Dara Pendekar Bijaksana Jilid 04

 
Jilid 04

Oh Ci Kui sebagai tuan rumah itupun angsurkan cawan araknya sambil berkata: “Aku Oh Cu Kui cuma satu Bu-beng Siau-cut dari rimba persilatan, tidak nyana mendapat kehormatan dari Tong Twako yang telah sudi singgah dikediamanku, sungguh ini merupakan satu kehormatan yang besar bagi aku, arak ini bukan merupakan suatu penyambutan, cuma adalah satu tanda dari hormatku."

Setelah berkata demikian Oh Cu Kui tenggak araknya sampai kering.

Tong Cin Wie bersenyum dan sambil minum araknya iapirn berkata: “Aku Tong Cin Wie yang cuma mendapat nama kosong, karena ditunjang oleh para kawan dari lima provinsi Utara, baru menduduki jabatan sebagai kepala, sebetulnya diantara saudara- saudara yang ada disini banyak yang berkepandaian tinggi !"

ia menoleh mengawasi si kakek tua lalu berkata pula: “Seperti Thio Pak Tao Lo-cian-pwee ini, pada tigapuluh tahun yang lalu namanya sudah menggetarkan Kang-lam dan Kang-pak. senjatanya yang merupakan bandringan Liu-seng-tui, pernah menempur kuil Siauw- lim-sie punya lima Ngo-lo, berbicara tentang kepandaian ilmu silat, aku Tong Cin Wie sedikitpun tidak menempil kepandaiannya dengan Thio Lo-cian-pwee ini."

Meski Tong Cin Wie demikian mengumpak si kakek tua. tarsi si kakek tua itu tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa pada mukanya.

Tong Cin Wie setelah memperkenalkan diri si kakek tua itu. kemhali menoleh dan mengawasi si Hweeshio gemuk yang duduk disebelah kanannya seraja berkata: “Seperti Thay-si Sian-su ini, saudara- tentunya sudah pernah mendengar namanya, tentang kepandaiannya. juga jauh diatasku, tapi sifat Thio Lo-cian-pwee dan Thay-si Sian-su tidak suka mencampuri segala urusan remeh didunia Kang-ouw: yang seorang senang berpelesiran di rimba- rimba dan di gunung-gunung dan yang seorang lagi menyekap dirinya dalam kuil. Sebetulnya ia sudah tidak man lagi mengurus segala urusar tetek-bengek, tapi kali ini ternyata telah menerima undanganku. Dengan menyampingkan kebiasaannya diberikannya bantuan kepadaku maka disini aku memberi hormat kepada kedua Lo-cian-pwee dengan secawan arak." Disodorkan araknya kepada kedua tokoh persilatan tersebut sesudah ia berkata demikian.

Thay-si Sian-su meletakkan cawannya lalu berkata kepada Coa Im Cu Teng Hong sambil tertawa: “Ternyata kau sudah mendahului aku kesini."

Teng Hong merasa mukanya panas lalu menjawab seraja tertawa, “Setelah aku menerima suratmu yang mengajak aku ke Selatan maka keesokan harinya aku lantas yang berangkat, karena itu aku tiba dahulu disini."

Tong Cin Wie sebelumnya sudah mendengar dari Thay-si Sian- su, bahwa ia sudah mengajak Teng Hong untuk memberi bantuan tenaga hingga ketika mendengar pembicaraan kedua orang itu maka mengertilah ia bahwa orang tersebut adalah Teng Hong. Maka iapun herkata sambil tertawa:

“Tentu tuan ini adalah saudara Teng Hong, sudah lama aku mendengar Lo-sian-su mengatakan tentang nama besarmu. hanya menyesal sekali aku tidak mendapat kesempatan sekali untuk menemui. Kali ini karena aku Tong Cin Wie mempunyai sedikit urusan soal permusuhan pribadi saja sampai membuat saudara Teng melakukan perjalanan begitu jauh, Siauw-tee merasa malu sendiri." Sehabis berkata demikian lalu iapun menyoja untuk memberi hormat.

Sifat Teng Hong sebetulnya ada sangat sombong, siapa saja ia tidak pandang mata. cuma hari ini keadaan ada lain. Perubahan ini bukan karena merasa jeri terhadap Tong Cin Wie dan kuatir Thay-si Sian-su akan sesalkan silatnya yang jumawa dan tidak kenal aturan itu, tapi karena takut pada si kakek tua Thio Pak Tao.

Sebelum nama Teng Hong terkenal maka kakek ini sudah lama terkenal didunia Kang-ouw. Orang-orang didunia Kang-ouw menyebutnya Cian Pi Sin Mo atau Iblis yang bertangan seribu dan ketika nama Teng Hong terkenal di daerah Utara maka pada saat itu pula Cian Pi Sin Mo telah hilang jejaknya. ada orang kata-kan bahwa ia menyembunyikan diri diatas gunung. Ada pula yang mengatakan bahwa ia sudah binasa.

Apa sebab Cian Pi Sin Mo lenyap dari dunia Kang-ouw tidak ada orang yang ketahui hanya Tong Cin Wie dan Thay-si Sian-su. Ia lenyap tapi setelah berumur sembilan puluh tahun yaitu sesudah tiga puluh tahun menghilang tapi tiba-tiba kembali lagi.

Ucapan Tong Cin Wie menyunyung tinggi diri si Tua itu tadi memang adalah hal yang sebenar-benarnya. Senjata Liu-seng-tui- nya Thio Pak Tao didalam kuil Siauw-lim-sie. pernah digunakan untuk melawan Siauw-lim Ngo-Lo. Ini adalah suatu kejadian besar yang pernah menggetarkan dunia rimba persilatan pada tiga puluh tahun berselang, akhirnya meski Cian Pi Sin Mo jatuh ditangannya kepala kuil Siauw-lim-sie pada kala itu, namun dalam dua hari satu malam ia telah bertempur seru dengan kelima tokoh dari kuil Siauw-lim-sie itu.

Dirinya yang sudah bertempur sekian lama kemudian bertempur lagi dengan kepala kuil Siauw-lim-sie itu meskipun ia kalah tapi namanya lantas terkenal didaerah Kang-lam dan Kang- pak. Bagi orang-orang rimba persilatan waktu itu semuanya mengenal kakek tua ini.

Ketika Thio Pak Tao bertempur melawan kepala kuil Siauw- lim-sie Sam Ho Siang, dahulu pundak kirinya telah dilukai dengan ilmu silat Kim Kong Ci dari Sam Ho Siangjin dan tentang lukanya ita cuma ia dan Sam Ho Siangjin saja yang tahu. Semua Lo-cian- pwee dari Siauw-lim-sie serta murid-murid Siauw-lim-sie yang menonton pertempuran tersebut, tidak seorangpun yang mengetahui.

Karena mendapat luka. Thio Pak Tao segera meninggalkan kuil Siauw-lim-sie lalu lari keluar perbatasan mengasingkan diri diatas bukit Mo Thian Nia untuk memperdalatn ilmu silatnya lagi.

Selama itu tiga tahun lamanya ia bersemadi menghadap tembok untuk menyernbuhkan lukanya dan ternyata membawa hasil.

Tentang diri Tong Cin Wie sebetulnya dia itu adalah anak seorang petani pemelihara kuda didaerah Lian-ling. Oleh karena timbul permusuhan dengan seorang she Ciu yang juga mengusahakan pertanian dan pemeliharaan hewan maka timbullah pertempuran hebat. Dalam pertempuran keluarga Tong dikalahkan, ayah bundanya binasa dan harta bendanya dirampas oleh keluarga Ciu. Hanya Tong Cin Wie sendiri yang dapat meloloskan diri. Padaa kala itu umurnya baru - tahun hingga ia tidak tahu kemana ia harus tumpangkan dirinya.

Waktu ituada beberapa anggota familinya, tapi karena mereka takut pengaruh keluarga Ciu maka tidak ada seorangpun dari mereka yang berani menerimanya. Satu bulan lamanya Tong Cin Wie hidup terlunta-lunta, tapi selagi ia dalam keadaan kelaparan dan kedinginan. ia telah ditemukan oleh seorang aneh yang berlengan satu, yang akhirnya memungutnya sebagai murid.

Orang aneh berlengan satu itu sebetulnya adalah seorang. gagah yang hersifat aneh. Namanya Tay Kouw orang itu sifatnya aneh dan berhati kejam hingga banyak sekali musuhnya. Ketika ia bertempur dengan musuh-musuhnya, lengan kanannya telah dilukai dengan senjata rahasia yang beracun, hingga ia kehilangan lengan kanan.

Kehilangan tangannya ini menyebabkan adatnya bertambah aneh dan kejam. Orang itu ketika telah kehilangan lengan tahulah ia hahwa dalam masa yang pendek itu mampulah ia mencari musuh- musuhnya untuk menuntut balas.

Karena itu ia lantas sembunyikan diri didaerah pegunungan. Disana selainnya merawat lukanya maka dipelajarinya juga rive ilmu obat'an yang beracun dan. senjata yang beracun. Akhirnya sekali ia dapat menciptakan semacam senjata rahasia yang berupa jarum, yang dinamainya Tui-hun-ciam.

Ketika luka-nya sembuh iapun segera mencari musuh- musuhnya. Satu persatu musuh-musuhnya itu dibinasakan dengan senjata rahasia Tui-hun-ciam-nya itu. Siapa saja yang kena senjata rahasianya itu dalam dua belas jam pasti binasa. Hanya obat pemunah racun yang dibikin oleh Teng Tay Kouw sendirilah yang bisa menghilangkan racun itu. Selama tiga hari ia tidak makan tidaklah ia mengeluh atau menangis, karena Tay Kouw mengetahui ketabahannya maka hatinya tergerak untuk mengambilnya sebagai murid. Ia diberi pelajaran selama sepuluh tahun, kemudian Tong Cin Wie menjadi seorang yang berilmu silat yang tinggi sekali.

Tong Cin Wie yang beradat kejam setelah mendapat didikan dari Teng Tay Kouw seorang kejam sudah tentu sifatnya bertambah kejam. Setelah pelajarannya tamat pertama-tama yang bisa selesaikan adalah permusuhan dengan keluarga Ciu. Dengan senjata turnbak Leng-coa-chio-nya dan sekantong jarum Tui-hun-ciain-nya menyerbulah ia malam-malam keluarga Ciu. Semua orang dalam keluarga Ciu dihabiskan dan semua rumah mereka habis dibakar. Perusahaan-perusahaan yang diusahakan oleh keluarga Ciu dalam tempo hanya satu malam telah dibikin rata dengan bumi.

Tong Cin Wie setelah menuntut balas, lantas mengernbara di dunia Kang-ouw, dengan mengandalkan kepandaiannya yang tinggi dan senjata rahasianya yang ampuh itu. Selama beberapa tahun belum pernah ditemuinya tandingan hingga hatinya besar sekali. Dianggapnya dalam Kwang-wa yang daerahnya luas tapi sedikit penduduk itu ia tidak bisa berbuat banyak, maka lantas timbal nikirannya untuk masuk kedaerah Tiong-goan.

Sebelum berangkat hendak diberitahukan maksudnya itu kepada suhunya tapi ketika ia tiba digubuk suhunya ternyata tak ada lagi. Gubuk itu kosong melompong.

Tong Cin Wie mencari di mana-mana, tapi tidak ditemui jejak suhunya itu maka terpaksa berangkatlah ia tanpa memberitahukan kepada suhunya. Walaupun baru dua tahun ia berada ditempatnya yang baru itu tapi namanya telah dikenal. Ketika ia disana tujuh tahun berhasillah ia menundukkan sebagian besar orang-orang dari rimba hijau di lima provinsi Utara, hingga ia diangkat menjadi Twako.

Tong Cin Wie setelah menduduki kursi Twako. sifatnya yang gemar paras elok menonjollah hingga wanita-wanita yang ia merasa cantik walau bagaimana pun berdayalah ia sampai bisa memperolehnya. Oleh karena itu dalam gedungnya yang besar dan mewah di pantai sungai Eng,-teng. terdapat banyak wanita-wanita cantik sebagai simpanannya.

Pada suatn hari yaitu ketika sudah tiga hari menjadi Twako, ia telah kedatangan dua orang yang berparas aneh. Orang-orang itu ternyata adalah suhunya sendiri (Teng Tay Kouw) dan seorang tua yang berbadan pendek yaitu Cian Pi Sin Mo Thio Pak Tao. Teng Tay Kouw dan Cian Pi Sin Mo ketika bertemu Tong Cin Wie, belum pernah membuka mulut tapi setelah menghabiskan empat poci arak barulah Teng Tay Kouw goyangkan tangan kirinya untuk memberi tanda, supaya pelayan-pelayan perempuan masuk kedalam, kemudian ia menunjuk si kakek tua itu lain berkata kepada Tong Cin Wie: “Ini adalah Thio Supekmu lekas kau memberi hormat."

Kala itu Tong Cin Wie meski sudah menjadi Twako golongan rimba hijau di lima provinsi daerah Utara, tapi setelah mendengar ucapan suhunya segera bangkit meninggalkan korsinya lalu berlutut dihadapan Cian Pi Sin Mo itu namun Thio Pak Tao seperti tidak melihat ia terus minum araknya saja, seolah-olah tidak melihat ada orang ditempat itu.

Tong Cin Wie merasa kurang senang dalam hatinya, tapi ia tidak berani berbuat ape. Terpaksa ia menahan kesabaran lain berkata dengan suara perlahan:

Disini Tong Cin Wie memberi hormat kepada Thio Supek." Thio Pak Tao dengan mendadak letakkan cawannya, lantas berkata sambil tertawa bergelak':

“Anak baik yang boleh diajar, bangunlah!"

Tong Cin Wie berbangkit lalu Teng Tay Kouw berkata kepada Cian Pi Sin Mo: “Muridku ini ternyata lebih unggul dari aku, cuma saja pohon yang tinggi gampang mendatangkan angin, selanjutnya mau tolong jaga-jaga, aku sendiri tahu bahwa jiwaku mungkin tidak tahan satu bulan lagi."

Ci anPi Sin Mo menjawab sambil tertawa: “Kau boleh mati dengan mata meram! Dengan memandang persahabatan kita dan pertandingan yang kita lakukan satu hari satu malam lamanya di atas bukit Mo Thian Nia, aku terima haik permintaanmu ini.

Tang Tay Kouw tertawa bergelak-gelak, lalu bangkit sambil mendorong mejanya dan berkata kepada Cian Pi Sin Mo:

“Kau Cian Pi Sin Mo ucapanmu itu sangat berharga, Teng Tay Kouw seumur hidup telah membunuh banyak jiwa, apa artinya kematian, Cin Wie, aku larang kau menuntut balas."

Tong Cin Wie terkejut, selagi hendak bertanya, tapi sudah didahului oleh Thio Pak Tao, katanya:

“Kecuali aku Thio Pak Tao seorang, barangkali tidak ada seorang pun yang bisa menuntut balas untuk kau."

Teng Tay Knew tertawa besar, sambil gerakken lengannya, sekejap saja ia sudah berada diluar, tapi masih sempat menjawab kepada Thio Pak Tao:

“Aku toch tidak minta kau untuk menuntut balas, sekarang aku hendak pergi, aku hendak mencari suatu tempat yang sepi, yang jarang didatangi oleh manusia, disana eku akan mati dengan tenang

……” Belum habis ucapan itu orangnya sudah hilang dari pandangan. Tong Cin Wie memburu, tapi suhunya sudah tak kelihatan lagi. Matanya hasah tapi muhitnya berseru: “Suhu ….. , Suhu ….. !”

Baru saja hilang suaranya, terdengar suara orang berkata di belakangnya : “Perlu apa kau panggil? Ia sudah terkena serangan ilmu silat yang maha tinggi, semua isi dalam badannya sudah terluka parah, dalam tempo tujuh hari luka itu segera menghehat dalam tubuh-nya, sekalipun tabib terpandai seperti Hoa-to hidup kembali juga tidak akan berdaya menolongnya."

Ketika Tong Cin Wie menoleh, dilihatnya wajah Cian Pi Sin Mo masih tetap dingin. sekalipun sahabat karibnya sudah dekat menemui ajalnya, tapi sedikitpun tidak menunjukkan rasa duka. Baru sadia Tong Cin Wie hendak menyawab, sudah didahului oleh Thio Pak Tao:

“Meski Suhumu tidak memberitahukan orang yang melukai diri-nya. tapi dalam hatiku dapat menebak. Musuhnya ini hebat hingga kau tidak akan mampu membalas dendam sebab itu tunggu sanpai kuselesai menyelidikinya. Bila telah mendapat penjelasan tentang urusan ini barulah kita bicarakannya!”

Selesai kakek itu berkata demikian maka mengbilanglab ia tan- pa pamit.

Sejak Tong Cin Wie turun gunung ia belum pernah menemui tandingan. Karena itu didalam hati kecilnya dianggapnya kepandaian silatnya tak ada yang bisa menandinginya selain dari Suhunya, tapi setelah ia melihat ilmu lari pesat dan meringankan tubuh Thio Pak Tao yang lebih tinggi setingkat daripada suhunya, barulah ia mengetahui bahwa kepandaiannya belum seberapa. Waktu Cian Pi San Mo pergi beberapa lama lantas tidak terdengar kabar beritanya lagi, dan Tong Cin Wie sendiri juga mulai melupakan urusan tersebut.

Pada kala itu nama Tong Cin Wie sudah semakin kesohor hingga hatinya semakin besar dan timbal keinginannya untuk melebarkan. pengaruhnya kedaerah Kang-lam. Kebetulan pada saat itu berpapasanlah ia dengan Ie Pak Sam Houw atau Tiga Macan dari le Pak, yang baru saja lari pulang karena terluka oleh senjata rahasia. Setelah mengetahui itu, Tong Cin Wie lantas menjadi gusar, dan memerintahkan kepada orang-orangnya bergerak ke selatan, sedangkan ia sendiri lalu berangkat ke kuil Ceng In Si untuk mengundcmg Thay-si Sian-su.

Sepulangnya dari Ceng In Si bersama Thay-si Sian-su. Tiba- tiba ia telah kedatangan Cian Pi Sin Mo Thio Pak Tao.

Ketika Tong Cin Wie melihat kedatangan orang tua itu, dalam hati merasa girang tapi juga ada sedikit jeri. Ia girang karena kedatangan orang berilmu tinggi itu tepat pada saatnya, hingga tidak usah kuatirkan lawannya didaerah Kang-lam. Jeri karena sifat orang tua yang aneh dan sukar dilayani, karena itu ketika ia bertemu dengan Thio Pak Tao, ia cuma berkata sambil angkat tangannya

“Kedatangan Lo-cian-pwee tepat benar pada saatnya, hingga bisa memberi bantuan sedikit tenaga bagi Boan-pwee ”

Bicara sampai disini, mendadak berhentilah ia sambil tertawa sebab ia menanti reaksi Cian Pi Sin Mo.

Thio Pak Tao berkata sambil tertawa: “Aku dengan gurumu pada sepuluh tahun berselang telah mengikat tali persahabatan setelah melakukan pertandingan diatas bukit Mo Thian Nia, di dalam dunia ini aku cuma mempunyai seorang sahabat yaitu dia sendiri. Sahabatnyapun hanya seorang yaitu aku. Ia telah terkena serangan hebat, sehingga binasa maka itu sudah tentu aku hendak menuntut balas. Dalam tiga tahun ini aku telah melakukan perjalanan keseluruh tempat dan hasilnya ialah telah kuketahui orang yang melukainya. Walaupun demikian aku belum berani pastikan jika aku belum bertemu dengan musuhnya itu. Adapun kedatanganku kali ini, memang sengaja mencari kau, dan ada hubungannya dengan penuntutan balas untuk Suhumu !”

Mendengar kata orang itu Tong Cin Wie terkejut hingga buru- burulah ia memimpin orang tua itu keruangan dalam lalu dijamunya dengan sernestinya.

Cian Pi Sin Mo yang sudah banyak minum arak. Tiba-tiba berkata kepada Tong Cin Wie:

“Kalian masih berada didalam kegelapan, sehingga mengundang banyak orang-orang keselatan, sebetninya semua gerak-gerik kalian sudah diawasi oleh lain orang ……..”   Ucapan ini telah mengejutkan semua orang lalu bertanyalah Tong Cin Wie:

“Siapa sebenarnya orang yang mempunyai ilmu silat demikian tinggi itu?”

Cian Pi Sin Mo menjawab sambil tertawa besar: “Orang itu mungkin adalah orang yang melukai Suhumu tempo hari, walaupun begitu sekarang aku belum bisa pastikan. Apakah pernah engkau mendengar orang yang bernama Kang It Peng?"

Tong 'Uri Wie berpikir beberapa lama, lantas geleng kepada. Ia tidak tahu karena ketika ia sedang menjagoi dirimba hijau didaerah Utara, Kang It Peng sedang berada diatas gunung bersama cucu perempuannya, karena ia sedang mendidik cucunya itu utuk mengasingkan diri sebab musuh-musuhnya telah membinasakan anak dan mantunya. Penjahat-penjahat tidak pernah mendengar nama Kang It Peng. Begitu pun Tong Cin Wie yang tidak pernah mendengar namanya hanya penjahat golongan tua itupun tidak banyak mengetahuinya.

Tiba-tiba Thay-si Sian-su berkata, “Yang Lo-cian-pwee sebutkan tadi itu bukankah Kong It Peng yang bergelar Gin Si Siu atau si Kakek Jenggot Perak, yang namanya terkenal didaerah Kang-lam dan Kang-pak pada duapuluh tahun berselang?"

Cian Pi Sin Mo menjawab sambil tertawa, “Ya itulah orangnya. Sebelum aku mengasingkan diri, aku berniat menempur dia. tapi selalu tidak mendapat kesempatan, siapa nyana sesudah tiga puluh tahun ia masih hidup, nampaknya keinginanku ini akhirnya akan terkabul juga."

– ooOoo –