Cahaya Perak dari Bukit Timur Jilid 2

Jilid 2

"Ibu ! Huy-jie disini !"

Sebenarnya sinona tidak mengetahui bahwa orang itu adalah ibunya, cuma karena ia dalam keadaan bingung maka tak terasa sudah terlepasan mulut. Terdengarlah suara berkumandang bersahutan, sedang orang itu tetap berjalan sambil menundukkan kepalanya.

Huy-jie semakin bingung, berulang2 ia memanggil2, dan setelah agak dekat, orang itu tiba2 mendongak dan berseru:

"Apakau Huy-jie?"

“Betul! Huy-jie berada disini !" sahut sinona kegirangan.

Orang itupun mempercepat langkahnya seetlah tiba ditepi jurang, jelaslah bahwa orang itu adalah ….Cie Sian-kauw !

Kini mereka saling berpandang2an, Tiat Kuy Lolo bersama sinona dengan terperanjat melihat bahwa ujung baju Cie Ie Sian-kauw telah tersobek sepotong. Dalam hati mereka timbul alamat buruk !

Cie le Sian-kauw dengan wajah pucat pias melambai2kan tangannya memanggil:

"Tiat Kuy cianpwee, harap lekas kemari bersama Huy-jie!"

Ketika mereka menoleh, tampak tidak jauh sebuah tangga batu mebujur lurus dari dalam jurang, Tapi ditengah2nya putus. Sepuluh tombak panjangnya, cukup untuk mereka loncat keseberang.

Cie Ie Sian-kauw menanti mereka melompat datang, kemudian menyongsong sambil berkata: "Huy-jie, kau jangan menanyakan apa2 lagi! Mari kita pulang dari sini !"

Ini sungguh mengejutkan!

Air muka ketiga orang ini masing2 menunjukkan perasaan yang

ber-beda2. Sementara itu dari arah lain tampak berjalan seorang pemuda baju kuning dengan pelahan2.

Pada pundak pemuda itu tergantung sebuah busur besi, dan pada punggungnya tersisip sebilah pedang. Air mukanya dingin tidak berperasaan, berjalan tak seberapa jauh, tiba2 ia menengadah keatas langit.

"Dengan perbuatanku ini, kiranya dapat membalas budi ibuku yang telah mendidik membesarkan diriku. Ha-ha-ha!"

Dia berkata seorang diri, dan tiba2 menggeleng2 kepalanya:

“Tidak. tidak ! Tidak ! Aku harus menuruti pesan ibu untuk membunuh semua orang laki2 dikolong langit ini!”

Dan tampak pada ujung bibirnya tersungging senyuman dingin, dan kembali ia berjalan menyusuri lereng gunung dengan tindakan perlahan2.

Tiat Kuy Lolo betdebar-debar hatinya. Air muka Cie le Sian-kauw suram, dan pada sudut matanya tampak bekas air mata. "Apa kau ketemu Kie Thian Tai Seng ? sinenek berbisik.

Cie Sian-kauw tidak menjawab, tapi pelaban2 ia mengulurkan tangannya dan menjawab:

"Dengan sebelah tanatin aku tidak dapat mengalahkan dia, lima tahun kemudian, aku akan lawan dia dengan dua belah tanganku ni !"

Kata2nya hampir diucapkan sepatah, demi sepatah, tapi seolah2 mengandung kedukaan. Huy-jie dengan cemas mencekal kedua tangan ibunya:

"Ibu, apa kau dikalahkan Kie Thian Tai Seng?

Bagaimanapun sinona sukar percaya bahwa ibunya bisa dikalahkan Kie Thian Tai Seng,

Sambil mengelus2 pundak putrinya, Cie Ie Sian Kauw berbisik: "Anak, kita harus pulang. Lima tahun kelak, ibumu akan

mengajakmu kembali ke Tianggoan !"

Suaranya kaku, dia berdiam sebentar lalu menoleh pada sinenek:

Khauw Lo-cianpwce, saat ini aku hanya bisa berkata bahwa kepandaian Kie Thian Tai Seng tiada tara tingginya, dan kau tak usah pergi mengabarkan kepada partai2 yang bersangkutan !"

Kemudian ia meng-angguk2kan kepalanya, menggandeng tangan Huy-jie untuk diajak berlalu.

Tiat Kuy Lolo berdiri terpaku. Tapi tiba2 ia menyelat menghadang dan beseru :

"Apa kau betul telah bertanding dengan Kie Thian Tai Seng. ?"

Cie le Sian-kauw tidak menyahuti, ia hanya melontarkan pandangan matanya yang suram, kemudian bersama putrinya berlalu pergi.

Hal ini benar diluar dugaan sinenek. Mula2 Cie le Sian-kauw begitu sangat menghormatinya, tapi sekarang tiba2 sikapnya dingin. Jangan2 telah mengalami suatu perubahan besar?

Sinenek yang semalaman suntuk tidak bisa mengasoh, semula tidak merasakan apa2, tapi kini melihat perubahan sikap Cie Ie Sian-kauw yang sangat mendadak itu, dan mereka telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri, maka dalam hatinya timbul perasaan hampa. Ia tak dapat pula menutupi segala perasaan capainya yang menyerang hatinya.

Walaupun saat itu disiang hari, tapi suasana disekitarnya sangat sunyi sepi.

Selagi sinenek berdiri bengong, sekonyong2 terdengar suara bunyi kecapi yang merdu mengalun dari tempat jauh. Suaranya tenang merayu, seolah-olah lagu dari surga.

Sementara itu Cie Ie Sian-kauw dan putrinya yang sudah pergi jauh, demi mendengar bunyi tetabuhan itu, tiba2 berhenti. Mereka mengalihkan kaki kearah datangnya suara itu.

Tiat Kuy Lolo yang menyusul, lantas melihat tidak jauh ditepi sungai berduduk sipemuda baju kuning.

Tampak pemuda baju kuning itu sedang asyik duduk menggesek pedangnya dengan busurnya, sedang suara merdu itu datangnya justru dari gentaran batang pedang tersebut.

Pemuda itu berusia kira2 20 tahun, wajahnya tampan sekali. Sambil menundukkan kepalanya ia mempermainkan “musik”nya. Tatkala busur besinya mengesek batang pedang itu, maka timbulah suara yang kedengarannya merdu seperti kecapi.

Ia sedang tenggelam dalam irama, maka kedatangan mereka bertiga, se-olah2 ia tidak melihatnya.

Sinenek yang menyaksikan. diam2 terperanjat ! Pikirnya mana ada cara menggesek tatabuhan seperti dia ini? Aneh, pemuda ini benar2 aneh, tak tahu dari golongan mana asalnya?

Coba lihat, bukankah dia itu sipemuda baju kuning?" berkata Huy- jie perlahan.

Mendengar itu sikap Cie le Sian-kauw tidak berubah, tapi sinenek terkejut.

Pemuda ini mempermainkan musiknya dengan menundukkan kepalanya, sedang kedua kakinya yang tidak bersepatu dicelupkan kedalam air. Senantiasa bergoyang-goyang menuruti irama musiknya, sikapnya itu bagaikan seorang anak kecil. Tapi pada ketika itu perasaannya sedang tenggelam dalam pelukan keindahan alam semesta.

Se-konyong2 suara yang merdu merayu itu berubah menjadi sangat sedih penuh kedukaan.

Suara itu mengalun penuh kedukaan bagaikan seorang perempuan yang meratap, mengeluh stapa yang telah menghancurkan taman halamannya? Siapa yang membunuh suaminya? Siapa yang menculik anak2nya ? Suaranya semakin meratap menyedihkan, membuat mereka bertiga hampir2 mengucurkan air mata.

Selagi mereka terpesona, tiba2 bunyi2an itu berhenti, dan sipemda baju kuning itu mengelah napas sambil menengadah : "Aaah! . . ."

Cie le Siau Katiw mene-geleng2kan kepalanya dan berkata kepada temannya: "Mari kita pergi!"

Tapi sungguh aneh, pamuda baju kuning itu se-olah2 mempunjai daya tarik yang maha besar ! Tiat Kuy Lolo dan Huy-jie seperti tidak mendengar ajakan Cie Ie Sian-kauw itu! Mereka berdiri terpaku bagaikan orang yang kehilangan ingatan.

Sipemuda pelahan2 masukkan pedangnya kedalam sarungnya dan menggantungkan busur besinya pada pundaknya, dan mengguman seorang diri :

"Aku pun harus pergi juga! Aaah, dunia yang luas ini tak tahu aku harus menginap dimana malam ini?"

Kata2nya ini seperti ditujukan kepada orang lain, tapi seperti juga terhadap diri sendiri. Tak perduli ia berkata untuk orang lain maupun untuk diri sendiri tapi melihat sikapnya itu, siang2 telah melenyapkan seluruh kecurigaan hati sinona.

Pemuda ini pun sangat aneh. Ia hendak berlalu pergi.

TONG NIA GIN HOEY. (2)

—V—

Cie Te Sian-kauw melihat pemuda baju kuning itu bangun, menjadi kuaatir : "Mari kita pergi sekarang !" ujarnya.

Tiat Kuy Lolo dan Huy-jie penuh diliputi rasa keheranan, maka tatkala pemuda itu hendak berlalu, mereka pun segera saling berpandangan. Kemudian mereka bertiga pergi menyusuri kali kecil itu.

Setibanya ditempat jauh, Huy jie tak tahan lagi. "Ibu, apa kau telah mengetahui asal-usul orang itu?”

Wajah Cie Ie Sian-kauw sangat suram, ia menarik napas panjang2 tidak menjawab.

Sinenek yang berpengalaman, segera dapat menduga separoh. Hatinya belpikir bahwa potongan badan orang itu sangat tidak asing, baginya! Tapi ia tidak mengutarakan pendapatnya itu, demi mendengar pertanyaan yang diajukan Huy-jie, maka ia menyela:

"Pemuda itu sangat mengherankan." Huy-Jie berpaling.

Sinenek pura-pura mengelah napas.

Dari semalam aku senantiasa diperolok2kan Kie Thian-Tai Seng, orane ini masih begitu muda, dan seorang diri datang ketempat sepi nan tiada orang ini. Apa kau kira Kie Thian Tai Seng hanya memusuhi kita dan tidak mengganggu dia itu ?"

Sinenek jelas hendak mengutarakan kecurigaannya terhadap pemuda baju kuning itu dan diam2 telah membongkar isi hati Cie le Sian- kauw, tapi sayang siaona tidak mengetahui maksud yang dikandung orang.

"Hal ini tidak mengherankan!"

"Apa? Tidak mengherankan?" bertanya sinenek tertawa. Menurut pendapatku, pemuda ini tentu bukan baru datang pagi ini, jika benar ia sudah datang sejak semalam, maka aku sangat mengkuatirkan bahwa ia mempunyai hubungan erat dengan Kie Thian Tai Seng itu!'

Jelaslah bahwa kata2nya itu diucapkan untuk memperkuat dugaanya ! Hari sinona terkejut, tapi bagaimanapun ia tidak mau menpercauai.

"Wajah orang ini sangat pengasih alim, mana bisa disamakan dengan momok Kie Thian Tai Seng yang sangat kejam ! Tiat Kuy Cianpwee, bukankah mula2 kau orang tua mengatakan bahwa orang she Kam itu mungkin penjelmaanya manusia momok itu ?

Sinenek tertawa getir.

"Huy kauwnio, walaupun kepandaianmuu sangat tinggi, tapi kau masih sangat muda. bukan aku sinenek jual laga, tapi aku lihat asal usul pemuda itu tidak jelas, jika kau tidak percaya boleh kita buktikan kelak !”

Huy-jie bermesem

"Tentu saja, akupun sangat mencurigainya karena kita kan belum kenal dengan dia?”

Tiat Kuy Lolo tidak ingin membantabh lagi, ia dapat mengetahui berapa dalam kepandaian pemuda she Kam itu, karena mereka sudah pernah saling bergebrak.

Tapi pemuda baju kuning ini lain lagi halnya, perawakanya mirip benar dengan bayangan merah itu ! Hanya dengan menyaksikan kepandain menggesek pedang dengan busurnya itu, sudah cukup jelas bahwa pada masa ini yang memiliki kepandaian semacam dia rasanya tidak seberapa orang. Lagipula ia menampakkan dirinya tatkala Kie Thian Tai Seng sedang sebentar menyusul sebentar sembunyi, maka hal2 mencurigakan tentu lebih banyak dibanding dengan Kam Lee itu.

Suasana kembali tenang, mereka bertiga berjalan tanpa bicara.

Mendadak saja Hui-jie menjerit: “”Coba lihat apakah itu ?"

Semua orang mengarahkan pandangannya ketempat yang ditunjuk sinona, dan tampak dipinggir jalan sebuah huruf "Jin" atau "Orang" yang sangat besar dan dipinggir huruf ini tergores pula tulisan "Kie Thian Tai Seng !"

Tiat Kuy Lolo menggerutu :" Orang? Orang? Apa gerangan artinya

?"

Cie le Sian-kauw membelalakan matanya:

"Soal ini benar pelik. Mari kita jalan lagi untuk memeriksa!" Berjalan tak seberapa jauh, tiba2 ia berhenti dan berseru :" Lie Jin

!„ Berarti orang perempuan, Tiat Kuy-jie cepat2 menyusul. Sinona dengan penuh keheran2an bertanya :

Orang perempuan? Hm, apa yang ia mau?”

Benar2 aneh, mungkinkah ia mempunyai hubungan dengan kaum wanita kita ?" setelah berhenti sebentar lalu Cie le Sian-kauw berkata pula ." Jangan2 masih ada huruf lain !"

Kata2nya ini seolah ditujukan kepada dirinya sendiri, maka iapun segera berjalan pula.

Tiat Kuy Loto dan sinona mengikut dibelakang.

Jalan lagi tidak jauh, betul saja dipinggir jalan kembali tampak sebuah huruf "Sat" atau "Bunuh !" Bila ketiga huruf itu dirangkaikan menjadi „Membunuh kaum wanita!”

Mereka bertiga terkejut semuanya! Mereka adalah orang2 wanita. "Membunuh kaum wanita? Hm, mengapa dia tidak menurunkan

tangan terhadap kita?" dengan penuh kemendongkolan Cie le Sian- kauw mencaci.

Sinenek pun ikut murka.

"Benar! Jika ia hendak membunuh kaum wanita, mengapa tidak segera menurunkan tangan jahatnya kepada kita?"

Tapi tiba2 sinenek teringat akan kejadian2 yang pernah ia alami itu,

, ternyata semua jaug dijadikan korban adalah orang2 lelaki, maka kini tatkala melihat kata2 "membunuh kaum wanita" bukankah itu berarti sangat bertentangan dengan apa yang pernah ia saksikan.

Sinona mohon penjelasan: "Kaum wanita macam apa yang harus dibunuh?"

Hati mereka penuh diliputi pertanyaan yang, sukar dijawab! Bila Kie Thian Tan Seng hendak membunuh kaum wanita, tapi mengapa yang dijadikan korban kesemuanya adalah kaum pria? Itu tidak betul!

"Benar2 soal ini sangat pelik," mendumal sinenek, "Aaah, jangan2 ia sudah mengubah tujuannya, dan saat ini, sedang mengancam jiwa kita bertiga?"

"Coba kita periksa lagi !"Cie Ie Sian-kauw mengusulkan. Merekapun berjalan terus, kira2 lewat 30 tombak jauhnya, Cie Ie

Sian-kauw menghentikan langkahnya.

Hampir berbareng mereka melihat pula satu huruf "Put" atau "Tidak." Hati mereka menjadi lega. Apabila keempat hurur itu dirangkaikan,

maka berarti "Put Sat Lie Jin" atau Tidak membunuh kaum wanita" "Syukur, syukur," berkata nenek, "Pantas semalam semua tokoh2

telah dicelakai, hanya aku sinenek seorang yang luput, kiranya dia sangat menjungjung tinggi martabat kaum wanita?"

Tapi Cie le Sian-kauw sebaliknya mendesis. Hm, biarpun ia berbuat demikian, tapi terhadap sakit hatiku ini, lima tahun kemudian aku akan mengadakan perhitungan !" Tait Kuy Lolo dan Huy-jie terkejut, sedang Huy-jie sudah bertanya : "lbu, apa kau benar telah bertarung dengan Momok itu?"

Sang ibu tidak menyahuti, wajahnya berubah suram. Pikirannya balik, kepada pemuda aneh baju merah yang berkepandaian sangat tinggi itu. Bukan saja permainan pedangnya lihay dan dahsyat membahayakan, lagi pula orangnya aneh sekali ! Mengapa ia tidak mau mencelakai kaum wanita ?

Melihat ibunya tidak menghiraukan pertanyaannya, sigadis maklum bahwa ibunya tentu telah dipecundangi !

Tapi, Hay-jie mengetahui benar bahwa kepandaian ibunya sangat tinggi dan jarang tandingannya ! Maka bila benar2 ibunya telah dikalahkan oleh Kie Thian Tai Seng, maka dikolong langit ini jangan harap ada orang lain yang bisa menandingi momok itu. Berpikir demikian, maka insyaflah dia bahwa kejadian itu sangat besar akibatnya ! Hatinya menggigil dingin.

Tiat Kuy Lolo melihat air muka ibu dan anak berubah pucat.

Maklumlah ia bahwa bukan bukan saja Cie le Sian-kauw sudah bertemu dengan Kie Thian Tai Seng, malahan mungkin sudah bertanding dengannya.

lapun mengetahui kepandan Cie le Sian-kauw yang tinggi tiada lawannya, tapi kini ternyata ia sendiri tidak bisa merobohkan Kie Thian Tai Sang, maka meski kerahkan seluruh orang2 pandai, nampaknya tiada berfaedah sama sekali.

Sinenek putus asa, keberaniannya luntur. Timbullah pula keinginannya untuk mengundurkan diri dari dunia Kangouw.

Sang waktu berjalan terus seperti sediakada, Cie le Sian-kauw menengadah memandang Sang Surya yang bertanding diatas kepalanya.

Tiat Kuy Cianpwee, maafkan kami tidak bisa menemani kau pula, semoga kiranya lima tahun kemudian kita bertemu lagi !"

Maka iapun segera berlalu bersama putrinya, dan sekejap saja sudah lenyap ditelan pepohonan.

*

* *

Tiat Kuy Lolo dengan perasaan sangat berat berjalan menuruni gunung.

Hatinya sangat risau, pikirannya ruwet penuh pertanyaan2. tapi disaat itu, mana mungkin ia bisa mengatasinya?

Semula ia mengambil keputusan untuk pulang kegunung Hwa San, untuk kemudian tidak mencampuri pula segala kejadian2 di Kangouw.

Taim kemudian teringat akan kematian Beng Ceng Taisu dan lain2nya yang sangat menyedihkan, bila ia tidak memberikan kabar kepada pihak2 yang bersangkutan, maka bukkankah mereka akan tinggal gelap?

Akhirnya ia ambil keputusan untuk menyampaikan berita ke Siauw-Lim Sie !

Setelah keputusan, hatinya menjadi ringan. Ia berjalan lewat I lie.

Tiba2 terdengar kembali suara kecapi dari belakang.

Tiat Kuy Lolo menghentikan langkahnya. “Hm, dia sudah mengejar pula!"

Saat ini, Tiat Kuy Lolo ibarat sebuah sampan yang terumbang-abing diatas laut yang bebas. Semula ia mencurigai Kam Lee, tapi setelah bertemu dengan si pemuda baju kuning, maka kecurigaannya lambat laun berkurang dan lenyap dari pikiranya.

Suara kecapi itu makin dekat kedengarannya. Tak tahan lagi ia menoleh kebelakang. Betul saja tampak si pemuda baju kuning dengan menggantungkan busur besi diatas pundaknya, tangan kirinya menyekal punggung busur, dengan tangan kanannya mementil2 tali busurnya, yang memperdengarkan irama yang merdu.

Sementara itu pemuda tersebut sudah datang mendekati. Begitu melihat si nenek berdiri terpaku ditengah2 jalan, maka iapun memberi hormat : "Popo, apa kau sedang menikmati keindahan alam?"

Suara lagu itu pun ikut berhenti bersama dengan pertanyaannya

itu.

"Hm, hm! Kau benar pandai bersandiwara!' dalam hati sinenek

berkata.

Entah mengapa walaupun hati sinenek membenci pemuda ini, tapi tatkalt ia melontarkan pandangannya, hatinya menjadi lemah.

Pemuda baju kuning ini bukan sajs brrwajah tampan, lagi pula air mukanya bersinar terang.Berbeda sekali dengan Kam Lee.

"Aku sinenek yang sudah tua mana ada kesenangan untuk "

la rasakan mulutnya seperti tersumbat sukar untuk bicara lebih lanjut.

"Apa Popo sedang menghadapi kesulitan,?" bertanya pula pemuda itu sambil tersenyum.

Sebenarnya sinenek berniat akan menuturkan segala pengalamannya, tapi segera ia urungkan maksudnya, bila ia ingat bahwa sipemuda mungkin adalah Kie Thian Tai Seng ! Potongan badannya mirip benar dengan baju merah itu, terpaksa ia menyahuti juga demi tata kesopanan.

"Hal ini sungguh sulit dijelaskan, saudara muda. Apa kau mempunyai suatu keperluan maka seorang diri datang ketempat sunyi ini?"

Pemuda baju kuning itu tenang2 saja.

"Terhindar dari malapetaka, kelak tentu akan memperoleh banyak rejeki. Popo, aku kini bagaikan orang yang bangkit kembali dari kematian.

Kata2nya ini laksana pisau tajam yang menusuk hati. Tiat Kuy Lolo terperanjat ! Sekejap saja, kembali pula kesikap semula yang penuh diliputi kecurigaan, tapi dasar ia sangat berpengalaman, maka kesangsiannya ini tidak diperlihatkan.

"Saudara muda, apakah maksud ucapanmu itu ?" Tapi diam2 ia bersikap siap siaga.

Pemuda itu melirik kepada sinenek, dan bersikap seperti tidak memperhatikan perubahan muka orang.

"Apa Popo datang untuk menengoki Kin Hwa San Cu ? Aaah, tak dinyana mereka telah mati dengan tidak diketahui jelas sebab2nya !"

Sienek tak bisa menahan dirinya pula, la melangkah maju.

Hm, hm, siapa kau ini ? Bagaimana kau bisa mengetahui peristiwa Kiu Hwa Sie dengan begitu jelas ?"

Pemuda baju kuning itu melihat sinenek sudah mulai naik pitam, lantas tersenyum.

“Tak perlu aku merahasiakan lagi, akupun merupakan ikan yang lolos dari jala!"

Kata2nya ini terang2 menyindir sinenek! Sinenek ber-teriak dengan nyaring. Terdengar suara desiran angin keras, sinenek menghantam dengan tongkatnya!

,VI,

PEMUDA BAJU KUNING

Pemuda baju kuning itu cepat2 berkelit.

"Popo jangan kau terburu napsu, aku hendak mengatakan sesuatu!" serunya nyaring.

Sinenek mana mau mengerti ? Ia memukul pula dengan tongkatnya

!

Pemuda itu ternyata sangat gesit seperti kera, walaupun sinenek

berturut-turut menyerang dengan hebat, tapi ternyata baju orang pun tak berhasil ia menyentuhnya.

Kecurigaan hati sinenek semakin bertambah, karena menyaksikan kepandaian sianak muda itu yang sangat tinggi. la sudah memastikan kini bahwa pemuda baju kuning ini tak bisa diragu2kan lagi adalah Kie

Thian Tai Seng ! Sinenek menyerang bagaikan gila !

Mula2 si pemuda tidak ingin membalas, tapi demi melihat serangan sinenek yang terus-menerus dan berbahaya, hatinya menjadi gusar.

Pikirnya bila dia bukannya itu orang yang pernah menolong jiwa ibunya, hm, jangan harap bisa hidup sampai hari ini !

Tiba2 ia menyampok tongkat sinenek dengan busurnya, dan....

„Trang !"

Meski senjata tongkat lebih berat, tapi tak urung sinenek terhuyung mundur satu langkah.

Setelah berdiri tenang kembali, sinenek berteriak murka: "Mengapa kau tidak membunuh aku?"

Air muka pemuda itu sedikit berubah.

"Hm, Popo sudah tua, tapi napsu masih besar?"

Dalam dua hari ini berturut sinenek telah dipermainkan orang, kejadian ini belum pernah ia alami seumur hidupnya. Hatinya mendongkol sekali, dengan murka ia menyemprot:

“Hm, kalau kau hendak membasmi seluruh orang2 pandai, mengapa sebaiknya tidak membunuh juga kaum wanita?"

Ucapan ini se-olah2 ditujukan kepada Kie Thian Tai Seng yang menjelma sebagai pemuda baju kuning!

Air muka pemuda itu tiba2 tertutup oleh awan suram, tapi sekejap kemudian, kembali pula ia bersikap tenang, Dengan dingin ia menyahut:

"Kiu Hwa Sam Cu adalah guruku, kini semuanya telah dimusnahkan musuh. Kedugaan hati boanpwee bagaikan lautan dalamnya."

Tiat Kuy Lolo terkejut, matanya membelalak besar.

"Aneh, benar2 aneh? Kiranya dia murid Kiu Hwa Sam Cu, pantas tadi ia mempermainkan musiknya dengan irama yang penuh kedukaan"

Tiat Kuy Lolo agak ragu2. Duapuluh tahun sudah ia tidak berhubungan dengan Kiu Hwa Sam Cu, Kiu Haat Sam Cu kini telah binasa. Sulit untuk mengetahui apakah pemuda itu tidak berdusta. Tapi kalau melihat kelakuannya, membikin sinenek percaya. Maka dengan demikian Kie Thian Tai Teng tentulah Kam Lee !

Sinenek berdiri terpaku.

Kembali terdengar pemuda itu berkata pula:

"Boanpwee baru pulang dari rantau, tapi ternyata suhu dan saudara2 telah dibunuh musuh. Walaupun Boanpwee bukan tandingan musuh itu, tapi meski tubuh hancur luluh, Boanpwee akan menuntut balas !"

Sumpah pemuda itu tegas sekali !

"Kini Hwa Sam Sie telah tertimpa malapetaka dan hanya kau seorang yang berhasil meluputkan diri, entah apa yang hendak kau perbuat sekarang?" bertanya sinenek

"Boanpwee mohon petunjuk Popo !" jawab sipemuda Sinenek mengelah napas. Pikirannya kacau. Sebetulnya ia menaruh curiga terhadap sianak muda. tapi kini keadaannya benar2 diluar dugaan. Setelah berpikir sebentar, achirnya ia menyahut juga:

"Hatiku sendiri masih ruwet, tak dapat memberikan pendapat apa2 kepadamu, sebaiknya kau sendiri yang bertindak !"

Sehabis berkata, iapun berlalu. Pemuda baju kuning memandang punggung sinenek lalu menarik napas panjang dan menggumam seorang diri.:

"Aaah! Aku mati tak menjadi soal, tapi aku khawatir kelak seluruh kangouw menjadi dunia kaum wanita !"

Kata2nya seperti mengandung arti yang sangat dalam dan betul saja, sinenek yang baru melangkah beberapa tindak, tiba2 berhenti.

"Kie Thian Tai Seng sangat kejam, walaupun ia berkata “Tidak membunuh kaum wanita", tapi aku ingin lihat apa dia bisa mempertahankan kata2nya itu ?"

"Tentu ia akan mempertahankannya, jika tidak, maka ia bukannya Kie Thian Tai Seng lagi!?

"Apa dia katakan ini kepadamu ?" Pemuda itu menggeleng2kan kepalanya :

"Jikalau Boanpwee bertemu dengan dia. niscaya tidak bisa bicara dengan popo lagi. Kata2nya ini aku dengar dari mulut seorang cianpwee!"

"Siapa dia, lekas kau beritahu!"

"Dikolong langit ini, Kie Thian Tai Seng takut hanya takut terhadap seorang, apa cianpwee tidak tahu?"

Sinenek mencoba mengingat2, tapi biar bagaimanapun tak tahu siapa gerangan orang yang dimaksud itu ? Maka akhirnya iapun berkata: Sudah lama aku tidak mencampuri urusan Kangouw, maka sebaiknya kau memberitahukannya,"

"Orang yang Boanpwee maksudkan bukan lain ialah Cui Hong Kiam- Kek atau Pendekar Pedang Pengejar angin Yap Siong Lak, majikan dusun Yap Ke-po. Dewasa ini hanya tinggal dia seoranglah yang bisa menandingi Kie thian Tai Seng Dan Boanpwee pun sekarang hendak pergi mencarinya."

"Oh!" Bagaikan seorang yang baru sadar dari lamunannya, sinenek mengetuk kepalanya, Mengapa aku begini goblok, sampai2 orang ini tidak kuingat?„

PERTEMPURAN KIE THIAN TAI SENG. 30 tahun yang lalu, Kie Thian Tai Seng malang melintang dalam dunia Kangouw. Tatkala itu para tokoh Bulim banyak yang telah dipecundangi. Pada masa itu, nama Cui Hong Kian-Kek Yap Siong Lan terkenal seperti Kie Thian Tai Sang, dia sebagai seorang golongan muda, telah bertempur semalam suntuk dengan Kie Thian Tal Seng diatas gunung Thian San, dan berhasil merobohkan lawannya.

Maka semenjak hari itu Kie Thian Tai Seng tidak menampakkan pula dirinya di kalangan Kangouw. Peristiwa ini meski terjadi puluhan tahun yang lalu, namun masih senantiasa menjadi pembicaraan setiap orang. Walaupun Tiat Kuy Lolo sendiri tidak ikut menyaksikan pertempuran itu, namun ia mengetahuinya dengan jelas: Kini mungkin disebabkan karena orang2 Yap-ke-po jarang ada yang merantau dalam kalangan Kangouw, maka itulah sebabnya sinenek lupa.

Pemuda baju kuning mengawasi wajah Tiat Kuy Lolo :

"Popo sudah ingat? Boanpwee sekarang hendak pergi mencari Yap Lo Cianpwee"

Habis berkata iapun memberi hormat dalam2, dan setelah itu berlalu pergi.

Pemuda baju kuning itu bukan saja berparas cakap dan sopan santun, lagipun tingkahlakunya sangat menawan hati, Sinenek diam2 menaruh simpatik terhadapnya.

Tiba2 angin gunung bertiup keras. Dalam sekelebatan, mata Tiat Kuy Lolo yang sangat tajam sekilas melihat warna merah pada balik baju sipemuda Sinenek tersirap darahnya! Dalam waktu sekejapan ini insyaflah ia bahwa pemuda yang berada dihadapannya bukan lain adalah Kie Thian Tai Seng! Cepat ia berlari mengejar dan berteriak:

"Saudara muda, tunggu sebentar. Aku hendak mengatakan sesuatu kepadamu!"

Pemuda itu berpaling.

"Popo hendak mengatakan apa?" ia bertanya. Sinenek tersenyum:

"Kau seorang diri pergi, tentu akan banyak mendapat rintangan2, maka lebih baik aku menemani kau."

Sinenek sangat cerdik begitu, melihat warna merah dibalik baju sipemuuda, maka lantas ia teringat akan bayangan merah yang pernah ia jumpai itu. Walaupun tahu, bahwa ia bukan tanding orang. tapi ia tidak mau melepaskan kesempatan ini. Ia tahu bahwa Lie Thian Tai Seng tidak akan mencelakai kaum wanita, maka tentunya tidak pula menurunkan tangan jahat terhadap dirinya. oleh sebab itu ia ingin mengikuti untuk mengadukan penyelidikan lebih lanjut.

Ia menduga tentu tawarannya itu akan ditampik namun sungguh diluar dugaannya, ternyata sipemuda itu berkata dengan tertawa: "Popo suka turut serta padaku? Benar2 Boanpwee sangat beruntung sekali, jika Kie Thian Tai Seng menyerang, kau orang tua tentu tidak akan berpeluk tangan saja, bukan?

Pemuda itu bicara dengan wajar dan bukan seperti dibuat2, tapi sinenek sudah timbal rasa kecurigaan pula ;

"Aku sinenek yang sudah tua jangan2 sudah tiada gunanya lagi, tapi pada saatnya bisa juga berteriak2 meminta tolong!"

Pemuda itu tertawa.

"Popo berhati sangat mulia sekali, Boanpwee lebih dulu menghaturkan terima kasih!"

Habis berkata iapun menghaturkan hormatnya.

Sinenek menjadi bengong. Pikirannya jika ditinjau dari sifat lakunya itu, apakah ia telah salah lihat ? Maka ia membalas hormatnya, dan kemudian mereka berlalu bersama.

Hari sudah lohor, seturunnya dari gunung, tibalah mereka pada sebuah jalan umum yang ramai. Orang banyak hilir-mudik dengan musuhnya. Setelah Tiat Kuy Lolo bertanya kepada orang, barulah tahu bahwa tidak jauh ialah dusun Ceng-hoatcun.

Karena perut sudah terasa lapar, maka mereka mempercepat tindakkannya. Berselang tidak lama, mereka melihat pohon2 tidak jauh didepan.

Kita sudah sampai di Tiong-hoat Cun !" berseru si-pemuda baju kuning.

Sinenek menganggukkan kepalanya.

Setibanya dalam dusun itu, sinenek menunjuk sebuah rumah makan yang papan merek "Lo Kong Seng!"

Mari kita bersantap dirumah makan ini !"

Pemuda baju kuning tidak membantah, mereka menghampiri rumah makan itu. Didalam penuh sesak, tiada tempat kosong pula. Sedang pelayan2 sibuk melayani tetamunya.

Pemuda baju kuning bermata tajam, dalam keramaian itu, ia dapat melihat dua tempat kosong yang baru ditinggalkan orang. Tergesa-gesa ia mengajak sinenek:

"Popo, disana ada kosong!"

Badannya menyelinap untuk mengisi tempat kosong itu supaya jangan diserobot orang lain, kemudian ia me-lambai2 memanggil smenek

: "Popo, lekas kemari!"

Tingkah laku pemuda itu benar2 seperti seorang anak kecil yang sangat manya. Jikalau sinenek, tidak pernah bertempur lebih dahulu, maka ia pasti tidak akan mempercayai bahwa sipemuda memiliki kapandaian tinggi.

"Popo, kau ingin pesan sayur apa?"

Bukan saja kelakuannya sangat lincah dan ramah-tamah, lagipula sikapnya sangat hormat sekali, dengan memanggil Popo pada sinenek yang sangat sedap kedengerannya, membuat hati sinenek mulai goyah, hingga kecurigaannya agak luntur.

Selagi Tiat Kuy Lolo hendak menyahuti, tiba2 terdengar suara orang menyapa:

„Nenek, kau datang juga ?"

Tiat Kuy Lolo terkejut. Ia heran bahwa ditempat asing ini ternyata ada orang yang mengenali dirinya ! Ia menoleh. Tampak pada meja diruang tengah, duduk duduk beberapa orang, dan diantaranya ada yang ia kenal, ada pula yang tidak, sedang orang yang menyapa dia ternyata adalah tokoh silat dari See-cong-pay. Sitelapak besi Tio It Jin!

Tiat Kuy Lolo menjadi girang.

Tio It Jien pun berada disini, dia adalah sahabat karibnya Cui Hong Kiam Kek Yap Siong Lan, tapi apakah Yap Po-cu juga turut serta? Bila demikian, maka ini sungguh kebetulan sekali!" pikirnya.

Semangat menjadi berkobar2, hingga hampir2 ia melupakan sipemuda baju kuning ! Ketika ia teringat pula, ia menarik pemuda itu :

Mari kau turut aku!"

Pemuda baju kuning tersenyum.

Sesampainya ditengah ruang, orang2 yang sedang ber-duduk itu serentak bangun. Sinenek menyapu dengan pandanganya. Kecuali Tiat- Ciang Tio It Jin, tampak dua orang lain, diantaranya si Bintang-pelintas langit Ong Cin Peng dan Pan ln Liong si Naga-pengaduk-awan Thio Bun Kang, dan yang lainnya ia tidak kenal.

Tio It Jin buru2 memperkenalkan kawan2nya kepada Tiat Kuy Lolo.

Ternyata mereka itupun orang2 yang telah mempunyai nama atau kedudukan besar dalam dunia Kangouw.

Mereka itu adalah Seng Ciu Pek Wan Ciu Pit Si Kera Putih Tangan sakti dari Tiang-Pek Pay, Cu Bu Cui Tang Wang dari Sucuan, sedang dua orang lainnya yang masih muda adalah Lun Jauw Po dan Lim Yauw Goan dari Go-Ble Pay.

Setelah selesai memperkenalkan orang2 Tio lt Jin berpaling pada pemuda baju kuning.:

Siapa saudara muda ini ?"

Si pemuda tidak menanti Tiat Kuy Lolo menyahuti pertanyaan orang, ia sudah mendahului.

"Boanpwee bernama Kok Piauw, anak murid Kiu Hwa Sie." "Haaah!" berseru Tio lt Jin dengan gembira.

Ternyta kita bukan orang luar. kami menjenguk Kiu Hwa Sam Cu !"

Tiat Kuy Lolo terperanjat. Selagi ia hendak menceritakan segala apa yang ia alami, Tio lt jin sudah menyuguhkan arak dan tidak memberikan kesempatan.

Sinenek dapat bersabar, ia meneguk araknya. Kembali Tio It Jin bertanya.

Nenek, apa kau pun datang untuk menengok Kiu Hwa Sam Cu ?"

Sinenek mengetahui maksud kedatangan orang ketempat ini, maka ia menggelengkan kepalanya, mengelah napas!

Pada hadirin yang menyaksikan menjadi heran, mereka insyaf tentu telah terjadi sesuatu yang kurang beres. Wajah mereka berubah tegang !

Thio Bun Kang yang merasa berhutang budi kepada Kiu Hwa Sam Cu, tak tahan lagi sudah bertanya :

"Apa yang telah terjadi pada diri mereka?" Pertanyaan ini tiba2 mendapat jawaban:

Mereka telah mati dibunuh oleh Kie Thian Seng!"

Kata2 ini seperti keluar dari mulut Tiat Kuy Lolo. tapi kedengaran seperti juga bukan, dengan kata lain, orang yang berbicara itu seperti berada diantara mereka, tapi setelah diteliti, seperti juga buhan. Hal ini benar2 bagaikan guntur disiang hari bolong membuat semua orang terkejut bukan kepalang!

Tio It Jin menengok ke kiri dan kanan, tapi tak tahu dimana orang yang berbicara tadi itu? Sedang Tiat Kuy Lolo demi melihat perubahan air muka semua orang, menyangka bahwa mereka terkejut karena mendengar berita kematian Kiu Hwa Sam Cu yang sangat tiba2 itu.

Sedikitpun ia tidak mencurigai peristiwa lain yang telah terjadi, maka iapun menarik napas:

"Bukan saja Kiu Hwa Sam Cu tapi seluruh Kiu Hwa Sie telah tertimpah malapetaka!”

Rasa terkejut mereka masih belum hilang, dan kini setelah mendengar berita ini, mereka terpaku bagaikan patung.

Semua hadirin ber-debar2 hatinya, tapi tiada seorang pun membuka mulut akan berbicara. Mereka bungkam seribu bahasa.

Lewat babarapa lamanya, sinenek dengan pandangan matanya menyapu setiap orang.

"Kalian mendengar berita kematian Kiu Hwa Sam Cu sudah begitu terkejutnya. Bagaimana mendengar pula berita kematiannya Siau-Lim Beng Ceng Taisu, Kun-Lun Pek Beng Yam Taihiap, . . . .Lu Cie Beng?"

Semua orang menggigil bagaikan tersiram air es. Sinenek kembali berkata pula dengan nada parau:

"Aaah ! Kecuali Cie Yang Totiang yang kehilangan sebuah lengannya, maka hanya aku sinenek seorang saja yang hidup selamat.

Hal ini disebabkan karena Kie Thian Tai Seng itu bersemboyan tidak membunuh kaum wanita. dengan alasan ini maka tertolong juga jiwa Cie le Sian-kauw bersama putrinya."

Kembali setiap orang menjadi gelisah. Mereka tahu bahwa orang2 yang disebutkan sinenek itu kesemuanya berkepandaian tinggi. Lebih2 pula, Cie le Sian-kauw yang kepandaiannya sangat lihay. Bila ceritera ini bukannya dituturkan sinenek yang telah menyaksikan sendiri, tentu tiada orang yang dapat percaya omongan itu.

Setiap orang berdebar-debar hatinya seolah2 pemandangan yang dialami sineek, kini disampaikan kepada mereka, hingga masing2 merasa seperti telah menyaksikannya dengan mata kepala sendiri.

Sementara itu Tio It Jin si Telapak Besi berkata dengan penuh perasaan:

Aaah ! Sayang Yap Twako telah menutup pintu mengasingkan diri, bila tidak, momok ini tidak berani berkeliaran berbuat se-wenang2."

Pada ketika itu tiba2 terdengar suara tertawa dingin. Hmmmm !"

Suaranya begitu dingin laksana salju meleleh, dan tak asing lagi kedengarannya bagai Tiat Kuy Lolo, maka melirik kepada Kok Piauw si pemuda berbaju kuning itu. Tampak wajah pemuda itu mencerminkan rasa kaget, hingga sinenek menjadi heran.

Suara tertawa itu terdengar dengan tiba2 dan menyeramkan sekali, maka semua orang segera mengalihkan pandangannya kearah suara itu.

Sinenek mula2 mencurigai Kok Piauw tapi semua orang melihat kebelakang pemuda itu! Tampak dibelakang Kok Piauw berduduk seorang dara muda berpakaian serba putih sedang asyiknya makan hidangannya, terhadap pandangan semua orang dicurahkan terhadap diri sigadis.

Semua orang kembali menjadi heran.

Tapi sinenek tetap pada pendiriannya bahwa suara tertawa itu tentu bukannya perbuatan sidara muda baju putih itu, walaupun arahnya itu sama. Itulah perbuatan Kok Piauw !

Karena suara tertawa ini hanya terdengar sepintas lalu maka mereka tidak dapat mendengar dengan jelas. Jika kecurigaan ini ditumpahkan kegadis itu, mereka agak bimbang. Alasannya karena wajah gadis begitu cantik lemah gemulai, seperti orang yang tidak berkepandaian sedikit pun, malah asal saja salah seorang diantara mereka mendorongnya dengan sebuah telunjuk, dapat sigadis akan roboh seketika itu juga!

Tiat Kuy Lolo yang kemudian bertanya: "Bilakah Yap Po cu menutup dirinya? Mengapa aku tidak pernah dengar dari kawan2 mengenai dirinya itu ?

Hal ini tentu Lolo tidak mengetahuinya !" sahut Tiat Ciang Tio lt Jin sambil menggeleng2kan kepalanya "Bulan yang lalu, waktu aku pergi ke Tap-Ke Po untuk menengokinya, dia tiba2 berkata kepadaku, bahwa setengah bulan kemudian akan terjadi sesuatu. Betul saja, baru saja aku berlalu, maka segera tersiar berita bahwa Yup Twako telah menutup pintu mengasingkan diri.

Mendengar keterangan Tio It Jin, Senum orang semakin heran, ternyata pengasingan diri Tiui Hong Kiam Kek itu. tidak lebih tidak kurang tepat pada saat munculnya kembali Kie Thian Tai Seng ! Ong Cin Peng si Bintang pelintas langit yang terkenal akan kecerdikannya. sejak tadi diamsaja. pada setelah membahas seluruh kejadian, maka iapun berkata :

"Aku yang rendah masih kurang jelas, aku mohon penjelasan !" Semua orang tidak tahu ia sedang minta penjelasan kepada siapa?

Maka serentak mereka menyahuti "Penjelasan apa itu?"

Ong Cin Peng tiba2 mengalihkan pandangannya kepada Tiat Kuy

Lolo

"Seperti tadi telah Lolo katakan bahwa tokoh2 dari semua golongan

telah dibunuh oleh Kie Thian Tai Seng,entah apa kejadian itu Lolo menyaksikannya dengan mata kepala sendiri?"

"Betul, kecuali tentang kematian Lu Cie Beng, yang lain2nya aku melihatnya setelah terjadinya peristiwa itu!"

Tiat Kuy Lolo berdiam sebentar, lalu iapun menceriterakan dengan jelas apa yang ia alami dua hari berturut2, hanya mengenai pertemuannya dengan Kok Piauw, ia hanya mengatakan secara sepintas lalu saja. Dia berbuat demikian ialah mengandung maksud supaya mereka itu bersikap waspada terhadap pemuda itu dikemudian hari !

Ong Cin Peng yang mendengar dengan tekun. setelah menanti orang selesai berkata, lalu tertawa kecil.

VII. BAYANGAN MERAH

"Mengapa?" tanya sinenek.

“Itu gampang saja," jawab Ong Cin Peng tersenyum, "Orang yang pernah bertempur dengan Kie Thian Tai Seng, kecuali yang sudah pada mati, kini yang hidup hanya 3 orang. Lolo sendiri tidak melihat wajah orang maka hanyalah Cie Yang Totiang bersama Cie le Sian-kauw berdua sajalah yang pernah melihatnya. Menurut pendapatku yang tolol, maka bila hendak mangetahui peristiwa ini dengan jelas, kecuali Cie le Sian- kauw, maka terpaksa kita harus kegunung Bu Tong San guna menanyakan sendiri kepada Cie Yang Totiang !" 

Kata2 Ong Cin Peng itu betul juga. Sementara itu, suasana kembali tenang pula. mereka saling ber- pandang2an, tapi tiada seorang yang membuka mulutnya.

Hari sudah lewat lohor, tamu2 lainnya sudah pada pergi. Kini hanya tinggal si gadis baju putih yang masih duduk menikmati hidangannya. mungkin karena mereka terlalu lama saling berpandang2an, maka tak terasa lambat-laun mereka alihkan mata kepada sigadis. 

Gadis baju putih itu cantik elok. Setiap orang diliputi perasaan heran. Mengapa gadis selemah dia ini pergi seorang diri !

Sinona yang nampaknya sudah cukup bersantap, dengan tangan kiri merapi2kan rambutnya yang halus.

"hay, pelayan, hitunglah !" ia berseru.

Suaranya merdu laksana mutiara yang jatuh dinenampan.

Setelah membayar rekeningnya, gadis itu menolehkan kepalanya dan dengan sikap dingin menegur.

"Apa yang kamu lihat? Apakah mukaku tumbuh kembang?"

Muka semua orang terasa sangat panas, ternyata diantara mereka kecuali Kok Piauw si pemuda baju kuning serta saudara dari keluarga Lim dari Go Bie itu, semua sudah setengah abad lebih. Dilihat dari kedudukannya, maka jika bukannya tetua salah satu partai tentu tokoh yang mempunyai nama dikalangan Kangouw. Kini mereka disemprot oleh seorang dara yang baru berusia 18 tahunan, bagaimana tidak membuat air muka mereka menjadi merah padam.

Sinona tidak menghiraukan perubahan air muka orang. ia lantas bangun dan berjalan keluar dengan gaya yang lemah gemulai!

Tapi keadaan ini hanya berlangsung sekejap saja setelah gadis itu keluar pintu, Cu-Bu-Cui Hun Tang Wang tiba2 berseru:

"Mari kita ikuti dia !"

Tapi, gadis baju putih itu kini telah berlalu, walaupun ingin di kuntit, siapa yang akan ditugaskan pekerjaan ini?

Kok Piauw yang mengetahui maksud orang, segera menawarkan dirinya :

“Biar Boanpwee yang menjalankan tugas ini!"

Sinenek yang mendengarkannya, merasa syukur dan buru2 berkata

: "Baiklah. tapi kau harus ber-hati2!"

Popo jangan khawatir, hal ini Boanpwee sudah tahu!"

Sehabis berkata ia bangun merapihkan pakaiannya, kemudian setelah memberi hormat, iapun berlalu.

Begitu ia berlalu, Ong Cin Peng tiba2 timbul rasa kecurigaannya. Lolo, dari mana gerangan asal-usul pemuda itu!"

Tiat Kuy Lolo melihat Kok Piauw sudah berlalu jauh, barulah berkata:

"Tak perlu kusembunyikan, tapi akupun tidak kenal dia!" Itupun benar2 mengejutkan hadirin? "Bukankah ia datang bersama kau ?" Tiat Ciang Tio It Jin mendesak

.

Tiat Kuy Lolo dengan penuh kemenyesalan menyahut: “Kami hanya bertemu ditengah jalan, tapi masing2 bersikap

waspada terhadap yang lain Baiklah kuterangkan kepada kalian, karena tadi iapun berada disini, maka akupun tidak leluasa untuk bicara.

Dengan pengalaman selama dua hari ini, maka aku smenek yakin bila benar2 Kie Thian Tai Seng muncul pula dikalangan Kangouw ini, maka besar kemungkinannya bahwa pemuda itu adalah Kie Thian Tai Seng!"

Maka iapun segera menuturkan cara bagaimana dia bertemu dengan Kak Piauw dengan seterang2nya, kemudian ketika ia menceriterakan bahwa Kok Piauw memainkan lagunya dengan nada sedih serta bagaimana dirinya telah dapat melihat balik bajunya yang berwarna merah.

Ong Cin Peng tak henti2nya mengangguk2kan kepalanya.

Seng Ciu Pek Wan Citt Pit menarik ujung baju Cu Bu Ctu Hun Tang Wang "Tadi Tang-heng mengatakan supaya kita menguntit gadis baju putih itu, tentunya Tang-heng mempunyai penglihatan lain?"

Tadi tatkala kalian bercakap2, aku selamanya tidak membuka mulut

!" sahut Tang Wang "Maka ketika terdengar suara tertawa itu, aku seolah2 melihat bibir gadis itu bergerak2, maka aku jadi merasa curiga."

Ciu Pit mengeleng2kan kepalanya.

Semula aku mengira itu adalah perbuatan Kok Piauw, tapi kemudian aku berpikir bahwa dia datang bersama dengan Tiat Kuy Lolo, maka akupun tidak menaruh curiga apa2 terhadap dirinya, tapi sekarang kelihatannya memang pemuda baju kuning ini sangat mencurigakan sekali !"

Ong Cin Peng ikut pula mengutarakan pendapatnya. "Apa yang diduga Ciu-heng memang benar, pemuda itu

kemungkinan besar memang Kie Thian Tai Seng, dan sekarang ia sedang mengikuti gadis itu. Menurut pendapatku, malam ini agaknya akan terjadi sesuatu peristiwa hebat. Sebaiknya kita meginap pula semalam, dan pada saatnya mungkin kita dapat menyingkap tabir rahasia itu!"

Semua orang menyatakan setuju, setelah membayar harga makanannya, mereka pun berlalu!

Dusun Cong Hoat Cun terletak dikaki gunung Thian Bok San, yang merupakan tempat yang ramai.

*

* *

Kok Piauw sekeluarnya dari rumah makan, terus berjalan menyusuri jalan raya. Setelah melalui beberapa tikungan sampailah ia didepan sebuah rumah penginapan "Cong Liong kek Tiam" yang sangat besar. Si pelayan hotel ini demi melihat dandanannya yang sangat perlente, buru2 menyongsongnya.

Baru saja ia masuk kedalam kamarnya segera terdengar suara gaduh diluar, Ternyata yang lain2 telah menumpang bermalam dirumah penginapan itu juga. Terdengar mereka membagi2kan kelompok, yang terdiri dari Tang Wang dan Kakak beradik saudara Lim menjadi sekelompok. Thio Bun Kang, Ciu Pit dan Tio It Jin bertiga menjadi sekelompok pula, sedang Ong Cun Peng dan Tiat Kuy Lolo kelompok ke- tiga.

Kok Piauw yang diam2 mendengarnya, hatinya menjadi geli. Akhirnya ia mengerutkan keningnya. Yap Siong Lan tidak datang,

tapi putrinya sigadis baju putih sebaliknya sudah datang.

Sementara itu, hari sudah menjelang magrib. Kembali terdengar Ong Cin Peng menyuruh pelayan untuk mempersiapkan hidangan malam. Maka Kok Piauw menunggu mereka pergi.

Betul saja setelah selesai bersantap, mereka berjalan keluar satu persatu, untuk melakukan tugasnya. Cong Hoat Cun merupakan kota pegunungan, maka setelah keluar dusun itu, tampak suasananya sangat sepi dan jarang sekali berjumpa orang jalan!

Begitu orang2 sudah pergi, Kok Piauw pun diam2 mengikutinya dari belakang. Disuatu tempat diluar dusun ia . . . pakai pakaian merahnya dan mengenakan kedok mukanya!

Dan selang sesaat terdengar Ong Cin Peng sayup2 berkata ditempat jauh :

"Tidak perduli bagaimana jadinya, menjelang subuh kita sudah harus kumpul semuanya ditemput ini !"

Kok Piauw tersenyum dan bagaikan kilat ia ber-lari2 kepuncak gunung !

Kembali kepada Ong Cin Peng setelah memberikan tugas kepada tamu2nya, kemudian berkata kepada Tiat Kuy Lolo :

"Malam ini kita mengadakan pengawasan, bila keadaannya tidak terlalu mendesak, maka sebaiknya kita jangan turun tangan !"

Kuy Lolo mengangguk2an kepalanya.

"Ong Tay-hiap, bagaimana kau bisa memastikan bahwa malam ini akan terjadi sesuatu?"

Pasti sih belum," sahut Ong Cin Peng tertawa.

Tiat Kuy Lolo agak kurang percaya, tapi iapun tidak leluasa untuk mengutarakan isi hatinya itu. maka ia hanya mengarshkan pandangannya kepada Thio Bun Kang dan kawan2 yang sudah berlalu.

Malam perlahan2 datang menutupi permukaan bumi, seluruh jagat gelap gelita. Angin bertiupan sepoi2, suasana menjadi sunyi sepi.

Ong Cin Peng mengawasi keadaan sekehling, dan berbisik. "Bagaimana kalau kita pergi lihat2 dulu ke atas ?" "Ong Taihiap, aku harap kau berlaku hati2. Musuh sangat kejam tak kenal ampun, dia kata tidak akan mengganggu kaum wanita, tapi terhadap kaum pria sebaliknya berlaku tidak sungkan2!"

Ong Cin Peng merasakan hatinya dingin, syukur saat itu sudah gelap, bila tidak niscaya sinenek dapat melihat perubahan air mukanya yang pucat pias. Seperti diketahui, bahwa Ong Cin Peng yang bergelar si Bintang-pelitas-langit itu terkenal akan kecerdikannya, tapi mengenai ilmu kepandainnya ternyata tidak seberapa. Itulah sebabnya mengapa ia melihat sinenek sebagai teman se-kolompoknya, karena mengingat kepandaian sinenek boleh di katakan adalah yang paling tinggi diantara mereka semua. Kini demi mendengar peringatan itu, bagaimana hatinya tidak menjadi ciut ?

Mereka berlaku sangat hati2, berjalan 5-6 lie, tiba2 Ong Ciu Peng menjadi terkejut. Sinenek menghentikan langkahnya :

"He, darah !"

Dalam suasana yang sangat sepi ini, dengan tiba2 diketemukannya darah, maka hal ini benar menakutkan sekali.

Ong Cin Peng dengan perasaan tegang mengadakan penyelidikan darah itu masih belum membeku. Teranglah peristiwa itu belum lama terjadi.

Tetesan2 darah itu menuju kearah puncak gunung!

Orang yang terluka itu masih bisa berlari keatas gunung, tampak kepandaiannya tentu tidak lemah. Jikalau darah ini adalah keluar dari tubuh diantara Thio Bun Kang bertiga, maka mengapa ia tidak kembali turun ?”

Tiat Kuy Lolo tidak berkata apa2, sebaliknya ia berjalan mengikuti tetesan darah itu!

Berjaan tidak jauh, tiba2 ia berhenti.

"Ong taihiap, orang ini berbelok menuju kehutan dikanan itu!"

Ong Cin Peng buru2 menyusul. Betul saja tampak tetesan darah itu membelok kekanan kesebuah jalan kecil.

Ia mendongak mengawasi. Jalan kecil itu menuju kesebuah hutan yang lebat.

Angin malam menghembus berdesiran menimbulkan suara yang menyeramkan. Diam2 hati Bintang selintas langit menggigil.

"Orang ini mengapa berlari kedalam hutan?" Mereka melanjutkan, pula perjalanannya.

Mendadak mereka merandek ! Ditengah jalan menggeletak sesosok tubuh manusia

"Eeh, bukankah itu Ciu Pit?"

Ong Trin Peng beriari memburu, dan benar saja orang yang menggeletak itu bukan lain adalah Ciu pit !

Oang Cin Peng dengan tangan gemetaran meraba dada orang.

Badan Ciu Pit sudah kaku dingin! "Sudah mati!" ia berteriak suara parau.

Tiat Kuy Lolo menyobek baju Seng Ciu Pek Wan dan tampaklah dua jalan darah didadanya telah merah membengkak.

"Luka semacam ini sudah pernah kulihat! Kiu Hasan Sam Cu dan yang lain2nya mati terluka semacam ini !"

Ong Cin Peng menarik napas dalam2:

"Apakah ini perbuatan Kie Thian Tai Seng ?"

Sinenek mengangukkan kepalanya. Kini telah mati satu orang, dan masih ada pula yang lain.

Ong Cin Peng mengangkat mayat Ciu Pit, tapi selagi ia hendak melangkahkan kakinya, tiba2 terdengar suara bentakan orang ditelinganya "Jangan angkat dia!"

Ong Cin Peng menjadi terkejut, baru saja ia hendak berpaling, atau tiba2 pinggangnya kesemutan. Ia roboh tanpa dapat melihat siapa yang telah menyerangnya!

Orang yang menyerang itu adalah Kok Piauw! Kini ia telah bersalin baju merahnya, dan mukanya tertutup olek kedok. Suaranya telah berubah, maka kecuali potongan badannya yang tetap tiada berubah itu, rasanya tiada seorang pun yang bisa mengenalinya lagi ! Dia mengawasi sinenek yang sudah berjalan jauh, lalu berkelebat pula ketempat gelap.

Tiat Kuy Lolo dengan kaget menghampiri Ong Cin Peng, yang sudah menggeletak ditanah tanpa berkutik lagi !

Tiat Kuy Lolo mengira bahwa temannya itu telah menemui ajalnya, tapi ketika ia periksa, ternyata dada orang masih kempas-kempis bernapas. Diam2 ia menjadi heran.

"Mungkinkah Kie Thian Tai Seng telah mengubah rencananya?

Mengapa ia mamberi pengecualian terhadap Ong Cin Peng ?"

Tak lama kemudian Ong Cin Peng perlahan2 sadar pula, dan begitu melihat sinenek berdiri dthadapannya, maka iapun mengelah napas.

Aaah ! Kini aku menjadi manusia untuk keduakalinya!" Tiat Kuy Lolo buru2 menanyakan apa yang telah terjadi?

"Aaah !" mengeluh pula Ong Cin Peng. Seumur hidup belum pernah aku bertemu dengan orang berkepandaian setinggi itu! Walaupun aku tertotok, tapi bagaimana tampang sipenyerang itu sedikitpun tampak jelas. Lolo, sejak hari ini aku Ong Cin Peng akan mengasingkan diri dari dunia Kangouw!

Mereka saling berpandang2an tanpa berkata apa2 dan diluar kesadarannya pandangan matanya diarahkan kebawah gunung, dan tiba2 kelihatan bayangan putih ber-goyak2. Meski nampaknya sangat pelahan. tapi dalam sekejapan saja, bayangan itu sudah berada dilereng gunung.

Gerakannya yang sangat cepat ini, benar2 membuat mereka terkejut !

Ternyata bayangan ini bukan lain adalah sigadis baju putih, mereka jumpai siang tadi dirumah makan. kini rambut si nona yang panjang teruntai dan diikat model ekor kuda, sedang ditangannya terhunus sebilah pedang. Setibanya didepan mereka, dengan mata yang lebar ia berseru:

"Mana Kie Thian Tai Seng?"

Mereka tidak tahu apa yang harus dijawab.

"Hm. tak malu kalian menganggap sebagai seorang Ciang Bun Jin atau seorang tokoh Tangouw? Sudah setengah harian, tapi dimana Cie Thian Tai Seng tidak mengetahuinya!

Muka mereka jadi merah padam karna malunya.

Sinona mendadak memperdengarkan siulan, suaranya sangat nyaring, hingga Tiat Kuy Lolo dan Ong Cin Peng merasa telinga pekak. Mareka berdua kagum sekali.

Sinona setelah mamperdengarkan siulannya ternyata masih tidak mendapat reaksi apa2 segera ia berkata seorang diri :

"Kau masih belum mau keluar, apa kau ingin aku menginjak2 rata gunung ini?"

Bulan yang berbentuk sabit memancarkan cahayanya kewajah, ketubuh sinona baju putih. Sungguh tidak dapat dibedakan apa sang bulan yang permai ataukah sigadis yang cantik ? Tiat Kuy Lolo bersama Ong Cin Peng diam2 kagum atas kecantikannya. Benar2 laksana dewi yang baru turun dari kayangan.

Suasana tenang kembali, kemudian terdengar pula sinona dengan air muka kemerah2an karna gusar:

"Hm, kau benar2 tidak tahu diri !"

Ucapannya ini benar2 sangat aneh kedengarannya, tak tahu sedang ditujukan kepada siapa ? Tapi sehabis berkata, tanpa memperlihatkan gerakan apa2. badannya yang langsing ramping itu mencelat belasan tombak jauhnya !

Gadis baju putih itu telah berlalu. Mereka berdua seperti orang yang baru bangun dari mimpinya.

Mereka tak bernyali lagi untuk dapat masuk kedalam hutan. Dalam hati kecil sinenek diliputi rasa malu dan penyesalan, ternyata dirinya yang berkedudukan sebagai Ciang Bun Jin Hwa San Pay, tiada berharga lagi seujung kuku !

Kembali sinenek mengelah napas, lalu berjalan pelahan2 turun gunung.

Sekonyong2 matanya melihat sesosok bayangan merah berkelebat dihadapannya !

Dan yang lebih mengherankan pula, bahwa saat itu tangan kanan Bayangan merah menotok jalan-darah Beng Bun Hiat dibatok kepala Ong Cin Peng! Namun mangsanya itu bagaikan tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diancam maut !

Sinenek terkejut, ia hendak berteriak, tapi ia khawatir bila ia berbuat demikian, maka jiwa Ong Cin Peng akan segera melayang. Tapi sungguh aneh, Ong Cin Peng seperti sedang berpikir sesuatu, terhadap perubahan muka sinenek yang begitu hebat, ternyata sedikit pun ia tidak mengetahuinya!

Sekilas, sinenek dapat melihat bayangan merah yang berada didepan matanya. Mukanya bertutupkan kedok, kecuali sepasang matanya yang bersinar2, tiada dapat orang melihat tampangnya yang asli. Tapi bila ditttik dari perawakan badannya, ia mirip betul dengan Kok Piauw !

Tiat Kuy Lolo tak tahu lagi .

"Apa yang kau kehendaki?" ia berteriak.

Belum juga Bayangan merah itu menjawab sesuatu Ong Cin Peng seperti sudah tahu gelagat, tapi baru saja ia hendak memutarkan tubuhnya, jalan darah "Beng Bun Hiat" terasa ditekan ! Terdengar orang yang berada dibelakang itu berseru:

"Sudah kukatakan tidak membunuh kaum wanita, apa kau tidak tahu?"

Ong Cin Peng tak berani membantah, dengan suara bergemetaran ia menyahut : "Aku tahu!"

"Hm," berkata pula orang itu dengan dingin, tapi ia tidak tahu apa sebabnya Kie Thian Tai Seng tidak mencelakai dirinya itu, maka iapun meng-geleng2kan kepalanya :

"Tentang ini aku benar2 tidak tahu !"

Si bayangan merah tertawa dingin, tertawanya ini mirip sekali dengan yang pernah didengarnya dalam rumah siang tadi. Kedua orang itu terpaku diam.

Bayangan merah kembali berkata pula :

"Hm! Tak dinyana kau Kwo Thian Seng Ong Cin Peng tidak bedanya seperti anak kecil yang tidak tahu apa2?"

"Bayangan merah menekankan tangannya, Ong Cin Peng menjerit.

Tiat Kuy Lolo terperanjat, sesaat itu ia rasakan tangannya kaku tiada bertenaga sedikitpun.

Bayangan merah melirik kepada smenek, dan tegurnya dengan ramah tamah:

Penolong budiman mengapa kau masih belum mau pergi juga?"

Tiat Kuy Lolo melongo keheranan. Kapan aku telah melepas budi terhadapmu? Tapi mendengar suara itu diucapkan dengan sungguh2, maka ia berpikir:

"Mungkin ia tadak mau membunuh kaum, wanita, karena ia mempunyai "Penolong" dari kaum wanita?

—VIII — GADIS BAJU PUTIH

Hati Tiat Kuy Lolo terasa sangat kusut, tatkala ia mengingat kejadian2 diatas gunung Thian Bok San. Timbullah rasa bencinya terhadap pemuda baju merah itu. Ia hendak menyerang dan bertempur mati2an ! Tapi ia mengharapkan keselamatan Ong Cin Peng.

Dengan erat2 ia menyekal tongkatnya bersikap siap sedia.

"Apa yang kau kehendaki? Sebaiknya katakan terus terang saja!" Ong Cin Peng bertanya memberanikan diri.

Siapa pun akan merasa takut tatkala menghadapi kematian, tapi ketika ia mengetahui bahwa kematiannya itu tidak mungkin dapat dihindarkan pula, maka hatinya menjadi tabah.

"Bila ku tak tahu, baiklah kuterangkan kepadarau!" berkata Kie Thian Tai Seng dengan dingin, tapi tangannya tidak terlepas dari batok kepala orang.

Setelah berhenti sebentar, dangan mata berapi-api ia mengawasi kearah dimana gadis baju putih itu lenyap.

"Aku mengetahui bahwa kau bukan saja sangat cerdik. lagi pula sangat rajin sekali. Walaupun aku telah mengeluarkan tantangan terhadap semua jago2 Kangouw, tapi hanya melalui beberapa gelintir mulut orang saja. Aku ragu2 kalau berita ini tidak cepat tersiarnya. Maka aku memperpanjang nyawamu untuk bisa hidup setahun lagi, dan soal tantangan kau yang mengurusi !"

"Kau hendak menyuruh aku untuk mengabarkan keinginanmu itu kepada seturuh tokoh persilatan !"

"Hm, sungguh pintar kau!"

"Tugas ini dapat aku siorang she Ong lakukan " berkata pula Ong Ciu Peng mengangguk2kan kepalanya. Tapi aku ingin penjelasan darimu?"

Kie Thian Tai Seng mengendorkan tangannya, tapi ia tidak memberikan orang bisa menoleh kebelakang.

"Apa permintaanmu itu? Aku berjanji tidak akan mempersulitkan dirimu !"

“Soalnya sih bukan apa2 !" berkata Ong Cin Peng ragu2" Aku hanya ingin mengetahui bagaimana nasib kedua temanku yang berada diatas itu?

Apa mereka telah menjadi mangsamu juga?" "Ya!" jawab Kie Thian Tai Seng singkat.

Kembali kedua orang itu terperanjat. Kiranya suaranya itu tidaklah asing lagi bagi mereka, dengan demikian, dugaan mereka bertambah kuat bahwa Kie Thian Tai Seng si momok kejam yang berdiri dihadapannya itu adalah si pemuda baju kuning Kok Piauw!

Ong Cin Peng mengelah napas berat. "Dan bagaimana mereka bertiga yang berada dibawah ?" "Sudah mampus semua!"

Kembali terdengar jawaban orang dari belakang, suaranya dingin membangunkan bulu roma.

Si nenek sudah tidak tahan pula mengekana nafsunya, ia berteriak sambil menyapu dengan tongkatnya:

"Kok Piauw! Bagaimana kau berani mempermainkan aku si nenek ?"

Bayangan merah tertawa, lalu sekali berkelebat lenyap kedalam semak2.

Ong Cin Peng merasa bersyukur, selang berapa lama barulah terdengar ia berkata dengan berat :

"Tiat Kuy Lolo, marilah kita cari kawan2 !"

Habis berkata ia pun berlari mendului kedalam hutan itu!

Dan tidak seberapa jauh tampaklah sesosok mayat menggeletak ditanah.

Itulah Thio Bun Kang si Naga pengaduk-awan ! Dia barsama Thio Bun Kang dan Ciu Pit serta lain2nya adalah teman lama, maka tatkala menyaksikan kedua teman lamanya menggeletak mati ditempat seperti ini, airmatanya bercucuran.

Sinenek berkata dengan lirih:

"Inilah yang kedua !"

Ong Cin Peng menggeleng2kan kepalanya dan kembali berjalan

pula.

Kembali tampak Tio It Jin menggeletak ditanah tiada bernyawa lagi!

Ong Cin Peng berdiri terpaku.

"Ong Taihiap, mari kita turun kebawah. apa yang kau pikirkan lagi?" Sinenek menghibur.

Ong Cin Peng teringat akan cerita si nenek, maka ia berbisik. "20 langkah, ya 20 langkah! Hm, jarak antara mereka masing2

tepat 20 langkah

Kiranya tadi dengan sengaja ia telah menghitung langkahnya yang ternyata jarak antara kedua mayat itu tepat 20 langkah.

"Coba kau periksa dada mereka!" ujar sinenek.

Ong Cin Peng membuka baju Tin It Jin. Betul saja kedua jalan- darahnya membengkak, lukahnya mirip seperti apa yang diderita Ciu Pit.

Tiat Kuy Lo10 bersenyum pahit. Kini kau tentu telah yakin, bukan?

Aaah, untuk apa kita menyia2kan waktu lagi, lekaslah kita kubur mereka!"

Mereka segera menggali sebuah lobang besar, dan selagi hendak mengubur mayat2 tersebut, sinenek tiba2 teringat sesuatu,

"Kita datang berjumlah 8, dan kini yang 6 lainnya telah mati.

Baiktah kita kubur mereka bersama !"

Mengapa Tiat Kuy Lolo berpikir demikian. mungkin ia sendiripun tidak tahu sebabnya ? la berdiri terpaku dengan mata mendelong. Agaknya ia teringat sesuatu?

Tapi peristiwa itu tiada sangkut-pautnya dengan kejadian2 sekarang ini!

Teringat olehnya peristiwa yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu. Tatkala itu ia masih muda-remaja. Pada suatu hari selagi ia berjalan diwilayah barat daya, tiba2 tampak dipinggir jalan yang sepi sunyi menggeletak delapan buah mayat. Sungguh aneh ! Kedelapan mayat kesemuanya adalah kaum wanita ! Laginula masing2 berparas cantik2, hal mana benar2 membuat hatinya terkejut bukan kepalang.

la memeriksa satu persatu, tapi tidak melihat bekas luka atau sesuatu yang mencurigakan,

Selagi ia hendak mengubur mereka, salah satu diantara mayat: bergerak2. Ia segera memberikan pertolongannya, setelah sadar wanita yang tertolong itu menghaturkan terima kasihnya. Kranudian setelah menanyakan nama penolongnya wanita itu berlalu tanpa berkata apa2.

Peristiwa ini tepat terjadi 20 tahun yang lalu, karena ia merasakan aneh, maka selamanya tidak pernah menceritakan kepada orang lain.

Tiat Kuy LoIo tiha2 teringat akan peristiwa yang menimpah diri ke 8 wanita muda itu, 7 diantaranya telah mati, maka sesaat itu jadi sangsi. Ia sedang memikir2 apa mungkin bayangan merah yang manggil dirinya Pe- nolong Budiman itu mempunyai hubungan erat dengan peristiwa yang telah lampau itu?

"Lolo. orang sudah mati, mengapa kau masih memikirkan lagi ?" berkata Ong Cin Peng memecah kesepian, "Aku lihat sebaiknya kita kubur mereka !"

Tiat Kuy Kolo mengelah napas, lalu ia menguruk tanah. Sesaat kemudian dibawah sorotnya cahaya bulan, tampak tanah perkuburan baru yang menonjol tinggi.

Tiat Kuy Lolo berkata kemudian.

„Mari kita turun untuk mengubur mereka yang lain. Ong Taihiap, kitapun harus berpisah pula !

Ong Cin Peng menyelami perasaan si nenek.

"Lolo. soalku Tak usah kau khawatirkan. Cuma aku hanya ingin tahu, setelah kau menutup pintu mengasingkan diri, maka berarti Hwa San Pay sejak ini akan pula lenyap dalam dunia kangauw ?"

"Itulah soal lain yang bisa dibicarakan lagi kelak !" berkata si nenek seraya memandang tongkat besinya yang senantiasa menemani dirirnya malang melintang dikalangan kangauw, yang telah pula membantu mengangkat namanya. Kemudian ia melanjutkan pula :

Saat ini aku tidak bisa berpikir apa2 lagi. marilah kita turun saja ! Setelah melontarkan pandangan terakhir kepada kuburan baru itu,

ia pun lari turun gunung.

Ong Cin Peng tahu bahwa antara sepasang muda-mudi baju merah dan putih itu, akan terjadi perempuran seru malam ini. Tapi dia sekarang sudah tidak mempunyai selera untuk dapat menikmatinya, maka berlari menyusul Tiat Kuy Lolo.

Setibanya dikaki gunung, ternyata tidak nampak mayat Tan Wang dan kedua saudara Lim.

Dihadapan mereka terpapar sebuah daratan yang sangat luas dan sunyi senyap. Mereka berjalan pula sedikit jauh, masih juga belum dapat menemukan mayat2 mereka.

"Kita benar2 terlalu lengah. arah mana yang mereka tuju. mengapa tadi kita tidak perhatikan?" berkata Ong Cin Peng.

Tiat Kuy Lolo berjalan terus kedepan, selang tidak lama, tiba2 ia berhenti dan berseru:

"Ong Taihiap, coba kau lihat telapak2 kaki ini!

Ong Cin Peng dengan penuh semangat memburu kedepan, nampaklah telapak2 kaki yang sangat kacau balau menuju kedepan.

la memeriksa sesaat, dan mendongakkan kepalanya samar2 jauh didepan seperti ada segunduk tanah yang menyembul diatas permukaan dan dibawah cahayanya sinar bulan, samar2 seperti ada batang pohon yang bergerak2.

"Mari kita priksa tempat itu!"

Mereka ber-lari2 kearah yang ditujunya itu.

Tapi diluar tahunya, dibelakang mereka mengikut pula bayangan merah!

Sesampai didekat bukit, hati mereka tiba2 terperanjat.

Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, kira2 sejauh lima tombak, sesosok bayangan putih sedang berlari-lari mengitari beberapa pohon besar.

Orang ini bukan lain adalah gadis baju putih atau Pek Ie Nio ! Mengapa ia datang pula kemari?

Kedua orang itu tidak mengerti, tapi bila melihat wajah orang, ternyata ia tetap cantik seperti semula.

Hanya bila diteliti, pada wajah yang cantik ini samar2 mengandung napsu akan membunuh orang!

Dalam waktu sekejapan, paras si nona itu bagaikan lebih tua 20 tahun.

Mereka yang menyaksikan menjadi terkejut keheran-heranan.

Mereka terpesona akan suasana dihadapan mereka itu, sehingga mereka lupa bahwa mereka sedang mencari mayat Cu Bu Cui Hun Tang Wang dan kedua kawannya.

Sinona dengan wajah gusar sedang ber-putar2an dalam hutan itu, terhadap kedatangan mereka berdua seperti juga tidak mengetahuinya. Gadis itu tiba2 membungkuk dan menyusul sebuah badan meluncur menyambar mereka berdua !

Terkejut, mereka berkelit kesamping. Tangan mereka berbareng menyanggapi. Segera tangan menyentuh sesuatu yang empuk. Mereka berteriak karna kagetnya. Tangan terlepas dan benda itu jatuh diatas tanah.

Ong Cin Peng berteriak.

“Eeh bukankah inilah mayatnya Ciu Bun Cui Hun Tang Wang?"

Tapi begitu ia berteriak, sesosok bayangan putih berkelebat datang. Ong Cin Peng kaget, tapi belum sempat ia membalikkan badannya, atau hidungnya sudah mengendus bau harum. Sebuah tangan yang berbentuk putih ramping menyengkeram lengannya! Ong Cin Peng hanya merasakan tempat yang dicengkeram itu kesemutan dan ia lemah tak berdaya.

Kiranya sipenyerang itu bukan lain ialah Pek le Nio Nio.

"Apa maksudmu gembar-gembor mengganggu nyonya-besarmu yang sedang berpikir ?" sigadis berseru.

Walaupun ia masih sangat muda, tapi omongannya berlogat seperti orang tua saja!

Ong Cin Peng yang sudah kawakan hidup malang melontang di Telaga, tapi hari ini ia ditundukkan oleh sepasang muda mudi, dengan tidak dapat balas menyerang. Seumur hidupnya baru ia alami sekali ini !

Badannya sedikitpun tidak bergerak, asal saja sinona sedikit menggunakan tenaganya, maka mungkin ia akan menangis karna kesakitan. Tiat Kuy Lolo tidak sampai hati untuk menyaksikan lebih lanjut, sekali ia membentak, dengan tongkat besi ia menyerang.

Sinona sedikitpun tiada bergerak, ia hanya memperdengarkan suara dari hidungnya. Kemudian dengan tangan kiri ia menyambut. Tipu yang digunakan ini sangat sederhana sekali, tapi sungguh hebat ! Ia berhasil mencengkeram tongkat sinenek !

Tiat Kuy Lolo terperanjat !

Gerakan ini persis seperti yang digunakan Huy jie kemarin dengan pecutnya, hanya gerakan gadis baju putih ini lebih cepat.

Tiat Kuy Lolo membetot, tapi sia2 belaka. Sedikitpun tiada bergeming !

Pek Ie Nio dengan kedua tangan masing2 menghadapi satu lawan, tapi sikapnya masih tetap wajar. Hal ini benar2 membuat sinenek dan Ong Cin Peng kehilangan pamornya.

Sinona melirik menghina kepada mereka berdua. kemudian ia melepaskan tangannya. Dengan matanya yang bersorot tajam ia menatap muka mereka dan mendesis :

"Apa kau pernah lihat Kie Thian Tai Seng ?”

Mendengar lagu suaranya, dia seperti menaruh dendam setinggi langit pada Kie Thian Tai Seng itu. Tapi tak perduli bagaimana akibatnya mereka berdua telah cukup digencet si momoh itu, maka dalam waktu sekilas ini bibir mereka bergerak2 seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba2 mereka mengurunginya.

Sinona yang ternyata tajam matanya, dengan gusar membentak : "Kasih tahu kepadaku, dimana ia berada ? "Lekas !"

Ong Ciang Peng tidak berkata apa2, ia hanya mengarahkan pandangannya keatas gunung. Sinona melihat keatas, ia menggeleng2kan kepalanya.

"Tak boleh jadi! Aku telah periksa seluruh puncak gunung itu ! "

Setiap kata2nya itu seperti juga selalu menganggap dirinyalah yang betul, tapi kenyataannya. Tiat Kuy Lolo bersama Ong Ciu Peng terang2 telah melihat musuh dengan mata kepala sendiri. Melihat orang tidak mau mempercayai, maka mereka pun sungkan untuk membantah.

"Apakah benar kamu menjumpainya diatas gunung itu ?"

Mengapa kami harus berdusta ?" berkata Ong Cin Peng tak dapat pula menahan sabarnya.

Air muka sinona berubah. Sekonyong-konyong pada saat itu terdengar suara kesiuran angin yang menyambar kearah punggung Ong Cing Peng!

Ong Cing Peng terkejut ! Buru2 ia menangkis dengan tangannya, tapi baru saja tangannya terangkat ,terdengar bentakan merdu! Pek le Nio sudah mendahului. Entah dengan cara bagaimana senjata rahasia yang menyerang Ong Cin Peng disampoknya mental.

Kemudian gadis itu lompat menyusul dengan tipu Hui Niauw Toh Lim attau "Burung terbang menuju hutan” badannya laksana kilat menubruk !

Gebrakkannya luar cepatnya. tapi tatkala ia tiba ditempat darimana senjata rahasia itu ditimpukkan, ternyata tempat itu kosong melompong. Tiada kelihatan bayangan seorangpun jua.

Pek Ie Nio Nio menjadi murka. Tiat Kuy Lolo dan Ong Cin Peng berdua yang berada beberapa tombak jauhnya, dapat mendengar bunyi napasnya yang memburu itu.

Gadis itu tidak tinggal diam saja disitu, ia mengadakan penyelidikan seraya berteriak-teriak memaki !

“Jahanam ! Bila kau tidak mau keluar juga, maka aku akan menunggu semalaman disini!"

Tapi teriakkannya itu tidak mendapat jawaban. mungkin orang yang melepas senjata gelap itu sudah pergi jauh.

Ong Cin Peng mengelah napas.

"Pek Ie Nio Nio yang berkepandaian tinggipun ternyata masih kalah setingkat dengan musuh !" ia menggumam.

Tiat Kuy Lolo berbisik menyesal : Ong Taihiap, bila aku tahu lebih dulu. kita tak perlu lagi datang kemari !”

Ong Cin Peng mendekati sinenek, ia hendak mengatakan sesuatu, tapi belum juga ia membuka mulutnya, tiba2 angin berdesir. Terdengar suara bentakan yang sangat lirih: "Kau benar2 mau campur urusan orang lain ! Apa mau mati ?”

Suara itu walaupun sangat perlahan tapi mereka berdua dapat mendengarnya orang jelas sekali, Tiat Kuy Lolo terperanjat.

"Kaupun datang pula !” serunya mengelesir.

"Benar, aku datang pula, penolong Budiman, dengarlah kata2ku, lekaslah kau pergi dari sini!"

Orang yang berkata itu adalah Kie Thian Tai Seng!

"Baiklah, kami akan menuruti" Ong Cie Pengh menyahuti, "Tapi bagaimana mengenai nasib kawan2ku dan pek le Nio Nio?"

Bayangan merah nampaknya gusar. Karena ia mendesis. "Itu bukan urusaimu!"

Pek In Nio Nio yang berada 10 tombak lebih jau agaknya telah dapat mendengar suara itu.

Siapa yang sedang berbicara itu? ia berteriak. Pada detik menyusul ia loncat menubruk.

Menampak sigadis kembali, Oag Peng diam2 girang Sinenek dengan tongkatnya menunjuk kearah darimana ia mendengar suara tadi.

"Disitu!”

Kali ini Kie Thian Tai Seng tentu tak akan dapat melepaskan diri lagi, tapi mendadak si nenek dihempas oleh tenaga dahsyat! Buru2 menjejakkan kakinga tapi terlambat ! Badannya terpentai menubruk Pek le Nio Nio!

Tiat Kuy Lolo terperanjat, tanpa ayal ia menyodorkan tongkatnya dian berteriak : Kauwoio, Iekas sambut !"

Bila sigadis tidak menyambuti tongkatnya, kemungkin mereka, akan bertubrukan.

Tapi begitu tongkatnya diulurkan, gadis itu memperdengarkan tertawa dinginnya: "Buat apa aku menyambuti?"

Suaranya halus empuk, dan sementara itu badannya berjumpalitan beberapa kali diudara. Mereka tidak jadi bertubrukan.

Sinenek berseru lega, "Sungguh berbahaya."

Dan setelah hinggap kembali ia kaget bukan kepalang.

Karena tiba2 tubuh Ong Cin Peng terapung diudara seperti yang baru ia alami itu. Lebih cepat daripada dirinya tadi. Dengan kecepatan yang sangat dahsyat menubruk badan Pek le Nio Nio !

Tepat ketika badan Ong Cin Peng hampir menubruk tujuannya, sigadis membalikkan tangan kirinya. Dengan sikap tenang ia menyambut badan Ong Cin Peng.

"Sambutnya !"

Dan sekaii tangannya bergerak, badan Ong Cin Peng kembali seperti sebuah bola besar meluncur kearah sinenek.

Gerakan sinona indah dan dan tak pernah dilihat oleh sinenek. "Hm, ternyata anak2 muda sekarang berkepandaian sangat hebat.

Untuk apa lagi aku masih bercokol di sungai Telaga ?" ia berpikir. Setelah melontarkan tubuh Ong Cin Peng sigadis tidak menyia2kan waktu lagi. Bagaikan burung dengan gerakan "Beng Poh Kin Siauw” atau "Burung-garuda-menempur awan" ia menerjang kearah semak2.

"Brrr, Brrr !"

Terdengar berturut2 beberapa kali sabetan pedang„ walaupun gerakan yang digunakan itu sangat sederhana. tapi tenaga-dalam sigadis hebat sekali!

Kedua orang itu meleletkan lidahnya karna kagum. Bila musuh masih berada didalam semak2 tiu, niscaya tiada kesempatan pula untuk bisa menghindarkan diri.

Sekonyong2 terdengar suara teriakan menggeledek, dan sebuah Bayangan merah berkelebat keluar ! Sebilah pedang yang berkilat2 menikam kaki sigadis.

"Bagus !" berseru Pek le Nio Nio.

Dengan pedang itu ia membabat, kemudian ia menubruk. …… laksana kilat. Serangannya ini sangat berbahaya!