Cahaya Perak dari Bukit Timur Jilid 4 (Tamat)

Jilid 4 (Tamat)

Tatkala hampir dekat. ia berseru karna terperanjat. Ternyata diambang mulut goa itu duduk bersila sipengemis tua yang meninggalkan tulisan diatas tanah.

Pengemis tua itu sedang duduk memejamkan matanya. ketika Kok Piauw mendekati ia berkata: "Thian kau kemarilah !"

Terperanjat Kok Piauw, ia menoleh kebelakang. Namun ia menjadi tercengang, karena dibelakang tiada seorang manusiapun. Bercekadlah hatinya.

"Apa orang ini memanggil aku ?"

Pengemis tua membuka mata yang sipit2, dan berseru pula : "Thian Tie, kini tibalah saatnya bagimu untuk bertobat. Kembali keasal mulamu

!"

Kemudian ia bangun dan berjalan kedalam goa!

Kok Piauw berdiri dengan bengong. Pengemis tua itu telah lenyap kedalam. Pelan2 ia memeriksa sekitar tempat itu. Tapi sungguh aneh, kecuali dia seorang, tiada pula tampak orang lain. Maka pangilan pengemis tua itu tak dapat disangsikan lagi tenta ditujukan kepadanya.

Angin gunnng berdesiran menjadarkan Kok Plauw. Dengan hati berdebar-debar ia berajalan masuk ke-dalam goa itu !

Dalam goa itu sangat gelap. Berjalan tiada jauh samar2 tampak cahaya sinar yang, sangat lemah. Jiwanya menjadi sangat tegang, tapi ia pantang mundur. Ia berjalan terus.

Sesampainya disebuah tegalan dalam goa itu. terdapatlah sebuah kamar batu. Kok Piauw mendongak, samar2 terlihat bekas2 tulisan. Ia mengamat2ti. Diatas tertulis

"Tong Nio Tong Hu” atau " Istana Goa di Bukit Timur !"

Kok Piauw jadi tertarik, pikirnya tentu pengemis tua itu berada didalam! Ia berjalan dengan perlahan2, dan batuk2. Tapi dari dalam tiada terdengar reaksi apa2.

Walaupun ia berkepandaian tinnggi dan pemberani, tapi dalam keadaan seperti ini, tak berani ia bersikap ceroboh !

"Apa didalam ada orang?" ia berteriak dari luar.

Tapi ia tetap tidak mendapat jawaban, perlahan2 ia dorong pintunya! Hampir2 ia lompat mundur. Dibawah sorot matanya yang tajam itu kelihatan tengkorak manusia yang berduduk sila diatas sebuah ranjang batu. Kemana perginy. pengemis tua itu?

Kok Piauw menghirup napas dalam2, matanya menjalar kesekeliling kamar batu itu. Pada dinding2 kamar itu tergambar bermacam2 teory ilmu pedang ! Dan di-atasnya samar2 tertulis beberapa huruf. Pikirannya bahwa orang ini setelah mengetahui dirinya tak dapat hidup lama lagi diatas bumi, maka melukiskan kepandaian untuk diwariskan kepada orang angkatan muda.

Walaupun kepandaian Kok Piauw boleh dikata sudah hampir menyampai taraf kesempurnannya tapi penemuan yang sangat kebetulan ini, tak berani ia memberikan suatu penilaian,

la berjalan mendekati dan membaca kalimat diatas!

"Aku bernama Hu Wie Beng, mempunyai 2 orang putera: yang sulung bernama Thian Bin, sedang yang bungsu bernama Thian Tie . . . .

Membaca sampai disini, hati Kok Piauw tergerak.

Thian Bin ? Apa bukannya sianak muda yang pernah ia jumpai diperjalanan ?"

Ia membaca kembali.

"Ketika Thian Tie dilahirkan, sedang dikurung oleh 8 orang jago dari partai sesat. Akhirnya istriku yang tercinta binasa dan puteraku terculik oleh mereka. Aku terluka parah, tapi aku yakin bahwa ilmu pedang "Tong Nia Kiam Hoat yang mempunyai 18 jurus ini dapat mengatasi semua ilmu stiat dari para partai Sesat itu. Kepada orang yang mempelajari ilmu pedangku ini kuminta dengan sangat agar dapat membalaskan sakit hatiku. Dari alam baka aku akan mengaturkan terima kasih.

Dibawahnya terdapat tertanda tangan Tong Nia Kiam Kek atau Pendekar pedang dari Bukit Timur!"

Sehabis membaca, Kok Piauw tertegun untuk beberapa saat iamanya. la merasakan bahwa malapetaka yang dialami ahli-pedang ini sungguh mengharukan sekali.

Maka dengan perihatin ia memandang ke 18 jurus lukisan ilmu pedang dari Bukit Timur.

Ilmu pedang Kok Piauw dapat dibilang sudah hampir sempurna, tapi setelah setengah harian dengan dibantu olen sinar rembulan mempelajari lukisan2 tersebut, ia terkejut bercampur girang. Ilmu pedang dari Bukit Timur sangat luar biasa ! Lebih lihay jika dibanding dengan ilmu pedangnya sendiri.

ia segera keluar untuk berlatih dan terasa masak betul.

ia kembali pula kedalam kamar batu itu, dengan tangannya ia menghapus gambar2 yang terlukis dinding2 itu ! Kemudian ia berlutut dan menganggukkan kepalanya dua kali, kepada tengkorak manusia itu.

Dalam hatinya diam2 ia bersujud. ia pasti akan mencari musuh-besarnya Tong Nia Kiam Kek !

Sungguh ajaib! Begitu ia berlutut dan menganggukkan kepalanya, tengkorak yang tadinya bersikap duduk bersila, tiba2 roboh ketanah.

Mesti Kok Plauw tidak percaya akan tahayul, tapi demi melihat kejadian ini, tak urung ia terkejut juga.

Segera ia maju untuk membereskan tengkorak itu kemudian menguburnya ditegalan.

Baru saja ia selesai melakukan pekerjaan itu, sekonyong-konyong terdengar suara suara orang datangnya dari arah jauh.

"Tong Nia Kiam-Hoat telah mendapat ahliwaris ! Ha-ha-ha! Dapat dibilang bahwa Tuhan sangat adil!"

Kok Piauw terkesiap, pikirnya dimalam hari buta seperti ini, ternyata masih terdengar suara orang. Maka la buru2 mencelat dan mcnubruk kearah dari mana suara itu datang!

Ternyata dibelakang goa ini masih terdapat sebuah jalan, setelah berbelok2 beberapa kali, akhirnya sampai juga in dibalik gunung itu.

Kok Plauw mengawasi kesekeliiing tempat itu, tapi tidak tampak ada bayangan orang!

Diam2 Kok Piauw mengasah otaknya.

"Diantara para orang pandai dewasa ini, Cie le Sian-koauw dan See San Seng Bu adalah orang2 yang paling menyolok. tapi setelah mereka bergebrak dengan dirinya, ternyata berkesudahan seri atau seimbang.

Apa mungkin ditempat seperti ini masih adalagi orang yang ketiga?" la mencurigai sipengemis tua itu. Mendengar logat suaranya,

meskipun tidak mengandung maksud jahat, tapi mengapa sipengemia tidak mau bertamu muka dengan dirinya?

XIII.

Sekali lagi ia mengadakan pemeriksaan, tapi tetap tidak memperoleh apa2. Terpaksa ia melanjutkan pula perjalanannya.

Dengan adanya pengalaman seperti ini, maka perasaan hati Kok Piauw mulai goncang. Semula ia hanya ingin membalas sakit hati ibunya, tapi kini, pikirannya berubah 180 derajat.

la berjalan sambil bersiul-siul. Ada kala pikirannya itu masih dihinggapi bayangan wajah ibunya yang dingin tiada berperasaan, tapi adakalanya juga terbayang kembali pengalaman yang dialaminya dalam goa itu, dan mengenai sepasang suami isteri muda itu, walaupun ia sangat bermurah hati terhadap mereka, tapi hatinya selalu pedih seperti telah berbuat sesuatu keselahan besar yang tiada terampunkan.

Selang 3 hari, sampailah ia pada kota bandar Cioe-Keik-Ho ditepi danau Beng-ouw.

Pada waktu lobor, disepanjang jalan orang2 Kangouw berjalan mundar mandir. Mereka berjalan sambil kiadang2 bercakap bisik2. Ternyata mereka senantiasa mempercakapkan Kie Thian Tai Seng yang muncul lagi dan telah menggemparkan dunia Kangouw.

Kok Piauw menjadi bersusah hati.

"Entah siapa gerangan yang menyampaikan berita begitu cepat ?'

Diam2 ia merasakan serba-salah, kini untuk menyembunyikan dirinya rasanya tak mudah pula.

la takut kalau2 ada orang yang mengenali dirinya, setelah memasuki kota bandar itu, ia berjalan perlahan2 menyusuri tepi danau Beng-ouw. Ia ingin mencari sebuah penginapan yang tidak menarik perhatian orang. Sementara itu, tiba2 tampak dari depan berlari2 mendatangi seorang.

"Dia benar2 telah datang juga !"

Kiranya orang ini bukan lain atialah sinona yang menyebutkan dirinya sendiri Pek le Nio-nio.

Agaknya iapun telah melihat Kok Piauw pula, wajahnya lantas sedikit berubah, dan hatinya diam2 berpikir juga:

"Hm, dia pun datang juga!"

Bagaimanapun ia tetap adalah kaum wanita, peristiwa malam itu dimana ia telah melukai Kok Piauw, tak akan dapat terlupakan olehnya. Setelah tertegun sebentar, wajahnya yang cantik memperlihatkan perasaan penyesalannya.

Pada waktu ini sifat perangai Kok Piauw sudah berobah. la tertawa sambil manggut.

Wajah Pek le Nio-nio menjadi ke-merah2an ia balas dengan sebuah lirikan, Tapi mereka tidak berkata apa2, dan berlalu berpapasan kearah tujuan masing2.

Kok Piauw merasa heran, tak tahu apa gerangan maksud sigadis datang kemari. Mungkinkah sicantik hendak pergi ke Bu Tong San ?

Sementara itu. ia tiba dimuka sebuah warung makan.

la melangkah kakinya untuk masuki. .Didalam telah penuh tamu2 si Tuan rumah datang menyambutnya dengan muka berseri2.

"Tuan, disana masih ada sebuah tempat kosong, mari silahkan masuk !"

Kok Tiauw masern, lalu berjalan ketempat kosong itu. Dalam ruangan itu suausana sangat gaduh, Kok Piauw khawatir dirinya dikenali orang. Buru2 ia mengganyang hidangannya, setelah perut kenyang ia hendak lantas berlalu. Tiba2 kelihatan si Tuan rumah sambil berpeluk pinggang berdiri dimulut pintu. Matanya dengan bengis membelalak mengawasi keluar.

Tepat pada waktu itu, diluar kelihatan seorang tua aneh dengan rambut awut2an berdiri dimuka pintu. Terdegar suara bentakan si Tuan rumah: "Sudah tidak ada tempat kosong lagi, untuk apa kau langak- longok kedalam?"

Orang aneh itu menjulurkan lidahnya, mengejek.

”Aku tidak ingin masuk, gendut sial! Apa lihat2 saja kedalam juga tidak boleh? mata anjing memandang rendah manusia, sebentar lagi meskipun kau undang aku masuk, akupun tidak akan sudi !"

Suaranya nyaring seperti kaleng. Kokw Piauw diam2 menengasi.

Itulah seorang pengemis tua, pakaiannya compang camping tiada keruan, mukanya kotor penuh daki, sedang tangannya memegang sebatang pentung pemukul anjing atau Tahkauw-pang". Rupanya yang kotor kucal itu, membuat orang muak melihatnya!

Kok Piauw tersirap darahnya. Orang ini bukan lain daripada sipengemis yang ia lihat semalam itu.

Kembali terdengar tuan rumah memaki pula "Hm, melihat tampangmu yang seperti anjing buduk, ada siapa yang kesudian untuk mengundangmu ?"

Habis berkoar ia berdiri membalikkan badannya dengan bersungut- sungut.

Karena suara gaduh dalam ruangan ini, maka percakapan dengan pengemis tua itu tidak begitu menimbulkan perhatian orang lain, hanya terdengar percakapan tiga orang pendeta.

"Kurasa Cie Yang Totiang tentu sudah kembali ke Bu Tong San, bila ia tidak mau menerangkan bagaimana tampang Kie Thian Tai Seng, Hm, hm! Kita akan mengambil jalan kekerasan !"

"Benar!" seru kawannya "Bila tidak mau mengatakan,maka kita akan menghancur-luluhkan Bu Tong San l"

Kok Piauw melirik dengan matanya. Ketiga pendata itu romannya sangat keren, pada punggung masing2 tersisip sebuah pedang.

Kedua orang itu bicara sambil menunjukkan rasa yang kurang senang, sebaliknya seorang pendera yang duduk disisi mereka, diam2 mengggeleng2kan kepalanya dan berkata: "Soal ini, kitit tidak boleh berlaku semberono …..”

Baru saja ia berkata sampai disitu, tiba2 air mukanya berubah karna kagetnya. Mata tertuju pada sipengemis yang berdiri.

Semua orang serentak mengalihkan pandangannya, dan sementara itu terdinagar suara bentakan si Tuan rumah: "Sudah kukatakan kepadamu semua tempat sudah penuh,sudah penuh dan luber!" Tanpa ayal sipendcta bangkit berdiri dan memberi hormat kepada sipengemis tua itu "Locianpwee datang juga? Maafkan Bonpwee yang lalai tidak lekas menyambut!"

Sipengemis tua monyongkan mulutnya, lalu tertawa, Tah-kauw- pannya ia putarkan dan dengan keras memukul sipendeta.

Pendeta yang bernama Cie Ceng Siansu berkepandaian tidak rendah, ketika pentung sipengemis menyambar turun, cepat2 ia berkelit. Semua orang anggap ia akan terhindar dari pukulan sipengemis, tapi sungguh aneh!

"Plak " terdengar suara yang nyaring ! Kepala yang gundul melos2 dengan telah menerima pentungan !

Para tamu dalam ruang makan adalah orang2 pandai, demi melihat ke jadian itu, hati mereka menjadi terkesiap. Kalau si pengemis tua memukulkan pentungannya dengan sungguh2, pasti batok kepala Cie Ceng Siansu yang gundul akan hancur luluh !"

Semua hadirin terdiam ter-mangu2. Kedua pendeta lainnya tergesa- gesa menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut.

"Mengapa kau orang tua bersenda-gurau dengan kami angkatan muda?" mereka bertanya.

Suasana menjadi sunyi dan tegang.

Ketiga perdeta itu adalah tetua Tat-mo-•wan diari Siauw-Lim Sie yang masing2 bernama Cie Ceng, Cie Gwat Siansu ? Mereka bukan sembarang orang!

Pengemis tua itu sangat lucu, ia tertawa bergelak-gelak.

Aaah! Semuanya minta dermaan Aku si pengemis tak punya apa2 selain Tah Kauw-Pang. Mari aku derma pukulan !"

Tah-kauw-pangnya kembali bergerak. Cie Hoat dan Cie Gwat Siansu tahu bahwa mereka tak mungkin bisa berkelit, maka mereka tetap berlutut diatas tanah. Kepala mereka masing mendapat hadiah satu pukulan.

"Plak ! Plak!"

Pengermis tua itu sungguh keterlaluan, ia tidak mau memukul tempat lain, tapi sebalik nya memilih kepala botak mereka ! Usia tetua Siauw Lim-Sie itu tidak kurang dibawah 69 tahun, tidak beda berapa jauh dengen pengemis itu, tapi mereka menyebut sipengemis Cianpwee.

Siapakah sipengemis tua ini? Diantara hadirin seorangpun tiada yang tahu, mereka keheran2an saling ber-pandang2an.

Walaupun Kok Piauw sedang makan, matanya terus mengawasi gerak-gerik si pengemis tua.

Demi melihat sipengemis tua mendemonstrasikan kepandaiannya yang hebat itu, si tuan rumah menjadi pucat. Buru2 ia maju dan dengan tertawa dibuat-buat, ia berkata "Aku yang rendah tidak tahu bahwa kau orang tua adalah teman beberapa Twa suhu ini maka telah berbuat kekeliruan. Maaf, maaf ! masuk dan makan biar kenyang !" Si pengemis tua membelalakkan matanya dan memaki : "Hm. kau monyet busuk! Kali ini aku mesti makan besar, sampai kau rudin!"

Dengan langkah besar ia melewati ketiga pendeta itu, dan duduk ditengah2 ruangan. la menggeleng2kan kepalanya "Wah, celaka : Tidak ada daging babi, bagaimana aku bisa makan dengan puas! Hay, tuan rumah Hayoh, hidanganmu yang lezat2!' ia berteriak.

Tiga tetua dari Siauw Lim Sie bamakit berdiri dan berdiri dibelakang pengemis tua itu, tak berani mengambil tempat duduk.

Nama besar Siauw Lim Sie siapa yang tidak tahu? Lebih2 seperti Cie Teng, Cie-Hoat dan Cie Gwat Siansu. Mereka sangat dihormati dan disegani oleh orang2 dari kalangan Bulim, tapi sebaliknya mereka begitu hormatnya terhadap seorang pengemis tua. Hal ini benar2 mengherankan

!

Situan rumah terbirit-birit menyuguhkan arak wanngi dan daging.

Ketika tetua Siauw-Lim Sie diam2 menonton sipengemis dengan asyiknya mengganyang hidangannya seorang diri.

“apa Locianpwee ingin pergi ke Butong San ? " ber-tanyaa Cie Ceng Siansu.

Sipengemis tua menoleh sambil meminum araknya.

"Apa?! Butong San ? Aku belum pernah dengar! Apa disana banyak monyet ?"

Hadirin menjadi terkesiap!

Bu Tong Pay semenjak didirikan Thio Sam Hong, harum sekali namanya, tak berani orang sembarangan menyebutnya.

Pengemis tua itu menghabiskan arak dan kemudian ia menepok2 perutnya yang gendut. Ia berteriak2: "Kenyang, Kenyang ! Aku sudah kenyang!”

Ia bangun dari kursinya, dan tanpa menyapa orang ngeloyor keluar!

Semua orang menghantarnya dengan melongo. Setelah sipengemis pergi jauh, barulah ada seorang yang bertanya: " Cie Ceng Siansu, siapakah dia?"

Cie Ceng Siansu menggelengkan kepalanya: "Kecuali terjadi urusan yang maha penting, orang tua ini tidak pernah muncul keluar dikalangan Kangouw. Mungkin karena perbuatan Kie Thian Tai Seng benar2 melampaui batas, sehingga ia ikut2 turun tangan?"

"Sebenarnya siapakah dia?"

Rupanya orang yang bertanya itu mempunyai kedudukan yang tidak rendah. Cie Ceng Siansu lantas menjawab: "Dialah Pak le Sin-Kay atau Pengemis sakti dari Wilayah Utara. Seng Ceng le, apa Yao Taihiap tidak mengenalinya?"

Air muka semua orang menjadi pucat. Pak Ie Sin Kay ! Nama yang menggemparkan jagad. kebanyakan orang hanya mendengar namanya, tapi belum pernah melihat orangnya. Kedudukannya sangat tinggi, para Ciang-Bun-Jin dari semua partai dewasa ini kedudukannya masih separoh dibawahnya.

Sekonyong-konyong terdengar suara ejekan yang datangnya dari meja sebelah, dan menyusul dua buah bayangan berkelebat keluar.

Semua orang kembali jadi kaget. Seorang pendekar berseru : "Siapa mereka berdua?"

Baru saja lenyap pertanyaan itu, terdengar jawaban salah satu diantara kedua orang itu yang sudah pergi jauh.

"Kami Leng San Siang Eng atau Sepasang pahlawan dari gunung Leng San, mempunyai sedikit ganjalan dengan Pak Ie Sin Kay. Cie Ceng Siansu, kamu dari Siauw-Lim Pay sebaiknya jangan ikut2 mengaduk diair keruh ini!"

Kembali semua orang melongo !

Leng San Siang Eng bukan orang sembarangan, dengan pedang Leng San Siang-Kiam dikolong jagat ini orang yang dapat menandinginya tidak berapa banyak.

Tiga tetua dari Siauw-Lim Sie berdiam saja, suasana berubah sunyi. Pada saat itu, tiba2 Cie Gwat Siansu berseru kaget: ' Eeeh, kemana anak muda itu ?"

Kedua rekannya menoleh dengan heran. “Anak muda yang mana ?"

Cie Gwat Siansu menuding kearah meja dimana Kok Piauw duduk. Diatas meja terletak sepotong uang perak, sedangkan orangnya tak tahu entah pergi kemana ?

Cie Gwat Siansu bangkit berdiri. “Si Anak muda baju kuning!" Kembali semua orang terperanjat!

Siauw-Lim Sam Ceng dan siorang yang dipanggil Yao Taihiap berubah tegang. Siapa pemuda baju kuning itu? Apakah dia Kie Thian Tai Seng?

Yao Taihip mendekati jendela. Dibawah jendela membentang sebuah taman, dan disisi kanan taman tersebut adalah jalanan besar.

la memandang beberapa saat lamanya, lalu menguman.

"Jangan2 dia sudah pergi jauh. Hm, hm! Kuharap pemuda itu benar2 adalah Kie Thian Tai Seng. Malam ini kita boleh bertempur habis2an dengan dia!"

Kita kembali kepada Kok Piauw yang diam2 berlalu tanpa diketahui orang. Siapakah Pak le Sin-kay itu?

Berjalan beberapa lama, Leng San Siang Eng yang berada didepan tiba2 hilang dari pandangan matanya.

Mereka berdua ingin mencari Pak Ie Sin Kay, lebih baik aku membuntutinya."

la mempercepat langkahnya, dan baru saja melalui sebuah tikungan kelihatan Lang San Siang Eng berdua sedang berdiri ditengah jalan dengan termangu2!

Sungguh ibarat cangcorang menerkam tonggeret tapi dibelakang menanti kutilang! Leng San Siang Eng mimpi juga tidak, bahwa dibelakang mereka mengintil Thian Tai Seng.

Leng San Siang Eng berdiri sambil mengawasi sesekitar tempat itu, dan sedikitpun tidak tahu bahwa Kok Piauw diam2 membayangi mereka.

"Hm! Sungguh cepat pengemis bangkotan itu!” terdengar salah seorang diantaranya menggerutu.

Rekannya yang lain tidak berkata apa2. tangannya men-cekal erat2 batang pedangnya. Orang berhilir mudik tak putus2nya dijalan itu, tapi Pak Ie Sin Kay sudah tidak kelihatan mata hidungnya !

Kok Piauw tersenyum, lalu berkelebat pergi .

*

* *

Kok Piauw tenang2 berjalan menyusuri sebuah kali, ia bersiul-siul.

Angin bertiup sepoi2, perahu2 berderai sepanjang tepi. Pemuda kita jarang sekaii melihat sungai, ia berdiri terpesona. Tertarik oleh keindahan panorama disepenjang kali itu, maka berseri-seri wajahnya.

Para nelayan dengan rajinnya menaburkan jala. "Jikalau aku menurunkan tangan jahatku terhadap semua kaum pria ini, bukankah para nelayan perempuan ini akan menjadi janda? Bila mereka hidup menjanda, bagaimana mereka bisa hidup menangkap ikan lagi?" ia menggumam.

Kok Piauw kembali berjalan menyusuri kali. Entah berjalan berapa jauhnya, kali itu tiba2 membelok kekanan dan kiri. Yang terpapar didepan matanya adalah sebuah hutan hijau nan lebat.

Daerah tersebut sangat luas, kecuali sebuah kali yang melintang didepannya, maka kelihatan bukit2 ini tidak tinggi tapi bentuknya indah2.

Selagi ia sedang menikmati keindahan alam, tiba2 seorang berjalan mendatangi dengan tindakan limbung.

Kok Piauw menjadi kaget. Orang ini mengenakan pakaian serba putih, itulah Pek Ie Nio Nio! Kelihatan sicantik seperti terluka parah!

Pek le Nio Nio berjalan sempoyongan hendak jatuh. Kok Piauw buru2 memapah tubuh sigadis yang cantik.

Pek le Nio Nio melirik kepadanya dan jatuh juga dalam pelukan pemuda kita.

Kok Piauw tak tahu apa yang harus ia perbuat. Pek le Nio Nio adalah putri kesayangan Chui Hong Kiauw Kek Yap Siong Nian, yang menjadi musuh besar perguruannya. la dapat ampuni orang lain, tapi Yap Siong Nian bagaimanapun ia harus bunuh!

Namun jika ia tidak memberikan pertolongan pada sigadis, kemungkinan besar jiwa sicantik akan melayang. Dengan risau Kok Piauw memandang sicantik. Wajahnya pucat pias. nafasnya lemah memburu. Jiwa sigadis benar2 sedang terancam bahaya!

la mencekal pergelangan tangan yang putih. Terasa dingin ! Terperanjat ia memandang kesekitarnya. Tampak tidak jauh berdiri sebuah kuil bercat merah. Buru2 ia membopong tubuh yang langsing dan membawanya kedalam kuil itu.

Kuil itu sudah usang tidak terawat. Setelah ia membersihkan debu diatas meja sembahyang, kemudian ia rebahkan tubuh yang menggiurkan diatasnya.

Suasananya sangat sunyi. Dengan penuh kasih sayang Kok Piauw mengusap-usap kepala sigadis, kemudian tak tahan lagi ia mengecap bibir yang mungil.

Akhirnya dengan kemalu-maluan ia mengeluarkan obat pil dari Thian San, dan menjejalkan 2 butir kedalam mulut sicantik.

Jantungnya ber-debar2 dan napasnya memburu seperti kuda.

Selang tak lama, terdengar keluhan yang lemah. Kok Piauw bertanya perlahan: "Yap Siocia, apa kau merasa sakit?

Pek Ie Nio Nio membuka matanya, tatkala ia melihat Kok Piauw berdiri disampingnya kembali ia berbisik. "Apa kau.. . murid Kie Thian Tia Seng ?"

Kok Piauw menyeringai "Yap Siocia, tenanglah. Lukamu masih belum sembuh betul."

Pek le Nio Nio menggeleng2kan kepalanya" Apa kau benci . . . .

kepadaku?"

Kok Piauw bermesem simpul

"Aku sudah lupakan segala yang telah terjadi, Yap Siocia, kini kau istirahatlah! Hatiku tidak dapat membenci gadis cantik seperti kau.

Pek le Nio Nio menarik napas. "Aaah ! Kuharap kau bukanlah muridnya Kie Thian Tai Seng !"

Gemetar suaranya. Cintakah nadanya ? Atau benci ! Kok Piauw tak berani lagi memandang sigadis. Apakah juga ia jatuh cinta pada sigadis? Bau tubuh yang harum masih melekat pada hidungnya.

Sang Bhatara Surya sudah condong keufuk Barat !

Malam mulai menutupi permukaan bumi. Sang bulan yang berbentuk sabit berseri2 menampakkan wajahnya dengan ditemani oleh bintang2 yang genit.

Suasana dalam kuil sangat sepi. Pek Te Nio Nio tidur pulas dengan nyenyaknya. Kok Plauw perlahan2 berjalan kejendela dan memandang keluar.

Tidak jauh tampak sebuah danau kecil dengan airnya yang jernih bagaikan cermin.

Tiba2 pemuda kita lompat kesamping, bersembunyi digelap.

Beberapa sosok bayangan orang sedang mendatangi ! Dalam waktu singkat ! mereka sudah berada didepan kuil. "Eh! Locianpwee mengapa belum juga datang2?"

Kok Piauw yang mendengarnya lantas mengenali bahwa itu adalah suara Cie Ceng Siansu dari Siauw-Lim Sie.

Bercekadlah hatinya ! Apa maksudnya kepala2 gundul itu datang kemari"?

"Orang tua itu seharusnya sudah datang. Apa jangan2 Leng San Siang Eng mencari setori dengannya ?"

"Walaupun Leng San Siang Eng berkepandaian tinggi, tapi terhadap Pak le Sin-Kay, rasanya mereka tak dapat banyak berbuat apa2!” menyahut Cie Ceng Siansu tertawa.

Suasana diluar kembali tanang. Kok Piauw dengan ringannya beekelebat keluar dan lompat keatas sebuah pohon besar. Tampak olehnya, kecuali Siauw-Lim Sam-Ceng masih terdapat seorang pendekar setengah umur. Orang ini pernah ia lihat dirumah makan, tentunya dialah Ciang Bun Jin dari Kun-Lun Pay, Yao Kie Lun!

Sekonyong-konyong dari jauh kelihatan bayangan bergerak datang.

Gerakan orang ini sangat pesat ! Kok Piauw mengerutkan keningnya.

Itulah Pak Ie Sin-Kay, sipengemis sakti !

Dalam waktu sekejapan, Pak le Sin-Kay tiba. Cie Ceng Siansu berseru : "Selamat malam, Locianpwee!"

Kun Lun Ciang Bunjin dengan congkaknya berdiri tidak mau memberi hormat !

Pak Ie Sin Kay menuding dengan pentung Tah- Kauw-Pang. "Siapa orang ini?" ia berteriak gusar.

"Dialah Yao Kie Lun, Ciang-bun jin dari Kun Lun pay " Cie Cang Siansu maju untuk memperkenalkan.

Pak lt Sin-Kay tertawa aneh. Pentungnya berkelebat dan pada detik yang menyusul Yao Kie Lun jatuh terpelanting!

Muka Yao Kie Lun menjadi merah-padam, tatkala ia bangkit berdiri, Ia hendak menghunus pedangnya, tapi Cie Ceng Siansu cepat menengahi.

Yao Tayhiap, sabarlah!" katanya.

Sipengemis sakti sengaja menghukum kecongkakan Yao Kie Lun. "Tuan tentunya datang untuk membalaskan sakit hati Suteemu

kepada Kie Thian Tai Seng, bukan "berkata Pak Ie Sin Kay dengan dingin

." Tooh ! Dengan kepandaianmu seperti ini, lebih baik kau pulang saja." Yao Kie Lun makin pamas dadanya, ia mencabut pedangnya. "Pengemis baul Jangan menghina aku?" teriaknya.

Pak Ie Sin-Kay membalas dengan senyuman, tidak menghiraukan orang, dengan pandangan mata ia menyapu kesekelilingnya. "Eeh, mana dia orangnya?" ia berseru.

Kok Piauw mengetahui, bahwa orang yang dimaksudkan pengemis tua tentunya adalah Pek le Nio Nio. Pak le Sin-Kay menggeleng2kan kepalanya: Gadis itu benar2 sangat teledor! Mengapa ia belum datang juga?''

"Locianpwee.." tanya Cie Ceng Siansu. “Kita tunggu siapa lagi ?"

Pak Ie Sin Kay melirik kepadanya dan menyahut "Gadis itu tidak datang, biarlah ! Sekarang kita rundingkan urusan!

Jangan buang2 waktu lagi, mari kita bicarakan cara bagaimana cara hadapi Kie Thian Tai Seng !" Yao Kie Lun mengusulkan.

Pak Ie Sin Kay mengetok-ngetok pentungnya. "Apa yang kalian maksudkan itu si Kie Thian Tai Seng tua atau si Kie Thian Tai Seng muda?

Semua orang menjadi terperanjat. Cie Hoat Siansu maju satu langkah:” Tak perduli yang tua atau yang muda, kami hanya membicarakan dia yang telah menurunkan tangan jahatnya kepada kawan2 Bulim dari gunung Thian Bok San." Pak le Sin Kay tersenyum.

"Oh, itu Kie Thian Tai Seng Muda. Sekarang dia sudah datang!

Kamu! Kamu juga sudah pernah melihatnya di Ciu Kek Ho !" Dengan air muka pucat Cie Ceng Siansu bertanya : "Apa

Loocianpwee maksudkan sianak muda baju kuning itu. ?"

Pak Je Sin-Kay tertawa:" Tak salah ! Tahu kini apa dia sudah tahu asal usul dirinya sendiri atau belum ?"

Kata2nya ini di tujukan kepada mereka yang berdiri dihadapannya, tapi diam2 mengandung lain tujuan.

Hati Kok Piauw yang ikut mendengarnya, ber debar2. Sekujur badannya seperti membeku darahnya. Hampir2 tak tahan dan meloncat turun untuk bertanya kepada Pak le Sin Kay.

Pak Te Sin-Kay tertawa besar, lalu melesat pergi. Bagaikan angin.

Cie Ceng Siansu lantas berseru: "Locianpwee, kau belum habis bicara, mengapa sudah pergi ?”

Menyusul terdengar suara jawaban orang dari kejauhan : "Aku sudah berkata habis, Sampai ketemu lagi di Bu Tong San!. Ha-ha-ha !"

Mereka tercengang sekali. Mengapa Pak le Sin KaY tiba2 berlaku pula? Tepat pada waktu itu, terdengar suara siulan panjang nyaring yang menggemparkan jagad. Kie Thian Tai Seng datang! Tanpa ayal masing2 mempersiapkan senjatanya, dan mengambil sikap siap sedia untuk berempur!

Begitu suara siulan itu berhenti, mendadak dihadapan mata mereka muncul bayangan kuning. Bayangan kuning itu lantas mengejar Pak le Sin Kay!

Keempat tokoh silat itu saling berpandangan dengan tegang.

Walaupun mereka tergolong jago2 kelas satu, tapi demi melihat ilmu rnigan badan kedua orang itu yang saling kejar2 an dan dalam waktu sekejap saja sudah melesat puluhan tombak lebih, hati mereka kagum tidak kepalang.

Kiranya begitu Pak Ie Sin-Kay melesat pergi, Kok Piauw lantas mengikutinya. Ia yakin dengan ilmu ringan tubuhnya yang sempurna, ia dapat menyandak(menyusul). Tapi sampai disebuah ternyata Pak Ie Sin Kay sudah menghilang!

Kok Piauw diam2 meleletkan lidahnya. Benar diatas gunung ada langit ! Pengemis tua itu dapat dikatakan lawan paling tangguh yang pernah ia jumpai seumur hidupnya !

Ia berdiri terpaku bagaikan patung. Dengan kebencian yang meluap-luap ia memandang bintang2 dilangit bebas yang sedang berkelap-kelip menertawakan dirinya.Akhirnya ia mengelah nafas.

la bersiul pula dengan nyaringnya berkali-kali. Tapi tidak mendapat jawaban. Dengan perasaan masgul, ia berjalan kembali.

Sementara itu keempat tokoh silat belum pergi! Begitu pemuda kita menampakkan diri, Yao Kie Lun sudah menudingnya sambil berteriak "Mari, gayang Kie Thian Tai Seng !"

Dengan tidak membuang waktu lagi, Yao Kie Lun menyerang dengan pedangnya ! la menusuk Kok Plauw dengan bengisnya, Itulah pukulan rahasia dari Kun Lun Pay !

Ketiga peserta dari Siauw-Lim Tie memburu secara serentak, maka Kok Piauw terkurung oleh senjata2 tajam yang menyambar-nyambar bagaikan halilintar.

"Tunggu sebentar aku hendak bicara! "Kok Piauw berteriak sambil mengalunkan pedangnya.

Mana mereka mau menurut? Sebaliknya mereka memperhebat serangannya, tiga batang toya dan sebilah pedang mengurung rapat2, angin berkesiur dingin.

Kok Piauw menjadi naik-darah. Ia bersiul panjang, pedangnya menggores udara! Dibawah terangnya bulan sabit dan bintang2, berkeredepan batang pedang yang berpencaran seperti naga bermain disamudra.

Yao Kie Lun membalikkan tangannya, dengan ujung pedang ia memapas pundak kanan lawannya.

Sebagai Ciang-Ban-Jin dari Kun-lun Pay, kepandaiannya tentu sempurna. Tapi heran ! Tikamannya memukul tempat kosong!

Siauw-Lim Ceng bekerja sama mempermainkan toya masing2 dengan gencer laksana seekor naga mengamuk dilaut teduh. Mereka memukul ber-tubi2.

Kok Piauw tidak menjadi gentar sedikitpun. Pedangnya berkelebat gesit bagaikan kilat dan dalam beherapa gebrak saja, ia menang diatas angin.

Ke empat lawannya menjadi keder. masing2 mengeluarkan tipu2nya yang mematikan, mereka mempertahankan kedudukannya secara gigih.

Walaupan Kok Piauw terkurung dari empat penjuru, namun permainan pedangnya tidak menjadi kalut. Setiap tikaman adalah tikaman geledek, itulah hebat sekali. Berselang 10 jurus, keempat lawannya mulai keteter. Mereka bertempur mati2an, tidak mau mundur setapak juapun.

Diam2 Kok Piauw menjadi kagum, mendadak ia lihat serangan2 Cie Gwat dan Yao Kie Lun agak menjadi lemah. la berteriak mengguntur dan dengan pukulan Menaiki-naga Menyusul angin ia menerjang.

"Brebet !"

"Ujung baju Cei Gwat Siansu terpapas sobek !

Semangat Kok Piauw bertambah, dan tanpa menyia2 kan waktu ia menusuk kekanan.

“Ces!" Pundak kiri Yao Kie Lun dilukai oleh pedangnya! Darah Yao mengucur dengan deras. Hampir2 Kun - Lun - Pay kehilangan sebuah lengannya!

Kedua orang lainnya, demi melihat gelagat kurang baik, buru2 mendesak kembali untuk mencegah serangan Kok Piauw lebih lanjut !

Ciang-Bun jin dari Kun-Lun-Pay menjejakkan kakinya dan meleset tinggi keatas, kemudian berturut2 ia mengirimkan serangan Beng-Pok Kiu Sian "atau Burung-garuda-bertempur melawan awan." Ia langsung menikam 3 jurus jalan-darah yang terdapat ditubuh Kok Piauw !”

Siauw-Lim Sam-Ceng tidak mau ketinggalan, mereka hantamkan toyanya kearah bagian bawah tubuh Kok Piauw !

Kok Piauw tersenyum dingin. la getarkan pedangnya dan membuat lingkaran2 diudara. Sinar pedang berkilau2an keempat penjuru, ia patahkan serangan2 musuh.

Mereka berempat terkejut. Kok Piauw tidak lagi dapat mengendalikan nafsunya, gelora bertempur sudah merangsang dalam tubuhnya. Ia menikam dan membabat, berkesiur-siiur angin pedangnya!

Kun Lun Ciang-Bun-Jin Yao Kie Lun berkelit. tapi usahanya sia2 belaka ! Selagi tubuhnya hendak turun ketanah, pedang Kok Piauw menyapu kakinya! Ini berbahaya sekali!

Sebaliknya 3 tetua dari Siauw Lim Sie kaget bukan main. Yao Kie Lun cepat2 mengempos semangatnya untuk menyelat keatas, pedangnya menyapu kearah jalan darah besar Leng Tai Hiat! Jaan-darah kematian!

Ini hebat sekali ! Jika Kok Piauw dengan pedangnya hendak mengutungkan kakt Yao Kie Lun, dirinya sendiri tak akan luput dari luka berat.

Tipu- Kun Pay yang tiada tandingannya ini bernama Cie Cong Bu in atau Menyelinap-tanpa membekas!

Kok Piauw terkesiap. Cepat2 ia menarik pulang pedangnya dan menangkis toya Siauw- Lin Sam-Ceng, tapi pada detik yang menyusul ia memapas pergelangan tangan Yao Kie Lun !

YaO Kie Lun berseru tertahan. Serangan itu cepat sekali la tidak sempat lagi untuk berkelit !

Cie Ceng Siansu terperanjat, ia sampok pedang lawan hingga menikam tempat kosong. Tapi Kok Piauw luar biasa Kiam-hoatnya, pedangnya kembali menyambar Swan-Kie-hiat Yao Kie Lun! Yao Kie Lun kaget bukan kepalang, ia angkat pedangnya untuk menangkis.

Kok Piauw tertawa dingin, ia menarik pedangnya dan kembali menusuk jalan-darah Beng-bun-hiat.

Ber-turut2 Kok Piauw merubah serangannya. gerakannya luar biasa

sekali.

Yao Kie Lun lompat kesamping namun ujung pedang Kok Piauw terus menyambar bagaikan bayangan maut!

Yao Kie Lun berteriak parau "Matilah aku !”

Siauw Lim Sam-Cong bermandikan peluh dingin, betul mereka lompat menyusul, tapi terlambat ! Jiwa Ciang-Bun-Jin Kun-Lun Pay pasti akan melayang dibawah ujung pedang Kie Thian Tai Seng !

Dalam keadaan yang sangat genting ini, sekonyong-konyong suara orang yang keras berkumandung ditelinga masing2.

"Tahan pedangmu !"

Menyusul dengan suara itu, sebuah pentung anjing yang berwarna hijau mengkilap menotok punggung Kok Piauw.

*

* *

XV

Totokan ini sangat tajam dan hebat ! Ia merasakan punggungnya diserang, Kok Piauw terpaksa menarik pulang pedangnya dan membacok kebelakang dengan tipu Peng-Swat Ceng-Lie atau Hujan salju ribuan-he.

Bila aku tidak memperlihatkan kelihayanku, mereka masih tidak tahu diri !" pikir pemuda kita.

Orang yang menyerangnya itu bukan lain adalah Pak Ie Sin-Kay !

Begitu pedang Kok Piauw menyambar kebelakang, ia menarik pulang pentung Tah kauw-pangnya. Ia mengulum senyumnya.

"Kembali keasal-usulmu! Saudara kccil, mengapa kau harus berbuat kesalahan lagi?" ujarnya.

Badan Kok Piauw sedang meluncur diudara. tatkala pedangnya mengenai tempat kosong, ia jumpalitan dengan indahnyaa.

Pek Ie Sin Kay buru2 lompat kesamping kuatir kena amukan pedang.

Dengan ringan. Kok Piauw hinggap ditanah. Giranglah hatinya ketika melihat sipengemis. Sebenarnya dia hendak bicara banyak, tapi ketika melihat lawan2nya sedang mengawasi dirinya dengan melotot, ia menjadi mendongkol.

"Apa yang hendak kau katakan iagi? Aku seorang she Kok tidak punya kesabaran lagi ! Belum puas bertempur?" Yao Kie Lun merah mukanya. Belum pernah ia dihina demikian, dalam seumur hidupnya.

“Hm, mau berkelahi? Sekarang belum waktunya ! berseru sipengemis sambil menggelengkan kepalanya.

Kok Piauw melintangkan pedangnya. "Diatas bumi ini berdiri lima gunung kenamaan, digunung utara adalah seorang pengemis sakti. Hari ini aku dapat bertemu, benar2 jodoh. Bila locianpwee tidak keberatan, marilah kita bertanding sebentar."

Pedang Kok Piauw menggores udara dengan kuatnya "Jurus pertama !"

Sipengemis merandek, Tan-Kauw-Piang memukul batang pedang. "Thian Tie, kembalilah keasal-mulamu!" ia membentak.

Kok Piauw tercengang. Kembali sipengemis memanggil dirinya Thian Tie!

Thian Tie, bukankah nama orang yang pernah ia baca dalam goa itu

?

"Kau kata apa?" tanya Kok Plauw heran.

"Kembali keasal-usulmul" Pak le Sin Kay mengulangi seraya

menarik nafas berat." "Kau masih belum sadar!" Baiklah kita akan bertemu lagi di Bun Tong San!"

Pada saat bersamaan ujung Pak Te Sin Kay menotol tanah dan melesatlah tubuhnya melewati keempat orang yang berdiri ditempatnya. Ia berlalu kearah lereng bukit!

Kok Piauw melongo. Thian Tie? Mana ia mau lepaskan orang berlalu, tanpa pikir panjang ia mengejar.

Lari mereka pesat luar biasa, bagaikan terbangnya burung walet.

Kedua orang itu terus berlari kejar2an, tiba2 Kok Piauw teringat akan Pek le Nio-nio yang ditinggalkan dalam kuil, „Luka Pek Ie Nio nio masih belum sembuh. Bila kutinggalkan seorang diri, amatlah berbahaya.

Maka ia berhenti. Pak Ie Sin-Kay seperti mengetahui isi hati Kok Piauw, ia berhenti.

"Mari ! Mari kita bertempur. Tempat ini sepi, kalah atau menang tiada orang lain yang tahu!”

Kok Piauw tersenyum. Ia menghampiri dengan berdebar-debar, pedang pusaka ia pegang erat2.

Begitu Kok Piauw sampai, Pek Ie Sin Kay tiba2 menengadah keatas: "Twako bila dialam baka mengetahui, seharusnya kau ikut bergirang hati atas kemajuan Tie-jie!" ia menggumam dengan wajah seram.

Sikap sipengemis sungguh2 tidak seperti mula2 yang angat2an.

Kok Piauw mengerutkan keningnya. Ia mundur lagi. Apakah sipengemis menjadi gila ?

Pak le Sin Kay melambai2kan tangannya "Jangan takut, aku tidak

gila."

Kok Piauw berdiri kesima. Apa mungkin aku ini adalah orang yang dikatakan Thian Tie dalam gua itu ? pikimya.

Tak mungkin ! Pasti sipengemis main tipu-daya! "Hm, kau hendak mengelabui aku ? !"

Kok Piauw menikam saking sengitnya.

Pak le Sin Kay berkisar kesamping berkelit dengan mudahnya. "Tie-jie, lekaslah kau kembali kepada asalmu!" ia barteriak pula. Kok Piauw menjadi naik-darahnya.

Kau sedang bebicara dangan siapa? ia berteriak. Disini kecuali kita berdua, tidak ada orang lain lagi."

Kok Piauw seperti orang linglung. Pek Ie Sin-Kay berkata pula dengan jelas

"Kau she Hu dan bukan she Kok ! Iblis itu telah mengelabui kau selama 20 tahun !"

"Apa, kau ngaco?" Kok Piauw berteriak dengan marah.

Sipengemis tidak menghiraukan kegusaran Kok Piauw, sambil mengetok-ngetok Tah-kauw-pang ia berseru : Tong Nia Kiam Kek, Tong Kiam Kek : Kau seharusnya dengan wajah Tong Nia Kiam Kek muncul di kalangan Kangouw !

Kata2 ini membikin sekujur badan Kok Piauw gemetar. "Siapa Tong Nia Kiam Kek?" ia tanya dengan parau.

"Celaka! Dia adalah ayah kandungmu ! Apakah kau belum tahu ?" Perkataan itu, laksana halilintar disiang hari bolong.

Kok Piauw marasa kepalanya mendengung2. Badannya sempoyongan, hampir ia jatuh ngusruk !

Sementara itu Pak le Sin Kay sendiri berlinang-linang airmatanya. Kejadian 20 tahun yang lampau kembali ter-bayang2 dalam pikirannya. Sekarang putera Hu Twake sudah menjadi dewasa, tapi justru dipiara dan dibesarkan oleh musuhnya sendiri !

Kok Piauw menenangkan dirinya : "Kau berkata bahwa aku she Hu bukan she Kok, sudah barang tentu kau mengetahui jelas riwayatku yang sebenar2nya. Bagaimana perihal diriku dimasa lalu ? Jikalau kau malam ini tidak mau menerangkan, maka aku akan bertarung dengan kau sampai ada yang mati !"

Pak Ie Sin Kay termenung dengan sedihnya. Ia menarik napas: "Perihal riwayatmu yang lampau sangat panjang untuk diceritakan. Cuma aku sipengemis hendak mengatakan sesuatu. Jika kau adalah she Hu, maka dijalan-darah Thian-tie-hiat didada kananmu terdapat sebutir tahi lalat. Itulah mengapa Hu Twako memberikan nama kepadamu Thian Tie

….

KoK Piauw sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, dengan mata berlinang2 ia berseru : "Kalau begini aku sabetulnya adalah Hu Thian Tie dan bukan Kok Piauw!"

Pak Ie bersinar-sinar matanya karna girangnya. "Kalau begitu Thian tie-hiat mu adalah tahi lalatnya ?' Kok Piauw manggut2. Sementara itu hatinya sangat ruwet, Tahi lalat diatas "Thian tie hiatnya, kecuali ayah atau ibu kandungnya sendiri, orang luar tentu tidak nanti dapat mengetahuinya. Kini Pak le Sin Kay mengetahui keistimewaan yang melekat pada tubuhnya, bila bukannya mempunyai hubungan erat dengan ayah atau ibu kandungnya sendiri, tak mungkin dapat mengetahuinya dengan begitu jelas !

Pengalaman malam dalam goa kembali terbayang di-hadapan matanya. Kalau begitu, ibunya itu ternyata adalah musuh-besarnya sendiri ! Ia tak berani memikirkan lebih lanjut tiba ia berlutut dihadapan Pak Ie Sin Kay dengan air mata bercucuran.

"Locianpwee, terimalah hormat Pit-jiemu Thiain Tie. !"

Pak Ie Sin Kay tak dapat mengendalikan dirinya lagi, hatinya terharu bukan kepalang. Dengan air mata ber-linang-linang ia mengangkat badan Thian Tie dan berkata dengan nada parau : "Tie-jie, riwayat hidupmu seperti teka-teki. Apa yang kuketahui hanya sedikit sekali. Tapi ketika Hu Twako hendak mangkat, pernah ia meninggalkan pesan jika mau mengetahui dirimu sendiri lebih jelas, carilah dua orang untuk memperoleh penjelasan.”

Dengan air mata ber-linang2 Thian Tie bertanya : "Siapa mereka itu

?"

"Bu Tong Cie Totiang dan Ha San Tiat Kuy Lolo!"

Perkataan itu membuat hati Thian Tie melonjak2 dengan keras,

hampir2 ia menjerit, Pak le Sin Kay yang menyaksikan perubahan sianak muda itu tahu apa sebabnya. lapun tertawa "Kau tak usah khawatir tentang peristiwa di Kuil Hwa-Sie, mereka masih belum tahu bahwa kau yang berbuat. Jika kelak kau bertemu dengan mereka,asalkan beritahukan hal ini dengan jelas kepada mereka, tentu mereka tidak nanti akan menyesalkan dirimu !"

Hati Thian Tie terasa lega, tapi ketika teringat, bahwa sekarang banyak tokoh2 silat dari berbagai partai darn aliran sedang berduyun2 berangkat menuju Bu Tong San, untuk menanyakan kepada Cie Yang Totang supaya dia mau menyingkap kedok Kie Thian Tai Seng, ia menjadi gelisah.

Kedatangan tokoh2 ini bukankah hanya untuk menyulitkan Cie Yang Totiang saja ?

Pak le Sin Kay tersenyum dan menghibur : "Hal ini tidak menjadi soal, asal saja kau ceritakan pertemuamu dengan aku malam ini, Cie Yang Totiang tentu mempunyai daya sendiri untuk mengatasi masalah tersebut."

Thian Tie menjura dengan hormatnya. "Locianpwee sekarang hendak kemana ? Bagaimana kalau Thian Mo Sin Lin atau si Putri Hantu dari Kahyangan mengetahui bahwa Tit-jie telah berbalik keasal diriku, hanya dengan tenaga Pit-jie seorang diri, aku khawatir tidak dapat melawannya!" Pengemis itu berpikir sebentar, lalu menjawab "Kurasa dalam waktu singkat ini mungkin dia tidak mengetahuinya. Baiklah, setengah tahun nanti, kita bertemu lagi digunung Thai San untuk merundingkan cara2 untuk menghadapi pembunuh Thian Mo Sin Lie !"

Thian Tie menganggukkan kepalanya.

Pak Ie Sin Kay kembali menasehati "Kie Thian Tai Seng kini sudah mati Tong Nia Kiam Kek sebaliknya sedang cemerlang namanya di-sungai telaga. Tie-jie, kau ingatlah pesanku ini."

Habis berkata, iapun bersiul nyaring dan berlalu.

Thian Tie berdiri termangu2, perubahan yang mendadak, membuat jiwanya menjadi tegang juga.

Tiba2 seperti ada sesuatu arus yang mengalir dibenaknya.

Ia teringat akan pertemuannya dengan suami-isteri muda itu !

Bukankah sianak muda itu she Hu ? Bukankah dia bernama Hu Thian Bin?

Thian Tie kembali termanggu. 1a gegetu mengapa ia rasakan wajah anak muda itu begitu tidak asing baginya, jangan2 ia mempunyai hubungan darah dengan Hu Thian Bin!

Ia harus mencari pemuda itu ! Ia memandang kesekeliling, akhirnya mengambil keputusan untuk berangkat ke Bu Tong San, baru kemudian ia mencari Hu Thian Bin di Kwan-gwe.

Begitu mendapat ketetapan, hatinya menjadi tenang. Ia berjalan kembali.

Malam sunyi sepi. Sang dewi malam perlahan2 mendoyong kearah barat. Seorang diri ia berjalan menuju kuil. Selagi hampir sampai, tampak dari jauh berjalan mendatangi beberapa orang !

Mereka itu adalah tiga pendeta Siauw Lim Sie dan Yao Kie Lun !

Buru2 Thian Tie menyembunjikan dirinya. Ketika mereka berlalu didekatnya, teedcngar Cie Ceng Siansu berkata. “ Yao Tayhiap, mari kita pergi ke Bu Tong San. Perkembangan yang akan terjadi benar2 sukar dibayangkan!"

Yao Kie Lun mengelah napas.

Sial ! Sial! Kie Thian Tai Seng ternyata adalah seorang anak-muda, jika si tua bangka itu ikut keluar, maka dunia Kang-ouw akan hancur!"

Thian Tie mesem "Saat ini aku tak boleh bertemu dengan mereka.

Baiklah tunggu sampai bertemu di Bu Tong San saja!”

Mereka berlalu dengan perlahan2 , suasana kembali menjadi tenang. Malam bertambah larut dan sunyi!.

Thian Tie kembali kedalam kuil. Ia menjerit tertahan. Pek le Nio nio sudah tidak kelihatan lagi ! Tanpa ayal ia mengadakan pemeriksaan secara seksama, tapi sia2 belaka!

"la terluka parah, kecuali ada obat yang mujarab, tak mungkin ia bisa bergerak sendiri meninggalkan tempat ini.”

Tapi sungguh aneh! Jika Pek Ie Nio nio tidak pergi keluar, maka kemana perginya? Thian Tie selamanya selalu mempermainkan orang lain. tapi malam ini, sebaliknya dirinya yang dipermainkan orang lain.

Dengan penasaran memandang keluar pintu kuil, lalu berlari-lari bagaikan burung terbang.

Dipinggir hutan ia berhenti dan memandang kedepan. Tampak Cie Ceng Siansu berempat sedang bergerak-gerak.

Mereka tidak mungkin menculik Pek Ie Nio nio, maka ia kembali lagi. Hatinya gunda-gulana.

Selagi hampir sampai dimuka kuil itu. Tiba2 sesosok bayangan berkelebat dan menghilang dikegelapan malam.

Thian Tie tidak mau menyia2kan waktu, tidak ayal ia mengejar!

Begitu sampai mulut pintu, matanya yang tajam melihat sesosok bayangan putih. Bayangan itu sedang perlahan2 membuka baju Pek le Nio nio !

"Jahanam, besar benar nyalimu! "berteriak Thian Tie dengan gusar yang meluap-luap.

Orang itu berperawakan kurus tinggi, ia memakai baju putih perak, mukanya memakai kedok hitam. Sepasang matanya bersinar-sinar.

Thian Tie menyerang dengan hebatnya. Orang itu mengangkat tubuh Pek le Nio nio. Dengan tangan kanannya yang menyekal pedang ia menyampok pedang Thian Tie.

Thian Tie mendesak terus bagaikan harimau. "Letakkan gadis itu!

Kita bertempur sebelah tangan dengan aku dalam 5 jurus pedangmu akan terpental!"

Orang itu tertawa dingin menantang ! Kalau kau bisa melayani 5 jurus pedangku dengan sebelah tangan ini, kau sudah terhitung jagoan. Hm, hm ! Kau keluar dari perguruan mana?"

Jika mereka bertemu beberapa hari yang lalu, Thian Tie tidak lagi menanti orang itu berbicara, dia siang sudah menyerangnya! Tapi kini ia menahan napasnya "Lekas kau letakkan gadis itu!" perintahnya dengan angkek.

Orang itu tidak menuruti, kembali ia memperdengarkan ejekannya dari suara dihidung !

“Hm ! Dengan mengekangi seorang gadis yang terluka. apa kau masih bisa dibilang seorang Ksatria?" berseru Thian Tie manglet.

"Apa hubunganmu dengan gadis ini?"

"Menolong orang yang terluka itulah tujuan pendekar ! berseru Thian Iie sambil mengibaskan pedangnya. "Hm tidak seperti kau ini yang menyebut diri sebagai enghiong tapi diam2 mengganggu kesucian kaum wanita yang terluka. Hm ! hari ini kau akan mampus, penjahat cabul!"

Mata orang itu memancarkan sinar yang aneh." Kudengar desas- desus, orang yang menyamar sebagai Kia Thian Tai Seng, adalah seorang pemuda baju kuning. Orang ini besar benar mulutnya, jangan2 dia momok itu.” Sibaju putih perak sangat berpengalaman dan bermata tajam, tapi karena Thian Tie membela keadilan, kecurigaannya menjadi lenyap.

"Menurit pendapatmu bagaimana kita akan selesaikan urusan wanita ini" akhirnya ia bertanya.

Dengan dingin Thian Tie menjawab "Mulutmu sangat besar, tentunya kau berkepandaian. Baiklah„ sekarang begini saja. Bila kau yang menang, wanita ini kau boleh bawa pergi, tapi kalau kau yang kalah, kau harus serahkan padaku Bagaimana ?

Mendengar syaratyang diajukan itu, orang itu merasa geli, hampir2 ia tertawa. Pikirnya, mana ada orang yang mempertaruhkan jiwa putrinya sendiri?.

Tapi ia ingin mencoba kelihayan anak muda itu, yang bersikap sombong.

Baiklah Aku akan mengalah 3 jurus padamu!"

Thian Tie yang mendengarnya, hatinya bertambah mendongkol. Apa kau kira pasti bisa mengalahkan aku ?" ia beseru lantang.

Orang itu dengan tersenyum meletakkan Pek le Nio nio ditanah, kemudian ia mengangkat pedangnya tinggi2. Thian Tie tak sabar lagi dan berseru : „Hayo turun tangan!" Ini dadaku, mana dadamu!"

Orang itu menggeleng2kan kepalanya "Aku sudah berjanji akan mengalah 3 jurus padamu!"

Thian Tie tersenyum dingin, lalu ia putarkan pedangnya dengan gaya seng-heng Touw-coan, ujung pedang mengarah keatas dan langsung menyodok tenggorkan lawan.

Orang itu menjadi sangat terkejut ia berteriak "Kie Thian Tai Seng!”

Entah mengapa, sekarang Thian Tie sebaliknya sangat jemu mendengar julukan ini. Satu serangan luput, serangan2 berikutnya susul- menyusul seperti cahaya perak, Ah! la mempermainkan ilmu pedang yang ia baru pelajari dalam goa itu, dan samar2 tampak huruf "Tong" atau "Timur”

Tong Nia Kiam Kek!"

Orang itu mendapat kesempatan untuk balas menyerang, dia lantas kewalahan! Tak berani ia bersikap angkuh lagi, begitu pedang Thian Tie datang mendekat, ia hanya berkelit kesamping dan menyampok !

Walaupun sampokannya itu disertai tenaga-dalam. tapi Thian Tie tiba2 membalikkan tangannya. Pedangnya turun meluncur bagaikan layang2 menyambar diawan.

Orang itu membelalak- matanya, ia putar dengan getarkan pedangnya keatas. Dalam tempo sekejapan berubah menjadi tiga jurus berantai, yang menusuk jalan2-darah Pek-hay, Kie-sie dan Hoat-bun hiat !

Thian Tie berseru tertahan "Oh, kiranya kaulah Cui Hong Kiam Kek Yap Sing Nian !"

Orang itu tidak menghiraukan, ia perhebat penyerangannya hingga terdengar angin menderu-deru. Thian Tie hendak menghentikan pertempurannya, tapi orang itu sebaliknya tidak ma memberikan kesempatan.

Sekonyong-konyong meluaplah darah mudanya. "Dengan baik hati aku telah menolong jiwa putrimu.

Sebaliknya kau mempermainkan diriku. Hm, jangan sesalkan aku nanti ! pikirnya gusar.

Menyusul dengan jurus Thian-Hu To-Twa atau Cakrawala terbalik- diangkasa raja clart ilmu pedang Thian Mo Sin Lie yang telengas, ia serang seluruh jalan darah ditubuh orang itu!

Siorang baju putih perak itu bersiul karna kagumnya:"Permainan pedang yang bagus!"

Namun pedangnya juga bergaya dengan ilmu pedang Pengejar Angin yang mempunyai 64 jurus. Sungguh hebat ! Walaupun ilmu pedang Thian Tie jarang tandingannya, tapi terhadap Ilmu Pedang Pengejar Angin, betul2 ketemu batunya!

Cai Hong Kiam-Hoat dari keluarga Yap sangat tersohor! "Hm, apa kau sangka aku takut padamu ?" berseru Thian Tie

penasaran.

Sinar pedangnya berkerepan, menggulung dengan bengisnya, ia balas menyerang!

Serang-menyerang silih berganti, sekejapan 10 jurus lebih sudah berlalu!

Mereka bertempur dengan sekuat tenaga, sinar2 pedang berkilau- kilauan hingga kuil menjadi terang bendarang seperti bermandikan cahaya rembulan.

Tepat pada waktu itu, tiba2 Pek Ie Nio Nio yang ber-baring ditanah kelihatan mendusin.

Ayah, kau telah datang?" ia berseru terperanjat bercampur girang. Mendengar teriakan itu, Yap Siong Nian menjadi sedikit lengah.

Pedang Thian Ie membeset udara dengan pukulan Hong-koah Can-in ! "Brebet!" ujung baju Yap Siong Nian terpapas sobek!

Keruan saja Yap Siong Nian menjadi murka, ia berteriak santar dan laksana kilat cepatnya ia membabat tubuh Thian Ce !

Thian Tie tidak ingin bertarung lebih lanjut, pedangnya bergerak menyampok. la mundur kebelakang. Cui Hong Kiam Kek sangat memikirkan luka putrinya, iapun berhenti.

Tunggu bangsat ! Bila kau dapat lolos dari tanganku malam ini, aku Yap Siong Nian berjanji tidak akan menginjak kakiku pula ditanah Kangouw!"

Dan dengan langkah lebar ia berjalan mendekati Pek le Nio Nio ! Pek Ie Nio yang sudah siuman, berteriak dengan suara parau,

"Menurut Pek le Sin Kay . . . . dia bernama Hu Thian Tie!

Sebenarnya hati Thian Tie sangat mendongkol, tapi mendengar suara sigadis cantik, ia seperti juga mendapat hadiah. Perlahan2 ia membalikkan tubuhnya "Bila aku ini Kie Thian Tai Seng, maka tak nanti aku mau selesaikan perkara begini saja ujarnya.

Habis berkata, ia pun berlalu pergi !

Tapi se-konyong2 dibelakang punggunya terasa desiran angin ! Yap Siong Nian menyerangnya pula ! Buru2 ia menyampok dengan pedangnya!

Sampokannya ini disertai tenaga dalam hebat, Cui Hong Kiam Kek tidak berani gegabah. Ia tarik serangannya : "Kalau kau Kie Thian Tai Seng, habis bagaimana ?"

Alis Thian Tie menaik keatas karna mendongkolnya.

Aku akan bertanding sampai badanmu tak berkepala!" sahutnya sengit.

Tiba2 Cui Hong Kiam Kek memperdengarkan siulan panjang, napasnya barkobar-kobar. Berturut2 ia putarkan senjatanya menikam tempat2 berbahaya ditubuh Thian Tie!

Thian Tie menjadi kagum. Cui Hong Kiam Hoat ternyata bukan omong kosong!" pikirnya.

Tapi ia juga bukan sembarang ahli-pedang. Sambil tersenyum ia mengeluarkan ilmu pedang Tong Nia Kiam Hoat. Pada detik itulah sesosok bayangan putih berkelebat ketengah medan pertempuran ! Terperanjat mereka mundur kebelakang, Cui Hong Kiam-Kek berseru! Cu-ji, mundur! apa sudah gila!

"Ayah. kau salah menyerang orang !" berseu sinona dengan nyaring," Bukan dia yang menyerang aku! Malahan dia yang menolong putrimu !"

Yap Siong Nia menggeserkan pandangan matanya ke-arah putrinya yang pucat pias, Siapa gerangan yang bernyali besar itu?"

Thian Tie bermesem-simpul. ia tahan senjatanya. Leng San Siang Eng.

Thian Tie berubah wajahnya.

"Hm. besar benar nyali mereka berdua itu!” berkata Yap Siong Nian dengan murka.

Sehabis berkata, ia berpaling kepada Thian Tie.

"Kau telah menyamar sebagai Kie Thian Tai Seng untuk membuat kehebohan, hm hm! Apa kau lupa bahwa di kangouw ini masih hidup seorang she Yap ini ?

Thian Tie mendidih darahnya. Bila dihari2 yang lalu, pasti ia lak dapat mengendalikan napsunya. Tapi sepasang mata bola mengawasi dirinya dengan redup2 alang, seperti memohon sesuatu. Tergetarlah hatinya dan lemah sendi-tulangnya. malahan sinar mata yang jernih ltu bagaikan memaksa ia untuk menyimpan pedangnya.

Ia balik untuk berlalu.

Cui Hong Kiam Kek seumur hidupnya belum pernah dianggap sepi oleh orang. Mana ia mau membiarkan Thian Tie pergi? Lagipula Thian Tie adalah Kie Thian Tai Seng!

“Cu-jie, pemuda ini sangat kejam, banyak tokoh2 bulim kenamaan yang menjadi korbannya. Bila kali ini aku tidak habiskan nyawanya aku kuawatir tidak akan ada orang lain yang mampu membereskannya."

Thian Tie yang baru berlalu 10 tindak lebih menjadi gila. lapun berhenti lagi, tapi kata2 Pak le Sin Kay kembali

berkumandang ditelinganya. la menggores huruf "Tong" di tanah dengan pedangnya.

Thian Tie mendongak keatas dan berseru : "Tong Nia Kiam Kek, Tong Nia Kiam Kek . . . .

Tiba2 terdengar suara orang! "Apa hubungan dengan Tong Nia Kiam Kek?!"

Thian Tie menoleh. Yap Siong Nian menuding dengan pedangnya.

Thian Tie mengayunkan pedangnya, ia membuat satu huruf Tong yang besar, dan berseru dengan gusar : ''Yap Po-cu. aku sudah mengalah terhadapmu, tapi jangan keterlaluan, Apa kau kira aku takut kepadamu ?”

Cui Hong Kiam-Kek tertawa dingin. "Aku sudah berkata, bila aku melepaskan dirimu malam ini, maka aku berjanji tidak akan menginjak kaki lagi di Kang ouw."

Thian Tie menyedot hawa murninya dalam2. mengumpulkan tenaga dalamnya yang paling tinggi. "Apa kau betul2 hendak bertempur?"

Jangan banyak bicara! Ajalmu hampir tiba, jahanam !

Thian Tie tak dapat mengendalikan dirinya lagi, ia lompat menyerang !: Baik, aku ingin minta pelajaranmu!” teriaknya lantang.

Permainan pedang mereka sangat cepat dan berbahaya sekali, tapi baru saja mereka saling bergebrak, tiba2 sesosok tubuh melesat diudara.

Cepat2 Thian Tie dan Yap Song Nian menarik pedangnya, karena hampir2 melukai orang itu.

Cu-jie, mengapakah kau pada hari ini ?" ujar Cui Hong Kiam Kek mengelah napas. Tiba2 ia lompat untuk memapah tubuh putrinya yang sempoyongan hendak jatuh.

Dengan suara gemetaran sigadis berkata : "Bila ayah hendak bertempur juga, lebih baik bunuhlah aku dulu!”

Thian Tie terdiam dengan hati terharu. Ini hebat !

*

* *

Berpikir demikian. Thian Tie lantas berseru dengan nyaring: Yap pocu, ingatlah bahwa Tong Nia Kiam Kek tidak akan melukai seorang baik

!"

Kemudian ia melesat pergi !

Thian Tie sangat menyesal. Pikirnya, aku tidak lagi melukai orang. tapi orang lain justru memusuhi diriku! Ah, benar2 Thian tidak adil! Sekembalinya dirumah penginapan, karena kuatir Cai Hong Kiam Kek menyusul, maka ia berkemas, lalu meninggalkan dusun Cu ke-po !

la melewati sungai Yo-Cu Ho, dan berselang 3 hari kemudian, sampailah Thian Tie pada It-Lee po. Sebuah kampung ditepi danau Tiong- ouw !

Ternyata ia sudah datang lebih dulu dari Cie Ceng Siansu berempat.

Kampung lt Lee Po, sangat tenang-damai, dan indah.

Thian Tie diam2 berkata dalam hatinya : "Jikalau aku tidak berhenti membuang2 waktu, maka dalam jangka waktu 6 sampai 7 hari aku akan sampai di Bu Tong San! Aku harus menutupi semua mata orang, sehingga mereka tidak mengetahui diriku!"

la mendongak memandang kearah jauh.

Kiranya jalan2 di It Lee Po terbagi atas jalan-depan dan jalan belakang. Jalan-depan sangat ramai, karena merupakan tempat2 perdagangan. Orang2 banyak berhilir-mudik, sedang jalan belakang hampir semuanya adalah rumah penduduk. Berbeda sekali, jalan ini sangat sepi.

Thian Tie bermalam disebuah rumah penginapan. Menjelang maghrib ia memesan beberapa macam hidangan, setelah bersantap, ia menutup pintu kamar untuk beristirahat.

Entah lewat beberapa lama, tiba2 diatas atap rumah terdengar suara berkeresakan seperti tindakan kaki orang, walaupun sangat perlahan, namun Thian Tie yang sangat waspada itu sudah menangkapnya. Dengan berdebar-debar ia turun dari pembaringan! Tepat pada waktu itu terdengar suara orang berkata : " Twako, kudengar kabar Yap Siong Nian ikut datang! Waspadalah."

Terdengar pula seorang menyahuti: "Hm, itulah kebetulan sekali, kita justru ingin mencoba2 manusia yang hanya gede omong itu!"

Thian Tie mengerutkan keningnya. Suara mereka tidak asing! "Apa kedua tamu malam ini adalah Leng San Siang Eng?”

Selagi ia berada dalam keadaan bimbang, kembali terdengar salah seorang diantaranya berkata pula :" Unruk menjatuhkan dia tidaklah sukar. Bukankah dengan demikian kita telah menyia2kan waktu untuk mengejar pengemis bangkotan itu ?"

"Sebaiknya kita mendengar dulu nasehat Tung Lo Tau?” Setelah itu, suasana kembali tenang pula !

Thian Tie sebenarnya tidak mau ikut mencampuri urusan orang iain, tapi ketika ia mendengar bahwa Leng San Siang Eng hendak menyatroni Pak le Sin Kay, hatinya menjadi gusar. Ditambah mereka telah melukai Pek le Nio nio ! Gadis yang pernah ia cium dan dekap dengan hangatnya. Perhitungan ini haruslah diselesaikan !

Tatkala mereka berlalu diam2, ia membuntuti dibelakang. Keng San Siang Eng berlari2, dalam sekejapan saja sudah meluncur puluhan tombak! Tapi Thian Tie terus membayangi dengan hati2 dan sebuah senyuman dingin mekar diwajahnya.

Setiba diluar kampung, mereka berhenti. Mendadak mereka berbalik kebelakang, Thian Tie menyelinap ke sebuah rumah ! la menyembunyikan dirinya. Leng San Siang Eng menuju kesebuah gedung besar.

Thian Tie diam2 mengelah napas lega.

Mereka ternyata sangat waspada dan teliti. Amboi, aku tak boleh bertindak semberono."

Ia maju lagi dengan berindap-indap. Ketika ia memandang, tampak rumah gedung itu sangat mentereng. Gelap, gelita! Cahaya Pelita samar2 keluar dari sebuah kamar diatas loteng!

Thian mengawasi dengan mata bersinar-sinar, kemudian perlahan2 ia memutar kebelakang gedung.

Dalam kamar kelihatan orang berjalan kian kemari, Thian Tie mendekati loteng. itu. Terdengar suara seorang tua: "Bukannya aku mengunggul2kan orang lain, sesungguhnya masalah yang kita hadapi sekarang adalah berbahaya sekali.

Lebih baik kita membicarakan dulu soal cara bagaimana kita membasmi Kie Thian Tai Seng ! Jiewie mengapa menyusahkan diri mencari Pak Ie Sin-Kay?”

Leng San Siang Eng berdiam sebentar, namun akhirnya salah satu diantaranya menyahut: "Kami menerima usul ini! Tapi bila kita menghadapi pengemis itu. apa Tung Lo Enghiong mau memberi bantuan kepada kami ?"

Orang tua itu berbatuk2 sebentar. "Oh, itu sudah tentu ! Besok tengah hari Hian Hong Totiang. Gok Bian Mo cang dan beberapa sahabat dari berbagai aliran akan datang kemari. Pada saatnya kita rundingkan lagi!”

Len Sang Siong Eng tidak menyahut. Rupanya Mereka menyetujui. Thian Tie tersenyum, lalu ia kembali pula kepenginapannya.

Keesokan hari ! Karena kalau mengenakan pakaian serbakuning mudah menarik perhatian orang, maka Thian Tie mengganti dengan serangkap pakaian warna biru laut model kaum pelajar. la bercermin sambil merapikan bajunya. Dihadapannya berdiri seorang pemuda cakap yang romantis. la tertawa geli. Aku kini bersalin menjadi seorang pelajar yang tidak bertenaga sedikitpun !" Ha-ha-ha ! “

Thian Tie membuka pintu kamar. Dalam ruangan makan sudah penah orang. Mereka itu hampir seluruhnya adalah kaum pandai silat. Berpura2 seperti tidak tahu apa2 ia berjalan keluar :

Suasana kampung le Lee po yang tenang damai kini telah berubah! Orang2 yang ia jumpai, hampir seluruhnya terdiri dari orang2 Kang ouw ! Sampai diujung jalan tampak gedung besar itu terbentang lebar2 pintunya. Orang2 'berduyun2 masuk kedalam ..... Thian Tie ikut masuk pula, Karena masih sangat pagi, orang yang datang masih belum banyak. Ia memilih sebuah tempat yang tidak menyolok. Disampingnya berduduk 2 orang lain.

Demi meliahat Thian Tie, yang berdandan seperti kaum sastrawan, begitu luwes-lemas, sedang pada punggungnya tergantung sebilah pedang. meraka tersenyum mengedek. Mereka sedang hendak merundingkan soal bagaimana untuk membunuh Kie Thian Tai Seng.

Untuk apa bangsa mahasiswa munculkan dirinya ?

Thian Tie tidak menghiraukan ejekan orang. Dengan asyiknya perlahan2 ia mengunyah kwaci yang disuguhkan. Berselang tidak lama, tamu2 sudah pada datang, maka ruangan kini berubah menjadi riuh- rendah !

Menjelang tengah hari diantara keriuhan itu terdengar suara orang berteriak dengan nyaring: "Tiat San Taihiap (Pendekar kipas besi) Tung Ling datang !"

Thian Tie menoleh. Orang tua semalam sedang berjalan keluar dengan didampingi oleh San Siang Eng !

Tiat San Taihiap Tun Ling memberi hormat kepada para hadirin. kemudian berseru dengan suara lantang "Hadirin harap menunggu sebentar ! Setelah Hian Hong Totiang dan Giok Bian Moceng datang, kita akan segera membuka pertemuan kita ini !"

Kata2nya disambut dengan keriuhan !

Ada orang yang berteriak : "Tung Taihiap, mengapa kau undang dua orang momok itu?"

Tung Ling menoleh kepada orang yang berbicara itu.

,,Banyak yang Cie Taihiap tidak ketahui, bila jita mau memberantas Kie Thian Tai Seng, maka siasat ini yang paling tepat. Dengan racun kita gempur rancun!"

lni memang beralasan. Cie Taihiap mengangguk2kan kepalanya tanda setuju "Oh, kiranya begitu! Maaf maaf."

Tapi diantaranya ada juga orang yang tidak puas, mereka saling kasak-kusuk, tapi tiada seorang yang berani mengutarakan ketidak puasan hatinya.

Thian Tie tidak tahu Hian Hang Totiang, dan Giok Bian Moceng itu orang macam apa, maka ia bertanya kepada seorang tamu yang berada didekatnya : Siapa Hiam Hong Totiang dan Giok Bian Mociang ini?"

Mlihat pemuda kita ke tolol2an seperti “Kutu buku” ia tertawa :" Siangkong, kau tidak kenal Hian Hong Totiang dan Giok Bian Mociang? Kau tunggu saja!”

Orang itu memanggil Thian Tie dengan kata “Siang-kong" atau sebutanmu untuk kaum pelajar atau sastrawan. "Hal ini benar2 menyinggung perasaannya. Bukankah dalam pertemuan ini yang datang seluruhnya ada orang2 kaum Sungai-telaga yang berkepandaian tinggi? Mana ada bangsa iangkong yang datang ketemput semacam ini?"

Tapi Thian Tie tidak menghiraukan. ia tersenyum manis duduk kembali dengan tenang !

Meski ia tidak menghiraukan sikap orang yang duduk didekatnya tertawa geli: Siangkong !" Ha-ha-ha : Enak kedengarannya panggilan ini

!”

Kata2 ini lantas tersiar, membikin semua hadirin ter-tawa terpingkal2. Tiat San Taihiap dan Leng San Eng mengerutkan keningnya.

Thian Tie sebenarnya tak ingin dirinya menjadi perhatian orang, maka ia cepat2 menundukaan kepalanya, perbuatannya itu lebih membuat hadirin tertawa terpinggal2 .

Thian tie menjadi sangat kikuk. Bila hal ini terjadi beberapa hari yang lalu, batuk kepala orang2 yang tertawa itu pasti sudah berpindah tempat, Tapi kini lain keadaannya. ia hanya biga mengekang nafsunya dan menganggap ejekan ini seperti juga suara desiran angin.

Untunglah, tiba2 terdengar Tung Ling berseu nyaring: "Hadirin sekalian. Hian Hong Totiang datang!"

Pada saat itu juga terdengar suara tertawa panjang yang menggeledek. Suara tertawa yang satu kasar dan yang lain halus, seperti 2 ekor burung yang membentangkan sayapnya berlomba terbang!

Semua hadirin terdiam. Tiba2 terdengar pula suara menggeledek: "Maaf, maar, kami datang terlambat !"

Semua orang hanya merasakan kesiuran angin dan dalam ruangan tiba2 sudah bertambah2 orang !

Thian Tie diam2 melirik. Yang satu adalah seorang Tosu yang beralis lebat dan bermata besar, ia membawa sebuah Hudtin. Tampangnya sangat garang menyeramkan. Sedang si Hwaesio kepalanya gundul, mukanya putih laksana kumala!

Hian Hong Totiang dan Giok Bian Moceng!"

Sementara itu orang yang duduk didekat Thian menyentuh tangannya dan berbisik: ''Siangkong, apa kau melihatnya ?"

Thian Tie diam saja. Seorang berlari lari menghampiri Giok Bian Moceng dan Hian Hong Totiang dan memberi kisikan, air muka Hian Hong Totiang berubah menjadi gusar.

"Kalau begitu Pinto ingin minta pelajarannya!" Teriaknya- menggeledek.

Selagi berkata, entah dengan gerakan apa, ia mencelat dan menyerang Cie Taihiap dengan Hudtimnya.

"Bila aku tidak minta sedikit pelajaran dari orang pandai ini, tanganku benar2 terasa sangat gatal !" serunya menantang.

Dengan gesit Cie Taihiap berkelit kesamping dan membentak : "Hian Hong, apa kau patut untuk menjadi penegak keadilan kaum Bulim?"

Kemudian ia mencabut pedangnya dan menangkis tapi biar gerakannya cepat, namun Hian Hong Totiang luar biasa cepatnya. Bulu2 Hudtim membeset menggulung, dengan sekali membetot, pedang Cie Taihiap tertarik Hudtim menyambar terus dan . . . .

"Ces! Ces !"

Disusul dengan teriakan orang Cie Taihiap yang mengerikan.

Badannya mental sejauh 7-8 tombak dan jatuh dilantai. Sekujur tubuhnya ber-lobang2 dan darah bercucuran deras. Jiwanya sudah melayang !

Atas perbuatan Hian Hong Totiang yang tidak berperikemanusiaan ini semua hadirin menjadi pucat.

Tosu telengas itu tertawa bangga, kemudian dengan suara dingin ia berkata menantang: "Hm, siapa lagi yang ingin coba2?" Hayo, yang ingin mampus lekas maju!”

Semua orang terdiam. Leng San Siang Eng merasa kurang senang atas sikap orang itu. Baru saja mereka hendak keluar untuk menerima tantangan, Tiat San Taihiap mencegahnya.

"Sabar. Kita barus bisa mengendalikan diri supaya urusan besar tidak sia2!"

Leng San Siang Eng dapat terbujuk, tapi air mukanya tidak dapat menutupi rasa ketidak senangannya.

Hian Hiang Totiang tersenyum puas, ia melangkah ketempat duduknya seraya berseru : "Bila Kie Thian Tai Seng saat ini berada disini, Pinto ingin benar dapat bertanding 300 jurus dengan dia !"

Suasana semakin bertambah sunyi:

Giok Bian Moceng menyeringai. "Hiam Hong Toyu, buat apa kita banyak bicara dengan orang2 semacam begini ?"

Habis berkata, dengan sikap congkak ia berjalan menuju kursi utama, dan dengan tidak menungggu pelayanan dari tuan rumah, ia sudah mengganyang hidangannya!

Hian Hong Totiang masih panasaran. la memandang kesekeliling.

Tung Ling si tuan rumah karena takut akan timbul keonaran yang lebih besar, buru2 berseru : "Hian Hong Totiang, silahkan duduk !"

Semua orang seolah2 tenggelam kedalam impian nyenyak. Tapi tepat pula saat itu, terdengar suara orang menyeletuk memecah kesunyian !

Saudara, permisi!”

Suaranya lemah. Semua orang menoleh kearah suara itu dengan terkejut !

Kiranya orang ini adalah Thian Tie! Perlahan2 ia menyisihkan orang yang sudah didekatnya seraya tertawa : Tamu yang datang hari ini sangat banyak !" Eh-eh-eh ! Tanganku menjadi gatal."

Sendaa hadirin meajadi tegang dan hampir2 tidak berani bernapas !

Orang yang semula menertawai dirinya kesisi, dengaa mata terbentang lebar berseru dengan kagetnya : "Siangkong hendak turun gelanggang?" *

* *

Thian Tie tersenyum !

"Benar, Siangkong hendak turun gelanggang !" jawabnya jelas.

Habis berkata, iapun berjalan ketengah ruangan dan berdiri tegak disana. Kemudian ia berteriak dengan nyaring : "Siapa Leng San Siang Eng?"

Suasana menjadi gempar !

Karena begitu ia keluar, bukannya menantang Hian Hong Totiang sebaliknya mencari Leng San Siang Eng. Ini penghinaan yang tak dapat diterima oleh Hian Hong Totiang !

Hian Hong Totiang gusar bukan kepalang. Tapi melihat Thian Tie adalah seorang sastrawan muda yang lemah tiada bertenaga, ia menekan kegusarannya dan menjawab: "Eh Siangkong ! Pedang yang tergantung pada punggungmu, apa buat menakuti bangsa kurcaci ?"

Hadirin tertawa !

Thian Tie tidak ambil perduli, dengan sikap sombong ia duduk disebuah bangku dan bertanya ! Apa kau seorang dari Leng San Siang Eng ?"

Semua orang tertawa riuh !"

Hian Hong Totiang menjadi merah padam, Dengan kedudukannya yang tinggi ternyata masih ada orang yang berani mengolok2kan dimuka umum. Hatinya panas tak dapat dikendalikan lagi !

Dengan gusar Hian Hong Totiong menghardik : "Heh bocah !

Apakah kau sudah bosan hidup ?"

Thian Tie melirik dan tertawa: "Kau ini benar2 aneh!

Pertanyaanku belum juga kau jawab, tapi malahan berbalik bertanya. Jangan konyol, Tosu bau !"

Hian Hong Totiang berteriak dengan gusarnya. Hudtimnya menyabat lengan kanan Thian Tie! Inilah hebat!

Tapi Thian Tie seperti tidak tahu bahwa ia diserang orang, dengan malas2an ia mendorongkan sepasang sumpit yang dipegangnya : "Titiang, apa kau lapar ? Nih ! Aku berikan sepotong daging ini kepadamu ! "Tuh, makan biar kenyang!"

Tahu2 Hudtim, menggulung sepotong daging yang disuguhi Thian

Tie ! Semua orang menjadi melongo, hilanglah sikap memandang enteng terhadap pemuda pelajar itu. Malah ada orang berbisik : "Hian Hong ketemu batunya ! Biar, dia mampus !"

Para tetamu bukanlah sembarang orang, sekali lihat mereka semua tahu bahwa pemuda ini berkepandaian tinggi.

Bukan kepalang gusarnya Hian Frong Totiang, ia menyerang pula! Serangan kali ini keras dan kejam. Semua orang mengira bahwa

Thian Tie tentu tidak mungkin bisa ber-kelit, tapi sebaliknya pemuda kita berdiri dengan sikap wajar. Malahan ia tertawa : "Apa Totiang sedang me-ngipas2i-ku ?"

Thian Tie mundur kebelakang, bulu2 Hudtim tepat lewat didepan mukanya !

Hian Hong Totiang terperanjat, melihat kelihayan lawannya, benar2 ia tidak duga. Giok Bian Moceng sebaliknya maju kedepan : "Hian Hong toyu biar aku saja yang membereskan bocah ini!" teriaknya.

Walaupun ia berkata demikian, namun semua orang tahu bahwa ia hendak menolong Hian Hong Totiang.

Thian Tie memicingkan sebelah matanya dengan mengomel seorang diri : "Huh ! Leng San Siang Eng seharusnya berjumlah sepasang. Mengapa aku menyebut totiang ini "Siang Eng” atau sepasang pahlawan ?"

Thian Tie gembar-gembor menyebut-nyebut Leng San Siang Eng, hinga Leng San Siang Eng yang sebenarnya, tak dapat menahan dirinya. Mereka berdiri serentak dan beteriak : "Bocah, kau mencari Leng San Siang Eng mau apa?”

Thian Tie tertawa; "Apa kamu adalah Leng San Siang Eng?"

Pertanyaannya yang lucu ini, kembali membuat semua orang berteriak-teriak dengan ramainya.

"Ha-ha-ha ! Ha-ha-ha !"

"Baik ! Tak perduli Leng San Siang Eng itu berdua atau berempat, aku akan melayaninya semua. Ayoh, aku ganyang semuanya!"

Thian Tie menantang keempat orang itu, hingga semua orang terkejut. Terutama Tiat San Tai hiap yang menjadi tuan rumah, lompat dari kurai karna kagetnya. Dengan mata membelalak ia mengawasi, namun ia tak tahu siapa gerangan anak muda tersebut ?

Thian Tie meloloskan pedangnya dan menggetarkannya diudara. Sinar putih lantas berkilau-kilau amat indahnya. Samar2 tertulis sebuah huruf besar "Tong".

"Tong Nia Kiam Kek memohon beberapa jurus kepada kalian berempat !" ia berteriak dengan nyaring.

Suasana dalam ruangan itu menjadi sunyi. Hian Hong Totiang berempat saling ber-pandang2an, dan dalam hati kecil masing2 bertanya : 'Maju atau tidak ?" Thian Tie memainkan terus padangnya, angin dingin berkesiur- kesiur laksana taufan. Terlukislah sebuah huruf "Nia" diudara.

"Aku hendak membersihkan sampah Bulim, apa hadirin setuju ?" ia berteriak pula.

Gemparlah suasana, malahan ada orang yang berteriak ; "Ganyang saja si Hweesio bau dan si Tosu busuk ! Ganyang juga Kie Thian Tai Seng

!"

Thian Tie menggeleng2kan kepalanya : "Kie Thian Tai Seng sudah mati :" teriaknya.

Hian Hong Totiang berempat terperanjat, Hian Hong Totiang putarkan Hudtimnya dengan lebih dahsyat hingga ribuan benang perak berkembang mengarah jalan-darah disekujur tubuh pendekar muda kita.

Thian Tie mengangkat pedangnya, menahan tangkai Hudtim dan berseru : "Apa hadirin ingin kupapas kutang kepalanya ?"

Gerakannya sungguh hebat, tiada seorangpun yang melihat bagaimana ia mengirimkan serangannya hingga Hudtim tertahan diudara.

Wajah Hian Hong menjadi merah-padam, Huddtim-nya tidak dapat bergerak! Sambil berteriak mengguntur Giok Bian Moceng lompat menyerang, ia memukul dengan pukulan Angin-menderu Pasir- berterbangan!

Tapi dengan sebet Thian Tie berkelit, lalu menotok jalan-darah "Mak-heng-hiat" si Hweesio berwajah kumala putih: "Kalian jangan bertempur cara begini, sebaiknya semua maju serentak!" teriaknya.

Leng San Siang Eng yang menyaksikan dari samping, melihat Thian Tie ber-turut2 mengeluarkan dua jurus yang gerakannya tidaklah asing baginya, lantas mereka berteriak : "Kie Thian Tai Seng !"

Semua orang menjadi gempar. Mereka mengarahkan pandangannya kepada Thian Tie yang bermuka tampan bersih, sedikitpun tidak mirip seperti Kie Thian Tai Seng, simomok kejam yang tidak kenal ampun. Ah, tidak mungkin ! Salah seorang. Berteriak: "Leng San Siang Eng tahu dirinya akan kalah, maka ia memfitnah orang. Ha-ha-ha!"

Ucapannya ini mendapat sambutan riuh tanda setuju.

"Tenang, tenang aku adalah Tong Nia Kiam Kek!” menerangkan Thian Tie memperkenalkan dirinya.

Kemudian ia melepaskan Hian Hong Totiang dan Giok Bian Mo ceng, lalu Leng San Siang Eng.

Menghadapi Leng San Siang Eng, ia berkata: "Pak Ie Sin Kay adalah orang yang berjiwa mulia, mengapa kamu berdua mencari setori kepadanya ?" ia bertanya.

Setelah berhenti sebentar, ia berkata pula : "Sedang mengenai diri Kie Thian Tai Seng, dia sudah lama mati !"

Keempat orang itu menjadi ciut nyalinya, mereka tak berani berbuat apa2.

Thiat San Tay hiap demi melihat gelagat tidak menguntungkan, tahu bahwa ia mesti turun tangan juga. Maka ia maju kedepan : "Saudara muda, harap sabar sedikit. Aku siorang tua hendak berkata sepatah dua patah kata !"

Thian Tie mengibaskan tangannya : "Tak usah kau bicara ! Mereka berempat bukanlah tandinganku; maka tak perlu mereka mencari Kie Thian Tai Seng, atau Pak le Sin-kay !"

Thian Tie masukan pedangnya kedalam sarung dan berkata: "Sampai berjumpa pula!"

Dan la pun berjalan keluar !

Tapi baru saja ia bergerak atau tiba2 terdengar suara bentakan yang nyaring ; "Kau hendak lari kemana ? Rasanya tidak segampang itu, bangsat !"

"Hutt ! Terasa angin dingin menyambar Thian Tie !

Thian Tie berjalan dengan tenang seperti tidak tahu bahwa dirinya dibokong orang ! Suasana dalam ruangan menjadi riuh. Tiba2 Thian Tie membalikkan sebelah tangannya, dan menyambar senjata orang. "Permisi, aku harus pergi !" ujarnya nyaring.

Orang yang membokongnya itu bukan lain dari Hian Hong Totiang. Kini Hudtimnya dipegang Thian Tie, maka terperanjat ia bukan kepalang. Ia meronta-ronta, tapi sia2 belaka ! Barulah ia berpeluh dingin.

Thian Tie tertawa terbahak-bahak "Apa kau masih tidak mau lepaskan tanganmu?" ia mengejek.

la membetot, badan Hian Hong lantas sempoyongan. Senjatanya dirampas oleh Thian Tie.

Semua hadirin menjadi kagum. Mereka melihat Thian Tie berdiri dengan sikap gagah perkasa, beda sekali dengan sikap yang ke-tolol2an tadi !

Giok Bian Mo ceng dan Leng San Siang Eng bercekad hatinya, walaupun mereka sudah tahu semua bukan tandingan Thian Tie, tapi mereka tidak menyangka, bahwa hanya dalam satu jurus saja Hian Hong Totiang sudah keok.

TAMAT