Dara Pendekar Bijaksana Jilid 06

 
Jilid 06

Dan sekarang kita balik lagi kepada Thay-si Sian-su yang meninggalkan Ie Ciu Wan untuk pergi menyerepi keadaan Siang Ke Cun. Dalam tempo tidak lama ia sudah berada diluar kampung Siang Ke Cun, Thay-si Sian-su berhenti sejenak lalu mulai memeriksa keadaan tempat itu, selagi hendak masuk kekampung tapi tiba-tiba dari atas sebatang pohon besar ia mendengar orang berbicara dengan suara dingin:

“Ilmu lari pesatmu ternyata boleh juga, mengapa sekarang baru sampai?"

Thay-si Sian-su terperanjat, ia mendongak keatas pohon itu tapi tidak terdapat orang yang berkata itu, hingga hati-nya bersangsi. Dengan ketakutan melihat benda yang berada sejarak tiga turnbak, tapi ia tidak melihat sesuatu sedang pohon itu hanya dua tumbak jauh darinya dan daun pohon itu sudah ron-tok. Ia heran hal ini sebab suara itu datang dari pohon itu.

Thay-si Sian-su mengawasi beberapa lama tapi tetap masih tidak dapat melihat apa-apa. Setelah berpikir sejenak lalu iapun membentak dengan suara bengis:

“Kau manusia atau setan, lekas tunjukkan dirimu, supaya Hud- yamu bisa lihat."

Baru saja habis kata-katanya telah terdengar pula suara orang

tadi:

“Kau si kepala gundul yang buta matamu, kau tidak sesalkan

dirimu sendiri yang tidak mempunyai mata, sehingga tidak dapat lihat orang, sebaliknya mencurigai orang sebagai setan, apakah semua orang yang berkepandaian tinggi dari Utara, tidak berguna seperti kau ini? Kalau begitu sebaiknya kau lekas pulang saja kesarangmu, supaya tidak membikin malu orang didaerah ini."

Selesai ia berkata demikian tampaklah seorang melayang kebawah, lambat-lambat orang itu menghampiri Thay-si Sian-su.

Thay-si Sian-su mengawasi dengan seksama, ternyata orang tersebut adalah seorang tua yang berumur kira-kira lima puluh tahun lebih. Ia mengenakan pakaian panjang berwarna, tangannya membawa tongkat yang berwarna hitam jengat, tubuhnya pendek, dibawah janggutnya ada segumpal jenggot yang sudah berwarna dua, wajahnya kelihatan keren, tapi tersungging sedikit senyuman.

Setelah Thay-si Sian-su mengawasi orang tersebut lalu berkata dengan suara gusar. “Kau siapa? Apa kau ini Chio Bin Giam Lo?"

Orang tua itu tidak memperdulikan pertanyaannya tapi sambil tertawa bergelak-gelak berkatalab ia: “Kau seorang beribadat, kenapa lekas naik darah? Kalau aku sebagai Budha, niscaja siang-siang sudah kudepak engkau keluar dari pintu kuil."

Ketika Thay-si Sian-su menampak sikap orang itu yang jumawa, serta tidak mau melayani pertanyaannya maka gusamya pun tambah memuncak lalu kembali membentak dengan suara sengit:

“Kau jangan berlagak gila dihadapanku, sekalipun kau tidak mau memberitahukan namamu, aku juga tahu hahwa kau adalah Chio Bin Giam Lo……!”

Belum habis kata-katanya Thay-si Sian-su, orang tua itu delikkan matanya sambil tertawa dingin:

“Bagainiana, kau ingin bertanding dengan aku?"

Ketika Thay-si Sian-su melihat sorot mata yang mengeluarkan sinar tajam itu ia pun mengetahui bahwa ilmu tenaga-dalam orang tua itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, hingga diam-diam berpikirlah bahwa Chio Bin Giam Lo ini benar-benar bukan cuma nama kosong saja. Walaupun begitu ia anggap dirinya masih mempunyai kekuatan untuk menghadapi orang itu maka lantas berkatalah ia dengan sombongnya:

“Aku sudah lama mendengar bahwa tidak pernah menemui tandingan waktu kau malang-melintang didaerah Kang-lam selama sepuluh tahun. Malam ini Lolap mendapat kesempatan untuk membuka mata, sudah tentu bersedia melayani kehendakinu."

Orang tua itu memang adalah Sun Tay Beng yang bergelar Chio Bin Giam Lo, maka iapun berkata pula sambil tertawa:

“Kalian orang. yang menjadi Hweeshio, setelah binasa akan ke Nirvana disebelah Barat, hal ini aku Giam Lo tidak mau tahu, cama saja kau sekarang sudah memasuki lagi kedunia, itu berarti masuk jaring sendiri, aku Giam Lo sudah tentu akan menangkap jiwamu. Aku akan masukkan kau kedalam Neraka sebagai orang-orang jahat yang lain dan kalau Hudya mencari aku, terpaksa aku akan ajak ia bikin perhitungan dihadapannya Giok Hiong Thay Tee."

Sehabis berkata demikian ia kembali tertawa besar. Kedua kakinya menjejak tanah lalu melompat „keatas setinggi dua tumbak. Ditengah udara ia pentang kedua lengannya dan tatkala ia turun kembali ia sudah berada ditempat yang jau dari pendeta itu. Ketika itu ia berseru:

“Hei Hweeshio lekas sedikit, kalau kau lambat, nanti pintu akherat akan tertutup." Thay-si Sian-su sangat gusar hingga sambil tertawa dingin ia berkata:

“Sun Tay Beng, kau jangan sombong dulu, aku akan lihat senjata duri ikan terbanginu yang menggetarkan Kang-lam itu. Sebetulnya apa lihaynya?"

Sehabis berkata ia juga lantas melompat melesat menerjang kearah Sun Tay Beng. Sun Tay Beng tertawa kembali bergelak dan berkata:

“Bagus! Hweeshio, malam ini kita adu lari dahulu."

Sehabis itu ia lantas gerakkan kakinya, dan tubuhnya melesat laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Thay-si Sian-su tidak mau mengalah mentah-mentah. Ia segera gerakkan kakinya untuk mengejar lawannya, hingga dua orang yang namanya sudah terkenal didunia Kang-ouw itu saling kejar-kejaran diatas salju pada waktu malam yang gelap itu.

Sun Tay Beng bermaksud hendak berkenalan dengan Thay-si Sian-su merasa hampir meledak perutnya saking menahan gusar, tapi apa mau dikata sebab Sun Tay Beng lebih gesit daripadanya. Meskipun Hweeshio itu telah mengeluarkan seluruh kepandaian tapi tidak dapat menyandak.

Pertandingan adu lari itu sebentar saja sudah melalui beberapa puluh Li, hingga Thay-si Sian-su jadi kalap lalu membentak dan mengeluarkan kepandaiannya yang terakhir. Badannya yang gemuk melompat beruntun tiga kali, ketika telah berada dibelakang Chio Bin Clam Lo maka iapun sodorkan tangannya menyambret pundak kanan lawannya itu.

Sun Tay Beng cuma sedikit menggerakkan pundaknya lantas jambretan si Hweeshio itu kena tempat kosong. Oleh karena ia tidak berhasil maka kemarahannya makin bertambah. Iapun melesatlah lagi dan menyerang gegernya Sun Tay Beng dengan senjata rahasianya yang berupa mutiara.

Thay-si Sian-su yang sudah dibikin kalap itu telah bertekad bulat hendak membinasakan lawannya yang jail itu hingga serangan dengan tangan dan senjata rahasianya itu dilasncarkan dengan beruntun dahulu barulah ia membentak dengan suara bengis:

“Orang she Sun, kau sambuti Hudyamu punya Soa-bun-chit- bong-cu …… !"

Ilmu tenaga-dalam Tay-si Sian-su sudah tinggi sekali hingga kekuatan dari serangan tersebut amat hebat, meski tenaga dalam Chio Bin Giam Lo sudah sempurna tapi ia tidak berani menyambut serangan Hweeshio 'tersebut. Maka buru-burulah ia rebahkan diri dan menggelinding sejauh lima kaki, hingga tiga butir mutiara itu lewat melesat melewati bajunya, serangan tangan Hweeshio itupun mengenai tanah saja hingga salju pecah berarakan.

Sun Tay Beng mulai gusar karena diserang begitu maka setelah mengelakan serangan Thay-si Sian-su itu iapun segera melakukan serangan pembalasan tanpa menunggu badannya lompat berdiri. Kakinya merabu menyerang lawannya dengan gesit sekali. Ketika Thay-si Sian-su menappak Sun Tay Beng melakukan serangannya dengan gesit diam-diam terperanjat, dengan jalan melompat ke atas ia menghindarkan serangan dari kaki Sun Tay Beng dan kemudian menenddang jalan darah Thian-leng-hiat dan Kie-bin-hiat Sun Tay Beng.

Serangan Thay-si Sian-su ini dinamai Siang Liong Cut Tong atau sepasang naga keluar dari gua. Serangan ini merupakan serangannya yang istimewa.

Sun Tay Beng buru-buru memutar tubuhnya, ia berputaran diatas salju untuk mengelakan tendangan Thay-si Sian-su, diam- diam ia merasa terperanjat juga tapi walau begitu mulutnya masih bisa berseru:

“Hweeshio, seranganmu kurang sedikit saja."

Sehabis berkata demikian iapun melesat keatas lain mengayun tangan kirinya untuk menyerang geger belakang si Hweeshio itu. Tangan kanannya eembabat bagian hawah lawannya.

Serangan yang berbareng ini dilakukannya dengan cepat sangat tapi Thay-si Sian-su juga bukanlah orang sembarangan hingga ia masih bisa berkelit.

Sun Tay Beng lantas berkata sambil tertawa:

“Aku tidak nyana bahwa kau si kepala gundul ini mempunyai kepandaian jang berarti juga."

Berbareng dengan omongannya itu iapun lonyorkan kedua tangannya, dengan tipu “Ja-ma-hun-cong" atau Kuda Liar membela suri balik menotok jalan darah kedua dengan Thay-si Sian-su.

Gerakan ini dilakukan secara bagus sekali hingga Thay-su Sian-su menarik kembali serangannya. Kedua orang itu bertempur beberapa jurus hingga masing-masing mengerti sampai dimana kekuatan lawannya. Walaupun Thay-si Sian-su membentak keras sambil pentang kedua tangannya untuk menyerang tapi Chio Bin Giam Lo tetap dengan lagaknya yang jenaka, namun dalam hatinya ia tidak berani pandang ringan lagi si kepala gundul itu.

Sesudah bertempur beberapa jurus lagi Chio Bin Giam Lo lantas melompat mundur lalu berkata sambil menuding pada Thay si Sian-su:

“Hweeshio, bertempur secara ini, rasanya kurang menarik, sebaiknya malam ini kita bertempur tigaratus jurus diatas air telaga, selagi airnya membeku! Bagaimana pikiranmu?"

Thay-si Sian-su pun segera menyawab dengan gusar: “Sekalipun digunung golok atau dirimba pedang aku akan

melayani engkau juga."

Sun Tay Beng tertawa besar, lantas memutar tubuhnya lalu lari menuju telaga. Ia diikuti segera oleh Thay-si Sian-su.

Kedua orang itu sama-sama mahir dalam ilmu lari pesat hingga sebentar saja mereka sudah berada ditepi telaga.

Tatkala mereka mengawasi air telaga, benar saja telah beku dan tebalnya semacam lapisan es.

Sun Tay Beng lantas melompat melesat keatas telaga, lalu menggapai Thay-si Sian-su. Chio Bin Giam Lo sebenarnya suka menggoda dengati mulut-nya, tapi sekarang ia tidak berani membuka mulut, karena waktu itu ia mengambang diatas air. Kalau ia tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang sudah cukup sempurna maka ia tidak mampu berdiri diatas es itu. Ilmu ini mengandalk,an kekuatan tenaga-dalam dan pernapasan. Meski ilmu Sun Tay Beng sudah men-capai kesempurnaan, tapi tidak berani membuka mulut atau menarik napas diwaktu itu.

Ketika itu Thay-si Sian-su sudah gusar sekali hingga melesat- lab ia, sebentar saja ia telah berada didepan Chio Bin Giam Lo.

Bila bertempur diatas lapisan es yang tipis itu orang tidak boleh berlaku gegabah sedikitpun. Sun Tay Beng mengerti bahwa bila ia menyambuti serangan Thay-si Sian-su secara kekerasan maka ia akan menghancurkan lapisan es tersebut. Dalam pertempuran itu orang tidak boleh menggunakan kemahiran dan kecerdikan karena itu ia lantas meloncat sambil kerahkan tenaga-dalamnya diam-diam untuk membikin hancur bagian bawah dari lapisan es.

Karena serangan Thay-si Sian-su tadi tidak mendapat sasaran maka kakinya lantas menginjak lapisan es yang sudah dihancurkan oleh Chio Bin Giant Lo. Maka dikerahkan tenaga dalamnya sambil menggunakan ilmu It Hok Cong Thian" atau “Seekor Burung bangau melesat keudara" lalu naik keatas tapi siapa nyana Sun Tay Beng setelah mengelakan serangan, badannya yang ditengah udara lantas memutar balik, dan dengan kedua tangannya iapun menyerang Thay-si Sian-su.

Gerakan Sun Tay Beng ini benar-benar diluar dugaan Thay-si Sian-su hingga tatkala ia merasakan serangan angin berada diatas kepala-nya maka tanpa pikir panjang lagi, ia lantas menyambuti dengan kekuatan tenaga sepenuhnya. Waktu itu lapisan bawah dari es yang diinyaknya memang sudah hancur dengan sendirinya tidak sanggup lagi menyanggah dirinya yang begitu berat, apalagi ketika itu Sun Tay Beni lagi menyerang dengan hebat, tidak ajal lagi diri Hwee-shio gemuk itu lantas ambles kebawah.

Thay-si Sian-su lama sekali berdiam didaerah Utara hingga sama sekali tidak pandai berenang. Ketika ia mengetahui bahwa badannya akan tenggelam maka hatinya lantas gelisah apalagi ketika air mulai masuk kedalam mulutnya. Dengan susah-pajah barulah ia bisa merajap keluar dari runtuhan salju itu tapi waktu itu Sun Tay Beng sudah melompat ketepi telaga. Disana ia tertawa besar lalu meninggalkannya dalam keadaan basah kuyup.

Thay-si Sian-su yang dipermainkan demikian rupa hanya bisa memaki-maki dengan mulutnya saja. Karena keadaannya basah- kuyup sudah tentu tidak bisa meneruskan perjalanannya ke Siang Ke Cun. Terpaksa ia kembali ke Ie Ciu Wan secara diam-diam agar tidak dilihat orang.

Tatkala ia tiba di le Ciu Wan baru saja Kang-tang Lie-hiap meninggalkan tempat itu sedang penjahat-penjahat lagi melakukan pemeriksaan diseluruh pelosok.

Karena Thay-si Sian-su takut orang mendahului keadaannya yang begitu mengenaskan itu terpaksa bersembunyilah ia ditempat gelap dan setelah para penjahat, pada bubaran baru masuklah ia kekamarnya dengan diam-diam. Saat itu sudah lewat jam empat pagi ia merasa tidak enak untuk monemui Tong Cin Wie, maka iapun segera tidur dipembaringannya.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Tong Cin Wie memasuki kamar Thay-si Sian-su dan tatkala menampak pakaian Thay-si Sian- su yang basah tergantung diatas tembok maka diam-diam merasa terkejut dalam hati. Waktu itu mengertilah ia bahwa si Hweeshio itu tadi malam telah mengalami kekalahan. Ketika ia menoleh kepemba-ringan kebetulan waktu itu Thay-si Sian-su sedang turun dari pem-baringan. Maka sambil mengawasi Tong Cin Wie si Hweeshio itu pun berkata:

“Tadi malam aku pergi menyerepi Siang Ke Cun tapi ditengah perjalanan telah berpapasan dengan Chio Bin Giam Lo Sun Tay Beng. Kami bertempur beberapa puluh jurus lamanya. Ia sudah menggunakan akal licin memancing aku keatas telaga yang airnya lagi membeku. Dengan akal muslihatnya ia telah membikin aku tenggelam kedalam air …..!

Tong Cin Wie kerutkan alisnya lalu berkata: “Apakah Sun Tay Beng juga sudah datang?"

Thay-si Sian-su menjawab sambil anggukkan kepala:

“Tadi malam meskipun aku terjebak dengan akalnya yang busuk, sehingga kecebur diair telaga, tapi aku sudah bertempur beherapa puluh jurus dengannya ternyata Chio Bin Giam Lo itu tidak segagah seperti apa yang disiarkan oleb orang diluaran, aku jakin bahwa aku masih mempunyai cukup kepandaian untuk melayani kepadanya sampai limaratus jurus. Sekarang sudah kejadian begini rupa hendaknya kita tidak boleh ayal-ayalan lagi. mungkin mereka masih minta bantuan orang lain pula maka itu kita harus menggunakan seat ini yaitu selagi bala-bantuan mereka belum tiba semuanya. Malam ini kita harus segera bergerak untuk menyerbu mereka."

Tong Cin Wie mengangguk-angguk, diwajahnya menunjukkan tertawanya yang kejam, lalu berkata:

“Ciu Wan tadi malam telah dibikin onar oleh satu bocah cilik, duri ikan terbang telah melukai dua orang muridku jadi malam ini kalau kita tidak unjuk gigi kepada mereka maka mereka akan anggap bahwa rimba persilatan di Utara tidak ada orang yang pandai. Ucapan Thay-si Sian-su tadi benar-benar cocok dengan pikiranku jadi malam ini kita harus bergerak dengan serentak."

Sehabis ia berkata demikian iapun menjura dan meninggalkan kamar Thay-si Sian-su lalu kemudian memanggil orang-orangnya, supaya berkumpul diruangan tengah. Tidak lama kemudian berkumpullah kawanan penjahat dari Utara itu, dalam ruangan besar, dengan wajah keren Tong Cin Wie bersama-sama Thay-si Sian-su dan Cian Pi Sin Mo masuk ke ruangan besar dan dengan matanya yang tajam, Tong Cin Wie mengawasi orang-orangnya, lalu kemudian duduk diatas kursinya.

Setelah tertawa dingin, Tong Cin Wie lamas berkata sambil mengawasi Teng Hong.

“Duapuluh tahun berselang Teng-heng sudah terkenal didaerah Kang-pak. Aku si orang she Tong sebetulnya masih terhitung ting- katan muda, hingga tidak pastas rasanya kalau memerintahkan Teng-heng akan tetapi karena Teng-heng sudah datang kesini untuk memberi bantuan tenaga, maka rasanya kurang tepat kalau aku masih merasa sungkan lagi. Dan pihak sana tadi malam telah mengacau disarang kita maka tidak boleh tidak haruslah kita unjuk gigi kepada mereka. Aku mendengar kata Thay-si Sian-su bahwa kepandaian" ilmu silat Coa-heng-ciang-hoat dan pian-boat Teng- heng, digolongan rimba persilatan daerah Utara merupakan ilmu silat yang istimewa. Malam ini aku ingin Teng-heng keluarkan sedikit tenaga yaitu membawa serta beherapa kawan untuk menyerang gedung keluarga Chie dari sebelah kiri. Adapun orang- orang yang datang kesini. semuanya adalah sahabat karibku, maka Teng-heng boleh pilih dari mereka menurut kesukaan hatinya."

Tanpa menantikan jawaban Teng Hong, Tong Cin Wie lantas suruh Oey Ceng Tan dan Ho Kong Hong memilih delapan orang pandai untuk menyerang gedung keluarga Chie dari sebelah kanan, dan ia Tong Cin Wie sendiri bersama Thay-si Sian-su, Kim-ling Siang-koay dan Pek-hoa Nio-cu akan menyerang dari hagian tengah.

Menurut Tong Cin Wie karena Siang-koay dan Pek-hoa Nio-cu bukan orang-orang dari Utara. maka dengan mengajak mereka itu berjalan sama-sama berarti telah menghormati tamunya, tapi sebetulnya Tong Cin Wie ada mempunyai lain maksud.

Bagi Pek-hoa Nio-cu sudah tentu tidak merupakan soal, karena setelah ia melihat Tong Cin Wie segera hatinya melupakan diri Teng Hong. Apamau setelah ia mendengarkan ucapan merendah dari Tong Cin Wie ia lantas menoleh dan membawa si Teng Hong sambil bersenyum, mungkin perbuatannya ini tidak disengaja, tapi siapa kira tertawanya itu telah menimbulkan panas hati Teng Hong hingga bangkit lalu menjura kepada Tong Cin Wie kemudian berkata dengan suara dingin:

“Aku mengucap terima kasih bahwa Toako telah memandang diriku si orang she Teng, cuma saja aku si orang she Teng selama beberapa puluh tahun berkelana didunia Kang-ouw selalu bergerak seorang diri saja. Aku telah diajak oleh Thay-si Sian-su, sudah tentu bersedia untuk memberikan bantuan tenaga kepada Twako tapi kuminta agar Twako suka menjelaskan urusannya, aku si orang she Teng akan tetap berpegang dengan kebiasaanku pergi dengan seorang diri saja. Perkara membawa kawan kurasa perlu jadi tak usah saja."

Wajah Tong Cin Wie berubah seketika tapi sambil tertawa dingin lantas berkata: “Kalau demikian hainya, tentu Teng-heng merasa tidak senang atas perintahku tadi."

Teng Hong menjawab sambil tertawa besar: “Urusan ada urusan Twako sendiri, aku Teng Hong hanya memandang atas nama sahabat untuk memberi bantuan kepadamu. Kalau kau katakan demikian, aku si orang she Teng terpaksa lepas tangan saja."

Setelah berkata demikian iapun segera meninggalkan tempat duduknya lalu berjalan leluar. Tong Cin Wie menoleh dan mengawasi Thay-si Sian-su sejenak waktu itu terkilas maksud yang keji diwajahnya. Maka dengan suara bengis iapun membentak: “Orang she Teng berhentilah kau disitu dan tunggu aku!"

Berbareng dengan bentakkan itu melompatlah empat penjahat lain mencegat Teng Hong. Teng Hong tertawa bergelak lain berkata:

“Hai anak. kemarin sore, kepandaiamu begitu saja, sangkamu dapat merintangi Teng Loyamu?"

Sehabis berkata demikian iapun menyerang dengan cepat, hingga kedua orang diantara empat penghalang tadi sudah dibikin rubuh dan dua yang lain lagi ketika Teng Hong turun tangan lantas mereka keluarkan senjata untuk menyerang Teng Hong, tapi dengan gesit ia melayani kedua penyerang itu dan sebentar saja mereka rubuh ketanah lalu mati.

Melihat keempat orang itu rubuh lain mati maka Thay-si Sian- su lantas membentak:

“Teng Hong! Kau sudah gila?"

Iapun mendorong meja lain melesat keluar untuk menghadang Teng Hong.

Dengan wajah dingin berkatalah Teng Hong kepada Thay-si Sian-su:

“Kalau bukan ajakanmu si Hweeshio tua aku tak turun gunung untuk memberi bantuan tenaga, tidak nanti aku si orang she Teng terhina demikian rupa. Bagaimana, apa kah juga hendak merintangi aku?"

Thay-si Sian-su juga berubah wajahnya, lain berkata: “Mengapa kau tidak mengenal sedikit aturan juga? Kalau ada

apa-apa kita toch bisa rundingkan, mengapa meski turun tangan

melukai orang? Dia adalah Twako yang diangkat oleh sahabat- sahabat dari rimba hijau di daerah Utara, jadi perbuatanmu ini menyebabkan malu. Kemana ia harus simpan mukanya setelah engkau menunjuk sikap yang begitu?"

Teng Hong yang sudah menjadi kalap. kembali mendengar Ucapan Thay-si Sian-su yang membela Tong Cin Wie, tidak api yang disiram minyak maka dengan suara bengis ia menjawab:

“Tong Cin Wie cuma seorang dari tingkatan muda dari dunia rimba persilatan, ketika namaku sudah terkenal didaerah Kang-pak ia masih merupakan satu bocah !”

Beium habis kata-katanya itu kegusaran Thay-si Sian-su timbullah. sambil tertawa dingin ia berkata:

“Teng Hong kau jangan gila. kalau Tong Cin Wie tidak Pandang muka Lolap, siang-siang ia sudah membinasakan engkau dengan jarum Tui-hun-ciamnya. Sangkamu jurus Coa-heng,-ciang- hoat-mu yang sembilan puluh enam jurus dan Co-heng-pian-hoatmu bisa meloloskan engkau dari ruangan ini?"

Teng Hong mendelik mengawasi Thay-si Sian-su, hingga mukanya yang jelek itu kelihatan bertambah jelek lagi. Waktu itu Thay-si Sian-su mengerti kawannya itu sudah kalap benar-benar hingga sudah berjaga-jaga takut ia menyerang dengan tiba-tiba.

Saat itu semua kawanan bandit sudah pada berdiri, asal saja Tong Cin Wie keluarkan perintah maka mereka akan segera melakukan serangan serentak terhadap Teng Hong, tapi Tong Cin Wie hanya mengawasi belakang Teng Hong sambil tertawa dingin.

Cian Pi Sin Mo Thin Pak Tao, masih tetap menyender dikursinya sambil pejamkan matanya. Terhadap suasana yang gawat ini, seolah-olah ia tidak ambil perhatian sama sekali.

Dengan mendadak Teng Hong menyerang dengan kedua tangannya kearah Thay-si Sian-su. Serangan mama dilakukan secara mendadak dan dibarengi dengan tenaga yang hebat. Sekalipun Thay-si Sian-su sudah tinggi kepandaiatinya, tapi tidak berani menyambuti serangan tersebut. Ia hanya berkelit kesamping untuk mengelak serangan Teng Hong, kesempatan telah dipakai oleh Teng Hong untuk melompat keluar.

Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba terdengar suara Tong Cin Wie yang dibarengi dengan tertawa dingin:

.,Rebah!"

Ucapan itu dibarengi dengan gerakan tangan kanannya dais saat itu sebuah benda halus melesat dari tangannya. Berbareng dengan itu lantas terdengar suara menggeramnya Teng Hong, kemudian jatuh ngusruklah ia ditanah.

Tong Cin Wie benci sekali kepada Teng Hong yang jumawa. Tatkala jarum Tui-hun-ciam itu menyerang dan mengenai jalan darah. Teng Hong cuma merasakan jalan darah Hong-his-hiat dan Kie-kut-hiatnya kesemutan, kekuatan tenaganya lantas lenyap seketika, maka orangnya lantas rubuh, ia segera mengerti sudah terkena serangan senjata beracun Tong Cin Wie, tatkala ia menengok dan melihat Tong Cin Wie menghampiri, tiba-tiba ingatlah ia senjata rahasia. Tui-hun-ciam itu maka dalam hati lantas bercekat, hingga kesombongannya lenyap sama sekali. Sambil pejamkan matanya ia terns rebah.

Tong Cin Wie segera mendekati Teng Hong sambil tertawa dingin iapun berkata:

“Teng-heng tidak berniat membantu Siauw-tee, sudah tentu Siauw-tee tidak akan memaksa, karena memandang mukanya Thay- si Toheng, silahkan Teng-heng ambil jalan sendiri."

Ia berkata demikian sambil berjongkok untuk mencabut jarum yang menancap pada kedua jalan darah ditubuh Teng Hong. Jarum itu cuma lebih besar sedikit dari jarum biasa, karena direndam dalam racun hingga warnanya biru berkilauan.

Setelah Tong Cin Wie menyimpan kembali jarumnya, lalu dari sakunya mengeluarkan dua butir obat pil yang ia serahkan kepada Teng Hong seraja berkata:

“Lekas kau telan dua pil pemunah racun sebab kalau terlambat sedikit lagi maka racunnya akan masuk kedalam ulu hati dan jantungmu dan kalau sudah demikian sukar tertolong lagi."

Teng Hong menyambuti obat tersebut, lalu ditelannya dan kemudian dengan perlahan iapun bangkit dan ketika ia melihat kekiri dan kekanan ternyata semua mata ditujukan kepadanya, terutama Pek-hoa Nio-cu yang memandang padanya seolah mengandung penuh perhatian dan belas kasihan.

Perempuan itu bukannya memperhatikan jiwa si orang she Teng itu, akan tetapi memikirkan pelajaran ilmu Coa-heng-ciang- hoat dan Coa-heng-pian-hoat yang masih belum selesai, kalau Teng Hong berlalu sudah tentu tidak ada orang yang akan mengajarkan- nya lagi. Akan tetapi karena perbuatannya itu yaitu melihat semacam itu telah mengakibatkan Teng Hong mati.

Perbuatan Tong Cin Wie yang mengeluarkan jarumnya dari tubuh Teng Hong serta memberi obat pemunah padanya, sebetulnya bukan atas kemauannya sendiri tetapi untuk menjaga perhubungan baik dengan Thay-si Sian-su, lagi pula dibawah mata orang banyak seharusnya ia tidak boleh berbuat keterlaluan begitu juga supaya tidak mengecewakan hati orang-orang yang berada disitu.

Setelah Teng Hong menelan obat ia melihat kawanan penjahat pada mengawasi dirinya, waktu itu timbullah perasaan yang main dan gusar hingga dengan perlahan ia memutar balik dirinya secara diam-diam ia kerahkan seluruh tenaganya lalu dengan cepat menyerang Tong Cin Wie dengan kedua tangannya.

Gerakan yang secara mendadak ini telah dilakukan diluar dugaan semua orang, hingga membuat para penjahat pada terperanjat. Sampaipun Thay-si Sian-su sendiri juga menjerit karena terkejut sebab ia tahu benar kekuatan si orang she Teng itu dan ia tahu serangan yang tiba-tiba itu akan melukai dirinya Tong Cin Wie.

Tong Cin Wie siang-siang sudah berjaga, karena ia adalah seotang yang licin hingga dalam segala hal ia selalu menjaga-jaga serangan gelap dari pihak lawannya. Tatkala in melihat Teng Hong melakukan serangan secara tiba-tiba dan justeru itu yang ia inginkan, maka iapun berseru:

“Kau cari mampus?" Ia bertanya begitu seraya memutar tubuhnya untuk menghindarkan serangan Teng Hong. Selain itu ia lantas ayun tangan kanannya lalu menyerang batok kepala Teng Hong.

Teng Hong yang belum sembuh dari lukanya itu sudah tentu gerakannya agak tidak leluasa tambahan lagi Tong Cin Wie yang sudah siap sedia, maka tatkala serangan Teng Hong belum mengenai sasarannya sudah didahului oleh serangan Tong Cin Wie.

Semua ini telah terjadi dalam waktu sekejap mata, hingga Teng Hong tidak keburu berkelit. Maka batok kepalanya waktu itu remuklah, tubuhnya rubuh untuk tidak bangun lagi. Otaknya hancur dan berdarah.

Thay-si Sian-su tidak menyesal sedikit juga ketika ia menampak Teng Hong binasa ditangan Tong Cin Wie. Ia hanya menarik napas sambil menggelengkan kepala lalu kembali keruangan tengah. Tong Cin Wie berlagak minta maaf atas perbuatannya kepada Thay-si Sian-su sudah itu duduklah kembali diatas korsinya.

Berhubung Teng Hong telah mati maka Tong Cin Wie lantas perintahkan Hoan Kong Hong Ceng Tan menggantikan kedudukan Teng Hong yang bertugas melakukan serangan dari sajap kanan dan kiri.

– ooOoo –