Dara Pendekar Bijaksana Jilid 05

 
Jilid 05

Ketika mereka tiba dikota Ceng Jana Koan mereka disambut oleh orangnya Tong Cin Wie yang diutus oleh Oey Ceng Tan menunggu ditempat tersebut, untuk melanjutkan perjalanan ke Ie Ciu Wan.

Tentang kedatangan di Ie Ciu Wan, sudah dijelaskan dibagian alas. Tong Cin Wie setelah menanyakan Oey Cnog Tan tentang usahanya menguntit jejak Chie Ciat-su, diam-diam merasa terkejut juga.

Meski ia belum pernah mendengar tentang Kang It Peng. tapi ia sudah ketahui siapa itu Sun Tay Beng yang bergelar Chio Bin Giant Lo atau Raja Acherat yang berwajah berseri. Orang itu adalah satu tokoh rimba persilatan didaerah Kang-lam yang paling sukar dilayani. Senjata rahasianya yang bernama duri ikan terbang lebih hebat dan sudah menjagoi didunia Kang-ouw.

Kalau mengingat Chie Kong Hiap cuma seorang bekas pegawai negeri yang dilepaskan dari jabatan tapi bagaimana sampai bisa mendapat perlindungan dari orang-orang gagah semacam mereka? yang lebih mengherankan ialah itu orang yang menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang untuk melukai orang-orang bawahannya adalah seorang wanita bukan Sun Tay Beng.

Meskipun ia menyebut dirinya budak yang keluarga Chie, tapi tidak dapat dipercayai sepenuhnya. Anak dara itu tentu mem punyai hubungan erat sekali dengan Sun Tay Beng, karena di dalam rimba persilatan didaerah Kang-lam dan Kang-pak, yang mampu menggunakan senjata rahasia serupa itu cuma Sun Tay Beng.

Anak dara itu sudah pasti murid atau anak Sun Tay Beng. Kang-tang Lie-hiap baru kira-kira tiga tahun muncul didunia Kang- ouw, tapi sudah membuat namanya besar dan membikin kucar-kacir dunia rimba hijau. Kecuali Sun Tay Beng maka sudah tidak ada orang yang mampu mendidik murid yang begitu gagah.

Kedatangan Tong Cin Wie sudah tentu dengan persiapan yang lengkap, tapi ternyata sudah kebentur dengan lawan yang keras, hal ini benar-benar diluar dugaannya.

Bagi Kong-tong Lie-hiap sendiri sebetulnya ia tidak perlu takut, yang dikuatirkan jalah kalau Sun Tay Beng sendiri muncul.

Tong, Cin Wie berpikir sejenak, lalu memandang Cian Pi Sin Mo dengan maksud ingin mendapat sedikit keterangan dari orang tua itu tapi orang tua itu, tetap membungkam seolah-olah tidak mau ambil perduli semua hal.

Tatkala Oey Ceng Tan melaporkan semua kejadian yang ia alami. kebanyakan penjahat itu terheran-heran, sampai-sampai Thay-si Sian-su sendiri juga gelengkan kepala dan pelototkan matanya. Hanya Cian Pi Sin Mo, yang tetap pejamkan matanya, seolah-olah sedang tidur nyenyak.

Tong Cin Wie mengetahui sifat orang tua itu yaitu kalau ia tidak suka berbicara, sekalipun ditanya juga sia-sia saja, maka terpaksa berkatalah ia sambil tertawa getir:

“Ternyata difihak sana ada orang yang menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang, sudah tentu tidak boleh dipandang ringan, malam ini kita harus siapkan beberapa orang untuk meninjau ke Siang Ke Cun."

Ia berbicara sampai disitu saja, ia sengaja tidak melanjutkan. Sambil bersenyum iapun menatap wajah Teng Hong. Ia tidak tahu bahwa Tong Hong sedang menderita luka dalam ketika bertempur melawan Cin Tiong Liong sampai saat itu dan luka itu belum sembuh. Waktu ia mengawasi Teng Hong dilihat-nya Teng Hong seolah-olah berlaga tuli dan bisu hingga seketika itu lantas naik darahnya. Pada saat itu, Thay-si Sian-su telah mengetahui gelagat tidak baik, maka buru-buru menyelak sambil tertawa:

“Di fihak sana kalau benar bukan orang sembarangan, kita juga tidak boleh bertindak secara gegabah, aku lihat sebaiknya aku yang pergi sendiri, aku sudah pernah bertemu dengan Sun Tay Beng. Aku ingin tahu apakah betul dia disana atau tidak?"

Meskipun Tong Cin Wie tidak puas melihat sikap Tong Hong yang begitu jumawa pun merasa tidak enak untuk membuka mulut kasar.

Melihat sikap Thay-si Sian-su itu iapun merubah sikap lalu menjawab dengan tertawa: “Kalau Sian-su ingin pergi sendiri maka hal ini adalah kebetulan sekali, hanya urusan sekecil itu tidak perlu Sian-su turun tangan sendiri, Sianw-tee sebetulnya merasa tidak enak."

Sambil tertawa Thay-si Sian-su pun berkata:

“Kita sudah lama bersahabat. apakah masih perlu saling merendah?"

Sehabis berkata iapun berbangkit lalu minum araknya sampai kering. Kemudian tertawalah ia bergelak-gelak, hingga suasana yang genting reda kemhali. Walaupun begitu dalam hati Tong Cin Wie, sudah terbit maksud untuk menyingkirkan Teng Hong.

Oh Cu Kui sebagai tuan rumah, ternyata pandai melayani tamunya telah disediakan kamar-kamar untuk para tamunya.

Tong Cin Wie sendiri mendiami sebuah kamar besar dekat taman bunga dan Oh Cu Kui telah ketahui sifatnya telah menyediakan dua pelayan wanita cantik untuk melayani Twako dari rimba hijau daerah Utara itu. Murid kepala Tong Cin Wie yang ben nama Lauw Kiat, berdiam disamping kamarnya, supaya bisa men- jalankan titahnya sewaktu-waktu.

Thio Pak Tao dan Thay-si Sian-su, juga mendiami lain kamar dalam taman tersebut, yang tidak jauh terpisah dari kamar Tong Cin Wie.

Tengah malam, mendadak angin Utara bertiup sangat hebatnya, salju juga mulai turun, hingga diatas tanah salju itu mencapai tiga cun tebalnya.

Tatkala hujan salju berhenti rembulan mulai kelihatan muncul ditanah terbentang suatu pemandangan alam yang indah. Saat itu Tong Cin Wie berdiri didepan pintu sambil mengawasi pemandangan yang indah itu. Selagi Tong Cin Wie kesengsam dalam alum pikirannya, tiba- tiba angin menderu, hingga orang she Tong itu terkejut, buru- burulah ia kerahkan tenaga dalamnya, tangan kanannya diayun hendak menyerang orang yang baru datang tapi orang itu mengeluarkan kemahirannya dapat menahan dirinya yang sedang berlari demikian kencang. Orang itu berhenti dihadapan Tong Cin Wie lalu sambil tertawa berkatalah “Apa? Sampai aku pun kau tidak mengenali lagi."

Tatkala orang tersebut berhenti, barulah Tong Cin Wie mengenalnya. Orang itu adalah Thay-si Sian-su hingga buru-buru ia menjawab:

“Kedatangan Thaysu terlalu mendadak, hingga hampir saja aku keterlepasan tangan."

Sesudah berkata demikian menyuralah ia dan memberi hormat, sebagai tanda pernyataan maaf.

Thay-si Sian-su berkata sambil tertawa bergelak-gelak, “Aku hanya main-main saja, sekarang sudah lewat tengah malam, aku harus berangkat ke Siang Ke Cun, sebelum jam tiga mungkin aku sudah dapat kembali."

Sehabis ia berkata demikian dan tanpa menunggu jawaban Tong Cin Wie iapun dengan cepat berlalu. Hanya dua tiga lompatan ia sudah lenyap dari pandangan.

Tong Cin Wie kagum menyaksikun kegesitan Thay-si Sian-su itu sebab meskipun badannya gemuk, tapi bisa lari laksana terbang. Diam-diam Tong Cin Wie merasa girang sebab kepandaian ilmu silat Thay-si Sian-su yang dilihatnya itu sudah pasti dapat diandalkan. Hatinya tak takut lagi kepada Sun Tay Ben, Pikirannya lagi walaupun Kang It Peng yang pernah disebut oleh Cian Pi Sin Mo itu datang akan dilayani oleh Cian Pi Sin Mo. Walaupun sudah jam tiga malam tapi Thay-si Sian-su belum juga kembali, hingga Tong Cin Wie mulai merasa kuatir. Selagi ia berpikir dengan gelisah, tiba-tiba terlihat olehnya dari jendela bayangan orang yang lenyap dengan cepat. Tadinya ia mengira ada Thay-si Sian-sulah yang kembali hingga berkatalah ia sambil tertawa:

“Sian-su sudah pulang mengapa menjauhi aku? Bagaimana keadaan di Siang Ke Cun? Apakah Chio Bin Giam Lo juga berada disana?"

Ia bertanya berulang-ulang tapi tidak mendapat jawaban. hinga timbullah curiga dalam hatinya. Tapi dasamya kejam hingga meski merasa gelagat tidag baik, tapi masih berlagak tidak melihat.

Secara diam-diam iapun mengambil senjata rahasianya lalu dengan cepat melompat melesatlah ia keluar dari jendela. Tapi baru saja kakinya menginyak tanah, tiba-tiba ia mendengar jeritan ngeri. Dengan segera Tong Cin Wie mengenali suara itu adalah suara Lauw Kiat muridnya yang menjerit itu. Ketika ia menoleh dilihatnya badan Lauw Kiat sudah tergelincir dari atas genteng.

Tong Cin Wie menggeram cepat-cepat menghampiri Lau Kiat. Toako rimba hijau dari daerah Utara ini benar. lihay karena walaupun terpisah satu tumbak dari Lauw Kiat tapi hisa bergerak cepat untuk menyambut badan Lauw Kiat yang tergelincir dari atas genteng.

Tatkala ia menampak pundak kiri Lauw Kiat mengucurkan darah segera diketahuinya bahwa muridnya itu terkena serangan senjata gelap hingga timbul gusamya. Tatkala itu Lauw Kiat berkata: “Suhu ada orang diatas genteng ”

Tong Cin Wie meletakkan tubuh Latin Kiat diatas salju ia sendiri lantas lompat keatas genteng. Tong Cin memeriksa keadaan disekitarnya tapi tidak menampak satu bayangan manusiapun. Karena mendongkolnya in lantas membentak sambil tertawa dingin:

“Siapa itu yang melakukan perbuatan pengecut? Jika tak berani mengunjukan diri apakah itu adalah perbuatan seorang eng- hiong? Sahabat, keluarlah aku Tong Cin Wie ini ingin mencoba beberapa jurus ……!”

Belum habis suaranya tiba-tiba dari tempat gelap muncul seorang, yang berbadan langsing. Muka orang itu ditutup dengan sutra hitam dan berdandan dalam pakaian malam yang serba ringkas, nampaknya dia itu adalah seorang wanita.

Tong Cin Wie menegur dengan suara gusar: “Kau siapa?"

Orang itu tertawa dingin, lantas menyahut dengan suara yang merdu:

“Kiranya kau inilah yang menjadi Twako kawanan bandit dari lima provinsi daerah Utara. Kau tidak mengetahui dan bertanya diriku. Sudah cukup perbuatan-perbuatan jahatmu didaerah Utara tapi mengapa masih mau datang mengaduk didaerah ini? Apa sangkamu engkau bisa berbuat sewenang-wenang di Kang-lam ini seperti didaerah Utara?"

Tong Cin Wie sangat gusar, ketika mendengar ucapan pedas si gadis itu. Dasar ia seorang sombong hingga timbul kemarahannya. Maka tertawa bergelak-gelaklah ia lalu menjawab:

“Sombong benar ucapanmu, sebutkan dulu namamu. supaya aku bisa tahu siapa sebenarnya engkau?"

Nona yang berkedok hitam itupun menyahut sambil tertawa dingin: “Aku sudah katakan kau tak usah bertanya, kenapa kau tetap ntembandel?"

Tiba-tiba Tong Cin Wie ingat sesuatu, maka lantas berkata sambil tertawa:

“Bukankah kau ini Kong-tong Lie-Hiap? Aku tahu engkau sebab engkau telah melukai muridku ini dengan duri ikan terbangmu. Jangan kata kau yang masih bocah, sekalipun Sun Tay Beng sendiri juga aku tidak pandang mata. Baiklah kita bertempur karena aku ingin kenal senjatamu itu yang telah menggetarkai. dunia Kang-ouw."

Sehabis ia berkata demikian melompatlah in menyamber nona yang berkedok itu.

Nona berkedok itu memang benar adalah Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian, hingga tatkala Tong Cin Wie memimpin orang- orangnya tiba dikota Ceng Jung Koan, hal itu sudah diketahui oleh Cin Tiong Liong. Menampak roman orang-orang tersebut tahulah in bahwa orang-orang bukan sembarangan, Cin Tang Liong diam- diam merasa terkejut juga. Dan tatkala Tong Cin Wie herangkat ke Ie Ciu Wan Cin Tiong Liong juga kembali ke Siang Ke Cun on memberitahukan kepada Kang-tang Lie-hiap. supaya ia berjaga- jaga. Meskipun ia tahu bahwa Kong-tong Lie-hiap ini bersi fat tinggi Kati dikuatirkan ia akan menyatroni sendiri ke Ie Ciu Wan, maka ia telah sengaja mengatakan bahwa kawanan bandit itu datang dengan kawan-kawannya yang berjumlah besar, dan berpesan supaya Kang Sian Cian jangan hertindak sembrono, sebaiknya menanti kedatangan kedua Lo-cian-pwee.

Cin Tiong Liong sebenarnya mengharap supaya Kang Sin Cian memperkuat penjagaannya dirumah keluarga Chie, sambil me- . rung.gu kedatangan Kong It Peng dan Sun Tay Beng, baru turun tangan terhadap musuhnya. Siapa nyana perkataan Cin Tiong Liong, telah mendapat buah yang sebaliknya karena Kang Sian Cian yang sudah tinggi kepandaiannya, sejak turun gunung belum pernah menemui tandingan hingga dengan demikian timbullah kesombongattnya. Ia berpikir kepala penjahat itu sudah tiba, dalam dua tiga hari sudah tentu akan menyerbu Siang Ke Cun, sedang berita Yayanya dan Suhunya belum ada maka lebih baik jangan membiarkan kawanan dit itu menyerbu, yang paling baik ialah turun tangan menggempur lebih dahulu.

Nona cilik ini setelah berpikir demikian, dengan menyimpang dari kebiasaannya iapun terima baik pesan- Cin Tiong Liong. Cin Tiong Liong Calm betul sifat Kang Sian Cian yang jujur dan berterus terang, apa yang sudah disanggupi tidak nanti akan dirubah.

Kang Sian Cian diam-diam merasa geli dihati, setelah ia menganta, ban Cin Tiong Liong meninggalkan kamarnya, malahan ia berpesan supaya Ong Bun Ping disuruh lekas datang untuk membantunya menjaga rumah keluarga Chie.

Tatkala Cin Tiong Liong memberitahukan hal Kang Sian Cian kepada Ong Bun Ping, yang tersebut belakangan merasa bersangsi, karena ia tahu betul sifat nona cilik itu, pasti ia akan mencari Tong Cin Wie sendiri.

Karena kedua orang itu kuatir kalau-kalau Tong Cin Wie setiap saat menyerbu Siang Ke Cun, maka baru saja malam tiba, merekapun segera datang ke Siang Ke Cun untuk melakukan penjagaan. Tapi baru saja tiba didekat rumah keluarga Chie, Kang Sian Cian sudah menyambut mereka dengan dandanan yang serba ringkas.

Nona itu lantas bertanya sambil tertawa: “Begini pagi kalian sudah sampai." Cin Thiong Liong menyahut sambil tertawa:

“Bukankah kau sendiri yang berpesan supaya kami datang lehih siang? Kenapa sekarang kau balik bertanya? Kau ini nona cilik benar-benar susah dilayani."

“Bagaimana aku berani sesalkan Cin Sioksiok dari Ong Suko, aku cuma kata kalian datang dengan menempuh angin besar dan hawa dingin, hatiku merasa berterima kasih sekali."

Diwaktu tengah malam tatkala rembulan sudah nampakkan diri, Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping pun keluar dari karnar. Lantas berkata kepada Kang Sian Cian:

“Kami akan melakukan pemeriksaan diluar kampung, kart baik" jaga disini sebab penjahat sudah pada berkumpul dan kalau mereka menyerbu maka keadaannya akan berbeda dengan beberapa hari yang lain. Kita terdiri dari sedikit orang sudah tentu sukar dibagi. Aku dengan Ong Siauw-tee akan keluar sebentar, malam ini jika benar-benar akan hertempur dengan kawanan penjahat. walau bagaimana pun jangan meninggalkan rumah keluarga Chie, supaja tidak kena jebakan tipu muslihat musuh dan paling baik kita harus beritahu suami-isteri Chie Ciat-su bahwa jika ada terjadi apa-apa hendaknya mereka jangan gugup atau ketakatan."

Kang Sian Cian terima baik pembicaraan itu sedang Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping segera berlalu. Sepeninggal dua orang itu maka Kang Sian Cian pun segera menuju kekamar Sie Kiat. Baru saja ia sampai didepan pinto sudah disambut oleh Sie Kiat dengan perasaan girang.

Anak muda itu lantas menyambar tangan si nona sambil memanggil-manggil, tapi si nona tidak menjawab, hingga Sie Kiat merasa heran. lalu bertanya: “Adik Sian kenapa engkau tidak perdulikan aku lagi, apakah kau merasa gusar?"

Kang Sian Cian melihat sikap yang demikian mengharukan maka ia lantas menjawab seraya menggelengkan kepala:

“Engkau ini selalu memikiri hal yang bukan-bukan, engkau tidak pernah berbuat salah kenapa aku harus marah?" Selesai berkata demikian iapun duduk disamping Sie Kiat.

Ketika Sie Kiat menampak sikap Sian Cian yang agak berlainan dari biasa kembali bertanya:

“Adik Sian malam ini agaknya kau mempunyai banyak urusan, bolehkah kau beritahukan kepadaku?"

Kang Sian Cian sebetulnya ingin memberitahukan maksudnya yaitu ia hendak menemui Tong Cin Wie. tapi ia kuatir akan dicegah oleh Sie Kiat, hingga sambil bersenyurn berkatalah ia:

“Malam ini dikuatirkan penjahat akan datang menyatroni hendaknya engkau lekas tidur."

Sie Kiat meski tidak ingin berlalu, tapi ia tidak berani membantah pesan nonanya itu, hingga ia lantas masuk kekarnarnya dengan perasaan dan sikap ogah-ogahan.

Setelair Sie Kiat masuk kekamarnya. Sian Cian pun naik keatas genteng. Ketika ia menampak Cin Tiong Liong dan Ong Bun Ping sedang melakukan penjagaan diluar rumah keluarga Chie, maka ia pun mengambil jalan lain, sambil memakai tutup muka hitam terus lari menuju ke Ie Ciu Wan.

Ketika Kang Sian Cian tiba di Ie Ciu Wan hari baru jam dua malam. Karena ilmu meringankan tubuhnya yang baik, maka gerakannya itu tidak menimbulkan bunyi. cuma karena ia tidak tahu dimana letak kamar Tong Cin Wie, hingga ia mencari ubek-ubekan sekian lama tapi masih juga belum menemukannya.

Akhirnya tibalah ia ditaman bunga. Disana ia melihat dalam sebuah kamar ada sinar lampu maka pergilah ia ketempat tersebut, dengan demikian ia telah menemui kamar Tong Cin Wie.

Kang Sian Cian belum pernah bertemu Tong Cin Wie, hingga ia tidak ketahui bahwa orang yang mendiami kamar tersebut adalah dia.

Kang Sian Cian bertindak hati-hati sekali, dengan cara bergelantungan iapun melongok kedalam kamar. Ia menampak seorang pertengahan umur, sedang duduk dan membaca buku dibawah penerangan lampu, orang itu berpakaian panjang, mukanya sedikit putih, matanya bersinar dan jidatnya sedikit menonyol. Begitu ia melihat sudah bisa diketahuinya bahwa orang itu tinggi sekali ilmu dalamnya, sekian lama ia mengawasi tapi masih belum kenal siapa orang itu.

Tong Cin Wie yang lama menanti kedatangan Thay-si Sian-su, dalam hati merasa gelisah. Karena itu iapun bangkit membuka jendela. Perbuatannya itu mengejutkan Kang Sian Cian, hingga ia segera meloncat keatas genteng tapi bayangannya telah tampak diatas salju. Ketika ia mengetahui bahwa bayangan disalju itu, burulah ia mendekam, tapi agak terlambat sebab sudah dilihat oleh Tong Cin Wie.

Tong Cin Wie lantas bertindak hendak membinasakan musuh- nya, tapi saat itu muridnya telah diserang oleh Kang Sian Cian.

Sebetulnya Lauw Kiat sudah tidur dikamarnya tapi tatkala mendengar suara Tong Cin Wie iapun bangun lalu melompat keluar melalui jendela diwaktu itu Kang Sian Cian segera menyerang dengan senjata rahasia duri ikan terbang. Lauw Kiat yang tidak menduga sama sekali, sudah tentu tidak dapat mengelakan. Ketika ia merasa lengan kirinya sakit lantas terjungkal dari atas genteng. Beruntung Tong Cin Wie mengetahui pada saatnya lalu dengan sangat tepat dan dengan kecepatan seperti kilat iapun menyambuti tubuh Lauw Kiat.

Tong Cin Wie dalam murkanya lantas menyerang Kang Sian Cian.

Kong Sian Cian merasa serangan penjahat tersebut sangat hebat hingga tidak berani menyambuti. Buru-buru ia menyingkir untuk mengelakkan serangan tersebut.

Tong Cin Wie menyaksikan gerakan Kang Sian Cian demikian gesit, diam-diam merasa terkejut juga. Kemudian iapun inenyerang lagi tapi Kang Sian Cian kembali berkelit sambil meng-hunus pedang untuk membabat tangan musuhnya itu.

Tong Cin Wie perdengarkan tertawa dingin, sambil memutar tubuhnya. Ia mengelakkan serangan-serangan Kang Sian Cian lalu kemudian menyerang bahagian kirinya si nona itu. Serangan itu dilaku-kannya secara luar biasa dan cepat sekali sehingga nona itu terkejut dan hampir saja ia terkena serangan. Maka buru-buru ia meiesat kedepan dan pedangnya dipakai untuk menyamber secara memutar balik.

Tong Cin Wie tidak menduga sama sekali bahwa Lang Sian Cian dalam keadaan yang berbahaya tapi masih mampu melakukan serangan pembalasan, malahan serangannya itu demikian cepat hingga hanya sekejapan saja, ujung pedang sudah mengancam dada Tong Cin Wie lalu dalam keadaan tergesa-gesa iapun terpaksa mendekkan tubuhnya, hingga serangan itu lewat diatas kepalanya. Walaupun begitu Tong Cin Wie mengucurkan keringat dingin juga. Dalam penyerangan itu maka mulailah satu sama lain tidak berani memandang ringan musuhnya lagi. Bagi Kang Sian Cian sendiri below tahu bahwa serangannya tadi itu hampir saja menamatkan riwajatnya Tong Cin Wie. Sejak ia turun gunung, belum pernah menemui tandingan yang setimpal. Serangan Tong Cin Wie tadi pun hampir saja mencelakakan diri Sian Cian hingga dalam malu dan gusamya segera balas menyerang secara hebat dan ganas. Tidak heran serangannya yang tadi itu hampir saja mene- waskan jiwa si orang she Tong.

Tong Cin Wie karena terkejutnya tidak bisa mengetahui pedang yang digunakan oleh Kang Sian Cian tadi, buru-buru ia kerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan perlawanan.

Ilmu pedang Kang Sian Cian yang ia mendapat dari Kang It Peng ditambah lagi dengan pelajaran Sun Tay Beng, sudah tentu bukan ilmu pedang senibarangan. Dengan pedangnya yang lemas dan istimewa itu membuat dirinya seperti macan yang tumbuh sayap.

Sekalipun Tong Cin Wie mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali tapi harus merasa kewalahan ketika menghadapi serangan ilmu pedangnya. Ujung pedangnya selalu ditujukan kepada jalan darah yang berbahaya sehingga membuat Tong Cin Wie amat terkejut hingga terpaksa ia mengeluarkan ilmu silat Kin- na-ciu-hoatnya yang terdiri dari tiga puluh enam jurus.

Pertempuran mereka ketika sudah beberapa puluh jurus tiba- tiba tampak bayangan orang berlari diatas genteng rumah menuju ke dalam taman dan kawanan penjahat yang mendengar suara pertempuran juga lantas pada memburu ketempat tersebut.

Kang Sian Cian ketika melihat sekitarnya telah penuh orang yang masing-masing membawa senjata. Walaupun begitu mereka tidak berani membantu Tong Cin Wie, nampaknya mereka hanya menjaga supaya ia nona tidak dapat loloskan diri. Ilmu silat dan ilmu pedang Kang Sian Cian meskipun telah tinggi tapi ia belum cukup berpengalaman dan tatkala ia menampak dirinya dikurung batinya lantas tergerak, pikirnya.

“Aku sedang bertempur disini tapi kalau mereka pencarkan tenaga mereka untuk menyerbu ke Siang Ke Cun, niscaja jiwa keluarga Chie akan terancam bahaya besar, meskipun Cin Siok-siok dan Ong Suheng ada tapi aku kewalahan sebab terdiri dari dua orang saja, maka kalau pertarungan ini dilanjutkan terus, bagaimana kalau ada kejadian apa-apa atas diri keluarga Chie?"

Berpikir sampai disitu, terutama kalau memikirkan keselamatan diri Sin Kiat maka gelisahlah ia. Sebenarnya ia ingin bertempur dengan Tong Cin Wie, tapi karena pikiran tersebut, ia lantas berpikir hendak kembali saja ke Siang Ke Cun….!

Karena pikirannya bercabang maka serangan Kong Sian Cian mulai kendor, hingga Tong Cin Wie mendapat kesempatan untuk melakukan serangan pembalasan. Dengan demikian Kang Sian Cian terdesak mundur. Ia coba-coba memperbaiki kedudukannya, tapi ternyata sudah terlambat.

Karena ia tahu bahwa sudah tidak ada lain jalan selain angkat kaki maka pada satu kesempatan ia coba-coba melompat keatas untuk kabur, tapi ia dicegat oleh tiga penjahat.

Melihat itu Kang Sian Cian amat gusar hingga diputar pedangnya. Senjata ketiga penjahat itu, waktu itu juga terpapas kutung semuanya. Ia tidak mau berhenti sampai disitu saja tapi diayun pedangnya. Saat itu pinggang salah seorang dari penjahat itu putuslah. Hal itu menyebabkan timbul kegaduhan. Disaat mereka lagi gaduh Kang Sian Cian segera kabur. Tong Cin Wie yang menyaksikan Kang Sian Cian dalarn tempo sekejapan telah merubuhkan orangnya secara mudah sekali. dalam hatinya timbul rasa gusar hingga seketika itu juga ia lantas keluarkan kepandaian lari pesatnya untuk mengejar.

Kang Sian Cian yang mengetahui dirinya dikejar, hatinya diam- diam mengeluh: “Kalau aku sendiri terus lari kembali ke Siang Ke Cun, tentu mereka akan mengejar kesana pula."

Karena ia lagi bingung maka gerakan kakinya agak lambat, hingga Tong Cin Win cepat berada dekat dibelakangnya. Dalam kebingungan Kang Sian Cian lantas mengeluarkan tiga batang duri ikan terbangnya untuk menyerang Tong Cin Wie.

Ketika Tong Cin Wie melihat tangan si nona bergerak iapun segera mengetahui bahwa anak dara itu akan menggunakan sen- senjata rahasia.

Tadinya ia masih anggap ringan kepada si nona tapi kini in harus berhati-hati sebab senjata rahasia nona itu tab bersuara dan salah sebuahnya telah kena pundaknya walaupun ia telah robohkan diri. Duri ikan terbang yang lain meluncur terus dengan pesat mengenai pengikut Tong Cin Wie. Terdengarlah suara jeritan salah seorang bawahannya waktu itu juga roboh.

Dengan demikian menyebabkan Tong Cin Wie dan orang- orangnya lantas urungkan pengejaran lalu kembali ke Ie Ciu Wan.

Kang Sian Cian merasa lega ketika melihat rumah keluarga Chie tak apa-apa. Walaupun begitu hatinya agak kurang enak, waktu ia melihat Tiong Liong dais Ong Bun Ping menyambutnya serentak iapun segera memanggil Cin Tiong Liong.

“Cin Siok-siok." “Kau bocah cilik ini, semakin besar semakin nakal,” Cin Siok Cin Tiong Liong berkata sambil tertawa, “Siokmu telah kau tipu mentah-mentah!"

Kong Sian Cian berkata sambil bersenyum aleman:

“Aku pergi ke Ie Ciu Wan untuk menyerepi keadaan penya-Lat itu. think nyana tank kepergok oleh mereka, setelah bertempur setengah harian baru bisa meloloskan diri."

Cin Tiong Liong ketika melihat sikapnya merasa puas dalam hati sebab ia mengetahui bahwa keponakannya itu tidak mengalami kekalahan.

Ong Bun Ping tahu ilmu silat dan ilmu pedang Sumoynya jauh lebih tinggi dari dirinya, cuma ia belum mengetahui sampai dimana tinggi kepandaian sang adik seperguruan itu. On Bun Ping telah lima belas tahun berguru kepada Sun Tay Beng, senjatanya sepasang Poan-koan-pit sudahlah ia melatihnya sampai mahir sekali, orang-orang-orang yang lebih tua tingkatannya dikalangan Kang-ouw jika menyebut halnya Ong Bun Ping, tidak seorangpun yang tidak memberi pujian. Banyak diantara mereka yang ingin menjodokan anak perempuannya kepada anak muda itu tapi selalu ditolaknya dengan halus. Sun Tay Beng juga adalah seorang yang beradat polos dan sembarangan. Dalam hal ini sama sekali ia tidak mau ambil pusing, kalau orang mencarinya dan menyuruhnya menunjukan kewibawaan supaya Ong Bun Ping menerima lamaran itu tapi jawabannya yang disertai goyang-goyang tangan selalu diperdengarkan.

“Aka cuma memberi pelajaran ilmu silat kepada muridku, tidak mengajari dalam soal perkawinan. Kalian orang-orang tua ini selalu suka mengurusi urusan anak muda. kalau kalian ingin ambil menantu padanya, suruh sajalah anak perempuanmu berlutut di- hadapannya…. !” Karena urusan perkawinan Ong Bun Ping ini saja entab sudah banyak kawannya Sun Tay Beng yang merasa tidak senang dan tersinggung karena sikapnya orang yang aneh itu. Seorang diantaranya yang mempunyai huhungan erat dengannya pernah meminta Sun Tay Beng menjadi perantara perkawinan antara puterinya dan Ong Bun Ping, kawannya itu merasa jakin bahwa permintaannya itu tak ditolak oleh Sun Tay Beng tapi siapa nyana Sun Tay Beng tetap dengan sikapnya, sehingga kedua sobat itu hampir saja bentrokan hebat. Kawannya itu karena murkahnya telah memutuskan hubungannya dengan Sun Tay Beng. hal ini dibagian belakang kita akan tuturkan lagi.

Meskipun Ong Bun Ping gagah dan tampan, tapi tidak gemar kepada paras cantik, sekalipun barjak wanita cantik yang tela jatali hati kepadanya, tapi hatinya tidak tergerak sedikitpun. Hanya terhadap Kang Sian Cian, yang berkumpul hampir seiap hari dan malam telah tertarik benar-benar. Waktu itu Kang Sian Ci, baru berusia lima belas tahun hingga belumlah ia mengerti benar soal cinta. Apa mau Ong Bun Ping sendiri sifatnya agak tinggi hati, hingga meskipun ia telah menyinta begitu dalam kepada sang Sumoy, tapi tidaklah ia mau menyatakan perasaannya itu. Dan Kang Sian Cian yang agak bersifat binal dan masih kekanak-kanakan, dua tahun lamanya selalu berguru kepada Sun Tay Bang, setiap kali belajar silat dengan Ong Ban Ping, selalu si anak muda yang menjadi pecundang.

Ketika Sun Tay Beng melihat bakat Kang Sian Cian yang luar biasa itu lagi pula telah mendapat didikan ilmu pedang asli dari Kang It Peng sahabat karibnya hatinya sangat girang. Maulah ia jadikan nona itu sehagai satu mustika didalam rimba persilatan, supaya kawan-kawannya didunia Kang-ouw dapat menyaksikan kepandaian dan kelihayan murid-murid didikannya. Tapi tenaga dalam, ilmu pedang dan ilmu meringankan tubuh dari Kang It Peng, sudah menjagoi didaerah Kang-lam dan Kang- pak, merupakan soal sulit padanya untuk memberi didikan kepada nona yang berbakat itu. Setelah Sun Tay Beng mempelajari dalam- dalam kepandaian ilmu silat yang dipunyai oleh Kang Sian Cian maka iapun mengambil keputusan untuk menurunkan kepandaiannya dalam menggunakan senjata rahasianya yang tunggal, yang ia namai „Duri Ikan Terbang‟ kepada Kang Sian Cian. Begitu pula pedang lemasnya yang istimewa yang rnembuat namanya terkenal didunia Kang-ouw telah diberikan kepada nona itu.

Hanya dalam waktu dua tahun. Kang Siang Cian sudah dapat melatih senjatanya yang bermutu itu sampai begitu mahir, sampai- sampai tiga rupa serangan Sun Tay Beng yang paling lihay juga dipelajarinya dengan baik.

Sun Tay Beng yang menyaksikan kecerdasan muridnya itu diam-diam juga merasa girang, pada suatu hari ia Kang Sian Cian lalu berkata kepadanya:

“Senjata duri terbang, ini adalah senjata rahasia yang paling berbisa didalam dunia Kang-ouw. Kann orang yang mempelajari- nya itu menyalah-gunakan pelajarannya, akan menerbitkan bencana yang hebat. Sekarang kepandaian ini aku sudah turunkan kepamu, tapi kuharap kau jangan sembarangan turunkan kepada lain orang. Aka cuma memperbolehkan kau menurunkan kepada seorang saja, agar supaya tidak menerbitkan bencana yang besar. Muridku banyak tapi hanya kepada engkau kuberikan pelajaran ini."

Pada waktu Kang Sian Cian berraah dengan gurunya, umurnya sudah tujuh belas tahun yaitu masa mengerti soal asmara, hingga kalau pada saat itu Ong Bun Ping berani mengutarakan isi hatinya mungkin Kang Sian Cian akan mernerimanya, namun Ong Bun Ping tidak berbuat demikian, ini disebabkan sifatnya yang tinggi hati dan merasa dirinya sendiri tidak menempil kepandaian si nona, hingga rasa cintanya yang begitu besar terpaksa ia pendam didalam hati saja. Tidaklah ditunjukannya pada mukanya dan sikapnya.

Meski Kang Sian Cian merasa Suhengnya adalah seorang yang baik, tapi karena menampak sikapnya terhadap dirinya sendiri yang seolah-olah terbatas dengan persababatan antara Suheng dan Sumoy, dan tidak menunjukkan tanda rasa cintanya, bagi ia sebagai seorang wanita sudah tentu tidak berani membuka mulut lebih dahulu untuk menyatakan perasaannya. Setelah ia meninggalkan Sun Tay Beng yaitu selama dua tahun lamanya melakukan perbuatan mulia didaerah Kang-lam, sehingga namanya terkenal sampai mendapat julukan Kang-tang Lie-hiap, tapi toch tidak melupakan diri Ong Bun Ping.

Siapa nyana ketika ia bertemu Chie Sie Kiat hatinia teiah di- rubuhkan oleh pemuda yang lemah-lembut itu. Hal ini sudah tentu tidak diketahui oleh Ong Bun Ping. Dua tahun kemudian setelah Ong Bun Ping bertemu pula dengan Sumoynya dan ketika ia menampak sang Surnoy itu ternyata bertambah cantik dun menarik maka rasa cintanya yang ia pendam sekian lama telah berkobar pula, tapi ia tetap merasa rendah diri, apalagi nama Kang Sian Cian sudah began terkenal. Hal ini membuat ia tidak berani buka mulut.

Saat itu ketika ia menampak Kang Sian Cian pulang dari Ie Cin Wan ia lantas bertanya:

“Sumoy, kepala penjahat dari Utara sudah berada di le Ciu Wan kenapa engkau berani seorang diri menempuh bahaya? Ilmu silat Tong Cin Wie tinggi sekali dan sifatnya juga kejam dan gangs."

Ia ucapkan kata-kata itu demikian rupa. seolah-olah hendak menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap dirinya si nona. Ketika Kang Sian Cian menyaksikan sikap sang Suliengnya itu ia agak terperanjat, karena selama dua tahun ia bergaul dengan Suhen.gnya itu, belum pernah sang Suhengnya menunjukkan sikap yang demikian terbuka padanya, setelah herpikir sejenak, barulah menjawab, sambil bersenyum:

“Sin Ciu Tui Hun Tong Cin Wie yang kau maksudkan? Tidak ada apaapanya yang luar biasa. aku telah bertempur dengan dia sampai berpuluh jurus tapi belum mendapat keputusan, oleh karena aku selalu memikirkan keadaan disini, maka aku lantas menerjang kepungan, akhirnya ada dua penjahat yang terkena senjata rahasiaku, hingga mereka mengalami sedikit kekalutan."

– ooOoo –