Dara Pendekar Bijaksana Jilid 02

 
Jilid 02

Selagi hendak keluar dari kamarnya, kedua laki-laki sudah datatig menghampiri padanya dengan muka berseri-seri.

Yang berjalan didepan ada orang laki-laki usia tiga puluh tahun lebih, ia mengenakan dandanan ringkas yang terbuat dari kain kapas, diatas bibirnya ada tumbuh kumis pendek, lagaknya mirip dengan seorang tuan tuan tanah didesa, ia itu adalah pendekar yang namanya sangat terkenal di daerah Tionggoan, Pat Kwa Ciang Cin Tiong Liong.

Di belakangnya berdiri seorang laki-laki yang berusia kira-kira sua puluh enam tahun, mengenakan pakaian malam berwarna hitam, dibelakang gegernya ada dua batang senjata yang berupa Poan Pit. Ia juga satu jago di daerah Kang-lam. Namanya Ong Bun Ping sedang gelarnya Hwie Thian Giok Houw.

Kedua orang itu masih ada hubungan seperguruan dengan Sian Jie, Cin Tiong Liong itu adalah anak murid tidak langsung dari Kang It Peng, sedang Ong Bun Ping adalah murid Chio Bien Giam Lo Sun Tay Beng, dan Sian Jie pernah berguru dua tahun lamanya kepada Sun Tay Beng, senjata pedangnya yang lstimewa itu malah ada pemberian sang guru she Sun ini, maka Sian Jie barns bahasakan siok-siok atau paman kepada Cin Tiong Liong, dan berbahasakan suheng terhadap Ong Bun Peng.

Kedatangan kedua orang itu sangat menggirangkan Sian Jie, buru-buru persilahkan dua tetamunya itu duduk.

“Begini malam kau masih belum tidur, apa yang kau pikirin ?" tanya Cin Tiong Liong.

Sian Jie terkejut, tapi karena ia adalah seorang yang cerdik hingga bisalah ia berlaku tenang agar perasaan hatinya tetap bersembunyi.

“Titji hari ini kau telah bertempur dengan kawanan penjahat dari Kang-pak, karena itu kau duduk saja dan pikirkan cara bagaimana supaya bisa melindungi jiwa Chie Ciatsu sekeluarga. Cin Siok-siok dan Ong Peng Suheng benar-benar kedatanganmu sangat kebetulan, sudikah kau memberi bantuan kepada Titlie?" jawabnya Sian Jie, yang lantas menuturkan jalannya pertempuran dengan kawanan penjahat.

“Hal ini aku sudah mendapat keterangan jelas dari Suhu, kedatangan kita malam ini justeru karena urusan ini. Menurut keterangan Suhu, Sin Chiu Tui Hun telah mendatangkan beberapa penjahat tua yang sudah lama mengasingkan diri. Beberapa orang yang ia undang itu dulu adalah orang-orang yang sangat terkenal namanya dikalangan rimba hijau. Aku tidak sangka bahwa urusan sekecil ini telah menerbitkan persengketaan begitu besar dikalangan rimba persilatan ; orang-orang itu kabarnya sedang melakukan perjalanan ke Selatan. Sin Chiu Tui Hun sendiri sudah sampai di kota Ceng Yang Koan, mungkin dalam beberapa hari ini akan tiba disini.

Suhu bersama Sun Lo Cianpwee karena masih pergi minta bantuan seseorang, maka aku dan Ong Siao-hiap disuruh datang duluan memberi bantuan padamu. Besok pagi kalian boleh meneruskan perjalanan. Untuk sementara kita tidak unjukan muka dulu, hanya melindungi kalian secara diam-diam", berkata Chin Tiong Liong.

“Tong Cin Wie benar-benar keterlaluan, ia telah malang melintang didaerah lima propinsi di Utara, banyak kejahatan yang sudah di-lakukannya, sekarang masih hendak coba mengacau didaerah Tionggoan, aku pasti hendak menemui itu orang sendiri, aku kepingin lihat bagaimana kelihayannya yang bergelar Sin Chiu Tui Hun dengan Tui Hun Ciam-nya", berkata Sian Jie.

“Sian Sumoy seolah-olah dikurniai Tuhan, pedang Gin Hong Kiam dan senjata rahasia duri ikan terbang, merupakan senjata yang paling dahsjat dikalangan Kang-ouw, dua-duanya berada ditanganmu, pada saatnya pasti akan ada pertunjukan ramai, Siao- heng nanti akan menyaksikan dengan mata sendiri. Aku duga Sin Chiu Tui Hun tentu akan jatuh ditanganmu". Ong Bun Beng turut bicara. Mendengar itu merahlah wajah Sian Jie, hingga menjawablah ia sambil tertawa :

“Suheng, kau tak usah terlalu memuji aku, saat itu kalau aku kalah, apa kau kira akan peluk tangan terus?" “Sian Sumoy, kalau kau benar-benar tidak berdaya, apalagi aku, tentunya akan antarkan jiwa dengan curna. Bukankah kau senga-ja hendak menyusahkan aku ?" jawab Ong Bun Peng.

Jawaban ini memang sebenarnya, karena kepandaian Sian Jie masih jauh lebih tinggi dari padanya, Sian Jie begitu dilahirkan didunia sudah dipale demikian rupa oleh ayah bundanya, dan begitu mengerti urusan sudah mulai dilatih ilmu silat. Oleh karena dalam usia tiga tahun ayah bundanya mati dibunuh oleh musuhnya. Kang It Peng yang masih pernah kakek dengannya lantas rawat dan didik padanya sehingga dewasa.

Sang Kakek ini telah turunkan semua kepandaiannya kepada cucu perempuannya ini, dalam usia yang masih muda sekali, ia diajak berkelana di dunia Kang-ouw untuk menambah pengalamannya. Setengah tahun kemudian ia telah bertemu dengan Sun Tay Beng sahabat karibnya, pendekar aneh ini melihat bakat Sian Jie yang luar bias, telah diberi pelajaran ilmu silat simpanannya, yaitu menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang yang ia belum pernah turunkan kepada siapapun juga. dan pedang lemes Gin Hong Kiam juga diberikan kepadanya.

Dari Kang It Peng, Sian Jie sudah mendapat didikan dasar yang berupa ilmu tenaga dalam, ilmu pedang, ilmu totokan dan ilmu lari pesat; dan dari Sun Tay Beng ia dapatkan pelajaran ilmu Khie Kang, Biau Ciang dan senjata rahasia duri ikan terbang yang pernah menggemparkan dunia Kang-ouw.

Dengan bekal kepandaiannya dari dua jago tua kenamaan ini, tidak heran kalau Sian Jie begitu muncul dikalangan Kang-ouw lantas malang melintang di daerah Kang-lam tapi belum pernah menemui tandingan, hingga nama gelar Kong Tong Lie Hiap Kang Sian Cian, merupakan situ ancaman bagi kawanan rimba hijau. Cian Tiong Liong dan Ong Bun Peng setelah menjelaskan rencananya, lantas pamitan.

Setelah mengantarkan kedua tamunya legalah hati Sian Jie, dengan adanya mereka yang melindungi secara diam-diam dengan sendirinya tidak akan kewalahan menghadapi musuh-musuhnya. Saat itu sudah hampir jam tiga malam, dikamarnya Chie Sie Kiat sudah padam lampunya, kiranya Kongcu itu sudah tidur nyenyak, maka ia juga lantas naik pembaringan untuk tidur.

Tapi Chie Sie Kiat sebetulnya masih belum tidur, pembicaraan antara Sian Jie dan kedua tetamunya, telah didengarnya semua. dia agak gelisah dan cemburu, ia bulak balik dipembaringan, semalaman tidak bisa tidur.

Diatas kereta, Chie Sie Kiat seolah-olah kehilangan semangatnya, kedua matanya merah, sikapnya lesu. Chie Ciatsu swami isteri mengerti keadaan anaknya, tapi apa yang mereka bisa berbuat? Sian Jie bukan perempuan sembarangan, lagi pula inerupakan tuan penolong besar bagi keluarga Chie, dan untuk selanjutnya malah masih akan mengandalkan tenaganya untuk melindungi keselamatannya.

Mereka tidak tahu bahwa Sian Jie sendiri juga terserang penyakit rindu! Ia juga menyaksikan keadaan Sie Kiat dan faham apa yang dikandung dalam hati anak muda. Inginlah ia memberi hiburan, tapi apa hendak dikata sebab ia seorang perempuan muda, biar bagaimanapun haruslah ia menjaga kehor-matannya.

Tapi pada akhirnya ia tidak mumps kendalikan perasaannya, dengan suara perlahan dan lemah lembut akhirnya ia pun bertanya

,“Sie Kiat-ko, kau kenapa? Apakah tadi malam karena minum arak terlalu banyak hingga masuk angin? Aku mempunyai obat mujarab, minumlah sedikit !” Dengan segera dikeluarkan sebutir pil warna putih bikinan Kong It Peng sendiri yang terdiri dari rempah-rempah yang didapat dari perbagai tanah pegunungan. Kasiat obat itu besar sekali, Sian Jie sendiri cuma mempunyai lima butir, hanya diminum jika memerlukan sekali.

Sian Jie rnemberi obat pilnya sembari geserkan tubuhnya mendekati Sie Kiat, dengan tangannya ia merabah jidat anak muda itu. Sian Jie agak terperanjat, karena jidat Sie Kiat panas sekali waktu dirabanya maka ia pun menoleh lalu berkata kepada nyonya Chie. 

“Ibu. engko Sie Kiat demam badannya, panas".

Nyonya Chie segera mendekati anaknya, setelah merabah jidatnya, lalu bertanya :

“Kau kenapa ?"

“Ibu, anak tidak apa-apa kalau beristirahat sebentar tentu bisa baik sendiri", jawab Sie Kiat sambil tertawa getir.

“Sakit ayahmu baru saja sembuh, sekarang kau sakit lagi ini benar-benar …. " kata ibunya, sebelum ibu itu sempat melanjutkan ucapannya, Sian Jie sudah nyeletuk “lbu jangan susah hati, obatku ini ada obat yang sangat mujarab bila memakan obat ini tanggung akan sembuh penyakitnya.

Nyonya Chie menyaksikan pil kecil yang berwarna putih itu, hatinya masih berasa sangsi, tapi lantaran ia pandang tinggi sekali diri Sian Jie, maka akhirnya ia percaya bahwa obat itu tentu bukan sembarangan obat. Maka berkatalah ia kepada anaknya,

“Sie Kiat, lekas makan obat adikmu, jangan sampai membikin susah hati adikmu". Chie Sie Kiat buru-buru menyambuti obat dari tangan Sian Jie, tapi tangan Sian Jie bergerak lebih gesit, tahu-tahu pil itu sudah berada dimulut Sie Kiat. la merasa bau harum menusuk hidung dan terus masuk kedalain perut. Semangatnya bangun seketika itu juga sedang badannya merasa segar kembali.

Kereta berjalan terus, melalui jalan-jalan datar, pegunungan, rimba dan kota, kereta itu hanya mengaso kalau malam tiba. Kira- kira empat atau lima hari lagi sudah sampai ditelaga siao-ouw.

Selama beberapa hari itu, baik dirumah penginapan maupun didalam kereta karena pikiran Sie Kiat terganggu, terhadap Sian Jie ia agak menjauhi, ia tidak berani bertanya Sian Jie. ia hanya sesalkan dirinya sendiri. Ia berobah menjadi pendiam, ia tidak mau perdulikan segala hal, nyonya Chie diam! juga pernah menanyakan sebabnya, tapi cuma dijawab dengan tertawa getir.

Rumah Chie Ciatsu terletak di desa Siang Kee Chun ditepi telaga Siao-ouw, tempat itu mempunyai pemandangan alam yang indah permai, penduduknya sangat sederhana. Menurut kebiasaan pada masa itu kepulangan Ciatsu sudah tentu diharengi dengan tetabuhan tambur dan gembreng fang riuh serta di-iring dengan tandu yang dipikul oleh delapan orang, tapi lain sekali keadaannya dengan Chie Ciatsu ini, yang hanya dengan sebuah kereta sewaan, beberapa potong peti pakaian dan orangnya juga cuma empat gelintir. Meski demikian, tapi masih banyak penduduk menyambutnya dengan meriah.

Tatkala memasuki perkampungan tersebut, Sian Jie diam-diam sudah memperhatikan keadaan sekitar kampung tersebut. Kampung ini ternyata tidak terhitung besamya, tapi juga tidak kecil, pen- duduknya kira-kira terdiri dari seratus keluarga lebih didepan menghadapi telaga Siao-ouw disampingnya ada sungai kecil, rumahnya Chie Ciatsu terletak diujung timur kampung, didepannya ada lapangan bias, dihiasi tanaman pohon Yangliu sedang dibelakang rumah mengalir sebatang sungai.

Karena rumahnya besar dan keluarganya sedikit, maka masih terdapat banyak kamar kosong. Nyonya Chie menyediakan kamar sepesial untuk tempat tinggal Sian Jie serta dicarikan dua pelayan untuknya. Penduduk kampung tersebut beberapa hari berulang- ulang mengadakan kunjungan penghormatan kepada Chie Kong Hiap, hingga membuat repot bekas pembesar negeri itu.

Selama beberapa hari berdiam dirumahnya, Chie Kongcu tetap dalam keadaan masgul, setiap hari sembunyikan diri dikamar buku- nya. Sekiranya bukan itu obat mujarab dari Sian Jie, mungkin saat itu ia sudah jatuh sakit.

Nyonya Chie yang diam-diam memperhatikan gerak-gerik anaknya, menampak sang anak lesu dan tidak suka makan, tapi tidak ada tanda-tanda dihinggapi penyakit, diam-diam iapun merasa heran.

Sian Jie setiap malam seliwatnya jam dua, sudah tentu mengadakan pemeriksaan diluar rumah, diwaktu siang baru ada tempo mengaso.

Pada suatu malam, ketika habis menyalankan tugasnya, ia me- nampak lampu kamar buku Sie Kiat masih menyala, hingga hatinya tergerak. ia coba mengintip, ia dapat lihat Sie Kiat masih duduk diatas kursi sambil berkerudung selimut, matanya terbuka lebar memandang lampu, malah tertampak tegas sedang mengalirkan air mata.

Melihat it Sian Jie merasa pilu dan maulah ia mengetuk pints tapi tiba-tiba dengar suara Sie Kiat berkata sendirian, “Sian Moy- moy, kau adalah seorang pendekar wanita, sudah tentu hendak mencari pasangan pendekar pula. Aku adalah seorang anak sekolah yang lemah, aku tidak pantas menyintai kau. Tapi rupamu membuat aku selalu rinds. Ah begini rupa …..”

Sian Jie terperanjat, tanpa ragu-ragu lagi, lantas mendorong daun pintu, terus melompat masuk dan sebentar kemudian sudah berdiri didepan Sic Kiat.

Chie Kongcu yang sedang dihinggapi sakit rindu ketika mendengar bunyi pinto terbuka dan kemudian disusul berkelebatnya satu bayangan orang dan sebentar kemudian melihat didepannya berdiri seorang gadis berbaju merah yang sangat ringkas, ternyata adalah itu nona yang setiap hari dan malam merampas pikirannya.

Pada saat itu, dikedua pipi Sian Jie sudah basah dengan air mata, sepasang matanya yang jernih tidak menampak lagi sinar yang tajam, tapi memancarkan sinar ayu dan welas asih. Ditambah lagi dengan air matanya yang mengalir telah menyebabkan dirinya sangat menggiurkan dan menarik, Sian Jie memanggil dengan suara perlahan, “Sie Kiat-ko, telah larut malam mengapa belum juga tidur?"

Saat itu Sie Kiat penuh dengan perasaan yaitu girang dan sedih, ia tidak dapat berbuat lain dari pada hanya mengawasi nona itu dengan matanya yang sayup. Semua kata-kata yang hendak dikeluarkan dari mulutnya seolah-olah terkandas ditenggorokan. ia mengulurkan tangannya menggenggam tangan Sian Jie, entah dari mama datang kekuatannya hingga tiba-tiba ia dapat menarik tangan Sian Jie. Yang ditarik itu tidak melawan sedikitpun. ia menurut saja dan mudah ditarik, hingga dua anak muda itu telah duduk berdampingan. Jantung mereka waktu itu berdebar-debar seolah- olah hendak melompat keluar karena dipalu rasa asmara dan malu.

"Selama beberapa hari ini apa yang kau lamunkan? Bukankah dengan begini kau akan merusak kesehatanmu sendiri?" tanya Sian Jie sambil bersenyum. Benar-benar Chie Sic Kiat tidak menyangka bahwa nona gagah itu bisa berobah demikian lemah-lembut. Karena girangnya, lupalah ia menjawab pertanyaan Sian Jie karena kedua tangannya telah memeluk diri si nona dengan kencang. Ia memeluk sambil merapatkan pipinya kepipi gadis itu. Biarpun begitu mulutnya tetap membisu saja.

Lama sekali mereka dalam keadaan begitu tapi achimja Sian Jie ingat pula kewajibannya lalu bangkit. Setelah memesan. agar Sie Kist lekas tidur, iapun meninggalkan kamar itu dengan perasaan puas. Ia keluar dengan perasaan bahagia sebab telah dipeluk oleh orang yang kena dihatinya.

Sejak malam itu, heran bin ajaib Sie Kiat seolah-olah makan obat manjur, lesunya lenyap seketika. Nyonya Chie yang melihat perobahan anaknya itu memsa girang. Apalagi ketika ia melihat hubungan anaknya dan gadis itu makin lama makin erat dan mesra. Tapi ia tidak tahu bahwa pada saat itu kawanan penyahst dari Utara sudah mengikuti jejak Chie Ciatsu sampai disitu, hingga desa Siang Kee Chun yang kecil sunyi itu terancam bahaya besar.

Malam itu keadaan sangat gelap, rembulan tersembunyi di balik awan, seperti biasanya Sian Jie melakukan kewajibannya meronda disegala pelosok. Sepulangnya dari meronda, ia selalu mampir di- kamar Chie Sie Kiat agar mereka tenggelam dalam madu asmara dan menebalkan rasa cinta mereka masing-masing.

Chie Kongcu yang sudah lama menunggu menyambutnya dengan rasa girang, ngomong-ngomonglah mereka dengan rasa bahagia dan sebentar-sebentar bibir mereka beradu dengan mesranya tanpa lupa saling merangkul dengan eratnya.

Selagi mereka asjik soling menumpahkan rasa kasih itu tiba- tiba Sian Jie mendengar bunyi perlahan diatas 'genteng rumah. Bunyi itu meski sangat perlahan, tapi bagi telinga Sian Jie, sudah cukup nyata, maka iapun buru-buru bangkit lalu dengan cepat ia padamkan lampu yang terletak diatas meja. Dengan suara per- lahan ia berpesan kepada Sic Kiat “Kiat-ko, hati-hatilah!"

Sehabis memberi pesan, ia pun melompat keluar dari jendela. Ia tidak turun di pekarangan, selanjutnya terbang melayang keatas genteng dilain seberang, begitu tiba diatas genteng rumah, ia menampak disana ada berdiri seorang yang berpakaian baju jalan malam, ternyata ada suhengnya sendiri Ong Bun Peng.

Ong Bun Peng juga sudah melihat Sian- Jie. Buru-buru iapun lari menghampiri, lalu berkata secara berbisik kepada sumoynya.

“Ma'am ini kawanan penjahat sudah mulai bergerak, jumlah orang yang datang nampaknya tidak sedikit, tapi entah melakukan pengintaian atau hendak turun tangan, aku tak tahu. Cin Siok-siok sudah turun tangan secara rahasia atas kawanan penjahat yang berada diluar kampung, tapi kalau tidak perlu sekali tidak maulah aku bentrok terang-terangan agar supaya mereka jangan mengetahui asal usul kita. Berita yang aku terima kemaren bersama Cin Siok- siok, beberapa penjahat dari golongan tua masih belum sampai, tidak nyana malam ini mereka hendak bergerak …!”

Selagi hendak melanjutkan pembicaraannya, Sian Jie yang matanya tajam sudah dapat melihat dua bayangan orang sedang lari menuju kekamar Chie Ciatsu.

Sian Jie lantas berseru dengan perlahan “Sudah datang selesai berseru iapun melompat melesat menyusul bayangan dua orang tersebut.

Dua bayangan itu setiba digedungnya Chie Kong Hiap, lalu pencarkan diri, berjalan menuju kekamar Chie Kong Hiap. Malam itu dalam kamar Chie Kong Hiap sudah gelap, dua orang itu lantas masuk kepekarangan ketiga, Sian Jie dari tempat gelap telah mendapat lihat bentuk air muka kedua penjahat itu, yang usianya kira-kira tiga puluh tahun lebih, mengenakan pakaian jalan malam yang berwarna hitam seluruhnya, yang satu bersenjatakan golok, satunya lagi bersenjatakan tongkat yang diperlengkapi gaetan.

Kedua penjahat itu benar-benar besar nyalinya, setelah mereka masing-masing memberi tanda, lalu masuk kedalam. Penjahat yang bersenjata golok itu selagi hendak menerobos pintu kamar, tiba-tiba dari tempat gelap terdengar suara orang tertawa dingin, yang dibarengi dengan kata-katanya,

“Bangsat yang bernyali besar, malam-malam buta berani mati hingga datang mengganggu rumah penduduk, bukankah baiknya kau me-ninggalkan kepalamu!"

Suara itu dibarengi pula oleh meluncurnya sebuah benda berkeredepan, yang terus menyerang dada penjahat tersebut. Penjahat itu terkejut, pada saat itu sebatang piauw sudah datang menyerang. Penjahat tersebut ternyata berkepandaian cukup tinggi, dengan jalan rebahkan dirinya, ia mengelakan serangan piauw tersebut, tapi betapapun gesitnya, tidak urung senjata rahasia itu menyambar ikat kepalanya.

Bukan main gusamya penjahat itu setelah mendengarkan suara tertawanya, lalu ia berkata :

“Tidak nyana satu bekas pembesar negeri yang sudah dilepaskan dari jabatannya, masih ada kalian orang-orang semacam budak yang meelndungi. Kalau kau mempunyai nyali, keluarlah, supaya Pang Jie Thayya-mu bisa belajar kenal dengan cecongormu". Dari tempat gelap kembali terdengar suara orang tersebut , “Kalian kawanan penjahat ini benar-benar tidak mempunyai

mata, dengan terus terang aku beritahukan kepadamu, aku bukan semacam orang dari golongan yang suka mengabdi kepada pemerintah lain bangsa, Chie Ciatsu tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi dengan aku cuma aku tidak bisa melihat tingkah lakumu yang merendahkan derajat orang-orang didunia Kang-ouw. Lagipula tempat Siao-ouw juga tidak akan mengijinkan kalian berbuat sesukanya. Kalau kalian mengenal selatan, lekas enyah dari sini! Jika masih mernbandel, jangan menyesal kalau aku nanti turun tangan kejam, untuk kirim jiwamu kedunia lain!”

Penjahat yang bersenjatakan tongkat itu tiba-tiba nyeletuk, “Sahabat, mendengar suaramu ini, terang ada kepala dari desa

Siao-ouw ini. Kalau benar demikian halnya, semua masih merupa- kan sesama sehaluan, bolehkah kau unjukan muka, supaya kita saling mengenal. Tidak salah, kita ada orang-orang dari golongan Utara, malam ini datang kemari, tidak bermaksud menduduki tempat kediaman sahabat. Kita dengan itu orang she Chie ada mempunyai ganyelan sakit hati, lantaran ia, maka kita melakukan perjalanan begitu jauh dengan menempuh segala bahaya dan kesukaran. Kita sesama orang dari rimba persilatan, tidak merasa tidak berguna bersahabat dan menjual jiwa kepada bekas pembesar anjing ……”

Ucapan selanjutnya belum sempat dilanjutkan, orang ditempat gelap itu tiba-tiba perdengarkan suaranya tertawa dingin, lain berkata,

“Kau tak usah pura-pura berlaku baik terhadap aku. pendek. kata, daerahku Siao-ouw ini tidak mengijinkan kalian bangsa beginian berbuat sesuka hatimu. Jangan kata hendak melakukan pembunuhan, sekalipun hendak ganggu tanamanku saja, aku juga tidak membiarkan kalian pulang dalam keadaan utuh!"

Kata-kata orang itu telah membikin gusar kedua penjahat tersebut maka satu diantaranya yang bersenjatakan tongkat itu membentak dengan suara keras,

“Sahabat, kau sungguh terkebur, kalau benar kau tidak mau kenal persahabatan, beritahukanlah namamu supaya kita bisa tahu sahabat dari Siao-ouw ini berapa terkenalnya dikalangan Kang-ouw. Kalau tidak, unjukanlah dirimu, supaya kita bisa menyaksikan bagaimana macam orang yang menjadi kepala di Siao-ouw ini. Sangkamu kau bisa bikin takut kami dengan gertakanmu itu? Singkamu kami tidak berani datang kemari".

Penjahat tersebut berbicara sambil memperhatikan arah dari many datangnya suara orang tadi, ia hendak melakukan serangan tiba-tiba setelah mendapat kepastian tempat orang tersebut bersembunyi.

Pikiran ini memang bagus, tapi orang tadi tidak memberi jawaban, seperti juga sudah berlalu dari tempat sembunyinya. Kali ini kedua penjahat itu benar-benar sudah murka, penjahat yang bersenjatakan tongkat gaetan itu lantas menggeram hebat, terus menerjang kearah suara tadi, tapi tempat itu ternyata sudah tidak ada orangnya.

Bukan main gusamya kedua penjahat tadi hingga orang yang bersenjatakan tongkat tadi setelah mengetahui bahwa musuhnya sudah tidak karuan parannya, lain berkata kepada kawannya,

“Saudara Pang, kita menerjang kedalam, kalau bisa turun tangan. kita bereskan jiwa itu orang she Chie malam ini juga. Ini ada kesempatan baik bagi kita berdua saudara untuk unjukan gigi, supaya sahabat-sahabat dari lima propinsi Utara juga mengetahui kepandaian kita Liauw-pak Siang Tiauw".

Penjahat yang bersenjatakan golok itu setelah menjawab lalu menghunus goloknya. Sementara itu tangan kanannya mengambil bumbung api, lalu taxi kedepan pintu kamar suami isteri Chie Ciatsu. Penjahat itu ternyata bernyali besar, in sudah menduga pasti bahwa suami isteri Chie itu adalah orang-orang lemah yang tidak bertenaga, tapi ia telah lupa bahwa orang yang tersembunyi dan yang menyerang dengan senjata rahasia tadi hampir saja menewaskan jiwanya.

Ia menyalakan bumbung apinya, hingga menampak tegas bahwa pintu kamar itu telah tertutup rapat, ia lalu angkat tangan kanan-nya hendak mendobrak pintu kamar tersebut, tiba-tiba dari samping kirinya terdengar suara orang membentak.

“Penjahat kurang ajar, apa kau sudah bosan hidup?" Selanjutnya terdengar suara jeritannya orang yang maha hebat,

golok dan bumbung api penjahat itu terlepas dari tangannya lalu

jatuh ketanah sedang orangnya bergulingan sambil menyerit-jerit.

Penjahat yang bersenjatakan tongkat itu ketika menampak kawannya yang bernama Pang Oen tanpa sebab telah melemparkan senjatanya dan bergulingan ditanah, bukan main kagetnya. Dengan cepat iapun melayang turun dari atas genteng, sambil membimbing bangun iapun bertanya,

“Hengtee, kau kenapa ?"

Pang Oen cuma bisa menjawab sambil kertak gigi, “Aku kena serangan senjata rahasia".

Kawannya yang bernama Sie Kok Tiong dan bergelar Kim Cie Peng itu, seketika itu lantas merasakan seperti disambar petir. karena senjata rahasia apa saja kecuali jarum Bwee Hoa Ciam atau Too Kut Ting (paku yang menembus ketulang) sudah tentu ada suara anginnya.

Ia memeriksa seketika lamanya, tapi tidak menemui dimana tempat yang terluka lalu bertanya pula dengan suara perlahan,

“Kau terluka dibagian apa? Lekas beritahukan padaku!" “Belakang pundak bagian kanan dan kiri." jawab Pang Oen.

Kim Cie Ping buru-buru memeriksa dibagian yang disebutkan. benar saja disitu ada tanda darah membeku, tapi tidak kelihatan lukanya. Mengertilah ia sudah bahwa malam itu ia telah bertemu dengan orang pandai. Tapi Kim Cie Ping adalah seorang sombong dan keras kepala, biasanya suka berbuat sewenang-wenang didaerah Lia'uw-pak dan Liauw-tang. Belum pernah ada orang yang berani mengganggunya maka itu dengan segera berkatalah ia dengan suara nyaring.

“Kawanan tikus dari mana yang berani melakukan serangan menggelap dengan menggunakan senjata jarum Bwee Hoa Ciam untuk menyerang orang yang sedang tidak bersiaga? Kalau engkau mempunyai kepandaian lekas unjukan mukamu dan marilah kita bertanding dengan Sie Toa-ya-mu secara terang-terangan. Tanpa perdulikan kawannya yang terluka iapun meloncat ke-tengah ruangan untuk menanti musuhnya.

Tapi sebagai jawabannya, kembali terdengar suara orang tertawa dingin kemudian disusul dengan kata-kata:

“Penjahat yang tidak tahu diri, kawan sendiri terkena serangan senjata apa masih belum mengetahui namun masih berani mati menantang berkelahi, kalau aku mau, sebentar saja bisa mengambil jiwamu. Kuberitahukan terus terang padamu, kawanmu yang tidak ada gunanya itu telah terkena senjata rahasia yang dinamakan duri ikan terbang, lekas bawa pulang dan keluarkan benda itu, kalau tidak, senjata rahasia yang terbikin dari baja itu segera menyusup kedalam anggota badannya lebih mendalam, sehingga lengan sebelah kanan akan menjadi rusak. Orang masih baik hati tidak mau ambil jiwanya, kalau kau masih tetap membandel. nanti aku bikin engkau tidak berdaya juga didalam rumah ini!"

Kim Cie Ping yang mendengar nama duri ikan terbang, benar- benar semangatnya ikut terbang, kegalakannya lantas lenyap seketika. Meski ia belum pernah datang ke Kang-lam, tapi ia sudah pernah dengar tentang nama Sun Tay Beng dengan senjata istimewa duri ikan terbangnya, yang merupakan senjata yang paling disegani oleh orang-orang dari rimba hijau, ia tidak nyana bahwa malam ini telah bertemu dengan orang yang ditakuti itu, tidak heran kalau seketika itu lantas kuncuplah hatinya, tanpa ajal lagi, ia lantas pondong kawannya dan berlalu dari rumah itu.

Tatkala dua penjahat tadi bikin ribut-ribut didepan pintu kamar, suami isteri Chie Ciatsu sebetulnya sudah mendusin, tapi mereka anggap ada nona Sian Jie yang melindungi, maka dengan tenang mereka mendengarkan saja apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mereka merasa heran, mengapa orang yang berbicara dengan penjahat itu suaranya seperti orang laki-laki, sedangkan mereka tahu bahwa orang-orang dalam rumahnya, kecuali Sian Jie, tidak ada satu yang mengerti ilmu silat, kalau begitu siapa gerangan laki-laki itu? Dan mengapa tidak kedengaran suara Sian Jie ? Mungkinkah itu sahahat Sian Jie yang diminta datang untuk memberi bantuan?

Chie' Ciatsu terus memikir, akhirnya ia sengaja batuk-batuk, dari luar jendela lalu terdengar suara Sian Jie.

“Apa disitu ayah? Mengapa masih belum tidur ?" “Sian Jie, apakah kawanan penjahat sudah kabur?" si ayah balik bertanya.

“Dua orang penjahat itu sudah kabur semuanya, harap ayah dan ibu tidur dengan tenang,”

Chie Ciatsu cuma rnenghela napas, tidak berkata apa-apa.

Esok harinya, suami isteri Chie Ciatsu telah datang sendiri ke- kamar Sian Jie, hingga membuat sinona keripuhan menyambut. Nyonya Chie lain menarik tangan Sian Jie sembari berkata,

“Anakku yang baik, kau ada bintang penolong dari keluarga Chie, barusan ayahmu ada berkata kepadaku, biar bagaimana tinggi kepandaian ilmu silatmu, tapi toch cuma seorang diri, perlukah kiranya memberitahukan kepada pembesar negeri setempat, supaya kirim orang untuk memberi bantuan. Semua pembesar negeri di tempat ini, sebagian benar pernah menjadi murid ayahmu, meski sekarang ayahmu sudah tidak memangku jabatan, tapi sedikit banyak masih mempunyai pengaruh terhadap mereka. Anakku yang baik. bagaimana pikiranmu dalam menghadapi soal ini?”

“Ibu dan ayah tadi malam sudah mendengar sendiri, tidak usah anak membohongi lagi, memang benar ada banyak kawanan pen- jahat dari rimba hijau yang datang kemari hendak turun tangan terhadap ayah untuk menuntut balas sakit hati mereka. Tapi pendekar aneh yang pernah menerima budi ayah dan yang anakmu pernah sebut beberapa hari berselang, juga sudah minta bantuan banyak kawannya yang berkepandaian tinggi, dengan diam-diam mereka telah melindungi ayah, kalau sudah tiba waktunya, ia bersama kawan-kawannya akan keluar terang-terangan membasmi kawanan penjahat itu. Suara orang laki-laki yang semalam ayah telah dengar itu adalah salah seorang diantara orang-orang pandai yang diminta bantuan oleh pendekar aneh itu. Sebetulnya memang tidak halangan untuk minta bantuan orang-orang dari kalangan pemerintah, tapi orang-orang yang kali ini datang menuntut balas dendam terhadap ayah, semuanya adalah kawanan penjahat besar yang namanya sudah terkenal dikalangan Kang-ouw. Kepandaian ilmu silat tidak boleh dipandang ringan, kalau hanya lima puluh orang tentara negeri saja tidak berdaya menghadapi mereka. Lagipula apabila terjadi kematian dikalangan tentara negeri itu, mungkin akan berbuntut panjang. Menurut pendapat anakmu, kita tidak perlu membawa-bawa pembesar negeri, entah bagaimana pikiran ibu dan ayah?" jawab Sian Jie.

“Perkataanmu ini memang ada benarnya. Pengawalku dulu ketika aku masih memangku jabatan pembesar negeri, juga tidak berdaya menghadapi kawanan dari rimba hijau itu. Hanya itu orang- orang pandai yang kau katakan hendak mernberi bantuan, bolehkah undang mereka berdiam dirumah ini, agar kita bisa melakukan kewajiban sebagai tuan rumah?" tanya Chie Ciatsu.

“Hal ini ayah dan ibu boleh legakan hati, mereka pada dewasa ini sedang melakukan tugasnya yaitu mengintai gerak-gerik kawanan penjahat itu kalau sudah tiba waktunya, mereka akan berkunjung sendiri tanpa diundang", jawab Sian Jie.

Mendengar keterangan Sian Jie itu suami isteri Chie Ciatsu mulai lega hatinya, setelah berbicara lagi sebentar, kedua suami isteri itu lantas kembali ke kamarnya sendiri. Bagi Sian Jie sendiri, diam-diam juga merasa gelisah. Menurut keterangan Ong suhengnya tadi malam, kawanan penjahat rupa-rupa nya sudah banyak yang datang tapi Ya-yanya belum ada kabar berita dari Ya- ya-nya.

Difihaknya sendiri itu waktu cuma ada tiga orang, jika kawanan penjahat bertindak dengan serentak, untuk melayani bertempur masih bisa. Tapi sembari melindungi keluarga Chie yang berjumlah tiga orang, rasanya agak sukar. – ooOoo –

Baik kita tinggalkan dulu Sian Jie yang sedang berada dalam kegelisahan, sekarang kita tuturkan tentang diri Kim Cie Ping Sie Kok Tiong yang menggendong tubuh Pang Oen sembari lari mengiprit. Beruntung diperjalanan mereka tidak dapat rintangan apa-apa.

Mereka berdiam dalam salah sebuah kampung nelayan yang terletak kira-kira sepuluh paal dari Siang Khe Chun. Tempat itu disebut Ie Chiu Wan, satu kampung kecil yang letaknya dipantai danau Siao-ouw, penduduknya cuma beberapa puluh jiwa, tapi disitu ada berdiam seorang yang kaya raya.

Dahulu orang itu juga adalah satu penjahat besar. Namanya Oh Cu Kui, karena telah berhasil dapat merampok sejumlah harta besar, lalu menetap ditempat yang sunyi itu untuk mencuci tangan. Ia mendirikan sebuah gedung besar, membeli beberapa buah perahu serta menggunakan tenaga beberapa orang nelayan miskin hingga hanyak juga penghasilannya setiap bulan.

Ia pernah angkat Oey Cing Tan sehagai saudara maka kali ini kawanan penjahat dari Utara yang mengejar Chie Ciatsu ketika mengetahui bahwa bekas pembesar negeri itu berdiam di Siang Khe Chun, Oey Cing Tan pun mencari Oh Cu Kui untuk meminjam gedungnya untuk tinggal sementara waktu, hingga perkampungan nelayan yang kecil itu, kini telah merupakan markas besar kawanan penjahat dari lima propinsi di Utara.

Sin Chiu Tui Hun Tong Cin Wie yang sudah bertekad bulat hendak mewujudkan maksudnya untuk menantut balas hingga kecuali mengerahkan seluruh anak buahnya juga ia telah pergi sendiri ke Ie-pak mengundang beberapa bekas kawanan berandal yang sudah mengasingkan diri. Ia hendak menggunakan kesempatan ini untuk tancap pengaruhnya di daerah Tionggoan dan Kang-lam, maka itu ia datang agak terlambat, dan menyerahkan tugas pengin-taian kepada Hoan Kong Hong dan Oey Cing Tan.

Hoan Kong Hong yang hendak mencegat ditengah perjalanan, tidak tahunya malah kena dihajar kucar-kacir oleh Kong Tong Liehiap Kang Sian Cian, sehingga dua kawannya binasa dan empat lagi terluka. sedang mata Pang Jie Hoan telah diserang oleh senjata rahasia ketika berada dirumah penginapan Ceng Yang Koan.

Kekalahan ini telah membikin kuncup nyali kawanan penjahat- penjahat itu hingga mereka tidak berani bergerak sembarangan lagi.

Tatkala rombongan kedua yang dipimpin oleh Oey Cing Tan- tiba bersatulah mereka lalu meneduh digedung Oh Cu Kui.

Hoan Kong Hong membicarakan tentang budak perempuan Chie Ciatsu yang cantik luar biasa, tapi juga tinggi sekali ilmu silatnya. hingga fihaknya sendiri yang mengerahkan tenaga beberapa orang hampir saja semuanya rubuh ditangannya.

Siapa nyana bahwa penuturan itu telah menimbulkan kegusaran Liauw-tang Siang Tiauw dan Yan-san Jie Kui (Sepasang burung dari Liauw-tang dan dua setan dari Yan San), masing-masing julukannya empat penjahat yang datang bersama Oey Cing Tan.

Mereka telah menertawai Hoan Kong Hong dan kawan- kawannya sebagai manusia yang tidak berguna, sehingga menghadapi satu budak perempuan saja sudah tidak mampu. Hoan Kong Hong sebetulnya hendak memberi tahukan dua rupa senjata istimewa yang digunakan oleh Sian Jie, supaya dipelajari bersama- sama, tapi dengan adanya perbuatan empat orang tadi, ia lantas urungkan maksudnya. Oey Cing Tan kuatir akan timbul percidraan, maka lantas buru- buru nasehati Liauw-tang Siang Tiauw dan Yan-san Jie Kui, namun ia sendiri juga merasa kurang puas. Ia masih bersangsi, bagaimana seorang budak cilik yang namanya belum dikenal mempunyai kepandaian begitu tinggi?

Diam-diam ia juga berunding dengan empat penjahat tadi. kemudian ambil keputusan bahwa esok malam sama-sama mengunjungi Siang Khee Chun untuk menemui itu budak cilik yang katanya berpa.ras amat cantik.

Yan-san Jie Kui yang gemar paras cantik ketika mendengar keluarga Chie mempunyai budak yang berparas cantik, tergeraklah hatinya. Ia ingin menangkap hidup-hidup budak tersebut.

Esok malamnya, setelah kentongan berbunyi dua kali, Oey Cing Tan bersama Liauw-Sang Siang Tiauw Sie Kok Tiong dan Pang Oen. Yan-san Jie Kui Thio Kiu dan Co Pat rnengenakan pakaian ringkas peranti berjalan molom lalu berangkat menuju ke Siang Khee Chun.

Belum sampai mereka memasuki kampung, sudah dipergoki oleh Pat Kwa-ciang Cin Tiong Liong dan Hwie Thian Giok Houw Ong Bun Ping yang mengintai di luar kampung. Cin Tiong Liong menyuruh Ong Bun Ping kabarkan kepada Sian Jie, dan ia sendiri hendak menghadapi lima orang tersebut.

Siapa kira bahwa lima penjahat itu setiba didepan kampung, lantas memencarkan diri menjadi dua rombongan. Liauw-tang Siang Tiauw masuk dari sebelah kiri, Oey Cing Tan bersama Yin- san Jie Kui masuk dari sebelah kanan.

Dengan demikian, hingga Cin. Tiong Liong terpaksa merobah rencananya, setelah bersangsi sejenak, ia lalu mengambil putusan hendak mencegat rombongannya Oey Cing Tan. karena dua penjahat itu meski bisa masuk kedalam karnpung, disana toch sudah ada Sian Jie dan Ong Bun Ping, sudah cukup buat melayani mereka.

Cin Tiong Liong segera sembunyikan dirinya diatas pohon di pinggir jalan dan tak lama kemudian kelihatan tiga orang tersebut.

Oey Cing Tan meski seorang penjahat besar yang sangat di- segani di daerah Utara, namun ia tidak gemar paras elok. Ia tahu bahwa Yan-san Jie Kui juga merupakan setan penggemar paras elok, karena kuatir kedua setan ini nanti merusak kehormatan wanita baik-baik, maka ia sendiri tidak pergi bersama Liauw-tang Siang Tiauw, sebaliknya ia hendak mengawani sambil mengawasi dua orang tersebut.

Tatkala mereka tiba dibawah pohon besar, tiba-tiba mereka diserang dengan batu yang dinamakan Hwie Hong Ciok dengan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, tiga orang itu buru-buru mendekam, meski terlolos dari serangan, tapi tidak urung sudah dibikin kaget setengah mati. Diam-diam merasa heran. bagaimana seorang bekas pembesar negeri yang tidak bertenaga bisa mendapat bantuan dari orang Kang-ouw yang mempunyai kepandaian ilmu silat demikian tinggi? Nampaknya penuturan Hoan Kong Hong memang benar.

Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring dan panjang, kemudian disusul dengan suara bentakan “Hai bangsa kurcaci segala berani juga beriaku kurang ajar di Kampung Siao- ouw? Kalau kalian tahu selatan baiklah lekas-lekas enyah dari sini! Tunggu sampai pemimpin kalian datang barulah kita boleh adu tenaga dengan secara terang-terangan. Kalau kalian mengira diri sendiri ada gagah dan memikirkan hendak berbuat sesuka hatimu tentu malam ini ……… ”

Belum habis perkataan orang yang sembunyi itu, Yan-san Jie Kui sudah tidak bisa menahan amarahnya, maka lantas keluarkan bentakan berbareng, kemudian lompat menerjang keatas pohon besar tersebut.

Dalam alam pikirannya, sekalipun serangannya ini tidak berhasil, tapi setidak-tidaknya bisa memaksa orang tersebut unjukan muka, dan kalau orang tersebut menampakan diri, maka mereka lantas bisa melepaskan senjata rahasia masing-masing untuk melakukan serangan serentak.

Siapa nyana begitu tiba diatas pohon, ternyata tidak menampak satu bayangan juga. Kedua setan itu terperanjat, kemudian terdengar pula suara tawa orang tadi sembari berkata,

“Dengan kepandaianmu seperti ini, juga hendak jual tingkah didepan tuanmu, benar-benar orang yang tidak kenal malu !"

Kedua setan itu bertambah murka, Thio Kiu lantas hunus senjatanya yang berupa sepasang gaetan, bersama-sama Oey Cing Tan dan Co Pat lantas mengubrak-abrik pohon tersebut, tapi tidak bisa menemui orang tadi.

Selagi mereka bertiga uring-uringan sendiri, tiba-tiba dibawah pohon yang tidak jauh dari pohon besar itu terdengar suara orang ketawa dingin sembari berkata,

“Tiga manusia yang sudah buta, kamu tidak periksa dulu diatas pohon ada orangnya atau tidak, apa perlunya mengubrak-abrik pohon yang tidak berdosa?"

Tiga orang itu menoleh berbareng lalu terlihat oleh mereka dibawah pohon yang kira-kira tiga paal jauhnya ada berdiri seorang laki-laki.

Thio Kiu yang sudah kalap benar-benar, sambil memaki kalang ka-butan, lantas melayang turun menerjang orang tersebut. Co Pat dan Oey Cing Tan juga lantas pada turun untuk memberi bantuan kepada kawannya.

Gerakan tiga orang itu dilakukan secara tidak diduga-duga serta cepat sekali. Siapa kira orang itu tidak turun tangan balas menyerang, sebaliknya lantas memutar tubuhnya dan kabur kearah telaga.

Oey Cing Tan dan Yan-san Jie Kui yang sudah murka benar- benar, lantas lari mengejar. Orang itu seolah-olah hendak menggoda tiga penjahat itu. Ia lari seenaknya saja tidak menunjukkan bahwa ia seorang lari sung-guh-sungguh tapi biar bagaimana pun ketiga penjahat itu tidak dapat menyandak. sekalipun mereka itu memaki kalang kabut, tapi orang itu tetap tidak mau ladeni.

– ooOoo –