Dara Pendekar Bijaksana Jilid 01

 
Jilid 01

ANGIN bertiup santar, salju beterbangan, di jalan raya propinsi Ho-lam distrik Thang-im yang menuju keselatan sedang berjalan sebuah kereta berkerudung tenda hitam yang ditarik oleh seekor kuda. Kereta tersebut berjalan perlahan-lahan menempuh perjalanan yang sukar dan melawan angin serta salju yang amat dingin itu. dari dalam kerudung tenda itu, lapat-lapat terdengar suara orang sakit yang sedang batuk-batuk serta suara helaan nafas dari seorang wanita.

Pada saat itu, muncullah tiba-tiba dari dalam rimba yang terdapat di sebelah kanan sebuah bukit yang tidak jauh dari jalan raya tersebut, dan dua sosok bayangan manusia yang berlari-larian seperti terbang ternyata mereka itu menuju jalan raya yang sudah penuh salju itu.

Kedua-duanya pada mempunyai kepandaian lari pesat yang luar biasa, orang yang terdepan berbadan kecil dan langsing, berbaju pendek dan celana panjang yang berwarna hijau seluruhnya, sedang rambutnya dikepang menjadi dua. Sepasang kakinya memakai cepatu yang berujung sangat runcing. Meskipun sederhana sekali cara berpakaiannya tatapi tidak menutupi kecantikan wajahnya yang wajar itu sebab kecantikannya itu adalah pemberian yang Maha Kuasa bukan dibuat-buat. Bila orang melihatnya agak lama akan orang ketahui bahwa ia sedang menyimpan perasaan duka. Hal itu dapat dilihat dari sela-sela alisnya. Di belakangnya ada berlari seorang laki-laki tua yang berusia kira-kira enam puluh tahun lebih. Jenggotnya yang sudah putih seluruhnya tumbuh melewati dadanya, badannya tegap tetapi pada raut mukanya yang agak tirus panjang kelihatan tegas garis-garis yang menandakan usia tuanya.

Kedua manusia itu telah menunjukkan kepandaian lari cepat mereka di atas jalan raya yang sudah penuh sanyu yang tebal dan putih meletak itu. dari jauh, mereka itu terlihat bukan seperti berlari lagi, lebih tepat kalau mereka dikatakan bahwa mereka sedang beterbangan seperti dua ekor burung elang yang lagi terbang turun naik. Sekejap saja keduanya sudah bertenti tidak jauh di belakang kereta bertenda hitam itu.

Si orang tua sambil menunjuk itu kereta bertenda hitam yang sedang berjalan, dengan suaranya yang agak serak berkata kepada anak dara yang bertubuh kecil langsing itu.

“Sian Cian, orang yang duduk di dalam kereta itu adalah tuan penolongku Chie Chiatsu. Dahulu dia pernah menolong diriku dari bahaya maut, kali ini ia telah difitnah orang jahat, sehingga kehilangan pangkatnya serta dijebloskan ke dalam penyara. Sebetulnya aku ingin mengajak engkau dan aku membongkar rumah penyara untuk menolongnya, tapi siapa tahu orang yang baik itu selamanya terhindar dari hukuman mati. Kasihan Chie Ciatsu yang selama hidupnya berkelakuan sangat jujur dan bersih, tetapi akhirnya pulang ke kampungnya dengan kehilangan pangkatnya. Semoga engkau kali ini dapat memenuhi keinginanku agar tidaklah sia-sia jerih payahku merawat dirimu hingga dewasa. Chie Kongcu (putera Chie Ciatsu) masih muda usianya, orangnya tampan dan terpelajar tinggi, tidak nanti mengecewakan engkau!” Dara itu setelah mendengar penuturan si orang tua tersebut parasnya segera berobah merah. Sambil mengembeng air mata ia menjawab:

“Yaya, aku mengerti maksudmu, tapi aku Cuma mengharap agar aku berada saja disampingmu selama hidupku, bisa melayani engkau, selain itu tidak ada lagi keinginanku yang lain!”

Si kakek tua itu tidak menunggu habis ucapan anak dara tersebut, sudah tertawa lebar sambil berkata.

“Cian-jie, ucapanmu ini aku sudah mengerti, Cuma usia yayamu sudah lanjut, entah tinggal berapa lama lagi masih bisa bercakap-cakap dengan kau. Selama empat puluh tahun ini, meski aku bisa mengangkat nama di kalangan Kang-ouw tetapi tahukah engkau bagaimana kematian ayah dan ibumu? Permusuhan dan balas membalas dalam rimba persilatan boleh dikatakan tidak ada habis-habisnya. Selama hidupku entah sudah berapa banyak jiwa penjahat dan orang-orang dari kalangan rimba hijau yang melayang jiwanya dibawah pedangku, tetapi aku sendiri juga harus mengorbankan jiwa anak dan menantuku sendiri. Lima belas tahun yang lalu, kalau bukan Chie Inyin (tuan penolong) yang menolong jiwaku, aku bukan saja tidak bisa menuntut balas sakit hati ayah bundamu, bahkan jiwaku sendiri juga sudah siang-siang pulang ke akherat. Maka itu, kalau aku menyuruh kau berbuat demikian adalah untuk membalas budi. Selain dari pada itu juga karena aku tidak ingin dirimu yang putih bersih ini bercampur dengan segala orang jahat di sunia Kang ouw, Sian Cian, mengertikah ucapanku ini!”

Mendengar itu, Sian Cian si anak dara itu pun mengangkat mukanya, memandang wajah si kakek, lalu dengan suara pilu ia menyahut. “Aku faham maksud baikmu Yaya, aku bersedia menuruti kehendak Yaya ….. harap Yaya suka menjaga diri baik-baik.”

Sesuda berketa demikian, diputarnya tubuhnya tiba-tiba, lalu dengan kecepatan seperti kilat dikejarnya kereta yang bertenda hitam itu.

Di tengah-tengah salju yang putih Cuma tinggal seorang kakek yang berbadan tegap dan berjenggot panjang dan putih. Ia memandang itu bayangan hijau diantara keputihan salju. Lama- kelamaan hilanglah dari pandangan matanya, tanpa terasa kakek itu telah mengangkat tangannya, lalu dengan lengan bayunya ia menyusut air matanya yang mengalir bercucuran ……

Teidak lama kemudian setelah kepergian Sian Cian, dari jalanan sebelah Utara telah lari mendatangi tiga ekor kuda. Di atas kuda-kuda itu ada tiga orang-laki-laki yang tegap dengan dandanan serba ringkas. Ketiganya memakai baju tebal berwarna hitam, kepala mereka dibungkus dengan kain tebal berwarna hijua. Di atas pelana kuda mereka dicantelkan tiga buah senjata yang berlainan jenis.

Mereka melarikan kuda laksana terbang, hingga salju beterbangan di udara, sebentar saja sudah mendaki bukit.

Setiba di atas bukit, kuda mereka berjalan sedikit pelahan, sedang orang itu sambil mengibas-ngibaskan salju yang menempel pada badan mereka. Seorang diantara mereka mulai membuka suara, katanya :

“Kereta yang tertutup hitam yang semalam telah kita lihat itu memuat Chie Ciatsu, bekas pembesar negeri yang toako kita telah perintahkan untuk mengejar lalu membunuhnya tanpa ampun. Katanya orang tua itu telah dua kali menjabat jabatan tinggi, dan tatkala ia masih memegang jabatannya, karena tindakannya yang tegas, diluar Ie Pak, entah berapa banyak kawan dari rimba hijau yang sudah binasa di tangannya. Anak muridnya Toako dan gundiknya yang tersayang, juga dihukum mati tatkala orang tua itu menjabat kedudukannya di Liauw-tang. Kala itu kebetulan toako berada di daerah Kang-lam hingga tidak mengetahui hal ini, setelah kembali, buru-buru mengetahuinya, tetapi orang tua itu juga sudah dipindah ke kota raja. Dengan sangat murka, toako pergi ke kota raja, hendak menuntut balas terhadap itu orang tua, siapa kira karena orang tua itu berani mengusik-usik perkara raja muda Han-lu akhirnya, akhirnya telah mendapat dosa sebagai orang yang berani menghina nama baik raja muda sehingga dijatuhi hukuman mati. Toako yang melihat keadaan demikian, ia pikir sudah saja, siapa tahu ternyata orang tua itu masih panjang umurnya karena masih ada orang yang mau menolongnya, hingga ia terhindar dari hukuman mati. Ia hanya dipecat dari jabatannya. Toako yang mendapat kabar itu telah dua kali pergi ke kota raja, tetapi orang tua itu telah berlalu dengan membawa kelurganya, sebab itu ia menyuruh kita bertiga pergi mengejar dan mengambil jiwanya. Biar bagaimanapun, jangan sampai kita pulang dengan tangan hampa!”

Seseorang segera memotong, “Aku kata dalam hal ini toako agak membesar-besarkan, Cuma satu bekas pembesar negeri yang lemah daya, sukup kita kirim satu atau dua orang kita saja yang sedikit cerdik untuk mengurus, bukankah sudah beres? Perlu apa mesti perintahkan kita bertiga yang harus turun tangan sendiri untuk mengurus perkara yang sepele ini?”

Laki-laki yang seorang lagi yang berbadan pendek sedikit turut bicara, “Pang Lo-ji, ucapanmu ini ada sedikit keliru. Toako dua kali ke kota raja, bukankah karena hendak membunuh mati musuhnya dengan tangan sendiri? Sekarang ia telah serahkan urusan ini kepada kita bertiga? Lagi pula orang tua bekas pembesar negeri itu sudah dua kali menjabat kedudukan tinggi, mustahil kita tidak dapatkan hasil apa-apa dari dirinya!”

Laki-laki yang mula-mula membuka mulut tadi agaknya sudah tidak sabaran, ia lantas berkata pula, “Kereta di depan itu sudah tidak kelihatan bayangannya lagi. Jalanan ini agak banyak bukit, dalam beberapa puluh paal ini tidak ada penduduknya, hingga merupakan tempat yang paling baik bagi kita turun tangan. Mari kita lekas kejar, setelah kita berhasil melaksanakan tugas kita, kita lekas pulang ke Thong-im, tidak perlu kita merecoki hal-hal yang bukan-bukan di sini!”

Tiga orang itu lantas melanjutkan perjalanan mereka, tidak beberapa lama kemudian, mereka sudah melihat kereta bertutup hitam itu sedang berhenti dan beristirahat, disamping kerena lapat- lapat kelihatan bergeraknya bayangan orang. Pemandangan serupa ini, sungguh di luar dugaan mereka, sehingga mereka menahan kudanya untuk mengawasi dari jauh.

Tidak lama kemudian kereta itu kelihatan melanjutkan perjalanannya.

Tiga penjahat itu saling memberi tanda, segera keprak kudanya dengan cepat mengejar ke arah kereta tersebut. Karena kuda lebih cepat dari kereta hingga sebentar saja mereka telah berada di belakang kereta itu.

Saat itu timbullah nafsu membunuh dalam hati tiga kawanan penjahat itu hingga mereka segera pada menghunus senjata masing- masing serta menerjang kereta itu dari kanan dan kiri.

Siapa nyanya, baru saja ketiga penjahat itu bergerak, tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara orang tertawa dingin. Suara itu dibarengi dengan tiga buah benda berkeredepan yang menyambar ke arah mereka. Tiga penjahat itu hanya merasakan kesemutuan di  bagian jalan darah Hong Hu Hiat‟ di pundak belakang masing- masing lalu ketiga-tiganya jatuh terjungkal dari kuda mereka. Kereta tersebut seolah-olah tidak tahu apa yang telah terjadi hingga melanjutkan perjalanannya dengan tenang.

Tiga penjahat itu setelah mendusin, baru mengetahui bahwa dirinya pada rebah terlentang di atas salju, seolah-olah baru mendusin dari mimpinya, mereka lantas mengerti telah bertemu dengan orang yang berkepandaian tinggi. Jalan darah mereka telah tertotok oleh semacam senjata rahasia yang sangat lihay, beruntung orang itu tidak menginginkan jiwa mereka, hanya menotoknya di tempat yang sangat tepat, sehingga mereka bisa mendusin sendiri dalam tempo dua jam tanpa memerlukan pertolongan. Namun demikian, mereka telah tidur dua jam lamanya di atas salju. Waktu itupun sudah cukup membuat mereka hampir mati kedinginan.

Adapun tiga orang penjahat itu adalah anak buah seorang kepala berandal yang namanya sangat disegani di jalanan lima daerah propinsi Utara. Kepala berandal itu bernama Tong Cin Wie, sedangkan gelarnya Sin Chiu Tui Hun. Tiga penjahat itu karena mengandalkan nama pemimpin mereka yang sangat disegani serta kepandaian ilmu silat mereka maka selalulah mereka berbuat sewengna-wenang di daerah Utara sungai Kuning. Kejahatan mereka sudah bertumpuk-tumpuk, entah sudah berapa banyak jiwa manusia yang tidak berdosa sudah melayang di tangan mereka.

Penjahat itu yang usianya agak tua dari antara mereka bertiga bernama Kim Mo Houw Cu Tiauw Ching, yang pendek bernama The Thong, gelarnya macan kaki pendek, satu lagi bernama Pang Jie Hoan, gelarnya macan muka hijau. Didalam kalangan Kangouw mereka mendapat gelar tiga macan dari Ie-pak.

Kali ini karena mendapat perintah dari pemimpin mereka Tong Cin Wie, tapi waktu mengejar dan hendak membinasakan jiwa Chie Ciatsu sekeluarga, tidak nyana telah mengalami nasib sial, di sini mereka bertemu dengan orang yang berkepandaian tinggi sehingga mengalami kekalahan yang begitu hebat.

Berbicara tentang diri Sin Chiu Hun Tong Cin Wie, kepala berandal ini pada masa itu merupakan tokoh yang sangat menonyol di kalangan Kangouw, orang Cuma tahu bahwa kepala berandal itu ada mempunyai kepandaian silat yang luar biasa, senjata rahasianya yang berupa jarum Tui Hun Ciam merupakan senjata yang sangat ampuh dan menjagoi kalangan Kagouw.

Sifat kepala berandal ini aneh dan kejam, diluarnya manis tetapi dalam hatinya buas seperti binatang. Setiap kali bertemu dengan musuh-musuhnya, belum pernah memberi kesempatan hidup kepada musuh-musuhnya.

Baru tujuh atau delapan tahun ini ia muncul di kalangan rimba hijau di lima propinsi Utara, tapi kepandaian ilmu silatnya yang luar biasa dan senjata rahasia Tui Hun Ciamnya yang sangat ampuh tiada taranya itu telah menundukkan semua jago dalam kalangan rimba hijau di daerah Utara, hingga menduduki kursi kepala berandal di daerah lima propinsi Utara.

Dua tahun kemudian ia telah membuka perkampungan di tepi sungai Eng Teng Ho yang mempunyai pemandangan alam yang sangat indah permai, seolah-olah seorang hartawan besar, tapi kiranya ia cuma seorang kepala berandal, perkampungan ini dibuat markas besar untuk memimpin gerakan-gerakan kejahatannya.

Tong Cin Wie masih mempunyai satu ciri, ialah gemar main perempuan, namun ia tidak gampang-gampang jatuh hati terhadap wanita. Wanita-wanita yang ditaksir olehnya tidak peduli isteri atau gundik-gundik para pejabat tinggi atau raja muda, puteri-puteri bangsawn atau hartawan, ia pasti berusaha terus sampai bisa berhasil. Ia memanam bibit permusuhan dengan Chie Tayjin ialah karena salah satu gundik karena salah satu gundik dari penjahat besar tapi ternyata yang paling disayang olehnya beserta salah seorang muridnya dalam suatu kejahatan di daerah Lauw-tang telah tertangkap. Kala itu Chie Tayjin itu adalah satu-satunya pejabat negeri yang berani bertindak tegas terhadap kejahatan, maka seketika itu lantas menyatuhkan hukuman mati kepada penjahat tersebut.

Tong Cin Wie yang masih terus merasa penasaran terhadap Chie Ciatsu, terus berusaha untuk menuntut balas dendamnya, dan ketika ia mendengar Chie Ciatsu sedang pulang ke kampungnya, iapun segera perintahkan tiga anak buahnya untuk mengejar dan membinasakan bekas pembesar negeri tersebut.

Siapa nyana bahwa Tuhan masih melindungi jiwa pembesar negeri yang jujur dan berhati mulia itu sehingga muncullah seorang pendekar budiman Kang It Peng yang bergelar Gin Sie Siu atau kakek jenggot perak yang pernah ditolong oleh bekas pembesar negeri itu. secara diam-diam telah melindungi di sepanjang jalan. Akhirnya membuat tiga macan itu pulang dengan tangan hampa.

Tiga macan dari Ie-pak itu lantas melaporkan segala pengalamannya kepada pemimpinnya. Ketika Tong Cin Wie mendengar laporan anak buahnya, parasnya berobah seketika, lama ia berpikir, kemudian barulah ia berkata sambil tertawa dingin.

“Bagus, ternyata masih ada orang yang berani main gila terhadap aku si orang she Tong, rasanya aku mesti turun tangan sendiri, aku ingin melihat bagaimana macam orang itu yang pandai menggunakan senjata rahasia untuk menyerang jalan darah orang. Kalian bertiga, sekarang juga harus berangkat ke Kang-lam lagi, kalian harus pasang mata dan kuping dengan betul, dimana tempat kediaman bekas pembesar anjing she Chie itu. beberapa hari kemudian aku akan menyusul kalian!” Setelah rnendapat tugas baru itu ketiga macan itupun segera berangkat lagi ke Kang-lam pada hari itu juga tanpa berani beristirahat sedikitpun.

Kini Tong Cin Wie lantas mulai mengatur siasatnya, ia tahu bahwa orang yang mahir menggunakan senjata rahasia untuk menotok jalan darah lawannya orang itu tentu tinggi sekali kepandaiannya, begitu pula ilmu tenaga dalamnya, orang tersebut bisa permainkan tiga anak buahnya, sudah tentu bukan orang sembarangan.

Ia lantas mengutus anak buahnya memberitahukan kepada Hoe Cee Thian Ong Hwan Kong Hong dan Chit Seng Sin Pian Oey Cing Tan untuk menyuruh rnereka segera berangkat ke Selatan malam itu juga dengan membawa beberapa orang yang berkepandaian agak tinggi, untuk memberi bantuan kepada si tiga macan itu.

Disamping itu juga diutusnya orangnya untuk memberitahukan kepada beberapa penjahat yang namanya sudah terkenal di daerah Utara, supaya membawa anak buah masing-masing dan segera berangkat ke Selatan. Kemudian ia sendiri berangkat menuju kegereja Cing In Sie di Tay-ku, untuk mengundang kawan karibnya yang menjadi paderi di kelenteng tersebut Kim Hong Sian-su.

Kita sekarang balik kepada Chie Ciatsu. Bekas pembesar negeri ini bernama Chie Kong Hiap, ia berasal dari keluarga terpelajar, sejak mudanya sudah terkenal karena kepandaian ilmu suratnya. Ia sudah pernah menjabat jabatan Ti-hu dan kemudian Ciatsu sebetulnya ia tidak perlu sudi gawe turut mengusil-usil perkara raja muda Han-lu yang masih pernah adik dari hongtee masa itu tapi Raja muda itu telah berlaku tidak senonoh terhadap wanita rakjat biasa hingga Ciatsu itu telah bertindak dan hasilnya ialah yang difitnah oleh raja muda ceriwis itu hingga hampir saja ia mendapat hukuman mati. Chie Kong Hiap tidak sajangi pangkatnya, tapi ia kasihani anak dan isterinya yang tidak berdosa apa-apa tapi harus turut memikul dosanya sendiri, oleh karena itu jatuh sakitlah ia dirumah pen-jara, sehingga ia dikeluarkan dari penyara pada waktu itu sakit-nya belum sembuh benar.

Karena ia tidak mau berdiam lama-lama di kota-raja, maka meski badannya masih sakit maka diajak anak isterinya untuk pulang juga kekampung Siang Khe Chun di propinsi An Hwie yaitu kampung halamannya sendiri.

Meski badan Chie Kong Hiap sakit, tapi hatinya merasa gem- bira, ia sangat gembira bisa meninggalkan penghidupannya yang sibuk dikalangan pembesar negeri, tapi ia tak tahu bahwa ia baru terlepas dari cengkeraman maut di kalangan pemerintahan, kini kembali menghadapi ancaman pembunuhan dari kawanan penjahat? Kalau bukan pendekar budiman Kang It Peng yang melindunginya, niseaja ia dan isterinya sudah terbinasa ditangannya tiga macan dart Ic-pak itu.

Tatkala kereta bertenda hitam tadi berjalan diatas sebuah jalanan yang sepi di daerah Thong Im, tiba-tiba terdengar suara tangisan dan ratapan seorang wanita yang memilukan hati. Nyonya Chie tergerak hatinya oleh suara tangisan itu lalu memerintahkan kusir menghentikan keretanya, lalu membuka tirai kereta untuk melihat keluar, maka terlihatlah olehnya diatas jalan yang penuh salju, tidak jauh dari depan kereta, ada duduk seorang wanita muda berbaju hijau. Suara tangisan itu ternyata keluar dari mulut wanita itu.

Tanpa menanyakan apa sebabnya maka nyonya Chie segera perintahkan anak laki-lakiya turun dart kereta memberi pertolongan pada wanita tersebut. Chie Kongcu tidak berani berbuat ajal, ia segera turun dari kereta dan buru-buru menghampiri wanita itu, lalu menyapa :

“Nona, disini hawanya sangat dingin, ibu suruh nona naik ke atas kereta untuk menghindarkan hawa dingin, kalau nona ada kesasar jalan, aku nanti bisa minta kepada ibu agar supaya bisa suruh kusir kereta antarkan pulang kerumah nona. Sekarang silah- kan nona naik ke-kereta ……!”

Chie Kongcu ada seorang terpelajar, biasanya jarang keluar pintu sendirian, maka pembicaraannya sedikit banyak masih rada malu-malu.

Wanita muda itu lantas berdiri dan menyahut : “Terimah kasih atas kebaikan Kongcu". Lalu memberi hormat kepadanya.

Chie Kongcu agak gelagapan, ia menampak wajah ayu agung dari si nona, matanya tidak berani memandang lama-lama. Maka dalam seketika itu buru-buru mengajak si nona naik ke kereta menemui ibunya.

Nyonya Chie adalah seorang perempuan budiman serta welas asih, maka buru-burulah ia membersihkan salju yang menempel di- badan nona itu, kemudian memberikan pakaian tebalnya, sudah itu lalu menutupi tirainya dan melanjutkan perjalanannya.

Nyonya Chie menanyakan diri nona tersebut yang lalu diceritakan riwajatnya yang sudah dikarang terlebih dahulu. Ia mengaku dirinya she Kang dan namanya Sian Jie. Ia bersama ayahnya hendak mencari familinya, tapi tidak ketemu dan ayahnya mati ditengah perjalanan kemudian ia dijual kepada seorang hartawan, tapi kemudian ia melarikan diri.

Kini ia sudah tidak mempunyai kediaman lagi, maka dimintanya supaya nyonya ini suka menerimanya sebagai budak atau apa saja. Kata-katanya itu sudah tentu terdapat banyak kesalahan, tapi karena ia pandai mengatur pembicaraan hingga nyonya Chie itu percaya saja. Juga karena ia telah ter-tarik kepada paras yang cantik dan kecerdikan nona itu hingga ia terima baik permintaan nona itu.

Meski Chie Kong Hiap merasa sangsi terhadap diri nona itu tapi karena kemauan isterinya maka ia tidak berani membantah. Saat itu Chie Kongcu Chie Sie Kiat girang sekali. Ia belum pernah melihat seorang wanita yang parasnya begitu cantik laksana bidadari, meski nona itu hanya mengenakan pakaian yang sangat sederhana.

Kereta itu dijalankan setiap hari tanpa mengaso barulah berhenti dipenyeberangan sungai kuning. Ketika itu Chie Kong Hiap mulai sembuh. Pindahlah mereka keperahu layar supaya dapat melanjutkan perjalanan ke Selatan. Setelah tiba diseberang Selatan sungai kuning mereka pindah lagi ke kereta dan meneruskan perjalanan melalui Kay-hong, Tan-liu dan kemudian tiba di kota Hway-yang.

Malam itu mereka lantas menginap di satu rumah penginapan. Belum lama mereka tiba dirumah penginapan itu telah datang tiga lelaki yang menunggang tiga ekor kuda. Laki-laki tersebut juga menginap dirumah penginapan tersebut.

Chie Ciatsu bersama keluarganya menempati tiga buah kamar di-sebelah Barat sedang ketiga laki-laki tadi menempati dua buah kamar cliseberangnya.

Tatkala malam tiba, tiga laki-laki tersebut selalu pasang mata dan kadang-kadang melongok kekamar Chie Kong Hiap. Semua gerak gerik itu telah diketahui oleh Sian Jie, tapi ia pura-pura tidak melihat, setelah membantu nyonya Chie memasak obat untuk Chie Kong Hiap barulah ia masuk kekamarnya sendiri. Kira-kira jam satu tengah malam, suami isteri Chie Kong Hiap itupun pulaslah. Cuma kamar Chie Sie Kiat yang masih memancar- kan sinar lampu sebab ia belum tidur. Sian Jie dengan perlahan turun dari pembaringannya lalu menuang secawan teh wangi dan kemudian dengan mengindap-indap berjalan menuju ke kamar Chie Sie Kiat. Tadinya ia mengira sang Kongcu itu masih membaca buku. siapa tahu tatkala ia mendorong pintu kamar, ia menyaksikan Chie Kongcu sedang duduk menunjang janggut sambil mengawasi lampu diatas meja, agaknya sedang melamun.

Sian Jie adalah seorang anak cerdik, selama beberapa hari ini, ia telah dapat melihat bahwa sang Kongcu itu telah menaruh perhatian terhadap dirinya.

Ia berjalan mendekati, lalu berkata dengan suara perlahan, “Siao-ya, sudah larut malam, seharusnya mengaso saja!”

Kata-kata itu telah mengejutkan Chie Sie Kiat yang sedang melamun, iapun mengangkat muka, sekilas terlintas wajahnya Sian Jie yang cantik dan menggiurkan. Ia cuma bisa membuka mata lebar-lebar ia tak tabu cara bagaimana harus menjawab.

Sian Jie letakkan cawan teh diatas media seraja berkata “Siao- ya, silahkan minum teh!”

Sehabis berkata lantas memutar tubuhnya dan berjalan keluar.

Chie Sie Kiat mendadak membuka mulutnya, ia berkata : “Sian Kow ”

Kata-kata selanjutnya belum sampai keluar dari multitnya, tiba-tiba melihat Sian Jie membalikkan tubuh, tangan kanannya mengayun, seperti ada benda yang menyerupai benang perak meluncur dari tangannya, torus menerjang jendela. Kemudian disusul dengan suara jeritan “Aduh !”, lalu sunyi kembali. Chie Kongcu tidak dapat melihat togas semua kejadian itu. tatkala mendengar suara jeritan itu, kagetnya bukan main, sehingga badannya gemetaran.

Sian Jie sambil menyender kepintu, berkata sambil bersenyum : “Siao-ya, tidurlah baik-baik, jangan bikin kaget Lo-ya dan dan

Hu-jin!”

Kemudian ia menutup pintu lalu meninggalkan kamar itu dan Chie Kongcu yang masih duduk bingung memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi itu.

Esok harinya, Chie Ciatsu melanjutkan perjalanannya, Chie Kongcu masih memikiri kejadian semalam, tapi Sian Jie masih tetap seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Baru kira-kira dua puluh paal kereta Chie Ciatsu meninggalkan kota Hway-yang bertemulah sebidang tanah dataran yang amat luas. Pada saat itu, dibelakang kereta Chie Ciatsu itu ada delapan ekor kuda sedang berlari membuntuti, tidak lama kemudian, dari alas kereta bisa menampak delapan ekor kuda itu. Ternyata ada delapan penunggangnya yang terdiri dari orang-orang tun, muda. Mereka itu ada yang kurus ada pula yang gemuk dan setiap orang pada menyoren senjata.

Orang-orang yang berada dalam kereta itu Sian Jie sajalah yang mengerti bahwa orang-orang itu sedang mengejar mereka. Nona cilik itu lantas berobah parasnya, mulutnya yang kecil mungil agaknya tersungging senyuman dingin, alisnya berdiri. dalam hatinya berkata, “Hari ini kalau aku tidak memberi sedikit pelajaran kepada kalian tentu kalian tidak akan tahu diri, tentu kalian tidak tahu lihaynya Kong Tong Li Hiap Kang Sian Cian".

Selagi ia berpikir itu kedelapan ekor kuda itu sudah melalui kereta tersebut. Sian Jie diam-diam pasang mata, tangannya menggenggam senjata rahasia duri ikan terbang yang kecil halus. Seorang diantara ke delapan penunggang kuda itu, yang berusia kira-kira empat puluh tahun (agaknya sebagai pernimpin rombongan itu) mengempit perut kuda dengan kedua pahanya, hingga kudanya membedal melewati yang lain-lainnya. Orang itu membawa golok Kui Thauw To. Wajahnya seperti tembaga dan romannya kelihatan bengis, ia bedal tali kudanya, tempat duduknya agak dimiringkan kekanan.

Sian Jie hampir saja tidak bisa kendalikan amarahnya, ia ingin turun dari keretanya untuk memberi hajaran pada laki-laki yang jumawa itu, tapi tatkala ia menoleh dan menampak Chie Ciatsu bertiga sedang mengawasi tingkah lakunya sendiri, terpaksa ia mengawasi mereka sambil bersenyum.

Saat itu dari luar kereta terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian disusul dengan suara orang berkata “Aku tidak menampak orang berarti dalam kereta ini Pang Lo-jie bisa terkena serangan menggelap, sehingga buta matanya sebelah bukankah ini suatu peristiwa yang sangat mengherankan?"

Terdengar pula satu suara yang berkata : “Pang Jie Hoan terkena serangan senjata gelap, sehingga sekarang masih belum tahu betul siapa penyerangnya; menurut keterangannya bahwa gerak tangan orang itu gesit sekali, lagipula senjata rahasianya tidak mengeluarkan suara, hingga ia bisa rubuh".

Pada saat itu, kuda kawanan penjahat itu sudah mengitari kereta dan menerjang bagian depannya, tiba-tiba terdengar suara orang berkata :

“Haan Toa-ko Thee Lotee, kalian tidak perlu merecokin itu lagi, aku pernah menyaksikan dengan mata kepada sendiri, senjata rahasia yang mengenai diri Pang Jie Hoan itu adalah duri ikan terbang yang namanya sangat terkenal didaerah Kang-lam, aku lihat urusan ini agaknya sedikit sulit".

Orang yang mula-mula berbicara itu berkata lagi, “Orang namakan kamu tiga macan dari Ie-pak, nama itu saja sudah cukup menakutkan orang. Aku tidak percaya bahwa dalam kereta ini ada orang yang pandai menggunakan senjata rahasia duri ikan terbang. Dasar Pang Jie Hoan yang sedang sidI, atau boleh jadi bertemu musuh lamanya, sehingga mengalami kekalahan ….. "

Ketika pembicaraannya sampai disini, tiba-tiba ia menarik tinggi nada suaranya :

“Aku heran sikap toako kita, ia agaknya meniup-niup urusan ini, sehingga perlu musti turun tangan sendiri, aku tadinya mengira ia sedang berhadapan dengan orang yang mempunyai tiga kepala dan enam lengan tapi kiranya cuma satu orang tua yang tidak ada gunanya. Aku heran, toa-ko biasanya suka bertindak cepat, tapi sekarang kemana kegesitannya itu? Dalam hal ini ia nampaknya sangat hati-hati sekali, kalau hal ini diluaran, seorang gagah dirimba hijau yang sudah menjagoi di lima propinsi Utara, ternyata begitu takut bertindak menghadapi seorang tua yang tidak ada gunanya, bukankah akan membuat tertawaan orang? Kalau bukan karena toa- ko memesan berulang-ulang, hari ini aku sudah lantas turun tangan, untuk mengubrak-abrik itu orang dalam kereta, benar-benar aku tidak percaya mereka mempunyai pengaruh gaib".

Penjahat-penjahat itu bicara sambil mengeprak kuda lalu maju melewati kereta itu. Mereka tidak sangka bahwa semua pembicaraannya sudah masuk ketelinga Sian Jie. Nona cilik ini meski baru berusia delapan belas tahun, tapi ia sudah dididik dan dilatih baik oleh dua jago silat yang kenamaan, dengan sebilah pedang lemas yang terbikin dari besi Burma tulen dan sekantong senjata rahasia berbentuk duri ikan terbang yang terbikin dari baja. Ia sudah menjelajah dan malang melintang di tujuh propinsi daerah Kang-lam, nama Kong-tong Lie-hiap Kang Sian Cian, telah menggetarkan rimba hijau didaerah Kang-lam.

Tatkala ia mendengar pembicaraan kawanan penjahat tadi, mengertilah ia bahwa keluarga Chie Ciatsu serta dirinya sendiri sedang dikuntit oleh kawanan penjahat yang berjumlah besar dan mungkin akan menyusul berangsur-angsur; dari pembicaraan tadi ia juga tahu bahwa kawanan penjahat itu sedang menanti kedatangan pemimpin mereka, maka itu ia tidak berani turun tangan sembarangan.

Hal ini membuat ia merasa lega. Meski ia tidak takut terhadap mereka, tapi karena ia hanya seorang sudah tentu ia akan keripuhan. Karena mengetahui kawanan penjahat itu tidak berani turun tangan, maka ia juga tetap berlaga pilon sambil menanti kedatangan Ya- yanya.

Senjata rahasianya yang sudah digenggam ditangan, dimasukkannya lagi kedalam kantongnya. Tapi segala perobahan sikap ini sudah menarik perhatian Chie Kong Hiap. Chie Kong Hiap meski tidak mempunyai pengalaman didunia Kang-ouw seperti Sian Jie, tapi terhadap gerak-gerik kawanan penjahat itu juga menyebabkan ia merasa curiga. Ia juga mendengar lapat-lapat pembicaraan mereka, meski tidak bisa dengar jelas persoalan yang mereka bicarakan, tapi sedikit banyak sudah dapat menduga bahwa mereka tidak bermaksud baik terhadap dirinya.

Berbareng dengan itu, ia juga sudah dapat lihat bahwa Sian Jie ini bukan anak perempuan sembarangan meski nampaknya lemah lembut, tapi dari sepasang matanya yang bersinar tajam, dapat dipastikan bahwa anak perempuan ini berasal dari kalangan orang- orang gagah. Mereka pun melanjutkan perjalanannya sampai beberapa hari lamanya, pada suatu hari mereka telah memasuki propinsi An-hwie. Setelah melalui jalan dataran yang luas dan panjang, tibalah mereka didaerah rimba pada waktu tengah hari.

Tiba-tiba dari dalam rimba terdengar suara siulan nyaring dan panjang. Mendengar suara itu berobahlah wajah Sian Jie. Ia tidak perduli kedoknya akan terbuka dihadapan Chie Ciatsu hingga dengan cepat ia bertindak yaitu ia menyuruh kusir menghentikan kereta. Kemudian menolehlah ia kepada Chie Ciatsu lalu berkata,

“Lo-ya, Hujin, didalam rimba ini mungkin ada kawanan orang jahat, Lo-ya sekalian berdiam saja didalam kereta, jangan bergerak sembarangan, tunggu budakmu akan melakukan pemeriksaan dulu sebentar".

Tidak menunggu jawaban dari Chie Ciatsu lagi, iapun me- lompat turun dari kereta lalu dengan cepat lari kedalam rimba. Baru saja tiba didalam rimba, ia segera dapat melihat kedelapan penjahat itu berada didalam rimba tersebut, Sian Jie lalu berkata sambil tertawa dingin :

“Kahan ini semua berlaku seperti setan gentajangan, selalu menguntit kereta nona-mu apa hasrat kamu yang sebenarnya?"

Penjahat yang berwajah seperti tembaga itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak kemudian berkata :

“Seorang nona cilik yang galak sekali, aku si orang she Hoan beberapa tahun berkelana di dunia Kang-ouw, belum pernah ketemu dengan seorang perempuan yang begini galak. Kau mau bertanya maksud kedatangan kita? Tapi aku ingin ketahui lebih dahuIu nona cilik ini siapa dan ada hubungan apa dengan itu si orang she Chie yang berida didalam kereta! Mengapa kau mengikuti mereka duduk dalam kereta itu?” “Apakah kau sendiri yang melukai sahabat kita si macan muka hijau di rumah penginapan Hway Yang ?"

Ia majukan itu serentetan pertanyaan sambil menatap wajah si nona, begitu pula tujuh penjahat yang lainnya.

“Kau bertanya tenting ini? Aku dengan orang she Chie itu ada mempunyai hubungan majikan dengan bujang, tegasnya, aku adalah budak keluarga Chie sudah tentu aku harus bantu mereka. Hal ini tidak ada urusan bagi kalian semua. Tentang itu orang yang menamakan dirinya si macan muka hijau, ia terluka memang seharusnya. siapa suruh ia tengah malam buta mengintip kamar orang? Jawabanku sudah habis, kalian ada maksud apa? Sebaik-nya kalian jelaskan padaku. Perlu aku beritahukan padamu, meski nona- mu ada seorang diri saja, tapi sedikitpun tidak akan merasa jeri untuk menghadapi orang-orang semacam kalian ini!"

Mendengar perkataan jumawa dari si nona maka seorang diantara penjahat itu lantas berkata dengan amat gusar,

“Budak hina yang sangat katak, kau benar-benar tidak memandang mata orang lain. Aku tidak percaya dengan usiamu yang begini muda bisa mengeluarkan ucapan begini sombong. Baiklah, kawan kita si Pang telah teriuka ditanganmu, sekarang tidak usah banyak bicara, utang uang bajar uang, utang jiwa bajar jiwa, aku Kim Mo Houw hendak menagih hutang padamu".

Orang itu berusia tiga puluh tahun lebih, wajahnya bengis, di tangannya memegang sebilah golok besar dan berat. Dengan itu golok ia lantas mulai melakukan serangan terhadap diri si nona.

Sian Jie berkelit sambil berkata mengejek, “Dengan badanmu yang seperti kerbau ini juga berani turun tangan terhadap nona- mu?" Sebentar saja ia sudah bersda dibelakang Kim Mo Houw, dua jari tangan kanannya lalu menotok jalan darah Hong Hu Hiat dibelakang pundak si macan bulu emas itu.

Begitu turun tangan, Sian Jie sudah mengarah jalan darah orang, hingga para kawanan penjahat yang menyaksikan pada terkejut.

Difihak Kim Mo Houw yang gagal dalam serangannya, karena tidak menampak bayangan Sian Jie hatinya kagetnya bukan main. Tiba-tiba dibelakang gegernya merasa desiran angin lalu ia buru- buru lompat kedepan sejauh delapan kaki, tapi si nona seolah-olah membayangi dirinya, sambil membentak : “Kau hendak lari kemana

?" Jari tangan nona itu segera menotok belakang geger Kim Mo Houw.

Mata si macan bulu emas itu lantas gelap seketika, darah sekujur badannya dirasakan pangs, kemudian sempojongan sampai tindak, baru bisa berdiri lagi. Meski ia tidak jatuh, tapi wajahnya sudah pucat pasi. Kalau Sian Jie berlaku ganas, jiwa salah satu dari si macan bulu emas ini sudah melayang siang-siang. Sian Jie tidak map memberi hati kepada kawanan penjahat itu, setelah berhasil merubuhkan Kim Mo Houw, lalu memutar tubuhnya dan berkata kepada kawanan penjahat tersebut.

“Dengan mengandal kepandaian kalian yang tidak berarti ini juga berani main gila terhadap nona-mu? Kalau kalian mengerti selatan, sebaiknya lekas berlalu dari sini Kalau tidak dengar nasehat nona-mu, nanti nona-mu bisa bikin kalian mampus di rimba ini!”

Ucapan Sian Jie ini telah membikin Hwie Cee Thian Ong Hoan Kong Hong gusar sekali. Dengan marah ia membentak.

“Budak hina yang sangat ganas, kau telah mendesak kita demikian rupa, aku si orang she Hoan juga ingin menguji kepandaianmu.” Kemudian ia menoleh dan berkata kepada kawan- kawannya,

“Budak hina ini biarlah kalian serahkan kepada aku dan saudara The yang melayani, kalian boleh turun tangan bereskan itu orang she Chie bersama keluarganya, agar tog-ko tidak perlu turun tangan sendiri".

Mendengar perintah orang she Moan itu, empat diantaranya segera memisahkan diri hendak lari menghampiri kereta Chie Ciatsu.

Berbareng dengan itu, Hoan Cee Thian Ong juga segera keluarkan senjatanya menyerang Sian Jie.

Ketika Sian Jie mendengar kawanan penjahat itu hendak menyerang kereta Chie Ciatsu niatnya ia merintangi tapi selagi ia hendak merintangi itu empat penjahat yang lari keluar rimba, tiba- tiba senjata Hoan Kong Hong sudah berada didepat dadanya.

Dengan cara rebahkan diri, ia dapat hindarkan serangan si orang she Hoan itu. Dengan cepat ia bangun berdiri lagi, dari pinggangnya ia keluarkan senjata pedang lemasnya yang istimewa, pedang ini meski lebarnya tidak ada dua jari tangan, tapi tajamnya luar biasa, kalau tidak dipakai, bisa digunakan sebagai ban pinggang.

Sambil memegang pedang maka Sian Jie pun mengeluarkan ilmu silat 'Pat Po Hui Khongnya' atau delapan langkah memutar diudara, melesat laksana angin keluar rimba. Karena gusamya, Sian Jie lalu berlaku ganas terhadap kawanan penjahat itu ia membabat dengan pedangnya, sebentar saja sudah meminta korban, seorang penjahat yang lari terbelakang, segera tertabat kutung kepalanya dan menggelinding sejauh kira-kira tujuh kaki. Kemudian ia susul dengan tiga buah senjata rahasianya yang masing-masing mengenai tiga penjahat lainnya.

Ketiga penjahat yang terkena serangan senjata rahasia itu memperdengarkan jeritan ngeri sudah itu pada jatuh bergulingan ditanah.

Hwie Cee Thian Ong juga keluarkan kepandaiannya melepaskan pisau terbang, dengan kedua tangannya ia melontarkan dua buah pisau terbang mengarah belakang geger Sian Jie.

Sian Jie merasa sambaran angin, buru-buru ia geserkan tubuhnya, tapi tidak urung lengan kanannya kena keserempet, hingga mengucurkan darah segar.

Sian Jie gusar, dengan cepat ia putar tubuhnya, lalu menerjang Hoan Kong Hong.

Serangan itu ada begitu cepat dengan kaget Hoan Kong Hong berkelit kesamping, satu tangannya menghunus golok Kui Thauw To-nya untuk melawan.

Saat itu dari delapan kawanan penjahat itu ada empat yang terluka, satu binasa, sisanya tiga orang lantas mengepung si nona.

Sian Jie seperti banteng terluka, ia mengamuk dengan pedang istimewanya, sehingga ketika penjahat itu terdesak mundur terus sampai berputar-putaran.

Ketika penjahat itu sekarang telah mengerti bahwa Sian Jie benar-benar lihay, karena merasa tidak ungkulan melawan hingga timbul pikiran masing-masing hendak kabur. Hwie Cee Thian Ong dan Thee Thong berhasil melarikan diri tapi yang satunya lagi karena sedikit terlambat, telah terbinasa diujung pedangnya Sian Jie. Dalam pertempuran it, Sian Jie telah merebut kemenangan dengan mudah, meski lengannya terluka, tapi difihak kawanan penjahat, empat terluka, dua binasa dan dua melarikan diri.

Setelah musuh-musuh sudah kabur, Sian Jie pun mengeluarkan obat lukanya, untuk mengobati luka dilengannya dan kemudian meninggalkan rimba tersebut dan kembali ke keretanya.

Kedatangannya telah disambut dengan girang oleh Chie Ciatsu, nyonya Chie dan Chie Sie Kiat. Terutama nyonya Chie, ia lalu pimpin Sian Jie duduk didampingnya, dengan suara lemah lembut ia berkata “Nona, kau terlalu cape".

Sian Jie menjawab sambil bersenyum : “Hujin, apakah barusan kalian melihat aku bertempur?"

Chie Ciatsu berkata sambil angguk-anggukkan kepala :

“Nona Sian, kita merasa banyak terima kasih padamu. Tatkala akti pertama kali melihat kau, aku berasa bahwa kau ini bukan orang sembarangan, cuma saja saat itu aku tidak kira bahwa kau ternyata mempunyai kepandaian ihnu silat demikian tinggi ; aku si orang she Chie ada mempunyai kebijaksanaan apa, sehingga mendapat bantuan demikian rupa dari nona?”

“Lo-ya. kau jangan mengucap demikian, ini adalah kewajiban dan tugasku sebagai budak".

Nyonya Chie buru-buru memotong.

“Nona Sian, kau selanjutnya jangan bahasakan kita Lo-ya dan Hu-jin lagi, kau adalah penolong' kita keluarga Chie, jika kau sudi, aku yang tidak mempunyai anak perempuan, hitung kupandang nona sebagai ….. " belum habis pembicaraan nyonya Chie, sudah dipotong oleh Chie Ciatsu : “Sudah, sudah, kau tak usah katakan lagi, nona Sian adalah satu pendekar wanita, satu jago betina, ada penolong besar keluarga Chie, apakah maksudmu ini tidak takut akan merendahkan derajat orang?"

Setelah mendengar ucapan Ciatsu, nyonya Chie tidak berani membuka mulut lagi, tapi Sian Jie yang cerdik lantas tidak mau sia- siakan itu kesempatan baik, ia segera berkata kepada nyonya Chie :

“Hujin, aku sejak kanak-kanak sudah tidak mempunyai ibu, sekarang Hujin begitu baik terhadapku, sekalipun Hujin suruh aku binasa juga rela, jika kalian tidak pandang rendah diriku, terimalah diriku yang hina ini!"

Bukan main girang hati nyonya Chie, Sian Jie lantas berlutut dihadapan kedua orang tua itu, setelah memberi hormat manggut- manggut kepala tiga kali, lalu memanggil Chie. Ciatsu ayah dan kepada nyonya Chie ia panggil ibu, akhirnya ketika memandang Chie Kongcu, dua pasang mata saling beradu, Sie Kiat merasa agak likat, tapi Sian Jie sendiri juga lantas merah wajahnya, akhirnya ia cuma mampu keluarkan perkataan “Koko", lalu menubruk dirinya nyonya Chie.

Nyonya Chie lantas tertawa, begitu pula Chie Ciatsu sedang Sie Kiat memandang dengan mata terbuka lebar, entah apa yang sedang dipikirkan, tapi tiba-tiba ia berseru :

“Darah ! Adik Sian, kau telah terluka !"

Nyonya Chie terperanjat lalu buru-buru bertanya kepada Sian Jie : “Sian Jie, dimana lukamu? Lekas unjukan kepada ibumu !:

Perlahan-lahan Sian Jie mengangkat mukanya, lalu menyahut : “Ibu, luka sedikit yang tidak berarti dilengan kananku, anakmu sudah obati sendiri, tentu sebentar akan sembuh sendiri". Ia berkata sambil melirik Chie Sie Kiat, hingga ia dapat melihat si kongcu ini sedang mengawasi lengannya yang terluka dengan terlongong-longong.

Semua ini telah terjadi dalam waktu yang sangat singkat diatas kereta yang ditarik oleh kuda yang masih melanjutkan perja-

lanannya ke Selatan. Diwaktu magrip tiba, mereka sudah melakukan perjalanan sejauh empat puluh paal lebih.

Kusir kereta kenal betul jalanan itu dan ia tahu didepan tidak ada kota maka berkatalah ia kepada Chie Ciatsu bahwa malani ini harus bermalam di Kim Kee Kip, Chie Ciatsu tidak memban-tah omongan kusir itu.

Meski Kim Kee Kip adalah sebuah kota kecil, tapi keadaannya sangat ramai, disitu ternyata terdapat banyak rumah makan dan rumah penginapan.

Malam itu Chie Ciatsu mengadakan perjamuan untuk keluarganya sendiri terutama untuk menyamu Sian Jie yang sudah berhasil mengusir kawanan penjahat.

Dalam perjamuan itu Chie Ciatsu kembali bertanya asal usul dirinya Sian Jie dan kembali lagi Sian Jie mengarang cerita tentang dirinya. Ia katakan bahwa ayahnya ada seorang guru silat yang terkenal, tatkala ia masih kecil, sang ayah telah dibunuh mati oleh musuhnya, selanjutnya ia ditolong dan dirawat oleh seorang pendekar budiman, serta diberikan pelajaran ilmu silat yang cukup sempurna.

Pendekar tersebut dulu pernah menerima budi Chie Ciatsu. baru-baru ini telah mendapat kabar bahwa Chie Ciatsu telah terpitnah dan dijebloskan dalam penyara, pendekar itu sebetulnya hendak merampas penyara untuk memberi pertolongan, tapi tak jadi sebab telah diketahui bahwa Chie Ciatsu sudah dikeluarkan dari penyara dan hendak melakukan perjalanan pulang kekampung. Tapi ada beberapa kawanan penjahat yang sahabatnya dulu pernah dihukum mati oleh Chie Ciatsu hendak menuntut balas, maka pendekar tersebut lantas mengutusnya untuk memberi pertolongan dan melindungi keselamatannya, ia tidak nyana kalau akan dipungut anak oleh Chie Ciatsu, hingga selanjutnya akan merupakan keluarga sendiri. Penuturan ini meski karangan belaka dari Sian Jie sendiri akan tetapi sebagiannya berisi peristiwa yang pernah terjadi.

Chie Ciatsu sejak tadi mencari-cari dalam ingatan siapa itu orang yang pernah ia tolong, tapi ia tidak ingat hingga bertanya kepada Sian Jie nama pendekar itu, tapi Sian Jie cuma menjawab bahwa pendekar tersebut nanti akan datang berkunjung untuk menemui Chie Ciatsu sendiri, malahan ia peringatkan ke-pada Chie Ciatsu bahwa selanjutnya masih akan terjadi lagi pertempuran sengit dengan kawanan penjahat, tapi ia minta agar supaya ayah angkat itu tetap berlaku tenang.

Perjamuan itu berjalan dalam suasana gembira, mereka saling mengobrol sampai jauh malam, hanya Chie Kongcu saja yang paling sedikit berbicara karena ia lagi kelebu dalam alam pikirannya sendiri. Ia sedang memikirkan diri saudara angkat ini, yang ternyata adalah seorang jago betina yang berkepandaian sangat tinggi, karena dirinya sendiri tidak mengerti ilmu silat, apakah adik angkat ini bisa cinta dirinya?

Dalam ngelamunnya iin, tanpa dirasa sudah minum arak terlalu banyak, hingga akhirnya menjadi mabok.

Nyonya Chie agaknya sudah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya, maka ia sengaja suruh Sian Jie bimbing Sin Kiat kekamar.

Sian Jie masuk kekamarnya sendiri yang berhadapan dengan kamar Chie Kongcu. Ia sendiri juga tidak bisa tidur pulas, karena memikirkan sikap Sie Kiat terhadap dirinya. la tidak menyangka bahssa selama dalam perjalanan ini telah tumbuh suatu perasaan yang begitu dalam, sebagai satu wanita yang adatnya keras dan pernah malang melintang didunia Kang-ouw, tidak nyana hatinya telah rubuh terhadap satu anak sekolah yang tidak bertenaga.

Sian Jie terus ngelamun sendirian. Tiba-tiba dari luar jendela terdengar suara orang berkata :

“Kau si budak ini, sudah begini malam masih belum tidur, hanya ngelamun saja sendirian, bagaimana ada tetamu yang sudah lama datang kau tidak menyapa? Apa benar kau man suruh kita kedinginan diluar?"

Sian Jie terkejut oleh tegoran dari luar itu.

– ooOoo –