-->

Bulan Jatuh di Lereng Gunung Jilid 22

Jilid 22

Gemak Ideran mengangguk memaklumi. Teringat betapa galak Rawayani, ia tersenyum geli. Minta keterangan :

- Kau dipaksa menghafalkan apa saja ? - - Kalau tuan muda segera berangkat, aku harus meng-ingatkan tentang kuda. Kalau- tidak segera berangkat, harus diingatkan lamanya perjalanan. Setelah itu aku harus memasak air minum dan menyediakan makan malam. -Sidin memberi keterangan.

Mendengar keterangan Sidin, hati Genfek Ideran ter-haru. Watak dan perangai Rawayani memang aneh. Dia bisa berubah menjadi hantu berbareng menjadi seorang dewi. Terhadap orang lain, tangannya gapah dan sedikit-sedikit main bunuh. Akan tetapi terhadap dirinya, selalu berusaha bersikap baik seperti wajarnya seorang gadis yang mengerti tata-santun. Meskipun demikian, maksudnya yang benar masih saja tertutup kabut. Sungguh!

Terhadap gadis itu, Gemak Ideran merasa takut.

**********

RAWAYANI TERGUGU melihat Gemak Ideran langsung meninggalkannya begitu terlepas dari libatan Lajuguna. Menuruti kata hati, pantas ia melampiaskan dendam. Na-mun entah apa sebabnya, dia tidak sampai berbuat begitu. la seperti mau mengerti. Maka dengan langkah pelahan ia menghampiri medan laskar Madura. Dua jam lamanya ia menunggu.

Barangkali Gemak Ideran teringat padanya Ternyata Gemak Ideran disibukk ,n oleh kata hatinya sendiri. Seluruh perhatian berada di laskar Madura. Karena itu, segera ia meninggalkan tempat Setelah menitipkan sepucuk surat kepada orang yang kebetulan bernama Sidin, ia melanjutkan perjalanan. Hari perjanjian masih cukup lama. Masih tiga pekan lagi. Maka tidak perlu ia tergesa-gesa Kebetulan, malah Sebab perjalanan untuk menghadap pertapa itu haras di-rahasiakan Di dunia ini hanya Cing Cing Goling seorang yang tahu. Cing Cing Goling mempunyai kaki-tangan yang tersebar luas. Menimbang demikian, tidak boleh ia langsung menuju sasaran. la perlu berputar-putar dulu. Siapa tahu, kaki tangan Cing Cing Goling mengikutinya dengan diam-diam.

Setelah mengambil kudanya, keesokan harinya ia mengarah ke kota Ngawi. Dari sana balik ke barat, memasuki kota Sukawati (Sragen). Dan dari Sragen menembus ke Selatan. Sampai di sini ia sudah menghabiskan waktu hampir dua minggu. Teringat akan perjanjiannya, buru-buru ia kembali ke Ngrambe. Ingin ia tahu apakah Gemak Ideran sudah mengambil kudanya. Ternyata benar.

- Kapan? - ia minta keterangan kepada Partosimin.

- Ya kira-kira lima eh enam hari yang lalu, nona. — Partosimin

memberi keterangan. - Ternyata orangnya ramah. -

- Kau berkata apa ? -

- Seperti pesan nona. Nona pergi ke Ngawi. -sahut Partosimin.

Rawayani tidak berkepanjangan. Kalau Gemak Ideran mendahului, berarti ia ketinggalan waktu enam hari. Maka perlu ia segera menyusul. Demikianlah setelah memberi sekedar persenan, ia berangkat meninggalkan Ngrambe. Kali ini tujuannya mengarah ke Timur, mengitari pinggang Gunung Lawu. Di tengah jalan, suatu pikiran menusuk benaknya.

- Gemak Ideran mengambil kudanya. Berarti ia sudah mendapat peiijelasan Sidin tentang lamanya perjalanan. Kalau satu minggu lagi aku berada di Jalatunda, tentunya akan ketemu. -

Selama berputar-putar hampir dua minggu, ia tidak menemukan sesuatu yang menarik perhatian. Mau ia per-caya, bahwa anak- buah Cing Cing Goling tidak mengikutinya. Walaupun demikian, masih perlu ia berwaspada. Karena kini ia justru menuju langsung ke sasaran.

Mulamula ia monjenguk dusun Jagaraga. Dari sana ia menembus ke Magetan. Menurut rencana, ia akan ke Sumarata dulu. Baru ke Bulukerta. Dan dari Bulukerta, tidak dapat lagi ia main putar- putaran. Kecuah waktunya makin mendesak, keadaan alam sudali mulai sukar dilalui. Kabarnya, sepanjang jalan ia bakal bertemu dengan hutan belukar dan bi-natang-binatang ganas Guntur, memang kuda istimewa.

Meskipun dibiarkan lari seenaknya, namun sama sekali tidak kelihatan lelah. Binatang itu masih saja segdr bugar. Pada hari ketiga sampailah perjalanan ke kota Magetan. Rawayani perlu beristi-rahat berbareng merawat kudanya.

Hari sudah gelap. Waktu Magrib sudah tiba setengah jam yang lalu Tiba-tiba seorang laki-laki berpakai n layak seorang pelayan datang meng-hampiri Kemudian temannya seorang yang mengenakan pakaian pungga dewa ikut mendampingi. Dengan mem bungkuk hormat dia berkata :

- Apakah nona yang bernama Rawayani ? -Rawayani tercengang. Inilah untuk yang pertama kali-

nya, namanya ditebak seseorang yang sama sekali belum dikenalnya. Biasanya, dialah yang tahu lebih dulu siapa orang yang berada di sekelilingnya.

- Mengapa ? - ia menegas dengan rasa curiga.

- Kami berdua diutus untuk menyediakan tempat penginapan. Di kota ini tiada rumah penginapan yang pantas. Apalagi untuk seorang puteri ^eperti nona. Maka kami menyediakan sebuah rumah rnungil menyendiri. Kami kira sesuai dengan nona.

Silahkan ! -

- Tunggu dulu! - Rawayani makin heran. - Kalian kenal namaku. Siapa yang member! tahu ? Kalianpun mengerti saat kedatanganku. Apakah ada yang memberi kabar ? -

Yang berpakaian punggawa desa menyahut :

- Menu rut yang mengutus kami, seseorang lelah datang tadi tengah har:. Kami diperintahkan untuk menyediakan sebuah rumah yang pantas untuk tempat penginapan seorang nona. Dan nona itu akan tiba di Magetan sesudah Magrib. Ternyata benar. - - Siapa dia ? -

- Seorang puteri juga. Dia kakak nona. Ah, syukur kami tidak kasep menyambut kedatangan nona. Kami berdua sudah lebih dari satu jam menunggu di sini. -

Rawayani heran bukan kepalang Kakaknya? Karena heran, ia menegas :

- Kakakku ? -

- Ya, kakak nona. -

Rawayani makin heran. Sebab ia tidak mempunyai kakak. Baik kakak laki-laki maupun perempuan. Sekarang ada seorang perempuan yang mengaku sebagai kakaknya Nampaknya dia berpengaruh, sehingga penntahnya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan tertib.

- Sebenarnya siapakah yang mengutus kalian berdua ?-

- Kepala Lurah kami. -

- Maksudmu Demang ? -

- Ya. —

(Demang memerintah delapan sampai sepuluh Kepala Dusun Kampung. Jabatan dan kekuasaannya mirip seorang Camat). Rawayani yakin, perempuan itu tentunya dari pihak pemerintahan yang harus diperhatikan bawahan nya. Lalu siapa ? Ayahnya memang bekas seorang bupati. Tetapi kecuali sudah meninggal, tidakkah mungkin berpengaruh sampai di wilayah Madiun.

Lagipula orang itu menyebut-nyebut seorang perempuan sebagai kakaknya. Siapa? Siapa ? Agar tidak membangkitkan kecurigaan kedua orang itu, ia berpikir di dalam hati:

— Ah , biarlah. Apa perduliku? Pokoknya aku mendapat penginapan yang bagus. —

Setelah berpikir demikian, ia berkata :

- Lalu di manakah aku bisa mendapat isi perut ? —

— Oh perkara itu ? - mereka tertawa. — Nona tinggal perintah saja. Mungkin sekali masakan kami tidak cocok. Akan tetapi kami sudah menyediakan daging ayam, kambing dan lembu. Dan semuanya beres. Maksud kami, kakak nona sudah membayarnya lunas. —

- Dan kuda ini ? -

— Itupun sudah adayang mengurus. —

Kedua orang itu kemudian mengantarkan Rawayani ke sebuah rumah mungil di perbatasan kota. Ruang dalam terawat rapih Ternyata di atas meja sudah tersedia masakan yang masih panas. Baunya sedap sekali. Daging ayam, daging Iembu dan kambing. Digoreng atau direbus dan di-masak. Karena perut Rawayani sudah lapar, maka tidaklah banyak ia menunrut.

Setelah menyerahkan kudanya, se-gera ia makan dengan lahapnya.

Malam itu ia merebahkan diri dengan berjaga-jaga. Kembali lagi ia ingin memecahkan teka-taki seorang pe-rempuan yang mengaku sebagai kakaknya. Tiba-tiba suatu bayangan berkelebat dalam otaknya. Itulah bayangan Diah Windu Rini. Dialah satu- satunya perempuan yang mungkin sekali mempunyai pengaruh sampai ke wilayah Madiun. Akan tetapi kalau dipikir apa kepentingannya mengikuti dirinya? Apakah ingin minta keterangan ten-tang Gemak Ideran. Kalau berul demikian, mengapa tidak bertanya langsung? Sampai di sini ia berbimbang- bimbang lagi. .Maka perlu ia menjaga diri, walaupun yakin perempuan itu tidak bermaksud buruk terhadapnya.

Keesokan harinya ia melanjutkan perjalanannya. la tiba di Sumarata menjelang petang. Pikirnya: — Di sini tidak ada penginapan. Padahal aku ingin menginap. Coba, dia bisa apa ?


Selagi membatin demikian, ia dihampiri seorang pung-gawa kampung. Orang itu membungkuk hormat Berkata:

— Bukankah nona yang bernama Rawayani? Kami di utus Pak Lurah menjemput nona. Pak Lurah sudah menyi-apkan sebuah kamar penginapan yang layak untuk nona.Silahkan ........... ! — Mau tak mau Rawayani heran juga. Siapakah yang menyediakan sebuah kamar penginapan baginya? Untuk menutupi rasa herannya, ia minta keterangan :

— Tentunya kakakku yang menyuruh menyediakait kamar penginapan. —

— Kakak ? — orang itu menegas. — Apakah dia seorang laki-laki berumur ........ —

— Kakak perempuan. —

— Sama sekali tidak. Dia pantas nona sebut sebagai ayah nona. Dengan galak dia menyuruh Kepala Kampung kami menyediakan penginapan. Tetapi dia pun memberi uang secukupnya. —

Mendengar keterangan orang itu, wajah Rawayani gu-ram. la heran berbareng mendongkol. Jelas sekali ada se-seorang yang ingin bergurau dengannya. "Kalau salah seorang anak-buahnya, jelas bukan. Dia tidak berani bersikap demikian terhadapnya. Lalu siapa ?

- Dia sendiri menyebut apa ? — ia minta keterangan dengan sungguh-sungguh.

- Paman nona. Apakah benar ? -

Agar menghilangkan rasa curiganya, Rawayani meng-angguk seraya tertawa. Tetapi pikirannya bingung mene-bak-nebak. Siapakah yang bergurau dengannya? Katanya di dalam had: - Dia menyebut diri sebagai pemanku. Kalau begitu dia tahu siapa diriku. Sebab aku tidak berayah lagi. -

Sebenarnya ingin ia menanyakan perawakan orang itu. Akan tetapi dia sudah terlanjur mengangguk. Bertanya tentang perawakannya berarti ia mengingkari. Tentunya akan berakibat panjang. Tetapi orang itu berkata :

— Menilik perawakannya, paman nona pantas disebut seorang warok. Kelihatannya gemjr bcrtapa pula. Kumis-nya sudah sedikit ubanan. Namun gerak-geriknya gesit.—

Pikiran Rawayani makin pusing. Siapakah dia? Tibatiba ia mencurigai anak-buah Cing Cing Goling. Bukan mustahil mereka bisa berbuat begitu. Mereka bisa main gertak dan mengancam. Akan tetapi menurut orang itu, dia member! uang cukup setelah bersikap galak terhadap Kepala Kampung.

- Paman datang seorang diri atau membawa kawan ? - ia berpura-pura mengaku sebagai kemenakannya.

- Seorang diri. — jawab punggawa desa. — Dia gagah sekali. Dia pesan sesuatu untuk disampaikan kepada nona.

- Pesan apa ? - — Kalau mau ke Jalatunda, jangan memutar-mutar jalan. Langsung saja ke Bulukerta, katanya! Kalau ada orang jahat, paman nona yang akan membereskan.

Punggawa desa itu berbicara dengan bersemangat, karena melihat pedang Rawayani menghias pinggangnya. Sementara itu Rawayani makin heran. Orang yang me-ngaku pamannya itu bermaksud melindungi dan mena-sehati. Hanya saja bagaimana dia tahu, dirinya hendak mengadakan perjalanan ke Jalatunda ?

— Apa lagi pesannya ? — ia memancing.

— Menurut paman nona . . . nona harus beristirahat dua hari lagi untuk mencuci pakaian. Kami semua sudah menyediakan tukang cuci dan tukang masak. Maka nona tidak perlu berpikir yang melit-melit.

Rawayani benar-benar merasa takluk dan tercengang. Memang ia bermaksud beristirahat dua hari lagi untuk me-nunggu hari perjanjian. Bagaimana dia tahu? Apakah dia malaekat? Pikirnya lagi :

- Entah dia setan entah iblis. Tetapi orang itu luar biasa. Dia seperti dapat menebak kata hatiku. Baiklah, aku akan beristirahat di desa ini selama satu hari saja. Tentu-nya jangan sampai ketahuan siapapun. Coba dia mau main Sandiwara apa lagi ? Di rumah Kepala Kampung ia memperoleh pelayanan sempurna. Anehnya, Kepala Kampung tidak muncul. Menurut tutur kata mereka, Kepala Kampung dipanggil Adipati

Panaraga untuk menghadiri sesuatu. Entah apa perlunya, mereka tidak dapat menjelaskan. Rawayani menduga, tentunya urusan keadaan dalam negeri. Bukan mustahil Sri Paku Buwana II dilarikan orang ke Panaraga. Dan tentunya segenap Kepala Kampung wajib bersiaga meng-hadapi segala kemungkinan.

- Sebenarnya kapan berangkatnya Kepala Kampung ? - ia menaruh curiga.

- Setelah bertemu dengan paman nona. - jawab pung-gawa desa yang mengantarkan.

Rawayani merasa tak dapat mendesaknya lagi untuk menyelidiki orang yang mengikutinya. Namun di dalam hati ia belum merasa takluk. Maka dengan tertawa ia ber-kata :

- Baiklah, aku akan beristirahat dua hari di sini. - Punggawa itu tertawa menang. Sahutnya :

- Nah, bukankah tepat dugaan paman nona? Sekarang, pakaian mana yang hams kami cuci ? -

Rawayani masuk ke dalam kamarnya. Setelah menim-bang- nimbang, ia menyerahkan seperangkat pakaian yang tidak begitu penting. Maksudnya sudah tetap. la akan berangkat esok pagi. Kalau perlu pakaian yang diserahkan itu akan ditinggal untuk sementara. Agar tidak menarik perhatian, ia menyerahkan sepatunya pula dan pelana kuda untuk dibersihkan.

Membersihkan sepatu dan pelana hanya membutuhkan waktu setengah malam saja. Setelah bersih dan kering segera dapat dikenakan kembali.

Makan dan minuman dibawa orang ke dalam kamarnya. Yang disediakan serba istimewa dan terpilih. Tentu saja menu rut selera orang kampung. Meskipun demikian, Rawayani merasa puas, karena perutnya sudah lapar. Apalagi ia melihat sebotol anggur yang tepat sekali untuk melawan hawa gunung yang dingin. Tetapi ia tidak berani minum terlalu banyak. Boleh dikatakan hanya seteguk saja. Setelah itu, ia menidurkan diri.

Tatkala ia terbangun, matahari sudah sepenggalah tingginya. la terperanjat. Hai! Menapa ia tertidur begitu nyenyak. Belum pernah ia terbangun kesiangan. Bahkan semenjak kanak-kanak, ia bangun tidur sebelum waktu Subuh.

Terus saja ia meletik bangun dan memeriksa pedangnya. Ternyata pedangnya masih saja terletak aman di atas meja. Malahan sama sekali tidak tergeser satu sentipun dari tempatnya semula. Segera ia memeriksa pernafasannya. Sebagai seorang ahli racun, yang membangunkan ingatannya adalah ancaman racun pula. Tetapi pernafasannya sama sekali tidak terganggu.

Juga aliran darahnya, sewaktu ia menjungkir di atas tempat tidur. semuanya beres. Karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia menyambar ransel pakaiannya. Lalu ke luar kamar mengambil sepatu dan memeriksa pelana kudanya. Baik sepatu maupun pelana kudanya sudah kering: Maka tiada halangan lagi untuk segera meninggalkan dusun itu, kecuali seperangkat pakaiannya yang dibiarkan tertinggal agar tidak membang-kitkan kecurigaan orang.

Di tengah jalan ia kembali lagi memeriksa keadaan dirinya. la mengumpulkan ingatannya. Sekali lagi keadaan dirinya tetap segar bugar seperti sediakala. Lalu apa yang membuatnya tertidur begitu nyenyak? Apakah minuman anggur yang diminumnya seteguk?

Kalau benar demikian, syukur ia hanya minum seteguk. Kalau sampai dua teguk, apalagi setengah botol ..... hm bisa

dibayangkan apa yang bakal terjadi. Mungkin sekali dua hari dua malam, dia baru tersadar dari tidurnya. Dua hari dua malam.

Hai ! Bukankah dirinya ditafsirkan perlu beristirahat selama

dua hari di dusun Sumarata? Ha. . di sini orang yang bermain sandiwara itu salah tafsir. Dikiranya, dirinya tukang minum.

Rawayani segera memeras otaknya. Berkata di dalam hati:

- Dia berkata, aku perlu beristirahat selama dua hari di Sumarata. Lalu ia mengirimkan sebotol anggur istimewa yang bisa membuat orang tidur dua hari. Tentunya dia mengira, aku seorang peminum. Atau setidak-tidaknya mengira aku orang pegunungan yang memerlukan minuman hangat untuk melawan hawa dingin. Kalau begitu, orang itu belum kenal siapa diriku.

Sebaliknya, dia mesti orang gunung yang mengukur orang lain dengan bajunya sendiri. Siapa dia ? -

Perjalanan ke Bulukerta, dapat ditempuh dalam waktu setengah hari, meskipun jalan pegunungan tidak mudah dilalui. Apalagi bila menunggang kuda. Akan tetapi Rawa-yani sengaja memperlambat perjalanannya. la mengharap-kan tiba di Bulukerta pada waktu matahari tenggelam. Ka-rena hendak memperlambat perjalanan, sengaja pula ia mengambil jalan simpang.

Jalan yang hendak ditempuhnya melintang bagaikan pisau potong yang berada di celah-celah dinding tinggi. Dan di seberang sana sebuah lapangan terbuka yang berada di bawah ketinggian. Rawayani berbimbang-bimbang. Tak dapat ia membawa kudanya serta. Setelah berfikir sejenak, ia memutar balik dan kembali ke jalan besar. Di dekat jalan setapak, ia menyembunyikan kudanya. Bu-kankah ia hanya bermaksud memperlambat perjalanan semata? Pikirnya setelah senjahari tiba, ia akan kembali menjemput kudanya dan langsung memasuki Bulukerta.

Sekarang dapatlah ia dengan bebas bergerak. Bahkan ia merasa lebih leluasa dan cekatan. Batu-batu gunung dan celah-celah lereng dilewatinya dengan cepat; Tiba di lapangan terbuka, kesan hatinya menangkap suatu kesan ajaib. Mendadak saja hatinya terbuka pula. Hawa segar yang terserap oleh pernafasannya melegakan rongga dadanya.

Entah apa sebabnya, seluruh tubuhnya meremang seolah-olah inderanya menangkap suatu sosok bayangan yang tidak kelihatan. Sesosok bayangan ajaib bangsa lelembut yang kabarnya berdiam di seluruh dataran Gunung Lawu. Benarkah? Sampai sekarang tiada seorang pun dapat menerangkan dengan jelas. Memang diakui, pergaulan hidup manusia tidak dapat lepas dari jagad raya, hewan dan tetumbuhan, manusia dan bangsa halus termasuk malaikat, dewa-dewa dengan iblis setannya.

Itulah sebabnya pekerti manusia kadangkala seperti iblis, sebaliknya bisa dengan mendadak begitu baik, luhur dan mulia bagaikan malaikat atau dewa, begitulah ujar orang-orang tua. Atau apakah karena eksistensi manusia sendiri sesungguhnya pengejawantahan makhluk setengah iblis setengah dewa ?

Terpengaruh keadaan alam yang indah, murni dan n yam an, Rawayani berdiri terlongong-longong. Lalu duduk di atas batu dengan kepala kosong. Tak terasa rasa kan-tuknya tiba dengan diam-diain. Mungkin dalam dirinya masih terdapat sisa-sisa anggur semalam atau oleh tiupan angin pegunungan yang nyaman, kekerasan hatinya bersedia takluk. Dengan kepala kosong ia mencari tempat berteduh.

Lalu menggolekkan diri Setelah itu, ia kehilangan kesadarannya. Sewaktu bangun perasaannya segar bukan main. Akan tetapi ia terperanjat. Sebab alam seki tarnya sudah remang-remang. - Celaka! Jam berapa sekarang? — ia meletik bangun.

Terus saja ia menuruni tanjakan dengan berlari-larian. Mungkin sekali ia baru dapat mencapai Bulukerta tengah malam. Tetapi tak apalah, ia menghibur diri. Walaupun kasep, tidak berarti kasep dalam arti sebenarnya. la masih menang waktu satu hari daripada perkiraan orang yang bermain sandiwara di belakangnya.

Namun suasana malam di sekitar tempat itu memberi kesan lain. Sekarang terdengar suara binatang galak. Batu-batu gunung yang berdiri bertebaran di atas gunung ber-ubah seakan-akan sekelompok hantu dan iblis. Dalam suasana demikian, hati Rawayani ngeri juga, meskipun ia biasa berkelana seorang diri di tengah malam buta. Barangkali karena waktu itu, ia merasa dipermainkan orang. Padahal

biasanya dia mempermainkan orang lain. Hal itu membuat kepercayaan diri sendiri tergoncang. Tak mengherankan ketenangan hatinya gempur di luar kehendaknya sendiri. Selagi demikian, pende ngarannya yang tajam mendengar suara orang tertawa. Suara tertawa yang tekan demikian rupa, sehingga terdengar setengah meringik. Seketika itu juga, bulu kuduknya meremang. Secepat kilat ia meng-hunus pedangnya. Lalu membentak :

- Iblis dari mana kamu ? - Belum sempat hilang gaung bentakannya, sekonyong-konyong terdengar suara bergemuruh. Dung.. ! Dung .. ! Dung !

Sebuah batu besar menggelinding dari atas.

Jelas sekali itu perbuatan orang. Sebab mustahil hantu atau iblis menggempur orang dengan batu. Terus saja ia melesat ke samping. Dan batu gunung yang menggelinding ke arahnya lewat di sampingnya.

- Siapa? - bentak Rawayani untuk yang kedua kali-nya. Kali ini ia sudah siap tempur.

Tetapi lagi-lagi bentakannya tidak diindahkan. Batu kedua meluncur dengan derasnya. Dung! Dung! Dung!

- Hm, kau curang! —Rawayani mendongkol. - Kau licik ! Kau pengecut ! Hayo turun ! Kita bertempur sampai mati ! -

Rawayani meloncat ke samping. Kali ini ia melompat maju pula hendak mendaki ketinggian. Sedang begitu, terdengar jawaban yang sedap :

- Kalau berani, naiklah ! Apa perlu engkau cerewet tak keruan- keruan? Hayo naik! Makan dulu batu-batuku !-

Lalu seseroang menyambung: - Mana temanmu Gemak Ideran? Dia membunuh orang seenaknya sendiri. Masakan aku tidak dapat? Tunggu saat ajalmu, kecuali engkau meletakkan pedangmu. -

Rawayani menghentikan langkahnya. la seperti pernah mendengar suaranya. Yang Jelas, suara perempuan. Tetapi siapa, itulah soalnya.

Dia perlu mengingat-ingat duhi. Tiba-tiba suatu bayangan berkelebat di dalam benaknya. Ah, bukankah perempuan yang mengecok Gemak Ideran di depan lembah rimba Pinus? Kalau begitu, ahak buah Cing Cing Goling.

Mengapa mereka berkeliaran di sini? Apakah mereka mengikutinya dengan diam-diam semenjak lama ?

- Kalau di antara meeka terdapat Lajuguna, wah celaka ! Sukar aku meloloskan diri. - pikir

Rawayani.

Tetapi ia maju terus. Sebab mundurpun akan celaka juga. Jalanan sudah tertutup timbunan batu.

Setelah maju lagi beberapa langkah, kembali lagi sebuah batu menggelinding dengan deras. Melihat lajunya batu, Rawayani yakin di antara mereka tidak terdapat Lajuguna. Lajuguna seorang sakti. Mustahi] main melempar batu se-perti kanak- kanak. Dulu ia melabrak dirinya dan Gemak Ideran seorang diri. Memperoleh pikiran demikian, hatinya mantap. Terus saja ia melesat maju. Pikirnya, mungkin dia kalah. Akan tetap* tidak mungkin tertawan hidup-hidup. Karena itu, ia mempersiapkan bola racunnya yang berbahaya Terhadap mereka, ia sengaja memancing :

- Huuu. Lajuguna! Dulu engkau kami ampuni. Masakan engkau hendak membalas dendam dengan cara begini? Hayo turun!

Hayo kitamengadu kepandaian lagi. -

- Kau mengoCeh seperti orang sakit bengek, nona - damprat suara perempuan. Sebentar lagi kau bakal minta ampun .. -

Rawayani mendongkol, akan tetapi dia tidak dapat berbuat apa- apa, karena kembali lagi sebuah batu meng-gelundung mengancam dirinya. Terpaksalah ia melompat mengindari sambil maju terus.

Tetapi makin ke atas, jalan jadi setapak. Kedua dinding gunung menjadi sempit. Bila mereka meng gelindingkan batu lagi, akan sulit mengelak-kan kecuali harus melompat ke atas. Padasaatitu, ia harus berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Bukan hal yang mustahil salah seorang dari mereka melepaskan senjata bidik selagi kedua kakinya masih berada di udara.

- Daripada keduluan biarlah aku dahulu. - pikir Rawayani. Tetapi tak dapat ia melepaskan bola mautnya. Sebab bila bola maut pecah, justru akari melunik dirinya. Malta ia memungut tiga buah batu dan dilemparkan ke atas. Tepat lemparan. Seseorang terkena kepalanya selagi melongok ke bawah. Orang itu memaki- maki. Lalu mengutuk :

- Iblis jahanam! Sekarang, meskipun kau minta ampun tidak ada kesempatati lagi. Kau bakal mampus hancur lebur tertimbun batu.

-

Tiga orang bersama-sama menggeserkan sebuah batu sebesar perut kerbau. Kalau batu itu terjun ke bawah, Rawayani sulit menolong diri. Seumpama meloncat ke atas, ukuran batu itu akan menyumbat kedua dinding. Hatinya cemas bukan main.

- Aku harus mendahului ! - itulah pikirannya yang pertama - Aku harus menggagalkan maksud mereka menggelindingkan batu itu

......... Apakah aku harus turun secepat-cepatnya? -

la khawatir, jangan-jangan ukuran batu itu pas-pasan dengan lebarnya jalan. Meskipun akan berusaha lari secepat mungkin, batu itu akan dapat mengejarnya. Dan apa yang bakal terjadi, sudah jelas. la bakal mati rata tan ah. Demi mengejar waktu, Rawayani berusaha lari ke atas secepat-cepatnya. Untuk menghindari segala kemungkinan, ia ber-lompatan ke kiri dan ke kanan agar tidak mudah terhantam batu-batu.

Akan tetapi mendaki ke atas samalah sukarnya lari turun ke bawah. Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara teriakan panjang. Yang berada di atas tebing, memekik kesakitan berturut-turut. Sebongkah batu yang sedang didorong untuk digelindingkan ke bawah, terhenti. Lalu terdengar suara langkah cepat menuruni ketinggian seberang sana.

Rawayani heran. Apakah yang sedang terjadi? Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ia melompat tinggi dan mendarat di atas tebing. la masih sempat melihat bayangan enam orang lari turun ke bawah seperti diuber iblis, Jelas sekali, mereka kabur karena ketakutan. Menyaksikan hal itu, Rawayani makin heran.

Siapakah yang membuat mereka kabur? Apakah Gemak Ideran sudah datang untuk menolong dirinya? Rawayani berpikir sejenak. Memang, bukan mustahil Gemak Ideran sudah berada di sekitar Bulukerta mengingat perjanjian yang sudah disetujui. Ha- nya saja, benarkah dia dapat membuat mereka berenam kabur ketakutan? Rasanya tidak mungkin. Sesungguhnya, Gemak Ideran dapat mengalahkan mereka. Akan tetapi hams melalui suatu pertempuran seru dulu. Memperoleh kesimpulan itu, ia berteriak nyaring :

- Pendekar dari mana yang sudi menolong diriku? Terimalah hormatku .. -

Tiada terdengar suara. Juga tiada nampak bayangan apapun, kecuali segerombol belukar bergoyang-goyang tertiup angin. Sekitarnya sunyi senyap. Keruan saja Rawayani makin heran. Pikirnya di dalam hati : Jelas sekali, mereka lari karena ketakutan. Tetapi terhadap siapa ? Di sini tiada seorangpun kecuali diriku.

Apakah mereka melihat hantu? Ah, masakan di dunia ini benar- benar ada hantu? Kukira, mereka melihat orang pandai. Tetapi di manakah dia kini berada ? Lapangan ini terbuka. Kecuali batu batu berserakan hanya ditumbuhi beberapa gerombol belukar.

Adakah di dunia ini semacam ilmu sakti yang bisa membuat orang lenyap dari penglihatan dalam sekejap mata saja ?

Rawayani mencoba mengejar. la berlari-larian menjelajahi ketinggian sambil melepaskan penglihatan nya. Wak-tu itu, bulan sipiit muncul di udara. Walaupun tidak cerah, akan tetapi cukup menerangi seluruh alam bagi seorang berkepandaian seperti Rawayani. Namun orang yang diha-rapkan terlihat pandang matanya, benar-benar tiada. la jadi teringat kepada orang yang bermain sandiwara di belakang punggungnya. Apakah dia ?

Dengan diombang ambingkan teka-teki yang tidak ter-jawab itu, Rawayani mencari kudanya kembali. Kemudian melanjutkan perjalanannya ke Bulukerta. Tetapi malamhari benar-benar sudah tiba. Rencananya hendak memasuki Bulukerta pada waktu Magrib, gagal. Meskipun demikian masih dapat ia menghibur diri. Tak mengapa, katanya kepada dirinya sendiri. Pokoknya aku ingin mengetahui lagi apa yang akan dilakukan orang itu.

Bulukerta ternyata bukan sebuah kota. Lebih tepat jika disebut sebuah perkampungan yang cukup ramai Tetapi di luar Bulukerta terdapat sebuah bangunan men-tereng. Kabarnya milik seorang Cina kaya. Tadinya di-bangun sebagai tempat penyimpan barang dagangan ber-bareng merupakan rumah peristirahatan keluarga Kini dibiar kan sebagai tempat menginap orang-orang yang ke- malaman.

Karena Bulukerta pada waktu itu menjadi pusat persinggahan, maka pesanggrahan itu selalu ramai dikun-jungi saudagar- saudagar yang menjajakan barang dagangan-nya atau mengambil dagangan nya. Letak kamar pengi-napan tersebar luas dalam satu lapangan yang berpagar. Masing masing kamar menghadap semacam halaman cukup lebar. Mungkin dimaksudkan sebagai tempat meletakkan barang dagangan.

Rawayani mendapat sebuah kamar yang berada di luar bangunan utama.*Hawanya segar dan kebetulan berada di samping sebuah petamanan. Karena lelah segera ia terlena tidur. Tiba-tiba ia terbangun oleh suatu suara ma-kian parau :

- Huah! Beraninya hanya main sembunyi. Kalau berani. mari kita berhadapan sebagai satria. -

Rawayani turun dari tempat tidurnya. la mcmadam-kan pelita knmarnya dan mengintip dari celah dinding bambu. Ia melihat seroang laki-laki gendut scdang mengayun-ayunkan cambuknya. Mula-mula ia mengira seorang sais biasa. Tetapi ia terkejut sewaktu mendengar bunyi pengerahan tenaganya. Jelas sekali, gerakan ayunan cemetinya disertai tenaga sakti yang tinggi.

Siapa dia ? Belum lagi ia sempat menjawab pertanyaannya sendiri, laki-laki gendut itu niengaduh dan roboh terjengkang. Dan di jauh sana terdengar suara seorang wanita : - Binatang piaraan seperti dirimu, masakan pantas bertempur melawan diriku ? -

Aneh suara itu. Mula-mula terdengar dekat. Dan pada detik berikutnya sudali berada sangat jauh. Setelah itu sunyi senyap. Rawayani heran bukan main. Lebih heran lagi karena ia seperti pernah mendengar dan mengenal suara itu.

- Bukankah suara ayunda Windu Rini ? - ia berbisik kepada dirinya sendiri.

Oleh ingatan itu, terus saja ia membuka pintu kamar-nya dan melesat ke luar dengan membawa pedang pen-deknya. Kembali lagi ia heran, sewaktu melihat si gendut yang mengerang kesakitan. Samasekali dia tidak terluka. Hanya saja lengannya jatuh lunglai di samping badannya. Apakah lengannya patah dengan mendadak? Siapakah yang mcmatahkan lengannya.

Apakah Diah Windu Rini? Tetapi Diah Windu Rini tadi berada di suatu tempat yang cukup jauh.

Oleh rasa penasaran Rawayani mencoba mengejar ke arah suara Diah Windu Rini. Setela^ berputar-putar sekian lamanya ia merasa sia-sia. Maka dengan berbagai pikiran, -ia kembali ke penginapannya. Ternyata si gendut sudah taada lagi di tempatnya. Suasana penginapan sunyi senyap pula. Apakah arti semuanya ini? Merasa tidak puas, satu-satunya cara untuk memperoleh keterangan, hanya minta keterangan kepada pengurus penginapan. Bukan main sikap hormatnya pengurus penginapan. Akan tetapi dia bersikap tidak mau tahu. Katanya, sering terja di peristiwa demikian. Orang saling berhantam me-rebut kemenangan.

Masalah apa yang sedang terjadi, dia tidak mau tahu. Takut terembet-rembet.

- Baiklah. - Rawayani mau mengerti. - Apakah engkau melihat seorang aneh berada dalam penginapanmu?-

- Orang aneh ? - pengurus penginapan terbelalak. -Orang aneh bagaimana ? -

Yang dimaksudkan Rawayani dengan orang aneh, ada-lah orang yang mengisiki punggawa Sumarata tentang dirinya dan yang menolong dirinya pula menggebah kaki-tangan Cing Cing Goling. Tentu saja pengurus penginapan tidak tahu maksudnya.

Meskipun demikian, dasar wataknya mau menang sendiri, hatinya mendongkol. Bentaknya :

- Kau mau memberi keterangan atau tidak ? -

- Ya, ya, ya ... mau. Tetapi orang aneh bagaimana ? - Ingin Rawayani memakinya.

Akan tetapi ia merasa tidak enak sendiri main paksa terhadap pengurus penginapan yang nampak nya memang tidak mengetahui masalahnya. Maka ia memberi uang seringgit dan meninggalkan rumah penginapan tanpa pamit. Keruan saja, pengurus rumah makan girang bukan main ibarat orang kejatuhan rejeki besar Sebab uang seringgit pada waktu itu nilainya selangit. Terus saja ia memanggut-manggut menyatakan rasa terima kasihnya.

Rawayani meninggalkan rumah penginapannya untuk mencari Diah Windu Rini sekali lagi. Sewaktu fajar me-nyingsing ia kembali ke penginapan. Tiba di halaman, ia mendengar suara orang yang sangat dikenalnya dan di-bencinya. Benarkah dia? Ya, benar! Dialah Cing Cing Goling yang datang dengan Lajuguna. Dengan suara ber-wibawa dia berkata kepada pengurus rumah penginapan :

- Nih, terimalah hadiah sementara limabelas rupiah. untuk satu pertanyaan saja. -

Melihat jumlah uang itu, pengurus rumah penginapan sempat bergemetaran. Dengan suara mengumpul di ujung tenggorokan ia menyahut :

- Tuan...... eh pertanyaan apa ? -

- Apakah engkau melihat seorang gadis menginap di sini ? Gadis itu cantik, galak. Sifatnya mau menang sendiri. -

- Ya, ya, ya, ya baru saja dia meninggalkan penginapan. -

Rawayani terperanjat mendengar jawaban pengurus rumah penginapan. Ini namanya, dia bakal ketiban pe-nyakit. Terus saja ia mundur sedikit demi sedikit sambil menahan nafas. Suatu pikiran menusuk benaknya. Kalau lari, Cing Cing Goling pasti dapat mengejarnya. Lebih baik, ia masuk ke halaman.

Di dalam pekarangan rumah penginapan, terdapat beberapa batang pohon dan gedung tinggi. Kalau terdesak, masih dapat ia meloloskan diri melalui atap rumah. Memperoleh pikiran demikian, buru-buru ia menyelinap masuk.

Tetapi di luar rumah penginapan ada yang melihat ke-hadirannya. Dialah Blandaran salah seorang warok yang dahulu bermukim di Bulukerta. Dengan sendirinya, ia kenal lika-liku jalannya.

Rawayani belum mengenalnya. Syukur, Blandaran demikian pula. Namun berkat pengalamannya, ia menaruh curiga terhadap gerak-gerik Rawayani.

Lantas saja dia berteriak kepada Cing Cing Goling :

- Kakang! Apakah bukan perempuan ini ? -

Mendengar teriakan Blandaran, dengan sigap Cing Cing Goling memutar badannya. Terhadap Blandaran, Cing Cing Goling menaruh kepercayaan. la sengaja membawa Blandaran ikut serta. Sebab, dialah yang mengenal wilayah Bulukerta. Hanya saja ia tidak menerangkan apa kepen-tingannya tiba di Bulukerta. Sekarang ia mendengar Blandaran meneriakkan sesuatu, Past! ada alasannya. Karena itu dengan tidak ragu-ragu lagi, ia melompat ke luar se-rambi. Tepat pada saat itu, ia sempat melihat berkelebatnya bayangan Rawayani.

- Ha, mau lari ke mana? - bentaknya. Rawayani terancam bahaya. Terus saja ia melempar-kan bola mautnya. Dan melihat bola maut itu, Cing Cing Goling berteriak :

- Blandaran, awas !-

Cing Cing Goling mengenal keluarga Rawayani yang pandai membuat ramuan racun berbahaya. Terus saja ia memukulkan tangannya. Itulah pukulan Kumayan Tri-sula, pukulan yang dilontarkan dari jarak jauh. Dan kena pukulannya, bola maut Rawayani meledak dan rontok memasuki ruang dalam. Keruan saja, pengurus rumah penginapan berkaok-kaok ketakutan.

Gugup ia bersembunyi di balik bangku panjang sambil bertiarap rata tanah. Tak lupa mulutnya memekik-mekik :

- Tolong! Toloooong! Ada pembunuhan .. -

Melihat aksi Cing Cing Goling, Blandaran mau membuat jasa. la melompat menerjang. Tetapi pada saat itu Rawayani sudah berada di atas atap. Kembali lagi ia melempar kan bola mautnya. Blandaran bukan Cing Cing Goling. Sadar, bahwa bola maut itu sangat bahaya, ia melompat ke sam-ping. Lalu melompat lagi ke atas Maksudnya hendak mem-buru Rawayani. Tetapi sedang tubuhnya berada di tengah udara, ia mendengar suara :

- Kau mau apa ? Berenang di atas tanah'! .-

Suara itu datang dari gerombol mahkota daun. Belum sempat ia menoleh, pipinya terasa panas dan nyeri luar biasa. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah daya tam-paran itu sendiri. Tiba-tiba saja ia seperti terlontarkan dan terbanting turun ke tanah.

Tahu-tahu bluk! la benar-benar jatuh terkapar alias

berenang di atas tanah.

Lajuguna yang semenjak tadi berdiri seperti sebuah tu-gu, mendengar geseran suara yang halus, Terus saja ia lari memutar dengan maksud hendak mencegat. Masih sempat ia melihat sesosok bayangan putih. Segera ia melompat sambil melontarkan pukulan Kumayan Trisula pula. Terhadap Rawayani ia menaruh dendam karena dipermalu-kan. Sekaranglah saatnya ia hendak melanipiaskan den-dam. Tetapi sungguh aneh! Tiba-tiba ayunan tangannya kena tertahan suatu tenaga yang luar biasa kuatnya. la kaget bukan kepalang.

Cepat luar biasa ia menarik tangannya. Lalu turun ke tanah sambil menyodokkan suatu pu-kulan jarak pendek. Maksudnya hendak balik menyerang sambil bertahan. Gerakan tangan dan kakinya cepat luar biasa. Tetapi bayangan yang menyerangnya lebih cepat.

Plok!

Pipi Lajuguna terasa panas. Ia kena digaplok orang. la penasaran berbareng heran. la tidak percaya, bahwa yang menggaplok Rawayani. Pasti orang lain yang ber-kepandaian sangat tinggi.

Mungkin kepandaian orang itu berada di atas kepandaiannya sendiri. Siapa ? Cing Cing Goling yang ingin mencekuk Rawayani heran menyaksikan Blandaran dan Lajuguna kena digaplok orang. Mereka berdua mengerang di luar kehendaknya sendiri. Itu suatu tanda, gaplokan yang mendarat di pipinya masing-masing dapat menembus ilmu saktinya. 

- Mungkinkah di sini bersembunyi musuh sakti mele-bihi diriku? — ia berkomat-kamit tak percaya.

Dengan penasaran ia melesat maju dan sempat melihat berkelebatnya seorang perempuan berbaju putih. Tanpa sangsi lagi, segera ia melepaskan pukulan sambil berseru. Itulah salah satu jurus ILMU Batu Panas yang disegani lawan dan kawan.

Hebat akibatnya. Dinding mmah penginapan ambrol dan roboh dengan suara berisik. Robohnya dinding rumah penginapan menyebabkan kapurnya meluruk tak ubah asap. Dan pada saat itu terdengar suara perempuan menyatakan rasa kagumnya :

- Bukan main! Orang begini gagah mengapa menge-rubut seorang gadis muda belia ? -

Cing Cing Goling tercengang. Hebat serangannya se-bentar tadi.Tetapi perempuan itu dapat mengelak dengan gesit sekali sambil membawa lari Rawayani. Mengertilah Cing Cing Goling, bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang lawan yang sakti mungkin melebihi dirinya. Se-umurnya bam. kali ini ia bertemu dengan seorang lawan yang tangguh dan seimbang. Dia dapat melayani pukulan mautnya yang belum pernah gagal menggempur sasarannya. Meskipun demikian, ia tidak takut. Bahkan semangat tempurnya terbangun. la mengulangi pukulan saktinya kembali sambil melompat mengejar.

- Tunggu! - teriaknya menggelegar. - Aku Cing Cing Goling ingin belajar kenal denganmu. -

Perempuan itu menghentikan langkahnya. la menoleh. Lalu menegur dengan bengis :

- Hm apakah engkau berharga untuk berkenalan denganku ? -

Karena perempuan itu menghentikan langkahnya, Cing Cing Goling kini dapat melihat wajahnya. Dan melihat wajahnya, ia tercengang. Sebab selain masih berusia muda, wajahnya cantik luar biasa. Sebenarnya dialah Diah Windu Rini yang pernah menyelinap ke perkampungannya dalam usahanya hendak menolong Niken Anggana.

- Siapa kau ? -

- Kau manusia macam apa sampai berani menanyakan siapa diriku ? - bentak Diah Windu Rini.

Memang Diah Windu Rini terkenal galak dan ganas menghadapi lawan. Hatinya angkuh pula dan yakin akan kepandaian sendiri.

Sebaliknya, Cing Cing Goling tidak mau mengerti. Selamanya ia dihormati dan disegani orang. Sekarang ia direndahkan oleh seorang gadis yang pantas menjadi anak-nya. Keruan saja tidak dapat lagi ia menahan diri. Serunya sambil tertawa terbahak- bahak :

- Bagus! Kalau begitu, kau ingin mati tanpa nama -

- Hm, apakah kau mampu ? - Diah Windu Rini tidak mau kalah. Terhadap Rawayani ia mempunyai kesannya sendiri.

Setelah berpisah dari Rawayani, ia selalu mengikuti dengan diam-diam. Dia pulalah yang mengatur penginapan Rawayani di Magetan.

- Baiklah. - bentak Cing Cing Goling yang sudah kehilangan kesabarannya. - Aku ingin tahu kau mempunyai kepandaian apa.

-

Ucapan Cing Cing Goling mengandung ejekan dan tantangan. Tetapi pada saat itu ia melihat Diah Windu Rim mengeluarkan seutas tali dan diputar-putarkan di atas kepalanya. Cing Cing Goling tidak berani sembrono. la bersiap menghadapi segala kemungkina. Di luar dugaan Diah Windu Rini tidak menyerang. Dia bahkan lari secepat kilat memu-tari halaman rumah penginapan.

- Hai ! Kau hendak kabur ? - ejek Cing Cing Goling.

- Kabur ? - Diah Windu Rini menghentikan langkah-nya. - Bukankah engkau ingin melihat kepandaianku? Inilah salah satu kepandaianku. Kalau mampu, coba kejar diriku ! - - Hm. - Cing Cing Goling mendengus.

- Oh, apakah engkau ingin mengadu kepandaian de-nganku? Baik, rnari kita bertempur mengadung kepandaian. Seribu haripun, boleh .. -

Tahulah Cing Cing Goling, bahwa mulut lawannya yang muda itu tajam luar biasa. Tak mau lagi ia mela-yani. Berkata pendek seperti kepada dirinya sendiri :

- Kau kini sudah tahu maksudku. Nah, hayo maju !-Diah Windu Rini memiringkan kepalanya. Menjawab:

- Sayang fajar hari ini terlalu indah. Tiada nafsuku hendak

berkelahi. Lagipula aku mempunyai urusan. -

- Hm. - Cing Cing Goling menggerendeng. - Kau hendak kabur, nah kaburlah ! Tetapi tinggalkan buruan-ku ! -

- Kau maksudkan gadis belia tadi? Dia tiada di sini lagi. Bukankah dia mempunyai kaki ? -

Cing Cing Goling tidak mau tahu. Dengan menggeram ia menghampiri beberapa langkah. Diah Windu Rini bersikap acuh tak acuh. Sebenarnya ia mengenal kepandaian Cing Cing Goling berkat laporan Gemak Ideran. Karena itu, sengaja ia mengadu ketajaman mulut untuk memberi waktu Rawayani menjauhi Bulukerta. la sendiri selalu mempunyai cukup waktu untuk menolong diri. Belum pernah Cing Cing' Goling dipermainkan oleh se-seorang. Maka bisa dimengerti betapa hebat rasa marahnya. Terus saja ia mengerahkan Ihnu Batu Panas tingkat tujuh Walaupun demikian, ia berlagak sebagai seorang tua yang mengerti tata-tertib.

Dengan menyabarkan diri dia berkata:

- Kau sambutlah pukulanku ! Tetapi jangan mengelak atau menghindar! -

Akan tetapi tentu saja Diah Windu Rini tidak sudi menjadi sasaran empuk. la melompat mundur enam langkah sambil mengelak.

Seketika itu juga ia merasakan sesuatu yang aneh. Hawa yang panas luar biasa menyerangnya. Tak dikehendaki sendiri, seluruh tubuhnya berkeringat. Padahal dia berada di wilayah pegunungan yang dingin. la tahu, itulah hawa Ilmu Batu Panas. Meskipun demikian, ia berpura-pura bodoh. Serunya :

- Hai! Ini ilmu sesat! -

Cing Cing Goling heran, karena lawannya tidak roboh atau terluka. Dia penasaran. Maka dengan serentak ia meng-ulangi serangannya. Justru ia sedang melontarkan pukulan-nya, Diah Windu Rini sudah menghampiri dari samping sambil berkata :

- Kau terlalu kejam. Maka aku harus meringkusmu sebelum terlanjur ganas. -

Berkata demikian, Diah Windu Rini melemparkan tali-nya yang semenjak tadi digenggamnya dalam tangannya. Karena jaraknya sangat dekat, dengan cepat tali itu melingkar seperti seekor ular melilit mangsanya. Mau tak mau hati Cing Cing Goling terkesiap. Bagaimana caranya Diah Windu Rini menghampirinya?

Gerakannya begitu cepat di luar dugaan. Tahu-tahu sudah melepaskan talinya untuk menjerat lehernya.

Tetapi Cing Cing Goling seorang jago. Meskipun belum pernah ia berhadapan dengan lawan yang menggunakan tali sebagai senjata, ia tidak gentar. Sebat luar biasa ia mengibaskan tangannya. Justru pada detik itu tali Diah Windu Rini sudah menggubatnya.

Talinya terbuat dari urat lembu pilihan. Selain ulet kuat pula. Syukur, Cing Cing Goling mempunyai ilmu sakti yang istimewa pula. Hmu sakti berhawa panas melebihi nyala api. Kalau tidak, dia bakal kena ringkus walaupun mengerahkan seluruh tena- ganya. Dan kena hawa panas Ilmu Batu Panas, tali Diah Windu Rini terbakar. Dengan begitu tangannya terbebas dari gubatan tali.

Diah Windu Rini terperanjat. Sekarang barulah ia sadar, bahwa Ilmu Batu panas tidak boleh dianggap ringan. Memang ia tahu cara melawannya. Paling tidak cukup dengan mengandalkan tali lembunya. Di luar dugaan, ilmu Cing Cing Goling sudah mencapai tingkat tujuh. Daya per-lawanannya berada di luar dugaan.

Menyadari hal itu, buru-buru ia melesat mundur.

Akan tetapi Cing Cing Goling tidak mau sudah. la memburu. Tangannya menyambar hendak meremuk kan kepala lawan. Terpaksalah Diah Windu Rini menyabetkan talinya. Cing Cing Goling membuka kedua jarinya hen-dak menjepitnya. Akan tetapi pada detik itu pula, tali Diah Windu Rini melingkar melilit lengan. Sebat luar biasa Cing Cing Goling membetotnya. la berhasil, akan tetapi lengan-nya terasa nyeri.

Dengan demikian, kedua-duanya mengakui ketangguhan lawannya. Selagi begitu tiba-tiba terdengar orang meng-uap panjang dari batik dinding kamar. Orang itu meng-gerutu, lalu mendamprat :

- Hari masih sedingin ini siapa ribut-ribut di luar ? -

Terdengar kemudian orang itu turun dari tempat tidurnya. Kedua kakinya terdengar sempoyongan meng-hampiri pintu kamar. Tak usah diterangkan lagi, orang itu masih setengah tidur dan kesannya malas luar biasa. Krek ! Dia membuka ganjal pintu.

Kemudian muncul di ambang pintu dan berjalan memasuki pekarangan sambil mengucak-ucak matanya.

- Siapa ribut-ribut di luar ? - dampratnya .

Melihat tampangnya, Cing Cing Goling merasa sebal. Demikian pulalah Lajuguna dan Blandaran. Mereka berdua merasa terganggu, karena hatinya penasaran terhadap Diah Windu Rini. Sebenarnya mereka ingin membantu Cing Cing Goling agar dapat meringkus Diah Windu Rini secepat mungkin. Tujuan mereka yang utama ingin membalas menggaplok. Sekarang muncullah orang malas itu, Celakanya dia justru berjalan melintas yang berarti menghalangi penglihatan Cing Cing Goling. Oleh rasa jengkel, seperti berjanji mereka berdua melepaskan pukulan dari jauh untuk membuat orang itu tahu rasa.

Sekarang terjadilah suatu keajaiban. Orang itu masih saja mengucak-ucak kedua matanya sambil terus berjalan melintas menutupi penglihatan Cing Cing Goling. Mendadak saja suatu tenaga yang tidak nampak membentur Lajuguna dan Blandaran sehingga mereka berdua mundur sempoyongan.

Mentang mereka berdua hanya melepaskan pukulan dengan tenaga dua bagian saja, karena tujuannya hanya ingin membuat tahu rasa saja. Meskipun demikian, bila masing-masing melepaskan dua bagian tenaga, berarti terhimpun empat bagian tenaga sakti. Cukuplah untuk membunuh seekor kerbau.

Sebaliknya, orang itu sama sekali tidak menggerakkan tangannya, kecuali gerakan mengucak-ucak mata.

Cing Cing Goling tersirap darahnya. la mengenal kepandaian Lajuguna dan Blandaran. Kepandaiannya rnemang berada dua atau tiga tingkat di bawahnya. Pada saat itu, ia masih sanggup mengalahkan mereka dengan mudah meskipun dikerubut dua.

Akan tetapi kalau haras bertempur dengan sambil lalu seperti yang dilakukan orang itu, rasa-nya mustahil Meskipun masing- masing hanya melepaskan pukulan dengan tenaga dua bagian, namun gabungan tenaga mereka sama beratnya dengan pukulan Ilmu Batu Panas tingkat tiga. Artinya dia bisa luka parah .

- Siapa dia ? - ia berteka-teki dalam hatinya.

Bagaimanapun juga, Cing Cing Goling berwatak sombong dan berangan-angan menjadi jago tak terkalahkan. Sikap orang itu yang merendahkan Laju guna dan Blandaran dianggapnya sebagai menantang dirinya Terus saja ia me-ngerahkan Ilmu Batu Panas tingkat tujuh dan melepaskan pukulan telak tanpa sangsi lagi.

- Ih ! - Diah Windu Rini terkejut.

Mau ia mengulurkan tangan, akan tetapi dirinya teraling orang itu pula. Tepat pada saat itu, ia mendengar suara menggerendeng :

- Siapa main api di sini ? Hai kau ! —

Pada ucapannya yang penghabisan orang itu men-orongkan kedua tangannya. Plak ! Adu tenaga tidak dapat dihindarkan lagi. Cing Cing Goling terperanjat bukan kepalang. Ilmu Batu Panasnya tidak hanya sirap, tetapi dirinya pun tertolak suatu tenaga kuat luar biasa sehingga kakinya terpaksa mundur dua langkah.

Celaka, pikir Cing Cing Goling. Meskipun belum merasa kalah, akan tetapi melawan Diah Windu Rini ia kerepotan. Sekarang datanglah orang itu. Nampaknya bodoh dan tidak berpengetahuan. Tetapi nyatanya berkepandaian hebat tak terkatakan. Inilah untuk yang pertama kalinya, tenaga sakti Ilmu Batu Panas tingkat tujuh bisa tertolak mundur.

- Kalau tidak lari sekarang, mau menunggu apa lagi ? - Cing Cing Goling memutuskan.

Segera ia memberi isyarat kepada Lajuguna dan Blandaran. Lalu melarikan dki tanpa menoleh lagi. PeristiWa itu berjalan sangat cepat. Diah Windu Rini sama sekali tidak menduga demikian sehingga ia berdiri tercengang-cengang. Selagi -demikian terdengar orang itu berkata :

- Temanmu dalam bahaya. Mengapa tidak kau lindungi ? -

Diah Windu Rini seperti diingatkan. Bukankah Rawayani tadi diberi kesempatan untuk menjauhi Bulukerta. Artinya ia lari seorang diri. Sekarang Cing Cing Goling ber-tiga lari pula mengarah ke Jalatunda. Inilah bahaya ! Rawayani bisa bertemu dengan mereka bertiga.

Memikir demikian, terus saja ia memburu Cing Cing Goling bertiga secepat-cepatnya. Tujuannya hanya hendak melindungi Rawa-yani.

25. PULUNGAN DAN KEN RUDATI - I ORANG YANG BERHASIL membuat ciut hati Cing Cing Goling, mengawaskan kepergian Diah Windu Rini dengan hati puas. Hal itu nampak pada pandang mata dan keserian wajahnya.

Dialah Anjar Laweyan, salah seorang sakti penghuni Gunung Lawu. Meskipun usianya sudah lebih dari delapanpuluh tahun, namun baik kesaktian maupun tenaga jasmaninya tidak kurang. Itulah berkat latihannya yang tekun.

Akan tetapi menurut kepercayaan penduduk karena berkat hawa gaib Gunung Lawu, Konon, pada jaman Majapahit salah seorang putera raja mendaki ke puncak Gunung lawu dan bermukim di atasnya, karena tidak berkenan memeluk Agama Islam. Kabarnya putera raja itu berumur lebih daripada duaratus tahun dan disebut penduduk dengan nama Sunan Lawu, walaupun belum memeluk Agama Islam.

Barangkali pula Anjar Laweyan berharap berusia melebihi seratus tahun. Diapun bukan pemeluk agama yang baik. Dan bila kesaktiannya kelak sangat termashur bukan mustahil dirinya akan disebut pula dengan Sunan oleh penduduk sekitar Gunung Lawu.

Tetapi itu baru dugaan orang saja. Sesungguhnya tidak demikian.

Dahulu pada jaman mudanya ia hidup sebagai manusia biasa sampai bertemu dengan dua orang insan yang dikagumi dan dihormati. Merekalah Pulungan dan Ken Rudati. Hebat riwayat Ken Rudati. Dia hanya anak seorang gendang pencak yang menjual kepandaiannya memainkan pedang untuk menyambung hidup keluarganya. Justru demikian, dengan tidak setahunya, kepandaiannya menanjak tinggi mendekati seorang ahli. Itulah berkat ia bermain pedang terus-menerus tiada hentinya.

Kadang-kala sampai tujuh kali dalam satu hari. Bahkan bila mendapat tanggapan di malam hari, dia harus bermain lagi. Selain memiliki keahlian memainkan pedang, gerakan kakinya lincah luar biasa. Dia pandai memanjat pohon kelapa seperti seekor monyet di uber anjing.

Dengan gesit ia meloncat-loncat dari dahan ke dahan. Dan yang paling istimewa lagi, dia seorang gadis yang cantik luar biasa.

Perawakan tubuhnya langsing, padat dan utuh. Pandang matanya cemerlang dan berkesan cerdas.

Kecantikan dan kecakapan Ken Rudati dalam hal menggunakan senjata menarik perhatian seorang pangeran yang bermusuhan dengan Amangkurat Mas yang memerintah negerinya dengan kejam.

Dialah Pangeran Purbaya salah satu keluarga Pangeran Puger yang kelak menggulingkan Amangkurat Mas dan mengangkat diri menjadi Paku Bhuwana I di Semarang.

Pada jaman itu, Amangkurat Mas dimusuhi keluarganya sendiri. Hanya saja tidak berani terang-terangan. Sebab di antara yang memusuhi tentu ada pula yang memihak. Itulah sebabnya masing-masing bekerja sendiri-sendiri. Tetapi dengan demikian, mereka saling curiga-mencurigai. Memang istimewa dan luar biasa watak dan pekerti A-mangkurat Mas. Selain gemar paras cantik, diapun cemburu terhadap pemuda- jpemuda yang berwajah cakap. Tidak per-duli apakah pemuda yang cakap itu anak seorang bang-sawan atau anak penduduk. Begitu juga masalah paras cantik. Kalau perlu isterl hamba- sahayanya. Atau isteri para Nayaka dan Bupati. Malahan isteri pamannya sendiri, jadi juga.

Orang jadi teringat kepada riwayat hidup Raja Jaya-negara di jaman Majapahit, semasa Gajah Mada masih menjadi seorang pegawai rendahan alias Bekel. Raja Jayanegara sering melanglap isteri orang pula. Apakah Amangkurat Mas memang inkarnasi Raja Jayanegara? Yang bisa menjawab hanya Malaekat dan setan-setannya.

Maka kedudukan Ken Rudati sebenarnya sangat berbahaya Sewaktu-waktu dia bisa diculik atas perintah Raja. Syukur sampai saat itu, dia masih dapat mencari makan dengan selamat.

Mungkin sekali kepandaiannya memainkan pedang disegani orang-orang yang ingin mencari muka. Namun apapun juga alasannya, keselamatan Ken Rudati tinggal menunggu waktu saja.

Sekarang timbul pertanyaan. Benarkah dia anak seorang tukang gendang pencak ? Memang seorang tukang gendang pencakpun bisa mempunyai seorang anak secantik Ken Rudati. Akan tetapi kecantikan Ken Rudati terlalu istimewa dan agung bagi seorang tukang gendang pencak. Sebab peribadinya terlalu menyolok, Sebaliknya tiada seorangpun dapat menjawab dengan benar, dia anak siapa? Keterangannya sumrawut alias simpang-siur. la hanya diketahui orang sewaktu berumur duabelas tahun mendaki Gunung Merbabu seorang diri. Kenapa? Inipun tidak jelas.

Seorang pendeta bernama Tundung Kasihan menemukan Ken Rudati menelungkup di atas tanah karena kecapaian. Memang Ken Rudati sudah dua hari dua malam mendaki gunung tanpa tujuan.

Karena tenaganya masih kecil dan langkah kakinya pendek pula, ia berhenti ber-istirahat setiap belasan pal jauhnya. Hawa gunung makin lama makin dingin. Meskipun demikian, ia dapat mempertahankan diri dengan berlari-larian. Namun betapapun juga, ia masih terdiri dari darah dan daging walaupun usia-nya masih muda beh'a. Tak terasa ia kehabisan tenaga dan roboh dengan tak dikehendaki sendiri.

Sewaktu menyenakkan mata ia merasa berada di dalam sebuah goa yang berhawa hangat nyaman.

Goa itu cukup lebar dan luas. Ia melihat beberapa orang sedang bersemedi. Bukan mustahil mereka termasuk pertapa-pertapa yang mengasingkan diri semenjak jaman Sultan Agung. Ram but, misai dan jenggotnya putih bagaikan kapuk. Dandanan mereka terlalu sederhana. Boleh dikatakan hampir tidak mengenakan baju, selain sebuah sarung yang dibebatkan pada tubuhnya. Pada suatu sudut goa, Ken Rudati melihat asap mengepul. Kiranya sebuah sumber api hangat yang eneteskan tetes air.

- Aku berada di mana ? - ia berkomat-kamit. la heran bukan main, karena selama hidupnya belum pernah berada di dalam goa seaneh itu. Apalagi sebuah goa yang ditem-pati beberapa pertapa. la mencoba mengingat-ingat diri. Apa yang dapat diingatnya ia hanya merasa sangat lelah, lalu membanting diri dengan bermaksud beristirahat. Selagi mengingat-ingat demikian terdengar suara halus menegurnya :

- Anak yang baik. Kau datang kemari karena diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung. Sebab tidak sembarang orang dapat tiba di tempat ini. Barangkali sudah berjodoh engkau harus tinggal di sini untuk sementara waktu. Maka tenangkan dirimu ! -

Dengan pandang tak mengerti ia menatap wajah seorang pertapa yang berubah seluruh rambut, misai dan jenggot-nya. Mungkin sekali sudah berusia lebih dari seratus tahun. Tapi wajahnya berkesan bening tanda hatinya suci. Dan kena pandang mata pertapa itu serta mendengar suaranya yang lembut penuh cinta- kasih, mendadak saja Ken Rudati menangis menggerung-gerung. Dan dengan penuh penger-tian pertapa itu berkata :

- Menangislah, anakku! Muntahkan semua rasa hatimu. Cucurkan air-matamu sepuas-puasmu. Di sini tiada yang akan mengganggumu. - Memang pertapa-pertapa lainnya seperti sekumpulan manusia ruli. Sama sekali mereka tidak menghiraukan pe kerti Ken Rudati yang sebenarnya sedang mengadukan nasibnya yang buruk. la meratapi keadaan dirinya sendiri.

- Apakah engkau sudah kehilangan orang tuamu ? - pertapa itu berkata lagi.

Ken Rudati tidak menjawab. la hanya menaikkan suara ratapnya.

- Kalau begiru, biarlah aku menjadi ayahmu. -- ujar orang tua itu. Apakah engkau tidak mempunyai saudara sekandung ? -

Kali ini Ken Rudati dap at menggelengkan kepalanya. Maka orang tua itu menunjukkan telunjuknya kepada para pertapa lainnya sambil berkata lembut :

- Kalau begiru merekalah kakak-kakakmu. Nah, bu-kankah di sinipun engkau bertemu dengan keluargamu yang besar? Inilah kami semua. -

Ken Rudati hidup di tengah para pertapa dua tahun lamanya, sampai berumur empatbelas tahun. Itulah batas umur seorang dara yang sudah tidak boleh dianggap suci lagi. Maka Ken Rudati harus mening galkan mereka. Tetapi dalam waktu dua tahun itu, setiap pertapa memberikan ilmu kepandaiannya kepada si gadis kecil. Dengan demikian, Ken Rudati sebenarnya termasuk seorang pendekar kecil yang tinggi ilmu kepan daiannya. Hanya saja, ia masih hams tnelatih setiap macain ilmu kepandaiannya sampai mendarah daging. Ini membutuhkan masa latihan belasan tahun lagi. Maka pada suatu hari pertapa Tundung Kasihan berkata :

- Anakku, aku hanya dapat membekali sebatang pedang kepadamu. Pergilah mengadu nasib di tengah pergaulan manusia. Dengan kepandaianmu sekarang, setidak-tidak kau dapat menjaga diri. -

- Eyang, - sahut Ken Rudati dengan berat hati. -Apakah aku dapat menggunakan pedang ini ? -

- Pedang ini termasuk pusaka yang keramat - Tundung Kasihan seakan akan tidak mendengarkan ucapan Ken Rudati. - Inilah pedang Sangga Bhuana yang semenjak dulu diperebutkan orang. Mula-mula yang membawa pedang seorang pendekar puteri bernama Diatri Kama Ratih. Kemudian beralih tangan kepada seorang pendekar besar Mojang Yudapati. (baca : Jalan Simpang di atas Bukit oleh pengarang yang sama). Setelah itu, pedang Sangga Bhuana mulai berpindah-pindah tangan. Darah membanjiri tanah Jawa dan tulang-tulang berserakan demi memperoleh pedang sakti ini. Sekarang kusertakan padamu seperti kerbau kembali ke kandangnya. -

- Kerbau kembali.ke kandang? Maksud eyang? - Ken Rudati tak mengerti. - - Yang memiliki mula-mula seorang pendekar wanita. kini kuterimakan kepada seorang wanita pula. Bukankah artinya semacam kerbau balik kembali ke kandangnya? Maka aku mengharapkan kelak engkau menjadi seorang wanita seperkasa Diatri Kama Ratih.Dengan berbekal pedang ini, engkau dapat berguru kepada seorang pertapa sakti di atas Gunung Lawu.

Nah, ingat-ingatlah pesan ini ! Dan dengan pedang ini pula, engkau tidak akan mudah di-robohkan orang. Nah, anakku pergilah dengan damai. Mudah-mudahan Tuhan membimbingmu ke jalan yang benar ..-

Ken Rudati membungkuk dengan hormat kemudian bersujud mencium telapak kaki pendeta Tundung Kasihan.

Tetapi buru buru Tundung Kasihan mengangkat kedua tangannya. Berkata :

- Janganlah engkau menghormatiku begini berlebih-lebihan. Kau hanya kuperkenankan bersujud kepada Yang Satu. Itulah Tuhan Yang Maha Kuasa, anakku. Dan satu hal lagi yang harus kau ingat-ingat ! Jangan sekali-kali kau ceritakan kepada siapapun pertemuan kita ini. Lalu, jangan sekali-kali kau sebutkan nama pedang ini, selama kepandaianmu belum sempurna. -

Ken Rudati berjanji. Dengan wajah jernih pendeta Tundung Kasihan membimbing tangan Ken Rudati ke luar goa. Lalu berbisik :

- Pejamkan kedua matamu ! - Ken Rudati memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba ia terkejut. la merasa tubuhnya seperti terbang melayang tanpa bobot. Kedua telinganya pengang oleh suara deru angin. Pada suatu saat, ia diayunkan dan jatuh dengan per-lahan-lahan di atas tanah.

Segera ia membuka kedua matanya. Dan pendeta Tu ung Kasihan tiada lagi nampak di depan matanya. Dia lenyap dengan begitu saja seperti ke-saktian malaikat.

Untuk kedua kalinya, Ken Rudati tidak tahu dengan pasti di mana dia kini berada. Beberapa waktu lamanya ia bermenung-menung seorang diri. Lalu melanjutkan perjalanan tanpa tujuan. Tiba-tiba ia melihat sebuah bangunan kuna. Kebetulan, malah. Hari sudah mendekati Magrib. Ia bermaksud bermalam dalam bangunan kuna itu.

Ternyata bangunan kuna itu ada penghuninya. Dia seorang pendeta pula yang mengaku bernama Dwijasangka. Melihat Ken Rudati membawa-bawa pedang Sanggabuwana, Dwijasangka terbelalak. Serunya :

- Hai! Apakah engkau telah memperolehnya dari dia? Ah, anakku. Rejekimu besar. Sesungguhnya engkau sudah bertemu dengan seorang pendeta suci. Tahukah engkau, siapa dia ? Dialah Tundung Kasihan. Artinya mengusir rasa iba. Tetapi nyatanya, engkau memperoleh pusaka ini daripadanya Apalagi kalau bukan karena dia berkenan? Atau karena dia tahu, engkau berjodoh.

Maka akupun wajib mewariskan empat jurus sakti kepadamu. Nah, tinggallah beberapa hari di sini. - Ken Rudati benar-benar diajari empat jurus sakti, sehingga ia perlu tinggal bersama Dwijasangka tiga minggu lamanya. Setelah Dwijasangka puas, Ken Rudati di antarkan ke suatu tempat.

- Sekarang berjalanlah engkau seorang diri. Engkau akan bertemu dengan seorang pendeta pula. Kaupun akan mewarisi beberapa jurus daripanya. -

- Mengapa begitu ? -

- Itulah berkat pedang Sanggabuwana. -

Benar saja, Ken Rudati bertemu dengan seorang pendeta yang mengajarkan tiga jurus sakti. Setelah tammat ia dipertemukan dengan seorang pendeta pula yang mengajarkan dua jurus sakti. Itu semua terjadi, berkat pendeta itu melihat pedang Sanggabuwana.

- Anakku, panggillah aku Margadadi. Kau akan kuantarkan kepada seseorang. Dia hanya memiliki satu jurus ilmu sakti. Meskipun begitu, sifat dan sepak terjangnya sangat aneh. Kau harus belajar tun duk dan patuh kepadanya demi memperoleh jurusnya. Kalau tidak, jurus pedangmu belum lengkap. -

Ternyata orang yang dikatakan aneh itu pekerjaannya menjadi tukang gendang pencak. Dan semenjak hari itu, Ken Rudati menjadi anak-angkat si tukang gendang pencak yang mengaku bernama : Gujali. Ken Rudati harus ikut merantau ke mana Gujali mengadu nasib.

- Perlihatkan dulu kebisaanmu - Gulajli belum juga mewariskan satu jurus ilmu saktinya. Meskipun demikian. Ken Rudati tetap sabar dan lambat-laun mengerti apa mak-na ucapan Gujali.

Rupanya dia seperti Juru Periksa. Setiap kali Ken Rudati melakukan gerakan yang kurang tepat,selalu ia membetulkan dan menggerembengi.

- Anak tolol ! Kalau belum becus melakukan jurus-jurusmu, jangan harap kail bisa memperoleh satu jurusku.-

Demikianlah, akhirnya Ken Rudati dibawa masuk ke Ibu Kerajaan

, Raja Amangkurat baru saja wafat.

Amangkurat Mas kemudian naik tahta. Dan pada saat itu, kecantikan Ken Rudati tumbuh dengan diam-diam. Banyak orang yang gandrung padanya. Akhirnya menjadi tutur kata orang. Dan tutur-kata orang itu sampai di pendengaran Pangeran Purbaya.

Tetapi kecuali Pangeran Purbaya sebenarnya masih banyak lagi yang menaksir Ken Rudati. Di antara mereka adalah Pangeran Hangabehi.

Pada hari itu, sang ayah angkat Gujali memberi kabar gembira. Katanya baru saja ia bertatap muka dengan orang pembesar. la mengaku menerima hadiah Pangeran Hangabehi. Kecuali menerima sebung kus lempeng emas, ia di-janjikan akan diangkat enjadi seorang bupati di wilayah barat. la kelihatan gembira bukan main. la bermaksud menghentikan acara-acara gendang pencaknya. Katanya kepada Ken Rudati:

- Anak yang baik, mulai hari ini penghidupan kita sudah berubah.

-

- Berubah bagaimana? - Ken Rudati tak mengerti.

- Kau terpaksa harus bermain sendiri sebisa-bisamu. Aku sih, sudah tidak perlu mencari hidup dengan gendang pencak lagi.lalu ia memperlihatkan lempengan-lempengan emas di dalam bungkusannya.

Ken Rudati berdiri tegak bagaikan sebuah arca. Sekian tahun lamanya, ia menunggu satu jurus sakti nya. Untuk itu ia bersedia hidup merantau menjadi pemain gendang pencak. Dan sekarang, sang ayah angkat sudah menjadi orang kaya. Benarkah dirinya harus tetap hidup sebagai pemain gendang pencak ? Maka ia merasa sudah waktunya ia menanyakan kembali tentang jurus sakti itu. Katanya :

- Ayah berjanji hendak mewanskan sejurus jurus sakti kepadaku. Kapan ? -

Gujali menjawab dengan tertawa :

- Anakku, pada saat ini aku belum mempunyai waktu. Aku harus membeli tanah dulu. Lalu mendirikan rumah yang nyaman. Lalu mengatur penghidupan. Kalau perlu menjadi petanipun boleh. Maka aku perlu mencari sawah-sawah subur dan mengatur pekerja-pekerjanya. Setelah semua terpenuhi, nah barulali kita bicarakan lagi soal itu. -

Sebenarnya Ken Rudati merasa tidak puas mendengar kan jawaban ayah angkatnya. Akan tetapi sang ayah pandai mengambil hati. Katanya :

- Bermain gendang pencak itu hanya demi memahirkan jurus- jurusmu saja. Kaupun boleh ikut aku hidup mulia. Kau akan kubelikan semua keperluanmu Pakaian yang kau kenakan harus Jayak dan pantas. Setelah itu, engkau akan kuantarkan ke istana yang kelak akan menjamin hi-dupmu. -

Kesan ucapan Gujali merasuk ke dalam kalbu Ken Rudati sebagai orang tua yang sayang dan menaruh perhatian kepadanya. la seperti mau mengerti, bahwa Gujali sesungguhnya bermaksud baik dan memi kirkan hari depan-nya. Waktu itu mereka berdua berada di rumah sewa. Berbicara dan hati ke hati seperti layaknya orang tua dengan anaknya. Selagi demikian, tiba-tiba terdengar suara jendela terbuka. Seorang berkepala besar bertubuh pendek kecil, melompat masuk dengan membawa sebilah senjata tajam yang berkilauan. Langsung saja orang itu menyerang Gujali.

Melihat munculnya orang yang berkesan aneh itu, Gujali terperanjat. la memekik setengah meratap :

- Mati aku ! Rudati, tolong ! - Ken Rudati sebenarnya terperanjat pula. Itulah peristiwa yang pertama kalinya keluarganya disateroni orang. Mula-mula ingin ia melihat apa yang akan dilakukan ayah angkatnya. Tentunya akan terpaksa mengeluarkan jurus saktinya.

Ternyata tidak demikian. Orang tua itu benar-benar ketakutan. Seperti seorang anak melihat iblis. Me-nyaksikan hal itu, Ken Rudati tidak dapat menjadi penonton lagi. Begitu orang itu menggerakkan senjatanya, Ken Rudati menendangkan kakinya. Itulah salah satu ge-rakan kaki yang sering dilakukan di dalam jurus-jurusnya. Di luar dugaan, hebat akibatnya. Kena tertendang kaki Ken Rudati, orang itu terpental dan menggelinding tak ubah sebuah bola.

- Rudati ! Kau sudah tertipu sekian tahun lamanya. Mengapa masih sudi membelanya ? - bentak orang itu dengan bangun tertatih-tatih.

- Tertipu apa ? - Ken Rudati membalas membentak .

- Bukankah engkau mengharapkan satu jurus saktinya?- Dada Ken Rudati seperti terpukul. la tercengang, cemas dan terkejut. Tentang hal itu adalah rahasia peribadinya. Rahasia peribadi yang hanya diketahui oleh pendeta Margadadi dan Gujali seorang. Kenapa orang itu seperti mema-hami? Apakah pendeta Margadadi yang justru membocorkan rahasia itu ? Tentu saja hal itu tidak dapat terpecahkan dalam wak-tu sedetik dua detik. la hanya sempat terlongong-longong. Dan pada saat itu orang berkepala besar berkata lagi :

- Rudati! Aku bernama Surengrana. Ingat-ingatlah nama itu! Aku tahu sejarah hidupmu. Paling tidak seba-gian. Meskipun demikian, bagian yang penting. Maka aku tahu apa sebab engkau mengikuti cara hidup orang itu. Engkau tertipu ! Kau dilagui. Maka bantulah aku merangket penipu itu. -

Ken Rudati masih belum pandai menjawab. Tetapi ia memperoleh kesempatan untuk mendengarkan kata-kata Surengrana.

Pelahan-lahan, rasa bimbangnya surut. la melompat menyambar pedangnya dan dihunusnya dengan sekali tarik. Belum lagi ia sempat membuka mulutnya, Gujali yang berada di belakangnya berkata menyahut :

- Rudati, orang ini pengacau. Dia mengaku tahu sejarah hidupmu. Kau percaya ? Dialah justru musuhku. Bunuhlah dia ! -

Pedang Sanggabuwana sudah terhunus. Perbawanya luar biasa. Tidak hanya tiba-tiba bersinar cerah memecahkan keredupan malam hari saja, akan tetapi menyebarkan hawa dingin pula.

Sewaktu Ken Rudati hendak menggerakkan pedangnya, sesosok bayangan melesat masuk dan langsung menempel pedang Sanggabuwana.

Melihat bayangan yang melesat bagitu cepat, itu, Gujali seperti ketakutan. Dia mundur ke sudut ruang. Ken Rudati sendiri, mundur dua langkah. Sebab orang yang menempel pedangnya memiliki tenaga sakti yang kuat. Dan menyak-sikan Ken Rudati mundur dua langkah, orang itu lantas memandang enteng lawannya. Dengan tertawa panjang, dia berkata :

- Rudati! Kami tau, kau belum bisa menilai baik-buruknya orang. Tetapi kami datang untuk menolong dirimu. Selama ini engkau menjadi sapi perahan orang yang kau anggap menjadi ayah- angkatmu. Sekarang ayah-angkatmu menerima hadiah dari orang yang bisa mengambil hati raja. Tidak lama lagi, ayah-angkatmu pasti akan diangkat menjadi pejabat. Sebaliknya diapun berkewajiban membalas jasa itu. Apalagi yang akan dilakukan kalau bukan mempersembahkan kecantikanmu kepada raja yang doyan perempuan ? -

Kata-kata demikian, bagi Ken Rudati masih asing sekali. Dia menjadi tersinggung sekali. Terus saja ia menge-rahkan tenaga saktinya dan mementalkan senjata lawan yang menempel pedangnya. Karena ilmu sakti yang di-miliki merupakan ilmu sakti terpilih pada jaman itu, dengan mudah ia dapat membe baskan pedangnya. Terus saja ia balik menyerang dengan pedang Sanggabuana yang tajam luar biasa.

Inilah berada di luar dugaan orang itu. Gugup ia mencoba menempelkan senjatanya lagi. Akan tetapi kali ini Ken Rudati tidak sudi kena ditempel lawan. Gesit luar biasa ia melesat ke samp ing dan balik menyerang. Keruan saja orang itu kaget bukan kepalang. Mengandal kepada tenaga saktinya ia mencoba mengadu senjata.

Dengan suara memekakkan telinga kedua senjata itu beradu. Akibatnya terlalu hebat. Senjata orang itu tidak hanya patah menjadi tiga bagian, akan tetapi tenaga sakti Ken Rudati sempat merayap menghantam pergelangan tangan pula. Orang itu memekik kesakitan, sambil menghantamkan sisa senjatanya.

Ken Rudati terpaksa mengendapkan tubuhnya sambil menghantamkan pedangnya. Sewaktu ia berputar balik menghadap kedudukan lawan, tiga orang tiba-tiba sudah berada di dalam ruang rumah. Dengan begitu, ruang gerak jadi tcrbatas.

- Inilah bahaya. - pikir Ken Rudati di dalam hati. Dasar masih muda ia makin gerarn terhadap lawannya. Bentaknya : - Kalian mengaku hendak berbuat baik ter-hadapku Nyatanya, kalian membawa teman banyak. Artinya kalian sudah merencanakan jauh-jauh hari. Mari kulayani kehendak kalian. Kalian sekumpulan manusia jahat. Maka jangan salahkan, bila aku akan melabrakmu benar-benar.-

Setelah membentak demikian, dengan menendang dinding rumah Ken Rudati melesat ke luar halaman. Di si-nipun sudah menunggu dua orang lagi. Dengan begitu, jumlah mereka tujuh orang. Tetapi Ken Rudati tidak takut. Selain enam jurus sakti sesungguhnya ia memiliki beraneka ragam jurus. Perbawanya bukan main hebatnya. Setiap gerakan pedangnya menggenggam tipu-tipu yang susah ditebak. Dalam beberapa gebrakan saja ketujuh t orang yang mengerubutnya, pelahan- lahan mengun durkan diri. Namun gempuran-gempurannya tidak kendor. Mereka bergerak ke arah tertentu. Jelas maksudnya, Ken Rudati dipancing ke suatu ternpat.

Karena betapapun juga usia Ken Rudati masih muda belia, lagipula belum memiliki penga-laman, ia mirip seekor lembu yang kena tuntun. Dan yang aneh, sang ayah angkat Gujali yang semenjak tadi ketakut-an, ikut pula mengikuti dari jarak tertentu. Sekali-kali ia berseru memberi semangat kepada Ken Rudati:

- Anakku ! Jangan ragu-ragu. Mereka gerombolan pen-jahat. Bunuh saja ! -

Kalau saja Ken Rudati sempat berpikir sejenak tentunya akan timbul rasa herannya. Apa sebab tidak bersembunyi atau melarikan diri dari ancaman orang? Malahan ikut-ikutan membum ketujuh musuhnya yang mundur ter-atur menuju ke tengah lapangan terbuka.

- Hai anak tidak tahu disayang. Hayo, kini kita bisa bertempur dengan bebas ! - teriak Surengrana yang sudah menggenggam sebilah senjata.

Itulah sebilah pedang pendek yang tebal. Dia masih yakin, tenaganya akan dapat me-nindas tenaga Ken Rudati. Karena itu, ia kini membawa pedang pendek tebal. Katanya lagi : - Di sini kita tidak usah takut didengar orang. -

Ken Rudati sudah gemas semenjak tadi. Tanpa berbicara lagi, terus saja ia menyerang. Dia sudah sempat melancarkan jums- jurus ilmu saktinya selama lima tahun. Tetapi baru kali ini, ia pergunakan menempur lawan dengan sungguh-sungguh.

Meskipun belum pernah ia menggabungkan enam jurus saktinya menjadi satu kesatuan ternyata dia nampak mahir sekali.

Tidak usah dijelaskan. Itu semua berkat ia memiliki otak yang cerdas. Selain berotak cerdas, sebenar nya didukung oleh bermacam-macam kepandaian warisan para pertapa selama dua tahun.

Karena itu, lawan-lawannya tidak segera mengenal kapan Ken Rudati menggunakan jurus saktinya yang berjumlah enam jurus.

Ketujuh orang yang memusuhinya segera menyerang pula dengan bergantian. Rupanya kerja-sama mereka sudah terlatih belasan tahun lamanya. Meskipun Ken Rudati memiliki beraneka jurus sakti yang susah diduga, untuk sementara ia sempat dibuat bingung. Namun lambat laun, ia bisa menguasai diri.

Sekarang ia tidak membiarkan dirinya terseret rasa gemasnya. Sebaliknya bisa berkelahi dengan te-nang dan mantap. Tetapi berkelahi dengan cara demikian ada pula ruginya. Karena musuhnya bisa maju bergantian, lambat-laun tenaganya bisa terkuras habis. Mulailah ia berpikir bagaimana cara merobohkan mereka. Sementara itu, Gujali tiada henti-hentinya berseru-seru : - Bunuh mereka ! Bunuh ! -

Ayah-angkatnya itu hanya pandai menyerukan satu kalimat saja. Bunuh mereka ! Bunuh 1 Pikir Ken Rudati di dalam hati :

- Ayah, aku memang ingin membunuh mereka. Soalnya bagaimana aku dapat membunuhnya. Setiap kuserang, seorang mundur dan digantikan dengan dua orang. Bila dua orang itu kurabu sekaligus, mereka mundur dengan cepat dan tiba-tiba empat orang, balik me-nyerang dari empat penjuru. Bila kuserang dan kubalas dengan cepat, tiga orang lagi datang mengepung. -

- Bunuh! Bunuh ! - lagi lagi Gujali berseru-seru ber-gelora.

Tiba-tiba suatu persaan aneh merayap dalam diri Ken Rudati. Lengking suaranya tidak hanya mengandung anjuran semata, tetapi seakan-akan memberi petunjuk. Jangan-jangan itulah jurus saktinya yang hanya berjumlah satu. Seumpama benar, lalu apa yang dimaksudkan dengan istilah bunuh?

Apakah suatu anjuran termasuk suatu jurus? Memperoleh pikiran demikian ia sempat tertawa geli di dalam hati. Mendadak suatu ingatan berkelebat di dalam benaknya. Pikirnya di dalam hati:

- Ah ya ! bukankah aku memiliki sebilah pedang pu-saka ? Jangan-jangan ayah bermaksud mengan jurkan diriku menggunakan ketajaman dan makna pedangku. Menggu-nakan pedang dengan maksud membunuh, bukankah berarti menyerang terus-menerus? Tetapi dengan begitu aku harus mengadu kegesitanku. Baiklah senyampang te-nagaku belum berkurang, apa jeleknya kalau kucoba. -

Setelah memperoleh keputusan demikian, ia menguatkan hatinya. Terus saja ia memekik tinggi dan mulai menyerang dengan dahsyat. la tidak memperdulikan senjata lawan-lawannya. Bukankah pedang Sanggabuana dapat diandalkannya bila sampai berbenturan? Karena yakin akan kehebatan pedang pusaka Sanggabuana, Ken Rudati berkelahi seperti orang kalap.

Pedangnya menyambar-nyambar ke sana ke mari tak ubah kejapan kilat. la memperlihatkan kegesitan nya. Dan benar saja. Diserang dengan cara demikian, pagar pertahanan tujuh orang itu kacau dan rusak. Mereka tidak berani mengadu senjata, mengingat ketajaman pedang Sanggabuana. Berusaha menempel mengadu tenaga, tidak mendapat kesempatan pula.

Akhirnya seperti saling berjanji mereka meloncat mundur. Dan pada saat itu, terdengar Gujali tertawa terbahak-bahak. Lalu berseru :

- Sudah, sudah! Anakku, apakah engkau benar-benar hendak membunuh mereka ? -

Ken Rudati menghentikan serangannya dengan wajah tak mengerti. lapun terheran-heran melihat perubahan sikap Gujali. Dia tadi berkata, mereka bertujuh adalah musuh-musuhnya dan harus dibunuh. Kini tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Malahan pada saat berikutnya dia melambaikan tangannya kepada mereka agar mendekat. - Mari, mari kuperkenalkan ! - katanya.

- Ayah! Sebenarnya apa yang sudah terjadi ? - Ken Rudati minta penjelasan.

Gujali tertawa riuh Menjawab di antara suara terta-wanya:

- Mereka paman-pamanmu. Apakah engkau sampai hati hendak membunuh mereka ? -

Ken Rudati benar-benar tidak mengerti. la merasa bingung sendiri, karena tidak tahu ujung pangkalnya.

Untung, mereka bertujuh yang sebentar tadi bersikap memusuhi, mendadak sontak bersikap ramah sekali. Kata mereka hampir berbareng :

- Rudati, kami bertujuh adalah adik ayah - angkatmu. Kakang Gujali, jangan biarkan anakmu termangu-mangu. Hayo terangkan yang jelas ! -

Gujali memang mempunyai pengucapan sendiri dalam hidupnya. la mempunyai cara sendiri menentu kan sikap. Setelah tertawa panjang pendek seperti orang gendeng, baru ia berkata :

- Rudati, itulah Ilmu jurusku yang hanya satu. Kau sudah kami nyatakan lulus. - Tentu saja pernyataan itu tidak memuaskan hati Ken Rudati. Selagi hendak menegas, Gujali berkata lagi:

- Makna sejurus itu mewajibkan aku mengawasimu dan membimbingmu Sampai dapat melakukan semua jurus-jurus warisan para pertapa Setelah kulihat kau bisa melakukan dengan baik, ingin aku melihat pula bagaimana caramu mengadakan perlawanan bila engkau dipaksa ber-tempur sungguh-sungguh.

Ternyata otakmu cerdas.Kau bisa menangkap yang tersirat di balik ucapankau. Kau dapat menggunakan pedang pusakamu yang tiada bandingnya di jagat raya ini. Kau ingat-ingatlah hal itu !