Cahaya Perak dari Bukit Timur Jilid 1

Jilid 1

Disuatu hutan tanah pegunungan, tampaknya senatiasa sunyi- senyap! Malam gelap, angin gunung bertiup dengan santarnya.

Udara diselimuti oleh awan hitam, suasana makin gelap-gulita, se-olah2 hujan badai akan segera turun.

Tiba2 udara terkilas oleh sebuah kilat, walaupun hanya sepintas lalu saja, namun cahayanya menerangi seluruh daerah pegunungan.

Cahaya kilat yang sepintas lalu itu, menampakkan ditengah2 hutan pegunungan yang hebat itu, sebuah kuil yang berwarna merah, yang didalam tiupan angin yang santar berdiri tegak dengan megahnya.

Se-konyong2 terdengar suara siulan panjang yang me-nyayatkan hati memecah angkasa, dan pada detik yang menyusul sesosok bayangan merah berkelebat dari belakang kuil itu setelah muncul dua kali diudara, segera kembali lenyap pula.

Bayangan merah itu sekali berkelebat, lalu menghilang pula, namun suara siulan yang panjang masih tetap mengalun diangkasa raya, membuat orang yang medengarnya mau tak mau hatinya akan menggigil ketakutan.

Udara makin angin sunyi sepi.

Angin menghembus dengan kerasnya, kilatpun menyambar silih berganti. Angin hujan turun dengan derasnya, bagaikan air bah yang dicurahkan dari angkasa.

Selagi suara siulan mulai lenyap ditempat jauh, dalam kuil tiba2 terdengar suara bunyi keresekan.

Suara ini seolah2 sangat kacau balau, tapi lambat laun terdengar suara irama, agaknya seorang berjalan dengan diikuti oleh seorang kawannya. Lebih mengherankan pula ialah suara bunyi keresekan iru, tidaklah begitu keras tapi suaranya berlangsung sangat panjang. Karena dalam kuil itu tiada nampak lampu penerangan.

Apakah gerangan suara itu? Lebih2 suara ini terdengar malam yang gelap, maka memberikan perasaan seram pada setiap orang. Suara apakah itu?

Suara itu berlangsung tidak lama. lambat-laun berpindah kedepan kuil. Sebuah sinar berkilat dan dari pintu kuil keluar seorang pendeta berjubah kuning.

Tampak wajah orang ini tiada berperasaan sedikitpun, kedua matanya mendelong hampa, keadaan alam disekitarnya se-olah2 tidak dihiraukannya. Setindak demi setindak ia berjalan keluar kuil.

Pendeta jubah kuning ini. kira2 berusia 50 tahun. Pada punggungnya terselip sebuah pedang, namun tangkal pedangnya telah terpapas putus. Dengan kedua tangan tergantung lurus, dengan menyongsong titipan angin dan hujan, ia berjalan menuju hutan. Ketika pendeta jubah kuning berjalan keluar dari kuil kembali terdengar suara keresekan. Sekonyong dari dalam kuil muncul pula seorang pendeta lain yang berjubah kuning pula.

Mukanya serupa, begitu pun usianya yang tidak terpaut seberapa. Sebatang pedang tersisip pada punggungnya, lebih2 mengherankan pula ialah begitu pendeta yang pertama tepat berjalan 10 tombak jauhnya, pendeta yang kedua ini tepat pula berada diambang pintu kuil.

Mereka berjalan dengan tidak ber-kata, dan ketika pendeta yang kedua berjalan sampai 10 tombak jauhnya, dari dalam kuil kembali muncul seorang pendeta lain yang juga berjubah kuning.

MaTa mereka sama2 membelalak dengan lebarnya dan sedikitpun tidak besikap lebih2 airnya dingin yang tidak berparasaan itu. Wajah itu menakuti seakan-akan wjahnya mayat hidup yang berkeliaran dimalam buta !

Hujan turun dengan derasnya. Sekujur badan pendeta2 itu basah kuyup bagaikan ayam2 tertolong dari mencemplung dalarn sumur. Air hujan mengalir dari atas kepala mereka yang gundul, dan kemudian menggelangi selaput matanya yang merata tidak menyusutinya. Maka ketiga pendeta berjubah kuning ini bagaikan orang2 yang kesurupan, tidak berkedip, malah memandng ke depan melototkan mata mereka besar2.

Benarkah ketiga pendeta jubah kuning ? Kalau tidak, tentunya mereka itu adalah mayat2 hidup yang sedang berkeliaran dimalam hari. Mereka berjalan terus, pendeta jubah kuning yang pertama sudah berjalan 30 tombak. Jauhnya, dan yang kedua 20 tombak, sedangkan yang ketiga tepat berjarak 10 tombak pula. Nampaknya mereka mengambil jarak terlebih dahulu.

Tiba2 dengan serentak ketiga PRNdeta itu berhenti! Badannya terhuyung-huyung beberapa kali dan . . satu demi satu berturut-turut jatuh dibawah tiupan angin dan hujan.

Angin menghembus dengan santarnya, hujan pun turun amat derasnya. Setelah terjatuh, mereka tidak ber-kutik pula, nampaknya mereka sudah meNemui ajal mereka.

Sebuah kilat menggores dengan cepatnya, menerangi tubuh ketiga tubuh pendeta itu.

Tampaklah tubuh mereka penuh dengan lumpur, mukanya pias dan matanya menonjol keluar.

Ternyata mereka sudah mati !

Apakah gerangan yang telah terjadi ?

Jika kita katakan mareka tadi masih hidup, mengapa sebentar saja sudah putus pula jiwanya ?

Bila kita katakan bahwa mereka sebermula memang sudah mati, maka bagaimana orang yang sudah mati masih bisa berjalan ? Lagipula mereka berjalan sampai 20-30 tombak jauhnya.

Sungguh merupakan suatu kejadian yang aneh !

Hujan membasahi alam semesta, tapi sedang tak lama, hujan badai perlahan-lahan berhenti. Awan gelap yang menyelubungi udara pun lambat-laun buyar pergi, sang Dewi malam kembali bertandang diangkasa, se-olah2 dengan penuh perasaan ia mangulangi tiga sosok mayat yang bergelimpangan diatas tanah yang becek.

Sedang beberapa lama kemudiam, suasana disekitar tempat itu kembali sunyi-senyap seperti sediakala. Bersamaan waktunya sekonyong- konyong dari bawah bukit tempat berlari-lari mendatang empat sosok tubuh manusia dengan cepatnya. Dalam sekejap mata saja, mereka sudah sampai dekat bukit itu !

Mereka segera berhenti, salah satu diantaranya melihat mayat pendeta jubah kuning yang pertama lebih dahulu.

Beng Ceng Toheng, kita telah terlambat! Kiu Hoa Sam Jie sudah terbunuh oleh tangan jahat!" teriaknya dengan suara gemeletar.

Orang yang berteriak itu adalah seorang hwesio yang bertubuh jangkung kurus, kepalanya meliwati topi bulu, wajahnya angker dan usianya kira2 69 tahun.

Sedang salah satu diantara temannya itu, yang ternyata adalah sorang pendeta yang berperawakan pendek-gendut, bagaikan kilat membalikkan badannya. Ketika pandangannya bertumbuk pada mayat tersebut, sekujur badannya menggigil.

Dia berjalan menghampiri mayat2 itu, lalu berjongkok. Ia meraba mayat itu.

"Sungguh benar susah mati !"

Walaupun kata2 itu diucapkan begitu pendek sederhana, namun dadam suasana seram Ini, hati masing2 menjadi ciut. Dan tak terasa mereka berjalan mengerubungi, se-olah2 takut bahwa sipembunuh yang tadi turun tangan itu akan muncul kembali.

Antara empat orang itu, kecuali seorang hwesio dan seorang pendeta maka yang lainnya ialah seorang pelajar yang sudah setengah umur, dan seorang nenek yang beraMbut putih.

Mereka berempat masing2 mempunyai kedudukan penting dalam dunia Kangouw, rupanya mereka telah mengetahui lebih dahulu akan terjadinya peristiwa maut itu.

Mereka telah tergesa-gesa datang ketempat itu, namun mereka terlambat ! Kiu Hwa Sam Cu sudah menemui ajalnya.

Pendeta gemuk-pendek yang dipanggil Beng Ceng Taisu Itu, setelah berkata iapun segera berjalan menyusuri telapak kaki diatas tanah.

Saat ini, sang putri malam memancarkan cahaya dengan cemerlang, karena habis turun hujan , maka-maka bekas2 telapak kaki diatas tanah dlengan jelasnya dapat kelihatan.

Beng Ceng Taisu berjalan pula sejauh sepuluh tombak, maka kembali ia mendapatkan sesosok mayat menggeletak diatas tanah.

“Hm, benar2 sangat kejam !" desisnya dengan parau.

Diantara keempat orana itu, hanya si-pelajar setengah umur yang tidak ber-kata2. Ia berjalan terus melewati mayat yang kedua itu.

Setelah berjalan 10 tombak, mayat yang ketiga tampak dihadapan matanya. Menyaksikan kejadian seperti ini, wajahnya berubah.

"Semuanya sejarak sepuluh tombak !" serunya. Dengan wajah diliputi rasa kegusaran si hwesio menyahuti : "Benar ! Entah hantu itu sedang bermain apa lagi ?"

Ia berkata sambil memandang kearah mayat yang per-tama yang kedua, yang masing2 berjarak 10 tombak!

"Pek Taihiap, coba kau bawa mayat itu kesini!" Itulah suara sinenek, mendadak nenek itu berlari kepada mayat yang pertama, lalu membawanya ketempat mayat yang kedua.

Semua orang tak tahu apa gerangan yang hendak di-perbuat olek sinenek berambut putih.Mereka berdiam saja dan mengawasinya dengan penuh pengharapan. Sinenek memberes2kan dan menjejerkan ketiga mayat itu, ia memeriksannya. Akhirnya ia berkata :

"Apakah kalian dapat melihat dimana mereka terluka?"

Beng Seng Taisu menggelengkan kepalanya dengan muram. "Tiat Kuy Lolo, jangan kau bergurau! Siapa yang tiada mengetahui bahwa Kie Thian Tai Seng selalu melukai jalan-darah Cie ciathiat didada, mengapa kau hendak menanyakan pula ?"

Sinenek yang dipanggil Tiat Kui Loto atau Sinenek bertongkat besi mengibaskan tangannya, dan menoleh kepada si pelajar :” Pek Taihiap, kamu dari Kun-Lun Pay paling mengetahui sifat perangai Kie Thian Tai Seng si Raja Kera itu. Coba kau terangkan setelah ia melukai orang, tanda apa lagi yang ditinggalkannya?"

Pek Taihiap demi mendengar teguran orang, hatinya jadi terkejut. Tapi ia mengetahui bahwa pertanyaan Tiat Kuy Lolo tentu mengandung maksud yang dalam, setelah berpikir sebentar, maka sangsi ia menjawab:

Tidak ada. Kecuali jalan-darah Cie-ciat-hiat yang telah dikatakan oleh Beng Ceng Taisu tadi, seumur hidupnya tak pernah ia menurunkan tangannya dibagian tempat lain pada tubuh korbannya!"

Kata2nya yang terachir ini, sengaja ia ucapkan dengan suara keras, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia dapat mengenal Thian Tai Seng, dengan jelas, tapi pandangan matanya tertuju kepada sinenek, nampaknya menantikan sesuatu!

Tiat Kuy Lol.o tersenyum. „Nah, coba kalian periksa tubuh Kui Hwa Sam Cu!"

Habis berkata, sinenek membeset baju mayat2 itu. Ketika ketiga orang itu melihatnya,mereka jadi kaget sekali.

Kiranya pada tubuh mayat itu, bagian jalan-darah Cie ciat-hiat bengkak dan berwarna merah, dan pada jalan-darah Hua-swie-hiat pun keadaannya serupa.

Dengan kematian demikian, Kiu Hwa San Cu mungkin bukanlah perbuatan Kie Thian Tai Seng.

Namun kedatangan mereka berempat kesitu, ialah disebabkan karena mereka tahu bahwa Kie Thian Tai Seng si Raja Kera sudah kembali muncul dikalangan Kangouw, sedang musuh besarnya

yang terutama ialah Kiu Hwa Cu, Tiga pendeta dari Kiu Hwe Sie digunung See Thian Bok San. Mereka berempat datang kekuil Kiu Hwa Sie dengan maksud mengadakan perundingan, namun tak dinyana mereka datang terlambat. Kenyataan yang terbentang didepan mata benar2 diluar dugaan mereka.

Oleh sebab kejadian mengerikan itu datangnya sangat mendadak, maka mereka hanya dapat saling pandang memandang saja, mereka bungkam seribu bahasa!

Malam sepi, angin malam masih bertiup sepoi2. Keempat orang yang berada didepan kuil Kiu Hwa Sie masing2 merasakan jantungnya berdebar2 dengan kerasnya, tapi tiada seorangpun yang membuka mulut.

Kiu Hwa Sam Cu mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam kalangan Bulim, sejak beberapa puluh tahun berselang selalu menduduki tampa pimpinan. Semasa hidupnya mereka jarang menemui tandingan.

Namun hanya dalam waktu semalaman saja Kiu Hwa Sam Cu telah binasa secara mengerikan. Apakah ini perbuatannya Kie Thian Tai Seng, entahlah. Hal int memang benar2 membikin mereka bingung.

Dapat diketahui bahwa kedudukan keempat orang itu tidaklah kecil, sinenek yang menggunakan tongkat besi itu adalah Ciang-Bun Jin dari Hwa-San Pay yang bernama Khouw Sin Giek.

Sipelajar setengah umur itu bernama Pek Beng Yam, dia adalah adik seperguruannya Cang Bie Taisu yang menjabat Ciang-Bun-Jin dari Kun- Lun Pay.

Sedang kedua orang lainnya, pendeta yang dipanggil Beng Ceng Thian itu adalah kuasa beo Siauw-Lam Sie, sedang hwesio jangkung kurus itu adalah Ciang-Bun-Jin Bu Tong Pay yang bernama Cie Yang Totiang.

Dengan kedudukan yang tinggi mereka berempat telah berkumpul, untuk menghadapi Raja Kera seorang, maka dapatlah kiranya kita bayangkan sampai dimana kepandaian Kie Thian Tai Seng itu !

Pek Beng Yam menarik napas panjang2, lalu membuka suara :

Menurut pendapatnya Lolo, siapakah gerangan yang telah turun tangan ini?"

Wajah Ciang-Bun-Jin Hwa-San Pay diliputi rasa kesangsian dan bimbang, tapi iapun menyahut:

Menurut pendapatku orang yang telah membunuh Kiu Hwa Sam Cu pasti bukanlah Kie Thian Tai Seng si Raja Kera. Tapi siapa gerangan, orang itu, akupun tidak mengetahuinya."

Mendengar jawaban itu, yang lain2nya terdiam karena putus asa. Tiat Kui Lolo memandang kepada mereka bertiga dan katanya pula

: "Tapi bagaimana pun juga orang ini dapat kita selidiki !"

Mendengar ucapan sinenek itu, kembali hati mereka menjadi tergerak. Beng Ceng Taisu yang berperangai tidak sabaran, sudah buru2 bertanya:

"Entah bagaimana cara menyelidikinya ?"

Tiat Kui Lolo melontarkan pandangannya kedalam kuil, walaupun ia tiada berkata, tapi ketiga kawannya yang sudah berpengalaman, melihat perubahan airmuka sinenek itu, maka tahulah mereka akan maksud hatinya yang terkandung. Cie Yang Totiang berkata "Kalian bertiga boleh dulu, biar Pinto mengadakan penyelidikan dulu masuk disekitar tempat ini!"

Maksud Cie Yang Totiang ialah supaya antara mereka diadakan pembagian tugas penyelidikan. Dapat dimaklumi dengan nama Bu-Tong Pay yang sangat harum dalam dunia persilatan dewasa itu, dengan usulnya itu, tentu takkan mendapat pertentangan dari teman2nya, lagipula kini ia berkata dulu kedudukan sebagai kepala perguruan yang tersohor namanya.

Tiga orang itu manggut.

Cie Yang Totiang pun segera berlari kearah hutan, sedang Pek Beng Yam, Ceng Taisu dan sinenek bertindak memasuki kuil!

Dengan meminjam pantulan cahaya bulan., maka keadaan dalam kuil maut samar2 dapat kelihatan.

Tiat Kuy Lolo berserta teman2nya merasa bahwa dalam kuil itu terlampau sunyi ! Dalam suasana yang seperti kuburan samar2 bau amis menembus kedalam lubang hidung mereka.

Ketiga tokoh Bulim itu megadakan penyelidikan secara saksama, namun tidak terdapat suatupun yang mencurigakan . . .

Jago Kun-Lun Pay Pek Beng Yam berkata dengan lirih : "Menurut pendapatku, tempat ini tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan.

Sebaiknya kita periksa dulu bagian Mayat Kiu Hwa Sam Cu, mungkin kita akan mendapatkan sesuatu sebagai petunjuk."

Pada saat itulah Tiat Kuy Lolo menoleh kearah bagian belakang kuil, matanya bersinar.

"Tidak! Dikuil ini kita tentu akan mandapatkan sesuaty bahan penyelidikan!"

Beng Cang Taisu diam saja, tapi ia sudah berjalan maju, menyusuri sebuah lorong.

Lorong ini sangat gelap, hampir tidak kelihatan apa-pun yang berada didepan mata. Untung mereka bertiga masing2 memiliki ilmu melihat dalam gelap, lagipula mereka sudah agak lama masuk kedalam kuil itu.

Sementara itu, Beng Cang Taisu berjalan paling depan, diikuti oleh Tiat Kuy Lolo berserta Pek Beng Yam. Masing2 bersikap siap-siaga, mereka berjalan sambil mencekal senjata masing2.

Selang beberapa lama, nampaknya sudah hampir keluar dari lorong, namun mereka tidak menemui sesuatu yang mencurigakan.

Namun hati Tiat Kuy Lolo mulai goncang. "Hampir sampai pada mulut lorong." bisiknya.

Selagi Beng Ceng Taisu hendak menjawab, atau tiba2 kepala terasa dingin. la menyusut dengan tangannya terasalah sesuatu lender dingin.

Hatinya menjadi kaget bukan kepalang! segera ia berteriak keras dan berlari kedepan.

Perbuatannya itu segera diikuti oleh sinenek dan sipelajar.

Dimulut lorong itu nampak sebuah pekarangan yang luas. Pada saat itu sang putri malam sedang memancarkan siurnya, maka keadaan disekitar amatlah terang. Dan mayat2 yang menggeletak dipekarangan kelihatan jelas sekali.

Tiat Kuy Lolo menjadi pucat.

Beng Cang Taisu dan Pek Beng Yam memandang dengan ngeri, lalu berseru hampir berbareng.: "Tak lebih tak kurang tepat 20 buah mayat"

Tiat Kuy Lolo mengangkat senjatanya.

"Coba kalian perhatikan, apakah mayat2 ini mempunyai suatu keanehan?"

Mendengar itu, Beng Ceng Taisu bersama Pek Beng Yam maju lebih dekat. Ketika mereka awasi lanjut, ternyata jarak antara kedua puluh mayat ini masing2 terpaut tidak besar, lagipula nampaknya sambung- menyambung, sepintas lalu kelihatannya sangat kacau tidak teratur, tapi setelah ditegasi kiranya 20 buah mayat ini berbentuk suatu huruf "Sat" atau "Bunuh".

Hati mereka berdua jadi terkejut bukan kepalang! Tiat Kuy Lolo bergidik dan katanya:

“Jikalau peristiwa diluar dan didalam kuil ini adalah perbuatan yang dilakukan seorang, maka aku kuatir dikolong langit tiada pula seorang yang dapat menanding orang ini !"

Ia berkata dengan suara gemetar bernada sedih dan bimbang.

Kedua kawannya yang mendengarkannya pun tidak berkata apa2, kiranya perasaan mereka saat itu sama seperti sinenek.

Beng Ceng Taisu yang menyaksikan peristiwa yang sangat mengerikan itu, hatinya menjadi me-luap2, tak tahan lagi iapun berkata :

"Menurut pendapat Pinceng, peristiwa ini terang dilakukan oleh seorang juga. Hm, meskipun ilmuku tidak tinggi, tapi tak dapat aku perpeluk tangan tidak mencampuri utusan ini!"

Dalam kata2nya itu, Beng Ceng Taisu menunjukkan rasa ksatrianya, dengan kedudukannya sebagai pengurus bio Siauw-Lim Sia, dengan jujur ia mengakui kelemahan dirinya.

Pek Beng Yam jadi tergerak hatinya:

“Menurut penglihatanku mungkin tidak demikian, bila Kise Tian Tai Seng seorang diri membunuh saja dua-puluh orang anak murid Liu Hwa Sam ini, akupun dapat mempercayainya, namun setelah bertempur membunuh kedua-puluh murid itu, kembali ia turun tangan dengan mudahnya membinasakan Kiu Hwa Sam Cu, hal ini sungguh2 membuat aku sangsi ! ini tentu pekerjaan lebih dari satu orang."

Ucapan itu memang beralasan, Tiat Kuy Lolo mengangguk2kan kepalanya,

Apa yang Pek Taihiat katakan memang betul, tapi cobalah kita periksa."

Macan betina Hwa-San Pay itupun membungkuk dan menyobek baju salah satu mayat.

Sungguh mengherankan ! Pada jalan darah Cie-ciat-hiat dan Hun-swi- menonjol dan berwarna merah, mirip benar dengan luka yang diderita oleh Kiu Hwa San Cu! Maka tak boleh disangsikan lagi, pembunuhan besar2an itu dilakukan oleh seorang!

Pek Bek Yam tercengang. Kenyataan dihadapan matanya membuktikan bahwa 23 mayat yang bergelimpangan didalam maupun diluar kuil itu, adalah perbuatan satu orang. Tak dapat disangsikan lagi !

Hiat Kuy Loio per-lahan2 membalikkan badannya.

"Tak perlu kita lama2 disini, sebaiknya kita pergi keluar untuk mencari Cie Yang Totiang.

Mungkin diapun telah menemukan sesuatu!"

Sipelajar dan sipendeta mengangguk tanda mufakat, maka mereka pun segera meloncat keatas genteng.

Sang Putri malam memancarkan cahayanya yang kuning keemas- emasan, menerangi permukaan bumi. Ketika mereka loncat turun tampak tiga mayat Kiu Hwa Sam Cu masih menggeletak diatas tanah, tapi Cie Yang Totiang tidak kelihatan mata-hidungnya.

Walaupun mereka tergolong orang2 berkepandaian tinagi, namun dalam suasana seperti ini, diam2 hatinya menjadi gentar.

Mata Beng Ceng Taisu menjalar liar kesekitarnya. "Eh, dimana Cie Yang Totiang?"

Tiat Kuy Lolo saling berpandang2an dengan Pek Beng Yam, mereka segera mengadakan penyelidikan ditempat itu. Tiba2 Tiat Kuy Lolo berseru:

"Mungkin dia pergi kesana!"

Kedua orang kawan menjadi terkejut bukan kepalang ! Beng Ceng Taisu buru2 maju, namun baru melangkah beberapa tindak, tiba2 ia bajunya dijambret orang. Pada detik itu juga terdengarlah suara bentakan dingin:

"Rebahlah!"

Beng Ceng Taisu tersirap darahnya, ia kaget! Badannya berputar dengan cepat. Belum ia dapat menahan melawan, tiba2 pinggangnya terasa pegal. Ternyata jalan darah Cie-ciat-hiat dan Hun-swie-hiatnya tertotok musuh! Beng Ceng Tai Su terkulai dan roboh diatas tanah.

Kun-lun Kiam kek Pek Beng Yam yang berada tiada jauh dari Beng Ceng Taisu mengetahui perubahan yang menimpah diri padri itu. Maka begitu suara bentakan orang itu berhenti iapun sudah membalikkan badannya dan memburu. Ia masih sempat melihat berkelebatnya sesosok bayangan merah yang lenyap dalam semak-semak...

Kum-lun Kiam-kek atau atau Sijago pedang dari Kun-lun San tanpa ayal mengejar.

Tiat Kuy Lolo pun bergegas datang ketempat kejadian itu, dan tampak Ben Ceng menggeletak diatas tanah tiada berkutik lagi. Ketika ia membungkuk meraba dadanya, ia berteriak parau. Pendeta itu sudah menemui ajalnya ! Tiba2 dari sebuah pohon tidak jauh dari tempat itu terdengar suara berteriakan.

Tiat Kui Lolo menyekal tongkat besinya erat2 dan melepas pandangannya keempat penjuru. Namun diluar dugaannya, sekitarnya kembali sunyi sepi, tiada tampak bayangan2 seorang manusia pun, selain mayat Beng Ceng Tai Su yang menggeletak diatas tanah.

Tiat Kuy Lolo menggigil dan dengan gusar nyaring ia memanggil: "Pek Tai-hiap ! pek Taihiap:''

Namun sia2 belaka, ia tidak mendapat jawaban orang!

Hati sinenek menkirik. Pikirnya: " Apa mungkin dia-pun menemui nasib buruk ?"

Kejadian itu sungguh menyedihkan hatinya. Mereka datang berempat, tapi kini tinggal dia seorang diri. Seorang temannya telah menemui ajalnya, sedang yang dua lagi telah terpisah entah

pergi kemana ?

Sinenek mengelah napas dalam dan mendumal sedih seorang diri : "Kemana gerangan mereka itu?"

Kembali ia berteriak memanggil2, namun kecuali suara kumandang yang berbalik menyahuti, tiada terdengar suara apa2.

Malam sepi, angin bertiupan dengan kerasnya. hati sinenek menggigil. Ia kembali bertanya seorang diri :

"Kemana gerangan mereka itu?"

Pertanyaan itu entah ia tujukan kepada udara kosong, namun ia se- olah2 mendapat jawaban orang lain yang berada nun ditempat jauh :

"Kemana gerangan mereka itu?"

- II –

Dengan rasa bimbang penuh diliputi kecemasan si-nenek membentak dengan keras : "Siapa kau ?"

Kembali ia mendengar jawaban orang yang sama dengan pertanjaannya sendiri ; Siapa kau ?"

Sinenek berdiri tegak dan mencekal erat2 tongkatnya. Dengan mata berapi-api ia mengawasi keadaan disekitarnya, namun sekelilingnya sunyi-senyap tiada tampak seorangpun.

Hatinya cemas tangannya menjadi kendor. la kembali menarik napas panjang dan berteriak bagaikan gila.

"Hei, mau bunuh aku? Bunuhlah sekalian!"

Ia tidak memperoleh jawaban. Sinenek berdiri termangu-mangu,

Sang Putri malam mulai condong kearah barat, kiranya hari sudah hampir menjelang pagi.

Namun Cie Yang Totiang tetap tidak muncul, sedang Pek Beng Yam pun, entah pergi kemana?

Nampaknya mereka telah menemui nasib buruk !

Sinenek yang sudah hampir berusia 70 tahun sudah mengalami banyak pertempuran2. Namun tak pernah ia merasakan begitu cemas dalam menghadapi suatu persoalan seperti malam itu.

Ia maju dengan perlahan2. Berjalan lewat 10 tombak lebih, tiba2 tampak dalam hutan itu sesuatu bayangan yang berkelebat. Sinenek yang sedang bimbang menjadi kaget, buru2 ia memburu. Ketika ia tiba dan memandang, hatinya mencelos. Kiranya dihadapan matanya tergantung tubuh Kun-lun Kiam-kek yang sedang dicarinya, dengan mata mendelong, lidahnya menjulur keluar.

Kun Lun, Pek Beng Yam ternyata ia sudah mati digantung orang secara hidup2.

Menyaksikan peristiwa itu, dengan tanpa berpikir panjang2 lagi, sinenek menggait tubuh Pek Beng Yam dengan tongkatnya. Ketika ia meraba dengan tangannya ternyata pendekar itu sudah menjadi mayat yang kaku-dingin.

Hatinya semakin terasa bimbang.

la memandang sekitar tempat kejadian itu, hatinya penuh kekuwatiran dan kegelisahan.

"Hanya dalam waktu yang sangat singkat ini, Beng Ceng Taisu dan Pek Beng Yam telah menemui ajalnya. Tapi entah bagaimana nasib Cie Yang Totiang? Mungkin tidak lebih baik daripada kedua korban ini?"

Memikir demikian, sinenek merasakan lawannya se-olah2 berada disampingnya. Hatinya jadi tegang dan bagaikan kilat ia ber-turut2 menyapu dengan tongkat besinya.

"Mengapa kau tidak turun tangan terhadap aku?" ia berteriak. la menyapu tempat kosong! Dengan tangan kanan ia mencekal

tongkatnya, sedang tangan kirinya membopong mayat Pek Beng Yam, ia berlari menuju kuil !

Namun tiba2 ia jadi terkejut, kiranya ketiga mayat Kui Hwa Sam Cu, sudah tiada pula tempatnya entah siapa gerangan telah menyingkirkannya?

Perbuatan itu dilakukan sangat cermat sekali, meski sinenek yang berada dalam jarak 10 tombak pun tak dapat mengetahuinya. Bukan saja tidak mengetahui bahkan sedikit suarapun tidak pula mendengarnya.

Betapa tinggi kepandain orang itu dapatlah dibayangkan !

Sekujur badan sinenek dingin bagaikan terguyur air es, ia berdiri bengong seperti orang yang lupa ingatan!

Entah lewat beberapa lamanya pandangannya kabur hingga mayat Pek Beng Yam yang ia bopong makin terasa barat. Iapun berjalan kearah kanan kedalam hutan itu.

Cahaya bulan berpacaran dengan lemahnya, Tiat Kuy Lolo memandang bayangan diri sendiri yang sebatang kara. Seumur hidupnya baru kali ini jiwanya diliputi kecemasan dan kedukaan sedemikian hebatnya!

Tiat Kuy Lolo hentikan bertindak. la meletakkan mayat Pek Beng Yam diatas tanah, kemudian menguburnya Pek Beng Yam dengan secara sederhana.

Kini dia memutuskan untuk memberitahukan kepada fihak2 yang bersangkutan dari korban2 itu.

Dengan adanya keinginan ini, membuktikan bahwa Tiat Kuy Lolo masih tetap hidup namun perasaan hatinya tiada beda dengan orang yang sudah mati ! Jikalau bukannya tugas Kang-ouw yang harus ia lakukan itu, maka sesungguh ia ingin mati saja ! Angin gunung bertiupan silih bargantian, Tiat Kuy Lolo dengan tindakan yang sangat berat, selangkah demi selangkah berjalan turun gunung.

Tak lama kemudian ia tiba pada sebuah lereng gunung, dari depan menyampok angin dingin. Samar2 ia mengendus bau yang aneh. Tiat Kuy Lolo terkejut lagi. Setelah ia amat2i bau, bau itu seperti datang dari lereng gunung, tidak jauh dari situ.

la tetap bersiap siaga, walaupun mempercepat langkahnya. Sampai pada lereng gunung, bau aneh itu semakin mangkin merangsang dan ketika ia awasi sekelilingnya dengan bantuan cahaya bulan yang sudah lemah itu, tampaklah empat buah sosok mayat bergelantungan diatas sebuah pohon besar. Dengan hati berdebar-debar ia datang lebih dekat untuk mengawasi. Ia menjadi pucat.

Ternyata mayat2 itu bukan lain yalah Kim Hwa Sam Cu dan Beng Taisu!| Tiat Kuy Lolo tak putus2nya keheranan "Keempat mayat ini semula

berada didepan kuil maut itu, mengapa tiba2 tergantung ditempat ini ?"

Sepanjang jalan tadi ini tidak melihat sesuatu yang mencurigai, bila perbuatan keji ini adalah Kie Thian Tai Seng yang melakukan, maka tentunya si Hantu nomor satu dikolong jagad berada tiada jauh dari tempat dia berada kini!

Memikir begitu maka tongkat besinya semakin erat dipegangnya.

Hatinya menggigil !

Namun keadaan memaksanya untuk tidak berpikir lebih lanjut, begitu tongkatnya ia putarkan, empat buah mayat itu ber-turut2 berjatuhan. Dengan gerakan yang cepat ia menyanggapinya satu persatu.

Tiat Kuy Lolo kembali menyapu dengan pandangannya. Pada sebuah batang pohon itu samar2 terdapat sesuatu yang mencurigakan. Ketika ia dekati, betul saja pada batang itu seperti tergores beberapa huruf. Dengan meminjam sinar rembulan yang lembah dengan pandangan matanya yang sangat tajam ia membaca huruf2 itu yang digores dengan jari tangan.

Tie Thian Tai Seng!" atau "si Raja Kera yang membunuh!"

Hurufnya sangat rapih, dan goresannya dalam. Kie Thian Tai Seng dengan sengaja telah merencanakan terlebih dahulu.

Sekujur badan sinenek bergemetar, karena dengan kedudukannya sebagai seorang Cian-Bun-Jin. dengan muncul-lenyapnya Kie Thian Tai Seng itu ditempat sekitarnya, dan berbuat sesuatu menuruti hatinya, maka benar2 dirinya seolah2 dianggap sebagai anak kecil saja. Meski ia bersabar bagaimana pun juga, tak urung rambutnya yang sudah ubanan itu berdiri tegak demi mendongkolnya.

Selagi hatinya diliputi penuh kegusaran itu, tiba2 jauh terdengar suara berkeserakan. Thiat Kui Lolo kembali terkejut dan dengan cepat bagaikan kilat ia menghantam dengan tongkatnya!

Orang yang dihantam itu memperdengarkan ejekannya yang getir. Dengan pedang ia menusuk jalan-darah Kian-cin-hiat" dipunduk sinenek ! Gerakannya tidak lemah, namun sinenek pun bukannya anak kemarin dulu. Lebih kini dalam keadaan penuh kemendongkolan, maka pukulan2nya sangat dahsyat sekali, ber-tubi2 ia menghujani

lawannya dengan pukulan2 tongkatnya yang menderu-deru laksana taufan.

Orang itupun rupanya terkejut, ternyata ia tidak menduga sama sekali bahwa sinenek mempunyai kemampuan demikian rupa. Maka buru2 ia berkelit kesamping, sedang sinenek sudah membentak dengan keras: "Hayo, lekas serahkan jiwamu!”

Tongkatnya berputar dengan hebatnya tidak memberi sedikit ampun pada lawannya.

Tongkatnya berputar dengan gentarnya, sehingga angin menderu2 dengan dahsyatnya. Bila orang kena sekali sabetan, niscaya badannya akan remuk-redam !

Dalam keadaan yang sangat genting ini tiba2 terdengar desiran angin yang menyambar punggung sinenek !

Walaupun dalam keadaan repot, namun sinenek yang berpengalaman sempat mengulurkan tangan kirinya menyampok pedang lawan.

Dengan demikian kembali orang itu dalam keadaan terdesak, dan sinenek sedikitpun tidak mau mengendorkan serangannya.

Tapi, mendadak kembali angin menyambar datang ! Sinenek sebenarnya sedang hendak menghajar musuhnya dengan tongkatnya, namun kini ia diserang oleh orang lain, meski ia akan berhasil dengan pukulannya, tapi tak urung dirinyapun akan terluka.

Sinenek tidak mau putus asa begitu saja, maka buru2 ia putarkan tongkatnya dengan tipu Yacan Pat-pui atau Bertempur keempat-penjuru alam! Dengan tongkatnya ia berbalik menyapu kebelakang !

Begitu badannya berbalik, maka terdengar suara teriakan kaget dari orang itu! "Eeh, kiranya kau.!"

Kiat Kuy Lolo terkejut. Ia awasi dengan heran. Betul saja nampaknya orang itu tidak asing baginya. Maka mereka cepat2 menarik serangannya masing2, namun tindakan ini sudah kasip. Segera terdengar suara beradu yang sangat keras, dan badan mereka ber- goyang2 beberapa kali, masing2 terhuyung mundur satu tindak kebelakang !

Orang yang telah menyerang itu memakai jubah abu2, usianya lebih tua dari sinenek, namun wajahnya merah sekali. Sepasang matanya bersinar2. Orang itu bukan lain daripada Seng Chiu Tiat wan atau si tangan-sakti Gelang-besi Lu Cie Beng yang menjabat sebagai Ciang- Bun

-Jin dari Jiong- Lam Pay.

Tiat Kuy Lolo melangkah maju dan menyapu: "Lu Taihiap, kau datang juga?"

Seng Chiu Tiat Wan hendak menyahut, namun demi pandangannya tertambuk oleh beberapa buah mayat yang rebah diatas tanah, maka airmukanya tiba2 berubah menjadi pucat. "Bukankah mereka itu Kui Hwa Sam Cu? Mengapa mereka itu? Ay, ternyata aku terlambat datang!"

Mendengar suaranya itu, nampaknya ia sudah dapat menduga terlebih dahulu akan peristiwa yang telah terjadi itu, maka sehabis berkata iapun berjalan mendekati. Tapi begitu melihatnya hatinya semakin terkejut. Ia berserunya dengan suara bergemetaran :

"Eeh, bukankah dia Beng Ceng Taisu dari Siauw-Lim Sie?" Air mukanya penuh diliputi rasa terkejut dan duka.

Tiat Kuy Lolo menjawab dengan senyuman pahit: "Apa yang Iu Taihiap katakan memang betul, memang orang2 ini adalah mereka itu."

Entah karena ia masih keadaan kaget atau terburu melihat suasana maut dihadapan matanya, maka hatinya menjadi pilu. la tak kuat lagi untuk melanjutkan kata2nya.

Hm, hm ! Perbuatan Kie Thian Tai Seng benar2 kejam tiada kenal perikemanusiaan. Sungguh besar nyalinya berani bunuh Kiu Hwa Sam Cu dan Peng Cang Taiyu. Dengan perbuatannya ini, agaknya dunia Kang-ouw akan mengalami suatu bencana besar :"

Meskipun Seng Thiu Tiat Wan baru saja datang, namun setelah melihat kejadian dihadapan matanya itu, maka ia dapat memahami sebagian besar. la berdiri termanggu2 karena hatinya dingin bagaikan terguyur air dingin.

Thiat Kuy Lolo mengelah napas.

„Bukan saja hanya mereka berempat, masih ada pula lain2 korbannya!"

Mendengar itu, yang dijadikan Seng Chiu Tiat Wan menjadi semangkin kaget.

Entah siapa lagi yang dijadikan korban itu?"

Sinenek mengegeleng2kan kepalanya, dengan nada terharu ia menyahut ;

Kun-Lun Kiam-Kek Pek Beng Yam dan 20 padri Kiu Hwa Sie, sedangkan Tie Yang Totiang dari Butong Pay belumlah kutahu bagaimana nasibnya!

Meski ia berkata pelahan dan sinekat, namun kata2nya itu seolah2 dapat menggambarkan kembali semua kejadian dihadapan matanya, maka badannya bergemetar.

"Lu Tayhiap, apa kau sudah merasa cukup dengan keteranganku ini

?"

Sinenek lontarkan kembali pandangannya kepada Seng Chiu Tiat

Wan, Tampak wajah orang yang semula merah marong itu kini berubah pucat pasi, dengan melihat perubahan air mukanya itu, dapatlah dipastikan bahwa keharuan hatinya tiada kalah dengan apa yang dideritanya!

Seng Chiu Tiat Wan mengelah napas panjang.

"Apakah orang2 ini semuanya binasa oleh Kie Thian Tai Seng seorang ?"

Sinenek mengangaguk2kan kepalanya. Seng Chiu Tiat Wan atau si Tangan-sakti Gelang-besi itu dengan suara parau berkata seorang diri:

„Kie Thian Tai Seng, Kie Thian Tai Seng si Raja Kera “

Tiat Kuy Lolo menujuk pada beberapa huruf yang tergores pada batang pohon. Seng Chiu Tiat Wan melontarkan pandangannya kearah yang ditunjuk itu dan membaca dengan nada parau:

"Kie Thian Tai Seng Sat !"

Kembali mereka berdiam pula tiada berkata kata. Tiba2 terdengar seorang menegur.

Suhu, tadi Teecu melihat seorang imam yang tangannya buntung sebelah diatas gunung ini!"

Kedua orang itu bagaikan tersadar dari lamunannya, mereka lupa bahwa diantaranya masih ada seorang lain pula. Chiu Tiat Wan buru2 memanggil muridnya.

"Lee jie, lekas kau beri hormat kepada Hwa-San Pay Ciang-Bun Jin Khouw Locianpayee!"

Si anak muda yang dipanggil Lee-jie itu, tergesa-gesa menghampiri untuk memberi hormat kepada Tiat Kuy Lolo. Dengan bertekuk lutut ia bersabda : "Boanpwee Kam Lee memberi hormat kepada Khouw Locianpwee I"

Sinenek manggut sedih.

Aku sinenek tua yang sudah berkelana puluhun tahun di Kang-ouw, tapi belum pernah merasakan begitu tegang perasaan seperti malam ini, Ah benar2 aku sudah linglung!"

Sinenek teringat akan perbuatannya yang ceroboh tadi dan secara membabi-buta ia telah turun tangan terhadap seorang angkatan muda, maka hatinya menjadi menyesal dan malu!

Syukur Seng Chiu Tian Wan tidak begitu memperhatikannya, dan ia sudah bertanya kepada muridnya:

Lee-jie, apa kau masih ingat akan wajah dan perawakan imam itu

?"

Kam Lee mengangguk dan menjawab :

Imam itu bermuka bundar, perawakaanya kurus jangkung, meski ia

berjalan dengan cepat namun teecu dapat memastikan bahwa usianya tidak beda dengan Suhu dan Khouw Locianpwee!"

Hati Sinenek menjadi tertarik. Apa kata2mu itu betul2"

Kam Lee kembali menganggukkan kepalanya. Sinenek berpikir sebentar lalu ujarnya pula :

,,Tadi kau berkata bahwa imam itu hanya mempunyai sebuah lengan, nampaknya tidak cocok !"

Kam Lee memandang kepada sinenek, tak tahu apa maksud yang dikandung orang.

Tiat Kuy Lolo bertanya pula dua kali, kemudian dengan tiba2 ia memejamkan matanya berpikir, .dan selagi pikirannya diliputi keruwetan itu tiba2 terdengar suara Seng Chiu Tiat Wan menitah kepada muridnya :

Kam-jie, coba kubur keempat jenazah Locianpwee ini setelah itu kau ikut kita," Tiat Kuy Lolo terkejut dan tanyanya :

"Apa kau sudah dapat memikirkan persoalannya?" Seng Thiu Tiat Wan menggeleng2kan kepalanya.

Sukar diterangkan. Menurut pendapatku, ditempat ini sunyi sepi tiada orang lain, menurut penglihatan Lee-jie, orang itu bila bukan Cie Yang Totiang, tentu dialah Kie Thian Tai Seng, tapi menurut apa yang dituturkan Kam Lee, bahwa orang ini besar kemungkinannya adalah . .. Cie Yang Totiang!"

Tiat Kuy Lolo pun merasakan penjelasannya itu beralasan juga, tapi ia segera bertanya pula :

"Muridku menyatakan bahwa orang itu berlengan sebelah, sedang Cie Yang Totiang kedua tangannya masih utuh. Soal ini bagaimana mengartikannya :

Seng Cihiu Tiat Wan berkata tertawa :

Alasannya mudah saja. bila dugaanku tidak salah maka Cie Yang Totiang telah bertemu dengan Kie Thian Tai Seng itu, mungkin mereka sudah saling bertarung dan bila aku diizinkan mengatakan sesuatu kata2 sial: mungkin Cie Yang Totiang telah dilukai !"

Penjelasan Lu Cie Beng itu beralasan juga. Tiat Kuy Lolo berpikir dan katanya dalam hati :

Bila Cie Yang Totiang pun dapat dilukai, maka benar2 merupakan malapetaka dalam dunia Kangouw."

Tiat Kuy Lolo berpendapat demikian, karena bukan saja Cie Yang Totiang berkedudukan tinggi, tapi dalam ilmu silat pun tergolong pula kelas utama. Dikalangan Bulin dewasa ini, hanya beberapa gelintir orang yang dapat menandinginya.

Sementara itu Kam Lee sudah selesai mengubur. Kematian Seng Ciu Tiat Wan menyuruhnya untuk menjadi petunjuk jalan, sementara kedua orang tua itu mengikuti dibelakangnya. Mereka berlari2

menuju puncak sebelah barat.

Selang beberapa saat lamanya, mereka sampai dimuka Kiu Hwa Sie. Sinenek kembali terbayang kejadian2 yang baru saja ia alami. Tapi tiba2 Kam Lee yang berada dimuka sebagai petunjuk jalan menikung kekanan, menuju kesebuah lembah.

Berjalan pula beberapa lamanya dengan menyusuri sebuah gili2 yang berliku2, Kam Lee menghantar kedua orang tua itu kesebuah jalan umum. Lalu ia berhenti seraya bertanya: ,,Nah, disinilah tempatnya !"

Sinenek memandang sekeliling tempat itu. Sampai tempat dimana mereka berada kini, dengan Kiu Hwa Sie dan tempat dimana ia bertemu dengan Seng Chiu Tiat Wan, tempat membentuk segi tiga.

"Bilakah kau melihat dia ditempat ini?" Kam Lee mengedip2kan matanya. "Kurang lebih satu jam yang lalu !"

Tiat Kuy Lolo membungkukkan badannya memeriksa telapak2 kaki yang tampaknya, kacau balau diatas tanah. Jelaslah tempat ini menunjukkan gejala2 seperti pernah terjadi satu pertempuran. "Teranglah sudah bahwa Cie Yang Totiang telah bertempur melawan Kie Thiam Tai Seng ditempat ini" berpikir si nenek.

Seng Chiu Tiat Wan tiba2 bertanya: "Apa Lolo melihat sesuatu?" Sinenek menunjuk telapak2 kaki itu!

"Telapak2 kaki ini sangat kacau balau, agaknya telah terjadi suatu pertempuran ditempat ini!"

Dengan tak disengaja ia menyapu wajah sianak muda dengan pandangannya. Wajahnya tampan dan cerdik, namun sayang pada kedua alisnya samar2 menunjukkan sifat, maka dalam hatinya ia berkata:

“Bocah ini berwajah tampan dan cerdik, sayang sifat perangainya agaknya kurang bagus mungkin kelak tidak akan dapat menempuh jalan yang lurus!"

Seng Chiu Tiat Wan meneliti bekas2 telapak kaki itu, kemudian ia berdiri pula dengan wajah muram.

“Apa yang telah Lolo katakan memang betul, mungkin yang bertarung tadi bukan hanya dua orang saja !"

Tiat Kuy Lolo yang mendengarnya, dalam benaknya sepintas lalu terbayang suatu pirasat, maka iapun berkata:

"Eeh, aneh! Malam ini yang datang kegunung See Thian Bok San ini, kecuali kami berempat dan kalian berdua, tiada pula terdapat orang lain!"

Entah karena apa, sejak semula, dalam hati sinenek senantiasa diliputi suatu pirasat, makin berpikir, hatinya makin bercuriga.

Sesudah menyatakan pikirannya, Seng Chiu Tiat Wan berjalan pula beberapa langkah, menyusuri jalan umum itu. Tiba2 ia bertanya : "Lee- jie, didepan itu tempat apa?"

Simurid buru2 menyahuti:

"Dari sini berjalan terus kira2 5 lie lebila. kita akan sampai disebuah dusun yang bernama Tiang Hoat Cin, entah suhu menanyakkan ini untuk apa ?"

Seng Chiu Tiat Wan melontarkan pandangannya jauh kemuka, dengan dingin ia berkata :

"Kau masih begitu muda, meski sudah datang kemari beberapa hari duluan tapi sedikitpun tidak mengetahui urusan !"

Demi mendengar kata2 yang diucapkan itu, hati sinenek menjadi tergerak. Dengan sebuah pandangan tajam ia mengawasi si-anak muda.

Lu Taihiap, entah sudah beberapa hari muridmu ini datang kemari?"

Hati Seng Chiu Tiat Wan bercekad, Mengapa sinenek tiba2 menanyakan hal ini? Tapi pertanyaan itu kini sudah diajukan, maka tak boleh tidak ia harus memberi suatu jawaban. la maju beberapa langkah dan menjawab:

"Muridmu sudah terlebih dahulu datang 3 hari kemari !" "Sudah 3 hari ?! .. “

Sementara itu Seng Chiu Tiat Wan terus berjalan didepan, maka ia tidak dapat melihat perubahan pada wajah sinenek, tapi ia dapat mendengar suara orang. Maka ia menegasi pula.

“Ya, betul! Dia sudah tiba dulu 3 hari!” Tiat Kuy Lolo timbullah kecurigaannya ! Pikirnya dalam waktu 3 hari ini cukup kiranya untuk mengenal keadaan ditempat tersebut akan dapat merencanakan tapi untuk menurunkan tangan jahatnya terhadap Kiu Hwa Sam Cu, tapi kembali ia berpikir.

Jikalau kejadian ini adalah perbuatan Kam Lee, mengapa ia kewalahan menghadapi serangan tongkat besiku tadi ?"

Sementara itu, Seng Chiu Tiat Wan sudah henti bertindak dan asyik memandang sekelilingnya. :

“Cie Yang Totiang tentu lewat dari sini, mari kita kejar dia!"

Tapi sinenek masih ragu2 dan bersangsi, maka iapun segera menyahut.

Tunggu dulu! Sebaiknya kita mengadakan penyelidikan yang seksama ditempat ini!"

Meski ia berkata demikian, namun ia tetap tidak bergerak. la sedang termenung memikirkan sesuatu.

Seng Chiu Tiat Wan menganggap beralasan juga, maka iapun menoleh.

"Baiklah, sebaiknya kita saling berpencaran, bila dalam tempo setengah jam kita tidak dapat menemukan sesuatu, maka kita akan bertemu kembali ditempat ini !"

Tiat Kuy Lolo bersama Kam Lee menyetujui, maka setelah dibagi daerah operasinya, segera merekapun berpencaran !

Sesungguhnya, Tut Kuy Lolo tidak mangandung maksud untuk menyelidiki, tapi karena Kam Lee sangat mencurigakan hatinya, bila betul ia adalah murid Seng Chiu Tiat Wan, maka teranglah bahwa kepandaiannya tentu berada dibawah mereka berdua. Tapi tadi ia telah menyaksikan kepandaian sianak muda itu, nampaknya ilmu ringan tubuhnya tidaklah dibawah mereka berdua!

Suatu hal yang lebih2 mencurigakan pula yalah bahwa Kam Lee telah melihat Cie Yang Totiang ditempat ini, tapi mengapa ia tiba2 sudah berada dilereng gunung?

Berpikir sampai disini, kembali ia menggeleng2kan kepalanya dan menggumam seorang diri:

"Ah, aku banyak menaruh syah-wasangka Tadi terang2 ia sangat kewalahan menghadapi tongkatku, jangan kata ia bisa menandingi Kiu Hwa Sam Cu, meski ia melawan salah seorang diantaranya, mungkin dalam 5 jurus saja ia sudah binasa." Tapi bagaimanapun juga hati sinenek agaknya tetap diliputi rasa curiga, itulah disebabkan Kam Lee sudah datang 3 hari terlebih dahulu, dalam 3 hari ini apa gcrangan yang telah ia perbuat?

III

Diliputi rasa curiga.

Sinenek berpikir bolak-balik, dalan, waktu singkat ia tak dapat memecahkan soal ini. Bagaikan seorang yang lupa ingatan ia berjalan, dua kali berputar2 dalam hutan itu. Waktu setengah jam yang dijanjikan itu, kini hampir tiba

! Namun persoalannya tetap masih merupakan sebuah masalah, maka rasa curiga terhadap Kam Lee semakin mendalam.

Dengan langkah yang sangat berat sinenek kembali kejalan semula, tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah, tiba2 terdengar suara tertawa orang dari dalam hutan. Nadanya dingin seperti es.

Kiat Kuy Lolo terkejut bukan kepalang! Cepat2 ia membalikkan badannya dan melihat kesekitarnya, tapi tidak kelihatan bayangan manusia.

Tapi terang2 ia telah mendengar tertawa itu ! Mengapa waktu hanya sekejapan saja sudah lenyap ?

Sinenek yakin bahwa orang itu pasti masih berada disekitar tempat itu, bila pada saat itu menampakkan dirinya, walaupun dirinya bukan tandingannya, tapi bagaimanapun ia tak ingin melepaskannya dengan mudah.

Maka segera ia mencekal erat2 tongkatnya, dan ber-lari-lari menuju hutan dengan hati berdebar-debar,

Hutan itu sebenarnya memang tidak luas, maka dengan jelas nenek dapat memandang segala pelosok. Tapi hutan itu begitu sunyi dan tidak kelihatan bayang2an seseorang pun jua.

Dengan demikian, Tiat Kuy Lolo makin bercuriga. Kalaupun ia memburu dengan cepat, namun ia masih belum melihat sesosok tubuh manusia.

Suasana dalam hutan itu sunyi-sepi. Angin malam mengembus tidak henti2nya. Tiba2 segumpal awan ber-kisar menutupi cahaya bulan. Hutan kini berubah menjadi gelap.

Pada saat itulah desiran angin menyambar punggung sinenek!

Sinenek berputar bagaikan kilat, dengan tipu Heng sauw Ceng-kun "atau" Menyapu melintang-ribuan-laskar, ia memukul kebelakang.

Tapi sabetannya mengenakan tempat kosong tidak seorang pun berada dibelakangnya.

Sungguh aneh!

Sinenek menjadi murka, hingga berteriakan gusar:

"Mengapa kau selalu mempermainkan aku? Hayo, lekas keluar?" Dia membuka matanya lebar2, siap2 untuk menyerbu.

Tapi teriakannya itu tidak mendapat balasan. Kembali hatinya diliputi kesangsian.

"Apa aku berhadapan dengan setan ? Nampaknya tempat tidak pernah dilalui orang?"

Kembali ia berpikir pula, tadi ia mendengar suara tertawa dan angin sambaran menyerang dirinya. Sudah pasti itulah perbuatan manusia! Dia sudah puluhan tahun malang-melintang dalam kangouw, dan belum pernah bertemu setan.

Selagi ia termangu2, kembali terdengar suara tertawa. Suara tertawa ini begitu jelas kedengarannya, se-olah2 terdengar ditelinganya. Sinenek, kembali menyabat dengan tongkatnya kebelaknag, tapi kembali ia memukul tempat kosong !

Sinenek telah saksikan dengan tegas sesosok tubuh manusia berdiri dibelakangnya dan ia mendengar tartawanya, tapi mengapa tiba2 semua lenyap pula?

Sebagai seorang Ciang-bun-jin dari suatu partai kenamaan, pastilah kepandaian sinenek tidak rendah. Namun kini dirinya terus menerus dipermainkan, maka timbullah kecurigaannya bahwa, semuanya itu adalah perbuatan setan, bukannya suatu hal yang dapat dilakukan oleh manusia.

Dia berdiri ter-mangu2 bagaikan orang yang kehilangan ingatan, otaknya diasa terus, dan akhirnya ia dapat memastikan bahwa suara tertawa itu bila bukan perbuatan setan tentulah Kie Thian Tal Seng yang mengeluarkannya.

Begitu mengingat Kie Thian Tai Seng, kembali ia memegang erat2 tongkatnya.

Tiat Kuy Lolo mengelah napas pelahan2 penuh rasa kemendongkolan, tapi belum juga keluhan itu berhenti, kembali suara tetlawa terdengar diudara.

Tiat Kuy Lolo putarkan badannya, tapi suara tertawa itu kembali terdengar dibelakang badannya. Tiba2 terdengar suara : suara "Penolong dermawan, mengapa penolong masih belum pergi?"

Tiat Kuy Lolo tak tahu lagi, ia berteriak menggeledek," Penolong siapa? Bangsat, siapa kau ?I"

Kata2nya disusul dengan pukulan tongkatnya yang disertai tenaga, namun hanya terdengar deruan desiran angin. Suara tertawa orang itu makin mengejek!

Ber-turut2 ia menyerang dengan tongkatnya, tapi baju orang pun ia tidak sanggup menyentuhnya! Berkata sebenarnya, ia sendiri tak tahu apa dirinya sedang ber-hadapan dengan manusia atau hantu ?

Kembali suara tertawa dingin itu terdengar pulaa bagaikan suara desiran nyamuk selalu menyambar ditelinganya. Dalam keadaan tak berdaya terpaksa sinenek menghentikan serangannya yang membabi buta dan berseru penasaran:

"Aku sinenek menyerah kalah, kau mau jiwaku bunuhah aku segera!"

Tapi kembali telinganya terdengar suara orang itu bagaikan desiran nyamuk: "Penolong yang budiman" .Menyusul berkelebatlah sesosok bayangan merah kedalam hutan dengan gesitnya!

Ternyata orang itu tidak melukai dirinya!

Tiat Kuy Lolo berdiri kesima. beberapa saat lamanya ia bersangsi.

Kemudian secepat kilat ia mengejar!

Namun gerakan orang itu benar2 cepat laksana kilat sekejapan mata saja sudah berlari 10 tombak jauhnya. Sinenek mengejar terus! Tapi bayangan merah itu lenyap dari pandangan matanya. Selagi sinenek ter-heran2 mengapa orang menyebut dirinya penolong dermawan, tiba2 ada orang memanggil-nya : "Popo, kiranya kau disini?"

Ia menengok ! Ternyata orang yang memanggil itu bukan lain Seng Chiu Tiat Wan Lu Ce Beng!

"Lu Taihiap, aku telah dipecundangi orang !" sinenek mengelah napas.

"Apa?" tanya Lu Cie Beng kaget, "Apa kau telah bertemu dengan

dia?"

Dengan wajah pucat penasaran sinenek menatap muka orang.

kemudian ia menceritakan kejadian yang ia telah alami tadi.

Mendengar cerita itu, tiba2 Lu Cie Beng mengeluarkan sepasang gelang besinya, dan kemudian menimpukkan kesebuah pohon besar yang berada tiga tombak jauhnya. Terdengar suara gaduh, dan pohon itu lantas tumbang patah.

"Hm, lelucon apa yang sedang diperdengarkan lagi?" menanya Lu Cie Beng gusar, setelah mendengar orang itu menyebut penolong dermawan kepada Tiat Kuy Lolo. Ia menyangka itu hanyalah siasat musuh.

Kiranya Lu Cie Beng mendapat gelar Seng Chiu Tiat Wan, karena permainan gelangnya yang sangat istimewa itu, seperti tadi dengan sekali menimpuk batang pohon ittue besar itu dapat dengan mudah ditumbangkannya. Bila mengenai orang, niscaya akan remuk badannya.

Sinenek yang penyakitan kepandaian orang, hanya menggeleng2kan kepalanya : "Lu Taihtap, temannya ini tidak berguna!"

Seng Chiu Tiat Wan menjadi penasaran: Hm, tiada berguna? Tapi aku ingin sekali bertemu dengan Kie Thian Tai Seng untuk menjajal 3 buah gelang besiku!"

Baru selesai ia berkata, tiba2 terdengar suara dingin dari belakang. Serentak mereka membalikkan badannya, tetapi ternyata tiada bayangan seorang pun jua.

Dengan demikian, Seng Ciu Tiat Wan menjadi heran juga ! la tidak menyangka bahwa ada orang yang berkepandaian demikian tingginya hingga bila bukannya ia telah menyaksikan dengan mata sendiri, pasti ia takkan pecaya adanya.

Sinenek berseru:" Dia belum berlalu dari sini."

Kata2 ini samar mengandung sindiran, seakan-akan ia maksudkan "Engkau tak mempunyai kemampuam."

Seng Chiu Tiat Wan mengetahui sindiran sirenek ? Dengan mengambil kesempatan selagi suara tertawa orang masih menggema diudara, badannya tiba2 melesat. Sepasang gelang besinya menyambar laksana kilat !

Gelang besi Lu Cie Beng sangat istimewa : pada gelang itu terikat seutas tali urat yang dapat memanjang dan memendek. Dalam jarak jauh dapat mengenai sasarannya sejauh 5 tombak lebih, maka bila orang yang tertawa itu masih berada dalam hutan itu, ia berkeyakinan akan dapat melukai orang itu, atau setidaknya dapat memaksakan orang untuk keluar menampakkan dirinya.

Namun kejadiannya ternyata diluar dugaannya sama sekali, Timpukan gelang besi itu hanya menyebabkan betapa buah daun yang berjatuhan rontok, tapi orang yang dicari tidak kunjung muncul.

Tatkala itu, badan Seng Chiu Tiat Wan sudah hinggap kembali ketanah. Sinenek khawatir ada sesuatu yang akan menimpah dirinya, maka iapun loncat mendekati.

Mereka segera mengadakan pengejaran kedalam hutan.

Sekonyong2 sesosok bayangan merah berkelebat dihadapan Lu Cie Beng !

Sebuah tangan menyampok ! Seng Chiu Tiat Wan mendadak menjerit karas, lalu sempoyongan dan jatuh!

Sinenek berdiri terpaku, muka Seng Chiu Tiat Wan sangat pucat, napasnya empas-empis.Nampaknya tak lama pula akan menemui ajalnya. Hatinya sangat terharu, hampir2 ia mengucurkan air matanya.

Dalam waktu hanya semalaman, Tiat Kuy Lolo dengan mata sendiri menyaksikan beberapa orang pandai dibunuh dengan kejam. Pikirannya menjadi bimbang, cemas. Meskipun ia terhitung orang yang tidak dicelakai, namun bagaimana perkembangan selanjutnya ? Pada saat ini siapa yang mengetahui?

Entah lewat beberapa lamanya, tiba2 dari kejauhan terdengar suara langkah kaki orang. Ia menoleh. Sesosok bayangan sedang ber-lari2 mendatangi.

Gerakan orang itu sangat pesat! Sinenek mengenali bahwa orang itu bukan lain daripada Kam Lee, murid Seng Chiu Tiat Wan.

“Khouw Lo cianpwee, apa kau lihat guruku?" tanya Kam Lee begitu ia melihat Tiat Kuy Lolo.

Sinenek yang masih diliputi kecurigaan sebaliknya membalas bertanya : "Kau pergi ke mana saja ? Gurumu telah dicelakai orang!"

Demi mendengar keterangan orang, air muka sipemuda berubah. la menyahut dengan suara gemetaran: "Benarkah?"

Tatkala ia memadang, benar saja tampak gurunya sedang menggeletak ditanah. Dengan jeritan parau ia maju menubruk.

Ketika Kam Lee memeriksa, ternyata Lu Cie Beng sudah tidak bernapas lagi.

"Apa sebenarnya yang telah terjadi? Tiat Kuy Cian-pwee, berikanlah aku keterangan!" sipemuda mendesis dengan mata berkilat-kilat.

Kata2nya sangat parau, dan air matanya berlinang2. Hati sinenek tidak tega untuk mendapat, kecurigaannya pun ikut luntur. la diam2 berpikir:

"Melihat kelakuannya, agaknya bukan sedang bersandiwara, dan aku melihat sendiri orang itu berbaju merah, sedang Kam Lee memakai baju hijau. Berdasarkan hal ini saja, dapat dipastikan bukan ini baju perbuatannya!"

Malam itu benar2 malam angker. Diatas pegunungan berturut2 muncul beberapa orang, dan mereka satu-persatu telah binasa. Saat ini hanya tinggal Tiat Kuy Lolo dan Kam Lee berdua, jika sinenek mencurigai Kie Thian Tai Seng adalah Kam Lee, maka Kam Lee pun beralasan untuk mencurigai bahwa sineneklah yang ber-buat demikian terhadap beberapa orang itu.

Tidak mendapat jawaban dari sinenek, maka tiba2 Kam Lee menghunus pedangnya.

“Hm, hm : Aku kini mengetahui dengan jelas. Guruku beserta beberapa orang2 pandai itu, semuanya adalah kau yang membunuhnya. Kau ber pura2 mengalihkan soal ini kepada Kie Thian Tai Seng ! Hayo, lekas kau ganti jiwa guruku!"

Habis berkata, dengan pedangnya secepat kilat ia menusuk tenggrokan sinenek. Itulah hebat sekali!

Sinenek menjadi gusar, ia mengira Kam Lee sengaja melontarkan tuduhan2 untuk dapat mencuci bersih perbuatannya, maka ia pun tertawa dingin :

"Gurumu dibunuh oleh siapa, kau sendirilah yang mengetahui.

Jangan kau, berlaga pion dihadapku! Aku sinenek tak dapat gampang2 dikelabui !"

Keruan saja Kam Lee menjadi murka, dengan mata melotot ia membentak :

Apa katamu ? Kapan aku mengelabui kau? Hm,hm! Apa kau masih mau menyangkal lagi ?"

Kembali ia menyerang, dengan pedangnya. la mendesak dengan kejam !

Menampak air mukanya yang tegang, se-olah2 sedang mempertaruhkan jiwanya, sinenek menjadi kaget. Saat itu tiada kesempatan pula baginya untuk berebut bicara, maka ia menyampok pedang orang dengan tongkatnya!

Kam Lee memperdengarkan ejekannya, pedangnya bergetar, berturut2 ia menyerang pula sinenek dengan pedangnya .

Hati sinenek ragu2. Ia mencurigai bahwa Kie Thian Tat Seng adalah Kam Lee, tapi entah mengapa, pada saat itu ia tidak ingin menurunkan tangan jahatnya kepada sianak muda.

Ia menyampok pelahan2 setiap serangan Iawan. Dengan demikian, maka sinenek semangkin bingung.

Melihat permainan kian-hoatnya, semakin tidak mirip !" pikirnya. Kie Thian Tai Seng, dalam waktu yang singkat dapat membunuh beberapa tokoh persilatan, kepandaiannya tentu bukan sebangsa Kam

Lee. Maka akhirnya ia berkelit kesamping dan berseru : Sabar dulu, aku hendak mengatakan sesuatu !

Kam Lee mana mau menuruti, laksana harimau edan ia berteriak menggeledek !

"Kecuali kalau kau mengakui bahwa kau yang telah membunuh guruku!"

Kembali ber ulang2 ia menyerang lawannya dengan pedangnya ! Mendengar tuduhan orang ini, tak tahan lagi sinenek menjadi mendongkol. Dengan gusar ia menghantam pedang lawan dengan tongkatnya!

Sampokan tongkat sinenek adalah hebat ! Terdengar suara angin menderu-deru, dan pedang Kam Lee lantas mental ! Tongkat sinenek dengan ganas menyambar turun. .

Kam Lee menjerit karna terperanjatnya. Ia menjatuhkan badannya dan berguling2 ditanah. la berhasil menyelamatkan jiwanya, namun sekujur badannya bermandikan peluh dingin.

Dan sinenek pun tak kalah pula terkejutnya. Ia mundur kebelakang!

Maka dengan ini jelaslah bahwa kepandaian Kam Lee terpaut jauh sekali bila dibanding dengan Kie Thian Tai Seng

Sementara itu, mereka saling ber-pandang2an dengan mata membelalak. Kam Lee memandang dengan penuh kegusaran, sedang sinenek kecewa dan malu atas dugaannya yang telah meleset tiu.

Perasaan mereka saat ini sungguh sangat berbeda sekali!

Kam Lee dengan penuh kegusaran menatap sinenek. dengan mata melotot.

Namun iapun insyaf bahwa lawannya itu adalah Ciang-Bun-Jin Hwa- San Pay.

Kepandaiannya sendiri masih rendah, maka sakit hati sang guru yang sedalam laut itu, terpaksa ia urungkan untuk menanti kesempatan lain.

Dengan mata basah ia menjumput pedangnya yang terpental.

Sinenek menjadi tergerak hatinya. Tiba2 ia loncat menghandang didadanya.

"Tunggul" "Aku tak dapat mengalahkan kau, apa akupun tak boleh pergi?" jawab sianak muda dengan penasaran.

"Jenazah gurumu kau tak menghiraukan, jelaslah bahwa hatimu sangat buruk!"

Kata2 sinenek ini mengandung arti sang sangat dalam, namun Kam Lee tak dapat memahaminya. sebaliknya dengan mata tetap melotot, ia mengangkat mayat gurunya, dan kemudian berlari pergi!

Sinenek menghantar dengan pandangan mata, walaupun ia sangsi, namun kecurigaanya terhadap Kam Lee, masih tetap ada.

Malam sunyi-senyap. Cahaya mulai suram karena bulan condong kebarat, dan sementara itu fajar mulai menyingsing diufuk timur.

Parlahan-lahan sinenek berlalu meninggalkan tempat itu.

Ia berjalan sambil- termenung. Berselang tak lama sampai dikaki gunung. Ia menoleh dan melihat sebuah dataran yang sangat luas.

Sinenek tetap berjalan dan perlahan tatkala hampir tiba didusun Cong-Hwa Cun. Hari pun sudah siang. Hatinya berpikir.

"Daripada aku masuk kedusun itu, lebih baik aku mencari tempat uniuk beristirahat dulu ditempat lain I"

Sekonyong2 terdengar derap kaki kuda yang riuh dan sesaat kemudian, tampak seekor kuda berbuluh merah. Belum juga sempat sinenek melihat siapa sipenunggangnya, tiba2 terdengar bunyi :

"Tarr !"

Seekor pecut laksana ular merah tahu melilit tubuh sinenek.

Sinenek terkejut luar biasa. Sementara itu terdengar juga suara bentakan orang perempuan.

"Hay, siapa berani merintangi perjalananku!"

Tiat Kuy Lolo sedang diliputi kemendongkolan, sekarang dirinya dipecut olch orang tanpa sebab musabab, keruan saja ia menjadi gusar. Tapi setelah mendengar suara orang yang ternyata adalah scorang gadis remaja, dan mengingat kedudukan dirinya yang lebih tua, ia malu untuk menghunus senjatanya. Dengan tangan kiri ia menjambak pecut orang dan berteriak :

"Eeh, nona ! Mengapa kau tidak tahu aturan?"

Walaupun tangannya mencengkeram asal saja, tapi jika sinona hendak berkelit, rasanya tidak gampang !"

Tapi sungguh diluar dugaan Sinona dengan lincah menarik pulang pecutnya. Mendadak tangannya membalik, kini ia melilit pergelangan tangan sinenek !

Walaupun masih berusia begitu muda, namun gerakannya sangat lihai ! Sinenek terkesiap.

Pikirnya "Gadis int masih muda belia, tapi tak dinyana kapandaiannya hebat sekali !'

Tanpa ayal, sinenek menyapu dengan tongkatnya !

Mendadak pandangannya kabur. Sigadis ternyata sudah lompat melewati diatas kepalanya.

Tongkat memukul tempat kosong. Sinenek membalikkan badannya dan tatkala itu sigadis sudah hinggap berdiri ditanah.

Tiat Kuy Kolo memandang gadis yang berdiri didepan matanya itu.

Usianya kira2 17 tahun, alisnya hitam melentik dan dserasikan dangan sepasang matanya yang besar dan jeli. Matanya itu memancarkan sinar yang berpengaruh, cantik nan parsonakan hati setiap orang.

"Sungguh aneh !" menggerutu sinenek dalam hatinya, "Bagaimana tempat ini berturut2 muncul orang2 pandai?

“Hm, tak dinyana ilnu tongkatmu lumayan juga. Mari, coba kau terima lagi beberapa jurus pecutku!" tantang sigadis.

Sigadis bersiul nyaring dan pecut merah kembali meluncur ketubuh sinenek !

Saat itu, hari baru menjelang pagi. Maka masih sedikit orang yang jalan. Sekarang sinenek naik-darahnya.

"Hay kau siapa? Mengapa bergitu tdak kenal sopan-santun?"

Tongkat diputar dan menyerang ketangan Iawan yang menyekal pecut .

Sinenek ingin memberikan hajaran agar sigadis tahu bahwa diluar langit ada langit !

Namun sekoyong-konyong terdengar gadis itu mengejeknya sambil tertawa : Bagus, permainan tongkat yang bagus I" "Taar !"

Tangan Tiat Kuy Lolo terdengar! Terang2 tongkatnya hampir mengenai sasarannya, tapi tiba2 malahan dililit oleh pecut !

Mereka segera saling tarik-menarik mengadu tenaga. Sinenek beranggapan bahwa dengan latihannya yang sudah puluhan tahun itu, dengan sekali membetot tentu sigadis rohoh. Tapi ia dibikin tercengang. Sigadis dengan air muka ke-merah2an mempertahankan dirinya, segeming pun tidak bergerak !

Sinenek diam2 terperanjat, kembali ia mengerahkan tenaga dalamnya! Tapi sia2 belaka.

Gadis itu bersikap tenang2, dengan pipi kemerah2an. Ah, cantik rupawan.

Sedangkan sinenek sudah mengucurkan peluh dingin ! Dengan tenaga-dalam yang telah diyakinkan puluhan tahun,

sinenek tidak bisa mengalahkan seorang dara muda. Bila kejadian ini tersiar, entah kemana ia, harus menyembunyikan mukanya?

Namun sebaliknya sinonapun tak bisa meroboh lawannya!

Diantara mereka tidak ada yang mau mengalah. Terjadi suatu keadaan se imbang dalam mempertahankan kedudukan masing2.

Hati sinenek kembali gundah-gulana.

IV.

Mereka saling berkutetan mempertahankan kedudukannya, dan berselang beberapa lama,keringat membasahi kepala masing2.

Walaupun gadis itu masih muda remaja, tapi sikapnya sangat angkuh tak mau mengalah.

Keadaan mereka itu sangat krisis bila pertempuran lwee-kang ini diteruskan, maka dalam waktu yang singkat, kedua pihak pasti akan mendapat luka parah !

Sinenek tidak mau kehilangan pamor, sedang sinona pun tidak mau mengalah.

Tiba2 seorang pemuda baju kuning sebagai penonton perlahan2 berjalan mendatangi.

Ia sebenarnya berjalan sambil menundukkan kepalanya tapi iapun mendongak berseru kaget:

"Ee, ada yang berkelahi?

Suaranya keras berkumandang, sigadis dan sinenek dapat mendengarnya jelas, tapi tiada seorang pun yang berani memecah perhatian.

Diam2 sinenek terkejut. Celaka ! Tentu dia konconya?"

Walaupun hatinya hanya sekilas berpikir demikian, tapi cukup untuk mengganggu semangatnya. Kesempatan ini lantas digunakan oleh si nona, yang mendesak maju satu langkah.

Sinenek terkejut! Buru2 ia pusatkan semangatnya untuk mempertahankan posisinya dengan dengan jelaslah bahwa ia sudah jatuh dibawah angin! Pemuda baju kuning itu datang maenghampiri, dengan pandangan tajam ia mengawasi sinona.

Sinona yang mengetahui dirinya diawasi orang, air muka nya segera berubah. Dengan bengis iapun kelak memandang.

Pemuda baju kuning itu tersenyum. "Nona, kepandainmu sungguh hebat!" ia memuji.

Pemuda itu berkata dengan penuh lagak, sehabis berkata, ia berjalan mundar-mandir beberapa kali, pandangannya senantiasa diarahkan kejurusan dari mana ia datang tadi.

Sinenek menjadi bercekat hatinya. Tak tahu ia siapa gerangan pemuda ini.

Pemuda itu mengerutkan alisnya, Ia berkata

"Kauwnio, aku hendak memberi tahukan bahwa Kiu Hwa Sam Cu beserta Siauw Lim Beng Ceng Taisu, Kun Lun Pek Lo cianpwee telah menemui ajalnya, dibawah tangan Kie Thian Sen. Aaah! Kamu datang terlambat, mengapa tidak lekas pergi melihatnya?"

Mendengar ucapan itu, sigadis benar2 seperti hendak mempercapat menyelesaikan pertempurannya, Tiba2 tangan kanannya menghunus sebilah belati yang berkilau2 cahayanya, tapi baru saja ia hendak melontarkannya kepada nenek, atau tiba2 terdengar suara bentakan orang:

"Huy-Jie, jangan kurang ajar! Lekas kau lepaskan pecutmu!”

Sekejapan, dalam gelangan pertempuran tambah seorang wanita setengah umur.

Wanita ini mengenakan baju warna ungu yang bersih, dengan pandangan yang gusar ia melotot pada putrinya masih belum mau melepaskan pecutnya. Tiba2 ia lompat ke tengah pertempuran.

Sinona dan sinenek masing2 mundur kebelakang. Wanita itu kini entah dengan cara bagaimana sudah merebut tongkat besi dan pecut merah. Dapatlah dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaiannya !

Kedua orang itu berdiri dengan napas sengal-senggal. Wanita baju ungu memberi hormat pada sinenek.

"Khouw Locianpwee, harap memaafkan kelancangan putriku yang semberono."

Berbareng ia mengembalikan tongkat dangan sikap hormat.

Wanita baju ungu yang berkepandaian tinggi itu, membahasakan Lo cianpwee kepada sinenek !

Tiat Kuy Lolo dengan wajah keheran2an bertanya:

"Maafkan aku nenek yang sudah lamur, entah panggilan apa kepada orang pandai dihadapan ku ?"

Wanita baju ungu itu buru2 menyahuti :

"Tak berani, Lo cianpwee jangan membikin aku malu: "Lima tahun yang lalu kita telah saling bertemu di See Pek tak dinyana Locianpwee masih tetap gagah tak berubah, sungguh2 membuat hatiku kagum."

Meskipun ia tidak menyebutkan namanya, tapi dengan kata2 yang diucapkan itu, sudah cukup membuat nenek berseru tertahan. "Oh„ kiranya Cie le Sian Kauw atau Dewi baju ungu! Benar2 mataku sudah lamur !"

Cie le Sian-kauw tersenyum.

"Ingatan Lo Cianpwee benar2 sangat terang!" Sementara itu sigadis datang menghampiri. "Ibu, apa kau kenal nenek tua ini?”

Cie Ie Sian-kauw berubah air mukanya, ia membentak keras: "Huy jie, lekas minta maaf kepada Khauw Lo cian-pwee !"

Sinona memonyongkan mulutnya, meski hatinya tidak mau, tapi ia menurut juga:

"Tiat Kuy Lolo, Huy-jie memberi hormat kepada kau orang tua !" Dan benar2 ia berlutut memberi hormat.

Sinenek buru2 mengangkat badan sigadis dan dengan penuh kekaguman ia berkata :

Benar2 gelombang laut mendorong yang didepan, sepertinya aku situa bangka ini seharusnya sudah mengundurkan diri !"

Cie le Sian-kauw tiba2 berseru:

"Siapa pemuda itu ? Mengapa ia pergi pula ?"

Tadi karena bertanding dengan Huy-jie, maka aku tidak memperhatikan dia!" sahut sinenek sambil melontarkan pandangannya.

Huy-jie teringat akan kata2 pemuda baju kuning itu, maka iapun berkata kaget : "Orang itu berkata bahwa Kiu Hwa San Cu dan lain2 telah binasa oleh Kie Thian Tai Seng!"

„Itu memang benar:" sahut sinenek membetuIkan.

Cie Ie Sian-kauw merasakan sekujur badannya bergemeteran Huy-jie, lekaslah kau pergi periksa kuil Kiu Kwa Sie ! Jangan2 Kiu

Hwa Sam Cu tidak dapat ditolong lagi!” ujarnya.

Selagi sinona hendak berlalu, Tiat Kuy Lolo sudah mencegahnya:

Tak usah pergi ! Mayat mereka sudah aku kubur, sekarang pergi pun tiada gunanya !"

Cie Ie Sian-Kauw menjadi sangat terkejut, hingga mukanya pucat.

Apa ?! Kiu Hwa Sam Cu sudah mati? Aaah, sayang aku datang terlambat!

Sinona lebih2 terkejut, dengan suara parau ia menegasi ! "Apa betul mereka dicelakai Kie Thian Kai Seng ?"

Tiat Kuy Lolo mengelah napas panjang. ia manggut : “Kauwnio, ini memang benar2 telah terjadi !"

"Kematian mereka itu benar2 sangat penasaran, kami datang jauh2 tapi ternyata sudah terlambat." berseru Cie Ie Sian-kauw penasaran.

Kata2nya itu mengandung arti tertentu; tapi karena sinenek sedang dalam keadaan cemas, maka ia tidak ambil perhatian.

Mati, semuanya sudah pada mati ! Jika bukan perbuatan Kie Tian Tai Seng, siapa lagi yang bisa melakukannya?"

Peristiwa hebat itu benar2 sangat mengejutkan hati si Dewi baja ungu !

Benar2 diluar dugaannya, ia mengira bahwa dengan kepandaian yang lumayan Kiu Hwa Sam Cu meski tidak dapat mengalahkan Kie Thian Tai Seng, tapi dengan kekuatan bergabung, Kie Thian Tai Seng tentu tidak akan menarik banyak keuntungan. Maka demi mendengar sinenek berkata semuanya sudah pada mati, ia tak tahu siapa lagi yang lain itu?

Sinenek memandang wajah Cie Ie Sian-kauw dengan muram. "Yang mendapat celaka bukan saja Kiu Hwa Sam Cu bertiga, tapi

juga Siauw-lim Beng Ceng Taisu, Kun-Lun Pek Beng Yam, mereka telah menemui ajaInya ! Lu-Tong Cie Yang Totiang menghilang tak tahu kemana perginya ? Aaah, benar2 merupakan malapetaka !"

Maka iapun segera menceritakan pengalaman yang baru ia alami, dan kecurigaannya terhadap diri Kam Lee.

Jika Kie Thian Tai Seng adalah Kam Lee, bukan saja kepandaiannya tidak mirip lagipula ia tak nanti berani menurunkan tangan jahatnya terhadap gurunya sendiri. Dan siapa pemuda itu tadi !

Aku seperti pernah melihatnya !"

Cie Ie Siam-kauw mendengar ceritera orang dengan penuh perhatian, dan tatkala ia mendengar Tiat Kuy Lolo mengatakan bahwa bayangan merah itu memanggilnya Tuan penolong maka ia pun bertanya

: "Coba Locian-pwee ingat2, apa ada hubungannya dengan dia itu ?" Tidak ada!" sahut sinenek seraya menggeleng2kan kepalanya Cie Ie Sian-kauw mengerutkan alisnya.

Soal ini sekarang sulit diterangkan. Bagaimana menurut pandangan Lolo sekarang?”

Setelah berpikir sebentar, sinenek menyahut :

"Sekarang tokoh2 partai telah celaka, kecuali aku sinenek seorang yang tidak di-apa2kan.

Menurut pikiranku, jangan2 dia sengaja berbuat demikian untuk menyuruh aku mengabarkan kejadian ini kepada semua partai yang bersangkutan. Rupanya ia sudah mempunyai rencana terlebih dahulu terhadap diriku."

Cie Ie Sian-kauw diam saja, selagi ia hendak mengajak putrinya untuk berlaIu atau tiba2 terdengar suara orang berkata dingin:

"Penolong budiman, mengapa kau berkata demikian ?"

Suara ini datangnya dari dalam hutan, belum juga suara itu lenyap, atau Cie Ie Sian-kauw sudah berlari memburu. Sinonapun ikut mengejar dibelakangnya.

Tiat Kuy Lolo berdiri menjublak karna kagetnya. Kie Thian Tai Seng masih berada disekitarnya! Demi melihat mereka loncat mengejar, iapun memburu kearah dari mana suara itu datang !

Walaupun gerakan mereka cepat laksana kilat, namun setibanya dalam hutan, mereka menubruk tempat kosong.

Cie Ie Sian-kauw memutar2kan biji matanya, dan berseru : Huy-jie, lekas kau ikut aku kegunung Kiu Hwa San!"

Kemudian ia berpaling kepada sinenek: "Bila Lo-cianpwee tiada mempunyai urusan penting sebaiknya ikut kami juga!"

"Walaupun aku sinenek tiada berguna, tapi akupun ingin menyaksikan kalian dapat membunuh Kie Thian Tai Seng yang sangat kejam itu!" "Lo-cianpwee, janganlah merendahkan diri ! Mari kita pergi sekarang!"

Tanpa ayal mereka ber-lari2 mendaki gunung.

Tiat Kuy Lolo mengetahui bahwa keadaan sangat mendesak sekali.

Nampaknya Cie le Siankauw percaya bahwa orang yang berseru itu adalah Kie Thian Tai Seng !

Mereka adalah orang2 yang berilmu diantaranya Cie Ie Sian- kauwlah yang berkepandaian paling tinggi, maka tatkala ia sudah tiba dipuncak, Huy-jie dan Tiat Kuy Lolo baru sampai dliereng gunung.

Huy-jie belum pernah datang ke See Thian Bok San, tak tahu dimana kuil Kiu Hwa Sie itu, maka ia senantiasa mengikuti sinenek.

Sementara itu Sang Batara Surya sudah memancarkan sinarnya diatas kepaia. Tiat Kuy Lolo dengan diikuti Huy-jie tiba didepan kuil Kiu Hwa Sie.

Cie le Sian-kauw tidak kelihatan, maka dengan kaget sinenek menoIeh kepada Huy-jie:

"Siauw Kauwnio, kemana ibumu?"

Sinona dengan penuh keyakinan berkata :

"Tak apa2, Locianpwee. Kau antara aku masuk kedalam kuil untuk melihat2!"

Se-konyong2 mereka mendengar pula suara tertawa dingin! Sinona berteriak gusar dan lompat menyerang !

Walaupun Huy-jie masih sangat muda, namun kepandaiannya sudah dapat tergolong tinggi.

Gerakannya sangat Iincah dan cepat, namun ia menubruk tempat kosong.

Sinona terkejut ! Ia sadar bahwa hari ini ia sedang menghadapi seorang yang sangat pandai, maka dengan pedang terhunus ia membentak :

"Siapa kau yang kasak-kusuk itu, hayo lekas keluar!"

Teguran sinona itu mendapat jawaban: "Hm, besar benar mulutmu! Suara itu kini datang dari belakang sinenek !

Tiat Kuy Lolo terkejut. Disiang hari bolong seperti ini, ia ternyata sama sekali tidak mengetahui cara bagaimana orang itu bisa berada dibelakang dirinya. Benar2 tak dapat ia bayangkan.

Sinona pun heran bukan kepalang. Tanpa ayal ia menubruk lagi.

Tepat pada saat itu sesosok bayangan merah dengan jelas berkelebat dibawah penerangan sinar matahari, dan kemudian lenyap pula !

Sinenek yang menyaksikan sendiri, cepat2 memburu, dengan tongkatnya ia menyabat bertubi-tubi.

Bayangan itu sekali berkelebat, memperdengarkan suara tertawanya yang panjang nyaring. Kedengarannya laksana guntur!

Tongkat sinenek mengenai tempat kosong, kembali ia meloncat mengejar, tapi bayangan itu sudah lenyap pula.

Gerakan musuh benar2 menakjubkan. Sinenek meradak, hampir2 mencurigai bahwa ia sedang bermimpi di siang bari bolong! Namun, ia berani pastikan bahwa jelas itu adalah manusia!

Meskipun ia tidak dapat melihat jelas wajah orang, tapi ia tidak ragu2 atas kebenaran penglihatannya.

Dia berdiri sambil memandang kesekeliling tempat sementara itu sinona sudah memburu datang.

"Tiat Kuy Thanpwee, apa kau melihat orang itu?" Sinenek meng-geleng2kan kepalanya.

"Tidak. Tapi rasanya ia belum pergi jauh!"

"Hm, aku tak percaya ia bisa ilmu siluman!" berseru sinona penasaran.

Tatkala sigadis mengawasi keadaan disekitarnya, tampak sebuah jalanan kecil tidak jauh didepan.

"Tiat Kuy cianpwee, mari kita kejar dia!" Maka iapun lantas berlari mendahului!

Tiat Kuy Lolo khawatir sigadis akan mendapat kecelakaan. maka buru2 ia mengejar dari belakang.

Mereka tiba pada sebuah hutan, tapi kembali mereka menemui tempat kosong.

Huy-jie berhenti, ia menoleh sambil menggeleng2kan kepatanya: "Tak mungkin ia lari kesini, mari kita kembali saja!"

Sinenek yang lebih berpengalaman, mengadakan pemeriksaan ditempat itu. Tiba2 ia berseru : "Huy Kauwnio, coba kau lihat apa ini?"

Huy-jie buru2 menghampiri. Pada saat itu juga wajahnya berubah pucat ! Diatas rumput tampak sobekan kain ungu, ternyata adalah sobekan baju ibunya. Apakah yang telah terjadi?”

Tiat Kuy Lolo mengadakan penyelidikan. Tampak olehnya telapak kaki diatas tanah yang kacau-balau, kemudian telapak2 itu menuju lurus kedepan.

Ia mendongak memandang tampak tidak jauh dari mereka sebuah tanah lapang. Ia menarik badan Huy-jie dan berkata :

Mari kita lihat kesana!”

Sinona mengetahui dirinya sedang menghadapi bahaya, maka sifat angkuhnya mulai hilang, dan tidak ragu2 lagi mengikuti sinenek.

Tanah didaerah ini sangat tidak rata, mereka berjalan tak seberapa jauh, jalanan menjadi buntu.

Sinenek terdiam.

„Mengapa tidak ada jalan lain ? Kemana pergi Sian le Sian-kauw?"

Huy-jie melepaskan pandangannya, tampak tanah lapang itu terbatas oleh sebuah jurang dalam.

Jurang ini seluas 20 tombak lebih, dasarnya tertutup oleh kabut tebal, Meski orang yang berkepandaian bagaimana tinggipun sukar rasanya untuk dapat melalui.

Mereka saling berpandangan dengan hati bimbang. Sinona bertanya dengan cemas :

Tiat Kuy Cianpwee, bagaimana kita bisa melalui ?"

Selagi sinenek melepas pandangannya, tiba2 dari jauh bergerak sesosok bayangan. Coba kau lihat siapa itu ?"

Huy-jie mengalihkan pandangannya kearah dimana sinenek menunjuk. Benar saja dikejauhan tampak seorang sedang berjalan mendatangi dengan perlahan2.

Karena jaraknya agak jauh, maka meski mata mereka bagaimana jelipun, sukar untuk dapat melihat dengan tegas. Dalam keadaan gugup Huy-jie tiba2 menjerit :