Cahaya Perak dari Bukit Timur Jilid 3

Jilid 3

Tiba2 terdengar Kie Thian Tai Seng berseru dengan dingin "Bila aku tidak menunggu engkau jejek berdiri ditanah, maka biarpun aku dapat mengalahkan kau, orang2 dari Yap-ke-po tentu tidak mau mengerti !"

Benar saja Bayangan merah menunggu sampai sigadis berdiri diatas tanah.

Mendengar ucapan Kie Thian Tai Seng, sinenek terkejut. Kini ia baru tahu bahwa sinona baju putih ini kiranya adalah dari keluarga Yap Ke Po, pantas kepandaiannya tinggi !

Dan tatkala ia mendengar lagu suara orang yang tidak asing pula baginya, maka kini ia dapat pastikan bahwa dialah bukan lain daripada Kok Piauw. Sipemuda baju kuning!

"Kok Piauw, bocah bau! Benar2 kaulah musuhku! Penasaran ia menyapu dengan tongkat besinya. Kie Thian Tasi.

Kie Thian Tai Seng memperdengarkan suara keluhannya, ia diam saja tiada bergerak. Ia balas menyerang Kesempatan ini digunakan baik2 oleh Pek le Nio Nio, dengan pedangnya menusuk muka orang.

Hati Ong Cin Peng terasa berdebar dan ia yakin bahwa kedok Kie Thian Tai Seng segera akan tersontek hingga terlepas oleh ujung pedang tersebut. Apa dia Kok Plaw atau bukan?

Ternyata kali ini serangan Pek le Nio Nio benar2 diluar dugaan Kie Thian Tai Seng ! Namun dengan kegesitannya luar biasa ia berkelit, dan dengan sorot mata yang tajam ia menyapu muka Tiat Kuy Lolo.

Penolong Budiman apa betul kau menghendaki aku untuk turun tangan ?"

Bentakan ini benar2 berpengaruh! Hati sinenek me-lonjak2, belum juga sempat ia menjawab, atau Pek Ie Nio Nio sudah menyerang !

Dengan bertubi2 pedang menikam dan menusuk tubuh Kie Thian Tai Seng !

"Hm, ilmu pedang keluarga Yap ternyata biasa saja ?" mengejek Kie Thian Tai Seng.

Agaknya ia memandang sepi saja terhadap Pek Ie Nio Nio. Tapi mendengar lagu suaranya, kint Ong Cin Peng dapat memastikan sudah bahwa Kie Thian Tai Seng yang berada dihadapan matanya itu bukau lain adalah Kok Piauw. pemuda Baju Kuning yang pernah ia jumpai !

Tangan kanan Kie Thian Tai Seng menghantam kearah kiri dan kanan, hingga pedang senantiasa memukul tempat kosong. Walaupun permainan pedang Pek le Nio Nio sangat tinggi, tapi iapun tidak bisa menarik keuntungan apa2.

Mereka yang menyaksikan jalannya pertarungan, berdebar-debar hatinya. Mereka semula mengharapkan Pek le Nio Nio bisa mengalahkan lawannya. kini setelah melihat gadis itu tidak bisa memperoleh keuntungan apa2, maka mereka kembali merasa hampa, putus asa!

Permainan pedang sigadis sangat dahsyat, sehingga Tiat Kuy Lolo dan Ong Cin Peng yang berdiri kira2 3 - 4 tombak jauhnya masih dapat merasakan hawa dingin dari sambaran2 pedang.

"Nampaknya Bayangan merah itu tak salah pasti Kie Thian adanya, tapi mengapa ia selalu memanggilku Penolong Budiman ? Aneh, sungguh aneh !"

Hati sinenek diliputi rasa ragu2:

"Hm, bagaimanapun juga ia adalah musuh besar kita! Sebaiknya aku menggunakan kesempatan baik untuk membunuh dia, supaya dunia Kangouw terhindar dari malapetaka!"

Berpikir kemudian, maka tanpa memikirkan akibatnya sinenek berseru ''Ong Taihiap, kita tak boleh berpeluk tangan saja ! Mari kita serang dia, tak usah kita menunggu nunggu lagi !"

Seeera ia menyerang dengan tongkatnya!

Ong Cing Peng melihat sinenek sudah lompat kegelanggang pertempuran, tanpa ayal turut menyerang.

Hm, siapa yang sudi menerima bantuan kamu berdua? Lekas pergi!" bentak sinona yang ternyata kurang senang hatinya.

Sekali lagi Pek Ie Nio Nio menusuk dengan kalap, tak mengherankan pula apa yang akan terjadi.

Tapi sungguh aneh! Begitu pedang sinona menusuk, Kie Thian Tai Seng se-olah tidak berjaga2.

"Sreeet!"

Ujung pedang berputar diatas kepalanya dan sekali diturunkan dengan kebetulan sekali membeset kedok Kie Thian Tai Seag ! * * *

IX

Dengan demikian, bukan saja Tiat Kuy Lolo dun Ong Cin Peng berdua sangat terperanjat, demikian juga gadis baju putih sendiri ikut merasa heran.

Mereka bertiga mengetahui bahwa tebasan pedang sinona tidak hebat, hanya meluncur kebawah dengan tidak disengaja, tapi ternyata telah membawa hasil yang tak terduga. Dalam kagetnya ketiga orang itu segera memandang wajah Kie Thian Tai Seng !

Tapi gerakan Kie Thian Tai Seng lebih cepat, tatkala kedoknya hampir copot, tubuhnya meloncat jauh kelain tempat.

Kepandainnya meringankan tubuhnya hebat sekali. Dalam waktu sekejap ia sudah menghilang ! Pek le Nio Nio setelah sadar kembali dari rasa tercengangnya, segera memburu laksana kilat!

Tiat Kuy Lolo dan Ong Cin Peng berdua saling berpandang2an, sedang sinenek menghampiri mayat yang menggeletak ditanah.

"Ong Taihiap, mayat ini kupasrahkan kau untuk mengurusinya!”

Kemudian ia berjalan perlahan2 meninggalkan tempat itu. Hatinya terasa sangat hampa . . . . putus asa. Sejak hari itu nenek kita mengasingkan dirinya untuk tidak lagi muncul di Sungai-telaga.

* *

*

Sang bulan yang berbentuk sabit terapung tinggi diudara. Malam sunyi menemani bumi nan jernih tenang. Dalam suasana yang tenang, sepi ini, keiihatan berjalan seorang yang hatinya sangat berat, risau.

Orang itu bukan lain adalah Kok Piauw.

Dia berlari2 sesaat, tak tahu sudah berapa jauh yang ia lalui, kemudian barulah ia berhenti. Ketika ia memalingkan kepalanya memandang kebelakang, tahulah ia bahwa Pek le Nio Nio tidak mengejarnya, ia membalikkan pakainnya. lalu menengadah keatas "Oh. ibu ! Khauw Locianpwee bagitu jahat terhadapku mengapa kau masih menyuruhku untuk tidak membunuh orang perempuan ?"

Hatinya penasaran. Teringat akan Tiat Kuy Lolo mengeroyok hendak membunuh dirinya. Diam2 ia menundukkan kapalanya. Akhirnya Kok Piauw merapikan baju kuningnya hendak kembali kepenginapannya. Berjalan 2 tindak, tiba2 teringat pula kepada Ong Cin Peng. Entah bagaimana dia sekarang ini? Berpikir demikitan, ia berbalik kembali kejalan tadi.

Berjalan tidak jauh, tampak tidak jauh didepan, Pek Ie Nio Nio laksana kilat cepatnya ber-lari2 mendatangi. Hatinya tergerak, maka ia pura2 seperti orang yang sedang kehilangan akal berjalan sambil menundukkan kepalanya!

Pek le Nio Nio melihat ada orang berjalan mendatangi, segera berhenti dan bertanya lantaneg:

"Hay! Apa kau lihat seorang laki2 berbaju merah berjalan lewat sini'?" "Tidak."

Pak Ie Nio Nio memutar2kan matanya. "Berapa lama kau sudah datang kemari?"

"Baru saja!" sahut pula Kok Piauw dengan senyum getir. Habis berkata ia kembali berjalan kedepan. Pek le Nio Nio mendadak menudingkan pedangnya.

"Kau jangan pergi dulu, tunggu setelah kau jawab pertanyaan2 ku!" ia membentak.

“Entah apa yang hendak nona tanyakan?" berkata Kok Piauw setelah berhenti. "Aku masih mempunjai urusan lain, tak bisa lama-lama menanti!"

Sinona melirik kepedang yang tersisip pada punggung Kok Piauw, setelah berpikir sejenak laiu berkata: "Kau membawa pedang., tentunya dari kalangan Rimba Persilatan juga, Aku minta pengajaranan beberapa jurus!"

Kiranya meskipun muda belia, tapi Pek Ie Nio Nio sangat cerdik. Setelah melihat potongan badtin sipemuda yang mirip sekali dengan Kie Thian Tai Seng, maka timbullah merasa curiganya. Pedangnya yang semula ditudingkan itu, kini telah meelintang!

"Kita tidak dendam, tiada bermusuhan, mengapa kita harus saling bertempur ?" ujar Kok Piauw menggeleng gelengkan kepalanya.

"Ha!" Sinona tertawa mengejek, pedangnya berputar diudara.

Dengan ujungnya ia menuding hidung Kok Piauw. Si-pemuda tetap tidak bergerak, hingga sinona kembali menarik pulang pedangnya:

"Aah! Kau tak mungkin Kie Thian Tai Seng simomok itu ! ujarnya. Kie Thian Tai Seng terkenal akan kekejamannya, dalam anggapan sinona, bila Kok Piauw itu adalah Kie Thian Tai Seng, maka tak mungkin

ia mah menerima hinaan dan membiarkan pedang orang berada didepan hidungnya.

Kok Piauw tersenyum. "Kalau begitu, tentu nona melepaskan diriku berlalu". Pek le Nio Nio memandang sepintas lalu wajahnya yang tampan itu, dengan pedang dituding ia berkata : "Kawan-kawanmu disana, kau boleh pergi!"

Kok Piauw terpaksa tersenyum setelah menghaturkan terima kasih, iapun melangkah pergi. Sinona melontarkan pandangannya kepada punggung Kok Piauw yang sudah berlalu itu, semakin lihat tampak potongan badannya mirip dengan bayangan merah!

Berhenti, aku masih ingin menanyakan kepadamu '" ia berseru. Dalam sekejaban, air muka Kok Piauw berubah muram.

Entah apa yang hendak nona perbuat lagi!" ia bertanya. Pek Ie Nio Nio mencelat datang.

Kau jangan bersandiwara lagi, dengan susah payah aku mencarimu, mana boleh kau berlalu begitu saja ? Hm, kau sebenarnya Kie Thian Tai Seng !

Wajah Kok Piauw tampak sangat jengkel, tapi tatkaJa ia berpaling air mukanya kembali tenang pula„Aku tidak kenal dia?” sahutnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. la berbalik pula.

Begitu badan Kok Piauw bergerak, angin menyambar tengkuknya !

Ujung pedang Pek Ie Nio Nio menyentuh lehernya!

Hmm ! apa kau kira aku tak tahu bahwa Kie Thian Tai Seng asli telah mati ? mengapa kau berani menyamarnya untuk menimbulkan keonaran di Sungai Telaga?"

Wajah Kok Piauw tampak berubah, berjalan pula! Pek Ie Nio Nio menjadi gusar, tiba-tiba ia menikam. "Blees!"

Pedangnya melukis Kok Piauw ! Sipemuda berpaling dengan wajah sangat pucat ketakutkan !

"Apa banar-benar kau hendak bertarung?desisnya gemetar.

Darah segar mengucur dari lukanya, namun ia tidak menyusutnya, sebaliknya dengan mata berapi-api ia menatap wajah sinona. Pek le Nio Nio kesima! Kau terluka?" bisiknya.

Kata2nya itu mengandung kemesraan berbeda sekali dengan sifat angkuh galak semula. Kok Piauw yang sejak kecil hidup dalam suasana dingin, belum pernah melihat senyuman dan mendengar bisikan kasih sayang yang di-ucapkan orang lain. Semuanya yang ia lihat adalah wajah bengis dingin tiada berperasaan, dan mayat yang bergelimpangan yang tiada terhitung jumlahnya. Maka bisikan sigadis bagaikan angin lalu saja.

Kok Piauw mengeluarkan obatnya dan mengoleskan pada lukanya, kemudian ia berjalan pergi.

Pek le Nio Nio tercengang. la tak tahu apa yang harus dilakukan.

Berjalan tiga puluh tombak lebih, Kok Piauw menarik napas panjang, lalu mengeluh: Yap Siong Lan ! Kau sendiri tak berani keluar, mengapa kau sebaliknya menyuruh putrimu ?"

Dengan pikiran kusut ia berjalan pula. Ia tak mengerti mengapa ibunya menyuruhnya bersifat lunak terhadap kaum wanita dan begitu tak kenal ampun terhadap semua orang pula.

Malam, sepi kelam. Bukit menjulang jauh didepan. Sunyi senjap. Tiada seorangpun yang kelihatan. Kok Piauw berhenti, ia menggumam seorang diri:

"Maseka sudah pergi semua!"

Walaupun dalam waktu semalaman ia berturut-turut telah membunuh beberapa tokoh silat, namun hatinya tetap terasa hampa. Dengan mata ia memandang lepas jauh2, dan dalam batas pandangan mata yang dapat dicapainya, tampak sebuah kuburan baru yang menjubul keatas tanah. Pemandangan semacam ini sering ia alami, ia memalingkan pandangannya. Pek le Nio Nio sudah pergi. lapun kembali kepenginapannya!

Keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanannya kedaerah Ouwlam!

Berjalan tidak seberapa jauh, se-konyong2 tampak 3 orang perantauan kang-ouw sedang berjalan didepan. Tatkala itu ketiga orang yang berjalan didepan sudah sampai disebuah warung teh. Salah seorang diantaranya tiba2 menoleh kebelakang. Ketika hendak masuk kedalam warung itu dengan mata sekali menyapu. Kok Pianw melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah seorang pak tani berusia 40 tahun.

“Siapa gerangan mereka bertiga itu ?" dalam hati ia tak putus2 bertanya.

Karena pengaruh ibunya yang sangat dalam, maka bila mengetahui ada orang memandangnya dengan sikap bermusuhan, maka bangkitlah rasa bencinya! Walaupun mereka mungkin tidak bermaksud apa2 terhadap dirinya, iapun tidak akan gampang2 melepaskan mereka.

Ketiga orang itu melihat ia memasuki warung teh, menjadi gelisah.

Pak tani tadi mengutik kawannya yang berewokan, dan berbisik-bisik ditelinganya. Si berewok meng-angguk2kan kepalanya.

Kok Piauw segera mengambil tempat duduk, dan minta secawan teh. Terhadap gerak-gerik ketiga orang itu ia bersikap acuh tak acuh, kemudian ia berlalu dengan meninggalkan uang.

Perbuatannya itu benar2 diluar dugaan mereka! Si Berewok berkata ber-bisik2 :

"Twako, apa orang itu Kie Thian Tai Seng ?"

Ia melihat tingkah laku Kok Piauw yang bukan saja sangat halus, lagi pula sikapnya sedikitpun tidak memperlihatkann kejahatan, maka menjadi sangsi.

Si petani setengah tua itu termenung sejenak.

"Ong Cin Peng tidak salah lihat, kita sebaiknya mempercayai dari pada tidak, orang itu agak mencurigakan, kelihatannya bukan orang baik

!"

Dan sehabis berkata, iapun berdiri sambil meraba senjata pecut berbuku tujuh yang ia libatkan pada pinggangnya.

Tak perduli bagaimana, marilah kita kuntit dia!

Agaknya orang yang berkata itu berkedudukan sebagai pemimpin, ia berjalan keluar dan salah seorang diantaranya pergi membayar. Tatkala mereka keluar, pemuda yang dicurigai sudah tiada kelihatan lagi.

"Hm, sungguh cekatan ! berseru si berewok terkesiap. Sedang kedua kawannya ikut terkejut.

Mereka meraba-raba senjata masing2 dengan sikap tegang memandang lepas kejauhan.

Si Berewok mengejar, tapi sia2 belaka, karena mengingat ketelengasan Kie Thian Tai Seng, ia tak berani ber-sikap ceroboh.

Sementara itu kedua temannya sudah menyusul datang, salah satu diantaranya lantas menegor "Lo-san, apa yang kau ketemukan?“

Belum juga lenyap suaranya tiba2 angin dingin menyerang.

Terperanjat mereka berbareng membalikkan badan. Tampak oleh mereka didepan berdiri menghadang seorang berbaju merah.

Mereka insyaf bahwa orang yang berdiri didepannya itu bukan lain tentu adalah si momok yang ditakuti orang2.

"Ong Cin Peng memang tak salah, dia benar Kie Thian Tai Seng!" berseru Berewok. la telah melihat bahwa perawakan si pemuda baju kuning yang sedang mereka kejar itu, serupa sekali. Si Berewok tidak maenyia2kan waktu lagi, Cit Ciat Pian laksana kilat menyerang musuh. Pecut itu membabat kejalan darah Pek Hui Tai-hiat Bayangan merah itu!

Kie Thian Tai Seng yang terkenal sebagai momok yang sangat kejam tak kenal ampun iru, tidak mengira bahwa serangan orang itu kejam melebihi dirinya.

"Hm !"

la berputar dan mnggeliat kesamping tubuh kedua lawannya yang, begitu tangannya menghantam, ia berteriak : "Roboh!”

Gerakannya bukan saja cepat. lagi pula luar biasa !

Namun ketiga lawannya bukan sembarang orang. Begitu gagal, si Berewok membalikkan tangannyaa, dan kembali menyahat dengan pecutnya! itulah hebat sekali !

Sedang si orang tani membacok Kie Thian Tai Seng dengan kampaknya.

Kie Thian Tai Seng, tertawa dingin badannya menggeliat kebelakang si orang tani. la menyerang dengan ganas! Tak keburu pula untuk berkelit, pak tani merasa sekujur badannya linu kesemutan. la menjerit dan roboh terkulai ditanah.

Kedua kawannya yang menyaksikan menjadi terperanjat. Si berewok dengan kalap melontarkan serangannya bagaikan gila, tapi waiaupun ia mengeluarkan seluruh kepandainnya namun sedikitpun pecut tak bisa menyentuh baju lawannya.

Ternyata kepandaian Kie Thian Tai Seng benar2 sangat hebat ! Si Berewok berteriak memperingati temannya yang lain, agar berhati-hati. Kawannyat menyerangnya, menyerang dengan gaitannya, tapi Kie Thian Tai Sang tidak menjadi gentar. Begitu tangan kirinya menyampok sepasang gaitan lawan, dengan tangan kanan ia mendorong! Itulah pukulan Kek-san Pah-goe yang dahsyat !

Tak ampun lagi lawannya jatuh terpelanting.

Si Berewok tergetar hatinya menyaksikan kejadian itu, karena ia insyaf bahwa diantara mereka bertiga, ialah yang berkepandaian paling lemah. Kini kedua kawannya itu dengan mudah dirobohkan lawan. Maka bagaimana hatinya tidak jadi keder?

Kie Thian Tai Seng setelah berhasil menjatuhkan kedua lawannya, dengan sinar mata berkilat-kilat perlahan2 berjalan mendekati si Berewok

!

Si Berewok cukup keras hatinya, ia pegang pecutnya erat2, bersikap siap untuk mengadu jiwa!

"Hm. ! Siapa namamu?" tanya Kie Thian Tai Seng tiba2.

Si Berewok melapangkan dadanya, dengan suara lantang ia menyahuti.

"Samtwa-ya tidak pernah merubah nama, aku He Can Tat dari Swat-Nia Sam-Kiat atau Tiga pendekar dari Bukit Salju !"

Kie Thian Tai Seng demi mendengar nama Swat-Nia Sain-Kiat hatinya tergerak. Pikirannya : "Mereka bertiga ini mempunyai sedikit nama di Wilajah Barat-daya, alangkah baiknya kusuruh ia untuk menyampaikan berita?"

Berpikir demikian, maka kembali ia maju, He Can Tat mengira bahwa orang hendak menyerang, tanpa ayal menyapu dengan pecut Cit Ciat Piannya.

"Hm, kau cari mampus!?" Bentak Kie Thian Ta Seng seraya berkilat.

Dan dengan sekali bergerak, pecut terjepit diantara dua jari tangannya! "Apa kau benar2 bosan hidup ?"

Kaki He Can Tat menjadi lemas. Begitu pecutnya dijepit lawan, segera ia rasakan sebelah lengannya lemah tiada bertenaga. la bergemetar, karena insyaf bahwa hari ini benar2 ia sedang menghadapi kematian.

Kiranya kepandaian Swat Nia Sam Kiat tidak rendah. mereka bukan saja mempunyai nama diwilayah Barat daya, dalam Rimba Persilatan juga mereka mempunyai kedudukan yang tinggi. Namun kini mereka justru bertemu dengan Momok nomor satu dalam kalangan Kangouw ! Begitu bertempur, dua diantaranya lantas roboh. Tak dapat disesalkan bila He - Can Tiat cemas, tahu apa yang harus diperbuat!

"Kau mau bunuh? Bunuhlah ! Sam Tai-ya sedikitpun tiada jerih!" berteriak He Can Tat penasaran.

"Hm, tak kunyana kau seorang laki2 sejati !" berseru Kie Thian Tai Seng seraya tertawa.

Ia menarik He Can Tat kemuka, dan menekan Leng-Tay Hiat diatas kepala mangsanya.

"Hayo, lekas kau turun tangan !" menantang He Can Tat tatkala mengetahui bahwa dirinya terancam maut.

Mata Kok Piauw memancarkan sinar gaib. Tiba2 ia tersenyum.

"Aku tidak akan melukai kau!” bisiknya halus.

He Can Tat mmembelalak, ia heran terhadap putusan Kie Thian Tai Seng telengas terhadap musuhnya.

Manusia, tetap merupakan makhluk Tuhan yang takut akan mati, begitu pula He Lian Tat !

"Kau tidak ingin melukai aku ?" berseru He Can Tat denganl napas legah "Tentunya kau mengandung maksud untuk menyuruhku menyebarkan berita kepada kaum Bulim, bukan ?"

Kok Piamw kembali tersenyum, namun wajahnya tertutup oleh kain kedoknya, sehingga He Can Tat tak dapat melihatnya.

"Kau sungguh cerdik !” terdengar suara dingin dari balik kedok." Hal itu tak usah kau lakukan, aku hanya menginginkan kau untuk menyampaikan kabar pada kaum Liok Lim diwilayah Barat-daya agar mereka lantas datang ke Bu-tong San!”

He Can Tat terkejut! Ia tak mengerti apa maksud orang itu ?

Namun ia tak berani bertanya, dalam hatinya. "Baiklah, akan kulakukan titahmu itu !"

"Bila kau telah mengetahui segalanya, itu lebih baik"Berseru Kok Piauw tertawa!

Tapi ingatlah, bahwa jiwamu pun sama seperti Ong Cin Peng. Paling lama kau akan hidup 1 tahun lagi.

"Asal saja aku dapat menyampaikan berita itu, "berkata He Can Tat, "mereka akan datang untuk mengganyang kau! Pada waktu itu entah siapa diantara kita yang akan melayang jiwanya. Dengan kata satu tahun sehari pun sudah cukup!"

„Baik, kita lihat saja nanti !" Kok Piauw mengendorkan cengkeramannya. Dan sekali berkelebat, ia sudah lenyap dalarm gerombolan pohon lebat.

He Can Tat melihat orang sudah berlaiu, menggeleng- gelengkan kepalanya.

"Bila Kie Thian Tai Seng tidak dibasmi, maka dunia Kangouw akan terancam malapetaka untuk selama2nya!”

Akhirnya ia berlalu pula sambil membondong kedua mayat kawannya.

*

* *

Sang Surya memancarkan sinarnya di-awang2. dibawah terik sinarnya tampak seoang pemuda baju kuning ber-jalan dijalan raya dengan penuh rasa kesepian. Pemuda itu tentunya bukan lain adalah Kok Piauw. Setelah berhasil melumpuhkan Swat-Nia Sam-Kiat, iapun melanjutkan perjalanannya kearah dusun Siauw-Kek Cong.

Siauw-Kok Cong merupakan sebuah dusun diluar kota Ceng-hoat, walaupun dusun itu tidak besar, namun penduduknya sangat padat.

Setibanya didusun Siauw-Kok Cong itu, Kok Piauw mencari sebuah rumah makan dan ia memillih sebuah tempat duduk dekat jendela.

Selagi ia menanti hidangan yang ia pesan, tiba2 dari luar terdengar suara kemerincingnya kelenengan. Dibawah pandangan matanya yang sangat celi itu, tampak sepasang muda-mudi dengan tergesa-gesa berjalan masuk kedalam rumah makan itu.

Mereka muda belia. Rupanya sepasang suami-isteri,sipemudi yang baru berusia 17 tahun sedang mengandung.

„Wanita itu masih begini muda, tapi mengapa ia sudah mengandung? Ah, tentunya mereka kawin muda !" guman Kok Piauw. "Gaya baru ! Ha-ha-ha!"

Wanita muda itu agaknya masih bersifat ke-kanak2kan. ia mengikuti dibelakang kawan prianya.

"Bin Koko, kita telah sampai di Siauw-kek Cong, tapi tak tahu apa gedung Siauw Lo cianpwee malam ini akan terjadi sesuatu ?" ujarnya.

"Sekarang yang terpenting bagi kita ialah bersantap, sedang urusan lain kita bicarakan lagi nanti?"

Mereka mengambil tempat duduk dimuka tempat duduk Kok Piauw

!

Siwanita muda melepaskan matanya kesekitar ruangan rumah

makan itu. Tiba2 matanya berbentrok dengan Kok Piauw yang berada dimukanya, wajahnya lantas berubah. Buru2 ia memberi isyarat dengan kedipan mata kepada kawannya. Laki2 muda ttu ternyata cukup berpengalaman. Mula2 ia tidak memberikan reaksi apa2, berselang beberapa lama barulah ia memalingkan kepalanya dengan acuh tak acuh. Pada saat itu juga ia terperanjat.

Pemuda baju kuning itu mirip benar dengan dirinya! Seolah2 pernah bertemu tapi tak tahu dimana ? Tapi kemudian ia berpikir pula, bahwa dalam kalangan Kangouw kini sedang hangat2nya membicrakan tentang pemuda baju kuning! ltulah dia Kie Thian Tai Seng!

Sementara itu, siwanita muda berbisik !

"Apakah kau dengar yang dikatakan oleh Ong Cin Peng?"

Laki2 muda menjawab dengan berbisik, dan wanita muda itu kemudian menggeleng2kan kepalanya.

“Mana aku tega melepaskan dirimu ? Kalau ingin mati, biar kita mati bersama!"

Laki2 muda itu tegang wajahnya, tapi ia berkata dengan sabar !

Lekas kau pergi ! Beritahu kepada Siauw Locianpwee! Surulah mereka lekas2 bersiap-siaga! Pembicaraan antara mereka berdua itu walaupun perlahan, tapi. Kok Piauw dapat mendengarnya dengan jelas sekali. Diam2 ia merasa menyesal.

"Aku tidak mengandung maksud hendak membunuh suamimu!" ia berpikir.

Akhirnya wanita muda itu bangun juga. Ia hendak pergi kepada si orang yang dipanggil Siauw lojianpwee. Laki2 muda itu kembali membisik ditelinganya, sedang siwanita muda ber-ulang2 menganggukkan kepalanya. Kemudian setelah melontarkan lirikan kepada Kok Piauw, iapun berlalu keluar. Seperginya wanita muda itu, Kok Pianw diam2 mengasah otaknya. Baginya tidaklah menjadi persoalan bila membunuh sepasang suami-isteri muda itu ! Aah ! Sayang, titah ibu sukar dibantah, tak dapat ia tinggal diam !

Ia mengalihkan pandangan keluar jendela. Siwanita muda sudah pergi jauh, maka ia bangkit berdiri dan memanggil pelayan.

Melihat perbuatan Kok Plauw yang tergesa-gesa, laki2 muda yang tampan itu terkesiap. Kuatir kalau2 istrinya yang tercinta akan mengalami bahaya dari Kok Piauw. Cepat2 ia melontarkan sepotong perak dan berlari meninggalkan rumah makan.

Kok Plauw bermesem mengikuti dengan pandangan mata. Dalam hatinya perasaan aneh. Setelah menyelesaikan bonnya, dan tanya jalan yang menuju Siauw Kek-Cong, kemudian iapun keluar.

Sementara itu sepasang suami-istri sudah tiada kelihatan dari pandangan, maka Kok Piauw mempercepat langkahnya.

Berjalan kira2 1 lie lebila masih juga belum nampak bayangan2 mereka berdua.

"Pelayan itu terang2 menunjukkan jalan kearah Siauw kek cong, apa mungkin mereka telah merobah tujuannya?"

Disekeliling tempat itu sunyi-sepi tiada manusia seorangpun. la mempercepat langkahnya dan berlari-lari pesat laksana anak panah yang lepas dari busurnya.

Ilmu-lari cepatnya rasanya dikolong jagad ini tiada orang lagi yang dapat menandingi, dalam waktu sekejapan saja, ia sudah berhasil melewati puluhan tombak jauhnya. Tiba2 ia mendongak. Dalam batas2 jarak pandangan matanya, tampak debu mengebul2 dan samar2 dua penunggang kuda sedang mengaburkan tunggangannya. Cepat2 ia mengejar!

Jarak antara mereka semakin mengecil, tatkala Kok Piauw mengamati2, ternyata mereka bukan lain adalah sepasang suami-istri muda itu ! Seraya tertawa nyaring, ia lompat kedalam semak-belukar, Ketika ia kembali menampakkan dirinya pula, ia sudah bersalin muka dengan mengenakan jubah merah dan mukanya tertutup kedok! Suami- istri muda yang berada dimuka, tak henti2 mengeprak kudanya.

Sebentar2 mereka menoleh kebelakang. Begitu dusun Siauw-Kek-Cong kelihatan dikejauhan, mereka menarik napas lega. Siwanita muda menuding dengan pecutnya dan berseru: "Bin koko, kita akan segera sampai !"

Sipemuda mengangguk. Tapi kegirangan mereka hanya sebentar.

Se-konyong2 sesosok bayangan merah muncul dari belakang. Bukan kepalang kagetnya laki2 muda itu. la menyabat dengan pecutnya seraya berseru : "Bedebah! Aku sudah tahu kau akan mengikuti kami !"

Wanita muda itu menjadi pucat. Ia balikkan kudanya untuk melawan. Tapi karena sedang menganduag, maka gerakannya tidak leluasa. Sang kuda meringkik2. Hampir2 ia jatuh tergelincir dari atas pelana, la menjerit karna kagetnya! Sementara itu Bayangan merah sudah datang memburu. Dengan tertawa dingin ia menyambar dengan tangan kanannya!

"Roboh!" teriaknya nyaring.

Laki2 muda tampan itu khawatirkan keselamatan istrinya, maka gerakannya agak terlambat. Dalam waktu sekejab mata itu, pecutnya terampas mentah2 oleh Kok piauw! Laki2 muda itu menjerit dalam paniknya:

"Siang-moay, lekas kau pergi. Biar kutahan dia ini!"

Kakinya mengempit keras kepungan kudanya. Tepat pada waktu itu, tiba2 suara pecut menggeletar diangkasa, menyambar dengan dahsyatnya!

Laki2 muda itu berseru tertahan. Buru2 ia betkelit dengan tipu Piauw-Yok Bu-Im atau Kapas-bertebangan! Badannya berputar dan menggeliat beberapa kali. Tapi tidak dinyana bahwa kepandaian Kok Piauw sesungguhnya jauh lebih tinggi dari padanya. Meski bagaimanapun ia berkelit tak urung ujung pecut itu senantiasa mengancam dirinya bagaikan bayangan maut!

Dalam keadaan kaget hampir2 laki2 muda kehilngan akalnya.Tatkala mendengar teriakan suaminya maka pikirannya menjadi terang. Dengan sengit ia menyabat punggung Kok Piauw dengan pecutnya.

Kok Piauw tertawa dingin. Tangannya tetap bergerak.

Tarr !" ujung pecutnya mampir ditubuh laki2 muda itu! Beruntung Kok Pisuw masih memberi hati, jikalau ia mengikuti napsunya yang biasanya terumbar itu, niscaya jiwa sipemuda itu sudah melayang.

la tidak berhenti sampai disitu saja, tangannya bergoyang dan ujung pecut bergulung, bagaikan seolah2 tumbuh mata, sekali bergulung melilit ujung pecut siwanita muda!

Siwanita menjadi pucat karna kagetnya! la meronta, namun tiada berdaya apa2. "Jangan bergerak, aku selamanya tidak melukai kaum wanita !" Kok Piauw mendesis.

"Hm!" ejek siwanita penasaran. "Jika kau hendak mencelakai Bin Koko, kaupun bunuhlah aku sekalian!" Sehabis berkata, air-matanya mengalir keluar.

Hati Kok Piauw yang keras menjadi lemah sendirinya, tangan menjadi kendor. Dengan kesima ia memandang muka laki2 muda yang tampan itu. la tercengang.

"Hai ! Aku seperti pernah melihat orang ini ! Tapi entah dimana ?''

Berpikir demikian.kemudian diam2 ia merasa geli. Karena sedari ia menampakkan diri dikalangan Kangouw dengan menggunakan julukkan gurunya tiada banyak orang yang pernah bertemu dengannya. Namun tak perduli apa yang terjadi, wajah laki2 muda itu mirip benar satu dengan mukanya sendiri !

Selagi Kok Piauw termangu2,siwanita itu menjerit pula: Hayo, lekas kau bunuh kami !"

Suaranya nyaring menusuk telinga, Kok Piauw melongo. Tangannya yang sudah terangkat belum ditarik pulang. la memandang kearah wanita muda itu, yang perutnya sudah membesar. Sekonyong-konyong tersirap dalam benaknya keadaan ibunya dahulu, pada masa itu, kedudukan ibunya tiada beda seberapa dengan sekarang ini. Bila bukannya Thiat Kay lualo telah menolong ibunya, maka ia pun tidak akan hidup dipermukaan bumi.

Berpikir demikian, tak terasa tangannya yang sudah terangkat itu, lambat laun turun kebawah.

Pergilah kamu! “ ia berseru. Siwanita berseri-seri kegirangan. “Kau melepaskan kami ?"

Kok Piauw hampir2 tidak berani memandang mata mereka, dia berpaling ketempat lain. Tiba2 wajah ibunya yang dingin kembali terbayang2 didepan matanya. la berpaling pula dengan tiba2 :

Tidak! Meskipan aku tidak melukai suamimu, tapi ia harus segera meninggalkan Tionggoan untuk mengasingkan diri !"

Dengan muka muram laki2 muda itu mengela napas:

"Aku Hu Thian Bin hari ini telah dirobohkan, asal saja aku masih bisa hidup di permukaan bumi ini 10 tahun kelak aku akan mencarimu untuk menyelesaikan hutang-piutang!"

Kok Piauw terdiam, pikirnya seperti diliputi semacam perasaan aneh. "Kau sudah kalah. "ujarnya, "Lekas pergi!" Hu Thian Bin diam saja. Tak perduli apa yang terjadi, asal saja jiwa suaminya dapat tertolong, apapun ia akan menerimanya, maka buru2 siwanita menyahut: "Ya, kami terima usulmu itu!”

Kok Piauw selamanya tidak pernah melepaskan seorang pria, Oey Cin Peng dan Haw Can Tai berdua meski diampuni jiwanya. tapi mereka harus melakukan sesuatu baginya.Tapi sekarang ia memberikan jalan hidup kepada mangsanya ! Sekonyong-konyong terdengar kembali suara ditelinganya: Ingatlah! Kau tak boleh melepaskan siapapun !"

Kok Piauw mengerutkan keningnya. Sipemuda yang berada dihadapannya itu seperti juga saudara kandungnya sendiri ! la menengada dan bersiul nyaring.

Ingatlah ! Selama 10 tahun ini, aku tak bolehkan kau menginjak tanah Tionggoan,"

Apakah kau hendak memecah kami suami-istri ?" menjerit Thia Bin memotong penasaran. Kiranya mereka baru kawin belum cukup satu tahun. Kie Thian Tai Seng telah memaksakan dirinya sehingga mereka harus hidup berpisahan.

Kok Piauw sudah pergi jauh,

"Hm. ! Kuingin lihat berapa lama lagi kau akan bisa malang- melintang? aku akan beritahukan kepada Siauw Locianpwee." mencaci maki wanita muda itu kalang-kabut. Hu Thian Bin sangat kesal. Ia harus berpisahan dengan istrinya yang cantik, yang ia kasihi itu. Tidaklah sempat baginya untuk memikirkan urusan2 rumah itu, walaupun ia diam, tapi pada wajahnya tak dapat ia menyembunyikan perasaan cemas itu !

Sang istri nan bijaksana dan cerdik itu, dapat membaca isi hati sang suami dari pandangan matanya yang guram tertutup air mata.

"Koko tolol, mengapa kau cemas? Dia menyuruh kau mengasingkan diri ke Kwan-gwa, namun ia tidak melarangku untuk turut serta!

Sekarang aku hendak laporkan kepada Siauw Lo-cianpwee, kau tunggu saja didusun. Sebentar aku akan kembali !"

Hu Thian Bin menjadi girang.

"Baiklah, aku tunggu kau didepan sana!"

Sekali mengedut tali-kekang, binatang itu yang berbulu merah marong berlari kabur! Percakapan mereka berdua, terdengar seluruhnya oleh Kok Piauw. Setelah mereka iapun membalikkan badannya. Seumur hidupnya ia baru pertama kali merasa risau seperti sekarang, selangkah demi selangkah meninggalkan tempat itu!

Dia berjalan dengan perlahan2, kedoknya sudah dicopot, bajunyapun sudah dibalik berubah warna kuning pula. Tiba2 wajah ibunya yang dingin angker itu terbayang2 membesar dihadapan mukanya. Tak terasa lagi ia menggigil.

Sambil jalan, tak putus2nya ia memeras otaknya. Pemuda yang bernama Hu Thian Bin itu agaknya seperti mempunyai hubungan erat dengan dirinya, tapi agaknya jauh pula. Tapi ia tak ingat pula dimana ia pernah bertemu dengan pemuda itu?.

*

* *

Berpikir demikian. tiba2 ia membalikan badannya. Tapi entah mengapa, tatkala pandangan matanya terarah pada tempat dimana Hu Thian Bin suami-istri berdiri tadi, hatinya kembali menjadi lemah pula.

"Hm . . . . “ ia mengeluh, hari ini kuampuni jiwanya, 10 tahun kemudian masa ia akan bisa lari kemana?"

Sang Surya sudah mulai condong kesebelah barat. Kok Piauw berjalan perlahan2. Tak jauh dimuka tampak sebuah tembok bangunan yang besar. Tentunya itulah dusun Siauw-kek cong!

Dari depan berjalan menyongsong seorang petani tua, maka buru2 ia bertanya dengan sikap hormat :

“ Lojinkee: Apa didepan itu Siauw-kek-cong?".

Petani tua itu mengawasi bertanya, lalu tertawa berkakakan: “ Tentunya Kongcu baru datang kesini! Inilah Siauw-Kek-cong, tak tahu kongcu hendak mencari siapa?”

Kok Piauw berpikir sebentar, tapi tak tahu ia siapa Lo-cianpwee yang disebut2 siwanita muda itu ?

“Ah, aku hanya datang untuk menemui seorang kawan dari tempat lain, yang menjanjikan untuk bertemu di Siauw-kek-cong sini!"

Petani tua itu tertawa, dengan sikap ramah-tamah ia berkata seraya menunjuk dengan tangannya :

"Itulah dimukal"

Kok Piauw menghaturkan terima kasih, kemudian berlalu pergi.

Siauw-kek-cong merupakan dusun kecil, penduduknya hanya terdiri beberapa keluarga saja, dan rumah2 berjejer2 menjadi suatu bangunan besar. Diluar terkrung oleh sebuah tembok yang dikelilinginya oleh sungai. Panorama ditempat ini sungguh2 indah mempersonakan.

Kok Piauw menoleh kesekitar tempat itu. takut kalau2 dirinya berpapasan dengan wanita2 muda tadi. la berjalan menuju ketempat yang agak sunyi.

Kok Piauw menjadi bingung. Jikalau malam aku tinggal disini, dimana aku harus bermalam ? pikiranya.

Penghuni Siauw-kek-cong semuanya berhati ramah tamah, melihat Kok Piauw tertarik.

Penduduk dusun begitu ramah-tamah, agaknya mereka hidup rukun sentosa. la berjalan terus, didepan tampak sebuah bangunan rumah yang terpencil sendirian. Seorang ibu tani yang lanjut usianya ditemani seorang anak sedang mencuci pakaian ditepi kali.

Anak yang baru berusia 5 tahunan itu sangat lincah dan pun pemberani, tatkala melihat Kok Piauw datang, ia menjerit kegirangan :

"Nenek, ada tamu datang !" Nenek itu mendongak dan perlahan2 berdiri bangun. Dengan tersenyum ia menyambut : "Tuan tamu datang dari mana?"

Kok Piauw datang dengan mengandung maksud tertentu. maka mau tak mau ia harus bar-pura2. la ber-mesem-simpul.

"Aku yang rendah sedang menanti teman, Popo. Apa kau ada air untuk aku minum?"

Ada, ada! Aah aku jadi lupa Tuan muda silahkan masuk untuk minum teh. "katanya sambil memberi hormat mengundang tamunya kedalam rumahnya. Begita ia memasuki pintu, segera pandangannya tertumbak olen sebuah papan arwah, yang tertulis "Aku arwah putraku Ho Kek Beng•" dengan Huruf berwarna merah.

Nenek tani itu mengenakan baju dari kain yang murah dan sederhana, walaupun rumah tinggalnya tidak besar, namun terawat rapih. Anak kecil itu lebih2 sangat menggelikan dan menyenangkan, demi melihat Kok Piauw masyk, iapun mempersilahkan: “ Sio-siok, silahkan duduk: „ujarnya seraya menggeser sebuah bangku.

Kok Piauw tersenyum mengalihkan pandangannya kepada abu itu, hatinya berdebar tidak tenteram. Sinenek telah kematian seorang puteranya, maka seharusnya ia membenci seantero kaum pria tetapi mengapa begitu ramah-tamah terhadap dirinya?

Sinenek menoleh, dan melihat Kok Piauw sedang ter-mangu- mangu, maka ia berseru mengundang "Tuan muda silahkan duduk !

Popo, apa kau benci kepadaku ? "tanya Kok Piauw tiba2. Nenek itu melongo karna terperanjatnya! "

"Tuan muda, aku seorang tua dengan kau belum pernah berkenalan. Mengapa aku harus membencimu?''

Kalau begitu kau tidak benci aku, tapi seharusnya benci seluruh kaum pria ujar pula Kok Piauw sambil memandang orang menanti penjelasannya.

Wajah nenek tua itu sesaat terkilas sesuatu perasaan heran.

Dibawah pandangan matanya yang tajam, tampak pemuda yang duduk dihidapannya itu berwajah suram, seakan2 sedang diliputi rasa kebimbangan dan kegilaan!

Bercekadlah hatinya.

Benar! kau tentunya kerabat iblis perempuan itu, pantas kau mempunyai pandangan hidup demikian: "pikirnya

"Kongcu, antara sesama manusia untuk apa kita harus saling membenci? "nenek itu mengelah napas dan ber-kata se-olah2 ia belum mengetahui.

Kok Prauw membelalak. ia berdaya mengasah otaknya, tapi semua masalah yang terpendam dalam benaknya itu, tetap tiada memperoleh penyelesaian. la heran, mengapa ibunya harus diasingkan oleh semua orang2. Gurunya seorang pria, tapi mengapa ia harus membenci kaum pria juga ?

Tatkala pikirannya tak dapat memecahkan segala masalah ini, maka ia mengira bahwa nenek tua yang berada dihadapannya ini sangat lemah. Kok Piauw duduk diatas bangku yang disediakan untuknya, dan dengan rasa penuh keragu2an ia mengawasi nenek itu.

"Prempuan itu adalah pelemah I "Agaknya ia teringat pula akan kata2 seperti ini diucapkan dari mulut seorang gila ! Nenek tua itu diam2 merasa sayang. Pemuda baju kuning dihadapannya ini mempunyai perawakan yang bagus, tapi sayang ia terpengaruh oleh pikiran sesat!

Sungguh sayang !

Ia menyuguhkan sepoci teh panas dan menuangkan secawan kepada Kok Piauw.

"Kongcu, silahkan minum !"

Nenek tani kira2 berusia 60 tahun lebih, perangainya sangat ramah dan sopan santun, kelihatannya seperti bukan kaum tani.

Kok Piauw meneguk tehnya dan berkata:

"Popo, kau sungguh baik hati !" Sinenek mengelum senyumnya.

Didusun Siauw-kek-cong, persahabatan mesti dilakukan. "sahut sinenek :

Sesungguhnya bila kita pandang dari kebiasaan, seorang tuan rumah menyuguhi secawan air teh pada tamunya adalah sesuatu perbuatan yang lumrah, tapi bagi Kok Piauw adalah lain halnya. Karena semenjak kecil ia tinggal didaerah Pegunungan Thian San yang selama2nya diliputi oleh es, bukan sada udaranya sangat dingin, ditambah pula orang2 yang ia temui selalu adalah mereka yang bermuka dingin tiada berperasaan.

Ia meneguk beberapa kali tehnya.

Tiba2 pada saat itu 2 penunggang kuda lewat dijalan sambil mengaburkan kudanya. Mata Kok Piauw yang sangat jeli itu. segera dapat melihat bahwa satu diantara penunggang itu adalah siwanita muda yang pernah ia bertemu, sedang yang lainnya adalah seorang Busu, setengah umur!

Tersenyum Kok Piauw mengeluarkan busur dan pedang lalu mulai menggesek. Suara lagu itu merdu menawan hati, sienek bersender pada tiang pintu, sambil memejamkan matanya karna asyiknya. Nampaknya iapun mahir juga dalam ilmu syair. Sambil mendengar, tak henti2nya ia mengangguk2kan kepalanya.

Daun nan gugur....

berterbangan menutupi danau,

indah permai menawan hati setiap pengunjung.

Sang Putri Malam menampakkan diri, mengawasi seorang yang dirundung malang,

angin barat berhembus dingin membawa kembali kesan yang lampau. Itulah sebuah lagu "Daun nan gugur" dari Cuan Cong. dari Ahala Tang. Meski sinenek baru mengenal pemuda itu, namun dengan mendengar lagu pentilan senar busur Kok Piauw yang tidak selaras dengan musim panas ketika itu, maka samar2 ia dapat menerka kerisauan hati  yang diderita pemuda tersebut.

"Kong Cu. mengapa kau melagukan lagu yang sedih itu ?" tanya sinenek tersenyum, '"Lagu itu memang menumpahkan duka lara yang dideritakan sipenciptanya pada zaman itu, apa Kong Cu pun mempunyai suatu kesukaran yang sukar diatasi ?”

Kata2 sinenek tepat benar mengenai isi hati Kok Piauw, tapi Kok Piauw tidak menyahut, ia mendongak mengawasi atap rumah2 yang bangun berjajaran, lalu kembali mementil senar busurnya.

Kali ini nadanya berubah, kedengarannya dingin angker dan membuat setiap hati orang yang mendengarkannya mengkirik bulu romanya.

Kok Piauw seolah2 tenggelam dalam nada lagunya, lama sekali suara lagu itu bergema, barulah perlahan2 berubah tenang, dan mendadak berubah menjadi nada gembira, riang penuh damai!

Sinenek meng-angguk2kan kepalanya dengan mata bersinar-sinar.

Perlahan2 Kok Piauw bangun dan berkata : "Popo. terima kasih atas kebaikanmu. Tapi kini aku harus berlalu !"

Apa Kong cu tidak ingin duduk2 dulu ?

"Terima kasih!" Kok Piauw menggelengkan kepalanya.Bila kelak Kong cu lewat disini, harap sudi mampir pula." Sinenek menawarkan.

Kok Piauw menolehkan pandangan matanya kepada sinenek, hatinya tergerak. Agaknya ia seperti melihat sesuatu ! Sifat ramah-tamah nenek itu terhadap dirinya mengandung sesuatu permintaan agar ia mampir lagi dikemudian hari !

Namun sungguh aneh! Dari sorot mata sinenek itu, Kok Piauw seperti melihat sesuatu permohonan lain, tapi saat itu ia sendiri tidak dapat menyelaminya ! Tatkala ia meninggalkan nenek dan bocah itu, dalam pikirannya timbul suatu perasaan yang sangat berat, perasaan yang belum pernah ia alami terhadap siapapun, meski ibunya sendirinya!

Dengan jalan perlahan2 ia meninggalkan jauh dusan Siauw-kek cong itu. Sungguh aneh, hatinya kembali cemas dan gelisah.

Kok Piauw menghentikan kakinya "10 tahun berselang," pikirnya, tak pernah aku merasakan gelisah seperti ini. Mengapa setelah bertemu dengan nenek itu dan ber-cakap2 sebentar, hatinya menjadi bimbang.

la berjalan kembali dengan hati gundah gulana.

Sang Surya sudah sembunyi nun dibalik gunung. Senja indah dan tenang damai.

Kok Piauw berjalan. dalam hatinya ia telah mengambil keputusan : Biar bagaimanapun malam itu ia harus pergi meninjau dusun Siauw kek Cong !

la mencari sebuah penginapan. Setelah dahar malam, iapun menutup kamar untuk mengasoh. Sementara itu haripun sudah larut malam. Hirukapikuk orang yang mudik menjadi berganti sunyi senyap. Saat bertemu telah tiba! Ia membuka daun jendelanya dan longok keluar.

Sang bulan sedang memancarkan cahayanya yang putih perak ditemani oleh bintang yang bertaburan indah menghiasi angkasa biru. Suasana sunyi senyap.

la membalikkan jubahnya dan mengenakan kedoknya. Tiba2 dengan sekali mengenjot, tubuhnya meleset keatas wuwungan. Jalan yang menuju dusun Siauw-Kek Cong sudah ia ketahui, maka dengan tidak menyia2kan waktu lagi, ia ber-lari2 menuju dusun itu!

Ia tahu malam ini dusun tersebut tentunya dijaga keras, Maka ia bersikap sangat waspada dan hati2.

Dusun Siauw-kek-Cong gelap-gulita. Tiada penerangan dari luar, seolah2 suatu dusun mati. Kok Piauw tidak menghiraukan segala ini, ia berlari-lari menyusuri hilir sungai pelindung dusun.

Akhirnya ia menemukan lubang pada tembok dusun. Tapi baru saja ia hendak melangkah tiba2 sosok bayangan manusia berlari2 mendatangi.

Kok Piauw terkesiap, tanpa ayal ia lompat ketempat gelap. Dua sosok bayangan itu sudah tiba!

Terdengar satu diantaranya berkata : “Lim heng, kau kan lihat Ceng Cu begitu terledor sakali, sekali bila Kie Thian Tai Seng mengetahui lobang ini, percuma kita memasang perangkap2 ditempat lain."

Kawan yang diajak bicara itu memandang kesekitar tempat itu, setelah mengetahui tiada orang lain barulah menyahut.

Aah ! Ceng-Cu selalu manis budi terhadap siapapun. tak kunyana Kie Thian Tai Seng malah datang mencari setori terhadapnya. Khabarnya kepadaian si Hantu itu hebat tiada tandingannya! Biar kita memasang perangkap pun tidak akan mempersulitkan apa2 terhadap dirinya!

Mungkinlah juga Ceng-Cu sengaja meninggalkan lobang ini untuk sesuatu keperluan lain lain?"

"Tong. Tong," Terdengar bunyi kentongan. Kedua orang itu berjalan perlahan2 kearah kanan.

Bunyi 2 kali kentongan itu kedengarannya sangat aneh seperti bunyi kentongan tanda waktu, tapi bila diteliti kedua orang ini sama sekali tidak mirip seperti tukang ronda.

Kembali terdengar suara orang yang semula.

Itu memang benar, untuk menghadapi si Hantu Kie Thian Tai Seng ini masakkan musti menyutuh kita si tukang ronda menjagai lobang ini?"

"Tong, Tong,!" Kembali terdengar suara kentongan. Dua orang tukang ronda itu berjalan kembali! Mereka bercakap2 sambil menuju tembok yang semplak itu. Kok Piauw diam2 terperanjat.

la melihat gerakan kedua tukang ronda itu sangat cekatan dan beda sekali dengan tukang2 ronda umumnya. Bagaimana kepandaian majikannya? Tak dapat dibayangkan! Tapi dasar ia berkepandaian tinggi dan pemberani, pikiran semacam ini hanya sekejap terkilas dalam benaknya. Tatkala kedua tukang ronda itu kembali menuju tembok somplak itu, sekonyong2 ia lompat menerkam. Meskipun kedua tukang ronda itupun tidak lemah, dalam waktu sekejapan mereka dirobohkan semua!

Kedua tukang ronda itu rebah ditanah tanpa dapat berkutik lagi. Kok Piauw menghela napas: Siapa suruh kamu menjadi kaum pria ?"

Pengaruh ibunya yang sesat kembali menyelimuti hatinya walaupun ia sendiri tak tahu siapa gerangan simajikan dusun Siauw-Kek-Cong, tapi ia telah mengambil keputusan: Siapapun yang ia temui malam ini asal saja mereka orang laki2 ia akan bunuh !

la memandang kesekelilng. Didepan kalihatan 2 lentara warna merah perlahan2 datang mendekati.

Kok Piauw bersiul perlahan. Itulah dua gadis berbaju merah yang menentang lampu sambil berjalan egot2an. Buru2 ia memyembunyikan dirinya, ia tak pernah turun tangan terhadap kaum wanita. la hendak menanti orang berlalu. barulah melanjutkan pekerjaannya.

Kedua gadis baju merah itu berjalan sampai ditengah2 taman.

Tiba2 mereka berhenti, sedang salah satu diantaranya memperdengarkan suara.

"hm!" menyusul secara otomatis mereka berkisar kesamping dan berdiri tegak tiada berkutik !

Kok Piauw manjadi heran, tapi belum sempat ia herpikir lebih lanjut, atau kembali tampak 2 sinar lampu lentera warna kuning yang datangnya tidak jauh dari muka. Mengenai keadaan dalam taman itu ia masih belum hafal. Ia melihat serta cahaya lampu maka diam2 ia menghampiri. Tapi kembali ia mendapatkan 4 pasang, gadis cantikl Sudah tentu ia tidak bisa turut terhadapnya, maka ia bergerak kearah lampu kuning itu.

XI

Biarpun berkepandaian namun pengalaman Kok Piauw ternyata masih kurang. Demi melihat suasana semacam ini, sesaat tak tahu ia apa yang harus diperbuat.

Dari tempat gelap Kok Piauw mengawasi. Gadis2 berdiri tanpa berkutik bagaikan patung. Hal ini mengherankan sekali ! mereka telah mengetahui bahwa aku datang, maka telah menyembunyikan semua orang2 prianya?" pikirnya.

Ternyata dugaannya itu betul juga,. Lewat sesaat kecuali kelima pasang gadis baju itu, suasana dalam taman itu sunyi-sepi seperti kuburan. Malam semakin larut. Kok Piauw sudah tak sabaran lagi menanti, ia berkisar dipojokan dinding tembok. laksana seekor hewan liar yang lapar sedang mencari mangsa, ia maju.

Sesampainya dibawah atap rumah, kakinya menggenjot.

la melayang keatas. Namun kamar itu gelap-gulita, seperti juga dugaannya, kosong melompong tiada seorangpun.

"Pergi, semuanya sudah pergi!" ia mendumal. Ia menengadah dan tiba2 bersiul panjang dan nyaring. Suaranya dingin membelah angkasa malam. Bila benar2 ada orang lain, maka niscaya mereka akan mendengarkannya dan keluar, dari tempat persembunyiannya.

Begitu suara siulan itu berhenti, ia bersiul pula untuk kedua kalinya.

Begitulah suara siulan yang kedua berhenti, ia sudah berlari2 mengitari dusun yang dikelilingi tembok itu!

Sungguh aneh ! Dusun itu tetap tenggelam dalam suasana kesunyian. Tatkala ia kembali pula kedalam taman, kembali ia melihat sinar lampu rumah yang ditentang gadis2 berbaju merah. Demi melihat warna merah, hatinya berdenyut keras. Tanpa ayal ia mencelat kehadapan kedua gadis itu dan membentak dingin "Sandiwara apa gerangan yang kamu pertujukkan itu ?"

Dua gadis itu berdiri menjublak. walaupun air mukanya sedikit berubah, namun mereka diam saja tidak menghiraukan teguran orang!

Kok Piauw menjadi jengkel, ia mengangkat tangan kanannya "Hm, bila kau tidak menerangkan dimana orang2 lelaki bersembunyi, maka malam ini terpaksa aku harus turun tangan terhadap kaum wanita.

Gadis2 itu menjadi pucat. Kekejaman Kie Thian Tai Seng yang tersebar luas, siapakah yang tidak mengetahui?

Walaupun semua orang tau bahwa ia tidak akan menurunkan tangan jahatnya terhadap kaum wanita tapi ia gusar?

Salah satu diantara gadis2 itu seperti hendak mengatakan sesuatu , tapi kawannya buru2 memperingati : "Ciu moaymoay. apa kau sudah lupa pesan Ceng Cu kita ?"

Gadis itu menjadi terkejut dan kembali ia berdiri bagaikan patung.

Kok Piauw perlalhan2 menurunkan tangannya, dan selagi tangannya hampir mengenai gadis yang mencegah kawannya itu, tiba2 dalam hatinya timbul pikiran lain! "Aaah!" Aku tak boleh melanggar pesan ibu!

Api lilin dalam lentera hampir padam.

Gadis yang lebih muda itu meski ia berdiri menjublak, namun gerakan Kok Piauw tiada luput juga dari pandangan matanya. Hatinya menjadi lega dan tenterem.

Kok Piauw menanti pula beberapa saat sampai berbunyi sikentongan yang keempat. Tak lama lagi haripun akan fajar. Dusun Siaura Kek-Cong malan ini benar2 penuh diliputi kerahasiaan.

Kok Piauw tiada "henti2nya mengawasi api lilin yang berkelip2 memancarkan cahaya. Tiba 5 pasang api lilin dalam taman itu berturut2 padam.

Kok Piauw siap untuk membunuh? Tepat pada waktu api Illin sirap tiba2 terdengar keluh sakan satu gadis baju merah.

"Cu Moaymoay, sampai kita bertemu lagi "

“Jun Coji, jika Ceng-Cu dan yang lain semua mati, kita pun tak dapar hidup pula„aaah.... sampai bertemu!"

Air muka gadis itu nampak sangat pucat diselimuti rasa duka.

Sementara itu, tiba2 dari jauh tampak ber-lari2 mendatangi seseorang! "Wah, celaka ! Ceng-Cu kita datang !" teriak salah seorang gadis

membawa lampu terperanjat.

Kok Piauw bagaikan kilat membalikkan tubuhnya. Seorang laki2 berperawakan sedang, berusia kira 50 tahun sedang berlari mendekati.

Tanpa ayal„ Kok Piauw membentak :" Apa dalam dusun ini hanya engkau yang lelaki ? Hai!, orang tua! Siapa kau!

Orang tua itu berhenti:" Mengapa kau gelisah? Aku pergi untuk mengundang seorang pandai, dan barjanji untuk muncul pada saat lima pasang lilin padam. Bila ia tidak muncul, maka aku akan menerima kematian! "Aaah ! lnilah takdir! Silahkan kau turun tangan, aku Siauw Bun Kun akan menerimanya dengan rela!"

Hati Kok Piauw mencelos, meski ia sebenarnya tiada mengandung niat untuk menurunkan tangan-jahanya, namun perintah. Bila tidak, tentu ia akan segera meninggalkan tempat ini!

Sementara itu, tamnan kembali tenggelam dalam kesepian. Sang rembulan sudah mulai condong kesebelah barat. Tiba2 udara tertutup oleh awan gelap yang menambah seram suasana diatas permukaan bumi ini, Gelap-gulita! Pada saat itu, sesosok tubuh ber-lari2 pesat kearah taman!

Kesepuluh gadis itu serentak berteriak girang; Seng Bu datang! (Seng-bu ibu mulia)!"

Siauw Bun Kun terbangun dari lamunannya, dengan suara parau ia barseru:" Terima kasih atas kedatangan Lo cianpwee untuk menolong malapetaka yang mengancam kami penduduk dusun Siauw-Kek Cung.

Kata2nya baru keluar dari mulutnya, bayangan itu sudah tiba dihadapan mereka !

Kok Piauw memapaki dan berseru lantang: "Lekas buka kedokmul"

Kiranya orang itu mengenakan pakaian serba hitam dan mukanya tertutup sebuah kain hitam pula, badannya ramping kecil, kelihatannya seperti seorang perempuan.

Orang itu tidak menghiraukan teguran Kok Piauw, dengan pandangan mata yang tajam ia memandangi seorang tua she Siauw itu : "Ceng-Cu dari dusun ini sangat murah budinya, walaupun aku sudah tidak mau lagi mengurusi soal keduniawian, tapi soal sekarang ini terpaksa aku menyingsing lengan baju." Mendengar logat suaranya, ternyata adalah seorang perempuan, dan yang lebih2 mengherankan, Kok Piauw mserasa tidak asing mendengar suara orang itu!

Suara orang itu seperti membawa pengaruh terhadap hati pemuda kita yang keras dingin itu. Hatinya mulai goncang lunak, tapi pikir punya pikir, masih tak berani mempercayai bahwa orang itu bukan lain adalah sinenek tani, yang pernah ia temui siang tadi !

"Ceng-Cu tak usah banyak memberi hormat, aku juga masih belum tahu apakah aku tandingan Kong-Cu?

Habis berkata, siperempuan baju hitam maju, ternyata selagi ia berbicara tadi, Siauw Bun Kun telah berlutut dengan dirkuti oleh kesepuluh gadis itu. la mengangkat bangun mereka satu persatu dan berkata seraya mendongak : "Kong-Cu, harap sudi memandang maka kepada aku siorang tua, ampunilah penghuni Siauw-Kek Cung sekali ini!"

Ucapan ini membuat hati Siauw Bua Kun maupun Kok Piauw terkejut!

Perempuan baju hitam itu, sudah berturut2 menyebut Kong-Cu kepada Kie Thian Tai Seng, inilah aneh.

Kie Thian Tai Seng telah mempunyai nama puluhan tahun yang lalu, bila dilihat dari usia, kini sudah lewat 80 tahun, tapi mengapa sekarang ia disebut dengan panggilan "Kong-Cu?. Seharusnya dipanggil "Loo-cian- pwee !"

Sedang dipihak Kok Piauw lain pula anggapannya, benar2 ia tercengang. Tak salah lagi ! Perempuan serba hitam dan berkeduk itu, bukan lain adalah sinenek tani yang ia jumpai siang tadi. Hanya yang beda ialah, kali ini ia mengenakan pakaian ringan dan singkat, sedang pada punggungnya terselip sebilah pedang panjang. Dia gagah sekali !

"Aku dapat mengalah terhadap Popo," akhirnya Kok Piauw berkata

:" Tapi semua orang lelaki adalah buruk, maafkan kekurang ajaranku l" Perempuan baju hitam itu bergoyang-goyang badannya dan berkata

! Apa kata2 yang diucapkan ini pun termasuk pula diri Kong-Cu sendiri ?" "Ya l" bcrseru Kok Piauw mengangguk. Perempuan baju hitam itu

mengadah seraya menghirup udara "Aku seorang tua, sekali lagi meminta kepada Kong-Cu, mohon kau dapat mengampuni mereka semua !"

Percakapan mereka berdua membikin Siauw Bun Kun bersama 10 gadis itu menggigil bermandikan peluh dingin !

Pengaruh sang ibu kembali menyelimuti pikiran Kok Piauw yang berdiam tanpa kata. Perlahan2 ia mencabut pedangnya, ia bersiap untuk bertempur!

Keselamatan dusun Siauw-Kek Cung tergantung pada pertarungan ini, meski Siauw Bun Kun sudah banyak memakan asam garam dunia Kang-Ouw, namun dalam saat tegang seperti ini, mau tak mau napasnya menjadi sesak.

Kok Piauw maju kedepan. Perempuan baju hitam itu menghunus pedangnya.

Sekonyong2 Siauw Bun Kun menjadi terkesiap. Dua sinar Perak berkelebat diatas kepalanya! Dalam bingung-nya ia tak tahu apa yang harus diperbuat, maka ia hanya memejamkan matanya menanti nasib ! Tapi sungguh diluar dugaannya, tepat pada ketika Siauw Bun Kun memejamkan matanya, tiba2 terdengar bunyi "Trang!

Nyaring sekali suaranya ! Menyusul kedua bayangan hitam dan merak berpindah kesamping.

Tatkala ia membuka matanya, Kok Piauw dan perempuan baju hitam sedang berdiri dengan pedang ditangan.

Dalam sejurus tadi, Siauw Bun Kun terhindar jiwanya dari bahaya maut. Tak terasa sekujur badannya menggigil bermadikan peluh dingin !

Tadi ujung pedang Kok Piauw mengarah Beng-Bun-Hiat dari Siauw Bun Kun, tapi pedang siperempuan baju hitam itu keburu menyampok hingga mental. Dengan sekali bergebrak mereka dapat mengetahui kepandaian masing2. Mereka mundur kebelakang, dan masing2 merasa bahwa dirinya sedang berhadapan dengan lawan ampuh yang belum pernah dijumpai seumur hidupnya. Mereka bersiap untuk sekali lagi bergebrak !

Semenjak Kok Piauw merantau kedalam Sungai Telaga baru sekali ini ia merasakan berhadapan dengan lawan yang tangguh.

Pikirnya Siauw Bun Kun sudah berusia 50 - EO tahun, mengapa ia membahasakan diri orang itu Lo cianpwee ? Kalau demikian maka paling sedikit perempuan ini ber-usia 70 tahun ! Ditinjau begini, tenaga-dalam lawannya hebat sekali!

Semenjak kecil Kok Piauw dirawat dan digembleng oleh ibunya serta gurunya dan dalam cairan gumpalan salju yang dingin, maka kepandaiannya dapat drendeng kan dengan mereka yang telah bertapa setengah abad lamanya. Sedang seluruh kepandaiannya ia peroleh dari gabungan antara ibu dan gurunya. namun begitu tadi sekali bergebrak dengan perempuan itu, ia dapat memaklumi bahwa ternyata kepandaian lawannya tidak berada dibawahnya.

Perempuan baju hitam itu perlahan2 mengulurkan tangannya, dan mengusap punggung pedangnya seraya berkata dengan ramah: "Kongcu, sudah puluhan tahun aku tidak pernah menggunakan senjata lagi ! Malam ini demi keselamatan seluruh jiwa penduduk dusun Siauw-kek Cung terpaksa sekali lagi aku harus turun tangan. Bila Kongcu menginginkan aku untuk bicara, baiklah. Dusun Siauw-kek-cung ini sesungguhnya penghimpunan para dermawan yang murah budi!"

Walaupun perempuan baju hitam itu mengenakan kedok, tapi dari logat suaranya yang penuh kasih sayang itu, Kok Piauw sudah dapat menduga bahwa dia bukan lain adalah sinenek yang peramah dan baik budinya, yang dijumpainya siang tadi. Dia, nampaknya benar2 seperti orang tidak pernah menggunakan senjata tajam. Pedang maut dalam tangannya tergenggam erat2.

"Popo, jika kau ingin aku melepaskan mereka itu tidaklah sulit. Tapi kita harus saling mempertaruhkan sesuatu?"

Demi mendengar ucapan tersebut, si perempuan baju hitam dan Siauw Bun Kun menjadi lega.

Siperempuan baju hitam tersenyum "Atas kemurahan hati Kongcu, meski urusan lebih besarpun, kami akan dapat menyanggupinya! Tapi entah apa yang hendak Kongcu pertaruhkan itu?"

Kok Piauw balas tersenyum !

Hal ini bukanlah soal yang sukar, kepandaian Popo sangat tinggi. Boanpwee ingin memohon pelajaran 3 jurus dari Popo, bila dalam tiga jurus ini popo dapat menang, maka Boanpwee akan melepas tangan terhadap urusan ini!

“Bila aku yang kalah?" tanya perempuan itu dengan hati merendah. Maka seluruh penduduk dusun ini harus menuruti apa kehendak

Boanpwee!

Keselamatan seluruh penghnii dusun Siauw-kek-cung tergantung pada tiga jurus ini. Maka demi mendengar syarat yang diajukan Kok Piauw itu, hati mereka yang sudah terasa lega kembali seperti tersumbat oleh batu gunung!

Sang waktu berjalan dengan perlahan2, fajar menyingsing disebelah umur, suasana dalam taman itu kembali tegang pula.

Perempuan baju hitam itu, bermesem-simpul dan serunya : "Jikalau demikian, maka aku akan coba2!"

Kok Piauw menghisap napas dalam2, pedangnya bergetar diudara. "Silahkan Popo mulai! "tantangnyaa nyaring.

Sinenek menggeleng2kan kepalanya dan menyahut : "Biar Kongcu yang mulai dulu:"

la menanti dalam sikap tempur.

Ko Piauw tidak mau menyia2kan waktu lagi pedangnya menyambar seperti ular.

"Maaf !" la merangsak maju.

Dalam sekejapan sebuah sinar perak berkelebat pesat kearah perempuan baju hitam itu!

Tubuh perempuan itu bergerak, pedangnya lantas membuat goresan dihadapannya, meski demikian, terasa angin hawa pedang itu berserebatan menusuk tulang!

Kok Piauw menyerang dengan tipu Thian-Ho Tauw Hwa atau Sungai-Sorga terbalik! Ujungg pedagnya menikam jalan-darah Hong-Bu- Kiat sinenek.

"Bagus!" memuji si nenek. Pedangnya berputar, mengikut tubuhnya, ujung pedangnya menarik atas, dan dengan sengitnya menusuk Kok piauw!

Begitu mereka saling bertanding, tampaklah permainan pedang yang sangat hebat luar biasa. Setiap gebrakan terpecah menjadi dua atau tiga pukulan berantai.

Permainan pedang perempuan baju hitam sangat cepat, walaupun Kok Piauw berdaya hendak menekan lawannya, namun setiap kali menyerang ia gagal. Tapi ilmu pedangnya sendiri benar2 sangat hebat dan telah mencapai puncak kesempurnaan.

Sinenek berseru nyaring, badannya gesit laksana ikan melitik, ia mendesak maju dan menikam. Tapi serangannyapun mengenai tempat kosong.

Kok Piauw tidak menyia2kan kesempatan ini, tanpa ayal ia mempergunakan ilmu ringan tubuhnya yang tiada taranya dikolong langit ini! Pedangnya meluncur bagaikan bianglala dan dalam sekejapan ia sudah berturut2 5-6 kali menyerang.

Siauw Bun Kun dan yang lain2pun bukan sembarang orang, tapi mana mereka pernah menyaksikan pertempuran adu pedang semacam ini

? Mereka berdiri menjublak karena asyiknya, sedang hatinya senantiasa berdoa untuk kemenangan si nenek.

“Jurus yang kedua !" berseru sinenek dengan nyaring.

Pedangnya bergetar membuat lingkaran besar dan kecil diudara malam, kemudian ia mengerjakan pedangnya seolah taufan. Aah ! Ia telah menggunakan permainan pedang yang sangat langka dalam kalangan Bu Lim. Itulah Han-Bwee Kay-hong atau Bunga Bwee berkembang !

Siauw Bun Kun yang menyaksikan berseri-seri wajahnya. Ia berpaling kepada seorang gadis.

Sudah puluhan tahun aku tidak pernah melihat jurus ini !" Dengan lain kata, secara diam2 ia ingin berkata bahwa hari ini Kie

Thian Tai Seng tidak akan dapat memperoleh kemenangan !

Kok Piauw memperdengarkan tertawa dinginnya. "Hm ! apakah anehnya ?"

Telunjuk tangannya bergerak kedepan, sedang pedang ditangan kanannya menusuk, bayangan pedang bersilanga. Ternyata ia telah menggunakan jurus Ben-Teng Kui-Lu ! Pukulan rahasia Kie Thian Tai Seng yang pernah menggemparkan jagad, dimasa lampau!

Sinenek baju hitam itu bersiul panjang, semangatnya berkobar2. Pedangnya berputar dengan sangan santar, angin menderu-deru dengan dahsyatnya ! Ia mengeluarkan jurus Gin-Pok Ban-Cin atau Alu-

perak-bercurahan !

Semua orang yang menyaksikan ber-kebat-kebit hatinya. Tampak dalam kelebatannya cahaya pedang, kembali terdengar suara :" Trang ;

Nyaring seka!i !

Bayangan hitam dan merah berpencaran, dan mundur kebelakang.

Siauw Bun Kun terkesiap Tatkala ia membuka matanya memandang, tampak kedua orang itu masing2 sedang memejamkan matanya mengatur napas, dan dalam waktu singkat tak tahu siapa gerangan yang lebih unggul.

Ternyata dalam gebrakan yang terakhir ini, masing2 pihak telah menggunakan kepandaianya yang paling istimewa dan yang paling diandalkan.

Setelah mereka memejamkan matanya mengatur pernapasan, kembali mereka telah membuka matanya. Dengan badan sempoyongan sinenek berkata "Kongcu, sungguh hebat ilmu pedangmu! Aku terima kalah !"

Begitu kata2 ini terucapkan, badan Siauw Bun Kun dan kesepuluh gadis itu menggigil karna kagetnya. Mereka insyaf bahwa maut sedang mengancam seluruh penduduk dusun Siauw-kek-cung. Napas mereka terdengar memburu.

Popo, kau sangat merendahkan diri, kalau ada jodoh, Boanpwee akan datang pula meminta pengajaran Popo" Habis berkata, tangan kirinya memegang pundak kanan.

Siauw Bun Kun melihat dibawah terangnya matahari yang baru terbit itu, bahwa pundak kanan Kie Thian Tai Seng keluar darah segar.

la menjadi sadar, dan hatinya menjadi lega. "Seri, setali tiga uang!" ia berseru kegirangan.

Sekonyong-konyong, badan Kok Piauw bergerak, dan sekuntum awan merah membumbung keudara dan lenyap keluar tembok pagar.

*

* *

Peristiwa inilah merupakan kekalahan baginya untuk pertama kalinya seumur hidupnya.

Walaupun sesungguhnya pertandingan berakhir seri, namun dalam anggapan hatinya itulah lain ! Jago, kelas satu dalam Rimba persilatan seperti Kim Hwa Sam-cu, Beng Ceng Tai Su, Bu Tong Cie Yang Totiang serta Cie Ie Sian-kauw semuanya telah keok dibawah tangannya. Tapi tak dinyana malam ini sebaliknya ia dapat diimbangi oleh seorang nenek yang tiada bernama? Bagaimana hatinya tidak merasa penasaran ?

Sekeluarnya dari tembok dusun, maka ia memperlambat langkahnya. Selagi ia berjalan, tiba2 kelihatan sebayangan berkelebat! Walaupun ia telah terluka tapi sedikitpun tiada berarti baginya. Tanpa pikir panjang ia mencelat, laksana seekor burung elang yang lapar menerkam.

Ternyata ilmu meringankan badan mangsanya itu masih rendah.

Melihat tak dapat menyingkir lagi, maka orang itu berhenti.

Kok Piauw terkejut "Oh, kiranya kau?!" serunya. Ternyata orang itu bukan lain adalah sibocah yang ia temui siang tadi !

Kok Piauw mengetahui bahwa anak ini mempunyai hubungan erat dengan sinenek, maka ia bersikap ramah-tamah. Sebaliknya anak itu demi melihat bayangan merah menubruk dari angkasa, menjadi terkejut dan bentaknya keras: "Siapa kau ? Mengapa kau berani datang selagi nenek-ku pergi?”

Kok Piauw pura2 terperanjat: "Siapa nenekmu itu?"

Anak itu mengedip2kan matanya, dengan bangga ia berseru: "See San Seng Bu atau Wanita Mulia dari Gunung barat! Apa kau tidak tahu Hm! Kalau begitu kau jangan merantau lagi di Sungai Telaga!"

Walaupun usianya masih sangat muda, tapi gayanya seperti orang besar, membikin pemuda kita geli hatinya. "Oh kiranya dia, pantas ilmunya tinggi sekali!"

See San Seng Bu adalah salah satu dari 5 orang terpandai dewasa ini, tatkala masih berada diatas gunung Thian San, Ibunya sering menyebut2 namanya dan tak dinyana bisa bertemu disini. Sering ia mendengar penjelasan dari ibunya bahwa See San Seng Bu sangat ramah-tamah dan murah hati seperti malam ini terhadap dirinya. Apakah terhadap Siauw kek-cung tindakannya keterlaluan? Dengan gundah- gulana ia meninggalkan bocah itu.

Sepanjang jalan, tak jarang ia mendengar kabar2 yang mengenai dirinya, seluruh Bulim agaknya gempar dibuatnya. Ia tidak mau menyia2kan waktu ia ingin segera sampai di Bu-Tong San. !

Selama 3 bulan lamanya, akhirnya ia tiba juga digunung Moh Pok San diperbatasan antara Kiang-Say dan Auwpak, lereng terakhir gunung Moh Pok San. Dihadapan samar2 tampak sebuah dataran. hatinya terasa lapang dan nyaman, la sudah tiba pada dataran Auwpak.

Perjalanan yang telah memakan beberapa bulan lamanya membuatnya letih juga, selagi ia hendak menagsoh dibawah sebuah pohon untuk melepaskan lelah, sekonyong2 udara dikejutkan olah suara derap kuda dan kaki.

Kok Plauw menoleh. Tampak 2 penunggang kuda sedang mendatangi dan setelah datang dekat ternyata sipenunggangnya adalah sepasang muda-mudi.

Kam Keko !" berseru sipemudi, "Mengapa hatimu begitu tajam.! Aaaah. aku takut terhadapmu !"Sigadis muda yang mengenakan baju warna kuning yang mirip dengan warna baju Kok Piauw,:"Aku mengusir mereka meninggalkan tempat ini adalah bermaksud baik! Jika ada orang membunuh mereka, habis apa yang hendak kau katakan kelak ?”

Kok Piauw menjadi terkejud. Sjapakah mereka itu ?

Sementara itu kedua penunggang kuda sambil bercakap2 sudah datang mendekati !

Sipemudi demi mnadengar jawaban orang, tiba2 menghentikan kudanya. "Hm ! Bagaimana tak dikatakan kejam?, kau telah menceraikan keluarganya! Hm, masih juga kau katakan tidak kejam?"

Pemuda baju kuning melirik kepada pemudi itu, air mukanya menunjukkan perasaan yang dingin. Sambil menghentikan kudanya ia berkata : "Siang-Moay, mengapa kau tidak dapat menyelami jiwaku?" akupun mempuyai kesulitan !"

Sipemudi dengan gusar bertanya "Apa kesulitanmu itu ? Coba kau terangkan kepadaku!"

Kok Piauw diam2 mengawasi. Pemuda itu mengenakan pakaian jars serupa warnanya dengan dirinya, sedang usiapun sebaya dengan dia.

Perkataan orang ini tidak ada juntrungannya, jangan2 dia kurang waras.

Ia menoleh pula, Sipemudi yang berjalan berbareng dengan pemuda itu raut mukanya berpotongan daun sirih, alisnya melentik, kulitnya putih bersih dan halus. Saat itu tampak mulutnya cemberut, agaknya sedang jengkel.

Kok Piauw melihat pula sererotan orang berjalan berbaris. Semua orang tawanan itu adalah kaum pria! Hati Kok Piauw bertekad !

Sipemudi tiba2 mengeprak kudanya dan berlalu tanpa menghiraukan pemuda itu, sianak muda demi melihat kejaian itu, tidak mau tinggal diam. Segera ia mengaburkan kudanya mengejar dan menghalang sipemudi. Air mukanya menunjukkan rasa pedihnya dan dengan meratap ia memohon : "Siang Moaymoay, kau dengarlah dulu. Perbuatan ini sesungguhnya bukanlah kehendakku!

"Apa katamu ?" tanya sipemudi heran.Habis kehendak siapa ?" Sipemuda tiba2 menoleh.

"Aaah, ada seorang lagi yang datang untuk menghantar jiwanya!" ujarnya.

Seorang pemuda berbaju kuning sedang berjalan mendatang !

Orang itu bukan lain adalah Kok Piauw, sambil menundukkan kepalanya ia berjalan. Terhadap sepasang muda-mudi dihadapannya, seperti juga tidak melihat nya.

Sipemuda baju kuning mengeprak tunggangannya dan berteriak menerjang : "Hay ! Apa kau tidak takut mati?”

Kok Piauw perlahan2 mendongak, dan dengan belaga bodoh ia bertanya ; "Numpang tanya,didepan itu tempat apa?”

"Apa perlumu ?" sahut sianak muda dengan garang. Sambil merapihkan pakaiannya, seperti juga tidak menaruh hati atas jawaban orang, Kok Piauw ……" Aka menanyakan kau didepan itu tempat apa?"

Sianak muda yang duduk diatas punggung kuda tidak sabaran lagi.

Ia mengayunkan cambuknya.

"Kam Koko! Tahan! menjerit sipemudi dengan nyaring.

Pemuda itu terdiam, sedangkan sipemidi memandang dengan sungguh2 pada Kok Piauw. Aaah ! Maksud kawanku sebenarnya baik, didepan itu benar2 tidak boleh dijalani?"

Orang perempuan bagaimanapun tetap orang perempuan !'' pikir Kok Piauw terharu. Tapi ia berpura2 seperti tidak akan terjadi sesuatu terhadap dirinya, ia mesem.

Coba ku lihat!" ujarnya. la berjalan.

Pemuda itu menjadi bingung, dan buru2 membalikkan kudanya dan berteriak : "Hay! Hay! Kami betul2 ber-maksud baik !"

Kok Piauw mengedip2kan matanya. "Terima kasih! Habis berkata, tangannya menyisihkan kepala kuda kesamping, dan dengan wajar ia berjalan pergi.

Keruan saja pemuda jadi murka, dengan bersungguh2 ia berteriak

:" Siang Moay, minggirlah ! Biar kuhajar dia sampai babak belur! Lebih baik daripada dibunuh oleh Kie Thian Tai Seng !"

Mendengar disebutnya "Kie Thian Tai Seng. "Kok Piauw kembali memalingkan mukanya. Dengan tawar ia berkata! "Aku sudah tahu!"

Kemudian ia berjalan kembali! Menampak Kok Piauw tidak tahu sama sekali terhadap Kie Thian Tai Seng. Sipemuda heran. Tapi demi melihat orang terancam bahaya, tak tegah hatinya kalau tidak memberikan pertolongan ! Maka ia mengejar untuk menghalang2i. Tapi baru saja mengeprak lesnya, atau kuda jempolannya roboh terkulai!

Pemudi itu terkejut bukan buatan! Mengapa kudanya mendadak menjadi ngantuk. Buru2 ia lompat turun.

Sementara sipemuda berlari menghampiri.

"Mengapa ? Apa kudamu jatuh sakit! Ia merobah tubuh kuda itu menjerit karna kagetnya.

"Mati ! Kudamu tidak bernapas lagi !"

Sipemudi menjadi pucat pias dan dengan tangannya gemeteran ia bertanya: “ Apa katamu ? Kudaku mati ?"

Ia meraba-raba badan kudanya. Hatinya berdebar2 keras. Ternyata Si anak Naga yang menjadi kesayangan betul2 telah mati ! Dengan bengong ia memandang kearah Kok Piauw dikejauhan dengan penuh kecurigaan.

Sipemudi tidak kalah herannya. Kuda itu adalah kuda jempolan, sedikitnya ia masih bisa hidup 10 tahun lagi. Mengapa hanya dielus saja, tiba2 menjadi mati ? Ini hebat sekali !

Tiba2 ia menarik tangan sipemudi dan teriaknya: "Siauw-moay, lekas! Tentu ini perbuatan orang itu!”

*

* *

Demi mendengar perkataan tersebut, sinona ada sadar. Dengan gusar ia mencemplak kuda kawannya dan bagaikan kilat berduaan mereka mengejar. Tapi sipemuda baju kuning sudah jauh.

Mereka mengejar sampai disebuah kota, kok piauw sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan dalam sebuah rumah makan, perempuan itu agaknya yang punya rumah makan itu.

Mereka masuk kedalam rumah makan atu dengan muka merah padam. Sipemudi yang merasa sedih atas kematian kuda kesayangannya, dengan sekali gerakan sudah mencabut pedangnya ! Begitu pedang menjadi telanjang diudara, dengan ganas ia menyerang Kok piauw !

Perbuatan sinona yang sangat cepat dan garang ini sungguh2 diluar dugaan Kok Piauw.

Namun dasar kepandaiannya sangat tinggi, begitu ujung pedang hampir mampir didadanya, ia berkelit bagaikan lindung, dan bersamaan ia menolak dengan telapak tangannya.

Pemudi itu menjadi limbung dan hampir2 jatuh terpelanting!

Sipemuda she Kam yang menyaksikan menjadi terkejut. Cepat2 ia menghunus pula pedangnya dan membentak : "Siapa kau sebenarnya''?

Kok Piataw memandang kepada mereka dan balas bertanya: "Apa kalian pernah melihat Kie Thian Tai Seng?"

Kesunyian menggantung berat diudara.

"Walaupun aku belum pernah melihat tampang Kie Thian Tai Seng." sahut pemuda She Kam itu dengan muka muram. "Tapi guruku telah dibunuh olehnya digunung Thian Bok San dipropinsi Ciat-Kiang, dengan terjadinya peristiwa ini maka hampir2 aku salah paham terhadap Khouw Locianwpee Ciang-Bun-Jin dari Haw San Pay."

Ucapan itu sebenarnya ditujukan kepada sipemuda untuk mnjelaskan atas tindak2annya yang selalu dicela. Karena merana atas kematian gurunya, maka ia tidak ingin pula melihat orang lain ikut kehilangan suami atau Putranya, maka dengan demikian ia mengungsikan semua orang lelaki agar selamat. Dialah Kam Lee.

Pada saat itu juga gemetarlah Kok Piauw. Setelah melihat penderitaan orang banyak, sadarlah ia akan perbuatannya yang berdosa. Perintah ibunya adalah salah!

Dengan hati penuh kemenyesalan ia berseru : "Saudara Kam mohon kau umumkan kepada seluruh dunia, bahwa Kie Thian Tai Seng sudah lama meninggal dunia-!"

Habis berkata iapun berjalan dengan tindakan berat.

Ia insyaf bahwa kini ia harus melanggar titah gurunya dan ibunya.

Tatkala ia baru saja melangkah 2 tindak, sekonyong-konyong angin angin menyambar dipunggungnya.

Kam Lee berlari mengejarnya, dan dengan pedang ditudingkan ia berteriak bengis :" "Hm, hm! Siapa kau sebenarnya ?" Jangan lari dulu !"

Kok Piauw tidak meladeni.

Sinona ikut memburu dan bentaknya halus: " Tak perduli siapa dia! Lee Koko, suruh dia mengganti Liong-jie ku!"

Kok Piauw dengan lirih mengelah napas dan menyahut penuh kemenyesalan: „Segala perbuatanku yang lampau bagaikan telah mati kemarin, sedang perbuatanku di-kemudian hari, bagaikan baru lahir hari ini Kam-heng, bila kau benar2 percaya bahwa Thian Tai Sang masih hidup, maka sejak hari ini ia hanya akan membunuh orang2 jahat !"

Kam Lee dan sinona menjadi terkesiap.

"Kam koko, apa mungkin orang ini adalah Kie Thian Seng ?"

Kam Lee terkejut, tiba2 ia teringat khabar yang tersiar dikalangan Kang-ouw, bahwa Kie Thian Tai Seng adalah seorang anak muda yang berpakaian warna kuning. Dengan lantang ia berterjak: "Betul ! Betul dia!"

Selagi orang ber-cakap2, Kok Piauw sudah berlalu keluar pintu.

Siang Moaymoay, dia .. . . dia ,,,, betul Kie Thian Tai Seng si Hantu itu ! Sakit hatiku tak boleh dibiarkan begitu saja!" ===

Kam Lee segera meloncat dan memburu keluar pintu.

Kok Piauw berlare dengan tenang dan Kam Lee mengejar dibelakangnya sambil berteriak-teriak: "Kie Thian Tai Seng, hayoh kembalikan jiwa guruku!”

Kok Piauw menoleh kebelakang. Tampak beberapa orang sedang ber-lari2 mengejarnya. Saat ini, ia bertekad untuk tidak mau menjalankan perintah ibunya lagi, ma ia tidak ingin menimbulkan keonaran. Tanpa pikir panjang ia mempercepat kakinya untuk berlalu meninggalkan kota itu.

Kam Lee mana mau menyia2kan kesempatan ini, sekejapan mereka sudah berada diluar kota dan ber-lari2 kejar2an.

Mereka melewati sebuah tempat yang sunyi.

Tiba2 Kok Piauw berhenti. Kam Lee memburu datang dan lantas saja menyerang dengan pedangnya.

"Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa pula. Kau mau lari lagi ?" Kam Lee menjerit.

Hati Kok Piauw terharu. Terpaksa ia mengulurkan tangannya dengan dua buah jari ia menjepit pedang Kam Lee.

"Tenang, saudara Kam. Perkataanku tadi apakah kau tidak mendengar?" tanyanya sambil mengelah napas.

Kam Lee terkejut! Tangan kanannya mendadak linu. Kelihayan Kie Thian Tai Seng sungguh bukanlah omong kosong, namun tekad hati untuk menuntut balas saat ini sedang menyala-nyala, maka tak sempat ia memikirkan lagi apa akibatnya. Dengan sekuat tenaga ia meronta, tapi sia2 belaka. Hatinya menjadi gugup dan dengan suara nyaring ia berteriak : Katamu sejak hari ini kau hanya akan membunuh orang2 jahat ! Hm, dengan kata2mu yang manis ini apa kau kira bisa mengelabui orang lain ?"

Kok Piauw terdiam. Ia tahu bahwa tak mudah untuk melenyapkan akibat kejahatannya.

Pada saat itu tampak sesosok bayangan orang ber-lari datang dikejauhan. Tapi ketika sampai ditengah jalan tiba2 ia berhenti. la berhenti dengan tongkatnya ia meng-gores2 diatas tanah, kemudian berlalu pergi, bagaikan angin cepatnya.

Kok Piauw menjadi heran, tapi ia diam saja.

Kam Lce melihat wajah Kok Piauw yang menunjukkan perasaan bimbang, menjadi legah hatinya.

"Apa kau berani datang ke Bu Tong San?" ia bertanya.

Kok Piauw tidak ingin menyahuti pertanyaannya itu, kedua jarinya ia kendorkan.

"Saudara Kam, lekas kau lepaskan semua rakyat, Kie Thian Tai Seng tidak akan mencelakakan mereka pula."

Kalimat yang terakhir ini ia ucapkan dengan penuh keyakinan, kemudian ia melayang ketempat orang tadi berhenti. Dibawah sorot matanya, tampak diatas tanah bergores kata2 "Kembalilah kepada asal mulamu!"

Kok Piauw adalah seorang yang sangat cerdik, sekali melihat goresan huruf itu, hatinya menjadi berdebar2.

Apakah orang tunjukkan kepada diriku? menggumam.

Orang itu adaiah seorang pengemis tua dengan pakaiannya compang-camping.

Mengapa ia menulis kata2 ini ditanah? Agaknya kecuali Kok Piauw, tiada seorang pun yang mengetahuinyal

Kok Piauw menjadi tertarik. Ia menoleh ketika Kam Lee berlari menghampiri.

"Untuk apa kau menyusahkan hatimu mengikuti aku ! ia bertanya. "Apa kau penjelmaan Kie Thiaa Tai Seng?" tanya Kam Lee dengan

napas memburu.

Kok Piauw meng-angguk2kan kepalanya dan menyahut dengan sungguh2,

"Ya, tapi saudara boleh siarkan kepada semua orana, bahwa sejak hari ini Kie Thian Tai Seng tidak lagi tidak membunuh orang baik2!"

Sehabis berkata karena khawatir Kam Lee tidak percaya akan dirinya adlah Kie Thian Tai Seng, maka ia mengebutkan tanganyaa.

"Brak ! Segera sebuah pohon besar disampingnya roboh seketika itu juga.

"Peristiwa di Thian Bok-San semuanya terjadi karena kesalah- fahaman. Aku minta kepada saudara suka mempercayai aku !"

Sehabis berkata, iapun berlalulah !

Malam gelap, angin berhembus sepoi2. Bintang2 bercemerlangan menaburi angkasa raya, tampak Kok Piauw sedang asyiknya berlari2 seorang diri. Pikirannya senantiasa mendengar pesan ibunya : "Ingatlah anakku ! Bunuhlah semua orang pria di Kolong langit ini!”

Kok Piauw menghela napas dalam2. Kini ia telah menghianati pesan ibunya, jika hal ini diketahui oleh ibunya, apa yang harus ia jelaskan?

Pikiran ini senantiasa mengganggu ketenangannya, sehingga lama kelamaan menyiksa dirinya sendiri !

Bulan tergantung diangkasa biru. alam sunyi-sepi.

Kok Piauw berlari-lari tanpa berhenti, dan berselang tidak lama, tampak sebuah gunung besar melintang dihadapan matanya.

Dia memperlambat langkahnya dan memasang mata mengawasi kesekelilingnya. Tampak tidak jauh dari tempat dia ada sebuah goa, maka ia berjalan menghampiri.