dengan Pek-hoa Nio-cu dan melihat lagak yang genit hatinya agak jemu, tapi malam ini keadaannya sangat berlainan.

Perubahan ini ia tak tahu karena apa, sampai bayangan Pek-hoa Nio-cu lenyap dari pemandangannya barulah ia ingat bahwa berita harus segera diberitahukan kepada Suhunya. Maka ia lantas pergi keruangan dalam, disitu sudah ada duduk Cio Bin Giam Lo Sun Tay Beng, Chie Ciat-su, Cin Tiong Liong dan Kang Sian Cian.

Begitu Ong Bun Ping muncul maka bertanyalah Sun Tay Beng: “Siapa itu yang diluar?"

Ong Bun Ping segera memberitahu maksud kedatangan Pek- hoa Nio-cu itu, Sun Tay Beng merasa keadaan gawat ketika mendengar berita itu. Maka dikerutkan alisnya lalu berkata:

“Tidak perdnii berita yang dibawa orang tali benar atati bohong, sebaiknya kita harus bersiap sedia, sekarang ini tenaga kita masih belum cukup, sebab lawas berjumlah banyak orang tapi kita sedikit, sudah tentu sukar untuk melawan keras dengan keras. Kita  harus lawan dengan akal, sambil menanti bala-bantuan yang dirninta oleh Yayanya Sian-ji, lalu kita gempur sekaligus, supaya kita bisa bikin beres soal ini jangan sampai meninggalkan ekor untuk kernudian hari."

Sun Tay Beng berpikir pula sejenak lalu menyambung lagi perkataannya:

“Meskipun jumlah kawanan penjahat itu tidak sedikit. tapi cuma beberapa gelintir saja yang ditakuti, yang paling jahat adalah si Tua Bangka Cian-pi-sin-mo, kalau Yayanya Sian-ji tidak datang, barangkali tidak ada seorangpun yang benar-benar mampu melayaninya. Menurut keadaan pada dewasa ini, yang paling baik bagi kita adalah menyingkirkan rasa kekuatiran kita baru kita bisa menghadapi musuh dengan perasaan lega."

Cin Tiong Liong mengerti maksud Sun Tay Beng, yaitu menghendaki supaya keluarga Chie Ciat-su menyingkir untuk sementara, agar tidak usah memikirkan cara melindunginya, tapi soalnya sekarang ialah kemana keluarga Chie itu harus diungsikannya? Di rumah berbahaya, keluar demikian pula, oleh karena sekarang ini dipihak sendiri hanya ada empat orang, tenaga kurang, sudah tentu tidak dapat membagi pula tenaganya untuk bertugas melindungi mereka.

Orang she Cin berpikir demikian, Kang Sian Cian demikian juga, Ong Bun Ping juga memikirkan soal itu, hingga sesaat itu tidak seorang pun yang mampu memecahkan soal yang sulit itu. Keadaan dalam ruangan itu pada saat itu sunyi senyap.

Tiba-tiba Chie Ciat-su memecahkan kesunyian itu. Ia berkata dengan suara nyaring: “Tuan-tuan tidak usah capaikan hati untuk keselamatan kita serumah tangga. Mati hidup seseorang, sudah ada garisnya sendiri-sendiri, kita orang yang seolah-olah baru keluar dari bahaya, terhadap hal ini sama sekali tidak pernah kita pikirkan."

Kira-kiranya Ciat-su itu seolah-olah pedang yang tajam menusuk hati Sun Tay Beng dan kawan-kawannya, karena mereka seliagai orang-orang yang sudah ternama dirimba persilatan, masa tidak mampu melindungi jiwa keluarga Chie.

Sun Tay Beng lantas angkat kepala dan tertawa bergelak-gelak, kemudian ia berkata:

“Sun Tay Beng hampir seumur hidup berkelana didunia Kang- ouw juga sudah mengalami banyak kejadian hebat, aku tidak percaya dengan hanya kekuatan Tong Cin Wie saja, bisa menyulitkan aku. Sian-jie, kan masih mempunyai berapa duri „ikan terbang'? Kalau tidak cukup, suruhlah Ong Suhengmu membuatnya segera. Sekarang juga harus dikerjakan dan harus selesaikan sebelum menyelang jam dua pagi. Orang kita cuma sedikit mungkin terpaksa kita cuma menggunakan duri „ikan terbang‟ ini untuk melayani segala kurcaci dari Utara."

Ong Bun Ping terkejut ketika mendengar perkataan sang Suhu- nya itu tapi ia mengerti hahwa Suhunya itu telah gusar karena mendengar ucapan Chie Ciat-su tadi, hingga tanpa menghiraukan perbuatan yang melanggar pantangan membunuh dan hendak menggunakan senjata rahasia 'duri ikan terbang'nya yang telah menggetarkan dunia Kang-ouw untuk menyambut musuh- musuhnya.

Ia telah mendengar bahwa gurunya mempunyai semacam ilmu serangan senjata rahasia yang paling lihay yang bernama 'Boan- thian-hoa-ie' atau Hujan Kembang dari atas Langit dan ia mendengar Suhunya bisa menggunakan banyak senjata rahasia yang dilancarkan sekaligus, hingga orang sukar sekali untuk menjaganya. Ong Bug Ping sudah lama mengikuti gurunya tapi ia baru mendengar lihaynya ilmu serangan itu. Ia belum pernah menyaksikan dengan matanya tapi kini setelah mendengar ucapan Suhunya itu ia lantas tabu bahwa Suhunya hendak menggunakan senjatanya yang istimewa itu untuk menghadapi musuh-musuhnya, diam-diam ia menghela napas. Wahtupun begitu ia merasa girang juga karena dapat menyaksikan kepandaian istimewa dari Suhunya. Dalam hati ia me-mikir demikian, tapi matanya ditujukan kewajah Kang Sian Cian.

Kang Sian Cian juga mengerti maksud Sun Tay Beng yang hendak menggunakan senjata rahasia istimewa untuk menghadapi musuh-musuhnya hingga lantas berkata seraja ia bersenyum:

“Yang heracun tidak banyak, tapi yang tidak beracun masih ada sekantong, kira-kira seratus batang lebih."

Sun Tay Beng berkata sambil gelengkan kepala: “Tidak cukup, lekas keluarkan sebatang dan serahkan kepada Ong Suhengniu agar ia membuat yang baru."

Kang Sian Cian segera mengambil sebatang 'duri ikan terbang' sebagai contoh lalu diserahkannya kepada Ong Bun Ping.

Belem lama Ong Bun Ping berlalu, pelayan tea Chie Lok telah mengantar seorang tua bersama seorang wanita muda yang herusia kira-kira dua puluh tiga tahun yang berparas cantik.

Tamu itu adalah sahabat karib Sun Tay Beng, yang menjadi guru silat di Bu Kong San yang hernama Koo Hong dan yang mempunyai julukan Siang-ciang-tin-kang-see, atau sepasang tangan mengamankan daerah Kang-see. Dan itu wanita muda adalah puteri- nya sendiri yang bernama Koo Jie Lan.

Karena Koo Hong kawan lama Sun Tay Beng maka ia telah mengajak puterinya yang cuma satu-satunya itu untuk datang memberi selamat hari ulang tahun Sun lay Beng yang ke Enam Puluh tapi tidak nyana kedatangan Koo Jie Lan ini telah bertemu dengan Ong Bun Ping yang kemudian membuat riwajat hidupnya. Hal ini akan dilihat dalam lanjutannya cerita ini.

Kala itu Kan. Sian Cian baru saja berguru kepada Sun Tay Beng, didalam hati Ong Bun Ping cuma Sumoy kecil itu yang ada hingga meski Koo Jie Lan berlaku baik padanya tapi ia tidak ambil perhatian sikapnya tetap dingin terhadap Koo Jie Lan.

Koo Hong sebetulnya cuma ingin tinggal berapa hari saja di rumah Sun Hong Beng tapi tidak nyana Jie Lan menggerecoki ayahnya dan minta sang ayah tinggal lebih lama disitu. Koo Hong yang telah lanjut usianya itu dan mati oleh isterinya selagi masih muda dengan sendirinya ia seralu mernanyakan anaknya yang seorang saja itu.

Tidak pernah ia menolak permintaan anaknya itu untuk tinggal disitu beberapa lama lagi. Jie Lan berdiam dirumah Sun Tay Beng hampir satu bulan lamanya, tapi sikap Ong Bun Ping tetap dingin, karena sikap yang dingin ini Koo Jie Lan telah pulang dengan perasaan duka.

Si nona yang sudah tergila-gila kepada Ong Bun Ping ketika tiba dirumah, pikirannya kusut, parasnya layu dan tidak lama kemudian lantas jatuh sakit.

Sakitnya Jie Lan telah mengejutkan ayahnya hingga ia menanya berulang-ulang barulah Jie Lan mengatakan sebab- sebabnya. Ia hanya mengatakan bahwa Ong Bun Ping tidak suka bermain dengannya.

Sang ayah yang mendengar keterangan itu, betapapun dogolnya segera mengerti maksud anaknya lalu segera berkata sambil ter- tawa : “Ini bukan urusan besar hendaknya engkau menjaga diri baik- baik aku akan rnencari Suhu untuk berunding. Suhunya tak akan menolak dan kemauan Suhunya ia tak berani bantah.

Jie Lan meski mengerti bahwa cara ini agak kurang namun tidak ada lain jalan baginya yang lebih baik, maka terpaksa ia tidak menjawab.

Bagi anak perempuan, tidak menjawab itu berarti setuju, Koo Hong yang sangat cinta pada puterinya, tiga hari kemudian lantas meninggalkan rumah pergi mencari Sun Tay Beng. Ketika Koo Hong tiba dirumah Sun Tay Beng, dengan terus terang menyatakan maksud kedatangannya, ia mau supaya Sun Tay Beng tunjukkan kewibawaan kepada Ong Bun Ping supaya Ong Bun Ping menerima baik perkawinannya dengan Jie Lan tapi tidak nyana si orang she Bun itu menjawab:

“Guru cuma mengajarkan ilmu silat kepada muridnya, bagaimana aku bisa memikirkan soul jodoh? Kau Si Tua Bangka perlu apa mesti merecoki soal anak, mungkin dalam hal ini mereka lebih pandai daripada kita."

Maksud Koo Hong ingin supaya Sun Tay Beng suka memandang persahabatan mereka yang sudah berjalan berpuluh- puluh tahun lamanya itu dalam pikirannya, kalau ia buka mulut sudah tentu mendapat persetujuan Sun Tay Beng, lagi pula Jie Lan juga cukup cantik parasnya tapi tidak nyana sama sekali kalau Sun Tay Beng tidak mau mengurus persoalan itu.

Dalam murka ia lantas menggebrak meja. Memaki-maki Sun Tay Beng tidak memandang mata pada sahabat karibnya. Si orang she Sun cuma tertawa sambil geleng kepada, hingga membuat Koo Hong bertambah murka, ia pecahkan semua perabot rumah tangga Sun Tay Beng, dan selanjutnya persahabatan mereka putus. Setelah Koo Hong kembali kerumahnya japan menasehati anak-nya, katanya:

“Ong Bun Ping tidak bermaksud terhadap dirimu, perlu apa kau pikirkan dia saja? Dalam dunia ini toh masih banyak pemuda yang cakap, dengan mengandal nama dan pengaruhku serta parasmu yang seperti bunga botan, pasti jodoh itu akan datang dengan sendirinya.”

Meski Koo Hong banyak beri nasehat sampai mulutnya berbusa, tapi sedikitpun tidak masuk ditelinga Jie Lan. Ini disebabkan diri Ong Bun Ping sudah berakar sangat dalam didalam hatinya. Tapi karena ia tidak ingin ayahnya terlalu berduka, maka dengan terpaksa ia menjawab sambil bersenyum:

“Ia telah menolak begitu getas, sudah tentu anakmu tidak akan memikirkan dirinya lagi, cuma saja seumur hidupku ini aku tidak ingin menikah, aku ingin melayani ayah untuk selamanya."

Koo Hong terperanjat lalu bertanya:

“Sudals begini lanjut. berapa tahun lagi aku bisa hidup? Dan hagaimana kalau aku mati?"

Sambil tertawa getir Jie Lan menjawab:

“Kalau ayah meninggal dunia, aku akan menjadi Nikou.”

Koo Hong menghela napas, tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu benar adat anaknya, tidak guna memberi nasehat banyak-banyak, tapi setelah kejadian itu, sifatnya Jie Lan beruhah banyak, satu nona muda yang lincah resit, telah berubah menjadi seorang yang pendian dan tidak suka bicara, sekalipun ditanya oleh ayahnya sendiri jawabannya juga pendek sekali.

Koo Hong melihat anaknya makin hari makin kurus, hatinya merasa hancur tapi apa mau dikata sebab pada saat itu ia sendiri juga mendapat sakit. Jie Lan melihat ayahnya telah jatuh sakit karena memikiri dirinya, diam-diam juga merasa sedih maka dengan demikian iapun tumpahkan seluruh temponya untuk belajar silat, hingga seluruh kepandaian ayahnya ia dapat pelajari dengan mahir sekali.

Pada suatu hari, Koo Hong kembali menanyakan soal dirinya, tapi Jie Lan hanya menjawab dengan suara hambar:

“Kalau ayah menghendaki anakmu hidup terus, terserah kepada ayah sendiri untuk memilihkan jodo untuk anakmu!"

Ucapan ini telah membikin Koo Hong terkejut, hingga selanjutnya ia tidak berani mengungkat-ungkat lagi soal perjodoan anaknya, dengan demikian hingga si nona itu telah lewatkan masa mudanya selama dua puluh tiga tahun dengan sia-sia.

Setengah bulan berselang tiba-tiba si kakek jenggot perak Kang It Peng mengunjungi Bu Kong San, ia mengundang Koo Hong ayah dan anaknya turun gunung untuk memberi bantuan tenaga padanya, Koo Hong dan Kang It Peng juga merupakan dua sahabat karib, apalagi Kang It Peng adalah seorang Kang-ouw yang sudah terkenal, maka begitu mendengar ajakan untuk memberi bantuan padanya anaknya merasa tidak enak bila menolak ajakan tersebut, sehingga ia menanyai Kang It Peng siapa-siapa jago tua yang telah diundang.

Tatkala Kang It Peng memberitaturkan bahwa drantara mereka yang diundang itu terdapat nama Sun Tay Beng, Koo Hong lantas beruhah pucat wajahnya dan lama tak dapat membuka mulut.

Kang It Peng merasa heran, lalu menanyakan sebab-sebabnya, maka Koo Hong tidak sembunyikan isi hatinya. Ia segera menceritakan semua hal ichwal sehingga terjadi bentrokan dengan sahabat lamanya itu. Kang It Peng sehabis mendengar lain berkata sambil tertawa: “Sifat Sun Tay Beng memang suka main-main, ucapan kita tidak boleh anggsp benar-benar. Nanti setelah kita selesaikan persoalan keluarga Chie, aku nanti akan turun Langan untuk membantu kalian membereskan soal ini. Ong Bun Ping itu anak paling dengar kata-kataku. meski aku tidak berani mengatakan seratus persen berhasil, tapi ada harapan akan berhasil.”

Koo Hong herkata sambil menghela napas:

“Jika demikian hendaknya, soal bantu tenaga ini aku tidak bisa ambil putusan sendiri. Aku harus rundingkan dulu dengan anakku agar kutahu, bagaimana pendapat anakku. Dengan terus terang saja, Lan-jie setelah di tinggal mati oleh ibunya, telah kumanja sedemikian rupa sehingga sifatnya susah dirubah."

Kang It Peng berkata sambil tertawa, “Aku akan berangkat lebih dahulu, kau tanyakan pikiran anak-mu lebih dahulu, kalau setuju harap supaya lekas berangkat."

Sehabis berkata orang tua itu lalu pamitan. Sepeninggal Kang It Peng, Koo Hong lantas menghampiri karnar anaknya. Tatkala itu Jie Lan sedang menyulam. Koo Hong lalu memberitahukan maksud kedatangan Kang It Peng yang mengajak ke Siang Ke Cun untuk memberi bantuan tenaga padanya, ia katakan juga bahwa Sun Tay Beng dan Ong Bun Ping akan berada disana selama itu ia menanyakan apakah si anak bersedia untuk pergi atau tidak.

Sungguh diluar dugaan Koo Hong, Jie Lan ternyata meneritna baik undangan tersebut dengan tanpa ragu-ragu, maka ayah dan anak itu lantas berangkat hari itu juga menuju ke Siang Ke Cun, dan kedatangan mereka di Siang Ke Cun itu tepat pada wak tunya yaitu ketika Tong Cin Wie akan melakukan penyerangan pada malam itu. Tatkala Sun Tay Beng menampak bahwa tetamu yang datang itu adalah Koo Hong dan anaknya, maka iapun berdiri lalu menyambut. Sambil tertawa iapun berkata:

“Aku tahu kalau aku yang mengundang tentu kau tidak mau datang, maka lebih baik aku tidak mencari penyakit sendiri."

Koo Hong mend jawab sambil tertawa hambar:

“Sun Tay-hiap terlalu merendahkan diri, kita ayah dan anak adalah orang-orang kasar, bagaimana kau bisa pandang kita, Bu Kong San adalah sebuah dusun kecil, sudah tentu tidak pantas untuk kau kunjungi."

Sun Tay Beng berkata sambil gelengkan kepala, “Tidak nyana urusan sekecil itu kau masih tetap ingat sampai behetapa tahun lamanya, aku Sun Tay Beng benar-benar merasa kagum."

Bicara sampai disitu ia lantas menoleh dan berkata kepada Koo Jie Lan sambil tertawa, “Bagaimana? Apa kau juga tidak mau mengenali empe Sunmu lagi?"

Pertanyaan ini telah membuat Koo Jie Lan merasa tidak enak, make buru-buru ia memberi hormat sambil berkata:

“Lan-jie memberi hormat kepada Sun Supe."

Sun Tay Beng tertawa bergelak., ia menoleh lagi pada Koo Hong dan mengawasi sejenak lalu berkata:

“Orang sudah tua semacam kau masih begitu keras kepala, apakah tidak malu dengan anakmu sendiri?"

Paras Koo Hong berubah merah, sebaliknya Koo Jie Lan cuma sambut perkataan sang Supe itu dengan bersenyum getir. Disaat itu, Sun Tay Beng bars melihat bahwa Koo Jie Lan sedang murung, hingga hatinya bercekat, lalu ia menarik Koo Hong dan mengajaknya keluar, diluar ia bertanya: “Apakah Jie Lan sudah menikah?" Koo Hong diperlakukan demikian hangat oleh Sun Tay Beng hingga sekalipun dalam hati merasa mendongkol tapi ia tidak berani mengutarakannya. Ketika mendapat pertanyaan dari Sun Tay Beng itu. kembali ia ingat nasib anaknya dan ia sendiri, maka lantas menjawab seraja tertawa dingin.

“Kau masih berlaga baik hati, kematian Jie Lan ada hubung-apa dengan kau orang she Sun?"

Sun Tay Beng menjawab dengan sungguh-sungguh:

“Orang-orang dari golongan muda ada mempunyai pikiran sendiri, mereka dapat berbuat menurut kehendaknya sendiri, dalam hal ini sebetulnya tidak perlu kita turut campur tangan. Memang urusan didalam dunia ini sebagian besar tidak mencocoki keinginan kita, tentang kesulitan anakmu dan penderitaan yang dideritanya selama itu, meski aku tidak merasakan, tapi apakah kau tahu nasib apa yang telah dialanda oleh muridmu? Aku sendiri sebagai gurunya juga merasa tidak pantas untuk menanyakan urusan pribadi muridnya sendiri, apalagi terhadap anakmu, kalau kau masih ingat dan menaruh dendam soal ini untuk selamanya, itu terserah kepadamu sendiri."

Koo Hong ketika mendengar perkataan si orang she Sun itu ia merasa terkejut, lalu bertanya: “Kau berkata setengah harian, tapi aku belum mengerti apakah maksudmu, berkatalah terus terang!"

Sun Tay Beng pun menjawab seraya tertawa: “Urusan ini dikemudian hari kau tentu akan mengerti sendiri, aku sekarang hanya mau bertanya kepada engkau. apakah Jie Lan sudah menikah atau belum?"

Koo Hong geleng kepala sambil menghela napas. Sun Tay Beng kembali berkata: “Kau jangan menghela napas dulu, malam ini kawanan, penjahat dari Utara segera akan turun tangan dan sangat tepat kedatangan kalian berdua. Kang It Peng dengan tergesa-gesa telah mengundang kita, tapi ia sendiri entah ber- sembunyi dimana.''

Setelah berkata demikian iapun mengajak Koo Hong untuk kembali keruangan dalam. Dilain pihak Kang Sian Cian sudah menarik tagan Koo Jie Lan, kedua anak dara ini nampaknya mempunyai hubungan erat sekali.

Sun Tay Beng perkenalkan Koo Hong kepada Chie Ciat-su dan Cin Tiong Liong dan tidak lama kemudian lantas Chie Ciat-su orang-orangnya menyediakan barang-barang hidangan untuk tamu- tamunya.

Karena Koo Hong telah datang maka mereka mengambil keputusan bahwa keluarga Chie tidak perlu diungsikan tapi memutuskan agar Kang Sian Cian dan Koo Jie Lan melindungi mereka. Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping ditugaskan untuk memberi bantuan kepada mereka, Sun Tay Beng dan Koo Hong ditugaskan menyambut kedatangan kawanan penjahat, tapi tidak perlu bertempur mati-matian.

Selama empat tahun belakangan ini Koo Jie Lan belum pernah melupakan Ong Bun Ping, maka setelah tiba dirumah keluarga Chie ia selalu memperhatikan diri anak muda itu, tapi sehingga saat itu ia belum melihat diri anak muda itu. ia merasa tidak enak untuk menanyakannya, Kang Sian Cianlah yang memberitahukan kepadanya bahwa Ong Bun Ping pada saat itu sedang membuat senjata rahasia duri ikan terbang.

Kira-kira jam satu tengah malam, Ong Bun Ping telah muncul dengan membawa banyak duri ikan terbang yang dibuatnya dan pada saat itu diruangan besar rumah keluarga Chie telah dipasang dua buah lilin besar yang memberi penerangan terang benderang Kang Sian Cian, Cin Tiong Liong dan lain-lainnya sudah pada siap sedia dengan senjata masing-masing dan Sun Tay Beng meski masih berpakaian panjangnya, tapi tangannya memegang satu tongkat besi yang berkepala naga.

Tatkala Ong Bun Ping melihat Koo Hong juga berada di situ, lalu menghampiri memberi hormat dan berkata, “Koo Siok ada baik?

Koo Hong hanya perdengarkan suara jawaban dihidung, tidak menjawab pertanyaannya, hingga membuat Ong Bun Ping merasa tidak enak, tatkala ia melihat kesekitarnya dan nampak Koo Jie Lan juga ada bersama Kang Sian Cian, Ong Bun Ping agaknya masih belum insjaf kalau dirinya sedang dibuat pikiran oleh si anak dara, saat itu lantas angkat tangan dan berkata:

“Lan Sumoy baik?"

Koo Jie Lan membalas hormat, sambil bersenyum getir iapun menjawab:

“Terima kasih, apakah Ong Suheng juga apa baik?"

Jawaban dan bersenyumnya itu seolah-olah ada mengandung rasa cinta dan benci, hingga Ong Bun Ping bercekat, ia hanya balas dengan senyuman dan kemudian menyerahkan senjata-senjata yang ia bikin itu kepada Sun Tay Beng.

Sun Tay Beng menyambuti senjata tersebut seraja berkata: “Jumlahnya kawanan penjahat ada hanyak, kalau malam ini

betul-betul hendak menyerang, sudah tentu dengan tekad yang bulat

supaya usaha mereka itu berhasi!, pihak kita yang sedikit, orang tidak baik bertempur mati-matian dengan mereka, kalau saudara ada mempunyai kepandaian istimewa, keluarkan saja jangan ragu- ragu!" Ucapan ini sebetulnya mengandung maksud supaya kawan- kawannya boleh mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan pembunhan berapa hanyak yang mereka dapat lakukan.

Setelah mengucapkan perkataan tersebut. Sun Tay Beng lantas tarik tangan Koo Hong lalu ajak dia herlalu seraja berkata:

“Jalan! Mari kita yang nyambut mereka lebih dahulu." Keduanya segera melompat keluar ruangan rumah. Cin Tiong

Liong perintahkan orangnya supaya padamkan Jilin dan kemudian berpesan kepada Kang Sian Cian supaya memberitahukan kepada orang-orang keluarga Chie agar jangan bergerak semharangan. Setelah selesai mengatur lalu ia bersama-sama Ong Bun Ping melakukan penjagaan.

Kang Sian Cian memhawa pedang dan kantong piauwnya, sedang Koo Jie Lan juga siap dengan sepasang pedangnya, kedna nona itu setelah melakukan pemeriksaan diatas genteng sebentar lantas hersembunyi ditempat yang gelap.

Kala itu adalah akhir musim dingin hingga baik sekali bagi orang-orang jahat melikukan kejahatannya.

Ketika lewat jam dua malam, para penjahat dari Ie Cin Wan mulai bergerak. Tong Cin Wie diapit oleh Thay-si Sian-su dan Tian-pi-sin-mo berjalan lebih dahulu, sedang Oey Ceng Tan dan loan Kong Hong serta sepuluh pembantunya dibagi menjadi dua romboongan nutuk melakukan penyerangan dari sebelah kin dan kanan Pek-hoa Nio-cu, Yan-san-ji-kui dan Kim Ling Siang-kho, merupakan orang-orang yang terpilih dan mereka ini berada dalam rumbongan Oey Ceng Tan dan Hoan Kong Hung.

Tong Cin Wie, Thay-si Sian-su dan Cian Pi Sin Mo dapat berlari dengan kepesatan yang luar biasa, hingga dengan sekejap saja sudah berada diluar Siang Ke Cun. Pada saat itu terdengar suara dingin dan tiba dari tempat gelap melompatlah dua bayangan orang menghadang perja!anan ketiga orang tersebut.

Thay-si Sian-su melihat bahwa orang-orang membawa tongkat yang berkepala naga dan berpakaian panjang. Mereka itu adalah Sun Tay Beng sendiri. Dan orang yang disebelah kanannya adalah seorang tua yang berjenggot panjang, badannya tinggi besar. Di belakang gegernya ada, menggemblok sebilah golok besar, tapi ia tidak mengenal siapa orang tua itu.

Ketika Thay-si Sian-su menampak Sun Tay Beng rnaka ingatlah ia hinaan yang ia terima pada malam kemarin sehingga saat itu darahnya naik. Selagi ia hendak turun tangan Tong Cin Wie sudah rnengangkat tangan memberi hormat kepada dua orang tersebut seraja berkata:

“Kiranya Jie-wie adalah orang-orang terkenal didaerah Kang- lam ini karena Tong Cin Wie baru kali ini mengunjungi tempat ini, hingga tidak kenal siapa Jie-wie. Numpang tanya bagaimana sebutan Jie-wie."

Sehabis berkata demikian itupun mengawasi Sun Tay Beng dengan mata yang tajam. Sun Tay Beng tertawa bergelak-gelak lalu menyahut:

“Tong Toako terlalu merendahkan diri, kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau adalah Sin-ciu-tui-hun Tong Cin Wie. Kau yang sudah baik-baik berada di Utara dengan kedudukan yang tinggi, seta sudah menjadi pernimpin kalangan rimba hijau., mungkin bagi orang-orang dunia Kang-ouw semua tahu tentang ini. Kenapa Tong Toako tidak mau senang-senang, berdiam di Utara tapi pada malam yang begini dingin, kau telah kelujuran kemari. Apa sebetulnya maksudmu kesini? Tempat ini rasanya bukan tempat dibawah kekuasaanmu!"  Tong Cin Wie tertawa dingin lalu menjawab:

“Kalau mendengar dari omonganmu, ternyata kau alalah seorang jumawa, bukankah kau ini Chio-bin-giam-lo Sun Tay Beng?"

Sun Tay Beng menjawab dengan suara dingin lagi:

“Kau toch sudah tahu, mengapa tadi berlaga bertanya pula?"

Tong Cin Wie mengamat-amati Sun Tay Beng sejenak, lalu berkata kepada Koo Hong sambil menyoja: “Saudara ini berjalan bersama' dengan Sun Tay-hiap, tentu dia ini seorang yang terkenal pula dikalangan Kang-ouw, aku Tong Cin Wie ingin belajar kenal."

Koo Hong menjawab dengan suara dingin:

“Dalam rimba persilatan didaerah Kang-lam, memang benar ada banyak orang yang terkenal, tapi aku Koo Hong belum mendapat itu kehormatan sebagai orang yang terkenal, kau orang she Tong dengan membawa kawan-kawan rimba dari Utara, menuju keselatan dengan jumlah yang banyak, sudah tentu tidak pandang mata kepada kawan-kawan kita yang berada didaerah Kang-lam. Sobat, kalau mau belajar kenal maka kita juga harus melayani walau akan bagaimana sekalipun."

Tong Cin Wie menoleh lalu mengawasi Thay-si Sian-su dan Orang tua aneh itu masih tetap memejamkan matanya setelah tidak mendengar pembicaraan mereka.

Rupanya Thay-si Sian-su belum mendengar tentang dirinya Koo Hong hingga ia hanya berdiri dengan tidak berkata apa-apa.

Ketika Tong Cin Wie melihat kedua ora itu tidak berkata apa- apa maka ia tertawa bergelak-gelak seraya berkata:

“Tuan mungkin adalah seorang yang mempunyai kepandaian tulen, tapi tidak luau tunjukkan diri, hingga jarang muncul di dunia Kang-ouw, nama Koo Hong ini belum pernah kudengar dari mulut orang. Tapi kau telah berada bersama Chio-bin-giam-lo, maka sudah tentu kau ini bukan orang dari golongan sembarangan, aku hanya kuminta jangan sesalkan pengetahuanku yang cetek ini. Cuma aku Tong Cin Wie, ada beberapa patah kata-kata yang perlu kujelaskan dahulu yaitu aku sekali-kali tidak mempunyai maksud untuk melanggar kehormatan kawan-kawan didaerah Kang-lam. Maksud kedatanganku ke Siang Ke Cun ini, semata' hanya untuk membereskan soal dendam pribadi. Chie Kong Hiap dahulu pernah menjabat pangkat tinggi, selalu bersikap bermusuhan dengan kawan-kawan rimba hijau, entah berapa banyak jiwa kawan-kawan kita yang terbinasa ditangannya, asal aku bisa menyingkirkannya bersama seluruh keluarganya maka aku Tong Cin Wie akan segera pulang ke Utara bersama orang-orangku."

Belum sempat Koo Hong menjawab sudah didahului oleh Sun Tay Beng.

“Enak benar kata-katamu ini, kenyataannya tidak demikian mudah, kalau kau Tong Cin Wie tidak bermaksud hendak jual lagak di daerah Kang-lam, mengapa tidak menurut peraturan didunia Kang-onw yaitu terlebih dahulu harus mengunjungi kawan-kawan rimba persilatan didaerah Kang-lam? Ini adalah suatu tanda hahwa kau tidak memandang mata kepada kami. Mungkin kau mengira kawan-kawan dari rimba persilatan di daerah Kang-lam, tidak ada yang berani mengganggu dirimu.”

Ketika Tong Cin Wie mendengar Sun Tay Beng menimpakan segala kesalahan diatas pundaknya iapun perdengarkan suara dingin dan berkata:

“Satu yang mengaku diri sebagai seorang pendekar budiman, telah ajukan diri sebagai pelindung seorang bekas pegawai negeri, hal ini apa bedanya dengan itu orang-orang yang menampakkan dirinya kepada lain bangsa?"

Sun Tay Beng berkata dengan suara bengis:

“Kita orang-orang Kang-now yang selalu berbicara dengan pedangnya, menyingkirkan kejahatan itu berarti melakukan kebajikan, ada beberapa orang yang mengambil kepandaian ilmu silatnya untuk melakukan perbuatan dan sewenang-wenang, memeras, membegal, merampok dan lain-lain perbuatan kawanan berandal, bangsa kurcaci dari rimba persilatan ini bila mati satu maka itu berarti satu kejahatan telah berkurang. Kalau mati semua berarti semua kejahatan hilang. Kau Tong Toako, dengan Chie Ciat- su ada mempunyai dendaman sakit hati apa, hanya kau sendiri yang mengerti, kau putar balik duduk berdirinya perkata sangkaanmu itu berguna?"

Perkataan Sun Tay Beng ini membuat Tong Cin Wie marah seketika, maka iapun segera berkata dengan suara gusar:

“Sun Tay Beng, kau jangan terlalu terkebur karena maksud baik maka itu aku nasehati kau. Sangkamu aku si orang she Tong takut ke-padamu?"

Baru saja habis ucapannya itu Thay-si Sian-su sudah melompat maju dan berkata:

“Dengan seorang jumawa seperti orang ini, apa perlunya masih bicara menurut aturan!"

Sian-su itu berkata sambil gerakkan tongkatnya, dengan suatu gerakan mendadak tongkatnya itu inenyerang Chio-bin-giam-lo. Hweeshio tua ini masih ingat hinaan yang diperoleh tadi malam hingga dipakainya tenaga dalam yang penuh untuk menyerang. Chio-bin-giam-lo telah menyambut serangan tersebut dengan tongkatnya, setelah itu ujung tongkatnya yang berkepala naga telab meluncur menotok dada Thay-si Sian-su.

Sian-su menangkis serangan si orang she Sun tapi siapa tahu Sun Tay Beng lantas rubah serangannya. Karena perubahan tersebut amat cepat hingga Thay-si Sian-su terpaksa mundur dua langkah. Baru bergebrak Thay-si Sian-su sudah dipaksa mundur dua langkah hingga bukan main murkanya. Setelah menggereng hebat, tongkatnya menyerang lagi dengan hebat. Saar ito curna terdengar hunyi deru dua tongkat tang berputaran dan bayangan yang berseliweran hebat.

Pertempuran itu telah berjalan empat puluh jurus tapi nampaknya keduanya sama-sama kuat hingga sukar dibayangkan siapa yang Iebih kuat dan siapa yang lemah.

Pada saat itu kawanan penjahat sudah tiba semuanya disitu mereka telah menyaksikan pertempuran tersebut dan berdiri berbaris dibelakang Tong Cin Wie.

Tong Cin Wie menyaksikan kekuatan Thay-si Sian-su berimbang dengan Sun Tay Beng, nampaknya sebeuim ratasan jurus pertempuran itu tidak akan berubah hingga dalam hatinya merasa sedikit gelisah, kemudian ia menoleh lain memerintahkan oran-orangnya supaja menerjang.

Koo Hong yang sudah siap ketika menampak kawanan penjahat bergerak, ia lantas membentak hebat dan golok ditangannya diputarnya untuk menyerang kawanan penjahat tersebut. Jago tua tinggi sekali ihmu silatnya apalagi sedang berada dalam keadaan gusar, maka setelah goloknya dikerjakan, sebentar saja kawanan penjahat kocar-kacir. Ketika Tong Cin Wie menampak Koo Hong sangat gesit gerakannya lantas turun tangan sendiri. Dengan senjata tumbaknya ia menikam dada si jago tua itu tapi Koo Hong dengan cepat berkelit dan kemudian babas menyerang dengan goloknya, dengan demikian dua orang itu telah bertempur dengan seru.

Tong Cin Wie sambil bertempur ia serukan kepada oran- orangnya:

“Kalian lekas menerjang, binasakan dahulu jiwa keluarga Chie!"

Setelah kawanan penjahat itu mendengar perintah tersebut tanpa ayal lagi mereka terus menerjang ke Siang Ke Cun.

Ketika Chio Bin Gian Lo dan Koo Hong melihat perbuatan kawanan penjahat tersebut mereka pun merasa mendongkol dan gelisah tapi karena Thay-si Sian-su dan Tong Cin Wie merupakan lawan-lawan mereka seimbang, hingga mereka tidak dapat kesempatan untuk menghalangi majunya kawanan penjahat tersebat.

– ooOoo –