Dara Pendekar Bijaksana Jilid 03

 
Jilid 03

Sebentar saja mereka sudah lari sejauh tiga paal, dibawah penerangan rembulan remang-remang. Tidak jauh didepan mereka sudah ke-lihatan terbentang air danau yang sangat Inas, hingga mereka taint sudah berada ditepi danau Siao-ouw.

Ke tiga penjahat itu sangat girang, pikirnya orang itu tentu sudah berada dijalan buntu, maka mereka lantas memberi isjarat, ke-mudian lari berpencaran, untuk mengurung.

Thio Kiu mulai pentang bacotnya : “Sahabat, kau hendak lari kemana lagi?" Iapun segera mempercepat larinya sambil mengeluarkan ilmu lompat 'capung berterbangan diatas air', sekejap saja sudah berada dibelakang itu orang, kemudian ia lantas sodorkan sepasang gaetannya, dengan gerakan mengacir hendak memotong pinggang orang itu.

Senjata itu sudah dekat sekali pada sasarannya tapi orang tersebut dengan tanpa menoleh, tiba-tiba kaki kirinya terpeleset, seluruh badannya rubuh kenyuknyuk.

Nampaknya ia seperti terjatuh karena didesak oleh senjata Thin Kin tapi sebetulnya perbuatannya ini adalah serupa tipu silat yang amat sukar dipelajari. Nama ilmu silat itu ialah 'Tiara Lik Ciang San' atau memusatkan tenaganya untuk menunjang gunung.

Thio Kiu ketika menampak orang itu jatuh, girangnya bukan main, lalu ayun sepasang gaetannya sembari membentak,

“Sahabat, rebahlah kau disini Tapi kedua kaki orang tadi lantas menyejak tanah, dadanya masih terpisah beberapa chun dengan tanah. dengan secara mendadak lantas membalikan tubuhnya sembari berkata,

“Belum tentu!”

Tahu-tahu orang itu sudah melesat jauh, untuk menghindarkan serangannya Thio Kiu.

Thio Kiu yang sudah merasa gemas sekali, serangannya itu dilakukan dengan menggunakan tenaga sepenuhnya. Ia bertekad hendak membinasakan orang itu ditepi telaga Siao-ouw itu tapi siapa kira benar-benar telah terjadi hal yang diluar dugaannya, hingga tidak keburu menarik kembali serangannya, dan akhirnya ia sendiri Ong jatuh tengkurap. Selagi ia hendak bangun, tidak nyana orang tadi sudah bertindak sangat gesit, ia sudah putar balik tubuhnya, dan dengan kakinya ia menendang pantat Thio Kiu, hingga sebentar kemudian tubuh Thio Kiu sudah melayang ditengah udara, kemudian nyelonong nyemplung kedalam telaga!

Pada saat itu Oey Cing Tan dan Co Pat tiba hingga dapat kesempatan menyaksikan kawannya dalam tempo sekejapan saja sudah dibikin terjungkal kedalam telaga. Bukan main kaget dan murka mereka itu.

Oey Cing Tan lantas membabat dengan senjata pecutnya yang lamas. Co Pat menyerang dengan goloknya yang besar. Tapi orang itu cuma ganda dengan tertawa, kemudian dengan tangan kosong melajain dua ruin senjata itu.

Oey Cing Tan bertempur sambil memperhatikan roman musuh yang lihay itu. ternyata ada satu laki-laki yang usianya baru kira- kira tiga puluh lima tahun. berdandan pakaian jalan malam serba hitam ringkas diatas bibirnya ada tutnbuh kumis pendek, dibelakan gegernya ada menggemblok senjata yang dinamakan 'Siang Hong Seng Sic Poan' yang jarang tertampak. Tapi orang itu tidak matt menggunakan senjatanya ia hanya menggunakan kedua tangannya untuk melakukan perlawanan. Dengan tenang ia menghadapi dua musuh yang bersenjata pecut dan golok itu tapi ia masih bisa mendesak kedua lawannya.

Saat itu Thio Kiu sudah merajap keluar dari dalam air, seluruh badannya basah kuyup, senjata ditangan kirinya sudah tenggelam di dasar telaga hingga cuma ketinggalan sebelah. tanpa perdulikan badannya yang basah dan senjatanya yang cuma tinggal satu, ia pan segera turut mengeroyok orang itu.

Orang itu yang dikeroyok tiga musuh, agaknya sudah mulai gusar, mengeluarkan siulan nyaring, lalu keduarkan ilmu silatnya „Pat-Kwa Liong Houw Ciang Hoat' yang sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, hingga sebentar saja keadaan sudah lantas berobah.

Ketika pertempuran itu telah berjalan kira-kira sepuluh jurus, orang itu lantas memukul rubuh Co Pat, kemudian lompat keluar dari kalangan dan berkata kepada Oey Cing Tan bertiga.

“Malam ini aku cuma memberi sedikit hajaran saja kepada kalian, kalau kalian masih tetap tidak insyaf dan mau rnembantu kejahatan, nanti jika terjatuh kedalam tanganku lagi, aku tak mau memberi ampun dengan gampang-gampang lagi. Mau dengar atau tidak, terserah kalian sendiri".

Sehabis berkata, lantas menghilang ditempat gelap. Orang yang mempermainkan tiga penjahat tadi adalah Pat Kwa Ciang Cin Tiong.

Ia sebetulnya cuma hendak memberi ingat kepada mereka secara sembunyi, agar supaya mereka suka mundur sendiri, ia tidak suka bentrok terang-terangan agar supaya wajahnya jangan dikenal oleh mereka apamau si kedua setan itu ada keliwat jahat. mereka terus mendesak, sehingga terpaksa mengeluarkan ilmu silat Pat Kwa Ciangnya dan setelah pukul mundur lawannya dan setelah meninggalkan ancaman iapun berlalu.

Tiga penjahat itu kecuali Oey Cing Tan. dua yang lainnya sudah mendapat hajaran yang lumajan juga. Setelah kejadian itu, mereka baru tahu bahwa keluarga Chie itu betul-betul mempunyai banyak orang berkepandaian tinggi yang diam-diam melindunginya. Hanya mereka tidak mengerti dari mana si orang she Chie itu dapat mengundang pelindungnya itu?

Kasihan si setan dari gunung Yan-san dan Chit Seng Sian Pian yang biasanya suka malang melintang didaerah Utara, malam itu telah dipermainkan orang demikian rupa, sehingga musnah sama sekali kegaakannya, dengan perasaan masgul mereka terpaksa pu- lang ke Ie Chiu Wan.

Ketika Co Pat tiba di gedung Oh Cu Kui dilihatnya Liauw-tang Siang-tiauw sudah ada, sebab sudah pulang duluan. Kim Cie Ping Sie Kok Tiong dengan pisau kecil ditangannya sedang melakukan pembedahan badan Pang Oen untuk mengeluarkan senjata rahasia duri ikan terbang, sedang Hoan Kong Hong dan lain-lainnya pada mengitari untuk menyaksikan.

Oey Cing Tan bertiga agaknya merasa malu menemui kawan- kawannya, tapi apa boleh buat, dengan tebalkan muka mereka terpaksa masuk keruangan untuk menemui kawan-kawannya.

Kawanan penjahat itu ketika menampak Thio Kiu basah kujup dan muka Co Pat matang biru segera mengerti, bahwa kedua orang itu telah mengalami kekalahan.

Saat itu tiba-tiba terdengar Pang Oen menyerit karena kesakitan, keringat dan darah membasahi seluruh pakaiannya. Maka dari badan Pang Oen telah dikeluarkan sebilah senjata berupa jarum. Setelah memberikan obat pada lukanya, senjata itu lantas diletakkan diatas meja. Sambil meng-geleng-gelengkan kepala Kim Cie Ping pun berkata,

“Sungguh satu benda yang amat lihay!"

Para penjahat pada memeriksa senjata rahasia yang panjang- nya tidak cukup dua thjun itu, ujungnya gepeng meruncing, seluruhnya terbikin dari baja tales, hingga mengeluarkan sinar bergemerlapan, dibagian belakangnya ada dua lembar baja tipis yang mirip dengan ekor ikan, senjata rahasia serupa itu memang agak aneh bentuknya. Diantara kawanan penjahat itu tidak seorangpun yang pemah melihat senjata semacam itu. Pada saat itu Hoan Kong Hong mergeluarkan dari sakunya sebuah jarum yang dikeluarkan dari mata Pang Lo-jie. Sambil angguk-anggukkan kepala Hoan Kong Hong pun berkata,

“Sungguh-sungguh jahat perbuatan gadis hina itu. Mata kiri Pang Lo-jie juga menjadi korban senjata ini. Budak hina itu benar- benar lihay, untuk selanjutnya kita harus berhati-hati bila menghadapinya!”

Kemudian ia lantas menuturkan pengalamannya ketika ia bersama kawan-kawannya bertempur dengan itu nona didalam rimba. Tiba-tiba Oh Cu Kui berseru,

“Dengan penuturanmu ini sekarang aku telah ingat. Itu perempuan muda yang kalian jumpai, pasti ada itu pendekar wanita yang mempunyai nama dan julukan Kong Tong Lie-hiap Kong Sian Cian nama budak cilik itu baru terkenal dalam dua tahun ini saja, tapi orang-orang dari rimba hijau di daerah Kang-lam sudah dibikin gelisah oleh tindakannya, tanah dimana ia injak, sahabat-sahabat yang makan nasi hitam pada menyingkir semuanya. Kabarnya budak itu beradat tinggi, ia tidak pandang mata sama sekali orang- orang yang bekerja kepada pemerintah Boan, tapi apa sebabnya? Ini benar-benar suatu soal yang sangat aneh!"

Setelah diri Sian Jie diterangkan Oh Cu Kui lantas minta kawan-kawannya yang mendapat luka itu pada mengaso untuk merawat diri. Kemudian ia perintahkan orang-orangnya untuk menyediakan hidangan diruangan tengah, sedangkan ia dan kawan- kawannya bersama-sama merundingkan rencana untuk menghadapi Kong Tong Lie-hiap.

Ramai masing-masing mengeluarkan pendapat, tapi tidak menghasilkan suatu keputusan yang kongkrit. Oey Cing Tan yang menyaksikan keadaan demikian, lantas berkata sambil mengelah napas.

“Menurut pengalaman kita malam ini, kita dapat mengambil kesimpulan, keluarga Chie itu kecuali itu Kong Tong Lie-hiap yang kalian perbincangkan, masih ada lagi banyak orang gagah yang tinggi ilmu silatnya, yang memberi perlindungan. Bukannya aku hendak pandang rendah fihak kita sendiri. Meskipun kita semua yang berada disini, sekalipun turun tangan semuanya, mungkin kita berdaya menghadapi mereka. Toa-ko kita sudah memerintahkan supaya kita menguntit perjalanan mereka dan perhatikan betul tempat kediaman itu keluarga Chie, setidak-tidaknya tugas ini toch kita sudah lakukan dengan baik, untuk selanjutiija ter-paksa kita menunggu kedatangan toa-ko kita.

Belum habis ucapan Oey Cing Tan itu tiba-tiba terdengar dari luar rumah suara tertawa nyaring, hingga kawanan penjahat itu pada terkejut. Selagi mereka hendak bangun untuk keluar menyaksikan, tiba-tiba mereka melihat api diruangan itu bergojang-gojang, kemudian dari luar pintu ada melayang masuk seorang laksana burung terbang, gerakan orang itu gesit sekali, sekejap saja sudah berada ditengah ruangan.

Orang itu sudah berusia lima puluh tahun lebih, mengenakan pakaian kain sutra panjang berwarna abut, badannya sedang, alisnya gompiok, hidungnya bengkung, matanya mendelong, mulutnya lebar, bibirnya gepeng, kumis dan jenggotnya sudah berwarna dua, kulit mukanya hitam kemerah-merahan, belakangnya menggendong satu buntelan, kepalanya memakai topi hitam. Dandanannya yang tidak karuan macam ini, merupakan satu paduan yang menyolok dengan wajahnya yang aneh, Hoan Kong Hong yang menyaksikan keadaan orang yang baru datang itu, tiba-tiba teringat kepada seorang lalu buru-buru ia maju menghampiri, sambil unjuk hormat dan menyapa, “Tuan yang terhormat benarkah tuan ini adalah itu Lo- cianpwce yang nama besamya Teng Hong dan gelarnya Coe Im Cu?"

Orang tua itu menjawab sambil tertawa girang :

“Aku si tua bangka sudah dua puluh tahun lamanya mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw, tidak nyana masih ada orang yang ingat namaku".

Jawaban ini telah membikin kaget semua orang yang ada disitu. Tentang diri Coe Im Cu (bayangan ular) Teng Hong ini, tiga puluh tahun yang lalu namanya sangat terkenal dikalangan rimba hijau, ia adalah penjahat besar yang selalu bekerja sendirian, orangnya kejam, ganas dan telengas, selama malang melintang di jalanan Kang-pak, entah berapa banyak piauw-tauw terkenal dan pejabat- pejabat kepolisian yang binasa ditangannya, kemudian ia telah dikeroyok oleh piauw-tauw dari semua piauw-kiok di lima propinsi utara, sehingga terluka hingga melarikan diri, dan selanjutnya tidak berani muncul lagi dikalangan Kang-ouw, malahan pernah dikabarkan sudah meninggal dunia. hingga mereka tidak nyanya kalau orang aneh tersebut malam itu telah muncul secara tiba-tiba.

Para penjahat itu terhadap orang aneh ini curna pernah mendengar namanya, tapi belum pernah melihat orangnya, tentang tingkatan. sudah tentu orang aneh itu tergolong tingkatan lebih atas. maka orang itu lantas memberi hormat yang selajaknya sebagai golongan muda, kemudian mereka minta supaya orang tua itu duduk ditempat paling atas.

Hoan Kong Hong berkata pula sambil tertawa,

“Lo Cian-pwee kali ini kunjungi kami hingga membuat boon- pwee sekalian mengenal lebih dekat tentang diri dan pribadi Lo Cian-pwee.” Teng Hong tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Aku si orang tua setelah mengasingkan diri, sebetulnya sudah tidak ingin berkecimpungan lagi dikalangan Kang-ouw, tapi kali ini oleh karena merasa berat buat menolak permintaan Thay Sie Sian-so, pertama untuk memberi bantuan pada Tong Cin Wie, kedua karena itu orang-orang. yang mengzinggap dirinya dari golongan baik, belakangan ini terlalu congkak yang benar-benar membuat aku tidak sabar lagi. Kali ini aku terjun lagi dikalangan Kang-ouw, hendak membawa ilmu silatku yang kulatih selama. dua puluh tahun, sebagai bekal dalam pertandingan menghadapi mereka. sekedar untuk melindungi kepentingan sahabat-sahabat dari golongan rimba hijau, lagi-pula jangan kita membiarkan orang- orang itu mentengkelok, seolah-olah dimatanya tidak ada orang yang lebih pandai darinya!”

Kata-katanya itu diucapkan dengan sikapnya yang sangat jumawa.

Pada saat itu, Oh Cu Kui sudah perintahkan orangnya supaya menyediakan lagi hidangan yang baru, untuk menyamu tetamu-nya itu.

Dalam perjarnuan, Oey Cing Tan membicarakan kegagalannya semalam, Teng Hong berkata sambil tertawa dingin,

“Lohu barusan sudah dapat dengar sebagian, sebetulnya aku hendak menunggu kedatangan Thay Sie Sian-su dan pemimpin kalian. baru turun tangan, tapi dengan adanya ini lou kepingin menernui lebih dulu itu beberapa orang yang melindungi rumah keluarga Chie, sebetulnya mereka itu orang-orang macam apa.

Baru saja berhenti mengucap, tiba-tiba dibelakang jendela terdengar orang tertawa dingin, lalu disusul dengan kata-katanya, “Kau si tua bangka yang tidak tahu malu. sungguh takabur pembicaraanmu, jangan kau kira bahwa orang yang melindungi keluarga Chie itu dari tingkatan muda saja, tapi dengan cuma mengandal kepandaian ini belum tentu kau mampu menghadapi mereka. Nanti kalau kau terjungkal ditangannya bocah itu. kemana kau hendak menaruhkan mukamu?”

Suara dibelakang jendela itu belum berhenti, Teng Hong sudah berdiri dengan tiba-tiba, tangannya mengayun, tiga benda melesat keluar dari tangannya terus melayang kearah jendela, kemudian ia putar tubuhnya hendak mengejar.

Siapa nyana sehelum badannya bergerak, kembali terdengar suara orang tadi sambil tertawa dingin,

“Kau tak usah tergesa-gesa, kau masih belum ada itu kepandaian untuk melawan aku, kalau sudah tiba saatnya, sudah tentu ada orang lain yang akan membereskan dirimu. Tiga butir coh baja yang kau buat senjata piauw ini, mungkin ada merupakan kepandaianmu yang kau agulkan, aku juga merasa mual membawa benda yang tidak ada gunanya ini, maka sebaiknya aku kembalikan padamu, sekarang aku akan berlalu.”

Begitu berhenti suaranya, dari luar jendela lalu melesat masuk tiga buah senjata piauw yang mengarah kedua mata dan dada Teng Hong, serangan itu amat keras dan cepat sekali.

Tang Hong berkelit, senjata itu meliwati kepalanya dan terus menancap dalam sekali didinding tembok ruangan tersebut.

Tang Hong setelah mengelakan serangan tersehut. lantas melompat melesat kepelataran belakang, tapi orang itu ternyata sudah tak kelihatan bayangannya, hingga Teng Hong memaki-maki kalang kabut sendirian. Hari kedua diwaktu tengah hari. kampung Ie Chie Wan telah kedatangan tiga tetamu yang menunggang kuda, dua diantaranya adalah yang usianya kira-kira tiga puluh tahun keatas, satu lagi ada seorang wanita muda yang usianya kira-kira dua puluh tahun.

Wanita itu parasnya cantik lagi genit. Kedua laki-laki itu agaknya adalah pengiring wanita muda tersebut, tapi juga mirip sahabat baiknya, bagaimana sebetulnya perhubungan mereka, sukar diketahui oleh orang luar. Yang tertampak nyata ialah Wanita muda itu agaknya memptinyai kawibawaan untuk menguusai kedua laki- laki tersebut.

Mereka betiga seteah memasuki perkampungan, terus menuju kegedung Oh Cu Kui.

Tiga penunggang kuda itu haru saja mendekati gedung Oh Cu Kui. siang-siang sudah ada penjaga pintu yang pergi melaporkan kepada Oh Cu Kui, hingga tidak lama kemudian pintunya telah terbuka lebar-lebar, dan Oh Cu Kui sudah keluar menyambut sendiri dengan muka berseri-seri.

Setelah mengetahui siapa mereka itu yang baru datang, Oh Cu Kui buru-buru angkat tangan memberi hormat, lalu berkata sambil tertawa,

“Angin apa yang membawa Pek Hoa Nio Cu dan Kim Ling Sian Gie datang kemari? Sampai Oh Cu Kui kelalaian menyambut, mari lekas masuk kedalam, biarlah aku nanti menyediakan arak untuk menebus dosaku".

Wanita muda itu angguk-anggukkan kepalanya, sembari tertawa ia berkata :

“Astaga, kau Oh Toa-ya benar-benar terlalu merendahkan diri, kita sungguh tidak sanggup menerima". Ia lantas turun dari kudanya. Apa yang menggelikan adalah sikapnya itu dua laki-laki dibelakangnya, mereka saling berebut menyambut les kudanya Pek Hoa Nio Cu, Oh Cu Kui juga ikut- ikutan, hingga tiga orang itu lantas saling berebutan tali kuda.

Wanita muda itu agak herpikir sejenak, mungkin karena meng- anggap Oh Cu Kui adalah tuan rumah hingga lantas serahkan les kudanya kepada Oh Cu Kui.

Dari dalam rumah saat itu ada keluar tiga laki-laki tegap, yang masing-masing lantas menyambut kuda ketiga tetamu itu.

Oh Cu Kui lalu ajak tiga tetamunya masuk ruangan rumahnya. Didalam ruangan itu telah berkumpul para penjahat, di tengah-

tengah mereka ada duduk Coa Im Cu Teng Hong.

Pek Hoa Nio Cu yang pertama memasuki ruangan, begitu melangkah pintu, matanya yang tajam lantas menyapu kawanan penjahat itu. Oh Cu Kui lantas perkenalkan Pek Hoa Nio Cu dan Kim Ling Siang Gie kepada kawanan penjahat tersebut.

Kim Ling Siang Gie, nama sebenarnya jalah Lim Houw dan Thian Liong ; keduanya adalah penjahat yang suka melakukan kejahatannya sendirian, karena sifatnya yang hampir bersamaan, keduanya lantas angkat saudara, dikalangan rimba hijau daerah Kang-lam, dua orang itu agak terkenal namanya, dengan Oh Cu Kui juga merupakan sahabat karib. Lim Houw menjagoi dikalangan rimba hijau dengan senjata pecut emasnya dan piauw beracunnya, sedang Thian Liong menggunakan senjata sepasang gembolan dan peluru yang bisa meledak. 

Dua orang itu satu sama lain sebetulnya tidak saling mengenal, tujuh tahun yang lalu sama-sama berusaha merampas harta seorang saudagar berupa permata di daerah Kim Ling, sehingga timbul bentrokan hebat. Mereka bertempur setengah malaman, akhirnya Lim Houw berhasil bisa menghantam Thian Liong dengan pecutnya, namun ia sendiri juga luka lengan kirinya karena senjata peluru Thian Liong. Setelah dua-duanya terluka maka timbul rasa kagum mereka masing-masing, hingga seketika itu lantas angkat saudara, selanjutnya kedua penjahat itu lalu bekerja sama, tidak melakukan kejahatannya sendirian lagi.

Untuk memperingati peristiwa didaerah Kim Ling itu, telah me- namai dirinya sebagai Kim Ling Siang Koay. Tapi julukan Siang Koay ini agaknya tidak enak dalam pendengaran, maka sahabat- sahabat- nya jika bertemu mereka pada bahasakan mereka Kim Ling Siang Gie.

Setelah mereka bekerja berduaan, ternyata lebih lancar, dalam tempo tidak lama mereka sudah bisa membeli tanah dan mendirikan gedung yang mentereng.

Tapi kadang-kadang juga masih melakukan pekerjaan yang tanpa modal itu.

Nama Siang Koay ini dikalangan rimba hijau daerah Kang-lam makin lama makin terkenal, ini berarti banyak korban yang jatuh ditangan mereka; Kala itu Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian baru mulai unjuk gigi didaerah Kang-lam. Siang Koay yang nama-nya paling menonjol, sudah tentu menjadi sasaran Kong-tong Lie-hiap yang ternama, kemudian diketahui segala perbuatan dan kejahatannya, maka lantas disatroni kediamannya, setelah terjadi pertempuran seru maka Siang Koay mengalami kekalahan hingga melarikan diri.

Kang Sian Cian yang tidak berhasil membinasakan jiwa Siang Koay, telah timpahkan amarahnya kepada gedungnya, sehingga dibakar habis, untuk selanjutnya Siang Koay kembali menjadi penjahat yang tidak mempunyai kediaman tetap. Dalam peperangan itu, Siang Koay dengan tidak sengaja telah bertemu dengan Pek Hoa Nio Cu Pek Hiang Lui.

Pek Hoa Nio Cu ada seorang wanita yang centil genit, tentang kepandaian ilmu silatnya Siang Koay berdua masih harus tunduk padanya. Bukan cuma itu saja, wanita muda ini mempunyai daya penarik luar biasa, hingga bisa permainkan dua saudara angkat itu sedemikian rupa, sehingga mereka benar-benar mati kutunya, bahkan bersedia mengorbankan segala apa untuk membela itu wanita.

Setelah Pek Hoa Nio Cu menundukkan Siang Koay, selanjutnya mereka bertiga lantas bersiar kemana-mana, setiap hari bersenda gurau, bercumbu-cumbuan, senang si memang senang, tapi kesenangan semacam ini ada mengandung dua bahaya, pertama, Siang Koay sama-sama mengetahui bahwa perempuan seperti Pek Hoa Nio Cu ini, sudah tentu tidak mengerti apa artinya cinta yang sebenarnya, setiap waktu kalau ia sudah bosan, ia bisa sepak mereka dan mencari ganti yang lain.

Kedua, dua saudara angkat itu sama-sama 'mendekati' satu wanita, lama kelamaan, mungkin bisa timbul iri hati dan cemburuan, karena masing-masing hendak mendapatnya untuk dirinya sendiri, hingga ada kemungkinan dua saudara itu bisa bermusuhan lagi. Tapi Pck Hoa Nio Cu tidak perdulikan itu semua, bagi dia, setiap laki-laki yang binasa karena berebutan dirinya, sudah bukan merupakan apa-apa, ia hanya berbuat menuruti kese- nangan hatinya.

Pada hari itu mereka bertiga telah tiba di daerah An-hwie, tiba- tiba teringatlah mereka sahabat karib Oh Cu Kui, maka Pek Hoa Nio Cu lantas ajak Siang Koay ke desa Ie Chiu Wan. Siapa nyana bahwa kedatangan wanita cantik ini, akhirnya telah membawa malapetaka bagi kawanan penjahat dari lima propinsi Utara ……..

Pek Hon Nio Cu setelah diperkenalkan oleh tuan rumah, baru tahu bahwa orang-orang itu semua adalah sahabat-sahabat dari rimba hijau di daerah Utara, orang tua yang duduk dibagian atas itu ternyata adalah Coa Im Cu Teng Hong yang namanya sudah terkenal sejak dua puluh tahun berselang.

Pek Hoa Nio Cu setelah 'obral' senyumnya dan lirikannya kepada kawan-kawan rimba hijau dari propinsi Utara itu iapun duduk didepan Teng Hong, hingga kedua machluk yang berlainan kelamin itu lantas merupakan suatu kontras yang sangat menyolok.

Setelah orang-orang sudah mulai makan dan minum. Teng Hong pun mengangkat bicara, katanya :

“Sin Chiu Tui Hun dan Thay Sie Sian-su mungkin masih membutuhkan waktu beberapa hari lagi baru bisa tiba, lohu malam ini ingin mendatangi sendiri kampung Siang Khee Chun, untuk menyaksikan sendiri siapa sebetulnya itu orang yang melindungi keluarga Chie, sekalian hendak menemui Kong-tong Lie-hiap. diantara para saudara siapa yang suka turut lohu melakukan penyelidikan ini?”

Penjahat-penjahat yang kepandaiannya agak berarti seperti Hoan Kong Hong, Oey Cing Tan, Liauw-tang Siang Tiauw, Yan- san Jie Kui dan Ie-pak Sam Houw, semuanya sudah dibikin terjungkal oleh Kong-tong Lie-hiap, sudah tentu tidak berani ajukan diri lagi, apalagi yang lainnya? Teng Hong ulangi lagi sompai tiga kali pertanyaannya itu tapi kawanan penjahat itu tidak ada seorangpun yang berani membuka mulut. Teng Hong amat mendongkol, matanya yang aneh menyapu kawanan herandal dari Utara itu, sambil perdengarkan suara tertawa dinginnya, ia sudah akan buka mulutnya mendamprat orang-orang tersebut, tiba-tiba ia melihat Pek Hoa Nio Cu berbangkit, sambil bersenyum manis ia berkata,

“Boanpwee ingin turut Lo-cianpwee pergi, entah boleh atau tidak?"

Belum sempat si bayangan ular Teng Hong memberikan jawabannya, lantas ada banyak orang yang menyatakan turut pergi. Pertama-tama adalah Kim Ling Siang Koay Lim Houw dan Thian Liong yang berkata :

“Kita berdua saudara, hendak turut Lo-cianpwee, bagaimana ?"

Thio Kiu dan Co Pat yang paling gemar paras elok, tatkala mendengar Pek Hoa Nio Cu menyatakan burin Teng Hong, lantas tidak ingat rasa sakitnya lagi, buru-buru pada menyatakan turut pergi, begitu pula Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong, rupanya tidak mau ketinggalan karena sicantik itu saja.

Teng Hong yang menyaksikan keadaan yang menyemukan itu, hatinia semakin mendongkol, maka lantas berkata sambil tertawa dingin,

“Saudara-saudara benarkah ada sahabat-sahabat baik yang tidak takut mati? Ini benar-benar memberi muka terang bagi aku si orang tua yang sudah tidak ada guna ini.

Cuma saja, kepergianku malam ini hanya hendak menyerapi saja, hingga tidak memerlukan banyak orang. Aku dengan saudara- saudara yang baru dikenal malam ini, bagaimana kepandaian saudara-saudara? Aku masih belum jelas, hingga sangat tidak enak untuk menetapkan siapa sebetulnya yang harus ikut. Sekarang begini saja. Siapa yang mau ikut, setiap orang harus menyainbuti seranganku tiga jurus.

Tapi ini bukan berarti aku hendak turun tangan terhadap saudara- saudara. hanya hendak mencoba kekuatan para saudara saja, kemudian akan menetapkan pilihanku.

Cuma saja masih ada satu pengecualian, ialah kepada nona Pek ini, ia adalah orang pertama yang menyatakan hendak turut. sudah tentu aku tidak perlu mencoba padanya. Apakah saudara-saudara setuju maksudku ini?"

Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong sudah tahu keganasan si orang she Teng ini, meski dimulutnya mengatakan hendak mencoba kekuatan orang. tapi sebetulnya karena merasa mendongkol. hingga ada kemungkinan turun tangan benar-benar. Dua orang itu melihat gelagat tidak baik, lantas mundur teratur, tindakannya itu lantas disusul oleh Yan-san Jie Kui, hanya tinggal Kim Ling Siang Koay yang tetap hendak ikut. Ini disebabkan karena dua orang itu belum lama muncul didunia Kang-ouw, hingga belum pernah mendengar nama Coa Im Cu itu. Selain itu. mereka berdua merupakan sahabat karib Pek Hoa Nio Cu, sudah tentu tidak mau membiarkan Pek Hoa Nio Cu pergi berduaan bersama Teng Hong.

Ketika Teng Hong melihat Siang Koay bersedia menyambuti serangannya dan memaksa juga hendak ikut, sembari tertawa dingin, ia lantas lompat keruangan luar, dan berkata sambil tertawa getir :

“Jiewie kalau benar ingin mencoba, silahkan keluar!"

Oh Cu Kui yang menjadi kenalan lama kedua orang itu, tidak tega mereka terluka ditangan si orang tua aneh itu, maka buru-buru memberi tanda kepada Siang Koay, supaya mereka jangan sampai turun tangan. Tapi Lim Houw dan Thian Liong yang sudah ke- palang tanggung, dibawah mata orang banyak, sudah tentu tidak mau mundur begitu saja, maka pura-pura tidak lihat sikap tuan rumah itu. Dengan tindakan lebar meninggalkan ruangan tersebut.

Pek Hoa Nio Cu merupakan orang yang paling dulu mengikuti mereka keluar dari ruangan tengah, ia masih tetap dengan sikap yang berseri-seri, seolah-olah tidak ada apa-apa. Tindakannya itu segera diikuti oleh para berandal lainnya.

Sekarang beberapa puluh pasang mata telah ditujukan kepada Coa Im Cu, si bayangan ular itu, hendak menyaksikan dengan cara bagaimana menghadapi Siang Koay.

Dalam pekarangan yang luas itu Teng Hong berdiri ditengah- tengahnya ketika melihat kedatangan Siang Koay, sambil tertawa dingin iapun bertanya :

“Jie-wic hendak maju berbareng atau bergiliran?” Kim Ling Siang Koay menampak sikap Teng Hong yang sangat jumawa, seolah-olah tidak pandang mata diri mereka, seketika itu lantas timbul amarahnya, maka lantas menjawab berbareng,

“Kalau Lo-cianpwee tidak keberatan, kita berdua saudara hendak maju berbareng".

Teng Hong lalu berkata sambil tertawa, “Jie-wie awas!"

Mulutnya belum ditutup tapi badannya sudah melesat. Tangan kirinya menyambret Lim Houw sedang tangan kanannya menotok jalan darah 'Sian Kie Hiat' pada dirinya Thian Liong. Serangan-nya itu bukan saja cepat tapi juga ganas sekali.

Kim Ling Siang Koay menampak Teng Hong memajukan serangan begitu cepat laksana kilat merupakan sate cara yang belum pernah mereka saksikan, dalam hati lantas merasa kaget. Lim Houw egoskan diri untuk merighindarkan serangan, kaki kanannya diangkat menendang perut Teng Hong.

Thian Liong sebaliknya menyambuti serangan Teng Hong dengan tangan kanannya, tangan kirinya menyerang lengan lawannya.

Mereka tidak tahu bahwa Coa Im Cu yang sudah mengasingkan dirt selama dua puluh tahun itu kali ini terjun lagi kedalam kalangan Kang-ouw, ternyata lebih lihay dari pada sebelum mengasingkan diri. Tatkala menampak kedua orang itu balas menyerang berbareng maka serangannya tadi tidak diteruskan, tapi segera ia keluarkan ilmu silatnya 'Coa Heng Ciang' yang luar biasa, melejit dari bawah serangan kedua orang tersebut.

Gerakannya ini benar-benar diluar dugaan Siang Koay. Menurut kebiasaan, Teng Hong tentunya harus hindarkan atau memecahkan serangan kedua orang itu lebih dahulu, baru balas menyerang. Mereka tidak tahu bahwa keistimewaan ilmu silat si orang tua itu adalah Coa Heng Ciang Hoat dan sembilan puluh enam jurus Coa Heng Pian Hoat (ilmu serangan dengan pecut).

Kedua rupa ilmu silat itu mengutamakan serangan yang dilakukan selagi musuhnya itu lalai atau lengah, Teng Hong yang sudah melatih dua puluh tahun lamanya, sudah tentu bisa menggunakan secara mahir sekali.

Siang Koay selagi masih berkesiap, Teng Hong sudah menyerang sambil memutar tubuhnya, Lim Houw tertendang dengan kakinya lalu jatuh terpental sejauh kira-kira delapan kaki Thian Liong terkena serangan telapakan tangannya, hingga wajahnya matang biru. dengan sempojongan mundur beberapa puluh tindak, setelah menyemburkan darah segar, orangnya lantas rubuh ditanah. Coa Im Cu tertawa terbahak-bahak, sambil pimpin bangun Siang Koay ia berkata,

“Lohu tidak keburu menarik kembali seranganku, hingga melukai jie-wie. harap suka maafkan".

Sesudah ia berkata demikian dikeluarkannya dari dalam sakunya dua butir pil merah lalu menyuruh Siang Koay minum.

Oh Cu Kui lantas menyuruh orang-orangnya membimbing Siang Koay ke kamar untuk beristirahat.

Siang Koay meski dalam hati sangat mendongkol, tapi karma kepandaiannya sendiri tictak sebanding dengan lawannya, terpaksa menerima itu kekalahan.

Coa Im Cu belum sampai dua jurus sudah menyatuhkan Kim Ling Siang Koay, membuat terperanjat kawanan penjahat lain-nya, hanya Pek Hoa Nio Cu yang agak lain pikirannya, ia menyaksikan Teng Hong melukai dua kawannya, bukan saja tidak berduka, sebaliknya malah merasa girang. la pun segera mengambil suatu keputusau dalam hati hendak menggunakan kecantikannya untuk memikat hati orang tua itu, supaya mau mengajarinya ilmu silat yang lihay.

Mari sekarang kita kembali kepada si bajangan ular Teng Hong. Orang itu setelah melukai Kim Ling Siang Koay, dengan gayanya jang sangat jumawa berjalan masuk keruangan tengah lagi, kedatangannya itu sudah tentu disambut secara hangat oleh kawanan penjahat.

Oh Cu Kui kembali memerintahkan orangnya untuk menyediakan hidangan dan minuman.

Pek Hon Nio Cu benar-benar telah unjukan keahliannya memikat hati lelaki, dengan lagaknya yang bisa membuat kebat- kebit hati setiap lelaki, terus meloloh Teng Hong dengan araknya. Perjamuan makan itu berjalan kira-kira satu jam barulah bubar.

Saat itu kira-kira sudah lewat jam satu tengah malam. Tang Hong masih memakai pakaiannya yang panjang, dengan mengajak Pek Hoa Nio Cu yang berdandan ringkas, terus menuju ke kampung Siang Khee Chun.

Tong Hong sengaja unjukan kepandaiannya lari pesat, seolah- olah anak panah terlepas dari busurnya, sekejap saja sudah lari tiga empat paal jauhnya. Tapi Pek Hon Nio Cu juga tidak mau unjukan kelernahannya, ia tetap mengikuti dibelakang Teng Hong.

Sembari lari Coa Im Cu diam-diam perhatikan gerakan Pek Hoa Nio Cu ketika menampak perempuan muda itu ternyata mampu mengikutinya secara diam-diam ia merasa kagum juga kepandaiannya.

Selagi hendak percepat larinya, tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan, kemudian disusul oleh kata-kata Pek Hoa Nio Cu yang seolah-olah mengandung hesi semberani,

“Astaga, Tang Lo-cianpwee. ini benar-benar akan membikin aku mati kecapean. kita mengaso dulu sebentar, nanti jalan lagi !”

Suaranya penuh daya penarik hingga Coa Im Cu bukan saja percepat larinya, malah tanpa diminta, lantas menghampiri Pek Hoa Nio Cu.

Diwaktu malam yang cuma disinari oleh sinar bintang dilangit. samara menampak tubuh Pek Hon Nio Cu dengan pnkaion malam yang sepan ketat dan sangat menggiurkan, hingga membuat hati Tang Hong berdebaran. Pek Hoa Nio Cu sambil bersenyum dan menunjuk dengan jarinya kedada Teng Hong. berkata dengan suaranya yang sangat aleman,

“Aku tidak nyana bahwa hatimu sangat jahat. sekeluarnya eng- kau dari Ie Chiu Wan lantas engkau lari terbirit-birit, bukankah engkau sengaja membuat aku mati kelelahan.”

Teng Hong meski sudah tergoncang hatinya, tapi biar bagaimana ia ada seorang rimba hijau yang sudah kenamaan, dipikat secara demikian oleh Pek Hon Nio Cu tapi masih bisa pertahankan sambil bersenyum ia menjawab,

“Ilmu lari pesat nona Pek benar-benar sangat mengagumkan, ternyata bisa mengimbangi kepandaian lohu ……”

Belum habis kata-katanya si bayangan nine itu Pek Hon Nio Cu segera menarik tangan kanan Teng Hong lain sambil tertawa ia berkata,

“Kau cuma tahu omong saja, coba raba dadaku. hatiku berguncang keras rasanya sudah hampir melompat keluar. Kalau aku tidak memanggil kau, barangkali kau masih tidak mau berhenti, seandainya berjalan lagi sebentar, aku pasti akin rubuh pingsan!”

Ia malah sengaja 'tersengal-sengal, nada suaranya itu seolah- olah arak beracun yang membuat orang mabuk daratan.

Teng Hong sebetulnya masih hendak berusaha untuk pertahankan dirinya, tapi karena ia diperlakukan demikian rupa, runtuhlah hati-nya itu berandal besar yang ternama dipropinsi Utara, ia telah kehilangan budi pekertinya, pikirannya sudah butek, matanya sudah gelap hingga dengan tiba-tiba in pentang kedua tangannya memeluk tubuh Pek Hoa Nio Cu …… Pek Hoa Nio Cu bukan wanita sembarangan, kalau mau dikata ia benar-benar menyintai Teng Hong. ini sungguh-sungguh satu lelucon besar. Wajah itu orang tua, jangan kata kaum wanita, yang hampir rata-rata takut mendekatinya, sekalipun orang juga merasa jemu. Bagaimana ia bisa cinta padanya? Tapi Pek Hoa Nio Cu bukanlah Pek Hoa Nio Cu, kalau ia tidak bisa melakukan hal-hal yang mustahil dimata orang banyak. Oleh karena in kepingin mempelajari kepandaian ilmu silat Teng Hong, ia tidak perduli bagaimana jelek wajahnya Teng Hong, tetapi hendak menempel padanya.

Ia membiarkan dirinya dipeluk dan pipinya dicium oleh si tua bangka yang buruk itu. Sembari merem melek in menyaksikan tingkah lake orang tua yang sudah seperti kalap itu. Perbuatannya ini membuat Teng Hong semakin berkobar hawa napsunya.

Dengan sangat napsu tangan kirinya menyambar baju wanita itu. Pek Hoa Nio Cu inengerti sekarang telah tiba saatnya, dengan cepat tangan kanannya bergerak, menekan jalan darah dipergelangan tangan kiri Teng Hong, hingga membuat orang tua itu sangat terperanjat, dan urungkan maksudnya.

Pek Hoa Nio Cu menggunakan kesempatan itu lantas melesat mundur sampai sembilan kaki jauhnya, sambil menuding si orang tua lain berkata,

“Nampaknya kau adalah seorang tua baik-baik, bagaimana bisa berlaku tidak senonoh?"

Teng Hong yang sudah dibikin hilap oleh sikap wanita genit itu secepat kilat ia mengejar, sambil mengawasi dan tertawa meringis ia berkata, “Kau budak benar-benar sangat menawan hati, aku Teng Hong harus menyerah didepanmu, asal kau mau terima permintaanku, aku Teng Hong tidak nanti mengecewakan kau. Bagaimana?"

Pek Hoa Nio Cu mundur setindak lalu ia menjawab sambil tertawa,

“Aku tidak percaya ucapanmu, bagaimana kalau seandainya kau menipuku? Kepandaianmu lebih tinggi daripadaku, sudah tentu aku tidak mampu melawan kau, kalau kau benar-benar menyintai aku, lebih dulu kau harus ajarkan aku ilmu silat yang kau pakai untuk merubuhkan Kim Ling Siang Koay, dan selanjutnya aku akan ikuti kau kemana saja kau pergi, supaya kau puas betul-betul!”

Ucapannya ia ini sangat berani, tapi juga lihay, hingga membuat Teng Hong kemekmek, tapi dalam hati diam-diam berpikir kiranya ia hendak belajar ilmu silatku!

Baru saja Teng Hong berpikir demikian. Pek Hoa Nio Cu sudah mendesak dengan kata-katanya,

“Bagaimana? Aku tahu engkau tak bisa menyintai aku dengan sungguh-sungguh, sekarang kau merasa sulit, betul tidak?”

Didesak secara demikian, mana Teng Hong masih mempunyai kesempatan untuk berpikir lagi? Sikap si nona manis yang berada di depan matanya ini sudah cukup menggoncangkan jantung hatinya maka tanpa pikir lantas menjawab :

“Ilmu silatku Coa Heng Ciang Hoat dan ilmu pecutku yang terdiri dari sembilan puluh enam jurus ini, meski aku tidak berani mengatakan ada ilmu silat yang menjagoi di dunia rimba persilatan dan tidak ada tandingannya dikolong tapi orang yang mampu menyambuti seranganku sampai sepuluh jurus, tidak banyak jumlahnya. Tentang ucapanmu, kalau benar-benar kau bisa membuktikan, tidak nanti aku akan sayangi kepandaianku, sudah pasti aku akan turunkan padamu!”

“Sekarang waktunya masih pagi untuk pergi ke Siang Khee Chun, kau boleh ajarkan dulu beberapa jurus ilmu silat Coa Heng Ciang Hoot-mu. Bila kita telah kembali dari Siang Khee Chun, lalu

……..”

Perkataan selanjutnya ia tidak mampu keluarkan dari mulutnya lagi sebab ia telah tempelkan kepalanya diwajahnya Teng Hong.

Pek Hoa Nio Cu benar-benar lihay, hanya beberapa patah perkataan saja sudah bisa bikin tunduk dan jatuh benar-benar satu jago yang sudah kenamaan dipropinsi Utara, dan benar saja sudah mau menurunkan kepandaian ilmu silat Coa Heng Ciang Hoat ke- padanya. Dalam waktu setengah jam, Teng Hong sudah menurunkan sepuluh jurus kepandaian ilmu tersebut, yang sudah diingat betul-betul oleh Pek Hoa Nio Cu.

Saat itu sudah hampir jam tiga pagi, Coa Im Cu masih ingot tugasnya akan menyerapi Siang Khee Chun, maka lantas hentikan pelajarannya, dengan tertawa ia berkata :

“Kau sangat pintar serta suka belajar, tidak usah setengah bulan, kau sudah akan dapat pelajari seluruhnya itu sembilan puluh enam jurus Coa Heng Ciang Hoat dan Coa Heng Pian Hoat, asal kau rajin mempelajari, tiga bulan kemudian kau sudah bisa gunakan untuk merubuhkan musuhmu. Sekarang sudah hampir pagi, kita masih perlu ke Siang Khee Chun, besok aku ajari lagi".

Pek Hoa Nio Cu juga mengerti tidak boleh terlalu keburu napsu, maka lantas menjawab sambil tertawa,

“Benar-benar kita sudah waktunya harus pergi, sudah lama aku mendengar nama Kong-tong Lie-hiap, malam ini kebetulan mendapat kesempatan untuk menyaksikan wajahnya, bagaimana sebetulnya sih?”

“Mungkin tidak akan lebih cantik daripada kau", kata Teng Flung sambil tertawa.

“Nama Kong-tong Lie-hiap terkenal di daerah Kang-lam, parasnya cantik, tinggi pula kepandaian ilmu silatnya, bagaimana kau boleh bandingkan aku dengan dia? Cuma saja kau jangan sampai melihat yang baru lantas melupakan yang lama, kalian orang laki-laki sukar dipercaya", kata Pek Hoa Nio Cu sambil bersenyum.

“Malam ini kalau benar aku bertemu dengan itu budak hina yang menyebutkan dirinya Kong-tong Lie-hiap, aku akan membinasakannya lebih lulu", kata Teng Hong sambil tertawa bergelak-gelak.

Dua orang itu sebentar saja sudah tiba diluar desa Siang Khee Chun. Teng Hong pernah mendengar dari Oh Cu Kui, bahwa gedung Chie Ciatsu terletak diujung sebelah Timur, maka lantas berkata dengan suara perlahan.

“Ito sebuah gedung besar disebelah Timur, mungkin kepunyaan keluarga Chie, marl kita masuk kesana dengan berpencaran dari kiri dan kanan !”

Belum berhenti ucapannya itu tiba-tiba kedengaran dari atas pohon yang tidak jauh dari belakang mereka suara orang berkata sambil tertawa dingin :

“Kalian kawanan manusia yang tidak tahu malu, beberapa kali datang beberapa kali terpukul mundur tapi toch masih terus membandal, aku sudah katakan, tunggu saja sampai toako-mu datang, kilo nanti mencari tempat yang baik untuk mengadu kekuatan ; bagaimana kalian masih bersembunyian seperti lakunya pencuri? Apa kalian masih mimpi bisa melakukan serangan menggelap?”

Bukan main gusar Teng Hong, tapi penjahat besar yang namanya sangat terkenal di daerah Utara pada dua puluh tahun berselang itu biar bagaimana masih pertahankan nama dan kedudukannya. Ia me-rasa tidak enak turun tangan keji dengan tiba- tiba atau menggunakan senjata rahasia menyerang secara menggelap, hanya menjawab dengan suara dingin :

“Kau siapa? Sungguh terkebur ucapanmu, kau berani mencampuri urusan ini, tentunya ada sahabat yang mempunyai kedudukan dan nama baik. silahkan keluar aku Teng Hong ingin coba dulu kepandaianmu. Sahabat. kalau kau mampu menyambuti seranganku sampai sepuluh jurus, aku Coa Im Cu akan takluk dibawah kakimu!”

Orang diatas pohon itu menjawab sambil tertawa terbahak- bahak; “Aku kira siapa, ternyata ada kau si iblis tua. Tidak salah, pada dua puluh tahun berselang kau memang mendapat sedikit nama di daerah Utara. aku juga sudah pernah mendengar orang mengatakan demikian, cuma saja disini bukan sarangmu yang bisa digunakan untuk kau berbuat sesukamu. Kau jangan membikin putus jalanmu sendiri dulu, mari kita main-main dulu beberapa jurus, belum tentu siapa yang akan rubuh lebih dulu".

Berbareng dengan itu telah melayang duo orang dari atas pohon, yang berdiri disebelah kiri usianya kira-kira tiga puluh lima tahun, berdandan pakaian malam yang sangat ringkas, diatas bibirnya ada tumbuh sedikit kumis pendek. wajahnya bulat, sepintas lain seperti wajahnya tuan tanah didesa. Cuma ketika Tang Hong menampak senjata 'Siang Hong Seng Ste Pit' yang bentuknya aneh, sudah lantas ia ketahui bahwa orang didepannya itu bukan orang sembarangan. Orang yang disebelah kanan juga berdandan pakaian malam serba hitam, wajahnya putih bersih, alisnya keren, badannya tegap, senjatanya yang menggemblok digegernya juga ada senjata Poan Koan Pit yang chusus untuk menotok jalan darah.

Dengan munculnya kedua orang laki-laki itu, sepasang mata Pak Hen Nio Tat yang menatap, tidak berulih kearah lain. Ia yang sifatnya centil, menampak laki-laki tampan didepan matanya, sudah lantas main mata dan obral senyumannya. Tapi laki-laki itu orang- orang tolol yang tidak kenal paras cantik, hanya melihat sekilas, lantas tidak perdulikan padanya lagi.

Teng Hong setelah mengamat-amati kedua laki-laki itu, lantas berkata sambil tertawa mengejek.

“Maafkan lohu yang sudah lamer. Aku lihat senjata jie-wic yang ada dibelakang geger kalian berdua, semuanya merupakan senjata untuk menotok jalan darah, sudah tentu kamu ini adalah ahli menotok. Mohon tanya siapa gurumu dan dari golongan mana, untuk menghindarkan agar aku si orang she Teng tidak kesalahan melukai sahabat sendiri.”

“Kau tak usah ragu-ragu, kalau kau mempunyi kepandaian kau boleh keluarkan semuanya, kau tidak akan berdosa terhadap kawan. Jangan kata kami berdua tidak berpartai, juga tidak ada hubungannya dengan kau. Kalau kau menanyakan nama kami tidaklah kami berkeberatan. Aku bernama Cin Tiong Liong dan dia bernama Ong Bun Ping. Kau lihat diantara kau siapa yang kau anggap gampang dirubuhkan, bolehlah kau pilih saja menurut kesukaanmu sebab kami akan mengikuti kehendakmu'', kata seorang diantara itu yang ternyata ada Cin Tiong Liong.

Ucapan Cin Tiong Liong ini. benar-benar membuat meledak amarahnya Teng Hong, dengan suara bengis ia membentak. “Dua anak kemaren sore, ternyata berani berlaku jumawa demikian rupa! Coba sambuti dulu seranganku ini!”

Ucapannya dibarengi dengan serangan telapakan tangan. Cin Tiong Liong berkelit, mundur tujuh kaki, lalu berkata sambil tertawa.

“Perlu apa kau tergesa-gesa? jangan kata cuma satu jurus, malam ini aku hendak belajar kenal dengan kepandaianmu yang kau agulkan itu. Cuma saja disini terlalu dekat dengan kampung, kalau mau bertempur benar-benar, mari kita mencari tempat diluar kampung, kita boleh bertempur sepuasnya, bagaimana?”

Teng Hong menahan amarahnya, dengan suara dingin ia berkata :

“Bagus, malam ini kalau belum mendapat keputusan kita tidak boleh berhenti di jalan!”

Begitu sehabis berkata, ia lantas kerahkan ilmu lari pesatnya lalu dengan cepat ia berlari keluar kampung.

Cin Tiong Liong. Ong Bun Ping dan Pek Hoa Nio Cu bertiga lantas menyusul, ke empat orang itu semuanya merupakan orang- orang golongan kelas satu, maka sebentar saja sudah melalui lima paal, disatu tempat dataran yang leas Coa Im Cu lantas hentikan gerakannya, sambil menoleh ia membentak.

Cin Tiong Liong menampak tempat itu ada sepi dan luas, lantas menjawab sambil tertawa terbahak-bahak :

“Diwaktu malam yang amat sunyi begini angin dingin menghembus seolah-olah glinting menembus kulit, kita mengadu kekuatan disini, sebagai usaha untuk melenyapkan hawa dingin!”

Kata-kata yang diucapkan seenaknya saja. membikin Coa Im Cu Semakin murka, lalu membentak. “Bocah bermulut tajam, mari sambuti seranganku!”

Dengan cepat melakukan serangannya dengan menggunakan tipu silat 'Thay San Ap Ting'. Cin Tiong Liong mendongak untuk elakan serangan tersebut, kemudian berkata sambil tertawa :

“Perlu apa kau tergesa-gesa? Malam ini toch kita tidak akan berhenti sebelum mendapat keputusan; Hanya aku masih ada sedikit perkataan, malam ini jika aku jatuh dibawah tanganmu, bukan saja aku akan cuci tangan tidak mau lagi mencampuri urusan keluarga Chie, tapi si orang she Cin juga bersedia menerima hukuman apa yang kau ingin jatuhkan. Dan bagaimana kalau kau yang kalah? Kau sebutkan dulu janjimu, lalu kita mulai bertempur, dengan tangan kosong atau dengan senjata, juga silahkan kau yang memilih, sekarang aku menunggu ja-wabanmu sudah itu kita boleh mulai".

Sehabis berkata Cin Tiong Liong berdiri tegak sambil mengawasi Teng Hong, dengan tenang menantikan jawabannya. Ilmu silat Coa Heng Ciang Hoat dan Coa Heng Pian Host Teng Hong, telah dilatih dua puluh tahun selama mengasingkan diri. Ia ingin menggunakan kedua rupa ilmu silatnya yang istimewa itu untuk mengangkat namanya lagi dikalangan Kang-ouw, kali ini untuk memenuhi undangan sahabat karibnya Tong Cin Wie, Thay Sie Sian-su, menuju ke Selatan untuk membantu Tong Cin Wie, ia sendiri juga kepingin menggunakan kesempatan itu untuk membuat nama di daerah Kang-lam, tapi kini setelah mendengar perkataan dan tantangan Cin Tiong Liong yang seolah-olah sudah mempunyai pegangan untuk menangkan padanya, Si bayangan ular yang sudah terkenal namanya itu untuk seketika lamanya tetap berdiri terpaku mengawasi Cin Tiong Liong.

Cin Tiong Liong yang menjadi muridnya tidak langsung 'dari Kang It Peng, sebagian besar kepandaian ihnu silatnya terdapat dari pelajaran si jago tua kenamaan itu. Sejak beberapa tahun lamanya ia mengikuti Kang It Peng berkelana didunia Kang-ouw, hingga mempunyai pengalaman sangat luas. Tapi nama Cin Tiong Liong terkenal di daerah Tionggoan, juga baru pada  tahun kemarin ini saja, oleh karena Coa Im Cu sudah lama mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw, sebaliknya Cin Tiong Liong yang sudah lama mendengar nama orang tua itu, maka begitu mendengar disebut nama Coa Im Cu Teng Hong, ia lantas kenali padanya, dan Coa Im Cu belum pernah dengar nama Cin Tiong Liong!

Melihat usianya belum mencapai empat puluh tahun, bagaimana berani mengeluarkan ucapan yang begitu terkebur? Maka amarahnya lantas berkobar, setelah tertawa terbahak-bahak lantas membentak

“Aku orang she Teng sudah menjelajah diseluruh Kang-lam dan Kang-pak, belum pernah bertemu dengan orang yang begini sombong seperti kau ini, lohu malam ini kalau sampai jatuh di tanganmu, selanjutnya akan cuci tangan, tidak nanti berani muncul lagi dikalangan Kang-ouw!”

“Bagus! Baik kita atur begitu saja, tapi aku harap kau tidak akan pungkir janjimu sendiri!” kata Cin Tiong Liong sambil tertawa.

Mendengar ucapan itu, Teng Hong lantas menggeram hebat, dan menyerang dengan ilmu silat Coa Heng Ciang Hoatnya.

Cin Tiong Liong tersenyum, sambil miringkan tubuhnya untuk mengelakan serangan Teng Hong, kedua tangannya memukul balik keatas, dengan demikian telah mengelakkan dua serangan Teng Hong yang berbahaya.

Teng Hong menyaksikan cara Cin Tiong Liong menangkis serangannya yang begitu gesit dan bagus sekali, dan dengan mudah memusnahkan serangannya, lantas mengerti telah menemui lawan keras. Ia menoleh dan menampak Pek Hoa Nio Cu berdiri di tempat kira-kira satu tumbak jauhnya, sedang menyaksikan dengan penuh perhatian, hingga membuat Teng Hong panas mukanya. Buru-buru mengerahkan seluruh kekuatannya, melancarkan sembilan puluh enam jurus ilmu silatnya Coa Heng Ciang Hoat.

Ilmu silat itu benar-benar lihay. Serangan Teng Hong sejurus demi sejurus dilancarkan dan nampaknya semakin lama semakin gencar dan semakin hebat tekanannya, sambaran anginnya saja telah° mencapai jarak satu tumbak lebih.

Cin Tiong Liong diserang dengan cepat secara demikian, hampir saja keripuhan, hingga dalam hatinya berpikir Coa Im Cu benar-benar bukan nama kosong, nampaknya malam ini kalau tidak keluarkan seluruh kepandaianku untuk melayani padanya, mungkin benar-benar akan terluka ditangannya.

Dengan segera ia percepat serangannya, juga lantas Mengeluarkan ilmu silat Pat Kwa Liong Houw Ciang Hoatnya yang membuat ia mendapat nama baik dikalangan Kang-ouw, dengan demikian, hingga pertempuran itu merupakan pertempuran cepat lawan cepat.

Dua orang itu setelah bergebrak sepuluh jurus lebih, masing- masing telah mengerti bahwa kekuatan kedua fihak ada berimbang, untuk sementara belum bisa dipastikan siapa yang akan merebut kemenangan, dan rasanya masih memerlui tempo yang panjang serta kekuatan tenaga dalamnya.

Kedua-duanya sama-sama ahli dalam pertempuran tangan kosong, hingga pertempuran itu benar-benar merupakan suatu pertempuran yang hebat karena cepatnya, hanya kelihatan dua bayangan hitam yang _berkelebatan diwaktu malam yang gelap itu. Pek Hoa Nio Cu dan Ong Bun Ping yang menonton disamping, masing-masing pada merasa kuatir sebab keduanya sudah bertempur hampir tiga ratus jurus tapi masih belum tampak siapa yang lebih unggul.

Teng Hong sudah mulai gelisah, dengan tiba-tiba ia berlaku nekat melancarkan serangannya yang berbahaya, tangan kiri rnenggunakan tipu pukulan 'Thian San 'Yan Lok' sedang tangan kanannya meng-gunakan tipu pukulan 'Toa Coan Im Yang', sambil menggeram hebat. Ia melancarkan serangannya berhareng, laksana gunung guntur dan ombak menyapu, diberikuti dengan angin kekuatan tenaga dalamnya yang hebat kearah lawannya.

Cin Tiong Liong karena lantaran tidak keburu mengelakan serangan tersebut, hingga ia cuma bisa mengerahkan tenaga dalamnya. kedua telapakan tangannya mendorong keatas dan tatkala dua pasang tangan itu berbenturan, kedengaranlah bunyi hebat.

Dalam hal mengadu kekuatan ini tidak mengandalkan kecerdikan, hanya mengandalkan dalam ceteknya tenaga dalam mereka masing-masing.

Cin Tiong Liong tidak dapat menguasai dirinya sendiri, telah mundur heberapa tindak, ia merasakan tergoncang hatinya dan semangatnya, pcluh mengucur didahinya.

Coa Im Cu Teng Hong mental sampai badannya terbang melayang dan jatuh ditempat sejauh kira-kira enam kaki, ia merasakan gelap matanya, kepalanya puyeng, napasnya sesak, darahnya bergolak hebat, meski kedua-duanya terluka hebat dalam tubuhnya. tapi siapapun tidak ada yang mau mengaku kalah, satu sama lain masih mengharap di detik-detik terakhir ini bisa pertahankan kekuatan-nya untuk memukul rubuh lawannya. Cin Tiong Liong setelah berdiam sejenak untuk menenangkan pikirannya, segera menerjang lawannya lagi, jari tangan kanannya dengan menggunakan tipu serangan 'Yu Liong Than Cauw' menotok jalan darah 'Tan Thian Hiat' pada anggotaadan lawannya.

Teng Hong tidak menduga Cin Tiong Liong masih mampu melancarkan serangannya demikian cepat dan gesit. hingga terkesiap. Tepat pada saat itu, serangannya Cin Tiong Liong sudah sampai depan dadanya. Teng Hong dalam keripuhannya sudah tidak keburo mengelakan serangan tersebut, terpaksa tangan kanannya batik menyerang jalan darah 'Thay Yang Hiat' Cin Tiong Liong, su- paja hancur bersama-sama.

Cin Tiong Liong menampak Teng Hong berlaku nekat, terpaksa maju setindak kekiri, untuk menyelamatkan dirinya lebih dulu. Cuma oleh karena gerakannya ini, sehingga serangannya agak miring, hingga cuma mengenakan pundak kiri Teng Hong. Sekalipun demikian, Teng Hong masih merasa kesetnutan pundaknya, hiugga musnah tenaganya. Dengan demikian maka Teng Hong sudah terhitung kalah, tapi itu kepala begal yang kejahatannya sudah terkenal itu masih tidak mau mengaku kalah, sambil berjungkir balik mundur satu tumbak lebih. sambil kertek gigi ia berkata.

“Orang she Cin, dengan perbuatanmu menyerang orang selagi tidak siap sedia, apa itu ada perbuatannya satu enghiong? Didalam waktu setengah bulan ini Teng Toa-ya akan melakukan pertandingan sampai ada salah satu yang menggelatak ditanah dengan kau!”

Sehabis berkata lantas menarik tangannya Pek Hoa Nio Cu, dengan cepat meninggalkan itu kampung. Ong Bun Ping menyaksikan Teng Hong sudah terluka ditangan Cin Tiong Liong tapi masih tidak man mengaku kalah, lantas gusar, dengan suara bengis ia berseru “Manusia yang tidak boleh dipercaya, kau masih hendak mabur Ia lantas mengejar sambil menghunus senjata 'Poan Koan Pie-nya, tapi perbuatannya itu segera dicegah oleh Cin Tiong Liong.

Ong Bun Ping menampak wajahnya Cin Tiong Liong pucat pasi, berdiri sempojongan. kagetnya bukan main, maka lantas tinggalkan musuhnya. buru menghampiri Cin Tiong Liong sambil membimbing lain menanya :

“Berat lukamu?"

Cin Tiong Liong mengangguk, tapi tidak menjawab, hanya dari dalam sakunya mengeluarkan dua butir pil merah, lantas ditelan dan duduk untuk beristirahat.

Ong Bun Ping berdiri disampingnya, mengawasi dengan hati gelisah. Kira-kira satu jam. disebelah Timur sudah kelihatan sinar terang, Cin Tiong Liong buru-buru berbangkit serta berkata :

Iblis tua itu benar-benar lihay!"

Ong Bun Ping melihat wajah Cin Tiong Liong sudah kelihatan segar, baru merasa berlega hati, lalu bertanya :

“Cin Siok-siok, apa tidak halangan?"

Cin Tiong Liong yang sudah pulih tenaganya, sikapnya juga pulih seperti biasanya sambil tertawa iapun menjawab :

“Tidak apa-apa, mungkin dia terluka lebih parah. Cuma selanjut-nya kau harus hati-hati terhadapnya aku lihat itu wanita genit yang datang bersama-sama iblis tua itu ketika mengawasi kau sepasang matanya terus memandang tidak berkedip, agaknya mengandung arti, selanjutnya kalau ia bertemu kau sendirian janganlah mau gampang-gampang lepaskan begitu saja". Ong Bun Ping tidak nyana Cin Tiong Liong yang baru baik dari lukanya, lantas membicarakan urusan wanita itu, seketika itu lantas merah wajahnya, sambil gelengkan kepala ia menjawab,

“Cin Siok-siok, bagaimana kau bisa memikirkan sampai disitu?"

Cin Tiong Liong tertawa bergelak-gelak, kemudian menjawab: “Tentang pertempuran mati-matian yang barusan kulakukan

dengan Coa Im Cu, sekali-kali jangan kau sampaikan kepada Sian Cian".

“Tentang ini kau boleh tidak usah kuatir, adat Kang-Sumoy bukannya aku tidak tahu, ia benar-benar seperti seekor kuda binal

….!”

Bicara sampai disitu tiba-tiba berhenti, wajahnya yang tampan segera diliputi oleh perasaan murung.

Cin Tiong Liong diam-diam mengelah napas, ia mengerti bahwa anak muda ini sangat menyintai Sian Cian, namun cintanya itu nampaknya tidak dibalas sebagaimana mustinya oleh sinona yang sifatnya binal nakal, namun hatinya putih bersih.

Ong Bun Ping kalau bertemu dengan sumoynya sering dibikin tidak berdaya oleh karena mengerti kepandaiannya sendiri tidak sebanding dengan sumoynya, sudah tentu tidak berani menyatakan isi hatinya. Oleh karena itu ia cuma simpan perasaannya didalam hati. Cin Tiong Liong kelihatan bodoh diluar padahal ia cerdik luar biasa, ia berkumpul dengan Ong Bun Ping baru setengah bulan, sudah lantas mengetahui rahasia hati Ong Bun Ping, karena ia tahu bahwa Kang It Peng bermaksud hendak jo-dokan Sian Cian kepada Chie Sie Kiat, maka sering membicarakan tentang kebinalan Kong Sian Cian. Maksudnya supaya Ong Bun Ping perlahan-lahan jauhkan dirinya dari si nona. Cin Tiong Liong kuatir Ong Bun Ping tidak dengan disengaja nanti memberi tahukan tentang peristiwa dan lukanya dalam pertempuran dengan Teng Hong kepada Sian Cian, karena orang- orang terpenting dari fihak lawan masih belum tiba semuanya.

Setelah pengalaman malam itu, kedua fihak diam-diam merasa kaget. Cin Tiong Liong sejak berkelana di dunia Kang-ouw, sepuluh tahun lebih tidak menemui yang berarti, siapa nyana pertempurannya dengan Coa Im Cu tadi, hampir-hampir mengalami kekalahan. Ia baru ketahui bahwa kawanan penjahat dari Utara, kali ini datang ke Selatan, ternyata terdapat banyak orang-orang berkepandaian tinggi.

Sementara itu, Teng Hong yang kabur bersama Pek Hoa Nio Cu, tatkala mengetahui musuhnya tidak mengejar lagi barulah menghentikan kakinya lalu berjalan dengan pelahan-lahan. Baru saja berjalan beberapa pultih tindak, tiba-tiba Teng Hong rubuh, matanya tertutup rapat, wajahnya beringisan, pundaknya gemetar, agaknya sedang menahan penderitaan yang sangat hebat.

Saat itu timbul dalam hati Pek Hoa Nio Cu pertentangan hebat, ia menampak wajahnya Teng Hong yang cuma tiga bagian saja mirip dengan manusia, rasanya sangat menyemukan, tapi berilmu silat Coa Heng Ciang Hoat, yang bukan sembarangan. Berpikir sampai disitu, iapun berjongkok disisi Teng Hong sembari bertanya.

“Lo Cian-pwee, apa lukamu parah?"

Ia bertanya sembari mengurut-urut dada Teng Hong dengan tangannya yang putih halus. Teng Hong membuka matanya, menampak Pek Hoa Nio Cu berjongkok disisinya dan tangannya mengurut-urut dadanya, semangatnya lantas bangun lagi. Dipaksanya menahan rasa sakitnya, sambil tertawa getir ia menjawab : “Tidak apa, meskipun lukaku tidak ringan, tapi aku masih mampu mengobati sendiri, hanya dalam tempo tiga jam ini, aku tidak bisa bergerak barang setindak, sekarang terpaksa aku minta kau menunggui aku selama tiga jam dan selama aku berobat ini, tidak perduli akan terjadi apa pun kiranya janganlah kau mengganggu aku".

Pek Hoa Nio Cu mengangguk, Teng Hong menelan dua butir pil merah, ia paksakan diri untuk duduk bersila, lantas menutup kedua matanya.

Dua jam kemudian, cuaca sudah mulai terang, beruntung ke- adaan disekitar tempat itu sunyi sekali, hingga tidak ada orang lalu disitu. Ketika Pek Hoa Nio Cu melihat keadaan Teng Hong yang dari atas kepalauja ada mengepul asap, maka diketahuinya bahwa luka dalamnya sudah mulai sembuh, buru-buru ia menghunus pedangnya, berlagak melakukan penjagaan sambil celingukan mengawasi keadaannya sekitar tempat itu.

Teng Hong diam-diam membuka matanya dan ketika tampak olehnya sikap Pek Hoa Nio Cu itu, hatinya merasa girang, kemudian pejamkan lagi matanya, untuk melanjutkan usahanya menyembuhkan lukanya. Sebentar kemudian lantas membuka matanya dan berkata sambil tertawa.

“Nona Pek, aku membuat kau capek saja, mari kita sekarang kembali ke Ie Chiu Wan''.

Pek Hoa Nio Cu pura-pura kaget, sambil menoleh ia pun bertanya :

“Lukamu sudah sembuh ? Kau benar-benar membikin orang kuatir seja"

Teng Hong merasa girang, sambil menepok pundaknya iapun berkata : “Sebagian besar sudah sembuh betul, dua kali lagi melakukan semedhi akan sembuh seluruhnya. Kali ini beruntung ada kau, hingga menjaga aku dengan hati-hati, aku Teng Hong selama hidupku tidak akan melupakan kebaikanmu".

Pek Hoa Nio Cu sambil tertawa manis menjawab :

“Bagaimana kau bisa berkata begitu? Untuk selanjutnya dalam segala hal aku masih hendak mengandalkan kepada kau, urusan begini kecil kau terlalu merendahkan diri begitu rupa.”

Jawaban ini menambahkan kegirangan hati Teng Hong di- waktu mereka melanjutkan perjalanan itu. Tidak lama kemudian tibalah mereka di Ie Chiu Wan.

Para penjahat agaknya sangat perhatikan tentang keselamatan mereka berdua, maka tatkala menampak mereka kembali, semua lan-tas datang menyambut. terutama Oh Cu Kui yang lantas bertanya :

“Tang Lo Cian-pwee, mengapa pergi begitu lama? Apakah telah bertempur dengan Kong-tong Lie-hiap Budak hina itu benar- benar lihay, cuma aku duga, ia tentunya tidak nanti mampu menandingi kau.”

Teng Hong tidak menyawab, dengan tergesa-gesa masuk ke ruangan. sikapnya ini membuat Oh Cu Kui sangat heran. Ia mencoba meminta keterangan kepada Pek Hoa Nio Cu, tapi yang ditanya hanya bersenyum sambil gelengkan kepalanya, ia tidak menjawab tapi terus mengikuti Teng Hong masuk kedalam.

Para penjahat yang menyaksikan sikap Teng Hong segera mengerti si bayangan ular itu tentunya mengalami kekalahan. Tang Hong setelah kembali kegedung lantas keram dirinya di-dalam kamar. untuk merawat diri, kecuali Pek Hoa Nio Cu dan dua bujang wanita yang mengurus makan dan pakaiannya,. selama tujuh hari, belum pernah menemui siapa juga.

Pek Hoa Nio Cu dengan telaten menjaga Teng Hong, tapi diluar tahu Teng Hong. ia masih suka bersenda-gurau dengan para penjahat yang lain. Semua penjahat ia perlakukan sama manisnya, sikap dan kelakuannya ini telah membikin goncang setiap hati para penjahat. Kecuali Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong, mereka pada saling bersaing untuk mendapatkan hati wanita genit itu.

Selama beberapa hari itu, luka Thian Liong dan Lim Houw juga mulai sembuh dan ketika menyaksikan sikap Pek Hoa Nio Cu yang seolah-olah hendak permainkan hati setiap aki-laki maka timbullah rasa kurang senang. Dua saudara angkat itu diam-diam lantas berunding, lalu mengambil keputusan hendak minta Pek Hoa Nio Cu membuka kartu.

Pada suatu malam, mereka berdua masuk dikamar Pek Hoa Nio

Cu.

Pek Hoa Nio Cu yang sedang duduk berhias, sudah mengerti

maksud kedatangan kedua saudara angkat itu. Pek Hoa Nio Cu benar-benar luar biasa, ia masih tetap tenang. dengan perlahan ia bangkit, sambil mengawasi kedua saudara itu lalu bertanya

“Apakah luka kalian berdua sudah sembuh? Dalam beberapa hari ini aku sangat repot, hingga tidak mempunyai kesempatan menengok kalian, sebetulnya aku merasa tidak enak terhadap kalian.”

Thian Liong dan Lim Houw merasakan seolah-olah diguyur dengan air dingin, meski mereka tahu bahwa wanita ini genit pandai menanam tebu dibibir, tapi tidak nyana kalau bisa lantas berobah dingin demikian rupa. namun begitu mereka tidak bisa berbuat apa- apa. Setelah membisu sekian lamanya, Thian Liong baru bisa menyahut.

“Nona Pek, terima kasih atas perhatian nona terhadap kita berdua saudara, sudah tentu kita merasa sangat beruntung, cuma kita anggap bahwa tempat ini bukan tempat untuk kita tinggal selamanya. Sebaiknya kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan mencari tempat yang lebih tenang dan indah pemandangan alamnya supaya kita tinggal disana untuk selama-lamanya ……!”

Belum habis ucapan Titian Liong itu, Pek Hoa Nio Cu sudah tertawa cekikikan dan memotong pembicaraannya :

“Apa? Kalian ingin pergi? Itu terserah pada kalian sendiri, aku tidak bermaksud hendak menahan kalian disini untuk mengawani aku. lagipula aku toch tidak menikah dengan kalian, kita cuma ketemu dijalanan. kalau kalian bermaksud tinggal bersama-sama aku untuk selama-lamanya. mulai saat ini, lekas kalian buang jauh- jauh maksud yang demikian itu, karena hal itu sama sekali tidak mungkin. Sekarang hari sudah malam, aku sudah terlalu lelah, tidak ada waktu untuk mengobrol dengan kalian. Kalau besuk pagi mau berangkat, aku tidak bisa turut mengantar, maafkan saja.”

Sehabis diucapkan perkataannya yang ketus itu iapun memutar tubuhnya menuju kepembaringan.

Kim Ling Siang Koay itu meski merupakan penjahat besar yang tidak kenal kasihan, juga merasakan sikap wanita itu sangat terlalu dinginnya, beberapa hari berselang, mereka masih rukun manis, tapi kini telah berbalik demikian dinginnya. Thian Liong dan Lim Houw seketika itu lantas tercenggang, seperti jago yang kena jalu lawannya, mereka berdiri lesu sambil mengawasi tingkah laku wanita genit itu. Pek Hoa Nio Cu duduk dipinggir pembaringan, sambil mengawasi Kim Ling Siang Koay lalu berkata.

“Apa perlunya kalian berdiri bingung disitu? bukankah lebih baik lekas pergi tidur! Bukankah besok kalian hendak berangkat pagi-pagi?”

Lim Houw sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi, sambil tertawa dingin ia berkata.

“Nona Pek, satu orang tidak boleh berbuat keterlaluan, sedikitnya toch harus memikirkan keadaan lain orang, tidak perduli bagaimana, nona Pek toch ada datang bersama-sama kita ke Ie Chiu Wan ini, sedikit banyak toch harus memberi sedikit muka kepada kita, selama beberapa hari ini, perbuatanmu sebetulnya sangat keterlaluan ”

Belum habis ucapannya Lim Houw, Pek Hoa Nio Cu sudah tertawa geli, wajahnya juga lantas berobah, sambil menuding ia berkata dengan suara gusar.

“Orang she Lim, hati-hati sedikit kalau bicara, Pek Hiang Lui sedikitpun tidak pandang mata kepada kalian Kim Ling Siang Koay”.

Dengan cepat ia berbangkit dan mengambil pedang yang digantung diatas tembok. Kim Ling Siang Koay yang menyaksikan sikap Pek Hoa Nio Cu ini, juga lantas naik darah. Thian Liong sambil berkata sambil menuding :

“Perempuan jalang, kalau ingin turun tangan mari kita keluar dari sini, malam ini kita harus mendapat kepastian".

Sehabis berkata, bersama-sama Lim Houw lantas keluar dari kamar, Pek Hoa Nio Cu mengikuti dibelakangnya sambil tertawa dingin. Sebentar saja, mereka bertiga sudah tiba ditanah tegalan. Kim Ling Siang Koay hentikan tindakannya, matanya memandang Pek Hoa Nio Cu, agaknya masih ingin menasehati padanya, tapi Pek Hoa Nio Cu sudah mendahului berkata.

“Kalau kalian benar-benar hendak bertempur, keluarkan senjata kalian dan majulah berbareng !"

Dengan cepat ia lantas menyerang dengan pedang kearah Thins Liong.

Thian Liong menampak Pek Hoa Nio Cu menyerang secara mendadak, bukan kepalang gusamya, setelah mengelakan serangannya, lantas menghunus senjata musing-masing lalu balas menyerang dengan kedua tangannya.

Pek Hoa Nio Cu tertawa, pedangnya dipakai untuk menyambuti serangan Thian Liong, kemudian tangannya menekan, ujung pedang mengarah dada.

Thian Liong didesak demikian rupa, terpaksa lompat mundur, Pek Hoa Nio Cu berkata sambil menarik serangannya.

“Orang she Thian, dengan sendirian kau bukan tandinganku, sebaiknya kalian maju berduaan!"

Kata-katanya itu dibarengi dengan serangan membabat pinggang. Thian Liong menangkis dengan senjatanya, senjata ditangan kirinya menyerang dengan tipu silat 'Thay San Ap Ting'.

Pek Hoa Nio Cu tertawa dingin, ia berkelit untuk menghindarkan serangan Thian Liong, lalu melancarkan serangannya yang sangat hebat.

Jangan kira Pek Hoa Nio Cu ada satu wanita centil genit, tapi ilmu silatnya tinggi sekali, maka sepuluh jurus kemudian, Thian Liong sudah terdesak berulang-ulang hingga keripuhan benar-benar.

Saat itu Lim Houw yang menonton dipinggiran merasakan gelagat kurang baik, jika membiarkan Thian Liong berkelahi sendirian, mungkin tidak bisa bertahan sampai sepuluh jurus lagi akan binasa ditangan Pek Hoa Nio Cu. Maka iapun menghunus senjata pecutnya yang lemas, setelah menyingkirkan serangan pedang Pek Hoa Nio Cu, membentaklah ia.

“Kau perempuan cabul benar-benar melebihi ular beracun jahatnya, kalau dibiarkan kau hidup didunia, entah berapa banyak orang lelaki nanti yang akan binasa ditanganmu. Malam ini Lim toa-ya-mu hendak membinasakan kau untuk melindungi itu laki- laki yang tidak berdosa.”

Pek Hoa Nio Cu menjawab sambil tertawa, “Dengan kepandaianmu yang tidak berarti ini, apa kalian kira nonamu merasa keder dengan gertakanmu ini? Kau jangan omong sombong dulu, sekalipun kalian berdua maju berbareng, barang-kali masih belum tentu mampu menandingi nonamu!”

Lim Houw menyahut sambil tertawa aneh, “Perempuan cabul, anggapanmu dirimu masih gadis tidak malu menjadi tertawaan orang !”

Belum habis ucapannya itu Pek Hoa Nio Cu sudah berseru dan menyerang.

Kim Ling Siang Koay yang saat itu sudah marah benar-benar, sudah tentu tidak pandang lagi dirinya adalah bekas kecintaannya si Pek Hoa Nio Cu, pecut lemas dan gembolan perak, maju berbareng menyerang Pek Hoa Nio Cu.

Pek Hoa Nio Cu menampak mereka berlaku nekad, lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk melayani mereka yang sudah benar-benar kalap itu.

Selagi bertempur dengan sengitnya ke tiga orang itu tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian disusul dengan suara orang berkata. “Kim Ling Siang Koay, yang tak tahu malu masa dua orang laki-laki mengerubuti seorang wanita. Apa kata orang dan selanjutnya apa masih ada mukamu untuk menemui sahabat- sahabatmu dikalangan Kang-ouw?!”

Suara itu diucapkan dengan keras hingga meski Siang Koay sedang bertempur sengit, tapi ia bisa mendengar dengan jelas, jangan kira cuma beberapa patah kata saja, tapi ternyata ada lebih hebat daripada serangan Coa hn Cu.

Lim Houw lantas saja menyerang hebat untuk mendesak mundur Pek Hoa Nio Cu lalu kemudian melompat keluar dari kalangan dan membentak kepada itu orang yang barusan berkata.

“Siapa yang memaki orang tapi tidak berani unjukan cecongornya? Kalau berani lekas unjukan diri! Lim Toa-ya-mu akan menghajar mampus dulu padamu!"

Pada saat itu dari tempat gelap lantas lompat keluar dua orang, mereka ternyata Yan-san Jie Kui. Sambil menuding dengan senjata gaetannya, Thio Kui berkata.

“Kahan masih berani menyebut diri sebagai orang gagah dikalangan Kang-ouw, mengapa mengerubuti seorang wanita? Semua muka orang laki-laki akan dibikin noda habis-habisan oleh kalian. Thio Toa-ya-mu paling tidak bisa lihat perbuatan yang tak tabu malu semacam ini, hari ini sengaja hendak memberi sedikit pelajaran pada kalian!"

Tanpa menunggu jawaban Lim Houw, lantas menyerang dengan senjatanya. Tatkala Thio Kui melakukan serangan terhadap Lim Houw, Co Pat juga lantas turun tangan menyerang Thian Liong sambil berkata.

“Nona Pek, silahkan kau mengaso dulu, biarlah kita berdua yang menghadapi mereka". Pek Hoa Nio Cu tertawa besar, lantas lompat mundur, kemudian berdiri untuk menonton pertempuran yang cukup ramai itu.

Yan-san Jie Kui dan Kim Ling Siang Koay, tanpa sebab telah bertempur sampai dua puluh jurus lebih, kekuatan mereka masing- masing ternyata ada berimbang, untuk sementara belum kelihatan siapa yang lebih unggul.

Thio Kui dan Co Pat diam-diam inerasa gelisah kalau mau kata mereka berdua tidak bisa melihat cara Kim Ling Siang Koay mengerubuti satu wanita, ini hanya omong kosong belaka, Yan-san Jie Kui ada orang yang gemar pipi licin, apa mau sikap Pek Hoa Nio Cu ini terhadap mereka berdua juga rada-rada, memikat hati, hingga Yan-san Jie Kui menganggap ada kesempatan untuk mendekatinya. Maka malam itu sengaja masuk kekamar Pek Hoa Nio Cu, siapa kira baru tiba dikamar, kebetulan Pek Hoa Nio Cu sedang bertempur dengan Kim Ling Siang Koay diluar tegalan.

Yan-san Jie Kui tadinya menanti setelah Pek Hoa Nio Cu terdesak baru keluar memberi bantuan, tidak nyana kalau wanita ini tidak nampak keteter, malahan maju menyerang berulang-ulang, hingga dua orang lawannya itu terterdesak.

Yan-san Jie Kui yang menyaksikan itu, lalu menarik napas. mereka tidak akan mengira bahwa wanita yang centil itu berilmu silat lebih tinggi dari pada kedua lawannya. Setelah mereka berunding sebentar, lalu ambil putusan untuk menyerbu sambil memaki perbuatan Kim Ling Siang Koay.

Mereka sungguh tidak nyana bahwa maksud yang hendak unjuk muka manis terhadap Pek Hoa Nio Cu, akhirnya telah mendapat perlawanan begitu hebat dari Kim Ling Siang Koay Mereka berkelahi sambari melirik kearah Pek Hoa Nio Cu, tapi wanita itu cuma menonton sambil tersenyum, agaknya tidak ambil perhatian terhadap kedua pihak.

Thio Kui menggeram hebat, lalu kerahkan seluruh tenaganya untuk melakukan serangannya, hingga Lim Houw terus terdesak mundur dan akhirnya menjadi marah benar-benar, dengan suara bengis ia membentak.

“Orang she Thio, hari ini kalau bukan aku yang mati maka kebalikannya, Lim Toa-ya-mu akan ada jiwa dengan engkau!”

Benar saja, Lim Houw dengan secara nekad, menyerang tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, hingga Thio Kui terpaksa mundur berulang-ulang.

Kalau berbicara tentang kekuatan, Thio Kui masih menang setingkat dari pada Lim Houw, tapi karena Lim Houw sedang kalap, lagi pula sudah nekat hendak mengadu jiwa, maka kadang-kadang tidak perdulikan senjata musuhnya, sebaliknya dengan pecut emas- nya ia menyerang dibagian yang berbahaya pada badan musuhnya, Thio Kui yang tidak ingin mengadu jiwa, akhirnya menjadi ter- desak.

Selagi pertempuran berjalan dengan sengitnya, tiba-tiba dari selatan kelihatan beberapa bayangan orang mendekati tempat itu. Tidak lama kemudian bayangan orang tersebut sudah tiba di medan pertempuran, orang yang lari paling depan segera berseru.

“Siewie harap lekas berhenti, semua ada sahabat-sahabat sendiri, kalau ada apa-apa kita bisa rundingkan secara baik-baik, bagaimana bisa bertempur mati-matian?"

Orang tersebut ternyata ada Oey Cing Tan sedang dibelakang- nya Hoan Kong Hong dan Oh Cu Kui. Kedatangan ketiga orang itu menyebabkan Jie Kui dan Siang Koay merasa tidak enak kalau melanjutkan pertempuran, maks mereka lantas berhenti bertempur seketika itu juga.

Oey Cing Tan berjalan mendekati mereka seraja berkata, “Siewie ada mempunyai ganyelan apa? Bagaimana bisa bertempur di tempat ini?"

Tatkala ia menoleh dan menampak Pek Hoa Nio Cu berdiri disamping sambil tersenyum, dalam hati sudah mengerti, setelah menggerendeng sendiri sejenak, lalu menegor Yan-san Jie Kui.

“Kim Ling Siang Gie ada sahabat kita yang datang hendak memberi bantuan tenaga, sekalipun ada urusan apa yang tidak enak terhadap kalian, kalian berdua saudara seharusnya juga sabar sedikit, aku dan saudara Hoan telah menerima titah dari Toa-ko supaya datang lebih dulu ke Siao-ouw, ini karena ada makstud Toa- ko. Aku si orang she Oey tidak berani anggap diri sendiri sebagai pemimpin rombongan, cuma saja jika ada apa-apa kita harus rundingkan secara baik, jangan sampai kita kehilaugan muka didaerah Kang-lam.”

Ucapan Oey Cing Tan ini seolah-olah pedang tajam yang menusuk dada mereka, hingga Yan-san Jie Kui yang mendengarkan lantas menjadi gusar. Maka Thio Kiu pun menjawab sambil tertawa dingin.

“Ucapan saudara Oey ini, benar" Sias-tee tidak mengerti, Kim Ling Siang Koay sebagai laki-laki, barusan telah mengepung nona Pek, perbuatan semacam itu, kalau saudara Oey menyaksikan sendiri, barangkali juga tidak tinggal diam. Kita orang-orang Kang- ouw, tidak perduli dari Utara atau Selatan. Yang paling diutamakan jalah aturan, kalau menurut kata saudara tentu yang bersalah ada difihak kami berdua. Lagipula kita berclua saudara  juga kemari bukan untuk keperluan pribadi sendiri, tapi karena undangan saudara-saudara.”

Mendengar jawaban itu merahlah Oey Cing Tan, lalu berkata, “Kalau menurut katamu ini, tentunya kalian anggap aku Oey Cing Tan ada sudi gawe; Memang diantara golongan putih dan golongan hitam juga ada perbedaan antara yang baik dengan yang jahat, golongan apa harus mengutamakan peraturannya apa yang mereka sendiri anggap benar. Juga tidak salah, kita orang-orang tukang membunuh, merampok dan membegal barang orang, tapi terhadap kawan sendiri seharusnya harus saling mengindahkan diri masing- masing. Sementara itu, tentang aku yang mengundang saudara- saudara datano kemari. ini adalah perintahnya Toa-ko, kalau kalian ada pikiran apa-apa, tunggu saja setelah Toa-ko datang sendiri, kalian boleh ajukan sendiri kepadanya. Cuma saja aku kira kalian barangkai tidak ada itu nyali. Kita tidak perlu bicara banyak- banyak, penyakit kalian Yan-san Jie Kui, bagi sahabat dari Utara, semua sudah mengetahui dengan jelas. Hari ini hitung-hitung aku si orang she Oey yang memehuat perhitungan, kalau kalian tidak senang, boleh sebutkan saja apa yang kalian kehendaki. Oey Cing Tan berani berbuat, sudah tentu berani tanggung jawab."

Ucapannya Oey Cing Tan ini, tidak beda seperti mendesak Jie Kui kesatu pojok, biar bagaimana tebal muka dan setan dari Yan- san itu, juga tidak gampang-gampang akan menelan begitu saja.

Tapi tatkala menampak Hoan Kong Hong yang berdiri disamping Oey Cing Tan juga unjukan sikap gusar, jika hendak berbuat nekat, rasanya sukar terlolos dari tangan mereka, oleh karena Thio Kiu mengerti dirinya sendiri bukan tandingan Oey Cing Tan, apa lagi disana masih ada Hoan Kong Hong dan Kim Ling Siang Koay, mau tidak mau merasa jeri juga. Selagi Thio Kiu merasa serba salah, Pek Hoa Nio Cu menghampiri Oey Cing Tan dan berkata sambil tertawa manis.

“Semua ada sahabat sendiri, bagaimana berlaku begitu sungguh-sungguh, mereka berempat tangannya sudah sangat kegatelan hingga satu sama lain mengadakan perjanjian untuk melakukan pertandingan di tempat ini, mereka minta aku sebagai wasit, untuk memberi keputusan siapa yang lebih unggul dalam pertempuran ini, mereka tak akan bertempur sampai mati".

Karena mengetahui gelagat tidak baik dan kuatir dirinya sendiri akan terlibat, maka ia telah tebalkan muka untuk mengucapkan perkataan itu. Ucapan Pek Hoa Nio Ci ini telah memberi kesempatan kepada Thio Kiu untuk mundurkan diri secara teratur, tapi sebelum Thio Kiu membuka mulut, sudah didahului oleh Co Pat. Katanya,

“Ucapan nona Pek memang benar, kita berdua dengan Kim Ling Siang Koay hendak mencoba-coba mengadu kekuatan disini sebab semua adalah kawan sendiri, bagaimana bisa turun tangan sungguh-sungguh? Kami berdua dan kau saudara Oey toch sudah bersahabat bukan cuma setahun dua tahun saja, omong-onong secara main-main memang benar, mana bisa sungguh-sungguh?"

Thio Kiu juga lantas menggunakan itu kesempatan untuk ucapkan kata-kata merendah terhadap Oey Cing Tan.

Dengan demikian Oey Cing Tan terpaksa menjawab sambil tertawa, “Kalau benar demikian halnya, sebaliknya horus disesalkan diriku sendiri yang berlaku kurang ajar.”

Ia memandang Kim Ling Siang Koay, maksudnya ialah supaya mereka majukan pendapatnya.

Setelah peristiwa diatas, Oey Cing Tan lebih hati-hati terhadap Pek Hoa Nio Cu dan secara diam-diam mereka berunding dengan Hoan Kong Hong, agar bisa menyingkirkan wanita genit itu dari Ie Chiu Wan.

Siapa nyana Pek Hoa Nio Cu sendiri juga perhatikan diri Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong, ia melihat dua orang itu sangat dingin sekali sikapnya terhadap dirinya sendiri, malah menimbulkan rasa sukanya terhadap dua orang itu. Ini adalah salah sama sekali, karena wanita genit semacam Pek Hoa Nio Cu, bukan saja genit. tapi juga suka mau menang saja, didalam hatinya selalu menganggap didalam dunia ini tidak ada lelaki yang tidak mampu ditundukkan olehnya.

Tentang maksud Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong yang hendak menyingkirkan Pek Hoa Nio Cu dari le Chiu Wan, siang- siang sudah ada orang yang memberitahukannya dengan cara sendiri untuk menghadapi mereka.

Ia tahu bahwa Coa Im Cu adalah seorang yang paling ditakuti oleh orang` yang ada disitu, Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong meski adalah orang-orang Tong Cin Wie yang paling diandalkan, tapi juga tidak berani mengganggu diri Coa Im Cu dan Pek Hoa Nio Cu mengetahui ini hingga ia lantas menggunakan kecantikan dan kegenitannya, menempel Coa Im Cu, cuma karena luka orang tua itu belum sembuh betul, setiap hari harus bersemedhi empat jam lamanya, dalam waktu empat puluh sembilan hari tidak boleh berdekatan dengan wanita.

Denaan adanya perlindungan dari Coa Im Cu Teng Hong, maka Oey Cing Tan dan Hoan Kong Hong juga tidak berani melanjutkan rencana mereka itu.

Dilain pihak, Pek Hoa Nio Cu selalu mencari kesempatan untuk merubuhkan itu dua laki-laki yang berhati baja. Kesempatan yang dinanti-nantikan itu telah tiba. Pada suatu malam, ketika Oey Cing Tan berada dalam keadaan setengah mabuk, kembalinya didalam kamarnya sendiri, lantas disamperi oleh Pek Hoa Nio Cu dengan dandanannya yang sangat menawan hati, ia berpura-pura mengantarkan teh wangi, setelah beromong- omong, akhirnya Oey Cing Tan telah rubuh dibawah rajuan wanita itu. Selanjutnya, sikap Oey Cing Tan terhadap Pek Hoa Nio Cu lantas berobah sama sekali, ia semakin tergila-gila terhadap wanita genit itu.

Pek Hoa Nio Cu sebetulnya masih hendak menggunakan kecantikannya untuk merubuhkan hati Hoan Kong Hong, siapa kira sebelum mendapat kesempatan, Sin Chiu Tui Hun Tong Cin Wie sudah datang bersama kawan-kawan karibnya yang ia undang.

Tatkala Lauw Kiat orang yang membawa warta tentang kedatangan Tong Cin Wie itu tiba di Ie Chiu Wan, telah disambut dengan gembira oleh para penjahat, cuma Yan-san Jie Kui yang hatinya merasa kebat-kebit, mereka kuatir kalau Oey Cing Tan mengadukan perbuatan mereka kepada pemimpinnya karena Tong Cin Wie orangnya snsah diduga tindakannya, kalau ia murka, mungkin bisa turun tangan sendiri mengambil jiwanya Jie-kui.

Tapi mereka tidak tahu kalau Oey Cing Tan sendiri juga mempunyai serupa penyakit didalam hatinya, ia juga kuatir perbuatannya dengan Pek Hoa Nio Cu disampaikan kepada Tong Cin Wie, meski dia adalah orang kepercayaan Tong Cin Wie, tapi Coa Im Cu adalah orang yang diundang oleh Tong Cin Wie, sudah tentu Tong Cin Wie akan berfihak kepada Coa Im Cu.

Bagi Pek Hoa Nio Cu, lain pula pikirannya, ia sudah lama men- dengar nama kepala berandal dari lima propinsi Utara ini, hingga kepingin sekali dapat menyaksikan wajahnya, bagaimana sebetulnya orang yang namanya sangat terkenal itu. Pemimpin kawanan berandal dari Utara itu. adalah seorang yang usianya empat puluhan, badannya sedang, wajahnya putih, diatas bibirnya ada tumbuh kumis pendek, badannya mengenakan baju panjang, tatkala ia tiba di Ie Chiu Wan, telah disambut oleh para kawanan penjahat dengan sangat hormatnya.

Tong Cin Wie meski sebagai pemimpin kawanan berandal yang sangat berpengaruh, namun sikapnya tidak kasar seperti kawanan berandal yang lainnya. Kalau dilihat dari dandanannya dan caranya ia berjalan, malah orang akan mengira dia adalah orang sekolahan.

Tong Cin Wie setelah memberi hormat kepada orang-orang yang datang untuk memberi bantuan tenaga, lalu memberi hormat kepada Oh Cu Kui yang bertindak selaku tuan rumah.

Dibelakang Tong Cin Wie, disebelah kanan terdapat paderi berkepala gundul, disebelah kirinya berdiri seorang kakek-kakek yang usianya kira-kira sudah enam puluh tahun lebih, dibarisan belakang sekali ada bermacam-macam orang yang berlainan bentuknya, ada yang gemuk ada yang pendek kate ada yang kurus dan ada yang jangkung. Mereka itu berjumlah kira-kira dua puluh lima orang lebih.

Oh Cu Kui setelah mengajak Tong Cin Wie masuk keruangan tamu. lantas menyuruh orang bawahannya menyediakan perjamuan besar.

Dalam perjamuan itu Tong Cin Wie berkata sambil tertawa, “Oleh karena urusanku si orang she Tong seorang, telah membawa- bawa dirinya begini banyak kawan-kawan.”

Ia mengawasi semua orang yang hadir disitu dengan sepasang matanya yang bersinar tajam. Oh Cu Kui dalam hati merasa kagum, pikirnya, “pantas ia menjadi pemimpin dari kawanan berandal di Utara, matanya saja sndah begitu berpengaruh, apalagi perbuatannya.

Dengan suara sangat merendah ia berkata, “Tuan-tuan telah sudi mengunjungi pondokku yang sangat kotor ini, bukan saja membikin terang mukaku, tapi juga merupakan suatu peristiwa yang paling besar dikampung ini, silahkan tuan-tuan dahar dan minum arak yang tidak berarti ini, sekedar untuk menyambut kedatangan tuan-tuan!"

Tong Cin Wie mengangguk-anggukkan kepalanya, dengan tindakan lebar berjalan mentulju kemeja perjamuan. Paderi kepala gundul berbadan gemuk itu, tangannya ada menggenggam tongkat ja ngberatnya kira-kira lima puluh kati lebih.

Disehelah kirinya ada seorang kakek-kakek yang berbadan kering, dibawah janggutnya ada tumbuh jenggotnya yang cuma sekepal, tapi sudah putilt warnanya. Diluarnya kelihatannya sangat jelek. tapi sikapnya sangat sombong.

Tong Cin Wie dan itu paderi kepala gundul, selalu harus memhalas hormat kepada orang-orang yang menyambut padanya, hanya itu kakek-kakek yang seolah-olah tidak melihat, ia berjalan dengan caranya sendiri.

Tong Cin Wie memimpin kawan-kawannya duduk dimeja perjamuan, agaknya ia sangat menghormat sekali kakek-kakek itu. Tatkala Oh Cu Kui menyilahkan Tong Cin Wie duduk dikursi pertama, Tong Cin Wie tidak berani menerima dan menyilahkan orang tua itu duduk dikursi tersebut, tapi orang tua itu gelengkan kepalanya, tangan kanannya mengelus jenggotnya, dan bersenyum, ternyata ia menolak untuk menduduki kursi pertama itu. Tong Cin Wie mengangguk kepada paderi gemuk itu, tapi sikepala gundul itu juga menolak, dengan demikian, hingga Tong Cin Wie terpaksa menduduki kursi pertama. Kakek-kakek itu dan paderi gemuk duduk dikanan kirinya.

Meja itu cuma diduduki oleh tiga orang, yang lainnya lamas satu persatu mulai duduk ditempat masing-masing.

– ooOoo –